MATA KULIAH : PEREKONOMIAN INDONESIA

KATA PENGANTAR
1. SIFAT, BOBOT, PRASYARAT MATA KULIAH
1.1. Sifat Mata Kuliah Perekonomian Indonesia adalah mata kuliah wajib untuk
Jurusan Pembangunan dan Jurusan Manajemenn, Mata Kuliah ini termasuk
kelompok mata kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK).
1.2. Bobot Mata Kuliah Perekonomian Indonesia sebesar 3 SKS (Satuan Kredit
Semester).
Sistem Kredit adalah suatu cara penyelenggaraan program pendidikan tinggi yang
menggunakan Satuan Kredit Semester (SKS) sebagai cara menyatakann beban
studi mahasiswa, beban tugas tenaga pengajar, dan beban penyelenggaraan
program.
1 (satu) SKS adalah usaha atau beban studi 3 jam (150 menit) per minggu untuk
satu semester yang terdiri dari :
a. 1 Jam (50 menit) tatap muka yang terjadwal dengan staf pengajar
b. 1 jam (50 menit) kegiatan akademik terstruktur, yaitu kegiatan studi yang
tidak terjadwal tetapi direncanakan oleh staf pengajar
c. 1 jam (50 menit) kegiatan akademik mandiri
jadi apabila saudara ingin lulus dengan nilai yang memuaskan untuk mata kuliah
yang berbobot 3 SKS, maka saudara harus konsisten, yaitu setiap minggu (selama
satu semester)
a. Mengikuti kulah dengan baik selama 150 menit = 2,5 jam
b. Mengerjakan tugas yang diberikan dosen (misalnya PR, menulis makalah,
paper, kegiatan lab.) selama 150 menit = 2,5 jam
c. Membaca catatan kuliah, buku wajib, artikel atau mencari adat-adata yang
berkaitan dengan mata kuliah selama 150 menit = 2,5 jam.
(SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ri No. 0211/U/82 tanggal 26 Juni 1982
sebagai pengganti SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0124/U/79
tanggal 8 Juni 1979).
1.3. Prasyarat Mata Kuliah Perekonomian Indonesia harus telah lulus Mata Kuliah
teori Ekonomi Makro I.
Namun pembahasan materi perekonomian menyangkut banyak aspek yang
berkaitan dengan mata kuliah lain, selain mata kuliah Teori Ekonomi Makro,
seperti Ekonomi Pembangunan, Ekonomi Internasional, Ekonomi Moneter dan
Perbankan, Keuangan Negara dan lain-lain.
Karena itu perlu dipahami atau dipelajari kembali teori atau konsep-konsep yang
berkaitan dengan pembahasan ke 10 topik Mata Kuliah Perekonomian Indonesia.
Beberapa konsep yang perlu dipahami atau dipelajari kembali antara lain konsep-
konsep:
Pertumbuhan Ekonomi, Produk Domestik Bruto, Pendapatan Nasional,
Pendapatan Per Kapita, Sistem Konomi, Incremental Capital Output Ratio
(ICOR), Dualisme Teknologis, Fungsi APBN, Struktur APBN, Defisit APBN,
1
Struktur Neraca Pembayaran, Transaksi Berjalan, Defisit Negara Pembayaran,
Cadangan Devisa, Sistem Kurs Valuta Asing, Devaluasi, Jumlah Uang Beredar
(JUB), Infrlasi, Fungsi Perbankan, Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan To
Deposit Ratio (LDR), Giro Wajib Minimum (GWM) Tingkat Kesehatan Bank,
Pasar Modal, Garis Kemiskinan, Kemiskinan Absolut, Kemiskinan Relatif/
Kesenjangan, Ekonomi Kerakyatan, Globaliasi Ekonomi, Ethnocentric Approach,
Geocentric Apporach, Regeocentric Approach, Teori Konspirasi, Teori
Contagion, Teori Business Cyccle (Konjungtur).
2. TUJUAN MATA KULIAH
2.1. Tujuan Mata Kuliah Perekonomian Indonesia adalah untuk memperkenalkan
mahasiswa pada pengetahuan tentang tahap-tahap dan permasalahan-
permasalahan pembangunan ekonomi di Indonesia. Pembahasan dimulai dengan
beberapa proses yang menyertaai pembangunan ekonomi: proses akumulasi,
alokasi, demografi dan distribusi. Kemudian dilanjutkan dengan strategi,peran
serta kebijakan-kebijakan dalam dan luar negeri pemerintah.
2.2. Dari rumusan tujuan tersebut di atas, setiap mahasiswa setelah mempelajari Mata
Kuliah Perekonomian Indonesia diharapkan dapat memahami dan menjelaskann :
1. Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi ekonomi Indonesia dan
masalah-masalah ekonomi yang dihpadai sepanjang sejarah kemerdekaan
Indonesia.
2. Sistem ekonomi yang dianut Indonesia dan membandingkan sistem-
sistem ekonomi yang dianut dunia.
3. Pelaku-pelaku ekonomi di Indonesia dan peran masing-masing dalam
perekonomian
4. Perubahan-perubahan struktural yan dialami ekonomi Indonesia
setelah Indonesia melaksanakan pembangunan ekonomi.
5. Kebijakan pemerintah pada APBN yang berjalan dan pengaruh APBN
pada Perekonomian Indonesia.
6. Posisi hubungan ekonomi luar negeri dan saldo transaksi berjalan serta
perubahan cadangan devisa.
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju inflasi, jumlah uang beredar
(JUB) serta kebijakan pemerintah di bidang moneter dan perbankan.
8. Kondisi kesejahteraan dan kemiskinan rakyat Indonesia serta kebijakan
pemerintah untuk memberdayakan masyarakat.
9. Posisi dan persiapan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi
ekonomi serta langkah strategis apa yang dilakukan.
10. Apa yang terjadi setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1997/
1998 dan program pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah.
3. PEMBAHASAN MATERI PEREKONOMIAN INDONESIA
3.1. Kerangka pembahasan Perekonomian Indonesia dilihat dalam lingkup politik
ekonoi. Politik ekonomii merupakan bagian dari politik nasional, yang bertujuan
2
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan tujuan politik ekonomi yang
dilakukan pemerintah adalah mengarahkan bagaimana tujuan meningkatkan
kesejahteraan masyarkat itu bisa dicacpai (Suroso, 1994).
Oleh karena itu pembahasan Perekonomian Indonesia di sini ditekankan pada :
1. Mengidentifikasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia
sebagai negara kepulauan terbesar yang sedang membangun.
2. Menganalisis masalah-masalah tersebut : latar belakangnya, faktor-
faktor penyebabnya dan dampak serta pengaruhnya.
3. kebijakan-kebijakan apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi
masalah-masalah tersebut dan mengevaluasi efek hasilnya.
4. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang dibahas terutama yang berkaitan
dengan kebijakan fiskal dalam APBN, kebijakan perdagangan dan
pembayaran dalam NERACA PEMBAYARAN, kebijakan stabilisasi harga
(inflasi), nilai tukar (kurs) rupiah, suku bunga, kredit bank dalam MONETER
dan PERBANKAN serta kebijakan penurunan kemiskinan dalam
PENGENTASAN KEMISKINAN dan PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT.
3.2. Sesuai dengan rumusan tujuan dan materi pembahasan di atas, maka topik-topik
yang dibahas :
1. Sejarah Perekonomian Indonesia
2. Sistem Ekonomi Indonesia
3. Pelaiu Dan Peran Perekonomian Indonesia
4. Transformasi Struktural Perekonomian Idnoensia
5. Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara
6. Neraca Pembayaran Luar Negeri – Indonesia
7. Sektor Moneter Dan Perbankan, Pendanaan Pembaiayaan
8. Pengentasan Kemiskinan Dan Pemberdayaan Masyarakat
9. Perekonomian Inodnesia Dalam Era Globalisasi
10. Krisis Ekonoomi Di Indonesia
Bahan Ujian Untuk UTS : Topik 1, 2, 3, 4
Bahan Ujian Untuk UAS : Topik 5 Sampai Dengan 10 + 2 Di Antara 4 Topik
Bahan UTS.
Jakarta, September 2004
Dosen Pengasuh
Perekonomian Indonesia
Munawir, SE
Dosen Perekonomian Indonesia
3
POKOK BAHASAN :
I. RUANG LINGKUP DAN KARAKTERISTIK
PEREKONOIMAN INDONESIA
3.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tujuan Umum:
Agar mahasiswa mengenal dan memahami tentang tahap dan permasalahan
pembangunan ekonomi di Indonesia dengan memperhatikan ciri khusus
(karakteristik) Indonesia sebagai negara kepulauan (nusantara). Pembahasan
menyangkut masalah akumulasi, alokasi, demografi dan distribusi lalu
dilanjutkan dengan masalah strategi, peran serta kebijakan dalam dan luar
negeri.
b. Tujuan Khusus :
- Agar mahasiswa mengetahui masalah-masalah yang menyertai proses
pembangunan ekonomi di Indonesia
- Agar mahasiswa mengetahui pilihan straegis pembangunan ekonomi
yang sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan
(nusantara)
- Agar mahasiswa memahami peran dan kebijakan-kebijakan
pemerintah yang bersiffat makro, meso dan mirko dalam lingkup
kebijakan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri.
c. Materi Pembahasan :
- Masalah yang menyertai pembangunan ekonomi
(1) Masalah akumulasi sumber daya produksi (sdp)
(2) Masalah alokasi sumber daya produksi (sdp)
(3) Masalah distgribusi pendapatan nasional
(4) Masalah kelembagaan/ pelaku-pelaku ekonomi
- Yang mempengaruhi karakteristik Perekonomian Indonesia :
(1) Faktor geografi
(2) Faktor demografi
(3) Faktor sosial, budaya dan politik.
- Pilihan strategi pembangunan ekonomi
(1) Strategi pertumbuhan ekonomi (economic grawth)
(2) Strategi perkembangan ekonomi (econoic development)
(3) Strategi pembangunan berwawasan nusantara
- Peran dan kebijakan pemerintah
(1) Peran pemerintah dalam kegiatan ekonomi
(2) Kebijakan ekonomi mikro, meso, makro, kebijakan ekonomi
dalam negeri dan hubungan ekonomi luar negeri.
4
3.2. PEMBAHASAN MATERI
A. MASALAH YANG MENYERTAI PEMBANGUNAN
EKONOMI
Tujuan pembangunan bukan hanya menginginkan adanya perubahan dalam
arti peningkatan PDB tapi juga adanya perubahan struktura. Perubahann
struktur ekonomi berkisar pada segi akumulasi (pengembangan sdp secara
kuantitatif dan kualitatif), segi alokasi (pola penggunaan sdp), segi
institusional (kelembagaan ekonomi dalam kehidupan masyarakat), segi
distribusi (pola pembagian pendapatan nasional) (Soemitro
Djojohadikusumo, 1993).
B. KARAKTERISTIK PEREKONOMIAN INDONESIA
- Indonesia sebagai negara keupulauan (nusantara) memiliki ciri-ciri
khusus, yang berbeda dengan negara tetangga ASEAN, bahkan berbeda
dengan negara-negara laindi dunia sehingga perekonomiannya memiliki
karakteristik sendiri.
- Yang mempengaruhi karakteristik perekonomian Indonesia :
3. Faktor geografi
• Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri
dari 13.677 pulau besar – kecil (baru 6.044 pulau memiliki nama,
diantaranya 990 pulau yang dihuni manusia); terbentang dari
6
0
LU sampai 11
0
LS sepanjang 61.146 km., memiliki potensi
ekonomi yang berbeda-beda karena perbedaan SDA, SDm,
kesuburan tanah, curah hujan (Sutjipto, 1975).
• Wilayah Indonesia seluas 5.193.250 km
2
, 70 persennya (±
3,635,000 km
2
) terdiri dari lautan (menjadi negara bahari)
letaknya strategis karena : memiliki posisi silang (antara Benua
Asia dan Benua Australia), menjadi jalur lalulintas dunia (antara
Laut Atlantik dan Laut Pasifik) dan menjadi paru-paru dunia
(memiliki hutan tropis terbesar).
• Menghadapi kesulitan komunikasi dann transportasi antar
pulau (daerah) baik untuk angkutan barang maupun penumpang;
arus barang tidak lancar; perbedaan harga barang yang tajam;
perbedaan kesempatan pendidikan dan kesempatan (lapangan)
kerja; kesemuanya itu merupakan potensi kesenjangan.
4. Faktor Demografi
• Indonesia negara nomor 4 di dunia
karena berpenduduk lebih dari 310 juta orang. Penyebaran
penduduk tidak merata (dua per tiga tinggal di P. Jawa), sebagian
besar hidup di pedesaan (pertanian), bermata pencairan sebagai
petani kecil dan burah tani dengan upah sangat rendah.
5
• Mutu SDM rendah : ± 80% angkatan
kerja berpendidikan SD. Produktivitas rendah karena taraf hidup
yang rendah: konsumsi rata-rata penduduk Indonesia RP 82.226
per bulan (1993), namun 82% penduduk berpendapatan di bawah
RP 60.000 per bulan per kapita (Sjahrir, 1996).
• Indonesia yang berpenduduk lebih
dari 210 juta orang membutuhkan berbagai barang, jasa dan
fasilitas hidup dalam ukuran serba besar (pangan, sandang,
perumahan dan lain-lain). Namun dilain pihak kemampuan kita
untuk berproduksi (produktivitasnya) rendah. Hal ini akan
menciptakan kondisi munculnya rawan kemiskinan.
5. Faktor sosial, budaya dan politik
• Sosial : Bangsa Indonesia terdiri dari
banyak suku (heterogin) dengan beraagam budaya, adat istiadat,
tata nilai, agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Karena
perbedaan latar belakang, pengetahuan dan kemampuan yang
tidak sama, maka visi, persepsi, interpretasi dan reaksi (aksi)
mereka terhadap isu-isu yang sama bisa berbeda-beda, yang
sering kali menimbulkan konflik sosial (SARA).
• Budaya : Bangsa Indonesia memiliki
banyak budaya daerah, tapi sebenarnya kita belum memiliki
budaya nasional (kecuali bahasa Indonesia). Namun sebagai salah
satu bangsa “Timur” (bangsa yang merdeka dan membangun
ekonomi sejak akhir Perang Dunia II), mayoritas bangsa
Indonesia sampai sekarang masih terpengaruh (menganut)
“budaya” Timur, budaya status orientation. Budaya status
orientation bercirikan: semangat hidupunya mengejar pangkat,
kedudukan, status (dengan simbol-simbol sosial); etos kerjanya
lemah; senang bersantai-santai; tingkat disiplinnya rendah, kurang
menghargai waktu (jam karet). Lawannya “budaya” barat, budaya
achievement orientation dengan ciri-ciri sebaliknya.
• Budaya status orientationn tidak
produktif, konsumtif, suka pamer dan mudah memicu
kecemburuan sosial.
• Politik : sebelum kolonialis Belanda
datang, bangsa Indonesia hidup di bawah kekuasaan raja-raja.
Ratusan tahun bangsa Indonesia hidup di bawah pengaruh
feodalisme dan kolonialisme. Ciri utama feodalisme antara lain
adalah kultus individu (raja selalu diagungkan). Ciri utama
kolonialisme antara lain adalah otoriter (laksana tuan terhadap
budak).
• Sisa-sisa pengaruh feodalisme (kultus
individu) dan pengaruh kolonialisme (otiriter) sampai sekarang
belum terkikis habis. Hal ini sangat terasa pada percaturan dan
pergolakan politik di Indonesia. Perilaku yang kurang demokratis
dari para elit politik dan perilaku kurang menghargai HAM dari
6
para penguasa, menghambat kelancaran proses demokratisasi
politik di Indonesia. Pada gilirannya hal ini menghambat
terciptanya demokrasi ekonomi.
• Dari uraian pengaruh faktor-faktor di
atas dapat disimulkan bahwa perekonomian Indonesia
mengandung tiga potensi kerawanan.
• Tiga potensi kerawanan yang menjadi
karakteristik perekonomian Indonesia adalah:
1) Potensi rawann kesenjangan,
terutama kesenjangan antara daerah (pulau). Hal ini terutama
sebagai akibat pengaruh faktor geografi.
2) Potensi rawan kemiskinan,
terutama kemiskinan di darah pedesaan. Hal ini terutama
sebagai akibat pengaruh faktor demografi dan faktor budaya.
3) Potensi rawan perpecahan,
terutama perpecahan antar suku, antar golongan (elit) politik.
Hal ini terutama sebagai akibat pengaruh faktor sosial-politik..
C. PILIHAN STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI
- Strategi pembangunan dengan pertumbuhan terbukti gagal
menyelesaikan persoalan-persoalan dasar pembangunan. Dalam
kiprahnya strategi itu justru menciptakan persoalan-persoalan seperti
kemiskinan, keterbelakangan dan kesenjangan antar pelaku ekonomi
(Budi Santoso, 1997).
- Konsep pertumbuhan ekonomi menurut Boediono adalah proses
kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Sedangkan teori
pertumbuhan ekonomi bisa kita definisikan sebagai penjelasan mengenai
faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan output per kapita dalam
jangka panjang dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor
tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan
(Boediono, 1982).
- Joseph Schumpeter membedakan dua latihan yaitu pertumbuhan
ekonomi (growth) dan perkembangan ekonoim (development). Kedua-
duanya adalah sumber dari peningkatan output masyarakat, tetapi
masing-masing mempunyai sifat yang berbeda (Boedino, 1982).
3. Strategi Pertumbuhan ekonomi (Economic
Growth)
• Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan
ouptut masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah
faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat
tanpa adanya perubahan cara-cara atau “teknologi” produksi itu
sendiri.
• Indonesia menganut strategi pertumbuhan
ekonomi dan dalam melaksanakan pembangunan memakai Model
Harrod Domar. Menurut kedua ekonomi ini, setiap penambahan stock
kapital masyarakat (K) meningkatkan pula kemampuan masyarakat
7
untuk menghasilkan output (Q
p
). di sini Q
p
menunjukkan output yang
potensial bisa dihasilkan dengan stock kapital (kapasitas produksi)
yang ada.
• Hubungan K dan Q
p
: Q
p
= hK atau 1/h = K/Q
p

1/h = Capital output ratio (COR)
koefisien ini menunjukkan untuk menghasilkan setiap unit
output diperlukan berapa unit kapital.
Karena hubungan antara K dan Q
p
adalah proposional, maka :
∆ Q
p
: Q
p
= h∆ K atau 1/h = ∆ K/∆ Q
p
1/h = Incremeental capital output ratio (ICOR)
koefisien ini menunjukkann untuk menghasilkan tambahan
setiap unit output diperlukan berapa unit tambahan kapital
(investasi)
• Konsekuensi strategi pertumbuhan adalah bahwa
besar kecilnya laju pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada
naik turunnya tingkat investasi. Contoh : petro dollar (kelebihan harga
minyak) pertumbuhan ekonomi melonjak drastis dari 2,5% (sebelum
dimulai Pelita) menjadi 7,0% (selama Pelita I, II dan Pertengahan
Pelita III). Tapi mulai pasca Oil Boom maka pertumbuhan ekonom
merosot sampai 2,5% (bersamaan resesi dunia tahun 1982) dan baru
pulih kembali pada awal Pelita V mencapai 7,1% (1990).
• Sejak krisis moneter pertengahan tahun 1997
dimana terjadi capital flight besar-besaran, pertumbuhan ekonomi
merosot dengan cepat, masingmasing 8,5%, 6,8%, 2,5% dan 1,4%
(untuk triwulan I, II, III, dan IV tahun 1997). Tahun 1998
pertumbuhan menjadi negatif.
4. Strategi Perkembangan Ekonomi (Economic
Development)
- Perkembangan ekonomi adalah kenaikan output yang disebabkan
oleh inovasi yang dilakukan oleh entreprener (wiraswastaan). Inovasi
menyangkut perbaikan kualitatif dari sistem ekonomi itu sendiri, yang
bersumber dari kreativitas para wiraswastawan.
- Syarat-syarat terjadinya inovasi (perkembangan ekonomi)
(1) Harus tersedia cukup calon-calon pelaku inovasi
(entreprenur) di masyarakat
(2) Harus ada lingkungan sosial, politik dan teknologi yang bisa
menjadi tempat subur bagi semangat inovasi
(3) Harus ada cadangan atau supplai ide-ide baru secara cukup.
(4) Harus ada sistem prekreditan yang bisa menyediakann dana
bagi para entrepreuner.
- Ada lima kegiatan yang termasuk inovasi, yaitu :
(1) Diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya tidak ada.
(2) Diperkenalkannya cara produksi baru, mesin baru
(3) Penemuan sumber-sumber bahan mentah baru.
8
(4) Pembukaan daerah-daerah pasar baru
(5) Perubahan organisasi industri sehingga meningkatkan
efisiensi.
- Disini ada perubahan sistem ekonomi sehingga dari waktu ke waktu
kegiatan-kegiatan ekonomi berjalan maini efisien, yang mendukung
peningkatan pertumbuhan ekonomi. Sehingga pertumbuhan ekonomi
tidak semata-mata tergantung pada tingkat investasi.
9
3. Strategi Pembangunan Berwawasan Nusantara
- Wawasan adalah pandangan hidup suatu bangsa yang dibentuk oleh
kondisi lingkungannya. Kondisi lingkungan hidup bangsa Indonesia
adalah pulau atau kepulauan yang terletak di antara samudera pasifik
dan atlantik, di antara benua Asutralia dan Asia (Nusantara).
- Pembangunan berwawasan nusantara sebenarnya tidak lain adalah
pembangunan yang berwawasan ruang. Pembangunan berwawasan
ruang (ekonomi regonal) tersirat dalam argumentasi Myrdall dan
Hirschman, yang mengemukakan sebab-sebab daerah miskin kurang
mampu berkembang secepat seperti yang terjadi di daerah yang lebih
kaya (Suroso, 1994).
- Dilihat dari dimensi ekonomi-regional, Indonesia menghadapi dilema
dualisme teknologis, yakni perbedaan dan ketimpangann mengenai
pola dan laju pertumbuhan di antara berbagai kawasan dalam batas
wilayah satu negara. Dilema teknologis menonjol karena adanya
asimetri (ketidakserasian) antara lokasi penduduk dan lokasi sumber
alam (Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
- Menurut Laoede M. Kamaludin, penataan ruang di masa datang
sebaiknya tidak hanya mengacu pada daratan, namun juga harus
berorientasi pada penataan ruang kemaritiman. Sedikitnya terdapat
tiga pendekatan yang dapat dikembangkan :
 Pembangunan ekonomi berbasis
teknologi tinggi, pusat pendidikan, jasa dan pariwisata. Ini tepat
diterapkan di P. Jawa, Bali dan Batam.
 Pembangunan ekonomi yang berbasis
potensi kelautan. Ini lebih tepat dikembangkan di kawasan timur
Indonesia dan kepulauan kecil di Sumatera.
 Pembangunan ekonomi berbasis
sumber daya mineral dan tanaman industri dapat dikembangkan di
pulau Sumatera (Kompas, 25-5-1999)
- Mengapa pembangunan berwawasan nusantara penting. Seiring
dengan makin berkembangnya dan makin membesarnya jumlah
penduduk maka kita perlu memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk
menggali persediaan bahan mentah dan sumber-sumber energi yang
masih tersimpan banyak dalam flora dan fauna di lautan. Dalam
waktu mendatang laut akan merupakan ladang utama dalam manusia
mencari bahan makanan dan keperluan hidup (Sutjipto, 1995).
Dua pertiga wilayah Indonesia berupa lautan. Sumber daya hayati
Indonesia memiliki potensi lestari 4 juta ton dalam airlaut, 1,5 ton
dalam air budidaya, 0,8 juta ton dalam air tawar (Kartili, J, A., 1983).
D. PERAN DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH
1. Peran Pemerintah
- Peran atau campur tangan pemerintah dalam perekonomian ada yang
bersifat kuat (negara sosialis), ada yang lemah (negara kapitalis).
Indonesia menganut sistem ekonomi campuran dengann
10
mengutamakan berlangsungnya mekanisme pasar sepanjang tidak
merugikan kepentingan rakyat banyak.
- Campur tangan pemerintah dapat dibenarkan secara konstitusional :
(1) Dari isi pembukaan UUD 1945 dengan Pancsilanya, dapat
disimpulkan bahwa pembangunan yang diselenggarakan oleh
pemerintah haruslah diarahkan untuk :
(a) Memajukan
kesejahteraan umum
(b) Memajukan
kecerdasan kehidupan bangsa
(c) Mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat
(2) Pasal 33 UUD 1945 bersama dengan pasal 34 dan pasal 27
ayat 2 mengandung amanat kepada pemerintah untuk
menyelenggarakan kesejahteraan sosial seluruh rakyat melalui :
(a) Penguasaan
cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan
menguasai hajat hidup orang banyak.
(b) Penguasaan
bumi, air dan kekayaan alam yang ada di dalamnya.
(c) Pemeliharaan
fakir miskin dan anak-anak terlantar
(d) Penyediaan
lapangan kerja
2. Kebijaksanaan Pemerintah
- Tujuan utama atau akhir kebijakan ekonomi adalah untuk
meningkatkan taraf hidup atau tingkat kesejahteraan masyarakat.
Diukur secara ekonomi, kesejahteraan masyarakat tercapai bila
tingkat pendapatan riil rata-rata per kapita tinggi dengan distribusi
pendapatan yang retif merata. Tujuan ini tidak bisa tercapai hanya
dengan kebijakan ekonomi saja. Diperlukan juga kebijakan non
kebijakan ekonomi saja. Diperlukan juga kebijakan non ekonomi,
seperti kebijakan sosial yang menyangkut masalah pendidikan dan
kesehatan. Kebijakan ekonomi dan kebijakan non ekonom harus
saling mendukung.
Lihat gambar (tulus Tambunan, 1996
Klasifikasi kebijakan ekonomi menurut tingkat agregasi atau
ruang lingkup pengaruh/ ssaran
KEBIJAKAN MAKRO
11
Sasaran : Nasional
KEBIJAKAN MESO
- Selain itu kebijakan ekonomi mempunyai intermediate target sebelum
mencapai tujuan akhir. Sasaran perantara tersebut mencakup lima hal
utama :
(1) Pertumbuhan ekonomi (misalnya PDB atau pendapatan
nasional)
(2) Distribusi pendapatan yang merata
(3) Kesempatan kerja sepenuhnya
(4) Stablitas harga dan nilai tukar
(5) Keseimbangan neraca pembayaran
Lima sasaran ini erat kaitannya dengan masalah stabilitas ekonomi.
- Tiga macam kebijakan Ekonomi (menurut agregasinya) :
(1) Kebijakan ekonomi mikro
- Kebijakan pemerintah yang ditujukan pada semua
perusahaan tanpa melihat jenis kegiatan yang dilakukan oleh
atau disektor mana dan diwilayah mana perusahaan yang
bersangkutan beroperasi.
- Contohnya :
(a) Peraturan
pemerintah yang mempengaruhi pola hubungan kerja
(manajer dengan para pekerja), kondisi kerja dalam
perusahaan.
(b) Kebijakan
kemitraan antara perusahaan besar dan perusahaan kecil di
semua sektor ekonoim
(c) Kebijakan
kredit bagi perusahaan kecil di semua sektor dan lain-lain.
(2) Kebijakan Ekonomi Meso
- Kebijakan ekonomi sektoral atau kebijakan ekonomi
regional. Kebijakan sektoral adalah kebijakan ekonomi yang
khusus ditujukan pada sektor-sektor tertentu.s etiap
departemen mengeluarkan kebijakan sendiri untuk sektornya,
seperti keuangan, distribusi, produksi, tata niaga, ketenaga
kerjaan dan sebagainya.
- Kebijakan meso dalam arti regional adalah kebijakan
ekonomi yang ditujukan pada wilayah tertentu. Misalnya
kebijakan pembangunan ekonomi di kawasan timur Indonesia
(KTI), yang mencakup kebijakan industri regonal, kebijakan
12
Sasaran : Perusahaan
Sasaran : Sektoral/Regional
KEBIJAKAN MIKRO
investasi regional dan sebagainya. Kebijakan ini bisa
dikeluarkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
(3) Kebijakan Ekonomi Makro
-Kebijakan ini mencakup semua aspek ekonomi pada tingkat
nasional, misalnya kebijakan uang ketat (kebijakan moneter).
Kebijakan makro ini bisa mempengaruhi kebijakan meso
(sektoral atua regional), kebijakan mikro menjadi lebih atau
kurang efektif.
-Instrumen yang digunakan untuk kebijakan ekonomi makro
adalah tarif pajak, jumlah pengeluaran pemerintah melalui
APBN, ketetapan pemerintah dan intervensi langsung di pasar
valuta untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang rupiah
terhadap valas. (Tulus Tambunan, 1996).
-Kebijakan ekonomi juga bisa dibedakan antara kebijakan
ekonomi dalam negeri dan kebijakan ekonomi luar negeri.
a. Kebijakan Ekonomi dalam Negeri
(1) Kebijakan sektor ekonomi, seperti pertanian,
industri dan jasa-jasa
(2) Kebijakan keuangan negara, seperti
perpajakann, bea cukai, anggaran pemerintah (APBN).
(3) Kebijakan moneter perbankan, seperti jumlah
uang beredar, suku bunga, inflasi, perkreditan,
pembinaan dan pengawasan bank.
(4) Kebijakan ketenagakerjaan, seperti penetapan
upah minimum, hubungan kerja, jaminan sosial
(5) Kebijakan kelembagaan ekonomi, seperti
BUMN, koperasi, perusahaan swasta, pemberdayaan
golongan ekonomi lemah (UKM), dan lain-lain
kebijakan.
b. Kebijakan hubungan ekonomi luar negeri
(1) Kebijakan neraca pembayaran, seperti
pengamanan cadangan devisa negara.
(2) Kebijakan perdagangan LN, seperti tata-niaga
(ekspor dan impor), perjanjian dagang antar negara.
(3) Kebijakan penanaman modal asing, seperti
perizinan investasi langsung, investasi tidak langsung,
usaha-usaha patungan.
(4) Kebijakan hutang LN, menyangkut hutang
pemerintah, hutang swasta, perundingan/ perjanjian
dengan para kreditor, dan lain-lain kebijakan.
3.3. DAFTAR BACAAN
1. Boediono, Teori Pertumbuhan Ekonomi, BPFE, Yogyakarta, 1982.
13
2. Suroso, P.C., Perekonomian Indonesia, Buku Panduan Mahasiswa, Gramedia,
Jakarta, 1994.
3. Djojohdikusumo, Soemitro, Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi
Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 1993.
4. Sjahrir, “Kemiskinan, Keadilan dan Kebersamaan”, Makalah pada Kongres
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Ke-13, Medan, 1996.
5. Sutjipto, E. “Suatu Ikhtisar Lembar Pengajaran Wawasan Nusantara”, dalam
Bunga Rampai Wawasan Nusantara I, LEMHANAS, 1981.
6. Santoso, Budi, “Dinamika dan Pertumbuhan Ekonomi rakyat dalam Perspektif
Strategi Pembangunan”, dalam Daya Saing Perekonomian Indonesia
Menyongsong Era Pasar Bebas, Diterbitkan dalam rangka Dies Natalis
Universitas Trisakti ke-31, Media Ekonomi Publising (MEP),…..
7. Tambunan, Tulus T.H., Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, 1996.
8. Kartili, J.A., Prof. Dr., Sumber Daya Alam, untuk pembangunan nasional, Ghalia
Indonesia, Jakarta 1983.
Dosen Pengasuh
Perekonomian Indonesia
Munawir, SE
14
PEREKONOMIAN INDONESIA
MUNAWIR, SE
POKOK BAHASAN
II. SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN
1)
2.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa memahami sejarah perekonomian Indonesia melalui teori-
teori ekonomi dan analisis kebijaksanaan.
b. Tujuan Khusus
- Mahasiswa dapat menjelaskan :
 Penggunaan peralatan analisis ekonomi
 Permasalahan ekonomi Indonesia
 Analisis kebijakan perekonomian Indonesia
c. Materi Pembahasan
- Pendahuluan :
(1) Kriteria kemajuan ekonomi
(2) Peralatan analisis ekonomi
- Periode Kolonial :
(1) Karakteristik
(2) Statistik
- Periode Kemerdekaan :
(1) Demokrasi Liberal (1945 – 1959)
(2) Ekonomi Terpimpin (1959 – 1966)
(3) Ekonomi Pancasila (1966 – 1998):
a) Masa stabilisasi dan rehabilitasi (1966 – 1968)
b) Masa pembangunan ekonomi (1969 – sekarang )
• Masa Oil Boom (1973 – 1982)
• Masa Pacsca Oil Boom (1983 – 1986)
(4) Krisis Ekonomi Tahun 1997
2.2. PEMBAHASAN MATERI
A. PENDAHULUAN
15
- Sejarah menguraikan rangkaian-rangkaian peristiwa dari waktu ke
waktu, sehingga tergambar dengan jelas perubahan-perubahan yang
terjadi dalam satu kurun waktu. Perubahan-perubahan tersebut bisa
melaihrkan keadaan sekarang lebih baik ataupun lebih buruk dari
keadaan masa lalu. Apakah setelah sekian tahun dilakukan pembangunan
ekonomi, keadaan ekonomi sekarang lebih maju atau lebih mundur. Hal
ini perlu kita nilai berdasarkan tolok ukur atau kriteria kemajuan
ekonomi.
- Dalam kontek sejarah, satu peristiwa yang terjadi tidak berdiri sendiri
dalam arti peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan peristiwa-peristiwa
lain sebelumnya. Ada hubungan sebab akibat, ada hubungan saling
mempengaruhi antara satu peristiwa dengan peristiwa lain. Untuk
mengetahui bagaimana sifat hubungan itu, bagaimana akibat peengaruh
hubungan itu, kita perlu memahami beberapa peralatan analisis ekonoim.
(1) Kriteria Kemajuan Ekonomi
a. Bagi negara-negara maju/ industri
1) Tingkat pendapatan per kapita
2) Distribusi pendapatan nasional
3) Tingkat inflasi
4) Tingkat pengangguran
Sejauh yang merupakan obyek perhatian adalah ekonoi negara-
negara yang masih berkembang maka perlu diperhatikan beberapa
aspek lagi (B.S. Mulana, 1983).
b. Bagi negara-negara sedang berkembang
- Kriteria yang bersifat struktural:
1) Tingkat pendapatan per kapita
2) Distribusi pendapatan nasional
3) Peranan sektor industri/
mfanufakturing dan jasa
4) Keterpaduan antar industri,
antar sektor ekonomi, dan antar daerah
- Kriteria yang bersifat tahunan :
5) Tingkat inflasi
6) Tingkat pengangguran
- Yang diinginkann negara-negara sedang berkembang adalah
keadaan yang dapat dan telah mengalami proses yang membawa
perubahan-perubahan struktural yang berarti. Maka dalam
kriteria struktural ditambah besarnya peranan sektor-sektor non
pertanian/ non iekstraktif dalam GNP atau GDP, besarnya
peranan sektor industri dan jasa (manufakturing) dalam ekspor,
tingginya tingkat keterpaduan secacara vertikal dalam sektor
industri, serta tingkat keterpaduan antara sektor dan antar daerah
dalam ekonomi (B.S. Muljana, 1983).
- Untuk menilai kesuksesan suatu Pelita di Indonesia lazim di
pergunakan kriteria tingkat pertumbuhan ekonoi dan tingkat
16
pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan (dua logos
dari Trilogi Pembangunan).
(2) Peralatan Analisis Ekonomi
- Langkah awal dalam mempelajari mekanisme kerja ekonomi nasional
adalah mendekati kegiatan ekonomi melalui tiga sisi, yaitu segi
produksi, segi pembelanjaan/ pengeluaran dan segi pendapatan.
Ketiga pendekatan itu dalam berbagai buku literatur disebut analisis
ekonomi makro (Susanto Hg., 1995).
- Beberapa konsep/ indikator penting yang perlu dpahami dalam rangka
anlaisis ekonomi makro antara lain : produk domestik bruto (PDB),
pendapatan nasional (Y), pendapatan per kapita, nilai tambah (Vas),
kontribusi sektor (Ks), laju pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi (In),
jumlah uang beredar (JUB), debt service ratio (DSR), nilai tukar
perdagangan (TOT), tingkat pengangguran, tingkat kesenjangann dan
incremental capital output ratio (ICOR).
a. Produk Domestik Bruto (PDB = GDP)
1) Dilihat dari sumber
pembentukannya, GDP diperoleh dengan cara menjumlahkan
seluruh nilai tambah dari sektor-sektor usaha.
Rumus :
GDP = VAsp + VAss + VAst
Keterangan :
VAsp = Nilai Tambah Sektor Primer
VAss = Nilai Tambah Sektor Sekunder
VAst = Nilai Tambang Sektor Tertier
2) Dilihat dari penggunaannya
(dari segi pengeluaran), nilai GDP harus sama dengan nilai
pengeluaran konsumsi rumah tangga © + konsumsi pemerintah
(G) + pembentukan modal bruto (I) + ekxpor dikurangi impor (X
– M).
Rumus :
GDP = C + I + G + (X – M)
b. Pendapatan Nasional (NI – Y)
- Cara perhitungan pendapatan nasional :
Rumus :
GNP = GDP + F
NNP = GNP – D
NI = NNP – Nit
= (GDP + F) – D – Nit
NI = GDP + F – D – Nit
Skema :
17
Produk Domestik Bruto (GDP) Rp xxxxx
Ditambah : pendapatan neto terhadap luar
Negeri atas faktor produksi (F) Rp xxxxx
Produk nasional Bruto (GNP) Rp xxxxx
Dikurangi : penyusutan (D) Rp xxxxx
Produk Nasional Neto (NNP) Rp xxxxx
Dikurangi : pajak tak langsung (Nit) Rp xxxxx
Pendapatan Nasional (NI = Y) Rp xxxxx
c. Pendapatan per kapita
- Pendapatan nasional dibagi jumlah penduduk
18
- Rumus :
NI
Pendapatan per kapita : ---------
P
d. Nilai tambah (VAs)
- Rumus :
VAs = OPs – IPs
- Keterangan :
VAs = Nilai tambah masing-masing sektor
OPs = Output (keluaran) sektor
IPs = Input (masukan) sektor
e. Kontribusi Sektor (Ks)
Rumus :
VAs (Rp)
Ks = x 100%
PDB (Rp)
f. Laju pertumbuhan Ekonomi
Rumus :
PDB
x
– PDB
x - 1
1) Cara tahunan =∆ PDB
x
= x 100%
PDB
x-1
2) Cara Rata-rata
Keterangan :
r = laju pertumbuhan ekonomi rata-rata setiap tahun
n = jumlah tahun (mulai dengan sampai dengan)
tn = tahun terakhir periode
to = tahun awal periode
g. Tingkat Inflasi (IF)
Rumus (Sederhana) :
1) Menghitung IHK (Indeks Harga Konsumen)
Current Price
Index Sumber = x 100%
Base-period price
2) Menghitung tingkat inflasi (inflation rate = IR)
IHK
n

(1) Bulanan : IR
n
= x 100% - 100%
IHK
n-1
19
100% . 1 .
1
]
]
]
]

,
`

.
|
·
− n
to
tn
r
Keterangan :
IR = angka inflasi (%) bulan n
IHK
n
= Indeks umum IHK Gabungan 17 kota bulan n
IHK
n-1
= Indeks umum IHK Gabungan 17 kota bulan ke(n-1)
(2) Tahunan : cummulative method (dengan
menjumlahkan inflasi setiap bulan)
IHK
x
IR
x
= x 100% - 100%
IHK
(x-1)
Keterangan :
IR
X
= tingkat inflasi tahun x
IHK
n
= IHK tahun x
IHK
n-1
= IHK tahun yang lalu
h. Debt Service Ratio (DSR)
- Rasio angsuran hutang LN terhadap ekspor ini
menggambarkan kemampuan suatu negara dalam melunasi
hutang LN.
Rumus :
Keterangan :
Dt = Bunga & Cicilan hutang
Xnt = ekspor neto (bersih), setelah dikurangi impor mingas
Xbt = ekspor bruto (kotor)
- Karena yang menanggung beban hutang pemerintah dan
swasta maka ada empat versi perhitungan DSR :
1) DSR pemerintah terhadap
ekspor bruto
2) DSR pemerintah (pemerintah +
swasta) terhadap ekspor bruto
3) DSR pemerintah terhadap
ekspor neto
4) DSR Indonesia (pemerintah +
swasta) terhadap ekspor neto
i. Nilai Tukar Perdagangan (term of Trade = TOT)
- Ada lima langkah untuk menentukan efek nilai tukar
perdagangan LN terhadap GDP (mempeengaruhi kemakmuran),
dua diantaranya adalah :
20
100% .
Xbt
Dt
DSR atau 100% . · ·
Xnt
Dt
DSR
1) Pertama, menentukan indeks
harga ekspor (Px) dan indeks harga impor (Pm)
Keterangan :
Px = Indeks ekspor
Pm = indeks impor
X, M = ekspor, impor
B = Bulan berlaku / harga tahun berjalan
K = harga konstan
2) Kedua, menentukan indeks nilai
tukar (term of trade)
Keterangan :
Px = Indeks harga ekspor
Pm = Indeks harga impor
j. Tingkat Kesenjangan, bisa dihitung dengan Gini Coeeficient (GC)
atau 40% golongan termiskin (40% GTM)
- Kesenjangan tinggi bila 40% GTM menerima < 12% dari NI
(Y)
- Kesenjangan sedang bila 40% GTM menerima 12-17dari Y
- Kesenjangan rendah bila 40% GTM menerima > 17% dari
NI (Y)
B. PERIODE KOLONIAL
(1) Karakteristik
a. Ciri perekonomian kolonial
- Pada jaman Kolonial belanda, ekonomi Indonesia diwarnai
oleh suatu strategiyang melahirkan dualisme dalam kegiatan
ekonoi, yaitu dualisme antara sektor ekspor (enclave) dan sektor
tradisonal (hinterland). Sektor ekspor diwakili dengann kehadiran
perkebunan-perkebunan di daerah pedesaan (Suroso, 1994).
- Pendirian perkebunan di daerah pedesaan semata-mata
karena pertimbangan lokasi yang menguntungkan (tanah subur,
iklim cocok) dan bukan untuk menciptakan lapangan kerja baru
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
- Struktur perekonomian kolonial seperti gambar di bawah
ini :
21
% 100 .
% 100 .
MK
MB
Pm
XK
XB
Px
·
·
100% x
Pm
Px
TOT ·
Sistem Pasar Dunia
- Pasar dunia dan sektor ekspor terpisah dengan sektor
tradisional, karena sektor ekspor berhubungan langsung dengan
pasar dunia dan mendapat proteksi dari pemerintah.
b. Konsep Dualisme
Sejak jaman penjajahan sampai saat ini perekonomian Indonesia
masih juga menunjukkan ciri-ciri adanya dualisme, baik dualisme
yang bersifat teknologis, maupun yang bersifat ekonomis, sosial dan
kultural. Boeke memberikan definisi masyarakat dualistis (Anne
Booth, 1990) :
“Masyarakat yang mempunyai dua gaya sosial berbeda, yang
masing-masing hidup berdampingan. Dalam proses evolusi
sejarah normal yang berlaku bagi masyarakat homogen,
kedua gaya sosial tersebut me3wakili tahap perkembangan
sosial yang berbeda, dipisahkan oleh suatu gaya sosial lain
yang mewakili tahap transisi, misalnya : masyarakat sebelum
kapitalisme dan masyarakat kapitalisme maju yang
dipisahkan oleh masyarakat kapitalisme awal….”
(2) Statistik Ekonomi Kolonial
a. Kedudukan dan Fungsi Hindia Belanda
- Sistem pemerintahan Kolonial (Hindia Belanda)
menciptakan sistem ekonomi kolonial yang diarahkan untuk
memenuhi kepentingan negeri Belanda. Maka Hindia belanjda
sebagai negeri jajahan dijadikan sebagai :
1) Daerah penghasil bahan untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri negeri Belanda.
2) Daerah pemasaran bagi hasil
industri dari negeri Belanda.
3) Daerah penghasil devisa bagi
kepentingan negeri Belanda.
- Hal ini terlihat dari peranan perdagangan Hindia Belanda
(Indonesia) di masa yang lalu.
b. Peranan Hindia Belanda Dalam Perdagangan
- Peranan Hindia Belanda terlihat dari prosentase ekspor
terhadap ekspor dunia untuk beberapa komiditi, antara lain : kina
99%, lada 86%, Kapok 72%, karet 37%, agave 33%, hasil kelapa
22
ENCLAVE
Sektor
Ekspor
Sektor Tradisional
(HINTERLAND)
27%, minyak sawit 24%, the 19%, timah putih 17%, gula 5%
(Soemitro, 1953; di kutip dari Suroso, 1994).
- Perdagangan Hindia Belanda sebelum kemerdekaan sebagai
berikut :
Impor dari Ekspor ke
Negeri-negeri Asia $ 89.000.000 $ 144.000.000
Negeri-negeri Eropa 141.000.000 117.000.000
Amerika 36.000.000 90.000.000
Afrika 9.000.000 46.000.000
Australia 8.000.000 22.000.000
- Kira-kira ¼ dari impor Hindia belanda datang dari negeri
belanda. Memang merupakan politik belanda untuk
mendahulukan Firma-firm Dagang Belanda.
- Selama 20 tahun antara kedua perang dunia, neraca
perdagangan Hindia Belanda dengan Amerika mengalami
surplus $ 955 juta, sedang nerraca dagang negeri Belanda
dengan Amerika defisit sebesar $900 juta. Surplus dari Hindia
belanda ini yang dipergunakan untuk menutup defisit negeri
Belanda (Soemitro, 1953: dikutip dari Suroso, 1994).
c. Pendapatan Penduduk Indonesia Asli
- Menurut data yang dihimpun oleh Polak pada tahun 1942,
perekonomian Indonesia telah mengalami masa-masa pasang
surut (Anne Booth, 1990) :
1) Pendapatan riil naik dalam
tahun-tahun 1923 – 1928 dan 1934 – 1939.
2) Masa-masa stagnasi dialami
pada waktu terjadi depresiasi dunia tahun 1929 – 1933.
- Antara tahun 1921 – 1939 pendapatan riil penduduk
Indonesia asli naik 50% (sekitar 2,6% per tahun). Sedang laju
pertumbuhan penduduk waktu itu sekitar 1,5% per tahun.
- Ini berarti bahwa pada masa penjajahan Belanda ada
peningkatan kesejahteraan hidup rakyat meskipun kecil dan
lambat sekali.
23
PEREKONOMIAN INDONESIA
MUNAWIR, SE
POKOK BAHASAN
II. SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN
2)
C. PERIODE KEMERDEKAAN
(1) Masa Demokrasi Liberal (1945 – 1959)
a. Masalah yang dihadapi tahun 1945 – 1950
1) Rusaknya prasarana-prasarana ekonomi akibat perang
2) Blokade laut oleh Belanda sejak Nopember 1946 sehingga kegiatan
ekonomi ekspor-impor terhenti.
3) Agresi Belanda I tahun 1947 dan Agresi belanda II tahun 1948.
4) Dimasyarakat masih beredar mata uang rupiah Jepang sebanyak 4 miliar
rupiah (nilainya rendah sekali). Pemerintah RI mengeluarkan mata uang
“ORI” pada bulan Oktober 1946 dan rupiah Jepang diganti/ ditarik dengan
nilai tukar Rp 100 (Jepang) = Rp 1 (ORI).
5) Pengeluaran yang besar untuk keperluan tentara, menghadapi Agresi
Belanda dan perang gerilya. (Suroso, 1994).
Masalah yang dihadapi Tahun 1951 – 1959
1) Silih bergantinya kabinet
karena pergolakan politik dalam negeri.
2) Defisit APBN yang terus
meningkat yang ditutup dengan mencetak uang baru.
3) Tingkat produksi yang
merosot sampai 60% (1952), 80% (1953) dibandingkan produksi tahun
1938.
4) Jumlah uang beredar
meningkat dari Rp 18,9 miliar (1957) menjadi Rp 29,9 miliar (1958)
sehingga inflasi mencapai 50%.
5) Ketegangan dengan
Belanda akibat masalah Irian Barat menyebabkan pengambilalihan
24
perusahaan[erusahaan asing (Barat). Sementara itu di daerah-daerah terjadi
pergolakan yang mengarah disintergrasi, seperti Dewan Banteng, Permesta,
PRRI (Suroso, 1994).
Selama periode 1949-1956, struktur ekonomi Indonesia masih peninggalan
zaman kolonialisasi. Sektor formal/ modern, seperti pertambangan, distribusi,
transpor, bankdan pertanian komersil, yang memiliki kontribusi lebih besar dari
pada sektor informal/ tradisional terhadap output nasional, didominasi oleh
perusahaan-perusahaan asing yang kebanyakan berorientasi ekspor komoditi
primer (Tulus Tambunan, 1996).
b. Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi
Memang sebelum pemerintahan Soeharto, Indonesia telah memiliki empat
dokumenn perencanaan pembangunan, yakni :
1) Rencana dari Panitia Siasat Pembangunan Ekonomi yang diketuai
Muhammad Hatta (1947).
2) Rencana Urgensi Perekonomian (1951) – yang diusulkan oleh Soemitro
Djojokusumo.
3) Rencana Juanda (1955) – Rencana Pembangunan Lima Tahun I meliputi
kurun waktu 1956-1960.
4) Rencana Delapan tahun “Pembangunan Nasuional Semesta Berencana”
pada masa demokrasi terpimpin ala Soekarno (Didin S. Damanhuri,…..)
Mengingat situasi keamanan (Agresi Belanda 1947, 1948,
pemberontakan PKI di Madiun 1948) dan silih bergantinya kabinet maka tidak
dimungkinkan adanya program kebijaksanaan yang bisa dijalankan secara
konsisten dan dan berkesinambungan. Antara tahun 1949-1959 terjadi 7 kali
pergantian kabinet (yang rata-rata berumur 14 bulan) sehingga cukup sulit
menilai program ekonomi apa yang telah berhasil diterapkan masing-masing.
(Mubyarto, 1988).
Pada awal tahun 50-an kebijaksanaan moneter di negara ini cenderung
bersifat konservatif (jumlah uang yang beredar tumbuh dengan mantap, tetapi
terkendalikan dengan laju 22 % per tahun antara 1951 – 1956). Kemudian
selama tahun-tahun terakhir dasawarsa 50-an jumlah uang yang beredar tumbuh
dengan lebih cepat antara 1956 – 1960). Kebijaksanaan moneter selanjutnya
semakin terkesan sebagai hasil sampingan dari dunia politik dan dari kebutuhan
untuk membiayai defisit APBN yang semakin membesar (Stephen Grenville
dalam Anne Booth dan Peter Mc Cawley, ed., 1990).
(2) MASA EKONOMI TERPIMPIN ( 1959 – 1966 )
a. Masalah yang dihadapi
1) Selama Orde Lama telah terjadi berbagai penyimpangan, dimana
ekonomi terpimpin yang mula-mula disambut baik oleh bung Hatta,
ternyata berubah menjadi ekonomi komando yang statistik (serba negara).
Selama periode 1959 – 1966 ini perekonomian cepat memburuk dan inflasi
merajalela karena politik dijadikan panglima dan pembangunannnn ekonoi
disubordinasikan pada pembangunan politik. (Mubyarto, 1990).
25
2) Ada hubungan yang erat antara jumlah uang yang beredar dan tingkat
harga (Stephen Genville dalam Anne Booth dan McCawley, ed., 1990).
Tahun
∆ JUB (%) ∆ Harga (%)
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
39
42
99
95
156
280
763
19
72
158
128
135
595
635
Sumber : Bank Indonesia, Laporan Tahunan jakarta, Berbagai Edisi.
Selama tahun 60-an sumber penciptaan uang oleh sektor pemerintah
merupakan penyebab terpenting dari naiknya jumlah uang yang beredar.
3) Tahun 1960-an cadangan devisa yang sangat rendah mengakibatkan
timbulnya kekurangan bahan mentah dan suku cadang yang masih harus
diimpor dan diperkirakan dalam tahun 1966 sektor industri hanya bekerja
30% dari kapasitas yang ada (Peter McCawley dalam Anne booth dan Peter
McCawley, ed., 1990).
b. Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi
- Rencana : pembangunan nasional semesta berencana (PNSB) 1961-
1969. Rencana pembangunan ini disusun berlandasarkann “Manfesto Politik
1960” untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dengan azas ekonomi
terpimpin.
- Faktor yang menghambat/ kelemahannya antara lain :
1) Rencana ini tidak mengikuti
kaidah-kaidah ekonomi yang lazim.
2) Defisit anggaran yang terus
meningkat yang mengakibatkan hyper inflasi.
3) Kondisi ekonomi dan politik
saat itu: dari dunia luar (Barat) Indonesia sudah terkucilkan karena
sikpanya yang konfrontatif. Sementara di dalam negeri pemerintah
selalu mendapat rongrongan dari golongan kekuatan politik “kontra-
revolusi” (Muhammad Sadli, Kompas, 27 Juni 1966, Penyunting
Redaksi Ekonomi Harian Kompas, 1982).
- Beberapa kebijaksanaan ekonomi – keuangan:
1) Dengan Keputusan Menteri
Keuangan No. 1/M/61 tanggal 6 Januari 1961: Bank Indonesia dilarang
menerbitkan laporan keuangan/ statistik keuangan, termasuk analisis
dan perkembangan perekonomian Indonesia.
2) Pada tanggal 28 Maret 1963
Presiden Soekarno memproklamirkan berlakunya Deklarasi Ekonomi
26
dan pada tanggal 22 Mei 1963 pemerintah menetapkan berbagai
peraturan negara di bidang perdagangan dan kepegawaian.
3) Pokok perhatian diberikan pada
aspek perbankan, namun nampaknya perhatian ini diberikan dalam
rangka penguasaan wewenang mengelola moneter di tangan penguasa.
Hal ini nampak dengan adanya dualisme dalam mengelola moneter.
(Suroso, 1994).
(3) MASA EKONOMI PANCASILA/ ORDER BARU
(1966 – 1998)
I) MASA STABILISASI DAN
REHABILITASI (1966 – 1968)
a. Masalah yang dihadapi
- Menanggapi masalah ekonomi yang kin dengan tajam disoroti oleh
MPRS, maka Prof. Dr. Widjojo Nitisastro dalam percakapan dengan
wartawan Kompas menyatakan, bahwa sumber pokok kemerosotan
ekonomi ialah penyelewenangan pelaksanaan UUD 1945. sebagai
misal pasal 33 yang selama beberapa tahun ini dengan sengaja atau
tidak telah didesak oleh landasan-landasan ideal yang lain. Demikian
pula realisasi Pancasila dalam bidang ekonomi sering dilupakan.
Misalnya sila Kedaulatan Rakyat tercermin dalam pasal 23 yang
mengatur anggaran belanja negara (Kompas, 29 Juni 1966,
Penyunting Redaksi Ekonomi Harian Kompas, 1982).
- Periode ini dikenal sebagai periode stabilisasi dan rehabilitasi sesuai
dengan masalah pokok yang dihadapi, yaitu :
1) Meingkatnya inflasi yang
mencapai 650% pada tahun 1965
2) Turunnya produksi nasional di
semua sektor
3) Adanya dualisme pengawas dan
pembinaan perbankan. Dualisme ini muncul dari struktur
organisasi perbankan yang meletakkan Deputy Menteri bank
Sentral dan Deputy Menteri Urusan Penertiban bank dan Modal
Swasta berada di bawah Menteri Keuangan. (Suroso, 1994).
b. Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi
- Ketetapan MPRS Nomor XXIII/MPRS/1966 tentang :
Pembaharuan kebijaksanaan landasan ekonomi, keuangan dan
pembangunan, tertanggal 5 Juli 1966, antara lain menetapkan :
(1) Program stabilisasi dan rehabilitasi : 1966 – 1968
(jangka pendek)
• Skala Prioritasnya
1) Pengendalian inflasi
2) Pencukupan kebutuhan pangan
3) Rehabilitasi prasarana ekonomi
4) Peningkatan kegiatan ekspor
27
5) Pencukupan kebutuhan sandang
• Komponen Rencananya
1) Rencana fisik dengan sasaran utama :
(a) Pemulihan dan
peningkatan kapasitas produksi (pangan, ekspor dan
sandang)
(b) Pemulihan dan
peningkatan prasrana ekonomi yang menunjang bidang-
bidang tersebut.
2) Rencana Moneter dengan sasaran utama :
(1) Terjaminnya pembiayaan rupiah dan devisa
bagi pelaksanaan rencana fisik.
(2) Pengendalian inflasi pada tingkat harga yang
relatif stabil sesuai dengan daya beli rakyat.
• Tindakan dan Kebijaksanaan Pemerintah
1) Tindakan pemerintah “banting stir” dari ekonomi
komando ke ekonomi bebas demokratis; dari ekonomi
tertutup ke ekonomi terbuka; dari anggaran defisit ke
anggaran berimbang. (Mubyarto, 1988).
2) Serangkaian kebijaksanaan Oktober 1966, Pebruari
1967 dan Juli 1967 antara lain :
(1) Kebijaksanaan kredit yang lebih selektif
(penentuan jumlah, arah, suku bunga)
(2) Menseimbangkan/ menurunkann defisit
APBN dari 173,7% (1965), 127,3% (1966), 3,1% (1967)
dan 0% (1968). (Suroso, 1994).
28
3) Mengesahkan / memberlakukan undang-undang :
(1) UU Pokok Perbankan No. 14/ 1967
(2) UU Perkoperasian no. 12/ 1967
(3) UU Bank Sentral No. 13/ 1968
(4) UU PMA tahun 1967 dan UU PMDN tahun
1968
(5) Membuka Bursa Valas di Jakarta 1967.
(2) Program Pembangunan dimulai tahun 1969/ 1970
(jangka panjang)
- Skala Prioritasnya
1) Bidang pertanian
2) Bidang prasarana
3) Bidang industri/ pertambangan
dan minyak
- Jangka waktu dan strategi pembangunan
1) Pembangunann jangka
menengah terdiri dari pembangunan Lima Tahun (PELITA)
dan dimulai dengan PELITA I sejak tahun 1969/ 1970
2) Pembangunan Jangka Panjang
dimulai dengan pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT
– I) selama 25 tahun, terdiri dari :
 PELITA I 69 / 70 = 73 / 74
Titik berat pada sektor pertanian dan industri yang
menunjang sektor pertanian.
 PELITA II 74/75 – 78/79
Titik berat pada sektor pertanian dengan meningkatkan
industri pengolah bahan mentah menjadi bahan baku.
 PELITA III 79/80 – 83/84
Titik berat sektor pertanian (swasembada beras) dengan
meningkatkan industri pengolah bahan baku menjadi
barang jadi.
 PELITA IV 84/85 – 88/89
Titik berat pertanian (melanjutkan swasembada pangan)
dengan meningkatkan industri penghasil mesin-mesin.
 PELITA V 89/90 – 93/94
Sektor pertanian untuk memantapkan swasembada
pangan dengan meningkatkan sektor industri penghasil
komoditi ekspor, pengolah hasil pertanian, penghasil
mesin-mesin dan industri yang banyakk menyerap tenaga
kerja.
PELITA V meletakkan landasan yang kuat untuk tahap
pembangunan selanjutnya. (Suroso, 1994).
29
II) MASA PEMBANGUNAN EKONOMI
(1969 – sekarang)
A. MASA OIL BOOM (1973 – 1982)
- Dua kali Oil Boom dalam PJPT I :
1) Oil Boom I (1973/1974)
Oil Boom I terjadi ketika harga minyak di pasar dunia melonjak dari
US$1.67/ barrel (1970 menjadi US$ 11.70/barrel (1973/74), karena
adanya krisis minyak sebagai akibat tindakan boikot negara-negara
OPEC (timur Tengah) yang sedang konflik dengan Israel.
2) Oil Boom II (1979/1980)
Harga minyak yang telah menapai US$ 15.65/ barrel (1979)
melonjak lagi menjadi US$ 29.50/ barrel (1980), terus melonjak
US$ 35.00 (1981 – 1982)
a. Masalah yang dihadapi
Oil Boom disamping memberi dampak positif juga membawa
dampak negatif (masalah)
a) Dampak Positif (menguntungkan)
Selama Pelita I, II, III (1973/74 – 1979/80) nilai keseluruhan
ekspor Indonesia meningkat :
1) Awal Pelita I US$ 1 miliar meningkat menjadi US$
3,6 miliar (akhir Pelita I)
2) Awal Pelita II US$ 7,1 miliar meningkat menjadi
US$ 11,3 miliar (akhir Pelita II).
3) Puncaknya mencapai US$ 23,6 miliar pada tahun
1981/1982.
Laju pertumbuhan ekonomi cednderung meningkat :
1) Tiap Pelita rata-rata : 7% (Pelita I), 7,2% (Pelita II) dan
6,5% (Pelita III).
2) Terus meningkat mencapai 9,9% (1980), kemudian
menurun 7,9% (1981) dan merosot menjadi 2,3% pada waktu
resesi ekonomi tahun 1982. (Mubyarto, 1988).
b) Dampak Negatif (Merugikan)
1) Bangsa Indonesia menjadi manja, hidupnya boros
dan mewah seperti, terlihat :
- Nilai ekspor naik 6,8 per tahun tapi diikuti naiknya
nilai impor yang lebih tinggi, yaitu 16,6% per tahun.
(Mubyarto, 1988).
- Kebutuhan modal asing (pinjaman lunak) tidak
menurun: rata-rata US$ 562 juta per tahun (1970-1973),
malahan meningkat rata-rata US$ 1,646.9 juta per tahun
(1974-1984), (Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI
15-8-1974 dalam Zulkarnain Djamin, 1993).
2) Bangsa Indonesia menderita penyakit belanda (the
Dutch disease), gejalanya terlihat antara lain :
30
- Laju inflasi dalam negeri lebih tinggi dari inflasi
dunia (negara partner dagang) sebagai akibat besarnya
monetisasi penerimaan negara dalam valas.
- Defisit APBN (dalam rupiah) ditutup dengan surplus
penerimaan (dalam valas). Akibatnya jumlah uang
beredar meningkat, inflasi meningkat.
- Laju pertumbuhan yang uang beredar jauh lebih
besar, rata-rata 34,9% sedang lalu pertumbuhan ekonomi
rata-rata 8% per tahun selama 1972 – 1981 (Anwar
Nasutioan dalam Anwar Nasution, ed., 1985).
b. Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah
- Masa Oil Boom (1973/74 – 1981/82) berlangsung sepanjang
waktu pelaksanaan PELITA I – PELITA III (akhir tahun
PELITA I sampai pertengahan tahun PELITA III)
- Kebijaksanaan tiga PELITA antara lain (Suroso, 1994)
• PELITA I ; sebagian besar
anggaran pemerintah dialokasikan di bidang ekonomi, yaitu
78,28%, untuk sektor pertanian dan irigrasi, sektor
perhubungan dan pariwisata, industri dan pertambangan serta
sektor pedesaan.
• PELITA II : kebijaksanaan
ekonomi periode ini berkisar pada :
 Kebijaksanaan
stabilisasi 9 April 1974 (menyangkut aspek moneter,
fisikal dan perdaganagn).
 Keibjaksanaan
devaluasi rupiah terhadap dollar AS (kurang lebih 45%)
pada bulan Nopember 1978.
• PELITA III : Unsur
pemertaan lebih ditekankann melalui delapan jalur
pemeraataan-pemertaan:
 1. Kebutuhan pokok rakyat (pangan, sandang)
2. Kesempatan
memperoleh pendidikan, kesehatan
3. Pembagian
pendapatan
4. Perluasan
kesempatan kerja
5. Usaha, terutama
golongan ekonomi lemah
6. Kesempatan
berpartisipasi (pemuda, wanita
7. Pembangunan
antar daerah
8. Kesempatan
memperoleh keadilan
31
 Kebijaksanaann Januari 1982 : keringan kredit
ekspor, penurunan biaya gudang, pelabuhan dan bebas
memiliki devisa.
 Eksportir dibebaskan dari kewajiban menjual devisa
yang diperolehnya dari hasil ekspor barang/ jasa kepada
bank Indonesia.
 Di bidang impor juga diberikan keringnan bea masuk
dan PPN Impor untuk barang-barang tertentu.
 Kebijakan imbal beli Januari 1983 : mengatur ekspor-
impor dengan cara imbal beli untuk mengurangi
pemakaian devisa.
 Di bidang perkreditan pelaksanaan KIK/ KMK
semakin disempurnakan dengan Keppres No. 18/1981
• Pertumbuhan ekonomi pada
periode ini dihambat oleh reseeese dunia yang belum juga
berakhir. Sementara itu nampak ada kecenderungan harga
minyak yang semakin menurun khususnya pada tahun-tahun
terakhir Repelita III. (Suroso, 1994).
32
PEREKONOMIAN INDONESIA
MUNAWIR, SE
POKOK BAHASAN
II. SEJARAH PEREKONOMIAN
INDONESIA (BAGIAN 3)
(II) MASA PEMBANGUNAN
EKONOMI (1983 – 1987)
B. MASA PASCA OIL BOOM (1983 –
1987)
- Harga minyak mencapai US$ 35.00/ per barrel (1981 – 1982),
menurun lagi menjuadi US$ 29.53/ barrel (1983 – 1984) dan tahun-tahun
berikutnya harga berfluktuasi tidak menentu. Sejak tahun 1983 perekonomian
Indonesia memasuki masa Pasca Oil Boom (Pasca Bonanza Minyak)
- Tahun 1986 terjadi goncangan ekonomi akibat merosotnya harga
minyak sampai titik terendah US$ 9,83/ barrel. Program refromasi ekonomi
(pemulihan) mulai menampakkan hasil pada tahun 1998.
a. Masalah-masalah yang dihadapi
Merosotnya harga minyak di pasar internasional sepanjang tahun 1983 – 1987
menimbulkan masalah berat bagi perekonomian Indonesia karena penerimaan
sektor migas menurun; defisit transaksi berjalan dan defisit APBN meningkat.
Dampak turunnya harga minyak :
1) Penerimaan migas dari hasil
ekspor menurun 2,0% menjadi US$ 14.449 juta (1983/1987) dan menurun
lagi 44,0% menjadi US$ 6.966 juta (1986/1987).
2) Defisit transaksi berjalan
meningkat dari US$2..888 juta menjadi US$4.151 juta (1983/1984) dan
meningkat lagi dari US$1.832 juta menjadi US$ 4.051 juta (1986/1987).
3) Defisit APBN meningkat dari
Rp 1.938 triliun menjadi Rp 2.742. triliun (1983/1984) dan meningkat lagi
dari Rp 3.571 triliun menjadi Rp 3.589 triliun (1986/1987). Sedangkan
anggaran pembangunan berkurang Rp 2.777 triliun atau 23,7% dibanding
33
tahun yang lalu karena pada tahun 1986/1987 banyak proyek yang ditunda/
dipangkas. (angka-angka diolah kembali dari laporan BI tahun yang
bersangkutan).
b. Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah
Masa Pasca Oil Boom terjadi pada tahun ke-5 PELITA III (1983/1984) sampai
tahun ke-3 PELITA IV (1986/1987).
Kebijaksanaan tahun 1983 – 1984 :
1) Devaluasi Rupiah terhadap US Dollar (US$ 1 = Rp
702 menjadi US$ = Rp 970) untuk memperkuat daya saing.
2) Menekan pengeluaran pemerintah dengan
pengurangan subsidi dan penangguhan beberapa proyek pembangunan
3) Kebijaksanaan moneter perbankan 1 Juni 1983
(PAKJUN 1983) :
- Kebebasan menentukan suku bunga deposito dan pinjaman bagi
bank-bank pemerintah
- Pemerintah menerbitkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) sejak
Pebruari 1984 dan memberikan fasilitas diskonto keapada bank-bank
umum yang mengalami kesulitan likuiditas (SBPU mulai digunakan
Pebruari 1985).
4) Kebijaksanaan perpajakan : memberlakukan
seperangkat Undang-undang Pajak Nasional (1984).
(Laporan tahunan B.I. 1983/1984).
Kebijaksanaan Reformasi Ekonomi 1986 – 1987 :
- Kebijaksanaan ini terutama diarahkan untuk mencegah memburuknya
neraca pembayaran, mendorong ekspor non migas, mendorong
penanaman modal dan meningkatkan daya saing produk ekspor (non
migas) di pasar dunia.
(Laporan tahunan B.I. 1986/1987).
a) Sektor
Fiskal/ Moneter :
1) Pemerintah melakukan
penghematan antara lain dengan mengurangi subsidi; meningkatkan
penerimaan melalui intensiftikasi dan ekstensifikasi pemungutan
pajak.
2) Devaluasi rupiah terhadap US
Dollar sebesar 31% (dari US$ 1 = Rp 970 menjadi US$ 1 = Rp
1.270)
3) Tidak menaikkan suku bunga
instrumen moneter untuk mendorong kegiatan ekonomi dan
pengerahan dana serta memperbaiki posisi neraca pembayaran.
4) Pemerintah menghapus
ketentuan pagu swap ke Bank Indonesia untuk mendoirong
pemasukan modal asing dan dana dari luar negeri (Laporan Tahunan
B.I. 1986/ 1987).
34
b) Sektor
Riil (struktural) :
1) PAKMI – 1986 (6 Mei 1986) menyangkut ekspor:
kemudahan tata niaga, fasilitas pembebasan dan pengembalian bea
masuk, pembentukan kawasan berikat.
2) PAKTO – 1986 ( 25 Oktober 1986) menyangkut
impor: mengganti “sistem non tarif” dengan “sistsem tarif” untuk
mencegah manipulasi harga barang. Penyempurnaan bea masuk dan
bea masuk tambahan.
3) PAKDES – 1986 (29 Desember 1986) : memberi
kemudahan-kemudahan kepada perusahaan-perusahaann industri
strategis tertentu. (Laporan Tahunan B.I. 1986/1987).
- Program penyesuaian ekonomi struktural dan reformasi ekonomi
yang dilakukan pemerintah Indonesia sejak anjloknya harga minyak di
pasar dunia pada pertengahan tahun 1980-an mencakup empat katagori
besar, yaitu : (1) pengaturan nilai tukar rupiah (exchange rate
management), (2) kebijakan fiskal, (3) kebijakan moneter dan keuangan
serta (4) kebijakan perdagangan dan deregulasi atau reformasi di sektor
riil dan moneter. (Tulus Tambunan, 1996).
- Beberapa hasil Reformasi Ekonomi 1986 – 1987 :
1) Laju pertumbuhan ekonomi
meningkat dari 4,9% (1987) menjadi 5,8% (1988)
2) Nilai total ekspor meningkat
dari US$ 17.206 juta (1987) menjadi US$ 19.509 juta (1988)
Prosentasi ekspor non migas meningkat dari 50,2% (1987) menjadi
59,8% (1988).
3) Defisit transaksi berjalan
menurun : uS$2.269 juta (1987) menjadi US$1.552 juta (1988).
(Statistik Keuangan 1991/1992, BPS)
- Meskipun adanya perbaikan dalam lingkungan ekonomi eksternal,
termask pemulihan harga minyak, telah membantu Indonesia dalam
proses penyesuaiannya, usaha dan tindakan setelah tahun1986 berupa
kebijaksanaan-kebijaksanaan struktural dan finansial yang tepat tela
memainkan peranan penting. Kebijaksanaan-kebijaksanaan penyesuaian
yang dijalankan sejak tahun 1986 telah memperkuat kemampuan
ekonomi Indonesia untuk berdaya tahan terhadap goncangan yang
merugikan (Rustam Kamaluddin, 1989).
A. KEGIATAN EKONOMI MEMANAS
(OVERHEATED) SEJAK 1990
- Ekspansi kegiatan ekonomi selama tahun-tahun 1989-1991 ada
sangkut pautnya dengan kebijaksanaan deregulasi pemerintah, yang sudah
mulaid ilaksanakan secara bertahap sejak tahun 1983. Rangkaian tindakan
deregulasi di atas memberi dorongan kuat terhadap kegiatan dunia swasta, yang
35
beberapa tahun terakhir ini telah menjadi faktor penggerak dalam ekspansi
ekonomi.
- Ekspansi ekonomi di atas telah disertai oleh ekspansi moneter yang
besar, sebagai akibat naiknya permintaan domestik (domestic demand) yang
mencakup tingkat investasi maupun tingkat konsumsi. Ekspansi ekonomi yang
ditandai oleh laju pertumbuhan pesat selama tiga tahun berturut-turut ini
dianggap terlalu panas (overheated) dari sudut kestabilan keuangan moneter
(Soemitro Djojokusumo, 1993).
a. Masalah-masalah yang dihadapi
- Kecenderungan terjadinya ekspansi ekonomi berbarengan dengan
ekspansi moneter, sehingga ekonomi memanas (overheated) jika dibiarkan
berlangsung terus akan membahayakan kestabilan ahrga dalam negeri dan
melemahkan kedudukan negara kita dalam hubungan ekonomi internasional
(khususnya dibidang neraca pembayaran luar negeri).
Indikator Ekspansi Ekonomi
1) Laju pertumbuhan ekonomi
yang meningkat : 5,8% (1988), 7,5% (1989), 7,1 (1990)
2) Investasi dunia swasta yang
meningkat : 15% (1983), 17% (1991). Pangsa investasi asing berkisar 25%
dari total nilai investasi swasta domestik.
Indikator ekspansi Moneter
1) Jumlah uang beredar meningkat : 40% (189), 44% (1990)
2) Kredit perbankan meningkat : 48% (1989), menjadi 54% (1991)
3) Laju inflasi meningkat : 5,5% (1988), 6,0% (1989) 9,5% (1990-1991)
4) Defisit tahun berjalan meningkat : US$1.6 miliar (1989), US$3.7 miliar
(1990) dan US$4.5 miliar (1991). (Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
b. Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah
- Berlangsungnya proses pemulihan ekonomi sampai kegiatan ekonomi
meningkat cepat sehingga memanas (overheated) berlangsung selama tahun
ke 4, ke 5 pelaksanaan PELITA IV dan tahun ke 1 PELITA V (1987/1988 –
1989/1990) dan ekonomi memanas ini berlangsung terus sepanjang
PELITA V (1989/1990 – 1993/1994)
- Kondisi ekonomi yang memanas perlu didinginkan dengan
kebijaksanaan uang ketat.
- Kebijaksanaan uang ketat (TMP = tight money policy)
Untuk “mendinginkan” kondisi ekonomi yang terlalu panas dilakukan
kebijaksanaan fiskal dan moneter/ perbankan :
1) Meningkatnya penerimaan
dalam negeri : Rp 28.73 triliun (1989/1990), Rp 39,54 triliun
(1990/1991), Rp 41,58 triliun (1991/1992)
2) Moneter / perbankan :
36
c) Memba
tasi kredit bank melalui politik diskonto (suku bunga) didukung
operasi pasar terbuka dengan instrument SBI dan SBPU.
d) Menga
wasi likuiditas bank melalui ketentuan LDR (Loan to Deposit Ratio)
dann CAR (Capital Adequacy Ratio).
Dampak TMP : pertumbuhan ekonomi menurun dari 6,6% (1991) menjadi
6,3% (1992) dan inflasi menurun dari 9,5% (1991) menjadi 4,9% (1992).
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993: angka-angka : Nota Keuangan dan
Rancangan APBN 1994/1995).
B. KEGIATAN EKONOMI INDONESIA
MENJADI OVERLOADED TAHUN 1996
- Pertumbuhan jumlah uang beredar (M2), meningkatnya inflasi,
investasi, kredit bank dan kuatnya arus modal luar negeri, terutama yang
bersumber dari hutang swasta luar negeri serta defisit transaksi berjalan yang
makin membengkak, menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi Indonesia
berlangsung melampaui daya dukung (kemampuan) yang ada (Laporan tahunan
B.I. 1995/1996).
- Hal ini menunjukkan, bahwa kondisi ekonomi yang overheated sejak
tahun 1990, mulai tahun 1995/1996 menjadi overloaded, karena :
1) Meningkatnya permintaan
domestik tidak diimbangi dengan kemampuan menambah penawaran,
sehingga harga-harga meningkat
2) Maraknya kegiatan investasi
maupun konsumsi, mendorong permintaan kredit perbankan yang tidak
diimbangi pertambahan dana bank menyebabkan naiknya tingkat suku
bunga pinjaman.
3) Melebarnya selisih suku bunga
dalam dan luar negeri, mendorong masuknya modal luar negeri terutama
hutang swasta, sehingga beban angsuran hutang luar negeri meningkat.
4) Bersamaan dengan
meningkatnya impor non migas yang tidak diimbangi dengan peningkatan
ekspor non migas, menyebabkan defisit transaksi berjalan makin
membengkak.
a. Masalah-masalah yang dihadapi
- Meningkatnya permintaan domestik, baik permintaan untuk konsumsi
maupun investasi, yang tidak disertai dengan meningkatnya penawaran
yang memadai, menimbulkan tekanan pada gangguan keseimbangan
internal dan keseimbangan eksternal (Laporan Tahunan B.I. 1995/1996).
e) Gangg
uan Keseimbangan Internal :
1) Meningkatnya pendapatan
nasional dari Rp 300,6 triliunmenjadi Rp 323,5 triliun dan
pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Rp 194,1 triliun menjadi
37
Rp 206,3 triliun, yang tidak diimbangi dengan meningkatnya
penawaran, menyebabkan inflasi meningkat menjadi 8,9%.
2) Meningkatnya investasi dari
15,3% menjadi 16,4%, laju kenaikan kredit rata-rata 24,8%
(1993/1994 – 1995/1996) melebihi kenaikan dana bank rata-rata
sebesar 23,9% per tahun. Akibatnya suku bunga pinjaman
meningkat dari 15,3% menjadi 16,4%.
f) Gangg
uan keseimbangan eksternal
1) Impor non migas mengalami pertumbuhan sampai 19,8%,
sedangkan ekspor non migas hanya meningkat 13,9%. Terjadi
tekanan pada Neraca pembayaran, sehingga defisit transaksi berjalan
meningkat rationya terhadap PDB dari 2% menjadi 3%. Akibatnya
sektor luar negeri menjadi faktor pengurang pada pembentukan
PDB.
2) Meningkatnya kebutuhan investasi yang tidak diimbangi
pergambahan dana bank dan adanya perbedaantingkat suku bunga
dalam negeri (lebih tinggi) dengan suku bungan di luar negeri,
menyebabkan surplus lalu lintas modal meningkat dari US$ 4,8
miliar menjadi US$11.4 miliar, dimana sektor pemerintah defisit
US$0,2 miliar sedangkan sektor swasta surplus US$11.6 miliar,
terutama dari hutang swasta ke luar negeri (laporan Tahunan, B.I.
1995/1996).
- Memperhatikan perkembangan ekonomi sebagaimana yang
ditunjukkan oleh indikator-indikator ekonomi di atas, maka dapat kita
simpulkan bahwa sebenarnya fundamental ekonomi Indonesia pada
tahun1995/1996 sudah lemah. Hal ini bertentangan dengan pernyataan
pejabat resmmi yang selalu meyakinkan masyarakat, bahwa masyarakat
tidak perlu khawatir karena fundamental ekonomi masih ”kuat”.
b. Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah
- Hingga awal tahun 1997 dapat dikatakan bahwa hampir semua orang,
di Indonesia maupun dari badan-badan dunia seperti Bank Dunia, IMF dan
ABD tidak menduga bahwa beberapa negara di Asia akan mengalami suatu
krisis moneter atau ekonomi yang yang sangat besar sepanjang sejarah
dunjia sejak akhir perang dunia kedua. Walaupun sebenarnya sejak tahun
1995 ada sejumlah lembaga keuangan dunia (IMF dan Bank Dunia) sudah
beberapa kali memperingati Thailand dan Indonesia bahwa ekonomi kedua
negara tersebut sudah mulai memanas (overheating economy) kalau
dibiarkan terus (tidak segera didinginkan) akan berakibat buruk (Tulus
Tambunan, 1998).
38
Kebijaksanaan Tahun 1995 – 1996
a) Kebijaksanaan moneter : diarahkan untuk mengendalikann sumber-
sumber ekspansi M2, khususnya meningkatnya kredit bank dan arus modal
luar negeri melalui :
1) Mekanisme operasi pasar
terbuka (OPT) dengan instrumen SBI dan SBPU
2) Merubah ketentuan Giro Wajib
Minimum (GWM) menjadi 3%.
3) Merubah ketentuan kewajiban
penyediaan modal minimum (KPMM) secara bertahap mencapai 12%.
b) Kebijaksanaan Valuta Asing/ Devisa : diarahkan untuk mengurangi
dorongan masuknya modal asing, terutama yang berjangka pendek dengan
cara :
1) Meningkatkan fleksibelitas nilai tukar rupiah melalui
pelebaran spread kurs jual dan kurs beli rupiah terhadap Dollar Amerika
2) Menerapkan penggunaan batas kurs intervensi (perbedaan
batas atas dan batas bawwah sebesar Rp 66,00)
3) Melakukan kerja sama bilateral dengan otoritas moneter
Malaysia, Singapura, Thailand, Hong Kong, Philipina melalui transaksi
repurchases agreement (repo) surat-surat berharga.
c) Kebijaksanaan sektor Riil 4 Juni 1996 ; dalam rangka meningkatkan
efisiensi dan ketahanan ekonomi serta meningkatkan efisiensi dan
ketahanan ekonomi serta meningkatkan daya saing produksi nasional,
meliputi bidang :
1) Bidang impor mencakup
Antara lain adalah penyederhanaan tata niaga impor.
2) Dibidang ekspor mencakup :
Antara lain penghapusan pemeriksaan barang ekspor oleh surveyor.
3) Iklim Usaha
C. KRISIS MONETER BULAN JULI
1997 MENJADI KRISIS EKONOMI
- Tidak mudah menentukan apa faktor-faktor utama penyebab krisis
ekonoim di Indonesia, karena setiap gejolak ekonomi dapat disebabkan oleh
faktor-faktor yang langsung (drect factors) dan faktor-faktor yang tidak
langsung (indirect factors) yang mempengaruhinya. Sselain itu dapat pula
dibedakan aadanya faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal, yang
mempengaruhi terjadinya krisis ekonomis, baik yang bersifat ekonomi maupun
yang bersifat noneknomis.
- Selain faktor-faktor internal dan eksternal, ada tiga teori alternatif
yang dapat juga dipakai sebagai basic framework untuk menganalisis faktor-
faktor penyebab terjadinya krisis ekonomi di Asia (Tulus Tambunan, 1998).
a. Faktor-faktor Internal
39
- Fundamental ekonomi nasional yang merupakan penyebab krisis
ekonomi di Indonesia adala fundamental makro misalnya : 1)
pertumbuhan ekonomi, 2) pendapatan nasional, 3) tingkat inflasi, 4)
jumlah uang beredar, 5) jumlah pengangguran, 6) jumlah investasi, 7)
keseimbangan neraca pembayaran, 8) cadangan devisa dan 9) tingkat
suku bunga.
- Dilihaat dari fundamental ekonomi makro, bukan hanya sektor
moneter tapi juga sektor riil mempunyai kontribusi yang besaar terhadap
terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, karena dua alasan:
1) Perkembangann sektor moneter
sebenarnya sangat tergantung dari perkembangan sektor riil, karena
uang (valas) sudah menjadi komoditas yang diperdagangkan seperti
produk-produk dari sektor riil.
2) Perubahan cadangan valas
sangat sensitif terhadap perubahan sektor riil (perdagangan luar
negeri) dan salah satu penyebab depresiasi nilai tukar rupiah yang
menciptakan krisis ekonomi di Indonesia adalah karena terbatasnya
cadangan valas di Bank Indonesia.
- Indonesia akhirnya juga digoncang oleh “pelarian” dollar AS. Ini
mencerminkan bahwa ekonomi Indonesia sangat tergantung pada modal
jangka pendek dari luar negeri (short-term capital inflow). Sumber
utama pertumbuhan jumlah cadangan devisa Indonesia, bukan dari hasil
ekspor neto, melainkan dari arus modal masuk jangka pendek (surplus
neraca kapital) (Tulus Tambunan, 1998).
b. Faktor-faktor eksternal
- Jepang dan Eropa Barat mengalami kelesuan pertumbuhan ekonomi
sejak awal dekade 90-an dan tingkat suku bunga sangat rendah. Dana
sangat melimpah sehingga sebagian besar arus modal swasta mengalir
ke negara-negara Asia Tenggara dan Timur, yang akhirnya membuat
krisis.
- Daya saing Indonesia di Asia yang lemah, sedang nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS terlalu kuat (overvalued). (Tulus Tambunan, 1998).
c. Teori-teori Alternatif
1) Teori konspirasi, krisis ekonomi
sengaja ditimbulkan oleh negara-negara maju tertentu, khususnya
Amerika, karena tidak menyukai sikap arogansi ASEAN selama ini.
2) Teori contagion, yaitu karena
adanya contagion effect; menularnya amat cepat dari satu negar ake
negara lain, disebabkan investor asing merasa ketakutan.
3) Teori business cycle
(konjungtur), karena proses ekonomi berdasarkan mekanisme pasar
(ekonomi kapitalis) selalu menunjukkan gelombang pasang surut dalam
bentuk naik turunnya variabel-variabel makro (Tulus Tambunan, 1998).
40
d. Faktor-faktor non-ekonomi
1) Dampak psikologis dari krisis di Indonesia adalah merebaknya
penomena kepanikan, sehingga para pemilik modal internasional
memindahkan modal mereka dari Indonesia secara tiba-tiba.
2) Kepanikan ini kemudian diikuti oleh warga negara di Indonesia,
sehingga sekelompok orang (spekulan) berusaha meraih keuntungan
dengan cara menukar sejumlah besar rupiah terhadap dollar AS. (Tulus
Tambunan, 1998).
D. TERJADINYA KONTRAKSI
EKONOMI SEJAK 1998
- Krisis yang terjadi di Indonesia tidak saja telah memaksa rupiah
terdepresiasi sangat tajam tapi juga menimbulkan kontraksi ekonomi yang
sangat dalam.
a. Proses terjadinya kontraksi ekonomi
- Penurunan nilai tukar ruiah yang tajam disertai dengan terputusnya
akses ke sumer dana luar negeri menyebabkan turunnya produksi secara
drastis dan berkurangnya kesempatan kerja.
- Pada saat yang sama, kenaikan laju inflasi yang tinggi dan penurunan
penghasilan masyarakat menyebabkan merosotnya daya beli sehingga
kesejahteraan masyarakat menurun drastis dan kantong-kantong kemiskinan
semakin meluas.
b. Indikator kontraksi ekonomi
Indikator Makroekonomi Tahun 1998
Rincian
Triwulan
I
Triwulan
II
Triwulan
III
Triwulan
IV
Perubahan %
Produk domestik bruto riil
(Tahun dasar 1993)
-4,0 -12,3 -18,4 19,5
Pengeluaran konsumsi 2,4 4,8 -13,7 -9,5
Inflasi IHK 39,1 56,7 82,4 77
Suku bunga PUAB 51,8 64,6 66,2 33,4
Nilai tukar (Rp$) 14,900 10,700 8,025 8,685
- Berbagai permasalahan nonekonomi muncul dalam waktu yang relatif
bersamaan :
(1) Kerusuhan sosial yang menyebabkan berbagai kerusakan di
sektor produksi maupun distribusi
(2) Jaringan distribusi yang tidak berfungsi sepenuhnya disertai
panis buying.
41
(3) Pergantian kepemimpinan nasional dan proses konsolidasi
pemerintahan baru turut memperlambat pemulihan stabilitas ekonomi,
sosial dan politik.
c. Pada tahun 1998 PDB Riil menyusut 13,7% yang terutama disebabkan oleh
kegiatan investasi dan konsumsi swastaa yang merosot tajam. Penurunan
kegiatan investasi berkaitan dengan makin memburuknya ketidakseimbangan
neraca dunia usaha, memburuknya kondisi perbankan, rendahnya kepercayaan
investor dari luar negeri.
E. MASALAH-MASALAH YANG
DIHADAPI SETELAH KRISIS
- Yang menjadi persoalan penting sekarang ini bagi Indonesia adalah
menyangkut biaya krisis atau besarnya “pengorbanan” yang harus dibayar
akibat krisis dan lamanya pengorbanan itu harus dipikul. Setelah setahun krisis
berkalngsung, ternyata biaya krisis yang harus dibayar masyarakat Indonesia
lebih besar dibandingkan di Thailand, Korea Selatan atau Malaysia.
- Biaya-biaya sosial : 1) kerusuhan di mana-mana sejak black May
1998, 2) banyak orang kekurangan gizi, 3) anak putus sekilah meingkat, 4)
kriminalitas makin tinggi.
- Biaya-biaya ekonomi : 1) pendapatan per kapita anjolok secara
drastis, 2) laju pertumbuhan PDB menjadi negatif, 3) jumlah pengangguran dan
kemiskinan meningkat, 4) bencana kelaparan ini banyak lokasi, 5) hiperinflasi,
dan 6) dengan defisit anggaran pemerintah dan neraca pembayaran
membengkak. (Tulus Tambunan, 1998).
C. RENCANA DAN PROGRAM
PEMULIAHAN EKONOMI
a. Rencana: menurut Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala
Bappenas, Boediono, pemerintah telah menetapkan tempat tahapan strategis :
1) Tahap penyelematan (1 – 2
tahun sejak 1998/1999)
2) Tahap pemulihan yang sifatnya
tumpang tindih dengan tahap sebelumnya (2 tahun)
3) Tahap pemantapan (1-2 tahun)
setelah selelsai tahap penyelamatan.
4) Tahap pembangunan yang dapat
dimulai kembali apabila saluran krisis dapat ditanggulangi.
(Kompas, 18 September 1998)

b. Program Pemulihan dan Kebijaksanaan Ekonomi
- Setelah menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap
dollar AS tidak dapat dibendung lagi dan cadangan dollar AS di BI sudah
menipisi, maka bulan Nopember 1997 Indonesia minta bantunan IMF untuk
mendapat bantuan dana (Tulus Tambunan, 1998) :
42
1) Pinjaman tahap pertama 3
mioliar dollar AS untuk memperkuat dan menstabilkan nilai rupiah,
diterima bulan Nopember 1997.
2) Bulan Januari 1998 ditanda
tangani nota kesepakatan atau letter of inten (I) yang memuat 50 point/
ketentuan: kebijaksanaan ekonomi makro (fiskal-moneter)
restrukturisassi keuangan dan reformasi struktural.
3) Bulan Maret 1998 dilakukan
perundingan baru lagi dan bulan April 1998 ditanda tangani
memorandum tambahan atau letter of inten (II)
Ada lima memorandum tambahan yang disepakati :
(3) Program stabilisasi pasar uang dan mencegah hiperinflasi.
(4) Restrukturisasi perbankann dalam rangka penyehatan sistem
perbankan nasional.
(5) Reformasi struktur yang mencakup upaya-upaya dan sasaran
yang telah disepakati (letter of inten-II)
(6) Penyelesaian utang luar negeri swasta (corporate debt).
(7) Bantuan untuk rakyat kecil (kelompok ekonomi lemah)
c. Beberapa langkah penting, sesuai kesepakatan IMF :
1) Kebijaksanaan moneter
2) Kebijaksanaan perbankan
3) Program kesempatan kerja
4) Reformasi dan privatisasi BUMN
5) Restrukturisasi ULN swasta (Tulus Tambunan, 1998).
d. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) meliputi :
1) Program Ketahanan Pangan
2) Program padat karya
3) Program perlindungan sosial
4) Program pemberdayaan ekonomi rakyat
(Kompas, 18 September 1998)
2.3. DAFTAR BACAAN
1. Muljana, B.S., Pembangunan Ekonomi dan Tingkat Kemajuan Ekonomi
Indonesia, Lembaga Penerbit FEUI, 1983.
2. Triyono Widodo, Suseno Hg., Indikator Ekonomi, Dasar Perhitungan
Perekonomian Indonesia, Penerbit Kanisius, 1995.
3. Suroso P.G., Perekonomian Indonesia, Buku Panduan Mahasiswa, PT. Gramedia
Pustaka Utama Jakarta, 1994.
43
4. Booth, Anne dan McCawley, Penyunting, Ekonomi Orde Baru, Terjemahan oleh
Boedino, LP3ES, Jakarta, 1990.
5. Tambunan, Tulus, Dr., Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, 1996.
6. Tambunan, Tulus, Dr., Krisis Ekonomi dan Masa Depan Reformasi, Lembaga
Penerbit FEUI.
7. Dmanhuri, Didin S., “Reformasi Ekonomi Indonesia dalam Masa Transisi”, dalam
8. Mubyarto, Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, LP3ES, 1998.
9. Cawley, Peter Mc., “Pertumbuhan Sektor Industri”, dalam Anne Booth dan Peter
Mc Cawley, ed., Ekonomi Order Baru, LP3ES, 1990.
10. Grenville , Stephen, “Kebijakan Moneter dan Sektor Keuangan Formal”, dalam
Anne Booth dan Peter mc Cawley, ed., Ekonomi Order Baru,
LP3ES, 1990.
11. Sadeli, Muhammad, “Menyongsong Ketetapan-ketetapan MPRS untuk
Kebijaksanaan Ekonomi”, dalam Redaksi Harian Kompas, ed.,
Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia, PT. Penerbit Gramedia,
Jakarta, 1982.
12. Nitisastro, Wijoyo, “Landasan Ideal dan Masalah Operasional di Bidang
Dimyati”, dalam Redaksi harian Kompas, ed., Mencari bentuk
Ekonomi Indonesia, PT. Gramedia, jakarta. 1982.
13. Djamin, Zulkarenin, Pinjaman Luar Negeri, Prosedur Administratif dalam
Pembiayaan Proyek Pembangunan di Indonesia, UI-Press, 1993.
14. Nasution, Anwar, “Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara” dalam Anwar
Nasution, ed., Peluang dan Tantangan Pembangunan sampai 1989,
Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1985.
15. Djojohadikusumo, Soemitro, Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi
Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 1993.
16. Bank Indonesia, Laporan Bank Indonesia, Tahun 1986/1987, 1995/1996.
17. Biro Pusat Statistik, Statistik Keuangan, Tahun 1991/1992.

44
POKOK BAHASAN
III. SISTEM EKONOMI INDONESIA
3.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami sistem dan perubahan sistem perekonomian
Indonesia.
b. Tujuan Khusus
- Agar mahasiswa dapat memahami konsep sistem, khususnya konsep
sistem ekonomi.
- Agar mahasiswa dapat menjelaskan perekonomian Indonesia melalui
pendekatan sistem.
- Agar mahasiswa dapat memahami perbedaan berbagai sistem
ekonomi yang berlaku di dunia, termasuk sistem ekonomi Pancasila.
c. Materi Pembahasan
- Konsep Sistem Ekonomi
(1) Pengertian sistem dan sistem ekonomi
(2) Unsur-unsur dalam sistem ekonomi
- Pendekatan melalui sistem ekonomi
(1) Beberapa pendekatan dalam ilmu ekonomi
(2) Kelebihan pendekatan dengan sistem ekonomi
- Perbandingan sistem-sistem ekonomi :
(1) Sistem Ekonom Kapitalis (Kapitalisme)
(2) Sistem Ekonomi Sosialis (Sosialisme)
(3) Sistem Ekonomi Campuran (Mixed Economy)
- Sistem Ekonomi Pancasila
(1) Dasar filosofinya
(2) Dasar konstitusionalnya
(3) Dasar Operasionalnya
3.2. PEMBAHASAN MATERI
A. KONSEP SISTEM EKONOMI
45
a. Pengertian Sistem dan Sistem Ekonomi
- Istilah “sistem” berasal dari perkataan “systema” (bahasa Yunani),
yang dapat diartikan sebagai : keseluruhan yang terdiri dari macam-macam
bagian.
- Beberapa definisi tentang sistem antara lain :
(1) Suatu sistem adalah seperangkat komponen, yang saling
berhubungan satu samalain, yang memiliki batas yang menseleksi baik
macamnya maupun banyaknya input yang masuk dan output yang
keluar dari sistem tersebut.
(2) Sistem tersusun dari seperangkat komponen yang bekerja
secara bersama-sama untuk mencapai semua tujuan dari keseluruhan
sistem tersebut.
(3) Sebuah sistem dapat digambarkan sebagai sebuah kumulan
dari elemen-elemenn atau komponen-komonen dimana beberapa dari
komponen tersebut saling berhubungan secara tetap dalam jangka
waktu tertentu.
(Dikutip dari beberapa sumber dalam Winardi, SE.Dr., 1986).
- Beberapa ciri dari sebuah sistem dirumuskan antara lain sebagai
berikut :
(1) Walaupun sistem itu mempunyai batas, akan tetapi sistem
itu bersifat terbuka, dalam arti bertinteraksi juga dengan
lingkungannya.
(2) Setiap sistem tidak hanya sekedar kumpulan berbagai
bagian, unsur atau komponen, melainkan merupakan satu kebulatan
yang utuh dan padu, bersifat “wholism”.
(3) Setiap sistem melakukan kegiatan atau proses mengubah
masukan menjadi keluaran.
(dikutip dai Amirin dalam Ssuroso, 1994).
- Dari beberapa definisi dan ciri-ciri sebuah sistem dapat disimpulkan,
bahwa setiap sistem sekurang-kurangnya terdiri dari lima unsur: elemen
sistem, fungsi elemen, hubungan antar elemen, pranata (institusi) ekonomi,
tujuan sistem ekonomi.
- Secara singkat dan umum dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi
mencakup seluruh proses dan kegiatan masyarakat dalam usaha memenuhi
kebutuhan hidup atau mencapai kemakmuran.
b. Unsur-unsur Sistem Ekonomi
(1) Elemen-elemen Sistem Ekonomi
a) Unit-
unit ekonomi seperti rumah tangga, perusahaan, serikat buruh, instansi
pemerintah dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan kegiatan
ekonomi.
46
b) Pelaku-
pelaku ekonomi seperti konsumen, produsen, buruh, invstor dan
pejabat-pejabat yang terkait.
c) Lingku
ngan Sumber Daya Alam (SDA) Dan Sumber Daya Manusia (SDM),
Sumber Daya Kapital (SDK), Sumber Daya Teknologi (SDT).
(2) Fungsi Elemen Sistem Ekonomi
a) Masing-masing elemen (unit-unit ekonomi, pelaku-pelaku
ekonmi) mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang harus dijalankan
selama berlangsungnya proses kegiatan ekonomi, seperti fungsi-fungsi
produksi, konsumsi, distribusi, injvestasi, regulasi.
b) Bagaimana hasil dari kegiatan ekonoim sanat tergantung
bagaimana elemen-elemen sistem ekonomi tersebut menjalankann
fungsinya. Dalam perjalanan fungsinya, setiap elemen bisa fungsional,
bisa non fungsional atau disfungsional.
(3) Hubungan antar Elemen Sistem Ekonomi
a) Unit-unit
ekonomi, pelaku-pekaku ekonomi, SDA dan SDM saling berhubungan
satu sama lain dalam suatu pola hubungan tertentu, sehingga
menimbulkan proses kegiatan ekonomi.
b) Pola-pola
hubungan tergantung dari sifat hubungan antar elemen, sebab
hubungan-hubungan itu ada yang bersifat interelasi, interaksi dan
interdependensi serta hubungan fungsional, kausal.
c) Dengan
demikian proses kegiatan ekonomi bisa berlangsung secara efisien,
tidak efisien atau produktif, kurang produktif, karena perbedaan dalam
menjalankan fungsi elemen dan pola hubungan elemen.
(4) Pranata (Institusi) Ekonomi
a) Karena adanya hubungan antar elemen maka
timbul produk kegiatan ekonomi, yang berlangsung secara berulang-
ulang dan teratur menurut pola tertentu, sebab ada mekanisme
(prosedur) yang mengaturnya.
b) Mekanisme atau prosedur (aturan main) yang
mengendalikan proses kegiatan ekonomi itu disebut institusi ekonomi
yang terdiri dari :
1) Norma hidup, seperti norma
agama, adat-istiadat, tradisi, etika profesi.
2) Peraturan hidup, seperti
konstitusi (UUD), undang-undang, peraturan pemerintah (PP),
Peraturan Darah (Perda), Keputusan Presiden (Keppres), Surat
Keputusan/ Surat Edaran Pejabat Resmi, Perjanjian-perjanjian
Bilateral/ Internasional.
47
3) Paham Hidup, seperti
pandangan hidup, cra hidup, ideologi. (Grossman, Gregoary,
1967).
(5) Tujuan Sistem Ekonomi
Tujuan sistem ekonomi suatu bangsa atau suatu negara pada umumnya
meliputi empat tugas pokok:
a) Menentukan apa, berapa banyak dan bagaimana produk-produk dan
jasa-jasa yang dibutuhkan akan dihasilkan.
b) Mengalokasikan produk nasional bruto (PNB) untuk konsumsi
rumah tangga, konsumsi masyarakat, penggantian stok modal,
investasi.
c) Mendistribusikan pendapatan nasional (PN), diantara anggota
masyarakat : sebagai upah/ gaji, keuntungan perusahaan, bunga dan
sewa.
d) Memelihara dan meningkatkann hubungan ekonomi dengan luar
negeri. (Grossman, Gregoary, 1967).
B. PENDEKATAN MELALLUI SISTEM EKONOMI
a. Beberapa Pendekatann dalam Ilmu Ekonomi
- Istilah “sistem” dapat dipergunakan dalam pengertian bermacam-
macam sesuai dengann lingkup persoalan yang dihadapi, diantaranya
adalah :
(1) Istilah “sistem” yang dipergunakan dalam arti metode atau
tata cara untuk memahami sesuatu persoalan atau sesuatu pekerjaan.
Contohnya sistem mengetik sepuluh jari, sistem modul dalam
pengajaran.
(2) Istilah “sistem” yang menunjukkan adanya sekumpulan
(himpunan) gagasan-gagasan (ide); yang mengandung prinsip-prinsip,
doktrin-doktrin, hukum-hukum, yang tersusun terorganisasikan dalam
satu kesatuan yang logik. Contohnya seperti sistemm demokrasi
liberal, sistem ekonomi kapitalis.
Istilah sistem (sistem ekonomi) di sini dipergunakan dalam pengertian
yang pertama. Istilah sistem ekonomi yang tersusun dari lima unsur
sebagaimana diuraikan di atas digunakan sebagai konsep pendekatan,
sebagai salah satuu alat analisis dalam memahami persoalan ekonomi,
khususnya memahami persoalan ekonomi Indonesia.
- Selama ini kita telah terbiasa memahami persoalan-persoalan
ekonomi dengan pendekatan Teori Ekonomi Mikro, Teori Ekonomi
Makro, Teori Keuangan dan lain-lain. Umumnya kita belum biasa
menggunakan pendekatan sistem (system approach) untuk memahami dan
memecahkan persoalan-persoalan ekonomi.
48
- Tujuan dari pengajaran teori pada umumnya dan teori ekonomi
mikro, teori ekonomi makro pada khususnya, yaitu inter alia, menunjukkan
cara-cara untukmenangkap dan menyederhanakan serta memecahkan
permasalahan yang dihadapi secara sistematis. Untuk maksud ini
disamping perlu uraian tentang konsep-konsep guna mencari hubungan
sebab-akibat (causal) atau interdependensi antara semua unsur-unsur yang
terkandung dalam konsep itu secara verbal, dipergunakan pula alat-alat
analisa grafis dan matematis (Sudarsono, 1983).
b. Kelebihan Pendekatan Sistem Ekonomi
- Beberapa dengan pendekatan teori ekonomi yang melihat persoalan-
persoalan ekonomisecara “terkotak-kotak” maka pendekatan sistem
ekonomi melihat persoalan ekonomi secara utuh, sistem ekonomi
dipandang sebagai suatu totalitas. Dengan demikian setiap persoalan
ekonomi yang kita hadapi, kita lihat secara menyeluruh – dilihat dari
kelima unsur sistem ekonomi – sehingga seluruh fakta yang berkaitan
dengan persoalan tersebut bisa terungkap secara lengkap.
49
- Salah satu konsep pokok dalam teori sistem adalah :
“Keseluruhan bukan hanya jumlah dari pada bagian-bagian”, (jadi
keseluruhan bisa melebihi jumlah dari bagian-bagian). Karena itu
penerapan cara pendekatan sistem bisa membantu kita mencapai suatu
efek sinergistik (synergistic effect), dimana tindakan-tindakannnnn
berbagai bagian yang berbeda dalam sistem itu yang dipersatukan,
menghasilkan efek yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah dari
pada bagian-bagian yang beraneka ragam itu.
C. PERBANDINGAN SISTEM-SISTEM EKONOMI
- Ada dua cara penggolongan penggolongan sistem ekonomi. Pertama
berdasarkan yang mengatur mekanisme : a) Sistem ekonomi tradisional, b)
sistem ekonomi pasar, c) sistem ekonomi komando/ terpimpin. Kedua
bedasarkan yang mengatur kepemilikan aset: a) sistem ekonomi kapitalis, b)
sistem ekonomi sosialis, c) sistem ekonomi campuran, (Grossman, Gregory,
1967).
a. Sistem Ekonomi Kapitalis (Kapitalisme)
(1) Ciri-ciri Kapitalisme
a) Pengakuan yang
luas atas hak-hak pribadi
• Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu
• Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha yang dipandang
baik bagi dirinya.
b) Perekonomian
diatur oleh mekanisme pasar
• Pasar berfungsi memberikan “signal” kepda produsen dan
konsumen dalam bentuk harga-harga.
• Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. “The
Invisible Hand” yang mengatur perekonomian menjadi efisien.
c) Motif yang
menggerakkan perekonomian mencari laba
• Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang
selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri.
• Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman
Yunani Kuno (disebut hedonisme).
(Deliarnov, 1995)
(2) Kebaikan-kebaikan Kapitalisme
a) Lebih efisien dalam memanfaatkan sumber-sumber daya dan
distribusi barang-barang.
b) Kreativitas masyarakat menjadi tinggi karena adanya
kebebasan melakukan segala hal yang terbaik dirinya.
c) Pengawasan politik dan sosial minimal, karena tenaga waktu
dan biaya yang diperlukan lebih kecil.
(Deliarnov, 12995).
50
51
(3) Kelemahan-kelemahan Kapitalisme
a) Tidak ada persaingan sempurna. Yang ada persaingan tidak sempurna
dan persaingan monopolistik.
b) Sistsem harga gagal mengalokasikan sumber-sumber secara efisien,
karena adanya faktor-faktor eksternalitas (tidak memperhitungkan
yang menekan upah buruh dan lain-lain).
(Deliarnov, 1995)
(4) Kecenderungan Bisnis dalam Kapitalisme
Perkembangan bisnis sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang
berlaku. Kecenderungan bisnis dalam kapitalisme dewasa ini: a) adanya
spesialisasi, b) adanya produksi massa, c) adanya perusahaan berskala
besar, d) adanya perkembangan penelitian.
b. Sistem Ekonomi Sosialis (Sosialisme)
(1) Ciri-ciri Sosialisme
a) Lebih mengutamakan kebersamaan (kolektivisme)
- Masyarakat dianggap sebagai satu-satunya kenyataan sosial,
sedang individu-individu fiksi belaka.
- Tidak ada pengakuan atas hak-hak pribadi (individu) dalam
sistem sosialis.
b) Peran pemerintah sangat kuat
- Pemerintah bertindak aktif mulai dari perencanaan,
pelaksanaan hingga tahap pengawasan.
- Alat-alat produksi dan kebijaksanaan ekonomi semuanya
diatur oleh negara.
c) Sifat manusia ditentukan oleh pola produksi
- Pola produksi (aset dikuasai masyarakat) melahirkan
kesadaran kolektivisme (masyarakat sosialis)
- Pola produksi (aset dikuasai individu) melahirkan kesadaran
individualisme (masyarakat kapitalis).
(2) Kelemahan-kelemahan Sosialisme
a) Teori pertentangan kelas tidak berlaku umum
- Tidak banyak kasus, hanya terjadi pada saat revolusi industri
(abad pertengahan) dan revolusi Bolsevik tahun 1917).
- Di India banyak kasta, tapi tidak pernah terjadi revolusi
sosial.
b) Tidak ada kebebasan memilih pekerjaan
- Maka kreativitas masyarakat tehambat, produktivitas
menurun, produksi dan perekonomian akan mandeg.
c) Tidak ada insentive untuk kerja keras
- Maka tidak ada dorongan untuk bekerja lebih baik, prestasi
dan produksi menurun, ekonomi mundur.
d) Tidak menjelaskan bagaimana mekanisme ekonomi
52
- Karl Marx hanya mengkritik keburukan kapitalisme, tapi
tidak menjelaskann mekanisme yang mengalokasikan sumber daya
di bawah sosialisme.
(Deliarnov, 1995).
(3) Sosialisme tidak sama dengan komunisme
- Sosialisme merupakan tahap persiapan ke komunisme.
- Komunisme merupakan tahap akhir perkembangan masyarakat (The
Six Major Historical Stages): primitive communism slaery feudalism,
capitalism, sosialism dan full communism (Grossman, Gregoary,
1967).
c. Sistem Ekonomi Campuran (Mixed Economy)
(1) Ciri-ciri Ekonomi Campuran
a) Kedua sektor ekonomi hidup berdampingan
- Ada kegiatan ekonomi yang dilakukan pribadi (swasta) dan
sebagian lagi (yang menyangkut hidup orang banyak) dikelola oleh
negara/ pemerintah.
b) Interaksi ekonomi terjadi di pasar
- Tapi di sana sini ada campur tangan pemerintah dengan
berbagai kebijaksanaan.
c) Persaingan dalam sistem campuran
diperbolehkan
- Tetapi gerak-geriknya diawasi oleh pemerintah agar tidak
mengarah saling merugikan (mencegah konsentrasi ekonomi/
monopoli).
(2) Campur Tangan Pemerintah
a) Ada yang sifatnya keras, ada yang lunak
- Keras : sifat menyeluruh, merencanakan, melaksanakan,
mengawasi
- Lunak : melakukan perencanaan melalui mekanisme pasar
untuk menjamin pemerataan dan keadilan.
b) Alasan perlunya campur tangann pemerintah
- Mencegah perusahaan-perusahaan besar turut mempengaruhi
kbijaksanaan politik dan ekonomi
- Mencegah organisasi buruh (gabungan) menekan pengusaha
dalam menentukan harga barang
(Deliarnov, 2995).
(3) Peran dan Campur Tangan Pemerintah Indonesia
a) Amanat Konstitusi (pembukaan UUD
1945) : memajukan kesejahteraan umum, memajukan kecerdasan
kehidupan bangsa dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat.
53
b) Pasal 33, 34, dan 27 ayat 2,
menyelenggarakan kesejahteraan sosial seluruh rakyat memalui antara
lain:
- Penguasaan cabang-cabang produksi yang penting
- Memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar
- Penyediaan lapangan kerja.
(Undang-Undang Dasar 1945).
c) Sistem Ekonomi Pancasila (SEP)
1) Rumusan Mubyarto (mengacu
pada GBHN)
a) Perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial
dan moral
b) Ada kehendak masyarkaat untuk mewujudkan pemerataan
sosial ekonomi
c) Nasionalisme selalu menjiawi kebijaksanaan ekonomi
d) Koperasi merupakan sokoguru perekonomian nasional
e) Ada keseimbangan antara sentralisme dan desentralisme
dalam kebijaksanaan ekonomi.
SEP tidak liberal-kapitalistik, juga bukan sistem ekonomi yang
etastik. Meskipun demikian sistem pasar tetap mewarnai kehidupan
perekonomian (Mubyarto, 1988).
2) Rumusan Emil Salim (mengacu
pada Pancasila dan UUD 1945)
a) Sistem Ekonomi yang khas Indonesia sebaiknya berpegang
pada pokok-pokok pikiran yang tercantum dalam Pancasila
b) Dari Pancasila, sila keadilan sosial yang paling relevan untuk
ekonomii.
c) Sila keadilan sosial mengandung dua makna :
- Prinsip pembagiann pendapatan yang adil
- Prinsip demokrasi ekonomi
d) Pembagian pendapatann masa penjajahan tidak adil, karena
ekonomi berlangsung berdasarkan free fight liberalisme
e) Prinsip demokrasi ekonomi ditegaskan (diatur) dalam UUD
1945 pada pasal-pasal 23, 27, 33, 34.
3) Landasan Filosofis : PANCASILA
a) Ketuhanan Yang Maha Esa : landasan moral dan
etik spiritual untuk pembangunan
b) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab: pedoman
agar dalam pembangunan semakin meningkatkan martabat
manusia yang utuh.
c) Persatuan Indonesia: pedoman agar selalu
meningkatkan rasa kesetiakawanan
d) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan : pedoman
untuk meningkatkann sistem dan semangat demokrasi dalam
bidang politik maupun ekonomi.
54
4) Landasan Konstitusional : UUD – 1945
a) Prinsip-prinsip Demokrasi Ekonomi
1) Pasal 23 : menegaskan
hak-hak DPR untuk :
- Menyetujui/ menoloak RAPBN
dengan UU
- Menetapkan pajak dengan UU
- Menetapkan macam dan nilai Mata
uang dengan UU
- Memeriksa pertanggung jawaban
keuangan negara (laporan BPK) dengan
UU.
2) Pasal 27 : Menegaskan bahwa tiap warga negara berhak
atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
3) Pasal 34 : Faktir miskin dan anak-anak terlantar
dipelihara oleh negara
4) Pasal 33 : Antara lain menegaskan, bahwa
perekonomian disusun sebagai usaha bersama
berdasarkan azas kekeluargaan (Emil Salim,
Kompas 30-6-1966)
b) Azas Kekeluargaan dan koperasi
- Pasal 33 diilhami oleh sila-sila dalam Pancasila :
(1) Ketuhana yang maha esa
Bangsa Indonesia selalu mendekatkan diri kepada
Tuhannya. Sesuai perintah Tuhan, kesejahteraan harus
dibagi-bagikan sseara merata di antara wara negara
secara adil
(2) Sila persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial
- Koperasi sebagai sokoguru ekonomi, karena
berazaskan kekeluargaan
- Koperasi adalah organisasi ekonomi yang
demokratis dan berwatak sosial (Soemitro
Djojohadikusumo, 1985)
5) Landasan Operasional : GBHN
a. Demokrasi pancasila dan demokrasi ekonomi
b. Konsep “Tingal Landas” : dari ajaran WW. Rostow (the
Stages of Economic Growth) :
- Tahap “traditional society” (tradisonal statis
- Tahap “precondition for take-off” (Masa transisi)
- Tahap “take-off” (lepas landas: disyaratkan antara
lain tingkat investasi lebih 10% PN)
- Tahap “the drive to maturity” (Economi sudah
matang/ dewasa)
- Tahap “The age of high mass consumption”
(konsumsi massa yang melimpah) (B.S. Muljana, 1983).
55
c. Trilogi Pembangunan
- Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi
- Pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan
- Stabilitas nasional yang mantap
d. Pembangunan Jangka pNajng dan Pembangunan Lima
Tahun
e. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
- Anggaran berimbang = defisit anggaran ditutup
dengan nilai lawan
- Struktur APBN diformulasikan (sektor domestic dan
foreign)
G = R
G = D
f
+ D
d
R = R
f
+ R
d
G
f
+ G
d
= R
f
+ R
d
G
d
- R
d
= R
f
– G
f
Dimana :
G = goernment expenditure
R = government revenue
G
f
= foreign government expenditure
G
d
= domestic government expenditure
R
f
= foreign government revenue
R
d
= domestic government revenue
G
d
– R
d
= defisit anggaran domestic, ditutup
R
f
– G
f
= surplus anggaran foreign
(Anwar Nasution, 1985)
3.3. BAHAN BACAAN
Winardi, SE. Dr. Pengantar tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem, Bandung,
Penerbit Alumni, 1986.
Suroso, P.C., Perekonomian Idnoensia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994.
Grossman, Gregoary, Economic Systems, New Jersey, Prentice Hall, Inc., 1967.
Sudarsono, Pengantar Ekonomi Mikro, LP3ES, jakarta, 1983.
Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, PT. Raja Grafindo.
Mubyarto, Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, LP3E, Jakarta.
Salim, Emil, “Sistem Ekonomi Pancasila”, (Kompas, 30 Juni 1966). Dalam redaksi
Harian Kompas, Penyunting, Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia, PT.
Penerbit Gramedia, Jakarta, 1982.
Djojohadikusumo, Soemitro, Trilogi Pembangunan dan Ekonomi Pancasila, IKPN-RI,
Jakarta, 1985
Muljana, B.S., Pembangunan Ekonomi dan Tingkat Kemajuan Ekonomi Indonesia,
Penerbit FE-UI, Jakarta, 1983.
56
Nasution, Anwar, “Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara Setelah Kenaikan
Migas”, dalam Anwar Nasutioan, Ed., Peluang dan Tantangan
Pembangunan Sampai 1989, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1985.
Dosen Pengasuh,
Perekonomian Idnoensia
Munawir, SE
PERAN DAN PELAKU EKONOMI
1. Peran BUMN, BUMS sepanjang Sejarah
Perekonomian Indonesia :
a. Peran sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi
Sampai awal tahun 1980-an BUMN memegang peranan penting. Sejak akhir tahun
1980-an BUMS yang pegang peranan penting. BUMN dan BUMS skala USB
memiliki modal besar.
b. Peran sebagai Pencipta lapangan kerja
BUMS terutama yang berskala USM dan USK (UKM, UMKM) karena jumlhanya
yang besar tersebar diseluruh Indonesia, bersifat padat karya.
c. Peran sebagai menjaga kelestarian alam/ lingkungan
BUMN, karena milik negara, kepanjangan tangan pemerintah sehingga bisa
menjalankan semua kebijakan pemerintah sesuai UU lingkungan hidup.
2. Perbedaan Sifat BUMN, BUMS dan Koperasi
Perihal BUMN BUMS Koperasi
a. Pendiriannya Pemerintah + DPR
dengan undang-
undang
Pemilik modal
swasta
Para anggota yang
setuju
b. Modal Dari negara Dari pemilik modal
perorangan
Dari simpanan para
anggota
c. Daya Tahan Tergantung
keuangan negara
Tergantung
perkembangan
pasar
Partisipasi anggota
dan kejujuran
pengurus
d. Kecenderungan Etatisme, sosialism Individualisme,
kapitalisme
Bersifat campuran/
kolektivisme +
individualisme
3. Penyebab Inefisiensi pada BUMN
a. Bersumber pada dua elemen esensial pada BUMN
- Tujuan sosial (public) : cenderung banyak pengeluaran,
mementingkan efektivitas
57
- Tujuan bisnis (enterprise) : cednderung mengurangi pengukuran,
mementingkan efisiensi
- Sikap manajemen sering ragu-ragu tidak tegas karena dua ukuran
tersebut sehingga efeknya inefisiensi
b. Bersumger dari sejarah pendiriannya :
- BUMN adalah produk politik, didirikan oleh pemerintah bersama
DPR dengan UU
- Operasi BUMN banyak melibatkan biorkasi dengan pemerintah
maupun dengan DPR. Keputusan-keputusan manajemen selalu lambat dan
bersifat kompromis, karena itu tidak efektif dan tidak efisien.
4. Alasan Pemerintah melepas saham BUMn
(swastanisasi)
Alasan pemerintah melepas saham (swastanisasi) BUMN adalah :
a. Kesulitan mendapatkan dana untuk menutup defisit APBN
b. Untuk menarik investor domestik atau asing dalam kegiatan ekonomi di Indonesia.
c. Telah terikat pada kesepakatan (perjanjian) dengan IMF sewaktu Indonesia
mendapat bantuan hutang.
5. dampak Positif dan negatif pelepasan sasham
a. Bagi Perusahaan
- Positif : mendapat tambahan modal, meningkatkan kinerja dan laba
- Negatif : pengendalian pemerintah berkurang/ hilang, campur tangan
swsata / asing sangat kuat.
b. Bagi Perekonomian Indonesia
- Positif : tambahan investasi, pertumbuhan ekonomi meningkat.
- Negatif : sebagian / seluruh laba BUMn di transfer ke Luar Negeri,
mengurangi cadangan devisa
6. Kriteria dalam melaksanakan privatisasi
a. BUMN yang diprivatisasi sudah sehat
b. BUMN yang diprivatisasi tidak menguasai selumber kebutuhan rakyat banyak
c. Proses privatisasi transsparan, sesuai prosedur dan perundangan yang belraku
58
PEREKONOMIAN INDONESIA
Munawir, SE
POKOK BAHASAN
IV. PELAKU DAN PERAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA
4.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami para pelaku ekonomi dan peran yang
diembannya.
b. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa dapat menjelaskan :
- Pelaku-pelaku ekonomi
- Peran serta fungsinya bagi perekonomian
- Analisis kebijakan yang relevan
c. Materi Pembahasan
- Pelaku-pelaku Ekonomi :
• Berdasarkan Kepemilikan Modal / Aset :
1. BUMN
2. SWASTA (BUMS)
3. KOPERASI
• Berdasarkan Besar-kecilnya modal/ aset :
1. Perusahaan Besar/Usaha Skala Besar (USB)
2. Perusahaan Menengah/ Usaha Skala Menengah (USM)
3. Perusahaan Kecil/Usaha Skala Kcil (USK)
- Peranan dan Fungsinya bagi Perekonomian
• Peran seagai penggerak pertumbuhan ekonomi
• Peran sebagai pencipta lapangan kerja
• Fungsi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
- Analisis Kebijakan yang Relevan :
59
• Kebijakan peningkatan kinerja dan daya saing
• Kebijakan pemberdayaan perusahaan kecil menengah
• Kebijakan pembinaan kemitraan usaha
4.2. PEMBAHASAN MATERI
A. PELAKU-PELAKU EKONOMI
a. Berdasarkan Kepemilikan Modal/ Aset :
1) Badan usaha Milik Negara
(BUMN)
• Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah usaha yang seluruh
modalnya dimiliki negara atau badan usaha yang tidak seluruh
sahamnya dimiliki negara tetapi statusnya disamakan dengan BUMN,
yaitu :
a) BUMN yang merupakan patungan antara
pemerintah dengan pemerintah daerah
b) BUMN yang merupakan patungan antara
pemerintah dengan BUMN lainnya.
c) BUMN yang merupakan badan-badan usaha
patungan dengan swasta nasional/ asing di mana negara memiliki
saham mayoritas minimal 51%.
(Pandji Anoraga, 1995).
• Bahasa Asing BUMN adalah public enterprise. Dengan demikian
berisikan dua elemen esensil, yakni unsur pemerintah (public) dan
unsur bisnis (enterprise). Berapa besar presentase masing-masing
elemen itu di suatu BUMn tergantung pada jenis atau tipe BUMN-nya.
Untuk eprsero unsur bisnisnya lebih dominan. PERUM boleh
dikatakan fifty-fifty.
(Chariuman Armia, 1989)
• Karena BUMN diciptakan oleh undang-undang, diusulkan
pemerintah dan disetujui DPR, maka jadilah dia suatu produk politik.
Itulah sebabnya dikatakan politik merupakan sifat yang tidak dapat
dipisahkan dari BUMN. Apabila elemen politik sampai ditiadakan
maka akan hilanglah relevansi dari keberadaan BUMN itu. (Pandji
Anoraga, 1995.
2) SWASTA
• Pasal 33 UU 1945 menyatakan tigas sektor kegiata perekonomian,
yaitu sektor pemerintah, swsta dan koperasi. Dewasa ini semakin jelas
adanya trikotomi bangun usaha di Indonesia, yaitu BUMN, Swsata dan
Koperasi. Peran swasta dan cara kerja swasta semakin banyak disorot
karena memang ada kecenderungan sektor ini bisa bekerja lebih efisien
dari pada sektor negara yang terkekang oleh birokrasi, sedangkan
koperasi karena masih lemah belum mampu mengembangkan diri
(Mubyarto, 1988).
60
• Umumnya dikonsepsikan bahwa tujuan pendirian perusahaan
swasta adalah untuk memperoleh keuntungan maksimal. Dalam zaman
modern ini keuntungan maksimal bukan merupakan satu-satunya
tujuan masih ada tujuan lain yang leibh penting dan kadang-kadang
lebih mendesak misalnya pertumbuhan skala organisasinya,
kepentingan sosial dan sebagainya. Pengusaha yang berpandangan jauh
ke depan sangat mementingkan “goodwill” dari masyarkaat (Sudarono,
1983).
3) KOPERASI
• Koperasi dari perkataan co dan operation, yang mengandung arti
bekerjasama untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu koperasi adalah
suatu perkumpulan yang memberikan orang-orang atau badan-badan
yang memberikan kebebasan untuk masuk dan keluar sebagai anggota,
dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk
mempertinggi kesejahteraan Jasmaniah para anggotanya A(rifinal
Chaniago, 1984).
• Menurut undang-undang koperasi yang lama (Undang-undang
Koperasi No. 12 Tahun 1967) didefinisikan: Koperasi Indonesia adalah
organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-
orang atau badan-badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan
ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan.
b. Berdasarkan Besar-kecilnya Aset/ Modal
• Biro Pusat Statistik (BPS) menggolongkan perussahaan di Indonesia
sebagai berikut :
 Perusahaan Besar : memiliki pekerja 100 orang lebih
 Perusahaan sedang : memiliki pekerja 20 – 99 orang
 Perusahaan kecil : memiliki pekerja 5 – 19 orang
 Kerajinan R. Tangga : memiliki pekerja kurang 5 orang
• Istilah-istilah lain yang sering dipergunakan :
 Usaha Skala Besar (USS), Industri Skala Besar (ISB)
 Usaha Skala Menegah (USM), Industri Skala Menengah (ISM)
 Usaha Skala Kecil (USK), Industri Skala Kecil (ISK)
1) Perusahaan Kecil (USK, ISK
a) Definisi : Sebelum lahirnya UU NO. 9 / 1995 tentang
usaha kecil tidak ada persamaan definisi USK dari berbagai
instansi, seperti :
(1) Departemen Perindustrian dan Bank Indonesia
= total aset diluar tanah dan bangunan dibawah Rp 600 juta.
(2) Departemen Perdagangan
= modal aktif di bawah Rp 25 juta
61
Lahirnya UU No. 9/ 1995 yang menetapkan hanya dengan
pendekatna jumlah aset yakni di bawah Rp 200 juta merupakan
akhir dari berbedanya definisi antar lembaga selama ini (lukman
Hakim, 1996).
b) Kelemahan dan Kelebihan USK
Kelemahannya :
(1) Modalnya sangat terbatas
(2) Teknologi yang digunakan sangat sederhana
(3) Organisasi/ manajemen bersifat informal/
kekeluargaan
(4) Lingkup pemasaran terbats (lokal)
(5) Produknya bahan makanan atau kebutuhan
sehari-hari.
Kelebihan :
(1) Lebih cepat dalam mengambil
keputusan
(2) Lebih fleksibel dalam menghadapi
perubahan
(3) Pangsa pasar produk makanan dan
kebutuhan sehari-hari lebih stabil
c) Perkembangan ISK
• Yang sangat menentukan
keberadaan atau pertumbuhan ISK, terutama IRT di negara-
negara sedang berkembang bukan hanya tingkat pembangunan
atau pendapatan riil per kapita, tetapi dan terutama ditentukan
oleh distrubsi pendapatan. Selama kelompok masyarakat
berpendapatan rendah masih besar, ISK tetap diperlukan.
• Ini berarti bahwa ISK masih bisa
survive walau ditengah-tengah pertumbuhan Ism dan ISB yang
pesat dan menghadapi persaingan yang semakin berart dari
kelompok industri tersebut dan dari barang-barang impor. ISK
dan ISB, karena ISK mempunyai segmen pasar tersendiri,
yakni dari golongan masyarakat berpendapatan rendah.
(Tulus Tambunan, 1996).
Tabel Peningkatan Output, Nilai Tambah dan Produktivitas
ISK menurut Subsektor, 1986 – 1990
ISIC
Code
Output (Jut Rp) Nilai Tb (jt/Rp) Produktivitas
(jt/orang)
1986 1990 1986 1990 1986 1990
31
32
33
47,84
17,70
11,35
48,40
25,05
7,85
37,08
17,01
14,33
25,08
29,84
20,95
3,29
2,91
2,34
4,50
5,52
3,47
62
Sumber : BPS (dikutip dari Tulus Tambunan, 1996)
Keterangan : 31 = makanan, minuman dan tembakau
32 = tekstil, pakaian jadi dan kulit
33 = kayu dan produk dari kayu termasuk alat-alat
rumah tangga dari kayu
• Kasus di Indonesia sebagaimana
dinyatakan dalam studi Saragih dan Krisnamurthi (1994)
menunjukkan bahwa pada tahun 1990 jumlah industri pengolah
hasil pertanian tercatata pada 894,000 unit dan 99,7%
diantaranya berskala kecil. Fakta ini menunjukkan bahwa di
Idnoensia agroindustri pada umumnya masih merupakan
kegiatan ISK (catatan: tidak dijelaskan berapa besar nilai
produk atau nilai tambah ISK tersebut).
d) Kendala Struktural yang Dihadapi ISK
Perkembangan agroindustri menghadapi banyak kendala, yaitu ;
(1) Kegiatan pertanian belum memberikan
dukungan optimal, karena pola produksi pertanian belum
terpusat.
(2) Diersifikasi kegiatan pertanian masih
rendah
(3) Ketrbatasan dana/ modal (tergantung grosir
di kota)
(4) Menghadapi kesulitan pemasaran (kurang
informasi)
(5) Biaya transportasi (output maupun input)
relatif masih tinggi.
(6) Teknologi, manajemen dan tenaga trampil
yang sangat kurang.
(Tulus, Tambunan, 1996).
2) PERUSHAAN MENENGAH (USM, ISM)
a) Definisi : perusahaan kecil dan menengah ini sering
digabung menjadi satu golongan, yaitu golingan Usaka Skala Kecil
Menengah (UKM).
UKM didefinisikan sebagia usaha-usaha yang memiliki aset
sampai dengan Rp 200 juta – meskipun sebenarnya 90% lebih
berada jauh di bawah ambang batas kategori itu, yakni memiliki
aset kurang atau sama dengan Rp 50 juta.
(Mudaris, Alli Masyhud, 1995).
Dalam perspektif ini maka koperasi dan pra koperasi primer atau
koperasi informal pada umumnya dapat dimasukkan dalam
kategori ini.
b) Perkembangan UKM
63
• Menurut Biro Pusat Statistik (BPS),
populasi UKM ini mencapai 33,45 juta unit, dan lebih dari
separuhnya bergerak di sektorp edesaan. Di pedesaan yang
lazimnya diusahakan rakyat seperti kerajinan rakyat, pertanian,
perkebunan rakyat, aneka pertambangan rakyat, pertambakan
dan penggaraman rakyat.
• Sektor-sektor yang lazim bergerak di
perkotaan antara lain jasa perdagangan, transportasi rakyat dan
industri makanan rakyat. Disamping itu ada sektor lain yang
bergerak baik di pedesaan maupun di perkotaan, yaitu
perkreditan rakyat.
(Mudaris Ali Masyud, 1995).
• Drs. Chaeruddin, Direktur Bina
Program Ditjen. Aneka Industri memaparkan perkembangan
UKM yang khussu bergerak di bidang industri. Sampai akhir
PJP-I, jumlah industri kecil dan menengah sekitar 2 juta unit
usaha nilai produksi sebesar Rp 20 triliun atau 13,5% dari total
produksi industri nasional. Sedang nilai ekspor mencapai
US$2,6 miliar atau 10% dari ekspor industri nasional.
(Chaeruddin, 1995).
3) PERUSHAAN BESAR (USB, ISB)
a) Sejarah munculnya Pengusaha Besar
• Sesjarah sektor swasta di Indonesia
relatif masih muda, dan hubungan antara sektor swasta dengan
pemerintah dan hubungan antara sektor swasta dengan
pemerintah sesudah kemerdekaan mengalami pasang surut.
Awal tahun 1950-an pemerintah menerapkan kebijaksanaan
proteksi, yang dikenal dengan sebutan kebijaksanaan
“benteng”.
• Dalam masa Orde baru muncul para
pengusaha besar keturunan yang berkembang pesat berkat
usaha patungannya dengan pemerintah atau BUMN, terutama
dalam hubungannya dengan penanaman modal asing. Ada
kecenderungan parapengusaha asing – terutama dari Jepang
lebih suka bekerja sama dengan para pengusaha keturunan.
• Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
pada dekade 1970-1980 juga telah memunculkan pengusaha
besar pribumi seperti Probosutejdo dan Sukamdani
Gitosardjono, tetapi secarak eseluruhan jumlah pengusaha
keturunan yang menjadi besar jauh lebih banyak.
Munculnya banyak pengusaha keturunan yang besar dan
kelompok-kelompok pengusaha lain termasuk yang pribumi
merupakan fenomena baru dalam perekonomian Indonesia.
(Mubyarto, 1988).
64
b) Monopoli, Oligopoli dan Konglomerasi
Setelah masa deregulasi dan debirokratisasi dengan iklim
keterbukaan, berbagaiperusahaan swasta memasuki era “go
public”. Dengan makin terbukanya informasi bisnis maka
diperolehberbagai peta struktur pasar, malahan tidak hanya
monopolli dan oligopoli, tetapi kiranya telah lama lahir bentuk
konglomerasi. Dalam konglomerasi ini dapat terjadi penguasaan
asset nasional yang berintegrasi secara vertical maupun horisontal.
(Nurimansyah Hasibuan, 1995).
c) Perkembangan Konglomerat di Indonesia
• Dunia usaha perdaganagn, transportasi, konstruksi dan
properti, keuangan dan asuransi, mediamasa, pendidikan,
kesehatan dan lahan-lahan tambak ikan serta perkebunan
serempak dikuasai. Dewasa ini sekitar 200 konglomerat
menguasai penjualan barang-barang dan jasa sekitar 57% dari
pendapatan nasional Indonesia.
• Suatu kenyataan yang menarik adalah bahwa dalam sektor
industri pengolahan Indonesia, sekitar 72% nilai tambah
diciptakan oleh industri-industri yang mempunyai struktur
oligopolistik dengan konsentrasi tinggi (Nurimansyah
Hasibuan, 1995).
• PDBI menyatakan bahwa 300 konglomerat Indonesia
memiliki jumlah penjualan (1988) Rp 70 triliun. Dari ruang
lingkup nasional memang konglomerrat sudah mendominasi
perekonomian Indonesia. Mereka telah mencapai skala
kegiatan kira-kira dua kali lipat dari APBN Indonesia 1989-
1990, sekitar Rp 36 triliun.
(Pandji Anoraga, 1995).
B. PERAN DAN FUNGSI BAGI PEREKONOMIAN
Triologi Pembangunan yang meliputi pemerataan pembangunan dan hasil-
basilnya, pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional yang sehat dan dinamis,
ketiganya mengikat keseluruhan pelaku eknomi yang ada. Jadi, adalah keliru jika
beranggapan bahwa tugas-tugas dari koperasi hanyalah melaksanakan pemertaan,
swasta melaksanakan pertumbuhan dan BUMN melaksanakan stabilitas saja. Baik
KOPERASI, SWASTA maupun BUMN ketiganya berkewajiban melaksanakan
tugas-tugas triologi itu (Sri Edi Swasono, 1990).
a. Peran Sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
• Di masa yang lalu, terutama masa ekonomi terpimpin Orde Lama
(1959-1965) peran BUMN dalam perekonomian Indonesia sangat
dominan. BUMN melakukan kegiatan dan menguasai hampir di semua
sektor ekkonomi, seperti sektor keuangan/ perbankan, pertambangan,
perkebunan, kehutanan, industri, perdagangan, transportasi dan jasa-jasa
lain. Jadi saat itu BUMN berperan sebagai penggerak pertumbuhan
ekonomi Indonesia.
65
• Dimasa Orde Baru peran BUMN sedikit demi sedikit mulai
berkurang terutama sejak digulirkan deregulasi-deregulasi tahun 1980-an.
Pemerintah memandang sudah saatnya sektor swasta diberi peran yang
lebih besar dalam kegiatan ekonomi. Hal ini bisa kita pahami seab sejak
1982/1983 (pasca oil boom) penerimaan pemerintah dari sumber migas
terus menurun sebagai akibat terus merosotnya harga minyak di paar
internasional dari US$35 per barel (1982) sampai titik terendah US$ 9 per
barel (1986).
• Maka pergeseran peran sektor BUMN kepada sektor swasta mulai
terjadi sejak awal tahun 1980-an. Nilai produksi dari industri manufaktur
berdasarkan pemilikan (perusahaan) sebagai berikut : sektor pemerintah
menurun dari 25,0% (1975) menjadi 14,4% (1983): sektor swasta
meningkat dari 50,7% (1975) menjadi 56,9% (1983); sedangkan sektor
(swasta) asing menurun dari 10,2% 91975) menjadi 1,5% (1983); namun
patungan swasta/ asing meningkat dari 10,5% (1975) menjadi 21,1 (1983).
(Gunawan Sumodiningrat, 1990)
• Jadi peran sektor swasta dan patungan swasta/ asing sejak awal
tahun 1980-an menjadi dominan dan menjadi penggerak pertumbuhan
ekonomi karena memberi sumbangan pada produk industri manufaktur
sebesar 78,0%. Lebih-lebih setelah terjadi proes konsentrasi ekonomi pada
kelompok swasta besar atau parakonglomerat yang menguasai 57% dari
pendapatan nasional dan omzet penjualan mereka mencapai Rp 70 triliun
(dua kali lipat APBN 1989/1990).
b. Peran Sebagai Pencipta Lapangan Pekerjaan
• Jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur menurut skala usaha
(dalam prosentase) berturut-turut sebagai berikut ; ISK (Ik + IRT)
sebanyak 86,0% 91974/1975); 80,6% (1979) dan 68,3% (1986), sedang
Ism dan ISB sebanyak 13,5% (1974), 19,4% (1979) dan 31,7% (1986).
(Tulus Tambunan, 1996).
• Pangsa tenaga kerja pada Isk yang terdiri dari industri kecil (IK)
dan Industri Rumah Tangga (IRT) cenderung makin menurun, meskipun
pada tahun 1986 masih tetap lebih besar, yaitu 68,3% di bandingkan
pangsa Ism dan ISB sebesar 31,7%. Hal ini, menurut Anderson,
disebabkan karena ada relasi negatif antar apertumbuhan ekonomi dengan
perkembangan daya serap tenaga kerja ISK. Artinya bila pertumbuhan
ekonomi meningkat, maka daya serap tenaga kerja pada ISK akan
menurun. Kasus di Idnoensia adalah bahwa selam amasa Pelita I sampai
Pelita III (1969-1983) pertumbuhan ekonomi meningkat akibat adanya
kenaikan harga minyak selama masa oil boom 91973-1982).
c. Fungsi Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat
• Ada dua konsep mengenai tanggung jawab sosial suatu
perusahaan, yaitu :
66
1. Howard R. Bowen dalam bukunya “Social Responsibility of
the Businessman” menganjurkan bahwa perusahaan-perusahaan
hendaknya mempertimbangkan dampak-dampak sosial dari keputusan
yang dibuatnya.
2. Konsep “Social Responsibility”, yaitu adanya perusahaan
yang memiliki kemampuan untuk mengaitkan kegiatan-kegiatan dan
kebijakan-kebijakannya dengan lingkungan sosial sedemikian rupa
sehingga bermanfaat atau menguntungkan baik bagi perusahaan
maupun masyarakat.
(Asep Hermawan, 1995)
3. Adnan Putra menjelaskan bahwa pada dasarnya tanggung
jawab sosial perusahaan di Indonesia berkaitan dengan apa yang
diamanatkan dalam GBHN, yaitu bahwa pembangunan di Indonesia
berwawasan lingkungan. Yang dimaksud pembangunan berwawasan
lingkungan menurut pasal 1 butir 13 UU Lingkungan Hidup tahun
1982 adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola
sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang
bekresinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Dengan demikian
lingkungan itu mengandung arti luas, secara dimensional mencakup
lingkungan phisik (ekologi/ekosistem) dan non phisik (budaya/ tradisi/
nilai), secara struktural organisatorik mencakup lingkungan internal
dan eksternal.
(Asep Hermawan, 1995)
d. Daya Serarp Tenaga kerja Setelah Krisis 1997
• Melemahnya permintaan domestik dan berbagai kendala yang
timbul dalam proses produksi sebagai akibat dampak krisis moneter
menyebabkan sebagian besar perusahaan mengurangi bahkan
menghentikan produksi, sehingga terjadi peningkatan PHK.
• Berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja pada tahun 1997
ada 93 perusahaan yang secara resmi melakukan PHK terhadap 41.716
orang pekerja, 10 perusahaan dalam proses PHK terhadap 2.068 pekerja
dan diperkirakan akan terjadi PHK atas 6.523 pekerja (Laporan tahunan BI
1997/1998).
• Disisi pasokan tenaga kerja, jumlah angkatan kerja tahun 1997
diperkirakan mengalami peningkatan dari 92,8 juta orang (1996) menjadi
95,5 juta orang. Dengan perkembangan tersebut, jumlah pengangguran
terbuka pada tahun 1997 meningkat sampai sekitar 7 juta orang atau 7,5%
dari angkatan kerja.
• Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian pada tahun
2000, maka tingkat pengangguran terbuka (perbandingan jumlah
pengangguran terbuka terhadap jumlah angatan kerja) menurun dari 6,0%
(1999) menjadi 5,9%.
Indikator Ketengakerjaan :
Indikator Juta Penduduk
1998 1999 2000 2001
67
Penduduk usia kerja
Jumlah angkatan kerja
Bekerja
Pengangguran terbuka
Tingkat pengangguran terbuka %
PTAK %
13,5
92,8
87,7
5,1
5,5
66,9
141,1
94,8
88,9
6,0
6,4
67,2
141,3
95,7
89,9
5,9
6,1
67,7
0,,15
0,95
1,04
-1,64
-2,60
0,73
Sumber : Badan Pusat Statistik (dalam Laporan BI, 2000)
• Indikator lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu
ratio antara jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja,
meningkat dari 67,2% (1999) menjadi 67,7%. Hal ini berkaitan dengan
menurunnya jumlah pengangguran terbuka dan PHK cenderung menurun
• Meskipun angka pengangguran menurun, jumlah orang
menganggur cukup tinggi, yaitu 5,9 juta orang. Dilihat dari tingkat
pendidikannya: 62,0% SD, 16,0% SMP, 18% SMA, Diploma dan
Universitas 4%.
C. ANALISIS KEBIJAKAN YANG RELEVAN
a. Kebijakan Peningkatan Kinerja dan Daya Saing
• Dalam World Competitiveness Report 1996, Indonesia erada di
ranking 41 dalam hal tingkat daya saing dari 46 negara (turun dari ranking
33 pada tahun 1995). Sedangkan untuk ASEAN lainnya umumnya naik,
yakni ranking tahun 1996 untuk Filipina (31), Thailand (30), malaysia (23)
dan Singapura (2).
(Didin S. Damanhuri, …..)
• Hal ini sebagai akibat masa PJP-I yang umumnya hampir bersifat
total inward looking (IWL) dengan penerapan strategi industrialisasi
substitusi import (ISI) secara penuh dengan politik proteksi dan subsidi
yang mengiringinya, telah menghasilkan kinerja efisiensi produk industri
dan ekonomi yang berbiaya tinggi dengan kualitas rendah diukur oleh
harga dan kualitas internasional. Dalam situasi inefisiensi industrialisasi
dan kebocoran pembangunan yang tinggi (Sumitro menyebutkan sekitar
30%), pemerintah mengandalkan solusinya dengan langkah deregulasi,
swastanisasi dan debirokratisasi secara amat lamban dalam bentuk paket-
paket kebijaksanaan yang berlangsung sejak tahun 1983 hingga tahun
1996.
(didin S. Damanhuri, …..)
b. Kebijakan Pemberdayaan Perusahaan Kecil Menengah
• Kebijakan makro antara lain melalui kebijakan kredit diharapkan
akan mampu memelihara kestabilan ekonomi dan mampu mendorong
pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerj baru. Sedangkan melalui
kebijakan mikro antara lain dapat meningkatkan dan memperluas akses
usaha kecil dan koperasi kepada lembaga keuangan/ perbankan, akses
pasar, berupa pengenalan, pembinaan produk-produk baru yang lebih
68
mendekati selera pasar, atau kegiatan-kegiatan lain yang besifat produktif
dari usaha yang bersangkutan.
(A. Daniel Uphadi, 1995).
• Pola kredit bersubsidi yang telah diluncurkan pemerintah sejak
tahun 1973 antara lain: Kredit Investasi Kecil/ KIK Dan Kredit Modal
Kerja Permanen / KMKP, Kredit Bimas Dan Inmas, Kredit Umum
Pedesaan/ KUP.
Bank Indonesia (BI) selain memberikan bantuan keuangan, juga
memberikan bantuan teknis kepada perbankan melaluli Proyek
Pengembangan Usaha Kecil (PPUK-BI) antara lain melakukan identifikasi
peluang investasi pada semua sektor ekonomi (A. Daniel Uphadi, 1995).
• Pemerintah telah menjalankan berbagai cara untuk menangani hal
itu :
1. Januari 1990 Presiden menghimbau agar koperasi hendaknya
diberi saham oleh perusahaan-perusahaan besar, sampai 25% dari total
saham perusahaan.
2. 15 Mei 1996, pemerintah mencanangkan Gerakan Kemitraan
Nasional, yang bertujuan menggalang kekuatan semua pihak agar
peduli dengan masalah kemitraan usaha
(Lukman Hakim, 1996).
• Selama ini kemitraan usaha lebih banyak didasarkan atas
pertimbangan politik dari pada atas dasar pertimbangan ekonomi. Dasar
pertimbangan ekonomi untuk melakukan kemitraan usaha adalah adanya
keterkaitan produksi, yaitu keterkaitan produksi ke depan (forward
production lingkage) atau keterkaitan produksi ke belakang (backward
production linkage).
• Forward production linkage artinya hasil produksi (output) dari
UKM dibeli (dipakai) oleh USB untuk diproses menjadi finish goods.
Backward production linkage artinya input (bahan baku) UKM diperoleh
atau dibeli dari USB.
69
4.3. DAFTAR BACAAN
Armia, Chairuman, Perlukah BUMN Dipertahankan?, Harian “KOMpas” 5,6,7
Oktober 1989 (dalam Pandji Anoraga, 1995).
Anoraga, Pandji, BUMN, Swasta danm Koperasi, Tiga Pelaku Ekonomi, PT. Duta
Pustaka Jaya, Jakarta, 1995.
Soedarsono, Pengantar Ekonomi Mikro, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta, 1983.
Hakim, Lukman, Daya Saing Perekonomian Idnoensia Menyongsong Era Pasar
Bebas, Diterbitkan dalam rangka Dies Natalis Universitas Trisakti ke-31,
Media Ekonomi Publishing (MEP)……..
Tambunan Tulus, T.H., Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1996.
Masyhud, Mudaris Ali, Usaha Kecil Menengah Menyongsong Era Perdagangan
Bebas, Harian “Kompas”, Januari 1995.
Chaeruddin, Menaruh Harapan Pada APEC, Harian “Terbit”, 4 Desember 1995.
Mubyarto, Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, PT. Pustaka LP3ES Indonesia,
Jakarta, 1988.
Hasibuan, Nurimansyah, Struktur Pasar Di Indonesia, Oligopoli dan Monopoli, Media
Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Volo. 3 No. 1, Januari
1995.
Swasono, Sri Edi, Pelaku Ekonomi dan Pendekatan Pembangunan, Harian “Pelita”,
26 Juni 1990 (dalam Pandji Anoraga, 1996).
Sumodiningrat, Gunawan, “Pemerataan Pembangunan”, Makalah pada Kongres
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Ke-CI di Bandung, 22 – 25 Agustus,
1990.
Hermawan, Asep, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Negara Berkembang, Media
Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Vol. 3, No. 1, Januari
1995.
Damanhuri, Didin S., Reformasi Ekonomi Indonesia dalam Masa Transisi, dari
Inward ke Outward Looking Strategy, dala……
Uphadi, Daniel A., Pemberdayaan Kinerja Usaha Kecil dan Menengah, Harian “Suara
Pembaruan, 18 Juli 1995.
Dosen Pengasuh,
Perekonomiann Indonesia
Munawir, SE
70
PEREKONOMIANN INDONESIA
Munawir, SE
POKOK BAHASAN :
V. ORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN
INDONESIA (BAGIAN 1)
V.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tjuam Umum
Agar mahasiswa dapat memahami struktur perekonomian dan transformasi
struktur perekonomian Indonesia.
b. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa dapat menjelaskan :
• Transformasi struktur perekonomian
• Proses transformasi struktural dan berbagai indikatornya
• Analisis kebijakan transformasi struktural perekonomian Indonesia
c. Materi Pembahasan
• Transformasi struktural perekonomian Indonesia
1. Teori Perubahan struktur Ekonomi
2. Profil Perekonomian Indonesia Akhir Pelita V
• Proses Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia
1. Proses Akumulasi Sumber Daya Produktif
2. Proses Alokasi Sumber Daya Produktif
3. Proses Distribusi Pendapatan
4. Proses Perubahan Institusional/ Kelembagaan
• Analisis Kebijakan Transfromasi Struktural
1. Kebijakan Pengaturan Nilai Tukar Rupiah
2. Kebijakan Fiskal dan Keuangan Negara
3. Kebijakan Keuangan dan Moneter/ Perbankan
4. Kebijakan Perdagangan dan Deregulasi Sektor Riil dan Moneter
V.2. PEMBAHASAN MATERI
A. TRANSFORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN
INDONESIA
1. Perubahan Struktur Ekonomi
• Suatu proses pembangunan ekonomi yang cukup lama dan
telah menghasilkan suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi biasanya
disusul dengan suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonominya.
71
Perubahan struktur ekonomi terjadi akibat perubahan sejumlahf aktor, bisas
hanya dari sisi permintaan agregat, sisi penawran agregat atua dari kedua
sisi pada waktu yang bersamaan (Tulus Tambunan, 1996).
• Dari sisi permintaan agregat, faktor yang sangat dominan
adalah peningkatan tingkat pendapatan masyarakat rata-rata yang
perubahannya mengakibatkan perubahan dalam selera dan komposisi
barang-barang yang dikonsumsi. Hal ini menggairahkan pertumbuhan
industri baru.
• Dari sisi penawaran agregat, faktor utamanya adalah
perubahan teknologi dan penemuan bahan baku atau material baru untuk
berproduksi, yang semua ini memungkinkan untuk membuat barang-barang
baru dan akibat realokasi dana investasi serta resources utama lainnya dari
satu sektor ke sektor yang lain. Realokasi ini disebabkan oleh kebijakan,
terutama industrialisasi dan perdagangan, dari pemerintah yang memang
mengutamakan pertumbuhan output di sektor-sektor tertentu, misalnya
industri (Tulus Tambunan, 1996).
2. Profil Perekonomian Indonesia Akhir Pelita V
• Profil ekonomi memberikan gambaran luar atau pola garis
bentuknya (countour), sedangkan strktur ekonomi menggambarkan bagian
dalamnya (anatomi) suatu perekonomian.
Profil perekonomian Indonesia menjelang akhir Pelita V ditunjukkan oleh
empat segi yang kait mengkait dalam perkembangan keadaan, yaitu :
pertumbuhan ekonomi, lapangan kerj aproduktif, neraca perdangan dan
pembayaran luar negeri, perkembangan harga dalam negeri (infalsi). Empat
segi permasalahan itu sekaligus dijadikan serangkaian tolok ukur dalam
penilaian kita tentang jalannya perekonomian dalam perjalanan waktu.
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
a. Pertumbuhan Ekonomi
 Kebijaksanaan deregulasi sejak tahun 1983 mendorong
terjadinya ekspansi ekonomi dan ekspansi moneter. Serangkaian
deregulasi mendorong kegitan swasta untuk melakukan ekspansi
ekonomi. Sementara meningkatnya permintaan domestik, baik
permintaan untuk konsumsi maupun untuk investasi, mendorong
terjadinya ekspansi moneter.

 Ekspansi ekonomi ditandai oleh :
1) Meningkatnya lalu pertumbuhan ekonomi (GDP):
7,5%, 7,1%, 6,6%, (1989, 1990, 1991).
2) Meningkatnya laju pendapatan bruto (GDY): 7,5%,
10,5%, 7,1% (1989, 1990, 1991).
72
3) Meningkatnya investasi sektor swasta): 15,0%, 17,0%
(1989, 1990).
 Ekspansi moneter ditandai oleh :
1) Meningkatnya jumlah uang beredar (M2): 40%, 44%,
7,1% (1989, 1990).
2) Meningkatnya volume kredit bank: 48%, 54% (1989,
1990).
3) Meningkatnya laju inflasi: 5,5%, 9,5% (1989, 1990).
 Ekonomi terlalu panas (overheated)
Ekspansi ekonomi yang ditandai oleh laju pertumbuhan pesat
selama tiga tahun berturut-turut dianggap terlalu panas (overheated)
dari sudut kestabilan keuangan moneter. Bila hal ini dibiarkan
berlangsung terus akan membahayakan kestabilan harga dalam
negeri dan melemahkan neraca pembayara luar negeri. Karena itu
pemerintah melakukan kebijaksanaan uang ketat (TMP = Tigh
Money Policy)
 Kebijaksanaan Uang Ketat (TMP) meliputi :
1) Kebijaksanaan fiskal/ keuangan negara
- Meningkatkan penerimaan pajak untuk tahun fiskal
1991/1992 dan 1992/1993.
- Penerimaan dari sektor non-migas dapat melebihi
sasarannya, sehingga tahun fiskal 1991/1992 secara riil
tercapai surplus pada anggaran negara.
2) Kebijaksanaan Moneter/ Perbankan
- Melakukan politik diskonto (suku bunga) dan open
market operation melalui SBI, untukmembatasi kredit
perbankan.
- Mengawasi nisbah likuiditas bank terhadap volume
kredit (LDR : Loan to Deposit Ratio), dan nisbah kekuatan
modal bank (CAR = Capital Adeuqcy Ratio).
- Dampak dari TMP adalah menurunnya pertumbuhan
ekonomi pada tahun 1991 menjadi 6,6% di samping karena
musim kemarau yang panjang.
b. Neraca Pembayaran Luar Negeri
Neraca Perdagangan dan pembayaran luar negeri menunjukkan
perkembangan yang perlu terus diamati dan diawasi dengan seksama,
khususnya yang menyangkut transaksi berjalan.
1) Neraca Perdagangan dan Neraca Jasa
 Laju pertumbuhan ekspor rata-rata 15% (1989-
1991) dengan nilai US$19 miliar (1988) meningkat hampir
73
US$30 miliar (1991), jenisnya : 52% barang manufaktur, 37%
migas dan non-migas 11% (ada diversifikasi ekspor).
 Laju pertumbuhan impor rata-rata 25% (1988 –
1991), jenisnya: sebagian besar berupa peralatan barang modal
dan bahan baku.
 Meskipun laju pertumbuhan impor lebih besar
dari pada laju pertumbuhan ekspor, namun total nilai ekspor
masih lebih besar dibandingkan impor, sehingga masih
menghasilkan saldo surplus (positif). Akan tetapi neraca jasa,
terutama karena bearnya beban pembayaran jasa pemakaian
modal (bunga hutang luar negeri) selalu menghasilkan saldo
defisit (negatif). Akibatnya transkasi berjalan selalu mengalami
defisit, yang cenderung makin besar: US$1,6 miliar (1989),
membengkak menjadi US$4,5 miliar (1992).
2) Neraca Modal dan Cadangan Devisa
 Neraca Modal mencatat perhitungan transaksi lalu lintas
modal (pemasukan dan pengeluaran modal atau devisa). Oleh
pemerintah selalu diusahakan agar neraca modal ini
menghasilkan saldo surplus (positif) untuk menutup defisit
transaksi berjalan.
 Selama periode yang sama (1992) defisit transaksi berjalan
dapat diimbangi oleh pemasukan modal (pinjamanluar negeri
pulsu investasi langsung) sebesar US$5,6 miliar setahun. Hal itu
juga menambah cadangan devisa.
 Jumlah cadangan devisa yang langsung dikuasai oleh Bank
Indonesia meningkat dari US$ 6,6 miliar (1989) menjadi
US$11,5 miliar. Bila ikut diperhitungkan jumlah devisa yang
berada di bank-bank di luar bank Sentral, dan ditambah dengtan
stand-by loans, maka kekuatan cadangan devisa secara nasional
adalah sekitar US$15 miliar (cukup untuk pembiayaan selama
enam bulan).
3) Pinjaman Luar Negeri
 Pinjaman jangka panjang dengan persyaratan lunak menjadi
semakin sulit, sedangkan pinjaman komersial menghadapi
persyaratan yang semakin berat.
 Khusus mengenai Indonesia sudah nampak sikap was-was di
kalangan keuangan internasional. Sikap seperti itu ada sangkut
pautnya dengan defisit transaksi berjalan yang akhir-akhir ini
begitu meningkat dan juga semakin membesarnya utang luar
negeri kita.
 Utang luar negeri Indonesia pada akhir tahun 1992 secara
kumulatif diperkirakan berjumlah US$78 miliar, meningkat
hampir 40% dibandingkan 2-3 tahun yang lalu. Jumlah 78
74
miliar itu terdiri : pinjaman sektor publik (pemerintah +
BUMN) sebesar 45 miliar dollar.
 Debt Service Ratio (DSR), berdasarkan nilai ekspor bruto
untuk tahun 1992 mencapai 32%, tingkat DSR sebesar 32%
sudahmerupakan “Lampu Merah” (DSR : 20-25% = aman atau
“Lampu Hijau”, 26-30% = “Lampu kuning”). Pinjaman swasta
justru sangat meningkat selama tahun-tahun ekspansi ekonomi
(1989-1991).
 Sehubungan dengan kecenderungan utang luar negeri yang
mengancam stabilitas eksternal, maka pemerintah melakukan
pengawasan dan pembatasan terhadap pinjaman komersial luar
negeri (Keppres No. 39 Tahun 1991). Oleh tim dibawah Menko
Ekuin :
- Dilakukan penyaringan dan penilaian prioritas
- Ditetapkan suatu pagu tahunan pinjaman komersial luar negeri
c. Masalah Kesempatan Kerja
• Keadaan sekarang beban tanggungan
(dependency burden) bagi tiap tenaga kerja produktif (bekerja 35
jam seminggu) cukup berat, yaitu 1 : 4, artinya 4 orang penduduk
kebutuhan hidupnya tergantung (ditanggung) oleh 1 orang tenaga
kerja produktif.
• Hal itu mencerminkan masih besarnya
tingkat pengangguran secara terselubung (underemployment) dan
gejala low quality employment maupun pengangguran terbuka
(open unemployment) di kota-kota besar, khususnya golongan
angkatan kerja yang berusia muda (15-25 tahun).
• Beban tanggungan tahun 1990
- Jumlah Penduduk Indonesia : 179 juta jiwa
- Jumlah Angkatan Kerja : 72 juta jiwa
- Angkatan Kerja yang produktif : 44 juta jiwa
Jadi beban tanggungan menjadi 179:44 = 4 (atau 1 : 4)
d. Perkembangan Harga
• Laju Inflasi 9,5% (1990,1991) turun
sampai 6-7% (1992). Kebijaksanaan pengendalian inflasi perlu
diteruskan sehingga dapat dicapai rata-rata 5% pada Pelita VI.
• Pengendalian Inflasi Penting untuk :
1) Menjaga stabilitas ekonomi
internal dan eksternal (tekanan neraca pembayaran luar negeri)
2) Memperkuat daya saing produk
ekspor di luar negeri
3) Mendorong hasrat masyarakat
untuk menabung
75
B. PROSES TRANSFORMASI STRUKTUR
PEREKONOMIAN INDONESIA
Perkembangan ekonomi Indonesia selama masa 25 tahun berselang diteroping dari
sudut pandang tentang pembangunan ekonomi sebagai proses transisi yang dalam
perjalanan waktu ditandai oleh transformasi multidimensional dan menyangkut
perubahan pada struktur ekonomi. Akan ditinjau beberapa pokok dalam perubahan
struktur selama lima tahap Pelita (Pembangunan Jangka Panjang Tahap I).
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
1. Proses Akumulasi Sumber Daya
Produksi
• Sumber dayaproduksi
adalah aset-aset produktif atau faktor-faktor produksi (Tanah, tenaga kerja,
kapital produksi (output) diperlukan peningkatan atau tambahan faktor-
faktor produksi (input).
• Akumulasi menyangkut
proses pembinaan sumber daya produksi (produktive resources) untuk
meningkatkan kemampuan berproduksi secara kontinu. Selama masa
pembangunan 25 tahun telah terjadi akumulasi sumber daya produksi dalam
jumlah yang besar dan sangat berarti.
• Indikator adanya
akumulasi sumber daya produksi :
1) Produk domestik bruto (PDB, GDP) secara riil
meningkat 4 kali lipat. Tingkat hidup rata-rata (GDP per kapita)
meningkat 2,5 kali lipat.
2) Keberhasilan penyediaan pangan : Pelita I sebagai
negara pengimpor beras terbesar, sedangkan akhir Pelita III sudah
mencapai swasembada beras.
3) Keberhasilan melaksanakan Program Keluarga
Berencana (KB) : dari Pelita I – Pelita V (25 tahun) tingkat pertambahan
penduduk turun dari 2,5% menjadi 1,7%.
4) Pertumbuhan ekonomi menunjukkan trend
meningkat: meskipun lajunya mengalami siklus naik-turun. Secara rata-
rata diperkirakan masih 6,8% setahun.
5) Investasi rata-rata per tahun meningkat: dalam Pelita
I rata-rata 15% (dari PDB), sedang dalam Pelita V rata-rata mencapai
33%.
• Kelemahan/ kekurangan
yang menyertai proses akumulasi :
1) Pelaksanaan Investasi modal kurang
efisien dan efektif : nisbah tambahan investasi terhadap tambahan hasil
(ICOR = Incremental Capital Output Ratio) selama 10 tahun (1984-
1993) angkanya terlalu besar, yaitu 5 (investasi rata-rata 33,4%, laju
76
pertumbuhan ekonomi 6,8% sehingga ICOR = 33,4 : 6,8 = 4,9 atau
dibulatkan 5).
 Memang benar bahwa dalam proses
pembangunan investasi untuk infrastruktur bersifat slow vielding
dan low vielding, tetapi sebagian pemborosan karena kelemahan
teknis dalam perencanaan, penyelenggaraan dan perawatan proyek-
proyek investasi serta kelemahan institusional (organisasi) seperti
penyimpangan, penyelewenanga. Jadi inefisiensi karena terjadinya
mismanagement
2) Terjadi saving-investment gap
Besarnya investasi tidak diimbangi oleh tabungan nasional yang
memadai, tingkat investasi melampaui tingkat tabungan. Selama Pelita
V tingkat investasi 33,4%, sedangkan tingkat tabungan nasional hanya
29,9% (dari PN).
 Kekurangan dana untuk investasi
sebesar 3,5% (33,4% - 29,9%) harus ditutup dengan pemasukan
modal dari luar negeri.
 Masalah di atas menunjukkan
pentingnya usaha untuk meningkatkan tabungan nasional dengan
disertai upaya untuk menurunkan angka ICOR.
3) Adanya Perbedaan laju pertumbuhan
sektor pertanian dan laju pertumbuhan sektor industri
Secara menyeluruh laju pertumbuhan ekonomi selama Pelita V
mencapai 6,8 per tahun, dimana laju pertumbuhan sektor pertanian
hanya 2,7% per tahun, sedangkan laju pertumbuhan sektor industri
mencapai 11% per tahun.
 Hal ini menunjukkan bahwa
produktivitas dan pendapatan riil di sektor industri lebih besar
sekitar 4 kali lipat daripada sektor pertanian.
 Tanpa intervensi aktif dari pihak
kebijaksanaan negara, ketimpangan itu cenderung berlangsung terus,
bahkan akan menjadi semakin besar.
2. Proses Alokasi Ssumber Daya
Produksi
• Sumber daya produksi
khususnya investasi sangat penting bagi pembangunan baik secara
kuantitatif (menyangkut jumlahnya) maupun secara kualitatif (menyangkut
alokasinya).
• Alokasi sumber
dayaproduksi dalam proses pembangunan menyangkut pola penggunaan
sumber daya produksi antar sektor, antar daerah dan antar lingkungan kota
dan daerah pedesaan. Selama PJPT I telah terjadi perubahan struktural di
77
bidang produksi dan perdagangan, namun mengenai k esempatan kerja tetap
statis.
a. Struktur Produksi : Pelita I (1969-1973) sektor pertanian
menyumbang 44%, sektor industri 9%. Menjelang akhir Pelita V (1989-
1993) sektor pertanian menyumbang 19%, sedang sektor industri sudah
20%. Dari sudut peranan industri, Indonesia memasuki kategori negara
semi industri.
b. Struktur Perdagangan, dilihat dari jenis komoditi dan sumbangannya
terhadap nilai ekspor : Akhir Pelita I (1973) sumbangan minak dan gas
bumi (Migas) sebesar 75%, sumbangan sektor di luar migas (non migas)
sebesar 25%. Pada akhir Pelita V (1993) terjadi perubahan
perimbangan, yaitu dari sektor migas 34%, sedang dari sektor non migas
meningkat 66%.
- Terjadi proses diversifikasi di bidang produksi dan
perdaganagn : Akhir Pelita V sumbangan sektor non-migas (66%)
terdiri dari : 71% produk industri, 15% produk pertanian dan 4%
hasil pertambangan.
c. Perkembangan Kesempatan Kerja : selama 25 tahun struktur dan
sifat kesempatan kerja masih tetap statis :
Pelita I Pelita V
(1970) (1992)
Sektor Pertanian :
- Sumbangan Produksi 44% 18%
- Daya Serap Kerja 56%
47%
Sektor Industri :
- Sumbangan produksi 11% 21%
- Daya Serap Kerja 9%
12%
 Jadi struktur lapangan kerja tidak banyak mengalami
perubahan (relatif statis), yakni masih tertumppu pada sektor
pertanian. Sebab sumbangan produksi yang mengalami penurunan
26%, hanya diikuti penurunan kesempatan kerja 9%. Sebaliknya
sumbanga produksi sektor industri yang meningkat 10%, hanya
diikuti pertambahan kesempatan kerja 3%.
 Ketidakserasian antara perubahan struktur produksi dan
struktur Lapangan kerja itu ada kaitannya dengan sifat khas yang
melekat pada perekonomian Indonesia (negara berkembang), yaitu :
1) Permintaan tenaga meningkat
lebih cepat dikawasan perkotaan
2) Mobilitas tenaga kerja antar
sektor kurang lancar
78
3) Tidak akses yang sama untuk
mendapatkann modal berupa dana atau tanah yang baik
4) Investasi dan penerapan
teknologi diutamakan di bidang modern pada masing-masing
sektor
5) Laju pertambahan penduduk
melampaui tingkat permintaan tenaga kerja.
 Keadaan seperti di atas menyebabkan di antara sektor
pertanian dan sektor industri terjadi perbedaann dan ketimpangan
dalam : laju pertumbuhan, tingkat produktivitasnya dan tingkat
pendapatan riilnya.
LAMPIRAN TABEL
Tabel A.2.a-b. Ikhtisar Singkat Perekonomian Indonesia
1998 1999 2000 2001 2001
Laju pertumbuhan GDP %
Laju pendapatan GDY %
Transaksi berjalan (US$miliar)
Pemasukan Modal Neto (US$miliar)
Cadangan Devisa BI (US$miliar)
Laju Inflasi, IHK%
Debt service Ratoi %
(Pemerintah Swasta)
2,5
2,3
-1,8
n.a
5,8
4,3
25,3
5,8
2,1
-1,9
2,6
6,2
5,5
34,4
7,1
10,5
-3,7
6,8
8,7
9,5
30,1
6,6
7,1
-4,4
5,6
9,9
9,5
30,1
6,0
6,0
-4,5
4,4
11,3
6,7
31,97
Sumber : Center for Policy Studies (CPS), Jakarat (Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
PEREKONOMIANN INDONESIA
Munawir, SE
POKOK BAHASAN :
V. ORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN 2)
3. Proses Distribusi Pendapatan
• Ketimpangan dalam distribusi pendapatan (baik antar kelompok
berpendapatan, antar daerah perkotaan dan pededaan, atau antar kawasan
dan propinsi) dan kemiskinan merupakan dua masalah yang masih
mewarnai perekonomian Indonesia.
• Pada awal pemerintahan Orde Baru, perencanaan pembangunan
ekonomi di Indonesia masih sangat percaya bahwa apa yang dimaksud
dengan trickle down effect akan terjadi: namun setelah sepuluh tahun sejak
Pelita I dimulai, mulai kelihatan bahwa efek yang dimaksud itu mungkin
79
tidak tepat dikatakan sama sekali tidak ada, tetapi proses mengalirnya ke
bawahnya sangat lambahn. (Tulus Tambunan, 1996).
• Masalah distribusi pendapatan menyangkut kemiskinan, baik
kemiskinan absolut maupun ktimpangan relatif. Distribusi pendapatan dan
kemiskinan hendaknya dilihat dalam kerangka acuan suatu analisis,
bersamaan dan berkaitan dengan proses akumulasi dan alokasi. Dengan kata
lain, akumulasi, alokasi dan distribusi harus dilihat dalam saling
keterkaitannya dan dalam kerangka acuan yang kencakup dinamika dalam
proses transformasi secara menyeluruh selama masa transisi.
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
a. Kemiskinan Absu\olut
 Tahun 1976: jumlah penduduk 137 juta jiwa, 54 juta jiwa (40%)
hidup di bawah garis kemiskinan. Tahun 1990 : jumlah penduduk
179 juta jiwa, yang hidup di bawah garis kemiskinan tinggal 27 juta
jiwa (15,%). Kecenderungan kearah perbaikan itu diharapkan dapat
berlangsung terus sehingga ditahun 2000 golongan yang dhiup di
bawah garis kemiskinan mencakup 5-10% dari jumlah penduduk
saat itu.
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
 Masalah kemiskinan ini diperlihatkan melalui analisa
sensivitas,yaitu apabila poverty line (garis batas kemiskinan)
dirubah dari konsumsi per hari Rp 930 untuk kota dan Rp 608 untuk
desa menjadi RP 1.000 maka jumlah orang miskin akan meningkat
dari 25,6 juta (1993) menajdi 77 juta. Itu berarti terdapat indikasi
bahwa walaupun jumlah penduduk di bawah poverty line turun dari
27 juta (1990) ke 25,5 juta (1993), penduduk yang hidup dalam
kondisi nyaris miskin atau hidup pada poverty line di 1993 makin
banyak (Sjahrir, 1996).
b. Ketimpangan Relatif
• Tahun 1976: 40% dari jumlah penduduk yang termasuk
golongan berpendapatan rendah hanya menerima kurang dari 12%
dari pendapatan nasional, yang menunjukkan ketimpangan
mencolok (gross inequality). Tahun 1990 : golongan berpendapatan
rendah yang dimaksud menerima 21% lebih dari pendapatan
nasional yang berarti ketimpangan menjadi lumayan kecil (low
inequality).
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
• Menarik disini melihat bahwa 77 juta (yang nyaris miskin)
itu meliputi 67 juta manusia yang hidup di desa dan 10 juta yang
hidup di kota. Pandangan Michael Lipton (176) bahwa : konflik
kelas yang paling penting di negara msikin di udnia kini bukanlah
antara buruh dan modal, juga bukan antara kepentingan asing dan
nasional. Konflik yang paling penting justru antara kelas pedesaan
dan kelas kota. (Sjahrir, 1996).
80
• Sekarang ini tingkat pendapatan rata-rata per kapita di
Indonesia sudah jauhlebih tinggi dibandingkan dengan 30 tahun
yang lalu, yakni sekitar US$880. namun, apa artinya jika hanya 10%
saja dari jumlah penduduk ditanah air yang menikmati 90% dari
jumlah pendapatan nasional, sedang sisanya (90%) hanya menikmati
10% dari pendapatan nasional atau kenaikan pendapatan nasional
selama ini hanya dinikmati oleh kelompok 10% tersebut. jadi, dalam
kata lain, pembangunan ekonomi di Indonesia akan dikatakan
berhasil sepenuhnya bila tingkat kesenjangan ekonomi antara
kelompok masyarakat miskin dan kelompok masyarakat kaya bisa
diperkecil (Tulus Tambunan, 1996).
• Disisi berlaku satu kaidah dalam statistik yang disebut the
importance of being unimportant. Artinya ada satu kelompok yang
jumlhanya sangat kecil tetapi berpendapatan sangat tinggi, yang
mengakibatkan tertariknya angka konsumsi rata-rata ketingkat
82.226 ruiah (1993), walauun lebih dari 82% penduduk sebenarnya
berpendapatan di bawah Rp 60.000 per bulan per kapita (Sjahrir,
1996).
4. Proses Perubahan Institusional/
Kelembagaan
Kesenjangan mengandung dimensi ekonomis-sosiologis dan dimensi ekonomis-
regional :
a. Dimensi Ekonomis – Sosiologis :
• Ini menyangkut ketimpangan pada perimbangan kekuatan di antara
golongan-golongan pelaku ekonomi, yaitu secara spesifik: antara
saudagar besar di bidang niaga dan industri, golongan pedagang
perantara (tengkulak) dan golongan produsen kecil (petani rakyat,
pengrajin, pengusaha industri kecil/ menengah, pedagang eceran).
• Golongan produsen kecil/ menengah meliputi sebagian besar rakyat
penduduk sebagai produsen dan sekaligus sebagai konsumen.
Kedudukan ekonominya sangat lemah dihadapkan dengan kekuatan
saudagar besar dan para pedagang perantara dala jaringan mata rantai
niaga dan industri.
• Salah satu sasaran pokok kebijaksanaan pembangunan ialah
mewujudkan perubahan struktural di bidang ekonomi-sosiologis dalam
arti: transformasi dari ketimpangan menjadi keseimbangan di antara
kekuatan-kekuatan golongan saudagar besar, golongan pedagang
perarntara, golongan produsen kecil. Kepentingan produsen-kecil dan
menengah itu ada di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan,
perikanan, peternakan maupun di bidang perindustrian, pengangkutan
dan perdagangan.
• Kesempatan usaha lebih banyak dimanfaatkan oleh kaum saudagar
dengan konglomeratnya. Hal ini cenderung menambah lagi pemusatan
kekayaan dan kekuatan ekonomi yang pada gilirannya mengganggu
pembagian pendapatan secara lebih merata.
81
• Dalam hubungan dengan ketimpangan pada perimbangan kekuatan
pelaku ekonomi harus dilihat peran gerakan koperasi sebagai alat
perjuangan ekonoi bagi kaum produsen kecil. Pengembangan koperasi
harus dilakukan melalui dua jalur utama yang saling berkaitan :
1) Pendidikan tentang falsafah dan jiwa koperasi dengan
mengadakan latihan ketrampilan dan keahlian tentang pengelolaan
dan penyelenggaraan usaha koperasi.
2) Penyediaan sarana produksi berupa dana dan peralatan,
antara lain melalui suatu Badan Investasi untuk koperasi yang dapat
beperan semacam investment trust khusus untuk pembinaan koperasi
primer.
b. Dimensi Ekonomis Regional
Dalam kaitan ketidakseimbangan perekonomian antar daerah, kita
dihadapkan dengan suatu dilema yang disebut dualisme teknologis. Dilema
dualisme teknologis ini ditunjukkan oleh gejala :
1) Adanya perbedaan dan ketimpangan pola dan laju
pertumbuhan di antara berbagai kawasan dalam batas suatu nwegara
(atau secara regional dan internasional di berbagai belahan dunia)
2) Perbedaan tersebut tidak semakin berkurang, melainkan
cenderung menjadi semakin besar.
3) Kesemuanya itu disebabkan karena adanya apa yang
dikenal sebagai cumulative causation, yaitu proses sebab-akibat yang
mengandung dampak secara kumulatif.
4) Kalau hal itu dibiarkan tanpa intervensi kebijaksanaan
negara, maka perkembangan proses cumulative causation selanjutnya
akan menciptakan dua lingkaran kegiatan sekaligus :
- Lingkaran kegiatan yang semakin bermanfaat (various
circle) bagi kawasan yang sudah maju.
- Lingkaran setan/ yang banyak membawa mudarat (vacious
circle) bagi kawasan yang ketinggalan.
Sehingga daerah yang kaya semakin kaya sedang yang miskin
semakin miskin, karena adanya cumulative causation itu
menyebabkan virtuous circle bisa berlangsung terus berdampingan
dengan vircious circle
- Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, dilema dualisme
teknologi menonjol karena adanya asimetri (ketidakserasian) antara
lokas penduduk dan lokasi sumber daya alam. Sebagian besar
penduduk terpusat di Pulau Jawa, sedangkan kebanyakan sumber
alam tgerletak di kepulauan yang lain. Sehingga timbul
kecenderungan di Pulau Jawa berkembang industri yang didasarkan
atas peranan tenaga kerja (Iabour-based industries), sedang di luar
jawa berkembang industri yang berdasarkan pengembangan sumber
daya alam (resource-basedinsutries) yang bersifat padat modal
dengan penggunaan teknologi maju.
82
- Kini yang menonjok ketidakseimbangan ekonoim antara
bagian Barat dan Bagian Timur dalam wilayah kepulauan tanah
airkita. Ketidakseimbangan ekonoim antar daerah harus dapat
ditanggulangi dengan peningkatan perhubungan antar pulau dan
pelayaran pantai beserta prasarananya.
- Kini nampak pentingnya pengembangan agro-based
industries yaitu pengembangan industri pengolahan di luar Jawa
bagi bahan pertanian dalam arti luas (perkebunan, kehutanan,
perikanan, peternakan, hotkultura).
Agro-industry ini memegang peranan strategis dalam menjembatani
dualisme teknologis sebab memenuhi 4 persyaratan yang penting :
1) Penggunaan bahan setempat
yang melimpah
2) Menciptakan lapangan kerja
produktif
3) Memberikan nilai tambah
4) Menambah penerimaan devisa
bagi negara
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993)
- Sektor agrobisnis terdiri atas 4 subsistem:
1) Subsistem agrobisnis hulu
Kegiatan yang menghasilkan sarana produksi pertanian primer
(benih, pupuk, pestisida dan lain-lain)
2) Subsistem usaha tani
Menggunakan sarana produksi pertanian untuk menghasilkan
komoditi pertanian primer.
3) Subsistem agrobisnis hilir
Kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas pertanian primer
menjadi produk olahan serta melakukan perdagangan.
4) Subsistem penunjang
(supporting institutions)
Kegiatan yang menyediakan jasa yang dibutuhkan sektor
agrobisnis (perbankan, infrastruktur, transportasi, litbang dan
kebijaksanaan pemerintah).
- Pertanian mendapat prioritas pada tahap awal pembangunan
terutama dalam peranannya sebagai penyedia pangan yang cukup.
Akan tetapi setelah swasembada pangan yang cukup. Akan tetapi
setelah swasembada pangan dicapai pada tahun 1984, kebijakan
pembangunan ekonomi lebih diarahkan kepada “broad based and
hi-tech industry”. Inilah awal dari kurang keberpindahan kepada
pertanian dan agrobisnis pada umumnya.
(Saragih, 1998, dikutip Anna S.N Dasril, 1998)
C. ANALISIS KEBIJAKAN TRANSFORMASI
STRUKTURAL
83
• Program penyesuaian ekonomi struktural dan reformasi ekonomi yang
dilakukan pemerintah Indonesia sejak anjloknya harga minyak di pasar dunia pada
pertengahan tahun 1980-an mencakup empat kategori besar, yaitu (1) Pengaturan
nilai tukar rupiah (excahge rate menagement), (2) Kebijakan fiskal, (3) kebijakan
moneter dan keuangan, (4) kebijakan perdagangan dan deregulasi atau reformasi di
sektor riil dan moneter. Reformasi ekonomi di Indonesia di awali dengan devaluasi
pertama pada tahun 1983 dan kedua pada tahun 1986 dengan tujuan meningkatkan
volume ekspor manufaktur. Hasilnya memang positif, dari 3.184 miliar dolar AS
pada tahun 1986 menjadi 5.021 miliar dolar AS. Sejak perubahan strategi dari SI
(substitusi impor) ke promosi ekspor (PE) diperkuat dengan devaluasi, ada tanda-
tanda bahwa ekspor manufaktur Indonesia akan meningkat terus. Dilihat dalam
periode 12 tahun, dari tahun 1980 hingga tahun 1992, nilai ekspor komoditas
pertanian dibandingkan PDB menunjukkan trend menurun walaupun ada fluktuasi
selaam periode tersebut.
(dikutip dari beberapa sumber oleh Tulus Tambunan, 1996).
• Lihat Gambar (Tulus Tambunan, 1996)
Gambar 2.2
Pertumbuhan Pangsa Ekspor Manufaktur
(Sebagai Persentase dari PDB) di Indonesia, 1980-1992
1. Kebijakan Pengaturan Nilai Tukar Rupiah
• Dalam tahun 1986/1987 pemerintah tetap
menganut sistem devisa bebas yang diperlukan guna mendorong kegiatan
invstasi yang diperlukann guna mendorong kegiatan investasi, produksi
dalam negeri dan ekspor. Selain itu, dengan pengelolaan nilai tukar yang
mengambang terkendali, pemerintah tetap berusaha agar perkembangan
nilai tukar rupiah selalu mencerminkan perkembangan yang realistis untuk
mempertahankan daya saing barang ekspor serta memelihara kepercayaan
masyarakat terhadap rupiah yang pada gilirannya akan memberikan dampak
positif terhadap perekonomian secara keseluruhan.
84
0
5
10
15
20
25
30
35
1
9
8
0
1
9
8
2
1
9
8
4
1
9
8
6
1
9
8
8
1
9
9
0
1
9
9
2
Tahun
V
o
l
u
m
e
pertanian
migas
manufaktur
• Mengingat penerimaan devisa hasil ekspor
yang semakin menurun sebagai akibat merosotnya harga minyak bumi sejak
permulaan tahun 1986 dan untuk mengurangi tekanan terhadap nerraca
pembayaran, pemerintah pada 12 September 1986 mendevaluasikan rupiah
terhadap dollar AS sebesar 31%. Tindakan tersebut disamping dimaksudkan
untuk meningkatkan daya saing barang ekspor non migas dan menciptakan
iklim usaha yang lebih menarik bagi penanaman modal, juga sekaligus
untuk mencegah terjadinya aliran modal ke luar negeri.
(Laporan Bank Indonesia Tahun 1986/1987).
2. Kebijakan Fiskal dan Keuangan Negara
• Dalam rangka meningkatkan penerimaan dalam negeri yang sekaligus
dapat mendorong kegiatan dunia usaha, tahun 1983/1984 pemerintah
memperbarui sistsem perpajakan yang berlaku selama ini. Sistem
perpajakan yang baru tersebut terdiri dari :
1) UU tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan (UU No. 6 Tahun 1983).
2) UU tentang Pajak Penghasilan
(UU No. 7 Tahun 1983).
3) UU tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah (UU
No.8 Tahun 1983).
• Dalam tahun 1983/1984 penerimaan pajak langsung naik 15,9%, pajak
pendapatan naik 38,1%, pajak perseroan naik 12,3%, lain-lain pajak
langsung naik 30,2%.
Sedangkan penerimaan pajak tidak langsung naik 17,0%: bea masuk naik
6,7%, pajak penjualann impor naik 10,8%, cukai naik 24,7%, pajak ekspor
naik 26,8%, pajak tidak langsung lainnya naik 7,3%.
• Kebijaksanaan pengeluaran pemerintah tahun 1983/1984 diarahkan
untuk penghematan pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan
berupa pengurangan subsidi BBM, subsidi pupuk dan penghapusan subsidi
pangan serta penjadwalan kembali beberapa proyek besar pemerintah
(Laporan Bank Indonesia tahun 1983/1984).
85
3. Kebijakan Keuangan dan Moneter/ Perbankan
• Tanggal 1 Juni 1983 pemerintah mengambil serangkaian kebijaksanaan
yang mendasar yang dikenal “Kebijaksanaan Moneter 1 Juni 1983”.
Kebijaksanaan moneter tersebut dimaksudkan untuk meletakkan landasan-
landasan yang kokoh bagi perkembangan perbankan yang lebih sehat di
masa mendatang. Ciri pokok kebijaksanaan tersebut: Deregulasi di bidang
perbankan baik yang menyangkut perkreditan maupun pengerahan dana:
1) Bank-bank pemerintah diberi kebebasan penentuan
sendiri suku bunga depositi maupun bunga pinjaman (kecuali kredit
berprioritas tinggi). Disamping itu, pungutan pajak atas bunga, deviden
dan royalty (PBDR) atas penerimaan bunga deposito valas dihapuskan.
Kebijakan ini untuk mendorong penghimpunan dana dari masyarakat.
2) Bantuan kredit likuiditas Bank Indonesia mulai
dikurangi.
Kebijakan ini untuk mengurangi beban keuangan negara, karena
merosotnya penerimaan negara dari sumber migas.
3) Pagu kredit dan sebagian besar ketentuan pemberian
pinjaman dihapus.
Kebijakan ini sebagai instrumen moneter untuk menghambat
perkembangan uang beredar. Sekarang diganti dengan instrumen
moneter tidak langsung: penentuan cadangan wajib, operasi pasar
terbuka, fasilitas diskonto dan “moral Suasion”.
4) Sejak 1 Februari 1984 Bank Indonesia menerbitkan
SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan menyediakan fasilitas diskonto.
• Dengan SBI ini bank dapat memanfaatkannya untuk
menanamkan kelebihan sementara likuiditasnya sebelum
dipinjamkan kepada nasabah.
• Fasilitas diksonto merupakan bantuan dari Bank Sentral
sebagai “lender of last resort”, yaitu upaya terakhir bank-bank dalam
hal bank-bank tersebut mengalami kesulitan dana yang bersifat
sementara.
(Laporan Bank Indonesia tahun 1983/1984)
4. Kebijakan Perdagangan dan Deregulasi Sektor Riil
dan Moneter
a. Kebijakan Perdagangan
1) Sejak 19 Desember 1984, APE (Angka Pengenal Ekspor, atau APES
(Angka Pengenal Ekspor Sementara) dapat digunakan untuk
melaksanakan ekspor dari seluruh wilayah RI yang sebellumnya hanya
terbatas pada wilayah-wilayah tertentu saja.
2) Bulan April 1985 dikeluarkan Instruksi Presiden No. 4 Tahun 1985
(dikenal Inpres No. 4/ 1985) tentang penyederhanaan arus barang di
pelabuhan untuk menunjang kegiatan ekonomi khususnya untuk
mendorong peningkatan ekspor non-migas.
Kebijaksanaan ini merupakan awal deregulasi di bidang perdagangan
yang menyangkut perombakan dan penyederahanaan tata laksana
86
ekspor, pelayaran antar pulau, pengurusan barang dan dokumen,
keagenan umum perusahaan pelayaran, dan tata laksana operasional.
3) Untuk mendorong ekspor non migas pada tahun-tahun berikutnya,
pemerintah menetapkan serangkaian kebijaksanaan penyelematan,
antara lain paket 6 mei 1986 (dikenal Pakem 1986) yang intinya untuk
meningkatkan penerimaan devisa negara dari ekspor nonn-migas dan
beberapa kemudahan dalam penanaman modal asing.
(Rustian Kamaluddin, 1989)
b. Deregulasi Sektor Riil dan Moneter
• Dewasa ini di bidang ekonomi riil (produksi,
pengangkutan, pemasaran) masih dialami banyak hambatan dan
rintangan karena adanya berbagai peraturan dan ketentuan administratif
yang berbelit-belit dan sering tumpang tindih. Hal itu menjadi sumber
distorsi dalam proses perekonomian dan belakangan ada ketentuan-
ketentuan baru yang berakibat bertambahnya berbagai rupa monopoli.
Pengaturan niaga yang menciptakan monopoli/ monopsoni kini juga
dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah.
• Disisi lain bila diamati seolah-olah pemerintah ragu-ragu
untuk melakukan intervensi, dikala dan dimana intervensi pemerintah
justru di perlukan. Terjadi kekaburan pikiran seakan-akan deregulasi
juga berarti nonintervensi. Deregulasi bersangkut-paut dengan
meniadakan segala peraturan dan ketentuan yang mengganggu
perkembangan ekonomi dan menambah beban bagi ekonomi
masyarakat.
• Sistem ekonomi yang berorientasi pasar sekali-kali tidak
boleh menjurus pada sistem ekonomi yang ditandai oleh dominasi pasar.
Menyerahkan proses ekonomi selaluruhnya kepada kekuatan-kekuatan
pasar berarti menyerahkannya pada pihak dan golongan yang karena
kekuatan ekonominya dapat menguasai pasar yang bersangkutan. Oleh
sebab itu, intervensi negara teap penting dan tetap diperlukan.
• Masalahnya, intervensi dengan cara apa dan bagaimana, di
bidang mana dan untuk kepentingan siapa dan golongan yang mana.
(Soemitro Djojohadikusumo, 1993).
V.3. BAHAN BACAAN
Tambuinan, Tulus. T.H. (1996). Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Djojohadikusumo, Soemitro (1993), Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi
Pembangunan, LP3ES, Jakarta.
Dasril, Anna S.N. (1998), “peranan Agrobisnis dalam Pemberdayaan Ekonomi
Rakyat”, Makalah pada Seminar Pemulihan Hak dan Pemberdayaan
Ekonomi Rakyat, dalam rangka Dies Natalis USAKTI ke 33, Jakarta.
87
Sjahrair (1996), “Kemiskinan, Keadilan dan Kebebasan”, Makalah pada Kongres
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ke-13, Medan.
Kamaluddin, Rustian (1989), Beberapa Aspek Perkembangan Ekonomi Nasional dan
Internasional, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,
Jakarta.
Laporan Tahunan Bank Indonesia 1983/1984
Laporan Tahunan Bank Indonesia 1986/1987
Dosen Pengasuh,
Perekonoiman Indonesia
Munawir, SE
88
ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA (APBN)
1. Fungsi APBN sebagai alat mobilisasi dana investasi
Dana investasi :
- Swasta : tabungan  bank kredit
- Pemerintah : PDN, PR = TP
(Lampiran APBN: hitung angka-angka yang bersangkutan)
2. Fungsi APBN sebagai alat stabilisasi ekonomi
Artinya melalui kombinasi penerimaan dan pengeluaran dalam APBN, ekonomi besar
tumbuh sesuai ssumbe daya yang ada, tanpa menimbulkan inflasi dan pengangguran.
3. Defisit APBN : pengeluaran negara – penerimaan
Pos-pos untuk menutup :
a. Pembiayaan dalam negeri : - Perbankan
- Non Perbankan
b. Pembayaran Luar Negeri : - Penarikan Pinjaman Bruto
- Minus cicilan pokok hutang
4. Prinsip-prinsip APBN (hal. 8-9)
a. Prinsip anggaran defisit
b. Prinsip anggaran dinamis, yaitu absolut dan relatif
c. Prinsip anggaran fungsional.
5. Asumsi-asaumsi Dasar APBN
a. Estimasi pertumbuhan ekonomi
b. Estimasi laju inflasi
c. Estimasi nilai tukar rupiah
d. Estimasi harga minyak dunia
e. Estimasi tingkat suku bunga
89
PEREKONOIMAN INDONESIA
Munawir, SE
POKOK BAHASAN :
VI. ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
NEGARA (APBN)
VI.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami APBN dalam Perekonomian Indonesia.
b. Tujuan Khusus
• Agar mahasiswa memiliki
pengetahuan dan pemahaman :
- Tentang fungsi dan peran APBN
- Tentang struktur dan susunan APBN
- Tentang prinsip-prinsip dalam APBN
• Agar mahasiswa mampu
menganalisa kebijakan fiskal
c. Materi Pembahasan
A. Fungsi dan Peran APBN
1. APBN sebagai alat mobilisasi dana investasi
2. APBN sebagai alat stabilisasi ekonomi
3. Dampak APBN terhadap Perekonomian
B. Struktur dan Susunan APBN
1. Susunan pendapatan negara
dan hibah
2. Susunan belanja negara
3. keseimbangan primer/
perbedaan statistik
4. surplus/ defisit APBN
5. Susunan Pembiayaan Bersih
C. Prinsip-prinsip Dalam APBN
1. Prinsip Anggaran APBN
2. Prinsip Anggaran dinamis
3. Prinsip Anggaran Fungsional
D. Instrumen dan Analisis Kebijakan Fiskal
1. Instrumen kebijakan fiskal
90
2. Analisis kebijakan fiskal
3. Surat Utang Negara (SUN)
91
VI.2. PEMBAHASAN MATERI
PENDAHULUAN
• Ketetapan MPRS Nomor
XXIII/MPRS/1966 antara lain menegaskan bahwa pemerintah harus menyusun
anggaran moneter yang terdiri dari empat komponen, yaitu : a) Anggaran rutin, b)
Anggaran pembangunan, c) Anggaran kredit dan
d) Anggaran devisa.
• Dari empat komponen anggaran ini
yang ditetapkann dengan undang-undang tiap tahun hanya komponen : a)
angggaran rutin dan b) anggaran pembangunan, yang kita kenal dengan undang-
undang APBN.
• Mengenai komponen c) anggaran
kredit dan d) anggaran devisa, sejak Order Baru tidak lagi ditetapkan dengan
udang-undang.
• Dalam perencanaan anggaran rutin
yang pegang peranan adalah Mentgeri Keuangan dengan aparatnya Direktorat
Jenderal Anggaran. Sedangkan perencanaan anggaran pembangunan yang pegang
peranan adalah ketua BAPPENAS. Mengenai anggaran kredit dan anggaran deivsa
yang sekarang merupakan prognosa, perencanaannya ditangan Gubernur Bank
Indonesia.
(Suparmoko, 1992).
A. Fungsi dan Peran APBN
• APBN di negara-negara
sedang berkembang adalah sebagai alat untuk memobilisasi dana investasi dan
bukannya sebagai alat untuk mencapai sasaran stabilisasi jangka pendek. Oleh
karena itu besarnya tabungan pemerintah pada suatu tahuns ering dianggap
sebagai ukuran berhasilnya kebijakan fiskal (Anne Booth dan Peter McCawley,
1990).
• Baik pengeluaran maupun
penerimaan pemerintah pasti mempunyai pengaruh atas pendapatan nasional.
Pengeluaran pemerintah dapat memperbesar pendapatan nasional
(expansionary), tetapi penerimaan pemerintah dapat mengurangi pendapatan
nasional (contractionary). Timbullah gagasan untuk dengan sengaja mengubah-
ubah pengeluaran dan penerimaan pemerintah guna mencapai kestabilan
ekonomi (Suparmoko, 1992).
• Rincian tentang penerimaan
dan pengeluaran pemerintah setiap tahunnya akan nampak dalam anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN). Jadi melalui indikator APBN dapat
dianalisis seberarpa jauh peran pemerintah dalam kegiatan perekonomian
nasional (Suseno, 1995).
1. APBN Sebagai Alat Mobilisasi Dana Investasi
92
• Sumber dana investasi beasal dari
tabungan (saving). Sumber dana investasi swasata (perusahaan) berasal dari
tabungan masyarakat yang terhimpun pada lembaga keuangan bank.
Sedangkan sumber dana invstasi pemerintah berasal dari tabungan
pemerintah. Tabungan pemerintah terbentuk dari sisa penerimaan dalam
negeri dikurangi pengeluaran rutin.
• Penerimaan dalam negeri terdiri dari
penerimaan pajak dan penerimaan bukan pajak (PNBP). Bagian terbesar
dari penerimaan dalam negeri berasal dari penerimaan pajak. Untuk APBN
2001 dan 2002, masing-masing penerimaan pajak sebesar Rp 185,54 triliun
(61,72%) dan Rp 214,71 triliun (70,42%). Jumlahnya mengalami kenaikan,
namuin rasionaya terhadap PDB hampir sama yaitu masing-masing
12,44% (2001) dan 12,51`% (2002) di bawah target 13,00%.
• Tahun 2001 terbentuk tabungan
pemerintah sebesar Rp 81,68 triliun, karena besarnya penerimaan dalam
negeri Rp. 300,60 triliun, sedang pengeluaran rutin Rp 218,92 triliun.
Sedang tahun 2002 terbentuk tabungan pemerintah Rp 186,19 triliun,
karena penerimaan dalam negeri Rp 304,89 triliun sedang pengeluaran
rutin turun menjadi Rp 200,38 triliun.
2. APBN sebagai Alat Stabilisasi Ekonomi
• Pemerintah Orde Baru telah menentukan beberapa kebijaksanaan di
bidang anggaran belanja dengan tujuan mempertahankan stabilitas proses
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Tindakan-tindakan ini dapat
diringkas sebagai berikut :
1) Anggaran belanja dipertahankan
agar seimbang dalam arti bahwa pengeluaran total tidak melebihi
penerimaan total.
2) Tabungan pemerintah
diusahakan meningkat dari waktu ke waktu dengan tujuan agar mampu
menghilangkan ketergantungan terhadap bantuan luar negeri sebagai
sumber pembiayaan pembangunan.
3) Basis perpajakan diusahakan
diperluas secara berangsur-angsur dengan cara mengintensifkan
penaksiran pajak dan prosedur pengumpulannya.
4) Prioritas harus diberikan kepada
pengeluaran-pengeluaran produktif pembangunan, sedang pengeluaran-
pengeluaran rutin dibatasi. Subsidi kepada perusahaan-perusahaan
negara dibatassi.
5) Kebijaksanaann anggaran
diarahkan pada sasaran untuk mendorong pemanfaatan secara maksimal
sumber-sumber dalam negeri.
(Anne Booth dan Peter McCawley, 1990)
• Relasi ekonomi antara pemerintah dengan perusahaan dan rumah
tangga terutama melalui pembayaran pajak dan gaji, pengeluaran
93
konsumsi, dan pemberian subsidi seperti diilustrasikan secara
sederhanapada gambar di bawah ini :
94
Ekonomi Makro dengan Tiga Kelompok Pelaku Ekonomi :
pemerintah, Perusahaan dan Rumah Tangga
• Dalam sistem ekonomi tertutup tidak ada perdagangan (ekspor dan
impor)
• Tujuan kebijakan fiskal adalah kestabilan ekonomi yang lebih mantap
artinya tetap mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi yang layak tanpa
adanya pengangguran yang berarti atau adanya ketidakstabilan harga-harga
umum. Dengan kata lain tujuan kebijakan fiskal adalah pendapatan
nasional riil terus meningkat pada laju yang dimungkinkan oleh perubahan
teknologi dan tersedianya faktor-faktor produksi dengan tetap
mempertahankan kestabilan harga-harga umum (Sumarmoko, 1992).
• Kebijakan fiskal tercermin pada volume APBN yang dijalankan
pemerintah, karena APBN memuat rincian seluruh penerimaan dan
pengeluaran pemerintah. Dengan demikian APBN dipakai oleh pemerintah
alat stabilisasi ekonomi.
• Anggaran yang tidak seimbang akan bisa berpengaruh terhadap
pendaptan nasional. Perubahan pendapatan nasional (tingkat penghasilan)
akan ditentukan oleh besarnya angka multplier (angka pengganda). Angkap
engganda ditentukan oleh besarnya marginal propensity to consume
investasi (I) dan konsumsi ( C ) adalah 1/(1-MPC), sedangkan untuk lump-
sum tax (Tx) dan pembayaran transfer (Tr) adalah MPC/(1-MPC).
• Contoh hipotesis :
Misalkan suatu APBN defisit, dimana Tax (penerimaan) sebesar 10 satuan,
G (pengeluaran) sebesar 15 satuan, sedang MPC diketahui 4/5, maka :
- Dengan Tax sebesar 10 satuan, pendapatan nasional akan berkurang
sebesar 0,8/(1-0,8)10 = 40 satuan
95
Gaji
Pajak
Subsidi
Subsidi
Konsumsi
Pajak
Pemerintah
Rumah
Tangga
Tabungan
Kredit
Tabungan
Investasi
Lembaga
Keuangan
Perusahaan
- Dengan G sebesar 15 satuan, pendapatan nasional akan bertambah
sebesar 1/(1-0,8)15 = 75 satuan
- Jadi anggarann defisit tersebut akan menghasilkan tambahan
pendapatan nasional sebesar :
(∆ Y) = (∆ G) – (∆ Tx) = 75 satuan – 40 satuan = 35 satuan.
3. Dampak APBN terhadap Perekonomian
Ada beberapa cara untuk menggolongkan pos-pos penerimaan dan pengeluaran
yang masing-masing menghasilkan tolok ukur yang berbeda mengenai dampak
APBN nya. Tergantung pada tujuan analisa kita, suatu tolok ukur mungkin
lebih cocok dari tolok ukur yang lain. Ada empat tolok ukur dampak APBN,
yaitu : saldo anggaran keseluruhan konsep nilai bersih,d efisit domestik dan
defisit moneter (Anne Booth dan Peter McCawley, 1990).
a. Saldo Anggaran Keseluruhan
• Konsep ini ingin mengukur besarnya pinjaman bersih pemerintah
dan didefinisikan sebagai :
G – T = B = Bn + Bb + Bf ………………………… (1)
Catatan :
G = Seluruh pembelian barang dan jasa (didalam maupun luar
negeri), pembayaran transer dan pemberian pinjaman bersih.
T = Seluruh penerimaan, termasuk penerimaan pajak dan bukan
pajak
B = Pinjaman total pemerintah
Bn = Pinjaman pemerintah dari masyarakat di luar sektor perbankan
Bb = Pinjaman pemerintah dari sektor perbankan
Bf = Pinjaman pemerintah dari luar negeri
• Pemerintah Orba tidak mengeluarkan obligasi kepada masyarakat,
maka saldo anggaran keseluruhan menjadi :
G – T = B = Bb + Bf ……………………………………… (2)
• Tapi APBN di masa Orba dicatat demikian rupa sehingga menjadi
anggaran berimbang :
G – T – B = 0 ……………………………………… (3)
• Sejak APBN 2000 saldo anggaran keseluruhann defisit dibiayai
melalui:
- Pembiayaan Dalam Negeri :
 Perbankan Dalam Negeri
 Non Perbankan Dalam Negeri
- Pembiayaan Luar Negeri Bersih
96
 Penarikan pinjaman luar negeri (bruto)
 Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri
b. Konsep Nilai Bersih
• Yang dimaksud defisit menurut konsep nilai bersih
adalah saldo dalam rekening lancar APBN. Konsep ini digunakan untuk
mengukur besarnya tabungan yang dicipotakan oleh sektor pemerintah,
sehingga diketahui besarnya sumbangan sektor pemerintah terhadap
pembentukan modal masyarakat.
• Peningkatan tabungan pemerintah penting bagi
Idnoensia untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya
pembangunan (utang) dari luar negeri. Namun kelemahan konsep ini
hanya mengukur pembentukan modal pemerintah berupa penambahan
jumlah aktiva fisik (dalam pos “pengeluaran Pembangunan”), tidak
memperhitungkan pembentukan modal manusiawi (dalam pos
“pengeluaran Rutin”) seperti gaji guru, dokter, dan lain-lain
pengeluaran lancar.
c. Defisiti Domestik
• Saldo anggaran keseluruhan tidak merupakan tolok ukur yang tepat
bagi dampak APBN terhadap pereknomian dalam negeri maupun
erhadap neraca pembayaran. Anne Booth mengemukakan perlunya
dippisahkan dua dampak APBN yang berbeda terhadap permintaan
agregat (G – T), yaitu pengaruhnya terhadap GDP dan pengaruhnya
terhadap neraca pembayaran.
• Bila G dan T dipecah menjadi dua bagian (dalam negeri dan luar
negeri)
G = Gd + Gf
T = Td + Tf, maka persamaan (2) di atas menjadi
(Gd – Td) + (Gf – Tf) = + Bf
(Gd – Td) = dampak langsung putaran pertama terhadap PDB
(Gf – Tf) = dampak langsaung putaran pertama terhadap neraca
pembayaran.
(Anne Booth dan Peter McCawley, 1990)
• Anwar Nasution menguraikan tentang orientasi domestik dan
orientasi domestik dan orientasi luar negeri dengan persamaan
anggaran berimbang sebagai berikut ;
G = R ……………. (1) Gf + Gd = Rf + Rd …………. (4)
G = Gf + Gd …….. (2) Gd – Rd = Rf – Gf …………. (5)
R = Rf + Rd ……... (3) Gd = G – Gf …………. (6)
Rd = R – Rf …………. (7)
Keterangan :
G = total pengeluaran, R = Total penerimaan
Gf = bunga/cicilan utang luar negeri + lainnya
Gd = pengeluaran rutin murni + pengeluaran pembangunan
97
Rf = penerimaan migas + penerimaan pembangunan (utang luar negeri)
Rd = penerimaan non migas
Gf + Gd = Rf + Rd, menunjukkan anggaran berimbang
Gd – Rd = Rf – Gf, menunjukkan defisit anggaran Dn (Gd – Rd) sama
atau ditutup dengan surplus (Rf – Gf) anggaran LN
G – Gf = pengeluaran netto domestik
R – Rf = penerimaan netto domestik
• Defisit Anggaran DN (gd – Rd) dalam rupiah dibiayai dengan
surplus anggaran Ln (rf – Gf) dalam valuta asing, penukaran semacam
ini akan menambah jumlah uang beredar (melalui penambahan base
money atau uang primer) jika devisa tadi dibeli langsung oleh Bank
Indonesia ataupun bank komersial dengan menciptakan uang giral.
(Anwar Nasution, 1995).
d. Defisiti Moneter Indonesia
• Konsep ini banyak digunakan dikalangan pejabat-pejabat keuangan
dan perbankan Indonesia terutama angka-angka yang mengukur defisit
anggaran belanja ini diterbitkan oleh Bank Idnoensia (sebagai data
mengenai “faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar”).
Menurut definisi ini, defisit dikur sebagai posisi bersih (netto)
pemerintah terhadap sektor perbankan :
G – T – Gf – Gb Karena Bn = 0 (saat itu)
• Di dalam konsep ini bantuan luar negeri dianggap sebagai
penerimaan, diperlakukan sebagai pos yang tidak mempengaruhi posisi
bersih: bantuan luar negeri tidak dilihat fungsinya sebagai sumber dana
bagi kekurangan pembiayaan pemerintah, tetapi sebagai pos
pengeluaran yang langsung dikaitkan dengan sumber pembiayaannya.
(Anne Booth dan Peter McCawley, 1990).
e. Dampak APBN terhadap Sektor Riil, Moneter, Neraca Pembayaran
Bank Indonesia dalam laporan tahunannya menyajikan perhitungan
dampak APBN terhadap sektor riil (permintaan dalam negeri), sektor
moneter (espansi rupiah pada uang beredar) dan neraca pembayaran (aliran
deivsa) lihat lampiran 1,2,3,4.
1) Dampak APBN terhadap sektor
Riil
• Stimulus fiskal, melalui pengeluaran konsumsi dan investsai
pemerintah tahun 2002 diperkirakan mencapai 11,8% dari PDB,
dibawah target yang ditetapkan sebesar 12,5% (Rp 211,26 triliun).
• Selain melakukannn stimulasi fiskal, pemerintah juga melakukan
transfer ke sektor sasta dalam bentuk pembayaran bunga utang
dalam negeri dan subsidi.
2) Dampak Terhadap Sektor
Moneter
98
• Selama tahun 2002 operasi keuangan pemerintah (rupiah)
diperkirakan menimbulkan ekspansi bersih pada uang beredar
sebesar Rp 19,5 triliun. Angka ini lebih tinggi sekitar 26,7% dari
rencana semula karena tidak tercapainya penerimaan pajak dan
lebih tingginya realisasi pembayaran bunga utang dalam negeri.
• Dibandingkan tahun 2001, maka ekspansi moneter tahun 2002
mengalam penurunan dari Rp 32,2 triliun menjadi Rp 19,5 triliun
berkat penurunan yang tajam pembayaran subsidi dari Rp 77,4
triliun menjadi Rp 40.0 triliun.
3) Dampak APBN terhadap Neraca
Pembayaran
• Selama tahun 2002 operasi keuangan pemerintah (valuta asing)
diperkirakan menghasilkan aliran devisa masuk bersih setara Rp
24,3 trilun, lebih besar dari jumlah ekspansi rupiah (Rp 19,5
triliuan).
• Dari perbandingan dampak rupiah dan valas di atas terlihat
bahwa aliran deisa masuk bersih sektor pemerintah lebih besar dari
ekspansi rupiah bersih sehingga memungkinkan Bank Indonesia
untuk menyerap seluruh ekspansi rupiah tersebut melalui sterilisasi
valas.
B. STRUKTUR DAN SUSUNAN
APBN
• Struktur dan susunan APBN sejak tahun 1999 berbeda dengan tahun-tahun
sebelumnya, karena disusun berdasarkan prinsip anggaran tidak seimbang
(anggaran defisit), di mana sumber penerimaan dan sumber pembiayaan
dipisahkan dengan tegas pada pos-pos yang berbeda.
• Anggaran defisit lazim digunakan oleh negara yang mengacu pada
government Financial Statistik (GFS), seperti Jepang. Dalam APBN
sebelumnya, pos untuk menutup defisit berasal dari utang luar negeri (disebut :
penerimaan pembangunan) yang dibukukan pada os penerimaan. Dalam APBN
tahun 1999, utang luar negeri dimasukkan pada pos : pembiayaan defisit.
• Dalam APBN tahun 1999, besarnya defisit dinyatakan secara ekplisit pada
pos “surplus/ defisit anggaran” dan ditutup dengan sumber-sumber yang
dinyatakan pada pos “pembiayaan bersih”. Dengan demikian APBN lebih
transparan, DPR lebih mudah melakukan review dan pemerintah lebih mudah
melakukan konsultasi.
• Struktur dan susunan APBN 2002 terlihat seperti dibawah :
(lihat lampiran : operasi keuangan pemerintah)
A. Pendapatan Negara dan Hibah
1. Penerimaan Pajak
2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBK)
B. Belanja Negara
a. Belanja pemerintah pusat
1. Pengeluaran Rutin
99
2. Pengeluaran Pembangunan
b. Anggaran Belanja untuk Daerah
1. Dana perimbangan
2. Dana otonomi khusus dan penyeimbang
C. Keseimbangan Primer Perbedaan Statistik
D. Surplus/ Defisit Anggaran
E. Pembiayaan
1. Pembiayaan dalam negeri
1) Perbankan Dalam Negeri
2) Non-Perbankan dalam negeri
a. Privatisasi
b. Penjualan aset program restruk perbankan
c. Penjualan obligasi pemerintah
2. Pembiayaan Luar Negeir (Neto)
1) Penarikan pinjaman Ln
(bruto)
a. Pinjaman program
b. Pinjaman proyek
2) Pembayaran cicilan pokok
utang luar negeri
C. PRINSIP-PRINSIP DALAM APBN
Sejak Orde Baru mulai membangun, APBN kita disusun atas dasar tiga prinsip :
prinsip anggaran berimbang (balance budget), prinsip anggaran dinamis dan prinsip
anggaran fungsional. Masing-masing prinsip ini dapat diukur dengan cara
perhitungan tertentu (Susento, 1995).
Namun sejak tahun 1999 tidak lagi digunakan prinsip anggaran berimbang dalam
menyusun APBN. APBN disusun berdasarkan prinsip anggaran defisit.
1. Prinsip Anggaran Defisit
• Bedanya dengan prinsip anggaran berimbang adalah bahwa pada
anggaran defisit ditentukan :
(1) Pinjaman LN tidak dicatat sebagai sumber
penerimaan melainkan sebagai sumber pembiayaan.
(2) Defisit anggaran ditutup dengan sumber
pembiayaan DN + sumber pembiayaan LN (bersih)
• Sebagai perbandingan dapat diringkas sebagai berikut :
Anggaran Defisit Anggaran Berimbang
PNH – BN = DA PDN – PR = TP
DA = PbDN + PbLN DAP = AP – TP
PbDN = PkDN + Non – Pk DN
PbLN = PPLN – PC PULN
Keterangan : Keterangan :
PNH = pendapatan negara PDN = Pendapatan DN
dan hibah PR = pengeluaran rutin
BN = belanja negara TP = tabungan pemerintah
DA = defisit Anggaran DAP = defisit anggaran pembangunan
100
PbDN = pembiayaan DN AP = anggaran pembangunan
PkDN = Perbankan DN BLN = bantuan luar negeri
Non-PkDN = Non-Perbankan DN
PbLN = pembiayaan LN
PPLN = penerimaan pinjaman LN
PCPULN = pembayaran cicilan pokok Utang luar Negeri
2. Prinsip Anggaran Dinamis
• Ada anggaran dinamis absolut dan anggaran dinamis relatif. Anggaran
dikatakan bersifat dinamis absolut apabila TP dari tahun ke tahun terus
meningkat. Anggaran bersifat dinamis relatif apabila prosentase kenaikan
TP (∆ TP) terus meningkat atau prosentase ketergantungan pembiayaan
pembangunan dari pinjaman luar negeri terus menurun.
• Anggaran dinamis relatif dapat dihitung dengan cara :
(1) Prosentase perubahan TP (∆ TP)
TP
x
- TP
(x-1)

