Anda di halaman 1dari 110

BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT

90
a. Besarnya jaminan penawaran berkisar antara 1-3 % dari harga
penawaran, untuk kesegaraman besarnya akan ditentukan pada
waktunya Aanwijzing.
b. Jaminan penawaran tersebut akan dikembalikan apabila yang
bersangkutan tidak menjadi pemenang dalam pelelangan.
c. Jaminan penawaran menjadi milik negara apabila mengundurkan diri
setelah memasukkan surat penawaran ke dalam kotak pelelangan,
peserta yang menang berhak menerima surat penunjukkan.
d. Penawaran yang telah ditunjuk sebelum menandatangani kontrak
diwajibkan memberi jaminan pelaksanaan yang dikeluarkan oleh
lembaga penjamin yang besarnya ditentukan 5% dari nilai kontrak
(bagi penawar yang besarnya Rp. 50 juta), yang berlalu sampai dengan
selesainya masa pemeliharaan.
e. Pada saat jaminan pelaksanaan diterima oleh Pemimpin Proyek, maka
jaminan penawaran yang bersangkutan dikembalikan.
f. Bila pelelangan dinyatakan batal maka jaminan penawaran
dikembalikan.
Pasal 3
Pelaksanaan Penawaran
a. Penawaran dilaksanakan dengan sistem satu sampul yang disediakan
oleh pemborong.
b. Sampul tersebut berisi :
1. Surat penawaran rangkap 5, dibuat pada kertas yang berkop
perusahaan masing-masing. Surat penawaran tersebut diisi
lengkap diberi tanggal, diberi nama jelas, diberi materai 6000
rupiah dan pada materai tersebut nama jelas penawar,
ditandatangani dan disetempel perusahaan.
2. Daftar Perincian Biaya Pekerjaan (Daftar Kuantitas dan Harga)
rangkap 5 dibuat sesuai formulir yang telah disediakan oleh
panitia. Daftar Perincian Biaya Pekerjaan termasuk diberi

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
91
tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel
perusahaan.
3. Daftar upah dan harga bahan rangkap 5 dibuat sesuai dengan
format dengan disediakan panitia. Daftar upah dan harga bahan
tersebut diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar
dan setempel perusahan.
4. Daftar harga satuan rangkap 5 dibuat sesuai dengan formulir
yamg disediakan oleh panitia. Daftar harga satuan pekerjan
tersebut diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar
dan setempel perusahaan.
5. Rencana kerja rangkap 5 dibuat sesuai formulir yang disediakan
panitia, diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar
dan setempel perusahaan.
6. Daftar personel dan peralatan yang akan ditempatkan di proyek
rangkap 5 dibuat sesuai formulir yang disediakan panitia, diberi
tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setampel
perusahaan.
7. Surat jaminan asli bagi penawar yang besarnya Rp. 50 juta keatas
rangkap 5.
8. Salinan surat keterangan NPWP yang masih berlaku pada saat
pelelangan dan dapat dibuktikan kebenarannya pada waktu
pembukaan surat penawaran.
9. Surat keterangan bank dan 4 lembar salinannya yang masih
berlaku pada saat pelelangan.
10. Surat pernyataan bukan pegawai negeri sipil/ ABRI diatas
materai 6000 rupiah dan 4 lembar salinannya, dibuat pada
formulir yang disediakan panitia.
11. Salinan surat keterangan Pra kualifikasi rangkap 5.
12. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP).
13. Kesanggupan Astek.
14. Kesanggupan membayar jaminan pelelangan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
92
15. Kesanggupan membayar retribusi bahan galian golongan C.
16. Surat undangan.
17. Akte pendirian.
18. Pernyatan ikut tender.
19. Neraca perusahaan.
20. Pemilihan modal.
21. Referensi pekerjaan.
22. Susunan pengurus.
c. Sampul yang telah diisi pada ayat b, angka 1 s/d 22 diatas dan dilem.
Sampulan penawaran kemudian dimasukan ke dalam kotak pelelangan
yang tertutup, terkunci dan disegel yang disediakan oleh panitia.
d. Pembukaan surat penawaran
1. Pada waktu yang telah ditentukan oleh panitia menyatakan di
hadapan para penawar bahwa saat penyampaian surat penawaran
sudah ditutup.
2. Setelah penyampaian surat penawaran telah tutup tidak dapat lagi
diterima surat penawaran, surat keterangan, dan sebagainya dari
para penawar.
3. Panitia membuka kotak dan sampul surat penawaran dihadapan
para penawar. Semua surat penawaran dan surat keterangan
dibaca dengan jelas hingga terdengar oleh semua penawar.
4. Semua penawaran yang disampaikan, lalu panitia menyampaikan
mana yang sah dan mana yang tidak sah serta mencantumkan
dalam berita acara.
5. Kelalaian dan kekurangan yang dijumpai dalam surat penawaran
dinyatakan pula dalam berita acara.
6. Para penawar yang hadir diberi kesempatan melihat surat-surat
penawaran yang disampaikan oleh panitia.
7. Setelah pembacaan dan penetapan sahnya surat penawaran,
panitia membuat berita acara pembukaan surat penawaran.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
93
8. Berita acara setelah dibaca dengan jelas ditandatangani oleh
panitia dan sekurang-kurangnya dua orang wakil dari penawar.
e. Penawaran yang tidak sah
1. Penawar yang tidak diundang ikut menawar.
2. Terdapat nama penawar, harga penawaran atau data lainnya yang
dapat dianggap sebagai identitas penawar pada sampulnya.
3. Tidak melengkapi syarat-syarat penawaran yang sesuai dengan
ketentuan di atas.
4. Tidak jelas besarnya penawaran baik dengan angka maupun
dengan huruf.
5. Harga penawaran yang tercantum dalam angka tidak sesuai
dengan huruf.
6. Surat penawaran dikirimkan kepada anggota panitia pelelangan/
pejabat.
f. Apabila diperlukan panitia dapat memanggil penawar untuk diminta
penjelasannya lebih lanjut mengenai penawarannya.

4.2. Syarat-syarat Administrasi


Pasal 1
Istilah
Yang dmaksud dengan:
1. Pemilik adalah Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga Jawa
Tengah.
2. Pemimpin Proyek adalah pejabat yang ditunjuk oleh pemilik dan
bertindak untuk dan atas nama pemilik, memberi dan mengatur
penyelenggaraan pekerjaan.
3. Direksi/ Pengawas adalah instansi atau badan hukum yang diberi
kekuasan penuh oleh Pemimpin Proyek untuk mengawasi dan
mengarahkan pelaksanaan pekerjaan agar dapat tercapai hasil kerja
sesuai dalam kontrak dan atau berdasarkan petunjuk-petunjuknya.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
94
4. Pemborong/ Kontraktor pada pekerjaan ini adalah perorangan, badan
usaha atau instansi yang menang dalam pelelangan pekerjaan ini.
5. Pemeriksaan (opname) adalah kegiatan memeriksa, menilai hasil/
kemajuan dan atau keadaan mutu bahan di lapangan.
6. Pengujian (testing) adalah kegiatan memeriksa, meneliti hasil dan atau
menguji mutu hasil pekerjaan/ bahan.
7. Pematokan (uizet, stake out) adalah penjabaran gambar-gambar berupa
tanda-tanda duga yang menggambarkan arah dan jarak ketinggian
lapangan.
8. Pengukuran (measurement) adalah kegiatan mengukur panjang, lebar,
tinggi, luas atau hasil pekerjaan.
9. Spesifikasi adalah spesifikasi yang dimaksud di dalam dokumen
rencana kerja dan syarat-syarat dan setiap perubahan/ modifikasi dan
atau tambahan yang harus terlebih dahulu disetujui secara tertulis oleh
Direksi/ Pengawas.
10. Gambar rencana adalah gambar-gambar yang dimaksud dalam
spesifikasi dan tiap perubahan atau tambahan gambar dan gambar-
gambar lain yang disetujui secara tertulis oleh Direksi/ Pengawas.
11. Persetujuan atau disetujui adalah pernyataan tertulis dari Direksi
(Pengawas Lapangan) atau Pemimpin Proyek meliputi tulisan atau
catatan dalam Buku Direksi atau dalam bentuk surat khusus.
Pasal 2
Kontrak dan Dokumen Kontrak
Kontrak meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, penyelesaian pekerjaan
dan kecuali apabila disebutkan lain dalam kontrak meliputi juga pengarahan
segala sesuatu hal yang untuk pelaksanaan pekerjaan sebagai mana yang
tercantum dalam kontrak.
Pasal 3
Gambar-gambar dan Ukuran
Gambar-gambar yang digunakan dalam peleksanaan pekerjaan adalah:
1. Gambar yang termasuk dalam dokumen lelang.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
95
2. Gambar perubahan yang disetujui Direksi/ Pengawas.
3. Gambar lain yang disediakan dan disetujui Direksi/ Pengawas.
Pasal 4
Pengalihan Tugas dan Subkontraktor
Setiap penyerahan sebagaian pekerjaan kepada Sub Kontraktor harus
mendapat persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Pemimpin Proyek.
Pasal 5
Tugas dan Wewenang Pemimpin Proyek
Tugas dan wewenang pemimpin Proyek diatur sesuai dengan keputusan
Presiden Republik Indonesia No. 16 Tahun 1994 dan apabila masih
diperlukan pengaturan lebih lanjut akan ditetapkan di dalam dokumen
kontrak.
Pasal 6
Tugas Umum Direksi/ Pengawas
1. Tugas Direksi/ Pengawas adalah mengawasi pekerjaan menguji setiap
bahan yang akan dipergunakan dan atau setiap cara kerja yang akan
dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.
2. Direksi/ Pengawas tidak berwenang membebaskan kontraktor dari
tugas-tugas yang mengakibatkan keterlambatan pekerjaan atau
tambahan pekerjaan oleh pemilik, kecuali diperintah oleh pemimpin
Proyek.
Pasal 7
Kewajiban Umum Kontraktor
Kontraktor berkewajiban melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan
dalam dokumen kontrak secara sungguh-sungguh dengan penuh perhatian
dan ketelitian.
Pasal 8
Pembuatan Kontrak
Sebagai tindak lanjut dari pembukaan penilaian dari Direksi/ Pemimpin
Proyek akan menerbitkan dan mengirimkan surat penunjukan pemenang
kepada kontraktor yang menang ke alamat yang terdaftar secara langsung,

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
96
untuk selanjutnya mengadakan suatu kontrak guna melaksanakan pekerjaan
menurut dokumen lelang berikut perubahan-perubahannya.
Pasal 9
Jaminan Pelaksanaan
1. Kontraktor wajib menyerahkan surat jaminan pelaksanaan dalam
waktu paling lambat 10 hari setelah menerima surat penunjukan
pemenang/ sebelum kontrak ditandatangani.
2. Besar jaminan pelaksanaan 5% dari nilai kontrak dan harus
dikeluarkan oleh Bank Pemerintah atau Lembaga Keuangan lainnya
yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 10
Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan
Kontrak harus melaksanakan, menyelesaikan, dan memelihara pekerjaan
sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam dokumen kontrak sehingga
memuaskan dan disetujui oleh Direksi/ Pengawas dan harus melaksanakan
perintah-perintah tertulis dari Direksi/ Pengawas Lapangan tentang segala
sesuatu yang langsung berhubungan dengan pelaksanakan pekerjaan.
Pasal 11
Program Kerja
1. Dalam jangka waktu 3 hari setelah menandatangani kontrak,
kontraktor harus mengirimkan rencana kerja secara terperinci dalam
bentuk kurva S yang menunjukkan urutan pelaksanaan bagian-bagian
pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan Direksi/ Pengawas.
2. Bila dikehendaki Direksi, Kontraktor harus memberikan secara
lengkap tertulis, antara lain:
a. Penjelasan umum tentang pengaturan pelaksanan pekerjaan.
b. Pengadaan dan penyediaan peralatan konstruksi.
c. Pemakaian dan pemeliharaan pekerjaan penunjang.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
97
Pasal 12
Pelaksanaan Kontraktor
1. Kontraktor harus menunjukkan seorang pelaksana sebagai wakil
kontraktor di lapangan yang menjadi penanggung jawab lapangan
selama pelaksanaan pekerjaan sampai selesai masa pemeliharaan guna
memenuhi kewajiban menurut kontrak, serta memberitahukan secara
tertulis kepada Pemimpin Proyek dan Direksi.
2. Pelaksana harus mempunyai kekuasaan penuh untuk bertindak sebagai
kontraktor dalam memenuhi kewajiban menurut kontrak dan harus
berada terus menerus di tempat pekerjaan serta harus memberikan
seluruh waktunya untuk melaksanakan pekerjaan. Penetapan
pelaksanaan tersebut harus mendapat persetejuan tertulis dari Direksi.
Pasal 13
Pengukuran dan Ketinggian Permukaan
1. Kontraktor bertanggung jawab atas kebenaran pematokan di lapangan
yang disetujui secara tertulis oleh Pengawas.
2. Kontraktor bertanggung jawab untuk menyediakan semua peralatan,
perlengkapan, dan tenaga kerja yang berhubungan dengan pematokan.
Pasal 14
Penjagaan dan Penerangan
Untuk melindungi pekerjaan dan keselamatan umum di tempat pekerjaan,
kontraktor dengan biaya sendiri harus menyediakan lampu penerangan,
lampu tanda, gardu penjagaan, dan pagar penjagaan serta pemeliharaannya
bilamana dan dimana perlu atau diperluas oleh Direksi.
Pasal 15
Pengamanan Pekerjaan
Selama masa pelaksanaan dan pemeliharaan pekerjaan kontraktor
bertanggung jawab atas pengamanan pekerjaan permanen dan pekerjaan
sementara/ penunjang dan dalam hal terjadi kerusakan atau kerugian atas
pekerjaan, permanen, dan pekerjaan penunjangnya, maka kontraktor harus
memperbaiki dan memulihkan kembali seperti semula sesuai dengan syarat-

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
98
syarat dalam kontrak dan perintah Direksi, kecuali dalam keadaan memaksa
(Force Majeure).
Pasal 16
Tuntutan Pihak Ketiga
Kontraktor harus membebaskan Pemilik, Pemimpin Proyek, dan Direksi dari
tuntutan pihak ketiga karena kecelakaan dan kerusakan yang timbul sebagai
akibat pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Pasal 17
Lalu lintas Luar Biasa
Kontraktor harus mengusahakan dengan segala jalan untuk mencegah agar
jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada
jalan yang menuju ke tempat pekerjaan tidak menjadi rusak atau dirugikan
oleh setiap lalu lintas pihak kontaktor.
Pasal 18
Gangguan Terhadap Lingkungan Lalu lintas
Semua kegiatan untuk pelaksanaan termasuk pekerjaan penunjangnya yang
tercantum dalam kontrak harus dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga
tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kepentingan umum, tidak
mengurangi kapasitas jalan yang sedang dikerjakan dan jalan-jalan lainnya
yang dipergunakan bagi kepentingan umum termasuk jalan rusak yang
menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah berdampingan.
Pasal 19
Kesempatan Bekerja Bagi Kontraktor Lain
Sesuai dengan permintaan Direksi, Kontraktor harus memberikan
kesempatan bekerja secukupnya kepada:
- Kontraktor lain yang dipekerjakan oleh Pemimpin Proyek termasuk
pekerja-pekerjanya.
- Pegawai-pegawai Pemimpin Proyek.
- Pekerja-pekerja dari lain Instansi yang bekerja pada atau dekat
lapangan, untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang tidak termasuk
dalam kontrak.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
99
Pasal 20
Kesempatan Pada Peraturan/ Perundang-undangan
Kontraktor harus memperhatikan serta membayar yang diwajibkan oleh
undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah, atau peraturan dari
Instansi lain yang sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan penunjangnya,
kontraktor harus memperhatikan peraturan hukum yang berkaitan dengan
gangguan atas hak atau harta orang lain selama pelaksanaan pekerjaan atau
pekerjaan penunjangnya.
Pasal 21
Keselamatan Kerja
Atas persetujuan Direksi:
1. Kontraktor wajib mempersiapkan pengamatan yang diperlukan untuk
melindungi keselamatan para pekerja di tempat pekerjaan.
2. Kontraktor wajib menyediakan tempat tinggal sementara bagi pekerja
yang menginap di tempat pekerjaan dan menyediakan sarana
pengobatan serta kelengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan
sesuai ketentuan yang disebut dalam dokumen kontrak.
Pasal 22
Keselamatan atau Kerugian yang menimpa Pekerja
Pemimpin Proyek atau Direksi tidak bertanggung jawab khusus setiap
kerugian atau ganti rugi yang sah yang harus dibayar sebagai konsekuensi
dari setiap kecelakaan atau kerugian yang menimpa setiap pekerja atau
orang lain yang dipekerjakan oleh kontraktor.
Pasal 23
Tenaga Kerja Kontraktor
Kontraktor harus mengusahakan sendiri pengadaan tenaga kerja yang
berlaku mengatur, antara lain: transportasi, perumahan, pengupahan,
jaminan kesejahteraan, kecuali apabila di dalam kontrak ditentukan lain.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
100
Pasal 24
Pengadaan Peralatan Konstruksi dan Bahan
Kecuali ditentukan lain, kontraktor harus mengadakan sendiri semua
peralatan konstruksi dan bahan untuk pelaksanaan pekerjaan dan
pemeliharaan pekerjaan.
Pasal 25
Lahan untuk kegiatan Kerja Kontraktor
Kontraktor harus memilih dan menyediakan sendiri serta menanggung
seluruh biaya pengadaan lahan yang diperlukan untuk jalan kerja, lokasi
kantor, bangunan khusus lainnya, tempat penampungan peralatan
konstruksi, bahan, dan sebagainya bagi pelaksanaan pekerjaan.
Pasal 26
Mutu Bahan, Hasil Kerja, dan Pengujian
Semua bahan dan hasil kerja harus memenuhi uraian dan ketentuan dalam
dokumen kontrak dan sesuai perintah Direksi, setiap saat dapat diuji di
tempat pembuatan atau di lapangan atas perintah Direksi.
Pasal 27
Memasuki Lapangan
Direksi atau setiap petugas yang diberi kuasa olehnya, setiap waktu dapat
memasuki tempat pekerjaan, atau semua bahan, atau barang-barang yang
dibuat atau mesin-mesin yang diperoleh untuk keperluaan pekerjaan dan
kontraktor harus memberikan fasilitas dan membantu untuk memasuki
tempat-tempat tersebut.
Pasal 28
Pemeriksaan Pekerjaan Sebelum Ditutup
Tidak ada pekerjaan yang boleh ditutup atau menjadi tidak terlihat sebelum
mendapat persetujuan direksi dan kontraktor harus memberikan kesempatan
sepenuhnya kepda direksi untuk memeriksa serta mengukur pekerjaan yang
akan ditutup atau tidak terlihat.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
101
Pasal 29
Mengeluarkan Bahan yang Tidak Memenuhi Syarat
Selama pekerjaan berlangsung direksi mempunyai wewenang
memerintahkan kontraktor secara tertulis untuk mengeluarkan dari lapangan
semua bahan yang menurut pendapat direksi tidak sesuai dengan dokumen
kontrak dalam jangka waktu yang ditentukan dalam perintah tersebut.
Pasal 30
Penundaan Pekerjaan
Pemimpin Proyek dibebaskan dari setiap tuntutan ganti rugi oleh kontraktor
akibat penundaan pekerjaan yang diperintahkan oleh direksi/ Pemimpin
Proyek.
Pasal 31
Pengawasan Kekayaan Negara
Kontraktor wajib memelihara dan menjaga kondisi kekayaan milik negara
yang dipinjamkan atau diserahkan kepada kontraktor oleh pemilik proyek
dan segala pembiayaan atau penggunaan kekayaan milik negara tersebut
dibebani kepada kontraktor.
Pasal 32
Pengutamaan Jasa dan Produksi Dalam Negeri
Kecuali ditentukan lain dalam kontrak, atau pelaksanaan penyelesaian dan
pemeliharaan pekerjaan, kontraktor harus mengutamakan jasa produksi
dalam negeri meskipun tetap harus memperhatikan syarat-syarat mutu bahan
dan jasa yang bersangkutan, sesuai dengan petunjuk dan persetujuan direksi.
Pasal 33
Penyerahan Lapangan
Paling lambat setelah 7 hari ditanda tangani kontrak, pemimpin proyek
menerbitkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), setelah diterbitkannya
SPMK maka pemimpin proyek dalam jangka waktu 5 hari menyerahkan
lapangan kepada kontraktor dengan menerbitkan Surat Penyerahan lapangan
(SPL). Kontraktor harus memulai pekerjaan di lapangan setelah
diterbitkannya SPL.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
102
Pasal 34
Waktu Pelaksanaan
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan dalam jangka waktu yang
ditetapkan dalam kontrak, yaitu selama 259 hari kalender, dihitung dari
tanggal diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) atau
ditandatanganinya kontrak.
Pasal 35
Perpanjangan Waktu Untuk Penyelesaian
Apabila jumlah pekerjaan tambahan atau keadaan khusus yang mungkin
terjadi sehingga dipandang wajar oleh kontraktor minta perpanjangan waktu,
maka direksi harus mempertimbangkan, kemudian menetapkan jumlah
perpanjangan waktu.
Pasal 36
Ikhtisar Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan, maksud dari kontrak ini adalah untuk
melaksanakan pekerjaan yang selengkapnya diidentifikasikan dalam gambar
dan diuraikan dalam dokumen kontrak yang bersangkutan, yang sepenuhnya
sesuai dengan ketentuan spesifikasi ini.
Pasal 37
Tata Cara Pelaksanaan Pembayaran
Tata cara pelaksanaan pembayaran untuk pekerjaan.
1. Kontraktor berhak meminta uang muka sebesar 20% dari harga
borongan, setelah kontraktor menyerahkan jaminan uang muka.
2. Selanjutnya pembayaran terdapat empat angsuran yaitu :
a. Angsuran pertama yaitu sebesar 30% dari jumlah harga borongan,
yang akan dibayarkan setelah pekerjaan mencapai kemajuan fisik
sebesar 35%.
b. Angsuran kedua yaitu sebesar 35% dari jumlah harga borongan,
yang akan dibayarkan setelah pekerjaan selesai 70%.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
103
c. Angsuran ketiga yaitu sebesar 30% dari jumlah harga borongan,
yang akan dibayarkan setelah pekerjaan mencapai kemajuan fisik
sebesar 100%.
d. Angsuran keempat sebesar 5% dari jumlah harga borongan, yang
akan dibayarkan setelah pekerjaan mencapai kemajuan fisik
sebesar 100% dengan memberikan jaminan pemeliharaan sebesar
5%. Jaminan pemeliharaan berlaku sampai dengan masa
pemeliharaan selesai ditambah empat belas hari kalender yang
ditandai dengan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Kedua.
Pasal 38
Perubahan, Penambahan, dan Pengurangan Pekerjaan
Pemimpin Proyek dapat melakukan suatu perubahan terhadap mutu atau
volume pekerjaan atau suatu bagian pekerjaan yang dianggap perlu atau
dianggap lebih baik dan pemimpin proyek mengusulkan wewenang
menetapkan kepada kontraktor harus mengusulkan hal-hal sebagai berikut:
a. Menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam
dokumen kontrak.
b. Menghapus sebagaian pekerjaan.
c. Mengubah mutu atau macam pekerjaan.
Pasal 39
Hambatan yang mengakibatkan Tambahan Biaya
1. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan kontraktor mempunyai kondisi
kritis, kontraktor dalam waktu 8 hari setelah keadaan tersebut pada
ayat 1 terjadi pemberitahuan kepada pemimpin proyek kesediaan
mereka untuk meneruskan atau menyelesaikan pekerjaan.
2. Apabila tawaran itu diterima, maka kontraktor, wali atau ahli waris,
kontraktor itu segera memperoleh hak dan kewajibannya.
Pasal 40
Pemutusan Kontrak
Apabila kontraktor tidak bertindak sesuai dengan ketetapan kontrak atau
perintah direksi atau juga mengundurkan diri setelah menandatangani

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
104
kontrak atau kontraktor dalam waktu yang telah ditetapkan tidak
menentukan waktu yang wajar sehingga kontraktor masih diberi kesempatan
untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Pasal 41
Kerugian Akibat Keadaan Memaksa (Force Majeure)
Kontraktor tidak bertanggung jawab atas kerugian yang diakibatkan oleh
keadaan yang luar biasa yang terjadi di luar kemampuan dan
keselamatannya, seperti gempa bumi, banjir besar, kebakaran, perang,
sabotase, dan keadaan darurat atau bencana lainnya kontraktor tidak mampu
untuk mencegah atau mengambil tindakan sebelumnya.
Pasal 42
Penyerahan Pertama
1. Setelah pekerjaan selesai 100 % kontraktor berhak mengajukan secara
tertulis kepada direksi untuk melakukan serah terima pertama
pekerjaan dan menyebutkan nama-nama wakil kontraktor yang akan
mengikuti serah terima pertama.
2. Dalam jangka waktu 10 hari setelah menerima surat tersebut dalam
ayat 1 direksi akan meneliti dan memberitahu kepada pemimpin
proyek tentang tanggal penyelesaian seluruh pekerjaan.
3. Dalam jangka waktu 10 hari setelah menerima surat pemberitahuan
tersebut ayat 2 pemimpin proyek memberitahukan kepada kontraktor
nama wakil-wakil pemimpin proyek yang akan mengikuti serah terima
pertama.
Pasal 43
Denda Keterlambatan
Jika kontraktor tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang
ditentukan dalam kontrak atau dalam waktu yang disetujui untuk
diperpanjang, maka kontraktor dikenakan denda sebasar 1 per mil dari nilai
kontrak untuk setiap hari keterlambatan dengan setinggi-tingginya 10% dari
nilai kontrak

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
105
Pasal 44
Pemeliharaan Kerusakan dan Cacat
Masa pemeliharaan adalah jangka waktu yang dicantumkan dalam kontrak,
yaitu selama 90 hari kalender dihitung dari tanggal penyerahan pekerjaan
yang tercantum dalam berita acara penyerahan pertama pekerjaan. Segera
setelah berakhirnya masa pemeliharaan kontraktor harus segera
menyerahkan pekerjaan kepada pemilik dalam keadaan baik dan sempurna,
kecuali kerusakan-kerusakan kecil/ wajar yang disetujui pengawas sampai
diterima oleh pengawas.
Pasal 45
Penyerahan Terakhir
Pada masa akhir pemeliharaan, pemimpin proyek menunjukkan wakil-
wakilnya dan meminta kepada kontraktor untuk menetapkan wakil-wakil
kontraktor di dalam panitia yang akan melakukan serah terima pekerjaan
tersebut.
Pasal 46
Penyelesaian Perselisihan
Setiap perselisihan atau sengketa yang timbul dari atau yang berhubungan
dengan kontrak, diutamakan penyelesaiannya melalui musyawarah untuk
memperoleh mufakat. Apabila perselisihan/ persengketaan masih belum
dapat diselesaikan melalui musyawarah maka penyelesaian diselesaikan
melalui panitia Arbritrasi.

4.3. SYARAT – SYARAT TEKNIS


Pasal 1
Penjelasan Umum
1. Pekerjaan ini adalah pekerjaan pembangunan jalan Rembang – Bulu
sta 112 + 407 sampai dengan sta 114 + 507, dan tidak termasuk pekerjaan
jembatan yang melintasi jalur tersebut.
2. Tata laksana penyelenggaraan pekerjaan telah diatur dalam ketentuan
umum sedangkan bentuk pekerjaan ini, harus dilaksanakan menurut gambar-

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
106
gambar bentuk yang terlampir dalam pada RKS ini dan semua syarat-syarat,
ketentuan-ketentuan dan cara yang disebutkan dalam rencana pekerjaan ini
penjelasan-penjelasan serta segala petunjuk tambahan dicatat atau dimuat dalam
berita acara pemberian penjelasan serta segala petunjuk dan perintah dari direksi
(direksi lapangan selama pekerjaan berlangsung).
Pasal 2
Lokasi Pekerjaan
Lokasi pekerjaan ini terletak pada jalan Rembang - Bulu, Propinsi Jawa
Tengah.
Pasal 3
Pengukuran
Pematokan-pematokan untuk proyek jalan ini harus diselesaikan termasuk
alinyemen horisontal dan alinyemen vertikal sehingga didapat gambaran
yang jelas, dengan ketentuan yang mengikat adalah gambar bestek.
Pasal 4
Tempat Kerja
1. Tempat pekerjaan diserahkan kepada pemborong dalam keadaan
seperti pada waktu pemberian penjelasan
2. Bila diperlukan tempat kerja yng lain yang terletak di luar daerah yang
disediakan direksi, maka kontraktor harus menyelesaikan biaya sehubungan
dengan itu tanpa membebani direksi dengan biaya tambahan.
Pasal 5
Kantor Direksi, Gudang dan Los-los Kerja
Kontraktor harus menyedikan tempat selama berlangsung pekerjaan yang
mendapat persetujuan direksi berupa kantor direksi dengan perlengkapan
(meja, kursi, meja gambar, papan tulis, soft board untuk meletakkan
gambar-gambar, papan tulis, lemari, alat-alat tulis, mesin tulis, obat-obatan
dan lain-lain)
Pasal 6
Peralatan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
107
1. Kontaktor harus mengajukan daftar terperinci tentang peralatan yang
akan digunakan disertai data-data kemampuan alat-alat tersebut
2. Kontraktor wajib mendatangkan alat-alat tersebut tepat pada waktunya
akan dipergunakan
3. Kerusakan alat-alat tersebut segera diperbaiki/diganti dan tidak dapat
dipakai sebagai alasan kelambatan pekerjaan
Pasal 7
Pembersihan dan Pembongkaran
Kecuali ditentukan lain, maka seluruh pohon-pohon, semak-semak, dan
akar-akar pohon dalam daerah batas pekerjaan termasuk juga pohon-pohon
di luar batas pekerjaan yang diperkirakan dapat menghalangi pekerjaan
harus dibersihkan/ditebang
Pasal 8
Galian Tanah Biasa
1. Galian tanah biasa terdiri dari semua galian yang tidak diklasifikasikan
sebagai galian batu.
2. Galian batu akan terdiri dari galian batu bola besar yang mempunyai
volume 1,000 m3 atau lebih besar dari semua batuan atau bahan kertas lainnya,
yang oleh direksi dianggap kurang praktis untuk menggali tanpa menggunakan
alat tekanan udara. Pada umumnya peledakan tidak akan diperkenankan.
Pasal 9
Timbunan Tanah
Syarat-syarat pelaksanaan, pemborong harus mengajukan yang berikut pada
direksi sebelum suatu persetujuan untuk memulai pekerjaan dapat diberikan
oleh direksi
a. Gambar melintang terinci yang menunjukkan permukan yang
dipersiapkan dimana timbunan akan ditempatkan.
b. Hasil pengujian kepadatan yang membuktikan pemadatan yang
memadai, dari permkaan yang dipersiapkan dimana timbunan itu akan
ditempatkan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
108
Pasal 10
Pagar Pengaman, Rambu Lalu Lintas dan Lampu Penerangan
1. Sebelum pekerjaan dimulai kontraktor diwajibkan dalam memasang
pagar pengaman termasuk komponen-komponennya sesuai petunjuk direksi.
2. Selama pelaksanaan pekerjaan kontraktor diwajibkan memasang
rambu-rambu atau tanda-tanda lalu lintas, mengenai macam rambu
atau tanda, bentuk ukuran serta warna supaya menghubungi pihak
DLLAJR.
4.3.1 LAPISAN SUB BASE COURSE

A. UMUM
1. Uraian
Pekerjaan sub base ini meliputi pengadaan, pemrosesan,
pengangkutan, penghamparan, pembasahan dan pemadatan agregat
(batu pecah) yang berdegradasi baik di atas permukaan urugan pilihan
yang telah selesai sesuai dengan yang disyaratkan. Pemprosesan
meliputi pemecahan, pengayakan, pemisahan, pencampuran dan
operasi lain yang diperlukan untuk mendapatkan bahan yang
memenuhi persyaratan dari spesifikasi.
2. Toleransi dimensi
a. Permukaan lapis akhir harus sesuai dengan gambar dan tidak
lebih rendah dari 2 cm dengan yang telah disyaratkan.
b. Permukaan lapis pondasi bawah harus rata agar tidak
menampung air dan semua punggung permukaan harus sesuai
dengan gambar dan rencana.
c. Tebal minimum untuk lapis pondasi tidak boleh kurang dari yang
telah disyaratkan kurang dari 1 cm.
d. Pondasi sub base setiap lapisnya tidak boleh dipasang lebih dari
15,5 cm tebal padat.
3. Standar rujukan
T-89 – 81 : Penentuan batas cair dari tanah

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
109
T-90 – 81 : Penentuan batas elastis dan indeks plastis tanah
T-87 – 80 : Ketahanan terhadap abrasi dari agregat menggunakan
media Los Angeles
T-112 – 78 : Bongkahan lempung dan partikel yang dapat hancur
dalam agregat
T-180 – 74 : Hubungan kepadatan dengan kelembaban dari tanah
menggunakan palu 4,54 kg dan tinggi jatuh 457 m
T-99 – 81 : Kepadatan tanah di tempat dengan menggunakan
metode kerucut pasir
T-193 – 91 : The California Bearing Ratio
4. Pembatasan cuaca
Pondasi agregat untuk sub base tidak dihampar atau dipadatkan waktu
turun hujan, dan pemadatan tidak boleh dilakukan setelah hujan atau
bila kadar air dari bahan tidak berada dalam rentang yang disyaratkan.
5. Perbaikan dari pondasi sub base yang tidak memuaskan
a. Kerataan permukaan yang tidak memuaskan seperti seperti yang
telah disyaratkan, atau permukaannya berkembang menjadi tidak
rata baik selama konstruksi atau setelh konstruksi harus
diperbaiki dengan menggaru permukaan dan membuang atau
menambah bahan yang diperlukan selanjutnya dipadatkan
kembali.
b. Lapisan pondasi agregat yang terlalu kering batas kadar airnya
sesuai dengan yang telah disyaratkan, untuk pemadatannya harus
diperbaiki dengan menggaru bahan tersebut dan selanjutnya
dengan penyiraman sejumlah air yang cukup dan mencampurnya
dengan baik.
c. Perbaikan lapis sub base yang telah memenuhi kepadatan yang
dibutuhkan dalam spesifikasi, dapat meliputi pemadatan
tambahan, penggaruan yang dilanjutkan oleh pengaturan kadar
air dan pemadatan kembali.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
110
d. Lapis pondasi yang terlalu basah, untuk pemadatan diperbaiki
dengan menggaru bahan tersebut berulang-ulang dengan selang
waktu istirahat dalam cuaca kering atau jika perlu buang dan
ganti dengan bahan kering yang memenuhi syarat.
6. Pengembalian bentuk menyusul pengujian hasil kerja seluruh lubang
pada pekerjaan akhir yang dibuat untuk pengujian kepadatan, dan harus diurug
kembali dengan bahan yang sama dan dipadatkan.

B. MATERIAL
1. Sumber material
a. Material untuk lapis sub base harus dipilih dan memenuhi
spesifikasi serta standar yang berlaku
- Ukuran, kebutuhan, tipe dan mutu disesuaikan dengan yang
disarankan
- Seluruh produk harus baru
b. Kelas lapis pondasi agregat
Lapis pondasi untuk sub base digunakan agregat kelas B
c.Fraksi agregat kasar
Agregat kasar yang tertahan ayakan 4.75 mm harus terdiri dari partikel
yang keras, awet atau pecahan dari pada atau keikil. Bahan yang pecah
bila berulang-ulang dibasahi dan dikeringkan tidak boleh digunakan.
d. Fraksi agregat halus
Agregat halus yang lolos dari saringan 4.75 mm harus terdiri dari
partikel alami atau pasir pecah
e.Sifat material yang disyaratkan
Lapisan sub base harus bebas dari benda organis dan gumpalan
lempung dan harus memenuhi kebutuhan gradasi setelah dipadatkan
juga sifat yang diberikan.

Tabel 4.1. Gradasi Lapis Pondasi Agregat Untuk Sub Base

Macam ayakan % berat lolos kelas B


63 100

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
111
37.5 67 – 100
19 40 – 100
9,5 25 – 80
4,75 16 – 66
2,36 10 – 55
1,18 6 – 45
0,425 3 – 33
0,075 0 – 20
Sumber : Spesifikasi DPU Bina Marga

Tabel 4.2. Sifat Lapis Pondasi Agregat Untuk Sub Base

Sifat Kelas B
(%)
- Abrasi dari agregat kasar (AASHTO T.96 –77) 0 – 50
- Indeks plastisitas (AASHTO T.90 – 81) 4 – 10
- Batas cair (AASHTO T.89 – 81) -
- Bagian yang lunak (AASHTO T.112 –81) -
- Hasil kali IP dengan prosentase lolos 75 35 min
micron
- CBR (AASHTO T.193 – 81)
- Rongga dalam agregat mineral pada kepadatan 10 min
maksimum
Sumber : Spesifikasi DPU Bina Marga

2. Pencampuran material
Pencampuran material agar memenuhi persyaratan, dikerjakan di unit
pencampur menggunakan pengumpan mekanis yang telah dikalibrasi.
3. Pemasangan dan pemadatan
Lapis sub base yang akan dipasang pada permukaan sub grade yang
baru disiapkan, lapisan harus selesai sepenuhnya.
4. Penghamparan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
112
- Lapis pondasi untuk sub base dibawa ke tempat badan jalan
sebagai campuran yang merata dan dihampar pada kadar air yang
disyaratkan, kelembaban harus merata.
- Lapis sub base dihampar pada tingkat yang merata dan
menghasilkan tebal padat yang diperlukan, karena lebih dari satu
lapis maka diusahakan sama tebalnya
- Lapis sub base dibentuk agar tidak terjadi segnesasi antara
partikel yang kasar dan yang halus jika terjadi maka diperbaiki
atau dibuang dan diganti dengan yang lebih baik
- Tebal minimum lapisan gembur setiap lapisan harus dua kali
lipat ukuran terbesar agregat, tebal maksimal lapisan gembur
20 cm.
5. Pemadatan
- Masing-masing lapisan dipadatkan dengan peralatan pemadatan
yang sesuai dan disetujui oleh direksi teknik hingga pemadatan
minimum 95 % dari kepadatan maksimum modified
- Lapisan akhir dapat dignakan jika mesin gilas roda karet
- Pemadatan dilakukan jika kadar air optimum antara 3%-1%
- Penggilasan dilakukan dari bagian rendah dan bergerak sedikit
demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi
- Material yang terjangkau oleh mesin penggilas, dipadatkan
dengan menggunakan timbres

PENGUJIAN PERMUKAAN SUB BASE COURSE


Sesudah lapisan itu sama sekali padat, maka permukaan harus diuji
untuk kerataan serta ketepatan kemiringan dan tinggi tiap bagian yang
terdapat kurang rata maupun kemiringan atau ketinggian kurang tepat
harus di garu tanahnya, dibangun kembali,dipadatkan lagi, sampai
diperoleh kerataan serta kemiringan dan ketinggian yang diperlukan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
113
Permukaan yang sudah selesai digilas tidak boleh melebihi dari 2 cm,
jika ditest dengan tongkat lurus dengan panjang 3 meter yang
diletakkan sejajar serta tegak lurus dengan garis tengah
4.3.2 LAPISAN BASE COURSE

A. UMUM
1. Uraian
Pekerjaan base course meliputi pengadaan, pemprosesan,
pengangkutan, penghamparan, pembasahan dan pemadatan batu pecah
kelas A yang telah digradasi di atas permukaan yang telah
dipersiapkan sesuai perintah direksi teknik. Pemrosesan meliputi
pemecahan, pengayakan, pemisahan, pencampuran untuk
menghasilkan bahan yang memenuhi persyaratan.
2. Toleransi dimensi
- Permukaan lapis akhir harus sesuai dengan rencana, tinggi
permukaan tidak lebih dari 1 cm di atas tanah atau di bawah
permukaan yang direncanakan pada suatu titik
- Deviasi maksimum yang diijinkan dalam kerataan permukaan
adalah 1 cm dari mistar lurus 3 meter panjang dipasang pada
permukaan akhir jalan sejajar dengan sumbu jalan dan 1,25 cm
bila dipasang melintang jalan
- Tebal minimum tidak boleh kurang dari tebal yang disyaratkan
- Pondasi agregat tidak diperbolehkan dipasang dalam lapisan
yang tebalnya melebihi 20 cm tebal padat juga tidak kurang dari
15 cm tebal padat.
3. Standart rujukan ( AASHTO)
T-89 – 81 : Penentuan batas cair dari tanah
T-90 – 81 : Penentuan batas elastis dan indeks plastis tanah
T-87 – 80 : Ketahanan terhadap abrasi dari agregat menggunakan
media Los Angeles

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
114
T-112 – 78 : Bongkahan lempung dan partikel yang dapat hancur
dalam agregat
T-180 – 74 : Hubungan kepadatan dengan kelembaban dari tanah
menggunakan palu 4,54 kg dan tinggi jatuh 457 mm
T-99 – 81 : Kepadatan tanah di tempat dengan menggunakan
metode kerucut pasir
T-193 – 91 : The California Bearing Ratio
4. Pembatasan cuaca
Pondasi agregat tidak dihampar atau dipadatkan pada waktu hujan
turun dan pemadatan tidak boleh dilakukan setelah hujan turun atau
bila kadar air dari material tidak memenuhi persyaratan
5. Perbaikan dari base course yang tidak memuaskan
- kerataan permukaan yang tidak memenuhi persyaratan baik
selama konstruksi atau setelah konstruksi, harus diperbaiki
dengan menggaru permukaan dan membuang atau menambah
material yang selanjutnya dibentuk dan dipadatkan kembali
- lapis base course yang terlalu kering untuk pemadatan harus
diperbaiki dengan menggaru material tersebut dan dilanjutkan
dengan penyiraman sejumlah air yang cukup, pencampurannya
menggunakan alat grader atau alat lain yang disetujui oleh direksi
teknik
- Lapis base course yang terlalu basah, untuk pemadatan seperti
yang telah disyaratkan, harus diperbaiki dengan menggaru bahan
tersebut dengan menggunakan waktu berselang-selang dalam
cuaca kering, atau bahan tersebut diganti dengan bahan yang
lebih baik
- Perbaikan base course yang tidak memenuhi kepadatan atau sifat
bahan yang dibutuhkan dalam spesifikasi dapat dilakukan dengan
penggaruan, pemadatan tambahan yang dilanjutkan pengaturan
kadar air dan dipadatkan kembali.
6. Pengembalian bentuk menyusul pengujian hasil kerja

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
115
Seluruh lubang-lubang pada pekerjaan akhir yang diakibatkan oleh
pengujian kepadatan atau lainnya harus segera diurug kembali dan
dipadatkan sehingga persyaratan kepadatan dan toleransi permukaan
memenuhi spesifikasi.
B. MATERIAL
1. Sumber material
2. Material untuk sub base harus dipilih dari sumbernya yang disetujui
sesuai dengan spesifikasi dan standar yang berlaku dan sesuai dengan
ukuran, kebutuhan, tipe dan mutu yang disyaratkan.
3. Kelas lapis base course
Untuk lapis atas (base course) digunakan batu pecah kelas A
4. Fraksi agregat kasar
Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari
partikel yang keras, awet atau pecahan dari padas atau kerikil. Bahan
yang pecah berulang-ulang dibasahi atau dikeringkan tidak dapat
digunakan.
5. Fraksi agregat halus
Agregat halus lolos saringan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir
alami serta pasir pecah serta bahan mineral lainnya.
6. Sifat mineral yang disyaratkan
Seluruh lapis base course harus bebas dari benda-benda organis dan
gumpalan lempung atau benda yang tidak berguna harus memenuhi
kebutuhan gradasi yang disyaratkan.

Tabel 4.3 Syarat Agregat Kelas A


Macam ayakan % berat lolos kelas A

63 100
37,5 100
19 65 – 81

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
116
9,5 42 – 60
4,75 27 – 45
2,36 18 – 23
1,18 11 – 25
0,425 6 – 16
0,075 0–8
Sumber : Spesifikasi DPU Bina Marga

Tabel 4.4. Sifat Lapis Pondasi Agregat Untuk Base Course

Kelas A
Sifat
(%)
Abrasi dari agregat kasar (AASHTO T.90 - 77) 0 – 40
Indeks plastisitas (AASHTO T.90 – 81) 0–6
Batas cair (AASHTO T.89 – 81) 0 – 35
Bagian yang lunak (AASHTO T.112 – 81) 0–5
Hasil kali IP dengan prosentase lolos 75 micron 25 max
CBR (AASHTO T.193 – 81) 80 min
- Rongga dalam 14 min
agregat mineral pada kepadatan maksimum
Sumber : Spesifikasi DPU Bina Marga
7. Pencampuran
Untuk memenuhi persyaratan, pencampuran harus dilakukan di unit
pencapuran yang disetujui, menggunakan penguapan mekanis yang
telah dikalibrasi. Campuran harus dengan proporsi yang benar.

C. PEMASANGAN DAN PEMADATAN BASE COURSE


1. Penyiapan formasi untuk lapis base course
Lapis base course akan dipasang pada permukaan tanah dasar yang
baru dipersiapkan, lapisan harus selesai sepenuhnya dan sesuai dengan
spesifikasi.
2. Penghamparan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
117
- Lapis untuk base course dibawa ketempat badan jalan sebagai
campuran yang merata harus dihamparan dengan kadar air dan
kelembaban yang telah disyaratkan
- Masing-masing lapisan dihampar pada tingkat yang merata dan
menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang
telah disyaratkan, bila lebih dari satu lapis maka tiap lapisannya
diusahakan sama tebalnya.
- Lapis base course dihampar dan dibentuk dengan satu metode
yang disetujui dan tidak menyebabkan segnesasi, tebal
maksimum tidak lebih dari 20 cm atau sesuai petunjuk direksi
teknik.
3. Pemadatan
- Setelah pembentukan akhir, lalu dipadatkan menyeluruh dengan
peralatan pemadat yang sesuai dan disetujui direksi teknik hingga
mencapai paling sedikit 95 % dari kepadatan kering maksimum
modified.
- Pemadatan akhir dapat dilakukan dengan mesin gilas roda karet,
jika menggilas statis beroda baja dianggap mengakibatkan
kerusakan atau degregasi berlebihan pada pondasi agregat.
- Pemadatan dilakukan jika kadar air berada antara 1 %-3 %
seperti yang ditetapkan oleh kepadatan kering maksimum
modified
- Penggilasan dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak terus ke
arah sumbu jalan, pada bagian yang ada superelevasi dimulai dari
tempat yang rendah bergerak sedikit demi sedikit ke tempat yang
lebih tinggi.
D. PENYEDIAAN MATERIAL
1. Material yang akan digunakan perlu diidentifikasi dan diperiksa
kembali apakah masih sesuai atau dapat digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
118
2. Jumlah serta jenis peralatan dan kerja yang dibutuhkan untuk hasil yang
sesuai dengan diamati dan diuji sebelumnya.
3. Penyimpanan Material
a. Tempat penyimpanan di lapangan, bebas dari kotoran dan
genangan air
b. Punumpukan material dilakukan secara terpisah menurut ukuran
dan nominal agregat.
E. PERKERASAN
1. Tebal dari campuran aspal yang dihampar harus diamati dan diuji
paling sedikit diambil dua buah antar potongan melintang ke arah
memanjang tidak boleh lebih dari 200 m.
2. Tebal nominal campuran aspal yang sesungguhnya dipasang diatas
bagian pekerjaan yang dartikan sebagai tebal rata-rata dari benda uji.
3. Tebal minimal campuran aspal yang sesungguhnya ditetapkan harus
lebih besar dari tebal yang direncanakan
Tabel 4.5 Rencana Nominal Campuran Aspal
Jenis campuran Tebal rancangan nominal (cm)
Laston MS 744 5 Tahun 13,25
Laston MS 744 10 Tahun 11
Laston MS 744 15 Tahun 7,5
Laston MS 744 20 Tahun 5
4. Kekurangan ketebalan tidak boleh melebihi dari 5 mm dari tebal
nominal rancangan
5. Variasi kerataan permukaan campuran lapisan pelindung laston yang
telah selesai diukur dengan mistar penyipat yang panjangnya 3 m dan
tidak boleh lebih dari 5 m, variasi kerataan campuran aspal tidak boleh
lebih dari 1 cm. Pada tebal lapisan campuran aspal yang digunakan
sebagai lapisan perata atau lapisan penguat disamping sebagai lapisan
permukaan, maka tebalnya tidak boleh lebih dari 2,5 kali tebal
rancangan nominal.
F. PENGUJIAN PERMUKAAN LAPISAN BASE COURSE

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
119
Sesudah lapisan itu sama sekali padat, maka permukaan harus diuji
untuk kerataan serta ketepatan kemiringan dan tinggi tiap bagian yang
terdapat kurang rata maupun kemiringan atau ketinggian kurang tepat
harus di garu tanahnya, dibangun kembali,dipadatkan lagi, sampai
diperoleh kerataan serta kemiringan dan ketinggian yang diperlukan.
Permukaan yang sudah selesai digilas tidak boleh melebihi dari 1 cm,
jika ditest dengan tongkat lurus dengan panjang 3 meter yang
diletakkan sejajar serta tegak lurus dengan garis tengah.
4.3.3 LAPISAN PERMUKAAN ( SURFASE COURSE )
A. UMUM
1. Uraian
- Pekerjaan surface course mencakup pengadaan lapis perata padat
yang awet,lapis atau pelindung aspal beton yang terdiri dari
agregat dan material aspal yang dicampur di pusat pencampuran,
serta penghamparan dan pemadatannya di atas pondasi yang
telah disiapkan yang sesuai dengan persyaratan dan memenuhi
bentuk ketinggian,penampang memanjang dan melintangnya
sesuai dengan yang dianjurkan oleh direksi teknik
- Campuran menggunakan prosedur khusus yang diberikan dalam
spesifikasi untuk menjamin bahwa campuran yang sesuai dengan
kadar bitumen efektif minimum, rongga udara, stabilitas,
fleksibelitas dan ketebalan film aspal benar-benar terpenuhi,
dalam hal ini perlu diingat bahwa metode dalam merencanakan
campuran untuk mendapatkan kepadatan maksimum tidak boleh
digunakan karena cara ini tidak akan menghasilkan campuran
yang memenuhi spesifikasi.
2. Jenis campuran aspal
Jenis campuran aspal dan ketebalan lapisan harus seperti yang telah
ditentukan dan diperintahkan oleh direksi teknik.
3. Persyaratan berat viskositas aspal dan suhu campuran.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
120
Tabel 4.6 Persyaratan Berat Viskositas Aspal dan Suhu Campuran

Prosedur pelaksanaan Viskositas Suhu campuran aspal 0 C


AC-20 AC-10
- Pencampuran benda uji 170-20 155 145
Marshal
- Pemadatan benda uji 280-30 140 130
Marshal
- Suhu pencampuran di - <165 <155
AMP
- Pengosongan Mixer 100-400 >135 >125
- Penyerahan ke pusat 400-1000 150-12 140-110
- Penggilasanbreak down 1000-1800 125-110 111-102
- Penggilasan II (ban 1800-10000 110-95 102-83
karet)
- Penggilasan akhir 10000-100000 95-80 83-63
Sumber : Spesifikasi DPU Bina Marga
4. Penghamparan
- Permukaan yang akan dihampar dibersihkan dahulu dari semua
kotoran
- Diberi lapisan prime coat dengan jumlah yang telah ditentukan
- Jika permukaan yang akan dilapisi tidak rata atau ada yang rusak,
sebelumnya harus diperbaiki terlebih dahulu
- Alat bantu lain telah dipasang sebelum campuran aspal dilakukan
- Campuran dihampar sesuai dengan kelandaian serta bentuk
melintang yang disyaratkan
- Kecepatan mesin pnghampar diatur agar tidak terjadi retaknya
permukaan
- Jika terjadi segregasi, penghamparan dihentikan terlebih dahulu,
diperbaiki penyebabnya baru dilanjutkan
- Hamparan jangan sampai terkumpul dan mendingin pada tepi
atau tempat lain di mesin

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
121
- Penghamparan dapat dilakukan sebagian dahulu dari lebar jalan
yang ada
5. Pemadatan
- Penggilasan terdiri dari tiga operasi yang berbeda

Tabel 4.7 Waktu Penghamparan

Waktu setelah
Keterangan
penghamparan
Penggilasan awal 0-10
Penggilasan antara 10-20
Penggilasan akhir 20-45

- Pengilasan awal dan akhir dilakukan dengan mesin gilas roda


baja
- Penggilasan dilakukan dengan mesin gilas roda karet
- Penggilasan antara dilakukan sewaktu campuran masih berada
dalam temperatur yang menghasilkan kepdatan maksimum
- Penggilasan akhir dilakukan dalam kondisi yang masih dapat
dikerjakan untuk menghilangkan tanda-tanda penggilasan
- Sambungan melintang digilas kearah melintang dengan
menggunakan papan (di tepi perkerasan) dengan ketebalan yang
diperlukan
- Sambungan memanjang dimulai dari tepi luar dan sejajar dengan
sumbu jalan, demikian juga disebelahnya
- Pada superelevasi harus dimulai dari tempat yang rendah
perlahan-lahan ke tempat yang tinggi
- Material yang tidak terjangkau oleh roda mesin gilas dapat
dilakukan pemadatandengan menggunakan alat timbres
B. PENGUJIAN LAPISAN PERMUKAAN / SURFASE TEST
Pengujian / pengetesan pada lapisan ini menggunakan tongkat sepanjang 3
m yang dipasang tegak lurus dengan as jalan, variasi kerataan campuran
aspal tidak boleh lebih dari 1 cm. Pada tebal lapisan campuran aspal yang

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
122
digunakan sebagai lapisan perata atau lapisan penguat disamping sebagai
lapisan permukaan, maka tebalnya tidak boleh lebih dari 2,5 kali tebal
rancangan nominal
Pasal 11
Pekerjaan Pengecatan
1. Pekerjaan dalam pasal ini mencakup pengadaan dan pengecatan marka
jalan maupun pengecatan pada bagian-bagian lain sesuai petunjuk
direksi
2. Sebelum pekerjaan ini dimulai terlebih dahulu kontraktor harus
mengajukan contoh cat yang dipergunakan, untuk mendapatkan
persetujuan dari direksi
3. Cat dingin yang dipakai di lapangan harus diaduk dahulu agar zat
warna merata dalam campuran dan harus mengikuti persyaratan yang
dibuat oleh pabrik pembuat
4. Sebelum pengecatan dimulai, posisi, ukuran-ukuran pertandaan dan
ukuran-ukuran marka yang tepat harus dikerjakan terlebih dahulu di
atas permukaan perkerasan
5. Seluruh marka jalan harus dilindungi dari kendaraan sebelum marka
telah kering sepenuhnya dengan demikian dapat dicegah terjadinya
pengelupasan cat karena bekas ban pada jalan.

4.4 PEKERJAAN DRAINASE


A. UMUM
(1) Uraian
(a) Pekerjaan ini harus mencakup pembuatan selokan baru baik yang
mempunyai pasangan atau tidak, sesuai dengan spesifikasi ini dan
memenuhi persyaratan arah, ketinggian dan perincian yang ditunjukkan
pada gambar atau sesuai dengan perintah Direksi Teknik.
(b) Pekerjaan ini juga meliputi relokasi atau perlindungan dari saluran yang
ada, atau saluran air lainnya yang akan terganggu baik sementara

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
123
maupun tetap, selama penyelesaian pekerjaan yang memuaskan sesuai
dengan kontrak.
(2) Penerbitan Detail Konstruksi
Detail konstruksi selokan baru, baik yang mempunyai pasangan ataupun tidak,
yang tidak dimasukkan dalam Dokumen Kontrak pada saat tender akan
diterbitkan oleh Direksi Teknik setelah Kontraktor menyerahkan hasil survei
lapangan dan Direksi Teknik telah menyelesaikan peninjauan kembali
rancangan awal.
(3) Pekerjaan di bagian lain yang berkaitan dengan pasal ini
(a) Mobilisasi
(b) Rekayasa Lapangan
(c) Drainase
(d) Galian–galian
(e) Timbunan
(f) Perkerasan Bahu Jalan
(g) Drainase, Perlengkapan Jalan.
(4) Toleransi Dimensi Saluran
(a) Ketinggian akhir dari dasar selokan harus tidak boleh berbeda dari 1 cm
dari yang dipersyaratkan atau disetujui pada setiap titik, dan harus cukup
halus dan merata untuk menjamin aliran yang bebas dari air tanpa
tergenang pada saat aliran yang kecil.
(b) Kedudukan akhir alinyemen dan profil penampang melintang tidak
boleh berbeda denagan apa yang dipersyaratkan atau dari yang telah
disetujui pada setiap titik melebihi 5 cm.
(5) Pelaporan
Kontraktor harus memberitahukan Direksi Teknik setelah selesainya
pembuatan formasi seluruh selokan dan bahan tidak boleh dipasang sampai
Direksi Teknik menyetujui formasi tersebut
(6) Jadwal Kerja
(a) Kontraktor harus menjamin pembuatan drainase yang baik dengan
merencanakan pekerjaan selokan sedemikian rupa agar drainase

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
124
berfungsi sebelum pekerjaan pada timbunan (urugan) dan struktur
perkerasan dimulai.
(b) Selokan harus pertama–tama dipotong sedikit lebih kecil dari
penampang melintang yang disetujui, dan pemotongan akhir termasuk
perbaikan dari setiap kerusakan yang terjadi selama pekerjaan, harus
dilaksanakan kembali setelah terselesaikannya seluruh pekerjaan yang
berdekatan ataupun yang bersebelahan.
(7) Kondisi Lapangan
Ketentuan yang tercantum pada bab ini, menyangkut cara mengeringkan
lapangan dan pemeliharaan sanitasi lapangan, harus berlaku.
(8) Perbaikan dari Pekerjaan yang Tidak Memuaskan
(a) Pekerjaan pengukuran profil yang ada atau yang dibangun kalau
dianggap perlu harus diulang untuk mendapatkan catatan yang teliti dari
keadaan fisik, sampai disetujui pihak Direksi Teknik.
(b) Pekerjaan pelaksanaan selokan yang tidak memenuhi kriteria toleransi
yang diberikan, harus diperbaiki oleh Kontraktor seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik.
Pekerjaan–pekerjaan dapat meliputi :
♦ Penggalian atau penimbunan kembali, termasuk jika pertama – tama
perlu penimbunan kembali pekerjaan dan kemudian digali kembali
hingga memenuhi arah yang ditentukan.
♦ Pekerjaan timbunan yang kurang memuaskan harus diperbaiki
sesuai dengan ketentuan spesifikasi ini.
(9) Pemeliharaan Pekerjaan yang Telah diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perintah dari
pekerjaan yang tidak memuaskan atau pekerjaan yang gagal seperti yang
ditentukan. Kontraktor juga harus bertanggung jawab untuk pemeliharaan
rutin dari semua selokan yang mempunyai pasangan atau tidak, yang telah
selesai atau diterima selama masa kontrak berlangsung selama masa jaminan.
Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus dilaksanakan menurut spesifikasi
ini dan harus dibayar secara terpisah.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
125
B. MATERIAL DAN JAMINAN MUTU
(1) Timbunan
Bahan timbunan yang digunakan harus mempunyai persyaratan sifat material,
penempatan, pemadatan dan jaminan mutu yang ditentukan dalam spesifikasi
ini.
C. PELAKSANAAN
(1) Penentuan Titik dari Saluran
Lokasi, panjang, arah dari aliran dan kelandaian yang diperlukan dari seluruh
selokan yang akan dibentuk atau digali atau diberi pasangan, dan lokasi dari
seluruh lubang penampang dan pembuang yang berhubungan harus ditentukan
oleh Kontraktor benar–benar sesuai dengan detail konstruksi.
(2) Pembangunan Selokan
(a) Penggalian, penimbunan dan pemotongan harus dilakukan sebagaimana
diperlukan untuk membentuk selokan baru atau lama, sesuai garis dan
kelandaian yang ditunjukkan pada gambar potongan memanjang yang
disetujui dan sesuai profil yang ditunjukkan pada gambar tipe selokan
atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.
(b) Seluruh badan dari hasil galian harus dibuang sekurang–kurangnya pada
jarak 10 m hingga tidak ada bahan yang berlebihan data masuk kembali
kedalam selokan yang telah digali, dikemudian hari.

(3) Relokasi Saluran


(a) Bila stabilisasi timbunan atau pekerjaan permanen lainnya dari kontrak
secara tak terhindarkan akan menghalangi sebagian atau seluruhnya dari
saluran air yang ada, maka saluran air tersebut harus dipindahkan agar
tidak mengganggu aliran air yang melalui pekerjaan tersebut pada
ketinggian air banjir yang normal.
(b) Pemindahan aliran air tersebut harus mempertahankan kelandaian dasar
kanal yang ada dan harus sedemikian arahnya agar tidak menyebabkan
gerusan baik pada pekerjaan atau pada tanah disekitarnya.
D. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
126
(1) Pengukuran dan Pembayaran Galian
Pekerjaan galian selokan dan saluran air harus diukur untuk pembayaran
dalam meter kubik sebagai volume material yang benar–benar dipindahkan
dan disetujui Direksi Teknik, yang dianggap perlu untuk pembentukan atau
pembentukan kembali selokan dan saluran air yang memuaskan pada arah
tinggi dan profil yang benar seperti yang diperlihatkan pada gambar atau yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik secara memuaskan. Penggalian yang
melebihi seperti yang diperlihatkan pada gambar atau diperintahkan Direksi
Teknik, tidak boleh diukur untuk pembayaran.
(2) Pengukuran dan Pembayaran dari Urugan
Urugan yang digunakan untuk pekerjaan selokan dan saluran air harus diukur
dan di bayar sebagai timbunan dalam persyaratan ini.
(3) Dasar Pembayaran
Kuantitas galian yang disebutkan diatas akan dibayar berdasarkan harga
kontrak persatuan pengukuran untuk masing–masing mata pembayaran seperti
tercantum di bawah ini dan tercantum dalam harga penawaran. Harga dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan
semua buruh, peralatan untuk galian selokan, drainase, dan saluran air dan
semua biaya yang perlu atau biasanya diperlukan untuk penyelesaian secara
sempurna serta sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dalam sub bab ini.
Mata pembayaran untuk pekerjaan ini dalam meter kubik.
4.5 PEKERJAAN TANAH
4.5.1 GALIAN
A. UMUM
(1) Uraian
(a) Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan pembuangan,
atau pembuatan stok dari tanah atau padas atau material lain dari badan
jalan atau sekitarnya yang perlu untuk penyelesaian yang memuaskan
dari pekerjaan dalam kontrak ini.
(b) Pekerjaan ini umumnya digunakan untuk pembuatan selokan dan saluran
air, untuk pembuatan formasi dari galian atau pondasi pipa, gorong–

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
127
gorong, saluran atau struktur lainnya, untuk pembuangan material tak
terpakai atau humus, untuk pekerjaan stabilisasi atau pembersihan
longsoran, untuk bahan galian konstruksi atau pembuangan material sisa
dan untuk pembentukan secara umum dari tempat kerja sesuai dengan
spesifikasi ini dan yang memenuhi garis, ketinggian dan penampang
melintang yang ditunjukkan dalam gambar atau yang diperintahkan oleh
Direksi Teknik.
(c) Kecuali untuk kepentingan pembayaran, ketentuan dari sub bab ini
berlaku untuk seluruh pekerjaan galain yang dilakukan sehubungan
dengan kontrak, dan seluruh galian dapat merupakan salah satu dari
(1) Galian Biasa
Pandangan Direksi Teknik adalah tidak praktis menggali tanpa menggunakan
alat bertekanan udara, atau pemboran, dan peledakan. Galian ini tidak
termasuk bahan yang menurut Direksi Teknik dapat dilepaskan dengan
penggaru yang ditarik oleh traktor dengan berat minimal 15 dan tenaga kuda
netto sebesar 180 TK.
(2) Toleransi Dimensi
(a) Kelandaian akhir, arah dan formasi sesudah galian tidak boleh
bervariasi dari yang ditentukan lebih dari 2 cm dari setiap titik.
(b) Permukaan galian yang telah selesai yang terbuka terhadap aliran air
permukaan harus cukup rata dan harus cukup memiliki kemiringan
untuk menjamin drainase yang bebas dari permukaan itu tanpa terjadi
genangan.
(3) Pelaporan dan Pencatatan
(a) Untuk setiap pekerjaan galian yang di bayar menurut sub bab ini,
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik, sebelum
memulai pekerjaan, gambar perincian potongan melintang yang
menunjukkan tanah asli sebelum operasi pembabatan dan
penggaruan dilakukan.
(b) Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik gambar
perincian dari seluruh struktur sementara yang diusulkannya atau

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
128
yang diperintahkan untuk digunakan, seperti sekop, turap, dan
tembok penahan dan harus memperoleh persetujuan dari Direksi
Teknik dari gambar tersebut sebelum melaksanakan pekerjaan
galian yang dimaksudkan akan dilindungi oleh struktur yang
diusulkan tersebut.
(c) Setelah masing–masing galian untuk tanah dasar, formasi atau
pondasi selesai, Kontraktor harus memberi tahu Direksi Teknik, dan
bahan landasan atau material lain tidak boleh dipasang sebelum
disetujui oleh Direksi Teknik untuk kedalaman dari galian, dan sifat,
dan mutu dari material pondasi.
(4) Jaminan Keselamatan Pekerjaan Galian
(a) Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin
keselamatan pekerja yang melaksanakan pekerjaan galian seta
penduduk sekitar.
(b) Selama masa pekerjaan galian, suatu lereng yang stabil yang mampu
menahan pekerjaan di sekitarnya, struktur atau mesin harus
dipertahankan sepanjang waktu, dan skor serta turap yang memadai
harus dipasang, jika permukaan tepi galian yang sewaktu–waktu tidak
dilindungi akan berbahaya/tidak stabil. Kontraktor harus menahan atau
menyangga struktur disekitarnya yang jika tidak dilakukan dapat
menjadi tidak stabil atau rusak oleh pekerjaan galian itu.
(c) Peralatan berat untuk pemindahan tanah, pemadatan atau keperluan
lainnya tidak boleh didijinkan berada atau beroperasi lebih dekat dari
1,5 cm dari tepi galian terbuka atau tepi galian pondasi, terkecuali bila
pipa atau struktur lainnya telah dipasang dan ditutup dengan paling
sedikit 60 cm urugan yang telah dipadatkan.
(d) Pada setiap saat sewaktu pekerja atau yang lainnya berada dalam
galian yang mengharuskan kepala mereka berada di bawah permukaan
tanah, Kontraktor harus menempatkan pengawas pengamanan pada
tempat kerja yang tugasnya hanya memonitor kemajuan dan
keamanan. Pada setiap saat peralatan galian cadangan (yang belum

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
129
dipakai) serta perlengkapan P3K harus tersedia pada tempat kerja
galian.
(e) Seluruh galian terbuka harus diberi penghalang yang cukup untuk
mencegah pekerja atau orang lainnya terjatuh kedalamnya, dan setiap
galian terbuka pada badan jalan atau bahu jalan harus ditambah
dengan rambu pada malam hari dengan drum dicat putih (atau yang
serupa) dan merah atau lampu kuning sesuai dengan ketetapan Direksi
Teknik.
(f) Pemeliharaan arus lalu lintas harus diterapkan pada seluruh galian
dalam daerah milik jalan.
(5) Jadwal Kerja
(a) Luas suatu galian yang terbuat pada suatu operasi harus dibatasi
sepadan pemeliharaan permukaan galian agar tetap dalam kondisi
yang baik, dengan mempertimbangkan akibat dari pengeringan,
pembasahan akibat hujan dan gangguan dari operasi pekerjaan
berikutnya.
(b) Galian saluran atau galian lainnya yang melintang jalan harus
dilakukan menggunakan konstruksi setengah badan jalan sehingga
jalan tetap dapat terbuka bagi lalu lintas pada setiap saat.
(6) Kondisi Tempat Kerja
(a) Seluruh galian harus dijaga dan bebas dari air dan Kontraktor harus
menyediakan seluruh material yang diperlukan, perlengkapan dan
buruh untuk pengeringan (pompa) pengalihan saluran air dan
pembangunan saluran sementara, tembok ujung dan cofferdam.
Pompa agar siap di tempat kerja pada setiap saat untuk menjamin
tidak ada gangguan dalam prosedur pengeringan dengan pompa.
(b) Bila pekerjaan sedang dilakukan pada saluran yamg ada atau tempat
lain dimana aliran bawah tanah mungkin tercemari, Kontraktor harus
menyediakan pada tempat kerja sejumlah air minum yang untuk
digunakan para pekerja untuk mencuci, bersama dengan sejumlah
sabun dan disinfektan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
130
(7) Perbaikan dari pekerjaan galian yang tidak memuaskan.
Pekerjaan Galian yang tidak memenuhi toleransi harus diperbaiki oleh
Kontraktor sebagai berikut
(i) Material yang berlebih harus dibuang dengan penggalian lebih lanjut.
(ii) Daerah dimana telah tergali lebih dahulu, atau daerah retak atau lepas,
harus diurug kembali dengan timbunan pilihan atau lapis pondasi
agregat seperti diperintahkan Direksi Teknik.
(8) Penggunaan dan Pembuangan Material Galian
(a) Seluruh material yang dapat dipakai yang digali dalam batas–batas
dan cakupan dimana memungkinkan harus digunakan secara efektif
untuk formasi timbunan atau urugan kembali.
(b) Material galian yang mengandung tanah organis tinggi, sejumlah
besar akar atau benda tetumbuhan lain dan tanah yang kompresif
yang menurut pendapat Direksi Teknik akan menyulitkan
pemadatan material pelapisan atau mengakibatkan terjadi kerusakan
atau penurunan yang tidak dikehendaki, harus diklasifikasikan tidak
memenuhi untuk digunakan sebagai timbunan dalam pekerjaan
permanen.
(c) Setiap material galian yang berlebih untuk kebutuhan timbunan, atau
tiap material yang tidak disetujui oleh Direksi Teknik sebagai bahan
timbunan harus dibuang dan diratakan dalam lapis yang tipis oleh
Kontraktor diluar daerah milik jalan seperti yang diperintahkan oleh
Direksi Teknik.
(d) Kontraktor harus bertanggung jawab untuk seluruh pengaturan dan
biaya untuk pembuangan material yang berlebih atau tidak
memenuhi syarat, termasuk penggangkutan dan perolehan ijin dari
pemilik tanah dimana pembuangan dilakukan.
B. PROSEDUR PENGGALIAN
(1) Prosedur Umum
(a) Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi
yang ditentukan dalam gambar atau ditunjukkan oleh Direksi

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
131
Teknik dan harus mencakup pembuatan seluruh material dalam
bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah, padas, batu bata,
batu, beton, tembok dan pekerasan lama.
(b) Pekerjaan galian harus dilakukan dengan gangguan seminimal
mungkin terhadap material dibawah dan diluar batas galian.
(c) Dimana material yang terbuka pada garis formasi atau permukaan
lapis tanah dasar atau pondasi dalam keadaan lepas atau tanah
gambut atau material lainnya yang tak memenuhi dalam pendapat
Direksi Teknik, maka material tersebut harus dipadatkan dengan
benar atau seluruhnya dibuang dan diganti dengan timbunan yang
memenuhi syarat, sebagaimana diperintahkan Direksi Teknik.
(2) Penggalian untuk sumber material
(a) Sumber galian, apakah dalam daerah milik jalan atau ditempat lain,
harus digali sesuai dengan ketentuan dalam spesifikasi ini.
(b) Persetujuan untuk membuka sumber galian baru atau
mengoperasikan yang lama harus diperoleh dari Direksi Teknik
secara tertulis sebelum operasi penggalian dimulai.
(c) Sumber galian tidak boleh diijinkan pada tanah yang mungkin
diperlukan untuk rencana pelebaran jalan atau keperluan Pemerintah
lainnya.
(d) Pembuatan lubang galian harus dilarang atau dibatasi jika ia dapat
mengganggu drainase alam atau rancangan.
(e) Pada bagian atas jalan, pembuatan lubang galian harus dibentuk
sedemikian rupa sehingga seluruh air permukaan ke gorong-gorong
berikutnya tanpa genangan.
C. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
(1) Persiapan Tempat Kerja
Sebagian besar dari pekerjaan galian dalam kontrak tidak akan diukur
atau dibayar menurut sub bab ini, pekerjaan dipandang dimasukkan
kedalam harga penawaran untuk beberapa macam material yang akan
dipasang pada galian akhir, seperti urugan porous, pekerjaan beton,

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
132
pasangan batu, gorong–gorong pipa dan lain–lain. Tipe dari galian yang
secara spesifik tidak dimasukkan dari pengukuran sub bab ini adalah.
(a) Galian diluar garis yang ditunjukkan dalam profil dan penampang
melintang yang disetujui tidak akan dimasukkan dalam volume yang
diukur pembayaran kecuali dimana :
(i) Penggalian berlebih diperlukan untuk membuang material yang
lunak atau tidak memenuhi syarat.
(b) Pekerjaan galian untuk selokan drainase dan saluran air, tidak akan
diukur untuk pembayaran menurut bab ini. Pengukuran dan
Pembayaran harus dilaksanakan menurut spesifikasi ini.
(c) Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk pondasi struktur atau untuk
pemasangan pipa, saluran, drainase berpori tidak akan diukur untuk
pembayaran, biaya dari pekerjaan ini dipandang telah dimasukkan
kedalam harga satuan yang ditawar untuk masing– masing material
tersebut.
(d) Galian untuk bahu jalan dan pekerjaan minor lainnya, tidak akan
dibayar menurut sub bab ini.
(e) Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk memperoleh material untuk
konstruksi dari sumber material atau sumber lainnya diluar daerah
konstruksi tidak boleh diukur untuk pembayaran, biaya dari pekerjaan
ini dipandang dimasukkan kedalam harga satuan yang ditawarkan ntuk
timbunan atau material perkerasan.
(2) Pengukuran Galian untuk Pembayaran
(a) Pekerjaan galian yang tidak dikeluarkan seperti diatas harus diukur
untuk pembayaran sebagai volume ditempat dalam meter kubik material
yang dipindahkan. Dasar dari perhitungan ini haruslah gambar
penampang melintang yang disetujui dari tanah yang digali. Dan garis
yang dipersyaratkan dan diterima dari akhir galian. Metode perhitungan
haruslah metode luas ujung rata–rata, menggunakan penampang
melintang dari pekerjaan yang berselang jarak tidak lebih dari 25 m.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
133
(b) Pekerjaan galian yang dapat dimasukkan untuk pengukuran dan
pembayaran dalam pasal ini akan tetap dibayar sebagai galian meskipun
galian material tersebut disetujui untuk digunakan sebagai material
konstruksi dan diukur serta dibayar dalam sub bab lain dari spesifikasi
ini.
(3) Dasar Pembayaran
Kuantitas dari galian, diukur menurut ketentuan di atas, akan di bayar
persatuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam jadwal penawaran
untuk mata pembayaran yang terdaftar dibawah, yang merupakan kompensasi
untuk seluruh pekerjaan dan biaya yang diperlukan dalam melaksanakan
pekerjaan galian yang diperlukan sebagaimana diuraikan dalam sub bab ini.
Satuan pengukuran untuk mata pembayaran galian biasa adalah dalam meter
kubik.
4.5.2 URUGAN ( TIMBUNAN )
1. UMUM
(1) Uraian
(a) Pekerjaan ini mencakup pengambilan, pengangkutan, penghamparan
dan pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk
konstruksi urugan, untuk urugan kembali galian atau galian pipa atau
struktur dan untuk urugan umum yang diperlukan untuk membuat
dimensi timbunan antara lain ketinggian yang sesuai persyaratan atau
penampang melintangnya.
(b) Urugan yang dicakup oleh ketentuan dalam bab ini harus dibagi menjadi
dua jenis, yairu urugan biasa dan urugan pilihan. Urugan pilihan akan
digunakan di daerah berawa, saluran air dan lokasi serupa dimana
material sulit untuk dipadatkan dengan baik. Urugan pilihan dapat juga
digunakan untuk stabilisasi lereng atau pekerjaan pelebaran jika
diperlukan lereng yang curam karena keterbatasan ruangan, dan untuk
pekerjaan urugan lainnya dimana kekuatan urugan adalah faktor yang
kritis.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
134
(c) Pekerjaan yang tidak termasuk bahan urugan yaitu material yang
dipasang sebagai landasan untuk pipa atau saluran beton, juga tidak
termasuk material drainase berpori yang dipakai untuk maksud drainase
bawah permukan atau untuk mencegah hanyutnya butir halus karena
filtrasi.
(2) Toleransi Dimensi
(a) Permukaan dan ketinggian akhir setelah pemadatan harus tidak lebih
tinggi atau lebih rendah 2 cm dari yang ditentukan atau disetujui.
(b) Seluruh permukaan akhir yang terbuka harus cukup rata dan harus
memiliki kelandaian yang cukup untuk menjamin aliran yang bebas
dari air permukaan.
(c) Permukaan akhir lereng timbunan harus tidak bervariasi lebih dari 10
cm dari profil yang ditentukan.
(d) Urugan tidak boleh dipasang dalam lapisan yang lebih dari 20 cm
tebal padat juga tidak dalam lapis yang kurang dari 10 cm tebal
padat.
(3) Jadwal Kerja
(a) Bagian yang baru dari timbunan badan jalan harus dibangun dengan
menggunakan setengah konstruksi lebar jalan sehingga setiap saat jalan
tetap terbuka untuk lalu lintas.
(b) Untuk mencegah gangguan pada konstruksi tembok kepala, Kontraktor
diharuskan, pada titik–titik yang ditetapkan oleh Direksi Teknik,
menunda sebagian pekerjaan urugan untuk pembentukan jalan pendekat
(oprit) ke struktur tersebut hingga penanganan struktur lancar tanpa
adanya gangguan atau resiko sebagai akibat pelaksanaan dari opritan.
(4) Kondisi Tempat Kerja
(a) Kontraktor harus menjamin pekerjaan tetap kering sebelum dan selama
pekerjaan pemasangan dan pemadatan berlangsung, untuk itu bahan
urugan selama konstruksi harus memiliki kemiringan yang cukup untuk
membantu drainase dari air hujan dan harus menjamin bahwa pekerjaan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
135
akhir mempunyai drainase yang baik. Bilamana mungkin, air dari tempat
kerja harus dibuang kedalam sistem drainase permanen.
(b) Kontraktor harus menjamin di tempat kerja tersedia air yang cukup
untuk pengendalian kelembaban timbunan selama operasi pemasangan
dan pemadatan.
(5) Perbaikan dari Pekerjaan Galian
(a) Urugan akhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang
disyaratkan atau disetujui atau toleransi permukaan harus diperbaiki atau
menggaru permukaan dan membuang atau menambah material
sebagaimana diperlukan dan dilanjutkan dengan pembentukan dan
pemadatan kembali.
(b) Urugan yang terlalu kering untuk pemadatan, dalam hal kadar airnya
tidak memenuhi persyaratan seperti yang diperintahkan Direksi Teknik,
maka harus diperbaiki dengan menggaru material, disusul dengan
penyraman air secukupnya dan dicampur dengan menggunakan motor
grader atau peralatan lain yang disetujui.
(c) Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan dimana kadar airnya
melampaui, harus diperbaiki ulang dengan menggaru material, disusul
dengan penggunaan motor grader berulang–ulang atau alat lainnya
dengan selang waktu istirahat ketika penanganan, dalam cuaca yang
kering. Cara lain, atau jika pengeringan tak dapat dicapai dengan cara
mengaduk atau membiarkan bahan gembur tersebut, Direksi Teknik
dapat memerintahkan untuk mengeluarkan bahan tersebut dari pekerjaan
dan menggantikannya dengan bahan kering yang lebih cocok.
(d) Urugan yang menjadi penuh akibat air hujan atau banjir atau hal lain
setelah dipadatkan dalam batasan persyaratan ini biasanya tidak
memerlukan pekerjaan perbaikan asal sifat material dan kerataan
permukaan masih memenuhi persyaratan spesifikasi ini.
(e) Pekerjaan dari urugan yang tidak memenuhi kepadatan atau persyaratan
material dari spesifikasi ini harus seperti yang diperintahkan Direksi
Teknik dan dapat meliputi tambahan pemadatan, penggaruan yang

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
136
disusul dengan penambahan kadar air dan pemadatan kembali, atau
pembuangan dan penggantian material.
(6) Pengembalian Bentuk Pekerjaan Menyusul Pengujian
Seluruh lubang pada pekerjaan akhir yang dibuat dengan pengujian
kepadatan atau yang lainnya harus diurug kembali oleh Kontraktor secepatnya
dan dipadatkan hingga mencapai kepadatan dan toleransi permukaan yang
disyaratkan oleh spesifikasi ini.
2. Material
(1) Sumber Material
Bahan urugan harus dipilih dari sumber yang disetujui Bahan dan
Penyimpananya.
(2) Urugan Biasa
Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan biasa harus terdiri dari galian
tanah atau padas yang disetujui oleh Direksi Teknik yang memenuhi syarat
untuk dikerjakan pada pekerjaan permanen.
(3) Urugan Pilihan
(a) Urugan hanya boleh diklasifikasikan sebagai urugan pilihan bila
digunakan pada lokasi atau untuk maksud dimana urugan pilihan telah
ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Direksi Teknik. Seluruh
urugan lain yang digunakan harus dipandang sebagai urugan biasa.
(b) Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan harus terdiri dari
bahan tanah atau padas yang memenuhi persyaratan untuk urugan biasa
dan sebagai tambahan harus memiliki sifat tertentu tergantung dari
maksud penggunaannya seperti yang diperintahkan atau disetujui oleh
Direksi Teknik. Dalam segala hal urugan pilihan harus, bila diuji harus
sesuai dengan AASHTO T–193 memiliki CBR paling sedikit 10%
selama 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai kepadatan 100%
kepadatan kering maksimum sesuai dengan AASHTO T-99.
3. Pemasangan dan Pemadatan Urugan
(1) Penyiapan Tempat Kerja

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
137
(a) Sebelum pemasangan urugan pada suatu tempat, seluruh bahan yang
tidak memenuhi harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh
Direksi Teknik.
(b) Bila tinggi dari urugan 1 m atau kurang, dasar pondasi dari urugan
harus dipadatkan benar–benar (termasuk penggaruan dan pengeringa
atau pembasahan bila diperlukan) sehingga 15 cm bagian atas
memenuhi persyaratan kepadatan yang ditentukan untuk urugan
diatasnya.
(2) Pemasangan Urugan
(a) Urugan harus dibawa kepermukaan yang telah disiapkan dan disebar
merata dalam lapis yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi
tebal lapisan. Bila lebih dari satu lapis akan dipasang lapis–lapis
tersebut sedapat mungkin harus sama tebalnya.
(b) Urugan tanah umumnya harus diangkut langsung dari lokasi sumber
material ketempat permukaan yang telah dipersiapkan waktu cuaca
kering dan disebar. Penimbunan stok tanah biasanya tidak
diperbolehkan, terutama selama musim hujan.
(c) Dalam penempatan urugan diatas terhadap selimut pasir atau dengan
drainase porous, harus diperhatikan agar tidak terjadi pencampuran
dua bahan tersebut. Dalam hal pembentukan drainase vertikal,
pemisahan yang jelas harus diberikan kepada kedua bahan dapat
dijamin oleh pengguna acuan sementara dari pelat baja tipis yang
sedikit demi sedikit ditarik sewaktu pengisian urugan dan drainase
porous dilaksanakan.
(3) Pemadatan dari urugan
(a) Langsung setelah pemasangan dan penghamparan urugan, masing–
masing lapis harus dipadati benar–benar dengan alat pemadat yang
memadai yang disetujui Direksi Teknik hingga mencapai kepadatan
yang ditentukan.
(b) Pemadatan dari urugan tanah harus dilaksanakan hanya bila kadar air
dari material berada dalam rentang kurang dari 3% sampai lebih dari 1%

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
138
dari kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai
kadar air pada kepadatan kering maksimum bila tanah dipadatkan sesuai
dengan AASHTO T–99.
(c) Seluruh urugan padas harus ditutup dengan satu atau lebih lapisan
setebal 20 cm dari bahan bergradasi baik yang mengandung batu yang
lebih besar dari 5 cm dan sanggup mengisi rongga–rongga pada bagian
atas urugan. Lapis penutup ini akan dibanguan sampai kepadatan yang
disyaratkan untuk urugan tanah.
(d) Masing–masing lapis dari urugan yang dipasang harus dipadatkan
seperti ang ditentukan, diuji untuk kepadatan dan diterima Direksi
Teknik sebelum lapis berikutnya dipasang.
(e) Timbunan harus dipadatkan mulai tepi luar dan berlanjut kearah sumbu
jalan sedemikian sehingga masing–masing bagian menerima jumlah
usaha pemadatan yang sama. Bilamana mungkin, lalu lintas alat
konstruksi dilewatkan diatas urugan dan arahnya terus berubah–ubah
untuk menyebarkan usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut.
(f) Bila bahan urugan akan dipasang pada kedua sisi dari pipa atau saluran
beton atau struktur, maka operasi harus dilakukan agar urugan kira–kira
sama tingginya pada kedua sisi struktur.
(g) Bila bahan urugan dapat ditimbun pada satu sisi dari tembok kepala atau
tembok penahan atau tembok kepala gorong–gorong, harus diperhatikan
agar tempat bersebelahan dengan struktur jangan dipadatkan sedemikian
sehingga menyebabkan pergeseran struktur atau timbul tekanan yang
berlebih pada struktur.
(h) Urugan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan mesin
pemadat mesin gilas konstruksi, harus dipasang pada lapisan horisontal
tidak lebih dari 15 cm tebal gembur dan secara menyeluruh dipadatkan
dengan penumbuk loncat mekanis atau timbres (tamper) minimum
seberat 10 kg. Harus diperhatikan secara khusus untuk menjamin
pemadatan yang memuaskan dibawah dan tepi pipa untuk mencegah
rongga dan menjamin pipa betul–betul terdukung.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
139
4. Jaminan Mutu
(1) Pengendalian Mutu Bahan
(a) Jumlah dari data pendukung hasil uji yang diperlukan untuk persetujuan
awal dari mutu bahan akan ditetapkan oleh Direksi Teknik, tetapi akan
mencakup seluruh pengujian paling sedikit tiga contoh yang mewakili
dari sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih mewakili rentangan
mutu yang cenderung dijumpai dari sumber.
(b) Menyusul persetujuan dari mutu bahan yang diusulkan, pengujian mutu
bahan selanjutnya akan diulangi atas dasar pertimbangan Direksi
Teknik, dalam hal diamati perubahan dalam bahan atau dalam
sumbernya.
(c) Program untuk pengendalian pengujian bahan secara rutin akan
dilakukan untuk mengendalikan perubahan yang ada dalam bahan yang
dibawa ke tempat kerja. Cakupan dari pengujian harus seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik tetapi untuk setiap 1000 meter kubik
bahan urugan dari setiap sumber paling sedikit harus dilakukan satu
penentuan dari aktivitas.
(2) Persyaratan Kepadatan untuk Urugan Tanah
(a) Lapis yang lebih dalam dari 30 cm dibawah elevasi tanah dasar harus
dipadatkan sampai 95% dari kepadatan kering maksimum yang
mengandung sesuai dengan AASHTO T–99. Untuk tanah yang
mengandung 10% bahan yang tertahan pada saringan ¾ inci, kapadatan
kering maksimum yang diperoleh harus diadakan penyesuaian untuk
bahan yang terlalu besar tersebut sebagaimana yang diperintahkan
Direksi Teknik.
(b) Lapis pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus
dipadatkan sampai 100% dari kepadatan kering maksimum yang
ditetapkan sesuai dengan AASHTO T-99.
(c) Pengujian kepadatan harus dilakukan pada masing–masing lapis dari
urugan yang dipadatkan Sesuai dengan AASHTO T-191dan jika hasil
dari suatu pengujian ditunjukkan kepadatan kurang dari yang

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
140
disyaratkan maka Kontraktor harus memperbaiki pekerjaan. Pengujian
dilakukan sampai kedalaman dari lapis tersebut pada lokasi yang telah
ditetapkan Direksi Teknik, tetapi harus tidak berselang lebih dari 200 m.
Untuk urugan kembali di sekitar struktur, atau pada galian gorong–
gorong, paling sedikit harus dilakukan pengujian untuk satu lapis urugan
yang dipasang. Dalam timbunan paling sedikit satu pengujian harus
dilakukan dalam 1000 meter kubik urugan yang dipasang.
(4) Percobaan Pemadatan
Kontraktor harus bertanggung jawab untuk pemilihan peralatan dan
metode untuk mencapai tingkat kepadatan yang ditentukan. Dalam hal bahwa
Kontraktor tidak mencapai kepadatan yang disyaratkan prosedur pemadatan
berikut ini dapat diikuti :
Percobaan harus dilakukan dengan jumlah lintasan peralatan pemadat
dan kadar air diubah–ubah sehingga kepadatan yang disyaratkan tercapai
sehingga memuaskan Direksi Teknik. Hasil dari percoban ini selanjutnya
harus digunakan untuk menetapkan jumlah lintasan, tipe dari peralatan
pemadat dan kadar air pemadatan tersebut.
5. Pengukuran dan Pembayaran
(1) Pengukuran Urugan
(a) Urugan harus diukur sebagai jumlah meter kubik dari bahan yang padat
yang diperlukan, selesai ditempat dan diterima. Volume yang diukur
harus didasarkan pada gambar penampang melintang yang disetujui dari
profil tanah atau profil galian sebelum urugan ditempatkan pada garis
dan ketinggian yang disyaratkan dan diterima dari pekerjaan urugan
akhir. Metode untuk menghitung volume material haruslah metode yang
luas bidang ujung, dengan menggunakan penampang melintang yang
berselang jarak tidak lebih dari 50 m.
(b) Urugan yang digunakan dimana saja diluar batas kontrak untuk
pekerjaan, atau untuk mengubur bahan sisa yang tak terpakai, atau untuk
menutup sumber alam, tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran
urugan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
141
(c) Pekerjaan urugan yang memenihi syarat untuk pengukuran dan
pembayaran dalam bab ini akan tetap di bayar bahkan bila bahan urugan
yang diperoleh dari pekerjaan yang dibayar dalam bab lain dalam
spesifikasi ini.
(2) Pembayaran
Kuantitas dari pekerjaan yang diukur seperti diuraikan diatas dalam
jarak angkut yang diperlukan, harus dibayar untuk satu satuan pengukuran dari
harga yang dimasukkan dalam masing–masing harga penawaran untuk mata
pembayaran terdaftar dibawah, dimana harga tersebut sudah harus merupakan
kompensasi penuh untuk pengolahan, pengadaan, penempatan, pemadatan,
penyelesaian dan pengujian dari bahan, seluruh biaya lain yang perlu atau
biasa untuk penyelesaian yang tepat dari pekerjaan yang diuraikan dalam bab
ini.
4.5.3 Penyiapan Badan Jalan
1. Umum
(1) Uraian
(a) Pekerjaan ini mencakup penyiapan tanah dasar atau permukaan jalan
kerikil (grade) yang ada untuk pasangan lapis pondasi agregat, Pondasi
jalan tanpa penutup, pondasi tanah semen atau ATB pada badan jalan
(termasuk jalur tempat berhenti dan penyimpangan) yang tidak
ditetapkan sebagai pemeliharan rutin. Menurut sub bab spesifikasi ini
pembayaran tidak boleh dilakukan terhadap bahu jalan, perbaikan tepi,
perbaikan lubang atau penambalan perkerasan.
(b) Dalam hal jalan kerikil pekerjaan dapat juga mencakup perataan berat
dengan motor grader untuk perbaikan bentuk dengan atau tanpa
penggaruan dan tanpa penambahan material baru.
(c) Pekerjaan meliputi penggalian minor atau penggaruan serta urugan yang
disusul dengan pembentukan, pemadatan dan pengujian dari tanah atau
bahan berbutir, dan memelihara permukaan yang disiapkan sampai
material perkerasan ditempatkan diatasnya, yang semuanya sesuai

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
142
dengan gambar dan spesifikasi ini atau sebagaimana diperintahkan oleh
Direksi Teknik.
(2) Toleransi Dimensi
(a) Ketinggian akhir setelah pemadatan harus tidak lebih dari 1 cm lebih
tinggi atau lebih rendah dari yang ditentukan atau disetujui.
(b) Seluruh permukaan akhir harus cukup rata dan memiliki kelandaian
cukup, untuk menjamin aliran bebas dari air permukaan.
(3) Jadwal Kerja
Bila dipersiapkan terlalu awal dalam hubungan dengan pemasangan
lapis pondasi bawah, permukaan tanah dasar dapat rusak. Karenanya jumlah
dari pekerjaan penyiapan tanah dasar yang tidak ditutup harus dibatasi pada
suatu saat hanya untuk daerah yang terbatas yang dapat dipelihara dengan
peralatan yang ada dan Kontraktor harus mengatur penyiapan tanah dasar dan
penempatan bahan perkerasan menyusul satu dengan lainnya dengan cukup
rapat.
(4) Kondisi Tempat Kerja
Ketentuan yang berhubungan dengan kondisi tempat kerja yang
diperlukan untuk masing–masing galian dan urugan, hanya berlaku juga
dimana sesuai pada seluruh pekerjaan penyiapan jalan, bahkan pada tempat
dimana galian dan urugan tidak diperlukan.
(5) Perbaikan dari penyiapan Badan Jalan
(a) Ketentuan berhubungan dengan galian dan urugan yang tidak
memuaskan, dimana sesuai harus juga berlaku pada seluruh pekerjaan
penyiapan permukaan jalan bahkan untk daerah yang tidak memerlukan
pekerjaan galian dan urugan.
(b) Kontraktor harus memperbaiki atas biayanya sendiri untuk ketidakrataan
atau gelombang yang terjadi akibat pekerjaan atau lalu lintas atau oleh
sebab lainnya dengan membentuk kembali dan memadatkan dengan
mesin gilas dari ukuran dan tipe yang perlu untuk perbaikan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
143
(c) Kontraktor harus memperbaiki, dengan cara yang diperintahkan Direksi
Teknik, setiap kerusakan dari tanah dasar yang mungkin terjadi akibar
pengeringan, retak, atau banjir atau akibat kejadian alam lainnya.
2. Material
Tanah dasar dapat dibentuk pada urugan biasa, urugan pilihan, pondasi
agregat atau drainase, atau pada tanah asli daerah potongan. Bahan yang
digunakan pada masing–masing hal haruslah sesuai dengan yang
diperintahkan Direksi teknik dan sesuai bahan yang disyaratkan untuk bahan
yang dipasang sebagai pembentuk tanah dasar haruslah seperti yang
ditentukan dalam spesifikasi untuk bahan tersebut.
3. Pengukuran dan Pembayaran
(1) Pengukuran untuk Pembayaran
Daerah dari jalur lalu lintas alam yang mengalami kerusakan parah
dimana operasi pengembalian kondisi dari spesifikasi dipandang tidak sesuai,
akan digolongkan sebagai daerah yang ditingkatkan dan persiapan tanah dasar
akan dibayar menurut bab ini sebagai daerah permukaan persiapan tanah dasar
yang telah diterima Direksi Teknik.
(2) Dasar Pembayaran
Kuantitas dari persiapan pekerjaan badan jalan, yang telah diukur
seperti ditetapkan diatas, akan dibayar menurut satuan pengukuran sesuai
dengan harga–harga yang dimasukkan dalam daftar penawaran untuk mata
pembayaran seperti yang terdaftar di bawah ini, dimana harga pembayarannya
sudah mencakup seluruh biaya–biaya untuk pekerjaan dan biaya–biaya
lainnya yang telah dimasukkan untuk keperluan pembentukan pekerjaan
penyiapan tanah dasar seperti telah diuraikan dalam sub bab ini.

4.6 PEKERJAAN BAHU JALAN


1. UMUM
(1) Uraian
Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan, pengangkutan, pemasangan dan
pemadatan bahan untuk bahu pada tanah dasar yang telah disiapkan atau

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
144
permukaan lainnya yang disetujui dan pelaburan bila diperlukan dimana
suatu bahu jalan baru diperlukan sesuai dengan arah dan kelandaian yang
ditunjukkan pada gambar atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi
Teknik.
(2) Toleransi dari Dimensi
(a) Untuk bahu jalan tanpa penutup, permukaan padat akhir tidak boleh
bervariasi 1,5 cm di bawah atau di atas ketinggian rencana, pada setiap
titik.
(b) Permukaan akhir dari bahu, termasuk tiap pekerjaan permukaan atau
perkerasan lainnya yang akan dipasang di atasnya, tidak boleh lebih
rendah 1,0 cm terhadap tepi jalur lalu lintas berbatasan.
2. Material
Umumnya agregat kelas A harus digunakan di bawah bahu yang dilabur
atau diaspal. Agregat kasar yang digunakan untuk bahu harus batu pecah
yang dihasilkan dari mesin pemecah batu, dengan ukuran dan gradasi sesuai
dengan ketentuan.
3. Pemasangan dan Pemadatan Bahu Jalan
(a) Penyiapan lapangan untuk pemasangan bahan-bahan bahu jalan,
termasuk galian dari bahan-bahan yang ada, pencampuran bahan-bahan
baru dan lama (dimana hal ini sebelumnya telah disetujui oleh Direksi
Teknik), pemotongan tepi perkerasan dari jalur lalu lintas lama, dan
penyiapan formasi sebelum bahan-bahan dipasang semuanya harus
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan.
(b) Pemasangan dan pemadatan bahu jalan harus sesuai dengan ketentuan-
ketentuan masing-masing untuk Lapis Pondasi Agregat, Pondasi Jalan
Tanpa Penutup, Lapis Resap Pengikat, Laburan Permukaan dan
Campuran Aspal Panas.
4. Pengukuran dan Pembayaran
(a) Tidak ada pengukuran atau pembayaran terpisah yang harus dilakukan
untuk bahu jalan dalam pasal ini. Penggalian dari bahan yang ada,
pemotongan tepi dari jalur lalu lintas hingga bahan yang baik, penyiapan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
145
formasi atau tanah dasar, dan pengadaan, pemasangan, pemadatan dan
penyelesaian dari bahan-bahan bahu jalan harus dianggap seluruhnya
dibayar di bawah mata pembayaran yang berlaku untuk kegiatan-
kegiatan dan bahan-bahan yang telah digunakan di dalam pekerjaan.
(b) Pemasokan, pemasangan, pemadatan dan penyelesaian akhir bahu jalan,
dan pencampuran material, harus dianggap dibayar seluruhnya menurut
Mata Pembayaran Pondasi Agregat atau pondasi jalan tanpa penutup,
pemberian lapis resap pengikat dan pelaburan bahu jalan, bila ditentukan
dengan pelaburan aspal atau campuran aspal panas harus dianggap
seluruhnya dibayar menurut Mata Pembayaran yang bersangkutan.
Satuan pembayaran untuk bahu jalan dengan agregat kelas A adalah
meter kubik.

4.7 PERKERASAN BERBUTIR


4.7.1 LAPIS PONDASI AGREGAT
1. Umum
(1) Uraian
Pekerjaan ini harus meliputi pengadaan, pemrosesan, pengangkutan,
penghamparan, pembasahan dan pemadatan agregat (batu pecah) yang telah
digradasi di atas permukaan yang telah disiapkan dan telah diterima sesuai
dengan perincian yang ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan perintah
Direksi Teknik, dan memelihara lapis pondasi yang telah selesai sesuai dengan
yang disyaratkan. Pemrosesan harus meliputi, bila perlu, pemecahan,
pengayakan, pemisahan, pencampuran dan operasi lain yang perlu untuk
menghasilkan suatu bahan yang memenuhi persyaratan dari Spesifikasi ini.
(2) Toleransi Dimensi
(a) Permukaan-permukaan lapis pondasi agregat dari semua konstruksi
tidak boleh ada yang tidak rata yang dapat menampung air dan semua
punggung permukaan-permukaan itu harus sesuai dengan yang
tercantum di Gambar Rencana.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
146
(b) Tebal total minimal untuk Lapis Pondasi Agregat tidak boleh kurang
dari tebal yang disyaratkan kurang satu sentimeter.
(c) Tebal total minimal untuk Lapis Pondasi Agregat Kelas A tidak boleh
kurang dari tebal yang disyaratkan kurang satu sentimeter.
(d) Untuk permukaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A untuk lapisan resap
pengikat atau pelaburan permukaan, apabila semua bahan yang terlepas
dibuang dengan penyikat keras, deviasi maksimum yang diijinkan untuk
kerataan permukaan harus satu sentimeter dengan mistar penyipat
berukuran tiga meter, diletakkan paralel atau melintang as jalan.
(3) Pelaporan
(a) Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik hal-hal sebagai
berikut paling sedikit 21 hari sebelum tanggal yang diusulkan untuk
penggunaan yang pertama kalinya dari material yang diusulkan untuk
digunakan sebagai Lapis Pondasi Agregat :
(i) Dua contoh masing-masing 50 kg dari bahan, satu ditahan oleh
Direksi teknik sebagai rujukan selama masa kontrak.
(ii) Pernyataan perihal asal dan komposisi dari bahan yang diusulkan,
bersama dengan hasil pengujian laboratorium yang membuktikan
bahwa sifat bahan terpenuhi.
(b) Kontraktor harus mengirim hal berikut dalam bentuk tertulis kepada
Direksi Teknik segera setelah selesainya bagian dari pekerjaan sebelum
persetujuan dapat diberikan untuk penempatan bahan lain di atas Lapis
Pondasi Agregat :
(i) Hasil dari pengujian kepadatan
(ii) Hasil dari pengujian pengukuran permukaan dan data survei yang
memeriksa bahwa toleransi yang disyaratkan dipenuhi.
(4) Pembatasan oleh cuaca
Lapis Pondasi Agregat tidak boleh dipasang, dihampar atau dipadatkan
sewaktu turun hujan, dan pemadatan tidak boleh dilakukan setelah hujan
atau bila kadar air terlalu tinggi.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
147
(5) Perbaikan dari Lapis Pondasi Agregat yang tak memuaskan toleransi yang
disyaratkan, atau permukaannya berkembang menjadi tidak rata baik selama
konstruksi atau setelah konstruksi, harus diperbaiki dengan menggaru
permukaan dan membuang atau menambah bahan sebagaimana diperlukan,
yang selanjutnya dibentuk dan dipadatkan kembali.
(a) Lapis Pondasi Agregat yang terlalu kering untuk pemadatan harus
diperbaiki dengan menggaru bahan tersebut yang dilanjutkan dengan
penyiraman sejumlah air yang cukup dan mencampurnya dengan baik.
(b) Lapis Pondasi Agregat yang terlalu basah untuk pemadatan harus
diperbaiki dengan menggaru bahan tersebut yang dilanjutkan dengan
pengerjaan berulang-ulang peralatan yang disetujui, dengan selang
waktu istirahat dalam cuaca kering. Cara lain bila pengeringan yang
memadai tidak dapat diperoleh dengan cara tersebut di atas, Direksi
Teknik dapat memerintahkan bahan tersebut dibuang atau diganti
seperti bahan kering yang memenuhi.
(c) Perbaikan dari Lapis Pondasi Agregat yang tidak memenuhi kepadatan
atau sifat bahan yang dibutuhkan dalam spesifikasi ini harus seperti
yang diperintahkan oleh Direksi Teknik dan dapat meliputi pemadatan
tambahan, penggaruan yang dilanjutkan oleh pengaturan kadar air dan
pemadatan kembali, pemindahan dan penggantian bahan, atau
menambah tebal bahan itu.
(6) Pengembalian bentuk menyusul pengujian
Seluruh lubang pada pekerjaan yang telah selesai yang diakibatkan oleh
pengujian kepadatan atau yang lainnya harus segera diurug kembali dengan
bahan Lapis Pondasi Agregat oleh Kontraktor setelah diperiksa oleh Direksi
Teknik dan dipadatkan sehingga persyaratan kepadatan dan toleransi
permukaan memenuhi spesifikasi ini.
2. Material
(1) Sumber Material
Material Lapis Pondasi Agregat harus dipilih dari sumber yang disetujui
Spesifikasi ini.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
148
(2) Kelas Lapis Pondasi Agregat
Ada dua mutu yang berbeda dari Lapis Pondasi Agregat yaitu kelas A dan B.
Umumnya Lapis Pondasi Agregat kelas A ialah mutu lapis pondasi untuk
permukaan di bawah lapisan bitumen, dan Lapis Pondasi Agregat kelas B
ialah Lapis Pondasi Bawah.
(3) Fraksi Agregat Kasar
Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel
yang keras, awet atau pecahan dari padas atau pecahan dari kerikil. Bahan
yang pecah bila berulang-ulang dibasahi dan dikeringkan harus tidak boleh
digunakan.
(4) Fraksi Agregat Halus
Agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir
alami atau pasir pecah serta bahan mineral halus lainnya.
(5) Sifat Material yang Disyaratkan
Lapis Pondasi agregat harus bebas dari benda-benda organis dan gumpalan
lempung atau benda yang tidak berguna lainnya dan harus memenuhi gradasi
dan sifat-sifat yang diberikan dalam tabel di bawah ini

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
149
Tabel 4.8 Gradasi Pondasi Agregat

Macam Ayakan Persen berat lolos


Klas A Klas B
(mm)
63 100 100
50 - -
37.5 100 67-100
25 - -
19 65-81 40-100
9.5 42-60 25-80
4.75 27-45 16-66
2.36 18-33 10-55
2.00 - -
1.18 11-25 6-45
0.425 6-16 3-33
0.075 0-8 0-20

Sumber : Spesifikasi DPU Bina Marga


Tabel 4.9 Sifat Pondasi Agregat
Sifat Klas A Klas B

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
150
Abrasi dari agregat kasar (AASHTO 0-40% 0-50%
T.96 - 74)
Indek Plastisitas (AASHTO T.90 – 70) 0-6 4-10
Hasil kali Indek Plastisitas dengan 25 mak -
persentase agregat lolos saringan 75
micron.
Batas cair (AASHTO T. 86 – 68) 0-35 -
Bagian yang lunak (AASHTO T. 112 –78) 0-5% -
CBR (AASHTO T. 193) 80 min 60 min
Sumber : Spesifikasi DPU Bina Marga

(6) Pencampuran Material Lapis Pondasi Agregat


Pencampuran material untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan harus
dikerjakan di unit pemecah atau di unit pencampur yang disetujui,
menggunakan pengumpan mekanis yang telah dikalibrasi dengan aliran
menerus dari komponen campuran dengan proporsi yang benar. Dalam
keadaan apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan.
3. Pemasangan dan Pemadatan Lapis Pondasi Agregat
(1) Penyiapan Formasi untuk Lapis Pondasi
(a) Apabila Lapis Pondasi Agregat akan dipasang pada pekerjaan atau bahu
yang ada, semua kerusakan pada perkerasan atau bahu harus diperbaiki,
sesuai Spesifikasi ini.
(b) Apabila Lapis Pondasi Agregat akan dipasang pada permukaan tanah
dasar atau pondasi bawah yang ada atau yang baru disiapkan, lapisan
harus selesai sepenuhnya, sesuai pada lokasi dan jenis lapisan yang
terdahulu.
(c) Pada tempat yang telah disediakan untuk pekerjaan bahan Lapis Pondasi
Agregat, sesuai dengan ayat (a) dan (b) di atas, harus disiapkan dan
mendapatkan persetujuan dari Direksi Teknik untuk sekurang-
kurangnya 100 meter ke depan dari pemasangan lapis pondasi. Untuk
perbaikan tempat-tempat yang kurang dari 100 m panjangnya, seluruh

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
151
formasi itu harus disiapkan dan disetujui sebelum pondasi baru
dipasang.
(2) Penghamparan
(a) Lapis Pondasi Agregrat harus dibawa ke tempat pada bagian jalan
sebagai campuran yang merata dan harus dihampar pada kadar air dalam
rentang yang disyaratkan. Kelembaban dalam bahan harus tersebar
secara merata.
(b) Masing-masing lapisan harus dihampar pada satu operasi pada tingkat
yang merata yang akan menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam
toleransi yang disyaratkan. Bila lebih dari satu lapis akan dipasang,
lapis-lapis tersebut harus diusahakan sama tebalnya.
(c) Lapis Pondasi Agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah satu
metoda yang disetujui yang tidak menyebabkan segregasi dari partikel
agregat kasar dan partikel agregat halus. Material yang tersegregasi
harus diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan bahan yang bergradasi
baik.
(d) Tebal minimum lapisan gembur untuk setiap lapis konstruksi harus dua
kali lipat ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal maksimum
lapisan gembur tidak boleh melebihi 15 cm, kecuali diperintahkan lain
oleh Direksi Teknik.
(3) Pemadatan
(a) Segera setelah pencampuran dan pembentukan akhir, masing-masing
lapisan harus dipadatkan menyeluruh dengan peralatan pemadat yang
cocok dan memadai yang disetujui oleh Direksi Teknik, hingga
kepadatan paling sedikit 100% dari kepadatan kering maksimum.
(b) Direksi teknik boleh memerintahkan bahwa mesin gilas beroda karet
digunakan untuk pemadatan lapisan akhir, bila mesin gilas statik beroda
baja dianggap mengakibatkan kerusakan atau degradasi berlebihan dari
pondasi agregat.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
152
(c) Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada
dalam rentang 3 % kurang dari kadar air optimum sampai 1 % lebih dari
kadar air optimum.
(d) Operasi penggilasan harus dimulai sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada bagian
yang ber-super elevasi, penggilasan harus dimulai pada bagian rendah
dan bergerak sedikit demi sedikit kea rah bagian yang tinggi. Operasi
penggilasan harus dilanjutkan sampai seluruh bekas mesin gilas menjadi
tak tampak dan lapis tersebut terpadatkan merata.
(4) Pengujian
(a) Jumlah dari data pendukung pengujian yang diperlukan untuk
persetujuan awal dari bahan akan diuji, paling sedikit contoh yang
mewakili dari sumber yang diusulkan, yang dipilih mewakili umur
rentang/sebarab dari bahan yang cenderung akan diperoleh dari sumber
tersebut.
(b) Menyusul persetujuan mengenai mutu dari bahan Lapis Pondasi Agregat
yang diusulkan, seluruh rentang pengujian bahan yang dilakukan
selanjutnya harus diulangi atas pertimbangan Direksi teknik, dalam hal
tampak perubahan dalam bahan atau dari sumbernya, atau dalam metode
produksinya.
(c) Kepadatan dan kadar air dari bahan yang dipadatkan harus secara rutin
ditentukan. Pengujian harus dilakukan sampai kedalaman menyeluruh
dari lapis tersebut pada lokasi yang ditetapkan oleh Direksi Teknik,
tetapi tidak boleh berselang lebih dari 200 meter.
4. Pengukuran dan Pembayaran
(1) Cara Pengukuran
(a) Pondasi agregat harus diukur sebagai jumlah meter kubik dari bahan
yang dibutuhkan dalam keadaan padat, lengkap ditempat dan diterima.
Volume yang diukur harus didasarkan atas penampang melintang yang
ditunjukkan pada gambar bila tebal yang diperlukan merata, dan pada
penampang melintang yang disetujui Direksi Teknik bila tebal yang

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
153
diperlukan tidak merata, panjangnya diukur secara mendatar sepanjang
sumbu jalan.
(b) Pekerjaan penyiapan dan pemeliharaan tanah dasar yang baru atau
pekerjaan yang ada dan bahu jalan dimana Lapis Pondasi Agregat harus
dipasang tidak diukur atau dibayar menurut ini, tetapi harus dibayar
terpisah dari penawaran yang sesuai untuk penyiapan permukaan jalan
dan Pengembalian Kondisi Perkerasan atau Bahu yang ada.
(2) Dasar Pembayaran
Kuantitas yang ditentukan, sebagaiman diuraikan di atas, harus dibayar pada
Harga Satuan Kontrak per satuan pengukuran masing-masing Mata
Pembayaran yang terdaftar di bawah ini dan termasuk dalam Daftar
Penawaran, yang harganya serta pembayarannya harus merupakan
kompensasi penuh untuk pembuatan, pengadaan, penempatan, pemadatan,
pengadaan lapis permukaan sementara dan pemeliharaan permukaan untuk
lalu lintas, dan biaya lain yang diperlukan atau lazim untuk penyelesaian
pekerjaan yang benar dari pekerjaan yang diuraikan dalam Sub bab ini.
Satuan Pembayaran untuk Lapis pondasi agregat kelas A dan B adalah
dalam meter kubik.

4.8 PERKERASAN ASPAL


4.8.1 LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
1. UMUM
(1) Uraian
Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan pemasangan material aspal
pada permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk penghamparan
Pelaburan Aspal atau Lapisan Campuran Aspal. Pada umumnya Lapis Resap
Pengikat harus digunakan pada permukaan yang bukan beraspal (misalnya
lapis pondasi agregat/batu pecahan), sedangkan lapis perekat harus digunakan
pada permukaan yang beraspal.
(2) Pembatasan oleh Cuaca dan Musim

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
154
Lapisan Resap Pengikat harus dipasang hanya pada permukaan yang kering
atau sedikit lembab, dan lapis perekat harus dipasang hanya pada permukaan
yang benar-benar kering. Pemasangan Lapis Pengikat atau Lapis Perekat harus
tidak dilaksanakan waktu angina kencang, hujan atau akan turun hujan.
Kecuali mendapat persetujuan lain dari Direksi teknik pekerjaan pemasangan
Lapisan Resap Pengikat harus dilakukan selama musim kering.
(3) Kualitas Pekerjaan dan Perbaikan dari Pekerjaan yang Tidak Memuaskan
Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapis
dan tampak merata, tanpa lokasi yang tidak tertutup atau beralur atau
berlebihan aspalnya.
Dalam hal Lapis Perekat Permukaan harus mempunyai daya lekat yang cukup
pada pengerjaan pelapisan ulang. Untuk penampilan yang kelihatan bintik-
bintik dari bahan pengikat yang didistribusi sebagai butir-butir tersendiri boleh
diterima untuk Lapis Perekat yang lebih ringan asalkan penampilannya
kelihatan rata dan keseluruhan takaran pemakaiannya benar.
Dalam hal Lapis Resap Pengikat, setelah pengeringan selama empat hingga
enam jam, bahan pengikat harus meresap ke dalam lapis pondasi,
meninggalkan sebagian bahan pengikat untuk menunjukkan bahwa
permukaannya berwarna hitam atau abu-abu tua yang merata dan tidak porous.
Tekstur untuk permukaan lapis pondasi agregat harus tidak ada genangan atau
lapisan tipis bahan pengikat atau bahan pengikat yang bercampur dengan
agregat halus yang cukup tebal harus dikikis dengan pisau.
(4) Pelaporan
Kontraktor harus menyediakan bahan-bahan berikut ini kepada Direksi teknik:
(a) Lima meter contoh dari setiap bahan bitumen yang diusulkan oleh
Kontraktor untuk digunakan dalam pekerjaan dilengkapi dengan
sertifikat dari pabrik pembuatnya, diserahkan sebelum konstruksi
dimulai. Sertifikat tersebut harus menjelaskan bahwa bahan pengikat
untuk Lapis Resap Pengikat atau lapis Perekat.
(b) Harus disiapkan catatan yang memuaskan untuk sertifikat kalibrasi dari
semua instrumen dan meteran pengukur dan tongkat celup ukur untuk

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
155
distributor aspal, dan diserahkan tidak boleh kurang dari 30 hari
sebelum pelaksanaan dimulai. Tongkat celup ukur, alat instrument dan
meteran ukur harus dikalibrasikan dengan toleransi ketelitian dan
tanggal pelaksanaan kalibrasi harus tidak melebihi tiga tahun sebelum
pelaksanaan dimulai.
(c) Diagram semprot yang memenuhi ketentuan diserahkan sebelum
konstruksi dimulai, supaya pemeriksaan peralatan dapat dilaksanakan.
(d) Catatan-catatan harian untuk pekerjaan pelaburan yang telah dilakukan
dan takaran-takaran pemakaian bahan harus memenuhi ketentuan.
(5) Kondisi Pekerjaan
(a) Pekerjaan yang harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga memberi
ketidaknyamanan yang minimum bagi lalu lintas dan membolehkan lalu
lintas satu arah tanpa merusak pekerjaan yang sedang ditangani.
(b) Permukaan-permukaan dari struktur atau pepohonan atau harta benda
disamping tempat-tempat kerja harus dilindungi dari kekotoran karena
percikan.
(c) Bahan bitumen tidak boleh dibuang ke dalam sembarang selokan atau
saluran air.
(d) Kontraktor harus menyediakan dan tindakan pencegahan dan
pengendalian kebakaran yang memadai, dan juga pengadaan serta
fasilitas pertolongan pertama pada tempat pemanasan.
2. Material
(1) Bahan Lapis Resap Pengikat
(a) Bahan aspal untuk Lapis Resap Pengikat harus dari jenis Aspal Semen
AC-10 (yang kurang lebih ekivalen Aspal Pen 18/100) atau jenis AC-20
(yang kurang lebih ekivalen dengan Aspal Pen 60/70), mematuhi
AASHTO M 226-80, dicairkan untuk minyak tanah. Perbandingan
Kerosene pengencer yang digunakan harus sesuai dengan Petunjuk
Direksi Teknik. Kecuali diperintah lain oleh direksi teknik,
perbandingan pemakaian minyak tanah pada percobaan pertama harus
80 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal semen (80 pph-kurang

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
156
lebih ekivalen dengan viskositas aspal cutback hasil kilang jenis
MC-30).
(b) Agregat penutup untuk lapis resap pengikat harus dari hasil penyaringan
kerikil atau batu pecah, terbebas dari butiran-butiran lemah atau lunak,
bahan kohesi atau bahan organik.
(2) Bahan-bahan untuk Lapis Pengikat
Bahan aspal untuk lapis perekat harus salah satu dari yang di bawah ini,
seperti yang ditentukan oleh Direksi Teknik :
(a) Salah satu dari jenis aspal semen AC-10 atau AC-20 diencerkan dengan
25 sampai 30 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal.
(b) Aspal emulsi yang cepat waktu mengerasnya memenuhi ketentuan
AASHTO M 140 atau M 208. Direksi Teknik boleh mengijinkan atau
meminta pengenceran emulsi dengan 1 bagian air bersih per liter bagian
emulsi.
3. Peralatan
(1) Ketentuan Umum
Perlengkapan yang digunakan oleh Kontraktor harus meliputi sebuah
penyapu mekanis dan atau penghembus mekanis, distributor aspal, peralatan
untuk memanaskan bahan aspal dan peralatan yang sesuai untuk
menyebarkan kelebihan bahan pengikat.
(2) Aspal Distributor-Batang Penyemprot
(a) Distributor harus dipasang pada kendaraan beroda karet dan harus
mematuhi semua peraturan keselamatan jalan. Beban pada roda bila
dibebani penuh harus tidak boleh melalui ketentuan yang
dipersyaratkan pabrik pembuat ban pada saat operasi dengan
kecepatan penuh.
(b) Alat penyemprot, harus didesain, diperlengkapi, dipelihara dan
dioperasikan sedemikian rupa sehingga bahan aspal dengan panas
yang merata dapat disemprotkan secara merata pada berbagai variasi
lebar permukaan, pada takaran yang terkendali dalam batas 0,15
sampai 2,4 liter/meter persegi.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
157
(c) Distributor harus dilengkapi dengan batang semprot yang
mensirkulasikan aspal secara penuh yang dapat diatur ke arah
horisontal dan vertikal. Batang semprot harus terpasang dengan
jumlah minimum 24 nosel, dipasang pada jarak yang sama 10 + 1 cm.
Pipa semprot tangan juga harus dipasang.
(3) Peralatan
Perlengkapan Distributor Aspal harus meliputi sebuah Tachometer
(pengukur kecepatan putaran), meteran tekanan, satu tongkat celup yang
telah dikalibrasi, sebuah termometer untuk mengukur temperatur isi tangki,
dan peralatan untuk mengukur kecepatan pada kecepatan lambat.

(4) Toleransi Peralatan Aspal Distributor


Toleransi ketelitian dan ketentuan-ketentuan jarum baca yang dipasang pada
Aspal Distributor dengan batang semprot harus sebagai berikut :
Ketentuan-ketentuan dan toleransi yang benar
- Tachometer pengukur + 1,5% dari skala putaran penuh kecepatan
kendaraan sesuai ketentuan-ketentuan BS 3403
- Pengukur suhu + 50C, skala antara 0-2500C
- Pengukur Volume + 2% dari total volume tangki
- Tongkat celup nilai maksimum garis skala tongkat celup 50 liter
4. Pelaksanaan Pekerjaan
(1) Penyiapan permukaan yang akan disemprot aspal
(a) Apabila pekerjaan lapis resap pengikat dan lapis perekat akan
dilaksanakan pada perkerasan jalan yang ada atau permukaan bahu,
semua kerusakan perkerasan atau bahu harus diperbaiki
(b) Apabila pekerjaan lapis resap pengikat dan lapis perekat akan
dilaksanakan pada perkerasan jalan atau permukaan bahu yang baru,
perkerasan atau bahu itu harus telah selesai dikerjakan sepenuhnya.
(c) Permukaan yang akan dilapis itu harus dipelihara menurut standar-
standar (a) dan (b) di atas sehingga pekerjaan pelapisan dilaksanakan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
158
(d) Sebelum penyemprotan aspal dimulai, debu dan bahan kotoran lainnya
harus disingkirkan terlebih dahulu dari permukaan dengan memakai
sikat mekanis atau semprotan angin atau kombinasi kedua-duanya. Jika
pemakaian alat ini tidak menghasilkan permukaan bersih yang rat maka
bagian-bagian yang belum bersih harus dibersihkan lagi dengan sapu
lidi.
(e) Pembersihan harus dilanjutkan/melewati 20 cm dari tepi bidang yang
akan disemprot.

SUHU PENYEMPROTAN
JENIS BAHAN PENGIKAT BATAS PERBEDAAN SUHU
SEMPROT
Cut Back-25 bagian kerosin 1100C ±10 0 C
Cut Back-50 bagian kerosin 700C ±10 0 C
Cut Back-75 bagian kerosin 450C ±10 0 C
Cut Back-100 bagian kerosin 300C ±10 0 C
Aspal emulsi 200C ± 70 0 C
Catatan: Tindakan pencegahan untuk keamanan penuh harus dilakukan jika
memanaskan aspal cut back yang sesuai dengan dokumen Bina Marga RD 0.3.6
(vol.1) Lampiran E”Langkah – lanhkah Pengamanan dalam
Penanganan,Pengangkutan dan Penyimpanan Aspal”
(f) Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing lainnya harus
disingkirkan dari permukaan memakai penggaruk baja atau dengan cara
lainnya yang telah disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi Teknik
dan bagian yang telah digaruk tersebut harus dicuci dengan air dan
disapu.
(g) Untuk pelaksanaan lapis resap pengikat di atas lapis pondasi agregat
kelas A, permukaan akhir yang telah disapu harus rata, rapat, bermosaik
agregat kasar dan halus, permukaan yang hanya mengandung agregat
halus tidak akan diterima.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
159
(2) Takaran dan Temperatur Pemakaian dari Material Aspal
(a) Kontraktor harus melakukan percobaan lapangan di bawah pengawasan
Direksi Teknik untuk mendapatkan tingkat takaran yang tepat dan
percobaan tersebut akan diulangi, sebagaimana diperintahkan oleh
Direksi Teknik, bila tipe dari permukaan yang akan dilapisi, atau jenis
dari material aspal berubah. Biasanya takaran pemakaian yang akan
berada dalam batas-batas sebagai berikut :
- Lapis Resap Pengikat: 0,4 sampai 1,3 liter per meter persegi untuk
pondasi kelas A, 0,2 sampai 1,0 liter per meter persegi untuk
pondasi tanah semen.
- Lapis Perekat: sesuai dengan jenis permukaan yang akan
menerima pelapisan dan jenis bahan pengikat yang akan dipakai.
(b) Jumlah pemanasan yang berlebihan dari yang dibutuhkan atau pemanasan
yang berkelanjutan pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Setiap
material yang menurut pendapat Direksi Teknik telah rusak akibat
pemanasan berlebihan harus ditolak dan harus diganti atas biaya
Kontraktor.
TINGKAT PEMAKAIAN LAPIS ASPAL PELEKAT
(3) Pemasangan Pelapisan
JENIS BAHAN
TINGKAT PENYEMPROTAN
PENGIKAT
(permukaan baru/kaya) (permukaan
liters/sq.m porous/lama)
liters/sq.m
Aspal cair(Cut Back) 0,15 0,20-0,50
(25:100)
Aspal emulsi 0,25 0,25-0,60
Aspal emulsi 0,50 0,50-1,20
(diencerkan 1:1)
(a) Panjang permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan
penyemprot harus diukur dan ditandai di atas tanah. Kalau digunakan
Lapis Resap Pengikat, batas-batas dari daerah yang akan disemprot
harus ditandai dahulu memakai cat benang pembatas.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
160
(b) Bahan aspal yang disemprotkan harus merata di seluruh permukaan.
Pemakaian aspal secara merata sesuai jumlah takaran yang telah
diperintahkan harus dilaksanakan memakai aspal distributor dengan
batang semprot, pengecualian hanya dibenarkan kalu pemakaian aspal
distributor tidak memungkinkan pada daerah yang kecil (sempit), dalam
hal ini Direksi Teknik menyetujui pemakaian alat semprot tangan.
(c) Bila diperintahkan bahwa penyemprotan aspal sekali jalan harus
setengah atau lebih kecil setengah lebar dari permukaan yang akan
diselesaikan maka dalam hal diperintahkan demikian, lebar bidang
penyemprotan harus dilebihkan 20 cm sebagai bidang tumpang tindih
sambungan sisi-sisi jalur. Bidang sambungan memanjang ini harus
dibiarkan terbuka dan hanya dapat diberi agregat penutup setelah
penyemprotan sekali jalan pada jalur sebelahnya telah selesai
dilaksanakan. Hal yang sama, berlaku harus lebih besar daripada lebar
yang ditetapkan pada tepi permukaan perkerasan atau tepi dari bahu
jalan, hal ini dimaksudkan untuk memberi tempat bagi takaran
pemakaian aspal pada tepian dimana tak terjadi tumpang tindih
pengaspalan.
(d) Alur yang dilindungi/ditutup dengan kertas semen atau bahan sejenisnya
yang tidak porous kenyal harus dihampar pada daerah permulaan dan
akhir dari permukaan yang akan diaspal. Aliran aspal ke nosel harus
dimulai dan dihentikan pada saat memasuki batas pelindung, dengan
demikian seluruh nosel bekerja dengan baik pada sepanjang bidang jalan
yang akan dilapisi. Lebar kertas pelindung harus sedemikian rupa
sehingga sasaran tersebut di atas dapat dicapai.
(e) Harus dipersiapkan cadangan aspal pengikat sebesar 10 persen, atau
sesuai dengan yang ditetapkan oleh Direksi teknik, dalam tangki aspal
distributor untuk setiap semprotan lari, hal ini dimaksudkan untuk
mencegah udara yang terperangkap dalam sistem penyemprotan dan
sebagai cadangan untuk pemakaian aspal.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
161
(f) Jumlah pemakaian bahan pengikat (aspal) pada setiap semprotan lari
harus segera diukur memakai meteran tongkat celup ke dalam tangki
distributor dan dilaksanakan sebelum dan sesudah penyemprotan.
(g) Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata ada
ketidaksempurnaan peralatan semprot pada saat beroperasi dan
penyemprotan ulangan sama sekali tidak diperkenankan sebelum
diadakan perbaikan alat.
(h) Setelah pelaksanaan penyemprotan bahan resap pengikat, setiap daerah
yabg tergenangi bahan pengikat yang berlebihan harus secara menerus
didistribusi ulang melintang di atas permukaan yang telah disemprot.
Untuk tujuan ini boleh dipakai mesin giling roda karet, sikat ijuk atau
alat penyapu dari karet.
5. Pemeliharaan dan Pembukaan bagi Lalu Lintas
(1) Pemeliharaan dari Lapis Resap Pengikat
(a) Kontraktor harus memelihara permukaan yang telah diberi lapis Aspal
Resap Pengikat atau Perekat sesuai standar yang ditetapkan dalam
sampai lapisan berikutnya dipasang. Lapisan berikut tersebut hanya
dapat dipasang setelah lapisan pertama dibiarkan untuk beberapa waktu
untuk memberi kesempatan terserap dan mengeras secara penuh, hal ini
untuk mencegah terjadinya aliran aspal ke permukaan dan pelunakan
pada lapis berikutnya.
(b) Lalu lintas harus tidak diijinkan melintasi permukaan sampai bahan
aspal telah meresap dan mengering, dan tidak akan melekat di bawah
beban lalu lintas. Dalam keadaan khusus dimana perlu untuk megijinkan
lau lintas melintasinya sebelum waktu tersebut, tetapi dalam segala
keadaan tidak boleh lebih awal dari empat jam setelah pemasangan
bahan aspal tersebut. Agregat penutup harus disebar dari truk
sedemikian agar tidak ada roda yang melindas material aspal basah yang
tidak tertutup. Bila pemasangan agregat penutup pada jalur yang sedang
dikerjakan yang bersebelahan dengan jalur yang dikerjakan, sebuah alur
yang lebarnya paling sedikit 20 cm sepanjang tepi sambungan harus

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
162
dibiarkan terbuka, atau jika tertutup harus dibuka bila jalur kedua
sedang dipersiapkan untuk ditangani, agar memungkinkan tumpang
tindih bahan aspal.

