Anda di halaman 1dari 37

SKRIPSI

JUDUL : ANALISIS PERGESERAN SEKTOR - SEKTOR


EKONOMI DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN
1994 - 2002
PELAKSANA : NOVA ANDY CAHYO PURNOMO
NPM : 0231020901/E

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan daerah sebagai integral dari pembangunun nasional


dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber daya
nasional yang memberikan kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan
kinerja daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju
masyarakat yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme ( undang-undang
otonomi daerah, 1999 ). Penyelenggaraan pemerintah daerah sebagai sub
sistem pemerintah negara dimaksudkan untuk meningkatkan daya guna dan
hasil guna penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat sebagai
otonomi. Daerah mempunyai kewenangan dan tanggung jawab
menyelenggarakan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip
keterbukaan, partisipasi masyarakat, dan pertanggungjawaban kepada
masyarakat.
Kunci pembangunan daerah dalam mencapai sasaran pembangunan
nasional secara efisien dan efektif adalah perencanaan koordinasi dan
keterpaduan antara sektor pembangunan, sektor tersebut di daerah disesuaikan
dengan kondisi dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Tujuan
pembangunan dalam kebijakan pembangunan daerah adalah untuk
menyelaraskan pertumbuhan dan mengurangi kesenjangan dan tingkat
kemajuan antar daerah, melalui pembangunan serasi dan terpadu antar sektor
pembangunan daerah yang efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian
daerah.
Secara makro pertumbuhan atau PDRB dari tahun ke tahun merupakan
salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan daerah dimana dalam hal
ini PDRB dikategorikan dalam berbagai sektor ekonomi yaitu :
1. Sektor Pertanian
2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
3. Sektor Industri Pengolahan
4. Sektor Listrik,Gas, Dan Sektor Air Bersih
5. Sektor Bangunan
6. Sektor Perdaganagn, Hotel, dan Restoran
7. Sektor Angkutan Dan Komunikasi
8. Sektor Keuangan, Persewaan, Dan Jasa Perusahaan
9. Sektor Jasa-Jasa
Pertumbuhan PDRB tidak lepas dari peran setiap sektor-sektor
ekonomi tersebut di atas, besar kecilnya kontribusi pendapatan setiap sektor
ekonomi merupakan hasil perencanaan secara sektoral yang dilaksanakan di
daerah.
Masalah utama di dalam pelaksanaan pembangunan di daerah adalah
kurang mampunya pemerintah daerah melaksanakan strategi perencanan yang
matang serta kurang jelinya pemerintah daerah dalam melihat pergeseran-
pergeseran yang terjadi dari tahun ke tahun dalam sektor ekonomi. Disinilah
peranan Badan Perencanaan Daerah (BAPPEDA) cukup dominan dalam
menentukan arah serta rencana pembangunan daerah agar pembangunan di
daerah berjalan sesuai prioritas sektor yang diinginkan.
Dari latar belakang masalah yang diuraikan, maka penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian tentang Analisis Pergeseran Sektor-Sektor
Ekonomi Di Kabupaten Banyumas Tahun 1994-2002.

B. Perumusan Masalah

Pembangunan daerah diarahkan untuk mengacu pemerataan


pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan
pendayagunaan potensi yang dimilki daerah secara optimal. Dari latar
belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan pokok
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana perubahan sektor ekonomi Kabupaten Banyumas yang terjadi
tahun 1994-2002.
2. Bagaimana pertumbuhan sektor ekonomi di Kabupaten Banyumas.
3. Sektor-sektor mana yang merupakan sektor potensial (basis) yang
merupakan sektor andalan dalam struktur perekonomian di Kabupaten
Banyumas tahun 1994-2002 berdasarkan analisis (LQ).
C. Pembatasan Masalah

Penelitian ini hanya dibatasi pada masalah pergeseran sektor-sektor


ekonomi yang terdiri dari sektor pertanian, sektor pertambangan dan
penggalian, Sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih,
sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, Sektor angkutan,
dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor
jasa-jasa yang terjadi di Kabupaten Banyumas pada tahun 1994-2002.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui pergeseran pangsa setiap sektor ekonomi.
b. Untuk mengetahui komponen-komponen yang mempengaruhi pada
perekonomian daerah Kabupaten Banyumas.
c. Untuk mengetahui sektor mana yang merupakan sektor potensial
(basis) di Kabupaten Banyumas.

2. Kegunaan Penelitian
a. Bagi pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi tambahan informasi
sekaligus bahan evaluasi agar lebih memantapkan peran perencanaan
daerah dari tahun ke tahun.
b. Sebagai bahan informasi bagi penelitian lain yang berminat pada
masalah perencanaan daerah.
c. Bagi penulis penelitian ini merupakan hasil aplikasi serta penerapan
langsung dari salah satu alat analisis yang didapat dari bangku kuliah.

E. Hipotesis
1. Terjadi pergeseran atau perubahan struktur dalam sektor ekonomi
Kabupaten Banyumas selama tahun 1994-2002.
2. Sektor potensial atau sektor basis masih di dominasi oleh sektor pertanian,
sektor bangunan, dan sektor angkutan dan komunikasi.
3. Tingkat pertumbuhan sektor ekonomi Kabupaten Banyumas cenderung
meningkat dan mempunyai potensi yang dapat diandalkan untuk
memberikan kontribusi bagi daerah.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi Perencanaan Ekonomi
Perencanaan merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang
mencangkup keputusan- keputusan atau pilihan – pilihan berbagai alternatif
penggunaan sumberdaya untuk mencapai tujuan – tujuan tertentu pada masa
yang akan datang (Conyers & Hills , 1994) Berdasarkan definisi diatas berarti
ada empat elemen dasar perencanaan yaitu :
a. Merencanakan berarti memilih
b. Perencanaan merupakan alat pengalokasian sumberdaya
c. Perencanaan merupakan alat untuk mecapai tujuan
d. Perencanan untuk masa depan (Lincolin Arsyad,1999)
Arthur lewis dalam bukunya berjudul Development Planning (1966).
Membagi perencanaan dalam 6 (enam) pengertian yaitu :
1. Istilah perencanaan seringkali dihubungkan dengan letak geografis,
bangunan, tempat tinggal, bioskop dan lainnya. Di negara sedang
berkembang hal ini sering disebut dengan istilah perencanaan kota dan
negara (town and country planning) atau perencanaan kota dan daerah
(urban and regional planning).
2. Perencanaan mempunyai arti keputusan penggunaan dan pemerintah
dimasa yang akan datang.
3. Ekonomi berencana adalah ekonomi dimana setiap unit produksi hanya
memanfaatkan sumber daya manusia, bahan baku, dan peralatan yang
dialokasikan dengan jumlah tertentu dan menjual produknya hanya kepada
perusahaan atau perorangan yang ditunjuk oleh pemerintah.
4. Perencanaan berarti setiap penentuan sasaran produksi oleh pemerintah.
5. Penerapan sasaran untuk perekonomian secara keseluruhan dengan
maksud untuk mengalokasikan semua tenaga kerja, devisa, bahan mentah
dan sumberdaya lainnya ke berbagai bidang perekonomian.
6. Untuk menggambarkan sarana yang digunakan pemerintah untuk
memaksakan sasaran-sasaran yang ditetapkan.
Perencanaan sebenarnya merupakan suatu proses yang
berkesinambungan dari waktu ke waktu dengan melibatkan kebijaksanaan
(polycy) dari pembuat keputusan berdasarkan sumber daya yang tersedia dan
disusun secara sistematis.
Maka pelaksanaan perancangan pembuatan perencanaan itu pada
dasarnya adalah mengambil suatu kebijaksanaan dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut (Soekartawi, 1990).
1. Perencanaan berarti memilih berbagai alternatif yang terbaik dari sejumlah
alternatif yang ada.
2. Perencanaan berarti pula alokasi sumberdaya yang tersedia baik
sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia.
3. Perencanaan mengandung arti rumusan yang sistematis yang didasarkan
pada kepentingan masyarakat banyak.
4. Perencanaan juga menyangkut masalah tujuan atau sasaran tertentu yang
harus dicapai.
5. Perencanaan juga dapat diartikan atau dikaitkan dengan kepentingan masa
depan.
Meskipun tidak ada kesepakatan diantara para ekonomi berkenaan
dengan istilah perencanaan ekonomi mengandung arti pengendalian dan
pengaturan perekonomian dengan sengaja oleh pemerintah untuk mencapai
sasaran dan tujuan tertentu didalam jangka waktu tertentu pula. (Lincolin
arsyid, 1999)

