Anda di halaman 1dari 250

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS


LAPORAN KEUANGAN
KEJAKSAAN RI
TAHUN 2009

Nomor : 31a/HP/XIV/05/2010
Tanggal : 10 Mei 2010

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


Jl. Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210
Telp/Faks (021) 5738725
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI................................................................................................................... i
SISTEMATIKA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN
KEUANGAN KEJAKSAAN RI TAHUN 2009 .......................................................... ii
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN .................... 1
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN ..................................................................... 3
1. Dasar Hukum Pemeriksaan .................................................................................... 3
2. Tujuan Pemeriksaan ............................................................................................... 3
3. Sasaran Pemeriksaan .............................................................................................. 3
4. Standar Pemeriksaan .............................................................................................. 3
5. Metode Pemeriksaan .............................................................................................. 3
6. Waktu Pemeriksaan ................................................................................................ 5
7. Obyek Pemeriksaan ................................................................................................ 5
8. Batasan Pemeriksaan.............................................................................................. 5
LAPORAN KEUANGAN KEJAKSAAN RI TAHUN 2009

BPK RI LHP LK Kejaksaan RI Tahun 2009 i


SISTEMATIKA LAPORAN
HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KEJAKSAAN RI
TAHUN 2009

Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 terdiri dari tiga laporan
sebagai berikut:
1. Laporan I: Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Laporan I berisi: (a) Hasil pemeriksaan yang memuat opini BPK RI; (b) Gambaran
umum pemeriksaan yang berisi dasar hukum pemeriksaan, tujuan pemeriksaan,
sasaran pemeriksaan, standar pemeriksaan, metode pemeriksaan, waktu
pemeriksaan, obyek pemeriksaan, dan batasan pemeriksaan; dan (c) Laporan
Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009.
2. Laporan II: Laporan Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern
Laporan II berisi: (a) Resume Hasil Pemeriksaan; (b) Temuan Pemeriksaan Sistem
Pengendalian Intern (SPI) Tahun 2009; dan (c) Tindak lanjut temuan pemeriksaan
SPI Tahun 2004 s.d. Tahun 2008.
3. Laporan III: Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan terhadap
Peraturan Perundang-undangan
Laporan III berisi: (a) Resume Hasil Pemeriksaan; (b) Temuan Pemeriksaan
Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan Tahun 2009; dan (c) Tindak
lanjut temuan pemeriksaan kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan
Tahun 2005 s.d. Tahun 2008.

BPK RI LHP LK Kejaksaan RI Tahun 2009 ii


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan Undang-Undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK RI) telah memeriksa Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2009 dan 2008, serta
Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.
Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Kejaksaan RI. Tanggung jawab BPK RI
terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan.
BPK RI melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK RI merencanakan dan melaksanakan
pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-
bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Prinsip Akuntansi yang digunakan dan estimasi
signifikan yang dibuat oleh Kejaksaan RI, serta penilaian terhadap penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. BPK RI yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan
dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Dalam Laporan BPK RI Nomor 41a/HP/XIV/04/2009 tanggal 30 April 2009, BPK RI
tidak menyatakan pendapat atas Neraca Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2008 dan
Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut karena
masalah-masalah: (1) Belum adanya prosedur pencatatan dan pelaporan Uang Pengganti
memadai dan dibakukan oleh Kejaksaan Agung yang dapat menjamin akurasi data dalam
Neraca Kejaksaan RI; (2) Hasil inventarisasi dan revaluasi dari Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara (DJKN) belum selesai dan tidak dijadikan sebagai saldo awal Aset
Tetap tahun 2008; (3) Inventarisasi fisik persediaan barang rampasan dan non rampasan
belum dilakukan secara periodik. Selain itu, persediaan barang rampasan belum
dilaporkan dan diungkapkan dalam Neraca; (4) Akun Kas di Bendahara Pengeluaran
masih memuat saldo tahun 2005 - 2008 yang belum dicatat penyelesaiannya; (5)
Rekonsiliasi untuk menelusuri perbedaan data pendapatan antara Kejaksaan RI dan
Departemen Keuangan belum sepenuhnya dilakukan.
Pada tahun 2009, Kejaksaan RI telah melakukan hal-hal berikut, yaitu: (1) Pencatatan
dan pelaporan Uang Pengganti secara manual, akumulatif, dan berjenjang dari tingkat
satker ke tingkat di atasnya; (2) Penyelesaian inventarisasi dan penilaian kembali aset

BPK RI LHP LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 1 dari 5


tetap bersama DJKN; (3) Pencatatan dan pelaporan persediaan barang rampasan yang
telah memiliki harga wajar; (4) Penyesuaian pencatatan dan pelaporan akun Kas di
Bendahara Pengeluaran dengan kondisi riil kas pada tanggal neraca; dan (5) Rekonsiliasi
untuk menelusuri perbedaan data pendapatan antara Kejaksaan RI dan Departemen
Keuangan.
Namun demikian, Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 tidak melaporkan adanya
tunggakan denda tilang yang diputus verstek oleh pengadilan yang sampai dengan tanggal
pelaporan belum dibayar oleh para pelanggar lalu lintas. Selain itu, Laporan Keuangan
Kejaksaan RI tidak mengungkapkan tentang barang-barang rampasan yang pada tanggal
pelaporan belum memiliki taksiran harga dan barang-barang sitaan bernilai ekonomis
yang berada dalam pengawasan Kejaksaan RI. Menurut pendapat kami, pelaporan dan
pengungkapan informasi ini diwajibkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan.
Menurut pendapat BPK RI, kecuali untuk dampak tidak disajikannya informasi yang
diuraikan dalam paragraf di atas, Neraca Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2009 dan
Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Kejaksaan RI tanggal 31
Desember 2009 dan realisasi anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut,
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan
keuangan tersebut, BPK RI melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern
dan kepatuhan terhadap ketentuan perundangan-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan
atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan
Perundangan-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 31b/HP/XIV/05/2010 dan
Nomor 31c/HP/XIV/05/2010 Tanggal 10 Mei 2010, yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 10 Mei 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab Pemeriksaan

Gatot Supiartono, S.H., M.Acc., C.F.E., Ak.


Akuntan Register Negara No.D-5.747

BPK RI LHP LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 2 dari 5


GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN

1. Dasar Hukum Pemeriksaan


1) Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2) UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3) UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara;
4) UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

2. Tujuan Pemeriksaan
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 bertujuan untuk
memberikan opini atas kewajaran Laporan Keuangan Kejaksaan RI dengan
memperhatikan:
1) Kesesuaian Laporan Keuangan Kejaksaan RI yang diperiksa dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP);
2) Kecukupan pengungkapan informasi keuangan dalam laporan keuangan sesuai
dengan pengungkapan yang seharusnya dibuat seperti disebutkan SAP;
3) Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan terkait dengan pelaporan
keuangan; dan
4) Efektivitas Sistem Pengendalian Intern (SPI).

3. Sasaran Pemeriksaan
Sasaran pemeriksaan atas LK Kejaksaan RI meliputi:
a. Pemantauan tindak lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Kejaksaan RI Tahun 2008, 2007, 2006, 2005, dan 2004;
b. Penilaian kepatuhan atas ketentuan perundang-undangan terkait dengan penyajian
Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009;
c. Penilaian efektivitas pengendalian intern terkait penyajian laporan keuangan,
termasuk aplikasi komputer yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan;
dan
d. Pengujian substantif atas transaksi-transaksi Tahun Anggaran 2009 dan saldo
yang disajikan dalam Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009.

4. Standar Pemeriksaan
Peraturan BPK RI Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (SPKN).

5. Metode Pemeriksaan
Secara umum pemeriksaan dilaksanakan dengan pendekatan sebagai berikut:
5.1 Pendekatan Risiko
Metodologi yang diterapkan dalam melakukan pemeriksaan terhadap Laporan
Keuangan Kejaksaan RI menggunakan pendekatan risiko, yang didasarkan pada

BPK RI LHP LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 3 dari 5


pemahaman dan pengujian atas efektivitas SPI penyusunan laporan keuangan.
Hasil pemahaman dan pengujian tersebut akan menentukan tingkat keandalan
asersi manajemen dan ketentuan yang berlaku.
Penetapan risiko pemeriksaan (audit risk) simultan dengan tingkat keandalan
pengendalian (risiko pengendalian) serta tingkat risiko bawaan (inherent risk)
entitas yang akan diperiksa dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan
risiko deteksi (detection risk) yang diharapkan dan jumlah pengujian yang akan
dilakukan serta menentukan fokus pemeriksaan.
5.2 Materialitas
Pertimbangan atas tingkat materialitas meliputi kegiatan: (1) Penetapan tingkat
materialitas awal (Planning Materiality/PM) yang merupakan tingkat materialitas
pada keseluruhan laporan keuangan yaitu sebesar 1% dari total realisasi belanja
dengan pertimbangan opini hasil pemeriksaan tahun sebelumnya atas LK
Kejaksaan RI adalah ”tidak menyatakan pendapat”. Akun signifikan adalah akun-
akun yang saldonya sama dengan atau melebihi 50% dari PM. Selanjutnya untuk
tingkat akun, ditetapkan kesalahan tertolerir (Tolerable Error/TE) secara
proporsional sesuai dengan saldo akun. Standar materialitas di atas tidak berlaku
atas penyimpangan yang mengandung unsur kolusi korupsi dan nepotisme (KKN)
dan pelanggaran hukum.
5.3 Uji petik pemeriksaan (sampling audit)
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara melakukan pengujian secara uji petik atas
unit-unit dalam populasi yang akan diuji. Kesimpulan pemeriksaan akan
diperoleh berdasarkan hasil uji petik yang dijadikan dasar untuk menggambarkan
kondisi dari populasinya. Dalam pemeriksaan ini, pemeriksa dapat menggunakan
metode non statistical sampling atau metode statistical sampling dengan
memperhatikan kecukupan jumlah sampel yang dipilih baik dari segi rupiah atau
jenis transaksinya. Penggunaan metode uji petik baik statistik maupun non
statistik harus didokumentasikan di dalam KKP. Dokumentasi tersebut antara lain
mengungkapkan alasan penggunaan dan gambaran umum metode uji petik
tersebut.
5.4 Pelaporan
Pemeriksa menyusun Konsep Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Kejaksaan RI apabila menemukan permasalahan yang perlu dikomunikasikan
kepada Kejaksaan RI. Permasalahan tersebut meliputi (1) ketidakefektifan sistem
pengendalian intern, (2) kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan, (3) ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan yang signifikan, dan (4) ikhtisar koreksi.
Konsep Temuan Pemeriksaan tersebut disampaikan ketua tim pemeriksa kepada
pejabat Kejaksaan RI yang berwenang untuk mendapatkan tanggapan tertulis dan
resmi. Setelah Konsep Temuan Pemeriksaan disampaikan ketua tim pemeriksa
kepada Kejaksaan RI, tim pemeriksa membahas temuan tersebut dengan pejabat

BPK RI LHP LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 4 dari 5


entitas yang berwenang di Kejaksaan RI. Penolakan atas ikhtisar koreksi, temuan
SPI dan ketidakpatuhan dapat berpengaruh terhadap opini.
Tanggapan resmi dan tertulis atas konsep TP diperoleh dari pejabat Kejaksaan RI
yang berwenang. Tanggapan tersebut akan diungkapkan dalam Temuan
Pemeriksaan atas LK Kejaksaan RI. Temuan pemeriksaan atas LK Kejaksaan RI
diserahkan oleh ketua tim kepada pejabat Kejaksaan RI yang berwenang.
Penyampaian Temuan Pemeriksaan atas LK Kejaksaan RI tersebut merupakan
akhir dari pekerjaan lapangan pemeriksaan LK Kejaksaan RI.

6. Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan dilaksanakan selama 55 hari sejak tanggal 16 Februari sampai dengan
20 April 2010.

7. Obyek Pemeriksaan
Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009.

8. Batasan Pemeriksaan
Semua informasi yang disajikan dalam laporan keuangan merupakan tanggung jawab
manajemen Kejaksaan RI. Oleh karena itu, BPK RI tidak bertanggung jawab
terhadap salah interpretasi dan kemungkinan pengaruh atas informasi yang tidak
diberikan baik yang sengaja maupun tidak disengaja oleh manajemen.
Pemeriksaan BPK RI meliputi prosedur-prosedur yang dirancang untuk memberikan
keyakinan yang memadai dalam mendeteksi adanya kesalahan dan salah saji yang
berpengaruh material terhadap laporan keuangan. Pemeriksaan BPK RI tidak
ditujukan untuk menemukan kesalahan atau penyimpangan. Walaupun demikian, jika
dari hasil pemeriksaan ditemukan penyimpangan, akan diungkapkan.
Dalam melaksanakan pemeriksaan, BPK RI juga menyadari kemungkinan adanya
perbuatan-perbuatan melanggar hukum yang terjadi. Namun pemeriksaan BPK tidak
memberikan jaminan bahwa semua tindakan melanggar hukum akan terdeteksi dan
hanya memberikan jaminan yang wajar bahwa tindakan melanggar hukum yang
berpengaruh secara langsung dan material terhadap angka-angka dalam laporan
keuangan akan terdeteksi. BPK RI akan menginformasikan bila ada perbuatan-
perbuatan melanggar hukum atau kesalahan/penyimpangan material yang ditemukan
selama pemeriksaan.
Dalam melaksanakan pengujian kepatuhan atas peraturan perundang-undangan, kami
memprioritaskan pengujian pada kepatuhan instansi atas peraturan perundang-
undangan yang terkait langsung dengan penyusunan laporan keuangan. Hal ini tidak
menutup kemungkinan bahwa masih terdapat ketidakpatuhan pada peraturan yang
tidak teridentifikasi.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

BPK RI LHP LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 5 dari 5


BAGIAN ANGGARAN 006

LAPORAN KEUANGAN
KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

TAHUN ANGGARAN 2009

(AUDITED)

Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru


JAKARTA SELATAN
Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009. Audited

IV. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (AUDITED)

A. PENJELASAN UMUM
Dasar Hukum A.1. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan
dan Kinerja Instansi Pemerintah.
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
6. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat.
7. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER 51/PB/ tahun
2008 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian
Negara/Lembaga.

A.2. KEBIJAKAN TEKNIS KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA


Rencana
Strategis RENCANA STRATEGIS KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

Pendapatan PENDAPATAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA


Realisasi Pendapatan Tahun 2009 Rp.795.611.389.511,- mengalami
peningkatan jika dibandingkan dengan Tahun 2008 Rp.168.234.795.077,- yaitu
sebesar Rp.627.376.594.434,-

Belanja
BELANJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
Realisasi belanja Tahun 2009 Rp.1.602.062.818.632,- yaitu sebesar 83,82%
dari anggaran sebesar Rp.1.911.212.782.000,-

A.3. PENDEKATAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN


Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 merupakan laporan yang
mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh entitas pelaporan
Kejaksaan RI termasuk di dalamnya jenjang struktural di bawah Kejaksaan RI
seperti eselon I, kantor wilayah, serta satuan kerja yang bertanggung jawab atas
otorisasi kredit anggaran yang diberikan kepadanya. Laporan Keuangan
Kejaksaan RI disusun berdasarkan penggabungan data/laporan keuangan
satuan kerja Kejaksaan RI
Kejaksaan RI Tahun 2009 ini memperoleh anggaran yang berasal dari
APBN sebesar Rp.1.911.212.782.000,- meliputi:
• Satuan kerja pusat/KP sebesar Rp. 574.008.315.000,-

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 3


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009. Audited
• Satuan kerja daerah/KD sebesar Rp. 1.337.204.467.000,-
Jumlah satuan kerja di lingkup Kementerian Negara kejaksaan RI adalah
500 satker. Dari jumlah tersebut satker yang menyampaikan laporan keuangan
dan dikonsolidasikan sejumlah 500 satker (100 %), sedangkan yang tidak
menyampaikan laporan keuangan sejumlah 0 satker (0 %). Rincian satuan kerja
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel I
Rekapitulasi Jumlah Satker Menurut Eselon 1
Jumlah Jenis Kewenangan
Kode Jumlah
No Uraian KP KD DK TP
Eselon I Satker
M TM M TM M TM M TM

1 01 Jaksa Agung 5 - 495


Muda
Pembinaan

Jumlah 5 - 495

Keterangan:
M = Menyampaikan LK
TM = Tidak menyampaikan LK

Selain memperoleh dana dari DIPA BA 06, juga mengelola dana yang
berasal BA 999 (Belanja Lain-lain) sebesar Rp. 8.310.754.000,-
Laporan Keuangan dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI),
yang terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Informasi
Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN).
SAI dirancang untuk menghasilkan Laporan Keungan Kementerian
Negara/Lembaga (LKKL) yang terdiri dari:
1. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran disusun berdasarkan penggabungan Laporan
Realisasi Anggaran seluruh entitas akuntansi yang berada di bawah
Kejaksaan RI. Laporan Realisasi APBN terdiri dari Pendapatan Negara dan
Hibah dan Belanja.

2. Neraca
Neraca disusun berdasarkan penggabungan neraca entitas akuntansi yang
berada di bawah Kejaksaan RI dan disusun melalui SAI.

3. Catatan atas Laporan Keuangan


Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang pendekatan
penyusunan laporan keuangan, penjelasan atau daftar terinci atau analisis
atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan
Neraca dalam rangka pengungkapan yang memadai.
Kebijakan
Akuntansi A.4. KEBIJAKAN AKUNTANSI
Laporan Realisasi Anggaran disusun menggunakan basis kas yaitu basis

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 4


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009. Audited
akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat
kas atau setara kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN) atau dikeluarkan
dari KUN.
Penyajian aset, kewajiban, dan ekuitas dana dalam Neraca diakui
berdasarkan basis akrual, yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan
timbulnya kewajiban tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima
atau dikeluarkan dari KUN.
Penyusunan dan penyajian LK Tahun 2009 telah mengacu pada Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Dalam penyusunan LKKL telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan
yang sehat di lingkungan pemerintahan.
Prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan LK Kejaksaan RI
adalah :

Pendapatan (1) Pendapatan


Pendapatan adalah semua penerimaan KUN yang menambah ekuitas dana
lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang menjadi hak
pemerintah pusat dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah pusat.
Pendapatan diakui pada saat kas diterima pada KUN. Akuntansi pendapatan
dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan
penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran). Pendapatan disajikan sesuai
dengan jenis pendapatan.

Belanja (2) Belanja


Belanja adalah semua pengeluaran KUN yang mengurangi ekuitas dana
lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah pusat. Belanja diakui pada saat
terjadi pengeluaran kas dari KUN. Khusus pengeluaran melalui bendahara
pengeluaran, pengakuan belanja terjadi pada saat pertanggungjawaban atas
pengeluaran tersebut disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara (KPPN). Belanja disajikan di muka (face) laporan keuangan menurut
klasifikasi ekonomi/jenis belanja, sedangkan di Catatan atas Laporan
Keuangan, belanja disajikan menurut klasifikasi organisasi dan fungsi.

Aset (3) Aset


Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh
pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat
ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik
oleh pemerintah maupun oleh masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan
uang, termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk
penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang
dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Dalam pengertian aset ini
tidak termasuk sumber daya alam seperti hutan, kekayaan di dasar laut, dan
kandungan pertambangan. Aset diakui pada saat diterima atau pada saat
hak kepemilikan berpindah.
Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Investasi, Aset Tetap, dan Aset
Lainnya.

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 5


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009. Audited

Aset Lancar a. Aset Lancar


Aset Lancar mencakup kas dan setara kas yang diharapkan segera
untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12
(dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset lancar ini terdiri dari kas,
piutang, dan persediaan.
Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai nominal. Kas dalam
bentuk valuta asing disajikan di neraca dengan menggunakan kurs
tengah BI pada tanggal neraca.
Piutang dinyatakan dalam neraca menurut nilai yang timbul berdasarkan
hak yang telah dikeluarkan surat keputusan penagihannya.
Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan Tuntutan Ganti Rugi (TGR)
yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca
disajikan sebagai bagian lancar TPA/TGR.
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan
yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah,
dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan
dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
Persediaan dicatat di neraca berdasarkan:
- harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian,
- harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri,
- harga wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh
dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.
**)
Investasi b. Investasi
Investasi adalah aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat
ekonomik seperti bunga, dividen dan royalti, atau manfaat sosial
sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka
pelayanan kepada masyarakat.
Investasi pemerintah diklasifikasikan kedalam investasi jangka pendek
dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek adalah investasi
yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki dalam
kurun waktu setahun atau kurang. Investasi jangka panjang adalah
investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari setahun.
Investasi jangka panjang dibagi menurut sifat penanaman investasinya,
yaitu non permanen dan permanen.
(i) Investasi Non Permanen
Investasi non permanen adalah investasi jangka panjang yang tidak
termasuk dalam investasi permanen dan dimaksudkan untuk dimiliki
secara tidak berkelanjutan. Investasi non permanen sifatnya bukan
penyertaan modal saham melainkan berupa pinjaman jangka
panjang yang dimaksudkan untuk pembiayaan investasi perusahaan
negara/ daerah, pemerintah daerah, dan pihak ketiga lainnya.
Investasi Non Permanen meliputi:

**)
jika terdapat transaksi investasi pada kementerian negara/lembaga yang bersangkutan

.
Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 6
Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009. Audited
 Seluruh dana pemerintah yang bersumber dari dana pinjaman luar
negeri yang diteruspinjamkan melalui Subsidiary Loan Agreement
(SLA) dan dana dalam negeri dalam bentuk Rekening Dana
Investasi (RDI) dan Rekening Pembangunan Daerah (RPD) yang
dipinjamkan kepada BUMN/BUMD dan Pemda.
 Seluruh dana pemerintah yang diberikan dalam bentuk Pinjaman
Dana Bergulir kepada pengusaha kecil, anggota koperasi, anggota
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), nasabah Lembaga Dana
Kredit Pedesaan (LDKP), nasabah Usaha Simpan Pinjam/Tempat
Simpan Pinjam (USP/TSP) atau nasabah BPR.
(ii) Investasi Permanen
Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang
dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan. Investasi permanen
dimaksudkan untuk mendapatkan dividen atau menanamkan
pengaruh yang signifikan dalam jangka panjang. Investasi permanen
meliputi seluruh Penyertaan Modal Negara (PMN) pada perusahaan
negara, lembaga internasional, dan badan usaha lainnya yang bukan
milik negara. PMN pada badan usaha atau badan hukum lainnya
yang sama dengan atau lebih dari 51 persen disebut sebagai Badan
Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan Hukum Milik Negara (BHMN).
PMN pada badan usaha atau badan hukum lainnya yang kurang dari
51 persen (minoritas) disebut sebagai Non BUMN.
PMN dapat berupa surat berharga (saham) pada suatu perseroan
terbatas dan non surat berharga, yaitu kepemilikan modal bukan
dalam bentuk saham pada perusahaan yang bukan perseroan.

Penilaian investasi jangka panjang diprioritaskan menggunakan metode


ekuitas. Jika suatu investasi bisa dipastikan tidak akan diperoleh kembali
atau terdapat bukti bahwa investasi hendak dilepas, maka digunakan
metode nilai bersih yang direalisasikan. Investasi dalam bentuk pinjaman
jangka panjang kepada pihak ketiga dan non earning asset atau hanya
sebagai bentuk partisipasi dalam suatu organisasi, seperti penyertaan
pada lembaga-lembaga keuangan internasional, menggunakan metode
biaya.
Investasi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs tengah BI
pada tanggal transaksi. Pada setiap tanggal neraca, pos investasi dalam
mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan
menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca.

Aset Tetap c. Aset Tetap


Aset tetap mencakup seluruh aset yang dimanfaatkan oleh pemerintah
maupun untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih
dari satu tahun. Aset tetap dilaporkan pada neraca kementerian
negara/lembaga per 31 Desember 2009 berdasarkan harga perolehan.
Pengakuan aset tetap yang perolehannya sejak tanggal 1 Januari 2002
didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi, yaitu:
(a.) Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan
olah raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp300.000
(tiga ratus ribu rupiah), dan
(b.) Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 7


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009. Audited
dengan atau lebih dari Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
(c.) Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum
kapitalisasi tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali
pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap
lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak
kesenian.

Aset Lainnya d. Aset Lainnya


Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar, investasi jangka
panjang, dan aset tetap. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah Tagihan
Penjualan Angsuran (TPA), Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang
jatuh tempo lebih dari satu tahun, Kemitraan dengan Pihak Ketiga, Dana
yang Dibatasi Penggunaannya, Aset Tak Berwujud, dan Aset Lain-lain.
TPA menggambarkan jumlah yang dapat diterima dari penjualan aset
pemerintah secara angsuran kepada pegawai pemerintah yang dinilai
sebesar nilai nominal dari kontrak/berita acara penjualan aset yang
bersangkutan setelah dikurangi dengan angsuran yang telah dibayar
oleh pegawai ke kas negara atau daftar saldo tagihan penjualan
angsuran.
TGR merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap bendahara/
pegawai negeri bukan bendahara dengan tujuan untuk menuntut
penggantian atas suatu kerugian yang diderita oleh negara sebagai
akibat langsung ataupun tidak langsung dari suatu perbuatan yang
melanggar hukum yang dilakukan oleh bendahara/pegawai tersebut atau
kelalaian dalam pelaksanaan tugasnya.
TPA dan TGR yang akan jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan
setelah tanggal neraca disajikan sebagai aset lainnya.
Kemitraan dengan pihak ketiga merupakan perjanjian antara dua pihak
atau lebih yang mempunyai komitmen untuk melaksanakan kegiatan
yang dikendalikan bersama dengan menggunakan aset dan/atau hak
usaha yang dimiliki.
Aset Tak Berwujud merupakan aset yang dapat diidentifikasi dan tidak
mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam
menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya
termasuk hak atas kekayaan intelektual. Aset Tak Berwujud meliputi
software komputer; lisensi dan franchise; hak cipta (copyright), paten,
goodwill, dan hak lainnya, hasil kajian/penelitian yang memberikan
manfaat jangka panjang.
Aset Lain-lain merupakan aset lainnya yang tidak dapat dikategorikan
ke dalam TPA, Tagihan TGR, Kemitraan dengan Pihak Ketiga, maupun
Dana yang Dibatasi Penggunaannya. Aset lain-lain dapat berupa aset
tetap pemerintah yang dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah.
Di samping itu, piutang macet kementerian negara/lembaga yang
dialihkan penagihannya kepada Departemen Keuangan cq. Ditjen
Kekayaan Negara juga termasuk dalam kelompok Aset Lain-lain.

Kewajiban (4) Kewajiban


Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 8


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009. Audited
pemerintah. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain
karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat,
lembaga keuangan, entitas pemerintahan lain, atau lembaga internasional.
Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang
bekerja pada pemerintah. Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut
hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan
perundang-undangan.
Kewajiban pemerintah diklasifikasikan kedalam kewajiban jangka pendek
dan kewajiban jangka panjang.
a. Kewajiban Jangka Pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika
diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan
setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Utang
Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), Bagian Lancar Utang Jangka Panjang,
Utang Bunga (accrued interest) dan Utang Jangka Pendek Lainnya.
b. Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika
diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua
belas bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban dicatat sebesar nilai
nominal, yaitu sebesar nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama
kali transaksi berlangsung.
Aliran ekonomi sesudahnya seperti transaksi pembayaran, perubahan
penilaian karena perubahan kurs mata uang asing, dan perubahan
lainnya selain perubahan nilai pasar, diperhitungkan dengan
menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut.

Ekuitas Dana
(5) Ekuitas Dana
Ekuitas dana merupakan kekayaan bersih pemerintah, yaitu selisih antara aset
dan utang pemerintah. Ekuitas dana diklasifikasikan Ekuitas Dana Lancar dan
Ekuitas Dana Investasi. Ekuitas Dana Lancar merupakan selisih antara aset
lancar dan utang jangka pendek. Ekuitas Dana Investasi mencerminkan selisih
antara aset tidak lancar dan kewajiban jangka panjang.

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 9


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

B. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN

B.1. PENJELASAN UMUM LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Realisasi anggaran pada TA 2009 terdiri dari:


1. Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah
a. Penerimaan Perpajakan (khusus Departemen Keuangan)
b. Penerimaan Negara Bukan Pajak
c. Penerimaan Hibah

2. Realisasi Belanja Negara


a. Belanja Rupiah Murni
b. Belanja Pinjaman Luar Negeri
c. Belanja Rupiah Pendamping
d. Belanja Hibah
e. Belanja PNBP
f. Belanja BLU

%
No Uraian Anggaran Realisasi Real.
Angg.
1 Realisasi Pendapatan Negara dan
Hibah Rp 16.974.958.203 Rp 795.611.389.511 4686,97%
-Penerimaan Pajak Rp - Rp -
- Penerimaan Negara Bukan Pajak Rp 16.974.958.203 Rp 795.611.389.511 4686,97%
-Penrimaan hibah Rp - Rp -
2 Realisasi Belanja Negara Rp 1.911.212.782.000 Rp 1.602.062.818.632 83,82%
- Belanja Rupiah Murni Rp 1.911.212.782.000 Rp 1.602.062.818.632 83,82%
- Belanja Pinjaman LN Rp - Rp -
- Belanja Rupiah Pendamping Rp - Rp -
- Belanja Hibah Rp - Rp -
- Belanja PNBP Rp - Rp -
- Belanja BLU Rp - Rp -

B.2. PENJELASAN PER POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN


Realisasi B.2.1. Pendapatan Negara dan Hibah
Pendapatan
Negara dan Pendapatan Negara dan Hibah terhadap anggaran Negara dan Hibah TA 2009 sebesar
Hibah Rp.
Rp. 795.611.389.511,-
795.611.389.
511,-
Contoh Komposisi realisasi Pendapatan Negara dan Hibah (dalam persentase) TA 2009
dapat dilihat pada Grafik dibawah ini:

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 10


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

Realisasi Pendapatan per Jenis Penerimaan

1.591.222.779
Milyaran
Rupiah

Pendapatan

Pendapatan
2008

Pendapatan
2009
Hibah

PNBP

Pajak
2009
2008

Grafik: Komposisi Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2009

Realisasi B.2.1.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak


PNBP Rp.
795.611.389. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 sebesar Rp. 795.611.389.5110,- .
511,- dan untuk TA 2008 sebesar Rp. 168.234.795.077,-

800.000.000.000

700.000.000.000

600.000.000.000

500.000.000.000

400.000.000.000

300.000.000.000
Series1
200.000.000.000
Series2
100.000.000.000
0
Pendapatan Negara
Bukan Pajak

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 11


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

Realisasi PNBP dirinci dalam tabel seperti contoh di bawah ini:

Uraian 1 Jan/31 Des 2009 1 Jan/31 Des 2008 % Naik/(Turun)


Pendapatan Penjualan Hasil 98.098.244.042 62.423.071.492 57,15%
Sitaan/Rampasan dan Harta
Pendapatan Penjualan Dokumen- 163.701.360 43.418.650 277,03%
dokumen Pelelangan
Pendapatan Penjualan Lainnya 3.400.000 25.116.000 -86,46%
Pendapatan Penjualan Rumah, 7.121.348 38.494.070 -81,50%
Gedung, Bangunan dan Tanah
Pendapatan Penjualan Kendaraan 5.980.000 14.078.500 -57,52%
Bermotor
Pendapatan Penjualan Aset Lainnya 683.641.500 260.994.200 161,94%
yang Berlebih/Rusak/Dihapuskan
Pendapatan Sewa Rumah 938.226.749 873.059.125 7,46%
Dinas/Rumah Negeri
Pendapatan Sewa Gedung, Bangunan, 0 250.000 -100,00%
dan Gudang
Pendapatan Sewa Benda-benda Tak 0 26.400.000 -100,00%
Bergerak Lainnya
Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan 2.647.410.684 313.492.314 744,49%
(Jasa Giro)
Pendapatan Belum Terdefinisikan 5.400.000 0 100,00%
Pendapatan Jasa Lainnya 0 14.650.227 -100,00%
Pendapatan Bunga Lainnya 0 301.330 -100,00%
Pendapatan Hasil Denda/Tilang dan 115.927.515.213 79.998.759.076 44,91%
sebagainya
Pendapatan Ongkos Perkara 3.027.241.288 2.220.176.656 36,35%
Pendapatan Kejaksanaan dan 3.707.327.587 2.941.821.689 26,02%
Peradilan Lainnya
Pendapatan Uang Sitaan Hasil Korupsi 551.094.747.328 4.266.957.643 12815,40%
yang Telah Ditetapkan Pengadilan
Pendapatan uang pengganti tindak 17.727.846.461 13.777.139.526 28,68%
pidana korupsi yang ditetapkan di
Pendapatan Denda Keterlambatan 14.546.500 116.415.848 -87,50%
Penyelesaian Pekerjaan Pemerintah
Penerimaan Kembali Belanja Pegawai 341.391.546 251.486.576 35,75%
Pusat TAYL
Penerimaan Kembali Belanja Lainnya 403.516.869 191.306.195 110,93%
RM TAYL
Pendapatan Pelunasan Ganti Rugi atas 549.679.650 149.065.056 268,75%
Kerugian yang Diderita Oleh Negara
(Masuk TP/TGR) Bendahara
Penerimaan Kembali Persekot/Uang 42.696.143 64.377.226 -33,68%
Muka Gaji
Pendapatan Anggaran Lain-lain 221.755.243 223.963.678 -0,99%
Jumlah 795.611.389.511 168.234.795.077 372,92%

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 12


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

2009 2008

Rp3.707.327
Rp588.589.464
Rp2.941.821 Rp551.094.747

Rp4.266.957

Rp392.392.976 Rp98.098.244
Rp115.927.515
Rp62.423.071
Rp79.998.759
Rp17.727.846

Rp3.027.241
Rp196.196.488 Rp13.777.139

Rp2.220.176

Rp6.023.067
Rp- 2008
Rp2.565.267
Hasil
Sitaan
Hasil
Ongkos 2009
Denda/Til Kejaksaan
atau Perkara Uang
ang dan Uang
Rampasa Sitaan Pendapat
Peradilan Pengganti
n Hasil an lain-
Lainnya Tindak
Korupsi lain
Pidana
Korupsi

Grafik: Komposisi Realisasi Penerimaan PNBP TA 2009

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 13


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

Realisasi B.2.2. Belanja Negara


Belanja
Negara Realisasi Belanja terdiri dari Belanja Rupiah Murni
Rp1.602.062.
818.632,-
Komposisi alokasi Belanja juga dapat disajikan seperti grafik di bawah ini:

4.000.000

Ribuan Rupiah

1.602.063
1.621.987

Tahun 2009

Tahun 2008
0
0 0
Tahun 2008
Bel. Rp. Murni
Tahun 2009
Bel. Pinjaman LN

Grafik : Komposisi Alokasi Belanja TA 2009

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 14


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

Realisasi B.2.2.1. Belanja


Belanja
Rp.1.602.071 Komposisi realisasi Belanja Pemerintah Pusat menurut jenis belanja dapat disajikan
.896.048,- seperti Grafik di bawah ini:

Belanja
Pemerintah
Pusat
menurut
Jenis Belanja

Grafik: Komposisi Realisasi Belanja Pemerintah Pusat menurut Jenis Belanja TA


2009

Belanja
Pegawai Belanja Pegawai
Rp.791.374.2 Rincian realisasi Belanja Pegawai adalah sebagai berikut:
77.053,-

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 15


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

Uraian 31-Des-09 31-Des-08 % naik/(turun)


Belanja Gaji dan Tunjangan PNS Rp 489.284.296.582 Rp 411.257.942.072 11,90%
Belanja Pembulatan Gaji PNS Rp 70.234.143 Rp 54.108.084 12,98%
Belanja Tunj. Suami/Istri PNS Rp 33.179.960.208 Rp 28.165.884.136 11,78%
Belanja Tunj. Anak PNS Rp 9.573.864.770 Rp 8.296.222.069 11,54%
Belanja Tunj. Struktural PNS Rp 18.359.295.425 Rp 17.861.599.998 10,28%
Belanja Tunj. Fungsional PNS Rp 103.431.016.194 Rp 101.755.291.718 10,16%
Belanja Tunj. PPh PNS Rp 14.612.849.358 Rp 17.390.744.596 8,40%
Belanja Tunjangan Beras PNS Rp 25.930.027.868 Rp 26.565.427.801 9,76%
Belanja Uang Makan PNS Rp 65.860.301.365 Rp 65.129.456.376 10,11%
Belanja Tunj. Kompensasi Kerja PNS Rp 306.935.000 Rp - #DIV/0!
Belanja Tunj. Daerah Terpecil/Sangat
Rp 164.510.000 Rp 143.605.000
Terpencil PNS 11,46%

Belanja Tunjangan Khusus Papua PNS Rp 2.251.455.000 Rp 2.112.266.825


6,59%
Belanja Tunj. Lain-lain termasuk uang
Rp 735.461.900 Rp 144.616.200
duka PNS Dalam dan Luar Negeri 408,56%
Belanja Tunjangan Umum PNS Rp 22.463.759.769 Rp 21.437.849.478 4,79%
Belanja Tunj. Kompensasi Kerja Bidang
Rp 78.943.635 Rp -
Persandian PNS TNI/Polri #DIV/0!
Belanja gaji dan Tunjangan Pegawai Non
Rp (4.095.131) Rp -
PNS #DIV/0!
Belanja Tunjangan Lainnya Rp (2.192.433) Rp - #DIV/0!
Belanja Uang Honor Tetap Rp 1.221.100.000 Rp 1.725.864.000 -29,25%
Belanja Uang Honor Tidak Tetap Rp - Rp 126.677.483.055 -100,00%
Belanja uang lembur Rp 3.856.553.400 Rp 2.496.242.200 54,49%

Belanja Pegawai (Tunj. Khusus/kegiatan) Rp - Rp -


#DIV/0!
Belanja Pegawai Transito Rp - Rp - #DIV/0!
Rp 791.374.277.053 Rp 831.214.603.608 -4,79%

Belanja Belanja Barang


Barang Rp.
553.715.484. Rincian realisasi Belanja Barang adalah sebagai berikut:
695,-
Uraian 1 Jan/31 Des 2009 1 Jan/31 Des2008 % naik/(turun)
Belanja Barang Operasional Rp 126.281.750.956 Rp 107.993.809.646 16,93%
Belanja Barang Non Operasional Rp 271.232.846.398 Rp 166.320.648.369 63,08%
Belanja Jasa Rp 38.439.220.057 Rp 46.514.068.452 -17,36%
Belanja Pemeliharaan Rp 66.052.397.440 Rp 64.893.462.675 1,79%
Belanja Perjalanan Rp 51.709.269.844 Rp 70.055.575.976 -26,19%
Jumlah Rp 553.715.484.695 Rp 455.777.565.118 21,49%

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 16


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009 Audited

Belanja Belanja Modal


Modal Rp.
256.973.056. Rincian realisasi Belanja Modal adalah sebagai berikut:
884,- Uraian 1 Jan/31 Des 2009 1 Jan/31 Des 2008 % naik/(turun
Belanja Modal Tanah Rp 631.741.000 Rp - #DIV/0!
Belanja Modal Peralatan dan
Rp 100.611.941.158 Rp 162.614.626.738 -0,381286
Mesin
Belanja Modal Gedung dan
Rp 153.547.073.916 Rp 166.371.985.716 -0,0770858
Bangunan
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan
Rp 1.198.144.900 Rp 1.271.924.400 -0,0580062
Jaringan
Belanja Pemeliharaan Yang
Rp - Rp 2.067.876.995 -1
Dikapitalisasi
Belanja Modal Fisik Lainnya Rp 984.155.910 Rp 2.668.171.109 -0,6311496
Jumlah Rp 256.973.056.884 Rp 334.994.584.958 -0,2329038

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd. 17


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

C. PENJELASAN ATAS POS- POS NERACA

C.1. PENJELASAN UMUM NERACA

Menjelaskan Posisi Neraca secara umum untuk aset, kewajiban dan Ekuitas
Dana per 31 Desember 2009.

Komposisi Neraca per 31 Desember 2009 adalah sebagai berikut :

Uraian 31-Dec-09 31-Dec-08 Kenaikan/ (penurunan)


Aset Rp 16,787,455,552,637.70 Rp 11,881,576,343,738.00 Rp 4,905,879,208,899.70
Kewajiban Rp 1,927,631,588.09 Rp 7,259,286,816.00 Rp (5,331,655,227.91)
Ekuitas Dana Rp 16,785,527,921,049.70 Rp 11,874,317,056,922.00 Rp 4,911,210,864,127.70

Jumlah Aset per 31 Desember 2009 sebesar Rp.16.787.455.552.637,70


terdiri dari Aset Lancar sebesar Rp. 80.823.857.067,14 dan Aset Tetap
sebesar Rp.5.717.262.721.693,00 Aset Lainnya sebesar Rp.
10.989.368.973.877,60 Jumlah Kewajiban per 31 Desember 2009 sebesar
Rp. 1.927.631.588,09 merupakan kewajiban jangka pendek sebesar Rp.
1.927.631.588,09
Jumlah ekuitas dana per 31 Desember 2009 sebesar
Rp.16.785.527.921.049,70 terdiri dari ekuitas dana lancar sebesar
Rp.78.896.225.479,05 dan ekuitas dana investasi sebesar
Rp.16.706.631.695.570,60

Grafik komposisi neraca dapat disajikan seperti contoh dibawah ini

Grafik. Komposisi Neraca

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 18


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

C.2. PENJELASAN PER POS NERACA

C.2.1. Aset Lancar

Kas di Bendahara C.2.1.1. Kas di Bendahara Pengeluaran


Pengeluaran Rp.
593.117.665,- dan
Kas di Bendahara
Penerima Rp.
195.675.800,-
Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 sebesar
Rp.29.996.510.954,00 Rincian saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per-
eselon I adalah sebagai berikut :

Kode Uraian Eselon I 31-Dec-09 31-Dec-08


00601 JAMBIN Rp 593,117,665.00 Rp 7,259,286,816.00

Total Rp 593,117,665.00 Rp 7,259,286,816.00

Rincian Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 untuk


setiap Satuan Kerja yang masih mempunyai saldo terlampir.

Kas di Bendahara C.2.1.2 Kas di Bendahara Penerimaan


Penerimaan Rp.
195.675.800,-

Besarnya Saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2009 Rp.


195.675.800,- Rincian saldo Kas di Bendahara Penerimaan per-eselon I
adalah sebagai berikut :

Kode Uraian Eselon I 31-Dec-09 31-Dec-08


00601 JAMBIN Rp 195,675,800.00 Rp -

Total Rp 195,675,800.00 Rp -

Rincian Saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2009 untuk


setiap Satuan Kerja yang masih mempunyai saldo terlampir.

Kas Lain di C.2.1.3 Kas Lain di Bendahara Pengeluaran


Bendahara
Pengeluaran Rp. Besarnya Saldo Kas Lain di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009
31.703.758,09,- Rp. 31.703.758,09,- Rincian saldo Kas Lain di Bendahara Pengeluaran per-
eselon I adalah sebagai berikut :

Kode Uraian Eselon I 31-Dec-09 31-Dec-08


00601 JAMBIN Rp 31,703,758.09 Rp -

Total Rp 31,703,758.09 Rp -

Rincian Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 untuk


setiap Satuan Kerja yang masih mempunyai saldo terlampir.

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 19


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

Piutang Lainnya Rp. C.2.1.4 Piutang Lainnya


32.824.418.507,05,- Besarnya Saldo Piutang Lainnya per 31 Desember 2009 sebesar
Rp. 32.824.418.507,05,- terdiri dari piutang uang pengganti untuk
perkara tindak pidana korupsi yang incracht di tahun 2009 sebesar
Rp. 20.497.381.024,20,- (rincian terlampir) dan merupakan angka
koreksi dari Badan Pemeriksa Keuangan RI sebesar Rp.
12.327.037.482,85,-

Persediaan Rp. C.2.1.5 Persediaan


47.178.941.337,- Nilai persediaan per 31 Desember 2009 sebesar Rp.
47.178.941.337,- (rincian terlampir)

Aset Tetap Rp. C.2.2. Aset Tetap


5.717.262.721.693

Laporan Keuangan Per 31 Desember 2008 dengan Saldo Awal 1


Januari 2009 tidak sama sehingga terjadi perbedaan saldo awal.
Koreksi Saldo Awal disebabkan karena :
Hasil Inventarisasi dan Penilaian kembali Barang Milik Negara
sebagaian besar dikoreksi dalam laporan SIMAK tahun 2009

Posisi aset tetap dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Kenaikan /
No. Uraian 31-Dec-09 31-Dec-08
(penurunan)

1 Tanah Rp 3,142,424,806,366 Rp 717,759,328,950 337.81%


2 Peralatan dan Mesin Rp 884,954,690,184 Rp 1,481,819,071,511 -40.28%
3 Gedung dan Bangunan Rp 1,580,399,066,232 Rp 1,250,082,764,274 26.42%
4 Jalan, Jaringan dan Irig Rp 24,937,758,141 Rp 9,497,577,231 162.57%
6 Aset Tetap Lainnya Rp 12,558,585,175 Rp 629,723,795,623 -98.01%
7 KDP Rp 71,987,815,595 Rp 64,700,912,136 11.26%
Jumlah Rp 5,717,262,721,693 Rp 4,153,583,449,725 37.65%

C.2.2.1 Tanah

31 Desember 2009 31 Desember 2008 Kenaikan / (penurunan)

Rp 3,142,424,806,366 Rp 717,759,328,950 337.81%

Saldo Tanah pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja


Kejaksaan Agung RI per 31 Desember 2009 sebesar Rp
3,142,424,806,366,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 282.902.307
m2/ Rp 1.097.334.212.089,- mutasi tambah 948.390.048 m2. / Rp
2,114,286,674,533,- mutasi kurang 151.320 m2/ Rp 69.426.203.756,-
Koreksi BPK sebesar Rp. 230.123.500,-
Penjelasan ada di CR-BMN

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 20


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

C.2.2.2 Peralatan dan Mesin

Posisi Perbandingan Peralatan dan Mesin

Kenaikan /
31-Des-09 31-Des-08 (penurunan)

Rp 884.954.690.184 Rp 1.481.819.071.511 -40,28%

Penjelasan ada di CR-BMN

C.2.2.3 Gedung dan Bangunan

Kenaikan /
31-Des-09 31-Des-08 (penurunan)

Rp 1.580.399.066.232 Rp 1.250.082.764.274 26,42%

Saldo Gedung dan Bangunan per 31 Desember 2009 sebesar


Rp 1.580.399.066.232,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 4.305 unit/
Rp 1.021.920.547.313,- mutasi tambah 664 unit/ Rp
611.185.224.633,- mutasi kurang 140 unit/Rp 53.579.475.782 ,- Koreksi
BPK Rp. 872.770.068,-

Penjelasan ada di CR-BMN

C.2.2.4 Jalan, Irigasi dan Jaringan

31-Des-09 31-Des-08 Kenaikan / (penurunan)

Rp 24.937.758.141 Rp 9.497.577.231 162,57%

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja


Kejaksaan Agung RI per 31 Desember 2009 sebesar Rp 24.937.758.141,-
Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 19.266 unit/ Rp 17.265.996.293,-
mutasi tambah 18.688 unit/ Rp 8.133.769.714,- mutasi kurang Rp.
97.423.200. Koreksi BPK Rp. (364.584.666)

Penjelasan ada di CR-BMN

C.2.2.5 Aset Tetap Lainnya

31-Des-09 31-Des-08 Kenaikan / (penurunan)

Rp 12.558.585.175 Rp 629.723.795.623 -98,01%

Saldo Aset Tetap Lainnya pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon


I/Satuan Kerja Kejaksaan Agung RI per 31 Desember 2009 sebesar Rp
12.558.585.175,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 53.031 buah/Rp
15.794.634.416,- mutasi tambah 6.779 buah /Rp 2.689.244.486,- mutasi
kurang 387 buah/ Rp. 5.965.038.777,- Koreksi BPK Rp. 39.745.050,-
Penjelasan ada di CR-BMN

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 21


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

C.2.2.6 ASET TETAP YANG TIDAK DIGUNAKAN DALAM OPERASI (154112)

31-Des-09 31-Des-08 Kenaikan / (penurunan)

Rp 8.393.490.799,9 Rp -

Saldo Aset Tetap Lainnya pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon


I/Satuan Kerja Kejaksaan Agung RI per 31 Desember 2009 sebesar Rp
8.393.490.799,9,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 108 buah/Rp
76.478.000,- mutasi tambah 2.205 buah /Rp 4.396.232.858,- mutasi kurang
62 buah/ Rp. 25.581.000,- Koreksi BPK Rp. 3.946.360.941,9

Penjelasan ada di CR-BMN

C.2.2.7 Konstruksi Dalam Pengerjaan

31-Des-09 31-Des-08 Kenaikan / (penurunan)

Rp 71.987.815.595 Rp 64.700.912.136 11,26%

Disamping aset tetap yang tertuang dalam Laporan BMN pada tanggal 31
Desember 2009 Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja
KejaksaanAgung RI juga menguasai sejumlah aset tetap berbentuk
Konstruksi Dalam Pengerjaan senilai Rp 70.035.372.945,- berupa gedung
dan bangunan dengan rincian sebagai berikut:

Saldo awal Rp 97.036.086.932


Penambahan Rp 122.063.017.415
KDP yang menjadi aset definitif Rp 149.063.731.402
Koreksi BPK Rp 1.952.442.650

Saldo per 31 Desember 2009 Rp 71.987.815.595

Aset Lainnya C.2.3. Aset Lainnya


Rp.10.987.488.399. Nilai aset lainnya per 31 Desember 2009 sebesar Rp.
890,60,-
10.989.368.973.877,60,- dibandingkan dengan periode sebelumnya
per 31 Desember 2008 sebesar Rp. 7.709.556.300.746,55,-

C.2.3.1 Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi


Nilai Tagihan Tuntutan Perbendaharaan (TP) per 31 Desember 2009
sebesar Rp. 74.712.027,-
Nilai Tagihan Tuntutan Ganti Rugi per 31 Desember 2009 sebesar Rp.
86.550.000,- dibandingkan dengan periode sebelumnya per 31
Desember 2008 sebesar Rp. 91.000.000,- (rincian terlampir)

C.2.3.2 Aset Tak Berwujud


Nilai Aset Tak Berwujud per 31 Desember 2009 Rp. 1.719.311.960,-
(rincian terlampir)

C.2.3.3 Aset Lain-lain


Nilai Aset Lain-lain per 31 Desember 2009 sebesar Rp.
10.987.488.399.890,60,- dibandingkan dengan periode sebelumnya
Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 22
Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

per 31 Desember 2008 sebesar Rp. 7.709.390.588.719,55,- yang


terdiri dari piutang uang pengganti untuk perkara tindak pidana korupsi
yang incrahct sebelum tahun 2009 dengan nilai sebesar Rp.
10.979.094.909.090,70,- (rincian terlampir) dan aset tetap yang sudah
tidak dipergunakan untuk operasi pemerintahan dengan nilai sebesar
Rp. 8.393.490.799,90,-

Kewajiban C.2.4. Kewajiban Jangka Pendek


Rp.1.927.631.588,09
,-
C.2.4.1 Uang Muka dari KPPN
Nilai Uang Muka dari KPPN yang merupakan penyeimbang Akun Kas
di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 sebesar Rp.
593.117.665,- dibandingkan dengan periode sebelumnya per 31
Desember 2008 sebesar Rp. 7.259.286.816,-

C.2.4.2 Pendapatan Yang Ditangguhkan


Nilai Pendapatan Yang Ditangguhkan yang merupakan penyeimbang
Akun Kas di Bendahara Penerima dan Akun Kas Lain di Bendahara
Pengeluaran per 31 Desember 2009 sebesar Rp. 227.379.558,09,-

C.2.4.3 Utang Jangka Pendek Lainnya


Nilai Utang Jangka Pendek Lainnya per 31 Desember 2009 sebesar
Rp. 1.107.134.365,- (rincian terlampir)

Ekuitas Dana C.2.5. Ekuitas Dana Lancar


Lancar
Rp.78.896.225.47
9,05,-
C.2.5.1 Cadangan Piutang
Nilai Cadangan Piutang yang merupakan penyeimbang Akun Piutang
Lainnya per 31 Desember 2009 sebesar Rp. 32.824.418.507,05,-

C.2.5.2 Cadangan Persediaan


Nilai Cadangan Persediaan yang merupakan penyeimbang Akun
Persediaan per 31 Desember 2009 sebesar Rp. 47.178.941.337,-

Ekuitas Dana C.2.6 Ekuitas Dana Diinvestasikan


Diinvestasikan
Rp.16.706.631.69
5.570,60,-
C.2.6.1 Diinvestasikan Dalam Aset Tetap
Nilai Dana Diinvestasikan Dalam Aset Tetap yang merupakan
penyeimbang Akun Aset Tetap per 31 Desember 2009 sebesar Rp.
5.717.262.721.693,- dibandingkan dengan periode sebelumnya per 31
Desember 2008 Rp. 4.153.583.449.725,-

C.2.6.2 Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya


Nilai Dana Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya yang merupakan
penyeimbang Akun Aset Lainnya per 31 Desember 2009 sebesar Rp.
10.989.368.973.877,60,- dibandingkan dengan periode sebelumnya
per 31 Desember 2008 Rp. 7.709.556.300.746,55,-

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 23


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

Catatan Penting C.3 CATATAN PENTING LAINNYA


Lainnya
C.3.1. TEMUAN DAN TINDAK LANJUT TEMUAN BPK
Daftar Temuan dan Tindak Lanjut Temuan BPK tahun 2008 terlampir.

C.3.2. REKENING PEMERINTAH


Rekening yang dimiliki Kejaksaan R.I. sebanyak 633 rekening dengan
jumlah saldo Rp. 381.995.984.239,18 (tiga ratus delapan puluh satu
milyar sembilan ratus sembilan puluh lima juta sembilan ratus delapan
puluh empat ribu dua ratus tiga puluh sembilan rupiah koma delapan
belas sen) dan US $ 4.050.768.162,- (empat milyar lima puluh juta
tujuh ratus enam puluh delapan ribu seratus enam puluh dua dolar),
dengan rincian sebagai berikut :
1. Rekening Pengeluaran yang terdiri dari 541 rekening dengan
jumlah saldo Rp. 602.820.486,09,- (enam ratus dua juta delapan
ratus dua puluh ribu empat ratus delapan puluh enam rupiah koma
sembilan sen).
2. Rekening Penerimaan yang terdiri dari 5 rekening dengan jumlah
saldo Rp. 0,- nol rupiah).
3. Rekening Lainnya yang terdiri dari 84 rekening dengan jumlah
saldo Rp. 381.393.163.753,09,- (tiga ratus delapan puluh satu
milyar tiga ratus sembilan puluh tiga juta seratus enam puluh tiga
juta tujuh ratus lima puluh tiga rupiah koma sembilan sen) dan US
$ 4.050.768.162,- (empat milyar lima puluh juta tujuh ratus enam
puluh delapan ribu seratus enam puluh dua dolar).

C.3.3. BARANG RAMPASAN


Barang rampasan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan
sudah ada nilai taksiran harga senilai Rp. 46.229.365.159,-
Barang rampasan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
namun belum mempunyai nilai taksiran harga (data terlampir).

C.3.4. REKENING GIRO I, II, III


Saldo rekening denda tilang yang ada di BRI per 15 Februari 2010
Senilai Rp. 7.005.158.423,96,- yang terdiri dari :
1. Rekening Giro I sebesar Rp. 6.165.373.532,96,-
2. Rekening Giro II sebesar Rp. 702.583.870,-
3. Rekening Giro III sebesar Rp. 137.201.021,-

Pengungkapan D.1. PENGUNGKAPAN PENTING LAINNYA


Penting Lainnya
D.1.1 PENDAPATAN SEWA RUMAH DINAS

Terdapat tunggakan atas sewa rumah dinas Kejaksaan yang berlokasi


di Komplek Rumah Dinas Lebak Bulus untuk Tahun anggaran 2009
berdasarkan tarif sewa rumah dinas sesuai Surat Edaran Plh. Jaksa
Agung Muda Pembinaan No. SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003, dengan rincirian sebagai berikut :

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 24


Laporan Keuangan KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA per 31 Desember 2009

Jumlah Rumah Potensi


Type Tarif Bulan Penerimaan Tunggakan
Tersedia Dihuni (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3x4x5) 7 8=(6-7)
A 7 7 142.560 12 11.975.040
B 37 37 68.428 12 30.382.032
C 46 45 39.916 12 21.554.640
D 123 122 28.512 12 41.741.568
Jumlah 213 211 105.653.280 12.256.053 93.397.227

Total PNBP dari sewa rumah dinas di lingkungan Kejaksaan Agung RI


yang belum tertagih TA 2008 dan TA 2009 sebesar Rp. 181.395.911,-
yang terdiri dari :
- Tunggakan TA 2008 sebesar Rp. 87.998.684,-
- Tunggakan TA 2009 sebesar Rp. 93.397.227,-

Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman IVd 25


Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

CATATAN ATAS LAPORAN BARANG MILIK NEGARA


KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA /ESELON I/SATUAN KERJA
KEJAKSAAN AGUNG R.I.
TAHUN 2009

I. DASAR HUKUM

1. Undang - undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara ;


2. Undang - undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara ;
3. Undang - undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan ;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah ;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara ;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja
Instansi Pemerintah ;
7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ;
8. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik
Negara ;
9. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 97/PMK.06/2007 tentang
Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara ;
10. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 120/PMK.06/2007 tentang
Penatausahaan Barang Milik Negara ;
11. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat ;
12. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER /PB/2008 tentang Pedoman
Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga.

Halaman 1 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

II. LAPORAN BARANG

Saldo Per 31 Desember 2008 dengan Saldo Awal 1 Januari 2009 tidak sama sehingga terjadi
perbedaan saldo awal. Koreksi Saldo Awal disebabkan karena :
Hasil Inventarisasi dan Penilaian kembali Barang Milik Negara sebagaian besar dikoreksi dalam
laporan SIMAK tahun 2009.

Posisi aset tetap Intrakomptabel dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Kenaikan /
Uraian 31-Des-09 31-Des-08
No. (penurunan)
1 Tanah Rp 3.142.424.806.366 Rp 717.759.328.950 337,81%
2 Peralatan dan Mesin Rp 884.954.690.184 Rp 1.481.819.071.511 -40,28%
3 Gedung dan Bangunan Rp 1.580.399.066.232 Rp 1.250.082.764.274 26,42%
Jalan, Irigasi dan
4 Rp 24.937.758.141 Rp 9.497.577.231 162,57%
Jaringan
6 Aset Tetap Lainnya Rp 12.558.585.175 Rp 629.723.795.623 -98,01%
7 KDP Rp 71.987.815.595 Rp 64.700.912.136 11,26%
Jumlah Rp 5.717.262.721.693 Rp 4.153.583.449.725 37,65%

1. TANAH ( 1 3 1 1 1 1 )
Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31
Desember 2009 sebesar Rp 3.142.424.806.366,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo
awal 282.902.307 m2/ Rp 1.097.334.212.089,- mutasi tambah 948.615.843 m2. /
Rp 2.114.516.798.033,- mutasi kurang 377.115 m2/ Rp 69.426.203.756,-
Mutasi tambah tanah tersebut meliputi :

- Koreksi BPK Rp 192.709.500


- Penambahan Saldo awal Rp 680.974.619.596
- Pembelian Rp 51.037.000
- Hibah (masuk) Rp 287.400.000
- Penyelesaian Pembangunan Rp 631.741.000
- Reklasifikasi Masuk Rp 1.431.608.550
- Perolehan Reklasifikasi dari Intra ke Eks Rp 22.100
- Pengembangan Nilai Aset Rp 9.450.000
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 12.854.541.188
- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 1.418.083.669.099
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 2.114.516.798.033

Mutasi kurang tanah tersebut meliputi :

- Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas Rp 54.024.190.344


- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 1.141.412.000
- Penghapusan Rp 4.904.160.000
- Transfer Keluar Rp 12.850.000
- Reklasifikasi Keluar 4.327.643.645
- Koreksi Pencatatan Rp 5.015.947.767
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 69.426.203.756

Halaman 2 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

2. PERALATAN DAN MESIN (131311)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp. 884.954.690.184,- Jumlah saldo awal 182.139 unit/ Rp.
740.163.466.897,- mutasi tambah 10.607 unit/ Rp. 202.509.325.653,- dan mutasi
kurang 6.094 unit/ Rp. 57.718.102.366,- terdiri dari :

a. Alat Besar ( 2.01 )


Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31
Desember 2009 sebesar Rp 9.868.583.371,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 171
unit / Rp 8.101.241.496,- mutasi tambah 20 unit / Rp 1.964.682.054,- mutasi kurang 0
unit/ Rp 197.340.179,-

Mutasi tambah tersebut meliputi :

- Penambahan saldo awal Rp 16,881,000


- Pembelian Rp 892,787,000
- Transfer masuk Rp 723,074,426
- Hibah (masuk) Rp 265,688,142
- Perolehan Lainnya Rp 5,500,000
- Pengembangan Nilai Aset Rp 26,727,274
- Koreksi Tim Penertiban Aset Rp 34,024,212
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 1,964,682,054

Mutasi kurang tersebut meliputi :

- Pengurangan Nilai Aset Rp 9,750,000


- Koreksi pencatatan nilai/kwantitas Rp 175,608,800
- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 11,981,379
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 197,340,179

b. Alat Angkutan (2.02)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 349.459.841.412,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal
3.810 unit / Rp 280.869.677.128,- mutasi tambah 724 unit / Rp 84.767.043.204,-
mutasi kurang 71 unit/ Rp 16.176.878.920,-

Mutasi tambah Alat Angkut tersebut meliputi :

- Penambahan Saldo Awal Rp 27,522,408,868


- Pembelian Rp 35,851,549,996
- Transfer masuk Rp 11,619,348,500
- Hibah masuk Rp 1,741,464,000
- Rampasan Rp 7,300,000
- Reklasifikasi Masuk Rp 2,449,814,600
- Perolehan lainnya Rp 400,000,000
- Pengembangan Nilai Aset Rp 63,989,174
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 501,171,452
- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 4,606,566,614
- Pengembangan melalui KDP Rp 3,430,000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 84,767,043,204

Halaman 3 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

Mutasi kurang Alat Angkut tersebut meliputi :

- Koreksi Nilai/Kuantitas Rp 149,037,002


- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 11,103,343,401
- Penghapusan Rp 1,154,172,750
- Transfer keluar Rp 524,565,000
- Reklasifikasi keluar Rp 1,951,657,100
- Koreksi pencatatan Rp 491,502,000
- Penghentian Aset dari penggunaannya Rp 528,590,000
- Koreksi BPK Rp 274.011.667
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 16.176.878.920

c. Alat Bengkel dan alat ukur (2.03)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 1.361.573.122,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 262
unit / Rp. 1.302.606.371,- mutasi tambah 11 unit / Rp 150.558.371,- mutasi kurang 8
unit/ Rp 91.591.620,-

Mutasi tambah tersebut meliputi :

- Penambahan Saldo Awal Rp 13,011,300


- Pembelian Rp 16,080,000
- Transfer masuk Rp 15,000,000
- Hibah (masuk) Rp 106,354,071
- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 113,000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 150,558,371

Mutasi kurang tersebut meliputi :

- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 76,591,618


- Penghapusan Rp 2
- Reklasifikasi Keluar Rp 15,000,000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 91,591,620

d. Alat Pertanian (2.04)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 1.417.453.931,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 588
unit / Rp 1.670.972.753,- mutasi tambah 58 unit / Rp 270.823.853,- mutasi kurang 69
unit/ Rp. 524.342.675,-

Mutasi tambah tersebut meliputi :

- Penambahan Saldo Awal Rp 128,913,000


- Pembelian Rp 34,090,253
- Transfer masuk Rp 99,814,000
- Hibah masuk Rp 525,000
- Reklasifikasi masuk Rp 6,131,600
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 270,823,853

Halaman 4 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Perolehan reklas dari Intra ke ekstra Rp 64,986


- Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset Rp 12,075,289
- Transfer keluar Rp 511,879,500
- Penghentian aset dari penggunaan Rp 172,900
- Reklasifikasi keluar Rp 150,000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 524,342,675

e. Alat kantor dan rumah tangga (2.05)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 291.911.535.690,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal
148.530 unit / Rp 234.673.428.950,- mutasi tambah 7.517 unit / Rp
76.715.928.068,- mutasi kurang 4.843 unit/ Rp 19.477.821.328,-

Mutasi tambah tersebut meliputi :

- Penambahan Saldo Awal Rp 4,180,301,006


- Pembelian Rp 37,096,937,101
- Transfer masuk Rp 16,758,166,236
- Hibah masuk Rp 624,617,200
- Penyelesaian Pembangunan Rp 110,271,600
- Reklasifikasi Masuk Rp 392,329,542
- Perolehan Lainnya Rp 108,786,262
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 300,360,893
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 16,231,215,276
- Penghapusan Rp 127,801
- Penghapusan semu krn reklasifikasi Rp 36,399,936
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 876,415,215
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 76,715,928,068

Mutasi kurang tersebut meliputi :

- Perolehan Rekalsifikasi dari intra ke ekstra Rp 13,172,290


- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 462,154,968
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 12,371,187,738
- Penghapusan Rp 107,758,686
- Transfer keluar Rp 2,057,442,540
- Reklasifikasi keluar Rp 408,595,985
- Koreksi pencatatan Rp 1,956,193,925
- Penghapusan semu krn reklasifikasi Rp 16,223,522
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 2,085,091,674
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 19,477,821,328

f. Alat Studio, komunikasi dan pemancar (2.06)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 77.033.430.694,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal
7.152 unit / Rp 60.334.219.660,- mutasi tambah 452 unit / Rp 18.587.145.265,-
mutasi kurang 86 unit/ Rp 1.887.934.231,-

Halaman 5 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

Mutasi tambah tersebut meliputi:

- Penambahan Saldo Awal Rp 444.709.845


- Pembelian Rp 17.178.724.090
- Transfer masuk Rp 651.604.383
- Hibah masuk Rp 16.222.350
- Reklasifikasi Masuk Rp 27.013.260
- Perolehan Reklas dari intra ke ekstra Rp 2,000,000
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 19.182.153
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 240.569.184
- Penghapusan Rp 46.000
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 7,074,000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 18.587.145.265

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Perolehan reklasifikasi dari intra ke ekstra Rp 1.248.308


- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 1.704.652.322
- Penghapusan Rp 5,229,275
- Transfer keluar Rp 3,000,000
- Reklasifikasi keluar Rp 68.481.424
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 1.000
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 105.321.902
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 1.887.934.231

g. Alat kedokteran dan kesehatan (2.07)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 5.152.034.731,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 3.604
unit / Rp 5.266.615.604,- mutasi tambah 135 unit / Rp 209.533.971,- mutasi kurang
149 unit/ Rp 324.114.844,-

Mutasi tambah tersebut meliputi :

- Penambahan Saldo Awal Rp 60.831.000


- Pembelian Rp 123.656.221
- Transfer masuk Rp 14,421,000
- Hibah masuk Rp 6,250,000
- Perolehan lainnya Rp 3.000.000
- Perolehan reklas dari Intra ke Ekstra Rp 7.502
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 1.368.248
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 209.533.971

Mutasi kurang tersebut meliputi :

- Perolehan reklas dari Intra ke Ekstra Rp 1.222.406


- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 180.884.140
- Penghapusan Rp 18,728,625
- Reklasifikasi keluar Rp 123.279.673
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 324.114.844

Halaman 6 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

h. Alat Laboratorium (2.08)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 14.603.661.340,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal
3.474 unit / Rp 13.376.576.392,- mutasi tambah 361 unit / Rp 2.993.880.457,- mutasi
kurang 182 unit/ Rp 1.766.795.509,-

Mutasi tambah tersebut meliputi:

- Penambahan Saldo Awal Rp 292.105.553


- Pembelian Rp 1.724.651.533
- Transfer masuk Rp 727.635.820
- Hibah masuk Rp 47.298.096
- Reklasifikasi masuk Rp 24.237.750
- Perolehan lainnya Rp 1.250.000
- Pengembangan nilai aset Rp 36.256.126
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 1
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 31.699.178
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 108.746.400
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 2.993.880.457

Mutasi kurang tersebut meliputi :

- Pengurangan nilai aset Rp 18.930.000


- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 1.188.192.795
- Penghapusan Rp 10.175.000
- Transfer keluar Rp 295.911.000
- Reklasifikasi keluar Rp 224.051.364
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 29.535.350
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 1.766.795.509

i. Alat Persenjataan (2.11)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 16.268.814.114,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal
3.136 unit / Rp 15.778.796.050,- mutasi tambah 28 unit / Rp 565.443.664,- mutasi
kurang 2 unit/ Rp 75.425.600,-

Mutasi tambah tersebut meliputi:

- Penambahan Saldo Awal Rp 46.569.064


- Pembelian Rp 475.750.000
- Reklasifikasi masuk Rp 43.124.600
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 565.443.664

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Koreksi nilai pencatatan nilai/kuantitas Rp 43.896.600


- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 2.010.000
- Penghapusan Rp 24.519.000
- Koreksi pencatatan Rp 5.000.000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 75.425.600
Halaman 7 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

j. Alat komputer (2.12)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 110.962.348.078,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal
9.623 unit / Rp 112.130.342.585,- mutasi tambah 1.212 unit / Rp 15.952.874.473,-
mutasi kurang 593 unit/ Rp 17.120.868.980,-

Mutasi tambah tersebut meliputi :

- Penambahan Saldo Awal Rp 1.826.640.405


- Pembelian Rp 7.658.927.042
- Transfer masuk Rp 1.434.809.635
- Hibah masuk Rp 120.370.000
- Reklasifikasi Masuk Rp 3.907.308.362
- Perolehan lainnya Rp 38,355,188
- Perolehan Rekls dari intra ke ekstra Rp 71,730,000
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 203.117.284
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 444.503.891
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 247,112,666
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 15.952.874.473

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Perolehan Rekls dari intra ke ekstra Rp 14.716.044


- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 410.537.499
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 6.619.466.170
- Penghapusan Rp 72,559,926
- Transfer keluar Rp 9,494,558,850
- Reklasifikasi keluar Rp 214.280.318
- Koreksi pencatatan Rp 161,907,421
- Penghapusan semu krn reklasifikasi Rp 0
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 132.842.751
Saldo per 31 Desember 2009 17.120.868.980

k. Alat Eksplorasi (2.13)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 54.437.728,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 913 unit /
Rp 58.418.728,- mutasi tambah 0 unit dan mutasi kurang unit/ Rp 3.981.000,-

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 3.981.000


Saldo per 31 Desember 2009 Rp 3.981.000

l. Alat Pengolahan dan Pemurnian (2.15)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan Agung RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 1.045.000,-

Halaman 8 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

m. Alat Produksi (2.16)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan Agung RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 48.950.000,-

n. Alat Keselamatan Kerja (2.17)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 6.577.619.887,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 821
unit / Rp 6.377.810.180,- mutasi tambah 58 unit / Rp 268.581.187,- mutasi kurang 9
unit/ Rp 68.771.480,-

Mutasi tambah tersebut meliputi:

- Penambahan Saldo Awal Rp 159.565.750


- Pembelian Rp 1.905.000
- Transfer masuk Rp 10.000.000
- Reklasifikasi Masuk Rp 49.362.250
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 47.748.187
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 268.581.187

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 25.066.880


- Reklasifikasi keluar Rp 43.704.600
Saldo per 31 Desember 2009 68.771.480

o. Alat Peraga (2.18)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 79.970.586,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 5 unit /
Rp 35.250.000,- mutasi tambah 2 unit/Rp. 44.851.586,- dan mutasi kurang 1 unit/ Rp
131.000,-

Mutasi tambah meliputi:

- Transfer masuk Rp 44.851.586


Saldo per 31 Desember 2009 Rp 44.851.586

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 131.000


Saldo per 31 Desember 2009 Rp 131.000

p. Peralatan Proses/Produksi (2.19)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 153.390.500,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 48 unit /
Rp 137.516.000,- mutasi tambah 7 unit/Rp. 17.979.500,- dan mutasi kurang 1 unit/
Rp 2.105.000,-

Halaman 9 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

Mutasi tambah meliputi:

- Penambahan Saldo Awal 565.000


- Pembelian 16.864.500
- Perolehan lainnya Rp 550.000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 17.979.500

Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Koreksi nilai Tim Penertiban Aset Rp 2.105.000


Saldo per 31 Desember 2009 Rp 2.105.000

3. GEDUNG DAN BANGUNAN (131511)


Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/ Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31
Desember 2009 sebesar Rp 1.580.399.066.232 ,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal
4.305 unit/ Rp 1.021.920.547.313- mutasi tambah 664 unit/Rp 612.057.994.701,- mutasi
kurang 140 unit/Rp 53.579.475.782,-

Mutasi tambah Gedung dan Bangunan tersebut meliputi :

- Koreksi BPK Rp 872.770.068


- Penambahan Saldo Awal Rp 68.835.729.364
- Pembelian Rp 2.973.225.591
- Transfer masuk Rp 3.703.728.750
- Hibah masuk Rp 438.100.000
- Penyelesaian Pembangunan Rp 105.337.323.301
- Reklasifikasi Masuk Rp 2.347.875.426
- Perolehan Lainnya Rp 198.480.000
- Perolehan Rekalsifikasi dari intra ke
Rp 3.037.387.045
ekstra
- Pengembangan nilai aset Rp 26.782.190.627
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 26.754.233.659
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 318.353.298.378
- Penerimaan aset tetap renovasi Rp 1.827.425.264
- Pengembangan melalui KDP Rp 50.596.227.228
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 612.057.994.701

Mutasi kurang Gedung dan Bangunan tersebut meliputi:

- Pengurangan nilai aset Rp 1.749.748.082


- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 7.192.747.939
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 23.130.769.240
- Penghapusan Rp 5.425.176.082
- Transfer keluar Rp 5,317,922,750
- Reklasifikasi keluar Rp 3.460.386.898
- Koreksi pencatatan Rp 7.006.187.790
- Penghentian aset dari penggunaannya Rp 256.638.000
- Penghapusan semu krn reklasifikasi Rp 39,899,001
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 53.579.475.782

Halaman 10 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

4. JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31 Desember


2009 sebesar Rp 24.937.758.141,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 19.266 unit/ Rp
17.265.996.293,- mutasi tambah 18.688 unit/ Rp 8.133.769.714,- mutasi kurang 72 unit/
Rp 462.007.866,-

Mutasi tambah tersebut meliputi:

- Penambahan saldo awal Rp 3.043.877.948


- Penyelesaian Pembangunan Rp 2.098.359.273
- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 224.824.167
- Pembelian Rp 1.804.622.700
- Hibah (masuk) Rp 400.000
- Pengembangan nilai aset Rp 26.727.274
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 913.358.352
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 8.133.769.714
Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 37.458.200


- Penghapusan Rp 26.600.600
- Reklasifikasi keluar Rp 23.465.000
- Pengurangan nilai aset Rp 9.900.000
- Koreksi BPK Rp 364.584.660
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 462.007.866

5. ASET TETAP LAINNYA (131911)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 12.558.585.175,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 53.031
buah/Rp 15.794.634.416,- mutasi tambah 6.779 buah /Rp 2.728.989.536,- mutasi kurang
387 buah/ Rp. 5.965.038.777,-
Mutasi tambah tersebut meliputi:

- Koreksi BPK Rp 39.745.050


- Penambahan saldo awal Rp 686.321.568
- Pembelian Rp 1.296.648.860
- Hibah (masuk) Rp 31,100,000
- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 673.835.358
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 2.728.989.536
Mutasi kurang tersebut meliputi:

- Koreksi pencatatan nilai/kuantitas Rp 492,249,080


- Koreksi nilai tim penertiban aset Rp 1.542.438.174
- Penghapusan Rp 143.580.000
- Reklasifikasi keluar Rp 3.713.681.023
- Koreksi pencatatan Rp 55.892.500
- Penghentian aset dari penggunaan Rp 17,198,000
Rp
Saldo per 31 Desember 2009 5.965.038.777

Halaman 11 dari 13
Lampiran VI
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan
No. PER- 51/PB/2008
Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga

6. ASET TETAP YANG TIDAK DIGUNAKAN DALAM OPERASI (154112)

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI per 31


Desember 2009 sebesar Rp 8.393.490.799,9,- Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 108
buah/Rp 76.478.000,- mutasi tambah 2.205 buah /Rp 8.342.593.799,9,- mutasi kurang 62
buah/ Rp. 25.581.000,-

Mutasi tambah Aset Tetap Lainnya tersebut meliputi:

- Koreksi BPK Rp 3.946.360.941,9


- Reklasifikasi dari aset tetap ke aset lain Rp 4.396.232.858,0
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 8.342.593.799,9

Mutasi kurang Aset Tetap Lainnya tersebut meliputi:

- Penghapusan Rp 25.581.000
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 25.581.000

7. KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN (132111)

Disamping aset tetap yang tertuang dalam Laporan BMN pada tanggal 31 Desember 2009
Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja Kejaksaan RI juga menguasai sejumlah
aset tetap berbentuk Konstruksi Dalam Pengerjaan senilai Rp 71.987.815.595,- berupa
gedung dan bangunan dengan rincian sebagai berikut:

Saldo awal Rp 97.036.086.932


Penambahan Rp 122.063.017.415
Koreksi BPK Rp 1.952.442.650
KDP yang menjadi aset definitif Rp 149.063.731.402
Saldo per 31 Desember 2009 Rp 71.987.815.595

Halaman 12 dari 13
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS


SISTEM PENGENDALIAN INTERN
KEJAKSAAN RI
TAHUN 2009

Nomor : 31b/HP/XIV/05/2010
Tanggal : 10 Mei 2010

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


Jl. Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210
Telp/Faks (021) 5738725
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI................................................................................................................... i
RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN ........................................ 1

BAB 1 HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN


INTERN ......................................................................................................................... 5
1.1 Sistem Pengendalian Pendapatan Negara dan Hibah .............................................. 5
1.1.1 Pencatatan Pendapatan di Lingkungan Kejaksaan RI Belum
Memadai ....................................................................................................... 5
1.2 Sistem Pengendalian Belanja ................................................................................ 10
1.2.1 Belanja Langganan Daya dan Jasa pada Kejari Batu, Magetan, dan
Surabaya dengan Total Sebesar Rp3.787.695,00 Tidak Didukung
Bukti Pembayaran yang Sah ....................................................................... 10
1.3 Sistem Pengendalian Aset ..................................................................................... 12
1.3.1 Pengelolaan Kas oleh Bendahara Pengeluaran pada Kejari
Malang, Magetan, Kediri, Makassar, Belopa, Maros, Kejati
Sulsel, dan Kepri Tidak Tertib ................................................................... 12
1.3.2 Pembukaan Rekening Belum Memperoleh Ijin dari Menteri
Keuangan .................................................................................................... 16
1.3.3 Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Dalam Laporan Keuangan di
Beberapa Kejati dan Kejari-Kejari Belum Memadai.................................. 17
1.3.4 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap Belum Memadai ................. 27

1.3.5 Sistem Pelaporan Tagihan Uang Pengganti Tidak Didukung oleh


Sistem Pengendalian Intern yang Memadai ............................................... 39
1.3.6 Pencatatan Tagihan Tilang Verstek dan Titipan Tilang di Giro I,
II, III BRI Belum Memadai ........................................................................ 47
1.3.7 Jaminan Pemeliharaan Sebesar Rp1.483.867.250,00 dari
Pekerjaan Pembangunan Gedung dan Bangunan Tidak
Diungkapkan Dalam Catatan atas Laporan Keuangan ............................... 52
1.3.8 Proses Penyusunan LK Pada Beberapa Satker Tidak Berdasarkan
Proses Rekonsiliasi yang Efektif ................................................................ 53
1.3.9 Pencatatan dan Pelaporan Barang Bukti Pada Buku Register
Barang Bukti (RB-2) Seksi Pidana Umum di Kejari Makassar dan
Kejari Belopa Tidak Tertib ......................................................................... 56
1.4 Sistem Pengendalian Kewajiban ........................................................................... 57

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 i


1.4.1 Pelaporan Kewajiban Jangka Pendek Belum Memadai ............................. 57
BAB 2 HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN
ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN TAHUN 2004 – 2008 ........................ 60
Lampiran-Lampiran

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 ii


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN

Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK RI) telah memeriksa Neraca Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2009 dan 2008
serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut. BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Kejaksaan RI Tahun 2009 yang memuat opini wajar dalam semua hal yang material,
posisi keuangan Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2009 dan realisasi anggaran untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan, kecuali untuk dampak tidak disajikannya informasi adanya tunggakan
denda tilang yang diputus verstek oleh pengadilan yang sampai dengan tanggal pelaporan
belum dibayar oleh para pelanggar lalu lintas, barang-barang rampasan yang pada tanggal
pelaporan belum memiliki taksiran harga, dan barang-barang sitaan bernilai ekonomis
yang berada dalam pengawasan Kejaksaan RI dengan Nomor 31a/HP/XIV/05/2010
tanggal 10 Mei 2010 dan Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Terhadap Peraturan
Perundang-undangan Nomor 31c/HP/XIV/05/2010 tanggal 10 Mei 2010.
Sesuai Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), dalam pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Kejaksaan RI tersebut diatas, BPK RI mempertimbangkan sistem pengendalian
intern Kejaksaan RI untuk menentukan prosedur pemeriksaan dengan tujuan untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan dan tidak ditujukan untuk menyatakan
pendapat atas sistem pengendalian intern.
BPK menemukan kondisi yang dapat dilaporkan berkaitan dengan sistem pengendalian
intern dan operasinya. Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas
Laporan Keuangan Kejaksaan RI yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1. Sistem pelaporan tagihan Uang Pengganti tidak didukung oleh Sistem Pengendalian
Intern yang memadai antara lain belum seluruh satker mengintegrasikan pencatatan
dan pelaporan tagihan uang pengganti ke dalam aplikasi SAI. Pelaporan yang
dilakukan secara manual dan berjenjang dari tingkat satker (kejari), wilayah (kejati),
sampai ke pusat (Jampidsus) tidak akurat dan masih mengandung kesalahan. Hal ini
disebabkan antara lain oleh belum adanya standard operating procedure (SOP) yang
memadai dan dibakukan yang dapat dijadikan pedoman oleh setiap bidang yang
terlibat dalam proses pelaporan tagihan uang pengganti mulai dari turunnya putusan
incracht yang menimbulkan tagihan, pelunasan oleh terpidana, sampai kepada
pencatatan mutasi tagihan dan pelaporan dalam Laporan Keuangan. Hal ini

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 1 dari 61


mengakibatkan tidak akuratnya pelaporan tagihan uang pengganti dalam Laporan
Keuangan.
2. Pencatatan dan pelaporan Aset Tetap belum memadai antara lain rekonsiliasi
wilayah untuk Laporan BMN antara beberapa Kejati dengan kantor wilayah DJKN
setempat belum dilakukan, rekonsiliasi wilayah di beberapa Kejati antara SAK dan
SIMAK BMN belum dilakukan, barang inventaris hasil dropping dari Kejagung RI
belum dicatat sebagai aset tetap dalam Laporan BMN satker penerima, belanja
pemeliharaan yang memenuhi syarat untuk kapitalisasi belum menambah nilai aset
tetap, dan hasil revaluasi aset tetap oleh DJKN belum dilaporkan. Hal ini disebabkan
antara lain oleh kurangnya pemahaman para petugas akuntansi barang milik negara
terutama terkait dengan kapitalisasi aset tetap dan Standar Akuntansi Aset Tetap.
Selain itu, Biro Perencanaan Kejagung RI sebagai bagian yang mengadakan dan
mendistribusikan aset tetap dhi. peralatan dan mesin lalai dengan tidak
mencantumkan harga perolehan dalam Berita Acara Serah Terima Barang. Hal ini
mengakibatkan antara lain Laporan Keuangan dan Laporan BMN mengandung
kesalahan dan tidak menggambarkan kondisi serta nilai aset yang sebenarnya.
3. Pencatatan dan pelaporan Persediaan dalam Laporan Keuangan di beberapa Kejati
dan Kejari-Kejari belum memadai, antara lain inventarisasi fisik tidak dilakukan
secara periodik, buku persediaan tidak dikerjakan, rekonsiliasi persediaan barang
rampasan dengan KPKNL tidak dilakukan, barang rampasan yang belum
mempunyai taksiran harga pada tanggal pelaporan keuangan dan barang bukti/sitaan
yang bernilai ekonomis yang berada di bawah pengawasan Kejaksaan RI tidak
diungkapkan dalam CaLK, dan barang rampasan yang telah mempunyai taksiran
harga pada tanggal pelaporan keuangan belum seluruhnya dicatat dalam Neraca. Hal
ini mengakibatkan saldo persediaan dalam Neraca tidak akurat dan Laporan
Keuangan Kejaksaan RI TA 2009 kurang informatif. Hal ini disebabkan antara lain
petugas SAI pada tingkat satker dan wilayah kurang memahami Standar Akuntansi
Pemerintahan khususnya terkait dengan pengakuan dan penilaian persediaan.
4. Pencatatan pendapatan di lingkungan Kejaksaan RI belum memadai yang
mengakibatkan laporan realisasi pendapatan yang dihasilkan kurang akurat antara
lain rekonsiliasi pendapatan dengan KPKN setempat belum berjalan efektif dimana
masih ditemukan perbedaan antara saldo pendapatan yang dihasilkan oleh aplikasi
SAI dengan dokumen sumber, pendapatan telah disetor ke kas negara namun belum
dicatat dalam aplikasi SAI, dan kesalahan penggunaan MAP. Hal ini disebabkan
antara lain kuantitas dan kualitas SDM yang terkait dengan fungsi pencatatan dan
pelaporan pendapatan masih belum memadai.
5. Pencatatan tagihan tilang verstek dan titipan tilang di rekening Giro I, II, III pada
BRI belum memadai, antara lain tidak adanya catatan atau laporan tentang
tunggakan denda tilang yang diputus secara verstek dan titipan tilang pada BRI tidak
diungkapkan secara memadai dalam CaLK satker dan wilayah. Hal ini
mengakibatkan jumlah tunggakan tilang verstek per 31 Desember 2009 tidak dapat
diketahui secara pasti dan disebabkan oleh koordinasi antara bidang Pidana Umum
(Pidum) dan Pembinaan (Bin) mulai dari tingkat kejari, kejati sampai dengan
Kejagung RI masih lemah dalam hal diseminasi informasi denda tilang verstek dan
saldo rekening Giro I, II, dan III untuk kepentingan pelaporan keuangan. Selain itu,
petugas akuntansi di masing-masing kejari belum memahami perlakuan akuntansi

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 2 dari 61


atas tunggakan denda tilang verstek dan saldo titipan tilang di rekening Giro I, II dan
III.
6. Pelaporan kewajiban jangka pendek belum memadai, yaitu dengan adanya
tunggakan pembayaran biaya listrik, air, dan telepon pada beberapa kejari dan kejati
belum dilaporkan dalam Neraca masing-masing. Hal ini disebabkan antara lain
kurangnya pemahaman petugas SAI tentang pengakuan dan pelaporan kewajiban
dalam laporan keuangan dan tidak adanya sosialisasi dari Kejagung RI terkait
dengan pengakuan kewajiban kepada seluruh satker Kejaksaan RI di seluruh
Indonesia.
7. Jaminan pemeliharaan sebesar Rp1.483.867.250,00 dari pekerjaan pembangunan
gedung dan bangunan pada 8 satker tidak diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan masing-masing satker, wilayah, dan Kejagung RI Tahun 2009. Hal ini
disebabkan oleh kurangnya pemahaman dari petugas akuntansi mengenai perlakuan
akuntansi untuk jaminan pemeliharaan dari pekerjaan pembangunan gedung dan
bangunan.

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK RI merekomendasikan kepada Jaksa


Agung untuk memerintahkan Jaksa Agung Muda Pembinaan/Jaksa Agung Muda Tindak
Pidana Umum/Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus/Jaksa Agung Muda Perdata dan
Tata Usaha Negara/Jaksa Agung Muda Pengawasan/Kepala Kejaksaan Tinggi untuk
(1),berkoordinasi dalam rangka percepatan penyelesaian SOP terkait mekanisme
pencatatan dan pelaporan uang pengganti, (2) memberikan sosialisasi kepada para
petugas akuntansi di seluruh kejari mengenai pengakuan dan pelaporan tagihan uang
pengganti perkara korupsi yang telah inkracht, standar akuntansi aset tetap, kapitalisasi
aset tetap, pelaksanaan rekonsiliasi antara unit akuntansi keuangan dan unit akuntansi
barang, pengakuan dan penilaian persediaan, peraturan Dirjen Perbendaharaan tentang
pedoman akuntansi persediaan, khususnya tentang penatausahaan persediaan, pengakuan
dan pelaporan kewajiban, pengungkapan jaminan pemeliharaan ke dalam Catatan atas
Laporan Keuangan, mekanisme dan prosedur kerja rekonsiliasi internal antara Neraca dan
Laporan BMN di setiap satker serta rekonsiliasi Laporan Pendapatan antara Kejari/Kejati
(SAI) dan KPPN/Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat (SAU), penatausahaan dan
pertanggungjawaban keuangan bendahara, (3) memerintahkan Biro Perencanaan atau unit
kerja lain di Kejagung RI yang mengirimkan barang inventaris ke daerah agar
menyertakan harga perolehan dalam Berita Acara Serah Terima, (4) memerintahkan
seluruh Asbin dan Kasubagbin untuk meningkatkan koordinasi dengan Kantor Wilayah
DJKN dan KPKNL setempat dalam rangka ketepatan waktu pelaksanaan rekonsiliasi
Laporan BMN dan percepatan penyelesaian proses inventarisasi dan revaluasi aset tetap,
(5) menyusun petunjuk teknis tentang mekanisme pencatatan dan pelaporan barang
rampasan yang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh seluruh petugas akuntansi di satker,
(6) memerintahkan para Kajari untuk meningkatkan pengendalian intern atas pengelolaan
barang rampasan untuk menghindari potensi terjadinya kehilangan penerimaan Negara,
(7) menyusun dan mensosialisasikan SOP yang mengatur pelimpahan titipan tilang giro
ke rekening kas negara dan pelaporan uang titipan denda tilang giro dan denda tilang
verstek yang belum dibayar ke dalam Laporan Keuangan masing-masing Kejari, dan
(8),memerintahkan para Kajari agar meningkatkan komitmen dan pengawasan untuk
memastikan keakuratan laporan keuangan masing-masing.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 3 dari 61


Permasalahan dan rekomendasi perbaikan secara rinci dapat dilihat dalam laporan ini.

Jakarta, 10 Mei 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab Pemeriksaan

Gatot Supiartono, S.H., M.Acc., C.F.E., Ak.


Akuntan Register Negara No.D-5.747

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 4 dari 61


BAB 1
HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
Hasil pemeriksaan atas sistem pengendalian intern pada Kejaksaan RI Tahun
2009, adalah:

1.1 Sistem Pengendalian Pendapatan Negara dan Hibah

1.1.1 Pencatatan Pendapatan di Lingkungan Kejaksaan RI Belum Memadai


Saldo Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam Laporan Realisasi
Anggaran (unaudited) Kejaksaan RI Tahun 2009 sebesar Rp794.705.677.290,00. PNBP
Kejaksaan RI antara lain berasal dari hasil penjualan (pelelangan) barang rampasan,
penerimaan denda tilang, biaya perkara, denda dan uang pengganti dari perkara tindak
pidana korupsi yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht). Atas
penerimaan negara yang diterimanya, Bendahara Khusus Penerimaan (BKP) setiap satker
di lingkungan Kejaksaan RI akan melakukan penyetoran ke Kas Negara melalui bank
persepsi dengan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). SSBP yang telah
divalidasi oleh bank persepsi merupakan dokumen sumber pencatatan dalam Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) yang digunakan untuk menghasilkan laporan keuangan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan secara uji petik atas dokumen sumber pencatatan
pendapatan, laporan pendapatan dan hasil wawancara dengan petugas SAI pada Kejati
Sulawesi Selatan, Kejati Kepulauan Riau, Kejati Jawa Timur, Kejati Jawa Barat, Kejati
DKI Jakarta, Kejari Ujung Pandang, Kejari Pangkajene, Kejari Barru, Kejari Palopo,
Kejari Belopa, Kejari Maros, Kejari Batam, Kejari Tanjung Balai Karimun, Cabjari
Moro, Kejari Tanjung Pinang, Kejari Situbondo, Kejari Kediri, Kejari Lamongan, Kejari
Magetan, Kejari Malang, Kejari Batu, Kejari Surabaya, Kejari Bandung, Kejari Banjar,
Kejari Majalengka, Kejari Subang, Kejari Sumedang, Kejari Bogor, Kejari Cikarang,
Kejari Bekasi, Kejari Jakarta Selatan, Kejari Jakarta Pusat, Kejari Jakarta Barat, Kejari
Jakarta Utara, dan Kejari Jakarta Timur diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Belum dilakukan rekonsiliasi untuk saldo pendapatan antara Kejati Sulawesi Selatan
sebagai UAPPA-W dengan Kanwil Perbendaharaan setempat. Hal ini terjadi karena
masih terdapat satker yang belum mengirimkan laporan keuangannya, yaitu Kejari
Soppeng.
b. Rekonsiliasi pendapatan yang dilaksanakan oleh Kejari Banjar dan Majalengka
dengan KPKNL setempat belum berjalan efektif dimana masih ditemukan perbedaan
antara saldo pendapatan yang dihasilkan oleh aplikasi SAI dengan dokumen sumber
sebagai berikut:
Saldo menurut (Rp)
Satker Selisih
SAI Dokumen Sumber
Banjar 307.224.402,00 306.885.402,00 339.000,00
Majalengka 139.035.503,00 141.893.431,00 (2.857.928,00)
Jumlah (2.518.928,00)

c. Terdapat pendapatan yang telah disetor ke kas negara namun belum dicatat ke dalam
aplikasi Sistem Akuntansi Instansi (SAI) di tingkat satker sebesar Rp836.246.598,31,
dengan rincian sebagai berikut:

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 5 dari 61


SATKER JENIS PENDAPATAN JUMLAH (Rp)
Kejati Sulsel Pendapatan Jasa Giro 376.363,00
Pendapatan Sewa Rumah Dinas 285.100,00
Kejari Makassar Pendapatan Jasa Giro 175.709,77
Kejari Pangkep Pendapatan Jasa Giro 20.403,00
Kejari Barru Pendapatan Jasa Giro 115.651,00
Kejari Palopo Pendapatan Jasa Giro 82.907,00
Pendapatan Uang Rampasan 912.000,00
Pendapatan Denda/Tilang 2.411.000,00
Pendapatan Ongkos/Biaya Perkara 126.000,00
Kejari Maros Pendapatan Jasa Giro 20.233,00
Sub Total Kejati Sulsel 4.525.366,77
Kejari Situbondo Pendapatan Hasil Lelang Barang Rampasan 6.761.700,00
Pendapatan Jasa Giro 50.384,00
Kejari Batu Pendapatan Denda/Tilang 800.000,00
Kejati Jatim Pendapatan Jasa Giro 758.905,00
Kejari Kediri Pendapatan Jasa Giro 45.074,00
Kejari Magetan Pendapatan Jasa Giro 86.838,00
Kejari Surabaya Pendapatan Uang Rampasan 38.307.000,00
Pendapatan Denda/Tilang 665.681.200,00
Pendapatan Uang Pengganti 22.230.499,00
Sub Total Kejati Jatim 734.721.600,00
Kejati DKI Jakarta Pendapatan jasa giro 2.801.924,82
Kejari Jaksel Pendapatan jasa giro 65.351,00
Pendapatan penjualan hasil rampasan 67.320.000,00
Pendapatan denda tilang dan ongkos perkara 9.533.000,00
dari pelimpahan BRI
Kejari Jakbar Pendapatan jasa giro 445.991,72
Kejari Jaktim Pendapatan jasa giro 166.520,00
Kejari Jakut Pendapatan jasa giro 222.400,00
Pendapatan denda tilang 16.444.444,00
Sub Total Kejati DKI Jakarta 96.999.631,54
Total 836.246.598,31

d. Terdapat pendapatan yang terlambat disetor pada tahun 2010 sehingga belum dicatat
ke dalam aplikasi SAI tingkat satker tahun 2009 sebesar Rp180.731.000,00 dengan
rincian sebagai berikut:
Satker Jenis Pendapatan Jumlah (Rp)
Kejari Situbondo Pendapatan Uang Rampasan 448.000,00
Kejari Batu Pendapatan Uang Rampasan 626.000,00
Kejari Surabaya Pendapatan Uang Rampasan 619.000,00
Pendapatan Ongkos Perkara 5.188.000,00
Pendapatan Denda/Tilang 173.850.000,00
Total 180.731.000,00

e. Terdapat kesalahan pencatatan pendapatan sebesar Rp203.386.960,00 dengan rincian


sebagai berikut:
MAP MAP
Kejari Uraian Jumlah (Rp)
Awal Koreksi
Belopa Pendapatan uang 423414 423114 5.598.000,00
rampasan
Potongan Taperum 423141 811911 10.000,00
Pangkep Potongan Taperum 423141 811911 35.000,00

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 6 dari 61


MAP MAP
Kejari Uraian Jumlah (Rp)
Awal Koreksi
Batu Pendapatan denda/tilang 423415 423414 350.000,00
Kediri Pendapatan uang 423414 423114 240.000,00
rampasan
Pendapatan denda/tilang 423415 423414 47.663.000,00
Lamongan Pendapatan lelang barang 423414 423114 24.255.000,00
rampasan
Pendapatan denda/tilang 423415 423414 6.416.000,00
Malang Pendapatan Ongkos 423414 423415 1.094.000,00
Perkara
Surabaya Pendapatan denda/tilang 423415 423414 16.225.000,00
Pendapatan lelang barang 423141 423114 250.000,00
rampasan
Kepanjen Pendapatan Penjualan 423113 423114 204.000,00
Hasil Sitaan/Rampasan
dan Harta Peninggalan
Pendapatan Penjualan 423227 423114 434.000,00
Hasil Sitaan/Rampasan
dan Harta Peninggalan
Pamekasan Pendapatan Penjualan 423117 423114 46.673.550,00
Hasil Sitaan/Rampasan
dan Harta Peninggalan
Pacitan Pendapatan Penjualan 423117 423114 3.206.610,00
Hasil Sitaan/Rampasan
dan Harta Peninggalan
Pendapatan Penjualan 423215 423114 8.000,00
Hasil Sitaan/Rampasan
dan Harta Peninggalan
Nganjuk Pendapatan Sewa Rumah 423131 423141 936.900,00
Dinas/Rumah Negeri
Pasuruan Pendapatan denda/tilang 423214 423414 598.000,00
Ponorogo Pendapatan denda/tilang 423214 423414 3.028.000,00
Pendapatan Ongkos 423215 423415 26.000,00
Perkara
Madiun Pendapatan denda/tilang 423411 423414 1.069.000,00
Sub Total Jatim 158.320.060,00
Jakarta Utara Pengembalian sisa uang 423221 423913 900,00
persediaan TAYL
Pendapatan denda tilang 423415 423414 42.522.000,00
Jakarta Selatan Pendapatan denda/tilang 423214 423414 2.544.000,00
Sub Total Kejati DKI Jakarta 45.066.900,00
Total 203.386.960,00

f. Terdapat kelebihan pencatatan pendapatan sebesar Rp22.884.300,00 pada aplikasi


SAKPA Kejari Jakarta Utara diketahui jumlah sebenarnya Rp2.542.700,00 tercatat
sebesar Rp25.427.000,00.
g. Terdapat kurang catat pendapatan pada SAPPAW (kejati) sebesar Rp106.619.770,00
jika dibandingkan dengan pencatatan pada SAKPA (kejari), dengan rincian sebagai
berikut:

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 7 dari 61


Lebih/(Kurang)
Kejari MAP Nama MAP
Catat (Rp)
Situbondo 423114 Pendapatan Penjualan Hasil (45.450.900,00)
Sitaan/Rampasan dan Harta Peninggalan
Batu 423415 Pendapatan Ongkos Perkara (73.000,00)
Magetan 423114 Pendapatan Penjualan Hasil (19.218.550,00)
Sitaan/Rampasan dan Harta Peninggalan
423415 Pendapatan Ongkos Perkara (217.500,00)
Lamongan 423221 Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan (Jasa (27.674,00)
Giro)
Sub Total Kejati Jatim (64.987.624,00)
Jakarta Utara 423414 Pendapatan Denda Tilang (79.849.667,00)
423415 Pendapatan Ongkos Perkara (1.023.400,00)
Sub Total Kejati DKI Jakarta (80.873.067,00)
Bekasi 423414 Pendapatan Denda Tilang 39.240.921,00
Sub Total Kejati Jabar 39.240.921,00
TOTAL (106.619.770,00)

h. Terdapat duplikasi pencatatan pendapatan sebesar Rp61.308.600,00 dengan rincian


sebagai berikut:
Kejari No. NTPN Tanggal MAP Jumlah (Rp)
Batu 0412011203061412 28 Mei 2009 423414 1.235.000,00
1210031010130502 28 Mei 2009 423414 2.450.000,00
1001061113081503 28 Mei 2009 423415 30.000,00
1004101402121002 28 Mei 2009 423415 5.000,00
Surabaya 0213021508011115 1 April 2009 423414 2.000.000,00
0314060315130411 1 April 2009 423414 2.960.000,00
0408041304061406 31 Maret 2009 423414 9.155.000,00
0409060110090006 31 Maret 2009 423414 14.040.000,00
0900120102060709 1 April 2009 423414 5.190.000,00
1108111305041509 1 April 2009 423414 7.585.000,00
1208120500150402 27 April 2009 423414 2.395.000,00
0306011115000802 1 April 2009 423415 97.000,00
0513140115071503 1 April 2009 423415 130.000,00
0705041409030407 1 April 2009 423415 153.000,00
1201100611100110 31 Maret 2009 423415 282.000,00
1301060712051310 31 Maret 2009 423415 437.000,00
0809100809001510 3 Desember 2009 423415 300.000,00
Sub Total Kejati Jatim 48.444.000,00
Jakarta Pusat 0911121010070514 12 Desember 2008 423415 86.000,00
1106081301021106 12 Desember 2008 423414 9.278.600,00
Jakarta Utara 0515000403011306 12 September 2009 423414 3.500.000,00
Sub Total Kejati DKI Jakarta 12.864.600,00
Total 61.308.600,00
i. Masih terdapat selisih jumlah pendapatan denda/tilang dan rampasan sebesar
Rp198.364.450,00 antara laporan bagian pidum, pembinaan, dan pidsus dengan
laporan SAI dengan rincian sebagai berikut:
Laporan Pidum/
Kejari Jenis Pendapatan Pidsus/ Laporan SAI Selisih
Pembinaan
Malang Pendapatan denda/tilang 683.207.000,00 673.276.000,00 9.931.000,00
Surabaya Pendapatan denda/tilang 3.228.086.700,00 3.060.774.200,00 167.312.500,00
Pendapatan Uang Rampasan 189.685.000,00 189.998.000,00 (313.000,00)

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 8 dari 61


Laporan Pidum/
Kejari Jenis Pendapatan Pidsus/ Laporan SAI Selisih
Pembinaan
Sub Total Kejati Jatim 176.930.500,00
Jakarta Pendapatan Uang Rampasan 764.896.000,00 768.803.000,00 (3.907.000,00)
Selatan
Jakarta Pendapatan Uang Rampasan 21.411.000,00 6.232.000 15.179.000,00
Timur
Jakarta Pendapatan Denda 2.463.497.393,00 2.465.219.343,00 (1.721.950,00)
Utara
Sub Total Kejati DKI Jakarta 9.550.050,00
Total 186.480.550,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007 tanggal
27 Desember 2007 Tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Pemerintah
Pusat Pasal 1 angka 44 antara lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
rekonsiliasi adalah proses pencocokan data transaksi keuangan yang diproses dengan
beberapa sistem/subsistem yang berbeda berdasarkan dokumen sumber yang sama.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan – Kerangka Konseptual menetapkan bahwa basis akuntansi untuk
pengakuan Pendapatan adalah basis kas. Hal ini berarti pendapatan diakui atau
dicatat pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh
entitas pelaporan.
c. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 Tanggal 28 Juni
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara:
1) Pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa pendapatan negara pada departemen/
lembaga wajib disetor sepenuhnya dan pada waktunya ke rekening Kas Negara.
2) Pasal 20:
a) Ayat (1) Orang atau badan yang melakukan pemungutan atau penerimaan
uang negara wajib menyetor seluruh penerimaan dalam waktu 1 (satu) hari
kerja setelah penerimaannya ke rekening Kas Negara pada bank
pemerintah, atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
b) Ayat (2) Bendaharawan penerima/penyetor berkala wajib menyetor/
melimpahkan seluruh penerimaan negara yang telah dipungutnya ke
rekening Kas Negara sekurang-kurangnya sekali seminggu.
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Saldo akun Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dilaporkan Kejaksaan RI
dalam LRA TA 2009 kurang saji minimal sebesar Rp861.531.396,31
(Rp2.857.928,00 + Rp836.246.598,31 - Rp22.884.300,00 + Rp106.619.770,00 -
Rp61.308.600,00).
b. Informasi tentang jenis pendapatan yang dimiliki oleh Kejaksaan RI kurang akurat.
c. Akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan Pendapatan Negara Bukan Pajak
di lingkungan Kejaksaan RI TA 2009 belum memadai.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 9 dari 61


Hal tersebut disebabkan:
a. Masih lemahnya komitmen dan pengawasan para kepala satuan kerja selaku kepala
entitas akuntansi untuk memastikan keakuratan laporan keuangan dhi. LRA sebagai
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN di lingkungan masing-masing.
b. Kuantitas dan kualitas SDM yang terkait dengan fungsi pencatatan dan pelaporan
pendapatan masih belum memadai.
c. Para petugas SAI, Bendahara Pengeluaran, dan Bendahara Penerima tidak cermat
dalam melaporkan dan menyetorkan realisasi Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan
(Jasa Giro) tahun 2009 yang menjadi tanggung jawabnya.
d. Kurangnya koordinasi antara Bendahara Pengeluaran selaku pemilik rekening dalam
menginformasikan pendapatan jasa giro yang diterimanya kepada bendahara
penerima yang berwenang untuk menyetorkan pendapatan yang diterima oleh suatu
satker.
Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan bahwa sepakat
dengan temuan BPK RI dan akan segera ditindaklanjuti dengan:
a. Melakukan penyesuaian/koreksi dan reklasifikasi pada akun Pendapatan dalam LRA
masing-masing satker sesuai temuan BPK RI. Untuk sementara, koreksi dan
reklasifikasi telah dilakukan dalam LRA Kejaksaan RI.
b. Menyetorkan pendapatan yang belum disetor ke kas negara.
c. Melakukan penelusuran kembali terhadap bukti SSBP dan penyebab adanya selisih
saldo pendapatan menurut data Pidum, Pidsus dan Bendahara Khusus Penerima
dengan yang dilaporkan dalam aplikasi SAI.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan Asbin dan Kasubagbin untuk melakukan
penyesuaian/koreksi dan reklasifikasi pada akun Pendapatan dalam LRA masing-
masing satker sesuai temuan BPK RI.
b. Para Kajati untuk menginstruksikan para Kajari agar mengenakan sanksi sesuai
dengan peraturan kepegawaian yang berlaku kepada para petugas akuntansi,
bendahara pengeluaran, dan bendahara penerimaan yang tidak cermat dalam
melaksanakan tugasnya dalam melaporkan dan menyetorkan pendapatan di masing-
masing satker.
c. Para Kajati untuk menginstruksikan para Kajari agar meningkatkan pengawasan dan
komitmen untuk memastikan keakuratan laporan keuangan satker masing-masing.

1.2 Sistem Pengendalian Belanja

1.2.1 Belanja Langganan Daya dan Jasa pada Kejari Batu, Magetan, dan
Surabaya dengan Total Sebesar Rp3.787.695,00 Tidak Didukung Bukti
Pembayaran yang Sah
Seluruh satuan kerja di lingkungan Kejati Jawa Timur pada Tahun 2009
mendapatkan alokasi anggaran untuk belanja langganan daya dan jasa (MAK 522111)
sebesar Rp2.170.802.000,00. Anggaran ini digunakan untuk membayar tagihan listrik,
air, dan telepon dengan realisasi belanja mencapai Rp2.029.003.819,00 atau sekitar
93,47%.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 10 dari 61


Berdasarkan hasil pemeriksaan atas dokumen bukti-bukti pendukung pembayaran
tagihan listrik, air, dan telepon pada Kejati Jawa Timur, Kejari Situbondo, Malang, Batu,
Kediri, Magetan, Lamongan, dan Surabaya diketahui hal-hal berikut:
a. Pembayaran atas langganan dan pemakaian listrik, telepon, dan air menggunakan
Uang Persediaan yang dikelola oleh para bendahara pengeluaran di setiap satker.
b. Bukti pendukung berupa tagihan listrik, telepon, dan air dari PLN, Telkom, dan
PDAM setempat TA 2009 di Kejari Surabaya, Batu, dan Magetan tidak disimpan
dengan lengkap sehingga sampai saat pemeriksaan di ketiga satker tersebut berakhir,
bendahara pengeluaran tidak dapat menyediakan bukti-bukti tersebut secara lengkap
kepada Tim BPK.
c. Perbandingan antara realisasi pencairan dana belanja langganan daya dan jasa
menurut SP2D-GU dengan bukti pendukung berupa tagihan listrik, telepon, dan air
dari PLN, Telkom, dan PDAM setempat TA 2009 yang dapat ditunjukkan kepada
Tim BPK menunjukkan adanya selisih lebih sebesar Rp3.787.695,00 dengan rincian
sebagai berikut:
Jumlah menurut (Rp)
No Kejari Selisih
Bukti Tagihan Pembayaran (SP2D)
1) Surabaya 149.071.666,00 150.028.050,00 956.384,00
2) Batu 19.963.047,00 21.918.500,00 1.955.453,00
3) Magetan 22.484.142,00 23.360.000,00 875.858,00
Jumlah 191.518.855,00 195.306.550,00 3.787.695,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Menteri Keuangan No. 73/PMK.05/2008 tanggal 9 Mei 2008 tentang Tata
Cara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara
Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja Pasal 9 ayat (2) menetapkan
antara lain bahwa Bendahara Pengeluaran melaksanakan pembayaran dari UP yang
dikelolanya setelah :
1) meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diajukan oleh PA/Kuasa PA
meliputi kuitansi/tanda terima, faktur pajak, dan dokumen lainnya yang menjadi
dasar hak tagih;
2) menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah
pembayaran, termasuk perhitungan pajak dan perhitungan atas kewajiban lainnya
yang berdasarkan ketentuan dibebankan kepada pihak ketiga.
Selain itu, pada ayat (3) disebutkan bahwa Bendahara Pengeluaran wajib menolak
perintah pembayaran dari PA/Kuasa PA apabila persyaratan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) tidak terpenuhi.
b. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Per-66/PB/2005 tanggal Desember 2005
tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Pasal 5 angka 2 menetapkan bahwa pejabat penerbit SPM dalam
melakukan pengujian atas SPP antara lain:
1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
2) Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain nilai tagihan
yang harus dibayar.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 11 dari 61


Hal tersebut mengakibatkan kelebihan pertanggungjawaban belanja langganan
daya dan jasa sebesar Rp3.787.695,00.
Hal tersebut disebabkan:
a. Bendahara pengeluaran lalai dalam melakukan pengujian atas permintaan
pembayaran dari UP yang dikelolanya dan tidak menyimpan bukti pendukung
pembayaran langganan daya dan jasa secara tertib sesuai ketentuan yang berlaku.
b. Lemahnya pengawasan atasan langsung pejabat penerbit SPM dan bendahara
pengeluaran.
Atas permasalahan tersebut Asisten Pembinaan Kejati Jawa Timur menjelaskan
bahwa:
a. Kejari Surabaya dan Magetan telah menemukan bukti tagihan pembayaran langganan
daya dan jasa. Namun bukti tersebut belum disampaikan kepada BPK RI.
b. Kejari Batu akan menyetor kelebihan pembayaran langganan daya dan jasa ke kas
negara.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Kajati Jawa
Timur untuk segera menyampaikan bukti tagihan pembayaran langganan daya dan jasa
pada Kejari Surabaya dan Magetan sesuai dengan temuan BPK RI serta menyetorkan
kelebihan pembayaran langganan daya dan jasa pada Kejari Batu ke kas negara.
Selanjutnya menyampaikan bukti setor ke BPK RI.

1.3 Sistem Pengendalian Aset

1.3.1 Pengelolaan Kas oleh Bendahara Pengeluaran pada Kejari Malang,


Magetan, Kediri, Makassar, Belopa, Maros, Kejati Sulsel, dan Kepri Tidak
Tertib
Akun Kas di Bendahara Pengeluaran digunakan untuk mencatat sisa uang muka
kerja yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran yang belum disetor ke kas Negara pada
tanggal neraca. Kas tersebut dicatat sebesar nilai nominal uang yang dimiliki baik yang
berbentuk tunai ataupun yang berada di bank.
Perubahan atau mutasi saldo akun ini diakibatkan oleh adanya penyediaan atau
tambahan Uang Persediaan (UP) dan adanya pengembalian atau setoran UP serta
pertanggungjawaban Ganti Uang Persediaan (GUP) Nihil.
Akun Kas di Bendahara Pengeluaran disajikan di Neraca sebagai bagian dari pos
Aset Lancar. Penyeimbang akun Kas di Bendahara Pengeluaran adalah akun Uang Muka
dari KPPN yang disajikan di Neraca sebagai bagian dari pos Kewajiban Jangka Pendek.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pengelolaan Kas oleh Bendahara
Pengeluaran pada Kejati Jatim, Sulsel, dan Kepri serta kejari-kejari di masing-masing
Kejati tersebut diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Kejati Jatim
1) Terdapat uang selain uang persediaan yang tersimpan di brankas bendahara
pengeluaran Kejari Malang dan Magetan yang merupakan barang bukti dari
perkara yang masih ditangani sebesar Rp461.304.500,00 dengan rincian sebagai
berikut:

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 12 dari 61


No. Kejari Nama Terdakwa Jumlah (Rp)
a) Malang Kariyono 77.845.000,00
Drs. EC. Hadi Wotomo, MM 144.610.000,00
Bambang Setyadin 103.300.000,00
Sri Nurkudri 10.000.000,00
Sri Rahayu 52.302.500,00
Dwi Basuki 56.747.000,00
Sub Jumlah 444.804.500,00
b) Magetan Joko Utomo 15.000.000,00
Muhtarom bin Dimjati 1.500.000,00
Sub Jumlah 16.500.000,00
Jumlah 461.304.500,00
Barang bukti berupa uang ini belum diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan Kejari Malang dan Magetan per 31 Desember 2009.
2) Terdapat uang tunai yang disimpan di brankas bendahara pengeluaran melebihi
dari ketentuan yang berlaku, yaitu uang persediaan sebesar Rp27.000.000,00
yang disimpan dalam brankas bendahara pengeluaran Kejari Kediri pada waktu
dilakukan penutupan kas oleh Tim BPK RI pada tanggal 12 Maret 2009.
b. Kejati Sulsel
1) Terdapat uang selain uang persediaan yang tersimpan di brankas bendahara
pengeluaran Kejati Sulawesi Selatan sebesar Rp2.650.000,00 pada saat
penutupan kas tanggal 18 Februari 2010. Uang tersebut terdiri dari:
a) uang honor program penerapan kepemerintahan bulan November s.d.
Desember 2009 pada Kejati Sulawesi Selatan sebesar Rp1.080.000,00 yang
belum dibayarkan kepada yang berhak dan belum dicatat dalam akun kas lain
di bendahara pengeluaran,
b) adanya titipan uang honor milik Ibu Riri sebesar Rp1.350.000,00 tanpa
adanya berita acara penitipan di brankas bendahara pengeluaran, dan
c) uang sebesar Rp220.000,00 yang tidak dapat dijelaskan oleh bendahara
pengeluaran.
2) Terdapat uang tunai yang disimpan di brankas bendahara pengeluaran melebihi
dari ketentuan yang berlaku, yaitu uang persediaan yang disimpan dalam brankas
bendahara pengeluaran Kejari Makassar pada waktu dilakukan penutupan kas
tanggal 19 Februari 2009 sebesar Rp21.320.000,00.
3) Terdapat pengeluaran uang persediaan senilai Rp40.251.661,00 di Kejari Belopa
yang sampai pemeriksaan berakhir pada tanggal 26 Pebruari 2010 tidak ada
kuitansi pembayaran/dokumen pertanggungjawabannya.
4) Bendahara pengeluaran Kejari Maros tidak mempunyai brankas, sehingga
penyimpanan uang persediaan dititipkan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Maros
tanpa adanya berita acara penitipan uang persediaan. Dan terdapat kas kurang
sebesar Rp95.870,00 pada saat penutupan kas tanggal 1 Maret 2010 yang tidak
dapat dijelaskan oleh bendahara pengeluaran.
c. Kejati Kepri
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan Kejati Kepulauan Riau Tahun 2009 selaku
UAKPA diungkapkan bahwa pada tanggal 31 Desember 2009, Bendahara

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 13 dari 61


Pengeluaran Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau (Kejati Kepri) telah melakukan
penutupan kas. Hasil pemeriksaan kas yang tertuang dalam register penutupan kas
menunjukkan adanya saldo kas di bendahara pengeluaran yang bukan berasal dari
Uang Persediaan atau Tambahan Uang Persediaan sebesar Rp32.356.225,00 dengan
rincian berikut:
No Uraian Jumlah Keterangan
1 Surat Setoran Pajak UP/TUP 29.116.925,00 Disetorkan/
2 Pembayaran gaji bulan September s.d. Nopember 2.252.000,00 dibayarkan
2009 untuk 11 orang pegawai setelah tanggal
3 Pembayaran kekurangan gaji bulan April s.d. Juli 987.300,00 31 Desember
2009 untuk satu orang pegawai 2009
Total 32.356.225,00

Saldo kas dari pajak yang belum disetorkan oleh bendahara sebesar Rp29.116.925,00
belum dicatat dan dilaporkan dalam Neraca sebagai Akun Kas Lainnya di Bendahara
Pengeluaran.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah
(PSAP) no. 41 tentang Penyajian Laporan menetapkan antara lain bahwa pengukuran
kas adalah sebesar nilai nominal. Oleh karena itu, saldo kas di Bendahara
Pengeluaran per tanggal neraca harus sesuai dengan nominal kas yang ada pada
tanggal tersebut.
b. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 73/PMK.05/2008 tentang Tata Cara
Penatausahaan Dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara
Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja;
1) Pasal 3 Ayat (11) menetapkan bahwa Bendahara wajib menatausahakan seluruh
uang yang dikelolanya dan seluruh transaksi dalam rangka pelaksanaan anggaran
satuan kerja.
2) Pasal 12 menetapkan bahwa disamping mengelola UP, Bendahara Pengeluaran
juga mengelola uang lainnya, meliputi:
a) Uang yang berasal dari Kas Negara, melalui SPM-LS/SP2D yang ditujukan
kepadanya;
b) Uang yang berasal dari potongan atas pembayaran yang dilakukannya
sehubungan dengan fungsi bendahara selaku wajib pungut; dan
c) Uang dari sumber lainnya yang menjadi hak negara.
3) Pasal 13 ayat (2) menetapkan bahwa uang sebagaimana dimaksud pada Pasal 12
huruf b dan c, serta sisa uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a
harus segera disetorkan ke Kas Negara sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Dalam hal tidak ada ketentuan yang mengatur waktu penyetorannya,
setoran dilakukan paling lambat pada akhir bulan berkenaan.
c. Surat Edaran Dirjen Anggaran Nomor SE – 157 – A – 2002 tanggal 17 September
2002 tentang petunjuk teknis pelaksanaan APBN Huruf F angka 6 antara lain
menyebutkan bahwa untuk keperluan pembayaran tunai sehari-hari setiap
bendaharawan rutin, bendaharawan proyek/bagian proyek diizinkan mempunyai uang
tunai hingga setinggi-tingginya sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
d. Lampiran Kepja No. KEP-112/JA/10/1989 tentang Mekanisme Penerimaan,
Penyimpanan dan Penataan Barang Bukti Bab II tentang Penyimpanan Barang Bukti

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 14 dari 61


poin 5.b. menetapkan bahwa barang bukti berbentuk logam mulia, perhiasan, uang
dan barang berharga lainnya yang nilainya melebihi Rp10.000.000,00 harus
dititipkan/disimpan pada Bank Milik Pemerintah disertai Berita Acara Penitipan
Barang Bukti.
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Akun Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran kurang dilaporkan dalam Neraca Kejati
Kepri dan Sulsel per 31 Desember 2009 masing-masing sebesar Rp29.116.925,00 dan
Rp2.650.000,00 atau total sebesar Rp31.766.925,00.
b. Timbul potensi penyimpangan dan resiko pengamanan jika bendaharawan
menyimpan uang persediaan maupun titipan lainnya berlebihan dalam brankas.
c. Terdapat kas tekor sebesar Rp40.347.531,00 pada bendahara pengeluaran Kejari
Belopa dan Kejari Maros (Rp40.251.661,00 + Rp95.870,00).
Hal tersebut disebabkan:
a. Bendahara pengeluaran lalai dalam melaksanakan tugasnya dan kurang memahami
ketentuan terkait pertanggungjawaban bendahara.
b. Tidak berjalannya prosedur verifikasi untuk menjamin semua informasi keuangan
yang ditampilkan telah akurat.
c. Lemahnya pengawasan dari Kepala Kejaksaan Negeri selaku atasan langsung
bendahara pengeluaran atas kegiatan pengelolaan keuangan oleh bendahara.
Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan bahwa sepakat
dengan temuan BPK RI dan akan segera ditindaklanjuti dengan:
a. Mengungkapkan barang bukti berupa uang yang dititipkan di brankas bendahara
pengeluaran dalam CaLK per 31 Desember 2009.
b. Selanjutnya barang bukti berupa uang dan uang rampasan akan dititipkan pada bank
dengan meminta ijin Departemen Keuangan untuk membuka rekening baru.
c. Melakukan koreksi/penyesuaian terhadap akun Kas Lain di Bendahara Pengeluaran
pada Neraca Kejati Kepri dan Sulsel sesuai dengan temuan BPK RI. Untuk
sementara, koreksi telah dilakukan pada Neraca Kejaksaan RI.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan para Asbin dan Kasubagbin agar mengungkapkan
barang bukti berupa uang yang dititipkan kepada bendahara pengeluaran dalam
Catatan atas Laporan Keuangan masing-masing Satker dan Wilayah sesuai dengan
temuan BPK RI.
b. Jambin untuk menginstruksikan Asbin Kejati Kepri dan Sulsel untuk melakukan
koreksi/penyesuaian terhadap akun Kas Lain di Bendahara Pengeluaran pada Neraca
Kejati Kepri dan Sulsel sesuai dengan temuan BPK RI.
c. Para Kajati untuk menginstruksikan para Kajari untuk mengenakan sanksi kepada
bendahara pengeluaran di satker masing-masing yang lalai dalam melaksanakan
penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangannya sesuai ketentuan.
d. Para Kajati untuk menginstruksikan para Kajari untuk meningkatkan pengawasan
terhadap pengelolaan keuangan yang dilaksanakan oleh bendahara pengeluaran.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 15 dari 61


1.3.2 Pembukaan Rekening Belum Memperoleh Ijin dari Menteri Keuangan
Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi pelaksanaan penegakan hukum yang
bersifat represif yang berintikan keadilan di bidang pidana untuk menjamin kepastian
hukum, kewibawaan pemerintah, dan penyelamatan kekayaan negara berdasarkan
peraturan perundang-undangan, semua Kejaksaan Negeri (Kejari) di lingkungan
Kejaksaan Tinggi (Kejati) melakukan kegiatan-kegiatan antara lain penyidikan,
penuntutan, dan eksekusi putusan pengadilan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan penyidikan, dimungkinkan dilakukan
penyitaan untuk kepentingan pembuktian dalam tahapan penyidikan, penuntutan dan
peradilan.
Terhadap benda sitaan dalam bentuk uang, selama ini kejaksaan memiliki
beberapa alternatif penyimpanan sebagai berikut:
a. Disimpan di brankas kantor/bendahara, dengan catatan nilainya dibawah
Rp10.000.000,00.
b. Disimpan dalam bentuk safe deposit box pada bank pemerintah.
c. Disimpan dalam bentuk rekening pada bank pemerintah.
Sesuai ketentuan, kepala kantor/satuan kerja selaku Pengguna Anggaran/Kuasa
Pengguna Anggaran dapat membuka rekening penerimaan dan/atau rekening pengeluaran
dengan persetujuan Bendahara Umum Negara yang dikuasakan kepada Kuasa Bendahara
Umum Negara Pusat dhi. Direktur Jenderal Perbendaharaan (Dirjen Pb) dan Kuasa
Bendahara Umum Negara dhi. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di
daerah. Sedangkan untuk pembukaan rekening lainnya boleh dilakukan setelah mendapat
persetujuan Bendahara Umum Negara kemudian dikuasakan kepada Kuasa Bendahara
Umum Negara Pusat (Dirjen Pb).
Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan barang rampasan, barang bukti,
dan barang sitaan pada Kejari Situbondo dan Kejari Palopo diketahui terdapat rekening
pada Bank Jatim Cabang Situbondo dan BNI Cabang Palopo belum disertai izin dari
Dirjen Pb serta belum dilaporkan dalam Laporan Keuangan (LK) Kejari Situbondo dan
Kejari Palopo. Adapun rekening BNI yang belum mendapatkan izin tersebut yaitu:
1) Rekening pada Bank Jatim No. Rek 0299888886 (Penerimaan Dana Diperhitungkan)
yang dipergunakan untuk penitipan barang bukti atas nama Kejaksaan Negeri
Situbondo, dengan saldo rekening pada tanggal pemeriksaan (08 Maret 2010) sebesar
Rp234.816.650,00. Sedangkan saldo rekening per 31 Desember 2009 sebesar
Rp380.966.650,00.
2) Rekening lainnya berupa Giro Penitipan Barang Bukti pada BNI Cabang Palopo No.
Rek 8989899989 atas nama Kejaksaan Negeri Palopo. Saldo rekening per tanggal
pemeriksaan (25 Februari 2010) sebesar Rp757.067.000,00 dengan saldo rekening
per 31 Desember 2009 tidak berubah.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.05/2007 Tentang Pengelolaan
Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja:
1) Pasal 2 menyebutkan:
a) Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Kantor/Satuan Kerja selaku Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dapat membuka rekening penerimaan

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 16 dari 61


dan/atau rekening pengeluaran dengan persetujuan Bendahara Umum
Negara.
b) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikuasakan kepada Kuasa
Bendahara Umum Negara Pusat dan Kuasa Bendahara Umum Negara di
Daerah.
2) Pasal 3 menyebutkan:
a) Menteri/Pimpinan Lembaga dapat membuka rekening lainnya setelah
mendapat persetujuan Bendahara Umum Negara.
b) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikuasakan kepada Kuasa
Bendahara Umum Negara Pusat.
b. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-35/PB/2007 tentang
Petunjuk Teknis Pengelolaan Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/
Satuan Kerja:
1) Pasal 9 ayat 1 menyebutkan bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Kantor/
Satuan Kerja selaku Pengguna/Kuasa Pengguna wajib melaporkan rekening
penerimaan, pengeluaran dan rekening lainnya kepada Dirjen Perbendaharaan
atau KPPN paling lambat lima hari sejak tanggal pembukaan rekening.
2) Pasal 10 menyebutkan bahwa rekening penerimaan, pengeluaran, dan rekening
lainnya harus dilaporkan dan disajikan dalam daftar lampiran pada Laporan
Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja yang
bersangkutan.
Hal tersebut mengakibatkan rekening tidak tercatat dalam database Dirjen
Perbendaharaan sehingga menyulitkan pemantauan atas rekening tersebut.
Hal tersebut disebabkan lemahnya komitmen Kejari Situbondo dan Kejari Palopo
dalam mendukung upaya dari pemerintah pusat dhi. Departemen Keuangan untuk
penertiban dan transparansi kepemilikan rekening di kementerian/lembaga.
Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan bahwa sepakat
dengan temuan BPK RI dan akan segera ditindaklanjuti dengan membuat surat ijin
penggunaan rekening lainnya kepada Menteri Keuangan melalui Kejaksaan Tinggi Jawa
Timur dan Sulawesi Selatan yang akan diteruskan ke Kejaksaan Agung RI.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan para Kajati
untuk menginstruksikan para Kajari segera mengajukan ijin kepada Menteri Keuangan
atas setiap pembukaan rekening yang dilakukan di satker masing-masing.

1.3.3 Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Dalam Laporan Keuangan di


Beberapa Kejati dan Kejari-Kejari Belum Memadai
Persediaan merupakan jenis aset dalam bentuk barang atau perlengkapan
(supplies) pada tanggal neraca, yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung
kegiatan operasional pemerintah dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual
dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Khusus untuk
Kejaksaan RI, persediaan juga mencakup barang rampasan yang merupakan barang sitaan
perkara tindak pidana umum (pidum) dan tindak pidana khusus (pidsus) yang berdasarkan
keputusan pengadilan berkekuatan hukum tetap (inkracht) dirampas untuk negara.
Sebagai eksekutor putusan pengadilan, kejaksaan selanjutnya akan melakukan pelelangan
atas barang rampasan tersebut bekerja sama dengan kantor pelayanan kekayaan negara

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 17 dari 61


dan lelang (KPKNL) setempat. Sebelum pelelangan dilakukan, harga wajar barang
rampasan tersebut dinilai terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang.
Berdasarkan Laporan Keuangan Kejaksaan RI per 31 Desember 2009
(unaudited), saldo akun Persediaan adalah sebesar Rp36.965.680.338,77 yang terdiri dari
barang rampasan sebesar Rp36.062.757.051,77 dan non barang rampasan sebesar
Rp902.923.287,00 (meliputi alat perlengkapan pegawai, bahan konsumsi, bahan untuk
pemeliharaan, materai dan bahan baku).
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pengelolaan dan pelaporan persediaan
pada Kejagung RI, Kejati Jawa Barat, Kejati Jawa Timur, Kejati Kepulauan Riau, Kejati
DKI, Kejati Sulawesi Selatan, dan Pusdiklat Kejaksaan menunjukkan hal-hal sebagai
berikut:
a. Kejati DKI
1) Aplikasi persediaan pada SIMAK BMN sudah dipergunakan tetapi tidak
mencerminkan nilai sebenarnya. Operator SIMAK BMN belum memahami
sepenuhnya prosedur dan tata cara pemasukan data ke dalam program aplikasi
persediaan SIMAK BMN.
2) Pencatatan dan pengelolaan akun persediaan (non barang rampasan dan barang
rampasan) belum dilaksanakan sesuai ketentuan seperti terlihat pada tabel
berikut:
No. Satuan Kerja Keterangan
1. Kejati DKI Jakarta Tidak melakukan inventarisasi fisik
2. Kejari Jakarta Selatan Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
3. Kejari Jakarta Pusat Tidak melakukan inventarisasi fisik
4. Kejari Jakarta Barat Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
5. Kejari Jakarta Timur Tidak mengerjakan buku persediaan
6. Kejari Jakarta Utara Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan

3) Data persediaan barang rampasan belum dilaporkan kepada KPKNL, sehingga


prosedur rekonsiliasi persediaan barang rampasan tidak dapat dilakukan.
Berdasarkan data rekapitulasi bulan Desember 2009 atas barang rampasan yang
telah memiliki harga taksiran dan belum dilelang di Kejati DKI Jakarta diketahui
bahwa terdapat barang rampasan senilai Rp86.675.000,00 yang belum dicatat
sebagai persediaan dalam Neraca, yaitu:
No. Nama Satker Nilai Taksiran (Rp)
1. Kejari Jakarta Selatan 51.500.000,00
2. Kejari Jakarta Timur 35.175.000,00
Total 86.675.000,00
4) Hasil penelitian atas Laporan Keuangan Kejati dan 5 Kejari di Kejati DKI Jakarta
menunjukkan bahwa barang rampasan yang belum mempunyai taksiran harga
pada tanggal pelaporan keuangan tidak diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan, yaitu:

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 18 dari 61


Putusan Inkracht
No Kejari Jenis Barang
Nomor Tanggal
1. Jakarta Barat 2606/Pid.B/2005/ 02-03-2006 23 drum minyak tanah
PN.Jkt.Bar
2. Jakarta Utara 336/Pid/B/09/PNJU 17-03- 2009 Sepeda motor Suzuki
Smash B-6791-BRB
1665/Pid/B/09/PNJU 17-11-2009 Sepeda motor Yamaha
Jupiter B-6343-UKX
1660/Pid/B/09/PNJU 17-11-2009 Sepeda motor Suzuki
Smash B-6699-UIZ
1057/Pid/B/09/PNJU 14-07-2009 Sepeda motor Yamaha
RX King B-6988-UKH
1056/Pid/B/09/PNJU 14-07-2009 Sepeda motor Yamaha
Vega R B-6404-BLP
487/Pid/B/09/PNJU 21-04-2009 Sepeda motor Honda
Supra B-4283-RQ

5) Hasil pemeriksaan uji petik atas dokumen pertanggungjawaban keuangan dan


penyimpanan uang persediaan di brankas oleh bendahara pengeluaran
menunjukkan bahwa terdapat uang titipan barang bukti yang tersimpan di
brankas bendahara pengeluaran Kejari Jakarta Timur dan belum diungkapkan
dalam CALK per 31 Desember 2009 sebesar Rp313.500.000,00 dengan rincian
sebagai berikut:
Tanggal Jumlah BB Jenis
No Nama Terdakwa
BA (Rp) Perkara
1 H. Entang Yusup (Banding) 16-06-2006 50.000.000,00 Pidsus
2 Armin Simanjuntak 23-01-2007 5.350.000,00 Pidum
4.500.000,00
5.150.000,00
3 Drs. Nurdinsyah Mokobombang 01-08-2007 30.000.000,00 Pidum
4 Agus Saputra, dkk. 13-12-2007 18.000.000,00 Pidum
5 Noorsyam Syamsudin Noor, SH 17-06-2008 100.500.000,00 Pidum
6 H. Ra. Suhendar, S. Sos & Budiyono 08-05-2009 100.000.000,00 Pidsus
Total 313.500.000,00

b. Kejati Jawa Barat


Saldo akun Persediaan dalam Neraca Wilayah Kejaksaan Tinggi Jawa Barat
(Kejati Jabar) Tahun 2009 (unaudited) adalah sebesar Rp3.307.073.679,00, yang
terdiri dari persediaan barang rampasan senilai Rp3.235.219.194,00 dan persediaan
barang non rampasan senilai Rp71.854.485,00 pada 12 kejari dari total 25 kejari di
lingkungan Kejati Jabar.
Berdasarkan data persediaan barang rampasan dan non rampasan yang
diperoleh Tim BPK RI dari 25 kejari di lingkungan Kejati Jabar dan hasil
pemeriksaan secara uji petik pada 9 (sembilan) kejari diketahui bahwa saldo
Persediaan per 31 Desember 2009 pada 25 Kejari adalah sebesar Rp6.553.148.704,00
yang terdiri dari persediaan barang rampasan senilai Rp6.443.822.338,00 dan non
rampasan senilai Rp109.326.366,00 (rincian pada Lampiran 1). Dengan demikian

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 19 dari 61


terdapat selisih kurang pencatatan akun Persediaan pada Neraca Kejati Jawa Barat
senilai Rp3.246.075.025,00 (Rp6.553.148.704,00 – Rp3.307.073.679,00).
c. Kejati Jawa Timur
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pelaporan akun Persediaan pada Kejati Jatim
dan 7 Kejaksaan Negeri (Kejari) di Jawa Timur, yaitu Kejari Situbondo, Malang,
Batu, Kediri, Magetan, Lamongan dan Surabaya menunjukkan hal-hal sebagai
berikut:
1) Pemahaman terhadap akun persediaan belum memadai, karena operator SIMAK
BMN menganggap bahwa persediaan hanya berupa Alat Tulis Kantor (ATK).
2) Aplikasi persediaan pada SIMAK BMN sudah dipergunakan tetapi tidak
mencerminkan nilai sebenarnya. Operator SIMAK BMN belum memahami
sepenuhnya prosedur dan tata cara pemasukan data ke dalam program aplikasi
persediaan SIMAK BMN.
3) Pencatatan dan pengelolaan akun persediaan (non barang rampasan dan barang
rampasan) belum dilaksanakan sesuai ketentuan seperti terlihat pada tabel
berikut:
No. Satuan Kerja Keterangan
1. Kejati Jawa Timur Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
2. Kejari Situbondo Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
3. Kejari Malang Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
4. Kejari Batu Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
5. Kejari Kediri Tidak melakukan inventarisasi fisik
6. Kejari Magetan Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
7. Kejari Lamongan Tidak melakukan inventarisasi fisik
8. Kejari Surabaya Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan

4) Terdapat kurang catat persediaan non barang rampasan masing-masing sebesar


Rp1.286.727,00 dalam Neraca Wilayah Kejati Jawa Timur, dengan rincian
sebagai berikut:
No Kejari Kurang Catat (Rp)
1 Sidoarjo 292.710,00
2 Nganjuk 204.000,00
3 Pamekasan 298.500,00
4 Sumenep 90.000,00
5 Lamongan 401.517,00
Jumlah 1.286.727,00

5) Terdapat sisa persediaan ATK per 31 Desember 2009 pada Kejari Batu yang
belum dicatat dalam Neraca. Hal ini disebabkan Kepala Urusan Perlengkapan

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 20 dari 61


Kejari Batu tidak mengetahui harga pembelian akhir masing-masing persediaan
tersebut, yaitu:
Jenis Persediaan Unit Satuan
Ordner 4 Buah
Kuitansi 10 Buku
Lem Glukol 4 Buah
Clip 9 Pak
Isi Staples Kecil 9 Pak
Isi Staples Besar 10 Pak
Buku Double Folio 2 Buku
Buku Ekspedisi 2 Buku
Amplop Besar Coklat 1 Pak
Stop Map Kuning 2 Buah

6) Data persediaan barang rampasan belum dilaporkan kepada KPKNL, sehingga


prosedur rekonsiliasi persediaan barang rampasan tidak bisa dilakukan.
Berdasarkan data rekapitulasi bulan Desember 2009 atas barang rampasan yang
telah memiliki harga taksiran dan belum dilelang yang dibuat oleh Kejati Jawa
Timur diketahui bahwa terdapat barang rampasan senilai Rp152.954.478,00,
yang belum dicatat sebagai persediaan, yaitu:
No. Nama Satker Nilai Taksiran (Rp)
1. Kejari Situbondo 16.793.258,00
2. Kejari Kediri 24.008.220,00
3. Kejari Surabaya 112.153.000,00
Jumlah 152.954.478,00

7) Terdapat barang rampasan yang belum mempunyai taksiran harga pada tanggal
pelaporan keuangan belum diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan,
yaitu:
Nama Putusan (Inkracht)
No. Barang Rampasan Keterangan
Satker Nomor Tanggal
1. Kejari 70/PID.B/2009 12-05-2009 a. Sembilan drum isi Sedang dimintakan
Situbondo bensin 210 liter. taksiran harga kepada
b. Empat jerigen isi Dinas Perindustrian
bensin 30 liter. dan Perdagangan Kab.
Situbondo.
2. Kejari Put PN No.787 29-10-2009 a. Satu buah HP Nokia
Malang 6020.
b. Dua buah HP Fren.
3. Kejari 275/PUT.PID. 15-10-2009 Satu unit sepeda motor
Lamongan B/PN.Lmg RX hitam Nopol. L-
3206-XA

d. Kejati Kepulauan Riau


Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pelaporan akun Persediaan pada Kejati
Kepri, tiga Kejari, dan satu Cabjari di Kepri, yaitu Kejari Batam, Tanjung Pinang,
Tanjung Balai Karimun, dan Cabjari Moro menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 21 dari 61


1) Terdapat barang-barang rampasan yang belum dilelang dengan harga taksiran
sejumlah Rp780.817.608,00 belum dilaporkan dalam Neraca Satker dan Wilayah
Kejati Riau per 31 Desember 2009 dhi. akun Persediaan sebagai berikut:

No. Nama Satker Nilai Taksiran (Rp)


1. Kejari Batam 764.325.074,00
2. Kejari Tanjung Pinang 16.492.534,00

2) Pada Tahun Anggaran 2009, Kejari Batam melaksanakan pelelangan Barang


Rampasan atas nama terpidana Muhamad Idris Bin Hamzah dengan petikan
putusan pengadilan No. 59/PID.B/2009/PN.BYM tanggal 31 Maret 2009 sesuai
dengan risalah lelang No. 283/2009 tanggal 9 September 2009. Barang rampasan
tersebut berupa minyak solar sebanyak 35.203 liter dengan taksiran harga limit
sebesar Rp69.828.671,00 namun tidak laku terjual. Berdasarkan Berita Acara
Penitipan Barang Bukti (BA 17) tanggal 16 Desember 2008 barang rampasan
tersebut dititipkan di penyidik Kepolisian dan tidak pernah diperbarui oleh Kejari
Batam menjadi BA Penitipan Barang Rampasan. Sampai dengan pemeriksaan
oleh Tim BPK RI tanggal 26 Februari 2010 diketahui solar tersebut tidak pernah
lagi dilelang dan dicek ulang oleh Kejari Batam.
3) Berdasarkan Petikan Putusan Pengadilan No. 246/PID.B/2009/PN.BTM tanggal
6 Mei 2009, a.n terpidana Amansyah bin Hasanudin, Kejari Batam mempunyai
barang rampasan berupa minyak premium sebanyak 102 kilo liter (Off Spec)
dengan harga limit sebesar Rp178.737.479,00. Berdasarkan dari dokumen yang
didapatkan di Kejari Batam, tim BPK RI tidak dapat mengetahui keberadaan
minyak premium tersebut dikarenakan tidak ada Berita Acara Penitipan dari
Kejari Batam.
4) Berdasarkan Petikan Putusan pengadilan No. 536/PID.B/2009/PN.BTM tanggal
18 Agustus 2009 a.n terpidana Adi Mustaib dan No. 106/PID.B/ 2009/PN.BTM
tanggal 25 Maret 2009, Kejari Batam mempunyai barang rampasan berupa
minyak solar masing-masing sebanyak 9.000 liter dan 2.629 liter. Berdasarkan
keterangan Sub Bagian Pembinaan Kejari Batam minyak tersebut di atas
dititipkan di Dit Polair Polda Kepri tanpa adanya bukti Berita Acara Penitipan
Barang Rampasan.
5) Pencatatan dan pengelolaan akun persediaan belum dilaksanakan sesuai
ketentuan seperti terlihat pada tabel berikut:
No. Satuan Kerja Keterangan
1. Kejari Batam • Tidak melakukan inventarisasi fisik.
• Hasil pengadaan barang keperluan perkantoran
tidak dicatat dan dibukukan dalam buku
persediaan baik secara manual atau melalui
aplikasi persediaan tetapi langsung diserahkan
kepada masing-masing bagian yang memerlukan.
2. Kejari Tanjung Pinang • Tidak melakukan inventarisasi fisik.
• Hasil pengadaan barang keperluan perkantoran
dicatat dalam buku persediaan tanpa nilai, hanya
kuantitas.
3. Kejari Tanjung Balai • Tidak melakukan inventarisasi fisik.
Karimun • Hasil pengadaan barang keperluan perkantoran

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 22 dari 61


No. Satuan Kerja Keterangan
tidak dicatat dan dibukukan dalam buku
persediaan baik secara manual atau melalui
aplikasi persediaan tetapi langsung diserahkan
kepada masing-masing bagian yang memerlukan.
4. Cabjari Moro • Tidak melakukan inventarisasi fisik.
• Hasil pengadaan barang keperluan perkantoran
tidak dicatat dan dibukukan dalam buku
persediaan baik secara manual atau melalui
aplikasi persediaan tetapi langsung diserahkan
kepada masing-masing bagian yang memerlukan.

e. Kejaksaan Tinggi Sulsel


Hasil pemeriksaan pada Kejati Sulsel dan 6 Kejaksaan Negeri (Kejari) di Sulawesi
Selatan, yaitu Kejari Makassar, Pangkep, Barru, Palopo, Belopa dan Kejari Maros
diketahui hal-hal sebagai berikut:
1) Pemahaman terhadap akun persediaan oleh bendahara barang belum memadai,
karena bendahara barang dan operator SIMAK BMN di Kejati dan Kejari-Kejari
yang disampling menganggap bahwa persediaan hanya berupa Alat Tulis Kantor
(ATK).
2) Pencatatan dan pengelolaan akun persediaan (non barang rampasan dan barang
rampasan) belum dilaksanakan sesuai ketentuan seperti terlihat pada tabel
berikut:
No. Satuan Kerja Keterangan
1. Kejati Sulawesi Selatan Tidak melakukan inventarisasi fisik
2. Kejari Makassar Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
3. Kejari Pangkep Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
4. Kejari Barru Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
5. Kejari Palopo Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
6. Kejari Belopa Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan
7. Kejari Maros Tidak melakukan inventarisasi fisik dan tidak
mengerjakan buku persediaan

3) Pada semua Kejari dan Kejati Sulsel yang disampling tidak melaporkan obat-
obatan sebagai persediaan.
4) Aplikasi persediaan pada SIMAK–BMN sudah dipergunakan tetapi tidak
mencerminkan nilai sebenarnya. Operator SIMAK BMN baru memahami dan
menerapkan aplikasi persediaan ini pada bulan November 2009 dan belum
memahami sepenuhnya prosedur dan tata cara pemasukan data ke dalam program
aplikasi persediaan SIMAK BMN.
5) Data persediaan barang rampasan belum dilaporkan kepada DJKN, sehingga
prosedur rekonsiliasi persediaan barang rampasan tidak bisa dilakukan.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 23 dari 61


6) Terdapat barang rampasan senilai Rp1.520.576.578,40 belum dicatat sebagai
persediaan dalam Neraca Satker dan Wilayah per 31 Desember 2009 sebagai
berikut:
No. Nama Satker Nilai Taksiran (Rp)
1. Kejari Makassar 409.546.578,40
2. Kejari Maros 1.111.030.000,00
JUMLAH 1.520.576.578,40

7) Terdapat saldo persediaan non barang rampasan sebesar Rp17.641.650,00 yang


masih tercatat dalam Neraca Kejati Sulawesi Selatan per 31 Desember 2009
meskipun secara fisik sudah nihil, sebagai berikut:
No. Nama Satker Saldo Neraca Satker (Rp)
1. Kejati Sulawesi Selatan 11.596.400,00*)
2. Kejari Makassar 1.997.000,00
3. Kejari Pangkep 601.000,00
4. Kejari Barru 35.750,00
5. Kejari Palopo 928.500,00
6. Kejari Belopa 1.310.000,00
7. Kejari Maros 1.173.000,00
Jumlah 17.641.650,00
Keterangan:
*) Barang persediaan pada Kejati Sulsel berupa alat tulis kantor (ATK) dan alat
perlengkapan pegawai (APP). APP pada Kejati Sulawesi Selatan tidak
dimasukkan dalam neraca karena dalam berita acara serah terima barang dari
Kejaksaan RI tidak mencantumkan harga barang.
8) Barang rampasan yang belum mempunyai taksiran harga pada tanggal pelaporan
keuangan belum diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan, dengan
rincian sebagai berikut:
Nama Nomor dan Tanggal
No. Barang Rampasan Keterangan
Satker Putusan (Incracht)
1. Kejari 637.K/Pid/2004/PN.MK - Tanah dan bangunan Sementara koordinasi
Makassar S (16 Juni 2004) seluas 163,42 m² yang dengan Kejari
terletak di Jl. Musi No. 16 Banyuwangi
Banyuwangi a.n.
Bambang Siswono
s.d.a - Tanah dan bangunan s.d.a
seluas 90 m² yang terletak
di Kab. Banyuwangi a.n.
Iwan Zulkarnain
s.d.a - Tanah kosong seluas 100 s.d.a
m² di Kab. Banyuwangi
a.n. Iwan Zulkarnain
61/Pid/2005/PT Maks - Sebidang tanah seluas Sementara mencari
(17 Maret 2005) 1.779,6 m² yang terletak subjek tanah yang
di Palopo a.n. Pedji dimaksud
1312/Pid/B/2005/PN.M - 1 unit perahu jolloro Sementara dimintakan
KS (29 Oktober 2009) warna putih kuning a.n. harga limit/taksiran ke
Ilham bin Rasyid Dinas Perhubungan

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 24 dari 61


Nama Nomor dan Tanggal
No. Barang Rampasan Keterangan
Satker Putusan (Incracht)
2. Kejari 307/Pid.Sus/2009/PN. - 2 petak bangunan/rumah SHM telah dijaminkan
Maros Maros (8 Mei 2009) terpidana pada bank
3. Kejari 68/pid.B/2004/PN - 1 bidang tanah perumahan -
Pinrang Pinrang (1 Juli 2004) seluas 300 m²
4. Kejari 38/pid.B/2008/PN - 20 potong kayu bitti -
Sidrap Sidrap (29 Mei 2008) ukuran masing-masing
5,20 m
62/pid.B/2008/PN - 28 kayu bullo dengan -
Sidrap volume 3,5525 m³
(4 Juli 2008)
101/pid.B/2008/PN - 1 unit sepeda motor -
Sidrap (19 Agustus kharisma
2008) - 9 potong kayu cendana -
dengan volume 0,0740 m³
5. Kejari a.n. Kamaruddin alias - 1 unit perahu jolloro -
Sinjai Kama bin Tampa - 1 unit mesin kompressor
merk matahari lengkap
dengan selang
a.n. Bondang alias - 1 unit perahu jolloro -
Juhardi bin Muin lengkap dengan mesinnya
a.n. Murtani bin Saeni, - 1 unit mesin kompresor -
dkk - Kayu rimba campuran -

f. Pusdiklat Kejaksaan RI
Persediaan barang tidak dicatat baik secara manual maupun melalui aplikasi
Persediaan dan tidak dilakukan stock opname baik semesteran maupun pada akhir
tahun untuk menentukan saldo akhir persediaan. Berdasarkan keterangan Kepala Sub
Bagian Umum, hasil pengadaan barang baik untuk operasional kantor maupun untuk
penyelenggaraan diklat langsung diserahkan ke unit kerja yang meminta.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 3 ayat (1)
menyatakan bahwa Keuangan Negara dikelola secara tertib taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertangungjawab
dan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
b. Lampiran Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. PER-40/PB/2006 tentang Pedoman
Akuntansi Persediaan Bab II mengenai penatausahaan persediaan yang menyatakan
sebagai berikut:
1) Persediaan dicatat dalam buku persediaan (dalam bentuk kartu) untuk setiap jenis
barang;
2) Laporan persediaan dibuat didasarkan pada saldo akhir periode pelaporan
berdasarkan hasil opname fisik;
3) UAKPB membuat mapping data persediaan berdasarkan laporan persediaan dan
harga pembelian terakhir yang diperoleh dari UAKPA;
4) Laporan persediaan dibuat oleh petugas yang menangani persediaan dan
diketahui oleh penanggung jawab UAKPB.
c. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) pada Pernyataan No. 05 tentang Akuntansi
Pengakuan Persediaan yang menyatakan sebagai berikut:

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 25 dari 61


1) Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh
pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
2) Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau
kepenguasaannya berpindah.
3) Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi
fisik.
d. Lampiran VI Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005
tanggal 13 Juni 2005, Standar Akuntansi Pemerintahan Pernyataan No. 04 tentang
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menyebutkan bahwa CaLK menyajikan
informasi tentang penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan
yang memadai, antara lain, pada butir (6) menyediakan informasi tambahan yang
diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka
laporan keuangan.
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Saldo akun Persediaan dalam Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2009 kurang
saji minimal sebesar Rp5.770.743.766,40 (Rp86.675.000,00 + Rp3.246.075.025,00 +
Rp1.286.727,00 + Rp152.954.478,00 + Rp780.817.608,00 + Rp1.520.576.578,40 -
Rp17.641.650,00).
b. Negara berpotensi kehilangan penerimaan dari penjualan barang rampasan berupa
solar dan premium senilai minimal Rp248.566.150,00 (Rp69.828.671,00 +
Rp178.737.479,00) pada Kejari Batam, jika pengamanan barang rampasan tidak
terjaga atau jika keberadaannya tidak diketahui.
c. Laporan Keuangan Kejaksaan RI TA 2009 kurang informatif terkait dengan
pengungkapan barang rampasan dan barang bukti dari perkara tindak pidana umum
dan tindak pidana khusus yang berada dalam pengendalian/tanggung jawab pihak
kejaksaan.
Hal tersebut disebabkan oleh:
a. Petugas SAI pada satker-satker (Kejaksaan Negeri) dan wilayah (Kejaksaan Tinggi)
di lingkungan Kejaksaan RI kurang memahami Standar Akuntansi Pemerintahan
khususnya terkait dengan pengakuan dan penilaian persediaan dalam menyusun
Laporan Keuangan Tahun 2009 serta peraturan Dirjen Perbendaharaan tentang
pedoman akuntansi persediaan, khususnya tentang penatausahaan persediaan.
b. Belum adanya Juklak/Juknis dari Kejaksaan Agung mengenai pencatatan barang
rampasan sebagai persediaan dalam Sistem Akuntansi Instansi (SAI).
c. Kurangnya sosialisasi oleh Kejaksaan Agung RI kepada satker-satker di daerah
mengenai SAI dan SAP khususnya terkait dengan persediaan.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa sepakat dengan
temuan BPK RI dan selanjutnya akan menindaklanjuti dengan:
a. Melakukan penyesuaian/koreksi pada akun Persediaan dalam Neraca masing-masing
satker dan pengungkapan terkait dengan persediaan barang rampasan dan barang
sitaan dalam Catatan atas Laporan Keuangan masing-masing satker sesuai temuan
BPK RI. Untuk sementara, koreksi telah dilakukan pada Neraca dan Catatan atas
Laporan Keuangan Kejaksaan RI.
b. Mengadakan sosialisasi ke seluruh petugas SAI (SAK dan SIMAK BMN) agar lebih
memahami Standar Akuntansi Pemerintah terkait dengan pengakuan, pengukuran,

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 26 dari 61


dan pengungkapan persediaan baik barang rampasan dan non barang rampasan serta
Peraturan Dirjen Perbendaharaan terkait dengan penatausahaan persediaan.
c. Menerbitkan juklak/juknis mengenai mekanisme pencatatan dan pelaporan barang
rampasan yang dapat dijadikan pedoman oleh seluruh petugas SAI di satker-satker.
d. Meningkatkan pengendalian intern atas pengelolaan barang rampasan untuk
menghindari potensi terjadinya kehilangan penerimaan Negara.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan Asbin dan Kasubagbin untuk melakukan koreksi/
penyesuaian pada akun Persediaan dalam Neraca masing-masing satker dan
pengungkapan terkait dengan persediaan barang rampasan dan barang sitaan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan masing-masing satker sesuai temuan BPK RI.
b. Jambin untuk mengadakan sosialisasi kepada seluruh petugas akuntansi di tingkat
kejari dan kejati terkait dengan Standar Akuntansi Pemerintahan khususnya terkait
dengan pengakuan dan penilaian persediaan dalam menyusun Laporan Keuangan
Tahun 2009 serta peraturan Dirjen Perbendaharaan tentang pedoman akuntansi
persediaan, khususnya tentang penatausahaan persediaan.
c. Jambin untuk menyusun petunjuk teknis tentang mekanisme pencatatan dan
pelaporan barang rampasan yang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh seluruh
petugas akuntansi di satker.
d. Para Kajati untuk menginstruksikan para Kajari untuk meningkatkan pengendalian
intern atas pengelolaan barang rampasan untuk menghindari potensi terjadinya
kehilangan penerimaan Negara.

1.3.4 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap Belum Memadai


Dalam Neraca (unaudited) per 31 Desember 2009, Kejaksaan RI melaporkan
nilai aset tetap sebesar Rp5.282.410.630.228,00 yang terdiri dari:
ASET TETAP Saldo (Rp)
Tanah 2.835.987.649.420,00
Peralatan dan Mesin 876.732.037.002,00
Gedung dan Bangunan 1.392.455.691.147,00
Jalan, Irigasi dan Jaringan 23.361.534.534,00
Aset Tetap Lainnya 14.988.284.835,00
Kontruksi Dalam Pengerjaan 138.885.433.290,00
JUMLAH 5.282.410.630.228,00
Nilai aset tetap tersebut merupakan konsolidasi nilai aset tetap dari Neraca 498 satuan
kerja di lingkungan Kejaksaan RI seluruh Indonesia.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pencatatan dan pelaporan aset tetap dalam
Neraca dan Laporan Barang Milik Negara Tahun 2009 pada Kejaksaan Agung, Pusdiklat
Kejaksaan, Kejati DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan
Kepulauan Riau menunjukkan kelemahan-kelemahan sebagai berikut:
a. Biro Perencanaan Kejagung RI dalam TA 2009 mengadakan antara lain kendaraan
tahanan sebanyak 100 unit dan mesin absensi 70 paket masing-masing sebesar
Rp29.428.475.000,00 dan Rp23.639.220.000,00 yang selanjutnya didistribusikan ke
kejati dan kejari seluruh Indonesia. Dropping dilakukan langsung oleh Biro
Perencanaan tanpa melalui Biro Perlengkapan Kejagung RI sebagai satuan kerja yang

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 27 dari 61


bertanggung jawab atas inventarisasi dan distribusi peralatan serta tidak disertai
dengan informasi tentang harga perolehan. Hasil pemeriksaan secara uji petik pada
beberapa satker diatas menunjukkan masih ada beberapa satker penerima yang belum
mencatat barang inventaris hasil dropping dari kantor pusat (Biro Perencanaan, Biro
Perlengkapan, dan lainnya) karena tidak mengetahui harga perolehannya sebagai
berikut:
No. Satker Penerima Jenis Jml Tahun
1. Kejati Kepri Peralatan Simkari 1 2009
2. Kejati DKI Jakarta Jeep merk Opel Blazer 1 1997
Kendaraan Tahanan merk Toyota Kijang 1 1997
Kendaraan Tahanan merk Toyota Dyna 1 2009
3. Kejati Jawa Timur Kendaraan Tahanan 1 2009
4. Kejari Kediri Printer 1 n/a
Alat Peraga Penerangan Hukum 1 2009
UPS 1 2009
5. Kejari Lamongan Printer 1 2008
6. Kejari Surabaya Alat Peraga Penerangan Hukum 1 2009
7. Kejari Bandung Mesin Absensi 1 2009
8. Kejari Subang Alat Peraga Penerangan Hukum 1 2009
9. Kejari Bogor Kendaraan Roda 4 merk Toyota Innova 1 n/a
10. Kejari Jakarta Kendaraan Tahanan merk Toyota 1 1998
Selatan Kendaraan Tahanan merk Toyota 1 n/a
Kendaraan Tahanan merk Toyota Dyna 1 2009
11. Kejari Jakarta Barat Printer merk Epson Stylus TX210 1 2009

Selain itu, masih ditemukan adanya barang inventaris hasil dropping dari kantor pusat
yang meskipun telah ada harga perolehan sebesar Rp1.605.583.370,00 namun belum
dicatat sebagai aset tetap dalam Laporan BMN satker penerima sebagai berikut:
Tahun
No. Satker Penerima Jenis Nilai
Perolehan
1 Kejari Kediri Kendaraan Tahanan 2009 131.783.000,00
2 Kejari Magetan Kendaraan Tahanan 2008 281.103.000,00
UPS 2008 10.530.685,00
3 Kejari Lamongan UPS 2008 10.530.685,00
4 Kejari Surabaya Mobil Tahanan 2009 131.783.000,00
5 Kejari Bogor Mesin absensi n/a 321.530.000,00
Kendaraan Roda 4 n/a 173.750.000,00
6 Kejari Kepri Mesin Absensi Digital 2008 294.965.000,00
7 Kejari Jakarta Kendaraan Tahanan
Barat merk Toyota Dyna 2009 249.608.000,00
Nilai Total 1.605.583.370,00

b. Terdapat aset berupa kendaraan roda 4 sebanyak 5 unit dan kendaraan roda 2
sebanyak 4 unit di Pusdiklat Kejaksaan RI yang merupakan dropping dari Kejagung
telah dicatat dan dilaporkan sebagai aset Pusdiklat namun belum disertai dengan
bukti kepemilikan berupa BPKB. Berdasarkan hasil konfirmasi dengan pihak
Kejagung diketahui bahwa kendaraan tersebut masih tercatat pula sebagai aset tetap
pada satker Kejagung.
c. Terdapat barang milik negara dengan total sebesar Rp1.231.058.449,00 yang berada
dalam kondisi rusak berat. Barang-barang tersebut masih tercatat sebagai aset tetap

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 28 dari 61


dan belum direklasifikasikan dalam akun Aset Lain-Lain, dengan rincian sebagai
berikut:
No Wilayah UAKPB Satuan Jumlah Nilai (Rp)
1. Jawa Barat Kejari Bandung Unit 38 143.087.000,00
Kejari Banjar Unit 114 17.240.114,00
Kejari Subang Unit 123 67.378.140,00
Kejari Sumedang Buah 15 2.623.600,00
Kejari Bogor Buah 5 200.000,00
Kejari Bekasi Buah 468 87.807.275,00
Sub Total 318.336.129,00
2. Jawa Timur Kejati Jawa Timur Unit 7 138.653.000,00
Kejari Situbondo Unit 21 10.859.520,00
Kejari Malang Unit 15 20.109.000,00
Kejari Batu Unit 3 4.900.000,00
Kejari Kediri Unit 4 7.350.000,00
Kejari Magetan Unit 167 16.365.000,00
Kejari Lamongan Unit 1 46.011.000,00
Sub Total 244.247.520,00
3. DKI Jakarta Kejati DKI Jakarta Unit 62 4.720.000,00
Kejari Jakarta Selatan Unit 8 49.922.500,00
Kejari Jakarta Pusat Unit 37 204.071.379,00
Kejari Jakarta Barat Unit 176 32.187.942,00
Kejari Jakarta Timur Unit 151 48.866.000,00
Kejari Jakarta Utara Unit 120 72.849.479,00
Sub Total 412.617.300,00
4. Kep. Riau Kejari Batam Unit 69 112.641.500,00
Kejari Tj. Balai Karimun Unit 5 16.792.000,00
Sub Total 129.433.500,00
5. Sulsel Kejari Maros Unit 3 126.424.000,00
Sub Total 126.424.000,00
TOTAL 1.231.058.449,00

d. Terdapat realisasi belanja pemeliharaan yang memenuhi syarat untuk kapitalisasi


namun belum menambah nilai aset tetap dengan total sebesar Rp376.303.900,00
dengan rincian sebagai berikut:
No Satker Pekerjaan MAK NILAI (Rp)
1. Pusdiklat Kejaksaan RI SPK No. 75/J.1/RT/BB/10/ 523111 27.890.500,00
2009 tgl. 23 Oktober 09 - Pek.
Perawatan dan perbaikan AC
Pusdiklat
SPK No. 61/J.1/RT/BP/08/09 523111 39.033.500,00
tgl. 12 Agustus 09 - Pek.
Perbaikan/Service AC Pusdiklat
Total 66.924.000,00
2. Kejati Jawa Timur Peninggian dan perbaikan 523111 34.575.000,00
tempat parkir
Perbaikan pos jaga dan 523111 66.432.000,00
pengecatan pagar depan
Peninggian tempat parkir 523111 67.500.000,00
(pemasangan paving),
perbaikan taman dan perbaikan
saluran
3. Kejari Kediri Renovasi kamar mandi 523111 48.786.900,00
4. Kejari Malang Turun mesin (overhaul) satu 523121 9.386.000,00

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 29 dari 61


No Satker Pekerjaan MAK NILAI (Rp)
unit kendaraan roda empat
Total Jatim 226.679.900,00
5. Kejati Kepri SPK. No. B.13a/KTR-PPK/ 523111 16.170.000,00
Kejati/05/09 Tgl.15-5-09 -
Pembuatan Sekat Dinding dan
Saluran Pembuangan
Kejari Moro SPK No. Print-03/N.10.12.8/ 523111 21.000.000,00
Cu.1/01/09 Tgl. 22-1-09 -
Perbaikan Aula Gedung Kantor
Total Kepri 37.170.000,00
6. Kejati DKI Jakarta Pembangunan lampu (tiang) 523111 17.700.000,00
Pembangunan portal 523111 11.850.000,00
Kejari Jakarta Timur Pembangunan pagar besi 523111 15.980.000,00
Total DKI Jakarta 45.530.000,00

e. Terdapat pelaporan nilai aset tetap yang tidak didasarkan pada dokumen sumber yang
handal, antara lain:
1) Hasil revaluasi aset tetap dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)
belum diterima oleh Kejari Situbondo, sehingga hasil revaluasi belum diinput ke
dalam aplikasi SIMAK BMN.
2) Terdapat akun peralatan dan mesin sebesar Rp110.000.000,00 yang tidak dinilai
dengan cara yang handal pada Kejari Kediri dan hanya berdasarkan taksiran dari
Kaur Perlengkapan, karena perolehan aset tidak dilengkapi dengan dokumen
yang memadai, yaitu:
No. Nama Barang Jumlah Nilai Keterangan
1 Kendaraan Roda Empat 1 60.000.000,00 Transfer Kejagung RI
2 Kendaraan Roda Empat 1 50.000.000,00 Hibah Pemkot Kediri
Jumlah 110.000.000,00

f. Tanah dan Bangunan untuk TK Adhyaksa di Jl. Manyar Sabrangan, Surabaya, belum
dilaporkan dalam SIMAK BMN meskipun Kejari Surabaya telah memiliki sertifikat
tanahnya.
g. Terdapat perbedaan luas tanah bangunan gedung kantor Kejari Surabaya sebesar
27m2 antara SIMAK BMN (4.824m2) dengan sertifikat tanah (4.797m2).
h. Penghapusan gedung kantor lama Kejari Magetan belum diinput dalam SIMAK
BMN karena nilai penghapusannya tidak bisa diperhitungkan secara handal.
Penghapusan gedung tersebut dilakukan terhadap sebagian bangunan gedung
sedangkan penilaian atas bangunan dilakukan secara menyeluruh sehingga tidak
dapat dinilai jumlah pengurangan nilai gedung yang dihapuskan tersebut.
i. Pemusnahan bangunan gedung kantor lama Kejari Maros senilai Rp713.291.282,00
belum dihapusbukukan dalam SIMAK BMN.
j. Aset tetap yang telah direvaluasi oleh DJKN berdasarkan nilai wajar tidak dilaporkan
secara akurat dan/atau belum dilaporkan sebagai berikut:
1) Tanah Bangunan Gedung Kantor Kejati DKI Jakarta senilai
Rp53.086.440.000,00 (nilai wajar DJKN) belum dilaporkan dalam Neraca per 31
Desember 2009.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 30 dari 61


2) Tanah Bangunan Rumah Dinas Kejati DKI Jakarta senilai Rp60.880.000,00
belum disesuaikan dengan hasil penilaian wajar DJKN yaitu sebesar
Rp2.764.120.000,00.
3) Bangunan Gedung Kantor Kejati DKI Jakarta tidak dilaporkan secara akurat
sebagai berikut:
(a) Nilai perolehan bangunan sebesar Rp1.079.381,00 belum disesuaikan dengan
nilai wajar per 31 Desember 2007 dari DJKN sebesar Rp10.762.023.000,00.
(b) Rehabilitasi Gedung Kantor pada Tahun 2007 senilai Rp1.151.952.000,00
masih diperhitungkan sebagai penambah nilai bangunan, meskipun telah
dilakukan penilaian kembali oleh DJKN per 31 Desember 2007.
4) Nilai wajar bangunan gedung Rumah Dinas Kejati DKI Jakarta sebesar
Rp264.222.000,00 tidak dilaporkan sebagai saldo awal pada 1 Januari 2009.
5) Terdapat perbedaan saldo Gedung dan Bangunan Kejari Jakarta Utara sebesar
Rp47.130.000,00 antara Neraca per 31 Desember 2009 (sebesar
Rp3.064.255.000,00) dan hasil penilaian DJKN per 31 Desember 2007
disesuaikan dengan mutasi tahun 2008 dan 2009 (sebesar Rp3.017.125.000,00).
6) Terdapat perbedaan luas tanah di Kejati Jawa Timur sebesar 319 m2 antara hasil
inventarisasi DJKN (1.280 m2) dengan sertifikat untuk tanah bangunan rumah
negara (1.599 m2).
7) Nilai tanah pada Kejari Lamongan dalam SIMAK BMN sebesar
Rp1.410.844.035,00, sedangkan berdasarkan hasil revaluasi DJKN sebesar
Rp1.366.021.000,00, sehingga terdapat lebih catat sebesar Rp44.823.035,00 yang
merupakan saldo awal sebelum revaluasi.
8) Nilai gedung dan bangunan pada Kejari Lamongan dalam SIMAK BMN sebesar
Rp3.450.210.404,00, sedangkan berdasarkan hasil revaluasi DJKN sebesar
Rp3.211.759.404,00, sehingga terdapat lebih catat sebesar Rp238.451.000,00
yang merupakan saldo awal sebelum revaluasi.
9) Nilai peralatan dan mesin pada Kejari Lamongan yang direvaluasi oleh DJKN
dilaporkan sebesar Rp354.104.650, sedangkan berdasarkan hasil revaluasi DJKN
sebesar Rp170.105.000,00, sehingga terdapat lebih catat sebesar
Rp183.999.650,00 yang merupakan saldo awal sebelum revaluasi.
10) Terdapat perbedaan saldo peralatan dan mesin per 31 Desember 2009 pada Kejari
Surabaya sebesar Rp130.702.400,00 antara Laporan SIMAK BMN
(Rp1.475.995.000,00) dan hasil penilaian DJKN beserta mutasi Tahun 2008 dan
2009 (Rp1.345.292.600,00). Sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 23
Maret 2010, Kejari Surabaya belum dapat menjelaskan penyebabnya.
11) Terdapat gedung kantor permanen di atas tanah Kejari Magetan di Jalan Basuki
Rahmat No.1B yang belum dilaporkan dalam SIMAK BMN karena tidak
diketahui data perolehannya.
12) Saldo Aset Tetap berupa tanah dan bangunan yang dilaporkan Pusdiklat dalam
Neraca per 31 Desember 2009 masih menggunakan harga perolehan dan bukan
merupakan nilai wajar hasil inventarisasi. Penilaian kembali BMN berupa tanah
dan bangunan oleh Tim Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
(KPKNL) Jakarta II baru dilaksanakan pada bulan Pebruari 2010. Hasil penilaian
dari Tim KPKNL menunjukkan nilai wajar tanah sebesar Rp215.286.033.000,00
dan bangunan Rp118.820.029.500,00. Sehingga total aset tetap per 31 Desember

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 31 dari 61


2009 seharusnya adalah sebesar Rp351.204.579.600,00 dengan rincian sebagai
berikut:
a) Tanah Rp 215.286.033.000,00
b) Peralatan dan Mesin 13.619.046.500,00
c) Gedung dan Bangunan 118.820.029.500,00
d) Jalan, Irigasi dan Jaringan 3.395.588.600,00
e) Aset Tetap Lainnya 83.882.000,00
Jumlah Rp 351.204.579.600,00
Dengan demikian akun Aset Tetap dhi. Tanah, Gedung dan Bangunan kurang
disajikan sebesar Rp240.929.726.000,00 dalam Neraca Pusdiklat per 31
Desember 2009.
k. Terdapat aset tetap yang belum dinilai harga wajarnya oleh Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara (DJKN) sebagai berikut:
1) Tanah pada Kejari Jakarta Timur Tahun 2009 masih dinilai sesuai harga
perolehan sebesar Rp494.226.000,00.
2) Peralatan dan Mesin pada Kejari Jakarta Barat Tahun 2009 sebesar
Rp2.080.365.379,00.
l. Terdapat kesalahan dalam menggunakan akun untuk mencatat aset tetap dalam
neraca, yaitu:
1) PC Unit (Komputer) sebesar Rp870.659.000,00 masih salah diklasifikasikan
sebagai aset tetap lainnya dengan rincian sebagai berikut:
No. Satuan Kerja Jumlah (unit) Nilai (Rp)
a) Kejati DKI Jakarta 13 89.968.000,00
b) Kejari Jakarta Selatan 10 99.550.000,00
c) Kejari Jakarta Pusat 13 166.575.000,00
d) Kejari Jakarta Timur 17 234.940.000,00
e) CKN Moro 1 869.000,00
f) Kejari Bogor 5 76.750.000,00
g) Kejari Subang 12 131.007.000,00
h) Kejari Makassar 14 71.000.000,00
Jumlah 85 870.659.000,00
2) Papan visual/papan nama sebanyak 24 unit pada Kejari Situbondo senilai
Rp383.472,00 diklasifikasikan pada akun Gedung dan Bangunan, dimana
seharusnya diklasifikasikan ke akun peralatan dan mesin.
3) Gedung dan Bangunan Kantor Kejati Jawa Timur yang telah selesai dibangun
dan telah dipergunakan dengan saldo Rp60.891.689.129,00 pada Neraca per
tanggal 31 Desember 2009 masih ada dalam akun Konstruksi Dalam Pengerjaan.
Nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) awal tahun 2009 sebesar
Rp55.363.069.320,00 berbeda jika dibandingkan dengan total belanja modal
penyusun KDP Tahun 2007 dan 2008 sebesar Rp55.390.212.000,00. Selain itu,
dengan ditambah belanja modal pembangunan gedung tahun 2009 sebesar
Rp5.528.619.809,00 dan dikurangi pengembalian kelebihan pembayaran dari
rekanan berdasarkan pemeriksaan BPK RI Tahun 2007 sebesar Rp97.728.650,00
dan Tahun 2008/2009 sebesar Rp213.844.000,00, sehingga saldo KDP yang
direklasifikasi ke akun Gedung dan Bangunan sebesar Rp60.607.259.159,00

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 32 dari 61


(Rp55.390.212.000,00 + Rp5.528.619.809,00 - Rp97.728.650,00 -
Rp213.844.000,00).
4) Aset tetap berupa bangunan pagar permanen yang telah selesai 100% pada 31
Desember 2009 sebesar Rp471.931.400,00 masih diklasifikasikan sebagai
Konstruksi dalam Pengerjaan pada Kejari Pangkajene Kepulauan.
5) Terdapat 1 (satu) unit kendaraan tahanan pengadaan TA 1992 yang diterima dari
CKN Moro (tanpa BAST) senilai Rp39.500.000,00 dicatat sebagai aset tetap baik
di Kejari Tanjung Balai Karimun maupun di CKN Moro.
6) Halaman parkir (Gedung dan Bangunan) kantor Kejari Jaktim senilai
Rp344.226.000,00 salah diklasifikasikan sebagai Tanah.
7) Terdapat 1 unit kendaraan roda 4 merk Toyota Innova pada Kejari Banjar senilai
Rp173.750.000,00 yang hilang pada tahun 2009 masih tercatat dalam kelompok
aset tetap dan tidak direklasifikasi ke kelompok Aset Lain-Lain.
m. Terdapat pengadaan (belanja modal) yang belum dicatat sebagai aset tetap dalam
SIMAK BMN sebesar Rp2.028.322.100,00 dengan rincian sebagai berikut:
No. Satker Pengadaan Nilai (Rp)
1) Kejati DKI Jakarta Pengadaan buku perpustakaan 7.820.600,00
2) Kejari Subang Pengadaan buku perpustakaan 3.000.000,00
3) Kejari Magetan Belanja tim teknis pembangunan kantor 12.700.000,00
4) Kejari Surabaya Belanja jasa konsultan perencana, 143.286.000,00
konsultan pengawas, dan honor tim 90.048.200,00
teknis 8.000.000,00
5) Kejari Situbondo Honor tim teknis 131.018.800,00
6) Kejari Jakarta Selatan Pengadaan buku perpustakaan 7.997.000,00
7) Kejari Jakarta Pusat Honor panitia pengadaan 3.300.000,00
Pengadaan buku perpustakaan 7.887.000,00
8) Kejari Jakarta Barat Pengadaan buku perpustakaan 7.980.500,00
9) Kejari Belopa Pematangan Lahan 240.000.000,00
10) Kejari Maros Pembangunan gedung kantor 1.365.284.000,00
Jumlah 2.028.322.100,00

n. Terdapat kelemahan dalam pengelolaan, pencatatan dan pelaporan aset tetap dalam
neraca sebagai berikut:
1) Kejati Jawa Barat
a) Saldo akun Gedung dan Bangunan menurut Neraca dan SIMAK BMN
sebesar Rp16.962.375.996,00 namun berdasarkan hasil perhitungan kembali
Tim BPK RI adalah sebesar Rp17.557.791.000,00, dengan rincian sebagai
berikut:
Saldo TA 2007 hasil inventarisasi Rp 11.791.536.000,00
+ BM Gedung dan Bangunan TA 2008 2.827.816.000,00
+ BM Gedung dan Bangunan TA 2009 2.938.439.000,00
= Saldo akhir per 31 Desember 2009 Rp 17.557.791.000,00
Sehingga nilai Gedung dan Bangunan kurang saji di neraca sebesar
Rp595.415.004,00 (Rp17.557.791.000,00 – Rp16.962.375.996,00).
b) Saldo akun Peralatan dan Mesin menurut Neraca dan Simak BMN sebesar
Rp8.632.558.270,00 namun berdasarkan hasil perhitungan kembali dari Tim

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 33 dari 61


BPK RI adalah sebesar Rp10.551.959.521,00. Perhitungan Tim BPK sebagai
berikut:
Saldo TA 2007 hasil inventarisasi Rp 9.086.514.921,00
+ BM Peralatan dan Mesin TA 2008 695.783.600,00
+ BM Peralatan dan Mesin TA 2009 769.661.000,00
= Saldo akhir per 31 Desember 2009 Rp 10.551.959.521,00
Sehingga saldo akun Peralatan dan Mesin kurang saji di neraca senilai
Rp1.919.401.251,00 (Rp10.551.959.521,00 – Rp8.632.558.270,00).
Atas selisih tersebut, pihak Kejati Jabar dhi. petugas SAK dan SIMAK tidak
dapat menjelaskan penyebabnya.
2) Kejati Jawa Timur
Dalam Neraca Wilayah Kejati Jawa Timur per 31 Desember 2009 (Unaudited),
nilai aset tetap yang dilaporkan menurut Sistem Akuntansi Keuangan (SAK)
Tingkat Wilayah sebesar Rp332.635.310.357,00, sedangkan menurut Sistem
Informasi dan Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN)
Tingkat Wilayah dilaporkan sebesar Rp339.375.481.441,00, sehingga masih
terdapat selisih sebesar Rp6.740.171.084,00.
Berdasarkan pemeriksaan atas laporan keuangan tingkat satker dimana jumlah
saldo aset tetap menurut SAK telah sama dengan SIMAK BMN, diketahui bahwa
saldo aset tetap sebesar Rp340.442.974.677,00 sehingga terdapat selisih
Rp7.807.664.320,00 dengan saldo menurut SAK Wilayah. Rincian saldo per
akun Aset Tetap menurut SAK Wilayah, SIMAK BMN Wilayah, dan SAK
Satker adalah sebagai berikut:
Jumlah Saldo (Rp) menurut
No. Akun SIMAK
SAK Wilayah Data Satker
Wilayah
1 Tanah 170.855.025.850 177.032.640.578 176.740.640.578
2 Peralatan Dan Mesin 34.330.136.548 34.382.019.954 33.889.018.830
3 Gedung Dan Bangunan 63.763.502.955 64.073.341.715 66.123.515.715
4 Jalan, Irigasi, Dan Jaringan 252.666.330 252.666.330 252.666.330
5 Aset Tetap Lainnya 645.989.545 721.847.095 649.144.095
6 Konstruksi Dalam Pengerjaan 62.787.989.129 62.912.965.769 62.787.989.129
Jumlah 332.635.310.357 339.375.481.441 340.442.974.677

Nilai aset tetap tersebut merupakan konsolidasi nilai aset tetap dari neraca 36
kejari di lingkungan Kejati Jawa Timur (rincian menurut satuan kerja pada
Lampiran 2).
3) Kejari Batam
a) Saldo akun Tanah yang dilaporkan dalam Neraca per 31 Desember 2009
adalah sebesar Rp144.665.000,00. Namun berdasarkan Neraca per 31
Desember 2008, saldo akun Tanah adalah Rp182.079.000,00 yang diperoleh
berdasarkan hasil penilaian dari KPKNL Batam pada TA 2007 dan sampai
saat pemeriksaan tidak ada mutasi tambah maupun kurang. Berdasarkan
keterangan dari petugas SAI, penurunan saldo itu disebabkan oleh adanya
kerusakan pada aplikasi SIMAK BMN sehingga saldo Tanah tersebut
kembali ke saldo sebelum penilaian kembali (saldo awal tahun 2007).

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 34 dari 61


b) Hasil pengecekan fisik terhadap barang inventaris pengadaan tahun 2009,
diketahui terdapat barang inventaris sebanyak 27 buah senilai
Rp136.835.000,00 yang belum diberi nomor register inventaris.
4) Kejari Tanjung Balai Karimun
Saldo akun Peralatan dan Mesin menurut Neraca dan SIMAK BMN sebesar
Rp153.356.000 namun berdasarkan hasil perhitungan kembali Tim BPK RI,
realisasi belanja modal peralatan mesin (MAK 5321) tahun 2009 hanya senilai
Rp146.490.000,00 sehingga lebih tercatat senilai Rp6.866.000,00. Atas selisih
tersebut pihak Kejati yaitu petugas SAK dan SIMAK belum dapat menjelaskan
penyebabnya.
5) Kejari Tanjung Pinang
Dalam Neraca dan LBMN per 31 Desember 2009 terdapat aset berupa tanah
seluas 8.341 m2 senilai Rp5.135.800.000,00. Luas tanah dan nilai tersebut
diperoleh berdasarkan hasil pemutahiran data dan rekonsiliasi BMN dengan
KPKNL Batam yang dituangkan dalam BA No. BAR-87/WKN.03/KNL.04/
04.02/2009 tanggal 12 Agustus 2009. Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui
bahwa luas tanah sesuai sertifikat yang ada adalah 9.379 m2. Hal tersebut terjadi
karena adanya ruilslag pada tahun 2000 dengan PT Sumber Jaya Lestari (SJL).
Tanah milik Kejari Tanjung Pinang seluas 552 m2 di-ruilslag dengan tanah milik
PT SJL seluas 1.588 m2. Hasil ruilslag tersebut tidak termonitor oleh KPKNL
Batam, sehingga tanah Kejari Tanjung Pinang kurang dilaporkan seluas 1.038 m2
(9.379 m2 – 8.341 m2) dengan nilai yang belum diketahui.
6) Kejati DKI Jakarta
Dalam Neraca Wilayah Kejati DKI Jakarta per 31 Desember 2009 (unaudited),
nilai aset tetap yang dilaporkan menurut Sistem Akuntansi Keuangan (SAK)
Tingkat Wilayah sebesar Rp111.810.726.969,00 dan telah sesuai dengan Sistem
Informasi dan Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN)
Tingkat Wilayah, dengan rincian sebagai berikut:
No. Akun Saldo (Rp)
1 Tanah 70.050.102.000,00
2 Peralatan Dan Mesin 13.201.958.134,00
3 Gedung Dan Bangunan 26.850.166.285,00
4 Jalan, Irigasi, Dan Jaringan 1.030.874.900,00
5 Aset Tetap Lainnya 677.625.650,00
Jumlah 111.810.726.969,00
Sampai saat pemeriksaan berakhir pada awal April 2010, proses rekonsiliasi Aset
Tetap Semester II Tahun 2009 antara satuan kerja (satker) dengan Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara dhi. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
(KPKNL) baru efektif dilaksanakan oleh Kejari Jakarta Pusat, sedangkan satker
yang lain masih dalam proses rekonsiliasi. Sedangkan rekonsiliasi tingkat
wilayah belum bisa dilaksanakan karena menunggu hasil rekonsiliasi tingkat
satker.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 35 dari 61


7) Kejari Jakarta Timur
Terdapat perbedaan mutasi tambah sebesar Rp3.300.000,00 antara jumlah belanja
modal Peralatan dan Mesin sebesar Rp179.960.000,00 dengan penambahan aset
dalam SIMAK BMN sebesar Rp183.260.000,00.
8) Kejari Jakarta Utara
a) Terdapat perbedaan mutasi tambah sebesar Rp13.912.000,00 antara jumlah
belanja modal Peralatan dan Mesin sebesar Rp153.032.000,00 dengan
penambahan aset dalam SIMAK BMN yang hanya sebesar
Rp139.120.000,00.
b) Terdapat perbedaan saldo mutasi tambah dari akun aset tetap lainnya (buku-
buku perpustakaan) sebesar Rp500.000,00 antara jumlah belanja modal fisik
lainnya sebesar Rp7.975.000,00 dengan mutasi tambah pada SIMAK BMN
yang hanya sebesar Rp7.475.000,00.
Hal tersebut di atas tidak sesuai dengan:
a. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Bab VII Pasal
44 menyatakan bahwa Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang wajib
mengelola dan menatausahakan barang milik negara/daerah dalam penguasaannya
dengan sebaik-baiknya.
b. Peraturan Presiden RI Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah:
1) Pasal 3 ayat (1) menetapkan bahwa pengelolaan barang milik negara
dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan
keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai.
2) Pasal 7 ayat (2) kuasa pengguna barang milik negara berwenang dan bertanggung
jawab antara lain melakukan pencatatan, penginventarisasian dan pengamanan
barang milik negara yang ada dalam penguasaannya.
3) Pasal 32:
a) Ayat (1) menetapkan bahwa pengelola barang, pengguna barang dan/atau
kuasa pengguna barang wajib melakukan pengamanan barang milik negara/
daerah yang berada dalam penguasaannya.
b) Ayat (2) menetapkan bahwa pengamanan barang milik negara/daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengamanan administrasi,
pengamanan fisik, pengamanan hukum.
c. Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2005 - Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah
No. 07 yang mengatur mengenai perlakuan akuntansi terhadap aset tetap:
a. Paragraf 8 menyatakan bahwa aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan
dalam sifat atau fungsinya dalam aktivitas operasi entitas. Berikut adalah
klasifikasi aset tetap yang digunakan:
1) Tanah;
2) Peralatan dan Mesin;
3) Gedung dan Bangunan;
4) Jalan, Irigasi, dan Jaringan;
5) Aset Tetap Lainnya; dan
6) Konstruksi dalam Pengerjaan.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 36 dari 61


b. Paragraf 24 menyebutkan bahwa barang berwujud yang memenuhi kualifikasi
untuk diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan sebagai aset tetap, pada
awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan.
c. Paragraf 25 menyebutkan bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset
tersebut adalah sebesar nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh.
d. Paragraf 78 menyatakan bahwa aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif
pemerintah tidak memenuhi definisi aset tetap dan harus dipindahkan ke pos Aset
Lainnya sesuai dengan nilai tercatat.
d. Buletin Teknis Standar Akuntansi Pemerintah No. 1 tanggal 27 September 2005
menyatakan bahwa Aset Lain-Lain digunakan untuk mencatat Aset Lainnya yang
tidak dapat dikelompokkan ke dalam Aset Tak Berwujud, Tagihan Penjualan
Angsuran, Tuntutan Bendaharaan, Tuntutan Ganti Rugi dan Kemitraan dengan pihak
ke-3. Contoh dari Aset lain-lain adalah Aset Tetap yang dihentikan penggunaan
dikarenakan rusak.
e. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/KM.12/2001 tentang
Pedoman Kapitalisasi Barang Milik/Kekayaan Negara dalam Sistem Akuntansi
Pemerintah Pasal 6 menyebutkan:
a. Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap adalah pengeluaran pengadaan
baru dan penambahan nilai aset tetap dari hasil pengembangan, reklasifikasi,
renovasi, dan restorasi.
b. Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap meliputi :
1) pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin, dan alat olah raga yang
sama dengan atau lebih dari Rp 300.000 (tiga ratus ribu rupiah); dan
2) pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang sama dengan atau lebih dari
Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Saldo Aset Tetap dan Aset Lain-Lain yang disajikan oleh satker, wilayah, dan
Kejaksaan RI dalam Neraca masing-masing per 31 Desember 2009 tidak akurat dan
kurang saji minimal sebesar Rp311.761.407.877,00 (Rp1.605.583.370,00 +
Rp376.303.900,00 - Rp713.291.282,00 + Rp53.086.440.000,00 +
Rp2.764.120.000,00 - Rp60.880.000,00 + Rp10.762.023.000,00 - Rp1.079.381,00 -
Rp1.151.952.000,00 + Rp264.222.000,00 - Rp47.130.000,00 - Rp44.823.035,00 -
Rp238.451.000,00 - Rp183.999.650,00 - Rp130.702.400,00 + Rp240.929.726.000,00
- Rp39.500.000,00 + Rp2.028.322.100,00 + Rp595.415.004,00 + Rp1.919.401.251,00
+ Rp182.079.000,00 - Rp144.665.000,00 - Rp6.866.000,00 - Rp3.300.000,00 +
Rp13.912.000,00 + Rp500.000,00).
b. Neraca yang dihasilkan oleh masing-masing satker tidak memberikan informasi yang
akurat tentang klasifikasi aset tetap yang dimiliki oleh satker-satker tersebut.
c. Tujuan penyelenggaraan SIMAK BMN yaitu untuk menghasilkan informasi yang
diperlukan sebagai alat pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN serta
pengelolaan/pengendalian/pengamanan BMN yang dikuasai oleh pengguna/kuasa
pengguna barang tidak sepenuhnya tercapai.
d. Laporan BMN Tahun Anggaran 2009 mengandung kesalahan dan tidak
menggambarkan kondisi dan nilai aset yang sebenarnya.
e. Laporan yang disajikan oleh UAKPB/UAPPB-W di tingkat yang lebih tinggi tidak
menggambarkan kondisi yang sebenarnya dan fungsi pencatatan sebagai sarana
pengamanan aset menjadi tidak optimal.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 37 dari 61


f. Saldo aset tetap di dalam Neraca Kejari Jakarta Barat dan Jakarta Timur per 31
Desember 2009 tidak menunjukkan nilai yang wajar.
Hal tersebut disebabkan oleh:
a. Sistem pengendalian aset tetap belum mengakomodasi sistem monitoring antar unit
kerja pemilik dan unit kerja pengguna aset atas segala perubahan (tambah/kurang)
aset tetap.
b. Para petugas akuntansi di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB)
pada Kejati DKI Jakarta, Kepri, Jawa Timur, Kejari Bandung, Banjar, Subang,
Sumedang, Bogor, Bekasi, Situbondo, Malang, Batu, Kediri, Magetan, Lamongan,
Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Batam,
Tanjung Balai Karimun, Malang, Tanjung Pinang, dan Pusdiklat Kejaksaan RI
kurang memahami ketentuan pengelolaan BMN terutama terkait dengan kapitalisasi
aset tetap dan Standar Akuntansi Pemerintahan khususnya standar akuntansi aset
tetap.
c. Kurangnya pemahaman, komitmen, dan pengawasan dari para Kuasa Pengguna
Barang (dhi. kepala satker) mengenai fungsi penting laporan BMN sebagai wujud
pertanggungjawaban atas pengelolaan BMN dan sebagai dokumen sumber pencatatan
dan pelaporan aset tetap dalam Neraca masing-masing.
d. Keterlambatan pelaksanaan penilaian kembali atas aset tetap berupa tanah, gedung
dan bangunan oleh pihak DJKN dhi. KPKNL Jakarta II.
e. Dropping dari Kejagung dilakukan pada saat Pusdiklat masih menyatu dengan satker
Kejagung sehingga bukti kepemilikan dan pencatatan aset tetap masih ada di
Kejagung.
f. Kelalaian Biro Perencanaan Kejagung RI sebagai bagian yang mengadakan dan
mendistribusikan aset tetap dhi. peralatan dan mesin dengan tidak mencantumkan
harga perolehan dalam Berita Acara Serah Terima Barang serta tidak
menginformasikan pengadaan dan pendistribusian aset tersebut kepada Biro
Perlengkapan Kejagung RI yang mempunyai kewenangan dalam inventarisasi barang
milik negara.
g. Kurangnya koordinasi antara petugas SIMAK BMN dengan KPKNL setempat untuk
percepatan penyelesaian proses inventarisasi dan revaluasi atas aset tetap pada
masing-masing satker.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menanggapi bahwa sepakat dengan
temuan BPK RI dan selanjutnya akan menindaklanjuti dengan:
a. Mengikutsertakan dalam Diklat seluruh petugas UAKPB Kejati DKI Jakarta, Kejari
Jakarta Selatan, Kejari Jakarta Pusat, Kejari Jakarta Barat, Kejari Jakarta Timur dan
Kejari Jakarta Utara sehingga nantinya diharapkan laporan BMN dapat sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan khususnya terkait dengan klasifikasi aset tetap dan
ketentuan kapitalisasi.
b. Menginstruksikan kepada semua satker di lingkungan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta
untuk meningkatkan koordinasi antara petugas SIMAK BMN dengan Kantor
Pelayanan Kekayaan Negara dan lelang (KPKNL) setempat untuk percepatan
penyelesaian proses inventarisasi dan revaluasi aset tetap pada masing-masing
satker.
c. Memperingatkan petugas SAK dan SIMAK BMN agar selalu cermat dalam
melaksanakan tugas khususnya pelaporan asset tetap yang dimilikinya.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 38 dari 61


d. Memastikan adanya sistem pengendalian aset tetap yang mengakomodasi monitoring
antar unit kerja pemilik dan unit kerja pengguna aset atas segala perubahan
(tambah/kurang) aset tetap.
e. Melakukan penyesuaian/koreksi dan reklasifikasi pada akun aset tetap dalam Neraca
dan Laporan BMN masing-masing satker sesuai temuan BPK RI. Untuk sementara,
koreksi dan reklasifikasi dilakukan pada Neraca dan Laporan BMN Kejaksaan RI.
f. Melakukan pengecekan ulang nilai saldo awal 31 Desember 2007 ke KPKNL
Bandung.
g. Mengajukan permintaan informasi harga perolehan aset tetap kepada Biro
Perencanaan Kejagung RI dan menginput ke dalam aplikasi SIMAK BMN.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan seluruh Asbin dan Kasubagbin untuk melakukan
koreksi/penyesuaian dan reklasifikasi pada akun aset tetap dalam Neraca dalam
Laporan BMN masing-masing sesuai dengan temuan BPK RI.
b. Jambin untuk memberikan sosialisasi kepada seluruh petugas akuntansi mengenai
standar akuntansi aset tetap, kapitalisasi aset tetap, dan pelaksanaan rekonsiliasi
antara unit akuntansi keuangan dan unit akuntansi barang.
c. Jambin untuk menginstruksikan seluruh Asbin dan Kasubagbin untuk meningkatkan
koordinasi dengan Kantor Wilayah DJKN dan KPKNL setempat dalam rangka
ketepatan waktu pelaksanaan rekonsiliasi Laporan BMN dan percepatan penyelesaian
proses inventarisasi dan revaluasi aset tetap.
d. Jambin untuk menginstruksikan Biro Perencanaan atau unit kerja lain di Kejagung
yang mengirimkan barang inventaris ke daerah agar menyertakan harga perolehan
dalam Berita Acara Serah Terima.
e. Jambin untuk mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada
Biro Perencanaan yang tidak menginformasikan pengadaan dan pendistribusian
barang inventaris kepada Biro Perlengkapan Kejagung RI yang bertanggung jawab
dalam inventarisasi barang milik Negara.
f. Jambin untuk menginstruksikan Asbin dan Kasubagbin untuk mengenakan sanksi
sesuai ketentuan yang berlaku kepada para petugas akuntansi barang yang tidak
cermat dalam pembuatan Laporan BMN.

1.3.5 Sistem Pelaporan Tagihan Uang Pengganti Tidak Didukung oleh Sistem
Pengendalian Intern yang Memadai
Dalam perkara tindak pidana korupsi, pengadilan selain menetapkan hukuman
badan dan denda, juga menetapkan hukuman tambahan membayar uang pengganti
kerugian negara yang ditimbulkan sebagai akibat perbuatan melawan hukum yang
dilakukan oleh terpidana. Mekanisme eksekusi hukuman badan, denda, dan uang
pengganti, adalah sebagai berikut:
a. Setelah adanya putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap (inkracht), Jaksa
Penuntut Umum (JPU) segera mengeksekusi berdasarkan putusan tersebut.
b. Eksekusi yang dilakukan JPU diawali dengan pelaksanaan hukuman badan (penjara)
dan kemudian dilanjutkan dengan penagihan atas denda perkara korupsi dan uang
pengganti kepada terpidana.
c. Hukuman denda yang harus dibayar oleh terpidana memiliki klausul dengan
mengganti dengan hukuman badan (subsidair), sehingga eksekusi terhadap denda

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 39 dari 61


lebih merupakan pilihan terpidana untuk membayar atau menggantinya dengan
hukuman badan apabila yang bersangkutan tidak mampu untuk membayar.
d. Sedangkan hukuman uang pengganti memiliki beberapa syarat khusus karena
terdapat perlakuan yang berbeda terkait perubahan Undang-Undang (UU) Nomor 3
Tahun 1971 dengan UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
e. Terhadap perkara yang diputus berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 1971 satu-satunya
cara penyelesaiannya adalah dengan membayarnya. Jika terpidana tidak mau
membayar dan dari hasil pengamatan JPU masih memiliki harta yang dapat disita
dapat dilakukan tuntutan perdata untuk memulihkan kerugian negara, namun jika
terpidana memang tidak mampu membayar bisa diajukan penghapusan uang
pengganti.
f. Berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999 pasal 18 ayat (2), langkah pertama yang harus
dilakukan oleh JPU dalam mengeksekusi pembayaran uang pengganti adalah
melakukan penagihan kepada terpidana. Jika terpidana tidak membayar uang
pengganti paling lama dalam waktu 1 bulan setelah putusan pengadilan berkekuatan
hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh JPU dan dilelang untuk menutupi
uang pengganti tersebut. Selanjutnya ayat (3) menetapkan bahwa dalam hal terpidana
tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar maka dipidana
dengan Pidana Penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana
pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam UU ini dan lamanya pidana tersebut sudah
ditentukan dalam putusan pengadilan.
g. Pembayaran oleh terpidana atas uang pengganti yang dibebankan kepadanya akan
mengurangi tagihan uang pengganti sebesar pembayaran yang dilakukan, namun
khusus perkara yang diputus berdasarkan UU Nomor 31 Tahun 1999 jika terpidana
mengganti beban tagihan uang pengganti dengan menjalani pidana penjara, uang
pengganti baru dinyatakan selesai apabila terpidana juga telah selesai menjalani
pidana subsidair tersebut.
Dalam pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008, diketahui
terdapat kelemahan Sistem Pengendalian Internal (SPI) dalam pengelolaan dan pelaporan
tagihan uang pengganti, antara lain sebagai berikut:
a. Ukuran dari organisasi Kejaksaan RI yang besar, berkisar pada 498 satuan kerja
(satker) di seluruh wilayah Indonesia membutuhkan pengawasan yang lebih untuk
memastikan akurasi data uang pengganti yang disajikan dalam LK Kejaksaan RI.
b. Komunikasi di Kejaksaan yang masih menggunakan surat (manual) melalui jasa
kiriman dan sistem informasi yang pengolahannya masih manual menimbulkan
potensi ketidakakuratan dan kelambatan penyampaian laporan akibat kesalahan
manusia (human error) dalam menginput data.
c. Pengadministrasian yang kurang tertib atas data-data lama mengakibatkan sulitnya
melakukan penelusuran (tracing) atas data uang pengganti yang berasal dari perkara
lama untuk menjamin kelengkapan pelaporan, antara lain dengan adanya register
putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (RP-12) dan putusan lama
terkait adanya pidana tambahan uang pengganti yang tidak diketahui keberadaannya.
d. Koordinasi yang masih lemah dalam hal diseminasi informasi antara bagian-bagian
yang terlibat dalam pengelolaan uang pengganti mulai dari turunnya putusan inkracht
yang menimbulkan tagihan, pelunasan oleh terpidana, sampai kepada pencatatan
mutasi tagihan dan pelaporan dalam Laporan Keuangan. Pelaksanaan eksekusi

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 40 dari 61


dilaksanakan oleh Unit Pidsus sedangkan pencatatan dan pelaporan merupakan tugas
dari Bagian Pembukuan dan Verifikasi.
e. Belum adanya prosedur yang memadai dan dibakukan oleh Kejaksaan Agung yang
dapat menjamin akurasi data dalam pelaporan uang pengganti dalam LK Kejaksaan.
Hal ini terlihat dengan kondisi sebagai berikut:
1) Laporan uang pengganti belum terintegrasi dengan SAI, dan baru laporan manual
kepada tingkat diatasnya dan kemudian dari Jampidsus menyerahkan laporan
uang pengganti kepada Jambin sebagai unit pelaporan untuk mencantumkan
dalam LK Kejaksaan.
2) Laporan uang pengganti dan perkembangannya tidak dilaporkan secara periodik
namun bersifat insidental sesuai dengan ada atau tidaknya permintaan data dari
Kejaksaan Agung.
3) Uang pengganti yang diganti dengan subsidair belum diatur secara baku dan jelas
bagaimana dan kapan uang pengganti akan dianggap lunas dan dihapus dari
pembukuan.
4) Uang pengganti dengan tingkat ketertagihan yang rendah dan berlarut-larut tanpa
penyelesaian tidak diklasifikasikan secara khusus serta belum dibuat petunjuk
baku yang memadai yang dapat dijadikan pedoman oleh setiap unit akuntansi dan
pelaporan dalam mengelola uang pengganti yang telah bertahun-tahun tidak
tertagih.
f. Belum dilakukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang memadai dalam struktur
organisasi Kejaksaan RI untuk mengurangi risiko penyimpangan (fraud). Unit yang
bertanggung jawab dalam pengelolaan uang pengganti dilakukan oleh subseksi
penuntutan pada seksi pidsus masing-masing Kejari yang melaksanakan kegiatan
penuntutan, upaya hukum, eksekusi (penagihan), dan pelaporan pelaksanaan eksekusi
uang pengganti sekaligus.
Atas permasalahan tersebut, BPK RI telah menyarankan agar Jaksa Agung untuk:
a. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada JAM
Pidsus, Direktur UHEKSI, Kajati, dan Kajari yang lalai dalam menyusun SPI yang
memadai atas pengelolaan tagihan uang pengganti di lingkungannya.
b. Melakukan percepatan pengembangan Standard Operating Procedures (SOP) dan
sistem informasi yang memadai dalam pengelolaan tagihan uang pengganti.
c. Meningkatkan koordinasi dengan Departemen Keuangan untuk menyusun pedoman
pencatatan transaksi uang pengganti.
d. Memerintahkan JAM Pengawasan untuk meningkatkan pengawasan terhadap proses
pembenahan pengelolaan uang pengganti di Kejaksaan RI.
Hasil pemeriksaan tindak lanjut atas saran tersebut menunjukkan bahwa
kelemahan SPI masih terjadi dalam pengelolaan dan pelaporan tagihan uang pengganti
karena saran dari BPK RI belum ditindaklanjuti seluruhnya.
Berdasarkan Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 (Unaudited),
diketahui saldo akun tagihan uang pengganti pada Kejaksaan RI sebesar
Rp11.386.562.067.250,17, yang terbagi menjadi dua pengakuan, yaitu diakui sebagai
Piutang Lain-lain sebesar Rp144.121.046.505,47 dan sebagai Aset Lain-lain sebesar
Rp11.242.441.020.744,70. Pengakuan tagihan uang pengganti sebagai piutang lain-lain
dilakukan untuk tagihan yang putusannya inkracht pada tahun 2009 sedangkan

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 41 dari 61


pengakuan sebagai aset lain-lain dilakukan untuk tagihan yang inkracht sebelum tahun
2009.
Jumlah saldo tagihan uang pengganti untuk Kejati DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Timur, Sulawesi Selatan, dan Kepulauan Riau yang menjadi sampel pemeriksaan BPK RI
mencapai Rp11.020.783.065.365,65 atau 96,79% dari total saldo tagihan uang pengganti
yang dilaporkan dalam Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 (Unaudited) dengan
rincian sebagai berikut:
Penyajian Dalam (Rp)
No Kejati Total (Rp)
Aset Lancar Aset Lainnya
1) Kepri - 1.040.655.841,25 1.040.655.841,25
2) DKI Jakarta 126.230.789.440,00 10.835.172.679.746,30 10.961.403.469.186,30
3) Jawa Barat 4.134.656.899,27 52.945.319.326,20 57.079.976.225,47
4) Jawa Timur 52.088.640,00 1.206.875.472,63 1.258.964.112,63
5) Sulsel - - -
Jumlah 130.417.534.979,27 10.890.365.530.386,38 11.020.783.065.365,65

Dengan demikian saldo tagihan uang pengganti untuk 27 kejati lainnya adalah
Rp365.779.001.884,52 (Rp11.386.562.067.250,17 – Rp11.020.783.065.365,65) atau
3,21%.
Pemeriksaan atas saldo uang pengganti pada Jampidsus Kejaksaan Agung RI,
Kejati DKI Jakarta, Kejati Jawa Barat, Kejati Jawa Timur, Kejati Sulawesi Selatan, dan
Kejati Kepulauan Riau menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Kejati DKI Jakarta
Berdasarkan Laporan Keuangan Wilayah per 31 Desember 2009 diketahui bahwa
terdapat tagihan uang pengganti sebesar Rp11.099.529.112.834,00 yang
diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Aset lancar – akun Piutang bukan pajak Rp 126.230.789.440,00
2) Aset lain-lain Rp 10.973.298.323.394,00
Jumlah Rp 11.099.529.112.834,00
Hasil pemeriksaan terhadap berkas perkara, berita acara pelaksanaan eksekusi, dan
surat setoran bukan pajak (SSBP) menunjukkan bahwa jumlah saldo uang pengganti
(UP) di wilayah Kejati DKI Jakarta per 31 Desember 2009 adalah sebesar
Rp10.564.912.534.730,70 dengan rincian sebagai berikut:
Jumlah Uang Penyelesaian
Saldo Uang
No Kejari Pengganti (Sesuai Keterangan
Dibayar Diganti Subsidair Pengganti
Amar Putusan)
1 Jakarta Selatan 1.615.110.528.838,67 13.237.926.484,00 476.561.794.875,19 1.125.310.807.479,48 dalam Rp
117.602.583,28 18.000.000,00 1.602.583,28 98.000.000,00 dalam US$
2 Jakarta Utara 14.091.165.670,00 0,00 0,00 14.091.165.670,00 dalam Rp
3 Jakarta Timur 166.527.905.630,43 0,00 54.613.379.430,50 111.914.526.199,93 dalam Rp
4 Jakarta Barat 1.387.221.063.992,60 2.494.708.090,00 0,00 1.384.726.355.902,60 dalam Rp
5 Jakarta Pusat 5.350.254.942.619,66 126.133.950.219,00 97.500.000,00 5.224.023.492.400,66 dalam Rp
189.749.594,37 0,00 0,00 189.749.594,37 dalam US$
8.533.205.606.751,36 141.866.584.793,00 531.272.674.305,69 7.860.066.347.652,67 dalam Rp
Total
307.352.177,65 18.000.000,00 1.602.583,28 287.749.594,37 dalam US$
Equivalen (Rp) 11.422.316.076.661,40 311.066.584.793,00 546.336.957.137,69 10.564.912.534.730,70

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 42 dari 61


Berdasarkan data di atas diketahui bahwa terdapat kelebihan saji jumlah uang
pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah sebesar Rp534.616.578.103,30
(Rp11.099.529.112.834,00 – Rp10.564.912.534.730,70), dengan rincian terlampir
pada Lampiran 3.
b. Kejati Jawa Barat
Saldo tagihan uang pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah Kejati Jabar
(unaudited) per 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp6.557.374.819,00, yang
diklasifikasi dalam:
1) Aset Lancar – akun Piutang Bukan Pajak Rp 2.770.379.450,00
2) Aset Lain-lain Rp 3.786.995.369,00
Jumlah Rp 6.557.374.819,00
Pemeriksaan atas pelaporan uang pengganti dalam laporan keuangan pada Kejaksaan
Negeri (Kejari) Bandung, Banjar, Majalengka, Subang, Sumedang, Bogor, Bekasi,
dan Cikarang menunjukkan bahwa satker-satker tersebut tidak melaporkan tagihan
uang pengganti dalam Neraca per 31 Desember 2009.
Penelusuran lebih lanjut atas laporan perkembangan uang pengganti yang dibuat oleh
Kejagung, berkas perkara, dan SSBP pada kejari-kejari di atas menunjukkan bahwa
total tagihan uang pengganti (UP) dari perkara tindak pidana korupsi yang harus
dibayar oleh terpidana di wilayah Kejati Jabar per 31 Desember 2009 adalah sebesar
Rp122.601.719.382,00 dengan rincian sebagai berikut:

Penyelesaian
Uang Pengganti Saldo Uang
No. Kejari/Cabjari
(Amar) Diganti Pengganti (Rp)
Dibayar (Rp)
Subsidair
1 Bandung 32.829.604.055,00 2.170.500.000,00 1.195.924.005,00 29.463.180.050,00
2 Banjar 79.287.698,00 22.687.698,00 - 56.600.000,00
3 Majalengka 2.134.017.542,00 32.365.000,00 45.485.000,00 2.056.167.542,00
4 Subang 10.361.276.174,00 133.181.000,00 - 10.228.095.174,00
5 Sumedang 603.678.852,00 42.100.000,00 - 561.578.852,00
6 Bogor 48.392.737.772,00 475.680.388,00 5.861.244.000,00 42.055.813.384,00
7 Bekasi 821.202.000,00 821.202.000,00 - -
8 Cikarang 8.279.038.360,27 370.081.037,00 - 7.908.957.323,27
9 Kuningan 1.740.386.221,00 6.950.000,00 123.396.819,00 1.610.039.402,00
10 Bale Bandung 893.312.092,00 - - 893.312.092,00
11 Garut 10.295.359.534,61 7.200.631.292,61 - 3.094.728.242,00
12 Indramayu 2.727.669.083,75 - - 2.727.669.083,75
13 Sumber 1.882.527.857,00 56.858.000,00 943.717.799,00 881.952.058,00
14 Purwakarta 775.699.813,00 31.217.945,00 - 744.481.868,00
15 Cirebon 2.526.180.384,00 - 2.522.240.384,00 3.940.000,00
16 Cianjur 172.767.234,00 - 172.767.234,00 -
17 Cibadak 16.197.235.635,00 281.392.884,00 - 15.915.842.751,00
18 Tasikmalaya 382.430.117,20 - - 382.430.117,20
19 Depok 3.887.000,00 - - 3.887.000,00
20 Sukabumi 541.101.661,00 2.075.000,00 - 539.026.661,00
21 Cibinong 199.872.902,00 - - 199.872.902,00
22 Ciamis 4.400.933.880,00 1.126.789.000,00 - 3.274.144.880,00
Total 146.240.205.867,83 12.773.711.244,61 10.864.775.241,00 122.601.719.382,22

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 43 dari 61


Berdasarkan data di atas diketahui bahwa terdapat kekurangan saji jumlah uang
pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah sebesar Rp116.044.344.563,00
(Rp122.601.719.382,00 – Rp6.557.374.819,00).
c. Kejati Jawa Timur
Saldo tagihan uang pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah Kejati Jatim
(unaudited) per 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp805.223.361,00.
Pemeriksaan lebih lanjut atas laporan perkembangan uang pengganti yang dibuat oleh
Kejagung, berkas perkara, dan SSBP secara uji petik menunjukkan bahwa saldo
tagihan uang pengganti (UP) yang harus dibayar oleh para terpidana kasus korupsi di
wilayah Kejati Jatim per 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp34.700.597.361,38
dengan rincian sebagai berikut:
Jumlah Uang Penyelesaian
Pengganti Saldo Uang
No Kejari Diganti
(Sesuai Amar Dibayar (Rp) Pengganti (Rp)
Subsidair
Putusan)
1 Bangil 3.716.766.051,50 10.400.000,00 0 3.706.366.051,50
2 Bangkalan 399.569.354,00 39.750.000,00 0 359.819.354,00
3 Banyuwangi 737.716.773,00 56.565.000,00 0 681.151.773,00
4 Blitar 323.728.107,00 214.747.200,00 24.000.000,00 84.980.907,00
5 Bojonegoro 407.205.765,00 3.296.500,00 403.909.265,00 0
6 Bondowoso 459.425.620,00 37.684.375,00 243.009.740,00 178.731.505,00
7 Gresik 3.261.698.810,63 3.500.000,00 0 3.258.198.810,63
8 Jember 6.453.152.608,35 417.300.000,00 274.548.816,00 5.761.303.792,35
9 Kediri 10.187.260.613,85 12.683.000,00 787.689.146,85 9.386.888.467,00
10 Kepanjen 833.736.994,00 95.107.500,00 21.175.000,00 717.454.494,00
11 Kraksaan 2.500.000,00 - 0 2.500.000,00
12 Lamongan 1.940.534.623,31 0 1.697.200.245,31 243.334.378,00
13 Lumajang 2.120.158.825,01 430.975.455,00 1.619.043.507,01 70.139.863,00
14 Madiun 664.973.032,44 62.614.388,00 602.358.644,44 0
15 Magetan 236.944.660,00 0 58.717.500,00 178.227.160,00
16 Malang 567.344.314,00 40.000.000,00 0 527.344.314,00
17 Mojokerto 1.250.862.946,70 135.077.434,00 0 1.115.785.512,70
18 Nganjuk 125.630.375,00 95.630.375,00 30.000.000,00 0
19 Ngawi 817.353.090,70 18.300.000,00 57.602.732,00 741.450.358,70
20 Pacitan 1.698.106.389,50 362.475.000,00 1.335.631.389,50 -
21 Pamekasan 201.000.000,00 6.900.000,00 0 194.100.000,00
22 Pasuruan 783.630.341,00 63.527.500,00 156.594.020,00 563.508.821,00
23 Ponorogo 905.451.380,00 535.451.380,00 0 370.000.000,00
24 Probolinggo 50.000.000,00 - 50.000.000,00 -
25 Sampang 929.474.147,00 - 929.474.147,00 -
26 Sidoarjo 15.375.060.841,00 667.974.745,00 14.707.086.096,00 -
27 Situbondo 610.456.967,00 37.462.250,00 572.994.717,00 -
28 Surabaya 6.415.286.133,50 261.586.449,00 3.357.437.745,00 2.796.261.939,50
29 Tj. Perak 3.856.293.501,42 476.312.871,42 0 3.379.980.630,00
30 Trenggalek 651.676.571,00 347.884.071,00 99.350.000,00 204.442.500,00
31 Tuban 208.996.820,00 28.281.450,00 2.088.640,00 178.626.730,00
32 Tulungagung 441.065.200,00 - 441.065.200,00 -
Total 66.633.060.855,91 4.461.486.943,42 27.470.976.551,11 34.700.597.361,38

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa terdapat kekurangan saji jumlah uang
pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah sebesar Rp33.895.374.000,38.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 44 dari 61


d. Kejati Sulawesi Selatan
Saldo tagihan uang pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah Kejati Sulsel
(unaudited) per 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp7.669.608.386,00, yang
diklasifikasi dalam:
1) Aset Lancar – akun Piutang Bukan Pajak Rp 1.416.845.192,00
2) Aset Lain-lain Rp 6.252.763.194,00
Jumlah Rp 7.669.608.386,00
Pemeriksaan lebih lanjut atas laporan perkembangan uang pengganti yang dibuat oleh
Kejagung, berkas perkara, dan SSBP secara uji petik menunjukkan bahwa saldo
tagihan uang pengganti (UP) yang harus dibayar oleh para terpidana kasus korupsi di
wilayah Kejati Sulsel per 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp13.960.105.648,88
dengan rincian sebagai berikut:
Jumlah Uang Penyelesaian
Saldo Uang
No Kejari Pengganti (Sesuai Diganti
Dibayar (Rp) Pengganti (Rp)
Amar Putusan) Subsidair
1 Bantaeng 144.322.941,00 31.262.552,00 0 113.060.389,00
2 Barru 361.877.040,00 180.900.000,00 180.977.040,00
3 Enrekang 72.954.448,00 7.091.250,00 0 65.863.198,00
4 Jeneponto 1.352.482.192,00 50.637.000,00 1.301.845.192,00
5 Majene 41.447.480,00 41.447.480,00 0
6 Makale 183.282.712,00 71.262.712,00 112.020.000,00
7 Makassar 43.946.166.661,00 43.946.166.661,00 0
8 Maros 9.922.871.496,50 8.100.000,00 7.184.512.470,50 2.730.259.026,00
9 Masamba 1.201.636.478,00 0 0 1.201.636.478,00
10 Palopo 1.468.197.945,00 0 0 1.468.197.945,00
11 Pangkep 122.905.950,00 122.905.950,00 0
12 Pare-pare 530.092.000,00 14.692.000,00 400.400.000,00 115.000.000,00
13 Pinrang 228.586.629,00 182.753.038,00 45.833.591,00
14 Sengkang 3.706.922.059,00 8.518.000,00 2.075.202.566,00 1.623.201.493,00
15 Sidrap 879.661.380,00 750.000,00 436.666.023,00 442.245.357,00
16 Sinjai 35.368.475,00 21.000.000,00 0 14.368.475,00
17 Takalar 111.396.150,00 0 0 111.396.150,00
18 Watampone 4.434.201.314,88 0 0 4.434.201.314,88
19 Belopa 142.655.800,00 142.655.800,00 0
Total 68.887.029.151,38 91.413.802,00 54.835.509.700,50 13.960.105.648,88

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa terdapat kekurangan saji jumlah uang
pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah sebesar Rp6.290.497.262,88
(Rp13.960.105.648,88 – Rp7.669.608.386,00).
e. Kejati Kepulauan Riau
Saldo tagihan uang pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah Kejati Kepri
(unaudited) per 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp0,00.
Pemeriksaan atas pelaporan uang pengganti dalam laporan keuangan pada Kejaksaan
Negeri (Kejari) Tanjung Pinang dan Batam menunjukkan bahwa satker-satker
tersebut tidak melaporkan tagihan uang pengganti dalam Neraca per 31 Desember
2009.
Pemeriksaan lebih lanjut atas laporan perkembangan uang pengganti yang dibuat oleh
Kejagung, berkas perkara, dan SSBP secara uji petik menunjukkan bahwa saldo

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 45 dari 61


tagihan uang pengganti (UP) yang harus dibayar oleh para terpidana kasus korupsi di
wilayah Kejati Kepri per 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp1.040.499.186,00
dengan rincian sebagai berikut:
Jumlah Uang Penyelesaian
Saldo Uang
No Kejari Pengganti (Sesuai Diganti
Dibayar (Rp) Pengganti (Rp)
Amar Putusan) Subsidair
1 Tj. Pinang 3.456.780.000,00 2.629.836.249,00 - 826.943.751,00
2 Batam 752.803.730,35 539.248.295,35 - 213.555.435,00
3 Ranai 555.000.000,00 555.000.000,00 - 0,00
4 Tj. Balai Karimun 1.541.789.690,25 1.338.077.600,00 203.712.090,25 0,00
Total 6.306.373.420,60 5.062.162.144,35 203.712.090,25 1.040.499.186,00

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa terdapat kekurangan saji jumlah uang
pengganti yang dilaporkan dalam Neraca Wilayah sebesar Rp1.040.499.186,00.
Analisa terhadap umur tagihan secara uji petik pada Kejati DKI Jakarta, Kejati
Jawa Barat, Kejati Jawa Timur, Kejati Sulawesi Selatan, dan Kejati Kepulauan Riau
menunjukkan bahwa penagihan atas uang pengganti tidak optimal, dimana 98,96% dari
saldo tagihan sebesar Rp10.626.076.309.671,20 telah berumur lebih dari 1 (satu) tahun,
dengan rincian per kejati sebagai berikut:
Saldo Tagihan Uang Pengganti (Rp)
No. Kejati Jumlah (Rp)
Dibawah 1 th 1 s.d. 5 th 5 s.d. 10 th Diatas 10 th

1. DKI Jakarta 105.680.296.942,74 2.757.274.399.088,58 6.279.274.384.125,81 1.422.683.454.573,54 10.564.912.534.730,70


2. Sulsel 81.825.389,00 3.137.921.087,88 10.560.348.004,00 180.011.168,00 13.960.105.648,88
3. Jabar 4.988.911.806,00 77.399.842.876,00 34.846.157.698,00 5.366.807.002,00 122.601.719.382,00
4. Jatim 388.112.500,00 20.712.409.151,30 10.805.934.636,88 2.794.141.073,20 34.700.597.361,38
5. Kepri - - 1.040.499.186,00 - 1.040.499.186,00
Jumlah 111.139.146.637,74 2.858.524.572.203,76 6.336.527.323.650,69 1.431.024.413.816,74 10.737.215.456.308,90
Persentase 1,04% 26,62% 59,01% 13,33% 100,00%

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. UU No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara Pasal 1(6) menyatakan
bahwa Piutang Negara adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada Pemerintah
Pusat dan/atau hak Pemerintah Pusat yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat
perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku atau akibat lainnya yang sah.
b. Keppres No. 42 Tahun 2002 Tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara Pasal 8 ayat (1) menyatakan antara lain bahwa departemen/
lembaga wajib:
a. mengadakan intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang menjadi
wewenang dan tanggung jawabnya;
b. mengintensifkan penagihan dan pemungutan piutang negara;
c. Melakukan penuntutan dan pemungutan ganti rugi atas kerugian negara.
c. Peraturan Pemerintah (PP) No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan – Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan Paragraf 84
menetapkan bahwa aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan
diperoleh oleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan
andal.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 46 dari 61


Kelemahan SPI dan permasalahan tersebut di atas mengakibatkan lebih saji saldo
tagihan uang pengganti dalam Neraca Wilayah Kejati DKI Jakarta, Jabar, Jatim, Kepri,
dan Sulsel per 31 Desember 2009 dengan jumlah minimal sebesar Rp377.345.863.091,07
(Rp534.616.578.103,33 - Rp6.290.497.262,88 - Rp116.044.344.563,00 -
Rp33.895.374.000,38 - Rp1.040.499.186,00).
Hal tersebut disebabkan:
a. Penanggung jawab penyusunan Laporan Keuangan Kejari di lingkungan Kejati DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kepulauan Riau kurang
memahami Standar Akuntansi Pemerintahan khususnya terkait dengan pengakuan
dan pelaporan tagihan uang pengganti perkara korupsi yang telah inkracht.
b. Belum ada SOP terkait mekanisme pencatatan dan pelaporan uang pengganti
sehingga sub bagian pembinaan yang bertanggung jawab untuk penyusunan laporan
keuangan tidak menerima data mutasi tagihan uang pengganti dari seksi pidsus.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa akan melaporkan
tagihan uang pengganti dan mutasinya ke dalam laporan keuangan masing-masing satker.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan seluruh Asbin dan Kasubagbin untuk mengoreksi
atau menyesuaikan akun Tagihan Uang Penganti dalam aplikasi SAI masing-masing
satker dan wilayah sesuai dengan temuan BPK RI. Untuk sementara, koreksi
dilakukan pada Neraca Kejaksaan RI.
b. Jambin, Jampidsus, Jamdatun, dan Jamwas untuk berkoordinasi dalam rangka
percepatan penyelesaian SOP terkait mekanisme pencatatan dan pelaporan uang
pengganti.
c. Jambin untuk memberikan sosialisasi kepada para petugas akuntansi di seluruh kejari
mengenai pengakuan dan pelaporan tagihan uang pengganti perkara korupsi yang
telah inkracht.

1.3.6 Pencatatan Tagihan Tilang Verstek dan Titipan Tilang di Giro I, II, III BRI
Belum Memadai
Penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas jalan dilakukan dengan
pemberian surat tilang. Surat tilang merupakan alat utama yang digunakan dalam
penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas jalan tertentu sebagaimana tercantum dalam
penjelasan pasal 211 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) yang berdasarkan kajian, apabila tidak dilakukan tindakan kepolisian secara
terencana dan konsisten akan dapat menimbulkan kecelakaan, kemacetan, kerusakan
prasarana dan sarana jalan, ketidaktertiban, polusi dan kejahatan.
Pelanggar lalu lintas diberikan 3 (tiga) opsi dalam penyelesaian perkara tilang
yaitu:
1) Pelanggar setuju menunjuk wakil yang disediakan penyidik untuk menghadiri sidang
dan bersedia menitipkan sejumlah uang sesuai tabel kepada Giro I Bank Rakyat
Indonesia (BRI);
2) Pelanggar setuju menitipkan uang di Giro I BRI tetapi menyatakan ingin menghadiri
sidang;

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 47 dari 61


3) Pelanggar menolak menitipkan uang di Giro I BRI dan ingin menghadiri sendiri
sidang pengadilan.
Terhadap pelanggar yang memutuskan untuk menghadiri persidangan namun
kemudian tidak hadir maka pengadilan tetap memutuskan perkara tersebut yang disebut
sebagai putusan verstek. Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai eksekutor menyita barang
bukti berupa SIM, STNK, atau kendaraan dan setelah pelanggar membayar denda tilang
sesuai putusan pengadilan maka barang bukti tersebut dikembalikan kepada pelanggar.
Pemeriksaan secara uji petik terhadap dokumen penyetoran PNBP yang dikelola
oleh bendahara khusus penerima dan dokumen yang diperoleh dari petugas tilang di 30
Kejari (Kejari Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara,
Bandung, Banjar, Majalengka, Subang, Sumedang, Bogor, Bekasi, Cikarang, Surabaya,
Situbondo, Malang, Batu, Magetan, Lamogan, Kediri, Makassar, Palopo, Belopa,
Pangkep, Maros, Barru, Tanjung Pinang, Batam, Tanjung Balai Karimun, dan Cabang
Kejari Moro, menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Denda Tilang Verstek
Petugas tilang di seksi Pidana Umum (Pidum) pada Kejari yang diuji petik tidak
mempunyai catatan atau laporan tentang tunggakan denda tilang yang diputus secara
verstek sampai dengan saat pemeriksaan. Untuk mengetahui berapa jumlah
tunggakan selanjutnya Tim meminta petugas tilang untuk membuat rekapitulasi
berdasarkan dokumen tilang yang ada dalam dua tahun anggaran terakhir (TA 2008-
2009). Dari rekapitulasi tersebut diketahui pada 28 Kejari terdapat denda tilang dan
biaya perkara diputus verstek yang belum dibayar per 31 Desember 2009 sebesar
Rp2.379.511.476,00 dengan rincian sebagai berikut:
No Nama Satker Jumlah (Rp)
1 Kejari Jakarta Selatan 470.375.000,00
2 Kejari Jakarta Pusat 313.289.000,00
3 Kejari Jakarta Barat 108.862.000,00
4 Kejari Jakarta Timur 275.105.000,00
5 Kejari Jakarta Utara 28.218.000,00
6 Kejari Bandung 100.677.496,00
7 Kejari Banjar 5.367.000,00
8 Kejari Majalengka 0,00
9 Kejari Subang 4.163.000,00
10 Kejari Sumedang 40.042.100,00
11 Kejari Bogor 75.486.000,00
12 Kejari Bekasi 188.429.000,00
13 Kejari Cikarang 240.088.500,00
14 Kejari Situbondo 3.360.000,00
15 Kejari Malang 173.437.000,00
16 Kejari Batu 3.924.000,00
17 Kejari Kediri 25.954.500,00
18 Kejari Magetan 5.734.000,00
19 Kejari Lamongan 350.000,00
20 Kejari Surabaya 131.686.000,00
21 Kejari Tanjung Pinang 11.704.000,00
22 Kejari Batam 19.321.000,00
23 Kejari Tanjung Balai Karimun 120.500,00

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 48 dari 61


No Nama Satker Jumlah (Rp)
24 Kejari Makassar 83.001.580,00
25 Kejari Pangkep 25.371.000,00
26 Kejari Barru 10.050.400,00
27 Kejari Belopa 20.361.000,00
28 Kejari Maros 15.034.400,00
Jumlah 2.379.511.476,00
Tunggakan denda tilang dan biaya perkara diputus verstek tersebut diatas belum
dilaporkan dalam Laporan Keuangan Tahun 2009 masing-masing wilayah dan satker
baik dalam Neraca maupun diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Penelusuran ke Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 menunjukkan hal yang
sama.
b. Rekening Giro I, Giro II dan Giro III
Rekening Giro I, II, dan III hanya digunakan apabila pelanggar lalu lintas memilih
opsi 1 dan 2 yaitu menitipkan uang di BRI. Rekening Giro I BRI merupakan suatu
rekening yang dibuka oleh pihak kejaksaan negeri untuk menampung sementara uang
titipan denda tilang dan biaya perkara sampai keluarnya keputusan pengadilan.
Setelah adanya keputusan pengadilan, status uang titipan tersebut berubah menjadi
uang denda dan biaya perkara yang harus dipindahkan ke Rekening Giro II untuk
selanjutnya disetorkan ke kas negara. Sisa uang titipan dan biaya perkara setelah
dikurangkan dengan penyetoran ke kas negara kemudian dipindahkan ke Rekening
Giro III dan merupakan hak pelanggar lalu lintas yang dapat diambil kembali oleh
pelanggar setelah mendapatkan izin dari kepala kejaksaan negeri setempat.
Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat titipan denda tilang dalam rekening Giro I,
II, dan III pada 11 Kejari sebesar Rp1.224.044.726,00, dengan rincian sebagai
berikut:
No Nama Satker Rek. Giro I Rek. Giro II Rek. Giro III
1 Kejari Jakarta Selatan 589.393.456,00 - -
2 Kejari Jakarta Pusat 76.089.129,00 - -
3 Kejari Jakarta Barat 44.480.041,00 - -
4 Kejari Jakarta Timur 312.936.255,00 - -
5 Kejari Jakarta Utara 64.649.000,00 - -
6 Kejari Bandung 17.577.100,00 136.801,00
7 Kejari Banjar 75.607.500,00 - -
8 Kejari Malang 1.693.144,00 - -
9 Kejari Surabaya 41.268.300,00 - -
10 Kejari Makassar - 162.100,00 -
11 Kejari Pangkep - 1.000,00 50.900,00
Jumlah 1.223.693.925,00 163.100,00 187.701,00

Saldo rekening Giro I, II, dan III diatas belum dilaporkan dalam Laporan Keuangan
Tahun 2009 masing-masing wilayah dan satker tersebut baik dalam Neraca maupun
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Penelusuran ke Laporan
Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009 menunjukkan adanya pengungkapan saldo
rekening Giro I, II, dan III dalam Catatan atas Laporan Keuangan sebagai berikut:
• Giro I Rp 6.165.373.532,96
• Giro II 702.583.870,00
• Giro III 137.201.021,00
Jumlah Rp 7.005.158.423,96

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 49 dari 61


Saldo tersebut diperoleh Biro Keuangan Kejagung RI dari Jampidum namun tidak
ada rincian saldo per rekening untuk setiap kejari.
Saldo dalam rekening Giro II merupakan jumlah denda tilang yang telah diputus
oleh pengadilan merupakan hak dari negara dan harus disetorkan ke kas negara oleh
BRI. Saldo rekening Giro II sebesar Rp702.583.870,00 tersebut belum dilaporkan ke
dalam akun Pendapatan Ditangguhkan dalam Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember
2009.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 1 ayat (6) mendefiniskan
Piutang Negara sebagai jumlah uang yang wajib dibayar kepada Pemerintah Pusat
dan/atau hak Pemerintah Pusat yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat
perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku atau akibat lainnya.
b. Keppres No. 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
Dan Belanja Negara Pasal 8 ayat (1) menyatakan bahwa departemen/lembaga wajib:
1) Mengadakan intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang menjadi
wewenang dan tanggung jawabnya.
2) Mengintensifkan penagihan dan pemungutan piutang negara.
c. Peraturan Pemerintah (PP) No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan – Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan
1) Paragraf 75 menetapkan bahwa Catatan atas Laporan Keuangan meliputi
penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga
mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas
pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan
di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang
diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.
2) Paragraf 79 menetapkan bahwa kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu
kejadian atau peristiwa untuk diakui yaitu:
(i) Terdapat kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan
kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke
dalam entitas pelaporan yang bersangkutan;
(ii) Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat
diukur atau dapat diestimasi dengan andal.
3) Paragraf 84 menetapkan bahwa aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi
masa depan diperoleh oleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang
dapat diukur dengan andal.
d. Kesepakatan bersama antara Kejaksaan Agung RI, Kepolisian Negara RI dan Bank
Rakyat Indonesia tentang penggunaan jasa BRI dalam penerimaan uang titipan
pembayaran denda tilang dan biaya perkara No.B-319/E/VII/1993, No.Pol.Kep/09/
VII/1993, B-299/E/7/1993 tanggal 16 Juli 1993 menyebutkan bahwa Kejaksaan
mengirim daftar pelanggar-pelanggar yang telah diputus oleh pengadilan kepada BRI
dengan menjelaskan bahwa uang titipan telah berubah statusnya menjadi denda dan
ongkos perkara selambat-lambatnya tiga hari sejak tanggal putusan disertai
permintaan agar uang disetor ke kas negara dan penyetoran uang denda dan biaya
perkara oleh BRI ke kas negara diberitahukan ke Kejaksaan beserta bukti setorannya.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 50 dari 61


Hal tersebut mengakibatkan:
a. Laporan Keuangan Kejaksaan RI TA 2009 belum memberikan informasi yang akurat
terkait dengan tunggakan denda tilang yang diputus secara verstek yang masih harus
dibayar oleh para pelanggar lalu lintas. Jumlah tunggakan denda tilang verstek
sampai tanggal 31 Desember 2009 tidak dapat diketahui secara pasti.
b. Jumlah Aset dalam Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2009 kurang saji minimal
sebesar Rp2.379.511.476,00 yang berasal dari tunggakan denda tilang verstek selama
periode 1 Januari 2008 s.d. 31 Desember 2009.
c. Akun Pendapatan Ditangguhkan dalam Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2009
kurang saji minimal sebesar Rp702.583.870,00 yang berasal saldo rekening Giro II
yang belum disetorkan oleh BRI ke kas negara.
Hal tersebut disebabkan:
a. Lemahnya koordinasi antara bidang Pidana Umum (Pidum) dan Pembinaan (Bin)
mulai dari tingkat Kejari, Kejati sampai dengan Kejagung dalam hal diseminasi
informasi denda tilang verstek dan saldo rekening Giro I, II, dan III untuk
kepentingan pelaporan keuangan.
b. Petugas akuntansi di masing-masing kejari belum memahami perlakuan akuntansi
atas tunggakan denda tilang verstek dan saldo titipan tilang di rekening Giro I, II dan
III.
c. Belum ada SOP yang mengatur pelimpahan titipan tilang giro ke rekening kas negara
dan pelaporan uang titipan denda tilang giro dan denda tilang verstek yang belum
dibayar ke dalam Laporan Keuangan masing-masing kejari.
Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan bahwa sepakat
dengan temuan BPK RI dan akan segera ditindaklanjuti dengan:
a. Melakukan pencatatan tagihan denda tilang verstek dan saldo titipan denda tilang
dalam rekening Giro I, II, dan III pada BRI ke dalam Neraca dan mengungkapkan
dalam Catatan atas Laporan Keuangan masing-masing satker sesuai temuan BPK RI.
b. Menyetorkan penerimaan denda tilang verstek ke kas negara.
c. Meminta pihak BRI untuk segera menyetorkan denda tilang yang ada di rekening
Giro II.
d. Meningkatkan koordinasi antara seksi pidum dan sub bagian pembinaan masing-
masing kejari terkait dengan diseminasi informasi jumlah denda tilang yang diputus
verstek dan saldo rekening Giro I, II, dan III untuk kepentingan pelaporan keuangan.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan para Asbin dan Kasubagbin untuk melakukan
pencatatan tagihan denda tilang verstek dan saldo titipan denda tilang dalam rekening
Giro I, II, dan III pada BRI ke dalam Neraca dan mengungkapkan dalam Catatan atas
Laporan Keuangan masing-masing satker sesuai temuan BPK RI.
b. Jambin untuk menyusun dan mensosialisasikan SOP yang mengatur pelimpahan
titipan tilang giro ke rekening kas negara dan pelaporan uang titipan denda tilang giro
dan denda tilang verstek yang belum dibayar ke dalam Laporan Keuangan masing-
masing kejari.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 51 dari 61


1.3.7 Jaminan Pemeliharaan Sebesar Rp1.483.867.250,00 dari Pekerjaan
Pembangunan Gedung dan Bangunan Tidak Diungkapkan Dalam Catatan
atas Laporan Keuangan
Dalam setiap kegiatan pembangunan gedung dan bangunan, setelah pekerjaan
mencapai 100% dan dilakukan serah terima pekerjaan I, kontraktor (pelaksana pekerjaan)
memiliki kewajiban untuk tetap melaksanakan kegiatan pemeliharaan atas pekerjaan yang
telah dilaksanakannya tersebut dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Dengan adanya keterbatasan dalam pencairan dana APBN dalam satu tahun
anggaran, pembayaran dapat dilakukan 100% kepada rekanan meskipun masa
pemeliharaan belum selesai dengan syarat rekanan menyerahkan jaminan pemeliharaan
sebesar 5%.
Hasil pemeriksaan secara uji atas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan
pada Kejagung RI, Kejati Jabar, Jatim, Kepri, Sulsel, dan DKI Jakarta serta kejari di
masing-masing Kejati tersebut menunjukkan adanya jaminan pemeliharaan dengan total
sebesar Rp1.483.867.250,00 yang sampai dengan tanggal pelaporan keuangan 31
Desember 2009 masih berlaku, dengan rincian sebagai berikut:
Tgl. Berlaku Jaminan Nilai Jaminan
No. Satuan Kerja Pekerjaan Pemeliharaan
Mulai Akhir
(Rp)
1 Kejati Jabar Rehabilitasi gedung kantor 17/11/2009 16/05/2010 108.328.000,00
2 Kejari Banjar Pembangunan Sarana dan Prasarana 10/11/2009 09/05/2010 49.486.350,00
Gedung
3 Kejari Sumedang Pembangunan Gedung Kantor 28/12/2009 26/06/2010 50.339.800,00
4 Kejati Jatim Pembangunan Gedung Kantor 30/10/2009 14/05/2010 265.770.000,00
5 Kejari Batu Pembangunan Sarana dan Prasarana 05/12/2009 02/06/2010 7.014.000,00
Gedung
6 Kejari Magetan Pembangunan Gedung Kantor 11/12/2009 08/06/2010 135.268.250,00
7 Kejari Lamongan Pembangunan Gedung Kantor 29/11/2009 28/05/2010 71.057.450,00
Rehabilitasi Jaringan Listrik 26/11/2009 25/05/2010 44.900.650,00
Pembangunan Rumah Dinas 10/10/2009 08/04/2010 64.651.000,00
8 Kejagung RI Pembangunan Gedung Parkir (Tahap II) 08/12/2009 05/06/2010 588.672.550,00
meliputi Konsultan Perencana, Pelaksana, 08/12/2009 08/06/2010 78.775.000,00
dan Pengawas 07/12/2009 29/05/2010 19.604.200,00
Total 1.483.867.250,00

Penelurusan terhadap Laporan Keuangan satker-satker tersebut menunjukkan


bahwa jaminan pemeliharaan tersebut tidak diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan masing-masing satker, wilayah, dan Kejaksaan RI Tahun 2009. Sampai saat
pemeriksaan berakhir pada pertengahan bulan April 2010, Kejaksaan RI tidak dapat
menyajikan jumlah jaminan pemeliharaan yang masih berlaku per 31 Desember 2009
untuk seluruh satker di seluruh Indonesia.
Hal tersebut tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
(PSAP) No. 08 tentang Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan yang menyatakan antara
lain bahwa kontrak konstruksi pada umumnya memuat ketentuan tentang retensi.
Misalnya termin yang masih ditahan oleh pemberi kerja selama masa pemeliharaan.
Jumlah retensi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 52 dari 61


Hal tersebut mengakibatkan Catatan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun
2009 kurang informatif dalam mengungkapkan jaminan pemeliharaan yang masih berlaku
minimal sebesar Rp1.483.867.250,00.
Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pemahaman dari petugas akuntansi
mengenai perlakuan akuntansi untuk jaminan pemeliharaan dari pekerjaan pembangunan
gedung dan bangunan.
Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan bahwa sepakat
dengan temuan BPK RI dan akan segera ditindaklanjuti dengan mengungkapkan jaminan
pemeliharaan tersebut ke dalam Catatan atas Laporan Keuangan masing-masing Satker
sesuai dengan temuan BPK RI.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan Asbin dan Kasubagbin agar mengungkapkan jaminan
pemeliharaan yang masih berlaku ke dalam Catatan atas Laporan Keuangan masing-
masing Satker sesuai dengan temuan BPK RI.
b. Jambin untuk mengadakan sosialisasi kepada seluruh petugas akuntansi mengenai
pengungkapan jaminan pemeliharaan ke dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

1.3.8 Proses Penyusunan LK Pada Beberapa Satker Tidak Berdasarkan Proses


Rekonsiliasi yang Efektif
Setiap bulan, kejaksaan negeri selaku Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran
menyusun Laporan Keuangan (LK) yang dihasilkan dari aplikasi Sistem Aplikasi Instansi
(SAI), melakukan rekonsiliasi dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)
di wilayahnya, dan menyampaikan LK beserta ADK dan hasil rekonsiliasi ke kejaksaan
tinggi selaku Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran-Wilayah (UAPPA-W).
Selanjutnya kejaksaan tinggi akan mengkompilasi LK dari seluruh kejari di wilayahnya
menjadi LK wilayah, melakukan rekonsiliasi dengan Kantor Wilayah Perbendaharaan
setempat, dan mengirimkan LK beserta ADK dan hasil rekonsiliasi ke kejaksaan agung
sebagai bahan penyusunan LK Kejaksaan RI.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas proses penyusunan LK pada Kejagung RI,
Kejati DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, Jawa Timur, dan Jawa Barat
secara kejari-kejari di masing-masing Kejati tersebut menunjukkan hal-hal sebagai
berikut:
a. Kejati Kep. Riau
1) Dari 5 (lima) satker yang diuji petik terdapat 2 (dua) satker yang belum
melaksanakan rekonsiliasi antara SAK dan SIMAK BMN TA 2009, sehingga
masih terdapat perbedaan nilai aktiva tetap antara LBMN dengan Neraca yaitu:
a. Kejati Kepri
1) Kejati Kepri selaku UAPPA-W melaporkan nilai aktiva tetap dalam
LBMN intrakomptabel sebesar Rp68.827.534.810,00 sedangkan dalam
neraca sebesar Rp69.632.141.260,00, sehingga terdapat selisih sebesar
Rp804.606.450,00. Perbedaan tersebut karena data hasil inventarisasi
BMN Kejari Batam dan CKN Dabo belum dikirim ke Kejati. Selain itu
UAPPB-W belum melaksanakan rekonsiliasi dengan Kanwil DJKN;

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 53 dari 61


2) Kejati Kepri selaku UAKPA melaporkan mutasi nilai Peralatan dan
Mesin pada Neraca dan SIMAK BMN sebesar Rp978.450.000. Namun
berdasarkan hasil pemeriksaan Tim BPK RI, realisasi belanja modal
peralatan mesin (MAK 5321) tahun 2009 senilai Rp1.004.880.000,00
sehingga kurang tercatat senilai Rp26.430.000,00. Atas selisih tersebut
pihak Kejati yaitu petugas SAK dan SIMAK belum dapat menjelaskan
penyebabnya.
b. Kejati Batam
Kejari Batam selaku UAKPA melaporkan nilai aktiva tetap dalam LBMN
intrakomptabel sebesar Rp3.298.885.404,00 sedangkan dalam neraca sebesar
Rp3.292.043.404,00, sehingga terdapat selisih sebesar Rp6.842.000,00.
Selisih tersebut terjadi pada akun peralatan dan mesin yang dilaporkan dalam
neraca lebih rendah dibandingkan dengan nilai LBMN. Perbedaan tersebut
terjadi karena petugas SAI dan petugas SIMAK BMN dilaksanakan oleh
orang yang sama, sehingga tidak dilaksanakan rekonsiliasi.
2) Rekonsiliasi antara Kejari Batam dan Kejari Tanjung Balai Karimun dengan
KPPN di wilayah masing-masing belum efektif yang ditunjukkan oleh hal
berikut:
a. Terdapat selisih realisasi pendapatan sebesar Rp3.131.513,00 antara
dokumen sumber berupa SSBP (Rp13.049.041.122,00) dengan laporan SAI
(Rp13.052.172.635,00) pada Kejari Batam. Hal itu disebabkan adanya SSBP
yang dicatat dua kali.
b. Terdapat selisih realisasi pendapatan sebesar Rp5.731.200,00 antara
dokumen sumber berupa SSBP (Rp1.717.558.500,00) dengan realisasi
menurut SAI (Rp1.711.827.700,00) pada Kejari Tanjung Balai Karimun. Hal
ini disebabkan adanya SSBP yang belum di-input ke aplikasi SAI.
b. Kejati Jawa Barat
1) Proses rekonsiliasi antara Kejari Banjar dan Kejari Majalengka dengan KPPN di
wilayah masing-masing khususnya untuk realisasi pendapatan belum efektif
dimana masih dijumpai perbedaan antara data aplikasi SAI dengan dokumen
sumber sebagai berikut:
a) Kejari Banjar
Realisasi pendapatan berdasarkan dokumen sumber sebesar
Rp306.885.402,00 sedangkan pada SAI tercatat sebesar Rp307.224.402,00
sehingga terjadi kelebihan pencatatan sebesar Rp339.000,00.
b) Kejari Majalengka
Realisasi pendapatan menurut SAI sebesar Rp139.035.503 sedangkan
berdasarkan dokumen sumber (BKU) sebesar Rp141.893.431,00 sehingga
terdapat selisih kekurangan pencatatan sebesar Rp2.857.928,00.
2) Selain itu di Kejari Bekasi ditemukan adanya selisih pencatatan pendapatan dari
Denda Tilang (MAP 423414) sebesar Rp39.240.921,00 antara data SAKPA
(Rp2.086.149.750,00) dengan SAPPA-W (Rp2.125.390.671,00).
Hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
yang menyatakan antara lain:

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 54 dari 61


a. Petugas UAKPB/UAPPB-W melaksanakan rekonsiliasi internal antara Laporan BMN
dengan Laporan Keuangan yang disusun oleh petugas akuntansi keuangan dan
rekonsiliasi Laporan BMN dengan Kanwil Ditjen Kekayaan Negara setiap semester
serta melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan.
b. Setiap UAKPA wajib:
1) Memproses dokumen sumber untuk menghasilkan laporan keuangan berupa
LRA, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan Satuan Kerja.
2) Melakukan rekonsiliasi data dengan KPPN dan menandatangani Berita Acara
Rekonsiliasi dan melakukan perbaikan data jika terdapat kesalahan pada data
UAKPA.
3) Mencetak Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, dan menyampaikannya ke
UAPPA-W/UAPPA-E1 beserta ADK setiap bulan.
c. Setiap UAPPA-W wajib:
1) Menerima dan memverifikasi laporan keuangan beserta ADK yang diterima dari
UAKPA setiap bulan.
2) Menggabungkan data laporan keuangan dari masing-masing UAKPA yang
berada dibawahnya.
3) Melakukan rekonsiliasi data dengan Kanwil Ditjen PBN, menandatangani Berita
Acara Rekonsiliasi dan melakukan perbaikan data jika terdapat kesalahan pada
data UAPPA-W.
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Nilai aktiva tetap yang dilaporkan dalam neraca Kejaksaan RI tidak sama dengan
nilai yang dilaporkan dalam LBMN intrakomptabel.
b. Terdapat selisih nilai realisasi anggaran yang dilaporkan Kejaksaan RI dengan yang
dilaporkan Ditjen Perbendaharaan (data SAKUN).
Hal tersebut disebabkan:
a. Petugas akuntansi keuangan dan barang kurang memahami mekanisme dan prosedur
kerja yang diatur dalam Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah
Pusat.
b. Pelaksanaan rekonsiliasi dengan KPPN/Kanwil DJ PB belum efektif khususnya untuk
pencatatan realisasi pendapatan.
c. Pengawasan atasan langsung terhadap pelaksanaan tugas petugas akuntansi keuangan
kurang memadai.
Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan bahwa sepakat
dengan temuan BPK RI dan akan segera ditindaklanjuti dengan melakukan pengendalian
dan pengawasan serta rekonsiliasi secara periodik dengan KPPN setempat.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menyelenggarakan sosialisasi kepada para petugas akuntansi barang
dan keuangan mengenai mekanisme dan prosedur kerja rekonsiliasi internal antara
Neraca dan Laporan BMN di setiap satker serta rekonsiliasi Laporan Pendapatan
antara kejari/kejati (SAI) dan KPPN/Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat (SAU)
untuk memastikan keakuratan informasi dalam laporan keuangan masing-masing
satker.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 55 dari 61


b. Jambin untuk menginstruksikan para Asbin dan Kasubagbin untuk meningkatkan
pengawasan atas pelaksanaan tugas para petugas akuntansi keuangan dan barang di
satker masing-masing.

1.3.9 Pencatatan dan Pelaporan Barang Bukti Pada Buku Register Barang Bukti
(RB-2) Seksi Pidana Umum di Kejari Makassar dan Kejari Belopa Tidak
Tertib
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Selatan mempunyai kewajiban untuk
membina administrasi dan memberikan petunjuk kepada Kejaksaan Negeri (Kejari)
tentang penanganan perkara. Berkaitan dengan hal tersebut, pengawasan intern Kejati
Sulawesi Selatan ditugaskan melakukan pengawasan segala kegiatan yang dilakukan pada
masing-masing Kejari di lingkungan Kejati Sulawesi Selatan. Setiap tahun pengawasan
intern Kejati Sulawesi Selatan melakukan pemeriksaan di seluruh kejari. Pada saat
melakukan pemeriksaan, pengawasan intern Kejati Sulawesi Selatan selalu memberikan
catatan inspeksi terkait tidak tertibnya pencatatan pada Buku Register Barang Bukti (RB-
2) dan membubuhkan tanda tangan pada RB-2 seksi Pidana Umum (Pidum). Namun
belum ada perbaikan atas hasil inspeksi yang dilakukan dari pengawasan intern Kejati
Sulawesi Selatan.
Dari hasil pemeriksaan atas buku Register Barang Bukti (RB-2) sesuai KEPJA
No-518/A/J.A/11/2001 tanggal 1 November 2001 yang digunakan untuk mencatat
seluruh kegiatan di Seksi Pidum pada Kejari Makassar dan Kejari Belopa, ternyata
Kejari-Kejari tersebut belum melaksanakan administrasi secara tertib, dan belum
melaksanakan pencatatan mengenai :
a. Jenis barang bukti, ukuran dan jumlahnya;
b. Nomor, tanggal putusan pengadilan pada Buku Register Barang Bukti (RB-2);
c. Apakah amar putusan, segera dilaksanakan atau tidak segera dilaksanakan;
d. Perintah dari amar putusan apakah barang dikembalikan kepada pemilik, barang
dirampas untuk Negara dan barang bukti dimusnahkan disertai tanggal
pemusnahannya dan jenis barangnya.
Data tersebut sangat perlu diisi pada buku RB-2 karena menunjukkan keadaan
suatu perkara yang sedang ditangani oleh Jaksa apakah sudah mempunyai kekuatan
hukum tetap, masih banding atau kasasi, sehingga barang bukti dapat dilakukan eksekusi
oleh JPU apakah barang bukti tersebut dikembalikan kepada yang berhak, dirampas untuk
negara atau dirampas untuk dimusnahkan serta dapat dengan mudah dimengerti oleh
siapapun yang membaca (atasan langsung atau pemeriksa).
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. KEPJA No. KEP-115/J.A/10/10/1999 tanggal 20 Oktober 1999 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan Republik Indonesia Pasal 639 antara lain
menyatakan Seksi Pidum menyelenggarakan fungsi penyimpanan bahan
pengendalian dan atau pelaksanaan penetapan hakim dan keputusan pengadilan,
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat dan tindakan
hukum lain dalam perkara tindak pidana umum serta pengadministrasiannya. Sesuai
ketentuan tersebut seharusnya seksi Pidum melaksanakan secara tertib
pengadministrasian buku-buku register maupun pelaksanaan keputusan Pengadilan.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 56 dari 61


b. KEPJA No. 518/A/J.A/11/2001 tanggal 1 November 2001 tentang Perubahan
Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia No. 132/JA/11/1994 tanggal 7
November 1994 Pasal III ayat (1) menyatakan bentuk/model formulir yang
merupakan lampiran tersebut adalah sebagai bahan acuan, sedangkan pelaksanaannya
disesuaikan dengan situasi/kondisi di daerah masing-masing serta perkembangan
hukum dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal tersebut mengakibatkan pencatatan yang ada dalam Register Barang Bukti
(RB-2) tidak dapat dijadikan sebagai alat kontrol yang efektif untuk mengetahui status
suatu perkara, barang bukti maupun pelaksanaan putusan pengadilan.
Hal tersebut disebabkan:
a. Kurangnya pengawasan atasan langsung dalam rangka tertib administrasi.
b. Jaksa yang sudah selesai melakukan proses hukum dan sudah mempunyai kekuatan
hukum tetap, tidak segera menyerahkan amar putusan dan berkas perkara kepada
seksi Pidum.
c. Kurangnya tenaga administrasi/tata usaha yang mengerjakan Buku Register tersebut.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI dhi. Asisten Pembinaan Kejati Sulsel
belum memberikan tanggapan.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Kajati Sulawesi
Selatan menginstruksikan Kajari Makassar dan Belopa untuk:
a. Mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada para jaksa
yang lalai menyerahkan amar putusan dan berkas perkara kepada Kepala Seksi
Pidum.
b. Memberikan surat perintah kepada petugas yang mengerjakan buku RB-2 agar
mempunyai tanggung jawab sesuai tugasnya.
c. Meningkatkan pengawasan untuk memastikan tertib administrasi dalam pengelolaan
perkara dhi. pengerjaan buku RB2.

1.4 Sistem Pengendalian Kewajiban

1.4.1 Pelaporan Kewajiban Jangka Pendek Belum Memadai


Hasil pemeriksaan secara uji petik atas dokumen pertanggungjawaban
pembayaran langganan daya dan jasa berupa listrik, air, dan telepon pada Kejaksaan
Agung RI, Pusdiklat Kejaksaan RI, Kejati Jawa Barat, Kejati Kepri, Kejati Jawa Timur,
Kejati DKI, Kejati Sulsel dan 24 kejari di lingkungan masing-masing menunjukkan
adanya tagihan penggunaan listrik, air, dan telepon untuk tahun 2009 yang baru
dibayarkan pada tahun 2010 dengan total sebesar Rp798.945.180,00,00 sebagai berikut:
SATKER JUMLAH (Rp)
Kejagung 27.171.545,00
Pusdiklat 64.323.570,00
Kejati Jawa Barat
Kejati Jabar 21.312.511
Kejari Bandung 6.048.756
Kejari Banjar 2.620.619
Kejari Majalengka 3.196.798
Kejari Subang 1.971.414
Kejari Sumedang 3.287.411

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 57 dari 61


SATKER JUMLAH (Rp)
Kejari Bogor 4.790.473
Kejari Bekasi 5.407.399
Kejari Cikarang 7.287.523
Sub Total Kejati Jabar 55.922.904,00
Kejati Kepulauan Riau
Kejati Kepri 25.207.078,00
Kejari Batam 379.949.848,00
Kejari Tj. Balai Karimun 3.682.194,00
Sub Total Kejati Kepri 408.839.120,00
Kejati Jawa Timur
Kejari Situbondo 2.458.890,00
Kejari Malang 5.108.048,00
Kejari Batu 2.237.250,00
Kejari Kediri 3.750.684,00
Kejari Magetan 2.715.000,00
Kejari Lamongan 5.646.451,00
Kejari Surabaya 11.120.801,00
Sub Total Kejati Jatim 33.037.124,00
Kejati Sulawesi Selatan
Kejari Makasar 62.624.285,00
Kejari Palopo 6.657.137,00
Sub Total Kejati Sulsel 69.281.422,00
Kejati DKI Jakarta
Kejati DKI 56.500.228,00
Kejari Jakarta Selatan 16.469.597,00
Kejari Jakarta Pusat 19.508.995,00
Kejari Jakarta Barat 16.665.192,00
Kejari Jakarta Timur 12.094.092,00
Kejari Jakarta Utara 19.131.391,00
Sub Total Kejati DKI Jakarta 140.369.495,00
Total 798.945.180,00

Penelusuran ke Laporan Keuangan masing-masing satker (Kejari) dan wilayah (Kejati),


tahun 2009 menunjukkan bahwa tunggakan tagihan listrik, air, dan telepon tersebut diatas
belum dicatat dan dilaporkan sebagai kewajiban dalam Neraca masing-masing per 31
Desember 2009 baik di tingkat satker maupun tingkat wilayah. Hal yang sama berlaku
juga untuk tingkat Kejaksaan RI. Sampai saat pemeriksaan berakhir pada pertengahan
bulan April 2010, Kejaksaan RI tidak dapat menyajikan jumlah kewajiban pembayaran
listrik, air, dan telepon untuk seluruh satker di seluruh Indonesia per 31 Desember 2009.
Hal tersebut mengakibatkan akun Kewajiban Jangka Pendek dalam Neraca
Kejagung RI, Pusdiklat, Kejati Jabar, Kejati Kepri, Kejati Jatim, Kejati Sulsel dan Kejati
DKI Jakarta per 31 Desember 2009 kurang saji minimal sebesar Rp798.945.180,00.
Hal tersebut disebabkan karena:
a. Lemahnya komitmen para kepala satker selaku kepala entitas akuntansi atas
keakuratan Laporan Keuangan satker.
b. Kurangnya pemahaman petugas SAI terkait pelaporan keuangan dhi. terkait dengan
pengakuan dan pelaporan kewajiban.
c. Tidak ada sosialisasi dari Kejagung terkait dengan pengakuan kewajiban kepada
seluruh satker kejaksaan di seluruh Indonesia.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 58 dari 61


Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan bahwa sepakat
dengan temuan BPK RI dan akan segera ditindaklanjuti dengan melakukan koreksi/
penyesuaian terhadap akun Kewajiban ke dalam Neraca masing-masing satker sesuai
temuan BPK RI. Untuk sementara, koreksi dilakukan pada Neraca Kejaksaan RI.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan Asbin dan Kasubagbin untuk melakukan koreksi/
penyesuaian pada akun Kewajiban dalam Neraca masing-masing satker sesuai
temuan BPK RI.
b. Jambin untuk mengadakan sosialisasi kepada seluruh petugas akuntansi di tingkat
satker mengenai pengakuan dan pelaporan kewajiban dalam Laporan Keuangan
masing-masing satker.
c. Para Kajati untuk menginstruksikan para Kajari agar meningkatkan komitmen dan
pengawasan untuk memastikan keakuratan laporan keuangan masing-masing.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 59 dari 61


BAB 2
HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN ATAS
SISTEM PENGENDALIAN INTERN TAHUN 2004 – 2008

Dalam rangka pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009,


BPK memantau tindak lanjut Kejaksaan RI terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Sistem Pengendalian Intern Kejaksaan RI Tahun 2004 – 2008. Sesuai dengan Pasal 20
UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara, pelaksanaan tindak lanjut menjadi tanggung jawab Pemerintah/
Kejaksaan RI dan DPR.
Pemantauan atas tindak lanjut Kejaksaan RI terhadap temuan tersebut
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
Hasil Pemantauan Tindak Lanjut
Jumlah
No. LHP Tahun Belum Sesuai/ Belum
Temuan Sesuai
Selesai Ditindaklanjuti
1 Tahun 2008 10 6 - 4
2 Tahun 2007 8 - 6 2
3 Tahun 2006 10 4 4 2
4 Tahun 2005 9 2 6 1
5 Tahun 2004 4 2 2 -
Total 41 14 18 9
Rincian dari temuan terdapat di Lampiran 4.
Kejaksaan RI telah menindaklanjuti rekomendasi yang diajukan BPK, antara lain
mengenai:
1. Perekrutan pegawai dengan latar belakang pendidikan akuntansi.
2. Inventarisasi oleh Biro Keuangan Kejagung RI atas jumlah pengembalian uang
persediaan yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran seluruh satker di lingkungan
Kejaksaan RI pada awal tahun 2009. Selanjutnya mengoreksi saldo akun kas di
bendahara pengeluaran posisi 31 Desember 2008 dan menyampaikan hasil
inventarisasi tersebut ke BPK RI dilampiri dengan bukti-bukti pendukungnya antara
lain rekening koran dan bukti setor (SSBP).
3. Sosialisasi oleh Biro Keuangan Kejagung RI kepada seluruh bendahara pengeluaran
dan petugas akuntansi mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan menjelang
akhir tahun anggaran.
4. Rekonsiliasi secara rutin dan periodik antara pencatatan belanja modal yang
diselenggarakan oleh bidang Keuangan dengan data Aset Tetap yang diselenggarakan
oleh bidang Perlengkapan di tingkat satker, wilayah, dan Kejagung RI.
Adapun permasalahan yang masih dalam proses tindak lanjut antara lain adalah:
1. Pencatatan dan pelaporan uang titipan denda tilang pada Giro I, II, dan III BRI
kurang memadai.
2. Pemungutan sewa rumah dinas dalam pengelolaan Kejaksaan Agung RI belum
intensif.
Sedangkan permasalahan yang belum ditindaklanjuti antara lain adalah:
1. Pengelolaan dan pelaporan Uang Pengganti tidak didukung oleh Sistem Pengendalian
Intern yang memadai. Pengembangan SOP dan Sistem Informasi yang memadai

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 60 dari 61


dalam pengelolaan tagihan uang pengganti belum terlaksana meskipun sudah dimulai
dari tahun 2007. Pengawasan aparat pengawasan (Jamwas dan Aswas) atas proses
pembenahan pengelolaan uang pengganti juga belum optimal.
2. Pengelolaan dan pelaporan persediaan barang rampasan di lingkungan Kejaksaan RI
yang belum memadai. Kejaksaan RI belum membuat juklak/juknis mengenai
pencatatan barang rampasan yang dapat dijadikan pedoman kepada para petugas SAI
di satker-satker.
3. Pencatatan dan pelaporan piutang denda tilang dan biaya perkara dari putusan verstek
belum memadai. Kejaksaan RI belum melakukan inventarisasi jumlah denda tilang
dan biaya perkara yang diputus secara verstek yang belum dibayar oleh para
pelanggar lalu lintas. Sosialisasi kepada seluruh petugas SAI di lingkungan
Kejaksaan RI tentang pencatatan dan pelaporan piutang denda tilang juga belum
dilaksanakan.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 61 dari 61


Lampiran 1

REKAPITULASI NILAI PERSEDIAAN BARANG RAMPASAN DAN NON RAMPASAN


PADA KEJARI-KEJARI DI LINGKUNGAN KEJATI JAWA BARAT
PER 31 DESEMBER 2009

Nilai (Rp)
No. KEJATI/KEJARI Non Barang Jumlah (Rp)
Barang Rampasan
Rampasan
1 Kejati Jawa Barat - 8.205.341,00 8.205.341,00
2 Karawang - 14.128.000,00 14.128.000,00
3 Purwakarta 217.156.500,00 - 217.156.500,00
4 Bale Bandung 26.145.627,00 - 26.145.627,00
5 Bandung 169.943.000,00 19.210.484,00 189.153.484,00
6 Sumber - 479.800,00 479.800,00
7 Ciamis 6.368.119,00 1.752.200,00 8.120.319,00
8 Cirebon 1.923.000,00 750.900,00 2.673.900,00
9 Bekasi 25.000.000,00 12.000.900,00 37.000.900,00
10 Subang 2.392.933.594,00 1.485.500,00 2.394.419.094,00
11 Cianjur - 84.000,00 84.000,00
12 Bogor - 90.000,00 90.000,00
13 Sukabumi - 301.000,00 301.000,00
14 Depok 5.605.000,00 970.000,00 6.575.000,00
15 Banjar - - -
16 Garut 250.660.000,00 1.055.000,00 251.715.000,00
17 Sumedang 9.240.000,00 - 9.240.000,00
18 Cibadak 382.280.900,00 - 382.280.900,00
19 Kuningan 3.549.798,00 3.734.900,00 7.284.698,00
20 Indramayu - - -
21 Majalengka 14.234.000,00 470.000,00 14.704.000,00
22 Tasikmalaya 212.822.000,00 - 212.822.000,00
23 Cibinong 559.811.000,00 76.000,00 559.887.000,00
24 Singaparna - 44.532.341,00 44.532.341,00
25 Cikarang 2.166.149.800,00 - 2.166.149.800,00
JUMLAH 6.443.822.338,00 109.326.366,00 6.553.148.704,00

Catatan:
Data diperoleh langsung dari Kejati/Kejari ybs.
Lampiran 2.1
REKAP SALDO ASET TETAP
SESUAI LAPORAN POSISI SAK WILAYAH
Kejati Jawa Timur

131111 131311 131511 131711 131712 131713 131911 131921 132111


Aset Tetap Konstruksi
SATKER Peralatan dan Gedung dan Jalan dan Aset Tetap JUMLAH
Tanah Irigasi Jaringan dalam Dalam
Mesin Bangunan Jembatan Lainnya
Renovasi pengerjaan
KT JAWA TIMUR 64.934.283.000 4.523.008.323 3.610.976.247 0 1.850.000 0 0 296.157.500 60.891.689.129 134.257.964.199
BANGIL 1.097.440.000 811.977.172 555.309.000 12.648.900 0 0 0 2.485.000 0 2.479.860.072
BANGKALAN 7.851.138.455 742.276.324 1.196.531.324 0 0 0 0 3.153.300 0 9.793.099.403
BANYUWANGI 8.059.108.500 767.630.560 3.735.845.500 0 0 0 0 49.132.000 0 12.611.716.560
BATU 120.900.000 917.290.600 1.101.782.000 0 0 0 0 0 0 2.139.972.600
BLITAR 2.265.549.000 822.061.450 1.404.168.000 0 0 13.500.000 0 0 0 4.505.278.450
BOJONEGORO 1.488.932.400 903.845.404 643.475.000 13.500.000 0 0 0 0 0 3.049.752.804
BONDOWOSO 625.400.000 757.145.524 1.345.027.949 9.737.500 0 0 0 0 0 2.737.310.973
GRESIK 8.161.978.800 720.800.710 1.356.392.843 0 0 0 0 5.000 0 10.239.177.353
JEMBER 11.587.936.000 946.256.825 2.644.783.000 0 0 0 0 0 0 15.178.975.825
JOMBANG 2.993.826.000 714.424.685 2.236.883.700 0 0 0 0 2.500.000 0 5.947.634.385
KEDIRI 1.679.300.000 643.247.586 2.296.269.200 0 0 0 0 0 0 4.618.816.786
KEPANJEN 3.948.526.000 934.095.845 1.610.580.000 0 0 0 0 0 0 6.493.201.845
KRAKSAAN 90.060.000 702.829.635 1.994.792.000 0 0 0 500.000 0 0 2.788.181.635
LAMONGAN 1.410.844.035 982.601.806 3.450.210.404 0 0 0 0 2.500.000 0 5.846.156.245
LUMAJANG 1.388.000.000 798.534.580 745.459.000 0 0 0 0 49.300.000 0 2.981.293.580
MADIUN 2.129.252.000 952.471.713 1.380.107.000 0 0 0 0 0 0 4.461.830.713
MAGETAN 1.772.950.000 673.500.210 6.294.431.000 0 0 0 0 0 0 8.740.881.210
MALANG 2.721.697.000 1.618.506.875 2.956.276.138 158.470.830 0 0 0 8.100.000 0 7.463.050.843
MOJOKERTO 2.766.076.000 685.097.616 973.926.000 0 0 0 0 7.047.504 0 4.432.147.120
NGANJUK 4.649.487.500 955.719.125 1.584.340.557 0 0 0 0 0 0 7.189.547.182
NGAWI 1.124.200.000 811.234.106 1.508.608.000 0 0 0 0 0 0 3.444.042.106
PACITAN 868.323.000 1.672.637.063 1.232.827.000 0 0 0 0 88.165.000 0 3.861.952.063
PAMEKASAN 14.154.000 869.558.489 166.619.140 5.411.600 0 0 0 0 0 1.055.743.229
PASURUAN 6.431.000.000 698.947.063 1.056.500.000 0 0 0 0 0 0 8.186.447.063
PONOROGO 2.452.060.000 968.916.149 1.846.000.000 0 7.000.000 12.100.000 0 16.500.000 0 5.302.576.149
PROBOLINGGO 576.064.000 393.758.248 1.545.917.000 0 0 0 0 16.141.000 0 2.531.880.248
SAMPANG 1.421.508.000 602.163.610 860.075.683 5.000.000 0 0 10.325.000 2.257.691 0 2.901.329.984
SIDOARJO 9.059.770.000 416.483.514 2.594.064.000 0 0 0 0 2.495.550 0 12.072.813.064
SITUBONDO 984.204.160 847.088.350 82.443.711 0 0 0 0 0 1.896.300.000 3.810.036.221
SUMENEP 1.782.266.000 671.636.000 1.098.391.750 0 0 0 0 1.200.000 0 3.553.493.750
SURABAYA 10.300.800.000 1.475.995.000 4.752.590.500 0 0 0 0 0 0 16.529.385.500
TANJUNG PERAK 0 727.282.050 1.051.497.000 0 0 0 0 610.000 0 1.779.389.050
TRENGGALEK 1.923.420.000 561.824.789 1.220.974.000 0 0 0 0 65.855.000 0 3.772.073.789
TUBAN 942.000.000 1.032.664.460 843.012.309 0 0 0 0 0 0 2.817.676.769
TULUNGAGUNG 1.232.572.000 1.006.625.089 786.417.000 0 0 13.447.500 0 21.560.000 0 3.060.621.589
TOTAL 170.855.025.850 34.330.136.548 63.763.502.955 204.768.830 8.850.000 39.047.500 10.825.000 635.164.545 62.787.989.129 332.635.310.357
REKAP SALDO ASET TETAP Lampiran 2.2
SESUAI LAPORAN POSISI BMN WILAYAH
Kejati Jawa Timur

Aset
No Satker Peralatan dan Gedung dan Jalan,Irigasi Aset tetap Jumlah Aset
Tanah KDP
Mesin Bangunan dan Jaringan Lainnya
1 KT Jawa Timur 64.934.283.000 4.523.008.323 3.610.976.247 1.850.000 296.157.500 60.891.689.129 134.257.964.199
2 Bangil 1.097.440.000 811.977.172 555.309.000 12.648.900 2.485.000 - 2.479.860.072
3 Bangkalan 7.851.138.455 742.276.324 1.196.531.324 - 3.153.300 - 9.793.099.403
4 Banyuwangi 8.059.108.500 767.630.560 3.735.845.500 - 49.132.000 - 12.611.716.560
5 Batu 120.900.000 917.290.600 925.302.000 - - 124.976.640 2.088.469.240
6 Blitar 2.265.549.000 822.061.450 1.404.168.000 13.500.000 - - 4.505.278.450
7 Bojonegoro 1.488.932.400 903.845.404 643.475.000 13.500.000 75.203.000 - 3.124.955.804
8 Bondowoso 625.400.000 757.145.524 1.345.027.949 9.737.500 2.737.310.973
9 Gresik 8.161.978.800 720.800.710 1.356.392.843 - 5.000 10.239.177.353
10 Jember 11.587.936.000 946.256.825 2.644.783.000 - - - 15.178.975.825
11 Jombang 2.993.826.000 714.424.685 2.236.883.700 - 2.500.000 - 5.947.634.385
12 Kediri 1.679.300.000 643.247.586 2.296.269.200 - - - 4.618.816.786
13 Kepanjen 3.948.526.000 934.095.845 1.610.580.000 - - - 6.493.201.845
14 Kraksaan 2.651.150.000 481.904.460 777.560.007 3.910.614.467
15 Lamongan 1.410.844.035 982.601.806 3.450.210.404 - 2.500.000 - 5.846.156.245
16 Lumajang 1.388.000.000 798.534.580 745.459.000 - 49.300.000 2.981.293.580
17 Madiun 2.129.252.000 952.471.713 1.380.107.000 4.461.830.713
18 Magetan 1.772.950.000 673.500.210 6.294.431.000 - - - 8.740.881.210
19 Malang 2.721.697.000 1.618.506.875 2.956.276.138 158.470.830 8.100.000 - 7.463.050.843
20 Mojokerto 2.766.076.000 685.097.616 973.926.000 - 7.047.504 - 4.432.147.120
21 Nganjuk 4.649.487.500 955.718.125 1.584.340.557 - - - 7.189.546.182
22 Ngawi 1.124.200.000 811.234.106 1.508.608.000 - - - 3.444.042.106
23 Pacitan 868.323.000 1.672.637.063 1.232.827.000 - 88.165.000 - 3.861.952.063
24 Pamekasan 881.420.540 746.614.070 1.192.941.761 5.411.600 - - 2.826.387.971
25 Pasuruan 6.431.000.000 698.947.063 1.056.500.000 - - - 8.186.447.063
26 Ponorogo 2.452.060.000 968.916.149 1.846.000.000 19.100.000 16.500.000 - 5.302.576.149
27 Probolinggo 576.064.000 393.758.248 1.545.917.000 - 16.141.000 2.531.880.248
28 Sampang 1.421.508.000 602.163.610 860.075.683 5.000.000 12.582.691 - 2.901.329.984
29 Sidoarjo 9.059.770.000 603.033.514 2.594.064.000 3.650.100 12.260.517.614
30 Situbondo 984.204.160 847.088.350 82.443.711 - - 1.896.300.000 3.810.036.221
31 Sumenep 1.782.266.000 671.636.000 1.098.391.750 - 1.200.000 - 3.553.493.750
32 Surabaya 10.300.800.000 1.749.561.000 4.752.590.500 - - - 16.802.951.500
33 Tanjung Perak - 727.282.050 1.051.497.000 - 610.000 - 1.779.389.050
34 Trenggalek 1.923.420.000 561.824.789 1.220.974.000 - 65.855.000 - 3.772.073.789
35 Tuban 3.691.258.188 968.302.460 1.520.240.441 - - - 6.179.801.089
36 Tulungagung 1.232.572.000 1.006.625.089 786.417.000 13.447.500 21.560.000 - 3.060.621.589
Jumlah 177.032.640.578 34.382.019.954 64.073.341.715 252.666.330 721.847.095 62.912.965.769 339.375.481.441
Lampiran 2.3
REKAP SALDO ASET TETAP
SESUAI LAPORAN POSISI SAK dan SIMAK SATKER
Kejati Jawa Timur

131111 131311 131511 131711 131712 131713 131911 131921 132111


Aset Tetap
SATKER Gedung dan Jalan dan Aset Tetap Konstruksi Dalam JUMLAH
Tanah Peralatan dan Mesin Irigasi Jaringan dalam
Bangunan Jembatan Lainnya pengerjaan
Renovasi
KT JAWA TIMUR 64.934.283.000 4.523.008.323 3.610.976.247 0 1.850.000 0 0 296.157.500 60.891.689.129 134.257.964.199
BANGIL 1.097.440.000 597.335.653 537.200.000 12.648.900 0 0 0 2.485.000 0 2.247.109.553
BANGKALAN 7.851.138.455 742.276.324 1.196.531.324 0 0 0 0 3.153.300 0 9.793.099.403
BANYUWANGI 8.059.108.500 767.630.560 3.735.845.500 0 0 0 0 49.132.000 0 12.611.716.560
BATU 120.900.000 917.290.600 1.101.782.000 0 0 0 0 0 0 2.139.972.600
BLITAR 2.265.549.000 822.061.450 1.404.168.000 0 0 13.500.000 0 0 0 4.505.278.450
BOJONEGORO 1.488.932.400 903.845.404 643.475.000 0 0 13.500.000 0 0 0 3.049.752.804
BONDOWOSO 625.400.000 757.145.524 1.345.027.949 0 0 9.737.500 0 0 0 2.737.310.973
GRESIK 8.161.978.800 720.800.710 1.356.392.843 0 0 0 0 5.000 0 10.239.177.353
JEMBER 11.587.936.000 946.256.825 2.644.783.000 0 0 0 0 0 0 15.178.975.825
JOMBANG 2.993.826.000 714.424.685 2.236.883.700 0 0 0 0 2.500.000 0 5.947.634.385
KEDIRI 1.679.300.000 643.247.586 2.296.269.200 0 0 0 0 0 0 4.618.816.786
KEPANJEN 3.948.526.000 934.095.845 1.610.580.000 0 0 0 0 0 0 6.493.201.845
KRAKSAAN 2.651.150.000 481.904.460 777.560.007 0 0 0 0 0 0 3.910.614.467
LAMONGAN 1.410.844.035 982.601.806 3.450.210.404 0 0 0 0 2.500.000 0 5.846.156.245
LUMAJANG 1.388.000.000 798.534.580 745.459.000 0 0 0 0 49.300.000 0 2.981.293.580
MADIUN 2.129.252.000 952.471.713 1.380.107.000 0 0 0 0 0 0 4.461.830.713
MAGETAN 1.772.950.000 673.500.210 6.294.431.000 0 0 0 0 0 0 8.740.881.210
MALANG 2.721.697.000 1.618.506.875 2.956.276.138 158.470.830 0 0 0 8.100.000 0 7.463.050.843
MOJOKERTO 2.766.076.000 685.097.616 973.926.000 0 0 0 0 7.047.504 0 4.432.147.120
NGANJUK 4.649.487.500 955.718.125 1.584.340.557 0 0 0 0 0 0 7.189.546.182
NGAWI 1.124.200.000 811.234.106 1.508.608.000 0 0 0 0 0 0 3.444.042.106
PACITAN 868.323.000 1.672.637.063 1.232.827.000 0 0 0 0 88.165.000 0 3.861.952.063
PAMEKASAN 881.420.540 746.614.070 1.192.941.761 5.411.600 0 0 0 0 0 2.826.387.971
PASURUAN 6.431.000.000 698.947.063 1.056.500.000 0 0 0 0 0 0 8.186.447.063
PONOROGO 2.452.060.000 968.916.149 1.846.000.000 0 7.000.000 12.100.000 0 16.500.000 0 5.302.576.149
PROBOLINGGO 576.064.000 393.758.248 1.545.917.000 0 0 0 0 16.141.000 0 2.531.880.248
SAMPANG 1.421.508.000 602.163.610 860.075.683 5.000.000 0 0 10.325.000 2.257.691 0 2.901.329.984
SIDOARJO 9.059.770.000 598.239.909 4.485.867.000 0 0 0 0 6.150.100 0 14.150.027.009
SITUBONDO 984.204.160 847.088.350 82.443.711 0 0 0 0 0 1.896.300.000 3.810.036.221
SUMENEP 1.782.266.000 671.636.000 1.098.391.750 0 0 0 0 1.200.000 0 3.553.493.750
SURABAYA 10.300.800.000 1.475.995.000 4.752.590.500 0 0 0 0 0 0 16.529.385.500
TANJUNG PERAK 0 727.282.050 1.051.497.000 0 0 0 0 610.000 0 1.779.389.050
TRENGGALEK 1.923.420.000 561.824.789 1.220.974.000 0 0 0 0 65.855.000 0 3.772.073.789
TUBAN 3.399.258.188 968.302.460 1.520.240.441 0 0 0 0 0 0 5.887.801.089
TULUNGAGUNG 1.232.572.000 1.006.625.089 786.417.000 0 0 13.447.500 0 21.560.000 0 3.060.621.589
TOTAL 176.740.640.578 33.889.018.830 66.123.515.715 181.531.330 8.850.000 62.285.000 10.325.000 638.819.095 62.787.989.129 340.442.974.677
Lampiran 3
Selisih Saldo Uang Pengganti Antara Neraca dengan Hasil Pemeriksaan

Dilaporkan Dalam Neraca Sebagai


Hasil Pemeriksaan (Aset Lain-lain)
No. Kejari Piutang PNBP Aset Lain-lain Selisih
Rupiah Rupiah USD Jumlah (Rp) Rupiah USD Jumlah (Rp)
a b c d e f=(c+d+e) g h i=(g+h) j=(f-i-c)
1 Jakarta Selatan - 1.643.303.796.789,00 98.000.000,00 2.564.503.797.973,11 1.125.310.807.479,48 98.000.000,00 2.046.510.807.479,48 517.992.990.493,63
2 Jakarta Utara - 14.091.165.670,00 - 14.091.165.670,00 14.091.165.670,00 - 14.091.165.670,00 0,00
3 Jakarta Timur 125.126.039.440,00 7.241.479.257,19 - 7.241.479.257,19 111.914.526.199,93 - 111.914.526.199,93 20.452.992.497,26
4 Jakarta Barat - 1.380.799.452.200,00 - 1.380.799.452.200,00 1.384.726.355.902,60 - 1.384.726.355.902,60 -3.926.903.702,60
5 Jakarta Pusat 1.104.750.000,00 5.223.016.242.401,00 189.749.594,00 7.006.662.428.293,70 5.224.023.492.400,66 189.749.594,37 7.007.669.679.478,66 97.498.815,04
Jumlah 126.230.789.440,00 8.268.452.136.317,19 287.749.594,00 10.973.298.323.394,00 7.860.066.347.652,67 287.749.594,37 10.564.912.534.730,70 534.616.578.103,33

Catatan : Kurs tengah BI pada tanggal 31 Desember 2009 = Rp9.400,00


Lampiran 4

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN


KEJAKSAAN RI

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
Tahun 2008
1. Pencatatan dan √ Agar Jaksa Agung menginstruksikan Biro Keuangan telah memberikan
Pelaporan Jaksa Agung Muda Pembinaan: petunjuk melalui para Kajati agar para
Pendapatan di a. Memberikan sanksi sesuai dengan kajari/kacabjari selaku kasatker
Lingkungan ketentuan tentang pegawai negeri menyampaikan laporan keuangan secara √
Kejaksaan RI Belum kepada para kepala satuan kerja akurat dan tepat waktu dan terhadap
Memadai. yang kurang memiliki komitmen kasatker agar diberikan sanksi apabila
dalam memastikan keakuratan terlambat menyampaikan laporan
laporan keuangan dhi. LRA. keuangan.
b. Melakukan koordinasi dengan Biro Keuangan telah memberikan
Departemen Keuangan terkait petunjuk kepada daerah mengenai kode
kelemahan sistem dan prosedur MAP kejaksaan dan untuk operator SAK
yang terkait dengan Modul di masing-masing satker agar melakukan √
Penerimaan Negara. rekonsiliasi data PNBP yang telah
dilaporkan ke dalam aplikasi SAK
dengan data yang direkam oleh BKP.
c. Melakukan perekrutan SDM bi- Kejaksaan Agung cq. Biro Kepegawaian
dang akuntansi dan melaksanakan pada TA 2008 telah melakukan
pelatihan pencatatan serta pelapor- rekruitmen tenaga akuntansi (D3) √
an pendapatan bagi pegawai terkait. sebanyak 142 orang dan komputer (D3)
sebanyak 229 dalam upaya memperkuat
SDM bidang pelaporan keuangan di
lingkungan Kejaksaan RI.
2. Sisa jasa giro Rp25.400.024,00 Agar Jaksa Agung menginstruksikan • Biro Keuangan telah memberikan
sebesar Jaksa Agung Muda Pembinaan petunjuk kepada daerah tentang Jasa
Rp25.400.024,00 memberikan sosialisasi kepada satker di Giro melalui surat No. B-839/C/C.5/
belum disetorkan ke daerah agar jasa giro pada rekening 2009 tgl. 8 Sep 2009 ttg. Petunjuk
kas negara dan bendahara pengeluaran segera disetor sehubungan dengan temuan BPK RI
belum diungkapkan ke kas negara dan dilaporkan dalam LK atas pemeriksaan sisa jasa giro dalam √
dalam Catatan atas masing-masing satker, sedangkan LK Kejaksaan RI TA 2008.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 1 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
Laporan Keuangan apabila belum disetorkan ke kas negara • Biro Keuangan telah melakukan
(CaLK). agar diungkapkan dalam CaLK. konfirmasi dengan satker ybs
mengenai saldo jasa giro yang belum
disetor ke kas negara dan satker ybs
menyatakan saldo jasa giro telah
disetor ke kas negara.
3. Pencatatan dan √ Agar Jaksa Agung menginstruksikan
Pelaporan Akun Kas Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk:
di Bendahara a. Memberikan sanksi sesuai dengan
Pengeluaran Belum ketentuan tentang pegawai negeri
Memadai. kepada para Kajati untuk lebih √
meningkatkan keakuratan dan
ketepatan penyajian laporan
keuangan dhi. kas di bendaharawan
pengeluaran.
b. Memerintahkan Kepala Biro Biro Keuangan telah melakukan
Keuangan untuk menginventarisir pengumpulan data pengembalian uang
jumlah pengembalian uang persediaan melalui surat Nomor:
persediaan yang dilakukan oleh a. B-195/T.5/TU/05/2009 tanggal 26 √
bendahara pengeluaran seluruh Mei 2009 perihal permintaan
satker di lingkungan Kejaksaan RI dokumen sumber laporan keuangan.
pada awal tahun 2009. Selanjutnya b. B-07/C.5/Cu.2/01/2010 tanggal 6 Jan
mengoreksi saldo akun kas di 2010 tentang permintaan data saldo
bendahara pengeluaran posisi 31 akun kas di bendahara pengeluaran.
Desember 2008 dan menyampai-
kan hasil inventarisasi tersebut ke
BPK dilampiri dengan bukti-bukti
pendukungnya antara lain rekening
koran dan bukti setor (SSBP).
c. Memerintahkan Kepala Biro
Keuangan untuk melaksanakan
sosialisasi kepada seluruh
bendahara pengeluaran dan petugas
SAI mengenai langkah-langkah √
yang perlu dilakukan bendahara
menjelang akhir tahun anggaran.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 2 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
4. Pengelolaan dan √ Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung
Pelaporan Barang Muda Pembinaan:
Rampasan di a. Memberikan sanksi sesuai dengan √
Lingkungan ketentuan tentang pegawai negeri
Kejaksaan RI Belum kepada para kepala satuan kerja
Memadai yang kurang memiliki komitmen
dalam pengamanan barang
rampasan dan perbaikan pelaporan
keuangan.
b. Melakukan perekrutan SDM Kejaksaan Agung cq. Biro Kepegawaian
bidang akuntansi dan pada TA 2008 telah melakukan
melaksanakan pelatihan rekruitmen tenaga akuntansi (D3) √
pengelolaan dan pelaporan sebanyak 142 orang dan komputer (D3)
keuangan serta pengamanan aset. sebanyak 229 dalam upaya memperkuat
SDM bidang pelaporan keuangan di
lingkungan Kejaksaan RI.
c. Membuat juklak/juknis mengenai
pencatatan barang rampasan dalam √
Sistem Akuntansi Instansi (SAI)
dhi. SIMAK BMN.
d. Melakukan koordinasi dengan Telah dilakukan koordinasi dengan DJKN
DJKN terkait belum tersedianya untuk pencatatan barang rampasan dalam
tabel referensi persediaan barang aplikasi persediaan, tetapi pencatatan √
rampasan dalam aplikasi SIMAK belum dapat dilaksanakan karena update
BMN. aplikasi yang baru belum bisa
mengakomodir jumlah dan nilai barang
rampasan yang ada.
e. Memperbaiki infrastruktur pendu-
kung untuk tempat penyimpanan √
barang rampasan di seluruh satker
Kejaksaan RI.
f. Melakukan koordinasi dengan
Departemen Hukum dan HAM √
(Depkumham) terkait penyimpan-
an barang rampasan di Rupbasan.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 3 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
5. Pencatatan dan √ Agar Jaksa Agung menginstruksikan
Pelaporan Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk :
Persediaan Dalam a. Memberikan sanksi sesuai dengan √
Laporan Keuangan ketentuan tentang pegawai negeri
Kejaksaan RI Belum kepada kepala satuan kerja dhi. para
Memadai Kajari dan Asbin Kejati di
lingkungan Kejaksaan RI agar
melaporkan persediaan barang non
rampasan dalam neraca masing-
masing setiap tahun secara akurat,
tepat waktu dan sesuai SAP.
b. Memberikan sosialisasi kepada Sudah diberikan petunjuk ke daerah
seluruh bendahara barang dan tentang tata cara Aplikasi Persediaan dan
petugas input SAI tentang pada laporan semester I tahun 2009, √
pencatatan persediaan dan beberapa satker sudah mengirimkan
inventarisasi fisik terhadap laporan persediaan dalam aplikasi
persediaan yang harus dilakukan SIMAK BMN.
setiap akhir tahun.
6. Pencatatan dan √ √ √ Agar Jaksa Agung menginstruksikan
pelaporan tilang di Jaksa Agung Muda Tindak Pidana
lingkungan Umum:
Kejaksaan RI belum a. Membuat Surat Kesepakatan √
memadai. Bersama (SKB) lanjutan antara
Kejaksaan Agung, Mahkamah
Agung, Polri, dan BRI untuk
menyelesaikan permasalahan uang
titipan pembayaran denda dan biaya
tilang yang mengendap di kantor-
kantor cabang BRI agar segera
disetorkan ke Kas Negara.
b. Melakukan inventarisasi jumlah
denda tilang dan biaya perkara yang
diputus secara verstek yang sampai √
saat ini belum dibayar di seluruh
Kejati/Kejari/Cabjari.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 4 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
c. Melakukan sosialisasi kepada selu-
ruh petugas SAI di lingkungan
Kejaksaan RI tentang pencatatan dan √
pelaporan piutang denda tilang dalam
aplikasi SAI sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
7. Pencatatan dan √ √ √ Agar Jaksa Agung memerintahkan
Pelaporan Aset Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan
Tetap Kejaksaan RI untuk:
Belum Memadai. a. Melakukan rekonsiliasi rutin dan Operator SIMAK BMN di satker √
periodik antara Belanja Modal yang Kejaksaan Agung telah melakukan
diselenggarakan oleh Kaur/Biro rekonsiliasi rutin dengan operator SAK.
Keuangan dengan data Aset Tetap
yang diselenggarakan oleh Kaur/
Biro Perlengkapan.
b. Berkoordinasi dengan DJKN untuk • Sudah dilaksanakan inventarisasi dan
memasukkan hasil inventarisasi dan penilaian kembali barang milik negara √
revaluasi didalam aplikasi SIMAK- di lingkungan Kejaksaan RI dan 85%
BMN. satker sudah melakukan koreksi atas
hasil tersebut dalam laporan SIMAK
BMN.
• Telah diberikan petunjuk ke daerah
melalui surat No. B-30/C.6/CPL/04/
2009 tgl. 15 April 2009 tentang
koreksi/update data SIMAK BMN,
surat No. B-711/C/CPL/06/ 2009 tgl.
26 Juni 2009 dan No. B-60/C.6/CPL/
09/2009 tgl. 2 Sep 2009 tentang
rekonsiliasi data penertiban Barang
Milik Negara dan Laporan BMN.
c. Memberikan sanksi sesuai dengan
ketentuan tentang pegawai negeri √
kepada Kepala Satuan Kerja di
lingkungan Kejaksaan Agung RI
yang belum membuat laporan BMN

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 5 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
secara akurat dan menyampaikan
secara tepat waktu.
d. Menegur Pejabat Pembuat Komit-
men di lingkungan Kejaksaan Agung √
RI yang tidak melaporkan pengadaan
yang dilakukannya kepada Biro
Perlengkapan untuk kepentingan
inventarisasi BMN.
8. Pengelolaan dan √ √ √ √ Agar Jaksa Agung:
Pelaporan Uang a. Memberikan sanksi sesuai dengan
Pengganti Tidak ketentuan tentang pegawai negeri
Didukung oleh kepada JAM Pidsus, Direktur √
Sistem Pengendalian UHEKSI, Kajati, dan Kajari yang
Intern yang lalai dalam menyusun SPI yang
Memadai. memadai atas pengelolaan tagihan
uang pengganti di lingkungannya.
b. Melakukan percepatan pengem- Direktur UHEKSI telah membuat surat
bangan Standard Operasional kepada seluruh Kejati seluruh Indonesia √
Procedures (SOP) dan Sistem pada tanggal 21 Desember 2009 dengan
Informasi yang memadai dalam No. B-2673/F/Fu.1/12/2009 tentang
pengelolaan tagihan uang pengganti. verifikasi data UP dan penataan sistem
administrasi UP Kejagung RI.
Direktur UHEKSI juga telah membuat
data uang pengganti dan rekapannya.
Namun demikian data tersebut belum
bisa diandalkan mengingat bahwa
perbedaan selisih angka pada beberapa
daerah yang dibandingkan dengan
pemeriksaan BPK sebelumnya cukup
signifikan, dan mutasi yang ada pada
tahun 2009 tidak menggambarkan kondisi
yang sebenarnya, karena mutasi tersebut
adalah bukan hanya data perkara yang
incracht pada tahun 2009 atau
pembayaran tahun 2009, melainkan data-

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 6 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
data sebelumnya yang baru disusulkan.
Namun dalam laporan yang dibuat tidak
dicantumkan secara jelas dan belum ada
database mengenai UP tersebut dan
hanya data mentah berupa surat masuk
dari Kejati.
c. Meningkatkan koordinasi dengan
Departemen Keuangan untuk √
menyusun pedoman pencatatan
transaksi uang pengganti.
d. Memerintahkan JAM Pengawasan
untuk meningkatkan pengawasan
terhadap proses pembenahan √
pengelolaan uang pengganti di
Kejaksaan RI.
9. Pemungutan Sewa √ Agar Jaksa Agung menginstruksikan
Rumah Dinas Dalam Jaksa Agung Muda Pembinaan :
Pengelolaan a. Menagih pembayaran sewa rumah
Kejaksaan Agung RI dinas tahun 2008 kepada para √
TA 2008 Belum penghuni yang belum melunasi
Intensif dan kewajibannya dengan jumlah
Sebagian Besar sebesar Rp90.462.096,00 dan
Rumah Dinas menyetorkan ke Kas Negara.
Dihuni oleh Pihak Selanjutnya bukti setor disampai-
yang Tidak Berhak kan kepada BPK-RI.
b. Menunjuk pejabat/pegawai yang
bertugas untuk memonitor ketaatan √
pembayaran sewa rumah dinas oleh
para penghuni (pensiunan dan
keluarga almarhum).
c. Menginstruksikan Bagian Rumah Telah dikirim surat ke warga Komplek
Tangga untuk melaksanakan Lebak Bulus:
ketentuan tentang Rumah Negara a. No. B-1049/C/Cpl/07/2008 tanggal √
bagi para pensiunan dan keluarga 14 Juli 2008 perihal permintaan data
almarhum yang masih menempati Pengelolaan Barang Milik Negara;

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 7 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
rumah dinas Kejaksaan Agung RI. b. No.B-32/C/Cpl/04/2009 tanggal 20
April 2009 perihal penggunaan
Rumah Jabatan/Dinas Kejaksaan
agung RI Lebak Bulus Jaksel.
10. Kejaksaan Agung Agar Jaksa Agung menginstruksikan Biro Keuangan telah mengadakan
sebagai UAKPA, Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk: pelatihan SAI tahun 2009 bagi para
Kejati DKI Jakarta a. Melakukan sosialisasi tentang petugas pelaksana SAI berdasarkan √
sebagai UAPPA-W laporan keuangan sesuai dengan Keputusan Jaksa Agung RI No. KEP-
dan UAKPA serta ketentuan yang berlaku kepada X/201/C.5/10/ 2009 tgl. 9 Okt 2009 dan
lima kejari di pihak-pihak terkait. surat No. B-847/C/C.5/09/2009 tgl. 15
lingkungan Kejati Sep 2009 tentang Pelatihan SAI TA 2009.
DKI Jakarta sebagai b. Memerintahkan Kajati terkait Telah dilakukan penyempurnaan LK
UAKPA belum meningkatkan pengawasan dan tahun 2008 dan dibuat hardcopy LK
menyampaikan hard memberikan teguran atas kegiatan tahun 2008 yang disertai pernyataan √
copy laporan jajarannya yang tidak sesuai dengan tanggung jawab dari kejagung sebagai
keuangan yang ketentuan yang berlaku. UAKPA, Kejati DKI Jakarta sebagai
disertai pernyataan UAPPA-W dan UAKPA, dan 5 kejari di
tanggung jawab. Kejati DKI Jakarta sebagai UAKPA.
Tahun 2007
1. Neraca Kejaksaan Agar Jaksa Agung menginstruksikan Biro Keuangan telah melakukan
RI Per Tanggal 31 Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk koordinasi dengan Biro Perlengkapan √
Desember 2007 memastikan koordinasi antara Biro melalui surat Nomor B-270/C.5/Cu.2/
Tidak Dapat Keuangan dan Biro Perlengkapan 08/2008 tanggal 29 Agustus 2008 tentang
Diyakini dalam hal pencatatan dan pelaporan Penerapan Sistem Akuntansi Instansi
Kewajarannya. akun-akun dalam Neraca berjalan Pengguna Anggaran dan surat Nomor B-
dengan baik. 184/C.5/Cu.2/06/ 2008 tanggal 9 Juni
2008 tentang Kunjungan Tim SAI
Kejagung RI untuk melakukan
pembenahan yang meliputi:
a. Penentuan saldo awal Neraca dalam
menyusun Laporan Keuangan harus
memperhatikan saldo akhir Neraca
tahun sebelumnya;
b. Rekonsiliasi data antara laporan
realisasi belanja modal dalam SAK

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 8 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
dengan jumlah asset yang dilaporkan
dalam laporan BMN;
c. Penggabungan data dari aplikasi
SABMN ke aplikasi SAK mulai dari
tingkat satker Cabjari, Kejari, Kejati
dan Kejagung;
d. Memberikan petunjuk kepada satker.
2. Pencatatan dan Agar Jaksa Agung menginstruksikan Biro Keuangan telah memberikan
Pelaporan Jaksa Agung Muda Pembinaan agar petunjuk kepada daerah agar melakukan √
Penerimaan Negara memerintahkan Biro Keuangan rekonsiliasi secara periodik sesuai surat
Bukan Pajak melakukan: Nomor B-270/C.5/Cu.2/08/2008 tanggal
(PNBP) Belum a. Rekonsiliasi penerimaan dengan 29 Agustus 2008 tentang Penerapan
Memadai. Departemen Keuangan, Sistem Akuntansi Instansi Pengguna
meningkatkan kuantitas dan Anggaran.
kualitas SDM yang terkait dengan
fungsi pencatatan dan pelaporan
penerimaan, dan
b. Sosialisasi kepada seluruh BKP
dan pelaksana SAI tentang
penggunaan MAP untuk
penyetoran uang pengganti sesuai
dengan Surat Edaran Direktorat
Jenderal Perbendaha-raan Nomor
SE-25/PB/2007 tanggal 30 Juli
2007.
3. Pencatatan dan Agar Jaksa Agung menginstruksikan • Telah memberikan petunjuk kepada
Pelaporan Kas Jaksa Agung Muda Pembinaan satker di daerah tentang pengelolaan √
Belum Memadai. memberikan sosialisasi kepada satker di maupun pelaporan Kas di Bendahara
daerah tentang pengelolaan dan Pengeluaran melalui surat Nomor : B-
pelaporan kas di dalam Sistem 257/C.5/Cu.2/08/2008 tanggal 20
Akuntansi Instansi. Agustus 2008 tentang penyetoran
sisa uang persediaan.
• Telah melakukan konfirmasi dengan
satker yang bersangkutan untuk saldo
Kas di bendahara Penerimaan dan

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 9 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
satker yang bersangkutan menyatakan
bahwa Kas di Bendahara Penerima
telah disetor ke Kas Negara serta
telah memperbaiki saldo Kas di
Bendahara Penerima.
4. Pencatatan dan Agar Jaksa Agung menginstruksikan Telah melaporkan persediaan dalam
Pelaporan Jaksa Agung Muda Pembinaan supaya Neraca Kejaksaan RI dalam Laporan √
Persediaan Belum memerintahkan Kejati/Kejari/Cabjari Keuangan Semester I Tahun 2008 dan
Memadai. untuk mencatat persediaan dalam memberikan petunjuk berdasarkan Surat
Sistem Akuntansi Instansi (SAI) serta Nomor : B-184/C.5/Cu.2/06/2008 tanggal
melakukan inventarisasi fisik 09 Juni 2008 tentang Kunjungan Tim SAI
persediaan. Kejagung RI.
5. Pengelolaan Barang √ Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung
Rampasan di Muda Pembinaan: √
Lingkungan a. Memerintahkan Kejati/Kejari/ a. Untuk pencatatan dan pelaporan
Kejaksaan RI Belum Cabjari segera memberikan harga barang rampasan, hasil lelang telah
Memadai. taksiran barang rampasan, dan diberikan petunjuk ke daerah dan
mencatat serta melaporkannya telah dilaporkan dalam Neraca dan
dalam Neraca. CALK Kejaksaan RI dalam Laporan
b. Melakukan koordinasi dengan Keuangan Semester I Tahun 2008
instansi terkait penegakan hukum dan memberikan petunjuk
untuk menyempurnakan berdasarkan Surat Nomor : B-
mekanisme penanganan barang 184/C.5/Cu.2/06/ 2008 tanggal 09
sitaan, barang bukti, dan barang Juni 2008 tentang Kunjungan Tim
rampasan; SAI Kejagung RI.
c. Memberikan teguran tertulis b. Telah diberikan petunjuk mengenai
kepada Kejaksaan Negeri yang penertiban dan pelaporan rekening
belum melakukan pelaporan hasil milik dinas Kejaksaan dan
lelang sesuai dengan ketentuan memberikan petunjuk berdasarkan
yang berlaku; Surat Nomor : B-184/C.5/Cu.2/06/
d. Melakukan pemutakhiran data 2008 tanggal 09 Juni 2008 tentang
rekening yang dikelola setiap Kunjungan Tim SAI Kejagung RI.
satker dengan cara
menginventarisasi kembali
rekening yang dimiliki setiap

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 10 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
satker, sehingga diperoleh
keyakinan bahwa seluruh rekening
yang dikelola satker telah
dilaporkan;
e. Memerintahkan setiap satker yang
membuka rekening baru terkait
kegiatan operasional dan tugas
pokok dan fungsi Kejaksaan RI
segera melaporkan kepada Tim
Penertiban Rekening di Kejaksaan
Agung RI serta memintakan izin
kepada pihak yang berwenang.
6. Pencatatan dan √ √ √ Agar Jaksa Agung memerintahkan Telah dibuat format untuk melaporkan
Pelaporan Denda Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan data uang pengganti dan denda secara √
Perkara Korupsi dan untuk membuat mekanisme berjenjang dari Cabjari/Kejari/Kejati dan
Piutang Uang penyampaian dokumen sumber denda Kejagung dan memberikan petunjuk
Pengganti Kurang perkara korupsi dan piutang uang berdasarkan Surat Nomor : B-
Memadai. pengganti kepada petugas akuntansi dan 184/C.5/Cu.2/06/2008 tanggal 09 Juni
berkoordinasi dengan Departemen 2008 tentang Kunjungan Tim SAI
Keuangan untuk menyempurnakan Kejagung RI.
aplikasi Sistem Akuntansi Instansi
terkait dengan pembukuan dan
pelaporan denda perkara korupsi dan
piutang uang pengganti.
7. Pencatatan dan √ √ Agar Jaksa Agung menginstruksikan Telah dibentuk Tim untuk menangani
Pelaporan Uang Jaksa Agung Muda Tindak Pidana uang titipan pembayaran denda dan biaya √
Titipan Denda Umum untuk melakukan koordinasi tilang yang mengendap di kantor-kantor
Tilang dan Biaya dengan Mahkamah Agung, Polri, dan Cabang BRI (Giro I, Giro II dan Giro III).
Perkara Pada Giro I BRI untuk menyelesaikan
BRI dan Giro III permasalahan uang titipan pembayaran
BRI Kurang denda dan biaya tilang yang mengendap
Memadai. di kantor-kantor cabang BRI agar dapat
segera dilimpahkan dan disetorkan ke
Kas Negara.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 11 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
8. Pencatatan dan Agar Jaksa Agung memerintahkan
Pelaporan Piutang Jaksa Agung Muda Bidang Pidana √
Denda Tilang dan Umum untuk melakukan inventarisasi
Biaya Perkara dari jumlah denda tilang dan biaya perkara
Putusan Verstek yang diputus secara verstek yang
Belum Memadai. sampai saat ini belum dibayar di
seluruh Kejati/Kejari/Cabjari dan
melakukan koordinasi dengan pihak
Kepolisian, dan Pengadilan Negeri
terkait dengan proses pengadilan
pelanggaran lalu lintas yang diputus
secara verstek.
Tahun 2006
1. Struktur Organisasi Agar Jaksa Agung membuat Juknis • Nota Dinas Jam Was kepada Karo
dan Penunjukan penentuan struktur organisasi yang Keuangan dan Karo Perlengkapan √
Pejabat/Petugas sesuai dengan Peraturan Dirjen Nomor : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007
SAK Mulai dari Perbendaharaan No. 24/PB/2006 dan tanggal 16 November 2007 perihal
Tingkat UAKPA di penunjukan pejabat/petugas di setiap Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
tingkat Satker jenjang akuntansi mengikuti ketentuan atas Laporan Keuangan Kejaksaan
Sampai Dengan dari Ditjen Perbendaharaan yang telah Agung RI tahun 2006.
UAPA di tingkat ada. • Surat Karo Keuangan kepada Kejati
Kementerian/ seluruh Indonesia Nomor: B-
Lembaga pada 321/C.5/Cu.2/10/2008 tgl 23 Okt
Kejaksaan Agung 2008 tentang Struktur Organisasi
Belum Sesuai Sistem Akuntansi Keuangan dan
Dengan Peraturan sudah dibuat uraian tugas serta
Dirjen tanggung jawabnya.
Perbendaharaan No.
24/PB/2006 dan
Belum Dibuat
Uraian Tugas serta
Tanggungjawabnya.
2. Penerapan Sistem Agar Jaksa Agung melakukan Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Akuntansi Pengguna perhitungan ulang untuk saldo awal Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
Anggaran pada Laporan Keuangan tahun 2006. : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 12 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
Kejaksaan Agung November 2007 perihal Laporan hasil
Belum Memadai. pemeriksaan BPK RI atas Laporan
Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
2006.
3. Pelaksanaan √ Agar Jaksa Agung menetapkan sanksi Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Rekonsiliasi LRA yang tegas bagi satker/unit akuntansi Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
Tidak Optimal yang tidak melaksanakan rekonsiliasi : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
dengan Ditjen PBN sesuai dengan November 2007 perihal Laporan hasil
Peraturan Menteri Keuangan No.59/ pemeriksaan BPK RI atas Laporan
PMK.06/2005 tanggal 20 Juli 2005 Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
tentang Sistem Akuntansi dan 2006.
Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.
4. Penyetoran Sisa Agar segera dilakukan koreksi atas Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Uang Persediaan saldo sisa uang persediaan dalam Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
oleh Beberapa neraca sesuai bukti yang ada, : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
Bendahara menetapkan SK yang mengatur November 2007 perihal Laporan hasil
Pengeluaran di pelatihan dan penempatan pegawai pemeriksaan BPK RI atas Laporan
lingkungan yang mampu menerapkan sistem Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
Kejaksaan Agung RI anggaran secara memadai, serta 2006.
Terlambat. menetapkan sanksi yang tegas bagi
satker/unit akuntansi yang
mengabaikan pelaporan dan pengiriman
data akuntansi.
5. Struktur Organisasi, Agar Jaksa Agung membuat Juknis Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Uraian Tugas dan penentuan struktur organisasi yang Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
Penunjukan Pejabat/ sesuai dengan Peraturan Dirjen : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
Petugas SABMN Perbendaharaan No. 24/PB/2006 dan November 2007 perihal Laporan hasil
Mulai dari Tingkat penunjukan pejabat/ petugas di setiap pemeriksaan BPK RI atas Laporan
UAKPB, UAPPB- jenjang akuntansi mengikuti ketentuan Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
W, UAPPB-E1 dan yang telah ada. 2006.
UAPB di Kejaksaan
Agung RI Belum
Sesuai Permenkeu
No.
59/PMK.06/2005

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 13 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
6. Penerapan Sistem √ Agar Jaksa Agung menetapkan SK Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Akuntansi dan yang mengatur pelatihan dan Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
Pelaporan Barang penempatan pegawai yang mampu : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
Milik Negara di menerapkan sistem akuntansi BMN November 2007 perihal Laporan hasil
Lingkungan secara memadai serta menetapkan pemeriksaan BPK RI atas Laporan
Kejaksaan Agung sanksi yang tegas bagi satker/ unit Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
Belum Memadai. akuntansi yang mengabaikan pelaporan 2006.
dan pengiriman sistem akuntansi BMN
ke unit akuntansi yang lebih tinggi.
7. Konstruksi Dalam Rp8.356.972.636, Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Pengerjaan Senilai 00 Muda Pembinaan memerintahkan Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
Rp8.356.972.636 kepada unit akuntansi yang telah selesai : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
Belum Tercatat proyeknya untuk segera membuat berita November 2007 perihal Laporan hasil
dalam Neraca acara serah terima pekerjaan dan segera pemeriksaan BPK RI atas Laporan
Kejaksaan Agung dilakukan koreksi atas saldo Kontruksi Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
2006 Dalam Pengerjaan dalam neraca sesuai 2006.
Berita Acara Serah Terima Pekerjaan
yang ada.
8. Beberapa Barang Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Inventaris Tidak Muda Pembinaan memerintahkan Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
Dicantumkan Harga kepada unit akuntansi terkait untuk : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
Perolehannya. melakukan koordinasi dengan bagian November 2007 perihal Laporan hasil
perencanaan yang melakukan droping pemeriksaan BPK RI atas Laporan
barang, atau mencari referensi harga Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
pasar untuk barang sejenis agar barang 2006.
inventaris dapat dicantumkan harga
perolehannya serta melakukan koreksi
atas nilai barang-barang inventaris yang
telah ditemukan harga perolehannya
dalam SABMN maupun dalam Neraca.
9. Terdapat Barang- Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Barang Rusak Berat Muda Pembinaan memerintahkan Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
di Kejaksaan Agung kepada unit akuntansi terkait untuk : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
RI Belum membentuk tim penelitian barang rusak November 2007 perihal Laporan hasil
Dihapuskan dan berat dan membuat usulan penghapusan pemeriksaan BPK RI atas Laporan

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 14 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
Belum secara berjenjang dari unit paling Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
Direklasifikasikan rendah sampai tingkat pusat serta 2006.
ke Aset Lain-Lain. melakukan reklasifikasi barang-barang
rusak berat dari akun Aset ke akun Aset
lain-lain.
10. Terdapat Perbedaan Rp2.920.284.702, √ Agar Jaksa Agung memberikan sanksi Nota Dinas Jam Was kepada Karo
Nilai Aset Tetap 00 bagi satker yang tidak melaksanakan Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor √
Menurut sistem aplikasi barang dan aplikasi : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
Perhitungan Manual anggaran, membuat Juknis tentang November 2007 perihal Laporan hasil
dan Sistem Aplikasi rekonsiliasi antara sistem aplikasi pemeriksaan BPK RI atas Laporan
UAPB Sebesar barang dengan sistem aplikasi Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
Rp2.920.284.702 anggaran, serta melakukan koreksi atas 2006.
selisih aplikasi bersangkutan.
Tahun 2005
1. Pelaksanaan Agar Jaksa Agung Muda Pembinaan • Nota Dinas Jam Bin kepada Karo
kegiatan verifikasi (JAMBIN) memerintahkan Kepala Biro Keuangan dan Karo Perlengkapan √
dan rekonsiliasi Keuangan cq. Kepala Bagian Nomor : ND-084/C/03/2007 tanggal
LRA Kejaksaan Pembukuan dan Verifikasi untuk: 14 Maret 2007 agar melaksanakan
Agung RI tingkat melaksanakan kegiatan verifikasi dan kegiatan verifikasi dan rekonsiliasi
UAKPA dan rekonsiliasi secara optimal, melakukan secara optimal sehingga apabila
UAPPA-W belum monitoring dan meneliti sejak dini atas terjadi perbedaan dapat segera
dilakukan setiap dokumen sumber, serta memberikan diperbaiki, agar melakukan
semester. teguran dan sanksi yang tegas kepada monitoring dan meneliti sejak dini
UAKPA dan UAPPA-W yang belum laporan yang dikirim dari UAKPA
melakukan pengiriman secara teratur. dan UAPPA-W dan agar memberikan
teguran kepada UAPPA-W dan
UAKPA yang belum mengirimkan
laporan keuangan secara teratur, dan
apabila masih belum mengirim
laporan keuangan supaya diberikan
sanksi yang tegas.
• Surat Jam Bin kepada Kajati seluruh
Indonesia Nomor : B-897/C/10/2006
tgl 4 Oktober 2006 tentang laporan
pelaksanaan rekonsiliasi realisasi

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 15 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
anggaran antara Kejaksaan Agung
dengan Direktorat Informasi dan
Akuntansi (DIA).
• Surat Jam Bin kepada Kajati
Lampung, Sumbar, Bengkulu, dan
Riau Nomor : B-633/C/05/2007 tgl.
11 Mei 2007 tentang teguran agar
mengirim LRA secara teratur. Bagi
yang belum mengirim laporan agar
diberikan sanksi yang lebih tegas.
2. Akuntansi barang Agar Jaksa Agung melakukan Nota Dinas Jam Bin Karo Perlengkapan
milik negara pada perubahan terhadap aturan intern agar Nomor : ND-086/C/03/2007 tanggal 14 √
satker-satker di sinkron dengan Peraturan Menteri Maret 2007 akan melakukan perubahan/
lingkungan Keuangan yang berkenaan dengan perbaikan terhadap peraturan intern yang
Kejaksaan Agung RI Sistem Akuntansi Barang Milik Negara, disinkronkan dengan peraturan Menteri
belum berjalan segera menunjuk petugas akuntansi Keuangan yang berkenaan dengan
secara optimal. BMN, serta memberikan teguran SABMN.
kepada pejabat dan petugas pengelola
BMN yang belum optimal dalam
melaksanakan tugasnya.
3. Sistem Akuntansi Agar dibuat aturan intern mengenai • Nota Dinas Jam Bin kepada Jam
Instansi di mekanisme pemberian dokumen uang Pidum, Jam Pidsus, dan Jam Datun √
Kejaksaan Agung RI pengganti, TGR, uang titipan denda Nomor : ND-082/C/03/2007 tanggal
belum tilang di BRI dan barang rampasan ke 14 Maret 2007 agar dibuatkan
mengakomodasi petugas akuntansi untuk di input ke peraturan intern yang mengatur
pencatatan piutang dalam aplikasi sistem akuntansi masalah administrasi penanganan
uang pengganti, instansi. Dokumen tersebut dalam uang pengganti, tuntutan ganti rugi,
Piutang Tuntutan bentuk bukti memorial dengan uang titipan denda tilang di BRI dan
Perbendaharaan/ dilampiri copy petikan putusan dari barang rampasan yang akan
Tuntutan Ganti Rugi Seksi Pidsus untuk uang pengganti; dilaporkan ke dalam aplikasi Sistem
(TP/TGR) dalam copy putusan TGR untuk piutang TGR, Akuntansi Instansi (SAI) dan masing-
akun neraca, uang print out rekning Giro I untuk titipan masing dilampiri surat tanda
titipan denda tilang denda tilang di BRI dan copy petikan bukti/dokumen.
di BRI dan barang putusan pengadilan dari Seksi • Telah diadakan pertemuan antara Jam
rampasan yang Pidum/Pidsus untuk barang rampasan. Pidsus, Jam Datun, Dirjen

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 16 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
belum di lelang Perbendaharaan Depkeu dan BPK RI
dalam catatan pada hari Selasa tanggal 17 April
laporan keuangan. 2007 di ruang Rapat Jam Bin
membahas masalah Uang Pengganti.
4. Penatausahaan dan Agar Jaksa Agung RI melalui Jaksa Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Pidum
pencatatan barang Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera dan Jam Pidsus Nomor : ND- √
bukti pada buku Barat, Lam-pung, Bengkulu dan 081/C/03/2007 tgl 14 Maret 2007 tentang
register barang bukti Pekanbaru memerin-tahkan para Kajari belum tertibnya penatausahaan barang
(RB-2) tidak tertib. untuk meningkatkan tertib administrasi bukti atas perkara Tindak Pidana Umum
dan menegur para jaksa supaya segera dan Tindak Pidana Khusus pada Kejati
meminta salinan putusan pengadilan Lampung, Sumbar, Bengkulu, dan Riau.
apabila proses hukum telah mempunyai
kekuatan hukum tetap dan diteruskan
kepada atasan langsung masing-masing
untuk proses eksekusi, Jaksa Agung RI
melalui JAMBIN memerintahkan para
Kajari di lingkungan Kejati Tinggi
Sumatera Barat, Lampung, Bengkulu
dan Pekanbaru meningkatkan upaya
pemberdayaan tenaga administrasi
dalam pekerjaan administrasi barang
bukti dan perkara.
5. Uang titipan denda Rp458,06 Juta Agar Jaksa Agung melakukan • Nota Dinas Jam Bin kepada Jam
tilang dan biaya koordinasi dengan Mahkamah Agung, Pidum Nomor : ND-088/C/03/2007 √
perkara yang Polri dan BRI untuk menyelesaikan tanggal 14 Maret 2007 tentang belum
mengendap pada permasalahan uang titipan pembayaran dipindahkannya rekening giro
Bank Rakyat denda dan biaya tilang yang mengendap pengumpul I ke rekening Kejaksaan.
Indonesia (BRI) di kantor-kantor cabang BRI serta • Surat Jam Pidum kepada Kajati
untuk wilayah Kejati memerintahkan Kepala Kejaksaan Lampung, Riau, Sumbar dan
Lampung, Sumbar, Tinggi Lampung, Sumatera Barat, Bengkulu Nomor : B-344-347/E/Euh/
Bengkulu dan Bengkulu dan Pekanbaru melakukan 04/2007 tgl 20 April 2007 tentang
Pekanbaru sebesar koordinasi dengan Kanwil BRI masing- Petunjuk agar Kajari/JPU segera
Rp458,06 Juta masing supaya saldo giro I yang masih melaksanakan eksekusi uang titipan
belum dilimpahkan mengendap di berbagai Kantor Cabang denda tilang yang ada pada rekening
ke Kas Negara BRI dapat segera dilimpahkan dan giro I BRI dan melaporkan

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 17 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
sebagai penerimaan disetorkan ke kas negara. pelaksanaannya serta kendalanya
negara. sehingga uang denda tilang tersebut
sampai saat ini belum dieksekusi/
dipindahkan ke rekening atas nama
Kejaksaan (rekening giro II).
• Surat Jam Bin kepada Kajati
Lampung, Sumbar, Bengkulu dan
Riau Nomor : B-633/C/05/2007 tgl 11
Mei 2007 agar Kejari Lampung,
Sumbar, Bengkulu dan Riau melaku-
kan koordinasi dengan Kanwil Bank
BRI setempat agar saldo Giro I yang
masih mengendap di berbagai kantor
cabang BRI segera dilimpahkan dan
disetor ke Kas Negara.
6. Penetapan nilai Agar Jaksa Agung c.q JAM Pembinaan Nota Dinas Jam Bin kepada Karo
saldo awal pada memerintahkan Kejati beserta Perlengkapan Nomor : ND-086/C/03/ √
akun neraca belum jajarannya di seluruh Indonesia untuk 2007 tanggal 14 Maret 2007 akan
dilakukan dengan melakukan opname fisik barang melakukan opname fisik barang
cara opname fisik invetaris secara serempak kemudian inventaris dan hasilnya dibuat Laporan
barang inventaris. hasilnya dibuat Laporan Opname Fisik Opname Fisik Barang Inventaris dan
Barang Invetaris dan diinput ke dalam diinput ke dalam aplikasi Sistem Barang
aplikasi sistem akuntansi barang milik Milik Negara sebagai saldo awal.
negara sebagai saldo awal.
7. Perlakuan barang Agar Jaksa Agung RI memerintahkan Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Pidum
bukti tidak sesuai Kepala Kejaksaan Tinggi dan seluruh dan Jam Pidsus Nomor : ND- √
ketentuan. jajarannya di seluruh Indonesia untuk 081/C/03/2007 tanggal 14 Maret 2007
melaksanakan pengelolaan barang bukti agar Kajati seluruh Indonesia untuk
sesuai ketentuan, serta tindak lanjut atas melaksanakan ketentuan pengelolaan
permasalahan tersebut oleh JAM barang bukti baik perkara Pidum maupun
Pengawasan. perkara Pidsus.
8. Terdapat aset Agar Kejaksaan Agung dan Kejati Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Was
kejaksaan yang Lampung selaku UPB segera menarik Nomor : ND-083/C/03/2007 tanggal 14 √
digunakan oleh aset yang berada di pihak ketiga. Maret 2007 akan menarik 1 buah
pihak ketiga. kendaraan Mitsubishi Colt L-300 dari

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 18 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
pihak ketiga dan beberapa meja yang
dikuasai oleh pegawai Kejari Painan,
akan disampaikan kepada Jam Was untuk
penanganan selanjutnya.
9. Terdapat kesalahan Rp1.485,45 juta. Agar Jaksa Agung RI menginstruksikan • Nota Dinas Jam Bin kepada Karo
pengklasifikasian JAM Pembinaan memberikan teguran Keuangan dan Karo Perlengkapan √
pos mata anggaran secara berjenjang kepada pejabat dan Nomor: ND-084/C/03/2007 tanggal
penerimaan atas petugas penyusun LRA dan melakukan 14 Maret 2007 agar diberikan teguran
Laporan Realisasi koreksi atas kesalahan tersebut. secara berjenjang kepada pejabat dan
Anggaran Kejaksaan petugas penyusun LRA untuk
Agung RI TA 2005 melaksanakan tugas secara optimal
sebesar Rp1.485,45 dan pengawasan melekat atasan
juta. langsung lebih ditingkatkan.
• Surat Jam Bin kepada Kajati
Lampung, Sumbar, Bengkulu, dan
Riau Nomor : B-633/C/05/2007 tgl.
11 Mei 2007 agar Kajati Lampung,
Sumbar, Bengkulu, dan Riau
mengingatkan Asbin supaya menegur
Kajari, Kacabjari, Kasubag Keuangan
dan Operator Sistem Akuntansi
Keuangan agar dalam membuat
laporan keuangan lebih teliti dan lebih
ditingkatkan pengawasannya,
sehingga kesalahan serupa tidak
terulang lagi pada masa mendatang.
Tahun 2004
1. Kebijakan Agar Jaksa Agung RI mengeluarkan • Surat Edaran Jaksa Agung RI No: SE-
penggunaan rumah peraturan yang tegas tentang 05/A/JA/11/2004 tanggal 8 November √
dinas belum penghunian rumah dinas. 2004, dan tanah yang kosong telah
dilaksanakan secara dibuat Rumah Dinas JAM DATUN.
konsisten oleh Biro • Sudah diterbitkan SIP Rumah Dinas
Perlengkapan Lebak Bulus.
sehingga terdapat • Surat Karo Keuangan kepada
149 unit rumah Sekretaris Kementerian Negara

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 19 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
dinas/jabatan Perumahan Rakyat Nomor : B-
Kejaksaan Agung RI 79/C.3/Cum.3/5/ 2007 tgl 15 Mei
yang masih 2007 tentang laporan pembangunan
ditempati oleh pihak rumah dinas Lebak Bulus jabatan tipe
yang tidak berhak A 2 unit dan tipe B 1 unit.
dan terdapat tanah
kosong yang belum
dimanfaatkan untuk
rumah jabatan.
2. Terdapat 284 bidang Agar Kejaksaan Agung RI segera Surat Karo Perlengkapan kepada Kajati
tanah yang belum menginventarisasi ulang seluruh aset seluruh Indonesia Nomor : B-82/C.6/Cpl/ √
diusulkan tanah dan bangunan di seluruh 12/2005 tgl. 8 Desember 2005 tentang
pembuatan sertifikat Indonesia dan lebih aktif dalam permintaan data tanah dan bangunan
dan 34 bidang tanah pengurusan sertifikat tanah. kantor Kejaksaan Tahun 2005
yang telah diusulkan
sejak tahun 1996/
1997 namun belum
selesai.
3. Terdapat aset tetap Agar Jaksa Agung RI melakukan • Surat Karo Perlengkapan kepada
sebanyak 40.291 penelusuran atas dokumen pembelian Kajati Banten, Yogyakarta, DKI √
unit/buah belum dan apabila tidak ditemukan, agar Jakarta, Riau, Kaltim, NTB, Jabar,
dilengkapi nilai melakukan penaksiran nilai Sumut, Sulut, Kalbar Nomor : B-02-
perolehannya. perolehannya. 12/C.6/Cpl.1/01/2007 tgl. 15 Jan 2007
tentang permintaan harga perolehan
ke Kejati seluruh Indonesia.
• Surat Kajati Banten kepada Karo
Perlengkapan Nomor : B-0291/O.6/
Cpl.1/02/2007 tgl. 15 Pebruari 2007
tentang permintaan harga perolehan
• Surat Kajati Yogyakarta kepada Karo
Perlengkapan Nomor : B-399/O.4/
Cpl.2/02/2007 tgl. 28 Pebruari 2007
tentang permintaan harga perolehan
• Surat Kajati Jawa Barat kepada Karo
Perlengkapan Nomor : B-380/O.2/

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 20 dari 21


Lampiran 4

Hasil Pemantauan
Temuan Berulang *)
Tindak Lanjut *)
No Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Belum
2007 2006 2005 2004 Sesuai Sesuai/ Ditindak-
Selesai lanjuti
Cpl.1/01/2007 tgl. 6 Januari 2007
tentang permintaan harga perolehan.
4. Kuantitas dan Agar Kejaksaan Agung RI • Surat Jam Bin kepada Kajati seluruh
kualitas SDM yang mengupayakan perekrutan dengan latar Indonesia Nomor : ND-0882/C.5/ √
terkait dengan belakang pendidikan akuntansi untuk Cu.2/X/2005 tgl. 26 Oktober 2005
fungsi pencatatan mendukung pelaksanaan fungsi perihal Petunjuk sehubungan dengan
dan pelaporan belum pencatatan dan pembukuan pada bagian Temuan Pemeriksaan atas LRA
memadai untuk pembukuan dan verifikasi. Kejaksaan TA 2005 oleh BPK RI.
mendukung • Surat Jam Bin kepada Karo Keuangan
terwujudnya sistem Nomor : ND-356/C/Cu.2/10/2005 tgl.
pengendalian intern 26 Oktober 2005 perihal
yang baik. Tindak Penyampaian Petunjuk sehubungan
lanjut telah dengan Temuan atas Hasil
dilaksanakan yaitu Pemeriksaan Laporan Realisasi
dengan melakukan Anggaran Kejaksaan Agung RI TA
perekrutan pegawai 2004 oleh BPK RI.
dan pelatihan, • Surat Jam Bin kepada Kejati seluruh
namun belum Indonesia Nomor
mencukupi, karena
masih banyak
petugas yang
melakukan tugas
rangkap antara lain
sebagai bendahara
pengeluaran
merangkap pula
sebagai petugas
entry data komputer.
*)
Beri tanda √ untuk kolom yang sesuai.

BPK RI LHP SPI LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 21 dari 21


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS


KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEJAKSAAN RI
TAHUN 2009

Nomor : 31c/HP/XIV/05/2010
Tanggal : 10 Mei 2010

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


Jl. Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210
Telp/Faks (021) 5738725
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ................................................................................................................ i
RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN .................................................................................... 1
BAB 1 HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ........................................................... 6
1.1 Pendapatan Negara dan Hibah ............................................................................ 6
1.1.1 Terdapat Pendapatan yang Belum atau Terlambat Disetor ke Kas
Negara ...................................................................................................... 6
1.1.2 Pemungutan Sewa Rumah Dinas dalam Pengelolaan Kejaksaan
RI TA 2009 Belum Intensif dan Sebagian Besar Rumah Dinas
Dihuni oleh Pihak yang Tidak Berhak ................................................... 13
1.2 Belanja .............................................................................................................. 19
1.2.1 Terdapat Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp130.086.164,00
dalam Pelaksanaan Pekerjaan Fisik di Lingkungan Kejaksaan
Tinggi Jawa Barat, Jawa Timur, Kejati Sulsel, dan Kejati DKI
Jakarta .................................................................................................... 19
1.2.2 PPh Pasal 21 Sebesar Rp644.035.200,00 atas Honorarium Tim
Jaksa Pada Beberapa Satuan Kerja pada Kejati DKI Jakarta,
Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan Belum Dipungut ............................. 22
1.2.3 Terdapat Kelebihan Pembayaran dalam Pengadaan Optimalisasi
Perangkat Pendukung Entry Data Offline Kejaksaan Agung RI
TA 2009 Senilai Rp10.000.000,00 ......................................................... 23
1.2.4 Terdapat Ketidakhematan Biaya Konstruksi Sebesar
Rp176.314.300,00 dalam Kontrak Pembangunan Gedung Parkir,
Sarana Olah Raga, dan Kantor Kejaksaan Agung .................................. 25
1.2.5 Terdapat Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp17.837.600,00 Pada
Pelaksanaan Kontrak Pelatihan Administrator Data Center
SIMKARI 2 Tahun 2009 ........................................................................ 26
1.2.6 Terdapat Pemecahan Paket Untuk Menghindari Pelelangan
Dalam Pengadaan Barang Inventaris Kantor Sebesar
Rp1.402.678.695,00 pada Biro Perlengkapan Kejaksaan Agung
RI ............................................................................................................ 27
1.2.7 Terdapat Kelebihan Pembayaran Minimal Sebesar
Rp102.125.000,00 Dalam Pelaksanaan Pekerjaan Pemeliharaan
Dan Perubahan Perangkat Lunak Aplikasi Simkari 2 ............................ 29

BPK RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2009 i


1.2.8 Harga Kontrak Pengadaan Kendaraan Tahanan Kejaksaan
Agung yang Dilaksanakan Secara Penunjukan Langsung Lebih
Tinggi Sebesar Rp1.301.425.000,00 ...................................................... 31
1.2.9 Proses Pengadaan Pekerjaan Pemeliharaan Pada Kejaksaan
Tinggi Jawa Timur TA 2009 Tidak Sesuai Ketentuan dan
Terdapat Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp28.412.556,05
Dalam Pekerjaan Cleaning Service ........................................................ 34
1.2.10 Negara Menanggung Biaya Listrik, Telepon, Dan Air Rumah
Dinas Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Sebesar
Rp50.148.910,00 .................................................................................... 37
1.3 Aset …. ........................................................................................................... 38
1.3.1 Barang Rampasan dari Perkara Pidana yang Telah Inkracht
Tidak Dapat Dilelang ............................................................................. 38
1.3.2 Barang Rampasan yang Sudah Inkracht Terlambat Diterima dan
Dilelang oleh Sub Bagian Pembinaan .................................................... 41
1.3.3 Terdapat Aset Milik Negara Berupa Tanah Dan Kendaraan
Operasional Yang Belum Dilengkapi Dengan Bukti Kepemilikan
Yang Sah ................................................................................................ 47
BAB 2 HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN
ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN TAHUN 2004 – 2008 ........................................................................ 49
Lampiran-lampiran

BPK RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2009 ii


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN

Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK RI) telah memeriksa Neraca Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2009 dan 2008
serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab Kejaksaan RI. BPK RI telah
menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun
2009 yang memuat opini wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan
Kejaksaan RI tanggal 31 Desember 2009 dan realisasi anggaran untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, kecuali
untuk dampak tidak disajikannya informasi adanya tunggakan denda tilang yang diputus
verstek oleh pengadilan yang sampai dengan tanggal pelaporan belum dibayar oleh para
pelanggar lalu lintas, barang-barang rampasan yang pada tanggal pelaporan belum
memiliki taksiran harga, dan barang-barang sitaan bernilai ekonomis yang berada dalam
pengawasan Kejaksaan RI dengan Nomor 31a/HP/XIV/05/2010 tanggal 10 Mei 2010 dan
Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern Nomor
31b/HP/XIV/05/2010 tanggal 10 Mei 2010.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan
bebas dari salah saji material, sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN), BPK RI melakukan pengujian kepatuhan pada Kejaksaan RI terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang berpengaruh
langung dan material terhadap penyajian laporan keuangan. Namun, pemeriksaan yang
dilakukan BPK RI atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI tidak dirancang khusus untuk
menyatakan pendapat atas kepatuhan terhadap keseluruhan peraturan perundang-
undangan. Oleh karena itu, BPK RI tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.
BPK RI menemukan adanya ketidakpatuhan, kecurangan, dan ketidakpatutan dalam
pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan pada Kejaksaan RI. Pokok-
pokok ketidakpatuhan adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) belum atau terlambat disetor ke Kas
Negara sebesar Rp12.109.989.497,80 dan USD5,000.00 di Kejari Makassar,
Majalengka, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta
Utara, Batu, Kediri, Surabaya, Situbondo, Banjar, Sumedang, Bogor, Bekasi,
Cikarang, Batam, dan Tanjung Balai Karimun. Hal ini disebabkan antara lain Jaksa
Penuntut Umum (JPU) dan Bendahara Khusus Penerima (BKP) lalai dan

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 1 dari 49


mengabaikan ketentuan tentang kewajiban penyetoran uang rampasan ke Kas
Negara secara tepat waktu serta lemahnya pengawasan atasan langsung para JPU
dan BKP terkait dengan eksekusi barang dan uang rampasan yang telah
berkekuatan hukum tetap.
2. Pemungutan sewa rumah dinas dalam pengelolaan Kejaksaan RI TA 2009 belum
intensif yang mengakibatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) kurang
minimal sebesar Rp18.017.175,00. Selain itu, sebagian besar rumah dinas masih
dihuni oleh pihak yang tidak berhak yaitu para pensiunan. Hal ini disebabkan
lemahnya mekanisme pemungutan sewa rumah dinas kejaksaan, khusus untuk para
pensiunan dimana pembayaran ke Kas Negara diserahkan sepenuhnya kepada
kesadaran para pensiunan dan penetapan tarif sewa rumah dinas tidak mematuhi
ketentuan Surat Edaran Plh. Jaksa Agung Muda Pembinaan No. SE-01/C/Cpl/03/
2003. Selain itu, tidak ada pegawai di lingkungan kejaksaan yang ditugaskan
khusus untuk memastikan bahwa para pensiunan dan keluarga almarhum pensiunan
tersebut telah melaksanakan kewajibannya.
3. Terdapat kekurangan volume pekerjaan pembangunan fisik di lingkungan
Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Jawa Timur, Kejati Sulsel dan Kejati DKI yang
mengakibatkan kelebihan pembayaran sebesar Rp130.086.164,00 berdasarkan hasil
pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Tim BPK RI bersama-sama dengan PPK,
konsultan pengawas, dan rekanan pelaksana. Hal ini disebabkan oleh kelalaian dan
ketidakcermatan pihak kontraktor dan konsultan pengawas dalam melaksanakan
tugasnya.
4. Pajak Penghasilan Pasal 21 atas pembayaran honorarium tim jaksa pada beberapa
satuan kerja pada Kejati DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan belum
dipungut oleh bendahara pengeluaran yang mengakibatkan kekurangan penerimaan
negara sebesar Rp644.035.200,00. Hal ini disebabkan oleh kelalaian dari bendahara
pengeluaran masing-masing satker.
5. Barang rampasan dari perkara pidana yang telah inkracht pada Kejari Jakarta Barat,
Makassar, dan Maros tidak dapat dilelang karena bukti kepemilikan berupa 21
lembar sertifikat tanah dan bangunan hilang dan adanya sengketa dengan pihak
ketiga. Hal ini disebabkan antara lain oleh lemahnya pengawasan para kajari atas
eksekusi dan pelelangan barang rampasan yang telah berkekuatan hukum tetap,
kelalaian Kepala Sub Bagian Pembinaan Kejari Jakarta Barat dalam melakukan
pengamanan terhadap barang rampasan yang menjadi tanggung jawabnya, dan
adanya putusan pengadilan perdata yang memenangkan pihak ketiga meskipun
telah ada putusan pengadilan pidana yang inkracht.
6. Barang rampasan yang sudah inkracht terlambat diterima dan dilelang oleh Sub
Bagian Pembinaan berkisar antara 1 bulan – 11 tahun yang mengakibatkan
keterlambatan penerimaan negara dari hasil lelang barang rampasan dan
meningkatnya risiko kehilangan serta turunnya nilai jual barang rampasan. Hal ini
disebabkan antara lain oleh kelalaian para Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam
menyerahkan barang-barang rampasan secara tepat waktu dan lemahnya
pengawasan Kajari selaku kepala satker atas ketepatan waktu penyelesaian barang
rampasan.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 2 dari 49


7. Terdapat aset milik negara berupa tanah dan kendaraan operasional dengan harga
perolehan minimal sebesar Rp4.750.241.750,00 yang belum dilengkapi dengan
bukti kepemilikan yang sah yang mengakibatkan pengakuan kepemilikan atas aset
tersebut menjadi lemah secara hukum. Hal ini disebabkan oleh pengiriman
(transfer) aset dari Kejaksaan Agung RI dan Kejati yang tidak disertai dengan
surat-surat kelengkapan untuk bukti kepemilikan dan kurangnya usaha dari bagian
perlengkapan masing-masing satker untuk memperoleh bukti kepemilikan yang sah
secara hukum atas aset-aset tetap yang dimilikinya.
8. Terdapat kelebihan pembayaran dalam pengadaan Optimalisasi Perangkat
Pendukung Entry Data Offline Kejaksaan Agung RI TA 2009 senilai
Rp10.000.000,00 untuk biaya administrasi dan pelaporan berupa dokumen Berita
Acara Serah Terima Perangkat Barang dan Surat Jalan Barang dari jasa pengiriman
yang sebenarnya merupakan tanggung jawab setiap rekanan pelaksana pekerjaan.
Hal ini disebabkan oleh panitia pengadaan lalai dan belum sepenuhnya
mengusahakan harga wajar atas pengadaan perangkat pendukung entry data offline
Kejaksaan Agung RI.
9. Terdapat ketidakhematan biaya konstruksi sebesar Rp176.314.300,00 dalam
Kontrak Pembangunan Gedung Parkir, Sarana Olah Raga dan Kantor Kejaksaan
Agung RI dimana harga satuan kontrak untuk pembetonan lebih tinggi dari harga
satuan yang dikeluarkan oleh Pemda DKI. Hal ini disebabkan panitia pengadaan
barang dan jasa tidak cermat dalam menganalisa harga penawaran yang diajukan
oleh rekanan pelaksana pekerjaan pembangunan gedung parker dan negosiasi harga
yang dilakukan oleh pejabat pembuat komitmen dengan rekanan pelaksanaan
pekerjaan tidak optimal untuk mendapatkan harga yang paling menguntungkan
Negara.
10. Terdapat kelebihan pembayaran sebesar Rp17.837.600,00 pada pelaksanaan
Kontrak Pelatihan Administrator Data Center SIMKARI 2 Tahun 2009 yang
berasal dari kekurangan pembayaran biaya transport ke 22 orang peserta pelatihan.
Hal ini disebabkan oleh lemahnya pengawasan pejabat pembuat komitmen (PPK)
Program Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan dan Lembaga Penegak Hukum
Lainnya atas pelaksanaan kegiatan pelatihan administrator data center.
11. Terdapat pemecahan paket untuk menghindari pelelangan dalam Pengadaan Barang
Inventaris Kantor sebesar Rp1.402.678.695,00 pada Biro Perlengkapan Kejaksaan
Agung RI yang mengakibatkan harga yang diperoleh bukan merupakan harga yang
paling menguntungkan bagi negara. Hal ini disebabkan pejabat pembuat komitmen
dan panitia pengadaan di Biro Perlengkapan lalai dan tidak memperhatikan
ketentuan pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah.
12. Terdapat kelebihan pembayaran minimal sebesar Rp102.125.000,00 dalam
pelaksanaan pekerjaan Pemeliharaan dan Perubahan Perangkat Lunak Aplikasi
Simkari 2 yang berasal dari perhitungan biaya langsung personil untuk 8 orang
tenaga konsultan tidak sesuai dengan Keppres 80 Tahun 2003 dan SEB Bappenas
Tahun 2000 serta perhitungan biaya uang harian untuk dua orang personil yang
melaksanakan perjalanan dinas ke delapan kejati untuk kegiatan instalasi tidak
sesuai dengan Standar Biaya Umum Tahun 2009 yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan. Hal ini disebabkan antara lain Panitia Pengadaan Barang dan Jasa tidak

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 3 dari 49


cermat dalam mengevaluasi penawaran harga yang diajukan penyedia barang dan
jasa serta belum sepenuhnya mempedomani ketentuan yang berlaku.
13. Ketidakhematan dalam pengadaan Kendaraan Tahanan Kejaksaan Agung yang
dilaksanakan secara penunjukan langsung sebesar Rp1.301.425.000,00 dimana
perbandingan harga kendaraan untuk pemerintah (plat merah) yang tidak dikenakan
bea balik nama kendaraan bermotor lebih tinggi daripada harga kendaraan untuk
umum (plat hitam) off the road. Hal ini antara lain disebabkan HPS yang dibuat
oleh panitia pengadaan tidak didasarkan pada survey harga pasar yang akurat.
14. Proses pengadaan pekerjaan pemeliharaan pada Kejaksaan Tinggi Jawa Timur TA
2009 tidak sesuai ketentuan dan terdapat kelebihan pembayaran sebesar
Rp28.412.556,05 dalam pekerjaan Cleaning Service yang berasal dari jumlah
petugas cleaning service lebih sedikit daripada yang disepakati dalam kontrak
untuk bulan November dan Desember 2009. Hal ini disebabkan antara lain oleh
lemahnya pengawasan dari PPK atas proses pemilihan calon rekanan dan
pelaksanaan pekerjaan.
Sehubungan dengan temuan tersebut, BPK RI merekomendasikan kepada Jaksa Agung
agar memerintahkan (1) Kajati Sulsel, Jatim, dan DKI Jakarta untuk menginstruksikan
Kajari Makasar, Surabaya, Batu, Kediri, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat,
Jakarta Timur, dan Jakarta Utara segera menyetorkan pendapatan berupa uang rampasan
dan denda tilang ke Kas Negara. Selanjutnya menyampaikan bukti setoran ke BPK RI,
(2) Para Kajati untuk menginstruksikan para kajari di wilayah masing-masing agar
melakukan penagihan kekurangan pembayaran sewa rumah dinas sesuai dengan temuan
BPK RI dan menyetorkan ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setoran disampaikan ke BPK
RI, (3) Kajati Jabar, Jatim, Sulsel dan DKI Jakarta untuk menginstruksikan para Kajari di
wilayahnya masing-masing menagih kelebihan pembayaran kepada para rekanan
pelaksana pekerjaan sesuai dengan temuan BPK RI dan menyetorkan ke Kas Negara.
Selanjutnya bukti setoran disampaikan ke BPK RI, (4) Jambin untuk berkonsultasi
dengan Direktorat Jenderal Pajak mengenai kewajiban pemotongan PPh pasal 21 atas
honorarium yang diterima oleh Tim Jaksa dalam setiap kegiatan penanganan perkara
yang sumber pembiayaannya dari APBN. Selanjutnya, menyampaikan jawaban Ditjen
Pajak ke Asbin dan Kasubagbin di seluruh Indonesia, (5) Kajati DKI Jakarta untuk
menginstruksikan Kajari Jakarta Barat mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian
yang berlaku kepada Kasubagbin Kejari Jakarta Barat yang bertanggungjawab dalam
pengamanan barang rampasan sebelum proses pelelangan, (6) Kajati Jatim, Kepri, Jabar
dan Sulsel untuk menginstruksikan Kajari di wilayahnya masing-masing agar
mengenakan sanksi kepada para JPU yang lalai mematuhi ketentuan tentang ketepatan
waktu penyerahan barang rampasan. Selanjutnya di masa mendatang, Kajari lebih
meningkatkan pengawasan terhadap kepatuhan para JPU dalam penyerahan barang
rampasan, (7) Jambin untuk menginstruksikan Biro Perencanaan, Biro Perlengkapan dan
unit-unit kerja lain di Kejagung RI agar mengirimkan bukti-bukti kepemilikan bersamaan
dengan pengiriman barang ke Kejati/Kejari, (8) Jambin untuk menginstruksikan pejabat
pembuat komitmen pekerjaan optimalisasi perangkat pendukung entry data offline
menagih kepada PT Transitel Nusantara biaya administrasi dan pelaporan sebesar
Rp10.000.000,00. Selanjutnya menyetorkan ke kas negara dan menyampaikan bukti setor
tersebut ke BPK RI, (9) Jambin untuk mengenakan sanksi kepada panitia pengadaan dan
pejabat pembuat komitmen pekerjaan pembangunan gedung parkir, sarana olah raga dan

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 4 dari 49


kantor Kejagung yang tidak cermat dan optimal dalam menganalisa harga penawaran dan
melakukan negosiasi harga dengan PT Pembangunan Perumahan (PP), (10) Jambin untuk
mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada pejabat pembuat
komitmen pekerjaan pelatihan administrator data center yang tidak cermat dalam
mengawasi pelaksanaan pekerjaan dan menginstruksikan pejabat pembuat komitmen
pekerjaan pelatihan administrator data center menagih kelebihan pembayaran kepada PT
Bumindo Konsultindo sebesar Rp17.837.600,00 serta menyetorkan ke Kas Negara.
Selanjutnya bukti setoran disampaikan kepada BPK RI, (11) Jambin untuk mengenakan
sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada pejabat pembuat komitmen
dan panitia pengadaan yang tidak menyusun HPS secara cermat dan tidak optimal dalam
melakukan negosiasi dengan rekanan pelaksana pekerjaan, (12) Jambin untuk
menginstruksikan pejabat pembuat komitmen pekerjaan pemeliharaan dan perubahan
perangkat lunak aplikasi Simkari 2 untuk menagih kelebihan pembayaran sebesar
Rp102.125.000,00 kepada PT Optima Infocitra Universal dan menyetorkan ke Kas
Negara. Selanjutnya bukti setoran disampaikan ke BPK RI, (13) Kajati Jawa Timur untuk
menginstruksikan kepada pejabat pembuat komitmen untuk menagih kelebihan
pembayaran sebesar Rp28.412.556,05 kepada CV Insan Krida Hutama dan
menyetorkannya ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setoran disampaikan kepada BPK RI.
Temuan dan rekomendasi perbaikan secara rinci dapat dilihat dalam laporan ini.

Jakarta, 10 Mei 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab Pemeriksaan

Gatot Supiartono, S.H., M.Acc., C.F.E., Ak.


Akuntan Register Negara No.D-5.747

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 5 dari 49


BAB 1
HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN

1.1 Pendapatan Negara dan Hibah

1.1.1 Terdapat Pendapatan yang Belum atau Terlambat Disetor ke Kas Negara
Salah satu tugas dan wewenang kejaksaan dalam bidang pidana adalah
melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan terkait barang bukti yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht), yaitu dirampas untuk negara, dirampas
untuk dimusnahkan, atau dikembalikan kepada yang berhak (pemilik sah).
Barang bukti yang dirampas untuk negara, harus segera disetor ke Kas Negara
(jika dalam bentuk uang) atau jika dalam bentuk barang dilelang melalui Kantor
Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan hasil lelang segera disetorkan ke
Kas Negara atas nama penerimaan kejaksaan. Sesuai ketentuan intern kejaksaan, barang
bukti yang dirampas negara segera dialihkan pengelolaannya dari seksi Pidana Umum
(Pidum) atau seksi Pidana Khusus (Pidsus) kepada Sub Bagian Pembinaan (Subbag Bin)
untuk diselesaikan melalui pelelangan. Sebelum pelelangan, Subbag Bin meminta
penaksiran nilai wajar dari barang rampasan kepada pihak berwenang untuk menentukan
nilai limit dalam pelelangan.
PNBP Kejaksaan RI antara lain berasal dari hasil penjualan (pelelangan) barang
rampasan, denda tilang, biaya perkara, denda dan uang pengganti yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap. Atas penerimaan negara yang diterimanya, Bendahara Khusus
Penerimaan (BKP) setiap satker di lingkungan Kejaksaan RI harus segera melakukan
penyetoran ke Kas Negara melalui bank persepsi dengan menggunakan Surat Setoran
Bukan Pajak (SSBP).
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas Buku Register Barang Bukti (RB-2) dari
Pidsus maupun Pidum, pengelolaan barang rampasan, dokumen tilang, putusan
pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht), bukti pendukung penyetoran
pendapatan, dan Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2009 pada Kejati Sulawesi Selatan,
Kejati Kepulauan Riau, Kejati Jawa Timur, Kejati Jawa Barat, Kejati DKI Jakarta, Kejari
Ujung Pandang, Kejari Pangkajene, Kejari Barru, Kejari Palopo, Kejari Belopa, Kejari
Maros, Kejari Batam, Kejari Tanjung Balai Karimun, Cabjari Moro, Kejari Tanjung
Pinang, Kejari Situbondo, Kejari Kediri, Kejari Lamongan, Kejari Magetan, Kejari
Malang, Kejari Batu, Kejari Surabaya, Kejari Bandung, Kejari Banjar, Kejari
Majalengka, Kejari Subang, Kejari Sumedang, Kejari Bogor, Kejari Cikarang, Kejari
Bekasi, Kejari Jakarta Selatan, Kejari Jakarta Pusat, Kejari Jakarta Barat, Kejari Jakarta
Utara, dan Kejari Jakarta Timur menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Pendapatan berupa uang rampasan dari perkara yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap (inkracht) dan denda tilang serta jasa giro belum disetorkan ke Kas
Negara dengan jumlah sebesar Rp4.452.325.097,76 dan USD5,000.00 sebagai
berikut:
1) Kejari Makassar
a) Terdapat uang rampasan dari perkara Pidana Khusus (Pidsus) atas nama
terpidana Asriadi alias Asri pada Kejari Makasar yang putusan

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 6 dari 49


pengadilannya telah berkekuatan hukum tetap dengan nomor 1276
K/Pid/2004 tanggal 28 Juli 2004 sebesar Rp687.194.360,67 dan US$5.000
dengan rincian sebagai berikut:
(1) Dua lembar cek Bank Bukopin senilai Rp20.000.000,00;
(2) Rekening tabungan Bank Mandiri Makassar dengan saldo sebesar
Rp192.775.553,92;
(3) Rekening Taplus Bank BNI Makassar dengan saldo sebesar
Rp56.476.120,00;
(4) Rekening tabungan BII Super Pundi dengan saldo sebesar
Rp11.475.553,75;
(5) Rekening tabungan Bank Panin Makassar dengan saldo sebesar
Rp49.834.356,00;
(6) Rekening pada Bank BCA Dollar dengan saldo sebesar US$5.000;
(7) Uang Tunai sebesar Rp356.632.777,00.
b) Terdapat pendapatan jasa giro yang belum disetor ke kas negara sebesar
Rp41.441,09.
Namun, sampai dengan saat pemeriksaan BPK RI berakhir pada tanggal 03 Maret
2010, penyetoran yang sudah dilakukan berdasarkan SSBP tanggal 24 Mei 2006
dan 6 Juni 2006 hanya sejumlah Rp489.932.777,00 (Rp356.632.777,00 +
Rp133.300.000,00) sehingga masih terdapat sisa uang rampasan sebesar
Rp197.261.583,67 (Rp687.194.360,67 - Rp489.932.777,00) dan US$5.000 yang
belum jelas keberadaannya dan jasa giro sebesar Rp41.441,09 belum disetor ke
kas negara.
2) Kejari Palopo
Terdapat uang rampasan dari perkara Pidana Umum (Pidum) yang putusan
pengadilannya telah berkekuatan hukum tetap sebesar Rp1.190.300,00 belum
disetor ke Kas Negara dengan rincian sebagai berikut:
a) Uang rampasan perkara judi dan psikotropika sejumlah Rp305.000,00 atas
perkara Rasyid bin Muh. Kasim dengan No. Putusan 270/Pid.B/05/PN.Plpo
tanggal 06 Oktober 2005.
b) Uang rampasan perkara judi dan psikotropika sejumlah Rp5.300,00 atas
perkara Sarika bin Arifin dengan No. Putusan 434/Pid.B/08/PN.Plpo tanggal
15 Januari 2008.
c) Uang rampasan perkara judi dan psikotropika sejumlah Rp880.000,00 atas
perkara Kurniawan als Wawan bin Naim dengan No. Putusan
760/Pid.B/08/PN.Plpo tanggal 12 Januari 2009.
3) Kejari Maros
a) Terdapat uang rampasan dari perkara Pidana Khusus (Pidsus) yang putusan
pengadilannya telah berkekuatan hukum tetap minimal sebesar
Rp6.970.000,00 belum disetor ke Kas Negara atau Bank Bukopin Cabang
Makassar dengan rincian sebagai berikut:
(1) Uang titipan barang bukti sebesar Rp6.970.000,00 dalam Rek BRI Maros
No. 0224-01-000385-99-1 atas perkara Abdul Hamid bin Mustafa, dkk
dengan No. Putusan 006/PID.B/2004/PN.MAROS tanggal 7 Juni 2004

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 7 dari 49


tanggal 19 Januari 2004, dirampas untuk negara untuk disetorkan kepada
Bank Bukopin Cabang Makassar.
(2) Satu buku TAPLUS BNI Cabang Mattoanging dengan Rekening No.
248-000045686.901 atas perkara Ir. Khaerul Ambar dengan No. Putusan
944 K/Pid/2004 tanggal 11 Agustus 2004, dirampas untuk negara.
b) Terdapat pendapatan denda tilang bulan Januari – Pebruari 2009 yang belum
disetor dan dicatat dalam aplikasi SAI sebagai pendapatan hasil denda/tilang
dan sebagainya (MAP 423414). Tim BPK RI tidak memperoleh data
mengenai jumlah pendapatan denda tilang selama bulan Januari – Pebruari
2009 karena dokumen tilang dari bulan Januari – April 2009 tidak
ditemukan. Penjelasan yang diperoleh adalah dokumen tilang tersebut dibawa
oleh Sdr. Tri Meilartomo yang selama periode tersebut merangkap jabatan
sebagai petugas tilang dan bendahara penerima. Tim BPK RI tidak dapat
melakukan konfirmasi dengan Sdr. Tri Meilartomo karena sejak Januari 2010
yang bersangkutan tidak pernah masuk lagi ke kantor Kejari Maros.
4) Kejari Belopa
Pendapatan denda tilang yang diterima oleh bendahara penerima selama Tahun
2009 dengan jumlah sebesar Rp55.384.000,00 tidak langsung disetor ke Kas
Negara tetapi disetor ke rekening BRI No.0187-01-000005-30-7 (Polri
Pengumpul I), dengan rincian:
No Bulan Jumlah (Rp)
1 Maret 2009 11.543.000,00
2 April 2009 6.578.000,00
3 Juni 2009 10.598.000,00
4 Juli 2009 1.914.000,00
5 Agustus 2009 7.813.000,00
6 September 2009 1.511.000,00
7 Oktober 2009 1.709.000,00
8 November 2009 10.509.000,00
9 Desember 2009 3.209.000,00
Total 55.384.000,00
Pendapatan denda tilang tersebut baru dilimpahkan oleh BRI ke Kas Negara
sebesar Rp36.060.000,00 dengan rincian:
No Tanggal Jumlah (Rp)
1 23 Januari 2009 1.895.000,00
2 25 Maret 2009 1.983.000,00
3 01 April 2009 1.088.000,00
4 01 Juli 2009 3.689.000,00
5 15 Oktober 2009 13.671.000,00
6 28 Oktober 2009 1.516.000,00
7 03 November 2009 1.709.000,00
8 30 November 2009 10.509.000,00
Total 36.060.000,00
sehingga pendapatan denda tilang sebesar Rp19.324.000,00 (Rp55.384.00,00 -
Rp36.060.000,00) masih mengendap pada rekening Polri Pengumpul I dan belum
dilimpahkan ke Kas Negara.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 8 dari 49


Petugas tilang, petugas uang/barang rampasan dan bendahara penerima di Kejari
Belopa dirangkap oleh satu orang.
5) Uang rampasan dari perkara pidana umum Pasal 303 (perjudian) di Kejari
Majalengka sebesar Rp1.348.000,00 yang telah inkracht belum diserahkan oleh
jaksa penuntut umum (JPU) ke BKP.
6) Kejati DKI Jakarta
a) Kejari Jakarta Pusat
Berdasarkan Surat dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor:
M.AH.08.03-44 tanggal 1 Desember 2009 perihal laporan perkembangan
pengembalian aset negara hasil permintaan bantuan timbal balik dalam
masalah pidana terkait terpidana tindak pidana korupsi dari Australia,
diketahui bahwa Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia telah menerima
pemberitahuan resmi dari pemerintah Australia (Australian Attorney
General’s Department) bahwa aset terkait pelaku tindak pidana korupsi
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di Bank Harapan Sentosa atas
nama terpidana Hendra Rahardja telah disetujui oleh Menteri Dalam Negeri
Australia untuk diserahkan (repatriation) kepada Pemerintah Republik
Indonesia dengan jumlah aset sebesar AUD493.647,07 yang merupakan hasil
konversi mata uang hasil perampasan aset di Bank HSBC Hongkong milik
South East Group (perusahaan yang terkait dengan aliran dana Hendra
Rahardja) senilai USD398.478,87 ditambah dengan bunga (interest) selama
aset tersebut berada dalam unit pengelolaan aset di Hongkong senilai
USD32.755,58.
Jaksa Agung RI telah menjawab surat tersebut dengan Surat Nomor: R-
078/A/J.A/12/2009 tanggal 4 Desember 2009 yang ditujukan kepada Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia yang pada intinya memberitahukan bahwa
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kejaksaan Agung RI telah membuka
rekening untuk menerima dana titipan diantaranya dana pengembalian aset
dari hasil pemenuhan permintaan bantuan timbal balik dalam masalah pidana
di Bank Rakyat Indonesia Nomor 00000193-01-000822-30-8 atas nama
Penampungan Dana Titipan Kejaksaan Agung RI.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui Direktur Hukum
Internasional telah meneruskan surat dari Jaksa Agung RI kepada Australian
Attorney General’s Department dengan surat Nomor: AMU.5.AH.08.01-116
tanggal 4 Desember 2009.
Pada tanggal 8 Desember 2009, Jaksa Nur Rochmad selaku Sekretaris Tim
Pemburu Koruptor telah menghadiri dan menerima penyerahan
pengembalian aset sejumlah Aud$493.647,07 secara simbolik yang
diserahkan langsung oleh Sekjen Departemen Hukum dan Hak Asasi
Manusia.
Surat elektronik yang dikirimkan ke Biro Hukum Kejaksaan Agung tanggal
10 Desember 2009, menyebutkan bahwa pengembalian aset tersebut telah
dilakukan melalui transfer ke rekening Penampungan Dana Titipan
Kejaksaan Agung RI di Bank Rakyat Indonesia (Norek. 00000193-01-

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 9 dari 49


000822-30-8). Konfirmasi dari Biro Keuangan Kejaksaan Agung pada
tanggal 10 Desember 2009, menunjukkan bahwa rekening Kejaksaan Agung
RI telah menerima transfer dari Bank of America sejumlah
Rp4.193.477.554,00.
Sampai dengan pemeriksaan BPK RI berakhir pada tanggal 09 April 2010,
Kejari Jakarta Pusat sebagai satker yang melakukan eksekusi uang pengganti
atas terpidana Hendra Rahardja belum mengajukan surat permintaan kepada
Biro Keuangan Kejaksaan Agung untuk melimpahkan uang rampasan
Hendra Rahardja tersebut ke Kas Negara.
b) Terdapat pendapatan uang rampasan pada Kejari Jaksel, Jakbar, Jaktim dan
Jakut yang belum disetor ke Kas Negara sebesar Rp25.878.800,00.
7) Kejati Jawa Timur
Terdapat pendapatan uang rampasan pada Kejari Batu, Kediri, Surabaya dan
pendapatan jasa giro pada Kejari Situbondo yang belum disetor ke Kas Negara
sebesar Rp13.803.419,00.
b. Pendapatan berupa uang rampasan dari perkara pidana umum yang telah inkracht
dengan jumlah sebesar Rp117.924.400,00 terlambat diserahkan oleh jaksa penuntut
umum kepada Bendahara Khusus Penerimaan (BKP) dengan rincian berikut:
Kejari Jumlah (Rp) Lama Keterlambatan
Banjar 13.337.000,00 3 s.d. 6 bulan
Sumedang 3.500.000,00 2 bulan s.d. 1 tahun
Bogor 13.309.800,00 2 s.d. 8 bulan
Bekasi 19.367.000,00 1 minggu s.d. 8 bulan
Cikarang 22.557.600,00 1 bulan s.d. 4 tahun
Batam 17.872.500,00 1 s.d. 14 bulan
Tanjung Balai Karimun 27.980.500,00 1 s.d. 17 bulan
Jumlah 117.924.400,00

c. Pendapatan dari hasil pelelangan barang rampasan sebesar Rp7.539.740.000,00 pada


Kejari Jakarta Pusat mengendap pada rekening KPKNL Jakarta I.
Barang rampasan atas terpidana Drs. Thaariq Salim Abdul Azis dilelang pada hari
Kamis tanggal 26 November 2009 di Kantor Kejari Jakarta Pusat melalui Pejabat
Lelang pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta I.
Lelang dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI No. Kep-X-
117/C/07/2000 tentang pemberian ijin untuk menjual lelang ketiga barang rampasan
jo Surat Jaksa Agung Pembinaan No.B-1426/C/Cu.3/12/2008 tanggal 12 Desember
2008 berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 870 K/Pid/1996 tanggal 02
Oktober 1996 atas nama Drs. Thaariq Salim Abdul Azis yang telah berkekuatan
hukum tetap.
Barang rampasan yang dilelang berupa 12 bidang tanah dengan harga limit
Rp8.016.750.000,00 dan terjual kepada Ferry J Robertus Tandiono dengan harga
Rp8.021.000.000,00. KPKNL Jakarta I telah menyetorkan bea lelang pembeli, bea
lelang penjual dan PPh pasal 4 sebesar Rp561.470.000,00 ke Kas Negara pada
tanggal 07 Desember 2009. KPKNL Jakarta I baru melimpahkan hasil bersih lelang

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 10 dari 49


sebesar Rp7.539.740.000,00 ke rekening Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (Rek. Bank
Mandiri Cabang Gajah Mada No. 121-00-9601012-3) pada tanggal 01 Februari 2010,
selanjutnya disetorkan oleh bendahara penerima Kejari Jakarta Pusat ke Kas Negara
pada tanggal 10 Februari 2010.
Hal ini menunjukkan adanya pengendapan hasil bersih lelang sebesar
Rp7.539.740.000,00 dalam rekening KPKNL Jakarta I (Rek. Bank BNI Capem Pasar
Senen No.10541039) selama kurang lebih 2 bulan (26 November 2009 s.d. 01
Februari 2010).
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No. 20 Tahun 1997 tentang PNBP Pasal 4 menyatakan bahwa seluruh
Penerimaan Negara Bukan Pajak wajib disetor langsung secepatnya ke Kas Negara.
b. Keppres No. 72 Tahun 2004 tentang perubahan atas Keppres No.42 tahun 2002
tentang Pedoman Pelaksanaan APBN:
1) Pasal 8 ayat (1) antara lain menyatakan departemen wajib mengadakan
intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang menjadi wewenang dan
tanggung jawabnya.
2) Pasal 20 ayat (1) menetapkan bahwa orang atau badan yang melakukan pungutan
atau penerimaan uang negara wajib menyetor seluruh penerimaan dalam waktu 1
(satu) hari kerja setelah penerimaannya ke rekening Kas Negara pada Bank
pemerintah atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
c. Keputusan Jaksa Agung RI No. Kep-089/JA/8/1988 tanggal 5 Agustus 1988 jo. Surat
Edaran No. SE-03/B/B.5/8/1998 tanggal 6 Agustus 1998 tentang Penyelesaian
Barang atau Uang Rampasan disebutkan bahwa setiap barang atau uang dari suatu
perkara yang putusan pengadilannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dalam
tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diterima sudah harus
dilimpahkan penanganannya oleh Bidang yang menangani sebelum menjadi barang
atau uang rampasan dhi. Seksi Pidum kepada bidang yang berwenang untuk
menyelesaikannya dhi. Subag Bin.
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari uang rampasan belum diterima
oleh negara minimal sebesar Rp4.452.325.097,85 dan US$5.000 serta belum diterima
oleh Bank Bukopin Cabang Makassar sebesar Rp6.970.000,00 atau seluruhnya
minimal Rp4.459.295.097,85 (Rp4.452.325.097,85 + Rp6.970.000,00) dan
US$5.000,00. Selain itu, akun pendapatan ditangguhkan dalam neraca Kejaksaan RI
per 31 Desember 2009 kurang saji minimal Rp4.499.325.097,80.
b. Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari uang rampasan minimal sebesar
Rp7.657.664.400,00 terlambat diterima oleh Negara.
c. Pendapatan minimal sebesar Rp7.585.593.000,00 belum disajikan ke dalam akun
Pendapatan Ditangguhkan dalam Neraca Kejari Jakpus, Kejari Batam, Kejari
Tanjung Balai Karimun per 31 Desember 2009.
d. Saldo Kas Lain di Bendahara Pengeluaran kurang disajikan sebesar Rp17.872.500,00
di Neraca Kejari Batam dan Rp27.980.500,00 di Neraca Kejari Tanjung Balai
Karimun per 31 Desember 2009.
e. Terdapat potensi kekurangan penerimaan negara atas denda tilang bulan Januari dan
Februari 2009 pada Kejari Maros.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 11 dari 49


Hal tersebut disebabkan:
a. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan Bendahara Khusus Penerima (BKP) lalai dan
mengabaikan ketentuan tentang kewajiban penyetoran uang rampasan ke Kas Negara
secara tepat waktu.
b. Lemahnya pengawasan atasan langsung para JPU dan BKP terkait dengan eksekusi
barang dan uang rampasan yang telah berkekuatan hukum tetap.
c. Lemahnya koordinasi antara panitia lelang barang rampasan pada Kejari Pusat
dengan KPKNL Jakarta I dalam hal pelimpahan hasil bersih lelang setelah
pelaksanaan lelang.
d. Lemahnya pengawasan atasan langsung dan pengendalian intern dalam pengelolaan
tilang dimana terjadi perangkapan jabatan antara petugas tilang dan bendahara khusus
penerima pada Kejari Belopa dan Maros.
e. Bendahara Khusus Penerima pada Kejari Belopa kurang memahami mekanisme
penyetoran denda tilang dan hanya mengikuti kebiasaan dari pendahulunya.
Atas masalah tersebut Kejaksaan RI memberikan tanggapan sebagai berikut:
a. Telah dilakukan penyetoran ke kas negara pendapatan uang rampasan pada Kejari
Palopo, Maros, Majalengka, Batu, dan Kediri masing-masing sebesar
Rp1.190.300,00, Rp6.970.000,00 (c.q. Bank Bukopin), Rp1.348.000,00,
Rp380.000,00, dan Rp11.069.500,00.
b. Sedangkan uang rampasan sebesar Rp46.224.100,00 pada Rekening Taplus BNI
Cabang Mattoangin No. Rek. 248-000045686.901 belum dieksekusi. Kejari Maros
sedang melakukan koordinasi dengan BNI Cabang Mattoangin untuk mengetahui
apakah uang rampasan tersebut masih ada.
c. Penitipan denda tilang melalui BRI pada Kejari Belopa sebesar Rp19.324.000,00
telah dilimpahkan ke kas negara pada tanggal 10 Maret 2010 dengan dilengkapi
dengan dokumen pertanggungjawaban (SSBP dan Rek Koran).
d. Jasa Giro pada Kejari Situbondo sebesar Rp48.919,00 telah disetorkan ke kas negara
dengan dilengkapi bukti setor (SSBP).
e. Telah dikeluarkan Surat Perintah Kepala Kejari Belopa untuk menunjuk petugas
tilang, petugas uang/barang rampasan, dan bendahara penerima, sehingga tidak
terdapat lagi perangkapan jabatan.
f. Segera melakukan supervisi terhadap jaksa-jaksa yang menangani perkara untuk
melakukan pembenahan administrasi perkara sesuai prosedur dan segera
menyetorkan uang rampasan ke BKP, selanjutnya ke Kas Negara.
g. Kejati DKI Jakarta akan segera mengirimkan surat permohonan kepada Biro
Keuangan Kejagung RI untuk menyetorkan uang pengganti atas nama terpidana
Hendra Raharja senilai Rp4.193.477.554,00 yang masih tersimpan di rekening
penitipan Kejagung RI.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Kajati Sulsel, Jatim, dan DKI Jakarta untuk menginstruksikan Kajari Makassar,
Surabaya, Batu, Kediri, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur,
dan Jakarta Utara untuk segera menyetorkan pendapatan berupa uang rampasan,
denda tilang, dan jasa giro sebesar Rp4.418.964.378,85 (Rp197.303.024,85 +
Rp1.803.000,00 + Rp105.000,00 + Rp397.000,00 + Rp4.193.477.554,00 +
Rp7.103.800,00 + Rp1.883.000,00 + Rp270.000,00 + Rp16.622.000,00) dan
USD5,000.00 ke Kas Negara. Selanjutnya menyampaikan bukti setoran ke BPK RI.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 12 dari 49


b. Jambin untuk menginstruksikan Asbin Kejati DKI Jakarta dan Kepulauan Riau serta
Kasubagbin Kejari Jakarta Pusat, Batam, dan Tanjung Balai Karimun agar melakukan
koreksi/penyesuaian atas akun Pendapatan Ditangguhkan dan Kas Lain di Bendahara
Pengeluaran dalam Neraca masing-masing satker tersebut sesuai dengan temuan BPK
RI.
c. Kajati Sulsel untuk menginstruksikan Kajari Maros meminta pertanggungjawaban
pendapatan denda tilang bulan Januari – Pebruari 2010 dari Sdr. Tri Meilartomo dan
menyetorkan uang rampasan yang ada di Bank BNI Cabang Mattoangin ke kas
negara. Selanjutnya menyampaikan bukti pertanggungjawaban dan bukti setor
tersebut ke BPK RI.
d. Kajati Jawa Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta untuk menginstruksikan Kajari
Banjar, Sumedang, Bogor, Bekasi, Cikarang, Batam, Tanjung Balai Karimun, Jakarta
Pusat agar mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada
para jaksa, petugas tilang, dan bendahara khusus penerima masing-masing yang lalai
dan mengabaikan ketentuan kewajiban penyetoran ke Kas Negara secara tepat waktu.
Selain itu, agar di masa mendatang lebih meningkatkan pengawasan atas ketepatan
waktu penyetoran uang ke Kas Negara.

1.1.2 Pemungutan Sewa Rumah Dinas dalam Pengelolaan Kejaksaan RI TA 2009


Belum Intensif dan Sebagian Besar Rumah Dinas Dihuni oleh Pihak yang
Tidak Berhak
Dalam Surat Keputusan tentang Ijin Menempati Rumah Dinas disebutkan bahwa
pegawai berwenang menghuni rumah dinas dengan membayar sewa rumah dinas. Ijin
penghunian ini akan berakhir bilamana yang bersangkutan tidak memenuhi ketentuan
yang berlaku untuk menempati rumah dinas antara lain pejabat yang lebih berkuasa
(Eselon III) dimutasi, atau yang bersangkutan diberhentikan dari kejaksaan, pensiun, dan
meninggal dunia selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkan
surat pencabutan, sudah harus meninggalkan rumah tersebut.
Selama ini pemungutan sewa rumah dinas kepada para penghuni dilakukan
melalui dua mekanisme, berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung Nomor: SE-
01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret 2003 yaitu:
1) Bagi penghuni yang masih aktif sebagai pejabat/pegawai langsung dipotong melalui
SPM gaji setiap bulannya.
2) Bagi para pensiunan yang masih menghuni rumah dinas setiap bulan langsung
menyetorkan sewa rumah dinas ke Kas Negara melalui bank persepsi dengan
membuat Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). Selanjutnya SSBP tersebut
disampaikan kepada Bendahara Khusus Penerimaan untuk dilaporkan sebagai salah
satu PNBP kejaksaan.
Akan tetapi, di lingkungan Kejaksaan RI masih terdapat sebagian rumah dinas
yang dihuni oleh pihak yang tidak berhak lagi untuk menempati rumah dinas tersebut dan
masih terdapat beberapa pegawai yang masih aktif yang menempati rumah dinas tetapi
tidak dipotong sewa rumah dinasnya.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pendapatan sewa rumah dinas pada Kejati
Sulawesi Selatan, Kejati Kepulauan Riau, Kejati Jawa Timur, Kejati Jawa Barat, Kejati
DKI Jakarta, Kejari Ujung Pandang, Kejari Pangkajene, Kejari Barru, Kejari Palopo,
Kejari Belopa, Kejari Maros, Kejari Batam, Kejari Tanjung Balai Karimun, Cabjari

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 13 dari 49


Moro, Kejari Tanjung Pinang, Kejari Situbondo, Kejari Kediri, Kejari Lamongan, Kejari
Magetan, Kejari Malang, Kejari Batu, Kejari Surabaya, Kejari Bandung, Kejari Banjar,
Kejari Majalengka, Kejari Subang, Kejari Sumedang, Kejari Bogor, Kejari Cikarang,
Kejari Bekasi, Kejari Jakarta Selatan, Kejari Jakarta Pusat, Kejari Jakarta Barat, Kejari
Jakarta Utara, dan Kejari Jakarta Timur diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Kejati Sulawesi Selatan
Terdapat 36 rumah dinas, antara lain:
1) 18 rumah dinas dihuni oleh pegawai aktif, 1 orang diantaranya pegawai an. Yusuf
menghuni rumah dinas Kejati tetapi ditempatkan dan dipotong gajinya di Kejari
Makassar.
2) 17 rumah dinas dihuni oleh pihak yang tidak berhak (pensiun).
3) 1 rumah dinas tidak ditempati.
Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejati Sulawesi Selatan Tahun 2009
adalah sebesar Rp16.285.968,00. Namun berdasarkan data berupa SSBP dan
SPM/SP2D, diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama
Tahun 2009 hanya sebesar Rp7.441.508,00, serta terdapat pemotongan gaji di Kejari
Makassar an. Yusuf selama 1 tahun sebesar Rp342.144,00. Sehingga terdapat
tunggakan atas sewa rumah dinas untuk TA 2009 sebesar Rp8.502.316,00, yaitu
sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
B 9 9 68.428,00 12 7.390.224,00
D 27 26 28.512,00 12 8.895.744,00
Jumlah 36 35 16.285.968,00 7.783.652,00 8.502.316,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

b. Kejari Makassar
Terdapat 6 rumah dinas, antara lain:
1) 4 rumah dinas dihuni oleh pegawai aktif, 1 orang diantaranya pegawai an.
Hamsiah Latief, SH ditempatkan di Kejati Sulsel.
2) 2 rumah dinas dihuni oleh pihak yang tidak berhak (pensiun).
Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Makassar Tahun 2009 adalah
sebesar Rp3.216.096,00. Namun berdasarkan data pemotongan gaji melalui
SPM/SP2D, diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama
Tahun 2009 sebesar Rp1.707.120,00 (Rp2.049.264,00 - Rp342.144,00 (potongan
sewa rumah dinas Kejati Sulsel yang dipotong di Kejari Makassar an. Yusuf)),
sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah dinas untuk TA 2009 sebesar
Rp1.508.976,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
B 1 1 68.428,00 12 821.136,00
C 5 5 39.916,00 12 2.394.960,00
Jumlah 6 6 3.216.096,00 1.707.120,00 1.508.976,00

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 14 dari 49


Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

c. Kejari Pangkep
Terdapat 4 rumah dinas dihuni oleh pegawai aktif, akan tetapi pemotongan sewa
rumah dinas belum optimal. Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari
Pangkep Tahun 2009 adalah sebesar Rp1.642.272,00. Namun berdasarkan data
pemotongan gaji melalui SPM/SP2D, diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa
rumah dinas selama Tahun 2009 sebesar Rp80.000,00, sehingga terdapat tunggakan
atas sewa rumah dinas untuk TA 2009 sebesar Rp1.562.272,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
C 2 2 39.916,00 12 957.984,00
D 2 2 28.512,00 12 684.288,00
Jumlah 4 4 1.642.272,00 80.000,00 1.562.272,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

d. Kejari Palopo
Terdapat 7 rumah dinas dan 2 mess (tanpa SK Ijin Penghunian) dihuni oleh pegawai
aktif. Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Palopo Tahun 2009 adalah
sebesar Rp3.352.992,00. Namun berdasarkan data pemotongan gaji melalui
SPM/SP2D, diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama
Tahun 2009 sebesar Rp2.472.096,00, sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah
dinas untuk TA 2009 sebesar Rp880.896,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
C 2 2 39.916,00 12 957.984,00
D 7 7 28.512,00 12 2.395.008,00
Jumlah 9 9 3.352.992,00 2.472.096,00 880.896,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

e. Kejari Belopa
Terdapat 9 rumah dinas (8 rumah dinas baru dihuni mulai 1 Juli 2009) dihuni oleh
pegawai aktif. Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Belopa Tahun 2009
adalah sebesar Rp1.984.416,00. Namun berdasarkan data pemotongan gaji melalui
SPM/SP2D, diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama
Tahun 2009 sebesar Rp872.460,00, sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah
dinas untuk TA 2009 sebesar Rp1.111.956,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
C 1 1 39.916,00 12 478.992,00
2 2 39.916,00 6 478.992,00
D 6 6 28.512,00 6 1.026.432,00

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 15 dari 49


Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
Jumlah 9 9 1.984.416,00 872.460,00 1.111.956,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

f. Kejari Maros
Terdapat 2 rumah dinas dan 1 mess (kantor kerja lama) dihuni oleh pegawai aktif.
Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Belopa Tahun 2009 adalah sebesar
Rp1.642.272,00. Namun tidak pernah dilakukan pemotongan gaji untuk membayar
sewa rumah dinas selama Tahun 2009, sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah
dinas untuk TA 2009 sebesar Rp1.642.272,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
B 1 1 68.428,00 12 821.136,00
C 1 1 39.916,00 12 478.992,00
D 1 1 28.512,00 12 342.144,00
Jumlah 3 3 1.642.272,00 0,00 1.642.272,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

g. Kejari Situbondo
Terdapat 4 (empat) rumah dinas dan 1 (satu) kantor lama yang ditempati oleh
pegawai aktif (1 rumah dinas tipe D diantaranya hanya ditempati selama 2 bulan di
Tahun 2009 karena yang bersangkutan mutasi dan selanjutnya rumah dinas kosong).
Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Situbondo Tahun 2009 adalah
sebesar Rp1.562.448,00. Namun berdasarkan data pemotongan gaji melalui
SPM/SP2D, diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama
Tahun 2009 hanya sebesar Rp777.775,00, sehingga terdapat tunggakan atas sewa
rumah dinas untuk TA 2009 sebesar Rp784.673,00, dengan rincian perhitungan
sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8=(6-7)
C 1 1 39.916,00 12 478.992,00
D 3 3 28.512,00 12 1.026.432,00
D 1 1 28.512,00 2 57.024,00
Jumlah 5 5 1.562.448,00 777.775,00 784.673,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

h. Kejari Malang
Terdapat 3 rumah dinas, antara lain:
a. 1 (satu) rumah dinas dihuni oleh pegawai aktif tetapi hanya dihuni selama 7
bulan di Tahun 2009 yaitu Januari s.d Maret 2009 dan September s.d Desember
2009.
b. 2 (dua) rumah dinas tidak dihuni karena dalam keadaan rusak sedang dan berat.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 16 dari 49


Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Malang Tahun 2009 adalah sebesar
Rp279.412,00. Namun berdasarkan data pemotongan gaji melalui SPM/SP2D,
diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama Tahun 2009
hanya sebesar Rp125.566,00, sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah dinas
untuk TA 2009 sebesar Rp153.846,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8(6-7)
C 1 1 39.916,00 7 279.412,00
D 2 0 28.512,00 7 0,00
Jumlah 3 1 279.412,00 125.566,00 153.846,00

Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

i. Kejari Kediri
Terdapat 1 rumah dinas yang dihuni oleh pegawai aktif, akan tetapi pemotongan sewa
rumah dinas belum optimal. Potensi penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Kediri
Tahun 2009 adalah sebesar Rp821.136,00. Namun berdasarkan data pemotongan gaji
melalui SPM/SP2D diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas
selama Tahun 2009 hanya sebesar Rp129.600,00, sehingga terdapat tunggakan atas
sewa rumah dinas untuk TA 2009 sebesar Rp691.536,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8(6-7)
B 1 1 68.428,00 12 821.136,00
Jumlah 1 1 821.136,00 129.600,00 691.536,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

j. Kejari Magetan
Terdapat 1 rumah dinas yang dihuni oleh pegawai aktif, akan tetapi hanya dihuni
selama 11 bulan di Tahun 2009 karena rumah kosong pada bulan Maret 2009. Potensi
penerimaan dari sewa rumah dinas Kejari Magetan Tahun 2009 adalah sebesar
Rp439.076,00. Namun berdasarkan data pemotongan gaji melalui SPM/SP2D,
diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama Tahun 2009
sebesar Rp399.160,00, sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah dinas untuk TA
2009 sebesar Rp39.916,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8(6-7)
C 1 1 39.916,00 11 439.076,00
Jumlah 1 1 439.076,00 399.160,00 39.916,00

Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 17 dari 49


k. Kejari Lamongan
Terdapat 6 rumah dinas, 1 rumah dinas diantaranya hanya ditempati selama 7 bulan
di Tahun 2009 dari bulan Januari sampai Juni 2009. Potensi penerimaan dari sewa
rumah dinas Kejari Lamongan Tahun 2009 adalah sebesar Rp3.016.516,00. Namun
berdasarkan data pemotongan gaji melalui SPM/SP2D dan pembayaran melalui
SSBP, diketahui bahwa jumlah penerimaan dari sewa rumah dinas selama Tahun
2009 hanya sebesar Rp2.522.400,00, sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah
dinas untuk TA 2009 sebesar Rp494.116,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8(6-7)
B 1 1 68.428,00 12 821.136,00
C 4 4 39.916,00 12 1.915.968,00
C 1 1 39.916,00 7 279.412,00
Jumlah 6 6 3.016.516,00 2.522.400,00 494.116,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

l. Kejari Surabaya
Terdapat 4 rumah dinas dihuni oleh pegawai aktif. Potensi penerimaan dari sewa
rumah dinas Kejari Surabaya Tahun 2009 adalah sebesar Rp1.505.424,00. Namun
berdasarkan data pemotongan gaji melalui SPM/SP2D, diketahui bahwa jumlah
penerimaan dari sewa rumah dinas selama Tahun 2009 hanya sebesar Rp861.024,00,
sehingga terdapat tunggakan atas sewa rumah dinas untuk TA 2009 sebesar
Rp644.400,00, yaitu sebagai berikut:
Jumlah Rumah Potensi Penerimaan Tunggakan
Type Tarif *) Bulan
Tersedia Dihuni (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6=(3X4X5) 7 8(6-7)
C 1 1 39.916,00 12 478.992,00
D 3 3 28.512,00 12 1.026.432,00
Jumlah 4 4 1.505.424,00 861.024,00 644.400,00
Catatan:
*) Tarif sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Plh. Jambin Nomor SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret
2003.

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1994 tentang Rumah Negara Pasal 1 ayat (6)
menetapkan bahwa Rumah Negara Gol. II adalah Rumah Negara yang mempunyai
hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari satu instansi dan hanya disediakan untuk
didiami oleh pegawai negeri dan apabila telah berhenti atau pensiun dikembalikan
kepada negara.
b. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 8 ayat (1) menyatakan
antara lain bahwa Departemen/Lembaga wajib mengintensifkan pemungutan sewa
penggunaan barang-barang milik negara.
c. Tarif sewa Rumah Negara Kejaksaan berdasarkan SE Plh. Jaksa Agung Muda
Pembinaan No. SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret 2003 untuk setiap bulan
adalah sebagai berikut :

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 18 dari 49


a. Tipe A sebesar Rp142.560,00
b. Tipe B sebesar Rp68.428,00
c. Tipe C sebesar Rp39.916,00
d. Tipe D sebesar Rp28.512,00
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari sewa rumah dinas tahun
2009 kurang minimal sebesar Rp18.017.175,00.
b. Pegawai yang masih aktif berdinas di kejaksaan kehilangan kesempatan untuk
menempati rumah dinas yang ada.
Hal tersebut disebabkan:
a. Kelemahan dalam mekanisme pemungutan sewa rumah dinas kejaksaan, khusus
untuk para pensiunan dimana pembayaran ke Kas Negara diserahkan sepenuhnya
kepada kesadaran para pensiunan. Di sisi lain, tidak ada pegawai di lingkungan
kejaksaan yang ditugaskan khusus untuk memastikan bahwa para pensiunan dan
keluarga almarhum pensiunan tersebut telah melaksanakan kewajibannya.
b. Sub Bagian Pembinaan Kejari-Kejari di lingkungan Kejaksaan RI tidak
melaksanakan ketentuan tentang rumah negara untuk para pegawai yang telah
pensiun.
c. Perbedaan dasar penetapan tarif sewa rumah dinas di lingkungan Kejaksaan.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menanggapi bahwa sepakat dengan
temuan BPK RI dan selanjutnya akan menindaklanjuti dengan melakukan penagihan
kepada yang bersangkutan dan tunggakan tersebut akan segera disetor ke Kas Negara.
Kejari Makassar telah memberikan surat untuk mengosongkan tiga rumah dinas, tetapi
belum ada respon dari penghuninya.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Para Kajati untuk menginstruksikan para Kajari di wilayah masing-masing agar
melakukan penagihan kekurangan pembayaran sewa rumah dinas sesuai dengan
temuan BPK RI dan menyetorkan ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setoran
disampaikan ke BPK RI.
b. Jambin untuk memberikan sosialisasi mengenai mekanisme pemungutan sewa rumah
dinas (terutama untuk para pensiunan) dan ketentuan tarif sewa Rumah Negara
Kejaksaan RI kepada seluruh Asbin dan Kasubagbin di lingkungan Kejaksaan agar
terdapat kesamaan perlakuan dan pengenaan tarif.

1.2 Belanja
1.2.1 Terdapat Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp130.086.164,00 dalam
Pelaksanaan Pekerjaan Fisik di Lingkungan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat,
Jawa Timur, Kejati Sulsel, dan Kejati DKI Jakarta
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas dokumen pertanggungjawaban keuangan
atas realisasi anggaran belanja modal Tahun 2009 pada satuan kerja di lingkungan Kejati
Jawa Barat, Kejati Jawa Timur, Kejati Sulsel dan Kejati DKI menunjukkan adanya
pelaksanaan pekerjaan pembangunan, perluasan dan renovasi fisik dengan total nilai
pekerjaan sebesar Rp12.533.558.000,00 dengan rincian sebagai berikut:

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 19 dari 49


No Satker Pekerjaan Pelaksana Nilai (Rp)
Kejati Jawa Barat
1 Kejati Jabar Pembangunan sarana dan PT Kartika Jaya Sentosa 2.166.560.000,00
prasarana lingkungan
2 Kejari Subang Rehabilitasi/perluasan gedung PT Vincent Guna Abadi 809.000.000,00
kantor
3 Kejari Banjar Renovasi gedung kantor Tahap I CV Renata 989.727.000,00
4 Kejari Rehabilitasi/perluasan gedung PT Tri Mustika Abadi 855.000.000,00
Majalengka kantor
5 Kejari Rehabilitasi/perluasan gedung PT Surya Persada 1.006.796.000,00
Sumedang kantor Mandiri
Sub Jumlah Kejati Jabar 5.827.083.000,00
Kejati Jawa Timur
1 Kejari Batu Pembangunan sarana dan CV Cipta Indoraya 140.280.000,00
prasarana gedung kantor
2 Kejari Kediri Pemeliharaan gedung kantor CV Swastika 48.786.000,00
3 Kejari Pembangunan gedung kantor- PT Citra Samudra 1.421.149.000,00
Lamongan Tahap II Perkasa
Sub Jumlah Kejati Jatim 1.610.215.000,00
Kejati Sulsel
1 Kejari Barru Pembangunan gedung kantor PT Republika 1.392.966.000,00
Nusantara Permai
2 Kejari Belopa
Pembangunan talud/pagar keliling CV Syuhada Konstruksi 678.033.000,00
gedung kantor Nusantara
3 Kejari Palopo Pembangunan gedung kantor CV Wiswaji 834.228.000,00
Sub Jumlah Kejati Sulsel 2.905.227.000,00
Kejati DKI
Jakarta
1 Kejati DKI Rehabilitasi rumdin wakajati dan CV Polawes Raya 1.293.020.000,00
asisten
2 Kejati DKI Rehabilitasi jaringan listrik CV Anifer Pradanaputri 898.013.000,00
gedung kantor
Sub Jumlah Kejati DKI Jakarta 2.191.033.000,00
TOTAL 12.533.558.000,00

Hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Tim BPK RI bersama-sama dengan
pejabat pembuat komitmen, konsultan pengawas, dan rekanan pelaksana secara uji petik
terhadap beberapa item pekerjaan menunjukkan adanya kekurangan volume pekerjaan
dibandingkan dengan yang disepakati dalam kontrak dengan jumlah seluruhnya sebesar
Rp130.086.164,00 dengan rincian sebagai berikut:
No. SATKER JUMLAH (Rp)
KEJATI JABAR
1. Kejati Jawa Barat 17.190.000,00
2. Kejari Subang 11.235.215,00
3. Kejari Banjar 6.179.299,00
4. Kejari Majalengka 14.395.100,00
5. Kejari Sumedang 13.952.250,00
Sub Total Kejati Jabar 62.951.864,00
KEJATI JATIM
1. Kejari Batu 1.110.800,00
2. Kejari Kediri 4.080.000,00
3. Kejari Lamongan 4.308.700,00
Sub Total Kejati Jatim 9.499.500,00
KEJATI SULSEL
1. Kejari Barru 23.974.000,00

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 20 dari 49


No. SATKER JUMLAH (Rp)
2. Kejari Belopa 14.047.300,00
3. Kejari Palopo 6.283.800,00
Sub Total Kejati Sulsel 44.305.100,00
1. Kejati DKI 13.329.700,00
TOTAL 130.086.164,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
pemerintah Tahun 2003:
1) Pasal 5 (f) menyebutkan bahwa pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa, dan
para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus
mematuhi etika untuk menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan
kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.
2) Pasal 36 ayat (3) menetapkan bahwa pengguna barang/jasa menerima penyerahan
pekerjaan setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
kontrak.
b. Keppres No. 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran dan
Pendapatan Belanja Negara pasal 12:
1) Ayat (1) menetapkan bahwa pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan atas
prinsip-prinsip antara lain hemat, tidak mewah, efisien, dan sesuai dengan
kebutuhan teknis yang disyaratkan.
2) Ayat (2) bahwa belanja atas beban anggaran belanja negara dilakukan
berdasarkan atas hak dan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran.
Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kelebihan pembayaran pada pelaksanaan
pekerjaan pembangunan/rehabilitasi gedung kantor dan rumah dinas pada satker di
lingkungan Kejati Jabar, Kejati Jatim, Kejati Sulsel, dan Kejati DKI dengan total nilai
sebesar Rp130.086.164,00.
Hal tersebut disebabkan oleh:
a. Kelalaian kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan RAB
yang disepakati dalam kontrak.
b. Konsultan Pengawas lalai dan tidak cermat dalam mengawasi pelaksanaan pekerjaan
kontraktor.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menanggapi bahwa sepakat dengan
temuan BPK RI dan selanjutnya akan menindaklanjuti dengan meminta
pertanggungjawaban kepada para rekanan pelaksana pekerjaan dan menyetorkan
kelebihan pembayaran tersebut ke Kas Negara.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Kajati Jabar,
Jatim, Sulsel, dan DKI Jakarta untuk menginstruksikan:
a. Asbin Kejati Jabar, Asbin Kejati DKI Jakarta, Kajari Subang, Banjar, Majalengka,
Sumedang, Batu, Kediri, Lamongan, Barru, Belopa, dan Palopo untuk menagih
kelebihan pembayaran kepada para rekanan pelaksana pekerjaan sesuai dengan
temuan BPK RI dan menyetorkannya ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setoran
disampaikan ke BPK RI.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 21 dari 49


b. Para Kajari tersebut untuk menegur konsultan pengawas pekerjaan yang lalai dan
tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya.

1.2.2 PPh Pasal 21 Sebesar Rp644.035.200,00 atas Honorarium Tim Jaksa Pada
Beberapa Satuan Kerja pada Kejati DKI Jakarta, Jawa Timur, dan
Sulawesi Selatan Belum Dipungut
Untuk penanganan perkara pidana umum, pidana khusus, intelijen serta perdata
dan tata usaha negara, setiap satuan kerja pada Kejaksaan RI mendapatkan alokasi
anggaran Belanja Barang Non Operasional Lainnya (MAK 521219). Belanja Barang Non
Operasional Lainnya terdiri dari Biaya (Honorarium) Tim Jaksa, Biaya Tim Administrasi,
Biaya Ekspose Perkara, dan Biaya Pemberkasan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan secara uji petik pada Kejati DKI Jakarta, Jawa
Timur, Sulawesi Selatan, dan kejari-kejari di masing-masing Kejati diketahui terdapat
pembayaran honorarium tim jaksa TA 2009 yang belum dipotong Pajak Penghasilan
(PPh) pasal 21 dengan jumlah sebesar Rp644.035.200,00, dengan rincian sebagai berikut:
SATKER JUMLAH HONOR (Rp) JUMLAH PPh (Rp)
Kejati DKI Jakarta
Kejati DKI Jakarta 1.870.963.000,00 280.644.450,00
Kejari Jaktim 679.500.000,00 101.925.000,00
Kejari Jakut 669.000.000,00 100.350.000,00
Sub Total Kejati DKI Jakarta 3.219.463.000,00 482.919.450,00
Kejati Jawa Timur
Kejari Malang 223.500.000,00 33.525.000,00
Kejari Batu 87.000.000,00 13.050.000,00
Kejari Magetan 58.500.000,00 8.775.000,00
Sub Total Kejati Jatim 369.000.000,00 55.350.000,00
Kejati Sulawesi Selatan
Kejari Pangkep 183.355.000,00 27.503.250,00
Kejari Makassar 228.500.000,00 34.275.000,00
Kejari Maros *) 104.250.000,00 15.637.500,00
Kejari Barru 189.000.000,00 28.350.000,00
Sub Total Kejati Sulsel 705.105.000,00 105.765.750,00
TOTAL 4.293.568.000,00 644.035.200,00
*) Untuk Kejari Maros baru 11 (sebelas) dari total 21 (dua puluh satu) SP2D dengan MAK 521219 yang bisa diperlihatkan
kepada Tim BPK RI pada saat pemeriksaan pada tanggal 1 Maret 2010.

Rincian penerima honor dan kewajiban PPh pasal 21 untuk setiap penerima pada
Lampiran 1.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.05/2008 Tentang Tata Cara
Penatausahaan Dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara
Kementerian Negara/Lembaga/ Kantor/Satuan Kerja Pasal 3 ayat (15) menetapkan
bahwa dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja, PA/Kuasa PA dan/atau
Bendahara Pengeluaran merupakan wajib pungut dan wajib menyetorkan seluruh
penerimaan yang dipungutnya dalam jangka waktu sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
b. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-545/PJ/2000 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 22 dari 49


Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi Pasal 15
menetapkan bahwa tarif sebesar 15% dan bersifat final diterapkan atas penghasilan
bruto berupa honorarium dan imbalan lain dengan nama dan dalam bentuk apapun
yang diterima oleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI/POLRI yang
sumber dananya berasal dari Keuangan Negara atau Keuangan Daerah, kecuali yang
dibayarkan kepada Pegawai Negeri Sipil golongan II/d ke bawah dan anggota
TNI/POLRI berpangkat Pembantu Letnan Satu ke bawah atau Ajun Inspektur Tingkat
Satu ke bawah.
Hal tersebut mengakibatkan kekurangan penerimaan negara yang berasal dari
pemungutan PPh Pasal 21 atas pembayaran honorarium kepada para jaksa pada Kejati
DKI Jakarta, Kejari Jakarta Timur, Jakarta Utara, Malang, Batu, Magetan, Pangkep,
Makassar, Barru, dan Maros TA 2009 sebesar Rp644.035.200,00.
Hal tersebut disebabkan Bendahara Pengeluaran pada Kejati DKI Jakarta, Kejari
Jakarta Timur, Jakarta Utara, Malang, Batu, Magetan, Pangkep, Makassar, Barru, dan
Maros lalai tidak memungut/memotong PPh Pasal 21 atas honorarium yang dibiayai dari
APBN sesuai ketentuan.
Atas permasalahan tersebut, Asisten Pembinaan (Asbin) Jawa Timur menjelaskan
bahwa kekurangan pembayaran PPh Pasal 21 akan disetor ke Kas Negara. Asbin Kejati
DKI Jakarta menyatakan akan menanyakan kepada KPPN Jakarta V tentang perbedaan
kebijakan dan persepsi tentang pemotongan PPh Pasal 21 atas belanja barang non
operasional Tim Jaksa, sedangkan Asbin Kejati Sulawesi Selatan menanggapi bahwa
Kejari yang bersangkutan tidak melakukan pemotongan pajak karena MAK 521219
(Belanja Barang Non Operasional Lainnya) digunakan untuk biaya operasional
penanganan perkara dan tidak digunakan sebagai pembayaran honorarium atau berupa
penghasilan/imbalan kepada Tim Jaksa dalam penanganan perkara.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Jambin untuk
berkonsultasi dengan Direktorat Jenderal Pajak mengenai kewajiban pemotongan PPh
Pasal 21 atas honorarium yang diterima oleh Tim Jaksa dalam setiap kegiatan
penanganan perkara yang sumber pembiayaannya dari APBN. Selanjutnya,
menyampaikan jawaban Ditjen Pajak ke Asbin dan Kasubagbin di seluruh Indonesia.

1.2.3 Terdapat Kelebihan Pembayaran dalam Pengadaan Optimalisasi Perangkat


Pendukung Entry Data Offline Kejaksaan Agung RI TA 2009 Senilai
Rp10.000.000,00
Pada Tahun Anggaran 2009, Pusat Informasi Data dan Statistik Kriminal
(Pusintakrim) Kejaksaan Agung Republik Indonesia telah melaksanakan pekerjaan
Pengadaan Perangkat Pendukung Entry Data Offline Kejaksaan Agung R.I yang
dituangkan dalam Surat Perjanjian Pekerjaan (Kontrak) No. SP-019/PK/09/2009 tanggal
11 September 2009 dengan pelaksana PT. Transitel Nusantara senilai
Rp1.051.055.500,00. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan adalah selama 3 (tiga) bulan
terhitung sejak tanggal 11 September 2009 sampai dengan tanggal 11 Desember 2009.
Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Surat Perjanjian Pekerjaan (Kontrak)
diketahui hal-hal berikut:
a. Pemilihan penyedia barang dan jasa dilaksanakan dengan pelelangan umum
pascakualifikasi.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 23 dari 49


b. Kontrak bersifat lumpsum yaitu pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh
pekerjaan dalam batas waktu tertentu, dengan jumlah harga yang pasti dan tetap dan
semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya
ditanggung oleh penyedia barang/jasa.
c. Seluruh pekerjaan telah dinyatakan selesai 100% dan telah diserahterimakan sesuai
Berita Acara Serah Terima Barang No. 002/12/2009 tanggal 8 Desember 2009.
Pembayaran terakhir telah dilakukan dengan SPM No.01372/CU/A/LS/12/2009
tanggal 14 Desember 2009 senilai Rp149.823.184,00.
Penelaahan lebih lanjut terhadap uraian pembiayaan yang diajukan oleh
pelaksana pekerjaan menunjukkan adanya biaya adminstrasi dan pelaporan sebesar
Rp10.000.000,00 yang tidak jelas pertanggungjawabannya. Hasil klarifikasi dengan
panitia pengadaan diketahui bahwa biaya tersebut adalah untuk pengadministrasian
dokumen Berita Acara Serah Terima Perangkat Barang dan Surat Jalan Barang dari jasa
pengiriman yang seharusnya merupakan kewajiban perusahaan sehingga tidak perlu
diperhitungkan biayanya dalam kontrak.
Hal tersebut tidak sesuai dengan Keppres No. 42 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pelaksanaan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara pasal 12:
a. Ayat (1) huruf (a) hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan teknis
yang disyaratkan.
b. Ayat (2) bahwa belanja atas beban anggaran belanja negara dilakukan berdasarkan
atas hak dan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran.
Haltersebut mengakibatkan terjadinya kelebihan pembayaran dalam pekerjaan
optimalisasi perangkat pendukung entry data offline kejaksaan senilai Rp10.000.000,00
yang sebenarnya merupakan tanggungjawab atau kewajiban dari setiap rekanan pelaksana
pekerjaan.
Hal tersebut disebabkan panitia pengadaan lalai dan belum sepenuhnya
mengusahakan harga wajar atas pengadaan perangkat pendukung entry data offline
Kejaksaan Agung RI.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa sepakat dengan
temuan BPK RI dan selanjutnya rekanan pelaksana pekerjaan akan mengembalikan
kelebihan pembayaran tersebut.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Jambin untuk:
a. Menginstruksikan pejabat pembuat komitmen pekerjaan optimalisasi perangkat
pendukung entry data offline menagih kepada PT Transitel Nusantara biaya
administrasi dan pelaporan sebesar Rp10.000.000,00. Selanjutnya menyetorkan ke
kas negara dan menyampaikan bukti setor tersebut ke BPK RI.
b. Mengenakan sanksi sesuai dengan ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada
panitia pengadaan pekerjaan optimalisasi perangkat pendukung entry data offline
yang tidak cermat dalam penyusunan RAB.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 24 dari 49


1.2.4 Terdapat Ketidakhematan Biaya Konstruksi Sebesar Rp176.314.300,00
dalam Kontrak Pembangunan Gedung Parkir, Sarana Olah Raga, dan
Kantor Kejaksaan Agung
Dalam Tahun Anggaran 2009, Kejaksaan Agung RI melalui Program
Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan dan Lembaga Penegak Hukum Lainnya telah
melaksanakan Pekerjaan Pembangunan Gedung Parkir Tahap II. Metode pengadaan
dilakukan dengan penunjukan langsung kepada PT Pembangunan Perumahan (PP) yang
diikat dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Nomor. 01.3-PP/PPK-PLPGP/09/
2009 tanggal 7 September 2009. Nilai pekerjaan setelah negosiasi harga sebesar
Rp11.773.451.000,00. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 90 hari kalender
terhitung sejak tanggal 7 September 2009 sampai dengan tanggal 7 Desember 2009.
Pembayaran tahap akhir telah dilakukan sesuai dengan Berita Acara Prestasi Pekerjaan
Nomor 002/BAST/KEJAGUNG-PP/XII/2009 tanggal 1 Desember 2009 dan telah dibayar
dengan SP2D Nomor 12103556A tanggal 21 Desember 2009.
Metode penunjukan langsung ini dilaksanakan karena sifat pekerjaannya yang
secara teknis merupakan satu kesatuan konstruksi yang pertanggungannya terhadap
kegagalan tidak dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah dilaksanakan
sebelumnya.
Dari hasil evaluasi atas rencana dan anggaran biaya (RAB) yang ada dalam
kontrak diketahui bahwa harga satuan kontrak untuk pembetonan lebih tinggi dari harga
satuan yang dikeluarkan oleh Pemda DKI dengan jumlah sebesar Rp176.314.300,00
(rincian perhitungan dapat dilihat dalam Lampiran 2).
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Keppres No.42 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Pasal 12 Ayat (1) yang menyatakan bahwa Pelaksanaan Anggaran Belanja
Negara didasarkan atas prinsip-prinsip hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan
kebutuhan teknis yang disyaratkan;
b. Standar Harga Ready Mix yang dikeluarkan oleh Pemda DKI untuk pekerjaan sipil.
Hal tersebut mengakibatkan ketidakhematan pengadaan beton ready mix sebesar
Rp176.314.300,00.
Hal tersebut disebabkan:
a. Panitia pengadaan barang dan jasa tidak cermat dalam menganalisa harga penawaran
yang diajukan oleh rekanan pelaksana pekerjaan pembangunan gedung parkir.
b. Negosiasi harga yang dilakukan oleh pejabat pembuat komitmen dengan rekanan
pelaksanaan pekerjaan tidak optimal untuk mendapatkan harga yang paling
menguntungkan Negara.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa pihak panitia
pengadaan telah melakukan klarifikasi atas perbedaan pengadaan beton ready mix dengan
harga Pemda DKI. Pihak Pemda DKI menyatakan bahwa harga tersebut belum final
karena tergantung dengan harga pada saat dilakukan pelelangan. Harga pembanding dari
standar harga Pemda DKI untuk ready mix adalah harga untuk bulan Januari 2009,
sedangkan pelaksanaan kegiatan pembangunan gedung parkir dilaksanakan pada bulan
Juli 2009. Berikut juga dilampirkan harga satuan beton ready mix dari perusahaan beton
“PT Adhimix Precast Indonesia”.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 25 dari 49


BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Jambin untuk
mengenakan sanksi kepada panitia pengadaan pekerjaan pembangunan gedung parkir,
sarana olahraga, dan kantor kejagung yang tidak cermat dan optimal dalam menganalisa
harga penawaran dan melakukan negosiasi harga dengan PP.

1.2.5 Terdapat Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp17.837.600,00 Pada


Pelaksanaan Kontrak Pelatihan Administrator Data Center SIMKARI 2
Tahun 2009
Dalam rangka Optimalisasi Aplikasi Simkari-2, Kejaksaan Agung RI
mendapatkan alokasi anggaran melalui Program Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan
dan Lembaga Penegak Hukum Lainnya Kejaksaan Agung RI pada Tahun Anggaran 2009
untuk kegiatan belanja barang non operasional sebesar Rp935.953.000,00. Dari anggaran
tersebut, telah direalisasikan antara lain untuk kegiatan Pengadaan Jasa Pelatihan
Administrator Data Center Simkari-2 tahun 2009 yang dilaksanakan oleh PT. Bumindo
Konsultindo sesuai kontrak Nomor: SP – 05/PK-LEL/PDC/10/2009 tanggal 9 Oktober
2009 dengan nilai Rp808.793.700,00. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 30
hari kalender terhitung tanggal 9 Oktober 2009 sampai dengan 7 Nopember 2009.
Metode pengadaan barang/jasa yang dipilih adalah seleksi umum prakualifikasi.
Metode penyampaian dokumen penawaran dengan sistem satu sampul. Sedangkan
evaluasi penawaran dilakukan dengan Merit Point System untuk kualitas teknis dan
biaya/harga.
Pekerjaan tersebut telah selesai dilaksanakan sesuai Berita Acara Serah Terima
Pekerjaan tanggal 6 Nopember 2009 dan telah dibayar lunas melalui 2 (dua) SPM/SP2D-
LS masing-masing Nomor: 063711N tanggal 28 Oktober 2009 senilai Rp161.758.740,00
dan Nomor: 073866N tanggal 30 Nopember 2009 senilai Rp647.034.960,00.
Berdasarkan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) dalam kontrak diketahui
bahwa setiap peserta pelatihan akan memperoleh uang transportasi lokal/taksi pp. dengan
total sebesar Rp20.037.600,00 untuk 22 orang peserta. Namun berdasarkan hasil
konfirmasi kepada beberapa peserta pelatihan yang berasal dari Pusat Instakrim dan unit-
unit kerja di Kejagung RI, diperoleh penjelasan bahwa ternyata mereka hanya
memperoleh uang transport sebesar Rp100.000,00 per orang. Dengan demikian realisasi
pembayaran transport lokal kepada 22 orang peserta tersebut lebih kecil daripada yang
tertera dalam RAB sebesar Rp17.837.600,00 (Rp20.037.600,00 – (22 orang x
Rp100.000,00)).
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Pasal 5 menetapkan bahwa pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa dan para
pihak terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika antara
lain huruf f yaitu menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran
keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.
b. RAB kontrak menetapkan bahwa biaya transport lokal untuk peserta pelatihan
sebesar Rp20.037.600,00 untuk 22 orang atau Rp910.800,00/orang.
Hal tersebut mengakibatkan kelebihan pembayaran kepada PT. Bumindo
Konsultindo sebesar Rp17.837.600,00.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 26 dari 49


Hal tersebut disebabkan lemahnya pengawasan pejabat pembuat komitmen (PPK)
Program Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan dan Lembaga Penegak Hukum Lainnya
atas pelaksanaan kegiatan pelatihan administrator data center.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa alokasi biaya
tranportasi peserta pelatihan memang seharusnya diberikan sesuai RAB namun realisasi
akhirnya diberikan sebesar Rp100.000,00 dikarenakan:
a. Peserta dari Pusintakrim ditambah jumlahnya sebagaimana absensi. Dengan adanya
tambahan tersebut secara langsung memerlukan biaya akomodasi.
b. Mengingat ada beberapa peserta dari kejati yang belum mengetahui alamat Hotel
Ambara maka pelaksana diharuskan menyiapkan transportasi peserta dari 8 kejati
sebanyak 16 orang dari Bandara Soekarno Hatta ke Hotel Ambhara dan makan siang
di hotel tersebut, yang tidak dianggarkan sebelumnya.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Jambin untuk:
a. Mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada pejabat
pembuat komitmen pekerjaan pelatihan administrator data center yang tidak cermat
dalam mengawasi pelaksanaan pekerjaan.
b. Menginstruksikan pejabat pembuat komitmen pekerjaan pelatihan administrator data
center untuk menagih kelebihan pembayaran kepada PT Bumindo Konsultindo
sebesar Rp17.837.600,00 dan menyetorkan ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setoran
disampaikan kepada BPK RI.

1.2.6 Terdapat Pemecahan Paket Untuk Menghindari Pelelangan Dalam


Pengadaan Barang Inventaris Kantor Sebesar Rp1.402.678.695,00 pada Biro
Perlengkapan Kejaksaan Agung RI
Pada Tahun Anggaran 2009, Biro Perlengkapan Kejaksaan Agung RI telah
melaksanakan kegiatan belanja modal (MAK 53), antara lain untuk pengadaan barang-
barang inventaris kantor. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui SPK/Kontrak
berdasarkan revisi DIPA tanggal 22 Oktober 2009 dengan pagu anggaran sebesar
Rp1.402.750.000,00.
Dari anggaran tersebut telah direalisasikan sebesar Rp1.402.678.695,00 untuk
pengadaan barang inventaris kantor pada Sesjam Pengawasan yang dilaksanakan oleh
Biro Perlengkapan melalui 15 paket pekerjaan. Pelaksanaan pengadaan tersebut
dilakukan pada triwulan IV tahun 2009 dengan rincian sebagai berikut:
No. & No. & Tgl. Tgl. Nilai Kontrak
No Penyedia Barang/Jasa
Tgl. SPK SPM BAST (Rp)
1. 76 01178 29/10/09 CV Wildan Makmur Jaya 92.906.000,00
26/10/09 7/12/09
2. 80 01197 4/11/09 CV Wildan Makmur Jaya 93.251.400,00
30/10/09 7/12/09
3. 94 01204 2/12/09 CV Wildan Makmur Jaya 98.879.000,00
26/11/09 7/12/09
Sub Jumlah 285.036.400,00
4. 78 01174 3/11/09 CV Larangga Monca 90.519.000,00
29/10/09 7/12/09
5. 82 01206 6/11/09 CV Larangga Monca 95.856.200,00
3/11/09 7/12/09
6. 86 01170 16/11/09 CV Larangga Monca 87.165.595,00

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 27 dari 49


No. & No. & Tgl. Tgl. Nilai Kontrak
No Penyedia Barang/Jasa
Tgl. SPK SPM BAST (Rp)
11/11/09 7/12/09
7. 90 01196 24/11/09 CV Larangga Monca 89.666.650,00
19/11/09 7/12/09
8. 102 01279 10/12/09 CV Larangga Monca 98.257.500,00
7/12/09 10/12/09
Sub Jumlah 461.464.945,00
9. 84 01176 11/11/09 PT Momen Prima E 92.119.500,00
6/11/09 7/12/09
10. 92 01198 26/11/09 PT Momen Prima E 97.900.000,00
23/11/09 7/12/09
11. 100 01272 9/12/09 PT Momen Prima E 97.680.000,00
4/12/09 10/12/09
Sub Jumlah 287.699.500,00
12. 88 01195 19/11/09 PT Pinel Hasipa M 95.438.200,00
16/11/09 7/12/09
13. 104 01212 7/12/09 PT Pinel Hasipa M 97.479.800,00
9/12/09 8/12/09
Sub Jumlah 192.918.000,00
14. 96 01204 3/12/09 CV Larangga Jaya 88.000.000,00
30/11/09 7/12/09
15. 104 01338 14/12/09 CV Candra Utama 87.560.000,00
9/12/09 14/12/09
Jumlah 1.402.678.695,00

Dari tabel tersebut terlihat bahwa pekerjaan dipecah menjadi 15 paket dengan
nilai masing-masing tidak melebihi Rp100.000.000,00 yang menurut Keppres Nomor 80
Tahun 2003 merupakan batas pengadaan yang dapat menggunakan metode pemilihan
langsung dimana panitia pengadaan cukup mengundang 3 (tiga) rekanan/perusahaan
untuk mengajukan Penawaran Harga. Panitia pengadaan kemudian melakukan penelitian,
evaluasi dan negosiasi terhadap ketiga perusahaan tersebut untuk mendapatkan harga
yang terendah, wajar, dapat dipertanggungjawabkan, dan menguntungkan negara.
Selanjutnya panitia pengadaan menetapkan pemenang pengadaan peralatan Kantor/
Barang Inventaris Kantor Tahun Anggaran 2009.
Hasil pemeriksaan atas dokumen kontrak/SPK dan rincian barang inventaris
kantor yang diadakan melalui 15 (lima belas) paket tersebut menunjukkan bahwa barang
inventaris kantor tersebut bukan merupakan barang yang spesifik, mudah didapat, dan
dapat diprediksi kebutuhannya. Sehingga dalam proses pengadaan barang inventaris
kantor tersebut tidak perlu dilakukan pemecahan dalam beberapa kontrak/SPK.
Selain itu dari daftar penyedia barang/jasa yang melaksanakan pekerjaan tersebut
terlihat bahwa pemilihan penyedia barang dan jasa mengarah pada pemerataan pekerjaan
kepada 6 (enam) perusahaan.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Pasal 5 menetapkan bahwa pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa dan para
pihak terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika antara
lain huruf f yaitu menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran
keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa;

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 28 dari 49


b. Lampiran I Keppres Nomor 80 Tahun 2003 Bab I A. 1. a 3 huruf (a) menetapkan
bahwa pengguna barang/jasa (atau pejabat pembuat komitmen) dilarang memecah
pengadaan barang/jasa menjadi beberapa paket dengan maksud untuk menghindari
pelelangan.
Hal tersebut mengakibatkan harga barang inventaris kantor yang diperoleh bukan
merupakan harga yang paling menguntungkan bagi negara.
Hal tersebut disebabkan pejabat pembuat komitmen dan panitia pengadaan di
Biro Perlengkapan lalai dan tidak memperhatikan ketentuan pengadaan barang dan jasa di
lingkungan pemerintah.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa:
a. Biro Perlengkapan menerima DIPA TA 2009 yang tidak memuat MAK 53 (Belanja
Modal) untuk pengadaan barang inventaris kantor.
b. Sejak Desember 2008 s.d. Oktober 2009, permintaan barang inventaris jumlahnya
cukup banyak namun anggaran tidak tersedia dalam DIPA.
c. Pada tanggal 23 Oktober 2009, Biro Perlengkapan mendapatkan revisi DIPA untuk
pengadaan peralatan kantor.
d. Karena waktu yang sangat sempit maka pelaksanaan dari DIPA itu sifatnya untuk
membayar permintaan yang telah dilayani/diadakan terlebih dahulu
e. Harga sudah diatur dalam HPS dan didasari atas hasil penelitian dan survey di agen
dan pasaran serta buku dari Pemda DKI Jakarta. HPS ini juga digunakan sebagai HPS
pelelangan.
f. Pengadaan barang/jasa tidak selamanya harus diadakan dengan lelang mengingat
waktu yang sempit dan jasa yang dibutuhkan sangat bervariasi maka pengadaan
barang dan jasa dilaksanakan dengan pemilihan langsung bagi usaha kecil sesuai
dengan pasal 16 huruf a Keppres No. 80 Tahun 2003.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Jambin untuk
mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada pejabat pembuat
komitmen dan panitia pengadaan yang tidak menyusun harga perkiraan sendiri (HPS)
secara cermat dan tidak optimal dalam melakukan negosiasi dengan rekanan pelaksana
pekerjaan yang mengakibatkan harga barang inventaris kantor yang diperoleh bukan
merupakan harga yang paling menguntungkan bagi negara.

1.2.7 Terdapat Kelebihan Pembayaran Minimal Sebesar Rp102.125.000,00 Dalam


Pelaksanaan Pekerjaan Pemeliharaan Dan Perubahan Perangkat Lunak
Aplikasi Simkari 2
Dalam Tahun Anggaran 2009 Program Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan
dan Lembaga Penegak Hukum Lainnya telah melaksanakan Pekerjaan Pemeliharaan dan
Perubahan Perangkat Lunak Aplikasi Simkari 2 yang dilaksanakan oleh PT. Optima
Infocitra Universal sesuai Kontrak Nomor: SP-010/PK-PPKLPH/07/2009 tanggal 17 Juli
2009 dengan nilai kontrak Rp1.730.670.700,00 yang merupakan harga borongan pasti
dan tetap (lumpsum fixed price). Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 150 hari
kalender terhitung tanggal 17 Juli sampai dengan tanggal 15 Desember 2009 dengan
jaminan pemeliharaan selama 3 (tiga) bulan terhitung sejak serah terima pekerjaan.
Pekerjaan tersebut telah selesai dilaksanakan sesuai Berita Acara Serah Terima Pekerjaan
Pertama tanggal 11 Desember 2009 dan telah dibayar lunas dengan SPM/SP2D terakhir
No: 01415 tanggal 16 Desember 2009 senilai Rp553.814.624,00.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 29 dari 49


Pengadaan tersebut dilaksanakan melalui metode seleksi umum prakualifikasi.
Metode penyampaian dokumen penawaran dengan sistem dua sampul. Sedangkan
evaluasi penawaran dilakukan dengan Merit Point System untuk kualitas teknis dan
biaya/harga.
Hasil pemeriksaan uji petik terhadap dokumen kontrak dan bukti-bukti
pendukung pengeluaran biaya diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Dalam daftar personalia yang dilampirkan terdapat 8 (delapan) orang tenaga
konsultan yang statusnya dalam perusahaan adalah pegawai tetap, namun berdasarkan
SPT Tahunan PPh Pasal 21 tahun 2008 diketahui bahwa ternyata 8 orang tenaga
konsultan tersebut adalah pegawai tidak tetap.
Perhitungan biaya langsung personil untuk 8 orang tenaga konsultan tersebut dalam
RAB kontrak tidak memperhatikan ketentuan dalam Keppres 80 Tahun 2003 dan
Surat Edaran Bersama (SEB) Bappenas tahun 2000, yaitu maksimal 1,5 kali gaji
dasar. Berdasarkan hasil perhitungan Tim BPK RI terdapat kelebihan pembayaran
sebesar Rp90.125.000,00 (rincian pada lampiran 3.1).
b. Perhitungan biaya uang harian untuk 2 (dua) orang personil yang melaksanakan
perjalanan dinas ke-8 (delapan) Kejati untuk kegiatan instalasi tidak sesuai Standar
Biaya Umum Tahun 2009 yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sehingga terjadi
kelebihan pembayaran sebesar Rp12.000.000,00 (rincian pada lampiran 3.2).
c. Terdapat 5 (lima) orang tenaga konsultan yang tidak melampirkan bukti penghasilan
dikenakan PPh Pasal 21 bersifat final, sehingga biaya honorarium ke lima tenaga
konsultan tersebut tidak dapat dinilai kewajarannya yaitu:
No. Nama Jabatan
a. Gatot Mardiyanto Team Leader
b. Gerhard Simanjuntak Senior Programmer
c. Dedi Sadmaka Programmer
d. Andi Tri Handoko Programmer
e. Dinar Kania Programmer
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 64/PMK.02/2008 tanggal 29 April
2009 tentang Standar Biaya Umum Tahun 2009 halaman 12 menetapkan besaran
uang harian untuk perjalanan dinas dalam negeri ke setiap provinsi.
b. Lampiran I Keppres No. 80 tahun 2003 menyebutkan antara lain bahwa klarifikasi
dan/atau negosiasi terhadap unit biaya personil dilakukan berdasarkan daftar gaji
yang telah diaudit dan/atau bukti setor pajak penghasilan tenaga ahli konsultan yang
bersangkutan. Biaya satuan dari biaya langsung personil maksimum 3,2 (tiga koma
dua) kali gaji dasar yang diterima tenaga ahli tetap dan maksimum 1,5 (satu koma
lima) kali penghasilan yang diterima tenaga ahli tidak tetap.
c. Surat Edaran Bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri
Kauangan Nomor: 1203/D.II/03/200-SE – 38/A/2000 tanggal 17 Maret 2000 tentang
Petunjuk Penyusunan RAB untuk Jasa Konsultansi (biaya langsung personil dan non
personil).
Hal tersebut mengakibatkan kelebihan pembayaran kepada PT. Optima Infocitra
Universal minimal sebesar Rp102.125.000,00 (Rp90.125.000,00 + Rp12.000.000,00)

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 30 dari 49


Hal tersebut disebabkan:
a. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa tidak cermat dalam mengevaluasi penawaran
harga yang diajukan penyedia barang dan jasa serta belum sepenuhnya
mempedomani ketentuan yang berlaku.
b. Lemahnya pengawasan oleh PPK Program Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan
dan Lembaga Penegak Hukum Lainnya atas pelaksanaan kegiatan pengadaan barang
dan jasa.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa:
a. Penyusunan RAB oleh rekanan berdasarkan perhitungan secara propesional dengan
masing-masing kulifikasi tenaga ahli khusus di bidang teknologi informasi serta
mengacu pada harga pasar yang berlaku umum;
b. Lima orang tenaga konsultan yang tidak melampirkan bukti PPh 21 final,
berdasarkan informasi bahwa lima konsultan tersebut bukan tenaga ahli yang sifatnya
insendentil (pegawai tetap) sehingga tidak dikenakan PPh 21 final.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Jambin untuk:
a. Menginstruksikan pejabat pembuat komitmen pekerjaan pemeliharaan dan perubahan
perangkat lunak aplikasi Simkari 2 untuk menagih kelebihan pembayaran sebesar
Rp102.125.000,00 kepada PT. Optima Infocitra Universal dan menyetorkan ke Kas
Negara. Selanjutnya bukti setoran disampaikan ke BPK RI.
b. Mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada pejabat
pembuat komitmen dan panitia pengadaan yang tidak cermat dalam mengevaluasi
penawaran harga dari PT Optima Infocitra Universal. Selanjutnya di masa mendatang
agar lebih cermat dalam melaksanakan kegiatan pengadaan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

1.2.8 Harga Kontrak Pengadaan Kendaraan Tahanan Kejaksaan Agung yang


Dilaksanakan Secara Penunjukan Langsung Lebih Tinggi Sebesar
Rp1.301.425.000,00
Dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas penegakan hukum yang dilaksanakan oleh
Kejaksaan di daerah-daerah, khususnya dalam membawa tahanan, maka melalui Program
Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan dan Penegak Hukum lainnya pada tahun 2009
Kejaksaan Agung RI melalui Biro Perencanaan telah melaksanakan Pekerjaan Pengadaan
Kendaraan Tahanan sebanyak 100 unit untuk Kejaksaan Tinggi, Kejaksaan Negeri dan
Cabang Kejaksaan Negeri. Proses lelang dilakukan oleh Panitia Pengadaan Kendaraan
melalui penunjukan langsung kepada PT Astra International TBK sebagai pemegang
merk Toyota dengan pertimbangan:
a. Kendaraan tersebut teruji baik dan tahan terhadap segala kondisi jalan, terjaminnya
pelayanan purna jual dan penyediaan suku cadang di daerah-daerah serta harga
maupun pemeliharaan yang lebih terjamin.
b. Bahwa kendaraan tahanan di daerah-daerah saat ini yang telah digunakan oleh satuan
kerja Kejaksaan adalah merk Toyota yang telah digunakan sejak tahun 1990/1991
dan selama ini dapat beroperasi dengan baik.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 31 dari 49


Berdasarkan pertimbangan tersebut maka Pejabat Pembuat Komitmen menunjuk
PT. Astra International Tbk Toyota Sales Operation – GSO sebagai pelaksana pengadaan
Kendaraan Tahanan sebanyak 100 unit, termasuk pengirimannya sampai di lokasi
masing-masing Kejaksaan Tinggi, Kejaksaan Negeri dan Cabang Kejaksaan Negeri,
yaitu:
a. Chasis Toyota Kijang Dyna Rino 4 ban (kecil) sebanyak 38 unit;
b. Chasis Toyota Kijang Dyna Rino 4 ban (sedang) sejumlah 50 unit;
c. Chasis Toyota Kijang Dyna Rino 6 ban (besar) sejumlah 12 unit;
Pengadaan kendaraan tahanan tersebut dituangkan dalam Surat
Perjanjian/Kontrak Pengadaan Kendaraan Tahanan Kejaksaan Agung RI Tahun 2009 No.
SP-02/PKLPH/7/2009 tanggal 1 Juli 2009 senilai Rp29.428.475.000,00. Jangka waktu
pelaksanaan pekerjaan selama 168 hari kalender terhitung sejak tanggal 1 Juli 2009
sampai dengan tanggal 15 Desember 2009. Pelaksanaan pekerjaan tersebut telah selesai
dan telah diserahterimakan sesuai dengan Berita Acara Serah Terima Barang No.BA-
03/PKLPH/12/2009 tanggal 11 Desember 2009 dan telah dibayar lunas dengan SP2D
nomor 12101641A tanggal 17 Desember 2009.
Selanjutnya karena terdapat penambahan jumlah kendaraan tahanan sebanyak 6
unit yang terdiri dari chasis Toyota Dyna Rino 4 ban (kecil) sebanyak 4 unit dan chasis
Toyota Kijang Dyna Rino 4 ban (sedang) sebanyak 2 unit, maka dilakukan kontrak
lanjutan yang dituangkan dalam Surat Perjanjian Kontrak No. SP-07/PKLPH/12/2009
tanggal 3 Desember 2009 senilai Rp1.629.377.000,00. Jangka waktu pelaksanaan selama
28 hari kalender terhitung sejak tanggal 3 Desember 2009 sampai dengan tanggal 30
Desember 2009.
Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa harga perkiraan sendiri (HPS)
yang disusun oleh Panitia Pengadaan Kendaraan Tahanan untuk chasis, karoseri dan
biaya pengiriman ke daerah-daerah adalah sebagai berikut:

No. Type Harga Jumlah Keterangan


Chasis Karoseri (type)
1 Toyota Dyna Rino 4 Ban (kecil) 169.800.000 79.500.000 249.300.000 WU30STS
2 Toyota Dyna Rino 4 Ban (sedang) 169.800.000 131.650.000 301.450.000 WU30STS
3 Toyota Dyna Rino 6 Ban (besar) 187.400.000 134.700.000 322.100.000 WU34ETS
4 Biaya Pengiriman 100 unit 1.067.375.000

Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) tersebut adalah untuk menilai


kewajaran harga penawaran yang didasarkan atas:
a. Harga chasis kendaraan yang dikeluarkan oleh PT. Astra International Tbk selaku
agen tunggal pada bulan April 2009.
b. Permintaan harga karoseri dari 5 (lima) perusahaan yang mengajukan penawaran
dengan harga yang terendah.
c. Permintaan harga karoseri dari 5 (lima) perusahaan ekspedisi yang mengajukan
penawaran dengan harga yang terendah.
d. Surat Menko Ekuwasbang perihal pencabutan harga standar kendaraan bermotor
kategori I,II,III, Jeep dan sedan antara lain menyebutkan bahwa Pemerintah tidak lagi
menetapkan harga standar kendaraan bermotor bagi pengadaan instansi pemerintah.
Setelah dilakukan negosiasi harga kepada pelaksana pekerjaan untuk
mendapatkan harga yang menguntungkan negara, maka pihak PT. Toyota Astra

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 32 dari 49


International Tbk. menyetujui bahwa untuk harga chasis kendaraan dapat diturunkan
Rp500.000,00 untuk setiap unit, sedangkan untuk harga karoseri dan biaya pengiriman
tidak berubah.
Hasil pengecekan kepada pihak Toyota Astra International Tbk (dhi. PT. Tunas)
menunjukkan bahwa harga chasis kendaraan dalam RAB kontrak lebih tinggi sebesar
Rp1.301.425.000,00 apabila dibandingkan dengan harga kendaraan on the road plat
hitam untuk bulan April 2009 setelah dikurangi bea balik nama (BBN) sebesar 12,5%
karena untuk kendaraan pemerintahan tidak dikenakan BBN didapati dengan perincian
berikut:
Harga
Harga PT
Harga Menurut Selisih
Jenis Harga Tunas (plat
Type Kontrak TIM (off Harga Unit Jumlah
No Kendaraan Negosiasi hitam - on
(GSO) the road)
the road)
(-12.5%)
1 2 3 4 5 6 7 8(4-7) 9 10
1 Toyota Dyna WU 30 169.800.000 169.300.000 179.100.000 156.712.500 12.587.500 38 478.325.000
Rino 4 ban STS
(kecil)
2 Toyota Dyna WU 30 169.800.000 169.300.000 179.100.000 156.712.500 12.587.500 50 629.375.000
Rino 4 ban STS
(sedang)
3 Toyota Dyna WU 34 187.400.000 182.400.000 197.200.000 172.550.000 9.850.000 12 118.200.000
Rino 6 ban ETS
(besar)
Lanjutan
4 Toyota Dyna WU 30 169.800.000 169.300.000 179.100.000 156.712.500 12.587.500 4 50.350.000
Rino 4 ban STS
(kecil)
5 Toyota Dyna WU 30 169.800.000 169.300.000 179.100.000 156.712.500 12.587.500 2 25.175.000
Rino 4 ban STS
(sedang)
Total 1.301.425.000

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Keppres No. 42 tahun 2002 Pasal 12 ayat (1) menyatakan pelaksanaan anggaran
belanja negara didasarkan atas prinsip-prinsip, hemat, tidak mewah, efisien dan
sesuai kebutuhan teknis yang dipersyaratkan.
b. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
1) Pasal 3 butir c menyatakan bahwa pengadaan barang/jasa wajib menerapkan
prinsip-prinsip antara lain terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa
harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan
dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang
setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur
yang jelas dan transparan.
2) Pasal 5 butir f menyatakan bahwa pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa,
dan para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus
mematuhi etika antara lain menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan
dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 33 dari 49


3) Pasal 13 ayat (1) menetapkan bahwa Pejabat Pembuat Komitmen wajib memiliki
Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara keahlian dan
berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan;
Hal tersebut mengakibatkan ketidakhematan dalam pengadaan kendaraan tahanan
yang dilaksanakan dengan penunjukan langsung sebesar Rp1.301.425.000,00.
Hal tersebut disebabkan:
a. Proses pengadaan dengan penunjukan langsung tersebut tidak mendapatkan harga
yang kompetitif bagi negara.
b. HPS yang dibuat oleh panitia pengadaan tidak didasarkan pada survey harga pasar
yang akurat.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI menanggapi bahwa pengadaan
kendaraan di seluruh instansi pemerintah di pusat menggunakan harga price list GSO yg
dikeluarkan oleh Astra dan melalui penunjukan langsung. Berdasarkan ketentuan intern
PT Astra International Tbk, dealer tidak mengeluarkan price list untuk harga off the road.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung untuk memerintahkan Jambin untuk
mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada pejabat pembuat
komitmen dan panitia pengadaan yang tidak menyusun harga perkiraan sendiri (HPS)
secara cermat dan tidak optimal dalam melakukan negosiasi dengan PT Astra
International Tbk sebagai rekanan yang ditunjuk langsung untuk pengadaan mobil
tahanan.

1.2.9 Proses Pengadaan Pekerjaan Pemeliharaan Pada Kejaksaan Tinggi Jawa


Timur TA 2009 Tidak Sesuai Ketentuan dan Terdapat Kelebihan
Pembayaran Sebesar Rp28.412.556,05 Dalam Pekerjaan Cleaning Service
Dalam Tahun Anggaran 2009 Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim)
memperoleh alokasi anggaran untuk Belanja Pemeliharaan Gedung dan Bangunan
(MAK. 523111) sebesar Rp683.100.000,00 dalam rangka Penyelenggaraan Operasional
dan Pemeliharaan Perkantoran.
Anggaran tersebut telah direalisasikan sebesar Rp683.098.000,00 sepanjang
tahun 2009 untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berikut:
a. Pekerjaan pemeliharaan gedung arsip kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang
dilaksanakan oleh CV Hana Utama dengan Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor
70/0.5.8/PPK/08/2009 tanggal 13 Agustus 2009 dengan nilai kontrak sebesar
Rp84.700.000,00. Jangka waktu pelaksanaan tiga puluh hari kalender yang berakhir
pada tanggal 11 September 2009. Pembayaran telah dilakukan dengan SP2D Nomor
169045N/031/112 tanggal 1 Oktober 2009.
b. Pekerjaan penyekatan pada bidang Tindak Pidana Khusus dan Bidang Intelijen kantor
Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang dilaksanakan oleh CV Aliya Nadhirah dengan
Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor 116/0.5.8/PPK/11/2009 tanggal 24 November
2009 dengan nilai kontrak sebesar Rp88.500.000,00. Jangka waktu pelaksanaan lima
belas hari kalender yang berakhir pada tanggal 8 Desember 2009. Pembayaran telah
dilakukan dengan SP2D Nomor 178595N/031/112 tanggal 14 Desember 2009.
c. Pekerjaan pengecatan bagian dalam dan perbaikan lantai gedung Pidum dan Intelijen
kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang dilaksanakan oleh CV Hana Utama dengan
Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor 17/0.5.8/PPK/03/2009 tanggal 10 Maret 2009

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 34 dari 49


dengan nilai kontrak sebesar Rp48.624.000,00. Jangka waktu pelaksanaan tiga puluh
hari kalender yang berakhir pada tanggal 8 April 2009. Pembayaran telah dilakukan
dengan SP2D Nomor 916792K/031/112 tanggal 14 April 2009.
d. Pekerjaan peninggian dan perbaikan tempat parkir kantor Kejaksaan Tinggi Jawa
Timur yang dilaksanakan oleh CV Aliya Nadhirah dengan Surat Perintah Kerja (SPK)
Nomor 30/0.5.8/PPK/03/2009 tanggal 25 Maret 2009 dengan nilai kontrak sebesar
Rp34.575.000,00. Jangka waktu pelaksanaan lima belas hari kalender yang berakhir
pada tanggal 8 April 2009. Pembayaran telah dilakukan dengan SP2D Nomor
916931K/031/112 tanggal 15 April 2009.
e. Pekerjaan perbaikan pos jaga dan pengecatan pagar depan kantor Kejaksaan Tinggi
Jawa Timur yang dilaksanakan oleh CV Hana Utama dengan Surat Perintah Kerja
(SPK) Nomor 113/0.5.8/PPK/11/2009 tanggal 12 November 2009 dengan nilai
kontrak sebesar Rp66.432.000,00. Jangka waktu pelaksanaan dua puluh dua hari
kalender yang berakhir pada tanggal 3 Desember 2009. Pembayaran telah dilakukan
dengan SP2D Nomor 178387N/031/112 tanggal 11 Desember 2009.
f. Pekerjaan peninggian tempat parkir (pemasangan paving), perbaikan taman dan
perbaikan saluran pada kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang dilaksanakan oleh
CV Pilar Kencana dengan Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor 134/0.5.8/PPK/11/2009
tanggal 25 November 2009 dengan nilai kontrak sebesar Rp67.500.000,00. Jangka
waktu pelaksanaan lima belas hari kalender yang berakhir pada tanggal 9 Desember
2009. Pembayaran telah dilakukan dengan SP2D Nomor 178607N/031/112 tanggal 14
Desember 2009.
g. Pekerjaan pengecatan gedung poliklinik dan jaksa fungsional kantor Kejaksaan Tinggi
Jawa Timur yang dilaksanakan oleh CV Multi Lavida Utama dengan Surat Perintah
Kerja (SPK) Nomor 81/0.5.8/PPK/09/2009 tanggal 1 September 2009 dengan nilai
kontrak sebesar Rp49.564.000,00. Jangka waktu pelaksanaan tujuh belas hari kalender
yang berakhir pada tanggal 17 September 2009. Pembayaran telah dilakukan dengan
SP2D Nomor 169046N/031/112 tanggal 1 Oktober 2009.
h. Pekerjaan cleaning service pada kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang
dilaksanakan oleh CV Insan Krida Hutama dengan 12 Surat Perintah Kerja (SPK)
yang diterbitkan setiap bulan dengan total nilai sebesar Rp243.203.000,00.
Berdasarkan hasil pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban keuangan
pekerjaan pemeliharaan gedung dan bangunan kantor Kejati Jawa Timur dapat
disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
a. Dalam melakukan negosiasi, Pejabat/Panitia Pengadaan hanya berdasarkan pada pagu
anggaran yang tersedia dalam DIPA dan tidak mempunyai harga perkiraan sendiri
yang disusun secara cermat berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
b. Pada pekerjaan cleaning service yang dilaksanakan oleh CV Insan Krida Hutama pada
bulan November dan Desember 2009 terdapat peningkatan biaya yang cukup
signifikan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya seperti terlihat dalam tabel
berikut:
Bulan Jumlah (Rp) Jumlah OB (orang)
Januari 9.900.000,00 11
Pebruari 9.900.000,00 11
Maret 9.900.000,00 11
April 9.900.000,00 11

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 35 dari 49


Bulan Jumlah (Rp) Jumlah OB (orang)
Mei 29.403.000,00 29
Juni 19.000.000,00 20
Juli 19.000.000,00 20
Agustus 19.000.000,00 20
September 19.000.000,00 20
Oktober 19.000.000,00 20
Nopember 39.600.000,00 40
Desember 39.600.000,00 40
Jumlah 243.203.000,00

Berdasarkan penjelasan dari Kepala Sub Bagian Umum (Drs. Moh. Nursolikin)
diketahui bahwa perubahan biaya cleaning yang terjadi pada bulan Mei 2009
disebabkan oleh perpindahan ke kantor baru yang lebih besar (8 lantai) daripada
gedung lama (hanya 2 lantai). Khusus untuk bulan Nopember dan Desember 2009,
jumlah office boy meningkat dari 20 orang di bulan Oktober menjadi 40 orang.
Hasil konfirmasi dengan Kasubag Umum dan office boy yang ada diketahui bahwa
jumlah petugas cleaning service sesungguhnya bekerja hanya sebanyak 24 orang,
sehingga terdapat kelebihan bayar sebanyak 32 orang untuk bulan Nopember dan
Desember dengan nilai Rp28.412.556,00, dengan rincian perhitungan sebagai berikut:
32 orang x Rp990.000 Rp 31.680.000,00
PPN 10% (2.841.255,61)
PPh 1,5% (426.188,34)
Biaya (net) Rp 28.412.556,05
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 3 ayat (1)
yang menetapkan bahwa Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab
dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
b. Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Pasal 12 ayat
(1) yang menetapkan antara lain bahwa pelaksanaan anggaran belanja negara
didasarkan atas prinsip-prinsip antara lain hemat, tidak mewah, efisien, dan sesuai
dengan kebutuhan teknis yang disyaratkan.
c. Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 13:
1) Pejabat Pembuat Komitmen wajib memiliki Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang
dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangung-
jawabkan.
2) HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan dan
ditetapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen.
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Harga dalam kontrak pekerjaan bukan merupakan harga yang paling menguntungkan
negara.
b. Terjadinya kelebihan pembayaran dalam pengadaan jasa cleaning service sebesar
Rp28.412.556,05.
Hal tersebut disebabkan:

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 36 dari 49


a. Pejabat/Panitia Pengadaan kurang memahami ketentuan pengadaan barang dan jasa
instansi pemerintah.
b. Lemahnya pengawasan Pejabat Pembuat Komitmen atas proses pemilihan calon
rekanan pelaksana dan pelaksanaan pekerjaan.
Atas permasalahan tersebut Asisten Pembinaan Kejati Jatim menjelaskan bahwa
kenaikan harga/biaya untuk pekerjaan cleaning service untuk bulan Nopember dan
Desember 2009 dikarenakan adanya rencana Peresmian Gedung Kantor Kejaksaan
Tinggi Jawa Timur akhir Desember 2009. Jadi jumlah tenaga cleaning service ditambah
menjadi 40 orang.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung untuk memerintahkan Kajati Jawa
Timur untuk:
a. Memerintahkan kepada pejabat pembuat komitmen untuk menagih kelebihan
pembayaran sebesar Rp28.412.556,05 kepada CV Insan Krida Hutama dan
menyetorkannya ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setoran disampaikan kepada BPK
RI.
b. Mengenakan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada panitia
pengadaan dan pejabat pembuat komitmen pengadaan jasa cleaning service yang
tidak optimal dalam memilih calon rekanan dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan
oleh CV Insan Krida Hutama.

1.2.10 Negara Menanggung Biaya Listrik, Telepon, Dan Air Rumah Dinas Kepala
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Sebesar Rp50.148.910,00
Untuk mendukung kelancaran operasional kantor, tiap tahun dialokasikan
anggaran untuk keperluan perkantoran diantaranya adalah langganan daya dan jasa.
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel) mendapatkan alokasi anggaran
langganan daya dan jasa TA 2009 sebesar Rp306.477.000,00 yang terbagi untuk Kantor
Kejati Sulsel sebesar Rp274.641.000,00 dan, untuk Rumah Dinas Kepala Kejati (Kajati)
Sulsel sebesar Rp31.836.000,00.
Berdasarkan data Sistem Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA) Kejati
Sulsel diketahui bahwa total realisasi untuk kegiatan langganan daya dan jasa selama
Tahun 2009 sebesar Rp276.867.289,00 dengan rincian untuk kegiatan langganan daya
dan jasa Kantor Kejati Sulsel sebesar Rp226.718.379,00 dan Rumah Dinas Kajati Sulsel
sebesar Rp50.148.910,00.
Kegiatan langganan daya dan jasa Rumah Dinas Kajati Sulsel sendiri terbagi
menjadi tiga macam sub kegiatan, yaitu langganan listrik (PLN Cabang Makassar)
sebesar Rp41.311.325,00, langganan telepon (TELKOM Makassar) sebesar
Rp2.087.640,00, dan langganan air (PDAM Kota Makassar) sebesar Rp6.749.945,00.
Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel
Nomor KEP-157/R.4/CPL/09/2008 yang diperbaharui dengan Nomor KEP-97/R.4/CPL/
07/2009 tentang Ijin Penghunian Rumah Dinas Pasal 4 menetapkan bahwa penghuni
bertanggung jawab atas pemeliharaan, pengamanan halaman gedung, membayar listrik,
telepon, dan air minum.
Hal tersebut mengakibatkan adanya kelebihan pembayaran atas langganan daya
dan jasa TA 2009 sebesar Rp50.148.910,00.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 37 dari 49


Hal tersebut disebabkan:
a. Kesalahan dalam perencanaan anggaran yang mengalokasikan kegiatan langganan
daya dan jasa rumah dinas dalam Daftar Isian Pagu Anggaran (DIPA).
b. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dhi. Kajati Sulsel lalai dalam mematuhi ketentuan
yang dibuatnya terkait dengan tanggung jawab penghuni rumah dinas.
Atas permasalahan tersebut Asisten Pembinaan Kejati Sulsel menjelaskan bahwa
Kejati Sulawesi Selatan membayar biaya langganan daya dan jasa rumah dinas Kajati
Sulawesi Selatan karena adanya anggaran dalam RKKL Kejati Sulawesi Selatan TA
2009.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Kajati Sulawesi
Selatan untuk membayar kembali biaya langganan daya dan jasa rumah dinasnya yang
selama ini ditanggung oleh Negara sebesar Rp50.148.910,00 sesuai dengan surat
Keputusan Kajati Sulsel tentang Ijin Penghunian Rumah Dinas. Selanjutnya bukti setoran
ke Kas Negara disampaikan kepada BPK RI.

1.3 Aset

1.3.1 Barang Rampasan dari Perkara Pidana yang Telah Inkracht Tidak Dapat
Dilelang
Salah satu tugas dan wewenang kejaksaan dalam bidang pidana adalah
melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan terkait barang bukti yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht), antara lain dirampas untuk negara.
Barang Rampasan adalah barang bukti yang berdasarkan putusan pengadilan
telah memperoleh kekuatan hukum tetap dinyatakan dirampas untuk negara. Barang
rampasan tersebut kemudian dilelang dan hasil lelangnya disetorkan ke Kas Negara
sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari Kejaksaan.
Barang bukti yang dirampas negara segera dialihkan pengelolaannya dari seksi
Pidana Umum (Pidum) atau seksi Pidana Khusus (Pidsus) kepada Sub Bagian Pembinaan
(Subbag Bin). Barang bukti yang dirampas untuk negara, harus segera disetor ke Kas
Negara (jika dalam bentuk uang) atau jika dalam bentuk barang dilelang melalui Kantor
Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan hasil lelang segera disetorkan ke
Kas Negara atas nama penerimaan kejaksaan. Sebelum dilakukan pelelangan dilakukan
penaksiran nilai dari barang rampasan oleh pihak terkait untuk menentukan nilai limit
dalam pelelangan.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas penatausahaan barang rampasan pada
Kejari Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara,
Surabaya, Makassar, dan Maros menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Terdapat bukti kepemilikan barang rampasan yang hilang sehingga tidak dapat
dilelang.
Putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung RI Nomor: 17/PK/Pid/
2007 tanggal 16 Januari 2008 atas terpidana David Nusa Wijaya antara lain
menyatakan bahwa barang bukti berupa sertifikat tanah dan bangunan sebanyak 562
buah dirampas untuk negara.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 38 dari 49


Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap barang rampasan berupa sertifikat
tanah dan bangunan tersebut diketahui bahwa pada saat akan dilakukan pelelangan
pada hari Jum’at tanggal 13 November 2009, ternyata sebanyak 21 sertifikat telah
hilang sehingga pelaksanaan lelang ditunda. Rincian sertifikat tersebut sebagai
berikut:
No Barang Rampasan Taksiran Harga (Rp)
1 SHGB No.4785/Pluit Luas 167 m2 524.860.000,00
2 SHGB No.3758/Sunter Agung Luas 343 m2 959.130.000,00
3 SHGB No.674/Sunter Agung Luas 90 m2 172.865.000,00
4 SHGB No.6709/Sunter Agung Luas 87 m2 575.000.000,00
5 SHGB No.2654/Pejagalan Luas 232 m2 355.665.000,00
6 SHGB No.1001/Kapuk Muara Luas 80 m2 455.000.000,00
7 SHM No.134/Kebayoran Lama Utara Luas 455 m2 681.850.000,00
8 SHGB No.286/Cipulir Luas 97 m2 438.750.000,00
9 SHGB No.950/Menteng Dalam Luas 73 m2 940.000.000,00
10 SHM No.1064/Cilandak Barat Luas 311 m2
3.446.100.000,00
11 SHM No.1065/Cilandak Barat Luas 1.877 m2
12 SHGB No.609/Ujung Menteng Luas 104 m2 111.910.000,00
13 SHGB No.821/Malaka Sari Luas 81 m2 118.680.000,00
14 SHM No.1549/Kapuk Luas 103 m2
15 SHM No.1561/Kapuk Luas 26 m2 154.740.000,00
16 SHM No.1548/Kapuk Luas 66 m2
17 SHGB No.1233/Kali Deres Luas 90 m2 222.790.000,00
18 SHGB No.378/Kartini Luas 92 m2 742.500.000,00
19 SHGB No.1163/Batuceper Luas 64 m2 202.800.000,00
20 SHGB No.138/Gerendeng Luas 57 m2 195.000.000,00
21 SHGB No.139/Gerendeng Luas 59 m2 204.750.000,00
Total 10.502.390.000,00

Kepala Kejari Jakarta Barat telah melaporkan kehilangan sertifikat tersebut


kepada Polres Metro Jakarta Barat dan mengirimkan surat pemblokiran serta surat
permintaan penggantian sertifikat yang hilang kepada Kepala Kantor Badan
Pertanahan Nasional (BPN) di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat,
Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Tangerang.
b. Terdapat barang rampasan yang belum jelas pelaksanaan eksekusi dan
keberadaannya pada Kejari Jakarta Selatan, Kejari Jakarta Pusat, Kejari Jakarta
Barat, Kejari Jakarta Timur, dan Kejari Jakarta Utara. Rincian barang rampasan pada
Lampiran 4.
c. Terdapat barang rampasan dari perkara Pidana Khusus (Pidsus) yang tidak bisa
dilelang karena tidak ditemukan atau tidak diketahui keberadaan/lokasinya pada
Kejari Makassar, yaitu:
1) Polis asuransi jiwa Sewu New York Life No. 20010179221 dengan jumlah premi
Rp100.000.000,00 atas perkara Iwan Zulkarnain.
2) Tanah seluas 1.779,6 m2 di kabupaten Palopo atas perkara Pedji.
d. Barang rampasan yang tidak bisa dilelang karena terlibat sengketa dengan pihak
ketiga sebagai berikut:
1) Kejari Makassar

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 39 dari 49


(a) Tanah dan bangunan seluas 163 m2 yang terletak di Jl. Musi No.16
Banyuwangi sesuai SHM No.3466 atas perkara Iwan Zulkarnain.
(b) Tanah dan bangunan seluas 90 m2 yang terletak di Kabupaten Banyuwangi
sesuai SHM No.2855 atas perkara Iwan Zulkarnain.
(c) Tanah kosong seluas 100 m2 yang terletak di Kabupaten Banyuwangi sesuai
Akte Jual Beli No.715 tanggal 23 Desember 2000 atas perkara Iwan
Zulkarnain.
2) Kejari Maros
(a) Satu petak tanah seluas kurang lebih 3,34 Hektar yang terletak di Tanjung
Bunga Kelurahan Sombala Bella Kecamatan Tamalate Kotamadya Makassar
atas perkara H. Muh Said Bandu.
(b) Satu petak bangunan rumah terletak di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa,
Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros atas perkara H.A. Muslimin, SE.
(c) Satu petak sawah seluas 34 Are terletak di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa,
Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros atas perkara H.A. Muslimin, SE.
(d) Satu petak bangunan rumah terletak di Jalan Melati Kabupaten Maros atas
perkara H.A. Muslimin, SE.
(e) Satu petak ruko seluas 225 m2 yang terletak di Jalan Raya Kariango
(Kompleks Griya Maros), Kelurahan Bontoa, Kecamatan Mandai, Kabupaten
Maros atas perkara Agus Dwikora.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 273;
1) Ayat (3) : jika putusan Pengadilan menetapkan bahwa barang bukti dirampas
untuk negara selain pengecualian sebagaimana tersebut dalam pasal 46, Jaksa
menguasakan benda tersebut kepada Kantor Lelang Negara dan dalam waktu tiga
bulan untuk dijual lelang, yang hasilnya dimasukkan ke Kas Negara untuk dan atas
nama Jaksa.
2) Ayat (4) : Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang
untuk paling lama 1 (satu) bulan.
b. Keppres No. 72 Tahun 2004 Pasal 8 ayat (1) menetapkan bahwa Departemen/
Lembaga wajib mengadakan intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang
menjadi wewenang dan tanggungjawabnya.
c. Keputusan Jaksa Agung RI No. Kep-089/JA/8/1988 tanggal 5 Agustus 1988 jo. Surat
Edaran Jaksa Agung No. SE-03/B/B-5/8/1988 tanggal 6 Agustus 1998 tentang
Penyelesaian Barang Rampasan menyatakan bahwa satuan barang rampasan dari
suatu perkara yang putusan pengadilannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap,
dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diterima sudah harus
dilimpahkan penanganannya oleh bidang yang berwenang menyelesaikan dengan
melampirkan salinan vonis/extract vonis dan pendapat hukum serta tenggang waktu
untuk menyelesaikan barang rampasan selambat-lambatnya 4 (empat) bulan setelah
putusan Pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap.
d. Kepala Kejaksaan Tinggi berkewajiban mengendalikan penyelesaian barang
rampasan agar eksekusinya tidak berlarut-larut. Apabila di wilayahnya terdapat
barang rampasan yang belum dieksekusi sebagaimana mestinya (vide pasal 273 ayat
3 dan ayat 4 KUHAP) maka Kepala Kejaksaan Tinggi berkewajiban untuk menegur
dan segera mengambil langkah-langkah penyelesaian.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 40 dari 49


Hal tersebut mengakibatkan potensi penerimaan negara yang berasal hasil lelang
barang rampasan belum dapat direalisasikan.
Hal tersebut disebabkan:
a. Lemahnya pengawasan para kajari atas eksekusi dan pelelangan barang rampasan
yang telah berkekuatan hukum tetap;
b. Kepala Sub Bagian Pembinaan Kejari Jakarta Barat lalai melakukan pengamanan
terhadap barang rampasan yang menjadi tanggung jawabnya;
c. Administrasi barang rampasan tidak tertib;
d. Adanya putusan pengadilan perdata yang memenangkan pihak ketiga meskipun telah
ada putusan pengadilan pidana yang inkracht;
e. Pihak-pihak yang berwenang mengeluarkan bukti kepemilikan seperti Badan
Pertanahan Nasional (BPN) tidak bisa mengeluarkan sertifikat baru kepada kejaksaan
negeri meskipun sudah ada putusan pengadilan yang inkracht.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan bahwa:
a. Kejari Makassar dan Maros telah melaporkan dan menunggu petunjuk dari Kajati
Sulawesi Selatan sesuai Surat Kajari Maros Nomor: B-1775/R.4.16/Cu/09/2009
tanggal 1 September 2009 perihal Laporan Barang Rampasan.
b. Kejati DKI Jakarta telah melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan antara lain
pemblokiran hak kepemilikan ke BPN setempat, laporan kehilangan kepada Polri,
pengumuman kehilangan di 2 (dua) media massa nasional, dan laporan ke pimpinan
secara berjenjang.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Kajati DKI Jakarta untuk menginstruksikan Kajari Jakarta Barat untuk mengenakan
sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku kepada Kasubagbin Kejari Jakarta
Barat yang bertanggung jawab dalam pengamanan barang rampasan sebelum proses
pelelangan.
b. Kajati DKI Jakarta dan Kajati Sulawesi Selatan untuk menginstruksikan Kajari
Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan
Makassar menyampaikan kepada BPK RI penjelasan terkait status eksekusi dan
keberadaan beberapa barang rampasan seperti yang ditemukan oleh BPK RI.
Selanjutnya, di masa mendatang lebih meningkatkan pengawasan atas ketertiban
administrasi, pelaksanaan eksekusi, dan pelelangan barang rampasan.
c. Kajati Sulawesi Selatan untuk menginstruksikan Asbin dan Kasubagbin Kejari
Makassar dan Maros mengungkapkan barang rampasan yang tidak bisa dilelang
karena adanya sengketa dengan pihak ketiga dalam Catatan atas Laporan Keuangan
masing-masing satker Tahun 2009.

1.3.2 Barang Rampasan yang Sudah Inkracht Terlambat Diterima dan Dilelang
oleh Sub Bagian Pembinaan
Barang Rampasan adalah barang bukti yang berdasarkan putusan pengadilan telah
memperoleh kekuatan hukum tetap dinyatakan dirampas untuk negara. Barang rampasan
tersebut kemudian dilelang dan hasil lelangnya disetorkan ke Kas Negara sebagai
penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari Kejaksaan.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 41 dari 49


Salah satu tugas dan wewenang Kejaksaan RI dalam bidang pidana adalah
melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan terkait barang bukti yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht), yaitu dirampas untuk negara, dirampas
untuk dimusnahkan, atau dikembalikan kepada yang berhak (pemilik sah). Sesuai
ketentuan intern Kejaksaan RI, barang bukti yang dirampas Negara segera dialihkan
pengelolaannya dari seksi Pidana Umum (Pidum) atau seksi Pidana Khusus (Pidsus)
kepada Sub Bagian Pembinaan (Subbag Bin) untuk diselesaikan melalui pelelangan.
Barang bukti yang dirampas untuk dimusnahkan segera dimusnahkan dengan
menghadirkan saksi terkait dan dilengkapi Berita Acara Pemusnahan Barang Rampasan
yang ditandatangani pihak Kejaksaan RI dan saksi-saksi, sedangkan untuk barang bukti
yang dikembalikan kepada pemilik yang sah segera dikembalikan dengan dilengkapi
Berita Acara Pengembalian.
Barang bukti yang dirampas untuk negara, harus segera disetor ke Kas Negara (jika
dalam bentuk uang) atau jika dalam bentuk barang dilelang melalui Kantor Pelayanan
Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan hasil lelang segera disetorkan ke Kas Negara
atas nama penerimaan Kejaksaan RI. Sebelum pelelangan, Subbag Bin meminta
penaksiran nilai wajar dari barang rampasan kepada pihak berwenang untuk menentukan
nilai limit dalam pelelangan.
Hasil pemeriksaan atas pengelolaan barang rampasan pada Kejati DKI Jakarta, Jawa
Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, dan Kejari-kejari di masing-
masing Kejati yang diuji petik menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Kejari Bandung
1) Barang rampasan berupa kendaraan bermotor dan BBM dengan nilai taksiran
sebesar Rp12.474.000,00 terlambat diserahkan ke Subbag Bin berkisar antara 2,5
– 3 tahun dan terlambat dilelang antara 1,5 – 5 bulan.
2) Barang rampasan berupa kendaraan bermotor dan pakaian terlambat diserahkan
ke Subbag Bin berkisar antara 3,5 bulan – 2 tahun. Sampai saat pemeriksaan
masih dalam proses lelang.
3) Barang rampasan berupa 4 unit kendaraan roda 4 isuzu panther dan 6 unit
kendaraan roda 2 yang telah inkracht tanggal 19 Desember 2008 sampai saat
pemeriksaan tim BPK RI belum diserahkan ke Subbag Bin.
b. Kejari Subang
1) Barang rampasan berupa tanah dan bangunan dengan harga taksiran senilai
Rp2.399.290.594,00 yang telah inkracht tanggal 9 September 2002 baru
diserahkan ke Subbag Bin pada tanggal 23 Agustus 2004. Sampai saat
pemeriksaan berakhir pada tanggal 13 Maret 2010 belum dilelang karena
menunggu surat persetujuan dari Kejagung.
2) Barang rampasan berupa kendaraan bermotor, peralatan, dan BBM dengan harga
taksiran senilai Rp31.260.240,00 terlambat diserahkan ke Subbag Bin berkisar
antara 2 – 19 bulan dan terlambat dilelang antara 3 – 12 bulan.

c. Kejari Sumedang

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 42 dari 49


1) Seksi Pidsus/Pidum terlambat menyerahkan barang rampasan ke Subag
Pembinaan berkisar antara 1 – 10 bulan dan pada saat pemeriksaan tim BPK RI
masih dalam proses lelang dengan harga taksiran Rp13.535.500,00.
2) Seksi Pidsus/Pidum terlambat menyerahkan barang rampasan ke Subag
Pembinaan berkisar antara 1,5 bulan – 2 tahun.
d. Kejari Bogor
1) Barang Rampasan berupa Tanah eks Kebun Karet yang telah inkracht tanggal 15
April 2004 sampai saat pemeriksaan tim BPK RI belum dilelang. Selanjutnya
untuk tanah seluas 4 Ha berdasarkan putusan pengadilan ternyata sertifikatnya
hanya seluas 2 Ha.
2) Barang Rampasan berupa Kantor KUD, Bangunan Rumah Tinggal, dan Pasar
yang telah inkracht tanggal 14 Pebruari 2008 sampai saat pemeriksaan tim BPK
RI belum dilelang.
e. Kejari Cikarang
Barang rampasan berupa kendaraan bermotor, tekstil, tabung gas, dan peralatan
lainnya dengan nilai taksiran sebesar Rp2.166.149.800,00 terlambat diserahkan ke
Subbag Bin berkisar antara 4,5 bulan – 2 tahun. Selain itu, Subbag Bin terlambat
melaksanakan proses lelang berkisar antara 4 – 5 bulan.
f. Kejari Surabaya
Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 892 K/Pid/1994 tanggal 15 Januari 1998 atas
terpidana Helmy Nazar Machfud antara lain menjatuhkan putusan menghukum
terdakwa membayar uang pengganti sebesar Rp1.000.000.000,00 kepada negara.
Namun Helmy Nazar Machfud tidak mampu membayar uang pengganti tersebut dan
sebagai gantinya telah menyerahkan satu unit ruko di Jalan Veteran No. 9 Surabaya,
yang terdiri dari empat lantai dengan luas tanah kurang lebih 74 m2 dengan nilai
taksiran lebih dari Rp1.000.000.000,00. Penyerahan kepada Kejaksaan Negeri
Surabaya dilakukan berdasarkan Berita Acara Pelaksanaan Putusan PN Surabaya
tanggal 19 Agustus 1998 dari terpidana Helmy Nazar Machfud kepada Jaksa
Penuntut Umum Dony Kadnezar Irdan, SH dan W.B. Wondal, Sm.Hk, serta surat
pernyataan bermaterai dari terpidana Helmy Nazar Machfud tanggal 18 Agustus
1998, yang pada pokoknya terpidana menyerahkan fisik bangunan bersama Sertifikat
Hak Milik No. 218 asli dan kunci dari ruko tersebut.
Sampai dengan pemeriksaan BPK RI pada Kejari Surabaya berakhir pada tanggal 19
Maret 2010, ruko tersebut belum dieksekusi untuk melunasi uang pengganti atas
terpidana Helmy Nazar Machfud. Dengan demikian terdapat keterlambatan
penyelesaian selama 11 tahun 7 bulan.
g. Kejari Situbondo
Putusan Pengadilan Negeri Situbondo Nomor: 70/Pid.B/2009/PN.STB tanggal 12
Mei 2009 atas perkara H. Mandrasu alias H. Maskhuri menetapkan barang bukti
berupa sembilan drum yang masing-masing berisi 210 liter bahan bakar minyak jenis
premium dan empat jerigen yang masing-masing berisi 30 liter bahan bakar minyak
jenis premium atau total 2.010 liter dirampas untuk Negara. Barang bukti tersebut
sebelumnya dititipkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di SPBU 54683.01 Jl. Raya
Banyuwangi Kapongan Situbondo, sesuai Berita Acara Penitipan Barang Bukti (BA-

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 43 dari 49


17) tanggal 30 Desember 2008. Oleh pihak SPBU 54683.01, BBM tersebut
dimasukkan dalam tangki penyimpanan untuk pengamanan.
JPU baru melimpahkan barang rampasan tersebut kepada Kepala Sub Bagian
Pembinaan (Kasubag Bin) pada tanggal 09 November 2009 atau kurang lebih enam
bulan setelah putusan tersebut berkekuatan hukum tetap (inkracht).
Kasubag Bin sendiri baru meminta taksiran harga kepada Dinas Perindustrian dan
Perdagangan (Perindag) Kabupaten Situbondo pada tanggal 17 Februari 2010, namun
sampai dengan pemeriksaan BPK RI pada tanggal 08 Maret 2010, Dinas Perindag
Kabupaten Situbondo belum memberikan taksiran harga sehingga barang rampasan
tersebut belum dapat dilelang.
Berdasarkan hasil konfirmasi dengan pihak SPBU 54683.01 pada tanggal 8 Maret
2010 diketahui bahwa barang rampasan tersebut telah susut/berkurang jumlahnya
sebanyak 1.080 liter (53,73%) dalam kurun waktu satu tahun lebih sehingga tinggal
930 liter saja. Perhitungan susut yang dibebankan oleh SPBU adalah 3 liter per hari
untuk periode 360 hari.
Sampai saat pemeriksaan BPK RI berakhir pada tanggal 8 Maret 2010, pihak Kejari
Situbondo tidak dapat memberikan penjelasan tentang hal-hal yang disepakati dalam
penitipan misalnya tentang batas toleransi susut sehingga dapat disimpulkan
perhitungan susut sebanyak 3 liter per hari merupakan keputusan sepihak dari pihak
SPBU.
h. Kejari Batam
1) Seksi Pidsus/Pidum terlambat menyerahkan barang rampasan ke Subag
Pembinaan berkisar antara 3 – 5 bulan.
2) Penyelesaian barang rampasan melalui proses lelang oleh Subag Pembinaan
terlambat berkisar antara 3 bulan sampai 4 tahun.
i. Kejari Tanjung Balai Karimun
1) Seksi Pidsus/Pidum terlambat menyerahkan barang rampasan ke Subag
Pembinaan berkisar antara 2 minggu sampai 16 bulan.
2) Penyelesaian barang rampasan melalui proses lelang oleh Subag Pembinaan
terlambat berkisar antara 1 sampai 9 bulan.
j. Kejari Tanjung Pinang
1) Seksi Pidsus/Pidum terlambat menyerahkan barang rampasan ke Subag
Pembinaan berkisar antara 2 minggu sampai 4 bulan.
2) Penyelesaian barang rampasan melalui proses lelang oleh Subag Pembinaan
terlambat berkisar antara 1 sampai 4 bulan.
Rincian barang rampasan pada Kejari Batam, Tanjung Balai Karimun, dan Tanjung
Pinang pada Lampiran 5.
k. Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejari Makassar, Palopo, dan Maros).
Terdapat barang rampasan yang terlambat dilimpahkan dari Seksi Pidsus dan Pidum
kepada Subagbin untuk dilelang antara 3 sampai dengan 470 hari, yaitu:

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 44 dari 49


Tanggal
Tanggal
Nama Penyerahan Hari
No Barang Rampasan Diterima
Satker JPU kepada Terlambat
JPU
Subagbin
1. Kejari Terdakwa: Syahruddin Kadir 4/11/2009 19/2/2010 ± 95 hari
Makassar - 1 buah mobil Toyota Corona DD 310 R
- 1 buah rumah terletak di Bili-Bili Kab.
Gowa
Terdakwa: Muh. Ashari 28/9/2009 19/2/2010 ± 135 hari
- 1 buah polis asuransi jiwa New York
Life senilai Rp100.000.000,00
- 1 buah TV merek LG 29 inci
- 1 buah tape polytron
- 1 buah spring bed
- 1 buah sepeda listrik merk plash
2. Kejari Terdakwa: Andika bin Maskur 4/5/2009 18/5/2009 7 hari
Palopo - 1 unit truk toyota dyna rino
- 1 paket kayu pacakan kemompok rimba
campuran sebanyak 6,3142 m³
Terdakwa: Jamil bin Abdullah 13/1/2009 18/3/2009 57 hari
- Kayu campuran: Uri 31 pc (0,8928 m³),
bajo 14 pc (0,28m³), bunga dan jambu-
jambuan 70 pc (1,4m³)
Terdakwa: Besmal M. Nawir 28/2/2009 10/3/2009 3 hari
- 1 unit kendaraan roda 4 jenis Kijang
Rangga
- 1 unit kerangka kendaraan roda 4 jenis
Kijang Super
- 493 sak pupuk NPK 16, 16, 16
Terdakwa: Askar bin Asis 8/9/2009 29/9/2009 14 hari
- 1 paket kayu pacakan rimba campuran
sebanyak 63 batang (6,3288 m³)
3. Kejari Terdakwa: H.M. Said bin Bandu 21/9/2006 21/11/2007 ± 410 hari
Maros - Tanah garapan 30.376 m²
Terdakwa: Agus Dwikora 13/2/2007 1/6/2008 ± 470 hari
- Bangunan/Ruko 225 m²
Terdakwa: Andi Muslimin 8/5/2009 1/6/2009 ± 15 hari
- Bangunan/rumah 2 petak
- Tanah/Sawah 34 Are (3400 m²)
Terdakwa: Yuspiadi bin M.Yunus 3/4/2009 28/4/2009 ±18 hari
- 1 paket barang berupa LCD TV
- home theatre
- canopi
- teralis
- dll
Terdakwa: M. Arfan bin Zainal Y 24/3/2008 4/5/2009 ± 400 hari
- 1 unit laptop merk Axio
- 1 printer merk HP

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana Pasal 273:
1) Ayat (3) menyebutkan bahwa jika putusan Pengadilan menetapkan bahwa barang
bukti dirampas untuk negara selain pengecualian sebagaimana tersebut dalam
pasal 46, Jaksa menguasakan benda tersebut kepada Kantor Lelang Negara dan
dalam waktu tiga bulan untuk dijual lelang, yang hasilnya dimasukkan ke Kas
Negara untuk dan atas nama Jaksa.
2) Ayat (4); Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang
untuk paling lama 1 (satu) bulan.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 45 dari 49


b. Keppres No. 72 Tahun 2004 Pasal 8 ayat (1) menetapkan bahwa Departemen/
Lembaga wajib mengadakan intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang
menjadi wewenang dan tanggungjawabnya.
c. Keputusan Jaksa Agung RI No. Kep-089/JA/8/1988 tanggal 5 Agustus 1988 jo. Surat
Edaran Jaksa Agung No. SE-03/B/B-5/8/1988 tanggal 6 Agustus 1998 tentang
Penyelesaian Barang Rampasan menyatakan bahwa satuan barang rampasan dari
suatu perkara yang putusan pengadilannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap,
dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diterima sudah harus
dilimpahkan penanganannya oleh bidang yang berwenang menyelesaikan dengan
melampirkan salinan vonis/extract vonis dan pendapat hukum serta tenggang waktu
untuk menyelesaikan barang rampasan selambat-lambatnya 4 (empat) bulan setelah
putusan Pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap.
Hal ini mengakibatkan:
a. Penerimaan negara yang berasal dari hasil lelang barang rampasan terlambat diterima
oleh negara.
b. Adanya risiko kehilangan dan turunnya nilai jual barang rampasan tersebut yang akan
mengurangi jumlah pendapatan negara.
Hal tersebut disebabkan:
a. Anggaran yang tersedia untuk proses pelelangan kurang memadai terutama untuk
pelelangan yang sampai berkali-kali karena tidak ada peminat/pembeli.
b. Para Jaksa Penuntut Umum (JPU) lalai dalam melaksanakan tugasnya untuk
menyerahkan barang-barang rampasan dari putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap secara tepat waktu.
c. Lemahnya pengawasan Kajari selaku kepala satker atas ketepatan waktu penyelesaian
barang rampasan.
d. Salinan amar putusan terlambat diterima dari Pengadilan Negeri (PN) walaupun jaksa
dan terdakwa telah menerima putusan pada saat diucapkan dihadapan sidang
pengadilan.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI sependapat dengan temuan BPK RI dan
selanjutnya akan menindaklanjuti dengan:
a. Meningkatkan koordinasi dengan Dinas Perindag setempat untuk perolehan taksiran
harga.
b. Mempedomani ketentuan yang berkaitan dengan penyelesaian barang rampasan utk
menghindari kehilangan atau penurunan nilai jual.
c. Meningkatkan koordinasi dengan pihak pengadilan untuk percepatan perolehan
salinan putusan dan barang bukti yang sudah inkracht.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan Kajati Jatim,
Kepri, Jabar, dan Sulsel untuk menginstruksikan Kajari di wilayahnya masing-masing
agar:
a. Mengenakan sanksi kepada para JPU yang lalai mematuhi ketentuan tentang
ketepatan waktu penyerahan barang rampasan. Selanjutnya di masa mendatang,
Kajari lebih meningkatkan pengawasan terhadap kepatuhan para JPU dalam
penyerahan barang rampasan.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 46 dari 49


b. Meningkatkan koordinasi dengan pihak pengadilan setempat untuk percepatan
pemerolehan amar putusan yang telah inkracht.
c. Berkoordinasi dengan Biro Perencanaan Kejaksaan Agung RI dalam peningkatan
alokasi anggaran untuk biaya lelang barang rampasan.

1.3.3 Terdapat Aset Milik Negara Berupa Tanah Dan Kendaraan Operasional
Yang Belum Dilengkapi Dengan Bukti Kepemilikan Yang Sah
Hasil pemeriksaan secara uji petik terhadap Laporan Barang Milik Negara
(BMN) pada Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) di lingkungan Kejaksaan
Tinggi Jabar, Kejati Jatim, Kejati Kepri, Kejati Sulsel dan Kejati DKI Jakarta Tahun
2009, menunjukkan terdapat aset-aset tetap yang tidak dilengkapi dengan bukti
kepemilikan yang sah, seperti sertifikat untuk tanah dan BPKB untuk kendaraan bermotor
(peralatan dan mesin), antara lain sebagai berikut:
No. Wilayah/Kejati Jenis Aset Jumlah Satuan Nilai
2
1 KT Jawa Barat Tanah 9.723 m 751.000.250,00
2
2 KT Jawa Timur Tanah 384 m 652.800.000,00
Peralatan dan Mesin 7 unit 325.000.000,00
3 KT Kep. Riau Tanah 23.360 m2 128.475.000,00
Peralatan dan Mesin 3 unit 467.783.000,00
4 KT Sulawesi Selatan Peralatan dan Mesin 15 unit 943.352.000,00
2
5 KT DKI Jakarta Tanah 760 m 60.880.000,00
Peralatan dan Mesin 18 unit 1.420.951.500,00
2
Total Tanah 34.227 m 1.593.155.250,00
Peralatan dan Mesin 43 unit 3.157.086.500,00

Rincian jenis aset yang belum ada bukti kepemilikan yang sah pada Lampiran 6.
Hal tersebut tidak sesuai dengan PP No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah:
1. Pasal 3 ayat (1) menetapkan bahwa pengelolaan barang milik negara dilaksanakan
berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, tranparansi dan keterbukaan, efisiensi,
akuntabilitas, dan kepastian nilai.
2. Pasal 32 ayat menetapkan bahwa:
a. Pengelola barang, pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang wajib
melakukan pengamanan barang milik negara/daerah yang berada dalam
penguasaannya.
b. Pengamanan barang milik negara/daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi pengamanan administrasi, pengamanan fisik, pengamanan hukum.
Hal tersebut mengakibatkan pengakuan kepemilikan atas aset-aset tetap tersebut
menjadi lemah secara hukum.
Hal tersebut disebabkan karena pengiriman (transfer) aset dari Kejaksaan Agung
RI dan Kejati tidak disertai dengan pengiriman surat-surat kelengkapan untuk bukti
kepemilikan dan kurangnya usaha dari bagian perlengkapan masing-masing satker untuk
memperoleh bukti kepemilikan yang sah secara hukum atas aset-aset tetap yang
dimilikinya.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 47 dari 49


Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menanggapi bahwa sepakat dengan
temuan BPK RI dan selanjutnya akan menindaklanjuti dengan segera mengurus
kepemilikan atas aset-aset tetap yang belum memiliki bukti kepemilikan yang sah.
BPK RI menyarankan kepada Jaksa Agung agar memerintahkan:
a. Jambin untuk menginstruksikan Biro Perencanaan, Biro Perlengkapan, dan unit-unit
kerja lain di Kejagung RI agar mengirimkan bukti-bukti kepemilikan bersamaan
dengan pengiriman barang ke kejati/kejari.
b. Kajati DKI Jakarta, Jabar, Jatim, Kepri, dan Sulsel untuk memerintahkan Kajari di
wilayahnya masing-masing agar memantau upaya urusan perlengkapan dalam
memperoleh bukti kepemilikan aset yang dimilikinya.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 48 dari 49


BAB 2
HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN ATAS
KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TAHUN 2004 – 2008

Dalam rangka pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2009,


BPK memantau tindak lanjut Kejaksaan RI terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Kepatuhan terhadap Perundang-undangan Kejaksaan RI Tahun 2004 – 2008. Sesuai
dengan Pasal 20 UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara, pelaksanaan tindak lanjut menjadi tanggung jawab
Pemerintah/ Kejaksaan RI dan DPR.
Pemantauan atas tindak lanjut Kejaksaan RI terhadap temuan tersebut
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
Hasil Pemantauan Tindak Lanjut
Jumlah
No. LHP Tahun Belum Sesuai/ Belum
Temuan Sesuai
Selesai Ditindaklanjuti
1 Tahun 2008 3 1 1 1
2 Tahun 2007 3 - - 3
3 Tahun 2006 3 - 3 -
4 Tahun 2005 3 - 3 -
5 Tahun 2004 - - - -
Total 12 1 7 4
Rincian dari temuan terdapat di Lampiran 7.
Kejaksaan RI telah menindaklanjuti rekomendasi yang diajukan BPK RI, antara
lain mengenai:
1. Pemeriksaan oleh Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) terhadap Pejabat
Pembuat Komitmen dan Panitia Pengadaan Laptop untuk mengetahui adanya unsur
tindak pidana korupsi dalam pengadaan ini yang merugikan keuangan negara serta
menginformasikan hasilnya kepada BPK RI.
2. Penonaktifan seluruh anggota Panitia Pengadaan laptop dari tugas pengadaan di Biro
Perencanaan sampai dengan keluarnya laporan hasil pemeriksaan Jamwas.
Adapun permasalahan yang masih dalam proses tindak lanjut antara lain adalah:
1. Penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) pada
Kejaksaan RI tidak berjalan secara efektif.
2. Sebagian besar rumah dinas Kejaksaan RI masih dihuni oleh pihak yang tidak berhak.
3. Terdapat aset kejaksaan yang tidak didukung dengan bukti-bukti kepemilikan yang
sah.
Sedangkan permasalahan yang belum ditindaklanjuti antara lain adalah:
1. Terdapat selisih kurang 4.154 unit barang rampasan berupa hand-phone sebesar
minimal Rp116.931.664,00 antara jumlah menurut putusan pengadilan dengan hasil
perhitungan appraisal pada Kejari Jakarta Utara.
2. Pengelolaan aset yang berasal dari eks-Tim Tastipikor tidak tertib.
3. Terdapat kelebihan pembayaran dalam pekerjaan pembangunan/rehabilitasi gedung
di lingkungan Kejagung RI sebesar Rp250.790.025,00.

BPK RI LHP Kepatuhan LK Kejaksaan RI Tahun 2009 Halaman 49 dari 49


Lampiran 1.1.1
BELANJA TIM JAKSA BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJAKSAAN TINGGI DKI JAKARTA

Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
1 Pidum
Eksekusi Pidum M. Nasir,SH 1.837.000 1 1.837.000 275.550 01-04-2009
Suwasti,SH 1.837.000 1 1.837.000 275.550 01-04-2009
Didiet Ediana,SH 1.837.000 1 1.837.000 275.550 01-04-2009
M. Nasir,SH 1.837.000 1 1.837.000 275.550 01-04-2009
Jaya Sakti,SH 1.837.000 1 1.837.000 275.550 01-04-2009
Aswai Roni,SH 1.837.000 1 1.837.000 275.550 01-04-2009
11.022.000 1.653.300
Penuntutan Pidum Jaya Sakti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Murtiningsih,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
M. Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Jaya Sakti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Murtiningsih,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Supriyo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Didiet Ediana,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
M. Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Jaya Sakti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Murtiningsih,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 30-03-2009
Supriyo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 03-04-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 03-04-2009
Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 03-04-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 03-04-2009
68.000.000 10.200.000
Penuntutan Pidum H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
M.Nasir,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Pujiati,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
Mansyur,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
M.Eko Joko P,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
Demitri, SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Supriyo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Murtiningsih,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
M.Eko Joko P,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
Handayani,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
Drs.Didi Rusiadi,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Budi Susilo,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
Demitri, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Demitri, SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
Johnny W.P,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 15-04-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 15-04-2009
98.000.000 14.700.000
Eksekusi Pidum Ade Solehudin,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
Suwasti,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
Suroyo,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
Budi Susilo,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
Suroyo,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
M.Eko Joko P,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
M.Nasir,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
M.Nasir,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
M.Eko Joko P,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
Fitria.T,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
Wawan Gunawan,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
Demitri,SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000 27-04-2009
12.000.000 1.800.000
Penuntutan Pidum Budi Susilo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Pujiati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Budi Susilo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Supriyo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Tasjrifin,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Suwasti,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 27-04-2009
Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Manna Sihombing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Murtiningsih,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 27-04-2009
Fitria.T,SH 3.000.000 1 3.000.000 450.000 27-04-2009
Heru Widarmoko,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Fransisca J,SH 3.000.000 1 3.000.000 450.000 27-04-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Supriyo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Murtiningsih,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 27-04-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
Murtiningsih,SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 27-04-2009
H.Halil Sabban,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 27-04-2009
106.000.000 15.900.000
Penuntutan Pidum H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Budi Susilo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Erny Veronika M,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
H.Halil Sabban,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
M.Eko Joko P,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Siti Nurhayati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Tikyono,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Nurjamilah,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Supomo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Ahmad Hasan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Purnama,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Yuni Daru,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
Siti Nurhayati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 01-05-2009
112.000.000 16.800.000
Penuntutan Pidum Murtiningsih,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Fitria.T,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Manna Sihombing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Fitria.T,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Halil Sabban,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Supriyo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Pardan Rachim,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Tikyono,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Sri Ambarwati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
H.N.Ridwan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
H.N.Ridwan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Pujiati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Ratna Nurul,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
Mirza Nurdin,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
H.Halil Sabban,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 18-05-2009
100.000.000 15.000.000
Penuntutan Pidum H.N.Ridwan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Soediharjo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Pardan Rachim,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Didiet Ediana,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
H.N.Ridwan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Mirza Nurdin,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Didiet Ediana,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Pujiati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Tikyono,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Fitria T,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Efi Laila Kholis,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
Siti Nurhayati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 02-06-2009
104.000.000 15.600.000
Penuntutan Pidum Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Supomo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Pardan Rachim,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Fitria T,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Nurjamilah,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Efi Laila Kholis,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Sri Ambarwati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Fitria T,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Efi Laila Kholis,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
H.N.Ridwan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Soediharjo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Didiet Ediana,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Siti Nurhayati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Nurjamilah,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Herlina D.Sinaga,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Romi Rozali,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Supriyo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Soediharjo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
H.N.Ridwan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 10-06-2009
116.000.000 17.400.000
Eksekusi Pidum Yuliana,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 24-06-2009
Apsari Dewi,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 24-06-2009
Supriyati,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 24-06-2009
Apsari Dewi,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 24-06-2009
Isa Gasing,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 24-06-2009
Isa Gasing,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 24-06-2009
9.000.000 1.350.000
Penuntutan Pidum Supardi,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Mirza Nurdin,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Tikyono,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Pardan Rachim,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Sipriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Sri Ambarwati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Siti Nurhayati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
H.M.Zen Idris,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Isa Gasing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Soediharjo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Pardan Rachim,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Soediharjo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Suwasti,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Ratna Nurul A,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Mirza Nurdin,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Ratna Nurul A,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Manna Sihombing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
H.N.Ridwan,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
Manna Sihombing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 24-06-2009
108.000.000 16.200.000
Penuntutan Pidum Kamaruzaman,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Murtiningsih,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Murtiningsih,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Tikyono,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Pardan Rachim,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Herlina D.Sinaga,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Demitri,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Isa Gasing,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Mansyur,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Heru Widarmoko,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Fitria T,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
M.Nasir,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Pardan Rachim,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Demitri,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Mansyur,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Fransisca J,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
80.000.000 12.000.000
Pardan Rachim,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Aswai Roni,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Sri Ambarwati,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Supomo,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Fitria T,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Soediharjo,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Fitria T,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Fransisca J,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
Fransisca J,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000 27-07-2009
45.000.000 6.750.000
Penuntutan Pidum Pujiati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Didiet Ediana,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Sri Ambarwati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Mansyur,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Aswai Roni,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Erni V.Maramba,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Helina D.Sinaga,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Nelita,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Endang Rchmawati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Siti Nurhayati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Ratna Nurul Afiah,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Nurjamilah,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Supriyati,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Manna Sihombing,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Demitri,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Fransisca J,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Soediharjo,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Pardan Rachim,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
M.Nasir,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
M.Nurhasanah R,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
Mirza Nurdin,SH 4.000.000 1 4.000.000 600.000 04-09-2009
84.000.000 12.600.000
Eksekusi Pidum Muhammad Kandi,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Muhammad Kandi,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Isa Gasing,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Isa Gasing,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Gusti M Sophan S,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Tikyono,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Soediharjo,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Tikyono,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Pardan Rachim,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Pardan Rachim,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Isa Gasing,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Kamaruzzaman,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Isa Gasing,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
1.500.000 225.000
Muhammad Ichwan,SH 1.500.000 1 16-09-2009
Apsari Dewi,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Budi Narsanto,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Purwaningtyas,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
Apsari Dewi,SH 1.500.000 1 1.500.000 225.000 16-09-2009
1.500.000 225.000
Manuel Rudi Pailang,SH 1.500.000 1 16-09-2009
1.500.000 225.000
Manuel Rudi Pailang,SH 1.500.000 1 16-09-2009

30.000.000 4.500.000
2.000.000 300.000
Upaya Hukum Pidum Pujiati,SH 2.000.000 1 02-12-2009
Pujiati,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
Agus Prastowo,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
Nelita A,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
2.000.000 300.000
Oktario Hartawan A,SH 2.000.000 1 02-12-2009
Silvia Desty,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
2.000.000 300.000
Oktario Hartawan A,SH 2.000.000 1 02-12-2009
Tjut Zelvira Novani,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
Silvia Desty,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
Tjut Zelvira Novani,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
Silvia Desty,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 02-12-2009
22.000.000 3.300.000
Eksekusi Pidum Hanafiah,SH 997.750 1 997.750 149.663 02-12-2009
Siti Nurhayati,SH 997.750 1 997.750 149.663 02-12-2009
Dametua Sagala,SH 997.750 1 997.750 149.663 02-12-2009
Muhammad Kandi,SH 997.750 1 997.750 149.663 02-12-2009
3.991.000 598.650
Penuntutan Pidum Endang Rahmawati,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Erni V Maramba,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Purnama,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Demitri,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Tikyono,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Siti Nurhayati,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Nurjamilah,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Supriyati,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Herlina D.Sinaga,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Efi Laila Kholis,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Erni V Maramba,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Palti Sihombing,SH 3.925.000 1 3.925.000 588.750 02-12-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Supriyati,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Fitria T,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Mirza Nurdin,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Hanafiah,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Yuliana Dewi,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Aswai Roni,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
Dametua Sagala,SH 3.900.000 1 3.900.000 585.000 02-12-2009
74.125.000 11.118.750
Eksaminasi Pidum Nur Rochmad,SH 2.250.000 1 2.250.000 337.500 28-12-2009
Nur Rochmad,SH 4.250.000 1 4.250.000 637.500 28-12-2009
6.500.000 975.000
Penuntutan Pidum Efi Laila Kholis,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Mirza Nurdin,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Bachrudin,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Fransisca J,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Dametua Sagala,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Demitri,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Erni V Maramba,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Supriyati,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Nurjamilah,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Siti Nurhayati,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
45.000.000 6.750.000
Efi Laila Kholis,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Sri Ambarwati,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Fransisca J,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Pujiati,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Martha P.Berliana,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
Dametua Sagala,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000 29-12-2009
27.000.000 4.050.000
Total Pidum 1.261.638.000 189.245.700
2 Pidsus
Penuntutan korupsi Nova Elida Saragih,SH 13.500.000 2 27.000.000 4.050.000 04-03-2009
27.000.000 4.050.000
Penyelidikan Korupsi Timbul Pasaribu,SH 5.000.000 1 5.000.000 750.000
19-05-2009
5.000.000 750.000
Penyidikan Korupsi Timbul Pasaribu,SH 5.000.000 2 10.000.000 1.500.000 19-05-2009
10.000.000 1.500.000
Penyelidikan Korupsi Harlan Tampubolon,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000
04-08-2009
Rahmat Triyono,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 04-08-2009
Hapastian Harahap 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 04-08-2009
Kamaruzzaman,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 04-08-2009
30.000.000 4.500.000
Penyidikan Korupsi Deddy Sarikum H,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 04-08-2009
Hapastian Harahap,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 04-08-2009
Harlan Tampubolon,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 04-08-2009
22.500.000 3.375.000
Penuntutan Korupsi Nova Elida Saragih,SH 20.000.000 1 20.000.000 3.000.000 04-08-2009
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
Roland S.Hutapea,SH 20.000.000 1 20.000.000 3.000.000 04-08-2009
40.000.000 6.000.000
Penyelidikan Korupsi Herland J Butar-Butar,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
7.500.000 1.125.000
Penyidikan Korupsi Deddy Sarikum H,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 17-09-2009
Hapastian Harahap,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 17-09-2009
Herlan Tampubolon,SH 7.500.000 2 15.000.000 2.250.000 17-09-2009
Herlan Tampubolon,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
Rakhmat Triyono,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
Asep N.Mulyana,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
52.500.000 7.875.000
Penuntutan Korupsi Waluyo,SH 13.500.000 1 13.500.000 2.025.000 17-09-2009
13.500.000 2.025.000
Penuntutan Pidana Widianto Nugroho,SH 13.500.000 1 13.500.000 2.025.000 28-09-2009
Khusus Bambang Suriharijadi,SH 13.500.000 1 13.500.000 2.025.000 28-09-2009
Harjo,SH 13.500.000 1 13.500.000 2.025.000 28-09-2009
Supriyati,SH 13.500.000 2 27.000.000 4.050.000 29-09-2009
67.500.000 10.125.000
Penuntutan Korupsi Martha P.Berliana,SH 13.500.000 1 13.500.000 2.025.000 28-09-2009
13.500.000 2.025.000
Penyelidikan Korupsi Rakhmat Triyono,SH 7.500.000 2 15.000.000 2.250.000 23-11-2009
Herlan J Butar-butar,SH 7.500.000 2 15.000.000 2.250.000 23-11-2009
30.000.000 4.500.000
Penyidikan Korupsi Hidayatullah,SH 7.500.000 4 30.000.000 4.500.000 23-11-2009
30.000.000 4.500.000
Penuntutan Korupsi Asep N.Mulyana,SH 10.000.000 4 40.000.000 6.000.000 23-11-2009
Nana Mulyana,SH 10.000.000 4 40.000.000 6.000.000 23-11-2009
80.000.000 12.000.000
Upaya Hukum Korupsi Agus Setiadi,SH 2.000.000 2 4.000.000 600.000 28-12-2009
Waluyo,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 28-12-2009
Martha P.Berliana,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000 28-12-2009
8.000.000 1.200.000
Eksekusi Korupsi Maudin,SH 1.825.000 1 1.825.000 273.750 29-12-2009
1.825.000 273.750
Penyidikan Korupsi Diah Ayu Hartati,SH 6.500.000 2 13.000.000 1.950.000 29-12-2009
13.000.000 1.950.000
Total Pidsus 451.825.000 67.773.750
3 Intelijen
Penyelidikan kasus M.Adi Toegarisman,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Sofyan Selle,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Enen Saribanon,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Sutikno,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Sofyan Selle,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Lukimanto,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Mustaming,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Husin Fachmi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Enen Saribanon,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
H.Didiet Ediana,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 19-08-2009
Total Intel 75.000.000 11.250.000
Total Belanja
Belanja Barang Bulan PPh Psl 21 yg
Barang Non Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Non Operasional Kegiata blm dipotong
Operasional Pembayaran
Lainnya n (15%)
Lainnya
4 Datun
Penyelesaian Perkara Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 01-09-2009
Datun (biaya Jaksa Rugun Saragih,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 01-09-2009
Pengacara Negara) Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 01-09-2009
Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 01-09-2009
Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 01-09-2009
37.500.000 5.625.000
Penyelesaian Perkara Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
Datun (biaya Jaksa Rugun Saragih,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
Pengacara Negara) Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 30-09-2009
37.500.000 5.625.000
Penyelesaian Perkara Hermut Achmadi,SH 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 11-11-2009
Datun (biaya Jaksa
Pengacara Negara)
7.500.000 1.125.000
Total Datun 82.500.000 12.375.000
JUMLAH PENUTUPAN 191.825.000 1.870.963.000 280.644.450
Lampiran 1.1.2
BELANJA TIM JAKSA BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJAKSAAN NEGERI JAKARTA TIMUR
(dalam rupiah)
PPh Psl 21 yg
Honor per Jumlah Bulan Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Total Honor blm dipotong
Bulan Orang Kegiatan Pembayaran
(15%)
1 Pidum SUHARTO, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 27-03-2009
KRISNA S, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 26-02-2009
SUHARTO, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 24-04-2009
PRINUKA AROM, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 25-11-2009
S SIMANJUNTAK, SH. Dkk 3.000.000 14 1 42.000.000 6.300.000 18-05-2009
RAHIMAH, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 15-05-2009
DESY FITRIA, SH. DKK 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 06-07-2009
SUHARTO, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 19-08-2009
TRI HARYATUN, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 08-09-2009
EMILWAN R, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 08-10-2009
YULIANA SAGALA, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 30-10-2009
TRI SULANI, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 18-11-2009
ARIEF M, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 01-12-2009
IBNU SUUD, SH. Dkk 3.000.000 8 1 24.000.000 3.600.000 07-12-2009
TRI SULANI, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 09-09-2009
Dt.R. ANWAR, SH. Dkk 3.000.000 12 1 36.000.000 5.400.000 04-05-2009
48.000.000 570.000.000 85.500.000
2 Pidsus KASI PIDSUS, Dkk 1.250.000 6 1 7.500.000 1.125.000 01-12-2009
KASI PIDSUS, Dkk 1.250.000 4 3 15.000.000 2.250.000 11-09-2009
KASI PIDSUS, Dkk 1.250.000 4 3 15.000.000 2.250.000 18-11-2009
KASI PIDSUS, Dkk 1.250.000 4 3 15.000.000 2.250.000 15-12-2009
KASI PIDSUS, Dkk 1.500.000 9 1 13.500.000 2.025.000 01-12-2009
KASI PIDSUS, Dkk 1.500.000 9 1 13.500.000 2.025.000 14-12-2009
8.000.000 79.500.000 11.925.000
3 Datun Plt.KASI DATUN, Dkk. 1.250.000 12 2 30.000.000 4.500.000 15-12-2009
1.250.000 30.000.000 4.500.000
Jumlah 57.250.000 679.500.000 101.925.000
Lampiran 1.1.3
BELANJA TIM JAKSA BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJAKSAAN NEGERI JAKARTA UTARA
(dalam rupiah)
PPh Psl 21 yg
Honor per Jumlah Bulan Tanggal
No Perkara Nama Penerima (JPU) Total Honor blm dipotong
Bulan Orang Kegiatan Pembayaran
(15%)
1 Pidum Rusmanto, SH. MH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 23-02-2009
Rengganis, SH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 18-03-2009
Yuana Nursyiam, SH. MH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 16-04-2009
Oman Setiawan, SH. MH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 12-05-2009
Azi Tyawardana, SH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 26-05-2009
Noly Wijaya, SH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 24-06-2009
M. Ichwan, SH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 29-07-2009
Apsari Dewi, SH. LLm, dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 07-08-2009
Badriah, SH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 08-09-2009
Drs. Fajar S, SH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 12-10-2009
Sudarno, SH. dkk 6.000.000 7 1 42.000.000 6.300.000 12-11-2009
Arofah bahtiar, SH. dkk 6.000.000 16 1 96.000.000 14.400.000 03-12-2009
Ade Solehudin, SH. dkk 6.000.000 3 1 18.000.000 2.700.000 10-12-2009
78.000.000 576.000.000 86.400.000
2 Pidsus Hilam Azazi, SH. dkk 4.500.000 3 1 13.500.000 2.025.000 27-10-2009
Hilam Azazi, SH. dkk 4.500.000 3 1 13.500.000 2.025.000 27-10-2009
Hilam Azazi, SH. dkk 2.700.000 5 1 13.500.000 2.025.000 27-10-2009
Rengganis S, SH. dkk 3.750.000 3 1 11.250.000 1.687.500 10-12-2009
Hilam Azazi, SH. dkk 2.500.000 6 1 15.000.000 2.250.000 10-12-2009
17.950.000 66.750.000 10.012.500
3 Intelijen Teguh Wardoyo, SH, dkk 2.500.000 3 1 7.500.000 1.125.000 27-10-2009
Badrut Tamam, SH, dkk 2.500.000 3 1 7.500.000 1.125.000 10-12-2009
5.000.000 15.000.000 2.250.000
4 Datun Topan Z, SH. Dkk 5.625.000 2 1 11.250.000 1.687.500 27-10-2009
Topan Z, SH. Dkk 2.250.000 5 1 11.250.000 1.687.500 07-08-09
5.625.000 11.250.000 1.687.500
Jumlah 106.575.000 669.000.000 100.350.000
Lampiran 1.2.1
HONORARIUM TIM JAKSA BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJARI MALANG

PPh Psl 21
Perkar Honor per yg blm Tanggal
No Nama Bulan Total Honor
a Bulan dipotong Pembayaran
(15%)
1 Pidum Triono Rahyudi, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000 29-Mei-09
Triono Rahyudi, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000 20-Apr-09
Triono Rahyudi, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000 30-Apr-09
Triono Rahyudi, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000 30-Mar-09
Triono Rahyudi, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000 30-Jun-09
Triono Rahyudi, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000 27-Feb-09
Triono Rahyudi, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000 30-Jan-09
42.000.000 6.300.000
2 Pidsus Kristiawan, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000 17-Mar-09
Fanita Kurniati, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Dwi Anggini, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Adianto, SH. M.Hum. 1.250.000 4 5.000.000 750.000 16-Feb-09
Indra Hidayanto, SH,MH. 1.250.000 4 5.000.000 750.000

Ari Kuswadi, SH 1.250.000 4 5.000.000 750.000


Indra Hidayanto, SH,MH. 1.250.000 3 3.750.000 562.500
14-Jul-09
Nunung Nur'aini, SH. 1.250.000 3 3.750.000 562.500
MH.
Agung Wibowo, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Slamet Hariadi, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Indra Hidayanto, SH,MH. 1.250.000 3 3.750.000 562.500
31-Jul-09
Kristiawan, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Wahyu Triantono, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Ari Kuswadi, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Indra Hidayanto, SH,MH. 1.250.000 3 3.750.000 562.500
12-Agust-09
Ade Elvi, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Dwi Anggini, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Slamet Hariadi, SH 1.250.000 3 3.750.000 562.500
Indra Hidayanto, SH,MH. 1.250.000 2 2.500.000 375.000
07-Sep-09
Jefferdian, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Ari Kuswadi, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Indra Hidayanto, SH,MH. 1.500.000 3 4.500.000 675.000
14-Des-09
Slamet Hariadi, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Iwan Winarso, SH. 1.500.000 3 4.500.000 675.000
M.Hum.
Indra Hidayanto, SH,MH. 1.500.000 3 4.500.000 675.000
24-Nop-09
Kristiawan, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Ari Kuswadi, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Indra Hidayanto, SH,MH. 1.500.000 3 4.500.000 675.000
30-Sep-09
Slamet Hariadi, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Ari Kuswadi, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
121.500.000 18.225.000
3 Intelijen Jefferdian, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000 16-Mar-09
Wahyu Triantono, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Slamet Hariadi, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Jefferdian, SH 1.250.000 6 7.500.000 1.125.000 09-Nop-09
Jefferdian, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000 20-Apr-09
Wahyu Triantono, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Slamet Hariadi, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Jefferdian, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000 30-Jun-09
Wahyu Triantono, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Slamet Hariadi, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
30.000.000 4.500.000
4 Datun Eni Setiani, SH 3.750.000 1 3.750.000 562.500 17-Jun-09
Ari Kuswadi, SH 3.750.000 1 3.750.000 562.500
PPh Psl 21
Perkar Honor per yg blm Tanggal
No Nama Bulan Total Honor
a Bulan dipotong Pembayaran
(15%)
Kristiawan, SH 3.750.000 1 3.750.000 562.500
Taufik, SH 3.750.000 1 3.750.000 562.500
Witono, SH. M.Hum 3.750.000 1 3.750.000 562.500 24-Agust-09
Taufik, SH 3.750.000 1 3.750.000 562.500
Kristiawan, SH 3.750.000 1 3.750.000 562.500
Fanita Kurniati, SH 3.750.000 1 3.750.000 562.500
30.000.000 4.500.000
Jumlah 0 0 223.500.000 33.525.000
Lampiran 1.2.2
HONORARIUM TIM JAKSA BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJARI BATU

PPh Psl 21
Honor per Jml yg blm Tanggal
No Perkara Nama Penerima Total Honor
Bulan Bulan dipotong Pembayaran
(15%)
1 Pidum Deddy Koerniawan, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000
14-Jul-09
Deddy Koerniawan, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000
06-Okt-09
Deddy Koerniawan, SH 2.000.000 3 6.000.000 900.000
17-Jun-09
18.000.000 2.700.000
2 Pidsus Dody Sukmono, SH 4.500.000 3 13.500.000 2.025.000 15-Jun-09
Dody Sukmono, SH 4.500.000 3 13.500.000 2.025.000 03-Sep-09
Dody Sukmono, SH 4.500.000 3 13.500.000 2.025.000 07-Okt-09
Dody Sukmono, SH 4.500.000 3 13.500.000 2.025.000 24-Nop-09
54.000.000 8.100.000
3 Intelijen Teguh Imanto, 3.750.000 2 7.500.000 1.125.000 05-Nop-09
Teguh Imanto, 3.750.000 2 7.500.000 1.125.000
SH.M.Hum. 11-Agust-09
15.000.000 2.250.000
4 Datun 0 0
0 0
Jumlah 0 0 87.000.000 13.050.000
Lampiran 1.2.3
HONORARIUM BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJARI MAGETAN

PPh Psl 21
Honor per yg blm Tanggal
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong Pembayaran
(15%)
1 Pidum Sundaya, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 29-Jun-09
Sundaya, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 24-Jul-09
Sundaya, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 24-Sep-09
Sundaya, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 04-Des-09
Sundaya, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 29-Mei-09
Sundaya, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000 28-Des-09
36.000.000 5.400.000
2 Pidsus 0 0
0 0
3 Intelijen Robert Ilat, 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000 05-Okt-09
Robert Ilat, 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000
SH.MH. 09-Okt-09
Robert Ilat, 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000
SH.MH. 30-Okt-09
22.500.000 3.375.000
4 Datun 0 0
0 0
Jumlah 0 0 58.500.000 8.775.000
Lampiran 1.3.1
HONORARIUM BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJARI PANGKEP

PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
1 Pidum Efendi, SH.MH 375.000 6 2.250.000 337.500
Joko B. Darmawan, SH 375.000 33 12.375.000 1.856.250
Satryawati, SH. MH 375.000 12 4.500.000 675.000
Herawanti, SH 375.000 18 6.750.000 1.012.500
Suryani Burhan, SH 375.000 6 2.250.000 337.500
Joko B. Darmawan, SH 1.392.000 7 9.744.000 1.461.600
Satryawati, SH. MH 1.392.000 4 5.568.000 835.200
Joko B. Darmawan, SH 930.000 4 3.720.000 558.000
Herawanti, SH 930.000 6 5.580.000 837.000
Suryani Burhan, SH 930.000 2 1.860.000 279.000
Satryawati, SH. MH 930.000 1 930.000 139.500
8.379.000 99 55.527.000 8.329.050
2 Pidsus H. Marang, SH 790.000 3 2.370.000 355.500
Sri Hartati, SH 790.000 3 2.370.000 355.500
Satryawati, SH. MH 790.000 3 2.370.000 355.500
Herawanti, SH 790.000 3 2.370.000 355.500
H. Marang, SH 275.000 3 825.000 123.750
Sri Hartati, SH 275.000 3 825.000 123.750
Satryawati, SH. MH 275.000 3 825.000 123.750
Herawanti, SH 275.000 3 825.000 123.750
Sri Hartati, SH 3.375.000 2 6.750.000 1.012.500
Joko B. Darmawan, SH 3.375.000 2 6.750.000 1.012.500
Niswan Kadir, SH 3.375.000 2 6.750.000 1.012.500
Agus Darmawijaya, SH.MH 3.375.000 2 6.750.000 1.012.500
Joko B. Darmawan, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Niswan Kadir, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
Sri Hartati, SH 1.500.000 3 4.500.000 675.000
H. Marang, SH 550.000 3 1.650.000 247.500
Sri Hartati, SH 550.000 3 1.650.000 247.500
Satryawati, SH. MH 550.000 3 1.650.000 247.500
Herawanti, SH 550.000 3 1.650.000 247.500
H. Marang, SH 1.024.000 3 3.072.000 460.800
Niswan Kadir, SH 1.024.000 3 3.072.000 460.800
Sri Hartati, SH 1.024.000 3 3.072.000 460.800
Joko B. Darmawan, SH 1.024.000 3 3.072.000 460.800
Hasrita Arief, SH 2.457.000 1 2.457.000 368.550
Niswan Kadir, SH 2.457.000 1 2.457.000 368.550
Agus Darmawijaya, SH.MH 2.457.000 1 2.457.000 368.550
Niswan Kadir, SH 3.375.000 1 3.375.000 506.250
H. Marang, SH 2.457.000 1 2.457.000 368.550
Sri Hartati, SH 2.457.000 1 2.457.000 368.550
H. Marang, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Sri Hartati, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Niswan Kadir, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Agus Darmawijaya, SH.MH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
49.216.000 79 97.828.000 14.674.200
3 Intelijen H. Marang, SH 1.500.000 2 3.000.000 450.000
Efendi, SH.MH 1.500.000 2 3.000.000 450.000
H. Marang, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Niswan Kadir, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Sri Hartati, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
H. Marang, SH 750.000 1 750.000 112.500
Efendi, SH.MH 750.000 1 750.000 112.500
Sri Hartati, SH 750.000 1 750.000 112.500
Herawanti, SH 750.000 1 750.000 112.500
9.000.000 14 15.000.000 2.250.000
4 Datun ST. Rosdiana, SH 625.000 6 3.750.000 562.500
Niswan Kadir, SH 625.000 6 3.750.000 562.500
Sri Hartati, SH 625.000 6 3.750.000 562.500
Joko B. Darmawan, SH 625.000 6 3.750.000 562.500
2.500.000 24 15.000.000 2.250.000
PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
Jumlah 69.095.000 216 183.355.000 27.503.250
Lampiran 1.3.2
HONORARIUM BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJARI MAKASSAR

(dalam Rupiah)
PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
1 Pidum A. Muh.Dachrin, SH 1.960.000 1 1.960.000 294.000
A.Irfan Syafruddin,SH 1.960.000 1 1.960.000 294.000
A.Ilfiah,SH 1.960.000 1 1.960.000 294.000
Noordien K, SH 1.960.000 1 1.960.000 294.000
A.Besse T, SH 1.960.000 1 1.960.000 294.000
Juliaty Batoarung,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Y.P. Tambing, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Armasari,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Fitriani,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Imran Yusuf, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Juliaty Batoarung,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Rahmawati,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Muldani,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Muh.Dachrin, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Berty Oktavianes 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Irma Arriani, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Noordien K, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Mogot Bukara,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Irfan Syafruddin,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Andarias, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Indriani Nurdin,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Besse T, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Abd Madjid Djalil, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Husriah Yusuf,SH. 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Juliaty Batoarung,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Didi Haryono,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Y.P. Tambing, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Fitriani,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Muldani,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Armasari,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Amir Syarifuddin,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Indriani Nurdin,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Arifuddin Sakka,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Andarias, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Muh.Dachrin, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Husriah Yusuf,SH. 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Besse T, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Fitriani,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Juliaty Batoarung,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
Amir Syarifuddin,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Rahmawati,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Imran Yusuf, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Irfan Syafruddin,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Ilfiah,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Juliaty Batoarung,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Armasari,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Y.P. Tambing, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Ali Asron Harahap,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Salemuddin Thalib,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
M.Uswah Ammar,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Abd Madjid Djalil, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Priyambudi,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Salemuddin Thalib,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
M.Uswah Ammar,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A.Irfan Syafruddin,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Marsy Sapu,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Indriani Nurdin,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Muldani,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Andarias, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
A. Muh.Dachrin, SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Mogot Bukara,SH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
Muh.Rizal,SH.MH 1.600.000 1 1.600.000 240.000
101.000.000 62 101.000.000 15.150.000
2 Pidsus Irma Arriani,SH 4.500.000 1 4.500.000 675.000
St Nurhidayah 4.500.000 1 4.500.000 675.000
Amir Syarifuddin,SH 1.200.000 1 1.200.000 180.000
Andarias, SH 1.200.000 1 1.200.000 180.000
Ali Asron Harahap,SH.MH 1.200.000 1 1.200.000 180.000
Imran Yusuf, SH 1.200.000 1 1.200.000 180.000
Noordien K, SH 1.200.000 1 1.200.000 180.000
Amir Syarifuddin,SH 3.000.000 1 3.000.000 450.000
Imran Yusuf, SH 3.000.000 1 3.000.000 450.000
Noordien K, SH 3.000.000 1 3.000.000 450.000
Amir Syarifuddin,SH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
A. Muldani Fajrin,SH.MH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
Andarias, SH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
Amir Syarifuddin,SH 2.400.000 1 2.400.000 360.000
Didi Haryono,SH.MH 2.100.000 1 2.100.000 315.000
Andarias,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Priyambudi,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Ali Asron Harahap,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Salemuddin Thalib,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
A.Irfan Syafruddin,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
Amir Syarifuddin,SH 3.200.000 1 3.200.000 480.000
A. Muldani Fajrin,SH.MH 2.900.000 1 2.900.000 435.000
Andarias,SH 2.800.000 1 2.800.000 420.000
Ali Asron Harahap,SH.MH 2.800.000 1 2.800.000 420.000
Muh.Rizal, SH.MH 2.800.000 1 2.800.000 420.000
Amir Syarifuddin,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Didi Haryono,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
A. Muldani Fajrin,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Andarias,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Priyambudi,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Ali Asron Harahap,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Salemuddin Thalib,SH.MH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
A.Irfan Syafruddin,SH 2.000.000 1 2.000.000 300.000
Amir Syarifuddin,SH 2.700.000 1 2.700.000 405.000
Andarias,SH 2.700.000 1 2.700.000 405.000
Ali Asron Harahap,SH.MH 2.700.000 1 2.700.000 405.000
A. Muldani Fajrin,SH.MH 2.700.000 1 2.700.000 405.000
Noordien.K,SH.MH 2.700.000 1 2.700.000 405.000
Amir Syarifuddin,SH 1.875.000 1 1.875.000 281.250
Andarias,SH 1.875.000 1 1.875.000 281.250
Priyambudi,SH.MH 1.875.000 1 1.875.000 281.250
Muh.Rizal, SH.MH 1.875.000 1 1.875.000 281.250
97.500.000 42 97.500.000 14.625.000
3 Datun Andarias, SH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
Fitriani,SH.MH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
Mogot Bukara,SH.MH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
Salemuddin Thalib,SH.MH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
Ali Asron Harahap, SH.MH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
Muh.Rizal,SH.MH 2.500.000 1 2.500.000 375.000
15.000.000 6 15.000.000 2.250.000
4 Intelijen Didi Haryono,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
Amir Syarifuddin,SH 937.500 1 937.500 140.625
A. Muldani,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
Andarias, SH 937.500 1 937.500 140.625
Priyambudi,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
Salemuddin Thalib,SH 937.500 1 937.500 140.625
Ali Asron Harahap,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
A.Irfan Syafruddin,SH 937.500 1 937.500 140.625
Didi Haryono,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
Amir Syarifuddin,SH 937.500 1 937.500 140.625
A. Muldani,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
Andarias, SH 937.500 1 937.500 140.625
Priyambudi,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
Salemuddin Thalib,SH 937.500 1 937.500 140.625
Ali Asron Harahap,SH.MH 937.500 1 937.500 140.625
PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
A.Irfan Syafruddin,SH 937.500 1 937.500 140.625
15.000.000 16 15.000.000 2.250.000
Jumlah 228.500.000 126 228.500.000 34.275.000
Lampiran 1.3.3
HONORARIUM BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJARI MAROS

(dalam Rupiah)
PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
1 Pidum M. Mansyur, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Andi Mirnawaty, SH. MH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Juliyanti Samburu, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Rustiani Muin, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
A. Nurhasanah Usman, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Djoharia Sehe 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Sulaeha, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Herlina, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Rustiani Muin, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
A. Nurhasanah Usman, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Suddin Said, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Sulaeha, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Juliyanti Samburu, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Andi Irfan, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Rustiani Muin, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
M. Mansyur, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Andi Mirnawaty, SH. MH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
A. Nurhasanah Usman, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
M. Mansyur, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Andi Irfan, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Rustiani Muin, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
A. Nurhasanah Usman, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Suddin Said, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Djoharia Sehe 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Juliyanti Samburu, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Rustiani Muin, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Ridwan Umar, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Haryanti M. Nur, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Herlina, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
A. Nurhasanah Usman, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Suddin Said, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Djoharia Sehe 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Juliyanti Samburu, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Ridwan Umar, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Haryanti M. Nur, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
A. Nurhasanah Usman, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Herlina, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
Andi Irfan, SH 1.000.000 1 1.000.000 150.000
38.000.000 44 44.000.000 6.600.000
PPh Psl 21
Honor per yg blm
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan dipotong
(15%)
2 Pidsus M. Zubair, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
M. Mansur Madjid, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Sinrang, SH. 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Andi Irfan, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Muh. Akbar Yahya, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
M. Zubair, SH 975.000 6 5.850.000 877.500
M. Mansyur Madjid, SH 800.000 6 4.800.000 720.000
Andi Irfan, SH 800.000 6 4.800.000 720.000
Muh. Akbar Yahya, SH 800.000 6 4.800.000 720.000
9.625.000 29 26.500.000 3.975.000
3 Datun Suddin Said, SH 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Ridwan Umar, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Andi Murnawaty, SH. MH. 1.250.000 2 2.500.000 375.000
Haryanti M. Nur, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Juliyanti Samburu, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Andi Irvan, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Suddin Said, SH 1.000.000 4 4.000.000 600.000
Andi Murnawaty, SH. MH. 1.000.000 4 4.000.000 600.000
Haryanti M. Nur, SH 1.000.000 4 4.000.000 600.000
10.500.000 20 22.000.000 3.300.000
3 Intelijen M. Mansyur, SH. 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Andi Irfan, SH 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Muh. Akbar Yahya, SH. 1.000.000 2 2.000.000 300.000
Andi Alamsyah, SH. 1.000.000 2 2.000.000 300.000
M. Mansyur, SH. 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Muh. Akbar Yahya, SH. 1.250.000 1 1.250.000 187.500
Andi Irfan, SH 1.250.000 1 1.250.000 187.500
7.750.000 11 11.750.000 1.762.500
Jumlah 65.875.000 104 104.250.000 15.637.500
Lampiran 1.3.4
HONORARIUM BELUM DIPOTONG PAJAK PENGHASILAN
PADA KEJARI BARRU

PPh Psl 21 yg
Honor per blm dipotong
No Perkara Nama Bulan Total Honor
Bulan (15%)

1 Pidum Andi Mulia Fitri, SH 6.000.000 2 12.000.000 1.800.000


Rismah, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000
Haedar, SH 6.000.000 2 12.000.000 1.800.000
Rika Andriani, SH 6.000.000 2 12.000.000 1.800.000
Advani Ismail Fahmi, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000
Endang Supriadi, SH 6.000.000 1 6.000.000 900.000
Andi Fatmawati, SH 6.000.000 2 12.000.000 1.800.000
42.000.000 11 66.000.000 9.900.000
2 Pidsus Haedar, SH dkk. 13.500.000 3 40.500.000 6.075.000
Rika Andriani, SH dkk. 15.000.000 3 45.000.000 6.750.000
Rika Andriani, SH dkk. 7.500.000 2 15.000.000 2.250.000
36.000.000 8 100.500.000 15.075.000
3 Datun Rika Andriani, SH dkk. 15.000.000 1 15.000.000 2.250.000
15.000.000 1 15.000.000 2.250.000
4 Intelijen Haedar, SH dkk. 7.500.000 1 7.500.000 1.125.000
7.500.000 1 7.500.000 1.125.000
Jumlah 100.500.000 21 189.000.000 28.350.000
Pembangunan Tahap II Gedung Parkir
Kejagung
Pelaksana : PT. PP Lampiran 2

PERBANDINGAN HARGA READY MIX

Harga Satuan Harga Pemda


No. Uraian Pekerjaan Volume Sat Selisih Jumlah
Kontrak DKI
A Pekerjaan Struktur
I.1 Pekerjaan Penahan Tanah Soldier Pile
Beton K300 slump 18 316,51 m3 804.550,00 721.000,00 83.550,00 26.444.410,50
I.2 Caping Beam
Beton K400 slump 14 71,990 m3 725.550,00 690.000,00 35.550,00 2.559.244,50
II Pekerjaan Bore Tambahan dia 80
Beton K250 slump 18 1.179,84 m3 804.550,00 721.000,00 83.550,00 98.575.632,00
III Lantai Basement 1
Plat Lantai
Beton K400 297,90 m3 725.550,00 690.000,00 35.550,00 10.590.345,00
Pile Caps 7 BP
Beton K400 113,72 m3 725.550,00 690.000,00 35.550,00 4.042.746,00
Pile Caps 9 BP Jaj