Anda di halaman 1dari 4

MARI DIAM SEJENAK UNTUK DENGARKAN SUARA ALAM

Sebuah ungkapan hati tentang pencemaran suara di sekitar kita

Setyo Wahyu Widodo, 2011

Naskah ini ditulis untuk mengikuti Writing Contest-Beat Blog

"Noise is arguably the most widespread and least controlled environmental pollutant.
Noise has been recognized since the time of the Romans as unwanted and intrusive."
(Bronzalt dan Hagler, 2010)

Planet Bumi tempat tinggal kita telah sesak oleh pencemaran. Orang mengenal jenis-
jenis pencemaran lingkungan yang dapat dibagi ke dalam 4 (empat) kelompok besar,
yakni pencemaran udara, air, tanah, dan suara. Di antara keempat jenis pencemaran
lingkungan ini, pencemaran suara sepertinya sering luput dari perhatian. Suara adalah
bagian dari kehidupan kita sehari-hari, dari sejak kita bangun dari tidur hingga kita
beranjak tidur lagi. Dominasi suara di sekitar kita, dari manapun sumbernya, semakin
terasa jika kita hidup di tengah lingkungan yang padat penghuni dan padat kegiatan.
Dalam banyak kesempatan, orang sering merasa terganggu oleh bising sehingga
merasa tertekan, menunjukkan sikap yang temperamental, dan susah berkonsentrasi
di dalam menjalankan kegiatannya, entah bekerja maupun belajar. Gangguan suara
juga membantu istirahat kita, bukan?

Apakah pencemaran suara itu?

Saktiyono (2006: 162) mendefinisikan pencemaran suara sebagai masuknya suara


atau bunyi yang tidak diinginkan ke permukiman penduduk. Pencemaran suara dapat
mengganggu aktivitas manusia (hal. 162). Sedangkan proses terjadinya suara dapat
kita simak dari pernyataan yang dikutip dari Bronzalft dan Hagler (2010: 75) berikut ini,

Sound begins as vibrating object causes the movement of air molecules,


setting up alternate bands of compression and expansion in the air then
strike the ear drum. The mechanisms of the middle ear carry the vibrations
to the hair cells of the inner ear (the Organ of Corti) where they are
converted into electrical impulses that are trasmitted to the brain. The brain
decodes these transmissions into what we perceived as sound - its nature,
pitch, volume, source, and duration.

Sejumlah penelitian telah dilakukan berkenaan dengan potensi gangguan terhadap


lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran suara. Menurut Chambers dan Jensen
(dalam Handbook of Environment Engineering Volume 2, Advanced Air and Noise
Pollution Control, 2005: 441) pencemaran suara dapat mengancam kesehatan
manusia dan kualitas hidup. Suara yang bising berpotensi menjadi kontaminan bagi
atmosfer. Meskipun bukti yang ditemukan masih terbatas, namun kebisingan dapat
mengganggu efisiensi, kesehatan manusia, dan menambah resiko kecelakaan. Pada
tingkat yang lebih parah lagi, kebisingan dapat mengganggu fungsi pendengaran.
Sebenarnya suara sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Suara yang digunakan
sebagai alat peringatan, seperti peringatan bahaya, pengumuman, dan penanda-
penanda yang lain memudahkan manusia untuk mempersiapkan diri di dalam
menghadapi keadaan tertentu. Akan tetapi, suara kemudian berubah menjadi sebuah
hal yang membawa mimpi buruk bagi kita manakala suara tersebut terdengar terlalu
keras dan bising. Konsentrasi menjadi terpecah karena adanya suara yang tidak
diharapkan. Kerasnya suara bahkan dapat membuat jantung berdebar-debar karena
terkejut sehingga dampaknya sangat membahayakan. Daerah perkotaan sangat
identik dengan suara bising, entah dari kegiatan industri, hiburan, maupun transportasi.
Jika kebisingan bukanlah suatu masalah, tidaklah mungkin kiranya sejumlah orang
perlu menyingkir sejenak dari keramaian untuk menenangkan diri, menghindari stress,
atau mencari inspirasi di tempat-tempat yang relatif lebih tenang dan hening.

Dampak pencemaran suara

Suara dan bebunyian senantiasa mewarnai kehidupan manusia sedari pagi buta
hingga larut malam. Suara adalah bagian dari kehidupan hampir semua makhluk hidup
di bumi. Akan tetapi jika kadarnya telah mencapai tingkat yang keterlaluan, bebunyian
tersebut akan menimbulkan gangguan yang tentu saja merugikan. Cobalah tengok
betapa bisingnya suasana di sekitar kita saat ini. Apalagi bagi saudara-saudara yang
berada di lingkungan perkotaan yang sarat akan deru dan deringan. Terkadang orang
merasa stress karena menghadapi kebisingan sehingga ia perlu “mengasingkan diri”
untuk dapat merasa tenang dan berkonsentrasi. Pencemaran suara jelas mengganggu
proses kegiatan manusia. Misalkan dalam sebuah diskusi membahas tentang
penyelamatan lingkungan dari polusi udara, dapat saja himbauan seperti, “Marilah kita
bersama-sama menyumbang pohon...” terdengar menjadi “Marilah kita bersama-sama
menebang pohon...” Hal ini terkesan lucu dan konyol, namun tetap ada kemungkinan
terjadi. Mengapa? Karena pada saat diskusi berlangsung, di sekitar tempat diskusi
tersebut ramah akan suara gaduh, misalkan, deru mesin kendaraan, mesin industri,
atau suara musik yang terlalu keras. Kesalahan satu kata saja akan berakibat fatal.
Bahkan dapat menimbulkan perdebatan. Ini hanyalah ilustrasi dan masih banyak lagi
ilustrasi yang lebih masuk akal.

Dampak pencemaran suara juga tidak sekedar mengganggu manusia, melainkan


makhluk hidup lain. Pernah terjadi kasus yang unik di peternakan ayam negeri (broiler)
seorang teman di daerah Yogyakarta. Suatu pagi teman itu mendapati beberapa ayam
negeri mati setelah terjadi ledakan mercon. Padahal tidak seekor ayampun yang
terkena langsung ledakan tersebut, melainkan sekedar mendengarnya. Selain itu,
pencemaran suara juga dapat berakibat fatal bagi tumbuh-tumbuhan. Seperti yang
dikemukakan oleh Rachmad H. Adjie, S.Pi, MIL, dalam sebuah wawancara tanggal 1
Pebruari 2011, gelombang ultrasonik yang dihasilkan oleh suara akan mengganggu
pertumbuhan tanaman. Dari sini dapat kita katakan bahwa bukan hanya manusia yang
akan mendapatkan dampak negatif pencemaran suara, melainkan makhluk hidup
lainnya. Kemudian, sebuah penelitian terhadap hewan uji monyet Rhesus,
menunjukkan terjadinya kenaikan tekanan darah hingga 30% setelah mendapatkan
perlakuan suara yang mencapai 85 db (desibel) selama delapan bulan. Tekanan darah
dan detak jantung hewan uji ini meningkat dan tidak dapat dikembalikan pada kondisi
semula sebelum percobaan.(1) Suara yang dihasilkan oleh manusia menjadi salah
satu dari sekian banyak faktor penyebab kepunahan habitat, hilangnya cadangan
makanan, perubahan perilaku dan migrasi, perubahan hubungan antarspesies,
keseimbangan antara spesies pemangsa dan spesies mangsanya, dan meningkatkan
persaingan perebutan tempat tinggal dan makanan.(2) Dari sini kita dapat
membayangkan betapa pencemaran suara telah mengganggu keseimbangan alam,
bahkan mengancam keanekaragaman hayati. Akumulasi suara yang sampai
menimbulkan getaran juga berbahaya bagi bangunan. Jika suara tidak dikendalikan
maka bangunan akan mengalami kerusakan. Pernah suatu ketika suara yang
dihasilkan oleh pengeras suara pada sebuah konser musik di daerah Pleburan,
Semarang, membuat kaca rumah bergetar. Namun hal ini nyaris luput dari perhatian
karena sebagian besar orang menganggap hal yang disebut pencemaran ialah asap,
limbah, bahan inorganik, dan sebagainya. Dengan kata lain, pencemaran itu adalah
kerusakan pada tanah, air, dan udara. Padahal, pencemaran suara tidak dapat kita
kesampingkan karena menimbulkan gangguan yang seketika. Kita menjadi naik pitam,
mudah marah, atau stress akibat mendengar suara yang terlalu keras. Akibatnya, kita
berpotensi untuk bertindak di luar batas, seperti mengamuk dengan memecahkan
benda-benda di sekitar, merusak dan marah-marah kepada orang sekitar, atau
melemparkan benda seenaknya hingga berserakan. Apakah ini bukan wujud
pencemaran lingkungan pula?

