Anda di halaman 1dari 4

Pemantapan Kelembagaan Pada Gapoktan

Oleh : Warsana SP MSi


Gabungan Kelompok Tani atau GAPOKTAN adalah gabungan dari beberapa
kelompoktani yang melakukan usaha agribisnis di atas prinsip kebersamaan
dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan
usahatani bagi anggotanya dan petani lainnya.

Gapoktan merupakan Wadah Kerjasama Antar Kelompoktani-nelayan (WKAK)


yaitu kumpulan dari beberapa kelompok tani nelayan yang mempunyai
kepentingan yang sama dalam pengembangan komoditas usaha tani tertentu
untuk menggalang kepentingan bersama.

Dalam Kepmentan 2007, dibedakan antara Gapoktan dengan Asosiasi Petani-


Nelayan. Dalam batasan ini, asosiasi adalah kumpulan petani-nelayan yang
sudah mengusahakan satu atau kombinasi beberapa komoditas pertanian
secara komersial.

Untuk meningkatkan skala usaha dan peningkatan usaha ke arah komersial,


kelompok tani dapat dikembangkan melalui kerjasama antar kelompok dengan
membentuk Gapoktan. Pada prinsipnya, baik WKAK ataupun Asisiasi kelompok
tani, apabila sudah memiliki tingkat kemampuan yang tinggi dan telah mampu
mengelola usaha tani secara komersial, serta memerlukan bentuk badan
hukum untuk mengembangkan usahanya, maka dapat ditingkatkan menjadi
bentuk organisasi yang formal dan berbadan hukum, sesuai dengan
kesepakatan para petani anggotanya. Di sini terlihat, bahwa pengembangan
Gapoktan merupakan suatu proses lanjut dari lembaga petani yang sudah
berjalan baik, misalnya kelompok-kelompok tani. Dengan kata lain, adalah tidak
tepat langsung membuat Gapoktan pada wilayah yang secara nyata kelompok-
kelompok taninya tidak berjalan baik. Ketentuan ini sesuai dengan pola
pengembangan kelembagaan secara umum, karena Gapoktan diposisikan
sebagai institusi yang mengkoordinasi lembaga-lembaga fungsional di
bawahnya yaitu para kelompok tani.

Pemberdayaan Gapoktan tersebut berada dalam konteks pemantapan


kelembagaan. Untuk dapat berkembang sistem dan usaha agribisnis
memerlukan penguatan kelembagaan baik kelembagaan petani, maupun
kelembagaan usaha dengan pemerintah berfungsi sesuai dengan perannya
masing-masing. Kelembagaan petani dibina dan dikembangkan berdasarkan
kepentingan masyarakat dan harus tumbuh dan berkembang dari masyarakat
itu sendiri. Kelembagaan pertanian tersebut meliputi kelembagaan penyuluhan
(BPP), kelompok tani, Gapoktan, Koperasi tani (Koptan), penangkar benih,
pengusaha benih, institusi perbenihan lainnya, kios, KUD, pasar desa,
pedagang, asosiasi petani, asosiasi industri olahan, asosiasi benih, P3A, UPJA
dan lain-lain.
Selama ini, kelembagaan telah dijadikan alat yang penting untuk menjalankan
sebuah program. Namun demikian, penggunaan strategi pemantapan
kelembagaan banyak mengalami ketidaktepatan dan kekeliruan. Berikut
diuraikan berbagai permasalahan dalam pemantapan kelembagaan khususnya
bagi kelembagaan yang tergolong ke dalam kelembagaan yang sengaja
diciptakan (enacted institution), agar dapat dihindari:

(I). Kelembagaan-kelembagaan yang dibangun terbatas hanya untuk


memperkuat ikatan-ikatan horizontal, bukan ikatan vertikal. Anggota suatu
kelembagaan terdiri atas orang-orang dengan jenis aktivitas yang sama.
Tujuannya adalah agar terjalin kerjasama yang pada tahap selanjutnya
diharapkan daya tawar mereka dapat meningkat, Kelompok tani misalnya
adalah kelompok orang-orang yang selevel, yaitu pada kegiatan budidaya satu
komoditas tertentu. Untuk ikatan vertikal diserahkan kepada mekanisme pasar,
di mana otoritas pemerintah sulit menjangkaunya.

(2). Sebagian besar kelembagaan dibentuk lebih untuk tujuan distribusi bantuan
dan memudahkan tugas kontrol bagi pelaksana program, bukan untuk
peningkatan social capital masyarakat secara nyata. Adalah hal yang lazim,
setiap program membuat satu organisasi baru, dengan nama yang khas.
Jarang sekali suatu program dari dinas tertentu menggunakan kelompok-
kelompok yang sudah ada.

(3). Menerapkan pola generalisasi, sehingga struktur keorganisasian yang


dibangun relatif seragam, meniru bentuk kelembagaan usahatani padi sawah
irigasi teknis di Pantura Jawa. Hal ini karena pengaruh keberhasilan pilot
project Bimas tahun 1964 di Subang. Pembentukan kelembagaan kurang
mempedulikan komplek hal-hal abstrak yang ada di masyarakat bersangkutan,
yaitu berupa harapan, keinginan, tujuan, prioritas, norma, kebutuhan dan lain-
lain yang sering kali tidak sesuai dengan program yang diintroduksikan. Karena
itulah keberhasilan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada petani
pekebun lada di Lampung Utara tidak sesukses penerapan program tersebut di
Subang Jawa Barat.

(4). Meskipun kelembagaan sudah dibentuk, namun pembinaan yang


dijalankan cenderung individual. yaitu hanya kepada pengurus. Pembinaan
kepada kontak-kontak tani memang lebih murah, namun pendekatan ini tidak
mengajarkan bagaimana meningkatkan kinerja kelompok misalnya karena tidak
ada social learning approach.

(5). Pemantapan kelembagaan selalu menggunakan jalur struktural, dan lemah


dari pamantapan aspek strukturalnya. Struktur organisasi dibangun lebih
dahulu, namun tidak diikuti oleh pemantapan aspek kulturalnya. Sikap
berorganisasi belum tumbuh pada diri pengurus dan anggotanya, meskipun
wadahnya sudah tersedia.

(6). Pemantapan kelembagaan diyakini akan terjadi jika dukungan material


cukup. Sebagai contoh pengembangan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA)
dipahami dengan memberikan bantuan traktor, tresher, pompa air dan lain-lain,
bukan bagaimana mengelolanya dengan manajemen yang baik.

Untuk pemantapan Gapoktan berbagai strategi yang semestinya ditempuh


adalah: Pertama. kelembagaan adalah sebuah opsi bukan keharusan. Apapun
kelembagaan yang akan diintroduksikan di perdesaan, mestilah terlebih dahulu
merumuskan apa kegiatan yang akan dijalankan, baru kemudian dipilih apa
wadah yang dibutuhkan. Jadi, rumuskan dulu aktivitasnya, lalu tentukan
wadahnya.

Berdasarkan konsep sistem agribisnis, aktivitas pertanian perdesaan tidak akan


keluar dari upaya untuk menyediakan sarana produksi pertanian.

Kedua, sediakan waktu yang cukup untuk mengembangkan kelembagaan.


Pihak pelaksana mesti mampu menyesuaikan diri dengan kelembagaan petani
yang akan dikembangkan. Kesalahan selama ini adalah karena menganggap
bahwa permasalahan kelembagaan ada di tingkat petani belaka, bukan pada
superstrukturnya, padahal mungkin permasalahan (dan sumber permasalahan)
ada pada pelaksana. Satu hal yang harus digarisbawahi sebagaimana sudah
sering diingatkan adalah, agar pihak pelaksana menyediakan waktu yang cukup
untuk mengembangkan sampai cukup mandiri. Masa tahun anggaran yang satu
tahun tidak akan cukup untuk menumbuhkan Gapoktan menjadi mandiri.

Ketiga, perlu dihindari sikap yang memandang desa sebagai satu unit interaksi
sosial ekonomi yang otonom dan padu. Meskipun Gapoktan bekerja dalam satu
unit desa, namun perlu dibangun jejaring sosial (social network) dengan
Gapoktan lain. Relasi yang dibangun bukan bersifat hierarkhis administratif,
namun lebih ke fungsional ekonomi. Dalam hal peran Gapoktan sebagai
lembaga pemasaran, maka relasi jangan membatasi diri hanya dengan
lembaga formal. Relasi dengan para pelaku tata niaga, yang cenderung
menerapkan suasana non formal, perlu dibina dengan menerapkan prinsip
saling menguntungkan dan keadilan.

Keempat, Gapoktan lebih banyak berperan di luar aktivitas produksi atau


usahatani, karena kegiatan tersebut telah dijalankan oleh kelompok-kelompok
tani serta petani secara individual. Untuk terlihat dalam mekanisme pasar,
maka Gapoktan harus merancang diri sebagai sebuah kelembagaan ekonomi
dengan beberapa karakteristiknya adalah mengutamakan keuntungan, efesien,
kalkulatif, dan menciptakan relasi-relasi yang personal dengan mitra usaha.

Kelima, Gapoktan hanyalah salah satu komponen dalam pemantapan


kelembagaan masyarakat perdesaan. Lebih khusus lagi, Gapoktan hanya
bergerak di bidang pertanian. Dengan demikian, pemantapan Gapoktan
haruslah berada dalam kerangka strategi yang lebih besar. Gapoktan hanyalah
alat atau wadah untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Sebagaimana
dijelaskan di atas, maka pembentukan dan pemantapan Gapoktan haruslah
berada dalam konteks semangat ekonomi daerah, pemberdayaan masyarakat
dan penumbuhan kemandirian lokal.
Gapoktan hanyalah alat dan merupakan salah satu opsi kelembagaan yang
dapat dipilih. Penggunaan kelembagaan yang hanya semata-mata untuk
mensukseskan kegiatan lain dan bukan untuk pengembangan kelembagaan itu
sendiri, maka hanya akan berakhir dengan lembaga-lembaga Gapoktan yang
semu.
Warsana SP MSi
Penulis adalah Penyuluh Pertanian Muda pada BPTP Jawa Tengah
Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani, 8 April 2009