Anda di halaman 1dari 17

PERIODE KEMUNDURAN ISLAM ( IBNU KHALDUN )

Makalah Ini

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Sejarah Peradapan Islam


Dosen Pengampu : Drs. Nurisman, M.Ag

Disusun oleh:
Uswatun Khasanah, S.Hi
NIM: 26.10.7.3.069

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SURAKARTA
2011
BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan dalam Islam merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.


Karena dengan ilmu pengetahuan, Islam dapat membawa umatnya kepada sesuatu
yang lebih baik. Dengan perhatian yang baik terhadap bidang pendidikan maka Islam
tidak akan mengalami pasang dan surut. Agar pendidikan dalam Islam mengalami
kemajuan yang pesat, harus mengadakan inovasi dan perubahan dan sanggup
mempertahankannya. Sehingga seberapa kuatnya pihak lain ingin merusaknya maka
mereka tidak akan sanggup.

Tidak akan terlepas dari kemunduran. Demikian juga dalam pendidikan Islam,
ada mengalami kemajuan dan kemunduran. Islam yang pernah menguasai ilmu
pengetahuan dan memiliki banyak para ahli ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang,
akhirnya terpuruk juga dikarenakan berbagai hal yang terjadi di dalam tubuh Islam itu
sendiri. Berikut akan dibahas pendidikan Islam pada era kemunduran.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi Ibnu Khaldun

Nama lengkap ibnu khaldun adalah Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn
Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami. Ibnu Khaldun hidup antara abad ke-14 dan 15
M (1332-1406 M) bertepatan abad ke-8 dan 9 H. Mesir pada waktu itu berada di
bawah kekuasaan Mameluk, Bagdan jatuh ke tangan Tatar (654-923 H). Keberadaan
Bagdad di bawah kekuasaan Tatar sangat berdampak negative terhadap
perkembangan bahasa, sastra dan kebudayaan Arab. Pada waktu yang sama kerajaan
Muslim di Andalus mulai runtuh, satu per satu kota-kota utama kerajaan tersebut
jatuh ke tangan orang-orang Kristen.

Setelah jatuhnya Bagdad, ulama-ulama dan satrawan Bagdad demikian juga


sebagian ulama-ulama Andalus mengungsi ke Mesir. Cairo pada waktu itu menjadi
pusat peradaban dan Khilafah Islamiyah, kedatangan mereka di kota Cairo disambut
baik oleh orang-orang Mamalik, sehingga mereka merasa tenang dan tentram. Perlu
disebutkan juga bahwa pada abad ke-8 H. (abad ke-14 M) adalah masa perubahan dan
transisi di seluruh dunia. Perubahan dan transisi kea rah perpecahan dan kemunduran
di dunia Arab, perubahan dan transisi kea rah kebangkitan di dunia Barat (Al-Husari,
1967: 53). Revolusi-revolusi dan kekacaun-kekacauan mulai meluas di Afrika Utara,
sebagai akibat perpecahan-perpecahan regional dan meluasnya fanatisme golongan.
Hal tersebut berpengaruh negative terhadap kebudayaan Arab pada waktu itu.

Dalam buku At-Ta’rif disebutkan bahwa keturunan Ibnu Khaldun digolongkan


kepada Muhammad ibnu Muhammad ibnu Hasan ibnu Jabir ibnu Muhammad ibnu
ibrahim ibnu ‘Abd al-Rahman ibnu Khalid yng dikenal dengan nama Khaldun.1
Berbagai referensi menyebutkan bahwa namanya adalah ‘Abd ar-Rahman ibnu
Khaldun al-Magribi al-Hadrami al-Maliki. Digolongkan kepada al-Magribi, karena ia
lahir dan dibesarkan di Magrib di kota Tunis, dijuluki al-Hadrami karena
keturunannya berasal dari Kadramaut Yaman, dan dikatakan al-Maliki karena ia

1 Ibn Khaldun, MuqaddimahIbnu Khaldun(terjnah: Ahnad Toha), Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986
hlm: 3)
menganut mazhab Malik. Gelar Abu Zaid diperoleh dari nama anaknya yang tertua
Zaid, panggilan Wali ad-Din diperolehnya setelah ia menjadi hakim di Mesir.2

Kakek Ibnu Khaldun, Khalid ibnu ‘Usman dan keluarganya menetap di kota
Carmone untuk beberapa waktu dan kemudian hijrah ke kota Sevilla. Banu Khaldun
berhasil menjabat beberapa jabatan penting dalam bidang ilmu pengetahuan dan
politik di kota ini, antara lain Kuraib inb Khaldun terkenal dalam bidang ilmu
pengetahuan. Ibnu Hayyan (nama lengkapnya Abu Marwan hayyan ibnu Khalf ibnu
Husain ibnu Hayyan al-Qurtubi ‘377-469 H’) adalah seorang sejarawan Andalus.
Dalam hal ini menegaskan bahwa kedudukan Banu Khaldun di Sevilla sangat
terkenal, pemuka-pemuka mereka pada saat itu senantiasa memegang tampuk
pemerintahan dan ilmu pengetahuan.3

Pada awal abad ke-13 M, kerajaan Muwahhidin di Andalus hancur, sebagian


besar kota-kota dan pelabuhannya jatuh ke tangan raja Castilia termasuk kota Sevilla
(1248 M). Banu Khaldun terpaksa hijrah ke Afrika Utara mengikuti jejak Banu Hafs
mengangkat Abu Bakar Muhammad, yaitu kakek kedua Ibnu Kahldun untuk
mengatur urusan Negara mereka di Tunisia, dan mengangkat kakek pertama beliau
Muhammad ibnu Abu Bakar untuk mengurus urusan Hijabah (Kantor urusan
Keistanaan/Kenegaraan) di Bougie (Bijayah).4

Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunisia pada bulan Ramadhan 732 H/1332 M di


tengah-tengah keluarga ilmuwan dan terhormat yang berhasil menghimpun antara
jabatan ilmiah dan pemerintahan. Dari lingkungan seperti ini ibnu Khaldun
memperoleh dua orientsi yang kuat: pertama, cinta belajar dan ilmu pengetahuan;
kedua, cinta jabatan dan pangkat.

Ayahnya bernama Abu ‘Abdullah Muhammad juga berkecimpung dalam


bidang politik, kemudian mengundurkan diri dari bidang politik dan menekuni ilmu
pengetahuan dan kesufian.5 Beliau ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Meninggal
dunia pada tahun 749 H/1348 M akibat wabah pes yang melanda Afrika Utara dengan
meninggalkan lima orang anak termasuk ‘Abd al-Rahman ibnu Khaldun yang pada
waktu itu berusia 18 tahun.
2 Ibn Khaldun, Muqaddimah..., hlm: 33
3 Ibid ..., hlm: 7
4 Sulaiman Fathiyah Hasan, Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan, Bandung:
Diponegoro, 1987, hlm: 6
5 Ibnu Khaldun, Muqaddimah..., hlm:40-41
Menurut Sari al-Husari, kehilangan Ibnu Khaldun akan kedua orang tuanya
pada usia yang masih remaja merupakan salah satu factor yang dapat mengurangi
keterikatannya terhadap keluarga dan tempat kediamannya serta membuka
kesempatan baginya untuk berkelanan dan terjun ke dunia politik diberbagai pelosok
Magrib.

Ibnu Khaldun mengawali pendidikannya dengan membaca dan menghafal Al-


Qur’an. Kemudian baru menimba berbagai ilmu dari guru-guru terkenal sesuai
dengan bidangnya masing-masing. Tunisia pada waktu itu merupakan pusat ulama
dan sastrawan besar kota-kota di Masyriq dan Magrib dilanda wabah pes yang
dakhsyat pada tahun 749 H, sehingga Ibnu Khaldun kehilangan kedua orang tuanya
dan beberapa orang gurunya, ia tidak dapat melanjutkan studinya dan akhirnya hijrah
ke Magrib.

Menurut Dr. Ali ‘Abdul Wahid Wafi, ada dua factor yang menyebabkan Ibnu
Khaldun tidak dapat melanjutkan studinya: pertama peritiwa wabah pes yang melanda
sebagian besar dunia Islam mulai dari Samarkand sampai ke Magrib. Adapun factor
kedua, hijrahnya sebagian besar ulama dan sastrawan yang selamat dari wabah pes
dari Tunisia ke Al-Magrib al-Aqsa pada tahun 750 M/1349 H bersama-sama dengan
Sultan Abu al-Hasan, penguasa dawlah Bani Marin.6 Ibnu Khaldun menganggap
peristiwa wabah pes ini sebagai bencana besar dalam hidupnya yang menyebabkan ia
kehilangan kedua orang tuanya dan sebagian guru-gurunya.

