Anda di halaman 1dari 19

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Herpes Zoster

Herpes zoster atau disebut juga dengan shingles atau cacar ular memiliki

insiden tertinggi dari semua penyakit neurologi, dengan sekitar 500.000 kasus baru

setiap tahun di United States. Herpes zoster merupakan penyakit yang jarang terjadi,

diperkirakan 10-12 % populasi akan mengalami serangan Herpes zoster selama

hidupnya. Di Indonesia menurut Lumintang, prevalensi Herpes zoster kurang dari

1%. 1,4,13

2.1.1 Defenisi

Herpes zoster merupakan manifestasi oleh reaktivasi virus Varisela-zoster

laten dari syaraf pusat dorsal atau kranial. Virus varicella zoster bertanggung jawab

untuk dua infeksi klinis utama pada manusia yaitu varisela atau chickenpox (cacar

air) dan Herpes zoster (cacar ular). Varisela merupakan infeksi primer yang terjadi

pertama kali pada individu yang berkontak dengan virus varicella zoster. Pada 3-5

dari 1000 individu, virus Varisela-zoster mengalami reaktivasi, menyebabkan infeksi

rekuren yang dikenal dengan nama Herpes zoster atau Shingles. 1,4

Herpes zoster adalah infeksi virus akut yang memiliki karakteristik unilateral,

sebelum timbul manifestasi klinis pada kulit wajah dan mukosa mulut biasanya akan

didahului oleh gejala odontalgia. Timbulnya gejala odontalgia pada Herpes zoster

belum sepenuhnya diketahui. 1,12

Universitas Sumatera Utara


2.1.2 Etiologi

Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster yang laten di

dalam ganglion posterior atau ganglion intrakranial. Virus dibawa melalui sternus

sensory ke tepi ganglia spinal atau ganglia trigeminal kemudian menjadi laten.

Varicella zoster, yaitu suatu virus rantai ganda DNA anggota famili virus herpes yang

tergolong virus neuropatik atau neuroder-matotropik. Reaktivasi virus varicella zoster

dipicu oleh berbagai macam rangsangan seperti pembedahan, penyinaran, penderita

lanjut usia, dan keadaan tubuh yang lemah meliputi malnutrisi, seorang yang sedang

dalam pengobatan imunosupresan jangka panjang, atau menderita penyakit sistemik.

Apabila terdapat rangsangan tersebut, virus varicella zoster aktif kembali dan terjadi

ganglionitis. Virus tersebut bergerak melewati saraf sensorik menuju ujung-ujung

saraf pada kulit atau mukosa mulut dan mengadakan replikasi setempat dengan

membentuk sekumpulan vesikel.2,3,4

2.1.3 Gambaran Klinis

Lesi Herpes zoster dapat mengenai seluruh kulit tubuh maupun membran

mukosa. Herpes zoster biasanya diawali dengan gejala-gejala prodromal selama 2-4

hari, yaitu rasa gatal, sakit yang menusuk, parastesi dan gejala-gejala terbakar serta

sensitivitas muncul di sepanjang lintasan syaraf yang terkena. 4,12,15,17

2.1.3.1 Kulit

Herpes zoster dikarakteristik oleh sakit dan sensasi lokal kulit lain (seperti

terbakar, geli, dan gatal), sakit kepala, tidak enak badan dan (paling sering) demam,

Universitas Sumatera Utara


biasanya muncul ruam zoster (2–3 hari). Ruam menyebar ke seluruh kulit yang

terkena, berkembang menjadi papula, vesikel (3-5 hari) dan tahap krusta (7-10 hari),

memerlukan 2-4 minggu untuk sembuh. Lesi baru berlanjut muncul untuk beberapa

hari. Kelainan kulit hanya setempat dan hanya mengenai sebelah bagian tubuh saja,

yaitu terbatas hanya pada daerah kulit yang dipersyarafi oleh satu syaraf sensorik.

Syaraf yang paling sering terkena adalah C3, T5, L1, dan L2, dan syaraf

trigeminal.1,4,12,17

Gambar 1. Vesikel pada kulit yang disebabkan oleh


infeksi herpes zoster. (Jhonson RW, Dworkin RH.
Treatment of herpes zoster and postherpetic neuralgia.
BMJ 2003; 326: 748-50)

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2. Herpes Zoster pada kulit perut kanan.
Beberapa lesi telah mengering. Lesi tersebut tidak
melewati mid line. (McCary J. The Health Care of
Homeless Persons)

2.1.3.2 Rongga Mulut

Sebelum lesi di rongga mulut muncul, pasien akan mengeluhkan rasa nyeri

yang hebat, kadang-kadang rasa sakitnya seperti rasa sakit pulpitis sehingga sering

salah diagnosa. Lesi diawali oleh vesikel unilateral yang kemudian dengan cepat

pecah membentuk erosi atau ulserasi dengan bentuk yang tidak teratur.4

Pada mukosa rongga mulut, vesikel hanya terdapat pada satu dari divisi

nervus trigeminus. Vesikel unilateral tersebut dikelompokkan dengan area sekitar

eritema, akhiran yang kasar pada midline (Gambar 2). Vesikel bernanah dan bentuk

pustula selama 3 sampai 4 hari. 15,17

Apabila cabang kedua dan ketiga nervus trigeminal terlibat, maka akan

muncul lesi-lesi di rongga mulut secara unilateral. Jika cabang kedua (nervus

maksilaris) terlibat maka lokasi yang dikenai adalah palatum, bibir dan mukosa bibir

atas. Jika cabang ketiga (nervus mandibula) terlibat, lokasi yang dikenai adalah lidah

(Gambar 4), mukosa pipi, bibir dan mukosa bibir bawah.4

Universitas Sumatera Utara


Lesi-lesi intraoral adalah vesikuler dan ulseratif dengan tepi meradang dan

merah sekali. Perdarahan adalah biasa. Bibir, lidah, dan mukosa pipi dapat terkena

lesi ulseratif unilateral jika mengenai cabang mandibuler dari saraf trigeminus.

Keterlibatan divisi kedua dari saraf trigeminus secara khas akan mengakibatkan

ulserasi palatum unilateral yang meluas ke atas, tetapi tidak keluar dari raphe

palatum.1,4,8

Gambar 3. Efek dari Herpes Zoster dapat mengenai 3


divisi dari nervus trigeminus (Scully C. Oral and
Maxillofacial Medicine. 2004 ; 329)

Universitas Sumatera Utara


Gambar 4: Herpes Zoster, menunjukkan multipel ulser
(Langlais RP, Miller CS. Atlas Berwarna Kelainan
Rongga Mulut yang Lazim. 2000 : 87)

Gambar 5. Infeksi herpes zoster pada lidah. (Oral


Photograph)

Universitas Sumatera Utara


2.1.4 Diagnosis

Diagnosa Herpes zoster biasanya ditegakkan berdasarkan riwayat kasus dan

gambaran klinisnya yang khas, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium.

Meskipun begitu, pemeriksaan laboratorium direkomendasikan jika gambaran klinis

tidak khas atau untuk menentukan status imun terhadap virus Varisela-zoster pada

orang yang beresiko tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan meliputi

hapusan Tzank, deteksi antigen virus dan tes antibodi virus. 4, 15, 17,18

2.1.5 Perawatan

Perawatan dan penatalaksanaan herpes zoster dapat dilakukan dengan

farmakologi atau non-farmakologi.

2.1.5.1 Farmakologi

Perawatan terpenting untuk zoster akut adalah medikasi antivirus sesegera

mungkin. Medikasi antivirus secara oral sebenarnya tidak memiliki efek samping.

Perawatan farmakologi dapat dibagi atas topikal dan sistemik.

A. Topikal

1. Analgetik Topikal

a. Kompres

Kompres terbuka dengan solusio Burowi dan losio Calamin (Caladryl)

dapat digunakan pada lesi akut untuk mengurangi nyeri dan pruritus.2,7

Kompres dengan solusio Burowi (aluminium asetat 5%) dilakukan 4-6

Universitas Sumatera Utara


kali/hari selama 30-60 menit. Kompres dingin atau cold pack juga sering

digunakan.2

b. Antiinflamasi nonsteroid (AINS)

Berbagai AINS topical seperti bubuk aspirin dalam kloroform atau etil

eter, krim indometasin dan diklofenak banyak dipakai.2

2. Anestesi Lokal

Pemberian anestetik lokal pada berbagai lokasi sepanjang jaras saraf yang

terlibat dalam HZ telah banyak dilakukan untuk memperbaiki nyeri, misalnya

infiltrasi lokal subkutan, blok saraf perifer, ruang paravertebral atau epidural,

dan blok simpatis. Infiltrasi lokal subkutan umumnya menggunakan

bupivakain 0,125-0,25% dan triamsinolon 0,2 % dengan volume yang

digunakan dapat mencapai hingga 50 ml. Infiltrasi dilakukan didaerah yang

paling nyeri, dan dapat diulang tiap 2-3 hari hingga nyeri hilang.2,7,14,16

B. Sistemik

1. Agen antivirus

Agen antivirus terbukti menurunkan durasi lesi herpes zoster (HZ) dan

keparahan nyeri herpes akut , terlebih bila diberikan sebelum 72 jam awitan

lesi. Dari 3 antiviral oral yang disetujui oleh Food and Drug Administration

(FDA) untuk terapi HZ, famsiklovir dan valasiklovir hidroklorida lebih efektif

daripada asiklovir.

Antivirus famsiklovir 3 x 500 mg atau valasiklovir 3 x 1000 mg atau

asiklovir 5 x 800 mg diberikan sebelum 72 jam awitan lesi selama 7 hari.2-

Universitas Sumatera Utara


7,9,12-14,16,21-24
Antivirus lain, sorivudin, secara in vitro memperlihatkan

aktivitas 1000 kali lipat dibandingkan asiklovir. Diberikan dengan dosis 40

mg/hari selama 7-10 hari. Sorivudin lebih efektif dibandingkan asiklovir

dalam menghambat timbulnya lesi baru, tetapi tidak lebih efektif dalam

memperbaiki nyeri herpes akut.

2. Analgetik

Pasien dengan nyeri herpes akut ringan menunjukkan respons yang

baik dengan AINS (asetosal, piroksikam, ibuprofen, diklofenak) atau

analgetik non opioid (asetaminofen, tramadol, asam mefenamik). 2,22,24

2.1.5.2 Non-Farmakologi

Perawatan non farmakologi juga sangat penting. Pendidikan pasien dan

dukungan penting dalam penatalaksanaan Herpes zoster. Hal tersebut meliputi

penjelasan atas jalannya penyakit, rencana pengobatan, dan perlu memperhatikan

aturan dosis antivirus. Tidak adanya pengetahuan pasien dan ketakutan pasien tentang

Herpes zoster harus diperhatikan dan pasien harus diberitahu tentang resiko menular

terhadap orang yang belum pernah cacar air. Instruksikan pasien agar tetap menjaga

ruam dalam keadaan bersih dan kering untuk meminimalkan resiko infeksi bakteri,

melaporkan setiap perubahan suhu badan, dan menggunakan pembalut steril basah

untuk mengurangi ketidaknyamanan. Topikal antibiotik dan pembalut adesif dapat

menunda penyembuhan ruam dan harus dihindari.19

Universitas Sumatera Utara


2.1.6 Komplikasi

Postherpetic neuralgia merupakan komplikasi Herpes zoster yang paling

sering terjadi. Herpes zoster optalmikus merupakan komplikasi umum yang lain.