Seperti yang dikemukakan oleh Hartuti Purnaweni dalam Implementasi Kebijakan


Lingkungan di Indonesia: Hambatan dan Lingkungan, “kesiapan lingkungan hidup
dalam mendukung eksistensi dan perkembangan kehidupan manusia sangat
tergantung pada sikap dan perilaku manusia itu sendiri di dalamnya.” (3) Maka dari itu
marilah kita mulai berbenah. Marilah kita berbagi perasaan agar alam bersikap kembali
ramah kepada kita. Ketimpangan ragam hayati yang telah sedemikian jelasnya harus
diseimbangkan dengan cara berusaha mengerti, mendengarkan suara alam, akan
“keluh kesahnya” selama ini. Ia telah berbaik hati sekali menerima semua pembuangan
yang kita lakukan. Kita jejali ia dengan asap berbahaya, benda-benda yang tak mudah
diuraikan, dan suara-suara gaduh. Jangan sekedar bicara lantang menggunakan
pengeras suara (loudspeaker) ke sana ke mari menyuarakan kepedulian kita terhadap
lingkungan, sementara deru bunyi pemekak telinga di lingkungan tempat tinggal kita
terus kita hasilkan.

Marilah kita diam sejenak. Pepatah mengatakan bahwa Diam adalah Emas. Heningkan
lingkungan sekitar, kita dengarkan suara alam sehingga kita dapat memahami apa
yang mereka mau. Alunan nada ayam jantan berkokok membangunkan kita dari
peraduan selepas malam, kicau burung berpadu gemericik air sungai mengalir, daun-
daun bersiul berirama seiring kibasan angin. Kemanakah itu semua? Nyaris lenyap
oleh kegaduhan manusia yang mengaduh, mengeluh, melenguh, dan bergemuruh.

Tautan:

(1) Dave Corman, Nature Sound Society | www.naturesounds.org


(2) www.naturesounds.org/conservENW.html
(3) Hartuti Purnaweni |
www.ejournal.undip.ac.id/index.php/dialogue/article/download/537/412

Daftar bacaan dan rujukan:

Bronzalft, Arline L., dan Louis Hagler. 2010. "Noise: The Invisible Pollutant that Cannot
be Ignore" dalam Vishal Shah, "Emerging Environmental Technologies", Volume
2. Springer.
Chambers, James P., dan Paul Jensen. 2005. "Noise Pollution" dalam Handbook of
Environment Engineering Volume 2, "Advance Air and Noise Pollution Control",
editor Lawrence K. Wang, PhD, PEE, DEE, Norman C. Pereira, PhD, Yung-Tse
Hung, PhD, PE, DEE. Humana Press.
Hartuti Purnaweni, Dr., Dra., MPA. "Implementasi Kebijakan Lingkungan di Indonesia:
Hambatan dan Lingkungan", Undip E-Journal System Portal
Rachmad H. Adjie. 2011. Wawancara tentang pengaruh polusi suara terhadap
lingkungan selain manusia. Pleburan, Semarang Selatan, hari Selasa, tanggal 1
Pebruari 2011.
Saktiyono. 2006. "IPA Biologi: Jilid 1", SMP dan MTs untuk Kelas VII, KTSP
Standarisasi 2006. Esis the innovative learning.