Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Anxietas sering dikenal dengan istilah perasaan cemas, perasaan bingung, was-
was, bimbang dan sebagainya, dimana istilah tersebut lebih mengacu pada keadaan
normal. Sedangkan gangguan anxietas merujuk pada kondisi patologis. Anxietas
sendiri mempunyai rentang yang luas dan normal sampai level yang berat. Anxietas
sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat
sebagai sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai kondisi normal.
Anxietas normal sebenarnya sesuatu hal yang sehat, karena merupakan tanda bahaya
tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya dapat mempertahankan diri dan
anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang pelajar yang akan
menghadapi ujian, merasa cemas, maka ia akan belajar secara giat supaya
kecemasannya dapat berkurang.

Istilah kecemasan dalam psikiatri muncul untuk merujuk pada suatu respon
mental dan fisik terhadap situasi yang menakutkan dan mengancam. Secara mendasar
lebih berupa respon fisiologis ketimbang respon patologis terhadap ancaman. Sehingga
perilaku orang cemas tidaklah harus abnormal, bahkan kecemasan merupakan respons
yang sangat diperlukan. Ia berperan untuk meyiapkan orang untuk menghadapi
ancaman (baik fisik maupun psikologik). Perasaan cemas atau sedih yang berlangsung
sesaat adalah normal dan hampir semua orang pernah mengalaminya..

Cemas umumnya terjadi sebagai reaksi sementara terhadap tekanan dalam


kehidupan sehari-hari. Bila cemas menjadi begitu besar atau sering seperti yang
disebabkan oleh tekanan ekonomi yang berkepanjangan, penyakit kronik dan serius
atau permasalahan keluarga maka akan berlangsung lama; kecemasan yang
berkepanjangan sering menjadi patologis. Ia menghasilkan serangkaian gejala-gejala
hiperaktivitas otonom yang mengenai sistem muskuloskeletal, kardiovaskuler,
gastrointestinal dan bahkan genitourinarius.

1
Respon kecemasan yang berkepanjangan ini sering diberi istilah gangguan
kecemasan, dan ini merupakan penyakit. Dari aspek klinik kecemasan dapat dijumpai
pada orang yang menderita stress normal; pada orang yang menderita sakit fisik berat,
lama dan kronik; pada orang dengan gangguan psikiatri berat (skizofrenia, gangguan
bipoler dan depresi); dan pada segolongan penyakit yang berdiri sendiri yang
dinamakan gangguan kecemasan.

Anxietas dapat akut atau kronik. Pada anxietas akut serangan datang mendadak dan
cepat hilang. Anxietas kronik berlalu untuk jangka waktu lama walaupun tidak seintensif
anxietas akut, pengalaman penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya
dirasakan cukup gawat untuk mempenganuhi prestasi kerjanya. Bila dilihat dari segi
jumlah, orang yang menderita anxietas kronik jauh lebih banyak daripada anxietas
akut.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
“Anxietas adalah perasaan yang difus, yang sangat tidak menyenangkan, agak
tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai
dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang
berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut,
dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing
atau buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. “
( Harold I. LIEF).

“Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh
dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa
aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya.”
( J.J GROEN)

2.2 PREVALENSI
Survei terkini di Amerika (1996) melaporkan bahwa 15 - 33% pasien yang datang
berobat ke dokter non psikiater merupakan pasien dengan gangguan mental. Dari
jumlah tersebut minimal sepertiganya menderita gangguan kecemasan. Di Indonesia
penelitian yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Tambora Jakarta Barat tahun 1984
menunjukkan bahwa di puskesmas jumlah gangguan kesehatan jiwa yang sering
muncul sebagai gangguan fisik adalah 28,73% untuk dewasa dan 34,39% untuk anak.

2.3 ETIOLOGI
Penyebab gangguan cemas multifaktorial, faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Faktor biologis kecemasan akibat dari reaksi syaraf otonom yang berlebihan dan terjadi
pelepasan katekholamine. Dilihat dari aspek psikoanalisis kecemasan dapat terjadi
akibat impuls-impuls bawah sadar yang masuk ke alam sadar. Mekanisme pertahanan
jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil dapat menimbulkan kecemasan yang

3
mengambang, displacement dapat mengakibatkan reaksi fobia, undoing, reaksi formasi,
dan dapat mengakibatkan gangguan obsesi kompulsif. Sedangkan ketidak-berhasilan
represi mengakibatkan gangguan panik. Dari pendekatan sosial, anxietas dapat
disebabkan karena konflik, frustasi, krisis atau tekanan.

2.4 GEJALA UMUM ANXIETAS

Gejala psikologik:

Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut ”gila”, takut
kehilangan kontrol dan sebagainya.

Gejala fisik:

Berkeringat, Gemetar, jantung berdebar-debar, pusing, kepala terasa ringan,


ketegangan otot, mual, sulit bernafas, kebas, diare, gelisah, gatal, nyeri ulu hati dll.

Pasien dengan anxietas kronik biasanya memiliki keluhan seperti: rasa sesak
nafas, dada terasa sakit, kadang merasa harus menarik nafas dalam, dada terasa
tertekan, jantung berdebar, mual, vertigo, tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan;
kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus menerus, kaki
merasa lemah, sehingga langkah kaki dirasakan berat kadang- kadang ada gagap dan
banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang
dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan anxietas
kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan
saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan gejata ini oleh pasien yang bersangkutan
biasanya dirasakan cukup gawat.

4
2.5 GANGGUAN ANXIETAS

A. TEORI BIOLOGIS

 Susunan Saraf Otonom

 Neurotransmiter

 Penelitian genetika

 Studi Pencitraan Otak

B. TEORI PSIKOLOGIS

 Teori Psikoanalitik

 Teori perilaku

 Teori Eksistensi

Teori Psikoanalitik:
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan
ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan
menggunakan mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan
psikologis tanpa adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu
pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi,
ini menimbulkan gejala.

Teori Perilaku:
Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang
dibiasakan terhadap stimuli lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk
memiliki respon kecemasan internal dengan meniru respon kecemasan orang tuanya.

5
Teori eksistensi
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya
kehampaan yang menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada
penerimaan tentang kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat
dihindari. Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi
tersebut.

Sistem saraf otonom


Stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular
takikardi, muskular nyeri kepala, gastrointestinal diare dan sebagainya.

Neurotransmiter
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan
penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin
dan gamma-aminobutyric acid.

Studi genetik
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan
gangguan panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita
gangguan.

Studi pencitraan otak:


Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital,
temporalis. Pada gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.

6
2.6 BENTUK GANGGUAN CEMAS

• Gangguan Fobik
• Gangguan Panik
• Gangguan Anxietas Menyeluruh
• Gangguan Stres Akut
• Gangguan Stres Pasca Trauma
• Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi
• Gangguan Obsesif-kompulsif

2.6.1 GANGGUAN FOBIK


Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan
penghindaran yang disadari terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.

Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang
ataupun peristiwa tertentu. sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat peristiwa
traumatik yang pernah dialami individu. Fobia juga merupakan penolakan berdasar
ketakutan terhadap benda atau situasi yang dihadapi, yang sebetulnya tidak berbahaya
dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya. Fobia simpel: sumber
binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah. Yang menderita banyak wanita, dimulai
semenjak kecil.

Agorafobia: kata yunani, agpra = tempat berkumpul, pasar. Sekelompok


ketakutan yang berpusat pada tempat-tempat publik: takut berbelanja, takut
kerumunan, takut bepergian, Banyak yang minta pertolongan.

Banyak wanita yang menderita ini dimulai pada masa remaja dan permulaan
dewasa. Dengan gejala ketegangan, pusing, kompulsi, merenung, depresi, ketakutan
menjadi gila. 90% dari sampel: takut tempat tinggi, tempat tertutup, elevator.

7
Fobia dibedakan menjadi dua jenis,yaitu:

Fobia Spesifik

Sebuah fobia spesifik adalah rasa takut, intens irasional dari sesuatu yang sedikit
atau tidak menimbulkan bahaya yang sebenarnya. Beberapa fobia spesifik lebih umum
dipusatkan di tempat-tempat tertutup, ketinggian, eskalator, terowongan, jalan raya
mengemudi, air, terbang, anjing, dan cedera yang melibatkan darah. fobia seperti ini
tidak hanya sangat takut, mereka ketakutan irasional terhadap suatu hal
tertentu.Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik
tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap
ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap
kancing baju, dsb.

Fobia Sosial

Fobia sosial, juga disebut gangguan kecemasan sosial, didiagnosa ketika orang-
orang menjadi sangat cemas dan terlalu sadar diri dalam situasi sosial sehari-hari.
Orang dengan fobia sosial memiliki ketakutan yang kuat, gigih, dan kronis sedang
diawasi dan dinilai oleh orang lain dan melakukan hal-hal yang akan mempermalukan
mereka. Mereka bisa khawatir selama berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum
situasi yang ditakuti. Ketakutan berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan
ini disebabkan akibat adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat ada
dalam kerumunan atau tempat umum. misalnya dipermalukan didepan umum, ataupun
suatu kejadian yang mengancam dirinya pada saat diluar rumah.

TERAPI

Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat
daftar situasi yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut
tersebut. Dengan konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada
depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri

8
antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta
bloker dapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap

2.6.2 GANGGUAN PANIK

Gangguan panik ditandai dengan terjadinya serangan panik spontan dan tidak
diprediksikan. Serangan panik adalah suatu periode kecemasan atau ketakutan yang
kuat dan relative singkat (biasanya < satu tahun), yang disertai oleh gejala somatiks
tertentu seperti takipneu dan palpitasi. Frekuensi pasien dengan gangguan panik
mengalami serangan panik bervariasi dari beberapa serangan dalam satu hari sampai
hanya beberapa serangan selama setahun. Di Amerika Serikat, sebagian besar peneliti
percaya bahwa pasien yang memiliki gangguan panik hampir selalu berkembang
dengan komplikasi agoraphobia.

Istilah “panik” berasal dari kata Pan, yaitu dewa Yunani setengah hantu, tinggal
dipegunungan dan hutan, dan perilakunya sangat sulit diduga. Pada 1895 deskripsi
gangguan panik pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam kasus
agorafobia. Serangan panik merupakan ketakutan akan timbulnya serangan serta yang
diyakini akan terjadi. Orang dengan serangan panik berusaha untuk menghindar dari
keadaan yang tidak pernah diperkirakan.

Serangan panik sering dimulai pada masa remaja akhir atau dewasa awal,
namun tidak semua orang yang mengalami serangan panik akan mengembangkan
gangguan panik. Banyak orang hanya memiliki satu serangan dan tidak pernah lagi.
Terjadi pada wanita lebih sering daripada laki-laki. Ada dua kriteria gangguan panik,
yaitu gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik ddisertai agorofobia kedua
gangguan panik ini harus ada episode serangan panik.

Gambaran Klinis

Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik,
walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan,
kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk

9
mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului serangan panik.
Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama
10 menit. Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman
kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak mampu menyebutkan sumber
ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam
memusatkan perhatian. Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan
berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya
berlangsung 20 sampai 30 menit.

Agorafobma, yaitu pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia


akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus
ditemani setiap kali mereka keluar rumah.

GEJALA PENYERTA

Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada
beberapa pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan gangguan
panik. Penelitian telah menemukan bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada orang
dengan gangguan panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan
mental.

DIAGNOSA BANDING
Penyakit kardiovaskuler : anemia, hipertensi, infark iniokardium, dsb.
Penyakit pulmonum : asma, hiperventilasi, emboli paru-paru.
Penyakit neurologis : penyakit serebrovaskular, epilepsi, inigrain, tumor, dsb.
Penyakit endokrin :diabetes, hipertroidisme, hipoglikemi, sindroma
pramestruasi, gangguan menopause, dsb. lntoksikasi obat,
putus obat.
Kondisi lain : anafilaksis, gangguan elektrolit, keracunan logam berat,
TERAPI
Psikoterapi : ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu,
konsentrasikan diri untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan

10
pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi
rasa takut.

Psikofarmaka : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan


medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan
depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100-150 mg
malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka
pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari
pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.

2.6.3 GANGGUAN CEMAS MENYELURUH

Gangguan Kecemasan Menyeluruh merupakan kecemasan dan kekhawatiran


yang berlebihan akan sejumlah aktivitas atau peristiwa, yang berlangsung hampir setiap
hari, selama 6 bulan atau lebih.

Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh
dan menetap (bertahan lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan
tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa
ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah keluhankeluhan yang
lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita
sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang
seringkali diungkapkan. Kecemasan dan kekhawatiran ini sangat berlebihan sehingga
sulit dikendalikan.

Mereka tidak dapat santai, mudah terkejut, dan mengalami kesulitan


berkonsentrasi. Seringkali mereka sulit tidur atau tidur. gejala fisik yang sering
menyertai kegelisahan meliputi kelelahan, sakit kepala, ketegangan otot, nyeri otot,
kesulitan menelan, gemetar, gugup, lekas marah, berkeringat, mual, ringan, harus pergi
ke kamar mandi sering, merasa kehabisan napas, dan hot flashes.

11
Selain itu, penderita mengalami 3 atau lebih dari gejala-gejala berikut:

• Mudah lelah
• Gelisah
• Sulit berkonsentrasi
• Ketegangan otot
• Mudah tersinggung
• Gangguan tidur
• 3-5% dari orang dewasa

2 kali lebih sering terjadi pada wanita. Seringkali berawal pada masa kanak-
kanak atau remaja. Keadaan ini berfluktuasi, semakin memburuk ketika mengalami
stres dan menetap selama bertahun-tahun

Tanda-tanda; kecemasan kronis terus menerus rnencakup situasi hidup (cemas


akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial). Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa
panas, jantung berdetak keras, perut tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin,
tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas
sistem saraf otonomik. Merasa ada gangguan otot: ketegangan atau rasa sakit pada
otot terutama pada leher dan bahu, pelupuk mata berkedip terus, bcrgetar, mudah
lelah, tidak mampu untuk santai, mudah terkejut, gelisah, sering berkeluh. Cemas akan
terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas akan mendapatkan.serangan
jantung, cemas akan mati. Sering penderita tidak sabar, mudah marah, tidak dapat
tidur, tidak dapat konsentrasi.

Penderita harus menujukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung


hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas
atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja ( sifatnya “free floating”
atau “mengambang”)

12
Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:

1. Kecemasan ( khawatir akan nasib buruk, merasa seperti diujung tanduk, sulit
konsentrasi, dsb.);
2. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai);
3. Overaktivitas otonomik ( kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-
debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb.).

Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan


(reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang yang menojol.

GEJALA
Gejala utamanya adalah kecemasan, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonom, dan
kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik sering ditunjukkan dengan gemetarm
gelisah serta nyeri kepala. Gejala lain yang mengikuti, pasien mudah tersinggung dan
dikejutkan. Gangguan seperti ini terjadi secara kronik dan mungkin bisa berlangsung
seumur hidup.

TERAPI

Seperti gangguan kecemasan lainnya, GAD adalah bisa diobati. terapi kognitif-
perilaku yang efektif bagi banyak orang, membantu mereka untuk mengidentifikasi,
memahami, dan memodifikasi pemikiran yang salah dan pola perilaku. Hal ini
memungkinkan orang dengan GAD belajar untuk mengendalikan khawatir mereka.
Beberapa orang dengan GAD juga minum obat.

Psikoterapi dan Psikofarmaka : informasikan bahwa stres dan rasa khawatir


keduanya mempunyai efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk
mengurangi dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif. Mengenali,
menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat mengurangi gejala
anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan
fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi dapat
digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi anxietas : misal Diazepam

13
5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati
gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan
berlangsung lebih dan 3 bulan.

Untuk mengatasinya biasanya diberikan obat anti-cemas, tetapi karena


pemberian jangka panjang bisa menyebabkan ketergantungan fisik, maka dosisnya
harus ditutunkan perlahan, tidak dihentikan secara tiba-tiba. Buspiron merupakan obat
lainnya yang juga efektif untuk mengatasi kecemasan menyeluruh. Pemakaian obat ini
tampaknya tidak menyebabkan ketergantungan fisik. Tetapi efeknya baru tampak
setelah 2 minggu atau lebih, sedangkan efek benzodiazepin akan tampak beberapa
menit setelah pemberian obat.

Terapi perilaku biasanya tidak begitu efektif, karena keadaan yang memicu
terjadinya kecemasan tidak jelas. Kadang dilakukan relaksasi dan teknik biofeed-back.
Penyakit kecemasan menyeluruh bisa berhubungan dengan pertentangan psikis.

Pertentangan ini seringkali berhubungan dengan rasa tidak aman dan sikap kritis
yang merusak diri sendiri. Pada keadaan ini dilakukan psikoterapi untuk membantu
memahami dan menyelesaikan pertentangan psikis.

Gangguan cemas menyeluruh adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan


dihayati disertai gejala somatik yang menyebabkan gangguan bermakna dan fungsi
sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien

2.6.4 GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA

Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari pengalaman kembali trauma melalui


mimpi dan pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan
penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan
persisten. Gejala penyerta yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah
depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif.

14
Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasca-trauma diperkirakan I sampai 3
persen populasi umum, 5 sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang
subklinis. Walaupun gangguan stres pasca-trauma dapat terjadi pada setiap usia,
namun gangguan paling menonjol pada usia dewasa muda.

PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami


oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam . PTSD bisanya
muncul beberapa tahun setelah kejadian dan biasanya diawali dengan ASD, jika lebih
dari 6 bulan maka orang tersebut dapat mengembangkan PTSD.

Akibat kejadian traumatik atau bencana yang tingkatnya sangat buruk:


perkosaan, peperangan, bencana alam, ancaman yang serius terhadap orang yang
sangat dicintai, melihat orang lain disakiti atau dibunuh. Akan berakibat tidak dapat
konsentrasi, mengingat, tidak dapat santai, impulsif, mudah terkejut, gangguan tidur,
cemas, depresi, mati rasa; hal-hal yang menyenangkan tidak menarik lagi, ada
perasaan asing terhadap orang-lain dan yang lampau. Kalau trauma dialami bersama
orang lain, dan yang lain mati: ada rasa bersalah, sering terjadi mimpi buruk atau
gangguan tidur.

Gangguan pasca trauma dapat akut, kronis atau lambat, trauma akibat orang,
perang, serangan fisik atau penganiayaan berlangsung lebih lama daripada trauma
setelah bencana alam. Simtom memburuk jika dihadapkan kepada situasi yang mirip.
Dapat terjadi pada anak dan orang dewasa. Gejala pada anak: mimpi tentang monster
atau perubahan tingkah laku ramai menjadi pendiam. Riwayat psikopatologi pada
keluarga memegang peranan. Psikoterapi dapat melalui terapi kelompok. Dengan cara
ini penderita mendapatkan support dari teman-temannya.

15
PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES PASCATRAUMA

A. Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapati:


o mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa
ancaman kematian, atau kematian yang sesungguhanya atau cedera
yang serius,atau ancaman integritas fisik diri sendiri atau orang lain
o respon berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya
B. Keadan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih cara
berikut:
o rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang kejadian
o Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian
o berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali
o penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau
eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian
traumatik
o reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal
yang menyimbolkan atau menyerupai aspek kejadian traumatik
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
D. Gejala menetap, adanya peningkatan kesadaran , seperti dua atau lebih berikut:
kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan, respon
kejut
yang berlebihan.
E. Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.
F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

Pengobatan

Perawatan utama bagi orang-orang dengan PTSD adalah psikoterapi (sering


disebut terapi bicara), obat-obatan, atau keduanya. Setiap orang berbeda, sehingga
pengobatan yang bekerja untuk satu orang mungkin tidak bekerja bagi orang lain.

16
2.6.5 REAKSI STRES AKUT

Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang
tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik
maupun mental yang luar biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau
hari. Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar biasa . Kerentanan
individu dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan
keparahannya suatu reaksi stres akut. Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas
antara terjadinya pengalaman stresor luar biasa dengan onset dan gejala. Onset
biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera setelah kejadian. Selain itu
ditemukan (a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain
gejala permulaan berupa keadaan “ terpaku” , semua gejala berikut mungkin tampak:
depresif, anxietas, kemarahan, kekecewaan, overaktif dan penarikan diri, akan tetapi
tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk
waktu lama. (b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-
gejalanya dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana
stres tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mulai mereda setelah 24 - 48
jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari.

2.6.6 GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF

Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum


diperkirakan adalah 2-3 persen. Waktu tidak diobati, OCD dapat mengganggu semua
aspek kehidupan. Anak-anak bisa menderita OCD juga .

OBSESIF adalah pikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak
dikehendaki.

KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak
dikehendaki.

17
Perilaku ini merupakan ritual pembebasan dari dosa pada orang tersebut. dengan
mencuci tangan ia berharap bisa membersihkan dari dosa yang telah ia perbuat.
obsesif kompulsif ini biasanya cenderung pada perilaku bersih-bersih. Perilaku seperti
ini sebenarnya banyak terjadi pada lingkungan kita tetapi, kita kadang malah
menganggap perilaku ini wajar. Dewasa muda, mengikuti kejadian yang penuh stres:
kehamilan, kelahiran, konflik keluarga, kesulitan dalam pekerjaan, keadaan depresi.
Penderita obsesif-kompulsif sering menderita depresi.

Ada 5 bentuk obsesi:

1. Kebimbangan yang obsesif: pikiran bahwa suatu tugas yang telah selesai tidak
secara baik (75% dari pasien).
2. Pikiran yang obsesif: pikiran berantai yang tidak ada akhirnya. Biasanya fokus
pada kejadian yang akan datang (34% dari pasien).
3. Impuls yang obsesif; dorongan untuk melakukan suatu perbuatan (17%).
4. Ketakutan yang obsesi kecemasan untuk kehilangan kontrol dan melakukan
sesuatu yang memalukan (26%)
5. Bayangan obsesif: bayangan terus menerus mengenai sesuatu yang dilihat
(7%).

Kompulsi (2 macam).

1. Dorongan kompulsif yang memaksa suatu perbuatan: melihat pintu berkali-kali


(61%).
2. Kompulsi mengontrol: mengontrol dorongan kompulsi (tidak menuruti dorongan
tersebut): mengontrol dorongan inses dengan berkali-kali menghitung sampai 10..

DIAGNOSIS BANDING
Kondisi fisik
- Gangguan neurologis (epilepsi lobul temporalis, komplikasi trauma, dsb)
Kondisi psikiatrik
- Skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, gangguan depresif.

18
TERAPI
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang
dapat mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif.
Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi
situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa
diberi Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan Selected Serotonin Reuptake
Inhibitors. Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.

2.6.7 GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI


Kategori campuran ini harus digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun
depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat
untuk menegakkan diaognosis tersendiri.

2.7 PENATALAKSANAAN
2.7.1 PSIKOFARMAKA

Obat tidak akan menyembuhkan gangguan kecemasan, tetapi bisa tetap di


bawah kontrol sedangkan orang yang menerima psikoterapi. Obat utama yang
digunakan untuk gangguan kecemasan adalah antidepresan, obat anti-kecemasan,
dan-beta blockers untuk mengendalikan beberapa gejala fisik. Dengan perawatan yang
tepat, banyak orang dengan gangguan kecemasan dapat memimpin normal, memenuhi
hidup.

Antidepressants Antidepresan

Antidepresan dikembangkan untuk mengobati depresi tetapi juga efektif untuk


gangguan kecemasan. Meskipun pengobatan ini mulai mengubah kimia otak setelah
dosis pertama, efek penuh mereka memerlukan serangkaian perubahan terjadi,
biasanya sekitar 4 sampai 6 minggu sebelum gejala mulai pudar. Hal ini penting untuk
melanjutkan pengambilan obat ini cukup lama untuk membiarkan mereka bekerja.

19
SSRI

Beberapa antidepresan terbaru Reuptake disebut inhibitor serotonin selektif, atau


SSRI. SSRI mengubah tingkat serotonin neurotransmitter di otak, yang, seperti
neurotransmiter lain, membantu sel-sel otak berkomunikasi dengan satu sama lain.

Fluoxetine (Prozac ®), sertraline (Zoloft ®), escitalopram (® Lexapro), paroxetine


(Paxil ®), dan citalopram (Celexa ®) adalah beberapa dari SSRIs umumnya diresepkan
untuk gangguan panik, OCD, PTSD, dan fobia sosial. SSRI juga digunakan untuk
mengobati gangguan panik ketika itu terjadi dalam kombinasi dengan OCD, fobia
sosial, atau depresi. Venlafaxine (Effexor ®), obat yang berhubungan erat dengan
SSRI, digunakan untuk mengobati GAD. Obat-obat ini dimulai dengan dosis rendah dan
secara bertahap meningkat sampai mereka memiliki efek yang menguntungkan.

SSRI memiliki efek samping lebih sedikit dibandingkan antidepresan lebih tua,
tetapi mereka kadang-kadang menghasilkan sedikit mual atau kegugupan ketika orang
pertama mulai membawa mereka. Beberapa orang juga mengalami disfungsi seksual
dengan SSRI, yang mungkin dibantu oleh menyesuaikan dosis atau beralih ke SSRI
yang lain.

Tricyclics

Tricyclics lebih tua dari SSRIs dan kerja serta SSRI untuk gangguan kecemasan
selain OCD. Mereka juga dimulai dengan dosis rendah yang berangsur-angsur
meningkat. Mereka kadang-kadang menyebabkan pusing, mengantuk, mulut kering,
dan berat badan, yang biasanya dapat diperbaiki dengan mengubah dosis atau beralih
ke obat trisiklik lain.

Tricyclics termasuk imipramine (Tofranil ®), yang diresepkan untuk gangguan


panik dan GAD, dan clomipramine (Anafranil ®), yang merupakan antidepresan trisiklik
hanya berguna untuk mengobati OCD.

20
MAOIs

Oksidase inhibitor monoamina (MAOIs) adalah kelas tertua obat antidepresan.


The MAOIs paling sering diresepkan untuk gangguan kecemasan adalah phenelzine
(Nardil ®), diikuti oleh tranylcypromine (Parnate ®), dan isocarboxazid (Marplan ®),
yang berguna untuk mengobati gangguan panik dan fobia sosial. Orang-orang yang
mengambil MAOIs tidak bisa makan berbagai makanan dan minuman (termasuk keju
dan anggur merah) yang mengandung tyramine atau mengambil obat tertentu,
termasuk beberapa jenis pil KB, penghilang rasa sakit (seperti Advil ®, Motrin ®, atau
Tylenol ®) , suplemen dingin dan obat alergi, dan herbal; zat-zat yang dapat
berinteraksi dengan MAOIs menyebabkan peningkatan tekanan darah yang berbahaya.
Pengembangan patch kulit MAOI baru dapat membantu mengurangi risiko ini. MAOIs
juga dapat bereaksi dengan SSRI untuk menghasilkan suatu kondisi serius yang
disebut "sindrom serotonin," yang dapat menyebabkan kebingungan, halusinasi,
berkeringat meningkat, kekakuan otot, kejang, perubahan tekanan darah atau irama
jantung, dan kondisi berpotensi mengancam kehidupan lainnya.

Obat Anti-Anxiety

High-potensi benzodiazepine memerangi kecemasan dan memiliki beberapa


efek samping selain ngantuk. Karena orang-orang bisa terbiasa dengan mereka dan
mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi dan lebih tinggi untuk mendapatkan efek
yang sama, benzodiazepine umumnya diresepkan untuk jangka waktu yang singkat,
terutama bagi orang-orang yang telah menyalahgunakan obat atau alkohol, dan yang
menjadi tergantung pada obat-obatan dengan mudah. Satu pengecualian terhadap
peraturan ini adalah orang dengan gangguan panik, yang dapat mengambil
benzodiazepine sampai setahun tanpa membahayakan.

Clonazepam (Klonopin ®) digunakan untuk fobia sosial dan GAD, lorazepam


(Ativan ®) sangat membantu untuk gangguan panik, dan alprazolam (Xanax ®)
berguna untuk kedua gangguan panik dan GAD.

21
Beberapa orang mengalami gejala-gejala penarikan diri jika mereka berhenti
mengambil benzodiazepine tiba-tiba bukan lentik off, dan kecemasan dapat kembali
setelah pengobatan dihentikan. Masalah-masalah ini potensial menyebabkan beberapa
dokter untuk menghindar dari menggunakan obat atau menggunakannya dalam dosis
yang tidak memadai.

Buspirone (BuSpar ®), sebuah azapirone, adalah obat anti-kecemasan baru


digunakan untuk mengobati GAD. Kemungkinan efek samping termasuk pusing, sakit
kepala, dan mual. Tidak seperti benzodiazepine, buspirone harus diambil secara
konsisten selama minimal 2 minggu untuk mencapai efek anti-kecemasan.

Beta-Blockers Beta-bloker

Beta-blocker, seperti propranolol (Inderal ®), yang digunakan untuk merawat


kondisi jantung, dapat mencegah gejala-gejala fisik yang menyertai gangguan
kecemasan tertentu, terutama fobia sosial. Ketika situasi takut dapat diprediksi (seperti
memberikan pidato), dokter mungkin meresepkan beta-blocker untuk menjaga gejala
fisik kecemasan di bawah kontrol.

2.7.2 PSIKOTERAPI

Psikoterapi melibatkan berbicara dengan kesehatan mental yang terlatih


profesional, seperti psikiater, psikolog, pekerja sosial, atau konselor, untuk menemukan
apa yang menyebabkan gangguan kecemasan dan bagaimana menangani gejala.

Cognitive-Behavioral Therapy Cognitive-Behavioral Therapy

Terapi kognitif-perilaku (CBT) sangat berguna dalam pengobatan gangguan


kecemasan. Bagian kognitif membantu orang mengubah pola pikir yang mendukung
ketakutan mereka, dan bagian perilaku membantu orang mengubah cara mereka
bereaksi terhadap situasi kecemasan-merangsang.

Misalnya, CBT dapat membantu orang dengan gangguan panik belajar bahwa
serangan panik mereka tidak benar-benar serangan jantung dan membantu orang

22
dengan fobia sosial belajar bagaimana untuk mengatasi keyakinan bahwa orang lain
selalu mengawasi dan menilai mereka. Ketika orang siap untuk menghadapi ketakutan
mereka, mereka menunjukkan cara menggunakan teknik eksposur untuk menurunkan
rasa mudah terpengaruh diri untuk situasi-situasi yang memicu kecemasan mereka.

Orang dengan OCD yang takut kotoran dan kuman yang didorong untuk
mendapatkan tangan mereka kotor dan menunggu meningkatnya jumlah waktu
sebelum mencuci mereka. Terapis membantu orang mengatasi kecemasan yang
menunggu menghasilkan; setelah latihan telah diulang beberapa kali, kegelisahan
berkurang. Orang dengan fobia sosial dapat didorong untuk menghabiskan waktu
dalam situasi sosial takut tanpa menyerah pada godaan untuk melarikan diri dan
membuat kesalahan sosial kecil dan amati bagaimana orang menanggapi mereka.
Karena respon biasanya jauh lebih keras daripada orang ketakutan, kecemasan
tersebut berkurang. Orang dengan PTSD dapat didukung melalui mengingat peristiwa
traumatik mereka dalam situasi yang aman, yang membantu mengurangi rasa takut itu
menghasilkan. CBT terapis juga mengajarkan napas dalam-dalam dan jenis-jenis
latihan untuk mengurangi kecemasan dan mendorong relaksasi.

Terapi perilaku Eksposur berbasis telah digunakan selama bertahun-tahun untuk


mengobati fobia spesifik. Orang yang secara bertahap menemukan objek atau situasi
yang ditakuti, mungkin pada awalnya hanya melalui gambar atau kaset, kemudian tatap
muka. Seringkali terapis akan menemani seseorang ke situasi takut untuk memberikan
dukungan dan bimbingan.

CBT dilakukan ketika orang memutuskan mereka siap untuk itu dan dengan izin
mereka dan kerja sama. Agar efektif, terapi harus diarahkan pada kecemasan tertentu
orang tersebut dan harus sesuai dengan kebutuhan nya. Ada efek samping tidak lain
ketidaknyamanan sementara kecemasan meningkat.

CBT atau terapi perilaku sering berlangsung sekitar 12 minggu. Ini dapat
dilakukan secara individual atau dengan sekelompok orang yang memiliki masalah
yang sama. Kelompok terapi sangat efektif untuk fobia sosial. Sering kali "PR" diberikan

23
bagi peserta untuk menyelesaikan antara sesiAda beberapa bukti bahwa manfaat dari
CBT bertahan lebih lama dibandingkan dengan pengobatan untuk orang dengan
gangguan panik, dan yang sama mungkin benar untuk OCD, PTSD, dan fobia sosial.
Jika gangguan yang berulang di kemudian hari, terapi yang sama dapat digunakan
untuk mengobati dengan sukses untuk kedua kalinya. Obat dapat dikombinasikan
dengan psikoterapi untuk gangguan kecemasan yang spesifik, dan ini adalah
pendekatan pengobatan terbaik untuk orang banyak.

24
BAB III

KESIMPULAN

 Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh
dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan
membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu
atau kelompok biososialnya.”

 Penyebab gangguan cemas multifaktorial, faktor biologis, psikologis, dan sosial

 Survei terkini di Amerika (1996) melaporkan bahwa 15 - 33% pasien yang


datang berobat ke dokter non psikiater merupakan pasien dengan gangguan
mental.

 Gejala psikologik Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati,
takut ”gila”, takut kehilangan kontrol dan sebagainya.

 Gejala fisik Berkeringat, Gemetar, jantung berdebar-debar, pusing, kepala


terasa ringan, ketegangan otot, mual, sulit bernafas, kebas, diare, gelisah, gatal,
nyeri ulu hati dll.

 Beberapa teori mengenai gangguan cemas :

o TEORI BIOLOGIS

A. Susunan Saraf Otonom


B. Neurotransmiter
C. Penelitian genetika
D. Studi Pencitraan Otak

o TEORI PSIKOLOGIS

A. Teori Psikoanalitik
B. Teori perilaku
C. Teori Eksistensi
 Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan
penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin,
serotonin dan gamma-aminobutyric acid.

25
 Hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik memiliki
sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.
 Pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital,
temporalis. Pada gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.
 Bentuk gangguan cemas

o Gangguan Fobik
o Gangguan Panik
o Gangguan Anxietas Menyeluruh
o Gangguan Stres Akut
o Gangguan Stres Pasca Trauma
o Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi
o Gangguan Obsesif-kompulsif
 Obat tidak akan menyembuhkan gangguan kecemasan, tetapi bisa tetap di
bawah kontrol sedangkan orang yang menerima psikoterapi. Obat utama yang
digunakan untuk gangguan kecemasan adalah antidepresan, obat anti-
kecemasan, dan-beta blockers untuk mengendalikan beberapa gejala fisik.
Dengan perawatan yang tepat, banyak orang dengan gangguan kecemasan
dapat memimpin normal, memenuhi hidup. Psikofarmaka yang biasa digunakan
pada pasien gangguan cemas, diantaranya :
o Antidepressants Antidepresan
o SSRI
o Tricyclics
o MAOIs
o Obat Anti-Anxiety
o Beta-Blockers Beta-bloker

 Terapi kognitif-perilaku (CBT) sangat berguna dalam pengobatan gangguan


kecemasan. Bagian kognitif membantu orang mengubah pola pikir yang

26
mendukung ketakutan mereka, dan bagian perilaku membantu orang mengubah
cara mereka bereaksi terhadap situasi yang merangsang kecemasan.

DAFTAR PUSTAKA

27
1. American Psychiatric Association, Diagnostic Criteria, DSM -IV - TR, 2005 : 209
-223
2. Departemen Kesehatan R.l. Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat , Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat: Gangguan Anxietas.
3. Departemen Kesehatan R.l. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan
Jiwa di Indonesia III, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik 1993: 171 -195.
4. Setyonegoro KR, Iskandar Y : Anxietas. Yayasan Drama Usada, Yakarta,
1980:2-4.
5. Sadock BJ, Sadock VA: Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry 10 th.ed.
Lippincott Williams & Wilkins, 2007:579- 633.
6. Stahl SM: Essential Psychopharmacology Neuroscientific Basis and Practical
Applications 2nd ed Cambridge University Press . 2002 : 300

28