Anda di halaman 1dari 5

TUGAS INDIVIDU

MANAJEMEN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU


PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)

Oleh:
ROSYID RIDLO
0710410057
KELAS E

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
1. Pengertian PHT

PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian hama dan
penyakit tumbuhan yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam
rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.

Sasaran PHT adalah : 1) produktivitas pertanian yang mantap dan tinggi, 2) penghasilan
dan kesejahteraan petani meningkat, 3) populasi hama dan patogen tumbuhan dan kerusakan
tanaman karena serangannya tetap berada pada aras yang secara ekonomis tidak merugikan, dan
4) pengurangan risiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida. Dalam PHT,
penggunaan pestisida masih diperbolehkan, tetapi aplikasinya menjadi alternatif terakhir bila
cara-cara pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi wabah hama atau penyakit.  Pestisida
yang dipilihpun harus yang efektif dan telah diizinkan.

Strategi PHT adalah memadukan secara kompatibel semua teknik atau metode
pengendalian OPT didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. PHT adalah sistem pengendalian
OPT yang merupakan bagian dari sistem pertanian berkelanjutan

2. Sejarah PHT
a. Di Indonesia
Usaha untuk memperkenalkan PHT di Indonesia dimulai sejak tahun 1979, setelah
Indonesia mendapatkan pengalaman buruk dari serangan hama wereng coklat pada tahun 1975-
1977. Usaha untuk pengendalian terhadap hama wereng ini, di Indonesia diikuti melalui
pendekatan teknologi yang sangat sukses dan kemudian lebih sering disebut revolusi hijau.
Program PHT di Indonesia dinyatakan sebagai kebijakan nasional pada tahun 1986 yaitu dengan
keluarnya Inpres No.3 tahun 1986. Esensi program tersebut yaitu dalam rangka menciptakan
sistem pertanian yang berwawasan lingkungan dan dalam pelaksanaannya telah memberikan
efek yang sangat besar terhadap produksi pertanian nasional.

Program PHT nasional di Indonesia dinilai berhasil.  Lembaga internasional seperti FAO
telah mengakui hal ini. Bahkan Indonesia kemudian dijadikan contoh pelaksanaan PHT bagi
negara-negara sedang berkembang di Asia dan Afrika. Keberhasilan pelaksanaan PHT pada
tanaman terlihat nyata pada dua hal yaitu menurunnya penggunaan pestisida dan meningkatnya
rata-rata hasil panen.

b. Di dunia
Konsep pengendalian hama terpadu muncul sebagai akibat cara pengendalian hama
yang dilakukan pada tahun 1950-an, dimana pada waktu itu pendekatan yang dilakukan hanya
menggunakan insektisida. Walaupun kata pengendalian hama sudah dikenal pada awal tahun
1960-an, pengendalian hama akarnya pada teori pengendalian biologis. Pada pengendalian
biologis, hama dikendalikan dengan menggunakan dan memanipulasi musuh-musuh alaminya.
Dengan banyaknya hama, penggunaan musuh alami menjadi tidak dapat diandalkan
lagi. Selanjutnya konsep pengendalian hama terpadu mulai dikembangkan dengan penekanan
bahwa insektisida masih tetap digunakan, tetapi secara efektif, dengan demikian musuh alami
masih dapat dipertahankan keberadaannya di ekosistem. Integrasi teknik ini kemudian
dikembangkan lebih lanjut, termasuk di sini adalah penggunaan teknik lain seperti tumbuhan
resisten dan sanitasi, juga pelestarian musuh-musuh alami yang sudah merupakan suatu
keharusan dalam pengendalian terpadu ini.

Dengan latar belakang inilah dua orang ahli serangga Australia, yaitu L. R. Clark dan P.
W. Geier mulai menjabarkan prinsip-prinsip pengendalian hama pada tahun 1961. Mereka
mula-mula menganjurkan istilah “protective population management” atau “pest management”
untuk ide mereka. Pengendalian hama yang mereka kemukakan ini berbeda dengan beberapa
cara pengendalian hama yang terdahulu, dalam hal sudut pandang secara holistic, ide
sintesisnya, dan dengan dimasukkannya dasar-dasar teori populasi dalam rancangannya.

“Pest Management” juga memiliki filosofi yang berbeda dari teknologi hama
sebelumnya. Sebelum pengembangan dan penerimaan konsep ini, teknologi hama lebih terfokus
kepada menguasai (control) dibandingkan mengendalikan (management). Kontrol berarti
menguasai serangga dengan menghilangkannya dan cara yang paling mudah adalah dengan
memberikan insektisida kimia dalam jumlah besar. Serangga yang dikuasai harus 100% yang
berarti pemusnahan masal serangga hama. Sedangkan Manajemen berarti upaya untuk
mencapai hasil akhir yang diinginkan dengan secara bijaksana menggunakan insektisida guna
mengurangi efek kerusakan yang disebabkan oleh serangga hama. Dengan konsep ini maka
“pest management” lebih menitikberatkan kepada mengurangi atau memodifikasi efek dari
serangga hama dan mengurangi kerusakan sampai pada tingkat yang dapat diterima. Tujuan ini
tidak tergantung kepada kematian dari serangga hama melainkan tergantung kepada status hama
yang paling sering ditunjang oleh pencuplikan serangga hama dan nilai ambang batas ekonomi.

Sejak saat itu (1961), pengendalian hama atau “pest management” banyak mendapat
sokongan dan segera menjadi filosofi utama dari pengendalian hama. Di Amerika Serikat,
Pengendalian Hama Terpadu menjadi suatu keharusan setelah dikeluarkannya keputusan
Presiden pada tahun 1977. Sekarang konsep ini menjadi pondasi dari kebijaksanaan pemerintah
Amerika Serikat dalam teknologi hama, yang diharapkan akan diadopsi oleh lebih dari 75%
lahan pertanian di seluruh Amerika Serikat pada tahun 2000.

3. Implementasi PHT

PHT disebarluaskan ke petani dengan pola Sekolah Lapang PHT (SLPHT). Sebagai
catatan, ternyata Program Nasional PHT dari tahun 1989-1999 telah berhasil melatih lebih dari 
satu juta petani padi melalui penerapan SLPHT.  Komoditi yang dicakup pada kegiatan PHT
yaitu padi, kedelai, kubis, kentang, cabe, dan bawang merah. PHT di bidang perkebunan telah
berhasil melatih  106.000 petani pada komoditas kopi, kakao, dll.
Implementasi PHT pada tanaman perkebunan telah dilakukan sejak tahun 1997/1998.
Pengembangan PHT telah dilakukan pada beberapa komoditas perkebunan rakyat seperti: kakao,
lada, teh, kapas, jambu mete, dan kopi. Tujuan penerapan PHT di subsektor perkebunan adalah
untuk mendorong pendekatan pengendalian OPT yang dinamis dan aman terhadap lingkungan
oleh petani perkebunan rakyat melalui pemberdayaan perangkat pemerintah yang terkait dan
kelompok petani.

Ada empat prinsip penerapan PHT pada tingkat petani. Empat prinsip tersebut yaitu 1)
budidaya tanaman sehat, 2) pelestarian dan pendayagunaan musuh alami, 3) pengamatan
mingguan secara teratur, dan 4) petani sehagai ahli PHT.
DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Abdul Latief. 2005. Permasalahan dalam Penerapan Sistem Pengendalian Hama Terpadu
untuk Pengelolaan Penyakit Tumbuhan di Indonesia.
http://rivaarifin.blogspot.com/2010/02/permasalahan-dalam-penerapan-sistem.html.
Diunduh 14 Desember 2010.

Agustian, Adang dan Benny Rachman. 2009. Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu
Pada Komoditas Perkebunan Rakyat. Perspektif Vol. 8 No. 1 / Juni 2009. Hlm 30 – 41.

Anonymous. 2010. Teori Pengendalian Hama. lms.web44.net/sap%2015%20PHT.doc. Diunduh


14 Desember 2010.

Hasibuan, Muainah. 2008. Kajian Penerapan PHT pada Petani Padi di Kabupaten Tapanuli
Selatan. UNSU Medan.