Anda di halaman 1dari 7

ETIKA KEUANGAN DAN PERBANKAN SYARIAH

TUGAS MATA KULIAH ETIKA PROFESI

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN

Oleh :

1. MUHAMMAD ROZI 2008610673


2. CITRA MUSTIKA 2009610742

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

SURABAYA

2010
ETIKA PADA SEKTOR KEUANGAN DAN PERBANKAN SYARIAH

Perbankan Syariah Awalnya dirancang sebagai alternative atas bank konvensional.


Nasabah muslim yang percaya bahwa bunga (riba) adalah tidak sesuai dengan keyakinan
agama mereka tidak memiliki pilihan namun diperbankan keraguan ini dengan
mendepositokan dana mereka di perbankan syariah atau Bank yang memiliki jasa yang
sesuai dengan hukum islam. (Satkunasingnam dan Shanugram, 2004)

Bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit
dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi
yang disesuaikan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu usaha bank akan selalu
berkaitan dengan masalah uang yang merupakan barang dagangan utamanya (Sudarsono,
2003: 27).

UU No.10 Tahun 1998 menyebutkan tentang pengertian prinsip syariah yaitu


aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lain untuk
penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang
disesuaikan dengan syariah, antara lain pembiayaan dengan prinsip bagi hasil
(mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip
jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau dengan adanya
pilihan memindahkan kepemilikan barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain.
Badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia yang belum berakhir hingga kini telah
memberikan suatu tinajauan spesifik akan perlunya sistem ekonomi alternatif. Suatu
sistem yang mampu mendorong pertumbuhan tetapi sekaligus pemerataan. Tatanan
sistem yang berpihak kepada semua orang, yakni suatu sistem yang memberikan
kesempatan seluas-luasnya pada mekanisme pasar, tetapi tetap memberikan peran kepada
pemerintah, kekuatan sosial dan hukum, untuk melakukan intervensi dan koreksi demi
menjamin kekuatan ekonomi tidak terkonsentrasi kepada sekelompok kecil pengusaha,
disamping mampu melakukan pemberdayaan ekonomi rakyat banyak, serta memberikan
kesejahteraan lahir batin secara hakiki. Sistem yang dimaksud adalah sistem ekonomi
islam. Sistem keuangan dan perbankan syari’ah merupakan bagian dari konsep ekonomi
islam secara keseluruhan guna menanamkan nilai dan etika islam ke dalam lingkup
ekonomi. Lembaga keuangan/perbankan syari’ah berperan dalam menunjang
pembangunan ekonomi bangsa Indonesia, baik dalam menghimpun dana masyarakat
maupun dalam penyalurannya kepada pihak yang membutuhkan. Dalam sejarah islam
pengertian bank sendiri sebelumnya tidak dikenal. Istilah yang dipakai untuk lembaga
yang melaksanakan pengarahan dana dan penyaluran dana ke dalam perekonomian
masyarakat dikenal dengan istilah Baitul Tamwil (Finance House). Baitul Tamwil
memungut biaya administrasi, yaitu biaya-biaya yang betul dikeluarkan untuk operasi,
serta untuk pengembangannya, lembaga mendapat sebagian keuntungan dari operasi
(kegiatannya) dalam hal “bagi hasil” (almurabahah) dan al-ijarah.

Etika yang berhubungan dengan Perbankan Syariah dan merupakan etos nilai bank
adalah Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan). Perbankan syariah dalam
artian luas mengharapkan tidak hanya menghindari transaksi berbasis bunga, yang
dilarang dalam syariah, namun juga untuk menghindari praktik bisnis yang tidak etis.

Beberapa issue etika dalam perbankan syariah adalah Corporate Governance untuk
Institusi Keuangan Syariah (Islamic Financial Isntitution - IFIs).

Dalam Buku “Current Issues Lembaga Keuangan Syariah, Nurul Huda dan Mustafa
Edwin Nasution, 2009”, dijelaskan untuk meninjau Tingkat Etika Suatu Perbankan
Syariah, harus dilihat dari point-point berikut :

1. Tata Kelola Perusahaan pada Institusi Perbankan

2. Corporate Governance di Bank Syariah

3. Transparansi dan Pengungkapan Governance

Dalam ajaran Islam, point-point tersebut menjadi prinsip penting dalam aktivitas
dan kehidupan seorang muslim. Islam sangat intens mengajarkan diterapkannya prinsip
‘adalah (keadilan), tawazun (keseimbangan), mas’uliyah (akuntabilitas), akhlaq (moral),
shiddiq (kejujuran), amanah (pemenuhan kepercayaan), fathanah (kecerdasan), tabligh
(transparansi, keterbukaan), hurriyah (independensi dan kebebasan yang
bertanggungjawab), ihsan (profesional), wasathan (kewajaran), ghirah (militansi syari’ah,
militansi syari’ah, idarah (pengelolaan), khilafah (kepemimpinan), aqidah (keimanan),
ijabiyah (berfikir positif), raqabah (pengawasan), qira’ah dan ishlah (organisasi yang
terus belajar dan selalu melakukan perbaikan). Berdasarkan uraian di atas dapat
dipastikan bahwa Islam jauh mendahului kelahiran GCG (Good Coorporate Governance)
yang menjadi acuan bagi tata kelola perusahaan yang baik di dunia. Prinsip-prinsip itu
diharapkan dapat menjaga pengelolaan institusi ekonomi dan keuangan syari’ah secara
profesional dan menjaga interaksi ekonomi, bisnis dan sosial berjalan sesuai dengan
aturan permainan dan best practice yang berlaku.

Bankir Syari’ah Pionir Penegakan GCG

Dibandingkan dengan para bankir konvensional, maka bankir syari’ah seharusnya


lebih unggul dan terdepan dalam implementasi GCG di lembaga perbankan, mengingat
lembaga perbankan syari’ah membawa nama agama ke dalam lembaga bisnis. Tegasnya,
bankir syari’ah harus memainkan perannya sebagai pionir penegakan GCG di lembaga
perbankan. Jika para bankir syari’ah melakukan penyimpangan dan moral hazard, hal itu
tidak saja berimplikasi kepada lembaga tersebut tetapi juga kepada citra syari’ah.
Meskipun masyarakat mengetahui bahwa hal itu kesalahan oknum tertentu. Tetapi orang
akan dengan cepat menilai bahwa lembaga syariah saja melakukan moral hazard, apalagi
lembaga konvensional.

Keharusan tampilnya bankir syari’ah sebagai pionir penegakan GCG dibanding


konvensional, menurut Algaoud dan Lewis (1999) karena permasalahan governance
dalam perbankan syariah ternyata sangat berbeda dengan bank konvensional. Pertama,
bank syariah memiliki kewajiban untuk mematuhi prinsip-prinsip syariah (shariah
compliance) dalam menjalankan bisnisnya. Karenanya, Dewan Pengawas Syariah (DPS)
memainkan peran yang penting dalam governance structure perbankan syariah. Kedua,
karena potensi terjadinya information asymmetry sangat tinggi bagi perbankan syariah
maka permasalahan agency theory menjadi sangat relevan. Hal ini terkait dengan
permasalahan tingkat akuntabilitas dan transparansi penggunaan dana nasabah dan
pemegang saham. Karenanya, permasalahan keterwakilan investment account holders
dalam mekanisme good corporate governance menjadi masalah strategis yang harus pula
mendapat perhatian bank syariah (Archer dan Karim, 1997). Ketiga, dari perspektif
budaya korporasi, perbankan syariah semestinya melakukan transformasi budaya di mana
nilai-nilai etika bisnis Islami menjadi karakter yang inheren dalam praktik bisnis
perbankan syariah (Sigit Pramono,2002).

Lembaga Pendukung Bagi Efektivitas GCG dan Pengawasan Etika Di Bank


Syariah menurut (M. Umer Chapra Habib Ahmed,2006) terdiri dari :

1. Lembaga Rating Kredit, Kamar Dagang, Dan Asosiasi Usaha : Salah satu
lembaga pendukung yang dibutuhkan bagi efektivitas corporate governance adalah
lembaga rating kredit, yang bertugas untuk merating bank berikut para
counterpartnya.

2. Sentralisasi Dewan Syariah merupakan suatu keharusan dalam membentuk


Dewan Syariah dalam rangka memurnikan dan menyesuaikan berbagai model dan
instrument keuangan bank dengan ketentuan syariah. Dewan Syariah perlu dibentuk
oleh IIRA untuk melengkapi dan mempercepat tugas komite fikih OKI dalam
merealisasikan tujuan ini.

3. Auditor Syariah merupakan suatu keharusan untuk membentuk chartered syariah


auditor, atau melakukan pelatihan terhadap chartered accountant tentang tugas audit
syariah. Dengan adanya sertifikasi dari dewan syariah atas tugas audit ini, tentu akan
memberikan kepercayaan kepada public bahwa operasional bank benar-benar telah
sesuai dengan norma-norma syariah.

4. Arbitrase Syariah merupakan fasilitas peradilan yang memungkinkan bagi bank


untuk mendapatkan kembali pinjaman yang telah mereka berikan jika nasabah
melakukan tindakan kecurangan, dan memungkinkan bagi nasabah untuk
mendapatkan keadilan dengan biaya yang rendah ketika bank bertindak tidak adil.
Pendirian badan arbitrase syariah akan sangat membantu untuk menghadirkan
keputusan yang tepat saat terjadi perselisihan antara bank dengan nasabah atau
sebaliknya. Apabila melalui pengadilan sipil secara normal membutuhkan waktu yang
cukup lama. Arbitrase syariah akan memberikan efek yang besar bagi reputasi bank
ataupun nasabah, karena biasanya hasil dari pengadilan tersebut akan dipublikasikan
dalam media massa. Unsur ketakutan atas jeleknya publisitas dalam media massa
akan meminimalisir penyimpangan terhadap kontrak. Lebih lanjut, nama-nama pihak
yang sering melakukan penyimpangan kontrak akan dikirmkan kepada kamar dagang
dan asosiasi usaha untuk mendapatkan blacklist dan efek sosial yang tidak
menguntungkan.

5. Organisasi Audit merupakan suatu keharusan untuk melakukan evaluasi laporan


laba rugi (profit and loss account) pada nasabah yang berusaha untuk melakukan
tindak kecurangan dalam perjanjian PLS. Adanya ketakutan akan terkuaknya
kejahatan yang dilakukan oleh nasabah dengan adanya pengecekan laporan nasabah
oleh satu organisasi tertentu akan melengkapi kekuatan pasar dalam meminimalisir
usaha pengguna dana dengan basis PLS untuk melakukan tindakan kecurangan
terhadap bank.

6. Pelatihan Perbankan Syariah merupakan suatu keharusan untuk memberikan


pelatihan kepada para staf bank, nasabah, dan masyrakat luas tentang prinsip dasar
bank syariah. Hingga saat ini pelatihan dilakukan oleh masing-masing bank, oleh
karenanya menambah biaya baginya.

Selain itu, beberapa sarana pendukung corporate governance juga perlu untuk lebih
disempurnakan. Di antara sarana pendukung corporate governance yang terpenting
adalah kontrol internal, manajemen resiko, transparansi, akuntansi dan disklosur
pembiayaan, pemurnian dan audit syariah, regulasi dan pengawasan yang prudent.
Percaya secara penuh pada beberapa sarana pendukung tersebut belumlah cukup.
Komitmen moral dari para pelaku pasar juga sangat diperlukan. Tanpa adanya komitmen
tersebut, para pelaku pasar bisa saja melakukan berbagai cara untuk melanggar hukum
tanpa terdeteksi atau bahkan tanpa mendapatkan tuntutan hukum.
Kasus Nyata Pelanggaran Pada Bank Syariah

Pelanggaran prinsip Syariah terdapat di unit usaha Syariah PT. Bank Danamon
Tbk. Pelanggaran ini adalah pemakaian rekening syariah untuk kegiatan transaksi
derivatif. Salah satu larangan dalam prinsip syariah adalah pemasaran produk derivatif
yang tidak memiliki underlying transaksi. Pasalnya, transaksi ini berisifat spekulasi yang
berbau judi. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Siti Fadjrijah bahwa produk
seperti ini dilarang digunakan pada bank syariah. Pelanggaran tersebut dapat dikenakan
sanksi pidana maupun teguran, bahkan jika pelanggaran ini dilakukan secara terus
menerus bank maupun unit syariahnya dapat dicabut izin usahanya. Hingga kini Bank
Danamon Syariah telah melakukan perbaikan dengan memindahkan rekening tersebut ke
rekening konvesional dan berjanji tidak akan melakukan pelanggaran tersebut kembali.