A1. Guru-guru Ibnu Khaldun

Telah dijelaskan, bahwa Ibnu Khaldun lahir dan dibesarkan di tengah-tengah


keluarga ilmuwan yang terhormat. Ayahnya Abu ‘Abdullah Muhammad adalah
gurunya yang pertama. Darinya ia belajar membaca, menulis dan bahas Arab. Di
antara guru-gurunya yang lain adalah Abu ‘Abdullah Muhammad ibnu Sa’ad bin
Burral al-Ansari, darinya ia belajar al-Qur’an dan al-Qira’at al-Hasayiri, Muhammad
al-Syawwasy al-Zarzali, Ahmad ibnu al-Qassar dari mereka Ibnu Khaldun belajar
bahasa Arab. Di samping nama-nama di atas Ibnu Khaldun menyebut sejumlah
ulama, seperti Syaikh Syams ad-Din Abu ‘Abdullah Muhammad al-Wadiyasyi,
darinya ia belajar ilmu-ilmu hadits, bahasa Arab, fiqh, dan dari ‘Abdullah Muhammad

6 Enam Muhamad Abdullah, Ibnu Khaldun: His Life and Work, New Delhi: Kitab Bhavan, 1979,
hlm, 50-51
ibnu ‘Abd as-Salam ia mempelajari kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik.7

Di antara guru-guru terkenal yang ikut serta membentuk kepribadian Ibnu


Khaldun, Muhammad ibnu Sulaiman al-Satti ‘Abd al-Muhaimin al-Hadrami,
Muhammad ibnu Ibrahim al-Abili. Darinya ia belajar ilmu-ilmu pasti, logika dan
seluruh ilmu (teknik) kebijakan dan pengajaran di samping dua ilmu pokok (Qur’an
dan Hadits).8

Namun demikian, Ibnu Khaldun meletakkan dua orang dari sejumlah guru-
gurunya pada tempat yang istimewa, keduanya sangat berpengaruh terhadap
pengetahuan bahasa, filsafat dan hukum Islam, yaitu Syaikh Muhammad ibnu Ibrahim
al-Abili dalam ilmu-ilmu filsafat dan Syaikh ‘Abd al-Muhaimin ibnu al-Hadrami
dalam ilmu-ilmu agama. Darinya Ibnu Khaldun mempelajari kitab-kitab Hadits,
seperti al-Kutub al-Sittah dan al-Muwatta’. Pada usia 20 tahun Ibnu Khaldun berhasil
menamatkan pelajarannya dan memperoleh berbagai ijazah tadris/mengajar dari
sebagian besar gurunya setelah ia menimba ilmu dari mereka.

Betapun, menurut Taha Husain pendidikan yang diperoleh Ibnu Khaldun pada
masa kecil dan dewasa bukanlah suatu hal yang luar bias dan tidak melebihi apa yang
diperoleh siswa dan mahasiswa al-Azhar dewasa ini. Walaupun dikatakn bahwa
pendidikan yang diterimanya begitu hebat jika dibandingkan dengan taraf pendidikan
di tanah airnya.

A2. Murid-murid Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun mempunyai sejumlah besar murid, baik pada waktu beliau
mengajar di Tunisia di jami’ al-Qasbah maupun pada waktu mengajar di Cairo (al-
Azhar dan tempat lain). Di antara murid-muridnya yang terpenting dan kenamaan
antar lain:

a) Sejarawan ulung taqi ad-din Ahmad ibnu Ali al-Maqrizi pengarang buku al-
Suluk li Ma’rifah Duwal al-muluk. Pada buku ini, al-Maqrizi mengungkapkan
bahwa guru kami Abu Zaid Abd al-rahman ibnu Khaldun dating dari negeri
Magrib dn mengajar di al-Azhar serta mendapat sambutan baik dari
masyarakat9
7 Enam Muhamad Abdullah, Ibnu Khaldun..., hlm: 22
8 Ibid ..., hlm:23
9 Ibnu Khaldun, Muqaddimah..., hlm. 226
b) Ibnu Hajr al-‘Asqalani, seorang ahli hadits dan sejarawan terkenal (wafat 852
H). Dalam bukunya raf’u al-Isr ‘an Qudah Misr sebagaimana yang dikutip
oleh ‘Abdullah inan menjelaskan bahwa ia sering mengadakan pertemuan
dengan Ibnu Khaldun mendengar pelajaran-pelajaran yang berharga dan
tentng karya-karyany terutama tentang sejarah.

B. Periode Kemunduran Islam

Pendidikan dalam Islam merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.


Karena dengan ilmu pengetahuan, Islam dapat membawa umatnya kepada sesuatu
yang lebih baik. Dengan perhatian yang baik terhadap bidang pendidikan maka Islam
tidak akan mengalami pasang dan surut. Agar pendidikan dalam Islam mengalami
kemajuan yang pesat, harus mengadakan inovasi dan perubahan dan sanggup
mempertahankannya. Sehingga seberapa kuatnya pihak lain ingin merusaknya maka
mereka tidak akan sanggup.

Namun, sekuat apapun kejayaan dan kemajuan itu dipertahankan, suatu saat
juga tidak akan terlepas dari kemunduran. Demikian juga dalam pendidikan Islam,
ada mengalami kemajuan dan kemunduran. Islam yang pernah menguasai ilmu
pengetahuan dan memiliki banyak para ahli ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang,
akhirnya terpuruk juga dikarenakan berbagai hal yang terjadi di dalam tubuh Islam itu
sendiri. Berikut akan dibahas pendidikan Islam pada era kemunduran.

Setelah mengalami masa kejayaan, umat Islam mengalami masa kemunduran


dalam berbagai bidang. Hal ini dimulai dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Bagdad
dan di Cordova.

Bagdad yang merupakan pusat kedaulatan Abbasiyah yang pertama kali


dipimpin oleh Abu Abbas As Saffah, telah menguasai berbagai daerah yang ada dan
memimpin daerah tersebut. Di bawah kekuasaan daulah Abbasiyah Islam mengalami
kemajuan dalam berbagai bidang terutama dalam bidang pendidikan. Para pemimpin
daulah Abbasiyah lebih memikirkan bidang pendidikan daripada daulah umayyah
sebelumnya yang lebih focus pada bidang kemiliteran.

Daulah Abbasiyah sangat menonjol dalam bidang pendidikan pada masa


kekhalifahan Al Makmun. Khalifah Al Makmun adalah seorang yang sangat
mencintai ilmu pengetahuan diatas segalanya dan dia juga selalu memikirkan agama
Islam dengan ilmu pengetahuan tersebut. Dia berusaha mengembangkan ilmu
pengetahuan dan menerjemahkan buku-buku dari Yunani serta mengembangkan ilmu-
ilmu dengan mendapatkan temuan baru. Filsafat Yunani yang bersifat rasional
menjadikan Khalifah Al Makmun terpengaruh dan mengambil teologi Mu’tazilah
menjadi teologi negara.10 Dalam masa itu, Islam menjadi Negara yang tak tertandingi
dalam bidang pendidikan serta banyak memberikan sumbangan ilmu pengertahuan
terhadap dunia.

Namun setelah silih bergantinya Khalifah, Islam mulai mengalami


kemunduran terhadap bidang pendidikan. Hal ini juga berhubungan dengan
keruntuhan daulah Abbasiyah sebagai suatu kedaulatan yang besar. Terjadinya jurang
pemisah antara kekhalifahan dan komunitas keagamaan terutama dalam hal “
kemakhlukan Al Qur’an “ yang membuat terjadinya perselisihan antara beberapa
kelompok. Kelompok yang satu mengatakan bahwa Al Qur’an itu adalah amkhluk
yang diciptakan oleh Allah dan kelompok yang satu lagi menyatakan bahwa Al
Qur’an merupakan Kalam Allah, bukan makhluk

Hancurnya Islam pada masa daulah Abbasiyah dapat dikelompokkan menjadi


factor interen dan factor eksteren yaitu :11

a) Adanya persaingan tidak sehat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam
daulah Abbasiyah terutama Arab, Prsia dan Turki

b) Adanya konflik aliran pemikiran dalam Islam yang sering menyebabkan


timbulnya konflik berdarah

c) Munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari kekuasaan pusat


di Bagdad. Dikarenakan lemahnya penerus khalifah selanjutnya maka banyak
kerajaan-kerajaan kecil yang memberontak terhadap daulah Abbasiyah dan
ingin membentuk dinasti sendiri.

d) Kemerosotan ekonomi akibat kemunduran politik. Pada awalnya daulah


Abbasiyah adalah suatu kerajaan yang kaya akan harta, tetapi dikarenakan
10 Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakata : Kencana Prenada Media Group, 2007), hal,
172
11 Ibid..., hal, 172
penerus khalifah berikutnya terbiasa bermewah-mewah sehingga keuangan
menjadi terbuang sia-sia tanpa digunakan untuk hal yang berguna.

e) luasnya wilayah kekuasaan. Untuk mengatur daerah kekuasaan yang luas ini,
diperlukan rasa saling percaya antar penguasa dan bawahannya. Tapi pada
masa-masa akhir daulah Abbasiyah, kepercayaan inilah yang hilang diantara
mereka.

f) dominasi militer. Pada masa khalifah al Mu’tasim, banyak direkrut jajaran


militer dari budak-budak Turki. Dan ada sebagian dari mereka yang diangkat
menjadi gubernur untuk memimpin suatu daerah. Namun, pada kelanjutannya
mereka secara perlahan mengendalikan pemerintahan. Ini juga disebabkan
pengauasa daulah yang lemahdan tidak mampu melawan mereka, sehingga
memberi mereka kesempatan untuk mengatur pemerintahan.

Adapun dari bidang eksterennya adalah :

a) Perang salib yang terjadi dalam beberapa gelombang

b) Hadirnya tentara mongaol dibawah pimpinan Hulagu Khan, yang


menghancurkan daulah Abbasiyah dan membakar seluruh buku-buku ilmu
pengetahuan yanga ada di Bagdad

Sebab yang terakhir inilah yang menjadi puncak runtuhnya daulah Abbasiyah
di Bagdad serta mundurnya bidang pendidikan lebih tampak nyata. Sedangkan
kemunduran di Cordova pada masa daulah Umayyah II. Daulah Umayyah II yang
dipimpin pertama kali oleh Abdurrahman Ad Dakhil yang merupakan pelarian dari
penguasa Abbasiyah. Puncak kekuasaan daulah Umayyah II terjadi pada masa
pemerintahan Abdurrahman III dan Al Hkam. Kemajuan pada masa itu terlihat dalam
berbagai bidang antara lain bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan intelektual. Di
Cordova yang merupakan pusat daulah Umayyah II telah berdiri suatu universitas
yang terpercaya dan mampu menandingi dua universitas besar lainnya, yaitu
universitas Al Azhar di Kairo dan Nizamiyah di Bagdad. Universitas ini menarik
banyak mahasiswa, baik mahasiswa kristen maupun mahasiswa dari negara Eropa
lainya.

Pertemuan antara peradaban Arab Islam dengan peradaban masyarakat


setempat menjadikan daerah itu pada masanya mempunyai kebudayaan Islam yang
tinggi. Sehingga Spanyol menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam di
daerah barat. Tetapi kemajuan tersebut ditentukan oleh penguasa yang memiliki sikap
kuat dan berwibawa yang mampu mempersatuka Islam.12

Setelah mencapai kemajuan dan kesuksesan dalam berbagai bidang dan


selama beberapa abad menjadi kiblat ilmu pengetahuan, akhirnya mencapai
kemunduaran yang disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya yaitu :

a) Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan yang menyebabkan munculnya


munculnya perebutan kekuasaan diantara ahli waris

b) Lemahnya figur dan kharismatik yang dimiliki khalifah khususnya sesudah


khalifah Al Hakam II. Khalifah hanyalah sebagai simbol saja, sedang
pelaksanaan pemerintahannya dijalankan oleh Wazir

c) Perselisihan diantara umat Islam itu sendiri yang disebabkan perbedaan


kepentingan atau karena perbedaan suku dan kelompok yang merupakan
peluang bagi pihak kristen untuk memecah belah Islam

d) Konflik umat Islam dan kristen, kebijakan para penguasa Muslim yang
tidak melakukan Islamisasi secara sempurna dan hanya diwajibkan
membayar upeti pada penguasa Islam di Spanyol

e) Munculnya Muluk At Tawaif ( kerajaan-kerajaan kecil ) yang masing-


masing saling berebut kekuasaan.

Hal ini diperburuk dengan serangan pihak kristen yang sudah menyatu dan
letak Spanyol yang terpencil dari daerah Islam lainnya sehingga Spanyol harus
berjuang sendri tanpa adanya bantuan.

Dengan runtuhnya kekuaan Islam di Bagdad dan di Cordova maka mulailah


kemunduran pendidikan dan kebudayaan Islam. Dan kehancuran total yang dihadapi
kota-kota pendidikan dan kebudayaan Islam yang mengakibatkan runtuhnya sendi-
sendi pendidikan Islam dan melemahnya pemikiran yang disebabkan antara lain :

a) Telah berlebihnya filsafat Islam ( yang bersifat Sufistik )

12 Syamsul Nizar, Op. cit, hal, 175


Kehidupan sufi berkembang dengan cepat. Keadaan umat yang frustasi
menyebabkan kembali pada Tuhan dalam arti bersatu dengan tuhan,
sebagaimana duiajarkan oleh para sufi. Di setiap Madrasah diajarkan tentang
ajaran-ajaran sufisme, sehingga di dalam Madrasah hanya ada ilmu-ilmu
agama sedangkan ilmu-ilmu lainnya tidak termasuk dalam pengajaran.

b) Sedikitnya kurikulum Islam

Pada Madrasah-madrasah, pengajaran umumnya terbatas pada ilmu-ilmu


keagamaan, seperti ilmu-ilmu yang murni yaitu : Tafsir, Hadis, Fikih dan
Ushul Fikih, Ilmu Kalam, dan Teologi Islam sudah mulai tertinggal karena
penyempitan kurikulum pada masa itu. Pada beberapa Madrasah tertentu, Ilmu
Klam dicurigai, yang lebih di fokuskan kepada ilmu yang bertujuan untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan juga materi yang ada banyak sedangkan
waktu yang diberikan untuk mempelajarinya hanya sedikit sehingga para
pelajar tidak terlalu memahami suatu ilmu.

c) Tertutupnya pintu ijtihad

Dengan dikuranginya kebebsan berpendapat dan memikirkan sesuatu dengan


akal, maka banyak para ahli tersebut hanya mengutip ijtihad para ahli
sebelumnya tanpa menemukan pemecahan terbaru tentang hal-hal
permasalahan yang sedang berkembang dari hasil pemikiran mereka. Sehingga
timbul pernyataan yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.

Melihat hal-hal tersebut, maka jelaslah Islam mengalami masa kemunduran


terutama dalam bidang pendidikan.

Kemunduran pendidikan Islam terletak pada merosotnya mutu pendidikan dan


pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Materi pelajarannya seperti
dijelaskan Zuhairini yang dikutip oleh Syamsul Nizar, sangat sederhana.13 Materi
yang diajarkan hanyalah materi-materi dan ilmu-ilmu keagamaan. Lembaga-lembaga
pendidikan tidak lagi mengajarkan ilmu-ilmu filosofis, termasuk ilmu pengetahuan.
Rasionalismepun kehilangan peranannya, dalam arti semakin dijauhi. Kedudukan akal
semakin surut. Dengan dicurigainya pemikiran rasional, daya penalaran umat Islam
mengalami kebekuan sehingga pemikiran kritis, penelitian dan ijtihad tidak lagi

13 Hanum Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, ( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999 ), hal, 121
dikembangkan.

Akibatnya, tidak ada lagi ulama-ulama yang menghasilkan karya-karya


intelektualisme yang mengagumkan. Mereka lebih senang mengikuti pemikiran-
pemikiran ulama terdahulu daripada berusaha melakukan temuan-temuan baru.
Keterpesonaan terhadap buah fikiran masa lampau membuat umat Islam merasa
cukup dengan pa yang sudah ada. Mereka tidak mau berusaha lebih keras lagi untuk
memunculkan gagasan keagamaan yang cemerlang. Usaha yang mereka tempuh
hanyalah sebatas pemberian syarah atau ta’liqah pada kritik-kritik ulama terdahulu
yang bertujuan memudahkan pembaca untuk memahami kitab-kitab rujukan dengan
menjelaskan kalimat-kalimatnya secara semantik atau menambah penjelasan dengan
mengutip ucapan-ucapan para ulama lain.

Diantara sebab-sebab kemacetan pemikiran dan kemunduran umat Islam


adalah lenyapnya metode berfikir rasional, yang pernah dikembangkan oleh
mu’tazilah. Pemikiran rasional mu’tazilah yang telah menimbulkan peristiwa ”
mihnah ”, telah mengundang antipati umat Islam bukan saja terhadap aliran
mu’tazilah tetapi juga terhadap metode berfikir rasional. Sejak saat itu, masyarakat
tidak mau mendalami ilmu-ilmu sains dan filosofis. Pemikiran logis dan ilmiah tidak
lagi menjadi budaya fikir masyarakat Muslim sampai akhirnya pola berfikir mereka
didominasi oleh supertisi, tahayul dan kejumudan.

Antipati terhadap mu’tazilah menyebabkan pengawasan yang ketat terhadap


kurikulum. Jatuhnya paham mu’tazilah mengangkat posisi kaum konservatif menjadi
kuat. Untuk mengembalikan paham Ahlussunnah sekaligus memperkokohkannya,
ulama-ulama melakukan kontrol terhadap kurikulum di lembaga-lembaga pendikan.
Karena ulama dianggap sebagai kaum terpelajar dan memiliki otoritas keagamaan dan
masalah hukum Islam. Ulama-ulama ini menganut paham konservatif dan
fundamental bahwa wahyu merupakan inti segala macam pengetahuan. Oleh karena
itu mereka hanya mengedepankan ilmu-ilmu keagamaan di lembaga pendidikan
Islam.14

Ketauhidan yang diajarkan Muhammad SAW telah diselubungi khurafat dan


paham kesufian. Mesjid-mesjid ditinggalkan khurafat oleh golongan besar dan awam.
Mereka menghias diri dengan azimat penangkal penyakit dan tasbih. Mereka belajar
14 Hanum Asrohah, Op. cit, hal, 123
pada fakir dan darwis serta menziarahi kuburan orang-orang keramat.mereka memuja
orang-orang itu sebagai orang suci dan perantara dengan Allah, karena menganggap
Dia begitu jauh bagi manusia biasa untuk pengabdian langsung.

Sebagaimana yang dikatakan oleh M. Natsir yang dikutip oleh Chadijah


Ismail, kemurnian tauhid terancam, guru-guru, pemimpin-pemimpin kerohanian
dikultus, dijadikan perantara menziarahi kuburan dan barang-barang peninggalan
orang tua-tua dikeramatkan. Dengan rusaknya kemurnian tauhid, hubungan antara
hamba dengan Tuhannya menjadi kabur, hubungan hamba dengan sesama manusia
dan alam sekitarnya jadi tidak karuan. Amal Ibadah yang tadinya murni, kemasukan
berbagai macam bid’ah dan khurafat. Esencial demokrasi dalam tata negara
digantikan oleh feodalisme dalam bermacam-macam bentuk dan intensitasnya. Ruh
ijtihad, kemerdekaan berfikir, semangat untuk menjajah, mencari kebenaran merosot,
yang tumbuh malah jiwa serba turut ( taqlid ). Daya cipta lumpuh, yang timbul adalah
daya imitasi dan kesenian berakomodasi dengan situasi kondisi.15

Umat Islam banyak terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok politik, aliran-


aliran ilmu kalam dan filsafat Islam, golongan dan mazhab hukum fikih, jamaah-
jamaah sufi dan tarikat. Ditambah dengan banyaknya hadits-hadits palsu dibuat orang
dan tidak diperiksa dengan teliti sanad dan rawinya. Israiliyat dan nasraniyat dalam
penafsiran sangat merusak citra Al Qur’an. Pintu ijtihad tertutup rapat.

Universitas Al Azhar yang didirikan abad X M jauh ditinggalkan oleh


universitas Paris, Oxford dan Cambrige yang baru berdiri abad XIII M. universitas
Islam Deobamd di India dan universitas Zaitunah di Tunisia tadak lagi dapat disebut
universitas-universitas yang diharapkan oleh Al Qur’an.

Mata pelajaran seperti : Astronomi, física, nimia, kedokteran, biologi,


sosiologi, ekonomi, politik sudah ditinggalkan karena dianggap bukan pelajaran
agama, tapi itu ilmu umum. Padahal Al Qur’an tidak pernah membedakan bahwa
kelompok pertama adalah ilmu agama dan kelompok kedua adalah ilmu umum.

Disamping itu, di zaman kemunduran banyak berkembang ajaran-ajaran


tarekat yang tidak ada sandarannya Al Qur’an dan Hadits yang dapat dipegangi.
Jabarti yang dikutip oleh Chadijah Ismail mengatakan : “ Orang Islam yang dulu

15 Chadijah Ismail, Sejarah Pendidikan Islam, ( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999) hal, 59
pernah pertama kali mendirikan rumah sakit dan telah maju dalam bidang kedokteran,
yang telah memberikan inspirasi bagi pendirian rumah sakit di seluruh Eropa,
Semarang jatuh ke dalam keadaan yang menyangka percobaan nimia Francis
semacam sihir.16

Di dalam bidang fikih, yang terjadi adalah berkembangnya taqlid buta


dikalangan umat. Dengan sikap hidup fatalistas tersebut, kehidupan mereka Sangay
status, tidak ada problem-problem baru dalam bidang fikih. Apa yang sudah ada
dalam kitab-kitab fikih lama dianggap sesuatu yang sudah baku, mantap dan benar,
dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana adanya.

Kehidupan sufi berkembang dengan pesat. Madrasah-madrasah yang ada dan


yang berkembang diwarnai dengan kegiatan sufi. Madrasah-madrasah berkembang
menjadi zawiat-zawiat untuk mengadakan riyadah dibawah bimbingan an otoritas
guru-guru sufi, yang selanjutya dikembangkan untuk menuntun para murid, yang
dikenal berikutnya dengan istilah tarekat.

Keadaan yang demikian, sebagaimana yang dilukiskan oleh Fazlur Rahman


yang dikutip oleh Syamsul Nizar : ” Di madrasah-madrasah yang bergabung dalam
halaqah-halaqah dan zawiat-zawiat sufi, karya-karya sufi dimasukkan kedalam
kurikulum formal, kurikulum akademis yang terdiri dari hampir seluruh buku-buku
tentang sufi”.17

Seseorang yang frustasi dan fatalis, tidak lagi percaya kepada kemampuannya
untuk maju atau mengatasi problem kagamaan dan kemasyarakatan. Mereka lari dari
kenyataan dan hanya mendekatkna diri kepada Tuhan. Untuk itu mereka masuk ke
tarekat-tarekat sehingga tarekat sangat berpengaruh dalam hidup umat Islam.

Perhatian pada ilmu pengetahuan kurang sekali. Kurangnya perhatian


penguasa terhadap kehidupan intelektualisme, menambah umat Islam semakin tidak
bergairah untuk melahirkan karya-karya intelektual sehingga ilmu pengetahuan Islam
mengalami stagnasi.

16 Ibid..., hlm, 61
17 Syamsul Nizar, Op. cit, hal, 179
BAB III
KESIMPULAN
a) Nama lengkap ibnu khaldun adalah Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn
Khaldun al-Hadrami.

b) Ibnu Khaldun lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga ilmuwan yang


terhormat. Ayahnya Abu ‘Abdullah Muhammad adalah gurunya yang pertama.
Darinya ia belajar membaca, menulis dan bahas Arab. Di antara guru-gurunya yang
lain adalah Abu ‘Abdullah Muhammad ibnu Sa’ad bin Burral al-Ansari, darinya ia
belajar al-Qur’an dan al-Qira’at al-Hasayiri, Muhammad al-Syawwasy al-Zarzali,
Ahmad ibnu al-Qassar dari mereka Ibnu Khaldun belajar bahasa Arab.

c) Setelah mencapai kemajuan dan kesuksesan dalam berbagai bidang dan selama
beberapa abad menjadi kiblat ilmu pengetahuan, akhirnya mencapai kemunduaran
yang disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya yaitu :

 Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan yang menyebabkan munculnya


munculnya perebutan kekuasaan diantara ahli waris

 Lemahnya figur dan kharismatik yang dimiliki khalifah khususnya sesudah


khalifah Al Hakam II. Khalifah hanyalah sebagai simbol saja, sedang
pelaksanaan pemerintahannya dijalankan oleh Wazir

 Perselisihan diantara umat Islam itu sendiri yang disebabkan perbedaan


kepentingan atau karena perbedaan suku dan kelompok yang merupakan
peluang bagi pihak kristen untuk memecah belah Islam

 Konflik umat Islam dan kristen, kebijakan para penguasa Muslim yang tidak
melakukan Islamisasi secara sempurna dan hanya diwajibkan membayar upeti
pada penguasa Islam di Spanyol

 Munculnya Muluk At Tawaif ( kerajaan-kerajaan kecil ) yang masing-masing


saling berebut kekuasaan.

d) Yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi pendidikan Islam dan melemahnya


pemikiran yang disebabkan antara lain :

 Telah berlebihnya filsafat Islam ( yang bersifat Sufistik )

 Sedikitnya kurikulum Islam

 Tertutupnya pintu ijtihad

DAFTAR PUSTAKA

Chadijah Ismail, Sejarah Pendidikan Islam,( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999)

Enam Muhamad Abdullah, Ibnu Khaldun: His Life and Work, New Delhi: Kitab Bhavan,
1979

Hanum Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, ( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999)

http://zaldym.wordpress.com/2008/10/23/ibnu-khaldun-bapak-sosiologi-islam/

Ibn Khaldun, MuqaddimahIbnu Khaldun(terjnah: Ahmad Toha), Jakarta: Pustaka Firdaus,


1986

Issawi, Cgarles, Filsafat Islam Tentang Sejarah, Pilihan dari Muqaddimah Ibn Khaldun Alih
Bahasa A. Mukti Ali, (Jakarta: Tinta Mas,1962)
Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakata : Kencana Prenada Media Group, 2007)

Sulaiman Fathiyah Hasan, Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan, Bandung:
Diponegoro, 1987

Wafi Ali Abdul Wahid, Ibnu Khaldun Riwayat dan Karyanya, terj. Terj: Ahmad Toha,
(Jakarta: Grafiti Perss,1989)

Anda mungkin juga menyukai