Anda di halaman 1dari 23

AQIDAH

Aqidah secara etimolog berasal dari 'aqada, yang berarti ikatan, tambatan. Dalam keseharian aqidah
bermakna kepercayaan, keyakinan atau keimanan
Aqidah merupakan dasar dibangunnya ajaran Islam. Tanpa aqidah yang kokoh tidak mungkin ditegakkan
ajaran Islam baik dalam individu maupun masyarakat.
Pokok-pokok Aqidah atau rukun iman, terdiri dari 6 hal yaitu iman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada
Kitab, kepada Rasul, kepada Hari Akhir,dan iman kepada taqdir
Dari ke-6 rukun iman di atas iman kepada Allah SWT merupakan keimanan yang paling mendasar,
sebagaimana hadis dari Abu Zar :
"Dan ketahuilah bahwa, awal dari ibadah ialah mengenal ALLAH, bahwa ia yang pertama, sebab segala
sesuatu, ......."
MENGENAL ALLAH
Manusia dapat mengenal ALLAH melalaui :
1. Fitrah/naluri,
Yaitu kecenderungan dasar manusia untuk mengenal & membutuhkan Allah(7:172). Hal ini ditunjukkan
ketika keadaan kritis manusia ingat Allah (10:12-22)
2. Akal
Dengan merenungi fenomena alam maupun penalaran logis manusia bisa menenal Allah. Banyak
argumentasi yang digunakan, misalnya dalil keteraturan, dalil keindahan, dalil kausalitas, dll.
3. Wahyu
Melalui informasi Allah kepada Rasul, yang kemudian disampaikan kepada seluruh manusia (20 :14)
TAUHID
Tauhid yang berarti mengesakan Allah, lawannya adalah Syirk yang berarti menyekutukan Allah. Tauhid
memiliki 2 aspek :
1. Tauhid Ilmi (teoritis)
Yaitu pemahaman yang benar mengenai Allah SWT. Tauhid teoritis menjauhkan manusia dari
pemahaman yang salah mengenai Allah.
Tauhid memandang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Keesaan Allah meliputi baik Zat-Nya (Tauhid
Zati), Sifat-Nya (Tauhid Sifati), dan Perbuatan-Nya (Tauhid Fi'li).
Tauhid Zati berarti bahwa Allah merupakan Tuhan Yang Mutlah (Absolut), Sumber Segala Sesuatu, yang
tak memiliki penyerupaan dan pembanding (Distinct). Dan bahwa Dia adalah Pencipta, Wajibul wujud,
yang Esa (Unique) QS 112:1-4
Tauhid Shifati berarti bahwa Allah memiliki pelbagai Sifat dan Nama-nama yang Baik (Asmaul-Husna),
yang terpelihara dari kelemahan (QS 59:22- 24). Dengan nama-nama itu kita menyeru kepadanya
(17:110, 7:180)
Tauhid Fi'li berarti bahwa Allah adalah Penguasa (Rabb) seluruh alam semesta, bahwa semua partikel
dan kesadaran bergerak karena kuasa dan kehendak Allah.
Dengan demikian Tauhid menentang segala faham yang menyekutukan Allah (Syirk), baik :
- meniadakan-Nya (Atheis),
- membilangkan-Nya (Politeis, Trinitas dan Dualisme Tuhan),
- Mensifati dengan sifat nisbi seperti beranak, lupa, beristri , dll.
- Menyembah makhluk, seperti matahari, bulan, jin, manusia, dll
2. Tauhid Amali
Sebagai konsekuensi Tauhid Ilmi adalah tauhid amali, yaitu sikap dan perbuatan untuk meng-esakan
Allah. Mengesakan Allah dalam sikap dan perbuatan itulah yang disebut ibadah. Ibadah adalah mengikuti
perintah/syari'at-Nya. Sedang lawannya adalah ma'syiat, yaitu memuja/memperturutkan selain kepada
Allah.
Agar bisa melaksanakan tauhid dalam amal (tauhid amali), manusia harus menundukkan hawa nafsunya
agar bisa tunduk kepada syari'at-Nya. Jika tidak mampum maka justru hawa nafsu yang akan menjadi
tuhannya (25 : 43, 45 : 23)
Tauhid ini akan membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan
kepada Allah SWT semata. Dalam Al-Quran yang disembah selain Allah, sering disebut dengan thaghut
(thagha : melampaui batas, tirani). Toghut/tirani bisa berupa alam (6 :76 -78), berhala (buatan manusia,
16 : 20-22), manusia lain (spt. pemimpin, 33 : 67), tradisi (2 :170), maupun diri sendiri (25 : 43).
SYARIAH
Syariah (berarti jalan besar) dalam makna generik adalah keseluruhan ajaran Islam itu
sendiri (42 :13). Dalam pengertian teknis-ilmiah syariah mencakup aspek hukum dari
ajaran Islam, yang lebih berorientasi pada aspek lahir (esetoris). Namum demikian
karena Islam merupakan ajaran yang tunggal, syariah Islam tidak bisa dilepaskan dari
aqidah sebagai fondasi dan akhlaq yang menjiwai dan tujuan dari syariah itu sendiri.
Syariah memberikan kepastian hukum yang penting bagi pengembangan diri manusia
dan pembentukan dan pengembangan masyarakat yang berperadaban (masyarakat
madani).
Syariah meliputi 2 bagian utama :
1. Ibadah ( dalam arti khusus), yang membahas hubungan manusia dengan Allah
(vertikal). Tatacara dan syarat-rukunya terinci dalam Quran dan Sunah. Misalnya :
salat, zakat, puasa
2. Mu'amalah, yang membahas hubungan horisontal (manusia dan lingkungannya) .
Dalam hal ini aturannya aturannya lebih bersifat garis besar. Misalnya munakahat,
dagang, bernegara, dll.
Syariah Islam secara mendalam dan mendetil dibahas dalam ilmu fiqh.
Dalam menjalankan syariah Islam, beberpa yang perlu menjadi pegangan :
a. Berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunah (24 :51, 4:59) menjauhi bid'ah
(perkara yang diada-adakan)
b. Syariah Islam telah memberi aturan yangjelas apa yang halal dan haram (7 :33, 156-
157), maka :
- Tinggalkan yang subhat (meragukan)
- ikuti yang wajib, jauhi yang harap, terhadap yang didiamkan jangan bertele-tele
c. Syariah Islam diberikan sesuai dengan kemampuan manusia (2:286), dan
menghendaki kemudahan (2 :185, 22 :78). Sehingga terhadap kekeliruan yang tidak
disengaja & kelupaan diampuni Allah, amal dilakukan sesuai kemampuan
d. hendaklah mementingkan persatuan dan menjauhi perpecahan dalam syariah
(3:103, 8:46)
Syariah harus ditegakkan dengan upaya sungguh-sungguh (jihad) dan amar ma'ruf nahi
munkar
AKHLAQ
Akhlaq (jamak dari khulq ; perangai, tabiat, pekerti) alah kemampuan/kondisi jjiwa yang
merupakan sumber dari segala kegiatan manusia yang dilakukan secara spontan tanpa
pemikira. Akhlaq terbentuk dari latihan dan praktek berulang (pembiasaan). Sehingga
jika sudah menjadi akhlaq tidak mudah dihapus. (an-naraqi)
Akhlaq memiliki kedudukan utama, bahkan puncak , dalam Islam. beberapa hadis
mengungkapkan ketinggian akhlaq.
Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia
Agama adalah akhlaq yang baik
Sebaik-aik manusia adalah yang terbaik akhlaqnya
Akhlaq memiliki cakupan yang luas, yaitu mencakup hubungan kepada Allah, manusia,
maupun lingkungannya. Akhlaq dalam Islam tidak lepas dan terkait erat dengan aqidah
dan syariah, ia merupakan buah dan sekaligus puncak dari keduanya.
akhlaq menekankan keutamaan, nilai-nilai, kemulian dan kesucian (hati dan perilaku),
Akhlaq Islami harus diupayakan agar menjadi sistem nilai (etika/moral) yang mendasari
budaya masyarakat.
Akhlaq Pribadi
Akhlaq yang baik berpangkal dari ketaqwaan dari Allah di manapun berada. disamping
itu akhlaq yang baik merupakan manifestasi dari kemampuan menahan hawa nafsu dan
adanya rasa malu.
Agar seseorang berakhlaw baik ia haru selalu menimbang perbuatannya dengan hati
nuraninya yang bersih. salah satu tanda akhlaq yang baik jika mendatangkan
ketenangan jiwa, sebaliknya jika mendatangkan keraguan dan ingin tidak diketahui
orang lain merupakan isyarat akhlaw yang buruk.
Banyak sekali akhlaq mulia (akhlaqul karimah) yang harus menjadi hiasan seorang
muslim, demikian juga banyak akhlaq buruk (akhlaqul madzmumah) yang harus
dihindari.
Beberapa akhlaq mulia :
- Menjauhi perbuatan perkataan sia-sia
- Sabar dan tidak pemarah
- Zuhud ( tidak rakus kepada dunia dan kemewahannya)
- Taubat
- Jujur
- Baik hati dan suka menolong
- Amanah (dapat dipercaya)
- Berprasangka baik
- Tolerans dan lapang dada
- Empati terhadap penderitaan orang lain

Jika kita selalu beramal baik dan mendekatkan diri kepada ALlah, maka Allah akan
"menyatu" dalam diri kita.

Akhlaq pergaulan
Akhlaq pergaulan yang baik kepada sesama manusia menjadi ajaran fundamental
dalam Islam untuk mencapai masyarakat yang mulia.
Islam mengajarkan bahwa manusia mempunyai kedudukan yang sama karena ia
berasal dari nenek moyang yang sama (4:1), kedudukan dan derajat yang
sesungguhnya ditentukan oleh taqwanya (49:13). Perbedaab budaya dan ras justru
merupakan tanda kekuasaan Allah SWT (30 :22), yang bermanfaat untuk menjadi
identitas agar saling kenal-mengenal (49 : 13). Sifat megagungkan keturunan, ras,
suku, maupun golongan adalah sikap-sikap jahiliah, yang sangat ditentang Islam. Islam
menjunjung tinggi toleransi dan egaliterian.
IBADAH
Tugas manusia di dunia adalah ibadah kepada Allah SWT (51:56). Meskipun
merupakan tugas, tetapi pelaksanaan ibadah bukan untuk Allah (51 :57), karena Allah
tidak memerlukan apa-apa. Ibadah pada dasarnya adalah untuk kebutuhan dan
keutamaan manusia itu sendiri.
Ibadah ('abada : menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia
sebagai makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan
merupakan fitrah (naluri) manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia
dari pemujaan dan pemujaan yang salah dan sesat.
Dalam Islam ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Segala sesuatu yang dicintai dan
diridhai Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir atau batin, semua
merupakan ibadah. Lawan ibadah adalah ma'syiat.
Ibadah ada dua macam :
1. Ibadah Maghdhah (khusus)
yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan biasanya bersifat
ritus. Misalnya : shalat, zakat, puasa, haji, qurban, aqiqah. Ibadah jenis ini tidak
banyak jumlahnya.
2. Ibadah 'Amah (Muamalah)
Yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan baik manusia. Ibadah ini tidak
ditentukan cara dan syarat secara detil, diserahkan kepada manusia sendiri. Islam
hanya memberi perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam arti
umum misalnya : menyantuni fakir-miskin, mencari nafkah, bertetangga, bernegara,
tolong-menolong, dll.
Sesuatu akan bernilai ibadah, jika memenuhi persyaratan :
1. Iman kepada Allah dan Hari akhir (2 :62). Karenanya amal orang kafir seperti
fatamorgana.
2. Didasari niat ikhlas (murni) karena Allah, sebagaimana hadis :
Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. dan bagi segala sesuatu tergantung dari
apa yang ia niatkan.
3. Dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah.
Untuk ibadah maghdhah : harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis,
Kreativitas justru dilarang. Sehingga berlaku prinsip " Segala ssesuatu dilarang, kecuali
yang diperintahkan". Kita dilarang membuat ritus-ritus baru yang tidak ada dasarnya.
Untuk mu'amalah : harus sesuai dengan jiwa dan prinsip prinsip ajaran Islam.
Pelaksanaannya justru memerlukan kreativitas manusia. Sehingga berlaku prinsip "
Segala-sesuatu boleh, kecuali yang dilarang"
Ibadah pada dasarnya merupakan pembinaan diri menuju taqwa. (2 :21). Setiap upaya
ibadah memiliki pengaruh positif terhadap keimanan, lawanya adalah maksyiat yang
berpengaruh negatif terhadap keimanan.
Iman bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman dengan ibadah, berkurang karena
ma'syiat (Hadis)
Setiap ibadah juga memiliki hikmah/tujuan-tujuan mulia, seperti :
- Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar (29 : 45)
- Puasa untuk mencapai taqwa (2 :183)
- Zakat untuk mensucikan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak ( 9: 103)
- Haji sebagai sarana pendidikan untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan
kotor. ( 2;197)
Selain itu juga memiliki keluasan dan keutamaan-keutamaan
MENGENAL ISLAM
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.
(QS. 3:19)
Pendahuluan
Islam berasal dari kata "aslama" artinya tunduk, menyerah diri.
Dalam Al-Quran digunakan beberapa kata yang memiliki akar yang sama, yaitu :
- silm (damai, 2:208),
- aslama (menyerah diri, 3:83),
- istaslama (penyerahan total, 4:65),
- salim (suci, 25:89),
- salaam (sejahtera (39:73).
Jadi, Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian, penyerahan diri kepada
Allah, kesudian, dan kesejahteraan.
Secara istilah, Islam merupakan agama yang diturunkan Allah, bersumber Al-
Quran dan Sunah Rasul, baik berupa perintah, larangan dan petunjuk kebaikan
umat manusia dunia dan akhirat. (Versi Majelis Tarjih Muhammadiyah)
Sumber Ajaran Islam
Sumber ajaran Islam, baik dalam mempelajari, mengkaji dan mengamalkan adalah :
• Al-Quran
• Sunah Rasul (Hadits)
Sebagian ulama menambahkan dengan Ijma’ (kesepakatan para ulama) dan qiyas
(analogi). Sedang ulama lain menganggapnya bagian dari metode dalam ijtihad,
disamping metode lain.
Karakteristik ajaran Islam
Islam memiliki karakter khas, yang menjadi ciri-cirinya, di antaranya :
• Islam merupakan agama universal untuk seluruh umat manusia, bahkan
untuk jin dan seluruh alam (34:28, 21:107 25 ;1, 7:178)
• Islam merupakan agama untuk sepanjang zaman, berlaku hingga akhir
zaman (33:40)
• Islam merupakan agama yang sempurna,mencakup seluruh aspek
kehidupan baik aspek lahir, batin, pribadi maupun masyarakat. (5:3, 6:38,
6:115)
• Islam merupakan agama fitrah. Sesuai dengan fitrah manusia (30:30),
tidak bertentangan dengan fitrahnya.
• Islam merupakan agama ilmu. Islam menjunjung tinggi ilmu (14:1, 35:28)
Struktur/Aspek Ajaran Islam
Secara garis besar, ajaran dikelompokan ke dalam 3 aspek :
• Aqidah, yang berhubungan dengan masalah keimanan atau keyakinan
• Syariah, yang berhubungan dengan masalah hukum, baik ibadah maupun
muamalah
• Akhlaq, yang berhubungan dengan masalah moral, etika, budi pekerti,
sikap lahir/bathin.
Ketika aspek tersebut bisa dibedakan namun merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Aqidah harus diwujudkan dengan melaksanakan syariah dan
bertindak sesuai akhlaq Islam. Syariah juga harus dilandasi oleh aqidah dan
dilaksanakan sesuai akhlaq Islam. Kita tidak boleh hanya mementingkan salah satunya
saja.
Secara ringkas kaitan antara ketiganya adalah :
Ilmu yang
Aspek Manifestasi
mempelajari
Ilmu
Aqidah Iman
Aqidah/Aqa'id
Syariah Fiqh Islam
Tasauf/Ilmu
Akhlaq Ihsan
Akhlaq
Kewajiban kita terhadap Islam
• Mengimani kebenaran Islam (2:23, ), tidak menolak meski hanya sebagian
(
• Mengilmui (mempelajari ajaran Islam (9:122, 47:24)
• Mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhan menurut
kemampuan(2:208, 2:286)
• Mendakwahkan dan memperjuangkannya (3:104,110)

Dakwah
Dakwah, sebagaimana yang dipahami, adalah ajakan atau seruan untuk menciptakan suasana damai
dan tentram serta penuh kesejukan. Ia merupakan ajakan untuk memahami, menghayati, dan
melaksanakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Dalam bukunya, Tadzkirat al-Dua'at, Bahi al-
Khuli menjelaskan bahwa pengertian dakwah yaitu "upaya memindahkan manusia dari satu situasi
kepada situasi yang lebih baik." Pengertian tersebut tentu sangat relevan dengan kondisi kita saat ini.
Kondisi kerusuhan, mudah tersinggung, gampang terprovokasi, haruslah dirubah menjadi kondisi yang
penuh dengan keramahan, rendah hati, dan rahmatan lil alamin.
Pengertian di atas dikembangkan lebih lanjut oleh Ali Mahfudz bahwasanya dakwah itu "mendorong
manusia kepada kebaikan dan petunjuk, menyuruh mereka berbuat yang ma'ruf, dan mencegah
mereka dari berbuat yang munkar, agar mereka mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan di
akhirat".
Inti dakwah memang pada pengertian mengajak manusia untuk berbuat kebajikan dan
menghindarkan diri dari keburukan. Ajakan tersebut dilakukan dengan cara yang lemah lembut dan
menyejukkan, dengan tujuan tegaknya agama Islam dan berjalannya sistem Islam dalam kehidupan
individu, keluarga, dan masyarakat. Atau dengan kata lain, dakwah sebenarnya bertujuan untuk
menghidupkan atau memberdayakan, sehingga masyarakat memperoleh momentum untuk
meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan, serta menimbulkan suasana yang kondusif bagi
tegaknya nilai-nilai agama. Hal inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam kitab suci al-Qur'an surat al-
Anfal ayat 24:
"Wahai orang yang beriman, perkenankanlah seruan Allah dan Rasul-Nya, apabila Ia menyeru kamu
kepada apa-apa yang menghidupkan (ruhani dan jasmani) kamu …!"

Dakwah, kalau demikian, pada hakekatnya adalah panggilan Allah dan Rasul-Nya, panggilan yang
membawa kepada upaya untuk menghidupkan, atau dengan kata lain panggilan untuk
memberdayakan. "Bukan panggilan yang merugikanmu, tetapi panggilan kepada kehidupanmu lahir
dan batin, maju setingkat demi setingkat menuju kemenangan dan kejayaan."
Dalam kerangka seperti itu, dakwah mempunyai dua dimensi pokok yakni al-amr bi al-ma'ruf
(menyuruh berbuat kebaikan) dan al-nahyu 'an al-munkar (mencegah dari perbuatan munkar). Kedua
dimensi pokok ini bisa muncul secara simultan atau bisa juga dilaksanakan secara berbeda. Pada satu
ketika melaksanakan amar ma'ruf, sementara waktu yang lain nahyi munkar.
Bila kita ingin melakukan proses pemberdayaan umat melalui dakwah Islam, maka sekurang-
kurangnya ada lima langkah issue dakwah yang harus diambil, yaitu: Pertama, materi dakwah sebagai
ajakan atau seruan kepada Islam dan petunjuk Allah harus dikemas secara sistemik dalam
pemahaman setiap individu dan masyarakat muslim. Pemahaman sistemik ini dapat dibangun melalui
penghayatan dan pengamalan ajaran Islam secara holistik dan komprehensif dari berbagai aspek
ajaran Islam yang mencakup aspek aqidah, aspek ibadah, aspek akhlak, dan aspek mu'amalah.
Selama ini pemahaman tentang berbagai aspek ajaran Islam tersebut ditangkap secara parsial dan
terpilah-pilah, tidak utuh.
Secara sistemik keempat dimensi ajaran tersebut seharusnya merupakan kesatuan dan kebulatan
utuh, yang terpisahkan hanya dalam tataran diskursus akademik, bukan dalam tataran praktis. Oleh
sebab itu, adalah suatu kezaliman bila seseorang berbuat semata-mata hanya atas perimbangan halal
dan haram dengan mengabaikan sama sekali aspek al-husn (kebaikan) dan aspek al-qubh
(keburukan), atau menyingkirkan sama sekali sisi al-mahmudah (terpuji) dan al-mazmumah (tercela).
Adalah suatu kenyataan bahwa tema-tema dakwah selama ini dikemas hanya dalam pendekatan
parsial, tidak menyeluruh dan tidak sistemik. Hal ini akan berakibat timbulnya pemahaman
keagamaan yang tidak mampu membangun kaitan dan sinergi antara aqidah, ibadah, akhlak, dan
mu'amalah. Aqidah umat memang terlihat sudah bertauhid, tetapi akhlaknya belum mencerminkan
akhlak Islam. Ibadah umat memang sudah terlihat taat dan tertib, tetapi mua'amalahnya belum
mengindahkan prinsip-prinsip muamalah yang diajarkan oleh Islam.
Kedua, karena dakwah pada hakikatnya adalah proses yang menghidupkan atau yang
memberdayakan, baik terhadap individu maupun masyarakat, maka harus ada upaya untuk
melakukan itu. Di era otonomi daerah seperti sekarang ini, dakwah harus ditujukan kepada upaya
untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat secara bersama. Upaya tersebut dapat dilakukan
melalui upaya-upaya menumbuhkan kreatifitas untuk meningkatkan taraf hidup, baik secara individu
maupun keluarga, atau secara bersama-sama.
Inilah yang disebut dengan konsep dakwah bil hal, melalui pengembangan industri kecil dan
menengah, yang dalam pertumbuhan konkritnya ditunjukkan dengan pengembangan Baitul Mal wat
Tamwil di sentra-sentra kegiatan pengajian dan majlis taklim. Di samping itu, juga melalui
penumbuhan gerakan menyimpan dan menabung secara massal, yang produktifitasnya ditujukan
untuk meningkatkan taraf hidup tersebut.
Ketiga, merumuskan materi dakwah yang berkaitan dengan ajakan dan dorongan kepada masyarakat
agar berpartisipasi dalam proses pembangunan daerah dan menggali potensi daerah sendiri untuk
sebesar-besar kemakmuran masyarakat daerah tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan
kualitas Sumber Daya Manusia di daerah, di samping memperbesar potensi daerah tersebut untuk
mengembangkan diri, yang kemudian diharapkan bisa mengatasi problema yang selalu timbul dalam
bentuk kerentanan hubungan antar etnis, polemik pencuatan issu putera daerah, dan sebagainya.
Peningkatan kualitas SDM menjadi sangat strategis dikemas dalam tema-tema dakwah bila dikaitkan
dengan tentangan ke depan, di mana bangsa kita akan memasuki era pasar bebas di kawasan ASEAN,
yang waktunya tidak lama lagi akan kita masuki.
Keempat, dakwah tampil dengan wajah sejuk dan damai dengan melalui penekanan peningkatan
kualitas akhlak mulia yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Secara esensial dakwah
semestinya muncul dengan pendekatan mengajak, bukan menghakimi, apalagi bernuansa provokatif.
Tema-tema yang berkaitan dengan ukhuwah Islamiyah atau kesetiakawanan sosial haruslah menjadi
agenda utama. Amar makruf dan Nahyi Munkar sebagai bagian esensial dakwah perlu ditampilkan
secara ramah dan menyejukkan.
Dengan demikian, esensi dari diturunkannya Islam melalui pengutusan Rasulullah Saw. untuk
menciptakan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) bukan berhenti pada slogan. Ia
haruslah terwujud dalam kenyataan. Dengan kemasan dakwah seperti itu, berbagai problema yang
timbul di tengah masyarakat dapat diatasi dengan pendekatan persuasif dan penuh kedamaian.
Kelima, di atas semuanya itu, dakwah juga harus berbicara tentang tema memelihara persatuan dan
kesatuan bangsa. Kesadaran akan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia harus selalu
disegar-bugarkan, harus ditumbuh-suburkan secara terus menerus. Tidaklah berlebihan bila dikatakan
bahwa peletak dasar dari berdirinya Republik ini pada hakekatnya berdiri di atas kesadaran tersebut.

Pengalaman masa lampau dengan kesan penganaktirian daerah, haruslah punah. Nasionalisme kita
dalam berbangsa dan bernegara harus selalu tertanam dalam kesadaran setiap generasi, terlebih-
lebih para generasi muda sebagai generasi pelanjut. Walaupun bukan hadis, pernyataan tentang
Hubbul wathan minal iman (Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman) tidaklah salah untuk tetap
dikobarkan. Karena, secara taklifi orang yang mati dalam mempertahankan haknya dipandang
syahid. Tanah air adalah hak kita bersama sebagai warga negara, yang tidak boleh tergadai kepada
bangsa lain. Bârakallâhu lî wa lakum.

< Sebelumnya Berikutn

Top of Form
Name

Message

arial 11

107 12560

8779

Shout

Shout

Bottom of Form
Free Shoutbox
Anda Pelawat Ke:

business cards

Alunan Syahdu

Al-Quran Online

Snap Shots

Archive
• ▼ 2008 (15)
○ ▼ November (10)
 SUMBER RUJUKAN UTAMA
 FAEDAH MEMPELAJARI SIRAH RASULULLAH S.A.W.
 BEBERAPA CONTOH AKHLAK RASULULLAH S.A.W
 AKHLAK RASULULLAH ( 1 )
 DAKWAH RASULULLAH DI MADINAH
 DAKWAH RASULULLAH DI MEKAH
 HIJRAH
 PERBUATAN-PERBUATAN KEJI QURAISY 2 (sambungan)
 PERBUATAN-PERBUATAN KEJI QURAISY (1)
 Riwayat hidup Rasulullah saw dari Perkahwinan hing...
○ ► October (5)
 Nabi Muhammad saw sebelum menjadi Rasul
 Riwayat ringkas hidup Rasulullah S.A.W
 Salasilah keturunan Rasulullah s.a.w
 Muqaddimah
 Peta Konsep

Blog-blog Penulis
• Blog Proses kajian dan Refleksi
• Blog analisis
• Blog Utama

BEBERAPA CONTOH AKHLAK RASULULLAH S.A.W


Posted by Mustapha Mahmud at 4:44 PM
Amanah

Tidak diragukan lagi, contoh terbesar adalah memikul Risalah yang dipercayakan Allah
kepadanya untuk didakwahkan. Allah menyuruhnya untuk melaksanakan tugas itu. Dan
Rasulullah memang meyampaikan Risalah tersebut kepada manusia dengan metode terbaik.
Namun baginda juga harusmenanggung risiko besar sebagai konsekuensi menempuh jalan itu.
Kalau Rasulullah saw mendapat harta rampasan perang, baginda akan menyuruh Bilal
memanggil para tentera sebanyak tiga kali. Bilal akan segera melakukannya.

Kemudian mereka berkumpul dengam membawa pampasan perang untuk dibahagi sama rata.
Setelah itu, datinglah seorang tentera yang hanya membawa sehelai tali dari rambut. Ia
berkata:”Ya Rasulullah, inilah yang saya dapatkan dari harta pampasan perang.”

“Apakah kamu mendengar panggilan Bilal sebanyak tiga kali? Tanya Rasulullah saw.
‘Ya”jawabnya. “Apa yang menghalangimu dating kepadaku bersama barang itu?’ Tanya
Rasulullah saw. Lelaki itu mengemukakan alasannya. “Saya tidak menerima alasanmu, hingga
kamu bersaksi dihadapanku kelakdi hari kiamat” kata Rasulullah saw. (Musnad Ahmad,jilid
11,hlm,201)

Sifat Pemaaf/Kemampuan Membalas Rasulullah SAW

Tidak lekas marah, pemaaf (walaupun dicaci, ditohmah, dimaki dll)

• Adil dalam pembahagian harta rampasan

• Tidak memarahi orang yang cuba membunuhnya malah menasihati pula. Cubaan pembunuhan
ini berlaku dalam pelbagai cara, antaranya tikam-curi semasa perang, menghempap batu semasa
baginda berjalan dan diberikan racun dalam daging kambing oleh perempuan Yahudi. (Baginda
melarang sahabatnya membunuh perempuan berkenaan) Pernah disihir oleh lelaki Yahudi dan
atas bantuan Jibril a.s. , sihir berjaya dipulihkan dari sumur Zarwan. Tidak pernah baginda
mengungkit kembali perkara berkenaan walaupun di hadapan Yahudi berkenaan.

• Pernah baginda dihunuskan pedang dan ditanya "Siapakah yang mencegah engkau dariku?" dan
baginda menjawab "Allah". Maka jatuhlah pedang tersebut dan baginda mengambilnya dan
bersabda "Siapakah yang mencegah engkau dariku?" Lelaki itu menjawab "Adalah engkau
hendaknya sebaik-baik orang yang mengambil kebajikan" Baginda menjawab "Aku bersaksi
bahawa tiada Tuhan Melainkan Allah dan aku adalah Rasulullah" Lelaki itu menjawab "Tidak,
hanya aku tidak akan memerangimu. Aku tidak akan bersamamu dan aku tidak akan bersama
kaum yang memerangimu"

Lantas Baginda melepaskan lelaki berkenaan dan mendekati sahabat-sahabatnya dan bersabda :
"Aku datang kepada kamu dari orang yang terbaik antara manusia"

Kemurahan Hati Rasulullah S.A.W

Sayyidina Ali r.a. berkata : "Adalah Nabi SAW manusia yang bermurah tangan, manusia yang
berlapang dada, manusia yang sangat benar pembicaraan, manusia yang sangat menepati janji,
manusia yang teramat lemah-lembut kelakuan dan manusia yang sangat memuliakan
kekeluargaan. Barangsiapa melihat Nabi SAW dengan tiba-tiba, nescaya takut kepadanya. Dan
barangsiapa bercampur-baur dengan Nabi SAW dengan mengenalnya, nescaya mencintainya.
Orang yang menyifatkan Nabi SAW berkata : "Tidak pernah aku melihat sebelumnnya dan
sesudahnya orang seperti Nabi SAW"

Seorang lelaki telah meminta sesuatu dari baginda dan diberikan seekor kambing dan lelaki itu
kemudiannya mengajak semua rakan-rakan dari kaumnya memeluk Islam.
Baginda tidak pernah berkata "tidak" apabila diminta sesuatu. Baginda tidak takut kepada
kemiskinan.
Baginda diberikan 90,000 dirham dan dibahagi-bahagikannya sehingga habis.
Pernah baginda diminta sesuatu dan baginda tiada apa-apa tetapi demi memenuhi kehendak si
peminta, Baginda SAW menyuruhnya membeli secara berhutang atas nama baginda dan baginda
berjanji untuk melunaskannya.

Keberanian Rasulullah S.A.W

Sayyidina Ali r.a. berkata "Sesungguhnya engkau melihat aku pada hari Perang Badar. Kami
berlindung dengan Nabi SAW dan baginda yang paling terdekat kepada musuh dari kami. Dan
baginda pada hari itu di antara manusia yang sangat perkasa"

‘Imran bin Husain berkata : "Tiada Rasulullah SAW menemui suatu kumpulan tentera,
melainkan beliaulah orang yang pertama memukulnya"

Para sahabat berkata bahawa Nabi SAW sangat kuat pukulannya. Tatkala baginda dikepung oleh
kamu musyrik, baginda turun dari kudanya lantas berkata "Aku ini Nabi, tidak dusta. Aku ini
Putera Abdul Mutalib"

Maka tiada seorangpun yang dilihat pada hari itu yang lebih berani dari Nabi SAW.

Kerendahan diri Rasulullah SAW

Baginda SAW tidak pernah menghampakan jemputan sesiapa jua samada orang sakit,
menghantar jenazah atau makan bersama-sama dengan hamba/sahaya. Baginda berpakaian
ringkas. Baginda membenci perbuatan orang berdiri hormat apabila baginda lalu.
Baginda suka memberikan salam kepada anak-anak kecil/muda. Seorang lelaki yang gementar
melihat wajah baginda terus ditenteramkan oleh baginda dengan bersabda "Permudahkan
(urusan) mu, aku bukannya raja. Aku hanya putera, seorang perempuan Quraisy, yang memakan
daging kering"

Baginda sentiasa duduk bersama-sama dengan sahabatnya dan tidak pernah membeza-bezakan
sesiapapun di antara sahabatnya walaupun baru dikenalinya. Baginda SAW begitu gemar
berbual-bual mengenai pelbagai sabjek dari perkara-perkara bersabit akhirat hinggalah dunia.
Kadangkala baginda hanya tersenyum apabila para sahabatnya membaca syair atau bergurau
tetapi segera melarang jika berlaku perkara-perkara haram.

