Anda di halaman 1dari 72

Tips Kaki-kaki Skutik

Skutik Pakai Lingkar Roda 17 inci, Apa Konsekuensinya?

Jakarta - Banyak scooteriz yang mengubah ukuran peleknya dari 14 inci jadi 17 inci, atau biasa
disebut Thai-Look. Alasannya bikin lebih ringan dan tampil lebih modis. Nah setelah ikut
mengaplikasi, apa sih efek atau konsekuensi yang terjadi dan harus diterima, baik itu terhadap performa
maupun handling?

“Efek paling terasa tarikan di putaran bawah pasti lebih berat,” tegas Anggi, mekanik spesialis skutik
dari bengkel R59 di kawasan Ciputat, Tangerang, Banten.

Sedang pada putaran atas nafasnya malah jadi jauh lebih panjang. Karena dengan diameter roda lebih
besar, pada putaran mesin yang sama, jangkauan roda saat berputar jadi lebih jauh.

Nah untuk mesin yang sudah dioprek, naikin kompresi dan atur ulang berat roller (kiri). Untuk mesin standar, jika tetap ingin gesit bisa diatasi dengan mengganti per
CVT yang lebih keras (kanan)
Kalau ingin tarikan bawah tetap ngacir, mekanik yang menyabet gelar the best mekanik matik di ajang
OMR Honda itu punya tipsnya. Khusus skutik dengan mesin standar, “Paling gampang ganti per CVT
pakai yang sedikit lebih keras.” Efeknya tekanan puli sekunder ke V-belt jadi lebih kuat, gejala selip
bisa diminimalkan, makanya tetap gesit.
Beda cara jika mesin memang sudah dioprek, terutama yang bore-up ringan. “Naikin saja rasio
kompresinya,” papar mekanik yang tinggal di kawasan Pasar Ciputat itu.

Dengan kompresi lebih besar, ledakan di putaran bawah maka lebih kuat. Skutik kesayangan pun
makin ngacir. Nah kalau mau lebih sempurna sekalian mainkan roller, Anggi memberi saran agar
bobotnya diperingan, tapi cukup 1-2 gram.

Performa kelar, gimana dengan handling? Nah ini yang mesti


diperhatikan. Butuh adaptasi ulang, karena handling jadi sangat
berbeda. Motor jadi sedikit kurang lincah, ditambah jangan
sembarangan rebah di tikungan.

Kenapa? Karena paling besar ban yang bisa masuk hanya ukuran
80/80-17. Itu pun khusus skutik Honda dan Suzuki. Kalau Yamaha
mentok 70/90-17.
Jangan tertipu dengan jarum spidometer, karena
jadi sedikit lebih ‘malas’
Efeknya jelas tapak ban sangat sempit, kalau rebah minim grip, jadi
mesti lebih pelan di tikungan. Apalagi jika ditambah aspal basah atau berpasir.

Efek lain setelah ganti ukuran pelek adalah ngaco-nya spidometer. Ngaco bukan dalam artian jarum
jadi naik-turun. Namun pembacaan jadi lebih pelan. Kalau masih pakai pelek 14 inci tertera 60 km/jam,
kalau sudah ganti 17 inci bisa hanya sekitar 40 km/jam.

Kenapa begitu? Dikarenakan untuk menempuh jarak yang sama, dengan diameter lebih besar butuh
putaran roda lebih sedikit. Makanya spido jadi lebih pelan. So hati-hati ya, jangan tertipu.

Oh ya, satu lagi efek yang jangan dilupakan adalah konsumsi bahan bakar. Dijamin motor lebih rakus
minum bensin, karena beban mesin memutar roda lebih berat. “Lebih boros sekitar 30% dibanding saat
ukuran pelek masih standar,” tutup Anggi (motorplus.otomotifnet.com)

Tips Upgrade Yamaha Mio

Upgrade Mio Budget Rp 1,2 Juta, Tenaga Naik 3,432 DK Cuy!


Jakarta- Berencana upgrade performa Yamaha Mio kesayangan
makin responsif dan tambah kenceng? Tak ada salahnya meniru
hasil racikan tunggangan milik Ricky, warga Bintaro, Jaksel ini.
Pasalnya harganya terjangkau, serta pengerjaannya cepat serta
enggak perlu rawat inap di bengkel.

“Harga paketannya cukup bersahabat; Rp 1,2 juta dan


pengerjaannya hanya sehari. Setelah dites pakai mesin dyno,
power-nya nambah 3,432 dk. Pokoknya dijamin puas deh,” ujar
pembesut Mio Sporty lansiran 2009 ini.

Wow.. mantap Gan! Pasti ubahannya banyak? “Cuma pasang


blok mesin baru plus piston set diameter 58, 5 mm (150 cc) dan
aplikasi knalpot freeflow SKR. Part pendukung lainnya; spuyer
X-treme 15/115, roller X-treme 11 gr, cop busi Power, busi Autolite 4194 dan paking blok (gbr.1),”
sahut Muh. Suryadi, kepala mekanik Ultraspeed Racing (UR).

Selain aplikasi peranti di atas, dalam satu paket, pria akrab disapa Choky ini juga melakukan atur ulang
squish head (gbr.2). Tujuannya tak lain agar diameter permukaan head sesuai sama diameter piston
yang tambah besar.

“Ujungnya piston tidak bakal nabrak permukaan bibir head. Squish-nya saya desain jadi 9° saja,” aku
pria yang ngepos di Jl. H. Mencong No.42, Ciledug, Tangerang.

Enggak ketinggalan, porting polish lubang intake dan exhaust pada head mesin (gbr.3) juga dilakukan
Choky. “Tujuannya agar peredaran BBM yang masuk ke ruang bakar maupun peredaran gas buang
lebih optimal. Pemapasannya tidak banyak, sekitar 1 mm saja kok,” akunya.

Nah setelah tunggangan digarap sehari serta dilakukan penyesuaian dan setting sana-sini, besutan dites
mesin dyno dynamometer DYNAmite milik UR (gbr.4). Sebelum di-upgrade/bore-up, kondisi masih
standar, diperoleh power puncak 6,758 dk/8.600 rpm dan torsinya 6,044 Nm/.933 rpm.

Lalu setelah di-upgrade tercatat power maksimalnya 10,19 dk/7.719 rpm dan torsi 10,67 Nm/6.619
rpm. Ini menunjukkan ada kenaikan power sebesar 3,432 dk sedangkan torsinya bertambah 4,626 Nm.

Masih penasaran? Keterangan lebih komplet bisa sambangi UR langsung. Namun untuk pertimbangan
harga maupun hasil garapan, sebelumnya bisa cari referensi ke bengkel lain terlebih dulu.
(motorplus.otomotifnet.com)
Hasil Dyno
Standar Upgrade Kenaikan
Power 6,758 dk/8.600 rpm 10,19 dk/7.719 rpm 3,432 dk
Torsi 6,044 Nm/.933 rpm 10,67 Nm/6.619 rpm 4,626 Nm
Ultraspeed Racing : 021-93858080/021-7313886

Motor Injeksi
Perawatan Motor Injeksi, Menang Waktu Singkat!

Jakarta - Dibanding tipe karburator, motor injeksi sebagai alat penyuplai gas bakar terbukti jauh lebih
mudah dalam hal perawatan. Bahkan waktu pengerjaannya pun terbilang singkat. Sehingga buat
pemilik motor tipe ini yang aktivitasnya tinggi, sangat diperbolehkan menggunkannya.

Apalagi dalam rangkaian tulisan di sebelah, ongkos perawatan motor injeksi masih setara dengan yang
tipe karburator. Di mana proses perawatan tunggangan tipe ini, mekanik diwajibkan untuk memeriksa
kebersihan bagian dalamnya serta lubang-lubang alirannya.

Seperti dikatakan Zahid, service advisor DDS Cempaka Putih yang berlokasi di Jl. Raya Cempaka
Putih, Jakarta Timur. Untuk tunggangan yang baru aja jalan 500 km, 2.000 km sampai 4.000 km,
biasanya motor injeksi hanya lakukan pemeriksaan komponen seperti busi, kerengangan klep, putaran
stationer dan bersihkan filter udara setelah 2.000 km hingga selanjutnya.

Sedangkan yang musti diganti setiap servis setelah motor menempuh jarak 1.500~2.000 km adalah
pelumasnya saja. Adapun pemeriksaan di luar bagian mesin tiap servis, di antaranya rantai penggerak
roda, rem, arah sinar lampu utama, sein dan lampu rem. Ditambah lagi cek kekencangan buat roda
maupun bantalan kemudi.

“Tahap pekerjaan itu memang biasa dilakukan mekanik pada umumnya. Cuma bedanya motor injeksi,
enggak perlu bongkar-pasang karburator. Belum lagi kalau peranti ini posisinya sangat sulit. Butuh
waktu pengerjaan yang lebih lama dari biasanya," lanjut Zahid.

Begitupun jika perjalanan motor injeksi lepas dari angka 4.000 km. Perawatan tetap masih lebih ringan
dibanding komponen pengkabut gas bakar konvensional. Meskipun dalam prosesnya dibutuhkan
ketelitian pada saat pengecekan per bagian. Sebab, terkadang proses pemeriksaan dibutuhkan keahlihan
khusus lantaran butuh alat pendukung bila memang ingin direset atau cek kondisi komponen
elektroniknya.
Contoh saat pemeriksaan komponen pada aliran bensin, injektor hingga peranti pendukung injeksi.
Dimulai dari pengecekan pompa bensin dengan cara mendengarkan suaradesingannya. Kalau enggak
normal, bisa jadi filter pompa bensin kotor.

“Tapi, kalau putaran mesin mulai enggak normal, biasanya injektor minta dibersihkan cairan khusus.
Nah, pada saat mengecek soket kabel kelistrikan injeksi dan peranti lainnya biasanya butuh alat
pendukung khusus pemeriksaan,” timpal Tono P. kepala mekanik AHHAS Honda Dunia Motor di
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Cuma khusus pemeriksaan injektor dan cek alat elektroniknya, lebih baik dilakukan di bengkel resmi
yang menyediakan pelayanan itu. Biar tidak salah analisis maksudnya.
(motorplus.otomotifnet.com)

Tips Mesin Skutik

Lumasi Puli Skutik, Lebih Licin Lebih Lancar


Jakarta - Lancarnya sistem transmisi tentu membuat pengendaraan semakin nyaman. Tak hanya itu,
konsumsi bahan bakar pun lebih optimal, karena hambatan tenaga dari mesin ke roda berkurang. Pada
skutik ada beberapa bagian di transmisi CVT-nya yang perlu mendapat perawatan.

Terutama di bagian-bagian yang bergesekan seperti pada puli-puli dan belt. Tetapi ada lagi bagian yang
di dalamnya terdapat peranti yang bergesekan dan memerlukan pelumas di bagian tersebut. Seperti di
bagian slider di puli.

"Perawatannya dengan memberikan gemuk di bagian yang bergerak," tutur Santoso, dari bengkel
Suzuki Meruya Ilir.
Bagian ini ada di balik kopling ganda alias ada pada puli sekunder. Slider ini akan bergeser pada daya
sentrifugal tertentu, sehingga belt akan bergeser dan membuat rasio yang berubah untuk memberikan
percepatan berbeda pada roda belakang.

Setelah dibuka, mulai dari rumah kopling dan kopling gandanya, akan tampak beberapa bagian, mulai
puli, per CVT dan kopling gandanya (gbr.1). Setelah bagian itu terlepas semua, kemudian copot
penutup slider dengan cara mengungkitnya (gbr.2).

Kemudian, copot pen pengunci menggunakan tang (gbr.3), lantas dilanjutkan dengan Setelah terlepas
bagian tersebut dicuci dulu, menggunakan bensin atau cairan lain yang mampu merontokkan gemuk
lawasnya (gbr.4).
Setelah bersih dan dikeringkan, pasang kembali pen pada kedua bagian puli tadi (gbr.5). Dilanjutkan
dengan mengoleskan gemuk di celah yang ada, masukkan cukup gemuk ke dalamnya, lalu coba
gerakkan bagian tersebut hingga terasa lancar (gbr.6). Terakhir pasang kembali penutup slider dengan
menekannya masuk.

Nah, rangkai kembali bagian-bagian ini sehingga terpasang rapi kembali. Dengan gemuk baru,
hambatan gerak pun jadi berkurang, bagian-bagian yang bergesekan pun akan lebih awet, karena
gemuknya lebih bersih. (motorplus.otomotifnet.com)

Tips Pengapian Motor

Yuk, Ukur Tegangan Puncak Koil Untuk Cek Kerusakan


Pengapian
Jakarta - Yuk, kita akan kupas lebih jauh bagaimana langkah pemeriksaan pada sistem pengapian
sesuai prosedur dari pabrikan. Kalau umumnya kita hanya sampai mengukur tahanan koil untuk
mengetahui apakah kinerjanya masih bagus atau tidak, maka kali ini kita akan mengukur sampai
tegangan puncaknya (peak votage igniton coil). Bahan praktiknya di Honda Absolute Revo 110.

Sebelumnya, yang harus disediakan terlebih dulu multitester, usahakan yang digital biar terbaca lebih
akurat, serta peak voltage adaptor/PVA (gbr.1). “Alat ini ada dijual di pasaran,” bilang Sarwono Edhi,
technical service training manager PT Astra Honda Motor (AHM) via surat elektronik.
PVA ini dibutuhkan karena tegangan koil yang akan diukur cukup tinggi. Pada Revo, standarnya
mencapai 100 V. Jadi tidak bisa langsung pakai multitester, bisa jebol Cuy! Nantinya PVA
disambungkan ke mulitester.

Sebelum memulai pengukuran, tentunya pastikan dulu kedua


alat pengukur tadi bekerja dengan baik atau tidak. Motor juga
diparkir pakai standar tengah. Selain itu, sebaiknya pahami
dulu diagram sistem pengapian motor (gbr.2) serta mengenali
jalur atau warna-warna kabelnya. Cek pula semua sambungan
jalur kelistrikan pada sistem pengapian.

“Karena bila ada soket atau sambungan kabel yang kendur,


bisa membuat pembacaan yang salah pada alat ukur,” terang
Edhi. Jika sudah yakin semua beres, pemeriksaan peak
voltage ignition coil (PVIC) bisa dilanjutkan. Dimulai dari
melepas busi dan periksa terlebih percikan apinya (busi dalam
kondisi terpasang pada kabel busi) dengan cara ditempel ke
massa.

Oh iya, untuk memeriksa PVIC, busi harus dalam kondisi baik. Jika percikan apinya sudah mulai
lemah atau umur busi telah melampaui batas pemakaian ideal (sekitar 10.000 km), sebaiknya ganti
baru. Tapi ingat, pastikan busi pengganti spesifikasinya sesuai anjuran pabrik (NGK CPR6EA-9S /
Denso U20EPR9S). Hati-hati jangan sampai dapat busi palsu ya.

Selanjutnya, dalam kondisi busi masih ditempel ke massa, hubungkan kabel peak voltage adaptor
(PVA) yang min (-) ke kabel primer koil warna hitam/kuning. Kabel primer koil tetap dalam kondisi
terpasang. Sementara kabel PVA yang lain (+) dihubungkan ke massa (gbr.3). Kemudian atur
impedansi pada multitester di posisi minimium 10 MΩ/DCV.
Jika sudah, putar kunci kontak di posisi ignition, lalu hidupkan mesin pakai tombol electric starter.
Tinggal dilihat deh, berapa tegangan puncak koilnya pada multitester. Jika peak voltage-nya gak sesuai,
lakukan pemeriksaan pada beberapa bagian seperti pada peta trouble shooting berikut (gbr.4).

Ingat, saat pengukuran jangan sekali-sekali menyentuh jarum tester ya. Karena kejutan listrik dengan
tegangan 100 V lumayan lo! (motorplus.otomotifnet.com)

Motor

Panduan Melakukan Pengecatan Bodi Motor Sendiri


OTOMOTIFNET - Beberapa waktu lalu, redaktur sport OTOMOTIF pamer soal keberhasilan
membuat kinclong kembali skutik Kanzen Scudeto keluaran 2002 tunggangannya. “Cukup
mengandalkan cat semprot dan dikerjakan sendiri, tampilan Scudeto terlihat muda lagi,” kata Bimo
Aribowo.

Semudah itukah? “Asal tahu tata cara pengecatan, meski hanya pakai cat semprot hasilnya juga bisa
maksimal,” terang Sen-Sen, airbrusher dari rumah modifikasi Artisis di Jl. Mangga Besar, Jakpus.

Ada 3 hal penting yang mesti diperhatikan dalam proses pengecatan. Pertama, soal persiapan,
kemudian eksekusi dan paling buncit soal finishing. Agar lebih jelas mengenai 3 hal tersebut, Sen-Sen
enggak segan-segan bagi ilmu yang dia punya.
Cat semprot, pilihannya ada berbagai merek
dari yang murah sampai mahal

Persiapan Eksekusi
Persiapan
Sebelum memulai pengecatan, Anda harus mempersiapkan alat kerja yang nantinya dipakai dalam
proses tersebut. Paling utama adalah cat semprot (warna dan pernis), sabun dan ampelas. “Untuk
mengecat satu bodi motor, maksimal dibutuhkan 6 kaleng cat semprot. Namun ada merek tertentu yang
kualitas catnya lebih baik, hanya butuh maksimal 4 kaleng atau bahkan bisa kurang,” terang Sen-Sen.

Nah kalau alat kerja sudah disiapkan, agar mempermudah proses kerja maka bagian-bagian bodi motor
yang hendak di cat ulang mesti dilepas. Baru kemudian dilanjutkan dengan proses membersihkan
permukaan bodi motor dari minyak maupun oli.

“Caranya cukup dengan mencuci dengan air sabun. Paling bagus pakai shampo atau sabun cair yang
biasa dipakai cuci piring,” jelas pria bertubuh tegap ini. Kelar dicuci pakai sabun, lalu keringkan
dengan bantuan sinar matahari kira-kira 5-10 menit.

Eksekusi
Proses lanjutan ini dimulai dengan mengampelas bagian yang hendak dicat. Pengerjaan ini fungsinya
untuk menghilangkan permukaan pernis. Agar merata, pengampelasaannya juga memanfaatkan media
air.

“Bila enggak dibuang, akan berakibat setelah kering cat gampang terkelupas. Selanjutnya keringkan
dan semprot dengan PP Primere. Cat ini juga ada yang dalam kemasan kaleng semprot,” kata Sen-Sen.

Prosedur penggunaan PP Primere, terbagi menjadi 2. Pertama adalah sebagai pondasi, dengan jarak
penyemprotan 15 cm dan pastikan hasil semprotannya sedikit kasar seperti kulit jeruk. Setelah kering,
timpa lagi dengan PP Primere.
“Penyemprotan atau prosedur ke-2 itu jadi pengikat cat berwarna. Jadi jangan menunggu terlalu kering,
agar cat berwarna meresap pada PP Primere,” saran Sen-Sen.

Setelah melalui proses pengeringan dengan sinar matahari kurang lebih 15-20 menit, permukaan yang
sudah dicat diampelas lagi. Hal ini untuk mengusir debu yang menempel. Ampelasnya jangan yang
kasar, malah bikin cat terkelupas. Cukup pakai kertas gosok dengan ukuran 1.000-1.200. Kelar digosok
rata, timpa lagi dengan cat.

