Anda di halaman 1dari 2

PERCAYAKAN KEPADA ALAM

Setyo Wahyu Widodo, 2011

Naskah ini disusun untuk mengikuti Writing Contest-Beat Blog

Berbagai cara manusia peduli lingkungan tempuh guna menyelamatkan bumi tempat tinggal
dari bahaya pencemaran. Penghijauan, hari tanpa asap rokok, hari tanpa kendaraan
bermotor, daur ulang barang bekas, adalah beberapa dari sekian banyak usaha untuk
menunjukkan kecintaan kepada lingkungan tempat tinggal manusia berulah seenaknya,
segratis-gratisnya, hingga sampai pada suatu ketika yang cuma-cuma itu berubah menjadi
sangat mahal untuk dibeli.

Sejauh mana manusia berusaha mengembalikan keadaan alam lingkungan sekitar seperti
sedia kala dan sehebat apa manusia berjuang meremakan bumi yang berangsur renta ini,
semuanya seperti sia-sia. Percuma, karena aksi pengrusakan terus berlangsung. Saat kita
sibuk menanam seribu pohon, mereka tidak berhenti menanam seribu tiang beton; saat kita
mendaur ulang sejuta bahan plastik, mereka tidak berhenti menghasilkan seribu bahan
plastik; saat kita menampung seribu liter air limbah untuk dimurnikan, mereka terus
membuang seribu liter limbah yang baru; dan saat kita berkeringat di jalanan tersangga oleh
dua kaki, mereka tetap dengan bangga mengumumkan target penjualan kendaraan
bermotornya.

Tahap yang lingkungan kita jalani sekarang bukan sekedar tahap pencegahan atau
pemeliharaan, melainkan tahap pengobatan dari penyakit. Kerusakan yang diderita oleh
lingkungan telah sedemikian parahnya. Seharusnya kita tiada lagi perlu memiliki toleransi
terhadap siapapun yang ikut memberikan andil bagi pencemaran lingkungan sekitar.

Para pelaku pelestarian lingkungan hendaknya tidak selamanya harus mengalah dari
desakan perubahan yang mengatasnamakan modernisasi, namun mengorbankan
keseimbangan alam dan keragaman hayati. Memang benar bahwa daur ulang sampah
dapat membuka lapangan kerja baru dan merangsang kreativitas, akan tetapi sepertinya itu
bukan solusi yang tepat. Perlu kita waspadai bahwa kreativitas pendaur ulang dapat saja
disalahgunakan oleh para penghasil sampah; dengan dalih ikut membantu kreativitas,
mereka terus menghasilkan barang-barang yang kelak menjadi sampah itu. Boleh saja kita
terus giat mengadakan penghijauan, menanam pohon. Namun akan memerlukan berapa
lama hingga pohon-pohon tersebut dapat berfungsi sebagai penguat tanah, pelindung
panas, penahan banjir, dan penyimpan air? Sementara pencakar langit dan fasilitas modern
yang sarat akan bahan yang sulit diuraikan terus ditanam di atas bumi? Sampai kapankah
kita terus berteriak “Hari tanpa kendaraan bermotor!” jika para produsen kendaraan
bermotor tersebut terus memasang target kenaikan penjualan dari waktu ke waktu? Mata
rantai inilah yang harus kita putus. Alam tidak boleh selamanya mengalah, melainkan perlu
kita beri kesempatan untuk menikmati kemenangan. Kemenangan yang semestinya dengan
cara yang cantik. Kemenangan yang bukan terpaksa berupa banjir, tanah longsor, atau
pemanasan suhu bumi.
Usaha apapun untuk mengijaukan kembali bumi kita tanpa penghentian aksi-aksi
pengrusakannya akan seperti sia-sia. Bukan penghijauan kembali yang alam butuhkan,
melainkan kehijauan (artinya, jangan korbankan jalur hijau untuk pengalihfungsian lahan).
Bukan daur ulang yang alam butuhkan tetapi kebebasan dari materi-materi yang sejatinya ia
sulit daur ulang secara alami.

Ide ini mungkin sangat kabur, tak berbentuk, abstrak, absurd. Mungkin saja tidak memuat
solusi yang nyata. Tulisan ini sekedar menyumbang usul tentang bagaimana jika kita
hentikan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Kita harus mulai memikirkan cara untuk
membatasi aksi pembukaan lahan dan pengalihfungsian lahan yang berlebihan,
menumbuhkan kembali kepercayaan kita kepada alam dan bumi; bahwa alam dan bumi
sanggup memenuhi kebutuhan kita dengan caranya sendiri. Tak perlu kita merepotkan diri
dengan penanaman sejuta pohon, kampanye anti merokok dan anti kendaraan bermotor,
aksi daur ulang, dan lain sebagainya. Kita dapat menghemat energi kita dengan sekedar
menghentikan tindakan pencemaran-pencemaran tersebut. Terakhir, tak perlu kita merasa
khawatir dan rendah diri karena tertinggal oleh modernisasi jaman (oleh sebab kita tidak
memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang tersedia saat ini namun yang akibatnya
merugikan masa depan lingkungan kita).