Anda di halaman 1dari 105

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN
RENCANA STRATEGI
PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan


Terumbu Karang Tahap II (COREMAP II)
Dinas Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Raja Ampat
Tahun Anggaran 2007
kerjasama dengan
CV. Mandiri Cakti Perkasa
LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN
RENCANA STRATEGI
PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan


Terumbu Karang Tahap II (COREMAP II)
Dinas Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Raja Ampat
Tahun Anggaran 2007
kerjasama dengan
CV. Mandiri Cakti Perkasa
BAB 1
Pendahuluan

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang
memiliki kekayaan keanakaragaman hayati laut. Wilayah ini terletak di
bagian ujung barat dari Pulau Papua atau tepatnya pada koordinat 2o25’ LU
- 4o25’ LS dan 130o – 132O25’ BT. Sejak tanggal 12 April 2003, Kepulauan
Raja Ampat resmi menjadi daerah otonom Tingkat II atau kabupaten, yang
merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Sorong. Ada sekitar 610
buah pulau yang tercakup dalam wilayah administrasi Kabupaten Raja
Ampat dan diantaranya terdapat 4 pulau besar atau pulau utama, yakni:
Pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool.

Keanekaragaman hayati laut tropis yang dimiliki Kabupaten Raja Ampat


diperkirakan yang terkaya di dunia pada saat ini. Potensi sumberdaya
terumbu karang yang dimiliki Kabupaten Raja Ampat, merupakan bagian
dari ”segitiga karang dunia” (Coral Triangel) yang terdiri dari Indonesia,
Filipina, Papua New Guinea, Jepang, Australia. Selanjutnya, berdasarkan
hasil Rapid Asessment Program yang dilakukan oleh Tim Conservation
International (CI) disebutkan bahwa Kabupaten Raja Ampat memiliki
keanekaragaman 456 spesies jenis karang keras, 699 spesies moluska, dan
972 spesies ikan karang (Sheila A. McKenna, dkk, 2002) Dengan tingginya
biodiversity tersebut, tentu mengindikasikan bahwa perairan laut di wilayah
Raja Ampat merupakan perairan yang subur dan menjadi sentra produksi
sumberdaya ikan untuk wilayah perairan laut sekitarnya.

Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2006 sebanyak 32.055
jiwa yang tersebar dalam 10 distrik/kecamatan yang mencakup 86 kampung
dan 4 dusun (Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat,
PENDAHULUAN

2006). Sebagian besar penduduk di wilayah ini menggantungkan hidupnya


pada sumberdaya hayati laut, utamanya sektor perikanan. Aktivitas
pemanfaatan sumberdaya ikan di Kabupaten Raja Ampat hampir dipastikan
akan bersentuhan langsung dengan keberadaan sumberdaya terumbu
karang, karena umumnya kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikannya
berada di wilayah perairan pantai yang merupakan habitat-habitat terumbu
karang. Akibatnya, bila aktivitas perikanan ini menggunakan cara-cara tak
ramah atau tidak arif dalam memanfaatkannya, tentu secara langsung
terumbu karang tersebut juga akan ikut rusak. Selain itu, aktivitas lainnya
yang juga mempengaruhi kondisi terumbu karang di Raja Ampat, baik
secara langsung maupun tidak langsung, adalah kegiatan penambangan
nikel, penebangan kayu, pembangunan fisik dan limbah rumah tangga.
Berdasarkan hal ini, jelas mencerminkan bahwa Kabupaten Raja Ampat
menghadapi tantangan dan kendala yang besar dalam upaya mengelola
sumberdaya terumbu karangnya. Diharapkan, melalui strategi
pengembangan yang tepat, sumberdaya terumbu karang dapat terkelola
dengan baik dan juga dapat memberikan manfaat yang maksimal untuk
mensejahterakan masyarakat Raja Ampat.

Namun demikian, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir ini landasan


dasar dan kerangka pengelolaan terumbu karang telah diletakkan, melalui
program COREMAP. Kebijakan dan program COREMAP yang telah
dilaksanakan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dari sebagian
besar masyarakat Raja Ampat akan pentingnya terumbu karang bagi
kehidupan. Walaupun demikian, tantangan yang akan dihadapi ke depan
masih besar, yaitu bagaimana melanjutkan, memperkuat, dan
mengembangkan serta menyempurnakan pengelolaan terumbu karang
sehingga sumberdaya terumbu karang akan tetap lestari sekaligus
memberikan manfaat yang signifikan dalam upaya mewujudkan masyarakat
Raja Ampat yang maju dan sejahtera.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


I-2
PENDAHULUAN

Untuk mewujudkan tujuan pengelolaan terumbu karang seperti tersebut


diatas, tentunya harus memiliki rencana strategis (renstra) pengelolaan
terumbu karang yang tepat dengan tahapan implementasi yang sequent dan
benar. Renstra yang tepat, akan menghasilkan kebijakan-kebijakan
dan/atau program-program kerja yang tepat pula. Selanjutnya, dengan
tahapan implementasi yang sequent dan benar, maka implementasi
kebijakan dan program pembangunan akan berjalan secara efisien,
terintegrasi dan utuh. Oleh karena itu, perlu dirumuskan suatu rencana
strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud kajian ini adalah untuk memberikan arah bagi pengelolaan terumbu
karang di Kabupaten Raja Ampat untuk kurun waktu lima tahun kedepan.
Sedangkan tujuan dilaksanakannya kegiatan penyusunan rencana strategi
pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat ini adalah untuk:

(1) Mengidentifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan


terumbu karang di Raja Ampat

(2) Mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang


berperan dalam pengelolaan terumbu karang di Raja Ampat.
(3) Menyusun rencana strategis pengelolaan terumbu karang di
Kabupaten Raja Ampat.
(4) Merumuskan program kerja jangka pendek untuk pengelolaan

terumbu karang yang optimal dan agar dapat memberikan manfaat


yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Raja Ampat.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


I-3
PENDAHULUAN

1.3. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup kajian ini adalah :


a. Inventarisasi data dan informasi tentang kondisi sumberdaya terumbu
karang di lokasi kajian
b. Inventarisasi data dan informasi tentang kondisi sosial, ekonomi dan
budaya masyarakat Kabupaten Raja Ampat
c. Identifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan sumberdaya
terumbu karang di lokasi kajian
d. Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh
terhadap pengelolaan terumbu karang di lokasi kajian
e. Analisis lingkungan dan SWOT untuk dapat memberikan arahan
rencana strategis
f. Penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten
Raja Ampat
g. Penjabaran program-program kerja untuk pengelolaan terumbu karang
di Kabupaten Raja Ampat untuk 5 tahun kedepan.

1.4. KELUARAN (OUTPUT)


Keluaran dari kegiatan ini adalah:
1. Tersusunnya rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten
Raja Ampat.
2. Terumuskannya program-program kerja untuk pengelolaan terumbu
karang untuk 5 tahun kedepan.

1.5. MANFAAT (BENEFIT)


Manfaat dari kajian ini adalah meningkatkan daya guna dan hasil guna
untuk setiap strategi dan kebijakan yang akan dilaksanakan oleh
Pemerintah Daerah Raja Ampat dalam pengelolaan sumberdaya terumbu
karang. Disamping itu, sebagai acuan dasar dalam melakukan implementasi

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


I-4
PENDAHULUAN

kegiatan pengelolaan terumbu karang, agar lebih efektif, efisien, dan


terintegrasi. Pengelolaan sumberdaya terumbu karang yang optimal dan
berkelanjutan, tentu diharapkan akan memberikan kontribusi nyata dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Raja Ampat dan juga ekonomi
daerah setempat.

1.6. DAMPAK (IMPACT)


1. Sebagai acuan dalam pengembangan sumberdaya terumbu karang di
Kabupaten Raja Ampat
2. Sebagai alat ukur untuk monitoring dan pengendalian
3. Sebagai alat evaluasi keberhasilan dalam pengelolaan terumbu karang
di Kabupaten Raja Ampat

1.7. HASIL YANG DIHARAPKAN (OUTCOME)


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah :
a. Pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya terumbu karang yang
optimal dan berkelanjutan serta berjalan sinergis dengan aktivitas
sektor lainnya di Kabupaten Raja Ampat.
b. Dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir
di Kabupaten Raja Ampat.

1.8. LOKASI DAN LAMA KEGIATAN


Lokasi kegiatan dari pekerjaan ini adalah wilayah administratif Kabupaten
Raja Ampat (Gambar 1.1) dengan lama waktu pelaksanaan selama 2 (dua)
bulan, yakni pada Bulan Oktober hingga November 2007.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


I-5
PENDAHULUAN

Gambar 1.1 Peta Kabupaten Raja Ampat yang menjadi wilayah kajian.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


I-6
BAB 2
Metode Pekerjaan

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
2 METODE PEKERJAAN

2.1 PENDEKATAN PEKERJAAN

Dalam Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang


Kabupaten Raja Ampat, digunakan beberapa pendekatan. Berbagai
masalah dan kendala dalam pelaksanaan program pengelolaan terumbu
karang akan diidentifikasi, dikaji dan dicarikan jalan pemecahannya.

Tujuan akhir dari kajian ini adalah untuk dapat merumuskan pengelolaan
sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat yang optimal dan
berkelanjutan. Sedikitnya terdapat tiga indikator dalam pengelolaan
terumbu karang yang ingin dicapai, yakni: (1) terpeliharanya kelestarian
sumberdaya terumbu karang, (2) efisiensi ekonomi (memberikan manfaat
nilai ekonomi bagi masyarakat dan membantu pertumbuhan ekonomi
daerah) dan (3) sinergis dengan aktivitas ekonomi lainnya. Untuk dapat
mencapai hal tersebut di atas, maka dilakukan beberapa tahapan kerja
sebagai berikut:
(1). Identifikasi sumberdaya terumbu karang yang tersedia.
(2). Identifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan sumberdaya
terumu karang, untuk lebih memberikan gambaran langkah-langkah apa
saja yang menjadi prioritas dalam merumuskan rencana strategi yang
terkait dengan pengelolaan terumbu karang.
(3). Analisis situasi dengan menginvetarisasi faktor-faktor internal dan
eksternal yang berpengaruh terhadap pengelolaan terumbu karang.
(4). Analisis SWOT untuk dapat memberikan arahan rencana strategis
pengelolaan terumbu karang dan penjabaran program-program
kerjanya untuk 5 (lima) tahun kedepan.
METODE PEKERJAAN

Secara ringkas kerangka pendekatan studi dalam penyusunan rencana


strategis pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat dapat dilihat
pada Gambar 2.1

Kondisi Kini Lingkungan Internal dan Eksternal


Sumberdaya Terumbu Karang di Kab. Raja Ampat

Identifikasi Visi, Misi dan Tujuan Pengelolaan Terumbu Karang

Identifikasi Isu dan Permasalahan dalam Pengelolaan


Terumbu Karang

Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal yang Berperan


dalam Pengelolaan Terumbu Karang

Analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppurtunity, Threat)

Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang

Indikasi Program Kerja

Program Program Program Program Program


Kerja Kerja Kerja Kerja Kerja
tahun 1 tahun 2 tahun 3 tahun 4 tahun 5

Gambar 2.1. Kerangka pendekatan studi penyusunan rencana strategis


pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


II-2
METODE PEKERJAAN

2.2 PENGUMPULAN DATA

Data dikumpulkan melalui berbagai dokumen-dokumen perencanaan,


laporan hasil penelitian, laporan hasil pelaksanaan pembangunan, laporan
proyek/program, publikasi BPS kabupaten dan sumber-sumber lain yang
terkait dengan pengelolaan terumbu karang. Data yang dikumpulkan
dalam kajian ini secara garis besar meliputi:

(1) Karakteristik fisik, seperti: [ Keragaan dataran pesisir dan


pantai
[ Kondisi umum perairan laut
(oseanografi)
[ Kondisi dan potensi
sumberdaya alam non hayati

(2) Karakteristik ekologis, seperti: [ Sumberdaya alam hayati


[ Jasa-jasa lingkungan
[ Kondisi ekosistem

(3) Karakteristik seperti: [ Kondisi sosial ekonomi


masyarakat, masyarakat

(4) Prasarana dan sarana seperti: [ Sarana transportasi


pendukung, [ Sarana komunikasi
[ Pelabuhan, dan lain-lain.

(5) Kelembagaan seperti: [ Lembaga formal


[ Lembaga informal

(6) Persepsi dan aspirasi seperti: [ Masyarakat


stakeholder, [ Pemerintah
[ Swasta
[ Lembaga peneliti
(7) Aktivitas perekonomian wilayah

Kemudian, untuk penelusuran isu dan permasalahan dilakukan melalui desk


study yang dirujuk langsung dari berbagai dokumen yang ada di pusat dan

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


II-3
METODE PEKERJAAN

daerah, brainstroming antar tim dan diskusi terbatas dengan pihak-pihak


terkait.

2.2 ANALISIS DATA

Analisis yang digunakan dalam penyusunan rencana strategis pengelolaan


terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat adalah analisis SWOT
berdasarkan faktor-faktor yang menjadi kekuatan (strength), kelemahan
(weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (threat). Analisis ini
digunakan untuk merumuskan strategi yang relevan, relatif tepat dan
optimal dalam pengelolaan terumbu karang. Menurut (Rangkuti, 1990),
strength dan weakness adalah faktor internal sedangkan opportunity dan
threat adalah faktor eksternal.

Analisis SWOT adalah identifikasi secara sistematik atas kekuatan dan


kelemahan dari faktor-faktor eksternal yang dihadapi suatu sektor.
Analisis ini digunakan untuk memperoleh hubungan antara faktor internal
dan faktor eksternal. Lingkup kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
adalah sebagai berikut:
(1). Kekuatan
Kekuatan yang diidentifikasikan meliputi semua aspek yang berada
dalam sistem pengelolaan terumbu karang yang memberikan nilai
positif.
(2). Kelemahan
Kelemahan yang diidentifikasikan meliputi semua aspek yang berada
dalam sistem pengelolaan terumbu karang yang memberikan nilai
negatif.
(3). Peluang
Peluang yang diidentifikasi adalah potensi atau kesempatan dari
sistem pengelolaan terumbu karang yang dapat diambil.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


II-4
METODE PEKERJAAN

(4). Ancaman
Ancaman yang diidentifikasi adalah semua dampak negatif dari luar
sistem pengelolaan terumbu karang yang mungkin dihadapi.

Kemudian, langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis SWOT ini adalah


sebagai berikut:

1) Identifikasi faktor internal dan eksternal


Dari potensi sumberdaya terumbu karang dan tingkat aktivitas
pembangunan wilayah daerah yang ada, akan diidentifikasi beberapa
faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengelolaan
terumbu karang di Raja Ampat.

2) Analisis SWOT

Setelah mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal (faktor


strategis) yang berperan dalam pengelolaan terumbu karang kemudian
dibangkitkan (generating) berbagai alternatif strategi yang relevan
dengan menggunakan Matriks SWOT (Tabel 2.1).

Tabel 2.1 Matriks Analisis SWOT


Faktor
Internal STRENGTHS WEAKNESSES
Faktor (S) (W)
Eksternal
STRATEGI SO STRATEGI WO
OPPORTUNITIES (O) Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang
menggunakan kekuatan untuk meminimalkan kelemahan
memanfaatkan peluang. untuk memanfaatkan
peluang
STRATEGI ST STRATEGI WT
THREATS Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang
(T) menggunakan kekuatan untuk meminimalkan kelemahan
mengatasi ancaman. dan menghindari ancaman.

Dari Matriks SWOT ini dapat diperoleh 4 (empat) kemungkinan


alternatif strategi, yaitu:

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


II-5
METODE PEKERJAAN

(1). Strategi SO yaitu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk


mengambil peluang yang ada.
(2). Strategi ST yaitu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk
mengatasi ancaman yang dihadapi.
(3). Strategi WO yaitu berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari
peluang yang ada dengan mengatasi kelemahan-kelemahan.
(4). Strategi WT yaitu berusaha meminimumkan kelemahan dengan
menghindari ancaman yang ada.

Ada delapan langkah untuk menentukan strategi yang dibangun melalui


Matriks SWOT (Umar, 2001), yaitu:
1. Menyusun daftar peluang eksternal organisasi
2. Menyusun daftar ancaman eksternal organisasi
3. Menyusun daftar kekuatan kunci internal organisasi
4. Menyusun daftar kelemahan kunci internal organisasi
5. Mencocokkan kekuatan-kekuatan internal dan peluang-peluang
eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi SO
6. Mencocokkan kelemahan-kelemahan internal dan peluang-peluang
eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi WO
7. Mencocokkan kekuatan-kekuatan internal dan ancaman-ancaman
eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi ST
8. Mencocokkan kelemahan-kelemahan internal dan ancaman-
ancaman eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi
WT
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa kegunaan dari setiap faktor
strategis pada tahap ini adalah membangkitkan strategi alternatif yang
feasible untuk dilaksanakan, bukan untuk memilih atau menentukan
strategi mana yang terbaik.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


II-6
METODE PEKERJAAN

3) Expert Judgement.
Dari strategi yang dihasilkan tersebut, kemudian dijabarkan lebih rinci
lagi dalam bentuk program-program kerja untuk jangka pendek (5
tahun). Untuk mendukung ketajaman perumusan program-program
kerja tersebut, digunakan metode Expert Judgement, yaitu suatu
metode yang mengakomodir pendapat para ahli atau pakar di
bidangnya. Kriteria ahli atau pakar dimaksud adalah orang yang
berpengalaman di bidangnya dan pernah melakukan orientasi di
lapangan atau mengenal kondisi lapangan. Selanjutnya, dengan
pendekatan ini pula, ditentukan sequent program-program kerja yang
harus dilakukan untuk 5 tahun kedepan dalam pengelolaan terumbu
karang di Kabupaten Raja Ampat.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


II-7
BAB 3
Gambaran Umum Kabupaten
Raja Ampat

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
GAMBARAN UMUM
3 KABUPATEN RAJA AMPAT

3.1 LETAK GEOGRAFIS

Wilayah Kabupaten Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang


terdiri dari kurang lebih 610 buah pulau besar dan kecil yang memiliki
potensi sumberdaya terutama terumbu karang yang merupakan bagian dari
”segitiga karang” (Coral Triangel) yang terdiri dari Indonesia, Filipina,
Papua New Guinea, Jepang, Australia (Sheila A. McKenna, dkk, 2002).
Secara geografis, Raja Ampat berada pada koordinat 2°25'LU-4°25'LS &
130°-132°55'BT. Secara geoekonomis dan geopolitis, Kepulauan Raja
Ampat memiliki peranan penting sebagai wilayah yang berbatasan langsung
dengan wilayah luar negeri. Pulau Fani yang terletak di ujung paling utara
dari rangkaian Kepulauan Raja Ampat, berbatasan langsung dengan
Republik Palau. Kepulauan Raja Ampat memiliki empat pulau utama yang
bergunung-gunung yaitu Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool dengan
ratusan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Luas wilayah Kepulauan Raja
Ampat adalah 46.108 km2, terbagi menjadi 10 distrik, 86 kampung, dan 4
dusun. Secara administratif batas wilayah Kabupaten Raja Ampat adalah
sebagai berikut:
• Sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten
Seram Utara, Provinsi Maluku.
• Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera
Tengah, Provinsi Maluku Utara.
• Sebelah timur berbatasan dengan Kota Sorong dan Kabupaten Sorong,
Provinsi Irianjaya Barat.
• Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Republik
Federal Palau.
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

3.2 KEADAAN UMUM PERAIRAN

Seperti perairan Indonesia pada umumnya, perairan Kabupaten Raja Ampat


dipengaruhi oleh iklim tropis dan perubahan iklim muson. Letaknya yang
berbatasan dengan dua sistem samudera yaitu Samudera Hindia dan
Samudera Pasifik, mengakibatkan kondisi fisik dan kimia perairan didaerah
ini juga dipengaruhi oleh kedua samudera tersebut.

1). Suhu

Penyebaran suhu permukaan di Perairan Raja Ampat bagian utara


dipengaruhi oleh Samudera Pasifik sedangkan di bagian selatan dipengaruhi
oleh Laut Banda. Seperti periaran daerah tropis umumnya, perairan Raja
Ampat mempunyai suhu permukaan yang relatif hangat dengan variasi
tahunan yang cukup kecil. Mambrisaw, et al. (2006) mengungkapkan
bahwa suhu permukaan di perairan Raja Ampat pada bulan Maret berkisar
antara 28,5°C - 31,8°C dengan rata-rata 29,8°C. Sedangkan pada perairan
tertutup (Teluk Mayalibit) suhu permukaan bahkan mencapai 31,8°C.
Sedangkan suhu pada bulan Januari, Februari dan Maret berdasarkan hasil
penelitian BPPT adalah berkisar antara 28,5 - 29°C, sedangkan pada bulan
April, Mei dan Juni berkisar antara 29 - 29,5oC. Setelah turun menjadi
sekitar 28,5oC pada bulan Juli, suhu kembali naik dan mencapai sekitar
29°C pada bulan Agustus.

Tabel 3.1 Sebaran Suhu Permukaan Tahunan di Perairan Raja Ampat

No Bulan Kisaran (0C) Keterangan

1 Januari 28,5 – 29
2 Februari - Maret Relatif tetap Kecuali bagian utara: Menurun
hingga 280C
3 April-Mei-Juni 29 – 29,5
4 Juli 28,5
5 Agustus 29
29 – 29,5 (utara) Pengaruh Samudera Pasifik
6 September
28 – 28,5 (selatan) Pengaruh dari Laut Banda
Sumber : BPPT, 2001 dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-2
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

2). Salinitas

Mambrisaw (2006) mengungkapkan bahwa salinitas di lapisan permukaan


perairan Raja Ampat berkisar antara 30 – 35 psu, sedangkan pada kedalaman
10 meter berkisar antara 32 – 35 psu. Berbeda dengan perairan terbuka,
perairan tertutup (Teluk Mayalibit) berkisar antara 27,5 - 33 psu.
Rendahnya kadar salinitas di Teluk Mayalibit ini disebabkan oleh pengaruh
massa air tawar dari darat yang mengalir melalui beberapa sungai yang
masih aktif di teluk tersebut. Dibandingkan bagian selatan, sebaran
salinitas bagian utara lebih tinggi. Sebaran salinitas di bagian utara
Perairan Waigeo Utara berkisar antara 33 – 35 psu.

3). Derajat Keasaman (pH)

Mambrisaw, et al (2006) melaporkan bahwa nilai pH di Perairan Raja Ampat


pada kedalaman 0 m (permukaan) berkisar antara 7,2 - 8,4 dan untuk
kedalaman 10 m 7,6 - 8,4 dengan rata-rata 8,08 dan 8,06. Nilai pH terendah
pada kedalaman 0 m (permukaan) berada di perairan sekitar Saonek.
Keadaan ini pun diperkuat oleh perbedaan nilai pH pada kedalaman 0 m dan
10 m yang cukup besar di lokasi yang sama yaitu 7,2 dan 8,0. Nilai pH
terendah pada kedalaman 10 m berada di perairan Teluk Mayalibit, hal ini
diperkirakan karena tingginya kekeruhan yang disebabkan oleh banyaknya
bahan-bahan organik tersuspensi yang berasal dari daratan maupun dari
proses sedimentasi. Keadaan ini diperkuat oleh nilai pH di lokasi tersebut
pada kedalaman o m (permukaan) yanghampirsama dengan nilai pH pada
kedalaman 10 m, yangberarti pengaruh kekeruhan ini diduga terjadi secara
merata.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-3
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

Tabel 3.2 Sebaran Parameter Oseoanografi di Perairan Raja Ampat


(Permukaan)
Kisaran
No Parameter Rata-Rata
Minimum Maksimun
1 Suhu (0C) 28,5 31,18 29,80
2 Salinitas (0/00) 30 3,5 33,91
3 Derajat Keasaman (pH) 7,2 8,4 8,08
4 Oksigen terlarut (mg/l) 4 10,5 6,41
5 Kecerahan (m) 4 23 12,91
6 Kecepatan Arus (m/det) 0 0,88 0,11
7 Tinggi Gelombang (m) 0 1,7 0,14 – 0,52
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

4). Arus

Sesuai dengan letaknya, pola arus di perairan Raja Ampat dipengaruhi oleh
massa air dari Samudera Pasifik Barat (Western Pacific Ocean) yang
bergerak dari arah timur menuju barat laut (North West) dan sejajar
dengan daratan Papua bagian utara. Ketika arus tiba di Laut Halmahera
atau bagian utara Kepulauan Raja Ampat arus tersebut sebagian bergerak
ke selatan dan sebagian berbalik menuju Samudera Pasifik. Arus yang
dikenal sebagai Halmahera Eddie ini, kemudian sebagian memasuki
perairan Kepulauan Raja Ampat (Anonimous, 2005). Disamping itu,
letaknya yang di khatulistiwa, arus di perairan Raja Ampat juga
dipengaruhi oleh Arus Khatulistiwa Utara dan Arus Khatulistiwa Selatan.
Hasil penelitian Mambrisaw, et al (2006) pada bulan Maret 2006, didapatkan
bahwa arus di Perairan Raja Ampat didominasi oleh pengaruh angin, namun
untuk wilayah teluk dan pulau-pulau kecil yang berdekatan pola arusnya
lebih dipengaruhi oleh pasang surut. Kecepatan rata-rata arus di Perairan
Raja Ampat sekitar 0,11 m/det (Tabel 3-2). Nilai kecepatan arus permukaan
yang lemah ini diduga karena pengukurannya hanya dilakukan pada saat air
laut duduk surut atau duduk pasang, sedangkan arus diperkirakan kencang

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-4
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

pada saat duduk tengah pasang atau duduk tengah surut. Daerah-daerah
yang diperkirakan mempunyai arus pasang surut yang deras antara lain
Selat Mansuar, Selat Kabui, dan Selat Sagawin.

5). Kecerahan

Dari hasil pengamatan, kecerahan di perairan Raja Ampat berkisar antara


4 - 23 m dengan rata-rata kecerahan 12,91 m. Kecerahan minimum berada
di Teluk Mayalibit yang hanya mencapai 4 - 5 m. Hal ini karena kondisi
perairan di Teluk Mayalibit memiliki kekeruhan yang cukup tinggi yang
disebabkan oleh banyaknya bahan tersuspensi. Hal ini terlihat dari warna
air yang cenderung hijau kecoklatan.

Sementara, kecerahan maksimum berada di perairan daerah Kofiau yang


mencapai 23 m. Hal ini diperkirakan karena lokasi ini berada pada kawasan
perairan bebas (cukup jauh dari daratan) sehingga pengaruh bahan-bahan
tersuspensi yang berasal dari aktifitas daratan sangat kecil. Selain itu,
pengaruh arus, gelombang, dan angin di lokasi ini diperkirakan relatif
sangat kecil, sehingga secara visual terhadap Secchi Disk sangat jelas.

6). Gelombang

Pengamatan yang dilakukan oleh Mambrisaw, et.al (2006) menyebutkan


bahwa tinggi gelombang berkisar antara 0 - 1,7 meter. Ketinggian
gelombang tertinggi terjadi di bagian utara Pulau Waigeo. Sedangkan di
perairan terlindung seperti Perairan Waigeo Barat, Waigeo Selatan dan
Kepulauan Misool umumnya tinggi gelombang berkisar antara 0 - 1 meter.

7). Pasang Surut

Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (2005) melaporkan bahwa tipe pasang


surut (pasut) di Perairan Raja Ampat adalah tipe campuran dengan
dominasi pasut ganda (nilai F berkisar antara 0,25 - 1,50). Jenis pasut ini
berarti dalam satu hari terdapat dua kali pasang dan surut serta tinggi
pasang pertama tidak sama dengan tinggi pasang kedua.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-5
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan di pantai dekat Akademi


Perikanan Sorong (Suprau - Sorong) didapatkan kisaran tinggi pasang surut
(tidal range) atau perbedaan antara tinggi air pada saat pasang maksimum
dan tinggi air pada saat surut minimum berkisar antara 1,15 -1,80 meter.

3.3 POTENSI SUMBERDAYA HAYATI LAUT

1). Sumberdaya Ikan

Kabupaten Raja Ampat memiliki potensi sumberdaya ikan yang melimpah.


Pada sektor perikanan tangkap, Kabupaten Raja Ampat memiliki komoditi
perikanan tangkap seperti ikan, udang, cumi-cumi, kerang/siput dan
teripang yang cukup potensial. Secara umum, jenis ikan hasil tangkapan
nelayan di Kabupaten Raja Ampat dapat dikelompokkan sebagai ikan pelagis
besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, dan ikan air payau. Jenis-jenis
ikan yang dominan ditangkap oleh nelayan lokal adalah ikan kembung
(Rastrelliger sp), tenggiri (Scomberomorus spp.), cakalang (Katsuwonus
pelamis), tuna (Thunus sp.), kerapu, napoleon dan teri. Ikan kembung
banyak tertangkap di Distrik Teluk Mayalibit. Ikan tenggiri, cakalang dan
tuna banyak ditangkap di daerah Waigeo Selatan, Waigeo Barat, Samate,
Misool, dan Misool Timur Selatan. Sementara, ikan kerapu dan napoleon
banyak dihasilkan dari Distrik Waigeo Barat, Ayau, Kofiau dan Misool Timur
Selatan. Kemudian, untuk ikan teri (Stolephorus sp.), biasa disebut juga
ikan puri, banyak tertangkap di daerah Waigeo Selatan, Misool, Misool
Timur Selatan dan dijumpai juga di Teluk Mayalibit.

Selain ikan, hasil tangkapan lainnya adalah udang, cumi-cumi, cacing laut,
kerang serta siput. Udang yang umumnya tertangkap adalah jenis lobster
(Panulirus sp) yang banyak terdapat di daerah Waigeo Barat, Kofiau, Misool,
dan Misool Timur Selatan; dan udang halus (Ebi) yang banyak ditangkap di
daerah Teluk Mayalibit sekitar Kampung Beo dan Araway. Sementara, untuk
cumi-cumi banyak terdapat di daerah Waigeo Selatan dan Misool. Ada 2

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-6
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

jenis cumi-cumi yang telah dimanfaatkan nelayan setempat, yakni cumi-


cumi ukuran kecil atau disebut cumi jarum (Sepiotheuthis sp.) dan cumi-
cumi yang berukuran besar (Loligo sp.).

Untuk Jenis kerang dan siput yang dimanfaatkan oleh nelayan lokal selain
kerang mutiara adalah bia garu, pia-pia, batu laga, kepala kambing dan
mata tujuh. Kerang dan siput merupakan komoditi perikanan yang
memiliki nilai ekonomis penting. Lola, batu laga, bia garu, mata tujuh dan
lain-lain selain dagingnya yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk segar
atau beku, cangkangnya juga dapat dimanfaatkan atau dijual. Cangkang bia
garu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kapur
yang digunakan untuk makan pinang. Sementara, Pinctado maxima atau
kerang penghasil mutiara, banyak dieksploitasi untuk diambil mutiaranya
dan juga dimakan dagingnya.

Tabel 3.3 Jenis-jenis Hasil Tangkapan di Kabupaten Raja Ampat

Nama Alat Penangkap


Nama Umum Nama Ilmiah Nama Lokal
Ikan

Engraulidae Stolephorus indicus Teri Bagan


Clupeidae Spratelloides gracillis Teri Bagan
Clupeidae Spratelloides robustus Teri Bagan
Letrinidae Lethrinus sp. Gutila Pancing
Letrinidae Acanthopagrus berda Kapas Pancing, jaring
Carangidae Selaroides sp. Oci Pancing, jaring, bagan
Carangidae Decapterus sp. Momar Pancing, jaring, bagan
Carangidae Caranx sp. Bubara Pancing
Carangidae Scomberoides sp. Lasi Pancing, jaring, sera
Serranidae Plectropomus sp. Geropa Pancing
Serranidae Variola louti Geropa Pancing
Serranidae Epinephelus sp. Geropa Pancing
Serranidae Cephalopoiis leopadus Geropa Pancing
Serranidae Cromileptis altivelis Geropa Pancing

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-7
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

Nama Alat Penangkap


Nama Umum Nama Ilmiah Nama Lokal
Ikan

Scombridae Scomberomorus spp. Tenggiri Pancing


Scombridae Katsuwonus pelamis Cakalang Pancing
Scombridae Rastrelliger sp. Lema Pancing, jaring, bagan,
Caesionidae Caesio sp. Lalosi Pancing, jaring, bagan
Belonidae Tylosurus gavialoides Julung Pancing
Siganidae Siganus sp. Samandar Pancing, jaring
Mugilidae Mugil cephalus bulana Pancing, jaring
Mugilidae Liza subviridis bulana Pancing, jaring
Toxidae Toxotes sp. sumpit Jaring
Lutjanidae Lutjanus sp. Ikan merah Pancing, jaring, sero
Sphrynidae Sphyrna lewini Hiu Pancing, jaring
Ariidae Arius sp. Sembilang Pancing, jaring, sero
Labridae Cheilinus undulates Napoleon Pancing, jaring
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

2). Sumberdaya Terumbu Karang dan Ikan Karang

Ekosistem terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat terbentang di paparan


dangkal di hampir semua pulau-pulau. Namun, ekosistem terumbu karang
yang terbesar terdapat di Distrik Waigeo Barat, Waigeo Selatan, Ayau,
Samate, dan Misool Timur Selatan. .Pada beberapa bagian terdapat gosong
(sand backs) yang juga memiliki terumbu karang di sekelilingnya. Tipe
terumbu yang terdapat di Kepulauan Raja Ampat umumnya berupa karang
tepi (fringing reef), dengan kemiringan yang cukup curam. Selain itu
terdapat juga tipe terumbu cincin (atol) dan terumbu penghalang (barrier
reef). Atol di Raja Ampat terdapat di Kepulauan Ayau dan Kepulauan Asia.

Hasil penelitian dari lembaga-lembaga internasional seperti kegiatan Marine


RAP (Rapid Assessment Program) yang dilakukan oleh Conservation
International dan REA (Rapid Ecological Assessment) yang dilakukan oleh
TNC dan WWF menyatakan bahwa keanekaragaman hayati terumbu karang
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat
III-8
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

di Kepulauan Raja Ampat luar biasa dan umumnya dalam kondisi fisik yang
baik. Kepulauan Raja Ampat memiliki terumbu karang yang indah dan
sangat kaya akan berbagai jenis ikan dan moluska. Berdasarkan hasil
penelitian tercatat 537 jenis karang keras (Cl, TNC-WWF), 9 diantaranya
adalah jenis baru dan 13 jenis endemik. Jumlah ini merupakan 75% dari
jumlah karang di dunia. Tercatat juga 828 (Cl) dan 899 (TNC-WWF) jenis
ikan karang sehingga Raja Ampat diketahui mempunyai 1.104 jenis ikan
yang terdiri dari 91 famili. Diperkirakan jenis ikan karang tersebut dapat
mencapai 1.346 jenis, berdasarkan kesinambungan genetik di wilayah
Kepala Burung, sehingga menjadikan kawasan ini menjadi kawasan dengan
kekayaan jenis ikan karang tertinggi di dunia. Berdasarkan Indeks Kondisi
Karang, 60% terumbu karang dalam kondisi baik dan sangat baik. Walaupun
demikian, disebagian wilayah telah terjadi pengrusakan terumbu karang
yang disebabkan oleh penangkapan ikan dengan menggunakan bahan
peledak dan potasium. Di kawasan Raja Ampat juga ditemukan 699 jenis
hewan lunak (jenis moluska) yang terdiri atas 530 jenis siput-siputan
(Gastropoda), 159 jenis kekerangan (bivalva), 2 jenis Scaphopoda, 5 jenis
cumi-cumian (Cephalopoda), dan 3 jenis Chiton.

