LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II (COREMAP II) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat Tahun Anggaran 2007
kerjasama dengan

CV. Mandiri Cakti Perkasa

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II (COREMAP II) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat Tahun Anggaran 2007
kerjasama dengan

CV. Mandiri Cakti Perkasa

BAB 1 Pendahuluan

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT

699 spesies moluska. dan 972 spesies ikan karang (Sheila A. Filipina. Keanekaragaman hayati laut tropis yang dimiliki Kabupaten Raja Ampat diperkirakan yang terkaya di dunia pada saat ini. Jepang. Ada sekitar 610 buah pulau yang tercakup dalam wilayah administrasi Kabupaten Raja Ampat dan diantaranya terdapat 4 pulau besar atau pulau utama. yakni: Pulau Waigeo. Potensi sumberdaya terumbu karang yang dimiliki Kabupaten Raja Ampat. Selanjutnya. yang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Sorong. 2002) Dengan tingginya biodiversity tersebut. berdasarkan hasil Rapid Asessment Program yang dilakukan oleh Tim Conservation International (CI) disebutkan bahwa Kabupaten Raja Ampat memiliki keanekaragaman 456 spesies jenis karang keras. Australia. McKenna. tentu mengindikasikan bahwa perairan laut di wilayah Raja Ampat merupakan perairan yang subur dan menjadi sentra produksi sumberdaya ikan untuk wilayah perairan laut sekitarnya. Kepulauan Raja Ampat resmi menjadi daerah otonom Tingkat II atau kabupaten. Latar Belakang Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki kekayaan keanakaragaman hayati laut.1 PENDAHULUAN 1. merupakan bagian dari ”segitiga karang dunia” (Coral Triangel) yang terdiri dari Indonesia.055 jiwa yang tersebar dalam 10 distrik/kecamatan yang mencakup 86 kampung dan 4 dusun (Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat. Wilayah ini terletak di bagian ujung barat dari Pulau Papua atau tepatnya pada koordinat 2o25’ LU .1. . Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2006 sebanyak 32. Salawati dan Misool. Papua New Guinea.4o25’ LS dan 130o – 132O25’ BT. dkk. Batanta. Sejak tanggal 12 April 2003.

melalui strategi pengembangan yang tepat. Walaupun demikian. Berdasarkan hal ini. aktivitas lainnya yang juga mempengaruhi kondisi terumbu karang di Raja Ampat. tantangan yang akan dihadapi ke depan masih besar. Aktivitas pemanfaatan sumberdaya ikan di Kabupaten Raja Ampat hampir dipastikan akan bersentuhan langsung dengan keberadaan sumberdaya terumbu karang. penebangan kayu. Namun demikian. pembangunan fisik dan limbah rumah tangga. baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibatnya. bila aktivitas perikanan ini menggunakan cara-cara tak ramah atau tidak arif dalam memanfaatkannya. tentu secara langsung terumbu karang tersebut juga akan ikut rusak. Selain itu. setidaknya dalam beberapa tahun terakhir ini landasan dasar dan kerangka pengelolaan terumbu karang telah diletakkan. dan mengembangkan serta menyempurnakan pengelolaan terumbu karang sehingga sumberdaya terumbu karang akan tetap lestari sekaligus memberikan manfaat yang signifikan dalam upaya mewujudkan masyarakat Raja Ampat yang maju dan sejahtera. melalui program COREMAP. jelas mencerminkan bahwa Kabupaten Raja Ampat menghadapi tantangan dan kendala yang besar dalam upaya mengelola sumberdaya terumbu karangnya. sumberdaya terumbu karang dapat terkelola dengan baik dan juga dapat memberikan manfaat yang maksimal untuk mensejahterakan masyarakat Raja Ampat. memperkuat. Kebijakan dan program COREMAP yang telah dilaksanakan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dari sebagian besar masyarakat Raja Ampat akan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan. Sebagian besar penduduk di wilayah ini menggantungkan hidupnya pada sumberdaya hayati laut. karena umumnya kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikannya berada di wilayah perairan pantai yang merupakan habitat-habitat terumbu karang. Diharapkan. adalah kegiatan penambangan nikel. utamanya sektor perikanan. yaitu bagaimana melanjutkan.PENDAHULUAN 2006). Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-2 .

terintegrasi dan utuh.2. 1. dengan dan/atau program-program kerja yang tepat pula. Oleh karena itu.PENDAHULUAN Untuk mewujudkan tujuan pengelolaan terumbu karang seperti tersebut diatas. tahapan implementasi yang sequent dan benar. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-3 . maka implementasi kebijakan dan program pembangunan akan berjalan secara efisien. akan menghasilkan kebijakan-kebijakan Selanjutnya. Sedangkan tujuan dilaksanakannya kegiatan penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat ini adalah untuk: (1) Mengidentifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan terumbu karang di Raja Ampat (2) Mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berperan dalam pengelolaan terumbu karang di Raja Ampat. perlu dirumuskan suatu rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud kajian ini adalah untuk memberikan arah bagi pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat untuk kurun waktu lima tahun kedepan. (3) Menyusun rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. tentunya harus memiliki rencana strategis (renstra) pengelolaan terumbu karang yang tepat dengan tahapan implementasi yang sequent dan benar. Renstra yang tepat. (4) Merumuskan program kerja jangka pendek untuk pengelolaan terumbu karang yang optimal dan agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Raja Ampat.

Analisis lingkungan dan SWOT untuk dapat memberikan arahan rencana strategis f. Disamping itu. Terumuskannya program-program kerja untuk pengelolaan terumbu karang untuk 5 tahun kedepan. 1. Inventarisasi data dan informasi tentang kondisi sosial. Tersusunnya rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat. 1. Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengelolaan terumbu karang di lokasi kajian e. Identifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan sumberdaya terumbu karang di lokasi kajian d. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari kegiatan ini adalah: 1. Penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat g. sebagai acuan dasar dalam melakukan implementasi Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-4 .3.4. MANFAAT (BENEFIT) Manfaat dari kajian ini adalah meningkatkan daya guna dan hasil guna untuk setiap strategi dan kebijakan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Raja Ampat dalam pengelolaan sumberdaya terumbu karang. RUANG LINGKUP Ruang lingkup kajian ini adalah : a. ekonomi dan budaya masyarakat Kabupaten Raja Ampat c.5. Inventarisasi data dan informasi tentang kondisi sumberdaya terumbu karang di lokasi kajian b. Penjabaran program-program kerja untuk pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat untuk 5 tahun kedepan. 2.PENDAHULUAN 1.

efisien. Dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kabupaten Raja Ampat. Sebagai acuan dalam pengembangan sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat 2. HASIL YANG DIHARAPKAN (OUTCOME) Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah : a. agar lebih efektif. LOKASI DAN LAMA KEGIATAN Lokasi kegiatan dari pekerjaan ini adalah wilayah administratif Kabupaten Raja Ampat (Gambar 1. 1.6. yakni pada Bulan Oktober hingga November 2007. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-5 .8. tentu diharapkan akan memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Raja Ampat dan juga ekonomi daerah setempat.7. Pengelolaan sumberdaya terumbu karang yang optimal dan berkelanjutan. DAMPAK (IMPACT) 1. 1.PENDAHULUAN kegiatan pengelolaan terumbu karang. b.1) dengan lama waktu pelaksanaan selama 2 (dua) bulan. Sebagai alat ukur untuk monitoring dan pengendalian Sebagai alat evaluasi keberhasilan dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat 1. 3. dan terintegrasi. Pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya terumbu karang yang optimal dan berkelanjutan serta berjalan sinergis dengan aktivitas sektor lainnya di Kabupaten Raja Ampat.

1 Peta Kabupaten Raja Ampat yang menjadi wilayah kajian. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-6 .PENDAHULUAN Gambar 1.

BAB 2 Metode Pekerjaan LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

Analisis SWOT untuk dapat memberikan arahan rencana strategis pengelolaan terumbu karang dan penjabaran program-program kerjanya untuk 5 (lima) tahun kedepan.2 2. . (4).1 Dalam METODE PEKERJAAN PENDEKATAN PEKERJAAN Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Berbagai Kabupaten Raja Ampat. Analisis situasi dengan menginvetarisasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengelolaan terumbu karang. yakni: (1) terpeliharanya kelestarian sumberdaya terumbu karang. (3). digunakan beberapa pendekatan. maka dilakukan beberapa tahapan kerja sebagai berikut: (1). Identifikasi sumberdaya terumbu karang yang tersedia. untuk lebih memberikan gambaran langkah-langkah apa saja yang menjadi prioritas dalam merumuskan rencana strategi yang terkait dengan pengelolaan terumbu karang. (2) efisiensi ekonomi (memberikan manfaat nilai ekonomi bagi masyarakat dan membantu pertumbuhan ekonomi daerah) dan (3) sinergis dengan aktivitas ekonomi lainnya. Identifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan sumberdaya terumu karang. Sedikitnya terdapat tiga indikator dalam pengelolaan terumbu karang yang ingin dicapai. (2). Untuk dapat mencapai hal tersebut di atas. masalah dan kendala dalam pelaksanaan program pengelolaan terumbu karang akan diidentifikasi. dikaji dan dicarikan jalan pemecahannya. Tujuan akhir dari kajian ini adalah untuk dapat merumuskan pengelolaan sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat yang optimal dan berkelanjutan.

Misi dan Tujuan Pengelolaan Terumbu Karang Identifikasi Isu dan Permasalahan dalam Pengelolaan Terumbu Karang Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal yang Berperan dalam Pengelolaan Terumbu Karang Analisis SWOT (Strength. Raja Ampat Identifikasi Visi.1. Threat) Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Indikasi Program Kerja Program Kerja tahun 1 Program Kerja tahun 2 Program Kerja tahun 3 Program Kerja tahun 4 Program Kerja tahun 5 Gambar 2. Oppurtunity. Kerangka pendekatan studi penyusunan rencana strategis pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-2 .1 Kondisi Kini Lingkungan Internal dan Eksternal Sumberdaya Terumbu Karang di Kab.METODE PEKERJAAN Secara ringkas kerangka pendekatan studi dalam penyusunan rencana strategis pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat dapat dilihat pada Gambar 2. Weakness.

seperti: (7) Aktivitas perekonomian wilayah Kemudian. dalam kajian ini secara garis besar meliputi: (1) Karakteristik fisik. dan lain-lain. seperti: seperti: (5) Kelembagaan seperti: (6) Persepsi dan aspirasi stakeholder.2 PENGUMPULAN DATA Data dikumpulkan melalui berbagai dokumen-dokumen perencanaan. untuk penelusuran isu dan permasalahan dilakukan melalui desk study yang dirujuk langsung dari berbagai dokumen yang ada di pusat dan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-3 . seperti: Keragaan dataran pesisir dan pantai Kondisi umum perairan laut (oseanografi) Kondisi dan potensi sumberdaya alam non hayati Sumberdaya alam hayati Jasa-jasa lingkungan Kondisi ekosistem Kondisi sosial ekonomi masyarakat Sarana transportasi Sarana komunikasi Pelabuhan. laporan hasil pelaksanaan pembangunan. Lembaga formal Lembaga informal Masyarakat Pemerintah Swasta Lembaga peneliti Data yang dikumpulkan (2) Karakteristik ekologis. publikasi BPS kabupaten dan sumber-sumber lain yang terkait dengan pengelolaan terumbu karang. laporan proyek/program. laporan hasil penelitian. (4) Prasarana dan sarana pendukung.METODE PEKERJAAN 2. seperti: (3) Karakteristik masyarakat.

Menurut (Rangkuti. (2). kelemahan (weakness). brainstroming antar tim dan diskusi terbatas dengan pihak-pihak terkait. Analisis ini digunakan untuk merumuskan strategi yang relevan. Analisis SWOT adalah identifikasi secara sistematik atas kekuatan dan kelemahan dari faktor-faktor eksternal yang dihadapi suatu sektor. 1990). Kekuatan Kekuatan yang diidentifikasikan meliputi semua aspek yang berada dalam sistem pengelolaan terumbu karang yang memberikan nilai positif. (3). Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-4 . Peluang Peluang yang diidentifikasi adalah potensi atau kesempatan dari sistem pengelolaan terumbu karang yang dapat diambil. kelemahan. peluang (opportunity) dan ancaman (threat). Kelemahan Kelemahan yang diidentifikasikan meliputi semua aspek yang berada dalam sistem pengelolaan terumbu karang yang memberikan nilai negatif. 2. Lingkup kekuatan. relatif tepat dan optimal dalam pengelolaan terumbu karang.2 ANALISIS DATA Analisis yang digunakan dalam penyusunan rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat adalah analisis SWOT berdasarkan faktor-faktor yang menjadi kekuatan (strength). peluang dan ancaman adalah sebagai berikut: (1). strength dan weakness adalah faktor internal sedangkan opportunity dan threat adalah faktor eksternal. Analisis ini digunakan untuk memperoleh hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal.METODE PEKERJAAN daerah.

yaitu: Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-5 . akan diidentifikasi beberapa faktor kekuatan.1). dan ancaman dalam pengelolaan terumbu karang di Raja Ampat. kelemahan. peluang. langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis SWOT ini adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi faktor internal dan eksternal Dari potensi sumberdaya terumbu karang dan tingkat aktivitas pembangunan wilayah daerah yang ada. Tabel 2.METODE PEKERJAAN (4). THREATS (T) Dari Matriks SWOT ini dapat diperoleh 4 (empat) kemungkinan alternatif strategi. Kemudian. 2) Analisis SWOT Setelah mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal (faktor strategis) yang berperan dalam pengelolaan terumbu karang kemudian dibangkitkan (generating) berbagai alternatif strategi yang relevan dengan menggunakan Matriks SWOT (Tabel 2.1 Faktor Internal Faktor Eksternal OPPORTUNITIES (O) Matriks Analisis SWOT STRENGTHS (S) WEAKNESSES (W) STRATEGI WO Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI WT Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman. Ancaman Ancaman yang diidentifikasi adalah semua dampak negatif dari luar sistem pengelolaan terumbu karang yang mungkin dihadapi. STRATEGI SO Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang. STRATEGI ST Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman.

Strategi WT yaitu berusaha meminimumkan kelemahan dengan menghindari ancaman yang ada.METODE PEKERJAAN (1). Menyusun daftar kelemahan kunci internal organisasi 5. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-6 . Strategi WO yaitu berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari peluang yang ada dengan mengatasi kelemahan-kelemahan. Strategi SO yaitu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengambil peluang yang ada. Menyusun daftar kekuatan kunci internal organisasi 4. (2). Mencocokkan kelemahan-kelemahan internal dan ancaman- ancaman eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi WT Selanjutnya. (3). Mencocokkan kekuatan-kekuatan internal dan ancaman-ancaman eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi ST 8. Mencocokkan kekuatan-kekuatan internal dan peluang-peluang eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi SO 6. Strategi ST yaitu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang dihadapi. Menyusun daftar ancaman eksternal organisasi 3. yaitu: 1. 2001). perlu diketahui bahwa kegunaan dari setiap faktor strategis pada tahap ini adalah membangkitkan strategi alternatif yang feasible untuk dilaksanakan. Mencocokkan kelemahan-kelemahan internal dan peluang-peluang eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi WO 7. Ada delapan langkah untuk menentukan strategi yang dibangun melalui Matriks SWOT (Umar. Menyusun daftar peluang eksternal organisasi 2. (4). bukan untuk memilih atau menentukan strategi mana yang terbaik.

kemudian dijabarkan lebih rinci lagi dalam bentuk program-program kerja untuk jangka pendek (5 tahun). Kriteria ahli atau pakar dimaksud adalah orang yang berpengalaman di bidangnya dan pernah melakukan orientasi di lapangan atau mengenal kondisi lapangan.METODE PEKERJAAN 3) Expert Judgement. Untuk mendukung ketajaman perumusan program-program kerja tersebut. Dari strategi yang dihasilkan tersebut. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-7 . digunakan metode Expert Judgement. yaitu suatu metode yang mengakomodir pendapat para ahli atau pakar di bidangnya. ditentukan sequent program-program kerja yang harus dilakukan untuk 5 tahun kedepan dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. dengan pendekatan ini pula. Selanjutnya.

BAB 3 Gambaran Umum Kabupaten Raja Ampat LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

berbatasan langsung dengan Republik Palau. • Sebelah timur berbatasan dengan Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 3. Papua New Guinea. terbagi menjadi 10 distrik. dkk. Jepang. 2002). • Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera langsung dengan Kabupaten Tengah. . Australia (Sheila A. Provinsi Irianjaya Barat. dan Misool dengan ratusan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. McKenna. Secara administratif batas wilayah Kabupaten Raja Ampat adalah sebagai berikut: • Sebelah selatan berbatasan Seram Utara. dan 4 dusun. Filipina.108 km2. Batanta. Secara geografis. Salawati. Provinsi Maluku Utara. Kepulauan Raja Ampat memiliki peranan penting sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah luar negeri. Provinsi Maluku. 86 kampung. • Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Republik Federal Palau. Luas wilayah Kepulauan Raja Ampat adalah 46. Kepulauan Raja Ampat memiliki empat pulau utama yang bergunung-gunung yaitu Waigeo. Raja Ampat berada pada koordinat 2°25'LU-4°25'LS & 130°-132°55'BT. Secara geoekonomis dan geopolitis.1 LETAK GEOGRAFIS Wilayah Kabupaten Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang terdiri dari kurang lebih 610 buah pulau besar dan kecil yang memiliki potensi sumberdaya terutama terumbu karang yang merupakan bagian dari ”segitiga karang” (Coral Triangel) yang terdiri dari Indonesia. Pulau Fani yang terletak di ujung paling utara dari rangkaian Kepulauan Raja Ampat.

1).5 – 29 Relatif tetap 29 – 29.Maret April-Mei-Juni Juli Agustus September Pengaruh Samudera Pasifik Pengaruh dari Laut Banda Sumber : BPPT. Mambrisaw. Sedangkan pada perairan tertutup (Teluk Mayalibit) suhu permukaan bahkan mencapai 31.5 (utara) 28 – 28.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 3. suhu kembali naik dan mencapai sekitar 29°C pada bulan Agustus.5oC.8°C. et al.29.5 (selatan) Keterangan Kecuali bagian hingga 280C utara: Menurun Januari Februari .5 28. Sedangkan suhu pada bulan Januari.8°C dengan rata-rata 29.29°C. Setelah turun menjadi sekitar 28.5 29 29 – 29. perairan Kabupaten Raja Ampat dipengaruhi oleh iklim tropis dan perubahan iklim muson. Mei dan Juni berkisar antara 29 . 2001 dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. Letaknya yang berbatasan dengan dua sistem samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Tabel 3.1 No 1 2 3 4 5 6 Sebaran Suhu Permukaan Tahunan di Perairan Raja Ampat Bulan Kisaran (0C) 28.2 KEADAAN UMUM PERAIRAN Seperti perairan Indonesia pada umumnya. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-2 . Suhu Penyebaran suhu permukaan di Perairan Raja Ampat bagian utara dipengaruhi oleh Samudera Pasifik sedangkan di bagian selatan dipengaruhi oleh Laut Banda. (2006) mengungkapkan bahwa suhu permukaan di perairan Raja Ampat pada bulan Maret berkisar antara 28.5°C .31. sedangkan pada bulan April. Februari dan Maret berdasarkan hasil penelitian BPPT adalah berkisar antara 28.5oC pada bulan Juli. perairan Raja Ampat mempunyai suhu permukaan yang relatif hangat dengan variasi tahunan yang cukup kecil. mengakibatkan kondisi fisik dan kimia perairan didaerah ini juga dipengaruhi oleh kedua samudera tersebut. Seperti periaran daerah tropis umumnya.5 .8°C.

Nilai pH terendah pada kedalaman 10 m berada di perairan Teluk Mayalibit. Keadaan ini diperkuat oleh nilai pH di lokasi tersebut pada kedalaman o m (permukaan) yanghampirsama dengan nilai pH pada kedalaman 10 m. sebaran salinitas bagian utara lebih tinggi. perairan tertutup (Teluk Mayalibit) berkisar antara 27.5 . Berbeda dengan perairan terbuka.2 dan 8.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 2).4 dengan rata-rata 8. sedangkan pada kedalaman 10 meter berkisar antara 32 – 35 psu.0. Sebaran salinitas di bagian utara Perairan Waigeo Utara berkisar antara 33 – 35 psu.4 dan untuk kedalaman 10 m 7.06.8.6 . Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-3 . Keadaan ini pun diperkuat oleh perbedaan nilai pH pada kedalaman 0 m dan 10 m yang cukup besar di lokasi yang sama yaitu 7. Dibandingkan bagian selatan. Nilai pH terendah pada kedalaman 0 m (permukaan) berada di perairan sekitar Saonek. Rendahnya kadar salinitas di Teluk Mayalibit ini disebabkan oleh pengaruh massa air tawar dari darat yang mengalir melalui beberapa sungai yang masih aktif di teluk tersebut.08 dan 8. 3). et al (2006) melaporkan bahwa nilai pH di Perairan Raja Ampat pada kedalaman 0 m (permukaan) berkisar antara 7.2 . Salinitas Mambrisaw (2006) mengungkapkan bahwa salinitas di lapisan permukaan perairan Raja Ampat berkisar antara 30 – 35 psu. yangberarti pengaruh kekeruhan ini diduga terjadi secara merata. Derajat Keasaman (pH) Mambrisaw. hal ini diperkirakan karena tingginya kekeruhan yang disebabkan oleh banyaknya bahan-bahan organik tersuspensi yang berasal dari daratan maupun dari proses sedimentasi.33 psu.8.

namun untuk wilayah teluk dan pulau-pulau kecil yang berdekatan pola arusnya lebih dipengaruhi oleh pasang surut.5 30 7.41 12. Hasil penelitian Mambrisaw. Arus yang dikenal sebagai Halmahera Eddie ini.14 – 0.4 10. kemudian sebagian memasuki perairan Kepulauan Raja Ampat (Anonimous.2 4 4 0 0 Maksimun 31. letaknya Disamping itu. yang di khatulistiwa.11 0.2 Sebaran Parameter Oseoanografi di Perairan Raja Ampat (Permukaan) No 1 2 3 4 5 6 7 Suhu (0C) Salinitas (0/00) Derajat Keasaman (pH) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) Kecepatan Arus (m/det) Tinggi Gelombang (m) Parameter Kisaran Minimum 28. Kecepatan rata-rata arus di Perairan Raja Ampat sekitar 0. sedangkan arus diperkirakan kencang Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-4 . didapatkan bahwa arus di Perairan Raja Ampat didominasi oleh pengaruh angin.7 Rata-Rata 29. arus di perairan Raja Ampat juga dipengaruhi oleh Arus Khatulistiwa Utara dan Arus Khatulistiwa Selatan. Nilai kecepatan arus permukaan yang lemah ini diduga karena pengukurannya hanya dilakukan pada saat air laut duduk surut atau duduk pasang.91 8. Ketika arus tiba di Laut Halmahera atau bagian utara Kepulauan Raja Ampat arus tersebut sebagian bergerak ke selatan dan sebagian berbalik menuju Samudera Pasifik.80 33.11 m/det (Tabel 3-2).GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT Tabel 3. et al (2006) pada bulan Maret 2006.52 Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat.08 6. pola arus di perairan Raja Ampat dipengaruhi oleh massa air dari Samudera Pasifik Barat (Western Pacific Ocean) yang bergerak dari arah timur menuju barat laut (North West) dan sejajar dengan daratan Papua bagian utara. 2005).5 8.5 23 0.18 3. Arus Sesuai dengan letaknya.88 1. 2006 4).91 0.

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT pada saat duduk tengah pasang atau duduk tengah surut. 7). 5). Kecerahan minimum berada di Teluk Mayalibit yang hanya mencapai 4 . dan angin di lokasi ini diperkirakan relatif sangat kecil. Sementara.1.23 m dengan rata-rata kecerahan 12. Selain itu. Hal ini terlihat dari warna air yang cenderung hijau kecoklatan.5 m. kecerahan maksimum berada di perairan daerah Kofiau yang mencapai 23 m. Kecerahan Dari hasil pengamatan. et. Daerah-daerah yang diperkirakan mempunyai arus pasang surut yang deras antara lain Selat Mansuar. gelombang. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-5 . Gelombang Pengamatan yang dilakukan oleh Mambrisaw. Ketinggian gelombang tertinggi terjadi di bagian utara Pulau Waigeo.25 .al (2006) menyebutkan bahwa tinggi gelombang berkisar antara 0 . pengaruh arus. Waigeo Selatan dan Kepulauan Misool umumnya tinggi gelombang berkisar antara 0 .7 meter. Sedangkan di perairan terlindung seperti Perairan Waigeo Barat. dan Selat Sagawin. Selat Kabui.1. Hal ini diperkirakan karena lokasi ini berada pada kawasan perairan bebas (cukup jauh dari daratan) sehingga pengaruh bahan-bahan tersuspensi yang berasal dari aktifitas daratan sangat kecil. Pasang Surut Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (2005) melaporkan bahwa tipe pasang surut (pasut) di Perairan Raja Ampat adalah tipe campuran dengan dominasi pasut ganda (nilai F berkisar antara 0.1 meter. kecerahan di perairan Raja Ampat berkisar antara 4 . sehingga secara visual terhadap Secchi Disk sangat jelas. Hal ini karena kondisi perairan di Teluk Mayalibit memiliki kekeruhan yang cukup tinggi yang disebabkan oleh banyaknya bahan tersuspensi. Jenis pasut ini berarti dalam satu hari terdapat dua kali pasang dan surut serta tinggi pasang pertama tidak sama dengan tinggi pasang kedua.91 m. 6).50).

Misool. Misool. dan udang halus (Ebi) yang banyak ditangkap di daerah Teluk Mayalibit sekitar Kampung Beo dan Araway. dan Misool Timur Selatan.80 meter. Ada 2 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-6 . jenis ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Raja Ampat dapat dikelompokkan sebagai ikan pelagis besar. Selain ikan.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan di pantai dekat Akademi Perikanan Sorong (Suprau . Ayau. kerang serta siput. dan Misool Timur Selatan.15 -1. Sementara. Udang yang umumnya tertangkap adalah jenis lobster (Panulirus sp) yang banyak terdapat di daerah Waigeo Barat. untuk cumi-cumi banyak terdapat di daerah Waigeo Selatan dan Misool. tuna (Thunus sp. Misool. cumi-cumi.). kerapu. napoleon dan teri. tenggiri (Scomberomorus spp. biasa disebut juga ikan puri. Misool Timur Selatan dan dijumpai juga di Teluk Mayalibit. banyak tertangkap di daerah Waigeo Selatan. cakalang (Katsuwonus pelamis).3 POTENSI SUMBERDAYA HAYATI LAUT 1). untuk ikan teri (Stolephorus sp. kerang/siput dan teripang yang cukup potensial. cakalang dan tuna banyak ditangkap di daerah Waigeo Selatan. Sumberdaya Ikan Kabupaten Raja Ampat memiliki potensi sumberdaya ikan yang melimpah.Sorong) didapatkan kisaran tinggi pasang surut (tidal range) atau perbedaan antara tinggi air pada saat pasang maksimum dan tinggi air pada saat surut minimum berkisar antara 1. ikan demersal. Samate. Pada sektor perikanan tangkap. ikan pelagis kecil. 3. Sementara. Kabupaten Raja Ampat memiliki komoditi perikanan tangkap seperti ikan. dan ikan air payau. hasil tangkapan lainnya adalah udang. Kofiau. Ikan tenggiri. Ikan kembung banyak tertangkap di Distrik Teluk Mayalibit. cacing laut. Kofiau dan Misool Timur Selatan. Secara umum. cumi-cumi.). Kemudian. udang. ikan kerapu dan napoleon banyak dihasilkan dari Distrik Waigeo Barat. Jenis-jenis ikan yang dominan ditangkap oleh nelayan lokal adalah ikan kembung (Rastrelliger sp). Waigeo Barat.).

3 Jenis-jenis Hasil Tangkapan di Kabupaten Raja Ampat Nama Umum Engraulidae Clupeidae Clupeidae Letrinidae Letrinidae Carangidae Carangidae Carangidae Carangidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Nama Ilmiah Stolephorus indicus Spratelloides gracillis Spratelloides robustus Lethrinus sp. Lola. banyak dieksploitasi untuk diambil mutiaranya dan juga dimakan dagingnya. cangkangnya juga dapat dimanfaatkan atau dijual.) dan cumicumi yang berukuran besar (Loligo sp.).GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT jenis cumi-cumi yang telah dimanfaatkan nelayan setempat. Kerang dan siput merupakan komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting. Plectropomus sp. jaring. Scomberoides sp. Sementara. jaring. bia garu. Untuk Jenis kerang dan siput yang dimanfaatkan oleh nelayan lokal selain kerang mutiara adalah bia garu. Variola louti Epinephelus sp. bagan Pancing. sera Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-7 . batu laga. yakni cumicumi ukuran kecil atau disebut cumi jarum (Sepiotheuthis sp. Caranx sp. jaring. Cangkang bia garu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kapur yang digunakan untuk makan pinang. kepala kambing dan mata tujuh. Acanthopagrus berda Selaroides sp. Cephalopoiis leopadus Cromileptis altivelis Nama Lokal Teri Teri Teri Gutila Kapas Oci Momar Bubara Lasi Geropa Geropa Geropa Geropa Geropa Nama Alat Penangkap Ikan Bagan Bagan Bagan Pancing Pancing. batu laga. mata tujuh dan lain-lain selain dagingnya yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk segar atau beku. pia-pia. Pinctado maxima atau kerang penghasil mutiara. Tabel 3. Decapterus sp. jaring Pancing. bagan Pancing Pancing.

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

Nama Umum
Scombridae Scombridae Scombridae Caesionidae Belonidae Siganidae Mugilidae Mugilidae Toxidae Lutjanidae Sphrynidae Ariidae Labridae

Nama Ilmiah
Scomberomorus spp. Katsuwonus pelamis Rastrelliger sp. Caesio sp. Tylosurus gavialoides Siganus sp. Mugil cephalus Liza subviridis Toxotes sp. Lutjanus sp. Sphyrna lewini Arius sp. Cheilinus undulates

Nama Lokal
Tenggiri Cakalang Lema Lalosi Julung Samandar bulana bulana sumpit Ikan merah Hiu Sembilang Napoleon

Nama Alat Penangkap Ikan
Pancing Pancing Pancing, jaring, bagan, Pancing, jaring, bagan Pancing Pancing, jaring Pancing, jaring Pancing, jaring Jaring Pancing, jaring, sero Pancing, jaring Pancing, jaring, sero Pancing, jaring

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

2).