∆ TP = ---------------------- . 100%
TP
(x-1)
(2) Prosentase Ketergantungan Pembiayaan
BLN
B
i
= -------------- . 100%
∆ P
Keterangan :
TP
z
= tabungan pemerintah tahun x
TP
(x-1)
= tabungan pemerintah tahun sebelumnya
B
1
= tingkat ketergantungan pembiayaan dari bantuan LN
3. Prinsip Anggaran Fungsional
• Anggaran fungsional berarti
bahwa bantuan/ pinjaman LN hanya berfungsi untuk membiayai anggaran
belanja pembangunan (pengeluaran pembangunan) dan bukan untuk
membiayai anggaran belanja rutin. Prinsip ini sesuai dengan azas “bantuan
luar negeri hanya sebagai pelengkap” dalam pembiayaan pembangunan.
Artinya semakin kecil sumbangan bantuan/ pinjaman luar negeri terhadap
pembiayaan anggaran pembangunan, maka makin besar fungsionalitas
anggaran.
• Di sini perlu kiranya diberi tolok
ukur kuantitatif untuk menentukann sampai seberapa jauh makna kata
“sebagai pelengkap” misalnya :
1) Bila nilai R
i
: > 50% = bantuan/pinjaman luar negeri sebagai sumber
daya utama
101
2) Bila nilai R
i
: 20% - 50% = bantuan/ pinjaman luar negeri sebagai
sumber dana penting.
3) Bila nilai R
i
: < 20% = bantuan/ pinjaman luar negeri sebagai sumber
dana pelengkap
• Pada tahun 1974/1975 nilai R
i
sebesar 213,9% (terkecil) dan tahun 1988/ 1989 nilainya 81,5% (terbesar).
Selama Pelita I sampai Pelita V, rata-rata nilai R
i
sebesar 46,3%. Jadi
selama 25 tahun membangun, bantuan/ pinjaman luar negeri masih
merupakan sumber dana yang penting bagi pembiayaan pembangunan di
Indonesia.
102
D. INSTRUMEN DAN ANALISIS
KEBIJAKAN FISKAL
• Karena disadari adanya pengaruh-pengaruh penerimaan maupun
pengeluaran pemerintah terhadap besarnya pendapatan nasional, maka timbul
gagsan untuk dengan sengaja mengubah-ubah pengeluaran dan penerimaan
pemerintah guna mencapai kestabilan ekonomi. Teknik mengubah pengeluaran
dan penerimaan pem,erintah inilah yang kita kenal dengan kebijakan fiskal
(Suparmoko, 1992).
• Bagaimaan pemerintah melakukan kebijakan fiskal tergantung pada kondisi
(perkembangan) ekonomi dan tujuan yagningin dicapai. Ada beberapa
kebijakan fiskal yang masing-masing akan menentukan yang digunakan.
1. Instrumen Kebijakan Fiskal
1) Pembiayaan fungsional
• Pengeluaran
pemerintah ditentukan dengan melihat akbiat-akibat tidak langsung
terhadap pendapatan nasional.
• Pajak dipakai untuk
mengatur pengeluaran swasta, bukan untuk meningkatkan penerimaan
pemerintah.
• Sedang pinjaman
dipakai sebagai alat untuk menekan inflasi lewat pengurangan dana
yang ada di masyarakat.
2) Pengeluaran Anggaran
• Pengeluaran pemerintah, perpajakan dan pinjaman dipergunakan
secara terpadu untuk mencapai kestabilan ekonomi.
• Dalam jangka panjang diusahakan adanya anggaran belanja
seimbang. Namun pada masa depresi digunakan anggaran defisit,
sedang dalam masa inflasi digunakan anggaran belanja surplus.
2. Analisis Kebijakan Fiskal
• Kebijakan fiskal
tahun anggaran 1999/2000 diarahkan pada empat sasaran utama : (Laporan
Bank Indonesia tahun 1999)
1) Menciptakan stimulus fiskal
Guna menciptakan stimulus fiskal dengan sasaran penerimaan manfaat
yang lebih tepat, pemerintah telah mengeluarkan peraturan-peraturan
administratif dan menciptakan mekanisme penyaluran dana secara
transparan (dana JPS)
2) Memperkuat Basis Penerimaan
Upaya memperkuat basis penerimaan ditempuh melalui perbaikan
administrasi dan struktur pajak, ekstensifikasi penerimaan pajak dan
bukan pajak, seperti penjualan saham BUMn, penjualan asset BPPN.
3) Mendukung Program Rekapitalisasi Perbankan
103
Upaya untuk menunjang program rekapitalisasi dan penyehatan
perbankan dilakukan dengan memasukkan biaya restruktursiasi
perbankan ke dalam APBN.
4) Mempertahankan Prinsip Pembiayaan Defisit
• Pemerintah tetap memeprtahankan prinsip untuk
tidak menggunakan pembiayaan defisit anggaran dari bank sentral
dan bank-bank di dalam negeri.
• Pemerintah tetap mengupayakan pinjaman dari
luar negeri, yang diperboleh dari lembaga keuangan internasional
seperti bank Dunia, ADB, dan OECF serta sejumlah negara sahabat
secara bilateral, terutama dalam kerangka CGI.
• Dengan menempuh
kebijakan fiskal seperti di atas, secara keseluruhan operasi keuangan
pemerintah sampai dengan Desember 1999 mencapai defisit sebesar Rp 3,2
triliun atau 4% dari pada PDB.
• Dalam tahun 2002,
kebijakan keuangann negara diarahkan pada upaya untuk mewujudkann
ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability). Untuk itu ada
dua langkah strategis yang tergambar dalam penyusunan APBN 2002.
1) Mengupayakan volume dan rasio defisit anggaran
terhadap PDB menurun
2) Menurunkan Rasio posisi utang pemerintah – baik
utang dalam negeri maupun utang luar negeri terhadap PDB.
• Oleh karena itu
pemerintah mempersiapkan langkah-langkah guna meningkatkan
pendapatan negara, mengendalikan belanja negara, dan mengoptimalkan
pilihan pembiayaan defisit anggaran.
1) Penurunan defisit anggaran
diupayakan dengan meningkatkan penerimaan terutama dengan
mengoptimalkan penghimpunan pajak melalui perluasan basis pajak
dan lebih mengefisienkan pengeluaran.
2) Disisi pembiayaan,
pemerintah berupaya mengoptimalkan hasil penjualan aset program
restrukturisasi perbankan.
3) Dari penjualan aset program
restrukturisasi perbankan dan privatrisasi, pemerintah menggunakan
sebagian hasilnya untuk mengurangi posisi utang dalam negeri.
(Laporan Bank Indonesia tahun 2001)
• Dengan langkah-
langkah kebijakan fiskal seperti di atas, maka realisasi APBN 2002
mencatat defisit anggaran sebesar Rp 27,67 trilin (1,66% dari PDB)
menurun dibandingkan defisit APBN 2001 sebesar Rp 40,48 triliun (2,72%
dari PDB).
SURAT UTANG NEGARA (SUN)
104
Pada tahun 2002 pemerintah memberlakukan Undang-Undang No. 24 Tahun 2002
tentang Surat Utang Negara (SUN). Sebelum undang-undang ini disahkan, istilah
Surat Utang Negara lebih dikenal sebagai obligasi pemerintah.
Beberapa point yang penting mengenai SUN adalah :
1) Tema pokok UU SUN adalah memberikan
“standing appropriation”, yaitu jaminan pemerintah kepada pasar untuk
membayar semua kewajiban pokok dan bunga utang yang timbul akibat
penerbitan SUN.
2) Surat Utang Negara terdiri dari Surat
Perbendaharaan Negara (SPN) semacam T-Bills di AS dan Obligasi Negara
(ON)
• SPN merupakan SUN
berjangka waktu sampai dengan 12 bulan dengan pembayaran bunga secara
diskonto (mirip SBI)
• ON merupakan SUN berjangka
waktu lebih dari 12 bulan dengan kupon dan/ atau pembayaran bunga
secara diskonto.
3) Tujuan penerbitan SUN adalah :
(a) Membiayai
defisit APBN
(b) Menutup
kekurangan kas jangka pendek akibat ketidaksesuaian awntara arus kas
penerimaan dan pengeluaran pada rekening kas negara dalam satu tahun
anggaran
(c) Mengelola
portofolio utang negara.
VI.3. DAFTAR BACAAN
Suparmoko (1992), Keuangan Negara, Teori dan Praktek, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Triyono Widodo, Suseno Hg. (1995), Indikator Ekonomi, Dasar Perhitungan
Perekonomian Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Booth, Anne dan McCawley, Peter (1990), “Kebijaksanaan Fiskal” dalam Anne Booth
dan Peter McCawley (Ed), Ekonomi Orde Baru, LP3ES.
Nasution, Anwar (1995), “Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara Setelah
Kenaikan Migas”, dalam Anwar Nasution (ed), Peluang dan Tantangan
Pembangunan Ekonomi Sampai 1989, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta.
Laporan Bank Indonesia tahun 1997/1998, 1998/1999, 2000, 2001, 2002
105
Lampiran 1
Realisasi APBN Tahun 2001, 2002
Operasi Keuangan Pemerintah
2001 2002
Uraian APBN-PAN APBN APBN-P Realisasi
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Perubahan
A.
Pendapatan negara dan hibah
F.
Penerimaan Dalam Negeri
1. Penerimaan Pajak
2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP)
II. Hibah
B.
Belanja Negara
I. Belanja pemerintah pusat
1. Pengeluaran rutin
2. Pengeluaran pembangunan
II. Aanggaran belanja untuk daerah
1. Dana perimbangan
2. Dana otonomi khusus & penyeimbang
C.
Keseimbangan Primer
Perbedaan statistik
D.
Surplus/ (Defisit ) Anggaran
E.
Pembiayaan
I. Pembiayaan Dalam Negeri
301,08
300,50
185,54
115,06
0,48
341,56
260,51
218,92
41,59
81,05
81,05
-
46,66
0,00
(40,18)
40,49
30,22
(1,23)
(1,23)
-
-
31,45
3,47
20,19
20,16
12,44
7,72
0,03
22,91
17,74
14,68
2,79
5,44
5,44
-
3,13
-
(2,72)
2,72
2,03
(0,08)
(0,08
-
-
2,11
0,23
801,87
301,87
219,63
92,25
-
344,01
17,47
193,74
52,30
97,97
94,53
3,44
46,36
0,00
(42,14)
42,13
23,50
-
-
-
-
23,50
3,95
17,91
17,91
13,03
1,86
-
20,41
14,60
11,50
3,10
5,81
5,61
0,20
2,75
-
(2,50)
2,50
1,39
-
-
-
-
1,39
0,23
305,15
304,89
214,71
90,18
0,26
345,60
247,80
200,38
47,41
97,81
94,04
3,77
5,08
0,00
(40,46)
40,45
24,19
0,20
0,20
-
-
23,99
4,44
17,78
17,76
12,51
5,25
0,01
20,13
14,44
11,67
2,6
5,70
5,48
0,22
2,98
-
(2,36)
2,36
1,41
0,1
0,01
-
-
1,40
0,26
300,19
299,69
210,95
88,93
0,30
327,86
329,34
189,07
40,27
98,52
94,76
3,76
62,19
(0,00)
(27,68)
27,68
20,56
(4,71)
(4,71)
-
-
25,27
7,66
18,00
17,98
12,65
5,30
0,02
19,66
13,75
11,34
2,41
5,91
5,68
0,23
3,73
-
(1,66)
1,66
1,23
(0,23)
(0,28)
-
-
1,52
0,46
(0,20)
(2,18)
0,20
(2,38)
(0,01)
(3,25)
(3,72)
(3,35)
(0,31)
0,47
0,25
0,23
0,50
-
1,06
(1,06)
(0,79)
(0,20)
0,20)
-
-
(0,59)
0,23
106
1. Perbankan Dalam Negeri
a. Otoritas Moneter
b. Kredit/ pinjaman sektor perbankan
c. Koreksi Moneter
2. Non Perbankan Dalam Negeri
a. Privatisasi
b. Penualan Aset program restruk. perbankan
c. Penjualan obligasi pemerintah
II. Pembiayaan luar negeri (Neto)
1. Penarikan pinjaman LN (bruto)
a. Pinjaman program
b. Pinjaman proyek
2. Pembayaran Cicilan pokok utang LN
27,98
-
10,27
26,15
6,42
19,74
(15,88)
1,88
-
0,69
1,75
0,43
1,32
(1,07)
19,35
-
18,63
35,36
9,53
25,83
(16,73)
1,16
-
1,11
2,10
0,57
1,53
(0,99)
19,55
-
16,26
29,31
9,35
19,96
(13,05)
1,14
-
0,95
1,71
0,54
1,16
(0,76)
19,55
(1,94)
7,12
19,37
7,04
12,33
(12,26)
1,17
(0,12)
0,43
1,16
0,42
0,74
(0,73)
(0,70)
(0,70)
(0,26)
(0,59)
(0,01)
(0,58)
0,33
1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember
2001 yang telah diaudit
2) APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi
3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi
IV, Januari 2003)
4) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB
dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB
Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)
(Dikutip : Laporan Bank Indonesia 2002)
Lampiran 2
Dampak APBN Terhadap Sektor Riil Stimulasi Fiskal
2001 2002
Uraian APBN-PAN APBN APBN-P Realisasi
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Perubahan
I. Konsumsi Pemerintah
Belanja Pegawai dalam negeri
Belanja Barang Dalam Negeri
Dana Alokasi Umum
Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang
Pengeluaran Rutin Lainnya
II. Pembentukan Modal Domestik Bruto
Pembiayan Dalam Rupiah
Bantuan Proyek
Dana Alokasi Umum
Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus
III. Jumlah I + II
Memo Items: Pembayaran Transfer
a. Bunga Utang Dalam Negeri
b. Subsidi
102,87
38,76
9,93
45,53
-
5,69
74,11
21,37
20,21
11,82
20,71
176,98
135,64
58,20
77,44
6,90
2,60
0,67
3,25
-
0,38
4,97
1,43
1,36
0,79
1,39
11,87
9,10
3,90
5,19
120,01
39,80
11,71
56,58
3,44
9,49
91,25
25,47
25,83
13,53
25,42
211,26
101,11
59,52
41,59
7,12
2,36
0,09
3,30
0,20
0,56
5,41
1,57
1,53
0,80
1,51
12,54
6,00
3,53
2,47
122,61
40,65
12,71
55,58
3,77
10,11
85,87
27,19
20,22
13,53
24,92
208,69
105,85
63,21
42,64
7,16
2,37
0,74
3,24
0,22
0,59
5,00
1,58
1,18
0,79
1,45
72,16
6,17
3,68
2,48
117,06
33,79
11,64
55,60
3,76
7,08
79,44
27,64
12,63
13,54
25,63
196,49
104,47
64,46
40,01
7,02
2,33
0,71
3,33
0,23
0,42
4,76
1,66
0,76
0,81
1,54
11,78
6,26
3,86
2,40
0,12
(0,27)
0,04
0,08
0,23
0,04
(0,21)
0,22
(0,60)
0,02
0,15
(0,09)
(2,83)
(0,04)
(0,80)
1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit
2) APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi
3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003)
4) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam
APBN-PAN 2001 terhadap PDB
Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)
(Dikutip : Laporan Bbank Indonesia, 2002)
Belanja Negara
2001 2002
Uraian APBN-PAN APBN APBN-P Realisasi
107
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Perubahan
B.
Belanja Negara
I. Belanja pemerintah pusat
1. Pengeluaran rutin
a. Belanja Pegawai
b. Belanja Barang
c. Pembayaran Bunga Utang
i. Utang Dalam Negeri
ii. Utang Luar Negeri
d. Subsidi
i. Subsidi BBM
ii. Subsidi Non BBM
- Pangan
- Listrik
- Bung Kredit Program
- Lainnya
e. Pengeluaran Rutin Lainnya
2. Pengeluaran pembangunan
a. Pembiayaan Pembangunan RUiah
b. Pembiayaan proyek (termasuk hibah)
II. Anggaran Belanja untuk Daerah
1. Dana Perimbangan
a. Dana Bagi Hasil
b. Dana Alokasi Umum
a. Dana Alokasi Khusus
2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang
341,56
260,51
218,92
38,71
9,93
87,14
58,20
28,95
77,44
68,38
0,06
-
-
-
-
5,69
41,59
21,37
20,21
81,05
81,05
20,01
60,35
0,70
-
22,91
17,47
14,68
2,60
0,67
5,84
3,90
1,94
5,19
4,59
0,61
-
-
-
-
0,38
2,79
1,43
1,36
5,44
5,44
1,34
4,05
0,05
-
344,01
246,04
193,74
41,30
12,96
88,50
59,52
28,98
41,59
30,36
11,21
4,70
4,11
2,20
0,20
9,49
52,30
26,47
25,83
97,97
94,53
24,60
69,11
0,82
3,44
20,41
14,60
11,50
2,45
0,76
5,25
3,53
1,72
2,47
1,80
0,67
0,28
0,24
0,13
0,01
0,56
3,10
1,57
1,53
5,81
5,61
1,46
4,10
0,05
0,20
345,60
2,47,80
200,38
42,20
13,90
91,54
63,21
28,32
42,64
31,16
11,47
4,70
4,10
2,47
0,20
10,11
47,41
27,19
20,22
97,61
94,04
24,27
69,11
0,66
3,77
20,13
14,44
11,67
2,46
0,81
5,33
3,68
1,65
2,48
1,82
0,67
0,27
0,24
0,14
0,01
0,59
2,76
1,58
1,18
5,70
5,48
1,41
4,03
0,04
0,22
327,86
229,34
189,07
39,69
12,43
89,87
64,46
25,41
40,01
31,16
8,84
-
-
-
-
7,08
40,27
27,64
12,63
98,52
94,76
24,99
69,14
0,64
3,76
19,66
13,75
11,34
2,38
0,75
5,39
3,86
1,52
2,40
1,87
0,53
-
-
-
-
0,42
2,41
1,66
0,76
5,91
5,68
1,50
4,15
0,04
0,23
(3,25)
(3,72)
(3,35)
(0,22)
0,08
(0,46)
(0,04)
(0,42)
(0,80)
(2,72)
(0,08)
-
-
-
-
0,04
(0,37)
0,22
(0,60)
0,47
0,25
0,16
0,10
(0,01)
0,23
1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit
2) APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi
3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003)
4) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam
APBN-PAN 2001 terhadap PDB
Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)
(Dikutip : Laporan Bbank Indonesia, 2002)
Lampiran 3
Dampak APBN terhadap Sektor Moneter
Dampak Rupiah Keuangan Pemerintah APBN 2002
2001 2002
Uraian APBN-PAN APBN APBN-P Realisasi
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Perubahan
A.
Penerimaan Rupiah
Pajak
Migas
Non Migas
Bukan Pajak
Privatisasi
Penjualan Aset Program Retrukturisasi Perbankan
Penjualan Obligasi Pemerintah
Jumlah Penerimaan
B.
Pengeluaran Rupiah
Operasional
Belanja Pegawai Dalam Negeri
Subsidi
Bunga Utang dalam Negeri
Pengeluaran Rutin Lainnya
Investasi
Dana Perimbangan
Jumlah Pengeluaran
23,10
162,44
60,55
0,99
17,20
-
264,27
(189,98)
(38,71)
(77,44)
(58,20)
(15,62)
(25,41)
(81,05)
(296,45)
0,00
1,53
10,89
4,06
0,07
1,15
-
17,72
(12,74)
(2,60)
(5,19)
(3,90)
(1,05)
(1,70)
(5,44)
(19,86)
15,68
203,94
43,92
1,13
12,02
-
276,29
(162,11)
(38,80)
(41,59)
(59,52)
(21,20)
(31,64)
(97,97)
(291,71)
0,00
0,93
12,10
2,58
0,07
0,71
-
15,39
(9,62)
(2,36)
(2,47)
(3,53)
(1,26)
(1,88)
(5,81)
(17,31)
16,11
196,32
47,61
1,27
12,02
-
273,33
(169,31)
(40,65)
(42,64)
(63,21)
(22,82)
(31,24)
(97,81)
(288,36)
0,00
0,94
11,44
2,77
0,07
0,70
-
15,92
(9,86)
(2,37)
(2,48)
(3,68)
(1,33)
(1,82)
(5,70)
(17,38)
17,22
191,46
50,38
2,19
12,02
(1,94)
271,32
(162,17)
(38,79)
(40,01)
(64,46)
(18,91)
(30,17)
(98,52)
(290,86)
(0,00)
1,03
11,48
3,02
0,13
0,72
(0,12)
15,27
(9,72)
(2,33)
(2,40)
(3,80)
(1,13)
(1,81)
(5,91)
(17,44)
(0,52)
0,58
(1,04)
0,06
(0,43)
(0,12)
(1,46)
3,02
0,27
2,80
0,04
(0,09)
(0,10)
(0,47)
2,44
108
C.
Perbedaan Statistik
D.
Dampak Rupiah
(32,17) (2,16) (15,42) (0,92) (25,03) (1,46) (18,54) (1,17) 0,99
1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember
2001 yang telah diaudit
2) APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi
3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV,
Januari 2003)
4) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan
pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB
Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)
(Dikutip : Laporan Bbank Indonesia, 2002)
Lampiran 4
Dampak APBN terhadap Neraca Pembayaran
Dampak Valuta Asing Keuangan Pemerintah APBN 2002
2001 2002
Uraian APBN-PAN APBN APBN-P Realisasi
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Nominal %thd
PDB
Perubahan
A.
Transaksi Berjalan
Neraca Barang
Ekspor Migas
Impor Bantuan Proyek
Neraca Jasa
Utang Luar Negeri
Pembayaran Bunga Utang Luar Negeri
Belanja Pegawai Negeri
Belanja Barang Luar Negeri
Penerimaan PPh Non Migas
9,88
38,34
54,51
(16,17)
(28,47)
(28,95)
-
-
-
0,48
0,66
2,57
3,66
(1,08)
(1,91)
(1,94)
-
-
-
0,03
(13,57)
18,07
38,73
(20,66)
(31,63)
28,,98)
(1,50)
(1,16)
-
-
(0,80)
1,07
2,30
(1,23)
(1,88)
(1,72)
(0,09)
(0,07)
-
-
(2,14)
26,39
42,57
(16,18)
(28,53)
(28,32)
(1,56)
(1,19)
2,28
0,26
(0,12)
1,54
2,46
(0,94)
(1,66)
(1,65)
(0,90)
(0,07)
0,13
0,01
4,13
28,45
38,56
(10,11)
(24,32)
(25,41)
(0,90)
(0,60)
2,28
0,30
0,25
1,71
2,31
(0,61)
(1,46)
(1,52)
(0,05)
(0,04)
0,14
0,02
(0,41)
(0,87)
(1,34)
0,48
0,45
0,42
(0,05)
(0,04)
0,14
(0,01)
109
Hibah
B.
Pemasukan Modal Neto Pemerintah
Penarikan Utang Luar Negeri
Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri
Privatisasi
Penjualan Aset Program Restrukturisasi Perbankan
C.
Dampak Valas (A + B)
23,52
26,15
(15,88)
2,48
10,78
33,40
1,58
1,75
(1,07)
0,17
0,72
2,24
28,99
35,36
(16,73)
2,82
7,53
15,42
1,72
2,10
(0,99)
0,17
0,45
0,92
26,97
29,31
(13,05)
3,17
7,53
24,83
1,57
1,71
(0,76)
0,18
0,44
1,45
20,12
19,37
(12,26)
5,48
7,53
24,25
1,21
1,16
(0,73)
0,33
0,45
1,45
(0,37)
(0,59)
0,33
0,16
(0,27)
(0,79)
1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.d. 31 Desember 2001 yang telah diaudit
2) APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi
3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2002 (revisi IV, Januari 2003)
4) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB
Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)
(Dikutip : Laporan Bbank Indonesia, 2002)
110
NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
2. Struktur/ susunan NP (lihat lampiran)
Mengisi angka kosong pada pos D dan E
3. TB sebelum krisis defisit, sesudah krisis surplus (lihat
halaman 2)
4. Defisit / surplus:
- Pos A : T. Berjalan
- Pos C : N. pembayaran
Cadangan Devisa : Pos E
- Tanda + = penambahan devisa
- Tanda - = pengurangan devisa
Devis = uang rial + uang kartal asing
Valas = uang kartal asing
(lihat halaman 4)
5. Hutang Luar Negeri (
Ukuran : DSR = - ≤ 20%
- = 30%
- ≥ 30%
Meningkatnya utang Luar Negeri
(1) Defisit TB
(2) Kebutuhan investasi
(3) Meningkatnya inflasi
(lihat halaman 5 – 6)
6. Devaluasi :
- Alasan
- Tujuan
- Dampak
(halaman 9)
7. Aspek likuiditas  cadangan devisa (hl. 3 – 4)
8. Aspek solvabilitas  TOT
P
N
TOT = ---------- x 100% (hal. 11)
P
m
TOT > 100%  menambah pendapatan
TOT < 100%  mengurangi pendapatan
111
PEREKONOMIAN INDONESIA
Munawir, SE
POKOK BAHASAN :
VII. Neraca Pembayaran Luar Negeri Indonesia
VII.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
A. Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat memahami Neraca Pembayaran Ln dalam perekonomian
Indonesia
B. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa dapat menjelaskan :
1. Neraca transaksi berjalan
2. Neraca transaksi modal
3. Lalu lintas moneter :
perubahan cadangan devisa
4. Analisis kebijakan
perdagangan, investasi dan devisa
C. Materi
Pembahasan
a. Sistematika Neraca Pembayaran LN Indonesia
1. Transaksi berjalan (Current Account)
2. Modal diluar sektor moneter
3. Selisih perhitungan (errors and ommissions)
4. Lalu lintas moneter
b. Aspek likuiditas neraca pembayaran LN
1. Cadangan Devisa
2. Hutang Luar Negeri
3. Kurs Valuta Asing dan Devaluasi
c. Aspek Solvabilitas Neraca Pembayaran LN
1. Peran dan Perkembangan Ekspor Impor
2. Efek nilai tukar perdagangan (terms of trade)
d. Anslisis kebijakan neraca pembayaran LN
1. Kebijakan perdagangan internasional
2. Kebijakan pembayaran internasional
3. Kebijakan bantuan luar negeri
112
VII.2. PEMBAH ASAN MATERI
PENDAHULUAN
• Neraca pembayaran (balance of payment atau BOP) adalah catatan sitematis
dari semua transaksi ekonomi internasional (perdaganagn, investasi, pinjaman dan
sebagainya) yang terjadi antara penduduk dalam negeri suatu negara dan penduduk
luar negeri selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), yang biasanya
dinyatakan dalam dollar AS.
• Oleh karena itu BOP sangat berguna karena menunjukkan struktur dan
komposisi transaksi ekonomi dan posisi keuangan internasional suatu negara.
Lembaga-lembaga keuangan internasional, seperti IMF, bank dunia dan negara-
negara donor juga menggunakan BOP sebagai salah satu indikator dalam
mempertimbangkan pemberian bantuan keuangan keapda suatu negara.
• Selain itu, BOP juga merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi
suatu negara di samping variable-variabel ekonomi makro lainnya, seperti laju
pertumbuhan PDB, tingkat pendapatan per kapita, tingkat inflasi, tingkat suku
bunga dan nilai tukar mata uang domestik. (Tulus, T.H. Tambunan, Dr., 2001).
2. SISTEMATIKA NERACA PEMBAYARAN LN
• Tujuan utama pembuatan neraca pembayaran
LN adlaah :
1) Agar otoritas moneter
pemerintah mengetahui kedudukan (hubungan) keuangan internasional,
2) Untuk membantu membuat
kebijakan moneter dan fisikal
3) Mengambil kebijakan
perdagangan dan pembayaran (hubungan keuangan internasional).
• Transaksi kredit adalah transaksi yang
menimbulkan hak untuk menerima pembayaran dari penduduk negara lain
(tanda +). Transaksi debit adalah transaksi yang menimbulkan kewajiban untuk
melakukan pembayaran kepada penduduk negara lain (tanda -) (Nopirin, 1990)
• Pos-pos dalam neraca pembayaran LN. menurut
model Bank Indonesia
a. Transaksi berjalan
b. Modal diluar sektor moneter
c. Jumlah (a + B)
d. Selisih perhitungan C dan E, dan
e. Lalu lintas moneter
• Penyajian neraca pembayaran LN menurut
model IMF memuat pos-pos
a. Neraca Barang dan Jasa
b. Hibah
c. Transaksi berjalan (A + B)
d. Lalu lintas modal (D1 – Di Luar Sektor Moneter dan L2 sektor moneter)
e. Selisih perhitungan
(Laporan Bank Indonesia Tahun 2000)
113
114
a. TRANSAKSI
BERJALAN (CURRENT ACCOUNT)
• Transaksi berjalan meliputi : transaksi
perdagangan barang dan jasa, pendapatan hasil invesasi (modal), dan
transaksi unilateral.
Transaksi berjalan mengalami surplus bila ekspor (barang dan jasa) lebih
besar dari impor (barang dan jasa). Sebaliknya akan mengalami defisit
apabila impor lebih besar dari ekspor.
• Sebelum krisis ekonomi 1997 transaksi berjalan
kita cenderungan tiap tahun mengalami defisit, karena :
1) Besarnya pembayaran bunga
pinjaman
2) Besarnya pembayaran ongkos
angkutan dan asuransi
3) Besarnya pembayaran jasa-jasa
lain. Defisit transaksi berjalan selalu diusahakan ditutup dengan surplus
pada neraca modal (lalulintas modal) melalui pinjaman luar negeri.
• Tahun-tahun sesudah krisis ekonomi 1997,
transaksi berjalan selalu mengalami surplus, karena :
1) Impor barang menurun dengan
drastis akibat melonjaknya kurs dolar AS
2) Ekspor barang cenderung terus
meningkat akibat merosotnya nilai tuakr rupiah (lihat Lampiran : Neraca
Pembayaran Indonesia Tahun 1997, 1998, 1999, 2000 dan 2001).
b. MODAL DILUAR
SEKTOR MONETER
• Pos ini bisa juga disebut
Neraca Modal karena menyangkut transaksi modal, yaitu lalu lintas modal
yang terdiri dari : (1) lalu lintas modal pemerintah dan (2) lalu lintas modal
swasta.
Transaksi modal meliputi penanaman modal langsung, utang – piutang
jangka panjang maupun jangka pendek, baik yang dilakukan pemerintah
maupun oleh swasta.
• Lalu lintas modal
pemerintah selama tahun 1997-1999 mengalami saldo positif (+) karena :
(a) penerimaan pinjaman pemerintah meningkat dan (b) pelunasan pinjaman
menurun akibat krisis ekonomi.
• Lalu lintas modal swasta
menghasilkan saldo negatif ( - ) karena : (a) penanaman modal langsung
(investor) menurun drastis akibat capital flight, sedang, (b) lainnya
(pelunasan/ angsuran utang LN ) melonjak tinggi akibat jatuh tempo.
c. JUMLAH (A + B)
115
• Pos ini merupakan perhitungan antara saldo transaksi berjalan dengan
saldo neraca modal (modal di luar sektor moneter).
• Pada tahun 1997, 1998, 1999 : saldo transaksi berjalan (miliar $); -5,0,
4,1 dan 5,2. Sedangkan saldo neraca modal (miliar $) berturut-turut 2,6,-3,9,
-3,2. dengan demikian julmah (A + B) ; $-2,4 miliar (1997) $0,2 miliar
(1998) dan $2,0 miliar (1999)
d. SELISIH
PERHITUNGAN C DAN E
• Pos ini merupakan rekening penyeimbang apabila nilai transaksi-
transaksi kredit tidak sama dengan nilai transaksi debit (selisih “jumlah A +
B” dengan “lalu lintas moneter”). Dengan demikian total nilai sebelah
kredit dan debit akan selalu sama atau balance.
• Hal ini disebabkan karena keadaan tidak selalu memungkinkan adanya
cukup pengetahuan untuk menghasilkan pencatatan yang cukup sempurna
mengenai transaksi internasional. Beberapa rekening hanya merupakan
dugaan saja. Rekening lain dilaksanakan oleh perorangan, yang tidak seperti
pengusaha bank, pedagang perantara, pedaganga surat-surat berharga dan
perusahaan besar, tidak melapor dengan teratur mengenai kegiatan luar
negeri mereka. Maka perlu menambah satu rekening (pos) untuk kesalahan-
kesalahan (errors and omission) agar terdapat keseimbangan ke dua sisi dari
neraca
(Kindleberger, 1983).
e. LALU LINTAS
MONETER
• Transaksi (rekening) ini sering disebut “accomodating” sebab
merupakan transaksi yang timbul sebagai akibat adanya transaksi lain.
Transaksi lain disebut “autonomus” sebab transaksi ini timbul dengan
sendirinya, tanpa dipengaruhi oleh transaksi lain, seperti transaksi berjalan,
transaksi modal.
• Perbedaan antara transaksi autonomus debit dan kredit diseimbangan
dengan transaksi “lalu lintas moneter”. Yang termasuk dalam transaksi lalu
lintas moneter adalah mutasi dalam hubungan dengan IMF, pasiva LN,
aktiva LN.
Defisit atau surplus neraca pembayaran dapat diketahui dari rekening in
(Nopirin, 1990).
• Tahun1997 defisit $4,1 miliar (tanda +), tahun 1998, 1999 masing-
masing surplus -$2,3 miliar, $3,4 miliar.
3. ASPEK LIKUIDITAS NERACA PEMBAHARAN LN
• Tujuan kebijakan neraca pembayaran LN berkaitan dengann aspek
likuiditas dan aspek solvabilitas :
116
(1) Aspek
likuiditas : menyangkut tujuan jangka pendek
(2) Aspek
solvabilitas : menyangkut tujuan jangka panjang
• Aspek likuiditas berkaitan dengan posisi dan perubahan cadangan
devisa. Pemerintah sangat peka terhadap posisi dan perubahan cadangan
devisa. Pemerintah menganggap bahwa posisi dan perubahan cadangan devisa
sangat penting, karena dua alasan :
(1) Kepercayaan penduduk Indonesia maupun orang-orang luar negeri
terhadap kurs devisa dan kebijakan ekonomi pemerintah sangat
dipengaruhi oleh perkembangan cadangan devisa. Sebab menurunnya
cadangan devisa bisa berakibat :
a. Terjadinya pelarian modal ke luar negeri
b. Menurun/ berhentinya aliran m odal jangka pendek dan jangka
panjang
c. Keengganan negara donor menambah/ memberi bantuan
(2) Cadangan devisa dapat dipakai untuk melakukann tindakan
penyesuaiann menghadapi fultuasi jangka pendek, sehingga memberikan
tenggang waktu kepada pemerintah untuk melakukan upaya kebijakann
penyesuaian yang diperlukan (Nopirin, 1990)
4. CADANGAN DEVISA
1) Devisa dan Valuta Asing
• Devisa (foreign exchange) menurut pasal 1 UU No. 32/1964 adalah :
a. Saldo bank resmi dari Bank Indonesia
b. Valuta asing lainnya tidak termasuk uang logam, yang mempunyai
catatan kurs resmi dari BI
Dari ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian devisa
mencakup baik valuta asing dalam bentuk simpanan dibank maupun valuta
asing dalam bentuk uang tunai tidak termasuk uang logam), yang kedua-
duanya mempunyai catatan kurs resmi di Bank Indonesia.
• Menurut UU No. 32/1964 dibedakan tiga jenis devisa :
(1) Devisa ready,
yaitu devisa yang telah dikreditkan ke dalam rekening bank dan siap
untuk dipergunakan
(2) Devisa Ready,
yaitu devisa yang belum dikreditkan ke dalam rekening bank dan masih
dalam proses penagihannya atau masih menunggu jatuh tempo untuk
dapat dipergunakan.
(3) Devisa tunai,
yaitu devisa yang berupa uang kertas asing atau bank note yang
mempunyai catatan kurs resmi pada Bank Indonesia.
Valuta Asing (foreign currency) atau valas tidak lain adalah jenis devissa
tunai seperti dimaksud di atas.
(Roselyne, Hutabarat, 1992)
117
2) Konsep Cadangan Devisa
• Sesuai kesepakatan dengan IMF, konsep pencatatan cadangan devisa
oleh Bank Indonesia perlu disesuaikan dengan metode yang dipakai secara
internasional, yaitu balance of payment manual IMF dan program special
Data dissemination Standard (SDDS) IMF.
Maksudnya agar angka cadangan devisa Indonesia mudah dimengerti oleh
semua pelaku pasar internasional dan dapat diperbandingkan dengan dta
negara-negara lain sehinggga dapat memberi gambaran yang lengkap
kondisi ekonomi Indonesia.
• Sejak Januari 1998 Bank Indonesia mengubah konsep cadangan devisa
resmi menjadi konsep aktiva luar negeri bruto (gross foreign assets =
GFA). Di samping konsep GFA, Bank Indonesia juga mengumumkan
posisi cadangan luar negeri bersih (net international reserve = NIR)
• Pengertian NIR adalah GFA dikurangi kewajiban-kewajiban BI dalam
valuta asing, yaitu :
a. Utang dalam valuta asing dengan masa jatuh tempo sampai dengan 1
tahun (termasuk penggunaan dana pinjaman IMF)
b. Kewajiban bersih valuta asing dalam rangka transaksi forward (net
forward position)
c. Simpanan valuta asing bank-bank di BI dalam rangka pemenuhan
ketentuan GWM dalam valuta asing
3) Posisi GFA dan NIR
BI mengumumkan posisi GFA dan NIR dua kali sebulan :
Posisi Cadangan Devisa (miliar $)
Items Maret 1998
Gross Foreign Assets 16.589,8
- Liquid reserves 1) 10.809,9
- Others reserve 2) 5.779,9
Loss gross foreign liabilities 2.940,9
Plus net forward position 3) -34,0
Loss reserve agains FCDs 4) 435,2
Equal Net Intgernational Reserves 13.179,7
Catatan :
1) Liquid reserve, termasuk emas, sekuritas dalam valas, deposito
luar negeri lainnya dan special drawwing right (SDR)
2) Others reserve terdiri dari : export draft, deposito di cabang-
cabang luar negeri bank nasional dan deposito yang ditempatkan di bank-
bank asing untuk menggaransi L/C
3) Claims forward terhadap non resident dikurangi kewajiban
forward
4) FCDs = foreign currency deposits
(Laporan Bank Indonesia, Tahun 2000)
118
5. HUTANG LUAR NEGERI
1) Penyebab Meningkatnya Utang
LN
(1) Defisit
Transaksi Berjalan (TB)
Lima tahun sebelum krisis ekonomi (1992/1993 – 1996/1997) defisit TB
masing-masing tiap tahun (jutaan) : $2,311; $2,740; $3,248; $6,757 dan
$7,847. Untuk menutup defisit itu pemerintah melakukan pinjaman luar
negeri.
(2) Meningkatnya
Kebutuhan Investasi
• Hampir setiap tahun Indonesia menghadapi delima invesment-
saving gap. Selama tahun-tahun 1994, 1995, 1996, jumlah dana
tabungan (triliun) : Rp 56,2; Rp 69,0;; Rp 88,3; Sementara kebutuhan
investasi (triliun): Rp 71,4; Rp 96,4 dan Rp 119,6.
• Hal ini mendorong meningkatnya pinjaman LN, terutama pinjaman
sektor swasta. Di samping kelangkaan dana, meningkatnya utang LN
juga didorong oleh perbedaan tingkat suku bunga.
(3) Meningkatnya
Inflasi
• Laju inflasi tiga tahun menjelang krisis meningkat: 7,04%
(1993/1994) ; 8,57% (1994/1995) dan 8,86 (1995/1996). Hal ini
mempengaruhi tingkat suku bunga, karena ekspektasi inflasi
merupakan komponen suku bunga nominal.
• Suku bunga krdit di Indonesia tinggi (1995/1996); kredit modal
kerja 19,30%, kerdit investasi 16,39%, sedangkan LIBOR 5,39% dan
SIBOR 5,37%.
(4) Struktur
perekonomian tidak efisien
ICOR menapai 4,9 (1984 – 1993) yang seharusnya antara 3 – 3.5. Jadi ada
pemborosan sekitar 30%, karena tidak efisien dalam penggunaan modal,
maka memerlukan invetasi besar. Hal ini mendorong utang luar negeri.
2) Posisi Pinjaman Luar Negeri
Indonesia
• Posisi ugang luar negeri Indonesia pada akhir 1996/1997 secara
kesellruhan mencapai $109,3 miliar.
(1) Posisi pinjaman
luar negeri sebelum krisis
Rincian
Posisi
31 Maret 1996
Posisi
31 Maret 1997
Miliar $ % Miliar $ %
119
Pinjaman pemerintah
Bilateral 1)
Multilateral
Lainnya
Pinjaman swasta
58,6
38,3
19,3
1,0
47,8
55,1
36,0
18,1
0,9
44,9
53,3
35,2
17,2
0,9
56,0
48,8
32,2
15,7
0,8
51,2
Jumlah 106,4 100,0 109,3 100,0
Sumber : Laporan tahunan Bank Indonesia, 1996/1997
1) Termasuk pinjaman lama dan fasilias kredit ekspor.
Dengan semakin besarnya peran sektor swasta dalam perekonomian
nasional, pangsa utangl aur negeri sektor swasta juga semakin
meningkat. Sedang percepatan pembayaran utang pemerintah
dimaksudkan untuk mengurangi beban utang luar negeri pada saat utang
swasta meningkat.
(2) Posisi Pinjaman
Luar Negeri Sesudah Krisis
Rincian
Posisi
31 Desember 1998
Posisi
31 Desember 1999
Juta $ % Juta $ %
Pinjaman pemerintah
Swasta
Bank
Non Bank
Surat Berharga
67.315
83.572
10.769
67.515
5.288
44,6
55,4
7,1
44,8
3,5
75.763
65.618
10.063
52.630
2.915
53,6
46,4
7,1
37,2
2,1
Jumlah 150.887 100,0 141.381 100,0
Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia, 1999
• Peningkatan posisi utang pemerintah akibat penarikan pinjaman
multilateral dan pinjaman IMF serta dampak dari menguatnya mata uang
yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat.
• Menurut jangka waktu utang swasta non bank (akhir 1999) :
$46.7 miliar (84,1%) : lebih dari 3 tahun (jangka panjang)
$ 3.1 miliar ( 4,7%) : lebih dari 1-3 tahun (jangka menengah)
$ 5.7 miliar (10,3%) : lebih dari 1 tahun (jangka pendek)
3) Restrukturisasi Utang Luar
Negeri Indonesia
• Tingginya beban pembayaran pokok utang swasta non bannk berkaitan
utang yang baru mencapai 14,5% dari $23,2 miliar.
• Realiasi restrukturisasi utang luar negeri Indonesia
120
Jenis
Posisi
31-12-98
Komitmen
Restrukturisasi
Realiasi
Restrukturisasi 99
Miliar $ Miliar $ % Miliar $ %
Pemerintah
Swasta
Bank
Nonbank
67.3
83.6
10.8
72.8
4.7
29.5
6.3
23.2
6,9
35,3
58,3
31,9
3.8
9.6
6.2
3.4
80,1
32,5
98,4
14,7
Total 150.9 34.2 22,7 13.4 39,2
Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia, 1999
4) Indikator Kelayakan Utang Luar
Negeri
• Rasio beban utang luar negeri (DSR = Debt Service Ratio) dan rasio
total utang terhadap PDB tahun 1999 masing-masing mencapai 51,9% dan
108,5%.
• Indikator beban utang luar negeri Indonesia
Indikator
Persentase Kriteria
Bank
Dunia
1996 1997 1998 1999
DSR
Posisi utang/ ekspor
Posisi utang/ PDB
34,0
179,5
48,9
44,6
207,8
63,6
58,7
262,0
145,8
51,9
240,0
108,5
20,0
130-220
50-80
Sumber: Laporan Tahunan Bank Indonesia 1999
• Beberapa indikator beban utang luar negeri sudah berada di atas standar
yang sehat. Beberapa rasio tersebut menunjukkan bahwa kemampuan
Indonesia untuk memenuhi kewajiban luar negeri menjadi sangat terbatas.
6. KURS VALUTA ASING DAN DEVALUASI
Sifaat kurs valuta asing sangat tergantung dari sifat pasar. Sifat pasar ada yang
tetap, berubah-ubah atau diawasi. Maka dikenal beberapa sistem kurs devisa:
1) Sistem Kurs Deivsa Tetap (Fixed
Exchange Rate)
• Pada masa berlaku sistem standar emas kurs antar valuta asing
dikaitkan dengan kandungan (isi) emas yang ada pada tiap mata uang asing
(kurs sesuai dengan perbandingan berat emas yang terkandung pada mata
uang yang bersangkutan).
• Pada standar kertas seperti sekarang, yang dimaksud fixed exchange
rate adalah suatu sistem devisa di mana pemerintah menetapkan tingkat
kurs mata uang negara tersebut dengan mata-mata uang negara lain dan
brusahauntuk mempertahankannya dengan berbagai kebijakan secara sadar,
seperti :
a. Tindkan-tindakan tidak langsung berupa : (1) pembleian mata uang
sendiri dengan mata uang asing oleh Bank Sentral atau (2) sebaliknya
121
penjualan mata uang sendiri apabila tingkat kurs dipasar melonjak di
atas tingkat kurs yang ditetapkan.
b. Tindakan-tindakan langsung berupa penjatahan devisa pada tingkat
kurs yang ditetapkan. Dalam hal ini tidk ada “pasar devisa” dalam arti
sebenarnya.
2) Sistem Kurs Mengambang
(Floating/ Flexible Exchange Rate)
• Pada sistem ini kurs satu mata uang dengan mata uang lain
dibiarkan untuk ditentukan secara bebas oleh tarik-menarik kekuatan pasar.
• Keuntungan sistem ini bahwa tingkat kurs yang berlaku selalu
sama dengan tingkat kurs keseimbangan, sehingga tidak ada pasar gelap,
tidak ada masalah surplus atau defisit neraca pembayaran (Boediono,
1994).
3) Perencanaan Devisa (Exchange
Control)
• Dalam sistem ini pemerintah memonopoli seluruh transaksi valuta
asing. Tujuannya untuk mencegah aliran modal ke luar.
• Menghadapi jumlah devisa yang lebih kecil dibandingkan perminataan,
maka pemerintah melakukan alokasi di dalam penggunaannya yakni
dengan melakukan multiple exchange rata.
Sampai dewasa ini Indonesia menganut regim devisa bebas dalam arti setiap
penduduk bebas menerima, menyimpan dann menggunakan devisa.
Dalam rangka melaksanakan sistem deivsa bebas, Indonesia telah mengesahkan
Undang-undang No. 24 tahun 1999 tentang lalu lintas Devisa dan Sistem Nilai
Tukar.
1) Sistem Devisa bebas
• Undang-undang No. 24 tahun 1999 ini
menegaskan bahwa Indonesia tetap menganut sistem devisa, sehingga
memungkinkan setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki dan
menggunakan devisa yang dimilikinya.
• Prinsip devisa bebas tetap dipertahankan dengan
pertimbangann Indonesia masih memerlukan dana luar negeri untuk
memenuhi kebutuhan pembiayaan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi
dari dalam negeri dalam rangka lebih mempercepat pembangunan. Selain
itu, aliran modal masuk tersebut juga diperlukan untuk menutup defisit
transaksi berjalan yang sebelum krisis mencapai sekitar 3% dari PDB.
2) Pelaporan Lalu Lintas Devisa
• Sistem devisa bebas dapat menimbulkan kerawanan-kerawanan
terhadap kestabilan-kestabilan ekonomi bila tidak disertai sikap kehati-
hatian seluruh pelaku ekonmi dan tidak tersedia data mengenai keluar
masuknya modal ke Indonesia.
122
• Karena itu dalam undang-undang ini diatur mengenai pelaporan dan
pemantauan kegiatan lalu lintas devisa:
a. Bank Indonesia berwenang meminta keterangan dan data mengenai
kegiatan lalu lintas devisa yang dilakukan oleh penduduk.
b. Setiap penduduk diwajibkan untuk memberikan keterangan dan data
dimaksud, secara langsung atau melalui pihak lain yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia.
c. Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.1/9/PBI/1999, mengatur
kewajiban bank dan LKNB menyampaikan keterangan dan data
mengenai kegiatan lalu – lintas devisa, meliputi transaksi devisa, posisi
aset dan kewajiban finansial kepada Bank Indonesia.
3) Surat Edaran Bank Indonesia No.1/9/DSM/1999 mengatur teknis pelaporan,
antara lain memuat ketentuan sanksi:
(1) Terlambat melapor : Denda Rp 5.000.000/ hari keterlambatan
(2) Tidak menyampaikan laporan : Denda Rp 100.000.000 + denda
keterlambatan
(3) Laporan tidak lengkap dan atau tidak benar : Denda Rp 100.000/
perkekurangan/tidak benar sampai max.
Rp. 100.000.000,-
(4) Tidak menyampaikan laporan 6 periode berturut-turut atau paling lama 6
bulan.
• DEVALUASI
♦Dalam kenyataan kurs valuta asing tidak stabil karena kenaikan harga
umum di suatu negara berbeda dengan kenaikan harga umum negara lain
(partner)
♦Rumus Teori Purchasing Power Parity (PPP)
IHD
x
/ IHD
n
P
n-x
= ------------------
IHF
x
/ IHF
n
Keterangan : P
n-x
= Paritas Daya Beli Tahun s/d x
IHD = Indeks Harga Konsumen Dalam Negeri
IHF = Indeks Harga Konsumen Luar Negeri
n = tahun dasar
x = tahun x
♦Rasio paritas yang semakin tinggi berarti kenaikan harga umum dalam
negeri lebih tinggi dibandingkan luar negeri. dengan kata lain terjadi penilaian
lebih (overvalue) terhadap mata uang dalam negeri. Maka untuk
menyesuaikan kurs mata uang dilakukan kebijakan devaluasi. Yaitu
menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri
(asing).
123
• ALASAN, TUJUAN DAN AKIBAT DEVALUASI
1. Alasan Devaluasi: karena telah terjadi ketidak-seimbangan (defisit) neraca
pembayaran.
Dalam persetujuan perjanjian IMF. Artikel IV section 5 9a) dan (f) disebutkan
bahwa “negara-negara anggota menyetujui untuk tidak perlu menyampaikan
usul pada IMF mengenai perubahan paritas kurs mata uangnya, kecuali bila
dianggap perlu melakukan koreksi atas suatu disekuilibrium fundamental
neraca pembayaran. IMF sendiri akan menyetujui perubahan kurs itu apabila
IMF menganggap perbaikan itu perlu dijalankan”.
2. Tujuan Devaluasi :
(1) Untuk merangsang perluasan ekspor akibat penerimaan yang
bertambah dari para eksportir
(2) Untuk menurunkan impor karena bertambah mahal akibat kenaikan
kurs.
(3) Dengan meningkatnya ekspor dan menurunnya impor maka neraca
pembayaran seimbang (tidak defisit) dan diharapkan cadangan devisa akan
bertambah.
3. Akibat Devaluasi
Harga barang-barang yang menggunakan bahan baku impor akan naik akibat
naiknya kurs dan pada akhirnya harga barang-barang lain juga akan naik.
5. ASPEK SOLVABILITAS NERACA PEMBAYARAN LUAR NEGERI
Bagaimana peran ekspor-impor terhadap perekonomian nasional bisa dilihat dari
berbagai indikator, seperti : (1) saldo transaksi berjalan, (2) rasio ekspor-impor
terhadap PDB dan (3) dinilai tukar perdagangan (terms of trade)
1. Perkembangan Saldo Transaksi Berjalan
• Transaksi Berjalan (TB) adalah perhitungan antara saldo ekspor-impor barang
dengan saldo ekspor-impor jasa atau kalau digabung TB adalah perhitungan
antara ekspor barang dan jasa dengan impor barang dan jasa.
Perkembangan Ekspor, Impor dan
Saldo TB (1973-1990) (dalam juta $)
Periode Ekspor Barang
dan Jasa
Impor Barang
dan Jasa
Saldo TB, Termasuk
Off Transfer
1973
1974
1975
1976
1977
1978
1979
1980
1981
3,306
7,464
7,025
8,774
10,929
11,327
15,552
22,241
24,878
3,836
6,915
8,160
9,696
11,006
12,754
14,602
19,432
25,694
-476
598
-1,109
-907
-51
-1,413
980
3,011
-566
124
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
21,274
19,866
22,152
20,139
15,972
18,832
21,370
25,411
29,455
26,732
26,318
24,175
22,150
20,142
21,187
23,021
26,858
32,038
-5,324
-6,338
-1,856
-1,923
-3,911
-2,098
-1,397
-1,108
-2,369
Sumber : IMF, International Financial Statistic (dikutip dari : Tulus T. H.
Tambunan, 1996).
• Hampir setiap tahun TB mengalami saldo defisit ( - ) kecuali pada tahun-tahun
1974, 1979 dan 1980 yaitu pada masa oil boom I dan II.
2. Rasio Ekspor Impor terhadap PDB
• Besar kecilnya rasio ekspor impor terhadap PDB menunjukkan besar-kecilnya
peranan atau sumbangan perdagangan luar negeri terhadap PDB. Makin bsar
rasio ekspor impor terhadap PDB, makin besar sumbangan ekspor impor
terhadap PDB, yang berarti pula makin besar pengaruh perdagangan luar negeri
terhadap perekonomian nasional.
• Tahun 1980 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar $69,800 miliar,
nilai ekspor saat itu $21,909 miliar dan nilai impor $10,909 maka kalau kita
hitung rasio ekspor – impor erhadap PDB pada tahun 1980 sebesar 47,0%. Rasio
itu pada tahun 1996/1997 meningkat menjadi 55,7%, karena saat itu jumlah
PDB sebesar $231,400 miliar, sedang total nilai ekspor + impor sebesar
$128,913 miliar.
• Besarnya % nilai ekspor dan impor terhadap PDB tersebut menunjukkan
bahwa keterpaduan ekonomi Indonesia masih lemah. Ekonomi Indonesia sangat
tergantung pada ekonomi luar negeri.
6. EFEK NILAI TUKAR PERDAGANGAN (TERMS OF TRADE)
• Pengaruh Perdagangan luar negeri dapat diketahui melalui indikator indeks
nilai tukar perdagangan (terms of trade) perubahan terms of trade (TOT) dari tahun
ke tahun akan mempengaruhi besarnya pendapatan domestik bruto (GDY = Gross
Domestic Yield). Untuk mengetahui berapa besar pengaruh TOT terhadap GDY,
maka perlu dilakukan prosedur sebagai berikut : (Suseno, 1995).
1) Menentukan indeks harga ekspor (P
x
) dan indeks harga impor (P
m
).
XB MB
P
x
= --------- . 100% ; P
m
= --------- . 100%
XK MK
Keterangan :
125
XB = ekspor harga berlaku
XK = ekspor harga konstan
MB = impor harga berlaku
MK - impor harga konstan
2) Menentukan indeks nilai tukar atua terms of trade (TOT)
P
x
TOT = ------- . 100%
P
m

3) Menentukan nilai kapasitas impor (C
m
), yaitu kemampuan mengimpor barang-
barang dari luar negeri berdasarkan nilai ekspor.
XB XK
C
m
= ------- . 100%, atau ------- . TOT
P
m
100
4) Menentukan efek nilai tukar perdagangan luar negeri (ENT)
ENT = C
n
– XK
5) Menentukan nilai Pendapatan Domestik Bruto (GDY)
GDY = PDB + ENT
• Contoh Perhitungan :
Tabel Ekspor Impor menurut Harga Berlaku dan Harga Konstan 1993 (miliar rupiah)
Uraian 1998 2002
Ekspor harga berlaku (XB)
Ekspor harga konstan (XK)
Impor harga berlaku (MB)
Impor harga konstan (MK)
PDB s/d harga konstan 1993
506.244,8
134.707,2
413.058,1
132.400,7
376.374,7
559.941,9
116.907,1
459.631,1
97.985,1
426.740,5
Perhitungan ENT dan GDY 1998, 2002 (miliar rupiah)
Uraian 1998 2002
Indeks harga berlaku (P
x
)
Indeks harga konstan (P
m
)
Term of Trade (TOT)
Kapasitas Impor (C
m
)
Efek Nilai Tukar (ENT)
GDY s/d harga 1993
375,8%
312,0%
120,5%
162.258,0
27.550,8
403.925,5
487,5%
469,1%
103,9%
121.496,9
4.589,8
431.330,3
• Harga ekspor dan impor konstan 2002 lebih kecil dibandingkan harga ekspor
dan impor konstan 1998, menyebab TOT menurun dari 120,5 (1998) menjadi 103,9
(2002), sehingga ENT tahun 2002 hanya Rp 4.589,8 miliar dibandingkan ENT
tahun 1998 sebesar Rp 27.550,8 miliar.
126
7. ANALISIS KEBIJAKAN NERACA PEMBAYARAN LN
• Kebijakan ekonomi internasional dalam arti luas adalah tindakan/ kebijakan
ekonomi pemerintah yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi
komposisi, arah serta bentuk dari pada perdagangan dan pembayaran internasional.
Dalam arti sempit kebijakan ekonomi internasional adalah tindakan/ kebijakan
ekonomi pemerintah yang secara langsung mempengaruhi perdagangan dan
pembayaran internasional.
• Instrumen kebijakan ekonomi internasional meliputi : (1) kebijakan
perdagangan internasional; (2) kebijakan pembayaran internasional; (2) kebijakan
bantuan luar negeri.
1) KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
a. Cakupan kebijakan meliputi tindakan pemerintah terhadap transaksi-transaksi
dalam
b. TINDAKAN/ KEBIJAKAN PEMERINTAH :
(1) Mengundangkan UU No.5/ 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat: untuk meningkatkan efisiensi dan daya
saing usaha;
(2) Menurunkan tarif pajak ekspor (beberapa produk tertentu): untuk
meningkatkan daya saing.
(3) Mendirikan PT. Bank Ekspor Indonesia (BEI): menyediakan pembiayaan,
penjaminan, jasa konsultasi dan usaha lain untuk meningkatkan ekspor.
2) KEBIJAKAN PEMBAYARAN INTERNASIONAL
a. Kebijakan ini meliputi tindakan/ kebijakan pemerintah rekening modal (Modal
di Luar Sektor Moneter): menyangkut lalu lintas modal masuk dan keluar.
b. Tindakan/ kebijakan pemerintah :
1. Penghapusan pembatasan penanaman modal asing (PMA): di bidang
perkebunan kelapa sawit, perdagangan eceran dan grosir.
2. Pengesahan kerangka kerja sama investasi antar ASEAN
3. Mengundangkan UU No. 24/ 1999 tentang lalu lintas Devisa dan Sistem
Nilai Tukar
4. Peraturan BI, PBI No.1/9/PBI/1999: ketentuan mengenai kewajiban
pelaporan lalu lintas (kegiatan) devisa melalui Bank dan LKBB.
3) KEBIJAKAN BANTUAN LUAR NEGERI
a. Kebijakan bantuan luar negeri adalah tindakan/ kebijakan pemerintah yang
berhubungan dengan bantuan (grants), pinjaman (loans):
b. Tindakan/ kebijakan pemerintah :
Pemerintah bersama bank Indonesia meneruskan upaya penyelesaian masalah
utang luar negeri dan dalam negeri salah satu penyelesaian utang luar negeri
adalah :
127
(1) Pemerintah melanjutkan kesepakatan Frankfrut 4 Juni 1998 mengenai
restrukturisasi utang jangka pendek antar bank melalui pertemuan di
London 29 Maret 1999.
(2) Hasil kesepakatan pertemuan London: menukarkan utang luar negeri antar
bank (exchange offer) yang jatuh tempo antara 1-4-1999 s/d 31-12-2001
dengan utang baru yang jatuh tempo antara tahun 2002 hingga tahun 2005.
(3) Fasilitas yang diberikan kepada para debitor dan kreditor untuk
menyelesaikan masalahnya melalui PRAKASA JAKARTA dan INDRA
(Indonesia Debt Restruturing Gency)
DAFTAR BACAAN
1. Tambunan, Tulus, T.H., Dr., Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2001.
2. Nopirin, Dr., Ekonomi Internasional, …… 1990
3. Kindleberer, Ekonomi Internasional, Terjemahan oleh Rudy P. Sitompul, Penerbit
Erlangga, jakarta, 1983.
4. Hutaba rat, Roselyne, Dra., Transaksi Ekspor-Impor, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1992.
5. Boediono, Dr., Ekonomi Internasional, Diterbitkan oleh BPFE, Yogyakarta, 1994.
6. Opposunggu, H.M.T., Kebijaksanaan Devaluasi di Indonesia, Penerbit Erlangga,
jakarta, 1985.
7. Triyono Widodo, Suseno Hg. Indikator Ekonomi, Dasar Perhitungan Perekonomian
Indonesia, Penerbit Kanisius, 1995.
8. Bank Indonesia, Laporan Bank Indonesia, Tahun 1998, 1999, 2000, 2001, 2002.
MONETER DAN BANK
Bank Indonesia :
128
- Menjaga stabilitas harga/ inflasi
- Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
1. Kredit  M
2
 inflasi meningkat kebijakan DPT dengan SBI dan CAR & LDR
a. Mekanisme SBI
Bila M
2
(kelebih likujiditas)  Bunga SBI  likuiditas Bank :
- 50% beli SBI
- 50% beli kredit
b. CAR :
- Tujuan
- Manfaat
LDR :
- Tujuan
- Manfaat
2. Susunan/ Rumus M
o
dan M
2

M
0
 sasaran operasional
M
2
 sasaran antara
Inflasi  sasaran akhir
129
Lampiran : Neraca Pembayaran Indonesia
1997 – 2001 (Standar Bank Indonesia)
1995 – 1998 (Standar IFM)

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Rincian
1997 1998 1999
MILIAR $
A. Transaksi Berjalan
1. Barang
a. Export f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
- Minyak
- LNG
- LPG
b. Impor f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
- Minyak
- LNG
2. Jasa
a. Non Migas
b. Migas
1) Minyak
2) LNG
B. Modal di luar Sektor Moneter
1) Lalu lintas modal pemerintah (bersih)
a. Penerimaan pinjaman
b. Pelunasan pinjaman
2) Lalu lintas modal swasta (nt)
a. Penanaman modal langsung
b. Lainnya
C. Jumlah (A + B)
D. Selisih perhitungan C dan E
E. Lalu – lintas Moneter
Catatan :
1. Aktiva Luar Negeri (GFA)
Setara impor nonmigas (bulan)
2. Cadangan Devisa Bersih (NIR)
3. Transaksi Berjalan (%)
-5,6
10,1
56,3
44,6
11,7
6,8
4,4
0,5
-46,2
-41,1
-4,8
-4,5
-0,3
-15,1
-10,5
-4,6
-2,1
-2,5
2,6
2,9
7,9
-4,7
-0,3
4,7
-5,0
-2,4
-1,7
4,8
21,4
4,5
17,6
-2,3
4,1
18,3
50,3
42,9
7,4
4,1
3,1
0,2
-32,0
-29,1
-2,9
-2,6
-0,3
-14,2
-11,4
-2,8
-1,4
-1,4
-3,9
10,0
13,7
-3,7
-13,9
-0,4
-13,5
0,2
2,1
-2,3
23,8
8,9
14,1
4,3
5,2
20,1
51,4
41,4
10,0
5,7
4,0
0,3
-31,3
-27,4
-3,9
-3,6
-0,3
-14,9
-11,9
-3,0
-1,4
-1,6
-3,2
6,5
10,6
-4,1
-9,7
-2,3
-7,4
2,0
1,4
-3,4
27,1
10,9
16,4
4,0
130
NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Rincian
1999 2000 2001
MILIAR $
A. Transaksi Berjalan
1. Barang
a. Export f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
- Minyak
- LNG
- LPG
b. Impor f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
- Minyak
- LNG
2. Jasa
a. Non Migas
b. Migas
1) Minyak
2) LNG
B. Modal di luar Sektor Moneter
1) Lalu lintas modal pemerintah (bersih)
a. Penerimaan pinjaman
b. Pelunasan pinjaman
1)

2) Lalu lintas modal swasta (nt)
c. Penanaman modal langsung
d. Lainnya
C. Jumlah (A + B)
D. Selisih perhitungan C dan E
E. Lalu – lintas Moneter
2)
Catatan :
1. Aktiva Luar Negeri (GFA)
3)
Setara impor nonmigas (bulan)
2. Cadangan Devisa Bersih (NIR)
3. Transaksi Berjalan (%)
5,8
20,6
51,2
41,0
10,3
5,7
4,2
0,4
-30,6
-26,6
-4,0
-3,7
-0,3
-14,9
-11,7
-3,2
-1,5
-1,7
-4,6
5,4
7,9
-2,6
-9,9
-2,7
-7,2
1,2
2,1
-3,3
27,1
6,7
4,1
8,0
25,0
65,4
50,3
15,1
8,0
6,8
0,4
-40,4
-34,4
-6,0
-5,8
-0,2
-17,1
-12,5
-4,6
-2,2
-2,4
-6,8
3,2
5,0
-1,8
-10,0
-4,6
-5,4
1,2
3,8
-5,0
29,4
6,0
5,3
5,0
21,6
58,7
45,8
12,9
7,2
5,4
0,4
-37,0
-31,4
-5,6
-5,3
-0,3
-16,7
-12,4
-4,3
-2,2
-2,1
-8,9
-0,3
3,3
-3,6
-8,6
-5,9
-2,7
-3,9
2,6
1,4
28,0
6,1
3,4
131
Neraca Pembayaran Indonesia
1)
(juta $)
Rincian 1995 1996 1997 1998 1999
2)
A. Neraca barang dan Jasa
1. Barang
dagangan ekspor f.o.b
Barang dagangan impor f.o.b
2. Ongkos
penggangkutan dan asuransi
Berhubungan dengan impor
3. Ongkos
pengangkutan lainnya
4. Perjalanan
luar negeri
5. Jasa modal
5.1. Jasa modal dari sektor minyak
bumi dan LNG
5.2. Jasa modal dan penanaman
modal langsung dan lainnya
6. Pemerintah
tidak termasuk bagian lain
7. Jasa lain-lain
Neraca barang (1)
Neraca Jasa ( 2 s.d. 7)
B. Hibah
8. Swasta
9. Pemerintah
C. Transaksi Berjalan (A + B)
D. Lalu lintas Modal
D.1. Diluar sekotr moneter
10. Penanaman
modal langsung dan lalu lintas modal
jangka panjang lainnya
10.1 Penanaman modal
langsung
10.2 Obligsi
a. Pemerintah
b. Swasta
10.3 Lalu lintas
modaljangka panjang lainnya
a. Pemerintah
b. Swasta
11. Lalu lintas
modal jangka pendek
11.1. Pemerintah
11.2. Swasta
D.2. Sektor moneter
12. emas
moneter
-6.760
42.454
-40.921
-4.504
-695
3.057
-7.907
-2.033
-5.874
-183
-2.858
6.533
-13.293
330
--
330
-6.430
8.768
10.284
10.268
4.346
--
--
--
5.938
31
5.907
--
--
--
-1.516
-12
-5
-7
-1.492
0
-2.338
-7.801
50.188
-44.240
-4.867
-1.018
3.787
-8.176
-2.168
-6.008
-225
-3.250
5.948
-13.749
125
--
125
-7.676
6.387
10.638
6.613
6.194
--
--
--
419
-672
1.091
4.225
0
4.225
-4.451
48
3
8
-4.511
1
1.289
-5.001
56.297
-46.223
-5.084
-934
4.236
-8.946
-2.614
-6.332
-264
-4.103
10.074
-15.075
309
--
309
-4.692
6.343
2.233
4.478
4.677
--
--
--
-199
2.571
-2.70
-2.245
0
-2.245
4.110
219
-524
273
4.142
0
-1.651
3.589
50.371
-31.942
-3.337
-852
2.154
-9.955
-1.756
-8.189
-78
-2.773
18.429
-14.841
508
--
508
4.097
-6.219
-3.875
4.354
-356
--
--
--
4.710
9.920
-5.267
-8.229
0
-8.229
-2.344
6
132
0
-2.482
0
2.123
4.363
51.435
-31.357
-2.811
-926
2.189
-11.030
-1.820
-9.210
-72
-3.077
20..078
-15.726
804
--
804
5.157
-6.504
-3.212
4.735
-2.323
--
--
--
7.058
6.542
516
-7.947
0
-7.947
-1.292
-9
156
0
-3.439
0
1.548
132
13. Special
Drawing Rights
14. Hubungan
dengan IMF
15. Valuta asing
16. Lain-lain
E. Selisih perhitungan (antara
C dan D)
3)
1) Penyaji
an
menur
ut
standar
iMF
2) Proyek
si per
30
Novem
ber
1999
3) Positif
berarti
detaild
an
negatif
berarti
surplus
PEREKONMIAN INDONESIA
MUNAWIR, SE
VIII. SEKTOR MONETER, PERBANKAN DAN
PEMBIAYAAN
VIII.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami sektor monetr, perbankan dan pembiayaan
b. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa dapat menjelaskan :
• Peran sektor moneter di Indonesia
• Peran Sektor Perbankan di Indonesia
• Instrumen dan analisis kebijakan Moneter
• Peran pasar modal di Indonesia
c. Materi Pembahasan :
• Peran sektor moneter di Indonesia
133
(1) Perkembangan
inflasi di Indonesia
(2) Kebijakan dan
Tindakan Pengendalian Inflasi
• Perkembangan Uang Primer dan Uang Beredar
(1) Peranan uang dalam perekonomian
(2) Uang primer dan faktor yang mempengaruhinya
(3) Uang beredar dan faktor yang mempengaruhinya
• Peran sektor perbankan di Indonesia
(1) Perkembangan Perbankan di Indonesia
(2) Kebijakan Perbankan Sesudah Krisis 1997
• Instrumen dan Analisis Kebijakan Moneter
(1) Instrumen yang bersifat kualitatif
(2) Instrumen yang bersifat kuantitatif
• Peran Pasar Modal dalam Perekonomian Indonesia
(1) Perkembangan Pasa Modal di Indonesia
(2) Pasar modal sbagia sumber pembiayaan
VIII.2. MATERI PEMBAHASAN
PENDAHULUAN
• Peranan sektor keuangan semakin penting, karena :
(1) Semakin meningkatnya financial
deepening
(2) Semakin bervariasinya produk-produk
keuangan karena terjadi financial inovaction
(3) Terjadinya globalisasi sehingga pasar
keuangan dunia semakin terintegrasi
• Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mempercepat terjadinya
trans nasionalisasi keuangan, timbulnya innovasi produk dan meluasnya sekuritas.
Akbiatnya perkembangan besaran-besaran moneter di dalam negeri semakin sulit
di kendalikan (Syahrir, 1995)
A. PERAN SEKTOR MONETER
DI INDONESIA
a. Perkembangan Inflasi di Indonesia
• Perkembangan yang berulang menimpa perekonomian kita
mencapai puncaknya dengan “tiga angka” pada masa 100 Menteri dan
memberikan gambaran klasik dengan berlakunya teori kuantitas uang. Pada
masa orde baru, inflasi memasuki alam baru akibat langkah-langkah positif
yang diambil pemerintah untuk mengatasinya. Defisit APBN yang dulunya
merupakan sumber utama kenaikan uang dalam peredaran dapat dialihkan
menjadi surplus, walaupun anggaran domestik dari APBN merupakan arus
inflasioner yang besar (Oppusunggu, HMT, 1985).
134
• Sejak akhir tahun 1980-an, tingkat inflasi rata-rata per tahun di
Indonesia mulai tinggi lagi walaupun beelum pernah mencapai sampaid I
atas 10,0%. Selama periode 1993 – 1995 laju inflasi sebagai berikut : 9,8%
(1993), 9,2% (1994), 8,6% (1995). Angka ini tertinggi di antara negara-
negara ASEAN, misalnya Malaysia: 3,6% (1993), 3,7% (1994), 3,2%
(1995).
Inflasi di Malaysia, Singapura dan Thailand relatif rendah dan merupakan
negara-negara di ASEAN yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang
tinggi. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak harus
dengan laju inflasi yang tinggi pula, seperti halnya yang dialami Indonesia
(Tulus, T.H. Tambunan, Dr. 1996).
• Laju inflasi selama periode 1997 – 2002 sebagai berikut : 11,1%
(1997),, 77,6% (1998), 2,0% (1999). Laju inflasi selama tahun 1998/1999
mencapai 45,9%. Meningkatnya tekanan haarga terutama berasal dari sisi
penawaran sebagai akibat depresiasi rupiah yang sangat tajam pada tahun
1997/1998. tiga tahun terakhir laju inflasi : 9,3% (2000), 12,5% (2001) dan
turun 10,0% (2002). Kondisi moneter yang stabil menyeabkan tingkat
inflasi IHK selama tahun 2002 cenderung menurun hingga 10,03%.
(Laporan Tahunan BI, 1997/1998, 1999 – 2002)
b. Cara Menghitung Tingkat Inflasi
• Sejak April 1979 angka inflasi dihitung oleh Biro Pusat Statistik
(BPS) berdasarkan perubahan Indek Harga Konsumen (umum) gabungan
17 kota-kota besar di seluruh Indonesia. Sebelum itu inflasi dihitung
berdasarkan Indek Biaya Hidup (umum) kota Jakarta yang meliputi 62
jenis barang dan jasa. Sedang Indeks Harga Konsumen IHK meliputi 115 –
150 jenis barang dan jasa (Widodo, Hg. Suseno Triyanto, 1995).
• Sejak April 1989 angka inflasi dihitung berdasarkan perubahan
IHK umum gabungan dari 27 kota-kota besar (sesuai jumlah propensi) di
seluruh Idnoensia. Jenis bararng dan jasa yang diliput dewasa ini sekitar
400 item, terdiri dari : (1) bahan makanan, (2) makanan jadi, minuman dan
rokok, (3) sandang, (4) transportasi dan komunikasi, (5) pendidikan
rekreasi dan olah raga, (6) perumahan, (7) kesehatan.
c. Penyebab Inflasi Secara Umum
(1) Cost – Rust Inflation (CP)
CPI adalah faktor penyebab inflasi dari sisi penawaran. Selain biaya
produksi lainnya, ongkos tenaga kerja juga sering menjadi salah satu
penyebab utama CPI, misalnya kenaikan UMR di semua propinsi.
(2) Demand – Pull Inflation (DPL)
• DPI adalah faktor penyebab inflasi dari sisi
permintaan. Menurut teori moneter ekses permintaan ini disebabkan
terlalu banyaknya uang beredar (M1) di masyarakat, sedangkan jumlah
barang di pasar sedikit. Peningkatan permintaan agregat domestik bisa
disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh monetger perbankan
135
dalam bentuk ekspansi kredit atau penurunan suku bunga pinjaman dan
deposito.
• Sebab lain terjadinya inflasi :
a) Imported Inflation (depresiasi Rp…,
harga barang LN)
b) Administrasi Goods (naiknya harga
BBM, tarif listrik)
c) Output Gap (Perbedaan output potensial
dan aktual)
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi
(1) Meningkatnya Kegiatan Ekonomi
Meningkatnya kegiatan ekonomi mendorong peningkatan permintaan
agregat yang tidak diimbangi dengan meningkatnya penawran agregat
karena adanya kendala struktural perekonmian. Indikatornya : masih
rendahnya kapasitas terpakai sektor industri pengolahan (39% - 51%) dan
menurunnya produksi tanaman bahan makanan (sumbangan pada PDB
berkurang 1,1%) pada tahun 2001.
(2) Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan
Kebijakan pemerintah dalam tahun 2001 menaikkan harga barang dan jasa
seperti BBM, listrik, air miinum dan rokok serta menaikkan upah minimum
tenaga kerja swasta dan gaji pegawai negeri diperkirakan memberikan
tambahan inflasi IHK sebesar 3,83%.
(3) Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
Pengaruh kuat depresiasi nilai tukar rupiah diketahui dari hasik penelitian
bank Indonesia, antara lain :
• Perilaku harga cenderung mudah meningkat karena pengaruh
melemahnya nilai tukar rupiah
• Perilaku harga cenderung sulit untuk turun apabila nilai tukar rupiah
menguat, seperti pada bulan Agustus menguat 4,0%, bulan Juli
menguat 21,0%, namun harga hanya turun (deflasi) sebesar 0,24%.
(4) Tingginya ekspektasi inflasi masyarakat
Tingginya inflasi IHK tidak lepas dari pengaruh ekspektasi inflasi oleh
produsen dan pedagang serta konsumen.
Tingginya ekspektasi inflasi pada produsen dan pedagang sepanjang tahun
2001 terutama dipengaruhi oleh tingginya inflasi tahun 2000 yang
mencapai 9,35%. Sedangkan ekspektasi para konsumen terutama
dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan harga barang-barang yang
dikendalikan pemerintah dan ekspektasi nilai tukar rupiah. (Laporan Bank
Indonesia Tahun, 2001).
KEBIJAKAN/ TINDAKAN MENGENDALIKAN INFLASI
Bank Indonesia telah menempuh berbagai upaya untuk mencapai sasaran inflasi :
136
1. Menyerap kelebihan
likuiditas
Untuk meredam melemahnya nilai tukar rupiah terhadap inflasi BI berupa
menyerap kelebihan likuiditas melalui instrumen operasi pasar terbuka.
2. Melakukan Sterilisasi
Valuta Asing
BI melakukan kebijakan pembatasan transaksi rupiah oleh bukan penduduk.
3. Mengurangi ekspektasi
inflasi yang tinggi
BI menetapkan sasaran inflasi yang rendah pada awal tahun.
B. PERKEMBANGAN UANG
PRIMER DAN UANG BEREDAR
1. Perenana Uang Dalam
Perekonomian
• Fungsi dasar uang
adalah : (1) uang sebagai alat tukar (medium of exchange); (2) uang
sebagai alat penyimpan nilai atau tenaga beli (Store of value). Sedangkan
fungsi tambahannya meliputi : (3) uang sebagai satuan hitung (unit of
account) dan (4) uang sebagai pengukur nilai (measure of value); (5) uang
sebagai alat pengukur utang atau pembayaran di saat yang akan datang
(standard for deferred payment)
(Sri Mulyani Indrawati, 1988)
• Financial
Deepening
Pembahasan tentang masalah moneter dalam suatu negara sering kali harus
dimulai dengan pembahasan tentang financial deepening. Karena konsep
ini akan membawa kita kepada observasi yang lebih mendalam tentang
besar kecilnya suatu sistem keuangan dalam suatu negara.
Semakin tinggi suatu perekonomian maka semakin besar perran sistem
keuangan, karena semakin banyak pula penggunaan uang dalam berbagai
transaksi perekonomian. Dari tabel di bawah ini dapat dilihat bahwa
M1/PDB dan M2/PDB yang merupakan proksi dari financial deepening
mengalami peningkatan yang semakin besar sejak tahun 1995 (Sjahrir.
1995).
Financial Deepening dan Rasio M1/M2
137
Tahun PDB HK.
‘83
M1 M2 M1/PDB M2/PDB M1/M2
1985
1986
1987
1988
1989
1990
85.081,9
90.080,5
94.517,8
99.936,0
107.936,0
114.921,0
10.104
11.677
12.685
14.382
20.078
23.819
23.153
27.661
33.885
41.998
58.045
84.630
11,9
13,0
13,4
14,4
18,7
20,7
27,2
30,7
35,9
42,0
54,1
73,6
43,6
42,2
37,3
34,6
28,1
(HK ’83)
1995
1996
1997
1998
1999
368.792,3
413.797,9
433.246,0
376.051,6
376.902,5
52.677
64.089
78.343
100.489
124.633
222.638
288.632
355.643
570.525
646.205
14,3
15,3
18,1
26,7
30,1
60,4
69,7
82,1
151,7
171,4
23,6
22,2
22,0
17,6
19,3
Sumber : (1) 1985 – 1990 (Sjahrir, 1995)
(2) 1995 – 199 diolah dari Laporan Tahunan BT
• Beberapa catatan
dari tabel di atas :
(1) M1/PDB mengalami peningkatan yang semakin besar,
yaitu dari 11,9% (1985) menjadi 20,7% (1990) dan dari 14,3% (1995)
menjadi 30,1% (1999).
(2) Demikian pula M2/PDB meningkat terus, yaitu dari
27,2% (1995) menjadi 73,6% (1990) dan dari 60,4% 91995) menjadi
171,4% 91999). Hal ini menunjukkan semakin pentingnya penggunaan
broad money (M2) dalam perekonomian
(3) Setelah Pakto ’88 Financial Deepening meningkat
begitu besar (18,7% dan 20,7%). Dapa diduga hal inii berkaitan dengan
terjadinya ekspansi moneter. Demikian pula setelah krisis moneter
(26,,7% an 30,1%). Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan dalam negeri menyebabkan masyarakat lebih senang
memegang uang kartal, atau giral
(4) Ratio M1/M2 terlihat semakin menurun. Hal ini
menunjukkan bahwa telah terjadi transformasi penggunaan M1 ke M2.
Artinya penggunaan M2 semakin banyak, pertanda makin berfungsinya
uang dalam arti luas IM2) dari pada uang dalam arti sempit, yaitu uang
kartal dan uang giral (M1).
2. Uang Primer dan Yang
Mempengaruhinya
a. Komponen Uang Primer (MO)
Komponen uang primer (MO) terdiri dari uang kartal (Uk) dan cadangan
( R ).
MO = Uk + R
Uk = Uang kertas + logam yang ada di masyarakat di tambah
138
Uang kertas + logam yagna da di perbankan
R = Giro perbankan yang ada di bank Idnoensia
Ditambah
Giro Masyarakat/ swasta yang ada di bank Indonesia
b. Yang mempengaruhi uang primer (MO)
Uang Primer 2000
1999
2000 Perubaah
tambahan Rincian I II III IV
Triliunan rupiah
Uang primer
Uang kertas + logam
- di masyarakat
- di perbankan
Giro Bank pada BI
Giro Sektor Sasta
Faktor-faktor yang
Mempengaruhi uang. Primer
Cadangan devisa bersih (NIR)
Aktiva Domestik bersih (NDA)
- Tagihan bersih pada
pemerintah
- Bantuan likuiditas
- Kredit likuiditas
- Tagihan lainnya
- Operasi pasar terbuka
- Lainnya bersih (NOT)
101,8
72,6
58,4
14,2
28,1
1,1
101,8
114,5
-12,7
149,6
37,2
23,7
1,1
-86,9
-137,4
88,9
59,8
51,2
8,6
27,1
1,4
88,9
129,6
-40,6
165,3
37,3
18,6
1,1
-107,4
-155,2
94,6
64,4
55,9
8,5
28,4
1,8
94,1
113,6
-19,1
159,3
37,3
17,7
1,3
-98,5
-133,2
97,1
65,6
58,9
8,7
29,,7
1,9
97,1
116,8
-19,7
148,7
37,3
16,7
1,4
-86,8
-137,0
125,6
89,7
72,4
17,3
33,9
2,0
125,6
124,5
1,1
133,7
37,3
15,9
1,5
-78,9
-108,4
23,8
17,1
14,0
3,1
5,8
0,9
23,8
10,0
-11,6
-15,6
0,1
-7,8
0,4
-8,0
-29,0
Sumber : Laporan Bank Indonesia Tahun 2000
• Dilihat dari sumbernya / komponennya maka kenaikan uang
primer dari Rp 1001,8 triliun (1999) menjadi Rp 125,6 triliun (2000)
atau naik Rp 23,8 triliun disebabkan karena meningkatnya uang kartal
sebesar Rp 17,1 triliun dan Giro Bank + Giro Swasta pada BI sebesar
Rp 6,7 triliun. Meningkatnya uang kartal karena meningkatnya aktivitas
ekonomi, rendahnya suku bunga deposito riil dan karena motif untuk
berjaga-jaga.
• Dilihat dari faktor yang mempengaruhinya, maka terlihat:
- Karena meningkatnya cadangan devisa bersih (net
international reserves atau NIRO sebesar Rp 1,4 miliar sehingga
akhir tahun 2000 menjadi $1,8 miliar atau setara Rp 124,5 triliun.
Sepanjang tahun posisi NIR selalu berada di atas batas bawah
(floor).
- Karena posisi aktiva domestik bersih (net domestik assets
atau NDA) cenderung selalu bearda di bawah batas atas (celling).
139
Ini terlihat bahwa posisi NDA pada akhir tahun 2000 berada pada
posisi RP 1,1 triliun (positif) yang pernah terjadi sebelumnya.
3. Uang Beredar dan Faktor
yang Mempengaruhi
a. Komponen Uang Beredar (M2)
- Komponen uang beredar (M2) terdiri dari uang kartal (Uk) + uang
giral (Ug) + uang kuasi (Uq)
M2 = M1 + Uq ---- M1 = Uk + Uq
M2 = Uk + Ug + Uq
Ug = Giro masyarakat yang ada di perbankan
Uq = Deposito dan tabungan dalam rupiah di perbankan ditambah
Simpanan dalam valuta asing
- Dilihat dari tugas Bank Indonesia, maka :
M1 = merupakan sasaran antara
MO = merupakan sasaran operasional
BI mempengaruhi MO melalui :
- Penetapan besarnya RR
- Berlangsungnya OPT
b. Yang Mempengaruhi Uang Beredar (M2)
Rincian 1997 1999 2000 2000
Perubahan (triliun Rp) Posisi
M1
Uang Kartal
Uang Giral
Uang Kuasi
Deposito dan tabungan Rp
Tabungan dalam Valas
M2
Faktor yang mempengaruhi M2
Aktiva luar negeri bersih
Tagihan pada pemerintah bersih
Tagihan bersih pada BPPN
Tagihan pada sektor usaha
Lainnya (bersih)
14,3
5,9
8,3
52,8
11,3
41,4
67,0
17,3
-16,5
0,0
137,1
-70,9
23,4
17,0
6,5
45,4
49,9
-4,5
68,8
-12,6
425,3
-29,7
-299,7
-14,5
37,6
14,0
23,5
63,3
36,1
27,2
100,8
81,6
123,1
0,0
42,3
-146,2
162,2
72,4
89,8
584,8
444,7
140,2
747,0
210,7
520,3
0,0
294,9
-278,9
Sumber : Laporan Bank Indonesia Tahun 2000
• Berdasarkan Sumber / Komponennya, maka uang beredar (M2)
mengalami kenaikan 15,6% (Rp 100,8 triliun) menjadi Rp 747,0 triliun
karena :
- M1 mengalami kenaikan sebesar 20,1% (Rp 37,6 triliun) sehingga
mencapai posisi Rp 162,2 triliun (akhir 2000)
140
- Uang kuasi (Uq) mengalami peningkatan sebesar Rp 12,1% (Rp
63,3 triliun) sehingga pada akhir 2000 mencapai Rp 584,8 triliun.
- Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya maka
peningkatan M2 tahun 2000 disebabkan karena meningkatnya tagihan
bersih pada pemerintah Rp 123,1 triliun, tagihan pada sektor swasta Rp
42,3 triliun dan aktiva luar negeri bersih sebesar Rp 81,6 triliun akibat
kenaikan penerimaan minyak.
- Berbeda dengan keadaan sebelum krisis (1997), kenaikan M2
terutama disebabkan adanya kenaikan tagihan sektor swasta Rp 137,1
triliun dan kenaikan aktiva luar negeri bersih Rp 17,3 triliun.
Sedangkan tagihan pada pemerintah merupakan faktor pengurang
(mengurangi) sebesar
Rp 16,5 triliun.
C. PERAN SEKTOR
PERBANKAN DI INDONESIA
a. PERKEMBANGAN PERBANKAN DI INDONESIA
1. Perbankan Sebelum dan
Sesudah Pakto 1988
Struktur pasar yang dihadapi perbankan sesudah Pakto 1988 lebih kompetitif
dibandingkan sebelum Pakto 1988. persaingan tidak hanya muncul di antara
bank-bank swasta nasional, tetapi juga bank pemerintah dan bank asing, bank
ampuran. Sebelum Pakto 1988, bank pemerintahan menikmati privilege dana
BUMN, kredit likuiditas Bank Indonesia dan akses yang lebih besar terhadap
dana luar negeri.
Persaingan yang dihadapi oleh bank juga semakin ketat sehubungan dengan
berkembangnya sumber dana alternatif seperti pasar modal dan jenis-jenis lain
seperti lembaga keuangan modal ventura.
(Sjahrir, 1995).
2. Perbankan Sesudah Krisis
Ekonomi 1997
 Aspek Kelembagaan
• Sebagai dampak dari restrukturisasi perbankan, jumlah bank
umum beserta jaringan kantornya mengalami penurunan. Pada akhir
tahun 1999, jumlah bank yang beroperasi adalah 164 bank, menurun
cukup drastis dari 208 bank tahun sebelumnya. Penurunan ini berasal
dari pembekuan 38 BUSN dan penutupan 2 bank umum eks bank
campuran. Selain itu dilakukan penggabungan usaha (merger) 4 bank
persero, 2 BUSN dan 2 bank umum eks bank campuran serta pendirian
2 bank Persero.
• Dengan adanya merger 4 bank persero menjadi PT. Bank Mandiri,
jumlah kantor bank (kelompok bank persero) juga mengalami dari 1.875
menjadi 1.853 kantor (1999). Sementara itu jumlah BPR meningkat dari
141
7.607 menjadi 7.772 BPR (1999) dan diantaranya 79 BPR beroperasi
dengan prinsip syariah.
(Laporan bank Indonesia Tahun 1999)
 Kegiatan Usaha Bank
(a) Penghimpunan
Dana Pihak Ketiga
• Dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun perbankan meningkat
8,6% dari RP 625,3 triliun menjadi Rp 678,9 triliun (1999).
Deposito masih dominan, meskipun pertumbuhannya negatif.
Sementara pangsa giro dan tabungan semakin meningkat.
(b) Kredit
Perbankan
• Kredit perbankan menurun sebesar 49,2% yaitu dari Rp 545,,4
triliun menjadi Rp 277,3 triliun (1999). Besarnya penurunan kredit
pada kelompok BUSN devisa, karena adanya penutupan sejumlah
BUSN devisa. Sementara penurunan pada kelompok bank persero,
terkait dengan dialihkannya kredit macet ke Amu/ BPPN.
b. KEBIJAKAN PERBANKAN SESUDAH KRISISI EKONOMI 1997
Strategi restrukturisasi perbankan di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua bagian
besar: program penyehatan perbankan dan pemantapan ketahanan sistem
perbankan.
1. Program Penyehatan
Perbankan
Program ini adalah kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi berbagai
permaslaahan yang dihadapi perbankan karena krisis (restorasi perbankan),
yang terdiri dari: program penjaminan pemerintah, program rekapitalisasi
perbankan dan program restrukturisasi kredit.
(a) Program Penjaminan Pemerintah
• Pemerintah menyempurnakan persyaratan
administrasi pengajuan klaim. Selain itu obyek yang dijamin dibatasi.
• Bulan Mei 1999 pemerintah menerbitkan obligasi
senilai Rp 53,8 triliun untuk memenuhi kewajiban bank-bank yang
dibekukan pada tahun 1998 dan 1999.
(b) Program Rekapitalisasi
• Tujuan program ini agar bank-bank memiliki kecukupan modal
untuk operasi sebagai bank yang sehat. Untuk sementara pemerintah
melakukan penyertaan modal melalui penerbitan obligasi senilai Rp
281,8 triliun.
• Kebijakan Rekapitalisasi yang ditempuh :
(1) Merekap, seluruh bank pesero dengan dana
pemerintah
142
(2) Merekap, seluruh BPD yang CAR-nya
kurang dari 8% dengan dana pemerintah.
(3) Merekap, bank umum eks bank campuran
yang CAR-nya kurang dari 4% dengan dana pemilik (partner asing)
(4) Merekap, BUSN yang CAR-nya antara –
25% sampai 4% dengan bantuan dana pemerintah apabila memenuhi
persyaratan yang ditetapkan.
(c) Program Restrukturisassi Kredit
• Desember 1998 BI membentuk Satuan
Tugas (Satgas) yang aktif ikut serta dalam pertemuan antara bank
kreditor dengan perusahaan debitor.
• Instansi lain yang ikut menyelesaikan:
BPN untuk kredit bermasalah bank-bank di bawah pengawasannya dan
Kantor Menteri Negara Penanaman Modal & Pemberdayaan BUMN
untuk kredit bermasalah bank persero.
2. Pemantapan Ketahanan
Sistem Perbankan
Program ini untuk membantun kembali sistem perbankan yang sehat dan kuat
untuk mencegah terjadinya krisis dimasa yang akan datang.
(a) Perbaikan
Infrastruktur Perbankan
• Langkah perbaikan
infrastruktur perbankan diwujudkan dalam bentuk upaya pengembangan
BPR, pengembangan bank syariah dan rencana pembentukan Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS).
• Pengembangan
BPR: kebijakan pengembangan BPR di lakukan dengan menyehatkan
BPR, membantu pendanaan BPR serta meningkatkan perarn BPR.
Untuk membantu pendanaan BPR, BI hingga tanggal 16-11-1999 masih
menyediakan bantuan likuiditas bagi penyaluran kredit modal kerja
(KMK), Kredit Kepada Pengusaha Kecil dan Mikro (KPKM) dan
memperluas jaringan cakupan Proyek Kredit Mikro (PKM).
• Pengembangan
Bank Syariah : kebijakan pengembangan bank syariah diarahkan kepada
upaya untuk mempersiapkan perangkat peraturan upaya untuk penunang
yang mendukung operasional bank syariah. Strateginya mengacu kepada
4 langkah :
1) Penyusun
an perangkat peraturan tentang perbankan syariah
2) Pengemb
angan jaringan bank syariah
3) Pengemb
angan piranti moneter dalam rangka mendukung kebijakan moneter
dan pengembangan bank syariah.
143
4) Pelaksana
an kegiatan sosialisasi perbankan syariah
Dengan perkembangan tersebut pada akhir tahun 1999 terdapat : 2 Bank
Umum Syariah, 1 Kantor Cabang Bank Syariah dan 79 BPRSyariah.
• Lembaga
Penjaminan Simpanan (LPS)
- Setiap bank diwajibkan untuk menjamin dana masyarakat
yang disimpan pada bank yang bersangkutan. (pasal 37 B UU
No.10/1998).
- Bulan Juli 1999 telah dibentuk tim persiapan pendirian LPS
dan saat ini pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah
Jerman sedang melakukan penelitian mengenai pendirian LPS BPR.
(b) Penyemp
urnaan Ketentuan dan Pemantapan Pengawasan
• Tahun 1999
Indonesia terus menempuh berbagai kebijakan untuk menyempurnakan
ketentuan perbankan dan memantapkan pengawasan bank, antara lain
ketentuan :
1) Kewajiba
n Penyediaan Modal Minimum (KPPMM)
2) Kualitas
Aktiva Produktif (KAP)
3) Pencadan
gan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)
4) Batas
Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
5) Posisi
Deivsa Neto (PDN)
• Pendekatan dalam
pengawasan bank lebih ditekankan pada penegakann peraturan dan
penyempurnaan metode pengawasan dengan menitikberatkan pada
identifikasi risiko yang dihadapi. Disamping itu dilakukan juga
perbaikan tata kerja dan peningkatann kompetensi dan integritas
pengawas bank.
D. INSTRUMEN DAN ANALISIS
KEBIJAKAN MONETER
a. Instrumen Bersifat Kuantitatif
Tujuannya agar bank-bank umum membatasi diri dalam pemberian kredit dan dapat
menekan jumlah uang yang beredar, antara lain dengan :
1. Operasi Pasar Terbuka
(OPT) atau open market operation
144
• Bank Sentral (Bank Indonesia) menjual atau membeli surat berharga dan
menentukan suku bunga bank atau diskonto.
• Sejak 1-2-1984 Bank Indonesia memberikan SBI (Sertifikat Bank
Indonesia) dan setahun kemudian menyusul SBPU (Surat Berharga Pasar
Uang)
• Dengan menjual SBI karena bank-bank umum – likuiditas bank berkurang,
pemberian kredit berkurang – maka jumlah uang beredar berkurang.
Sebaliknya dengan membei kembali SBPU (bank umum menjual SBPU) –
likuiditas bank bertambah, kredit bank bertambah – jumlah uang beredar
bertambah.
2. Penentuan Cadangan
Wajib Minimum
• Sejak Paket 27 Oktober 1988, cadangan wajib minimum diturunkan dari
15% menjadi 2% dan sejak Desember 1995 cadangan wajib minimum
dinaikkan lagi menjadi 3% dari DPK (Dana Pihak Ketiga) yang harus
ditempatkan pada bank Indonesia sebagai Giro Wajib Minimum (GWM).
3. Penentuan Kewajiban
Penyediaan Modal Minimum
• Untuk memenuhi standar BIS (bank or International Setlement), maka
dalam Pakri 1991 ditetapkan bahwa bank-bank di Indonesia diwajibkan
memenuhi CAR atau KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum)
sebesar 8% nilai total assetnya dengan pelaksanaan secara bertahap :
- Sampai akhir Maret 1992 sebesar 5%
- Sampai akhir Maret 1993 sebesar 7%
- Sampai akhir Maret 1994 sebesar 8%
• Sejak September 1995 KPMM diubah menjadi 12% (dolaksanakan
bertahap selama 6 (enam) tahun. Jadi pada September 2001 semua ank
harus memenuhi KPMM sebesar 12%.
• Tingkat kesehatan bank berdasarkan KPMM dapat dinyatakan :
0% ------- 5,10% ------ 6,60% ------- 8,10% -------- 10%
(TS) (KS) (CS) (S)
Keterangan :
TS = tidak sehat
CS = cukup sehat
KS = kurang sehat
S = Sehat
b. Instrumen Bersifat Kualitatif
Tujuannya agar bank-bank umum lebih selektif dalam memberikan kredit dan
dilakukan antara lain dengan :
1) Pengawasan kredit selektif
145
• Kebijakan ini biasanya diberlakukan untuk sektor dan tujuan tertentu,
seperti kredit ekspor, kredit pemilikan rumah, kredit usaha kecil, kredit
untuk pengadaan pangan dan lain-lain.
• Tujuan utama untuk mengawasi apakah kredit yang diberikan bank
sesuai dengan keinginan pemerintah.
2) Bujukan Moral
Pimpinan bank Indonesia mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pimpinan
bank-bank umum. Dalam kesempatan itu Bank Indonesia dapat menjelaskan
kebijakan yang sedang atau akan dijalankann dan dapat memberikan saran-
saran atau himbauan kepada bank-bank umum seperti untuk melakukan merger,
penurunan suku bunga dan sebagainya.
(Insukindro, 1995).
3) Kebijakan : Sasaran Tunggal
Laju Inflasi
• Pemilihan inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter dilakukan
dengan beberapa pertimbangan :
(1) Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa dalam jangka panjang
kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi tingkat inflasi dan tidak
dapat mempengaruhi variabel-variabel riil, seperti pertumbuhan
ekonomi, tingkat pengangguran.
(2) Pencapaian inflasi yang rendah merupakan prasarat bagi
tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena
perekonomian tidak dipacu untuk tumbuh melebihi kapasitasnya.
(3) Dengan menetapkan inflasi sebagai sasaran tunggal, sasaran
tersebut akan dapat menjadi jangkar nominal dalam merumuskan
kebijakan moneter.
• Dengan demikian otoritas moneter tidak dibebani tanggung jawab atas
pengendalian harga yang disebabkan oleh gejolak sesaat disisi penawaran
(noise) seperti tekanan inflasimusiman, pengaruh penyesuaian harga sekali
waktu oleh pemerintah maupun sektor swasta.
(Laporan Tahunan Bank Indonesia, 1999).
146
E. PERANAN PASAR MODAL
DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA
a. Perkembangan Pasar Modal
1. Membaiknya ekspektasi
peserta pasar atas prospek perekonomian domestik, menurunnya suku bunga
perbankan, memberikan dampak positif terhadap perkembangan pasar modal
dalam tahun 1999. angka IHSG di BEJ meningkat ari 399 pada akhir tahun
1988, menjadi 679,9 pada akhir tahun 1999.
2. Jumlah (volume) saham
yang diperdagangkan di BEJ selama tahun 1999 mencapai 178,7 miliar lembar,
senilai Rp 147,,8 triliun dibandingkan tahun 1998 sebanyak 91,7 miliar lembar
(naik 94,9%).
3. Nilai kapitalisasi pasar
pada BEJ juga mingkat dari Rp 175,7 triliun (1998) menjadi Rp 451,,8 triliun
(1999).
Peningkatan aktivitas perdagangan juga terlihat dipasar obligasi. Pada saat
kondisi perbankan bellum sepenuihnya pulih, pasar obligasi menjadi alternatif
sumber pendanaann yang menarik. Setelah sejak tahun 1997 tidak ada
peningkatan perusahaan atau emiten yang menggunakan obligasi sebagai
sumber pembiayaan, selama tahun 1999 terdapat penambahan 6 emiten di pasar
oboligasi. Nilai emisi obligasi meningkat dari Rp18,9 triliun (1998) menjadi Rp
23,2 triliun. (Laporan Tahunan Bank Indonesia, 1999).
b. Pasar Modal Sebagai Sumber Pembiayaan
1. Pasar modal merupakan alternatif sebagai sumber pembiayaan, disamping
kredit bank. Bila kita bandingkan, baik kredit maupun saham, masing-masing
memiliki kebaikan dan kekurangan.
2. Total pembiayaan (kredit + pasar modal) berturut-turut sebagai berikut : Rp
543,5 triliun (1997), Rp 640,2 triliun, (1998), Rp 506,5 triliun (1999), dimana
Kredit berturut-turut 83,2% (1997), 85,2% (1998) dan 54,7% (1999), porsi
pasar modal rata-rata 25,6%.
VIII.3. DAFTAR BACAAN
1. Sjahrir, Dr. Personalia Ekonomi Indonesia, Moneter, Perkreditan dan Neraca
Pembayaran Indonesia, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995.
2. Opposunggu. H.M.T. Kebijaksanaan Devaluasi di Indonesia, Sebuah Aplikasi
Ekonomi Moneter, Penerbit: Erlangga, Jakarta, 1985.
3. Triyono Widodo, Suseno Hg., Indikator Ekonomi, Dasar-dasar Perhitungan
Perekonomian Indonesia, Penerbit Kanisius, Jakarta, 1995.
147
4. Indrawati, Sri Mulyani, Teori Moneter, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, 1988.
5. Insukindro, Dr., Ekonomi Uang dan bank, Teori dan Pengalaman di Indonesia,
diterbitkan oleh BPFE, Yogyakarta, 1995.
6. Bank Indonesia, Laporan bank Indonesia, Tahun 1998 – 2002.
148
PEREKONOMIAN INDONESIA
Munawir, SE
IX. PEREKONOMIAN INDONESIA DALAM ERA
GLOBALISASI
IX.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN
a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami proses globalisasi ekonomi dan pengaruhnya
terhadap perekonomian Indonesia.
b. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa dapat menjelaskan :
1. Prinsip-Prinsip Perdagangan Internasional
2. Kerjasama Ekonomi Regional – Internasional
3. Analisis Kebijakan Perdagangan Internasional
4. Kerjasama Ekonomi Internasional
c. Materi Pembahasan
A. Prinsip-prinsip Perdagangan Internasional
a) Teori Perdagangan Klasik
1) Teori
Keunggulan Mutlak (Absolut Advantage)
2) Teori
Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage)
3) Teori
Proporsi Faktor Produksi (Factor Endowment)
b) Teori Perdagangan Modern
1) Teori Keunggulan Kompetitif (Competitive
Advantage)
2) Pendekatan Alternatif dalam Teori Perdagangan
B. Kerjasama Ekonomi Regional – Internasional
a) Globalisasi Perekonomian Dewasa Ini
1) Gejala globalisasi
2) Faktor penyebab globalisasi
3) Kecenderungan dan dampak globalisasi
b) Perundingan GATT dan WTO
1) General Agreement on Trade and Tariff (GATT)
2) World Trade Organization (WTO)
149
3) Dampak Liberalisasi Perdagangan Produk Pertanian
c) Pembentukan Blok Perdagangan Regional
1) Masyarakat ekonomi Eropa dan Pasar Tunggal
Eropa
2) Kawasan bebas perdagangan Amerika Utara
3) Kawasan bebas perdagangan ASEAN
4) Dampak EEC, NAFTA dan AFTA
5) Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)
C. Analisa Kebijakan Kerjasama Ekonomi Internasional
a. Analisa Keibjakan Perdagangan
1. Peluang Dunia Usaha Dalam Era Globalisasi
2. Kebijakan Bisnis Yang Dilakukan
3. Kebijakan Ekonomi dalam Era Globalisasi
b. Kerjasama Ekonomi Internasional
1. Kerjasama internasional tahun 2000
2. Kerjasama internasional tahun 2001
3. Kerjasama internasional tahun 2002
IX.2. MATERI PEMBAHASAN
PENDAHULUAN
• Globalisasi ekonomi adalah berlangsungnya gerak arus barang, jasa dan
uang di dunia secara dinamis, sesuai dengan prinsip ekonomi, dimana berbagai
hambatan terhadap arus tersebut menjadi semakin berkurang. Hambatan berupa
proteksionisme perdagangan, larangan invstasi, dan regulasi devisa serta moneter
yang mengekang arus jasa dan kapital internasional semakin lama menjadi
semakin berkurang bila globalisasi berlangsung. (Sjahrir, 1995).
• Perkembangan ekonomi dunia yang begitu pesat telah meningkatkan
kadar hubungan saling ketergantungan dan mempertajam persaingan yang
menambah semakin rumitnya strategi pembangunan yang mengandalkan ekspor.
Di satu pihak hal itu merupakan tantangan dan kendala yang membatasi. Di pihak
lain hal tersebut merupakan peluang baru yang dapat dimanfaatkan untuk
keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional.
A. PRINSIP-PRINSIP PERDAGANGAN
INTERNASIONAL
• Terdapat sejumlah konsep atau teori yang
menjelaskan faktor-faktor apa yang mendorong terjadinya perdagangan antar
negara, mengapa perdagangan antar negara bisa menguntungkan kedua belah
pihak dann dalam produk-produk apa sebaiknya tiap negara berspesialisasi.
• Dari teori-teori tersebut orang bisa mengambil
prinsip-prinsip yang bisa menjadi pedoman dalam melaksanakan perdagangan
internasional.
150
a) Teori Perdagangan Klasik
1) Teori Keunggulan Multak (Absolute Advantage)
- Dasar pemikiran teori Adam Smith ini adalah bahwa suatu negara
akan melaksanakan spesialisasi dana negara tersebut memiliki
keunggulan absolut dan tidak memproduksi atau melakukan impor
tehadap jenis barang lain di mana negara tersebut tidak memiliki
keunggulann absolut terhadap negara lain yang memproduksi barang
sejenis. (Tulus Tambunan, 2001)
- Dengan kata lain, suatu negara akan mengekspor (impor) suatu jenis
barang jika negara tersebut dapat (tidak dapat) membuatnya lebih
efisien atau murah di bandingkan negara lain. Jadi teori ini menekankan
bahwa efisiensi dalam penggunaan input, misalnya tenaga kerja, dalam
proses produksi sangat menentukan keunggulan atau daya saing.
Tingkat keunggulan diukur berdasarkan nilai tenaga kerja yang sifatnya
homogen.
2) Teori Keunggulan Komparatif (comparative
advantage)
- Sering dijumpai bahwa suatu negara yang efisien dalam
memproduksikan suatu barang, juga efisien dalam memproduksikan
barang-barang lain. Ini disebabkan, misalnya oleh penggunaan
teknologi dan mesin-mesin yang lebih efisien atau tenaga kerja yang
trampil. Negara tersebut mempunyai keunggulan mutlak dalam
produksi semua barang.
- Dalam hal ini, menurut David Ricardo, yang berlaku adalah teori
keunggulan komparatif. Suatu negara hanya akan mengekspor barang
yang mempunyai keunggulan komparatif tinggi dan mengimpor barang
yang mempunyai keunggulan komparatif rendah. (Boedino, 1994).
- Misalnya biaya produksi dihitung dengan hari kerja di Persia dan di
Indonesia sebagai berikut :
Persia Indonesia
Permadani (1 lbr) 2/ hr 4/hr
Rempah-rempah (1 kg) 2/ hr 4/hr
Persia mempunyai keunggulan komparatif dalam produksi permadani
(P) dan Indonesia mempunyai keunggulan komparatif dalam produksi
rempah-rempah ( R ) karena :
(a) Di Persia ; 1 kg
R = 12 lbr P (1 lbr P = 2/3 kg R)
(b) Di Indonesia :
1 kg = R = 1 lbr P (1 lbr P = 1 kg R)
3) Teori Proporsi Faktor Produksi
- Dasar pemikian teori faktor-faktor proporsi dari Hecksher dan Ohlin
(disingkat Teori H-O) bahwa perdagangan antara dua negara terjadi
151
karena adanya perbedand alam opportunity cost antara dua negara
tersebut terjadi karena adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi
yang dimilikinya. Misalnya, Indonesia tanah lebih luas dan bahan-
bahan baku serta tenaga kerja (unskilled) lebih banyak dari pada
Singapura. Sedangkan di Singapura memiliki tenaga kerja (skilled)
lebih banyak.
- Jadi teori H-O menyatakan bahwa suatu negara akan atau sebaiknya
mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang
relatif banyak (harga relatif faktor produksi tersebut murah), sehingga
barang-barang tersebut harganya murah. Indonesia sebaiknya
mengekspor barang-barang yang padat karya atau padat bahan baku
yang melimpah, seperti minyak dan komoditi pertanian (tulus
Tambunan, 1996).
b) Teori Perdagangan Modern
1) Teori Keunggulan Kompetitif (competitive
advantage)
- The Competitive Advantage of Nations, 1990 yang dikemukakan oleh
Michael E. Porter adalah tentang tidak adanya korelasi langsung antara
dua faktor produksi (sumber daya alam yang tinggi dan sumber daya
manusia yang murah) yang dimiliki suatu negara untuk dimanfaatkan
menjadi keunggulan daya saing dalam perdagangan.
- Porter mengungkapkan bahwa ada empat atribut utama yang
menentukan mengapa industri tertentu dalam suatu negara dapat
mencapai sukses internasional :
(1) Kondisi faktor produksi
(2) Kondisi permintaan dan tuntutan mutu dalam negeri
(3) Eksistensi industri pendukung, serta
(4) Kondisi persaingan dan struktur perusahaan dalam negeri
Selain itu, pemerintah juga berperan sentral dalam pembentukan
keunggulan kompetitif. Kebijakan seperti anti trust, regulasi, deregulasi
atau pembeli juga sangat mempengaruhi persaingan ini (Hendra
Halwani, 1993).
- Ujian utama bagi teori Porter adalah pasar tunggal Eropa, MEE dan
NAFTA telah merangsang perusahaan Eropa untuk melakukan merjer
dan membentuk aliansi. Perkembangan itu jelas bertentangan dengan
teori Porter. Merjer dan aliansi akan mengurangi persaingann dan
menciptakan perusahaan raksasa yang secara politik sanat kuat.
2) Pendekatan Alternatif Dalam Teori Perdagangan
- Apa yang telah diuraikan di atas adalah teori atau pandangan
mengenai perdagangan internasional dari para ekonom yang disebut
“main – stream economics” yang bersumber dari pandangan kaum
Klasikd an Nekolasik, yang tidak lain adalah ilmu ekonomi “liberal”
(liberal economics)
152
- Bagaimanakah pendapat sudut pandangan yang lain? Ada yang
menyebut “ilmu ekonomi institusional” (institutional economics), ada
yang menyebut “ilmu ekonomi sejarah” (historical economics), ada
yang menyebut “ilmu ekonomi politik” (political economics). Secara
umum sudut pandangan ini menekankan aspek-aspek yang “terlupakan”
dalam analisis “main-stream economics”, yaitu mengenai aspek
kelembagaan, perbedaan dalam kekuatan ekonomi dari pelaku
ekonomi, aspek yang bersifat ekonomis-politis dan melihat kesemuanya
sebagai proses sejarah.
- Dalam kenyataan, menurut pandangan ini, selalu terdapat perbedaan
“kekuatan ekonomi” pihak-pihak yang melakukan perdagangan
(hubungan ekonomi), ada unsur “kekuasaan monopoli” (monopolistic
power), yang bisa meerusak harmoni dan keseimbangan seperti yang
digambarkan teori Neoklasik, yang menimbulkan ketidakmerataan
dalam pembanguan manfaat perdagangan bisa beraneka ragam
(Boediono, 1994).
B. KERJASAMA EKONOMI REGIONAL –
INTERNASIONAL
a. Globalisasi – Ekonomi Dewasa Ini
1. Gejala-gejala Globalisasi
(1) Globalisasi terjadi dalam kegiatan finansial, produksi
investasi dan perdagangan.
(2) Proses globalisasi meningkatkan kadar ketegantungan antar
negara, menimbulkan proses menyatunya ekonomi dunia
(3) Gejala yang menonjol adalah terpisahnya kegiatan ekonomi
primer dengan ekonomi industri sehingga kaitan poduksi ke belakang
industri pengolahan makin melemah. Dampaknya adalah merosotnya
harga komoditi primer yang disebabkan permintaan yang lesu.
2. Faktor Penyebab Globalisasi
- Makin menipisnya batas investasi dan pasar secara nasional, regional
maupun internasional disebabkan karena adanya:
(1) Komunikasi dan transportasi yang makin canggih
(2) Lalu lintas devisa yang semakin bebas
(3) Ekonomi negara yang semakin terbuka
(4) Penggunaan keunggulan komparatif dan keunggulan
kompetitif di tiap negara semakin digalakkan
(5) Metode produksi dan perakitan dengan organisasi
manajemen yang semakin efisien
(6) Pesatnya perkembangan perusahaan multinasional (TNC) di
seluruh dunia. (H. H. Prijono Tjiptoharijanto, 1993).
3. Kecenderungan Dalam Globalisasi
- Peter F. Drucker dalam bukunya The New Reallities menyebut
ekonomi dunia sebagai fenomena yang berubah, dari “internasional”
menjadi “transnasional” (Sjahrir, 1995).
(1) Dengan demikian, negara (nation state) merupakan partially
dependent variables bersama variabel lainnya: ekonomi regional
153
(EEC), perusahaan transnasional dan ekonomi otonom dari arus
uang, kredit dan investasi.
(2) Globalisasi ekonomi menjadi pertarungan pengembangan
market share dari setiap unit usahapada skala dunia.
- Menurut John Naisbit dan Alvin Toffer ada kecenderungan (H.H.
Prijono Tjiptoharijanto, 1993) :
(1) Masyarakat dunia dewasa ini sedang berubah dari era
masyarakat industri memasuki ke era masyarakat informasi.
Masyarakat tidak bisa menutup diri karna teknologi informasi
mampu menembus batas-batas wilayah kekuasaan negara.
(2) Hubungan saling ketergantungan menyebabkan sistem
ekonomi nasional cenderung menjadi bagian sistem ekonomi
global. Aktivitas ekonomi berlangsung dalam arus gerak barang,
jasa dan uang di dunia secara dinamis sesuai dengan prinsip
ekonomi.
(3) Ketergantungan ekonomi yang sedang tumbuh berubah dari
formasi hubungan antar negara menjadi inter-region (antar blok).
Kekuatan blok-blok ekonomi itu akhirnya akan menjadi ukuran
bargaining power tiap negara dalam perdagangan internasional.
Dampak globalisasi ekonomi
- Makin terpisahnya kegiatan ekonomi primer dengan ekonomi industri
mengakibatkan :
(1) Penggunaan material dalam industri makin sedikit
(2) Kaitan produksi ke belakang produksi pengolahan makin
melemah
(3) Harga komoditi primer merosot karena menurunnya
permintaan
(4) Akibat robotisasi dalam industri, maka kesempatan kerja
berkurang, pengangguran meningkat.
(5) Kaitan antar ekonomi moneter-perbankan dengan ekonomi
riil (sektor industri dan perdagangan) menjadi melemah
(6) Hubungan antar negara berubah menjadi hubungan antar
blok ekonomi/ pakta perdagangan (inter-region)
(7) Bargaining power tiap negara ditentukan oleh kekuatan
pasar blok ekonominya.
(8) Perubahan lingkungan hidup mewarnai berbagai kebijakan
ekonomi dunia, seperti : isu “pembangunan berkesinambungan”,
masalah “limbah industri”, “nuklir”, “global warning” dan
munculnya persaingan antar “blok ekonomi”
b. Perundingan GATT dan WTO
1. General Agreement on Trade and Tariffs (GATT)
(Persetujuan mengenai perdagangan dan tariff)
(1) Latar belakang Berdirinya GATT
154
- GATT adalah perjanjian internasional, multilateral yang
mengatur perdagangan internasional sesudah Perang Dunia II, yang
didirikan pada tahun 1948.
- Setelah Perang DUnia II setiap Negara cenderung membatasi
perdagangan import dan/ atau ekspor dengan alasan: proteksi untuk
produsen, konsumen, masyarakat, neraca pembayaran, pertahanan
dan kemanan.
Alasan Negara sedang berkembang untuk melindungi industrinya
yang masih lemah (infant industry)
(2) Tujuan dan Azas GATT
(a) Tujuan GATT
1) terjadinya perdagangan dunia yang bebas
tanpa diskriminasi.
2) Memupuk disiplin diantara anggotanya
supaya tidak mengambil langkah yang merugikan anggota
lainnya.
3) Mencegah tejadinya perang dagang yang
merugikan semua pihak.
Jika suatu Negara anggota akan melakukan protksi, dianjurkan
menggunakan trif (bea masuk) yang transparan, bukan non tariff
seperti kuota, larangan impor, subsidi dan standar mutu.
(b) Azas Dalam GATT
1) Perdagangan bebas,
2) proteksi dengan tariff non diskriminasi,
3) transparansi kebijakan perdagangan.
(Hendra Halwani, 1993).
(3) Perundingan Dalam Kerangka GATT
Negara Negara yang menandatangani GATT telah beberapa kali
mengadakan pertemuan untuk mengolah tindakan-tindakan lebih lanjut
menuju perdagangan bebas.
Dimasa lalu misalnya, dua perundingan berlangsung dalam waktu cukup
lama:
a) Perundingan Kennedy Round, berlangsung dari tahun 1962 – 1967
dan menghasilkan penurunan-penurunan yang cukup besar dalam
tariff dari semua Negara non sosialis yang utama.
b) Perundingan Tokyo Round berlangsung dari September 1973 –
April 1979, dan menghasilkan baik penurunan tariff mauun langkah-
langkah yang berarti kea rah penurunan hambatan-hambatan bukan
tariff.
Di dalam semua perundingan internasional mengenai hamnbatan
perdagangan terdapat pedoman-pedoman yang terperinci tentang apa
155
yang dimaksud sebagai keseimbangan yang adil dalam konsesi-
konsesi oleh semua Negara yang terlibat (Kindleberger, 1983).
c) Pasca Perundingan Putaran Uruguay di Marakkesh
Maroko, 1994, ditandatangani 125 anggota GATT, telah
menimbulkan sikap optimis dan pesimis dilingkungan Negara-
negara sedang berkembang.
Optimis : karena persetujuan perdagangan multilateral WTO
menjanjikan berlangsungnya perdagangan bebas di dunia, bebas dari
hambatan tariff dan non tariff.
Pesimis : karena semua Negara di duniga mempunyai kekuatan yang
berbeda. Negara-negara industri maju (DCs) mempunyai kekuatan
ekonoi yang lebih besar daripada ekonoim Negara-negara
berkembang (LDCs), termasuk Indonesia (Tulus Tambunan, 2001).
Dalam Perundingan ini :
1) Pembukaan pasar pertanian dijadwalkan secara terpisah.
2) Disepakati untuk mengubah semua hambatan non tariff dengan
proteksi yang sama. DCs besedia menurunkan tarifnya sebesar
36% (dalam waktu 6 than) dan LDCs sebesar 24% (dalam waktu
10 tahun).
3) Butir-butir perjanjian pertanian yang penting:
Pertama, Negara-negara dengan pasar pertanian tertutup
diharuskan mengimpor paling sedikit 3% dari kebutuhan
domestik, sampai 5% dalam waktu 6 tahun.
Kedua, trade distoping support bagi petani harus dikurangi 20%
di DCs selama 6 tahun dan di LDCs sebesar 13,3%.
Ketiga, nilai subsidi ekspor langsung untk produk pertanian
harus diturunkan 35% (6 tahun) volumenya dikurangi 12%.
Keempat, reformasi sektor pertanian dalam perjanjian WTO
tersebut tidak berlaku bagi Negara Negara termiskin di dunia,
tidak termasuk Indonesia (Firdausy, 1998 dalam Tulus
Tambaunan, 2001).
2. World Trade Organization (WTO)
- Baik dalam perundingan GATT maupun perundingan WTO
selalu berhadapan antara dua kekuatan yang tidak seimbang, di satu
pihak Amerika Serikat (AS) dan Uni eropa (UE) yang industri dan
pertaniannya kuat, berhadapan dengan Negara-negara berkembang
(kelompok 20 atau G 20) yang masih lemah baik industri maupun
pertaniannya.
- Perundingan Dalam Kerangka WTO
(a) Pertemuan Tingkat Mentei di Gancun, Meksiko
berlangsung 10-14 September 2003.
156
• Yang menjadi perhatian adalah isu
pertanian di DCs dan LDCs dan isu penting yang diangkat
adalah “menghilangkan subsidi ekspor”.
• Pembahasan mengenai soal bea masuk
komoditas pertanian menghadapi jalan buntu.
• Kelompok 20 Menghentikan
perundingan WTO dan sepakat untuk melanjutkan perundingan
dengan Negara-negara maju. Mereka juga sepakat mengajak
Negara-negara berkembang lainnya untuk bergabung dengan
tuntutan agar Negara maju mau menurunkan subsidi sektor
pertanian.
• Sejak saat itu AS dan UE
menunjukkan fleksibilitasnya (sikap lunak) terhdap isu penting
tentang “menghilangkan subsidi ekspor”.
(b) Pertemuan Komite PErtanian WTO di Jepara, Swiss
• Pertemuan berlangsung 22-27 Maret 2004 dan dihadiri
pejabat senior perdagangan dari 148 negara.
• Pertemuan ini dinilai sangat penting di lingkungan WTO
karena diharapkan dapat mengawali kembali pembicaraan
perdagangan yang macet.
• AS memperlihatkan keinginannya untuk mempersiapkan
kerangka bagi dimulainya kembai negosiasi pertanian.
Perwakilan perdagangan AS mengunjungi beberapa Negara
penting, termasuk India, untuk memperoleh dukungan bagi
kerangka usulan tersebut.
• Kerangka usulan yang diperkirakan siap bulan Juni 2004
tersebut akan banyak menampung draf kesepakatan yang
berhasil dicapai dari usulan AS – UE dan G 20.
• Namun jawaban dari India dan Negara berkembang lainnya
tergantung pada seberapa jauh Negara maju sepakat untuk
membuka akses pasarnya dengan menghapuskan subsidi
pertanian.
(c) Pertemuan Dewan Umum WTO Bulan Juni dan Juli
2004
• Kelancaran (skses) pertemuan ini sangat tergantung pada
keberhasilan Pertemuan Komite Pertanian WTO di Jenewa,
Swiss yang berlangsung pada 22-27 Maret 2004.
• Kelompok 20 terikat pada sasaran WTO yang menetapkan
bahwa tahun ini (2004) sebagai tahun menuntaskan babak
perundingan Daha, demikian kata Menlu Brazil, Celso Amorin,
beberapa waktu yang lalu (Ekonomi dan Bisnis, Media
Indoensia, 2004).
3. Dampak Liberalisasi Perdagangan Produk Pertanian
157
Banyak studi dan analisis mengenai dampak dari perjanjian GATT terhadap
ekonomi Negara-negara anggota. Tapi semuanya menghasilkan konkluasi
yang berbeda-beda (Tulus Tambunan, 2001).
(a) Studi Sekretariat GATT (Sazanami, 1995).
Perjanjian itu diperkirakan akan bedampak positif, dalam bentuk
peningkatan pendapatan, pengurangan subsidi ekspor sebesar 36% dan
penurunan sebesar 18% dari subsidi sektor pertanian diperkirakan akan
menaikkan pedapatan sektor pertanian di Negara-negara Eropa sebesar
US$15 miliar, sedang di Negara-negara berkembang sekitar US$14
miliar.
(b) Hasil Analisis GOlding dkk (1993)
Diperkirakan bahwa sampai tahun 2002, sesudah terjadi penurunan
tariff dan subsidi sebesar 30% manfaat rata-rata per tahun oleh seluruh
anggota GATT akan sebesar US$230 miliar. Sebesar US$141,8 miliar
(67% nya) dinikmati Negara-ngara maju. Sedang Indoensia diperkirakan
akan mengalami kerugian sebanyak US$ 1,9 miliar per tahun hingga
tahun 2002.
(c) Analisis Satirawan (1997) Dengan model CGE
Dengan menggunakan computable general equilibrium (CGE) analisis
Satriawan menunjukkan bahwa disbanding Negara-negara ASEAN
lainnya, sektor pertanian Indonesia menderita kerugian yang terbesar,
dalam bentuk penurunan produksi komoditas pertanian sebear 332,83%
dimana berasmengalai penurunan 29,70%.
Perkiraan dampak liberalisasi perdagangan terahdap produksi pertanian
di beberapa Negara ASEAN (%)
Produk Indonesia Malaysia Filipina Thailand ASEAN
Beras
Gandum
Padi-Padian
Hasil Panen Lain
Ternak
Produk Pertaian
diproses (PPD)
-29,70
-14,84
-16,88
187,30
-5,34
-78,81
-0,99
-2,20
-3,75
-11,83
-3,11
-46,91
-3,96
-3,66
-6,25
-51,75
-4,41
-55,04
-4,75
-1,28
-2,19
-22,18
-5,24
-82,19
-3,30
-9,16
-15,63
-16,43
-2,62
-4,17
Sumber : tabel3, Satriawan, 1997, dikutip Tulus Tambunan 2001.
• Dampak awal pada ASEAN sendiri
sebagai suatu wilayah ekonomi di dunia tidak terlalu besar (tabel).
Namun karena produk pertanian Indoensia memainkan perarnan
yang besar, baik secara domestic maupun secara regional (ASEAN),
maka dampak yang diterima Idnoensiapun paling besar diantara
Negara-negara ASEAN lainnya.
• Efek negatif terhadap ekspor komodits
pertanian juga lebih besar dibandingkan Negara ASEAN lainnya,
158
diantaranya ekspor beras Indonesia akan turun 70,0%, dibandingkan
Malaysia misalnya hanya mengalami penurunan sekitar 2,8%.
c. Pembentukan Blok Perdagangan Regional
- Persoalan menonjol yang perlu diperhatikan bagi
perdagangan kita adalah seberapa jauh blok-blok regional dan partisipasi
Indonesia di dalam AFTA berpengaruh pada Perdagangan (trade Idversion).
Bila yang terakhir yang terjadi, maka ekonomi Indonesia akan mengalami
masalah yang cukup berat, karena stabilitas neraca pembayaran Indonesia
amat tergantung pada keberhasilan meningkatkan ekspor.
- Di Amerika Utara kita mengenal apa yang disebut NAFTA,
di Eropa kita mengenal apa yagn disebut EEC. Kemudian sebagai antisipasi
Negara ASEAN dibentuklah AFTA. Tampaknya usahayang harus
diperjuangkan oleh Negara berkembang adalah diupayakannya pola
perdagangan bebas dalam klausal di GATT, (Sjahrir, 1995).
1. Masyarakat Ekonomi ERopa dan Pasar Tunggal Eropa
• Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) atau European Economic
Community (EEC) didirikan berdasarkan perjanjian Roma (Treaty of
Rome) pada awal tahun 1957. perubahan terhadap Treaty of Rome, yang
diratifikasi pada tanggal 24 Juni 1987, lebih dikenal dengan nama
“single Eruopean Act” yaitu suatu landasan kerja untuk mewujudkan
Pasar Tunggal Eropa atau European Union (EU) tahun 1993.
(1) Tujuan Dibentuknya Pasar Tunggal Eropa 1993
(a) Mengintegrasikan ekonomi 12 negara, mewujudkan
suatu wilayah Pasaran Bersama yang luas dengan 345 juta
penduduk.
(b) Tercapainya suatu wilayah yang berorientasikan
peningkatan pertumbuhan secara dinais.
(c) Terdapatnya mobilitas dan fleksibilitas untuk
pengerahan potensi ekonomi dan modal serta sumber daya manusia.
(d) Tercapainya economics of scale dengan merangsang
inovasi dan efisiensi.
(e) Meningkatkan daya saing MEE digelanggang
ekonoim internasional.
(2) Tahap Dalam Mewujudkan Pasar Tunggal Eropa 1993
Disahkan dalam white paper dalam sidang dewan Menteri MEE tahun
1985:
(a) Penghapusan hambatan fisik
Meliputi arus lalu lintas, sarana transportasi, peraturan, prosedur,
bea cukai, imigrasi dan paspor.
(b) Penghapusan hambatan teknis
Meliputi lalu lintas barang, penduduk, odal, dan hambatan hukum
serta administrasi.
(c) Penghapusan Hambatan Fiskal
159
Meliputi pengembaian pajak yang dipungut di Negara konsumen ke
eksportir tempat asal barang.
(3) Strategi Menembus Pasar Eropa
Pertama : Menjual langsung kepada pembeli (importer)
Kedua : Memanfaatkan jasa distributor setempat untuk mewakili
kepentingan mereka di Eropa.
Ketiga : Dapat dilakukan dengan membuat joint venture bersama
mitra lokal.
Keempat : Memanfaatkan perusahaan yang dikontrol sepenuhnya
oleh si eksportir sehngga sesuai dan dapat menciptakan
setan mengontrol pasar sendiri.
(Hendra Halwani,1993)
2. Kawasan Bebas Perdagangan Amerika Utara
PembentukN orth America Free Trade Agreement (NAFTA) ditandatangani
bulan Agustus 1992 di Washington DC oleh wakil pemerintah: Amerika
Serikat, Kanada dan Meksiko.
(1) Sudut Pandang Negara Anggota NAFTA
(a) Kanada :
• Kanada sudah merasakan manis pahitnya
perdagangan bebas dengan Amerika sejak 1988.
• Kaun nasionalis menuduh bahwa
memburuknya ekonomi Kanada berupa pengangguran, tutupnya
pabrik, banyaknya masuk perusahaan AMerika, karena akibat
peragangan bebas dengan Amerika.
• Kanada khawatir disaingi Meksiko, karena
upah buruh dan stanar pelestarian yang rendah di Meksiko
(b) Amerika Serikat :
• NAFTA diperkirakan dapat menyaingi MEE dan mendorong
ekonomi Amerika bangun kembali, karena memiliki potensi
pasar 360 juta konsumen dengan nilai output lebih dari 6 triliun
dollar.
• Kerugiannya : berpindahnya perusahaan ke Meksiko akan
menambah pengangguran.
• Keuntungannya : membangun pabrik dan pasaran di
perbatasan As, akan dipasok dari AS.
Meningkatknya kemamuran di Meksiko akan menambah ekspor
barang knsumsi ke Meksiko.
(c) Meksiko :
• Secara umum menggairahkan bisnis besar di Meksiko
160
• Keunggulan komparatif Meksiko: penduduk banyak, lahan
luas, upah buruh murah, energi/ minysak cukp dan
menguntungkan (Diapit AS dan Amerika Latin).
• Dapat menyaingi RRC dalam menarik modal dari Jepang,
Korea, Taiwan dan Hongkong.
(2) Hambatan Nontarif NAFTA bagi Indonesia
• Gagalnya negosiasi mengenai perdagangan bebas dunia (GATT
putaran Uruguay) menyebabkan terjadinya kasus sengketa dagang
dan Negara maju cenderung menggunakan forum bilateral, sehingga
menguntungkan pihak yang lebih kuat.
• Kebijakan nontarif yang merupakan salah satu bentuk proteksi,
muncul dalam bentuk pengenaan kuota, tuduhan melakukan
dumping, standar kesehatan dan lingkungan hidup, hak azasi
manusia, perburuhan dan lain-lain.
• Indonesia tidak terlalu sulit dalam menyesuaikan diri sepanjang
hanya menyangkut standar teknik, karena standar tersebut mengacu
standar internasional (ISO-900). Kesulitan bila harus memenuhi
essential requirement: kesehatan, lingkungan hidup dan sebagainya,
(Hendra Halwani, 1993).
3. Kawasan Bebas Perdagangan ASEAN
Persetujuan pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN atau
ASEAN FREE TRADE AGREEMENT (AFTA) ditandatangani oleh semua
anggota ASEAN pada bulan Januari 1992 dalam tiga dokumen:
(a) Framework Agreement on Exchange ASEAN
Economic COopration (EAEAEC) ditandatangani oleh kepala
pemerintahan: Presiden dan Perdana Menteri tiap-tiap Negara.
(b) Basis Agreement on The Common Effective Prfential
Tariff (GEPT) ditandatangani Menteri Perindustrian Brunai Darussalam
(Abdul Rachman Taib), Menteri Perdagangan RI (Arifin M. SIregar),
Menteri Peraganga Internasional dan Industri Malaysia (Rafidah Aziz),
Menteri Perdagangan dan Industri Filipina (Peter D. Garrucho), Deputi
PM/ Menteri Perdagangan dan Industri SIngapura (Lee Hsien Long) dan
Menteri Perdagangan Thailand (Amaret SIla0On).
(c) Singapore Declaration 1992, Perjanjian ini ditanda
tangani dalam rangka Singapore Summit pada 28 Januari 1992 oleh
Kepala Negara ASEAN.
(1) Konsep dan Ketentuan CEPT
(a) CEPT mengatur rincian tentang cakupan dan mekanisme
pelaksanaan AFTA. Semua Negara anggota akan berpartisipasi
dalam skema CEPT yang berlaku mulai 1 Januari 1993.
Sasarannya adalah penurunan tariff efektif hingga menjadi 0,5%
dalam kurun waktu 15 tahun.
161
(b) Produk yang masuk dalam skema CEPT dispakati
berbaris sektoral menurut Harmonzed Sistem (HS) 6 digit,
mencakup 15 kelompok barang: minyak nabati, semen, produk
kimia, produk farmasi, pupuk, produk plastic, produk karet,
produk kulit, pulp, tekstil, keramik dan produk kaca, barang
perhiasan, copper cathodes (kawat las dari tembaga), elektronik,
serta membel kayu dan rotan.
(c) Produk yang akan diturunkan bea masuknya adalah
produk yang mengandung ASEAN content minimum 40%.
Seluruh produk manufaktur termasuk barang modal produk
pertanian olahan masuk skema CEPT.
(d) Untuk menjamin pelaksanaan CEPT menuju AFTA,
ASEAN sepakat agar semu Negara menghapus segala restriksi
kuantitatif untuk produk dalam skema CEPT. Semua Negara
juga akan menghapus restriksi nontarif. Semua Negara ASEAN
akan mengecualikan (tidak mengenakan) restriksi devisa bagi
kepentingan impor produk CEPT.
(2) Masalah yang dihadapi AFTA
Diperlukan lobi politik yang tinggi untuk menjamin keberhasilan
perjanjian AFTA, karena AFTA lebih merupakan kerjasaman politik
dari pada kerjasama ekonomi. Ada beberapa permasalahan yang
menghamat perwujudan AFTA :
Pertama : Prosedur birokrasi yang berlebihan, baik
didalam ASEAN maupun di Negara masing-masing
Kedua : Kurang kuatnya perjanjian Negara-negara
terhadap skema di dalam AFTA.
Ketiga : Kurang dilibatkannya sektor swasta dalam
proses pengambilan keputusan tingkat kawasan.
Keempat : Yang terpenting adalah kurangnya kemauan politik
untuk mewujudkan kerjasama ekonoimdi dalam
ASEAN karena selama ini para pemimpin Negara
lebih tersita pada kekhawatiran terhadap sektor-sektor
yang akan dirugikan dari pada manfaat ekonomi yang
dapat diciptakan.
(3) Persoalan Pemberian Insentif
(a) Pemberian insentif dan fasilitas yang berlebihan kepada
para calon investor dalam jangka panjang justru akan merugikan
Negara tujuan investasi. ASEAN harus menghindari persaingan
yang tidak perlu diantara mereka sendiri.
(b) Badan investasi ASEAN menandatangani memorandum
of under standing di bidang investasi. Disepakati empat butir
tujuan bersama, yakni 1) meningkatkan citra ASEAN sebagai
kawasan ekonomi, yang menarik untuk melakukan investasi
langsung, 2) meningkatkan promosi investasi, 3) investasi dari
162
luar ASEAN maupun dari dalam ASEAN, 4) secara sendiri-
sendiri atau bersama-sama meningkatkan daya saing negara-
negara ASEAN dalam upaya menarik FDI. (Hendra Halwani,
1993).
4. Dampak EEC, NAFTA dan AFTA
(1) Dari scenario trade creation menunjukkan bahwa
munculnya EEC, maka Negara yang menekspor ke EEC dalam bentuk
produk manufaktur akan mengalami keuntungan. Tetapi dilihat dari
scenario trade diversion, dengan munculnya EC akan mengakibatkan
menurunnya impor mereka (anggota EEC) dari Negara luar negara.
(2) Menghadapi NAFTA bisa diboservasi dari tiga point
penting :
(a) Potensi pertumbuhan ekonomi dan kualitasnya,
sebenarnya lebih menyerupai Hongkong dan Singpura. Karena itu
ancaman lebih terarah kepada Hongkong dan SIngapura.
(b) Secara umum nilai dari mata uang dan kestabilan
makro serta riwayat masa lalu tentang utang, tampaknya masih lebih
menguntungkan bagi Indoensia.
(3) Pemanfaatan PTA (Preferential Trade Arrangement) masih
relative sangat kecil. Ekspor Indonesia ke ASEAn di bawah PTA
meningkat dari 1,4% menjadi 3,5%. Untuk impor juga peningkatannya
relatif konstan, yaitu dari 1,2% menjadi 1,6%.
Di Indonesia sendiri, dampak yang mungkin terjadi adalah tersedianya
barang dan jasa dalam jumlah yang lebih besar dengan harga yagn lebih
murah. Hal ini akan memaksa Indoensia untuk menurunkan berbagai
cost. Sehinga dampak AFTA pada akhirnya akan “memaksa” Indonesia
menuju pada bentuk perekonomian yang lebih efisien. (Sjahrir, 1995).
5. Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)
- Kerjasama ekonomi untuk kawasan Asia Pasifik didukung
oleh Negara ASEAn dengan Negara Pasifik Barat (Australia, New
Zaeland dan Papu New Guinea), dan termasuk di dalamnya, yaitu
APEC, EAEG, AFTA dan PEC (Pasific Economic Community) dan
juga merupakan forum kerjasama antar pemerintah dengan Jepang yang
bersifat informal.
- Jepang telah menjadi pelopor dan inti integrasi ekonomi
regional Asia Pasifik yang lebih luas.
Dengan dibentuknya organisasi ini, penanaman modal asing Jepang
yang meningkat drastic selama enam sampai sepuluh tahun terakir ini
telah menjadi factor utama dalam integrasi ekonomi regional tersebut.
(Hendra Halwani, 1993).
C. ANALISA KEBIJAKAN DAN
KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL
a. Analisa Kebijakan Perdagangan
163
1. Peluang Dunia Usaha Dalam Era Globalisasi
(1) Tersebarnya pasar berskala lebih luas dan diversifikasi produk manufaktur
dan produk bernilai tambah tinggi.
(2) Tersedianya realokasi industri manufaktur dari Negara industri maju ke
Negara berkembang dengan upah buruh yang lebih rendah.
Akibatnya siklus proses bahan baku sampai menjadi barang jadi lebih pendek,
harga per unit turun dan akan meningkatkan volume penjualan.
Peluang tersebut bisa dimanfaatkan sesuai dengan adanya keunggulan
komparatif ekonomi Indonesia, meliputi :
(1) Sumber daya alam yang kaya
(2) Sumber daya manusia yang banyak, upah buruh murah
(3) Situasi politik dan keamanan yang stabil (awal 1990-an)
(4) Kebijakan ekonomi yang konsisten (awal 1990-an)
(5) Komponen ekonomi makro yang kuat (awal 1990-an)
2. Kebijakan Bisnis yang Dilakukan
(1) Menarik tenaga ahli yang berpengalaman internasiona, yang dapat
melakukan negosiasi dan mengerti hukum yang berlaku di Negara lain.
(2) Perlu diusahakan untuk membuka usaha baru dan mengisi peluang yang
tersedia.
(3) Tantangan kompetensi dihadapi dengan peningkatan efisiensi, investasi
modal yang makin besar untuk membentuk jaringan internasional dan
peningkatan pertumbuhan prasarana ekonomi yang makin cepat.
3. Kebijakan dalam Era Globalisasi
- Komponen dalam penyusunan strategi global
(1) Mengkaji perkembangan ekonomi dunia yang relevan dengan
Indonesia, terutama ekonmi Amerika Erikat, Eropa Barat dan Jepang.
(2) Mengikuti prospek mata uang dollar AS, DM Jerman dan Yen
Jepang.
(3) Memonitor perkembangan politik dan keamanan dalam negeri serta
arah kebijakan pembangunan pada umumnya.
(4) Memonitor perkembangan ekonomi keuangan Indonesia,
pertumbuhan ekonomi nasional dan sektoral, APBN dan fiscal, N.
Pembayaran terutama transaksi berjalan, JUB, inflasi, nilai tukar rupiah,
likuiditas bank, tingkat suku bunga.
(5) Menetapkan rencana jangka panjang, menengah dan tahunan
beserta anggarannya.
- Aspek-aspek Makro dalam Kebijakan Global
(1) Deregulasi
Kebijakan deregulasi harus terus dilanjutkan nya secara konsisten di
sektor riil untuk meningkatkan efisiensi, daya saing di pasar global.
(2) Prioritas Investasi
164
Baik investasi modal asing maupun modal dalam negeri ditujukan untuk
yang berorientasi ekspor. Untuk industri yang resource base perlu
dorongan pemerintah, karena industri ini bisa menghemat devisa.
(3) Kemitraan Usaha
Indonesia yang penuh dengan faktional ekonomi – USB vs USK,
BUMN vx Swasta, Pribmi vx Non Pribumi dan sebagainya – harus
dihilangkan dan diganti dengan kemitraan usaha, sebab dewasa ini tidak
ada satu unit usaha yang independent, tetapi saling ketergantungan satu
sama lain. Perlu adanya political will untuk mencegah praktek-praktek
monopoli, oligopoly oleh kelompok yang kuat.
(4) Perubahan Orientasi Bisnis
Perlu perubahan dari orientasi bisnis untuk memaksimalisasi profit ke
orientasi maksimalisasi pasar. Indonesia harus memasuki pasar global
dan menguasai seluas-luasnya jaringan distribusinya.
(5) Kebijakan yang konduktif
Kebijakan yang dilakukan pemerintah hendaknya sesuai dengan realita
di lapangan, sehingga tidak terjadi distorsi antara kebijakan yang
diambil pemerintah dengan langkah yang diambil oleh pengusaha.
- Aspek-aspek Mikro Dalam Kebijakan Global
(1) Sumber Dana Permodalan
Mengefektifkan dan mendiverisifikasikan sumber dana permodalan
yang tersedia.
(2) Pilihan Teknologi
Melakukan pilihan teknologi yang tepat dan pas dengan pilihan bidang
usaha, dilihat dari segi operasional maupun outputnya.
(3) Sumber Daya Manusia
Meningkatkan profesionalisme SD, baik mengenai managerial skill
maupun luasnya wawasan globalnya.
(4) Pilihan Bidang usaha
Pilihan bidang usaha berpijak pada resource base, yaitu raw material
yang tersedia pada sumber daya alam kita
165
(5) Pooling of Information
Perlu menghimpun informasi yang menyangkut bidang usaha yang
digeluti, khususnya mengenai informasi harga dan permintaan pasar atas
produk yang dihasilkan.
(Hendra Halwani, 1993)
b. Kerjasama Ekonoim Internasional
1. Kerjasama Internasional Tahun 2000
• Kerjasama di bidang ekonoim memfokuskan
agendanya pada :
(1) Upaya mencegah terulangnya kembali krisis ekonoim
(2) Mendorong proses pemulihan ekonomi diberbagai Negara
(3) Meningkatkan kapasitas lembaga internasional dalam mempercepat
Negara anggota keluar dari krisis ekonoim.
• Dalam kerjasama tersebut, Indonesia di samping
mendapat manfaat bantuan dari Negara sahabat maupun lembga
internasional dalam membantu proses pemuihan ekonomi, namun juga aktif
terlibat dalam diskusi dan kajian-kajian yang dilakukan di forum
internasional.
• Selanjutnya dalam rangka program bantuan IMF,
Pemerintah Indoensia selama tahun 2000 telah menandatangani tiga letter of
Intent (LoI) dan memorandum of economic and financial policies (MEEP),
yaitu pada 20 Januari, 17 Mei dan 7 September. (Laporan Bank Idnensia,
2000)
2. Kerjasama Internasional Tahun 2001
• Pembahasan pada berbagai forum kerjasama internasional dan regional
menitikberatkan pada berbagai upaya untuk mengatasi perlambatan
ekonomi melalui :
(1) Kebijakan moneter dan fiscal yang tepat
(2) Penguatan sistem keuangan internasional
(3) Regional surveillance sebagai langkah guna memperkuat pencegahan
krisis.
• Berbagai forum juga membahas beberapa upaya pencegahan
pembiayaan terorisme internasional sebagai respon terhadap tragedy WTC
(Laporan Bank Indoensia, 2001).
3. Kerjasama Internasional tahun 2002
• Berbagai lembaga keuangan dan forum kerjasama internasional
melanjutkan upaya-upaya memperkuat arsitektur keuangan internasional
dan meningkatkan stabilitas keuangan internasional antara lain dengan :
(1) Memperkuat pengawasan (surveillance) untuk mencegah terjadinya
krisis,
(2) Meningkatkan keterlibatan swasta dalam mencegah dan
menanggulangi krisisi.
166
• Dalam KTT ASEAN Nopember 2001 di Brunai, para pemimpin
Negara-negara ASEAN mengeluarkan the RIA (Roadmap for Integration of
ASEAN), untuk menuju integrasi ASEAn 2020 RIA memiliki tiga pilar
utama, yaitu :
(1) Menjembatani kesenjangan pembangunan
(2) Memperdalam kerjasama ekonomi
(3) Meningkatkan integrasi ekonomi
• Dalam Sidang ASEAN Finance Ministers Meeting (AFMM) ke-4 di
Brunei Darussalam pada tanggal 24-25 Maret 2000, para Menteri Keuangan
Negara-negara ASEAN telah sepakat untuk menjajagi kemungkinan
memperluas keanggotan ASEAN Swap Arragement (ASA) sehingga
mencakup seluruh Negara ASEAN serta memasukkan Negara regional,
yaitu Cina, Jepang dan Korea.
• Dalam sidang Special ASEAN Finance and Central Bank Deputies
Meeting (AFDM) pada tanggal 6 Mei 2000 di Chiang Mai, Thailand, usulan
perluasan ASA tersebut direalisasikan melalui kesepakatan Chiang Mai
Intitatyve. Salah satu kesepakatan tersebut adalah Bilateral Swap
Arregement (BSA) diantara Negara-negara ASEAN + 3 (China, Jepang dan
Korea).
• BSA bertujuan untuk menyediakan short term financial assistance dalam
bentuk swap kepada Negara-negara Chiang Mai Initiative (ASEAN + 3).
Fasilitas swap ini merupakan supplement dari financing facility yang
disediakan IMF dan ASA untuk mengatasi kesulitan Balance of Payment
(BOP) Negara anggotanya. Beberapa manfaat yang diperoleh dari BSA
antara lain :
(1) Mempercepat kerjasama di bidang keuangan antara Negara-negara
ASEAN dan Negara + 3 (Korea, Jepang, Cina)
(2) Fasilitas BSA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternative untuk
mendukung Neraca pembayaran.
(3) Tidak commitment fee pada saat penandatanganan ESA, sehingga tidak
ada biaya yang dikeluarkan sebelum penarikan pinjaman dilakukan.
(Laporan Bank Indoensia, 2002).
Apa yang diuraikan di atas adalah sebagian dari sekian banyak keterlibatan
pemerintah Indonsia dalam kerjasama internasional di bidang keuangan,
fiscal, perbankan, ekonomi dan pembangunan.
9.3. BAHAN BACAAN
1. Sjahrir, Dr., Moneter, Perkreditan dan Neraca Pembayaran,
Persoalan Ekonomi Indoensia, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995.
2. Tambunan, Tulus T.H., Dr., Perekonomian Indonesia ,, Teori dan
temuan Empiris, Ghalia Indonesia, 2001.
3. Boediono, Dr., Ekonomi Internasional, Edisi Pertama, BPFE,
Yogyakarta, 1994.
167
4. Tamburan, Tulus T,H., Dr., Perekonomian Indonesia, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1996.
5. Halwani, Hendra. Dra. M.H., dan Tjiptoharijanto, Prijono, H.
Dr., Perdagangan Internasional, Pendekatan Ekonomi Makro & Mikro,
Ghalia Indonesia, Jakarta, 1993.
6. Kindleberger, Ekonomi Internasional, Terjemahan Drs. Rudy
Sitompul, Edisi Ketujuh, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1982.
7. Ekononomi & Bisnis, “Perundingan Pertanian WTO Dibuka
Kembali” Harian Media Indonesia, Selasa 23 Maret 2004.
8. Bank Indonesia, Laporan Tahunan, 2000, 2001, 2002
Dosen Pengasuh
Perekonomian Indonesia
Munawir, SE
168

