Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus


terpenuhi kecukupannya untuk menunjang kelangsungan hidup sebahagian besar
penduduk Indonesia. Salah satu upaya untuk mempertahankan kecukupan pangan
adalah melalui pengendalian faktor-faktor pembatas. Salah satu faktor pembatas
yang penting adalah serangan hama penyakit. Keongmas merupakan salah satu
hama penting pada tanaman padi di Indonesia.Saat ini keong emas (Pomacea sp.)
berperan sebagai salah satu hama penting pada tanaman padi.

Gambar 1.1. Hama keong mas yang menyerang tanaman padi.

Di Aceh misalnya, keongmas telah menjadi hama utama, terutama pada


areal sawah beririgasi. Tingkat serangan hama tersebut pun tergolong cukup
tinggi. Serangan berat umumnya terjadi di persemaian sampai tanaman berumur
dibawah 4 MST. Pada tanaman dewasa, gangguan keongmas hanya terjadi pada
anakan sehingga jumlah anakan produktif menjadi berkurang. Perkembangan
hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7–4 hari
(Pitojo, 1996). Disamping itu, satu ekor keongmas betina mampu menghasilkan
15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60-80 hari), dan masing-masing

1
kelompok telur berisi 300-500 butir (Anonymous, 1993). Seekor keongmas
dewasa mampu menghasilkan 1000–1200 telur per bulan (Anonymous, 1995).
Penyebarannya sangat cepat karena binatang berbatok keras itu mengikuti
aliran air saluran irigasi. Setiap menetas, telurnya ratusan bibit dan menyebar ke
segala penjuru. Dengan mengikuti air yang mengalir, populasinya menjadi sangat
cepat dan banyak.
Barringtonia racemosa umumnya hidup di daerah pesisir pantai dan
tumbuh di daerah yang memiliki tingkat kelembapan yang cukup tinggi. Tanaman
ini mengandung saponin pada bagian biji, kulit, kayu dan akarnya. Kulitnya juga
mengandung tannin. Ekstrak dari tumbuhan ini juga efektif terhadap insektisida
dan juga digunakan secara medis di Negara-negara Timur (Musman, 2004, Perry,
1980).

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah untuk mengetahui
toksisitas senyawa bioaktif yang terkandung dalam biji dan daun Barringtonia
racemosa terhadap keongmas.

1.3. Manfaat
Diharapkan hasil praktikum ini dapat menjadi alternatif baru yang efektif
dan efisien untuk mengendalikan hama keongmas dan dapat diterapkan oleh
masyarakat.

2
BAB II
DASAR TEORI

Keongmas (Pomacea canaliculata) termasuk ke dalam filum Moluska,


Kelas Gasropoda, Ordo Mesogastropoda, Famili Ampullariidae, Genus Pomacea,
dan Spesies Pomacea canaliculata. Semua moluska bersifat hermafrodit kecuali
keongmas. Keongmas jantan memiliki cangkang yang simetris antara sudut terluar
tubuh dengan apex, sedangkan keongmas betina memiliki cangkang yang lebih
besar antara sudut terluar tubuh dengan apex (www.litbang.deptan.go.id).
Keong mas (Pomacea sp.) mempunyai kebiasaan memakan berbagai
tanaman yang lunak termasuk padi yang masih muda. Biasanya keong mas
memarut pangkal batang yang berada dibawah air dengan lidahnya hingga patah,
kemudian patahan tanaman yang rebah tersebut dimakan. Bila populasi
keongmas tinggi dan air selalu tergenang, bisa mengakibatkan rumpun padi mati,
sehingga petani harus menyulam atau menanam ulang. Beberapa bahan nabati pun
bisa digunakan sebagai pestisida nabati atau moluskisida untuk keongmas.
Saponin, rerak, pinang, tembakau dan daun sembung cukup efektif sebagai
moluskisida nabati. Penggunaan bahan nabati dianjurkan dilakukan sebelum
tanam, karena pada saat itu keong akan terganggu daya makannya, sehingga
kurang merusak padi yang baru tanam (www.ciptapangan.com).
Barringtonia racemosa umumnya hidup di daerah pesisir pantai dan
tumbuh di daerah yang memiliki tingkat kelembapan yang cukup tinggi. Tanaman
ini mengandung saponin pada bagian biji, kulit, kayu dan akarnya. Kulitnya juga
mengandung tannin. Ekstrak dari tumbuhan ini juga efektif terhadap insektisida
dan juga digunakan secara medis di Negara-negara Timur (Musman, 2004, Perry,
1980).
Barringtonia merupakan pohon kecil dengan tinggi 4-8 m, terkadang
mencapai 15 m. Kulit batang berwarna abu-abu, daun berwarna hijau, berbunga
merah dan memiliki buah setiap tahun. Zat yang berperan sebagai antibakteri
adalah triterpenoid, alkaloid, flavonoid, saponin, sterol, dan tannin, kesemua zat

3
tersebut menyebar pada bagian kulit batang, kayu, daun, akar dan biji. Klasifikasi
barringtonia racemosa adalah sebagai berikut Kingdom Plantae,
Filum Magnoliophyta , Kelas Magnoliopsida, Ordo Lecythidales,
Famili Lecythidaceae, Genus Barringtonia, Barringtonia racemosa
(www.discoverlife.org).
Saponin adalah glikosida, yaitu metabolit sekunder yang banyak terdapat
di alam, terdiri dari gugus gula yang berikatan dengan aglikon atau sapogenin.
Senyawa ini bersifat racun bagi binatang berdarah dingin. Oleh karena itu dapat
digunakan untuk pembasmi hama tertentu. Dengan berkembangnya tambak udang
di Indonesia, saponin biji teh menunjukan peranannya yang cukup penting sebagai
pembasmi hama udang. Kandungan sapotin pada biji teh adalah 20 % (crude).
Sifat-sifat saponin yaitu berasa pahit, berbusa dalam air.mempunyai sifat detergen
yang baik, beracun bagi binatang berdarah dingin, mempunyai aktivitas
haemolisis, merusak sel darah merah, tidak beracun bagi binatang berdarah panas,
mempunyai sifat anti eksudatif , mempunyai sifat anti inflamatori, mempunyai
aplikasi yang baik dalam preparasi film fotografi (www.warintek.ristek.go.id).
Tanin adalah senyawa organik yang terdiri dari campuran senyawaan
polifenol kompleks, dibangun dari elemen C, H dan O serta sering membentuk
molekul besar dengan berat molekul lebih besar dari 2000. Tanin yang terdapat
pada kulit kayu dan kayu dapat berfungsi sebagai penghambat kerusakan akibat
serangan serangga dan jamur, karena memilki sifat antiseptik (Hathway, 1962).
Menurut Sjostrom (1981) tanin adalah suatu senyawa polifenol dan dari
struktur kimianya dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu tanin terhidrolisis
(hidrolizable tannin) dan tanin terkondensasi (condensed tannin).
Tanin dapat dijumpai pada hampir semua jenis tumbuhan hijau di seluruh
dunia baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tingkat rendah dengan kadar dan
kualitas yang berbeda-beda. Menurut Markham (1988), sebagian besar flavonoid
yang berasal dari hasil biosintesa ( kira-kira 2% dari seluruh karbon yang
difotosintesis oleh tumbuhan ) diubah menjadi tanin, sehingga flavonoid tersebut
merupakan salah satu fenol alam yang terbesar. Di Indonesia sumber tanin yang
paling banyak adalah bakau-bakauan yang tumbuh di hutan mangrove, yang

4
tersebar luas dari Aceh sampai Irian Jaya. Selain jenis bakau, tanin dapat juga
ditemukan pada jenis-jenis dari hutan tanaman industry seperti akasia, pinus,
ekaliptus dan sebagainya (Hunt, 1986).

5
BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum dilaksanakan pada tanggal 6 April 2010
Tempat : Laboratorium Ilmu Kelautan
Waktu : 14.15 WIB

3.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan adalah bejana air 1000 mL, blender, timbangan
digital, aguarium, dan gelas kimia. Sedangkan bahan yang digunakan adalah biji
dan daun Barringtonia racemosa, keongmas 60 individu, dan air sumur.

3.3. Cara kerja

a. Persiapan hewan uji hayati


Dikumpulkan beberapa keong mas. Dimasukkan kedalam bejana yang
berisi sekitar 1 liter air sawah (air tawar).

b. Persiapan sampel
Biji barringtonia racimosa dihaluskan menggunakan blender. Ditimbang
sebanyak 5 gr. Dimasukkan ke dalam bejana yang berisi keong mas.

c. Pengujian
Keong diaklimasi terlebih dahulu pada aquarium. Setelah keong mas
bergerak kembali. Tuangkan larutan serbuk Barringtonia racemosa, dengan cara
merapatkan gelas kimia ke dinding aquarium. Perhatikan reaksi yang terjadi.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Berikut adalah hasil yang diperoleh dari pengujian toksisitas senyawa
bioaktif yang terkandung dalam biji dan daun Barringtonia racemosa terhadap
keongmas.

Tabel 4.1.1. Hasil Pengujian Barringtonia racemosa terhadap keongmas.

Bagian tubuh Respon Lama waktu


Serbuk biji Cepat 10 menit
Daun Lambat 3 hari

4.2. Pembahasan
Pertumbuhan populasi keongmas yang sangat cepat membuat resah petani.
Penggunaan pestisida dapat membunuh hama ini, tetapi tidak ramah lingkungan.
Berdasarkan pengujian sebelumnya dinyatakan bahwa Barringtonia racemosa
merupakan moluskisida yang mampu bersifat toksik terhadap hama keongmas.
Tanaman ini mudah terdegradasi ke alam, juga ramah lingkungan. Kandungan zat
toksik yang terkandung pada tanaman ini adalah saponin dan tannin, kedua zat ini
memiliki sifat letal terhadap keongmas. Saponin banyak terkandung pada biji,
sedangkan pada daun terdapat saponin dan tannin.
Pengujian yang dilakukan dalam skala lab menunjukkan bahwa ekstrak zat
tersebut aktif menghambat pergerakan keongmas yang telah diaklimasi
sebelumnya. Pada tahap awal pemberian larutan yang mengandung serbuk biji
Barringtonia racemosa, keongmas langsung merespon zat tersebut, mereka
menutup operculum dengan tujuan mengurangi zat yang masuk ke tubuh.
Sebagian keongmas bergerak menghindari zat tersebut. Proses penyerapan ekstrak
zat berlangsung cepat melalui operculum. Ekstrak zat menyebar ke tubuh dan

7
memperlambat proses sirkulasi udara. Awalnya keongmas mengapung dan
akhirnya mati, mengeluarkan lendir mukosa. Perbedaan ukuran tubuh keongmas
mempengaruhi daya tahan terhadap ekstrak zat tersebut. Keongmas dewasa lebih
lama mati dibandingkan keongmas kecil.
Pengujian biji Barringtonia racemosa terhadap keongmas membutuhkan
waktu 10 menit, sedangkan pengujian daun Barringtonia racemosa membutuhkan
waktu 3 hari. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jenis ekstrak yang digunakan. Pada
biji Barringtonia racemosa mengandung saponin lebih tinggi, menyebabkan
keongmas cepat mati. Sedangkan daun Barringtonia racemosa mengandung
saponin dan tannin. Kedua zat ini saling mereduksi jika menyatu, sehingga
keefektifannya untuk membunuh keongmas melambat.

BAB V

8
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai
berikut :
1. Biji dan daun Barringtonia racemosa dapat digunakan sebagai
moluskisida yang ramah lingkungan untuk hama keongmas, karena
mudah terdegradasi ke alam.
2. Zat anti-moluska yang terkandung pada biji adalah saponin, sedangkan
pada daun adalah saponin dan tanin.
3. Tingkat kematian pada keongmas tampak lebih cepat dengan
pemberian serbuk biji (10 menit), dibandingkan daun yang
membutuhkan waktu selama 3 hari.
4. Saponin meresap cepat ke tubuh keongmas, melalui operculum,dan
menutupi proses pernapasan, menyebabkan keongmas mati.

5.2. Saran
Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat diuji pada hama yang lain,
dan disosialisasikan pada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

9
Anonymous, 1993. Pengendalian Siput Emas. Liptan. Balai Informasi Pertanian
D.I Jokyakarta.

__________, 1995. Pengendalian Hama Keong Mas. Liptan. Loka Pengkanjian


Teknologi Pertanian (LPTP). Banda Aceh.

Hathway, D. E. 1962. The Condensed Tannins. In Wood Extractives (Hillis W.


E).Academic Press. New York.

Hunt, G. M dan G. A. Garrat. 1986. Pengawetan Kayu. Akademica Pressindo.


Jakarta.

Setijo, P. 1996. Petunjuk Pengendalian dan Pemanfaatan Keongmas. Trubus


Agriwidia.Ungaran. 106 hal.

Sjostrom. 1981. The Chemistry and Kinetic Behaviour of Cu-Cr-As/B Wood


Preservatives Part 1. Fixation of Chromium on Wood Holzforschung
35(5), pp: 87-100.

Sumber lain:
http://www.discoverlife.org/mp/20q?search=Barringtonia+racemosa diakses pada
tanggal 16 April 2010.
http://www.ciptapangan.com/files/downloadsmodule/@random4413d85398188/1
213849556_buletin_service.pdf diakses pada tanggal 16 April 2010.
http://ecocrop.fao.org/ecocrop/srv/en/cropView?id=501 diakses pada tanggal 16
April 2010.
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/484/ diakses pada tanggal 16 April
2010.
http://www.warintek.ristek.go.id/perikanan/Lain
%20lain/saponin_basmi_hama_udang.pdf diakses pada tanggal 16 April 2010.

10