Anda di halaman 1dari 5

Tugas Biologi Lingkungan

“Soil Resources”
Salinasi Tanah sebagai Dampak dari Tsunami

Oleh:

1. Anggraeni Puspasari Lukito 7071801

2. Yessica Berlina Imawan 7071831

3. Irene Rasubala 7071851

Fakultas Teknobiologi
Universitas Surabaya
Surabaya
2010
Latar Belakang
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh atas permintaan Dr Prama Yufdi, Kepala
BPTP Sumatera Barat akan melakukan studi dampak tsunami terhadap kondisi pertanian di
Pulau Mentawai terutama untuk mengukur tingkat salinitas yang ditimbulkan. Peneliti BPTP
Aceh M. Ramlan SP ditugaskan sejak hari ini, 22 Desember – 30 November 2010, kegiatan
tersebut dilaksanakan bersama dengan Tim peneliti tanah dari BPTP Sumatra Barat.

Sumber: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh, 2010

Pengertian dan Dampak Salinitas Tanah


Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Salinitas tanah menunjuk pada tingginya
konsentrasi dari garam terlarut dalam lengas tanah pada daerah perakaran. Air diserap oleh akar
tanaman melalui suatu proses yang disebut osmosis, yang melibatkan pergerakan air dari tempat
dengan konsentrasi garam rendah (contohnya tanah) ke tempat yang memiliki konsentrasi garam
tinggi (contohnya bagian dalam dari sel-sel akar). Jika konsentrasi garam di dalam tanah tinggi,
pergerakan air dari tanah ke akar melambat. Jika konsentrasi garam pada tanah lebih tinggi
dibandingkan dengan di dalam sel-sel akar, tanah akan menyerap air dari akar, dan tanaman akan
layu dan mati. Ini merupakan prinsip dasar bagaimana salinisasi mempengaruhi produksi
tanaman. Pengaruh utama salinitas pada pertumbuhan dan produksi tanaman adalah:
• Perkecambahan benih akan terhambat
• Secara fisiologis tanaman akan kering dan layu
• Pertumbuhan tanaman terhambat, daun kecil, ruas pendek dan percabangan sedikit.
• Daun berwarna hijau kebiruan
• Pembungaan terhambat, biji lebih kecil
Akibatnya produksi hasil tanaman juga akan berkurang. Selain pada tumbuhan, salinitas tanah ini
juga berdampak pada kerusakan infrastuktur (jalan, batu bata, korosi pipa dan kabel), penurunan
kualitas air, dan erosi tanah ketika tanaman sangat dipengaruhi oleh jumlah garam pada tanah.

2
Penyebab Salinitas Tanah
Salinasi tanah adalah masalah yang umum dijumpai di daerah-daerah dengan curah hujan
rendah. Jika dikombinasikan dengan irigasi dan kondisi drainase yang buruk, dapat
mengakibatkan hilangnya kesuburan tanah secara permanen. Tipe salinitas seperti ini merupakan
faktor penyebab krisis kemanusiaan yang diakibatkan oleh kekeringan. Secara umum, salinitas
tanah disebabkan oleh akumulasi garam berlebih yang tampak pada permukaan tanah. Garam
diangkut ke permukaan tanah melalui pengangkutan kapiler dari garam yang terdapat pada tabel
air dan terakumulasi akibat evaporasi (penguapan). Garam dapat terkonsentratkan dalam tanah
akibat aktivitas manusia, contohnya penggunaan kalium sebagai pupuk yang dapat membentuk
silvit, secara alami menjadi garam.Sementara salinisasi tanah yang muncul sebagai akibat dari
bencana alam yang terjadi dalam waktu singkat, sampai saat ini terbatas hanya disebabkan oleh
tsunami.

Contoh
Salah satu dampak tsunami terhadap sektor pertanian adalah terjadinya deposisi (perpindahan)
sedimen bahan dari laut ke lahan pertanian serta kerusakan prasarana irigasi dan drainase.
Khusus perpindahan bahan material dari laut, hal ini akan menyebabkan peningkatan salinitas
lahan melebihi batas maksimum yang aman. Sebagai dampaknya, ribuan hektar sawah rusak
karena tsunami dan sesudahnya tidak ada tanaman yang bisa tumbuh di wilayah tersebut. Karena
sektor pertanian adalah sumber mata pencaharian utama masyarakat, perbaikan wilayah
terdampak tsunami menjadi sangat penting.
(Laporan Survey Tanah di Lokasi Terkena dampak Dampak Tsunami di in Birueun and Aceh
Utara, FAO SPFS Emergency bekerjasama dengan Universitas Malikussaleh.)

Solusi
Solusi termudah untuk desalinasi adalah dengan menggunakan air bersih. Masalahnya,
berapa banyak air bersih yang dibutuhkan bagi suatu kawasan untuk proses desalinasi tersebut?
Oleh karena itu dilakukan upaya yang disebut dengan kontrol salinitas tanah. Kontrol salinitas
tanah merupakan usaha-usaha yang dilakukan untuk mengontrol masalah salinitas tanah dan
perbaikan kembali pada lahan pertanian yang mengalami salinisasi. Tujuan dari usaha tersebut
ialah agar mencegah terjadinya degradasi tanah karena salinisasi dan mengembalikan tanah yang
3
mengalami salinisasi sehingga kembali normal. Pendekatan yang dilakukan untuk rehabilitasi
salinitas tanah ialah:
1. Memperbaiki lahan.
2. Menanami lahan dengan tanaman yang toleran terhadap garam atau mengalihkan
penggunaannya ke usaha lain sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat
setempat.
Rehabilitasi yang optimal dapat dilakukan dengan mengombinasikan dua pendekatan tersebut.

Pendekatan pertama dapat dilakukan melalui berbagai cara yaitu:


• Daerah dengan curah hujan tinggi akan mempermudah proses rehabilitasi tanah
karena air hujan yang jatuh ke tanah akan melarutkan garam terlarut sehingga proses
desalinasi bisa terjadi. Cara ini tidak bisa diupayakan karena sangat tergantung pada
curah hujan di suatu kawasan.
• Membangun infrastruktur untuk sistem drainase sehingga dapat dilakukan upaya
penampungan air untuk proses desalinasi. Cara ini merupakan cara utama yang dilakukan
dalam upaya rehabilitasi salinasi tanah.
• Menghancurkan lapisan permukaan dengan pengolahan tanah, baik dengan atau
tanpa mencampur bagian permukaan tersebut dengan tanah di bawahnya. Untuk lahan
kering, hal ini akan meningkatkan perkolasi. Untuk lahan sawah, pencampuran akan
secara aktif melepaskan garam ke dalam air, yang kemudian harus dibuang dengan cara
penggelontoran permukaan. Pada kawasan sawah tadah-hujan, ini dapat dilakukan selama
musim kemarau ketika tanah lebih keras dan pekerjaannya menjadi lebih mudah, antara
lain untuk membantu proses pencucian pada saat musim hujan berikutnya mulai.
• Mengeruk lapisan liat/ debu di sebagai cara tercepat untuk membuang garam.
Cara ini membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
• Penggunaan gipsum untuk menggantikan ion sodium dalam tanah dengan
kalsium, dan sebagai akibatnya secara aktif membuang sodium dan meningkatkan
perkolasi tanah. Namun pilihan ini dapat diaplikasikan hanya ketika pH tanah lebih tinggi
dari 8,5 (misalnya tanah sodik) dan jika cara mekanis sederhana tidak efektif
menghancurkan lapisan padatliat /debu.
4
Mengatasi kerusakan tanah akibat salinisasi setelah terjadinya tsunami tentunya memerlukan
berbagai kombinasi cara, dan bukan hanya dengan cara tunggal.

Daftar Pustaka

• Mapegau. Pengaruh Salinitas Tanah Terhadap Hasil dan Distribusi Bahan Kering pada
Tanaman Jagung Kultivar Arjuna Selama Fase Pengisian Biji. J. Agrivigor 6 (1):9-17,
Desember 2006.
• Inderaja untuk Identifikasi Kerusakan Lahan Akibat Tsunami dan Rehabilitasinya. Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 28, No. 23, 2006.
• 20 Hal Untuk Diketahui Tentang Dampak Air Laut pada Lahan Pertanian di propinsi
NAD. Maret 2005. United Nations Food and Agricultural Organization (UN-FAO).
• Armen Zulham. Mengelola Pertanian pada Lahan Tsunami. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Nanggroe Aceh Darussalam.