3). Sumberdaya Padang Lamun

Padang lamun hampir tersebar di seluruh Kepulauan Raja Ampat. Padang


lamun tersebar di sekitar Waigeo, Kofiau, Batanta, Ayau, dan Gam. Padang
lamun yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat umumnya homogen dan
berdasarkan ciri-ciri umum lokasi, tutupan, dan tipe substrat, dapat
digolongkan sebagai padang lamun yang berasosiasi dengan terumbu
karang. Tipe ini umumnya ditemukan di lokasi-lokasi di daerah pasang
surut dan rataan terumbu karang yang dangkal.

Secara umum vegetasi dari padang lamun yang terdapat di Raja Ampat
merupakan tipe campuran dengan kombinasi dari beberapa jenis lamun
yang tumbuh di daerah pasang surut mulai dari pinggir pantai sampai ke

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-9
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

tubir. Jenis lamun yang tumbuh antara lain jenis Enholus acoroides,
Thoiossio hemprichii, Holophilo ovolis, Cymodoceo rotundoto, dan
Syringodium isoetifoiium.

Pada rataan terumbu pulau-pulau Raja Ampat khususnya di tepi terumbu


tidak ditemukan lamun, kecuali di Pulau Meosarar ditemukan Enholus
acoroides dengan prosentase penutupan rata-rata 2%. Kecenderungan
ketidakadaan lamun adalah pada kedalaman 4 - 7 meter, dimana substrat
dasar pada kedalaman tersebut didominasi oleh terumbu karang. Pada
umumnya lamun ditemukan pada daerah reef top kedalaman 1 - 3 meter.

Kepadatan lamun relatif tinggi di Pulau Waigeo khususnya sekitar Pulau


Boni dengan tutupan rata-rata 65%. Jenis-jenis lamun yang ditemukan di
Distrik Waigeo Barat dan Selatan adalah Enholus ocoroides, Holodule
pinifolio, Holophiio ovolis, Thoiossio hemprichii dan Cymodoceo rotundoto.
Secara umum kondisi ekosistem padang lamun di Distrik Waigeo Barat dan
Selatan prosentase penutupannya tergolong baik (50 - 75% ) dan sangat baik
(lebih dari 75%). Potensi sumberdaya lamun cukup tinggi, khususnya dari
segi perikanan dan sumbangan nutrisi pada ekosistem terumbu karang di
sekitarnya.

Kondisi padang lamun yang masih baik akan sangat mendukung bagi
kehidupan berbagai biota dengan membentuk rantai makanan yang
kompleks. Sejumlah biota yang dijumpai pada ekosistem ini antara lain
adalah invertebrata: moluska (kerang kampak - Pinna bicolor, siput laba-
laba - Lombis lombis, Cone - Conus sp., siput zaitun - Olive sp,, miteer -
Vexillum sp., Polute - Cymbiolo sp., kerang mutiara - Pinctodo sp., kewuk -
Cypreo sp. dan Conch - Strombus sp.), Echinodermata (Teripang -
Holothurio, Bulu babi - Diodemo sp.) dan bintang laut (Achontoster ploncii,
Linckio sp.) serta Crustacea (udang dan kepiting). Bahkan beberapa jenis
penyu sering kali mencari makanan pada ekosistem padang lamun.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-10
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

4). Sumberdaya Mangrove

Luas hutan mangrove di Kepulauan Raja Ampat diperkirakan sebesar 27.180


hektar (Mambrisaw, et al, 2006). Hutan mangrove di Kabupaten Raja
Ampat yang cukup luas terdapat di wilayah pantai Waigeo Barat, Waigeo
Selatan, Teluk Mayalibit, pantai Batanta, pantai timur Pulau Salawati, dan
pantai utara serta pantai timur Pulau Misool. Hutan mangrove ini
didominasi oleh famili Rhizophoraceae dan famili Sonneratiaceae. Pulau
Misool merupakan pulau yang memiliki sebaran mangrove terbesar,
kemudian diikuti oleh Pulau Waigeo, Salawati dan Batanta. Pulau Kofiau
merupakan kawasan yang memiliki sebaran mangrove yang lebih sedikit
dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya.

Hutan mangrove di Raja Ampat umumnya dijumpai di dataran rendah


dengan muara dan sungai-sungai pasang surut yang menyediakan habitat
yang cocok bagi asosiasi-asosiasi Bruguiera-Rhizophora. Contoh komunitas
yang terbaik terdapat di Pulau Misool, sepanjang P. Gam dan Sungai Kasim.
Selain itu komunitas mangrove terdapat juga pada bagian hulu misalnya
jenis Rhizophoro mucronoto, Ceriops togol, Bruguiem gymnorrhizo, Nypo
fruticons, dan juga terdapat pada akhir aliran air tawar misalnya jenis
Xylopcorpus gronotum, Dolichondrone spothoceo, dan Heritiero littorolis.

Kondisi ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat masih baik dengan


ditemukannya 25 jenis mangrove dan 27 jenis tumbuhan asosiasi mangrove.
Kerapatan pohon mangrove di Raja Ampat dapat mencapai 2.350
batang/hektar. Kerapatan pohon mangrove di daerah ini masih lebih besar
dibandingkan dengan kerapatan mangrove di daerah Bintuni dan Muara
Digul.

Pada ekosistem mangrove di Raja Ampat juga ditemukan beberapa jenis


biota yang dikelompokkan kedalam krustacea dan moluska yang memiliki
nilai ekonomis penting, di antaranya udang (Panaeid), kepiting bakau
(Scylla serota), dan rajungan (Portunidae). Biota yang umum ditemukan di
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat
III-11
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

ekosistem ini adalah ikan blodok (Perioptholmus sp.), belanak (Mugil


dusumieri), bandeng (Chonos chonos), kepiting bakau (Scyllo serata), dan
kerang.

3.4 POTENSI SUMBERDAYA LINGKUNGAN LAUT

Salah satu sumberdaya lingkungan laut di Kabupaten Raja Ampat yang


potensial sudah berkembang adalah sumberdaya wisata laut. Sumberdaya
ini telah dimanfaatkan dan dikelola dibeberapa wilayah, yakni di Waigeo
Selatan, Waigeo Barat, Batanta, Kofiau dan Misool. Lokasi obyek wisata
laut di Waigeo Selatan terletak di daerah Arborek dan Sawandrek. Di
Arborek, obyek wisata lautnya adalah penyelaman (diving) dan wisata
pantai, sedangkan di Sawandrek obyeknya adalah berenang/snorkeling dan
menyelam untuk menikmati keindahan karang.

Untuk lokasi obyek wisata laut di Waigeo Barat terletak di daerah Selpele
dan Wayag. Obyek wisata lautnya adalah aktivitas penyelaman. Lokasi
ini sangat berpotensi, karena selalu menjadi salah satu tempat utama dari
para wisatawan liveaboard. Selain itu, pulau-pulau karst yang terdapat di
Wayag juga merupakan sebuah panorama alam yang sangat menarik untuk
dinikmati.

Kemudian, lokasi wisata Pulau Wai dan Selat Dampier sangat menantang
dan mempunyai daya tarik tersendiri. Di Pulau Wai wisatawan umumnya
melakukan penyelaman untuk menikmati lokasi bangkai pesawat
thunderbolt, peninggalan PD II. Selain itu, di lokasi ini juga terkenal
dengan keberadaan manta atau ikan pari yang berukuran sangat besar dan
melimpah.

Kofiau selalu didatangi oleh para liveaboard dan wisatawan untuk


menikmati keindahan bawah laut dengan menyelam atau snorkeling. Selain
keindahan di bawah laut, Kofiau juga kaya akan keindahan panorama
wilayah daratannya. Sementara, di Misool para wisatawan dapat menikmati

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-12
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

keunikan pemandangan goa, pulau-pulau karst, dan melakukan aktivitas


penyelaman atau snorkeling. Di beberapa goa yang tersebar di Tomolol
terdapat lukisan telapak tangan manusia berukuran besar dan hewan-hewan
yang diduga dilukis oleh manusia goa.

Disamping beberapa obyek wisata yang sudah berkembang seperti tersebut


diatas, Raja Ampat juga kaya akan beberapa obyek wisata lainnya yang
sangat berpotensi untuk dikembangkan. Beberapa potensi wisata yang
dapat dikembangkan ini tersebar di beberapa kawasan, diantaranya:

1). Kepulauan Ayau

Kepulauan ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada di atas
kawasan atol yang sangat luas. Pantai-pantai di kepulauan ini berpasir putih
dengan areal dasar laut yang luas yang menghubungkan satu pulau dengan
pulau lain. Di kepulauan ini terdapat pulau-pulau pasir yang unik,
masyarakat setempat menyebutnya zondploot, dan di atasnya tidak
terdapat tumbuhan/vegetasi. Jenis wisata yang dapat dikembangkan di
Kepulauan Ayau adalah keunikan kehidupan suku dan budaya yang berupa
penangkapan cacing laut (insonem) yang dilakukan secara bersama-sama
oleh ibu-ibu dan anak-anak, mengunjungi tempat peneluran penyu hijau,
dan wisata dayung tradisional dengan perahu karures.

2). Waigeo Utara

Di Waigeo Utara terdapat beberapa tempat yang dapat dijadikan lokasi


wisata yaitu goa-goa peninggalan perang dunia II dan keindahan bawah
laut.

3). Waigeo Timur

Di sini, khususnya di depan Kampung Urbinasopen dan Yesner terdapat


atraksi fenomena alam yang sangat menarik dan unik yang hanya bisa
disaksikan setiap akhir tahun, yaitu cahaya yang keluar dari laut dan
berputar-putar di permukaan sekitar 10-18 menit, setelah itu hilang dan

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-13
GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

bisa disaksikan lagi saat pergantian tahun berikutnya. Masyarakat di kedua


kampung ini menamakan fenomena ini sebagai "Hantu Laut".

4). Teluk Mayalibit

Lokasi wisata Teluk Mayalibit cukup unik, karena merupakan sebuah teluk
yang cukup besar dan hampir membagi Pulau Waigeo menjadi dua bagian.
Banyak atraksi yang bisa dilihat disini, seperti cara penangkapan ikan
tradisional dan bangkai kerangka pesawat yang bisa dijadikan sebagai
tempat penyelaman.

5). Salawati

Di Salawati para wisatawan dapat menyaksikan bunker-bunker peninggalan


Perang Dunia II buatan Belanda dan Jepang (Jeffman) dan juga merupakan
tempat yang menarik untuk snorkeling dan diving.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


III-14
BAB 4
Analisis Potensi dan
Permasalahan

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
ANALISIS POTENSI DAN
4 PERMASALAHAN

4.1. EKOLOGI
1) Ketersediaan Sumberdaya Hayati Laut

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat (2005) melaporkan


bahwa perairan Kabupaten Raja Ampat memiliki sumberdaya ikan dengan
potensi lestari (MSY) sebesar 590.600 ton/tahun atau kalau dikonversi
kedalam jumlah tangkapan yang diperbolehkan sekitar 472.000 ton/tahun.
Berdasarkan catatan Dinas Perikanan dan Kelautan, sumberdaya ikan yang
sudah dimanfaatkan sebesar 38.000 ton/tahun, di luar dari pemanfaatan
perikanan subsisten, sehingga diperkirakan masih memiliki peluang sekitar
434.000 ton/tahun.

Jenis ikan yang dapat dimanfaatkan di Kabupaten Raja Ampat sangat


banyak. Secara umum, komoditas ikan yang dapat diunggulkan
berdasarkan daerahnya ditampilkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Komoditas Unggulan Serta Lokasi Penangkapannya

No Komoditas Unggulan Lokasi


1 Tuna/Cakalang Waigeo Utara, Misool, Misool Timur Selatan
2 Kerapu/Napoleon Misool Timur Selatan, Waigeo Barat, Kofiau,
Ayau
3 Kakap Waigeo Timur/Barat, Misool, Misool Timur
Selatan
4 Lobster Waigeo Barat, kofiau, Misool, Misool Timur
Selatan
5 Teripang Waigeo Barat, Samate, Teluk Mayalibit
6 Cumi-cumi Waigeo Selatan, Misool
7 Teri Waigeo Selatan, Misool, Misool Timur Selatan
8 Tenggiri Waigeo Selatan Barat, Samate, Misool, Misool
Timur Selatan
9 Kembung/Lema Teluk Mayalibit
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan (2005) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab
Raja Ampat (2006)

1
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Sampai saat ini, nelayan lokal masih terbatas memanfaatkan ikan dan
sumberdaya ikan lainnya di wilayah pantai dan daerah teluk. Lokasi
penangkapan ikan umumnya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Nelayan hanya melakukan kegiatan penangkapan 3 - 4 hari dalam seminggu,
dengan lama waktu kerja antara 4 -12 jam per hari. Untuk mencapai daerah
penangkapan (fishing ground) umumnya mereka menggunakan perahu
dayung dengan waktu tempuh 2-3 jam perjalanan.

Tabel 4.2 Jenis-Jenis Ikan yang Tertangkap di Sekitar Perairan Raja


Ampat

Famili Spesies Nama lokal Jenis alat tangkap


Engralulidae Stolephorus indicus Teri Bagan
Clupeidae Spratelloides gracilis Teri Bagan
Clupeidae Spratteloides robustus Teri Bagan
Letrinidae Lethrinus sp. Gutila Pancing
Letrinidae Acanthopagrus berda Kapas Pancing, Jaring
Carangidae Selaroides sp. Oci Pancing, Jaring, Bagan
Carangidae Decapterus sp. Momar Pancing, Jaring, Bagan
Carangidae Caranx sp. Bubara Pancing
Carangidae Scomberoides sp. Lasi Pancing, Jaring, Sero
Serranidae Plectropomus sp. Geropa Pancing
Serranidae Variola louti Geropa Pancing
Serranidae Epinephelus sp. Geropa Pancing
Serranidae Cephalopolis leopadus Geropa Pancing
Serranidae Cromileptis altivelis Geropa Pancing
Scombridae Scomberomorus spp Tenggiri Pancing
Scombridae Katsuwonus pelamis Cakalang Pancing
Scombridae Rastrelliger sp. Lema Pancing, Jaring, Bagan,
Serok
Caesionidae Caesio sp. Lalosi Pancing, Jaring, Bagan
Belonidae Tylosurus gavialoides Julung Pancing,
Singanidae Siganus sp. Samandar Pancing, Jaring
Mugilidae Mughil chepalus Bulana Pancing, Jaring
Mugilidae Liza subviridis Bulana Pancing, Jaring
Toxidae Toxotes sp. Sumpit Jaring
Lutjanidae Sutjanus sp. Ikan Merah Pancing, Jaring, Sero
Sphrynidae Sphyrna lewini Hiu Pancing, Jaring
Ariidae Arius sp. Sembilang Pancing, Jaring, Sero
Labridae Sheilinus undulates Napoleon Pancing, Jaring
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-2
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Berdasarkan hasil penelitian Marine RAP dan REA yang dilakukan CI, TNC
dan WWF tahun 2001 dan 2002, tercatat sebanyak 537 species karang batu,
mewakili 76 genus dan 19 famili. Dari jumlah spesies ini terdapat 295
species yang tergolong dalam 67 genus dan 15 famili, merupakan karang
keras (scleractinia). Kondisi keanekaragaman ini diinventarisasi sampai
pada kedalaman 34 meter di lebih dari 100 lokasi survei. Hasil marine RAP
dan REA juga menggambarkan bahwa keanekaragaman terumbu karang di
Kabupaten Raja Ampat tertinggi ditemukan di areal perairan Misool, di
sebelah utara Pulau Gam, dengan jumlah spesies sebanyak 182.
Keanekaragaman terendah ditemukan di perairan Selat antara P. Gam
dengan P. Waigeo dengan jumlah species 18. Berdasarkan tipe habitatnya,
keanekaragaman hayati tertinggi ditemukan pada terumbu karang tipe
Fringing Reefs dengan jumlah rata-rata spesies yang ditemukan sebanyak 86
spesies, diikuti oleh Platform Reefs, So, dan Sheltered Reefs dengan jumlah
spesies rata-rata 67 (McKenna, dkk., 2002).

Tabel 4.3 Sepuluh Lokasi Keanekaragaman Terumbu Karang Tertinggi

No Lokasi Total Spesies


1 Sebelah utara Pulau Djam; Misool 182
2 Teluk Wambong; Kofiau 174
3 Tanjung Sool; Kofiau 173
4 Jef Bi; Misool 169
5 Sebelah Selatan Walo; Kofiau 169
6 Los; Misool 168
7 Mesemta; Misool 164
8 Sebelah Selatan Pulau Ouoy 163
9 Teluk Fofak; Waigeo 163
10 Selatan Pulau Tiga; Misool 161
Sumber: TNC – WWF (2003) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat
(2006)

Keanekaragaman terumbu karang jika dilihat dari hadirnya spesies tertentu


pada lokasi penelitian, maka ada 10 lokasi yang memiliki kekayaan spesies
tinggi. Kekayaan tertinggi ditemukan di sebelah utara Pulau Djam dengan
jumlah 182 spesies, diikuti Teluk Wambong dengan jumlah 174 spesies.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-3
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Kesepuluh lokasi yang memiliki jumlah spesies tertinggi tersaji pada Tabel
4.4.

Dilaporkan bahwa Kepulauan Batang Pele yang terdiri dari 15 pulau kecil,
memiliki keunikan formasi dan struktur terumbu. Di beberapa daerah
tertentu dapat dijumpai komunitas terumbu karang dengan prosentase
tutupan karang hidup mencapai 71%, namun sebaliknya di daerah lainnya
juga ada yang tidak dijumpai komunitas terumbu sama sekali. Dilaporkan
bahwa di daerah ini dijumpai 205 jenis karang batu (Coremap, 2001).