(2) Pemeliharaan dari Lapis Perekat


Lapis perekat harus dipasang hanya sebentar sebelum pemasangan lapis aspal
berikut diatasnya untuk memperoleh kondisi yang tepat dan kelengketannya
lapisan aspal berikut tersebut harus dipasang sebelum lapis pengikat hilang
kelengketannya melalui pengeringan yang berlebih, oksidasi, debu yang
tertiup atau lainnya. Sewaktu lapis pengikat dalam keadaan tidak tertutup,
Kontraktor harus melindunginya dari kerusakan dan mencegah berkontak
dengan lalu lintas.
6. Pengendalian Mutu dan Pengujian di Lapangan
(a) Dua liter contoh bahan pengikat leburan permukaan yang telah tercampur
harus diambil dari distributor, mulai dari permulaan dan dekat bagian
akhir pekerjaan yang dilaksanakan tiap hari.
(b) Aspal distributor harus diperiksa dan diuji sebagai berikut :
(i) Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada kontrak
tersebut,
(ii) Setiap 6 bulan atau setiap 150.000 liter dari bahan pengikat yang
telah disemprotkan oleh distributor, dipilih yang paling sering,
(iii) Apabila distributor mengalami kerusakan atau modifikasi, atau
kejadian apa saja yang menurut pendapat Direksi Teknik perlu
dilakukan pemeriksaan ulang distributor tersebut.
(c) Hasil percobaan ayakan basah dari agregat penutup yang diusulkan untuk
dipakai harus dilaporkan kepada Direksi Teknik untuk mendapatkan
persetujuan sebelum agregat tersebut digunakan.
7. Pengukuran dan Pembayaran
(1) Dasar Pengukuran

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
163
(a) Kuantitas material aspal yang diukur untuk pembayaran haruslah jumlah
liter pada 150C diperlukan untuk memenuhi Spesifikasi dan persyaratan
Direksi Teknik, atau haruslah jumlah liter yang sesungguhnya pada 150C
yang digunakan dan diterima, yang mana lebih sedikit. Pengukuran
volume harus diambil ketika material berada pada temperatur yang merata
dalam keseluruhan volume dan bebas dari gelembung udara, kuantitas dari
aspal yang digunakan harus ditentukan setelah setiap lintasan
penyemprotan.
(b) Setiap agregat penutup yang digunakan harus dianggap termasuk
pelengkap dalam pekerjaan untuk memperoleh lapis penyerap yang
memuaskan dan harus tidak diukur atau dibayar secara terpisah.
(c) Pembersihan dan persiapan akhir pada permukaan dan pemeliharaan
permukaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang telah selesai,
harus dianggap berhubungan dengan pekerjaan untuk pencapaian suatu
Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang memuaskan dan tidak boleh
diukur atau dibayar secara terpisah.
(2) Dasar Pembayaran
Kuantitas sebagaimana ditetapkan di atas harus di bayar seperti ditunjukkan di
bawah ini, dimana pembayaran tersebut harus merupakan kompensasdi penuh
untuk pengadaan dan pemasangan seluruh material, termasuk agregat penutup
dan juga termasuk seluruh buruh, perlengkapan dan perkakas dan pelengkap
lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan dan memelihara pekerjaan yang
diuraikan dalam Pasal ini.
4.8.2 Campuran-campuran Aspal Panas
1. Umum
(1) Uraian
(a) Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapis perata padat yang awet,
pondasi atas lapisan atas pelindung aspal dicampuri pusat pencampur,
serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut di atas pondasi
atau permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan persyaratan ini

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
164
dan memenuhi bentuk sesuai gambar dalam hal ketinggian, penampang
memanjang dan melintangnya.
(b) Beberapa campuran dirancang menggunakan prosedur khusus yang
diberikan di dalam Spesifikasi ini, untuk menjamin bahwa asumsi
rancangan yang berkenaan dengan kadar bitumen efektif minimum,
ronggga udara, stabilitas, fleksibilitas dan ketebalan film aspal benar-
benar terpenuhi. Dalam hal ini penting diingat bahwa, dalam pembuatan
campuran Laston dan ATB, metode konvensional dalam merancang
aspal beton, yang dimulai mendapatkan kepadatan agegat maksimum
yang mungkin, tidak boleh digunakan karena pendekatan cara ini pada
umumnya tidak akan menghasilkan campuran yang memenuhi
Spesifikasi ini.
(2) Jenis Campuran Beraspal
(a) Laston (AC)
Laston yang digunakan menurut spesifikasi ini setara dengan Laston
(Spesifikasi Bina Marga 13/PT/B 1983) dan digunakan untuk jalan-jalan
dengan lalu lintas berat, tanjakan, penemuan jalan dan daerah-daerah
lainnya dimana permukaan menanggung beban roda yang berat.
(b) Asphalt Treated Base (ATB) adalah khusus diformulasi untuk
meningkatkan keawetan dan ketahanan kelelehan. Penting diketahui
bahwa setiap penyimpangan dari spesifikasi ini, khususnya pengurangan
dalam kadar bitumen, memungkinkan tidak berlakunya rancangan
perkerasan proyek dan memerlukan pelapisan ulang yang lebih tebal.
(3) Tebal Lapisan dan Toleransi
(a) Tebal dari Campuran Aspal yang dihampar harus diamati dengan benda
uji inti (cores) perkerasan. Selang antara penghamparan dan lokasi
pengambilan benda uji paling sedikit dua buah diambil dengan arah
melintang dari masing-masing setengah lebar penampang yang
diselidiki dan selang antara potongan melintang ke arah memanjang
yang diselidiki tidak boleh lebih dari 200 m, dan harus sedemikian rupa
sehingga jumlah total benda uji yang diambil pada setiap segmen yang

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
165
diukur untuk pembayaran tidak boleh kurang dari batas-batas yang
diberikan.
(b) Tebal Campuran Aspal kecuali untuk lapisan perata yang sesungguhnya
dipasang di atas setiap bagian dari pekerjaan didefinisikan sebagai tebal
rata-rata dari benda-benda uji inti yang diambil dari bagian tersebut.
(c) Tebal Campuran Aspal yang sesungguhnya dipasang, harus sama atau
lebih besar dari tebal rancangan nominal untuk lapis permukaan dan
lapis permukaan yang bersifat sebagai lapisan perata, dan harus sama
dengan atau lebih besar dari tebal yang ditentukan.
Dalam beberapa hal, Direksi Teknik atas dasar kerataan perkerasan atau
ukuran maksimum atau data rancangan yang lain boleh menyetujui atau
menerima tebal rata-rata yang kurang dari tebal rancangan nominal
asalkan Campuran Aspal yang dipasang pada ketebalan tersebut baik
dalam segala hal lainnya, meskipun begitu sama sekali tidak ada bagian
campuran aspal beton yang dipadatkan yang kekurangan ketebalannya
melebihi 5 mm dari ketebalan nominal rancangannya.
(d) Untuk semua jenis campuran, yang dibayarkan menurut luas atau
volume (dan bukannya berat sesungguhnya dari material yang
dihamparkan), berat Campuran Aspal yang benar-benar dipakai harus
dipantau oleh Kontraktor dengan menimbang setiap muatan truk
pengangkut material yang meninggalkan pusat pencampur. Dalam hal
bagian yang manapun yang sedang diukur untuk menentukan
pembayarannya, berat material yang benar-benar dihamparkan yang
dihitung dari timbangan muatan truk adalah kurang dari ataupun lebih
dari lima persen lebih besar dari berat yang dihitung dari ketebalan dan
rata-rata kepadatan contoh lapisan (cores), penyelidikan detail belum
tentu menghasilkan nilai-nilai baru untuk dimensi geometris yang
memastikan jumlah material yang harus dibayar. Meskipun begitu,
dalam segala kasus, tak peduli tenggang beratnya dilampaui atau tidak,
pembayaran harus didasarkan atas ukuran-ukuran nominal dari lapisan
campuran.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
166
(4) Pelaporan
Kontraktor harus melengkapi dengan :
(a) Contoh dari seluruh material yang disetujui untuk digunakan.
(b) Laporan tertulis yang memberikan sifat-sifat hasil pengujian dari seluruh
material,
(c) Formula campuran kerja dan data benda uji yang mendukungnya dalam
bentuk laporan tertulis,
(d) Pengukuran pengujian permukaan dalam bentuk laporan tertulis,
(e) Laporan tertulis mengenai kerapatan (density) dari campuran-campuran
yang dihampar.
(f) Data uji laboratorium dan lapangan untuk pengendalian harian dari
takaran campuran dan kualitas campuran, dalam bentuk laporan tertulis,
(g) Catatan-catatan harian dari seluruh truk yang ditimbang pada alat
penimbang,
(h) Catatan-catatan tertulis dari pengukuran tebal lapisan-lapisan dan
dimensi perkerasan.
(5) Pembatasan oleh Cuaca
Campuran hanya bisa dicampur bila permukaannya kering, bila tidak akan
hujan dan bila dasar jalan yang sudah disiapkan dalam kondisi memuaskan.
(6) Perbaikan dari Campuran Aspal yang tidak Memuaskan
Lokasi-lokasi dengan tebal atau kepadatan yang kurang dari yang
dipersyaratkan atau angka-angka yang disetujui, juga lokasi-lokasi yang
tidak memuaskan dalam hal lainnya, tidak akan dibayar sampai diperbaiki
oleh Kontraktor. Perbaikan dapat meliputi pembongkaran dan penggantian,
penambahan lapisan Campuran Aspal dan atau tindakan lain yang dianggap
perlu oleh Direksi Teknik. Bila perlu telah diperintahkan maka jumlah
volume yang diukur untuk pembayaran haruslah volume yang seharusnya
dibayar bila pekerjaan aslinya dapat diterima. Tidak ada pembayaran
tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan atau volume tambahan yang
diperlukan untuk perbaikan.
(7) Pengembalian bentuk Perkerasan setelah Pengujian

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
167
Seluruh lubang uji yang dibuat dengan mengambil benda uji inti atau
lainnya harus segera ditutup kembali dengan material Campuran Aspal oleh
Kontraktor dan dipadatkan hingga kepadatan serta kerataan permukaan
sesuai dengan toleransi yang diperkenankan yang dipersyaratkan dalam
Pasal ini.

2. Material
(1) Umum
(a) Agregat yang digunakan dalam pekerjaan harus sedemikian rupa agar
campuran aspal, yang proporsinya dibuat sesuai dengan rumus
campuran kerja, akan memiliki kekuatan sisa yang tidak kurang dari
75% bila diuji untuk hilangnya kohesi akibat pengaruh air.
(b) Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui terlebih dahulu oleh
Direksi Teknik.
(c) Sebelum memulai pekerjaan Kontraktor harus sudah menimbun paling
sedikit 40 % dari jumlah agregat pecah yang dibutuhkan untuk
campuran aspal dan selanjutnya timbunan persediaan harus
dipertahankan paling sedikit 40 % dari sisa kebutuhannya.
(d) Tiap-tiap agregat harus diangkut ke pusat pencampuran lewat Cold Bin
yang terpisah. Pencampuran lebih dulu agregat dari jenis atau sumber
agregat yang berbeda, tidak diperbolehkan.
(2) Agregat Kasar untuk Campuran Aspal
(a) Agregat kasar pada umumnya harus memenuhi gradasi yang disyaratkan
seperti di bawah dan harus terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah atau
campuran yang memadai dari batu pecah dengan kerikil besi, kecuali
fraksi agregat kasar untuk Latasir Kelas A atau B boleh bukan batu
pecah. Agregat kasar yang digunakan untuk setiap jenis campuran dapat
diterima oleh Direksi Teknik hanya bila bahan tersebut diperagakan
dengan pengujian laboratorium. dan semua ketentuan sifat campuran
dalam tabel di bawah ini.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
168
Tabel 4.10 Spesifikasi Agregat Kasar
Ukuran saringan Persen berat yang lolos
Mm ASTM Campuran normal Campuran Lapisan Perata
20 ¾ 100 100
127 ½ 30-100 95-100
95 3/8 0-55 50-100
4,75 4 0-10 0-50
0,075 200 0-5 0-5
Sumber : RKS dan Spesifikasi DPU Bina Marga
Dalam keadaan apapun, agregat kasar yang kotor dan berdebu dan
mengandung partikel halus lolos ayakan nomor 200 lebih besar dari 1%
tidak lebih digunakan bahan-bahan seperti ini biasanya dapat memenuhi
persyaratan bila dilakukan pencucian dengan alat-alat pencuci memadai.
(b) Agregat kasar harus terdiri dari material yang bersih, keras, awet yang
bebas dari kotoran atau bahan yang tidak dikehendaki dan harus memiliki
persentase keausan yang tidak lebih dari 40 pada 500 putaran.
(c) Bila diuji dengan pengujian-pengujian penyelaputan dan pengelupasan
(coating and stripping test), agregat tersebut harus memiliki luas yang
berselaput tidak kurang dari 95 %.
(3) Agregat Halus untuk Campuran Aspal
(a) Biasanya diperlukan sejumlah abu batu hasil pengayakan batu pecah
(crusher dust) untuk menghasilkan suatu campuran yang ekonomis dan
memenuhi persyaratan campuran. Abu batu harus diproduksi melalui
pemecahan batu yang bersih dan tidak mengandung lempung atau lanau
dan harus disimpan secara terpisah dari pasir alam yang akan digunakan
dalam campuran. Pemuatan komponen abu batu dan pasir alam ke
dalam mesin pencampur harus dipisahkan melalui Cold Bin Feed yang
terpisah sehingga perbandingan pasir terhadap abu batu dapat
dikendalikan.
Tabel 4.11 Persen Berat yang Lolos
Ukuran Saringan Persen Berat yang Lolos
Mm ASTM Latasir Lataston Klas A, B, Laston dan
ATB
95 3/8 100 100 100

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
169
4,75 #4 98-100 72-100 90-100
2,36 #8 95-100 72-100 80-100
600μ # 30 76-100 25-100 25-100
Sumber : RKS dan Spesifikasi DPU Bina Marga
(b) Dalam keadaan apapun, pasir alam yang kotor dan berdebu dan
mengandung partikel yang harus lolos ayakan no. 200 lebih besar
dari 8% dan atau mempunyai nilai ekivalen pasir lebih kurang dari
50 menurut, tidak boleh digunakan dalam campuran.

(4) Bahan Pengisi untuk Campuran Aspal


(a) Bahan pengisi harus terdiri dari abu batu kapur), semen Portland, abu
terbang, abu tanur, semen atau bahan mineral non plastis lainnya dari
sumber yang disetujui. Bahan tersebut harus bebas dari bahan lain yang
tidak dikehendaki.
(b) Harus kering dan bebas dari gumpalan-gumpalan dan bila diuji dengan
pengayakan basah harus mengandung bahan yang lolos saringan 75
micron tidak kurang dari 75 % beratnya.
(c) Penggunaan kapur tohor sebagai bahan pengisi dapat memperbaiki daya
campuran, membantu penyeliputan dari partikel agregat dan membantu
mencegah pengelupasan. Akan tetapi banyaknya variasi kualitas dari
sumber-sumber kapur dan kecenderungan dari kapur tersebut untuk
membentuk gumpalan-gumpalan terbukti dapat menimbulkan masalah
sewaktu penakaran. Pengembangan kapur karena hidrasi dapat
menyebabkan keretakan campuran apabila kadar kapur tersebut terlalu
tinggi. Apabila kapur yang digunakan maka proporsi maksimum yang
diijinkan adalah 1 % dari berat keseluruhan campuran aspal.
(5) Materi Aspal untuk Campuran Aspal
Materi aspal harus dari jenis AC-10 atau AC-20 aspal semen yang memenuhi
persyaratan-persyaratan dalam AASHTO M226-78 :
Untuk mencapai kekuatan campuran yang ditetapkan, lebih disukai
penggunaan aspal yang lebih lunak AC-10.
(6) Sumber Pasokan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
170
Persetujuan awal sumber sumber pengadaan agregat, Kontraktor harus
memperhitungkan aspal yang hilang karena absorbsi (penyerapan) ke dalam
agregat untuk memastikan penggunaan agregat setempat yang mempunyai
daya penyerapan yang paling kecil.
3. Persyaratan Sifat Campuran
(a) Campuran Aspal harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam
Tabel di bawah ini.
Tabel 4.12 Persyaratan Sifat Campuran
Sifat Campuran AC ATB
Kadar Aspal Efektif 5:5
Kadar Penyerapan Max Aspal 1:7 1:7
Kadar Aspal Total Minimum 43-70 6,0
Kadar Rongga Udara Minimum 3 4
% terhadap Volume Max 6 8
Marshall Quotient (1) Min 1,8 1,8
(AASHTO T 245-78) Max (KN/mm) 50 50
Stabilitas Marshall Min 750 750
AASHTO 245-78 Max (Kg) 850
Sumber : RKS dan Spesifikasi DPU Bina Marga
(b) Bahan aspal yang terkandung dari benda uji pada campuran kerja harus
mempunyai nilai penetrasi tidak kurang dari 70% terhadap nilai penetrasi
aspal sebelum pencampuran dan nilai duktilitas tidak kurang 40 cm.
4. Rancangan Campuran Aspal Beton (AC) Gradasi Menerus
(1) Umum
Metode ini digunakan untuk campuran AC, metode yang diberikan pada Pasal
6.3.5 digunakan untuk jenis campuran HRS dan ATB. Kontraktor bertanggung
jawab atas kelancaran campuran.
(2) Rongga Terisi Aspal
Kadar Aspal dalam campuran harus sedemikian rupa sehingga mengisi 60-
80% dari rongga pada kombinasi agregat dan bahan pengisi.
(3) Gradasi Optimum Campuran
Gradasi dari kombinasi agregat dengan bahan pengisi harus sedemikian rupa
sehingga memenuhi persyaratan. Kurva gradasi kombinasi harus sedemikian
rupa sehingga bila digambarkan tidak menunjukkan adanya penyimpangan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
171
yang tajam dan terletak dengan baik diantara batas-batas gradasi. Selanjutnya,
bentuk kurva pada bagian bawah kurva gradasi kombinasi (bahan yang lolos
ayakan 2,36 mm) harus sedemikian rupa sehingga tidak terdapat bagian yang
mempunyai persentase lolos ayakan tertentu menyimpang dari satu batas atau
batas terdekat, ke satu batas atau batas terdekat lainnya.

Tabel 4.13 Batas-batas Gradasi untuk Kombinasi Agregat dan Bahan Pengisi
pada Campuran AC
Ukuran ayakan Persentase Lolos
25 100
19 100
12,7 75-100
9,5 60-85
4,75 38-55
2,36 27-40
600 14-24
300 9-18
150 5-12
75 2-8
Sumber : RKS dan Spesifikasi DPU Bina Marga
(4) Pemeriksaan Variasi Kadar aspal
Suatu campuran yang mengandung agregat bergradasi terpilih harus diperiksa
dengan tidak kurang dari 5 variasi kadar aspal. Variasi kadar aspal harus
dipilih dengan penambahan 0,5% menurut berat, sekurang-kurangnya harus
terdapat dua variasi di atas dan dua variasi di bawah kadar aspal yang
diperkirakan. Benda uji harus diperiksa untuk stabilitas Marshall, Marshall
Flow, Berat Satuan dan Kadar Rongga Udara Pemeriksaan berikut harus
digambarkan :
- Stabilitas terhadap kadar aspal
- Flow terhadap kadar aspal
- Berat satuan terhadap kadar aspal
- Kadar rongga terhadap kadar aspal
- Kadar rongga pada agregat terhadap kadar aspal
(5) Penentuan Kadar Aspal Optimum Sementara

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
172
Kadar aspal optimum sementara adalah rata-rata dari nilai-nilai berikut yang
ditentukan dari penggambaran data.
- Kadar aspal yang memberikan stabilitas maksimum,
- Kadar aspal yang memberikan berat satuan maksimal,
- Kadar aspal yang memberikan kadar rongga udara 4,5%.
Campuran yang dipilih dengan cara ini disebut campuran kerja sementara.
(6) Penyesuaian Sifat campuran
Campuran kerja sementara harus diperiksa untuk meyakinkan bahwa
campuran tersebut memenuhi semua sifat yang ditentukan. Jika campuran
menyimpang dari setiap sifat yang ditentukan, variasi garadasi agregat, kadar
bahan yang mengisi atau jenis dan kadar bahan tambahan harus diselidiki
secara sistematis hingga diperoleh suatu campuran yang ekonomis dam
memenuhi syarat.
(7) Evaluasi terhadap Batas-batas Penyimpangan Produksi
Direksi Teknik akan menyiapkan, atau akan memerintahkan kepada
Kontraktor untuk menyiapkan, benda uji tambahan untuk menilai kerentanan
campuran kerja sementara terhadap penyimpangan gradasi kombinasi dan
kadar aspal yang memungkinkan terjadi selama produksi campuran. Untuk
keperluan ini harus disiapkan tiga benda uji tambahan untuk setiap
penyimpangan berikut terhadap campuran kerja sementara :
- Rancangan gradasi kombinasi agregat/ bahan pengisi ditambah
penyimpangan maksimum yang diperbolehkan dan rancangan kadar aspal
ditambah penyimpangan maksimum yang diperbolehkan.
- Rancangan gradasi kombinasi agregat/ bahan pengisi dikurangi
penyimpangan maksimum yang diperbolehkan dan rancangan kadar aspal
dikurangi penyimpangan maksimum yang diperbolehkan.
- Rancangan gradasi kombinasi agregat/ bahan pengisi ditambah
penyimpangan maksimum yang diperbolehkan dan rancangan kadar aspal
dikurangi penyimpangan maksimum yang diperbolehkan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
173
- Rancangan gradasi kombinasi agregat/ bahan pengisi dikurangi
penyimpangan maksimum yang diperbolehkan dan rancangan kadar aspal
ditambah penyimpangan maksimum yang diperbolehkan.
- Sifat-sifat dari setiap variasi campuran ini harus memenuhi semua batas
sifat yang disyaratkan. Jika campuran kerja sementara tidak dapat
memenuhi ketentuan ini, harus diselidiki penyesuaian rancangan campuran
selanjutnya. Campuran yang paling memenuhi syarat yang ditetapkan
dipilih sebagai campuran kerja.
5. Rancangan Jenis Campuran Lainnya
(1) Komposisi Umum dari Campuran
Campuran aspal terdiri dari agregat dan bahan aspal. Dalam beberapa hal,
penambahan bahan pengisi akan diperlukan untuk meyakinkan sifat-sifat
campuran dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan, akan tetapi umumnya
pemakaian bahan pengisi harus sesedikit mungkin.
(2) Proporsi Komponen Agregat
(a) Perlu diperhatikan bahwa fraksi rancangan tersebut pada umumnya tidak
sama dengan proporsi takaran yang diperlukan untuk agregat kasar,
pasir dan bahan pengisi tambahan. Dalam menetapkan pencampuran
yang benar/tepat dari beberapa agregat yang ada dan bahan pengisi
untuk menghasilkan Fraksi Rancangan yang diperlukan, maka gradasi
dari masing-masing agregat yang ada dan bahan pengisi harus
ditetapkan dengan penyaringan basah untuk menjamin pengukuran yang
teliti dari material yang lolos saringan 2,36 mm dan 75 micron.
(b) Penegasan campuran yang optimum dengan cara pengujian, bila perlu
dengan mengadakan penyesuaian dari resep campuran yang dipilih.
(c) Sebelum percobaan laboratorium dimulai, suatu resep campuran
nominal yang cocok terhadap bahan-bahan campuran yang diusulkan
harus diperkirakan atas dasar pertimbangan rancangan campuran
teoritis. Ditentukan perbandingan pencampuran agregat yang nominal,
kadar aspal dan kadar bahan pengisi yang ditambahkan kemudian
digunakan sebagai titik permulaan dan dasar referensi untuk variasi-

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
174
variasi campuran yang diselidiki dalam percobaan-percobaan
laboratorium dan jika diperkirakan secara tepat, maka akan
memudahkan dan memperbaiki ketepatan dari proses pengujian coba-
coba yang diperlukan di laboratorium.
(d) Campuran-campuran percobaan laboratorium harus disiapkan
berdasarkan resep campuran nominal tetapi dengan variasi dalam
perbandingan campuran agregat, kadar bahan pengisi yang ditambahkan
dan kadar aspal. Untuk setiap parameter yang akan diselidiki,
serangkaian contoh-contoh pengujian Marshall harus disiapkan dimana
satu atau dua dari angka parameter campurannya dicoba dengan
beberapa macam variasi, sedangkan parameter campuran lainnya
dipertahankan tetap pada nilai atau nilai-nilai yang diterapkan untuk
campuran nominal. Variasi-variasi campuran berikut yang harus
diselidiki :
(i) Variasi Campuran Agregat
Abu batu, paling tidak tiga perbandingan agregat kasar yang
terpisah, demikian pula paling tidak tiga campuran yang berbeda
dari perbandingan pasir alam dan agregat pecah. Perbandingan
campuran pasir terhadap abu batu harus dicoba dengan
perbandingan kira-kira 2:1 hingga 1:2. salah satu perbandingan
agregat kasar dan perbandingan pasir terhadap abu batu yang
dipilih harus merupakan nilai yang sesuai dengan campuran
nominal, sedangkan nilai-nilai lainnya harus dipilih, sehingga
kebutuhan batas-batas variasi tercakup dengan baik dan dengan
interval yang sama. Untuk semua variasi test agregat ini,
perbandingan campuran dan penambahan filler (bila ada) harus
dipegang pada nilai campuran nominal tertentu.
(ii) Variasi kadar aspal
Nilai-nilai kadar aspal sebesar 1% dan 2% (dari total campuran
aspal) di bawah kadar aspal dari campuran nominal harus dicoba,
dan juga nilai-nilai 1% dan 2% di atasnya.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
175
(iii) Variasi kadar bahan pengisi (filler) yang ditambahkan sebesar 2%
dan 4% di atas nilai campuran nominal harus dicoba, begitu juga
nol apabila nilai nominalnya belum juga mencapai nol.
(e) Apabila proses optimisasi campuran yang diuraikan di atas memerlukan
interpolasi yang cukup besar terhadap data pengujian, sehingga resep akhir
yang dipilih tidak sama dengan setiap resep yang sebenarnya selama
percobaan-percobaan tersebut, Direksi Teknik bisa memerintahkan agar
disiapkan satu percobaan campuran lagi dan diuji untuk memastikan sifat-
sifat dari campuran optimum yang sudah dipilih. Dengan membandingkan
hasil-hasil dari tes pemastian percobaan tunggal ini dengan hasil-hasil
yang diperoleh dari serangkaian campuran percobaan,maka selanjutnya
penyesuaian kecil dari resep campuran yang dipilih mungkin masih
diperlukan. Dengan cara yang sama, selama pengontrolan berturut-turut
atas kualitas campuran tersebut, modifikasi-modifikasi kecil dari resep
campuran dapat didasarkan secara mudah dengan hanya satu perbandingan
terhadap hasil-hasil pengujian tunggal (setiap pengujian memerlukan
paling sedikit tiga benda uji) dengan perluasan-perluasan (trends)
parameter campuran yang diperoleh dari percobaan-percobaan
laboratorium sebelumnya. Prosedur campuran percobaan yang lengkap
(seperti yang diuraikan di atas), meliputi pengujian paling sedikit 15
macam campuran yang berbeda, pada umumnya tidak perlu diulang
kecuali ada suatu perubahan besar dalam material-material campuran
(yaitu perubahan jenis agregat atau sumbernya, perubahan jenis mesin
pemecah, perubahan jenis aspal, dan sebagainya)
6. Rumus Campuran Kerja
(1) Persetujuan
(a) Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus menyerahkan kepada
Direksi Teknik rumus campuran kerja yang diusulkan secara tertulis,
untuk campuran yang akan digunakan di proyek. Formula yang
diserahkan harus menetapkan, ukuran nominal maksimum dari partikel,
sumber-sumber agregat, persentase dari gabungan agregat yang lolos

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
176
saringan 2,36 mm (no.8) dan 75 micron (no.200), jumlah total dan kadar
aspal efektif yang dinyatakan sebagai persentase berat dari campuran
total, satu temperatur yang pasti pada mana campuran harus dikeluarkan
dari pengadukan, dan satu temperatur yang pasti pada mana campuran
harus dikirim ke tempat penghamparan, yang mana semuanya harus
dalam batas komposisi umum dan batas-batas temperatur yang
ditentukan. Formula yang diusulkan harus didukung dengan data
campuran percobaan laboratorium.
(b) Dalam menyetujui campuran kerja, Direksi Teknik atas dasar
pertimbangannya dapat menggunakan formula yang diserahkan secara
keseluruhan atau sebagian, atau dapat meminta Kontraktor untuk
melaksanakan pengujian campuran percobaan tambahan atau untuk
menyelidiki alternatif agregat-agregat lainnya.
(c) Sewaktu menyetujui Rumus Campuran Kerja, Direksi Teknik akan
menunjuk agregat tertentu, dan sumber-sumbernya yang mendasari
formula campuran kerja yang diterapkan.
(2) Menyusul persetujuan atas Rumus Campuran Kerja oleh Direksi Teknik,
Kontraktor harus menghampar percobaan paling sedikit 8 ton dengan
menggunakan produk, peralatan penghampar dan prosedur yang diusulkan.
Apabila percobaan tersebut gagal memenuhi spesifikasi pada salah satu
aeginya perlu dibuat penyesuaian dan percobaan diulang kembali, pekerjaan
pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai hingga percobaan yang
memuaskan telah dilaksanakan dan disetujui oleh Direksi Teknik.
(3) Penerapan Formula Campuran Kerja dan Toleransi yang diijinkan
(a) Seluruh campuran yang dihasilkan harus sesuai dengan formula
campuran kerja yang ditetapkan oleh Direksi Teknik, dalam batas
tentang toleransi yang dipersyaratkan di bawah ini :
Toleransi Komposisi Campuran:
Gabungan agregat yang lolos
- saringan 9,5 mm : + 7% berat total campuran
- saringan 2,36 mm : + 5% berat total campuran

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
177
- saringan 150 micron : + 2% berat total campuran
- saringan 75 micron : + 1,5% berat total campuran
- kadar bahan aspal : + 3% berat total campuran
Toleransi temperatur:
- Material yang meninggalkan tempat pencampur : + 100C
- Material yang diterima di tempat penghamparan : + 100C
(b) Setiap hari Direksi Teknik harus mengambil contoh dari material dan
campuran atau contoh-contoh tambahan yang dianggap perlu untuk
pemeriksaan keseragaman yang diperlukan dari campuran.
(c) Jika terjadi perubahan dalam material atau bila ada perubahan dari sumber
material, suatu formula campuran kerja yang baru harus diserahkan dan
disetujui sebelum campuran yang mengandung material baru dikirimkan.
Material kerja akan ditolak bila ternyata mempunyai pori atau sifat-
sifatnya membutuhkan, untuk menghasilkan campuran yang seimbang
kadar aspal yang lebih tinggi atau lebih kecil pada batas yang
dipersyaratkan.
7. Persyaratan Peralatan Pelaksanaan
(1) Umum
Unit Pencampuran (Mixing Plant), yang dapat berupa pusat pencampuran
dengan penakaran (batching) atau pusat pencampuran menerus (continuous),
harus memiliki kapasitas yang cukup untuk melayani mesin penghampar
secara menerus (tidak terhenti-henti) sewaktu menghampar campuran pada
kecepatan normal dan ketebalan yang disyaratkan. Pusat pencampur harus
dirancang, yang disyaratkan dan dioperasikan sedemikian rupa untuk
menghasilkan campuran dalam batas toleransi Campuran Kerja.
(2) Timbangan pada Pusat Pencampur
(a) Timbangan untuk setiap kotak timbangan atau penampung seharusnya
berupa tipe pembacaan jarum tanpa pegas, dan harus merupakan
produksi rancangan standar yang ketepatannya berkisar 0.5% dari beban
maksimum yang diperlukan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
178
(b) Bila timbangan-timbangan tipe pembacaan jarum tanpa pegas
digunakan, ujung dari jarum harus dipasang sedekat mungkin dengan
permukaan dan harus berupa tipe yang bebas dari paralaks
(penyimpangan sinar) yang berlebihan. Timbangan harus dilengkapi
dengan petunjuk yang dapat disetel untuk memberi tanda berat masing-
masing material yang akan ditimbang ke dalam campuran. Timbangan
harus memiliki konstruksi yang kokoh, dan timbangan yang mudah
berubah harus diganti. Semua meteran harus diletakkan sedemikian rupa
sehingga selalu dapat terlihat secara mudah oleh operator.
(c) Timbangan untuk menimbang material aspal harus memenuhi
persyaratan sebagai timbangan agregat. Perbedaan minimum antara
angka-angkanya dalam segala hal harus tidak melebihi dari 1 kg.
Cakram pembacaan timbangan (meteran) untuk menimbang material
aspal harus memiliki kapasitas yang tidak lebih dari dua kali material
yang akan ditimbang dan harus dapat dibaca sampai satu kilogram yang
terdekat.
(d) Timbangan harus telah disetujui oleh Direksi teknik dan akan diperiksa
berulang kali, sebagaimana dianggap perlu oleh Direksi Teknik, untuk
selalu menjamin ketepatannya. Kontraktor harus menyediakan tempat
dan siap di tempat tidak kurang dari 10 buah beban standar seberat 20
kg untuk pengujian-pengujian penimbangan.
(3) Peralatan untuk penyiapan bahan aspal
Tangki untuk penyimpanan material aspal harus dilengkapi dengan pemanas
yang selalu dapat dikendalikan secara efektif dan positif sampai pada
temperatur dalam batas yang dipersyaratkan. Pemanasan harus dilakukan
dengan spiral uap (steam coils), listrik atau cara lainnya yang mana api harus
tidak berhubungan langsung dengan tangki pemanas. Sistem sirkulasi untuk
material aspal harus mempunyai ukuran yang memadai untuk menjamin
sirkulasi yang tepat serta menerus selama periode operasi. Suatu cara yang
tepat harus disediakan baik dengan selimut uap (steam jackets) ataupun cara
isolasi lainnya, untuk mempertahankan temperatur yang dipersyaratkan dari

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
179
material aspal di dalam saluran-saluran pipa, meteran, ember penimbang,
batang penyemprot dan tempat-tempat lainnya dari saluran pengaliran.
Dengan persetujuan tertulis dari Direksi Teknik, material aspal dapat
dipanaskan dahulu di dalam tangki dan kemudian temperatur dinaikkan
sampai temperatur yang dipersyaratkan dengan menggunakan alat pemanas
booster (penguat) yang berada diantara tangki dan pengadukan. Kemampuan
penyimpanan tangki harus 30.000 liter dan paling sedikit dua tangki
berkapasitas sama harus disediakan. Tangki-tangki tersebut harus
dihubungkan ke sistem sirkulasi sedemikian rupa sehingga masing-masing
tangki dapat diisolasi secara terpisah tanpa mengganggu sirkulasi aspal ke
pengadukan.
(4) Pemasok untuk Mesin Pengering (Feeder for Drier)
Harus disiapkan pemasok untuk masing-masing agregat yang akan dipakai
pada pencampuran. Pemasok untuk agregat halus harus dari tipe ban (belt
conveyor). Atas persetujuan Direksi teknik diperkenankan memakai tipe lain,
hanya jika alat tersebut hanya dapat mengangkut/menyalurkan bahan basah
pada kecepatan tetap tanpa menyebabkan terjadinya penyumbatan. Seluruh
pemasok (feeder) harus dikalibrasi dan demikian pula untuk bukaan pintu dan
pengatur kecepatan, untuk setiap campuran kerja yang disetujui, dan harus
jelas ditunjukkan pada pintu-pintu dan pada panel mesin pengendali. Sekali
ditetapkan, kedudukan dari pemasok tidak boleh diubah sama sekali tanpa
persetujuan dari Direksi Teknik
(5) Alat Pengering (Drier)
Alat pengering yang berputar dengan rancangan yang baik unyuk pengeringan
dan pemanasan agregat harus disediakan. Alat pengering tersebut harus
mampu mengeringkan dan memanaskan agregat mineral sampai ke temperatur
yang disyaratkan.
(6) Ayakan
Ayakan yang mampu menyaring seluruh agregat sampai ukuran dan proporsi
yang dipersyaratkan dan memiliki kapasitas normal sedikit di atas kapasitas
penuh dari pencampur, harus disediakan. Alat penyaring tersebut harus

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
180
memiliki efisiensi pengoperasian yang sedemikian rupa sehingga agregat yang
tertampung dalam setiap penampung (bin) tidak boleh mengandung lebih dari
10 % material yang berukuran terlampau besar atau terlampau kecil.
(7) Penampung (Bin)
Perlengkapan harus termasuk penampung-penampung (bins) yang
berkapasitas cukup untuk melayani pencampur sewaktu beroperasi pada
kapasitas penuh. Penampang harus dibagi paling sedikit dalam tiga bagian
(ruang) dan harus diatur untuk menjamin penyimpanan yang terpisah serta
memadai untuk masing-masing fraksi agregat, tidak termasuk bahan pengisi.
Masing-masing bagian (ruang) harus dilengkapi dengan pipa pengeluar yang
sedemikian rupa agar baik ukuran maupun lokasinya dapat mencegah
masuknya material ke dalam penampung lainnya. Penampung harus
dikonstruksi sedemikian rupa agar baik ukuran maupun lokasinya dapat
mencegah masuknya material ke dalam penampung lainnya. Penampung harus
dikonstruksi sedemikian rupa agar contoh (sampel) dapat diperoleh dengan
mudah.
(8) Unit Pengontrol Aspal
(a) Harus disediakan suatu cara yang memuaskan, baik dengan menimbang
atau mengukur aliran, untuk memperoleh jumlah yang tepat dari
material aspal di dalam campuran dalam batas toleransi yang
dipersyaratkan untuk campuran kerja itu.
(b) Perangkat pengukur aliran untuk material aspal haruslah tipe pompa
meteran aspal dengan sistem dengan pemindahan secara putar dan
positif. Dengan susunan penyemprot pada pencampur yang baik. Untuk
unit pencampur dengan takaran, harus dapat menyediakan kuantitas
aspal yang direncanakan untuk setiap takaran campuran. Untuk pusat
pencampur menerus, kecepatan operasi dari pompa harus disinkronkan
dengan aliran dari agregat ke dalam pencampur dengan pengendalian
pencucian otomatis, dan perangkat ini harus dapat disetel dengan mudah
dan tepat. Cara untuk memeriksa kuantitas atau kecepatan aliran dari
material aspal ke dalam pencampur harus disediakan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
181
(9) Perlengkapan Pengukur Panas
(a) Termometer yang dilindungi yang dapat digunakan dari 1000C sampai
2000C harus dipasang dalam saluran pemasukan aspal pada tempat yang
tepat dekat katup pengeluaran (discharge) pada unit pencampur.
(b) Unit harus juga dilengkapi dengan termometer dengan skala cakram tipe
air raksa (mercury actuated), pyrometer listrik atau perlengkapan
pengukur panas lainnya yang disetujui, yang dipasang pada corong
pengeluaran dari alat pengering untuk mencatat secara otomatis atau
menunjukkan temperatur dari agregat yang dipanaskan. Sebuah thermo
couple (pengukur listrik yang mengukur perbedaan temperatur) atau
tahanan lampu (resistance bulb) harus dipasang dekat dasar penampung
untuk mengatur temperatur agregat halus sebelum memasuki
pencampur.
(c) Untuk pengaturan temperatur agregat yang lebih baik, penggantian dari
setiap termometer dengan alat pencatat temperatur yang disetujui
mungkin diminta oleh Direksi Teknik, dan juga Direksi Teknik dapat
meminta grafik temperatue harian untuk disimpan sebagai arsip.
(10) Pengumpul Debu (Dust Collector)
Unit pencampur harus dilengkapi dengan alat pengumpul debu yang dibuat
sedemikian rupa agar membuang atau mengembalikaanya secara merata ke
elevator seluruh atau sebagian dari material yang dikumpulkannya,
sebagaimana diperintahkan Direksi Teknik.
(11) Pengendalian waktu pencampuran
Unit harus dilengkapi dengan cara yang positif untuk mengontrol waktu
pencampuran dan mempertahankannya terkecuali kalau diubah atas perintah
Direksi Teknik.
(12) Timbangan dan Rumah Timbang
Timbangan dan rumah timbang harus disediakan untuk menimbang truk
yang bermuatan material yang siap untuk dikirim ke tempat pekerjaan.
Timbangan tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai timbangan seperti
yang dijelaskan di atas

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
182
(13) Persyaratan Keselamatan Kerja
(a) Tangga yang memadai serta aman untuk landasan (platform)
pencampur dan tangga berpagar ke unit lainnya harus dipasang pada
seluruh tempat yang diperlukan utnuk menuju pengoperasian semua
alat-alat perlengkapan. Untuk mencapai bak dari truk harus disediakan
landasan atau perangkat lainnya yang sesuai untuk memungkinkan
Direksi Teknik memperoleh contoh serta data temperatur campuran.
Untuk memudahkan penanganan perlengkapan kalibrasi dari
timbangan, perlengkapan pengambil contoh dan lain-lain, suatu
kerekan atau sistem penarik harus disediakan untuk menarik turunkan
perlengkapan tersebut dari tanah ke platform atau sebaliknya. Semua
roda gigi, roda beralur, rantai, rantai gigi dan bagian bergerak lainnya
yang berbahaya harus selalu dipagar dan dilindungi dengan baik.
(b) Lorong yang cukup dan tidak terhalang harus selalu disediakan pada
dan sekitar tempat pemuatan truk. Tempat ini harus selalu dijaga agar
bebas dari jatuhan dari platform pencampur.
(14) Persyaratan Khusus untuk Unit Pencampur Menerus (Continuous Mixing
Plant)
(a) Unit Pengontrol Gradasi
Unit harus memiliki suatu alat untuk mengatur proporsi secara teliti
masing-masing penampung dengan ukuran agregat tertentu baik
dengan penimbangan atau dengan pengukuran volume. Bila
pengontrol gradasi dengan volume, unit ini harus mempunyai sebuah
pemasok (feeder) yang dipasang di bawah ruang penampung. Masing-
masing penampung harus memiliki pintu bukaan tersendiri yang
dikontrol secara teliti untuk membentuk lubang guna mengukur
volume material yang keluar dari masing-masing ruang/bidang
penampung. Lubang tersebut harus persegi, kira-kira berukuran
20x255 cm, dengan salah satu dimensinya dapat disetel dengancara
mekanis yang positif dan dilengkapi denganpengunci.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
183
Petunjuk/indikator harus disediakan untuk masing-masing lubang
untuk menunjukkan bukaan dalam centimeter.
(b) Kalibrasi dari berat pemasukan agregat
Unit ini harus mencakup perlengkapan untuk kalibrasi dari bukaan
lubang dengan cara pengujian penimbangan berat contoh sehingga
masing-masing material yang mengalir keluar dari penampung melalui
bukaan dapat dilewatkan secara memuaskan ke kotak-kotak penguji
yang cocok, masing-masing penampung material dibatasi secara
terpisah. Unit harus dapat menangani contoh uji seberat 150 kg atau
lebih, berupa gabungan contoh-contoh dari seluruh penampung, dan
tidak kurang dari 50 kg untuk setiap contoh dari satu penampung.
Sebuah timbangan landasan (platform) yang tepat yang berkapasitas
150 kg atau lebih harus disediakan.
(c) Sinkronisasi pemasukan agregat dan aspal
Suatu cara yang memuaskan harus disediakan yang mampu
melaksanakan kontrol saling mengunci antara aliran agregat dari
penampung dengan aliran aspal dari meteran atau sumber pengatur
lainnya. Kontrol ini harus disertai dengan cara penguncian mekanis
atau metode positif lainnya yang memuaskan Direksi Teknik.
(15) Peralatan pengangkut
(a) Truk untuk mengangkut campuran aspal harus mempunyai bak dari
logam yang rapat, bersih dan rata yang telah disemprot dengan sedikit
air sabun, minyak yang telah diencerkan, minyak tanah, atau larutan
kapur untuk mencegah melekatnya campuran ke bak. Jika ada
genangan minyak pada bak truk setelah penyemprotan harus dibuang
sebelum campuran dimasukkan ke dalam truk. Tiap muatan harus
ditutup dengan kanvas/terpal atau bahan lainnya yang cocok dengan
ukuran yang sedemikian rupa agar dapat melindungi campuran
terhadap cuaca.
(b) Truk yang menyebabkan segregasi yang berlebihan akibat sistem
pegasnya atau faktor lain, atau yang menunjukkan kebocoran oli yang

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
184
nyata, atau yang menyebabkan kelambatan yang tidak perlu, atas
perintah Direksi Teknik harus dikeluarkan dari pekerjaan sampai
kondisinya diperbaiki.
(c) Bila dianggap perlu, agar campuran yang dikirim ke tempat pekerjaan
pada temperatur yang dipersyaratkan, bak truk hendaknya diisolasi
untuk memperoleh temperatur dimana campuran mudah dikerjakan,
dan seluruh penutup harus diikat kencang.

(16) Peralatan penghampar dan pembentuk


(a) Peralatan penghampar dan pembentuk harus dari mesin mekanis yang
telah disetujui, mempunyai mesin sendiri yang mampu menghampar
dan membentuk campuran sampai sesuai dengan garis, permukaan
serta penampang melintang yang diperlukan.
(b) Mesin penghampar harus dilengkapi dengan penadah serta ulir
pembagi dari tipe yang berlawanan untuk menempatkan campuran
secara merata dimuka screed (sepatu) yang dapat disetel. Mesin ini
harus dilengkapi dengan perangkat kemudi yang cepat dan efisien dan
harus dapat bergerak mundur dan maju.
(c) Mesin penghampar harus mempunyai perlengkapan mekanis seperti
penyeimbang (equalizing runners), pisau (straight-edge runners),
lengan perata (evener arms), atau perlengkapan lainnya untuk
mempertahankan kelurusan permukaan dan kelurusan garis tepi
perkerasan tanpa perlu menggunakan pembentuk tepi yang tetap.
(d) Mesin penghampar harus dilengkapi dengan screed (sepatu) atau yang
dengan tipe vibrator yang dapat digerakkan dan perangkat untuk
pemanas screed pada temperatur yang diperlukan untuk
penghamparan campuran tanpa menggusur atau merusak permukaan.
(e) Istilah screed meliputi pemangkasan, penutupan atau tindakan praktis
lainnya yang efektif untuk menghasilkan permukaan akhir dengan
kerataan atau tekstur yang dipersyaratkan, tanpa terbelah, tergeser atau
beralur.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
185
(17) Peralatan pemadat
(a) Setiap mesin penghampar harus disertai dua mesin gilas baja (steel
wheel roller) dan satu mesin gilas ban bertekanan. Semua mesin gilas
harus mempunyai tenaga penggerak sendiri.
(b) Mesin gilas bertekanan (pneumatic tired roller) harus dari tipe yang
disetujui yang memiliki tidak kurang dari tujuh roda dengan ban halus
dengan ukuran dan konstruksi yang sama dan mampu beroperasi pada
tekanan 8,5 kg/cm2 (120 psi). Roda-roda harus berjarak sama satu
sama lain pada kedua garis sumbu dan diatur sedemikian rupa
sehingga roda pada sumbu yang satu jatuh diantara tanda roda yang
lainnya (tumpang tindih). Masing-masing ban harus dipertahankan
tekanannya pada tekanan operasi yang dipersyaratkan sehingga selisih
antara dua ban harus tidak melebihi 350 kg/cm2 (5 psi). Suatu alat
harus disediakan untuk memeriksa dan menyetel tekanan ban di
lapangan setiap saat. Untuk setiap ukuran dan tipe ban yang
digunakan, Kontraktor harus memberikan kepada Direksi Teknik
grafik atau tabel yang menujukkan hubungan antara beban roda,
tekanan ban, dan tekanan ban pada bidang yang menyentuh, lebar dan
luas. Masing-masing mesin gilas harus dilengkapi dengan suatu cara
penyetelan berat keseluruhannya dengan pengaturan beban
(ballasting) sehingga beban per lebar roda dapat diubah dari 1500
sampai 2500 kg. dalam operasi, tekanan ban dan beban roda harus
disetel sesuai dengan permintaan Direksi Teknik, untuk memenuhi
kebutuhan pemadatan tertentu. Pada umumnya pemadatan dari setiap
lapisan dengan mesin gilas ban bertekanan harus dengan tekanan yang
setinggi mungkin yang dapat dipikul material.
(c) Mesin gilas yang dapat bergerak sendiri dapat dibagi dalam tiga tipe :
- mesin gilas tiga roda
- mesin gilas dua roda tandem
- mesin gilas tandem dengan tiga sumbu

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
186
Mesin gilas harus mampu menimbulkan beban tekanan pada roda
belakang tidak kurang dari 400 kg per 0,1 m selebar minimum roda
0,5 m. Paling sedikit satu dari mesin gilasnya mampu menimbulkan
tekanan gilas sebesar 600 kg per 0,1 m lebar. Mesin gilas harus bebas
dari permukaan yang datar (flat) penyok, robek-robek atau tonjolan
yang akan merusak permukaan perkerasan.

8. Pembuatan dan Produksi Campuran


(1) Kemajuan Pekerjaan
Tidak ada pencampuran takaran yang boleh dilakukan bila tidak cukup
tersedia peralatan pengangkutan, penghamparan atau pembentukan, atau buruh
yang cukup, untuk menjamin kemajuan dengan kecepatan tidak kurang dari
60% kapasitas alat pencampur.
(2) Penyiapan material aspal
Material aspal harus dipanaskan sampai temperatur antara 1400C dan 1600C di
dalam tangki yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencegah
terjadinya pemanasan setempat dan mampu mengalirkan bahan aspal secara
berkesinambungan pada temperatur yang merata setiap saat, ke alat
pencampur. Sebelum operasi pencampuran dimulai setiap hari, harus paling
sedikit ada 30.000 liter aspal panas yang siap untuk dialirkan ke pencampur.
(3) Penyiapan Agregat
(a) Agregat untuk campuran harus dikeringkan dan dipanaskan pada alat
pengering sebelum dimasukkan ke dalam alat pencampur. Api yang
digunakan untuk pengeringan dan pemanasan harus diatur secara tepat
untuk mencegah rusaknya agregat dan mencegah terbentuknya selaput
jelaga pada agregat.
(b) Bila dicampur dengan material aspal, agregat tersebut harus kering dan
pada rentang temperatur yang dipersyaratkan untuk material aspal, tetapi
tidak lebih dari 140C di atas material aspal.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
187
(c) Bahan pengisi tambahan (filler), jika diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan gradasi, harus ditakar secara terpisah dari penampung kecil
yang dipasang tepat di atas pencampur. Menaburkan bahan pengisi di
atas tumpukan agregat atau menumpahkannya ke dalam penampung
pada alat pemecah batu tidak diijinkan.
(4) Penyiapan campuran.
Agregat kering yang disiapkan seperti yang dijelaskan di atas, harus digabung
di unit pengolah dalam proporsi yang menghasilkan fraksi agregat rancangan
sesuai dengan yang disyaratkan dalam rumusan campuran kerja. Proporsi
takaran ini harus ditentukan dari penyaringan basah pada contoh yang diambil
dari penampung panas (hot bin) segera sebelum produksi campuran dimulai
dan pada selang waktu tertentu sesudahnya, sebagaimana ditetapkan oleh
Direksi Teknik, untuk menjamin mutu dari penakaran campuran. Material
aspal harus ditimbang atau diukur dan dimasukkan ke dalam alat pencampur
dengan jumlah yang ditetapkan oleh Direksi Teknik. Bila digunakan alat
pencampur batch, agregat harus dicampur secara menyeluruh dalam keadaan
kering, baru sesudah itu aspal dengan jumlah yang tepat ditambahkan ke
dalam agregat tersebut dan keseluruhannya diaduk selama paling sedikit 45
detik, atau lebih lama lagi jika diperlukan, untuk menghasilkan campuran
yang merata dan seluruh butir agregat tersebut terselaput secara merata. Total
waktu pencampuran harus ditetapkan oleh Direksi Teknik dan diatur dengan
alat pengatur waktu yang sesuai. Untuk unit pencampur menerus, waktu
pencampuran yang dibutuhkan harus juga paling sedikit 45 detik dan dapat
diatur dengan menetapkan alat pengukur minimum dalam unit pencampur dan
atau dengan setelan unit pencampur lainnya.
(5) Pengangkutan dan penyerahan di tempat kerja
Masing-masing kendaraan yang telah dimuati harus ditimbang di tempat
pencampuran, dan harus dibuat catatan yang menyangkut berat kotor, berat
kosong, berat netto dari tiap muatan. Muatan tidak boleh dikirim terlalu sore
agar penyelesaian penghamparan dan pemadatan campuran sewaktu hari
masih terang terkecuali tersedia penerangan memuaskan.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
188
Tabel 4.14 Persyaratan Batas untuk Viskositas Aspal dan Suhu Campuran Aspal
Pencampuran benda uji Marshall 170+20 155 145
Pemadatan benda uji Marshall 280+30 140 130
Suhu pencampuran Max di AMP <165 <155
Mengosongkan pencampur AMP ke 100-400 >135 >125
dalam truk
Penyerahan ke Paver 400-1000 150-120 140-110
Penggilasan Break Down (silinder baja) 1000-1800 125-110 111-102
Penggilasan kedua (ban karet) 1800-10000 110-95 102-83
Penggilasan akhir (silinder baja) 10000- 95-80 83-63
100000

9. Penghamparan Campuran
(1) Menyiapkan permukaan yang akan dilapisi
(a) Sesaat sebelum penghamparan campuran aspal, permukaan yang ada
harus dibersihkan dari material yang lepas dan yang tidak dikehendaki
dengan sapu mesin, dan dibantu dengan cara manual (dengan tangan)
jika diperlukan.
(b) Bila permukaan yang akan dilapis, terdapat ketidakrataan itu rusak, atau
menunjukkan ketidakstabilan, atau mengandung material permukaan
lama yang telah rusak secara berlebihan atau tidak melekat dengan baik
ke perkerasan di bawahnya, harus dibuat rata ternebih dahulu
sebagaimana diperintahkan, seluruh material yang lepas atau lunak
harus dibuang, dan permukaannya dibersihkan dan atau diperbaiki
dengan campuran aspal atau material lain kemudian dipadatkan.
Toleransi permukaan setelah diperbaiki harus sama dengan yang
diperlukan untuk konstruksi pondasi agregat.
(2) Sepatu (screed) tepi
Balok kayu atau kerangka lain yang disetujui harus dipasang sesuai dengan
garis serta ketinggian yang diperlukan pada tepi-tepi dari tempat dimana
campuran aspal panas akan dihampar.
(3) Penghamparan dan Pembentukan
(a) Sebelum memulai operasi pelapisan, sepatu (screed) dari mesin
penghampar harus dipanaskan. Campuran harus dihampar dan diratakan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
189
sesuai dengan kelandaian, elevasi, serta bentuk melintang yang
disyaratkan.
(b) Mesin pennghampar harus dioperasiakn pada suatu kecepatan yang tidak
menyebabkan retak permukaan, belahan atau bentuk ketidakrataan
lainnya pada permukaan.
(c) Jika terjadi segregasi, belahan atau alur pada permukaan mesin
penghampar harus dihentikan dan tidak dijalankan lagi sampai
penyebanya telah ditemukan dan diperbaiki. Tempat-tempat yang kasar
atau tersegregasi dapat diperbaiki dengan menaburkan bahan yang halus
(fine) dan perlahan-lahan diratakan. Perataan (raking) kembali
sebaiknya dihindari sedapat mungkin. Butir-butir kasar tidak boleh
ditaburkan di atas permukaan yang dihampar dengan rapi.
(d) Harus diperhatikan agar campuran tidak terkumpul dan mendingin pada
tepi-tepi penadah atau tempat lainnya di mesin.
(e) Di mana jalan akan di aspal hanya separuh dari lebarnya untuk setiap
operasi, urutan pengaspalan itu harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga panjang pengaspalan setengah lebar jalan itu pada akhir setiap
hari kerja dibuat sependek mungkin.
(4) Pemadatan
(a) Segera setelah campuran dihampar dan diratakan, permukaannya harus
diperiksa dan setiap ketidakrataan diperbaiki. Temperatur campuran
yang terhampar dalam keadaan lepas harus dimonitor dan penggilasan
harus dimulai dalam batas viskositas aspal.
(b) Penggilasan campuran harus terdiri dari tiga operasi yang berbeda
sebagai berikut :
Waktu setelah penghamparan
1. Penggilasan awal atau pemechana 0-10 menit
2. Penggilasan sekunder atau antara 10-20 menit
3. Penggilasan akhir atau penyelesaian 20-45 menit
(c) Penggilasan awal atau pemecahan dan penggilasan akhir atau
penyelesaian harus seluruhnya dilakukan dengan mesin gilas ban angin.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
190
Mesin gilas pemecah harus beroperasi dengan roda penggerak berada di
arah mesin penghampar.
(d) Penggilasan sekunder atau antara harus mengikuti sedekat mungkin
penggilasan pemecah dan harus dilakukan sewaktu campuran masih
berada pada temperatur yang akan menghasilkan pemadatan maksimum.
Pemadatan akhir harus dilakukan sewaktu material masihberada dalam
kondisi yang masih dapat dikerjakan untuk menghilangkan bekas tanda-
tanda penggilasan.
(e) Sambungan melintang harus digilas ke arah melintang dengan
menggunakan papan (di tepi perkerasan) yang mempunyai ketebalan
yang diperlukan untuk menyediakan ruang gerak mesin gilas di luar
batas perkerasan. Bila sambungan memanjang tersebut untuk suatu jarak
yang pendek.
(f) Pada sambungan penggilasan harus dimulai ke arah memanjang dan
selanjutnya pada tepi luar dan sejajar dengan sumbu jalan ke arah tengah
jalan, kecuali pada superelevasi pada tikungan harus dimulai pada
bagian yang rendah dan bergerak ke arah bagian yang tinggi. Lintasan
yang berurutan harus saling menutupi dengan ppaling sedikit setengah
dari lebar roda dan lintasan harus tidak berakhir pada titik yang berjarak
kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya. Usaha penggilasan
harus diutamakan pada tepi luar dari lebar yang dihampar.
(g) Ketika menggilas sambungan memanjang, mesin gilas pemecah harus
terlebih dahulu pindah ke jalur yang telah dihampar sebelumnya
sehingga tidak lebih dari 15 cm dari roda penggerak akan menggilas tepi
yang belum dipadatkan. Mesin gilas harus meneruskannya sepanjang
jalur ini, dengan menggeser posisinya sedikit demi sedikit melewati
sambungan dengan beberapa lintasan, sampai tercapai sambungan yang
terpadatkan dengan rapi.
(h) Kecepatan dari mesin gilas tidak melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan
15 km/jam untuk ban angin dan kecepatannya harus selalu cukup rendah
sehingga tidak mengakibatkan tergesernya campuran panas tersebut.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
191
Arah dari penggilasan harus tidak berubah secara tiba-tiba begitu pula
arah dari penggilasan harus tidak terbalik secara tiba-tiba, yang akan
menyebabkan tersorongnya campuran.
(i) Penggilasan harus berlangsung secara menerus sebagaimana diperlukan
untuk memperoleh pemedatan yang merata sewaktu campuran masih
dalam kondisi yang dapat dikerjakan dan hingga seluruh bekas tanda
gilasan dan ketidakrataan hilang.
(j) Untuk mencegah pelekatan campuran ke roda mesin gilas, roda tersebut
harus dibasahkan secara menerus, tetapi air yang berlebihan tidak
diijinkan.
10. Pengendalian dan Pengujian Mutu di Lapangan
(1) Pengujian permukaan dari perkerasan
(a) Permukaan harus diuji dengan mistar penyipat yang panjangnya 3 m,
yang disediakan oleh Kontraktor, diletakkan masing-masing secara
tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan. Kontraktor harus
menugaskan beberapa pegawainya untuk menggunakan mistar untuk
memeriksa seluruh permukaan.
(b) Pengujian-pengujian untuk memeriksa apakah bentuk permukaan telah
memenuhi ketinggian yang dipersyaratkan harus dilakukan segera
setelah pemadatan awal, dan perbedaan harus diperbaiki dengan
membuang atau menambah material sebagaimana diperlukan.
Selanjutnya penggilasan akhir, kehalusan dari lapisan harus diperiksa
kembali dan setiap ketidakrataan dari permukaan yang melewati batas
toleransi yang disebutkan di atas, serta lokasi-lokasi yang mempunyai
kerusakan tekstur, kepadatan atau komposisi harus diperbaiki.
(2) Pengambilan contoh untuk pengendalian satu campuran
(a) Contoh-contoh di bawah ini harus diambil untuk pengujian harian :
(i) Agregat dari hot bin untuk gradasi-gradasi hasil pencucian.
(ii) Gabungan agregat panas untuk gradasi-gradasi hasil pencucian.
(iii) Campuran aspal untuk ekstraksi dan stabilitas Marshall.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
192
(b) Sebagai tambahan, bila mengganti formula campuran kerja, atau
sewaktu-waktu sebagaimana diperintahlkan oleh Direksi teknik, contoh
tambahan untuk (i), (ii) dan (iii) akan diambil untuk memungkinkan
penetuan bulk specific gravity untuk agregat dari hot bin dan kerapatan
teoritis maksimum dari campuran aspal.
(3) Pengujian penegendalian mutu campuran
(a) Kontraktor harus menyimpan catatan dari seluruh pengujian dan catatan-
catatan ini harus dikirim dengan segera ke Direksi Teknik.
(b) Kontraktor harus menyampaikan kepada Direksi Teknik hasil-hasil dan
catatan-catatan pengujian yang berikut, yang dilaksanakan pada tiap hari
produksi bersama dengan lokasi yang tepat dimana produksi tersebut
dihampar.
(i) Analisa saringan (metode pencucian) untuk paling sedikit dua
contoh dari setiap Hot Bin.
(ii) Analisa saringan (metode pencucian) untuk paling sedikit dua
contoh dari gabungan agregat panas.
(iii) Temperatur dari campuran sewaktu pengambilan contoh di pusat
pencampur dan di atas jalan (setiap satu jam).
(iv) Kerapatan dari campuran yang dipadatkan di laboratorium
(kerapatan Marshall) untuk paling sedikit dua contoh.
(v) Kerapatan dari pemadatan dan persentase pemadatan dari
campuran dibandingkan dengan kerapatan Marshall di
laboratorium untuk paling sedikit dua contoh.
(vi) Stabilitas Marshall serta leleh (flow) dan hasil angka perbandingan
Marshall, seperti didefinisikan dalam Pasal 6.3.3 untuk paling
sedikit dua contoh.
(vii) Kadar aspal dan gradasi agregat dari campuran seperti yang
ditetapkan dari pengujian ekstraksi aspal untuk paling sedikit dua
contoh.
11. Pengukuran dan Pembayaran
(1) Pengukuran Pekerjaan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
193
(a) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran Campuran Aspal haruslah
didasarkan pada beberapa pengaturan di bawah ini :
(i) Untuk bahan lapisan permukaan (AC) jumlah meter persegi dari
material yang dihampar dan diterima, yang dihitung sebagai
hasil perkalian dari panjang penampang diukur dan lebar yang
diterima.
(ii) Untuk bahan lapisan perkuatan (misalnya ATB) jumlah meter
kubik dari material yang telah dihampar dan diterima, yang
dihitung sebagai hasil perkalian dari luas bagian yang diukur dan
tebal nominal rancangan.
(b) Kuantitas yang diterima untuk pengukuran harus tidak meliputi lokasi-
lokasi dimana tebal dari Campuran Aspal kurang dari tebal minimum
yang dapat diterima atau setiap bagian yang terkelupas, belah, retak atau
menyempit (tapered) di sepanjang tepi perkerasan atau di tempat
lainnya. Lokasi-lokasi yang materialnya memiliki kadar aspal di bawah
kebutuhan yang disetujui tidak akan diterima untuk pembayaran.
(c) Lebar hamparan campuran aspal yang akan dibayar harus seperti yang
ditunjukkan dalam gambar rencana atau yang disetujui Direksi Teknik
dan harus ditetapkan dengan menggunakan pita ukur yang dilakukan
Kontraktor di bawah pengawasan Direksi Teknik dan harus ditetapkan
dengan menggunakan pita ukur yang dilakukan Kontraktor di bawah
pengawasan Direksi Teknik. Pengukuran harus dilakukan tegak lurus
dengan sumbu jalan dan harus tidak termasuk tiap bagian hamparan
material yang tipis atau tidak memuaskan sepanjang tepi dari hamparan
campuran aspal. Selang jarak pengukuran memanjang harus seperti yang
diperintahkan Direksi Teknik tetapi harus selalu berjarak sama dan tidak
kurang dari 20 m. Lebar yang akan digunakan dalam hitungan luas
untuk keperluan pembayaran untuk setiap bagian perkerasan yang
diukur, harus merupakan angka rata-rata dari ukuran lebar yang akan
diukur dan disetujui.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
194
(d) Panjang jalan (arah memanjang), yang menggunakan lapisan perkerasan
Campuran Aspal harus ditentukan dari pengukuran sepanjang sumbu
jalan, dengan menggunakan prosedur pengukuran teknik standar.
(e) Kadar aspal rata-rata dari Campuran Kerja, seperti yang diperoleh dari
hasil pemeriksaan ekstraksi di laboratorium, harus sama dengan atau
lebih besar dari kadar aspal yang ditetapkan dalam formula campuran
kerja untuk semua campuran aspal yang akan diperhitungkan dalam
pengukuran untuk pembayaran.

(2) Dasar Pembayaran


Kuantitas-kuantitas yang ditetapkan dari perhitungan di atas akan dibayar
dengan harga kontrak persatuan ukuran, untuk mata pembayaran yang
ditunjukkan di bawah dan dalam Daftar Penawaran, dimana harga-harga dan
pembayaran-pembayarannya harus merupakan kompensasi penuh untuk
mengadakan, memproduksi dan mencampur serta menghampar semua
material, termasuk semua buruh, peralatan, pengujian-pengujian, perkakas dan
pelengkap-pelengkap lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan
yang dicantumkan dalam Pasal ini.

4.9 PEKERJAAN MINOR DAN PERLENGKAPAN JALAN


1. Umum
(1) Uraian
Pekerjaan ini akan terdiri dari pengadaan, perakitan dan pemasangan dari
penggantian atau penambahan perlengkapan jalan, seperti rambu-rambu
jalan, patok pengaman, rel pengaman dan patok kilometer dan pemasangan
marka jalan pada tempat-tempat seperti ditunjukkan gambar rencana.
Pekerjaan pemasangan perlengkapan jalan termasuk semua yang diperlukan
untuk penggalian, pondasi, pengurugan kembali, pemasangan, pengencang
dan penunjangan.
(2) Penerbitan Gambar Rencana Penempatan dan Detail Konstruksi

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
195
Gambar rencana penempatan yang menunjukkan tempat-tempat
perlengkapan jalan dan marka jalan dan detail konstruksi dari semua macam
perlengkapan jalan yang tidak termasuk dalam Dokumen Kontrak pada saat
pelelangan akan dipersiapkan oleh Direksi Teknik.
(3) Pelaporan
(a) Serahkan satu liter kaleng contoh setiap warna dan jenis cat untuk
mendapat persetujuan bersama dengan hal khusus untuk setiap jenis
cat sebagai berikut:
- Komposisi (analisa dengan berat)
- Jenis pemakaian (Panas atau dingin)
- Jenis dan cara pemasangan bahan maksimum bahan
pengecer
- Waktu pengeringan (Untuk pengecatan ulang)
- Pelapisan yang disarankan
- Daya tahan terhadap panas
- Perincian dari lapisan dasar / lapis perekat atau lapis
pengikat yang diperlukan
- Umur kemasan (umur dari produk)
- Batas waktu kadaluwarsa
(b) Serahkan satu patok baja yang digalvanisir untuk rambu jalan.
(c) Serahkan satu lembar plat marka yang telah lengkap di cat.
(d) Serahkan 0,2 m potongan rel pengaman yang sudah digalvanisir.
(e) Bila paku jalan diperlukkan serahkan contoh paku jalan tersebut.
(4) Jadwal Pekerjaan
Agar dapat memelihara keamanan jalan sebaik mungkin selama periode
kontrak, penggantian atau pemasangan rambu jalan, patok pengaman, dan
patok kilo meter harus dipasang dan marka jalan harus dicat dalam waktu
enam bulan pertama.
(5) Perbaikan dan Pekerjaan yang tidak memuaskan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
196
Setiap macam perlengkapan atau daerah marka jalan yang tidak memenuhi
persyaratan Spesifikasi atau menurut pendapat Direksi Teknik tidak
memuaskan, harus diperbaiki ulang oleh kontraktor dengan usaha sendiri.
(6) Pemeliharaan Pekerjaan yang telah diterima
Kontraktor juga harus bertanggung jawab terhadap pemeliharaan rutin untuk
semua perlengkapan jalan yang telah selesai dan diterima selama masa
periode kontrak, termasuk periode jaminan.
2. Material
(1) Penyimpanan Cat
(a) Semua cat harus disimpan menurut petunjuk pabrik
(b) Semua cat harus digunakan sesuai umur kemasan
untuk menjamin bahwa hanya produk yang masih segar digunakan
dalam batas waktu yang diisyaratkan oleh pabrik pembuat.
(2) Plat Rambu Jalan
Dari bahan logam campuran alumunium, lembar plat, logam campuran keras
5052-H34 yang memenuhi ASTM B 221, dan mempunyai ketebalan
minimum 2 mm.
(3) Bingkai Plat dan Penguat Rambu Jalan
Dari bahan logam campuran alumunium berbentuk potongan – potongan
dengan No. 6063-T6 sesuai persyaratan ASTM B 221 . Penguat plat rambu
lalu lintas harus dilaksanakan bila ukurannya melebihi 1 meter.
(4) Patok Rambu
Dari pipa baja digalvanisir secara panas, sesuai persyaratan ASTM A 120
dengan diameer minimum 40 mm.
(5) Perangkat keras, Sekrup, Mur, Baut dan Cincin
Dari bahan alumunium atau baja tahan karat untuk baja berkuwalitas tinggi
untuk tiang rambu dan pengaman yang digalvanisir.
(6) Cat utuk perlengkapan Jalan
Seluruh bahan cat dasar, cat dan bahan cat mengkilap yang akan digunakan
pada persiapan rambu – rambu, tiang – tiang dan perlengkapannya harus dari
bahan mutu baik.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
197
Cat untuk bahan baja harus dari oksida seng kadar tinggi mengandung
minimal 7 oksida send (acivular type) per 100 liter cat.Disarankan untuk
keseragaman cat maka sebaiknya dipakai cat dasar, cat pelebur dan cat untuk
pengecatan akhir dari pabrik yang sama.
(7) Cat untuk Perlengkapan Jalan
Harus dengan rancangan yang disetujui sesuai sampel yang diserahkan dan
harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
- Jenis : tidak memantul
- Kepala : 10 cm Persegi
- Kaki : panjang, penampang melintang dan bentuk harus
sedemikian rupa untuk menjamin penguncian yang kokoh
terhadap perkerasan jalan. Bahan dari logam cor atau
tempaan.
- Permukaan : bagian muka kepala dengan satin 100.
3. Pelaksanaan
(1) Pemasangan Patok, Marka
Jumlah, jenis dan lokasi setiap marka jalan, patok pengarah,patok kilometer
harus menurut petunjuk Direksi Teknik.
(2) Pengecatan Patok - patok
Semua patok kilometer dan patok pengarah harus dicat dengan satu kali cat
dasar, sekali dengan cat bawah dan terakhir dengan cat mengkilap sesuai
petunjuk Gambar Rencana.
(3) Pengecatan Plat Rambu Jalan
Semua pengecatan pada plat rambu jalan harus dilaksanakan dengan cara
semprotan diatas permukaan plat yang kering dan telah disiakan.
(4) Pengecatan Marka Jalan
(a) Penyiapan Permukaan Jalan Sebelum marka–marka dipasang atau
pelapisan cat dilaksanakan, permukaan perkerasan yang akan dicat
harus bersih, kering dan bebas dari bekas–bekas gemuk dan debu.
(b) Pemakaian Cat Marka Jalan

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
198
(i) Semua pemakaian cat secara dingin harus
diaduk di lapangan menurut ketentuan pabrik pembuat sesaat
sebelum dipakai agar bahan pewarna tercampur merata didalam
suspensi.
(ii) Cat tidak boleh dipasang pada permukaan
yang dilapis kurang dari 3 bulan setelah pemberian lapisan labur
atau pelapisan laston.
(iii) Ukuran yang tepat dan kedudukan semua marka jalan harus
ditempatkan dan diberi tanda pada perkeraan sebelum cat
dipakai.
(iv) Cat harus dipakai untuk sumbu jalan, garis pemisah jalur, garis
batas perkerasan dan garis Zebra Cross dengan memakai alat
mesin mekanis yang disetujui, bergerak dengan mesin sendiri,
jenis penyemprot otomatis yang mampu membuat garis-garis
putus secara otomatis.
(v) Bila pengecetan dengan mesin tidak memungkinkan, Direksi
Teknik dapat membolehkan marka jalan dibuat dengan kuas
tangan, disemprot atau dicetak sesuai dengan bentuk konfigurasi
dan jenis cat yang disetujui untuk digunakan.
(vi) Kristal gelas harus diberikan pada permukaan cat jalan segera
setelah cat tersebut dioleskan. Semua kristal gelas harus dipasang
dengan tekanan atau dengan takaran semprotan 450 gr/m2.
(vii) Semua marka jalan harus dilindungi dari arus lalu lintas hingga
cukup kering dengan demikian tidak ada yang terkelupas atau
terkena jejak roda.
(viii) Semua marka jalan yang tidak tampak memuaskan dan merata
pada siang dan malam hari, diperbaiki dengan biaya kontraktor.
(ix) Syarat-syarat pada seksi 1.8, mengenai Pemeliharaan arus Lalu
Lintas harus dilakukan sedemikian rupa untuk menjamin
keamanan terhadap masyaakat pemakai jalan ketika operasi
marka jalan sedang berlangsung.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507
BAB IV RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
199
4.9.1 Pengukuran dan Pembayaran
(1) Metode Pengukuran
(a) Kuantitas yang akan dihitung untuk marka jalan, patok pengarah dan
patok kilometer harus didasarkanjumlah nyata dari marka jalan
(termasuk patok tiang), patok pengarah ddan patok kilometer yang telah
selesai dan dipasang serta diterima oleh Direksi Teknik sesuai Gambar
Rencana.
(b) Kuantitas marka jalan yang dibayar harus merupakan jumlah meter
persegi pengecatan jalan yang dilaksanakan pada permukaan jalan
sesuai Gambar Rencana.
(2) Dasar Pembayaran
Kuantitas yang diukur seperti tersebut diatas, harus dibayar dengan harga
satuan Kontrak per satuan pengukuran untuk mata pengamatan Pembayaran
yang tertera dibawah dan diberikan dalam jadwal penawaran, dimana
pengadaan material, pekerja, mesin-mesin peralatan dan keperluan insidental
intuk pelaksanaan pekerjaaan yang memuaskan seperti dalam sub bab dari
spesifikasi ini.

Laporan Kerja Proyek


Perencanaan Ruas Jalan Rembang – Bulu STA 112+407 - 114+507