LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II (COREMAP II) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat Tahun Anggaran 2007
kerjasama dengan

CV. Mandiri Cakti Perkasa

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II (COREMAP II) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat Tahun Anggaran 2007
kerjasama dengan

CV. Mandiri Cakti Perkasa

BAB 1 Pendahuluan

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT

dkk. yang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Sorong. Wilayah ini terletak di bagian ujung barat dari Pulau Papua atau tepatnya pada koordinat 2o25’ LU . Selanjutnya. Batanta. Jepang. berdasarkan hasil Rapid Asessment Program yang dilakukan oleh Tim Conservation International (CI) disebutkan bahwa Kabupaten Raja Ampat memiliki keanekaragaman 456 spesies jenis karang keras.4o25’ LS dan 130o – 132O25’ BT. Filipina. 2002) Dengan tingginya biodiversity tersebut. Kepulauan Raja Ampat resmi menjadi daerah otonom Tingkat II atau kabupaten.055 jiwa yang tersebar dalam 10 distrik/kecamatan yang mencakup 86 kampung dan 4 dusun (Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat. Ada sekitar 610 buah pulau yang tercakup dalam wilayah administrasi Kabupaten Raja Ampat dan diantaranya terdapat 4 pulau besar atau pulau utama. Papua New Guinea. 699 spesies moluska. yakni: Pulau Waigeo. tentu mengindikasikan bahwa perairan laut di wilayah Raja Ampat merupakan perairan yang subur dan menjadi sentra produksi sumberdaya ikan untuk wilayah perairan laut sekitarnya. Potensi sumberdaya terumbu karang yang dimiliki Kabupaten Raja Ampat. Australia. Salawati dan Misool. Keanekaragaman hayati laut tropis yang dimiliki Kabupaten Raja Ampat diperkirakan yang terkaya di dunia pada saat ini. Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2006 sebanyak 32. Sejak tanggal 12 April 2003.1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki kekayaan keanakaragaman hayati laut. McKenna. merupakan bagian dari ”segitiga karang dunia” (Coral Triangel) yang terdiri dari Indonesia. dan 972 spesies ikan karang (Sheila A. .

PENDAHULUAN 2006). tentu secara langsung terumbu karang tersebut juga akan ikut rusak. Akibatnya. Berdasarkan hal ini. Diharapkan. bila aktivitas perikanan ini menggunakan cara-cara tak ramah atau tidak arif dalam memanfaatkannya. Walaupun demikian. adalah kegiatan penambangan nikel. Sebagian besar penduduk di wilayah ini menggantungkan hidupnya pada sumberdaya hayati laut. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-2 . Aktivitas pemanfaatan sumberdaya ikan di Kabupaten Raja Ampat hampir dipastikan akan bersentuhan langsung dengan keberadaan sumberdaya terumbu karang. jelas mencerminkan bahwa Kabupaten Raja Ampat menghadapi tantangan dan kendala yang besar dalam upaya mengelola sumberdaya terumbu karangnya. penebangan kayu. memperkuat. sumberdaya terumbu karang dapat terkelola dengan baik dan juga dapat memberikan manfaat yang maksimal untuk mensejahterakan masyarakat Raja Ampat. utamanya sektor perikanan. baik secara langsung maupun tidak langsung. karena umumnya kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikannya berada di wilayah perairan pantai yang merupakan habitat-habitat terumbu karang. pembangunan fisik dan limbah rumah tangga. melalui program COREMAP. melalui strategi pengembangan yang tepat. dan mengembangkan serta menyempurnakan pengelolaan terumbu karang sehingga sumberdaya terumbu karang akan tetap lestari sekaligus memberikan manfaat yang signifikan dalam upaya mewujudkan masyarakat Raja Ampat yang maju dan sejahtera. setidaknya dalam beberapa tahun terakhir ini landasan dasar dan kerangka pengelolaan terumbu karang telah diletakkan. Kebijakan dan program COREMAP yang telah dilaksanakan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dari sebagian besar masyarakat Raja Ampat akan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan. tantangan yang akan dihadapi ke depan masih besar. aktivitas lainnya yang juga mempengaruhi kondisi terumbu karang di Raja Ampat. yaitu bagaimana melanjutkan. Selain itu. Namun demikian.

Oleh karena itu. (4) Merumuskan program kerja jangka pendek untuk pengelolaan terumbu karang yang optimal dan agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Raja Ampat.PENDAHULUAN Untuk mewujudkan tujuan pengelolaan terumbu karang seperti tersebut diatas. terintegrasi dan utuh. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-3 . tahapan implementasi yang sequent dan benar.2. maka implementasi kebijakan dan program pembangunan akan berjalan secara efisien. dengan dan/atau program-program kerja yang tepat pula. Sedangkan tujuan dilaksanakannya kegiatan penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat ini adalah untuk: (1) Mengidentifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan terumbu karang di Raja Ampat (2) Mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berperan dalam pengelolaan terumbu karang di Raja Ampat. akan menghasilkan kebijakan-kebijakan Selanjutnya. Renstra yang tepat. (3) Menyusun rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. 1. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud kajian ini adalah untuk memberikan arah bagi pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat untuk kurun waktu lima tahun kedepan. tentunya harus memiliki rencana strategis (renstra) pengelolaan terumbu karang yang tepat dengan tahapan implementasi yang sequent dan benar. perlu dirumuskan suatu rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat.

Penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat g. 1. 1. Inventarisasi data dan informasi tentang kondisi sumberdaya terumbu karang di lokasi kajian b. 2.4. Identifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan sumberdaya terumbu karang di lokasi kajian d. Tersusunnya rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat. Analisis lingkungan dan SWOT untuk dapat memberikan arahan rencana strategis f. Inventarisasi data dan informasi tentang kondisi sosial.PENDAHULUAN 1.5. Terumuskannya program-program kerja untuk pengelolaan terumbu karang untuk 5 tahun kedepan. MANFAAT (BENEFIT) Manfaat dari kajian ini adalah meningkatkan daya guna dan hasil guna untuk setiap strategi dan kebijakan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Raja Ampat dalam pengelolaan sumberdaya terumbu karang.3. Disamping itu. RUANG LINGKUP Ruang lingkup kajian ini adalah : a. ekonomi dan budaya masyarakat Kabupaten Raja Ampat c. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari kegiatan ini adalah: 1. sebagai acuan dasar dalam melakukan implementasi Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-4 . Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengelolaan terumbu karang di lokasi kajian e. Penjabaran program-program kerja untuk pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat untuk 5 tahun kedepan.

HASIL YANG DIHARAPKAN (OUTCOME) Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah : a. DAMPAK (IMPACT) 1.6. LOKASI DAN LAMA KEGIATAN Lokasi kegiatan dari pekerjaan ini adalah wilayah administratif Kabupaten Raja Ampat (Gambar 1.8. 1. Pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya terumbu karang yang optimal dan berkelanjutan serta berjalan sinergis dengan aktivitas sektor lainnya di Kabupaten Raja Ampat. Sebagai alat ukur untuk monitoring dan pengendalian Sebagai alat evaluasi keberhasilan dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat 1. 3. tentu diharapkan akan memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Raja Ampat dan juga ekonomi daerah setempat. yakni pada Bulan Oktober hingga November 2007. efisien. Dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kabupaten Raja Ampat. Pengelolaan sumberdaya terumbu karang yang optimal dan berkelanjutan. agar lebih efektif.PENDAHULUAN kegiatan pengelolaan terumbu karang. dan terintegrasi.1) dengan lama waktu pelaksanaan selama 2 (dua) bulan. 1.7. b. Sebagai acuan dalam pengembangan sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat 2. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-5 .

PENDAHULUAN Gambar 1.1 Peta Kabupaten Raja Ampat yang menjadi wilayah kajian. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat I-6 .

BAB 2 Metode Pekerjaan LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

untuk lebih memberikan gambaran langkah-langkah apa saja yang menjadi prioritas dalam merumuskan rencana strategi yang terkait dengan pengelolaan terumbu karang. Analisis situasi dengan menginvetarisasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengelolaan terumbu karang. .1 Dalam METODE PEKERJAAN PENDEKATAN PEKERJAAN Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Berbagai Kabupaten Raja Ampat. Untuk dapat mencapai hal tersebut di atas.2 2. (3). digunakan beberapa pendekatan. (2) efisiensi ekonomi (memberikan manfaat nilai ekonomi bagi masyarakat dan membantu pertumbuhan ekonomi daerah) dan (3) sinergis dengan aktivitas ekonomi lainnya. Identifikasi isu dan permasalahan yang terkait dengan sumberdaya terumu karang. yakni: (1) terpeliharanya kelestarian sumberdaya terumbu karang. Sedikitnya terdapat tiga indikator dalam pengelolaan terumbu karang yang ingin dicapai. Analisis SWOT untuk dapat memberikan arahan rencana strategis pengelolaan terumbu karang dan penjabaran program-program kerjanya untuk 5 (lima) tahun kedepan. masalah dan kendala dalam pelaksanaan program pengelolaan terumbu karang akan diidentifikasi. Identifikasi sumberdaya terumbu karang yang tersedia. Tujuan akhir dari kajian ini adalah untuk dapat merumuskan pengelolaan sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat yang optimal dan berkelanjutan. maka dilakukan beberapa tahapan kerja sebagai berikut: (1). dikaji dan dicarikan jalan pemecahannya. (2). (4).

1 Kondisi Kini Lingkungan Internal dan Eksternal Sumberdaya Terumbu Karang di Kab. Oppurtunity. Kerangka pendekatan studi penyusunan rencana strategis pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-2 . Threat) Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Indikasi Program Kerja Program Kerja tahun 1 Program Kerja tahun 2 Program Kerja tahun 3 Program Kerja tahun 4 Program Kerja tahun 5 Gambar 2.1. Misi dan Tujuan Pengelolaan Terumbu Karang Identifikasi Isu dan Permasalahan dalam Pengelolaan Terumbu Karang Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal yang Berperan dalam Pengelolaan Terumbu Karang Analisis SWOT (Strength. Weakness.METODE PEKERJAAN Secara ringkas kerangka pendekatan studi dalam penyusunan rencana strategis pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat dapat dilihat pada Gambar 2. Raja Ampat Identifikasi Visi.

untuk penelusuran isu dan permasalahan dilakukan melalui desk study yang dirujuk langsung dari berbagai dokumen yang ada di pusat dan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-3 . Lembaga formal Lembaga informal Masyarakat Pemerintah Swasta Lembaga peneliti Data yang dikumpulkan (2) Karakteristik ekologis. dalam kajian ini secara garis besar meliputi: (1) Karakteristik fisik. laporan proyek/program. (4) Prasarana dan sarana pendukung. dan lain-lain. seperti: (7) Aktivitas perekonomian wilayah Kemudian. publikasi BPS kabupaten dan sumber-sumber lain yang terkait dengan pengelolaan terumbu karang.METODE PEKERJAAN 2. seperti: (3) Karakteristik masyarakat. laporan hasil penelitian.2 PENGUMPULAN DATA Data dikumpulkan melalui berbagai dokumen-dokumen perencanaan. seperti: Keragaan dataran pesisir dan pantai Kondisi umum perairan laut (oseanografi) Kondisi dan potensi sumberdaya alam non hayati Sumberdaya alam hayati Jasa-jasa lingkungan Kondisi ekosistem Kondisi sosial ekonomi masyarakat Sarana transportasi Sarana komunikasi Pelabuhan. laporan hasil pelaksanaan pembangunan. seperti: seperti: (5) Kelembagaan seperti: (6) Persepsi dan aspirasi stakeholder.

kelemahan (weakness). Lingkup kekuatan. Analisis ini digunakan untuk memperoleh hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal. 2. Menurut (Rangkuti. strength dan weakness adalah faktor internal sedangkan opportunity dan threat adalah faktor eksternal. (2). Analisis SWOT adalah identifikasi secara sistematik atas kekuatan dan kelemahan dari faktor-faktor eksternal yang dihadapi suatu sektor. peluang dan ancaman adalah sebagai berikut: (1). Kekuatan Kekuatan yang diidentifikasikan meliputi semua aspek yang berada dalam sistem pengelolaan terumbu karang yang memberikan nilai positif. Analisis ini digunakan untuk merumuskan strategi yang relevan.2 ANALISIS DATA Analisis yang digunakan dalam penyusunan rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat adalah analisis SWOT berdasarkan faktor-faktor yang menjadi kekuatan (strength). 1990). peluang (opportunity) dan ancaman (threat). Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-4 . Kelemahan Kelemahan yang diidentifikasikan meliputi semua aspek yang berada dalam sistem pengelolaan terumbu karang yang memberikan nilai negatif. relatif tepat dan optimal dalam pengelolaan terumbu karang.METODE PEKERJAAN daerah. Peluang Peluang yang diidentifikasi adalah potensi atau kesempatan dari sistem pengelolaan terumbu karang yang dapat diambil. kelemahan. brainstroming antar tim dan diskusi terbatas dengan pihak-pihak terkait. (3).

Kemudian. akan diidentifikasi beberapa faktor kekuatan. STRATEGI ST Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman. THREATS (T) Dari Matriks SWOT ini dapat diperoleh 4 (empat) kemungkinan alternatif strategi.1 Faktor Internal Faktor Eksternal OPPORTUNITIES (O) Matriks Analisis SWOT STRENGTHS (S) WEAKNESSES (W) STRATEGI WO Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI WT Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman. langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis SWOT ini adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi faktor internal dan eksternal Dari potensi sumberdaya terumbu karang dan tingkat aktivitas pembangunan wilayah daerah yang ada. Tabel 2.METODE PEKERJAAN (4). STRATEGI SO Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Ancaman Ancaman yang diidentifikasi adalah semua dampak negatif dari luar sistem pengelolaan terumbu karang yang mungkin dihadapi. peluang. kelemahan. yaitu: Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-5 .1). 2) Analisis SWOT Setelah mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal (faktor strategis) yang berperan dalam pengelolaan terumbu karang kemudian dibangkitkan (generating) berbagai alternatif strategi yang relevan dengan menggunakan Matriks SWOT (Tabel 2. dan ancaman dalam pengelolaan terumbu karang di Raja Ampat.

2001). Menyusun daftar kelemahan kunci internal organisasi 5. perlu diketahui bahwa kegunaan dari setiap faktor strategis pada tahap ini adalah membangkitkan strategi alternatif yang feasible untuk dilaksanakan. bukan untuk memilih atau menentukan strategi mana yang terbaik.METODE PEKERJAAN (1). Menyusun daftar ancaman eksternal organisasi 3. Menyusun daftar kekuatan kunci internal organisasi 4. Strategi WT yaitu berusaha meminimumkan kelemahan dengan menghindari ancaman yang ada. Mencocokkan kekuatan-kekuatan internal dan peluang-peluang eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi SO 6. (3). Mencocokkan kekuatan-kekuatan internal dan ancaman-ancaman eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi ST 8. Menyusun daftar peluang eksternal organisasi 2. Mencocokkan kelemahan-kelemahan internal dan peluang-peluang eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi WO 7. Ada delapan langkah untuk menentukan strategi yang dibangun melalui Matriks SWOT (Umar. Mencocokkan kelemahan-kelemahan internal dan ancaman- ancaman eksternal serta mencatat hasilnya kedalam sel strategi WT Selanjutnya. Strategi WO yaitu berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari peluang yang ada dengan mengatasi kelemahan-kelemahan. (4). (2). Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-6 . Strategi SO yaitu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengambil peluang yang ada. yaitu: 1. Strategi ST yaitu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang dihadapi.

METODE PEKERJAAN 3) Expert Judgement. dengan pendekatan ini pula. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat II-7 . ditentukan sequent program-program kerja yang harus dilakukan untuk 5 tahun kedepan dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. kemudian dijabarkan lebih rinci lagi dalam bentuk program-program kerja untuk jangka pendek (5 tahun). Selanjutnya. digunakan metode Expert Judgement. Kriteria ahli atau pakar dimaksud adalah orang yang berpengalaman di bidangnya dan pernah melakukan orientasi di lapangan atau mengenal kondisi lapangan. Dari strategi yang dihasilkan tersebut. Untuk mendukung ketajaman perumusan program-program kerja tersebut. yaitu suatu metode yang mengakomodir pendapat para ahli atau pakar di bidangnya.

BAB 3 Gambaran Umum Kabupaten Raja Ampat LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

108 km2. dkk. Batanta. Luas wilayah Kepulauan Raja Ampat adalah 46. Raja Ampat berada pada koordinat 2°25'LU-4°25'LS & 130°-132°55'BT. Provinsi Maluku. terbagi menjadi 10 distrik. Provinsi Irianjaya Barat. Secara geografis. • Sebelah timur berbatasan dengan Kota Sorong dan Kabupaten Sorong. Kepulauan Raja Ampat memiliki empat pulau utama yang bergunung-gunung yaitu Waigeo. Kepulauan Raja Ampat memiliki peranan penting sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah luar negeri. Pulau Fani yang terletak di ujung paling utara dari rangkaian Kepulauan Raja Ampat. Australia (Sheila A. • Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Republik Federal Palau.3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 3. 86 kampung. • Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera langsung dengan Kabupaten Tengah. 2002). Papua New Guinea.1 LETAK GEOGRAFIS Wilayah Kabupaten Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang terdiri dari kurang lebih 610 buah pulau besar dan kecil yang memiliki potensi sumberdaya terutama terumbu karang yang merupakan bagian dari ”segitiga karang” (Coral Triangel) yang terdiri dari Indonesia. Salawati. dan 4 dusun. dan Misool dengan ratusan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. McKenna. Filipina. berbatasan langsung dengan Republik Palau. Secara administratif batas wilayah Kabupaten Raja Ampat adalah sebagai berikut: • Sebelah selatan berbatasan Seram Utara. . Provinsi Maluku Utara. Jepang. Secara geoekonomis dan geopolitis.

2 KEADAAN UMUM PERAIRAN Seperti perairan Indonesia pada umumnya. Februari dan Maret berdasarkan hasil penelitian BPPT adalah berkisar antara 28.5oC pada bulan Juli. Letaknya yang berbatasan dengan dua sistem samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.8°C. Mei dan Juni berkisar antara 29 . Sedangkan pada perairan tertutup (Teluk Mayalibit) suhu permukaan bahkan mencapai 31.5 (utara) 28 – 28. mengakibatkan kondisi fisik dan kimia perairan didaerah ini juga dipengaruhi oleh kedua samudera tersebut.1 No 1 2 3 4 5 6 Sebaran Suhu Permukaan Tahunan di Perairan Raja Ampat Bulan Kisaran (0C) 28. suhu kembali naik dan mencapai sekitar 29°C pada bulan Agustus. Tabel 3. et al.5 (selatan) Keterangan Kecuali bagian hingga 280C utara: Menurun Januari Februari .GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 3.29.8°C dengan rata-rata 29. Seperti periaran daerah tropis umumnya.8°C.5 – 29 Relatif tetap 29 – 29. (2006) mengungkapkan bahwa suhu permukaan di perairan Raja Ampat pada bulan Maret berkisar antara 28. perairan Kabupaten Raja Ampat dipengaruhi oleh iklim tropis dan perubahan iklim muson.5 29 29 – 29. sedangkan pada bulan April.Maret April-Mei-Juni Juli Agustus September Pengaruh Samudera Pasifik Pengaruh dari Laut Banda Sumber : BPPT. Mambrisaw. 1).5 . perairan Raja Ampat mempunyai suhu permukaan yang relatif hangat dengan variasi tahunan yang cukup kecil. Sedangkan suhu pada bulan Januari.31. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-2 .5°C .5 28.5oC. Setelah turun menjadi sekitar 28. 2001 dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. Suhu Penyebaran suhu permukaan di Perairan Raja Ampat bagian utara dipengaruhi oleh Samudera Pasifik sedangkan di bagian selatan dipengaruhi oleh Laut Banda.29°C.

33 psu. Berbeda dengan perairan terbuka.08 dan 8. hal ini diperkirakan karena tingginya kekeruhan yang disebabkan oleh banyaknya bahan-bahan organik tersuspensi yang berasal dari daratan maupun dari proses sedimentasi. Nilai pH terendah pada kedalaman 10 m berada di perairan Teluk Mayalibit.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 2). sedangkan pada kedalaman 10 meter berkisar antara 32 – 35 psu.5 . Rendahnya kadar salinitas di Teluk Mayalibit ini disebabkan oleh pengaruh massa air tawar dari darat yang mengalir melalui beberapa sungai yang masih aktif di teluk tersebut. Nilai pH terendah pada kedalaman 0 m (permukaan) berada di perairan sekitar Saonek. Derajat Keasaman (pH) Mambrisaw. et al (2006) melaporkan bahwa nilai pH di Perairan Raja Ampat pada kedalaman 0 m (permukaan) berkisar antara 7.6 .4 dan untuk kedalaman 10 m 7. sebaran salinitas bagian utara lebih tinggi. yangberarti pengaruh kekeruhan ini diduga terjadi secara merata. Keadaan ini pun diperkuat oleh perbedaan nilai pH pada kedalaman 0 m dan 10 m yang cukup besar di lokasi yang sama yaitu 7.2 . perairan tertutup (Teluk Mayalibit) berkisar antara 27.0. 3).8.2 dan 8. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-3 .4 dengan rata-rata 8. Sebaran salinitas di bagian utara Perairan Waigeo Utara berkisar antara 33 – 35 psu. Salinitas Mambrisaw (2006) mengungkapkan bahwa salinitas di lapisan permukaan perairan Raja Ampat berkisar antara 30 – 35 psu. Dibandingkan bagian selatan. Keadaan ini diperkuat oleh nilai pH di lokasi tersebut pada kedalaman o m (permukaan) yanghampirsama dengan nilai pH pada kedalaman 10 m.8.06.

sedangkan arus diperkirakan kencang Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-4 . Arus yang dikenal sebagai Halmahera Eddie ini.5 30 7.88 1. Hasil penelitian Mambrisaw.18 3.08 6.7 Rata-Rata 29. Kecepatan rata-rata arus di Perairan Raja Ampat sekitar 0.11 0.4 10. didapatkan bahwa arus di Perairan Raja Ampat didominasi oleh pengaruh angin.11 m/det (Tabel 3-2).80 33.2 Sebaran Parameter Oseoanografi di Perairan Raja Ampat (Permukaan) No 1 2 3 4 5 6 7 Suhu (0C) Salinitas (0/00) Derajat Keasaman (pH) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) Kecepatan Arus (m/det) Tinggi Gelombang (m) Parameter Kisaran Minimum 28. letaknya Disamping itu.5 8. Arus Sesuai dengan letaknya. namun untuk wilayah teluk dan pulau-pulau kecil yang berdekatan pola arusnya lebih dipengaruhi oleh pasang surut. pola arus di perairan Raja Ampat dipengaruhi oleh massa air dari Samudera Pasifik Barat (Western Pacific Ocean) yang bergerak dari arah timur menuju barat laut (North West) dan sejajar dengan daratan Papua bagian utara. 2005).GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT Tabel 3. et al (2006) pada bulan Maret 2006.91 0. Ketika arus tiba di Laut Halmahera atau bagian utara Kepulauan Raja Ampat arus tersebut sebagian bergerak ke selatan dan sebagian berbalik menuju Samudera Pasifik. 2006 4).14 – 0. arus di perairan Raja Ampat juga dipengaruhi oleh Arus Khatulistiwa Utara dan Arus Khatulistiwa Selatan. Nilai kecepatan arus permukaan yang lemah ini diduga karena pengukurannya hanya dilakukan pada saat air laut duduk surut atau duduk pasang.5 23 0. yang di khatulistiwa.52 Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat.41 12.91 8. kemudian sebagian memasuki perairan Kepulauan Raja Ampat (Anonimous.2 4 4 0 0 Maksimun 31.

dan angin di lokasi ini diperkirakan relatif sangat kecil.1 meter.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT pada saat duduk tengah pasang atau duduk tengah surut.1. dan Selat Sagawin. Gelombang Pengamatan yang dilakukan oleh Mambrisaw.al (2006) menyebutkan bahwa tinggi gelombang berkisar antara 0 . Sedangkan di perairan terlindung seperti Perairan Waigeo Barat. 7). et.23 m dengan rata-rata kecerahan 12.91 m. kecerahan maksimum berada di perairan daerah Kofiau yang mencapai 23 m. Hal ini terlihat dari warna air yang cenderung hijau kecoklatan.7 meter. Kecerahan minimum berada di Teluk Mayalibit yang hanya mencapai 4 . Ketinggian gelombang tertinggi terjadi di bagian utara Pulau Waigeo. Pasang Surut Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (2005) melaporkan bahwa tipe pasang surut (pasut) di Perairan Raja Ampat adalah tipe campuran dengan dominasi pasut ganda (nilai F berkisar antara 0. Kecerahan Dari hasil pengamatan. 5). Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-5 . Hal ini diperkirakan karena lokasi ini berada pada kawasan perairan bebas (cukup jauh dari daratan) sehingga pengaruh bahan-bahan tersuspensi yang berasal dari aktifitas daratan sangat kecil. kecerahan di perairan Raja Ampat berkisar antara 4 . sehingga secara visual terhadap Secchi Disk sangat jelas. gelombang. Selain itu. pengaruh arus.5 m.50).25 . Hal ini karena kondisi perairan di Teluk Mayalibit memiliki kekeruhan yang cukup tinggi yang disebabkan oleh banyaknya bahan tersuspensi.1. 6). Daerah-daerah yang diperkirakan mempunyai arus pasang surut yang deras antara lain Selat Mansuar. Waigeo Selatan dan Kepulauan Misool umumnya tinggi gelombang berkisar antara 0 . Selat Kabui. Jenis pasut ini berarti dalam satu hari terdapat dua kali pasang dan surut serta tinggi pasang pertama tidak sama dengan tinggi pasang kedua. Sementara.

cacing laut. udang.3 POTENSI SUMBERDAYA HAYATI LAUT 1).Sorong) didapatkan kisaran tinggi pasang surut (tidal range) atau perbedaan antara tinggi air pada saat pasang maksimum dan tinggi air pada saat surut minimum berkisar antara 1. cakalang dan tuna banyak ditangkap di daerah Waigeo Selatan. Misool Timur Selatan dan dijumpai juga di Teluk Mayalibit. untuk ikan teri (Stolephorus sp. tuna (Thunus sp. dan udang halus (Ebi) yang banyak ditangkap di daerah Teluk Mayalibit sekitar Kampung Beo dan Araway. Misool. Ayau. Misool. Pada sektor perikanan tangkap. 3. Sementara. Kabupaten Raja Ampat memiliki komoditi perikanan tangkap seperti ikan. Sumberdaya Ikan Kabupaten Raja Ampat memiliki potensi sumberdaya ikan yang melimpah. Secara umum. napoleon dan teri. kerapu. Kofiau dan Misool Timur Selatan. cumi-cumi. Samate. tenggiri (Scomberomorus spp. Udang yang umumnya tertangkap adalah jenis lobster (Panulirus sp) yang banyak terdapat di daerah Waigeo Barat.). dan Misool Timur Selatan. ikan kerapu dan napoleon banyak dihasilkan dari Distrik Waigeo Barat. jenis ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Raja Ampat dapat dikelompokkan sebagai ikan pelagis besar. cakalang (Katsuwonus pelamis).). Ada 2 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-6 .15 -1. Kofiau.). banyak tertangkap di daerah Waigeo Selatan. Kemudian. ikan pelagis kecil. Jenis-jenis ikan yang dominan ditangkap oleh nelayan lokal adalah ikan kembung (Rastrelliger sp). Misool. kerang serta siput. Sementara. untuk cumi-cumi banyak terdapat di daerah Waigeo Selatan dan Misool. Ikan tenggiri.80 meter. cumi-cumi. ikan demersal. Waigeo Barat. biasa disebut juga ikan puri.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan di pantai dekat Akademi Perikanan Sorong (Suprau . dan ikan air payau. kerang/siput dan teripang yang cukup potensial. Ikan kembung banyak tertangkap di Distrik Teluk Mayalibit. hasil tangkapan lainnya adalah udang. dan Misool Timur Selatan. Selain ikan.

Variola louti Epinephelus sp. jaring. jaring. Plectropomus sp. bia garu. Cephalopoiis leopadus Cromileptis altivelis Nama Lokal Teri Teri Teri Gutila Kapas Oci Momar Bubara Lasi Geropa Geropa Geropa Geropa Geropa Nama Alat Penangkap Ikan Bagan Bagan Bagan Pancing Pancing. sera Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-7 . pia-pia. Tabel 3. Sementara. cangkangnya juga dapat dimanfaatkan atau dijual. batu laga. bagan Pancing Pancing. Decapterus sp. kepala kambing dan mata tujuh. Kerang dan siput merupakan komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting. banyak dieksploitasi untuk diambil mutiaranya dan juga dimakan dagingnya. Scomberoides sp. Lola. Acanthopagrus berda Selaroides sp. mata tujuh dan lain-lain selain dagingnya yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk segar atau beku. yakni cumicumi ukuran kecil atau disebut cumi jarum (Sepiotheuthis sp. Caranx sp. Pinctado maxima atau kerang penghasil mutiara. jaring. Untuk Jenis kerang dan siput yang dimanfaatkan oleh nelayan lokal selain kerang mutiara adalah bia garu. batu laga.).3 Jenis-jenis Hasil Tangkapan di Kabupaten Raja Ampat Nama Umum Engraulidae Clupeidae Clupeidae Letrinidae Letrinidae Carangidae Carangidae Carangidae Carangidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Nama Ilmiah Stolephorus indicus Spratelloides gracillis Spratelloides robustus Lethrinus sp. Cangkang bia garu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kapur yang digunakan untuk makan pinang. bagan Pancing. jaring Pancing.) dan cumicumi yang berukuran besar (Loligo sp.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT jenis cumi-cumi yang telah dimanfaatkan nelayan setempat.

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

Nama Umum
Scombridae Scombridae Scombridae Caesionidae Belonidae Siganidae Mugilidae Mugilidae Toxidae Lutjanidae Sphrynidae Ariidae Labridae

Nama Ilmiah
Scomberomorus spp. Katsuwonus pelamis Rastrelliger sp. Caesio sp. Tylosurus gavialoides Siganus sp. Mugil cephalus Liza subviridis Toxotes sp. Lutjanus sp. Sphyrna lewini Arius sp. Cheilinus undulates

Nama Lokal
Tenggiri Cakalang Lema Lalosi Julung Samandar bulana bulana sumpit Ikan merah Hiu Sembilang Napoleon

Nama Alat Penangkap Ikan
Pancing Pancing Pancing, jaring, bagan, Pancing, jaring, bagan Pancing Pancing, jaring Pancing, jaring Pancing, jaring Jaring Pancing, jaring, sero Pancing, jaring Pancing, jaring, sero Pancing, jaring

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat, 2006

2).