B. Fungsi Perencanaan Ekonomi


Beberapa buku literatur perencanaan pembangunan (Development
planning) pembahasan terhadap pentingnya perencanaan ini sering dikaitkan
dengan pembangunan itu sendiri. Dengan demikian, pembahasan pentingnya
aspek perencanaan yang dikaitkan dengan aspek pembangunan dapat
diklarifikasikan menjadi dua topik utama, yaitu :
1. Perencanaan sebagai alat dari pembangunan.
2. Perencanaan sebagai tolok ukur dari berhasil atau tidaknya pembangunan
tersebut.
Secara sistematis, kaitan antara aspek perencanaan dan pembangunan
dapat digambarkan seperti gambar 1 dibawah ini :
Gambar 1
Skema hubungan Antara Perencanaan dan Pembangunan

Sebagai alat

Perencanaan Pembangunan

Sebagai tolok ukur


Pembangunan yang berencana

Perencanaan dianggap sebagai alat pembangunan karena perencanaan


memang merupakan alat strategis dalam menuntun jalannya pembangunan.
Suatu perencanaan yang disusun secara acak-acakkan (tidak sistematis) dan
tidak memperhatikan aspirasi target group (sasaran), maka pembangunan yang
dihasilkan tidak seperti yang diharapkan. Dengan demikian dalam konteks
perencanaan, sebagai alat maka mempunyai keunggulan komprehensif sebagai
berikut :
a. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat untuk dijadikan pedoman dalam
pelaksanaan pembangunan.
b. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat penentuan sebagai alternatif dan
berbagai kegiatan pembangunan.
c. Perancanaan dapat dipakai sebagai penentuan skala prioritas.
d. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat peramalan (forecasting) dari
kegiatan dari masa ke masa yang akan datang. (Soekartawi, 1990)
Sementara menurut Lincolin Arsyad fungsi-fungsi perencanaan adalah
sebagai berikut:
a. Dengan perencanaan diharapkan terdapatnya suatu pengarahan kegiatan,
adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan
kepada tujuan pembangunan.
b. Dengan perencanaan dapat dilakukan suatu perkiraan potensi-potensi,
prospek-prospek perkembangan, hambatan serta resiko yang mungkin
dihadapi pada masa yang akan datang.
c. Perencanaan memberikan kesempatan untuk mengadakan pilihan
yang terbaik.
d. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas dari
segi pentingnya tujuan.
e. Perencanaan sebagai alat untuk mengukur atau standar untuk
mengadakan pengawasan evaluasi.
C. Proses Perencanaan Ekonomi
Proses perencanaan merupakan hal mendasar yang harus diperhatikan
oleh para pembuat keputusan (perencanaan), adapun proses perencanaan
ekonomi tersebut dibagi kedalam empat tahap diantaranya adalah:
1. Tahap pertama, pada tahap ini diterapkan tujuan oleh pemimpin
politik, serta prioritas tujuan untuk mengarahkan para perencana jika
terjadi konflik tujuan.
2. Tahap kedua, adalah mengukur ketersediaan sumberdaya yang
langka sebelum periode perencanaan tersebut.
3. Tahap ketiga, hampir dari semua upaya ekonomi ditujukan untuk
memilih berbagai cara (kegiatan dan alat) yang bisa digunakan untuk
mencapai tujuan nasional.
4. Tahap keempat, perencanaan mengerjakan proses pemilihan
kegiatan yang penting dan mungkin untuk mencapai tujuan nasional
(welfare fungtion) tanpa terganggu adanya kendala-kendala sumberdaya
dan organisasional. Hasil dari proses ini adalah strategi pembangunan
(Development strategy) atau rencana mengatur kegiatan-kegiatan yang
akan dilakukan selama beberapa tahun (biasanya lima tahun). (Lincoln
Arsyad, 1999)
Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi menurut Adam Smith
membagi tahapan pertumbuhan ekonomi menjadi lima tahap yang berurutan,
yaitu dimulai dari masa perburuan, masa berternak, masa bercocok tanam,
masa perdagangan dan yang terakhir adalah masa perindustrian. Menurut teori
ini, masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional kemasayarakat
modern yang kapitalis. Dalam prosesnya, pertumbuhan ekonomi akan semakin
terpacu dengan adanya sistem pembagian kerja antar pelaku ekonomi. Dalam
hal ini, Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input bagi proses
produksi.Pembagian kerja merupakan titik sentral pembahasan dalam terori
Adam Smith, dalam upaya meningkatkan produktifitas tenaga kerja. Dalam
pembangunan ekonomi, modal memegang peran penting. Menurut teori ini,
akumulasi modal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan
ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Modal tersebut diperoleh dari
tabungan yang dilakukan masyarakat. Adanya akumulasi modal yang
dihasilkan dari tabungan, maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikan
kesektor riil, dalam upaya untuk meningkatkan penerimaannya.
Menurut Adam Smith proses pertumbuhan akan terjadi secara simultan
dan memiliki hubungan keterkaitan satu dengan lain. Timbulnya peningkatan
kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tarik bagi pemupukan
modal, mendorong kemajuan tekhnologi, meningkatkan spesialisasi dan
memperluas pasar hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi semakin
pesat. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu ‘fungsi tujuan’, pada
akhirnya harus tunduk pada ‘fungsi kendala’, yaitu keterbatasan sumberdaya
ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mengalami keterlambatan jika daya
dukung alam tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang ada.
Keterbatasan sumberdaya merupakan faktor yang dapat menghambat ekonomi
tersebut, bahkan dalam perkembangan hal tersebut justru menurunkan tingkat
pertumbuhan ekonomi. (Mudrajad kuncoro, 1997)

D. Pengertian Pembangunan Ekonomi Daerah


Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah
daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu
pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk
menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Lincolin
Arsyad, 1999)
Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada
penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang berdasarkan
pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous development) dengan
menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya
fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada
pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses
pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang
kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah suatu proses yaitu proses yang
mencakup pembentukan-pembentukan institusi baru, pembangunan industri-
industri alternatif, perbaikam kapasitas tenaga kerja yang ada untuk
menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru,
alih ilmu pemngetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahan baru.
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama
untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah.
Dalam upaya untuk mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan
masyarakat harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan
daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta daerah beserta partisipasi
masyarakatnya dan dengan dengan menggunakan sumberdaya yang ada harus
menafsir potensi sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan
membangun perekonomian daerah. (Lincolin Arsyad, 1999)

E. Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah


Perencanaan pembangunan ekonomi daerah bisa dianggap sebagai
perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumberdaya publik yang
tersedia didaerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta
dalam menciptakan nilai sumberdaya swasta secara bertanggung jawab.
Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara seimbang
perencanaan yang lebih teliti mengenai penggunaan sumber daya publik dan
sektor swasta : petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar, organisasi
sosial harus mempunyai peran dalam proses perencanaan.
Ada tiga (3) impilikasi pokok dari perencanaan pembangunan ekonomi
daerah :
Pertama, perencanan pembangunan ekonomi daerah yang realistik
memerlukan pemahaman tentang hubungan antara daerah dengan lingkungan
nasional dimana daerah tersebut merupakan bagian darinya, keterkaitan secara
mendasar antara keduanya, dan konsekuensi akhir dari interaksi tersebut.
Kedua, sesuatu yang tampaknya baik secara nasional belum tentu baik untuk
daerah dan sebaliknya yang baik di daerah belum tentu baik secara nasional.
Ketiga, Perangkat kelembagaan yang tersedia untuk pembangunan daerah,
misalnya administrasi, proses pengambilan keputusan, otoritas biasanya
sangat berbeda pada tingkat daerah dengan yang tersedia pada tingkat pusat.
Selain itu, derajat pengendalian kebijakan sangat berbeda pada dua tingkat
tersebut. Oleh karena itu perencanaan darah yang efektif harus bisa
membedakan apa yang seyogyanya dilakukan dan apa yang dapat dilakukan,
dengan menggunakan sumber daya pembangunan sebaik mungkin yang benar-
benar dapat dicapai, dan mengambil manfaat dari informasi yang lengkap
yang tersedia pada tingkat daerah karena kedekatan para perencananya dengan
obyek perencanaan. (Lincolin arsyad, 1999)

F. Sasaran Pembangunan Lima Tahun Keenam Daerah Jawa Tengah


Sesuai dengan tujuan pembangunan daerah, maka sasaran umum
pembangunan lima tahun ke enam adalah tumbuhnya sikap kemandirian
dalam diri manusia dan masyarakat melalui peningkatan peran serta efisien,
dan produktivitas rakyat dalam peningkatan taraf hidup, kecerdasan dan
kesejahteraan lahir dan batin.
Adapun sasaran bidang ekonomi adalah pemantapan industri yang
mengarah pada pungutan, pendalaman, peningkatan, perluasan, dan
penyebaran industri di daerah yang mempunyai potensi industri dan makin
kukuhnya struktur industri dengan meningkatkan keterkaitan antara industri
hulu dengan hilir, antara industri besar, menengah, industri kecil dan industri
rakyat serta keterkaitan antara industri dengan sektor ekonomi lainnya,
peningkatan diversifikasi usaha dan hasil pertanian serta peningkatan
intensifikasi, ekstensifikasi, dan rehabilitasi pertanian dengan tetap
mempertahankan swasembada pangan yang didukung industri pertanian,
penataan dan pemantapan kelembagaan dan sistem koperasi agar koperasi
makin sehat, tangguh dan mandiri serta berperan utama sebagai wadah
perekonomian rakyat dan berakar dalam masyarakat, peningkatan pangsa
pasar dalam negeri dan luar negeri dengan pola perdagangan dan sistem
distribusi yang makin meluas dan mantap, yang secara keseluruhan di
laksanakan bersamaan dengan upaya peningkatan pemerataan melalui
peningkatan kegiatan ekonomi rakyat, kesempatan berusaha, lapangan kerja
serta peningkatan pendapatan dan kesempatan berusaha, lapangan kerja serta
peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di daerah dalam rangka
mencapai tujuan pembangunan. (Pola Dasar Pembangunan Daerah Jawa
Tengah Tahun. 1994/1995-1998/1999)

G. Prioritas Pembangunan Lima Tahun Ke enam Daerah Jawa Tengah.


Dengan memperhatikan tujuan dan sasaran pembangunan lima tahun
ke enam daerah dalam rangka pembangunan jangka panjang kedua, maka
pembangunan lima tahun ke enam daerah adalah pembangunan sektor-sektor
di bidang ekonomi dengan keterkaitan antara industri dan pertanian serta
bidang pembangunan lainnya dan peningkatan kualitas sumber daya manusia
yang dikembangkan sebagai berikut :
a. Penataan industri dan keterkaitan antara industri dengan sektor lainnya
yang mengarah pada perbuatan dan pendalaman struktur industri yang
didukung kemampuan tekhnologi dan kesiapan sumber daya manusia,
ketangguhan pertanian, pemantapan sistem dan kelembagaan koperasi,
penyempurnaan pola perdagangan, jasa dan sistem distribusi, pemantauan
secara optimal dan tepat guna faktor produksi, sumberdaya ekonomi dan
ilmu pengetahuan dan tekhnologi sebagai prasyarat terbentuknya
masyarakat industri dengan tepat menjamin peningkatan keadilan,
kemakmuran dan pemerataan pendapatan serta kesejahteraaan rakyat
sesuai dengan Nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
b. Pembangunan sumberdaya manusia agar makin meningkatnya kualitas
sehingga dapat mendukung pembangunan ekonomi melalui peningkatan
produktivitas dengan pendidikan yang makin merata dan bermutu disertai
peningkatan dan perluasan pendidikan keahlian yang dibutuhkan berbagai
bidang pembangunan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi yang makin mantap agar dapat meningkatkan penguasaan ilmu
pengetahuan, kemampuan pengkajian dan alih tekhnologi.
c. Pembangunan bidang lainnya terus ditingkatkan seimbang, serasi
dan selaras saling memperkuat dengan pembangunan di daerah merupakan
satu kesatuan gerak dalam mewujudkan masyarakat maju, sejahtera,
mandiri, adil dan makmur dengan tetap memperhatikan keseimbangan
lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya yang optimal. (Pola Dasar
Pembangunan Daerah Jawa Tengah Tahun. 1994/1995-1998/1999)
H. Kebijakan Umum Lima Tahun Ke enam Daerah Jawa Tengah
Sejalan dengan kebijaksanaan pembangunan lima tahun keenam
daerah Jawa Tengah yang bertumpu pada trilogi pembangunan dalam bidang
ekonomi adalah sebagai berikut :
a. Pembangunan industri diarahkan untuk menuju kemandirian guna
meningkatkan kemampuan bersaing dan menaikkan pangsa pasar dalam
negeri dan luar negeri dan selalu memelihara kelestarian fungsi lingkungan
hidup pembangunan industri ditujukan untuk memperkukuh struktur
ekonomi di daerah dengan keterkaitan yang kuat dan saling mendukung
antar sektor memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha sekaligus
mendorong berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan
lainnya.
b. Pembangunan agro industri diarahkan pada pemanfaatan hasil pertanian
secara optimal melalui pengembangan dan penguasaan tekhnologi,
pemanfaatan hasil penelitian sekaligus meningkatklan keterkaitan yang
saling menguntungkan antara petani produsen dengan industri.
c. Pembangunan industri menghasilkan bahan baku, komponen dan bahan
penolong sektor industri rancang bangun dan rekayasa diarahkan agar
makin efisien dan mampu besaing serta mampu mamenuhi kebutuhan
industri lain sehingga mengurangi ketergantungan impor.
d. Pembangunan industri kecil dan menengah termasuk industri kerajinan,
industri rumah tangga serta industri rakyat tradisional diarahkan agar
menjadi usaha yang makin efisien dan berkembang mandiri.
e. pembangunan pertanian yang mencakup pertanian tanaman pangan,
perkebunan, peternak,dan perikanan diarahkan pada perkembangannya
pertanian yang maju efisien dan tangguh untuk meningkatkan pendapatan
dan taraf hidup petani, nelayan, peternak dan masyarakat pedesaan
memperluas pasar baik pasar dalam negeri maupun luar negeri sehingga
mampu meningkatkan hasil, meningkatkan mutu dan derajat pengolahan
produksi produksi dan menunjang pembangunan wilayah.
f. Pembangunan pertanian diarahkan yang diharapkan mampu meningkatkan
pembangunan dalam hal meningkatkan usaha diservikasi, intensifikasi,
ekstensifikasi, dan rehabilitasi pertanian dengan perencanaan dan
pengolahan pembangunan pertanian yang makin terpadu.
g. Pengolahan usaha pertanian terutama yang dikaitkan dengan usaha agro
industri dan agrobisnis. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip
keunggulan komparatif dan kompetitif, ketrampilan masyarakat pedesaan,
persediaan bahan baku cukup dan berkelanjutan, tersedianya prasarana dan
fasilitas pelayanan lainnya di pedesaan diarahkan pada usaha
meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditi pertanian untuk
menjamin kesinambungan usaha pertanian.
h. Pengembangan usaha pertanian skala besar diarahkan pada upaya
mendorong perkembangan dan keterkaitan yang saling menunjang dan
saling menguntungkan dengan usaha pertanian rakyat dan koperasi dengan
tetap memperhatikan kelestarian daya dukung sumberdaya alam dan
fungsi lingkungan hidup.
i. Pembangunan perdagangan diarahkan pada terciptanya sistem
perdagangan yang makin efisien dan afektif serta mampu memanfaatkan
dan memperluas pasar.
Pergeseran struktural pembangunan terjadi karena berbagai unsur
kebijakan. Dalam ikatan sektor itu terjalin jaringan kehidupan yang tertata rapi
sesuai dengan fungsi dan peran masing – masing. Dalam ikatan – ikatan
primordial itu terlihat jelas pembagian fungsi dan peran dari masing – masing
unsur dan komponen. Dan orang tidak hidup di luarnya, orang hidup dalam sistem
itu. (Problema dan prospek nagari ke depan. Mochtar Naim)
Pergeseran sektor-sektor ekonomi dimaksudkan untuk mencapai
pembangunan dalam kebijakan pembangunan daerah serta menyelaraskan
pertumbuhan dan mengurangi kesenjangan dan tingkat kemajuan antar daerah,
melalui pembangunan serasi dan terpadu antar sektor pembangunan daerah yang
efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian daerah.

