Anda di halaman 1dari 9

Memarangi Keboodohan

MEMERANGI KEBODOHAN
Penghapusan kemiskinan secara bersama sungguh
usaha mulia. Agama Islam sesuai Alquran dan Sunnah
Rasulullah memberikan perhatian besar kepada masalah
sosial ini. Ajaran Alquran amat memperhatikan usaha-
usaha penanggulangan kemiskinan. Ayat pertama dalam
Mashhaf Alquran, memberikan ciri sifat dan sikap seorang
Muttaqin. Di antaranya, percaya kepada Allah, mendirikan
shalat dan mengeluarkan hartanya untuk kemaslahatan
umat. Artinya, memberi perhatian penuh terhadap
kehidupan orang miskin.

ِ ‫ن ُيؤمن ُببون بببال َْغي‬


‫بو‬ َ ‫ اّلذي‬.‫ن‬
َ ‫دى للمتقي‬ ً ‫ب فيه ه‬
َ ْ ‫ب ل ري‬ َ ‫ ذل‬.‫الم‬
ُ ‫ك الكتا‬
.‫ن‬
َ ‫نفقو‬
ُْ ‫ي‬ ‫رزقناهم‬ ‫ما‬ ‫م‬
ّ ِ ‫و‬ ‫الصلوة‬ ‫ون‬
ْ ‫قيم‬
ِ ُ‫ي‬

Alif Laam Miim. Kitab (Alquran) ini tidak ada


keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang
ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada
mereka. (QS.2, Al Baqarah, : 1-3)

Seorang Muslim tidak perlu segan berusaha


menghapus kemiskinan. Alquran memberikan pelajaran
kepada setiap Muslim tentang cara yang dapat dilakukan
menghapus kemiskinan umat. Alquran menceritakan. Di
kala seorang kafir dimasukkan kedalam neraka, ditanya;
Apa penyebab mereka tercampak ke dalam Neraka.

Jawab mereka tidak shalat, tidak memberi makan


orang miskin, tidak berusaha menghapus kebathilan dan
mendustakan hari pembalasan (hari akhirat).

Suluah Bendang di Minangkabau 1


H. Mas’oed Abidin

Keterangan tersebut diterangkan Allah dengan jelas


di dalam Firman Nya,

.‫ت يتسآئلون‬ ٍ ‫ في جّنا‬.‫ن‬ ِ ‫حاب اليمي‬ َ ‫ إل ّ أص‬.‫ة‬ٌ ‫ت رهين‬ ْ ‫س بما كسب‬ ٍ ‫ل نف‬ ّ ‫ك‬
‫ ولم‬.‫ن‬ ّ
‫لي‬ ‫مص‬ ‫ال‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ك‬ُ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫قالوا‬ .‫ر‬ َ ‫ق‬‫س‬ ‫في‬ ‫م‬ ‫سلكك‬ ‫ما‬ .‫ن‬ ‫مي‬ ‫المجر‬ ‫ن‬
َ ُ َ ْ َ ْ َ ِ ِ ‫ع‬
‫م‬
ِ ْ ‫و‬ ‫ب‬ ‫بي‬ ‫ذب‬ ّ ‫ب‬ ‫نك‬ ‫با‬
‫ب‬ّ ‫ن‬‫ك‬ ‫و‬ .‫ين‬ْ ‫ب‬ ‫خائض‬َ ‫ال‬ َ ‫ع‬ ‫ب‬ ‫م‬ ‫ض‬
ُ ‫خو‬
ُ ‫ن‬ ‫نا‬
ّ ُ ‫ك‬ ‫و‬ ‫ن‬
َ ‫سكي‬
ْ ‫الم‬ ‫م‬
ُ ِ ُ ‫ك‬
‫ع‬‫نط‬ ُ ‫ن‬
.‫ن‬ُ ‫ حّتى أتنا اليقي‬.‫ن‬ ِ ‫دي‬ ّ ‫ال‬

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah


diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di
dalam surga, mereka tanya menanya, tentang
(keadaan) orang-orang yang berdosa, "Apakah yang
memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"
Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk
orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami
tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan
adalah kami membicarakan yang bathil, bersama
dengan orang-orang yang membicarakannya, dan
adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga
datang kepada kami kematian. (QS. 74, Al
Muddatsir : 40 – 47)

Perbincangan menghapus kemalaratan.


