P. 1
Peranan-DPKS

Peranan-DPKS

|Views: 42|Likes:
Dipublikasikan oleh Widhi Romadona

More info:

Published by: Widhi Romadona on Feb 04, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2011

pdf

text

original

PERANAN DEWAN PENDIDIKAN DAN KOMITE SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK PENDIDIKAN DASAR

(SD DAN SMP) TAHUN 2006 (TINJAUAN DARI DINAS PENDIDIKAN DAN DEPARTEMEN AGAMA) R. Gunawan Sudarmanto1 ABSTRAK Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan bagaimana kondisi dan pelaksanaan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang telah dibentuk sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pengkajian penelitian ini lebih difokuskan pada Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah untuk jenjang pendidikan dasar. Penelitian ini menggunakan metode expost facto untuk mengungkap kenyataan yang telah terjadi selama ini. Pengumpulan data dalam kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Data yang telah diolah kemudian dianalisis dengan teknik kualitatif dan kuantitatif (menggunakan persentase), termasuk dalam kegiatan ini adalah penyusunan laporan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) Baik Menurut persepsi Dinas Pendidikan maupun Kepala Kantor Departemen Agama di daerah, sebagian besar pengurus dan anggota Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah memiliki komitmen yang tinggi dan sangat tinggi untuk ikut serta meningkatkan kondisi atau kualitas pendidikan di masing-masing daerah, (2) Keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Dinas pendidikan di daerah, yang paling tinggi yaitu pada kegiatan memberikan dukungan. Urutan tingkat pelaksanaan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, maka yang pertama yaitu pemberian dukungan, mediator, pemberian pertimbangan, dan yang paling rendah yaitu pengontrol, dan (3) Menurut persepsi Kepala Kantor Departemen Agama di daerah, peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang berupa; pemberi perimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrol (controlling agency), dan mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik sebagaimana yang diharapkan bersama. Kata kunci: Kusalitas, layanan pendidikan ABSTRACT This research is aimed to lay open how the Dewan Pendidikan and Komite Sekolah has performed teir character to improve education quality at basic education (SD and SMP). This study has focussed at Dewan Pendidikan and Komite Sekolah of basic education (SD and SMP). The expost facto was conducted in this reseacrh and the qoutionair, interview, and documentation was ganerated to collect data. The data was analysed with qualitative and quantitative (percentage) technique. Result of this research indicated that (1) whether according to Dinas Pendidikan and also Kepala Kantor Departemen Agama
1

Dr. R. Gunawan Sudarmanto, S.Pd., S.E., M.M., adalah Dosen Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan IPS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Jl. Sumantri Brojonegoro No. 1 Gedongmeneng, Bandarlampung, 35145.

1

in the district, most of the members and official of Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah have high and very high commitment to join in to improve education quality in each district, (2) the supporting agency has the highest involvement of Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah according to Dinas Pendidikan in each district. The ordinary (highest to lowest) of the performed of the Dewan Pendidikan and Komite Sekolah function is suppoting agency, mediatory agency, advisory agency, and controlling agency, and (3) according to Kepala Kantor Departemen Agama perception in each dsitrict, role of the Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah that consis of advisory agency, supporting agency, controlling agency, and mediatory agency has performed as good as expected. Key word: Quality, education service PENDAHULUAN Adanya kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, memunculkan tantangan bagi pendidikan dasar dan menengah yang disinyalir berkaitan dengan rendahnya mutu proses dan hasil pendidikan. Pendidikan dasar dan menengah sebagai upaya memberikan dasar yang kuat bagi peningkatan sumber daya manusia diyakini memberi kontribusi yang sangat berarti untuk perkembangan peserta didik. Berkaitan dengan kondisi tersebut, perlu adanya upaya untuk meningkatkan mutu proses pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Statemen yang berkembang pada masyarakat menyatakan bahwa mutu sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah disinyalir belum mempunyai kualifikasi sebagai mana yang diharapkan. Masih banyak guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang hanya berpendidikan diploma. Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana yang diperlukan untuk penyelenggarakan pendidikan dasar dan menengah pun masih banyak yang di bawah standar, terbukti masih banyak sekali terdengar adanya gedung sekolah yang roboh, gedung sekolah mirip kandang ayam, dan berita miring lainnya. Guna perbaikan kualitas pembelajaran yang terjadi pada pendidikan dasar dan menengah perlu adanya kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait, termasuk perlu adanya hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat sekitar. Berkaitan dengan hubungan antara sekolah dan masyarakat yang belum berjalan dengan baik, perlu adanya suatu lembaga khusus dari masyarakat untuk ikut memberikan perhatian perbaikan kualitas pendidikan dasar dan menengah. Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab sekolah secara penuh. Sesuai dengan perundangundangan yang berlaku, pendidikan juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat secara bersama. Masyarakat merupakan stakeholder yang mempunyai kepentingan atas keberhasilan pendidikan di sekolah (baik pendidikan dasar maupun menengah). Untuk mempermudah hubungan antara sekolah dan masyarakat, diperlukan suatu lembaga yang mampu menjadi penghubung, yaitu dewan pendidikan untuk tingkat kabupaten/kota dan provinsi, dan komite sekolah untuk tingkat satuan pendidikan Salah satu permasalahan pendidikan yang disorot dan erat kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan adalah manajemen (pengelolaan) pendidikan. Paling tidak ada tiga 2

faktor manajemen pendidikan yang perlu mendapat perhatian. Pertama, penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau yang lebih dikenal dengan pendekatan input-output analysis. Kedua, pendidikan nsional diselenggarakan secara birokratik-sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur sangat panjang dan kadangkala tidak sesuai dengan kondisi daerah setempat. Ketiga, peranserta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim (Anonimus, 2003: 9—10). Dalam era desentralisasi di bidang pendidikan sekarang ini peran serta masyarakat menjadi sangat penting artinya bagi kehidupan suatu sekolah. Organisasi yang diharapkan mampu untuk menampung seluruh aspirasi dan peran serta masyarakat tersebut adalah Dewan pendidikan dan Komite Sekolah. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan badan atau lembaga non profit dan non politis, yang dibentuk berdasarkan musyawarah secara demokratis oleh stakeholder pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas, proses dan hasil pendidikan. Permasalahannya adalah apakah dengan telah terbentuknya organisasi yang bernama Komite Sekolah itu akan menjadi suatu jaminan bakal mampu membantu pengelolaan pendidikan di satu sekolah? Keberadaan Dewan Pendidikan harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di daerah. Oleh karena itu, pembentukannya harus memperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada. Adapun peran yang dijalankan Dewan Pendidikan berupa (a) pemberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan, (b) pendukung (supporting agency) baik finansial, pemikiran, maupun tenaga penyelenggara pendidikan, (c) pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan, (d) mediator antara pemerintah (eksekutif) dan DPR (legislatif) dengan masyarakat (Anonimus, 2003: 9—10). Demikian juga dengan Komite Sekolah, keberadaan komite Sekolah harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan hasil pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pembentukannya harus memperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada. Adapun peran yang dijalankan Komite Sekolah berupa (a) pemberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan, (b) pendukung (supporting agency) baik finansial, pemikiran, maupun tenaga penyelenggara pendidikan, (c) pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan, (d) mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan (Anonimus, 2003: 23—24). Komite Sekolah merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan satuan pendidikan maupun lembaga pemerintah lainnya. Posisi Komite Sekolah, satuan pendidikan, dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya mengacu pada kewenangan masing-masing berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pembentukan Komite 3

Sekolah bertujuan untuk (a) mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program-program pendidikan di satuan pendidikan, (b) meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaan pendidikan, dan (c) menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan (Anonimus, 2004: 17). Pendidikan dalam konteks persekolahan merupakan suatu institusi formal yang dipandang sebagai suatu sistem yang mendayagunakan berbagai komponen atau sumber daya pendidikan secara maksimal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa hasil yang dikeluarkan oleh suatu lembaga pendidikan baik kualitas maupun kuantitas sangat tergantung kepada kelancaran dan kesempurnaan jalannya proses pengubahan masukan menjadi keluaran. Gambaran sekolah sebagai suatu sistem dapat ditunjukkan pada bagan berikut ini. Guru, TU, Sarpras, kurikulum, Biaya, Alat pelajaran

Peserta Didik (raw input)

Proses Belajar/Mengajar

Lulusan (out put)

Lingkungan masyarakat, Orangtua, Lingkungan Sekolah Gambar 1. Sekolah sebagai suatu sistem (Anonimus, 2006: 5) Kepala sekolah memegang peranan penting dalam mencapai keberhasilan manajemen di sekolah. Fakta umum telah menunjukan bahwa, dalam mengelola sekolah diperlukan suatu rencana yang terinci, sehingga tidak terjadi pelaksanaan yang tumpang tindih, kurang koordinasi, komunikasi yang kurang interaktif, kurang motivasi, tidak transparan, kurang teliti, dan kurang dipahami didasarkan atas tugas dan fungsi organisasi (Anonimus, 2006: 1). Di sisi lain kepala sekolah ... dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sering mengalami hambatan baik datang dari diri sendiri kepala sekolah, maupun hambatan dari atasannya (Anonimus, 2006: 2). Kenyataan tersebut memerlukan adanya suatu lembaga yang mandiri sebagai partner kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan yang disebut dengan Dewan Pendidikan an Komite Sekolah. Selama ini keberadaan dan peran dewan pendidikan dan komite sekolah dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan sekolah di berbagai daerah di Indonesia sangat bervariasi, baik dari segi status, kinerja, peran, kualitas SDM, sarana dan prasarana 4

dewan pendidikan dan komite sekolah. Berkaitan dengan kelembagaan tersebut perlu adanya dukungan pemerintah terhadap keberadaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Dukungan pemerintah tersebut perlu ditingkatkan dalam bentuk yang lebih realistis dan perlu adanya upaya yang konkrit atas dukungan tersebut. Oleh karena itu, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah perlu diteliti untuk mendapatkan gambaran yang utuh bagaimana peran yang telah terjadi selama ini. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan bagaimana kondisi dan pelaksanaan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang telah dibentuk sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pengkajian penelitian ini lebih difokuskan pada Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Lingkup kegiatan penelitian ini meliputi beberapa kabupaten pada beberapa propinsi yang mewakili wilayah perkotaan, perdesaan, dan antara desa dan kota. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode expost facto untuk mengungkap kenyataan yang telah terjadi selama ini. Pengumpulan data dalam kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilaksanakan di daerah sebagai sampel penelitian dengan melibatkan peserta dari daerah sebagai responden dan nara sumber serta Tim Teknis untuk membantu mengkoordinasikan kegiatan ini. Proses pengolahan data dalam kegiatan ini mencakup editing, entri data, cleaning data yang telah dikumpulkan dan memasukkannya ke dalam sistem komputer. Hasil dari kegiatan ini adalah data yang siap dianalisis. Data yang telah diolah kemudian dianalisis dengan teknik kualitatif dan kuantitatif (menggunakan persentase), termasuk dalam kegiatan ini adalah penyusunan laporan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana yang diharapkan bersama oleh bangsa Indonesia, yaitu adanya penyelenggaraan pendidikan berkualitas yang pada akhirnya akan menghasilkan lulusan berdayasaing tinggi. Untuk mencapai hal tersebut penyelenggaraan pendidikan tidak dapat hanya menggantungkan sepenuhnya kepada sekolah akan tetapi perlu adanya partisipasi atau kontribusi dari berbagai pihak yang terkait, termasuk masyarakat pada umumnya. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah guna memenuhi harapan bangsa yang berkaitan dengan dunia pendidikan diantaranya adalah dibentuk dewan pendidikan dan komite sekolah yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bermakna dalam upaya perbaikan kualitas pendidikan. Untuk melihat peran dewan pendidikan dan komite sekolah harus memahami dengan baik fungsi dan perannya. Gambaran tingkat kontribusi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang terjadi selama ini dapat diuraikan sbb. 1. Kontribusi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah Menurut Dinas Pendidikan Komitmen suatu bagian atau seseorang akan memiliki makna yang sangat berarti dalam menumbuhkembangkan kontribusinya terhadap suatu lembaga atau suatu 5