Adab makan baginda juga jelas menunjukkan rasa kerendahan dirinya. Tidak suka bersandar
walaupun pernah disuruh Sayyidina Ali r.a. dan tidak pernah bermeja ketika makan – makan cara
hamba/sahaya.

Rasulullah saw apabila di luar


Kata Hassan selanjutnya, "Kemudian aku tanyakan kepada ayahku bagaimanakah keadaan
Rasulullah SAW apabila berada di luar. Maka jawabnya, "Rasulullah SAW sentiasa menjaga
lidahnya kecuali hanya untuk berbicara seperlunya, apabila berbicara sentiasa berbicara dengan
halus (lemah-lembut) dan tidak pernah berbicara dengan kasar terhadap mereka, dan sentiasa
memuliakan terhadap orang yang terpandang (berkedudukan) dan memperingatkan orang jangan
sampai ada yang bertindak menyinggung perasaannya dan perbuatannya. Kebiasaan Baginda
selalu menanyakan keadaan sahabat-sahabatnya, dan Baginda selalu memuji segala sesuatu yang
baik dan membenci segala sesuatu yang buruk. Segala urusannya itu dibuatnya sebaik mungkin.
Tidak pernah Baginda lalai atau malas, demi menjaga jangan sampai mereka melalaikan dan
meremehkan. Segala sesuatu dipersiapkannya terlebih dahulu, dan tidak pernah akan
meremehkan (mengecilkan) kebenaran. Orang yang paling terpandang menurut Rasulullah SAW
ialah mereka yang paling baik kelakuannya, orang yang paling mulia ialah mereka yang paling
banyak bernasihat (memberikan petunjuk) kepada orang lain, dan orang yang paling tinggi sekali
kedudukannya ialah orang yang selalu ramah-tamah dan yang paling banyak menolong orang
lain.".

Rasulullah saw di tengah para sahabat

Kata Hassan, "Maka aku tanyakan tentang keadaannya apabila Baginda sedang berada di tengah-
tengah para sahabatnya. Jawabnya, "Rasulullah SAW sentiasa periang (gembira), budi
pekertinya baik, sentiasa ramah-tamah, tidak kasar mahupun bengis terhadap seesorang, tidak
suka berteriak-teriak, tidak suka perbuatan yang keji, tidak suka mencaci, dan tidak suka
bergurau (olok-olokan), selalu melupakan apa yang tidak disukainya, dan tidak pernah menolak
permintaan seseorang yang meminta. Baginda meninggalkan tiga macam perbuatan : Baginda
tidak mahu mencela seseorang atau menjelekkannya, dan tidak pernah mencari-cari kesalahan
seseorang, dan tidak akan berbicara kecuali yang baik saja (yang berfaedah). Namun apabila
Baginda sedang berbicara maka pembicaraannya itu akan membuat orang yang ada di sisinya
menjadi tunduk, seolah-olah di atas kepala mereka itu ada burung yang hinggap. Apabila
Baginda sedang berbicara maka yang lain diam mendengarkan, namun apabila diam maka yang
lain berbicara, tidak ada yang berani di majlisnya untuk merosakkan (memutuskan) pembicaraan
Baginda. Baginda sentiasa ikut tersenyum apabila sahabatnya tersenyum (tertawa), dan ikut juga
takjub (hairan) apabila mereka itu merasa takjub pada sesuatu, dan Baginda sentiasa bersabar
apabila menghadapi seorang baru (asing) yang atau dalam permintaannya sebagaimana sering
terjadi. Baginda bersabda, "Apabila kamu melihat ada orang yang berhajat maka tolonglah orang
itu, dan Baginda tidak mahu menerima pujian orang lain kecuali dengan sepantasnya, dan
Baginda tidak pernah memotong pembicaraan orang lain sampai orang itu sendiri yang berhenti
dan berdiri meninggalkannya."

Tawaddhu’

Tawaddhu’ Rasulullah saw hanya menambah kemuliaan serta kecintaan beliau di mata kaum
muslimin. Sifat tawaddhu’ Rasulullah s.a.w nampak dalam perbuatan dan sikap baginda secara
keseluruhan.
1. Abu Sa’id al-Khudri mengatakan: “Rasulullah s.a.w memberi makan dan memandikan unta,
menyapu rumah, memerah susu kambing, menjahit sepatu, menampal baju, makan bersama
pelayan, menggiling biji-bijian, membeli sesuatu dari pasar kemudian dibawa sendiri ke
rumahnya. Menyalami tangan orang yang kaya, miskin, besar dan kecil. Mengucapkan salam
pertama kali kepada orang yang dilihatnya, baik tua atau pun muda, hitam ataupun putih, budak
atau merdeka.

2. Rasulullah menunggangi apa sahaja kenderaan yang boleh ditunggangi seperti kuda, unta,
baghal atau himar. Baginda pernah juga berjalan tanpa memakai alas kaki.

Musyawwarah

Rasulullah bermusyawwarah dengan para sahabat mengenai semua masalah, kecuali mengenai
wahyu. Baginda menerima pendapat para sahabat dan tidak menganggap dirinya sebagai yang
paling benar. Saiyidatina Aisyah r.a berkata: “Aku tidak melihat seseorang yang lebih banyak
bermusyawwarah selain daripada Rasulullah s.a.w.”

Dermawan

Sifat dermawan Rasulullah s.a.w memang tidak dapat ditandingi.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, “Rasulullah s.a.w adalah
orang yang paling dermawan. Lebih-lebih lagi pada waktu Ramadhan ketika bertemu dengan
Jibril. Pada setiap malam Jibril menemui baginda untuk mengajarkan al-Quran. Jibril berkata
“Bagi Rasulullah s.a.w kedermawanan lebih baik daripada angin yang sedang berhembus.”

Al-Thabrani meriwayatkan dari al-Rabi binti Ma’wadz bin Afra’ r.a, ia berkata, “Aku diutus oleh
Ma’wadz bin Afra’ membawa setakar kurma yang di sampingnya diberi timun muda untuk
diberikan kepada Rasulullah s.a.w. Baginda sangat menyukai timun. Pada waktu itu tangan
baginda penuh dengan perhiasan Bahrain. Baginda memberi kepadaku perhiasan itu.”

Layanan Tanpa Mengira Darjat Keturunan

Mu’adz berkata, “Suatu kali aku pernah menyertai Rasulullah s.a.w naik di atas himar yang
dinamakan ufair. Tiba-tiba ada seorang lelaki berjalan mendatanginya. Rasulullah s.a.w
menyuruh orang tersebut naik manakala baginda berjalan di belakang himarnya. Baginda berkata
lagi, “Kamu lebih berhak ke atas bahagian ternakmu daripada aku, kecuali kamu menjadikannya
untukku.” Orang itu menjawab, “Aku menjadikannya untukmu.”
Jabir berkata, “Dalam satu perjalanan, Rasulullah s.a.w pernah tertinggal di belakang untuk
melihat orang yang lemah agar berhimpun dengan teman-temannya yang lain. Baginda
menyertai dan memanggil mereka.”
Perlakuan Terhadap Isteri

Jarang sekali para isteri baginda merasa cemburu sebagaimana wanita-wanita lain. Namun ketika
rasa cemburu ini mulai menampakkan ketidakwajaran, maka baginda segera meluruskannya
dengan didikan yang baik.

Aisyah r.a berkata, “Aku belum pernah melihat orang membuat makanan seperti yang dibuat
oleh Shafiyah. Ketika ia sedang berada di rumahku, dia membuat makanan untuk Rasulullah
s.a.w. Tiba-tiba badanku bergetar, sehingga menggigil kerana dibakar rasa cemburu. Mangkuk
Shafiyah aku pecahkan, tetapi kemudian aku merasa menyesal. Segera ku katakan kepada
Rasulullah s.a.w, “Wahai Rasulullah s.a.w, apakah kafarah perbuatanku tadi?” Baginda
menjawab, “Mangkuk sama dengan mangkuk, makanan sama dengan makanan. (Riwayat Abu
Daud dan Nasa’i).

Baginda selalu memujuk dan menghiburkan hati para isterinya sehingga menjadi jernih tanpa
suatu bebanan. Shafiyah bt Huyai bin Khathab berkata, “Sesuatu yang membuatkan aku marah
kepada Rasulullah s.a.w adalah terbunuhnya ayah dan suamiku. Namun baginda terus memujuk
dan memberi alasan. Hal itu baginda lakukan beberapa kali, sehinggalah semua bebanan
perasaan hilang dari diriku.” (Riwayat al-Haithasmy).

Cara Teguran Rasulullah yang Berhikmah

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan daripada Anas, ia berkata, “Ketika kami bersama
Rasulullah s.a.w di dalam masjid, datang seseorang dari kampung. Ia berdiri dan kencing di
dalam masjid. Para sahabat berkata dengan marah. Rasulullah s.a.w bersabda, “Tidak perlu kamu
memotong agar dia berhenti kencing. Biarkan saja dia!”

Maka mereka membiarkan sampai ia selesai kencing. Setelah itu baginda memanggilnya dan
bersabda kepada orang dusun itu, “Sesungguhnya masjid-masjid seperti ini tidak layak untuk
membuang kencing dan kotoran. Masjid adalah tempat untuk berzikir kepada Allah, mendirikan
solat dan membaca al-Quran.” Sesudah itu, baginda menyuruh seseorang mengambil air dengan
gayung lalu disiramkannya tempat tersebut.

Kita sajikan contoh seperti ini agar kita tahu seberapa jauh tahap kesedaran berbudaya si
kalangan orang arab pada ketika itu. Dalam menghadapi masalah sepeti yang dinyatakan tadi,
Rasulullah s.a.w menempatkan dirinya sebagai seorang pendidik. Baginda tidak memotong
perbuatan seseorang sebelum ia menyelesaikannya, meskipun pekerjaan itu kurang terpuji.

Merendah Diri di Kalangan Orang Ramai

Allah pernah menegur Rasulullah saw ketika baginda didatangi seorang mukmin, bertepatan
dengan waktu baginda berdakwah kepada salah seorang pembesar musyrikin dan baginda tidak
bersikap ramah dengan orang mukmin tadi.

Abu Nu’aim meriwayatkan dari Anas r.a yang berkata, “Bahawa Rasulullah s.a.w adalah
termasuk orang yang lemah-lembut. Demi Allah, baginda tidak menolak ketika hamba lelaki
mahupun perempuan atau anak kecil yang memberi air, meskipun pada pagi hari yang sangat
dingin, baginda tetap membasuh muka dan kedua lengannya. Bila ada yang bertanya, baginda
mendekatkan telinganya. Baginda tidak akan menghentikan sebelum orang yang bertanya habis
bertanya. Tidak seorang pun menerima huluran tangan baginda kecuali baginda yang
menghulurkannya terlebih dahulu untuk bersalam dan baginda tidak akan melepaskannya
sebelum orang itu melepaskan tangannya terlebih dahulu.”

Dari Anas r.a ia berkata, “Bahawa apabila Rasulullah s.a.w berjabat tangan atau ada orang
mengajaknya berjabat tangan, maka baginda tidak melepaskan tangannya terlebih dahulu.
Apabila berhadapan wajah, baginda tidak mengalihkan wajahnya sehinggalah orang yang
berhadapan dengan baginda mengalihkannya terlebih dahulu. Dan bahagian hadapan lututnya
tidak akan kelihatan ketika duduk berhadapan dengan seseorang.” (Dirawayatkan oleh Tirmidzi
dan Ibnu Majah)

Kelembutan Rasulullah s.a.w

Rasulullah s.a.w memiliki sifat kelembutan sebagaimana sifat-sifat yang lain secara sempurna.
Baginda marah demi kebenaran apabila hal-hal yang haram dilanggar. Kemarahannya bukan
tidak berdasarkan atas suatu hal. Kemarahannya dimaksudkan untuk membanteras kebatilan
sehingga lenyap.

Selain itu, baginda sebagai contoh yang lemah lembut. Baik terhadap orang bodoh yang tidak
tahu etika berbicara mahupun kepada orang yang hendak mencelakai baginda tetapi masih
terbuka kemungkinan untuk diperbaiki. Kita akan mendapati kelembutan baginda sangat
mempesona melebihi batas yang digambarkan manusia. Terutama bagi kelembutan ini diiringi
dengan kemampuan untuk berbuat tegas dan keras.

Penerapan Syariah dalam sebuah Tinjauan


Sesungguhnya isu penerapan syariah merupakan tantangan terbesar yang dihadapi kaum
muslimin era modern ini. Sebaliknya musuh Islam berusaha sekuat tenaga menjauhkan kaum
muslim dari penerapan syariah Islam. Ideologi-ideologi besar di dunia dari komunis, kapitalis
sampai liberalis telah ditancapkan di seantero dunia ini tapi belum berhasil. Kini, ideologi dan
tuntutan syariah Islam menjadi suatu keniscayaan.
Karenanya tidak ada Islam tanpa syariah, dan seorang muslim boleh saja berdusta kepada
dirinya, sebaliknya seorang muslim yang hatinya tenang dan yakin dengan syariah pastilah akan
mendambakan penerapan syariah dan tidak membiarkan kemudaratan menjadi lebih besar
daripada kemaslahatan. Bahkan Abdul Qodir Audah mengatakan: sungguh aneh orang muslim
yang beriman kepada Alloh tapi dia tidak mau melaksanakan syariat. Atau dia mau beriman
kepada Alloh tapi tidak mau melaksanakan jinayah.
Oleh karenanya syariah Islam merupakan jalan satu-satunya untuk mengembalikan kaum muslim
kepada kekuataan dan izzah. Tanpa syariah tidak ada harapan lagi mengeluarkan realitas kaum
muslimin dari kebodohan, kerusakan, korupsi, perpecahan dan keterbelakangan.

Definisi Syariah

Secara etimologi syariah berarti aturan atau ketetapan yang Alloh perintahkan kepada hamba-
hamba-Nya, seperti: puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh kebajikan. Kata syariat berasal dari
kata syar’a al-syai’u yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu. Atau berasal dari kata
syir’ah dan syariah yang berarti suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air secara
langsung sehingga orang yang mengambilnya tidak memerlukan bantuan alat lain.
Syariat dalam istilah syar’i hukum-hukum Alloh yang disyariatkan kepada hamba-hamba-Nya,
baik hukum-hukum dalam Al-Qur’an dan sunnah nabi Saw dari perkataan, perbuatan dan
penetapan.
Syariat dalam penjelasan Qardhawi adalah hukum-hukum Alloh yang ditetapkan berdasarkan
dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah serta dalil-dalil yang berkaitan dengan keduanya seperti ijma’
dan qiyas.
Syariat Islam dalam istilah adalah apa-apa yang disyariatkan Alloh kepada hamba-hamba-Nya
dari keyakinan (aqidah), ibadah, akhlak, muamalah, sistem kehidupan dengan dimensi yang
berbeda-beda untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
Syariat Islam adalah setiap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dari Alooh Swt dan
yang berkaitan dengan perbaikan aqidah untuk membebaskan manusia dari cengkraman berhala
dan khurofat dan untuk memperbaiki akhlak manusia dari segala hawa nafsunya serta
memperbaiki masyarakat untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan kediktatoran manusia.
Untuk itu syariat Islam dibangun dengan tiga pilar: Pertama: aqidah secara akal (aqidah
aqliyyah), Kedua: Spirit Ibadah (Ibadah Ruhiyah), Ketiga: Peraturan , Hukum dan UU (Nizhom
Qonuni Qodhoi).

Karakteristik Syariah Islam

Yusuf Al-Qaradhawi menyebutkan 6 karakteristik syariah Islam:

1. Robbaniyah (Teistis)
Kekhasan syariat Islam dibanding dengan konstitusi lain bersifat rabbaniyah dan religius.
Pencipta syariat ini bukanlah manusia yang memiliki kekurangan dan kelemahan serta pengaruh
oleh faktor situasi, kondisi dan tempat dimana ia berada.
Oleh karenanya syariat ini bersifat robbani, maka tidak ada alasan seorang muslim untuk
menolaknya baik sebagai subyek hukum maupun sebagai objek hukum. Jiwa seoranq muslim
yakin bahwa hukum-hukum syariatlah yang paling adil dan sempurna dan selaras dengan
kebaikan serta dapat mencegah segala kerusakan.

2. Insaniyah (Humanistis)
Syariat disiptakan untuk manusia agar manusia derajatnya terangkat, sifat manusianya terjaga
dan terpelihara. Oleh karena itu, syariat Islam menetapkan berbagai bentuk ibadah untuk
memenuhi kebutuhan spiritualnya, bukan hanya makhluk jasmani dipuaskan dengan makan,
minum dan menikah.
Disamping memeprhatikan sisi rohani, syariat juga tidak melupakan sisi fisik dan dorongan
nurani. Oleh karena itu, syariat mendorong manusia untuk berjalan ke seluruh penjuru bumi
mencari karunia Alloh dan memakmurkan planet ini.
Syariat Islam diciptakan untuk manusia dengan syariat insaniyah, sesuai dengan kapasitasnya
tanpa menghiraukan ras, warna kulit tana air dan status.

3. Syumul (komperehensip)
Syariat Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Baik aspek ibadah, aspek keluarga, aspek
perdagangan dan ekonomi, aspek hukum dan peradilan, aspek politik dan hubungan antar negara.
Syariat mengatur baik urusan dengan Alloh seperti shalat, puasa dan lainnya maupun yang
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan muamalah.
4. Akhlaqiyah (Etis)
Syariat Islam memperhatikan sisi akhlak dalam seluruh aspeknya dengan makna yang
terkandung dari Nabi bahwa ia bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia”.
Untuk itu tujuan syariat untuk menegakan tatanan sosial dan mewujudkan keteladanan dalam
kehidupan manusia, menaikan derajat manusia serta memelihara nilai-nilai ruhani dan etika.
5. Waqi’iyah (Realistis)
Syariat Islam bersifat realistis. Perhatiannya terhadap moral tidak menghalangi syariat untuk
memperhatikan realitas yang terjadi dan menetapkan syariat yang menyelesaikan masalah.
Sifat realistis ini diantaranya dapat mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakat, baik
yang disebabkan oleh kehancuran zaman, perkembangan masyarakat maupun kondisi-kondisi
darurat. Para ahli fiqih terkadang mengubah fatwa sesuai dengan perubahan zaman, temapat,
kebiasaan dan kondisi.
6. Tanasuq (Keterarturan)
Keteraturan adalah bekerjanya semua individu dengan teratur dan saling bersinergi unruk
mencapai tujuan bersama, tidak saling benci, tidak saling sikut, dan tidak saling menghancurkan.
Karakter seperti ini disebut dengan takamul (saling menyempurnakan).
Keteraturan nampak pada alam dan syariat seperti sebuah keseimbangan. Artinya nampak
keteraturan pada syariat Alloh seperti apa yang kita dapat dari ciptaan-Nya.
Oleh karenanya, syariat Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dan relevan setiap zaman dan
tempat. Jika demikian syariat Islam relevan dalam masa kini baik di negeri arab maupun
selainnya. Syariat Islam mencakup segala aspek kehidupn manusia baik sosial, politik, ekonomi
maupun pemikiran.
Islam juga mencakup di dalamnya hak-hak dan kewajiban baik hak khusus maupun umum.
Dalam hak khusus, diantaranya:
1. Syariat menjelaskan tentang hak-hak keluarga dan memberikan hak dan kewajiban bagi suami
istri. Untuk suami diberikan sebagai kepala rumah tangga dan hak kepemimpinan (Qs. 4:34).
2. Syariat menjelaskan tentang hak-hak sosial dan muamalah. (Qs.4:29). Dengan syarat segala
kegiatan ekonomi dan sosial bertentangan dengan syariat serta tidak memberikan kemudharatan
satu sama lain.
3. Syariat menjelaskan tentang hukum jinayat dan menganggap hal tersebut adalah jarimah dan
berhak sanksi dan hukuman bagi pelakunya.

Dalam hal hak yang bersifat umum dengan tiga prinsip, yakni:
1. Syariat menetapkan prinsip kebebasan dengan bingkai syariat yang tidak mengakibatkan cacat
dan perilaku amoral atau kelebihan batas.
2. Syariat menetapkan prinsip persamaan. Karenanya, manusia adalah sama dalam setiap haknya,
tidak ada perbedaan satu sama lain. Ukurannya adalah dengan ketaqwaan. (Qs.Al-Hujurat:13).
3. Syariat menetapkan prinsip syuro atau musyawarah. Prinsip ini bertujuan untuk mencapai
kemaslahatan bagi manusia.

Jadi tidak ada penerapan dalam sebuah negara kecuali dengan syariat Islam walaupun kondisi
dan situasi sudah berubah. Qaradhawi menawarkan kembali kepada ijtihad dan pintu ijtihad
masih terbuka.

Gerakan dan Tuntutan Syariah

Sebenarnya hukum-hukum syar’i sudah sangat jelas dan terang baik dalam Al-Qur’an maupun
dalam hadits. Begitu pula terkodifikasi dalam buku-buku fiqh dalam bab dan sub bab.
Karenanya, dengan mudah sekali bagi yang hendak mendapatkan hukum-hukum syar’i. Tetapi
sebagian orang bersikukuh untuk menkodifikasikan dalam undang-undang.
Untuk itu tuntutan penerapan hukum Islam ini ini menjadi topik hangat di belahan dunia Islam
yang dimulai dengan gerakan tanzimat di Turki melalui majalah al-ahkam al-adliyah. Yaitu
gerakan regulasi dan reformasi politik dengan tujuan membangun kesultanan Turki Utsmani
menuju negara modern pada tahun 1839.
Gerakan kebangkitan Islam yang kita saksikan belakangan ini dimulai pada tahun 70an. Hal ini
tidaklah muncul secara spontanitas sebagaimana yang difahami sebagian orang. Akan tetapi
kebangkitan ini memiliki gerakan pembaharuan yang dimulai dari gerakan di Jazirah Arab oleh
Muhammad bin Abdul Wahhab abad 17an yang lalu (wafat tahun 1792 M) dan Gerakan dakwah
Sanusi di Libya (w.1859 M). Kemudian gerakan penerapan hukum syariat di Selatan Mesir oleh
Muhammad Ahmad Al-Mahsi (w.1885 M) dan dilanjutkan oleh Jamaluddin Al-Afghani (w.1897
M) dan Abdul Rahman Al-Kawakibi (w.1802 M) kemudian gerakan pembaharuan dan
penyelamatan oleh murid Al-Afghani yaitu Muhammad Abduh (w.1905 M).
Kemudian munculah gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh seorang pemuda yang
bernama Hasan Al-Banna tahun 1929. Gerakan dakwah Ikhwan ini menyebar ke penjuru dunia
arab dan belahan dunia Islam lainnya. Perkembangan gerakan dakwah ini yang paling besar
dalam abad 20 ini dan tercatat gerakannya lebih dari 70 negara di dunia Islam. Gerakan yang
bertujuan kembali kepada ajaran Islam dengan memadukan konsep tarbiyah (pendidikan) dan
jihad. Dalam perjalanan menuntut syariah Islam banyak diantara tokoh-tokohnya mati syahid di
tangan pemerintah mesir waktu itu, diantaranya: Hasan Al-Banna, Abdul Qodir Audah, Yusuf
Tholaat dan Sayyid Qutb. Sayyid Qutb dan Abdul Qodir Audah menjadi rujukan tokoh gerakan
Hasan Al-Banna selanjutnya.
Gerakan lainnya muncul di India yang dipelopori oleh Abul A’la Al-Maududi yahun 1941
dengan tujuan mengembalikan dakwah kepada Aloh dengan menjadikan manusia beribadah
hanya kepada Alloh dan menerima hukum (al-hakimiyyah) hanya dari Alloh Swt serta menolak
segala bentuk jahiliyah. Begitu pula gerakan yang terjadi di Al-Jazair yang dipimpin oleh Abdul
Hamid Badis dengan mendirikan organisasi ulama Al-Jazair. Gerakan dakwah ini melalui
masjid, sekolah dan surat kabar. Gerakan–gerakan ini terilhami dari gerakan Ikhwanul Muslimin
di Mesir yang dibawa oleh Hasan Al-Banna yang menuntut penerapan syariah Islam di bumi
Mesir.
Karenanya Ikhwan dalam perjuangannya menuntut penerapan syariat Islam dari awal berdirinya.
Suatu kali Hasan Al-Banna menulis dalam surat kabar Ikhwan seputar kewajiban penerapan
syariat dan keistimewannya serta perbandingan antara syariat dan undang-undang buatan
manusia. Al-Banna menulis kepada ulang tahun negara yang ke 50 dengan mengingatkan
pemerintah waktu itu bahwa konstitusi negara menyebutkan agama negara adalah Islam. Oleh
karenanya wajib bagi pemerintah mengimpelementasikan syariat Islam.
Gerakan lainnya juga dilakukan di Turki dengan semangat mengembalikan khilafah dari rezim
sekuler Mustafa Kamal. Gerakan ini dipelopori oleh An-Nursi. Kemudian di Maroko oleh Abdul
Salam Yasin dengan gerakan keadilan dan ihsan (al-adlu wal ihsan). Dilanjutkan dengan gerakan
pembaharuan dan reformasi oleh Ahmad Raisuni.
Gerakan ini berkembang sampai ke Indonesia yang dipelopori oleh Dewan Dakwah Islam
Indonesia yang dipimpin oleh Muhammad Nasir. Kemudian revolusi kebangkitan Islam di Iran
dengan gerakan yang dihimpun Khomeni yang menggulingkan presiden Shah waktu itu.
Di Mesir berdiri Jamaah Jihad dan Jamaah Islamiyah, keduanya menggunakan kekuatan dengan
mengadakan perlawanan bagi pemerintah yang tidak berhukum dengan syariat. Pemikiran
mereka bercampur denga jamaah takfir wal hijrah yang melakukan pengkafiran kepada orang.
Walaupun jamaah takfir dan jihad sebenarnya berbeda dalam dasar perjuangannya. Inilah yang
menjadi perbedaan antara Ikhwan dan jamaah jihad ini, bahwa ikhwan tidak mentolerir
kekerasan sedikitpun.
Harapan dan tuntutan penerapan syariah begitu marak di dunia Islam, terlebih lagi dilakukan
dengan tanpa kekerasan. Dari gerakan dakwah Islam tadi sudah seharusnya menjadi pelajaran
besar bagi kaum muslimin.
Tuntutan penerapan syariah menggelora dalam dunia Islam tersebut dibarengi dalam semua lini;
politik, sosial, wawasan, peradilan dan akhlak. Hal ini beririsan dengan gerakan dakwah Islam
bertahun lamanya dengan berbagai pengalaman baik intimidasi, kezaliman, penjajahan dan
penguasaan imperalis terhadap dunia Islam. Untuk itu menjadi jelas bagi kita bahwa ajaran Islam
tidak dipandang dengan sebelah mata, melainkan secara komprehensif.
Bukan yang difahami dari penerapan syariat Islam dengan sanksi dan hukuman saja seperti
potong tangan, rajam dan qishos tetapi perlu ditinjau dari sisi lain yakni melindungi masyarakat
dan pendidikan bagi mereka, prinsip syuro, ketaatan yang tidak absolut (tidak taat kepada orang
yang bermaksiat kepada Alloh), menolak kediktatoran dengan cara apapun, keadilan dan
persamaan di depan peradilan, dll.
Gerakan-gerakan Islam diatas perlu dilanjutkan dengan bersatunya semua gerakan dakwah itu
dalam satu wadah dalam gerakan internasional dan mengembalikan kembali batu asasi Islam
yang sudah hilang.

Hambatan-hambatan dalam penerapan syariah

Tuntutan syariat Islam menjadi suatu kewajiban. Disamping itu ada hal-hal dimana syariat islam
itu tidak mudah dilaksanakan. Setidak-tidaknya ada empat hal
yang menjadi hambatan penerapan syariah:

1. Jahil terhadap agama.


Tidak mengetahui agama dengan baik dan benar. Untuk itu jika difahami agama dengan parsial
atau pemahaman yang tidak utuh maka dalam hal ini menyulitkan dalam penerapan dan
oenegakan syariah. Karenanya, diperlukan syarat taklif atau syarat bagi mukallaf memiliki
pemahaman yang baik tentang agama ini.
Setidaknya ilmu yang lazim dikuasi adalah pertama: ilmu tentang kewajiban beragama yang
mencakup Iman dan Islam, kedua: ilmu tentang halal dan haram yang selaras dengan pelaksaan
agama. Ketiga: tidak jahil terhadap syariat Islam.

2. Terlaksananya sekularisasi dalam seluruh kehidupan.


Menjadi sunnatulloh terjadinya pertempuran peradaban antara yang haq dan bathil, antara
keimanan dan kekafiran, antara petunjuk dan kesesatan. Untuk itu ideologi dan keyakinan selain
Islam tidak menjadi domonan, apalagi terjadi sekularisasi dalam setiap lini dengan memisahkan
syariat dengan agama.
Jika hal demikian terjadi, penerapan syariat Islam menjadi semu dan sulit dilaksanakan. Apalagi
kebebasan tanpa batas tidak dibingkai dengan baik yang dapat mengakibatkan kemerosatan dan
kerusakan bangsa.

3. Berhukum dengan akal atas nama maslahat.


Dengan menggunakan maslahat bukan difahami maslahat yang kebablasan tetapi maslahat yang
koridor syariat Islam. Karena itu maslahat tidak boleh dilakukan selama ada nash syar’i yang
jelas (qoth’i). Untuk itu maslahat dibolehkan dalam bidang muamalah yang disana tidak
tercantum nash secara jelas.
Jika saja bingkai akal itu lebih dominan, pastilah maslahat satu dengan yang lainnya berbeda.
Karenanya maslahat dalam Islam memiliki peringkat masing-masing baik dharuriyat, hajiyat dan
tahsiniyat dengan penggunaaan maqoshidus syariah, yakni melindungi agama, jiwa, akal, harta
dan kehormatan.
Karenanya maslahah memiliki patokan (dhowabit): pertama: Maslahat mencakup semua
dharuriyah qothiyyah. Artinya mencakup keseluruhan kaum muslimin dan tidak parsial
(adhariyat al-khams). Kedua: Tidak bertentangan dengan huku yang dibangun dengan nash dan
ijma’. Ketiga: Tidak bertentangan dengan qiyas. Keempat: Tidak melakukan maslahah kecuali
dengan mendahulukan peringkat yang lebih tinggi dahulu.

4. Perselisihan antara aktivis Islam dalam dakwah Islam.


Tidak boleh adanya perselisihan sesama para da’i. Karenanya perselisihan itu dpat mengancam
eksistensi kaum muslimin. Untuk peran para ulama dan aktivis Islam untuk tidak terpecah dan
bertengkar dalam urusan agama. Karenanya, Islam dibangun dengan kekuatan umat yang satu
dan persaudaraan.
Jika saja permaslaahan itu hanya furu’ atau cabang saja masih dibolehkan selama itu bukan hal-
hal yang mendasar dan pokok dalam Islam. Perselisihan itu hendaknya dibangun pula dengan
semangat ukhuwah, adab dan bingkai syar’i tanpa harus menggunakan kekerasan atau dengan
hikmah.

Kesimpulan

Telah dipaparkan diatas bahwa penerapan syariat Islam sebuah keniscayaan. Syariat Islam
dengan apa-apa yang disyariatkan Alloh kepada hamba-hamba-Nya dari keyakinan (aqidah),
ibadah, akhlak, muamalah, sistem kehidupan dengan dimensi yang berbeda-beda untuk meraih
keselamatan di dunia dan akhirat.
Dari sini kita dapat mengatakan bahwa syariat Islam relevan dalam setiap masa dan waktu serta
sangat mungkin diterapkan pada masa modern ini dengan syarat-syarat berikut :
1. Kembali kepada ajaran Islam keseluruhan dan tentunya pintu ijtihad masih terbuka.
2. Bebas dari tekanan realitas baik dari hal yang berlawanan dengan syariat.
3. Bebas dari cengkraman dan pemikiran barat.
4. Pentingnya keberadaan pemimpin yang komitmen terhadap Islam.

Tuntutan syariat Islam ini merupakan dakwah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul.
Mengajak manusia dengan berdakwah kepada Alloh adalah jalan menuju saling menguatkan
sesama kaum muslimin dan merapatkan barisan mereka. Yang tentunya dilakukan dengan akhlak
yang mulia untuk menjalankan apa yang diperintahkan Alloh dan menjauhi segala larangan-Nya.
Tuntutan penerapan Islam dalam negeri ini maupun dunia Islam dengan legal formalistik melalui
undang-undang dan peraturan lainnya, ataupun melalui formal simbolik maupun melalui
kultural. Yang terpenting penerapan syariat Islam bisa terlaksana dengan baik tanpa ada integrasi
dan perpecahan bangsa dan negara serta bersatunya menjadi kekuatan baru menuju penerapan
syariat Islam yang sempurna.