Menerjemah kan kalimat memberi makan orang miskin.
Ruang lingkupnya luas sekali. Termasuk menyiapkan
sumber atau usaha untuk si miskin. Mereka mempunyai
harapan hasil dari garapan kerja yang tersedia. Mereka
tidak lagi sibuk mengumpul sesuap nasi untuk makan hari
ini. Mereka sudah mempunyai sumber usaha.
Menghasilkan makan setiap hari. Dengan membanting
tulang. Tidak dengan menampung tangan. Hasil itu dapat
dinikmati untuk diri dan keluarganya. Artinya, lahir
kemandirian.

Mereka diangkat dari dhaif lemah kepada kuat


berdaya (empowerment). Secara konvensional, miskin
adalah peminta-minta. Dia tidak punya kerja. Kecuali
meminta-minta. Sungguhpun mereka memiliki hak untuk
2 Suluah Bendang di Minangkabau
Memarangi Keboodohan

meminta-minta kepada orang yang berpunya. Tapi orang


berpunya mesti mengetahui bahwa di tangan mereka ada
kewajiban menyejahterakan orang fakir dengan usaha.

.‫وقن ِْين‬
ْ ‫ت للم‬
ٌ ‫ و في الْرض آيا‬.‫حُروم‬ ْ ‫م‬
َ ‫ساِئل و ال‬ّ ‫م حقّ لل‬
ْ ِ‫وال ِه‬
َ ‫م‬
ْ ‫و في أ‬
.‫سبماِء رزُقكبم ومبا ُتوعبدْون‬ ّ ‫ و فبي ال‬.‫كم أفل ت ُْبصبرْون‬ ُ ‫و في أْنفسب‬
.‫ون‬ َ ‫ لحقّ مث‬،‫ض إنه‬
ْ ‫ل ما أّنكم تنظق‬ ِ ‫ماِء و الْر‬َ ‫ب الس‬ ّ ‫فور‬

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang


miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak
mendapat bahagian. Dan di bumi itu terdapat tanda-
tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang
yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri.

Maka apakah kamu tiada memperhatikan? Dan di


langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat
(pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi
Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang
dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi)
seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS.51,al-
Dzariyat : 19-23)

Tidak bermartabat, membiarkan diri selalu menjadi


peminta-minta. Tidak mulia tindakan orang kaya yang
memupuk kebiasaan agar orang selalu memelas kasih
darinya. Dalam sebuah ajaran Rasululah SAW. ditegaskan,
“Mencari kayu api ke hutan, mengikatnya dan kemudian
menjualnya, (berusaha dengan tangan sendiri, memeras
keringat), kemudian hasilnya kamu terima, dan kamu
makan berserta keluarga di rumah, lebih bermartabat, dari
kamu berkeliling menengadahkan tangan meminta-minta,
diberi ataupun tidak diberi oleh orang lain. Allah lebih
senang kepada tangan yang di atas daripada tangan yang
di bawah (peminta-minta).”

Umar bin Khattab, memberikan arahan lebih keras.


Tatkala dilihatnya seorang pemuda, menengadah tangan
meminta rezeki tanpa meninggalkan dinding Ka’bah dari
pagi hingga malam, dengan nada memelas. “Wahai Tuhan,
Suluah Bendang di Minangkabau 3
H. Mas’oed Abidin

berilah aku rezeki harta”. Dengan nada keras, sembari


mengancam dengan mata pedangnya, Umar
mengingatkan, “Wahai pemuda. Janganlah sekali-kali
kamu hanya pandai menengadahkan tangan,
meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus
tahu, sejak langit berkembang, Allah tidak pernah
menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan
tanganmu! Allah akan beri kamu rezeki.”