Tabel 4.4 Lokasi Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat dengan


Prosentasi Tutupan Karang Hidup > 50%

Nama Distrik Nama Lokasi Prosentase Tutupan (%)


Pulau Mangimangi 70
Kofiau
Pulau Eftorobi 50
Pulau Salafen 50
Misool
Pulau Kamel 50
Pulau Bun 60
Waigeo Selatan
Pulau Arborek 50
Pulau Di Depan Samate 50
Samate Pulau Senapan 50
Pulau Mamyayet 65
Waigeo Timur
Pulau Waim 50
Pulau Beo, Selpele 50
Waigeo Barat Pulau Ayil 50
Selpele 50
Wayum 50
Kabare 50
Kepulauan ayau Yau-Yau 50
Yenkawir 50
Yam yam 50
Waigeo Utara
Lam Lam 50
Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

Berdasarkan survei marine RAP pada tahun 2001, prosentase tutupan karang
hidup tertinggi terdapat di Pulau Keruo, sebelah utara Fam, yang mencapai
53%, diikuti Teluk Saripa yang mencapai 52%. Sedangkan berdasarkan survei
REA pada tahun 2002, prosentase tutupan karang hidup tertinggi terdapat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-4
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

di sebelah selatan Pulau Kawe yang mencapai 70%, diikuti sebelah utara
Djam dan sebelah barat P. Boni yang mencapai 65%.

Hasil penelitian terbaru, tahun 2006, secara keseluruhan terdapat 15 titik


survei tempat kondisi terumbu karang berada dalam kondisi baik dengan
persen tutupan karang hidup > 50%. Berdasarkan Tabel 4.4 di atas
terlihat bahwa terumbu karang di Distrik Kofiau khususnya di perairan
Mangimangi memiliki persen tutupan karang mencapai 70% diikuti oleh
terumbu karang di Waigeo Timur terutama di perairan Pulau Mamyayet,
selanjutnya terumbu karang di Distrik Waigeo Selatan khususnya di perairan
Pulau Bun memiliki persen tutupan karang sebesar 60%. Sedangkan
terumbu karang di Distrik Waigeo Barat dan Distrik Misool rata-rata
memiliki persen tutupan karang batu hidup sebesar 50%. Perbedaan
prosentase tutupan ini diduga karena adanya pengaruh aktivitas manusia
maupun pengaruh alami, seperti adanya perubahan suhu perairan.
Dominasi spesies terumbu karang di perairan Raja Ampat cukup bervariasi
di tiap lokasi, tetapi pada lokasi-lokasi tertentu ada jenis spesies tertentu
yang sangat mendominasi, seperti dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Jumlah Lokasi Penyebaran Famili Terumbu Karang dan Jenis
Terbanyak yang Ditemukan dari Hasil Survei Marine RAP 2001
Jumlah jenis Penyebaran Pada
No Famili Jenis Terbanyak
Yang Ditemukan Lokasi survei
1 Acroporidae 14 Acropora palifera 36
2 Pocilloporidae 6 Pocillopor verrucosa 29
3 Poritidae 6 Porites lutea 49
4 Agarichidae 1 Pavona deccusata 6
5 Fungidae 2 Fungia repanda 31
6 Oculinidae 1 Glastrea astreata 12
7 Pectinidae 3 Pectinia lactusa 21
8 Mussidae 2 Symphyllia sp. 6
9 Merulinidae 2 Merulina ampliata 30
10 Favidae 7 Echinophola lammelosa 21
11 Helioporidae 1 Helophora coerulea 15
To tal 45
Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-5
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Genus Acropora mendominansi hampir seluruh perairan Kabupaten Raja


Ampatdengan jumiah jenis sebanyak 68 jenis, diikuti oleh genus Montiporo
(30 Jenis), Porites (13 jenis), Fungio (11 jenis), Povono (11 jenis),
Leptoseris (8 jenis), Psammocoro (7 jenis), dan berturut-turut dari
Astreoporo sampai Plotigyro sebanyak 6 jenis.

Penyebaran koloni karang hampir merata karena ditemukan hampir di


semua lokasi. Tabel di atas memberikan gambaran bahwa koloni terumbu
dari famili Poritidae menyebar merata karena ditemukan hampir di semua
lokasi penelitian, diikuti berturut-turut oleh koloni Acroporidae, Fungidae,
Merulinidae, dan Pociloporidae. Sedangkan koloni Mussidae dan Agarichidae
hanya ditemukan di 6 lokasi. Selama penelitian, jenis dari famili
Acroporidae lebih banyak ditemukan, diikuti oleh koloni dari famili Favidae,
Pocilloporidae, dan Poritidae.

Hadirnya koloni terumbu dari famili Poritidae di hampir seluruh lokasi


penelitian memberikan indikasi bahwa kawasan perairan ini memiliki arus
dan gempuran ombak yang cukup kuat. Koloni ini hadir sebagai penahan
ombak dan arus bagi koloni maupun komunitas berikutnya. Penyebaran
Acroporidae memberikan gambaran bahwa penetrasi sinar matahari di
perairan Kabupaten Raja Ampat sangat baik sehingga memberikan
kesempatan hidup dan berkernbang bagi karang bercabang. Terumbu dari
famili Agarichidae ditemukan sangat sedikit karena struktur hidup dari
koloni ini yang terkadang koralitnya tenggelam, dengan dinding koloni yang
tidak berkembang terutama jika terjadi kompetisi kehidupan. Famili
Fungidae juga menyebar merata karena ciri hidupnya yang soliter dan
bebas serta melekat pada substrat tempat dia berada.

Jenis terbanyak yang ditemukan selama penelitian yakni Acroporo polifera.


Jenis ini memiliki struktur bercabang dengan koloni berupa lempengan atau
pilar yang tegak lurus. Kekhasan jenis ini adalah tidak memiliki axil koralit
serta radikal koralitnya menyebar tidak beraturan. Temuan ini

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-6
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

menunjukkan bahwa di Raja Ampat banyak daerah terumbu yang berarus


dan juga berombak karena jenis Acroporo polifero biasa hidup didaerah
seperti ini.

2) Proporsi Sumberdaya Hayati Laut yang Dibuang

Secara umum, jenis ikan yang tertangkap oleh nelayan di Raja Ampat
termanfaatkan semua. Namun demikian, pengoperasian alat tangkap
jaring dengan mata jaring berukuran kecil, seperti pada alat tangkap purse
seine, wajib untuk diwaspadai.

3) Konflik dan Tekanan Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Laut

Mengingat masih kecilnya modal yang dimiliki oleh nelayan di Raja Ampat,
armada penangkapan yang digunakan nelayan juga masih sederhana dan
bersifat tradisional. Akibatnya, lokasi penangkapan ikan praktis
terkonsentrasi di daerah perairan pantai dan teluk. Kondisi ini tentunya
akan berdampak buruk jika berlangsung terus-menerus, karena tekanan
penangkapan ikan di daerah pantai dan teluk akan semakin besar,
sementara pertumbuhan sumberdaya semakin kecil.

Namun demikian, di balik peluang yang ada, ada kecenderungan nelayan


melakukan praktek illegal fishing dengan melakukan penangkapan yang
merusak (destructive fishing) seperti penggunaan bom, bahan-bahan
beracun serta alat tangkap yang tidak ramah lingkungan khususnya untuk
ikan-ikan karang. Permasalahan lainnya yang juga perlu menjadi
perhatian adalah makin menurunnya sumberdaya non-ikan seperti teripang.
Data statistik menunjukkan bahwa produksi ikan menunjukkan penurunan
dari tahun ke tahun.

Kondisi terumbu karang juga perlu mendapatkan perhatian yang serius.


Dewasa ini terumbu karang telah mengalami degradasi yang cukup nyata
akibat meningkatnya aktiiitas manusia. Kerusakan terumbu karang,

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-7
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

umumnya disebabkan oleh penggunaan bahan peledak dan racun untuk


mencari ikan. Selain itu terumbu karang juga bisa rusak karena peningkatan
laju sedimentasi akibat erosi, pengambilan karang untuk bahan bangunan,
berjalan-jalan di atas karang, dan mencungkil-cungkil karang untuk
mengambil biota tertentu. Aktifitas pariwisata yang tinggi tanpa
memperhatikan kelestarian lingkungan juga dapat menyebabkan kerusakan
terhadap terumbu karang.

Kerusakan karang di perairan Kabupaten Raja Ampat umumnya disebabkan


karena penggunaan bom untuk mencari ikan. Kerusakan yang cukup parah
akibat penggunaan bom terjadi pada terumbu karang hampir di semua
lokasi survei kecuali di perairan Pulau Gemin dan Yensawai. Pada daerah-
daerah dengan terumbu karang rusak, pecahan-pecahan karang bercabang
tampak berserakan. Pecahan-pecahan karang dengan ukuran kecil-kecil ini
bisa menghalangi pertumbuhan karang baru, mengingat bahwa larva karang
membutuhkan substrat yang kokoh untuk menempelkan diri.

Penggunaan bom untuk mencari ikan, hingga saat ini masih terus
berlangsung. Nelayan-nelayan yang menggunakan bom umumnya berasal
dari luar Kabupaten Raja Ampat dan biasanya pengguna bom berasal dari
Sorong. Mereka masuk kawasan tanpa ijin dari Dinas Perikanan Kabupaten
Raja Ampat.

Kerusakan terumbu karang akibat penggunaan racun juga terjadi. Di


beberapa lokasi dijumpai karang yang mengalami bleaching (pemutihan)
akibat penggunaan Potasium Sianida. Di Kepulauan Raja Ampat juga
terdapat beberapa kondisi terumbu karang yang rusak akibat penggunaan
bahan peledak dan bahan perusak lainnya. Kerusakan ini telah
mengakibatkan terganggunya siklus ekosistem terutama kehidupan berbagai
jenis biota laut yang berasosiasi dengan terumbu karang. Kerusakan ini juga
telah menghilangkan fungsi estetika dari komunitas terumbu terutama
untuk kegiatan pariwisata.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-8
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang cukup bervariasi, namun


sebagian besar kerusakan akibat penggunaan bahan peledak (bom). Di sisi
lain ada lokasi yang rusak akibat gelombang besar sementara lokasi yang
rusak akibat penggunaan potasium hanya ditemukan pada perairan sebelah
selatan Pulau Bun. Diduga akar bore (tuba tradisional) secara luas masih
digunakan di seluruh perairan Raja Ampat. Hasil penubaan ini menyebabkan
pemutihan karang yang serupa dengan penggunaan potasium. Pada lokasi
tertentu diduga telah terjadi kerusakan akibat pengaruh perubahan suhu
maupun akibat hewan pemangsa seperti Aconthoster ploncii. Namun secara
keseluruhan wilayah perairan Raja Ampat sangat lenting (resilience)
terhadap perubahan iklim, dicirikan dengan adanya pertukaran massa air
yang dinamis dan adanya proses upwelling di beberapa tempat.

4) Perubahan Komposisi dan Ukuran Sumberdaya Hayati Laut

Pengoperasian alat tangkap yang digunakan untuk menangkap suatu jenis


ikan secara terus-menerus juga perlu diwaspadai. Ini karena sifat
perikanan tropis yang multi-species, dimana antar species saling
berhubungan dalam suatu rantai makanan. Penangkapan ikan suatu jenis
ikan, seperti kerapu yang mempunyai ekonomis tinggi dikhawatirkan akan
memberi peluang ikan lain yang merupakan kompetitornya untuk tumbuh
lebih cepat sehingga mengganggu kestabilan ekosistem sumberdaya hayati
laut yang ada.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-9
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

4.2 SOSIAL

1) Tingkat Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2004 sebanyak 32.055
jiwa. Sesuai dengan kondisi alamnya, hampir seluruh penduduk Kabupaten
Raja Ampat menetap di tepi laut (pantai). Hanya penduduk Kampung
Kalobo, Waijan, Tomolol, Waisai, dan Magey yang tinggal agak jauh ke arah
daratan.

Kepadatan penduduk Raja Ampat adalah sebesar 4 jiwa/Km2. Distrik


Samate merupakan distrik dengan jumlah penduduk terbanyak di wilayah
Kabupaten Raja Ampat, yakni sebesar 6.800 jiwa atau sebesar 21,2% dari
jumlah seluruh penduduk Raja Ampat, namun tingkat kepadatannya relatif
masih rendah yaitu sebesar 4 jiwa/Km2. Sementara Distrik Waigeo Timur
merupakan distrik dengan jumlah penduduk terkecil yaitu sebanyak 1.236
jiwa atau 3,9% dari jumlah seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat,
namun tingkat kepadatan penduduknya sedikit lebih tinggi dari Distrik
Samate, yakni sebesar 5 jiwa/Km2. Bila berdasarkan tingginya tingkat
kepadatan penduduk, maka secara berurutan distrik yang terpadat
penduduknya adalah Distrik Kepulauan Ayau (111 jiwa/Km2), Distrik Kofiau
(11 jiwa/Km2), Distrik Waigeo Selatan (8 jiwa/Km2), dan Distrik Misool
Timur Selatan (6 jiwa/Km2). Distrik yang memiliki kepadatan penduduk
terendah adalah Distrik Teluk Mayalibit (1 jiwa/Km2).

Laju pertumbuhan penduduk Raja Ampat dari tahun 2000 sampai dengan
tahun 2006, adalah 18,55% sehingga laju pertumbuhan rata-rata per tahun
adalah 3,09%. Laju pertumbuhan tertinggi terjadi di Distrik Waigeo Selatan
(8,67%) sedangkan terendah terjadi di Distrik Kepulauan Ayau (0,10%). Laju
pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun untuk tiap distrik dapat dilihat
pada Tabel 4.6.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-10
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Tabel 4.6 Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Raja Ampat


Jumlah penduduk Laju pertumbuhan
No. Distrik
2000 2006 per tahun (%)
1. Waigeo Selatan 2.742 4.168 8,67
2. Waigeo Barat 1.279 1.511 3,02
3. Waigeo Timur 1.000 1.236 3,93
4. Waigeo Utara 2.519 2.781 1,73
5. Kep. Ayau 1.984 1.996 0,20
6. Kofiau 2.218 3.335 8,40
7. Samate 1.947 2.170 1,91
8. Teluk Mayalibit 6.372 6.800 1,12
9. Misool 3.387 3.412 0,12
10. Misool Timur Selatan 3.591 4.646 4,90
RAJA AMPAT 27.039 32.055 3,09
Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

Secara keseluruhan jumlah penduduk laki-laki di Raja Ampat sedikit lebih


banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Jumlah penduduk laki-
laki mencapai 52,55% dari total jumlah penduduk Raja Ampat.

2) Tingkat Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan, umumnya


masyarakat Raja Ampat merupakan lulusan SD (7.895 orang). Hanya
sebagian kecil penduduk lulusan SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi (PT).
Berdasarkan survei PRA pada tahun 2006, jumlah penduduk yang merupakan
lulusan SLTP sebanyak 2.007 orang, lulusan SLTA 2.100 orang, dan lulusan
PT 450 orang.

Mambrisaw et.al. (2006) melaporkan bahwa, cukup banyak penduduk usia


sekolah (semua tingkatan) yang putus sekolah. Akses ke sekolah yang
susah, menjadi alasan utama banyaknya siswa yang putus sekolah. Alasan
lainnya adalah karena kondisi ekonomi keluarga, fasilitas pendidikan yang
minim, dan motivasi belajar masyarakat yang masih rendah. Budaya lokal
yang sering membawa anaknya menokok sagu dalam waktu lama, juga
mendorong tingginya angka putus sekolah.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-11
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

3) Pertumbuhan Tenaga Kerja

Mayoritas penduduk Kabupaten Raja Ampat menggantungkan hidupnya dari


sumberdaya alam yang ada di wilayah tersebut. Profil rumah tangga
masyarakat di Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh rumah tangga petani.
Jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani sebanyak 3.987
jiwa (12%), disusul kemudian sebagai nelayan sebanyak 2.633 jiwa (8%).
Selain nelayan atau petani, sebanyak 1.341 jiwa atau 4% penduduk Raja
Ampat berprofesi sebagai PNS/TNI kemudian 1.312 jiwa atau 4% berprofesi
sebagai buruh atau karyawan pada perusahaan-perusahaan mutiara yang
terdapat di Distrik Waigeo Barat, Distrik Samate, Distrik Misool, dan Distrik
Misool Timur Selatan.

Untuk wilayah yang mempunyai daratan yang tidak luas seperti Ayau,
Arborek, Mutus, dan Wejim, umumnya penduduk di sana bermata
pencaharian sebagai nelayan sedangkan untuk daerah yang mempunyai
daratan yang luas ada yang memang mayoritas petani seperti Kabare dan
Bonsayor, namun paling banyak adalah yang bermatapencaharian ganda
yaitu sebagai petani dan nelayan, yang dilakukan berdasarkan musim yang
berlangsung. Pada saat musim angin selatan mereka bertani dan di luar
musim itu mereka melaut untuk mencari ikan.

4.3 EKONOMI

1). Perikanan Tangkap

Bila ditinjau dari teknologi yang digunakan, alat tangkap yang dioperasikan
oleh nelayan di Raja Ampat masih sederhana. Jenis alat tangkap yang
dioperasikan di perairan Raja Ampat sebanyak 14 jenis alat tangkap. Alat
tangkap pancing dasar dan tonda merupakan jenis alat tangkap yang
dominan terdapat di Raja Ampat dan jenis tersebut juga tersebar hampir di
setiap distrik.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-12
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Sementara, alat tangkap bagan banyak terdapat di Waigeo Selatan, Waigeo


Barat, Samate, Misool, dan Misool Timur Selatan. Alat tangkap ini umumnya
digunakan untuk menangkap ikan teri (Stolephorus sp), cumi-cumi (Loligo
sp) dan ikan-ikan pelagis lainnya seperti momar (Decopterus sp), lema
(Rastrelliger sp), oci (Selaroides sp) dan lain-lain.

Nelayan-nelayan di daerah Teluk Mayalibit biasanya menggunakan alat


tango (seser) untuk menangkap ikan kembung dan udang halus (ebi).
Kemudian, untuk sero (trap) hanya dijumpai di Distrik Samate, karena alat
ini hanya dapat dioperasikan di daerah yang mempunyai perbedaan pasang-
surutnya tinggi.