Postherpetic neuralgia terjadi sekitar 10-15 % pasien herpes zoster dan merusak

syaraf trigeminal. Resiko komplikasi meningkat sejalan dengan usia. Postherpetic

neuralgia didefenisikan sebagai symtom sensoris (biasanya sakit dan mati rasa).

Postherpetic neuralgia atau rasa nyeri akan menetap setelah penyakit tersebut

sembuh dan dapat terjadi sebagai akibat penyembuhan yang tidak baik pada penderita

usia lanjut.1,3,17,18

2.2. Postherpetic Neuralgia

Postherpetic neuralgia (PHN) merupakan komplikasi dari Herpes zoster.

Nyeri ini merupakan nyeri neuropatik yang dapat berlangsung lama bahkan menetap

setelah erupsi akut herpes zoster menghilang.

2.2.1 Defenisi

Postherpetic neuralgia merupakan suatu bentuk nyeri neuropatik yang muncul

oleh karena penyakit atau luka pada sistem syaraf pusat atau tepi, nyeri menetap

dialami lebih dari 3 bulan setelah penyembuhan herpes zoster. Penyebab paling

umum timbulnya peningkatan virus ialah penurunan sel imunitas yang terkait dengan

pertambahan umur. Berkurangnya imunitas di kaitkan dengan beberapa penyakit

berbahaya seperti lymphoma, perawatan penyakit berbahaya (kemoterapi atau

radioterapi), infeksi HIV, dan penggunaan obat penghambat kekebalan (immune

Universitas Sumatera Utara


suppressan) setelah operasi transplantasi organ atau untuk manajemen penyakit

(seperti steroid) juga faktor penyebab resiko. 19,20

Postherpetic neuralgia dapat diklasifikasikan antara acute herpetic neuralgia

(30 hari setelah timbulnya ruam pada kulit), subacute herpetic neuralgia (30-120 hari

setelah timbulnya ruam pada kulit) dan Postherpetic neuralgia (di defenisikan

sebagai rasa sakit yang terjadi setidaknya 120 hari setelah timbulnya ruam pada

kulit).16,20

2.2.2 Etiopatogenesis

Nyeri neuropatik adalah suatu bentuk nyeri kronis yang pada dasarnya

melibatkan kerusakan jaringan saraf sebagai penyebab disfungsi normal.2 Kerusakan

jaringan yang disebabkan oleh mekanik, kimia, dan thermal, infeksi dan tumor bisa

bersifat sebagai stimulus.2,23 Reaksi terhadap stimulus akan menyebabkan bebasnya

beberapa zat, hormon dan neurotransmitter seperti bradikinin, histamin, serotonin,

prostaglandin, dan juga beberapa jenis ion seperti kalium, natrium, magnesium.2

Stimulasi dari zat-zat yang bebas tadi melalui jaringan saraf yang tidak bermielin

akan menuju ke sumsum tulang belakang. Afferen nyeri yang berasal dari perifer

kulit, persendian, perios, pembuluh darah dan lainnya. Melalui ramus komunikans

albus menuju kornu dorsalis sumsum tulang belakang. Dari sini traktus

spinothalamikus lateralis akan disampaikan ke bagian posteromedial dan

posterolateral talamus menuju bagian sentral korteks yang akan memberi persepsi

nyeri.2,23 Blokade jalur ini dengan pemberian neurotransmitter atau jenis-jenis kimia

lainnya merupakan tindakan pengobatan rasa nyeri. Terdapat beberapa mekanisme

Universitas Sumatera Utara


yang berperan dalam timbulnya sensasi nyeri pada Postherpetic neuralgia. Menurut

teori Gate control, pada erupsi akut herpes zoster terjadi replikasi virus varisela zoster

di serabut saraf, yang mengakibatkan terjadinya kerusakan saraf pelbagai ukuran,

serabut saraf berdiameter besar berfungsi sebagai inhibitor hilang atau rusak, dan

mengalami kerusakan terparah. Akibatnya terjadi dominasi serabut saraf kecil

bermielin dan tidak bermielin, sehingga transmisi impuls nyeri ke medulla spinalis

meningkat.2

Postherpetic neuralgia memiliki patofisiologi yang berbeda dengan nyeri

herpes zoster akut. Patogenesis postherpetic akut belum sepenuhnya dimengerti,

tetapi nyeri tersebut dapat berhubungan dengan erupsi akut herpes zoster disebabkan

oleh replikasi jumlah virus varicella zoster yang besar dalam ganglia yang ditemukan

selama masa laten. Oleh karena itu, mengakibatkan inflamasi atau kerusakan pada

serabut syaraf sensoris yang berkelanjutan, hilang dan rusaknya serabut-serabut

syaraf atau impuls abnormal, serabut saraf berdiameter besar yang berfungsi sebagai

inhibitor hilang atau rusak dan mengalami kerusakan terparah. Akibatnya, impuls

nyeri ke medulla spinalis meningkat sehingga pasien merasa nyeri yang hebat. Faktor

resiko yang paling umum untuk Postherpetic neuralgia adalah usia lanjut, rasa sakit

yang lebih berat ketika terjadinya zoster, ruam yang lebih parah, dan (prodrome)

tanda-tanda awal yang tidak spesifik dari penyakit kulit sebelum timbulnya ruam

pada kulit. 2,19,21

Universitas Sumatera Utara


Gambar 6. (a) Situasi normal (b) AB fiber menyebar ke
lamina superfisial dari sum-sum tulang belakang dan
merusak C fiber (diangkat dari Woolf,dkk)

2.2.3 Gejala Klinis

Pasien dengan postherpetic neuralgia mengalami nyeri yang hebat menetap

seperti terbakar, nyeri tajam atau menusuk hilang timbul. Hiperalgesia, parastesi,

hiperastesi, dan nyeri karena rangsangan yang biasanya tidak menimbulkan nyeri

(alodinia) misalnya tersentuh pakaian. Nyeri dirasakan selama berbulan hingga

bertahun setelah lesi zoster sembuh. Hampir seluruh penderita mengalami gangguan

untuk mengenali sensasi para perabaan halus dan suhu pada daerah persarafan yang

terkena. Pasien dewasa tua yang menderita postherpetic neuralgia memiliki pengaruh

yang sangat besar terhadap kualitas hidup. Nyeri sering dihubungkan dengan

Universitas Sumatera Utara


penurunan sensoris, dan terdapat hubungan antara derajat penurunan sensoris dan

keparahan nyeri.2,6,20

2.2.4 Diagnosis

Diagnosis dapat dilakukan dengan cara mengetahui distribusi nyeri yaitu

disepanjang saraf trigeminus, malakukan anamnesis diantaranya dengan menanyakan

riwayat penyakit, apakah pasien demam, sudah pernah terkena cacar air, adakah

timbul lesi seperti balon air, daerah yang terkena dimana saja, rasa sakitnya seperti

apa, dan apakah sebelumnya anggota keluarga yang lain ada yang terkena penyakit

yang sama. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan pula dengan langsung melihat lesi dan

gambaran klinisnya. Pemeriksaan laboratorium dilakukan sebagai pemeriksaan

penunjang.

2.2.5 Perawatan

Perawatan terhadap post herpetic neuralgia adalah dilakukan dengan obat-

obatan serta terapi selain dengan obat-obatan.

I. Farmakologi

A. Topikal

Terapi topikal berguna untuk pasien usia lanjut yang tidak dapat mentoleransi

pengobatan sistemik karena penyakit lain yang dideritanya. Sampai saat ini, terdapat

3 kategori pengobatan topikal yaitu :

Universitas Sumatera Utara


1. Anestetik topikal

Formulasi topikal lidokain, lidokain dengan prilokain, eter dalam kombinasi

dengan antiinflamasi nonsteroid seperti aspirin dan indometasin dilaporkan juga

bermanfaat dalam beberapa studi tanpa kontrol.2,5,6 Lidoderm (lidokain 5% skin

patch), tersusun dari bahan perekat yang mengandung lidokain 5%, lidoderm

menimbulkan analgesia dan memperbaiki alodinia dengan cara difusi lidokain ke

lapisan-lapisan epidermis-dermis dan terikat pada kanal sodium saraf perifer.2,10,16,21

Untuk tiap aplikasi, efeknya berlangsung selama 4 hingga 12 jam.2,7 Karena

keamanannya, kini disarankan untuk digunakan sebagai terapi awal post herpetic

neuralgia dengan gejala alodinia atau nyeri yang intermiten. Penggunaan lidoderm

telah disetujui oleh FDA.2

2. Anestetik lokal

Hilangnya 50-90% nyeri dapat dicapai oleh anestesi infiltrasi subkutan, yang

efeknya berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa minggu. Lidokain,

prokain, dan mepivakain sering diberikan secara infiltrasi atau intravena.1,2

3. Kapsaisin

Kapsaisin (dolorax, capsin, zoztrix), trans-8-metil-N-vanilil-6-nonenamida,

ekstrak dari Capsicum frustecans, telah banyak digunakan untuk terapi topikal pada

keadaan yang melibatkan nyeri, pruritus dan inflamasi. Kapsaisin berperan dalam

meningkatkan pelepasan lalu deplesi substansi P, yang dianggap merupakan

neurotransmiter peptida endogen utama rangsangan nyeri serabut C dari perifer ke

susunan saraf pusat. Sehingga pada awalnya kapsaisin menyebabkan rasa terbakar

Universitas Sumatera Utara


dan hiperalgesia terhadap panas atau tekanan. Setelah beberapa hari hingga

seminggu, efek ini digantikan oleh hipoalgesia. Analgesia baru timbul saat terjadi

deplesi substansi P.2,5-7,21

B. Sistemik

1. Analgesik

a. Antiinflamasi nonsteroid (AINS)

Asetaminofen (tylenol), aspirin dan antiinflamasi nonsteroid lain umum

digunakan untuk postherpetic neuralgia. AINS berguna untuk potensiasi efek

analgetik opioid pada nyeri parah.2

b. Opioid

Opioid memperbaiki nyeri melalui aktivasi reseptor spesifik di system saraf

pusat dan perifer. Karena efek adiksinya, opioid hanya diindikasikan untuk

penggunaan jangka pendek.2,3

2. Agen neuroaktif

a. Psikotropik

Antidepresan trisiklik (AT) merupakan terapi yang penting pada Postherpetic

Neuralgia. Mekanisme kerja AT dalam menghilangkan nyeri adalah dengan

memblokade reuptake neurotransmitter norepinefrin dan serotonin, serta

meningkatkan inhibisi neuron spinalis yang terlibat dalam persepsi nyeri seperti

terbakar dan nyeri tajam atau menusuk.2,5 AT yang banyak digunakan pada

Universitas Sumatera Utara


Postherpetic Neuralgia adalah amitriptilin (elavil), nortriptilin (pamelor), imipramin

(tofranil), desipramin (norpramin), dan maprotilin.2,6,7,9,10,21

b. Antikonvulsan

Antikonvulsan dapat mengurangi nyeri tajam atau menusuk pada Postherpetic

Neuralgia. Pada studi buta ganda dengan kontrol, karbamazepin mengurangi nyeri

tajam atau menusuk namun tidak efektik untuk nyeri yang terus-menerus.2,5

Mekanisme kerja antikonvulsan dalam menghilangkan nyeri adalah dengan

memblokade kanal natrium dan berperan sebagai membran stabilizing agent sehingga

mencegah impuls ektopik yang dapat mencetuskan nyeri. Antikonvulsan yang sering

yang digunakan adalah karbamazepin (tegretol), fenitoin (dilantin), asam valproat

(depakene), dan gabapentin (neurontin).2,7 Dosis yang dibutuhkan untuk analgesia

lebih rendah dari dosis untuk epilepsi. Pemberian gabapentin untuk terapi post

herpetic neuralgia dimulai dengan dosis rendah, lalu dinaikkan bertahap hingga efek

yang diinginkan tercapai atau timbul efek samping yang serius.2

c. Neuroleptik

Golongan fenotiazin seperti flupenazin (prolixin), perpenazin (trilafon), dan

tioridazin, telah lama digunakan untuk terapi postherpetic neuralgia dalam kombinasi

dengan AT.2

d. Metikobal

Metikobal adalah derivate vitamin B12 yang bersifat koenzim, menjadi aktif di

tubuh, mempunyai afinitas yang besar terhadap jaringan saraf, dan dilaporkan efektif

Universitas Sumatera Utara


untuk neuralgia dan neuritis perifer. Selain itu metikobal dianggap mempunyai efek

bila disuntikkan pada area saraf setempat, tetapi tidak efektif bila digunakan secara

sistemik. Bersama dengan vitamin B1 dan B6 sering dipakai untuk membantu

regenerasi saraf.2,5

II. Nonfarmakologi

A. Pendekatan neuroaugmentif

Beberapa pendekatan neuroaugmentif yang banyak digunakan antara lain

counterirritation, transcutaneous, electrical nerve stimulation (TENS), akupuntur

dan stimulasi deep brain.2,7,9,12,14 Penggunaan tehnik lain, seperti aplikasi ultrasound

pada dermatom yang terkena dan stimuli korda dorsalis dikatakan tidak bermanfaat.2

1. Counterirritation

Counterirritation (menggosok area yang terkena) dilaporkan dapat

memperbaiki post herpetic neuralgia dengan meningkatkan inhibisi normal serabut

saraf kecil di medulla spinalis.2

2. Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)

TENS dapat memberikan perbaikan nyeri sebagian hingga sempurna pada

beberapa pasien post herpetic neuralgia.2,7,9,12,14

3. Stimulasi deep brain

Stimulasi di nucleus ventrobasal thalamus pada pasien Postherpetic Neuralgia

memberikan perbaikan nyeri yang bermakna dan berlangsung selama 7 hingga 17

bulan.2

Universitas Sumatera Utara


4. Akupuntur

Akupuntur tidak efektif untuk postherpetic neuralgia.2

5. Low Intensity Laser Therapy (LILT)

Beberapa bukti menunjukkan LILT mempunyai efek terhadap sintesis,

pelepasan, metabolisme, berbagai bahan neurokimia antara lain serotonin dan

asetilkolin. LILT yang umum digunakan ialah laser HeNe.2

B. Prosedur neurosurgikal

Prosedur neurosurgikal merupakan pilihan terakhir untuk postherpetic

neuralgia yang refrakter.2,5 Neuroktomi, rizotomi, avulasi saraf, simpatektomi,

trakotomi trigeminal pernah disarankan pada beberapa tahun yang lalu, namun tidak

satupun yang menguntungkan untuk pengobatan postherpetic neuralgia.2

C. Terapi Psikososial

Manajemen stress dan berbagai tehnik kognitif-perilaku, termasuk latihan

relaksasi, biofeedback dan hypnosis dapat bermanfaat sebagai terapi penunjang.

Pasien perlu diberi penjelasan mengenai perjalanan penyakitnya, dibuat strategi untuk

mengikatkan kepatuhan pasien dan mempercepat kembali ke aktivitas sebelum

sakit.2,7

D. Terapi Penunjang

Alodinia taktil dapat diatasi dengan penggunaan artificial skin seperti

kolodion spray atau penggunaan pakaian dengan bahan serat natural. Aplikasi cold

packs juga bermanfaat sebagai terapi penunjang.2

Universitas Sumatera Utara