KENAPA KOPERASI DI NEGARA-NEGARA KAPITALIS/SEMI-KAPITALIS LEBIH MAJU?

1 Tulus Tahi Hamonangan Tambunan FORUM EKONOMI INDONESIA Center for Industry, SME & Business Competition Studies University of Trisakti
1. Latar Belakang Permasalahan Ropke (1987) mendefinisikan koperasi sebagai organisasi bisnis yang para pemilik atau anggotanya adalah juga pelangggan utama perusahaan tersebut (kriteria identitas). Kriteria identitas suatu koperasi akan merupakan dalil atau prinsip identitas yang membedakan unit usaha koperasi dari unit usaha yang lainnya. Berdasarkan definisi tersebut, menurut Hendar dan Kusnadi (2005), kegiatan koperasi secara ekonomis harus mengacu pada prinsip identitas (hakikat ganda) yaitu anggota sebagai pemilik yang sekaligus sebagai pelanggan. Organisasi koperasi dibentuk oleh sekelompok orang yang mengelola perusahaan bersama yang diberi tugas untuk menunjang kegiatan ekonomi individu para anggotanya. Koperasi adalah organisasi otonom, yang berada didalam lingkungan sosial ekonomi, yang menguntungkan setiap anggota, pengurus dan pemimpin dan setiap anggota, pengurus dan pemimpin merumuskan tujuan-tujuannya secara otonom dan mewujudkan tujuan-tujuan itu melalui kegiatan-kegiatan ekonomi yang dilaksanakan secara bersama-sama (Hanel, 1989). Dalam sejarahnya, koperasi sebenarnya bukanlah organisasi usaha yang khas berasal dari Indonesia. Kegiatan berkoperasi dan organisasi koperasi pada mulanya diperkenalkan di Inggris di sekitar abad pertengahan (atau ada yang bilang dimasa revolusi industri di-Inggris) yang diprakarsai oleh seorang industrialis yang sosialis yang bernama Robert Own. Pada waktu itu misi utama berkoperasi adalah untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problem-problem ekonomi dengan menggalang kekuatan mereka sendiri. Berdirinya koperasi buruh tersebut berfungsi membeli barang kebutuhan pokok secara bersama-sama dan memang ternyata bahwa harga di toko koperasi lebih murah jika dibandingkan dengan toko-toko yang bukan koperasi. Ide koperasi ini kemudian menjalar ke AS dan negara-negara lainnya di dunia. Di Indonesia, baru koperasi diperkenalkan pada awal abad 20. Sejak munculnya ide tersebut hingga saat ini, banyak koperasi di negara-negara maju (NM) seperti di Uni Eropa (UE) dan AS sudah menjadi perusahaan-perusahaan besar termasuk di sektor pertanian, industri manufaktur, dan perbankan yang mampu bersaing dengan korporat-korporat kapitalis. Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju (NM) dan negara sedang berkembang (NSB) memang sangat diametral. Di NM koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. Sedangkan, di NSB koperasi dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia pengenalan koperasi memang dilakukan oleh dorongan pemerintah, bahkan sejak pemerintahan penjajahan Belanda telah mulai diperkenalkan. Gerakan koperasi sendiri mendeklarasikan sebagai suatu gerakan sudah dimulai sejak tanggal 12 Juli 1947 melalui Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi (Soetrisno, 2003).
1

Seminar Nasional Perkembangan Koperasi di Indonesia: Prospek dan Tantangan, 15 Agustus 2009, Center for Industry, SME & Business Competition Studies/Ilmu Ekonomi, FE-USAKTI, Jakarta.

1

Kemudian di Perancis yang didorong oleh gerakan kaum buruh yang tertindas oleh kekuatan kapitalis sepanjang abad ke 19 dengan tujuan utamanya 2 . sebab tidak satu lembaga sejenis lainnya yang mampu menyamainya. Pangsa koperasi dalam berbagai kegiatan ekonomi masih relatif kecil. koperasi sebenarnya bukanlah organisasi usaha yang khas berasal dari Indonesia. diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia. tetapi yang aktif mencapai 28.042.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.42% koperasi saja. Sangat banyak orang mengetahui tentang koperasi meski belum tentu sama pemahamannya.000. dalam kata lain. Hingga tahun 2004 tercatat 130. Jumlah koperasi aktif perNovember 2001. Kegiatan berkoperasi dan organisasi koperasi pada mulanya diperkenalkan di Inggris di sekitar abad pertengahan. juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Eksistensi koperasi memang merupakan suatu fenomena tersendiri.180 unit (88. kerjasama untuk kepentingan bersama (gotong royong). dan ketergantungan koperasi terhadap bantuan dan perkuatan dari pihak luar. keberadaan koperasi masih perlu upaya yang sungguh-sungguh untuk ditingkatkan mengikuti tuntutan lingkungan dunia usaha dan lingkungan kehidupan dan kesejahteraan para anggotanya. Sejak kemerdekaan diraih. Di dalamnya terkandung muatan menolong diri sendiri. dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.703 unit. sedangkan yang menjalan rapat tahunan anggota (RAT) hanya 35. dan beberapa esensi moral lainnya. organisasi koperasi selalu memperoleh tempat sendiri dalam struktur perekonomian dan mendapatkan perhatian dari pemerintah. maka pertanyaan utama dari makalah ini adalah kenapa koperasikoperasi di NM. yang sering dikatakan sebagai ekonomi-ekonomi yang kapitalis yang tidak cocok bagi pengembangan koperasi. Sampai dengan bulan November 2001. jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 103. Menurut Merza (2006).730. bisa maju.000 unit lebih. setelah lebih dari 50 tahun keberadaannya. Lembaga koperasi oleh banyak kalangan. kualitas perkembangannya selalu menjadi bahan perdebatan karena tidak jarang koperasi dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya. tetapi sekaligus diharapkan menjadi penyeimbang terhadap pilar ekonomi lainnya. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah koperasi aktif. sedangkan di Indonesia dimana keberadaan koperasi dikaitkan dengan idologi Pancasila malahan tidak berkembang baik? Jadi. Perkembangan Koperasi di dalam Ekonomi Kapitalis dan Semi Kapitalis 2. Pada waktu itu misi utama berkoperasi adalah untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problemproblem ekonomi dengan menggalang kekuatan mereka sendiri. misalnya. berdasarkan data Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Data terakhir tahun 2006 ada 138. lembaga yang namanya koperasi yang diharapkan menjadi pilar atau soko guru perekonomian nasional dan juga lembaga gerakan ekonomi rakyat ternyata tidak berkembang baik seperti di negara-negara maju (NM). Strata ini biasanya berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah kebawah. Keberadaan koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat ditilik dari sisi usianyapun yang sudah lebih dari 50 tahun berarti sudah relatif matang. sebanyak 96. Jadi. Namun uniknya.55%. Sedangkan secara mikro pertanyaan yang mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan anggotanya.Lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan di Indonesia memang sudah diarahkan untuk berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang dikenal sebagai golongan ekonomi lemah. 2. terutama Pemerintah. yang dibahas di makalah ini adalah factor-faktor yang membuat koperasi di NM bisa berkembang dengan baik.411 unit dengan anggota 27. masih sangat besar.000 orang. Berdasarkan fenomena tersebut di atas. Juga.1 Fakta Dalam sejarahnya.342 orang akan tetapi yang aktif 94. dan penciptaan lapangan kerja. pengentasan kemiskinan. secara makro pertanyaan yang paling mendasar berkaitan dengan kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). dari segi kualitas. Oleh karena itu tidak heran kenapa peran koperasi di dalam perekonomian Indonesia masih sering dipertanyakan dan selalu menjadi bahan perdebatan karena tidak jarang koperasi dimanfaatkan di luar kepentingan generiknya. di Indonesia. apalagi juga hanya sebagian kecil dari populasi bangsa ini yang mampu berkoperasi secara benar dan konsisten.14 persen).

215 4. Seperti yang dapat dilihat di Tabel 1.1. Yang sangat menarik dari laporan ini adalah bahwa sebagian besar dari 300 koperasi terbesar itu berasal dari NM. hal ini ditegaskan di dalam Undang-undang (UU) Dasar 1945 Pasal 33 mengenai sistem perekonomian nasional.7%). Sebanyak 300 koperasi terbesar di dunia (Global 300) berdasarkan nilai omset memiliki nilai aset sekitar 30-40 triliun dollar AS dan omset tahunan 963 miliar dollar AS. yakni sekitar 32.314 177. di dunia ada sekitar 800 juta orang yang menjadi anggota koperasi.914 23. Di Indonesia. hanya Korea yang masuk di dalam daftar 10 besar. 1993). dari NSB. UE dan Jepang.7. Spanyol.951 398.556 15. masing-masing pada posisi ke 9. Perancis dan Inggris. Ide koperasi ini kemudian menjalar ke AS dan negara-negara lainnya di dunia. di NSB koperasi dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.6%. Dalam kasus Indonesia. Masih menurut laporan ICA (2006) tersebut. baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintahan bangsa sendiri setelah kemerdekaan (Soetrisno.779 16.651 17. 2. dan keuangan/asuransi (21.711 22. Di NM koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar. Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di NM dan NSB memang sangat diametral. dan perbankan yang mampu bersaing dengan korporat-korporat kapitalis.dan 6.898 46.746 31. Oleh karena itu kesadaran antara kesamaan dan kemuliaan tujuan negara dan gerakan koperasi dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat ditonjolkan di NSB. Berbagai peraturan perundangan yang mengatur koperasi dilahirkan dan juga dibentuk departemen atau kementerian khusus yakni Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dengan maksud mendukung perkembangan koperasi di dalam negeri. 2001). disusul oleh ritel (24.155 Total aset (dollar AS) 14. terutama Amerika Utara. 300 koperasi tersebut sebagai satu kelompok menjadi ekonomi terkuat no 10 di dunia untuk periode 2004. Jerman.986 14. Sejak munculnya ide tersebut hingga saat ini. dan memberi jaminan kehidupan bagi sekitar 3 miliar orang. Pada posisi teratas adalah AS.102 86. banyak koperasi di negara-negara maju (NM) seperti di Uni Eropa (UE) dan AS sudah menjadi perusahaanperusahaan besar termasuk di sektor pertanian.1 Di Tingkat Dunia Menurut data dari laporan tahunan 2006 dari International Co-operative Alliance (ICA. Tabel 1: Sepuluh Besar Koperasi di Dunia Nama Zen-Noh (National Federation of Agricultural Co-operatives) 2 Zenkyoren 3 Crédit Agricole Group 4 Nationwide Mutual Insurance Company 5 National Agricultural Cooperative Federation (NACF) 6 Groupama 7 Migros 8 The Co-operative Group 9 Edeka Zentrale AG 10 Mondragon Corporation Sumber: ICA (2006) No 1 Negara Jepang Jepang Perancis AS Korea Perancis Swis Inggris Jerman Spanyol Tahun didirikan 1948 1951 1897 1925 1961 1899 1925 1863 1898 1956 Omset (dollar AS) 53. industri manufaktur. sebagian besar dari 300 koperasi terbesar itu adalah koperasi-koperasi industri makanan dan pertanian. Diperkirakan koperasi-koperasi di dunia secara total mengerjakan lebih dari 100 juta orang. lima (5) besar negara di mana sumbangan dari koperasi terhadap produk domestik bruto (PDB) terbesar adalah dari NM (Tabel 2).8%).657 14. disusul oleh Jepang.669 21. Sekitar 20% lebih dari jumlah koperasi yang ada diciptakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. 8. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya.164 3 .membangun suatu ekonomi alternatif dari asosiasi-asosiasi koperasi menggantikan perusahaan-perusahaan milik kapitalis (Moene dan Wallerstein.218 1.161 157. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Sedangkan. Dengan nilai ini.680 32. Italia. setelah Kanada. dan China. 2006).656 25. oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Menurut sektor.235. baru koperasi diperkenalkan pada awal abad 20.

0 10. koperasi S-Group punya 1. diantaranya menciptakan kesempatan kerja untuk 440 ribu orang.0 2. yakni MD Foods (produk-produk susu) dan Danish Crown (daging) masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE berdasarkan nilai omset pada tahun 1995. Misalnya. Avonmore (13245). Di Denmark. Di Sweden. yakni Arla dengan omset 1. Finlandia dan Siprus. 50% dari produksi telor. dan 2. Pangsa PDB (%) 16. koperasi-koperasi konsumen memegang 25% dari pasar. pangsa pasar dari bank-bank koperasi mencapai sekitar 1/3 dari total bank yang ada. pada tahun 2004 koperasi-koperasi konsumen meguasai pasar 37% dan dua koperasi pertaniannya.397 juta ecu. Salah satu sektor dimana koperasi sangat besar perannya adalah perbankan.2 9. dan Kerry Group (6000) 4 . dengan omset mencapai 2. sekitar 20 juta orang (atau 1 dari 4 orang) adalah anggota koperasi. Di negara-negara Skandinavia. 34% dari produk-produk kehutanan. Di perdagangan ritel. 260 anggota.572 anggota yang mewakili 62% dari jumlah rumah tangga di negara tersebut.9 11. Di sektor perbankan di negara-negara seperti Perancis. diperkirakan sekitar 9. dan menangani sekitar 34. Di Inggris. dan RHG (fungsi multi) dengan penghasilan 1. Grup-grup koperasi dari Pellervo bertanggung jawab untuk 74% dari produk-produk daging.8 juta orang adalah anggota koperasi. 1999). Sedangkan di Irlandia.5% dari pasar pada tahun 2004. 47 anggota dan 5. dan mengerjakan 6020 orang.5 persen di Swiss.1 13. 1 dari 3 orang (atau 1.393. koperasi menjadi soko guru perekonomian dan mempunyai suatu sejarah yang sangat panjang.681 miliar ecu dengan 8919 petani sebagai anggota dan mengerjakan 3678 orang.133 juta ecu dengan 117. masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE. dan pada tahun 1995 satu koperasi pertaniannya dari subsektor susu masuk 20 besar di EU. Pada tahun itu. Koperasikoperasi susu bertanggung jawab untuk 99% dari produksi susu. anggota 10365 orang. Pada tahun 1995.542 juta ecu dan mengerjakan 10794 orang. Austria. penghasilan MD Foods mencapai 1. koperasi-koperasi konsumen memegang 17.101 pekerja. bank koperasi Raifaissen sangat maju dan penting peranannya. Suatu studi dari Eurostat (2001) di tujuh negara Eropa menunjukkan bahwa pangsa dari koperasi-koperasi dalam menciptaan kesempatan kerja mencapai sekitar 1 persen di Perancis dan Portugal hingga 3.369 miliar ecu. yakni Baywa (fungsi multi) dengan penghasilan 3.783 anggota. 96% dari produk-produk susu. dan pertanian merupakan sektor di mana peran koperasi sangat besar. Bahkan 2 (dua) bank terbesar di Eropa milik koperasi yakni "Credit Agricole" di Perancis dan RABO-Bank di Netherlands. koperasi-koperasi konsumsi merupakan pionir dari penciptaan rantai perdagangan ritel modern (Furlough dan Strikwerda.577 miliar ecu dengan 12560 orang anggota dan 6965 pekerja. menurut data ICA (1998a). dengan jumlah anggota tercatat sebanyak 18 ribu orang dan memberi kesempatan kerja ke 300 orang.5 juta orang) adalah anggota koperasi. 2001). Di Finlandia.7% dari jumlah ekspor ikan. koperasi-koperasi perikanan bertanggung jawab untuk 8. Sektor lainnya adalah pariwisata. dan koperasi-koperasi kehutanan bertanggung jawab untuk 76% dari produksi kayu.Tabel 2: Lima Besar Negara dengan Pangsa PDB terbesar dari Koperasi Negara Finlandia Selandia Baru Swis Belanda Norwegia Sumber: ICA (2006). Biro perjalanan swasta terbesar di negara itu adalah sebuah koperasi.2% dari jumlah deposito di bank-bank di negara tersebut.468. ada dua koperasi dari Jerman yang masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE.5 juta dari jumlah populasi 4. Milk Marque. dengan kantor-kantor cabangnya di kota maupun desa. Pada tahun 1995. koperasi-koperasi pertaniannya yang juga masuk di dalam kelompok besar tersebut adalah The Irish Dairy Board (jumlah anggota: 71). sedangkan Danish Crown hampir mencapai 1.2 Eropa Di Eropa koperasi tumbuh terutama melalui koperasi kredit dan koperasi konsumen yang kuat hingga disegani oleh berbagai kekuatan. dan koperasi yang jumlahnya mencapai 8106 unit telah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian negara tersebut. koperasi produk-produk susu.946 pekerja.000.1.000 ecu.790 juta ecu. Pada tahun 1995. dua koperasinya yang masuk di dalam 20 koperasi pertanian terbesar di Uni Eropa (UE) adalah Metsaliitto (kayu) dengan penghasilan 3. Di Jerman. dan Valio (produk-produk susu) dengan penghasilan 1. Di Norwegia. Kredit sebagai kebutuhan universal bagi umat manusia terlepas dari kedudukannya sebagai produsen maupun konsumen dan penerima penghasilan tetap atau bukan adalah anggota potensial dari koperasi kredit (Soetrisno.

1. dan koperasi farmasinya memiliki pangsa pasar sekitar 19. sejak tahun 1980an banyak koperasi yang masuk di dalam Undang-undang perusahaan.yang semuanya di bidang produksi susu dengan omset antara 1. surplus dikembalikan ke anggota-anggotanya dalam bentuk bonus atau lainnya sesuai keterlibatan mereka di dalam koperasi. 2004). 2001). terdapat lebih dari 700 koperasi yang mengerjakan hampir 75 ribu orang. 5 . pemasokan bahan baku/input. Pada tahun 1995 berdasarkan omset tahunannya. Koperasi Sunkis di California mensuplai bahan dasar untuk pabrik Coca Cola. Data 2002 menunjukkan bahwa pada tahun itu. Cebeco Handelsrand (input dan produksi pertanian). Jumlah kesempatan kerja yang diciptakan oleh ketiga koperasi susu tersebut mencapai antara 2010 hingga 6426 orang.933 unit. Misalnya. dan Greenery/VTN (buah-buahan dan sayur-sayuran). Ini artinya bahwa koperasi tidak dapat diakhiri dan aset-asetnya didistribusikan untuk keuntungan pribadi.19 juta petani sebagai anggotanya (banyak dari mereka menjadi anggota dari lebih dari 1 koperasi.2 Di Perancis jumlah koperasi tercatat sebanyak 21 ribu unit yang memberi pekerjaan kepada 700 ribu orang. Dengan demikian pabrik Coca Cola cukup membeli sunkis dari koperasi Sunkis yang dimiliki oleh para petani sunkis (Mutis.523.463. dengan penghasilan paling kecil 1. Socopa untuk daging dengan 1. sedangkan di Italia terdapat 70400 koperasi yang mengerjakan hampir 1 juta orang pada tahun 2005. banyak koperasi yang mengadopsi prinsip dari ‘kepemilikan bersama’. yakni Sodiaal untuk produkproduk susu dengan omset hampir mencapai 2. Belanda.4% dari makanan nasional dan penjualan-penjualan eceran umum pada tahun 2004. di Hongaria. Namun demikian. dan Land O’ Lakes. bentuk koperasi-koperasi tradisional adalah yang disebut 'bona fide co-operative' dibawah undang-undang Industrial and Provident Societies.3Beberapa koperasi pertanian yang sangat maju di AS adalah Agrilink.3 Amerika Utara Sementara itu. yang dibatasi oleh saham-saham atau oleh garansi.346 miliar ecu (VTN) hingga terbesar 3.5%. yakni Campina Melkunie (produk-produk susu). Contoh lain adalah perdagangan bunga. Di Slovakia. Salah satu adalah Rabo Bank milik koperasi yang adalah bank ketiga terbesar dan konon bank ke 13 terbesar di dunia. dan suatu saham modal nol atau nominal. Dalam suatu upaya untuk tetap bisa bertahan. koperasikoperasi pertanian bertanggung jawab untuk 72% dari produksi susu.T. tetapi bentuk-bentuk legal lainnya juga digunakan. 2. pertanian dan enerji. koperasi di AS juga kuat di sektor-sektor lainnya termasuk. dan yang terkait dengan pelayanan-pelayanan petani lainnya. pada tahun 2001 tercatat jumlah koperasi mencapai 29. Salah satu koperasi yang sangat besar adalah koperasi kredit (credit union) yang jumlah anggotanya mencapai sekitar 80 juta orang dengan rata-rata jumlah simpanannya 3000 dollar (Mutis. 2 Di Inggris. industri. 2001).527. koperasi-koperasi susu bertanggung jawab untuk 75% dari produksi susu di dalam negeri. Sekitar 90% lebih distribusi listrik desa di AS dikuasai oleh koperasi. Koperasi di pertanian terfokus pada kegiatankegiatan berikut ini: pemasaran produk-produk pertanian. Lebih dari 30 koperasi punya penghasilan tahunan lebih dari 1 miliar dollar AS. dan UNCAA untuk input-input dan produk-produk daging dengan omset 1. ada sekitar 27 ribu lebih koperasi pertanian dengan sekitar 156. Di Polandia. Jumlah ini paling besar di antara kelompok NM. dan 77% dari produksi kentang. Ada banyak koperasi yang juga membayarkan dividen kepada anggota sesuai saham mereka di koperasi. 45% dari gandum. Friesland Dairy Foods (produk-produk susu).900 ribu ecu. 2005).3 juta ecu hingga 1. koperasi juga sangat maju. Dairy Farmers of America. Cenex Harvest States. Coberco (produk-produk susu). Di negara tetangganya Belgia. 79% dari sapi. Begitu pentingnya peran koperasi kredit ini sehingga para buruh di Amerika Serikat (seperti juga di Kanada) sering memberikan julukan koperasi kredit sebagai “bank rakyat”. Di Slovenia. Selain di sektor kredit.3 juta ecu. jumlah anggota paling sedikit 50 orang (Cebeco) dan terbanyak 17850 orang (VTN) dan jumlah pekerja paling sedikit 3000 orang (Dumeco) dan terbanyak 7490 orang (Friesland). Belanda juga punya banyak koperasi yang berkecimpung di sektor pertanian yang masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE. 3 Di AS.1 miliar ecu (Campina). yang dimiliki oleh anggota dan memberikan layanan kepada anggotanya pula (Mulyo.99 miliar ecu. kebanyakan koperasi adalah dalam bentuk perusahaan-perusahaan P. sehingga pabrik tersebut tidak perlu membuat kebun sendiri. Di negara-negara Eropa Timur. tiga koperasi di Perancis masuk 20 koperasi pertanian terbesar di EU. Di Negara Paman Sam ini koperasi kredit berperan penting terutama di lingkungan industri. bersama dengan suatu ketentuan yang menetapkan pembubaran altruistik.6 miliar ecu. Mayoritas perdagangan bunga di negara ini digerakkan oleh koperasi bunga yang dimiliki oleh para petani setempat. di AS 1 dari 4 orang (atau sekitar 25% dari jumlah pendudu) adalah anggota koperasi. misalnya dalam pemantauan kepemilikan saham karyawan dan menyalurkan gaji karyawan. Koperasi di AS terutama sangat penting di pertanian. Farmland. Untuk koperasi-koperasi yang tidak mengeluarkan dividen. Demeco (daging). tetapi koperasinya sangat maju.. Fasilitas untuk ‘mengunci’ secara legal aset-aset dari sebuah koperasi dengan cara ini mulai diberlakukan pada tahun 2004. Mereka menguasai kurang lebih 28% hingga 30% pangsa pasar (Zeuli dan Cropp. walaupun negaranya sangat kecil. koperasi-koperasi konsumen bertanggung jawab terhadap 14.

000 (Alta. bahan-bahan kebutuhan produksi pertanian/petani. Tabel 4: Lima Besar Koperasi Non-Keuangan di Kanada berdasarkan Omset Peringkat 2006 2005 1 1 2 3 4 2 3 4 Nama Federated Co-operatives Limited.000 3. bahan-bahan bangunan Makanan. tingkat survival jangka panjang dari perusahaanperusahaan koperasi hampir dua kali lipat dari perusahaan-perusahaan non-koperasi. sebanyak 250 ribu produsen mandiri tergantung pada pemasaran dan produksi koperasi untuk kehidupan mereka. Jumlah koperasi di negara tersebut mencapai 8800 unit yang mempekerjakan secara langsung 150 ribu orang. Di propinsi ini sendiri. banyak koperasi mendirikan industri pupuk dan di sektor pertambangan. farmasi. barang-barang konsumen. Koperasi (termasuk koperasi kredit atau credit union) mengerjakan lebih dari 160 ribu orang.000 313. Misalnya koperasi-koperasi gula menguasai sekitar 35% dari produksi gula dunia.543.000 549. 2002 Sektor Pertanian Perdagangan besar/Groseri Keuangan Komunikasi enerji Peringkat keras dan lumber Lainnya Sumber: Zeuli dan Cropp (2002).699.php?s1=info_coop&page=intro). Di sektor pertanian.Pada tahun 2002 jumlah koperasi di negara adi daya ini tercatat mencapai 48 ribu unit di hampir semua jalur bisnis.413. atau sekitar 4 dari setiap 10 penduduk di negara tersebut. Di seluruh negara itu.749 Aset ($) 2.759.000 1.117. La Coop fédérée Total Omset ($) 5. Banyak koperasinya yang memiliki pangsa yang cukup besar di pasar global. diperingkat menurut omset.175.) Sumber: Pemerintah Kanada (http://www.682. Tabel 3: 100 Koperasi terbesar menurut Omset dan Sektor Bisnis di AS. memberikan pelayanan kepada 120 juta anggota. 100 koperasi terbesar di AS.624.006. Paling tidak. bahan-bahan baku keperluan petani Produk-produk makanan seperti susu dll. perikanan. Lima besar koperasi non-keuangan di Kanada berdasarkan omset diperlihatkan di Tabel 4. dan manufaktur lainnya.agr. menurut suatu penelitian tahun 2001 yang dilakukan oleh Menteri Industri dan Perdagangan Québec (dikutip dari ICA).2 9. Koperasi-koperasi di Kanada memiliki aset dengan nilai lebih dari 20 miliar dollar Kanada.000 Kegiatan Utama Agropur Coopérative 2. secara individu menciptakan paling sedikit 346 juta dollar AS dan dalam total mencapai 119 miliar dollar AS pada tahun tersebut (Zeuli dan Cropp. Gerakan koperasi the Desjardins (koperasi tabungan dan kredit) dengan lebih dari 5 juta anggota adalah pencipta kesempatan kerja terbesar di Propinsi Québec. minyak. biro perjalanan 6 . Grosir. kerajinan.000 Co-operative Limited 5 5 Calgary Co-op Assn Ltd.8 6. penyulingan minyak.959.5 Menurut ICA. 925. 7 koperasi masuk di dalam 500 besar perusahaan-perusahaan Kanada. Jumlah koperasi 41 18 12 16 6 7 Omset (juta dollar AS) 58 26. minyak. dan di Saskatchewan sekitar 55% dari jumlah populasinya. di Kanada 4 dari setiap 10 orang (atau sekitar 33% dari jumlah populasinya) adalah anggota paling sedikit satu koperasi.ca/rcs-src/coop/index_e.361. Hal yang sangat menarik adalah bahwa. Minyak.000 845.004.1 10.000 United Farmers of Alberta 1. dan sejumlah koperasi keuangan dinilai sebagai tempat terbaik untuk bekerja di negara itu. banyak koperasi yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengeboran minyak bumi. sekitar 70% dari jumlah penduduk adalah anggota koperasi. dimana mereka memenuhi kebutuhan produsen-produsen di pertanian.342.gc.7 8. 2002) (Tabel 3).058. Koperasi-koperasi non-keuangan menghasilkan omset mendekati 30 miliar dollar Kanada rata-rata/tahun. Koperasi-koperasi di Kanada terutama sangat penting di perdesaan dan wilayahwilayah terpencil.284. yang dimiliki oleh anggota dan masyarakat yang dilayaninya. bahan-bahan bangunan Supermarket.785.

Koperasi menjadi wadah perekonomian pedesaan yang berbasis pertanian. (4) FCG punya suatu hubungan kontraktual dengan produsen-produsennya yang harus punya satu bagian dari stok susu FCG untuk setiap kilo dari susu yang akan diserahkannya. penggabungan itu diharapkan bisa membuat FCG mampu merealisasikan skala ekonomis. dan Tip Top. koperasi-koperasi pertanian punya anggota lebih dari 2 juta petani (90% dari jumlah petani). Kiwi Cooperative Dairies (Kiwi) dan New Zealand Dairy Group (NZDG) mendominasi industri susu di SB dan mereka adalah pesaing-pesaing berat. Kanada dan Finlandia mampu menjadi pesaing terkuat perusahaan raksasa ritel asing yang mencoba masuk ke negara tersebut (Mutis. yakni bank Nurinchukin bank (Rahardjo. Kedua tujuan ini mempromosikan penggabungan dua tipe yang teridentifikasi dari penghematanpenghematan biaya-biaya. (3) FCG bukan sepenuhnya suatu koperasi berdasarkan keanggotaan karena koperasi itu harus menerima pemasok-pemasok baru. Tahun 2000. dan menghasilkan output sebanyak 11 miliar dollar AS. Koperasi konsumen di Singapura.4 Asia Di Jepang.1. Bahkan di beberapa negara tersebut. 2. Banyak studi-studi kasus atau laporan-laporan mengenai keberhasilan dari koperasi-koperasi di NM. dengan 7% dari PDB negara itu. 1 dari setiap 3 keluarga adalah anggota koperasi. selain di SB.300 anggota dan fasilitasfasilitas produksi di Brazil dan Australia. dan perusahaan susu terbesar ke empat di dunia (http://fonterra. Menurut website-nya. mereka berusaha untuk mengarahkan perusahaannya agar berbentuk koperasi. koperasi-koperasi tersebut tidak hanya mampu selama ini bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar non-koperasi. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa koperasi lahir pertama kali di Eropa yang juga merupakan tempat lahirnya sistem ekonomi kapitalis. Pertama. Sebaliknya.2. Di negara-negara Asia lainnya dengan tingkat pembangunan ekonominya yang sudah relatif tinggi seperti Singapura dan Korea Selatan. FCG adalah korporasi terbesar di SB. FCG cocok dengan definisi dari suatu generasi baru dari koperasi dalam banyak hal: (1) koperasi tersebut dimiliki dan diawasi oleh pemakai (dengan pemberian suara berdasarkan jumlah susu yang diserahkan bukan berdasarkan satu orang-satu suara). diantaranya Anchor. yang berarti biaya ratarata. FCG punya sekitar 12. Peran koperasi di pedesaan Jepang telah menggantikan fungsi bank sehingga koperasi sering disebut pula sebagai “bank rakyat” karena koperasi tersebut beroperasi dengan menerapkan sistem perbankan. Kedua. 2002). Tahun 1996 ada 14 koperasi susu di SB. dan dua yang kecil berbasis regional yang beroperasi di SB. Dalam suatu jangka waktu yang relatif pendek. FCG melalui Kiwi Dairies dan NZDG memiliki sejumlah merek konsumen yang sangat kuat. Koperasi-koperasi di subsektor perikanan memiliki pangsa 71%. menyumbang sekitar 20% dari cadangan devisa SB. yang berarti juga harga jual rata-rata per satu unit output menjadi murah. Bahkan salah satu bank besar di Jepang adalah koperasi. (2) keuntungan-keuntungan dibagikan berdasarkan pemakaian. Pendirian FCG waktu itu diharapkan bisa meningkatkan kemampuan dari industri susu SB untuk bersaing di pasarpasar internasional. tetapi mereka juga menyumbang terhadap kemajuan ekonomi dari negara-negara kapitalis tersebut. Di Korea Selatan. rasionalisasi dari rantai suplai diharapkan dapat menciptakan penghematanpenghematan yang substansial. peran koperasi juga sangat besar. Misalnya dari Trechter (2005) mengenai the Fonterra Cooperative Group (FCG) di Selandia Baru (SB) dan the Australian Wheat Board (AWB). Koperasi-koperasi pertanian menghasilkan output sekitar 90 miliar dollar AS dengan 91% dari jumlah petani di negara tersebut sebagai anggota.2 Faktor-faktor Keberhasilan: Pembelajaran Bagi Koperasi Indonesia Hebatnya perkembangan dari koperasi-koperasi di negara-negara maju tersebut memberi kesan bahwa koperasi tidak bertentangan dengan ekonomi kapitalis. seperti juga di misalnya Jepang. Tujuan utama dari didirikannya FCG adalah untuk mencapai penghematan biaya-biaya dan untuk menyediakan suatu landasan yang lebih efektif untuk bisa bersaing di pasar-pasar susu global. yakni FCG. Dengan membangun perusahaan yang berbentuk koperasi diharapkan masyarakat setempat mempunyai peluang besar untuk memanfaatkan potensi dan asset ekonomi yang ada di daerahnya (Mulyo. 7 .com). Peters and Brownes. FCG secara cepat memperluas pengaruhnya di pasar susu di Australia dengan membeli Australian Food Holdings. bagian dari National Food dan upaya-upaya yang sedang dilakukan untuk memperluas kepemilikannya dari Koperasi Bonlac dari 25% ke 50%. 2003). 2004). pemasaran susu di SB telah berubah dari suatu sektor yang terfrakmentasi ke dalam sejumlah koperasi yang saling bersaing ke satu sektor yang didominasi oleh satu koperasi. Negosiasi-negosiasi antara Kiwi dan NZDG yang akhirnya membuat terbentuknya FCG sangat lama dan alot. Sekarang hanya ada satu koperasi susu yang besar. Koperasi-koperasi konsumennya memegang 55% dari pasar dalam pembelian-pembelian supermarket dan mempunyai suatu penghasilan sebesar 700 juta dollar AS. Fasilitas-fasilitas dan posisi-posisi yang duplikat dieliminasi lewat penggabungan itu. Di Singapura 50% dari jumlah populasinya adalah anggota koperasi.

lewat anggotanya koperasi tersebut bisa melacak bahan baku yang lebih murah. reputasi. (3) sangat memahami rantai produksi dari produk bersangkutan. Pada tahun 2001 AWB ekspor lebih dari 15 juta mt. Menurutnya satu-satunya keunggulan kompetitif sebenarnya dari koperasi adalah hubungannya dengan anggota. selain faktor-faktor di atas. Dalam menghadapi perubahan-perubahan tersebut. (ii) sumber-sumber bukan tangible seperti brand name. prosedur-prosedur parlemen. AWB punya saham 3% dari jumlah ekspor dan 12% dari ekspor pertanian Australia. ini bukan suatu keunggulan kompetitif yang sebenarnya dari koperasi.Karakteristik penting lainnya dari FCG adalah bahwa koperasi tersebut mempunyai suatu fokus yang kuat pada pembuatan produk-produk yang bervariasi yang menciptakan kesetiaan pembeli dan harga premium. Berdasarkan penelitian mereka tehadap perkembangan dari koperasi-koperasi pekerja di AS Lawless dan Reynolds (2004) memberikan beberapa kriteria kunci dan praktek-praktek terbaik. (2) pengetahuan yang unik mengenai produk atau proses produksi.tanggung jawab yang didefinisikan secara jelas. AWB juga memiliki suatu sejarah yang panjang. Sedangkan menurut Pitman (2005) dari hasil penelitiannya terhadap kinerja berbagai macam koperasi di Wisconsin (AS). (3) kreatif dalam pendanaan (jadi tidak hanya tergantung pada kontribusi anggota. penasehat-penasehat dan ahli-ahli dari luas secara efektif. Peterson (2005). dan (iii) kapabilitas atau kompetensi-kompetensi inti yakni kemampuan yang kompleks untuk melakukan suatu rangkaian pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan kompetitif (misalnya proses inovasi dari 3M). salah satu yang harus dilakukan koperasi untuk bisa memang dalam persaingan adalah menciptakan efisiensi biaya. Menurutnya. (2) menerapkan struktur organisasi yang tepat yang merefleksikan dan mempromosikan suatu kultur terbaik yang cocok terhadap bisnis bersangkutan (antara lain kondisi pasar/persiangan dan sifat produk atau proses produksi dari produk bersangkutan). menurutnya. dan (7) mengembangkan kebijakan-kebijakan yang jelas terhadap konfidensial dan konflik kepentingan. Jadi. dan (4) mempunyai orientasi bisnis yang kuat. penemuan-penemuan material baru yang bisa menghasilkan output lebih murah. Keunggulan kompetitif disini didefinisikan sebagai suatu kekuatan organisasional yang secara jelas menempatkan suatu perusahaan di posisi terdepan dibandingkan pesaing-pesaingnya. AWB memegang saham terbesar kedua (17%) dari penjualan-penjualan di pasar gandum global. koperasi yang berhasil adalah koperasi yang melakukan hal-hal berikut ini: (1) memakai komite-komite. dan (5) terlibat aktif dalam produk-produk yang mempunyai tren-tren yang meningkat atau prospek-prospek masa depan yang bagus (jadi mengembangkan kesempatan yang sangat tepat). (2) struktur organisasi atau pola manajemen yang diterapkan sepenuhnya didukung oleh anggota (sistem manajemen bisa secara kolektif atau dengan suatu struktur hirarki manajemen/dewan pengurus. (3) melakukan rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan bisnis dengan memakai agenda yang teratur. (4) mempertahankan relasi-relasi yang baik antara manajemen dan dewan direktur/pengurus dengan tugastugas dan tanggung jawab. Misalnya. Di dalam konteks Australia dan pasar gandum global. dsb.. gandum dan mempunyai pembelipembeli di lebih dari 40 negara. Faktor-faktor keunggulan kompetitif dari koperasi harus datang dari: (1) sumber-sumber tangible seperti kualitas atau keunikan dari produk yang dipasarkan (misalnya formula Coca-Cola Coke) dan kekuatan modal. kemajuan teknologi. Menurut mereka. mengatakan bahwa koperasi harus memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif dibandingkan organisasi-organisasi bisnis lainnya untuk bisa menang dalam persaingan di dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Pada tahun 2001. (4) terapkan suatu strategi yang cemerlang yang bisa merespons secara tepat dan cepat setiap perubahan pasar. baik kualitasnya. ringan. tahan lama. Loyd (2001) menegaskan bahwa koperasi-koperasi perlu memahami apa yang bisa membuat mereka menjadi unggul di pasar yang mengalami perubahan yang semakin cepat akibat banyak faktor multi termasuk kemajuan teknologi. dan pengambil keputusan yang demokrasi. dan makin banyaknya pesaingpesaing baru dalam skala yang lebih besar. dan mempersentasikan laporan-laporan keuangan secara regular. dan pola manajemen yang diterapkan (misalnya tim manajemen dari IBM). (5) mengikuti praktek-praktek akutansi yang baik. AWB adalah pemain utama. dan (4) punya pendanaan yang cukup. (2) selalu memberikan informasi yang lengkap dan up to date kepada anggota-anggotanya sehingga mereka tetap terlibat dan suportif. (6) mengembangkan aliansi-aliansi dengan koperasikoperasi lainnya. faktor-faktor kunci yang menentukan keberhasilan koperasi adalah: (1) posisi pasar yang kuat (antara lain dengan mengeksploitasikan kesempatan-kesempatan vertikal dan mendorong integrasi konsumen). dll.nya. peningkatan pendapatan masyarakat yang membuat perubahan selera pembeli. Sedangkan best practices menurut mereka adalah termasuk: (1) anggota sepenuhnya memahami industri-industri atau sektor-sektor yang mereka guleti dan kekuatankekuatan serta kelemahan-kelemahan dari koperasi mereka. Didirikan oleh pemerintah Australia pada tahun 1939 dan memberikan otoritas untuk mengekspor gandum. perubahan pola persaingan. (3) punya suatu misi yang didefinisikan secara jelas dan fokus. 8 . tetapi juga lewat penjualan saham ke nonanggota atau pinjam dari bank). sedangkan perusahaan non-koperasi harus mengeluarkan uang untuk mencari bahan baku murah. kriteria-kriteria kunci untuk memulai suatu koperasi yang berhasil adalah sebagai berikut: (1) memiliki kepemimpinan yang visioner yang bisa “membaca” kecenderungan perkembangan pasar. di koperasi produksi komoditas-komoditas pertanian. Tetapi ini juga bisa ditiru/dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain (nonkoperasi).

9 . sedangkan banyak lainnya sedang mengalami kesulitan-kesulitan keuangan.(Barr. Sebagai tambahan.859. Dari pengamatannya terhadap perkembangan koperasi di AS. Perkembangan-perkembangan tersebut memberi kesan bahwa koperasi-koperasi di California mungkin semakin mengalami kesulitan untuk bersaing dalam iklim bisnis pertanian saat ini dengan persaingan yang semakin ketat dari produk-produk luar negeri termasuk dari China. banyak yang merespons dengan melakukan perubahan structural. Saat jumlah petani menurun dan jumlah produksi per petani meningkat. Industri-industri yang memasok petani (bibit. Mereka harus bisa membaca perkembangan tren-tren di pasar domestik dan global.Keeling (2005) meneliti mengapa dalam beberapa tahun belakangan ini banyak koperasi-koperasi besar di California termasuk dua yang terkenal Tri-Valley Growers (TVG) dan the Rice Growers Association (RGA) telah tutup. Vandeburg. Diantaranya yang paling menonjol adalah: (1) menerapkan strategi yang rasional yang cocok dengan lingkungan bisnisnya yang berlaku untuk bisa tetap beroperasi. dan pada tahun 1997 jumlahnya merosot ke 1. bekerja sama. diantara faktor-faktor kunci lainnya. Pada tahun 1969 terdapat 2. (2) mempunyai suatu visi yang lebih luas dari hanya memproduksi bahan baku (produsen perlu memahami apa artinya menanam dalam nilai tambah). RGA dan TVG tutup terutama akibat kombinasi dari sejumlah faktor berikut: (1) kurangnya pendidikan dan pengawasan dari dewan direktur/pengurus. dan mengimplementasikan suatu struktur keuangan yang baik. suatu penurunan 30%. (2) manajemen yang tidak efektif. para anggota juga harus aktif memonitor kinerja dari koperasi. (3) keputusan-keputusan didasarkan pada informasi yang kredibel. Saat seperti ini dimana koperasi-koperasi lokal berjuang untuk menghadapi tantangan-tantangan seperti itu. Nello (2000) memberikan sejumlah langkah yang harus diambil agar koperasi pertanian bisa 4 Lihat misalnya Cummins (1993) dan Warman (1994). McKenna (2001) menjabarkan sejumlah karakteristik dari koperasi yang berhasil. setiap individu pembeli produk-produk pertanian menjadi sangat penting bagi koperasi koperasi lokal pemasok dan pemasaran produkproduk pertanian. akibat persaingan dari produk-produk pertanian dari luar negeri dan perubahan pola konsumsi. 2005). masing-masing dengan daya beli yang lebih besar.4 Dari penelitian mereka. Dari penemuan tersebut. dan (6) punya keinginan menjadi “yang paling hebat di kelompoknya” vs. hasil studi tersebut mendukung hipotesis awal bahwa. Di NM koperasi terutama di pertanian saat ini sedang mengalami perubahan akibat persaingan global yang semakin sengit dan perubahan selera konsumen. pupuk dll. Selain itu. (5) pemilik atau dewan direktur bisa memimpin dengan baik (dewan direktur yang lebih banyak diambil dari luar bisa menaikkan kemampuannya untuk membuat keputusan-keputusan strategis) . kualitas dari manajer atau dewan direktur sangatlah krusial. dkk. dan melakukan aliansi strategis dengan koperasikoperasi lainnya atau dengan perusahaan-perusahaan berorientasi investor. Ini artinya pilihan menjadi lebih sedikit bagi koperasi saat harus menetapkan membeli dari dan menjual kepada siapa. mereka menyimpulkan bahwa langkah-langkah seperti itu adalah sangat tetap agar koperasi-koperasi pertanian bisa survive atau tetap kompetitif dalam kondisi seperti yang digambarkan di atas. Mereka harus bisa merespons secara cepat dan tepat setiap perubahan yang terjadi. dewan direktur bertanggung jawab dalam menyeleksi manajer yang berkualitas. manajemen dan direktur yang efektif dalam arti cepat mengambil suatu keputusan yang tepat dalam merespons terhadap perkembangan-perkembangan bisnis terkait (misalnya perubahan pasar atau masuknya pesaing-pesaing baru) sangat menentukan keberhasilan suatu koperasi. Sedangkan bagi Anderson dan Henehan (2003). ratarata skala usaha petani meningkat. Akhirnya. koperasi-koperasi pertanian tersebut yang menghadapi pembeli yang lebih sedikit. akuisisi.730. perusahaanperusahaan kunci di industri-industri tersebut dalam banyak kasus juga merupakan koperasi pemasok-pemasok dan pembeli-pembeli lokal produk-produk pertanian. (4) keuangan baik. yang menyisakan lebih sedikit jumlah pemain untuk bersaing mendapatkan bisnis dari sisa produsen yang masih ada. Pada waktu yang sama.250 petani di negara tersebut. Pada waktu bersamaan. baik yang sedang berlangsung saat ini maupun kemungkinankemungkinan yang akan terjadi di masa depan.) dan industri-industri pengolahan produk-produk pertanian sedang mengalami suatu periode dari konsolidasi. Kemudian. mengembangkan suatu strategi yang kuat. Mereka harus memastikan bahwa dengan langkah-langkah yang cepat koperasi mereka bisa mendapatkan keberhasilan-keberhasilan yang maksimum. dewan dan manajemennya. Menurut mereka. (2000) menemukan banyak manajer-manajer koperasi lokal melakukan perubahan struktural dengan cara bergabung.911. Dan untuk mendapatkan direktur-direktur berkualitas adalah tugas para anggota untuk memilih mereka. Di AS. bersaing lebih agresif satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan pembeli/keuntungan. koperasi yang bisa berhasil atau paling tidak yang bisa survive dalam era persaingan yang semakin ketat ini. dan (3) keanggotaan yang pasif. telah terjadi konsolidasi dari produksi pertanian. “menambah rantai nilai”. adalah yang dipimpin oleh dewan direktur berkualitas. (6) memakai/mengerjakan manajer professional (ini juga meningkatkan kinerja koperasi). Dari penelitiannya terhadap perkembangan koperasi pertanian dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh koperasi di Uni Eropa (UE). yang mengurangi daya tawar dari koperasi lokal tersebut. Tetapi di atas segalanya.

c).wisc. dan dengan cara itu menolong petani untuk memenuhi permintaan-permintaan yang meningkat dari konsumen untuk produk-produk makanan yang bervariasi. (4) program-program SDM. (3) memperbaiki kualitas dan menaikkan orientasi pasar. yakni tanpa memberi perhatian pada hal-hal seperti dinamik-dinamik internal. yakni sebagai berikut: (1) membangun suatu sistem koperasi yang menyatukan peran lokal dan peran regional. Gentil (1990) menegaskan bahwa agar koperasi maju maka hubungan antara pemerintah dan koperasi yang didefinisikan ulang. Dari evaluasinya. Bahkan 2 (dua) bank terbesar di Eropa milik koperasi yakni "Credit Agricole" di Perancis. Misalnya menurut Soetrisno (2001.edu/uwcc (University of Wisconsin Center for Cooperatives). Pesan paling utama dari Larson untuk koperasi-koperasi lokal adalah bahwa kinerja keuangan yang solid sangat penting. Soetrisno melihat ada beberapa syarat agar koperasi bisa maju. pembungkusan. dan pendidikan dari anggota. menstabilkan harga produsen. (2) menciptakan penghasilan yang cukup (atau menaikkan profit). (2) menciptakan kesempatan atau kemampuan petani untuk mengeksploit skala ekonomis dan meningkatkan kapasitas mereka untuk bersaing pada suatu pasar yang lebih besar (misalnya pasar ekspor). kredit seperti di Perancis dan Belanda dan produsen yang berkembang pesat di daratan Amerika. Pada akhirnya penjumlahan keseluruhan transaksi para anggota harus menghasilkan suatu volume penjualan yang mampu mendapatkan penerimaan koperasi yang layak dimana hal ini ditentukan oleh rata-rata tingkat pendapatan atau skala kegiatan ekonomi anggota. dan harapan-harapan yang tidak realistic dari peran dari koperasi.power point dari para pembicara) dari konferensi ini dan konferensi pada tahun-tahun sebelumnya atau sesudahnya dapat dilihat di alamat berikut ini: www. yakni: (i) skala usaha koperasi harus layak secara ekonomi. (1991). model-model keberhasilan koperasi di dunia umumnya berangkat dari tiga kutub besar. dan meningkatkan kekuatan tawar dari petani-petani (anggotanya). insentif. Diantaranya dari Larson. dkk. dan (6) menjamin sumber pendanaan yang cukup. dewan direktur dan organisasi koperasi untuk meningkatkan kepuasan anggota. dkk. yang antara lain adalah (1) menghilangkan ketidakunggulan dari petani-petani skala kecil yang terfregmentasi dengan cara membantu mereka untuk mengkonsentrasi suplai. Masih dalam kaitan ini. yaitu konsumen seperti di Inggris. Menurut Braverman. Nevada (AS)5menghasilkan beberapa butir penting yang disampaikan oleh pembicara-pembicara mengenai tantangan yang dihadapi oleh koperasi pada era sekarang ini. (4) membantu petani untuk bisa memperbaiki kualitas dalam proses produksi. Jadi koperasi telah gagal untuk berkembang menjadi unit-unit yang mandiri dan sepenuhnya berdasarkan anggota. Menurut mereka. dan spesifik regional (spesialisasi). 2001 di Las Vegas. kredit (simpan-pinjam) dapat menjadi platform dasar menumbuhkan koperasi. Selain studi-studi kasus di atas. RABO-Bank di Netherlands Nurinchukin 10 . 6(ii) koperasi harus memiliki cakupan kegiatan yang menjangkau kebutuhan masyarakat luas. Braverman. masalah-masalah struktural dan kontrol. koperasi-koperasi harus mempunyai tujuan-tujuan penggerak/peningkatan kinerja. Dengan membandingkan koperasi perdesaan di Belanda dengan di Afrika Sub-Sahara.berkembang dengan baik. khususnya AS dan di beberapa negara di Eropa. aman. dalam kata lain bagaimana koperasi lokal dan koperasi regional bisa bekerja sama untuk jangka panjang). kesulitan lingkungan-lingkungan ekonomi dan politik. problem yang paling signifikan adalah cara bagaimana koperasi itu dipromosikan oleh pemerintah. Bentuk-bentuk organisasi dan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan diatur oleh pihak luar. sedikit sekali perhatian diberikan kepada kondisi-kondisi ekonomi dimana koperasi-koperasi diharapkan melakukan berbagai aktivitas. Faktor-faktor internal terutama adalah keterbatasan partisipasi anggota.7(iii) posisi koperasi produsen yang menghadapi dilema bilateral monopoli 5 Hasil lengkapnya (termasuk makalah-makalah dan/atau power point. Koperasi sering diharapkan bahkan di paksa berfungsi sebagai kesejahteraan sosial dan sekaligus sebagai organisasi ekonomi. Sedangkan faktor-faktor eksternal terutama adalah intervensi pemerintah yang terlalu besar yang sering didorong oleh donor. Linstad (1990) mengatakan bahwa di banyak NB sering kali pemerintah melihat dan menggunakan koperasi sebagai suatu alat untuk menjalankan agenda-agenda pembangunannya sendiri. (1991) menyimpulkan bahwa buruknya kinerja koperasi di Afrika Sub-Sahara (atau di banyak negara berkembang (NB) pada umumnya) disebabkan oleh sejumlah faktor yang bisa dibedakan antara faktor-faktor eksternal diluar kontrol koperasi dan faktor-faktor internal. Oktober 29-20. (5) memperbaiki kinerja manajemen. Rangkuman dari hasil Konferensi Tahunan Koperasi-Koperasi Petani. dan (5) mengembangkan dan melaksanakan suatu strategi e-commerce. Promosi yang sifatnya dari atas ke bawah telah menghalangi anggota untuk aktif berpartisipasi dalam pembangunan koperasi. 6 Dukungan belanja rumah tangga baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen sangat penting untuk menunjang kelayakan bisnis perusahaan koperasi. (3) mengembangkan atau menyempurnakan strategi dan keahlian pemasaran (mensegmentasikan pasar hanya permulaan). beberapa pengamat koperasi di Indonesia juga mencoba mengevaluasi keberhasilan koperasi di NM. sering kali telah membuat koperasi-koperasi menjadi organisasi-organisasi birokrasi yang sangat tergantung pada dukungan pemerintah dan politik.b. yang dengan sendirinya memberi beban sangat berat kepada struktur manajemen koperasi yang pada umumnya lemah. Promosi koperasi yang tidak diskriminatif. dan kesalahan manajemen. struktur kontrol. 2003a. Oleh karena itu. penyimpanan dan lain sebagainya sesuai standar-standar internasional yang berlaku. 7 Didaratan Eropa koperasi tumbuh melalui koperasi kredit dan koperasi konsumen yang kuat hingga disegani oleh berbagai kekuatan.

Penyebab lainnya.766 117. per 31 Mei 2007 terdapat 138. dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.3 27.000 unit lebih.. 11 . diantaranya 104.342 orang akan tetapi yang aktif 94.00 9 * Lihat lampiran untuk data paling akhir (September 2008) dan menurut propinsi. Kredit sebagai kebutuhan universal bagi umat manusia terlepas dari kedudukannya sebagai produsen maupun konsumen dan penerima penghasilan tetap atau bukan adalah "potensial customer-member" dari koperasi kredit (Soetrisno. 27.. jumlah koperasi tahun 2007 mencapai 149. dan kebijakan yang digulirkan tidak mendukung pengembangan koperasi rakyat. 9 Menurutnya.800 76.10 bank di Jepang dan lain-lain. pada dasarnya sebagai tanggapan terhadap dibukanya secara luas pendirian koperasi dengan pencabutan Inpres 4/1984 dan lahirnya Inpres 18/1998.20 93. .000 103.. yang diberitakan di Kompas. Misalnya.703 unit.000 orang. sedangkan yang menjalan rapat tahunan anggota (RAT) hanya 35.818 71. Koperasi aktif Jumlah % RAT (% dari koperasi aktif . 8 Soetrisno (2001) mengamati bahwa baik di NSB maupun di NM ada contoh-contoh koperasi yang berhasil yang mempunyai kesamaan yaitu koperasi peternak sapi perah dan koperasi produsen susu.. 78.7 24.5 27.50 94. pemerintah kurang menjalankan perannya sebagai pembina koperasi.402 71. Dengan demikian koperasi terbukti merupakan kerjasama pasar yang tangguh untuk menghadapi ketidakadilan pasar..menjadi akar memperkuat posisi tawar koperasi.9Informasi terakhir dari Triyatna (2009). tetapi yang aktif mencapai 71.0 . jumlah koperasi aktif tumbuh 6.793 Jumlah anggota (juta orang) . Kamis.001 27.077 110.9 93. juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.738 149.99 70. Ia memberi contoh. sebanyak 96. Disamping itu hampir di setiap negara menunjukkan adanya koperasi kredit yang kuat seperti Credit Union di Amerika Utara dan lain-lain.181 130.7 . . 1998-2007* Periode Des. sampai dengan bulan November 2001. namun 30 persennya belum aktif. Sumber: Menegkop & UKM Mengenai jumlah koperasi yang meningkat cukup pesat sejak krisis ekonomi 1997/98. Tahun 2006 tercatat ada 138. baik besar maupun kecil.6 49. 3. jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 103. Hingga tahun 2004 tercatat 130. Jumlah koperasi aktif.0 94.730 132.4 46..708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.906 123.8dan pendidikan dan peningkatan teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan kekuatan koperasi (pengembangan SDM).1 104. perbankan juga kerap tidak berpihak pada koperasi kecil. Selama periode 2006-2007.42% koperasi saja.. atau sekitar 70% dari jumlah koperasi dan sisanya 44.3 96.8 41..411 unit dengan anggota 27.. Sedangkan menurut Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). .7%. 1998 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah unit 52.999 aktif.1% sedangkan laju pertumbuhan koperasi tidak aktif sekitar 5. Corak ketergantungan yang tinggi kegiatan produksi yang teratur dan kontinyu menjadikan hubungan antara anggota dan koperasi sangat kukuh.708 70. kebijakan pemerintah yang menyebabkan koperasi pasar tradisional semakin tersingkir oleh pasar modern. sehingga anggota koperasi kekurangan modal untuk tabungan. Koperasi kecil kerap kesulitan mendapat pinjaman modal untuk pengembangan usaha.180 unit (88. 2001). keberhasilan universal koperasi produsen susu.50%.6 47.9 46. 40.14 persen). salah satu penyebabnya adalah keterbatasan modal yang dialami banyak koperasi untuk mengembangkan usaha mereka. Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil.c).4 28.730.793 units.042. Hal ini merupakan salah satu imbas kenaikan harga bahan bakar minyak tahun 2004 lalu.3 47. Tabel 4: Perkembangan Usaha Koperasi.180 81. di NM dan NSB nampaknya terletak pada keserasian struktur pasar dengan kehadiran koperasi..1 .965 141.794 non-aktif (Tabel 4).000 koperasi di Indonesia. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Sehingga orang bebas mendirikan koperasi pada basis pengembangan dan hingga 2001 sudah lebih dari 35 basis pengorganisasian koperasi. Jumlah koperasi aktif per-November 2001. Potret Singkat Kinerja Koperasi di Indonesia Berdasarkan data resmi dari Departemen Koperasi dan UKM. Adi Sasono.3 23. menurut Soetrisno (2003a. Menurutnya. 86.

3.131 2007 . pertumbuhan SHU sekitar 7. Keadaan ini menimbulkan kesulitan pada pengembangan aliansi bisnis maupun pengembangan usaha koperasi kearah penyatuan vertikal maupun horizontal.71 34. Hingga akhir 2002.164 2005 0. Fenomena yang bisa disebut efek demand-pull.54 5. Dari sisi permintaan (pasar output).7%.470 * Lihat lampiran untuk data paling akhir (September 2008) dan menurut propinsi. Dari sisi penawaran (pasar input.55 23.1 5. Oleh karena itu jenjang pengorganisasian yang lebih tinggi harus mendorong kembalinya pola spesialisasi koperasi. pendapatan per kapita yang tinggi yang membuat prospek pasar output baik. hubungan antara koperasi aktif dan kondisi ekonomi atau pendapatan per kapita bisa positif atau negatif. memberi suatu insentif bagi perkembangan aktivitas koperasi karena pelaku-pelaku koperasi melihat besarnya peluang pasar (ceteris paribus).730 3. Pertanyaan sekarang adalah kenapa jumlah koperasi atau proporsi koperasi aktif berbeda menurut propinsi? Apakah mungkin ada hubungan erat dengan kondisi ekonomi yang jika diukur dengan pendapatan atau produk domestic regional bruto (PDRB) per kapita memang berbeda antar propinsi? Secara teori.649 2.11 Daftar Pustaka Namun demikian.72 38.Salah satu indikator yang umum digunakan untuk mengukur kinerja koperasi adalah perkembangan volume usaha dan sisa hasil usaha (SHU).583 1.09 4.1 triliun rupiah tahun 2000 ke hampir 54.00 8.684 1. Dengan demikian walaupun program pemerintah cukup gencar dan menimbulkan distorsi pada pertumbuhan kemandirian koperasi.279 2006 0. Menurut data paling akhir yang ada yang dikutip oleh Triyatna (2009).91 5.761 3.63 31. Tabel 5: Perkembangan Usaha Koperasi. pada tahun 2007 jumlah SHU koperasi aktif mencapai 3. Berdasarkan data propinsi 2006. 2003c). posisi koperasi dalam pasar perkreditan mikro menempati tempat kedua setelah Bank Rakyat Indonesia (BRI)-unit desa sebesar 46% dari KSP/USP dengan pangsa sekitar 31%. 2000 0.. Sehingga pada dasarnya masih besar elemen untuk tumbuhnya kemandirian koperasi (Soetrisno. Data yang ada menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut mengalami peningkatan selama periode 2000-2006. menurut data BPS. . 10 12 .851 2. Untuk volume usaha. dalam hal ini petani atau produsen).8 triliun rupiah tahun 2006. sedangkan SHU dari 695 miliar rupiah tahun 2000 ke 3. jumlah usaha kecil dan menengah (UKM) setiap tahun meningkat? Apakah peningkatan tersebut mencerminkan perkembangan kewirausahaan (demand-pull) atau suatu refleksi dari tingginya jumlah pengangguran atau tingkat kemiskinan (supply-push).1 triliun rupiah tahun 2006.9% dan modal luar 5.72 ..134 2002 0. Sementara itu dilihat dari populasi koperasi yang terkait dengan program pemerintah hanya sekitar 25% dari populasi koperasi atau sekitar 35% dari populasi koperasi aktif.58 26.. Fenomena yang dapat disebut supply-push.71 37.872 2004 0. 2000-2006* Periode Rasio modal sendiri dan modal luar Volume usaha (Rp miliar) SHU (Rp miliar) SHU terhadap volume usaha (%) 3. pengorganisasian koperasi tidak lagi taat pada penjenisan koperasi sesuai prinsip dasar pendirian koperasi atau insentif terhadap koperasi.75 6. menurut Soetrisno (2001).122 695 2001 0.77 54. tetapi hanya menyentuh sebagian dari populasi koperasi yang ada. nilainya naik dari hampir 23. kenapa. Sumber: Menegkop & UKM Memasuki tahun 2000 koperasi Indonesia didominasi oleh koperasi kredit yang menguasai antara 55%-60% dari keseluruhan aset koperasi. atau pasar output dalam kondisi booming. (Tabel 5)..470 miliar rupiah sedangkan modal luar koperasi aktif sekitar 23.324 miliar rupiah. Selama periode 2006-2007.090 2003 0. pendapatan per kapita yang tinggi yang menciptakan peluang pasar atau peningkatan penghasilan bagi individu petani atau produsen bisa menjadi suatu faktor disinsentif bagi kebutuhan para petani atau produsen untuk membentuk koperasi. 11 Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan. jumlah koperasi dan jumlah koperasi aktif sebagai persentase dari jumlah koperasi bervariasi antar propinsi.

Missouri Anderson. Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan. August.C. C. Avishay. Stern (1984). 1840-1990. August. “Four Faces of Global Culture”. Human Resource Development Working Group. Brown. Vincent (1999).W6904.. “Economic Growth and Policy Reform in the APEC Region: Trade and Welfare Implications by 2005”. Washington. Development Indicators 2003. Report 30. “Indonesian Trade Liberalization: Estimating The Gains”. “A Pilot Study on Co-operatives.C.C. Lucian Cernat. The Legal Environment of Business. Henehan (2003)” What Gives Cooperatives A Bad Name. Anis. “State Incorporation Statutes for Farmer Cooperatives”. Halifax. November 7-8. The Case of Sub-Saharan Africa”. (1982). Baldwin. Barr. Juli 8-10. dan Samuel P. dan Kym Anderson (ed. UWCC Staff Paper No. ”Promoting Rural Coperatives in Developing Countries. dan Erwidodo (2002). Economic Committee of APEC. Bonin. Asia Pacific Economic Review. Crook. Tom Hertel dan Will Martin (1997). “ The Impact of Trade Liberalization on Labor Markets in the Asia Pacific Region”. Thomas (2000). J. Clive (2001). “Learning to Manage the Co-operative Difference”. J. D.J. XXV(4). Fundamental Differences”. Global Economic Prospects and the Developing Countries 2000. National Interest.. D. Juli. Lexus dan Pohon Zaitun. London: Royal Institute of International Affairs. 5(3). “Effects of AFTA and APEC Trade Policy Reform on Indonesia Agriculture”. The Economist. Kansas City. “Globalization and its Critics”. Mari Pangestu. No. “The Impact of Trade Liberalization in APEC”. Oktober. Thomas (2002). Nagler. University of Adelaide. IA: Wm. 49. Bulletin of Indonesian Economic Studies. dan Alessandro Turrini (2002). Peter L. Conry. The Journal Of Developing Areas. Chamard. Friedman. Johnston (1997). 31: 1290-1320 Bora. D. Chatham House Papers. Washington. NBER.14. Schroeder (2004). “The Optimal Monetary Policy Instruments: The Case Of Indonesia”.R. Policy Issues in International Trade and Commodities Study Series No. Peter L. London: HarperCollins. Tubagus Feridhanusetyawan. “Penggunaan Suku Bunga Sebagai sasaran Operasional Kebijakan Moneter di Indonesia”. Manchester: Manchester University Press. World Bank Discussion Papars. Mutuals. 4:371-406 Amy M. Tubagus (1997). Monika Huppi. Betina Dimaranan. “Indonesia’s Monetary Policy Dilemma–Constraints Of Inflation Targeting”. Development Indicators 2000. dan P. New York dan Geneva: UNCTAD Braverman. dan Brian M. Chowdhury. Boediono (1998). Aldrich. Fox (1986). Berger. John P. Jones dan Louis Putterman (1993). Cambridge Mass. Washington. Adelaide.. “Trade Liberalization in Asia Pacific: A Global CGE Approach”.”makalah dalam the NCR 194 Meeting.C. “Institutions and Agricultural Cooperatives in Wyoming”.: Rowman & Littlefield 13 .: The World Bank. John dan Tom Webb (2004).” ACS Research Report Number 117. Trade and the Environment. Feridhanusetyawan. Dubuque. Bank Dunia (2003). “Two Waves of Globalization: Superficial Similarities. The Lexus and the Olive Tree. “Corn Belt Grain Cooperatives Adjust to Challenges of 1980s. Bruce L. Report by the Network for Economic Development Management. 39(1). “Resource Mobilization and the Creation of US Producer Cooperatives”. G. Associations and Foundations”. (1997). “Trends in Global Market and Implications for Farm Policy and Cooperatives”. D. dalam Randy Stringer. Many Globalizations: Cultural Diversity in the Contemporary World. makalah dalam the 12th IAFEP conference. Poised for 1990s. Bank Dunia (2000b). Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Singapore: APEC Secretary. Cummins.:United States Department of Agriculture.C. USA Berger. Birchall. dan Hermanto Siregar (2004). Singapore: APEC Secretary APEC (1999). “Globalization and Global Governance”. September. (2005). Tubagus. 3(1).121. Huntingdon (ed. Agricultural Cooperative Service. Derek C. The International Co-operative Movement. Center for International Economic Studies. 37(2). Economic and Industrial Democracy. “Duty and Quota-Free Access for LDCs: Further Evidence from CGE Modelling”. Nova Scotia. makalah dalam the 8 th Annual Farmer Cooperatives Conference. Luis Guasch. “Theoretical and Empirical Studies of Producer Cooperatives: Will Ever the Twain Meet?”. Howard dan Robert N. Yoga (2002). Baarda. Oxford: Oxford University Press. North America and Japan. Kym.)(1999). D. Washington. The Indonesian Quarterly. 29. Memahami Globalisasi. USDA-Agricultural Cooperative Service. Feridhanusetyawan Tubagus dan Mari Pangestu (2003). NBER Working Paper NO. D. David E. Bandung: ITB Furlough. Feridhanusetyawan. (1993). Menkhaus dan Alan C.C. dan Lorenz Pohlmeier (1991). Info. Dale J.)(2002). Consumers Against Capitalism? Consumer Cooperation in Europe.R. April. Ferrera dan K. Cable.4. Journal of Economic Literature. Terry N. Bijit. Robert E.Affandi. Washington. Ellen dan Carl Strikwerda (ed.H. Washington. APEC (1997). Bank Dunia (2000a). University of Wisconsin Center for Cooperatives Anderson. Friedman. Eurostat (2001). E.). Martin (1999). Lanham. MI. Luxembourg: Eurostat. Erwidodo. Indonesia in a Reforming World Economy: Effects on Agriculture.

Ferry dan Sugiharso Safuan (2004).: the World Bank. (2001).) ICA (2006). MA: Belknap Press. An Introduction to Positive Economics. “An APEC Food System: Implications for Welfare and Income Distribution by 2005”. Working Paper. Washington.). “Growing World Trade: Causes and Consequences”. Jennifer J. Lawless. University of Wisconsin Center for Cooperatives. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. makalah dalam the Rocky Mountain Farmers Union Leadership Roundup. 29:3-18. Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi: Pengujian Hipotesis Ekspektasi Rasional dengan Analisis VAR”. UWCC Staff Paper No. “The Case of Missing Organizations: Co-operatives and the Textbooks”. Seri Kajian Global.html. Thomas (2001).C. D. Bruno (2005). “What’s the Value of Cooperatives?”. Jerry. “Globalisasi Kemiskinan & Ketimpangan. 28(2): 509-17 Krugman.) ICA (1998b). Wahl (1999). mimeo. Lipsey.: the World Bank.3. July. McKinsey & Company Mander. Hakim. Yogyakarta: EKONISIA. Desember. Geneva: International Co-operative Alliance (http://www. D.1748. Jakarta: Program Studi Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEUI dan ISEI. Dominique (1990).org/statistics. Greg dan Anne Reynolds (2004). D. Seri Kajian Global. Roderick (2000). ”Support of Informal Self-Help and Cooperative Groups”. Richard G. Accountability and Efficiency. “Cooperatives as Tools for Development”. 18:342-57 Jossa. (1979). Debi Barber. Oktober 29.coop. J. Halwani. 1. Paul dan Grahame Thompson (1999). Jurnal Ekonomi Rakyat. Hill. Klinedinst. Hansmann. Jakarta: Ghalia Indonesia. “Worker Cooperatives: Case Studies. Giddins. “Lessons in Cooperative Failure: The Rice Growers Association Experience”. September. Runaway World-Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita. The Ownership of Enterprise.Gentil. February. Cambridge Journal of Economics. (1995). J. Olav (1990). Journal of Economic Issues. Loyd. dalam International Forum on Globalization. Policy Research Working Paper No. P. edisi kedua. Hariyono (2003). Marxism and the Cooperative Movement”. Geneva: International Co-operative Alliance (http://www. dan David Korten (2003). April. Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I. Globalization in Question: The International Economy and The Possibilities of Governance.S. WY. “Statistics and Information on European Co-operatives”.M. Moene. Jones. “Koperasi Sebagai Strategi Pengembangan Ekonomi Pancasila”. “Pengaruh tingkat suku bunga domestik riil terhadap nilai tukar riil dan cadangan devisa di Indonesia periode 1992. “Unions versus Cooperatives”. Department of Agricultural and Resource Economics University of California. makalah dalam Seminar Bank Dunia mengenai ”Donor Support for the Promotion of Rural Cooperatives in Developing Countries: Special Emphasis SubSaharan Africa”. Kalmi. Ingco.org/statistics. II(4). Oktober 29-30. Keeling. London: Weidenfeld and Nicolson Llosa. Panu (2006). McKenna. “Kebijakan Moneter. Ekonomi Pembangunan. Firman dan Sugiharso Safuan (2004). Cheyenne. Industrial Relations. Cambridge. Cambridge: Polity Press. Lembaga Penerbit FE-UI. ICA (1998a). Working Papers W-398. Bernard (2001). (2005). 31(3): 281-95 Hirst.” The Disappearance of Co-operatives from Economics Textbooks”. 1998”. Globalisasi Perangkap Negara-negara Selatan. “A New Cooperative Structure for the 21 Processing Cooperative Law”. (1997). Irawan. Mark dan Hitomi Sato (1994).html. dalam Ian Vàsquez (ed. Las Vegas. Cetakan kedua. edisi ke 2. Madison. “The Japanese Cooperative Sector”. makalah dalam Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I. makalah dalam Farmer Cooperatives Conference”. Cambridge University Press. “Marx. dan Bo Gustafsson (eds.: Cato Institute. Martin (2002).html. Journal of Economic Education. makalah. makalah dalam Farmer Cooperative Conference.C. Januari 16-17. Hendra (2002). Washington. Desember. Helsinki School of Economics.. Brookings Paper on Economic Acticity. Ekonomi Koperasi.: The World Bank.).org/statistics. Hanson. R.). “U. Januari 16-17. Jatnika. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. 22 Sept. Juli. Key Criteria & Best Practices”.C. Gilbert. Washington. Herbert Gintis. Vargas (2000). Washington. “Positioning for Peformance: Reshaping Co-ops for Success in the 21st Century”. “Liberalism in the New Millennium”.C. 14 .12”. makalah dalam makalah dalam Seminar Bank Dunia mengenai ”Donor Support for the Promotion of Rural Cooperatives in Developing Countries: Special Emphasis SubSaharan Africa”.1-2002. Jakarta. dalam Samuel Bowles. Jakarta: Program Studi Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEUI dan ISEI.coop. Abdul (2004). Geneva: International Co-operative Alliance (http://www. Karl Ove dan Michael Wallerstain (1993). “Globalisasi Membantu Kaum Miskin?”. Scollay dan T. Lindstad. Hendar dan Kusnadi (2005). New Zealand. (1980). Markets and Democracy Participation. “Has Agricultural Trade Liberalization Improve Welfare in the Least-Developed Countries? Yes”. Merlinda D. Annual Report 2006.coop. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. “Latest ICA Statistics of July 1. R. Henry (1996). Las Vegas. D. APEC Study Center. Global Fortune: The Stumble and Rise of World Capitalism. Anthony (2001). Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Producer Cooperatives: The Record to Date”. Derek C. Davis Khor.

and Environmental Science. Economics. Inc. edisi ke 3.lib. mimeo. mimeo. Yoke (2004). 2(XVI). Sumarsono. edisi kedua. dan J. R. II(5). Kompas. 15 . Kompas. “Cooperatives in Wisconsin”. Pohlmeler. D. New York: W. (2002b). Samuelson. “Prospek Sektor Pertanian Indonesia pada Era Pemanasan Global”. Tiktik Sartika dan Abd. Pengantar Teori Ekonomi. (1994). New Zealand. Jakarta: Program Studi Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEUI dan ISEI Mutis. ”Pasang Surut Perkembangan Koperasi di Dunia dan Indonesia”. Pitman. (1997). D. Dawam M. Jakarta: Graha Ilmu. Bandung. International Edition. Suherman (1996). May. The Economic Theory of Cooperative Enterprises in Developing Countries. W. Jangkung Handoyo (2004). “Globalization: The Past in Our Future. (1999).: Overseas Development Council. Soetrisno. 9 Agustus. Institut Manajemen Koperasi Indonesia. D. “The Role of Agricultural Cooperatives in the European Union: A Strategy for Cypriot Accession?”. and Economic Performance. Dawam M. Noer (2003c). Madison. D. Second Critical Study on Cooperative Legislation and policy Reform. Yogyakarta: BPFE. Elan (1997). New Zealand. Subyakto. GATT and the South.umn. European University Institute. Satriawan. (2002a).W. Making Globalization Work. Nordhaus (1992).C. ”Satu Nuansa. Partomo. R. Wayne (1997). Ekonomi Skala Kecil/Menengah dan Koperasi. Gilbert (2000) “Measuring the Gains from APEC Trade Liberalization: An Overview of CGE Assessments”. R. Scollay. RAPA. Geneva: UNCTAD. Norton & Company. Economics. Marburg: University of Marburg. No. Penang: Third World Network Rahardjo. Sonny (2003). Ruttan. Soetrisno. November Muelgini. Scollay. Merajut Kekuatan Ekonomi Rakyat”. D. With Special Reference of Indonesia. Tokyo: McGraw Hill KMgakusha. R. 4(2). Lynn (2005). APEC Study Center. University of Wisconsin Center for Cooperatives. APEC Study Center. The Indonesian Indicator. Jakarta: Karunika. Singapura: McGraw Hill. Mulyo. Nafziger. Ekonomi Pembangunan: Proses. (2002). “An APEC Food System: Trade and Welfare Implications by 2005”. Prentice-Hall International. Ravi dan Garry Conan (2002). New Zealand. Januari 16-17. Lorenz (1990). Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro & Makro. PT Elex Media Komputindo dan BUMN Executive Club. Paul A. E. Noer (2001). Jakarta. Chakravarty (1990). “The Impact of Trade Liberalization on Export and GDP Growth in Least Developed Countries”. Peterson. Jurnal Ekonomi Rakyat. Gilbert (1999b). “Wajah Koperasi Tani dan Nelayan di Indonesia: Sebuah Tinjauan Kritis”. “Searching for a Cooperative Competitive Advantage”.85.2000/42. Rachman Soejoedono (2002). The Global Economy and Developing Countries: Making Openness Work. Institutional Change. “Development Policies in Indonesia and the Growth of Cooperatives”.11. mimeo. Soetrisno. Shavaeddin. Sugiharto (2007). University of Minnesota. Demokrasi Ekonomi dan Ekonomi Kerakyatan”. Media Ekonomi. Soetrisno. New York dan Geneva: UNCTAD Shankar. Susan Senior (2000). Jurnal Ekonomi Rakyat.pdf). Ropke. edisi ke 9. Discussion Paper No. Jakarta: FE-UI. ”Social science knowledge and institutional innovation”. The Economics of Developing Countries. Ltd. dan J. Sukirno (1985). Food. Instrans. Vernon. Rodrik. Gilbert (2001). Jumat. makalah. Membangun Sistem Ekonomi. Solikin (2004). Washington. mimeo. “Apa Kabar Koperasi Indonesia”. “An Integrated Approach to Agricultural Trade and Development Issues: Exploring the Welfare and Distribution Issues”. Sadono. “Koperasi Indonesia: Potret dan Tantangan”. Joseph (2006). Bunga Rampai 20 Pokok Pemikiran Tentang Koperasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. “Recent Developments in the World Bank’s Approach to Cooperative Support in Africa”. Teori dan Praktek. Paul A. Thoby (2001). “Measuring the Gains from APEC Trade Liberalization: An Overview of CGE Assessments”. Ekonomi Koperasi II. North. Agustus. Manajemen Koperasi. Robert Schuman Centre for Advanced Studies. New Delhi: ICA.C. Prisma. Penang: Third World Network. ” Revitalisasi Ekonomi Kerakyatan Melalui Pemberdayaan Gerakan Koperasi”. EUI Working Paper RSC No. makalah dalam Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I.23. Gilbert (1999a). Masalah dan Dasar Kebijaksanaan. Staff Paper P02-07. Working Paper PPSK – Bank Indonesia.M. “Recolonization: The Uruguay Round. Ltd. Washington.edu/mn/p02-07. Jakarta. Harsoyono dan Bambang Tri Cahyono (1990). Nello. Raghavan. 29 September. Scollay. “Fluktuasi Makroekonomi dan Respons Kebijakan yang Optimal di Indonesia”.Mubyarto (2000). College of Agriculture. makalah dalam the World Bank Seminar on “Donor Support for the Promotion of Rural Cooperatives in Developing Countries: Special Emphasis SubSaharan Africa”. Chris (2005). mimeo. (1990). Rosyidi. Florence. Jochen (1985). INOVASI. [http://agecon. (1973). Nayyar. edisi ke 14. An Introductory Analysis. Agustus. “Rekonstruksi Pemahaman Koperasi. dan William D.C. Jakarta: Ghalia Indonesia. Rahardjo. edisi revisi. II(5). Samuelson. Cambridge: Cambridge University Press. Scollay. S. Peran Strategis BUMN dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Hari Ini dan Masa Depan. Noer (2003b). dan J. Jakarta Stiglitz. ”Respons komponen-komponen permintaan agregat terhadap kebijakan moneter Indoneia”. Desember. Michigan State University. Policy Issues in International Trade and Commodities Series No. Rusidi dan Maman Suratman (2002). dan J. Department of Applied Economics. APEC Study Center. Noer (2003a).

Kimberly A dan Robert Cropp (2005). makalah dalam NETSeminar. Addison-Wesley Publishing Company. Global Trade Analysis: Modelling and Applications. Bisnis & Keuangan. “Koperasi sebagai Pelaksana Distribusi Barang: Realita dan Tantangan (Sebuah Pendekatan Pragmatis)”.C. “Pasar Modal Dalam Menghadapi Persaingan Internasional Pada Era Globalisasi”. Quantum Pustaka. Semarang: BPMA-Undip. Geneva: United Nations Conference on Trade and Development. Jakarta: Salemba Empat.. Future Shock. David (2005). Stefanus Osa (2009). Murray McGregor and Roy Murray-Prior. Perekonomian Indonesia Sejak Orde Lama hingga Pasca Krisis.. Toffler. D. Muresk Institute of Agriculture. Economic Development: An Introduction. “Investment and Finance in Agricultural Service Cooperatives”. Ekonomi Pembangunan. Washington. laporan penelitian. Agricultural Cooperative Service. Jennifer M. dan Karen M. (2004). dalam Marzuki Usman. and Strategic Alliances among Local Cooperatives”. Joan R. April. April. Alvin (1980). Issues. “Driving Forces and Success Factors for Mergers. Martin’s. and Alternatives. Washington. (1984). December 13. D. Marc (1994). edisi ke-4. Tambunan. Tulus T.50.H.H. Young. Nevada Verhagen. 15 September.C.). “Merancang dan Memelihara Jaringan Distribusi Barang Yang Tangguh Dan Efisien Di Indonesia. Jakarta: Bharata Karya Aksara. Widiyanto. “Free Trade in the Pacific Rim: On What Basis?”. Susan Hine. Why Globalization Works. Tjager I. “Profil Keunggulan Bersaing KUD Jatinom”. Turtiainen. makalah dalam the NCR-194 Annual Meeting. Suwandi. Jakarta: P>T. Ima (1985). Joint Ventures. Problematika dan Pendekatan. Todaro. Jakarta: Ghalia Indonesia. Trade and Development Report 1999. Tambunan. World Bank Technical Paper No. Martin (2004). Trade and Development Report 1997.Suryana (2000). (2006). London: Pan Book Ltd. NY: ILR Press. Triyatna. “Koperasi. Hertel (ed.). Tulus T. Acquisitions. UNCTAD (1999). Semarang.: the World Bank UNCTAD (1997). Huff (1997). Making Mondragon: The Growth and Dynamics of the Worker Cooperative Complex. Ithaca. Peluang dan Tantangan Pasar Modal Indonesia Menghadapi Era Perdagangan Bebas. McNamara (2000).21. Clarence. Zeuli. University of Wisconsin. Kompas. Globalisasi dan Perdagangan Internasional. “Cooperative Grain Marketing: Changes. Dekopin Sudah Babak Belur”. Economic Development. Michael P. University of Wisconsin at River Falls. Amsterdam. Western Australia. Koperasi. Geneva: United Nations Conference on Trade and Development. Fulton. Nyoman dan Yudi Pramadi (1997). 16 . dalam Thomas W. Las Vegas. Cooperatives: Principles and Practices in the 21st Century. dan Curtin Institute of Technology. Jr. Madison. 7 Juli 2009. dan Kevin T. Cooperation for Survival. Forum TI-ITS. William Foote dan Kathryn King Whyte (1991). New York: St. Cambridge University Press. Whyte.” ACS Research Report 123. Trechter. “A Neo-Institutional Assessment of Cooperative Evolution: Comparing the Australian Wheat Board and the Fonterra Dairy Group”. Linda M. Organisasi Ekonomi Yang Berwatak Sosial.: United States Department of Agriculture.D. Singgih Riphat dan Syahrir Ika (ed. Jakarta: Institut Bankir Indonesia bekerja sama dengan Jurnal Keuangan dan Moneter. (1979). Warman.Von Pischke (1986). Turto dan J. Zuvekas. Selasa. New Haven dan London: Yale University Press. Ibnu (1998). Wolf. semua edisi. A1457. hal. K. Widiyanto (1996). Vandeburg.

Lampiran Sumber: Menegkop & UKM 17 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful