P. 1
lp TBC (Repaired)

lp TBC (Repaired)

|Views: 451|Likes:
Dipublikasikan oleh Sastri Yulianti

More info:

Published by: Sastri Yulianti on Feb 08, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

TUBERCULOSIS PARU Pengertian

Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular disebabkan oleh Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium

Mycobacterium tuberculosis (Sylvia A. price, Lorraine M. Wilson, 2005).

tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru (IPD, FK, UI).

Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh

Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Mansjoer , 1999). A. Etiologi Penyebab dari Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang berbentuk batang aerobic dan Tahan asam ( Price , 1997 ). Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 mm, ukuran ini lebih kecil daripada sel darah merah. Ada beberapa mikrobakteri pathogen tapi hanya strain bovin dan manusia yang patogenik terhadap manusia. B. Epidemiologi Menurut data dari WHO, pada tahun 1990 – 1999 dilaporkan bahwa ada 30 juta orang meninggal karena Tuberculosis dan 1/3 dari populasi dunia terinfeksi Mycobacterium Tuberculosis dan 5 – 10% terinfeksi menjadi TBC aktif. Tiap tahun terdapat 8 juta kasus baru dan 3 juta meninggal. Resiko yang lebih besar terkena adalah pada individu yang immunosupresif, khususnya bagi mereka yang terkena infeksi HIV. HIV merusak limfosit dan monosit, yang keduanya merupakan pertahanna primer untuk melawan infeksi TB. Berdasarkan data CDC tahun 1996, angka penyakit TB pada orang yang terinfeksi HIV dengan tes tuberculin kulit yang positif adalah 200 hingga 800 kali lebih besar daripada angka untuk seluruh penduduk Amerika Serikat (CDC, 1998) C. Faktor Resiko 1. Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro, Imigran dari Asia Tenggara.
2.

Klien

dengan

ketergantuangan

alkhohol

dan

kimia

lain

yang

menimbulkan penurunan status kesehatan.

4.3. . Klien dengan penurunan imunitas : HIV positip. Bayi dan anak di bawah 5 tahun. terapi steroid & kemoterapi kanker.

jika dibatukkan membentuk Komplikasi menyebar keseluruh tubuh melalui hematogen. muncul bertahun Diresorbsi kembali/sembuh Membentuk jaringan keju. bronchogen. sembuh dengan jaringan fibrotik Kavitas meluas membentuk sarang Memadat dan membungkus diri/tuberkuloma Bersih dan menyembuh Fibrosis Menyebar lewat getah bening Kalsifikasi Timbul jaringan ikat yang bersifat elastic dan tebal . luka terbuka pada kulit Berada dalam ruang alveolus Inflamasi TB SEKUNDER Infeksi primer Sembuh total Sembuh dg sarang ghon Kuman dormant. Patofisiologi TB PRIMER Mycobacterium TBC Masuk saluran pernapasan.D. tanpa ada gejala sisa Infeksi terus berlanjut Sarang meluas. saluran pencernaan. limfogen Migrasi leukosit polimorfonuklear ke tempat inflamasi Kemudian digantikan oleh makrofag Konsolidas i Pneumonia akut Sembuh.

BB menurun Exudasi Alveolus tidak kembali saat ekspirasi Kerusakan pertukaran gas Sesak Bersih dan menyembuh Pola napas inefektif Nekrosis/perkejuan(nek rosis kaseosa) Kavita si Kavitas meluas membentuk sarang Bersihan jalan napas inefektif Memadat dan membungkus diri/tuberkuloma Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh . hemoptisis. sputum purulen.Batuk.

Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak maka makin menular penderita tersebut. atau penyebaran langsung ke bagianbagian tubuh lainnya. bakteriologik. Atlanta. atau radiografik TB aktif Biakan M. aktif secara klinis TB Tidak aktif secara klinis 5 Tersangka TB Dari pusat pencegahan dan pengendalian penyakit: core curriculum on tuberculosis: what the clinician should now. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. F. saluran nafas.E. Cara penularan Sumber penularan adalah penderita TB BTA (+) yaitu ketika penderita batuk atau bersin. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman). atau radiografik penyakit Riwayat episode TB. Gejala Klinis . ke bagian tubuh lainnya. Reaksi tes tuberculin positif dan tidak ada bukti klinis. 2000. atau Ditemukan radiografik yang abnormal atau tidak berubah. ed 4. CDC. 2003). sistem saluran limfe. melalui sistem peredaran darah. maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Daya penularan seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Sistem klasifikasi TB Kela s 0 1 2 Tipe Tidak ada pajanan TB Tidak terinfeksi Terpajan TB Tidak ada bukti klinis Ada infeksi TB Tidak timbul penyakit Keterangan Tidak ada riwayat terpajan Reaksi terhadap tes tuberculin negatif Riwayat terpajan Reaksi tes tuberculin negatif Reaksi tes tuberculin positif Pemeriksaan bakteri negative (bila dilakukan) Tidak ada bukti klinis. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Depkes RI. Tuberkulosis (bila dilakukan) Sekarang terdapat bukti klinis. Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam batuk droplet (percikan dahak). atau radiografik penyakit sekarang Diagnosis ditunda 3 4 TB. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. kuman tersebut dapat menyebar dari paru. bakteriologik. Klasifikasi Table 1. bakteriologik.

• • Pemeriksaan fisik Tergantung dari organ yang terkena Pada TB paru tergantung luas kelainan biasanya pada apeks lobus atas (S1 dan S2) dan apeks lobus bawah (S6). jika infiltrasi sudah ke pleura • • 2. pada perkusi pekak.1. ketiak dapat menjadi “cold abscess” Pemeriksaan bakteriologik Dahak Cairan pleura Bilasan bronkus b. Diagnosis TB a. dapat ditemukan berbagai bunyi napas pokok pada auskultasi • Pada pleuritis TB tergantung dari jumlah cairan di rongga pleura.41 C. kadang-kadang 40 . auskultasi suara napas melemah sampai hilang • Pada limfadenitis TB. seperti demam • Keringat malam • Anoreksia • Berat badan menurun 3. Gejala respiratorik • • Batuk > 2 minggu (kering. Gejala tuberculosis ekstra paru Tergantung organ terkena: • Limfadenitis tuberkulosa • Meningitis tuberkulosa • Pleuritis tuberkulosa G. Gejala sistemik • Demam influensa • Malaise (subfebris. pembesaran kgb leher. jika infiltrasi sudah setengah bagian paru Nyeri dada. produktif) Batuk darah Sesak napas. • • • Bahan pemeriksaan: .

9% 5 ml Cara pengumpulan dan pengambilan bahan: Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain: Untuk biakan dan uji resistensi • • Mikroskopik Biasa (Ziehl Nielsen) dan Flouresens (Auramin Rhodamin) Biakan Media Lowensten Jensen dan Media Middle Brook Interpretasi pemeriksaan dahak: • • 3 kali pos/2 kali pos. dibuat sediaan apus ditambahkan NaCl 0. c. • • • • • Foto toraks AP Foto lateral Top lordotik CT Scan Bayangan berawan segmen apical dan posterior lobus atas dan segmen superior lobus bawah Pemeriksaan radiologic Gambaran lesi aktif: . 2 kali neg  ulang BTA 3 kali - Bila 1 kali pos. 2 kali neg  BTA pos Bila 3 kali neg  BTA neg Rekomendasi WHO: skala IUATLD • • • • • Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandangan: negatif Ditemukan 1 – 9 BTA: ditulis jumlah kuman Ditemukan 10 – 99 BTA: 1+ Ditemukan 1 – 10 BTA dalam 1 lapang pandangan: 2+ Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandangan: 3+ Pemeriksaan biakan untuk mendeteksi mycobacterium tuberculosis dan mycobacterium other than tuberculosis (MOTT). 1 kali neg BTA pos 1 kali pos.• • • • • • Bilasan lambung Liquor cerebrospinalis Jaringan (biopsy/BJH) Dahak 3 kali (SPS) Cairan ditampung dalam pot Jaringan/BJH.

INH (H). Uji tuberkulin: bermakna bila konversi.S dan obat kombinasi dosis tetap (FDC = Fixed Dose Combination) Obat yang dipakai: . Pemeriksaan histopalogis jaringan 3. BACTEC Polymerase chain reaction (PCR) Pemeriksaan serologi Pemeriksaan khusus Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA) Immuno Chromatographic Tuberculosis (ICT) Mycodot PAP IgG TB H. sel limfosit >>. bula kepositifan besar sekali e. luas tidak lebih dari sela iga 2 depan Lesi luas: Bila proses lebih luas dari lesi minimal d. a. glukosa rendah 2. Pemeriksaan darah: LED meningkat proses aktif 4. b. Piazinamid (Z). 2. e. Analisa cairan pleura: rivalta +. • Fase intensif (2 – 3 bulan) Fase lanjutan (4 – 7 bulan) Lini 1 (obat utama) Rifampisin (R). d.E. 3. Etambutol (E). Pengobatan TB paru Pengobatan TB paru terbagi atas 2 fase: 1.Z. Dengan kemasan obat tunggal dimana obat disajikan secara terpisah masing-masing R. 2. 1.H. Pemeriksaan penunjang lain 1. Streptomisin (S). c.• • • • • • Kaviti lebih dari satu dikelilingi bayangan opak berawan atau nodular Bercak milier Efusi pleura unilateral/bilateral Fibrotic Kalsifikasi Penebalan pleura (schwarte) Lesi minimal: Bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru.

TB paru BTA+.TB kasus berat .Tabel 2.30 15 .RH: R (150 mg)+H(150 mg) Table 3.TB ekstrapulmon al berat .RHZE: R (150 mg)+H(75 mg)+Z(400 mg)+E(275 mg) - Dosi s <40 (mg) 40 – 60 Berat (kg) >6 0 300 150 750 750 Sesu ai BB 450 300 1000 1000 750 600 450 1500 1500 1000 RHZ: R (150 mg)+H(75 mg)+Z(400 mg) R(150 mg)+H(75 mg) .12 4-6 20 .18 10 5 25 15 15 10 10 35 30 15 Intermitten (mg/kgBB/h ari) Dosis Dos is ma ks (mg ) 600 300 100 0 Kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination) Dosis tiap hari . paduan OAT yang dianjurkan pada pengobatan TB Paru Kategori(progra m) I Kasus Paduan OAT Paduan alternatif 2 RHZE/4 RH program nasional . Dosis OAT oba t (mg/kgBB/h ari) Harian (mg/kgBB/h ari) R H Z E S 8 .RH: R (300 mg)+H(150 mg) . luas/kasus berat lesi 2 HRZE/6HE .20 15 .EH: E(400 mg)+H(150 mg) Dosis 3x/minggu - RHZ: R (150 mg)+H (150 mg)+Z(500 mg) . 2 RHZE/4R3H3 kasus baru - BTA-.

dosis harian 15 – 30 (1 g) 2. dosis harian 15 – 30 (1 g) 3. pada fase intensif dan akhir pengobatan • Foto toraks serial stabil • Biakan sputum negatif J. Diagnosa Keperawatan 1. dosis harian 150 (12 g) 2RHZ/4RH 2RHZ/6HE miimal.Ektrapulmonal ringan HIV. Kapreomisin. dosis harian 15 – 20 (1 g) 4.II HIV+ . dosis harian 15 – 30 (1 g) 5. IV Rujuk ke spesialis Untuk mendapat OAT lini 2 I.TB kronik .Gagal pengobatan 2RHZES/1HRZE/5H3 R3E3 2RHZES/1HRZE/5 HRE III .Kambuh . Sikloserin. Kanamisin.TB paru BTA-.Putus berobat .d Pertahanan primer tak adekuat . penurunan kerja silia Kerusakan jaringan Penurunan ketahanan Malnutrisi Terpapar lngkungan Kurang pengetahuan untuk menghindari pemaparan patogen individu . 2RHZ/4R3H3 lesi HIV.Pasien menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko . Asam para-aminosalisilat. Kriteria sembuh • BTA mikroskopik 2 kali negatif.mengidentifkasi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi Kriteria hasil :.MDR TB • Lini 2 (obat tambahan) 1. Etionamid. Resiko tinggi infeksi ( penyebaran / aktivasi ulang ) B.

Kolaboras pemberian oksigen dan obat – obatan sesuai dengan indikasi 3. kecepatan . TTV dalam batas normal Intervensi : 1.Kolaborasi pemberian antibiotik 11. kelemahan . Kaji fungsi pernafasan . tebal . perubahan pola hidup untuk peningkatan lingkungan yang aman. ronchi (-). Beri posisi semi/fowler 4. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat 8. Identifikasi orang lain yang beresiko 3. atelektasis Kerusakan membran alveolar – kapiler Sekret kental . Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari meludah 4. Bersihan jalan nafas tak efektif batuk buruk. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang 7. Dorong memilih makanan seimbang 10. Resiko tinggi / gangguan pertukaran gas B. upaya Tujuan: setelah dilakukan tindakan dalam 1x24 jam Bersihan jalan nafas efektif Kriteria hasil : batuk (-). Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea 5. dan kedalaman serta penggunaan otot asesoris 2. wheezing (-). Awasi suhu sesuai indikasi 6. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara 5.d Penurunan permukaan efektif paru .Laporkan ke departemen kesehatan lokal 2. irama . Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum 9.d adanya secret. Intervensi : 1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi 2. Catat kemampuan unttuk mengeluarkan mukosa / batuk efekttif 3. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml per hari 6.- Menunjukkan teknik . edema tracheal B.

Integrtas 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan B. kemampuan catat turgor kulit . mual . muntah dan catat kemungkinan hhubungan dengan obat 5. Kaji Dipsnea.d Kelemahan Sering batuk / produksi sputum Anorexia Ketidakcukupan sumber keuangan Tujuan: setelah dilakukan tindakan dalam 1 minggu terjadi kenaikan BB Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan BB ½ kg. catat sianosis dan atau perubahan pada warna kulit 3. BB.Takhipnea. Selidiki anorexia .Edema bronchial Tujuan: setelah dilakukan tindakan dalam 1x24 jam terjadi perbaikan pertukaran gas Kriteria Evaluasi : Pasien menunjukkan perbaikan venilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan Intervensi : 1. terbatasnya ekspansi dinding dada . menelan . secara periodik 4. Anjurkan bernafas bibr selama ekshalasi 4. Kolaborasi oksigen 4. Catat status nutrisi pasien pada penerimaan . riwayat mual / muntah atau diare Pastikan pola diet biasa pasien Awasi masukan dan pengeluaran dan BB . menurunnya bunyi nafas .peningkatan upaya pernafasan . mukosa oral . 3. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan atau Bantu aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan 5. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran . menunjukkan perubahan perilaku / pola hidup untuk meningkatkan / mempertahankan BB yang tepat Intervensi : 1. dan kelemahan 2. Dorong dan berikan periode stirahat sering.

Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan . Berikan perwatan mulut sebelum dan sesudah Dorong Dorong makan orang ahli sedikit dan sering dengan tindakan pernafasan. . terdekat diet untuk untuk membawa menentukan makanan dari rumah. Mansjoer dkk . 7. Diagnosis dan Penalaksanan TB Paru.1999. Arifin. 2000. Jakarta . Lynda Juall Carpenito. Divisi infeksi. DAFTAR PUSTAKA Nawas. 2009. Kapita Selekta Kedokteran . 10. Kolaborasi Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadual Awasi pemeriksaan laboratorium Kolaborasi antipiretik pengobatan 1-2 jam sebelum dan sesudah makan. Jakarta Doengoes Marilynn E .6. 11. 8. EGC.Rencana Asuhan Keperawatan .EGC. FK UI . komposisi diet. Jakarta .edisi 3 . makanan tinggi protein dan karbohodrat. edisi 2 . Departemen Pulmonologi Dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI/SMF Paru RSUPsahabatan. Jakarta 1999. 12. 9.

Jakarta . 1999. alih bahasa Peter Anugrah. Tucker dkk. Standart Perawatan Pasien .Sylvia Anderson . 1998. EGC. EGC. Patofisologi : Konsep Klinis Proses – Proses penyakit . Jakarta . edisi 4 .Price. .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->