Struktur Neraca Pembayaran, Transaksi Berjalan, Defisit Negara Pembayaran, Cadangan Devisa, Sistem Kurs Valuta Asing, Devaluasi, Jumlah Uang Beredar (JUB), Infrlasi, Fungsi Perbankan, Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan To Deposit Ratio (LDR), Giro Wajib Minimum (GWM) Tingkat Kesehatan Bank, Pasar Modal, Garis Kemiskinan, Kemiskinan Absolut, Kemiskinan Relatif/ Kesenjangan, Ekonomi Kerakyatan, Globaliasi Ekonomi, Ethnocentric Approach, Geocentric Apporach, Regeocentric Approach, Teori Konspirasi, Teori Contagion, Teori Business Cyccle (Konjungtur). 2. TUJUAN MATA KULIAH 2.1. Tujuan Mata Kuliah Perekonomian Indonesia adalah untuk memperkenalkan mahasiswa pada pengetahuan tentang tahap-tahap dan permasalahanpermasalahan pembangunan ekonomi di Indonesia. Pembahasan dimulai dengan beberapa proses yang menyertaai pembangunan ekonomi: proses akumulasi, alokasi, demografi dan distribusi. Kemudian dilanjutkan dengan strategi,peran serta kebijakan-kebijakan dalam dan luar negeri pemerintah. 2.2. Dari rumusan tujuan tersebut di atas, setiap mahasiswa setelah mempelajari Mata Kuliah Perekonomian Indonesia diharapkan dapat memahami dan menjelaskann : 1. Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi ekonomi Indonesia dan masalah-masalah ekonomi yang dihpadai sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia. 2. Sistem ekonomi yang dianut Indonesia dan membandingkan sistemsistem ekonomi yang dianut dunia. 3. Pelaku-pelaku ekonomi di Indonesia dan peran masing-masing dalam perekonomian 4. Perubahan-perubahan struktural yan dialami ekonomi Indonesia setelah Indonesia melaksanakan pembangunan ekonomi. 5. Kebijakan pemerintah pada APBN yang berjalan dan pengaruh APBN pada Perekonomian Indonesia. 6. Posisi hubungan ekonomi luar negeri dan saldo transaksi berjalan serta perubahan cadangan devisa. 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju inflasi, jumlah uang beredar (JUB) serta kebijakan pemerintah di bidang moneter dan perbankan. 8. Kondisi kesejahteraan dan kemiskinan rakyat Indonesia serta kebijakan pemerintah untuk memberdayakan masyarakat. 9. Posisi dan persiapan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi ekonomi serta langkah strategis apa yang dilakukan. 10. Apa yang terjadi setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1997/ 1998 dan program pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah. 3. PEMBAHASAN MATERI PEREKONOMIAN INDONESIA 3.1. Kerangka pembahasan Perekonomian Indonesia dilihat dalam lingkup politik ekonoi. Politik ekonomii merupakan bagian dari politik nasional, yang bertujuan 2

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan tujuan politik ekonomi yang dilakukan pemerintah adalah mengarahkan bagaimana tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarkat itu bisa dicacpai (Suroso, 1994). Oleh karena itu pembahasan Perekonomian Indonesia di sini ditekankan pada : 1. Mengidentifikasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang sedang membangun. 2. Menganalisis masalah-masalah tersebut : latar belakangnya, faktorfaktor penyebabnya dan dampak serta pengaruhnya. 3. kebijakan-kebijakan apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dan mengevaluasi efek hasilnya. 4. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang dibahas terutama yang berkaitan dengan kebijakan fiskal dalam APBN, kebijakan perdagangan dan pembayaran dalam NERACA PEMBAYARAN, kebijakan stabilisasi harga (inflasi), nilai tukar (kurs) rupiah, suku bunga, kredit bank dalam MONETER dan PERBANKAN serta kebijakan penurunan kemiskinan dalam PENGENTASAN KEMISKINAN dan PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. 3.2. Sesuai dengan rumusan tujuan dan materi pembahasan di atas, maka topik-topik yang dibahas : 1. Sejarah Perekonomian Indonesia 2. Sistem Ekonomi Indonesia 3. Pelaiu Dan Peran Perekonomian Indonesia 4. Transformasi Struktural Perekonomian Idnoensia 5. Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara 6. Neraca Pembayaran Luar Negeri – Indonesia 7. Sektor Moneter Dan Perbankan, Pendanaan Pembaiayaan 8. Pengentasan Kemiskinan Dan Pemberdayaan Masyarakat 9. Perekonomian Inodnesia Dalam Era Globalisasi 10. Krisis Ekonoomi Di Indonesia Bahan Ujian Untuk UTS : Topik 1, 2, 3, 4 Bahan Ujian Untuk UAS : Topik 5 Sampai Dengan 10 + 2 Di Antara 4 Topik Bahan UTS. Jakarta, September 2004 Dosen Pengasuh Perekonomian Indonesia

Munawir, SE Dosen Perekonomian Indonesia

3

SATUAN ACARA PERKULIAHAN a. peran serta kebijakan dalam dan luar negeri.POKOK BAHASAN : I.Masalah yang menyertai pembangunan ekonomi (1) Masalah akumulasi sumber daya produksi (sdp) (2) Masalah alokasi sumber daya produksi (sdp) (3) Masalah distgribusi pendapatan nasional (4) Masalah kelembagaan/ pelaku-pelaku ekonomi . meso. c. demografi dan distribusi lalu dilanjutkan dengan masalah strategi.Pilihan strategi pembangunan ekonomi (1) Strategi pertumbuhan ekonomi (economic grawth) (2) Strategi perkembangan ekonomi (econoic development) (3) Strategi pembangunan berwawasan nusantara . Tujuan Umum: Agar mahasiswa mengenal dan memahami tentang tahap dan permasalahan pembangunan ekonomi di Indonesia dengan memperhatikan ciri khusus (karakteristik) Indonesia sebagai negara kepulauan (nusantara).Agar mahasiswa mengetahui masalah-masalah yang menyertai proses pembangunan ekonomi di Indonesia .Agar mahasiswa mengetahui pilihan straegis pembangunan ekonomi yang sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan (nusantara) . RUANG PEREKONOIMAN INDONESIA LINGKUP DAN KARAKTERISTIK 3.Peran dan kebijakan pemerintah (1) Peran pemerintah dalam kegiatan ekonomi (2) Kebijakan ekonomi mikro. Pembahasan menyangkut masalah akumulasi. Materi Pembahasan : . . 4 . budaya dan politik. Tujuan Khusus : .Yang mempengaruhi karakteristik Perekonomian Indonesia : (1) Faktor geografi (2) Faktor demografi (3) Faktor sosial.1.Agar mahasiswa memahami peran dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang bersiffat makro. makro. b. kebijakan ekonomi dalam negeri dan hubungan ekonomi luar negeri. meso dan mirko dalam lingkup kebijakan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri. alokasi.

menjadi jalur lalulintas dunia (antara Laut Atlantik dan Laut Pasifik) dan menjadi paru-paru dunia (memiliki hutan tropis terbesar). Jawa). • Wilayah Indonesia seluas 5. arus barang tidak lancar.3. • Menghadapi kesulitan komunikasi dann transportasi antar pulau (daerah) baik untuk angkutan barang maupun penumpang. Perubahann struktur ekonomi berkisar pada segi akumulasi (pengembangan sdp secara kuantitatif dan kualitatif). terbentang dari 60LU sampai 110LS sepanjang 61. 1993).677 pulau besar – kecil (baru 6.146 km. . PEMBAHASAN MATERI A. 4. MASALAH YANG MENYERTAI PEMBANGUNAN EKONOMI Tujuan pembangunan bukan hanya menginginkan adanya perubahan dalam arti peningkatan PDB tapi juga adanya perubahan struktura. perbedaan harga barang yang tajam. bermata pencairan sebagai petani kecil dan burah tani dengan upah sangat rendah. SDm. kesuburan tanah. curah hujan (Sutjipto. terdiri dari 13. 5 . kesemuanya itu merupakan potensi kesenjangan. 1975).Yang mempengaruhi karakteristik perekonomian Indonesia : 3. perbedaan kesempatan pendidikan dan kesempatan (lapangan) kerja. B. memiliki potensi ekonomi yang berbeda-beda karena perbedaan SDA.044 pulau memiliki nama.. Faktor geografi • Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia.000 km2) terdiri dari lautan (menjadi negara bahari) letaknya strategis karena : memiliki posisi silang (antara Benua Asia dan Benua Australia). diantaranya 990 pulau yang dihuni manusia). segi institusional (kelembagaan ekonomi dalam kehidupan masyarakat).193.635. Penyebaran penduduk tidak merata (dua per tiga tinggal di P.2. KARAKTERISTIK PEREKONOMIAN INDONESIA . bahkan berbeda dengan negara-negara laindi dunia sehingga perekonomiannya memiliki karakteristik sendiri.250 km2. segi distribusi (pola pembagian pendapatan nasional) (Soemitro Djojohadikusumo. 70 persennya (± 3. sebagian besar hidup di pedesaan (pertanian).Indonesia sebagai negara keupulauan (nusantara) memiliki ciri-ciri khusus. yang berbeda dengan negara tetangga ASEAN. segi alokasi (pola penggunaan sdp). Faktor Demografi • Indonesia negara nomor 4 di dunia karena berpenduduk lebih dari 310 juta orang.

• Mutu SDM rendah : ± 80% angkatan kerja berpendidikan SD. Budaya status orientation bercirikan: semangat hidupunya mengejar pangkat. Hal ini akan menciptakan kondisi munculnya rawan kemiskinan. • Sisa-sisa pengaruh feodalisme (kultus individu) dan pengaruh kolonialisme (otiriter) sampai sekarang belum terkikis habis. interpretasi dan reaksi (aksi) mereka terhadap isu-isu yang sama bisa berbeda-beda. konsumtif. Ratusan tahun bangsa Indonesia hidup di bawah pengaruh feodalisme dan kolonialisme. 1996). Hal ini sangat terasa pada percaturan dan pergolakan politik di Indonesia. status (dengan simbol-simbol sosial). Perilaku yang kurang demokratis dari para elit politik dan perilaku kurang menghargai HAM dari 6 . tingkat disiplinnya rendah. • Budaya status orientationn tidak produktif. budaya dan politik • Sosial : Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku (heterogin) dengan beraagam budaya. Karena perbedaan latar belakang.226 per bulan (1993). Ciri utama feodalisme antara lain adalah kultus individu (raja selalu diagungkan). Faktor sosial. • Politik : sebelum kolonialis Belanda datang. budaya status orientation. pengetahuan dan kemampuan yang tidak sama. sandang. jasa dan fasilitas hidup dalam ukuran serba besar (pangan. Namun sebagai salah satu bangsa “Timur” (bangsa yang merdeka dan membangun ekonomi sejak akhir Perang Dunia II). mayoritas bangsa Indonesia sampai sekarang masih terpengaruh (menganut) “budaya” Timur. suka pamer dan mudah memicu kecemburuan sosial. 5. • Indonesia yang berpenduduk lebih dari 210 juta orang membutuhkan berbagai barang. Lawannya “budaya” barat. yang sering kali menimbulkan konflik sosial (SARA).000 per bulan per kapita (Sjahrir. persepsi. adat istiadat. tapi sebenarnya kita belum memiliki budaya nasional (kecuali bahasa Indonesia). • Budaya : Bangsa Indonesia memiliki banyak budaya daerah. agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Produktivitas rendah karena taraf hidup yang rendah: konsumsi rata-rata penduduk Indonesia RP 82. kedudukan. kurang menghargai waktu (jam karet). maka visi. Namun dilain pihak kemampuan kita untuk berproduksi (produktivitasnya) rendah. tata nilai. senang bersantai-santai. budaya achievement orientation dengan ciri-ciri sebaliknya. namun 82% penduduk berpendapatan di bawah RP 60. bangsa Indonesia hidup di bawah kekuasaan raja-raja. Ciri utama kolonialisme antara lain adalah otoriter (laksana tuan terhadap budak). perumahan dan lain-lain). etos kerjanya lemah.

3.Konsep pertumbuhan ekonomi menurut Boediono adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang.. . Pada gilirannya hal ini menghambat terciptanya demokrasi ekonomi. PILIHAN STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI . setiap penambahan stock kapital masyarakat (K) meningkatkan pula kemampuan masyarakat 7 . terutama perpecahan antar suku. Hal ini terutama sebagai akibat pengaruh faktor sosial-politik.Strategi pembangunan dengan pertumbuhan terbukti gagal menyelesaikan persoalan-persoalan dasar pembangunan. antar golongan (elit) politik. Keduaduanya adalah sumber dari peningkatan output masyarakat. 1997).para penguasa. Hal ini terutama sebagai akibat pengaruh faktor demografi dan faktor budaya. Menurut kedua ekonomi ini. tetapi masing-masing mempunyai sifat yang berbeda (Boedino. 1982). menghambat kelancaran proses demokratisasi politik di Indonesia. 3) Potensi rawan perpecahan. Sedangkan teori pertumbuhan ekonomi bisa kita definisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain. • Dari uraian pengaruh faktor-faktor di atas dapat disimulkan bahwa perekonomian Indonesia mengandung tiga potensi kerawanan. • Tiga potensi kerawanan yang menjadi karakteristik perekonomian Indonesia adalah: 1) Potensi rawann kesenjangan. C. 2) Potensi rawan kemiskinan. terutama kesenjangan antara daerah (pulau). keterbelakangan dan kesenjangan antar pelaku ekonomi (Budi Santoso. 1982). Strategi Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) • Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan ouptut masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa adanya perubahan cara-cara atau “teknologi” produksi itu sendiri. terutama kemiskinan di darah pedesaan. . sehingga terjadi proses pertumbuhan (Boediono. Hal ini terutama sebagai akibat pengaruh faktor geografi.Joseph Schumpeter membedakan dua latihan yaitu pertumbuhan ekonomi (growth) dan perkembangan ekonoim (development). • Indonesia menganut strategi pertumbuhan ekonomi dan dalam melaksanakan pembangunan memakai Model Harrod Domar. Dalam kiprahnya strategi itu justru menciptakan persoalan-persoalan seperti kemiskinan.

5% dan 1. yang bersumber dari kreativitas para wiraswastawan. maka : ∆ Qp : Qp = h∆ K atau 1/h = ∆ K/∆ Qp 1/h = Incremeental capital output ratio (ICOR) koefisien ini menunjukkann untuk menghasilkan tambahan setiap unit output diperlukan berapa unit tambahan kapital (investasi) • Konsekuensi strategi pertumbuhan adalah bahwa besar kecilnya laju pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada naik turunnya tingkat investasi.Ada lima kegiatan yang termasuk inovasi. dan IV tahun 1997).untuk menghasilkan output (Qp).1% (1990).Syarat-syarat terjadinya inovasi (perkembangan ekonomi) (1) Harus tersedia cukup calon-calon pelaku inovasi (entreprenur) di masyarakat (2) Harus ada lingkungan sosial. pertumbuhan ekonomi merosot dengan cepat. Inovasi menyangkut perbaikan kualitatif dari sistem ekonomi itu sendiri. . mesin baru (3) Penemuan sumber-sumber bahan mentah baru.5% (bersamaan resesi dunia tahun 1982) dan baru pulih kembali pada awal Pelita V mencapai 7. 6. . 8 .5% (sebelum dimulai Pelita) menjadi 7. (4) Harus ada sistem prekreditan yang bisa menyediakann dana bagi para entrepreuner. (2) Diperkenalkannya cara produksi baru. Contoh : petro dollar (kelebihan harga minyak) pertumbuhan ekonomi melonjak drastis dari 2. • Sejak krisis moneter pertengahan tahun 1997 dimana terjadi capital flight besar-besaran. III. 4.Perkembangan ekonomi adalah kenaikan output yang disebabkan oleh inovasi yang dilakukan oleh entreprener (wiraswastaan). 2.4% (untuk triwulan I. • Hubungan K dan Qp : Qp = hK atau 1/h = K/Qp 1/h = Capital output ratio (COR) koefisien ini menunjukkan untuk menghasilkan setiap unit output diperlukan berapa unit kapital.0% (selama Pelita I. di sini Qp menunjukkan output yang potensial bisa dihasilkan dengan stock kapital (kapasitas produksi) yang ada.8%. Karena hubungan antara K dan Qp adalah proposional.5%. masingmasing 8. II dan Pertengahan Pelita III). politik dan teknologi yang bisa menjadi tempat subur bagi semangat inovasi (3) Harus ada cadangan atau supplai ide-ide baru secara cukup. Strategi Perkembangan Ekonomi (Economic Development) . yaitu : (1) Diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya tidak ada. Tahun 1998 pertumbuhan menjadi negatif. II. Tapi mulai pasca Oil Boom maka pertumbuhan ekonom merosot sampai 2.

Sehingga pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata tergantung pada tingkat investasi.- (4) Pembukaan daerah-daerah pasar baru (5) Perubahan organisasi industri sehingga meningkatkan efisiensi. yang mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi. 9 . Disini ada perubahan sistem ekonomi sehingga dari waktu ke waktu kegiatan-kegiatan ekonomi berjalan maini efisien.

J. 0. pusat pendidikan. Seiring dengan makin berkembangnya dan makin membesarnya jumlah penduduk maka kita perlu memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk menggali persediaan bahan mentah dan sumber-sumber energi yang masih tersimpan banyak dalam flora dan fauna di lautan. Pembangunan berwawasan ruang (ekonomi regonal) tersirat dalam argumentasi Myrdall dan Hirschman. . Ini tepat diterapkan di P. 1. yakni perbedaan dan ketimpangann mengenai pola dan laju pertumbuhan di antara berbagai kawasan dalam batas wilayah satu negara.3.  Pembangunan ekonomi berbasis sumber daya mineral dan tanaman industri dapat dikembangkan di pulau Sumatera (Kompas. penataan ruang di masa datang sebaiknya tidak hanya mengacu pada daratan. yang mengemukakan sebab-sebab daerah miskin kurang mampu berkembang secepat seperti yang terjadi di daerah yang lebih kaya (Suroso. Dalam waktu mendatang laut akan merupakan ladang utama dalam manusia mencari bahan makanan dan keperluan hidup (Sutjipto. Indonesia menganut sistem ekonomi campuran dengann 10 . Kamaludin. namun juga harus berorientasi pada penataan ruang kemaritiman. .5 ton dalam air budidaya. 1983).  Pembangunan ekonomi yang berbasis potensi kelautan. Dilema teknologis menonjol karena adanya asimetri (ketidakserasian) antara lokasi penduduk dan lokasi sumber alam (Soemitro Djojohadikusumo. 25-5-1999) . 1993).Mengapa pembangunan berwawasan nusantara penting.Dilihat dari dimensi ekonomi-regional. A.Wawasan adalah pandangan hidup suatu bangsa yang dibentuk oleh kondisi lingkungannya.Pembangunan berwawasan nusantara sebenarnya tidak lain adalah pembangunan yang berwawasan ruang. Indonesia menghadapi dilema dualisme teknologis. Sumber daya hayati Indonesia memiliki potensi lestari 4 juta ton dalam airlaut. 1994). PERAN DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH 1. ada yang lemah (negara kapitalis). Ini lebih tepat dikembangkan di kawasan timur Indonesia dan kepulauan kecil di Sumatera. di antara benua Asutralia dan Asia (Nusantara). D.Menurut Laoede M. jasa dan pariwisata. Sedikitnya terdapat tiga pendekatan yang dapat dikembangkan :  Pembangunan ekonomi berbasis teknologi tinggi. . 1995). Strategi Pembangunan Berwawasan Nusantara . Bali dan Batam. Dua pertiga wilayah Indonesia berupa lautan. Peran Pemerintah .8 juta ton dalam air tawar (Kartili. Jawa. Kondisi lingkungan hidup bangsa Indonesia adalah pulau atau kepulauan yang terletak di antara samudera pasifik dan atlantik.Peran atau campur tangan pemerintah dalam perekonomian ada yang bersifat kuat (negara sosialis)..

air dan kekayaan alam yang ada di dalamnya. Lihat gambar (tulus Tambunan. Diperlukan juga kebijakan non kebijakan ekonomi saja. seperti kebijakan sosial yang menyangkut masalah pendidikan dan kesehatan. Diperlukan juga kebijakan non ekonomi. Kebijakan ekonomi dan kebijakan non ekonom harus saling mendukung.Campur tangan pemerintah dapat dibenarkan secara konstitusional : (1) Dari isi pembukaan UUD 1945 dengan Pancsilanya. Diukur secara ekonomi.mengutamakan berlangsungnya mekanisme pasar sepanjang tidak merugikan kepentingan rakyat banyak. Tujuan ini tidak bisa tercapai hanya dengan kebijakan ekonomi saja. dapat disimpulkan bahwa pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah haruslah diarahkan untuk : (a) Memajukan kesejahteraan umum (b) Memajukan kecerdasan kehidupan bangsa (c) Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat (2) Pasal 33 UUD 1945 bersama dengan pasal 34 dan pasal 27 ayat 2 mengandung amanat kepada pemerintah untuk menyelenggarakan kesejahteraan sosial seluruh rakyat melalui : (a) Penguasaan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak. (c) Pemeliharaan fakir miskin dan anak-anak terlantar (d) Penyediaan lapangan kerja 2. (b) Penguasaan bumi. Kebijaksanaan Pemerintah . .Tujuan utama atau akhir kebijakan ekonomi adalah untuk meningkatkan taraf hidup atau tingkat kesejahteraan masyarakat. 1996 Klasifikasi kebijakan ekonomi menurut tingkat agregasi atau ruang lingkup pengaruh/ ssaran KEBIJAKAN MAKRO Sasaran : Nasional KEBIJAKAN MESO 11 . kesejahteraan masyarakat tercapai bila tingkat pendapatan riil rata-rata per kapita tinggi dengan distribusi pendapatan yang retif merata.

distribusi. seperti keuangan. ketenaga kerjaan dan sebagainya. .Kebijakan ekonomi sektoral atau kebijakan ekonomi regional.Kebijakan meso dalam arti regional adalah kebijakan ekonomi yang ditujukan pada wilayah tertentu.Sasaran : Sektoral/Regional KEBIJAKAN MIKRO Sasaran : Perusahaan - Selain itu kebijakan ekonomi mempunyai intermediate target sebelum mencapai tujuan akhir. produksi. (2) Kebijakan Ekonomi Meso . .Contohnya : (a) Peraturan pemerintah yang mempengaruhi pola hubungan kerja (manajer dengan para pekerja). (b) Kebijakan kemitraan antara perusahaan besar dan perusahaan kecil di semua sektor ekonoim (c) Kebijakan kredit bagi perusahaan kecil di semua sektor dan lain-lain. Sasaran perantara tersebut mencakup lima hal utama : (1) Pertumbuhan ekonomi (misalnya PDB atau pendapatan nasional) (2) Distribusi pendapatan yang merata (3) Kesempatan kerja sepenuhnya (4) Stablitas harga dan nilai tukar (5) Keseimbangan neraca pembayaran Lima sasaran ini erat kaitannya dengan masalah stabilitas ekonomi. tata niaga. Kebijakan sektoral adalah kebijakan ekonomi yang khusus ditujukan pada sektor-sektor tertentu. kebijakan - 12 .Kebijakan pemerintah yang ditujukan pada semua perusahaan tanpa melihat jenis kegiatan yang dilakukan oleh atau disektor mana dan diwilayah mana perusahaan yang bersangkutan beroperasi. yang mencakup kebijakan industri regonal.s etiap departemen mengeluarkan kebijakan sendiri untuk sektornya. Tiga macam kebijakan Ekonomi (menurut agregasinya) : (1) Kebijakan ekonomi mikro . Misalnya kebijakan pembangunan ekonomi di kawasan timur Indonesia (KTI). kondisi kerja dalam perusahaan.

(Tulus Tambunan. investasi tidak langsung. (4) Kebijakan hutang LN. hubungan kerja. jaminan sosial (5) Kebijakan kelembagaan ekonomi. suku bunga. koperasi. pemberdayaan golongan ekonomi lemah (UKM). seperti jumlah uang beredar. misalnya kebijakan uang ketat (kebijakan moneter). seperti penetapan upah minimum. perundingan/ perjanjian dengan para kreditor. seperti tata-niaga (ekspor dan impor). dan lain-lain kebijakan. kebijakan mikro menjadi lebih atau kurang efektif. seperti pengamanan cadangan devisa negara. (3) Kebijakan penanaman modal asing.investasi regional dan sebagainya. perjanjian dagang antar negara. inflasi.3. seperti BUMN. seperti perpajakann. Kebijakan Ekonomi dalam Negeri (1) Kebijakan sektor ekonomi. DAFTAR BACAAN 1. pembinaan dan pengawasan bank. perusahaan swasta. Boediono. industri dan jasa-jasa (2) Kebijakan keuangan negara. a. (3) Kebijakan moneter perbankan. menyangkut hutang pemerintah. usaha-usaha patungan. ketetapan pemerintah dan intervensi langsung di pasar valuta untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang rupiah terhadap valas. Kebijakan ini bisa dikeluarkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. anggaran pemerintah (APBN). Kebijakan makro ini bisa mempengaruhi kebijakan meso (sektoral atua regional). jumlah pengeluaran pemerintah melalui APBN. seperti perizinan investasi langsung. perkreditan. -Instrumen yang digunakan untuk kebijakan ekonomi makro adalah tarif pajak. -Kebijakan ekonomi juga bisa dibedakan antara kebijakan ekonomi dalam negeri dan kebijakan ekonomi luar negeri. seperti pertanian. Kebijakan hubungan ekonomi luar negeri (1) Kebijakan neraca pembayaran. dan lain-lain kebijakan. 1996). bea cukai. 3. 13 . 1982. hutang swasta. (2) Kebijakan perdagangan LN. (4) Kebijakan ketenagakerjaan. (3) Kebijakan Ekonomi Makro -Kebijakan ini mencakup semua aspek ekonomi pada tingkat nasional. BPFE. Yogyakarta. b. Teori Pertumbuhan Ekonomi.

dalam Bunga Rampai Wawasan Nusantara I. Tulus T. Dr. Media Ekonomi Publising (MEP). untuk pembangunan nasional.2. Budi. Perekonomian Indonesia.H.. Gramedia. Santoso. 1996. Kartili.. J. Soemitro. Tambunan. Buku Panduan Mahasiswa... “Dinamika dan Pertumbuhan Ekonomi rakyat dalam Perspektif Strategi Pembangunan”. Prof. Jakarta. 1996. Sutjipto. LP3ES. 7.C. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Sumber Daya Alam.. 5. Suroso. 4. 6. dalam Daya Saing Perekonomian Indonesia Menyongsong Era Pasar Bebas. Medan. Diterbitkan dalam rangka Dies Natalis Universitas Trisakti ke-31. LEMHANAS. Jakarta 1983. Djojohdikusumo. Makalah pada Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Ke-13. 8. E. 1993. Ghalia Indonesia. “Kemiskinan. Keadilan dan Kebersamaan”. Jakarta. 1994.…. SE 14 . Ghalia Indonesia. Sjahrir. 1981. Perekonomian Indonesia. “Suatu Ikhtisar Lembar Pengajaran Wawasan Nusantara”. P. Dosen Pengasuh Perekonomian Indonesia Munawir. 3.A.

1.PEREKONOMIAN INDONESIA MUNAWIR. b.Mahasiswa dapat menjelaskan :  Penggunaan peralatan analisis ekonomi  Permasalahan ekonomi Indonesia  Analisis kebijakan perekonomian Indonesia c. Tujuan Khusus . Tujuan Umum Agar mahasiswa memahami sejarah perekonomian Indonesia melalui teoriteori ekonomi dan analisis kebijaksanaan. PEMBAHASAN MATERI A. Materi Pembahasan .Pendahuluan : (1) Kriteria kemajuan ekonomi (2) Peralatan analisis ekonomi . PENDAHULUAN 15 SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN . 1) 2.Periode Kemerdekaan : (1) Demokrasi Liberal (1945 – 1959) (2) Ekonomi Terpimpin (1959 – 1966) (3) Ekonomi Pancasila (1966 – 1998): a) Masa stabilisasi dan rehabilitasi (1966 – 1968) b) Masa pembangunan ekonomi (1969 – sekarang ) • Masa Oil Boom (1973 – 1982) • Masa Pacsca Oil Boom (1983 – 1986) (4) Krisis Ekonomi Tahun 1997 2. SATUAN ACARA PERKULIAHAN a.Periode Kolonial : (1) Karakteristik (2) Statistik . SE POKOK BAHASAN II.2.

Sejarah menguraikan rangkaian-rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu.Kriteria yang bersifat struktural: 1) Tingkat pendapatan per kapita 2) Distribusi pendapatan nasional 3) Peranan sektor industri/ mfanufakturing dan jasa 4) Keterpaduan antar industri. (1) Kriteria Kemajuan Ekonomi a. . Muljana. 1983). Bagi negara-negara sedang berkembang . keadaan ekonomi sekarang lebih maju atau lebih mundur. dan antar daerah .S. . 1983). sehingga tergambar dengan jelas perubahan-perubahan yang terjadi dalam satu kurun waktu. Mulana. b.Kriteria yang bersifat tahunan : 5) Tingkat inflasi 6) Tingkat pengangguran . Ada hubungan sebab akibat. Maka dalam kriteria struktural ditambah besarnya peranan sektor-sektor non pertanian/ non iekstraktif dalam GNP atau GDP.Untuk menilai kesuksesan suatu Pelita di Indonesia lazim di pergunakan kriteria tingkat pertumbuhan ekonoi dan tingkat 16 . Hal ini perlu kita nilai berdasarkan tolok ukur atau kriteria kemajuan ekonomi. satu peristiwa yang terjadi tidak berdiri sendiri dalam arti peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan peristiwa-peristiwa lain sebelumnya. ada hubungan saling mempengaruhi antara satu peristiwa dengan peristiwa lain. serta tingkat keterpaduan antara sektor dan antar daerah dalam ekonomi (B.Dalam kontek sejarah. besarnya peranan sektor industri dan jasa (manufakturing) dalam ekspor. kita perlu memahami beberapa peralatan analisis ekonoim. Perubahan-perubahan tersebut bisa melaihrkan keadaan sekarang lebih baik ataupun lebih buruk dari keadaan masa lalu. bagaimana akibat peengaruh hubungan itu. tingginya tingkat keterpaduan secacara vertikal dalam sektor industri.Yang diinginkann negara-negara sedang berkembang adalah keadaan yang dapat dan telah mengalami proses yang membawa perubahan-perubahan struktural yang berarti. Apakah setelah sekian tahun dilakukan pembangunan ekonomi.. Untuk mengetahui bagaimana sifat hubungan itu. Bagi negara-negara maju/ industri 1) Tingkat pendapatan per kapita 2) Distribusi pendapatan nasional 3) Tingkat inflasi 4) Tingkat pengangguran Sejauh yang merupakan obyek perhatian adalah ekonoi negaranegara yang masih berkembang maka perlu diperhatikan beberapa aspek lagi (B. antar sektor ekonomi.S.

pendapatan per kapita. GDP diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh nilai tambah dari sektor-sektor usaha. Produk Domestik Bruto (PDB = GDP) 1) Dilihat dari sumber pembentukannya. jumlah uang beredar (JUB). Rumus : GDP = C + I + G + (X – M) b. a. yaitu segi produksi. tingkat inflasi (In).. Pendapatan Nasional (NI – Y) .Cara perhitungan pendapatan nasional : Rumus : GNP = GDP + F NNP = GNP – D NI = NNP – Nit = (GDP + F) – D – Nit NI = GDP + F – D – Nit Skema : 17 . nilai tukar perdagangan (TOT). (2) Peralatan Analisis Ekonomi - Langkah awal dalam mempelajari mekanisme kerja ekonomi nasional adalah mendekati kegiatan ekonomi melalui tiga sisi. 1995). segi pembelanjaan/ pengeluaran dan segi pendapatan. Ketiga pendekatan itu dalam berbagai buku literatur disebut analisis ekonomi makro (Susanto Hg. laju pertumbuhan ekonomi. nilai tambah (Vas). kontribusi sektor (Ks). tingkat pengangguran. debt service ratio (DSR). pendapatan nasional (Y). Beberapa konsep/ indikator penting yang perlu dpahami dalam rangka anlaisis ekonomi makro antara lain : produk domestik bruto (PDB). nilai GDP harus sama dengan nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga © + konsumsi pemerintah (G) + pembentukan modal bruto (I) + ekxpor dikurangi impor (X – M). Rumus : GDP = VAsp + VAss + VAst Keterangan : VAsp = Nilai Tambah Sektor Primer VAss = Nilai Tambah Sektor Sekunder VAst = Nilai Tambang Sektor Tertier 2) Dilihat dari penggunaannya (dari segi pengeluaran).pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan (dua logos dari Trilogi Pembangunan). tingkat kesenjangann dan incremental capital output ratio (ICOR).

Produk Domestik Bruto (GDP) Ditambah : pendapatan neto terhadap luar Negeri atas faktor produksi (F) Produk nasional Bruto (GNP) Dikurangi : penyusutan (D) Produk Nasional Neto (NNP) Dikurangi : pajak tak langsung (Nit) Pendapatan Nasional (NI = Y) Rp xxxxx Rp xxxxx Rp xxxxx Rp xxxxx Rp xxxxx Rp xxxxx Rp xxxxx c.Pendapatan nasional dibagi jumlah penduduk 18 . Pendapatan per kapita .

-

Rumus :

NI Pendapatan per kapita : --------P d. Nilai tambah (VAs) - Rumus : VAs = OPs – IPs - Keterangan : VAs = Nilai tambah masing-masing sektor OPs = Output (keluaran) sektor IPs = Input (masukan) sektor e. Kontribusi Sektor (Ks) Rumus : VAs (Rp) Ks = x 100% PDB (Rp) f. Laju pertumbuhan Ekonomi Rumus : PDBx – PDBx - 1 1) Cara tahunan =∆ PDBx = PDBx-1
tn 2) Cara Rata-ratar =  n −1  .1 .100%  to         

x 100%

Keterangan : r = laju pertumbuhan ekonomi rata-rata setiap tahun n = jumlah tahun (mulai dengan sampai dengan) tn = tahun terakhir periode to = tahun awal periode g. Tingkat Inflasi (IF) Rumus (Sederhana) : 1) Menghitung IHK (Indeks Harga Konsumen) Current Price Index Sumber = x 100% Base-period price 2) Menghitung tingkat inflasi (inflation rate = IR) IHKn (1) Bulanan : IRn = x 100% - 100% IHKn-1

19

Keterangan : IR = angka inflasi (%) bulan n IHKn = Indeks umum IHK Gabungan 17 kota bulan n IHKn-1 = Indeks umum IHK Gabungan 17 kota bulan ke(n-1) (2) Tahunan : cummulative menjumlahkan inflasi setiap bulan) IHKx IRx = IHK(x-1) Keterangan : IRX = tingkat inflasi tahun x IHKn = IHK tahun x IHKn-1 = IHK tahun yang lalu h. Debt Service Ratio (DSR) - Rasio angsuran hutang LN terhadap ekspor ini menggambarkan kemampuan suatu negara dalam melunasi hutang LN. Rumus :
DSR = Dt . 100% Xnt atau DSR = Dt . 100% Xbt

method

(dengan

x 100% - 100%

Keterangan : Dt = Bunga & Cicilan hutang Xnt = ekspor neto (bersih), setelah dikurangi impor mingas Xbt = ekspor bruto (kotor) - Karena yang menanggung beban hutang pemerintah dan swasta maka ada empat versi perhitungan DSR : 1) DSR pemerintah terhadap ekspor bruto 2) DSR pemerintah (pemerintah + swasta) terhadap ekspor bruto 3) DSR pemerintah terhadap ekspor neto 4) DSR Indonesia (pemerintah + swasta) terhadap ekspor neto i. Nilai Tukar Perdagangan (term of Trade = TOT) - Ada lima langkah untuk menentukan efek nilai tukar perdagangan LN terhadap GDP (mempeengaruhi kemakmuran), dua diantaranya adalah :

20

1) Pertama, menentukan harga ekspor (Px) dan indeks harga impor (Pm)
XB .100 % XK MB Pm = .100 % MK Px =

indeks

Keterangan : Px = Indeks ekspor Pm = indeks impor X, M = ekspor, impor B = Bulan berlaku / harga tahun berjalan K = harga konstan 2) tukar (term of trade)
TOT = Px x 100% Pm

Kedua, menentukan indeks nilai

Keterangan : Px = Indeks harga ekspor Pm = Indeks harga impor j. Tingkat Kesenjangan, bisa dihitung dengan Gini Coeeficient (GC) atau 40% golongan termiskin (40% GTM) - Kesenjangan tinggi bila 40% GTM menerima < 12% dari NI (Y) - Kesenjangan sedang bila 40% GTM menerima 12-17dari Y - Kesenjangan rendah bila 40% GTM menerima > 17% dari NI (Y) B. PERIODE KOLONIAL (1) Karakteristik a. Ciri perekonomian kolonial - Pada jaman Kolonial belanda, ekonomi Indonesia diwarnai oleh suatu strategiyang melahirkan dualisme dalam kegiatan ekonoi, yaitu dualisme antara sektor ekspor (enclave) dan sektor tradisonal (hinterland). Sektor ekspor diwakili dengann kehadiran perkebunan-perkebunan di daerah pedesaan (Suroso, 1994). - Pendirian perkebunan di daerah pedesaan semata-mata karena pertimbangan lokasi yang menguntungkan (tanah subur, iklim cocok) dan bukan untuk menciptakan lapangan kerja baru untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. - Struktur perekonomian kolonial seperti gambar di bawah ini : Sistem Pasar Dunia 21

Maka Hindia belanjda sebagai negeri jajahan dijadikan sebagai : 1) Daerah penghasil bahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri negeri Belanda. misalnya : masyarakat sebelum kapitalisme dan masyarakat kapitalisme maju yang dipisahkan oleh masyarakat kapitalisme awal….Pasar dunia dan sektor ekspor terpisah dengan sektor tradisional.Hal ini terlihat dari peranan perdagangan Hindia Belanda (Indonesia) di masa yang lalu. Kedudukan dan Fungsi Hindia Belanda . Boeke memberikan definisi masyarakat dualistis (Anne Booth.Peranan Hindia Belanda terlihat dari prosentase ekspor terhadap ekspor dunia untuk beberapa komiditi. sosial dan kultural.” (2) Statistik Ekonomi Kolonial a. karet 37%. Kapok 72%. 2) Daerah pemasaran bagi hasil industri dari negeri Belanda. kedua gaya sosial tersebut me3wakili tahap perkembangan sosial yang berbeda. b. agave 33%. 1990) : “Masyarakat yang mempunyai dua gaya sosial berbeda. maupun yang bersifat ekonomis. Dalam proses evolusi sejarah normal yang berlaku bagi masyarakat homogen. dipisahkan oleh suatu gaya sosial lain yang mewakili tahap transisi.Sistem pemerintahan Kolonial (Hindia Belanda) menciptakan sistem ekonomi kolonial yang diarahkan untuk memenuhi kepentingan negeri Belanda. Peranan Hindia Belanda Dalam Perdagangan . 3) Daerah penghasil devisa bagi kepentingan negeri Belanda. Konsep Dualisme Sejak jaman penjajahan sampai saat ini perekonomian Indonesia masih juga menunjukkan ciri-ciri adanya dualisme. hasil kelapa 22 . . baik dualisme yang bersifat teknologis. lada 86%. yang masing-masing hidup berdampingan.ENCLAVE Sektor Ekspor Sektor Tradisional (HINTERLAND) . b. karena sektor ekspor berhubungan langsung dengan pasar dunia dan mendapat proteksi dari pemerintah. antara lain : kina 99%.

1953: dikutip dari Suroso. .Menurut data yang dihimpun oleh Polak pada tahun 1942. di kutip dari Suroso.000.Kira-kira ¼ dari impor Hindia belanda datang dari negeri belanda.000.000 36. .5% per tahun.Selama 20 tahun antara kedua perang dunia. 1953. Surplus dari Hindia belanda ini yang dipergunakan untuk menutup defisit negeri Belanda (Soemitro.000 22.000 $ 144.000 . the 19%.000 9.000.000 46. 1994).000.000. 1994). 23 . Sedang laju pertumbuhan penduduk waktu itu sekitar 1. 1990) : 1) Pendapatan riil naik dalam tahun-tahun 1923 – 1928 dan 1934 – 1939. Memang merupakan politik belanda untuk mendahulukan Firma-firm Dagang Belanda.000. minyak sawit 24%.000 Negeri-negeri Eropa Amerika Afrika Australia 141.000.000.Perdagangan Hindia Belanda sebelum kemerdekaan sebagai berikut : Impor dari Ekspor ke Negeri-negeri Asia $ 89. Pendapatan Penduduk Indonesia Asli . gula 5% (Soemitro.000 90. neraca perdagangan Hindia Belanda dengan Amerika mengalami surplus $ 955 juta.000 117. perekonomian Indonesia telah mengalami masa-masa pasang surut (Anne Booth.27%.000.Antara tahun 1921 – 1939 pendapatan riil penduduk Indonesia asli naik 50% (sekitar 2.000. .Ini berarti bahwa pada masa penjajahan Belanda ada peningkatan kesejahteraan hidup rakyat meskipun kecil dan lambat sekali.000 8. c. .6% per tahun). 2) Masa-masa stagnasi dialami pada waktu terjadi depresiasi dunia tahun 1929 – 1933. sedang nerraca dagang negeri Belanda dengan Amerika defisit sebesar $900 juta. timah putih 17%.

5) Pengeluaran yang besar untuk keperluan tentara. 1994). SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN 2) PERIODE KEMERDEKAAN (1) Masa Demokrasi Liberal (1945 – 1959) a. Pemerintah RI mengeluarkan mata uang “ORI” pada bulan Oktober 1946 dan rupiah Jepang diganti/ ditarik dengan nilai tukar Rp 100 (Jepang) = Rp 1 (ORI). C. 2) Defisit APBN yang terus meningkat yang ditutup dengan mencetak uang baru. Masalah yang dihadapi Tahun 1951 – 1959 1) Silih bergantinya kabinet karena pergolakan politik dalam negeri. 5) Ketegangan dengan Belanda akibat masalah Irian Barat menyebabkan pengambilalihan 24 . menghadapi Agresi Belanda dan perang gerilya. Masalah yang dihadapi tahun 1945 – 1950 1) Rusaknya prasarana-prasarana ekonomi akibat perang 2) Blokade laut oleh Belanda sejak Nopember 1946 sehingga kegiatan ekonomi ekspor-impor terhenti. 4) Jumlah uang beredar meningkat dari Rp 18. SE POKOK BAHASAN II.PEREKONOMIAN INDONESIA MUNAWIR.9 miliar (1957) menjadi Rp 29. (Suroso. 3) Tingkat produksi yang merosot sampai 60% (1952). 80% (1953) dibandingkan produksi tahun 1938.9 miliar (1958) sehingga inflasi mencapai 50%. 3) Agresi Belanda I tahun 1947 dan Agresi belanda II tahun 1948. 4) Dimasyarakat masih beredar mata uang rupiah Jepang sebanyak 4 miliar rupiah (nilainya rendah sekali).

yang memiliki kontribusi lebih besar dari pada sektor informal/ tradisional terhadap output nasional. Kemudian selama tahun-tahun terakhir dasawarsa 50-an jumlah uang yang beredar tumbuh dengan lebih cepat antara 1956 – 1960). Indonesia telah memiliki empat dokumenn perencanaan pembangunan.…. 1994). Kebijaksanaan moneter selanjutnya semakin terkesan sebagai hasil sampingan dari dunia politik dan dari kebutuhan untuk membiayai defisit APBN yang semakin membesar (Stephen Grenville dalam Anne Booth dan Peter Mc Cawley. tetapi terkendalikan dengan laju 22 % per tahun antara 1951 – 1956). (2) MASA EKONOMI TERPIMPIN ( 1959 – 1966 ) a.) Mengingat situasi keamanan (Agresi Belanda 1947. ternyata berubah menjadi ekonomi komando yang statistik (serba negara). Pada awal tahun 50-an kebijaksanaan moneter di negara ini cenderung bersifat konservatif (jumlah uang yang beredar tumbuh dengan mantap. 1996). seperti pertambangan. yakni : 1) Rencana dari Panitia Siasat Pembangunan Ekonomi yang diketuai Muhammad Hatta (1947). 1990). Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi Memang sebelum pemerintahan Soeharto. 25 . ed. Masalah yang dihadapi 1) Selama Orde Lama telah terjadi berbagai penyimpangan. 3) Rencana Juanda (1955) – Rencana Pembangunan Lima Tahun I meliputi kurun waktu 1956-1960. seperti Dewan Banteng. Damanhuri. Sementara itu di daerah-daerah terjadi pergolakan yang mengarah disintergrasi. pemberontakan PKI di Madiun 1948) dan silih bergantinya kabinet maka tidak dimungkinkan adanya program kebijaksanaan yang bisa dijalankan secara konsisten dan dan berkesinambungan. transpor. Selama periode 1959 – 1966 ini perekonomian cepat memburuk dan inflasi merajalela karena politik dijadikan panglima dan pembangunannnn ekonoi disubordinasikan pada pembangunan politik. 1990). Sektor formal/ modern. Antara tahun 1949-1959 terjadi 7 kali pergantian kabinet (yang rata-rata berumur 14 bulan) sehingga cukup sulit menilai program ekonomi apa yang telah berhasil diterapkan masing-masing. bankdan pertanian komersil. (Mubyarto... didominasi oleh perusahaan-perusahaan asing yang kebanyakan berorientasi ekspor komoditi primer (Tulus Tambunan. 1948. struktur ekonomi Indonesia masih peninggalan zaman kolonialisasi.perusahaan[erusahaan asing (Barat). Selama periode 1949-1956. 4) Rencana Delapan tahun “Pembangunan Nasuional Semesta Berencana” pada masa demokrasi terpimpin ala Soekarno (Didin S. distribusi. Permesta. PRRI (Suroso. (Mubyarto. 2) Rencana Urgensi Perekonomian (1951) – yang diusulkan oleh Soemitro Djojokusumo. b. 1988). dimana ekonomi terpimpin yang mula-mula disambut baik oleh bung Hatta.

27 Juni 1966. Faktor yang menghambat/ kelemahannya antara lain : 1) Rencana ini tidak mengikuti kaidah-kaidah ekonomi yang lazim. 1982). 3) Kondisi ekonomi dan politik saat itu: dari dunia luar (Barat) Indonesia sudah terkucilkan karena sikpanya yang konfrontatif. 1990).2) Ada hubungan yang erat antara jumlah uang yang beredar dan tingkat harga (Stephen Genville dalam Anne Booth dan McCawley. Sementara di dalam negeri pemerintah selalu mendapat rongrongan dari golongan kekuatan politik “kontrarevolusi” (Muhammad Sadli. 3) Tahun 1960-an cadangan devisa yang sangat rendah mengakibatkan timbulnya kekurangan bahan mentah dan suku cadang yang masih harus diimpor dan diperkirakan dalam tahun 1966 sektor industri hanya bekerja 30% dari kapasitas yang ada (Peter McCawley dalam Anne booth dan Peter McCawley. Berbagai Edisi. termasuk analisis dan perkembangan perekonomian Indonesia. Rencana pembangunan ini disusun berlandasarkann “Manfesto Politik 1960” untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dengan azas ekonomi terpimpin. 1990). Penyunting Redaksi Ekonomi Harian Kompas. Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi Rencana : pembangunan nasional semesta berencana (PNSB) 19611969. Kompas. 2) Defisit anggaran yang terus meningkat yang mengakibatkan hyper inflasi. Tahun ∆ JUB (%) ∆ Harga (%) 1960 39 19 1961 42 72 1962 99 158 1963 95 128 1964 156 135 1965 280 595 1966 763 635 Sumber : Bank Indonesia. Laporan Tahunan jakarta. ed. b.. 2) Pada tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno memproklamirkan berlakunya Deklarasi Ekonomi 26 . Selama tahun 60-an sumber penciptaan uang oleh sektor pemerintah merupakan penyebab terpenting dari naiknya jumlah uang yang beredar. Beberapa kebijaksanaan ekonomi – keuangan: 1) Dengan Keputusan Menteri Keuangan No. ed.. 1/M/61 tanggal 6 Januari 1961: Bank Indonesia dilarang menerbitkan laporan keuangan/ statistik keuangan.

3) Pokok perhatian diberikan pada aspek perbankan. b. (Suroso. sebagai misal pasal 33 yang selama beberapa tahun ini dengan sengaja atau tidak telah didesak oleh landasan-landasan ideal yang lain. . Penyunting Redaksi Ekonomi Harian Kompas.Ketetapan MPRS Nomor XXIII/MPRS/1966 tentang : Pembaharuan kebijaksanaan landasan ekonomi. Masalah yang dihadapi . 1994). 1994). 1982). bahwa sumber pokok kemerosotan ekonomi ialah penyelewenangan pelaksanaan UUD 1945. yaitu : 1) Meingkatnya inflasi yang mencapai 650% pada tahun 1965 2) Turunnya produksi nasional di semua sektor 3) Adanya dualisme pengawas dan pembinaan perbankan. keuangan dan pembangunan. Widjojo Nitisastro dalam percakapan dengan wartawan Kompas menyatakan. maka Prof. namun nampaknya perhatian ini diberikan dalam rangka penguasaan wewenang mengelola moneter di tangan penguasa.Periode ini dikenal sebagai periode stabilisasi dan rehabilitasi sesuai dengan masalah pokok yang dihadapi. Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi . Demikian pula realisasi Pancasila dalam bidang ekonomi sering dilupakan.dan pada tanggal 22 Mei 1963 pemerintah menetapkan berbagai peraturan negara di bidang perdagangan dan kepegawaian. 29 Juni 1966. (Suroso. tertanggal 5 Juli 1966.Menanggapi masalah ekonomi yang kin dengan tajam disoroti oleh MPRS. Dualisme ini muncul dari struktur organisasi perbankan yang meletakkan Deputy Menteri bank Sentral dan Deputy Menteri Urusan Penertiban bank dan Modal Swasta berada di bawah Menteri Keuangan. Dr. Misalnya sila Kedaulatan Rakyat tercermin dalam pasal 23 yang mengatur anggaran belanja negara (Kompas. antara lain menetapkan : (1) Program stabilisasi dan rehabilitasi : 1966 – 1968 (jangka pendek) • Skala Prioritasnya 1) Pengendalian inflasi 2) Pencukupan kebutuhan pangan 3) Rehabilitasi prasarana ekonomi 4) Peningkatan kegiatan ekspor 27 . (3) MASA EKONOMI PANCASILA/ ORDER BARU (1966 – 1998) I) MASA STABILISASI DAN REHABILITASI (1966 – 1968) a. Hal ini nampak dengan adanya dualisme dalam mengelola moneter.

arah. (2) Pengendalian inflasi pada tingkat harga yang relatif stabil sesuai dengan daya beli rakyat. 3. 2) Rencana Moneter dengan sasaran utama : (1) Terjaminnya pembiayaan rupiah dan devisa bagi pelaksanaan rencana fisik. 28 . (Mubyarto. 1994). (Suroso. dari ekonomi tertutup ke ekonomi terbuka. ekspor dan sandang) (b) Pemulihan dan peningkatan prasrana ekonomi yang menunjang bidangbidang tersebut. dari anggaran defisit ke anggaran berimbang. Pebruari 1967 dan Juli 1967 antara lain : (1) Kebijaksanaan kredit yang lebih selektif (penentuan jumlah. suku bunga) (2) Menseimbangkan/ menurunkann defisit APBN dari 173. 2) Serangkaian kebijaksanaan Oktober 1966.7% (1965). 127. 1988).3% (1966). Tindakan dan Kebijaksanaan Pemerintah 1) Tindakan pemerintah “banting stir” dari ekonomi komando ke ekonomi bebas demokratis.• • 5) Pencukupan kebutuhan sandang Komponen Rencananya 1) Rencana fisik dengan sasaran utama : (a) Pemulihan dan peningkatan kapasitas produksi (pangan.1% (1967) dan 0% (1968).

 PELITA II 74/75 – 78/79 Titik berat pada sektor pertanian dengan meningkatkan industri pengolah bahan mentah menjadi bahan baku. pengolah hasil pertanian.  PELITA V 89/90 – 93/94 Sektor pertanian untuk memantapkan swasembada pangan dengan meningkatkan sektor industri penghasil komoditi ekspor. penghasil mesin-mesin dan industri yang banyakk menyerap tenaga kerja.  PELITA III 79/80 – 83/84 Titik berat sektor pertanian (swasembada beras) dengan meningkatkan industri pengolah bahan baku menjadi barang jadi. 13/ 1968 (4) UU PMA tahun 1967 dan UU PMDN tahun 1968 (5) Membuka Bursa Valas di Jakarta 1967. 1994).Jangka waktu dan strategi pembangunan 1) Pembangunann jangka menengah terdiri dari pembangunan Lima Tahun (PELITA) dan dimulai dengan PELITA I sejak tahun 1969/ 1970 2) Pembangunan Jangka Panjang dimulai dengan pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT – I) selama 25 tahun. 29 .Skala Prioritasnya 1) Bidang pertanian 2) Bidang prasarana 3) Bidang industri/ pertambangan dan minyak . (Suroso. 12/ 1967 (3) UU Bank Sentral No. 14/ 1967 (2) UU Perkoperasian no. PELITA V meletakkan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan selanjutnya.3) Mengesahkan / memberlakukan undang-undang : (1) UU Pokok Perbankan No.  PELITA IV 84/85 – 88/89 Titik berat pertanian (melanjutkan swasembada pangan) dengan meningkatkan industri penghasil mesin-mesin. (2) Program Pembangunan dimulai tahun 1969/ 1970 (jangka panjang) . terdiri dari :  PELITA I 69 / 70 = 73 / 74 Titik berat pada sektor pertanian dan industri yang menunjang sektor pertanian.

3 miliar (akhir Pelita II). (Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI 15-8-1974 dalam Zulkarnain Djamin. 2) Oil Boom II (1979/1980) Harga minyak yang telah menapai US$ 15. 7.Nilai ekspor naik 6. II.2% (Pelita II) dan 6. 1988). terus melonjak US$ 35. gejalanya terlihat antara lain : 30 . hidupnya boros dan mewah seperti. karena adanya krisis minyak sebagai akibat tindakan boikot negara-negara OPEC (timur Tengah) yang sedang konflik dengan Israel. terlihat : . 2) Terus meningkat mencapai 9.646.II) MASA PEMBANGUNAN EKONOMI (1969 – sekarang) A. yaitu 16. b) Dampak Negatif (Merugikan) 1) Bangsa Indonesia menjadi manja. 1993). malahan meningkat rata-rata US$ 1. 3) Puncaknya mencapai US$ 23.9% (1981) dan merosot menjadi 2. III (1973/74 – 1979/80) nilai keseluruhan ekspor Indonesia meningkat : 1) Awal Pelita I US$ 1 miliar meningkat menjadi US$ 3. 2) Bangsa Indonesia menderita penyakit belanda (the Dutch disease).8 per tahun tapi diikuti naiknya nilai impor yang lebih tinggi.50/ barrel (1980).00 (1981 – 1982) a.9 juta per tahun (1974-1984).Kebutuhan modal asing (pinjaman lunak) tidak menurun: rata-rata US$ 562 juta per tahun (1970-1973). (Mubyarto.67/ barrel (1970 menjadi US$ 11. kemudian menurun 7.6 miliar pada tahun 1981/1982.1 miliar meningkat menjadi US$ 11. . Masalah yang dihadapi Oil Boom disamping memberi dampak positif juga membawa dampak negatif (masalah) a) Dampak Positif (menguntungkan) Selama Pelita I. MASA OIL BOOM (1973 – 1982) .3% pada waktu resesi ekonomi tahun 1982.65/ barrel (1979) melonjak lagi menjadi US$ 29.5% (Pelita III).70/barrel (1973/74).Dua kali Oil Boom dalam PJPT I : 1) Oil Boom I (1973/1974) Oil Boom I terjadi ketika harga minyak di pasar dunia melonjak dari US$1. (Mubyarto.9% (1980). 1988).6 miliar (akhir Pelita I) 2) Awal Pelita II US$ 7. Laju pertumbuhan ekonomi cednderung meningkat : 1) Tiap Pelita rata-rata : 7% (Pelita I).6% per tahun.

terutama golongan ekonomi lemah 6. • PELITA II : kebijaksanaan ekonomi periode ini berkisar pada :  Kebijaksanaan stabilisasi 9 April 1974 (menyangkut aspek moneter. fisikal dan perdaganagn). Kebutuhan pokok rakyat (pangan. Akibatnya jumlah uang beredar meningkat.Defisit APBN (dalam rupiah) ditutup dengan surplus penerimaan (dalam valas). . 1985). sandang) 2.9% sedang lalu pertumbuhan ekonomi rata-rata 8% per tahun selama 1972 – 1981 (Anwar Nasutioan dalam Anwar Nasution. Kesempatan memperoleh keadilan 31 . • PELITA III : Unsur pemertaan lebih ditekankann melalui delapan jalur pemeraataan-pemertaan:  1. 1994) • PELITA I . Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah . wanita 7. Pembagian pendapatan 4.. . industri dan pertambangan serta sektor pedesaan. yaitu 78.28%. Usaha. kesehatan 3. untuk sektor pertanian dan irigrasi.. ed. Perluasan kesempatan kerja 5.Masa Oil Boom (1973/74 – 1981/82) berlangsung sepanjang waktu pelaksanaan PELITA I – PELITA III (akhir tahun PELITA I sampai pertengahan tahun PELITA III) . sektor perhubungan dan pariwisata.  Keibjaksanaan devaluasi rupiah terhadap dollar AS (kurang lebih 45%) pada bulan Nopember 1978. Kesempatan memperoleh pendidikan.Kebijaksanaan tiga PELITA antara lain (Suroso.Laju inflasi dalam negeri lebih tinggi dari inflasi dunia (negara partner dagang) sebagai akibat besarnya monetisasi penerimaan negara dalam valas. sebagian besar anggaran pemerintah dialokasikan di bidang ekonomi.Laju pertumbuhan yang uang beredar jauh lebih besar. Kesempatan berpartisipasi (pemuda. b. Pembangunan antar daerah 8. inflasi meningkat. rata-rata 34.

 Kebijaksanaann Januari 1982 : keringan kredit ekspor.  Di bidang impor juga diberikan keringnan bea masuk dan PPN Impor untuk barang-barang tertentu. 32 .  Eksportir dibebaskan dari kewajiban menjual devisa yang diperolehnya dari hasil ekspor barang/ jasa kepada bank Indonesia. 1994). penurunan biaya gudang.  Di bidang perkreditan pelaksanaan KIK/ KMK semakin disempurnakan dengan Keppres No.  Kebijakan imbal beli Januari 1983 : mengatur eksporimpor dengan cara imbal beli untuk mengurangi pemakaian devisa. (Suroso. Sementara itu nampak ada kecenderungan harga minyak yang semakin menurun khususnya pada tahun-tahun terakhir Repelita III. 18/1981 • Pertumbuhan ekonomi pada periode ini dihambat oleh reseeese dunia yang belum juga berakhir. pelabuhan dan bebas memiliki devisa.

Masalah-masalah yang dihadapi Merosotnya harga minyak di pasar internasional sepanjang tahun 1983 – 1987 menimbulkan masalah berat bagi perekonomian Indonesia karena penerimaan sektor migas menurun. Sejak tahun 1983 perekonomian Indonesia memasuki masa Pasca Oil Boom (Pasca Bonanza Minyak) Tahun 1986 terjadi goncangan ekonomi akibat merosotnya harga minyak sampai titik terendah US$ 9.0% menjadi US$ 14. a.938 triliun menjadi Rp 2.00/ per barrel (1981 – 1982).571 triliun menjadi Rp 3. Dampak turunnya harga minyak : 1) Penerimaan migas dari hasil ekspor menurun 2. 3) Defisit APBN meningkat dari Rp 1. MASA PASCA OIL BOOM (1983 – 1987) Harga minyak mencapai US$ 35. defisit transaksi berjalan dan defisit APBN meningkat.PEREKONOMIAN INDONESIA MUNAWIR.53/ barrel (1983 – 1984) dan tahun-tahun berikutnya harga berfluktuasi tidak menentu.888 juta menjadi US$4.966 juta (1986/1987). Sedangkan anggaran pembangunan berkurang Rp 2.. Program refromasi ekonomi (pemulihan) mulai menampakkan hasil pada tahun 1998.742.151 juta (1983/1984) dan meningkat lagi dari US$1.449 juta (1983/1987) dan menurun lagi 44. (II) EKONOMI (1983 – 1987) B.83/ barrel. 2) Defisit transaksi berjalan meningkat dari US$2. triliun (1983/1984) dan meningkat lagi dari Rp 3.051 juta (1986/1987).0% menjadi US$ 6.832 juta menjadi US$ 4. menurun lagi menjuadi US$ 29.7% dibanding 33 SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN 3) MASA PEMBANGUNAN .777 triliun atau 23. SE POKOK BAHASAN II.589 triliun (1986/1987).

4) Kebijaksanaan perpajakan : memberlakukan seperangkat Undang-undang Pajak Nasional (1984). mendorong ekspor non migas.Kebijaksanaan ini terutama diarahkan untuk mencegah memburuknya neraca pembayaran.tahun yang lalu karena pada tahun 1986/1987 banyak proyek yang ditunda/ dipangkas.Kebebasan menentukan suku bunga deposito dan pinjaman bagi bank-bank pemerintah .270) 3) Tidak menaikkan suku bunga instrumen moneter untuk mendorong kegiatan ekonomi dan pengerahan dana serta memperbaiki posisi neraca pembayaran. Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah Masa Pasca Oil Boom terjadi pada tahun ke-5 PELITA III (1983/1984) sampai tahun ke-3 PELITA IV (1986/1987). (Laporan tahunan B.I. (Laporan tahunan B. 4) Pemerintah menghapus ketentuan pagu swap ke Bank Indonesia untuk mendoirong pemasukan modal asing dan dana dari luar negeri (Laporan Tahunan B.I. 2) Menekan pengeluaran pemerintah dengan pengurangan subsidi dan penangguhan beberapa proyek pembangunan 3) Kebijaksanaan moneter perbankan 1 Juni 1983 (PAKJUN 1983) : . 2) Devaluasi rupiah terhadap US Dollar sebesar 31% (dari US$ 1 = Rp 970 menjadi US$ 1 = Rp 1. 1983/1984). 34 . (angka-angka diolah kembali dari laporan BI tahun yang bersangkutan). 1986/1987).Pemerintah menerbitkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) sejak Pebruari 1984 dan memberikan fasilitas diskonto keapada bank-bank umum yang mengalami kesulitan likuiditas (SBPU mulai digunakan Pebruari 1985). b. mendorong penanaman modal dan meningkatkan daya saing produk ekspor (non migas) di pasar dunia. 1986/ 1987). Kebijaksanaan Reformasi Ekonomi 1986 – 1987 : . Kebijaksanaan tahun 1983 – 1984 : 1) Devaluasi Rupiah terhadap US Dollar (US$ 1 = Rp 702 menjadi US$ = Rp 970) untuk memperkuat daya saing.I. a) Sektor Fiskal/ Moneter : 1) Pemerintah melakukan penghematan antara lain dengan mengurangi subsidi. meningkatkan penerimaan melalui intensiftikasi dan ekstensifikasi pemungutan pajak.

(Laporan Tahunan B. (3) kebijakan moneter dan keuangan serta (4) kebijakan perdagangan dan deregulasi atau reformasi di sektor riil dan moneter.552 juta (1988). 1996). 3) PAKDES – 1986 (29 Desember 1986) : memberi kemudahan-kemudahan kepada perusahaan-perusahaann industri strategis tertentu.269 juta (1987) menjadi US$1. BPS) . (OVERHEATED) SEJAK 1990 KEGIATAN EKONOMI MEMANAS Ekspansi kegiatan ekonomi selama tahun-tahun 1989-1991 ada sangkut pautnya dengan kebijaksanaan deregulasi pemerintah. Penyempurnaan bea masuk dan bea masuk tambahan. 3) Defisit transaksi berjalan menurun : uS$2. usaha dan tindakan setelah tahun1986 berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan struktural dan finansial yang tepat tela memainkan peranan penting.2% (1987) menjadi 59.206 juta (1987) menjadi US$ 19.Meskipun adanya perbaikan dalam lingkungan ekonomi eksternal. .Beberapa hasil Reformasi Ekonomi 1986 – 1987 : 1) Laju pertumbuhan ekonomi meningkat dari 4. 2) PAKTO – 1986 ( 25 Oktober 1986) menyangkut impor: mengganti “sistem non tarif” dengan “sistsem tarif” untuk mencegah manipulasi harga barang.I. . 1989). fasilitas pembebasan dan pengembalian bea masuk.8% (1988). yang sudah mulaid ilaksanakan secara bertahap sejak tahun 1983.Program penyesuaian ekonomi struktural dan reformasi ekonomi yang dilakukan pemerintah Indonesia sejak anjloknya harga minyak di pasar dunia pada pertengahan tahun 1980-an mencakup empat katagori besar.b) Sektor Riil (struktural) : 1) PAKMI – 1986 (6 Mei 1986) menyangkut ekspor: kemudahan tata niaga. pembentukan kawasan berikat.8% (1988) 2) Nilai total ekspor meningkat dari US$ 17. Kebijaksanaan-kebijaksanaan penyesuaian yang dijalankan sejak tahun 1986 telah memperkuat kemampuan ekonomi Indonesia untuk berdaya tahan terhadap goncangan yang merugikan (Rustam Kamaluddin. (Statistik Keuangan 1991/1992. yaitu : (1) pengaturan nilai tukar rupiah (exchange rate management). 1986/1987).509 juta (1988) Prosentasi ekspor non migas meningkat dari 50. termask pemulihan harga minyak. telah membantu Indonesia dalam proses penyesuaiannya. (2) kebijakan fiskal. yang 35 .9% (1987) menjadi 5. (Tulus Tambunan. Rangkaian tindakan deregulasi di atas memberi dorongan kuat terhadap kegiatan dunia swasta. A.

8% (1988). Ekspansi ekonomi di atas telah disertai oleh ekspansi moneter yang besar.5% (1989).73 triliun (1989/1990). Kebijaksanaan uang ketat (TMP = tight money policy) Untuk “mendinginkan” kondisi ekonomi yang terlalu panas dilakukan kebijaksanaan fiskal dan moneter/ perbankan : 1) Meningkatnya penerimaan dalam negeri : Rp 28. Rp 41. 44% (1990) 2) Kredit perbankan meningkat : 48% (1989). menjadi 54% (1991) 3) Laju inflasi meningkat : 5. Pangsa investasi asing berkisar 25% dari total nilai investasi swasta domestik.54 triliun (1990/1991). Indikator ekspansi Moneter 1) Jumlah uang beredar meningkat : 40% (189).58 triliun (1991/1992) 2) Moneter / perbankan : 36 . 1993). 7. Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah Berlangsungnya proses pemulihan ekonomi sampai kegiatan ekonomi meningkat cepat sehingga memanas (overheated) berlangsung selama tahun ke 4.5 miliar (1991). 6. (Soemitro Djojohadikusumo. 17% (1991). 7. Rp 39. sehingga ekonomi memanas (overheated) jika dibiarkan berlangsung terus akan membahayakan kestabilan ahrga dalam negeri dan melemahkan kedudukan negara kita dalam hubungan ekonomi internasional (khususnya dibidang neraca pembayaran luar negeri). Masalah-masalah yang dihadapi Kecenderungan terjadinya ekspansi ekonomi berbarengan dengan ekspansi moneter.1 (1990) 2) Investasi dunia swasta yang meningkat : 15% (1983).6 miliar (1989).5% (1990-1991) 4) Defisit tahun berjalan meningkat : US$1. Indikator Ekspansi Ekonomi 1) Laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat : 5. a.0% (1989) 9. sebagai akibat naiknya permintaan domestik (domestic demand) yang mencakup tingkat investasi maupun tingkat konsumsi.5% (1988). US$3.beberapa tahun terakhir ini telah menjadi faktor penggerak dalam ekspansi ekonomi.7 miliar (1990) dan US$4. Ekspansi ekonomi yang ditandai oleh laju pertumbuhan pesat selama tiga tahun berturut-turut ini dianggap terlalu panas (overheated) dari sudut kestabilan keuangan moneter (Soemitro Djojokusumo. ke 5 pelaksanaan PELITA IV dan tahun ke 1 PELITA V (1987/1988 – 1989/1990) dan ekonomi memanas ini berlangsung terus sepanjang PELITA V (1989/1990 – 1993/1994) Kondisi ekonomi yang memanas perlu didinginkan dengan kebijaksanaan uang ketat. b. 1993).

a. mendorong masuknya modal luar negeri terutama hutang swasta. 1995/1996).6% (1991) menjadi 6. karena : 1) Meningkatnya permintaan domestik tidak diimbangi dengan kemampuan menambah penawaran. mendorong permintaan kredit perbankan yang tidak diimbangi pertambahan dana bank menyebabkan naiknya tingkat suku bunga pinjaman.6 triliunmenjadi Rp 323. e) Gangg uan Keseimbangan Internal : 1) Meningkatnya pendapatan nasional dari Rp 300.I. 1993: angka-angka : Nota Keuangan dan Rancangan APBN 1994/1995). sehingga beban angsuran hutang luar negeri meningkat. Masalah-masalah yang dihadapi Meningkatnya permintaan domestik. menyebabkan defisit transaksi berjalan makin membengkak. yang tidak disertai dengan meningkatnya penawaran yang memadai. Hal ini menunjukkan.5% (1991) menjadi 4. mulai tahun 1995/1996 menjadi overloaded.1 triliun menjadi 37 . Dampak TMP : pertumbuhan ekonomi menurun dari 6.3% (1992) dan inflasi menurun dari 9. B. terutama yang bersumber dari hutang swasta luar negeri serta defisit transaksi berjalan yang makin membengkak. meningkatnya inflasi. menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi Indonesia berlangsung melampaui daya dukung (kemampuan) yang ada (Laporan tahunan B. investasi. KEGIATAN EKONOMI INDONESIA MENJADI OVERLOADED TAHUN 1996 Pertumbuhan jumlah uang beredar (M2). 1995/1996).I. sehingga harga-harga meningkat 2) Maraknya kegiatan investasi maupun konsumsi. baik permintaan untuk konsumsi maupun investasi.5 triliun dan pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Rp 194. 4) Bersamaan dengan meningkatnya impor non migas yang tidak diimbangi dengan peningkatan ekspor non migas. menimbulkan tekanan pada gangguan keseimbangan internal dan keseimbangan eksternal (Laporan Tahunan B. kredit bank dan kuatnya arus modal luar negeri. 3) Melebarnya selisih suku bunga dalam dan luar negeri.c) Memba tasi kredit bank melalui politik diskonto (suku bunga) didukung operasi pasar terbuka dengan instrument SBI dan SBPU. d) Menga wasi likuiditas bank melalui ketentuan LDR (Loan to Deposit Ratio) dann CAR (Capital Adequacy Ratio). (Soemitro Djojohadikusumo.9% (1992). bahwa kondisi ekonomi yang overheated sejak tahun 1990.

4%. Terjadi tekanan pada Neraca pembayaran. di Indonesia maupun dari badan-badan dunia seperti Bank Dunia. bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena fundamental ekonomi masih ”kuat”.6 miliar. menyebabkan surplus lalu lintas modal meningkat dari US$ 4. 2) Meningkatnya kebutuhan investasi yang tidak diimbangi pergambahan dana bank dan adanya perbedaantingkat suku bunga dalam negeri (lebih tinggi) dengan suku bungan di luar negeri. menyebabkan inflasi meningkat menjadi 8. laju kenaikan kredit rata-rata 24.8 miliar menjadi US$11. 2) Meningkatnya investasi dari 15.3% menjadi 16.3 triliun. yang tidak diimbangi dengan meningkatnya penawaran. IMF dan ABD tidak menduga bahwa beberapa negara di Asia akan mengalami suatu krisis moneter atau ekonomi yang yang sangat besar sepanjang sejarah dunjia sejak akhir perang dunia kedua. Akibatnya sektor luar negeri menjadi faktor pengurang pada pembentukan PDB.9%. f) Gangg uan keseimbangan eksternal 1) Impor non migas mengalami pertumbuhan sampai 19. sehingga defisit transaksi berjalan meningkat rationya terhadap PDB dari 2% menjadi 3%. b. B. dimana sektor pemerintah defisit US$0. 38 . 1998). maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya fundamental ekonomi Indonesia pada tahun1995/1996 sudah lemah.2 miliar sedangkan sektor swasta surplus US$11. 1995/1996).3% menjadi 16.I. Hal ini bertentangan dengan pernyataan pejabat resmmi yang selalu meyakinkan masyarakat.4 miliar. Akibatnya suku bunga pinjaman meningkat dari 15.9% per tahun.8% (1993/1994 – 1995/1996) melebihi kenaikan dana bank rata-rata sebesar 23. Rencana dan Kebijaksanaan Pemerintah Hingga awal tahun 1997 dapat dikatakan bahwa hampir semua orang. terutama dari hutang swasta ke luar negeri (laporan Tahunan.8%.4%.9%. Memperhatikan perkembangan ekonomi sebagaimana yang ditunjukkan oleh indikator-indikator ekonomi di atas. Walaupun sebenarnya sejak tahun 1995 ada sejumlah lembaga keuangan dunia (IMF dan Bank Dunia) sudah beberapa kali memperingati Thailand dan Indonesia bahwa ekonomi kedua negara tersebut sudah mulai memanas (overheating economy) kalau dibiarkan terus (tidak segera didinginkan) akan berakibat buruk (Tulus Tambunan.Rp 206. sedangkan ekspor non migas hanya meningkat 13.

Singapura. meliputi bidang : 1) Bidang impor mencakup Antara lain adalah penyederhanaan tata niaga impor. b) Kebijaksanaan Valuta Asing/ Devisa : diarahkan untuk mengurangi dorongan masuknya modal asing. dalam rangka meningkatkan efisiensi dan ketahanan ekonomi serta meningkatkan efisiensi dan ketahanan ekonomi serta meningkatkan daya saing produksi nasional. Sselain itu dapat pula dibedakan aadanya faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal. Selain faktor-faktor internal dan eksternal. Philipina melalui transaksi repurchases agreement (repo) surat-surat berharga. yang mempengaruhi terjadinya krisis ekonomis.Kebijaksanaan Tahun 1995 – 1996 a) Kebijaksanaan moneter : diarahkan untuk mengendalikann sumbersumber ekspansi M2. Hong Kong. 3) Iklim Usaha C. 2) Dibidang ekspor mencakup : Antara lain penghapusan pemeriksaan barang ekspor oleh surveyor. 1998). baik yang bersifat ekonomi maupun yang bersifat noneknomis. 1997 MENJADI KRISIS EKONOMI KRISIS MONETER BULAN JULI Tidak mudah menentukan apa faktor-faktor utama penyebab krisis ekonoim di Indonesia. ada tiga teori alternatif yang dapat juga dipakai sebagai basic framework untuk menganalisis faktorfaktor penyebab terjadinya krisis ekonomi di Asia (Tulus Tambunan. karena setiap gejolak ekonomi dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang langsung (drect factors) dan faktor-faktor yang tidak langsung (indirect factors) yang mempengaruhinya. Thailand. Faktor-faktor Internal 39 . a. khususnya meningkatnya kredit bank dan arus modal luar negeri melalui : 1) Mekanisme operasi pasar terbuka (OPT) dengan instrumen SBI dan SBPU 2) Merubah ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 3%.00) 3) Melakukan kerja sama bilateral dengan otoritas moneter Malaysia. c) Kebijaksanaan sektor Riil 4 Juni 1996 . 3) Merubah ketentuan kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) secara bertahap mencapai 12%. terutama yang berjangka pendek dengan cara : 1) Meningkatkan fleksibelitas nilai tukar rupiah melalui pelebaran spread kurs jual dan kurs beli rupiah terhadap Dollar Amerika 2) Menerapkan penggunaan batas kurs intervensi (perbedaan batas atas dan batas bawwah sebesar Rp 66.

sedang nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terlalu kuat (overvalued). 8) cadangan devisa dan 9) tingkat suku bunga.Jepang dan Eropa Barat mengalami kelesuan pertumbuhan ekonomi sejak awal dekade 90-an dan tingkat suku bunga sangat rendah.Daya saing Indonesia di Asia yang lemah. Dana sangat melimpah sehingga sebagian besar arus modal swasta mengalir ke negara-negara Asia Tenggara dan Timur. karena proses ekonomi berdasarkan mekanisme pasar (ekonomi kapitalis) selalu menunjukkan gelombang pasang surut dalam bentuk naik turunnya variabel-variabel makro (Tulus Tambunan. b.Indonesia akhirnya juga digoncang oleh “pelarian” dollar AS. Teori-teori Alternatif 1) Teori konspirasi. menularnya amat cepat dari satu negar ake negara lain. 1998). 2) Teori contagion. karena tidak menyukai sikap arogansi ASEAN selama ini. 1998). . khususnya Amerika. . krisis ekonomi sengaja ditimbulkan oleh negara-negara maju tertentu. 2) pendapatan nasional. 3) Teori business cycle (konjungtur). 4) jumlah uang beredar. 2) Perubahan cadangan valas sangat sensitif terhadap perubahan sektor riil (perdagangan luar negeri) dan salah satu penyebab depresiasi nilai tukar rupiah yang menciptakan krisis ekonomi di Indonesia adalah karena terbatasnya cadangan valas di Bank Indonesia. 6) jumlah investasi. bukan hanya sektor moneter tapi juga sektor riil mempunyai kontribusi yang besaar terhadap terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. 40 . yang akhirnya membuat krisis.. c. 7) keseimbangan neraca pembayaran. disebabkan investor asing merasa ketakutan. bukan dari hasil ekspor neto. 5) jumlah pengangguran. karena uang (valas) sudah menjadi komoditas yang diperdagangkan seperti produk-produk dari sektor riil. 3) tingkat inflasi. yaitu karena adanya contagion effect.Dilihaat dari fundamental ekonomi makro. Faktor-faktor eksternal . Ini mencerminkan bahwa ekonomi Indonesia sangat tergantung pada modal jangka pendek dari luar negeri (short-term capital inflow). 1998).Fundamental ekonomi nasional yang merupakan penyebab krisis ekonomi di Indonesia adala fundamental makro misalnya : 1) pertumbuhan ekonomi. . Sumber utama pertumbuhan jumlah cadangan devisa Indonesia. (Tulus Tambunan. karena dua alasan: 1) Perkembangann sektor moneter sebenarnya sangat tergantung dari perkembangan sektor riil. melainkan dari arus modal masuk jangka pendek (surplus neraca kapital) (Tulus Tambunan.

1 51.7 82. Proses terjadinya kontraksi ekonomi Penurunan nilai tukar ruiah yang tajam disertai dengan terputusnya akses ke sumer dana luar negeri menyebabkan turunnya produksi secara drastis dan berkurangnya kesempatan kerja.5 77 33. Faktor-faktor non-ekonomi 1) Dampak psikologis dari krisis di Indonesia adalah merebaknya penomena kepanikan.6 10.4 66. sehingga para pemilik modal internasional memindahkan modal mereka dari Indonesia secara tiba-tiba. 41 .3 -18. Pada saat yang sama.4 19.4 8. 1998). sehingga sekelompok orang (spekulan) berusaha meraih keuntungan dengan cara menukar sejumlah besar rupiah terhadap dollar AS.8 56. kenaikan laju inflasi yang tinggi dan penurunan penghasilan masyarakat menyebabkan merosotnya daya beli sehingga kesejahteraan masyarakat menurun drastis dan kantong-kantong kemiskinan semakin meluas.8 14. 2) Kepanikan ini kemudian diikuti oleh warga negara di Indonesia. b. D. (Tulus Tambunan. EKONOMI SEJAK 1998 TERJADINYA KONTRAKSI Krisis yang terjadi di Indonesia tidak saja telah memaksa rupiah terdepresiasi sangat tajam tapi juga menimbulkan kontraksi ekonomi yang sangat dalam.900 Berbagai permasalahan nonekonomi muncul dalam waktu yang relatif bersamaan : (1) Kerusuhan sosial yang menyebabkan berbagai kerusakan di sektor produksi maupun distribusi (2) Jaringan distribusi yang tidak berfungsi sepenuhnya disertai panis buying.685 2.5 4.7 64.d.025 -9. a.4 39.0 -12.700 -13.2 8. Indikator kontraksi ekonomi Indikator Makroekonomi Tahun 1998 Rincian Produk domestik bruto riil (Tahun dasar 1993) Pengeluaran konsumsi Inflasi IHK Suku bunga PUAB Nilai tukar (Rp$) Triwulan I Triwulan Triwulan Triwulan II III IV Perubahan % -4.

5) hiperinflasi. 1998) : 42 . DIHADAPI SETELAH KRISIS MASALAH-MASALAH YANG Yang menjadi persoalan penting sekarang ini bagi Indonesia adalah menyangkut biaya krisis atau besarnya “pengorbanan” yang harus dibayar akibat krisis dan lamanya pengorbanan itu harus dipikul. sosial dan politik. 4) Tahap pembangunan yang dapat dimulai kembali apabila saluran krisis dapat ditanggulangi. Rencana: menurut Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas. Pada tahun 1998 PDB Riil menyusut 13. (Tulus Tambunan. Penurunan kegiatan investasi berkaitan dengan makin memburuknya ketidakseimbangan neraca dunia usaha. C. rendahnya kepercayaan investor dari luar negeri. Boediono. 4) bencana kelaparan ini banyak lokasi. PEMULIAHAN EKONOMI RENCANA DAN PROGRAM a. pemerintah telah menetapkan tempat tahapan strategis : 1) Tahap penyelematan (1 – 2 tahun sejak 1998/1999) 2) Tahap pemulihan yang sifatnya tumpang tindih dengan tahap sebelumnya (2 tahun) 3) Tahap pemantapan (1-2 tahun) setelah selelsai tahap penyelamatan. 3) jumlah pengangguran dan kemiskinan meningkat.(3) Pergantian kepemimpinan nasional dan proses konsolidasi pemerintahan baru turut memperlambat pemulihan stabilitas ekonomi. c. Setelah setahun krisis berkalngsung. E.7% yang terutama disebabkan oleh kegiatan investasi dan konsumsi swastaa yang merosot tajam. Biaya-biaya sosial : 1) kerusuhan di mana-mana sejak black May 1998. dan 6) dengan defisit anggaran pemerintah dan neraca pembayaran membengkak. 2) banyak orang kekurangan gizi. 4) kriminalitas makin tinggi. 18 September 1998) b. ternyata biaya krisis yang harus dibayar masyarakat Indonesia lebih besar dibandingkan di Thailand. 1998). Korea Selatan atau Malaysia. 3) anak putus sekilah meingkat. (Kompas. Biaya-biaya ekonomi : 1) pendapatan per kapita anjolok secara drastis. Program Pemulihan dan Kebijaksanaan Ekonomi Setelah menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak dapat dibendung lagi dan cadangan dollar AS di BI sudah menipisi. memburuknya kondisi perbankan. maka bulan Nopember 1997 Indonesia minta bantunan IMF untuk mendapat bantuan dana (Tulus Tambunan. 2) laju pertumbuhan PDB menjadi negatif.

1) Pinjaman tahap pertama 3 mioliar dollar AS untuk memperkuat dan menstabilkan nilai rupiah. Muljana. Perhitungan 3.S. Buku Panduan Mahasiswa. B. 3) Bulan Maret 1998 dilakukan perundingan baru lagi dan bulan April 1998 ditanda tangani memorandum tambahan atau letter of inten (II) Ada lima memorandum tambahan yang disepakati : (3) Program stabilisasi pasar uang dan mencegah hiperinflasi. Beberapa langkah penting. 2. diterima bulan Nopember 1997. sesuai kesepakatan IMF : 1) Kebijaksanaan moneter 2) Kebijaksanaan perbankan 3) Program kesempatan kerja 4) Reformasi dan privatisasi BUMN 5) Restrukturisasi ULN swasta (Tulus Tambunan.. 1995. 2) Bulan Januari 1998 ditanda tangani nota kesepakatan atau letter of inten (I) yang memuat 50 point/ ketentuan: kebijaksanaan ekonomi makro (fiskal-moneter) restrukturisassi keuangan dan reformasi struktural.. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) meliputi : 1) Program Ketahanan Pangan 2) Program padat karya 3) Program perlindungan sosial 4) Program pemberdayaan ekonomi rakyat (Kompas. Triyono Widodo. DAFTAR BACAAN 1. 1994.G.3. Suroso P. Suseno Hg. Indikator Ekonomi. Lembaga Penerbit FEUI. 18 September 1998) 2. Dasar Perekonomian Indonesia. 1983. 43 . PT. (5) Reformasi struktur yang mencakup upaya-upaya dan sasaran yang telah disepakati (letter of inten-II) (6) Penyelesaian utang luar negeri swasta (corporate debt). Perekonomian Indonesia. 1998). (7) Bantuan untuk rakyat kecil (kelompok ekonomi lemah) c. d. Pembangunan Ekonomi dan Tingkat Kemajuan Ekonomi Indonesia. Penerbit Kanisius.. (4) Restrukturisasi perbankann dalam rangka penyehatan sistem perbankan nasional.

LP3ES. 1990. 1998... Laporan Bank Indonesia. ed. dalam Anne Booth dan Peter mc Cawley. Zulkarenin.. Gramedia. Dr. dalam Redaksi Harian Kompas. PT. Jakarta. Tulus.. Ekonomi Order Baru.4. dalam Anne Booth dan Peter Mc Cawley. LP3ES. ed. LP3ES. 17. Penerbit Gramedia. “Reformasi Ekonomi Indonesia dalam Masa Transisi”. ed. dalam 8. Biro Pusat Statistik. Terjemahan oleh Boedino. 7. “Pertumbuhan Sektor Industri”. Nasution.. Jakarta. Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia. LP3ES. Soemitro.. PT. Prosedur Administratif dalam Pembiayaan Proyek Pembangunan di Indonesia. 1995/1996. Mubyarto. Peluang dan Tantangan Pembangunan sampai 1989. 12. Lembaga Penerbit FEUI. Tahun 1986/1987. Djojohadikusumo. Didin S.. Mencari bentuk Ekonomi Indonesia. Anwar. 5. 1996.. Wijoyo. Booth. Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia. Pinjaman Luar Negeri. 9. 1993. Peter Mc. Dr. Penerbit Sinar Harapan. Djamin. Tambunan. 1990. ed. 13. Bank Indonesia. 14. 6. Stephen. 1982. Ghalia Indonesia. Krisis Ekonomi dan Masa Depan Reformasi. “Menyongsong Ketetapan-ketetapan MPRS untuk Kebijaksanaan Ekonomi”. Statistik Keuangan. Anne dan McCawley. 1990. Jakarta. Grenville . Cawley. Penyunting. Tulus. 11. “Kebijakan Moneter dan Sektor Keuangan Formal”. ed. Sadeli. Muhammad. 1982. Dmanhuri. 10. Perekonomian Indonesia. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. dalam Redaksi harian Kompas. Ekonomi Order Baru. 15. 1993. 44 . “Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara” dalam Anwar Nasution. Jakarta. Tahun 1991/1992. Nitisastro.. UI-Press. LP3ES. “Landasan Ideal dan Masalah Operasional di Bidang Dimyati”. jakarta. 16. Ekonomi Orde Baru. 1985. Tambunan.

Agar mahasiswa dapat memahami perbedaan berbagai sistem ekonomi yang berlaku di dunia.1. SATUAN ACARA PERKULIAHAN a. 3. b. Materi Pembahasan Konsep Sistem Ekonomi (1) Pengertian sistem dan sistem ekonomi (2) Unsur-unsur dalam sistem ekonomi Pendekatan melalui sistem ekonomi (1) Beberapa pendekatan dalam ilmu ekonomi (2) Kelebihan pendekatan dengan sistem ekonomi Perbandingan sistem-sistem ekonomi : (1) Sistem Ekonom Kapitalis (Kapitalisme) (2) Sistem Ekonomi Sosialis (Sosialisme) (3) Sistem Ekonomi Campuran (Mixed Economy) Sistem Ekonomi Pancasila (1) Dasar filosofinya (2) Dasar konstitusionalnya (3) Dasar Operasionalnya SISTEM EKONOMI INDONESIA - - 3. khususnya konsep sistem ekonomi.POKOK BAHASAN III. KONSEP SISTEM EKONOMI 45 .2. termasuk sistem ekonomi Pancasila. Tujuan Umum Agar mahasiswa dapat memahami sistem dan perubahan sistem perekonomian Indonesia. c. PEMBAHASAN MATERI A. Agar mahasiswa dapat menjelaskan perekonomian Indonesia melalui pendekatan sistem. Tujuan Khusus Agar mahasiswa dapat memahami konsep sistem.

b. instansi pemerintah dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. dalam arti bertinteraksi juga dengan lingkungannya. Secara singkat dan umum dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi mencakup seluruh proses dan kegiatan masyarakat dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup atau mencapai kemakmuran. Beberapa definisi tentang sistem antara lain : (1) Suatu sistem adalah seperangkat komponen. serikat buruh.. 1986). melainkan merupakan satu kebulatan yang utuh dan padu. bahwa setiap sistem sekurang-kurangnya terdiri dari lima unsur: elemen sistem. Pengertian Sistem dan Sistem Ekonomi Istilah “sistem” berasal dari perkataan “systema” (bahasa Yunani). pranata (institusi) ekonomi. Unsur-unsur Sistem Ekonomi (1) Elemen-elemen Sistem Ekonomi a) Unitunit ekonomi seperti rumah tangga. (dikutip dai Amirin dalam Ssuroso. hubungan antar elemen. (3) Sebuah sistem dapat digambarkan sebagai sebuah kumulan dari elemen-elemenn atau komponen-komonen dimana beberapa dari komponen tersebut saling berhubungan secara tetap dalam jangka waktu tertentu. Dari beberapa definisi dan ciri-ciri sebuah sistem dapat disimpulkan.a. SE. 46 . (2) Sistem tersusun dari seperangkat komponen yang bekerja secara bersama-sama untuk mencapai semua tujuan dari keseluruhan sistem tersebut. 1994). (2) Setiap sistem tidak hanya sekedar kumpulan berbagai bagian. (Dikutip dari beberapa sumber dalam Winardi. perusahaan. (3) Setiap sistem melakukan kegiatan atau proses mengubah masukan menjadi keluaran. Beberapa ciri dari sebuah sistem dirumuskan antara lain sebagai berikut : (1) Walaupun sistem itu mempunyai batas. tujuan sistem ekonomi. yang dapat diartikan sebagai : keseluruhan yang terdiri dari macam-macam bagian. unsur atau komponen. fungsi elemen. yang saling berhubungan satu samalain. yang memiliki batas yang menseleksi baik macamnya maupun banyaknya input yang masuk dan output yang keluar dari sistem tersebut. akan tetapi sistem itu bersifat terbuka. bersifat “wholism”.Dr.

Sumber Daya Kapital (SDK). invstor dan pejabat-pejabat yang terkait. 47 (3) . peraturan pemerintah (PP). injvestasi. sebab hubungan-hubungan itu ada yang bersifat interelasi. distribusi. undang-undang. seperti fungsi-fungsi produksi. seperti konstitusi (UUD). adat-istiadat. b) Pola-pola hubungan tergantung dari sifat hubungan antar elemen. (4) Pranata (Institusi) Ekonomi a) Karena adanya hubungan antar elemen maka timbul produk kegiatan ekonomi. konsumsi. bisa non fungsional atau disfungsional. regulasi. b) Bagaimana hasil dari kegiatan ekonoim sanat tergantung bagaimana elemen-elemen sistem ekonomi tersebut menjalankann fungsinya. yang berlangsung secara berulangulang dan teratur menurut pola tertentu.b) Pelakupelaku ekonomi seperti konsumen. etika profesi. b) Mekanisme atau prosedur (aturan main) yang mengendalikan proses kegiatan ekonomi itu disebut institusi ekonomi yang terdiri dari : 1) Norma hidup. (2) Fungsi Elemen Sistem Ekonomi a) Masing-masing elemen (unit-unit ekonomi. produsen. pelaku-pelaku ekonmi) mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang harus dijalankan selama berlangsungnya proses kegiatan ekonomi. Surat Keputusan/ Surat Edaran Pejabat Resmi. tradisi. pelaku-pekaku ekonomi. karena perbedaan dalam menjalankan fungsi elemen dan pola hubungan elemen. sebab ada mekanisme (prosedur) yang mengaturnya. setiap elemen bisa fungsional. Perjanjian-perjanjian Bilateral/ Internasional. c) Dengan demikian proses kegiatan ekonomi bisa berlangsung secara efisien. Dalam perjalanan fungsinya. buruh. Peraturan Darah (Perda). Keputusan Presiden (Keppres). Sumber Daya Teknologi (SDT). kausal. tidak efisien atau produktif. kurang produktif. seperti norma agama. interaksi dan interdependensi serta hubungan fungsional. c) Lingku ngan Sumber Daya Alam (SDA) Dan Sumber Daya Manusia (SDM). sehingga menimbulkan proses kegiatan ekonomi. Hubungan antar Elemen Sistem Ekonomi a) Unit-unit ekonomi. 2) Peraturan hidup. SDA dan SDM saling berhubungan satu sama lain dalam suatu pola hubungan tertentu.