Sumberdaya Terumbu Karang dan Ikan Karang

Ekosistem terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat terbentang di paparan dangkal di hampir semua pulau-pulau. Namun, ekosistem terumbu karang yang terbesar terdapat di Distrik Waigeo Barat, Waigeo Selatan, Ayau, Samate, dan Misool Timur Selatan. .Pada beberapa bagian terdapat gosong (sand backs) yang juga memiliki terumbu karang di sekelilingnya. Tipe terumbu yang terdapat di Kepulauan Raja Ampat umumnya berupa karang tepi (fringing reef), dengan kemiringan yang cukup curam. Selain itu terdapat juga tipe terumbu cincin (atol) dan terumbu penghalang (barrier reef). Atol di Raja Ampat terdapat di Kepulauan Ayau dan Kepulauan Asia. Hasil penelitian dari lembaga-lembaga internasional seperti kegiatan Marine RAP (Rapid Assessment Program) yang dilakukan oleh Conservation International dan REA (Rapid Ecological Assessment) yang dilakukan oleh TNC dan WWF menyatakan bahwa keanekaragaman hayati terumbu karang
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

III-8

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

di Kepulauan Raja Ampat luar biasa dan umumnya dalam kondisi fisik yang baik. Kepulauan Raja Ampat memiliki terumbu karang yang indah dan

sangat kaya akan berbagai jenis ikan dan moluska. Berdasarkan hasil penelitian tercatat 537 jenis karang keras (Cl, TNC-WWF), 9 diantaranya adalah jenis baru dan 13 jenis endemik. Jumlah ini merupakan 75% dari jumlah karang di dunia. Tercatat juga 828 (Cl) dan 899 (TNC-WWF) jenis ikan karang sehingga Raja Ampat diketahui mempunyai 1.104 jenis ikan yang terdiri dari 91 famili. Diperkirakan jenis ikan karang tersebut dapat mencapai 1.346 jenis, berdasarkan kesinambungan genetik di wilayah Kepala Burung, sehingga menjadikan kawasan ini menjadi kawasan dengan kekayaan jenis ikan karang tertinggi di dunia. Berdasarkan Indeks Kondisi Karang, 60% terumbu karang dalam kondisi baik dan sangat baik. Walaupun demikian, disebagian wilayah telah terjadi pengrusakan terumbu karang yang disebabkan oleh penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan potasium. Di kawasan Raja Ampat juga ditemukan 699 jenis hewan lunak (jenis moluska) yang terdiri atas 530 jenis siput-siputan (Gastropoda), 159 jenis kekerangan (bivalva), 2 jenis Scaphopoda, 5 jenis cumi-cumian (Cephalopoda), dan 3 jenis Chiton. 3). Sumberdaya Padang Lamun

Padang lamun hampir tersebar di seluruh Kepulauan Raja Ampat. Padang lamun tersebar di sekitar Waigeo, Kofiau, Batanta, Ayau, dan Gam. Padang lamun yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat umumnya homogen dan berdasarkan ciri-ciri umum lokasi, tutupan, dan tipe substrat, dapat digolongkan sebagai padang lamun yang berasosiasi dengan terumbu karang. Tipe ini umumnya ditemukan di lokasi-lokasi di daerah pasang

surut dan rataan terumbu karang yang dangkal. Secara umum vegetasi dari padang lamun yang terdapat di Raja Ampat merupakan tipe campuran dengan kombinasi dari beberapa jenis lamun yang tumbuh di daerah pasang surut mulai dari pinggir pantai sampai ke
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

III-9

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

tubir. Jenis lamun yang tumbuh antara lain jenis Enholus acoroides, Thoiossio hemprichii, Holophilo ovolis, Cymodoceo rotundoto, dan

Syringodium isoetifoiium. Pada rataan terumbu pulau-pulau Raja Ampat khususnya di tepi terumbu tidak ditemukan lamun, kecuali di Pulau Meosarar ditemukan Enholus acoroides dengan prosentase penutupan rata-rata 2%. Kecenderungan ketidakadaan lamun adalah pada kedalaman 4 - 7 meter, dimana substrat dasar pada kedalaman tersebut didominasi oleh terumbu karang. Pada umumnya lamun ditemukan pada daerah reef top kedalaman 1 - 3 meter. Kepadatan lamun relatif tinggi di Pulau Waigeo khususnya sekitar Pulau Boni dengan tutupan rata-rata 65%. Jenis-jenis lamun yang ditemukan di Distrik Waigeo Barat dan Selatan adalah Enholus ocoroides, Holodule pinifolio, Holophiio ovolis, Thoiossio hemprichii dan Cymodoceo rotundoto. Secara umum kondisi ekosistem padang lamun di Distrik Waigeo Barat dan Selatan prosentase penutupannya tergolong baik (50 - 75% ) dan sangat baik (lebih dari 75%). Potensi sumberdaya lamun cukup tinggi, khususnya dari segi perikanan dan sumbangan nutrisi pada ekosistem terumbu karang di sekitarnya. Kondisi padang lamun yang masih baik akan sangat mendukung bagi kehidupan berbagai biota dengan membentuk rantai makanan yang kompleks. Sejumlah biota yang dijumpai pada ekosistem ini antara lain adalah invertebrata: moluska (kerang kampak - Pinna bicolor, siput labalaba - Lombis lombis, Cone - Conus sp., siput zaitun - Olive sp,, miteer Vexillum sp., Polute - Cymbiolo sp., kerang mutiara - Pinctodo sp., kewuk Cypreo sp. dan Conch - Strombus sp.), Echinodermata (Teripang Holothurio, Bulu babi - Diodemo sp.) dan bintang laut (Achontoster ploncii, Linckio sp.) serta Crustacea (udang dan kepiting). Bahkan beberapa jenis penyu sering kali mencari makanan pada ekosistem padang lamun.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

III-10

dan Heritiero littorolis. Nypo fruticons. sepanjang P. Pulau Kofiau merupakan kawasan yang memiliki sebaran mangrove yang lebih sedikit dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Pada ekosistem mangrove di Raja Ampat juga ditemukan beberapa jenis biota yang dikelompokkan kedalam krustacea dan moluska yang memiliki nilai ekonomis penting. Kerapatan pohon mangrove di daerah ini masih lebih besar dibandingkan dengan kerapatan mangrove di daerah Bintuni dan Muara Digul. pantai Batanta. Contoh komunitas yang terbaik terdapat di Pulau Misool. dan juga terdapat pada akhir aliran air tawar misalnya jenis Xylopcorpus gronotum. dan rajungan (Portunidae). Waigeo Selatan. kemudian diikuti oleh Pulau Waigeo. Ceriops togol. Selain itu komunitas mangrove terdapat juga pada bagian hulu misalnya jenis Rhizophoro mucronoto. kepiting bakau (Scylla serota). di antaranya udang (Panaeid). Gam dan Sungai Kasim. dan pantai utara serta pantai timur Pulau Misool. Kerapatan pohon mangrove di Raja Ampat dapat mencapai 2. Dolichondrone spothoceo. 2006). Biota yang umum ditemukan di Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-11 . Teluk Mayalibit. Kondisi ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat masih baik dengan ditemukannya 25 jenis mangrove dan 27 jenis tumbuhan asosiasi mangrove. Hutan mangrove di Kabupaten Raja Ampat yang cukup luas terdapat di wilayah pantai Waigeo Barat.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 4). Salawati dan Batanta. Hutan mangrove di Raja Ampat umumnya dijumpai di dataran rendah dengan muara dan sungai-sungai pasang surut yang menyediakan habitat yang cocok bagi asosiasi-asosiasi Bruguiera-Rhizophora. Sumberdaya Mangrove Luas hutan mangrove di Kepulauan Raja Ampat diperkirakan sebesar 27. Hutan mangrove ini didominasi oleh famili Rhizophoraceae dan famili Sonneratiaceae. Pulau Misool merupakan pulau yang memiliki sebaran mangrove terbesar.180 hektar (Mambrisaw. Bruguiem gymnorrhizo. pantai timur Pulau Salawati.350 batang/hektar. et al.

3. Selain keindahan di bawah laut. belanak (Mugil dusumieri). kepiting bakau (Scyllo serata). obyek wisata lautnya adalah penyelaman (diving) dan wisata pantai. Di Arborek. Kofiau juga kaya akan keindahan panorama wilayah daratannya. lokasi wisata Pulau Wai dan Selat Dampier sangat menantang dan mempunyai daya tarik tersendiri. Sumberdaya ini telah dimanfaatkan dan dikelola dibeberapa wilayah. sedangkan di Sawandrek obyeknya adalah berenang/snorkeling dan menyelam untuk menikmati keindahan karang. bandeng (Chonos chonos). Kemudian. Batanta. di lokasi ini juga terkenal dengan keberadaan manta atau ikan pari yang berukuran sangat besar dan melimpah. Lokasi ini sangat berpotensi. Selain itu. Obyek wisata lautnya adalah aktivitas penyelaman. Selain itu.). Kofiau dan Misool. karena selalu menjadi salah satu tempat utama dari para wisatawan liveaboard. Untuk lokasi obyek wisata laut di Waigeo Barat terletak di daerah Selpele dan Wayag. pulau-pulau karst yang terdapat di Wayag juga merupakan sebuah panorama alam yang sangat menarik untuk dinikmati. yakni di Waigeo Selatan. Kofiau selalu didatangi oleh para liveaboard dan wisatawan untuk menikmati keindahan bawah laut dengan menyelam atau snorkeling. Sementara.4 POTENSI SUMBERDAYA LINGKUNGAN LAUT Salah satu sumberdaya lingkungan laut di Kabupaten Raja Ampat yang potensial sudah berkembang adalah sumberdaya wisata laut.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT ekosistem ini adalah ikan blodok (Perioptholmus sp. di Misool para wisatawan dapat menikmati Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-12 . peninggalan PD II. Lokasi obyek wisata laut di Waigeo Selatan terletak di daerah Arborek dan Sawandrek. Di Pulau Wai wisatawan umumnya melakukan penyelaman untuk menikmati lokasi bangkai pesawat thunderbolt. Waigeo Barat. dan kerang.

pulau-pulau karst. Di kepulauan ini terdapat pulau-pulau pasir yang unik. setelah itu hilang dan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-13 . masyarakat setempat menyebutnya zondploot. Kepulauan Ayau Kepulauan ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada di atas kawasan atol yang sangat luas. diantaranya: 1). dan melakukan aktivitas penyelaman atau snorkeling. 2). Raja Ampat juga kaya akan beberapa obyek wisata lainnya yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. khususnya di depan Kampung Urbinasopen dan Yesner terdapat atraksi fenomena alam yang sangat menarik dan unik yang hanya bisa disaksikan setiap akhir tahun. Waigeo Timur Di sini.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT keunikan pemandangan goa. 3). Waigeo Utara Di Waigeo Utara terdapat beberapa tempat yang dapat dijadikan lokasi wisata yaitu goa-goa peninggalan perang dunia II dan keindahan bawah laut. Jenis wisata yang dapat dikembangkan di Kepulauan Ayau adalah keunikan kehidupan suku dan budaya yang berupa penangkapan cacing laut (insonem) yang dilakukan secara bersama-sama oleh ibu-ibu dan anak-anak. Pantai-pantai di kepulauan ini berpasir putih dengan areal dasar laut yang luas yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lain. mengunjungi tempat peneluran penyu hijau. Beberapa potensi wisata yang dapat dikembangkan ini tersebar di beberapa kawasan. yaitu cahaya yang keluar dari laut dan berputar-putar di permukaan sekitar 10-18 menit. Di beberapa goa yang tersebar di Tomolol terdapat lukisan telapak tangan manusia berukuran besar dan hewan-hewan yang diduga dilukis oleh manusia goa. dan wisata dayung tradisional dengan perahu karures. Disamping beberapa obyek wisata yang sudah berkembang seperti tersebut diatas. dan di atasnya tidak terdapat tumbuhan/vegetasi.

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT bisa disaksikan lagi saat pergantian tahun berikutnya. Banyak atraksi yang bisa dilihat disini. 4). Teluk Mayalibit Lokasi wisata Teluk Mayalibit cukup unik. Masyarakat di kedua kampung ini menamakan fenomena ini sebagai "Hantu Laut". Salawati Di Salawati para wisatawan dapat menyaksikan bunker-bunker peninggalan Perang Dunia II buatan Belanda dan Jepang (Jeffman) dan juga merupakan tempat yang menarik untuk snorkeling dan diving. 5). karena merupakan sebuah teluk yang cukup besar dan hampir membagi Pulau Waigeo menjadi dua bagian. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-14 . seperti cara penangkapan ikan tradisional dan bangkai kerangka pesawat yang bisa dijadikan sebagai tempat penyelaman.

BAB 4 Analisis Potensi dan Permasalahan LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

000 ton/tahun. Samate. Ayau Waigeo Timur/Barat.000 ton/tahun. Misool Waigeo Selatan.000 ton/tahun. Tabel 4.4 4. Misool. kofiau. EKOLOGI ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 1) Ketersediaan Sumberdaya Hayati Laut Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat (2005) melaporkan bahwa perairan Kabupaten Raja Ampat memiliki sumberdaya ikan dengan potensi lestari (MSY) sebesar 590. komoditas ikan yang dapat diunggulkan berdasarkan daerahnya ditampilkan pada Tabel 4. sehingga diperkirakan masih memiliki peluang sekitar 434. Berdasarkan catatan Dinas Perikanan dan Kelautan.1. Kofiau. Teluk Mayalibit Waigeo Selatan. sumberdaya ikan yang sudah dimanfaatkan sebesar 38.1. di luar dari pemanfaatan perikanan subsisten. Misool. Misool.1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Komoditas Unggulan Serta Lokasi Penangkapannya Unggulan Lokasi Waigeo Utara. Jenis ikan yang dapat dimanfaatkan di Kabupaten Raja Ampat sangat banyak. Misool Timur Selatan Teluk Mayalibit Komoditas Tuna/Cakalang Kerapu/Napoleon Kakap Lobster Teripang Cumi-cumi Teri Tenggiri Kembung/Lema Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan (2005) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat (2006) 1 . Misool Timur Selatan Waigeo Barat. Samate. Secara umum. Misool Timur Selatan Waigeo Selatan Barat. Misool. Misool. Misool Timur Selatan Misool Timur Selatan. Misool Timur Selatan Waigeo Barat. Waigeo Barat.600 ton/tahun atau kalau dikonversi kedalam jumlah tangkapan yang diperbolehkan sekitar 472.

Decapterus sp. Lokasi penangkapan ikan umumnya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Lalosi Pancing. Jaring Ariidae Arius sp. Jaring Toxidae Toxotes sp. Bagan Pancing Pancing. Jaring Mugilidae Liza subviridis Bulana Pancing.4 hari dalam seminggu. Jaring. dengan lama waktu kerja antara 4 -12 jam per hari. Bagan Pancing. Bagan. Jaring. Plectropomus sp. Samandar Pancing. Caranx sp. Raja Nama lokal Teri Teri Teri Gutila Kapas Oci Momar Bubara Lasi Geropa Geropa Geropa Geropa Geropa Tenggiri Cakalang Lema Jenis alat tangkap Bagan Bagan Bagan Pancing Pancing. Singanidae Siganus sp. Scomberoides sp. Acanthopagrus berda Selaroides sp. Jaring Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. Bagan Belonidae Tylosurus gavialoides Julung Pancing. Sero Labridae Sheilinus undulates Napoleon Pancing. Jaring. Jaring. Jaring Pancing. Jaring. Tabel 4. Jaring Mugilidae Mughil chepalus Bulana Pancing. Sero Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-2 . Variola louti Epinephelus sp. Sero Sphrynidae Sphyrna lewini Hiu Pancing. nelayan lokal masih terbatas memanfaatkan ikan dan sumberdaya ikan lainnya di wilayah pantai dan daerah teluk. Cephalopolis leopadus Cromileptis altivelis Scomberomorus spp Katsuwonus pelamis Rastrelliger sp. Nelayan hanya melakukan kegiatan penangkapan 3 . Sumpit Jaring Lutjanidae Sutjanus sp. Serok Caesionidae Caesio sp. Untuk mencapai daerah penangkapan (fishing ground) umumnya mereka menggunakan perahu dayung dengan waktu tempuh 2-3 jam perjalanan. Jaring. Sembilang Pancing.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Sampai saat ini.2 Ampat Famili Engralulidae Clupeidae Clupeidae Letrinidae Letrinidae Carangidae Carangidae Carangidae Carangidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Scombridae Scombridae Scombridae Jenis-Jenis Ikan yang Tertangkap di Sekitar Perairan Spesies Stolephorus indicus Spratelloides gracilis Spratteloides robustus Lethrinus sp. Jaring. Ikan Merah Pancing.

Misool Sebelah Selatan Pulau Ouoy Teluk Fofak. TNC dan WWF tahun 2001 dan 2002. Misool Mesemta. Misool Total Spesies 182 174 173 169 169 168 164 163 163 161 Sumber: TNC – WWF (2003) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat (2006) Keanekaragaman terumbu karang jika dilihat dari hadirnya spesies tertentu pada lokasi penelitian. 2002). diikuti Teluk Wambong dengan jumlah 174 spesies. keanekaragaman hayati tertinggi ditemukan pada terumbu karang tipe Fringing Reefs dengan jumlah rata-rata spesies yang ditemukan sebanyak 86 spesies. Waigeo Selatan Pulau Tiga.3 Sepuluh Lokasi Keanekaragaman Terumbu Karang Tertinggi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lokasi Sebelah utara Pulau Djam. Kekayaan tertinggi ditemukan di sebelah utara Pulau Djam dengan jumlah 182 spesies. Kofiau Tanjung Sool. di sebelah utara Pulau Gam. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-3 . merupakan karang keras (scleractinia). Keanekaragaman terendah ditemukan di perairan Selat antara P. Waigeo dengan jumlah species 18. Misool Sebelah Selatan Walo. Hasil marine RAP dan REA juga menggambarkan bahwa keanekaragaman terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat tertinggi ditemukan di areal perairan Misool. Tabel 4. Misool Teluk Wambong. Dari jumlah spesies ini terdapat 295 species yang tergolong dalam 67 genus dan 15 famili. maka ada 10 lokasi yang memiliki kekayaan spesies tinggi. Kondisi keanekaragaman ini diinventarisasi sampai pada kedalaman 34 meter di lebih dari 100 lokasi survei. Berdasarkan tipe habitatnya. mewakili 76 genus dan 19 famili. So. tercatat sebanyak 537 species karang batu. dengan jumlah spesies sebanyak 182. dkk.. Gam dengan P. Kofiau Los.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Berdasarkan hasil penelitian Marine RAP dan REA yang dilakukan CI. dan Sheltered Reefs dengan jumlah spesies rata-rata 67 (McKenna. diikuti oleh Platform Reefs. Kofiau Jef Bi.

ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Kesepuluh lokasi yang memiliki jumlah spesies tertinggi tersaji pada Tabel 4. 2001). memiliki keunikan formasi dan struktur terumbu. Sedangkan berdasarkan survei REA pada tahun 2002. yang mencapai 53%. prosentase tutupan karang hidup tertinggi terdapat di Pulau Keruo. Dilaporkan bahwa Kepulauan Batang Pele yang terdiri dari 15 pulau kecil. namun sebaliknya di daerah lainnya juga ada yang tidak dijumpai komunitas terumbu sama sekali. sebelah utara Fam.4. Selpele Pulau Ayil Selpele Wayum Kabare Yau-Yau Yenkawir Yam yam Lam Lam Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. Di beberapa daerah tertentu dapat dijumpai komunitas terumbu karang dengan prosentase tutupan karang hidup mencapai 71%. prosentase tutupan karang hidup tertinggi terdapat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-4 . diikuti Teluk Saripa yang mencapai 52%.4 Lokasi Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat dengan Prosentasi Tutupan Karang Hidup > 50% Nama Lokasi Prosentase Tutupan (%) 70 50 50 50 60 50 50 50 65 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 Nama Distrik Kofiau Misool Waigeo Selatan Samate Waigeo Timur Waigeo Barat Kepulauan ayau Waigeo Utara Pulau Mangimangi Pulau Eftorobi Pulau Salafen Pulau Kamel Pulau Bun Pulau Arborek Pulau Di Depan Samate Pulau Senapan Pulau Mamyayet Pulau Waim Pulau Beo. 2006 Berdasarkan survei marine RAP pada tahun 2001. Tabel 4. Dilaporkan bahwa di daerah ini dijumpai 205 jenis karang batu (Coremap.

Perbedaan prosentase tutupan ini diduga karena adanya pengaruh aktivitas manusia maupun pengaruh alami.4 di atas terlihat bahwa terumbu karang di Distrik Kofiau khususnya di perairan Mangimangi memiliki persen tutupan karang mencapai 70% diikuti oleh terumbu karang di Waigeo Timur terutama di perairan Pulau Mamyayet. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-5 . seperti adanya perubahan suhu perairan. tetapi pada lokasi-lokasi tertentu ada jenis spesies tertentu yang sangat mendominasi. selanjutnya terumbu karang di Distrik Waigeo Selatan khususnya di perairan Pulau Bun memiliki persen tutupan karang sebesar 60%. Boni yang mencapai 65%.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN di sebelah selatan Pulau Kawe yang mencapai 70%.5. Tabel 4. Dominasi spesies terumbu karang di perairan Raja Ampat cukup bervariasi di tiap lokasi. secara keseluruhan terdapat 15 titik survei tempat kondisi terumbu karang berada dalam kondisi baik dengan persen tutupan karang hidup > 50%. Merulina ampliata Echinophola lammelosa Helophora coerulea Penyebaran Pada Lokasi survei 36 29 49 6 31 12 21 6 30 21 15 Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. diikuti sebelah utara Djam dan sebelah barat P. seperti dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4. Sedangkan terumbu karang di Distrik Waigeo Barat dan Distrik Misool rata-rata memiliki persen tutupan karang batu hidup sebesar 50%. tahun 2006.5 Jumlah Lokasi Penyebaran Famili Terumbu Karang dan Jenis Terbanyak yang Ditemukan dari Hasil Survei Marine RAP 2001 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 To Famili Acroporidae Pocilloporidae Poritidae Agarichidae Fungidae Oculinidae Pectinidae Mussidae Merulinidae Favidae Helioporidae tal Jumlah jenis Yang Ditemukan 14 6 6 1 2 1 3 2 2 7 1 45 Jenis Terbanyak Acropora palifera Pocillopor verrucosa Porites lutea Pavona deccusata Fungia repanda Glastrea astreata Pectinia lactusa Symphyllia sp. Hasil penelitian terbaru.

Kekhasan jenis ini adalah tidak memiliki axil koralit serta radikal koralitnya menyebar tidak beraturan. Leptoseris (8 jenis).ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Genus Acropora mendominansi hampir seluruh perairan Kabupaten Raja Ampatdengan jumiah jenis sebanyak 68 jenis. dan Poritidae. diikuti oleh genus Montiporo (30 Jenis). Fungidae. Tabel di atas memberikan gambaran bahwa koloni terumbu dari famili Poritidae menyebar merata karena ditemukan hampir di semua lokasi penelitian. Jenis terbanyak yang ditemukan selama penelitian yakni Acroporo polifera. Povono (11 jenis). Terumbu dari famili Agarichidae ditemukan sangat sedikit karena struktur hidup dari koloni ini yang terkadang koralitnya tenggelam. Famili Fungidae juga menyebar merata karena ciri hidupnya yang soliter dan bebas serta melekat pada substrat tempat dia berada. Fungio (11 jenis). diikuti oleh koloni dari famili Favidae. Selama penelitian. Sedangkan koloni Mussidae dan Agarichidae hanya ditemukan di 6 lokasi. Psammocoro (7 jenis). Penyebaran koloni karang hampir merata karena ditemukan hampir di semua lokasi. dan berturut-turut dari Astreoporo sampai Plotigyro sebanyak 6 jenis. dengan dinding koloni yang tidak berkembang terutama jika terjadi kompetisi kehidupan. Penyebaran Acroporidae memberikan gambaran bahwa penetrasi sinar matahari di perairan Kabupaten Raja Ampat sangat baik sehingga memberikan kesempatan hidup dan berkernbang bagi karang bercabang. Hadirnya koloni terumbu dari famili Poritidae di hampir seluruh lokasi penelitian memberikan indikasi bahwa kawasan perairan ini memiliki arus dan gempuran ombak yang cukup kuat. Merulinidae. Jenis ini memiliki struktur bercabang dengan koloni berupa lempengan atau pilar yang tegak lurus. Koloni ini hadir sebagai penahan ombak dan arus bagi koloni maupun komunitas berikutnya. Pocilloporidae. diikuti berturut-turut oleh koloni Acroporidae. jenis dari famili Acroporidae lebih banyak ditemukan. dan Pociloporidae. Temuan IV-6 ini Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat . Porites (13 jenis).

ada kecenderungan nelayan melakukan praktek illegal fishing dengan melakukan penangkapan yang merusak (destructive fishing) seperti penggunaan bom. armada penangkapan yang digunakan nelayan juga masih sederhana dan bersifat tradisional. sementara pertumbuhan sumberdaya semakin kecil. karena tekanan penangkapan ikan di daerah pantai dan teluk akan semakin besar. Permasalahan lainnya yang juga perlu menjadi perhatian adalah makin menurunnya sumberdaya non-ikan seperti teripang. pengoperasian alat tangkap jaring dengan mata jaring berukuran kecil. 2) Proporsi Sumberdaya Hayati Laut yang Dibuang Secara umum. Kondisi terumbu karang juga perlu mendapatkan perhatian yang serius. bahan-bahan beracun serta alat tangkap yang tidak ramah lingkungan khususnya untuk ikan-ikan karang. Data statistik menunjukkan bahwa produksi ikan menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Dewasa ini terumbu karang telah mengalami degradasi yang cukup nyata akibat meningkatnya aktiiitas manusia. Kondisi ini tentunya akan berdampak buruk jika berlangsung terus-menerus. wajib untuk diwaspadai. Namun demikian. 3) Konflik dan Tekanan Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Laut Mengingat masih kecilnya modal yang dimiliki oleh nelayan di Raja Ampat. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-7 . jenis ikan yang tertangkap oleh nelayan di Raja Ampat termanfaatkan semua. seperti pada alat tangkap purse seine. di balik peluang yang ada. Kerusakan terumbu karang. Akibatnya. Namun demikian. lokasi penangkapan ikan praktis terkonsentrasi di daerah perairan pantai dan teluk.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN menunjukkan bahwa di Raja Ampat banyak daerah terumbu yang berarus dan juga berombak karena jenis Acroporo polifero biasa hidup didaerah seperti ini.

ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN umumnya disebabkan oleh penggunaan bahan peledak dan racun untuk mencari ikan. Kerusakan karang di perairan Kabupaten Raja Ampat umumnya disebabkan karena penggunaan bom untuk mencari ikan. Kerusakan yang cukup parah akibat penggunaan bom terjadi pada terumbu karang hampir di semua lokasi survei kecuali di perairan Pulau Gemin dan Yensawai. Selain itu terumbu karang juga bisa rusak karena peningkatan laju sedimentasi akibat erosi. pengambilan karang untuk bahan bangunan. Mereka masuk kawasan tanpa ijin dari Dinas Perikanan Kabupaten Raja Ampat. mengingat bahwa larva karang membutuhkan substrat yang kokoh untuk menempelkan diri. Pada daerahdaerah dengan terumbu karang rusak. Kerusakan ini telah mengakibatkan terganggunya siklus ekosistem terutama kehidupan berbagai jenis biota laut yang berasosiasi dengan terumbu karang. Aktifitas pariwisata yang tinggi tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan juga dapat menyebabkan kerusakan terhadap terumbu karang. berjalan-jalan di atas karang. dan mencungkil-cungkil karang untuk mengambil biota tertentu. Pecahan-pecahan karang dengan ukuran kecil-kecil ini bisa menghalangi pertumbuhan karang baru. Penggunaan bom untuk mencari ikan. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-8 . Kerusakan terumbu karang akibat penggunaan racun juga terjadi. Di beberapa lokasi dijumpai karang yang mengalami bleaching (pemutihan) akibat penggunaan Potasium Sianida. hingga saat ini masih terus berlangsung. pecahan-pecahan karang bercabang tampak berserakan. Kerusakan ini juga telah menghilangkan fungsi estetika dari komunitas terumbu terutama untuk kegiatan pariwisata. Di Kepulauan Raja Ampat juga terdapat beberapa kondisi terumbu karang yang rusak akibat penggunaan bahan peledak dan bahan perusak lainnya. Nelayan-nelayan yang menggunakan bom umumnya berasal dari luar Kabupaten Raja Ampat dan biasanya pengguna bom berasal dari Sorong.

Diduga akar bore (tuba tradisional) secara luas masih digunakan di seluruh perairan Raja Ampat.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang cukup bervariasi. 4) Perubahan Komposisi dan Ukuran Sumberdaya Hayati Laut Pengoperasian alat tangkap yang digunakan untuk menangkap suatu jenis ikan secara terus-menerus juga perlu diwaspadai. Namun secara keseluruhan wilayah perairan Raja Ampat sangat lenting (resilience) terhadap perubahan iklim. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-9 . Pada lokasi tertentu diduga telah terjadi kerusakan akibat pengaruh perubahan suhu maupun akibat hewan pemangsa seperti Aconthoster ploncii. dicirikan dengan adanya pertukaran massa air yang dinamis dan adanya proses upwelling di beberapa tempat. Penangkapan ikan suatu jenis ikan. perikanan tropis yang multi-species. Di sisi lain ada lokasi yang rusak akibat gelombang besar sementara lokasi yang rusak akibat penggunaan potasium hanya ditemukan pada perairan sebelah selatan Pulau Bun. namun sebagian besar kerusakan akibat penggunaan bahan peledak (bom). Hasil penubaan ini menyebabkan pemutihan karang yang serupa dengan penggunaan potasium. dimana antar Ini karena sifat species saling berhubungan dalam suatu rantai makanan. seperti kerapu yang mempunyai ekonomis tinggi dikhawatirkan akan memberi peluang ikan lain yang merupakan kompetitornya untuk tumbuh lebih cepat sehingga mengganggu kestabilan ekosistem sumberdaya hayati laut yang ada.

Waisai. maka secara berurutan distrik yang terpadat penduduknya adalah Distrik Kepulauan Ayau (111 jiwa/Km2). yakni sebesar 6. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-10 . Hanya penduduk Kampung Kalobo. hampir seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat menetap di tepi laut (pantai).055 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Raja Ampat dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. dan Distrik Misool Timur Selatan (6 jiwa/Km2). Sesuai dengan kondisi alamnya.10%). Laju pertumbuhan tertinggi terjadi di Distrik Waigeo Selatan (8.09%.2% dari jumlah seluruh penduduk Raja Ampat.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN 4.800 jiwa atau sebesar 21. Distrik Kofiau (11 jiwa/Km2). Bila berdasarkan tingginya tingkat kepadatan penduduk. Tomolol.9% dari jumlah seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat. Kepadatan penduduk Raja Ampat adalah sebesar 4 jiwa/Km2.236 jiwa atau 3.6. yakni sebesar 5 jiwa/Km2. Distrik Waigeo Selatan (8 jiwa/Km2).67%) sedangkan terendah terjadi di Distrik Kepulauan Ayau (0. Distrik Samate merupakan distrik dengan jumlah penduduk terbanyak di wilayah Kabupaten Raja Ampat. Distrik yang memiliki kepadatan penduduk terendah adalah Distrik Teluk Mayalibit (1 jiwa/Km2). adalah 18.55% sehingga laju pertumbuhan rata-rata per tahun adalah 3. namun tingkat kepadatannya relatif masih rendah yaitu sebesar 4 jiwa/Km2.2 SOSIAL 1) Tingkat Kepadatan Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2004 sebanyak 32. Sementara Distrik Waigeo Timur merupakan distrik dengan jumlah penduduk terkecil yaitu sebanyak 1. Waijan. namun tingkat kepadatan penduduknya sedikit lebih tinggi dari Distrik Samate. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun untuk tiap distrik dapat dilihat pada Tabel 4. dan Magey yang tinggal agak jauh ke arah daratan.

Alasan lainnya adalah karena kondisi ekonomi keluarga.007 orang.335 1. dan lulusan PT 450 orang. cukup banyak penduduk usia sekolah (semua tingkatan) yang putus sekolah. 10.519 2. 2) Tingkat Pendidikan Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan.000 1. 8.20 8.800 3.781 1. Akses ke sekolah yang susah. jumlah penduduk yang merupakan lulusan SLTP sebanyak 2. 7. 1. 9.40 1.412 3. Mambrisaw et.372 6.646 27.984 1. 2006 Secara keseluruhan jumlah penduduk laki-laki di Raja Ampat sedikit lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan.170 6. Budaya lokal yang sering membawa anaknya menokok sagu dalam waktu lama.511 1.67 3.742 4.55% dari total jumlah penduduk Raja Ampat. umumnya masyarakat Raja Ampat merupakan lulusan SD (7.218 3. Distrik Waigeo Selatan Waigeo Barat Waigeo Timur Waigeo Utara Kep. juga mendorong tingginya angka putus sekolah.02 3. 6. lulusan SLTA 2.73 0.591 4. SLTA.168 1.236 2.12 0. dan Perguruan Tinggi (PT). Ayau Kofiau Samate Teluk Mayalibit Misool Misool Timur Selatan RAJA AMPAT Jumlah penduduk 2000 2006 2. Hanya sebagian kecil penduduk lulusan SLTP. 2.039 32. (2006) melaporkan bahwa. 3.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Tabel 4.100 orang. fasilitas pendidikan yang minim. dan motivasi belajar masyarakat yang masih rendah.90 3.055 Laju pertumbuhan per tahun (%) 8.895 orang).387 3. menjadi alasan utama banyaknya siswa yang putus sekolah. Berdasarkan survei PRA pada tahun 2006. 4. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-11 .279 1. 5.947 2.996 2. Jumlah penduduk lakilaki mencapai 52.93 1.09 Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat.12 4.91 1.al.6 Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Raja Ampat No.

3 1). Jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani sebanyak 3. yang dilakukan berdasarkan musim yang berlangsung. disusul kemudian sebagai nelayan sebanyak 2. alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan di Raja Ampat masih sederhana. Alat tangkap pancing dasar dan tonda merupakan jenis alat tangkap yang dominan terdapat di Raja Ampat dan jenis tersebut juga tersebar hampir di setiap distrik. 4. EKONOMI Perikanan Tangkap Bila ditinjau dari teknologi yang digunakan.987 jiwa (12%). Pada saat musim angin selatan mereka bertani dan di luar musim itu mereka melaut untuk mencari ikan.633 jiwa (8%). dan Wejim. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-12 . Distrik Samate.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN 3) Pertumbuhan Tenaga Kerja Mayoritas penduduk Kabupaten Raja Ampat menggantungkan hidupnya dari sumberdaya alam yang ada di wilayah tersebut. Selain nelayan atau petani. sebanyak 1. Profil rumah tangga masyarakat di Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh rumah tangga petani. dan Distrik Misool Timur Selatan. Arborek. Mutus. umumnya penduduk di sana bermata pencaharian sebagai nelayan sedangkan untuk daerah yang mempunyai daratan yang luas ada yang memang mayoritas petani seperti Kabare dan Bonsayor.341 jiwa atau 4% penduduk Raja Ampat berprofesi sebagai PNS/TNI kemudian 1. Distrik Misool. Untuk wilayah yang mempunyai daratan yang tidak luas seperti Ayau. Jenis alat tangkap yang dioperasikan di perairan Raja Ampat sebanyak 14 jenis alat tangkap. namun paling banyak adalah yang bermatapencaharian ganda yaitu sebagai petani dan nelayan.312 jiwa atau 4% berprofesi sebagai buruh atau karyawan pada perusahaan-perusahaan mutiara yang terdapat di Distrik Waigeo Barat.

untuk sero (trap) hanya dijumpai di Distrik Samate. dan trammel net. jaring insang (gill net). banyak nelayan dari luar Raja Ampat yang beroperasi di Perairan Kabupaten Raja Ampat. karena alat ini hanya dapat dioperasikan di daerah yang mempunyai perbedaan pasangsurutnya tinggi. Nelayan-nelayan di daerah Teluk Mayalibit biasanya menggunakan alat tango (seser) untuk menangkap ikan kembung dan udang halus (ebi). Usaha penangkapan ikan dilakukan baik oleh perorangan maupun perusahaaan yang menggunakan berbagai jenis alat tangkap seperti pancing (hand line). Misool. Sementara. Kemudian. Selain nelayan lokal. lema (Rastrelliger sp). cumi-cumi (Loligo sp) dan ikan-ikan pelagis lainnya seperti momar (Decopterus sp). layang dan kembung. Waigeo Barat. mini purse seine. bagan (lift net). Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-13 . oci (Selaroides sp) dan lain-lain. alat tangkap bagan banyak terdapat di Waigeo Selatan. target tangkapan mini purse seine di Raja Ampat adalah ikan-ikan pelagis yang suka bergerombol seperti ikan cakalang.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Sementara. Samate. Alat tangkap ini umumnya digunakan untuk menangkap ikan teri (Stolephorus sp). Hasil tangkapan huhate (pole and line) adalah ikan cakalang dan tuna. dan Misool Timur Selatan. Alat ini biasanya digunakan pada kapal-kapal cakalang. huhate (pole and line). Sedangkan alat tangkap trammel net digunakan untuk menangkap udang dan ikan dasar.

8 Sebaran jenis Alat Tangkap Berdasarkan Distrik Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Distrik Pancing Tonda Dasar 75 140 10 55 15 58 50 23 5 105 25 84 20 69 81 65 150 5 60 Rawai Dasar 10 4 5 5 1 2 Waigeo Selatan 35 5 Waigeo Barat 15 2 Waigeo Timur Waigeo Utara Kep. Ayau Kofiau Samate 28 28 3 Teluk Mayalibit Misool 63 6 Misool Timur 40 3 Selatan Jumlah 270 825 27 113 30 3 181 28 19 5 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat (2005) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat (2006) Insang 10 5 3 3 7 3 25 5 3 49 Jaring Hiu 3 10 2 10 5 Lingkar 2 1 - Bagan Sero Huhate Tramel Net 2 3 - Tango Kalawai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - √ - Senapan Molo √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tali Accu √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - - Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-14 .ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Tabel 4.

9 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sebaran Armada Penangkapan Ikan Beradasrkan Distrik Tahun 2006 PTM PK MT.25 MT. Sedangkan armada penangkapan ikan yang berasal dari luar daerah. Adapun perahu yang menggunakan mesin katinting dan motor tempel ukurannya lebih panjang dari 7 m. PMD: Perahu Motor Dalam. seperti dari Sorong dan Sulawesi. menggunakan kapal motor dengan kapasitas yang besar. MT: Motor Tempel.40 PMD* 10 17 10 KM 10-15 (GT)* 30 50-100 Distrik Waigeo Selatan 60 46 34 Waigeo Barat 55 52 43 3 6 Waigeo Timur 46 10 2 Waigeo Utara 19 9 17 1 13 3 1 Kep. 2006 Keterangan PTM: Perahu Tanpa Motor. dengan banyaknya armada dari luar pulau yang melakukan kegiatan penangkapannya di Raja Ampat. Tabel 4. KM: Kapal Motor. perahu motor katinting. Perahu tanpa motor yang digunakan nelayan lokal pada umumnya adalah perahu yang menggunakan semong dengan ukuran 3 . Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-15 . Armada ini merupakan pilihan utama masyarakat Kabupaten Raja Ampat karena tidak membutuhkan bahan bakar minyak. lama trip penangkapan ikan diduga akan semakin panjang karena makin sedikitnya sumberdaya ikan. Ayau 95 10 30 15 2 Kofiau 69 49 40 15 1 Samate 53 52 91 4 38 7 16 Teluk Mayalibit 41 20 9 0 3 Misool 150 47 48 12 5 71 Misool Timur 60 132 38 1 15 5 51 Selatan JUMLAH 648 417 360 9 119 23 166 Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat.7 m. GT: Gross Ton 1 8 11 1 3 1 11 6 18 Rata-rata armada penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan lokal dioperasikan dengan sistem one day fishing (4 -12 jam per hari).ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Armada penangkapan ikan nelayan lokal yang beroperasi di Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh perahu tanpa motor. Kapal motor dengan ukuran di atas 10 GT banyak digunakan oleh para nelayan dari luar Raja Ampat. dan perahu motor tempel.15 MT. PK: Perahu Ketiting. Namun demikian.

Surabaya. Khusus untuk mini purse seine. Surabaya dan Jakarta.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Bila ditinjau dari jenis alat tangkap yang digunakan. Manokwari. Bitung. Ternate Hongkong. Jakarta Jakarta Jakarta. Surabaya. Jakarta Bintuni. Jakarta Hongkong. Sorong (2005) Meskipun penduduk di Kabupaten Raja Ampat mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. cumi-cumi kering dan ikan teri kering dipasarkan pula ke daerah Makasar. Bitung. hasil tangkapan nelayan di Raja Ampat berupa teripang.10. Tujuan daerah pemasaran dari berbagai komoditi hasil perikanan tangkap dapat dilihat pada Tabel 4. dimana mayoritasnya adalah pancing. rumput laut. Surabaya. Alat tangkap gillnet dan trammel net juga relatif baik karena juga tidak merusak ekosistem sekitarnya dan sumberdaya ikan yang ditangkap. Makasar. Jayapura Denpasar. karena mata jaringnya yang kecil maka pengoperasian yang besar-besaran dengan alat bantu penangkapan seperti lampu atau rumpon akan membahayakan kelestarian sumberdaya ikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Jakarta Makasar. untuk lobster juga dipasarkan ke Bali. Jakarta Sumber : Laporan Stasiun Karantina Ikan. Surabaya. Tabel 4. Bitung. namun potensi perikanan yang begitu besar Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-16 . maka secara umum alat tangkap yang dioperasikan nelayan di Raja Ampat dapat dikategorikan ramah terhadap lingkungan. Jakarta Bintuni. Manokwari. Kupang. Selain untuk pemasaran lokal. Jakarta Denpasar. Surabaya. Ternate Manokwari. Surabaya. Bitung.10 Daerah Tujuan Pemasaran Produksi Perikanan Tangkap di Kabupaten Raja Ampat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Komoditi Tenggiri beku Cakalang beku Campuran beku Kerapu hidup Napoleon Teri tawar Cumi kering Cumi beku Lobster Sirip/ekor hiu Teripang Daerah / Negara Tujuan Bintuni. Jayapura. Sementara itu. Nabire. Manokwari.

Waigeo Barat (2 perusahaan). terutama jenis Euchema cottoni. 3 diantaranya merupakan penanaman modal asing (PMA) dan sisanya penanaman modal dalam negeri (PMDN). sehingga berpotensi cukup besar menimbulkan suatu permasalahan konflik sosial antar mereka. Surabaya. Sementara itu. Distrik Waigeo Selatan (Pulau Friwen dan Pulau Arborek) serta Distrik Waigeo Barat (Pulau Fam). baik yang berizin resmi maupun tidak (illegal). 2). seperti: Makasar. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-17 . Jakarta dan Medan. Diperkirakan ada ribuan kapal pendatang dan asing. Hal ini tentu menimbulkan persaingan yang tidak sehat dengan penduduk lokal yang umumnya memiliki kemampuan teknologi dan modal yang terbatas. Namun sayangnya. Budidaya rumput laut ini terdapat di Distrik Kepulauan Ayau (Pulau Ayau). yang beroperasi di perairan Raja Ampat dan sekitarnya. kegiatan budidaya mutiara ini masih belum banyak melibatkan masyarakat setempat. Lokasi budidaya mutiara ini terdapat di Distrik Misool (1 perusahaan). Nelayan-nelayan lokal menggunakan peralatan tangkap yang sangat sederhana sehingga kalah bersaing dengan kapal nelayan pendatang dan asing yang beroperasi di wilayah tersebut. Singapura dan Thailand. Perikanan Budidaya Komoditas unggulan perikanan budidaya di Kabupaten Raja Ampat adalah rumput laut dan mutiara. Waigeo Selatan (2 perusahaan) dan Batanta (1 perusahaan).ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat. budidaya rumput laut telah dilakukan oleh masyarakat setempat. Budidaya mutiara menjadi primadona masa depan bagi Raja Ampat. Selain dijual ke pasar domestik. Saat ini terdapat 6 perusahaan yang mengembangkan budidaya mutiara secara modern sejak tahun 1990. produksi mutiara yang mencapai ribuan ton per tahun ini juga diekspor ke Jepang.

Tabel 4. serta wisata diving. yaitu di wilayah Distrik Waigeo Selatan. terutama ekosistem terumbu karang merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan luar negeri. Waigeo Barat dan Teluk Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-18 .11 NO 1 2 3 Unit Pengolahan Hasil Perikanan di Kabupaten Raja Ampat JENIS Pengolahan ikan asin Terasi udang Pengolahan ikan asin Pengolahan hasil laut JUMLAH JUMLAH (unit) 10 1 1 1 13 TENAGA KERJA (orang) 104 5 5 5 119 LOKASI Waigeo Samate Misool Sumber : Data industri Kabupaten Raja Ampat (2003) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Kab. Daerah pengembangan pariwisata adalah di Pulau Kofiau. Bahkan di daerah tersebut menjadi lokasi penelitian para pakar biota laut dunia. betingbeting karang.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN 3). khusus untuk wisata bahari dan wisata alam. gua. Waigeo Selatan dan Barat. namun umumnya masih bersifat tradisionil dan dalam skala rumah tangga. Jenis potensi pariwisata bahari yang utama di wilayah gugus pulau kecil Raja Ampat adalah wisata panorama alam. Raja Ampat (2005) 4). Pengolahan Hasil Perikanan Kegiatan pengolahan hasil perikanan juga terdapat di Kabupaten Raja Ampat. serta Kepulauan Ayau. Misool. Namun demikian sejak tahun 1995 hingga sekarang baru terdapat 1 lokasi yang dikelola oleh PT Papua Diving. Jenis pengolahan yang ada di Raja Ampat umumnya adalah berupa pengasinan ikan. Pariwisata Sektor pariwisata memiliki prospek pengembangan tersendiri bagi kegiatan perekonomian Raja Ampat. seperti pasir putih. Keunikan dan keindahan panorama alam ditambah dengan keanekaragaman sumberdaya perikanan dan kelautan yang tinggi.

11. 2004). Tabel 4.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Mayalibit (Profil Kabupaten Raja Ampat.11 Kawasan pariwisata Kawasan Pariwisata di Kabupaten Raja Ampat DESA/KAMPUNG Kapadiri Urbinasopen Arborek Yenbuba DISTRIK Waigeo Utara Waigeo Timur Waigeo Selatan TEMPAT WISATA Air terjum Lam Lam Pantai Ayem Pulau Mamiayef Karang Laut Pulau Roti Karui Bepyar Tomolol Kepulauan Kri Burung Cenderawasih Selat Kabui Meos Pun (kelelawar/paniki) Kali Raja Pulau Dua Taman Laut Wayag Pulau Sayang (penyu dan komodo) Pantai Yeben Pulau Painemo Pantai Saukabu Meos Andau Besar dan Kecil Nafsi Manaru Pulau Manaru Enus Mutus Kecil Efkabu Meos War Efmas Pantai Tuturuga Sumkali Indah Saukris Puncak Bendera Tujuh Gunung Nok Kupu-kupu Taman Laut Ayau Pantai Meos Mandum Ombak Meos Tukang Teluk Dorekar Pulau Tiga Abidon Pantai Fani (Asis) Pulau Way Pantai Indah Waigeo Barat Yen Waubnor Kabui Friwen Wawiyai Yenbekwan Salio Meos Manggara Saukabu Fam Mutus Meos Manggara Maniafun Gag Mayalibit Ayau Waifoi Beo Rutum Reni Meos Bekwan Dorekar Abidon Fani Arefi Samate Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-19 . lainnya di Raja Ampat disajikan pada Tabel 4.

Hal ini diindikasikan dengan diperbolehkannya kembali eksplorasi nikel di Pulau Gag. antara lain perahu dayung.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN DISTRIK DESA/KAMPUNG Jefman TEMPAT WISATA Pulau Kri (Besar-Kecil) Pulau Matan Pantai Urbabo Pulau Kasim (Besar-Kecil) Sumber : Profil Kabupaten Raja Ampat (2004) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Kab. Alat-alat yang digunakan dalam menunjang aktivitasnya. Tabel 4. tali nylon dan mata kail. batubara Fosfat. Dengan alat-alat IV-20 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat .12 No 1 2 3 4 Potensi Pertambangan yang Terdapat di Kabupaten Raja Ampat DISTRIK POTENSI PERTAMBANGAN Cobalt. 2004 dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Kab.12. Raja Ampat (2005) 5). mangaan. nikel Nikel. mangaan. dan masih memungkinkan penambangan mineral tambang lainnya serta kemungkinan diperolehnya cadangan minyak yang layak untuk dieksploitasi di lepas pantai Pulau Misool yang saat ini tengah dilakukan eksplorasi oleh Petro China (RTRW Kabupaten Raja Ampat. Potensi pertambangan yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat disajikan pada Tabel 4. tembaga. 2005-2014). tembaga. 2005 4.4 KELEMBAGAAN 1) Kelembagaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Masyarakat lebih banyak menggantungkan hidupnya dari laut dengan profesi sebagai nelayan. Pertambangan Sektor pertambangan diperkirakan dimasa mendatang akan mengalami perkembangan yang cukup tinggi. opal Waigeo Selatan (Pulau Waigeo dan Gag) Waigeo Utara Samate Misool Sumber : Profil Kabupaten Raja Ampat. tembaga. Raja Ampat. batubara Nikel.

Hasil pengkajian di Friwen menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan arah angin. baru kemudian akan dijual kepada para pengumpul ikan yang biasanya datang pada waktu-waktu tertentu. Hal tersebut dapat dilihat pada jenis alat tangkap yang digunakan. yaitu angin selatan (musim selatan). kondisi nelayan di Kampung Saonek sudah lebih baik dibandingkan dengan nelayan di kampung Friwen. antara lain berupa long boat 20 buah dan katinting 10 buah yang merupakan bantuan dari Coremap II Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. Nelayan Friwen mengenal arah angin. Waktu melaut digunakan setiap hari tergantung cuaca dengan 5 trip dalam satu minggu dan hari minggu digunakan untuk beribadah ke Gereja. Sekitar bulan April-September aktivitas nelayan nyaris berhenti karena cuaca di laut tidak memungkinkan untuk melaut (ombak dan angin keras) dan pada musim tersebut (musim selatan) mereka sebagian besar beralih ke berkebun dan memasuki bulan September dan Oktober mereka mulai melakukan aktivitas melaut kembali. mereka lebih memilih memasukkan dalam keramba dahulu. masyarakat lebih banyak menangkap ikan dengan cara memancing yang tentunya sangat berpengaruh pada jarak dan hasil melaut. angin utara (musim utara). Perbedaan kegiatan melaut pada kedua musim tersebut diakibatkan oleh alat tangkap nelayan yang masih sederhana yaitu dengan alat tangkap pancing yang menggunakan perahu dayung sehingga tidak ada pilihan lain pada saat terjadi musim ombak dan angin keras mereka mau tidak mau lebih memilih berhenti sebab kegiatan menangkap ikan sangat susah dilakukan pada saat itu.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN yang ada. Berbeda dengan Friwen. angin timur (musim timur) dan angin barat (musim barat). Di Kampung Friwen juga ditemukan keramba ikan hidup. Dengan sarana ini Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-21 . Khusus untuk ikan tenggiri hasil tangkapan mencapai puncaknya pada sekitar bulan Desember. Ini dimaksudkan jika nelayan menangkap ikan jenis kerapu dalam kondisi hidup.

yaitu pada bulan terang dimana mereka dapat mendapatkan sekitar 10 – 15 ekor ikan tenggiri dalam satu kali trip. namun pola menangkap ikan tidak sepenuhnya tergantung pada musim tertentu sehingga kegiatan melaut dapat dilakukan setiap saat. kopi dan nasi) ukuran perahu kecil sebesar Rp. rokok. 2) Kelembagaan Sosial Masyarakat Pesisir a.000..per bulan • Faktor yang menghambat mereka mendapatkan ikan yang lebih banyak selain faktor cuaca adalah jenis alat tangkap dan perahu yang kecil serta terjadinya degradasi sumberdaya ikan yang diduga akibat adanya kegiatan penangkapan ikan yang merusak seperti dengan menggunakan bom. Kemudian.sampai Rp.000. 35. sehingga peluang mendapat hasil tangkapan juga menjadi lebih banyak.30 sampai jam 19. ada waktu-waktu tertentu mereka menyebutnya musim banyak ikan..• Rata-rata pendapatan sebesar Rp. Selain pada bulan-bulan tersebut. mereka umumnya hanya bisa mendapatkan antara 2 sampai 5 ekor per trip. Sementara waktu yang digunakan untuk setaip trip melaut adalah setiap hari dimulai pada sekitar jam 13.sampai Rp. Strata Sosial Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten (2005) melaporkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Raja Ampat mengenal strata sosial yang ditentukan oleh nilai ketokohan seseorang.00 malam. dilaporkan bahwa: • Biaya yang dikeluarkan setiap pergi melaut dengan 2 (satu) orang nelayan (kebutuhan termasuk . BBM. 500.000. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-22 .ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN memungkinkan menjangkau area penangkapan yang lebih luas.000. 25. kekayaannya. Nelayan Pulau Saonek pada dasarnya mengenal beberapa musim. 1. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat (2005).000.

. Hasil pengkajian Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten (2005) juga melaporkan bahwa mayoritas masyarakat menyerahkan sepenuhnya berbagai macam urusan-urusan termasuk urusan keluarga kepada para elit Kampung (masyarakat yang memiliki strata sosial yang tinggi). ini menandakan bahwa penduduk yang ada masih satu garis keturunan. seperti ke Kota Sorong. mobilitas geografinya juga hanya terpusat pada daerah-daerah penangkapan (fishing grounds) yang umumnya berada di sekitar perairan pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah tinggalnya. Jika ada yang melakukan kunjungan keluar kabupaten lebih pada belanja kebutuhan pokok dan lainnya yang dilakukan seminggu atau bahkan sebulan sekali.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN garis keturunannya dan posisinya dalam institusi sosial dan pemerintahan. Mobilitas Secara umum tingkat mobilitas masyarakat di Kabupaten Raja Ampat masih tergolong relatif rendah. atau mengunjungi anak-anak yang sedang melanjutkan pendidikan di luar kabupaten. kecerdasan dan pendidikan. 2004). karena penduduk berasal dari berbagai daerah yang kemudian menetap. Pola kekerabatan masih sangat kental sehingga garis keturunan tidak menjadi mencolok. Sebagai contoh: marga yang ada dalam Kampung Friwen hanya satu yakni Wawiyai. sehingga strata sosialnya lebih banyak ditentukan oleh nilai kekayaan. Begitu juga halnya dalam kegiatan melaut. tingkat mobilitas masyarakat dapat dikatakan yang paling tinggi dibanding dengan kampung lainnya di Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-23 . Status sosial ini sangat berpengaruh dalam banyak hal. marga yang ada dalam Kampung Saonek sudah beragam. sehingga lahir jadi tokoh. Khusus untuk Kampung Saonek. Sementara. garis keturunan dan posisinya dalam institusi sosial dan pemerintahan. b. termasuk dalam memutuskan sebuah perkara (termasuk urusan politik). strata lebih pada tingkat keberanian. Mobilitas yang rendah tersebut utamanya dipengaruhi oleh sarana transportasi yang masih sangat terbatas (Lampe M.

pemanfaatan lahan pekarangan dan membuat kerajinan tangan. walaupun sebagian nelayan telah menggunakan kapal johnson (motor tempel) dan katinting. Kegiatan Sosial Kelompok sosial yang dapat ditemukan di Kabupaten Raja Ampat. dan tahun baru. Jenis kegiatan PKK yang menghimpun kelompok ibu-ibu cukup beragam. Kelompok perkumpulan ibu-ibu. menyambut natal. untuk kegiatan melautnya. Meskipun kondisi jarak yang jauh. menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri serta Idul Adha. Kunjungan keluar kabupaten seperti ke Sorong cukup sering dilakukan oleh masyarakat Kampung Saonek. mobilitasnya masih dikategorikan rendah. umumnya terdiri dari kelompok ibu-ibu. tetapi sarana transportasi seperti kapal-kapal perintis sudah cukup tersedia. Namun. tetapi mereka belum menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh. mengolah ikan. baik untuk keperluan belanja kebutuhan pokok. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-24 . diantaranya adalah membuat minyak kelapa. yang berkembang adalah PKK.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Kabupaten Raja Ampat. Semua kegiatan kelompok remaja pemenuhan kebutuhan rumah tangga Sementara. sedangkan kelompok kepemudaan biasanya tergabung sekaligus dengan keagamaan. sedangkan kelompok remaja Masjid umumnya merupakan wadah komunikasi/informasi keagamaan dan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian. c. menemui kerabat atau anak-anak yang melanjutkan pendidikan maupun karena urusan dinas dari pegawai-pegawai instansi setempat. kelompok pemuda Gereja umumnya beraktivitas untuk kegiatan keagamaan atau peribadatan mingguan. tersebut masih terbatas untuk anggota. seperti: kelompok pemuda GKI (Gereja Kristen Indonesia) dan Masjid. kepemudaan dan keagamaan.

Raja Ampat LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .BAB 5 Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kab.

dan (2) sebagai pelindung pantai terhadap terpaan gelombang yang dapat mengakibatkan pengikisan pantai.1 PERSEPSI UMUM MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Ekosistem terumbu karang oleh masyarakat Raja Ampat telah lama dikenal dan juga disadari bahwa ekosistem ini memiliki berbagai macam manfaat. Menurut masyarakat umum Raja Ampat. manfaat langsung lainnya yang juga dirasakan oleh mayarakat adalah penggunaan karang sebagai bahan baku pengganti batu kali untuk mendirikan bangunan atau dermaga. berlindung dan mencari makan bagi berbagai jenis ikan. khususnya untuk mendapatkan ikan-ikan karang. Kerusakan terumbu karang akibat aktivitas penangkapan yang merusak (destructive fishing).5 RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT 5. sebagai fishing ground mereka yang baru. Walaupun sebenarnya mereka menyadari bahwa kegiatan ini akan menyebabkan kerusakan bagi ekosistem terumbu karang. untuk manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan ekosistem terumbu karang adalah sebagai kawasan atau lokasi untuk menangkap ikan (fishing ground). bahkan mereka berpindah ke lokasi lain yang ekosistem terumbu karangnya masih relatif baik. masyarakat juga memahami bahwa terumbu karang sebagai kawasan yang memiliki keindahan dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan. seperti penggunaan bom dan potassium. utamanya nelayan. Sementara itu. yaitu: (1) sebagai lokasi atau tempat berkembang-biak. Selain pemahaman masyarakat terhadap manfaat terumbu karang di atas. bagi kehidupan mereka. Hal ini mereka ketahui dari . Kemudian. telah menyebabkan nelayan setempat semakin sulit mendapatkan ikan. baik langsung maupun tidak langsung. manfaat tidak langsung dari ekosistem terumbu karang secara garis besar ada 2 (dua).

Karena daerah penangkapan mereka menjadi semakin berkurang. Aktivitas destructive fishing di perairan Raja Ampat sebagian besar dilakukan oleh orang luar Raja Ampat atau nelayan yang berasal dari daerah lain. Padahal harga bahan bakar pada saat ini sudah relatif mahal. sehingga hal ini tentu juga sangat dirasakan oleh para nelayan yang menggunakan perahu ketinting bermesin. Hal ini tentu akan berdampak negatif pada aktivitas usaha nelayan. selain itu juga jaraknya semakin jauh dari pantai. jauhnya daerah tangkapan. Penggunaan bom. akibatnya mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai fishing ground. Selanjutnya. potassium dan akar bore merupakan faktor utama penyebab kerusakan ekosistem yang banyak diketahui oleh masyarakat lokal. baik secara langsung maupun tidak langsung.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG seringnya kedatangan orang-orang yang melakukan kegiatan penyelaman (diving) di sekitar lokasi mereka. Masyarakat memahami apabila ekosistem terumbu karang tetap dijaga maka akan banyak wisatawan yang akan datang ke kawasan terumbu karang untuk menikmati keindahannya. Dampak lainnya. dimana telah terjadi pengurangan pantai akibat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-2 . yang mereka rasakan adalah terjadinya pengikisan pantai sebagaimana yang dikeluhkan oleh masyarakat di beberapa wilayah seperti di desa Mutus dan Saonek. Hal sama juga dirasakan oleh Dengan semakin nelayan yang menggunakan perahu ketinting bermesin. selain memahami berbagai manfaat ekosistem terumbu karang bagi kehidupan mereka. mereka tentu akan membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak untuk mencapai daerah tangkapan. Berbagai akibat yang dirasakan oleh masyarakat akibat kegiatan pengrusakan terumbu karang. Hal ini tentu sangat dirasakan oleh nelayan tradisional setempat yang umumnya masih menggunakan perahu dayung. umumnya masyarakat Raja Ampat juga memahami berbagai faktor penyebab kerusakan terumbu karang dan akibat yang ditimbulkan atau dampaknya. adalah hilangnya beberapa daerah penangkapan ikan (fishing ground).

Isu-isu pokok dalam mengelola dan menjaga kelestarian terumbu karang di wilayah perairan Raja Ampat yang dapat diinventarisir hingga kini disajikan pada Tabel 5. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-3 . masyarakat secara umum juga menyadari bahwa bila ekosistem terumbu karang di Raja Ampat rusak. Misalnya. Masyarakat di Kampung Moes Manggara tidak memperkenankan penggunaan bom dan potasium.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG pengikisan pantai oleh ombak/gelombang. utamanya nelayan. Berbagai upaya juga telah dilakukan masyarakat setempat untuk mencegah kerusakan terumbu karang. Pemahaman masyarakat Raja Ampat untuk melindungi ekosistem terumbu karang dapat dikatakan sudah relatif baik. sehingga apabila terdapat nelayan yang menggunakan bom dan potasium di kawasan mereka. Mereka. baik secara langsung maupun tidak langsung. masyarakat di Desa Yewaupnor membuat kesepakatan untuk membatasi daerah tangkapan. telah menyadari akan pentingnya atau manfaat yang akan diperoleh dengan menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang yang ada. maka berarti pula hilangnya kekayaan alam Kabupaten Raja Ampat. Selanjutnya. akan segera ditegur secara langsung dan dilarang untuk menangkap ikan. Sementara.2 ISU-ISU POKOK DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Banyak aktivitas manusia yang dapat mempengaruhi kondisi ekosistem terumbu karang. masyarakat di Pulau Saonek memiliki kesepakatan untuk tidak menggunakan jaring yang dapat merusak ekosistem terumbu karang dan juga tidak boleh menggunakan tombak/panah untuk menangkap ikan. 5. karena masyarakat mengetahui bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kabupaten ini dikenal dunia luar adalah karena keindahan alam terumbu karangnya. Mereka melakukan pengawasan secara mandiri.1. dalam menangkap ikan.

Misool.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Tabel 5. Penangkapan ikan karang dengan menggunakan bahan peledak dan racun • 2 Penambangan karang (dengan atau tanpa bahan peledak) Perusakan habitat dan kematian masal hewan karang Hampir seluruh wilayah Kabupaten Raja Ampat Waigeo. 1 Kegiatan. Lokasi Waigeo. Salawati. Kofiau. karang dan biota invertebrata yang tidak bercangkang (anemon) Mengakibatkan ikan pingsan. dan Kepulauan Ayau. mematikan karang dan biota invertebrata.1 No. Kabare (Waigeo Utara). Misool. Batanta. Kapadiri. dampak dan lokasi terumbu karang yang terkena dampak di Raja Ampat Kegiatan Dampak • Mematikan ikan tanpa diskriminasi. Bantata. Salawati 3 Labuh kapal dan kepariwisataan • Kerusakan fisik karang oleh jangkar kapal • Rusaknya karang oleh penyelam • Koleksi dan keanekaragaman biota karang yang semakin menurun Sedimen hasil erosi dapat mencapai terumbu karang di sekitar muara sungai. sehingga mengakibatkan kekeruhan yang menghambat difusi oksigen kedalam polip • Meningkatnya kekeruhan yang mengganggu pertumbuhan karang • Pencemaran limbah yang dapat menyebabkan eutrofikasi 4 Penggundulan hutan dilahan atas Waigeo 5 Penambangan bahan mineral Pulau Batanta. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-4 . Kofiau.

Penggunaan bom memberikan dampak negatif dengan skala yang cukup luas dan tidak hanya menghancurkan karang tetapi juga menghancurkan biota-biota yang berada di sekitarnya pada saat terjadi ledakan. 2) Aktivitas penambangan dan pengambilan karang Isu pokok lainnya yang juga akan merusak ekosistem terumbu karang adalah penambangan dan pengambilan karang. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-5 . pelaku utama dari kegiatan destructive fishing ini umumnya dilakukan oleh nelayan-nelayan dari luar. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan. namun jika dilakukan secara intensif juga akan menyebabkan kematian karang dalam skala yang luas. terutama batu pada suatu daerah. Akibat penggunaan bahan peledak dan racun. tentu akan menyebabkan hilangnya suatu kawasan ekosistem terumbu karang. telah menyebabkan kerusakan terumbu karang di beberapa kawasan terumbu karang. dampak dari penggunaan potassium terhadap karang adalah matinya biota karang akibat bahan-bahan kimia. Aktivitas ini merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. Sementara itu. sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 1) Aktivitas penangkapan ikan yang merusak Penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potassium merupakan permasalahan utama dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. terlebih bila tingkat pemanfaatannya semakin bertambah besar dan luas. Walaupun dampak ini skalanya lebih kecil dibandingkan dampak penggunaan bom. habitat karang akan menjadi rusak. Dampak dari penggunaan bom terhadap terumbu karang berupa kehancuran karang akibat pengaruh daya ledaknya. Dengan aktivitas ini. Menurut masyarakat lokal.

Sedimen hasil erosi akan terbawa sungai hingga mencapai muara sungai bahkan dapat mencapai terumbu karang di sekitar yang terdekat. Kegiatan pariwisata yang tidak terkontrol juga akan menyebabkan terganggunya ekosistem terumbu karang. kapal akan membuang jangkar agar kapal tidak hanyut. seperti: meningkatnya kekeruhan perairan sekitar yang tentunya hal ini akan mengganggu pertumbuhan karang. sehingga dapat menyebabkan eutrofikasi. seperti rusaknya karang akibat kegiatan penyelaman yang tidak profesional atau teganggunya ekosistem terumbu karang akibat kegiatan penyelaman yang terlalu intensif. 4) Penggundulan/perusakan kawasan hutan Akibat penggundulan atau perusakan hutan. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-6 . sehingga mengakibatkan kekeruhan yang menghambat difusi oksigen kedalam polip. tentu akan merusak fisik karang tersebut. kemungkinan terjadinya pencemaran limbah produksi yang tidak terkontrol. pada saat berlabuh di suatu tempat. akan menyebabkan erosi dan banjir. 5) Penambangan bahan mineral Penambangan bahan mineral juga dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap ekosistem terumbu karang. Karena.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 3) Aktivitas labuh kapal dan pariwisata Aktivitas kapal yang berlabuh di dekat kawasan terumbu karang juga dapat memberikan dampak negatif bila tidak dilakukan dengan hati-hati. Dengan demikian. Selain itu. kondisi hutan juga dapat mempengaruhi keberadaan ekosistem terumbu karang. sehingga bila jangkar tersebut dilempar dan mengenai terumbu karang.

3. Peningkatan partisipasi dan akuntabilitas dan publik dalam yang penyelenggaraan pemerintahan pembangunan dilaksanakan secara efisien dan efektif.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 5. Peningkatan kemampuan kemandirian keuangan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. untuk mendukung visi dan misi tersebut. Berdasarkan analisis latar belakang kebijakan pembangunan nasional dan karakteristik daerahnya. 2. Tokoh Agama. yang didokumentasikan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-7 . Tokoh Adat. 4.” Dengan visi tersebut. maka Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama dengan Mitra Pembangunan (LSM. kemudian disusun misi yang akan diemban. dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.3 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KABUPATEN RAJA AMPAT Arah kebijakan pembangunan Kabupaten Raja Ampat pada masa kini mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional periode tahun 2005-2009 yang telah menetapkan 3 (tiga) agenda utama. dan Masyarakat) telah sepakat melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Peningkatan pemahaman masyarakat tentang fungsi laut sebagai pemersatu dan pengikat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merupakan aset masa depan yang perlu dilestarikan. yakni: 1. Tokoh Wanita. Swasta. yaitu: menciptakan Indonesia yang aman dan damai. Mewujudkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Selanjutnya. transparan dan profesional. Kabupaten Raja Ampat merumuskan suatu visi sebagai berikut: ”Terwujudnya Kabupaten Raja Ampat sebagai Kabupaten Bahari yang didukung oleh potensi sumberdaya menuju masyarakat Raja Ampat yang madani dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis.

yakni sektor kelautan dan perikanan dan sektor pariwisata. Kedua sektor ini selain inputnya lokal dan berlimpah juga akan mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang relatif besar. Hak-hak dasar dan hukum adat masyarakat setempat harus diakui dalam proses perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam secara berkesinambungan 3. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-8 . Kabupaten Kepulauan Raja Ampat adalah Kabupaten Bahari Berdasarkan hal-hal tersebut diatas. Adapun isi Deklarasi Tomolol tersebut adalah sebagai berikut: 1. sedangkan sektor pariwisata akan terus dikembangkan berdasarkan keunikan dan kekayaan ekosistem terumbu karangnya serta panorama alam sekitarnya. dapat dinyatakan bahwa membangun Kabupaten Raja Ampat kedepan akan bertumpu pada 2 (dua) pilar utama (leading sector)-nya. Kepulauan Raja Ampat mengandung keanekaragaman hayati yang tinggi dan ekosistem yang yang harus khas merupakan untuk modal utama pembangunan masyarakat dilestarikan kesejahteraan 2. termasuk didalamnya penetapan kawasan dan spesies yang memerlukan perlakuan khusus 4.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG dalam bentuk Deklarasi Tomolol pada Desember 2003. Sektor kelautan dan perikanan akan dibangun atas dasar keberadaan sumberdaya alamnya (resource based) yang memang masih tersedia dan belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan sumberdaya alam harus diatur berdasarkan sebuah rencana pengelolaan terpadu yang disepakati berbagai pihak dengan didasarkan pada prinsip-prinsip ekologi dan nilai-nilai sosial-budaya masyarakat setempat. disamping juga tidak terlalu memerlukan tingkat teknologi yang tinggi untuk mengembangkannya.

yang dapat menentukan tingkat keberhasilan pengembangan dan pemanfaatannya. karena hampir 80% wilayah daratan Raja Ampat merupakan kawasan konservasi. V-9 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat . secara umum akan dipengaruhi oleh lingkungan strategis wilayahnya. (d) (e) Memiliki beberapa kawasan konservasi laut. Pengaruh sedimen dan pencemaran masih relatif kecil. bahkan juga banyak dijumpai habitat dan tipe komunitas karang yang sangat khas. Kondisi tersebut akan menempatkan eksistensi yang sangat baik bagi perencanaan pengelolaan terumbu karang yang ada. Kekuatan (Strengths) (a) Memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang yang tinggi. Hasil analisis situasi dengan pendekatan secara komprehensif dari berbagai aspek yang berpengaruh penting terhadap pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. (f) Adanya dukungan penuh dari Pemerintah Daerah. Untuk lingkungan internal secara sinergis akan menentukan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) pemerintah daerah untuk tetap berada pada jalur kewenangannya dalam menyikapi permasalahan yang ada maupun yang akan datang.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 5. (c) Kondisi karang dan komunitas karang secara umum masih “sangat baik” dengan persentasi penutupan karangnya masih dalam kategori sedang (~33%). diperoleh faktor-faktor lingkungan internal strategis (kekuatan dan kelemahan) sebagai berikut: (1). (b) Kondisi fisik perairan yang strategis dan cukup terlindung sehingga menyuburkan ekosistem terumbu karang.4 FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS YANG BERPERAN DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Konsep pengelolaan terumbu karang di suatu kawasan. baik lingkungan internal maupun eksternal.

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

(g) (2).

Masyarakat Raja Ampat yang partisipatif.

Kelemahan (Weaknesses) (a) Belum tersedianya informasi yang detail dan akurat yang memperhitungkan daya dukung kawasan terumbu karang yang optimal dan berkelanjutan. (b) Keterbatasan informasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. (c) Keterbatasan sumberdaya manusia yang profesional untuk

mengelola kawasan-kawasan konservasi laut (d) Kemampuan keuangan daerah yang terbatas untuk pengelolaan kawasan konservasi laut (e) Keterbatasan fasilitas infrastruktur untuk melakukan kegiatan monitoring dan pembinaan masyarakat setempat guna menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang yang ada. (f) Hingga kini belum ada bentuk atau model formal dari pemerintah pusat untuk pembangunan di kawasan berciri ekologi khusus/khas seperti di Kawasan Raja Ampat. Kemudian, untuk lingkungan eksternal secara sinergis akan menentukan peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang akan dihadapi oleh pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Hasil

analisis situasi dengan pendekatan secara komprehensif dari berbagai aspek yang berpengaruh penting terhadap pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat, diperoleh faktor-faktor lingkungan eksternal strategis (peluang dan ancaman) sebagai berikut: (3). Peluang (Opportunities) (a) Kawasan terumbu karang di Raja Ampat telah lama dikenal di dunia internasional.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

V-10

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

(b)

Jumlah wisatawan mancanegara untuk berwisata bahari yang cenderung meningkat.

(c)

Arah

pengembangan

wisata

dunia

yang

berorientasi

pada

pelestarian lingkungan. (d) (e) Adanya dukungan industri pariwisata bahari. Hadirnya lembaga-lembaga non pemerintah dari mancanegara yang serius untuk turut berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. (4). Ancaman (Threats) (a) (b) Kegiatan destructive fishing dan illegal logging. Kegiatan pembangunan wilayah pesisir yang tidak terencana dengan baik sehingga akan mengganggu bahkan merusak

lingkungan. (c) Kerentanan masyarakat terhadap pengaruh pengelolaan

sumberdaya alam yang menjanjikan nilai ekonomi lebih tinggi walaupun sesaat. (d) Timbulnya konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir.

5.5 RENCANA STRATEGIS PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Perumusan rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT dengan berdasarkan pada faktor-faktor lingkungan strategis yang telah diformulasikan seperti tersebut dalam sub-bab 5.3. Alternatif-alternatif strategi yang merupakan rumusan rencana strategi (renstra) pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat hasil generating dari matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

V-11

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tabel 5.2

Hasil analisis Matriks SWOT untuk pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat
STRENGTHS (S) Memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang yang tinggi. Kondisi fisik perairan yang strategis dan cukup terlindung Kondisi komunitas karang yg masih “sangat baik”. Memiliki kawasan konservasi laut. Pengaruh sedimen dan pencemaran masih relatif kecil, Adanya dukungan penuh dari Pemda. Masyarakat yang partisipatif. WEAKNESSES (W) Belum tersedianya informasi tentang daya dukung terumbu karang yang optimal. Keterbatasan informasi teknologi yang efektif dan ramah lingkungan. Keterbatasan SDM profesional untuk mengelola KKLD. Kemampuan keuangan daerah terbatas Keterbatasan fasilitas infrastruktur Belum ada model formal untuk pembangunan berciri ekologi khusus. STRATEGI WO Melakukan rehabilitasi dan pengaturan kegiatan pemanfaatan ikan di kawasan ekosistem terumbu karang dan sekitarnya. Meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Mengembangkan fasilitas infrastruktur terpadu yang menunjang pengelolaan terumbu karang Meningkatkan kerjasama dalam penyiapan tenaga kerja profesional untuk mengelola KKLD

Faktor Internal

Faktor Eksternal

OPPORTUNITIES (O) Terumbu karang Raja Ampat telah lama dikenal dunia internasional Jumlah wisatawan asing cenderung meningkat Arah pengembangan wisata dunia yang berorientasi pada pelestarian lingkungan Dukungan industri pariwisata Hadirnya NGO mancanegara yang turut berpartisipasi dalam pengelolaan terumbu karang THREATS (T) Kegiatan destructive fishing dan illegal logging. Pembangunan wilayah pesisir yang tidak terencana. Kerentanan masyarakat terhadap pengaruh yang menjanjikan nilai ekonomi lebih tinggi walaupun sesaat. Timbulnya konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir

STRATEGI SO Penguatan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat, swasta, dan pemerintah dalam pengelolaan terumbu karang

STRATEGI ST Penguatan sistem monitoring, controlling dan surveillance (MCS) berbasis masyarakat Penegakan hukum secara terpadu Penataan zonasi wilayah pesisir dan laut Pemantapan kesadaran masyarakat tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan Penguatan regulasi daerah yang berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang

STRATEGI WT Pemberdayaan masyarakat pesisir. Reposisi mata pencaharian masyarakat pesisir. Pengembangan teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Penyerasian koordinasi antar sektor dalam merencanakan pembangunan wilayah pesisir dan laut.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

V-12

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-13 .

Raja Ampat LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .BAB 6 Indikasi Program Pengelolaan Terumbu Karang Kab.

Berkaitan dengan hal tersebut. maka perlu dilakukan beberapa pertimbangan sebelum kegiatan pengelolaan dilakukan. perlu dipertanyakan terlebih dahulu. perlu dipikirkan tentang arti pentingnya sumberdaya alam yang ada. pertimbangan lingkungan maupun pertimbangan sosialbudaya. Pertimbangan ini antara lain meliputi: 1) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari? seperti untuk makan. apakah pengelolaan tersebut perlu atau tidak. khususnya ekosistem terumbu karang. atau pasar internasional? 3) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting untuk daya tarik kunjungan wisata atau pariwisata. yang menghasilkan uang selain berupa barang? Sementara yang dimaksud dengan pertimbangan lingkungan disini adalah apakah lingkungan ekosistem terumbu karang tersebut penting untuk halhal berikut: Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-1 . 2) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting sebagai penghasil barang-barang yang dapat dipasarkan atau dijual sebagai hiasan? Dan apakah barang-barang tersebut dijual untuk aset lokal.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 6 6. Pertimbangan tersebut mencakup pertimbangan ekonomis. nasional. Untuk itu. Pertimbangan ekonomis disini adalah pertimbangan yang menyangkut mengenai masalah nilai ekonomis sumberdaya alam terumbu karang. maka sebelum melakukan pengelolaan lingkungan di wilayah pesisir.1 INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT INDIKASI PROGRAM KERJA Dalam mengelola lingkungan ekosistem terumbu karang.

untuk mempertahankan tradisi generasi yang akan datang.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 1) Apakah daerah tersebut mempunyai lingkungan masyarakat yang unik secara lokal. sangat penting dan perlu dijawab sebelum mempertimbangkan perlu atau tidaknya pengelolaan lingkungan terumbu Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-2 . koleksi karang. yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan terumbu karang adalah sebagai berikut: 1) Apakah daerah tersebut penting untuk: untuk pengakuan tradisi. kornponen lain. bahan kimia. Kemudian untuk pertimbangan sosial budaya. nasional. penangkapan yang berlebih (overfishing). aktivitas wisata atau pariwisata. pestisida. untuk nilai sosial dan budaya. 2) Apa pengaruh rencana pengelolaan terhadap: negara secara keseluruhan? masyarakat di sekitar daerah tersebut? Kesemua informasi tersebut. pertanian. penebangan. kontaminasi oleh minyak. termasuk yang mempunyai potensi untuk dimanfaatkan? 3) Apakah lingkungan alam daerah tersebut penting secara estetika ataukah sebagai identitas budaya? 4) Adakah data kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh: sedimentasi dari hutan. untuk sasaran keagamaan. Internasional? 2) Apakah daerah tersebut penting untuk mempertahankan: ditinjau dari aspek stok hewan dan tumbuhan. eutrofikasi karena buangan limbah yang mengandung nutrien. konstruksi. kerang-kerangan. pertambangan. modifikasi dari sirkulasi air. ikan akuarium.

sehingga perlu dilakukan perencanaan pengelolaannya. hampir memenuhi seluruh kriteria yang telah disebutkan di atas. strategi dan program kerja yang direkomendasikan untuk diimplementasikan dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat seperti tertera pada Tabel 6. maka tiga pertimbangan ekonomis. lingkungan.1. dari pada Informasi aktivitas pembangunan sektoral terhadap lingkungan dan konflik di antara aktivitas-aktivitas sektoral dapat diukur melalui proses penilaian dampak. Agar. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-3 . maka disusun matrik mengenai arah kebijakan. dan sosial budaya dijadikan pilar utama dalam pengkajian indikasi programprogram kerjanya. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis untuk menentukan "trend" dan hubungan antar faktor-faktor kemungkinan lingkungan dampak strategis positip dan di wilayah negatip tersebut.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG karang. Berdasarkan hasil analisis SWOT dan pertimbangan dari 3 (tiga) aspek ini. menyebabkan pengambilan keputusan menjadi kurang mendasar. Terumbu karang yang berada di perairan Raja Ampat. Tanpa kejelasan informasi di atas. perencanaannya berjalan secara efektif dan efisien.

1 Berkoordinasi dengan sektor kehutanan untuk menjamin pemanfaatan hutan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-4 . dan pemerintah dalam pengelolaan terumbu karang 1 1.1 Kebijakan. Tingkat pemanfaatan fasilitas infrastruktur yang menunjang pengelolaan terumbu karang 1. Tingkat kecukupan fasilitas infrastruktur yang menunjang pengelolaan terumbu karang 2. swasta. Tingkat keserasian aktivitas pembangunan di wilayah pesisir 2 3 Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat. Tingkat konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir dan laut 2. Tingkat konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir dan laut 2 Meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Strategi dan Program Kerja Pengelolaan Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat Kebijakan Optimalisasi pengelolaan terumbu karang Strategi Penataan zonasi wilayah pesisir dan laut 1 Program Kerja Penyusunan master plan (rencana induk) wilayah pesisir dan laut Penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) pesisir dan laut Penetapan RTRW sebagai peraturan daerah Perda Penyusunan sistem pengelolaan terumbu karang yang melibatkan semua pihak Fasilitasi pembinaan teknis dalam pengendalian dampak lingkungan terhadap terumbu karang Membangun dan memperbaiki fasilitas infrastruktur primer yang menunjang pengelolaan terumbu karang Menciptakan iklim yang kondusif untuk pihak swasta dalam membangun infrastruktur sekunder (yang bersifat komersial) Indikator Kinerja 1. Fungsi fasilitas infrastruktur yang menunjang pengelolaan terumbu karang 3. 1 1.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Tabel 6. Jumlah pihak yang terlibat aktif dalam menjaga dan mengelola terumbu karang 2 Mengembangkan fasilitas infrastruktur terpadu yang menunjang pengelolaan terumbu karang.

Penyusunan atau penyempurnaan peraturan daerah tentang pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan 2. Tingkat kelengkapan regulasi daerah untuk pengelolaan kawasan terumbu karang Perlindungan dan Penguatan kawasan rehabilitasi konservasi laut ekosistem daerah (KKLD) 1 Identifikasi dan Inventarisasi ekosistem terumbu karang 1.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi Program Kerja secara lestari 2 Berkoordinasi dengan sektor pertambangan untuk mengendalikan limbah dan kegiatan pertambangan liar Berkoordinasi dengan sektor perhubungan untuk menyediakan sarana transportasi yang aman dan nyaman Indikator Kinerja 2. Menyediakan bantuan hukum untuk mendukung masyarakat pesisir membuat dan mengesahkan peraturan tingkat desa (Perdes) berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang oleh masyarakat 1. Sosialisasi peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang hingga ke tingkat desa 3. Tingkat pencemaran laut dari aktivitas ekonomi 4. Tingkat kecukupan dan frekwensi sarana transportasi 3 Penguatan regulasi daerah yang berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang 1. Tingkat kerjasama lintas sektor dalam pengelolaan kawasan terumbu karang 3. Tingkat kelengkapan data ekosistem dan kondisi terumbu karang Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-5 .

Tingkat pelanggaran perusakan ekosistem terumbu karang 2. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-6 . Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik 2. Penetapan sanksi hukum dan sanksi sosial yang tegas bagi orang yang merusak ekosistem terumbu karang Penyusunan sistem keamanan lingkungan berbasis masyarakat yang efektif di kawasan ekosistem terumbu karang 1. 1 Identifikasi lokasi rehabilitasi ekosistem terumbu karang Pelatihan teknis rehabilitasi dan pemeliharaan ekosistem terumbu karang Rehabilitasi kawasan-kawasan ekosistem terumbu karang yang rusak Pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan konservasi Penyusunan peraturan daerah mengenai tata pemanfaatan sumberdaya ikan di dan sekitar kawasan ekosistem terumbu karang 1 Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik Intensitas penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem terumbu karang 2 2 3 4 5 Penegakan hukum secara terpadu 1.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan terumbu karang Strategi 2 Program Kerja Penetapan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) Penyusunan management plan KKLD Indikator Kinerja 2. Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik 3 Melakukan rehabilitasi dan pengaturan kegiatan pemanfaatan ikan di kawasan ekosistem terumbu karang dan sekitarnya.

Tingkat pencemaran laut dari aktivitas ekonomi Peningkatan Pemantapan 1. Tingkat konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir dan laut 2. Tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan terumbu karang di wilayahnya Penyerasian koordinasi antar sektor dalam merencanakan pembangunan wilayah pesisir dan laut 1. Pengembangan daerah percontohan kawasan pesisir dan laut terpadu 1. Pengembangan 1. Pembentukan forum lintas sektor untuk merencanakan dan mengevaluasi pembangunan kawasan pesisir dan laut 2. Fasilitasi bimbingan teknis yang diperlukan dalam upaya partisipasi kegiatan MCS 5. Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi pengawas lainnya 1. controlling dan surveillance (MCS) berbasis masyarakat 1. Penyiapan perangkat dan tata laksana pengawasan 2. Tingkat pelanggaran perusakan ekosistem terumbu karang 2. Pengembangan kelembagaan sistem MCS berbasis masyarakat 4. Tingkat partisipasi Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-7 . Program Kerja Bekerjasama dengan institusi hukum di daerah guna mengefektifkan dan mengefisienkan proses hukum Indikator Kinerja Penguatan sistem monitoring. Penyusunan model pengembangan kawasan pesisir dan laut terpadu 3.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi 3. Pengadaan sarana dan prasarana pengawasan 3.

Pemberian materi tentang terumbu karang terhadap siswa-siswi mulai tingkat SD hingga SMA 5. Peningkatan ketrampilan 1. Sosialisasi tentang dampak negatif dari pemanfaatan sumberdaya alam secara illegal 3. Tingkat pendapatan rumah tangga masyarakat pesisir 2. 1. Intensitas penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem terumbu karang Pemberdayaan masyarakat pesisir.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan kualitas hidup masyarakat pesisir Strategi kesadaran masyarakat tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan Program Kerja sistem komunikasi dan informasi tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan 2. Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik 3. Pengembangan sistem investasi dan peluang usaha yang sinergis dengan pengelolaan terumbu karang 4. Pelatihan aspek manajerial usaha ekonomi masyarakat pesisir 3. Bantuan permodalan untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat pesisir 2. Pemberian beasiswa terhadap putra daerah yang yang melakukan kajian atau penelitian tentang ekosistem terumbu karang Indikator Kinerja aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan terumbu karang di wilayahnya 2. Kerjasama dengan media massa dalam mengkampayekan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan masyarakat luas 4. Tingkat pengangguran masyarakat pesisir Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-8 . Pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir 3.

Tingkat keragaman usaha masyarakat pesisir 2. Kajian teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan 2. Identifikasi mata pencaharian dan peluang usaha yang produktif dan sinergis dengan pengelolaan terumbu karang 2. efisien dan ramah lingkungan. 1.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi Program Kerja masyarakat pesisir melalui pelatihan dan magang Indikator Kinerja Reposisi mata pencaharian masyarakat pesisir 1. Pengembangan kerjasama kemitraan dengan industri pariwisata 3. Bimbingan teknis pengembangan produk bernilai tambah dan jasa yang sinergis diperlukan dalam pengelolaan terumbu karang 1. Tingkat pendapatan rumah tangga masyarakat pesisir Pengembangan teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang efektif. Pengembangan usaha alternatif untuk masyarakat pesisir 4. Intensitas penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem terumbu karang 2. Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-9 . Percontohan implementasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan 3. Bimbingan teknis operasional dan perawatan teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan 1.

seperti yang ditampilkan pada Tabel 6. maka program kerja tersebut kemudian dituangkan dalam rencana pelaksanaan kegiatan.2.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi Meningkatkan kerjasama dalam penyiapan tenaga kerja profesional untuk mengelola KKLD Program Kerja 1.2 RENCANA PELAKSANAAN Agar program yang telah direncanakan berjalan sesuai dengan rencana. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-10 . Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi nasional dan internasional yang berkompeten untuk pendidikan dan pelatihan konservasi ekosistem terumbu karang Indikator Kinerja 1. Ratio kecukupan tenaga profesional pengelola KKLD 6.

Berkoordinasi dengan sektor perhubungan untuk menyediakan sarana transportasi yang aman dan nyaman Penyusunan atau penyempurnaan peraturan daerah tentang pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan Penguatan regulasi daerah yang Sosialisasi peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pengelolaan berkenaan dengan terumbu karang hingga ke tingkat desa pengelolaan terumbu karang Menyediakan bantuan hukum untuk mendukung masyarakat pesisir membuat dan mengesahkan peraturan tingkat desa (Perdes) berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang oleh masyarakat X X X X Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-11 .2 Rencana Pelaksanaan Program Pengelolaan Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat No Kebijakan Strategi Program Kerja Penyusunan master plan (rencana induk) wilayah pesisir dan laut Penataan zonasi wilayah pesisir Penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) pesisir dan laut dan laut Penetapan RTRW sebagai peraturan daerah Perda Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat. dan pemerintah dalam pengelolaan terumbu karang Penyusunan sistem pengelolaan terumbu karang yang melibatkan semua pihak Fasilitasi pembinaan teknis dalam pengendalian dampak lingkungan terhadap terumbu karang X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Tahun ke 3 4 1 X 2 5 X X Optimalisasi pengelolaan 1 terumbu karang Membangun dan memperbaiki fasilitas infrastruktur primer yang menunjang Mengembangkan fasilitas pengelolaan terumbu karang infrastruktur terpadu yang menunjang pengelolaan terumbu Menciptakan iklim yang kondusif untuk pihak swasta dalam membangun karang. infrastruktur sekunder (yang bersifat komersial) Berkoordinasi dengan sektor kehutanan untuk menjamin pemanfaatan hutan secara lestari Meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan kawasan terumbu Berkoordinasi dengan sektor pertambangan untuk mengendalikan limbah dan kegiatan pertambangan liar karang.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Tabel 6. swasta.

controlling dan surveillance (MCS) berbasis masyarakat Pengembangan kelembagaan sistem MCS berbasis masyarakat Fasilitasi bimbingan teknis yang diperlukan dalam upaya partisipasi kegiatan MCS Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi pengawas lainnya Pembentukan forum lintas sektor untuk merencanakan dan mengevaluasi pembangunan kawasan pesisir dan laut Penyusunan model pengembangan kawasan pesisir dan laut terpadu Pengembangan daerah percontohan kawasan pesisir dan laut terpadu 1 X X Tahun ke 2 3 4 X X X X 5 Melakukan rehabilitasi dan pengaturan kegiatan pemanfaatan ikan di kawasan ekosistem terumbu karang dan sekitarnya X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Perlindungan Penegakan hukum secara dan terpadu rehabilitasi 2 ekosistem terumbu karang Penyerasian koordinasi antar sektor dalam merencanakan pembangunan wilayah pesisir dan laut Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-12 .INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG No Kebijakan Strategi Program Kerja Identifikasi dan Inventarisasi ekosistem terumbu karang Penguatan kawasan konservasi Penetapan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) laut daerah (KKLD) Penyusunan management plan KKLD Identifikasi lokasi rehabilitasi ekosistem terumbu karang Pelatihan teknis rehabilitasi dan pemeliharaan ekosistem terumbu karang Rehabilitasi kawasan-kawasan ekosistem terumbu karang yang rusak Pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan konservasi Penyusunan peraturan daerah mengenai tata pemanfaatan sumberdaya ikan di dan sekitar kawasan ekosistem terumbu karang Penetapan sanksi hukum dan sanksi sosial yang tegas bagi orang yang merusak ekosistem terumbu karang Penyusunan sistem keamanan lingkungan berbasis masyarakat yang efektif di kawasan ekosistem terumbu karang Bekerjasama dengan institusi hukum di daerah guna mengefektifkan dan mengefisienkan proses hukum Penyiapan perangkat dan tata laksana pengawasan Pengadaan sarana dan prasarana pengawasan Penguatan sistem monitoring.

INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG No Kebijakan Strategi Program Kerja Pengembangan sistem komunikasi dan informasi tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan Sosialisasi tentang dampak negatif dari pemanfaatan sumberdaya alam secara illegal 1 X X X X Tahun ke 2 3 4 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 5 X X X X X X Pemantapan kesadaran Kerjasama dengan media massa dalam mengkampayekan pentingnya masyarakat tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan masyarakat luas terumbu karang bagi kehidupan Pemberian materi tentang terumbu karang terhadap siswa-siswi mulai tingkat SD hingga SMA Pemberian beasiswa terhadap putra daerah yang yang melakukan kajian atau penelitian tentang ekosistem terumbu karang Bantuan permodalan untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat pesisir Pelatihan aspek manajerial usaha ekonomi masyarakat pesisir Pengembangan sistem investasi dan peluang usaha yang sinergis dengan pengelolaan terumbu karang Peningkatan ketrampilan masyarakat pesisir melalui pelatihan dan magang Kajian teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan Pengembangan teknologi Percontohan implementasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut pemanfaatan sumberdaya hayati yang tepat guna dan ramah lingkungan laut yang efektif. sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan Meningkatkan kerjasama dalam Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi nasional dan penyiapan tenaga kerja internasional yang berkompeten untuk pendidikan dan pelatihan konservasi profesional untuk mengelola ekosistem terumbu karang KKLD Peningkatan kualitas hidup 3 Pemberdayaan masyarakat masyarakat pesisir pesisir X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-13 . efisien dan Bimbingan teknis operasional dan perawatan teknologi pemanfaatan ramah lingkungan.

BAB 7 Penutup LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

Karena. Argumentasi utama dalam merumuskan rencana strategi ini. dan terpeliharanya daya dukung ekosistem terumbu karang secara seimbang dan berkelanjutan. Salah satu kunci keberhasilan dalam pengelolaan kawasan ekosistem terumbu karang adalah partisipasi aktif dan dukungan penuh dari masyarakat lokal yang sumber kehidupannya secara langsung bergantung pada hasil laut. serta bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah dalam suatu pengaturan yang disepakati bersama. didasarkan pada kenyataan bahwa Kabupaten Raja Ampat memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati laut terbesar di dunia. Hal ini juga dapat memberikan arahan dalam mendayagunakan sumberdaya terumbu karang secara optimal dan berkelanjutan guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran) daerah. Kemudian. keindahan ekosistem terumbu karang dapat menjadi andalan dan modal bagi pembangunan Kabupaten Raja Ampat. oleh sebab itu sudah seharusnya Pemerintah Daerah dan masyarakat Raja Ampat perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap usaha untuk mendayagunakan sumberdaya terumbu karang yang dimilikinya guna mengembangkan daerahnya di masa kini dan masa mendatang. untuk mewujudkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara optimal dan berkelanjutan ini. tentu diperlukan koordinasi terpadu dan kerja keras dari semua pihak. peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. .7 PENUTUP Maksud utama dari penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat adalah menggagas strategi utama dan program kerja yang perlu diambil untuk mempercepat keberhasilan pengelolaan sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat.

Hamel. Raja Ampat. and S. Raja Ampat. RAP Bulletin of Biological Assessment 22. A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampot Islands. WWF. Suryadi (eds). F. CI Indonesia bekerjasama dengan Universitas Papua. TBC. Raja Ampat. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat . Eco Papua Alliance Raja Ampat. 2006. A. Sukmara. 2006.DAFTAR PUSTAKA Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. Lamatenggo. G. Eastern Indonesia. Y. 2002..G. Pemda Kabupaten Raja Ampat. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. Washington DC. Mambrisaw. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat Provinsi Irian Jaya barat 2006. Papua. dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. J. Wurliyanty. Papua Province.November 22. 2006. Laporan Akhir Survey Sosial Ekonomi Perikanan Kampung Friwen dan Kampung Saonek Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat.A. CI Indonesia. A. I. 2003. 2005. Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP). 2002. Laporan Dohar. Atlas Sumberdoyo Pesisir dan Lout Kepulauon Raja Ampot (Distrik Woigeo Borot dan Woigeo Seioton). TNC and WWF. Liuw.Omkarsba dan A. Alien. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di Kepulauan Raja Ampat. held October 30 . Raja Ampat. Conservation International. S. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat dengan PT. B. dan Anggraeni. Indonesia.. S. Tahunan. Edecon Prima Mandiri.R. Report on o Rapid Ecological Assessment of the Raja Ampat Islands. Ditjen PHKA BKSDA Papua II Departemen Kehutanan. Akademi Perikanan Sorong. 2005. 2005. Kerja Sama Antara Coremap tahap II. Rumbekwan. D. McKenna.

DAFTAR PUSTAKA LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

Hamel.. Rumbekwan. 2006. G. dan Anggraeni. Tahunan. Pemda Kabupaten Raja Ampat.November 22. 2002. A. I. 2003. CI Indonesia. 2005. B. A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampot Islands. Papua. 2005. Mambrisaw. Alien. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat . 2006. and S. Raja Ampat. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di Kepulauan Raja Ampat.G.. A.DAFTAR PUSTAKA Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. Eastern Indonesia. held October 30 . Conservation International. Liuw. Suryadi (eds). Laporan Akhir Survey Sosial Ekonomi Perikanan Kampung Friwen dan Kampung Saonek Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat Provinsi Irian Jaya barat 2006. Raja Ampat. McKenna. Washington DC.R. Indonesia. Ditjen PHKA BKSDA Papua II Departemen Kehutanan. S. Papua Province. Kerja Sama Antara Coremap tahap II. 2005. D.Omkarsba dan A. S. Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP). Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. Y. Laporan Dohar. Edecon Prima Mandiri. Atlas Sumberdoyo Pesisir dan Lout Kepulauon Raja Ampot (Distrik Woigeo Borot dan Woigeo Seioton). RAP Bulletin of Biological Assessment 22. Report on o Rapid Ecological Assessment of the Raja Ampat Islands. F. TNC and WWF. TBC. Wurliyanty. Raja Ampat. dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. J. CI Indonesia bekerjasama dengan Universitas Papua. 2006. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat dengan PT. Akademi Perikanan Sorong. Eco Papua Alliance Raja Ampat.A. Raja Ampat. WWF. Lamatenggo. 2002. Sukmara.

PETA KONDISI TERUMBU KARANG DI KABUPATEN RAJA AMPAT Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat .Lampiran 1.

1 .Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .

2 . 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat.

2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat.3 .

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .4 .

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat.1 . 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .

Lampiran 2. GALERI FOTO KEGIATAN Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat .

1 .Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .

Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .2 .

Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Suasana Diskusi setelah Presentasi Materi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .3 .

Setelah Seminar Laporan Pendahuluan langsung diadakan Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Suasana Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .4 .

Pembukaan Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Pembukaan Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .5 .

6 .Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .

7 .Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .

8 .Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful