Kesadaran Melahirkan di Sarana Kesehatan Rendah

Selasa, 26 Jan 2010 20:08:48 WIB | Oleh : Zuhdiar Laeis ANTARA - Dinas Kesehatan Jawa Tengah menilai, kesadaran para ibu untuk melahirkan atau bersalin di sarana kesehatan yang tersedia hingga saat ini masih tergolong rendah. "Banyak ibu yang memilih melahirkan di rumah dengan memanggil bidan karena menganggap lebih nyaman dan murah," kata Kepala Seksi Manajemen Informasi Dinkes Jateng, Suwandi Sawadi di Semarang, Selasa. Padahal, kata dia, hal itu sangat beresiko tinggi, mengingat tempat untuk proses kelahiran tersebut yang belum tentu bersih dan alat medis yang digunakan para bidan tentunya terbatas. Menurut dia, akibat rendahnya tingkat kesadaran para ibu untuk melahirkan di sarana kesehatan yang lebih memadai itu, mengakibatkan angka kematian ibu (AKI) sampai saat ini masih tinggi. "Keinginan untuk melahirkan di rumah itu sangat dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya di masyarakat," katanya. Namun, kata dia, penyebab masih tingginya AKI juga disebabkan banyak faktor, seperti umur ibu yang terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak melahirkan, dan terlambat dirujuk. Ia mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya untuk menekan AKI, meskipun menurut data terakhir rata-rata AKI di Jateng sebesar 114,42/100.000 kelahiran pada 2008, menurun dibandingkan 2007 sebesar 116,34/100.000. Daerah yang memiliki AKI tertinggi pada 2008 adalah Kabupaten Batang sebesar 206,95/100.000 kelahiran, disusul Kabupaten Blora sebesar 192,79/100.000 kelahiran, dan Kabupaten Pekalongan 173,72/100.000 kelahiran. "Kalau AKI secara nasional memang sudah di atas 200/100.000 kelahiran, namun kami terus menyosialisasikan tentang pentingnya melahirkan di sarana kesehatan agar lebih aman," katanya. Selain itu, kata dia, pihaknya juga terus melakukan penelitian tentang penyebab AKI untuk dicarikan solusi, terutama untuk memenuhi target AKI secara nasional sebesar 102/100.000 kelahiran. Menurut dia, sosialisasi untuk menekan AKI terus dilakukan melalui Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), yakni dengan memeriksakan kehamilan pada ahli kesehatan secara rutin. "Pemeriksaan kehamilan harus dilakukan secara rutin untuk menghindari resiko tinggi saat melahirkan, dan upaya ini tentunya memerlukan dukungan ibu hamil, tenaga kesehatan,

Direktur Pelaksana Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jateng. dan masyarakat.000 kelahiran. Farid Husni juga mengatakan. "Informasi yang diterima masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil terkait kehamilan beresiko dan membutuhkan penanganan khusus selama ini masih kurang. h Baca Ketentuan y y y y y y y Ikuti di Twitter! ." katanya.keluarga." kata Farid. tingkat AKI di Indonesia memang masih tinggi. Sebelumnya. mencapai 207/100. sehingga beresiko meningkatkan AKI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful