Anda di halaman 1dari 21

makalah

Model – Model
Pengembangan
Pembelajaran
http://sekolah-dasar.blogspot.com
kurniasepta

2011

h t t p : / / s e k o l a h - d a s ai r . b l o g s p o t . c o m /
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas limpahan rahmat, taufik


dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah
ini dengan judul “Model – Model Pengembangan Pembelajaran”. Makalah
ini disusun dengan guna mengajak para pembaca, dalam hal ini guru
maupun calon guru dan pemerhati pendidikan untuk mampu menciptakan
pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan sehingga anak didik
menjadi senang belajar.
Walaupun penulisan makalah ini telah disusun secara hati – hati
namun tetap memerlukan kerjasama dari berbagai pihak untukmembantu
penulisan makalah ini. Maka dari itu penulis ingin menyampaikan rasa
hormat dan terimakasih kepada:
1. Bapak Dosen Drs. Rochani, M. Pd pembimbing mata kuliah
Pengembangan Bahan Pembelajaran.
2. Teman – teman yang senatiasa memberi masukan dalam penyusunan
makalah ini.
Penulis berharap semoga penulisan makalah ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Penulis menyadari
bahwa penyusunan tugas makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengaharapkan saran dan kritik yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

Blitar, 02 Desember 2010

Penulis

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................................i
KATA PENGANTAR...........................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................................3
A. Tujuan Pengamatan....................................................................3
B. Manfaat Penulisan......................................................................3
BAB II PEMBAHASAN....................................................................... 4
A. Hakekat Pembelajaran................................................................4
B. Model – Model Pengembangan Pembelajaran........................... 5
C. Implikasi Pengembangan Model – Model Pembelajaran
Dalam Pendidikan.......................................................................15
BAB III PENUTUP...............................................................................17
A. KESIMPULAN..........................................................................17
B. SARAN.......................................................................................17
DAFTAR RUJUKAN………………………………………………...

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar


anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan
pendidik.Kegiatan pembelajaran ini akan bermakna bagi anak jika
dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman
bagi anak. Peserta didik yang berada pada sekolah dasar memiliki aspek
perkembangan kecerdasan,emosi, sosial , bahasa, motorik, dan lain –
lainnya tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Dalam mengajar guru
perlu memilih buku panduan yang tepat sesuai dengan karakteristik anak
dan efisien mendukung pembelajaran tematik. Oleh karena itu dalam
pembelajaran guru harus kreatif dalam menyiapkan kegiatan / pengalaman
belajar pada anak, salah satunya dalam memilih strategi pembelajaran
yang akan digunakan dalam proses KBM.
Berbicara tentang pendidikan, maka akan berbicara tentang dua
aspek penting, yaitu praktek pendidikan dan teori pendidikan. Praktek
pendidikan dapat diartikan sebagai seperangkat kegiatan bersama yang
bertujuan membantu pihak lain agar mengalami perubahan tingkah laku
yang diharapkan (Sadulloh,2003:1-2). Praktek pendidikan dapat dilihat
dari tiga aspek, yaitu aspek tujuan, aspek proses kegiatan dan aspek
dorongan atau motivasi. Adapun teori pendidikan dapat diartikan
seperangkat konsep yang sudah tersusun secara sistematis dan teruji secara
empirik yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam praktek pendidikan.
Dalam paradigma baru tentang pendidikan, baik dalam konteks
teori maupun praktek, istilah pembelajaran lebih banyak dikembangkan.
Menurut Djahiri (2007:1) pembelajaran itu sendiri dapat dimaknai secara
prosedural maupun programatik. Secara programatik pembelajaran
dimaknai sebagai seperangkat komponen rancangan pelajaran yang
memuat hasil pilihan dan ramuan profesional perancang/guru untuk
dibelajarkan kepada peserta didiknya. Adapun secara prosedural,

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
pembelajaran adalah proses interaksi/interadiasi antara kegiatan belajar
siswa dengan kegiatan mengajar guru serta dengan lingkungan belajarnya
(learning environment).
Pendidikan di SD tidak hanya mengajarkan kepada anak untuk
meghafal dan menguasai materi yang disampaikan, akan tetapi lebih
tepatnya sebagai wadah pembentukan karakter anak sebagai warga Negara
yang diharapkan di masa mendatang. Untuk itu dalam menyampaikan
materi guru harus menguasai pengelolaan kelas dan kreatif memilih model
- model pembelajaran guna mendukung kelancaran pembelajaran di kelas.
Pelaksanaan pendidikan di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang
berusia 6 -12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7 -11 tahun menurut
Piaget (1963) barada dalam perkembangan kemampuan intektual konkrit
operasional.Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan
menganggap tahun yang akan dating sabagai waktu yang masih jauh.
Mereka hanya memahami keadaan sekarang ( konkrit) dan bukanlah masa
depan yang masih abstrak.
Agar tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai maka diperlukan
strategi yang memadukan setiap komponen pembelajaran secara
integrated dan koheren. Penentuan model pembelajaran yang tepat
menjadi pekerjaan utama para aktor pembelajaran agar kegiatan belajar
mengajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Atas dasar inilah, penulis memberi judul makalah ini ”Model –
Model Pengembangan Pembelajaran” yang mana dalam makalah ini
penulis akan mendeskprisikan tentang konsep beberapa model
pembelajaran beserta penerapannya dalam pembelajaran yang dinilai
cukup efektif untuk diterapkan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan hakekat pembelajaran ?
2. Apa saja model – model pengembangan pembelajaran ?
3. Bagaimana implikasi model – model pembelajaran dalam
pendidikan ?

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
C. Tujuan Pendidikan
1. Untuk mengetahui hakekat dari pembelajaran
2. Untuk mengetahui model – model pengembangan pembelajaran
3. Untuk mengetahui implikasi model – model pengembangan
pembelajaran dalam pendidikan

D. Manfaat Penulisan
Bagi Penulis
Penulisan makalah ini meningkatkan pemahaman penulis mengenai
penerapan model – model pengembangan pembelajaran yang menunjang
pembelajaran di SD.

Bagi Pembaca
Penulisan makalah ini sebagai bahan kajian pembaca sebagai guru
maupun calon guru SD agar mampu melaksanakan model – model
pembelajaran dengan baik.

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakekat Pembelajaran
1. Pengertian Pembelajaran di Sekolah Dasar
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang kompleks.
Pembelajaran pada hakekatnya tidak hanya sekedar menyampaikan pesan
pembelajaran kepada siswa, akan tetapi merupakan aktifitas profesional
yang menuntut guru untuk dapat menggunakan ketrampilan dasar
mengajar secara terpadu, serta menciptakan situasi dan kondisi yang
memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif dan efisien.
“ Pembelajaran adalah suatu kegiatan kompleks. Pembelajaran
pada hakikatnya tidak hanya sekedar menyampaikan pesan tetapi juga
merupakan aktivitas profesional yang menuntut guru dapat menggunakan
ketrampilan dasar mengajar secara terpadu serta menciptakan situasi
efisien ( Mashudi, Toha dkk, 2007 :3). Oleh karena itu dalam
pembelajaran guru perlu menciptakan suasana yang kondusif dan strategi
belajar yang menarik minat siswa.
2. Tujuan Pembelajaran
Tiap usaha mengajar sebenarnya ingin menumbuhkan atau
menyempurnakan pola laku tertentu dalam diri peserta didik. Kegiatan itu
bisa berupa kegiatan rohani dan kegiatan jasmani. Mengajar merupakan
suatu aktifitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik –
baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi belajar
mengajar ( Nasution, 1982 :8). Jadi keberhasilan proses belajar mengajar
sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses belajar
mengajar.
Mengajarkan suatu bahan pelajaran dengan baik, membutuhkan
suatu usaha yang memerlukan pengorganisasian yang matang dan semua
komponen dalam situasi mengajar. Komponen itu antara lain pemilihan :
metode, materi, tujuan, media, evaluasi dan model pembelajaran. Dalam
seluruh kegiatan belajar mengajar komponen model pembelajaran

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
termasuk memegang peranan yang penting. Karena pemilihan strategi
mengajar yang tepat dalam penggunaan model pembelajaran sangat
menentukan hasil belajar siswa.

B. Model – Model Pengembangan Pembelajaran


1. Model Pembelajaran Konstektual ( CTL )
Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa
yang dialaminya, bukan sekedar “mengetahui”-nya. Pembelajaran yang
berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dari kompetensi
“mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak
memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang, pendekatan
kontekstual (contextual teaching and learning/CTL) adalah suatu
pendekatan pengajaran yang diharapkan dapat memenuhi harapan bahwa
anak sampai pada fase mampu mengalami dan mampu menanggapi
fenomena-fenomena kotekstual dalam kehidupan sehari-harinya.
Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan
lebih produktif dan bermakna. Definisi yang mendasar tentang
pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pendekatan konstektual dapat dijalankan tanpa harus mengubah
kurikulum dan tatanan yang ada. IPS merupakan ilmu yang berangkat dari
fenomena keseharian, dan tidak bisa dilepaskan dari dinamika
perkembangan masyarakat yang senantiasa berubah, dinamika dan
perubahan tersebut memiliki kekhasan sesuai dengan lingkungan
masyarakat berada. Oleh karenanya, pembelajaran IPS bagi anak menjadi
keniscayaan untuk selalu dihubungkan dengan konteksnya, sehingga apa
yang diperoleh anak tidak hanya berada dalam wilayah kognisi, melainkan
sampai kepada tataran dunia nyata yang ia jalani sehari-hari. Jika tidak
demikian, maka apa yang diperolehnya di sekolah hanya akan menjadi
barang kadaluarsa yang tidak bernilai guna.

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai
berikut: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa,
2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses
pengkajian secara seksama, 3) Mempelajari lingkungan sekolah dan
tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaitkan dengan
konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual, 4)
Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang
dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan
lingkungan hidup mereka, 5) Melaksanakan penilaian terhadap
pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refleksi
terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya. Adapun menurut
Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki
tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (Constructivism),
menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar
(Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan
penilaian yang sebenarnya (Authentic).

2. Model Pembelajaran Kompetensi


Kompetensi menunjukkan kepada kemampuan melakukan sesuatu
yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan. Dalam hubungannya
dengan proses pembelajaran, kompetensi merujuk kepada perbuatan
(performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu
dalam proses belajar. Kompetensi merupakan indikator yang menunjuk
kepada perbuatan yang dapat diamati, dan sebagai konsep yang mencakup
aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap serta tahapa-tahap
pelaksanaannya secara utuh.

Menurut Mulyasa (2007:97), implikasi pendekatan kompetensi


dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Pembelajaran perlu lebih menekankan pada pembelajaran individual,


meskipun dilaksanakan secara klasikal, dalam pembelajaran perlu
diperhatikan perbedaan peserta didik.

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
b. Perlu diupayakan lingkungan belajar yang kondusif, dengan metode dan
media bervariasi yang memungkinkan setiap peserta didik mengikuti
kegiatan belajar tenang dan menyenangkan.

c. Dalam pembelajaran pelu diberikan waktu yang cukup, terutama dalam


penyelesaian tugas/praktek pembelajaran agar setiap peserta didik dapat
mengerjakan tugas belajar dengan baik. Apabila waktu yang tersedia di
sekolah tidak mencukupi, berilah kebebasan kepada peserta didik untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan di luar kelas.

Adapun menurut Ashan dalam Mulyasa (2007:97) bahwa terdapat


tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pembelajaran
dengan pendekatan kompetensi, yaitu menetapkan kompetensi yang ingin
dicapai, mengembangkan strategi untuk mencapai kompetensi, dan
evaluasi.

3. Pendekatan Lingkungan

Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran


yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui
pemberdayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini
berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian peserta
didik jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan. Dalam pendekatan
lingkungan, pelajaran disusun sekitar hubungan dan faidah lingkungan. Isi
dan prosedur disusun hingga mempunyai makna dan ada hubungannya
antara peserta didik dengan lingkungannya. Pengetahuan yang diberikan
harus memberi jalan ke luar bagi peserta didik dalam menanggapi
lingkungannya. Pemilihan tema seyogyanya ditentukan oleh kebutuhan
lingkungan peserta didik. UNESCO (1980) mengemukakan jenis-jenis
lingkungan yang dapat didayagunakan oleh peserta didik untuk
kepentingan pembelajaran sebagai berikut:

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
a. Lingkungan yang meliputi faktor-faktor fisik, biologi, sosio-ekonomi,
dan budaya yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung,
dan berinteraksi dengan kehidupan peserta didik.

b. Sumber masyarakat yang meliputi setiap unsur atau fasilitas yang ada
dalam suatu kelompok masyarakat.

c.Ahli-ahli setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki


pengetahuan khusus dan berkaitan dengan kepentingan pembelajaran.

Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan


dengan dua cara sebagai berikut:

a. Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan pembelajaran.


Hal ini bisa dilakukan dengan metode-metode karyawisata, metode
pemberian tugas, dan lain-lain

b. Membawa sumber-sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk


kepentingan pembelajaran. Sumber tersebut bisa sumber asli, seperti
narasumber, bisa juga sumber tiruan, seperti model dan gambar.

4. Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan


pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan
kreativitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan,
nilai dan sikap serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator-indikator pendekatan keterampilan proses anatara lain
kemampuan mengidentifikasi, mengklasifikasi, menghitung, mengukur,
mengamati, mencari hubungan, menafsirkan, menyimpulkan, menerapkan,
mengkomunikasikan, dan mengekspresikan diri dalam suatu kegiatan
untuk menghasilkan suatu karya.

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
a. Lingkungan yang meliputi faktor-faktor fisik, biologi, sosio-ekonomi,
dan budaya yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung,
dan berinteraksi dengan kehidupan peserta didik.

b. Sumber masyarakat yang meliputi setiap unsur atau fasilitas yang ada
dalam suatu kelompok masyarakat.

c. Ahli-ahli setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang


memiliki pengetahuan khusus dan berkaitan dengan kepentingan
pembelajaran.

Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan


dengan dua cara sebagai berikut:

a. Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan pembelajaran.


Hal ini bisa dilakukan dengan metode-metode karyawisata, metode
pemberian tugas, dan lain-lain

b. Membawa sumber-sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk


kepentingan pembelajaran. Sumber tersebut bisa sumber asli, seperti
narasumber, bisa juga sumber tiruan, seperti model dan gambar.

5. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) adalah strategi


pembelajaran yang dirancang secara berkelompok, dimana siswa belajar
bersama dan saling membantu dalam membuat tugas dengan penekanan
pada situasi untuk saling membantu diantara kelompok. Dengan sifatnya
yang saling membantu dan mendukung satu sama lain, maka dalam
pembelajaran kooperatif tidak ada kompetisi , sebab keberhasilan belajar
adalah keberhasilan kelompok.

Tujuan utama diterapkan pembelajaran kooperatif adalah untuk


menciptakan suatu situasi dimana keberhasilan dapat tercapai bila siswa
lain juga mencapai tujuan tersebut. Menurut Suyanto ( 2008 ), ada lima

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
prinsip mendasari pembelajaran kooperatif, yaitu : (1) Positive
interdependence ; saling bergantung secara positif, artinya anggota
kelompok menyadari bahwa mereka perlu bekerja sama untuk mencapai
tujuan, (2) face to face interaction : semua anggota berinteraksi saling
berhadapan, (3) Individual accountability : setiap anggota harus belajar
dan menyumbang demi pekerjaan dan keberhasilan kelompok,(4) Use of
collaborative / social skills: keterampilan bekerjasama dapat berkolaborasi,
(5) Group processing: siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja
secara efektif.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dala pembelajaran kooperatif


: (1) hasil kerja adalah hasil kelompok,(2) Penghargaan untuk kelompok
bukan untuk perorangan,(3) setiap anggota mempunyai peran / tugas yang
merupakan bagian dari tugas kelompok,( 4) antar anggota saling memberi
dukungan dan saling membantu, (5) guru memberi feedback untuk
kelompok,(6) semua anggota kelompok bertanggungjawab atas tugas
kelompoknya.

Pembelajaran kooperatif dapat dilaksanakan di semua mata


pelajaran atau bidang studi baik untuk pendidikan dasar, menengah,
maupun pendidikan tinggi. Ada beberapa macam pembelajaran kooperatif,
antara lain :

a. Examples Non Examples.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan


pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa
untuk memperhatikan/menganalisa gambar
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari
analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi
sesuai tujuan yang ingin dicapai
7. Kesimpulan

b. Picture and Picture:

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai


2. Menyajikan materi sebagai pengantar
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan
berkaitan dengan materi
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian
memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan
konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7. Kesimpulan/rangkuman

c. Numbered Heads Together

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok


mendapat nomor
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok
mengerjakannya
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan
tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang
dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor
yang lain
6. Kesimpulan

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
d. Think-Pair-Share

Langkah – langkah untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model


Think – Pair- Share ( TPS ) sebagai berikut :

1. Guru memberikan sebuah topic kepada siswa

2. Masing – masing siswa kemudian memikirkan jawabannya sendiri

3.Kemudian siswa berpasangan dan masing – masing pasangan


mendiskusikan sebuah topik tersebut

4. Selanjutnya pasangan – pasangan tersebut berbagi pendapat dengan


semua anggota kelas lainnya.

e. JIGSAW

Langkah – langkah untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model


Think – JIGSAW sebagai berikut :

1. Siswa dibagi menjadi beberapa anggota kelompok secara


heterogen, misalnya kelompok A, B, C dan D.
2. Masing – masing kelompok ini ditunjuk menjadi ahli ( expert)
tentang bidang ( sub topic ) tertentu dari materi, misalnya X, Y, Z dan
N
3. Siswa – siswa dari kelompok A, B, C dan D yang ditunjuk expert
tentang X selanjutnya berkumpul, belajar bersama tentang materi X
sehingga menjadi expert tentang X. Demikian pula dengan anggota
lainnya yang ditugaskan menjadi expert tentang materi lainnya.
4. Setelah diskusi dalam kelompok expert ini selesai, para ahli ini
kembali ke kelompoknya semula ( kelompok asal) yaitu A, B, C dan D
dan memberikan penjelasan kepada anggota lainnya di dalam
kelompok materi yang dikuasainya dan mendengarkan dari ahli
lainnya tentang materi lainnya pula.

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
f. Student Teams-Achievment Division ( STAD )

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen


(campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)

2. Guru menyajikan pelajaran

3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-


anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya
sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.

4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat


menjawab kuis tidak boleh saling membantu

5. Memberi evaluasi

6. Kesimpulan

6. Pembelajaran Berbasis Masalah

Problem Based Learning sebagai alternatif model pembelajaran


yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa
untuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah,
serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang mendasar dari materi
yang dipelajari. Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah.
Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari
kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat
tinggi. Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka,
negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat
berpikir optimal. Indikator model pembelajaran ini adalah kemampuan

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
kognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi,
eksplorasi, sintesis, generalisasi, dan inkuiri.

7. Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan


tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikan pengalaman bermakna pada siswa. Tema adalah pokok
pemikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan
( Poerwadarminta,1983). Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah
dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai
berikut : (a) berpusat pada siswa ( student centered), hal ini sesuai dengan
pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai
subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang
memberikan kemudahan – kemudahan kepada siswa untuk melakukan
aktivitas belajar;(b) memberikan pengalaman langsung kepada siswa( direct
experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada
sesuatu yang nyata ( konkrit ) sebagai dasar untuk memahami hal – hal yang
lebih abstrak; (c) pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas,sebab dalam
pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu
jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema – tema yang
paling dekat dan berkaitan dengan kehidupan siswa.;(d) menyajikan konsep
dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan
demikian Siswa mampu memahami konsep – konsep tersebut secara utuh.
Hal ini dilakukan untuk membantu siswa dalam memahami dan
memecahkan masalah –masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari –
hari; (e) bersifat fleksibel (luwes), dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar
dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, bahkan
mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana
siswa berada; (f) hasil pembelajaran sesuai minat dan kebutuhan siswa,
artinya siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang
dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya, (g) menggunakan
prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
Dengan demikian siswa akan merasa nyaman dan betah di kelas,
dia tidak akan merasa tertekan untuk belajar dan sebaliknya dia akan
berkompetisi untuk menguasai bahan yang dipelajarinya. Akan tetapi ada
beberapa rambu – rambu yang perlu diperhatikan olehguru dalam
menerapkan pembelajaran tematik diantaranya ;(a) tidak semua mata
pelajaran harus dipadukan, (b) dimungkinkan terjadi penggabungan
kompetensi dasar lintas semester,(c) kompetensi dasar yang tidak dapat
dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang
tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema
lain maupun disajikan secara tersendiri,(e) berhitung serta penanaman nilai –
nilai moral ,(f) tema –tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik
siswa, minat,lingkunagn, dan daerah setempat.
Pembelajaran tematik memilki beberapa ciri khas yang
membedakannya dengan model pembelajaran yang lain diantaranya (a)
pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar ; (b) kegiatan –
kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari
minat dan kebutuhan siswa; (c) kegiatan belajar akan lebih bermakna dan
berkesan bagi siswa sehingga hasil belajarpun dapat bertahan lebih lama; (d)
membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; (e) menyajikan
kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang
sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan (f) mampu mengembangkan
keterampilan sosial siswa, seperti bekerja sama, berani menghadapi
tantangan, toleransi,komunikatif,dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

C. Impikasi pengembangan Model – model pembelajaran dalam


Pendidikan
Perkembangan beragam model pembelajaran memiliki peran yang
besar dalam upaya meningkatkan kualitas guru dan keberhasilan siswa
dalam belajar. Implementasi dari masing – masing model pembelajaran di
sekolah mempunyai berbagi implikasi bagi guru, siswa, buku ajar, sarana
prasarana, pengelolaan kelas, dan media. Implikasi bagi guru penerapan

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
model pembelajaran memerlukan guru yang kreatif untuk senantiasa
memilih dan memadukan model pembelajaran yang tepat ketika
menyampaikan materi agar siswa nyaman dalam belajar dan mendapatkan
pembelajaran yang bermakna.
Impilasi dari perkembangan model pembelajaran bagi siswa, selain
memacu siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam
pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual,
pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal, juga siswa harus siap mengikuti
kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif, misalnya melakukan
diskusi kelompok , mengadakan penelitian, dan pemecahan masalah.
Implikasi perkembangan model pembelajaran bagi sarana dan
prasarana, sumber belajar dan media adalah perlunya esensi guru untuk
mengoptimalkan penggunaan sumber dan media pembelajaran yang
bervariasi, baik yang dirancang sendiri maupun memanfaatkan lingkunagn
yang ada.
Implikasi perkembangan model pembelajaran terhadap pengaturan
ruangan/ kelas adalah perlunya peran guru untuk menata ruang sedemikian
rupa agar suasana belajar menyenangkan, misalnya susunan bangku yang
dapat berubah – ubah, kegiatan yang bervariasi yang tidak selalu belajar di
dalam kelas tetapi bisa juga di luar kelas, dinding kelas dapat dijadikan
sarana memasang hasil karya siswa.
Implikasi perkembangan model pembelajaran terhadap pemilihan
metode antara lain pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai
variasi kegiatang denagn menggunakan multi metode.

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Peran pendidik yang kini mengalami pergeseran dari teacher


centered menuju student centered merupakan suatu fenomena yang memiliki
makna filosofis terhadap praktek pembelajaran di persekolahan. Oleh
karenanya, guru abad sekarang harus mampu meningkatkan
profesionalismenya serta senantiasa beradaptasi dengan dinamika
perkembangan dunia pendidikan pada khususnya dan dinamika global pada
umumnya. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa
yang dialaminya, bukan sekedar “mengetahui”-nya. Pembelajaran yang
berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dari kompetensi
“mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan
persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Terdapat beragam model
pembelajaran yang dapat dipilih guru untuk menciptakan kegiatan belajar
mengajar yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa.

B. Saran

Untuk mencapai tujuan pendidikan, guru perlu memadukan setiap


komponen pembelajaran secara integrated dan koheren termasuk kreatif
dalam memilih model pembelajaran. Penentuan model pembelajaran yang
tepat dapat mengukur tingkat pencapaian proses dan hasil terhadap tujuan
pembelajaran. Oleh karena itu Guru perlu menyiapkan segala yang berkaitan
dengan pembelajaran sebelum menyampaikan materi dan memilih strategi
belajar yang cocok untuk diterapkan ketika mengajar. Hendaknya dalam
penyampaian materi, siswa mampu terlibat secara langsung sehingga kegiatan
menjadi lebih bermakna dan mempermudah pencapaian kompetensi serta hasil
belajar yang diharapkan dikuasai siswa dalam pembelajaran

http://sekolah-dasar.blogspot.com/
DAFTAR RUJUKAN

Blog Guru. 2010. Model – model Pembelajaran ,(online),


(http://gurukreatif.wordpress.com/2010/06/12/Model+belajar+mengajar +
Sekolah Dasar, diakses tanggal 4 Novemberr 2010.)
Effendi. M. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran : Pengantar Ke Arah
Pemahaman KBK, KTSP, dan SBI. Malang : Universitas Negeri Malang.
http : // Google.co.id.wikipedia.org/wiki . 2 dix,com / doc/ model– model-
pembelajaran- Doc-php, (online),diakses tanggal 4 November 2010)
Moedjiono, dkk. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Depdikbud Dirjen
Dikti

http://sekolah-dasar.blogspot.com/