Anda di halaman 1dari 4

Pembangunan Untuk Rakyat

Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan

Pengantar
Pembangunan ekonomi Indonesia yang kini memasuki jangka panjang kedua, bukannya tidak
dipersiapkan. Beberapa peristiwa bisa dicatat: seminar Trase Baru yang diselenggarakan di
Universitas Indonesia pada tahun 1966. Lebih awal lagi seminar Angkatan Darat I di Bandung
yang dalam kaitan itu juga senantiasa disebut peranan para ahli ekonomi yang mengajar di
lembaga pendidikan ABRI. Dalam forum-forum itu dibicarakan bagaimana masa depan
Indonesia dan bagaimana pembangunan, khususnya dalam bidang ekonomi, agar
diselenggarakan. Bahan-bahan pemikiran itu kemudian dituangkan dan dijabarkan dalam
Garis-garis Besar Haluan Negara.

undang Dasar 1945, secara eksplisit pasal 33


Penyusunan Garis-garis Besar Haluan
UUD.
Negara, yang semula diprakarsai oleh
pemerintah makin diserahkan kepada ma- Jalan ekonomi pasar membuka
syarakat. Dilakukan persiapan lama, peluang untuk berperannya usaha ekonomi
pengumpulan bahan, pengalaman di swasta dari dalam negeri maupun dari luar
lapangan, menyerap aspirasi masyarakat. negeri. Kebijakan, iklim dan kemudahan
Prosesnya mengikuti jalur konstitusional diberikan dan dis elenggarakan untuk
sampai akhirnya diputus kan oleh Sidang merangsang berkembangnya usaha swasta.
Umum MPR sebagai Garis-garis Besar Hasilnya luar biasa. Pertumbuhan ekonomi
Haluan Negara. yang rata-rata 7 persen per tahun cukup
pesat. Dampak berlipatgandanya terjadi dan
Dengan berpedoman dan mengacu
merangsang perkembangan lebih lanjut.
kepada Garis-garis Besar Haluan Negara
itulah pembangunan dilaksanakan melalui Dengan menempuh ekonomi pasar,
program yang konsisten dalam anggaran Indonesia sekaligus membuka dirinya dan
belanja tahunan, melalui repelita-repelita. menjadi bagian yang aktif dari kegiatan eko-
nomi dunia. Modal dan teknologi masuk,
Penyesuaian terhadap perkembangan
demikian pula jaringan pasar ke dalam
terus dilaksanakan. Perkembangan itu
maupun ke luar.
disebabkan oleh keberhasilan pembangunan
seperti yang direncanakan dan dikehendaki Indonesia membuka pintu, tepat pada
maupun oleh hasil-hasil samping yang tidak saat dunia makin mengacu kepada
dimaksudkan. globalisasi dan arus informasi. Pola hidup e-
konomi pasar yang bertahap oleh arus
Demikianlah misalnya, perubahan
informasi dan globalisasi, serentak
pokok yang terjadi dalam urutan strategi memperoleh rangsangan yang
Trilogi Pembangunan. Pada mulanya, urut-
membangkitkan serba keserentakan.
annya ialah pertumbuhan, pemerataan dan
stabilitas. Kemudian sejak Repelita III Pola gaya hidup, perilaku dan
diubah menjadi pemerataan, pertumbuhan pandangan hidup konsumerisme ikut tumbuh
dan stabilitas. amat subur. Bukan hanya kebutuhan-ke-
butuhan pokok yang dipenuhi, sekaligus
Perubahan urut-urutan dalam Trilogi
dengan itu juga diciptakan kebutuhan-ke-
disebabkan oleh proses pembangunan, butuhan baru yang perlu maupun yang tidak
keberhasilan maupun ketidakberhasilannya.
perlu. Kebutuhan masyarakat konsumen
Perubahan itu juga sesuai dengan aspirasi
menjadi tidak ada habis-habisnya dan
yang makin hidup dalam masyarakat.
kondisi itu ikut membangkitkan sikap
Pembangunan ekonomi Indonesia ambivalen.
sejak Repelita I, tahun 1969, mengikuti jalan
Kemajuan ekonomi Indonesia diakui
ekonomi pasar. Jalan ekonomi pasar itu tetap
dan disyukuri, bahkan juga oleh bangsa lain.
mengacu kepada paham ekonomi Indonesia,
Kemakmuran meningkat. Akan tetapi melaju
yakni paham ekonomi seperti yang pula kesenjangan, perbedaan antara yang
diamanatkan oleh Pancasila, Un dang-

www.ginandjar.com i
Pembangunan Untuk Rakyat
Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan

kaya dan yang miskin, antara ekonomi kuat akademis, cukup pula terurai sehingga
dan ekonomi lemah. Dalam masyarakat memberikan arah, kemana suatu kebijakan
Indonesia yang majemuk, serta sebagai umum dan suatu langkah dapat diayunkan.
akibat warisan sejarah masa kolonial,
Sampailah kita pada buku Prof. Dr. Ir.
perbedaan dan kesenjangan itu merupakan
Ginandjar Kartasasmita: Pembangunan
masalah serius.
untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan
Kecuali kesenjangan, dinamika dan Pemerataan. Suatu kehormatan bagi
ekonomi pasar yang adakalanya tidak saya untuk ikut memberikan kata pengantar.
terkendali mengundang munculnya masalah- Sekaligus juga suatu tantangan, bagaimana
masalah yang berkaitan dengan urusan menempatkan kumpulan karangan pemikir,
tanah, penggusuran, dan rasa keadilan. yang adalah juga pejabat negara.
Talitemali persoalan yang menyertai Buku kumpulan karangan Ketua
pembangunan ekonomi itu seakan-akan Bappenas ini, merupakan suatu unikum.
menimbulkan dualisme; dualisme antara Letak keunikan itu pertama-tama pada ke-
ekonomi sebut saja Garis-garis Besar mampuan dan keberaniannya untuk mencoba
Haluan Negara dan ekonomi pasar yang menyajikan persoalan pembangunan
mengikuti dinamikanya sendiri, dualisme ekonomi dalam suatu pola pemikir an yang
antara pertumbuhan dan pemerataan. menyeluruh, yang komprehensif.
Lebih jauh, adakalanya keadaan itu Pendekatan demikian jarang
merangsang pertanyaan, apakah dilakukan. Kebanyakan pemikiran dan
pembangunan ekonomi masih pada relnya, penulisan mendekatinya secara parsial.
yakni ekonomi pasar yang mengacu kepada Kepada seorang ilmuwan ekonomi
paham kemakmuran dan kesejahteraan terkemuka, hal itu pernah saya tanyakan
bersama, seperti termaktub dan diamanatkan sepuluh tahun yang lalu. Dijawabnya,
oleh UUD 1945. pembahasan semacam itu memerlukan
pemikir ulung.
Bagaimana sebenarnya duduknya
perkara antara ekonomi negara, ekonomi Itulah sebabnya, menurut pandangan
koperasi, dan ekonomi swasta. saya, karya yang dikerjakan dalam kumpulan
karangan ini merupakan suatu keberanian.
Berbagai kebijakan, bahkan
Kapan akan dimulai jika tidak ada yang
perubahan urutan Trilogi, kebijakan koreksi
memulai. Kapan akan ada bahan tertulis
dan komplementasi dilakukan oleh pemerin-
yang bisa dikaji lebih lanjut, jika bahan itu
tah. Begitu seringnya campur tangan itu
tidak tersaji.
sehingga konsistensi kebijakan pemerintah
dipertanyakan, sehingga acapkali kita men- Biarlah mereka yang mempunyai
dengar anggapan tentang kurangnya keahlian dalam bidangnya, membuat
kepastian usaha. penilaian secara kritis terhadap buku ini.
Jasa paparan ini adalah tersajinya bahan
Pemikiran-pemikiran yang menggugat
tertulis, suatu pemikiran, dan pendekatan
pertumbuhan dan membela pemerataan
yang mencakup perihal pembangunan eko-
dilontarkan oleh berbagai ilmuwan ekonomi.
nomi Indonesia, terutama ditinjau dari usaha
Bertambah ramailah medan adu pandangan
menyerasikan per tumbuhan dan pemerataan.
dan adu argumentasi. Adakalanya gambaran
Dua dimensi pembangunan itu menjadi topik
yang dihasilkan bukanlah peta yang jelas,
utama bangsa kita. Topik itu menjadi bahan
melainkan lebih menyerupai hutan
diskusi di kalangan cendekiawan, di
belantara. Untuk keperluan debat akademis,
kalangan orsospol dan ormas, di kalangan
tidak mengapalah, hutan belantara itu.
LSM, di kalangan khalayak ramai.
Malahan makin mengasyikkan diskusi.
Sejauh kita bisa menangkap,
Menjadi lain persoalannya, jika juga
pendekatan Prof. Dr. Ir. Ginandjar
dipertimbangkan bahwa seraya dialog dan
Kartasasmita bukanlah pendekatan menang-
diskusi, kita juga harus tetap melangkah
kalah, satu pihak menang, pihak lain kalah.
secara pasti. Diperlukan suatu gambaran
Pendekatannya lebih win-win position,
pemikiran yang kecuali berada dalam tataran

www.ginandjar.com ii
Pembangunan Untuk Rakyat
Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan

kedua pihak menang, kedua pihak diuntung- Kecuali kebijakan dan arah yang juga
kan, kedua pihak diberi kesempatan. menyediakan sarana-sarananya, terutama
modal, iklim, pengembangan, seperti ter urai
Namun karena kekuatan serta posisi
dalam buku ini sangatlah menentukan peran
kedua pihak tidaklah sama, yang satu kuat, birokrasi. Dipakainya istilah birokrasi, yakni
yang lain lemah, diperlukan intervensi
birokrasi yang mengacu ke pemerintahan,
pemerintah. Intervensi itu dalam strategi,
governance. Karena kalau akan efektif,
dalam kebijakan, dalam alokasi biaya, dalam
demikianlah letak posisinya, bukan birokrasi
perlindungan dan pengembangan terhadap
masing-masing atau perorangan melainkan
yang lemah.
sebagai lembaga pemerintahan eksekutif.
Keunikan kedua, pemikiran dan
Birokrasi  pemerintah  agar
pendekatannya terletak pada usahanya untuk
membangun partisipasi rakyat. Agar
mengaitkan pemikiran dengan strategi serta
dilibatkan masyarakat sampai ke tingkat akar
kebijakan dan sekaligus juga dengan arah
rumput (grassroots). Dengan sadar dan
serta program aksi. Dengan demikian, buah
dengan sengaja, birokrasi memihak yang
pemikirannya bukan sekadar suatu paparan
lemah, bukan yang kuat. Ini suatu pilihan
akademis, melainkan suatu pandangan yang
politik yang harus dibuat imperatif dan
dikaitkan dengan keharusan dan
operatif. Bahkan dikatakan, yang kuat sudah
keperluannya untuk dijabarkan dalam
bisa mengurus dirinya sendiri, yang lemah
kebijakan dan dalam implementasinya.
belum.
Dengan kata lain, pemikirannya
Usaha pemberdayaan rakyat yang
bukanlah suatu pandangan teoretis ilmiah.
terutama dibahas adalah pemberdayaan
Buku semacam itu sangat diperlukan. Na-
dalam bidang ekonomi. Sementara itu, peng-
mun buku kumpulan karangan ini, menurut
alaman makin menunjukkan pemberdayaan
hemat saya, tidak masuk dalam kategori itu
ekonomi yang diprioritaskan, agar berhasil,
dan barangkali memang juga tidak
memerlukan pemberdayaan masyarakat
dimaksudkan demikian. Pandangan dan
pendekatannya lebih bermotifkan menjawab dalam bidang-bidang lain, sosial, budaya,
hukum, politik. Pemberdayaan dalam bidang
tantangan secara menyeluruh: dalam tataran
nonekonomi, bahkan makin minta perhatian.
pandangan hidup, dalam tataran referensi
Hasrat itu hidup kuat dalam masyarakat.
konstitusional, dalam pandangan kebijakan
serta arah implementasi. Pemberdayaan masyarakat juga masuk
komitmen birokrasi. Demikian pula
Sebaliknya, paparannya tidak terbatas
terselenggaranya kebijakan, prosedur dan
sebagai program aksi atau rencana. Ditarik
implementasi yang terbuka, transparan,
lebih ke atas, pada tataran penjabaran fal-
safah pembangunan seperti dinyatakan dan sehingga pertanggungjawaban lebih mudah
diberikan. Pertanggungjawaban birokrasi
diamanatkan oleh konstitusi dan setiap lima
berarti pertanggungjawaban
tahun sekali diadaptasikan dengan
penyelenggaraan kekuasaan.
perkembangan.
Sekalipun dengan bahasa yang lugas
Karena itu, tampak jelas alur pokok
dan santun, peran birokrasi alias
dan semangatnya. Bagaimana membangun
pemerintahan, menentukan. Demikian
untuk sebesar -besar kemakmuran rakyat.
Bagaimana menyelenggarakan ekonomi vitalnya peranan pemerintah, sehingga
seorang ilmuwan menegaskan: ekonomi
rakyat, sesungguhnya pada tingkat
pasar tidak mungkin dapat menimbulkan
pemikiran akademis pun, persoalan ini
keadilan, pemerintahlah yang dapat.
menarik.
Bagaimana secara sengaja dan sec ara Sepanjang dapat diikuti dan dirasakan
khusus mengembangkan ekonomi pasar berbagai persoalan dalam masyarakat,
masalah itu juga yang mencuat kuat: harapan
yang sasarannya bukan sekadar kemajuan
bahkan desakan agar pemerintah tidak hanya
dan kemakmuran para pelaku ekonomi,
mendorong pembangunan ekonomi, tetapi
melainkan juga rakyat banyak. Bahkan
juga dalam menyelenggarakan keadilan, baik
kemakmuran mereka itulah tujuan utama-
rasa keadilan maupun keadilan sosial.
nya.

www.ginandjar.com iii
Pembangunan Untuk Rakyat
Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan

Disadari bahkan oleh pemerintah, syaratnya nesia yang bermasyarakat majemuk ini
adalah pemerintahan yang bersih, sekaligus merupakan usaha memperkukuh
berwibawa, dan efektif. serta memberi makna wawasan kebangsaan
kepada seluruh masyarakat yang majemuk
Betapapun, pemerintahan memegang itu.
peranan kunci, para pelaku ekonomi yang
adalah juga bagian masyarakat, tidak kalah Itu juga unsur kuat dalam alur
pentingnya. Karena itu, para pelaku, pemikiran Prof. Dr. Ir. Ginandjar
terutama mereka yang sudah lebih dulu maju Kartasasmita, bahwa pembangunan ekonomi
dan kuat, agar juga mempunyai pandangan adalah juga pembangunan bangsa dan negara
dan sikap yang sama. Bukan hanya ekonomi Indonesia. Justru di tengah arus gelombang
negara dan ekonomi koperasi yang terikat perubahan serba serentak dan global se-
pada komitmen dan imperatif konstitusi, karang ini, pemahaman dan kesadaran
juga ekonomi swasta. tentang bangsa dan negara Indonesia harus
disegarkan kembali dengan pandangan dan
Perhatian ke sana bukankah perlu juga
sikap yang adaptif, kritis inovatif, tetapi
lebih besar dan lebih mencakup. Kesadaran
tetap on our terms, seperti yang kita
dan pemahaman jangan terbatas pada
kehendaki, dalam ukuran dan format Indo-
pemikiran kuantitatif saja, berapa persen
nesia yang terbuka, lincah, kenyal.
membantu misalnya. Pemikiran mengacu
kepada rasa perasaan dan pertang- Semangat itu pula yang menjadi nafas
gungjawaban sebagai warga negara, bahkan buku, kumpulan karangan Pembangunan
warga negara yang maju. Karena itu, untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan
pemahaman dan kesadaran itu menjadi bagi- dan Pemerataan.
an dari usaha pembangunan bangsa, watak
Jakarta, Oktober 1996
dan integrasinya yang makin kukuh dan
kenyal.
Dengan pemahaman dan kesadaran
itu, jika dilaksanakan oleh semua pihak, Jakob Oetama
pembangunan ekonomi, bagi bangsa Indo-

www.ginandjar.com iv