Finishing Pakai masker


Finishing
Di proses kerja paling akhir ini, cat semprot tipe pernis yang jadi tokoh utamanya. Namun sebelum
melakukan finishing, permukaan yang tadi sudah dicat kembali diampelas. Di sini ada perbedaan
treatment pengampelasan. “Jangan ditekan, cukup digosok secara mengambang saja,” jelas Sen-Sen.

Bila sudah diampelas merata, baru semprot dengan cat pernis. Prosedurnya sama dengan saat
menyemprotkan PP Primer. Agar warna enggak terlihat kusam, usahakan pengeringan dilakukan
dengan bantuan sinar matahari.

Pakai Masker
Meski terlihat mudah dilakukan, tetap saja proses kerja pengecatan tersebut butuh keselamatan kerja.
Maksudnya, agar enggak terjadi gangguan pada pernafasan, sebaiknya saat pengecetan menggunakan
masker.

“Kalau enggak kuat, pengaruh langsungnya si pelaku bisa merasakan sesak nafas. Bahkan kalau sering
melakukan pengecatan, air ludah bisa seperti warna cat,” kata Bashir, tukang cat bengkel modifikasi
Kahanan di Jagakarsa, Jaksel.
Soal masker yang paling baik adalah masker khusus tukang cat profesional. Namun kebanyakan tukang
cat, pakainya masker perawat atau masker yang dipakai pengendara motor.

Walau memang enggak banyak bidang yang dicat dan tidak melakukan pengecatan secara terus
menerus, tetap saja jaga kesehatan dengan menggunakan masker saat proses pengecatan berlangsung.

Penulis/Foto: Oct / Dede

Motor
Upgrade Performa Honda Beat, Tenaganya Bisa Ngisi Terus
Cuii..!
OTOMOTIFNET - BeAT terkenal sebagai skutik yang punya akselerasi mantap di rpm bawah hingga
menengah. Cocok untuk penggunaan sehari-hari yang stop & go, atau demi menaklukkan lalu-lintas
yang macet. Namun kedodoran saat jalan keluar kota, di mana banyak jalanan lurus panjang yang
butuh rpm tinggi.

Tapi jangan kawatir, gampang kok agar rpm atas juga ngisi. Upgrade saja performa mesinnya, hal
tersebut sudah dibuktikan Yuda Billindo, mekanik bengkel Gandhi Racing yang beralamat di Jl.
Pajajaran No.62, Pamulang, Tangerang.

Berdasarkan tes jalan memang atasnya lebih berisi. “Lawan skutik balap yang 150 cc pun berjaban,
terbukti waktu dites di Sentul,” terang Gandhi Santana, bos Gandhi Racing (BR).

Piston Jupiter Z oversize 100 masuk pada


boring standar

Kepala silinder hanya di-polish, payung klep


Sekat silencer dibobok, gantinya pipa 28 mm
dibubut agar ringan dan lebih rata dengan
berikut saringan dan glasswool di ujung
seating klep
Pembuktian lain ketika diukur tenaga dan torsinya di atas dynamometer Sport Devices, milik Dunia
Motor di kawasan Ciputat, Tangerang. Tercatat tenaga mencapai 10,8 dk/6.241 rpm, dan torsi 19,39
Nm/3.317 rpm.

Angka itu lebih tinggi 1,9 dk dan 4,85 Nm. Sebab BeAT standar (yang kami pakai tes di waktu
bersamaan) dengan dynamometer merek sama tercatat hanya 8,9 dk/4.878 rpm, dan torsi 14,54
Nm/4.007 rpm.
Ingin tahu ubahan yang hanya membutuhkan waktu satu hari ini? Mari disimak terus! Oh iya tulisan ini
juga untuk referensi rekan Mr. Testo pemilik skutik serupa yang bertanya lewat email
(mr.testo10@gmail.com) atau facebook (Tester Otomotif) tentang upgrade performa BeAT.

Silinder Blok & Piston


Isi silinder dibesarkan namun tak ekstrem, karena awet dan hemat jadi poin penting. “Cukup pakai
piston Jupiter Z oversize 100,” terang Yuda. Diameternya berarti 52 mm, jika dihitung kini volumenya
jadi 116,7 cc.

Pemasangan tetap menggunakan boring bawaan motor. “Cukup dikorter, masih aman, kok,” terang
pemukim kawasan Pamulang ini. Sedang bibir piston dibubut 0,5 mm agar tak membentur kepala
silinder, serta membentuk dome. Tak lupa coakan diperdalam agar tak membentur klep.

Kepala Silinder
Cylinder head tak banyak mengalami ubahan, “Hanya di-polish saja untuk menghilangkan kulit jeruk
yang menghambat aliran bahan bakar dan udara,” lanjut mekanik berbadan kekar ini. Efeknya tentu
saja gas speed makin cepat.

Paduannya payung klep bawaan motor sedikit disentuh. “Bibirnya dibubut agar tipis dan rata dengan
seating klep,” terangnya. Efeknya aliran makin lancar, dan saat pembakaran lebih tuntas karena tak ada
yang terhalang.

Kem
Sebagai pengatur buka-tutup klep, kem atau noken as wajib dioprek biar pasokan bahan bakar dan
pembuangan makin banyak. “Pantat kem dibubut 0,5 mm,” papar Yuda lagi. Sayang berapa durasinya,
dengan jujur Yuda mengaku tak mengukur.

Karburator
Mengimbangi makin besarnya volume silinder, yang berdampak makin besar sedotan, spuyer
dinaikkan. Namun ternyata yang minta naik pilot jet. “Naik satu step jadi 38.”

Knalpot
Memaksimalkan penghimpunan tenaga, saluran pembuangan diperlancar. Caranya dengan membobok
silencer, semua sekat dibuang lalu diganti pipa bulat pada setengah silencer, sisanya model berlubang
dilengkapi glasswool.

Leher knalpot tetap standarnya. “Karena klep standar, kalau dibesarkan bawahnya malah drop.”

CVT
Penerus daya juga sedikit dimodif, tentu agar penyaluran tenaga lebih merata dari bawah sampai atas.
Pertama roller diperingan jadi 8 gr, lalu per CVT ganti dengan spek 1.500 rpm.
Part dan jasa
Piston kit + korter 200.000
Bubut klep 20.000
bubut noken as 100.000
Bobok knalpot 150.000
Roller 70.000
Per CVT 70,000
Jasa 150.000
Total 760.000
Data performa
standar Upgrade Kenaikan
Tenaga 8,9 dk / 4.878 rpm 10,8 dk / 6.241 rpm 1,9 dk
Torsi 14,54 nm / 4.007 rpm 19,39 nm / 3.317 rpm 4,85 nm
Gandhi Racing 021-70001034 / 0813-10001034
Penulis/Foto: Aant / Aant

Motor

Valve Seats, Bahan Berbeda, Khasiatnya Juga Berbeda


OTOMOTIFNET - Banyak hal di kepala silinder, tak hanya sebagai sarang kem dan katup saja,
melainkan ada hal-hal mendetail, seperti kubah silinder, sudut klep maupun dudukan klep atau valve
seats. Berbicara soal valve seats ini, ada banyak bahan baku bisa digunakan.

Seperti kata Akiang, dari Rudi Jaya Motor di Jl. Ciputat Raya. Bengkelnya kerap mendapat order dari
seantero Nusantara untuk membuat dudukan klep ini. "Berbagai macam pesanan, termasuk dari tim
balap nasional, seperti Star Motor yang digawangi Benny Djati utama, atau Yong's Jaya Motor,"
ungkapnya.

Urusan balap kelas daerah pun sering membuat bengkelnya mendapat ‘kiriman' kepala silinder.
"Banyak merek seperti Honda, Suzuki, Yamaha," lanjutnya. Nah, kenapa sih, banyak yang mengorder
valve seats itu?

Bahan baku (ki-ka) Besi cor, Bronze dan besi


KNL

Valve seats sebelum terpasang diberi Bos klep pun terbuat dari bronze
'daging' dulu disesuaikan batang katup
Aplikasinya banyak, mulai dari tunggangan harian, hingga kebutuhan untuk balap yang sudah
menggunakan klep lebar, seperti diameter 24 dan 28. "Otomatis, perlu dudukan klep berbeda dibanding
standarnya," lanjut Akiang.

Soal bahan pun beragam, ada yang terbuat dari besi cor, lantas bahan bronze dan besi KNL. "Umumnya
yang dipakai adalah bahan ancuran (besi cor,red), dan bronze, kalau KNL itu pesanan saja," tutur lelaki
bertubuh kurus itu.

Bahan ancuran itu, biasanya dipakai menggantikan valve seats bawaan pabrik yang sudah aus.
"Bawaan pabrik pun menggunakan bahan ancuran, namun sudah mengalami proses hardening sendiri
agar lebih kuat," jelas Akiang.

Biasanya, valve seats standar ini bisa habis setelah terkikis karena proses skir klep. Lantas, untuk
menggantikannya lagi dipakai bahan yang mirip aslinya. Sedangkan bronze, digunakan pada
tunggangan balap yang memang kinerjanya lebih berat.

"Bahan bronze cukup kuat, banyak dipakai pada motor-motor balap," ujarnya. Biasanya, setelah ganti
pakai payung klep lebih besar, perlu valve seats lebih lebar juga. "Bahan ini mengandung magnesium,
aluminium dan besi," kata Akiang. Jadi, cukup kuat meski ringan.

Daya tahannya pun cukup lama, jika dipakai setahun seri balap pun tak akan rusak. "Tetapi, umumnya
karena benturan antara klep dan piston, bisa mempengaruhi daya tahan valve seats dan bos klepnya,"
jelasnya kemudian.

Maklum saja, tunggangan balap kerap pakai piston dengan kompresi tinggi alias jenong, bukan tak
mungkin mengalami benturan dengan klep.
Lalu, jika ingin awet bagaimana? "Ketika melakukan skir klep, sebaiknya tak menggunakan bahan
amril seperti biasanya, cukup gunakan autosol saja," kiat lelaki yang juga memiliki tim balap itu.

Untuk membuat valve seats ini, biaya yang diperlukan adalah Rp 600 ribu untuk bahan KNL dan
Bronze serta Rp 500 ribu untuk bahan besi ancuran alias besi cor.

Tak hanya valve seats, bahan bronze juga dipakai untuk bos klep. "Bisa disesuaikan dengan batang klep
yang mungkin diameternya lebih lebar," tutupnya.

Rudi Jaya Motor: 021-7430062

Motor

Upgrade Ekstrim Yamaha Xeon, Tenaga Bisa Meningkat Sampai


4,6 DK
OTOMOTIFNET - Kendati punya slogan ‘Semakin
Tak Tertandingi’, ada saja penunggang Xeon yang
kurang puas dengan mesin bawaan. Mesti diakui, pada
putaran rendah sampai menengah akselerasi skutik 125
cc ini tergolong cepat. Tepatnya hanya sampai 80
km/jam, setelah itu akan merangkak pelan hingga 105
km/jam.

Halfiadi, salah satu penunggang Xeon yang merasakan


hal itu. Makanya langkah modifikasi pun dilakukan.
Kebetulan pria yang biasa disapa Fedi ini, juga pemilik
bengkel TZT Speed Shop (TSS), di Jl. RS Fatmawati
No. 04A, Pondok Labu, Jaksel.

Ubahan yang dilakukan pada motor yang terbilang


baru ini cukup ekstrem, tentu hasilnya memuaskan. Diukur di atas dynamometer Sportdevices milik PT
Global Motorindo di kawasan Galur, Senen, Jakpus terbaca tenaga mencapai 12,8 dk/5.188 rpm.
Sedang pada kondisi standar tercatat 8,2 dk/8.021 rpm. Sayang torsi saat standar tak tercatat, setelah di-
upgrade mencapai 18,11 Nm/4.500 rpm.

Artinya ada kenaikan tenaga sebesar 4,6 dk. Grafik tenaga pun penurunannya bertahap, beda dengan
standar yang setelah 8.000 rpm turun drastis. Makanya setelah di-upgrade, 80 km/jam ke atas naik terus
dengan cepat.

Mau tahu ubahan yang memerlukan waktu sekitar 1 minggu ini? Simak terus! Oh iya, ini sekaligus
menjawab pertanyaan dari rekan Mr. Testo, baik lewat email (mr.testo10@gmail.com) atau facebook
(Tester Otomotif).
Silinder Blok
Salah satu cara memperbesar tenaga, dengan membengkakkan
isi silinder. Tentunya langkah bore-up jadi pilihan. Piston
bawaan berdiameter 52,4 mm digusur milik V-Ixion 57 mm.
“Kebetulan pennya sama 14 mm, juga jenis forged piston,”
terang Ivo Samudra, kepala mekanik bengkel TSS.

Piston baru tak dibiarkan apa adanya, bagian bibir mesti


dibubut 0,8 mm agar permukaan rata dan enggak membentur
kepala silinder. Pemasangan piston V-Ixion ini, mesti
mengorbankan liner bawaan yang berlapis DiASil, karena
Pen Stroker 2 mm, biar langkah piston jadi
mengalah pada liner baru yang bediameter luar sekitar 60 61,9 mm
mm.

Kruk As
Tak puas hanya membore-up, stroke-up pun dilakukan. Tapi
tak terlalu banyak, hanya naik 4 mm (jadi 61,9 mm). Caranya
cukup mengandalkan pen stroker 2 mm, “Pakai keluaran LHK
untuk Mio, kebetulan sama,” lanjut Ivo. Dengan kombinasi
piston 57 mm, isi silindernya jadi 157,9 cc.

Kepala Silinder
Memperlancar aliran masuk dan buang, inlet dan exhaust
kepala silinder di-porting & polish. “Tak terlalu banyak, hanya Noken as dibentuk ulang di Ahon
sekitar 1 mm,” papar mekanik asli Surabaya ini.

Noken As
Biar pasokan campuran bahan bakar dan udara ke ruang bakar
mencukupi, serta timing-nya tepat, noken as bawaan motor
dimodif. “Lift dan durasi meningkat,” ujar Ivo singkat.

Sayang berapa tepatnya tak diketahui, secara jujur calon bapak


ini bilang jika pengerjaan diserahkan pada Ahon, salah satu
mekanik terbaik dalam membuat kem.
Piston V-Ixion mengantikan bawaan motor
Knalpot
Pembuangan diperlancar dengan mengubah saluran gas buang ini. “Ganti lehernya dengan pipa lebih
besar,” terang Ivo. Standarnya punya diameter 20 mm, sedang pipa baru 26 mm. Dengan diameter
besar, pada putaran atas tak lagi lelet, karena aliran lancar.
Sekarang semakin tak tertandingi, deh…!
Part dan jasa
Piston V-ixion kit 250.000
Ganti boring 200.000
Pen stroker+pasang 350.000
Bubut noken as 250.000
Ganti leher knalpot 150.000
Jasa 250.000
Total 1.450.000
Data performa
standar Upgrade Kenaikan
Tenaga 8,2 dk / 8.021 rpm 12,8 dk / 5.188 rpm 4,6 dk
TZT Speed Shop 021-91987877

Penulis/Foto: Aant / Aant

Motor

Up Grade Performa Suzuki Satria FU, Dengan Piston Karimun


OTOMOTIFNET - Banyak alasan yang melatari pemilik Suzuki Satria FU 150 untuk mendongkrak
performanya. Ada yang kurang puas sama tenaga standar, ada pula yang berargumen agar kuda besinya
itu bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam beraktivitas yang kerap stop and go. Oke dehhh...

Apapun reason-nya, pilihan ada di tangan Anda. Seperti kata Iqbal yang meng-upgrade tunggangannya
itu. “Yah, manusia kan enggak ada puasnya, hehehe...”

Gbr 1 Gbr 2
Gbr 3 Gbr 4
Pilihannya, tentu saja di-bore-up. Budget-nya pun beragam. Nah, kalo mau yang pahe alias paket
hemat, bisa lirik tawaran Kahfi Wijaya.

Demi memenuhi kebutuhan FU-mania pencita kecepatan, mekanik dari bengkel K-22 Racing (K-22R)
ini menyodorkan paket bore-up dengan biaya Rp 500 ribuan. Sudah pasti, Anda pun bisa menyesuaikan
dengan isi kantong, kan?

Lalu, paket apa yang ditawarkan workshop di kawasan Jl. Raya Fatmawati, Jaksel itu? “Buat
mendongkrak kapasitas mesin, saya mengaplikasikan piston punya mobil Suzuki Karimun dan pastinya
bore-up itu juga masih bisa dipakai buat harian, lo!” kata Kahfi (tak terlalu boros BBM).

Maklum, dari sekian banyak keluhan konsumennya, rata-rata bilang tarikan atas agak lemot. “Kalo
pakai seher Karimun, dijamin tarikan bawah sampai atas jalan terus dan ngacir!” promosi mekanik
sekaligus pemilik K-22R itu. Mau tahu isi dalamnya?

Isi paketan terdiri dari seher plus ring, pen seher, boring, dan ongkos bongkar pasang (gbr.1). Lalu, buat
aplikasi seher berdiameter 65 mm itu gak banyak yang dirombak pada crankcase-nya dan pantat peranti
itu gak dipotong. “Jadi masih aman, deh!” jaminnya.

Karena tipe mesin Satria DOHC dengan 4 klep, maka ujung kepala seher mobil dicoak menyesuaikan
got atau celah peranti tadi (gbr.2). Di bagian pengikat seher alias pen masih berukuran sama (16 mm)
(gbr.3). Jadi, setang seher pun enggak diganti.

Lalu, boring asli ditukar baru (gbr.4). “Kalo mau balik standar lagi, mendingan bawa blok mesin bekas,
tapi kondisinya masih bagus. Jadi, kalo sewaktu-waktu bosan bisa bongkar pasang,” lanjut pria yang
kerap ngoprek mesin Satria 2 dan 4-Tak ini.

Karburator tetap pakai asli pabrikan. Sedang pada pilot dan main jet tidak dapat alias beli sendiri.
“Karena spuyernya (pilot dan main jet) mengikuti permintaan mesin itu sendiri,” tutup lulusan teknik
mesin dengan memberikan garansi selama satu bulan.
Tabel parts dan harga
Seher+ring Karimun Rp 250 ribu
Pen Karimun (16 mm) Rp 40 ribu
Boring Rp 130 ribu
Paking alumunium Rp 40 ribu
K-22 Racing: 021-97797033
Penulis/Foto: Teguh / Teguh

Motor

Substitusi Per Kopling Yamaha V-Ixion Pakai Honda Tiger


OTOMOTIFNET - Bikin tunggangan agar lebih enak, ternyata tak mesti keluar dana banyak. Salah
satunya bagi penunggang Yamaha V-Ixion, ingin tarikan lebih maknyus cukup bermodal uang Rp 56
ribu! Masak sih? Mau bukti? Simak terus…!

Bermodal per kopling (PK) yang punya daya pegas lebih kuat, agar dorongan pada rangkaian kampas
makin besar, sehingga lost power bisa diminimalkan, tarikan pun lebih yahud! Pakai per kopling apa?

“Punya Honda Tiger,” ujar Jalaludin, kepala mekanik bengkel Pelangi Motor, di Jl. Boulevard Timur
Blok NE No.61-62, Kelapa Gading, Jakut. Kata mekanik yang biasa dipanggil Puku ini, dimensi
keduanya mirip, tapi milik Tiger lebih keras.

Gbr 1 Gbr 2

Gbr 3 Gbr 4
Jika diamati, keduanya sangat mirip (gbr.1). Perbedaan akan kentara jika diamati secara detail. Seperti
diameter batang, PK Tiger sedikit lebih besar. Sedang panjang per beda sekitar setengah ulir, V-Ixion 8
ulir, Tiger 7,5 ulir. Namun jika ditekan masih lebih kuat PK Tiger.

Sedang diameter luar per, sedikit lebih besar milik Tiger (gbr.2), “Namun bisa terpasang plug and play,
kok,” lanjut Puku.
Menariknya, harga PK Tiger asli tergolong terjangkau. “Cuma Rp 6.500 per biji,” bilang Agustinus
Purwanto, mekanik spesialis Tiger di Purwokerto. Artinya jika beli 4 biji hanya Rp 26 ribu, lebih murah
dari milik V-Ixion yang per biji Rp 15 ribu. Jika ditambah ongkos bongkar pasang Rp 30 ribu, maka
totalnya Rp 56 ribu.

Mau tahu cara pasangnya? Puku berbaik hati mempraktikkannya. Pertama kuras oli dengan membuka
penutupnya pakai kunci ring 19. Sambil menunggu oli turun, buka 2 baut stopper kick starter pakai
kunci T-12 (gbr.3).

Lanjut melepas kick starter, dengan membuka murnya pakai kunci ring 19. Setelah itu buka ke-11 baut
bak kopling pakai kunci T-8, kendurkan dulu satu per satu baru dilepas. Nah tinggal tarik bak
koplingnya (gbr.4), jika sulit ketok dulu pakai palu karet.

Gbr 5 Gbr 6
Nah kini terlihat rangkaian kopling. Konsentrasikan pada keempat baut per kopling. Ambil kunci T-10
untuk membukanya (gbr.5), “Bukanya bersilang, agar baut tak sleg atau patah,” wanti Puku.

Jika keempat baut sudah lepas, tarik deh per koplingnya (gbr.6). Sekarang pasang PK milik Tiger,
dijamin langsung plek tanpa kendala. Nah rangkai lagi dengan langkah kebalikan proses membongkar.
Jangan lupa isi lagi olinya ya!

Rasakan tarikannya! Dijamin lebih jos!

Penulis/Foto: Aant / Aant

Motor

Beda Cara Buka Beda Kurva


OTOMOTIFNET - Meski kini mengusung kapasitas
mesin lebih kecil dari generasi sebelumnya, ternyata
setelah diukur power mesinnya secara on wheel di atas
mesin dyno, tenaga maksimum dapur pacu Honda
New Mega Pro (NMP) lebih tinggi lo dibanding Mega
Pro lama yang notabene cc-nya lebih gede.

Tercatat horse power-nya tembus 11,85 dk di putaran


8.200 rpm di atas mesin Dynojet 250i buatan Amerika.
Sedang torsi puncak terukur 11,16 Nm 6.700 rpm. Sementara max power Mega Pro lama hanya sekitar
11,13 dk di 8.500 rpm dengan torsi maksimum 11,61 Nm di 6.250 rpm. Artinya tenaga maksimum
NMP lebih tinggi 0,72 dk dibanding Mega Pro versi sebelumnya.

Pastinya banyak faktor yang mendukung pencapaian prestasi tersebut. Salah satunya penerapan sistem
pengapian multimap pada CDI yang disanding dengan throttle position sensor (TPS). Kata bagian
technical service PT Astra Honda Motor (AHM) waktu peluncuran perdananya di Sentul, Jabar
beberapa waktu lalu, sistem pengapian NMP menganut 12 macam mapping pengapian.

“Mapping pengapian sebanyak itu akan berganti-ganti sesuai kondisi mesin. Ngebacanya lewat putaran
mesin dan bukaan throttle karburator,” terang Sarwono Edhi, technical service training manger AHM.
Mirip deh, kayak di motor injekasi. Sayang Edhi mengaku belum mendapat data mapping-nya seperti
apa dan tercipta di kondisi putaran mesin dan bukaan throttle seperti apa.

Namun begitu, lanjut Edhi, pada sasarannya penerapan multimap tersebut bertujuan untuk mengejar
efisiensi bahan bakar. Karena menyangkut kemampuan menentukan titik bakar yang ideal sesuai
kondisi mesin saat itu. Tapi bahwa dampak bisa meningkatkan performa mesin, ya jelas ada. Karena
jika waktu pembakarannya tepat, sudah pasti daya ledak di ruang bakar kan makin hebat. Sehingga
sudah pasti tenaga maupun torsi akan lebih baik.

Throttle position sensor (TPS) bertugas


Grip gas diurut sama dipelintir mendadak,
membaca bukaan throttle dan mengirim out
mapping pengapiannya beda-beda
put berupa tegangan ke CDI
Jadi gak heran kalau pembakaran yang dihasilkan jauh lebih optimal dibanding otak pengapian single
map kayak yang dipakai Mega Pro lama. Sehingga wajar bila performa mesin NMP lebih bertenaga.
Selain itu, efisiensi bahan bakarnya juga tercapai lantaran kabut bensin mampu dibakar secara optimal
di tiap kondisi putaran mesin.

Oh iya, karena menganut kurva pengapian yang terbilang banyak itu, membuat beberapa produsen CDI
aftermarket lumayan dibikin pusing tujuh keliling dalam mencari dan menetukan kurva pengapian yang
ideal untuk motor ini.

“Soalnya mapping pengapianya beda-beda di tiap kondisi bukaan throttle. Diurut pelan-pelan sama
dipelintir mendadak, kurva pengapiannya juga beda. Makanya butuh riset yang tidak bisa sebentar,”
tutur Heri dari bagian technical service PT Trimentari Niaga selaku produsen CDI merek BRT saat
ditemui tengah meriset produk ini.

Hayoo..kamu bisa!
Penulis/Foto: DiC / Reza

Motor

Perawatan CVT Skutik Agar Kondisinya Tetap Fit


OTOMOTIFNET - Usia 5 tahun untuk kendaraan sebenarnya boleh dibilang uzur. Tetapi, tak berarti
tunggangan tua renta. Sebab, dengan perawatan yang baik kondisinya akan tetap fit. Seperti pada skutik
dengan transmisi ber-CVT ini. Beberapa komponen di dalamnya akan aus termakan usia tentunya.

Komponen paling utama sebenarnya ada dua, yaitu belt CVT dan roller (gbr.1), sebab bagian ini yang
lebih rentan dibandingkan komponen lainnya. Tetapi jika usia pakai sudah mencapai 5 tahun,
komponen lain pun kemungkinan sudah aus.

Pada belt ini, umumnya akan memerlukan penggantian pada saat sudah menempuh jarak sekitar 20 ribu
kilometer, biasanya sisi kiri dan kanan belt akan termakan. "Seperti saat baru lebarnya sekitar 18,2 mm,
saat sudah aus ada toleransi hingga 17,2 mm (gbr.2), jika kurang dari itu sebaiknya diganti," terang
Parwoto, aftersales manager PT Triangle Motorindo, ATPM Viar.

Gbr Gbr 2

Gbr 1 Gbr 4
Kemudian liat juga sisi dalamnya. Coba balikkan belt ini dan periksa kondisinya. Jika sisinya masih
belum termakan, kemungkinan bagian dalamnya yang termakan usia, setelah dibalikkan, perhatikan
apakah ada keretakan atau tidak (gbr.3).

Sementara roller, walaupun bentuknya bulat, tetapi umumnya akan tergesek pada salah satu sisinya
saja, karena pergerakan yang terus menerus (gbr.4). Peranti ini pun segera diganti jika sudah aus.
Hal lain yang mungkin perlu penggantian; per CVT, tentu tak mutlak, karena bisa jadi peranti ini masih
bekerja dengan baik. Jika tarikan terasa lambat, perlu diganti. Jika tidak, masih bisa digunakan lagi.

Kemudian perhatikan juga secondary pulley, ini pun cukup diperiksa saja, karena kemungkinan besar
tak terjadi kerusakan. "Tetapi ada bagian yang kemungkinan aus di situ, yaitu bearing-nya," jelas Willy
Dreeskandar, dari F16 Motor di Jl. Ciledug Raya, Ciledug, Tangerang, Banten.
Willy pun beranggapan kampas kopling CVT perlu diperiksa sebab bagian ini memiliki bidang gesek
yang sudah pasti terjadi keausan jika dipakai dalam jangka waktu cukup lama.

Deteksi kampas kopling ini sudah aus, bisa terasa ketika sedang berakselerasi tapi tarikannya tak
segarang sebelumnya. Tarikan agak lambat ditandai dengan raungan mesin lebih tinggi dibanding
biasanya.

Lelaki bertubuh jangkung itu pun mewanti-wanti, ada lagi peranti yang perlu diperiksa. Meski tak
berhubungan langsung dengan CVT, tetapi merupakan bagian dari perangkat penerus daya. "Bearing
roda juga dicek lagi, kemungkinan sudah tidak berfungsi seperti semula," tambahnya.

Nah, jika perawatan dilakukan dengan saksama, usia tunggangan yang sudah cukup lama ini tak akan
terasa oleh penggunanya. Sebab, semuanya sudah kembali ‘segar' seperti tunggangan baru.

F16 Motor: 021-93339816

Motor

Yuk, Setting Combi Brake Vario CBS Techno


OTOMOTIFNET - Lahir dari pabrik; PT Astra Honda Motor (AHM), Honda Vario CBS Techno sudah
dibekali combi brake system (CBS) guna menjamin keamanan dan kenyamanan dalam sistem
pengereman.

Meski teknologi ini baru pertama kali ada di sepeda motor (khususnya di Indonesia), enggak sedikit
motormania yang sudah tahu prinsip kerjanya. Yakni saat tuas rem sebelah kiri ditarik, rem belakang
dan depan secara bersamaan bekerja.

Tapi, meskipun bawaan pabrik sudah disetting sedemikian rupa sehingga rem belakang lebih pakem
dibanding rem depan, ada beberapa rider yang merasa rem depannya kurang pakem saat keduanya
bekerja bersamaan. Lho?
Gbr 1 Gbr 2

Gbr 3 Gbr 4
Nah, solusinya ada beberapa Vario Techno-mania yang mengubah sendiri setelan connecting cable-nya
(CB) yang berada di dalam batok, bawah spidometer, sesuai keinginannya.

Seperti halnya dilakukan Herry Yulianto pada Honda Vario CBS Techno keluaran 2009 tunggangannya.
“Caranya enggak ribet, kok. Cuma modal 3 kunci, yakni obeng kembang dan kunci pas 10 dan 12.
Setelan bisa diatur sesuai selera,” aku warga Cipulir, Jaksel ini.

Mau tahu lebih detailnya? Berikut langkah-langkahnya yang dipraktikkan langsung Herry pada Vario
Techno kesayangan.

Pertama, buka batok depan dengan cara melepas semua baut pengikatnya menggunakan obeng
kembang (gbr.1). Setelah batok terbuka, akan terlihat rangkaian CB yang berada di setang bagian
kanan, persis di bawah master rem (gbr.2).

Lalu, kendurkan baut pengunci CB menggunakan kunci pas 12 (gbr.3) ke arah berlawanan jarum jam.
Kemudian atur/setel ketegangan CB dengan cara memutar mur-nya menggunakan kunci pas 10 (gbr.4).
Diputar searah jarum jam atau sebaliknya.

“Kalau mur diputar ke atas (searah jarum jam), berarti ketegangan kabel berkurang, sehingga saat tuas
rem kanan ditarik, pengereman roda depannya berkurang. Sebaliknya jika mur diputar ke bawah, maka
ketegangan kabel akan bertambah, sehingga saat tuas rem kanan ditarik pengereman depan lebih
pakem,” yakin Herry.

Nah setelah disetel, coba dulu apakah pengaturannya sudah pas/sesuai keinginan atau belum. Kalau
sudah pas, baru mengencangkan kembali mur pengunci CB dan merakit kembali peranti yang dilepas,
kebalikan saat membongkarnya.

Gampang to mase!
Penulis/Foto: Banar / Banar

Motor

Ragam Pilihan CDI Aftermarket Supra X125 Mulai Teknologi


Fixed, Dualband dan Adjustable
OTOMOTIFNET - Ada rencana mengup-grade
sistem pengapian Honda Supra X125 (HSX125) atau
Karisma kesayangan pakai CDI aftermarket? Berikut
ini ada beberapa pilihan otak pengapian yang kerap
diandalkan para pengguna bebek 125 cc berlambang
sayap mengepak itu.

Pilihan cukup bersahabat dari sisi harga, merek Varro,


dilego sekitar Rp 227 ribu. Untuk ubahan street
performance, produk PT Junior Motorsport (JMS) di
Cibinong, Jabar ini terbilang cukup memenuhi.
Direkomendasi buat mesin standar hingga kohar
sebatas porting-polish.

Sebab out put pengapian dirancang mirip standar


bawaan motor. Namun timing-nya sudah dioptimalkan di beberapa titik putaran mesin dan sudah
unlimiter. Dari hasil dyno, CDI ini mampu meningkatkan tenaga maupun torsi mesin cukup baik (lihat
hasil dyno).

Tapi kalau Anda nantinya berniat akan menerapkan ubahan mesin lebih jauh lagi, tak ada salah melirik
CDI berkurva pengapian lebih dari satu. Misal BRT Neo Dualband yang di pasaran dijual sekitar Rp
440 ribu. Sesuai namanya (Dualband), CDI punya 2 buah map pengapian.

"Pada tipe ini ada beberapa jenis kurva. Yakni standar/tune-up (ST), tune-up/racing (TR) dan
racing/kompetisi (RK)," beber Heri, technical service PT Trimentari Niaga, produsen BRT. Yang
biasanya dipilih para pemakai HSX125/Karisma untuk kohar adalah kurva TR.

Meski hanya diterapkan di mesin standar, kemampuan mengoreksi power serta torsi maksimum bisa
diandalkan. Kurva pengapian yang diuji adalah T (sakelar Dualband Off untuk kurva TR). Untuk
ubahan mesin yang lebih jauh lagi, tinggal geser kurvanya ke R dengan cara mengaktifkan (ON)
sakelar Dualband-nya.
Rextor Varro

STD BRT
Pilihan lain adalah merek Rextor Adjustable buatan Batam. CDI Rp 550 ribu ini punya kurva
pengapian 16 macam (0-9, A-F). Bisa diadjust sesuai permintaan mesin dengan cara meng-'klick' map
selector switch di badan CDI. Bisa diaplikasi hingga ubahan yang mengarah kompetisi.
"Untuk mesin standar cukup pakai kurva 0. Atau bisa juga pakai kurva lain sampai dirasakan performa
terbaik," bilang Robert Cong, bos PT Global Motorindo di Jl. Letjend. Suprapto, Galur, Jakpus.
Data Performa
CDI Power Max Torsi Max
Standar 10,02 dk / 6.400 rpm 11,94 nm / 5.100 rpm
Varro 10,08 dk / 5.000 rom 11,65 nm / 5.000 rpm
BRT Dualband 9,91 dk / 7.100 rpm 11,48 nm / 5.100 rpm
Rextor adjutable 10,12 dk / 7.000 rpm 11,62 nm / 5.100 rpm
Varro 021-87901768
BRT 021-8765447
Rextor 021-42876931

Motor
Bedah Sistem CVT Yamaha Xeon, Serba Besar Bro!
OTOMOTIFNET - Yamaha Xeon hadir dengan sasis,
mesin dan beberapa teknologi baru. Basisnya jauh
berbeda dari Mio/Nouvo. Wajar jika sensasi
berkendara lumayan jauh berbeda, terutama dari segi
performa.

Gampangnya Xeon ngacir, selain dari mesin yang


memang besar, yaitu 125 cc berpendingin cairan, juga
dipengaruhi perangkat CVT yang ternyata juga jauh
beda dengan generasi sebelumnya. Ayo dibongkar apa
saja yang menjadikan berbeda!

Roller
Nah part yang berfungsi mengangkat movable drive
face dengan prinsip gaya sentrifugal ini, pada Xeon
bentuknya tergolong gede. Diameter luar mencapai 20 mm. Bandingkan sama punya Mio yang hanya
15 mm.

Sedang bobotnya hanya 10 gr, atau 0,5 gr lebih ringan dari Mio. “Ukuran besar namun ringan membuat
akselerasi dari bawah sampai menengah cepat, cocok untuk jalanan perkotaan,” urai M. Abidin,
manager technical department-service division PT YMKI.

Memang sangat terasa, dari berhenti sampai 80 km/jam terasa cepat. Sayang setelah itu merayap pelan
hingga mencapai kecepatan maksimal sekitar 105 km/jam.

Perbandingan roller Mio dengan Xeon Centrifugal clutch ditahan laher besar
V-belt punya bentuk dan ukuran yang Secondary sliding sheave punya alur yang
berbeda melengkung
V-Belt
Penghubung drive face dengan driven face ini juga punya bentuk dan ukuran beda. Lekukan bagian
dalam membentuk setengah lingkaran, di Mio trapesium. Lebarnya mencapai 22 mm, panjang 880 mm
(Mio 18,2 mm/842 mm). Efeknya kekuatan lebih besar, tenaga tersalur lebih sempurna dan lebih awet.

Secondary Sliding Sheave


Paling jelas terlihat groove torsi cam punya bentuk melengkung. Menjadikan percepatan terasa tak
mengentak. Kedua pin guide-nya besar. Pastinya agar lebih awet.

Centrifugal Clutch
Rumah kopling pun berdiameter besar. “Mendukung akselerasi cepat,” lanjut Abidin. Istimewanya saat
berputar ditahan oleh laher berdiameter besar, sehingga tak mudah goyang dan tahan lama.

Gear Rasio
Ukurannya juga jauh lebih besar dari Mio. Perbandingannya pun demikian (amati tabel). Sehingga
volume oli Xeon mencapai 200 ml, atau 2 kali lipat Mio. Jenis oli yang digunakan sama (Yamalube
Gear Oil), demikian juga penggantian yang tiap 10 ribu km.

Saluran Udara
Lubang pemasukan udara untuk mendinginkan perangkat CVT tak diambil langsung dari udara bebas,
melainkan dari sasis. “Sehingga lebih dingin dan bersih,” terang Abidin saat launching Xeon.
Perbandingan CVT Mio dan Xeon
Item Mio Xeon
Panjang V-belt 842 mm 880 mm
Lebar V-belt 18,2 mm 22 mm
Ø Dalam clutch housing 112 mm 120 mm
Kopling mulai membuka 2650 - 3050 rpm 2450-2850 rpm
Kopling mulai mengopel 4800-5400 rom 4900-5500 rpm
Ø Luar roller 15 mm 20 mm
Berat roller 10,5 gr 10 gr
Reduksi primary 47 / 15 (3.133) 42 / 16 (2.625)
Reduksi sekunder 42 / 13 45 / 12 (3.750)

Motor

Stroke-up Skutik Suzuki, Kalau Gak Puas Bore-up!


OTOMOTIFNET - Skutik Suzuki sobat sudah bore-up, tapi kurang puas? Mau mantap, sekalian
lakukan stroke-up (SU). Jika bore-up (BU) hanya menaikkan ukuran diameter piston, SU berarti
menaikkan langkah piston. Otomatis volume pun meningkat.

“Biasanya dilakukan karena BU saja kurang puas, makanya saya sarankan SU,” terang Riyanto, dari
GG Motor, di Cirendeu, Ciputat, Tangerang. Bicara BU harian pada skutik Suzuki, menurut Heri
Gembel, sapaan akrab Riyanto, memang terbatas.

Posisi big end digeser keluar, sehingga


langkah piston makin panjang

Setang piston Yamaha RX-Z, big en kecil, Setang piston Smash, cocok bagi yang
laris untuk stroke-up extreme enggak mau nambah paking
“Maksimal 58 mm,” tuturnya. Jika lebih dari itu, dengan tanpa pengelasan ulang blok, maka rawan oli
meler. Artinya kalau dihitung isi silinder hanya 145,8 cc.

Balik ke SU, caranya dengan menggeser lebih keluar posisi big end setang piston di daun kruk as.
Sehingga posisi piston saat TMA makin keluar, sedang saat TMB makin mendem. Sebenarnya bisa
dengan pen SU aftermarket, sayang sampai saat ini untuk skutik Suzuki belum tersedia.

Karakter mesin setelah di-SU akan berubah, paling utama torsi di putaran bawah akan jauh lebih
meningkat. Betot gas sedikit motor langsung ngacir. Tentu saja konsumsi bensin bisa lebih dihemat.

Proses SU ada beberapa cara. Paling jamak tetap menggunakan setang piston standar. Triknya, lubang
asli di kruk as ditutup, lalu dibubut ulang dengan posisi lebih keluar.

Menurut Heri Gembel paling maksimal keluar 3 mm, atau total stroke naik jadi 6 mm. Kekurangannya
dari langkah ini, blok mesti ditambah paking tebal dari aluminium, agar saat TMA piston tak keluar dan
mentok head.

Makanya hadir cara kedua, yaitu menggunakan milik motor lain yang diameter big end sama, namun
setang lebih pendek. “Pakai milik Suzuki Smash, bisa naik 6-10 mm tanpa tambah paking,” ujar
mekanik yang punya bengkel di Jl. Cirendeu Raya No.35, Ciputat, Tangerang.
Menurut mekanik yang masih lajang ini, dua cara di atas biayanya hanya sekitar Rp 1 juta. “Sudah
termasuk ongkos bongkar pasang,” lanjutnya.

Kurang puas dengan kenaikan 10 mm? Ada satu cara lagi yang bisa ditempuh, menggunakan setang
piston milik motor 2 langkah. Paling terkenal punya Yamaha RX-Z.

Stroke bisa naik hingga 14 mm (geser ke luar 7 mm)! Berarti langkahnya jadi 69,2 mm, dan jika
dikombinasi dengan piston 58 mm, volume jadi 182,7 cc! Ongkosnya berkisar Rp 1,5 juta.

Kenapa kenaikan bisa lebih ekstrem? Karena big end milik motor 2 langkah kecil, sehingga
pemasangan pada kruk as bisa lebih keluar. Ada satu lagi kelebihannya, “Pen piston dilengkapi laher
bambu, sehingga jauh lebih awet karena gesekan minim,” terang Hawadis, mekanik dari HDS Motor di
Tanjung Priok, Jakut yang sering menggunakan setang piston RX-Z untuk tunggangan drag.

GG Motor: 021-95700657
HDS Motor: 021-4309388

Motor

CVT Honda Beat Bunyi Klotok-Klotok? Ini Obatnya!


OTOMOTIFNET - Namanya motor apapun, dipakai
tiap hari, pasti komponennya akan mengalami keausan
dan kerusakan. Kalau sudah begitu, tak heran bila
kemudian hari mulai menimbulkan beberapa keluhan.
Misal suara berisik ataupun suara-suara lain yang
kurang mengenakkan.

Seperti dialami Muh. Agus Santoso, pada Honda BeAT


2008 tunggangannya. “Awal keluar dari dealer, tidak
ada masalah. Nah setelah sekitar 1,5 tahun saya pakai,
muncul suara berisik; krotok..krotok.. dari dalam CVT.
Wah, kenapa ya? Bengkel langganan menganjurkan
mengganti roller-nya, karena dipastikan roller sudah
aus/peyang,” beber Agus.
Gbr 1
Setelah CVT dibongkar, roller peyang dan emang sudah kudu diganti. Tapi setelah diganti, ternyata
suara tersebut masih ada. “Emang sih, kali ini enggak sekeras sebelum ganti roller. Hanya terdengar
saat motor berhenti/stasioner. Meskipun suaranya agak pelan, tapi bikin tidak nyaman aja,” tutur warga
Cipulir, Jaksel ini.

Lantaran bengkel langganannya belum menemukan solusi, Agus coba mampir ke Hasan Motor (HM) di
Kelapa Dua Raya, Kebon Jeruk, Jakbar, untuk atasi hal itu. “Kalau kasusnya seperti ini, dipastikan
karet pada tutup roller beserta dudukannya sudah aus. Sehingga ada celah/rongga yang agak besar
(gbr.1),” beber Hasan Basri, empunya HM.

Masih ujarnya. “Berhubung kerja peranti ini buka tutup atau bergeser keluar masuk seiring putaran
mesin, gesekan tersebut mengakibatkan terjadinya keausan (gbr.2). Nah kalau rongganya semakin
besar, otomatis suara krotok-krotok juga makin keras berasal dari part yang berongga ini. Biar suaranya
hilang, harus ganti ke-3 karet tersebut.”

Gbr 2 Gbr 3

Gbr 4 Gbr 5
Nah, kalo di dealer maupun toko onderdil masih susah nyari pengganti karet ini (gbr.3), Hasan ambil
solusi mengganjal celah tersebut dengan slang aki. “Meskipun karet itu diganti baru, kalau rumah roller
tidak sekalian diganti, kemungkinan suara berisik masih ada. Karena alur untuk lewat karet tersebut
masih tetap aus,” tegas bapak 2 anak ini.

Mau tahu cara mengganjalnya? Gampang, kok! “Siapkan slang aki yang masih baru/lentur. Kemudian
potong bagian ujungnya, kurang lebih 1 cm. Lanjutkan membelah bagian tengahnya pakai gunting atau
alat lain (gbr.4). Kalau sudah, tinggal memasukkan potongan slang tersebut ke bagian celah/rongga
yang aus (gbr.5),” anjur pria pengalaman lebih dari 10 tahun ini.

“Memang benar! Setelah ketiga celah yang bersinggungan/bergesekan antara karet dan alurnya diganjal
slang, suara krotok-krotoknya langsung hilang,” yakin Agus.

Motor

Setting Performa Stage I, Nyaman


Buat Harian!
OTOMOTIFNET - Meningkatkan performa mesin,
boleh dibilang menjadi cita-cita sebagian besar
pengguna motor. Termasuk pemilik Honda Supra X

Piston jenong, mutlak meski untuk harian


125 atau Karisma 125 yang masih digunakan untuk sehari-hari sekali pun.

Tentunya, tak sama dengan persiapan tunggangan untuk adu kencang di sirkuit, peningkat performa ini
mesti tetap mengutamakan kenyamanan di jalan dan kocek pun tak terkuras terlalu dalam tentunya.

Jika dikategorikan, tentunya modifikasi ini tergolong dalam stage 1 atau tingkatan awal saja. Memang
yang dilakukan sudah lebih dari sekadar mengganti knalpot dan mengatur jetting karburator, tetapi
syaratnya masih tetap bisa digunakan untuk sehari-hari dan tidak merepotkan penggunanya.

Jadi, tak serumit menggunakan tunggangan balap, yang mungkin untuk stasioner pun agak susah dan
menghidupkannya perlu ‘trik’ tersendiri dari sang mekanik. Nah, kali ini masih seperti standar, tetapi
performanya sudah lebih baik dari bawaan pabrik.

Seperti apa saja oprekan yang masih bisa digunakan untuk harian ini? Tergolong modifikasi ringan,
tidak menjamah jeroan kepala silinder terlalu banyak, cukup dilakukan porting-polish saja pada saluran
masuk dan buang, agar suplai bahan bakar dan udara masuk dan penyaluran gas buang bisa lebih
lancar. Rata-rata dipatok harga Rp 250 ribuan untuk jasa ini.
Lantas, dilanjutkan dengan menggunakan piston jenong,
“Enggak perlu diameter lebih besar, pakai yang jenong saja
agar kompresinya naik,” tutur Dodo dari Dodo Motor di
kawasan Ciledug Raya, Ciledug, Tangerang, Banten.
Biasanya, pilihan piston untuk Supra X 125 dan Karisma 125
adalah Izumi yang dilego sekitar Rp 150 ribu. Dengan
kompresi lebih tinggi pembakaran pun lebih baik.

Lantas sektor pengapian juga bisa saja dibenahi, namun jika


tidak mengganti koil pun tidak apa-apa. Bisa saja mengganti
CDI yang mampu memberikan kurva pengapian dengan
mapping lebih lengkap di berbagai putaran mesin. “Bisa Busi iridium bisa jadi pilihan pemantik api
menggunakan CDI BRT Neo dualband,” ungkap Tomy Huang
dari BRT di Cibinong, Bogor. Menurut Tomy, CDI ini dilego
Rp 450 ribu.

Dengan begini tentunya performa mesin sudah meningkat,


apalagi memang umumnya knalpot pun sudah diganti terlebih
dahulu oleh pemiliknya, sebagai langkah paling awal.

Nah, ada lagi sebenarnya yang bisa dilakukan agar tarikan


lebih baik saat berakselerasi. Dengan mengganti per kopling
dengan tipe racing yang membuat cengkeraman kampas
kopling lebih baik. “Bisa juga dengan mengganjal selembar Beberapa spuyer jadi pilihan
kampas kopling bekas,” tutur Sutrisno. Otomatis biayanya pun
lebih murah, namun pasti tarikan sudah berbeda dibandingkan hanya mengandalkan per kopling
standar.

Karena masih tergolong tingkat pertama, modifikasi karburator sebenarnya tak mesti dilakukan, cukup
menaikkan saja spuyernya. “Bisa dinaikkan satu step dari standar, misal awalnya 350 jadi 375 untuk
pilot jetnya,” kata pak Tris, sapaan Sutrisno.
Tetapi, kalau memiliki budget lebih, bisa juga mengganti karburator dengan diameter venturi lebih
besar, seperti menggunakan Keihin PE 28 atau Mikuni 26. Tentunya perlu rogoh kocek lebih dalam
lagi, sekitar Rp 500 ribuan.
Dengan begini, penggunaan harian pun bisa lebih nyaman dengan performa yang meningkat.

Motor

Paket Bore-up dan Korek Harian Buat Honda Supra X125


OTOMOTIFNET - Honda Supra X 125 (HSX125)
atau Karisma 125 (K125) identik sebagai besutan
bokap-bokap (bapak-bapak)? Huss.., jangan salah,
Sob! Faktanya, kawula muda juga banyak yang pake,
kok.
Buktinya, lewat email mr.Testo10@gmail, facebook;
Tester Otomotif, banyak pemilik motor itu yang minta
Mr. Testo untuk kasih panduan untuk mengupgrade
performanya. Bahkan besutan tipe ini juga diandalkan
di arena balap, road race, lo.

Cuma ya itu, emang khusus penunggang kuda besi


yang berjiwa muda, mengoprek mesinnya bisa jadi
sebuah keharusan. “Itu dilakukan bisa karena untuk
memenuhi aktivitas sehari-hari, bisa juga emang karena pemiliknya speedgoers,” ungkap Nazar, bos
Nazar Motor (NM) di Jl. Kebagusan Raya II No.22, Jaksel.

Nah buat bikin ngacir kedua tipe motor itu, ada 2 racikan yang biasa dilakukan bengkel: paket korek
harian (kohar) dan paket bore-up. “Kedua motor ini mesinnya sama, sehingga part pendongkrak
performanya juga sama,” tegas Nazar.

Kohar
Banyak diminati motormania yang berkantong pas-pasan. Pasalnya komponen yang mesti ditebus
enggak terlalu banyak, serta ubahan pada mesin tidak terlalu ekstrem. Begitu pula budget-nya, lebih
murah dibanding bore-up. Biayanya Rp 250–600 ribu, tergantung banyaknya ubahan/korekan.
Pengerjaannya juga tidak butuh waktu lama, sekitar 1-2 hari.

“Ubahan utama, porting-polish lubang intake dan exhaust. Lalu ganti spuyer ukuran lebih besar dan
ganti knalpot model freeflow atau cukup bobok knalpot standarnya saja. Korekan ini dijamin sudah
terasa lebih ngacir dibanding standar pabrik,” yakin Fiki Farhan, kepala mekanik Adrian Motor (AM)
di Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.
Piston dan ring piston Koil

Knalpot Karburator PE28


Bore-Up
Dipilih bagi yang punya dana berlebih. “Meski harus keluarin dana hingga di atas Rp 1,5 juta buat
tebus part-nya, namun ada kepuasan tersendiri bila sudah aplikasi hal ini,” ungkap Mujad, penggawang
Racing Mujad Continue (RMC) di Jl. Pala Kali Raya, Kukusan, Depok-Jabar.

Selain part yang ditebus banyak, pengerjaan paket ini juga lebih ekstrem dibanding kohar. “Minimal
ganti piston berdiameter lebih besar dari standarnya. Lalu aplikasi noken as racing, knalpot freeflow
dan CDI aftermarket,” tutur Harrinovrian, empunya Hari Motor (HM) Jl. H. Naman No.2B, Pondok
Kelapa, Jaktim.

Tak ayal, dana yang mesti dipersiapkan juga lebih besar. Begitu pula pengerjaannya. Para tunner rata-
rata mematok 3 hari – 1 minggu, sudah termasuk setting. “Pokoknya pelanggan terima beres,” imbuh
Trisno, empunya Bengkel Ario Motor (BAM) di bilangan Srengseng, Jakbar.

Motor

Beda Busi Panas Dan Busi Dingin


OTOMOTIFNET - Tiap motor (tipe mesin bakar), pasti punya busi. Yakni penghasil percikan bunga
api pada sistem pengapian yang berfungsi membakar campuran bahan bakar dan udara di ruang bakar.
Pemakaian busi yang tepat akan memperoleh performa mesin optimal. Tapi harus memperhatikan
beberapa hal penting, yaitu; suhu lingkungan, kapasitas ruang bakar dan perbandingan kompresi
mesin.
Gbr 1 Gbr 2

Gbr 3 Gbr 4
“Pemakaian motor di lingkungan panas atau dingin, akan memberikan radiasi panas terhadap mesin
berbeda. Lalu, mesin dengan piston besar, akan memberi panas lebih tinggi dibanding motor ber-cc
kecil. Nah, kian besar rasio kompresi ruang bakar, lebih panas ketimbang mesin dengan kompresi
rendah. Untuk itu businya kudu sesuai,” beber Yuli Santoso, kepala mekanik Suzuki Dewi Sartika di
Jaktim.

Hal inilah lantas diciptakan busi tipe panas dan dingin. Perbedaan keduanya ada pada panjang insulator.
Busi dingin punya ujung insulator lebih pendek, sedang busi panas lebih panjang (gbr.1). “Angka
tertera pada busi juga sebagai petunjuk tipe busi panas ataupun dingin. Makin besar angkanya,
menandakan tipe busi kian dingin dan sebaliknya,” imbuh Yuli.

Contoh busi NGK berkode C6HSA dengan CR8E (gbr.2). Angka 6 pada kode pertama, menandakan
busi panas. Ditambah bisa dilihat dari insulator-nya lebih panjang. Sedang angka 8 pada kode kedua,
mendandakan busi dingin (insulator lebih pendek).

Busi Panas
Punya kemampuan susah melepas panas dan mudah jadi panas dibanding busi standarnya. Busi tipe ini
enggak cocok bila bekerja pada temperatur ruang bakar tinggi. Sangat cocok bila dipakai untuk motor
standar (sesuai bawaan pabrik).

“Jika temperatur ruang bakar mencapai sekitar 850º Celcius, maka akan terjadi proses ‘pre-ignition’, di
mana bahan bakar akan menyala sendiri sebelum busi memercikkan bunga api. Kondisi ini biasa
disebut overheating (pemanasan ekstrem). Warna busi putih pucat (gbr.3),” tegas Dwi Angga, service
advisor Yamaha Pos Pengumben di daerah Jakbar.

Busi Dingin
Mudah melepas panas dan mudah jadi dingin. Busi tipe ini tak tepat bila bekerja pada temperatur ruang
bakar yang rendah. Lebih cocok dipakai untuk motor khusus buat balap (bore-up).

“Jika temperatur ruang bakar terlalu rendah, hingga di bawah 400º Celcius, maka akan terjadi proses
‘carbon fouling’, yakni bahan bakar tak mampu terbakar sempurna sehingga bahan bakar yang tak
terbakar akan menumpuk pada busi. Warna busi hitam kering (gbr.4),” ulas Safrudin, kepala bengkel
Clara Motor II di kawasan Kebon Jeruk, Jakbar.

Penumpukan endapan karbon ini akan menyebabkan tumpukan kerak karbon yang lama-lama jadi
keras dan bisa jadi sumber panas kedua (arang) setelah busi. Hal inilah yang menyebabkan gejala
‘detonasi’ atau ‘knocking’ (ledakan kedua, setelah busi memercikkan bunga api).

Nah bila motor Anda masih standar, sebaiknya aplikasi busi sesuai anjuran pabrik. “Efek bila aplikasi
busi yang tak sesuai, saat start awal mesin susah hidup dan tenaga awal kurang bagus dikarenakan
pembakarannya jadi kurang sempurna,” wanti Yuli.

Motor

Panduan Pilih Knalpot Buat Supra X125


OTOMOTIFNET - Butuh panduan beli knalpot buat
Honda Supra X 125 atau Karisma 125? Siappp.. nih,
kita kasih hasil tes 5 produk yang jadi bahan
pertimbangan.
Ada AHRS F4 Hexacone 02, Ahau, Nob1 3Bold
Series, Stanlee dan SKR. Pengujian performa pakai
Honda Supra X 125 tahun 2005 kondisi standar, jarak
tempuh 50 ribu km.

Pengukur tenaga dan torsi, digunakan dynamometer


merek DYNOmite milik Ultraspeed di Jl. Dr.
Ciptomangunkusumo No.42, Ciledug (H. Mencong),
Tangerang. Tiap knalpot diuji 3 kali run, bahan bakar
Premium.
Pakai knalpot standar, tenaga terukur 10,3 dk/7.150 rpm, torsi 11,7 Nm/5.250 rpm (ingat, ini data motor
yang kami pakai tes, ya!). Hasil tes knalpot aftermarketnya, ada di bawah!

AHRS F4 Hexacone 02
Dibuat dari pelat yang dikrom. Antara leher dan silencer dibikin model slip-on yang diperkuat 2 buah
per, memudahkan kala bongkar pasang dan tak gampang patah. Silencer berbentuk oval dengan lubang
belah ketupat, tampak sporti.

Menurut Asep Rohendi, telemarketing AHRS, knalpot ini dijual Rp 350 ribu. Setelah dipasang, tenaga
yang dihasilkan mencapai 10,82 dk/7.600 rpm, torsi 12,2 Nm/5.100 rpm. Peningkatan tenaganya
sebesar 0,53 dk, torsi 0,5 Nm. Suaranya cukup nyaring.

Ahau
Leher terbuat dari besi yang dikrom, bagian silencer dari pipa aluminium. Suaranya tergolong nyaring.
“Harga eceran tertingginya (HET) Rp 250 ribu,” kata Ergus Oei, dari bengkel R59, di kawasan Ciputat,
Tangerang yang menjajakan knalpot ini. Setelah didyno, tenaga jadi 10,94 dk/7.300 rpm, torsi 12
Nm/5.100 rpm. Naik 0,64 dk dan 0,3 Nm.

Nob1 3Bold
Penampilannya tergolong sporti, silencer-nya oval mirip AHRS. Penyambungan silencer dan leher dari
besi dikrom, dengan sistem slip-on. Kelebihannya, diberi pelindung plastik penahan panas. Suara
tergolong lembut, jika ingin lebih senyap, diberi opsi db-killer.

“Dijual Rp 275 ribu,” terang Rio Napon, marketing knalpot yang pengemasannya tergolong rapi ini.
Tenaga yang dihasilkan jadi 10,52 dk/8.000 rpm, torsi 12,1 Nm/5.100 rpm. Naik 0,22 dk dan 0,4 Nm.

Stanlee
Dibuat dari stainless steel. Tampilannya terkesan elegan, dengan peredam besar dan suara paling
lembut. “Harganya Rp 550 ribu, dan kami garansi 3 tahun,” urai Andri, pemilik merek ini. Kenaikan
tenaga cukup besar, jadi 10,92 dk/7.550 rpm, torsi 12 Nm/5.200 rpm. Atau naik 0,62 dk dan 0,3 Nm.

SKR
Diracik dari pelat galvanis, diberi pernis. Sedang silencer pakai pipa aluminium. Suara yang dihasilkan
tergolong sangat nyaring.

Knalpot ini bikinan Gondrong, alias Misjaya. “Harganya hanya Rp 150 ribu,” terangnya. Power yang
bisa diraih mencapai 11 dk/7.300 rpm, torsinya 11,8 Nm/5.400 rpm. Artinya naik 0,7 dk dan 0,1 Nm.

Kesimpulan
Peningkatan performa lewat pemasangan knalpot aftermarket ini dari 0,22 dk sampai 0,7 dk. Sedang
torsi antara 0,1 Nm sampai 0,5 Nm. Jika mau lebih maksimal, mesti setingan lain, seperti diungkapkan
Freddy A Gautama, pemilik Ultraspeed, “Minimal setting ulang karburator."
Data Performa
Merk Tenaga Torsi
Standar 10,3 dk / 7.150 rpm 11,7 nm / 5.250 rpm
AHRS F4 Hexacone 02 10,82 dk / 7.600 rpm 12,2 nm / 5100 rpm
Ahau 10,94 dk / 7.300 rpm 12,1 nm / 5.100 rpm
Nobi 3Bold 10,52 dk / 8.000 rpm 12 nm / 5.200 rpm
Stanlee 10,92 dk / 7.550 rpm 11,8 nm / 5.400 rpm
SKR 11 dk / 7.300 rpm
Ultraspeed 021-93858080
AHRS 021-77820649
R59 021-93399259
Nobi 0858-80489991
Stanlee 0813-19625139
SKR 0815-13943798 / 021-80220069
Motor

Pilihan Stage 1-3 Untuk Upgrade Head Silinder Supra X 125


OTOMOTIFNET - Bagi penyuka kecepatan,
pembenahan kepala silinder Honda Supra X 125 atau
Karisma 125 jadi solusi menyenangkan. Pilihan atau
stage rombakan bisa sesuai kebutuhan.
“Mau ekstrem, pakai klep mobil atau sekadar upgrade
pakai klep motor lain,” jelas Indra Putra Laksana dari
35 Workshop di Ciganjur, Jaksel.

Tentu stage modifikasi sangat bergantung budget yang


dikeluarkan. Semakin tinggi stage, biaya juga lebih
besar.
“Rombakan klep mobil atau stage 3 menuntut
pengerjaan lebih banyak pula,” terang Erwin Oei,
spesialis modifikasi kepala silinder di daerah Ciputat,
Tangerang.

Las Dan Cor


Upgrade kepala silinder harus pas. Tak boleh terlalu ekstrem tapi jangan nanggung. Makanya rombakan
head sangat bergantung dari kapasitas silinder. Semisal volume silinder tak lebih dari 150 cc, sebaiknya
gunakan klep inlet dan exhaust dari Suzuki Shogun yang berdiameter 25,5 (in) dan 21,5 mm (ex).

Berbanding lurus dengan itu, bila ‘modif’ mesin sudah di atas 200 cc, silakan pakai klep besar seperti
Toyota Camry yang berdiameter 33 mm (in) dan 29 mm (ex). Atau seri ‘EE’ berdiameter 31 mm (in)
dan 25,5 mm (ex). Harap diperhatikan proses pengerjaannya agar hasil presisi.
Untuk alasan itu, Akiang, panggilan akrab Erwin, memberi
tips seputar kepala silinder Karisma. Posisi klep yang
berseberangan (crossed-type), mewajibkan penggeseran
lubang klep dan valve sitting agar klep besar tadi bisa duduk
manis. Proses pengerjaan meliputi pembuatan bos klep hingga
pergeseran derajat dudukan (bibir) klep.

Tak hanya membuat ‘rumah’ baru untuk dua buah batang klep
yang dikerjakan dengan api las, bos klep model ulir yang
memakai material bronze atau kuningan ikut dipersiapkan.
“Nantinya, bos klep model ulir terpasang ke kepala silinder Material bos klep juga menentukan harga
dengan cara diputar layaknya memasang mur,” terang Akiang.

Namun hal ini tak berlaku bila diameter payung klep masih
kriteria stage 1. Pengerjaan rumah bibir klep hanya sebatas
pembesaran dengan mesin cutting khusus. Rumah batang klep
tak perlu geser dengan menutup lubang lama (dicor) dan
membuat lubang baru. “Makanya biaya juga relatif murah,”
terang Akiang.

Pilihan klep besar sesuai kebutuhan


Sebagai perbandingan saja, merombak diameter klep dengan yang lebih besar (25,5 dan 21,5 mm),
kena biaya sekitar Rp 300 ribu di luar belanja klep (Rp 80 ribu).
Sementara pemakaian klep mobil alias stage 3 bisa memakan biaya modifikasi antara Rp 500-700 ribu
tergantung spesifikasi dan material (bahan) yang digunakan. Klep Toyota Camry bisa mencapai Rp 180
ribu dan klep seri ‘EE’ dipatok sekitar Rp 190 ribu.

Motor

Parts Substitusi Honda Supra X 125


OTOMOTIFNET - Sudah jadi kesepakatan enggak tertulis, kalo tiap motor pasti spare-partnya bisa
disubstitusi dari besutan lain. Gitu juga di Honda Supra X 125 dan Karisma 125. Maklum, inilah jurus
ampuh dalam mengatasi beragam problematika soal komponen.

Pilihannya, bisa comot dari merek kuda besi lain atau dari sama-sama Honda. Eits tunggu dulu,
ternyata ada benefit lain yang bisa didapat dari jurus substitusi ini, lo! Bisa jadi harganya lebih murah
atau kualitas yang lebih yahud.

Piston Rantai dan kampas rem

Kampas kopling Keteng


Keteng
Rantai dari kruk-as ke noken as Supra X 125 yang part number-nya 14401KPH901 di price list tertera
Rp 63 ribu ini bisa digantikan sama milik Shogun 125 (part number 12760B20611N000), berbanderol
Rp 59 ribu, “Pokoknya ‘plek’ abis, gak pake acara ribet-ribet potong keteng. Soal harga emang beda
tipis, tapi materialnya lebih ‘badakan’ punya Shogun” yakin Iwan, pemilik sekaligus mekanik bengkel
Kancil TPZ.
Kampas Kopling
Part fast moving ini akur sama punya Yamaha Jupiter MX. Emang dijual lebih mahal karena per set
kampas kopling Supra X 125 dijajakan Rp 125-150 ribu, sedang MX dijual per lembar Rp 75 ribu. Tapi
soal awet-awetan, kampas MX boleh diadu. “Punya MX lebih tebal, juga tahan panas dan gak gampang
getas,” beber mekanik asal Semarang, Jateng ini.

Piston
Masih ujar Iwan, “Buat Supra X 125 yang kompresinya sudah mulai loyo, ada solusinya neh. Kalo cari
yang oversizean-nya agak susah, mungkin bisa lirik yang satu ini. “Jika dinding liner cuma baret tipis
bisa pakai Kawasaki ZX130. Sebab piston Supra X 125 aslinya punya ukuran 52,4 mm, sedang ZX 53
mm, pen pistonnya sama ukuran 13 mm, udah gitu yang ZX model pistonnya jenong.”

Rantai & Kampas Rem


Kedua peranti di atas tentu sama banget antara punya Supra X 125 dengan Karisma 125 (ada sekitar
540 part yang sama antara keduanya motor itu, termasuk kampas rem dan rantai). Jadi, bisa saling tuker
pakai. Gak perlu repot nyari-nya, kan?

Tapi buat Supra X 125 yang suka kerja berat bisa lirik deh, rantai set-nya Supra Fit, sebab tipenya 428
(lebih tebal) dibanding asli bawaan Supra X 125 yang 420.

Motor

Batasan Bore-up Harian Di Skutik Suzuki, Agar Tetap Efisien


OTOMOTIFNET - Baik Skywave, Spin atau Skydrive, sebenarnya tergolong skutik berkapasitas
silinder besar di kelasnya. Tetapi, ternyata volume seperti itu masih belum memuaskan penggunanya.
Masih ingin ditingkatkan lagi performa mesinnya.

Soal batasan ini, sebenarnya bisa saja dilakukan bore-up sebesar mungkin dibanding standar. Tetapi,
aplikasi untuk sehari-hari tentu jadi lebih mengasyikkan. “Apalagi, konsepnya tak boleh mengurangi
sisi ekonomis alias harus tetap efisien,” ujar Aldhie, dari BRS di kawasan Kalimalang, Bekasi.

. Piston Satria FU, Volume menjulang 166 cc


Blok silinder standar sebaiknya
Pen piston perlu diperbesar jika pakai piston
dipertahankan
Satria
.
Apa sih, yang disarankan agar masih enak untuk digunakan sehari-hari dan tentunya tetap efisien bagi
kocek? “Sebenarnya, seperti yang gue terapkan dan beberapa teman-teman di SOC (Skywave Owner
Club), paling banyak mengupgrade jadi 150 cc dan 170 cc,” jelasnya.

Meningkatkan kapasitas silinder jadi 150 cc, bisa didapat dengan mengganti piston standar, bertukar
posisi dengan Suzuki Thunder yang diameter pistonnya 59 mm. “Sudah oversize 2 mm,” terang Aldhie.

Dengan torak seukuran ini, masih bisa menggunakan karburator standar dengan kem standar pula.
Walau, jika ingin tentu penggantian camshaft ini tak diharamkan, bahkan akan meningkatkan perfor-
manya dengan lebih baik lagi. “Masih tetap efisien kok,’ tuturnya.

Seperti apa efisiensinya? Tentu dengan penggunaan oli yang sama dengan standar. “Persis, enggak ada
beda konsumsi olinya dibanding standar,” ujar ayah satu anak ini. Karburator tentu standar pula. Jetting
diset pada pilot jet 15 dan main jet 135.

Lantas, jika mau lebih besar lagi, pilihan piston dari merek sejenis bisa dilakukan. Seher Suzuki Satria
FU, berdiameter 62,5 milimeter (oversize 0,5 milimeter). Tentunya modifikasi lain pun perlu dilakukan.
Seperti setang piston, aslinya hanya berdiameter 14 mm, perlu diperbesar jadi 16 mm, agar sesuai
dengan piston baru ini.

Ubahan ini pun masih bisa tetap mengandalkan karburator standar. Dengan settingan spuyer 17,5 dan
140 (pilot jet dan main jet), suplai bahan bakar untuk piston yang kini bervolume 166 cc itu pun masih
bisa terpenuhi.

Tetapi ada sedikit biaya tambahan soal perawatan mesinnya. Konsumsi olinya tak seperti standar atau
bore-up 150 cc, “Agak lebih boros, tetapi soal konsumsi bahan bakar, seliter bisa untuk 35 kilometer,
sementara untuk rute luar kota di atas 40 kilometer,” jelas Aldhie.

BRS: 021-68866543

Motor
Deteksi Kerusakan Pompa Radiator, Bisa Dari Gejala Atau
Suara
OTOMOTIFNET - Sistem pendingin mesin tak sekadar memanfaatkan aliran angin dari depan saja.
Beberapa tunggangan sudah mengaplikasikan sistem pendingin likuid alias menggunakan cairan.
Ditandai dengan adanya water jacket di sekeliling blok mesin, serta ada radiator yang berfungsi
mendinginkan air yang bersirkulasi di water jacket tadi.

Nah, yang bertugas membuat air mengalir itu adalah pompa yang bekerja sesuai dengan putaran mesin,
karena dihubungkan dengan kruk as sebagai sumber penggeraknya. Seperti pada Honda Vario atau
Honda CBR 150 atau Kawasaki Ninja dan Suzuki Satria FU serta Yamaha V-Ixion.

Gbr Gbr 2

Gbr 1 Gbr 4
Karena berhubungan dengan air, korosi menjadi salah satu penyebab pompa air ini tak berfungsi
dengan baik. “Biasanya terkena karat,” jelas Marsell dari KingBee Racing di kawasan Puri
Kembangan, Jakbar. Efeknya tentu putaran air tidak sederas semestinya.

Akibatnya, sirkulasi tak berlangsung lancar dan membuat mesin kegerahan. Pasalnya, air yang
harusnya cepat menuju radiator untuk diturunkan suhunya, menjadi lebih lambat bersirkulasi. Pasokan
air yang sudah dingin pun lama menuju mesin kembali.

Bagaimana mengetahui kondisi ini? Tentu akan terlihat dari suhu mesin yang tak cepat turun, lalu air di
dalam tabung reservoir pun akan cepat berkurang (gbr.1), karena suhunya tinggi dan terjadi penguapan
lebih cepat. Sehingga air dalam tabung pun segera ‘diminta’ radiator untuk mengganti yang menguap.

“Ada lagi yang bisa terdeteksi, dari bunyi yang kasar,” jelas lelaki berkacamata itu. Biasanya karena
bearing yang sudah berkarat akan menimbulkan bunyi ketika baling-baling pompanya berputar.

Bunyinya memang tak akan langsung terdengar, tetapi bisa dideteksi dengan mendekatkan pada bagian
pompa air berdomisili. Bisa juga dibantu dengan ‘statoskop’ menggunakan obeng yang didengar ke
telinga (gbr.2). Akan terdengar bunyi bergesek dari rambatan suaranya. Umumnya hanya bearing saja
yang rusak, karena bilah-bilahnya relatif lebih tahan lama.

Hal lainnya, ketidaknormalan pendinginan bisa disebabkan oleh tutup radiator yang sudah tidak rapat
(gbr.3). Jadi ada udara masuk ke dalamnya, sehingga kevakuman dalam saluran air pendingin
berkurang.

Efeknya, ada gelembung udara yang membuat tekanan air yang memang bersuhu tinggi itu lekas
meningkat. Ujung-ujungya pendinginan tak sempurna. suhu mesin pun akan terlihat naik (gbr.4).

Kigbee Racing: 021-37480808

Motor

Upgrade Performa Honda Scoopy, Korekan Bikin Happy!


OTOMOTIFNET - Naik Scoopy pasti happy!” gitu penggalan kalimat iklan Honda Scoopy. Tapi apa
benar, naik skutik retro modern ini dijamin happy? “Tampilan emang keren, tapi saya belum happy
karena kurang kencang, hehe,” ujar Melvin Soetomo.

Menurut pengguna skutik berkapasitas 110 cc itu, kendati tampilan retro, dia ingin tunggangannya tetap
bisa lari kencang. “Maklum hobi ngebut, nih,” lanjut warga Puri Indah, Kembangan, Jakbar.

Maka dari itu, belum lama mengisi garasi rumah, Scoopy langsung digiring ke bengkel korek. Tepatnya
ke bengkel Paddock Speed Clinic (PSC) yang ada di Jl. Lapangan Bola No. 35, Kebon Jeruk, Jakbar.

Piston 56,5 mm milik BLitz Joy oversize 50


terpasang pada silinder yang booring-nya
diganti
kepala silinder pakai klep 29 dan 24 mm Knalpot tampang standar, padahal sudah di
juga di polish bobok
Motor langsung diserahin ke Armyando, penggawang PSC. Mandat Melvin pada Pak Haji, panggilan
Armyando, cukup simpel. Apalagi kalau bukan dibikin kenceng, jadi naikinnya makin happy. Oh ya,
cara ini juga bisa buat referensi Scoopymania yang kirim pertanyaan ke email Mr. Testo:
mr.testo10@gmail.com, Facebook; Tester Otomotif atau twitter; Mr_testo

Nah, setelah dioprek-oprek proyek ini hasilnya tak mengecewakan. “Akselerasi jadi jauh lebih
responsif dibanding standarnya,” puas Melvin.

Sedang sesuai pengukuran dynamometer merek Dynomite milik Ultra Speed di kawasan Haji
Mencong, Ciledug, Tengerang, diperoleh data tenaga jadi 13,53 dk/9.050 rpm, sedang torsi 10,72
Nm/8.900 rpm. Sedang klaim pabrikan standarnya hanya 8,28 dk/8.000 rpm, torsi 0,85 kgf.m/5.500
rpm atau 8,34 Nm/5.500 rpm (1 kgf.m = 9,80665 Nm). Ini hasil lengkapnya!

Blok Silinder
Demi menaikkan kapasitas mesin, pilihannya pakai piston berdiameter 56,5 milik Kawasaki Blitz Joy
oversize 50. Pemasangan harus mengganti boring bawaan motor. Boring baru berdiameter luar hingga
61,5 mm. Agar bisa masuk, mulut crankcase dibubut 2 mm.

Meski boring demikian besar, ketebalan liner masih berkisar 2,5 mm, artinya masih aman jika dijejali
piston 57,5 mm. “Boring-nya pakai yang bagus dan dibikin tebal, agar aman dipakai harian,” terang
Pak Haji.

Kepala Silinder
Menyesuaikan piston yang membengkak, klep pun dibesarkan agar pasokan bahan bakar mencukupi.
“Klep in jadi 29 dan out 24 mm,” lanjut mekanik yang doyan ikut balap drag bike ini. Klep dipilih yang
berlabel EE. Pemasangan dipasrahkan pada tukang bubut.

Lalu saluran masuk-buang ikut disentuh mata tuner. Bertujuan menghilangkan kulit jeruk sehingga
aliran makin lancar.

Noken As
Pengatur buka-tutup klep ini juga diatur ulang. Durasi dan lift dibesarkan dari standarnya. Sayang Pak
Haji tak mau mengumbar speknya. Rahasia dapur ya bos?

Knalpot
Sekilas terlihat standar. Namun jangan salah, bagian leher telah dibesarkan, dan silencer-nya juga sudah
dibobok. “Pengerjaan saya serahkan pada Iyan Lemer, ahli knalpot di kawasan Permata Hijau, Jaksel,”
lanjut Pak Haji. Pantas jika digas suaranya cukup nyaring.

Karburtor
Penyuplai bahan bakar dan udara tetap menggunakan bawaan motor, hanya saja agar pembakaran ideal
spuyer diatur ulang. “Pilot jet naik satu step jadi 40, sedang main jet dua step jadi 102,” ujar Armyando.

