Anda di halaman 1dari 6

IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK KLOROFORM

KULIT BATANG TUMBUHAN NANGKA (Artocarpus heterophyllus)

Oleh
Rinjani S*

ABSTRAK
Identifikasi senyawa metabolit sekunder yang ada pada kulit batang
tumbuhan nangka (Artocarpus heterophyllus) telah dilakukan dengan
menggunakan pelarut kloroform. Identifikasi diawali dengan pemisahan
komponen metabolit sekunder melalui proses ekstraksi dengan teknik maserasi
(perendaman). Kemudian proses identifikasi senyawa metabolit sekunder
dilakukan dengan reaksi uji warna. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa kulit
batang tumbuhan nangka mengandung senyawa golongan saponin dan steroid.

Kata kunci: Artocarpus heterophyllus


* Mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Palangkaraya Angkatan 2007

I. PENDAHULUAN
Obat tradisional adalah obat yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral,
atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang akan mempunyai data klinis dan
dipergunakan dalam usaha pengobatan berdasarkan pengalaman. Dalam rangka
peningkatan kesehatan masyarakat, maka obat tradisional perlu dimanfaatkan
sebaik-baiknya. Bagian dari tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat
tradisional antara lain : akar, kulit batang, daun, bunga, buah, dan biji. Setiap
bagian tumbuhan terkadang mempunyai khasiat yang berbeda-beda, tidak jarang
juga beberapa bagian digunakan secara bersama-sama.
Salah satu jenis tumbuhan khas tinggi yang banyak terdapat di hutan tropis
Indonesia, termasuk kalimantan adalah nangka (Artocarpus heterophyllus). Di
beberapa daerah di tanah air, nangka tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan
pangan saja, tetapi juga digunakan untuk pengobatan tradisional. Beberapa bagian
tumbuhan nangka banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional, seperti getah dari
kulit batangnya digunakan untuk mengobati penyakit demam, obat cacing, dan
antiinflamasi. Kulit batangnya juga dipercaya dapat digunakan sebagai anti tumor
dan anti kanker.
Meskipun pada waktu sekarang banyak obat-obatan yang terbuat secara
sintetik, tetapi tidak boleh kita abaikan arti tumbuhan sebagai hasil bahan yang
berkhasiat obat, seperti dapat dilihat dari banyaknya anti biotika yang
diperkenalkan dalam dunia pengobatan dan boleh dikatakan semua zat tersebut
berasal dari tumbuhan, seperti antara lain : penisilin, streptomisin, kloromiseti,
dan masih banyak tumbuhan lain yang sampai sekarang belum terlalu dikenal
sebagai tumbuhan obat.
Banyak tumbuhan yang bahannya dipakai dalam obat tradisional,
termasuk nangka oleh mereka yang tidak mengenal ilmu penegetahuan modern,
maka perlu dilakukan suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh kepastian bahwa
bahan-bahan yang digunakan penduduk sebagai obat itu beralasan, meskipun
pemakaian bahan-bahan tersebut tidak memakai dasar ilmiah.
Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui senyawa kimia
yang terkandung di dalam kulit batang tumbuhan nangka (termasuk getah kulit
batang) tersebut. Dalam hal ini senyawa kimia yang ingin diketahui adalah
senyawa kimia metabolit sekunder.

II. METODE PENELITIAN


Alat
Beberapa alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol kaca
bertutup, gelas kimia, gelas ukur, corong pisah, tabung reaksi dan raknya, kertas
saring, batang pengaduk, kaca arloji, neraca digital, pipet tetes, pipet ukur,
spatula, dan corong kaca.
Bahan
Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini berupa pelarut PA (pro
Analysis) yaitu kloroform. Bahan lain yang digunakan adalah serbuk logam Mg,
asam asetat glasial, aquades, larutan asam sulfat pekat, larutan asam klorida pekat,
dan FeCl3.
Kulit batang tumbuhan nangka diperoleh dari lingkungan sekitar
Universitas Palangkaraya. Tumbuhan nangka yang digunakan adalah yang
berumur sedang dan sudah berbuah. Kulit batang kemudian disortir dan
dibersihkan untuk selanjutnya dihaluskan menjadi serbuk.
Cara Kerja
Kulit batang tumbuhan nangka dipotong kecil-kecil, kemudian
dikeringkan (20 gram). Bahan kering ini kemudian selanjutnya dihaluskan sampai
berbentuk serbuk. Sebanyak 5 gram serbut kulit batang tumbuhan nangka
dimasukkan ke dalam botol kaca gelap kemudian diekstrak dengan ± 25 mL
pelarut kloroform (perbandingan 1:5) selama 3 x 24 jam (botol ditutup rapat).
Kemudian sampel disaring sampai menghasilkan ekstrak kloroform
(filtrat) sebanyak 6,2 mL dan residu (ampas). Filtrat yang berupa ekstrak
kloroform kemudian dilarutkan dalam aquades dengan perbandingan 1:1 atau 6,2
mL aquades. Larutan yang diperoleh dikocok, kemudian didiamkan selama 15
menit sampai membentuk dua lapisan, yaitu lapisan air dan lapisan kloroform.
Lapisan air digunakan untuk identifikasi senyawa flavonoid, saponin, dan fenolik.
Lapisan kloroform digunakan untuk identifikasi senyawa steroid dan terpenoid.
Identifikasi saponin dilakukan dengan cara lapisan air hasil pemisahan kloroform
dan air dimasukkan ke dalam tabung reaksi kecil, selanjutnya dikocok kuat-kuat.
Terbentuknya busa permanen selama ± 15 menit menandakan positif adanya
saponin.Identifikasi flavonoid dilakukan dengan cara lapisan air yang diperoleh
dari hasil pemisahan kloroform dan air dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
Kemudian ditambahkan dengan serbuk logam Mg dan beberapa tetes asam klorida
pekat (HCl). Jika terbentuk warna orange sampai merah menandakan positif
adanya flavonoid.
Identifikasi fenolik dilakukan dengan cara lapisan air yang diperoleh dari
hasil pemisahan kloroform dan air dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan dengan besi (III) klorida (FeCl3). Jika terbentuk warna biru
menandakan positif adanya senyawa fenolik.
Identifikasi steroid dan terpenoid dilakukan dengan cara lapisan kloroform
hasil pemisahan kloroform dan air dimasukkan ke dalam 2 lubang plat tetes
masing-masing lima tetes dan dibiarkan sampai kering. Kemudian menambahkan
asam sulfat pekat ke dalam salah satu lubang, sedangkan ke dalam plat tetes yang
lain ditambahkan 2 tetes asam asetat glasial diaduk dan ditambahkan 1 tetes asam
sulfat pekat. Terbentuknya warna merah atau ungu pada plat tetes menandakan
adanya terpenoid, sedangkan bila terbentuk warna hijau menandakan steroid.
III.HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemisahan komponen senyawa metabolit sekunder diawali dengan proses
ekstraksi melalui metode maserasi dengan menggunakan pelarut kloroform. Hasil
ekstraksi 5 gram serbuk kulit batang tumbuhan nangka dengan menggunakan 25
mL pelarut kloroform diperoleh ekstrak kloroform sebanyak 6,2 mL. Hasil yang
diperoleh dari ekstraksi kemudian dilarutkan dalam aquades dengan perbandingan
1:1 yaitu sebanyak 6,2 mL.
Berkurangnya ekstrak kloroform hasil ekstraksi yang diperoleh
kemungkinan disebabkan adanya proses penguapan pada saat perendaman serta
penyerapan kertas saring yang digunakan saat penyaringan.
Pengujian golongan metabolit sekunder dari ekstrak kulit batang tumbuhan
nangka dilakukan dengan menggunakan metode Simes et. Al. Pengujian tehadap
senyawa steroid dan terpenoid dilakukan dengan cara lapisan kloroform
diteteskan pada plat tetes dan dibiarkan hingga kering. Kemudian ditambahkan
beberapa tetes asam asetat glasial dan asam sulfat pekat. Setelah dibiarkan
beberapa saat terbentuk warna hijau yang menunjukkan adanya golongan senyawa
steroid.
Untuk identifikasi saponin, sebanyak 3 mL lapisan air dimasukkan ke
dalam tabung reaksi dan dikocok kuat-kuat, hasilnya terbentuk busa permanen
selama ± 15 menit yang menandakan adanya senyawa golongan saponin.
Pengidentifikasian flavonoid yaitu sebanyak 1 mL lapisan air dimasukkan
ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan logam Mg dan beberapa tetes HCl pekat,
hasilnya tidak terbentuk warna orange sampai merah yang menandakan tidak
adanya senyawa golongan flavonoid dalam kulit batang tumbuhan nangka.
Identifikasi fenolik yaitu sebanyak 1 mL lapisan air dimasukkan ke dalam
tabung reaksi dan ditambahkan dengan FeCl3, tidak terbentuknya warna biru
menunjukkan tidak adanya fenolik.
Hasil identifikasi golongan metabolit sekunder pada ekstrak kloroform
kulit batang tumbuhan nangka dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1
Hasil Identifikasi Golongan Metabolit Sekunder Ekstrak Kloroform Kulit
Batang Tumbuhan Nangka

Uji Identifikasi Hasil Ket


Steroid Lapisan kloroform + asam Terbentuk warna hijau +
asetat glasial + asam sulfat
pekat
Terpenoid Lapisan kloroform + asam Tidak terbentuk warna -
asetat glasial + asam sulfat merah-ungu
pekat
Flavonoid Lapisan air + serbuk logam Mg Tidak terbentuk warna -
+ HCl pekat orange
Fenolik Lapisan air + FeCl3 Tidak terbentuk cincin -
berwarna biru-ungu
Saponin Lapisan air dikocok kuat-kuat Terbentuk busa +
permanen

Dari hasil identifikasi golongan metabolit sekunder ekstrak kloroform


pada kulit batang tumbuhan nangka melalui reaksi uji warna diketahui bahwa
pada ekstrak kloroform kulit batang tumbuhan nangka mengandung senyawa
steroid. Hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya warna hijau pada reaksi
identifikasi steroid. Kulit batang tumbuhan nangka juga mengandung saponin
dengan terbentuknya busa permanen pada lapisan air yang dikocok kuat-kuat.

IV. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa ekstrak


koloroform pada kulit batang tumbuhan nangka (Artocarpus heterophyllus)
teridentifikasi mengandung senyawa golongan steroid dan saponin.

DAFTAR PUSTAKA

Ciptadi. 2006. Studi Fitokimia dalam Rangka Menggali Tumbuhan Obat


Kalimantan Tengah. Palangkaraya. FKIP.

Harborne, J. B. 1996. Metode Fitokimia (terjemahan). Bandung: ITB Bandung.

Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3 (terjemahan). Jakarta: Erlangga.


Merie. 2007. Pemisahan dan Identifikasi Komponen-Komponen Metabolit
Sekunder Ekstrak Kloroform pada Kulit Batang Tumbuhan Manggis
Hutan (Barringtonia scortechinii King). Skripsi tidak diterbitkan.
Palangkaraya: UNPAR.

Purnawan, Awan. 2003. Identifikasi Senyawa Kimia pada Tumbuhan Obat


(Calophyllum spectabile Wild). Alchemy Jurnal Penelitian Kimia. 2 (2);
1-5.

Saleh, Chairul. 2003. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Steroid dari Fraksi
Kloroform Tumbuhan Sidawayah (Woodfordia floribunda Salisb). Jurnal
Kimia Mulawarman. 1 (1); 31-35.

Sitorus, Titin R. 2009. Identifikasi Metabolit Sekunder pada Ekstrak Kloroform


Buah Mahkota Dewa (Phaleria Marcocarpa). Makalah Seminar tidak
diterbitkan. Palangkaraya: UNPAR.

Sriwati. 2000. Identifikasi Metabolit Sekunder pada Tumbuhan Siwakat. Makalah


Seminar tidak diterbitkan. Palangkaraya: UNPAR.