Anda di halaman 1dari 11

1.1.

LATAR BELAKANG
1.1.1. Umum
Kabupaten Gresik memiliki posisi yang cukup strategis di Propinsi Jawa Timur yai
tu sebagai kota penyangga Kota Metropolitan Kota Surabaya, baik ditinjau dari se
gi geografis, potensi sumberdaya alam, Kabupaten Gresik juga memiliki potensi pa
da sektor-sektor lainnya seperti industri, pertanian, perikanan, perdagangan dan
jasa. Kelima sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomi
an Kabupaten Gresik.
Perkembangan sektor-sektor tersebut berdampak terhadap pola pemanfaatan ruang ya
ng ada. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, diperlukan suatu arahan ruang dal
am bentuk “PENATAAN RUANG”. Pemerintah Kabupaten Gresik telah mengantisipasi hal ter
sebut dengan disusunnya Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gresik yang berfung
si sebagai acuan untuk penyusunan program sektor maupun acuan perumusan kebijaka
n penataan ruang.
Berdasarkan pada tingkatan kedalaman perencanaan tata ruang, maka produk perenca
naan RTRW Kabupaten Gresik tersebut perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan renc
ana rinci tata ruang. Rencana rinci tata ruang tersebut, selanjutnya dikelompokk
an berjenjang yaitu:
1. Rencana Detail Tata Ruang
2. Rencana Teknik Ruang Kota atau Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan
Dengan mengacu pada tingkatan tata ruang yang ada, maka setelah disusunnya Renca
na Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gresik, perlu ditinjaklanjuti dengan PENYUSUNAN
RENCANA DETAIL TATA RUANG SETIAP KECAMATAN, yang merupakan pengaturan yang mempe
rlihatkan keterkaitan antara blok-blok penggunaan kawasan untuk menjaga keserasi
an pemanfaatan ruang dengan manajemen transportasi dan pelayanan utilitas.
Adapun fungsi dari Rencana Detail Tata Ruang adalah :
• Sebagai instrumen untuk pengendalian perkembangan wilayah kecamatan.
• Sebagai acuan penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan.
• Sebagai acuan penyusunan program dan manajemen wilayah.
1.1.2. Khusus
Pemerintah Kabupaten Gresik telah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kab
upaten Gresik Tahun 2008 – 2028, dan berdasarkan jenjang penataan ruang maka RTRW
tersebut perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan rencana lebih rinci, sehingga p
roduk perencanaan akan benar-benar dapat dilaksanakan sebagai pedoman di lapanga
n serta akan lebih berfungsi sebagai acuan penyusunan program-program sektoral m
aupun acuan perumusan kebijakan penataan ruang. Kecamatan Bungah berbatasan lang
sung dengan Kota Surabaya yang merupakan Kota Metropolitan sehingga perkembangan
penataan ruangnya akan berpengaruh langsung pada wilayah studi. Guna menjawab d
an mengakomodasikan kondisi di atas, maka pada tahun anggaran 2008, disusunnya
Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bungah.
1.2. MAKSUD, TUJUAN, SASARAN, FUNGSI DAN MANFAAT
1.2.1. Maksud
Maksud yang ingin dicapai dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan B
ungah Kabupaten Gresik yaitu:
• Diperolehnya suatu perencanaan tata ruang yang terpadu, serasi, selaras dan seim
bang dengan lingkungan serta berdaya guna sesuai dengan fungsi dan manfaatnya.
1.2.2. Tujuan
Tujuan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik ya
itu:
1. Memberikan arahan lokasi bagi pemanfaatan ruang untuk kegiatan pembangun
an dalam rangka mendukung tercapainya fungsi kawasan yang optimal.
2. Meningkatkan pendapatan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) seba
gai pengaruh dari perkembangan kawasan.
3. Memudahkan dalam pengewasan, pengendalian dan pengelolaan lingkungan den
gan penataan kawasan sesuai dengan zona kegiatan (peruntukan lahan) yang dikemba
ngkan.
1.2.3. Sasaran
Sasaran penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik y
aitu:
1. Terciptanya kawasan yang memenuhi syarat tata ruang dan tata lingkungan
serta terpadu dengan kawasan kota lainnya.
2. Meningkatkan daya tarik kawasan sebagai upaya pengembangan kawasan melal
ui penataan ruang serta penyediaan sarana dan prasarana kawasan yang memadai, se
hingga diharapkan investasi kawasan tersebut juga akan meningkat.
3. Terciptanya suatu pengembangan kawasan yang dapat meningkatkan pendapata
n
4. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan pengembangan kawasan
dan pengelolaan lingkungan.
5. Melakukan penataan secara detail/terinci pada beberapa simpul kawasan se
suai dengan arahan lokasi kecenderungan perkembangan kawasan.
Sedangkan sasaran yang dapat dijabarkan oleh dalam produk perencanaan yaitu:
Rencana Struktur Ruang
Rencana Pola Ruang
Rencana Kawasan Khusus atau Potensial Berkembang
Arahan Pemanfaatan Ruang
Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
1.2.4. Fungsi
Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik berfungsi untuk:
1. Menyiapkan perwujudan ruang dalam rangka pelaksanaan program pembangunan
perkotaan.
2. Menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian perkembangan kawasan perk
otaan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.
3. Menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien.
4. Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan perkotaan melalui pengendal
ian program-program pembangunan perkotaan.
1.2.5. Manfaat
Manfaat Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik adalah sebag
ai pedoman untuk:
1. Pemberian advis planning
2. Pengaturan bangunan setempat
3. Pedoman penyusunan Rencana Teknik Ruang Kawasan atau Rencana Tata Bangun
an dan Lingkungan.
4. pedoman penyusunan program pembangunan.

1.3. AZAZ PENATAAN RUANG


Penyusunan Rencana Tata Ruang disusun atas dasar asas :
1. Keterpaduan;
2. Keserasian, keselarasan dan keseimbangan;
3. Keberlanjutan;
4. Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan;
5. Keterbukaan;
6. Kebersamaan dan kemitraan;
7. Perlindungan kepentingan umum;
8. Kepastian hukum dan keadilan; serta
9. Akuntabilitas.
Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional
yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan wawasan nusantara
dan ketahanan nasional dengan :
1. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
2. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber day
a buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia;
3. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terh
adap lingkungan akibat pemanfaatan ruang; serta
4. Mendayagunakan produk tata ruang sebagai alat penataan, penyusunan progr
am pembangunan dan pengendalian secara optimal.
1.4. VISI DAN MISI PENATAAN RUANG
Visi adalah suatu gambaran menantang tentang keadaan masa depan yang berisikan c
ita dan citra yang ingin diwujudkan. Sedangkan misi adalah sesuatu yang harus di
laksanakan sebagai penjabaran dari visi. Sebagaimana diuraikan dimuka bahwa prod
uk perencanaan jangka panjang meliputi perencanaan spasial dan sektoral.
1. VISI KABUPATEN GRESIK
“Gresik yang Agamis, Cerdas, Demokratis dan Sejahtera”
2. MISI KABUPATEN GRESIK
• Misi ke-1 : Mewujudkan Masyarakat yang Beriman, Bertaqwa dan Berakhlakul Kar
imah.
• Misi ke-2 : Mewujudkan Sumber Daya Manusia Masyarakat yang Berilmu dan Sehat
melalui Pengelolaan Pendidikan dan Kesehatan.
• Misi ke-3 : Mewujudkan Sumber Daya Manusia Aparatur yang Profesional, Dinami
s dan Bermoral
• Misi ke-4 : Meningkatkan Peran Serta dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pemba
ngunan sesuai Hak dan Kewajiban
• Misi ke-5 : Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance)
• Misi ke-6 : Mewujudkan Kondisi Daerah yang Aman, Tertib, dan Damai dengan Me
negakkan Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia
• Misi ke-7 : Penanggulangan Kemiskinan dan Meningkatkan Taraf Hidup Masyaraka
t
• Misi ke-8 : Meningkatkan Pembangunan Ekonomi Daerah dengan Titik Berat Ekono
mi Kerakyatan
• Misi ke-9 : Mengembangkan dan Mendayagunakan Sumber Daya Alam dan Buatan sec
ara Optimal dan Berkelanjutan
3. MOTTO KABUPATEN GRESIK
“Membangun Desa, Menata Kota, Wujudkan Cita-Cita Warga”
1.5. PENGERTIAN DASAR
1.5.1. Pengertian Umum
Pengertian mengenai Perencanaan Tata Ruang menurut Undang-undang No. 26 tahun 20
07 tentang Penataan ruang.
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udar
a, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat sebagai sa
tu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup, melakukan kegiatan
dan memelihara kelangsungan hidupnya;
2. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang;
3. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi m
asyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
4. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang m
eliputi peruntukan rungan untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi
budidaya.
5. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanf
aatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
6. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan
pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang.
7. Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi p
emerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang.
8. Pembinaan penataan ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataa
n ruang yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.
9. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang
melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang.
10. Pengawasan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang
melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian p
emanfaatan ruang.
11. Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggraan penataan ruan
g dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
12. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur rua
ng dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
13. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk menentukan struktur dan pola ruang
yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
14. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tata tertib
ruang.
15. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
16. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap u
nsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif
dan/atau aspek fungsional.
17. Sistem wilayah adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai jangk
auan pelayanan pada tingkat wilayah.
18. Sistem internal perkotaan adalah struktur ruang dan pola ruang yang memp
unyai jangkauan pelayanan pada tingkat internal perkotaan.
19. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya
.
20. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melin
dungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumber daya
buatan.
21. Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama unt
uk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya ma
nusia dan sumber daya buatan.
22. Kawasan perdesaan adalah ewilayah yang mempunyai kegiatan utama pertania
n, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan k
egiatan ekonomi.
23. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan per
tanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusa
tan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ek
onomi.
24. Kawasan strategis kabupaten/kota adalah wilayah yang penataan ruangnya d
iprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kebupaten/k
ota terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
25. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, ya
ng penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh
secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
26. Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pe
manfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
27. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan: (a) rencana umum ta
ta ruang, dan; (b) rencana rinci tata ruang.
1.5.2. Pengertian Rencana Rinci Tata Ruang
Pengertian-pengertian mengenai rancana rinci tata ruang berdasarkan UUPR No. 26
Tahun 2007, menyangkut rencana tata ruang kawasan perkotaan dan rencana tata rua
ng kawasan perdesaan, sebagaimana berikut:
1. Rencana rinci tata ruang :
a. RTRPulau/Kepulauan dan RTRKawasan strategis Nasional;
b. RTRKawasan Strategis Propinsi, dan;
c. Rencana detail tata ruang kabupaten/kota dan rencana tata ruang kawasan
strategis kabupaten/kota.
2. Rencana rinci tata ruang disusun sebagai perangkat operasional rencana u
mum tata ruang.
3. Rencana detail tata ruang dijadikan dasar bagi penyusunan rencana zonasi
.
4. Penataan ruang kawasan perdesaan diselenggarakan secara terintegrasi den
gan kawasan perkotaan sebagai satu kesatuan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/
kota.
5. Penataan ruang kawasan perdesaan diarahkan untuk :
a. Pemberdayaan masyarakat perdesaan;
b. Pertahanan kualitas lingkungan setempat dan wilayah yang didukungnya;
c. Konservasi sumberdaya alam;
d. Pelestarian warisan budaya lokal;
e. Pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan untuk ketahanan pangan,
dan;
f. Penjagaan keseimbangan pembangunan perdesaan-perkotaan.
6. Rencana tata ruang kawasan perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabup
aten adalah bagian rencana tata ruang wilayah kabupaten.
7. Penataan ruang kawasan perdesaan dalam 1 wilayah kabupaten dapat dilakuk
an pada tingkat wilayah kecamatan atau beberapa wilayah desa atau nama lain yang
disamakan dengan desa yang merupakan bentuk detail dari penataan ruang wilayah
kabupaten.
8. Penataan ruang kawasan perdesaan merupakan bagian wilayah kabupaten meru
pakan bagian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.
9. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan yang merupakan bagian w
ilayah kabupaten merupakan bagian pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupat
en.
1.5.3. Kedudukan RDTR
1. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) merupakan rencana yang menetapkan blok-
blok peruntukan pada kawasan fungsional sebagai penjabaran kegiatan ke dalam wuj
ud ruang dengan memperhatikan keterkaitan antar kegiatan dalam kawasan fungsiona
l agar tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan penu
njang dalam kawasan fungsional tersebut.
2. RDTR juga merupakan penjabaran dari RUTR Wilayah Kabupaten/Kota ke dalam
pemanfaatan ruang kawasan yang secara terperinci disusun untuk penyiapan perwuj
udan ruang dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan baik perkotaan m
aupun perdesaan.
3. Adalah rencana pemanfaatan ruang Bagian Wilayah Kota/Kawasan Perkotaan/P
edesaan secara terperinci yang disusun untuk penyiapan perwujudan ruang dalam ra
ngka pelaksanaan program-program pembangunan perkotaan/pedesaan.
4. Merupakan rencana yang menetapkan blok-blok peruntukan pada kawasan fung
sional perkotaan/pedesaan, sebagai penjabaran “kegiatan” ke dalam wujud ruang dengan
memperhatikan keterkaitan antara kegiatan dalam kawasan fungsional, agar tercip
ta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan penunjang dalam k
awasan fungsional tersebut.
1.6. RUANG LINGKUP
1.6.1. Ruang Lingkup Wilayah
Secara administrasi wilayah perencanaan Kecamatan Bungah mempunyai luas wilayah
8.753,51 Ha dan meliputi 22 desa. Pembagian wilayah adm
inistrasi dalam lingkup yang lebih kecil lagi terdiri dari 67 Dusun/Lingkungan,
106 Rukun Warga (RW) dan 280 Rukun Tangga (RT).
Kecamatan Bungah berada di sebelah utara Kabupaten Gresik berjarak 16 km
dari ibukota kabupaten Gresik. Untuk lebih jelasnya lihat Peta 3.2. Sedangkan
batas administrasi Kecamatan Bungah adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik
Sebelah Timur : Kecamatan Laut Jawa
Sebelah Selatan : Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik
Sebelah Barat : Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik

Tabel 1.1. Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan

1.6.2. Ruang Lingkup Rencana


Lingkup bahasan “Rencana”, Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bungah ad
alah sebagai berikut :
1. Rencana Struktur Tata Ruang
Sistem Pusat Pelayanan dan penyediaan sarana umum kawasan,
Sistem dan pola Jaringan Pergerakan,
Sistem dan Pola Fasilitas, Jaringan Utilitas dan Prasarana
2. Rencana Pola Ruang
Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya
Rencana Intensitas Lahan Terbangun dan Non Terbangun
Pola RTH dan RTNH
3. Rencana Kawasan Potensial Berkembang
Hankam (Berdasarkan Rencana Kawasan Strategis dari Pusat)
Ekonomi;
Sosiokultural;
Lingkungan;
4. Arahan Pemanfaatan Ruang
Prioritas Pengembangan dan
Indikasi Program
5. Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Peraturan Zonasi;
Perijinan;
Insentif dan Disinsentif;
Sanksi
1.6.3. Jangka Waktu Perencanaan
Jangka waktu perencanaan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bungah adalah 20 (
duapuluh) tahun yaitu 2009 – 2028
1.7. DASAR HUKUM RDTR KECAMATAN BUNGAH
Landasan hukum yang dipergunakan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kec
amatan Bungah adalah sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agr
aria;
2. Undang-undang Nomor 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehut
anan;
3. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pert
ambangan;
4. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan;
5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air;
6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1982 tentang Irigasi;
7. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;
8. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hay
ati
9. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan;
10. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman ;
11. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
12. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;
13. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kehutanan;
14. Undang-undang No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan;
15. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air;
16. Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
17. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
18. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan antara Pem
erintah Pusat dan Daerah;
19. Undang-Undang No. 38 Tahun 2004, tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 19
80 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 3183);
20. Undang-Undang No. 7 Tahun 2005, tentang Sumber Daya Alam;
21. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang;
22. Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil;
23. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Sungai;
24. Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1997, tentang Rencana Tata Ruang Wilay
ah Nasional (RTRWN);
25. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta
Untuk Penataan Ruang Wilayah;
26. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi (Lembaran Negar
a Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 143);
27. Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri;
28. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindu
ng;
29. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993 tentang Garis Sempada
n Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai;
30. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang Penyelenggaraa
n Penataan Ruang di Daerah;
31. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Pera
n Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;
32. Keputusan Menteri KIMPRASWIL no. 327 Tahun 2002 tentang 6 pedoman penyus
unan Rencana Tata Ruang.
33. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur No. 11 Tahun 1991
tentang Penetapan Kawasan Lindung di Propinsi Dati I Jawa Timur;
34. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No. 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaa
n Hutan di Jawa Timur;
35. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No. 6 Tahun 2005 tentang Penertiban
dan Pengendalian Hutan Produksi di Propinsi Jawa Timur;
36. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No. 8 Tahun 2005 tentang RPJM Daera
h.
37. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No. 2 Tahun 2006 tentang RTRWPropin
si;
Dengan memperhatikan :
1. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 1990 tentang Peremajaan Pembinaan Kawas
an Kumuh yang berada di atas Tanah Negara;
2. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruan
g Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan;
3. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1989 tentang Pengaturan da
n Pengendalian secara Proposional Pembangunan Rumah Tinggal di Wilayah Perkotaan
4. Standar PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN SARANA LINGKUNGAN PERUMAHAN PERDESAAN
DAN KOTA KECIL yang dikeluarkan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur Dinas Pekerj
aan Umum Cipta Karya Daerah.
1.8. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika pembahasan dalam penyusunan Revisi Rencana Detail Tata Ruang Kecamat
an Bungah, Kabupaten Gresik untuk tahap Laporan Rencana ini adalah sebagai berik
ut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab I berisikan tentang latar belakang, azas penataan ruang, visi dan misi
penataan ruang, pengertian dan ruang lingkup, dasar hukum serta sistematika pem
bahasan.
BAB II POTENSI, MASALAH DAN PROSPEK PENGEMBANGAN
Pada Bab II memuat tentang potensi, masalah dan prospek strktur ruang wilayah, p
ola ruang wilayah, serta potensi. Masalah dan prospek kawasan khusus atau potens
ial berkembang.
BAB III TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
Pada Bab III, memuat tentang tujuan penataan ruang, kebijakan san strategi penet
apan struktur wilayah, pola ruang wilayah serta kebijakan dan kawasan khusus ata
u potensial berkembang.
BAB IV RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KECAMATAN
Pada bab ini berisikan tentang rencana penetapan kawasan perkotaan dan perdesaa
n, rencana system dan fungsi perwilayahan, pengembangan fasilitas perkotaan, re
ncana sistem prasarana wilayah, meliputi: rencana pengembangan sistem jaringan
prasarana transportasi, telematikan, pengairan dan pemanfaatan sumber air bawah
tanah, energi, dan lingkungan
BAB V RENCANA POLA RUANG WILAYAH KECAMATAN
Pada bab ini berisikan tentang rencana pola pelestarian kawasan lindung, rencana
pengembangan kawasan budidaya, rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka
(privat dan publik), kegiatan sektor informal, ruang evakuasi bencana.
BAB VI RENCANA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS ATAU POTENSIAL BERKEMBANG
Pada bab ini berisikan tentang penetapan kawasan khusus atau potensial berkemban
g
BAB VII ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KECAMATAN BUNGAH
Bab ini menjelaskan perumusan kebijakan strategi operasional Rencana Detail Tata
Ruang Kecamatan dan Prioritas Tahapan Pembangunan.
BAB VIII ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KECAMATAN BUNGAH
Menguraikan indikasi arahan peraturan zonasi system kecamatan, arahan perijinan,
arahan insentif dan disinsentif serta arahan sanksi
BAB IX HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN SERTA MAYARAKAT
Bab ini menguraikan tentang apa saja Hak, Kewajiban dan Peran Serta Masyarakat d
alam Penataan Ruang Wilayah Kecamatan Bungah.
BAB X PENUTUP
Berisikan Kesimpulan – kesimpulan dan rekomendasi dalam Penataan Ruang Wilayah Kec
amatan Bungah
1.9. Kerangka Pemikiran
1.1. LATAR BELAKANG 1
1.1.1. Umum 1
1.1.2. Khusus 2
1.2. MAKSUD, TUJUAN, SASARAN, FUNGSI DAN MANFAAT 2
1.2.1. Maksud 2
1.2.2. Tujuan 2
1.2.3. Sasaran 2
1.2.4. Fungsi 2
1.2.5. Manfaat 2
1.3. AZAZ PENATAAN RUANG 3
1.4. VISI DAN MISI PENATAAN RUANG 3
1.5. PENGERTIAN DASAR 3
1.5.1. Pengertian Umum 3
1.5.2. Pengertian Rencana Rinci Tata Ruang 4
1.5.3. Kedudukan RDTR 5
1.6. RUANG LINGKUP 5
1.6.1. Ruang Lingkup Wilayah 5
Tabel 1.1. Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan 5
1.6.2. Ruang Lingkup Rencana 5
1.6.3. Jangka Waktu Perencanaan 6
1.7. DASAR HUKUM RDTR KECAMATAN BUNGAH 6
1.8. SISTEMATIKA PEMBAHASAN 7
BAB II POTENSI, MASALAH DAN PROSPEK PENGEMBANGAN 7
BAB III TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG 7
BAB IV RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KECAMATAN 7
1.9. Kerangka Pemikiran 8