kegiatan tertentu. Beberapa aspek yang diperlukan untuk melihat tingkat komitmen dewan pendidikan dan komite sekolah menurut persepsi Dinas Pendidikan dapat disajikan berikut ini. 1) Tingkat kompetensi anggota dan pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. 2) Pemahaman Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. 3) Kepedulian Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. 4) Kepemilikan sarana untuk menunjang kegiatan operasional. 5) Kepemilikan prasarana untuk menunjang kegiatan operasional. 6) Frekuensi pertemuan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah selama setahun terakhir. 7) Keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam menyusun kebijakan pendidikan di daerah. 8) Dukungan pemerintah Pemerintah daerah terhadap Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai mitra mengatasi masalah pendidikan. 9) Respon pemerintah daerah terhadap kegiatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam membantu memajukan pendidikan di daerah. Hasil pengolahan data berkaitan dengan sembilan butir yang digunakan untuk melihat tingkat komitmen Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut Dinas pendidikan dapat disajikan pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Distribusi frekuensi sembilan butir tingkat komitmen Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut Dinas pendidikan No. Keterangan 5 11 18% 14 23% 10 17% 7 12% 4 29 48% 26 43% 31 52% 11 18% Kondisi 3 9 15% 10 17% 6 10% 13 22% 2 7 12% 6 10% 9 15% 18 30% 1 4 7% 4 7% 4 7% 11 18%

1. Tingkat kompetensi anggota dan pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. 2. Pemahaman Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. 3. Kepedulian Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. 4. Kepemilikan sarana untuk menunjang kegiatan operasional.

6

5. Kepemilikan prasarana untuk menunjang kegiatan operasional. 6. Frekuensi pertemuan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah selama setahun terakhir. 7. Keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam menyusun kebijakan pendidikan di daerah. 8. Dukungan pemerintah Pemerintah daerah terhadap Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai mitra mengatasi masalah pendidikan. 9. Respon pemerintah daerah terhadap kegiatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam membantu memajukan pendidikan di daerah. Total

2 3% 8 13% 17 28% 17 28% 13 22 99

18 30% 7 12% 37 62% 23 38% 32 53% 214

18 30% 18 30% 5 8% 16 27% 12 20% 107

12 20% 18 30% 0 0 3 5% 3 5% 76

10 17% 9 15% 1 2% 1 2% 0 0 44

Berdasarkan analisis tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar (57,93%) pengurus dan anggota Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah memiliki komitmen yang baik dan sangat baik untuk ikut serta meningkatkan kondisi atau kualitas pendidikan di masing-masing daerah. Sebaran secara rinci tentang tingkat komitmen pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Dinas Pendidikan dapat ditunjukkan berikut ini. Tabel 2. Distribusi frekuensi tingkat komitmen pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Dinas Pendidikan No 1. 2. 3. 4. 5. Kategori/Kondisi Sangat baik Baik Sedang Kurang Sangat kurang Total f 99 214 107 76 44 540 % 18,33 39,63 19,82 14,07 8,15 100

Dalam pengelolaan block grant sebagian besar (67%) responden Dinas Pendidikan menyatakan melibatkan Dewan Pendidikan, baik untuk block grant dari pusat maupun daerah selebihnya (33%) menyatakan tidak melibatkan Dewan Pendidikan.. Adapun keterlibatan Dewan Pendidikan pada pengelolaan block grant tersebut secara rinci dapat ditunjukkan berikut ini.

7

Tabel 2. Distribusi frekuensi keterlibatan Dewan Pendidikan pada pengelolaan block grant menurut persepsi Dinas Pendidikan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jenis Kegiatan Perencanaan sasaran penerima program Penetapan sasaran penerima program Monitoring dan evaluasi sasaran penerima program Pengawasan penggunaan dana kegiatan Monitoring dan evaluasi penggunaan program Lainnya f 27 28 31 21 23 3 % 45 47 52 35 38 5

Dilihat berdasarkan pada peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang berupa; pemberi pertimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrol (controlling agency), dan mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan, maka dapat ditunjukkan hasil pengolahan data sbb. Tabel 3. Distribusi frekuensi peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang berupa; pemberi pertimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrol (controlling agency), dan mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan No. Peran DPKS 5 6 10% 8 13% 4 7% 7 12% 4 35 58% 33 55% 33 55% 37 62% Kondisi 3 2 14 1 23% 2% 16 0 27% 0 18 1 30% 2% 11 1 18% 2% 1 4 7% 3 5% 4 7% 4 7%

1. Pemberi perimbangan (advisory agency) 2. Pendukung (supporting agency) 3. Pengontrol (controlling agency) 4. Mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan

Berdasarkan Tabel 3 di atas terlihat bahwa keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang paling tinggi yaitu pada kegiatan memberikan dukungan. Dewan Pendidikan dapat melaksanakan perannya sebagai pemberi dukungan dengan sangat baik sebanyhak 13% dan sebanyak 55% dapat melaksanakan perannya dengan baik. Apabila dibuat urutan tingkat pelaksanaan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, maka yang pertama yaitu pemberian dukungan, mediator, pemberian pertimbangan, dan yang paling rendah yaitu pengontrol. Gambaran tingkat keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah secara keseluruhan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat ditunjukkan sebagai berikut.

8

Tabel 4. Distribusi frekuensi tingkat keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah secara keseluruhan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan No 1. 2. 3. 4. 5. Tingkat Pelaksanaan Sangat baik Baik Sedang Kurang Sangat kurang Total F 25 138 59 3 15 240 % 10,42 57,50 24,58 1,25 6,25 100

Hasil pengolahan data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar (67,92%) Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah melaksanakan perannya dengan baik dan sangat baik. Hanya sebagian kecil pengurus dan anggota Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang tidak melaksankan perannya. 2. Kontribusi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah Menurut Kakandepag Kontribusi yang diberikan oleh pihak lain kadangkala dapat terjadi secara tidak langsung. Bagaimanapun bentuk kontribusi yang diberikan untuk dapat terjadi perlu adanya komitmen terhadap sesuatu sebagai dasar munculnya kontribusi tersebut. Komitmen yang dimiliki oleh suatu bagian atau seseorang akan memberikan makna yang sangat berarti dalam menumbuhkembangkan kontribusinya terhadap suatu lembaga atau suatu kegiatan tertentu. Beberapa aspek yang diperlukan untuk melihat tingkat komitmen dewan pendidikan dan komite sekolah menurut persepsi Kepala Departemen Agama dapat disajikan berikut ini. 1) Tingkat kompetensi anggota dan pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. 2) Pemahaman Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. 3) Kepedulian Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. 4) Ketersediaan tenaga yang mendukung program 5) Kepemilikan sarana untuk menunjang kegiatan operasional. 6) Kepemilikan prasarana untuk menunjang kegiatan operasional. 7) Keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam menyusun kebijakan pendidikan di daerah. Hasil pengolahan data berkaitan dengan tujuh butir pertanyaan yang digunakan untuk melihat tingkat komitmen Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Kepala Departemen Agama dapat disajikan pada Tabel 5 berikut ini.

9

Tabel 5. Distribusi frekuensi tujuh butir tingkat komitmen Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Kepala Departemen Agama No. 1. Keterangan Tingkat kompetensi anggota dan pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Pemahaman Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. Kepedulian Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah terhadap masalah pendidikan di daerahnya. Ketersediaan tenaga yang mendukung program Kepemilikan sarana untuk menunjang kegiatan operasional. Kepemilikan prasarana untuk menunjang kegiatan operasional. Keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam menyusun kebijakan pendidikan di daerah. 5 2 7% 8 27% 9 30% 3 10% 2 7% 2 7% 7 23% 4 14 47% 13 43% 13 43% 16 53% 4 13% 2 7% 1 3% Kondisi 3 9 30% 7 23% 6 20% 9 30% 13 43% 12 40% 7 23% 2 3 10% 1 3% 1 3% 2 7% 9 30% 9 30% 9 30% 1 2 6% 1 3% 1 3% 0 0% 2 7% 5 17% 6 20%

2.

3.

4. 5. 6. 7.

Berdasarkan analisis tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar (68%) pengurus dan anggota Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menunjukkan pada komitmen yang tinggi dan sangat tinggi untuk ikut serta meningkatkan kondisi atau kualitas pendidikan di masing-masing daerah. Sebaran secara rinci tentang tingkat komitmen pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Kepala Kantor Departemen Agama dapat ditunjukkan berikut ini. Tabel 6. Distribusi frekuensi tingkat komitmen pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Kepala Kantor Departemen Agama No 1. 2. 3. 4. 5. Kategori/Kondisi Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Total f 33 63 63 34 17 210 % 15,72 30 30 16,19 8,09 100

10

Dilihat berdasarkan pada peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang berupa; pemberi perimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrol (controlling agency), dan mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan, maka keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Kepala Kantor Departemen Agama dapat ditunjukkan hasil pengolahan data sbb. (1) Peran pemberi pertimbangan (advisory agency) Menurut persepsi Kepala Kantor Departemen Agama menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah pernah memberikan pertimbangan terhadap kebijakan pendidikan di lingkungan Departemen Agama di daerah. Gambaran secara rinci tentang keterlibatan pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam mengambil kebijakan sekolah dapat ditunjukkan sbb. Tabel 7. Distribusi frekuensi tentang keterlibatan pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam mengambil kebijakan sekolah menurut persepsi Kepada Kantor Departemen Agama No Kategori/Kondisi 1. Ya 2. Tidak pernah f 20 10 30 % 67 33 100

Berdasarkan pengolahan data sebagaimana disajikan pada Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar (67%) pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah telah melaksanakan perannya sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency) terhadap kebijakan pendidikan di lingkungan Departemen Agama di daerahnya. Hanya sebagian kecil (33%) yang tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency). (2) Peran pendukung (supporting agency) Berkenaan dengan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai pemberi dukungan (supporting agency) terhadap kebijakan pendidikan di Kabupaten/Kota terdapat beberapa aktivitas yang pernah dilakukannya. Penilaian Kepala Kantor Departemen Agama terhadap pelaksanaan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai pemberi dukungan (supporting agency) terhadap kebijakan pendidikan di daerah dapat ditunjukkan sbb. Tabel 8. Distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai pemberi dukungan (supporting agency) terhadap kebijakan pendidikan di daerah menurut persepsi Kepada Kantor Departemen Agama No Kategori/Kondisi 1. Dilaksanakan dengan sangat baik 2. Dilaksanakan dengan cukup baik f 4 18 % 13 61 11

3. 4. 5.

Dilaksanakan dengan kurang baik Dilaksanakan tidak baik Tidak dilaksanakan

4 4 0 30

13 13 0 100

Berdasarkan pengolahan data sebagaimana disajikan pada Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah melaksanakan perannya sebagai pemberi dukungan (supporting agency) cukup baik dan sangat baik (74%). Tidak ada pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi dukungan (supporting agency) dan hanya sebagian kecil pelaksanaannya kurang baik dan tidak baik. (3) Peran pengontrol (controlling agency) Berkaitan dengan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai pengontrol (controlling agency) terhadap kebijakan pendidikan di Kabupaten/Kota terdapat beberapa aktivitas yang pernah dilakukannya. Penilaian Kepala Kantor Departemen Agama terhadap pelaksanaan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai pengontrol (controlling agency) terhadap kebijakan pendidikan di daerah dapat ditunjukkan sbb. Tabel 9. Distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai pengontrol (controlling agency) terhadap kebijakan pendidikan di daerah menurut persepsi Kepada Kantor Departemen Agama No 1. 2. 3. 4. 5. Kategori/Kondisi Dilaksanakan dengan sangat baik Dilaksanakan dengan cukup baik Dilaksanakan dengan kurang baik Dilaksanakan tidak baik Tidak dilaksanakan f 2 16 11 0 1 30 % 7 53 37 0 3 100

Berdasarkan pengolahan data sebagaimana disajikan pada Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah melaksanakan perannya sebagai pengontrol (controlling agency) cukup baik dan sangat baik (60%). Sebagian kecil (37%) pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang melaksanakan perannya sebagai pengontrol (controlling agency) kurang baik dan hanya 3% yang tidak melaksanakan perannya sebagai pengontrol (controlling agency).