Pengapian
Tak mengalami ubahan apapun, masih tetap standar. “Sementara itu dulu, nanti kalau kurang happy
baru di-upgrade,” ujar Melvin sambil tertawa.

Part dan jasa


Ganti boring 240.000
Piston dan ring 00
Ubah kepala silinder 60.000
Bobok knalpot 45.000
Bubut noken as 45.000
Total 880.000
Data performa
standar* Upgrade** Kenaikan
Tenaga 8,28 dk / 8.000 rpm 13,53 dk / 9.050 rpm 5,25 dk
Torsi 8,34 nm / 5.500 rpm 10,72 nm / 8.900 rpm 2,38 nm
PSC 0816-1973197 / 021-93812006

Motor
Aplikasi Karburator PE28 di Skywave, Bisa Asal Pakai Karet
Intake Skydrive
OTOMOTIFNET - Skywave, emang dianggap pemiliknya punya karakter akselerasi cukup responsif.
“Tapi cenderung di putaran menengah ke atas. Bawahnya masih kurang cepat,” kata Kurniadi
Sulistyomo, anggota pengurus Skywave Owner Club (SOC) Jakarta .

Makanya wajar bila ia dan rekan-rekan coba mengoprek sistem di motor guna memperbaiki
kekurangan yang mereka rasakan itu. Salah satunya menukar karburator standar yang menganut jenis
skinner union (SU) alias vakum pakai tipe skep langsung atau velocity monoblock (VM).

Gbr 1 Gbr 2

Gbr 3 Gbr 4
“Ada 3 macam karbu bisa diaplikasi; Mikuni VM26 (Yamaha punya RX-King), Keihin PE24 dan
PE28,“ terang Kurniadi. Ketiganya mudah ditemui di pasaran dan harga relatif terjangkau, sekitar Rp
400 – 550 ribu. Ditambah ketersediaan spuyernya (pilot jet/main jet) juga cukup banyak.

Kecuali VM26. Berdasarkan pengalaman Kurniadi dan rekan-rekan, pemakaian karbu Mikuni VM26
selain agak susah nyetting-nya, “Spuyer juga mulai agak sulit dicari sejak R-King stop produksi,”
tukasnya. Paling mudah, lanjut Kurniadi, yakni Keihin PE (venturi 24 atau 28 mm). Tapi kebanyakan
milih pake PE28 (gbr.1).

“Hanya saja kalau pakai PE28, di Skywave karet intake-nya (gbr.2) suka ‘kalah’. cepat sobek. Sebab
dengan venturi lebih gede 2 mm dari standar (26 mm), otomatis saat karbu dipaksa masuk, karet intake
jadi sesak. Apalagi jika anut open filter atau filter racing, karbu jadi ngondoy (ngegantung) yang bikin
karet intake ketarik. Mana gak dijual terpisah dan harga satu set berikut intake mencapai Rp 200
ribuan,” terangnya.
Tapi mereka cerdas. Setelah konsultasi dengan beberapa mekanik kepercayaan dan riset, akhirnya
nemu solusi murah meriah. “Bisa pakai karet intake-nya Skydrive (gbr.3). Part ini di dealer resmi dijual
terpisah dengan harga cukup murah sekitar Rp 35 ribu,” tukas pria berdomisili di Kebon Jeruk, Jakbar
ini.

Cara aplikasinya ke intake Skywave begini. “Karet intake bawaan Skywave dipapas habis dulu. Lalu
ujung intake (gbr.4) dipangkas sedikit di tukang bubut menyesuaikan diameter dalam karet intake
Skydrive. Biaya pengerjaan sekitar Rp 30 ribuan. Beres deh, karet Skydrive bisa langsung dipasang dan
dikencangkan pakai kleman karbu.

Oh iya, menurut Kurniadi jika mau adopsi karbu PE, sudah pasti kabel gas standar kudu disesuaikan
ujungnya agar bisa tersangkut dengan baik dan pas di skep karbu PE. Selain itu, bila tetap ingin
andalkan filter karbu bawan motor, karet manifold penghubungnya diganti sesuai besaran diameter
moncong karbu PE.

“Untuk jetting spuyer (PJ/MJ) PE28 yang pas jika mesin masih standar abis, tergantung kondisi mesin
plus settingan yang diterapkan,” urai Kurniadi. Misal jika pakai filter udara aftermarket, range ukuran
PJ yang bisa dipakai sekitar 38 dan 40. Sedang MJ-nya mulai ukuran 100, 102 dan 105.

Lalu bila menerapkan open filter, ukuran PJ-nya sekitar 42 dan 45, sedang MJ-nya mulai 108, 110 dan
112. “Sementara kalau mesin sudah dikorek atau bore-up/stroke-up, sudah pasti kebutuhan spuyernya
akan berbeda,” tutupnya.

Motor

Cara Praktis Bebersih Komponen Kelistrikan Pakai Electric


Cleaner
OTOMOTIFNET - Punya masalah seputar kelistrikan? Jangan dulu berfikir kabel bodi putus atau ada
korsleting kabel. Pasalnya, kotoran yang hinggap pada komponen kelistrikan juga bisa membuat aliran
listrik tak tersalurkan dengan baik.

Nah kalau sudah begitu, harus cek komponen mana yang kudu dibersihkan. Ribet? Gak dong! Sebab
sekarang sudah tersedia cairan penetran yang dapat membersihkan komponen listrik. “Jenisnya yakni
electric cleaner (EC). Dan karena kemasannya spray, jadi cukup semprotkan pakai satu jari,” bilang
Hartanto dari gerai Cahaya Maju.

Di pasaran, banyak merek EC tersedia seperti label CRC, G-Zox, Cyclo dan QD. Masalah harga, EC
tersebut dibanderol mulai dari Rp 49-135 ribuan.
Gbr 1 Gbr 2

Gbr 3 Gbr 4
Nah lebih lanjut Hertanto menambahkan, EC berfungsi untuk membersihkan dan menjaga peranti
kelistrikan, tak terkecuali kelistrikan di motor,” urai pria yang punya gerai di daerah Kebon Jeruk,
Jakbar ini.

Selain itu, cairan yang ada di dalam spray bukan cairan sembarangan! “Sebab selain dapat
merontokkan kotoran, cairannya juga bersifat non-flammable. Berbeda dengan cairan penetran lain
yang mudah terbakar,” tambahnya.

Keuntungan lainnya, beberapa part kelistrikan yang mau dibersihkan gak perlu dibongkar pasang. Jadi
bisa langsung semprot dari casing luarnya saja.

Oke langsung aja ya! Bagian pertama yakni CDI. Kerak yang ada pada soket CDI (gbr.1) dapat
menimbulkan mal-fungsi pada bagian otak pengapian. Efeknya, mulai dari mbrebet sampai mesin mati
total. Nah agar part ini berkerja maksimal, semprotkan pada bagian soket CDI secara merata. Diamkan
selama 5 menit, keringkan dan pasang kembali.

Selain itu, kotoran pada soket lampu juga bisa membuat bohlam ogah nyala atau kerap berkedip-kedip.
Atasinya, semprotkan pada bagian soket-soket (gbr.2) lampu seperti lampu headlamp dan stoplamp.
Seperti biasa, sehabis disemprot, diamkan dulu agar cairannya bereaksi.

Oh iya, komponen panel setang juga bisa dibersihkan memakai EC, lo (gbr.3). Paling gampang
membersihkannya sebab bisa semprot dari sela-sela casing panel. Tapi kalau untuk melengserkan kerak
atau karat yang ada di dalam komponen panel, harus dibuka dulu.

Terakhir adalah bagian aki yang utamanya ada di bagian kutub positif dan negatif aki (gbr.4). Bagian
tersebut kerap menimbulkan kerak berwarna putih. Nah fungsi EC adalah untuk membersihkan dari
kerak-kerak tersebut.

Kalau kerak terlalu tebal atau malah sudah berkarat sampai aki tak bekerja maksimal, bantu dengan
ampelas halus ukuran 500. Kelar diampelas, semprot EC dan keringkan. Dijamin fungsi aki tokcer lagi
deh!

Motor

Batas Maksimal Ukuran Ban Suzuki Skywave


OTOMOTIFNET - Punya kapasitas mesin 125 cc, lantas berbodi agak bongsor, itu merupakan
keunggulan Suzuki Skywave untuk ditunggangi. Namun untuk dimodifikasi soal kaki-kaki, sepertinya
ada keterbatasan perlengkapan. Dengan diameter pelek 16 inci, tak terlalu banyak pilihan ban yang
tersedia di pasaran.

“Memang, agak susah untuk memodifikasi kaki-kaki ini jika masih menggunakan ukuran pelek
standar,” ujar Reza, pengguna Skywave 2008. Tentu saja, selain diameter peleknya 16 inci, ada hal lain
juga yang membuat keterbatasan ukuran ban pada skutik yang boks bagasinya luas banget ini.

Pada roda depan, perlu diperhatikan sisi


.
dekat sepatbor

Suzuki Skydrive sokbreker tunggal di Sokbreker belakang Skywave, tiang gawang


belakang pilihan merdeka bagi ban
Yaitu pada roda belakang, sisi kiri dan kanannya ‘terjaga’ oleh tiang gawang alias sokbreker. Jadi, tak
seperti skutik lain yang bisa menggunakan pelek dan ban lebar hingga ukuran 120 ke atas, pengguna
Skywave mesti berserah diri dengan menggunakan ban ukuran maksimal 110/90 di belakang.
“Itu pun sudah sangat mepet, dengan masih menggunakan sokbreker standar, kalau pakai sokbreker
aftermarket yang diameternya lebih besar, makin sempit lagi ruang untuk ban,” terang Reuben, dari
BRS, Kalimalang, Bekasi.

Pilihan ban, tentu tak banyak. “Bisa pakai Swallow, ada yang ukuran 16 inci,” jelas Fitri dari F16
Motor, di Jl. Ciledug Raya, Ciledug, Banten. Ukurannya pun tak banyak, 80/90 dan 90/90 dan 100/80.
Selain itu merek lain seperti FDR pun ada yang menjual ban dengan ukuran seperti ini. Kisaran harga
ban ini Rp 450 ribuan untuk depan dan belakang

Sementara pemilik Suzuki Spin dan Skydrive sebagai pengguna sokbreker tunggal di belakang, tentu
lebih merdeka soal memilih ban dan pelek karena ruang belakangnya lebih luas ketimbang Skywave.

F16 Motor: 021-93339816

Motor

Pilihan Part Performa CVT Suzuki Skywave (Bag.1), Lengkap


Tinggal Pasang!

OTOMOTIFNET - Dari beberapa surat elektronik yang kami terima, banyak pemilik skutik Suzuki
yang curhat soal masalah yang dihadapi hingga berkeinginan meningkatkan performa motornya. Paling
sering yakni Skywave 125. Nah, di sini kita kupas tuntas part-part apa saja yang bisa diaplikasi.
Oh iya, sebagian besar komponen pendongkrak performa ini sudah pernah diuji langsung lo, oleh
komunitas Skywave yang tergabung dalam Skywave Owner Club (SOC) Jakarta. Berikut penurutan
Kurniadi Susilo, salah satu anggota SOC.
Roller

“Pada bagian CVT, yang umumnya paling sering diutak-utik


pemilik Skywave adalah menukar roller,” tutur Gokur, sapaan
akrab Kurniadi. Di pasaran ada beberapa produk bisa
diaplikasi. Tapi sebelum mengganti, Gokur menyarankan
untuk memahami dulu efek yang nanti akan ditimbulkan
setelah mengaplikasinya. Begini.

Penggunaan roller lebih ringan dari standarnya (15 gr)


memang bisa membuat akselerasi jadi lebih enteng. Tapi Roller
dampaknya top speed bakal menurun. “Sebaliknya roller yang
lebih berat bisa membuat top speed bertambah, namun
akselerasi motor jadi lambat atau berat. Sebaiknya bila
menggunakan roller berat, mesin sudah ditingkatkan dulu
performanya. Misalnya dibore-up atau stroke-up,” terangnya.

Produk roller untuk Skywave yang ada di pasaran antara lain


LHK mulai ukuran 6 – 15 gram. Per buahnya Rp 15 ribu,
sedang 1 set (6 piece) Rp 90 ribu. Lalu ada pula bikinan TDR
mulai 10 – 18 gram yang dijual per satuan Rp 20 ribuan.
Sementara produk KTC yang tersedia mulai 8 – 18 gram dijual
per setnya Rp 75 ribu. Per cvt

Per Cvt

Biasanya penggantian roller kerap dibarengi dengan menukar per CVT pakai yang lebih keras.
Tujuannya untuk mendapatkan efek bukaan movable driven face yang tidak terlalu cepat. Sehingga
akselerasi di putaran bawah hingga tengah bisa lebih cepat dari standar.

Untuk part ini, Skywavemania bisa mengandalkan punya Honda Vario. Selain tingkat kekerasannya
lebih tinggi dari bawaan Skywave, harganya juga tergolong murmer, yaitu hanya Rp 15 ribu.

“Bisa juga para produk aftermarket kayak Kawahara dengan spek 1.500 rpm atau 2.000 rpm. Atau KTC
yang terdiri dari 1.000 rpm (kuning), 1.500 rpm (biru) dan 2.000 rpm (merah),” imbuh Gokur.

Motor
Pilihan Part Performa CVT Suzuki Skywave (Bag.2)
OTOMOTIFNET - Setelah roller dan per CVT, part
kompetisi lain untuk Skutik Suzuki yang mudah ditemui
adalah big pulle dan belt. Langsung aja simak liputannya.

Big Pulley

Bila ingin berlanjut mengaplikasi big pulley, produk yang bisa


ditemui di pasaran untuk Skywave antara lain TDR dan KTC.
Banderol masing-masing sekitar Rp 400 ribu (TDR) dan Rp
350 ribu (KTC). Sasaran pamakaian peranti ini guna
menciptakan variabel bukaan puli yang lebih banyak dan Big Pulley
minim slip pada belt.

“Berdasarkan pengalaman saya yang sudah mencoba dua


produk ini, paling sip buat ningkatin akselerasi dan top speed
yakni bikinan TDR. Kualitasnya lumayan bagus. Tidak bikin
roller cepat tergerus,” tukas Gokur.

Belt

Gokur menyarankan sebaiknya tetap pakai produk genuine


SGP dengan nomor part 27601B-46G10N-000. Pilihan
aftermarket-nya sih ada seperti Daytona, TDR, Bando dan Gigi Reduksi
Mitsuboshi, “Tapi paling awet belt aslinya,’ bilang Kurniadi.
Kemudian untuk kopling sentrifugal, ia dan rekan-rekan
sempat melakukan riset pakai sentrifugal milik Kymco. Hasil
cukup ampuh dan mampu mengurangi efek selip yang dapat
menimbulkan vibrasi.

Gigi Reduksi

Peranti penerus daya ke roda setelah CVT ini juga kerap jadi
incaran penggantian. Soalnya gigi reduksi (GR) ibarat sproket
di motor bergigi. Untuk mendapatkan akselerasi yang Kampas sentrifugal high performance juga
diinginkan, bisa memainkan perbandingannya. merupakan salah satu part yang bisa
mendongkrak akselerasi. Efeknya
cenderung untuk menghilangkan slip
Nah untuk Skywave, rasio GR mengusung perbandingan 14/53 kopling
(3,7857). Sementara Spin mengusung perbadingan 13/45
(3,4615). Bila ingin diperberat guna mengejar top speed yang lebih tinggi, bisa aplikasi perbandingan
yang lebih berat.

Misal pakai 14/41, 14/42, 14/43 atau 14/45. “Namun penggatian final gear yang lebih berat biasanya
dilakukan setelah performa mesin ditingkatkan.

Kebanyakan pada motor bore-up, agar akselerasi di putaran bawah hingga atas bisa tetap cepat. Produk
yang bisa diaplikasi antara lain merek Shinsuken yang bisa dicari di toko Shinshuken di Kebeon Jeruk
9. Banderolnya satu set sekitar Rp 650 ribu.
Motor

Pilihan Noken As Aftermarket Skutik Suzuki, Kalau Jarang, Ya


Custom!
OTOMOTIFNET - Demi meningkatkan performa besutan, termasuk pada skutik Suzuki, tak jarang
skutiker yang pasang berbagai macam part racing pada besutannya agar makin ngacir. Salah satu part
yang banyak diburu dan diaplikasi; noken as (NA) racing.

Padahal, pemasangan peranti ini juga tak bisa sembarangan. Selain memang ada spesifikasi sendiri,
juga ada aturannya. “Umumnya sih, manfaat noken as baru terasa banget buat motor yang udah
dioprek,” kata Benny Rachmawan, R&D Mitra2000 di Jl. Lodan, Jakut.

Kalo tak tersedia, bisa custom dari standar

Gbr 1 Gbr 2
Maklum, NA diandalkan untuk membantu bukaan klep jadi lebih tinggi dari standarnya. Sehingga
pasokan bahan bakar ke ruang bakar juga lebih maksimal. “Intinya sih, aplikasi NA mengikuti
kebutuhan mesin!” lanjut pria ramah ini.

Tapi, meski dapur pacu udah dikorek, adopsi NA juga gak asal templok. Utamanya seperti dibilang
Benny, buat motor standar korek bisa pakai NA racing durasi 260º, bore-up harian maupun balap, bisa
pakai yang berdurasi 280º atau lebih besar.

Nah, biasanya, desain NA racing pinggangnya diubah lebih ramping/tebal (gbr.1) sesuai kebutuhan.
Sedang tonjolan dibikin lebih tinggi (gbr.2) dibanding NA orisinal. Kalau durasinya makin besar, biasa
dipakai untuk motor bore-up yang sudah ganti klep lebar,” ujar Jessy ‘Cokky’ Liga Siswanto,
penggawang JP Racing.

Gimana pilihan NA racing aftermarket buat skutik Suzuki? “Sementara ini emang tak terlalu banyak.
Hanya ada beberapa pilihan. Maklum, penggemar motor ini tak sebanyak Mio, Vario atau BeAT,” aku
pria yang akrab disapa Cokky ini.

Dari hasil survei kami, di pasaran ada merek; Kawahara K1, LHK (Step 1 dan 2) dan Hi-Speed. Tapi
tak usah resah. Bagi pemilik skutik Suzuki yang pengin NA racing tentu bisa bikin atau order khusus
alias custom memanfaatkan NA standar.

Hal itu banyak dilakukan para pebengkel. “Termasuk saya. Selain bisa atur sendiri ukuran/durasi yang
dimauin, ongkos bikinya lebih murah dibanding beli jadi,” beber Aldhie, juragan Bike Rider Shop
(BRS) di daerah Kapin, Kalimalang, Jaktim.

Atau, jika ingin NA custom yang sudah jadi karya BRS, bisa juga, kok. “Oh ya, buat yang mau bikin
sesuai ukuran sendiri, konsumen tinggal bawa NA orisinal bawaan motor dan dana Rp 250 ribu untuk
ongkos kerjanya. Tunggu 2 hari, NA pesanan sudah jadi dan siap dipasang,” tawar Aldhie.
Tabel harga noken as
Noken As Spesifikasi Harga
Kawahara K-1 (021-70993827) Durasi 260o 450 ribu
Hi-Speed (0856-92186666) Durasi 330o 600 ribu
Custom BRS (0816-1350816) Durasi 280o 600 ribu
LHK Step 1 Durasi - 500 ribu
LHK Step 2 Durasi - 800 ribu

Motor

Samudera Jaya Motor, Jagonya Bikin Pulsar 135LS Kencang di


Tarikan Atas
OTOMOTIFNET - Bajaj Pulsar 135 LS didesain
sebagai tunggangan sport yang ringan (Light
Sport/LS). Harga pun termasuk enteng, hanya Rp 14,7
juta (OTR Jakarta). Namun punya fitur komplet,
makanya cukup laris, dalam dua bulan laku 5 ribuan
unit.

Meski hanya dibekali mesin 135 cc, tapi performa


tergolong mumpuni. Terutama disumbang teknologi
multiklep dan multibusi. Klep berjumlah 4,
menjadikan pasokan maupun pembuangan lebih
maksimal dibanding yang hanya 2 klep, lantaran
volume yang bisa melewati makin besar. Sedang
penggunaan busi ganda (DTS-i), menjamin
pembakaran tuntas di semua putaran mesin.
Meski begitu, banyak yang merasa tenaga di putaran menengah ke atas terlalu datar. “Bawahnya
memang nendang, tapi atasnya terasa pendek nafasnya dan kurang garang,” jujur Andri, pemakai Pulsar
135 LS yang warga Joglo, Jakbar.

Efek paling terasa, menurutnya kala dipakai jalan ke luar kota yang punya jalan panjang-panjang.
“Atasnya terasa ngos-ngosan,” lanjutnya. Sama juga dengan yang diungkap beberapa rekan Mr. Testo,
baik lewat email (mr.testo10@gmail.com) atau facebook (Tester Otomotif). Sebenarnya hal itu wajar,
mengingat karakter mesin diset untuk penggunaan jalanan perkotaan.

Tapi apa kudu pasrah gitu saja? Tentu tidak! Bisa kok, dioprek agar makin yahud kala turing. Sudah
dibutikan Bie Hau, mekanik dari bengkel Samudera Jaya Motor (SJM), di Jl. Palmerah Barat No. 51,
Jaksel.
Dengan oprekan tak terlalu ekstrem, tenaga dan torsi bisa
didongkrak cukup banyak lo. Sebagai catatan, dalam kondisi
standar diukur pakai dynamometer DYNOmite milik Ultra
Speed di Jl. H. Mencong, Ciledug Tangerang, Pulsar 135 LS
memuntahkan tenaga 13,9 dk/9.200 rpm, torsi 11,78
Nm/6.600 rpm.

Setelah dikorek Bie Hau, meningkat jadi 15,21 dk/9.100 rpm,


torsi 13,96 Nm/6.800 rpm. Jika memperhatikan grafik hasil
dyno, terlihat tenaga pada putaran menengah ke atas jauh lebih
dahsyat. Dan peak power juga dicapai pada putaran mesin
Head Silinder
yang lebih rendah. Artinya makin wus… wus…

Sedang torsi di putaran menengah ada sedikit penurunan


sesaat sebelum kembali naik. “Efek dari knalpot freeflow,
sedang standarnya kan ada semacam tembolok yang
membantu meningkatkan torsi,” terang Bie Hau. Mari simak
detailnya!

Kepala Silinder
Menurut Bie Hau secara hitungan teori, kombinasi ukuran
saluran dan klep sudah bagus. Makanya hanya sedikit
ubahannya. Yaitu menghaluskan kulit jeruk, sehingga aliran Pengapian
campuran bahan bakar dan udara bisa makin cepat.

Knalpot
Dibikinkan tipe freeflow, andalkan merek Stanlee dengan
bahan stainless steel. “Saya hitung agar nafas makin panjang,”
lanjut mekanik yang dibantu dua orang ini.

Pengapian
Perbaikan sektor pengapian dilakukan dua cara. Pertama
menambah coil booster buatan APS Motomax. “Membantu
pengapian pada putaran menengah ke atas,” terangnya
setengah promosi. Cara kedua dengan mengganti koil pakai Per kopling
Protec, yang dirancang khusus untuk Pulsar, makanya dalam satu kemasan ada dua koil.

Karburator
Sedotan bahan bakar makin deras, pembuangan pun lancar, lalu pengapian sudah membesar. Agar
pembakaran tak terlalu kering, pasokan bensin harus makin deras. “Setingannya ketemu pilot naik dua
step, sedang main jet hanya 1 step,” beber mekanik yang sering bikin motor drag ini. Untuk spuyer tak
perlu bingung, lantaran pilot jet mirip milik Yamaha F1Z-R, sedang main jet sama dengan Honda GL.

Kopling
Melengkapi oprekan agar tenaga tersalur sempurna, per kopling diganti. Bie Hau percaya pada bikinan
G-Force. “Empuk, namun tendangan baliknya cepat,” terangnya.
Part dan jasa
Knalpot Stanlee 600.000
Koil Protec ground strap 450.000
APS Motomax 200.000
Per kopling G-Force 100.000
Jasa 400.000
Total 1.750.000
Data performa
standar Upgrade Kenaikan
Tenaga 13,9 dk / 8.000 rpm 15,21 dk / 7.700 rpm 1,31 dk
13,96 nm / 5.800
Torsi 11,78 nm / 8.000 rpm 2,18 nm
rpm
Samudera Jaya Motor 0816-1976566 /
(SJM) 95078288

Motor

Nih, Penyebab Kerusakan Injeksi Bahan Bakar Pada Sepeda


Motor
OTOMOTIFNET - Kali ini kita akan coba cari tau hal-hal lain yang juga dapat menyebabkan
kerusakan pada sistem FI. Untuk itu kita tanyakan saja pada ahlinya, ya. Hayoo dibantu
ya..prok..prok..jadi apa?

Masih berkaitan dengan bahan bakar, biasanya lantaran ingin berhemat, tak jarang pemilik motor
injeksi memutuskan untuk tetap menggunakan Premium. “Sebenarnya pakai Premium tidak masalah.
Karena umumnya motor-motor injeksi yang diproduksi di sini (Indonesia) dirancang bisa
menggunakan Premium. Asalkan kualitasnya bagus,” bilang Handy Hariko, senior manager technical
service division PT Astra Honda Motor (AHM).
Octane booster tak boleh meninggalkan Melepas filter sama saja mengundang debu
residu dan kotoran
Sayangnya, bensin dengan kualitas yang dimaksud terkadang sulit ditemui. Terutama di daerah.
Sehingga banyak yang coba mengaplikasi octane booster agar performa mesin bisa lebih baik kayak
pakai Pertamax atau bensin beroktan setara. Memang sih, tidak masalah juga, namun ternyata
berdasarkan hasil riset pabrikan, ada beberapa peningkat oktan BBM yang dalam jangka waktu lama
dapat mengacaukan kinerja FI.

“Sebenarnya gak ada larangan menggunakannya (octane booster). Asalkan pastikan dulu kalau produk
tersebut berfungsi dengan benar. Maksudnya efektif untuk meningkatkan oktan, namun tidak
menimbulkan residu saat larut dalam bensin. Karena biasanya zat pewarna yang dipakai akan tertingal
di filter sehingga membuat aliran bensin tersumbat. Parahnya lagi bila mengerak di dinding dalam pipa
dan injektornya," jelas Muhamad Abidin, manager technical department service division PT Yamaha
Motor Kencana Indonesia (YMKI).

Kalau sampai mengerak di saluran injektor, lanjut Abidin, spray quality-nya (kualitas semprotan)
bakalan kurang mengabut sempurna alias masih dalam bentuk partikel yang besar. Meski volumenya
sesuai. "Sehingga jadi akan sulit dimixing (dicampur) dengan udara, yang efeknya membuat
pembakaran jadi kurang sempurna," tambahnya.

Ciri-ciri yang kerap ditemui jika sampai terjadi hal tersebut antara lain mesin jadi susah dinyalakan, lari
motor ndut-ndutan atau mbrebet, konsumsi bensin boros, emisi gas buang buruk dan performa mesin
ngedrop.

Selain itu, tak sedikit pula para pemilik motor jenis ini ketika ingin meningkatkan performa dapur
pacunya, filter udara lantas dilepas. Dengan sasaran untuk mendapatkan debit udara yang lebih banyak
setelah suplai bahan bakar ditambah lewat penyetelan CO. Terutama di Yamaha V-Ixion.
“Dengan tidak adanya filter, otomatis udara yang umumnya bercampur debu akan masuk ke dalam
throttle body hingga ke ruang bakar tanpa ada penyaringan. Akibatnya bisa ditebak, kotoran tersebut
bisa nempel di dalam throttle body (TB) yang lama-lama akan menjadi kerak atau membuat dinding
silinder baret,” tukas Abidin.

Nah, jika sampai kerak tersebut bersarang di lubang TB, terutama di seputar katup kupu-kupu, akan
membuat gerak katup tersebut jadi terganjal. Akibatnya, stasioner mesin jadi tidak rata (kasar/bergetar)
atau suka meninggi sendiri.

Motor

Pilihan CDI Untuk Skutik Suzuki


OTOMOTIFNET - Fitur plug ‘n play (PNP) memang
jadi favorit saat ini. Bagaimana tidak menarik, sebab
seolah tinggal pasang, performa pun langsung terasa
berbeda. Berbagai peranti PNP di pasaran, termasuk di
sektor pengapian, yaitu CDI.

Layaknya ‘bos’ untuk memerintahkan perangkat


pengapian di mesin, CDI memberi tugas bagi koil dan
busi untuk memercikkan bunga api ruang bakar.
Maklum saja, CDI memang mengatur waktu pengapian
juga.

Dari beberapa CDI yang sudah pernah dicoba, memang


ada peningkatan tenaga yang dihasilkan, ini merupakan
efek dari waktu pengapian yang bisa dimajukan beberapa derajat dibandingkan standarnya. Dengan
berubahnya waktu pengapian, kurva powerband pun berubah.

Misal putaran tengah dan atas kurvanya meningkat, dibanding CDI standar yang memang
menghasilkan kurva pengapian dengan bentuk ‘rata’ alias peningkatannya tidak terlalu melonjak di
putaran mesin tertentu.

Dari beberapa CDI, ada yang menampilkan fitur programmable dan fixed. Programmable,
memungkinkan mekanik ‘memainkan’ waktu pengapian yang diinginkan. Seperti pada BRT i-Max.
“Bisa diatur dalam 24 step,” tutur Elly dari PT Trimentari Niaga, salah satu pemasar CDI BRT

Adanya setelan ini, tiap beberapa putaran mesin kurva pengapiannya bisa diatur. Memang, aplikasi ini
sangat berguna ketika tunggangan dipakai pada ajang balap, yang mementingkan power pada tiap
putaran tertentu.

Apalagi, ketika menemukan lintasan yang berbeda karakternya. “Misal ketika beradu cepat di ‘Sentul
kecil’ yang tikungannya tajam dengan jalur lurus tak terlalu panjang, diperlukan settingan berbeda
dibanding sirkuit lain dengan karakter berbeda,” terang Aldhie dari BRS, yang juga tergabung dalam
Skywave Owner Club.
Tetapi ada juga CDI yang fixed alias tidak bisa diubah-ubah waktu pengapiannya. “Seperti Varro atau
Andrion XP,” ungkap Aldhie. Ia sendiri menggunakan Andrion XP 6 Power untuk tunggangannya.
Seperti beberapa anggota SOC yang sudah ditanganinya.

“CDI Andrion XP yang gue pakai, sempat diset sesuai dengan mesin yang gue modif,” terangnya.
Maklum saja, ia pernah berhubungan langsung dengan pembuatnya saat meriset CDI untuk skutik
Suzuki ini. Begitu pun ketika kondisi standar, tentu risetnya dilakukan juga. Maklum, ada pula
pengguna yang ingin memakai CDI aftermarket ini tanpa melakukan modifikasi lainnya.

Selain Andrion dan Varro, BRT juga membuat CDI fixed alias dengan kurva tetap, yaitu hyperband.
Ada juga yang menyediakan fitur 2 kurva, yaitu BRT dualband. “BRT hyperband dijual Rp 410 ribu,
lantas dualband 460 ribu, sedangkan I-max Rp 1,1 juta, tutur bagian marketing BRT itu.

Sementara Andrion XP dijual beragam. “Ada yang power 2, 4 dan 6 seperti yang gue pakai (power 6),”
tutur Aldhie. “Harganya berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1,45 juta,” jelasnya kemudian. Sementara
Varro di pasaran berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

Jadi, untuk menaikkan tenaga dan kurva pengapian dengan instan, tinggal mencari CDI PNP ini saja.
Teknologi memang memudahkan dan menyenangkan, bukan?

Motor

Fuel Pump Motor Injeksi Masih Aman, Asaal,,,?


OTOMOTIFNET - Akhir-akhir ini, heboh masalah
fuel pump mobil rusak. Disinyalir disebabkan kualitas
bahan bakar. Nah di dunia maya, banyak pemakai
motor injeksi merasa was-was. Kekhawatiran mereka
sama, takut fuel pump jebol.

Sampai-sampai PT Yamaha Motor Kencana Indonesia


(YMKI), ATPM Yamaha mengadakan gathering bareng
wartawan dan blogger khusus membahas soal ini.
Bertempat di Score, Cilandak Town Square (Citos),
Jaksel (2/8) silam.

Pada kesempatan ini, M. Abidin, Manager Technical


Department-Service Division PT YMKI, menjelaskan bahwa V-Ixion relatif aman dari ancaman fuel
pump rusak. Tapi tetap ada beberapa faktor yang bisa memicu kerusakan.

“Fuel pump V-Ixion sekarang sudah didesain aman dari panas, karena celah impeller telah dibuat lebih
longgar, lalu filternya pun bisa diganti” terangnya.

Seperti diketahui, pada V-Ixion keluaran awal (2007), sempat muncul masalah fuel pump ngadat jika
motor kepanasan. Penyebabnya, ketika kena panas impeller sedikit mengembang, sehingga tak bisa
bekerja, macet deh.

“Awalnya fuel pump didesain bukan untuk lingkungan tropis, sehingga ketika di sini muncul masalah.
Makanya yang sekarang dibikin sedikit lebih longgar. Pompa pun aman, namun suaranya jadi sedikit
lebih berisik,” lanjut Abidin.
Dari pihak Honda juga menyatakan, motor-motor injeksinya
(Supra X 125 PGM-Fi, PCX, Revo Techno AT) relatif aman.
“Karena sudah pernah kami tes, dengan bensin kotor sejauh
100 km pun tak mengalami masalah,” terang Handy Hariko,
Head of Technical Service Training Department PT AHM.

Begitu juga Kawasaki, KLX 250 dan D-Tracker 250. “Sampai


saat ini belum ada masalah, karena rekomendasinya kan juga
mesti pakai bahan bakan beroktan 92 ke atas,” terang
Freddyanto Basuki, Manager Marketing & R&D PT KMI.
Sebaiknya pilih bbm berkualitas. Mahal gak
Masalah yang terjadi di mobil, disinyalir pompa bekerja lebih masalah, yang penting aman
berat, “Sehingga panas, maka bagian dalamnya mengembang,
efeknya jadi macet. Makanya kami sarankan setelah ganti
pompa baru hendaknya ganti jenis bahan bakar. Sebab ada
kejadian setelah ganti fuel pump dan kembali diisi Premium,
seminggu kemudian rusak lagi,” urai Anak Agung Gede
Pariana, Service Advisor Suzuki Kebon Jeruk.

Meski pada motor - masih - relatif aman, ada beberapa hal


yang memungkinkan pompa ngadat.
“Seperti pemilihan bensin harus yang terjamin kualitasnya,
jangan beli di pinggir jalan yang memungkinkan ada Oktan booster model tablet sangat tidak
dianjurkan, karena bisa menyumbat fuel
campuran. Lalu pemakaian aditif, karena bisa bikin endapan di pump
tangki. Juga hati-hati kala mencuci, jangan disemprot terlalu
kuat di tutupnya, karena bisa masuk yang menyebabkan motor brebet,” lanjut Abidin.

Lalu Freddyanto menambahkan, motor mesti sering dihidupkan. “Agar bahan bakar tak mengendap
yang bikin gel dan basi, yang bisa berakibat pompa tersumbat.”

Buat sementara sih aman nih. Tapi Anda juga harus hati-hati dan waspada. Jangan sampai motor ikut
jadi korban. Kalo perlu, beli bensin yang lebih mahal yang mutunya lebih oke, gak papa, dong!

Motor
Gunakan Toolkit Berkualitas, Agar Kembang Mur Tidak Dol
OTOMOTIFNET - Bagi penghobi otomotif, baik
roda dua ataupun roda empat, kerap mengisi waktu
luang dengan mengutak-atik besutan kesayangan.
Mulai dari memasang part PnP, servis ringan atau
sekedar pengcekan kendaraan. Dalam hal ini, tentu
peran toolkit sangat mambantu.

Tapi sayangnya, gak banyak yang sadar kalau kualitas


toolkit yang dipakai sedikit banyak menentukan
kenyamanan saat mengoprek kendaraan di rumah.
“Usahakan pakai kunci-kunci seperti kunci pas atau
obeng yang berkualitas. Sebab dalam satu waktu,
kunci yang kurang bagus bisa bikin baut slek atau
dol,” saran Nasrudin dari toko perkakas Sinar Laut, di
bilangan Glodok, Jakpus. Berikut ini beberapa pilihan
yang bisa jadi acuan.
Kunci Pas Dan Ring
Di pasaran, beberapa merek yang kerap dipakai bengkel bisa
jadi pilihan. Ada labelan Tekiro, American Tool (Am Tool),
Maxtop, Crossman, dsb. Sebenarnya masih banyak lagi
produk branded lain, tapi untuk kebutuhan non-bengkel,
merek tadi sudah cukup mumpuni, bahkan bisa dibilang
‘mewah’.

“Kelebihannya merek-merek itu gak gampang bikin baut dol.


Beda dengan barang murah yang bila digunakan pada yang
keras, bisa bikin kembang baut jadi dol,” ungkap Bambang
pemilik toko perkakas Barokah, di bilangan Bintaro, Jaksel.

Intinya ada pada bagian gap kunci. Bila dimasukkan mur, jarak antara badan kunci yang bersentuhan
dengan mur atau baut harus rapat. Kalau longgar, sudut mur atau baut akan termakan badan kunci yang
akhirnya bikin bagian topi slek.

Nah, bila ingin membeli kunci berkualitas tanpa tahu mereknya, tak ada salahnya bawa satu baut atau
mur untuk mengukurnya. Setelah diukur (dipasin dengan mur), kunci pas atau ring tersebut terlalu
oblak dengan mur, sebaiknya jangan dibeli.

Untuk jangka panjang, kunci berkualitas juga gak mudah berkarat. Itu lantaran beberapa kunci dibuat
dengan bahan chrome vandilum. Salah satunya bisa dijumpai pada merek Am Tool.

Soal ukuran, tergantung kebutuhan. Namun kalau hanya untuk kebutuhan hobi, tak perlu sampai
selengkap bengkel. “Utamnya pilih kunci dengan kombinasi pas dan ring,” sahut Hendi dari bengkel
Berkat Motor. Sedang untuk ukuran, sediakan ukuran 8, 10, 12, 14, 17 dan 19. Khusus untuk yang 8,
10, 12 dan 14, sediakan dua buah agar dapat digunakan secara ‘kontra’ seperti saat membuka as roda.
Tabel: daftar harga
Merek Ukuran Harga
Am Tool Ring pas 10 12.500
Ring pas 12 13.600
Ring pas 14 17.000
Bacho Ring pas 10 27.500
Ring pas 12 31.000
Crossman Ring pas 10 32.500
Ring pas 12 38.000
Ring pas 17 55.500
Tekiro Ring pas 10 12.500
Ring pas 14 15.000
Ring pas 17 18.000
Ring pas 21 25.000
Maxtop Ring pas 12 22.500
Ring pas 14 27.500
Ring 10-12 19.500
Ring 17-19 34.500
Pas 14-17 25.500
Tekiro Set 8-24 184.000
Lippro Set 8-24 175.000
Jason Set 8-24 350.000
Jonnesway Set 8-24 350.000

Obeng
Tools satu ini punya dua jenis bentuk yang kerap disebut
obeng kembang dan obeng min/minus. Keduannya sama-sama
penting, walau pada praktiknya, obeng kembang lebih sering
digunakan dibanding obeng min.

Eits, tapi jangan salah, obeng min juga berguna buat hal-hal
lain seperti mencungkil benda-benda yang sulit terjangkau
dengan jari. Untuk pilihan merek, di pasaran ada brand Lippro,
Stanley, Prohex, Nixon, Cadik sampai Jonnesway.

Untuk jenis obeng, gak ada spesifikasi khusus. Namun yang pasti Hendi mengatakan, sesuaikan ukuran
‘kembang’ dengan baut yang ingin dibuka. Kalau ukuran ‘kembang’ terlalu kecil, bisa bikin baut rusak.
Kalau sudah begini, satu-satunya cara membuka baut yakni dengan cara diketrik yang notabennya
merusak baut sekaligus memakan waktu.

Soal fitur, beberapa merek obeng sudah dilengkapi dengan megnet. Tujuannya agar baut dapat
dicantumkan pada obeng sebelum dipasang pada drat yang posisinya sulit terjangkau oleh tangan.
Tabel: daftar harga
Merk Harga
Stanley 38-73 ribu
Prohex 21-18 ribu
Nixon 10-20 ribu
Jonnesway 36-70 ribu
Lippro 17-29 ribu

Tang
Jenis alat satu ini sangat beragam pula di pasaran. Sebut saja
tang biasa, tang jepit, tang buaya dan tang potong. Tiap jenis
punya fungsi yang berbeda. Tapi khusus tools rumahan,
sediakan tang biasa.

Karena fungsinya amat bergantung pada tangan pemakainya,


sebaiknya pilih tang yang punya handle yang nyaman saat
dipakai. Kebanyakan tang hanya bergagang besi atau plastik.
Alangkah nyaman jika memilih grip terbuat dari karet karena
enggak licin.

Soal fitur, tersedia tang yang dilengkapi pemotong yang dapat dipakai untuk memotong kabel hingga
kawat besi. Selain itu, ada juga tang yang bisa di-adjust sudut bukaannya. Bila ingin menjepit benda
yang agak besar, tinggal pindahkan klip sehingga tang akan ‘menganga’ lebih lebar.

Di pasaran merek tang juga beragam. Ada produk Ace Hardware, Santus dan Bolin. Selain itu, jangan
lupakan juga aspek material bahan. Pilih tang dengan bahan yang antikarat. Sebab kalau enggak, lama-
kelamaan gerak engsel tang akan keras atau malah tak bergerak sama sekali alias kaku.
Tabel : daftar harga
Merek Harga
Krisbow 125-137 ribu
Santus 32-41 ribu
Bolin 15-20 ribu

Motor

Nih, Penyakit Supra X 125 Diusia Ke 3 Dan Solusinya


OTOMOTIFNET - Buat pembesut Honda Supra X 125 dan Karisma X 125, yang di bawah tahun
2007 kerap didatangi masalah. Dengan adanya beberapa komponen yang kurang berfungsi optimal.
Maklum deh, kan usia motor itu sudah 3 tahun lebih. Di antaranya; bodi mulai bergetar, karburator
banjir, oli meler, dan problem seputar kaki-kaki. Tenang! Tak perlu khawatir, karena semuanya ada
solusinya. Mau tau? Simak di bawah ini!
Gbr 1 Gbr 2

Gbr 3 Gbr 4
Bodi Getar

Buat pemilik besutan bebek, kerap merasa kurang nyaman dengan suara-suara di sekitar bodi saat
menggeber tunggangannya. Bunyi yang terdengar di bodi tersebut, karena ada bagian yang saling
bergesekan akibat getaran dari mesin.

Antara lain; cover headlamp, sayap samping dan cover stoplamp. Untuk itu, harus cek dan ricek bagian
mana yang menimbulkan suara yang enggak enak itu. Nah, kalo sudah ketemu biang keladinya, segera
dilepas. Trus? “Pakai double tape (gbr.1), tebalnya sekitar 2 mm dan harganya Rp 10 ribuan.
Perekatnya ditempel di antara kedua bodi atau di tengah yang menyisakan celah tadi. Kalo masih
berisik, tambahin jadi dua lapis,” sahut Qlay, dari bengkel Yovan Speed & Custom, di Jl. Ciledug Raya,
Petukangan Utara, Jaksel.

Karburator Banjir

Banyak juga yang mengeluhkan pada peranti pengabut bahan bakar ini. Karena fungsi karburator
tersebut untuk mengatur pasokan bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar. Bahaya dong, kalo
sampai bensin menetes di bawah. Takutnya ada percikan api yang bocor, maka bisa menimbulkan
kebakaran, tuh!

Deteksinya dimulai dari jarum pelampung, main jet, pilot jet dan nosel jarum skep. “Biasanya
dikarenakan kotoran yang menumpuk atau jarum pelampung yang termakan (aus) (gbr.2), ” sahut
Kamil, mekanik dari Ondol’s Selatan Motor, di daerah Kostrad, Jaksel.

Maka, tugas pelampung yang mengatur kapasitas bensin masuk dan keluar bensin jadi tidak sesuai
kebutuhan. Sehingga tampungan di karbu tidak dapat membendung bensin yang berlebih alias ngucur
terus. “Makanya, harus segera diganti baru!” saran pria ramah ini.

Oli Mesin Meler

Kalau hidung meler gara-gara pilek, kudu minum obat anti flu dan istirahat yang cukup. Tetapi, motor
yang meler, bagaimana? Jadinya, besutan kesayangan akan terlihat jorok dan dekil.

Kejadian tersebut bermula dari sil-sil yang sudah mulai getas atau keras, sehingga tidak dapat menahan
oli. Bagian yang kerap rembes, seperti; sil gir depan, tutup setelan klep, sil persneling, sil, dan kick
starter.

“Untuk sil atau paking yang sudah getas, lebih baik diganti baru. Tapi saat pasang harus dibersihkan
dulu pake pisau cutter atau ampelas ukuran 1000. Lalu, berikan sealant atau perekat biar oli mesin tidak
rembes (gbr.3),” saran Kamil lagi.

Kaki-Kaki

Saat motor didorong terasa berat atau seret, itu karena peranti kaki-kaki ada yang tidak beres. Misalnya,
bearing roda, rantai dan gir yang sudah tidak berfungsi dengan normal lagi.

Seperti rantai kendur, akibat tergerus gir sproket. Alhasil, peranti penggerak ini susah disetel. Mau gak
mau kudu diganti baru (gbr.4). “Usahakan kalau ganti gir sepaket dengan rantainya,” ujar Miftah Solih,
dari bengkel Hiar 5 Pendawa di Jl. Praja Dalam K, No.27A, Jaksel.

Lalu bearing. Jika peranti tersebut goyang, bisa menyebabkan di bagian kemudi jadi gak stabil atau
oleng. Efek lainnya, memicu piringan cakram mudah peyang. “Karena perputaran cakram jadi gak rata.
Maka, segera dibetulkan atau diganti baru, sebelum merembet ke komponen lain,” jabarnya.

Yovan Speed & Custom : 021-33620695


Ondols's Selatan Motor: 021-99812138
Hiar 5 Pendawa: 021-96655559

Motor

Petunjuk Dasar Perawatan Bebek Matik


OTOMOTIFNET - Tak bisa disalahkan memang, ketika terdapat anggapan negatif terhadap hal baru.
Sebab, belum mengenal lebih dalam, bukan? Seperti ketika ada tunggangan spesies baru ini, bentuknya
tak berbeda dengan bebek, tetapi transmisinya otomatis, enggak perlu pindah persneling!

Seperti kerja kaki yang lebih ringan, Honda Revo AT ini pun membuat si pemilik lebih ringan merawat
tungganganya. Lihat saja perlengkapannya, seperti tidak ada lagi karburator yang perlu penyetelan
angin, karena sudah pakai sistem pemasok bahan bakar injeksi.

“Injeksi sebenarnya lebih simpel, karena perawatannya bisa dilakukan dalam jangka waktu lama,” urai
Jimmy dari Dunia Motor. Misal soal bersihin injektor pun dilakukan dalam jangka waktu lama. Meski
filter udara tentunya perlu dibersihkan berkala.
ECU posisinya sudah jauh dari
Byson
kemungkinan kena air

Transmisi menggunakan oli sama dengan Throttle Position Sensor dijaga soket dan
bebek kebersihannya
Begitu pun soal transmisinya, perawatan pun minim. “Seperti pemakaian oli transmisi tak beda sama
bebek,” urai Handy Hariko, Head of Service Training, PT Astra Honda Motor. Jadi pakai oli SAE 10W-
40 saja.

Cukup menyenangkan, bukan? Penggunanya seolah bebas dari kewajiban-kewajiban rutin dalam waktu
dekat. Tetapi kebebasan ini pun ada syaratnya. Beberapa hal perlu diperhatikan pemilik Revo AT ini.
Terutama, berkaitan dengan sistem pembakaran injeksi dan transmisinya ini yang justru sebagai
unggulan.

Seperti layaknya tunggangan dengan sistem bahan bakar injeksi, tentu memiliki penyuplai bahan bakar
dengan pompa elektrik yang sanggup memompa bensin agar tekanan dalam injektor bahan bakarnya
pas, sehingga pengabutan bensinnya sempurna.

Ada fenomena yang mungkin meresahkan pengguna kendaraan, yaitu soal kualitas bahan bakar
Premium yang bisa mengganggu kinerja pompa bahan bakar. Nah, sebaiknya gunakanlah bahan bakar
dengan kelas di atas premium saat ini.

Dengan menjaga kualitas bahan bakar dan kebersihan tangki, sistem pada pompa bahan bakar ini akan
bekerja baik dan mampu menyuplai bensin dengan sempurna ke injektor.

Masih soal sistem bahan bakar yang ada pada Revo AT, beberapa peranti elektronik terdapat di sana.
Seperti ECU sebagai otak dari manajemen pasokan bahan bakar dan pengapian. Seperti umumnya
barang elektronik, sebaiknya tidak terkena air.
Memang lokasi yang sudah ditentukan pabrikan pasti merupakan tempat yang mampu melindungi
‘benda keramat’ tersebut dari air. Tetapi, sebagai pengguna perlu juga menjaga keselamatan ECU ini.

Begitu pun throttle position sensor, sensor di throttle body ini pun perlu diperhatikan. Terutama pada
bagian-bagian cukup rentan, misal soket-soketnya mesti terjaga, agar rapat dan bebas air. Begitu pun
saat pakai semprotan ketika membersihkan throttle body, bagian ini mesti dijaga agar sil-sil di
dalamnya tidak rusak.

Namun, kalau sudah menjaga bagian-bagian itu, semua berarti bebas dari perawatan yang menyulitkan
penggunanya.

Motor

Ayo Pahami Perbedaan Karakter Karbu Vakum Dan Manual


OTOMOTIFNET - Gue pilih karburator vakum,” ungkap Dodi, sementara temannya, Irfan bersikeras
menggunakan karbu manual. “Lebih enak!” kelitnya. Nah, seperti apa sih, kedua karburator itu?
Apalagi sekarang sudah banyak yang mengaplikasi alat pengabut vakum sebagai peranti standar.

Keuntungannya apa? “Karburator vakum bisa menyesuaikan suplai bahan bakar dan udara dengan
kebutuhan kinerja mesin,” ungkap Sutrisno dari Jawa Motor, di kawasan Paal Tujuh, Jakbar.
Maksudnya, suplai bensin dan udara akan menyesuaikan dengan gerak piston alias daya sedot mesin
ketika sedang bekerja.

Karburator vakum, lebih hemat bahan


Membran, kerap sobek jika sudah lama
bakar

Pada karbu manual skep bergerak dengan Spuyer antara kedua jenis karburator sama
saja
kabel grip gas
.
Jadi, skepnya akan bergerak naik tidak hanya mengandalkan putaran grip akselerator saja. Bisa saja
putaran grip dipelintir habis, skepnya tetap akan terangkat bertahap, sesuai putaran mesinnya.

Berbeda dengan karburator manual, throttle akan terbuka sesuai putaran grip gas, jadi bahan bakar dan
udara akan tersalurkan sesuai bukaan tersebut. Meski, kebutuhan dalam ruang bakar belum
memerlukannya.

Itulah sebabnya karburator vakum lebih irit dibandingkan dengan karburator manual. Tetapi, semua ada
kelebihan kekurangannya tentu. Urusan akselerasi, pastinya karburator manual akan lebih responsif
terhadap mesin ketimbang vakum yang hanya mengandalkan isapan dari piston untuk pergerakan
skepnya.

Lantas, ada lagi kelemahan karbu vakum ini, “Ini memang untuk jangka waktu cukup lama, misal 3
tahun, tetapi pasti akan terjadi,” ujar Tris, sapaan akrab Sutrisno. Apa saja kelemahan itu?

Karburator vakum ini sangat memanfaatkan kevakuman alias kekosongan udara agar bisa responsif
terhadap isapan piston dari ruang bakar. Nah, hal ini berhubungan dengan membran yang ada di atas
skep untuk menggerakkan skep itu sendiri.

Lantas soal jarum skep, pada karbu vakum umumnya tak perlu mengubah ketinggian jarum, karena
sudah menyatu dengan selongsong skepnya. Sementara karbu manual bisa memilih ketinggian jarum
skep untuk menentukan suplai bahan bakar yang diinginkan.

Tetapi, soal jetting karburator sih, sama saja. "Enggak ada bedanya, sama karburator manual," ungkap
Tris. begitu pun soal setelan anginnya, sama persis dengan karburator manual. Pembeda utama ada
pada membran saja.

Karena dipakai cukup lama, lama kelamaan, membran ini akan aus, bisa saja ada bagian yang sobek,
meski kecil, atau juga membrannya melebar dari ukurannya. Kalau sobek, biasanya diganti baru, misal
untuk Yamaha Scorpio, harga membran ini sekitar Rp 55 ribu.

Sebagai perbandingan antara karbu vakum dan manual, Tommy Bramudia dari Ngayunspeed, di
Kelapa Dua, Jakbar dicoba pada Honda Sonic 125, Kawasaki Ninja 250 dan Honda CBR 150,
tarikannya lebih terasa mulai dari putaran bawah hingga atas. “Jauh perbedaannya, lebih responsif,”
tuturnya.

Jadi, antara Dodi dan Irfan sebenarnya tak perlu ada permasalahan, hanya tinggal penyesuaian saja.
Jika ingin berkendara ekonomis, sebaiknya pilih karburator vakum, sementara tarikan responsif dan
spontan bisa menggunakan karburator manual seperti pilihan Irfan.

Motor
Perawatan CVT Skutik, Pahami Usia Pakainya Ya!
OTOMOTIFNET - Tak sedikit surat pembaca masuk
ke redaksi curhat soal keanehan pada bagian CVT di
skutik tunggangan mereka. Terutama mengenai kendala
vibrasi yang muncul. Gak jarang pula yang
menanyakan bagaimana cara perawatan yang baik dan
benar sesuai ajuran pabrik, serta apakah komponen
CVT-nya memiliki masa pakai tertentu atau tidak?

Nah, untuk menjawab semua itu, OTOMOTIF coba


meminta penjelasan dari pakarnya langsung, yakni
bagian technical service beberapa pabrikan motor
Jepang yang mengeluarkan motor tipe ini. Begini
jawaban mereka.

"Kebanyakan kendala vibrasi yang timbul, disebabkan oleh debu dan kotoran yang hinggap dalam
ruang CVT. Debu atau kotoran itu bisa dari udara luar (terisap ke dalam ruang CVT), bisa pula akibat
ampas hasil gesekan belt terhadap puli," terang Endro Sutarno, Technical Service Training Instuctor PT
Astra Honda Motor (AHM).

Nah, untuk menghindari hal itu, bagian ruang CVT ini pada periode tertentu disarankan untuk
dibersihkan. Sayangnya, masih banyak pengguna skutik yang tidak memahami anjuran ini. Ketika
melakukan perawatan rutin ke bengkel, bagian CVT sama sekali tidak ikut diservis. Paling hanya
sekadar ganti oli, bersihin karburator atau filter udara saja.

Padahal umumnya di buku pedoman perawatan yang biasa disertakan ketika membeli motor jenis ini,
di dalamnya ada anjuran untuk melakukan servis bagian CVT pada periode tertentu. Apa mungkin
buku pedoman itu gak pernah dibaca ya? Hayo ngaku!
Hehehe.. Jadi, jangan heran ya kalau tiba-tiba muncul gejala
vibrasi atau slip di komponen CVT.
"Di skutik Yamaha, servis CVT dianjurkan minimal setiap 10
ribu km," beber Muhamad Abidin, Manager Technical
Departement Service Division PT Yamaha Motor Kencana
Indonesia (YMKI). Item servisnya, lanjut Abidin, bukan hanya
membersihkan kotoran yang nempel. Melainkan juga meliputi
pemeriksaan semua komponen CVT, serta memberikan
pelumasan ulang pada beberapa komponen pakai grease
Puli primer dan skunder mesti dilakukan khusus.
pelumasan ulang pada periode tertentu
untuk mencegah keausan
"Kalau pada produk Honda, anjuran dari pabrik servis CVT
dilakukan setiap 8.000 km," tukas Wedijanto Widarso,
Manager Technical Development Department AHM. Masih
kata Pak Wed (sapaan akrabnya), di samping membersihkan
bagian CVT serta mengecek kondisi komponennya, tiap 8.000
km juga disarankan untuk dilakukan penggantian oli girboks
(gigi reduksi).

Belt Wajib diganti berkala meski secara


visual terlihat masih bagus
Selain itu yang perlu diingat, ada komponen CVT yang punya masa pakai tertentu. Yakni belt. Lantaran
terbuat dari bahan campuran rubber, tentu lama-lama akan mengalami keausan (umumnya makin
memanjang/melar). Nah, kalau sampai melar, efeknya akan membuat daya cengkramnya terhadap puli
jadi melemah. Sehingga timbul lah slip.

Pada skutik berlambang sayap mengepak, komponen ini dianjurkan untuk diganti setiap 24 ribu km.
Sementara untuk semua matik Yamaha, sarannya tiap 25 ribu km. "Walaupun secara visual terlihat
masih bagus," tukas Abidin.

Namun baik menurut Abidin maupun Pak Wed, periodik penggantian itu juga tergantung cara
berkendara serta kondisi lingkungan. "Kalau bawa motornya sering disentak atau daerah tempat
tinggalnya banyak debu, umur belt bisa lebih singkat lo," terang keduanya.