Anda di halaman 1dari 23

Bab 9.

Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

9
PERENCANAAN TATA GUNA LAHAN
BERBASIS MITIGASI BENCANA
GEOLOGI

9.1 Pendahuluan
Pada dasarnya peruntukan lahan ditetapkan melalui berbagai kajian, baik kajian dari kondisi fisik
lahan, kondisi sosial dan ekonomi masyarakatnya serta ditetapkan melalui proses politik dalam
suatu keputusan pemerintah.

Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi
dampak bencana, serta mewujudkan tata ruang kawasan yang lebih baik dan aman. Zonasi pada
rencana tata ruang wilayah dapat berupa zona-zona berdasarkan tingkat potensi kerawanan
bencananya. Untuk mewujudkan konsep dasar penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana
geologi, perlu dilakukan langkah-langkah kegiatan dan penyediaan data dasar geologi, terutama
yang berkaitan dengan jenis dan potensi bencana geologi.

Dalam bab ini akan diuraikan proses perencanaan tata guna lahan dan beberapa contoh kasus
perencanaan tataguna lahan yang ada di kawasan rawan bencana geologi, seperti di daerah
rawan banjir, daerah rawan gempabumi, dan daerah rawan longsor serta konsep penataan ruang
wilayah berbasis mitigasi bencana geologi.

9.2 Proses Perencanaan Tataguna Lahan


Secara umum proses perencanaan tataguna lahan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) tujuan,
yaitu perencanaan tataguna lahan yang ditujukan untuk sektor swasta/perorangan dan
perencanaan lahan untuk sektor publik. Antara keduanya berbeda penekanannya, pada
perencanaan tataguna lahan pada sektor swasta biasanya peruntukan lahannya hanya untuk satu
peruntukan saja, seperti perencanaan lahan untuk kawasan pemukiman (real estate), kawasan
industri atau kawasan ruang terbujka hijau. Sedangkan perencanaan lahan untuk sektor publik
lebih menekankan pada hubungan antara berbagai fungsi peruntukan lahan, seperti misalnya
bagaimana hubungan fungsi lahan antara kawasan industri, pemukiman, pertanian, resapan air,
lokasi pembuangan limbah dan lain sebagainya.

Di dalam proses perencanaan tataguna lahan, geologi mempunyai peran yang sangat penting baik
dalam proses perencanaan lahan sektor swasta maupun sektor publik dan hal ini disebabkan
karena data dan informasi geologi, seperti ketersedian sumberdaya geologi ataupun potensi
bahaya geologi yang mungkin ada di suatu lahan, sangat dibutuhkan dalam penetapan
peruntukan suatu lahan. Pada dasarnya proses perencanaan tataguna lahan dilakukan mengikuti
tahapan proses seperti yang diperlihatkan dalam gambar 9.1:

Copyright@2008 by Djauhari Noor 262


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Tahap 1: Batasan Permasalahan dan Tujuan

Tahap awal dari proses perencanaan adalah menetapkan batasan permasalahan dan tujuan
daripada peruntukan lahan. Pada tahap ini, pemasalahan umum yang harus dikaji adalah
melakukan inventarisasi pada areal lahan yang akan dimanfaatkan untuk suatu tujuan tertentu.
Adapun inventarisasi yang perlu dilakukan antara lain: Apakah di dalam lahan tersebut sudah atau
belum tersedia sarana jalan, pemukiman/perumahan, areal rekreasi, pasokan air, dan areal areal
yang rawan bencana geologi, seperti areal yang rawan banjir, rawan longsor, rawan gempabumi,
atau rawan bencana gunungapi.

Berdasarkan permasalahan yang dijumpai kemudian di formulasikan kedalam tujuan-tujuan secara


umum (global), misalnya areal lahan yang direncanakan untuk pemukiman, maka bangunan yang
akan didirikan harus aman dari bencana banjir atau longsor. Berdasarkan dari hasil keputusan
yang telah disepakati, maka awal dari proses perencanaan harus dimulai dengan mengkaji secara
komprehensif faktor-faktor apa saja yang dapat menimbulkan terjadinya banjir atau longsor,
kemudian diikuti dengan rencana-rencana persiapan dan program-program dalam
penanggulangan dan pencegahan banjir atau longsor. Pada tahap ini, instansi pemerintah yang
bertanggungjawab atas masalah banjir atau longsor harus diikut sertakan sebagai mengawasi di
dalam proses perencanaan, terutama yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap 2: Latar Belakang Penetapan Peruntukan Lahan

Permasalahan-permasalahan yang muncul pada tahap awal harus ditindak lanjuti dengan
melakukan pengkajian terhadap faktor-faktor apa saja yang akan berdampak apabila lahan
tersebut dimanfaatkan. Adapun aspek-aspek yang dikaji dalam proses penetapan peruntukan
lahan adalah aspek aspek yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, politik dan fisik. Dalam
penetapan peruntukan lahan sering kali diperlukan data dan informasi yang mencakup semua
aspek lingkungan geologi hingga beberapa tahun ke belakang, terutama yang berkaitan dengan
sumberdaya dan bencana geologi.

Data dan informasi lingkungan geologi sangat diperlukan guna membuat dan menyusun peta
dasar yang nantinya akan dipakai dalam proses perencanaan tataguna lahan. Peta dasar harus
menyajikan data dan informasi mengenai wilayah wilayah mana saja yang berpotensi terkena
bencana geologi (banjir, longsor, gempabumi, erupsi gunungapi, dsb.nya), wilayah-wilayah yang
memiliki potensi sumberdaya geologi (air, mineral, dan energi), dan wilayah-wilayah yang terdapat
sumberdaya alam lainnya. Studi khusus juga dimungkinkan untuk permasalahan-permasalahan

Copyright@2008 by Djauhari Noor 263


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

yang khusus pula, seperti studi tentang potensi dan cadangan sumberdaya air, studi tentang
potensi dan cadangan sumberdaya mineral dsbnya.

Tahap 3: Rencana Persiapan

Pada tahap rencana persiapan faktor yang harus dikaji secara komprehensif adalah fungsi
penggunaan masing-masing lahan secara rinci dan spesifik. Oleh karena itu pada tahap rencana
persiapan yang harus dilakukan adalah menetapkan peruntukan lahan dari rencana umum (global)
pada setiap fungsi lahan sebagai hasil keputusan dan kesepakatan pada tahap awal. Rencana
persiapan yang diusulkan harus dikaji secara kritis dan komprehensif. Perubahan–perubahan yang
terjadi selama proses pembahasan harus dilakukan sebelum suatu rencana akhir diputuskan.
Rencana tataguna lahan yang telah diputuskan dan disepakati harus disertai dengan pembentukan
institusi / lembaga yang nantinya berfungsi sebagai pengawas dalam pelaksanaannya
/implementasinya. Rencana penetapan peruntukan lahan harus memperhatikan semua aspek
secara komprehensif dan terintegrasi, tidak hanya pada salah satu aspek saja, tetapi semua aspek
tataguna lahan yang akan berubah dan berkembang baik dari aspek ekonomi, sosial, politik dan
fisik.

Perencanaan komprehensif biasanya dilakukan untuk jangka waktu 20–30 tahun kedepan. Pada
umumnya suatu perencanaan lahan mencakup perencaaan untuk jangka panjang dan jangka
pendek. Perencanaan jangka pendek biasanya berkisar antara antara 1 – 5 tahun sedangkan
untuk jangka panjang berkisar antara 25 – 30 tahun. Dalam hal ini rencana-rencana yang tidak
dapat direalisir dalam jangka pendek harus tetap disiapkan dan dipakai sebagai suatu kebijakan
pada proses perencanaan berikutnya. Dalam perencanaan komprehensif tidak saja hanya
melakukan penilaian terhadap setiap peruntukan lahan akan tetapi yang paling penting adalah
siapa yang akan bertanggung jawab dalam pelaksanaannya. Dalam hal ini sudah barang tentu
pemerintah adalah satu-satunya lembaga yang paling bertanggung jawab dalam pelaksana dari
rencana yang sudah disiapkan seperti misalnya dalam penetapan batas-administrasi, batas wilayah
budaya, batas wilayah air, kawasan bisnis, pertanian dan industri. Sedangkan untuk rencana
fungsional tanggungjawabnya berada pada dinas-dinas terkait sesuai dengan fungsi dan tugasnya,
misalnya dinas kebersihan, dinas pekerjaan umum, dinas tatakota, dinas pemukiman dll.
Perencanaan fungsional biasanya berasal dari perencanaan komprehensif, namun di dalam
perencanaanya diperlukan data tambahan dan kebijakan tertentu untuk fungsi lahan tertentu.

Tahap 4: Implementasi dan Pembuatan Regulasi

Dalam proses perencanaan, tahap akhir merupakan tahap yang paling kritis dari seluruh rangkaian
proses perencanaan tataguna lahan. Keberhasilan pada tahap ini sangat ditentukan oleh (1)
Pemimpin yang inovatif, (2) Pelaksanaan aturan-aturan secara konsisten dan hati-hati, (3)
Perpajakan yang adil, (4) Public purchase dan kontruksi, (5) Melakukan re-evaluasi terhadap
proyek-proyek yang diajukan oleh masyarakat dan swasta. Kekuatan untuk menindak dan
memberdayakan suatu rencana tataguna lahan adalah dengan aturan aturan dan kebijakan
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Karena
kebijakan dan peraturan merupakan kekuatan dan kepastian hukum dalam mengendalikan suatu
rencana tataguna lahan. Peninjauan kembali suatu proyek harus selalu mengacu kepada hasil
penilaian persetujuan / penolakan dari pribadi, masyarakat, atau pemerintah dimana
implementasinya mungkin melibatkan zonasi, subdivisi, ataupun yang berkaitan dengan aturan
bangunan. Proyek pembangunan yang berkaitan dengan kebijakan hukum lingkungan dan hukum
negara merupakan hal yang sangat penting dalam proses peninjauan ulang. Partisipasi
masyarakat sangat dibutuhkan dalam meng-evaluasi dampak lingkungan yang akan terjadi dari
suatu usulan pembangunan.

Prosedur yang harus diikuti dari suatu proyek perencanaan tataguna lahan hingga ke tahap
kontruksi adalah suatu proses yang panjang dan komplek. Berikut ini diuraikan satu konsep dari
proses perencanaan lahan mulai dari tahap perencanaan hingga ke tahap kontruksi dan yang
paling penting adalah bagaimana informasi geologi dibutuhkan dalam proses ini?. Ahli-ahli apa

Copyright@2008 by Djauhari Noor 264


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

saja yang harus terlibat dalam proses ini ?; bagiamana para pengembang berinteraksi dengan
pemerintah daerah?. Dalam kasus ini, diasumsikan bahwa para pengembang dan para konsultan
selama proses perencanaan tata ruang hingga ke tahap kontruksi selalu terlibat dan bertindak
memberikan penyuluhan/konsultasinya.

Gambar 9.2 adalah suatu ilustrasi dari suatu proses “perencanaan-regulasi-pembangunan” di


tingkat pemerintah daerah. Pada gambar terlihat bahwa “putusan jangka panjang” akan
berdampak pada “areal yang luas” dan “konsep umum” sedangkan “putusan jangka pendek”
hanya untuk “areal yang kecil” dan “rinci dan spesifik” dari suatu perencanaan. Pertimbangan ini
diaplikasikan pada setiap tahapan dalam: “pembangunan”, “rencana dan regulasi”, serta
“geologi”.

Gambar 9.2: Proses Perencanaan-Regulasi-Pembangunan

Oleh karena itu, usulan/proposal awal yang dibuat oleh pengembang sudah barang tentu harus
memperhatikan “tujuan masyarakat secara umum” seperti yang dinyatakan dalam “rencana umum
tataguna lahan”. Pengembang juga harus mempertimbangkan kondisi geologi dalam
pembangunan. Kemudian pada tahap proses pembangunan, pengembang akan membutuhkan
data dan informasi geologi detail untuk disain bangunan (menentukan tipe/jenis pondasi, daya
dukung bangunan, struktur bangunan, dsb). Dengan demikian, pengembang menjalankan proses
pembangunan sesuai dengan tahapan yang harus dilaluinya hingga sampai ke tahap kontruksi.
Rangkaian dari “perencanaan dan regulasi” menjelaskan bagaimana masyarakat dapat
mengembangkan konsep ini secara luas ke dalam rencana umum dan kemudian mengadopsi
peraturan/regulasi untuk membantu meng-implementasikannya dalam rencana.

Rencana Umum biasanya disusun untuk tujuan-tujuan yang lebih luas bagi masyarakat yaitu 20
hingga 30 tahun ke depan. Peraturan zonasi disusun secara rinci dalam penggunaan lahan dan
batasan dari bangunan yang boleh dibangun. Sedangkan peraturan subdivisi berhubungan dengan
dimana lahan dipisah-pisahkan dan disusun untuk keperluan peningkatan lahan yang akan
dilakukan oleh pengembang, seperti pembuatan sarana jalan, jalur untuk saluran pipa air,
drainase dan fasilitas lainnya.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 265


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Peraturan pengembangan/pembangunan lokasi (grading) disusun terutama untuk lahan lahan


yang dapat diubah peruntukannya karena grading. Kode Bangunan dibutuhkan untuk kontruksi
bangunan perumahan, perkantoran dan berbagai jenis bangunan lainnya. Proposal pembangunan
dibuat hanya setelah dilakukan analisa pemasaran yang menunjukkan adanya kebutuhan dan
mengindikasikan kelayakan ekonomi.

9.3 Penetapan Peruntukan Lahan


Para perencana umumnya melihat pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah serta
perubahan yang terjadi sebagai sesuatu yang wajar dan perubahan merupakan dinamika yang
terjadi secara alamiah dan akan berlanjut terus. Kondisi lingkungan yang ada pada saat ini
merupakan cermin dari hasil penetapan tataguna lahan pada masa lalu (ditinjau dari aspek
ekonomi, politik, sosial, dan fisik).

Oleh karena itu dalam perkembangannya diperlukan umpan balik guna mengetahui mengapa
perubahan pola tataguna lahan terjadi dan usaha usaha apa saja yang harus dilakukan agar
perubahan yang terjadi bermanfaat bagi masyarakat (gambar 9.3). Penetapan peruntukan dan
perubahan tataguna lahan akan berdampak pada lingkungan dan akan saling mempengaruhi satu
dengan lainnya. Perubahan lingkungan dapat berakibat pada perubahan peruntukan lahan dari
peruntukannya semula. Satu hal yang juga perlu dipertimbangkan dalam penetapan peruntukan
lahan adalah perubahan tata nilai dan perkembangan teknologi dapat merubah peruntukan suatu
lahan.

Gambar 9.3 Hubungan timbal balik antara penentuan tataguna lahan


dan pola tataguna lahan

 Aspek Ekonomi :

Pada dasarnya, para ekonom memandang suatu lahan hanya sebagai barang komoditas
yang bernilai jual. Dalam ilmu ekonomi, setiap lahan hanya dilihat dari segi manfaat dan
ditentukan melalui suatu mekanisme harga. Dalam hal ini pembeli dan penjual
memahami bahwa semua faktor ekonomi ditentukan atas tindakan dan keputusan yang
dibuatnya. Hampir semua teori ekonomi hanya menguraikan bagaimana pola tataguna
lahan ditentukan atas dasar pengembalian yang optimal. Sebagai contoh, kebutuhan
lahan dan lokasi lahan untuk keperluan pendirian suatu pabrik, supermarket atau kilang
pengolahan akan berbeda, hal ini karena aktivitas kebutuhannya juga berbeda. Untuk
lokasi Supermarket, lahan yang dicari adalah lahan yang lokasinya terletak di pusat-
pusat bisnis atau pemukiman, sedangkan untuk kebutuhan pendirian pabrik akan dicari
lahan yang terletak di luar kota atau di kawasan industri.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 266


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

 Aspek Sosial :

Oleh para sosiolog, peruntukan suatu lahan dinilai atas dasar sistem sosial, nilai-nilai
sosial, dan karakteristik masyarakat yang ada di dalam lahan tersebut. Mereka lebih
tertarik pada permasalahan yang berkaitan dengan perbedaan status sosial yang ada di
dalam masyarakat dalam mengatur dirinya sendiri, baik secara informal maupun formal
dan bagaimana interaksi antara satu dengan lainnya yang berbeda status sosialnya,
tingkah laku setiap individu dan sistem nilai serta pola tingkah laku individu. Para
sosiolog kemudian mengembangkan teori yang berguna untuk menjelaskan hubungan
dari perubahan yang akan terjadi dikaitkan dengan karakter masyarakat /penduduk,
tempat, kepadatan dan tata nilai. Informasi ini sangat penting artinya bagi para
perencana di dalam perencanaan suatu lahan untuk memenuhi kebutuhan seluruh
masyarakat yang ada di dalamnya.

 Aspek Politik:

Dalam sudut pandang politik, peruntukan suatu lahan dinilai dan ditentukan berdasarkan
keputusan politik yang merupakan cerminan dari keinginan masyarakat setempat.
Keputusan politik tidak saja dapat mementahkan suatu aturan atau produk hukum, akan
tetapi memiliki kekuatan yang sangat efektif untuk membatalkan suatu aturan yang
sudah ditetapkan. Keputusan politik dapat juga merubah peruntukan suatu lahan sesuai
dengan keinginan masyarakat yang ada dikawasan tersebut. Salah satu aspek yang
paling penting dalam dalam pelaksanaan keputusan politik adalah konsistensi dan
pengawasan dalam pelaksanaan peraturan yang telah ditetapkan.

 Aspek Fisik :

Peruntukan lahan sangat ditentukan oleh kondisi fisik lahan. Kondisi fisik suatu lahan
adalah semua aspek yang berkaitan dengan lingkungan alamiah dan budaya. Dalam
sudut pandang ilmu geologi, lingkungan fisik adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan
lingkungan geologi serta bagaimana lingkungan fisik tersebut berdampak terhadap
aktivitas manusia yang ada didalamnya. Dalam geologi, nilai fisik suatu lahan hanya
dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: Lahan yang bernilai sebagai Sumberdaya Geologi
atau lahan yang berpotensi terjadi Bencana Geologi.

9.4 Geologi dan Pembuat Kebijakan / Pengambil Keputusan


Di dalam perencanaan tataguna lahan, lingkungan alamiah merupakan salah satu aspek yang
sangat penting dan sudah menjadi pengetahuan dari para perencana. Seorang perencana
mengetahui dengan pasti tentang komponen-komponen apa saja yang berpengaruh terhadap
bentuk bentangalam (morfologi), seperti proses-proses geologi apa saja yang dapat
mempengaruhi dan merubah bentuk lahan. Pengetahuan tentang relevansi antara bentuk lahan
dengan proses proses geologi yang bekerja pada lahan tersebut, sehingga dapat menilai apakah
lahan tersebut sebagai “sumberdaya” atau “sumber bencana”.

Sumberdaya lahan, seperti tanah dan endapan mineral yang dikandungnya dapat dikembangkan
terutama jika lahan tersebut bermanfaat bagi masyarakat. Lahan dapat juga menjadi sumber
bencana apabila lokasinya berada pada suatu zona patahan aktif yang berpotensi menimbulkan
bencana gempabumi atau berada di lereng-lereng bukit yang berpotensi longsor. Disamping itu
lahan yang rawan longsor dapat diubah menjadi sumberdaya apabila dikonversi menjadi lahan
taman atau dibiarkan sebagai lahan terbuka hijau. Oleh karena itu dari aspek perencanaan, suatu
lahan memiliki 2 potensi, yaitu (1) lahan yang berpotensi sebagai sumberdaya dan (2) lahan yang
berpotensi sebagai bencana atau kedua-duanya.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 267


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Sudah menjadi kecenderungan yang bersifat umum dari banyak perencanaan dan para pengambil
keputusan yang seringkali mengabaikan faktor bencana geologi pada proses penetapan
peruntukan lahan. Di banyak instansi, informasi yang berkaitan dengan keberadaan suatu potensi
bencana geologi tidak pernah dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat atau apabila di
publikasikan tidak pernah sampai atau diketahui oleh para pembuat keputusan. Suatu keputusan
akan bermanfaat bagi masyarakat apabila didasarkan atas data dan informasi yang lengkap,
akurat dan dalam bentuk yang mudah dipahami.

Sebagaimana telah diuraikan diatas, lingkungan geologi menyediakan dua jenis sumberdaya.
Kedua sumberdaya ini harus dipisahkan dan keduanya harus dimanfaatkan ditempatnya. Sebagai
contoh adalah sumberdaya yang dimanfaatkan di tempatnya, adalah: lingkungan pantai,
pegunungan, gurun, lembah yang sesuai untuk tempat rekreasi. Sumberdaya lainnya yang
dimanfaatkan di tempatnya adalah akuifer air tanah dan tanah yang dipakai untuk bercocok
tanam. Dengan demikian, lingkungan fisik harus semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan
manusia dan oleh karenanya peran para perencana dalam penetapan peruntukan suatu lahan
harus memenuhi 4 (empat) aspek, yaitu aspek ekonomi, sosial, politik dan fisik.

Lingkungan geologi merupakan bagian terpenting dari lingkungan fisik yang harus menjadi
pengetahuan bagi para perencana. Oleh karena itu, para perencana dituntut untuk mengenali dan
memonitor keterbatasan keterbatasan yang ada sehingga proses perencanaan tataguna lahan
dapat bermanfaat dan aman bagi masyarakat pengguna.

9.5 Konsep Penataan Ruang Wilayah Berbasis Mitigasi


Bencana Geologi
Wilayah pesisir dan pulau pulau di Indonesia pada umumnya memiliki potensi ekonomi yang
sangat besar, seperti transportasi industri, agribisnis, agroindustri, pariwisata, pemukiman, dan
lain sebagainya. Disamping sumberdaya alamnya yang melimpah dan potensi yang dapat
dikembangkan, wilayah pesisir Pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan juga memiliki potensi
bencana, baik bencana yang diakibatkan oleh alam, manusia, maupun kombinasi keduanya.
Potensi bencana di wilayah pesisir antara lain ancaman abrasi/erosi pantai, tsunami, gelombang
pasang, kenaikan muka air laut (sea level rise), banjir, sedimentasi dan pencemaran, dan
sebagainya. Hal ini diperburuk dengan situasi dan kondisi yang cukup rentan akibat dari
kompleksitas pesatnya pertumbuhan wilayah pesisir yang seringkali mengabaikan aspek-aspek
mitigasi bencana alam dalam proses pembangunannya. Besarnya potensi bencana tersebut jika
tidak disertai dengan tingkat kesiap-siagaan masyarakat pesisir dalam mengantisipasi potensi
bencana tersebut akan berakibat pada besarnya jumlah korban jiwa dan besarnya kerusakan yang
terjadi di wilayah pesisir. Kurangnya perencanaan yang berbasis mitigasi merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan hal tersebut.

Rencana Zonasi (tata ruang) berbasis mitigasi merupakan salah satu cara dalam upaya mitigasi
dampak kerusakan akibat bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dirasakan sangat
penting dalam aspek pembangunan yang berbasis mitigasi bencana alam. Dengan konsep zonasi
(tata ruang) yang sudah memperhatikan aspek kebencanaan, diharapkan dapat meminimalkan
segala kerugian yang dapat ditimbulkan oleh bencana tersebut. Untuk itu perlu diketahui informasi
yang lebih rinci antara lain mengenai konsep dasar tata ruang kawasan pesisir, kawasan-kawasan
yang diperlukan dalam tata ruang kawasan pesisir rawan bencana tsunami, dan penataan ruang
yang sesuai dengan karakteristik masyarakat lokal.

Rencana zonasi menurut UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumber daya tiap tiap satuan
perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada Kawasan perencanaan yang
memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya
dapat dilakukan setelah memperoleh izin. UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana pasal 35d dan 39 mengamanatkan pemaduan penanggulangan bencana dalam

Copyright@2008 by Djauhari Noor 268


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

perencanaan pembangunan. UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan ruang penjelasan pasal 5
ayat (2) menjelaskan penataan ruang harus memasukkan kawasan rawan bencana, lebih lanjut
UU No. 27 tahun 2007 pasal 7 ayat 3 mengamanatkan Pemerintah Daerah wajib menyusun
perencanaan zonasi wilayah pesisir yang berbasis mitigasi bencana.

Pada dasarnya penataan ruang merupakan pengaturan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya


alam dan sumberdaya buatan bagi kegiatan pembangunan berbagai sektor yang membutuhkan
ruang. Penataan ruang adalah salah satu bentuk kebijakan pemerintah dalam bidang
pengembangan wilayah dan kota yang mencakup tiga proses utama yang saling terkait, yaitu
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Ketiga
kegiatan tersebut berjalan sebagai suatu siklus yang kontinyu dalam suatu manajemen penataan
ruang yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan manusianya.

Konsep perencanaan tata ruang wilayah berbasis mitigasi bencana geologi dapat dilihat pada
gambar 9.4, yaitu diawali dengan mengkaji kondisi geologinya, baik yang berkaitan dengan
potensi sumberdaya maupun potensi bencana geologinya. Tahap selanjutnya adalah penetapan
tataguna lahan yang didasarkan atas pertimbangan potensi sumberdaya geologi dan kerentanan
terhadap bencana geologinya. Hasil dari penetapan lahan kemudian dipakai sebagai masukan
dalam proses perencanaan tata ruang wilayah. Peraturan (regulasi) perlu disiapkan dan ditetapkan
pada saat pemanfaatan dan pengendalian ruang.

Gambar 9.4 Diagram Alir Konsep Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi

Pada penyusunan rencana tata ruang wilayah, strategi penataan ruang harus didasarkan kepada
arahan yang jelas dan terarah dalam menetapkan kawasan rawan bencana, kawasan budidaya
berbasis bencana geologi (kawasan permukiman, perdagangan, dan pusat pemerintahan, kelautan
dan perikanan, pertanian dan perkebunan, kehutanan, pariwisata, dan pertambangan),
pengembangan buffer zone di kawasan rawan bencana geologi serta pengembangan infrastruktur
yang mendukungnya. Pada penyusunan rencana tata ruang wilayah berbasis mitigasi bencana
geologi perlu disertai dengan pedoman pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dengan tujuan
agar supaya masyarakat selalu siap dan waspada apabila sewaktu waktu terjadi bencana.

Dalam proses penyiapan rencana tata ruang harus mempertimbangkan rencana tata ruang yang
ada serta perlu memperhatikan aspek fisik dan kondisi geologi (daerah bebas bencana), aspek
ekonomi (kegiatan usaha masyarakat), dan aspek sosial budaya (religi dan local content) dengan
pendekatan “participatory planning” melalui pelibatan pemerintah daerah, tokoh masyarakat,
kalangan pengusaha/swasta dan kalangan praktisi serta akademisi. Produk rencana tata ruang
diharapkan memuat struktur dan pola pemanfaatan ruang pada tingkat kabupaten/kota dalam
zonasi. Selain itu juga menghasilkan program yang diperlukan dan tahapan pelaksanaan yang
memuat kegiatan, lokasi, dana, pelaksana, dan waktu pelaksanaan.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 269


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

9.5.1 Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah

Pada dasarnya pola dan arahan umum penataan ruang wilayah dapat dikelompokkan menjadi 2
kelompok, yaitu arahan rencana tata ruang di kawasan yang berbukit-bukit dan arahan rencana
tata ruang kawasan dataran dan pesisir.

9.5.2 Arahan Rencana Tata Ruang Kawasan Pesisir

Kawasan pesisir umumnya rentan terhadap bahaya gempabumi (tsunami), banjir dan badai. Oleh
karena itu arahan rencana tata ruang di kawasan pesisir harus mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:

1. Dalam hal untuk menghadapi potensi bencana geologi (gempabumi dan tsunami),
disamping mengembangkan jalan eksisting dan menambah jalan baru sebagai jalur
penyelamatan ke lokasi yang aman, jika perlu juga dibangun suatu bangunan yang
cukup tinggi sebagai tempat untuk menampung dan evakuasi apabila terjadi gelombang
tsunami.
2. Peraturan bangunan (Building code). Mengingat kawasan dataran pesisir pada umumnya
disusun oleh batuan/material yang bersifat lepas (unconsolidated material) yang bersifat
memperkuat getaran tanah (ground shaking amplification) apabila terjadi gempabumi.
3. Garis sempadan pantai. Garis sempadan pantai perlu diatur dan ditetapkan menjadi
suatu peraturan, mengingat potensi abrasi air laut terhadap garis pantai akan
berpengaruh terhadap keberadaan garis pantai yang ada.

9.5.3 Program Penataan Ruang Kawasan Pesisir

Program penataan ruang di kawasan dataran dan pesisir harus selalu mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut:

1. Menetapkan peruntukan ruang wilayah yang mempunyai tingkat kerentanan terhadap


potensi bahaya geologi.
2. Menetapkan peruntukan ruang untuk keperluan berbagai fungsi ruang, baik peruntukan
ruang bagi pemukiman, pendidikan, kesehatan, ruang publik dan evakuasi serta
infrastruktur yang memadai yang berguna terutama dalam proses evakuasi dan tindakan
penyelamatan apabila terjadi bencana geologi.
3. Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya gempabumi, dengan cara
membuat peta mikrozonasi yang akan menjadi acuan di dalam pembuatan dan penetapan
peraturan mengenai kontruksi bangunan (building code).
4. Menetapkan, mengawasi, dan melaksanakan secara konsisten dan konsekuen semua
peraturan yang berkaitan dengan kode bangunan.
5. Penetapan garis sempadan bangunan yang berada di kawasan pesisir
6. Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya tsunami, dengan cara
membuat peta zona bathymetry hingga ke arah pesisir dan bagian dataran hingga
ketinggian 20 meter diatas muka air laut yang akan menjadi acuan di dalam pembuatan
dan penetapan peraturan daerah mengenai zonasi kerentanan terhadap tsunami.
7. Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya banjir, baik siklus banjir
tahunan, lima tahunan, sepuluh tahunan, hingga banjir 25 tahunan dan disertai dengan
peraturan yang berkaitan dengan konstruksi bangunan dan infrastruktur lainnya.

9.5.4 Arahan Rencana Tata Ruang Kawasan Perbukitan

Ruang kawasan perbukitan umumnya rentan terhadap bencana gempabumi dan longsoran tanah,
maka arahan rencana tata ruangnya harus mempertimbangkan :

1. Kestabilan lereng dan kesesuaian lahan. Untuk wilayah yang kondisi topografinya berupa
perbukitan maka sangat mungkin rentan terhadap longsoran tanah. Peta Kerentanan

Copyright@2008 by Djauhari Noor 270


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Longsoran Tanah dan peta Kesesuaian Lahan sangat diperlukan pada proses perencanaan
tata ruang yang berorientasi pada mitigasi bahaya geologi longsoran tanah. Getaran
seismik yang bersumber dari gempabumi dapat menjadi pemicu terjadinya longsoran
tanah. Oleh karena itu di kawasan perbukitan perlu dibuat suatu aturan yang mengatur
lokasi bangunan yang didasarkan atas kerentanan longsoran tanah. Perlu dipertimbangkan
terhadap pembangunan pemukiman yang berada di kaki lereng dan atau di lereng bukit,
hal ini sangat beresiko tinggi apabila terjadi gempa atau curah hujan yang cukup tinggi
dan intensif.

2. Peraturan bangunan (Building code)


Data dan informasi tentang susunan batuan, jenis batuan dan struktur geologi perlu
diteliti dengan seksama. Data dan informasi geologi mengenai sifat fisik batuan/tanah dan
sifat teknis batuan/tanah menjadi dasar pertimbangan dalam membuat aturan bangunan,
baik yang menyangkut struktur kontruksi dan pondasi bangunan.

9.5.5 Program Penataan Ruang Kawasan Perbukitan

Program penataan ruang kawasan perbukitan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Menetapkan peruntukan ruang wilayah yang mempunyai tingkat kerentanan terhadap


gempabumi dan longsoran tanah.
2. Menetapkan peruntukan ruang untuk keperluan berbagai fungsi ruang, baik peruntukan
ruang bagi pemukiman, pendidikan, kesehatan, ruang publik dan evakuasi serta
infrastruktur yang memadai yang berguna terutama dalam proses evakuasi dan tindakan
penyelamatan apabila terjadi bencana geologi.
3. Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya geologi, dengan cara
membuat peta zonasi rentan bencana geologi yang akan menjadi acuan di dalam
pembuatan dan penetapan peraturan daerah mengenai kode bangunan (building code).
4. Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya longsoran tanah, dengan
cara membuat peta kerentanan longsoran tanah dan kestabilan lahan yang akan menjadi
acuan di dalam pembuatan dan penetapan peraturan daerah mengenai keamanan
terhadap longsoran tanah.
5. Menetapkan, mengawasi, dan melaksanakan secara konsisten dan konsekuen semua
peraturan yang berkaitan dengan kode bangunan.
6. Menetapkan, mengawasi, dan melaksanakan secara konsisten dan konsekuen semua
peraturan yang berkaitan dengan keamanan bangunan terhadap bahaya longsoran tanah.

9.6 Perencanaan Tataguna Lahan Di Daerah Rawan Bencana


Geologi
Untuk dapat hidup secara aman dan nyaman selaras dengan perubahan yang terjadi dimuka bumi,
maka kita harus dapat memahami lingkungan alam dan kecepatan perubahan yang terjadi di bumi
serta mampu menyesuaikan diri dari karakteristik perubahan alam tersebut. Berkaitan dengan
reaksi manusia terhadap bencana alam yang mungkin terjadi di lingkungan dimana manusia itu
tinggal adalah antara lain :

1. Menghindar (Avoidance). Reaksi manusia terhadap potensi bencana alam yang paling
banyak adalah dengan cara menghindar, yaitu dengan cara tidak membangun dan
menempatkan bangunan di tempat-tempat yang berpotensi terkena bencana alam seperti
daerah banjir, daerah rawan longsor atau daerah rawan gempa.

2. Stabilisasi (Stabilization). Beberapa bencana alam dapat diseimbangkan dengan


menerapkan rekayasa keteknikan, seperti misalnya di daerah-daerah yang berlereng dan
berpotensi longsor, yaitu dengan cara membuat kemiringan lereng menjadi landai dan

Copyright@2008 by Djauhari Noor 271


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

stabil sehingga kemungkinan longsor menjadi kecil, atau bangunan yang akan didirikan
menggunakan pondasi tiang pancang sampai ke bagian lapisan tanah yang stabil.

3. Penetapan Persyaratan Keselamatan Struktur Bangunan (Provision for safety in


structures). Dalam banyak kasus bangunan yang akan didirikan di tempat-tempat yang
berpotensi terjadi bencana alam seperti gempa bumi, maka struktur bangunan harus
dirancang dengan memperhitungkan keselamatan jiwa manusia, yaitu dengan bangunan
yang tahan gempa. Untuk daerah-daerah yang berpotensi terkena banjir, maka bangunan
harus dibuat dengan struktur panggung guna menghindari terpaan air.

4. Pembatasan penggunaan lahan dan penempatan jumlah jiwa (Limitation of land-use and
occupancy). Jenis peruntukan lahan, seperti lahan pertanian atau lahan pemukiman dapat
dilakukan dengan cara membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan potensi
bencana yang mungkin timbul. Penempatan jumlah jiwa per hektar dapat disesuaikan
untuk mengurangi tingkat bencana.

5. Membangun Sistem Peringatan Dini (Establishment of early warning system). Beberapa


bencana alam dapat diprediksi, sehingga memungkinkan tindakan darurat dilakukan.
Banjir, Angin Puyuh, Gelombang Laut, serta Erupsi Gunungapi adalah beberapa jenis
bencana alam yang dapat diprediksikan. Sistem Peringatan Dini telah terbukti efektif
dalam mencegah dan meminimalkan bencana yang akan terjadi di suatu daerah, seperti
banjir dan gelombang laut di daerah-daerah pantai.

Dimanakah tempat yang baik dan aman bagi aktifitas manusia? Barangkali yang paling mudah dan
kecil resikonya adalah dengan cara menghindar dari lokasi–lokasi yang rawan bencana. Dalam
kenyataannya kebanyakan komunitas manusia bertempat tinggal pada lingkungan yang rawan
bencana. Dengan demikian untuk meminimalkan dampak bencana geologi yang mungkin melanda
di tempat dimana manusia berdomisili adalah cara nomor 2 sampai nomor 5 diatas. Tingkat
keselamatan yang ingin dicapai dalam menghadapi bencana geologi seringkali merupakan fungsi
dari nilai investasi yang dibelanjakan untuk mencegah bencana tersebut.

Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa besar biaya yang harus disediakan untuk
mencegah suatu bencana geologi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka harus ada suatu
keputusan tentang tingkat resiko yang akan terjadi dan ikut terlibat di dalamnya. Sebagai contoh
adalah resiko penggunaan dan pemanfaatan lahan pemukiman yang berada di kawasan dataran
banjir dapat dikurangi menjadi nol, apabila semua kontruksi bangunan dan aktivitas manusia yang
berada di wilayah tersebut terlindungi. Akan tetapi pada kenyataannya, biaya produktivitas serta
ruang dimana manusia beraktivitas apabila dihitung akan sangat mahal dan bahkan tidak mungkin
dikonversi kedalam nilai rupiah. Oleh karena itu resiko banjir yang hanya terjadi seratus tahun
satu kali barangkali merupakan tingkat resiko yang dapat diterima untuk kasus diatas.

Tingkat resiko yang dapat diterima adalah tingkat resiko yang harus memperhitungkan semua
aspek secara rinci dan biasanya hanya untuk beberapa jenis bencana saja. Walaupun perhitungan
secara tepat sangat sulit dilakukan, akan tetapi perhitungan suatu resiko sangat erat kaitannya
dengan pengambilan keputusan. Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan untuk tempat-tempat
dimana gempabumi sering melanda di suatu daerah yaitu: Berapa banyak dana tambahan yang
harus disediakan dan dikeluarkan untuk membangun suatu konstruksi bangunan yang akan
didirikan di lokasi yang tingkat kegempaannya sangat tinggi, walaupun frekuensi kejadian
gempabuminya sangat jarang terjadi? Tingkat resiko yang dapat diterima adalah tingkat resiko
yang harus sudah mempertimbangkan secara sistematis untuk beberapa tipe bencana saja.

Meskipun perhitungan secara akurat tidak mungkin dilakukan, akan tetapi suatu penilaian umum
dari resiko harus dituangkan dalam suatu keputusan dan harus mendapat pertimbangan dari
suatu badan/ lembaga yang berwenang. Oleh karena itu biasanya perhitungan suatu resiko
bencana dilakukan oleh suatu lembaga pembuat keputusan dan dalam hal ini dapat juga dilakukan
oleh suatu perusahaan asuransi yang memang bergerak dalam bidang pertanggungan asuransi

Copyright@2008 by Djauhari Noor 272


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

bencana alam. Berikut ini adalah beberapa contoh bencana alam yang sering melanda suatu
wilayah pemukiman yang memang sudah eksis di suatu tempat / wilayah.

9.6.1 Perencanaan Tataguna Lahan Dikawasan Rawan Banjir

Banjir merupakan kejadian yang selalu berulang setiap tahunnya. Bencana banjir merupakan
bencana yang sering melanda pemukiman penduduk di berbagai wilayah dan kota di dunia. Hal
yang sangat menarik dari peristiwa bencana banjir adalah mengapa kebanyakan dari manusia
bermukim di wilayah-wilayah yang berpotensi terkena bencana banjir. Berdasarkan sejarah
kehidupan manusia di muka bumi, umumnya pemukiman dan perkotaan dibangun di tepi tepi
pantai dan sungai. Hal ini dapat dimengerti karena manusia membutuhkan air untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Permasalahannya adalah bagaimana cara untuk meminimalkan resiko dan
menghindar dari bencana banjir yang sudah terlanjur ada ditempat dimana manusia tinggal. Pada
gambar 9.5 diperlihatkan peta kesesuaian lahan diluar kawasan perkotaan yang rawan terhadap
bencana banjir.

Gambar 9.5 Peta kesesuaian lahan diluar kawasan perkotaan.

Gambar 9.6 adalah contoh Peta Zona Genangan Dikawasan Rawan Banjir. Pada gambar
diperlihatkan zona genangan air yang dibuat berdasarkan hasil perhitungan data hidrologi untuk
siklus bencana banjir 1 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, dan 100 tahunan serta areal
/ kawasan yang terbebas dari zona genangan air. Pada umumnya, pencegahan fisik untuk semua
jenis bencana banjir dilakukan untuk siklus banjir yang terjadi hingga 100 tahun. Adapun
perhitungan siklus genangan bencana banjir biasanya dihitung untuk siklus 100 tahunan dengan
pertimbangan tingkat resiko yang dapat diterima dan umumnya dibutuhkan oleh pihak
perusahaan asuransi, khususnya yang menangani asuransi kerugian properti yang disebabkan
oleh bencana banjir.

Terdapat 4 cara untuk mengurangi potensi bahaya banjir, yaitu : (1). rekayasa keteknikan, (2).
kebijakan tataguna lahan dan regulasi, (3). sistem peringatan dini, dan (4). asuransi. Dalam
perencanaan tataguna lahan, metoda pertama dan kedua merupakan metoda yang menjadi
perhatian utama. Metoda pendekatan rekayasa keteknikan dapat dilakukan dengan pembangunan
sistem drainase yang baik dan kontruksi bangunan yang tahan banjir serta membangun sistem
peringatan dini, sedangkan pendekatan kebijakan dan peraturan melalui penerbitan aturan-aturan
yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan, khususnya peruntukan lahan melalui zonasi
kerentanan terhadap bahaya banjir. Hal yang terpenting dalam membuat kebijakan dan peraturan
adalah bahwa dengan adanya peraturan dapat memastikan masyarakat yang bermukim di wilayah

Copyright@2008 by Djauhari Noor 273


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

wilayah rawan bencana banjir tidak menjadi subyek dari bencana yang akan menimpa dan
aktivitas masyarakat tidak terganggu apabila terjadi banjir.

Gambar 9.6 Klasifikasi bencana banjir yang disajikan dalam bentuk peta Zona Genagan
Air dengan siklus genangan 1 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan,
dan 100 tahunan serta zona bebas genangan

Salah satu pendekatan di dalam pengendalian banjir adalah dengan cara melakukan perencanaan
penanggulangan bencana banjir secara komprehensif, seperti misalnya perencanaan yang
disesuaikan dengan zona-zona genangan air, dan diikuti dengan pembuatan aturan aturan yang
berhubungan dengan persyaratan konstruksi bangunan yang diijinkan pada setiap zona. Agar
dapat efektif maka dalam perencanaan umum harus ada peta dokumen tentang zona-zona
genangan air serta frekuensi kejadian banjir. Informasi semacam ini sangat penting dan
diperlukan dalam proses perencanaan tataguna lahan, terutama dalam penetapan peruntukan
lahan.

Dalam pemanfaatan lahan dapat juga terjadi dan sangat dimungkinkan membangun bangunan di
daerah dataran banjir (floodplain area) akan tetapi harus memenuhi persyaratan-persyaratan
tertentu, seperti misalnya konstruksi bangunannya harus berada diatas genangan air atau
konstruksi jembatan yang melintasi sungai harus ditingkatkan guna menghindari terpaan arus air
ketika terjadi banjir, dan dapat juga bagian dari areal dataran banjir dibiarkan sebagai ruang
terbuka atau digunakan sebagai taman atau sarana olah raga. Dalam persiapan perencanaan,
pertimbangan harus diberikan untuk pemanfaatan lahan yang berada bagian hulu yang dapat
membantu meminimalkan frekuensi terjadinya banjir. Pemanfaatan lahan dan penggunaan aspal

Copyright@2008 by Djauhari Noor 274


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

dan beton pada lahan harus diminimalkan untuk membantu penyerapan air dan mengurangi
runoff.

Aturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan dan persyaratan konstruksi di daerah rawan
bencana banjir merupakan hal yang umum diterapkan dan merupakan suatu kebijakan pemerintah
dalam rangka melindungi masyarakatnya terhadap bencana banjir. Peraturan yang berhubungan
dengan larangan membangun pada areal yang mudah tergenang air (flood plain area), dan aturan
yang berkaitan dengan jenis penggunaan lahan yang diijinkan serta konstruksi bangunan yang
diperbolehkan merupakan aturan-aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan, baik oleh
pemerintah (pemberian IMB), swasta, maupun masyarakat secara konsisten. Peta Zona
Genangan Air sangat berguna baik bagi Pemerintah Daerah dan Kontraktor karena peta ini
merupakan rujukan dasar dalam membuat aturan aturan yang berkaitan dengan jenis dan tipe
bangunan yang harus dipenuhi dalam membangun infrastruktur serta struktur dan fondasi
bangunan.

Perusahaan asuransi dapat memanfaatkan peta zona genangan air sebagai dasar dalam penilaian
bangunan yang akan diasuransikan, khususnya untuk asuransi bencana banjir. Pemerintah
bertanggungjawab atas pembuatan aturan aturan yang berkaitan dengan persyaratan bangunan,
seperti konstruksi dan tipe bangunan yang akan dibangun di wilayah banjir, baik untuk banjir yang
sifatnya tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, dan seterusnya serta aturan-aturan yang berkaitan
dengan pemanfaatan lahan. Para kontraktor wajib memenuhi aturan-aturan yang telah dibuat dan
ditetapkan terhadap persyaratan konstruksi bangunan. Sedangkan bagi Perusahaan Asuransi peta
zona genangan banjir diperlukan guna kepentingan dalam penilaian dan besarnya tanggungan
suatu bangunan yang akan diasuransikan, khususnya asuransi kerugian bencana alam (banjir).

Gambar 9.7 Areal pemukiman disekitar pinggiran sungai yang rentan banjir

9.6.2. Perencanaan Tataguna Lahan Dikawasan Rawan Gempa

Pada kenyataannya lokasi pemukiman di dunia kebanyakan berada di tempat tempat yang rawan
terhadap bencana gempabumi. Beberapa contoh dapat kita lihat antara lain adalah negara Jepang
yang berada di zona subduksi antara lempeng Pasifik dengan Asia Timur, Indonesia berada pada
zona subduksi antara lempeng Asia Tenggara dengan Samudra Hindia, dan kota-kota seperti
Jayapura (Papua) dan Liwa (Lampung Barat, Sumatra) terletak pada zona sesar / patahan aktif.

Pemukiman dan kota kota yang sudah terlanjur ada di lingkungan yang rawan bencana
gempabumi wajib melakukan penataan ulang dalam penggunaan dan perencanaan lahan agar
supaya apabila terjadi bencana dapat dihindari dan atau diminimalkan dampak yang mungkin
terjadi. Pada gambar 9.8 dapat kita lihat suatu areal pemukiman yang terletak pada suatu jalur
patahan / sesar aktif, yang sewaktu waktu dapat terjadi gempa yang diakibatkan oleh pergerakan
patahan yang berakibat pada rusaknya bangunan yang ada disekitar wilayah tersebut. Untuk areal

Copyright@2008 by Djauhari Noor 275


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

pemukiman yang berada di wilayah rawan gempa, maka respon terhadap perencanaan lahannya
juga berbeda.

Gambar 9.8 Peta pemukiman yang sudah terlanjur ada di lingkungan yang rawan gempabumi,
yaitu berada dekat dengan jalur/zona patahan Hayward, California (warna coklat).

Barangkali bencana yang paling mudah diatasi adalah dampak gempabumi yang berupa rekahan
tanah. Walaupun dalam hal ini terdapat kesulitan karena adanya berbagai faktor yang sangat
komplek seperti:

1. Interval kejadian yang tidak pasti. Karena interval kejadian gempa yang tidak pasti
disepanjang suatu patahan sehingga menyulitkan dalam perencanaan. Data yang sangat
minim akan menyulitkan dalam penyesuaian peruntukan lahan secara spesifik serta dalam
pembuatan aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan di sekitar dan di sepanjang
suatu patahan. Peraturan yang dibuat dengan data yang sangat minim secara politis akan
sulit memperoleh dukungan.

2. Penetapan lebar zona patahan. Di perbagai instansi, data tentang lebar suatu zona
patahan dapat berbeda beda. Tanpa suatu dasar yang pasti maka untuk memprediksi
patahan mana yang berikutnya yang akan bergerak/patah sangat sulit dilakukan, sehingga
penyesuaian peruntukan lahan dan penyusunan aturan yang berkaitan dengan lahan juga
menjadi sulit dipertahankan.

3. Bangunan yang sudah terlanjur ada. Pembangunan yang dilaksanakan di tempat


tempat yang berdekatan dengan zona patahan dan disepanjang jalur patahan akan sulit
dilarang dan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan pembangunan di
tempat tempat tersebut akan menjadi sia-sia, hal ini disebabkan karena pemerintah /
lembaga yang berwenang tidak memiliki data yang memadai dan akurat terhadap
kemungkinan bencana yang mungkin terjadi.

Berkaitan dengan ketidak pastian dan waktu terjadinya gempa, maka bencana gempa harus
diposisikan dalam perhitungan dan pengambilan keputusan yang tepat didasarkan atas data-data
yang tersedia. Oleh karena itu untuk bangunan bangunan, seperti perumahan, rumah sakit,
sekolahan dilarang dibangun di zona patahan. Untuk itu diperlukan suatu peraturan yang
melarang warga masyarakat membangun bangunan di tempat tempat yang berada di zona
patahan aktif. Pada gambar 9.9 diperlihatkan berbagai jenis bangunan dan infrastruktur yang
berada dikawasan yang rentan terhadap bencana gempabumi.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 276


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Lahan pertanian yang berada pada jalur patahan Rel kereta api yang berada pada jalur patahan

Jembatan yang berada pada jalur patahan Jalan raya yang berada pada jalur patahan

Pemukiman yang berada pada jalur patahan Pemukiman yang berada pada jalur patahan

Gambar 9.9. Areal pemukiman yang terlanjur ada pada zona patahan aktif, sehingga
sangat berpotensi terhadap bencana gempabumi.

9.6.3. Perencanaan Tataguna Lahan Dikawasan Rawan Longsor

Perencanaan tataguna lahan di kawasan rawan longsor lebih sulit dibandingkan dengan
perencanaan pada lahan yang rawan banjir atau pada lahan rawan gempa. Kesulitan perencanaan
pada lahan yang rawan longsor disebabkan oleh dua faktor, yaitu:

1. Longsoran seringkali terjadi dengan jenis yang sangat komplek sehingga memerlukan
pemetaan yang lebih rinci guna menentukan batas-batas yang tegas yang akan dipakai
dalam perencanaan dan pembuatan aturan.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 277


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

2. Longsoran seringkali memiliki tingkat potensi perpindahan masa tanah/batuan yang


berbeda beda. Penelitian yang lebih rinci perlu dilakukan untuk meng-klasifikasi-kan tipe-
tipe longsoran serta memperkirakan kapan longsoran tersebut akan terjadi.

Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut diatas maka diperlukan suatu peta yang disebut
dengan peta “Kestabilan Lahan” atau peta “Kerentanan Longsoran Tanah”. Peta kestabilan lahan
telah dikembangkan untuk membantu para perencana dalam mengenal lokasi lahan yang tidak
stabil (rawan longsor) dan peta ini dapat dipakai untuk pertimbangan awal dalam proses
perencanaan. Dengan peta kestabilan lahan, dimungkinkan untuk disiapkan suatu rencana umum
dari pemanfaatan lahan yang sesuai, terutama untuk lahan-lahan yang tidak stabil. Pemanfaatan
pada lahan-lahan yang tidak stabil harus mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi serta
biaya yang akan dikeluarkan untuk menstabilkan longsoran atau mencegah instalasi yang ada.

PETA KESTABILAN LAHAN

Gambar 9.10 Peta Kestabilan Lahan (warna hijau merupakan areal dengan kestabilan
sedang dan warna merah merupakan areal yang tidak stabil).

Pada Peta Kerentanan Longsoran Tanah (gambar 9.11) dapat dilihat sebaran dari area–area yang
berpotensi/rawan terhadap longsoran tanah. Pada peta, warna coklat tua adalah areal yang
berpotensi longsor dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 10 meter sedangkan warna
kuning adalah areal yang berpotensi longsor dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 3
meter dan warna hijau merupakan area yang relatif stabil dengan lapisan tanah kurang dari 2
meter.

Pada peta terlihat juga daerah yang landai bersifat stabil dan tidak rentan terhadap longsoran
tanah. Areal ini memiliki kesesuaian lahan yang cocok untuk dikembangkan menjadi areal
pemukiman, sedangkan di areal-areal yang bertopografi terjal secara umum tidak cocok/sesuai
untuk areal lahan pemukiman, mengingat prosentasi kelerengannya diatas 50%. Areal ini sangat
cocok untuk pengembangan hutan lindung.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 278


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

PETA KERENTANAN LONGSORAN TANAH

Keterangan :

= Longsoran dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 10 meter


(longsoran dengan tipe rotasi)

= Berpotensi longsor dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 3 meter.


(longsoran dengan tipe debris flow)

= Stabil dengan lapisan batuan 2 meter dibawah lapisan tanah, relief terjal dan
berbukit - bukit

Gambar 9.11 Peta Kerentanan Longsoran Tanah

Pada gambar 9.12 diperlihatkan beberapa jenis longsoran tanah yang berdampak pada bangunan
dan infrastruktur. Pemukiman yang berada dikawasan perbukitan yang rentan longsor (kiri atas);
pemukiman yang berada diatas tanah yang rentan terhadap amblesan (kanan atas); Bangunan
yang berada diatas areal tanah yang rentan longsor (kiri tengah); Jalan Raya yang melalui lereng
yang mudah longsor (kanan tengah); Bangunan yang berada di kaki lereng yang rentan longsor
(kiri bawah); dan Jalan Raya yang berada diatas tanah yang tidak stabil (kanan bawah)

Copyright@2008 by Djauhari Noor 279


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Longsoran Tanah Jenis Slumping Longsoran Tanah Jenis Amblesan

Longsoran Tanah Jenis Rock/soil falling Longsoran Tanah Jenis Rock/soil falling

Longsoran Tanah Jenis Debris flow Longsoran Tanah Jenis Soil Creeping

Gambar 9.11 Pemukiman yang berada dikawasan perbukitan yang rentan terhadap
longsoran tanah (kiri atas); pemukiman yang berada diatas tanah yang
rentan terhadap amblesan (kanan atas); Bangunan yang berada diatas
areal tanah yang rentan longsor (kiri tengah); Jalan Raya yang melalui
lereng yang mudah longsor (kanan tengah); Bangunan yang berada di kaki
lereng yang rentan longsor (kiri bawah); dan Jalan Raya yang berada
diatas tanah yang tidak stabil (kanan bawah)

Copyright@2008 by Djauhari Noor 280


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

9.6.4. Perencanaan Tataguna Lahan Dikawasan Rawan Bencana Gunungapi

Perencanaan tataguna lahan di kawasan rawan bencana gunungapi pada dasarnya relatif lebih
mudah mengingat aktivitas gunungapi biasanya dapat diketahui melalui instrumen seismograf
yang merekam setiap aktivitas gunungapi. Selain dari itu juga dapat diketahui melalui produk
batuan yang dihasilkan oleh aktivitas gunung tersebut serta karakter dan sifat letusannya. Melalui
pemetaan gunungapi dapat diketahui pola sebaran batuan produk gunungapi dan sejarah
perkembangannya. Dengan demikian, kemudian dapat dibuat pula peta kawasan rawan bencana
gunungapi yang meliputi kawasan yang rawan terhadap aliran lava, lontaran batuan pijar
(piroklastik), aliran lahar, dan atau rawan awan panas.

Sebagaimana diketahui bahwa dii Indonesia terdapat 129 gunungapi aktif dan 500 gunungapi
tidak aktif. Dari 129 gunungapi aktif atau 13 persen dari jumlah gunungapi aktif di dunia ada di
Indonesia dan 70 persen eruptif dan 15 dalam kondisi kritis. Persebaran gunungapi di Indonesia
membentuk satu jalur yang berupa garis mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara
sebelum membelok ke arah utara, kearah laut Banda dan Sulawesi bagian utara. Panjang jalur
gunungapi kurang lebih 7000 kilometer yang terdiri dari gunungapi dengan karakteristik
campuran. Saat ini lebih dari 10 persen penduduk Indonesia mendiami wilayah wilayah yang
rentan terhadap letusan gunungapi. Selama lebih dari 100 tahun, sudah 175.000 jiwa telah
menjadi korban dari letusan gunungapi.

Indonesia yang berada pada zona beriklim tropis dengan musim kemarau dan penghujan telah
berpengalaman menghadapi ancaman bencana longsoran dari material piroklastik yang berasal
dari hasil erupsi gunungapi, seperti aliran lahar atau perpindahan material gunungapi (piroklastik)
yang berbahaya. Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi sangat aktif di dunia. Gunungapi ini
menunjukkan erupsi menghasilkan awan panas piroklastik dan longsoran kubah lava. Luncuran
kubah lava yang terjadi secara berulang-ulang sepanjang periode erupsi dan dapat memakan
waktu hingga berbulan bulan. Sebagai gambaran, dari 13 Mei hingga 21 Juni 2006, gunung Merapi
ditetapkan dalam kondisi Siaga namun demikian tidak menunjukkan tanda tanda penurunan
aktivitasnya. Semburan material piroklastik mencapai ratusan kali dengan radius hingga mencapai
6 kilometer yang membahayakan pemukiman penduduk, terutama di wilayah kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, Klaten, dan Magelang di wilayah Jawa Tengah.

Dalam perencanaan tataguna lahan pada kawasan rawan bencana gunungapi diperlukan suatu
“Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi” sebagai acuan didalam menata peruntukan
lahannya. Sebagai contoh pada gambar 9.12 diperlihatkan salah satu contoh peta “Kawasan
Rawan Bencana Gunungapi Semeru, Jawa Timur” yang membagi wilayah rawan bencana menjadi
3 kawasan rawan, yaitu :

1. Kawasan Rawan I (warna kuning) : Berpotensi terlanda lahar/banjir dan kemungkinan


dapat terkena perluasan awan panas dan aliran lava.

2. Kawasan Rawan II (warna merah muda) : Berpotensi terlanda awan panas aliran lava,
guguran batu (pijar) dan aliran lahar.

3. Kawasan Rawan III (warna merah) : Sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran
atau guguran batu (pijar).

Berdasarkan peta rawan bencana gunungapi, maka perencanaan tataguna lahannya harus
mengacu pada peta tersebut diatas, seperti misalnya kawasan yang termasuk kedalam kawasan
rawan bencana III harus dikosongkan dan dilarang untuk dijadikan hunian tetap, karena daerah
ini sering terlanda oleh produk letusan gunungapi (lava, awan panas, jatuhan piroklastika),
demikian juga untuk kawasan rawan bencana II juga disarankan untuk dilarang sebagai areal
hunian tetap sedangkan untuk kawasan rawan bencana I dapat disarankan sebagi kawasan untuk
penggunaan lahan yang terbatas, seperti untuk pertanian atau kawasan terbuka hijau.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 281


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Gambar 9.12 Peta Kawasan Bencana Gunungapi Semeru, Jawa Timur. Kawasan Rawan I
(kuning) adalah areal yang rawan terkena lahar/banjir dan aliran lava;
Kawasan Rawan II (merah muda) adalah areal yang rawan terkena awan
panas aliran lava dan guguran batu pijar; Kawasan Rawan III (merah)
adalah areal yang rentan terkena awan panas, aliran lava, lontaran batu
pijar.

Gambar 9.12 Kawasan rawan bencana letusan batu pijar (gambar kiri) dan kawasan
rawan bencana aliran lava (gambar kanan).

Copyright@2008 by Djauhari Noor 282


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

RINGKASAN

Peruntukan Lahan : Pada dasarnya peruntukan suatu lahan ditetapkan melalui berbagai kajian, baik kajian
dari kondisi fisik lahan, kondisi sosial dan ekonomi masyarakatnya serta ditetapkan melalui proses politik dalam
suatu keputusan pemerintah

Penataan Ruang adalah merupakan pengaturan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan bagi kegiatan pembangunan berbagai sektor yang membutuhkan ruang. Penataan ruang
adalah salah satu bentuk kebijakan pemerintah dalam bidang pengembangan wilayah dan kota yang
mencakup tiga proses utama yang saling terkait, yaitu perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Ketiga kegiatan tersebut berjalan sebagai suatu siklus yang kontinyu dalam
suatu manajemen penataan ruang yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan
manusianya.

Konsep perencanaan tata ruang berbasis mitigasi bencana geologi adalah suatu konsep perencanaan
tata ruang yang mempertimbangkan kondisi geologi, baik yang berkaitan dengan potensi sumberdaya geologi
maupun potensi bencana geologinya sebagai acuan dalam penetapan tataguna lahan. Hasil dari penetapan
lahan kemudian dipakai sebagai masukan dalam proses perencanaan tata ruang. Peraturan (regulasi) perlu
disiapkan dan ditetapkan pada saat pemanfaatan dan pengendalian ruang.

Reaksi manusia terhadap bencana alam di lingkungan dimana manusia itu tinggal adalah:
1. Menghindar (Avoidance).
2. Stabilisasi (Stabilization).
3. Penetapan Persyaratan Keselamatan Struktur Bangunan (Provision for safety in structures).
4. Pembatasan penggunaan lahan dan penempatan jumlah jiwa (Limitation of land-use and occupancy).
5. Membangun Sistem Peringatan Dini (Establishment of early warning system).

Perencanaan di kawasan rawan bencana banjir

Metoda untuk mengurangi potensi dampak fisik dan biaya pada bencana banjir, yaitu:

1. Rekayasa keteknikan :
a. Membangun sistem drainase yang mampu meminimalkan surface runoff
b. Membangun sistem resapan air
c. Struktur bangunan yang anti banjir
d. Membangun Sistem Peringatan Dini

2. Kebijakan tataguna lahan dan regulasi :


a. Membuat peraturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan yang didasarkan atas peta zona
kerentanan banjir
b. Peraturan yang berkaitan dengan struktur bangunan tahan banjir
c. Peraturan yang berkaitan dengan pembatasan pemanfaatan lahan.

Perencanaan di kawasan rawan bencana gempabumi

Faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan tataguna lahan di daerah rawan gempa:


1. Interval kejadian yang tidak pasti.
2. Penetapan lebar zona patahan.
3. Bangunan yang sudah terlanjur ada.

Metoda untuk mengurangi potensi dampak fisik pada bahaya gempabumi, yaitu:

1. Rekayasa keteknikan :
a. Menginventarisasi struktur bangunan yang ada.
b. Membuat peta zonasi kegempaan (mikrozonasi)
c. Membuat standar bangunan tahan gempa

2. Kebijakan tataguna lahan dan regulasi :


a. Membuat peraturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan yang didasarkan atas peta zonasi
kegempaan.
b. Peraturan yang berkaitan dengan struktur bangunan tahan gempa (Building code)
c. Peraturan yang berkaitan dengan pembatasan pemanfaatan lahan, terutama di wilayah yang memiliki
tingkat kegempaan tinggi.

Copyright@2008 by Djauhari Noor 283


Bab 9. Perencanaan Tataguna Lahan Berbasis Mitigasi Bencana Geologi Geologi Untuk Perencanaan
__________________________________________________________________________________________________

Perencanaan di kawasan rawan bencana longsor tanah

Kesulitan perencanaan pada lahan yang rawan longsor disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
1. Longsoran seringkali terjadi dengan jenis yang sangat komplek sehingga memerlukan pemetaan yang lebih
rinci guna menentukan batas-batas yang tegas yang akan dipakai dalam perencanaan dan pembuatan
aturan.
2. Longsoran seringkali memiliki tingkat potensi perpindahan masa tanah/batuan yang berbeda beda.
Penelitian yang lebih rinci perlu dilakukan untuk meng-klasifikasi-kan tipe-tipe longsoran serta
memperkirakan kapan longsoran tersebut akan terjadi.

Metoda untuk mengurangi potensi dampak fisik pada bahaya longsoran tanah, yaitu:

1. Rekayasa keteknikan :
a. Membuat peta kestabilan wilayah dan peta kerentanan longsoran tanah.
b. Membuat stabilisasi lahan, khususnya dikawasan yang berlereng terjal.
c. Membangun sistem drainase pada kawasan yang berpotensi longsor

2. Kebijakan tataguna lahan dan regulasi :


a. Membuat peraturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan yang didasarkan atas peta kestabilan
wailayah dan kerentanan longsoran tanah.
b. Menerbitkan peraturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan di kawasan rentan longsoran tanah.

Perencanaan di kawasan rawan bencana letusan gunungapi

Perencanaan tataguna lahan di kawasan rawan bencana gunungapi pada dasarnya relatif lebih mudah
mengingat aktivitas gunungapi biasanya dapat diketahui melalui instrumen seismograf yang merekam setiap
aktivitas gunungapi.

Melalui pemetaan gunungapi dapat diketahui pola sebaran batuan produk gunungapi dan sejarah
perkembangannya. Dengan demikian, kemudian dapat dibuat pula peta kawasan rawan bencana gunungapi
yang meliputi kawasan yang rawan terhadap aliran lava, lontaran batuan pijar (piroklastik), aliran lahar, dan
atau rawan awan panas.

Metoda untuk mengurangi potensi dampak fisik pada bahaya letusan gunungapi, yaitu:

1. Rekayasa keteknikan :
a. Membuat peta rawan bencana gunungapi.
b. Membangun Sistem Peringatan Dini

2. Kebijakan tataguna lahan dan regulasi :


a. Membuat peraturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan yang didasarkan atas peta kerawanan
bencana gunungapi.
b. Menerbitkan peraturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan di kawasan rentan letusan
gunungapi.

PERTANYAAN ULANGAN

1. Jelaskan apa yang dimasud dengan peruntukan lahan ?

2. Jelaskan mengapa ruang harus diatur peruntukannya ?

3. Jelaskan konsep perencanaan tataguna lahan yang berbasis mitigasi bencana geologi ?

4. Jelaskan apa yang harus dillaksanakan oleh pemerintah untuk kawasan kawasan yang rawan terhadap
bencana geologi ?

5. Jelaskan mengapa perencanaan di kawasan yang rawan gempa bumi lebih sulit dibandingkan dengan
kawasan yang rawan bencana banjir ?

Copyright@2008 by Djauhari Noor 284