12

(4) Peran mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan Peran lain yang dimiliki oleh Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yaitu sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan di Kabupaten/Kota. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut terdapat beberapa aktivitas yang pernah dilakukannya. Penilaian Kepala Kantor Departemen Agama terhadap pelaksanaan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan di daerahnya dapat ditunjukkan sbb. Tabel 10. Distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat di daerah menurut persepsi Kepada Kantor Departemen Agama No 1. 2. 3. 4. 5. Kategori/Kondisi Dilaksanakan dengan sangat baik Dilaksanakan dengan cukup baik Dilaksanakan dengan kurang baik Dilaksanakan tidak baik Tidak dilaksanakan f 6 14 10 0 0 30 % 20 47 33 0 0 100

Berdasarkan pengolahan data sebagaimana disajikan pada Tabel 10 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah melaksanakan perannya sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan di daerahnya cukup baik dan sangat baik (67%). Sebagian kecil (33%) pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang melaksanakan perannya sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan di daerahnya kurang baik. Tidak ada pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang melaksanakannya dengan tidak baik dan tidak ada yang tidak melaksanakan perannya sebagai mediator. SIMPULAN Berdasarkan analisis dan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. 1. Baik Menurut persepsi Dinas Pendidikan maupun Kepala Kantor Departemen Agama di daerah, sebagian besar pengurus dan anggota Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah memiliki komitmen yang tinggi dan sangat tinggi untuk ikut serta meningkatkan kondisi atau kualitas pendidikan di masing-masing daerah. 2. Keterlibatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah menurut persepsi Dinas pendidikan di daerah, yang paling tinggi yaitu pada kegiatan memberikan dukungan. Urutan tingkat pelaksanaan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, maka yang pertama yaitu pemberian dukungan, mediator, pemberian pertimbangan, dan yang paling rendah yaitu pengontrol. 13

3. Menurut persepsi Kepala Kantor Departemen Agama di daerah, peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang berupa; pemberi perimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrol (controlling agency), dan mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik sebagaimana yang diharapkan bersama. DAFTAR PUSTAKA Anonimus. 2003. Acuan Operasional dan Indikator Kinerja Dewan Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. 2003. Panduan Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. 2004. Acuan Operasional dan Indikator Kinerja Komite Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. 2006. Panduan Pengelolaan Sekolah Dasar. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Jakarta.

Anonimus.

Anonimus.

Anonimus.

Anonimus. 2006. Panduan Penilaian Kinerja Sekolah Dasar. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Jakarta. Anonimus. 2006. Pedoman Peningkatan Kinerja Kepala Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Jakarta. 2006. Pedoman Peningkatan Kinerja Sekolah Dasar. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Jakarta.

Anonimus.

Ardhana, W. 1982. Beberapa Metode Statistik untuk Penelitian Pendidikan. Penerbit Usaha Nasional, Surabaya. Arikunto, Suharsimi. 1983. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Penerbit PT Bina Aksara, Jakarta. Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Penelitian. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Cooper, Donald R., dan C. William Emory. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Jilid I, Edisi Kelima. Alih Bahasa oleh Ellen Gunawan dan Imam Nurmawan. Penerbit Erlangga, Jakarta. Nazir, Muhammad. 1988. Metode Penelitian. Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.

14

Rakhmat, Jalaluddin. 1991. Metode Penelitian Komunikasi. Dilengkapi contoh analisis statistik. Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Sugiarto. 1992. Analisis Regresi: Tahap awal + aplikasi. Penerbit Andi Offset, Yogyakarta. Sugiyono. 1993. Metode Penelitian Administrasi. Penerbit Alfabeta, Bandung.

15

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->