PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN DANA ALOKASI

KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2007 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa upaya peningkatan aksesibilitas dan peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional saat ini, sehingga perlu mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan tindakan nyata dalam mewujudkan peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas; b. bahwa untuk membantu Pemerintah Kabupaten/Kota mewujudkan peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas, Pemerintah mengalokasikan Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan Tahun 2007; c. bahwa dalam rangka pemanfaatan Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan Tahun 2007, perlu menetapkan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia; 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); 4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4662);

Mengingat

:

1

6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 203, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4022); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005, tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575; 9. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006; 10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 120, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4330); 11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2007 Pasal 1 Dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan tahun anggaran 2007 dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan ini. Pasal 2 Kabupaten/Kota penerima dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan tahun anggaran 2007, sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Peraturan ini. Pasal 3 Pelaksanaan dana alokasi khusus bidang pendidikan tahun anggaran 2007 mentaati kesepakatan bersama pembiayaan pendidikan antara Menteri Pendidikan Nasional dengan para Gubernur dan Bupati/Walikota sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini.

2

Pasal 4 Tata cara pelaksanaan dana alokasi khusus bidang pendidikan tahun anggaran 2007 akan diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Januari 2007 MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, TTD BAMBANG SUDIBYO

3

khususnya dalam upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat. KETENTUAN UMUM Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional ini yang dimaksud dengan Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang menjadi urusan daerah dan merupakan prioritas nasional. dikerjakan.000. KEBIJAKAN PENGGUNAAN DAK MELALUI PEMBERIAN BLOCK GRANT/SUBSIDI KE SEKOLAH A. MI/Salafiyah termasuk sekolah-sekolah setara SD yang berbasis keagamaan pelaksana program wajib belajar. Penjelasan Pasal 1 angka 1. berbunyi : ”Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah dilakukan dengan cara swakelola”.000. Bagian Keempat. Alokasi DAK bidang pendidikan untuk Tahun Anggaran 2007 ditetapkan sebesar Rp. baik negeri maupun swasta. Bab XIII. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. II. Landasan Hukum: 1.195.LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2007 TANGGAL 29 JANUARI 2007 PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2007 I. DAK bidang pendidikan dialokasikan untuk menunjang pelaksanaan Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 (sembilan) tahun yang bermutu. Pasal 6 huruf b.(lima triliun seratus sembilan puluh lima milyar dua ratus sembilan puluh juta rupiah). 5.. b. dan diawasi sendiri”.” Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pe-merintah yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006: a. Pasal 39 ayat (1). dan (b) peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar. berbunyi : ”Yang dimaksud dengan dilaksanakan secara swakelola adalah: 2. Kegiatannya diarahkan untuk: (a) rehabilitasi gedung/ruang kelas SD/SDLB. c. berbunyi : ”Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan. Pasal 49 ayat 3.290. berbunyi: ”Dana pendidikan dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk satuan pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan per-aturan perundang-undangan yang berlaku. 2 .

buku pelajaran dan peralatan peraga pendidikan. terutama untuk daerah pedesaan.c berbunyi: ”Swakelola oleh penerima hibah adalah pekerjaan yang perencanaan. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Ren-cana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004 – 2009: a. dan akuntabel. d. Tujuan dan Manfaat: Penetapan kebijakan penggunaan DAK melalui subsidi ke sekolah didasarkan pula atas pertimbangan adanya manfaat-manfaat sebagai berikut: 1.1. Dilaksanakan sendiri secara langsung oleh instansi penanggung jawab anggaran. DAK dapat mewujudkan pengelolaan pendidikan yang transparan. DAK dapat mewujudkan pelibatan masyarakat secara aktif dalam kegiatan pen-didikan. 3). Bagian IV Bab 27 huruf D Program-Program Pembangunan Nomor 2.” B.” 3. 3 . DAK dapat menggerakkan roda perekonomian mas-yarakat bawah melalui jalur pendidikan. Bagian IV Bab 27. laboratorium. 2). dan pengawasannya di-lakukan oleh penerima hibah (kelompok masyarakat. Institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggung jawab anggaran. tepat lokasi.1). misalnya: perguruan tinggi negeri atau lembaga penelitian/ilmiah pemerintah. Bab III Pelaksanaan pengada-an Barang/Jasa Dengan Swakelola. angka 2. berbunyi: ”Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas ter-masuk pembangunan unit sekolah baru (USB).” b. LSM. serta penyediaan biaya operasional pendidikan secara memadai. profesional. per-pustakaan. DAK dapat mendorong adanya pengawasan lang-sung dari masyarakat. A. Kelompok masyarakat penerima hibah dari penanggung jawab anggaran”. penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat serta dalam peningkatan mutu layanan pendidikan yang meliputi perencanaan. disertai rehabilitasi dan re-vitalisasi sarana dan prasarana yang rusak termasuk yang berada di wilayah konflik dan bencana alam. dan evaluasi program pendidikan. 2. Ketentuan Umum. pe-laksanaan. ruang kelas baru (RKB). komite sekolah/-pendidikan. 4. lembaga pendidikan swasta/-lembaga penelitian/ilmiah non badan usaha dan lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah) dengan sasaran ditentukan oleh instansi pemberi hibah. yang disertai dengan penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan secara lebih merata. wilayah terpencil dan kepulauan.C Arah Kebijakan Nomor 19 berbunyi: ”Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan termasuk dalam pembiayaan pendidikan. 3. Lampiran I Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003. bermutu. dan/atau subsidi/hibah dalam bentuk block grant atau imbal swadaya bagi satuan pendidikan dasar untuk meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. pengawasan.

ditetapkan dengan mem-perhatikan peraturan per-undangundangan dan karakteristik daerah. daerah yang memiliki pulau-pulau kecil terdepan. karakteristik wilayah: daerah pesisir dan kepulauan. KRITERIA PENGALOKASIAN DAK 2007 Kriteria pengalokasian DAK 2007 meliputi: A. b. ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. dan g. C. d. IK W ) T id a k T id a k L a y a k Ya In d e k s F is k a l d a n W ila y a h (IF W ) = f (IF N .B T ) A lo k a s i D A K D a e ra h L a ya k (K r ite r ia K h u s u s ) K a ra k te ris tik W ila y a h (IK W ) In d e k s F is k a l d a n W ila y a h (IF W ) = f (IF N . yaitu jumlah SD/SDLB dan MI yang mengalami kerusakan berat dan sedang. 2. c. daerah pasca konflik.III. B. e. prioritas kedua adalah hasil Kesepakatan Pe-merintah dan DPR menambah karakteristik wilayah. daerah rawan banjir dan longsor. dan daerah pariwisata. yaitu: a. daerah yang masuk kategori ketahanan pangan. daerah perbatasan dengan negara lain. Kriteria umum dihitung dengan melihat kemampuan APBD untuk kebutuhan-kebutuhan dalam rangka pembangunan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi belanja pegawai. daerah yang menampung transmigrasi. daerah penerima pengungsi. f. yaitu: 1. kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Daerah Tertinggal/Terpencil. daerah yang alokasi dana alokasi umumnya dalam tahun 2007 tidak mengalami kenaikan. daerah rawan pangan/kekeringan. b. prioritas kesatu adalah: a. Kriteria teknis. Kriteria umum. Gambar 1 B A G A N P E N G A L O K A S IA N D A N A A L O K A S I K H U S U S P r o s e s P e n e n tu a n D a e r a h (K r ite r ia U m u m ) K em am puan K euangan (IF N < 1 ) P r o s e s P e n e n tu a n B e s a r a n A lo k a s i Ya (K r ite r ia T e k n is ) B o b o t T e k n is (B T ) = IT * IK K (K r ite r ia K h u s u s ) O ts u s P a p u a D a e ra h T e rtin g g a l Ya B o b o t D A K = f(B D . Kriteria khusus. IK W ) B o b o t D a e r a h (B D ) = IF W * IK K IF W > 1 4 .

daerah tertinggal/terpencil. dan (b) pengadaan sarana prasarana pe-nunjang pencapaian mutu pendidikan di sekolah dasar. 5. mendorong penyediaan lapangan kerja. ARAH KEBIJAKAN DAK DAN KEBIJAKAN DAK BIDANG PENDIDIKAN TAHUN 2007 A. mengurangi jumlah penduduk miskin. menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana di wilayah pesisir dan kepulauan. 2. serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan selsel pertumbuhan di daerah. Kebijakan DAK bidang pendidikan tahun 2007 merupakan kelanjutan yang sistematis dari ke-bijakan tahun se-belumnya. Kegiatannya diarahkan pada: (a) rehabilitasi gedung/ruang kelas SD/SDLB. Kebijakan DAK Bidang Pendidikan Tahun 2007 1. menghindari tumpang tindih kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran kementerian/lembaga. Kategori I: Rehabilitasi dan Peningkatan Mutu sebagaimana dimaksud pada angka 3 di-peruntukkan bagi Ka-bupaten/Kota yang masih memerlukan program rehabilitasi sekolah. B. yaitu: (a) Kategori I: Rehabilitasi dan Peningkatan Mutu. Kegiatan DAK bidang pendidikan tahun 2007 dibagi menjadi dua kategori. 5. MI/Salafiyah termasuk sekolah-sekolah setara SD yang berbasis keagamaan pelaksana pro-gram wajib belajar. 2. dan (b) Kategori II: Peningkatan Mutu. 4.IV. diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah dengan kemampuan keuangan di-bawah rata-rata nasional. dalam rangka mendanai kegiatan penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar yang sudah merupakan urusan daerah. serta termasuk kategori daerah ketahanan pangan. 3. baik negeri maupun swasta. Arah Kebijakan DAK Tahun 2007 Arah kebijakan DAK Tahun 2007 adalah sebagai berikut : 1. 3. DAK bidang pendidikan dialokasikan untuk me-nunjang program wajib belajar pendidikan dasar 9 (sembilan) tahun yang bermutu. perbatasan darat dengan negara lain. 5 . mengalihkan kegiatan-kegiatan yang didanai dari dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang telah menjadi urusan daerah secara bertahap ke DAK. Kategori II: Peningkatan Mutu sebagaimana dimaksud pada angka 3 di-peruntukkan bagi Ka-bupaten/Kota atau sekolah yang sudah tidak memerlukan lagi program rehabilitasi sekolah. 4.

Pengalokasian dana rehabilitasi fisik per sekolah dilakukan ber-dasarkan indek ke-mahalan konstruksi (IKK) Kabupaten/Kota. Kategori I: Rehabilitasi dan Peningkatan Mutu 1. Kegiatannya meliputi 2 (dua) komponen: a. Pelaksanaan DAK Pelaksanaan kegiatan yang dibiayai DAK bidang pendidikan harus selesai paling lambat pada tanggal 31 Desember 2007. dan sarana multimedia. DAK bidang pendidikan dilaksanakan secara swakelola dengan melibatkan partisipasi komite sekolah dan mas-yarakat di sekitar sekolah sebagai bagian integral dari sistem manajemen berbasis sekolah.q Departemen Keuangan) ke Rekening Kas Umum Daerah (Kabupaten/-Kota). merehabilitasi fisik sekolah mencakup: rehabilitasi gedung sekolah/ruang kelas. buku referensi.6. B. Pengadaan peralatan pendidikan dan bahan ajar seyogianya me-rupakan alat dan bahan ajar yang telah mendapat pengesahan dari pemerintah. Penggunaan DAK bidang pendidikan kategori I diperuntukkan bagi Kabupaten/Kota yang masih memerlukan program rehabilitasi sekolah. 7. mengadakan sarana pendidikan dan sarana perpustakaan mencakup: alat peraga pendidikan. pengadaan/rehabilitasi sumber dan sanitasi air bersih serta kamar mandi dan WC. 6 . Mekanisme dan tata cara mengenai penyaluran DAK bidang pendidikan diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan. VI. 8. Penyaluran Dana DAK disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara (Pemerintah Pusat c. PENGGUNAAN DAK BIDANG PENDIDIKAN A. pengadaan/perbaikan meubiler ruang kelas. lemari perpustakaan dan pembangunan/rehabilitasi rumah dinas penjaga/-guru/kepala sekolah. b. Hasil dari kegiatan yang didanai DAK bidang pendidikan harus sudah dapat di-manfaatkan pada akhir Tahun Anggaran 2007. Kewajiban pajak atas penggunaan DAK diselesaikan oleh sekolah penerima DAK sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. buku pengayaan. V. Penyaluran dana diberikan secara penuh/utuh tanpa potongan pajak baik dari kas umum negara ke kas umum daerah maupun dari kas umum daerah ke rekening sekolah. PENYALURAN DAN PELAKSANAAN DAK BIDANG PENDIDIKAN A.

Kegiatannya meliputi 2 (dua) komponen: a. merehabilitasi/membangun ruang perpustakaan dan mengadakan meubiler perpustakaan. pelatihan. buku pengayaan. 5. Sekolah penerima DAK diwajibkan melaksanakan se-mua komponen kegiatan di atas sebagai satu kesatuan yang utuh.000. Proporsi dana antara komponen a (rehabilitasi fisik sekolah) dan komponen b (Pengadaan sarana pendidikan dan sarana perpustakaan) ditetapkan 60 : 40. pengadaan sarana pen-didikan dan sarana perpustakaan mencakup: pengadaan alat peraga pendidikan.000. alokasi dana per sekolah disesuaikan dengan IKK kabupaten/kota. Dalam memenuhi butir 4. alokasi dana per sekolah disesuaikan dengan IKK kabupaten/kota. yaitu : (1) DAK (APBN) sebesar 90% dari alokasi sekolah. 3. C. 4. B. buku referensi. yaitu : (1) DAK (APBN) sebesar 90% dari alokasi sekolah. Hal ini berlaku bagi Kabupaten/-Kota dengan indek kemahalan konstruksi (IKK) = 1 dimana alokasi dana per sekolahnya ditetapkan sebesar Rp. Khusus untuk komponen a (rehabilitasi fisik sekolah). penelitian. lain-lain biaya umum sejenis. (2) Kabupaten/kota (APBD) sebesar minimal 10% dari alokasi sekolah. Kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dibiayai DAK Kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dibiayai DAK bidang pendidikan meliputi: 1. 4. 6. Penggunaan DAK bidang pendidikan kategori II diperuntukkan bagi Kabupaten/Kota atau sekolah yang sudah tidak memerlukan lagi program rehabilitasi sekolah. Hal ini berlaku bagi Kabupaten/Kota dengan IKK = 1.000. Kabupaten/Kota sekaligus mentaati kesepakatan ber-sama pembiayaan pen-didikan antara Menteri Pendidikan Nasional dengan para Gubernur dan Bupati/Walikota sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Per-aturan Menteri ini.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Kategori II: Peningkatan Mutu 1. Khusus untuk komponen a (merehabilitasi/membangun ruang perpustakaan dan pengadaan meubiler). 5.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). b. 3. 3. 250. 2. penyiapan kegiatan fisik. 250. 2. administrasi kegiatan. perjalanan pegawai daerah.2. Pendanaan komponen ke-giatan pada poin 3 di atas berasal dari sumber. 4.000. dan sarana multimedia dan alat elektronika. (2) Kabupaten/kota (APBD) sebesar minimal 10% dari alokasi sekolah. Sekolah penerima DAK diwajibkan melaksanakan semua komponen kegiatan di atas sebagai satu ke-satuan yang utuh. 7 . Pendanaan komponen kegiatan pada poin 3 di atas berasal dari sumber. Alokasi dana per sekolah ditetapkan sebesar Rp.

2. kontribusi dana pendamping dapat ditingkatkan dari berbagai sumber (APBD provinsi.Kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dibiayai DAK tersebut di atas. Dana pendamping wajib dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2007 dan disisihkan dalam sebuah rekening escrow di Bank. Pemerintah Provinsi 1. dan 2006) serta menyusun perencanaan alokasi biaya untuk menyelesaikan sisa gedung sekolah/ruang kelas SD/SDLB dan MI yang belum dapat diselesaikan untuk tahun 2007 sehingga penyelesaian masalah gedung sekolah/ruang kelas yang rusak benar-benar telah dapat dituntaskan. Melaksanakan pengawasan. dan monitoring serta penilaian terhadap pe-laksanaan DAK di kabupaten/kota. Pemerintah Kabupaten/Kota 1. pengawasan dan biaya operasional lainnya yang tidak diperbolehkan dibiayai oleh DAK. 4. 8 . APBD Kabupaten/-Kota dan masyarakat industri). sosialisasi. Rencana Definitif memuat rincian kegiatan yang akan dibiayai DAK sesuai dengan penggunaan yang telah ditetapkan serta rencana biaya yang bersumber dari DAK dan dana pendamping. Menetapkan nama-nama sekolah/madrasah penerima DAK tahun 2007 dalam Surat Keputusan Bupati/-Walikota. Direktur Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. 3. VII. Melaksanakan pemetaan sekolah (school mapping) terhadap se-baran lokasi dan alokasi setiap kabupaten/kota. Pemerintah Kabupaten/Kota wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10% dari nilai DAK bidang pendidikan. u. pembiayaannya di-bebankan kepada biaya umum yang disediakan melalui APBD.p. maka pencairan dana tidak dapat dilakukan. Melaporkan hasil penilaian monitoring dan evaluasi kepada Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. 2004. 3. sekurangkurangnya 3 % (tiga persen) dari nilai DAK bidang pendidikan. B. Mengkoordinasikan sosialisasi pelaksanaan DAK di provinsi bagi kabupaten/kota sebagai tindak lanjut sosialisasi di tingkat pusat dengan mengundang nara sumber dari institusi yang relevan. 2005. Melakukan evaluasi pelaksanaan DAK selama 4 (empat) tahun berjalan (2003. Besaran dana pendamping dan biaya umum harus dicantumkan dalam Rencana Definitif dan DIPDA/DASK. 2. supervisi. Pemerintah Kabupaten/Kota juga diwajibkan me-nyediakan dana untuk biaya umum seperti perencanaan. 6. 5. Bagi provinsi yang mampu. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB A. Jika pemerintah kabupaten/kota terbukti tidak menyediakan dana pendamping dimaksud. 4.

D. mensosialisasikan pelaksanaan program DAK kepada Kepala Sekolah/Madrasah dan Komite Sekolah/Majelis Madrasah penerima DAK. mengusulkan nama-nama sekolah/madrasah calon penerima DAK tahun 2007 kepada Bupati/Walikota. (c) sebagai pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas 9 . E. 4. 5. Kepala Sekolah/Madrasah Kepala Sekolah/Madrasah ber-tanggung jawab terhadap pe-laksanaan program Dana Alokasi Khusus di tingkat sekolah. dan staf teknis yang kompeten untuk melakukan survey dan pemetaan sekolah/madrasah yang mengalami kerusakan. dibantu oleh tenaga sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan bangunan (bila ada). C. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan DAK di Kabupaten/Kota. baik yang berwujud finansial. 3. Seleksi sekolah penerima DAK diutamakan yang mengalami kerusakan berat dan terletak di wilayah tertinggal/terpencil. membuat rencana alokasi jumlah sekolah/madrasah yang akan menerima DAK per kecamatan. 2005. Menyampaikan laporan triwulanan yang memuat laporan pelaksanaan kegiatan dan penggunaan dana DAK. pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggara-an pendidikan. yaitu : (a) sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan. (b) sebagai pendukung (supporting agency). 7. 2. Dalam menjalankan tugasnya kepala sekolah dibantu oleh komite sekolah/majelis madrasah. membentuk tim teknis yang terdiri dari unsur subdin sarana pendidikan/subdin TK dan SD Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sebagai leading sector. Melakukan evaluasi pe-laksanaan DAK selama 4 (empat) tahun berjalan (2003. dan 2006) serta menyusun perencanaan alokasi biaya untuk menyelesaikan sisa gedung sekolah/ruang kelas SD/SDLB dan MI yang belum dapat diselesaikan untuk tahun 2007 sehingga penyelesaian masalah gedung sekolah/ruang kelas yang rusak benar-benar telah dapat dituntaskan. selanjutnya melakukan seleksi sekolah-sekolah calon penerima DAK. Dinas Pendidikan dan Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan dan Kantor Departemen Agama bersama dengan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota mempunyai tugas utama sebagai berikut: 1. 6. Komite Sekolah/Majelis Madrasah Komite sekolah/majelis madrasah melakukan tugas dan fungsi sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.5. 2004. memantau/mengawasi pelaksanaan program DAK.

Sanksi Kepada Kab/Kota: 1. pengelola DAK kabupaten/kota yang me-lakukan penyimpangan dalam penyaluran dan penggunaan DAK akan ditindak menurut per-aturan perundang-undangan yang berlaku. Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah dengan tembusan kepada: 1. Selanjutnya Bupati/Walikota menyampaikan laporan tri-wulan kepada Menteri Pendidikan Nasional c. Pengawasan.p. masyarakat) yang melakukan tindakan penyalahgunaan dan/atau penyimpangan pelaksanaan kegiatan dan administrasi keuangan sebagaimana ter-tuang dalam petunjuk teknis ini akan ditindak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyaluran DAK dapat ditunda apabila daerah tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada penjelasan di atas.q. 10 . 3. Gubernur u. Sanksi Setiap orang atau se-kelompok orang di setiap tingkat pelaksana (kabupaten/kota. 2. Sanksi Kepada Pengelola/Kepala Sekolah/Masyarakat: 1. Pelaporan. sanksi hukum oleh aparat penegak hukum diberikan bila pengelola/kepala sekolah/komite sekolah/masyarakat melakukan pelanggaran hukum. VIII. Sekretaris Jenderal Depdiknas u. Direktur Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. sekolah. dan Sanksi A. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi setempat.p. 2. sanksi administratif diberikan bila pengelola/-kepala sekolah melakukan pelanggaran administrasi. Pengawasan Pengawasan fungsional/-pemeriksaan tentang pe-laksanaan kegiatan dan administrasi keuangan DAK bidang pendidikan di-laksanakan oleh Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Pengawasan Daerah (BAWASDA) atau pengawas fungsional intern Pemerintah Daerah. Kepala Dinas Pendidikan/ Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota.p Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri dan Kepala Biro Keuangan Depdiknas. B. Pelaporan Kepala Sekolah/Madrasah menyampaikan laporan pelaksanaan dan penggunaan DAK kepada Bupati/Walikota u. C.penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. dan (d) sebagai mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat.

3.2. Direktur Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. TTD BAMBANG SUDIBYO 11 .q. IX. KETENTUAN LAIN-LAIN Dalam hal terjadi bencana alam. pemerintah kabupaten/kota mengajukan usulan perubahan kegiatan kepada Menteri Pendidikan Nasional dengan tembusan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah c. Mekanisme pengajuan usulan ke-giatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. pemerintah kabupaten/-kota yang melakukan kegiatannya tidak berpedoman pada pe-tunjuk teknis ini. Pemerintah kabupaten/kota dapat mengusulkan kegiatan-kegiatan di-luar yang telah diatur dalam Petunjuk Teknis. maka pada tahun berikutnya akan dipertimbangkan untuk dikurangi alokasi DAK nya. persetujuan Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Keuangan disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. 2.q. berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah c. MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL. Direktur Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Menteri Pendidikan Nasional memberikan surat rekomendasi kepada Menteri Keuangan untuk melakukan perubahan kegiatan tersebut.

169 8. Aceh Utara Kab.027 11.981 11. Miliar) 225.822 14.121 23.009 10. Aceh Besar Kab.333 11.804 10.286 7. Langkat Kab.279 12 . Aceh Barat Daya Kab. Bireuen Kab. Dairi Kab.212 11. Aceh Barat Kab. Aceh Tamiang Kab.822 9.718 11.048 18.321 12. Deli Serdang Kab. Aceh Timur Kab. Nagan Raya Kab.371 9. Aceh Tenggara Kab. Aceh Selatan Kab.LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2007 TANGGAL 29 JANUARI 2007 KABUPATEN/KOTA PENERIMA DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2007 Kode I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 II 22 23 24 25 26 27 28 29 Nama Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kab.668 16. Aceh Singkil Kab. Simeuleu Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kab. Aceh Pidie Kab. Mandailing Natal Kab.648 10.295 2.017 314. Aceh Jaya Kab.931 10. Labuhan Batu Kab. Nias Bidang Pendidikan (Rp.533 11.874 12.844 13.933 12. Aceh Tengah Kab.515 9.773 11. Bener Meriah Provinsi Sumatera Utara Kab. Gayo Lues Kab. Asahan Kab.164 8.764 21.996 9.587 13. Tanah Karo Kab.

Padang Pariaman Kab.323 10. Kuantan Singingi 23. Indragiri Hilir Kab.076 11. Solok Selatan Provinsi Riau Kab.213 15. Tapanuli Selatan Kab.257 9. Kepulauan Mentawai Kab.220 12.346 13. Tapanuli Tengah Kab. Bengkalis Kab.293 8.262 12. Serdang Berdagai Kab. Limapuluh Kota Kab. Indragiri Hulu Kab. Toba Samosir Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kab.335 10.663 2.372 9. Pesisir Selatan Kab. Pakpak Bharat Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Panjang Kota Padang Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok Kota Pariaman Kab.444 11.015 13.308 50.427 2.443 219.107 12.878 15. Nias Selatan Kab.513 13 .282 9. Solok Kab.181 9.779 15.358 8.121 2.014 10. Dharmasraya Kab.372 8.431 10.163 16.027 9.076 8.534 8.412 13.141 14. Agam Kab.407 2. Sawahlunto Sijunjung Kab. Kampar Kab.769 2.30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 III 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 IV 66 67 68 69 70 Kab.487 10.508 10. Humbang Hasundutan Kab.521 13.565 15.509 10. Tapanuli Utara Kab. Pasaman Barat Kab. Samosir Provinsi Sumatera Barat Kab.633 13.955 10. Pasaman Kab. Simalungun Kab.185 9.

569 7.320 9.145 14.509 9.943 2.765 12.162 14. OKU Selatan Provinsi Bangka Belitung Kab. Musi Rawas Kab.693 9.333 13. Bungo Kab. Belitung Kota Pangkal Pinang 2.545 7.842 8. Musi Banyuasin Kab.559 2.455 10. Ogan Komering Ulu Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau Kota Prabumulih Kab. Rokan Hilir Kab. Batanghari Kab. Muara Enim Kab. Tanjung Jabung Barat Kab.296 8. Merangin Kab.749 9. Kerinci Kab.121 2. Banyuasin Kab.241 2. Lingga Provinsi Jambi Kab.429 95. Lahat Kab.787 9.920 13.936 14 . Ogan Komering Ilir Kab. OKU Timur Kab.234 11.562 14. Rokan Hulu Kab.913 10. Kepulauan Riau Kab.173 2. Sarolangun Kab.975 9. Bangka Kab.282 9.747 10.883 7.224 10.911 2.648 15. Tanjung Jabung Timur Kab.642 15. Natuna Kab.077 2.305 2.251 15.449 147.335 35. Tebo Kota Jambi Provinsi Sumatera Selatan Kab. Muaro Jambi Kab.433 8.289 10. Ogan Ilir Kab.710 77.793 2.71 72 73 74 75 76 V 77 78 79 80 81 82 VI 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 VII 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 VIII 107 108 109 Kab. Siak Kota Dumai Kota Pekanbaru Provinsi Riau Kepulauan Kab. Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kab.644 10. Pelalawan Kab.

Cianjur Kab. Lampung Tengah Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab. Cirebon Kab.519 2. Garut Kab. Rejang Lebong Kota Bengkulu Kab.567 19. Majalengka Kab. Seluma Kab.803 18.573 15. Ciamis Kab.539 11.868 7. Bangka Barat Kab. Kepahiang Provinsi Lampung Kab.490 11.299 3.922 11. Subang Kab.013 10.110 111 112 113 IX 114 115 116 117 118 119 120 121 122 X 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 XI 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 Kab.930 2. Lampung Barat Kab.293 18. Tasikmalaya Kota Bandung 9. Bandung Kab.683 14.050 31.271 12. Lampung Selatan Kab. Way Kanan Kota Bandar Lampung Kota Metro Provinsi Jawa Barat Kab.094 16.616 15.112 11. Kuningan Kab. Kaur Kab.585 9. Lampung Utara Kab. Tulang Bawang Kab.010 9. Sukabumi Kab.947 323.834 2.672 2. Lebong Kab. Bengkulu Selatan Kab. Bangka Tengah Kab.322 15. Purwakarta Kab.488 15 . Sumedang Kab.726 149.485 11.193 33.541 10. Tanggamus Kab. Bengkulu Utara Kab.388 21. Karawang Kab.654 28. Belitung Timur Provinsi Bengkulu Kab.753 32.417 2.632 20. Indramayu Kab. Lampung Timur Kab.058 22. Bangka Selatan Kab.105 12.913 12.653 3.079 114.409 32.386 15.977 10.200 21. Mukomuko Kab.

990 15. Pandeglang Kab.791 2.796 21.839 18.961 10. Tegal Kab. Blora Kab. Semarang Kab.961 21.184 20. Demak Kab. Grobogan Kab.785 15. Cilacap Kab.705 16 .375 8.150 151 152 153 154 155 156 157 XII 158 159 160 161 162 163 XIII 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar Provinsi Banten Kab.659 2. Pemalang Kab. Purbalingga Kab.891 26. Pekalongan Kab. Magelang Kab. Sukoharjo Kab.433 15. Boyolali Kab.403 90.762 18.297 9.303 482. Kudus Kab. Karanganyar Kab.732 18.497 9.761 20. Kendal Kab.870 17.271 2. Pati Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Tangerang Provinsi Jawa Tengah Kab.519 17. Rembang Kab.682 19.579 14. Lebak Kab. Batang Kab.721 2. Kebumen Kab.797 12.270 18. Banyumas Kab. Klaten Kab. Serang Kab. Jepara Kab. Brebes Kab.180 13.997 2.171 15.394 2. Banjarnegara Kab.642 18.939 25.024 2.301 2. Purworejo Kab.319 16.543 2.672 16.663 16.659 15.476 16. Temanggung 2. Sragen Kab.115 7.

Gresik Kab.882 17.931 2.559 27.870 508.709 24.448 10. Sidoarjo Kab.137 17. Sleman Kota Yogyakarta Provinsi Jawa Timur Kab. Pasuruan Kab.078 16.048 10.955 2. Tuban 20.267 9. Lumajang Kab.484 12.191 192 193 194 195 196 197 198 XIV 199 200 201 202 203 XV 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 Kab. Probolinggo Kab.758 10.627 2.598 9.982 16.721 2. Bangkalan Kab. Sumenep Kab.444 13. Blitar Kab. Bantul Kab.896 19. Kulon Progo Kab. Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Provinsi DI Yogyakarta Kab.205 16.637 17 . Sampang Kab. Nganjuk Kab.665 2. Bondowoso Kab.996 17. Mojokerto Kab.798 7.724 18.103 15.820 2. Jember Kab. Bojonegoro Kab. Ngawi Kab. Magetan Kab.335 19. Situbondo Kab.963 2.173 29. Gunung Kidul Kab. Kediri Kab. Madiun Kab. Malang Kab. Pacitan Kab.354 19. Banyuwangi Kab.151 13. Pamekasan Kab. Ponorogo Kab. Lamongan Kab. Trenggalek Kab. Wonogiri Kab.646 16.778 16.080 13.469 8.020 18.505 15.340 26.289 2.514 24.427 58.273 2. Jombang Kab.

Melawi Provinsi Kalimantan Tengah Kab.199 9. Lamandau Kab. Sanggau Kab. Kotawaringin Timur Kota Palangkaraya Kab.738 9. Murung Raya Kab. Kapuas Hulu Kab.862 16.578 9. Sambas Kab.549 138.593 11. Sekadau Kab. Pulang Pisau Kab.460 7.574 10.753 13.044 8.260 13.245 7.923 8.291 9.770 14. Barito Timur Kab.306 10.616 12.947 161. Sukamara Kab.916 2. Bengkayang Kab. Sintang Kota Pontianak Kota Singkawang Kab.253 2.116 8. Katingan Kab.521 14.966 9. Kapuas Kab.860 12.713 9. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Provinsi Kalimantan Barat Kab.001 15. Banjar Kab.345 8. Gunung Mas Kab.138 16. Pontianak Kab. Ketapang Kab.964 13.465 16.230 11.232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 XVI 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 XVII 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 XVIII 268 269 270 271 Kab. Landak Kab.825 130. Barito Utara Kab.592 14. Kotawaringin Barat Kab.455 8.201 11. Barito Kuala Kab. Seruyan Provinsi Kalimantan Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah 17.735 13.190 18 .033 10.200 8.498 10. Barito Selatan Kab.274 15.089 13. Hulu Sungai Selatan Kab.362 14.

243 57.838 2.108 8.599 9.481 125.335 16. Tabalong Kab.249 17.272 273 274 275 276 277 278 279 280 XIX 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 XX 294 295 296 297 298 299 300 301 302 XXI 303 304 305 306 307 XXII 308 309 310 Kab. Buol 10.194 144.415 10.187 11.094 9. Boalemo Kab.896 15.483 10.486 2.365 2.256 64. Bone Bolango Provinsi Sulawesi Tengah Kab.067 13. Tapin Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Kab. Kutai Kab. Hulu Sungai Utara Kab.735 10.879 10.945 10.000 10. Gorontalo Kota Gorontalo Kab.134 19 . Sangihe Kota Bitung Kota Manado Kab.156 2. Kutai Barat Kab. Bolaang Mongondow Kab.846 10. Pohuwato Kab. Minahasa Kab.035 2.206 2.408 2.351 2. Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Timur Kab.117 20.805 12.781 18. Tanah Laut Kab. Bulungan Kab.433 11. Kutai Timur Kab.233 2. Kota Baru Kab.400 12. Balangan Kab. Nunukan Kab. Minahasa Selatan Kota Tomohon Kab. Banggai Kepulauan Kab. Pasir Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kab. Penajam Paser Utara Provinsi Sulawesi Utara Kab.327 2.296 2.492 2. Kepulauan Talaud Kab.728 19.270 14.647 10. Berau Kab.022 10.433 13. Malinau Kab.633 15. Minahasa Utara Provinsi Gorontalo Kab. Banggai Kab.

Tana Toraja Kab.024 15. Muna Kota Kendari 11.555 294. Barru Kab.573 10.865 13.119 59. Pangkajene Kepulauan Kab. Toli-Toli Kab.049 16. Bulukumba Kab.282 15. Polewali Mandar Kab. Buton Kab.558 14.087 12. Konawe Kab.703 11.883 16. Majene Kab.183 12. Bone Kab.750 11.909 11. Takalar Kab. Soppeng Kab.708 143. Parigi Moutong Kab. Bantaeng Kab.863 11.331 11. Morowali Kab.945 10.300 15. Tojo Una Una Provinsi Sulawesi Selatan Kab.501 19. Jeneponto Kab.159 10. Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Tenggara Kab.681 11.259 2. Luwu Timur Provinsi Sulawesi Barat Kab.955 10.455 10. Donggala Kab. Enrekang Kab.786 14. Kolaka Kab.630 20 . G o w a Kab.128 13. Pinrang Kab. Selayar Kab.311 312 313 314 315 316 317 XXIII 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 XXIV 341 342 343 344 345 XXV 346 347 348 349 350 Kab. Mamasa Kab. Luwu Utara Kab. Mamuju Kab. Luwu Kab.587 12. Sidenreng Rappang Kab.498 9.369 16.844 11.467 11.043 12.461 15. Sinjai Kab.484 9. M a r o s Kab.273 13.034 13.658 13.048 13.775 17. Wajo Kota Pare-pare Kota Makassar Kota Palopo Kab.168 16.692 13. Poso Kota Palu Kab.

Lombok Barat Kab.351 352 353 354 355 XXVI 356 357 358 359 360 361 362 363 364 XXVII 365 366 367 368 369 370 371 372 373 XXVIII 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 Kota Bau-bau Kab. Sumba Timur Kab. Kupang Kab.759 17.134 11.348 14.538 15.040 15.733 11.210 108.890 10. Ende Kab. Lembata Kab.344 11. Wakatobi Kab. Karangasem Kab.600 21 .146 14.357 9.950 12. Manggarai Barat 10. Bangli Kab. Kolaka Utara Provinsi Bali Kab.568 16.608 12. Klungkung Kab.239 20.566 14. Bima Kab.845 15. Badung Kab.052 15.042 14.126 13.105 218. Flores Timur Kab.721 12.302 12.192 15. Belu Kab.606 16.136 15. Ngada Kab. Tabanan Kota Denpasar Provinsi Nusa Tenggara Barat Kab. Gianyar Kab.847 2.218 11. Timor Tengah Utara Kota Kupang Kab.443 13. Rote Ndao Kab.405 9.318 127.246 13.228 10. Lombok Tengah Kab.738 16. Sumba Barat Kab. Jembrana Kab.041 12. Konawe Selatan Kab. Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kab. Lombok Timur Kab. Sikka Kab. Dompu Kab. Buleleng Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Manggarai Kab.124 19.134 10.577 13. Alor Kab. Sumbawa Kota Mataram Kota Bima Kab.543 12.820 19. Bombana Kab.105 12.

95 15.754 11. Merauke Kab.099 9. Yahukimo Kab. Puncak Jaya Kab.955 14. Mappi Kab. Biak Numfor Kab.683 12.332 10.455 13.302 15.368 8. Maluku Tengah Kab.416 9. Yapen Waropen Kota Jayapura Kab. Maluku Tenggara Kab.661 8. Mimika Kab. Halmahera Barat Kota Ternate Kab.301 11.784 10. Manokwari Kab. Halmahera Selatan Kab.886 10.32 12.464 20. Halmahera Tengah Kab.025 14.XXIX 390 391 392 393 394 395 396 397 XXX 398 399 400 401 402 403 404 405 XXXI 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 XXXII 426 427 428 Provinsi Maluku Kab.66 10.129 10.317 12. Supiori Provinsi Irian Jaya Barat Kab.396 237. Maluku Tenggara Barat Kab. Asmat Kab. Sarmi Kab. Boven Digoel Kab.835 10. Halmahera Utara Provinsi Papua Kab. Jayapura Kab.305 22 .645 10.188 10.727 11. Keerom Kab. Pulau Buru Kota Ambon Kab.321 9.502 11.543 12. Kepulauan Aru Provinsi Maluku Utara Kab. Seram Bagian Barat Kab.964 11.844 10. Sorong Kab.831 12.831 11.652 11.923 12. Halmahera Timur Kota Tidore Kepulauan Kab. Paniai Kab. Seram Bagian Timur Kab. Jayawijaya Kab. Pegunungan Bintang Kab. Tolikara Kab. Fak Fak 103.921 10.73 11. Waropen Kab. Kepulauan Sula Kab.287 16.520 90.022 11.314 97.477 9. Nabire Kab.704 12.

105 11.429 430 431 432 433 434 Kota Sorong Kab. Teluk Wondama Kab. TTD BAMBANG SUDIBYO 23 .920 9.990 5. Sorong Selatan Kab. Teluk Bintuni Kab.413 11.195.290 MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL.219 13. Kaimana TOTAL 10. Raja Ampat Kab.500 9.

Sukabumi Kota Sukabumi Kab. Bekasi 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 24 . Bandung Kota Bandung Kab. Indramayu Kab. Cianjur Kab. Purwakarta Kab.LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2007 TANGGAL 29 JANUARI 2007 KESEPAKATAN BERSAMA PEMBIAYAAN PENDIDIKAN ANTARA MENTERI. Ciamis Kab. Bogor Kota Bogor Kab. Subang Kab. GUBERNUR DAN BUPATI/WALIKOTA Daftar Pembagian Beban pendanaan Rehabilitasi antara Depdiknas. Cirebon Kota Cirebon Kab. Tasikmalaya Kota Tasikmalaya Kab. Garut Kab. Karawang Kab. Sumedang Kab. Pemerintah Provinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota NO PROVINSI/KAB/KOTA PEMERINTAH PUSAT % PEMERINTAH PROVINSI % 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% PEMERINTAH KAB/KOTA % 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 1 2 DKI JAKARTA JAWA BARAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Kab. Kuningan Kab. Majalengka Kab.

Kudus Kab. Wonogiri Kab. Banyumas Kab. Temanggung Kab. Grobogan Kab. Cilacap Kab. Batang Kab. Kendal Kab. Sragen Kab. Kebumen Kab. Jepara Kab. Pemalang 25 . Sukoharjo Kab. Blora Kab. Purbalingga Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab Pati Kab. Klaten Kab. Bonyolali Kab. Wonosobo Kab. Demak Kab.22 23 24 25 3 Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Depok Kota Banjar 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% JAWA TENGAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kab. Semarang Kab. Pekalongan Kab. Banjarnegara Kab. Karanganyer Kab. Magelang Kab.

Deli Serdang Kab. SUMATERA UTARA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kab. Pakpak Baharat Kab. Tapanuli Selatan Kab. Labuhan Batu Kab. Dairi Kab. Tegal Kab Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% DI YOGYAKARTA JAWA TIMUR NANGROE ACEH D. Mandailing Natal Kab.28 29 30 31 32 33 34 35 4 5 6 7 Kab. Langkat Kab. Nias Selatan Kota Medan Kota Binjai 26 . Simalungun Kab. Hmbang Hasundutan Kab. Asahan Kab. Toba Samosir Kab. Samosir Kab. Nias Kab. Tapanuli Utara Kab. Karo Kab. Serdang Bedagai Kab. Tapanuli Tengah Kab.

Solok Kab. Pasaman Barat Kab. 50 Kota Kab. Siantar Kota Tanjung Balai Kota Padang Sidimpuan Kota Sibolga 50% 50% 50% 50% 50% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 30% 30% 30% 30% 30% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% SUMATERA BARAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Kab.21 22 23 24 25 8 Kota Tebing Tinggi Kota P. Pesisir Selatan Kab. Padang Pariaman Kab. Agam Kab. Kep. Mentawai Kab. Dharmasraya Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Sawahlunto Kota Solok Kota Payakumbuh Kota Pariaman 9 RIAU 1 2 3 4 5 6 Pekanbaru Kampar Pelalawan Kuansing Inhu Inhil 27 . Pasaman Kab. Solok Selatan Kab. Tanah Datar Kab. Sawahlunto SJJ Kab.

Pulang Pisau 28 . Katingan Kab. Muara Enim Kab. Gunung Mas Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Banyuasin Kab. Lamandau Kab. Lahat Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Musi Rawas Kota Prabumulih Kota Pagaralam Kota Lubuk Linggau Kab. Sukamara Kab. Oku Selatan 12 13 14 LAMPUNG KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH 1 2 3 4 5 6 7 8 Kab. Musi Banyuasin Kab. Oku Timur Kab.7 8 9 10 11 10 11 Rohul Rohil Bengkalis Siak Dumai 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 80% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 30% 30% 30% 30% 30% 20% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 10% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 30% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 10% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% JAMBI SUMATERA SELATAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kota Palembang Kab. Ogan Ilir Kab. Seruyan Kab. Kotawaringin Barat Kab. Kotawaringin Timur Kab.

Minahasa Kab. Minahasa Selatan Kota Tomohon Kab. Barito Timur Kab. Bulukumba 29 .9 10 11 12 13 14 15 16 17 Kab. Murung Raya Kota Palangkaraya 60% 60% 60% 60% 60% 60% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 30% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR SULAWESI UTARA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kab. Luwu Utara Kota Palopo Kab. Jeneponto Kota Pare-pare Kab. Bantaeng Kab. Barito Utara Kab. Sangihe Kota Manado Kab. Bolaang Mongondaw Kota Biung Kab. Soppeng Kab. Selayar Kab. Kep. Minahasa Utara 18 19 SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kab. Bone Kab. Barito Selatan Kab. Talaud Kab. Gowa Kab. Sidrap Kab. Pangkep Kab. Kapuas Kab. Kep.

Konawe Selatan Kab. Wulu Timur 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 50% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 25% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 35% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 25% SULAWESI TENGGARA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kab. Sinjai Kab. Pinrang Kab. Maluku Tenggara Barat Kab. Pulau Buru Kab.13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 20 Kab. Buton Kota Bau-bau Kab. Seram Bagian Timur Kab. Takalar Kab. Muna Kab. Tator Kab. Enrekang Kab. Maluku Tenggara Kab. Seram Bagian Barat Kab. Wajo Kab. Luwu Kab. Kolaka Utara Kab. Kepulauan Aru 22 BALI 30 . Wakatobi Kota Kendari 21 MALUKU 1 2 3 4 5 6 7 8 Kota Ambon Kab. Maros Kab. Kolaka Kab. Bombana Kab. Konawe Kab. Barru Kota Makassar Kab. Maluku Tengah Kab.

TTS Kab. Jembrana Kab. Karangasem Kota Denpasar 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% NUSA TENGGARA BARAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kota Mataram Kab. Kupang Kab. Bima Kota Bima 24 NUSA TENGGARA TIMUR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kota Kupang Kab. Sumbawa Kab. Bangli Kab. TTU Kab. Badung Kab. Flores Timur Kab. Alor Kab. Lombok Timur Kab. Lombok Barat Kab. Tabanan Kab. Lambata Kab. Sumbawa Barat Kab. Ende Kab. Sikka Kab. Klungkung Kab. Dompu Kab.1 2 3 4 5 6 7 8 9 23 Kab. Ngada Kab. Manggarai 31 . Gianyar Kab. Belu Kab. Buleleng Kab. Lombok Tengah Kab.

13 14 15 16 25 Kab. Sumba Timur Kab. Keerom Kab. Boalemo 32 . Yapen Waropen Kab. Puncak Jaya Kab. Paniai Kab. Asmat Kab. Mappi Kab. Jayapura Kab. Jayawijaya Kab. Tolikara 26 27 28 BENGKULU MALUKU UTARA GORONTALO 1 2 3 4 Kota Gorontalo Kab. Rote Ndao 60% 60% 60% 60% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 60% 60% 60% 60% 60% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 20% 20% 20% 20% 20% PAPUA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kab. Biak Numfor Kab. Merauke Kab. Waropen Kab. Mimika Kab. Manggarai Barat Kab. Peg. Boven Digul Kab. Supiori Kab. Nabire Kota Jayapura Kab. Sumba Barat Kab. Gorontalo Kab. Sarmi Kab. Bintang Kab. Yahukimo Kab. Bone Bolango Kab.

Lingga 32 IRIAN JAYA BARAT 1 2 3 4 5 6 7 8 Kab. Karimun Kota Tanjung Pinang Kab. Sorong Kab. Teluk Wondama Kab. Belitung Timur 31 RIAU KEPULAUAN 1 2 3 4 5 6 Kab. Fak-Fak Kota Sorong Kab. Manokwari Kab. Bangka Kab. Bintan Kota Batam Kab. Natuna Kab. Tanggerang Kota Tanggerang 30 KEPULAUAN BABEL 1 2 3 4 5 6 7 Kab.5 29 Kab. Bangka Selatan Kab. Teluk Bintuni Kab. Bangka Tengah Kab. Bangka Barat Kab. Pandeglang Kab. Belitung Kota Pangkal Pinang Kab. Kaimana - 33 . Raja Ampat Kab. Lebak Kab. Pohuwato 60% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 50% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 20% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 25% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 25% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% BANTEN 1 2 3 4 5 6 Kab. Serang Kota Cilegom Kab.

Mamuju Kab. Polewali Mamasa Kab.9 33 Kab. Majene Kab. Mamuju Utara - MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL. TTD BAMBANG SUDIBYO 34 . Sorong Selatan - - - SULAWESI BARAT 1 2 3 4 5 Kab. Mamasa Kab.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.