Sumberdaya Terumbu Karang dan Ikan Karang

Ekosistem terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat terbentang di paparan dangkal di hampir semua pulau-pulau. Namun, ekosistem terumbu karang yang terbesar terdapat di Distrik Waigeo Barat, Waigeo Selatan, Ayau, Samate, dan Misool Timur Selatan. .Pada beberapa bagian terdapat gosong (sand backs) yang juga memiliki terumbu karang di sekelilingnya. Tipe terumbu yang terdapat di Kepulauan Raja Ampat umumnya berupa karang tepi (fringing reef), dengan kemiringan yang cukup curam. Selain itu terdapat juga tipe terumbu cincin (atol) dan terumbu penghalang (barrier reef). Atol di Raja Ampat terdapat di Kepulauan Ayau dan Kepulauan Asia. Hasil penelitian dari lembaga-lembaga internasional seperti kegiatan Marine RAP (Rapid Assessment Program) yang dilakukan oleh Conservation International dan REA (Rapid Ecological Assessment) yang dilakukan oleh TNC dan WWF menyatakan bahwa keanekaragaman hayati terumbu karang
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

III-8

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

di Kepulauan Raja Ampat luar biasa dan umumnya dalam kondisi fisik yang baik. Kepulauan Raja Ampat memiliki terumbu karang yang indah dan

sangat kaya akan berbagai jenis ikan dan moluska. Berdasarkan hasil penelitian tercatat 537 jenis karang keras (Cl, TNC-WWF), 9 diantaranya adalah jenis baru dan 13 jenis endemik. Jumlah ini merupakan 75% dari jumlah karang di dunia. Tercatat juga 828 (Cl) dan 899 (TNC-WWF) jenis ikan karang sehingga Raja Ampat diketahui mempunyai 1.104 jenis ikan yang terdiri dari 91 famili. Diperkirakan jenis ikan karang tersebut dapat mencapai 1.346 jenis, berdasarkan kesinambungan genetik di wilayah Kepala Burung, sehingga menjadikan kawasan ini menjadi kawasan dengan kekayaan jenis ikan karang tertinggi di dunia. Berdasarkan Indeks Kondisi Karang, 60% terumbu karang dalam kondisi baik dan sangat baik. Walaupun demikian, disebagian wilayah telah terjadi pengrusakan terumbu karang yang disebabkan oleh penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan potasium. Di kawasan Raja Ampat juga ditemukan 699 jenis hewan lunak (jenis moluska) yang terdiri atas 530 jenis siput-siputan (Gastropoda), 159 jenis kekerangan (bivalva), 2 jenis Scaphopoda, 5 jenis cumi-cumian (Cephalopoda), dan 3 jenis Chiton. 3). Sumberdaya Padang Lamun

Padang lamun hampir tersebar di seluruh Kepulauan Raja Ampat. Padang lamun tersebar di sekitar Waigeo, Kofiau, Batanta, Ayau, dan Gam. Padang lamun yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat umumnya homogen dan berdasarkan ciri-ciri umum lokasi, tutupan, dan tipe substrat, dapat digolongkan sebagai padang lamun yang berasosiasi dengan terumbu karang. Tipe ini umumnya ditemukan di lokasi-lokasi di daerah pasang

surut dan rataan terumbu karang yang dangkal. Secara umum vegetasi dari padang lamun yang terdapat di Raja Ampat merupakan tipe campuran dengan kombinasi dari beberapa jenis lamun yang tumbuh di daerah pasang surut mulai dari pinggir pantai sampai ke
Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

III-9

GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT

tubir. Jenis lamun yang tumbuh antara lain jenis Enholus acoroides, Thoiossio hemprichii, Holophilo ovolis, Cymodoceo rotundoto, dan

Syringodium isoetifoiium. Pada rataan terumbu pulau-pulau Raja Ampat khususnya di tepi terumbu tidak ditemukan lamun, kecuali di Pulau Meosarar ditemukan Enholus acoroides dengan prosentase penutupan rata-rata 2%. Kecenderungan ketidakadaan lamun adalah pada kedalaman 4 - 7 meter, dimana substrat dasar pada kedalaman tersebut didominasi oleh terumbu karang. Pada umumnya lamun ditemukan pada daerah reef top kedalaman 1 - 3 meter. Kepadatan lamun relatif tinggi di Pulau Waigeo khususnya sekitar Pulau Boni dengan tutupan rata-rata 65%. Jenis-jenis lamun yang ditemukan di Distrik Waigeo Barat dan Selatan adalah Enholus ocoroides, Holodule pinifolio, Holophiio ovolis, Thoiossio hemprichii dan Cymodoceo rotundoto. Secara umum kondisi ekosistem padang lamun di Distrik Waigeo Barat dan Selatan prosentase penutupannya tergolong baik (50 - 75% ) dan sangat baik (lebih dari 75%). Potensi sumberdaya lamun cukup tinggi, khususnya dari segi perikanan dan sumbangan nutrisi pada ekosistem terumbu karang di sekitarnya. Kondisi padang lamun yang masih baik akan sangat mendukung bagi kehidupan berbagai biota dengan membentuk rantai makanan yang kompleks. Sejumlah biota yang dijumpai pada ekosistem ini antara lain adalah invertebrata: moluska (kerang kampak - Pinna bicolor, siput labalaba - Lombis lombis, Cone - Conus sp., siput zaitun - Olive sp,, miteer Vexillum sp., Polute - Cymbiolo sp., kerang mutiara - Pinctodo sp., kewuk Cypreo sp. dan Conch - Strombus sp.), Echinodermata (Teripang Holothurio, Bulu babi - Diodemo sp.) dan bintang laut (Achontoster ploncii, Linckio sp.) serta Crustacea (udang dan kepiting). Bahkan beberapa jenis penyu sering kali mencari makanan pada ekosistem padang lamun.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

III-10

Hutan mangrove di Raja Ampat umumnya dijumpai di dataran rendah dengan muara dan sungai-sungai pasang surut yang menyediakan habitat yang cocok bagi asosiasi-asosiasi Bruguiera-Rhizophora. Gam dan Sungai Kasim.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT 4). Kondisi ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat masih baik dengan ditemukannya 25 jenis mangrove dan 27 jenis tumbuhan asosiasi mangrove. Kerapatan pohon mangrove di Raja Ampat dapat mencapai 2.180 hektar (Mambrisaw. Waigeo Selatan. Salawati dan Batanta. 2006). dan Heritiero littorolis. Pulau Misool merupakan pulau yang memiliki sebaran mangrove terbesar. Biota yang umum ditemukan di Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-11 . dan juga terdapat pada akhir aliran air tawar misalnya jenis Xylopcorpus gronotum. Teluk Mayalibit. dan pantai utara serta pantai timur Pulau Misool. Pulau Kofiau merupakan kawasan yang memiliki sebaran mangrove yang lebih sedikit dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. et al. Contoh komunitas yang terbaik terdapat di Pulau Misool. Ceriops togol. kepiting bakau (Scylla serota). Dolichondrone spothoceo.350 batang/hektar. Hutan mangrove di Kabupaten Raja Ampat yang cukup luas terdapat di wilayah pantai Waigeo Barat. Pada ekosistem mangrove di Raja Ampat juga ditemukan beberapa jenis biota yang dikelompokkan kedalam krustacea dan moluska yang memiliki nilai ekonomis penting. dan rajungan (Portunidae). di antaranya udang (Panaeid). Nypo fruticons. Sumberdaya Mangrove Luas hutan mangrove di Kepulauan Raja Ampat diperkirakan sebesar 27. kemudian diikuti oleh Pulau Waigeo. pantai Batanta. Kerapatan pohon mangrove di daerah ini masih lebih besar dibandingkan dengan kerapatan mangrove di daerah Bintuni dan Muara Digul. pantai timur Pulau Salawati. sepanjang P. Hutan mangrove ini didominasi oleh famili Rhizophoraceae dan famili Sonneratiaceae. Bruguiem gymnorrhizo. Selain itu komunitas mangrove terdapat juga pada bagian hulu misalnya jenis Rhizophoro mucronoto.

4 POTENSI SUMBERDAYA LINGKUNGAN LAUT Salah satu sumberdaya lingkungan laut di Kabupaten Raja Ampat yang potensial sudah berkembang adalah sumberdaya wisata laut.). Kemudian. karena selalu menjadi salah satu tempat utama dari para wisatawan liveaboard. belanak (Mugil dusumieri). Waigeo Barat. Lokasi obyek wisata laut di Waigeo Selatan terletak di daerah Arborek dan Sawandrek. yakni di Waigeo Selatan. Obyek wisata lautnya adalah aktivitas penyelaman. bandeng (Chonos chonos). pulau-pulau karst yang terdapat di Wayag juga merupakan sebuah panorama alam yang sangat menarik untuk dinikmati. 3. dan kerang. Di Arborek. Kofiau selalu didatangi oleh para liveaboard dan wisatawan untuk menikmati keindahan bawah laut dengan menyelam atau snorkeling. sedangkan di Sawandrek obyeknya adalah berenang/snorkeling dan menyelam untuk menikmati keindahan karang. Selain itu. peninggalan PD II. Di Pulau Wai wisatawan umumnya melakukan penyelaman untuk menikmati lokasi bangkai pesawat thunderbolt. lokasi wisata Pulau Wai dan Selat Dampier sangat menantang dan mempunyai daya tarik tersendiri. Batanta. Untuk lokasi obyek wisata laut di Waigeo Barat terletak di daerah Selpele dan Wayag.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT ekosistem ini adalah ikan blodok (Perioptholmus sp. di Misool para wisatawan dapat menikmati Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-12 . kepiting bakau (Scyllo serata). Lokasi ini sangat berpotensi. Selain keindahan di bawah laut. di lokasi ini juga terkenal dengan keberadaan manta atau ikan pari yang berukuran sangat besar dan melimpah. Sumberdaya ini telah dimanfaatkan dan dikelola dibeberapa wilayah. Kofiau dan Misool. Selain itu. Kofiau juga kaya akan keindahan panorama wilayah daratannya. obyek wisata lautnya adalah penyelaman (diving) dan wisata pantai. Sementara.

Disamping beberapa obyek wisata yang sudah berkembang seperti tersebut diatas. dan melakukan aktivitas penyelaman atau snorkeling. diantaranya: 1).GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT keunikan pemandangan goa. Jenis wisata yang dapat dikembangkan di Kepulauan Ayau adalah keunikan kehidupan suku dan budaya yang berupa penangkapan cacing laut (insonem) yang dilakukan secara bersama-sama oleh ibu-ibu dan anak-anak. pulau-pulau karst. 3). Kepulauan Ayau Kepulauan ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada di atas kawasan atol yang sangat luas. dan di atasnya tidak terdapat tumbuhan/vegetasi. Waigeo Utara Di Waigeo Utara terdapat beberapa tempat yang dapat dijadikan lokasi wisata yaitu goa-goa peninggalan perang dunia II dan keindahan bawah laut. Beberapa potensi wisata yang dapat dikembangkan ini tersebar di beberapa kawasan. masyarakat setempat menyebutnya zondploot. dan wisata dayung tradisional dengan perahu karures. yaitu cahaya yang keluar dari laut dan berputar-putar di permukaan sekitar 10-18 menit. Waigeo Timur Di sini. Di beberapa goa yang tersebar di Tomolol terdapat lukisan telapak tangan manusia berukuran besar dan hewan-hewan yang diduga dilukis oleh manusia goa. Pantai-pantai di kepulauan ini berpasir putih dengan areal dasar laut yang luas yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lain. khususnya di depan Kampung Urbinasopen dan Yesner terdapat atraksi fenomena alam yang sangat menarik dan unik yang hanya bisa disaksikan setiap akhir tahun. 2). setelah itu hilang dan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-13 . mengunjungi tempat peneluran penyu hijau. Di kepulauan ini terdapat pulau-pulau pasir yang unik. Raja Ampat juga kaya akan beberapa obyek wisata lainnya yang sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Banyak atraksi yang bisa dilihat disini. Teluk Mayalibit Lokasi wisata Teluk Mayalibit cukup unik. Masyarakat di kedua kampung ini menamakan fenomena ini sebagai "Hantu Laut". seperti cara penangkapan ikan tradisional dan bangkai kerangka pesawat yang bisa dijadikan sebagai tempat penyelaman. Salawati Di Salawati para wisatawan dapat menyaksikan bunker-bunker peninggalan Perang Dunia II buatan Belanda dan Jepang (Jeffman) dan juga merupakan tempat yang menarik untuk snorkeling dan diving. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat III-14 . karena merupakan sebuah teluk yang cukup besar dan hampir membagi Pulau Waigeo menjadi dua bagian.GAMBARAN UMUM KABUPATEN RAJA AMPAT bisa disaksikan lagi saat pergantian tahun berikutnya. 4). 5).

BAB 4 Analisis Potensi dan Permasalahan LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

Misool Timur Selatan Teluk Mayalibit Komoditas Tuna/Cakalang Kerapu/Napoleon Kakap Lobster Teripang Cumi-cumi Teri Tenggiri Kembung/Lema Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan (2005) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat (2006) 1 . Teluk Mayalibit Waigeo Selatan. Misool Timur Selatan Waigeo Barat.1.000 ton/tahun. komoditas ikan yang dapat diunggulkan berdasarkan daerahnya ditampilkan pada Tabel 4. Misool. Jenis ikan yang dapat dimanfaatkan di Kabupaten Raja Ampat sangat banyak. di luar dari pemanfaatan perikanan subsisten.1.600 ton/tahun atau kalau dikonversi kedalam jumlah tangkapan yang diperbolehkan sekitar 472. Misool Timur Selatan Waigeo Barat. Misool Waigeo Selatan. Misool Timur Selatan Misool Timur Selatan. Berdasarkan catatan Dinas Perikanan dan Kelautan. kofiau. sehingga diperkirakan masih memiliki peluang sekitar 434. Kofiau. Waigeo Barat. sumberdaya ikan yang sudah dimanfaatkan sebesar 38.1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Komoditas Unggulan Serta Lokasi Penangkapannya Unggulan Lokasi Waigeo Utara. Misool. Samate. Tabel 4. Ayau Waigeo Timur/Barat. Misool. Misool. Misool Timur Selatan Waigeo Selatan Barat.000 ton/tahun.4 4.000 ton/tahun. Samate. Secara umum. EKOLOGI ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 1) Ketersediaan Sumberdaya Hayati Laut Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat (2005) melaporkan bahwa perairan Kabupaten Raja Ampat memiliki sumberdaya ikan dengan potensi lestari (MSY) sebesar 590. Misool.

Jaring. Variola louti Epinephelus sp. Raja Nama lokal Teri Teri Teri Gutila Kapas Oci Momar Bubara Lasi Geropa Geropa Geropa Geropa Geropa Tenggiri Cakalang Lema Jenis alat tangkap Bagan Bagan Bagan Pancing Pancing. Scomberoides sp. Jaring. Tabel 4. Jaring Mugilidae Liza subviridis Bulana Pancing. nelayan lokal masih terbatas memanfaatkan ikan dan sumberdaya ikan lainnya di wilayah pantai dan daerah teluk. Sero Sphrynidae Sphyrna lewini Hiu Pancing.2 Ampat Famili Engralulidae Clupeidae Clupeidae Letrinidae Letrinidae Carangidae Carangidae Carangidae Carangidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Serranidae Scombridae Scombridae Scombridae Jenis-Jenis Ikan yang Tertangkap di Sekitar Perairan Spesies Stolephorus indicus Spratelloides gracilis Spratteloides robustus Lethrinus sp. Sero Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing Pancing. Bagan Belonidae Tylosurus gavialoides Julung Pancing. Jaring.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Sampai saat ini. Acanthopagrus berda Selaroides sp. Singanidae Siganus sp.4 hari dalam seminggu. Ikan Merah Pancing. Lalosi Pancing. Sembilang Pancing. Cephalopolis leopadus Cromileptis altivelis Scomberomorus spp Katsuwonus pelamis Rastrelliger sp. Caranx sp. Decapterus sp. Jaring Toxidae Toxotes sp. Jaring. Lokasi penangkapan ikan umumnya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Jaring. Bagan. Untuk mencapai daerah penangkapan (fishing ground) umumnya mereka menggunakan perahu dayung dengan waktu tempuh 2-3 jam perjalanan. Jaring Ariidae Arius sp. Sumpit Jaring Lutjanidae Sutjanus sp. Bagan Pancing Pancing. Jaring. dengan lama waktu kerja antara 4 -12 jam per hari. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-2 . Jaring Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. Jaring Mugilidae Mughil chepalus Bulana Pancing. Sero Labridae Sheilinus undulates Napoleon Pancing. Serok Caesionidae Caesio sp. Nelayan hanya melakukan kegiatan penangkapan 3 . Bagan Pancing. Plectropomus sp. Jaring Pancing. Samandar Pancing. Jaring.

tercatat sebanyak 537 species karang batu. Misool Mesemta. TNC dan WWF tahun 2001 dan 2002. So. 2002). Kofiau Tanjung Sool.3 Sepuluh Lokasi Keanekaragaman Terumbu Karang Tertinggi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lokasi Sebelah utara Pulau Djam. diikuti Teluk Wambong dengan jumlah 174 spesies. maka ada 10 lokasi yang memiliki kekayaan spesies tinggi. merupakan karang keras (scleractinia). Waigeo Selatan Pulau Tiga. Misool Sebelah Selatan Pulau Ouoy Teluk Fofak. dan Sheltered Reefs dengan jumlah spesies rata-rata 67 (McKenna. Waigeo dengan jumlah species 18. Misool Teluk Wambong. Gam dengan P. keanekaragaman hayati tertinggi ditemukan pada terumbu karang tipe Fringing Reefs dengan jumlah rata-rata spesies yang ditemukan sebanyak 86 spesies. di sebelah utara Pulau Gam.. Kekayaan tertinggi ditemukan di sebelah utara Pulau Djam dengan jumlah 182 spesies. Kondisi keanekaragaman ini diinventarisasi sampai pada kedalaman 34 meter di lebih dari 100 lokasi survei. Dari jumlah spesies ini terdapat 295 species yang tergolong dalam 67 genus dan 15 famili. Misool Sebelah Selatan Walo. dkk. Berdasarkan tipe habitatnya. Kofiau Jef Bi. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-3 . dengan jumlah spesies sebanyak 182.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Berdasarkan hasil penelitian Marine RAP dan REA yang dilakukan CI. diikuti oleh Platform Reefs. Misool Total Spesies 182 174 173 169 169 168 164 163 163 161 Sumber: TNC – WWF (2003) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat (2006) Keanekaragaman terumbu karang jika dilihat dari hadirnya spesies tertentu pada lokasi penelitian. Kofiau Los. mewakili 76 genus dan 19 famili. Hasil marine RAP dan REA juga menggambarkan bahwa keanekaragaman terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat tertinggi ditemukan di areal perairan Misool. Tabel 4. Keanekaragaman terendah ditemukan di perairan Selat antara P.

Dilaporkan bahwa Kepulauan Batang Pele yang terdiri dari 15 pulau kecil. memiliki keunikan formasi dan struktur terumbu. diikuti Teluk Saripa yang mencapai 52%. 2001). sebelah utara Fam. Sedangkan berdasarkan survei REA pada tahun 2002. 2006 Berdasarkan survei marine RAP pada tahun 2001. Selpele Pulau Ayil Selpele Wayum Kabare Yau-Yau Yenkawir Yam yam Lam Lam Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat.4. Tabel 4. prosentase tutupan karang hidup tertinggi terdapat di Pulau Keruo.4 Lokasi Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat dengan Prosentasi Tutupan Karang Hidup > 50% Nama Lokasi Prosentase Tutupan (%) 70 50 50 50 60 50 50 50 65 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 Nama Distrik Kofiau Misool Waigeo Selatan Samate Waigeo Timur Waigeo Barat Kepulauan ayau Waigeo Utara Pulau Mangimangi Pulau Eftorobi Pulau Salafen Pulau Kamel Pulau Bun Pulau Arborek Pulau Di Depan Samate Pulau Senapan Pulau Mamyayet Pulau Waim Pulau Beo. Dilaporkan bahwa di daerah ini dijumpai 205 jenis karang batu (Coremap. Di beberapa daerah tertentu dapat dijumpai komunitas terumbu karang dengan prosentase tutupan karang hidup mencapai 71%. yang mencapai 53%.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Kesepuluh lokasi yang memiliki jumlah spesies tertinggi tersaji pada Tabel 4. prosentase tutupan karang hidup tertinggi terdapat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-4 . namun sebaliknya di daerah lainnya juga ada yang tidak dijumpai komunitas terumbu sama sekali.

Boni yang mencapai 65%. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-5 .4 di atas terlihat bahwa terumbu karang di Distrik Kofiau khususnya di perairan Mangimangi memiliki persen tutupan karang mencapai 70% diikuti oleh terumbu karang di Waigeo Timur terutama di perairan Pulau Mamyayet. secara keseluruhan terdapat 15 titik survei tempat kondisi terumbu karang berada dalam kondisi baik dengan persen tutupan karang hidup > 50%. Perbedaan prosentase tutupan ini diduga karena adanya pengaruh aktivitas manusia maupun pengaruh alami. diikuti sebelah utara Djam dan sebelah barat P. seperti dapat dilihat pada Tabel 4.5. Hasil penelitian terbaru. Dominasi spesies terumbu karang di perairan Raja Ampat cukup bervariasi di tiap lokasi. Tabel 4. tetapi pada lokasi-lokasi tertentu ada jenis spesies tertentu yang sangat mendominasi. Merulina ampliata Echinophola lammelosa Helophora coerulea Penyebaran Pada Lokasi survei 36 29 49 6 31 12 21 6 30 21 15 Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. tahun 2006. selanjutnya terumbu karang di Distrik Waigeo Selatan khususnya di perairan Pulau Bun memiliki persen tutupan karang sebesar 60%.5 Jumlah Lokasi Penyebaran Famili Terumbu Karang dan Jenis Terbanyak yang Ditemukan dari Hasil Survei Marine RAP 2001 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 To Famili Acroporidae Pocilloporidae Poritidae Agarichidae Fungidae Oculinidae Pectinidae Mussidae Merulinidae Favidae Helioporidae tal Jumlah jenis Yang Ditemukan 14 6 6 1 2 1 3 2 2 7 1 45 Jenis Terbanyak Acropora palifera Pocillopor verrucosa Porites lutea Pavona deccusata Fungia repanda Glastrea astreata Pectinia lactusa Symphyllia sp.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN di sebelah selatan Pulau Kawe yang mencapai 70%. seperti adanya perubahan suhu perairan. Berdasarkan Tabel 4. Sedangkan terumbu karang di Distrik Waigeo Barat dan Distrik Misool rata-rata memiliki persen tutupan karang batu hidup sebesar 50%.

ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Genus Acropora mendominansi hampir seluruh perairan Kabupaten Raja Ampatdengan jumiah jenis sebanyak 68 jenis. Fungidae. diikuti oleh genus Montiporo (30 Jenis). Penyebaran koloni karang hampir merata karena ditemukan hampir di semua lokasi. Kekhasan jenis ini adalah tidak memiliki axil koralit serta radikal koralitnya menyebar tidak beraturan. Koloni ini hadir sebagai penahan ombak dan arus bagi koloni maupun komunitas berikutnya. Famili Fungidae juga menyebar merata karena ciri hidupnya yang soliter dan bebas serta melekat pada substrat tempat dia berada. jenis dari famili Acroporidae lebih banyak ditemukan. Leptoseris (8 jenis). Temuan IV-6 ini Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat . dan berturut-turut dari Astreoporo sampai Plotigyro sebanyak 6 jenis. Porites (13 jenis). Merulinidae. dengan dinding koloni yang tidak berkembang terutama jika terjadi kompetisi kehidupan. Hadirnya koloni terumbu dari famili Poritidae di hampir seluruh lokasi penelitian memberikan indikasi bahwa kawasan perairan ini memiliki arus dan gempuran ombak yang cukup kuat. Fungio (11 jenis). Selama penelitian. Pocilloporidae. Sedangkan koloni Mussidae dan Agarichidae hanya ditemukan di 6 lokasi. Psammocoro (7 jenis). Jenis terbanyak yang ditemukan selama penelitian yakni Acroporo polifera. Terumbu dari famili Agarichidae ditemukan sangat sedikit karena struktur hidup dari koloni ini yang terkadang koralitnya tenggelam. Povono (11 jenis). Penyebaran Acroporidae memberikan gambaran bahwa penetrasi sinar matahari di perairan Kabupaten Raja Ampat sangat baik sehingga memberikan kesempatan hidup dan berkernbang bagi karang bercabang. dan Pociloporidae. Tabel di atas memberikan gambaran bahwa koloni terumbu dari famili Poritidae menyebar merata karena ditemukan hampir di semua lokasi penelitian. dan Poritidae. Jenis ini memiliki struktur bercabang dengan koloni berupa lempengan atau pilar yang tegak lurus. diikuti berturut-turut oleh koloni Acroporidae. diikuti oleh koloni dari famili Favidae.

ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN menunjukkan bahwa di Raja Ampat banyak daerah terumbu yang berarus dan juga berombak karena jenis Acroporo polifero biasa hidup didaerah seperti ini. armada penangkapan yang digunakan nelayan juga masih sederhana dan bersifat tradisional. wajib untuk diwaspadai. seperti pada alat tangkap purse seine. Kondisi ini tentunya akan berdampak buruk jika berlangsung terus-menerus. ada kecenderungan nelayan melakukan praktek illegal fishing dengan melakukan penangkapan yang merusak (destructive fishing) seperti penggunaan bom. jenis ikan yang tertangkap oleh nelayan di Raja Ampat termanfaatkan semua. Permasalahan lainnya yang juga perlu menjadi perhatian adalah makin menurunnya sumberdaya non-ikan seperti teripang. Dewasa ini terumbu karang telah mengalami degradasi yang cukup nyata akibat meningkatnya aktiiitas manusia. 3) Konflik dan Tekanan Pemanfaatan Sumberdaya Hayati Laut Mengingat masih kecilnya modal yang dimiliki oleh nelayan di Raja Ampat. Kerusakan terumbu karang. Namun demikian. Data statistik menunjukkan bahwa produksi ikan menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. di balik peluang yang ada. Akibatnya. sementara pertumbuhan sumberdaya semakin kecil. bahan-bahan beracun serta alat tangkap yang tidak ramah lingkungan khususnya untuk ikan-ikan karang. Namun demikian. lokasi penangkapan ikan praktis terkonsentrasi di daerah perairan pantai dan teluk. 2) Proporsi Sumberdaya Hayati Laut yang Dibuang Secara umum. pengoperasian alat tangkap jaring dengan mata jaring berukuran kecil. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-7 . Kondisi terumbu karang juga perlu mendapatkan perhatian yang serius. karena tekanan penangkapan ikan di daerah pantai dan teluk akan semakin besar.

Kerusakan ini juga telah menghilangkan fungsi estetika dari komunitas terumbu terutama untuk kegiatan pariwisata. Kerusakan terumbu karang akibat penggunaan racun juga terjadi. Nelayan-nelayan yang menggunakan bom umumnya berasal dari luar Kabupaten Raja Ampat dan biasanya pengguna bom berasal dari Sorong. pecahan-pecahan karang bercabang tampak berserakan. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-8 . dan mencungkil-cungkil karang untuk mengambil biota tertentu. Kerusakan ini telah mengakibatkan terganggunya siklus ekosistem terutama kehidupan berbagai jenis biota laut yang berasosiasi dengan terumbu karang. Mereka masuk kawasan tanpa ijin dari Dinas Perikanan Kabupaten Raja Ampat. Selain itu terumbu karang juga bisa rusak karena peningkatan laju sedimentasi akibat erosi. pengambilan karang untuk bahan bangunan. Penggunaan bom untuk mencari ikan. Pada daerahdaerah dengan terumbu karang rusak. mengingat bahwa larva karang membutuhkan substrat yang kokoh untuk menempelkan diri. Kerusakan yang cukup parah akibat penggunaan bom terjadi pada terumbu karang hampir di semua lokasi survei kecuali di perairan Pulau Gemin dan Yensawai. berjalan-jalan di atas karang. Aktifitas pariwisata yang tinggi tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan juga dapat menyebabkan kerusakan terhadap terumbu karang. Pecahan-pecahan karang dengan ukuran kecil-kecil ini bisa menghalangi pertumbuhan karang baru. Di Kepulauan Raja Ampat juga terdapat beberapa kondisi terumbu karang yang rusak akibat penggunaan bahan peledak dan bahan perusak lainnya. Kerusakan karang di perairan Kabupaten Raja Ampat umumnya disebabkan karena penggunaan bom untuk mencari ikan. Di beberapa lokasi dijumpai karang yang mengalami bleaching (pemutihan) akibat penggunaan Potasium Sianida. hingga saat ini masih terus berlangsung.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN umumnya disebabkan oleh penggunaan bahan peledak dan racun untuk mencari ikan.

4) Perubahan Komposisi dan Ukuran Sumberdaya Hayati Laut Pengoperasian alat tangkap yang digunakan untuk menangkap suatu jenis ikan secara terus-menerus juga perlu diwaspadai. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-9 . Pada lokasi tertentu diduga telah terjadi kerusakan akibat pengaruh perubahan suhu maupun akibat hewan pemangsa seperti Aconthoster ploncii. Namun secara keseluruhan wilayah perairan Raja Ampat sangat lenting (resilience) terhadap perubahan iklim. dicirikan dengan adanya pertukaran massa air yang dinamis dan adanya proses upwelling di beberapa tempat. Hasil penubaan ini menyebabkan pemutihan karang yang serupa dengan penggunaan potasium. perikanan tropis yang multi-species. namun sebagian besar kerusakan akibat penggunaan bahan peledak (bom).ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang cukup bervariasi. Diduga akar bore (tuba tradisional) secara luas masih digunakan di seluruh perairan Raja Ampat. Di sisi lain ada lokasi yang rusak akibat gelombang besar sementara lokasi yang rusak akibat penggunaan potasium hanya ditemukan pada perairan sebelah selatan Pulau Bun. Penangkapan ikan suatu jenis ikan. seperti kerapu yang mempunyai ekonomis tinggi dikhawatirkan akan memberi peluang ikan lain yang merupakan kompetitornya untuk tumbuh lebih cepat sehingga mengganggu kestabilan ekosistem sumberdaya hayati laut yang ada. dimana antar Ini karena sifat species saling berhubungan dalam suatu rantai makanan.

2 SOSIAL 1) Tingkat Kepadatan Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2004 sebanyak 32. Distrik Samate merupakan distrik dengan jumlah penduduk terbanyak di wilayah Kabupaten Raja Ampat. Waisai. namun tingkat kepadatan penduduknya sedikit lebih tinggi dari Distrik Samate. Distrik Kofiau (11 jiwa/Km2). dan Distrik Misool Timur Selatan (6 jiwa/Km2). Bila berdasarkan tingginya tingkat kepadatan penduduk.236 jiwa atau 3.55% sehingga laju pertumbuhan rata-rata per tahun adalah 3. namun tingkat kepadatannya relatif masih rendah yaitu sebesar 4 jiwa/Km2.2% dari jumlah seluruh penduduk Raja Ampat. Sementara Distrik Waigeo Timur merupakan distrik dengan jumlah penduduk terkecil yaitu sebanyak 1.055 jiwa. Kepadatan penduduk Raja Ampat adalah sebesar 4 jiwa/Km2. dan Magey yang tinggal agak jauh ke arah daratan. Laju pertumbuhan penduduk Raja Ampat dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. yakni sebesar 5 jiwa/Km2.67%) sedangkan terendah terjadi di Distrik Kepulauan Ayau (0. Waijan. Distrik yang memiliki kepadatan penduduk terendah adalah Distrik Teluk Mayalibit (1 jiwa/Km2). Tomolol. maka secara berurutan distrik yang terpadat penduduknya adalah Distrik Kepulauan Ayau (111 jiwa/Km2). Hanya penduduk Kampung Kalobo. adalah 18. Sesuai dengan kondisi alamnya. Laju pertumbuhan tertinggi terjadi di Distrik Waigeo Selatan (8. Distrik Waigeo Selatan (8 jiwa/Km2). yakni sebesar 6.10%).800 jiwa atau sebesar 21. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-10 .09%.9% dari jumlah seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat.6.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN 4. hampir seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat menetap di tepi laut (pantai). Laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun untuk tiap distrik dapat dilihat pada Tabel 4.

218 3. dan Perguruan Tinggi (PT).781 1.02 3.236 2.73 0. Jumlah penduduk lakilaki mencapai 52.055 Laju pertumbuhan per tahun (%) 8. Alasan lainnya adalah karena kondisi ekonomi keluarga. 9.168 1. Berdasarkan survei PRA pada tahun 2006. 7. Budaya lokal yang sering membawa anaknya menokok sagu dalam waktu lama. dan lulusan PT 450 orang.170 6. Akses ke sekolah yang susah.67 3.20 8.000 1.40 1. Distrik Waigeo Selatan Waigeo Barat Waigeo Timur Waigeo Utara Kep. SLTA.996 2. 10.55% dari total jumlah penduduk Raja Ampat. lulusan SLTA 2.12 0.90 3.591 4.09 Sumber : Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. 8. Mambrisaw et.511 1. (2006) melaporkan bahwa.279 1.742 4.646 27.335 1. jumlah penduduk yang merupakan lulusan SLTP sebanyak 2.007 orang. Hanya sebagian kecil penduduk lulusan SLTP.93 1. umumnya masyarakat Raja Ampat merupakan lulusan SD (7. 2.895 orang).100 orang. 2) Tingkat Pendidikan Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan.800 3.412 3.039 32. 5.6 Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Raja Ampat No. dan motivasi belajar masyarakat yang masih rendah. 2006 Secara keseluruhan jumlah penduduk laki-laki di Raja Ampat sedikit lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan.12 4.al. fasilitas pendidikan yang minim. Ayau Kofiau Samate Teluk Mayalibit Misool Misool Timur Selatan RAJA AMPAT Jumlah penduduk 2000 2006 2. 3. menjadi alasan utama banyaknya siswa yang putus sekolah.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Tabel 4. juga mendorong tingginya angka putus sekolah.984 1. 6. 4.947 2. 1.387 3.519 2.372 6.91 1. cukup banyak penduduk usia sekolah (semua tingkatan) yang putus sekolah. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-11 .

ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN 3) Pertumbuhan Tenaga Kerja Mayoritas penduduk Kabupaten Raja Ampat menggantungkan hidupnya dari sumberdaya alam yang ada di wilayah tersebut. Untuk wilayah yang mempunyai daratan yang tidak luas seperti Ayau. Distrik Samate. 4. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-12 . Arborek. Jenis alat tangkap yang dioperasikan di perairan Raja Ampat sebanyak 14 jenis alat tangkap. Selain nelayan atau petani.633 jiwa (8%). EKONOMI Perikanan Tangkap Bila ditinjau dari teknologi yang digunakan. Jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani sebanyak 3. umumnya penduduk di sana bermata pencaharian sebagai nelayan sedangkan untuk daerah yang mempunyai daratan yang luas ada yang memang mayoritas petani seperti Kabare dan Bonsayor.3 1). Profil rumah tangga masyarakat di Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh rumah tangga petani. alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan di Raja Ampat masih sederhana. Distrik Misool. yang dilakukan berdasarkan musim yang berlangsung.987 jiwa (12%).312 jiwa atau 4% berprofesi sebagai buruh atau karyawan pada perusahaan-perusahaan mutiara yang terdapat di Distrik Waigeo Barat. sebanyak 1.341 jiwa atau 4% penduduk Raja Ampat berprofesi sebagai PNS/TNI kemudian 1. dan Wejim. dan Distrik Misool Timur Selatan. disusul kemudian sebagai nelayan sebanyak 2. Mutus. namun paling banyak adalah yang bermatapencaharian ganda yaitu sebagai petani dan nelayan. Alat tangkap pancing dasar dan tonda merupakan jenis alat tangkap yang dominan terdapat di Raja Ampat dan jenis tersebut juga tersebar hampir di setiap distrik. Pada saat musim angin selatan mereka bertani dan di luar musim itu mereka melaut untuk mencari ikan.

huhate (pole and line). cumi-cumi (Loligo sp) dan ikan-ikan pelagis lainnya seperti momar (Decopterus sp). Waigeo Barat. Nelayan-nelayan di daerah Teluk Mayalibit biasanya menggunakan alat tango (seser) untuk menangkap ikan kembung dan udang halus (ebi). Sementara. Misool. Alat tangkap ini umumnya digunakan untuk menangkap ikan teri (Stolephorus sp).ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Sementara. Alat ini biasanya digunakan pada kapal-kapal cakalang. Selain nelayan lokal. Kemudian. layang dan kembung. oci (Selaroides sp) dan lain-lain. untuk sero (trap) hanya dijumpai di Distrik Samate. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-13 . banyak nelayan dari luar Raja Ampat yang beroperasi di Perairan Kabupaten Raja Ampat. mini purse seine. Usaha penangkapan ikan dilakukan baik oleh perorangan maupun perusahaaan yang menggunakan berbagai jenis alat tangkap seperti pancing (hand line). target tangkapan mini purse seine di Raja Ampat adalah ikan-ikan pelagis yang suka bergerombol seperti ikan cakalang. jaring insang (gill net). Hasil tangkapan huhate (pole and line) adalah ikan cakalang dan tuna. alat tangkap bagan banyak terdapat di Waigeo Selatan. dan trammel net. bagan (lift net). Samate. lema (Rastrelliger sp). dan Misool Timur Selatan. Sedangkan alat tangkap trammel net digunakan untuk menangkap udang dan ikan dasar. karena alat ini hanya dapat dioperasikan di daerah yang mempunyai perbedaan pasangsurutnya tinggi.

8 Sebaran jenis Alat Tangkap Berdasarkan Distrik Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Distrik Pancing Tonda Dasar 75 140 10 55 15 58 50 23 5 105 25 84 20 69 81 65 150 5 60 Rawai Dasar 10 4 5 5 1 2 Waigeo Selatan 35 5 Waigeo Barat 15 2 Waigeo Timur Waigeo Utara Kep. Ayau Kofiau Samate 28 28 3 Teluk Mayalibit Misool 63 6 Misool Timur 40 3 Selatan Jumlah 270 825 27 113 30 3 181 28 19 5 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat (2005) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat (2006) Insang 10 5 3 3 7 3 25 5 3 49 Jaring Hiu 3 10 2 10 5 Lingkar 2 1 - Bagan Sero Huhate Tramel Net 2 3 - Tango Kalawai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - √ - Senapan Molo √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tali Accu √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - - Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-14 .ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Tabel 4.

Kapal motor dengan ukuran di atas 10 GT banyak digunakan oleh para nelayan dari luar Raja Ampat. Namun demikian. perahu motor katinting. Ayau 95 10 30 15 2 Kofiau 69 49 40 15 1 Samate 53 52 91 4 38 7 16 Teluk Mayalibit 41 20 9 0 3 Misool 150 47 48 12 5 71 Misool Timur 60 132 38 1 15 5 51 Selatan JUMLAH 648 417 360 9 119 23 166 Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kab Raja Ampat. seperti dari Sorong dan Sulawesi. MT: Motor Tempel.15 MT.9 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sebaran Armada Penangkapan Ikan Beradasrkan Distrik Tahun 2006 PTM PK MT. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-15 .ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Armada penangkapan ikan nelayan lokal yang beroperasi di Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh perahu tanpa motor. 2006 Keterangan PTM: Perahu Tanpa Motor.40 PMD* 10 17 10 KM 10-15 (GT)* 30 50-100 Distrik Waigeo Selatan 60 46 34 Waigeo Barat 55 52 43 3 6 Waigeo Timur 46 10 2 Waigeo Utara 19 9 17 1 13 3 1 Kep. Perahu tanpa motor yang digunakan nelayan lokal pada umumnya adalah perahu yang menggunakan semong dengan ukuran 3 . KM: Kapal Motor. Armada ini merupakan pilihan utama masyarakat Kabupaten Raja Ampat karena tidak membutuhkan bahan bakar minyak. PK: Perahu Ketiting. Sedangkan armada penangkapan ikan yang berasal dari luar daerah. dan perahu motor tempel. Adapun perahu yang menggunakan mesin katinting dan motor tempel ukurannya lebih panjang dari 7 m. dengan banyaknya armada dari luar pulau yang melakukan kegiatan penangkapannya di Raja Ampat. menggunakan kapal motor dengan kapasitas yang besar.25 MT. GT: Gross Ton 1 8 11 1 3 1 11 6 18 Rata-rata armada penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan lokal dioperasikan dengan sistem one day fishing (4 -12 jam per hari).7 m. Tabel 4. lama trip penangkapan ikan diduga akan semakin panjang karena makin sedikitnya sumberdaya ikan. PMD: Perahu Motor Dalam.

Jayapura Denpasar. Surabaya.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Bila ditinjau dari jenis alat tangkap yang digunakan. Surabaya. Makasar. namun potensi perikanan yang begitu besar Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-16 .10. Selain untuk pemasaran lokal. Surabaya. Bitung. karena mata jaringnya yang kecil maka pengoperasian yang besar-besaran dengan alat bantu penangkapan seperti lampu atau rumpon akan membahayakan kelestarian sumberdaya ikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Bitung. Manokwari. hasil tangkapan nelayan di Raja Ampat berupa teripang. Manokwari. Surabaya. Jayapura. Surabaya. dimana mayoritasnya adalah pancing. Jakarta Denpasar. maka secara umum alat tangkap yang dioperasikan nelayan di Raja Ampat dapat dikategorikan ramah terhadap lingkungan. Jakarta Sumber : Laporan Stasiun Karantina Ikan. rumput laut. Kupang. Tabel 4. Jakarta Bintuni. Jakarta Hongkong. Sorong (2005) Meskipun penduduk di Kabupaten Raja Ampat mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Alat tangkap gillnet dan trammel net juga relatif baik karena juga tidak merusak ekosistem sekitarnya dan sumberdaya ikan yang ditangkap. Khusus untuk mini purse seine. Surabaya. Bitung. Ternate Hongkong. Manokwari. Surabaya dan Jakarta. Ternate Manokwari. Jakarta Jakarta Jakarta. Jakarta Bintuni. Nabire. Jakarta Makasar. Tujuan daerah pemasaran dari berbagai komoditi hasil perikanan tangkap dapat dilihat pada Tabel 4. Sementara itu. untuk lobster juga dipasarkan ke Bali.10 Daerah Tujuan Pemasaran Produksi Perikanan Tangkap di Kabupaten Raja Ampat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Komoditi Tenggiri beku Cakalang beku Campuran beku Kerapu hidup Napoleon Teri tawar Cumi kering Cumi beku Lobster Sirip/ekor hiu Teripang Daerah / Negara Tujuan Bintuni. Bitung. cumi-cumi kering dan ikan teri kering dipasarkan pula ke daerah Makasar.

kegiatan budidaya mutiara ini masih belum banyak melibatkan masyarakat setempat. Budidaya rumput laut ini terdapat di Distrik Kepulauan Ayau (Pulau Ayau). Nelayan-nelayan lokal menggunakan peralatan tangkap yang sangat sederhana sehingga kalah bersaing dengan kapal nelayan pendatang dan asing yang beroperasi di wilayah tersebut. produksi mutiara yang mencapai ribuan ton per tahun ini juga diekspor ke Jepang. Selain dijual ke pasar domestik. Surabaya. Saat ini terdapat 6 perusahaan yang mengembangkan budidaya mutiara secara modern sejak tahun 1990. Distrik Waigeo Selatan (Pulau Friwen dan Pulau Arborek) serta Distrik Waigeo Barat (Pulau Fam). Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-17 . Hal ini tentu menimbulkan persaingan yang tidak sehat dengan penduduk lokal yang umumnya memiliki kemampuan teknologi dan modal yang terbatas. baik yang berizin resmi maupun tidak (illegal). Singapura dan Thailand. Budidaya mutiara menjadi primadona masa depan bagi Raja Ampat.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Waigeo Barat (2 perusahaan). yang beroperasi di perairan Raja Ampat dan sekitarnya. Perikanan Budidaya Komoditas unggulan perikanan budidaya di Kabupaten Raja Ampat adalah rumput laut dan mutiara. Namun sayangnya. Waigeo Selatan (2 perusahaan) dan Batanta (1 perusahaan). budidaya rumput laut telah dilakukan oleh masyarakat setempat. sehingga berpotensi cukup besar menimbulkan suatu permasalahan konflik sosial antar mereka. Sementara itu. Diperkirakan ada ribuan kapal pendatang dan asing. 3 diantaranya merupakan penanaman modal asing (PMA) dan sisanya penanaman modal dalam negeri (PMDN). 2). terutama jenis Euchema cottoni. Jakarta dan Medan. Lokasi budidaya mutiara ini terdapat di Distrik Misool (1 perusahaan). seperti: Makasar.

ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN 3). Jenis pengolahan yang ada di Raja Ampat umumnya adalah berupa pengasinan ikan. Pengolahan Hasil Perikanan Kegiatan pengolahan hasil perikanan juga terdapat di Kabupaten Raja Ampat. gua. namun umumnya masih bersifat tradisionil dan dalam skala rumah tangga. Tabel 4. yaitu di wilayah Distrik Waigeo Selatan. Waigeo Selatan dan Barat. Waigeo Barat dan Teluk Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-18 . Namun demikian sejak tahun 1995 hingga sekarang baru terdapat 1 lokasi yang dikelola oleh PT Papua Diving.11 NO 1 2 3 Unit Pengolahan Hasil Perikanan di Kabupaten Raja Ampat JENIS Pengolahan ikan asin Terasi udang Pengolahan ikan asin Pengolahan hasil laut JUMLAH JUMLAH (unit) 10 1 1 1 13 TENAGA KERJA (orang) 104 5 5 5 119 LOKASI Waigeo Samate Misool Sumber : Data industri Kabupaten Raja Ampat (2003) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Kab. Raja Ampat (2005) 4). terutama ekosistem terumbu karang merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan luar negeri. Jenis potensi pariwisata bahari yang utama di wilayah gugus pulau kecil Raja Ampat adalah wisata panorama alam. betingbeting karang. seperti pasir putih. serta Kepulauan Ayau. Pariwisata Sektor pariwisata memiliki prospek pengembangan tersendiri bagi kegiatan perekonomian Raja Ampat. Bahkan di daerah tersebut menjadi lokasi penelitian para pakar biota laut dunia. Daerah pengembangan pariwisata adalah di Pulau Kofiau. serta wisata diving. khusus untuk wisata bahari dan wisata alam. Misool. Keunikan dan keindahan panorama alam ditambah dengan keanekaragaman sumberdaya perikanan dan kelautan yang tinggi.

lainnya di Raja Ampat disajikan pada Tabel 4. Tabel 4.11 Kawasan pariwisata Kawasan Pariwisata di Kabupaten Raja Ampat DESA/KAMPUNG Kapadiri Urbinasopen Arborek Yenbuba DISTRIK Waigeo Utara Waigeo Timur Waigeo Selatan TEMPAT WISATA Air terjum Lam Lam Pantai Ayem Pulau Mamiayef Karang Laut Pulau Roti Karui Bepyar Tomolol Kepulauan Kri Burung Cenderawasih Selat Kabui Meos Pun (kelelawar/paniki) Kali Raja Pulau Dua Taman Laut Wayag Pulau Sayang (penyu dan komodo) Pantai Yeben Pulau Painemo Pantai Saukabu Meos Andau Besar dan Kecil Nafsi Manaru Pulau Manaru Enus Mutus Kecil Efkabu Meos War Efmas Pantai Tuturuga Sumkali Indah Saukris Puncak Bendera Tujuh Gunung Nok Kupu-kupu Taman Laut Ayau Pantai Meos Mandum Ombak Meos Tukang Teluk Dorekar Pulau Tiga Abidon Pantai Fani (Asis) Pulau Way Pantai Indah Waigeo Barat Yen Waubnor Kabui Friwen Wawiyai Yenbekwan Salio Meos Manggara Saukabu Fam Mutus Meos Manggara Maniafun Gag Mayalibit Ayau Waifoi Beo Rutum Reni Meos Bekwan Dorekar Abidon Fani Arefi Samate Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-19 .ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Mayalibit (Profil Kabupaten Raja Ampat.11. 2004).

2005-2014). mangaan. Potensi pertambangan yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat disajikan pada Tabel 4.12. batubara Nikel. Dengan alat-alat IV-20 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat . tembaga.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN DISTRIK DESA/KAMPUNG Jefman TEMPAT WISATA Pulau Kri (Besar-Kecil) Pulau Matan Pantai Urbabo Pulau Kasim (Besar-Kecil) Sumber : Profil Kabupaten Raja Ampat (2004) dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Kab. Raja Ampat. nikel Nikel.4 KELEMBAGAAN 1) Kelembagaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Masyarakat lebih banyak menggantungkan hidupnya dari laut dengan profesi sebagai nelayan. dan masih memungkinkan penambangan mineral tambang lainnya serta kemungkinan diperolehnya cadangan minyak yang layak untuk dieksploitasi di lepas pantai Pulau Misool yang saat ini tengah dilakukan eksplorasi oleh Petro China (RTRW Kabupaten Raja Ampat. Pertambangan Sektor pertambangan diperkirakan dimasa mendatang akan mengalami perkembangan yang cukup tinggi. tali nylon dan mata kail. batubara Fosfat. mangaan. opal Waigeo Selatan (Pulau Waigeo dan Gag) Waigeo Utara Samate Misool Sumber : Profil Kabupaten Raja Ampat. tembaga.12 No 1 2 3 4 Potensi Pertambangan yang Terdapat di Kabupaten Raja Ampat DISTRIK POTENSI PERTAMBANGAN Cobalt. tembaga. Tabel 4. 2005 4. Hal ini diindikasikan dengan diperbolehkannya kembali eksplorasi nikel di Pulau Gag. 2004 dalam Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Kab. Alat-alat yang digunakan dalam menunjang aktivitasnya. Raja Ampat (2005) 5). antara lain perahu dayung.

baru kemudian akan dijual kepada para pengumpul ikan yang biasanya datang pada waktu-waktu tertentu. Dengan sarana ini Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-21 . Hal tersebut dapat dilihat pada jenis alat tangkap yang digunakan. yaitu angin selatan (musim selatan). angin utara (musim utara). Ini dimaksudkan jika nelayan menangkap ikan jenis kerapu dalam kondisi hidup. antara lain berupa long boat 20 buah dan katinting 10 buah yang merupakan bantuan dari Coremap II Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. Nelayan Friwen mengenal arah angin. Sekitar bulan April-September aktivitas nelayan nyaris berhenti karena cuaca di laut tidak memungkinkan untuk melaut (ombak dan angin keras) dan pada musim tersebut (musim selatan) mereka sebagian besar beralih ke berkebun dan memasuki bulan September dan Oktober mereka mulai melakukan aktivitas melaut kembali.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN yang ada. mereka lebih memilih memasukkan dalam keramba dahulu. Hasil pengkajian di Friwen menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan arah angin. kondisi nelayan di Kampung Saonek sudah lebih baik dibandingkan dengan nelayan di kampung Friwen. Berbeda dengan Friwen. Khusus untuk ikan tenggiri hasil tangkapan mencapai puncaknya pada sekitar bulan Desember. masyarakat lebih banyak menangkap ikan dengan cara memancing yang tentunya sangat berpengaruh pada jarak dan hasil melaut. angin timur (musim timur) dan angin barat (musim barat). Perbedaan kegiatan melaut pada kedua musim tersebut diakibatkan oleh alat tangkap nelayan yang masih sederhana yaitu dengan alat tangkap pancing yang menggunakan perahu dayung sehingga tidak ada pilihan lain pada saat terjadi musim ombak dan angin keras mereka mau tidak mau lebih memilih berhenti sebab kegiatan menangkap ikan sangat susah dilakukan pada saat itu. Waktu melaut digunakan setiap hari tergantung cuaca dengan 5 trip dalam satu minggu dan hari minggu digunakan untuk beribadah ke Gereja. Di Kampung Friwen juga ditemukan keramba ikan hidup.

kopi dan nasi) ukuran perahu kecil sebesar Rp. 1. BBM.sampai Rp.per bulan • Faktor yang menghambat mereka mendapatkan ikan yang lebih banyak selain faktor cuaca adalah jenis alat tangkap dan perahu yang kecil serta terjadinya degradasi sumberdaya ikan yang diduga akibat adanya kegiatan penangkapan ikan yang merusak seperti dengan menggunakan bom. rokok. yaitu pada bulan terang dimana mereka dapat mendapatkan sekitar 10 – 15 ekor ikan tenggiri dalam satu kali trip. Sementara waktu yang digunakan untuk setaip trip melaut adalah setiap hari dimulai pada sekitar jam 13. Selain pada bulan-bulan tersebut.00 malam. 35.• Rata-rata pendapatan sebesar Rp. 2) Kelembagaan Sosial Masyarakat Pesisir a.30 sampai jam 19. 25. sehingga peluang mendapat hasil tangkapan juga menjadi lebih banyak. Nelayan Pulau Saonek pada dasarnya mengenal beberapa musim. ada waktu-waktu tertentu mereka menyebutnya musim banyak ikan. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-22 . kekayaannya.000.000. Kemudian. mereka umumnya hanya bisa mendapatkan antara 2 sampai 5 ekor per trip..ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN memungkinkan menjangkau area penangkapan yang lebih luas.. dilaporkan bahwa: • Biaya yang dikeluarkan setiap pergi melaut dengan 2 (satu) orang nelayan (kebutuhan termasuk .000. 500. namun pola menangkap ikan tidak sepenuhnya tergantung pada musim tertentu sehingga kegiatan melaut dapat dilakukan setiap saat.sampai Rp. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat (2005).000. Strata Sosial Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten (2005) melaporkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Raja Ampat mengenal strata sosial yang ditentukan oleh nilai ketokohan seseorang.000.

garis keturunan dan posisinya dalam institusi sosial dan pemerintahan. ini menandakan bahwa penduduk yang ada masih satu garis keturunan. kecerdasan dan pendidikan. Mobilitas Secara umum tingkat mobilitas masyarakat di Kabupaten Raja Ampat masih tergolong relatif rendah. termasuk dalam memutuskan sebuah perkara (termasuk urusan politik).. mobilitas geografinya juga hanya terpusat pada daerah-daerah penangkapan (fishing grounds) yang umumnya berada di sekitar perairan pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah tinggalnya. seperti ke Kota Sorong. atau mengunjungi anak-anak yang sedang melanjutkan pendidikan di luar kabupaten. sehingga strata sosialnya lebih banyak ditentukan oleh nilai kekayaan. b. Jika ada yang melakukan kunjungan keluar kabupaten lebih pada belanja kebutuhan pokok dan lainnya yang dilakukan seminggu atau bahkan sebulan sekali. Sebagai contoh: marga yang ada dalam Kampung Friwen hanya satu yakni Wawiyai. karena penduduk berasal dari berbagai daerah yang kemudian menetap. strata lebih pada tingkat keberanian. marga yang ada dalam Kampung Saonek sudah beragam. Hasil pengkajian Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten (2005) juga melaporkan bahwa mayoritas masyarakat menyerahkan sepenuhnya berbagai macam urusan-urusan termasuk urusan keluarga kepada para elit Kampung (masyarakat yang memiliki strata sosial yang tinggi). Sementara. 2004). sehingga lahir jadi tokoh. Status sosial ini sangat berpengaruh dalam banyak hal.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN garis keturunannya dan posisinya dalam institusi sosial dan pemerintahan. Begitu juga halnya dalam kegiatan melaut. Pola kekerabatan masih sangat kental sehingga garis keturunan tidak menjadi mencolok. Khusus untuk Kampung Saonek. tingkat mobilitas masyarakat dapat dikatakan yang paling tinggi dibanding dengan kampung lainnya di Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-23 . Mobilitas yang rendah tersebut utamanya dipengaruhi oleh sarana transportasi yang masih sangat terbatas (Lampe M.

tersebut masih terbatas untuk anggota. mengolah ikan. diantaranya adalah membuat minyak kelapa. Jenis kegiatan PKK yang menghimpun kelompok ibu-ibu cukup beragam. umumnya terdiri dari kelompok ibu-ibu. Kelompok perkumpulan ibu-ibu. menyambut natal. tetapi sarana transportasi seperti kapal-kapal perintis sudah cukup tersedia. kepemudaan dan keagamaan. seperti: kelompok pemuda GKI (Gereja Kristen Indonesia) dan Masjid. menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri serta Idul Adha. Kegiatan Sosial Kelompok sosial yang dapat ditemukan di Kabupaten Raja Ampat. Kunjungan keluar kabupaten seperti ke Sorong cukup sering dilakukan oleh masyarakat Kampung Saonek. sedangkan kelompok kepemudaan biasanya tergabung sekaligus dengan keagamaan. baik untuk keperluan belanja kebutuhan pokok. pemanfaatan lahan pekarangan dan membuat kerajinan tangan. sedangkan kelompok remaja Masjid umumnya merupakan wadah komunikasi/informasi keagamaan dan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat IV-24 . Meskipun kondisi jarak yang jauh. dan tahun baru. yang berkembang adalah PKK. mobilitasnya masih dikategorikan rendah. Namun. walaupun sebagian nelayan telah menggunakan kapal johnson (motor tempel) dan katinting.ANALISISI POTENSI DAN PERMASALAHAN Kabupaten Raja Ampat. tetapi mereka belum menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh. menemui kerabat atau anak-anak yang melanjutkan pendidikan maupun karena urusan dinas dari pegawai-pegawai instansi setempat. kelompok pemuda Gereja umumnya beraktivitas untuk kegiatan keagamaan atau peribadatan mingguan. untuk kegiatan melautnya. Semua kegiatan kelompok remaja pemenuhan kebutuhan rumah tangga Sementara. c.

Raja Ampat LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .BAB 5 Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kab.

masyarakat juga memahami bahwa terumbu karang sebagai kawasan yang memiliki keindahan dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan. telah menyebabkan nelayan setempat semakin sulit mendapatkan ikan. dan (2) sebagai pelindung pantai terhadap terpaan gelombang yang dapat mengakibatkan pengikisan pantai.1 PERSEPSI UMUM MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Ekosistem terumbu karang oleh masyarakat Raja Ampat telah lama dikenal dan juga disadari bahwa ekosistem ini memiliki berbagai macam manfaat. sebagai fishing ground mereka yang baru. Kemudian. bagi kehidupan mereka. Selain pemahaman masyarakat terhadap manfaat terumbu karang di atas. Kerusakan terumbu karang akibat aktivitas penangkapan yang merusak (destructive fishing). Menurut masyarakat umum Raja Ampat. Sementara itu. bahkan mereka berpindah ke lokasi lain yang ekosistem terumbu karangnya masih relatif baik. utamanya nelayan. khususnya untuk mendapatkan ikan-ikan karang. yaitu: (1) sebagai lokasi atau tempat berkembang-biak. manfaat langsung lainnya yang juga dirasakan oleh mayarakat adalah penggunaan karang sebagai bahan baku pengganti batu kali untuk mendirikan bangunan atau dermaga. Walaupun sebenarnya mereka menyadari bahwa kegiatan ini akan menyebabkan kerusakan bagi ekosistem terumbu karang. baik langsung maupun tidak langsung. manfaat tidak langsung dari ekosistem terumbu karang secara garis besar ada 2 (dua). seperti penggunaan bom dan potassium. Hal ini mereka ketahui dari . berlindung dan mencari makan bagi berbagai jenis ikan.5 RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT 5. untuk manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan ekosistem terumbu karang adalah sebagai kawasan atau lokasi untuk menangkap ikan (fishing ground).

Karena daerah penangkapan mereka menjadi semakin berkurang. selain memahami berbagai manfaat ekosistem terumbu karang bagi kehidupan mereka. mereka tentu akan membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak untuk mencapai daerah tangkapan.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG seringnya kedatangan orang-orang yang melakukan kegiatan penyelaman (diving) di sekitar lokasi mereka. Selanjutnya. Padahal harga bahan bakar pada saat ini sudah relatif mahal. Dampak lainnya. Hal ini tentu akan berdampak negatif pada aktivitas usaha nelayan. Hal sama juga dirasakan oleh Dengan semakin nelayan yang menggunakan perahu ketinting bermesin. Berbagai akibat yang dirasakan oleh masyarakat akibat kegiatan pengrusakan terumbu karang. jauhnya daerah tangkapan. baik secara langsung maupun tidak langsung. umumnya masyarakat Raja Ampat juga memahami berbagai faktor penyebab kerusakan terumbu karang dan akibat yang ditimbulkan atau dampaknya. Masyarakat memahami apabila ekosistem terumbu karang tetap dijaga maka akan banyak wisatawan yang akan datang ke kawasan terumbu karang untuk menikmati keindahannya. akibatnya mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai fishing ground. Penggunaan bom. sehingga hal ini tentu juga sangat dirasakan oleh para nelayan yang menggunakan perahu ketinting bermesin. Hal ini tentu sangat dirasakan oleh nelayan tradisional setempat yang umumnya masih menggunakan perahu dayung. Aktivitas destructive fishing di perairan Raja Ampat sebagian besar dilakukan oleh orang luar Raja Ampat atau nelayan yang berasal dari daerah lain. adalah hilangnya beberapa daerah penangkapan ikan (fishing ground). selain itu juga jaraknya semakin jauh dari pantai. dimana telah terjadi pengurangan pantai akibat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-2 . potassium dan akar bore merupakan faktor utama penyebab kerusakan ekosistem yang banyak diketahui oleh masyarakat lokal. yang mereka rasakan adalah terjadinya pengikisan pantai sebagaimana yang dikeluhkan oleh masyarakat di beberapa wilayah seperti di desa Mutus dan Saonek.

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG pengikisan pantai oleh ombak/gelombang. baik secara langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya. Misalnya. Mereka melakukan pengawasan secara mandiri. Pemahaman masyarakat Raja Ampat untuk melindungi ekosistem terumbu karang dapat dikatakan sudah relatif baik. telah menyadari akan pentingnya atau manfaat yang akan diperoleh dengan menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang yang ada. utamanya nelayan. maka berarti pula hilangnya kekayaan alam Kabupaten Raja Ampat. masyarakat secara umum juga menyadari bahwa bila ekosistem terumbu karang di Raja Ampat rusak. dalam menangkap ikan. akan segera ditegur secara langsung dan dilarang untuk menangkap ikan. Isu-isu pokok dalam mengelola dan menjaga kelestarian terumbu karang di wilayah perairan Raja Ampat yang dapat diinventarisir hingga kini disajikan pada Tabel 5. masyarakat di Pulau Saonek memiliki kesepakatan untuk tidak menggunakan jaring yang dapat merusak ekosistem terumbu karang dan juga tidak boleh menggunakan tombak/panah untuk menangkap ikan. sehingga apabila terdapat nelayan yang menggunakan bom dan potasium di kawasan mereka. masyarakat di Desa Yewaupnor membuat kesepakatan untuk membatasi daerah tangkapan. Mereka. karena masyarakat mengetahui bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kabupaten ini dikenal dunia luar adalah karena keindahan alam terumbu karangnya.1. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-3 . 5.2 ISU-ISU POKOK DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Banyak aktivitas manusia yang dapat mempengaruhi kondisi ekosistem terumbu karang. Sementara. Berbagai upaya juga telah dilakukan masyarakat setempat untuk mencegah kerusakan terumbu karang. Masyarakat di Kampung Moes Manggara tidak memperkenankan penggunaan bom dan potasium.

Salawati 3 Labuh kapal dan kepariwisataan • Kerusakan fisik karang oleh jangkar kapal • Rusaknya karang oleh penyelam • Koleksi dan keanekaragaman biota karang yang semakin menurun Sedimen hasil erosi dapat mencapai terumbu karang di sekitar muara sungai. Misool. dan Kepulauan Ayau. Penangkapan ikan karang dengan menggunakan bahan peledak dan racun • 2 Penambangan karang (dengan atau tanpa bahan peledak) Perusakan habitat dan kematian masal hewan karang Hampir seluruh wilayah Kabupaten Raja Ampat Waigeo. karang dan biota invertebrata yang tidak bercangkang (anemon) Mengakibatkan ikan pingsan.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Tabel 5. Misool. sehingga mengakibatkan kekeruhan yang menghambat difusi oksigen kedalam polip • Meningkatnya kekeruhan yang mengganggu pertumbuhan karang • Pencemaran limbah yang dapat menyebabkan eutrofikasi 4 Penggundulan hutan dilahan atas Waigeo 5 Penambangan bahan mineral Pulau Batanta. Salawati. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-4 . Kofiau. Kabare (Waigeo Utara). Lokasi Waigeo. Bantata. mematikan karang dan biota invertebrata. Batanta. dampak dan lokasi terumbu karang yang terkena dampak di Raja Ampat Kegiatan Dampak • Mematikan ikan tanpa diskriminasi. 1 Kegiatan.1 No. Kapadiri. Kofiau.

Penggunaan bom memberikan dampak negatif dengan skala yang cukup luas dan tidak hanya menghancurkan karang tetapi juga menghancurkan biota-biota yang berada di sekitarnya pada saat terjadi ledakan. 2) Aktivitas penambangan dan pengambilan karang Isu pokok lainnya yang juga akan merusak ekosistem terumbu karang adalah penambangan dan pengambilan karang. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak tersedianya bahan bangunan. habitat karang akan menjadi rusak.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 1) Aktivitas penangkapan ikan yang merusak Penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potassium merupakan permasalahan utama dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. Walaupun dampak ini skalanya lebih kecil dibandingkan dampak penggunaan bom. tentu akan menyebabkan hilangnya suatu kawasan ekosistem terumbu karang. namun jika dilakukan secara intensif juga akan menyebabkan kematian karang dalam skala yang luas. Dampak dari penggunaan bom terhadap terumbu karang berupa kehancuran karang akibat pengaruh daya ledaknya. sehingga alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. Akibat penggunaan bahan peledak dan racun. Aktivitas ini merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pada umumnya. Menurut masyarakat lokal. pelaku utama dari kegiatan destructive fishing ini umumnya dilakukan oleh nelayan-nelayan dari luar. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-5 . Sementara itu. terutama batu pada suatu daerah. Dengan aktivitas ini. terlebih bila tingkat pemanfaatannya semakin bertambah besar dan luas. telah menyebabkan kerusakan terumbu karang di beberapa kawasan terumbu karang. dampak dari penggunaan potassium terhadap karang adalah matinya biota karang akibat bahan-bahan kimia.

sehingga bila jangkar tersebut dilempar dan mengenai terumbu karang. Selain itu. Sedimen hasil erosi akan terbawa sungai hingga mencapai muara sungai bahkan dapat mencapai terumbu karang di sekitar yang terdekat. kapal akan membuang jangkar agar kapal tidak hanyut. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-6 . sehingga mengakibatkan kekeruhan yang menghambat difusi oksigen kedalam polip. Karena. kemungkinan terjadinya pencemaran limbah produksi yang tidak terkontrol. seperti: meningkatnya kekeruhan perairan sekitar yang tentunya hal ini akan mengganggu pertumbuhan karang.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 3) Aktivitas labuh kapal dan pariwisata Aktivitas kapal yang berlabuh di dekat kawasan terumbu karang juga dapat memberikan dampak negatif bila tidak dilakukan dengan hati-hati. 5) Penambangan bahan mineral Penambangan bahan mineral juga dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap ekosistem terumbu karang. 4) Penggundulan/perusakan kawasan hutan Akibat penggundulan atau perusakan hutan. tentu akan merusak fisik karang tersebut. akan menyebabkan erosi dan banjir. pada saat berlabuh di suatu tempat. seperti rusaknya karang akibat kegiatan penyelaman yang tidak profesional atau teganggunya ekosistem terumbu karang akibat kegiatan penyelaman yang terlalu intensif. sehingga dapat menyebabkan eutrofikasi. Dengan demikian. Kegiatan pariwisata yang tidak terkontrol juga akan menyebabkan terganggunya ekosistem terumbu karang. kondisi hutan juga dapat mempengaruhi keberadaan ekosistem terumbu karang.

untuk mendukung visi dan misi tersebut. Tokoh Wanita. 3. yang didokumentasikan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-7 . Tokoh Adat. kemudian disusun misi yang akan diemban. 2. Peningkatan pemahaman masyarakat tentang fungsi laut sebagai pemersatu dan pengikat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merupakan aset masa depan yang perlu dilestarikan. dan Masyarakat) telah sepakat melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. transparan dan profesional. Mewujudkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Kabupaten Raja Ampat merumuskan suatu visi sebagai berikut: ”Terwujudnya Kabupaten Raja Ampat sebagai Kabupaten Bahari yang didukung oleh potensi sumberdaya menuju masyarakat Raja Ampat yang madani dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Dengan visi tersebut. 4. maka Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama dengan Mitra Pembangunan (LSM. Swasta. Peningkatan kemampuan kemandirian keuangan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Tokoh Agama. Selanjutnya. yaitu: menciptakan Indonesia yang aman dan damai. Berdasarkan analisis latar belakang kebijakan pembangunan nasional dan karakteristik daerahnya. yakni: 1. mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 5.3 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KABUPATEN RAJA AMPAT Arah kebijakan pembangunan Kabupaten Raja Ampat pada masa kini mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional periode tahun 2005-2009 yang telah menetapkan 3 (tiga) agenda utama. Peningkatan partisipasi dan akuntabilitas dan publik dalam yang penyelenggaraan pemerintahan pembangunan dilaksanakan secara efisien dan efektif.

Pemanfaatan sumberdaya alam harus diatur berdasarkan sebuah rencana pengelolaan terpadu yang disepakati berbagai pihak dengan didasarkan pada prinsip-prinsip ekologi dan nilai-nilai sosial-budaya masyarakat setempat. Kepulauan Raja Ampat mengandung keanekaragaman hayati yang tinggi dan ekosistem yang yang harus khas merupakan untuk modal utama pembangunan masyarakat dilestarikan kesejahteraan 2. Adapun isi Deklarasi Tomolol tersebut adalah sebagai berikut: 1. yakni sektor kelautan dan perikanan dan sektor pariwisata. dapat dinyatakan bahwa membangun Kabupaten Raja Ampat kedepan akan bertumpu pada 2 (dua) pilar utama (leading sector)-nya. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-8 . disamping juga tidak terlalu memerlukan tingkat teknologi yang tinggi untuk mengembangkannya. Kabupaten Kepulauan Raja Ampat adalah Kabupaten Bahari Berdasarkan hal-hal tersebut diatas. Kedua sektor ini selain inputnya lokal dan berlimpah juga akan mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang relatif besar. Sektor kelautan dan perikanan akan dibangun atas dasar keberadaan sumberdaya alamnya (resource based) yang memang masih tersedia dan belum dimanfaatkan secara optimal. Hak-hak dasar dan hukum adat masyarakat setempat harus diakui dalam proses perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam secara berkesinambungan 3.RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG dalam bentuk Deklarasi Tomolol pada Desember 2003. termasuk didalamnya penetapan kawasan dan spesies yang memerlukan perlakuan khusus 4. sedangkan sektor pariwisata akan terus dikembangkan berdasarkan keunikan dan kekayaan ekosistem terumbu karangnya serta panorama alam sekitarnya.

secara umum akan dipengaruhi oleh lingkungan strategis wilayahnya. baik lingkungan internal maupun eksternal. (c) Kondisi karang dan komunitas karang secara umum masih “sangat baik” dengan persentasi penutupan karangnya masih dalam kategori sedang (~33%). Kondisi tersebut akan menempatkan eksistensi yang sangat baik bagi perencanaan pengelolaan terumbu karang yang ada. Untuk lingkungan internal secara sinergis akan menentukan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) pemerintah daerah untuk tetap berada pada jalur kewenangannya dalam menyikapi permasalahan yang ada maupun yang akan datang. yang dapat menentukan tingkat keberhasilan pengembangan dan pemanfaatannya. karena hampir 80% wilayah daratan Raja Ampat merupakan kawasan konservasi. Kekuatan (Strengths) (a) Memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang yang tinggi. (b) Kondisi fisik perairan yang strategis dan cukup terlindung sehingga menyuburkan ekosistem terumbu karang. V-9 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat .RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 5. (d) (e) Memiliki beberapa kawasan konservasi laut.4 FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS YANG BERPERAN DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Konsep pengelolaan terumbu karang di suatu kawasan. diperoleh faktor-faktor lingkungan internal strategis (kekuatan dan kelemahan) sebagai berikut: (1). Hasil analisis situasi dengan pendekatan secara komprehensif dari berbagai aspek yang berpengaruh penting terhadap pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. Pengaruh sedimen dan pencemaran masih relatif kecil. bahkan juga banyak dijumpai habitat dan tipe komunitas karang yang sangat khas. (f) Adanya dukungan penuh dari Pemerintah Daerah.

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

(g) (2).

Masyarakat Raja Ampat yang partisipatif.

Kelemahan (Weaknesses) (a) Belum tersedianya informasi yang detail dan akurat yang memperhitungkan daya dukung kawasan terumbu karang yang optimal dan berkelanjutan. (b) Keterbatasan informasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. (c) Keterbatasan sumberdaya manusia yang profesional untuk

mengelola kawasan-kawasan konservasi laut (d) Kemampuan keuangan daerah yang terbatas untuk pengelolaan kawasan konservasi laut (e) Keterbatasan fasilitas infrastruktur untuk melakukan kegiatan monitoring dan pembinaan masyarakat setempat guna menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang yang ada. (f) Hingga kini belum ada bentuk atau model formal dari pemerintah pusat untuk pembangunan di kawasan berciri ekologi khusus/khas seperti di Kawasan Raja Ampat. Kemudian, untuk lingkungan eksternal secara sinergis akan menentukan peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang akan dihadapi oleh pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Hasil

analisis situasi dengan pendekatan secara komprehensif dari berbagai aspek yang berpengaruh penting terhadap pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat, diperoleh faktor-faktor lingkungan eksternal strategis (peluang dan ancaman) sebagai berikut: (3). Peluang (Opportunities) (a) Kawasan terumbu karang di Raja Ampat telah lama dikenal di dunia internasional.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

V-10

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

(b)

Jumlah wisatawan mancanegara untuk berwisata bahari yang cenderung meningkat.

(c)

Arah

pengembangan

wisata

dunia

yang

berorientasi

pada

pelestarian lingkungan. (d) (e) Adanya dukungan industri pariwisata bahari. Hadirnya lembaga-lembaga non pemerintah dari mancanegara yang serius untuk turut berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. (4). Ancaman (Threats) (a) (b) Kegiatan destructive fishing dan illegal logging. Kegiatan pembangunan wilayah pesisir yang tidak terencana dengan baik sehingga akan mengganggu bahkan merusak

lingkungan. (c) Kerentanan masyarakat terhadap pengaruh pengelolaan

sumberdaya alam yang menjanjikan nilai ekonomi lebih tinggi walaupun sesaat. (d) Timbulnya konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir.

5.5 RENCANA STRATEGIS PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Perumusan rencana strategis pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT dengan berdasarkan pada faktor-faktor lingkungan strategis yang telah diformulasikan seperti tersebut dalam sub-bab 5.3. Alternatif-alternatif strategi yang merupakan rumusan rencana strategi (renstra) pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat hasil generating dari matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

V-11

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

Tabel 5.2

Hasil analisis Matriks SWOT untuk pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat
STRENGTHS (S) Memiliki keanekaragaman hayati terumbu karang yang tinggi. Kondisi fisik perairan yang strategis dan cukup terlindung Kondisi komunitas karang yg masih “sangat baik”. Memiliki kawasan konservasi laut. Pengaruh sedimen dan pencemaran masih relatif kecil, Adanya dukungan penuh dari Pemda. Masyarakat yang partisipatif. WEAKNESSES (W) Belum tersedianya informasi tentang daya dukung terumbu karang yang optimal. Keterbatasan informasi teknologi yang efektif dan ramah lingkungan. Keterbatasan SDM profesional untuk mengelola KKLD. Kemampuan keuangan daerah terbatas Keterbatasan fasilitas infrastruktur Belum ada model formal untuk pembangunan berciri ekologi khusus. STRATEGI WO Melakukan rehabilitasi dan pengaturan kegiatan pemanfaatan ikan di kawasan ekosistem terumbu karang dan sekitarnya. Meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Mengembangkan fasilitas infrastruktur terpadu yang menunjang pengelolaan terumbu karang Meningkatkan kerjasama dalam penyiapan tenaga kerja profesional untuk mengelola KKLD

Faktor Internal

Faktor Eksternal

OPPORTUNITIES (O) Terumbu karang Raja Ampat telah lama dikenal dunia internasional Jumlah wisatawan asing cenderung meningkat Arah pengembangan wisata dunia yang berorientasi pada pelestarian lingkungan Dukungan industri pariwisata Hadirnya NGO mancanegara yang turut berpartisipasi dalam pengelolaan terumbu karang THREATS (T) Kegiatan destructive fishing dan illegal logging. Pembangunan wilayah pesisir yang tidak terencana. Kerentanan masyarakat terhadap pengaruh yang menjanjikan nilai ekonomi lebih tinggi walaupun sesaat. Timbulnya konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir

STRATEGI SO Penguatan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat, swasta, dan pemerintah dalam pengelolaan terumbu karang

STRATEGI ST Penguatan sistem monitoring, controlling dan surveillance (MCS) berbasis masyarakat Penegakan hukum secara terpadu Penataan zonasi wilayah pesisir dan laut Pemantapan kesadaran masyarakat tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan Penguatan regulasi daerah yang berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang

STRATEGI WT Pemberdayaan masyarakat pesisir. Reposisi mata pencaharian masyarakat pesisir. Pengembangan teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Penyerasian koordinasi antar sektor dalam merencanakan pembangunan wilayah pesisir dan laut.

Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat

V-12

RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat V-13 .

Raja Ampat LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .BAB 6 Indikasi Program Pengelolaan Terumbu Karang Kab.

Pertimbangan tersebut mencakup pertimbangan ekonomis.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 6 6. maka sebelum melakukan pengelolaan lingkungan di wilayah pesisir. khususnya ekosistem terumbu karang. Pertimbangan ekonomis disini adalah pertimbangan yang menyangkut mengenai masalah nilai ekonomis sumberdaya alam terumbu karang.1 INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT INDIKASI PROGRAM KERJA Dalam mengelola lingkungan ekosistem terumbu karang. perlu dipertanyakan terlebih dahulu. perlu dipikirkan tentang arti pentingnya sumberdaya alam yang ada. maka perlu dilakukan beberapa pertimbangan sebelum kegiatan pengelolaan dilakukan. 2) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting sebagai penghasil barang-barang yang dapat dipasarkan atau dijual sebagai hiasan? Dan apakah barang-barang tersebut dijual untuk aset lokal. Berkaitan dengan hal tersebut. Pertimbangan ini antara lain meliputi: 1) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari? seperti untuk makan. nasional. atau pasar internasional? 3) Apakah sumberdaya terumbu karang di daerah tersebut penting untuk daya tarik kunjungan wisata atau pariwisata. yang menghasilkan uang selain berupa barang? Sementara yang dimaksud dengan pertimbangan lingkungan disini adalah apakah lingkungan ekosistem terumbu karang tersebut penting untuk halhal berikut: Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-1 . apakah pengelolaan tersebut perlu atau tidak. Untuk itu. pertimbangan lingkungan maupun pertimbangan sosialbudaya.

koleksi karang. penangkapan yang berlebih (overfishing). kornponen lain. aktivitas wisata atau pariwisata. penebangan. untuk mempertahankan tradisi generasi yang akan datang. pertambangan.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG 1) Apakah daerah tersebut mempunyai lingkungan masyarakat yang unik secara lokal. sangat penting dan perlu dijawab sebelum mempertimbangkan perlu atau tidaknya pengelolaan lingkungan terumbu Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-2 . ikan akuarium. kerang-kerangan. Kemudian untuk pertimbangan sosial budaya. untuk sasaran keagamaan. kontaminasi oleh minyak. konstruksi. untuk nilai sosial dan budaya. termasuk yang mempunyai potensi untuk dimanfaatkan? 3) Apakah lingkungan alam daerah tersebut penting secara estetika ataukah sebagai identitas budaya? 4) Adakah data kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh: sedimentasi dari hutan. 2) Apa pengaruh rencana pengelolaan terhadap: negara secara keseluruhan? masyarakat di sekitar daerah tersebut? Kesemua informasi tersebut. pertanian. modifikasi dari sirkulasi air. bahan kimia. pestisida. Internasional? 2) Apakah daerah tersebut penting untuk mempertahankan: ditinjau dari aspek stok hewan dan tumbuhan. nasional. eutrofikasi karena buangan limbah yang mengandung nutrien. yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan terumbu karang adalah sebagai berikut: 1) Apakah daerah tersebut penting untuk: untuk pengakuan tradisi.

dari pada Informasi aktivitas pembangunan sektoral terhadap lingkungan dan konflik di antara aktivitas-aktivitas sektoral dapat diukur melalui proses penilaian dampak. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-3 .1.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG karang. strategi dan program kerja yang direkomendasikan untuk diimplementasikan dalam pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat seperti tertera pada Tabel 6. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis untuk menentukan "trend" dan hubungan antar faktor-faktor kemungkinan lingkungan dampak strategis positip dan di wilayah negatip tersebut. sehingga perlu dilakukan perencanaan pengelolaannya. dan sosial budaya dijadikan pilar utama dalam pengkajian indikasi programprogram kerjanya. perencanaannya berjalan secara efektif dan efisien. Berdasarkan hasil analisis SWOT dan pertimbangan dari 3 (tiga) aspek ini. maka tiga pertimbangan ekonomis. Terumbu karang yang berada di perairan Raja Ampat. hampir memenuhi seluruh kriteria yang telah disebutkan di atas. Agar. maka disusun matrik mengenai arah kebijakan. menyebabkan pengambilan keputusan menjadi kurang mendasar. lingkungan. Tanpa kejelasan informasi di atas.

1 Kebijakan. Strategi dan Program Kerja Pengelolaan Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat Kebijakan Optimalisasi pengelolaan terumbu karang Strategi Penataan zonasi wilayah pesisir dan laut 1 Program Kerja Penyusunan master plan (rencana induk) wilayah pesisir dan laut Penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) pesisir dan laut Penetapan RTRW sebagai peraturan daerah Perda Penyusunan sistem pengelolaan terumbu karang yang melibatkan semua pihak Fasilitasi pembinaan teknis dalam pengendalian dampak lingkungan terhadap terumbu karang Membangun dan memperbaiki fasilitas infrastruktur primer yang menunjang pengelolaan terumbu karang Menciptakan iklim yang kondusif untuk pihak swasta dalam membangun infrastruktur sekunder (yang bersifat komersial) Indikator Kinerja 1. dan pemerintah dalam pengelolaan terumbu karang 1 1. swasta. Tingkat kecukupan fasilitas infrastruktur yang menunjang pengelolaan terumbu karang 2. 1 Berkoordinasi dengan sektor kehutanan untuk menjamin pemanfaatan hutan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-4 . Tingkat pemanfaatan fasilitas infrastruktur yang menunjang pengelolaan terumbu karang 1. Tingkat keserasian aktivitas pembangunan di wilayah pesisir 2 3 Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Tabel 6. Tingkat konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir dan laut 2. Fungsi fasilitas infrastruktur yang menunjang pengelolaan terumbu karang 3. 1 1. Tingkat konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir dan laut 2 Meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Jumlah pihak yang terlibat aktif dalam menjaga dan mengelola terumbu karang 2 Mengembangkan fasilitas infrastruktur terpadu yang menunjang pengelolaan terumbu karang.

Tingkat kelengkapan data ekosistem dan kondisi terumbu karang Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-5 . Penyusunan atau penyempurnaan peraturan daerah tentang pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan 2.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi Program Kerja secara lestari 2 Berkoordinasi dengan sektor pertambangan untuk mengendalikan limbah dan kegiatan pertambangan liar Berkoordinasi dengan sektor perhubungan untuk menyediakan sarana transportasi yang aman dan nyaman Indikator Kinerja 2. Tingkat pencemaran laut dari aktivitas ekonomi 4. Sosialisasi peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang hingga ke tingkat desa 3. Tingkat kecukupan dan frekwensi sarana transportasi 3 Penguatan regulasi daerah yang berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang 1. Menyediakan bantuan hukum untuk mendukung masyarakat pesisir membuat dan mengesahkan peraturan tingkat desa (Perdes) berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang oleh masyarakat 1. Tingkat kerjasama lintas sektor dalam pengelolaan kawasan terumbu karang 3. Tingkat kelengkapan regulasi daerah untuk pengelolaan kawasan terumbu karang Perlindungan dan Penguatan kawasan rehabilitasi konservasi laut ekosistem daerah (KKLD) 1 Identifikasi dan Inventarisasi ekosistem terumbu karang 1.

INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan terumbu karang Strategi 2 Program Kerja Penetapan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) Penyusunan management plan KKLD Indikator Kinerja 2. 1 Identifikasi lokasi rehabilitasi ekosistem terumbu karang Pelatihan teknis rehabilitasi dan pemeliharaan ekosistem terumbu karang Rehabilitasi kawasan-kawasan ekosistem terumbu karang yang rusak Pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan konservasi Penyusunan peraturan daerah mengenai tata pemanfaatan sumberdaya ikan di dan sekitar kawasan ekosistem terumbu karang 1 Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik Intensitas penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem terumbu karang 2 2 3 4 5 Penegakan hukum secara terpadu 1. Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik 2. Penetapan sanksi hukum dan sanksi sosial yang tegas bagi orang yang merusak ekosistem terumbu karang Penyusunan sistem keamanan lingkungan berbasis masyarakat yang efektif di kawasan ekosistem terumbu karang 1. Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik 3 Melakukan rehabilitasi dan pengaturan kegiatan pemanfaatan ikan di kawasan ekosistem terumbu karang dan sekitarnya. Tingkat pelanggaran perusakan ekosistem terumbu karang 2. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-6 .

Tingkat konflik kepentingan pemanfaatan kawasan pesisir dan laut 2. Penyusunan model pengembangan kawasan pesisir dan laut terpadu 3. Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi pengawas lainnya 1. Penyiapan perangkat dan tata laksana pengawasan 2. controlling dan surveillance (MCS) berbasis masyarakat 1. Tingkat pelanggaran perusakan ekosistem terumbu karang 2. Pengembangan kelembagaan sistem MCS berbasis masyarakat 4.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi 3. Pengembangan daerah percontohan kawasan pesisir dan laut terpadu 1. Tingkat partisipasi Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-7 . Program Kerja Bekerjasama dengan institusi hukum di daerah guna mengefektifkan dan mengefisienkan proses hukum Indikator Kinerja Penguatan sistem monitoring. Tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan terumbu karang di wilayahnya Penyerasian koordinasi antar sektor dalam merencanakan pembangunan wilayah pesisir dan laut 1. Pengadaan sarana dan prasarana pengawasan 3. Pembentukan forum lintas sektor untuk merencanakan dan mengevaluasi pembangunan kawasan pesisir dan laut 2. Pengembangan 1. Fasilitasi bimbingan teknis yang diperlukan dalam upaya partisipasi kegiatan MCS 5. Tingkat pencemaran laut dari aktivitas ekonomi Peningkatan Pemantapan 1.

INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan kualitas hidup masyarakat pesisir Strategi kesadaran masyarakat tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan Program Kerja sistem komunikasi dan informasi tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan 2. Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik 3. Pemberian beasiswa terhadap putra daerah yang yang melakukan kajian atau penelitian tentang ekosistem terumbu karang Indikator Kinerja aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan terumbu karang di wilayahnya 2. 1. Kerjasama dengan media massa dalam mengkampayekan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan masyarakat luas 4. Intensitas penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem terumbu karang Pemberdayaan masyarakat pesisir. Tingkat pengangguran masyarakat pesisir Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-8 . Sosialisasi tentang dampak negatif dari pemanfaatan sumberdaya alam secara illegal 3. Pelatihan aspek manajerial usaha ekonomi masyarakat pesisir 3. Peningkatan ketrampilan 1. Pengembangan sistem investasi dan peluang usaha yang sinergis dengan pengelolaan terumbu karang 4. Pemberian materi tentang terumbu karang terhadap siswa-siswi mulai tingkat SD hingga SMA 5. Tingkat pendapatan rumah tangga masyarakat pesisir 2. Pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir 3. Bantuan permodalan untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat pesisir 2.

Bimbingan teknis pengembangan produk bernilai tambah dan jasa yang sinergis diperlukan dalam pengelolaan terumbu karang 1. Tingkat luasan kawasan ekosistem terumbu karang yang berkondisi baik Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-9 . Bimbingan teknis operasional dan perawatan teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan 1. Intensitas penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem terumbu karang 2. Percontohan implementasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan 3. Tingkat pendapatan rumah tangga masyarakat pesisir Pengembangan teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang efektif.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi Program Kerja masyarakat pesisir melalui pelatihan dan magang Indikator Kinerja Reposisi mata pencaharian masyarakat pesisir 1. Kajian teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan 2. efisien dan ramah lingkungan. Pengembangan kerjasama kemitraan dengan industri pariwisata 3. Pengembangan usaha alternatif untuk masyarakat pesisir 4. Identifikasi mata pencaharian dan peluang usaha yang produktif dan sinergis dengan pengelolaan terumbu karang 2. 1. Tingkat keragaman usaha masyarakat pesisir 2.

maka program kerja tersebut kemudian dituangkan dalam rencana pelaksanaan kegiatan.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Kebijakan Strategi Meningkatkan kerjasama dalam penyiapan tenaga kerja profesional untuk mengelola KKLD Program Kerja 1. Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi nasional dan internasional yang berkompeten untuk pendidikan dan pelatihan konservasi ekosistem terumbu karang Indikator Kinerja 1. Ratio kecukupan tenaga profesional pengelola KKLD 6. Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-10 .2 RENCANA PELAKSANAAN Agar program yang telah direncanakan berjalan sesuai dengan rencana.2. seperti yang ditampilkan pada Tabel 6.

Berkoordinasi dengan sektor perhubungan untuk menyediakan sarana transportasi yang aman dan nyaman Penyusunan atau penyempurnaan peraturan daerah tentang pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan Penguatan regulasi daerah yang Sosialisasi peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pengelolaan berkenaan dengan terumbu karang hingga ke tingkat desa pengelolaan terumbu karang Menyediakan bantuan hukum untuk mendukung masyarakat pesisir membuat dan mengesahkan peraturan tingkat desa (Perdes) berkenaan dengan pengelolaan terumbu karang oleh masyarakat X X X X Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-11 . infrastruktur sekunder (yang bersifat komersial) Berkoordinasi dengan sektor kehutanan untuk menjamin pemanfaatan hutan secara lestari Meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan kawasan terumbu Berkoordinasi dengan sektor pertambangan untuk mengendalikan limbah dan kegiatan pertambangan liar karang.2 Rencana Pelaksanaan Program Pengelolaan Terumbu Karang di Kabupaten Raja Ampat No Kebijakan Strategi Program Kerja Penyusunan master plan (rencana induk) wilayah pesisir dan laut Penataan zonasi wilayah pesisir Penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) pesisir dan laut dan laut Penetapan RTRW sebagai peraturan daerah Perda Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat.INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Tabel 6. swasta. dan pemerintah dalam pengelolaan terumbu karang Penyusunan sistem pengelolaan terumbu karang yang melibatkan semua pihak Fasilitasi pembinaan teknis dalam pengendalian dampak lingkungan terhadap terumbu karang X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Tahun ke 3 4 1 X 2 5 X X Optimalisasi pengelolaan 1 terumbu karang Membangun dan memperbaiki fasilitas infrastruktur primer yang menunjang Mengembangkan fasilitas pengelolaan terumbu karang infrastruktur terpadu yang menunjang pengelolaan terumbu Menciptakan iklim yang kondusif untuk pihak swasta dalam membangun karang.

controlling dan surveillance (MCS) berbasis masyarakat Pengembangan kelembagaan sistem MCS berbasis masyarakat Fasilitasi bimbingan teknis yang diperlukan dalam upaya partisipasi kegiatan MCS Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi pengawas lainnya Pembentukan forum lintas sektor untuk merencanakan dan mengevaluasi pembangunan kawasan pesisir dan laut Penyusunan model pengembangan kawasan pesisir dan laut terpadu Pengembangan daerah percontohan kawasan pesisir dan laut terpadu 1 X X Tahun ke 2 3 4 X X X X 5 Melakukan rehabilitasi dan pengaturan kegiatan pemanfaatan ikan di kawasan ekosistem terumbu karang dan sekitarnya X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Perlindungan Penegakan hukum secara dan terpadu rehabilitasi 2 ekosistem terumbu karang Penyerasian koordinasi antar sektor dalam merencanakan pembangunan wilayah pesisir dan laut Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-12 .INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG No Kebijakan Strategi Program Kerja Identifikasi dan Inventarisasi ekosistem terumbu karang Penguatan kawasan konservasi Penetapan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) laut daerah (KKLD) Penyusunan management plan KKLD Identifikasi lokasi rehabilitasi ekosistem terumbu karang Pelatihan teknis rehabilitasi dan pemeliharaan ekosistem terumbu karang Rehabilitasi kawasan-kawasan ekosistem terumbu karang yang rusak Pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan konservasi Penyusunan peraturan daerah mengenai tata pemanfaatan sumberdaya ikan di dan sekitar kawasan ekosistem terumbu karang Penetapan sanksi hukum dan sanksi sosial yang tegas bagi orang yang merusak ekosistem terumbu karang Penyusunan sistem keamanan lingkungan berbasis masyarakat yang efektif di kawasan ekosistem terumbu karang Bekerjasama dengan institusi hukum di daerah guna mengefektifkan dan mengefisienkan proses hukum Penyiapan perangkat dan tata laksana pengawasan Pengadaan sarana dan prasarana pengawasan Penguatan sistem monitoring.

INDIKASI PROGRAM KERJA PENGELOLAAN TERUMBU KARANG No Kebijakan Strategi Program Kerja Pengembangan sistem komunikasi dan informasi tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan Sosialisasi tentang dampak negatif dari pemanfaatan sumberdaya alam secara illegal 1 X X X X Tahun ke 2 3 4 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 5 X X X X X X Pemantapan kesadaran Kerjasama dengan media massa dalam mengkampayekan pentingnya masyarakat tentang pentingnya terumbu karang bagi kehidupan masyarakat luas terumbu karang bagi kehidupan Pemberian materi tentang terumbu karang terhadap siswa-siswi mulai tingkat SD hingga SMA Pemberian beasiswa terhadap putra daerah yang yang melakukan kajian atau penelitian tentang ekosistem terumbu karang Bantuan permodalan untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat pesisir Pelatihan aspek manajerial usaha ekonomi masyarakat pesisir Pengembangan sistem investasi dan peluang usaha yang sinergis dengan pengelolaan terumbu karang Peningkatan ketrampilan masyarakat pesisir melalui pelatihan dan magang Kajian teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan Pengembangan teknologi Percontohan implementasi teknologi pemanfaatan sumberdaya hayati laut pemanfaatan sumberdaya hayati yang tepat guna dan ramah lingkungan laut yang efektif. efisien dan Bimbingan teknis operasional dan perawatan teknologi pemanfaatan ramah lingkungan. sumberdaya hayati laut yang tepat guna dan ramah lingkungan Meningkatkan kerjasama dalam Menjalin dan memelihara jaringan kerjasama dengan institusi nasional dan penyiapan tenaga kerja internasional yang berkompeten untuk pendidikan dan pelatihan konservasi profesional untuk mengelola ekosistem terumbu karang KKLD Peningkatan kualitas hidup 3 Pemberdayaan masyarakat masyarakat pesisir pesisir X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat VI-13 .

BAB 7 Penutup LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.7 PENUTUP Maksud utama dari penyusunan rencana strategi pengelolaan terumbu karang Kabupaten Raja Ampat adalah menggagas strategi utama dan program kerja yang perlu diambil untuk mempercepat keberhasilan pengelolaan sumberdaya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. Karena. serta bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah dalam suatu pengaturan yang disepakati bersama. dan terpeliharanya daya dukung ekosistem terumbu karang secara seimbang dan berkelanjutan. oleh sebab itu sudah seharusnya Pemerintah Daerah dan masyarakat Raja Ampat perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap usaha untuk mendayagunakan sumberdaya terumbu karang yang dimilikinya guna mengembangkan daerahnya di masa kini dan masa mendatang. Kemudian. didasarkan pada kenyataan bahwa Kabupaten Raja Ampat memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati laut terbesar di dunia. Argumentasi utama dalam merumuskan rencana strategi ini. keindahan ekosistem terumbu karang dapat menjadi andalan dan modal bagi pembangunan Kabupaten Raja Ampat. untuk mewujudkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara optimal dan berkelanjutan ini. . Salah satu kunci keberhasilan dalam pengelolaan kawasan ekosistem terumbu karang adalah partisipasi aktif dan dukungan penuh dari masyarakat lokal yang sumber kehidupannya secara langsung bergantung pada hasil laut. tentu diperlukan koordinasi terpadu dan kerja keras dari semua pihak. Hal ini juga dapat memberikan arahan dalam mendayagunakan sumberdaya terumbu karang secara optimal dan berkelanjutan guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran) daerah.

TBC.November 22. Raja Ampat. Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP). 2002. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. 2003. Mambrisaw. Laporan Dohar. A. Report on o Rapid Ecological Assessment of the Raja Ampat Islands. TNC and WWF. Edecon Prima Mandiri. F.Omkarsba dan A. held October 30 . Hamel. Y. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat . S. Rumbekwan. Tahunan. 2006.G. 2005. Raja Ampat. dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. J. 2005. CI Indonesia bekerjasama dengan Universitas Papua. G. Indonesia. D. Akademi Perikanan Sorong. Suryadi (eds). Papua. Washington DC.. Lamatenggo. Atlas Sumberdoyo Pesisir dan Lout Kepulauon Raja Ampot (Distrik Woigeo Borot dan Woigeo Seioton). RAP Bulletin of Biological Assessment 22. I. Papua Province. 2006. 2006. Eastern Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. Sukmara.R. Liuw. Raja Ampat. Kerja Sama Antara Coremap tahap II. Wurliyanty. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat Provinsi Irian Jaya barat 2006. A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampot Islands. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di Kepulauan Raja Ampat. Ditjen PHKA BKSDA Papua II Departemen Kehutanan. B. Conservation International. Pemda Kabupaten Raja Ampat. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat dengan PT. WWF. Raja Ampat. 2002. dan Anggraeni. and S. Alien. McKenna. Laporan Akhir Survey Sosial Ekonomi Perikanan Kampung Friwen dan Kampung Saonek Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat. 2005. S. A. CI Indonesia.A. Eco Papua Alliance Raja Ampat..

DAFTAR PUSTAKA LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN RENCANA STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG KABUPATEN RAJA AMPAT .

CI Indonesia bekerjasama dengan Universitas Papua.A. Ditjen PHKA BKSDA Papua II Departemen Kehutanan. Eastern Indonesia. 2005. Atlas Sumberdoyo Pesisir dan Lout Kepulauon Raja Ampot (Distrik Woigeo Borot dan Woigeo Seioton). Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di Kepulauan Raja Ampat. Mambrisaw. Papua Province. 2005.. TNC and WWF. Edecon Prima Mandiri.R. Liuw. Washington DC. Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP). Raja Ampat. 2006. and S. Kerja Sama Antara Coremap tahap II. S. A. Pemda Kabupaten Raja Ampat. Report on o Rapid Ecological Assessment of the Raja Ampat Islands. B. CI Indonesia. Rumbekwan. Lamatenggo. Eco Papua Alliance Raja Ampat. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat Provinsi Irian Jaya barat 2006. Conservation International. dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. McKenna. D. Indonesia. Papua.G. 2005.November 22. S. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat. Laporan Akhir Survey Sosial Ekonomi Perikanan Kampung Friwen dan Kampung Saonek Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat. Suryadi (eds). Raja Ampat. Laporan Dohar. Sukmara. 2006. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat dengan PT. Raja Ampat. A. I. G. 2002. 2003. Wurliyanty.Omkarsba dan A. A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampot Islands. Tahunan. 2002. Hamel. Raja Ampat.. WWF. 2006. Y. F. Akademi Perikanan Sorong. held October 30 . TBC. Alien. dan Anggraeni. J.DAFTAR PUSTAKA Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. RAP Bulletin of Biological Assessment 22. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat .

PETA KONDISI TERUMBU KARANG DI KABUPATEN RAJA AMPAT Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat .Lampiran 1.

1 .Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat.2 . 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat.3 . 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .4 .

Sumber: Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Kabupaten Raja Ampat. 2006 Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 1 .1 .

Lampiran 2. GALERI FOTO KEGIATAN Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat .

1 .Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .

Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .2 .

3 .Peserta yang Hadir pada saat Penyampaian Presentasi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Suasana Diskusi setelah Presentasi Materi Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rentra Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .

Setelah Seminar Laporan Pendahuluan langsung diadakan Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Suasana Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .4 .

Pembukaan Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Pembukaan Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .5 .

Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .6 .

Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .7 .

8 .Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Suasana Diskusi Presentasi Draft Laporan Akhir Kegiatan Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Raja Ampat Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat Lampiran 2 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful