P. 1
Pribadi (2006). Keanekaragaman Vegetasi Pada Areal Hutan Sekunder Bukit Mandi Angin, Banjar, Kalimantan Selatan

Pribadi (2006). Keanekaragaman Vegetasi Pada Areal Hutan Sekunder Bukit Mandi Angin, Banjar, Kalimantan Selatan

|Views: 975|Likes:
Dipublikasikan oleh Teguh Pribadi

More info:

Published by: Teguh Pribadi on Feb 04, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2015

pdf

text

original

KEANEKARAGAMAN VEGETASI PADA AREAL HUTAN SEKUNDER BUKIT MANDI ANGIN, BANJAR, KALIMANTAN SELATAN

HASIL PENELITIAN

Oleh :

TEGUH PRIBADI, S. Hut.

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PGRI PALANGKA RAYA JANUARI, 2006

LAPORAN PENELITIAN 1. a. Judul Penelitian : Keanekaragaman Vegetasi Pada Areal Hutan Sekunder Bukit Mandi Angin, Banjar, Kalimantan Selatan : Pertanian : Pengembangan Ilmu Teknologi dan Seni (Kategori I) : : : : : : : :

b. Bidang Ilmu c. Kategori Penelitian 2. Peneliti a. Nama Lengkap dan Gelar b. Jenis Kelamin c. Golongan Pangkat & NIP d. Jabatan Fungsional e. Jabatan Struktural f. Fakultas/Jurusan g. Pusat Penelitian Alamat Peneliti a. Alamat Kantor b. Alamat Rumah

Teguh Pribadi, S. Hut. Laki-laki IIIa/Penata Muda; 132 313 326 Pertanian/Kehutanan Universitas PGRI Palangka Raya

3.

4. 5. 6.

Lokasi Penelitian Lama Penelitian Biaya yang Diperlukan a. Sumber dari Depdiknas b. Sumber Dana Pribadi

: : Jl. Hiu Putih-Tjilik Riwut Km. 7 Palangka Raya 73112 Telp. (0536) 3220778 : Komp. Kehutanan Jl.Hiu Putih-Tjilik Riwut Km. 7 No. 42 RT/RW 05/10 Bukit Tunggal, Palangka Raya 73112 HP. 085349042014 : Mandi Angin, Kec. Karang Intan, Kab. Banjar-Kalsel. : 4 Bulan : : : Rp. 825.000,(Delapan Ratus Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) Palangka Raya, Januari 2006

Mengatahui : Dekan Fakultas Pertanian

Peneliti,

(Ir. Muhammad Yusuf)

(Teguh Pribadi, S. Hut.) NIP. 132 313 326

Menyetujui, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas PGRI Palangka Raya

(Hj. Any Nugroho, S.H., M.H.) NIP. 132 308 230

ii

RINGKASAN Hutan merupakan ekosistem yamg kompleks dan mantap namun cukup peka terhadap interaksi dari luar. Dinamika hutan selalu berubah melalui tahapan suksesi. Manifestasi interaksi sukksesi sekunder merupakan representasi dinamika hutan sebagi sebuah ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luasan minimum petak

pengamatan ekologi tumbuhan dan keanekaragaman vegetasinya serta mengkaji proses dinamika sukssesi sekunder yang terjadi di hutan Bukit Mandi Angin. Luasan minimum dilakukan dengan metode kurva spesies area. Dimana petak awal dengan ukuran 1 m2 terus diperluas 2 kalinya sampai diperoleh nilai persentase pertambahan jenis kurang dari 10% untuk menghentikan perluasan petak pengamatan tersebut. Analisa keragaman jenis vegetasi dilakukan dengan metode garis berpetak,

kemudian dihitung indeks nilai penting dan indeks keragaman Shanon-Wienen. Tahapan suksesi sekuinder dianalisa berdasarkan paramater dominasi vegetasi yang ada pada petak tersebut. Hutan Bukit Mandi Angin memiliki luasan minimum petak pengamatan vegetasi seluas 512 m2 dan ditemukan 46 jenis vegetasi. Seuluh vegetasi dominan yang terdapat di hutan Bukit Mandi Angin adalah sebagai berikut kayu kacang (Strombosia javanica), rengas (Gluta renghas), petindis, luwa (Ficus variegata), karamunting, alaban (Vitex pubescens), angkal gunung (Ixora blumei), jawaling (Tristaniopsis spp) dan balaran tapah. Hutan sekunder Bukit Mandi Angin masih dalam tingkatan hutan sekunder semak belukar dan di beberapa bagian telah menunjukan format hutan sekunder muda.

Kata kunci

:

Keragaman Jenis, Analisa Keragaman Sekunder, Tahapan Suksesi, Hutan Sekunder

Jenis,

Suksesi

iii

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas semua rahmat dan hidayah-Nya, penelitian ini dapat selesai dengan baik dan lancar. Penelitian ini disusun dalam rangka mengkaji proses suksesi yang terjadi di hutan sekunder, terutama di Hutan Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat Mandi Angin. Sekaligus sebagai penunaian salah satu komponen Tri Dharma Perguruan Tinggi. Penulis pada kesempatan ini menyampaikan terima kasih kepada : Rektor dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas PGRI Palangka Raya yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian. Dekan Fakultas Kehutanan dan Pengelola Hutan Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat atas bantuan dan izinnya dalam penelitian ini. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas PGRI Palangka Raya, serta semua pihak yang telah membantu dalam kegiatan penelitian ini dan penyusunan laporannya. Akhirnya, penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat.

Palangka Raya, Januari 2006 Penulis,

(Teguh Pribadi, S. Hut) NIP. 132 313 326

iv

DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN.........................................................................……….. RINGKASAN……………………………………………………………………… PRAKATA ................................................................................................................ DAFTAR ISI ............................................................................................................. DAFTAR TABEL ...............................................................................................….. DAFTAR GAMBAR................................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. I. PENDAHULUAN ..................................................................………………. A. Latar Belakang………………………………………………………. B. Tujuan dan Manfaat............................................................................. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ ………… A. Hutan sebagai Masyarakat Tumbuhan ............................................... B. Dinamika Masyarakat Hutan ............................................................... METODE PENELITIAN................................................................................. A. Waktu dan Tempat Penelitian ............................................................. B. Alat dan Bahan………………………………………………………. C. Prosedur Penelitian………………………………………………….. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................... A. Luasan Minimum Pengamatan di Areal Hutan Mandi Angin… ................................................................................................ B. Besaran Ekologi Populasi Hutan Bukit Mandi Angin…………………………………………………………. C. Proses Suksesi di Hutan Mandi Angin……………………………….. KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………… A. Kesimpulan………………………………………………………….. B. Saran………………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………… LAMPIRAN………………………………………………………………….. ii iii iv v vi vii viii 1 1 2 4 4 7 12 12 12 13 18 18 21 27 30 30 30 31 32

II.

III.

IV.

V.

v

DAFTAR TABEL No. 1. Daftar rekapitulasi perhitungan persen pertambahan jenis pada petak minimum di hutan Mandi Angin .............................. Rekapitulasi hasil perhitungan besaran ekologi vegetasi di Hutan Mandi Angin ............................................................................ Halaman

17

2.

22

vi

DAFTAR GAMBAR No 1. 2. Rancang bangun petak pengamatn kurva spesies area ........................ Rancang bangunpetak pengamatan analisa vegetasi metode garis berpetak.......................................................................... Kurva spesies area untuk petak di hutan Bukit Mandi Angin ............ Halaman 14

15 18

3.

vii

DAFTAR LAMPIRAN No 1. Data hasil pengamatan kurva spesies area di hutan Mandi Angin........................................................................................ Data pengamatan besaran ekologi di hutan Mandi Angin................... Contoh perhitungan besaran besaran besaran ekologi................................................................…………………….. Halaman

32 34

2. 3.

38

viii

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kalimantan merupakan salah satu surga hutan tropis dunia. Adanya

kelimpahan sinar matahari dan hujan yang turun sepanjang tahun menjadikan hutan Kalimantan merupakan hutan hijau sepanjang tahun (evergreen forest). Kalimantan merupakan metafora keragaman hayati maha dahsyat. Hutan

Departemen

Kehutanan (1994) menyatakan bahwa dalam 1 hektar petak pengamatan di Kalimantan dapat dijumpai kurang lebih 150 jenis nabatah dan setengahnya lagi dari jumlah tersebut dapat kita amati pada petak selanjutnya. Tidak kurang 3000 jenis pohon terdapat di Kalimantan. Hutan sebagai sumber daya alam idealnya merupakan ekositem yang dapat diperbaharui, namun kemantapan ekosistem hutan tropis, yang direpresentasikan dengan lebatnya masyarakat hutannya, stratifikasi tajuk yang berlapis dan

keanekaragaman hayati yang sangat besar. Ternyata menyimpan permasalahan atas kerapuhan ekosistem terhadap pengaruh interaksi dari luar yang destruktif. Menurut Whitten et al (1988) yang dikutip oleh Wiharto & Hardjosuwarno (1998) hutan hujan tropis merupakan ekosistem spesifik yang hanya berdiri mantap melalui interaksi yang erat antar komponen-kompenen penyusunnya. Sebagai satu kesatuan yang utuh. Interaksi antar komponen penyusun ini memungkinkan terbentuknya struktur hutan tertentu yang dapat memberikan fungsi tertentu pula seperti stabilisasi ekosistem, produktivitas biologi yang tinggi dan siklus hidrologi yang memadai. Seiring interaksi manusia dengan motif ekonomi, degradasi hutan semakin niscaya dan makin eskalatif. Dalam 5 tahun terakhir ini tiap 3 juta hektar hutan

2

tropis terdegradasi (Awang 2005). Lima puluh enam persen hutan dataran rendah di Kalimantan telah hilang dalam kurun waktu 1985 sampai 2001. World Wild Found (WWF) memprediksikan tahun 2010 hutan dataran rendah Kalimantan akan sirna dari bumi jika deforestrasi tak segera dicegah (Kompas, 2005) Hutan adalah suatu sistem yang hidup dan bersifat dinamis. Masyarakat hutan selalu mengalami evolusi atau suksesi. Proses suksesi ini merupakan proses alamiah menuju tahapan klimaks stabil. Proses ini tidak selamanya direksional tapi siklis bahkan bisa irresersibel, tak terbalikkkan bila daya penghalangnya bersifat destruktif. Hal ini dicirikan dengan format hutan sekunder yang jauh dari kondidi klimaks bahkan bias menjadi lahan kritis yang didominasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica). Tesis deforestrasi hutan hujan tropis yang diiring dengan menurunnya keanekaragaman hayati penghuninya melatarbelakangi penelitian ini. Lebih spesifik penelitian ini mencoba mengamati proses suksesi yang terjadi di hutan Mandi Angin. Dimana hutan ini adalah salah satu laboratorium lapangan suatu lembaga pendidikan kehutanan yang terkenal di Kalimantan. Sekaligus

sebagai bagian salah satu bagian Taman Hutan Raya Sultan Adam. Yang merupakan sedikit dari kawasan konservasi yang masih terdapat di Kalimantan, khususnya Kalimantas Selatan. B. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan : 1. Mengetahui luasan minimum yang harus dibuat untuk mengamati keadaan ekosistem hutan pada areal hutan sekunder Bukit Mandi Angin 2. Mengetahui besaran ekologi populasi vegetasi hutan sekunder Mandi Angin

3

3. Mengamati proses suksesi yang terjadi pada hutann sekunder Bukit Mandi Angin. Manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai bahan masukan dan informasi tentang kondisi ekologi vegetasi di hutan sekunder Bukit Mandi Angin kepada semua Stakeholder yang terkait sehingga diperoleh database dasar pengelolaan Hutan Bukit Mandi Angin pendidikan dan penelitian serta pariwisata. sebagai kawasan konservasi,

4

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hutan sebagai Masyarakat Tumbuhan Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan fauna lainnya yang didomonasi oleh pohon-pohonan yang menempati suatu lingkungan atau habitat, dimana terdapat hubungan timbal balik antar tumbuh-tumbuhan itu satu sama lain dan dengan lingkungannya (Soeseno & Edris 1977; Soerianegara & Indrawan 1980) Pohon-pohon tidak hidup sebagai individu soliter, tetapi sebagai bagian dari masyarakat hutan. Masyarakat hutan disusun oleh pohon, perdu, semak, rerumputan, lumut, binatang menyusui, burung serangga, protozoa serta segenap mikrofauna dan mikroflora lainnya. Hubungan antar anggota masyarakat hutan sangat beragam jenis interaksi baik caranya ataupun keeratan hubungan tersebut (Soeseno & Edris 1977). Interaksi antar masyarakat tumbuhan margasatwa dan lingkungannya begitu erat sehingga mereka merupakan suatu system ekologi (ekosistem) atau biogeocoenosis (Odum 1971 yang dikutip oleh Suri & Setiabudi 2000). Masyarakat hutan sebagai suatu komunitas di dalamnya terdapat persaingan, kerjasama dan perjuangan yang hebat untuk memperoleh cahaya, air, hara mineral dan ruang. Persaingan di atas tanah terjadi antara tajuk-tajuk pohon, sedagkan di bawah tanah antara akar-akarnya. Kompetisi ini menyebabkan terbentuknya susunan masyarakat atau tumbuh-tumbuhantertentu sekali bentuknya, macam dan banyaknya jenis serta individu-individunya sesuai dengan keadaan tempat tumbuhnya (Soeseno & Edris 1977).

5

Menurut

Soeseno & Edris (1977)

mekanisme hubungan-hubungan ini

diejawantahkan dalam format interaksi tertentu. Hubungan ini terbentuk karena tingginya ketergantungan suatu jasad/organisme terhadap organisme lain dalam memperoleh naungan (shade), air, hara mineral (nutrient) atau niche (relung atau fungsionalisasinya dalam masyarakat hutan) : 1. Komensalisme, yaitu hubungan antara organisme-organisme yang hidup menumpang tergantung pada organisme lain untuk memperoleh sejumlah makanan itu tanpa menyebabkan kerugian yang terlalu besar pada organisme inang 2. Efipitisme, yaitu hubungan organisme lain untuk hidup bersandar pada organisme lain yang lebih besar dalam memperoleh unsur hara namun relatif tidak merugikan organisme inang. Contohnya beberapa jenis anggrek-anggrekan pada tanaman hutan yang tinggi 3. Parasitisme, yaitu hubungan antar organisme dengan organisme lain yang lebih besar dengan cara menyerap unsur hara dari organisme tersebut sehingga

bersifat merugikan organisme inang bahkan bias menyebabkan kematian. Contohnya jamur fusarium sp pada anakan sengon (Paraserianthes falcataria) atau benalu (Ficus sp) dengan tanaman hutan 4. Simbiosis mutualisme, yaitu hubungan antara dua organisme yang sangat berbeda yang hidup bersama dan bekerja sama saling memberi unsur hara yang dibutuhkan satu sama lain tanpa saling merugikan. Contohnya antara mikoriza dan beberapa tumbuhan dari marga dipterocarpa atau nodul akar pada tanaman marga fabaceae (tanaman legum-leguman)

6

5. Saprofit, yaitu organisme yang hidup dari perombakan atau pelapukan jasad lain karena bukan organisme autotrof. Misalnya adalah tumbuhan jamur (Fungi) 6. Pencekik, yaitu tumbuhan yang pada mulanya adalah efifit kemudian tumbuh membesar dan mencekik tanaman inang karena sudah dapat memproleh makanan sendiri. Contohnya adalah liana dari marga ficus. Dampak persaingan-persaingan antar tanaman yang menimbulkan tanaman yang tetap eksisi maka muncullah tanaman dominan. Pohon ini tinggi menjulang pada puncak stratum dan mengalahkan pohon yang lebih rendah dan merupakan indikator masyarakat hutan tersebut. Pada ekosistem hutan hujan tropis salah satu penguasa tajuk adalah tanaman dari marga diptorecapus (Soerianegara & Indrawan 1980) Hutan sabagai suatu masyarakat sering terjadi pelapisan atau statifikasi tegakan. Lapisan atas berupa tajuk (canopy) pohon-pohonan yang dominan dan kodominan. Di bawahnya terdapat tegakan bawah (under stories) yang biasanya berupa anakan pohon. Selanjutnya apabila tedapat pembukaan hutan maka kanopi menjadi kurang rapat sehingga muncullah penutup tanah (ground cover). Penutup tanah biasanya terdiri dari rumput-rumputan, semak belukar dan perdu atau semai pohon. Di bagian terbawah adalah lantai hutan (forest floor) yang biasa merupakan adalah kumpulan seresah yang merupakan mikrohabitat dari mikrofauna atau mikroflora. Pelapisan-pelapisan ini yang terkenal dengan stratum, tingkat (story) atau lapisan (Soeseno & Edris 1977) Demarkasi tinggi dan jumlah stratifikasi pohoh-pohonan berbeda-beda tergantung pada keadaan tempat tumbuh dan komposisi masyarakat hutan tersebut. Hutan hujan tropis bisa terdiri dari 5 stratum (Soerianegara & Indrawan 1980)

7

B. Dinamika Masyarakat Hutan Hutan sebagai komunitas secara alamiah tidak pernah betul-betul stabil. Selalu terjadi siklus alamiah yang setiap kali berulang dalam suatu rentang waktu tertentu. Misalnya suatu saat pertumbuhan pohon setelah mencapai tahap klimaks akan tumbang karena mati tua atau sebab yang lainnya. Segera setelah proses ini maka pohon itu diganti oleh pohon lain yang berasal dari tingkatan yang di bawahnya. Demikian seterusnya proses pergantian ekologi ini berlangsung setiap

saat secara berkesinambungan. Selama proses perubahan ini berlangsung secara alamiah tanpa intervensi manusia maka pergantian ekologi akan tetap terjadi secara berulang-ulang sehingga pertumbuhan klimaks dapat tecapai (Departemen

Kehutanan 1995). Fenomena inilah yang mengistilahkan kenapa hutan disebut sebagai sistem yang hidup dan tumbuh atau suatu masyarakat yang dinamis. Masyarakat hutan terbentuk secara bertahap melalui tahapan inovasi oleh tumbuh-tumbuhan pioneer, adaptasi diri, agregasi, kompetisi dan dominasi serta reaksi pada tempat tumbuh dan stabilisasi. Selama proses ini akan terus berlangsung sampai stabil atau terjadi mekanisme keseimbangan dinamis antara masyarakat hutan dengan lingkungannya, yang disebut dengan vegetasi klimaks (Soerianegara & Indrawan 1980). Mnurut Soeseno & Edris (1977) suksesi adalah rangkaian proses perubahanperubahan yang terjadi pada masyarakat tumbuh-tumbuhan sesuai dengan habitatnya. Sedangkan Pandjaitan (1988) mendefinisikan suksesi sebagai proses perubahan komunitas. Deretan komunitas yang menggantikan komunitas lain pada suatu Bagian-bagian komunitas yang merupakan suatu deretan ini

kawasan tertentu. disebut sere.

8

Berdasarkan sifat asal komunitasnya suksesi dibagi dua : 1. Suksesi primer (prisere atau primary succession), yaitu perkembangan vegetasi mulai dari habitat yang tak bervegetasi hingga mencapai masyarakat yang

klimaks. Proses ini jarang terjadi mungkin salah satunya adalah yang terjadi di kepulauan Krakatau yang terjadi sejak letusannya pada tahun 1880 sampai sekarang 2. Sukssi sekunder (subsere atau secondary succesion). Suksesi ini terjadi pada kawasan yang pernah bervegatasi atau ada komunitasnya tapi arena ada

gangguan seperti kegiatan manusia, bencana alam maka terjadi pergiliran komunitas. Suksesi primer inilah yang lazim terjadi pada komunitas hutan alam (Soeseno & Edris 1977; Soerianegara & Indrawan 1980; Pandjaitan 1988). Berdasarkan proses yang terjadi selama pergantian komunitas ini suksesi dibagi menjadi dua : 1. Suksesi progresif yaitu suksesi yang berjalan menuju tahapan klimaks secara direksional. Proses ini terjadi karena faktor pengganggu tidak terlalu destruktif terhadap perjalan proses suksesi. 2. Suksesi retrogresif (subsuksesi atau suksesi siklis), yaitu suksesi yang berjalan secara siklis bahkan bisa terjadi kondisi klimaks adalah suatu hal yang sulit. Proses ini terjadi karena gaya dari luar terlalu besar sehinggi proses ini tidak berlangsung secara sempurna. Contoh nyata dari proses ini adalah meluasnya lakan kritis. Biasanya manusia adalah factor utama kegagalan proses suksesi ini (Soeseno & Edris 1977; Soerianegara & Indrawan 1980)

9

Berdasarkan jenis komunitas awalnya suksesi

Soeseno & Edris (1977);

Soerianegara & Indrawan (1980) membagi suksesi ini menjadi dua yaitu : 1. Hidrosere (hydrarkh), yaitu suksesi yang bermula dari kondisi basah (dalam air) dan menuju klimaks yang dipelopori oleh tumbuh-tumbuhan air (hydrofit) 2. Xerosere (xerarkh), yaitu suksesi yang berasal dari kondisi tanah kering atau bebatuan yang dipelopori oleh lumut kerak (Lichenes),bakteri, dan ganggang (Algae) Tingkatan suksesi menurut Spur (1973) yang dikutip oleh Soeseno & Edris (1977) dibagi menjadi 4 yaitu ; (i) tahapan pioneer; (ii) tahapan konsolidasi; (iii) tahapan subklimaks; dan (iv) tahapan klimaks. Proses perubahan suksesi primer bermula dari permukaan tanah telanjang. Dilanjutkan oleh komunitas vegetasi cryptogamae. Tahapan selanjutanya adalah vegetasi rumput-rumputan dan herba (semak kecil). Tahapan ketiga adalah vegetasi semak belukar dilanjutkan oleh vegetasi perdu pohon. Tahap terakhir atau tahap kelima adalah tahapan yang didominasi oleh komunitas vegetasi pohon klimaks. Sedangkan suksesi sekunder biasanya vegetasi klimaks atau tahapan sebelumnya lalu mendapat gangguan. Dampak dari gangguan ini siklus ini dialai dari vegetasi

rumput-rumputan herba, semak kecil terus ke atas. Selama tidak mendapat gangguan yang signifikakan proses ini akan berlangsung direksional (Soerianegara & Indrawan 1980). Tingkatan terakhir klimaks adalah klimaks klimatik. Klimaks klimatik adalah suatu kondisi masyarakat hutan dengan segala elemen-elemennya yang dominan dan hanya dipengaruhi oleh faktor iklim. Masyarakat tumbuhan ini tidak dapat diganti oleh tumbuhan lain kecuali bila terjadi perubahan iklim. (Soeseno & Edris 1977).

10

Indikator suatu masyarkat hutan telah dalam tahapan klimaks menurut Soerianegara & Indrawan (1980) dicirikan oleh parameter sebagai berikut : 1. Stabil dalam artian yang dominan meregenerasi diri dan tidak dapat tergantikan oleh vegetasi dominan lainnya apalagi yang dalam tahapan kodominan 2. memiliki kemantapan tanah. Siklus unsur hara berjalan secara inert, erosi sangat rendah 3. Komposisi vegetasinya seragam (tegakan sejenis) terutama pada daerah yang beriklim relatif sama Klimaks fisiografis adalah proses perubahan tahapan klimaks yang menyimpang dari tipe yang sewajarnya akibat keadaan fisiografisnya. Klimaks

fiografis biasanya disebut dengan klimaks edafis karena tahapan klimaks ini sangat tergantung pada kondisi lokal setempat. Klimaks edafis bisa diamati pada

terbentuknya hutan mangrove (Soeseno & Edris 1977; Pandjaitan 1988)

11

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dari Bulan Oktober 2005 sampai Januari 2006 meliputi tahapan survey pendahuluan, pengambilan data, pengolahan data dan pembuatan laporan hasil penelitian. Lokasi penelitian terletak di Bukit Mandi Angin kawasan Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.

B. Alat dan Bahan Penelitian ini menggunakan peralatan sebagai berikut : 1. Kompas, untuk menentukan arah angin 2. Clinometer, untuk menghitung kelerengan areal penelitian 3. Parang untuk membuka jalur rintisan dan keperluan potong-memotong 4. Meteran roll untuk mengukur panjang petak dan jarak anta demarkasi 5. Tali rafi untuk membatasi petak pengamatan dengan kawasan lain 6. Tali nilon besar untuk mengukur jarak antar petak 7. Patok untuk penempatan titik ikat dan pegangan tali demarkasi 8. Phiband untuk mengukur diameter pohon 9. Tally sheet untuk mencatat hasil inventarisasi vegetasi 10. Kalkulator untuk menghitung hasil analisa vegetasi 11. Alat tulis menulis

12

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat komunitas vegetasi di areal hutan sekunder Mandi Angin. Selama penelitian ini berlangsung dibantu oleh pengenal pohon yang berasal dari warga di sekitar lokasi penelitian. C. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : 1. Survey pendahuluan dan penentuan petak pengamatan Survey pendahuluan dilaksanakan untuk mengidentifikasi dan menentukan petak pengamatan yang dapat mengakomodasi seluruh kondisi vegetasi yang terdapat di hutan sekunder Bukit Mandi Angin. Petak pengamatan dipilih secara purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut : a. Areal yang akan diamati merupakan sebuah tegakan dan atau suatu ekosistem yang homogen dan diusahakan didominasi oleh tingkatan permudaan pohon b. Definisi permudaan yang digunakan mengikuti aturan yang ditetapkan oleh Wyatt & Smith (1963) yang dikutip oleh Soerianegara & Indrawan (1980) sebagai berikut : a) Semai (seedling) yaitu permudaan mulai dari dari kecambah sampai anakan dengan tinggi maksimal 1,5 m b) Pancang (sapling) yaitu permudaan dengan ketinggian di atas 1,5 m sampai pohon muda dengan diameter kurang dari 10 cm c) Tiang (pole) yaitu pohon muda dengan diameter berkisar dari 10 sampai 35 cm d) Pohon (tree) yaitu pohon dengan diameter lebih dari 35 cm 2. Pengukuran petak minimum

13

Tahapan pembuatan petak minimum mengikuti tahapan yang dilaksanakan oleh Soerianegara & Indrawan (1980) : a. Menentukan starting point sebagai petak pengamatan dan dibuat dengan posisi sisi yang lebih panjang melawan garis contour b. Membuat petak dengan ukuran awal 1 x 1 m2 dan mendaftar semua vegetasi yang terdapat dalam petak tersebut c. Membesar ukuran petak menjadi 2 kali ukuran petak awal dan mendaftar semua vegetasi yang terdapat dalam petak tersebut (spesies vegetas yang sama tidak usah diperhatikan) d. Menghitung persentase pertambahan jenis dengan rumus : Pt = (∆P/P0) x 100 % ∆P = P1 – P0 Dimana : Pt = persentase perubahan jenis (%) ∆P = jumlah penambahan jenis P0 = jumlah seluruh jenis pada petak awal P1 = jumlah seluruh jenis pada petak berikutnya e. Mengulangi langkah 3 dan 4 sampai diperoleh persen penambahan jenis tidak lebih dari 10 % (Costing 1958; Cain & Castro 1959 yang dikutip oleh Soerianegera & Indrawan 1980). Apabila pada hasil penghitungan diperoleh

persen penambahan jenis sudah kurang dari 10 % maka pembuatan petak selajutnya dapat dihentikan. Rancang bentuk pembuatan petak dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini

14

F

G D E B A C

Gambar 1. Rancang bangun petak pengamatan kurva spesies areal Keterangan : A = petak pengamatan asal ukuran 1 x 1 m2 A + B = petak pengamatan kedua ukuran 1 x 2 m2 dan seterusnya 3. Pengukuran Dimensi Ekologi Populasi Analisa dimensi ekologi populasi ini menggunakan metode garis berpetak dengan lebar jalur 5 m dan jarak antar petak adalah 5 m. Posisi petak diletakkan secara berselang seling (kanan-kiri) terhadap jalur rintis. Jumlah total petak adalah 10 buah sehingga toal luas patek pengamatan adalah 250 bangun metode garis berpetak dapat dilihat pada gambar 2. Inventarisasi vegetasi dilaksanakan pada seluruh petak dengan metode sensus. Data yang dicuplik adalah data jenis vegetasi, jumlahnya dalam 1 petak , jenis permudaan dan diameternya. Selain itu data penutupan tajuk dan kelerengan juga diperhitungkan. m2. Gambar rancang

15

Gambar 2.

Rancang bangun petak pengamatan analisa vegetasi metode garis berpetak

Hasil sensus vegetasi pohon lalu direkapitulasi dan dihitung besaran analisa vegetasinya dari masing- masing anggota komunitas menurut Soerianegara & Indrawan (1980) : 1. Kerapatan atau Density (K) K = Jumlah individu Luas petak contoh 2. Kerapatan relatif (KR) KR = Kerapatan dari suatu jenis x 100 % Kerapatan dari seluruh jenis 3. Frekuensi (F) F = Jumlah petak ditemukan suatu jenis Jumlah keseluruhan petak

16

4. Frekuensi relatif (FR) FR = Frekuensi suatu jenis x 100 % Frekuensi keseluruhan jenis 5. Dominasi (D) D = Luas bidang dasar suatu jenis Luas petak contoh 6. Dominasi relatif (DR) DR = Dominasi suatu jenis x 100 % Dominasi seluruh jenis 7. Nilai penting / Importance value (INP) INP = KR + FR + DR

8. Indeks keragaman jenis Shanon-Wienen H! = - ∑ Ni/N Log Ni/N

Dimana N = Total individu dalam suatu komunitas (Total INP) Ni = Jumlah suatu individu dalam komunitas (INP suatu jenis)

17

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Luasan Minimum Petak Pengamatan Di Hutan Sekunder Mandi Angin Hasil pengamatan luasan minimum dan jumlah vegetasi yang terdapat di hutan sekunder Mandi Angin dapat dilihat pada Tabel 1. di bawah ini. Daftar vegetasi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Tabel 1. Daftar rekapitulasi perhitungan persen pertambahanjenis pada petak minimum di hutan sekunder Mandi Angin

No Petak 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Luas Petak (m2). 1 2 4 8 16 32 64 128 256 512

Penambahan jenis Jumlah jenis Satuan 3 7 13 20 24 30 33 39 44 46 0 4 6 7 4 6 3 6 5 2 Persen (%) 0,00 133,33 87,71 53,85 20,00 25,00 10,00 18,26 12,02 4,56

18

jumlah jenis 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0 512, 46

256, 44 128, 39 64, 33 32, 30 16, 24 8, 20 4, 13 2, 7 1, 3 100 200 300 400 500

600

Luas petak (m2)

Gambar 3. Kurva spesies area untuk petak di hutan Bukit Mandi Angin Berdasarkan nilai-nilai pada Tabel 1. diatas representasi kurva spesies area untuk tingkat keragaman vegetasi di hutan sekunder Bukit Mandi Angin dapat dilihat pada Gambar 1. di atas Luasan minimum petak untuk mengamati keragaman jenis di hutan sekunder mandi Angin adalah seluas 512 m2 atau 0,05 ha. Hal ini berbeda dengan

penelitian yang dilakukan oleh Vestal (1949) dan Soerianegara & Indrawan (1980) yang menyatakan luas petak minimun pengamatan vegetasi di hutan hujantropis Kalimantan Selatan adalah seluas 2,6 – 3,1 hektar. Bahkan luasan ini lebih sempit dibandingkan dengan luasan petak minimun yang harus dibuat dui Kalimantan Utara yaitu seluas 0,6 hektar (Nicholas 1965 yang dikutip oleh Soerianegara & Indrawan 1980).

19

Besar kecilnya petak pengamatan vegetasi suatu kawasan ekosistem hutan berkorelasi positif dengan kenekaragam jenis vegetasi yang terdapat paada ekosistem tersebut. Penelitian-penelitian terdahulu dilaksanakan pada saat ekosistem hutan

hujan tropis masih baik bahkan masih perawan dan merupahan hutan primer. Akses negatif terdapat eksistensi hutan masih belum terlalu besar sehingga hutan tersebut dalam kondisi baik. Namun dengan seiring meningkatnya jumlah penduduk maka kawasan hutan makin terusik sehingga lebih jauh atau bahkan terdegradasi sampai tingkatan kritis. Arifin (2001) menyatakan bahwa kerusakan hutanhujan tropis disebabkan oleh pertambahan penduduk, system pertanian dan perladangan brpindah yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan. Tapi penyebab utama kerusakan hutan hujan Kalimantan adalah karena tindak mismanagemnt atau kegagalan dalam

perumusan kebijakan (misdirect policies) baik disektor kehutanan ataupun di sector terkait lainnya. Mc Naughton (1990) menyatakan keragaman jenis umumnya meningkat dengan ukuran petak sample. Habitan atau ekosistem dengan takann fisografis yang rendah, tingkat kompetisi yang tidak intensif dan tekanan ekstrem dari luar ekosistem yang kecil akan memperluas cakupan petak sebagai representasi keragaman jenis yang tinggi. Berdasarkan identifikasi lapangan pada petak pengamatan ternyata didominasi oleh semak belukar dan perdu. Hanya sedikit jenis pohon yang

ditemukan pada petak pengamatan ini. Pohon-pohon yang ditemukan juga merupakan indikator tanaman pioneer, seperti madang (Macaranga sp) dan Luwa (Ficus variegata). Hal ini membuktikan bahwa hutan Mandi Angin adalah hutan

20

sekunder yang sedang dalam tahapan suksesi sekunder. Perkembangan hutan semak belukar akan berubah menjadi hutan sekunder yang dipelopori oleh keberadaan jenisjenis Ficus dan makaranga (Soerianegara & Indrawan 1980). Keragaman jenis hutan sekunder bukit mandi Angin kurang lebih 46 jenis. Hal ini mengindikasikan areal tersebut adalah hutan sekunder muda yang didominasi oleh semak belukar atau merupakan lahan dalam tahapan kritis. Hal ini dindikasikan oleh kondisi lahan yang mulai tererosi dan adanya invasi oleh alang-alang serta keterbukaaan tajuk yang tinggi. Penelitian juga menghasilkan jumlah jenis yang lebih kecil dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aqla (2005). Dalam penelitian Aqla (2005) yang dilakukan di hutan konservasi Loksado Hulu Sungai Selatan, bisa ditemukan kurang lebih 100 jenis nabatah. Padahal secara ekologis hutan sekunder Mandi Angin dan Hutan konservasi relatif identik pada satu bentang alam yang merupakan deratan Pegunungan Meratus. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi struktur dan keragamaan vegetasi pada ekosistem yang sama adalah ketinggian tempat, kemiringan lereng dan tipologi tanah (Jenssen 1974 yang dikutip oleh Wiharto & Hadjosuwarno 1998) Keanekaragaman jenis secara umum dipengaruhi oleh sifat-sifat lingkungan yang terdiri dari ketersediaan sumber-sumber energi untuk proses fisiologis, kepadatan populasi, kekerasan lingkungan dan tingkat gangguan terhadap ekosistem tersebut. Sedangkan faktor intern keragaman jenis suatu ekosistem dipengaruhi oleh besarnya niche (relung fungsi ekologis), proporsi dan efisiensi pemanfaatan sumber daya lingkungan oleh masyarakat hutan tersebut (Mc Nougthon 1990).

21

B. Besaran Ekologi Populasi Hutan Bukit Mandi Angin Berdasarkan pengamatan vegetasi terdapat 48 jenis nabatah yang terdapat di hutan Bukit Mandi Angin. Dari ke – 48 jenis nabatah yang teramati ternyata hanya 3 jenis nabatah yang termasuk dalam permudaan tingkat pohon. Ketiga jenis nabatah itu adalah alaban (Vitev pubescens), rengas (Gluta renghas), dan kayu kacang (Strobosia javanica). Lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 2. di bawah ini

sedangkan data lebih lanjut dapat diamati pada Lampiran 2 dan Lampiran 3. di lembar lampiran

Tabel 2. Rekapitulasi besar hasil perhitungan besaran ekologi vegatasi hutan sekunder Mandi Angin No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama jenis Kayu kacang (Strombossia javanica) Rengas (Gluta renghas) Petendis Luwa (Ficus variegata BL) Karamunting Alaban (Vitex pubescens) Bangkal gunung (Ixora blumei) Jawaling (Tristaniopsis Spp) Tiwangau (Glocnidium Spp) Nanangkaan Kayu tutup Kerinyu Kajajahe Rangka-rangka Jmlh 3 3 88 68 55 11 32 34 16 15 11 22 12 7 K (batang/ha) 120 120 3580 2720 2200 440 1280 1360 640 600 440 880 480 280 KR (%) 0,59 0,59 17,25 3,33 10,78 2,16 6,27 6,67 3,14 2,94 2,16 4,31 2,35 1,37 F 0,2 0,2 0,9 0,9 0,5 0,5 0,8 0,7 0,6 0,6 0,7 0,4 0,4 0,5 FR (%) 1,49 1,49 6,72 6,72 3,73 3,73 5,97 5,22 4,48 4,48 5,22 2,99 2,99 3,73 D (m2/ha) 15,60 8,95 DR (%) 59,09 33,90 INP (%) 61,17 35,98 23,97 20,05 14,52 12,90 12,24 11,89 7,62 7,42 7,38 7,30 5,34 5,10 H! 0,14 0,11 0,09 0,08 0,06 0,06 0,06 0,05 0,04 0,04 0,04 0,04 0,03 0,03

Tabel 2. Lanjutan No 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Sapit undang Merambung (Vernonia arborea) Nama jenis Katu hutan Litu Paku-paku sagar Tapus Kemalaka (Phyllantus emblicus) Mampat (Cratoxylon formasus) Mahang (Macaranga hosei) Mengkudu hutan Asam daun Mengkudu 5 4 4 200 160 160 0,98 0,78 0,78 0,2 0,2 0,2 1,50 1,50 1,50 2,48 2,28 2,28 0,02 0,02 0,02 Jmlh 5 11 15 15 7 7 8 8 4 K (batang/ha) 200 440 600 600 280 280 320 320 160 KR (%) 0,98 2,16 2,94 2,94 1,37 1,37 1,57 1,57 0,78 F 0,5 0,3 0,1 0,1 0,3 0,3 0,2 0,2 0,3 FR (%) 3,73 2,24 0,75 0,75 2,24 2,24 1,50 1,5 2,24 D (m2/ha) DR (%) INP (%) 4,71 4,40 3,69 3,69 3,61 3,61 3,07 3,07 3,02 H! 0,03 0,03 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02

Tabel 2. Lanjutan No 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 39 Nama jenis Mali mali Jawaling kijang (Tristaniopsis Spp) Patiti Paku-pakuan Tilayu Balik angin (Mallotus paniculatus) Jambu hutan (Eugenia Spp) Serai merah (Crypocaria Spp) Mata undang Sasahangan Birik (Albizia procera) Liana Jmlh 3 3 6 6 2 2 2 2 1 1 1 1 K (batang/ha) 120 120 240 240 80 80 80 80 40 40 40 40 KR (%) 0,59 0,59 1,18 1,18 0,39 0,39 0,39 0,39 0,20 0,20 0,20 0,20 F 0,2 0,2 0,1 0,1 0,2 0,2 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 FR (%) 1,50 1,50 0,75 0,75 1,50 1,50 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 D (m2/ha) DR (%) INP (%) 2,08 2,08 1,93 1,93 1,89 1,89 1,14 1,14 0,95 0,95 0,95 0,95 H! 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01

Tabel 2. Lanjutan No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Nama jenis Kapasan Karamunting duduk Karidai Bati-bati gunung (Augenia spicata) Bangkirai Tabiya Minalin Medang pirawas (Litsea cassifolia) Mambab Jmlh 1 1 1 1 1 1 1 1 1 K (batang/ha) 40 40 40 40 40 40 40 40 40 KR (%) 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 F 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 FR (%) 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 D (m2/ha) DR (%) INP (%) 0,95 0,95 0,95 0,95 0,95 0,95 0,95 0,95 0,95 H! 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01

26

Kawasan hutan sekunder Bukit Mandi Angin struktur tegakannya dikuasai oleh petindis dimana hampir 17,25 % kerapatannya merupakan kerapatan yang tertinggi dari keseluruhan kerapatan vegetasi areal tersebut. Selain itu, petindis juga menampakan kehadiran hampir di semua petak pengamatan terutama pada daerah yang agak curam dengan kelerengan 10 – 30 %. Hampir 6,72 % dari total kehadiran vegetasi pada kawasan ini dihadiri oleh petindis melalui penyebaran yang luas. Nilai penyebaran yang tinggi mengindikasikan individu tersebut tersebar secara acak dan kapabilitas adaptasi pada lingkungan yang tinggi. Iklim mikro dari suatu komunitas hutan dan topografinya mempengaruhi penyebaran dan pertumbuhan jenis. Faktor iklim, edafis, fisiologis dan biotis sangat mempengaruhi kondisi ekologis tanaman yang tumbuh di atasnya. Faktor-faktor ini juga mempengaruhi proses terjadinya suksesi menjadi betul-betul klimaks. Secara konkret dominasi juga disebabkan oleh rentang relungnya yang lebar (Suri & Setiabudi 2000) Namun dengan nilai kerapatan dan frekuensi yang tinggi tidak berarti ia mendominasi secara kualitatif. Dominasi juga dipengaruhi oleh parameter

kandungan haranya, yang direpresentasikan oleh besarnya luas bidang dasar (LBDs). Tesis ini dibuktikan oleh kehadian tanaman kayu kacang (Strombossia javanica). Kerapatan dan frekuensinya relatif rendah namun nilai dominasinya cukup tinggi. Nilai ini dibuktikan dengan bsarnya diameter pohon tersebut walaupun tidak banyak tetapi perawaknya besar sehingga kandungan unsur haranya atau biomassanya besar. Pada umumnya asosiasi kehidupan di dalam masyarakat hutan didominasi oleh tumbuh-tumbuhan berkayu (pohon). Dominasi suatu jenis terhadap jenis lain di dalam tegakan dapat dinyatakan berdasarkan besaran-besaran kerapatan, penutupan, dan luas bidang dasar, volume

27

biomassa dan indeks nilai penting yang merupakan angka komulatif dari keraparan relatif, dominasi relatif dan frekuensi relatif (Soerianegara & Indrawan 1980) Berdasarkan nilai indeks keragaman jenis (H!) Shannon & Wiener. Hutan sekunder Bukit Mandi Angin memiliki keragaman jenis yang sedang karena nilai H! (nilai indeks keragamannya) memiliki rentang nilai 1 sampai 3. Hal ini

mengindikasikan bahwa penyebaran jumlah individu setiap jenis tidak sama dan ada kecenderungan salah satu jenis individu untuk tidak mendominasi ekosistem tersebut (Ardi 2002). Ini dibuktikan dengan ada beberapa jenis tanaman yang mendominasi dan nilai dominasinya tidak terlalu jauh antara 1 jenis dengan jenis yang lain. Tanaman-tanaman yang mendominasi ini adalah kayu kacang, petindis, renghas, luwa dan karamunting. C. Proses Suksesi di Hutan Mandi Angin Hutan Mandi Angin yang didominasi oleh salah satunya, petindis dan luwa mengindikasikan dalam proses suksesi sekunder. Memoar hutan Bukit Mandi Angin yang dulunya lebat bisa diamati dengan masih terdapatnya marga dipterokarpa terutama pada daerah punggung bukit dan kawasan dengan kelerangan yang curam dan memiliki diameter yang besar. Berdasarkan pembagian tahapan klimaks yang diperikan oleh Soerianegara & Indrawan (1980). Hutan Mandi Angin masih dalam tahapan semak belukar,

walaupun telah ditemukan adanya tanaman pioneer dalam hutan sekunder muda seperti alaban (Vitex pubescens), mahang (Macaranga sp) dan Ficus sp. Tesis ini juga dibuktikan dengan masih banyak terdapat rumpang-rumpang (gaps of stands), sehingga semak belukar dapat menginvasi karena kelimpahan cahaya yang cukup tinggi. Biasanya semak belukar merupakan tipe tanaman

28

intoleran (tidak bisa hidup dalam naungan). Ini sesuai dengan pendapat Suri & Setiabudi (2000) yang menyatakan bahwa suksesi diawali oleh proses invasi terutama oleh tanaman pioner yang intoleran, khususnya semak belukar. Namun, karena ada faktor lain seperti eksploitasi oleh manusia baik untuk timber mining maupun perladangan berpindah dan resetment. Proses suksesi dapat berjalan retrogresif sehingga hutan Mandi Angin menjadi disklimaks. Soeseno & Edris (1977) menyebutkan suksesi yang disklimaks sebagai suatu tingkatan yang sedang berkembang namun dihalangi oleh faktor alam (bukan iklim) yang terjadi secara permanen. Dikhawatirkan hutan Mandi Angin akan menjadi disklimaks. Indikasi ini bisa diamati dengan seringnya terjadi kebakaran lahan pada kawasan ini terutama pada musim kemarau, aktivitas manusia terutama kegiatan pariwisata yang tidak berlanjutan dan penggembalaan ternak oleh warga sekitar yang tidak memperhatikan daya dukung lingkunan. Padahal Soeseno & Edris (1977) menjelaskan bahwa faktor-faktor di atas merupakan pemicu proses kemunduran jalannya suksesi menuju tahapan klimaks. Apalagi ditambah dengan laju erosi yang cukup tinggi sehingga daya dukung hutan Mandi Angin menjadi makin menipis. Karena unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan vegetasi makin berkurang. Soerianegara & Indrwan (1980) menyimpulkan bahwa suksesi sekunder

bermula dari tahapan vegerasi rumput-rumputan dan semak belukar. Selama laju erosi tidak terlalu tinggi maka setelah 15 – 20 tahun akan terbentuk hutan sekunder muda. Baru setelah 30 tahun kemudian terbentuklah hutan sekunder tua yang

berangsur-angsur menuju tahapan klimaks.

29

Hal ini juga selaras dengan pernyataan Riyanto et al (1995) bahwa proses perubahan dalam struktur komunitas berjalan seiring dengan waktu selama tidak ada pengaruh kekuatan luar yang destruktif. Suksesi secara prinsipil bersifat direksional atau selalu menuju klimaks. Perubahan-perubahan ini biasanya disebabkan oleh faktor lingkungan fisik, interaksi dan kompetisi, koeksistensi populasi. Lebih lanjut lingkungan fisik sangat menentukan pola dan kadar perubahan bahkan bisa membatasi proses tersebut.

30

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Kesimpulan hasil penelitian ini adalah : 1. Hutan Mandi Angin memiliki petak minimin untuk pengamatan jenis seluas 512 m2 atau 0,05 hektar 2. Hutan Mandi Angin memiliki keragaman jenis yang relatif rendah dimana dalam 1 petak pengamatan jenis hanya diperoleh 46 jenis tanaman saja 3. Hautan Mandi Angin didominasi oleh Kayu kacang (Stombossia javanica), renghas (Gluta renghas), petindis, luwa dan karamunting 4. Hutan Mandi Angin merupakan jenis hutan dalam tahap suksesi sekunder muda B. Saran Penelitian ini perlu dilanjutkan dengan penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui tingkat pertumbuhan hutan Mandi Angin dan parameter ekologis lainnya secara lebih komprehensif. Bila perlu pada dibuat plot permanen untuk pengamatan jenis dan mengetahui struktur dan komposis hutan ini.

31

DAFTAR PUSTAKA Aqla, Muhammad. 2004. Potensi Flora dan Fauna untuk Pengembangan Ekowisata pada Hutan Konservasi Loksado. Jurnal Ilmiah Hutan Tropis Borneo. No 15 Edisi Maret Hal : 21 – 30. Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru Ardi. 2002. Pemanfaatan Makrozoobento sebagai Indikator Kualitas Perairan Pesisir. www. Rudyct.topcities. com/PPS. 702_20702/Ardi.htm. Diakses 14 Juli 2005

Arifin, Bustanul. 2001. Misteri Estimasi Kerusakan Hutan Indonesia. Dalam Bustanul Arifin. Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia Perspektif Ekonomi, Etika dan Praksis. Penerbit Erlangga, Jakarta Awang, San Afri. 2004. Dekonstruksi Social Forestri : Reposisi Masyarakat dan Keadilan Lingkungan. Bigraf Publishing, Yogyakarta Departemen Kehutanan. 1994. Pengelolaan Hutan secara Lestari. Depertemen Kehutanan, Jakarta Kompas. 2005. Ditemukan 361 Spesies Baru Kalimantan. Kompas 2 Mei 2005. Jakarta Mc Noughton, S.J & L.L Wolf. 1990. Ekologi Umum. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Pandjaitan, P.D.B. 1988. Pengantar Ekologi Umum. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru Fakultas Kehutanan

Riyanto, et al. 1995. Ekologi Dasar. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depertemen Pendidikan Nasional Badan Kerjasana Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur, Makasar Soerianegara, Ismet & A. Indrawan. 1980. Ekologi Hutan Indonesia. Depertemen Managemen Hutan Institut Pertanian Bogor, Bogor Seoseno, O.H & I. Edris. 1977. Silvics. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Suri, A & Setiabudi. 2000. Pengantar Ilmu Kehutanan. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru Fakultas Kehutanan

32

Lampiran 1. Data hasil pengamatan kurva spesies area di hutan Mandi Angin
Luas Petak (m2) 1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 3 4 Penambahan Satuan Persen (%) 0 0

No 1

Nama Jenis Karamunting duduk Jelukap Paku dandang Litu Rumput kekucingan Kasisap Alang alang (Imperata cylindica)

Jumlah Jenis 3

2

2

7

4

133,33

Cangkarik Batu Petindis Sapit undang Tiwangau (Glocnidium Spp) 12. Kemalaka (Phyllantus emblicus) 13. Kayu kacang (Strombossia javanica) 14. Rumput untingunting 15. Juragi 16. Nanangkaan 17. Kajajahe 18. Mambab 19. Merambung 20. Jawaling (Tristaniopsis Spp) 21. Luwa (Ficus variegata) 22. Bangkal gunung Ixora blumei) 23. Alaban (Vitex pubescens) 24. Jawaling kijang (Tristaniopsis Spp)

13

6

85,71

4

8

20

7

53,85

5

16

24

4

20

6

32

25. 26. 27. 28. 29. 30.

Rumpur teke Berunai Tapin Mali-mali Kayu teja Mampat (Cratoxylon formasus)

30

6

25

33

Lampiran 1. Data hasil pengamatan kurva spesies area di hutan Mandi Angin No 7 Luas Petak (m2) 64 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. Nama Jenis Bati-bati Serai putih Marsihung Rukam laki Rangka-rangka Mata undang Putar laki Bangkirai Mahang (Macaranga hosei) 40. Laladingan 41. Asam daun 42. Katu utan 43. Kerinyu 44. Birik ( Albizia procera) 45. Karamunting 46. Jawaling (Tristaniopsis Spp) 47. Kayu tutup 48. Kuniadai Jumlah Jenis 33 Penambahan Satuan Persen (%) 3 10

8

128

39

6

18,16

9

256

44

5

12,02

10 11

512 1024

46 48

2 2

4,56 4,35

Contoh perhitungan : (untuk petak no.2 dengan luas 2 m2) Diketahui : Po Pt ΔP = = = = 3 7 (7 – 3) 4

Maka persen pertambahan jenis : P = (4/3) x 100 = 133,33 %

34

Lampiran 2. Data pengamatan besaran ekologis pada hutan Mandi Angin
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Pl ot Nama Jenis Alaban (Vitex pubescens) Katu hutan Mahang (Macarangan spp) Luwa (Ficus variegata) Kayu tutup Mengkudu hutan Mali-mali Tiwangau (Glocnidium spp) Jawaling (Tristaniopsis Spp) Liana Kapasan Petindis Nanangkaan Bangkal gunung (Ixora blumei) Asam daun Jambu hutan (Eugenia Spp) Medang pirawas (Litsea cassifolia) Serai merah (Crypocaria spp) Tiwangau (Glocnidium spp) Mampat (Cratoxylon formasum) Luwa (Ficus variegata) Birik (Albizia procera) Kerinyu Paku-paku sagar Rangka-rangka Rengas (Gluta renghas) Bangkal gunung (Ixora blumei) Petindis Mampat (Cratoxylon formasum) Nanangkaan Alaban (Vitex pubescens) Jawaling (Tristaniopsis Spp) Paku-pakuaan Tapus Patiti Sasahangan Kayu tutup Rangka-rangka jmlh 4 1 3 9 3 4 2 2 5 1 1 7 2 4 1 2 1 2 1 1 16 2 1 2 15 1 1 3 8 1 2 3 3 6 15 6 1 1 2 30 4 Tutupan tajuk (%) Lereng (0) keterangan pancang pancang semai pancang pancang semai pancang pancang semai liana semai semai semai semai liana semai semai pancang pancang pancang pancang (11), semai (5) pancang pancang herba liana
Tiang (d = 10 cm)

1

70

1

3

70

10

Pancang Semai Semai Semai Semai Semai Herba Semai semai pancang pancang liana

35

Lampiran 2. Lanjutan
No 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 5 4 Pl ot Nama Jenis Luwa Luwa (Ficus variegata Petindis Bangkal gunung (Ixora blumei) Mata undang Kajajahe Rengas (Gluta renghas) Mahang (Macaranga spp) Jawaling (Tristaniopsis spp) Nanangkaan Kayu Kacang (Srtombossia javanica) Sapit undang Rangka-rangka Kayu tutup Katu utan Jawaling kijang (Tristaniopsis spp) Kerinyu Tilayu Minalin Litu Kerinyu Petindis Luwa (Ficus variegata) Bengkirai Mengkudu Jawaling (Tristaniopsis spp) Nanangkaan Kajajahe Tabiyu Bangkal gunung (Ixora blumei) Kayu tutup Karamunting jmlh 7 10 1 1 1 2 5 8 6 2 1 1 2 1 1 3 1 1 5 18 9 7 1 2 2 2 2 1 3 1 1 30 13 50 12 Tutupan tajuk (%) Lereng (0) keterangan Pancang (1) Semai (6) Pancang (4) semai (2) pancang pancang pancang pancang semai Pancang (4) Semai (4) Pancang (1)_ semai (5) Pohon (1) semai 1) pancang liana semai pancang pancang semai pancang liana liana Pancang (15) Semai (3) semai Pancang (3) semai 4) semai pancang pancang Pancang (1) Semai (1) pancang pancang semai pancang pancang

36

Lampiran 2. Lanjutan
No 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 7 6 Plot Nama Jenis Bangkal gunung (Ixora blumei) Kajajahe Kayu tutup Merambung (Vernonia arborea) Jawaling kijang (Tristaniopsis spp) Luwa (Ficus variegata) Katu utan Jawaling (Tristaniopsis spp) Rangka-rangka Tiwangau (Glocnidium spp) Balik angin (Mallotus paniculatus) Petindis Litu Kerinyu Kemalaka (Phyllantus emblicus) Karamunting duduk Balaran tupah Alaban (Vitx pubescens) Petindis Luwa (Ficus variegata) Bangkal gunung (Ixora blumei) Kaja jahe Nanangkaan Litu Jawaling (Tristaniopsis spp) Karamunting Tiwangau (Glocnidium spp) Asam daun jmlh 1 7 2 2 2 1 1 5 2 4 1 17 3 9 1 1 1 1 11 6 4 2 1 3 3 3 1 2 10 21 30 14 Tutupan tajuk (%) Lereng (0) keterangan Pancang Pancang (6) semai (1) Pancang (1) Semai (1) Pancang (1) semai (1) Pancang (1) semai (1) semai semai Pancang (2) semai (3) liana Pancang (1) semai (3) semai Pancang (8) semai (9) liana pancang semai semai liana pohon Pancang (9) Semai (2) Pancang (3) Semai (3) Pancang (3) semai (1) semai pancang semai semai semai pancang liana

37

Lampiran 2. Lanjutan
No 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 Plo t Nama Jenis Karamunting Petindis Luwa (Ficus variegata) Kemalaka (Phyllantus emblicus) Mali - mali Jawaling (Tristaniopsis spp) Alaban (Vitex pubescens) Tilayu Bangkal gunung (Ixora blumei) Merambung (Vernonia arborea) Tiwangau (Glocnidium Spp) Mengkudu hutan Kayu kacang (Strombossia javanica) Bati-bati gunung (Eugenia spp) Petindis Bangkal gunung (Ixora blumei) Karamunting Jawaling (Tristaniopsis spp) Luwa (Ficus variegata) Kemalaka (Phyllantus emblicus) Alaban (Vitex pubescens) Balik angin (Mallotus paniculatus) Kayu tutup Tiwangau (Glocnidium Spp) Nanangkaan Sapit undang Mengkudu Mampat Kuniadai Katu utan Karamunting Jawaling Luwa Asam daun Mampat Rangka-rangka Petindis Katu utan Kayu tutup jmlh 16 15 9 4 1 9 1 1 5 2 4 4 1 1 6 11 10 9 9 2 2 1 1 4 1 3 3 2 1 1 25 2 4 1 4 1 5 1 1 Tutupan tajuk (%) Lereng (0) keterangan Pancang semai pancang pancang pancang Pancang Semai semai semai pancang semai pancang pancang pancang pancang semai pancang semai semai pancang pancang semai semai pancang semai pancang pancang pancang semai pancang semai pancang pancang liana pancang liana pancang pancang pancang

8

70

35

9

50

17

10

30

17

38

Lampiran 3. Contoh perhitungan besaran ekologi Contoh Perhitungan : Untuk Alaban (Vitex pubescens) 1. Kerapatan K = (jumlah individu : luas plot pengamatan) K = (11 : 0,0250) K = (400 batang/ha) 2. Karapatan Relatif (KR) KR = ((kerapatan suatu jenis : total kerapatan) x 100%) KR = ((400 : 20400) x 100%) KR = 2,1569 % 3. Frekuensi (F) F = (jumlah petak ditemukan suatu jenis : seluruh jumlah petak) F = (5 : 10) F = 0,5 4. Frekuensi relatif (FR) FR = (frekuensi suatu jenis : total frekuensi) x 100 % FR = (0,5 : 13,4) x 100 % FR = 3,7313 % 5. Dominasi (D) D = (jumlah luas bidang dasar : luas plot pengamatan) D = ((1/4π (Σdi2) : 0,0250) D = (1/4 x 3,14 x (0,1722 + 0,12742 + 0,11642) : 0,025 D = 0,0463 : 0,025 D = 1,852 m2/ha

39

Lampiran 3. Lanjutan 6. Dominasi relatif (DR) DR = (dominasi suatu jenis : Dominasi seluruh jenis) x 100 % DR = (1,852 : 26, 402) x 100 % DR = 7,0146 % 7. Indeks nilai penting (INP) INP = KR + FR + DR INP = 2,1569 % + 3,7313 % + 7,0146 % INP = 12,9208 % 8. Keragaman Shannon-Wienen (H!) H! = - Σ (Ni/Nt x log Ni/Nt) H! = - (0,0430 x (- 1,3665)) H! = 0,0588

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->