III. METODOLOGI PENELITIAN DAN ANALISIS

A. Metodologi Penelitian
1. Obyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada kantor Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (BAPPEDA) Banyumas.
2. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus.
3. Jenis Data
a. Data Primer, Yaitu data yang diperoleh langsung dari kantor
BAPPEDA, antara lain berupa data tentang jumlah PDRB Kabupaten
Banyumas, dan jumlah PDRB Propinsi Jawa Tengah.
b. Data Sekunder, Yaitu data yang diperoleh melalui studi pustaka yang
bertujuan mendapatkan literatur dan hal-hal lain yang relevan, antara
lain data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, BAPPEDA dan
sumber lain yang terkait dan relevan denagan obyek yang diteliti.
4. Sumber Data
a Data dari (BPS) Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah.
b. Data dari (BPS) Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas.
c. Pola dasar pembangunan daerah Propinsi Jawa Tengah.
d. Pola dasar pembangunan daerah Kabupaten Banyumas.
5. Data Yang diperlukan
a. Data PDRB atas harga berlaku dan konstan pada Kab. Banyumas dan
Propinsi Jawa Tengah tahun 1994 - 2002
b. Laporan laju pertumbuhan penduduk dan sektor-sektor ekonomi pada
Kab. Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah tahun 1994 - 2002
c. Data-data lain yang berhubungan dengan penelitian.
6. Metode Pengumpulan Data
a. Metode Observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung
terhadap obyek penelitian.
b. Metode Wawancara, yaitu dengan melakukan wawancara langsung
dengan pimpinan dan karyawan Institusi terkait.
7. Metode Analisis
a. Analisis kualitas
1. Dalam penelitian ini digunakan tekhnik analisis perencanaan
pembangunan yaitu Shif-Share (S-S) dan Location Quation (L-Q).
Tekhnik analisis Shif-Share adalah suatu tekhnik analisis didalam
perencanaan pembangunan yang menganalisis bagaimana pangsa
masing-masing sektor dalam perekonomian daerah yang lebih
rendah secara hirarkis. Dengan melihat perbandingan laju
pertumbuan sektor-sektor perekonomian daerah sekaligus melihat
bila daerah itu memperoleh pertumbuhan sebagai perubahan (D)
suatu variabel wilayah yaitu pendapatan atau output sektor-sektor
ekonomi daerah selama kurun waktu tertentu menjadi pengaruh
pertumbuhan propinsi (N). Pengaruh propinsi disebut pengaruh
pangsa (share), bauran industri (M), pengaruh bauran industri
disebut bauran komposisi (proporsional shift) dan keunggulan
kompetitif (C). Pengaruh keunggulan kompetitif disebut regional
share, karena itulah tekhnik analisis ini dinamakan tekhnik analisis
shif-share. Maenurut Prasetyo Soepono (1993) bentuk umum
persamaan dari analisis shif-share dan komponen-komponen adalah
sebagai berikut :
Dij=Nij + Mij + Cij
Keterangan :
i = Sektor ekonomi yang diteliti
j = Variabel ekonomi yang diteliti
2. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah pendapatan
atau nilai sektor yang dinotasikan sebagai (y)
Dij = y*ij-yij
Nij = yij.rn
Mij = yij (rin – rn )
Cij = yij ( rij- rin)
Keterangan :
Dij = Variabel wilayah
Nij = Pertumbuhan daerah propinsi
Mij = Pengaruh Bauran industri
Cij = Keunggulan kompetitif
yij = Pendapatan sektor i Wilayah j (kabupaten)
y* = Pendapatan tahun terakhir
rn = Laju pertumbuhan PDRB di Wilayah n (propinsi)
rin = Laju pertumbuhan i di Wilayah n ( propinsi)
rij = Laju pertumbuhan sektor i di Wilayah j ( kabupaten )
Dimana rij, rin, dan rn mewakili laju pertumbuhan daerah
kabupaten dan daerah propinsi yang masing-masing didefinisikan
sebagai berikut :
( y * ij − yij )
rij =
yij

( y * in - yin)
rin =
yin

( yn * -yn)
rn =
yn

Keterangan :
rij = Laju pertumbuhan sektor i di Wilayah j ( kabupaten )
rin = Laju pertumbuhan i di Wilayah n ( propinsi)
rn = Laju pertumbuhan PDRB di Wilayah n (propinsi)
y* = Pendapatan tahun terakhir
yij = Pendapatan sektor i Wilayah j (kabupaten)
yin = Pendapatan sektor i di wilayah n ( propinsi )
yn = PDRB wilayah n ( propinsi )

Secara keseluruhan wilayah, persamaan untuk sektor i di wilayah


adalah :
Dij = yij . rn + yij (rin-rn) + yij (rij-rin)
Keterangan :
Dij = Variabel wilayah
yij = Pendapatan sektor i di wilayah j ( kabupaten )
rij = Laju pertumbuhan sektor i di wilayah j ( kabupaten)
rin = Laju pertumbuhan sektor i di wilayah n (propinsi)
rn = Laju pertumbuhan PDRB di wilayah n (propinsi)
3. Dalam penelitian ini juga digunakan alat analisis Location Quotient
(LQ), Location Quotien adalah salah satu tekhnik analisa dalam
perencanaan pembangunan yang digunakan untuk menganalisa
sektor potensial atau sektor basis dalam suatu daerah, dengan cara
mengukur konsentrasi suatu sektor ekonomi dalam suatu daerah
yaitu membandingkan peranan sektor tersebut dalam perekonomian
daerah Kabupaten Banyumas dengan sektor sejenis dalam
perekonomian Daerah Propinsi Jawa Tengah. Menurut Lincolin
Arsyad (1993) rumus untuk menghitung LQ adalah

yi* / yt *
LQ=
Y i/ Y t
Keterangan :
LQ = Koefisien LQ
yi* = Pendapatan (PDRB) sektor tertentu di Kabupaten
Banyumas dalam Jutaan rupiah.
yt* = Pendapatan (PDRB) total daerah Kabupaten Banyumas
dalam jutaan rupiah.
Yi = Pendapatan (PDRB) sektor tertentu di daerah Propinsi
Jawa Tengah dalam jutaan Rupiah
Yt = Pendapatan (PDRB) total daerah Jawa Tengah dalam
jutaan rupiah

Adapun klarifiasi LQ sebagai berikkut :


LQ > 1 Merupakan sektor basis dan kemampuan produksi sektor
tersebut di suatu kabupaten lebih besar dibandingkan sektor
sejenis di tingkat propinsi.
LQ = 1 Berarti kemampuan produksi sektor tersebut di suatu
kabupaten sama dengan sektor sejenis di tingkat propinsi.
LQ < 1 Merupakan sektor non basis dan kemampuan produksi
sektor tersebut disuatu kabupaten lebih kecil dibanding
sektor sejenis pada tingkat propinsi.
Adapun asumsi dalam analisis LQ adalah :
a. Selera dan pola pengeluaran di suatu daerah dengan daerah lain di
seluruh wilayah propinsi Jawa Tengah adalah sama.
b. Setiap penduduk di setiap darah Kabupaten Banyumas mempunyai
pola permintaan terhadap suatu barang dan jasa sama terhadap pola
permintaan barang dan jasa pada tingkat propinsi Jawa Tengah.
c. Tingkat konsumsi rata-rata untuk masing-masing barang dan jasa
disetiap daerah sama.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Umum Obyek Penelitian


1. Perkembangan PDRB Kabupaten Banyumas
Sesuai dengan titik berat pembangunan jangka panjang dan
memperhatikan masalah-masalah pokok yang masih dihadapi, maka
prioritas pembangunan daerah Banyumas diletakkan dalam pembangunan
sektor ekonomi dengan keterkaitan antara sektor industri dan pertanian
serta pembangunan bidang lainnya. Untuk mengetahui perkembangan
pembangunan sektor ekonomi di Kabupaten Banyumas disajikan dalam
beberapa tabel berikut :
Tabel 1. Pendapatan domestik bruto atas dasar harga berlaku dan konstan
serta perkembangannya di Kabupaten Banyumas (dalam jutaan
rupiah).
Tahun Pendapatan Domestik Regional Bruto
Berlaku Perkembangan Konstan Perkembangan
1994 987,105,167 944,870,431 909,338,095 867,103,359
1,141,735,11
1995 154,629,947 977,022,785 67,684,690
4
1,264,887,10 1,018,612,90
1996 123,151,992 41,590,123
6 8
1,455,196,85 1,055,339,40
1997 190,309,745 36,726,496
1 4
2,155,729,91
1998 700,533,062 983,564,125 71,775,279
3
2,272,760,89
1999 117,030,984 988,804,675 5,240,550
7
2,626,318,55 1,028,604,67
2000 353,557,653 39,799,999
0 4
2,936,417,20 1,040,236,78
2001 310,098,652 11,632,113
2 7
3,312,730,47 1,075,573,95
2002 376,313,268 35,337,167
0 4
Sumber : Data primer diolah

Dari tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa PDRB Kabupaten


Banyumas pada tahun 2002 atas dasar harga berlaku Rp. 3,312,730,470.
Dengan kata lain jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya maka PDRB
Kabupaten Banyumas mengalami peningkatan 376,313,268 juta rupiah. Hal
ini tidak seimbang dengan perkembangan berdasarkan harga konstan yang
hanya mencapai sebesar 35,337,167 juta rupiah.

Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Banyumas tahun 1994 – 2002,


disajikan dalam tabel 2 dimana laju pertumbuhan PDRB dibagi menjadi 9
(sembilan) sektor, masing-masing mempengaruhi besarnya PDRB (tabel 2).
Tabel 2. Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Banyumas 1994 – 2002
(dalam %)
Pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto
N Sektor 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
o (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 PERTANIAN 30.48 29.39 28.46 29.23 28.21 26.00 26.74 25.02 25.10

2 PENGGALIAN 1.19 1.38 1.36 1.52 1.47 1.61 1.58 1.64 1.66

3 INDUSTRI 16.45 17.67 17.86 17.89 18.77 18.93 18.44 18.80 18.83

4 LISTRIK, GAS & AIR MINUM 0.74 0.77 0.86 1.11 1.22 1.35 1.43 1.46 1.56

5 BANGUNAN 4.31 4.55 4.75 4.59 3.37 3.51 3.50 3.57 3.61

6 PERDAGANGAN 12.97 13.29 13.40 13.53 13.83 13.77 14.00 14.21 14.34
7 ANGKUTAN/ KOMUNIKASI 6.65 6.72 7.00 6.97 8.54 9.48 9.44 9.68 9.48

8 KEUANGAN, PERSEWAAN, DAN


8.45 8.51 8.86 8.66 7.83 8.49 8.39 8.69 8.71
JASA PERUSAHAAN
9 JASA - JASA 18.77 17.73 17.44 16.59 16.75 16.86 16.48 16.93 16.71

PDRB 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Sumber : BPS, PDRB Kabupaten Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah

Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui pada tahun 2002 sektor-sektor


yang mengalami pertumbuhan ekonomi positif diatas 2 persen mulai tahun
1994-2002 yaitu sektor industri sebesar 18.83 persen, sektor perdagangan
sebesar 14.34 persen, dan sektor angkutan/komunikasi sebesar 9.48 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan industri, perdagangan dan sektor
angkutan/ komunikasi di Kabupaten Banyumas semakin bertambah baik
volume maupun jumlah pelanggan.
Sedangkan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Banyumas terdapat
juga sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif,
penurunan prosentase dari tahun ke tahun dapat dilihat pergeseran angka
mulai tahun 1994-2002 yaitu pada sektor pertanian, bangunan, jasa-jasa.

Peranan masing-masing sektor dalam Produk Domestik Regional


Bruto tahun 1994 – 2002, dimana laju pertumbuhan PDRB di bagi menjadi 9
(sembilan) sektor disajikan dalam tabel 3 berikut ini :
Tabel 3. Peranan masing-masing sektor dalam PDRB berdasarkan Harga
Konstan 1993 di Kab. Banyumas tahun 1994 – 2002 (dalam %)
SEKTOR / LAPANGAN USAHA 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
No
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
275,5 28 288, 290,3 260,2
1 PERTANIAN
1 6,74 80 6 277,45 257,09 275,04 8 269,92
11,2 1 14, 15,1
2 PENGGALIAN
0 3,01 08 1 14,47 15,88 16,21 17,02 17,85
145,9 16 175, 183,8 195,5
3 INDUSTRI
1 6,28 45 4 184,58 187,17 189,63 1 202,54
6,5 8, 13,0
4 LISTRIK, GAS & AIR MINUM
2 7,41 99 6 12,01 13,37 14,75 15,22 16,76
39,8 4 48, 52,0
5 BANGUNAN
7 4,99 98 6 33,15 34,67 35,98 37,18 38,80
115,1 12 132, 137,9 147,7
6 PERDAGANGAN
1 5,48 00 4 136,01 136,19 144,01 8 154,26
64,6 7 76, 82,0 100,6
7 ANGKUTAN / KOMUNIKASI
1 1,61 13 0 84,02 93,71 97,11 5 101,98
KEUANGAN, PERSEWAAN, DAN 74,8 7 86, 88,1
8
JASA PERS. 8 9,31 04 9 77,05 83,96 86,31 90,40 93,68
175,6 18 188, 192,7 176,1
9 JASA - JASA
9 2,15 10 3 164,79 166,72 16,95 5 179,72
Sumber : BPS, PDRB Kabupaten Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah

Berdasarkan tabel 3, peranan masing-masing sektor terhadap total


PDRB dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Tahun 2002 peranan
sektor pertanian menduduki peringkat tertinggi sebesar 269.92% kemudian
disusul sektor industri sebesar 202.54%. Sedangkan sektor yang peranannya
kecil adalah listrik,gas dan air minum sebesar 16.76%, penggalian sebesar
17.85%, untuk sektor bangunan peranan sebesar 38.80% atau naik 1.62%
jika dibanding tahun sebelumnya. Sektor angkutan/komunikasi naik dari
147.78% pada tahun 2001 menjadi 154.26% pada tahun 2002, kemudian
untuk sektor lain cenderung stabil.

Salah satu indikator makro yang dapat menunjukan kondisi


perekonomian regional suatu daerah/wilayah adalah Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
perkapita dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4. Pendapatan Domestik Regional Bruto Perkapita penduduk
Kabupaten Banyumas 1994 – 2002
Pendapatan Domestik Regional Bruto
Tahun Pendapatan perkapita menurut harga Pendapatan perkapita menurut harga
yang berlaku (rupiah) konstans (rupiah)
1994 987.105.167 706.141
1995 1.141.735.114 810.712
1996 1.264.887.106 886.789
1997 1.455.196.851 1.008.878
1998 2.155.729.913 1.483.922
1999 2.272.760.897 1.552.414
2000 2.626.318.550 1.776.589
2001 2.936.417.202 1.968.224
2002 3.312.730.470 2.202.735
Sumber : BPS, PDRB Kabupaten Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah
Berdasarkan tabel 4, rata-rata PDRB perkapita penduduk
Kabupaten Banyumas tiap tahun meningkat. Pada tahun 2001 PDRB
perkapita penduduk sebesar Rp. 2.936.417.202 meningkat menjadi Rp.
3.312.730.470 pada tahun 2002. gambaran perekonomian Kabupaten
Banyumas berdasarkan kondisi semester satu tahun 2001 dengan inflasi
dapat dikendalikan memberikan informasi adanya gerak laju pertumbuhan
yang positif. Kondisi itu akan bertahan bila tidak terjadi peristiwa yang
buruk terhadap kehidupan berbangsa, konflik antar daerah tidak mencuat,
investasi mulai berjalan dan pengaruh iklim atau cuaca yang mendukung
produksi Keuangan,Persewaan, dan Jasa Pers sebagai sektor andalan
Kabupaten Banyumas.

B. Deskripsi Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang
diperoleh dari berbagai sumber, seperti yang diterbitkan oleh Badan Pusat
Statistik, BAPPEDA dan sumber lain yang terkait dan relevan dengan obyek
yang diteliti dimulai dari tahun 1994 hingga tahun 2002. data tersebut adalah
data pendapatan sektor-sektor ekonomi daerah yang tercermin dalam PDRB
Kabupaten Banyumas tahun 1994 – 2002 atas dasar harga konstan dan
pendapatan sektor-sektor ekonomi Propinsi Jawa Tengah yang tercermin
dalam PDRB tahun 1994 – 2002 atas dasar harga konstan.

Data tersebut digunakan untuk menganalisis perubahan


pertumbuhan sembilan sektor ekonomi Kabupaten Banyumas dibandingkan
dengan Propinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan alat analisis
yaitu Analisis Shift-Share (SS) dan Analisis Location Qoutient (I.Q). Pada
analisis Shift-Share, menggunakan data PDRB Kabupaten Banyumas dan
PDRB Jawa Tengah menurut sektor awal tahun 1994 dan menurut sektor
akhir tahun 2002. sedangkan untuk analisis Location Quotient data yang
dipergunakan adalah data Kabupaten Banyumas dan PDRB Jawa Tengah
menurut sektor selama 9 tahun yaitu sejak tahun 1994 – 2002.

1. Hasil Analisis Shift - Share Sektor Ekonomi Kabupaten Banyumas


Tahun 1994 – 2002.
Hasil Analisis Shift - Share Ekonomi Kabupaten Banyumas tahun
1994 – 2002 disajikan dalam tabel 5 berikut :
Tabel 5. Hasil Analisis Shift - Share Sektor Ekonomi Kabupaten Banyumas
tahun 1994 – 2002. (perhitungan lihat lampiran 1)
Komponen Komponen Komponen Jumlah
N
Sektor Pertumbuhan Bauran Industri Keunggulan Keseluruhan (Dij)
o
Propinsi (Nij) (Mij) Kompetitif (Cij)
1 Pertanian 139,915,441 (139,783,918) 630,281,186 630,412,709
2 Pertambangan & Penggalian 5,457,376 155,138,590 (123,931,670) 36,664,295
3 Industri Pengolahan 75,527,226 (109,811) 459,392,708 534,810,124
4 Listrik, Gas & Air Bersih 3,391,900 4,960,123 30,799,452 39,151,475
5 Bangunan 19,769,932 (4,800,239) 53,306,312 68,276,005
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 59,529,991 14,524 326,190,728 385,735,244
7 Angkutan & komunikasi 30,523,720 (5,574,488) 151,120,814 176,070,046
8 Bank, Persewaan, Jasa Perusahaan 38,781,824 (19,895,114) 198,781,089 217,667,799
9 Jasa - jasa 86,147,117 (57,480,553) 208,211,042 236,877,606
Ket : angka dalam kurung menunjukkan minus
Sumber : Data primer diolah

Adapun penjelasan dari hasil analisis shift share sektor ekonomi


Kabupaten Banyumas tahun 1994 – 2002 adalah sebagai berikut :
a.Sektor Pertanian
Sektor pertanian Kabupaten Banyumas berdasarkan analisis shift
share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa komponen.
Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor
pertanian Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
sebesar 139.915.441 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan
pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyi nilai negatif
sebesar -139.783.918 yang menunjukkan bahwa sektor pertanian
mempunyai kontribusi yang negatif atau lebih lambat pertumbuhannya
terhadap sektor pertanian dalam propinsi Jawa Tengah.
Kemudian pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij)
kontribusi sektor pertanian sebesar 630.281.186 yang berarti kontribusi
sektor pertanian Kabupaten Banyumas positif atau lebih cepat
pertumbuhannya dibanding sektor pertanian dalam propinsi Jawa
Tengah.
Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor pertanian mempunyai
konstribusi sebesar 630.412.709 yang menunjukkan bahwa sumbangan
sektor pertanian Kabupaten Banyumas positif terhadap kontribusi sektor
pertanian dalam propinsi Jawa Tengah.
b. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Berdasarkan analisis shift share pada sektor tersebut dipengaruhi
oleh beberapa komponen. Pengaruh komponen pertumbuhan propinsi
(Nij) pada Sektor Pertambangan dan Penggalian Kabupaten Banyumas
mempunyai kontribusi yang positif sebesar 5.457.376 terhadap
pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh komponen bauran industri
(Mij) mempunyai nilai sebesar 155.138.590 yang menunjukkan sektor
ini kontribusinya positif atau lebih cepat pertumbuhannya terhadap
propinsi Jawa Tengah.
Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) pada sektor
pertambangan dan penggalian mempunyai nilai negatif sebesar
-123.931.670, berarti kontribusi sektor tersebut lebih lambat
pertumbuhannya terhadap sektor Pertambangan dan Penggalian propinsi
Jawa Tengah.
Untuk jumlah keseluruhan pada sektor pertambangan dan
Penggalian mempunyai kontribusi sebesar 36.664.295 yang
menunjukkan bahwa sumbangan sektor pertambangan dan penggalian
Kabupaten Banyumas positif terhadap kontribusi sektor pertambangan
dan penggalian dalam propinsi Jawa Tengah.
c. Sektor Industri Pengolahan
Sektor Industri Pengolahan Kabupaten Banyumas berdasarkan
analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa
komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij)
pada sektor Industri Pengolahan Kabupaten Banyumas yang mempunyai
konstribusi positif sebesar 75.527.226 terhadap pertumbuhan propinsi.
Sedangkan pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai
negatif sebesar -109.811 yang menunjukkan bahwa sektor industri
pengolahan mempunyai kontribusi yang negatif atau lebih lambat
pertumbuhannya terhadap sektor industri pengolahan dalam propinsi
Jawa Tengah.
Kemudian pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij)
kontribusi sektor Industri Pengolahan sebesar 459.392.708 yang berarti
kontribusi sektor Industri Pengolahan Kabupaten Banyumas positif atau
lebih cepat pertumbuhannya dibanding sektor sejenis dalam propinsi
Jawa Tengah.
Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor industri pengolahan
mempunyai konstribusi sebesar 534.810.124 yang menunjukkan bahwa
sumbangan sektor industri pengolahan Kabupaten Banyumas positif
terhadap kontribusi sektor sejenis dalam propinsi Jawa Tengah.
d. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Kabupaten Banyumas
berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh
beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan
propinsi (Nij) pada Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Kabupaten
Banyumas yang mempunyai konstribusi positif sebesar 3.391.900
terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh komponen bauran
industri (Mij) mempunyai nilai sebesar 4.960.123 yang menunjukkan
bahwa Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih mempunyai kontribusi yang
positif atau lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor Listrik, Gas dan
Air Bersih dalam propinsi Jawa Tengah.
Kemudian pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij)
kontribusi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar 30.799.452 yang
berarti kontribusi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Kabupaten
Banyumas positif atau lebih cepat pertumbuhannya dibanding sektor
sejenis dalam propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij)
pada sektor Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih mempunyai konstribusi
sebesar 39.151.475 yang menunjukkan bahwa sumbangan Sektor Listrik,
Gas dan Air Bersih Kabupaten Banyumas positif terhadap kontribusi
pertumbuhannya dibanding sektor sejenis dalam propinsi Jawa Tengah.
e. Sektor Bangunan
Sektor Bangunan Kabupaten Banyumas berdasarkan analisis shift
share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa komponen.
Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor
Bangunan Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
sebesar 19.769.932 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh
komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -4.800.239
yang menunjukkan bahwa sektor bangunan mempunyai kontribusi yang
negatif atau lebih lambat pertumbuhannya terhadap sektor Bangunan
dalam propinsi Jawa Tengah.
Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) kontribusi sektor
Bangunan mempunyai nilai positif sebesar 53.306.312 yang berarti
kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor
Bangunan propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada
sektor Bangunan mempunyai nilai positif sebesar 68.276.005 yang
berarti kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap
Sektor Bangunan propinsi Jawa Tengah.
f. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten Banyumas
berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh
beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan
propinsi (Nij) pada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten
Banyumas yang mempunyai konstribusi positif sebesar 59.529.991
terhadap pertumbuhan propinsi.
Pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai
sebesar 14.524 yang menunjukkan bahwa sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran mempunyai kontribusi yang positif atau lebih cepat
pertumbuhannya terhadap kontribusi sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran dalam propinsi Jawa Tengah.
Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) pada sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran mempunyai nilai positif sebesar
326.190.728 berarti kontribusi sektor tersebut lebih cepat
pertumbuhannya terhadap Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran di
Jawa Tengah. Jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor Perdagangan, Hotel
dan Restoran mempunyai nilai positif sebesar 385.735.244 berarti
kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran propinsi Jawa Tengah.
g. Sektor Angkutan dan Komunikasi
Sektor Angkutan dan Komunikasi Kabupaten Banyumas
berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh
beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan
propinsi (Nij) pada sektor Angkutan dan Komunikasi Kabupaten
Banyumas yang mempunyai konstribusi positif sebesar 30.523.720
terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh komponen bauran
industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -5.574.488 yang menunjukkan
bahwa sektor Angkutan dan Komunikasi mempunyai kontribusi yang
negatif atau lebih lambat pertumbuhannya terhadap sektor Angkutan dan
Komunikasi dalam propinsi Jawa Tengah.
Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) pada sektor
Angkutan dan Komunikasi mempunyai nilai positif sebesar 151.120.814
yang berarti kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya
terhadap Sektor Angkutan dan Komunikasi propinsi Jawa Tengah.
Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor Angkutan dan Komunikasi
mempunyai kontribusi sebesar 176.070.046 yang berarti menunjukkan
bahwa sumbangan sektor Angkutan dan Komunikasi Kabupaten
Banyumas lebih cepat pertumbuhannya dibanding Sektor sejenis dalam
propinsi Jawa Tengah.

h. Sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan


Sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Kabupaten
Banyumas berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut
dipengaruhi oleh beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen
pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor Bank, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
sebesar 38.781.824 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh
komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -19.895.114
yang menunjukkan bahwa sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
mempunyai kontribusi yang negatif atau lebih lambat pertumbuhannya
terhadap kontribusi sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan dalam
propinsi Jawa Tengah.
Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) kontribusi sektor
Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mempunyai nilai positif sebesar
198.781.089 yang berarti kontribusi sektor tersebut lebih cepat
pertumbuhannya terhadap Sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor
Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mempunyai kontribusi sebesar
217.667.799 yang menunjukkan bahwa sumbangan sektor Bank,
Persewaan, dan Jasa Perusahaan Kabupaten Banyumas positif terhadap
kontribusi sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan dalam propinsi
Jawa Tengah.
i. Sektor Jasa-jasa
Sektor Jasa-jasa Kabupaten Banyumas berdasarkan analisis shift
share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa komponen.
Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor
Jasa-jasa Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
sebesar 86.147.117 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh
komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -57.480.553
yang menunjukkan bahwa sektor Jasa-jasa mempunyai kontribusi yang
negatif atau lebih lambat pertumbuhannya terhadap sektor Jasa-jasa
dalam propinsi Jawa Tengah.
Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) kontribusi sektor
Jasa-jasa mempunyai nilai positif sebesar 208.211.042 yang berarti
kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor
Jasa-jasa propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada
sektor Jasa-jasa sebesar 236.877.606 yang menunjukkan bahwa
sumbangan Sektor Jasa-jasa Kabupaten Banyumas positif terhadap
kontribusi sektor Jasa-jasa dalam propinsi Jawa Tengah.
Kriteria analisis shift – share merupakan tekhnik analisis dengan
membagi pertumbuhan suatu wilayah menjadi 3 komponen yaitu :
1. Komponen pertumbuhan nasional.
2. Komponen industri mix.
3. Komponen kompetitif/ daya saing.
Pengaruh pertumbuhan nasional disebut pengaruh pangsa (share),
pengaruh industri mix disebut proporsional atau bauran
komposisi,sedangkan pengaruh keunggulan kompetitif dinamakan pula
differential shift atau regional share.
Berdasarkan analisis Shift Share diketahui bahwa sektor pertanian
merupakan sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialis,
dengan perhitungan 139,915,441(Nij) + (- 139,783,918)(Mij) +
630,281,1886(Cij) = 630,412,709(Dij), Sedangkan sektor yang
mempunyai keunggulan spesialis adalah sektor pertambangan dan
penggalian, dengan perhitungan 5,457,376(Nij) + 155,138,590(Mij) + (-
123,931,670)(Cij) = 36,664,295(Dij). Kemudian sektor yang tidak
mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialis (non kompetitif dan
non spesialis) adalah sektor bangunan, Hal ini dapat dijelaskan dengan
hasil perhitungan 19,769,932(Nij) + (-4,800,239)(Mij) + 53,306,312(Cij)
= 68,276,005(Dij).

2. Hasil Analisis Location Quotient Sektor Ekonomi Kabupaten


Banyumas Tahun 1994 – 2002
Hasil analisis LQ sektor ekonomi Kabupaten Banyumas tahun
1994 – 2002 dapat dilihat pada tabel 6 (berdasarkan lampiran 2),
menunjukkan potensi masing-masing sektor perekonomian Kabupaten
Banyumas atau dalam pembentukan PDRB.
Tabel 6. Analisis Location Quotient Sektor Ekonomi Kabupaten Banyumas
Tahun 1994 – 2002
N
o Sektor 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
1.32
1
Pertanian 5 0.184 1.352 1.29 13.174 1.422 1.505 1.366 1.11
0.99
2
Pertambangan & Penggalian 1 1.558 1.122 1.079 0.745 0.924 8.806 0.915 0.075
0.54
3
Industri Pengolahan 6 0.076 0.568 0.5 0.568 0.684 0.581 0.535 4.335
1.09
4
Listrik, Gas & Air Bersih 9 0.142 1.099 1.201 0.705 0.822 0.865 7.873 0.883
0.91
5
Bangunan 1 0.131 1.023 0.854 0.498 0.861 0.703 0.59 4.757
0.64
6
Perdagangan, Hotel, Restoran 7 0.085 0.627 0.561 0.564 0.655 0.66 0.589 0.48
1.76
7
Angkutan & komunikasi 7 0.238 1.808 1.53 1.364 1.668 16.420 1.559 12.764
8 Bank, Persewaan, Jasa Persh 1.68 0.222 1.751 1.534 1.205 2.058 1.726 16.417 13.426
4
1.63
9
Jasa - jasa 1 0.215 1.645 14.432 1.072 1.255 1.221 11.11 0.871
Sumber : data primer diolah

Penjelasan dari tabel Analisis LQ pada Sektor Ekonomi


Kabupaten Banyumas Tahun 1994 – 2002 dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Potensi Sektor Pertanian
Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Pertanian
dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama tahun 1994 – 2002
nilainya cukup besar yaitu nilai perhitungan sebagian besar diatas nilai
rata-rata 1 (LQ > 1) kecuali tahun 1995 (LQ < 1). Pada tahun 1994 nilai
LQ sektor pertanian sebesar 1.325 dan tahun 2002 nilai LQ sebesar 1.11
yang berarti terjadi penurunan sebesar 0.25. penurunan kontribusi sektor
pertanian ini selain disebabkan oleh faktor geografis yaitu kesuburan
tanah juga karena pengelolaan sektor pertanian yang relatif lebih
modern, serta karena sektor ini menyerap banyak tenaga kerja.
Diharapkan sektor pertanian ini tetap mempunyai potensi yang besar di
tahun-tahun yang akan datang dan tetap menjadi andalan bagi
pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas asalkan ada perhatian dan
kemauan dari semua pihak (masyarakat dan instansi terkait) khususnya
kesadaran mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam.
2. Potensi Sektor Pertambangan dan Penggalian
Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor
Pertambangan dan Penggalian dalam perekonomian Kabupaten
Banyumas selama tahun 1994 – 2002 ditemui nilai hasil perhitungan
sebagian besar dibawah nilai rata-rata 1 (LQ < 1), berarti potensi sektor
Pertambangan dan Penggalian kontribusinya terhadap pendapatan
regional (PDRB) Kabupaten Banyumas masih kecil dan tidak dapat
dikategorikan sebagai sektor yang potensial. Selama tahun 1994 sampai
tahun 1998 nilai LQ selalu mengalami penurunan, dan tahun 1999
sampai dengan tahun 2002 nilai LQ berfluktuasi.
3. Potensi Sektor Industri Pengolahan
Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Industri
Pengolahan dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama tahun
1994– 2002 ditemui nilai hasil perhitungan sebagian besar dibawah nilai
rata-rata 1 (LQ < 1), berarti potensi sektor Industri Pengolahan
kontribusinya terhadap pendapatan regional (PDRB) Kabupaten
Banyumas masih kecil dan tidak dapat dikategorikan sebagai sektor yang
potensial. Selama tahun 1994 sampai dengan tahun 2002 nilai LQ
berfluktuasi.
4. Potensi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih.
Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Listrik,
Gas dan Air Bersih dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama
tahun 1994 – 2002 dapat diketahui nilai hasil perhitungan sebagian besar
diatas nilai rata-rata 1 (LQ > 1), yang berarti bahwa selama tahun
tersebut sektor Listrik, Gas dan Air Bersih dapat dikategorikan dalam
sektor potensial dan dapat diandalkan dalam pembentukan PDRB
Kabupaten Banyumas, pada tahun 1994 nilai LQ sektor Listrik, Gas dan
Air Bersih sebesar 1.099 dan tahun 2002 nilai LQ sebesar 0.883 yang
berarti terjadi penurunan sebesar 0,216.
5. Potensi Sektor Bangunan
Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Bangunan
dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama tahun 1994 – 2002
cukup kecil yaitu nilai hasil perhitungan sebagian besar dibawah nilai
rata-rata 1 (LQ < 1), walaupun jumlahnya fluktuatif dan sempat
mengalami peningkatan hingga nilai (LQ > 1) pada tahun 2002. Berarti
sektor Bangunan tidak dapat dikategorikan dalam sektor potensial dan
tidak dapat diandalkan dalam pembentukan PDRB Kabupaten
Banyumas.
6. Potensi Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran dalam perekonomian Kabupaten
Banyumas selama tahun 1994 – 2002 ditemui nilai hasil perhitungan
sebagian besar dibawah nilai rata-rata 1 (LQ < 1), berarti potensi sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran kontribusinya terhadap pendapatan
regional (PDRB) Kabupaten Banyumas masih kecil dan tidak dapat
dikategorikan sebagai sektor yang potensial. Selama tahun 1994 - 2002
ditemui nilai yang berfluktuasi.
7. Potensi Sektor Angkutan dan Komunikasi
Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Angkutan
dan Komunikasi dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama
tahun 1994 – 2002 mempunyai nilai hasil perhitungan sebagian besar
diatas nilai rata-rata 1 (LQ > 1) yang berarti bahwa sektor Angkutan dan
Komunikasi dapat dikategorikan sebagai sektor potensial dan dapat
diandalkan bagi pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas.

8. Potensi Sektor Bank Persewaan dan Jasa Perusahaan


Berdasarkan analisis Location Quotient, potensi sektor bank,
persewaan dan sektor jasa perusahaan dalam perekonomian kabupaten
Banyumas selama tahun 1994 – 2002 dapat diuraikan sebagai berikut :
nilai hasil perhitungan sebagian besar diatas nilai rata-rata 1 (LQ > 1)
yang berarti selama tahun tersebut sektor bank, persewaan dan sektor
jasa perusahaan dapat dikategorikan sebagai sektor potensial dan dapat
diandalkan bagi pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas.
Hal ini berarti pada tahun 2002 sektor bank, persewaan dan sektor jasa
perusahaan dapat dikategorikan sebagai sektor potensial dan dapat
diandalkan bagi pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas.
9. Jasa-jasa
Berdasarkan analisis Location Quotient, potensi sektor jasa-jasa
dalam perkonomian kabupaten Banyumas selama tahun 1994 – 2002
ditemui nilai hasil perhitungan sebagian besar diatas rata-rata 1 (LQ > 1)
yang berarti selama tahun tersebut sektor jasa - jasa dapat dikategorikan
sebagai sektor potensial dan dapat diandalan bagi pembentukan PDRB
Kabupaten Banyumas. Berdasarkan analisis LQ selama 1994 – 2002
ditemui nilai yang berfluktuasi.