Selain nelayan lokal, banyak nelayan dari luar Raja Ampat yang beroperasi
di Perairan Kabupaten Raja Ampat. Usaha penangkapan ikan dilakukan
baik oleh perorangan maupun perusahaaan yang menggunakan berbagai
jenis alat tangkap seperti pancing (hand line), huhate (pole and line),
jaring insang (gill net), bagan (lift net), mini purse seine, dan trammel net.

Hasil tangkapan huhate (pole and line) adalah ikan cakalang dan tuna.
Alat ini biasanya digunakan pada kapal-kapal cakalang. Sementara, target
tangkapan mini purse seine di Raja Ampat adalah ikan-ikan pelagis yang
suka bergerombol seperti ikan cakalang, layang dan kembung. Sedangkan
alat tangkap trammel net digunakan untuk menangkap udang dan ikan
dasar.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-13
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Tabel 4.8 Sebaran jenis Alat Tangkap Berdasarkan Distrik Tahun 2006
Pancing Rawai Jaring Tramel Senapan Tali
No Distrik Bagan Sero Huhate Tango Kalawai
Tonda Dasar Dasar Insang Hiu Lingkar Net Molo Accu
1 Waigeo Selatan 75 140 10 10 - 2
35 - 5 2 - √ √ √
2 Waigeo Barat 10 55 4 5 - -
15 - 2 - - √ √ √
3 Waigeo Timur 15 58 - 3 - -- - - - - √ √ √
4 Waigeo Utara 50 23 - 3 - -- - - - - √ √ √
5 Kep. Ayau 5 105 - 7 3 -- - - - - √ √ √
6 Kofiau 25 84 5 3 10 -- - - - - √ √ √
7 Samate 20 69 5 25 2 28
- 28 3 3 - √ √ √
8 Teluk Mayalibit - 81 - 5 - -- - - - √ √ √ √
9 Misool 65 150 1 3 10 1
63 - 6 - - √ √ √
10 Misool Timur 5 60 2 49 5 -
40 - 3 - - √ √ √
Selatan
Jumlah 270 825 27 113 30 3 181 28 19 5 - - - -
Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat (2005) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat (2006)

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-14
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Armada penangkapan ikan nelayan lokal yang beroperasi di Kabupaten Raja


Ampat didominasi oleh perahu tanpa motor, perahu motor katinting, dan
perahu motor tempel. Sedangkan armada penangkapan ikan yang berasal
dari luar daerah, seperti dari Sorong dan Sulawesi, menggunakan kapal
motor dengan kapasitas yang besar.

Perahu tanpa motor yang digunakan nelayan lokal pada umumnya adalah
perahu yang menggunakan semong dengan ukuran 3 - 7 m. Armada ini
merupakan pilihan utama masyarakat Kabupaten Raja Ampat karena tidak
membutuhkan bahan bakar minyak. Adapun perahu yang menggunakan
mesin katinting dan motor tempel ukurannya lebih panjang dari 7 m. Kapal
motor dengan ukuran di atas 10 GT banyak digunakan oleh para nelayan
dari luar Raja Ampat.

Tabel 4.9 Sebaran Armada Penangkapan Ikan Beradasrkan Distrik Tahun


2006
KM (GT)*
No Distrik PTM PK MT.15 MT.25 MT.40 PMD*
10 10-15 30 50-100
1 Waigeo Selatan 60 46 34 17
2 Waigeo Barat 55 52 43 3 6 10
3 Waigeo Timur 46 10 2
4 Waigeo Utara 19 9 17 1 13 3 1 1 8 11
5 Kep. Ayau 95 10 30 15 2
6 Kofiau 69 49 40 15 1 1
7 Samate 53 52 91 4 38 7 16
8 Teluk Mayalibit 41 20 9 0 3
9 Misool 150 47 48 12 5 71 3 6
10 Misool Timur 60 132 38 1 15 5 51
Selatan
JUMLAH 648 417 360 9 119 23 166 1 11 18
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006
Keterangan PTM: Perahu Tanpa Motor; PK: Perahu Ketiting; MT: Motor Tempel;
PMD: Perahu Motor Dalam; KM: Kapal Motor; GT: Gross Ton

Rata-rata armada penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan lokal


dioperasikan dengan sistem one day fishing (4 -12 jam per hari). Namun
demikian, dengan banyaknya armada dari luar pulau yang melakukan
kegiatan penangkapannya di Raja Ampat, lama trip penangkapan ikan
diduga akan semakin panjang karena makin sedikitnya sumberdaya ikan.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-15
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Bila ditinjau dari jenis alat tangkap yang digunakan, dimana mayoritasnya
adalah pancing, maka secara umum alat tangkap yang dioperasikan nelayan
di Raja Ampat dapat dikategorikan ramah terhadap lingkungan. Alat
tangkap gillnet dan trammel net juga relatif baik karena juga tidak merusak
ekosistem sekitarnya dan sumberdaya ikan yang ditangkap. Khusus untuk
mini purse seine, karena mata jaringnya yang kecil maka pengoperasian
yang besar-besaran dengan alat bantu penangkapan seperti lampu atau
rumpon akan membahayakan kelestarian sumberdaya ikan baik secara
langsung maupun tidak langsung.

Selain untuk pemasaran lokal, hasil tangkapan nelayan di Raja Ampat


berupa teripang, rumput laut, cumi-cumi kering dan ikan teri kering
dipasarkan pula ke daerah Makasar, Surabaya dan Jakarta. Sementara itu,
untuk lobster juga dipasarkan ke Bali. Tujuan daerah pemasaran dari
berbagai komoditi hasil perikanan tangkap dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Daerah Tujuan Pemasaran Produksi Perikanan Tangkap di


Kabupaten Raja Ampat

No Jenis Komoditi Daerah / Negara Tujuan


1 Tenggiri beku Bintuni, Bitung, Manokwari, Surabaya, Jakarta
2 Cakalang beku Bintuni, Bitung, Manokwari, Surabaya, Jakarta
3 Campuran beku Bintuni, Bitung, Manokwari, Surabaya, Jakarta
4 Kerapu hidup Hongkong, Ternate
5 Napoleon Hongkong, Ternate
6 Teri tawar Manokwari, Jayapura, Bitung, Makasar, Nabire,
Kupang, Surabaya, Jakarta
7 Cumi kering Jakarta
8 Cumi beku Jakarta, Surabaya, Jayapura
9 Lobster Denpasar, Jakarta
10 Sirip/ekor hiu Denpasar, Jakarta
11 Teripang Makasar, Surabaya, Jakarta
Sumber : Laporan Stasiun Karantina Ikan, Sorong (2005)

Meskipun penduduk di Kabupaten Raja Ampat mayoritas bermata


pencaharian sebagai nelayan, namun potensi perikanan yang begitu besar
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat
IV-16
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan


masyarakat. Nelayan-nelayan lokal menggunakan peralatan tangkap yang
sangat sederhana sehingga kalah bersaing dengan kapal nelayan pendatang
dan asing yang beroperasi di wilayah tersebut. Diperkirakan ada ribuan
kapal pendatang dan asing, baik yang berizin resmi maupun tidak (illegal),
yang beroperasi di perairan Raja Ampat dan sekitarnya. Hal ini tentu
menimbulkan persaingan yang tidak sehat dengan penduduk lokal yang
umumnya memiliki kemampuan teknologi dan modal yang terbatas,
sehingga berpotensi cukup besar menimbulkan suatu permasalahan konflik
sosial antar mereka.

2). Perikanan Budidaya

Komoditas unggulan perikanan budidaya di Kabupaten Raja Ampat adalah


rumput laut dan mutiara. Budidaya mutiara menjadi primadona masa depan
bagi Raja Ampat. Saat ini terdapat 6 perusahaan yang mengembangkan
budidaya mutiara secara modern sejak tahun 1990, 3 diantaranya
merupakan penanaman modal asing (PMA) dan sisanya penanaman modal
dalam negeri (PMDN).

Lokasi budidaya mutiara ini terdapat di Distrik Misool (1 perusahaan),


Waigeo Barat (2 perusahaan), Waigeo Selatan (2 perusahaan) dan Batanta
(1 perusahaan). Selain dijual ke pasar domestik, seperti: Makasar,
Surabaya, Jakarta dan Medan, produksi mutiara yang mencapai ribuan ton
per tahun ini juga diekspor ke Jepang, Singapura dan Thailand. Namun
sayangnya, kegiatan budidaya mutiara ini masih belum banyak melibatkan
masyarakat setempat.

Sementara itu, budidaya rumput laut telah dilakukan oleh masyarakat


setempat, terutama jenis Euchema cottoni. Budidaya rumput laut ini
terdapat di Distrik Kepulauan Ayau (Pulau Ayau), Distrik Waigeo Selatan
(Pulau Friwen dan Pulau Arborek) serta Distrik Waigeo Barat (Pulau Fam).

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-17
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

3). Pengolahan Hasil Perikanan

Kegiatan pengolahan hasil perikanan juga terdapat di Kabupaten Raja


Ampat, namun umumnya masih bersifat tradisionil dan dalam skala rumah
tangga. Jenis pengolahan yang ada di Raja Ampat umumnya adalah berupa
pengasinan ikan.

Tabel 4.11 Unit Pengolahan Hasil Perikanan di Kabupaten Raja Ampat

NO LOKASI JENIS JUMLAH TENAGA KERJA


(unit) (orang)
1 Waigeo Pengolahan ikan asin 10 104
2 Samate Terasi udang 1 5
Pengolahan ikan asin 1 5
3 Misool Pengolahan hasil laut 1 5
JUMLAH 13 119
Sumber : Data industri Kabupaten Raja Ampat (2003) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah
Pesisir dan Laut Kab. Raja Ampat (2005)

4). Pariwisata

Sektor pariwisata memiliki prospek pengembangan tersendiri bagi kegiatan


perekonomian Raja Ampat. Keunikan dan keindahan panorama alam
ditambah dengan keanekaragaman sumberdaya perikanan dan kelautan
yang tinggi, terutama ekosistem terumbu karang merupakan daya tarik
tersendiri bagi para wisatawan luar negeri. Bahkan di daerah tersebut
menjadi lokasi penelitian para pakar biota laut dunia.

Jenis potensi pariwisata bahari yang utama di wilayah gugus pulau kecil
Raja Ampat adalah wisata panorama alam, seperti pasir putih, gua, beting-
beting karang, serta wisata diving. Daerah pengembangan pariwisata adalah
di Pulau Kofiau, Misool, Waigeo Selatan dan Barat, serta Kepulauan Ayau.
Namun demikian sejak tahun 1995 hingga sekarang baru terdapat 1 lokasi
yang dikelola oleh PT Papua Diving, khusus untuk wisata bahari dan wisata
alam, yaitu di wilayah Distrik Waigeo Selatan, Waigeo Barat dan Teluk

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-18
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Mayalibit (Profil Kabupaten Raja Ampat, 2004). Kawasan pariwisata


lainnya di Raja Ampat disajikan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Kawasan Pariwisata di Kabupaten Raja Ampat

DISTRIK DESA/KAMPUNG TEMPAT WISATA


Waigeo Utara Kapadiri Air terjum Lam Lam
Waigeo Timur Urbinasopen Pantai Ayem
Pulau Mamiayef
Waigeo Selatan Arborek Karang Laut
Yenbuba Pulau Roti
Karui Bepyar
Tomolol
Kepulauan Kri
Yen Waubnor Burung Cenderawasih
Kabui Selat Kabui
Friwen Meos Pun (kelelawar/paniki)
Wawiyai Kali Raja
Yenbekwan Pulau Dua
Waigeo Barat Salio Taman Laut Wayag
Pulau Sayang (penyu dan komodo)
Meos Manggara Pantai Yeben
Saukabu Pulau Painemo
Pantai Saukabu
Fam Meos Andau Besar dan Kecil
Nafsi
Manaru
Pulau Manaru
Enus
Mutus Mutus Kecil
Efkabu
Meos Manggara Meos War
Maniafun Efmas
Gag Pantai Tuturuga
Sumkali Indah
Saukris
Puncak Bendera Tujuh
Mayalibit Waifoi Gunung Nok
Beo Kupu-kupu
Ayau Rutum Taman Laut Ayau
Reni Pantai Meos Mandum
Meos Bekwan Ombak Meos Tukang
Dorekar Teluk Dorekar
Pulau Tiga
Abidon Abidon
Fani Pantai Fani (Asis)
Samate Arefi Pulau Way
Pantai Indah

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-19
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

DISTRIK DESA/KAMPUNG TEMPAT WISATA


Pulau Kri (Besar-Kecil)
Jefman Pulau Matan
Pantai Urbabo
Pulau Kasim (Besar-Kecil)
Sumber : Profil Kabupaten Raja Ampat (2004) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan
Laut Kab. Raja Ampat (2005)

5). Pertambangan

Sektor pertambangan diperkirakan dimasa mendatang akan mengalami


perkembangan yang cukup tinggi. Hal ini diindikasikan dengan
diperbolehkannya kembali eksplorasi nikel di Pulau Gag, dan masih
memungkinkan penambangan mineral tambang lainnya serta kemungkinan
diperolehnya cadangan minyak yang layak untuk dieksploitasi di lepas
pantai Pulau Misool yang saat ini tengah dilakukan eksplorasi oleh Petro
China (RTRW Kabupaten Raja Ampat, 2005-2014). Potensi pertambangan
yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat disajikan pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Potensi Pertambangan yang Terdapat di Kabupaten Raja Ampat

No DISTRIK POTENSI PERTAMBANGAN

1 Waigeo Selatan (Pulau Waigeo Cobalt, tembaga, nikel


dan Gag)

2 Waigeo Utara Nikel, tembaga, mangaan, batubara

3 Samate Nikel, tembaga, mangaan, batubara

4 Misool Fosfat, opal


Sumber : Profil Kabupaten Raja Ampat, 2004 dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan
Laut Kab. Raja Ampat, 2005

4.4 KELEMBAGAAN

1) Kelembagaan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Masyarakat lebih banyak menggantungkan hidupnya dari laut dengan profesi


sebagai nelayan. Alat-alat yang digunakan dalam menunjang aktivitasnya,
antara lain perahu dayung, tali nylon dan mata kail. Dengan alat-alat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-20
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

yang ada, masyarakat lebih banyak menangkap ikan dengan cara


memancing yang tentunya sangat berpengaruh pada jarak dan hasil melaut.
Waktu melaut digunakan setiap hari tergantung cuaca dengan 5 trip dalam
satu minggu dan hari minggu digunakan untuk beribadah ke Gereja.

Hasil pengkajian di Friwen menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan sangat


dipengaruhi oleh kondisi dan arah angin. Nelayan Friwen mengenal arah
angin, yaitu angin selatan (musim selatan), angin utara (musim utara),
angin timur (musim timur) dan angin barat (musim barat). Sekitar bulan
April-September aktivitas nelayan nyaris berhenti karena cuaca di laut
tidak memungkinkan untuk melaut (ombak dan angin keras) dan pada
musim tersebut (musim selatan) mereka sebagian besar beralih ke
berkebun dan memasuki bulan September dan Oktober mereka mulai
melakukan aktivitas melaut kembali. Khusus untuk ikan tenggiri hasil
tangkapan mencapai puncaknya pada sekitar bulan Desember.

Perbedaan kegiatan melaut pada kedua musim tersebut diakibatkan oleh


alat tangkap nelayan yang masih sederhana yaitu dengan alat tangkap
pancing yang menggunakan perahu dayung sehingga tidak ada pilihan lain
pada saat terjadi musim ombak dan angin keras mereka mau tidak mau
lebih memilih berhenti sebab kegiatan menangkap ikan sangat susah
dilakukan pada saat itu. Di Kampung Friwen juga ditemukan keramba ikan
hidup. Ini dimaksudkan jika nelayan menangkap ikan jenis kerapu dalam
kondisi hidup, mereka lebih memilih memasukkan dalam keramba dahulu,
baru kemudian akan dijual kepada para pengumpul ikan yang biasanya
datang pada waktu-waktu tertentu.

Berbeda dengan Friwen, kondisi nelayan di Kampung Saonek sudah lebih


baik dibandingkan dengan nelayan di kampung Friwen. Hal tersebut dapat
dilihat pada jenis alat tangkap yang digunakan, antara lain berupa long
boat 20 buah dan katinting 10 buah yang merupakan bantuan dari Coremap
II Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. Dengan sarana ini

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-21
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

memungkinkan menjangkau area penangkapan yang lebih luas, sehingga


peluang mendapat hasil tangkapan juga menjadi lebih banyak.

Nelayan Pulau Saonek pada dasarnya mengenal beberapa musim, namun


pola menangkap ikan tidak sepenuhnya tergantung pada musim tertentu
sehingga kegiatan melaut dapat dilakukan setiap saat. Kemudian, ada
waktu-waktu tertentu mereka menyebutnya musim banyak ikan, yaitu pada
bulan terang dimana mereka dapat mendapatkan sekitar 10 – 15 ekor ikan
tenggiri dalam satu kali trip. Selain pada bulan-bulan tersebut, mereka
umumnya hanya bisa mendapatkan antara 2 sampai 5 ekor per trip.
Sementara waktu yang digunakan untuk setaip trip melaut adalah setiap
hari dimulai pada sekitar jam 13.30 sampai jam 19.00 malam.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Coremap dan Dinas Perikanan
dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat (2005), dilaporkan bahwa:
• Biaya yang dikeluarkan setiap pergi melaut dengan 2 (satu) orang
nelayan (kebutuhan termasuk ; BBM, rokok, kopi dan nasi) ukuran
perahu kecil sebesar Rp. 25.000,- sampai Rp. 35.000,-
• Rata-rata pendapatan sebesar Rp. 500.000,- sampai Rp. 1.000.000,-
per bulan
• Faktor yang menghambat mereka mendapatkan ikan yang lebih
banyak selain faktor cuaca adalah jenis alat tangkap dan perahu
yang kecil serta terjadinya degradasi sumberdaya ikan yang diduga
akibat adanya kegiatan penangkapan ikan yang merusak seperti
dengan menggunakan bom.

2) Kelembagaan Sosial Masyarakat Pesisir

a. Strata Sosial

Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten (2005) melaporkan


bahwa kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Raja Ampat mengenal
strata sosial yang ditentukan oleh nilai ketokohan seseorang, kekayaannya,

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-22
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

garis keturunannya dan posisinya dalam institusi sosial dan pemerintahan.


Status sosial ini sangat berpengaruh dalam banyak hal, termasuk dalam
memutuskan sebuah perkara (termasuk urusan politik). Hasil pengkajian
Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten (2005) juga
melaporkan bahwa mayoritas masyarakat menyerahkan sepenuhnya
berbagai macam urusan-urusan termasuk urusan keluarga kepada para elit
Kampung (masyarakat yang memiliki strata sosial yang tinggi).

Sebagai contoh: marga yang ada dalam Kampung Friwen hanya satu yakni
Wawiyai, ini menandakan bahwa penduduk yang ada masih satu garis
keturunan. Pola kekerabatan masih sangat kental sehingga garis keturunan
tidak menjadi mencolok, strata lebih pada tingkat keberanian, kecerdasan
dan pendidikan, sehingga lahir jadi tokoh. Sementara, marga yang ada
dalam Kampung Saonek sudah beragam, karena penduduk berasal dari
berbagai daerah yang kemudian menetap, sehingga strata sosialnya lebih
banyak ditentukan oleh nilai kekayaan, garis keturunan dan posisinya dalam
institusi sosial dan pemerintahan.

b. Mobilitas

Secara umum tingkat mobilitas masyarakat di Kabupaten Raja Ampat masih


tergolong relatif rendah. Mobilitas yang rendah tersebut utamanya
dipengaruhi oleh sarana transportasi yang masih sangat terbatas (Lampe M.,
2004). Jika ada yang melakukan kunjungan keluar kabupaten lebih pada
belanja kebutuhan pokok dan lainnya yang dilakukan seminggu atau bahkan
sebulan sekali, atau mengunjungi anak-anak yang sedang melanjutkan
pendidikan di luar kabupaten, seperti ke Kota Sorong. Begitu juga halnya
dalam kegiatan melaut, mobilitas geografinya juga hanya terpusat pada
daerah-daerah penangkapan (fishing grounds) yang umumnya berada di
sekitar perairan pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah tinggalnya.

Khusus untuk Kampung Saonek, tingkat mobilitas masyarakat dapat


dikatakan yang paling tinggi dibanding dengan kampung lainnya di
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat
IV-23
ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN

Kabupaten Raja Ampat. Meskipun kondisi jarak yang jauh, tetapi sarana
transportasi seperti kapal-kapal perintis sudah cukup tersedia. Kunjungan
keluar kabupaten seperti ke Sorong cukup sering dilakukan oleh masyarakat
Kampung Saonek, baik untuk keperluan belanja kebutuhan pokok, menemui
kerabat atau anak-anak yang melanjutkan pendidikan maupun karena
urusan dinas dari pegawai-pegawai instansi setempat. Namun, untuk
kegiatan melautnya, mobilitasnya masih dikategorikan rendah, walaupun
sebagian nelayan telah menggunakan kapal johnson (motor tempel) dan
katinting, tetapi mereka belum menjangkau daerah penangkapan yang lebih
jauh.

c. Kegiatan Sosial

Kelompok sosial yang dapat ditemukan di Kabupaten Raja Ampat, umumnya


terdiri dari kelompok ibu-ibu, kepemudaan dan keagamaan. Kelompok
perkumpulan ibu-ibu, yang berkembang adalah PKK, sedangkan kelompok
kepemudaan biasanya tergabung sekaligus dengan keagamaan, seperti:
kelompok pemuda GKI (Gereja Kristen Indonesia) dan kelompok remaja
Masjid.

Jenis kegiatan PKK yang menghimpun kelompok ibu-ibu cukup beragam,


diantaranya adalah membuat minyak kelapa, mengolah ikan, pemanfaatan
lahan pekarangan dan membuat kerajinan tangan. Semua kegiatan
tersebut masih terbatas untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga
anggota. Sementara, kelompok pemuda Gereja umumnya beraktivitas
untuk kegiatan keagamaan atau peribadatan mingguan, menyambut natal,
dan tahun baru, sedangkan kelompok remaja Masjid umumnya merupakan
wadah komunikasi/informasi keagamaan dan berbagai kegiatan keagamaan
seperti pengajian, menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri
serta Idul Adha.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


IV-24
BAB 5
Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu
Karang Kab. Raja Ampat

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
RENCANA STRATEGI
5 PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT

5.1 PERSEPSI UMUM MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN TERUMBU


KARANG
Ekosistem terumbu karang oleh masyarakat Raja Ampat telah lama dikenal
dan juga disadari bahwa ekosistem ini memiliki berbagai macam manfaat,
baik langsung maupun tidak langsung, bagi kehidupan mereka. Menurut
masyarakat umum Raja Ampat, utamanya nelayan, manfaat tidak langsung
dari ekosistem terumbu karang secara garis besar ada 2 (dua), yaitu: (1)
sebagai lokasi atau tempat berkembang-biak, berlindung dan mencari
makan bagi berbagai jenis ikan, dan (2) sebagai pelindung pantai
terhadap terpaan gelombang yang dapat mengakibatkan pengikisan pantai.
Sementara itu, untuk manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat dari
keberadaan ekosistem terumbu karang adalah sebagai kawasan atau lokasi
untuk menangkap ikan (fishing ground), khususnya untuk mendapatkan
ikan-ikan karang. Kerusakan terumbu karang akibat aktivitas penangkapan
yang merusak (destructive fishing), seperti penggunaan bom dan
potassium, telah menyebabkan nelayan setempat semakin sulit
mendapatkan ikan, bahkan mereka berpindah ke lokasi lain yang
ekosistem terumbu karangnya masih relatif baik, sebagai fishing ground
mereka yang baru. Kemudian, manfaat langsung lainnya yang juga
dirasakan oleh mayarakat adalah penggunaan karang sebagai bahan baku
pengganti batu kali untuk mendirikan bangunan atau dermaga. Walaupun
sebenarnya mereka menyadari bahwa kegiatan ini akan menyebabkan
kerusakan bagi ekosistem terumbu karang. Selain pemahaman masyarakat
terhadap manfaat terumbu karang di atas, masyarakat juga memahami
bahwa terumbu karang sebagai kawasan yang memiliki keindahan dapat
menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Hal ini mereka ketahui dari
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

seringnya kedatangan orang-orang yang melakukan kegiatan penyelaman


(diving) di sekitar lokasi mereka. Masyarakat memahami apabila ekosistem
terumbu karang tetap dijaga maka akan banyak wisatawan yang akan datang
ke kawasan terumbu karang untuk menikmati keindahannya.

Selanjutnya, selain memahami berbagai manfaat ekosistem terumbu


karang bagi kehidupan mereka, umumnya masyarakat Raja Ampat juga
memahami berbagai faktor penyebab kerusakan terumbu karang dan akibat
yang ditimbulkan atau dampaknya. Penggunaan bom, potassium dan akar
bore merupakan faktor utama penyebab kerusakan ekosistem yang banyak
diketahui oleh masyarakat lokal. Aktivitas destructive fishing di perairan
Raja Ampat sebagian besar dilakukan oleh orang luar Raja Ampat atau
nelayan yang berasal dari daerah lain.

Berbagai akibat yang dirasakan oleh masyarakat akibat kegiatan pengrusakan


terumbu karang, adalah hilangnya beberapa daerah penangkapan ikan
(fishing ground). Hal ini tentu sangat dirasakan oleh nelayan
tradisional setempat yang umumnya masih menggunakan perahu dayung.
Karena daerah penangkapan mereka menjadi semakin berkurang, selain
itu juga jaraknya semakin jauh dari pantai, akibatnya mereka
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai fishing ground.
Hal ini tentu akan berdampak negatif pada aktivitas usaha nelayan, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Hal sama juga dirasakan oleh
nelayan yang menggunakan perahu ketinting bermesin. Dengan semakin
jauhnya daerah tangkapan, mereka tentu akan membutuhkan bahan bakar
yang lebih banyak untuk mencapai daerah tangkapan. Padahal harga bahan
bakar pada saat ini sudah relatif mahal, sehingga hal ini tentu juga sangat
dirasakan oleh para nelayan yang menggunakan perahu ketinting bermesin.
Dampak lainnya, yang mereka rasakan adalah terjadinya pengikisan pantai
sebagaimana yang dikeluhkan oleh masyarakat di beberapa wilayah seperti
di desa Mutus dan Saonek, dimana telah terjadi pengurangan pantai akibat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-2
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

pengikisan pantai oleh ombak/gelombang. Selanjutnya, masyarakat secara


umum juga menyadari bahwa bila ekosistem terumbu karang di Raja Ampat
rusak, maka berarti pula hilangnya kekayaan alam Kabupaten Raja Ampat,
karena masyarakat mengetahui bahwa salah satu faktor yang menyebabkan
kabupaten ini dikenal dunia luar adalah karena keindahan alam terumbu
karangnya.

Pemahaman masyarakat Raja Ampat untuk melindungi ekosistem terumbu


karang dapat dikatakan sudah relatif baik. Mereka, utamanya nelayan,
telah menyadari akan pentingnya atau manfaat yang akan diperoleh dengan
menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang yang ada. Berbagai upaya
juga telah dilakukan masyarakat setempat untuk mencegah kerusakan
terumbu karang. Misalnya, masyarakat di Pulau Saonek memiliki
kesepakatan untuk tidak menggunakan jaring yang dapat merusak ekosistem
terumbu karang dan juga tidak boleh menggunakan tombak/panah untuk
menangkap ikan. Sementara, masyarakat di Desa Yewaupnor membuat
kesepakatan untuk membatasi daerah tangkapan. Masyarakat di Kampung
Moes Manggara tidak memperkenankan penggunaan bom dan potasium,
dalam menangkap ikan. Mereka melakukan pengawasan secara mandiri,
sehingga apabila terdapat nelayan yang menggunakan bom dan potasium di
kawasan mereka, akan segera ditegur secara langsung dan dilarang untuk
menangkap ikan.

5.2 ISU-ISU POKOK DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Banyak aktivitas manusia yang dapat mempengaruhi kondisi ekosistem terumbu


karang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Isu-isu pokok dalam
mengelola dan menjaga kelestarian terumbu karang di wilayah perairan Raja
Ampat yang dapat diinventarisir hingga kini disajikan pada Tabel 5.1.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-3
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tabel 5.1 Kegiatan, dampak dan lokasi terumbu karang yang terkena
dampak di Raja Ampat
No. Kegiatan Dampak Lokasi
1 Penangkapan ikan karang • Mematikan ikan tanpa Waigeo, Kofiau,
dengan menggunakan diskriminasi, karang Bantata, Salawati,
bahan peledak dan racun dan biota invertebrata Misool, dan
yang tidak Kepulauan Ayau.
bercangkang
(anemon)
• Mengakibatkan ikan
pingsan, mematikan
karang dan biota
invertebrata.

2 Penambangan karang Perusakan habitat dan Hampir seluruh


(dengan atau tanpa bahan kematian masal hewan wilayah
peledak) karang Kabupaten Raja
Ampat

3 Labuh kapal dan • Kerusakan fisik karang Waigeo, Batanta,


kepariwisataan oleh jangkar kapal Kofiau, Misool,
• Rusaknya karang oleh Salawati
penyelam
• Koleksi dan
keanekaragaman biota
karang yang semakin
menurun

4 Penggundulan hutan Sedimen hasil erosi dapat Waigeo


dilahan atas mencapai terumbu karang
di sekitar muara sungai,
sehingga mengakibatkan
kekeruhan yang
menghambat difusi
oksigen kedalam polip

5 Penambangan bahan • Meningkatnya Pulau Batanta,


mineral kekeruhan yang Kapadiri, Kabare
mengganggu (Waigeo Utara),
pertumbuhan karang
• Pencemaran limbah
yang dapat
menyebabkan
eutrofikasi

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-4
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

1) Aktivitas penangkapan ikan yang merusak

Penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potassium merupakan


permasalahan utama dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten
Raja Ampat. Menurut masyarakat lokal, pelaku utama dari kegiatan
destructive fishing ini umumnya dilakukan oleh nelayan-nelayan dari luar.
Akibat penggunaan bahan peledak dan racun, telah menyebabkan
kerusakan terumbu karang di beberapa kawasan terumbu karang. Dampak
dari penggunaan bom terhadap terumbu karang berupa kehancuran karang
akibat pengaruh daya ledaknya. Penggunaan bom memberikan dampak
negatif dengan skala yang cukup luas dan tidak hanya menghancurkan karang
tetapi juga menghancurkan biota-biota yang berada di sekitarnya pada
saat terjadi ledakan. Sementara itu, dampak dari penggunaan potassium
terhadap karang adalah matinya biota karang akibat bahan-bahan kimia.
Walaupun dampak ini skalanya lebih kecil dibandingkan dampak penggunaan
bom, namun jika dilakukan secara intensif juga akan menyebabkan kematian
karang dalam skala yang luas.

2) Aktivitas penambangan dan pengambilan karang

Isu pokok lainnya yang juga akan merusak ekosistem terumbu karang adalah
penambangan dan pengambilan karang. Aktivitas ini merupakan kegiatan
merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir
pada umumnya. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak
tersedianya bahan bangunan, terutama batu pada suatu daerah, sehingga
alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. Dengan
aktivitas ini, habitat karang akan menjadi rusak, terlebih bila tingkat
pemanfaatannya semakin bertambah besar dan luas, tentu akan
menyebabkan hilangnya suatu kawasan ekosistem terumbu karang.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-5
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

3) Aktivitas labuh kapal dan pariwisata

Aktivitas kapal yang berlabuh di dekat kawasan terumbu karang juga


dapat memberikan dampak negatif bila tidak dilakukan dengan hati-hati.
Karena, pada saat berlabuh di suatu tempat, kapal akan membuang
jangkar agar kapal tidak hanyut, sehingga bila jangkar tersebut dilempar
dan mengenai terumbu karang, tentu akan merusak fisik karang tersebut.
Kegiatan pariwisata yang tidak terkontrol juga akan menyebabkan
terganggunya ekosistem terumbu karang, seperti rusaknya karang akibat
kegiatan penyelaman yang tidak profesional atau teganggunya ekosistem
terumbu karang akibat kegiatan penyelaman yang terlalu intensif.

4) Penggundulan/perusakan kawasan hutan

Akibat penggundulan atau perusakan hutan, akan menyebabkan erosi dan


banjir. Sedimen hasil erosi akan terbawa sungai hingga mencapai muara
sungai bahkan dapat mencapai terumbu karang di sekitar yang terdekat,
sehingga mengakibatkan kekeruhan yang menghambat difusi oksigen
kedalam polip. Dengan demikian, kondisi hutan juga dapat mempengaruhi
keberadaan ekosistem terumbu karang.

5) Penambangan bahan mineral


Penambangan bahan mineral juga dapat memberikan dampak langsung
maupun tidak langsung terhadap ekosistem terumbu karang, seperti:
meningkatnya kekeruhan perairan sekitar yang tentunya hal ini akan
mengganggu pertumbuhan karang. Selain itu, kemungkinan terjadinya
pencemaran limbah produksi yang tidak terkontrol, sehingga dapat
menyebabkan eutrofikasi.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-6
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

5.3 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KABUPATEN RAJA AMPAT

Arah kebijakan pembangunan Kabupaten Raja Ampat pada masa kini


mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional
periode tahun 2005-2009 yang telah menetapkan 3 (tiga) agenda utama,
yaitu: menciptakan Indonesia yang aman dan damai, mewujudkan
Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat
Indonesia. Berdasarkan analisis latar belakang kebijakan pembangunan
nasional dan karakteristik daerahnya, Kabupaten Raja Ampat merumuskan
suatu visi sebagai berikut:

”Terwujudnya Kabupaten Raja Ampat sebagai Kabupaten Bahari yang


didukung oleh potensi sumberdaya menuju masyarakat Raja Ampat yang
madani dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Dengan visi tersebut, kemudian disusun misi yang akan diemban, yakni:

1. Mewujudkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang bersih,


transparan dan profesional.
2. Peningkatan kemampuan kemandirian keuangan daerah untuk
meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
3. Peningkatan partisipasi dan akuntabilitas publik dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang
dilaksanakan secara efisien dan efektif.
4. Peningkatan pemahaman masyarakat tentang fungsi laut sebagai
pemersatu dan pengikat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
merupakan aset masa depan yang perlu dilestarikan.

Selanjutnya, untuk mendukung visi dan misi tersebut, maka Pemerintah


Kabupaten Raja Ampat bersama dengan Mitra Pembangunan (LSM, Swasta,
Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Wanita, dan Masyarakat) telah sepakat
melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan, yang didokumentasikan

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-7
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

dalam bentuk Deklarasi Tomolol pada Desember 2003. Adapun isi Deklarasi
Tomolol tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kepulauan Raja Ampat mengandung keanekaragaman hayati yang


tinggi dan ekosistem yang khas merupakan modal utama
pembangunan yang harus dilestarikan untuk kesejahteraan
masyarakat
2. Hak-hak dasar dan hukum adat masyarakat setempat harus diakui
dalam proses perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam secara
berkesinambungan
3. Pemanfaatan sumberdaya alam harus diatur berdasarkan sebuah
rencana pengelolaan terpadu yang disepakati berbagai pihak dengan
didasarkan pada prinsip-prinsip ekologi dan nilai-nilai sosial-budaya
masyarakat setempat, termasuk didalamnya penetapan kawasan dan
spesies yang memerlukan perlakuan khusus
4. Kabupaten Kepulauan Raja Ampat adalah Kabupaten Bahari

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, dapat dinyatakan bahwa membangun


Kabupaten Raja Ampat kedepan akan bertumpu pada 2 (dua) pilar utama
(leading sector)-nya, yakni sektor kelautan dan perikanan dan sektor
pariwisata. Sektor kelautan dan perikanan akan dibangun atas dasar
keberadaan sumberdaya alamnya (resource based) yang memang masih
tersedia dan belum dimanfaatkan secara optimal, sedangkan sektor
pariwisata akan terus dikembangkan berdasarkan keunikan dan kekayaan
ekosistem terumbu karangnya serta panorama alam sekitarnya. Kedua
sektor ini selain inputnya lokal dan berlimpah juga akan mampu menyerap
jumlah tenaga kerja yang relatif besar, disamping juga tidak terlalu
memerlukan tingkat teknologi yang tinggi untuk mengembangkannya.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-8
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

5.4 FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS YANG BERPERAN DALAM PENGELOLAAN


TERUMBU KARANG

Konsep pengelolaan terumbu karang di suatu kawasan, secara umum akan


dipengaruhi oleh lingkungan strategis wilayahnya, baik lingkungan internal
maupun eksternal, yang dapat menentukan tingkat keberhasilan
pengembangan dan pemanfaatannya. Untuk lingkungan internal secara
sinergis akan menentukan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses)
pemerintah daerah untuk tetap berada pada jalur kewenangannya dalam
menyikapi permasalahan yang ada maupun yang akan datang. Kondisi
tersebut akan menempatkan eksistensi yang sangat baik bagi perencanaan
pengelolaan terumbu karang yang ada. Hasil analisis situasi dengan
pendekatan secara komprehensif dari berbagai aspek yang berpengaruh
penting terhadap pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat,
diperoleh faktor-faktor lingkungan internal strategis (kekuatan dan
kelemahan) sebagai berikut:

(1). Kekuatan (Strengths)


(a) Memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang yang tinggi,
bahkan juga banyak dijumpai habitat dan tipe komunitas karang
yang sangat khas.
(b) Kondisi fisik perairan yang strategis dan cukup terlindung sehingga
menyuburkan ekosistem terumbu karang.
(c) Kondisi karang dan komunitas karang secara umum masih “sangat
baik” dengan persentasi penutupan karangnya masih dalam
kategori sedang (~33%).
(d) Memiliki beberapa kawasan konservasi laut.
(e) Pengaruh sedimen dan pencemaran masih relatif kecil, karena
hampir 80% wilayah daratan Raja Ampat merupakan kawasan
konservasi.
(f) Adanya dukungan penuh dari Pemerintah Daerah.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-9
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

(g) Masyarakat Raja Ampat yang partisipatif.

(2). Kelemahan (Weaknesses)


(a) Belum tersedianya informasi yang detail dan akurat yang
memperhitungkan daya dukung kawasan terumbu karang yang
optimal dan berkelanjutan.
(b) Keterbatasan informasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati
laut yang efektif, efisien dan ramah lingkungan.
(c) Keterbatasan sumberdaya manusia yang profesional untuk
mengelola kawasan-kawasan konservasi laut
(d) Kemampuan keuangan daerah yang terbatas untuk pengelolaan
kawasan konservasi laut
(e) Keterbatasan fasilitas infrastruktur untuk melakukan kegiatan
monitoring dan pembinaan masyarakat setempat guna menjaga
kelestarian ekosistem terumbu karang yang ada.
(f) Hingga kini belum ada bentuk atau model formal dari pemerintah
pusat untuk pembangunan di kawasan berciri ekologi khusus/khas
seperti di Kawasan Raja Ampat.

Kemudian, untuk lingkungan eksternal secara sinergis akan menentukan


peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang akan dihadapi oleh
pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Hasil
analisis situasi dengan pendekatan secara komprehensif dari berbagai aspek
yang berpengaruh penting terhadap pengelolaan terumbu karang di
Kabupaten Raja Ampat, diperoleh faktor-faktor lingkungan eksternal
strategis (peluang dan ancaman) sebagai berikut:

(3). Peluang (Opportunities)


(a) Kawasan terumbu karang di Raja Ampat telah lama dikenal di
dunia internasional.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-10
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

(b) Jumlah wisatawan mancanegara untuk berwisata bahari yang


cenderung meningkat.
(c) Arah pengembangan wisata dunia yang berorientasi pada
pelestarian lingkungan.
(d) Adanya dukungan industri pariwisata bahari.
(e) Hadirnya lembaga-lembaga non pemerintah dari mancanegara
yang serius untuk turut berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan
terumbu karang.

(4). Ancaman (Threats)


(a) Kegiatan destructive fishing dan illegal logging.
(b) Kegiatan pembangunan wilayah pesisir yang tidak terencana
dengan baik sehingga akan mengganggu bahkan merusak
lingkungan.
(c) Kerentanan masyarakat terhadap pengaruh pengelolaan
sumberdaya alam yang menjanjikan nilai ekonomi lebih tinggi
walaupun sesaat.
(d) Timbulnya konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir.

5.5 RENCANA STRATEGIS PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Perumusan rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja


Ampat dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT dengan berdasarkan
pada faktor-faktor lingkungan strategis yang telah diformulasikan seperti
tersebut dalam sub-bab 5.3. Alternatif-alternatif strategi yang merupakan
rumusan rencana strategi (renstra) pengelolaan terumbu karang Kabupaten
Raja Ampat hasil generating dari matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-11
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tabel 5.2 Hasil analisis Matriks SWOT untuk pengelolaan terumbu karang di
Kabupaten Raja Ampat
STRENGTHS (S) WEAKNESSES (W)
ƒ Memiliki keanekaragaman ƒ Belum tersedianya informasi
Faktor hayati terumbu karang yang tentang daya dukung terumbu
Internal tinggi. karang yang optimal.
ƒ Kondisi fisik perairan yang ƒ Keterbatasan informasi
strategis dan cukup terlindung teknologi yang efektif dan
ƒ Kondisi komunitas karang yg ramah lingkungan.
masih “sangat baik”. ƒ Keterbatasan SDM
ƒ Memiliki kawasan konservasi profesional untuk mengelola
laut. KKLD.
ƒ Pengaruh sedimen dan ƒ Kemampuan keuangan
Faktor pencemaran masih relatif kecil, daerah terbatas
Eksternal ƒ Adanya dukungan penuh dari ƒ Keterbatasan fasilitas
Pemda. infrastruktur
ƒ Masyarakat yang partisipatif. ƒ Belum ada model formal untuk
pembangunan berciri ekologi
khusus.
OPPORTUNITIES (O) STRATEGI SO STRATEGI WO
ƒ Terumbu karang ƒ Penguatan Kawasan ƒ Melakukan rehabilitasi dan
Raja Ampat telah Konservasi Laut Daerah (KKLD) pengaturan kegiatan
lama dikenal dunia ƒ Meningkatkan partisipasi dan pemanfaatan ikan di
internasional akuntabilitas masyarakat, kawasan ekosistem terumbu
ƒ Jumlah wisatawan swasta, dan pemerintah dalam karang dan sekitarnya.
asing cenderung pengelolaan terumbu karang ƒ Meningkatkan koordinasi
meningkat dalam pengelolaan kawasan
ƒ Arah pengembangan terumbu karang.
wisata dunia yang ƒ Mengembangkan fasilitas
berorientasi pada infrastruktur terpadu yang
pelestarian menunjang pengelolaan
lingkungan terumbu karang
ƒ Dukungan industri ƒ Meningkatkan kerjasama
pariwisata dalam penyiapan tenaga kerja
ƒ Hadirnya NGO profesional untuk mengelola
mancanegara yang KKLD
turut berpartisipasi
dalam pengelolaan
terumbu karang
THREATS (T) STRATEGI ST STRATEGI WT
ƒ Kegiatan destructive ƒ Penguatan sistem monitoring, ƒ Pemberdayaan masyarakat
fishing dan illegal controlling dan surveillance pesisir.
logging. (MCS) berbasis masyarakat ƒ Reposisi mata pencaharian
ƒ Pembangunan ƒ Penegakan hukum secara masyarakat pesisir.
wilayah pesisir yang terpadu ƒ Pengembangan teknologi
tidak terencana. ƒ Penataan zonasi wilayah pesisir pemanfaatan sumberdaya
ƒ Kerentanan dan laut hayati laut yang efektif, efisien
masyarakat terhadap ƒ Pemantapan kesadaran dan ramah lingkungan.
pengaruh yang masyarakat tentang ƒ Penyerasian koordinasi antar
menjanjikan nilai pentingnya terumbu karang sektor dalam merencanakan
ekonomi lebih tinggi bagi kehidupan pembangunan wilayah pesisir
walaupun sesaat. ƒ Penguatan regulasi daerah dan laut.
ƒ Timbulnya konflik yang berkenaan dengan
kepentingan pengelolaan terumbu karang
pemanfaatan
kawasan pesisir

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-12
RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


V-13
BAB 6
Indikasi Program Pengelolaan Terumbu
Karang Kab. Raja Ampat

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

INDIKASI PROGRAM KERJA


6 PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT

6.1 INDIKASI PROGRAM KERJA

Dalam mengelola lingkungan ekosistem terumbu karang, perlu dipikirkan


tentang arti pentingnya sumberdaya alam yang ada. Untuk itu, maka
sebelum melakukan pengelolaan lingkungan di wilayah pesisir, khususnya
ekosistem terumbu karang, perlu dipertanyakan terlebih dahulu, apakah
pengelolaan tersebut perlu atau tidak. Berkaitan dengan hal tersebut,
maka perlu dilakukan beberapa pertimbangan sebelum kegiatan
pengelolaan dilakukan. Pertimbangan tersebut mencakup pertimbangan
ekonomis, pertimbangan lingkungan maupun pertimbangan sosial-
budaya. Pertimbangan ekonomis disini adalah pertimbangan yang
menyangkut mengenai masalah nilai ekonomis sumberdaya alam terumbu
karang. Pertimbangan ini antara lain meliputi:
1) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting
untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari? seperti
untuk makan.
2) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting
sebagai penghasil barang-barang yang dapat dipasarkan atau dijual
sebagai hiasan? Dan apakah barang-barang tersebut dijual untuk
aset lokal, nasional, atau pasar internasional?
3) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting
untuk daya tarik kunjungan wisata atau pariwisata, yang
menghasilkan uang selain berupa barang?

Sementara yang dimaksud dengan pertimbangan lingkungan disini adalah


apakah lingkungan ekosistem terumbu karang tersebut penting untuk hal-
hal berikut:
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat
VI-1
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

1) Apakah daerah tersebut mempunyai lingkungan masyarakat yang


unik secara lokal, nasional, Internasional?
2) Apakah daerah tersebut penting untuk mempertahankan: ditinjau
dari aspek stok hewan dan tumbuhan, termasuk yang mempunyai
potensi untuk dimanfaatkan?
3) Apakah lingkungan alam daerah tersebut penting secara estetika
ataukah sebagai identitas budaya?
4) Adakah data kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh:
- sedimentasi dari hutan, konstruksi, pertanian, penebangan,
pertambangan,
- penangkapan yang berlebih (overfishing),
- eutrofikasi karena buangan limbah yang mengandung nutrien,
- modifikasi dari sirkulasi air,
- kontaminasi oleh minyak, pestisida, bahan kimia,
- koleksi karang, kerang-kerangan, ikan akuarium, kornponen
lain,
- aktivitas wisata atau pariwisata.

Kemudian untuk pertimbangan sosial budaya, yang perlu diperhatikan


dalam pengelolaan terumbu karang adalah sebagai berikut:
1) Apakah daerah tersebut penting untuk:
- untuk pengakuan tradisi,
- untuk nilai sosial dan budaya,
- untuk mempertahankan tradisi generasi yang akan datang,
- untuk sasaran keagamaan.
2) Apa pengaruh rencana pengelolaan terhadap:
- negara secara keseluruhan?
- masyarakat di sekitar daerah tersebut?

Kesemua informasi tersebut, sangat penting dan perlu dijawab sebelum


mempertimbangkan perlu atau tidaknya pengelolaan lingkungan terumbu

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-2
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

karang. Tanpa kejelasan informasi di atas, menyebabkan pengambilan


keputusan menjadi kurang mendasar. Data yang telah terkumpul
selanjutnya dianalisis untuk menentukan "trend" dan hubungan antar
faktor-faktor lingkungan strategis di wilayah tersebut. Informasi
kemungkinan dampak positip dan negatip dari pada aktivitas
pembangunan sektoral terhadap lingkungan dan konflik di antara
aktivitas-aktivitas sektoral dapat diukur melalui proses penilaian
dampak.

Terumbu karang yang berada di perairan Raja Ampat, hampir memenuhi


seluruh kriteria yang telah disebutkan di atas, sehingga perlu dilakukan
perencanaan pengelolaannya. Agar, perencanaannya berjalan secara
efektif dan efisien, maka tiga pertimbangan ekonomis, lingkungan, dan
sosial budaya dijadikan pilar utama dalam pengkajian indikasi program-
program kerjanya. Berdasarkan hasil analisis SWOT dan pertimbangan
dari 3 (tiga) aspek ini, maka disusun matrik mengenai arah kebijakan,
strategi dan program kerja yang direkomendasikan untuk
diimplementasikan dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten
Raja Ampat seperti tertera pada Tabel 6.1.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-3
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tabel 6.1 Kebijakan, Strategi dan Program Kerja Pengelolaan Terumbu Karang di
Kabupaten Raja Ampat

Kebijakan Strategi Program Kerja Indikator Kinerja


Optimalisasi Penataan zonasi 1 Penyusunan master 1. Tingkat konflik
pengelolaan wilayah pesisir dan plan (rencana induk) kepentingan
terumbu karang laut wilayah pesisir dan pemanfaatan
laut kawasan pesisir dan
laut
2 Penyusunan
rencana tata ruang 2. Tingkat keserasian
wilayah (RTRW) aktivitas
pesisir dan laut pembangunan di
wilayah pesisir
3 Penetapan RTRW
sebagai peraturan
daerah Perda

Meningkatkan 1 Penyusunan sistem 1. Jumlah pihak yang


partisipasi dan pengelolaan terlibat aktif dalam
akuntabilitas terumbu karang menjaga dan
masyarakat, yang melibatkan mengelola terumbu
swasta, dan semua pihak karang
pemerintah dalam
pengelolaan 2 Fasilitasi pembinaan
terumbu karang teknis dalam
pengendalian
dampak lingkungan
terhadap terumbu
karang

Mengembangkan 1 Membangun dan 1. Tingkat kecukupan


fasilitas memperbaiki fasilitas infrastruktur
infrastruktur fasilitas infrastruktur yang menunjang
terpadu yang primer yang pengelolaan
menunjang menunjang terumbu karang
pengelolaan pengelolaan
terumbu karang. terumbu karang 2. Fungsi fasilitas
infrastruktur yang
2 Menciptakan iklim menunjang
yang kondusif untuk pengelolaan
pihak swasta dalam terumbu karang
membangun
infrastruktur 3. Tingkat
sekunder (yang pemanfaatan
bersifat komersial) fasilitas infrastruktur
yang menunjang
pengelolaan
terumbu karang

Meningkatkan 1 Berkoordinasi 1. Tingkat konflik


koordinasi dalam dengan sektor kepentingan
pengelolaan kehutanan untuk pemanfaatan
kawasan terumbu menjamin kawasan pesisir dan
karang. pemanfaatan hutan laut

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-4
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Kebijakan Strategi Program Kerja Indikator Kinerja


secara lestari
2. Tingkat kerjasama
2 Berkoordinasi lintas sektor dalam
dengan sektor pengelolaan
pertambangan kawasan terumbu
untuk karang
mengendalikan
limbah dan kegiatan 3. Tingkat pencemaran
pertambangan liar laut dari aktivitas
ekonomi
3 Berkoordinasi
dengan sektor 4. Tingkat kecukupan
perhubungan untuk dan frekwensi
menyediakan sarana transportasi
sarana transportasi
yang aman dan
nyaman

Penguatan regulasi 1. Penyusunan atau 1. Tingkat kelengkapan


daerah yang penyempurnaan regulasi daerah
berkenaan dengan peraturan daerah untuk pengelolaan
pengelolaan tentang pengelolaan kawasan terumbu
terumbu karang terumbu karang karang
secara
berkelanjutan

2. Sosialisasi
peraturan-peraturan
yang berkenaan
dengan pengelolaan
terumbu karang
hingga ke tingkat
desa

3. Menyediakan
bantuan hukum
untuk mendukung
masyarakat pesisir
membuat dan
mengesahkan
peraturan tingkat
desa (Perdes)
berkenaan dengan
pengelolaan
terumbu karang
oleh masyarakat

Perlindungan dan Penguatan 1 Identifikasi dan 1. Tingkat kelengkapan


rehabilitasi kawasan Inventarisasi data ekosistem dan
ekosistem konservasi laut ekosistem terumbu kondisi terumbu
daerah (KKLD) karang karang

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-5
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Kebijakan Strategi Program Kerja Indikator Kinerja


terumbu karang
2 Penetapan kawasan 2. Tingkat luasan
konservasi laut kawasan ekosistem
daerah (KKLD) terumbu karang
yang berkondisi baik
3 Penyusunan
management plan
KKLD

Melakukan 1 Identifikasi lokasi 1 Tingkat luasan


rehabilitasi dan rehabilitasi kawasan ekosistem
pengaturan ekosistem terumbu terumbu karang
kegiatan karang yang berkondisi baik
pemanfaatan ikan
di kawasan 2 Pelatihan teknis 2 Intensitas
ekosistem terumbu rehabilitasi dan penggunaan alat
karang dan pemeliharaan tangkap ikan yang
sekitarnya. ekosistem terumbu merusak ekosistem
karang terumbu karang

3 Rehabilitasi
kawasan-kawasan
ekosistem terumbu
karang yang rusak

4 Pembangunan
infrastruktur
pendukung kegiatan
konservasi

5 Penyusunan
peraturan daerah
mengenai tata
pemanfaatan
sumberdaya ikan di
dan sekitar kawasan
ekosistem terumbu
karang

Penegakan hukum 1. Penetapan sanksi 1. Tingkat luasan


secara terpadu hukum dan sanksi kawasan ekosistem
sosial yang tegas terumbu karang yang
bagi orang yang berkondisi baik
merusak ekosistem
terumbu karang 2. Tingkat pelanggaran
perusakan ekosistem
2. Penyusunan sistem terumbu karang
keamanan
lingkungan berbasis
masyarakat yang
efektif di kawasan
ekosistem terumbu
karang

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-6
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Kebijakan Strategi Program Kerja Indikator Kinerja

3. Bekerjasama
dengan institusi
hukum di daerah
guna mengefektif-
kan dan mengefi-
sienkan proses
hukum

Penguatan sistem 1. Penyiapan 1. Tingkat pelanggaran


monitoring, perangkat dan tata perusakan
controlling dan laksana ekosistem terumbu
surveillance (MCS) pengawasan karang
berbasis
masyarakat 2. Pengadaan sarana 2. Tingkat partisipasi
dan prasarana aktif masyarakat
pengawasan dalam menjaga
kelestarian kawasan
3. Pengembangan terumbu karang di
kelembagaan wilayahnya
sistem MCS
berbasis
masyarakat

4. Fasilitasi bimbingan
teknis yang
diperlukan dalam
upaya partisipasi
kegiatan MCS

5. Menjalin dan
memelihara jaringan
kerjasama dengan
institusi pengawas
lainnya

Penyerasian 1. Pembentukan forum 1. Tingkat konflik


koordinasi antar lintas sektor untuk kepentingan
sektor dalam merencanakan dan pemanfaatan
merencanakan mengevaluasi kawasan pesisir dan
pembangunan pembangunan laut
wilayah pesisir dan kawasan pesisir dan
laut laut 2. Tingkat pencemaran
laut dari aktivitas
2. Penyusunan model ekonomi
pengembangan
kawasan pesisir dan
laut terpadu

3. Pengembangan
daerah percontohan
kawasan pesisir dan
laut terpadu

Peningkatan Pemantapan 1. Pengembangan 1. Tingkat partisipasi

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-7
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Kebijakan Strategi Program Kerja Indikator Kinerja


kualitas hidup kesadaran sistem komunikasi aktif masyarakat
masyarakat masyarakat tentang dan informasi dalam menjaga
pesisir pentingnya tentang pentingnya kelestarian kawasan
terumbu karang terumbu karang terumbu karang di
bagi kehidupan bagi kehidupan wilayahnya

2. Sosialisasi tentang 2. Tingkat luasan


dampak negatif dari kawasan ekosistem
pemanfaatan terumbu karang
sumberdaya alam yang berkondisi baik
secara illegal
3. Kerjasama dengan 3. Intensitas
media massa dalam penggunaan alat
mengkampayekan tangkap ikan yang
pentingnya terumbu merusak ekosistem
karang bagi terumbu karang
kehidupan
masyarakat luas

4. Pemberian materi
tentang terumbu
karang terhadap
siswa-siswi mulai
tingkat SD hingga
SMA

5. Pemberian
beasiswa terhadap
putra daerah yang
yang melakukan
kajian atau
penelitian tentang
ekosistem terumbu
karang

Pemberdayaan 1. Bantuan 1. Tingkat pendapatan


masyarakat pesisir. permodalan untuk rumah tangga
pengembangan masyarakat pesisir
usaha ekonomi
masyarakat pesisir 2. Pertumbuhan
ekonomi
2. Pelatihan aspek masyarakat pesisir
manajerial usaha
ekonomi masyarakat 3. Tingkat
pesisir pengangguran
masyarakat pesisir
3. Pengembangan
sistem investasi dan
peluang usaha yang
sinergis dengan
pengelolaan
terumbu karang

4. Peningkatan
ketrampilan

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-8
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Kebijakan Strategi Program Kerja Indikator Kinerja


masyarakat pesisir
melalui pelatihan
dan magang

Reposisi mata 1. Identifikasi mata 1. Tingkat keragaman


pencaharian pencaharian dan usaha masyarakat
masyarakat pesisir peluang usaha yang pesisir
produktif dan
sinergis dengan 2. Tingkat pendapatan
pengelolaan rumah tangga
terumbu karang masyarakat pesisir

2. Pengembangan
kerjasama
kemitraan dengan
industri pariwisata

3. Pengembangan
usaha alternatif
untuk masyarakat
pesisir

4. Bimbingan teknis
pengembangan
produk bernilai
tambah dan jasa
yang sinergis
diperlukan dalam
pengelolaan
terumbu karang

Pengembangan 1. Kajian teknologi 1. Intensitas


teknologi pemanfaatan penggunaan alat
pemanfaatan sumberdaya hayati tangkap ikan yang
sumberdaya hayati laut yang tepat merusak ekosistem
laut yang efektif, guna dan ramah terumbu karang
efisien dan ramah lingkungan
lingkungan. 2. Tingkat luasan
2. Percontohan kawasan ekosistem
implementasi terumbu karang
teknologi yang berkondisi baik
pemanfaatan
sumberdaya hayati
laut yang tepat
guna dan ramah
lingkungan

3. Bimbingan teknis
operasional dan
perawatan teknologi
pemanfaatan
sumberdaya hayati
laut yang tepat
guna dan ramah
lingkungan

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-9
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Kebijakan Strategi Program Kerja Indikator Kinerja

Meningkatkan 1. Menjalin dan 1. Ratio kecukupan


kerjasama dalam memelihara jaringan tenaga profesional
penyiapan tenaga kerjasama dengan pengelola KKLD
kerja profesional institusi nasional
untuk mengelola dan internasional
KKLD yang berkompeten
untuk pendidikan
dan pelatihan
konservasi
ekosistem terumbu
karang

6.2 RENCANA PELAKSANAAN


Agar program yang telah direncanakan berjalan sesuai dengan rencana,
maka program kerja tersebut kemudian dituangkan dalam rencana
pelaksanaan kegiatan, seperti yang ditampilkan pada Tabel 6.2.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-10
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tabel 6.2 Rencana Pelaksanaan Program Pengelolaan Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat

Tahun ke
No Kebijakan Strategi Program Kerja
1 2 3 4 5
Penyusunan master plan (rencana induk) wilayah pesisir dan laut
X
Penataan zonasi wilayah pesisir
Penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) pesisir dan laut
dan laut X

Penetapan RTRW sebagai peraturan daerah Perda X


Meningkatkan partisipasi dan Penyusunan sistem pengelolaan terumbu karang yang melibatkan semua
akuntabilitas masyarakat, pihak X
swasta, dan pemerintah dalam
Fasilitasi pembinaan teknis dalam pengendalian dampak lingkungan terhadap
pengelolaan terumbu karang X X X
terumbu karang

Mengembangkan fasilitas Membangun dan memperbaiki fasilitas infrastruktur primer yang menunjang
pengelolaan terumbu karang X X
infrastruktur terpadu yang
Optimalisasi menunjang pengelolaan terumbu Menciptakan iklim yang kondusif untuk pihak swasta dalam membangun
pengelolaan karang. infrastruktur sekunder (yang bersifat komersial) X X X X
1 terumbu
karang Berkoordinasi dengan sektor kehutanan untuk menjamin pemanfaatan hutan
secara lestari X X X X X
Meningkatkan koordinasi dalam
pengelolaan kawasan terumbu Berkoordinasi dengan sektor pertambangan untuk mengendalikan limbah
dan kegiatan pertambangan liar X X X X X
karang.
Berkoordinasi dengan sektor perhubungan untuk menyediakan sarana
transportasi yang aman dan nyaman X X X X X

Penyusunan atau penyempurnaan peraturan daerah tentang pengelolaan


terumbu karang secara berkelanjutan X X
Penguatan regulasi daerah yang Sosialisasi peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pengelolaan
berkenaan dengan terumbu karang hingga ke tingkat desa X X X X
pengelolaan terumbu karang
Menyediakan bantuan hukum untuk mendukung masyarakat pesisir membuat
dan mengesahkan peraturan tingkat desa (Perdes) berkenaan dengan X X X X
pengelolaan terumbu karang oleh masyarakat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-11
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tahun ke
No Kebijakan Strategi Program Kerja
1 2 3 4 5
Identifikasi dan Inventarisasi ekosistem terumbu karang X X
Penguatan kawasan konservasi
Penetapan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) X X X
laut daerah (KKLD)
Penyusunan management plan KKLD
X
Identifikasi lokasi rehabilitasi ekosistem terumbu karang X X
Melakukan rehabilitasi dan Pelatihan teknis rehabilitasi dan pemeliharaan ekosistem terumbu karang X X X
pengaturan kegiatan
pemanfaatan ikan di kawasan Rehabilitasi kawasan-kawasan ekosistem terumbu karang yang rusak X X X X
ekosistem terumbu karang dan Pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan konservasi X X X X
sekitarnya Penyusunan peraturan daerah mengenai tata pemanfaatan sumberdaya ikan
di dan sekitar kawasan ekosistem terumbu karang X

Penetapan sanksi hukum dan sanksi sosial yang tegas bagi orang yang
X
Perlindungan merusak ekosistem terumbu karang
dan Penegakan hukum secara Penyusunan sistem keamanan lingkungan berbasis masyarakat yang efektif
X X
rehabilitasi terpadu di kawasan ekosistem terumbu karang
2 ekosistem Bekerjasama dengan institusi hukum di daerah guna mengefektifkan dan
terumbu mengefisienkan proses hukum X
karang
Penyiapan perangkat dan tata laksana pengawasan X
Pengadaan sarana dan prasarana pengawasan X X X X
Penguatan sistem monitoring, Pengembangan kelembagaan sistem MCS berbasis masyarakat X
controlling dan surveillance
(MCS) berbasis masyarakat Fasilitasi bimbingan teknis yang diperlukan dalam upaya partisipasi kegiatan
X X X X
MCS
Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi pengawas
lainnya X X X X X

Pembentukan forum lintas sektor untuk merencanakan dan mengevaluasi


Penyerasian koordinasi antar X
pembangunan kawasan pesisir dan laut
sektor dalam merencanakan Penyusunan model pengembangan kawasan pesisir dan laut terpadu X
pembangunan wilayah pesisir
dan laut Pengembangan daerah percontohan kawasan pesisir dan laut terpadu
X X

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-12
INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tahun ke
No Kebijakan Strategi Program Kerja
1 2 3 4 5
Pengembangan sistem komunikasi dan informasi tentang pentingnya
terumbu karang bagi kehidupan X X

Sosialisasi tentang dampak negatif dari pemanfaatan sumberdaya alam


secara illegal X X X X X
Pemantapan kesadaran
Kerjasama dengan media massa dalam mengkampayekan pentingnya
masyarakat tentang pentingnya X X X X X
terumbu karang bagi kehidupan masyarakat luas
terumbu karang bagi kehidupan
Pemberian materi tentang terumbu karang terhadap siswa-siswi mulai tingkat
SD hingga SMA X X X X X

Pemberian beasiswa terhadap putra daerah yang yang melakukan kajian


atau penelitian tentang ekosistem terumbu karang X X X X

Bantuan permodalan untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat


pesisir X X X X
Peningkatan
kualitas hidup Pelatihan aspek manajerial usaha ekonomi masyarakat pesisir X X X X
3 Pemberdayaan masyarakat
masyarakat
pesisir Pengembangan sistem investasi dan peluang usaha yang sinergis dengan
pesisir X X
pengelolaan terumbu karang
Peningkatan ketrampilan masyarakat pesisir melalui pelatihan dan magang
X X X X X
Kajian teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan
X
ramah lingkungan
Pengembangan teknologi
Percontohan implementasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut
pemanfaatan sumberdaya hayati X X X X
yang tepat guna dan ramah lingkungan
laut yang efektif, efisien dan
ramah lingkungan. Bimbingan teknis operasional dan perawatan teknologi pemanfaatan
sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan X X X X

Meningkatkan kerjasama dalam Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi nasional dan
penyiapan tenaga kerja internasional yang berkompeten untuk pendidikan dan pelatihan konservasi
X X X X X
profesional untuk mengelola ekosistem terumbu karang
KKLD

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat


VI-13
BAB 7
Penutup

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
7 PENUTUP

Maksud utama dari penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu


karang Kabupaten Raja Ampat adalah menggagas strategi utama dan
program kerja yang perlu diambil untuk mempercepat keberhasilan
pengelolaan sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. Hal
ini juga dapat memberikan arahan dalam mendayagunakan sumberdaya
terumbu karang secara optimal dan berkelanjutan guna mewujudkan
pertumbuhan ekonomi (kemakmuran) daerah, peningkatan dan pemerataan
kesejahteraan masyarakat, dan terpeliharanya daya dukung ekosistem
terumbu karang secara seimbang dan berkelanjutan.

Argumentasi utama dalam merumuskan rencana strategi ini, didasarkan


pada kenyataan bahwa Kabupaten Raja Ampat memiliki keanekaragaman
sumberdaya hayati laut terbesar di dunia, oleh sebab itu sudah seharusnya
Pemerintah Daerah dan masyarakat Raja Ampat perlu memberikan
perhatian yang lebih besar terhadap usaha untuk mendayagunakan
sumberdaya terumbu karang yang dimilikinya guna mengembangkan
daerahnya di masa kini dan masa mendatang. Karena, keindahan
ekosistem terumbu karang dapat menjadi andalan dan modal bagi
pembangunan Kabupaten Raja Ampat. Kemudian, untuk mewujudkan
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara optimal
dan berkelanjutan ini, tentu diperlukan koordinasi terpadu dan kerja keras
dari semua pihak. Salah satu kunci keberhasilan dalam pengelolaan
kawasan ekosistem terumbu karang adalah partisipasi aktif dan dukungan
penuh dari masyarakat lokal yang sumber kehidupannya secara langsung
bergantung pada hasil laut, serta bekerja sama dengan lembaga-lembaga
pemerintah dalam suatu pengaturan yang disepakati bersama.
DAFTAR PUSTAKA

Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. 2005.
Atlas Sumberdoyo Pesisir dan Lout Kepulauon Raja Ampot (Distrik
Woigeo Borot dan Woigeo Seioton). Kerja Sama Antara Coremap tahap
II, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat dengan PT.
Edecon Prima Mandiri. 2005. Raja Ampat.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. 2006. Laporan


Tahunan. Raja Ampat.

Dohar, A.G. dan Anggraeni, D. 2006. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di


Kepulauan Raja Ampat. CI Indonesia bekerjasama dengan Universitas
Papua. Raja Ampat.

Mambrisaw, A., B. Wurliyanty, F. Liuw, S. Hamel, Y. Lamatenggo, I.


Rumbekwan, J.Omkarsba dan A, Sukmara. 2006. Atlas Sumberdaya
Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat Provinsi Irian Jaya barat 2006.
Pemda Kabupaten Raja Ampat, Akademi Perikanan Sorong, Ditjen
PHKA BKSDA Papua II Departemen Kehutanan, Eco Papua Alliance Raja
Ampat, WWF, TBC, CI Indonesia. Raja Ampat.

McKenna, S.A., G.R. Alien, and S. Suryadi (eds). 2002. A Marine Rapid
Assessment of the Raja Ampot Islands, Papua Province, Indonesia. RAP
Bulletin of Biological Assessment 22. Conservation International,
Washington DC.

TNC and WWF. 2003. Report on o Rapid Ecological Assessment of the Raja
Ampat Islands, Papua, Eastern Indonesia, held October 30 - November
22, 2002.

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP),


dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. 2005.
Laporan Akhir Survey Sosial Ekonomi Perikanan Kampung Friwen dan
Kampung Saonek Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat. Dinas
Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat
DAFTAR
PUSTAKA

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI


PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
KABUPATEN RAJA AMPAT
DAFTAR PUSTAKA

Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. 2005.
Atlas Sumberdoyo Pesisir dan Lout Kepulauon Raja Ampot (Distrik
Woigeo Borot dan Woigeo Seioton). Kerja Sama Antara Coremap tahap
II, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat dengan PT.
Edecon Prima Mandiri. 2005. Raja Ampat.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. 2006. Laporan


Tahunan. Raja Ampat.

Dohar, A.G. dan Anggraeni, D. 2006. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di


Kepulauan Raja Ampat. CI Indonesia bekerjasama dengan Universitas
Papua. Raja Ampat.

Mambrisaw, A., B. Wurliyanty, F. Liuw, S. Hamel, Y. Lamatenggo, I.


Rumbekwan, J.Omkarsba dan A, Sukmara. 2006. Atlas Sumberdaya
Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat Provinsi Irian Jaya barat 2006.
Pemda Kabupaten Raja Ampat, Akademi Perikanan Sorong, Ditjen
PHKA BKSDA Papua II Departemen Kehutanan, Eco Papua Alliance Raja
Ampat, WWF, TBC, CI Indonesia. Raja Ampat.

McKenna, S.A., G.R. Alien, and S. Suryadi (eds). 2002. A Marine Rapid
Assessment of the Raja Ampot Islands, Papua Province, Indonesia. RAP
Bulletin of Biological Assessment 22. Conservation International,
Washington DC.

TNC and WWF. 2003. Report on o Rapid Ecological Assessment of the Raja
Ampat Islands, Papua, Eastern Indonesia, held October 30 - November
22, 2002.

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP),


dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. 2005.
Laporan Akhir Survey Sosial Ekonomi Perikanan Kampung Friwen dan
Kampung Saonek Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat. Dinas
Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat
Lampiran 1.

PETA KONDISI TERUMBU KARANG


DI KABUPATEN RAJA AMPAT
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang
Kabupaten Raja Ampat
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat, 2006
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 - 1
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat, 2006
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 - 2
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat, 2006
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 - 3
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat, 2006
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 - 4
Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat, 2006

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 - 1
Lampiran 2.

GALERI FOTO KEGIATAN


Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang
Kabupaten Raja Ampat
Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi
Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi


Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 1
Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan
Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan


Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 2
Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan
Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Suasana Diskusi setelah Presentasi Materi Laporan Pendahuluan Kegiatan


Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 3
Setelah Seminar Laporan Pendahuluan langsung diadakan
Kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Suasana Kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 4
Pembukaan Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana
Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Pembukaan Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana


Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 5
Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi
Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi


Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 6
Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan
Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan


Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 7
Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan
Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan


Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 - 8