Peringatan keras ini adalah ajaran yang dalam.


Larangan meminta-minta. Tumbuhkan sikap berusaha.
Lahirkan etos kerja yang tinggi. Sebagai pembuka jalan
bagi pintu rezeki. Di sini satu kunci menghapuskan
kemiskinan melalui “pemberian pelajaran”. Menumbuhkan
“harga diri”.

Melahirkan “rasa malu untuk menjadi beban orang


lain. Harus ada program jelas untuk mengubah kebiasaan.
Orang miskin adalah orang yang serba kekurangan. Orang
yang kekurangan lantaran tidak mempunyai apapun. Tidak
memiliki mata pencaharian. Tidak mempunyai kepandaian
dalam mencari nafkah. Mereka perlu dibantu dan
diangkatkan derajatnya.

Dicarikan baginya lahan dan lapangan pekerjaan.


Dibuatkan untuk mereka sumber pengidupan. Dididik
mereka untuk bisa berusaha untuk hidup. Ajarkan mereka
arti dan makna “madiri” dalam bentuk perbuatan dan
kenyataan.

Lebih halus ta’rif Rasul SAW menurut riwayat


Bukhari Muslim. “Orang miskin itu bukanlah mereka
yang berkeliling meminta-minta (sebagai
pemulung), agar diberikan kepadanya sesuap nasi
atau sebuah dua biji korma. Tapi orang miskin itu,
adalah mereka yang hidupnya tidak layak
berkecukupan. Kemudian mereka diberi sedekah,

4 Suluah Bendang di Minangkabau


Memarangi Keboodohan

dan sesudah itu mereka tidak pergi lagi meminta-


minta kepada orang lainnya.”

Hadist lainnya menyebutkan; “Orang miskin itu,


hanyalah orang yang menjaga kehormatannya.”
Bahkan, orang fakir tidak selamanya orang peminta-
peminta.

‫ض‬ ُ ‫للفقراِء اّلذي‬


ِ ‫ستطْيعون ضرًبا في الر‬ ْ ‫حصُروا في سِبيل اللهِ ل ي‬ ْ ‫نأ‬َ
‫ن‬َ ‫هم ل يسبَئلو‬
ُ ‫ف َتعرِفُُهبم بسبْيما‬ِ ‫فب‬ّ ‫ل أغنيباَء مبن التع‬ُ ‫جاهب‬ َ ‫م ال‬
ُ ‫حسبه‬ْ ‫ي‬
.‫م‬
ٌ ‫ه بهِ علي‬
َ ‫ن الل‬ّ ‫ن خيرٍ فإ‬ْ ‫قوا م‬ ً
ُ ‫س إلحافا وما ُتنف‬ َ ‫الّنا‬

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat


(oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat
(berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu
menyangka mereka orang kaya karena memelihara
diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan
melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada
orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang
baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (QS.2, al
Baqarah :273).

Mereka perlu mendapatkan perhatian. Terhadap


nasib mereka perlu ditumbuhkan kepedulian yang tinggi.
Kemelaratan musuh besar kemanusiaan. Mestinya
kekuatan harus disusun rapi dan kuat untuk melenyapkan
kemelaratan umat di nagari. Karena, "hampir saja
kefakiran (kemelaratan) itu yang membuka peluang untuk
kufur (durhaka dan menolak kebenaran ajaran agama"

Kemelaratan adalah hasil perbuatan manusia juga.


Memenuhi kebutuhan melalui riba. Hilangnya ukuran
pantas dan patut. Kemelaran lahir karena hilangnya etos
kerja. Berperangai malas dan lalai (syaithaniyah). Menjadi
amat berbahaya di tengah umat tatkala berdampingan
dengan kebodohan. Menjadi bencana dikala umat
menyantap riba. Riba berakibat "meningkatnya harga
barang yang normal menjadi sangat tinggi". Berpengaruh
Suluah Bendang di Minangkabau 5
H. Mas’oed Abidin

besar terhadap neraca pembayaran antar bangsa.


Melejitnya laju inflasi. Akibatnya akan dirasakan pada
semua orang pada semua tingkah penghidupan.

Karena itu, riba mesti di jauhi. Riba adalah haram.

‫قوا اللببه لعّلكببم‬ُ ّ ‫ة و ات‬ً ‫ن آمُنوا ل َتأكلوا الّربوا أضعاًفا مضاعف‬ َ ‫يأّيها اّلذي‬
َ ‫ه و الّرسو‬
‫ل‬ ‫الل‬ ‫عوا‬ ‫ي‬ ‫ط‬ َ ‫أ‬ ‫و‬ .‫ن‬ ‫فري‬ ‫للكا‬ ‫دت‬ ُ
‫أع‬ ‫تي‬ّ ‫ل‬‫ا‬ ‫ر‬‫نا‬‫ال‬ ‫قوا‬ُ ‫ت‬‫ا‬ ‫و‬ .‫حون‬
َ ُِْ َ ِ ّ ِ َ ّ ّ ُ ‫فل‬ْ ‫ت‬
.‫ن‬
َ ‫مو‬ َ ‫َلعلكم ت ُْر‬
ُ ‫ح‬ ُ ّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu


memakan riba dengan berlipat ganda dan
bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu
mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu
dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang
yang kafir. Dan ta`atilah Allah dan Rasul, supaya
kamu diberi rahmat. (QS.2, al Baqarah : 130-132).

Benih malas mewarnai bangsa melarat dan bodoh.


Tumbuh subur generasi yang tidak memiliki kemampuan
mengatur diri sendiri (mandiri). Pada gilirannya terpaku
pada konsepsi orang yang lebih kuat. Generasi yang malas
dan bodoh mustahil diharapkan memimpin bangsanya
karena tidak memiliki aset apa-apa. Berpeluang diutak-atik
orang lain. Inilah problema yang di hadapi di abad ini.

Kebodohan dan keterbelakangan yang mendera


umat Islam diberbagai belahan dunia. Sangat wajar
dipulangkan kepada umat Islam sendiri. Umat ini harus
menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan
kehidupannya. Menjadikan Alquran benar-benar pedoman
hidup. Untuk mencapai kesejahteraan di dunia maupun di
akhirat.

Apabila kita sadari bahwa pelunturan kadar umat


Islam di negara ini, akan berakibat fatal bagi hilangnya
kekuatan nasional. Lebih dari 85 persen penduduk negeri
tercinta Indonesia adalah umat Islam. Kalau umat Islam
6 Suluah Bendang di Minangkabau
Memarangi Keboodohan

masih "mendua", tidak sepenuh hati menjadikan Alquran


pedoman hidup, selama itu pula umat Islam akan ditimpa
berbagai macam kegelisahan dan penderitaan. Sebab,
umat Islam yang menderita itu, tidak bisa dilepaskan dari
keingkaran kepada kebenaran ayat-ayat Alquran. Fakir dan
miskin, adalah bayangan kehidupan yang berbahaya.
“Hampir-hampir kefaqiran yang membawa kekufuran”.
Walaupun tidak selamanya orang kufur adalah orang fakir.

Terminologi sosialnya, bahwa kekufuran terbuka


pada pintu fakir. Mengatasi kefakiran dan kemiskinan,
bermakna menghambat peluang kufur. Disini terletak satu
peran utama setiap muslim yang mampu. Ini pula yang
mestinya disosialisasikan oleh Imam khatib Adat Suluah
bendang di Nagari di Ranah Minangkabau.

Kewajiban asasi “hablum minanaasi”, yaitu


hubungan horizontal antara sesama manusia (Muslim).

PENGUKUHAN PENGURUS BAZ KABUPATEN AGAM DI LUBUK BASUNG

Ali bin Abi Thalib berkata, “Andaikata, kefakiran


atau kemiskinan mewujudkan dirinya dalam sosok tubuh
seperti manusia, niscaya aku akan cabut pedangku. Aku
tebas batang lehernya. Sehingga kemiskinan (kefakiran)
itu tidak sempat hidup ditengah kehidupan manusia
banyak.”. Ungkapan Ali bin Abi Thalib ini dapat dimaknai
Suluah Bendang di Minangkabau 7
H. Mas’oed Abidin

sebagai – Maklumat Kepala Negara -- untuk perang


melawan kemiskinan (kefakiran).

Umar bin Khattab, langsung menghapuskan


kemiskinan di zamannya. Dalam satu kisah populer, Umar
bin Khattab selalu melakukan perjalanan incognito, ke
pelosok-pelosok nagari, ke gubuk-gubuk reot. Melihat dan
meneliti keadaan kehidupan masyarakat kalangan bawah.

Di suatu malam, Umar bin Khattab mendengar


suara tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Terdengar
pula dendangan ibu menentramkan tangisan anak itu.

Setelah mendekat, Umar bin Khattab meminta izin


kepada sang Ibu agar diperbolehkan masuk. Dalam dialog
pendek, dari sang ibu didapat penjelasan, bahwa dia
berusaha menenangkan tangisan anaknya yang tengah
kelaparan. Untuk menghibur dan menenangkan anak
menjelang tidur. Ibu itu sengaja merebus batu.

Umar bertanya kepadanya, “Wahai ibu, kenapa ibu


tidak datang saja kepada Amirul Mukminin (Umar bin
Khattab), untuk meminta pangan. Sehingga tidak perlu
berbohong terhadap anakmu”.

Sang Ibu menjawab, “Seharusnya Amirul Mukminin


tahu tentang nasib rakyatnya.” Umar segera bangkit dan
pamit dengan wajah duka. Di dalam hatinya berkecamuk
rasa iba dan tanggung jawab. Memang kewajibannya,
membela rakyatnya yang miskin.

Dia kumpulkan gandum yang ada dirumahnya.


Dimasukkannya ke dalam karung. Dipikulnya sendiri
dengan pundaknya. Dibawanya juga di malam hari itu, ke
rumah ibu yang merebus batu untuk anaknya yang
kelaparan. Dia masak sendiri gandum bawaannya hingga
matang. Siap dihidangkan sebagai makanan yang layak.
Dia berikan kepada anak yang tengah kelaparan itu.
8 Suluah Bendang di Minangkabau
Memarangi Keboodohan

Diapun bergurau dengan anak itu sampai sang anak


tertidur. Tidur bukan karena lapar. Tapi tidur dengan perut
berisi.

Demikian salah satu bentuk upaya nyata bagaimana


Umar bin Khattab menghapuskan kemisikinan di
zamannya.1 Umar menjadi orang yang pertama dalam
banyak hal. Mendirikan baitul-maal, pembagian warisan.
Mengirimkan bahan makanan melalui Laut Merah dari
Mesir ke Madinah. Menetapkan pengenaan zakat atas
ternak kuda. Menyediakan gudang-gudang yang berisi
gandum, bahan pangan bagi orang-orang yang kehabisan
bahan makanan, fakir miskin.

1
Kita barangkali dapat menirunya di zaman serba maju dalam abad informasi ini dengan
mendirikan satu lembaga amil zakat yang dikelola secara modern berisikan data-data
selengkapnya tentang bagaimana menghitung zakat, kepada siapa telah di bagikan dan
berapa sisa yang tersedia, dalam lingkungan kecil kemudian menjangkau lingkungan besar.
Bukan sebaliknya.
Suluah Bendang di Minangkabau 9