Anda di halaman 1dari 130

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

NOMOR: HK.00.05.3.02152 TAHUN 2002

TENTANG

PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BA!K

KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,

Menimbang : a. bahwa Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik yang


diberlakukan pada tahun 1988 sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam bidang farmasi;
b. bahwa naskah Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik
hasil kerja Tim Revisi Pedoman Cara Pembuatan Obat yang
Baik memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai Pedoman
Cara Pembuatan Obat yang Baik;
c bahwa untuk menjamin mutu, keamanan, khasiat, dan
kemanfaatan obat yang beredar, industri farrnasi perlu
menerapkan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik
dalam setiap-aspek dan rangkaian kegiatan pembuatan obat;
d. sehubungan dengan huruf a, b, dan c perlu ditetapkan
Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik;

Mengingat : a. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan


(Lembaran .Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3495);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
(Lembaran Negara tahun 1998 Nomor 138, Tambahan
Lembaran Negara .Nomor 3701);
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

c. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang


Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Presiden Nomor 3 Tahun 2002;
d. Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2002 tentang Unit
Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non
Departemen, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Presiden Nomor 5 Tahun 2002;
e. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
43/Menkes/SK/il/1980 tanggal 2 Pebmari 1988 tentang
Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik.
f. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor 02001/SK/KBPOM tanggal 26 Pebruari 2001 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan
Makanan; ,
g. Keputusan Kepala Bactan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor HK.00.05.3.02147 tanggal 11 Juli 2001 tentang Tim
Revisi Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN


MAKANAN TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CARA
PEMBUATAN OBAT YANG BAIK.

Pertama : Industri Farmasi wajib menerapkan Cara Pembuatan Obat yang


Baik (CPOB) dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan
pembuatan obat.

Kedua : CPOB sebagaimana dimaksud dalam diktum Pertama


berpedoman kepada Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik
seperti tercantum dalam lampiran keputusan ini sebagai
pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam pembuatan
obat.
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

Ketiga Terhadap Industri Farmasi yang telah memenuhi persyaratan


sebagaimana dimaksud dalam diktum Pertama diberikan
sertifikat CPOB yang diperinci untuk setiap bentuk sediaan.

Keempat Sertifikat CPOB sebagaimana dimaksud dalam diktum ketiga


dapat dicabut dalam hal:
a. Terjadi perubahan yang mengakibatkan tidak dipenuhinya
persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam diktum Pertama.
b. Industri Farmasi dengan sengaja melakukan tindakan yang
mengakibatkan tidak terlaksananya penerapan CPOB.

Kelima Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Keputusan Direktur


Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor
05411/A/SK/XII/89 tanggal 16 Desember 1989 dinyatakan tidak
berlaku.
Keenam Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Jakarta 15
Pada tanggal :15 Juli2002
Badan Pengawas Obat dan Makanan
H. SAMPURNO
NIP.14008774
PEDOMAN
CARA PEMBUATAN
OBAT YANG BAIK
(CPOB)

Edisi 2001

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

IlmuFarmasi.Com
DAFTAR ISI

Halaman

P E N G A N T A R ................................................................................. i

1. KETENTUANUMUM .................................................................... 1
2. P E R S O N A L I A ........................................................................ 11
3. BANGUNAN DAN FASILITAS .................................................... 14
4. P E R A L A T A N .......................................................................... 20
5 SANITASI DAN HIGIENE............................................................. 23
6. P R O D U K S I ............................................................................... 27
7. PENGAWASAN MUTU ................................................................. 63
5. INSPEKSI DIRI.............................................................................. 81
9. PENANGANAN KELUHAN TERHADAP OBAT,
PENARIKAN KEMBALI OBAT DAN OBAT KEMBALIAN ......... 83

10. D O K U M E N T A S I ................................................................... 87

ADDENDUM

I. PEMBUATAN PRODUK BIOLOGI........................................... 104


II. PEMBUATAN GAS MEDISINAL.............................................. 112
III. PEMBUATAN INHALASI DOSIS TERUKUR

BERTEKANAN (AEROSOL)...................................................... 116

PADANAN KATA................................................................................... 119

I N D E K S .............................................................................................. 126

PANITIA PENYUSUN...........................................................................136

IlmuFarmasi.Com
CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB)

1. KETENTUAN UMUM

Cara. Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) menyangkut seluruh aspek


produksi dan pengendalian mutu dan bertujuan untuk menjamin bahwa produk
obat dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai
dengan tujuan penggunaannya.

1.1. Landasan Umum


1.1.1. Pada pembuatan obat, pengawasan menyeluruh adalah sangat esensial
untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bemutu tinggi.
Pembuatan secara sembarangan tidak dapat dibenarkan bagi obat
yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa atau memulihkan atau
memelihara kesehatan.
1.1.2. Tidaklah cukup bila obat jadi hanya sekedar lulus dari
serangkaian pengujian, tetapi yang sangat penting adalah bahwa
mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut. Mutu obat
tergantung pada bahan awal, proses pembuatan dan pengawasan
mutu, bangunan, peralatan yang dipakai dan personalia yang terlibat
dalam pembuatan obat.
1.1.3. Untuk menjamin mutu suatu obat jadi tidak boleh mengandalkan hanya
pada suatu pengujian tertentu saja. Semua obat hendaklah dibuat
dalam kondisi yang dikendalikan dan dipantau dengan cermat.
1.1.4. CPOB ini merupakan pedoman yang bertujuan untuk memastikan
agar sifat dan mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan yang
dikehendaki; bila perlu dapat dilakukan penyesuaian dengan syarat
bahwa standar mutu obat yang telah ditentukan tetap dicapai.

1.2. Definisi
Dalam pedoman ini digunakan definisi berikut:
1.2.1. Akurasi
Tingkat kedekatan hasil yang diperoleh terhadap nilai sesungguhnya
dari suatu pengukuran atau analisis.
1.2.2. Bahan Awal
Semua bahan baku dan bahan pengemas yang digunakan dalam
produksi obat.

1 IlmuFarmasi.Com
1.2.3. Bahan Baku
Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat, yang
berubah maupun tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan
obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam
produk ruahan.

1.2.4. Bahan Biologi


Semua mikroba, meliputi mikroba hasil rekayasa biogenetika, biakan
sel dan endoparasit baik yang bersifat patogen maupun tidak.

1.2.5. Bahan Pengemas


Semua bahan yang dipakai dalam proses pengemasan produk ruahan
untuk menghasilkan produk jadi.

1.2.6. Bank Sel Induk


Biakan sel dengan ciri lengkap yang diisikan ke wadah-wadah dalam
satu operasi tunggal setelah diproses sedemikian rupa untuk
memastikan homogenitasnya dan disimpan pada kondisi yang tepat
agar stabil. Bank sel mduk lazimnya disimpan padasuhu -70°C atau
kurang.

1.2.7. Bank Sel Kerja


Biakan sel yang berasal dari Bank Sel Induk dan dimaksudkan untuk
penggunaan dalam produksi biakan sel selanjutnya. Bank Sel Kerja
lazimnya disimpan pada suhu -70°C atau kurang.

1.2.8. Bets
Sejumlah produk obat yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam
yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atas suatu perintah
pembuatan tertentu. Esensi suatu bets adalah homogenitasnya.

1.2.9. Biakan Sel


Hasil pertumbuhan sel in vitro yang diisolasi dari mikroba multiselular.

1.2.10. Biogenerator
Suatu sistem tertutup seperti fermentator dimana bahan biologi
dimasukkan bersama bahan lain agar terjadi proses multiplikasi sel
atau reaksi yang menghasilkan suatu zat baru. Biogenerator biasanya
dilengkapi dengan peralatan asesori untuk mengatur, mengendalikan,
menyambungkan, penambahan bahan dan pengeluaran bahan.

2 IlmuFarmasi.Com
1.2.11. Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
Bagian dari sistem pemastian mutu yang mengatur dan memastikan
obat diproduksi dan mutunya dikendalikan secara konsisten sehingga
produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan
sesuai tujuan penggunaan produk disamping persyaratan lainnya.

1.2.12. Contoh Representatif


Contoh yang menggambarkan secara tepat suatu lot atau bets atau
sejumlah bahan yang diambil contohnya.

1.2.13. Daerah Bersih


Daerah produksi dengan pengawasan dan pengendalian lingkungan
terhadap cemaran partikulat dan mikrobiologi pada tingkat yang telah
ditetapkan.
Konstaiksi dan penggunaan daerah ini ditetapkan sedemikian rupa
untuk mengurangi masuknya, tumbuhnya dan tertahannya cemaran
ke dalam daerah.

1.2.14. Daerah Terkendali


Daerah yang dikonstruksi dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga
dapat dilakukan pengendalian terhadap masuknya cemaran yang akan
mengakibatkan munculnya mikroba secara tidak sengaja. Pasokan
udara yang mendekati standar lingkungan kelas III atau yang lebih
baik adalah tepat di daerah ini.
Tingkat pengendalian lingkungan yang dilakukan hendaklah mem-
perhitungkan sifat organisme yang digunakan dalam proses. Sekurang-
kurangnya daerah ini hendaklah dipertahankan bertekanan negatif
terhadap lingkungan luar langsung dan memungkinkan penghilangan
cemaran dari udara sekitar meskipun dalam jumlah sedikit.
1.2.15. Daerah Terkurung
Daerah yang dilengkapi peralatan pengendali dan saringan udara dan
dikonstruksi serta dioperasikan sedemikian rupa untuk menghindarkan
cemaran bahan biologi yang berasal dari dalam daerah ke lingkungan
luar.
1.2.16. Diluluskan
Status bahan atau produk yang diijinkan untuk digunakan pada
pengolahan, pengemasan atau distribusi.

3 IlmuFarmasi.Com
1.2.17. Ditolak
Status bahan atau produk yang tidak diijinkan untuk digunakan dalam
pengolahan, pengemasan atau distribusi.
1.2.18. Dokumentasi
Seluruh prosedur, instruksi dan catatan tertulis yang berhubungan
dengan pembuatan obat.

1.2.19. Gas Cair


Gas yang tetap dalam keadaan cair di dalam tabung pada suhu dan
tekanan normal saat pengisian yang normal.

1.2.20. Hasil Nyata


Jumlah yang sebenarnya dihasilkan pada setiap tahap produksi suatu
produk obat tertentu dari sejumlah bahan awal yang dipakai.

1.2.21. Hasil Standar


Jumlah yang telah dibakukan oleh produsen yang hendaknya dicapai
pada tiap tahap produksi suatu produk obat tertentu.

1.2.22. Basil Teoritis


Jumlah yang dihasilkan pada tiap tahap pembuatan produk tertentu,
dihitung berdasarkan jumlah komponen yang digunakan, apabila tidak
terjadi kehilangan atau kesalahan selama pembuatan.
1.2.23. Kalibrasi
Serangkaian tindakan untuk menentukan tingkat kesamaan nilai yang
diperoleh dari sebuah alat atau sistem ukur, atau yang direpresentasikan
dari pengukuran bahan, dan membandingkannya dengan nilai yang
telah diketahui dari suatu acuan standar.
1.2.24. Karantina
Status bahan atau produk yang dipisahkan secara fisik atau dengan
sistem tertentu menunggu keputusan apakah bahan atau produk
tersebut ditolak atau dapat digunakan untuk pengolahan, pengemasan
atau distribusi.
1.2.25. Kontaminasi Silang
Pencemaran suatu bahan atau produk dengan bahan atau produk
lain.

4 IlmuFarmasi.Com
1.2.26. Kurungan Primer
Sistem pengurungan yang mencegah terlepasnya suatu bahan biologi
ke lingkungan luar langsung. Sistem ini menggunakan wadah atau tanki
tertutup atau lemari aman biologi dan prosedur untuk keamanan kerja.

1.2.27. Kurungan Sekunder


Sistem pengurungan yang mencegah terlepasnya suatu bahan biologi
ke lingkungan luar langsung atau ke daerah kerja lain. Sistem ini
meliputi penggunaan ruang kerja yang dilengkapi pengendali udara
dengan rancangan khusus, ruang penyangga udara dan/atau alat untuk
mensterilkan yang digunakan sebagai sarana bagi pengeluaran bahan
dari ruang kerja dan prosedur kerja yang aman. Dalam banyak hal
penggunaan sistem ini menambah efektivitas dari suatu sistem kurungan
primer.

1.2.28. L o t
Bagian tertentu dari suatu bets yang memiliki sifat dan mutu yang
seragam dalam batas yang telah ditetapkan. Apabila suatu produk
obat diproduksi dengan proses terus menerus, lot berarti suatu bagian
tertentu yang dihasilkan dalam suatu satuan waktu atau satuan jumlah
sedemikian rupa sehingga menjamin bagian ini memiliki sifat dan mutu
yang seragam dalam batas yang telah ditetapkan.

1.2.29. Lot Benih Induk


Biakan satu mikroorganisme dari satu ruahan yang dipindahkan
sedemikian rupa ke dalam wadah-wadah dalam suatu operasi tunggal
untuk memastikan homogenitasnya, mencagah kontaminasi dan
memastikan stabilitasnya. Sebuah Lot Benih Induk dalam bentuk
cairan lazimnya disimpan pada suhu -70°C atau kurang. Lot Benih
Induk yang dikeringkan melalui pembekuan ('freeze dried') disimpan
pada suhu yang ditetapkan untuk-memastikan stabilitasnya.

1.2.30. Lot Benih Kerja


Biakan mikroba yang berasal dari Lot Benih Induk dan dimaksud-
kan untuk penggunaan dalam produksi rutin. Lot Benih Kerja
didistribusikan dalam wadah-wadah dan disimpan seperti halnya
dengan Lot Benih Induk.

5 IlmuFarmasi.Com
1.2.31. Manifold
Peralatan berbentuk pipa yang dirancang khusus sehingga
memungkinkan satu atau lebih wadah gas dapat diisi secara serempak
dari satu sumber.
1.2.32. Nomor Bets
Penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan keduanya,
yang merupakan tanda pengenal suatu bets, yang memungkinkan
penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan bets tersebut,
termasuk tahap-tahap produksi, pengawasan dan distribusi.

1.2.33. Nomor Lot


Penandaan yang terdiri dari huruf atau angka tertentu atau gabungan
keduanya, yang merupakan tanda pengenal suatu lot, yang
memungkinkan penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan lot
tersebut termasuk tahap-tahap produksi, pengawasan dan distribusi.
1.2.34. Obat
Tiap bahan atau campuran bahan yang dibuat. ditawarkan untuk dijual
atau disajikan untuk digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan
atau diagnosa suatu penyakit. kelainan fisik atau gejala-gejalanyapada
manusia atau hewan: atau (2) dalam pemulihan, perbaikan atau
pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan.

1.2.35. Obat Jadi


Suatu produk yang telah melalui seluruh tahap proses pembuatan.
1.2.36. Obat Kembalian
Obat yang dikirimkan kembali ke gudang pabrik atau penyalur.

1.2.37. Pemasok Terpilih


Pemasok yang telah lama dikenal dan dipercaya memasok bahan
awal yang selalu memenuhi spesifikasi serta bahan tersebut diterima
dalam keadaan utuh dan dalam kemasan yang tepat. Pemasok Terpilih
ditetapkan juga berdasarkan hasil Penilaian Terhadap Pemasok.

1.2.38. Pemastian Mutu


Seluruh pengaturan yang dikemas dalam suatu sistem dalam rangka
memastikan bahwa produk yang dihasilkan memiliki mutu yang telah
ditetapkan sesuai tujuan penggunaannya.

6 IlmuFarmasi.Com
1.2.39. Pembuatan
Seluruh rangkaian kegiatan dalam menghasilkan suatu obat yang
meliputi produksi dan pengawasan mutu mulai dari pengadaan bahan
awal, proses pengolahan, pengemasan sampai obat jadi untuk
distribusi.
1.2.40. Pemulihan
Penambahan seluruh atau sebagian produk dari satu bets sebelum-
nya yang memenuhi kualitas yang ditetapkan ke bets berikut pada
suatu langkah tertentu dari proses produksi.
1.2.41. Pengawasan Selama Proses
Pemeriksaan dan pengujian yang dilembagakan dan dilaksanakan
selama proses pembuatan obat, termasuk pemeriksaan dan pengujian
terhadap lingkungan dan peralatan.

1.2.42. Pengawasan Mutu


Semua upaya pengawasan yang dilakukan selama pembuatan dan
dirancang untuk menjamin agar produk obat senantiasa memenuhi
spesifikasi, identitas, kekuatan, kemurnian dan karakteristik lain yang
telah ditetapkan.

1.2.43. Pengemasan
Bagian siklus produksi yang dilakukan terhadap produk ruahan untuk
menghasilkan obat jadi.
Catatan : Lazimnya proses pengisian steril tidak dianggap sebagai
bagian dari pengemasan. Dalam hal ini produk ruahan steril adalah
produk yang sudah terisi dalam kemasan primer sebelum dilanjutkan
ke proses pengemasan akhir.

1.2.44. Pengolahan ,
Bagian dari siklus produksi mulai dari penimbangan bahan baku sampai
menghasilkan produk ruahan.

1.2.45. Pengolahan Ulang


Pengerjaan kembali seluruh atau sebagian bets produk yang tidak
memenuhi kualitas pada suatu langkah tertentu dari proses produksi
agar kualitasnya dapat diterima sesudah melalui satu atau lebih proses
tambahan.

7 IlmuFarmasi.Com
1.2.46. Presisi (dari metode analisis)
Tingkat variasi (atau kecocokan) antara hasil uji dari masing-masing
contoh terpisah yang diambil dari satu bets bahan atau produk yang
homogen. Termasuk dalam hal ini variasi antar analis, waktu analisis,
pengujian terhadap ekstraksi yang sama dari contoh yang diberikan,
ekstraksi yang berbeda dan antar laboratorium yang melaksanakan
uji yang sama. Presisi lazimnyaterdiri dari:
- Ripitabilitas (dalam laboratorium yang sama)
- Reprodusibilitas (antar laboratorium yang berbeda)

1.2.47. Produksi
Semua kegiatan pembuatan mulai dari penerimaan bahan awal,
pengolahan sampai dengan pengemasan untuk menghasilkan obatjadi.

1.2.48. Produk Antara


Tiap bahan atau campuran bahan yang masih memerlukan satu atau
lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan.

1.2.49. Produk Ruahan


Tiap bahan yang telah selesai diolah dan tinggal memerlukan
pengemasan untuk menjadi obatjadi

1.2.50. Prosedur
Uraian tugas yang harus dilaksanakan serta peringatan yang diikuti
secara langsung atau tidak langsung dalam pembuatan obat.

1.2.51. Rekonsiliasi
Perbandingan nilai ketidak-cocokan jumlah bahan-bahan masuk dan
keluar sesudah selesai suatu proses atau serangkaian proses produksi.

1.2.52. Ruang Penyangga Udara „


Ruang tertutup berpintu dua atau lebih yang dihubungkan ke dua atau
lebih ruang lain yang berbeda kelas kebersihan dan bertujuan untuk
mengendalikan aliran udara saat pintu dari ruang lain tersebut terbuka.
Suatu ruang penyangga udara dapat digunakan sebagai tempat
lewatnya karyawan petugas atau bahan yang akan digunakan
produksi, dalam hal terakhir ini ruang penyangga udara disebut juga
"Kotak Penyangga".

8 IlmuFarmasi.Com
Suatu ruang penyangga udara dapat menjadi ruang antara untuk masuk
ke ruang bersih dimana produk steril diproses.

1.2.53. Ruang Steril atau Daerah Steril


Ruang atau daerah yang memiliki kondisi lingkungan tertentu, yang
pencemaran debu dan mikrobanyaterkendalikan. Ruang atau daerah
tersebut dibangun, diperlengkapi dan digunakan sedemikian rupa
untuk mengurangi masuknya, tumbuhnya atau tertahannya cemaran.

1.2.54. Sanitasi
Segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi
yang memenuhi syarat kesehatan.

1.2.55. Sistem Bank Sel


Sistem dimana bets-bets berurutan dari suatu produk dibuat dengan
proses pembiakan sel yang bersal dari satu bank sel induk (Lihat
'Bank Sel Induk') yang memiliki identitas lengkap serta bebas
cemaran.
Beberapa wadah dari bank sel induk digunakan untuk mendapatkan
sebuah bank sel kerja (Lihat "Bank Sel Kerja"). Sistem bank sel
divalidasi tingkat pasasenya atau jumlah penggandaan populasinya
diluar jumlah yang diperoleh selamaproduksi rutin.

1.2.56. Sistem Lot Benih


Sistem lot benih adalah satu sistem dimana pembuatan bets produk
dibuat dari dari Lot Benih Induk yang sama dengan jumlah pasase
yang telah ditentukan. Vaksin yang digunakan dalam uji klinis dibuat
dari Lot Benih Kerja yang diperoleh dari beberapa kali pasase Lot
Benih Induk.
Produk akhir (vaksin dalam produksi rutin) dibuat dari Lot Benih
Kerja yang diperoleh dari beberapa kali pasase Lot Benih Induk
yang sama. Jumlah pasase dari Lot Benih Induk sampai menjadi
produk akhir tidak boleh melebihi jumlah pasase untuk membuat vaksin
yang digunakan dalam uji klinis yang telah terbukti memuaskan baik
dari aspek keamanan dan kemanjuran.
Asal dan riwayat pasase Lot Benih Induk dan Lot Benih Kerja
hendaklah dicatat.

9 IlmuFarmasi.Com
1.2.57. Spesifikasi Bahan
Pemerian suatu bahan awal, produk antara, produk ruahan atau obat
jadi mengenai sifat-sifat kimia, fisik dan biologi jika ada. Spesifikasi
tersebut menyatakan standar dan toleransi yang diperbolehkan yang
biasanya dinyatakan secara deskriptif dan numerik.

1.2.58. Stabilitas
Kemampuan produk untuk mempertahankan sifat fisika, kimia,
mikrobiologi dan biofarmasi sebelum batas daluwarsa.

1.2.59. Sterilisasi
Inaktifasi atau pengurangan mikroba hidup sampai batas yang dapat
diterima, yang dilakukan dengan cara yang sesuai.

1.2.60. Tabung(gas)
Tabung yang dirancang khusus untuk penyimpanan gas pada tekanan
tinggi.

1.2.61. Tanggal Daluwarsa


Tanggal yang menyatakan bahwa sebelum tanggal tersebut suatu bets
atau lot tertentu masih memenuhi spesifikasi standar mutu yang
disyaratkan.

1.2.62. Tanggal Pembuatan


Tanggal yang menunjukkan selesainya proses pembuatan suatu bets
tertentu.

1.2.63. Tangki Kriogenik


Tangki yang dirancang khusus untuk penyimpanan gas cair pada suhu
yang sangat rendah.

1.2.64. Terinfeksi
Kondisi pencemaran dengan bahan biologi eksternal dan dengan
demikian sanggup menyebarkan infeksi.

1.2.65. Validasi
Suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap
bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau
mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan
senantiasa mencapai hasil yang diinginkan.

10 IlmuFarmasi.Com
2. PERSONALIA

Jumlah karyawan di semua tingkatan hendaklah cukup serta memiliki pengetahuan,


keterampilan dan kemampuan sesuai dengan tugasnya. Mereka hendaklah juga
memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya
secara profesional dan sebagaimanamestinya. Mereka hendaklah mempunyai sikap
dan kesadaran tinggi untuk mewujudkan CPOB.

2.1. Organisasi, Kualifikasi dan Tanggungjawab


2.1.1. Struktur organisasi perusahaan hendaklah sedemikian rupa sehingga
bagian produksi dan bagian pengawasan mutu dipimpin oleh orang
yang berlainan yang tidak saling bertanggung jawab satu terhadap yang
lain. Masing-masing hendaklah diberi wewenang penuh dan sarana
cukup yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tugasnya secara
efektif. Keduanya tidak boleh mempunyai kepentingan lain di luar
organisasi pabrik, yang dapat menghambat atau membatasi tanggung-
jawabnya atau yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan
pribadi atau finansial.
2.1.2. Manajer produksi hendaklah seorang apoteker yang cakap, terlatih
dan memiliki pengalaman praktis yang memadai di bidang industri
farmasi dan keterampilan dalam kepemimpinan sehingga memung-
kinkan melaksanakan tugas secara profesional.
Manajer produksi hendaklah memiliki wewenang serta tanggungjawab
penuh untuk mengelola produksi obat. Manajer produksi hendaklah
memiliki tanggungjawab bersama dalam mutu obat baik dengan
manajer pengawasan mutu maupun manajer teknik.
2.1.3. Manajer pengawasan mutu hendaklah seorang apoteker yang cakap,
terlatih dan memiliki pengalaman praktis yang memadai untuk
memungkinkan melaksanakan tugasnya secara profesional. Manajer
pengawasan mutu hendaklah diberi wewenang dan tanggungjawab
penuh dalam seluruh tugas pengawasan mutu yaitu dalam penyusunan,
verifikasi dan pelaksanaan seluruh prosedur pengawasan mutu.
Manajer pengawasan mutu adalah satu-satunya yang memiliki
wewenang untuk meluluskan bahan awal, produk antara, produk
ruahan dan obatjadi bil a produk tersebut sesuai dengan spesifikasinya,
atau menolaknya bila tidak cocok dengan spesifikasinya atau bila

11 IlmuFarmasi.Com
tidak dibuat sesuai dengan prosedur yang disetujui dan kondisi yang
ditentukan.
2.1.3.1. Manajer pengawasan mutu menentukan secara jelas ruang
lingkup tugasnya serta metode pendelegasian apabila
berhalangan kerja.
2.1.3.2. Meskipun seorang manajer pengawasan mutu mempunyai
tanggungjawab pribadi maupun profesional untuk memasti-
kan bahwa semua pemeriksaan dan pengujian sudah
dilaksanakan, namun rincian tugas tersebut dapat didelegasi-
kan kepada seorang anggota staf terlatih dan berpengalaman
cukup untuk mengesahkan pekerjaan yang dilakukan oleh
staf departemen. Pada akhirnya seorang manajer peng
awasan mutu harus diyakinkan bahwa produksi dan
pengujian sudah dilaksanakan dengan memuaskan dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan melalui pemeriksaan
langsung atau lazimnya melalui sistem pengawasan mutu
yang berjalan sebagaimana mestinya antara lain persetujuan
atas hal-hal yang diperlukan. pemeriksaan audit, inspeksi-
diri dan pemeriksaan setempat.
2.1.3.3. Disadari adanya ketergantungan seorang manajer peng
awasan mutu kepada rekan-rekan kerja untuk menanam-
kan mutu dan pembuatan obat, oleh karena itu sangatlah
penting untuk seorang manajer pengawasan mutu menjalin
kerjasama yang baik dengan rekan-rekan penanggungjawab
departemen lain terlebih dengan manajer produksi.
2.1.4. Manajer produksi dan manajer pengawasan mutu bersama-sama
bertanggungjawab atau ikut bertanggungjawab dalam penyusunan dan
pengesahan prosedur-prosedur tertulis, pemantauan dan pengawasan
lingkungan pembuatan obat, kebersihan pabrik dan validasi proses
produksi; kalibrasi alat-alat pengukur, latihan personalia, pemberian
persetujuan terhadap pemasok bahan dan kontraktor; pengamanan
produk dan bahan terhadap kerusakan dan kemunduran mutu dan
dalam penyimpanan catatan-catatan.
2.1.5. Untuk menunjang dan membantu tenaga inti tersebut di atas, dapat
ditunjuk tenaga yang trampil dalam jumlah yang sesuai untuk melak-
sanakan supervisi langsung di bagian produksi dan pengawasan mutu.

12 IlmuFarmasi.Com
Tiap supervisor hendaklah cukup terlatih dan memiliki ketrampilan
teknis yang memadai serta pengalaman praktis dalam bidang yang
berkaitan dengan tugasnya. Mereka bertanggungjawab kepada
manajer produksi atau manajer pengawasan mutu.
2.1.6. Disamping staf tersebut di atas hendaklah tersedia tenaga yang terlatih
secara teknis dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan
kegiatan produksi dan pengawasan mutu sesuai dengan prosedur dan
spesifikasi yang telah ditentukan. Mereka hendaklah memahami
petunjuk kerja tertulis. Pada saat pengangkatan, kepada mereka
hendaklah diberi latihan yang cukup.
2.1.7. Tanggungjawab yang diberikan kepada setiap karyawan tidak boleh
terlalu berlebihan sehingga dapat menimbulkan risiko terhadap mutu
obat.
2.1.8. Tugas dan tanggungjawab hendaklah diberikan dengan jelas dan dapat
dipahami dengan baik oleh setiap karyawan.

2.2. Pelatihan
2.2.1. Seluruh karyawan, yang langsung ikut serta dalam kegiatan pembuatan
obat dan yang karena tugasnya mengharuskan mereka masuk ke
daerah pembuatan obat, hendaklah dilatih mengenai kegiatan tertentu
yang sesuai dengan tugasnya maupun mengenai prinsip CPOB.
2.2.2. Pelatihan hendaklah diberikan oleh tenaga kompeten.
Perhatian khusus hendaklah diberikan dalam latihan bagi mereka yang
bekerja di daerah steril dan daerah bersih atau bagi mereka yang
bekerjamenggunakan bahan yang mempunyai resiko tinggi, toksik
atau yang menimbulkan sensitisasi.
2.2.3. Pelatihan mengenai CPOB hendaklah dilakukan secara ber-
kesinambungan dan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin
agar para karyawan terbiasa dengan persyaratan CPOB yang
berkaitan dengan tugasnya.
2.2.4. Pelatihan mengenai CPOB hendaklah dilaksanakan menurut program
tertulis yang telah disetujui oleh manajer produksi dan manajer
pengawasan mutu.
2.2.5. Catatan pelatihan karyawan mengenai CPOB hendaklah disimpan
dan efektivitas program pelatihan hendaklah dinilai secara berkala.
2.2.6. Setelah mengadakan pelatihan, prestasi karyawan hendaklah dinilai
untuk menentukan apakah mereka telah memiliki kualifikasi yang
memadai untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.

13 IlmuFarmasi.Com
3. BANGUNAN DAN FASILITAS

Bangunan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki ukuran, rancang-bangun,


konstruksi serta letak yang memadai agar memudahkan dalam pelaksanaan kerja,
pembersihan dan pemeliharaan yang baik. Tiap sarana kerja hendaklah memadai,
sehingga setiap risiko terjadinya kekeliruan, pencemaran silang dan pelbagai kesalahan
lain yang dapat menurankan mutu obat dapat dihindarkan.
3.1. Lokasi bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya
pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara,
tanah dan air maupun dari kegiatan di dekatnya. Apabila bangunan itu terletak
pada tempat yang tidak sesuai. tindakan yang efektif hendaklah diambil untuk
mencegah pencemaran.
3.2. Gedung hendaklah dibangun dan dipelihara agar terlindung dari pengaruh
cuaca. Banjir, rembesan melalui tanah serta masuk dan bersarangnya
binatang kecil. tikus. burung. serangga atau hewan lainnya.
3.3. Dalam menentukan rancang-bangun dan tata letak ruang hendaklah
dipertimbangkan hal-hal berikut:
3.3.1. Kesesuaian dengan kegiatan lain, yang mungkin dilakukan dalam
sarana yang sama atau dalam sarana yang berdampingan.
3.3.2. Tata letak ruang yang sedemikian rupa untuk memungkinkan kegiatan
produksi dilaksanakan di daerah yang letaknya diatur secara logis
dan berhubungan mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas
kebersihan yang disyaratkan.
3.3.3. Luasnya ruang kerja, yang memungkinkan penempatan peralatan dan
bahan secara teratur dan logis serta untuk memungkinkan terlak-
sananya kegiatan, kelancaran arus kerja, komunikasi dan pengawasan
yang efektif maupun untuk mencegah kesesakan dan ketidakteraturan.
3.3.4. Pencegahan terjadinya penggunaan kawasan produksi sebagai lalu
lintas umum bagi karyawan atau bahan-bahan ataupun sebagai tempat
penyimpanan kecuali untuk bahan-bahan yang sedang dalam proses.

3.4. Rancang-bangun dan tata letak ruang hendaklah memenuhi persyaratan-


persyaratan berikut:
3.4.1. Dicegah risiko tercampur-baurnya obat atau komponen obat yang
berbeda, kemungkinan terjadinya kontaminasi silang oleh obat atau

14 IlmuFarmasi.Com
bahan-bahan lain serta resiko terlewatnya salah satu langkah dalam
proses produksi. Untuk mencapai tujuan ini sekat ruangan yang sesuai,
tirai udara dan cara lain dapat digunakan. HendakJah diberi perhatian
khusus bagi pengolahan bahan yang sangat beracun atau bahan yang
dapat menimbulkan sensitisasi seperti hormon, bahan sitotoksik dan
antibiotika tertentu. Dalam hal ini perlu pemisahan bangunan untuk
pembuatan obat yang mengandung bahan tersebut.
3. 4.2. Obat yang mengandung golongan penisilin hendaklah diproduksi
dalam suatu bangunan terpisah yang dilengkapi peralatan pengendali
udara khusus untuk produksi tersebut.
Namun demikian, pemasangan ulang label untuk produk penisilin dapat
dilakukan dengan menggunakan alat yang dikhususkan untuk produk
tersebut atau melalui proses pengemasan beberapa bets secara ber-
urutan di daerah terpisah yang dibersihkan dan didekontaminasi
menurut prosedur yang sudah divalidasi.
3.4.3. Obat yang mengandung golongan sefalosporin dapat diproduksi di
ruang terpisah dalam satu bangunan dengan pengendalian udara dan
peralatan termasuk lini pengemasan khusus untuk produk tersebut.
Produksi dapat dilakukan juga dengan cara produksi beberapa bets
secara berurutan di daerah terpisah yang dibersihkan dan didekonta-
minasi menurut prosedur yang sudah divalidasi.
Langkah pencegahan terhadap kontaminasi penisilin hendaklah
diambil.
Pemasangan ulang label untuk produk sefalosporin dapat dilakukan
mengikuti kondisi yang dipersyaratkan dalam butir 3.4.2
3.4.4. Kontaminasi silang terhadap produk oleh bahan biologi aktif atau
produk obat seperti steroida tertentu atau bahan sitotoksik yang dalam
jumlah sangat sedikit dapat menyebabkan efek fisiologis hendaklah
dicegah dengan upaya: t
3.4.4.1. kegiatan produksi dilakukan di dalam bangunan terpisah
atau dalam ruang tertutup yang terisolasi dengan baik atau
dengan cara membuat beberapa bets berurutan dengan
menggunakan peralatan yang sama atau diperuntukkan
khusus bagi produk tersebut yang diikuti dengan pember-
sihan yang cermat dan fumigasi dimana perlu;
3.4.4.2. mengendalikan cemaran udara sekitar dengan mem-
berlakukan perbedaan tekanan udara yang tepat dalam
daerah proses atau menggunakan sistem penghisap udara

15 IlmuFarmasi.Com
dan penyaring udara yang memadai, bersamaan dengan
pengendalian udara yang disirkulasi kembali;
3.4.4.3. menyiapkan dan memberi perlindungan terhadap peralatan
produksi, dan menggunakan peralatan khusus untuk satu
jenis produk dimana memungkinkan:
3.4.4.4. pengurungan terhadap cemaran yang dipindahkan,
dilakukan melalui sistem ruang penyangga udara,
penggantian pakaian kerja dan dekontaminasi wadah dan
barang lain yang digunakan sebelum barang-barang tersebut
dikeluarkan dari ruang isolasi:
3.4.4.5. pencucian terpisah untuk pakaian yang tercemar;
3.4.4.6. pemeriksaan berkalaterhadapkehadiran zat-zatterapetik
yang digunakan dalam proses di lingkungan sekitar daerah
produksi; dan
3.4.4.7. melakukan validasi prosedurpembersihan

3.4.5. Fasilitas pengendali udara untuk produksi obat sitotoksik hendaklah


tepat. Dalam hal hanya beberapa gram bahan aktif yang diproses,
kegiatan produksi dapat dilakukan dalam ruang proses bertekanan
positif relatif terhadap tekanan atmosfir dengan ruang penyangga
bertekanan lebih tinggi danpada ruang proses: dalam jumlah yang
banyak, kegiatan produksi dilakukan dalam ruang proses bertekanan
negatif dengan ruang penyangga bertekanan relatif lebih tinggi.
3.4.6. Kegiatan pengolahan bahan bagi produk bukan obat dipisahkan dari
ruang produksi obat.
3.4.7. Disediakan ruang terpisah untuk membersihkan alat yang dapat
dipindah-pindahkan dan ruangan untuk menyimpan bahan pembersih.
3.4.8. Kamar ganti-simpan pakaian berhubungan langsung dengan daerah
pengolahan tetapi letaknya terpisah. »
3.4.9. Toilet tidak terbuka langsung ke daerab produksi dan dilengkapi
dengan ventilasi yang baik.
3.4.10. Hewan ditempatkan dalam gedung terpisah, atau setidak-tidaknya
dalam ruang yang terisolasi dengan baik.

3.5. Untuk kegiatan-kegiatan berikut diperlukan daerah tertentu:


3.5.1. Penerimaan bahan
3.5.2. Karantina barang masuk

16 IlmuFarmasi.Com
3.5.3. Penyimpananbahanawal
3.5.4. Penimbangan dan penyerahan
3.5.5. Pengolahan
3.5.6. Penyimpanan produk ruahan
3.5.7. Pengemasan
3.5.8. Karantinaobatjadi selama menunggu pelulusan akhir
3.5.9. Penyimpanan obat j adi
3.5.10. Pengiriman barang
3.5.11. Laboratorium
3.5.12. Pencucianperalatan

3.6. Daerah pengolahan produk steril hendaklah dipisahkan dari daerah produksi
lain serta dirancang dan dibangun secara khusus.
Ruang-ruang terpisah diperlukan bagi kegiatan-kegiatan berikut:
3.6.1.Pembukaan kemasan komponen
3.6.2.Pencucian peralatan serta wadah
3.6.3.Pengolahan
3.6.4.Pengisian dan penutupan wadah langsung
3.6.5.Ruang penyangga udara yang menghubungkan ruang ganti pakaian
dengan ruang pengisian.
3.6.6. Penggantian pakaian steril sebelum memasuki ruang steril.

3.7. Permukaan bagian dalam ruangan (dinding, lantai dan langit-langit) hendaklah
licin, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka serta mudah dibersihkan,
dan bila perlu mudah didesinfeksi. Lantai di daerah pengolahan hendaklah
dibuat dari bahan kedap air, permukaannya rata dan memungkinkan pem-
bersihan secara cepat dan efisien. Dinding hendaklah juga kedap air dan
memiliki permukaan yang mudah dicuci. Sudut-sudut antara dinding, lantai
dan langit-langit dalam daerah-daerah kritis hendaklah berbentuk lengkungan.

3.8. Saluran air limbah hendaklah cukup besar dan mempunyai bak kontrol serta
ventilasi yang baik. Saluran terbuka hendaklah sedapat mungkin dicegah tetapi
bila diperlukan hendaklah cukup dangkal untuk memudahkan pembersihan
dan desinfeksi.
3.9. Lobang pemasukan dan pengeluaran udara serta pipa-pipa dan
salurannya hendaklah dipasang sedemikian rupa untuk mencegah
timbulnya pencemaran terhadap produk..
3.10. Bangunan hendaklah mendapat penerangan yang efektif dan mempunyai
ventilasi dengan fasilitas pengendali udara (termasuk suhu, kelembaban dan

17 IlmuFarmasi.Com
penyaring) yang sesuai untuk kegiatan dalam bangunan maupun dengan
lingkungan sekitarnya.
3.11. Pipa, fiting lampu, titik ventilasi dan instalasi lain di daerah produksi hendaklah
dipasang sedemikian rupa untuk menghindarkan terbentuknya ceruk yang tidak
dapat dibersihkan. Instalasi seperti ini sedapat mungkin dipasang di luar daerah
pengolahan.
3.12. Pemasangan tulang atap, pipa dan saluran udara di dalam ruangan hendaklah
dicegah. Apabila tidak terhindarkan. maka suatu prosedur tetap dan penjad-
walan khusus mengenai pembersihan pasangan tersebut hendaklah dibuat dan
diikuti.
3.13. Pipa-pipa yang terpasang di dalam ruangan tidak boleh menempel di dinding
tetapi diganrungkan dengan menggunakan siku-siku padajarakcukup untuk
memudahkan pembersihan.
3.14. Tenaga listrik hendaklah memadai untuk menjamin kelancaran fungsi
peralatan produksi dan laboratorium.
3.15. Seluruh bangunan, termasuk daerah produksi. laboratorium, gudang, gang
dan daerah sekeliling gedung. hendaklah dirawat agar senantiasa dalam
keadaan bersih dan rapi. Kondisi bangunan hendaklah diperiksa secara
teratur dan dilakukan perbaikan dimana perlu. Perhatian khusus perlu diberikan
untuk menjamin agar perbaikan gedung atau kegiatan perawatannya tidak
akan mengakibatkan pengaruh negatif terhadap produk.
3.16. Gudang penyimpanan bahan hendaklah cukup luas. terang serta ditata dan
dilengkapi sedemikian rupa untuk memungkinkan penyimpanan bahan dan
produk dalam keadaan kering. bersih dan teratur.

3.16.1. Daerah penyimpanan hendaklah cocok untuk melaksanakan pe-


misahan bahan dan produk yang dikarantina secara efektif.
Daerah khusus dan terpisah hendaklah tersedia untuk penyimpanan
bahan mudah-terbakar, bahan mudah-meledak dan bahan yang sangat
beracun, narkotika dan obat berbahaya lain serta untuk produk dan
bahan yang ditolak.
3.16.2. Bila diperlukan hendaklah disediakan sarana gudang dengan kondisi
khusus, misalnya suhu, kelembaban dan keamanan tertentu.
3.16.3. Gudang penyimpanan hendaklah ditata sedemikian rupa untuk
memungkinkan pemisahan yang efektif dan teratur terhadap berbagai
kelompok bahan yang disimpan serta untuk memudahkan perputaran
persediaan.

18 IlmuFarmasi.Com
3.16.4. Hendaklah disediakan tempat penyimpanan terpisah bagi barang-
barang yang ditolak, ditarik kembali atau dikembalikan.
3.16.5. Penyimpanan hendaklah ditata sedemikian rupa sehingga masing-
masing label yang berbeda demikian pula bahan cetak lain, tersimpan
terpisah untuk mencegah terjadinya pencampuran.
3.17. Pintu yang membuka langsung ke lingkungan luar dari ruang produksi seperti
pintu bahaya kebakaran hendaklah selalu ditutup rapat untuk mencegah
masuknya cemaran.
Peraturan hendaklah dibuat untuk menjamin bahwa pintu tersebut hanya
digunakan dalam situasi darurat. Pintu-pintu di dalam gedung yang difungsikan
sebagai perintang terhadap kontaminasi silang hendaklah selalu dalam keadaan
tertutup apabila sedang tidak digunakan.

19 IlmuFarmasi.Com
4. PERALATAN

Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah memiliki rancang-bangun


dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dengan tepat,
sehingga mutu yang dirancang bagi tiap produk obat terjamin secara seragam dari
bets ke bets, serta untuk memudahkan pembersihan dan perawatannya.

4.1. Rancang-bangun dan Konstruksi


Rancang-bangun dan konstruksi peralatan hendaklah memenuhi persyaratan-
persyaratan berikut:
4.1.1. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan baku, produk
antara, produk ruahan atau obat jadi tidak boleh bereaksi, meng-
adisi atau meng-absorbsi, yang dapat mengubah identitas, mutu atau
kemurniannya di luar batas yang telah ditentukan.
4.1.2. Peralatan tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan terhadap
produk, misalnya karena bocornya katup, menetesnya zat pelumas
dan karenahal lain yang sejenis, atau karenaperbaikan, pemeliharaan,
modifikasi atau adaptasi yang salah.
4.1.3. Bahan-bahan yang diperlukan untuk suatu tujuan khusus, seperti
pelumas atau pendingin, tidak boleh bersentuhan langsung dengan
bahan yang diolah karena hal ini dapat merubah identitas, mutu atau
kemurnian bahan baku, bahan antara, produk ruahan atau obat jadi.
4.1.4. Peralatan hendaklah dapat dibersihkan dengan mudah, baik bagian
dalam maupun bagian luar.
4.1.5. Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan bahan kimia yang
mudah terbakar, atau ditempatkan di daerah dimana digunakan bahan
yang mudah terbakar, hendaklah dilengkapi dengan perlengkapan
elektris yang kedap eksplosi serta dibumikan dengan sempurna.
4.1.6. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji dan
mencatat hendaklah diperiksa ketelitiannya secara teratur serta
dikalibrasi menurut suatu program dan prosedur yang tepat. Hasil
pemeriksaan dan kalibrasi hendaklah dicatat dan catatan tersebut
disimpan dengan baik.
4.1.7. Penyaring untuk cairan tidak boleh melepaskan serat ke dalam produk.
Penyaring yang mengandung asbes tidak boleh digunakan walaupun
penyaring khusus yang tidak melepas serat digunakan sesudahnya.

20 IlmuFarmasi.Com
4.2. Pemasangan dan Penempatan
4.2.1. Peralatan hendaklah ditempatkan sedemikian rupa untuk
memperkecil kemungkinan pencemaran silang antar bahan
di daerah yang sama.
4.2.2. Peralatan hendaklah ditempatkan dengan jarak yang
cukup renggang dari peralatan lain untuk memberikan
keleluasaan kerja dan memastikan tidak terjadinya
campur-baur atau kekeliruan.
4.2.3. Semua ban mekanis terbuka dan kerekan hendaklah
dilengkapi dengan pengaman.
4.2.4. Saluran air, uap, udara bertekanan atau hampa udara
hendaklah dipasang sedemikian rupa sehingga mudah
dicapai selama kegiatan berlangsung. Saluran ini hendaklah
diberi label atau tanda yang jelas agar mudah dikenali.
4.2.5. Tiap peralatan utama hendaklah diberi nomor pengenal
yang jelas. Nomor pengenal ini akan dipakai pada semua
perintah dan catatan pembuatan bets untuk menunjukkan
unit atau alat tertentu yang dipakai pada proses
pembuatan tertentu untuk bets yang bersangkutan,
kecuali bila alat tersebut hanya digunakan untuk satu
jenis produk saja.
4.2.6. Semua pipa, tangki, selubung pipa uap atau pipa pendingin
hendaklah diberi isolasi yang baik untuk mencegah
kemungkinan terjadinya cacat dan memperkecil kehilangan
energi.
4.2.7. Saluran pipa ke alat yang menggunakan uap bertekanan
hendaklah dilengkapi dengan perangkap uap dan saluran
pembuangan yang berfungsi dengan baik.
4.2.8. Sistem-sistem penunjang seperti sistem pemanas, ventilasi,
pengatur suhu udara, air minum, pemurnian air,
penyulingan air, uap, udara bertekanan dan gas hendaklah
divalidasi untuk memastikan bahwa sistem-sistem tersebut
senantiasa berfungsi sesuai dengan tujuannya.

4.3. Pemeliharaan
4.3.1. Peralatan hendaklah dirawat menurut jadwal yang tepat
agar tetap berfungsi dengan baik dan mencegah terjadinya
pencemaran yang dapat merubah identitas, mutu atau
kemurnian produk.
4.3.2. Prosedur-prosedur tertulis untuk perawatan peralatan
hendaklah dibuat dan dipatuhi.

21 IlmuFarmasi.Com
4.3.3. Catatan mengenai pelaksanaan pemeliharaan dan pemakaian
suatu peralatan utama hendaklah dicakup dalam buku catatan harian
yang menunjukkan tanggal, waktu, produk, kekuatan dan nomor
setiap bets atau lot yang diolah dengan peralatan yang bersangkutan.
Catatan untuk peralatan yang digunakan khusus untuk satu produk
saja dapat dimasukkan ke dalam catatan produksi bets produk
tertentu.

22 IlmuFarmasi.Com
5. SANITASI DAN HIGIENE

Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek
pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personalia,
bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan setiap
hal yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran
hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh
dan terpadu.

5.1. Personalia
5.1.1. Semua karyawan hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan, baik
sebelum diterima menjadi karyawan maupun selama bekerja. Karya-
wan yang bertugas sebagai pemeriksa visual hendaklah menjalani
pemeriksaan mata secara berkala.
5.1.2. Semua karyawan hendaklah menerapkan higiene perorangan yang
baik. Hendaklah mereka dilatih mengenai penerapan higiene
perorangan. Semua karyawan yang berhubungan dengan proses
pembuatan hendaklah memperhatikan tingkat higiene perorangan yang
tinggi.
5.1.3. Tiap karyawan yang pada suatu ketika mengidap suatu penyakit
atau menderita suatu luka terbuka yang dapat merugikan kualitas
produk, hendaklah dilarang menangani bahan baku, bahan
pengemas, bahan yang sedang dalam proses dan obat jadi sampai dia
sembuh kembali.
5.1.4. Semua karyawan hendaklah diperintahkan dan didorong untuk
mela-porkan kepada atasannya langsung tiap keadaan (pabrik,
peralatan atau personalia) yang menurut penilaian mereka dapat
merugikan produk.
5.1.5. Hendaklah dihindarkan persentuhan langsung antara tangan
dengan bahan baku, produTc antara dan produk ruahan.
5.1.6. Untuk keamanan sendiri dan untuk menjamin perlindungan
produk dari pencemaran, karyawan hendaklah mengenakan pakaian
pelindung badan yang bersih termasuk penutup rambut yang bersih
sesuai dengan tugas yang mereka laksanakan. Pakaian seragam yang
kotor hendaklah disimpan dalam wadah tertutup sampai saat
pencucian. Kain lap pembersih yang kotor, yang dapat dipakai
kembali, hendaklah disimpan terpisah dalam wadah tertutup
sampai saat pencucian.

23 IlmuFarmasi.Com
5.1.7. Hanya petugas yang berwenang sajalah yang diperbolehkan
memasuki bangunan dan fasilitas yang dinyatakan sebagai daerah
terbatas.
5.1.8. Karyawan hendaklah diinstruksikan supaya mencuci tangan sebelum
memasuki daerah produksi. Untuk tujuan itu perlu dipasang poster
yang sesuai.
5.1.9. Merokok, makan, minum, mengunyah, meletakkan tanaman atau
menyimpan makanan, minuman, bahan untuk merokok dan obat
pribadi hanya diperbolehkan di daerah tertentu dan dilarang dalam
daerah produksi, laboratorium, daerah gudang dan daerah lain yang
mungkin merugikan mutu produk.
5.1.10. Prosedur higiene perorangan termasuk persyaratan untuk mengenakan
pakaian pelindung hendaklah diberlakukan bagi semua orang yang
memasuki daerah produksi. baik bagi mereka yang bekerja tetap
ataupun sementara maupun bagi non-karyawan yang berada di
daerah perusahaan, misalnya karyawan kontraktor, pengunjung, staf
pimpinan perusahaan dan inspektur.
5.1.11. Persyaratan khusus untuk pembuatan obat steril dicakup dalam butir
6.8.8. dan 6.8.9.

5.2. Bangunan
5.2.1. Gedung yang digunakan untuk pembuatan obat hendaklah dirancang
dan dibangun dengan tepat untuk memudahkan pelaksanaan sanitasi
yang baik.
5.2.2. Hendaklah tersedia dalam jumlah yang cukup toilet dengan ventilasi
yang baik dan tempat cuci bagi karyawan yang letaknya mudah dicapai
dari daerah kerja.
5.2.3. Hendaklah disediakan fasilitas yang memadai untuk penyimpanan
pakaian karyawan dan milik pribadinya di tempat yang tepat.
5.2.4. Bakpencuci hendaklah ditempatkan di luar daerah stertf. Bila dipasang
di dalam daerah steril, hendaklah mutunya layak dan dilengkapi dengan
suatu sistem yang mencegah terjadinya luapan air dan air yang dialirkan
ke bak pencuci setidak-tidaknya bermutu air minum.
5.2.5. Penyiapan, penyimpanan dan konsumsi makanan serta minuman
hendaklah dibatasi di daerah khusus, misalnya ruang makan. Fasilitas
ini hendaklah memenuhi standar kebersihan.
5.2.6. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk. Sampah hendaklah
dikumpulkan di dalam wadah yang sesuai untuk dipindahkan ke tempat

24 IlmuFarmasi.Com
penampungan di luar bangunan dan sering dibuang secara aman dan
mengindahkan persyaratan kebersihan.
5.2.7. Rodentisida, insektisida, bahan fumigasi dan bahan pembersih tidak
boleh mencemari peralatan, bahan baku, bahan pengemas, bahan
dalam proses ataupun obat jadi.
5.2.8. Hendaklah ada prosedur tertulis yang menunjukkan penanggungjawab
sanitasi serta menguraikan dengan cukup rinci mengenai jadwal,
metoda, peralatan dan bahan pembersih yang harus digunakan
maupun fasilitas-fasilitas yang harus dibersihkan. Prosedur tertulis ini
hendaklah dipatuhi.
5.2.9. Persyaratan khusus untuk pembuatan obat steril dicakup dalam butir
6.8.11.
5.3. Peralatan
5.3.1. Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik bagian luar
maupun bagian dalam sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,
serta dijaga dan disimpan dalam kondisi yang bersih. Sebelum dipakai,
kebersihannya diperiksa lagi untuk memastikan bahwa seluruh produk
atau bahan dari bets sebelumnya telah dihilangkan.
5.3.2. Pembersihan dengan cara vakum atau carabasah lebih dianjurkan.
Udara bertekanan dan sikat hendaklah digunakan dengan hati-hati
dan sedapat mungkin dihindari karena menambah resiko pencemaran
produk.
5.3.3. Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat dipindah-
pindahkan dan penyimpanan bahan pembersih hendaklah dilakukan
dalam ruangan yang terpisah dari ruangan pengolahan.
5 3.4. Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan sanitasi
peralatan dan wadah yang digunakan dalam pembuatan obat
hendaklah dibuat serta ditaati. Prosedur ini hendaklah dirancang
dengan tepat agar pencemaran peralatan olah bahan pembersih dan
sanitasi dapat dicegah. Prosedur ini sekurang-kurangnya meliputi
penganggungjawab pembersihan, jadwal, metode, peralatan dan
bahan yang dipakai dalam pembersihan serta metode pembongkaran
dan perakitan kembali peralatan yang mungkin diperlukan untuk
memastikan terlaksananya pembersihan yang cermat. Jika perlu
prosedur juga meliputi sterilisasi peralatan, penghilangan identifikasi
bets sebelumnya serta perlindungan peralatan yang telah bersih
terhadap pencemaran sebelum digunakan.

25 IlmuFarmasi.Com
5.3.5. Catatan mengenai pelaksanaan pembersihan, sanitasi, sterilisasi dan
inspeksi sebelum penggunaan peralatan hendaklah disimpan.

5.4. Kualifikasi dan Validasi Prosedur Sanitasi dan Higiene


Prosedur sanitasi dan higiene hendaklah divalidasi dan dievaluasi secara
berkala untuk memastikan bahwa hasil penerapan prosedur yang
bersangkutan cukup efektif dan selalu memenuhi persyaratan.

26 IlmuFarmasi.Com
6. PRODUKSI

Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan


yang dapat menjamin senantiasa menghasilkan obat jadi yang memenuhi spesifikasi
yang ditentukan.

6.1. BahanAwal
6.1.1. Semua pemasukan, pengeluaran dan sisabahan hendaklah dicatat.
Catatan tersebut hendaklah meliputi keterangan mengenai persediaan,
nomor bets atau lot, tanggal penerimaan atau pengeluaran, tanggal
diluluskan dan tanggal daluwarsa bila ada.
6.1.2. Setiap bahan awal, sebelum dinyatakan lulus untuk digunakan,
hendaklah memenuhi spesifikasi bahan awal yang sudah ditetapkan
dan diberi label dengan namayang dinyatakan dalam spesifikasi.
Singkatan, kode atau nama yang tidak resmi tidak boleh digunakan.
6.1.3. Untuk setiap kiriman atau bets bahan awal hendaklah diberi nomor
rujukan yang akan menunjukkan identitas kiriman bahan atau bets
yang bersangkutan selamapenyimpanan atau pengolahan. Nomor ini
hendaklah jelas tercantum pada label wadah untuk memungkinkan
segera diperolehnya catatan yang memberi keterangan rinci yang
lengkap tentang bahan yang hendak diperiksa, termasuk laporan
analisis. Untuk tujuan pengambilan contoh, pengujian dan pelulusan
bets yang berbeda yang berasal dari satu kiriman hendaklah dianggap
sebagai bets yang terpisah.
6.1.4. Pada saat penerimaan terhadap setiap kiriman hendaklah dilaku-
kan pemeriksaan secara visual tentang kondisi umum, keutuhan
kemasan, kebocoran dan k'erusakan, dan contoh untuk pengujian
diambil oleh petugtis dengan menggunakan metode yang telah
disetujui oleh manajer pengawasan mutu. Contoh tersebut hendak
lah diuji terhadap spesifikasi bahan awal yang bersangkutan. Dalam
keadaan tertentu, kecocokan sebagian atau keseluruhan terhadap
spesifikasi dapat diakui dengan adanya sertifikat analisis bahan awal
yang bersangkutan yang dikuatkan dengan pemastian identitas yang
dilakukan sendiri.

27 IlmuFarmasi.Com
6.1.5. Hendaklah diambil langkah yang menjamin bahwa semua
kemasan pada suatu kiriman mengandung bahan awal yang
benar, dan melakukan pengamanan terhadap kemungkinan
kesalahan penandaan wadah oleh pemasok.
6.1.6. Kiriman bahan awal hendaklah ditahan di karantina, sampai disetujui
dan diluluskan untuk dipakai oleh manajer pengawasan mutu.
6.1.7. Label yang menunjukkan status bahan awal hanyaboleh dipasang
oleh petugas yang ditunjuk oleh penanggungjawab bagian pengawasan
mutu. Untuk mencegah kekeliruan, label tersebut hendaklah berbeda
dengan label yang digunakan oleh pemasok misalnya dengan mencan-
tumkan nama atau logo perusahaan.
Bila status bahan mengalami perubahan, maka label penunjuk status
juga harus dirubah.
6.1.8. Persediaan bahan awal hendaklah diperiksa dalam selang waktu
tertentu untuk meyakinkan bahwa wadahnya tertutup rapat, bertanda
yang benar dan dalam kondisi yang baik. Terhadap bahan tersebut
hendaklah dilakukan pengambilan contoh dan uji ulang setiap selang
waktu tertentu sebagaimana disebut dalam spesifikasi bahan awal.
Pelaksanaan pengambilan contoh ulang hendaklah diawali dengan
pemasangan label pengujian ulang dan/atau menggunakan sistem
dokumentasi lain yang samaefektifnya.
6.1.9. Bahan awal yang dapat mengalami kerusakan oleh pengaruh suhu
hendaklah disimpan dalam ruangan yang suhu udaranya diatur.
6.1.10. Bahan awal yang cenderung menjadi rusak atau turun potensinya atau
aktifitasnya selama dalam penyimpanan seperti misalnya antibiotika,
beberapa vitamin dan enzim, hendaklah dinyatakan batas umurnya.
6.1.11. Pengeluaran bahan awal untuk pemakaian hendaklah dilakukan oleh
petugas yang berwenang sesuai dengan tata-cara yang sudah disetujui.
Catatan mengenai persediaan bahan hendaklah disimpan dengan baik
agar perujukan persediaan dapat dilakukan.
6.1.12. Hendaklah tersedia daerah penyerahan yang terpisah yang dilengkapi
dengan baik untuk mencegah pencemaran silang. Mungkin diperlukan
tempat dengan perlengkapan khusus untuk menimbang bahan yang
dapat menimbulkan sensitisasi atau yang bertoksisitas tinggi atau bahan
seperti hormon, sitotoksik dan antibiotika tertentu.
6.1.13. Alat timbang dan alat takar hendaklah diperiksa secara teratur untuk
membuktikan bahwa kapasitas, ketelitian dan ketepatannya memenuhi

28 IlmuFarmasi.Com
persyaratan sesuai dengan jumlah bahan yang akan ditimbang atau
ditakar.
6.1.14. Semua bahan awal yang tidak memenuhi syarat hendaklah ditandai
secarajelas, disimpan terpisah dan secepatnya dimusnahkan atau
dikembalikan pada pemasok.

6.2. Validasi Proses


6.2.1. Semua prosedur produksi hendaklah divalidasi dengan tepat. Validasi
hendaklah dilaksanakan menurut prosedur yang telah ditentukan dan
catatan hasilnya hendaklah disimpan. Luas serta tingkat validasi yang
dilakukan tergantung dari sifat dan kerumitan produk dan proses yang
bersangkutan. Program dan dokumentasi validasi hendaklah mem-
buktikan kecocokan bahan yang dipakai, keandalan peralatan dan
sisteni serta kemampuan petugas pelaksana.
6.2.2. Sebelum suatu Prosedur Pengolahan Induk diterapkan, hendaklah
dilakukan langkah untuk membuktikan bahwa prosedur bersangkutan
cocok untuk pelaksanaan produksi rutin, dan bahwa proses yang
telah ditetapkan dengan menggunakan bahan dan peralatan yang telah
ditentukan, akan senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi
spesifikasi yang telah ditentukan.
6.2.3. Perubahan yang berarti dalam proses, peralatan atau bahan hendaklah
disertai dengan tindakan validasi ulang, untuk menjamin bahwa per
ubahan tersebut akan tetap menghasilkan produk yang memenuhi
spesifikasi yang telah ditentukan.
6.2.4. Proses dan prosedur hendaklah secara rutin dievaluasi kembali dengan
kritis untuk memastikan bahwa proses dan prosedur ini tetap mampu
memberikan hasil yang diinginkan.

6.3. Pencemaran
Pencemaran kimiawi atau mikroba terhadapjsuatu obat yang dapat merugikan
kesehatan atau mengurangi dayaterapetik atau naempengaruhi kualitas suatu
produk tidak dapat diterima. Perhatian khusus hendaklah diberikan pada
masalah pencemaran silang, karena sekalipun sifat dan tingkatannya tidak
berpengaruh langsung kepada kesehatan, hal ini menunjukkan pelaksanaan
pembuatan obat yang tidak sesuai dengan CPOB.

6.4. Sistem Penomoran Bets dan Lot


6.4.1. Suatu sistem yang menjabarkan carapenomoran bets dan lot secara
rinci diperlukan untuk memastikan bahwa produk antara, produk

29 IlmuFarmasi.Com
ruahan atau obat jadi suatu bets atau lot dapat dikenali dengan nomor
bets atau lot tertentu.
6.4.2. Sitem penomoran bets dan lot yang digunakan pada tingkat pengolahan
dan tingkat pengemasan selanjutnya hendaklah saling berkaitan.
6.4.3. Sistem penomoran bets dan lot hendaklah dapat menjamin bahwa
nomor bets atau lot yang sama tidak digunakan secara berulang.
6.4.4. Pemberian nomor bets atau lot yang dialokasikan hendaklah segera
dicatat dalam suatu buku catatan harian. Catatan mencakup tanggal
pemberian nomor, identitas produk dan besarnya bets atau lot yang
bersangkutan.

6.5. Penimbangan dan Penyerahan


6.5.1. Penimbangan. atau penghitungan dan penyerahan bahan baku, bahan
pengemas. produk antara dan produk ruahan dianggap suatu bagian
dari siklus produksi dan memerlukan dokumentasi dan rekonsiliasi
yang lengkap. Pengawasan terhadap pengeluaran bahan dan produk
tersebut di atas untuk diproduksi adalah sangatpenting.
6.5.2. Metode penanganan. penimbangan, penghitungan dan penyerahan
bahan baku. bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan
hendaklah tercakup dalam prosedur tertulis.
6.5.3. Semua pengeluaran bahan baku, bahan pengemas, produk antara
dan produk ruahan termasuk tambahan bahan di luar yang telah
diserahkan semula, hendaklah didokumentasikan.
6.5.4. Bahan baku. bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan
yang boleh diserahkan hanyalah yang telah diluluskan oleh bagian
pengawasan mutu.
6.5.5. Untuk menghindari pencampur-bauran, pencemaran silang dan
kehilangan identitas, bahan baku, produk antara dan produk ruahan
yang boleh ditempatkan dalam daerah penyerahan hanyalah yang
diperlukan untuk suatu bets tertentu saja. Setelah penimbangan,
penyerahan dan penandaan, bahan baku, produk ruahan dan produk
antara hendaklah diangkut dan disimpan secara tepat sehingga
keutuhannya tetap terjaga sampai saat pengolahan berikutnya.
6.5.6. Untuk menghindari pencampur-bauran, hanya satu jenis bahan
cetakan tertentu saja yang diperbolehkan diletakkan di tempat
penandaan pada saat yang sama. Antara tempat-tempat penandaan
hendaklah ada sekat pemisah yang memadai.

30 IlmuFarmasi.Com
6.5.7. Sebelum dilakukan penimbangan hendaklah dilakukan pemeriksaan
terhadap kebenaran penandaan bahan baku termasuk label pelulusan
dari bagian pengawasan mutu.
6.5.8. Kapasitas, ketepatan dan ketelitian alat timbang dan alat ukur yang
digunakan hendaklah sesuai dengan jumlah bahan yang ditimbang atau
diukur.
6.5.9. Untuk setiap penimbangan atau pengukuran hendaklah dilakukan
pembuktian kebenaran, ketepatan identitas dan jumlah bahan yang
ditimbang dan diukur oleh dua petugas secara terpisah.
6.5.10. Kebersihan tempat penimbangan dan penyerahan hendaklah dijaga.
Bahan baku steril hendaklah ditimbang dan diserahkan dalam daerah
steril.
6.5.11. Penimbangan dan penyerahan hendaklah menggunakan peralatan yang
cocok dan bersih.
6.5.12. Bahan baku, produk antara dan produk ruahan yang diserahkan
hendaklah diperiksa ulang kebenarannya dan ditandatangani oleh
supervisor produksi sebelum diserahkan ke bagian produksi.

6.6. Pengembalian
6.6.1. Semua bahan baku, bahan pengemas, produk antara dan
produk ruahan yang dikembalikan ke tempat
penyimpanan hendaklah didokumentasikan dan
dirujuksesuaikan dengan baik.
6.6.2. Bahan baku, bahan pengemas, produk antara dan produk
ruahan tidak boleh dikembalikan ke gudang, kecuali bila
memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.

6.7. Pengolahan
6.7.1. Semua bahan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah
diperiksa lebih dahulu sebelum digunakan.
6.7.2. Kondisi daerah pengolahan hendaklah dipantau dan
dikendalikan sampai tingkat yang disyaratkan untuk kegiatan
yang akan dilakukan. Sebelum pengolahan dimulai
hendaklah ditempuh langkah yang menjamin bahwa
daerah pengolahan dan peralatan bebas dari bahan, produk
atau dokumen yang tidak diperlukan untuk pengolahan yang
bersangkutan.
6.7.3. Semua peralatan yang digunakan dalam pengolahan
hendaklah diperiksa sebelum digunakan. Peralatan
hendaklah dinyatakan bersih secara tertulis sebelum
digunakan.

31 IlmuFarmasi.Com
6.7.4. Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti
prosedur tertulis yang telah ditentukan. Tiap penyimpangan hendaklah
dilaporkan dengan menyertakan alasan dan penjelasan.
6.7.5. Wadah dan penutup yang dipakai untuk bahan yang akan diolah,
untuk produk antara dan produk ruahan, hendaklah bersih, dengan
sifat dan jenis yang tepat untuk melindungi produk dan bahan terhadap
pencemaran atau kerusakan.
6.7.6. Semua wadah dan peralatan yang berisi produk antara, hendaklah
diberi label yang tepat yang menyatakan tahap pengolahannya.
Sebelum label ini dipasang, seluruh label atau tanda-tanda sebelum-
nya yang tidak sesuai hendaklah disingkirkan atau dihapus dengan
sempurna.
6.7.7. Semua produk antara atau produk ruahan harus diberi label yang
tepat dan dikarantina, sampai diluluskan oleh bagian pengawasan
mutu.
6.7.8. Seluruh pengawasan selamaproses seperti yang disyaratkan, harus
dicatat dengan teliti pada saat pengolahan dilakukan.
6.7.9. Hasil nyata dari setiap tahap proses bets yang dibuat hendaklah
dicatat dan dicocokkan terhadap hasil teoritisnya. Bila ada penyim
pangan yang berarti hendaklah diambil tindakan untuk mencegah
pelulusan atau pengolahan lanjutan dari bets tersebut sampai diperoleh
penjelasan yang memadai. yang dapat mengijinkan pelulusan untuk
pengolahan selanjutnya.
6.7.10. Dalam seluruh tahap pengolahan perhatian utama hendaklah diberikan
pada masalah pencemaran silang.

6.7.11. Bahan dan Produk Kering


6.7.11.1. Penanganan bahan dan produk kering menimbulkan
masalah pengendalian debu dan pencemaran silang. Untuk
mengatasinya diperlukan perhatian khusus dalam rancang-
bangun, pemeliharaan serta penggunaan sarana dan
peralatan.
Untuk menangani bahan berdebu sedapat mungkin diterap-
kan suatu sistem pembuatan tertutup yang mencegah
penyebaran debu atau metode lainnya yang sesuai
6.7.11.2. Sistem penghisap udara yang efektif hendaklah dipasang
dengan letak lubang pembuangan yang tepat untuk men
cegah pencemaran terhadap produk atau proses lain.

32 IlmuFarmasi.Com
Sistem penyaringan atau sistem lain yang sesuai hendaklah
dipasang untuk menahan debu. Pemakaian alat penghilang
debu pada tablet dan kapsul sangat dianjurkan.
6.7.11.3. Perhatian khusus hendaklah diberikan untukmelindungi
produk terhadap pencemaran oleh serpihan logam, gelas
atau kayu. Pemakaian peralatan gelas sedapat mungkin
dihindarkan. Ayakan, saringan, alu tablet dan lesung tablet
hendaklah selalu diperiksa terhadap adanya keausan atau
kerusakan sebelum dan setelah pemakaian.
6.7.11.4. Hendaklah diperhatikan jangan sampai ada tablet atau
kapsul tertinggal di dalam peralatan, alat penghitung atau
wadah produk ruahan.

6.7. 12. Pencampuran dan Granulasi


6.7.12.1. Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk hendaklah
dilengkapi dengan sistem pengendali debu, kecuali bila
bekerja dengan sistem tertutup.
6.7.12.2. Parameter operasional yang kritis (misalnya waktu, kecepat-
an, suhu) bagi setiap proses pencampuran, pengadukan
dan pengeringan hendaklah tercantum dalam Dokumen
Produksi Induk, dan dipantau selama proses berlangsung
serta dicatat dalam catatan bets.
6.7.12.3. Kantung penyaring yang dipasang pada mesin pengering
pusar-beliung tidak boleh dipakai untuk produk yang
berlainan tanpapencucian lebih dahulu. Padabeberapa
produk yang berisiko tinggi atau yang dapat menimbulkan
kepekaan, hendaklah digunakan kantong penyaring khusus
bagi masing-masing produk. Udara yang masuk ke dalam
alat pengering ini hendaklah disaring. Tindakan pengamanan
diperlukan ilntuk mencegah pencemaran silang oleh debu
yang-keluar dari pengering tersebut.
6.7.12.4. Pembuatandanpenggunaan larutandansuspensihendaklah
dilaksanakan sedemikian rupa sehingga risiko pencemaran
atau pertumbuhan mikroba dapat dicegah.
6.7.13. Pencetakan tablet
6.7.13.1. Mesin pencetak tablet hendaklah dilengkapi dengan fasilitas
pengendali debu yang efektif dan ditempatkan sedemikian

33 IlmuFarmasi.Com
rupa untuk menghindari campur aduk antar produk. Tiap
mesin hendaklah ditempatkan dalam ruangan terpisah
kecuali apabila mesin tersebut membuat produk yang sama
Mesin yang dilengkapi dengan sistem pengendali udara
yang tertutup boleh ditempatkan dalam ruangan tanpa
pemisah
6.7.13.2. Untuk mencegah terjadinya campur aduk antar granul
maupun tablet, perlu dilakukan pengendalian baik secara
fisik, prosedural maupun penandaan.
6.7.13.3. Hendaklah selalu tersedia alat timbang yang teliti dan telah
dikalibrasi untuk dipakai dalam pemantauan berat tablet
yang sedang dalam proses.
6.7.13.4. Tablet yang diambil dari ruang pencetakan tablet untuk
keperluan pengujian atau keperluan lain tidak boleh
dikembalikan lagi ke dalam bets yang bersangkutan.
6.7.13.5. Tablet yang ditolak atau yang disingkirkan hendaklah
ditempatkan dalam wadah yang ditandai dengan jelas
mengenai statusnya dan jumlahnya dicatat pada Catatan
Pengolahan Bets.
6.7.13.6. Setiap kali sebelum dipakai. semua alu tablet dan lesung
tablet tersebut harus diperiksa terhadap adanya keausan
dan kesesuaiannya terhadap spesifikasi. Catatan mengenai
pemakaiannya hendaklah disimpan.

6.7.14. Penyalutan
6.7.14.1. Udara yang dialirkan ke dalam panci penyalut untuk penge-
ringan hendaklah disanng dan memiliki mutu yang tepat.
6.7.14.2. Larutan penyalut dibuat dan digunakan dengan cara yang
dapat menekan seminimal mungkin risiko pertumbuhan
mikroba. Dokumentasi mengenai pembuatan dan
pemakaiannya hendakl ah dibuat.

6.7.15. Pengisian Kapsul Keras


6.7.15.1. Kapsul kosong hendaklah dianggap dan diperlakukan
sebagai bahan awal. Kapsul kosong ini hendaklah disimpan
dalam kondisi yang dapat mencegahnya menjadi kering,
regas atau terkena pengaruh kelembaban.
6.7.15.2. Persyaratan pada butir 6.7.13.1 sampai 6.7.13.5 berlaku
juga untuk pengisian kapsul keras.

34 IlmuFarmasi.Com
6.7.16. Pemberian Tanda Tablet Bersalut dan Kapsul
6.7.16.1. Tindakan khusus hendaklah diberikan untuk menghindari
campur-baur produk selama proses pemberian tanda pada
tablet bersalut dan kapsul. Apabila pada saat yang sama
dilakukan pemberian tanda pada produk yang berbeda,
atau pada bets yang berbeda, pengerjaannya hendaklah
dipisahkan.
6.7.16.2. Tinta yang digunakan hendaklah tinta yang memenuhi
persyaratan untuk bahan makanan.
6.7.16.3. Perhatian khusus hendakl ah diberikan untuk menghindarkan
terjadinya campur-baur selama proses pemeriksaan, pe-
milahan dan proses pengkilapan kapsul dan tablet bersalut.

6.7.17. Cairan, Krim dan Salep (Non-steril)


6.7.17.1. Produk berupa cairan, krim dan salep hendaklah dibuat
sedemikian rupa agar produk terlindung dari pencemaran
mikroba dan pencemaran lain. Sistem pembuatan dan
pemindahan secara tertutup sangat dianjurkan.
Daerah produksi dimana produk dan juga wadah-wadah
bersih tanpa tutup terpapar ke lingkungan hendaklah
diventilasi secara efektif dengan udarayang disaring.
6.7.17.2. Peralatan tanki, wadah, pipa dan pompa yang digunakan
hendaklah dirancang dan dipasang sedemikian rupa sehingga
memudahkan pembersihan dan sanitasi bila perlu. Dalam
merancang peralatan hendaklah diperhatikan agar tidak
terdapat lekukan atau sambungan mati ('dead-legs') atau
bagian-bagian di mana kotoran dapat terkumpul dan
menumbuhkan mikroba.
6.7.17.3. Peralatan gelas sedapat mungkin dihindarkan penggu-
naannya. Baja taHan karat berkualitas tinggi adalah bahan
pilihan untuk bagian peralatan yang bersentuhan dengan
produk yang sedang diproses.
6.7.17.4. Kualitas kimiawi dan mikrobiologi air yang digunakan hen-
daklah ditetapkan dan selalu dipantau. Air hendaklah me-
miliki bilangan kuman dalam batas ambang yang dapat
diterima.

35 IlmuFarmasi.Com
Sistem pengadaan air proses yang disanitasi dengan bahan
kimia hendaklah divalidasi untuk memastikan bahan
sanitasinya telah dibersihkan secara efektif.
6.7.17.5. Perhatian hendaklah diberikan pada sistempemindahan
bahan melalui pipa untuk memastikan bahan tersebutpindah
ke tujuan yang tepat.
6.7.17.6. Apabilajaringanpipadigunakanuntukmengalirkanbahan
baku atau produk ruahan, hendaklah diusahakan agar sistem
tersebut mudah dibersihkan. Jaringan pipa hendaklah
dirancang dan dipasang dengan tepat sehinga mudah
dibongkar dan dibersihkan.
6.7.17.7. Ketelitian suatu sistem pengukur hendaklah diverifikasi.
Tongkat pengukur hanyaboleh digunakan untuk wadah
tertentu dan telah dikalibrasi untuk wadah yang bersangkut-
an. Tongkat ini hendaklah dibuat dari bahan yang tidak
bereaksi dan tidak menyerap.
6.7.17.8. Perhatian hendaklah diberikan untuk mempertahankan
homogenitas campuran, suspensi dan produk lain selama
pengisian. Proses pencampuran dan pengisian hendaklah
divalidasi. Perhatian khusus hendaklah diberikan pada awal,
sesudah penghentian dan pada akhir proses pengisian untuk
memastikan produk selalu dalam keadaan homogen.
6.7.17.9. Apabila produk ruahan tidak akan segera dikemas maka
waktu paling lama produk boleh disimpan dan kondisi
penyimpanan produk hendaklah ditetapkan dan diikuti.
6.8. Produk Steril
6.8.1. Produk steril hendaklah dibuat dengan pengawasan khusus dan
memperhatikan hal-hal terinci dengan tujuan untuk menghilangkan
pencemaran mikroba dan partikel lain. Hal ini banyak tergantung
pada keterampilan, latihan dan sikap dari orang yang terjibat. Di-
bandingkan dengan pembuatan obat jenis lain pembuatan obat
steril memerlukan perhatian yang lebih besar. Pengawasan dalam
proses dalam pembuatan produk steril merupakan hal yang sangat
penting.
6.8.2. Menurut cara produksi, produk steril dapat digolongkan dalam dua
kategori utama yaitu yang harus diproses dengan cara aseptik pada
semua tahap, dan yang disterilkan dalam wadah akhir yang disebut

36 IlmuFarmasi.Com
juga sterilisasi akhir. Bilamungkin, produk steril hendaklah disterilisasi
akhir.
6.8.3. Semuaproduk steril hendaklah dibuat pada kondisi yang
terkendali dan dipantau dengan teliti. Pelaksanaan proses akhir atau
pengujian akhir tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya
andalan untuk menjamin mutu produk akhir dalam hal
kandungan mikroba dan partikel.
6.8.4. Untuk mendapat keyakinan terhadap sterilisasi produk steril
yang dibuat secara aseptik tanpa sterilisasi akhir diperlukan tindakan
khusus.
6 8.5. Untukmembuat produk steril diperlukan suatu ruangan terpisah yang
khusus dirancang. Memasuki ruangan ini hendaklah melalui suatu ruang
penyangga udara atau jalan terusan lain yang sesuai. Ruangan
hendaklah selalu bebas debu dan dialiri udara yang melewati saringan
bakteri. Tekanan udara dalam ruangan hendaklah lebih tinggi dari
ruangan di sebelah. Saringan yang digunakan ini hendaklah diperiksa
pada waktu pemasangan dan secara berkala. Semua permukaan
dalam daerah pengolahan hendaklah dirancang dengan tepat sehingga
memudahkan kebersihan dan pembasmihamaan. Penghitungan rutin
mikroba dalam ruangan hendaklah dilakukan sebelum dan selama
proses pengolahan. Hasil perhitungan hendaklah dibandingkan dengan
standar yang telah ditetapkan. Data perhitungan mikroba hendaklah
didokumentasikan.
6.8.6. Pembuatan produk steril memerlukan tiga kualitas ruangan yang
berbeda:
6.8.6.1. Ruang ganti pakaian dimana di satu daerah pakaian kerja
pabrik ditanggalkan dan di daerah sebelahnya yang bersih
pakaian pelindung steril dikenakan.
6.8.6.2. Ruang bersih yang digunakan untuk kegiatan bersih namun
tidak harus kegiatan steril. Ruang ini digunakan juga untuk
persiapan komponeft dan pembuatan larutan. Produk yang
akan disterilisasi akhir dapat diproses di ruang ini. Ruang
ini, dalam pedoman disebut Ruang Kelas HI, tidak boleh
mengandung lebih dari 3.500.000 partikel berukuran 0,5
mikron atau lebih, 20.000 partikel berukuran 5 mikron atau
lebih, serta tidak lebih dari 500 mikroba viabel setiap meter
kubik udara.
6.8.6.3. Ruang steril digunakan untuk kegiatan steril. Petugas masuk
ke ruang ini melalui suatu ruang penyangga udara atau cara

37 IlmuFarmasi.Com
lain yang sesuai. Ruang ini, dalam pedoman disebut Ruang
Kelas II, tidak boleh mengandung lebih dari dari 350.000
partikel berukuran 0,5 mikron atau lebih, 2000 partikel
berukuran 5 mikron atau lebih, serta tidak lebih dari 100
mikroba viabel setiap meter kubik udara. Setiap meter
kubik udara di bawah aliran udara laminer dalam ruang
steril tidak boleh mengandung lebih dari 3.500 partikel
berukuran 0,5 mikron atau lebih dan tidak boleh
mengandung partikel berukuran 5 mikron atau lebih serta
kandungan mikroba viabel harus kurang dari satu. Dalam
pedoman. daerah di bawah aliran udara laminer disebut
Ruang Kelas I.
6.8.7. Penting diperhatikan bahwa kontaminasi mikroba di ruangan bersih
dan ruangan steril tidak melebihi nilai batas yang ditentukan. Daerah
ini hendaklah dipantau terhadap kontaminasi mikroba.
6.8.8. P e r s o n a l i a
6.8.8.1. Karyawan yang bekerja khusus di daerah bersih dan daerah
steril hendaklah dipilih dengan seksamauntuk memastikan
bahwa mereka dapat diandalkan untuk bekerja dengan
penuh disiplin serta tidak menderita suatu penyakit atau
memiliki kondisi kesehatan yang dapat menimbulkan
pencemaran mikrobiologi terhadap produk.
6.8.8.2. Standar yang tinggi dari higiene dan kebersihan perorangan
adalah suatu hal yang esensial. Karyawan hendaklah
diinstruksikan untuk melaporkan setiap kondisi kesehatan
(misalnyadiare. batuk. influenza, infeksi kulit atau rambut,
luka dan lain-lain) yang dapat menyebabkan penyebaran
mikrobayang tidak normal jumlah dan jenisnya. Di samping
itu perlu dilakukan pemenksaan kesehatan secaraberkala.
6.8.8.3. Bila sedang ada kegiatan hanya karyawan dalam jumlah
terbatas dan yang diperlukan yang boleh berada di daerah
bersih dan daerah steril. Pemeriksaan dan pengawasan
yang dilakukan sedapat mungkin dilaksanakan dari luar.
6.8.8.4. Semua karyawan,termasuk dari bagian pemeliharaan,
yang akan bekerja di daerah bersih atau daerah steril,
hendaklah mendapat pelatihan dalam bidang yang
berkaitan dengan pembuatan produk steril, termasuk
higiene dan dasar mikrobiologi.

38 IlmuFarmasi.Com
6.8.9. P a k a i a n
6.8.9.1. Karyawan yang memasuki daerah bersih atau daerah steril
hendaklah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus
termasuk penutup kepala dan penutup kaki. Pakaian ini
tidak boleh melepaskan serat atau partikel dan hendaklah
mampu menahan partikel yang dilepaskan oleh tubuh.
Pakaian ini hendaklah enak dipakai dan agak longgar untuk
mencegah gesekan. Pakaian ini hanya boleh dipakai di
daerah bersih atau di daerah steril sesuai dengan
peruntukkannya.
6.8.9.2. Di daerah steril kary awan hendaklah memakai pakaian steril
model terusan ataupun model celana baju yang dapat
disatukan dengan bagian leher, yang diikat di pergelangan
tangan dan pergelangan kaki. Penutup kepala hendaklah
menutup seluruh rambut dan janggut dan diselipkan ke
dalam leher baju. Penutup kaki hendaklah menyelubungi
seluruh kaki dan bagian ujung celana diselipkan ke dalam
penutup kaki. Pakaian steril hendaklah selalu dipakai tiap
kali memasuki ruangan steril. Sarung tangan plastik atau
karet yang dipakai hendaklah bebas serbuk. Ujung lengan
baju diselipkan ke dalam sarung tangan. Penutup muka yang
digunakan hendaklah yang tidak melepaskan serat, dapat
mencegah pencemaran yang berasal dari wajah dan enak
dipakai. Setiap kali meninggalkan daerah steril penutup
muka ditanggalkan.
6.8.9.3. Pakaian yang dipakai dari rumah tidak boleh dibawa masuk
ke dalam kamar ganti pakaian yang berhubungan langsung
dengan daerah bersih atau daerah steril. Karyawan yang
masuk ke kamar ganti pakaian hendaklah sudah memakai
pakaian kerja standar. Cara berpakaian dan cara pencucian
anggota badan hendaklah mengikuti prosedur tertulis.
6.8.9.4. Arloji, perhiasan dan kosmetika tidak boleh dipakai dalam
daerah bersih dan daerah steril.
6.8.9.5. Pakaian untuk daerah bersih dan daerah steril hendaklah
dicuci, diseterika, disterilkan dan ditangani dengan tepat
sehingga tidak terkena cemaran. Fasilitas pencucian
hendaklah terpisah.

39 IlmuFarmasi.Com
6.8.10. Bangunan
6.8.10.1. Produk steril diolah di ruang produksi yang dirancang-
bangun dan dikonstruksi secara khusus, terpisah dari
daerah produksi lain. Daerah untuk masing-masing jenis
pekerjaan yang berbeda seperti penyiapan bahan awal
dan komponen lain, penyiapan larutan, pengisian larutan
dan sterilisasi hendaklah terpisah.
6.8.10.2. Ruangan-ruangan pengolahan hendaklah dialiri udara
bertekanan positif secara efektif melalui saringan yang
memiliki efisiensi yang diinginkan. Aliran udara ini
hendaklah mewujudkan perbedaan tekanan positif relatif
terhadap sekitarnya dan juga di antara ruangan atau daerah
kegiatan yang berbeda.
Saringan udara terakhir hendaklah dipasang langsung atau
sedekat mungkin pada lubang masuk udara ke dalam
ruangan. Diperlukan sistem peringatan terhadap adanya
kegagalan penyaluran udara dan alat penunjuk perbedaan
tekanan antara ruangan atau daerah yang sangat mem-
butuhkan perbedaan ini. Perhatian khusus hendaklah
diberikan pada daerah dengan risiko tinggi yaitu daerah
yang udaranyaberhubungan langsung dengan produk.
Perhatian khusus perlu diberikan untuk memastikan bah-
wa aliran udara tidak menyebarkan partikel dari tubuh
karyawan, mesin (pemotong ampul, penutup vial dan Iain-
lain) dan kegiatan yang dapat menyebarkan partikel ke
suatu daerah yang tinggi risikonya terhadap produk.
6.8.10.3. Produk non-steril tidak boleh diolah bersamaproduk steril
di daerah yang sama dan pada saat yang sama. Jika ruang
steril digunakan untuk pengolahan produk non-steril,
maka sebelum digunakan untuk perflbuatan produk steril
ruangan tersebut hendaklah dtdesinfeksi dengan cara yang
tepat dan dialiri udara tersaring serta diverifikasi terhadap
persyaratan ruang steril.
6.8.10.4. Permukaan dinding, lantai dan langit-langit hendaklah licin,
kedap air dan tidak retak untuk mengurangi penyebaran
atau penumpukan partikel dan untuk memungkinkan
penggunaan bahan pembersih dan bahan desinfektan ber-
ulang kali. Kayu tanpa pelapis sebaiknya tidak dipakai.

40 IlmuFarmasi.Com
6.8.10.5. Untuk mengurangi penumpukan debu serta memudah-
kan pembersihan,tidak boleh ada bagian tersembunyi dan
sukar dibersihkan. Sudut yang menonjol, rak, lemari,
peralatan yang dapat bergerak maupun tidak bergerak
dan tampuk lampu listrik hendaklah sesedikit mungkin.
Sudut antara dinding, lantai dan langit-langit di daerah
steril dan daerah bersih hendaklah dibuat melengkung.
6.8.10.6. Langit-langit hendaklah ditutup rapat dengan selayaknya
untuk mencegah pencemaran dari ruang atas.
6.8.10.7. Pipa dan saluran hendaklah dipasang dengan tepat
sehingga tidak ada bagian tersembunyi yang sukar di
bersihkan. Pipa dan saluran tersebut sedapat mungkin
dibenarnkan ke dalam dinding yang dilaluinya.
6.8.10.8. Saluran pembuangan hendaklah dihindarkan di daerah
steril kecuali bila sangat diperlukan. Jika dipasang
hendaklah dilengkapi dengan jebakan yang efektif dan
mudah dibersihkan, berisi udarapenyangga untuk men
cegah aliran balik. Semua saluran lantai hendaklah ter-
buka, cukup dangkal dan mudah dibersihkan serta dihu-
bungkan dengan saluran pembuangan luar dengan tepat
untuk mencegah kemungkinan pencemaran mikroba.
6.8.10.9. Bak cuci di daerah steril hendaklah ditiadakan. Semua
bak cuci yang dipasang di daerah bersih hendaklah terbuat
dari baja tahan karat, tanpa perlengkapan yang mencegah
air untuk meluap dan mendapat pasokan air yang setidak-
tidaknya memiliki kualitas layak minum.
6.8.10.10. Suhu ruangan dan kelembaban hendaklah dijaga pada
tingkat yang tidak menyebabkan karyawan berkeringat
secara berlebihan dalam pakaian kerjanya.
6.8.10.11. Jalan masuk untuk petugas ke daerah steril dan daerah
bersih hanya dapat melalui kamar ganti pakaian dimana
pakaian kerja pabrik yang dikenakan diganti dengan
pakaian pelindung khusus. Kamar ganti pakaian
hendaklah dilengkapi dengan ruang penyangga udara,
dialiri secara efektif dengan udara tersaring dengan
tekanan positif yang lebih rendah dari padatekanan di
daerah bersih dan di daerah steril. Kamar ganti pakaian
hendaklah dirancang dan digunakan dengan tepat untuk

41 IlmuFarmasi.Com
membatasi pencemaran mikroba dan partikel terhadap
pakaian pelindung dan memungkinkan pemisahan
berbagai tahap penggantian pakaian serta pencucial
anggotabadan.
6.8.10.12. Ruangan ganti pakaian hanya digunakan untuk
petugas dan tidak boleh dipakai untuk lalu lintas
bahan, wadah dan peralatan.
6.8.10.13. Ruang antara atau ruang penyangga udara untuk lalu
lintas bahan, peralatan dan barang lain ke dalam daerah
bersih dan daerah steril diatur dengan tepat sehingga
hanya satu pintu pada satu sisi saja yang dapat dibuka
pada satu saat. Pintu sorong hendaklah dihindarkan
karena gigi sorong sulit dibersihkan. Bila mekanisme
membuka pintu seperti tersebut tidak mungkin,
hendaklah ada prosedur atau sistem yang tepat yang
dapat mencegah pintu luar dan pintu dalam dibuka
serentak.
Ban berjalan tidak boleh menembus dinding pembatas
daerah steril. Ban ini berakhir pada dinding tersebut dan
transportasi produk selanjutnya hanya lewat melalui
permukaan statis. Perhatian khusus diperlukan untuk
menghindarkan pencemaran daerah steril bilamana barang
dilewatkan melalui ruang penyangga udara atau suatu
ruang antara.
6.8.10.14. Sistem mekanik atau elektronik untuk komunikasi lisan
dari dan ke daerah steril hendaklah dirancang dan
dipasang dengan tepat sehingga mudah dibersihkan dan
didesinfeksi secara efektif.
6.8.10.15. Daerah bersih dan daerah steril tidak boleh digunakan
untuk melaksanakan pengujian sterilitas atau
pengujian mikrobiologi lain.

6.8.11. Kebersihan dan Higiene


6.8.11.1. Daerah bersih, daerah steril dan daerah lain yang berkaita
hendaklah sering dibersihkan dengan cermat sesuai pro-
gram tertulis. Bila pembersihan dilakukan dengan meng-
gunakan desinfektan hendaklah jenisnya ditukar secara
bergilir untuk mencegah timbulny a mikroba yang resisten
6.8.11.2. Desinfektan dan bahan deterjen yang digunakan hendak-

42 IlmuFarmasi.Com
lah dipantau terhadap pencemaran mikroba. Hasil
pengenceran hendakJah ditempatkan dalam wadah yang
telah dicuci bersih dan tidak boleh disimpan kecuali telah
disterilkan. Wadah yang sudah sebagian kosong tidak
boleh diisi kembali.
5.8.11.3. Daerah bersih dan daerah steril hendaklah sering
dipantau secara mikrobiologi dengan cara pemaparan
cawan petri, cara apus pada permukaan benda,
pengambilan contoh daii udara atau cara lai n y ang sesuai.
Pemantauan hendak-iah dilaksanakan ketika proses
produksi sedang ber-langsung. Catalan tentang hasil
pemantauan hendaklah didokumentasikan dan
tindakan perbaikan diiakukan segera setelah terdapat
penyimpangan yang berarti.
6.8.12. Peralatan
6.8.12.1. Peralatan hendaklah dirancang dan dipasang dengan tepat
sehingga mudah dibersihkan, didesinfeksi atau disterilkan
sesuai kebutuhan.
6.8.12.2. Colokan listrik dan perlengkapan layanan hendaklah
dirancang dan di tempatkan dengan tepat sehingga petugas
yang melakukan perawatan dan perbaikan sejauh mungkin
tidak perlu masuk ke daerah bersih atau daerah steril.
6.8.12.3. Alat pencatat hendaklah dikalibrasi dengan seksama pada
saat pemasangan dan kemudian diperiksa setiap selang
waktu tertentu.
6.8.12.4. Validasi terhadap hasil pemasangan, pemeliharaan berkala
serta pemeriksaan terhadap kemampuan peralatan yang
kritis seperti sterilisator, sistem saringan udara dan alat
penyuling adalah sangat penting. Hasil validasi hendaklah
didokumentasikan.
t

6.8..13. P e n g o l a h a n
6.8.13.1. Bahan awal tidak boleh mengandung mikroba atau
pirogen dalam kadar yang berarti. Perhatian khusus
hendaklah diberikan pada bahan awal yang digunakan
untuk sediaan parenteral yang bervolume besar.
Spesifikasi bahan awal hendaklah mengandung per-
syaratan pemantauan kandungan mikroba, jika perlu
disertai dengan batas tertentu.

43 IlmuFarmasi.Com
6.8.13.2. Hendaklah dilakukan tindakan untuk mencegah pen
cemaran produk oleh mikroba pada semua tahap peng
olahan baik sebelum maupun sesudah sterilisasi.
6.8.13.3. Untuk mencegah penyebaran partikel dan mikroba secara
berlebihan, kegiatan di daerah bersih dan daerah
steril dibatasi sesedikit mungkin demikian pula dengan
gerakan petugasnya.
6.8.13.4. Wadah dan bahan yang dapat melepaskan partikel atau
seratjangan dibawake daerah bersih atau daerah steril.
6.8.13.5. Setelah pembersihan terakhir, wadah dan komponen
lainnya hendaklah ditangani dengan tepat untuk mencegah
pencemaran kembali. Pembilasan terakhir hendaklah
dilakukan dengan air suling atau air dengan kualitas yang
sesuai.
6.8.13.6. Jarak waktu antara pencucian dan sterilisasi peralatan
wadah dan komponen lain hendaklah sesingkat
mungkin
6.8.13.7. Jarak waktu antara sterilisasi peralatan, wadah
dan komponen lain dengan waktu penggunaannya
dalam proses aseptik hendaklah sesingkat mungkin.
6.8.13.8. Jarak waktu antara mulainyapembuatan larutan dan
sterilisasi hendaklah sesingkat mungkin dengan bata
waktu tertentu yang ditentukan.
Volume larutan ruahan sebaiknya dibuat tidak lebih
besar dari kapasitas pengisian sehari dan hendaklah
disimpai ke dalam wadah akhir serta disterilkan pada
hari yan) sama. Larutan ruahan sisa yang pengisian dan
sterilisasiny tidak dapat diselesaikan pada hari yang
sama hendaklai disimpan secara khusus.
6.8.13.9. Sumber air, peralatan pengolahan air dan air olahan
hendaklah dipantau secara teratur terhadap pencemaran
kimiawi dan mikroba dan jika perlu terhadap
endotoksin pirogen. Hasil pemantauan dan tindakan
penanggulangan
yang dilakukan hendaklah didokumentasikan.
6.8.13.10. Instalasi pengolahan air hendaklah dirancang-bangun
dikonstruksi dan dirawat dengan tepat untuk menjamin
agar air yang dihasilkan memenuhi persyaratan kualitas
yang ditentukan. Alat pengolah air tidak boleh dioperasi
kan melebihi kapasitas yang dirancang. Pengolahan

44 IlmuFarmasi.Com
penyimpanan dan distribusi air hendaklah tepat sehingga
pertumbuhan mikroba dapat dicegah.
6.8.13.11. Untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang meng-
akibatkan timbulnya zat pirogen, air suling yang akan
digunakan untuk pengolahan tidak boleh dibiarkan lebih
dari 24 jam kecuali dengan kondisi khusus misalnya
disimpan pada suhu sekurang-kurangnya 70° C.
6.8.13.12. Bilamana air dan larutan disimpan dalam wadah yang
tertutup rapat, semua katup pengaman hendaklah dilin-
dungi dengan saringan bakteri yang hidrofobik.
6.8.13.13. Barang yang digunakan di daerah steril dan memerlukan
sterilisasi hendaklah disterilkan dan dimasukkan melalui
unit sterilisator dua pintu atau cara lain yang dapat
memberikan hasil yang sama.
6.8.13.14. Efektifitas prosedur aseptik hendaklah divalidasi bila
suatu proses aseptikbaru diperkenalkan dan dilanjutkan
secara berkala. Validasi juga dilakukan bila ada
perubahan yang berarti dalam proses atau peralatan,
atau bilamana para petugas sedang dilatih.

6.8.14. S t e r i l i s a s i
6.8.14.1. Sterilisasi dapat dilakukan dengan sterilisasi cara panas
(dengan cara pemanasan basah dan pemanasan kering)
dengan gas etilen oksida, dengan penyaringan yang
dilanjutkan dengan pengisian secara aseptik ke dalam
wadah akhir yang steril, atau dengan cara radiasi pengion-
an. Tiap cara sterilisasi mempunyai keterbatasan dan
digunakan untukpenerapan tertentu. Sterilisasi cara panas
merupakan pilihan utama.
6.8.14.2. Bilamana indikator biologi digunakan, perlu dilakukan
pengamanan yang ketat untuk jnencegah pencemaran
mikroba dari indikator tersebut.
5 S. 14.3. Diperlukan cara yang jelas untuk membedakan
produk yang telah dan belum disterilkan. Semua
keranjang, baki dan wadah untuk produk atau
komponen lain hendaklah diberi label yang jelas yang
mencantumkan nama, nomor bets dan tanda apakah
sudah disterilkan atau belum.

45 IlmuFarmasi.Com
6.8.15. Sterilisasi Cara Panas
6.8.15.1. Semua siklus sterilisasi cara panas hendaklah dicatat pada
suatu grafik suhu-waktu atau dengan cara otomatik lain
yang sesuai. Catatan suhu-waktu hendaklah merupakan
bagian dari catatan bets. Indikator kimia dan biologi dapat
digunakan sebagai tambahan tetapi tidak menggantikan
peran pengawasan fisik.
6.8.15.2. Pada periode pendinginan setelah mencapai fase
suhu tertinggi hendaklah dicegah kemungkinan
kontaminasi terhadap muatan yang sudah steril oleh
udara tidak steril yang masuk ke otoklaf pada saat
pendinginan tersebut berlangsung.

6.8.16. Sterilisasi Panas Basah


6.8.16.1. Cara ini cocok untuk larutan air dan bahan yang dapat
dibasahi air. Bahan jenis lain hendaklah disterilkan dengan
cara lain.
6.8.16.2. Sterilisasi panas basah dicapai dengan menggunakan uap
airjenuh yang bertekanan dalam rongga sterilisasi yang
sesuai. Dalam kondisidemikian. terdapat hubungan yang
pasti antara suhu dan tekanan uap air. tetapi tekanan
digunakan hanya untuk mencapai suhu yang dikehendaki
dan tidak berperan dalam sterilisasi. Waktu, suhu dan
tekanan digunakan untuk mengawasi dan memantau proses.
6.8.16.3. Barang yang akan disterilkan. selain dari produk berair
dalam wadah tertutup rapat. hendaklah dibungkus dalam
suatu bahan yang memungkinkan penghilangan udara dan
penetrasi uap air. dan yang dalam keadaan normal tidak
akan mengakibatkan pencemaran balik oleh mikroba setelah
sterilisasi. ,
6.8.16.4. Hendaklah diperhatikan agar uap air yang digunakan pada
sterilisasi mempunyai mutu yang tepat dan tidak
mengandung bahan tambahan dalam kadar yang dapat
mencemari produk atau peralatan.
6.8.17. Sterilisasi Panas Kering
6.8.17.1. Pemanasan kering cocok untuk sterilisasi peralatan, larutan
bukan air dan bahan lain yang tahan terhadap suhu sterilisasi
yang dikehendaki.

46 IlmuFarmasi.Com
6.8.17.2. Pemanasan hendaklah dilakukan di dalam suatu lemari
sterilisasi atau peralatan lain yang dapat mencapai kondisi
sterilisasi pada seluruh muatan. Sistem penyalur udara dan
penghisap udara pada lemari sterilisasi hendaklah dilengkapi
saringan yang tepat.
6.8.18. Sterilisasi Cara Saring
6.8.18.1. Cara sterilisasi dengan penyaringan sebaiknya tidak dipakai
bila sterilisasi carapanas masih memungkinkan.
6.8.18.2. Larutan atau cairan dapat disterilkan dengan penyaringan
dengan ukuran nominal pori 0,22 mikron atau yang sama
kemampuannya menahan mikroba. Hasil saringan ditam-
pung di dalam wadah yang sudah disterilkan.
6.8.18.3. Keutuhan perangkat saringan hendaklah diperiksa dengan
metode yang tepat misalnya uji tekanan titik-gelembung atau
uji tekanan aliran-maju yang dilakukan segera sebelum dan
sesudah pemakaian saringan. Hasil pemeriksaan dicatat
pada catatan bets.
6.8.18.4. Saringan tidakboleh menimbulkan akibat yang merugikan
pada larutan, misalnya menyerap bahan berkhasiat dari
larutan atau melepas zat ke dalam larutan.
6.8.18.5. Karena sterilisasi cara saring mengandung risiko yang lebih
besar dibandingkan cara sterilisasi lain dianjurkan mela-
kukan penyaringan ulang melalui saringan bakteri steril
segera sebelum pengisian.
6.8.18.6. Masa pakai saringan steril hendaklah dibatasi untuk
memastikan tidak terjadinya pertumbuhan mikroba di dalam
saringan tersebut.
6.8.19. Sterilisasi dengan Gas Etilen Oksida
6.8.19.1. Efektifitas gas etilen oksida sebagai bahan sterilisasi tergan-
tung pada konsentrasi, suhu, kelembaban, lamanya persen-
tuhan dengan bahan dan tingkat kontaminasi mikroba.
Bilamana dimungkinkan hendaklah digunakan cara sterilisasi
lain sebagai pilihan daripada sterilisasi dengan gas etilen
oksida.
6.8.19.2. Seluruh siklus sterilisasi hendaklah dipantau dengan indi-
kator biologi yang tepat yang ditempatkan pada seluruh
muatan Catatan hasil pemantauan merupakan bagian dari
catatan bets.

47 IlmuFarmasi.Com
6.8.19.3. Setelah sterilisasi selesai bahan hendaklah diletakkan dalam
ruangan yang berventilasi baik untuk menghilangkan sisa etilen
oksida serta produk hasil reaksinya. Hendaklah diambil
langkah untuk mencegah pencemaran balik bahan yang sudah
steril. Hendaklah dibuat catatan pemeriksaan bahwa semua
indikator biologi telah disingkirkan dari produk.
6.8.19.4. Selama siklus sterilisasi hendaklah dicatat waktu untuk
menyelesaikan satu siklus, tekanan, suhu, konsentrasi gas
dan kelembaban dalam rongga sterilisasi.
6.8.19.5. Tekanan, suhu dan kelembaban nisbi selama satu siklus
hendaklah diawasi dan dicatat dalam suatu grafik atau
dengan cara otomatik lain yang sesuai. Catatan ini
merupakan bagian dari catatan bets.

6.8.20. Sterilisasi Cara Radiasi


6.8.20.1. Sterilisasi dengan cara radiasi dipakai terutama untuk men-
sterilkan bahan dan produk yang peka terhadap panas.
Cara ini hanya dipakai bila telah terbukti bahwa tidak ada
efek yang merugikan produk.
6.8.20.2. Radiasi yang digunakan dapat berupa sinar gamma dari
radio isotop (misalnya Cobalt-60) atau elektron berenergi
tinggi yang berasal dari suatu akselerator elektron.
6.8.20.3. Radiasi dapat dilakukan oleh pabrik pembuat produk atau
oleh seorang petugas di perusahaan penerima kontrak yang
memiliki fasilitas radiasi. Dalam hal ini kedua belah pihak
harus memiliki otorisasi yang diperlukan untuk pekerjaan
tersebut.
6.8.20.4. Pabrik pembuat produk bertanggungjawab atas kualitas
produk termasuk pencapaian tujuan dari produk yang
diradiasikan. ,
6.8.20.5. Selama sterilisasi dosis radiasi hendaklahrdipantau. Untuk
tujuan ini hendaklah ada prosedur pengukuran dosis yang
menentukan jumlah atau ukuran dosis yang diterimaoleh
produk. Indikator biologi hendaklah dipakai hanya sebagai
tambahan. Catatan hasil pemantauan merupakan bagian dari
catatan bets.
6.8.20.6. Hendaklah diberikan penandaan yang jelas untuk mem-
bedakan bahan yang sudah dan yang belum diradiasi.

48 IlmuFarmasi.Com
Rancang bangun sarana radiasi dan penggunaan pelat peka
radiasi dapat membantu memberikan kepastian hal ini.
6.8.20.7. Jumlah wadah yang diterima, diradiasi dan dikirim keluar
hendaklah direkonsiliasi satu dengan yang lain dan
didokumentasikan. Setiap penyimpangan hendaklah
dilaporkan dan dituntaskan.
6.8.20.8. Rentang dosis sterilisasi yang diperoleh setiap wadah dalam
satu bets atau satu pengiriman hendaklah dinyatakan secara
tertulis oleh petugas radiasi.
Dosis minimum sterilisasi yang biasa adalah 2,5 megarad.
6.8.20.9. Catatan proses dan pengawasan masing-masing bets yang
diradiasi hendaklah diteliti dan ditanda-tangani oleh petugas
yang ditunjuk dan kemudian disimpan. Metode dan tempat
penyimpanan catatan hendaklah disetujui bersama oleh
pihak perusahaan radiasi dan pabrik pembuat produk yang
diradiasi.
6.8.20.10. Pabrik pembuat produk bertanggung jawab atas pe-
mantauan mikrobiologi. Kegiatan ini mencakup
pemantauan lingkungan dimana produk dibuat dan
pemantauan produk segera sebelum diradiasi sesuai yang
ditetapkan dalam registrasi produk.
6.8.21. A i r
6.8.21.1. Air yang digunakan untuk membuat produk steril termasuk
sistem penyimpanan dan penyalurannya hendaklah diawasi
sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan untuk setiap
kegiatan.
6.8.21.2. Air untuk injeksi dibuat dengan caradistilasi atau cara lain
yang sesuai.
6.8.21.3. Air untuk injeksi disimpan dan disirkulasi terus menerus
pada suhu sekurang-kurangnya 70° C. Air yang tidak
disirkulasi hanya boleh digunakan dalamwaktu tidak lebih
dari 24 jam.
6.8.21.4. Air untuk injeksi yang dipakai dalam formulasi dianggap
dan diperlakukan sebagai bahan awal.
6.8.21.5. Alat pencatat hendaklah digunakan untuk memantau suhu
penyimpanan.
6.8.21.6. Air untuk injeksi disimpan dalam wadah yang bersih, steril,
tidak reaktif, non-absortif, non-aditif dan dilindungi dari
kontaminasi.

49 IlmuFarmasi.Com
6.8.22. Penyelesaian Produk Steril
6.8.22.1. Bila menggunakan deterjen atau bahan sejenis dalam
pembilasan awal dari wadah, hendaklah adaprosedur yang
memastikan tidak ada sisa yang tertinggal dalam wadah.
Pembilasan akhir hendaklah menggunakan air suling atau
air dengan kualitas yang sesuai.
6.8.22.2. Petugas tidak dibenarkan memegang wadah dengan tangan!
telanjang. Wadah akhir yang telah dicuci, dikeringkan dani
disterilkan hendaklah dipakai dalam batas waktu yang
ditentukan.
6.8.22.3. Wadah akhir produk steril hendaklah ditutup kedap dengan
cara yang tepat.
Ampul hendaklah ditutup dengan menggunakan tehnik
menarik ujungnya daripada menutup ujungnya.
6.8.22.4. Kesempumaan penutupan wadah akhir hendaklah diperiksa
dengan prosedur yang sesuai.
6.8.22.5. Wadah yang telah diisi dengan larutan injeksi hendaklah
diperiksa satu persatu terhadap partikel yang terlihat. Bila
pemeriksaan ini dilakukan dengan mata, hendaklah
dilaksanakan dengan penerangan dan latar belakang yang
tepat. Petugas pemeriksa hendaklah diberi selang waktu
istirahat yang cukup selama kegiatan pemeriksaan dan
mendapat pemeriksaan mata secara teratur.
6.8.22.6. Bila pemeriksaan dilakukan secara elektronik atau
fotoelektrik, maka efektifitas alat tersebut hendaklah
divalidasi dan kepekaannya dipantau.

6.8.23. Indikator Biologi dan Kimia


6.8.23.1. Indikator biologi dan kimia yang dipakai tersendiri tidak
dapat dijadikan sebagai bukti bahwa sterilisasi telah
berlangsung efektif dan hanya dapat menunjukkan bahwa
sterilisasi telah gagal.
6.8.23.2. Pemantauan menggunakan indikator biologi kurang dapat
diandalkan dibandingkan dengan pemantauan cara fisik
kecuali pada sterilisasi dengan gas etilen oksida.
6.8.23.3. Tindakan pengamanan yang ketat hendaklah dilakukan
dalam menangani indikator biologi, untuk mencegah
pencemaran oleh indikator tersebut ke dalam daerah yang

50 IlmuFarmasi.Com
tadinya telah bersih secara mikrobiologi. Indikator biologi harus
disimpan menurut spesifikasi produsennya.
6.8.23.4. Indikator kimia untuk sterilisasi panas, gas etilen oksida
dan sterilisasi cara radiasi biasanya tersedia dalam bentuk pita,
lembar perekat, kartu titik warna, tabung kecil, sachet atau
dosimeter plastik. Indikator ini akan berubah wama sebagai
akibat dan reaksi kimia yang terjadi karena proses sterilisasi.
Perubahan wama ini mungkin terjadi sebelurn waktu sterilisasi
diselesaikan. Oleh karena itu indikator tersebut tidak cukup
memadai sebagai bukti sterilisasi, kecuali dosimeter plastik yang
digunakan pada proses sterilisasi cara radiasi.

6.9.Pengemasan
6.9.1. Kegiatan pengemasan berfungsi membagi-bagi dan
mengemas produk ruahan menjadi obat jadi. Proses pengemasan
hendaklah dilaksanakan di bawah pengawasan ketat untuk menjaga
identitas, keutuhan dan kualitas barang yang sudah dikemas.
6.9.2. Untuk kegiatan pengemasan hendaklah adaprosedur tertulis yang
menguraikan penerimaan serta identifikasi produk ruahan dan bahan
pengemas, pengawasan untuk menjamin bahwa produk ruahan dan
bahan pengemas (tercetak ataupun tidak tercetak) yang akan dipakai
adalah benar, pengawasan dalam proses selama pengemasan,
rekonsiliasi terhadap produk ruahan dan bahan pengemas tercetak,
dan pemeriksaan akhir terhadap hasil pengemasan. Semua kegiatan
pengemasan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang
diberikan dan menggunakan bahan pengemas yang tercantum
dalam Prosedur Pengemasan Induk. Rincian pelaksanaan
pengemasan hendaklah dicatat dalam catatan pengemasan bets.
6.9.3. Sebelum kegiatan pengemasan dimulai hendaklah dilakukan
pemeriksaan untuk memastikan bahwa peralatan dan ruang
kerja dalam keadaan bersih dan bebas dari produk dan sisa
produk lain atau dokumen yang tidak diperlukan untuk kegiatan
yang dilakukan.
6.9.4. Setiap penyerahan produk ruahan dan bahan pengemas hendaklah
diperiksa dan diteliti terhadap kesesuaian dengan Prosedur
Pengemasan Induk atau perintah pengemasan khusus.
6.9.5. Pra-penandaan pada Bahan Pengemas
6.9.5.1. Label, karton dan komponen lain yang memerlukan pra-
penandaan dengan nomor bets atau lot, tanggal daluwarsa

51 IlmuFarmasi.Com
dan informasi lain yang sesuai dengan perintah pengemasan
hendaklah diawasi secara ketat pada setiap tahap proses
sejak diterima dari gudang sampai menjadi bagian dari oba
jadi atau dimusnahkan.
6.9.5.2. Bahan pengemas yang sudah ditentukan untuk pra-
penandaan hendaklah disimpan dalam wadah tertutup rapat
dan ditempatkan di daerah yang terpisah dan terjamin
keamanannya.
6.9.5.3. Pra-penandaan pada bahan pengemas hendaklah dilak-
sanakan di suatu daerah yang terpisah dari kegiatan
pengemasan lain.
6.9.5.4. Seluruh bahan pengemas yang telah diberi pra-penandaan
hendaklah diperiksa sebelum dipindahkan ke daerah
pengemasan.
6.9.6. Kesiapan Jalur Pengemasan
Segera sebelum menempatkan bahan pengemas pada jalur penge-
masan hendaklah diadakan pemeriksaan kesiapan jalur pengemasan
yang bersangkutan oleh petugas yang ditunjuk, sesuai dengan
prosedur tertulis yang ditentukan untuk:
6.9.6.1. memastikan bahwa semua bahan dan produk terkemas yang
berasal dari kegiatan pengemasan sebelumnya telah benar-
benar disingkirkan dari jalur pengemasan itu dan daerah
sekitarnya;
6.9.6.2. meneliti kebersihan jalur dan daerah sekitarnya; dan
6.9.6.3. memastikan kebersihan peralatan yang akan dipakai.
6.9.7. Pengawasan Selama Proses
6.9.7.1. Prosedur tertulis untuk pengawasan dalam proses
hendaklah dipatuhi. Prosedur ini hendaklah menjelaskan
titik-titik pengambilan contoh, frekuensi pengambilan
contoh, jumlah contoh yang diambil untiik pemeriksaan.
spesifikasi yang harus diperiksa dan batas yang masih dapat
diterima untuk setiap spesifikasi.
6.9.7.2. Pengawasan selama proses hendaklah meliputi juga
prosedur umum sebagai berikut:
(a) volume atau jumlah unit dosis yang diisi dari produk
yang dikemas hendaklah diperiksa pada saat
pengemasan dimulai dan

52 IlmuFarmasi.Com
(b) produk yang telah dikemas hendaklah diperiksa
seSama proses pengemasan berlangsung dengan selang waktu
yang teratur untuk memastikan kesesuaiannya dengan
spesifikasi yang tertulis dalam Prosedur Pengemasan
Induk. Demikian halnya dengan seluruh komponen yang
digunakan untuk pengemasan.
6.9.7.3. Hasil pengujian dan pemeriksaan selamaprosestersebut
hendaklah dicatat. Catatan ini merupakan bagian dari
catatan pengemasan bets.
6.9.8. Pelaksanaan Pengemasan
6.9.8.1. Terjadinya kesalahan dalam pengemasan dapat diperkecil
dengan cara sebagai berikut:
(a) pemakaian label gulungan;
(b) pemberian kode bets langsung pada jalur
pemasangan label;
(c) penggunaan alat pembaca kode dan penghitung label
elektronik;
(d) label dan barang cetak lain dirancang sedemikian rupa
sehingga memiliki tanda yang berbeda jelas terhadap
produk yang berlainan; dan
(e) disamping pemeriksaan secara visual selama penge-
masan berlangsung, hendaklah dilakukan pula pemerik
saan secara terpisah oleh bagian pengawasan mutu
selama dan setelah selesai pengemasan.
6.9.8.2. Produk yang bentuk atau rupanya sama atau hampir
sama, tidak boleh dikemas pada jalur berdampingan,
kecuali ada pemisahan secara fisik.
6.9.8.3. Pada setiap jalur pengemasan, nama dan nomor bets
produk yang sedang dikemas hendaklah dapat terlihat
dengan jelas.
6.9.8.4. Wadah yang dipakai untuk menyimpan produk ruahan, obat
yang baru dikemas sebagian atau sub-bets hendaklah diberi
label atau ditandai untuk menunjukkan identitas, jumlah,
nomor bets dan status produk tersebut.
6.9.8.5. Wadah yang akan diisi hendaklah diserahkan ke bagian
pengemasan dalam keadaan bersih.
6.9.8.6. Semua petugas bagian pengemasan hendaklah dilatih supay a
menghayati pentingnya pengawasan dalam proses dan

53 IlmuFarmasi.Com
melaporkan terjadinya tiap penyimpangan yang mungkin
terlihat sewaktu mereka menjalankan tugas masing-masing.
6.9.8.7. Dalam waktu tertentu selama hari kerja dan setiap saat
terjadi tumpahan bahan, daerah pengemasan hendaklah
dibersihkan. Petugas kebersihan hendaklah dilatih untuk
menghindari tindakan yang dapat menyebabkan terjadinya
campur-baur atau pencemaran silang.
6.9.8.8. Setiap bahan pengemas-cetak yang ditemukan pada waktu
pembersihan hendakJah diberikan kepada supervisor, yang
selanjutnya menempatkan bahan itu dalam wadah tertentu
untuk keperluan rekonsiliasi dan memusnahkan setelah
proses pengemasan berakhir.
6.9.8.9. Produk yang telah selesai atau yang hampir selesai dikemas
yang ditemukan berada di luar jalur pengemasan, hendaklah
diserahkan kepada supervisor dan tidak boleh langsung
dikembalikan ke jalur pengemasan. Bila produk tersebut
setelah diperiksa oleh supervisor ternyata identitasnya sama
dengan bets yang sedang dikemas dan keadaannya baik,
maka supervisor dapat mengembalikannya ke dalam proses
pengemasan yang sedang berjalan. Kalau identitasnya
berlainan maka barang tersebut hendaklah dimusnahkan
dan jumlahnya dicatat.
6.9.8.10. Produk yang telah diisikan ke dalam wadah akhirtetapi
belum diberi label hendaklah dipisahkan dan diberi tanda
untuk menjagajangan tercampur dengan produk lain.
6.9.8.11. Peralatan untuk pengemasan yang bagian-bagiannya tidak
bersentuhan langsung dengan produk ruahan namun dapat
menjadi tempat menumpuknya debu, serpihan, bahan
pengemas ataupun produk yang kemudian dapat mengotori
produk yang sedang dikemas "atau menjadi sumber
pencemaran atau yang da-pat menyebabkan terjadinya
pencampur-bauran hendaklah dibersihkan secara cermat.
6.9.8.12. Hendaklah dilakukan tindakan untuk menghindarkan
penyebaran debu selama proses pengemasan produk
kering. Daerah pengemasan terpisah diperlukan untuk
beberapa produk tertentu misalnya obat berdosis rendah
yang mempunyai risiko tinggi, produk yang beracun dan
bahan yang dapat menimbulkan kepekaan.

54 IlmuFarmasi.Com
Udara bertekanan tidak boleh digunakan untuk
membersihkan peralatan di daerah pengemasan karena
dapat menimbulkan pencemaran silang.
6.9.8.13. Penggunaan sikat sebagai alat pembersih hendaklah dibatasi
karena dapat menimbulkan pencemaran dari bulu sikat atau
partikel yang menempel pada sikat.
6.9.8.14. Petugas yang memerlukan obat untukpenyakitnyayang
tidak membahayakan produk atau orang lain sekitarnya,
hendaklah diijinkan meninggalkan daerah pengemasan
untuk memakan obatnya, namun dalam keadaan bagai-
manapun obatnya tidak boleh dibawa ke daerah
pengemasan.
6.9.8.15. Petugas hendaklah diingatkan untuk tidak menaruh bahan
pengemas atau produk ke dalam saku mereka.
Bahan tersebut hendaklah dibawa dengan tangan atau
dalam wadah tertutup yang diberi tandajel as.
6.9.8.16. Bahan yang diperlukan dalam pengemasan seperti pelincir,
perekat, tinta, cairan pembersih hendaklah ditempatkan
dalam wadah yang berbeda dengan wadah produk dan
diberi tanda yang menyebutkan isinya jelas.
6.9.9. Penyelesaian Proses Pengemasan
6.9.9.1. Pada penyelesaian proses pengemasan, produk yang di-
kemas akhir hendaklah diperiksa dengan teliti untuk
memastikan bahwa kemasan obat tersebut sesuai dengan
persyaratan dalam Prosedur Pengemasan Induk.
6.9.9.2. Hanya obat jadi yang berasal dari satu bets pengemasan
saja yang boleh ditempatkan pada satu palet. Bila ada
karton yang tidak penuh maka jumlah kemasan yang ada
di dalam hendaklah dituliskai\pada karton tersebut.
6.9.9.3. Setelah proses rekonsiljasi pengemasan diselesaikan, ke-
lebihan bahan pengemas dan produk ruahan yang akan di-
singkirkan hendaklah diawasi dengan ketat agar hanya
bahan dan produk yang dinyatakan memenuhi syarat saja
yang dapat dikembalikan ke gudang untuk dimanfaatkan
lagi. Bahan dan produk tersebut hendaklah diberi tanda
yangjelas.
6.9.9.4. Supervisor hendaklah mengawasi perhitungan dan pe-
musnahan bahan pengemas dan produk ruahan yang tidak

55 IlmuFarmasi.Com
dapat dikembalikan lagi ke gudang. Semua sisa bahan
pengemas yang tidak terpakai dan sudah diberi tanda
hendaklah dimusnahkan. Jumlah yang dimusnahkan
hendaklah dicatat pada catatan pengemasan bets.
6.9.9.5. Supervisor hendaklah menghitung dan mencatat pemakaian
bersih untuk semua bahan pengemas dan produk ruahan.
6.9.9.6. Setiap penyimpangan hasil pengemasan yang tidak dapat
dijelaskan atau kegagalan untuk memenuhi spesifikasi
hendaklah diselidiki secara teliti dengan mempertimbang-
kan bets atau produk lain yang mungkin terpengaruh juga.
6.9.9.7. Setelah rekonsiliasi cocok, obat jadi tersebut hendaklah
dikarantina sambil menunggu pelulusan dari bagian
pengawasan mutu.
6.10. Bahan atau Produk Pulihan
6.10.1. Bahan atau produk dapat diolah ulang atau dipulihkan asalkan bahan
atau produk tersebut layak untuk diolah ulang melalui prosedur tertentu
yang disahkan, serta hasilnya masih memenuhi persyaratan spesifikasi
yang ditentukan dan tidak terjadi perubahan yang berarti terhadap
mutunya. Dokumentasi hendaklah secara tepat mencatat prosedur
pengolahan ulang yang telah dilakukan.
6.10.2. Sisa Produk
6.10.2.1. Sisa produk yang tidak layak untuk diolah ulang atau bahan
pulihan yang tidak memenuhi spesifikasi, mutu, kemanjuran
atau keamanan tidak boleh ditambahkan ke dalam bets
berikutnya.
6.10.2.2. Prosedur penanganan sisa produk dan bahan atau produk
yang akan diolah ulang atau dipulihkan dan carapenam-
bahannya ke dalam bets berikutnya hendaklah disahkan
secara khusus dan didokumentasikan. *
6.10.2.3. Hendaklah ada pembatasan yang disetujui oleh bagian
pengawasan mutu terhadap jumlah sisa produk atau bahan
atau produk pulihan yang dapat ditambahkan ke dalam bets
berikutnya.
6.10.2.4. Bets yang mengandung sisa produk atau bahan atau produk
pulihan hanyaboleh diluluskan setelah semua bets asal sisa
produk atau bahan atau produk pulihan yang bersangkutan
telah dinilai dan dinyatakan memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan.

56 IlmuFarmasi.Com
6.10.3. Pengolahan Ulang
6.10.3.1. Prosedur pengolahan ulang hendaklah secara khusus
disahkan dan didokumentasikan, setelah dilakukan penilaian
yang memberi kesimpulan bahwa risiko pengolahan ulang
dapat diabaikan.
6.10.3.2. Hendaklah dipertimbangkan perlunya penguj i an tambahan
terhadap semua obat jadi yang mengandung bahan atau
produk pulihan atau sisa produk.
6.10.3.3. Pengolahan ulang tidakboleh dilakukan tanpapersetujuan
bagian pengawasan mutu.
6.11. Obat Kembalian
6.11.1. Obat jadi yang dikembalikan dari gudang pabrik, misal karena
label atau kemasan luar kotor atau rusak, dapat diberi label
kembali atau diolah ulang ke bets berikut asalkan tidak ada
resiko terhadap mutu produk dan pengerjaan pengolahan
ulang hendaklah disahkan dan didokumentasikan secara
khusus. Bila obat jadi tersebut diberi label kembali maka
pengerjaannya perlu lebih hati-hati untuk meng-hindarkan
campur-baur dengan produk lain atau terjadinya kesalahan
pemberian label.
6.11.2. Obat jadi yang dikembalikan dari peredaran dan sudah lepas
dari pengawasan pabrik pembuat dapat dipertimbangkan
untuk dijual kembali, diberi label kembali atau diolah ulang ke
bets berikut hanya setelah dievaluasi secara kritis oleh petugas
berwenang di bagian pengawasan mutu. Evaluasi tersebut
meliputi sifat produk, kondisi penyimpanan khusus yang
ditetapkan, kondisi produk dan riwayat serta lamanya produk
dalam peredaran.
Bilamana ada keraguan terhadap mutu, produk ini tidak
boleh dipertimbangkan untuk didistribusikan kembali atau
diolah ulang.

6.12. Karantina Obat Jadi dan Penyerahan ke Guclung Obat J,adi


6.12.1. Karantina obat jadi merupakan titik akhir pengawasan sebelum obat
jadi diserahkan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum
obat jadi dipindahkan ke gudang, pengawasan ketat hendaklah
dilaksanakan untuk memastikan bahwa produk dan catatan me-
nyeluruh tentang bets yang bersangkutan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan.
6.12.2. Prosedur tertulis hendaklah mencantumkan cara penyerahan obat
jadi ke daerah karantina, cara penyimpanan sambil menunggu
pelulusan,

57 IlmuFarmasi.Com
persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pelulusan dan
cara pemindahan selanjutnya ke gudang obat jadi.
6.12.3. Sambil menunggu pelulusan oleh bagian pengawasan mutu, seluruh
bets atau lot yang sudah terkemas hendaklah ditahan dalam status
karantina.
6.12.4. Tidak boleh ada obat yang diambil dari suatu bets, selama obat jadi
itu masih berada di daerah karantina, kecuali sebagai contoh untuk
bagian pengawasan mutu.
6.12.5. Daerah karantina merupakan daerah terbatas hanya bagi petugas yang
benar-benar dibutuhkan bekerja atau yang diberi wewenang untuk
masuk ke daerah tersebut.
6.12.6. Setiap obat jadi yang membutuhkan syarat penyimpanan khusus.
hendaklah diberi label yang jelas yang menyatakan syarat penyimpanan
yang diharuskan, dan obat tersebut hendaklah disimpan di tempat
penyimpanan yang cocok di daerah karantina dengan kondisi tertentu.
6.12.7. Pelulusan obat jadi oleh bagian pengawasan mutu harus didahului
dengan penyelesaian yang memuaskan dari hal berikut:
6.12.7.1. Produkjadi memenuhi persyaratan pengawasan mutu dalam
semua spesifikasi pengolahan dan pengemasan.
6.12.7.2. Bagian pengawasan mutu menyimpan obat jadi dalam
kemasan yang dipasarkan dan jumlah yang cukup sebagai
contoh pertinggal yang akan digunakan untuk pengujian di
masa mendatang.
6.12.7.3. Kemasan akhir atau penandaan memenuhi persyaratan.
sesuai hasil pemeriksaan bagian pengawasan mutu.
6.12.7.4. Rekonsiliasi bahan pengemas cetakcocok.
6.12.7.5. Obat jadi yang diterima di dalam daerah karantina sesuai
dengan jumlah yang tertera pada dokumen pemindahan
barang.
6.12.8. Setelah bagian pengawasan mutu meluluskan suatu bets atau lot, obat
jadi tersebut hendaklah dipindahkan dari daerah karantina ke tempat
gudang obat jadi.
6.12.9. Sewaktu menerima obat jadi tersebut, petugas gudang hendaklah
mencatat pemasukan bets yang bersangkutan ke dalam kartu
persediaan obat.

6.13. Pengawasan Distribusi Obat Jadi


6.13.1. Sistem distribusi hendaklah dirancang dengan tepat sehingga menjamin
bahwa obat jadi yang pertama masuk didistribusikan lebih dahulu.

58 IlmuFarmasi.Com
6.13.2. Sistem tersebut mencakup pula carapencatatan yang tepat sehingga
distribusi tiap bets dapat segera diketahui untuk mempermudah pe-
nyelidikan dan penarikan kembalijikadiperlukan.
6.13.3. Prosedur tertulis mengenai distribusi obat hendaklah dibuat dan
dipatuhi.
6.13.4. Penyimpangan terhadap prinsip pertama masuk pertama keluar hanya
diperbolehkan untuk jangka waktu pendek dan hany a atas persetujuan
pimpinan yang bertanggungjawab.

6.14. Penyimpanan Bahan Awal, Produk Antara, Produk Ruahan dan


Obat Jadi
6.14.1. Semua bahan hendaklah disimpan secara rapih dan teratur untuk
mencegah risiko tercampur-baur atau pencemaran serta memudahkan
pemeriksaan dan pemeliharaan.
6.14.1.1. Semua bahan hendaklah disimpan pada jarak yang cukup
terhadap bahan lain maupun terhadap dinding dan tidak
diletakkan di lantai.
6.14.1.2. Bahan hendaklah disimpan dalamkondisi lingkungan yang
sesuai. Setiap kondisi penyimpanan khusus yang dibutuhkan
hendaklah disediakan.
6.14.1.3. Penyimpanan di luar gedung diperbolehkan bagi bahan yang
dikemas dalam wadah kedap (misalnya drum logam) yang
mutunya tidak terpengaruh oleh suhu, kelembaban dan
faktor lainnya.
6.14.1.4. Kegiatan pergudangan hendaklah terpisah darikegiatan
lainnya.
6.14.1.5. Semua penyerahan ke tempat penyimpanan, termasuk
barang kembalian hendaklah dicatat dengan baik.
6.14.1.6. Setiap bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat
jadi yang disimpan hendaklah mempunyai kartu persediaan
obat. Kartu tersebut hendakfah senantiasa direkonsiliasi dan
jika terdapat penyimpangan hendaklah dicatat disertai
penjelasan.
6.14.2. Penyimpanan Bahan Baku dan Bahan Pengemas
6.14.2.1. Semua bahan baku dan bahan pengemas yang diserahkan
ke gudang penyimpanan hendaklah diperiksa identitas,
kondisi wadah dan tanda pelulusan dari bagian pengawasan
mutu.

59 IlmuFarmasi.Com
6.14.2.2. Bila identitas atau kondisi wadah suatu bahan baku atau
bahan pengemas diragukan atau tidak sesuai dengan
identitas atau persyaratan kondisi hendaklah wadah tersebut
dikirim ke daerah karantina untuk selanjutnya diperiksa oleh
bagian pengawasan mutu.
6.14.2.3. Bahan baku dan bahan pengemas yang ditolak tidak boleh
disimpan bersama-sama dengan bahan yang sudah
diluluskan, tetapi disimpan dalam daerah khusus yang
diperuntukkan bagi bahan yang ditolak.
6.14.2.4. Bahan pengemas-cetak hendaklah disimpan di daerah
penyimpanan tertentu dan dikeluarkan dengan pengawasan
yang ketat.
6.14.2.5. Persediaan tertua dan yang mendekati tanggal daluwarsa
dari bahan baku dan bahan pengemas yang telah diluluskan
hendaklah dipergunakan lebih dahulu.
6.14.2.6. Bahan baku dan bahan pengemas hendaklah di uji ulang
mengenai identitas, kekuatan, mutu dan kemurniannyabila
perlu, misalnya setelah disimpan lama atau setelah kena
udara, panas atau pengaruh lain yang merugikan mutunya.

6.14.3. Penyimpanan Produk Antara, Produk Ruahan dan Obat Jadi


6.14.3.1. Produk antara, produk ruahan dan obat jadi hendaklah
dikarantina sambil menunggu hasil pemeriksaan dan
keputusan dari bagian pengawasan mutu.
6.14.3.2. Setiap penyerahan hendaklah diperiksa untuk memastikan
bahwa bahan yang diserahkan sesuai dengan dokumen
penyerahan.
6.14.3.3. Setiap wadah produk antara, produk ruahan dan obat jadi
yang diserahkan ke daerah penyimpanan hendaklah
diperiksa mengenai identitas serta kondisi wadahnya.
6.14.3.4. Bila identitas atau kondisi wadah suatu produk antara,
produk ruahan dan obat jadi diragukan atau tidak sesuai
dengan identitas atau persyaratan kondisi, hendaklah wadah
tersebut dikarantina untuk selanjutnya diperiksa oleh bagian
pengawasan mutu.
6.15. Pembuatan Obat Berdasarkan Kontrak
6.15.1. Pembuatan obat berdasarkan kontrak berarti pembuatan sebagian
atau keseluruhan dari suatu obat oleh satu atau lebih pabrik pembuat

60 IlmuFarmasi.Com
(disebut Penerima Kontrak) untuk kepentingan pihak lain (disebut
Pemberi Kontrak).
6.15.2. Pemberi Kontrak hendaklah memastikan bahwa Penerima
Kontrak telah memiliki izin operasional dan sertifikat CPOB
yang sesuai dengan bentuk sediaan obat yang akan
dikontrakkan.
6.15.3 Hendaklah dibuat suatu perjanjian kontrak yang mencakup seluruh
aspek produksi dan pengaturan teknis terkait.
6.15.4. Semua aspek yang berhubungan dengan kontrak pembuatan obat
termasuk usulan perubahan teknis atau pengaturan lain hendaklah
sesuai dengan registrasi obat jadi yang bersangkutan.
6.15.5.Pemberi Kontrak bertanggungjawab mengevaluasi kemampuan
Penerima Kontrak untuk melaksanakan dengan baik pekerjaan
yang diberikan serta memastikan bahwa prinsip dan pedoman Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) diikuti secara cermat.
6.15.6. Pemberi Kontrak hendaklah memberikan kepada Penerima
Kontrak seluruh informasi yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan kontrak dengan tepat sesuai registrasi obat jadi dan
peraturan lain yang berlaku. Pemberi Kontrak hendaklah memasti-
kan bahwa Penerima Kontrak telah sepenuhny a mengetahui masalah
yang berkaitan dengan pembuatan produk ataupun pekerjaan yang
mungkin menimbulkan bahaya terhadap bangunan dan fasilitas,
peralatan, personalia, dan bahan atau produk lain.
6.15.7. Pemberi Kontrak hendaklah memastikan bahwa semua produk
antara, produk ruahan dan obat jadi yang dikirimkan Penerima
Kontrak telah memenuhi spesifikasi dan sudah diluluskan oleh
manajerpengawasan mutu.
6.15.8. Penerima Kontrak hendaklah memastikan bahwa semua produk
atau bahan yang dikirimkan Pemberi Kontrak sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
6.15.9. Penerima Kontrak tidak boleh mengal ihkan pekerj aan kontrak apa-
pun yang tercantum dalam persetujuan kontrak kepada pihak lain.
6.15.10. Penerima Kontrak tidak boleh melakukan kegiatan apapun
yang dapat mempengaruhi mutu produk yang dibuat untuk
Pemberi Kontrak.
6.15.11. Perjanjian kontrak antara Pemberi Kontrak dan Penerima
Kontrak hendaklah merinci tanggungjawab masing-masing
pihak yang berkaitan dengan produksi dan pengawasan mutu.
Aspek teknis dari kontrak hendaklah disusun oleh orang yang
kompeten dan

61 IlmuFarmasi.Com
mempunyai pengetahuan yang memadai tentang teknologi farmasi
dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Semua aspek dalam
kontrak mengenai pembuatan obat hendaklah sesuai registrasi obat
jadi dan disetujui kedua belah pihak.
6.15.12. Kontrak hendaklah merinci cara pelulusan suatu bets untuk
diedarkan setelah dipastikan bahwabets tersebut dibuat sesuai Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dalam registrasi obat jadi.
6.15.13. Kontrak hendaklah merinci pihak yang bertanggung jawab dalam
pembelian bahan, pengujian bahan dan pelulusannya, pelaksana
produksi dan pengawasan mutu termasuk pengawasan dalam
proses, serta pengambilan contoh dan pengujian.
6.15.14. Catatan pembuatan, analisis, contoh pertinggal serta distribusi obat
hendaklah disimpan langsung oleh Pemberi Kontrak atau tersedia
setiap saat diperlukan oleh Pemberi Kontrak. Catatan apapun yang
berhubungan dengan penilaian mutu produk hendaklah dapat
langsung diperoleh Pemberi Kontrak bila terjadi keluhan atau
kecurigaan adanya kerusakan/cacat terhadap suatu obat. Disamping
itu. kontrak hendaklah merinci pihak yang bertanggung jawab dalam
penanganan produk cacat dan penarikan kembali obat jadi.
6.15.15. Kontrak hendaklah memuat pasal yang mengizinkan Pemberi
Kontrak memeriksa fasilitas pembuatan obat di Penerima Kontrak.

62 IlmuFarmasi.Com
7. PENGAWASAN MUTU

Pengawasan mutu adalah bagian yang esensial dari cara pembuatan obat yang baik
untuk memastikan tiap obat yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan
mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Keterlibatan dan rasa tanggung
jawab semua unsur yang berkepentingan dalam seluruh rangkaian pembuatan
adalah mutlak untuk mencapai sasaran mutu yang ditetapkan mulai dari saat
obat dibuat sampai distribusi obat jadi. Untuk keperluan tersebut harus
ada suatu bagian Pengawasan mutu yang berdiri sendiri.

7.1. Ketentuan Umum


7.1.1. Sistem pengawasan mutu hendaklah dirancang dengan tepat untuk
menjamin bahwa tiap obat mengandung bahan yang benar dengan
mutu dan jumlah yang telah ditetapkan dan dibuat pada kondisi yang
tepat dan mengikuti prosedur standar sehingga obat tersebut senantiasa
memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan untuk identitas, kadar,
kemurnian, mutu dan keamanannya.
7.1.2. Pengawasan mutu meliputi semua fungsi analisis yang dilakukan di
laboratorium termasuk pengambilan contoh, pemeriksaan dan
pengujian bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat jadi.
Pengawasan mutu meliputi juga program uji stabilitas, pemantauan
lingkungan kerja, uji validasi, pengkajian dokumentasi bets, program
penyimpanan contoh dan penyusunan serta penyimpanan spesifikasi
yang berlaku dari tiap bahan dan produk termasuk metode
pengujiannya.
7 . 1 .3 . Sistem dokumentasi dan prosedur pelulusan oleh bagian pengawasan
mutu hendaklah menjamin bahwa pemeriksaan dan pengujian yang
diperlukan telah dilaksanakan dan bahwa bahan awal, produk antara,
produk ruahan tidak digunakan dan bbatjadi tidak didistribusikan
atau dijual sebelum hasil pemenksaan dan pengujian mutu dinilai telah
memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
7.1. 4. B agian pengawasan mutu melaksanakan tugas pokok sebagai
berikut:
7.1.4.1. Menyusun dan merevisi prosedur pengawasan dan
spesifikasi;
7.1.4.2. Menyiapkan instruksi tertulis yang rinci untuk tiap
pemeriksaan, pengujian dan analisis;

63 IlmuFarmasi.Com
7.1.4.3. Menyusun rancangan dan prosedur tertulis mengenai
pengambilan contoh untuk pemeriksaan;
7.1.4.4. Menyimpan contoh pertinggal untukrujukan di masa
mendatang;
7.1.4.5. Meluluskan atau menolak setiap bets bahan awal, produk
antara, produk ruahan dan obat jadi;
7.1.4.6. Meneliti semua dokumentasi yang berhubungan dengan
pengolahan, pengemasan dan pengujian obat jadi bets
yang bersangkutan sebelum meluluskannya untuk
didistribusikan;
7.1.4.7. Mengevaluasi stabilitas semua obatjadi secaraberlanjut,
bahan awal jikadiperlukan, dan menyiapkan instruksi
mengenai cara penyimpanan bahan awal dan obatjadi di
pabrik berdasarkan data stabilitas;
7.1.4.8. Menetapkan tanggal daluwarsa dan batas waktu
penggunaan bahan awal dan obatjadi berdasarkan data
stabilitas dan kondisi penyimpanannya;
7.1.4.9. Mengevaluasi dan menyetujui prosedur pengolahan ulang
suatu produk:
7.1.4.10. Menyetujui penunjukan pemasok bahan baku dan bahan
pengemas yang diketahui dan dipercayai mampu atau
dapat diandalkan untuk memasok bahan awal yang me-
menuhi spesifikasi mutu yang telah ditetapkan perusahaan;
7.1.4.11. Mengambil bagian atau memberikan bantuan dalam
pelaksanaan program validasi;
7.1.4.12. Mengevaluasi semua keluhan yang diterima atau ke-
kurangan yang ditemukan mengenai suatu bets, bilaperlu
bekerja sama dengan bagian lain, dan mengambil
tindakan perbaikan yang diperlukan;
7.1.4.13. Menyediakan baku pembanding sekunder sesuai spe
sifikasi yang terdapat pada prosedur pengujian yang
berlaku dan menyimpan baku pembanding ini pada
kondisi yang tepat;
7.1.4.14. Menyimpan catatan pemeriksaan dan pengujian semua
contoh yang diambil;
7.1.4.15. Mengevaluasi obat kembalian dan menetapkan apakah
obat tersebut dapat digunakan langsung atau diproses
ulang atau harus dimusnahkan;

64 IlmuFarmasi.Com
7.1.4.16. Ikut serta dalam program inspeksi-diri bersama bagian
Iain dalam perusahaan; dan
7.1.4.17. Memberikan rekomendasi untuk pembuatan obat oleh
pihak lain atas dasar kontrak setelah diadakan evaluasi
terhadapkontraktoryangbersangkutan dan dinilai marnpu
membuat obat yang memenuhi standar mutu yang
ditetapkan perusahaan.
7.2. Laboratorium Pengujian
7.2.1. Bangunan
7.2.1.1. Laboratorium pengujian hendaklah dirancang-bangun,
dilengkapi peralatan dan memiliki ruang yang memadai
sehingga dapat menampung dan melaksanakan semua
kegiatan yang diperlukan.
7.2.1.2. Hendaklah disediakan sarana yang sesuai dan aman untuk
sampah dan sisa bahan yang akan dibuang. Bahan
beracun dan mudah terbakar hendaklah disimpan di
tempat yang dirancang khusus dan terpisah.
7.2.1.3. Ruangan laboratorium hendaklah terpisah dari ruangan
produksi.
7.2.1.4. Ruangan laboratorium biologi, mikrobiologi dan kimia
hendaklah dipisahkan satu dengan yang lain.
7.2.1.5. Ruangan terpisah bagi instrumen mungkin diperlukan
untuk melindungi terhadap gangguan listrik, getaran,
kelembaban yang berlebihan dan gangguan luar lainnya
atau bilamana instrumen tersebut perlu diisolasi dari
peralatan lainnya.
7.2.1.6. Rancangan laboratorium hendaklah memperhatikan
kecocokan bahan bangunan yang dipakai, penyaluran
ke luar untuk gas serta asap yang berbahaya dan ventilasi.
Unit pengendali udara yang terpisahjiendaklah dipasang
untuk masing-masing laboratorium biologi, mikrobiologi
dan radioisotop.
7.2.1.7. Semua pipa serta peralatan penyalur air, gas, udara, uap
dan sebagainya hendaklah diberi penandaan yang jelas.
Dalam hal ini perlu diperhatikan tersedianya sambungan
pipa atau adaptor yang tidak dapat saling ditukarkan
untuk gas atau cairan berbahaya.

65 IlmuFarmasi.Com
7.2.2. Personalia
7.2.2.1. Setiap karyawan yang diberi tugas mengawasi atau yang
langsung melakukan pekerjaan laboratorium hendaklah
mempunyai pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang
sesuai untuk memungkinkan pelaksanaan tugasnya
dengan baik. Tugas dan tanggung jawab masing-masing
karyawan hendaklah jelas baik secara tertulis dalam uraian
jabatannya maupun dalam bentuk lain yang sesuai.
7.2.2.2. Tiap karyawan hendaklah memakai pakaian pelindung
dan alat pengaman seperti respirator atau masker, kaca
mata pelindung dan sarung tangan yang tahan terhadap
asam atau alkali sesuai dengan keperluan untuk
melaksanakan tugasnya.

7.2.3. Peralatan
7.2.3.1. Peralatan serta instrumen laboratorium pengujian
hendaklah cocok untuk prosedur pengujian yang
dilakukan.
7.2.3.2. Prosedur tetap untuk pengoperasian tiap instrumen dan
peralatan hendaklah tersedia dan diletakkan di dekat
instrumen atau peralatan yang bersangkutan.
7.2.3.3. Peralatan dan instrumen hendaklah dirawat dan dikalibrasi
dalam selang waktu yang telah ditetapkan dan
pelaksanaannya didokumentasikan. Pemeriksaan untuk
memastikan bahwa instrumen berfungsi baik hendaklah
dilakukan tiap hari atau sebelum instrumen tersebut
digunakan.
7.2.3.4. Tanggal kalibrasi dan perawatan yang telah dilakukan
serta tanggal kalibrasi dan perawatan berikutnya harus
jelas tertera pada masing-masing instrumen atau dengan
cara lain yang sesuai.
7.2.3.5. Hendaklah diberi penandaan yang jelas untuk menun-
jukkan peralatan yang tidak berfungsi baik atau sedang
dirawat. Alat yang rusak hendaklah tidak digunakan
sebelum diperbaiki.
7.2.3.6. Pancuran air pengaman dan pembasuh mata hendaklah
tersedia di dekat tempat kerja.

66 IlmuFarmasi.Com
7.2.4. Pereaksi dan Media Pembiakan
7.2.4.1. Penerimaan dan pembuatan pereaksi dan media
pembiakan hendaklah dicatat.
7.2.4.2. Pereaksi yang dibuat di laboratorium hendaklah mengikuti
prosedur pembuatan tertulis dan diberi label yang sesuai.
Pada label dicantumkan konsentrasi, faktor standarisasi,
batas waktu penggunaan, tanggal standarisasi ulang harus
dilaksanakan, kondisi penyimpanan, berikut tanggal
pembuatan dan tanda tangan petugas yang membuat
pereaksi tersebut.
7.2.4.3. Kontrol positif maupun kontrol negatif hendaklah
digunakan untuk memastikan kecocokan media pem
biakan yang dipakai. Besar inokulum dalam kontrol positif
harus disesuaikan dengan kepekaan pertumbuhan yang
diinginkan.

7.2.5. Baku Pembanding


7.2.5.1. Baku pembanding hendaklah berada dalam tang-
gungjawab seseorang yang ditunjuk.
7.2.5.2. Baku pembanding primer hanya digunakan untuk tujuan
seperti diuraikan dalam monograf yang bersangkutan.
7.2.5.3. B aku pembanding sekunder atau baku pembanding kerj a
dapat dibuat dan dipakai setelah dilakukan pengujian
yang sesuai dan pemeriksaan secara periodik dan teratur
untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi serta
menjamin ketepatan hasilnya.
7.2.5.4. Semua baku pembanding hendaklah disimpan dan
digunakan secara tepat agar tidak berpengaruh terhadap
mutunya.
7.2.5.5. Pada label baku pembanding hendaklah dicantumkan
konsentrasi, tanggal pembuatan, tanggal daluwarsa,
tanggal pertama kali tutup wadahnya dibuka dan bila perlu
kondisi penyimpanannya.

7.2.6. Spesifikasi dan Prosedur Pengujian


7.2.6.1. Prosedur pengujian hendaklah divalidasi dengan
mem-perhatikan fasilitas dan peralatan yang ada
sebelum prosedur tersebut digunakan dalam pengujian
rutin.

67 IlmuFarmasi.Com
7.2.6.2. Spesifikasi dan prosedur pengujian untuk tiap bahan awal
produk antara, produk ruahan dan obat jadi hendaklah
memuat ketentuan dan cara pemeriksaan dan pengujian
mengenai identitas, kemurnian, kualitas dan kadar atau
potensi.
7.2.6.3. Prosedur pengujian hendaklah memuat:
(a) banyaknyacontoh yang diperlukan untuk pengujian
dan yang hams disimpan untuk rujukan masa
mendatang;
(b) banyaknya masing-masing pereaksi, larutan dapar
dan Iain-lain yang diperlukan untuk pengujian;
(c) peralatan dan instrumen yang diperlukan untuk
pengujian;
(d) rumus perhitungan yang digunakan; dan
(e) nilai sasaran dan toleransi dari tiap pengujian.
7.2.6.4. Spesifikasi hendaklah memuat frekuensi pemeriksaan
ulang dari tiap bahan baku yang ditentukan dengan
mempertimbangkan stabilitasnya.
7.2.6.5. Semuapengujian yang dilakukan hendaklah mengikuti
instruksi yang tercantum dalam prosedur pengujian untuk
masing-masing bahan atau produk. Hasil pengujian,
terutama yang menyangkut perhitungan, hendaklah
diperiksa oleh supervisor sebelum bahan atau produk
tersebut diluluskan atau ditolak.

7.2.7. Catatan Analisis


Catatan analisis hendaklah mencakup:
(a) nama dan nomor bets contoh;
(b) nama petugas yang mengambil contoh;
(c) metode analisis yang digunakan;
(d) semua data analisis seperti bobot, pembacaan buret, volume
dan pengenceran;
(e) perhitungan dalam unit ukuran dan rumus yang digunakan;
(f) pernyataan mengenai toleransi yang diperbolehkan;
(g) pemyataan apakah memenuhi atau tidak memenuhi persyaratan
spesifikasi;
(h) tanggal dan tanda tangan petugas yang melakukan pengujian
dan petugas yang memeriksa perhitungan;

68 IlmuFarmasi.Com
(i) pernyataan apakah diluluskan atau ditolak serta saran
mengenai tindakan selanjutnyayang ditandatangani dan diberi
tanggal oleh petugas yang berwenang;
(j) namapemasok, jumlah keseluruhan dan jumlah bahan awal
yang diterima; dan
(k) jumlah keseluruhan dan jumlah wadah, bahan baku, bahan
pengemas, produk antara, produk ruahan dan obat jadi dari
bets atau lot yang dianalisis.

7.2.8. Contoh Pertinggal


7.2.8.1. Contoh pertinggal dengan identitas jelas yang mewakili
setiap bets bahan baku berkhasiat yang diterima hendaklah
disimpan untuk jangka waktu tertentu.
7.2.8.2. Contoh pertinggal dengan identitas jelas yang mewakili
setiap bets obat jadi dalam bentuk kemasan lengkap
hendaklah disimpan untuk jangka waktu tertentu. Contoh
obat jadi ini disimpan dalam kondisi yang sama dengan
kondisi yang tertera pada label.
7.2.8.3. Jumlah contoh pertinggal sekurang-kurangnyaduakali dari
jumlah contoh yang dibutuhkan untuk pengujian lengkap
kecuali untuk uji sterilitas.
7.3. Validasi
7.3.1. Bagian pengawasan mutu hendaklah melakukan validasi
terhadap hal berikut:
7.3.1.1. Prosedur Penetapan Kadar
Dalam pelaksanaan validasi, prinsip penetapan kadar
dianggap cocok untuk prosedur yang ditetapkan. Validasi
dimaksudkan untuk mengetahui ketelitian dan ketepatan
kadar tetapi bukan mengenai penyebab dari penyimpangan
yang diamati.
Apabila ketelitian dan ketepatan dari penetapan kadar tidak
memuaskan maka prosedur tersebut perlu ditinjau,
dirancang kembali, direvisi atau diganti.
7.3.1.2. Kalibrasi Instrumen
Kalibrasi instrumen yang dipakai dalam pengujian
hendaklah dilakukan secaraberkala untuk menjamin bahwa
instrumen tersebut senantiasa memberikan hasil pengukuran
atau penimbangan yang tepat.

69 IlmuFarmasi.Com
7.3.2. Bagian pengawasan mutu hendaklah memberi bantuan yang
diperlukan atau m engambil bagian dalam pelaksanaan validasi
berkala oleh bagian lain, terutama bagian produksi untuk menjamin
bahwa setiap produk yang dihasilkan selalu memenuhi
spesifikasi yang telah ditetapkan.
7.4. Pengawasan terhadap Bahan Awal, Produk Antara, Produk Ruahan
dan Obat Jadi
7.4.1. Spesifikasi
Tiap spesifikasi hendaklah disetujui terlebih dahulu dan disimpan oleh
bagian pengawasan mutu. Hal-hal yang dicakup dalam spesifikasi
bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat jadi dapat dilihat
dalam butir 10.2.
Revisi berkala dari tiap spesifikasi perlu dilakukan dengan mem-
perhatikan edisi terakhir dari farmakope nasional atau kompendia
resmi lain.

7.4.2. Pengambilan Contoh


Pengambilan contoh merupakan operasi penting karena hanya se-
bagian kecil saja dari satu bets yang diambil untuk pengujian mutu.
Secara keseluruhan keabsahan kesimpulan mengenai mutu produk
tidak dapat didasarkan pada pengujian yang dilakukan terhadap
contoh yang tidak mewakili satu bets. Oleh karena itu pengambilan
contoh yang tepat adalah bagian yang esensial dari sistem pemastian
mutu.
7.4.2.1. Petugas pengambil contoh hendaklah mengikuti
pelatihan tentang tata cara pengambilan contoh yang tepat
pada awal penugasannya dan kemudian secara tetap dan
teratur. Topik pelatihan meliputi:
(a) rencana dan pola pengambilan contoh;
(b) prosedur tetap pengambilan contoh;
(c) teknik dan peralatan untuk mengambil contoh;
(d) risiko terjadi kontaminasi silang;
(e) peringatan terhadap pengambilan contoh bahan atau
produk yang tidak stabil dan / atau steril;
(f) pentingnya memperhatikan pemerian bahan, wadah
dan label secara visual; dan
(g) pentingnya mencatat hal yang tidak diharapkan atau
tidak biasa.

70 IlmuFarmasi.Com
7.4.2.2. Contoh hendaklah mewakili bets dari bahan yang diambil.
Pengambilan contoh hendaklah dilakukan sesuai prosedur
tetap,
7.4.2.3. Identitas suatu bets bahan baku yang diterima dalam be-
berapa wadah hany a dapat dipastikan apabila contoh bahan
diambil dari tiap wadah dan dilakukan pemeriksaan
identitas terhadap semua contoh.
7.4.2.4. Mutu suatu bets bahan baku dapat dinilai dengan cara
mengambil dan menguji contoh yang mewakili bets tersebut.
Contoh yang diambil untuk pemeriksaan identitas dapat
digunakan untuk maksud ini. Jumlah contoh yang digunakan
sebagai contoh representatif hendaklah ditentukan secara
statistik dan dirinci dalam rencana dan polapengambilan
contoh. Jumlah contoh yang dapat dicampur menjadi satu
contoh komposit hendaklah ditetapkan dengan per-
timbangan sifat bahan, pengetahuan tentang pemasok dan
homogenitas contoh komposit itu sendiri.
7.4.2.5. Rencana pengambilan contoh bahan pengemas hendaklah
mempertimbangkan : jumlah yang diterima, sifat bahan
(misalnya bahan pengemas primer dan / atau bahan penge
mas cetak), metode produksi dan pengetahuan tentang
pelaksanaaan sistem pemastian mutu di pabrik pembuat
bahan berdasarkan hasil audit pabrik yang dilakukan.
Jumlah contoh yang digunakan sebagai contoh representatif
hendaklah ditentukan secara statistik dan dirinci dalam
rencana pengambilan contoh.
7.4.2.6. Pengambilan contoh hendaklah dilakukan dengan tepat
untuk mencegah terjadinya kontaminasi atau efek lain yang
mempengaruhi mutu. Wadah bahan atau produk yang telah
diambil contonnya hendaklah diberi label yang mencan-
tumkan'antara lain isi wadah, nomor bets, tanggal peng
ambilan contoh, pengambil contoh dan tanda bahwa
contoh diambil dari wadah tersebut. Wadah kemudian
ditutup rapat secara hati-hati.
7.4.2.7. Instruksi pengambilan contoh hendaklah meliputi:
(a) cara dan rancangan pengambilan contoh;
(b) peralatan yang digunakan;
(c) banyak contoh yang diambil;

71 IlmuFarmasi.Com
(d) instruksi membagi-bagi contoh sesuai kebutuhan;
(e) tipe wadah contoh yang digunakan, yakni apakal
untuk pengambilan contoh secara normal atai
aseptik;
(f) peringatan khusus untuk diperhatikan terutama yang
berkaitan dengan pengambilan contoh bahan produk
steril atau berbahaya;
(g) kondisi penyimpanan; dan
(h) instruksi tentang cara pembersihan dan penyimpanan
alat pengambil contoh.
7.4.2.8. Tiap wadah contoh hendaklah diberi label yang
menunjukkan:
(a) nama bahan contoh;
(b) nomor bets atau lot;
(c) nomor wadah bahan dari mana contoh diambil;
(d) tanda tangan petugas yang mengambil contoh; dan
(e) tanggal pengambilan contoh.
7.4.2.9. Peralatan yang digunakan untuk mengambil contoh
hendaklah dibersihkan dan jikaperlu disterilkan, sebelum
dan sesudah pemakaian dan disimpan secara terpisah dari
alat laboratorium lainnya.
7.4.2.10. Perhatian hendaklah diberikan pada saat pengambilan
contoh untuk mencegah terjadinya kontaminasi atau
campur-baur terhadap atau oleh bahan atau produk yang
diambil contohnya. Semua alat yang bersentuhan dengan
bahan atau produk hendaklah bersih. Peringatan khusus
diperlukan untuk penanganan bahan berbahaya atau bahan
produk berpotensi tinggi.

7.4.3. Pengujian
7.4.3.1. Bahan Baku
Setiap bahan baku hendaklah diuji terhadap
spesifikasi identitas, kemurnian, kualitas, kekuatan, dan
persyaratan lain yang telah ditetapkan.
7.4.3.2. Bahan Pengemas
Bahan pengemas hendaklah memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan khususnya dalam hal kesesuaian jenis
bahan terhadap produk yang diisikan ke dalam bahan
tersebut.

72 IlmuFarmasi.Com
Cacat fisik yang kritis dan yang berdampak besar serta
ketepatan tanda identitas bahan yang dapat memberi kesan
meragukan terhadap kualitas produk hendaklah diperiksa.

7.4.3.3. Produk Antara dan Produk Ruahan


(a) Untuk menjamin keseragaman dan keutuhan bets,
pengawasan dalam proses hendaklah dilakukan de-
ngan mengambil contoh yang mewakili setiap bets
produk antara dan produk ruahan untuk pengujian
terhadap identitas, kekuatan, kemurnian dan
kualitasnya.
Persetujuan dari bagian pengawasan mutu mutlak
diperlukan sesudah selesainya tahap produksi yang
kritis atau apabila produk telah lama tersimpan
sebelum tahap produksi selanjutnya dilaksanakan.
(b) Produk antara dan produk ruahan yang ditolak
hendaklah diberi tanda dan diawasi dengan sistem
karantina yang dirancang untuk mencegah peng-
gunaannya dalam proses produksi lanjutan kecuali
apabila produk tersebut memenuhi syarat untuk diolah
ulang.
7.4.3.4. Obat Jadi
(a) Tiap bets produk hendaklah dilakukan pengujian
terhadap spesifikasi yang ditetapkan dan dinilai
memenuhi syarat sebelum diluluskan untuk distribusi.
(b) Bets produk yang tidak memenuhi spesifikasi obat
jadi dan persyaratan mutu lain yang ditetapkan
hendaklah ditolak. Pengolahan ulang dapat dilakukan
apabila memungkinkan, namun produk hasil
pengolahan ulang harus memenuhi semua spesifikasi
dan persyaratan mutu lain yang ditetapkan sebelum
diluluskan untuk distribusi.
7.4.3.5. Produk Steril
(a) Uji sterilitas
Uji sterilitas yang dilakukan terhadap obat jadi
hendaklah dianggap sebagai langkah terakhir dari
serangkaian tindakan pengawasan untuk menjamin
sterilitas. Hasil uji yang memenuhi syarat tidaklah

73 IlmuFarmasi.Com
menjamin sterilitas dari keseluruhan bets tersebut
karena ada kemungkinan wadah yang tidak steril tidak
terpilih pada pengambilan contoh. Disamping itu
metode pembiakan yang dipakai memiliki kepekaan
yang terbatas, sehingga tidak selalu memungkinkan
tumbuhnya semua mikroba. Sekalipun demikian
dengan cara pengambilan contoh yang tepat dan
pemakaian media yang sesuai untuk pengujian, hasil
uji sterilitas dapat digunakan sebagai pedoman
untuk meluluskan atau menolak suatu bets. Dalam
melakukan uji sterilitas hendaklah diperhatikar hal
berikut:
1) Pedoman tentangjumlah minimal wadah contoh
yang harus diuji serta metode standar yang
dipakai untuk pengujian berbagai jenis sediaan
terhadap bakteri aerob, bakteri anaerob, dan
jamur, hendaklah tertera dalam prosedur tetap
pengujian;
2) Contoh suatu bets hendaklah diambil secara
acak, termasuk dari tempat yang diperkirakan
paling dingin pada muatan yang disterilkan secara
panas dan yang berasa! dari awal dan akhir
pengisian bets secara aseptik;
3) Bila hasil pengujian terhadap suatu bets ternyata
tidak memenuhi syarat, makapenyebab kega-
galan ini hendaklah ditelusuri dan kemudian
dilakukan tindakan perbaikan yang sesuai; dan
4) Semua hasil uji sterilitas hendaklah didokumen-
tasikan.
(b) Uji endotoksin/pirogen
1) Pada pembuatanpbat steril hendaklah diper-
timbangkan perlunya pengujian bahan baku,
p r o d u k r u ah an d an o b a t jad i te rh ad ap
endotoksin / pirogen.
2) Air yang digunakan sebagai bahan baku atau
obat jadi sangat berisiko mengandung endotok
sin. Air untuk injeksi tidak boleh mengandung
lebih dari 0,25 Unit endotoksin per ml.

74 IlmuFarmasi.Com
3) Endotoksin / pirogen menjadi lebih
berbahaya dalam obat injeksi volume besar.
Obat injeksi hendaklah memenuhi syarat uji
endotoksin / pirogen yang ditetapkan.

7.4.4. Pengawasan Lingkungan


Pengawasan lingkungan kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut:
7.4.4.1. Pemantauan secara teratur terhadap mutu kimiawi dan
mikrobiologi dari air yang digunakan dalam pengolahan
obat, terutama yang keluar dari tempat dimana air itu akan
langsung digunakan. Jumlah contoh dan metode pengujian
hendaklah mampu mendeteksi adanya organisme penunjuk
(misalnya Pseudomonas) dalam konsentrasi kecil.
7.4.4.2. Pemantauan berkala secara mikrobiologi terhadap
lingkungan produksi.
7.4.4.3. Pengujian berkala terhadap lingkungan sekitar ruang
produksi untuk mendeteksi adanya bahan obat lain yang
akan mencemarkan produk yang sedang diolah.
7.4.4.4. Pengawasan terhadap pencemaran yang ada di udara
sekitar.

7.4.5. Pengawasan Selama Proses


7.4.5.1. Untuk menjamin keseragaman bets dan keutuhan obat jadi,
prosedur tertulis mengenai pengambilan contoh, peng
awasan dan pengujian atau pemeriksaan terhadap produk
selama proses dari tiap bets hendaklah ditetapkan dan diikuti.
Prosedur pengawasan tersebut dimaksudkan untuk meman-
tau hasil produksi dan melakukan validasi terhadap kemam-
puan proses produksi yang mungkin menjadi penyebab dari
variabilitas produk dalam prases.
7.4.5.2. Spesifikasi pengawasan selama proses hendaklah konsisten
dengan spesifikasi obat jadi. Spesifikasi ini hendaklah dija-
barkan dari rata-rata proses yang diterima sebelumnya serta
bila mungkin berdasarkan perkiraan variabilitas proses, dan
ditetapkan dengan menggunakan metode statistik yang tepat
dimana perlu.
7.4.5.3. Produk selama proses hendaklah diuji identitas, kekuatan,
kualitas dan kemurniannya pada tahap yang tepat dan

75 IlmuFarmasi.Com
dinyatakan diluluskan atau ditolak oleh bagian pengawasan
mutu selama proses produksi.

7.4.6. Pengawasan pada Pengemasan


7.4.6.1. Jalur pengemasan hendaklah diperiksakembali oleh bagian
pengawasan mutu sebelum kegiatan pengemasan berjalan.
7.4.6.2. Selama pengemasan berlangsung hendaklah diambil contoh
produk yang dikemas permulaan, pertengahan dan pada
akhir pengemasan.
7.4.6.3. Produk akhir yang sudah dikemas hendaklah dikarantina
sampai diluluskan oleh bagian pengawasan mutu.

7.4.7. Pengujian Ulang Bahan atau Produk yang Telah Disetujui


7.4.7.1. Hendaklah ditetapkan batas waktu penyimpanan yang
sesuai untuk setiap bahan awal, produk antara, produk
ruahan dan obat jadi. Setelah batas waktu ini bahan atau
produk tersebut harus diuji ulang oleh bagian pengawasan
mutu terhadap identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian-
nya. Berdasarkan hasil uji ulang tersebut bahan atau produk
itu dinyatakan diluluskan kembali untuk dipakai atau ditolak.
7.4.7.2. Bila suatu bahan disimpan padakondisi yang tidaktepat
bahan tersebut hendaklah diuji ulang dan diluluskan oleh
bagian pengawasan mutu sebelum digunakan.

7.5. Pengolahan Ulang


7.5.1. Pengolahan ulang tidak boleh dilakukan sebelum prosedurnya
diperiksa dan disetujui oleh bagian pengawasan mutu.
7.5.2. Pengolahan ulang suatu bets produk dapat dipertimbangkan hanya
apabila risiko yang mungkin sekali terjadi akibat pengolahan ulang
telah dievaluasi secara meyakinkan dan dinilai dapatdiabaikan.
7.5.3. Metode pengolahan ulang hendaklah disahkan secara khusus dan
didokumentasi secara lengkap.
7.5.4. Pengujian tambahan terhadap obat jadi hasil pengolahan ulang
hendaklah dilakukan sesuai ketentuan.
7.5.5. Uji stabilitas lanjut hendaklah dilakukan terhadap obat jadi hasil
pengolahan ulang bila diperlukan.
7.6. Evaluasi Bagian Pengawasan Mutu terhadap Prosedur Produksi
7.6.1. Bagian pengawasan mutu hendaklah ikut serta dalam pembuatan

76 IlmuFarmasi.Com
Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan Induk untuk
setiap ukuran bets suatu produk untuk menjamin keseragaman dari
bets ke bets yang diproduksi. Tiap perubahan dan penyesuaian pada
Prosedur Pengolahan Induk atau Prosedur Pengemasan Induk harus
disetujui oleh bagian pengawasan mutu sebelum diterapkan
diproduksi.
7.6.2. Bagian pengawasan mutu hendaklah memberikan persetujuan atas
prosedur pembersihan dan sanitasi peralatan produksi.

7.7. Peninjauan Catatan Bets Produksi


7.7.1. Semua catatan produksi dan pengawasan tiap bets obat jadi
hendaklah diteliti oleh bagian pengawasan mutu untuk menentukan
apakah pembuatan bets bersangkutan memenuhi semua prosedur yang
telah ditetapkan sebelum diluluskan untuk distribusi.
7.7.2. Tiap bets yang menyimpang atau gagal dalam memenuhi spesifika-
sinya hendaklah diselidiki secaratuntas. Penyelidikan hendaklah
dilanjutkan terhadap bets lain dari produk yang sama dan produk
lainnya yang mungkin ada hubungannya dengan penyimpangan atau
kegagalan tertentu. Laporan tertulis mengenai penyelidikan tersebut
hendaklah dibuat disertai dengan kesimpulan dan tindak lanjut.

7.8. Penelitian Stabilitas


7.8.1. Hendaklah dirancang program pengujian stabilitas untuk mengetahui
sifat stabilitas dari obat jadi dan untuk menentukan kondisi
penyimpanan yang cocok serta tanggal daluwarsa.
7.8.2. Program pengujian stabilitas hendaklah dipatuhi dan mencakup:
7.8.2.1. jumlah contoh danjadwal pengujian berdasarkan kriteria
statistik tiap sifat yang diuji untuk menjamin kebenaran
perkiraan stabilitas;
7.8.2.2. kondisi penyimpanan;
7.8.2.3. metoda pengujian yang spesifik, bermakna dan dapat
diandalkan;
7.8.2.4. pengujian produk dalam kemasan yang sama dengan
kemasan yang dipasarkan; dan
7.8.2.5. pada obat jadi untuk rekonstitusi, pengujian stabilitas
dilakukan sebelum maupun sesudah rekonstitusi.
7.8.3. Penelitian stabilitas hendaklah dilakukan dalam hal berikut:
7.8.3.1. Produk baru (umumnya dilakukan pada bets percobaan);

77 IlmuFarmasi.Com
7.8.3.2. Memiliki kemasan baru yang berbeda dengan standar yang
telah ditetapkan;
7.8.3.3. Pembahan formula, metode pengolahan dan sumber bahan
baku;
7.8.3.4. Bets yang diluluskan dengan pengecualian yaitu yang
sifatnya berbeda dengan standar atau bets yang diolah ulang;
dan
7.8.3.5. Produkyang beredar.

7.8.4. Hendaklah dilakukan pengamatan lanjut terhadap contoh pertinggal


obatjadi.

7.9. Keluhan terhadap Obat


7.9.1. Hendaklah dirancang suatu sistempenanganan keluhan terhadap obat
yang mencakup prosedur tetap dan penunjukan petugas yang
bertanggung jawab menerima keluhan.
7.9.2. Semuakeluhanyangditerimasecaratertulis ataupunlisanhendaklah
diteliti dengan cermat. Bagian pengawasan mutu bekerjasama dengan
bagian produksi dan/atau bagian pemasaran hendaklah meneliti
penyebab keluhan dan mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah
terulangnya keluhan tersebut.
7.9.3. Hendaklah dibuat catatan keluhan terhadap obat berikut pe-
nanganannya dan mencakup informasi antara lain :
7.9.3.1. Isi keluhan
Isi keluhan hendaklah mengandung:
(a) nama produk, bentuk sediaan, kemasan dan nomor
bets;
(b) tanggal, lokasi terjadinya keluhan, nama dan alamat
pemberi keluhan; dan
(c) sifat keluhan (diberikan lengkap).

7.9.3.2. Hasilpenelitian
Objek penelitian hendaklah mencakup:
(a) produk yang dikeluhkan (daerah peredaran, kondisi
saat beredar, kondisi pemakaian produk, dll.);
(b) contoh pertinggal, dimanaperlu; dan
(c) catatan pengujian, catatan produksi dan kondisi
penyimpanan produk yang dikeluhkan.

78 IlmuFarmasi.Com
7.9.3.3. Evaluasi hasil penelitian
7.9.3.4. Tindak lanjut yang dilaksanakan antara lain tindakan
perbaikan, tanggapan kepada pemberi keluhan, dan
penarikan kembali obat.
7.9.4. Catatan keluhan terhadap obat hendaklah disimpan untuk
jangka waktu tertentu.

7.10. Obat Kembalian


Bagian pengawasan mutu hendaklah bertanggungjawab atas pemeriksaan
produk yang dikembalikan karena adanya keluhan, kerusakan, daluwarsa
atau hal lain yang menimbulkan keraguan atas mutu produk itu.
7.10.1. Obat kembalian hendaklah diberi identitas yang jelas dan disimpan di
daerah terpisah di gudang.
7.10.2. Hendaklah dilakukan pemeriksaan fisik dan diteliti secara kritis
apakah perlu dilakukan pengujian atau tidak terhadap semua obat
kembalian. Produk yang memenuhi spesifikasi dan karakteristik yang
ditentukan boleh dipindahkan statusnya menjadi obat jadi yang
diluluskan dan dikembalikan ke persediaan agar dapat
didistribusikan kembali.
7.10.3. Dalam hal obat kembalian akan dikemas ulang agar dapat dijual
kembali, maka produk tersebut hendaklah diberi kode baru sesuai
prosedur yang ditetapkan.
7.10.4. Obat kembalian yang sebelumnya berada pada kondisi penyimpan-
an yang tidak wajar termasuk kondisi suhu, kelembaban dan tekanan
ekstrim, terkena asap atau kebakaran hendaklah dimusnahkan.
7.10.5. Obat kembalian yang akan dimusnahkan hendaklah ditangani
sedemikian rupa untuk memastikan pemusnahan dilaksanakan dengan
benar dan juga mencegah kemungkinan produk tersebut jatuh ke
tangan yang tidak berwenang.
7.10.6. Catatan penanganan obat kembalian hendaklah disimpan. Catatan
hendaklah mencakup nama produk, kekuatan, bentuk sediaan, bentuk
kemasan, nomor bets, alasan pengembalian, jumlah yang dikembalikan,
tanggal pemusnahan dan metode pemusnahan akhir.

7.11. Penilaian terhadap Pemasok


7.11.1. Bagian pengawasan mutu hendaklah ikut bertanggungjawab bersama
departemen yang relevan untuk memilih pemasok yang mampu dan

79 IlmuFarmasi.Com
dapat dipercaya dalam penyediaan bahan awal yang memenuhi
spesifikasi yang telah ditetapkan.
7.11.2. Semua calon pemasok hendaklah dievaluasi sebelum diberi pesanan.
Inspeksi terhadap pemasok perlu dilakukan, kecuali pemasok itu
mempunyai riwayat, reputasi atau jaminan yang dianggap cukup
sehingga inspeksi tidak diperlukan.
7.11.3. Inspeksi hendaklah dilakukan bersama oleh wakil dari bagian
pengawasan mutu, bagian produksi dan bagian pembelian untuk
menetapkan pemasok yang memenuhi syarat.
7.11.4. Sebagai calon pembeli, wakil-wakil dari bagian pengawasan mutu
bagian produksi dan bagian pembelian hendaklah menilai kualifikasi
teknis dari pemasok dan berusaha mengetahui sikapnya terhadap
mutu.
7.11.5. Semua pemasok hendaklah dievaluasi secara berkala,
7.11.6. Daftar pemasok terpilih untuk bahan awal hendaklah dibuat dan
ditinjau secara berkala.

80 IlmuFarmasi.Com
8. INSPEKSI DIRI
Tujuan inspeksi diri adalah untuk melakukan penilaian apakah seluruh aspek
produksi dan pengendalian mutu dalam pabrik memenuhi ketentuan CPOB.
Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan
pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan. Inspeksi diri
hendaklah dilakukan secara teratur. Seluruh tindakan perbaikan yang disarankan
hendaklah dilaksanakan. Untuk pelaksanaan inspeksi diri ditunjuk tim inspeksi
yang mampu menilai secara objektif pelaksanaan CPOB. Prosedur dan catatan
mengenai inspeksi diri hendaklah didokumentasikan.

8.1. Hal-hal yang Diinspeksi


Untuk mendapatkan standar inspeksi diri yang minimal dan
seragam disusun daftar periksa selengkap mungkin. Daftar
periksa hendaklah mengandung pertanyaan mengenai ketentuan
CPOB yang meliputi:
8.1.1. Karyawan
8.1.2. Bangunan termasuk fasilitas untuk karyawan
8.1.3. Penyimpanan bahan awal dan obat jadi
8.1.4. Peralatan
8.1.5. Produksi
8.1.6. Pengawasan mutu
8.1.7. Dokumentasi
8.1.8. Perawatan gedung dan peralatan

8.2. Tim Inspeksi Diri


Tim inspeksi diri ditunjuk oleh manajemen perusahaan terdiri dari sekurang-
kurangnya 3 orang yang ahli di dalam bidang pekerjaannya dan paham
mengenai CPOB. Anggota tim dapat berasal dari lingkungan perusahaan atau
dari luar perusahaan. Tiap anggota tim hendaklah bebas dalam
melakukan inspeksi dan dalam memberikan penilaian atas hasil inspeksi.

8.3. Liputan dan Frekuensi Inspeksi Diri


Inspeksi diri dapat dilakukan bagian demi bagian sesuai kebutuhan
namun inspeksi diri yang menyeluruh hendaklah dilakukan sekurang-
kurangnya sekali setahun.

81 IlmuFarmasi.Com
8.4. Laporan Inspeksi Diri
Setelah menyelesaikan inspeksi diri hendaklah dibuat laporan yang
mencakup
8.4.1. hasil inspeksi diri
8.4.2. penilaian dankesimpulan
8.4.3. usul tindakan perbaikan

8.5. Tindak Lanjut Inspeksi Diri


Berdasarkan laporan inspeksi diri, manajemen perusahaan
hendaklah mengevaluasi laporan dan mengambil tindakan perbaikan yang
diperlukan.

82 IlmuFarmasi.Com
9. PENANGANAN KELUHAN TERHADAP OBAT,
PENARIKAN KEMBALI OBAT DAN OBAT
KEMBALIAN

9.l. Keluhan terhadap Obat dan Laporan


Keluhan terhadap obat dan laporan keluhan dapat menyangkut mutu, efek
samping yang merugikan atau masalah efek terapeutik. Semua keluhan dan
laporan keluhan hendaklah diteliti dan dievaluasi dengan cermat, kemudian
diambil tindak lanjut yang sesuai dan dibuatkan laporan.

9.1.1. Jenis keluhan dan laporan dapat berupa:


9.1.1.1. keluhan mengenai mutu menyangkut keadaan fisik, kimia
dan biologi dari produk atau kemasannya.
9.1.1.2. keluhan atau laporan tentang efek samping yang merugikan
seperti reaksi alergi. reaksi toksis, reaksi fatal atau hampir
fatal dan lain sebagainya.
9.1.1.3. keluhan dan laporan medis lain seperti kurang manjur atau
kurang memberikan respon klinis.

9.1.2. Penanganan Keluhan dan Laporan


9.1.2.1 Hendaklah dibuat catatan tertulis mengenai semua keluhan
dan laporan yang diterima.
9.1.2.2. Keluhan dan laporan hendaklah ditangani oleh bagian
terkait sesuai dengan jenis keluhan atau laporan yang
diterima.
9.1.2.3. Terhadap tiap keluhan dan laporan hendaklah dilakukan
penelitian dan evaluasi secara seksama termasuk:
(a) meninjau seluruh inforrnasi yang masuk tentang
keluhan atau laporan tersebut
(b) melakukan pemeriksaan atau pengujian terhadap
contoh yang diterima dan bila perlu memeriksa
juga contoh pertinggal bets yang bersangkuatan
(c) meneliti kembali semua data dan dokumentasi yang
berkaitan, termasuk catatan bets, catatan distribusi,
catatan hasil pengujian dan sebagainya.

83 IlmuFarmasi.Com
9.1.3. TindakLanjut
9.1.3.1. Atas dasarhasil evaluasi dan penelitian dilakukan tinda
lanjut berupa antara lain :
(a) tindakan perbaikan y ang diperlukan;
(b) penarikan kembali bets obat atau seluruh obat yan
bersangkutan; dan
(c) tindak lanjut lain yangsesuai.
9.1.3.2. Hasil pelaksanaan penanganan keluhan dan laporan
termasuk hasil evaluasi penelitian dan tindak lanjut yann
diambil hendaklah dicatat dan dilaporkan kepada bagian
terkait dan kepada pejabat pemerintah yang berwenang

9.2. Penarikan Kembali Obat


Penarikan kembali obat dapat berupa penarikan kembali satu atau beberapa
bets atau seluruh obat jadi tertentu dari semua mata rantai distribusi. Penarikan
kembali dilakukan apabila ditemukan adanya produk yang tidak memenuh
persyaratan mutu atau atas dasar pertimbangan adanya efek samping yang
tidak diperhitungkan yang merugikan kesehatan. Penarikan kembali
seluruh obat tertentu dari peredaran dapat menyebabkan penghentian
sementara atai penghentian tetap tehadap pembuatan jenis obat yang
bersangkutan.
9.2.1. Keputusan Penarikan Kembali
9.2.1.1. Penarikan kembali dapat dilakukan atas prakarsa produsen
sendiri atau instruksi instansi pemerintah yang berwenang
9.2.1.2. Keputusan untuk melakukan penarikan kembali suatu obat
adalah tanggung jawab manajer pengawasan mutu dan
pimpinan perusahaan.
9.2.1.3. Keputusan penarikan kembali dapat berupa penarikan
kembali satu atau beberapa bets atau seluruh obat yang
bersangkutan. ,
9.2.1.4. Keputusan penarikan kembali dapat pula sekaligus
merupakan penghentian pembuatan obat yang
bersangkutan.
9.2.2. Pelaksanaan Penarikan Kembali
9.2.2.1. Tindakan penarikan kembali hendaklah dilakukan segera
setelah diketahui adanya obat yang tidak memenuhi
persyaratan atau yang mempunyai efek samping yang tidak
diperhitungkan sebelumnya yang membahayakan kesehatan.

84 IlmuFarmasi.Com
9.2.1.2. Bagi obat yang mengandung resiko besar terhadap ke-
sehatan. selain tindakan penarikan kembali hendaklah
segera diambil tindakan khusus agar obat yang bersangkutan
dikenakan embargo untuk tidak digunakan. Dalam hal ini
penarikan kembali hendaklah dilakukan pula sampai pada
tingkatkonsumen.
9.2.1.3. Sistem dokumen pabrik hendaklah dapat mendukung
pelaksanaan penarikan kembali dan embargo efektif, cepat
dan tuntas.
9.2.1.4. Hendaklah dibuat pedoman dan prosedur penarikan kem
bali obatjadi yang tepat sehinggapenarikan kembali dan
embargo dapat dilakukan dengan cepat dan efektif dari
seluruh mata rantai distribusi.
9.2.1.5. Hendaklah dibuat catatan dan laporan pelaksanaan, hasil
penarikan kembali dan embargo obat.

9.3. Obat Kembalian


Obat kembalian adalah obat jadi yang telah beredar, yang kemudian dikem-
balikan ke pabrik karena adanya keluhan. kerusakan, daluwarsa, masalah
keabsahan, atau sebab lain mengenai kondisi obat, wadah atau kemasan
sehingga menimbulkan keraguan akan keamanan. identitas, mutu danjumlah
obat yang bersangkutan.
Pabrik hendaklah membuat prosedur untuk menahan, menyelidiki dan meng-
analisis obat yang dikembalikan serta menetapkan apakah obat tersebut dapat
diproses kembali atau harus dimusnahkan. Terhadap obat kembalian dilakukan
evaluasi yang seksama untuk menentukan apakah obat yang bersangkutan
dapat diolah kembali atau dimusnahkan.
Berdasarkan evaluasi obat kembalian dapat digolongkan sebagai berikut: i
a) obat kembalian yang memenuhi spesifikasi sehingga dapat dikembalikan
ke persediaan;
b) obat kembalian yang masih dapat diolah ulang; dan
c) obat kembalian yang tidak memenuhi spesifikasi dan tidak boleh diolah
ulang.

9.4. Prosedur Penanganan Obat Kembalian


Hendaklah dibuat prosedur penanganan obat kembalian dengan mem-
perhatikan hal-hal berikut:
9.4.1. Identifikasi dan pencatatan mutu dari obat kembalian.

85 IlmuFarmasi.Com
9.4.2. Obat kembalian yang diterima hendaklah dikarantina.
9.4.3. Terhadap obat kembalian hendaklah dilakukan penelitian,
pemeriksan dan pengujian oleh bagian pengawasan mutu untuk
menentukan tindak lanjut.
9.4.4. Keputusan untuk melakukan pengolahan ulang obat kembalian
hendaklah dilakukan oleh manajemen perusahaan atas dasar
evaluasi yang seksama.
9.4.5. Perlunyapengujian tambahan terhadap produk hasil pengolahan ulang

9.5. Penanganan Obat Kembalian yang Ditolak


Obat kembalian yang tidak dapat diolah ulang hendaklah
dimusnahkan Hendaklah dibuat prosedur pemusnahan bahan atau produk
yang ditolak yang mencakup pencegahan pencemaran lingkungan dan
mencegah kemungkin; jatuhnya obat tersebut ke tangan orang yang tidak
berwenang.
9.6. Dokumentasi
Pelaksanaan penanganan terhadap obat kembalian dan tidak lanjut
yang dilakukan hendaklah dicatat dan dilaporkan. Untuk tiap
pemusnahan obat kembalian hendaklah dibuat berita acara yang
ditandatangani oleh pelaksa pemusnahan dan saksi.

86 IlmuFarmasi.Com
10. DOKUMENTASI

Dokumentasi pembuatan obat merupakan bagian dari sistem informasi mana-


jemen yang meliputi spesifikasi. prosedur, metode dan instruksi, perencanaan,
relaksanaan, pengendalian serta evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan
obat.
Dokumentasi sangat penting untuk memastikan bahwa setiap petugas mendapat
instruksi secara rinci dan jelas mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakannya
sehingga memperkecil risiko terjadinya salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya
timbul karenahanyamengandalkan komunikasi lisan.
Sistem dokumentasi hendaklah menggambarkan riwayat lengkap dari setiap bets
atau lot suatu produk sehingga memungkinkan penyelidikan serta penelusuran
terhadap bets atau lot produk yang bersangkutan.
Sistem dokumentasi digunakan pula dalam pemantauan dan pengendalian, misal
ko ndisi lingkungan, perlengkapan dan personalia.

10.1. Ketentuan Umum


10.1.1. Dokumen hendaklah dirancang dan dibuat dengan teliti, agar dapat
digunakan dengan mudah. benar dan efektif.
10.1.2. Dokumen hendaklah dapat mencatat kegiatan di bidang produksi,
pengawasan mutu, pemeliharaan peralatan, pergudangan, distribusi
dan hal spesifik lainnya yang berkaitan dengan CPOB.
10.1.3. Dokumen hendaklah mencakup semua data penting, tetapi tidak perlu
berlebihan, dan dijaga agar selalu aktual. Setiap perubahan hendaklah
disahkan secara resmi. Hendaklah diberi juga kemungkinan bagi
peninjauan berkala maupun perbaikan, bila diperlukan.
10.1.4. Hendaklah ada suato sistem untuk menghindarkan terjadinya
penggunaan dokumen yang sudah tidak berlaku.
10.1.5. Apabila terjadi atau ditemukan suatu kekeliruan pada dokumen,
hendaklah dikoreksi dengan suatu cara yang tepat sehingga tulisan
atau catatan semula tidak hilang sama sekali dan koreksi itu ditulis
dan dicantumkan disamping tulisan semula, kemudian diparaf dan
dibubuhi tanggal.
10.1.6. Jika dokumen memuat instruksi hendaklah ditulis dalam nada perintah
serta disusun dalam langkah yang diberi nomor urut. Instruksi tersebut

87 IlmuFarmasi.Com
hendaklah jelas, tepat, tidak berarti ganda dan ditulis dalam bahasa
yang dimengerti oleh pemakai.
10.1.7. Setiap dokumen produksi hendaklah dibubuhi tanggal dan tandatangan
dan disahkan oleh manajer produksi maupun manajer pengawasan
mutu. Bagian atau orang yang menerima turunan dokumen hendaklah
tercantum setidak-tidaknyapada dokumentasi aslinya.
10.1.8. Dokumentasi hendaklah tersediabagisemuapihak terkait.
10.1.9. Dokumen dan catatan yang berkaitan dengan suatu bets sebagaimana
contoh rujukan obatjadi serta bahan awalnya hendaklah disimpan
oleh perusahaan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan
keperluannya dan/atau jangka waktu yang ditentukan Badan POM.

10.2. Spesifikasi
Dokumen spesifikasi meliputi spesifikasi bahan baku, bahan pengemas, produk
antara, produk ruahan dan obat jadi.

10.2.1. Spesifikasi Bahan Baku


10.2.1.1. Spesifikasi bahan baku hendaklah memuat:
(a) nama dan kode produk yang ditentukan dan digunakan
oleh perusahaan;
(b) nama dan kode yang diberikan oleh pemasok;
(c) pemerian. karakteristik fisika dan karakteristik kimia
serta standar mikrobiologi, jika ada;
(d) rujukan monograf atau metode pengujian yang diguna
kan untuk pemeriksaan dan pengujian spesifikasi atau
farmakope yang digunakan;
(e) frekuensi pengujian ulang terhadap bahan yang
di simpan, j ika perlu;
(f) jenis pengujian spesifik yang diperlukan dalam rangka
penilaian ulang terhadap bahan yang sudah daluwarsa
untuk menentukan kemungkinan perpanjangan masa
daluwarsanya;
(g) kondisi penyimpanan atau tindakan pengamanan lain
yang diperlukan;
(h) masa pakai jika diperlukan;
(i) nama pemasok yang disetujui; dan
(j) tanggal diterbitkan spesifikasi.

88 IlmuFarmasi.Com
10.2.1.2. Spesifikasi bahan baku dapatterpisah atau termasukdalam
Dokumen Produksi Induk.

10.2.2. Spesifikasi Bahan Pengemas


10.2.2.1. Spesifikasi bahan pengemas hendaklah memuat :
(a) nama dan kode produk yang ditentukan dan digunakan
oleh perusahaan;
(b) nama dan kode yang diberikan oleh pemasok;
(c) pemerian antara lain jenis bahan, ketebalan, dimensi,
wama, kekuatan, teks;
(d) gambar teknis, bila perlu;
(e) rujukan monograf atau metodapengujian yang diguna
kan untuk pemeriksaan dan pengujian spesifikasi atau
farmakope yang digunakan;
(f) frekuensi pemeriksaan ulang terhadap bahan yang
disimpanjika perlu;
(g) kondisi penyimpanan dan tindakan pengamanan yang
diperlukan;
(h) masa pakai j ika diperlukan;
(i) nama pemasok yang disetujui; dan
(j) tanggal diterbitkannya spesifikasi.

10.2.2.2. Spesifikasi bahan pengemas dapat terpisah atau termasuk


dalam Dokumen Produksi Induk.

10.2.3. Spesifikasi Produk Antara, Produk Ruahan dan Obat Jadi


10.2.3.1. Spesifikasi produk antara, produk ruahan atau spesifikasi
obat jadi, sesuai dengan bentuk sediaan dan tahap
pembuatannya, hendaklah memuat:
(a) nama dan kode produk yang digunakan perusahaan;
(b) bentuk sediaan dan kekuatannya;
(c) pemerian, karakteristik fisika dan karakteristik kimia
serta standar mikrobiologi, jika ada;
(d) rujukan monograf atau metode pengujian yang
digunakan untuk pemeriksaan dan pengujian
spesifikasi atau farmakope yang digunakan;
(e) sifat fisika, seperti bobot standar atau volume peng-
isian (termasuk nilai batas), pH, kekentalan, kerapatan,

89 IlmuFarmasi.Com
kekerasan, keregasan, waktu hancur dan kemanfaatan
hayati in-vitro, bilaperlu;
(f) spesifikasi obat jadi hendakiahjugamencakup jenis
dan spesifikasi bahan pengemasan yang digunakan;
(g) masapakai atau batas daluwarsa;
(h) kondisi penyimpanan dan tindakan pengamanan yang
diperlukan;dan
(i) spesifikasi kemasan dan label.
10.2.3.2. Spesifikasi produk antara, produk ruahan atau spesifikasi
obat jadi dapat terpisah atau termasuk dalam Dokumen
Produksi Induk.

10.3. Dokumen Produksi


Dokumen produksi terdiri dari:
(a) Dokumen Produksi Induk yang merupakan pedoman dasar produksi
untuk tiap jenis obat jadi dengan bentuk sediaan dan kekuatan tertentu
tanpamemperhatikan besarnyabets.
(b) Prosedur Produksi Induk terdiri dari Prosedur Pengolahan Induk dan
Prosedur Pengemasan Induk yang merupakan pedoman pengolahan
dan pengemasan yang lebih rinci untuk masing-masing obat jadi dengan
bentuk sediaan, kekuatan serta besarnya bets. Prosedur Produksi Induk
pada dasarnya telah divalidasi.
(c) Catatan Produksi Bets yang terdiri dari catatan pengolahan bets dan
catatan pengemasan bets yang pada dasarnya merupakan turunan dari
Prosedur Produksi Induk yang sudah berisi data dan informasi mengenai
pelaksanaan produksi, pengolahan dan pengemasan. Adakalanyapada
catatan produksi bets prosedur yang dicantumkan dalam Prosedur
Produksi Induk tidak dicantumkan lagi secara nnci.

10.3.1. Dokumen Produksi Induk «


10.3.1.1. Dokumen Produksi Induk hendaklah mefnuat nama
produk, bentuk sediaan, kekuatan, pemerian, nama
penyusun dan bagian, nama pemeriksa yang terlibat, daftar
isi dan daftar distribusi.
10.3.1.2. Isi dokumen induk hendaklah memuat:
(a) bagian umum yang memuat jenis kemasan atau
alternatif kemasan, pernyataan tentang stabilitas
produk, tindakan pengamanan selama penyimpanan

90 IlmuFarmasi.Com
serta tindakan pengamanan lain yang perlu dilak-
sanakan selamapengolahan dan pengemasan;
(b) komposisi/formula untuk tiap satuan takaran maupun

(c) daftar lengkap bahan baku, baik, yang tidak akan


berubah maupun yang akan mengalami perubahan
selama proses;
(d) spesifikasi bahan baku;
(e) daftar lengkap bahan pengemas;
(f) spesifikasi bahan pengemas;
(g) garis besar prosedur pengolahan dan pengemasan;
(h) daftar peralatan yang dapat dipakai untuk pengolahan
dan pengemasan;
(i) pengawasan dalam proses yang harus dilaksanakan
selama pengolahan dan pengemasan; dan
(j) masa pakai produk.

10.3.2. Prosedur Pengolahan Induk


Prosedur pengolahan induk adalah dokumen yang kemudian
digandakan untuk pencatatan pengolahan tiap bets produk.
10.3.2.1. Prosedur Pengolahan Induk ini hendaklah memuat
prosedur dan instruksi lengkap dan rinci mengenai
pengolahan. termasuk pengawasan dalam proses yang
harus dilakukan bagian produksi dan pengawasan yang
harus dilakukan bagian pengawasan mutu, tindakan
pengamanan dan hal khusus yang perlu diperhatikan
selama pengolahan dan selama penyimpanan produk
antara dan produk ruahan.
Prosedur Pengolahan Induk hendaklah menyediakan
ruang untuk mencatat data pengolahan. Dokumen ini
hendaklah dibuat. dibubuhi tandatangan oleh manajer
produksi serta diperiksa secara terpisah, diberi tanggal
dan ditandatangani oleh manajer pengawasan mutu.
10.3.2.2. Prosedur Pengolahan Induk hendaklah mencakup hal
berikut:
(a) nama dan kekuatan produk serta pemerian bentuk
sediaan;

91 IlmuFarmasi.Com
(b) daftar lengkap bahan baku, dengan menyebutkan
nama serta kode yang spesifik untuk menunjukkan
karakteristik mutu, misal monograf rujukannya;
(c) nama dan bobot atau ukuran dalam sistem metrik
dari tiap bahan berkhasiat dan tidak berkhasiat
untuk tiap satuan takaran atau ukuran bets;
(d) pemyataan mengenai pemakaianjumlah bahan baku
yang dilebihkan yang telah diperhitungkan;
(e) banyaknya sisa produk yang boleh ditambahkan ke
dalam bets berikutnya, jika diperlukan;
(f) jumlah bets berbeda dari bahan berkhasiat dan tidak
berkhasiat yang boleh digunakan dalam satu bets
produk;
(g) pernyataan mengenai bobot atau ukuran teoritis yang
diperoleh pada tahap pengolahan tertentu;
(h) pernyataan mengenai hasil teoretis dan batas
presentase termasuk persentase maksimum dan
minimum hasil nyata yang diperoleh terhadap hasil
teoritis yang diperkenankan; dan
(i) lokasi pengolahan dan peralatan yang akan
digunakan.

10.3.3. Prosedur Pengemasan Induk


Prosedur Pengemasan Induk adalah dokumen yang kemudian
digandakan untuk pencatatan pengemasan tiap bets produk.
10.3.3.1. Prosedur Pengemasan Induk hendaklah memuat prosedur
dan instruksi lengkap dan rinci mengenai pengemasan
termasuk pengawasan dalam proses yang harus dilakukan
bagian produksi dan bagian pengawasan mutu, tindakan
pengamanan dan hal khusus yang perlu diperhatikan
selama pengemasan. Prosedur Pengemasan Induk
hendaklah menyediakan ruang untuk mencatat data
pengemasan. Dokumen ini hendaklah dibuat, dibubuhi
tanggal dan tanda tangan oleh manajer produksi
serta diperiksa secara terpisah, diberi tanggal
dan ditandatangani oleh manajer pengawasan mutu.
10.3.3.2. Prosedur Pengemasan Induk hendaklah mencakup hal
berikut:

92 IlmuFarmasi.Com
(a) nama, bentuk sediaan dan kekuatan serta pemerian
produkruahan;
(b) daftar lengkap wadah, tutup dan bahan pengemas
lain termasuk satu contoh label dan penandaan
lainnya yang ditandatangani dan dibubuhi tanggal
oleh petugas yang berwenang untuk memberi
persetujuan atas penandaan seperti itu;
(c) pernyataan mengenai hasil teoretis dan batas per-
sentase maksimum dan minimum hasil nyata yang
diperoleh terhadap hasil teoretis yang diperkenankan;
(d) prosedur rekonsiliasi antara produk ruahan dan
bahan pengemas yang dikeluarkan; dan
(e) lokasi pengemasan dan peralatan yang akan
digunakan.
10.3.4. Catatan Pengolahan Bets
10.3.4.1. Catatan Pengolahan Bets hendaklah diadakan bagi setiap
bets obat dan hendakJah mencakup data lengkap tentang
pelaksanaan pengolahan dan pengawasan terhadap bets
yang bersangkutan. Formulir untuk Catatan Pengolahan
Bets adalah reproduksi dari Prosedur Pengolahan Induk
yang kebenarannya diperiksa. dibubuhi tandatangan oleh
manajerproduksi.
10.3.4.2. Catatan Pengolahan Bets hendaklah menunjukkan setiap
langkah pengolahan yang telah diselesaikan dan
mencakup data sebagai berikut:
(a) Nomor bets:
(b) tanggal mulai dan tanggal selesai pengolahan;
(c) identitas setiap peralatan utama serta identitas jalur
atau lokasi yang digunakan;
(d) bobot atau volume sebenarnya dan nomor bets dari
masing-masing bahan baku yang digunakan selama
pengolahan serta paraf petugas yang menimbang
atau mengukur dan paraf petugas yang melak-
sanakan pemeriksaan tandingan;
(e) nomor bets dan nomor persetujuan rujukan serta
banyaknya sisa produk atau bahan pulihan yang
digunakan jika ada;

93 IlmuFarmasi.Com
(f) catatan tentang pelaksanaan pembersihan peralatan
yangdipakai;
(g) hasil pengawasan selama proses dan uji
laboratorium;
(h) hasil nyata maupun persentase terhadap hasil
teoritis pada tiap tahap pengolahan yang kritis;
(i) pengambilan contoh yang dilakukan dalam
berbagai tahap pengolahan, termasuk jumlahnya;
(j) paraf petugas yang melakukan dan supervisor
yang mengawasi atau memeriksa setiap
langkah pengolahan:
(k) rincian tiap penyimpangan dari ProsedurPengolahan
Induk. dan persetujuan terhadap penyimpangan
tersebut;
(11 persetujuan yang dibubuhi tanggal dan tandatangan
olen petugas berwenang yang menyatakan bahwa
semua langkah pengolahan telah dilaksanakan sesuai
Prosedur Pengolahan Induk dan bahwa tiap
penyimpangan proses maupun variasi hasilnya
dijelaskan secukupnya; dan
(m) penyelidikan terhadap kegagalan proses yang
spesifik atau ketidak-sesuaian hasil nyata.

10.3.5. Catatan Pengemasan Bets


10.3.5.1. Catatan Pengemasan Bets hendaklah diadakan bagi setiap
bets obat dan hendaklah meliputi data lengkap tentang
pelaksanaan pengemasan dan pengawasan terhadap bets
yang bersangkutan. Formulir untuk Catatan Pengemasan
Bets adalah reproduksi dari Prosedur Pengemasan Induk
yang kebenarannya diperiksa, dibubfuhi tanggal dan
tandatangan oleh manajer prodcrksi.
10.3.5.2. Catatan Pengemasan Bets hendaklah menunjukkan setiap
langkah pengemasan yang telah diselesaikan dan
mencakup data sebagai berikut :
(a) Nomor bets;
(b) tanggal mulai dan tanggal selesai pengemasan;
(c) identitas tiap peralatan utama serta jalur atau lokasi
yang digunakan;

94 IlmuFarmasi.Com
(d) jumlah nyata dan nomor bets dari masing-masing
bahan pengemas dan produk ruahan yang diguna-
kan serta paraf petugas yang menimbang atau
menghitung dan paraf petugas yang melaksanakan
pemeriksaan tandingan;
(e) hasil pengawasan dalam proses;
(f) catatan tentang pelaksanaan pembersihan peralat-
anyangdipakai;
(g) pemeriksaan kesiapan jalur pengemasan sebelum
dan sesudah pengemasan oleh petugas yang
berwenang:
(h) hasil nyata maupun persentase terhadap hasil teoritis
pada waktu penyelesaian pengemasan;
(i) contoh bahan pengemas cetak yang digunakan dan
catatan pemeriksaannya termasuk bahan pengemas
cetak yang diberi kode penandaan;
(j) pengambilan contoh yang dilakukan selama dan
sesudah pengemasan termasuk jumlah contoh;
(k) paraf petugas yang melakukan dan supervisor yang
mengawasi atau memeriksa setiap langkah
pengemasan:
(1) catatan rekonsiliasi dan disposisi bahan pengemas
yang tidak terpakai:
(m) hasil pengujian obatjadi; dan
(n) penyelidikan terhadap kegagalan proses yang
spesifik atau ketidak-sesuaian hasil nyata.
10.4. Dokumen Pengawasan Mutu
Dokumen pengawasan mutu terdiri dari :
(a) Prosedur pengawasan mutu dan metode pengujian. Prosedur
pengambilan contoh u»tuk pengujian merupakan dokumen yang sangat
penting dalam pengawasan mutu; dan
(b) Catatan analisis dan laporan hasil pengujian. Catatan tentang hasil uji
stabilitas biasanya diadakan sendiri. Laporan hasil pengujian dapat
berupa sertifikat analisis.
10.4.1. Prosedur Pengambilan Contoh untuk Pengujian
Prosedur pengambilan contoh untuk pengujian hendakJah menguraikan
rancangan dan metode pengambilan contoh yang disahkan dengan

95 IlmuFarmasi.Com
membubuhi tanda tangan dan diberi tanggal oleh pejabat yang
bervvenang serta mencakup hal sebagai berikut:
(a) metode pengambilan contoh untuk pengujian termasuk
rancangan pengambilan dan standar yang digunakan;
(b) alat dan wadah yang digunakan;
(c) tindakan pengamanan selamapengambilan contoh termasuk
penggunaan pakaian khusus oleh petugas yang mengambil
contoh;
(d) nama petugas atau bagian yang diberi wewenang untuk
pengambilan contoh:
(e) lokasi pengambilan contoh:
(f) jumlah contoh yang diambil: dan
(g) pola pembagian contoh apabila diperlukan.

10.4.2. Metode Pengujian


Metode pengujian adalah prosedur rinci untuk pengambilan contoh
dan pengujian terhadap spesifikasi bahan awal, produk antara, produk
ruahan dan obat jadi. Prosedur pengujian hendaklah mencakup
pereaksi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan analisis, uji identifikasi
dan penetapan kadar serta formula perhitungan untuk memperoleh
hasil analisis.

10.4.3. Catatan Pengambilan Contoh


Hendaklah diadakan catatan pengambilan contoh untuk pengujian
sesuai dengan prosedur pengambilan contoh yang disetujui.

10.4.4. Catatan Analisis dan Laporan Hasil Pengujian


10.4.4.1. Hendaklah dibuat catatan analisis dan laporan hasil
pengujian terhadap bahan awal, produk antara, produk
ruahan dan obat jadi sesuai dengan metode pengujian
yang disetujui. Catatan analisis dan laporan hasil pengujian
hendaklah mencantumkan pelulusan atau penolakan bahan
atau produk disertai tanggal dan tanda tangan analis yang
melakukan pengujian dan supervisor.
10.4.4.2. Catatan analisis hendaklah memuat data sebagai berikut:
(a) tanggal pelaksanaan pengujian;
(b) nama produk, termasuk kode produk jika ada;
(c) nama pemasok;

96 IlmuFarmasi.Com
(d) tanggal penerimaan;
(e) nomor bets asal pemasok;
(f) nomor bets yang diberikan oleh bagian pengawasan
mutu;
(g) jumlah yang diterima;
(h) tanggal pengambilan contoh dan jumlah contoh;
(i) rujukan metode pengujian atau monograf yang
digunakan;
(j) catatan hasil pengujian yang dilakukan yang dibubuhi
tanggal dan tanda tangan analis dan supervisor;
(k) pernyataan pelulusan atau penolakan dari bagian
pengawasan mutu yang dibubuhi tanggal dan tanda
tangan penanggungjawab;
(1) nomor sertifikat yang diterbitkan untuk keputusan
pelulusan atau penolakan; dan
(m) rujukan silang terhadap sertifikat yang diterbitkan
sebelumnya, jika diperlukan.

10.4.4.3. Sertifikat analisis merupakan laporan hasil pengujian dan


hendaklah memuat hal berikut:
(a) nama dan alamat pabrik atau lembaga yang
menerbitkan sertifikat tersebut;
(b) nomor sertifikat;
(c) nama bahan atau produk, bentuk sediaan dan
kekuatan:
(d) nomor bets dari pabrik;
(e) hasil pengujian dan nilai batas standar;
(f) pernyataan pelulusan atau penolakan disertai
penjelasan yang diperlukan; dan
(g) tanggal dan tanda tangan analis dan manajer
pengawasan mutu.
10.4.4.4. Catatan uji stabilitas selain memuat hal yang tersebut pada
butir 10.4.4.2. hendaklah memuat pulahal berikut:
(a) deskripsi bahan pengemas yang digunakan;
(b) masa pelaksanaan uji stabilitas;
(c) kondisi penyimpanan produk seperti suhu dan
kelembaban;
(d) hasil pengujian setelah setiap masa penyimpanan
tertentu; dan

97 IlmuFarmasi.Com
(e) hasil pengujian dibandingkan dengan spesifikasi
produk dan hasil pengujian awal.

10.5. Dokumen Penyirapanan dan Distribusi


Hendaklah diadakan dokumen penyimpanan dan distribusi obat, Dokumen
tersebut berupa kartu persediaan dan catatan distribusi yang dapat dikerjakan
secara manual atau komputerisasi.

10.5.1. Kartu Persediaan


Hendaklah diadakan kartu persediaan yang berisi catatan atau sistem
dokumentasi lam tentang jumlah yang diterima, dikeluarkan dan yang
tersedia untuk tiap bahan awal, produk antara, produk ruahan dan
obatjadi.
10.5.1.1. Kartu persediaan hendaklah memuat:
(a) nomor kode dan nama bahan atau produk;
(b) tanggal penerimaan dan pengeluaran atau
penyerahan;
(c) jumlah penerimaan atau penyerahan dan sisa
persediaan;
(d) nomor bets;
(e) lokasi penyimpanan; dan
(f) status bahan, apakah dikarantina, diluluskan atau
ditolak.
10.5.1.2. Dianjurkan untuk membuat kartu persediaan dengan
warna berbeda untuk tiap kelompok produk, misalnya
bahan pengemas, bahan pembantu, bahan berkhasiat.
produk antara, produk ruahan atau obatjadi.
10.5.1.3. Kartu persediaan hendaklah menjadi alat untuk
melaksanakan prinsip pertama masuk pertama keluar dan
pertama mendekati daluwarsa pestama keluar.
Penyimpangan dari prinsip ini dapaj diijinkan uwtuk jangka
waktu pendek dan hanya atas persetujuan manajer yang
berwenang.

10.5.2. Catatan Distribusi Obat Jadi


10.5.2.1. Catatan distribusi mencakup distribusi obatjadi dari pabrik
saja. Catatan hendaklah dibuat sedemikian rupa sehingga
data distribusi tiap bets obatjadi yang lengkap, aktual

98 IlmuFarmasi.Com
dan progresif dapat dengan mudah diikuti dan diperoleh
segera untuk memudahkan pelaksanaan tindakan
penarikan kembali yang efektif dan cepat apabila
diperlukan oleh pabrik.
10.5.2.2. Catatan distribusi hendaklah memuat data sebagai berikut:
(a) nama dan alamat penerima;
(b) nomor dan tanggal surat perintah penyerahan;
(c) tanggal penyerahan;
(d) nama, bentuk sediaan dan kekuatan produk;
(e) jumlah produk yang diserahkan;
(f) nomor bets;
(g) tanggal daluwarsa,jika ada; dan
(h) syarat penyimpanan khusus atau tindakan peng-
amanan yang mungkin diperlukan untuk penanganan
produk
10.5.2.3. Persediaan obat jadi hendaklah dicatat dalam kartu
persediaan seperti yang disebutkan dalam butir 10.5.1.1.

10.6. Dokumen Pemeliharaan, Pembersihan dan Pemantauan Kondisi


Ruangan dan Peralatan
Dokumen terpenting dalam pemeliharaan. pembersihan dan pemantauan
kondisi ruangan dan peralatan pembuatan obat adalah prosedur dan catatan
untuk pemeliharaan dan pembersihan ruangan dan peralatan, pembasmian
hama serta catatan pemantauan partikel di udara sekitar dan/atau mikroba
viabel di daerah tertentu.
10.6.1. Prosedur dan Catatan Pemeliharaan dan Pembersihan
Peralatan
10.6.1.1. Hendaklah dibuat prosedur pemeliharaan dan pember
sihan untuk tiap peralatan yang mencakup jenis pekerjaan
yang harus dilakukan dan jadwal pemeliharaan.
Pelaksanaan pemeliharaan dan pembersihan hendaklah
dicatat, termasuk perbaikan dan penggantian suku
cadang.
10.6.1.2. Hendaklah dibuat prosedur pembersihan peralatan yang
digunakan dalam proses produksi yang menjelaskan cara
pembersihan tiap pergantian produk atau pergantian bets.
Prosedur pembersihan hendaklah mencakup metode serta

99 IlmuFarmasi.Com
peralatan dan bahan pembersih yang digunakan.
Pelaksanaan pembersihan hendaklah dicatat dan
dilampirkan ke dalam catatan bets yang bersangkutan.
10.6.2. Prosedur dan Catatan Pembersihan Daerah Produksi
Hendaklah dibuat prosedur pembersihan untuk daerah produksi
yang mencakup ruangan yang harus dibersihkan, cara
pembersihan, peralatan dan bahan pembersih yang digunakan,
waktu dan jadwal pembersihan. Pelaksanaan pembersihan
hendaklah didokumentasikan.
10.6.3. Prosedur dan Catatan Pembasmian Hama
Hendaklah diadakan prosedur pembasmian hama yang mencakup
jadwal pembasmian, daerah yang harus diliputi, metode kerja,
peralatan dan bahan pestisida yang digunakan, tindakan
pengamanan, bagian atau orang yang terlibat dalam pelaksanaan
pembasmian hama tersebut. Pelaksanaan pembasmian hama
hendaklah didokumentasikan.
10.6.4. Prosedur dan Catatan Pemantauan Partikel di Udara Sekitar
dan Mikroba
Hendaklah dibuat prosedur pemantauan partikel udara dan mikroba
di daerah tertentu yang mencakup metode pemantauan dan daerah
yang dipantau, spesifikasi, termasuk tingkat siaga dan tingkat
pengambilan tindakan. Hasil pemantauan hendaklah dicatat.
10.7. Dokumen Penanganan Keluhan Terhadap Obat, Penarikan Kembali
Obat, Obat Kembalian dan Pemusnahan Obat
10.7.1. Prosedur dan Catatan Penanganan Keluhan Terhadap Obat
10.7.1.1. Hendaklah dibuat prosedur penanganan keluhan dan
laporan mengenai reaksi yang merugikan dari obat, yang
mencakup definisi tentang kelyhan dan reaksi merugikan
dari obatjenis keluhan dan laporan, metode penanganan
dan evaluasi dari keluhan.
10.7.1.2. Catatan keluhan terhadap obat dan laporan reaksi
merugikan dari obat memuat:
(a) nama produk dan nomor bets;
(b) jenis keluhan atau laporan;
(c) sumber keluhan atau laporan;

100 IlmuFarmasi.Com
(d) contoh produk yang bersangkutan;
(e) ringkasan tentang keluhan atau laporan;
(f) hasil penyelidikan;
(g) evaluasi dari keluhan atau laporan; dan
(h) tanggapan dan tindak lanjut terhadap keluhan atau
laporan.
10.7.2. Prosedur dan Catatan Penarikan Kembali Obat
10.7.2.1. Hendaklah dibuat prosedur penarikan kembali obat untuk
satu bets atau lot atau seluruh bets obat dari peredaran.
10.7.2.2. Hendaklah dibuat catatan tindakan penarikan kembali
yang mencakup :
(a) nama produk. nomor bets dan ukuran bets;
(b) tanggal dimulai dan selesainyapenarikan kembali;
(c) alasan penarikan kembali;
(d) jumlah sisa dan jumlah yang telah didistribusikan dari
bets atau lot produk yang bersangkutan pada
tanggal awal penarikan kembali;
(e) jumlah produk yang dikembalikan;
(f) sumber produk yang dikembalikan;
(g) evaluasi dari penarikan kembali;
(h) tindak lanjut: dan
(i) laporan penanganan penarikan kembali termasuk
laporan kepadapemerintahjikadiperlukan.
10.7.3. Prosedur dan Catatan Penanganan Obat Kembalian
Hendaklah dibuat prosedur penanganan obat kembalian yang
memuat pedoman untuk pengambilan keputusan apakah obat
kembalian dapat digunakan kembali, diolah ulang atau dimusnahkan.
Penanganan dan pemusnahan obat kembalian hendaklah
didokumentasikan.
10.7.4. Prosedur dan Catatan Pemusnahan Bahan dan Produk yang
Ditolak
10.7.4.1. Hendaklah dibuat prosedur pemusnahan bahan atau
produk yang ditolak yang mencakup tindakan pencegahan
pencemaran lingkungan dan kemungkinan jatuhnya bahan
atau produk yang bersangkutan ke tangan orang yang
tidak berwenang.

101 IlmuFarmasi.Com
10.7.4.2. Hendaklah dibuatcatatan pemusnahan bahan atauproduk
yang ditolak yang memuat antara lain:
(a) nama, nomor bets dan jumlah bahan atau produk
yang ditolak;
(b) asalbahan atauproduk;
(c) metode pemusnahan;
(d) nama petugas yang melaksanakan dan yang
menyaksikan pemusnahan; dan
(e) tanggal pemusnahan.

10.8. Dokumen Untuk Peralatan Khusus


Dokumen terpenting untuk peralatan khusus adalah prosedur kerja dan
kalibrasi berikut catatan pemakaian alat dan kalibrasi alat.

10.8.1. Prosedur Kerja untuk Peralatan Khusus


Hendaklah dibuat prosedur kerja untuk setiap peralatan tertentu untuk
menghindarkan terjadinya penanganan yang salah yang dapat
mempengaruhi kualitas suatu bets produk yang menggunakan alat
tersebut atau yang dapat merusak alat. Prosedur kerja pada umumnya
dibuat berdasarkan manual peralatan bersangkutan.

10.8.2. Prosedur dan Catatan Kalibrasi Peralatan Khusus


Hendaklah dibuat prosedur kalibrasi untuk tiap peralatan khusus untuk
memastikan bahwa peralatan yang bersangkutan memberi hasil
penimbangan atau pengukuran yang akurat. Prosedur kalibrasi
hendaklah mencakup jadwal, standar rujukan, pereaksi dan alat
kalibrasi yang diperlukan, metode kalibrasi atau buku pedoman
kalibrasi yang digunakan. Pelaksanaan dan hasil kalibrasi
hendaklah didokumentasikan.

10.9. Prosedur dan Catatan Inspeksi Diri


10.9.1. Hendaklah dibuat prosedur untuk pelaksanaan inspeksi-diri atas
bangunan dan sistem pabrik. Prosedur mencakup daftar periksa dan
formulir inspeksi-diri, susunan tim dan jadwal inspeksi-diri.
10.9.2. Hendaklah dibuat catatan pelaksanaan dan hasil inspeksi-diri yang
mencakup evaluasi dan kesimpulan dari tim serta tindak lanju:
perbaikan yang diperlukan.

102 IlmuFarmasi.Com
10.10. Pedoman dan Catatan Pelatihan CPOB Bagi Karyawan
10.10.1. Hendaklah dibuat pedoman pelatihan CPOB bagi karyawan
sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-
masing.
10.10.2. Hendaklah dibuat catatan pelaksanaan dan hasil pelatihan
CPOB yang mencakup:
(a) tanggal pelatihan;
(b) nama karyawan yang mengikuti pelatihan;
(c) nama instruktur, bagian atau lembaga yang memberikan
pelatihan;
(d) materi pelatihan serta alat bantu yang digunakan;
(e) peragaan yang dilakukan,jika ada; dan
(f) evaluasi terhadap peserta pelatihan.

103 IlmuFarmasi.Com
ADDENDUM I
PEMBUATAN PRODUK BIOLOGI

1. Pendahuluan

Pembuatan produk biologi memerlukan pertimbangan khusus dan perhatian


tambahan berkenaan dengan sifat produk dan proses yang terlibat. Karena
bahan biologi berpotensi sebagai sumber kontaminasi dan juga sangat rentan
mengalami kontaminasi silang, proses pembuatan produk biologi hendaklah
dilakukan pada ruang atau sistem yang mampu mencegah keluarnya bahan
biologi ke lingkungan luar atau daerah kerja sekitarnya.

Pengawasan mutu produk biologi biasanya mencakup tehnik analitis biologi


yang memiliki tingkat variabilitas yang lebih besar dibandingkan penentuan
secara fisikokimia. Oleh karena itu pengawasan dalam proses berperan sangat
penting dalam pembuatan produk biologi.

Produk biologi yang dicakup dalam CPOB ini adalah vaksin, imunosera,
antigen, hormon, enzim. dan produk lain hasil fermentasi (termasuk
antibodi monoklonal dan produk yang diperoleh dari r-DNA) yang
dibuat dengan metode pembuatan berikut:
(a) biakan mikroba:
(b) biakan sel dan mikroba;
(c) ekstraksi dari jaringan biologi hewan dan manusia; dan
(d) propagasi substrat hidup pada embrio atau hewan.

2. Personalia dan Pelatihan

2.1. Seluruh personalia yang terlibat dalam pembuatan produk biologi


termasuk personalia yang menangani pembersihan, pemeliharaan.
pengawasan mutu dan administrasi, hendaklah mendapatkan pelatihan
tambahan yang spesifik berkaitan dengan produk yang dibuat, informasi
terkait dan pelatihan higiene dan mikrobiologi. Seluruh pelatihan
hendaklah dilakukan secara teratur dan didokumentasikan dengan baik
2.2. Personalia yang bertanggungjawab dalam produksi dan pengawasan
mutu hendaklah memiliki pengetahuan memadai yang terkait dengan

104 IlmuFarmasi.Com
kefarmasian, pengetahuan medis biologi atau kimia dan pengalaman
praktis yang memadai untuk melaksanakan fungsi mereka atau proses
pembuatan yang dilakukan.
2.3. Seluruh personalian yang terlibat dengan produksi, pengawasan mutu,
pemeliharaan, dan penanganan hewan hendaklah divaksinasi, apabila
diperlukan dengan vaksin yang sesuai, dan melakukan pengecekan
kesehatan secara teratur. Pengunjung tidak diperperbolehkan memasuki
daerah produksi.
2.4. Produksi vaksin BCG dan produk tuberkulin hendaklah terbatas untuk
orang yang telah dimonitor secara hati-hati melalui pengecekan teratur
status imunologi dan sinarX.
2.5. Karyawan hendaklah melaporkan keadaan seperti diare, batuk, pilek,
infeksi kulit atau rambut. luka, demam yang tidak diketahui penyebabnya,
yang dapat menyebarkan kuman ke dalam lingkungan kerja.
2.6. Karyawan tidak diperbolehkan melalui daerah lain dimanaterpapar kuman
hidup atau binatang yang memungkinkan daerahnya terkontaminasi
dengan produk lain atau kuman yang berbeda dengan yang ditanganinya.
2.7. Karyawan yang terlibat dalam proses pembuatan hendaklah berbeda
dengan karyawan yang menangani hewan.

3. Bangunan dan Peralatan

3.1. Daerah yang digunakan untuk memproses jaringan hewan dan mikroba
yang tidak diperlukan pada proses produksi yang sedang berlangsung
dan daerah untuk melakukan uji yang melibatkan hewan atau mikroba
hendaklah terpisah dari sarana yang digunakan untuk pembuatan produk
biologi steril. Daerah tersebut hendaklah mempunyai sistem ventilasi
yang benar-benar terpisah.
3.2. Tingkat pengendalian lingkungan terhadap kontaminasi oleh partikel dan
mikroba di sarana produksi hendaklah diterapkan kepada produk dan
tahapan produksinya, berkenaan dengan kontaminasi bahan baku dan
resikonya terhadap produk akhir. Proses pembuatan produk biologi steril
hendaklah dilakukan setidaknya pada ruangan Kelas II dan diisi di ruangan
Kelas I
3.3. Risiko kontaminasi silang antara produk biologi, terutama selama proses
produksi dimana organisme hidup digunakan, memerlukan perhatian
tambahan berkaitan dengan sarana dan peralatan, seperti pemakaian
fasilitas dan peralatan khusus, produksi bersama dan penggunaan sistem

105 IlmuFarmasi.Com
tertutup. Sifat produk dan peralatan yang digunakan akan menentukan
tingkat pemisahan yang diperlukan untuk menghindari kontaminasi silang.
3.4. Pada prinsipnya, sarana khusus hendaklah digunakan pada produksi
vaksin BCG dan pada penanganan organisme hidup yang digunakan
pada produk tuberculin.
3.5. Organisme yang membentuk sporahendaklah ditangani di saranakhusus
untuk kelompok produk tersebut sampai proses inaktivasi selesai.
Hendaklah digunakan sarana khusus dalam menangani Bacillus
anthracis, Clostridium botulinum dan Clostridium tetani.
3.6. Produksi pada sarana yang sama dapat diterima untuk organisme
pembentuk spora yang lain dimana sarana tersebut khusus diperuntukkan
produk kelompok ini dan tidak boleh ada lebih dari satu produk diproses
pada saat yang sama.
Jika produk tertentu akan diproduksi secara bergantian, tata-letak ruang,
rancang bangun gedung dan peralatan hendaklah memungkinkan proses
dekontaminasi yang efektif dengan fumigasi, bilaperlujugapembersihan
dan sanitasi setelah selesai produksi tersebut.
3.7. Produksi secara bersamaan di tempat yang sama menggunakan
biofermentor sistem tertutup dapat diterima untuk produk antara lain
antibodi monoklonal dan produk yang menggunakan teknik r-DNA.
3.8. Tahap proses setelah panen dapat dilakukan secara bersamaan di sarana
produksi yang sama asalkan tindakan pencegahan yang sesuai dilakukan
untuk mencegah kontaminasi silang. Untuk vaksin yang dimatikan dan
toksoid, proses yang paralel hendaklah hanya dilakukan setelah inaktivasi
biakan atau sesudah proses detoksifikasi.
3.9. Daerah bertekananudarapositif hendaklah digunakan untuk pengolahan
produk steril. Namun demikian untuk daerah tertentu yang digunakan
untuk mikroba patogen hendaklah bertekanan negatif untuk mencegah
penyebaran mikroba patogen keluar dari daerah tersebut.
Apabila daerah bertekanan negatif atau lemari pengaman digunakan untuk
memproses patogen secara aseptis, daerah tersebut hendaklah dikelilingi
dengan daerah steril bertekanan positif.
Pada umumnya, organisme yang diduga bersifat patogen ditangani pada
daerah yang khusus dirancang bertekanan negatif, sesuai dengan
persyaratan perlindungan untuk produk tersebut.
3.10. Unit pengendali udara hendaklah dibuat untuk daerah pengolahan dimana
patogen hidup ditangani. Udara dari daerah ini tidak boleh disirkulasi
balik melainkan dibuang melalui penyaring sterilisasi atau tindakan

106 IlmuFarmasi.Com
dekontaminasi lain untuk mencegah keluarnya patogen kelingkungan
sekitarnya.
3.11. Rancang bangun dan penataan gedung produksi dan peralatan hendaklah
memungkinkan proses pembersihan dan dekontaminasi yang efektif
(misalnya dengan fumigasi). Kecukupan prosedur pembersihan dan
dekontaminasi hendaklah divalidasi.
3.12. Peralatan yang digunakan selama menangani organisme hidup hendaklah
dirancang untuk menjaga biakan agar tetap dalam keadaan murni dan
tidak terkontaminasi oleh sumber dariluar selama proses.
3.13. Sistempemipaan,katupdan saringan udarahendaklah dirancang secara
tepat untuk memudahkan proses pembersihan dan sterilisasi. Penggunaan
sistem bersihkan-di-tempat dan sterilisasi-di-tempat sangat dianjurkan.
Katup pada tangki fermentasi hendaklah dapat disterilisasi dengan uap
secara sempurna. Penyaring udara hendaklah hidrofobik dan divalidasi
selamajangkawaktu pemakaiannya.
3.14. Kurungan primer hendaklah dirancang dan diuji untuk membuktikan
bebas dari risiko kebocoran.
3.15. Limbah yang kemungkinan mengandung mikrobapatogen hendaklah
didekontaminasi secara efektif.
3.16. Adanyakeanekaragaman produk atau proses biologi, beberapabahan
tambahan atau bahan pembantu hendaklah diukur atau ditimbang selama
proses produksi (misalnya dapar). Dalam hal ini dapat disediaakan bahan
dalam jumlah sedikit yang disimpan di daerah produksi akantetapi
tidak boleh dikembalikan lagi ke gudang.

4. Penanganan Hewan

4.1. Hewan digunakan untuk produksi dan pengujian mutu untuk sejumlah
produk biologi.
Sarana pemeliharaan hewan dilengkapi sistem ventilasi terpisah
hendaklah disediakan untuk hewan yang dipakai dalam produksi dan
pengawasan mutu produk biologi. Sarana ini hendaklah terpisah dari
daerah produksi dan pengawasan mutu.
4.2. Status kesehatan hewan dari mana bahan baku berasal dan yang akan
digunakan untuk keperluan pengujian mutu dan uji keamanan hendaklah
dipantau dan dicatat.
4.3. Karyawan di sarana hewan hendaklah dilengkapi dengan baju khusus,
sarana pakaian dan sarana mandi.

107 IlmuFarmasi.Com
4.4, Hendaklah ada sarana untuk desinfeksi kandang hewan, jika
memungkinkan dengan uap, dan insinerator untuk memusnahkan linibah
dan bangkai hewan.

5. Pengendalian Produksi

5.1. Bah anb aku


5.1.1. Sumber, asal dan kesesuaian bahan baku hendaklah ditetapkan
secara jelas dalam spesifikasi bahan,
5.1.2. Jika pengujian memakan waktu yang lama dapat dimungkinkan
untuk mengolah bahan sebelurn menerima hasil uji dengan
ketentuan bahwa pelulusan produk akhir tergantung pada hasil
uji tersebut.
5.1.3. Proses sterilisasi panas adalah rnetode pilihan bila sterilisasi
dibutuhkan.
Metode seperti iradiasi dapat juga digunakan untuk inaktivasi
bahan biologi.

5.2. Lot Benih dan Bank Sel


5.2.1. Lot benih induk dan bank sel hendaklah dipersiapkan dari
mikroba galur asli (strain I dan sel dan dipelihara pada media
atau biakan khusus serta dalam kondisi penyimpanan yang
menjamin kemumian dan kestabilannva.
5.2.2. Produksi sediaan biologi dengan biakan mikroba, biakan sel.
atau propagasi padaembno dari binatang hendaklah inengikuti
sistem lot benih induk dan lot benih kerja dan/atau hank sel
untuk mencegah terjadinya perubahan sifat yang menyimpang
yang mungkin terjadi karena berulang-ulangnya subkultur atau
pelipatgandaan generasi.
5.2.3. Jumlah generasi (pelipatgandaan. pasase) antara lot benih atau
bank sel dan produk akhir hendaklah konsisten dengan
dokumen registrasi untuk pemasaran.Peningkatan skala proses
tidak boleh mengubah hubungan mendasar ini.
5.2.4. Lot benih dan bank sel hendaklah dikarakterisasi secara
memadai dan diuji terhadap cemaran. Kesesuaian penggunaan
hendaklah dapat diperlihatkan dengan melihat konsistensi
karakteristik dan mutu dari bets produk yang berurutan. Lot
benih dan bank sel hendaklah dibuat, disimpan, dan digunakan

108 IlmuFarmasi.Com
sedemikian rupa sehingga dapat meminimalkan risiko
kontaminasi atau perubahan.
5.2.5. Pembuatan lot benih dan bank sel hendaklah dilakukan di dalam
lingkungan terkendali yang sesuai untuk melindungi lot benih
dan bank sel. Selama pembuatan lot benih dan bank sel, tidak
boleh ada bahan hidup atau infektif lain (seperti virus, cell lines
atau galur sel) yang ditangani secara bersamaan di daerah yang
sama dan oleh orang yang sama.
5.2.6. Bukti adanya stabilitas dan pemulihan lot benih dan bank sel
hendaklah didokumentasikan. Wadah penyimpanan hendaklah
tertutup kedap, diberi label yang jelas, dan disimpan pada suhu
yang tepat. Persediaan bahan hendaklah disimpan dengan
cermat dan rapi. Suhu penyimpanan hendaklah dicatat secara
terusmenerus untuk lemari pembeku, dan apabila disimpan
dalam nitrogen cair hendaklah dipantau volumenya. Setiap
penyimpangan dari batas yang telah ditentukan dan tindakan
perbaikan yang telah dilakukan hendaklah dicatat.
5.2.7. Hanya karyawan yang diberi wewenang yang diizinkan
untuk menangani bahan ini dan penanganan tersebut
hendaklah dilakukan dalam pengawasan seorang
penanggung jawab. Akses ke bahan yang disimpan
hendaklah dikendalikan. Lot benih dan bank sel yang
berbeda hendaklah disimpan sedemikian rupa untuk
menghindari keraguan dan kontaminasi silang.
5.2.8. Lot benih dan bank sel hendaklah disimpan terpisah dari bahan
lain.
5.2.9. Semua wadah dari bank sel induk atau bank sel kerja dan lot
benih hendaklah ditangani dengan cara yang sama selama
penyimpanan. Sekali dipindahkan dari penyimpanan, wadah
tersebut tidak boleh dikembalikan ke persediaan semula.

5.3. Proses Pembuatan


5.3.1 Media biakan yang digunakan hendaklah memiliki sifat
merangsang pertumbuhan yang dibutuhkan.
5.3.2 Penambahan bahan atau biakan ke dalam fermentor dan tangki
lain sertapengambilan contoh hendaklah dilakukan secara hati-
hati dalam kondisi yang terkendali untuk menghindari terjadinya
kontaminasi.

109 IlmuFarmasi.Com
5.3.3 Sentrifugasi dan pencampuran produk hendaklah dilakukan
sedemikian rupa untuk mencegah peyebaran kuman hidup ke
daerah sekelilingnya.
5.3.4 Mediabiakan lebih baik disterilisasi -di -tempat ("in situ" .
Penambahan gas, media, asam atau basa, bahan pengurang
busa, dan Iain-lain ke dalam fermentor hendaklah melalui
penyaring sterilisasi yang terpasang di lini proses.
5.3.5 Tindakan khusus hendaklah dilakukan pada saat menghilangkan
atau inaktivasi virus untuk mencegah risiko terkontaminasinya
kembali produk yang sudah tidak mengandung virus atau yang
telah diinaktivasi dengan produk yang belum dilakukan
penanganan. Hendaklah dilakukan validasi proses pembuangae
atau inaktivasi virus.
5.3.6 Peralatan yang digunakan untuk kromatografi hendaklah
dikhususkan hanyauntuk pemurnian satu produk dan hendaklah
disterilisasi dan disanitasi diantara bets yang akan dilakukan.
Pemakaian peralatan yang sama untuk proses berbeda tidak
dianjurkan.
Kriteria penerimaan masa pakai dan metode sanitasi atau
sterilisasi kolom kromatografi hendaklah ditetapkan.

6. Pengawasan Mutu
6.1. Pengawasan dalam proses hendaklah diterapkan selama proses produksi
untuk menjamin konsistensi mutu produk biologi. Pengawasan dalam
proses yang penting untuk mutu, misalnya penghilangan virus, tapi yang
tidak dapat dilakukan pada produk akhir hendaklah dilakukan pada
tahapan produksi yang tepat.
6.2. Proses produksi tertentu seperti fermentasi hendaklah terus menerus
dipantau. Data yang yang terkumpul menjadi bagian dari catatan bets.
6.3. Jika biakan sel abadi (continuous culture) digunakan pertimbangan
khusus hendaklah diberikan terhadap persyaratan pengujian mutu.
misalnya untuk pencegahan kontaminasi, memantau laju pertumbuhat
dll., yang timbul dari cara produksi jenis ini.
6.4. Contoh pertinggal dibutuhkan dalamjumlah yang cukup untuk bahan
baku, produk antara dan produk akhir, kecuali untuk komponen media
biakan.

110 IlmuFarmasi.Com
7. Dokumentasi

7.1. Spesifikasi hendaklah dibuat untuk bahan awal, produk antara, produk
ruahan dan produk akhir.
7.2. Spesifikasi untuk bahan baku hendaklah mencakup sumber, asal, metode
pembuatan dan uji yang diterapkan terutamauji mikrobiologi.
7.3. Semua galur mikroba yang digunakan untuk produksi dan pengujian
hendaklah didokumentasikan.

111 IlmuFarmasi.Com
ADDENDUM II
PEMBUATAN GAS MEDISINAL

1. Pendahuluan
Karena pembuatan gas medisinal merupakan proses industri khusus yang
tidak lazim dilakukan oleh industri farmasi, maka pabrik gas medisinal tidak
selalu mengetahui peraturan yang ditetapkan untuk industri farmasi. Meskipun
demikian gas medisinal digolongkan sebagai obat, sehingga pembuatan gas
medisinal hendaklah memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik
(CPOB).

2. Personalia
Petugas yang bertanggungjawab meluluskan suatu bets hendaklah memiliki
pengetahuan yang menyeluruh dan pengalaman praktis di bidang produksi dan
pengawasan mutu gas medisinal. Seluruh karyawan harus memiliki pengetahuan
cara pembuatan obat yang baik yang berhubungan dengan gas medisinal serta
menyadari aspekpentingyangkritis danbahayapotensial bagi pasien pengguna
gas medisinal tersebut.

3. Bangunan dan Peralatan


3.1. Pembuatan gas medisinal umumny a dilakukan dengan menggunakan sistem
tertutup. Oleh karena itu pencemaran lingkungan terhadap produk adalah
kecil. Meskipun demikian risiko terjadinya kontaminasi silang dengan
gas lain masih ada.
3.2. Hendaklah tersedia ruangan dengan ukuran yang memadai untuk proses
pembuatan, pengisian dan pengawasan mutu dengan tata letak ruang
sedemikian rupa untuk menghindari risiko terjadinya campur-baur
Bangunan hendaklah bersih dan rapi agar memudahkan pelaksanaan
pekerjaan yang benar.
3.3. Ruang pengisian hendaklah memiliki ukuran dan tata ruang yang memadai
untuk menyediakan :
(a) daerah terpisah yang diberi tanda bagi gas yang berbeda dan ukuran
tabung yang berbeda;
(b) daerah terpisah dengan penandaan bagi tabung kosong dan tabung
yang sudah terisi; dan
(c) pemisahan bagi tabung dengan status yang jelas misalnya "menunggu
diisi", "sudah diisi", "karantina", "lulus".

112 IlmuFarmasi.Com
Metode pemisahan yang dipilih tergantung dari sifat, keadaan dan
kompleksitas dari keseluruhan proses. Penandaan di lantai, pemakaian
dinding pemisah, palang pemisah, pemberian label dan pemberian tanda
hendaklah digunakan sesuai dengan kondisi.
3.4. Adalah perlu untuk memastikan bahwagas yang benar diisikan ke dalam
tabung yang benar. Tidak boleh ada sambungan antar pipa dari gas yang
berbeda. Manifold hendaklah dilengkapi dengan alat penghubung
pengisian khusus yang hanya cocok untuk tiap katup dari satu jenis gas
saja atau suatu campuran gas sehingga wadah yang salah tidak dapat
ditautkan pada manifold. Penggunaan jenis manifold dan penghubung
katup wadah hendaklah mengikuti peraturan nasional dan internasional.
3.5. Kegiatan pemeliharaan dan perbaikan tidak boleh mempengaruhi mutu
gasmedisinal.
3.6. Gas medisinal hendaklah diisikan di daerah terpisah dari gas non-medisinal
dan tidak boleh terjadi pertukaran tabung diantara ke dua daerah ini.
3.7. Pengisian gas medisinal dan non-medisinal boleh dilakukan dari pipa yang
samatetapi di ruangan yang berbeda, dengan ketentuan bahwa mutu gas
non medisinal paling sedikit sama dengan mutu gas medisinal dan tabung
disiapkan sesuai dengan persyaratan khusus. Untuk mencegah pencemaran
oleh gas non-medisinal hendaklah dipasang katup satu arah (non-return
valve) pada pipa pemasok ke ruang pengisian dari gas non-medisinal.
3.8. Tabung gas medisinal hendaklah memiliki karakteristik teknis yang sesuai.
Mulut tabung gas hendaklah diberi segel pengaman.
3.9. Gas medisinal cair yang didinginkan boleh dikirimdengan tangki untuk
gas non-medisinal dengan syarat mutu gas non-medisinal minimal sama
dengan gas medisinal.

4. Produksi dan Pengawasan Mutu


4.1. Selama produksi mutu dan tingkat kemurnian gas hendaklah dipantau
secara terus-menerus.
4.2. Seluruh proses pemindahan gas medisinal cair dan yang didinginkan dari
tempat penyimpanan primer hendaklah mengikuti prosedur tertulis yang
disiapkan untuk menghindari pencemaran.
4.3. Gas yang baru dikirim boleh ditambahkan ke dalam tangki penyimpanan
gas yang berisi gas yang sama dari pengiriman sebelumnya dengan
ketentuan sebagai berikut:
(a) sebelum ditambahkan, sampel dari gas yang baru dikirim hendaklah
diuji dahulu dan dinyatakan lulus uji, atau

113 IlmuFarmasi.Com
(b) Jika produk akhir berupa satu macam gas, maka contoh dapat
diambil dari tangki penyimpanan yang berisi gas dari beberapa
pengiriman atau dari tabung pertama yang diisi gas, dengan syarat
bahwa pipa pengisian telah ditiup dan diberi gas dahulu (purging)
setelah pengiriman gas yang terakhir ditambahkan ke tangki
penyimpanan, dan jika produk akhir adalah suatu campuran gas.
maka setiap komponen hendaklah diperiksa secara terpisah.

4.4. Manifold gas medisinal hendaklah dipakai hanya untuk satu jenis gas saja
atau suatu campuran gas.
4.5. Pembersihan dan penyemburan alat dan pipa pengisian hendaklah
mengikuti prosedur tetap serta diperiksa tidak adanya sisa bahan pem-
bersih atau bahan cemaran lain sebelum sistem pengisian diluluskan untuk
dipakai.
4.6. Tabung gas baru dan tabung yang dikembalikan setelah dipakai hendaklah
diuji dengan tes tekanan serta dilakukan pemeriksaan secara visual.
4.7. Pemeriksaan yang dilakukan sebelum pengisian hendaklah meliputi:
(a) pemeriksaan tiap tabung secara visual pada katup dan bagian luarnya
terhadap kemungkinan terdapat penyok, noda bakar bekas las,
kerusakan lain, bekas oli atau pelumas:
(b) pemeriksaan sambungan katup dari tiap tabung gas atau tabung gas
cair untuk memastikan bahwa jenis sambungan katup ini sesuai dengan
gas yang akan diisikan;
(c) pemeriksaan untuk memastikan bahwa tes hidrostatik telah dilakukan
sesuai dengan persyaratan. Tiap tabung hendaklah diberi kode untuk
mengetahui tanggal tes hidrostatik terakhir. dan
(d) pemeriksaan untuk memastikan bahwa tiap tabung diberi kode warna
dan diberi label.

4.8. Terhadap tabung yang dikembalikan untuk diisi ulang hendaklah dilakukan
persiapan sebagai berikut : gas yang tersisa di dalanf setiap tabung
hendaklah dikeluarkan dengan cara di purge (ditiup kemudian diisi gas
sehingga sedikit bertekanan setelah itu kelebihan tekanan gas dikeluarkan
atau tabung dibuat vakum (paling sedikit 635 mmHg atau tekanan absolut
di bawah 150 mbar). Sebagai alternatif, gas yang tersisa di tiap tabung
dianalisis secara lengkap.
Hendaklah dipertimbangkan untuk membalikkan tabung pada waktu ditiup
untuk membantu mengeluarkan cemaran berbentuk cairan.

114 IlmuFarmasi.Com
4.9. Hendaklah dilakukan pemeriksaan yang sesuai untuk memastikan bahwa
tabung sudahdiisi.
4.10. Jika satu macam gas medisinal akan diisikan menggunakan manifold multi-
silinder (satu manifold dengan beberapa tautan pengisian tabung gas),
maka paling sedikit satu tabung dari tiap tautan pengisian hendaklah
diperiksa identitas dan kemurniannya setiap kali terjadi penggantian tabung.
4.11. Jika satu macam gas medisinal diisikan ke dalam tabung satu-per-satu,
maka paling sedikit satu tabung dari setiap siklus pengisian yang tidak
terputus hendaklah diperiksa identitas dan kadarnya. Contoh siklus
pengisian yang tidak terputus adalah satu shift produksi dengan petugas,
peralatan dan satu bets produk ruahan gas yang sama.
4.12. Jika suatu produk akhir gas medisinal diproduksi dengan mencampurkan
dua macam gas yang berbeda dan diisikan ke dalam tabung, maka setiap
tabung hendaklah diperiksa identitas dan kadar dari salah satu macam
gas, dan paling sedikit satu tabung dari tiap tautan manifold diperiksa
identitas dari gas yang lainnya dari campuran tersebut.
4.13. Jika suatu produk akhir gas medisinal diproduksi dengan mencampurkan
tiga jenis gas dan diisikan ke dalam tabung, maka setiap tabung hendaklah
diperiksa identitas dan kadar dari dua macam gas dan paling sedikit satu
tabung dari setiap tautan manifold hendaklah diperiksa identitas dari gas
ketiga campuran tersebut.
Jika gas dicampurkan langsung di dalam pipa pengisian (misal campuran
gas nitrogen oksida dengan oksigen), maka selama pengisian hendaklah
dilakukan analisis secara terus-menerus terhadap campuran gas tersebut.
4.14. Jika satu tabung diisi lebih dari satu macam gas, maka hendaklah dipastikan
bahwa proses pengisian akan menghasilkan campuran gas yang benar
dan homogen dalam tiap tabung.
4.15. Tiap tabung yang sudah diisi hendaklah diperiksa kebocorannya dengan
carayang sesuai, misal dengan mengoleskan cairan pemeriksa kebocoran
pada daerah sekitar katup.
4.16. Jika gas cair kriogenik diisikan ke dalam tangki kriogenik untuk dikirim
kepada pemakai, maka setiap tangki hendaklah diperiksa identitas dan
kadarnya.
4.17. Jika tangki kriogenik yangadadi lokasi pemakai akan diisi ulang di
tempat pemakai itu sendiri dengan menggunakan mobil tangki, maka
contoh tidak perlu diambil setelah pengisian dengan syarat perusahaan
pengisian gas memberikan sertifikat analisis dari contoh yang diambil dari
tangki.

115 IlmuFarmasi.Com
4.18. Sampel pertinggal tidak diperlukan kecuali jika ditentukan.

5. Penandaan
Tiap tabung hendaklah diberi label dan kode warna. Penandaan nomor bets
dapat dilakukan pada label terpisah.

6. Penyimpanan - Pelulusan
6.1. Segera setelah diisi seluruh tabung hendaklah dikarantina hingga dinyatakan
diluluskan oleh petugas yang berwenang.
6.2. Tabung gas hendaklah disimpan di bawah pelindung dan tidak terpapar
terhadap suhu yang tinggi. Ruang penyimpanan hendaklah bersih, kering.
aliran udara baik dan bebas dari bahan yang mudah terbakar.
6.3. Penyimpanan hendaklah diatur agar terdapat pemisah untuk gas yang
berbeda. untuk tabung terisi dan tabung kosong serta memungkinkan
dilakukan perputaran persediaan..

116 IlmuFarmasi.Com
ADDENDUM III
PEMBUATAN INHALASI DOSIS TERUKUR
BERTEKANAN (AEROSOL)

1. Pendahuluan

Pembuatan aerosol memerlukan pertimbangan khusus karena sifat alami dari


bentuk sediaan ini. Pembuatan hendaklah dilakukan dalam kondisi yang dapat
menekan sekecil mungkin teijadinya pencemaran mikroba dan partikel di dalam
ruangan yang terkendali kondisinya misalnya suhu dan kelembaban rendah.

Ada dua macam metode pengisian yang umum dilakukan, yaitu :


(a) Proses pengisian-ganda (pengisian dengan tekanan). Untuk produksi
bentuk ini bahan berkhasiat disuspensikan dalam propelan bertitik didih
tinggi, kemudian diisikan ke dalam wadah, ditutup dengan katup, melalui
katup diisikan propelan lain yang bertitik didih rendah.
Suspensi bahan berkhasiat dalam propelan dijagapada suhu rendah untuk
mengurangi kehilangan akibatpenguapan.
(b) Proses pengisian-tunggal (pengisian dingin). Bahan berkhasiat
disuspensikan dalam suatu campuran propelan, kemudian dijagapada
tekanan tinggi atau pada suhu rendah atau kedua-duanya. Suspensi ini
kemudian diisikan langsung ke dalam wadah dengan satu kali pengisian.

2. Bangunan

2.1. Pembuatan dan pengisian hendaklah dilakukan di ruang produksi dengan


tingkat kebersihan Kelas III atau lebih baik.
2.2. Suhu dan kelembaban ruang pembuatan dan pengisian hendaklah
dikendalikan sedemiWan rupa untuk mencegah terjadinyakondensasi dan
penguapan propelan.
2.3. Jika berat jenis propelan yang dipakai lebih tinggi dari udara, maka
hendaklah disediakan penghisap udara di bawah dekat lantai.
2.4. Hendaklah berhati-hati jikamenggunakan propelan yang mudah terbakar.
Untuk mencegah terjadinya ledakan api,hendaklah tersedia ruangan dan
peralatan yang tahan ledakan.

117 IlmuFarmasi.Com
3. Pengendalian Produksi

3.1. Katup aerosol berperan penting untukmendapatkan bentuk dan dosis


yang tepat oleh karena itu hendaklah divalidasi.
3.2. Wadah dan katup hendaklah dibersihkan untuk memastikan tidak adanya
sisacemaran seperti bahan pembantu operasional (misal: pelumas) atau
cemaran mikroba.
Wadah dan katup yang telah bersih hendaklah selalu disimpan di dalam
wadah yang bersih dan tertutup dan selalu dicegah terhadap pencemaran
selamapenanganan selanjutnya.
3.3. Seluruh propelan (bentuk cair atau gas) hendaklah disaring untuk
menghilangkan partikel yang lebih besar dari pada 0.2 mikrometer.
3.4. Hendaklah dijagaagarsuspensi selalu homogen sejakdari awal pengisian
hingga selesai proses pengisian.
3.5. Untuk mencegah masuknyakelembaban ke dalam produk, maka ujung
saluran pengisian hendaklah selalu disembur (purge) dengan gas nitrogen
kering atau udara kering atau tindakan lainnya.
3.6. Tangki dan alat lain hendaklah dibersihkan sesuai prosedurpembersihan
yang telah divalidasi untuk memastikan bebas dari cemaran.
3.7. Hanyatangki serta alat yang bersih dan kering sajayangboleh digunakan.

4. Pengawasan Mutu

4.1. Jika proses pengisian-ganda yang dipakai, perlu dipastikan bahwa kedua
pengisian menghasilkan berat yang benar untuk memperoleh komposisi
yang benar. Untuk tujuan ini pemeriksaan berat 100 % padatiap tahap
sangat dianjurkan.
4.2. Tiap wadah yang sudah diisi hendaklah diperiksa terhadap kebocoran.
Uji kebocoran hendaklah dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah
pencemaran mikroba atau sisa kelembaban.
4.3. Uji fungsi katup hendaklah dilakukan terhadap tiap wadah yang sudah
diisi dan disimpan setelah waktu tertentu.

118 IlmuFarmasi.Com
PADANAN KATA

Absolut - Absolute
Air olahan - Treated water
Airminum - Potable water
Airmumi - Purified water
Airsuling - Distilled water
Airuntukinjeksi - Water for Injection
Akurasi - Accuracy
Aliran balik - Back-siphonage
Antibodi hemolitik - Hemolytic antibodies
Antibodi monoklonal - Monoclonal antibodies
Autolog - Autologous
Badan Pengawas Obat - Regulatory Agency

Bahan - Agent. Substance, Material


Bahan awal - Starting material
Bahan baku - Raw material
Bahan biologi - Biological material
Bahan mudah terbakar - (In) Flammable materials,
Combustible material
Bahan pembantu proses - Fabrication aid
Bahan pengemas - Packaging material
Bahan pengemas cetak - Printed packaging materials
Bahan pengemas tidak tercetak - Unprinted packaging materials
Bahan pengurang busa - Defoaming agent
Bahan pulihan - Recovered material
Bahan/produk sangat beracun - Highly toxic material/product
Bak kontrol - Trapped gullies
Baku pembanding - Reference standard
Baku pembanding kerja - Secondary AVorking reference standard
Baku pembanding primer - Primary reference standard
Ban berjalan - Conveyor belt
Bangunan - Premises

119 IlmuFarmasi.Com
Bank sel induk Master cell bank
Bank sel kerja Working cell bank
Batas waktu penggunaan Shelf-life
Bersentuhan, kontak Contact
Bersihkan-di-tempat Clean-in-place (CIP)
Bets Batch
Biakan sel Cell culture
Biakan sel abadi Continuous culture
Bilangan kuman Microbial count
Biogenerator Biogenerator
Biologi Biology, biological
Buku catatan harian Log book

Gas cair yang didinginkan Liquefied, refrigerated (gas)


Cacat (padamesin) Injury
Campur-baur Mix-up
Campuran bahan Mixture of substances
Cara aseptik Aseptic means
Cara pemberian Route of administration
Cara Pembuatan Obat yang Good Manufacturing Practice (GMP)
Baik(CPOB)
Catatan Records
Catatan pengemasan bets Batch packaging record
Catatan pengolahan bets Batch processing record
Ceruk Recesses
Contoh representatif (yang mewakili) Representative sample
Contoh Sample
Cocok silang Cross match
Contoh pertinggal Retained / Retention sample

Daerah bersih Clean area / room


Daerah terkendali Controlled area / room
Daerah terkurung Contained area / room
Dekontaminasi Decontamination
Desinfeksi Desinfection
Desinfektan Desinfectant
Deterjen kationik Cationic detergent
Detoksifikasi Detoxification
Dibumikan Grounded

120 IlmuFarmasi.Com
Dikendalikan - Controlled
Diluluskan - Released / Passed
Dinding pemisah - Partition
Dipantau - Monitored
Ditolak - Rejected
Dokter ahli - Qualified Physician
Dokumen bets - Batch dossier
Dokumen registrasi - Marketing authorization dossier
Dokumentasi - Documentation
Dosis terukur - Metered dose

Efek putaran melingkar - Swirling effect

Galur (mikroba) - Strain (microorganism)


Gas cair Gigi - Liquified gas
sorong - Sliding gear

Hasil nyata - Actual yield


Hasil standar - Standard yield
Hasil teoritis - Theoretical yield
Higiene - Hygiene
Homolog - Homologous

Imunisasi -
Immunization
Inaktivasi -
Inactivation
Insinerator -
Incinerator
Interaksi -
Interact
Instruksikerja - Instruction circular
Jalur - Path taken
Kalibrasi - Calibration
Kandang (hewan) - (Animal) quarters
Kantung penyaring - Filter bag
Kapsul keras - Hard capsule
Karantina - Quarantine
Kartu titik warna - Color spot card
Karyawan - Personnel, Operator
Katup - Valve
Katup satu arah - Non-return valve

121 IlmuFarmasi.Com
Kayu tanpa pelapis - Bare wood
Keamanan terhadap virus - Viral safety
Kedap eksplosi - Explosion proof
Kelembaban nisbi - Relative humidity
Keluhan - Complaint
Kesiapan jalur pengemasan - Line clearance
Keutuhan - Integrity
Kinerjakapasitas - Capacity performance
Kontaminasi silang - Cross contamination
Kotak penyangga udara - Hatchway
Kriteria penerimaan - Acceptance criteria
Kromatografi afmitas - Affinity chromatography
Kurungan primer - Primary containment
Kurungan sekunder - Secondary containment

Lemari kerja pengaman - Safety cabinet


Lembar perekat - Adhesive tape / patch
Lesung tablet - Dies
(pada) Lini proses - In-line
Ligan - Ligand
Lot - Lot
Lot benih induk - Master seed lot
Lotbenihkerja - Working seed lot
Lulus, diluluskan - Released/passed
Manifold - Manifold
Manifold multi-silinder - Multi-cylinder manifold
Masa pakai - Time period, life span
Media pembiakan - Culture media
Memudahkan - (To) facilitate
Mencair - Thawing
Menghilangkan virus - Virus removal
Mikroba - Micro-organism
Mikrobiologi - Microbiology, microbiological
Monograf - Monograph
Noda bakar las - Arc burns
Nomor bets - Batch number
Nomor lot - Lot number

122 IlmuFarmasi.Com
Obat - Drug
Obat jadi - Finished product (drug)
Obat kembalian - Returned (drug) product
Organisme hidup - Live organism
Palet - Pallet
Panci penyalut - Coating pan
Pancuran airpengaman - Safety shower
Pantau - Monitor
Pasase - Passage
Patogen - Pathogen
Patogenik - Pathogenic
Petugas berkualifikasi - Qualified person
Pelatihan - Training
Pelincir - Lubricant
Pelipat-gandaan - Doublings, multiple
Pemasok terpilih - Approved vendor
Pemastian mutu - Quality assurance
Pembiakan mikroba - Microbial culture
Pembiakan sel dan mikroba - Microbial and cell culture
Pembuatan - Manufacturing
Pemakaian bersih - Net-used
Pemasok - Supplier
Pembasuh mata - Eye bath
Pemberian (obat) - (Drug) administration
Pembuangan saniter - Sanitary disposal
Pemolesan, Pengkilapan - Polishing
Pemulihan - Recovery
Pengawasan selama proses .- In-process control
Pengawasan (pengendalian) miitu - Quality control
Pengemasan - Packaging
Pengendalian udara - Air control /handling
Pengering pusar beliung - Fluid bed drier
Penghalang pemisah - Barrier
Penghisap debu - Dust collector
Pengisian-ganda - Two-shot filling process
Pengisian-tunggal - One-shot filling process
Pengolahan - Processing

123 IlmuFarmasi.Com
Pengolahan ulang Reprocessing
Penyaring sterilisasi Sterilizing filter
Penyaring ventilasi udara Air vent filter
Penyemburan (oleh gas) (Gas) Purging
Pereaksi Reagents
Perintah pembuatan bets Batch manufacturing order
Pernyataan Statement
Perputaran stok Stock rotation
Personalia, Karyawan Personnel
Pertama masuk pertama keluar First in first out (FIFO)
Perubahan (yang ada) (Any appropriate) modifier
Pintu sorong Sliding door
Pirogen Pyrogen
Presisi Precision
Produk antara Intermediate product
Produkbiologi Biological product
(Produk) Obat Medicinal (drug) product
Produk ruahan Bulk product
Produk selular Cellular product
Produk non-steril Non-sterile product
Produksi Production, Manufacturing
Produksi beberapa bets dari satu Production on a campaign basis
produk secara berurutan
Propagasi Propagation
Propelan Propellant
Prosedur Procedure
Prosedur pengemasan induk Master packaging procedure
Prosedur pengolahan ulang Reprocessing procedure

Rancangan, rancang-bangun Design


Reaksi yang merugikan Adverse reaction
Rekonsiliasi Reconciliation
Reprodusibilitas Reproducibility
Ruang antara Buffer room
Ruang bersih Clean room
Ruang ganti pakaian Gowning room
Ruang pencetakan tablet Compressing cubicle
Ruang penyangga udara Air-lock

124 IlmuFarmasi.Com
Ruang (daerah) steril Sterile room (area)
Saluran air limbah Drain
Sarana khusus Dedicated facility
Sediaan parenteral bervolume besar Large volume parenteral (LVP)
Segel yang tampak apabila dirusak Tamper-evident seal
Selang waktu Interval
Sentrifugasi Centrifugation
Serologi Serology, serological
Serokonversi Seroconversion
Sisa produk Product residue
Sisa uap Residual moisture
Sistem bank sel Bank cell system
Sistem lot benih Seed lot system
Status imunologi Immunological status
Sterilisasi akhir Terminal sterilization
Sterilisasi cara panas Heat sterilization
Sterilisasi dengan penyaringan Sterile dia or ultra filtration
dia atau ultra
Sterilisasi panas basah Sterilization by moist heat
Sterilisasi panas kering Sterilization by dry heat
Sterilisasi cara radiasi Sterilization by radiation
Sterilisasi cara saring Sterilization by filtration
Sterilisasi-di-tempat Sterilization-in-place (SIP)
Subkulturisasi berulang Repeating sub-cultures
Substrat hidup Live agents

Tanggal daluwarsa Expiration date, Expiry


Tanggal pembuatan Manufacturing date
Tangki kriogenik Cryogenic tank s
Tata letak ruang Lay out
Tes hidrostatik Hydrostatic test
Tongkat pengukur Dipstick
Udara penyangga Air breaks
Unit pengendali udara Air handling unit
Uji tekanan aliran maju Forward flow pressure test
Uji tekanan titik gelembung Bubble point pressure test

Vaksin yang dimatikan Killed vaccines

1 IlmuFarmasi.Com