1967). Gregoary. PENDEKATAN MELALLUI SISTEM EKONOMI B. hukum-hukum. Gregoary. 48 . konsumsi masyarakat. 1967). c) Mendistribusikan pendapatan nasional (PN). Selama ini kita telah terbiasa memahami persoalan-persoalan ekonomi dengan pendekatan Teori Ekonomi Mikro. sebagai salah satuu alat analisis dalam memahami persoalan ekonomi. diantaranya adalah : (1) Istilah “sistem” yang dipergunakan dalam arti metode atau tata cara untuk memahami sesuatu persoalan atau sesuatu pekerjaan. doktrin-doktrin. sistem modul dalam pengajaran. (Grossman. keuntungan perusahaan. Contohnya seperti sistemm demokrasi liberal. Beberapa Pendekatann dalam Ilmu Ekonomi Istilah “sistem” dapat dipergunakan dalam pengertian bermacammacam sesuai dengann lingkup persoalan yang dihadapi. seperti pandangan hidup. Teori Keuangan dan lain-lain. diantara anggota masyarakat : sebagai upah/ gaji. b) Mengalokasikan produk nasional bruto (PNB) untuk konsumsi rumah tangga. Teori Ekonomi Makro. bunga dan sewa.3) Paham Hidup. (Grossman. sistem ekonomi kapitalis. Istilah sistem (sistem ekonomi) di sini dipergunakan dalam pengertian yang pertama. yang tersusun terorganisasikan dalam satu kesatuan yang logik. cra hidup. investasi. berapa banyak dan bagaimana produk-produk dan jasa-jasa yang dibutuhkan akan dihasilkan. a. (5) Tujuan Sistem Ekonomi Tujuan sistem ekonomi suatu bangsa atau suatu negara pada umumnya meliputi empat tugas pokok: a) Menentukan apa. Contohnya sistem mengetik sepuluh jari. ideologi. (2) Istilah “sistem” yang menunjukkan adanya sekumpulan (himpunan) gagasan-gagasan (ide). Istilah sistem ekonomi yang tersusun dari lima unsur sebagaimana diuraikan di atas digunakan sebagai konsep pendekatan. d) Memelihara dan meningkatkann hubungan ekonomi dengan luar negeri. penggantian stok modal. yang mengandung prinsip-prinsip. Umumnya kita belum biasa menggunakan pendekatan sistem (system approach) untuk memahami dan memecahkan persoalan-persoalan ekonomi. khususnya memahami persoalan ekonomi Indonesia.

Tujuan dari pengajaran teori pada umumnya dan teori ekonomi mikro, teori ekonomi makro pada khususnya, yaitu inter alia, menunjukkan cara-cara untukmenangkap dan menyederhanakan serta memecahkan permasalahan yang dihadapi secara sistematis. Untuk maksud ini disamping perlu uraian tentang konsep-konsep guna mencari hubungan sebab-akibat (causal) atau interdependensi antara semua unsur-unsur yang terkandung dalam konsep itu secara verbal, dipergunakan pula alat-alat analisa grafis dan matematis (Sudarsono, 1983). b. Kelebihan Pendekatan Sistem Ekonomi Beberapa dengan pendekatan teori ekonomi yang melihat persoalanpersoalan ekonomisecara “terkotak-kotak” maka pendekatan sistem ekonomi melihat persoalan ekonomi secara utuh, sistem ekonomi dipandang sebagai suatu totalitas. Dengan demikian setiap persoalan ekonomi yang kita hadapi, kita lihat secara menyeluruh – dilihat dari kelima unsur sistem ekonomi – sehingga seluruh fakta yang berkaitan dengan persoalan tersebut bisa terungkap secara lengkap.

49

Salah satu konsep pokok dalam teori sistem adalah : “Keseluruhan bukan hanya jumlah dari pada bagian-bagian”, (jadi keseluruhan bisa melebihi jumlah dari bagian-bagian). Karena itu penerapan cara pendekatan sistem bisa membantu kita mencapai suatu efek sinergistik (synergistic effect), dimana tindakan-tindakannnnn berbagai bagian yang berbeda dalam sistem itu yang dipersatukan, menghasilkan efek yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah dari pada bagian-bagian yang beraneka ragam itu. C. PERBANDINGAN SISTEM-SISTEM EKONOMI

Ada dua cara penggolongan penggolongan sistem ekonomi. Pertama berdasarkan yang mengatur mekanisme : a) Sistem ekonomi tradisional, b) sistem ekonomi pasar, c) sistem ekonomi komando/ terpimpin. Kedua bedasarkan yang mengatur kepemilikan aset: a) sistem ekonomi kapitalis, b) sistem ekonomi sosialis, c) sistem ekonomi campuran, (Grossman, Gregory, 1967). a. Sistem Ekonomi Kapitalis (Kapitalisme) (1) Ciri-ciri Kapitalisme a) Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi • Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu • Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha yang dipandang baik bagi dirinya. b) Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar • Pasar berfungsi memberikan “signal” kepda produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga. • Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. “The Invisible Hand” yang mengatur perekonomian menjadi efisien. c) Motif yang menggerakkan perekonomian mencari laba • Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri. • Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme). (Deliarnov, 1995) (2) Kebaikan-kebaikan Kapitalisme a) Lebih efisien dalam memanfaatkan sumber-sumber daya dan distribusi barang-barang. b) Kreativitas masyarakat menjadi tinggi karena adanya kebebasan melakukan segala hal yang terbaik dirinya. c) Pengawasan politik dan sosial minimal, karena tenaga waktu dan biaya yang diperlukan lebih kecil. (Deliarnov, 12995). 50

51

Sistem Ekonomi Sosialis (Sosialisme) (1) Ciri-ciri Sosialisme a) Lebih mengutamakan kebersamaan (kolektivisme) Masyarakat dianggap sebagai satu-satunya kenyataan sosial. hanya terjadi pada saat revolusi industri (abad pertengahan) dan revolusi Bolsevik tahun 1917). ekonomi mundur. Kecenderungan bisnis dalam kapitalisme dewasa ini: a) adanya spesialisasi. Yang ada persaingan tidak sempurna dan persaingan monopolistik. produktivitas menurun. Tidak ada pengakuan atas hak-hak pribadi (individu) dalam sistem sosialis. b) adanya produksi massa. 1995) (4) Kecenderungan Bisnis dalam Kapitalisme Perkembangan bisnis sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang berlaku. prestasi dan produksi menurun. b. d) adanya perkembangan penelitian. c) Sifat manusia ditentukan oleh pola produksi Pola produksi (aset dikuasai masyarakat) melahirkan kesadaran kolektivisme (masyarakat sosialis) Pola produksi (aset dikuasai individu) melahirkan kesadaran individualisme (masyarakat kapitalis). pelaksanaan hingga tahap pengawasan. Tidak menjelaskan bagaimana mekanisme ekonomi b) c) d) 52 . Tidak ada insentive untuk kerja keras Maka tidak ada dorongan untuk bekerja lebih baik. Di India banyak kasta. (2) a) Kelemahan-kelemahan Sosialisme Teori pertentangan kelas tidak berlaku umum Tidak banyak kasus. b) Sistsem harga gagal mengalokasikan sumber-sumber secara efisien. produksi dan perekonomian akan mandeg. c) adanya perusahaan berskala besar. Tidak ada kebebasan memilih pekerjaan Maka kreativitas masyarakat tehambat.(3) Kelemahan-kelemahan Kapitalisme a) Tidak ada persaingan sempurna. (Deliarnov. tapi tidak pernah terjadi revolusi sosial. karena adanya faktor-faktor eksternalitas (tidak memperhitungkan yang menekan upah buruh dan lain-lain). b) Peran pemerintah sangat kuat Pemerintah bertindak aktif mulai dari perencanaan. sedang individu-individu fiksi belaka. Alat-alat produksi dan kebijaksanaan ekonomi semuanya diatur oleh negara.

c. Sistem Ekonomi Campuran (Mixed Economy) (1) Ciri-ciri Ekonomi Campuran a) Kedua sektor ekonomi hidup berdampingan Ada kegiatan ekonomi yang dilakukan pribadi (swasta) dan sebagian lagi (yang menyangkut hidup orang banyak) dikelola oleh negara/ pemerintah.Karl Marx hanya mengkritik keburukan kapitalisme. . (3) 53 . capitalism. (Deliarnov. melaksanakan. merencanakan. 1995). (2) Campur Tangan Pemerintah Ada yang sifatnya keras. tapi tidak menjelaskann mekanisme yang mengalokasikan sumber daya di bawah sosialisme. b) Alasan perlunya campur tangann pemerintah Mencegah perusahaan-perusahaan besar turut mempengaruhi kbijaksanaan politik dan ekonomi Mencegah organisasi buruh (gabungan) menekan pengusaha dalam menentukan harga barang (Deliarnov. (3) Sosialisme tidak sama dengan komunisme . 1967). 2995).Komunisme merupakan tahap akhir perkembangan masyarakat (The Six Major Historical Stages): primitive communism slaery feudalism. mengawasi Lunak : melakukan perencanaan melalui mekanisme pasar untuk menjamin pemerataan dan keadilan. memajukan kecerdasan kehidupan bangsa dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. c) Persaingan dalam sistem campuran diperbolehkan Tetapi gerak-geriknya diawasi oleh pemerintah agar tidak mengarah saling merugikan (mencegah konsentrasi ekonomi/ monopoli). ada yang lunak Keras : sifat menyeluruh. Gregoary. a) Peran dan Campur Tangan Pemerintah Indonesia a) Amanat Konstitusi (pembukaan UUD 1945) : memajukan kesejahteraan umum. sosialism dan full communism (Grossman. b) Interaksi ekonomi terjadi di pasar Tapi di sana sini ada campur tangan pemerintah dengan berbagai kebijaksanaan.Sosialisme merupakan tahap persiapan ke komunisme.

(Undang-Undang Dasar 1945). c) Sistem Ekonomi Pancasila (SEP) 1) Rumusan Mubyarto (mengacu pada GBHN) a) Perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi. 3) Landasan Filosofis : PANCASILA a) Ketuhanan Yang Maha Esa : landasan moral dan etik spiritual untuk pembangunan b) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab: pedoman agar dalam pembangunan semakin meningkatkan martabat manusia yang utuh. SEP tidak liberal-kapitalistik. 1988). 34. c) Persatuan Indonesia: pedoman agar selalu meningkatkan rasa kesetiakawanan d) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan : pedoman untuk meningkatkann sistem dan semangat demokrasi dalam bidang politik maupun ekonomi. 54 . juga bukan sistem ekonomi yang etastik. 27. dan 27 ayat 2. Meskipun demikian sistem pasar tetap mewarnai kehidupan perekonomian (Mubyarto. karena ekonomi berlangsung berdasarkan free fight liberalisme e) Prinsip demokrasi ekonomi ditegaskan (diatur) dalam UUD 1945 pada pasal-pasal 23.b) Pasal 33. menyelenggarakan kesejahteraan sosial seluruh rakyat memalui antara lain: Penguasaan cabang-cabang produksi yang penting Memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar Penyediaan lapangan kerja. 33. 2) Rumusan Emil Salim (mengacu pada Pancasila dan UUD 1945) a) Sistem Ekonomi yang khas Indonesia sebaiknya berpegang pada pokok-pokok pikiran yang tercantum dalam Pancasila b) Dari Pancasila. sila keadilan sosial yang paling relevan untuk ekonomii. sosial dan moral b) Ada kehendak masyarkaat untuk mewujudkan pemerataan sosial ekonomi c) Nasionalisme selalu menjiawi kebijaksanaan ekonomi d) Koperasi merupakan sokoguru perekonomian nasional e) Ada keseimbangan antara sentralisme dan desentralisme dalam kebijaksanaan ekonomi. 34. c) Sila keadilan sosial mengandung dua makna : Prinsip pembagiann pendapatan yang adil Prinsip demokrasi ekonomi d) Pembagian pendapatann masa penjajahan tidak adil.

1983). kerakyatan dan keadilan sosial Koperasi sebagai sokoguru ekonomi. kesejahteraan harus dibagi-bagikan sseara merata di antara wara negara secara adil (2) Sila persatuan.4) Landasan Konstitusional : UUD – 1945 Prinsip-prinsip Demokrasi Ekonomi 1) Pasal 23 : menegaskan hak-hak DPR untuk : . 2) Pasal 27 : Menegaskan bahwa tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak 3) Pasal 34 : Faktir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara 4) Pasal 33 : Antara lain menegaskan. Rostow (the Stages of Economic Growth) : Tahap “traditional society” (tradisonal statis Tahap “precondition for take-off” (Masa transisi) Tahap “take-off” (lepas landas: disyaratkan antara lain tingkat investasi lebih 10% PN) Tahap “the drive to maturity” (Economi sudah matang/ dewasa) Tahap “The age of high mass consumption” (konsumsi massa yang melimpah) (B.Menetapkan macam dan nilai Mata uang dengan UU .Memeriksa pertanggung jawaban keuangan negara (laporan BPK) dengan UU. bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan (Emil Salim.S. 55 5) .Menyetujui/ menoloak RAPBN dengan UU . Kompas 30-6-1966) b) Azas Kekeluargaan dan koperasi Pasal 33 diilhami oleh sila-sila dalam Pancasila : (1) Ketuhana yang maha esa Bangsa Indonesia selalu mendekatkan diri kepada Tuhannya. Konsep “Tingal Landas” : dari ajaran WW. Sesuai perintah Tuhan. Muljana. 1985) a) Landasan Operasional : GBHN a.Menetapkan pajak dengan UU . Demokrasi pancasila dan demokrasi ekonomi b. karena berazaskan kekeluargaan Koperasi adalah organisasi ekonomi yang demokratis dan berwatak sosial (Soemitro Djojohadikusumo.

New Jersey. 1982. jakarta. SE. 1985) 3. 30 Juni 1966). Jakarta. Suroso. Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia. Jakarta. Jakarta. Penyunting. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Trilogi Pembangunan Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi Pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan Stabilitas nasional yang mantap d. Inc. Jakarta. 56 ..C. Jakarta.3. “Sistem Ekonomi Pancasila”.. Raja Grafindo. PT. 1967. 1983. Djojohadikusumo. Pengantar tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem. Penerbit Gramedia. Dalam redaksi Harian Kompas.Rd = Rf – Gf Dimana : G = goernment expenditure R = government revenue Gf = foreign government expenditure Gd = domestic government expenditure Rf = foreign government revenue Rd = domestic government revenue Gd – Rd = defisit anggaran domestic. PT. (Kompas. Pengantar Ekonomi Mikro. B. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Anggaran berimbang = defisit anggaran ditutup dengan nilai lawan Struktur APBN diformulasikan (sektor domestic dan foreign) G=R G = Df + D d R = R f + Rd Gf + Gd = Rf + Rd Gd .S. Mubyarto.c.. Penerbit FE-UI. Pembangunan Jangka pNajng dan Pembangunan Lima Tahun e. Gregoary. Pembangunan Ekonomi dan Tingkat Kemajuan Ekonomi Indonesia. 1985 Muljana. Soemitro. Penerbit Alumni. LP3ES. Grossman. P. Sudarsono. Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Perekonomian Idnoensia. ditutup Rf – Gf = surplus anggaran foreign (Anwar Nasution. Dr. Deliarnov. Trilogi Pembangunan dan Ekonomi Pancasila. 1983. LP3E. Bandung. 1994. 1986. Prentice Hall. Salim. Economic Systems. IKPN-RI. BAHAN BACAAN Winardi. Emil.

kapitalisme Koperasi Para anggota yang setuju Dari simpanan para anggota Partisipasi anggota dan kejujuran pengurus Bersifat campuran/ kolektivisme + individualisme 3.. Peran sebagai menjaga kelestarian alam/ lingkungan BUMN. Pendiriannya b. karena milik negara. sosialism Individualisme. Daya Tahan d. c. Peran BUMN. b. Penerbit Sinar Harapan.swasta undang Dari negara Dari pemilik modal perorangan Tergantung Tergantung keuangan negara perkembangan pasar Etatisme. Penyebab Inefisiensi pada BUMN a. Peluang dan Tantangan Pembangunan Sampai 1989. Perekonomian Idnoensia Munawir. Ed. Peran sebagai Pencipta lapangan kerja BUMS terutama yang berskala USM dan USK (UKM. BUMS sepanjang Sejarah Perekonomian Indonesia : a. dalam Anwar Nasutioan. SE PERAN DAN PELAKU EKONOMI 1. Perihal a. Sejak akhir tahun 1980-an BUMS yang pegang peranan penting. BUMS dan Koperasi BUMN BUMS Pemerintah + DPR Pemilik modal dengan undang. 1985. Jakarta. BUMN dan BUMS skala USB memiliki modal besar. Bersumber pada dua elemen esensial pada BUMN Tujuan sosial (public) : cenderung banyak mementingkan efektivitas pengeluaran. 57 . Peran sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Sampai awal tahun 1980-an BUMN memegang peranan penting. Modal c. UMKM) karena jumlhanya yang besar tersebar diseluruh Indonesia.Nasution. Anwar. Kecenderungan Perbedaan Sifat BUMN. kepanjangan tangan pemerintah sehingga bisa menjalankan semua kebijakan pemerintah sesuai UU lingkungan hidup. “Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara Setelah Kenaikan Migas”. Dosen Pengasuh. 2. bersifat padat karya.

Keputusan-keputusan manajemen selalu lambat dan bersifat kompromis. Alasan Pemerintah melepas saham BUMn (swastanisasi) Alasan pemerintah melepas saham (swastanisasi) BUMN adalah : a. Untuk menarik investor domestik atau asing dalam kegiatan ekonomi di Indonesia. 4. Kesulitan mendapatkan dana untuk menutup defisit APBN b. karena itu tidak efektif dan tidak efisien. didirikan oleh pemerintah bersama DPR dengan UU Operasi BUMN banyak melibatkan biorkasi dengan pemerintah maupun dengan DPR.Tujuan bisnis (enterprise) : cednderung mengurangi pengukuran. Bagi Perusahaan Positif : mendapat tambahan modal. Bersumger dari sejarah pendiriannya : BUMN adalah produk politik. BUMN yang diprivatisasi sudah sehat b. mementingkan efisiensi Sikap manajemen sering ragu-ragu tidak tegas karena dua ukuran tersebut sehingga efeknya inefisiensi b. pertumbuhan ekonomi meningkat. Proses privatisasi transsparan. b. meningkatkan kinerja dan laba Negatif : pengendalian pemerintah berkurang/ hilang. campur tangan swsata / asing sangat kuat. Bagi Perekonomian Indonesia Positif : tambahan investasi. dampak Positif dan negatif pelepasan sasham a. BUMN yang diprivatisasi tidak menguasai selumber kebutuhan rakyat banyak c. c. sesuai prosedur dan perundangan yang belraku 58 . 5. mengurangi cadangan devisa 6. Kriteria dalam melaksanakan privatisasi a. Telah terikat pada kesepakatan (perjanjian) dengan IMF sewaktu Indonesia mendapat bantuan hutang. Negatif : sebagian / seluruh laba BUMn di transfer ke Luar Negeri.

Materi Pembahasan Pelaku-pelaku Ekonomi : • Berdasarkan Kepemilikan Modal / Aset : 1. KOPERASI • Berdasarkan Besar-kecilnya modal/ aset : 1.PEREKONOMIAN INDONESIA Munawir. Perusahaan Menengah/ Usaha Skala Menengah (USM) 3.1. b. Perusahaan Kecil/Usaha Skala Kcil (USK) Peranan dan Fungsinya bagi Perekonomian • Peran seagai penggerak pertumbuhan ekonomi • Peran sebagai pencipta lapangan kerja • Fungsi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Analisis Kebijakan yang Relevan : 59 . SATUAN ACARA PERKULIAHAN a. BUMN 2. Tujuan Umum Agar mahasiswa dapat memahami para pelaku ekonomi dan peran yang diembannya. SWASTA (BUMS) 3. SE POKOK BAHASAN IV. Perusahaan Besar/Usaha Skala Besar (USB) 2. Tujuan Khusus Agar mahasiswa dapat menjelaskan : Pelaku-pelaku ekonomi Peran serta fungsinya bagi perekonomian Analisis kebijakan yang relevan c. PELAKU DAN PERAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.

swsta dan koperasi.2. 1989) • Karena BUMN diciptakan oleh undang-undang. yaitu BUMN. Peran swasta dan cara kerja swasta semakin banyak disorot karena memang ada kecenderungan sektor ini bisa bekerja lebih efisien dari pada sektor negara yang terkekang oleh birokrasi. (Pandji Anoraga. 1995). Itulah sebabnya dikatakan politik merupakan sifat yang tidak dapat dipisahkan dari BUMN. (Chariuman Armia. PEMBAHASAN MATERI A. Untuk eprsero unsur bisnisnya lebih dominan. Dengan demikian berisikan dua elemen esensil. • Bahasa Asing BUMN adalah public enterprise. PERUM boleh dikatakan fifty-fifty. Berapa besar presentase masing-masing elemen itu di suatu BUMn tergantung pada jenis atau tipe BUMN-nya. yakni unsur pemerintah (public) dan unsur bisnis (enterprise). c) BUMN yang merupakan badan-badan usaha patungan dengan swasta nasional/ asing di mana negara memiliki saham mayoritas minimal 51%. Dewasa ini semakin jelas adanya trikotomi bangun usaha di Indonesia. diusulkan pemerintah dan disetujui DPR. Berdasarkan Kepemilikan Modal/ Aset : 1) Badan usaha Milik Negara (BUMN) • Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah usaha yang seluruh modalnya dimiliki negara atau badan usaha yang tidak seluruh sahamnya dimiliki negara tetapi statusnya disamakan dengan BUMN. maka jadilah dia suatu produk politik. (Pandji Anoraga.• • • Kebijakan peningkatan kinerja dan daya saing Kebijakan pemberdayaan perusahaan kecil menengah Kebijakan pembinaan kemitraan usaha 4. sedangkan koperasi karena masih lemah belum mampu mengembangkan diri (Mubyarto. yaitu sektor pemerintah. Apabila elemen politik sampai ditiadakan maka akan hilanglah relevansi dari keberadaan BUMN itu. PELAKU-PELAKU EKONOMI a. Swsata dan Koperasi. 1988). 1995. 2) SWASTA • Pasal 33 UU 1945 menyatakan tigas sektor kegiata perekonomian. yaitu : a) BUMN yang merupakan patungan antara pemerintah dengan pemerintah daerah b) BUMN yang merupakan patungan antara pemerintah dengan BUMN lainnya. 60 .

• Umumnya dikonsepsikan bahwa tujuan pendirian perusahaan swasta adalah untuk memperoleh keuntungan maksimal. Dalam zaman modern ini keuntungan maksimal bukan merupakan satu-satunya tujuan masih ada tujuan lain yang leibh penting dan kadang-kadang lebih mendesak misalnya pertumbuhan skala organisasinya, kepentingan sosial dan sebagainya. Pengusaha yang berpandangan jauh ke depan sangat mementingkan “goodwill” dari masyarkaat (Sudarono, 1983). 3) KOPERASI • Koperasi dari perkataan co dan operation, yang mengandung arti bekerjasama untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu koperasi adalah suatu perkumpulan yang memberikan orang-orang atau badan-badan yang memberikan kebebasan untuk masuk dan keluar sebagai anggota, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk mempertinggi kesejahteraan Jasmaniah para anggotanya A(rifinal Chaniago, 1984). • Menurut undang-undang koperasi yang lama (Undang-undang Koperasi No. 12 Tahun 1967) didefinisikan: Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orangorang atau badan-badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan.

b. Berdasarkan Besar-kecilnya Aset/ Modal • Biro Pusat Statistik (BPS) menggolongkan perussahaan di Indonesia sebagai berikut :  Perusahaan Besar : memiliki pekerja 100 orang lebih  Perusahaan sedang : memiliki pekerja 20 – 99 orang  Perusahaan kecil : memiliki pekerja 5 – 19 orang  Kerajinan R. Tangga : memiliki pekerja kurang 5 orang • Istilah-istilah lain yang sering dipergunakan :  Usaha Skala Besar (USS), Industri Skala Besar (ISB)  Usaha Skala Menegah (USM), Industri Skala Menengah (ISM)  Usaha Skala Kecil (USK), Industri Skala Kecil (ISK) 1) Perusahaan Kecil (USK, ISK a) Definisi : Sebelum lahirnya UU NO. 9 / 1995 tentang usaha kecil tidak ada persamaan definisi USK dari berbagai instansi, seperti : (1) Departemen Perindustrian dan Bank Indonesia = total aset diluar tanah dan bangunan dibawah Rp 600 juta. (2) Departemen Perdagangan = modal aktif di bawah Rp 25 juta

61

Lahirnya UU No. 9/ 1995 yang menetapkan hanya dengan pendekatna jumlah aset yakni di bawah Rp 200 juta merupakan akhir dari berbedanya definisi antar lembaga selama ini (lukman Hakim, 1996). b) Kelemahan dan Kelebihan USK Kelemahannya : (1) Modalnya sangat terbatas (2) Teknologi yang digunakan sangat sederhana (3) Organisasi/ manajemen bersifat informal/ kekeluargaan (4) Lingkup pemasaran terbats (lokal) (5) Produknya bahan makanan atau kebutuhan sehari-hari. Kelebihan : (1) Lebih cepat dalam mengambil keputusan (2) Lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan (3) Pangsa pasar produk makanan dan kebutuhan sehari-hari lebih stabil c) Perkembangan ISK • Yang sangat menentukan keberadaan atau pertumbuhan ISK, terutama IRT di negaranegara sedang berkembang bukan hanya tingkat pembangunan atau pendapatan riil per kapita, tetapi dan terutama ditentukan oleh distrubsi pendapatan. Selama kelompok masyarakat berpendapatan rendah masih besar, ISK tetap diperlukan. • Ini berarti bahwa ISK masih bisa survive walau ditengah-tengah pertumbuhan Ism dan ISB yang pesat dan menghadapi persaingan yang semakin berart dari kelompok industri tersebut dan dari barang-barang impor. ISK dan ISB, karena ISK mempunyai segmen pasar tersendiri, yakni dari golongan masyarakat berpendapatan rendah. (Tulus Tambunan, 1996).

Tabel Peningkatan Output, Nilai Tambah dan Produktivitas ISK menurut Subsektor, 1986 – 1990 ISIC Output (Jut Rp) Nilai Tb (jt/Rp) Produktivitas Code (jt/orang) 1986 1990 1986 1990 1986 1990 31 47,84 48,40 37,08 25,08 3,29 4,50 32 17,70 25,05 17,01 29,84 2,91 5,52 33 11,35 7,85 14,33 20,95 2,34 3,47 62

Sumber : BPS (dikutip dari Tulus Tambunan, 1996) Keterangan : 31 = makanan, minuman dan tembakau 32 = tekstil, pakaian jadi dan kulit 33 = kayu dan produk dari kayu termasuk alat-alat rumah tangga dari kayu • Kasus di Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam studi Saragih dan Krisnamurthi (1994) menunjukkan bahwa pada tahun 1990 jumlah industri pengolah hasil pertanian tercatata pada 894,000 unit dan 99,7% diantaranya berskala kecil. Fakta ini menunjukkan bahwa di Idnoensia agroindustri pada umumnya masih merupakan kegiatan ISK (catatan: tidak dijelaskan berapa besar nilai produk atau nilai tambah ISK tersebut). d) Kendala Struktural yang Dihadapi ISK Perkembangan agroindustri menghadapi banyak kendala, yaitu ; (1) Kegiatan pertanian belum memberikan dukungan optimal, karena pola produksi pertanian belum terpusat. (2) Diersifikasi kegiatan pertanian masih rendah (3) Ketrbatasan dana/ modal (tergantung grosir di kota) (4) Menghadapi kesulitan pemasaran (kurang informasi) (5) Biaya transportasi (output maupun input) relatif masih tinggi. (6) Teknologi, manajemen dan tenaga trampil yang sangat kurang. (Tulus, Tambunan, 1996). 2) PERUSHAAN MENENGAH (USM, ISM) a) Definisi : perusahaan kecil dan menengah ini sering digabung menjadi satu golongan, yaitu golingan Usaka Skala Kecil Menengah (UKM). UKM didefinisikan sebagia usaha-usaha yang memiliki aset sampai dengan Rp 200 juta – meskipun sebenarnya 90% lebih berada jauh di bawah ambang batas kategori itu, yakni memiliki aset kurang atau sama dengan Rp 50 juta. (Mudaris, Alli Masyhud, 1995). Dalam perspektif ini maka koperasi dan pra koperasi primer atau koperasi informal pada umumnya dapat dimasukkan dalam kategori ini. b) Perkembangan UKM

63

• Dalam masa Orde baru muncul para pengusaha besar keturunan yang berkembang pesat berkat usaha patungannya dengan pemerintah atau BUMN. Direktur Bina Program Ditjen. (Chaeruddin. 1995). Sedang nilai ekspor mencapai US$2. Disamping itu ada sektor lain yang bergerak baik di pedesaan maupun di perkotaan. Awal tahun 1950-an pemerintah menerapkan kebijaksanaan proteksi. Chaeruddin. tetapi secarak eseluruhan jumlah pengusaha keturunan yang menjadi besar jauh lebih banyak. transportasi rakyat dan industri makanan rakyat. • Drs. Ada kecenderungan parapengusaha asing – terutama dari Jepang lebih suka bekerja sama dengan para pengusaha keturunan. 3) a) PERUSHAAN BESAR (USB. 1988). • Pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada dekade 1970-1980 juga telah memunculkan pengusaha besar pribumi seperti Probosutejdo dan Sukamdani Gitosardjono. 1995). pertanian. yaitu perkreditan rakyat. pertambakan dan penggaraman rakyat.6 miliar atau 10% dari ekspor industri nasional. (Mudaris Ali Masyud. populasi UKM ini mencapai 33. Aneka Industri memaparkan perkembangan UKM yang khussu bergerak di bidang industri. jumlah industri kecil dan menengah sekitar 2 juta unit usaha nilai produksi sebesar Rp 20 triliun atau 13. perkebunan rakyat. • Sektor-sektor yang lazim bergerak di perkotaan antara lain jasa perdagangan.45 juta unit. 64 . Di pedesaan yang lazimnya diusahakan rakyat seperti kerajinan rakyat. Sampai akhir PJP-I. yang dikenal dengan sebutan kebijaksanaan “benteng”. dan hubungan antara sektor swasta dengan pemerintah dan hubungan antara sektor swasta dengan pemerintah sesudah kemerdekaan mengalami pasang surut.• Menurut Biro Pusat Statistik (BPS). terutama dalam hubungannya dengan penanaman modal asing. dan lebih dari separuhnya bergerak di sektorp edesaan. Munculnya banyak pengusaha keturunan yang besar dan kelompok-kelompok pengusaha lain termasuk yang pribumi merupakan fenomena baru dalam perekonomian Indonesia. ISB) Sejarah munculnya Pengusaha Besar • Sesjarah sektor swasta di Indonesia relatif masih muda. aneka pertambangan rakyat. (Mubyarto.5% dari total produksi industri nasional.

Dengan makin terbukanya informasi bisnis maka diperolehberbagai peta struktur pasar. • Suatu kenyataan yang menarik adalah bahwa dalam sektor industri pengolahan Indonesia. kesehatan dan lahan-lahan tambak ikan serta perkebunan serempak dikuasai. 1995). pendidikan. Mereka telah mencapai skala kegiatan kira-kira dua kali lipat dari APBN Indonesia 19891990. Dewasa ini sekitar 200 konglomerat menguasai penjualan barang-barang dan jasa sekitar 57% dari pendapatan nasional Indonesia. transportasi. c) Perkembangan Konglomerat di Indonesia • Dunia usaha perdaganagn. swasta melaksanakan pertumbuhan dan BUMN melaksanakan stabilitas saja. berbagaiperusahaan swasta memasuki era “go public”. Jadi saat itu BUMN berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. kehutanan. PERAN DAN FUNGSI BAGI PEREKONOMIAN Triologi Pembangunan yang meliputi pemerataan pembangunan dan hasilbasilnya. sekitar 72% nilai tambah diciptakan oleh industri-industri yang mempunyai struktur oligopolistik dengan konsentrasi tinggi (Nurimansyah Hasibuan. 1995). Oligopoli dan Konglomerasi Setelah masa deregulasi dan debirokratisasi dengan iklim keterbukaan. terutama masa ekonomi terpimpin Orde Lama (1959-1965) peran BUMN dalam perekonomian Indonesia sangat dominan. Dalam konglomerasi ini dapat terjadi penguasaan asset nasional yang berintegrasi secara vertical maupun horisontal. SWASTA maupun BUMN ketiganya berkewajiban melaksanakan tugas-tugas triologi itu (Sri Edi Swasono. mediamasa. konstruksi dan properti. BUMN melakukan kegiatan dan menguasai hampir di semua sektor ekkonomi. (Nurimansyah Hasibuan. b) Monopoli. 1990). transportasi dan jasa-jasa lain. Jadi. pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. (Pandji Anoraga. pertambangan. keuangan dan asuransi. perkebunan. malahan tidak hanya monopolli dan oligopoli. Peran Sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi • Di masa yang lalu. Dari ruang lingkup nasional memang konglomerrat sudah mendominasi perekonomian Indonesia. sekitar Rp 36 triliun. a. adalah keliru jika beranggapan bahwa tugas-tugas dari koperasi hanyalah melaksanakan pemertaan. industri. seperti sektor keuangan/ perbankan. tetapi kiranya telah lama lahir bentuk konglomerasi. ketiganya mengikat keseluruhan pelaku eknomi yang ada. 1995). perdagangan.B. • PDBI menyatakan bahwa 300 konglomerat Indonesia memiliki jumlah penjualan (1988) Rp 70 triliun. Baik KOPERASI. 65 .

4% (1979) dan 31. Hal ini bisa kita pahami seab sejak 1982/1983 (pasca oil boom) penerimaan pemerintah dari sumber migas terus menurun sebagai akibat terus merosotnya harga minyak di paar internasional dari US$35 per barel (1982) sampai titik terendah US$ 9 per barel (1986). Hal ini. maka daya serap tenaga kerja pada ISK akan menurun. (Gunawan Sumodiningrat. 19. Pemerintah memandang sudah saatnya sektor swasta diberi peran yang lebih besar dalam kegiatan ekonomi. sedang Ism dan ISB sebanyak 13. • Pangsa tenaga kerja pada Isk yang terdiri dari industri kecil (IK) dan Industri Rumah Tangga (IRT) cenderung makin menurun.7% (1975) menjadi 56.0% 91974/1975). yaitu 68. Peran Sebagai Pencipta Lapangan Pekerjaan • Jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur menurut skala usaha (dalam prosentase) berturut-turut sebagai berikut .9% (1983).5% (1983).5% (1974).0% (1975) menjadi 14. ISK (Ik + IRT) sebanyak 86. disebabkan karena ada relasi negatif antar apertumbuhan ekonomi dengan perkembangan daya serap tenaga kerja ISK. yaitu : 66 . meskipun pada tahun 1986 masih tetap lebih besar.7% (1986). 1990) • Jadi peran sektor swasta dan patungan swasta/ asing sejak awal tahun 1980-an menjadi dominan dan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi karena memberi sumbangan pada produk industri manufaktur sebesar 78. Kasus di Idnoensia adalah bahwa selam amasa Pelita I sampai Pelita III (1969-1983) pertumbuhan ekonomi meningkat akibat adanya kenaikan harga minyak selama masa oil boom 91973-1982).3% (1986). Fungsi Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat • Ada dua konsep mengenai tanggung jawab sosial suatu perusahaan.• Dimasa Orde Baru peran BUMN sedikit demi sedikit mulai berkurang terutama sejak digulirkan deregulasi-deregulasi tahun 1980-an. 1996).5% (1975) menjadi 21. (Tulus Tambunan. sedangkan sektor (swasta) asing menurun dari 10. Lebih-lebih setelah terjadi proes konsentrasi ekonomi pada kelompok swasta besar atau parakonglomerat yang menguasai 57% dari pendapatan nasional dan omzet penjualan mereka mencapai Rp 70 triliun (dua kali lipat APBN 1989/1990).6% (1979) dan 68.0%. • Maka pergeseran peran sektor BUMN kepada sektor swasta mulai terjadi sejak awal tahun 1980-an. Nilai produksi dari industri manufaktur berdasarkan pemilikan (perusahaan) sebagai berikut : sektor pemerintah menurun dari 25. menurut Anderson. c.2% 91975) menjadi 1. namun patungan swasta/ asing meningkat dari 10. Artinya bila pertumbuhan ekonomi meningkat.1 (1983).3% di bandingkan pangsa Ism dan ISB sebesar 31.4% (1983): sektor swasta meningkat dari 50.7%. 80. b.

Daya Serarp Tenaga kerja Setelah Krisis 1997 • Melemahnya permintaan domestik dan berbagai kendala yang timbul dalam proses produksi sebagai akibat dampak krisis moneter menyebabkan sebagian besar perusahaan mengurangi bahkan menghentikan produksi.5 juta orang. 10 perusahaan dalam proses PHK terhadap 2. (Asep Hermawan. Howard R.1. Dengan perkembangan tersebut. 1995) d. 1995) 3. • Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian pada tahun 2000. jumlah angkatan kerja tahun 1997 diperkirakan mengalami peningkatan dari 92.716 orang pekerja.8 juta orang (1996) menjadi 95. Adnan Putra menjelaskan bahwa pada dasarnya tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia berkaitan dengan apa yang diamanatkan dalam GBHN.0% (1999) menjadi 5. sehingga terjadi peningkatan PHK. 2.9%. • Berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja pada tahun 1997 ada 93 perusahaan yang secara resmi melakukan PHK terhadap 41.523 pekerja (Laporan tahunan BI 1997/1998).5% dari angkatan kerja. • Disisi pasokan tenaga kerja. Bowen dalam bukunya “Social Responsibility of the Businessman” menganjurkan bahwa perusahaan-perusahaan hendaknya mempertimbangkan dampak-dampak sosial dari keputusan yang dibuatnya. (Asep Hermawan.068 pekerja dan diperkirakan akan terjadi PHK atas 6. secara dimensional mencakup lingkungan phisik (ekologi/ekosistem) dan non phisik (budaya/ tradisi/ nilai). Indikator Ketengakerjaan : Indikator Juta Penduduk 1998 1999 2000 2001 67 . yaitu adanya perusahaan yang memiliki kemampuan untuk mengaitkan kegiatan-kegiatan dan kebijakan-kebijakannya dengan lingkungan sosial sedemikian rupa sehingga bermanfaat atau menguntungkan baik bagi perusahaan maupun masyarakat. maka tingkat pengangguran terbuka (perbandingan jumlah pengangguran terbuka terhadap jumlah angatan kerja) menurun dari 6. jumlah pengangguran terbuka pada tahun 1997 meningkat sampai sekitar 7 juta orang atau 7. secara struktural organisatorik mencakup lingkungan internal dan eksternal. Yang dimaksud pembangunan berwawasan lingkungan menurut pasal 1 butir 13 UU Lingkungan Hidup tahun 1982 adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang bekresinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. yaitu bahwa pembangunan di Indonesia berwawasan lingkungan. Dengan demikian lingkungan itu mengandung arti luas. Konsep “Social Responsibility”.

jumlah orang menganggur cukup tinggi.) • Hal ini sebagai akibat masa PJP-I yang umumnya hampir bersifat total inward looking (IWL) dengan penerapan strategi industrialisasi substitusi import (ISI) secara penuh dengan politik proteksi dan subsidi yang mengiringinya. yaitu 5.3 95.7 89. Diploma dan Universitas 4%. pembinaan produk-produk baru yang lebih 68 .7 88.. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu ratio antara jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja.. swastanisasi dan debirokratisasi secara amat lamban dalam bentuk paketpaket kebijaksanaan yang berlangsung sejak tahun 1983 hingga tahun 1996.0 Tingkat pengangguran terbuka % 5. (Didin S. …. Indonesia erada di ranking 41 dalam hal tingkat daya saing dari 46 negara (turun dari ranking 33 pada tahun 1995).5 6. yakni ranking tahun 1996 untuk Filipina (31). malaysia (23) dan Singapura (2).04 -1.73 • Indikator lain. C.95 1. 2000) 141.0% SMP. Thailand (30). ANALISIS KEBIJAKAN YANG RELEVAN a.Penduduk usia kerja 13. Damanhuri. 18% SMA.. Dilihat dari tingkat pendidikannya: 62. meningkat dari 67.64 -2.15 0.9 6.2 Sumber : Badan Pusat Statistik (dalam Laporan BI.60 0.1 6.0% SD. berupa pengenalan. Kebijakan Peningkatan Kinerja dan Daya Saing • Dalam World Competitiveness Report 1996.9 juta orang. Dalam situasi inefisiensi industrialisasi dan kebocoran pembangunan yang tinggi (Sumitro menyebutkan sekitar 30%).7%. pemerintah mengandalkan solusinya dengan langkah deregulasi.7 0. Sedangkan untuk ASEAN lainnya umumnya naik.1 67.4 PTAK % 66.1 Jumlah angkatan kerja 92. (didin S.2% (1999) menjadi 67. akses pasar.5 141. Hal ini berkaitan dengan menurunnya jumlah pengangguran terbuka dan PHK cenderung menurun • Meskipun angka pengangguran menurun.9 67. ….9 5.8 Bekerja 87. 16. Kebijakan Pemberdayaan Perusahaan Kecil Menengah • Kebijakan makro antara lain melalui kebijakan kredit diharapkan akan mampu memelihara kestabilan ekonomi dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerj baru. Sedangkan melalui kebijakan mikro antara lain dapat meningkatkan dan memperluas akses usaha kecil dan koperasi kepada lembaga keuangan/ perbankan. Damanhuri. telah menghasilkan kinerja efisiensi produk industri dan ekonomi yang berbiaya tinggi dengan kualitas rendah diukur oleh harga dan kualitas internasional.8 94.) b.9 Pengangguran terbuka 5.

Backward production linkage artinya input (bahan baku) UKM diperoleh atau dibeli dari USB.mendekati selera pasar. yaitu keterkaitan produksi ke depan (forward production lingkage) atau keterkaitan produksi ke belakang (backward production linkage). (A. 1995). 2. Dasar pertimbangan ekonomi untuk melakukan kemitraan usaha adalah adanya keterkaitan produksi. Kredit Umum Pedesaan/ KUP. 15 Mei 1996. 69 . • Pemerintah telah menjalankan berbagai cara untuk menangani hal itu : 1. Daniel Uphadi. sampai 25% dari total saham perusahaan. • Forward production linkage artinya hasil produksi (output) dari UKM dibeli (dipakai) oleh USB untuk diproses menjadi finish goods. pemerintah mencanangkan Gerakan Kemitraan Nasional. • Selama ini kemitraan usaha lebih banyak didasarkan atas pertimbangan politik dari pada atas dasar pertimbangan ekonomi. • Pola kredit bersubsidi yang telah diluncurkan pemerintah sejak tahun 1973 antara lain: Kredit Investasi Kecil/ KIK Dan Kredit Modal Kerja Permanen / KMKP. atau kegiatan-kegiatan lain yang besifat produktif dari usaha yang bersangkutan. Kredit Bimas Dan Inmas. 1995). Daniel Uphadi. juga memberikan bantuan teknis kepada perbankan melaluli Proyek Pengembangan Usaha Kecil (PPUK-BI) antara lain melakukan identifikasi peluang investasi pada semua sektor ekonomi (A. yang bertujuan menggalang kekuatan semua pihak agar peduli dengan masalah kemitraan usaha (Lukman Hakim. Bank Indonesia (BI) selain memberikan bantuan keuangan. Januari 1990 Presiden menghimbau agar koperasi hendaknya diberi saham oleh perusahaan-perusahaan besar. 1996).

Lembaga Penelitian. Perlukah BUMN Dipertahankan?. dala…… Uphadi. Swasta danm Koperasi. Diterbitkan dalam rangka Dies Natalis Universitas Trisakti ke-31. Sumodiningrat. Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Hermawan. Duta Pustaka Jaya. Januari 1995. 3. 1.. 1996). “Pemerataan Pembangunan”. SE 70 . Daniel A. Jakarta. Jakarta. Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia. Harian “Pelita”. No. Swasono. Media Ekonomi. 1995. Soedarsono. Didin S. Perekonomiann Indonesia Munawir. Media Ekonomi Publishing (MEP)……. Anoraga. Ghalia Indonesia. Perekonomian Indonesia. Harian “Terbit”. Usaha Kecil Menengah Menyongsong Era Perdagangan Bebas.H. Jakarta. Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Menaruh Harapan Pada APEC. Pemberdayaan Kinerja Usaha Kecil dan Menengah. Vol. Mudaris Ali. Tambunan Tulus. Makalah pada Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Ke-CI di Bandung.. Asep. Pustaka LP3ES Indonesia.4. dari Inward ke Outward Looking Strategy. Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. Damanhuri. Harian “Suara Pembaruan. 1. 26 Juni 1990 (dalam Pandji Anoraga. Dosen Pengasuh. Harian “Kompas”. Januari 1995. Januari 1995.3. Media Ekonomi. 22 – 25 Agustus. Daya Saing Perekonomian Idnoensia Menyongsong Era Pasar Bebas. 1990. 1995). Sri Edi. PT. Harian “KOMpas” 5. 3 No.7 Oktober 1989 (dalam Pandji Anoraga. Lukman. BUMN. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Negara Berkembang. Hasibuan. Pelaku Ekonomi dan Pendekatan Pembangunan. T. Chaeruddin. DAFTAR BACAAN Armia. Struktur Pasar Di Indonesia. 1996. Gunawan. Oligopoli dan Monopoli.. Pandji. 4 Desember 1995. Nurimansyah. 1983. Jakarta. Volo. Hakim.6. Tiga Pelaku Ekonomi. Mubyarto. Chairuman.. 1988. Masyhud. PT. 18 Juli 1995. Reformasi Ekonomi Indonesia dalam Masa Transisi. Pengantar Ekonomi Mikro.

Proses Alokasi Sumber Daya Produktif 3. Tujuan Khusus Agar mahasiswa dapat menjelaskan : • Transformasi struktur perekonomian • Proses transformasi struktural dan berbagai indikatornya • Analisis kebijakan transformasi struktural perekonomian Indonesia c. Kebijakan Keuangan dan Moneter/ Perbankan 4. Materi Pembahasan • Transformasi struktural perekonomian Indonesia 1. V. Kebijakan Perdagangan dan Deregulasi Sektor Riil dan Moneter PEMBAHASAN MATERI TRANSFORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN • V. Profil Perekonomian Indonesia Akhir Pelita V • Proses Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia 1. Kebijakan Fiskal dan Keuangan Negara 3.2.PEREKONOMIANN INDONESIA Munawir. SE POKOK BAHASAN : V. Tjuam Umum Agar mahasiswa dapat memahami struktur perekonomian dan transformasi struktur perekonomian Indonesia. Perubahan Struktur Ekonomi • Suatu proses pembangunan ekonomi yang cukup lama dan telah menghasilkan suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi biasanya disusul dengan suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonominya. 71 . Proses Perubahan Institusional/ Kelembagaan Analisis Kebijakan Transfromasi Struktural 1. Proses Distribusi Pendapatan 4.1. Teori Perubahan struktur Ekonomi 2. A. INDONESIA 1. b. Proses Akumulasi Sumber Daya Produktif 2. Kebijakan Pengaturan Nilai Tukar Rupiah 2. ORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN 1) SATUAN ACARA PERKULIAHAN a.

perkembangan harga dalam negeri (infalsi).1%. 6.5%.5%. mendorong terjadinya ekspansi moneter. 1990. terutama industrialisasi dan perdagangan. Sementara meningkatnya permintaan domestik.Perubahan struktur ekonomi terjadi akibat perubahan sejumlahf aktor. Realokasi ini disebabkan oleh kebijakan. bisas hanya dari sisi permintaan agregat. 10. • Dari sisi permintaan agregat. 2. 1996). 72 .   Ekspansi ekonomi ditandai oleh : 1) Meningkatnya lalu pertumbuhan ekonomi (GDP): 7. (Soemitro Djojohadikusumo. Serangkaian deregulasi mendorong kegitan swasta untuk melakukan ekspansi ekonomi. 1991). faktor yang sangat dominan adalah peningkatan tingkat pendapatan masyarakat rata-rata yang perubahannya mengakibatkan perubahan dalam selera dan komposisi barang-barang yang dikonsumsi.6%. 7. misalnya industri (Tulus Tambunan.5%. faktor utamanya adalah perubahan teknologi dan penemuan bahan baku atau material baru untuk berproduksi. yang semua ini memungkinkan untuk membuat barang-barang baru dan akibat realokasi dana investasi serta resources utama lainnya dari satu sektor ke sektor yang lain. baik permintaan untuk konsumsi maupun untuk investasi. yaitu : pertumbuhan ekonomi. 1990. Profil perekonomian Indonesia menjelang akhir Pelita V ditunjukkan oleh empat segi yang kait mengkait dalam perkembangan keadaan. neraca perdangan dan pembayaran luar negeri. dari pemerintah yang memang mengutamakan pertumbuhan output di sektor-sektor tertentu. (1989. 1993).1% (1989. sisi penawran agregat atua dari kedua sisi pada waktu yang bersamaan (Tulus Tambunan. Empat segi permasalahan itu sekaligus dijadikan serangkaian tolok ukur dalam penilaian kita tentang jalannya perekonomian dalam perjalanan waktu. • Dari sisi penawaran agregat. 7. lapangan kerj aproduktif. sedangkan strktur ekonomi menggambarkan bagian dalamnya (anatomi) suatu perekonomian. 2) Meningkatnya laju pendapatan bruto (GDY): 7. Hal ini menggairahkan pertumbuhan industri baru. 1991). 1996). a. Pertumbuhan Ekonomi  Kebijaksanaan deregulasi sejak tahun 1983 mendorong terjadinya ekspansi ekonomi dan ekspansi moneter. Profil Perekonomian Indonesia Akhir Pelita V • Profil ekonomi memberikan gambaran luar atau pola garis bentuknya (countour).

2) Meningkatnya volume kredit bank: 48%.5% (1989. 1990). Neraca Pembayaran Luar Negeri Neraca Perdagangan dan pembayaran luar negeri menunjukkan perkembangan yang perlu terus diamati dan diawasi dengan seksama. 54% (1989. Mengawasi nisbah likuiditas bank terhadap volume kredit (LDR : Loan to Deposit Ratio).0% (1989.  Ekspansi moneter ditandai oleh : 1) Meningkatnya jumlah uang beredar (M2): 40%. 1990). Penerimaan dari sektor non-migas dapat melebihi sasarannya. 44%. 1990). b. sehingga tahun fiskal 1991/1992 secara riil tercapai surplus pada anggaran negara. 9. khususnya yang menyangkut transaksi berjalan. 1990).0%. Karena itu pemerintah melakukan kebijaksanaan uang ketat (TMP = Tigh Money Policy)  Kebijaksanaan Uang Ketat (TMP) meliputi : 1) Kebijaksanaan fiskal/ keuangan negara Meningkatkan penerimaan pajak untuk tahun fiskal 1991/1992 dan 1992/1993. 17. untukmembatasi kredit perbankan. Bila hal ini dibiarkan berlangsung terus akan membahayakan kestabilan harga dalam negeri dan melemahkan neraca pembayara luar negeri. 1) Neraca Perdagangan dan Neraca Jasa  Laju pertumbuhan ekspor rata-rata 15% (19891991) dengan nilai US$19 miliar (1988) meningkat hampir 73 . 7. 3) Meningkatnya laju inflasi: 5.  Ekonomi terlalu panas (overheated) Ekspansi ekonomi yang ditandai oleh laju pertumbuhan pesat selama tiga tahun berturut-turut dianggap terlalu panas (overheated) dari sudut kestabilan keuangan moneter.6% di samping karena musim kemarau yang panjang.5%.3) Meningkatnya investasi sektor swasta): 15. dan nisbah kekuatan modal bank (CAR = Capital Adeuqcy Ratio).1% (1989. Dampak dari TMP adalah menurunnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 1991 menjadi 6. 2) Kebijaksanaan Moneter/ Perbankan Melakukan politik diskonto (suku bunga) dan open market operation melalui SBI.

5 miliar.  Laju pertumbuhan impor rata-rata 25% (1988 – 1991). sedangkan pinjaman komersial menghadapi persyaratan yang semakin berat.  Selama periode yang sama (1992) defisit transaksi berjalan dapat diimbangi oleh pemasukan modal (pinjamanluar negeri pulsu investasi langsung) sebesar US$5.5 miliar (1992). jenisnya : 52% barang manufaktur. namun total nilai ekspor masih lebih besar dibandingkan impor. sehingga masih menghasilkan saldo surplus (positif).6 miliar setahun. Akan tetapi neraca jasa.  Khusus mengenai Indonesia sudah nampak sikap was-was di kalangan keuangan internasional.  Jumlah cadangan devisa yang langsung dikuasai oleh Bank Indonesia meningkat dari US$ 6. Oleh pemerintah selalu diusahakan agar neraca modal ini menghasilkan saldo surplus (positif) untuk menutup defisit transaksi berjalan. terutama karena bearnya beban pembayaran jasa pemakaian modal (bunga hutang luar negeri) selalu menghasilkan saldo defisit (negatif).  Meskipun laju pertumbuhan impor lebih besar dari pada laju pertumbuhan ekspor. Akibatnya transkasi berjalan selalu mengalami defisit.6 miliar (1989). dan ditambah dengtan stand-by loans. jenisnya: sebagian besar berupa peralatan barang modal dan bahan baku. maka kekuatan cadangan devisa secara nasional adalah sekitar US$15 miliar (cukup untuk pembiayaan selama enam bulan). Bila ikut diperhitungkan jumlah devisa yang berada di bank-bank di luar bank Sentral. yang cenderung makin besar: US$1. 2) Neraca Modal dan Cadangan Devisa  Neraca Modal mencatat perhitungan transaksi lalu lintas modal (pemasukan dan pengeluaran modal atau devisa). 37% migas dan non-migas 11% (ada diversifikasi ekspor). meningkat hampir 40% dibandingkan 2-3 tahun yang lalu. membengkak menjadi US$4.  Utang luar negeri Indonesia pada akhir tahun 1992 secara kumulatif diperkirakan berjumlah US$78 miliar. Sikap seperti itu ada sangkut pautnya dengan defisit transaksi berjalan yang akhir-akhir ini begitu meningkat dan juga semakin membesarnya utang luar negeri kita.6 miliar (1989) menjadi US$11. Pinjaman Luar Negeri  Pinjaman jangka panjang dengan persyaratan lunak menjadi semakin sulit. Jumlah 78 74 3) .US$30 miliar (1991). Hal itu juga menambah cadangan devisa.

• Pengendalian Inflasi Penting untuk : 1) Menjaga stabilitas ekonomi internal dan eksternal (tekanan neraca pembayaran luar negeri) 2) Memperkuat daya saing produk ekspor di luar negeri 3) Mendorong hasrat masyarakat untuk menabung 75 . 26-30% = “Lampu kuning”).Dilakukan penyaringan dan penilaian prioritas . berdasarkan nilai ekspor bruto untuk tahun 1992 mencapai 32%.Angkatan Kerja yang produktif : 44 juta jiwa Jadi beban tanggungan menjadi 179:44 = 4 (atau 1 : 4) d.5% (1990. Oleh tim dibawah Menko Ekuin : .1991) turun sampai 6-7% (1992). tingkat DSR sebesar 32% sudahmerupakan “Lampu Merah” (DSR : 20-25% = aman atau “Lampu Hijau”. Perkembangan Harga • Laju Inflasi 9.Jumlah Angkatan Kerja : 72 juta jiwa .Ditetapkan suatu pagu tahunan pinjaman komersial luar negeri c. • Hal itu mencerminkan masih besarnya tingkat pengangguran secara terselubung (underemployment) dan gejala low quality employment maupun pengangguran terbuka (open unemployment) di kota-kota besar.  Sehubungan dengan kecenderungan utang luar negeri yang mengancam stabilitas eksternal. khususnya golongan angkatan kerja yang berusia muda (15-25 tahun).miliar itu terdiri : pinjaman sektor publik (pemerintah + BUMN) sebesar 45 miliar dollar. Kebijaksanaan pengendalian inflasi perlu diteruskan sehingga dapat dicapai rata-rata 5% pada Pelita VI.Jumlah Penduduk Indonesia : 179 juta jiwa . • Beban tanggungan tahun 1990 . artinya 4 orang penduduk kebutuhan hidupnya tergantung (ditanggung) oleh 1 orang tenaga kerja produktif. Pinjaman swasta justru sangat meningkat selama tahun-tahun ekspansi ekonomi (1989-1991). Masalah Kesempatan Kerja • Keadaan sekarang beban tanggungan (dependency burden) bagi tiap tenaga kerja produktif (bekerja 35 jam seminggu) cukup berat. maka pemerintah melakukan pengawasan dan pembatasan terhadap pinjaman komersial luar negeri (Keppres No. 39 Tahun 1991).  Debt Service Ratio (DSR). yaitu 1 : 4.

4) Pertumbuhan ekonomi menunjukkan trend meningkat: meskipun lajunya mengalami siklus naik-turun. laju 76 .7%. Proses Akumulasi Sumber Daya Produksi • Sumber dayaproduksi adalah aset-aset produktif atau faktor-faktor produksi (Tanah. Selama masa pembangunan 25 tahun telah terjadi akumulasi sumber daya produksi dalam jumlah yang besar dan sangat berarti. (Soemitro Djojohadikusumo. 2) Keberhasilan penyediaan pangan : Pelita I sebagai negara pengimpor beras terbesar. GDP) secara riil meningkat 4 kali lipat.8% setahun. • Indikator adanya akumulasi sumber daya produksi : 1) Produk domestik bruto (PDB. tenaga kerja. PROSES PEREKONOMIAN INDONESIA TRANSFORMASI STRUKTUR Perkembangan ekonomi Indonesia selama masa 25 tahun berselang diteroping dari sudut pandang tentang pembangunan ekonomi sebagai proses transisi yang dalam perjalanan waktu ditandai oleh transformasi multidimensional dan menyangkut perubahan pada struktur ekonomi.5% menjadi 1. 1993). Akan ditinjau beberapa pokok dalam perubahan struktur selama lima tahap Pelita (Pembangunan Jangka Panjang Tahap I). 1. • Akumulasi menyangkut proses pembinaan sumber daya produksi (produktive resources) untuk meningkatkan kemampuan berproduksi secara kontinu.B.5 kali lipat.4%. kapital produksi (output) diperlukan peningkatan atau tambahan faktorfaktor produksi (input). sedangkan akhir Pelita III sudah mencapai swasembada beras. sedang dalam Pelita V rata-rata mencapai 33%. Secara ratarata diperkirakan masih 6. • yang menyertai proses akumulasi : Kelemahan/ kekurangan 1) Pelaksanaan Investasi modal kurang efisien dan efektif : nisbah tambahan investasi terhadap tambahan hasil (ICOR = Incremental Capital Output Ratio) selama 10 tahun (19841993) angkanya terlalu besar. 3) Keberhasilan melaksanakan Program Keluarga Berencana (KB) : dari Pelita I – Pelita V (25 tahun) tingkat pertambahan penduduk turun dari 2. Tingkat hidup rata-rata (GDP per kapita) meningkat 2. yaitu 5 (investasi rata-rata 33. 5) Investasi rata-rata per tahun meningkat: dalam Pelita I rata-rata 15% (dari PDB).

Jadi inefisiensi karena terjadinya mismanagement 2) Terjadi saving-investment gap Besarnya investasi tidak diimbangi oleh tabungan nasional yang memadai. penyelenggaraan dan perawatan proyekproyek investasi serta kelemahan institusional (organisasi) seperti penyimpangan. sedangkan laju pertumbuhan sektor industri mencapai 11% per tahun. Selama Pelita V tingkat investasi 33.4% .7% per tahun.9%) harus ditutup dengan pemasukan modal dari luar negeri. antar daerah dan antar lingkungan kota dan daerah pedesaan. 3) Adanya Perbedaan laju pertumbuhan sektor pertanian dan laju pertumbuhan sektor industri Secara menyeluruh laju pertumbuhan ekonomi selama Pelita V mencapai 6.  Memang benar bahwa dalam proses pembangunan investasi untuk infrastruktur bersifat slow vielding dan low vielding.4%.5% (33.  Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas dan pendapatan riil di sektor industri lebih besar sekitar 4 kali lipat daripada sektor pertanian.29.8 per tahun. Produksi Proses Alokasi Ssumber Daya • Sumber daya produksi khususnya investasi sangat penting bagi pembangunan baik secara kuantitatif (menyangkut jumlahnya) maupun secara kualitatif (menyangkut alokasinya). tetapi sebagian pemborosan karena kelemahan teknis dalam perencanaan.8 = 4.8% sehingga ICOR = 33. bahkan akan menjadi semakin besar.9 atau dibulatkan 5). ketimpangan itu cenderung berlangsung terus.4 : 6. dimana laju pertumbuhan sektor pertanian hanya 2. Selama PJPT I telah terjadi perubahan struktural di 77 .  Masalah di atas menunjukkan pentingnya usaha untuk meningkatkan tabungan nasional dengan disertai upaya untuk menurunkan angka ICOR. • Alokasi sumber dayaproduksi dalam proses pembangunan menyangkut pola penggunaan sumber daya produksi antar sektor. sedangkan tingkat tabungan nasional hanya 29.pertumbuhan ekonomi 6. penyelewenanga. tingkat investasi melampaui tingkat tabungan.9% (dari PN). 2.  Tanpa intervensi aktif dari pihak kebijaksanaan negara.  Kekurangan dana untuk investasi sebesar 3.

Perkembangan Kesempatan Kerja : selama 25 tahun struktur dan sifat kesempatan kerja masih tetap statis : Pelita I (1970) Sektor Pertanian : . c. namun mengenai k esempatan kerja tetap statis. Indonesia memasuki kategori negara semi industri. Dari sudut peranan industri. yaitu : 1) Permintaan tenaga meningkat lebih cepat dikawasan perkotaan 2) Mobilitas tenaga kerja antar sektor kurang lancar 78 . Struktur Produksi : Pelita I (1969-1973) sektor pertanian menyumbang 44%. yaitu dari sektor migas 34%. hanya diikuti penurunan kesempatan kerja 9%.Sumbangan Produksi . sedang sektor industri sudah 20%. Sebaliknya sumbanga produksi sektor industri yang meningkat 10%.Sumbangan produksi . hanya diikuti pertambahan kesempatan kerja 3%. 15% produk pertanian dan 4% hasil pertambangan. yakni masih tertumppu pada sektor pertanian. b. Terjadi proses diversifikasi di bidang produksi dan perdaganagn : Akhir Pelita V sumbangan sektor non-migas (66%) terdiri dari : 71% produk industri. a.bidang produksi dan perdagangan.Daya Serap Kerja 47% Sektor Industri : . Struktur Perdagangan. sumbangan sektor di luar migas (non migas) sebesar 25%. Menjelang akhir Pelita V (19891993) sektor pertanian menyumbang 19%. sedang dari sektor non migas meningkat 66%. Sebab sumbangan produksi yang mengalami penurunan 26%. Pada akhir Pelita V (1993) terjadi perubahan perimbangan.Daya Serap Kerja 12% 44% 56% 11% 9% 21% Pelita V (1992) 18%  Jadi struktur lapangan kerja tidak banyak mengalami perubahan (relatif statis).  Ketidakserasian antara perubahan struktur produksi dan struktur Lapangan kerja itu ada kaitannya dengan sifat khas yang melekat pada perekonomian Indonesia (negara berkembang). sektor industri 9%. dilihat dari jenis komoditi dan sumbangannya terhadap nilai ekspor : Akhir Pelita I (1973) sumbangan minak dan gas bumi (Migas) sebesar 75%.

mulai kelihatan bahwa efek yang dimaksud itu mungkin 79 .1 31.5 9.a-b.4 Cadangan Devisa BI (US$miliar) 5. Ikhtisar Singkat Perekonomian Indonesia 1998 1999 2000 2001 2001 Laju pertumbuhan GDP % 2.3 34. antar daerah perkotaan dan pededaan. Proses Distribusi Pendapatan • Ketimpangan dalam distribusi pendapatan (baik antar kelompok berpendapatan.6 4.8 6. atau antar kawasan dan propinsi) dan kemiskinan merupakan dua masalah yang masih mewarnai perekonomian Indonesia. ORMASI STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA (BAGIAN 2) 3. SE POKOK BAHASAN : V.7 -4.3) Tidak akses yang sama untuk mendapatkann modal berupa dana atau tanah yang baik 4) Investasi dan penerapan teknologi diutamakan di bidang modern pada masing-masing sektor 5) Laju pertambahan penduduk melampaui tingkat permintaan tenaga kerja.1 10.8 7.3 5.8 5.4 30. IHK% 4. LAMPIRAN TABEL Tabel A.1 30.9 11. perencanaan pembangunan ekonomi di Indonesia masih sangat percaya bahwa apa yang dimaksud dengan trickle down effect akan terjadi: namun setelah sepuluh tahun sejak Pelita I dimulai.97 Sumber : Center for Policy Studies (CPS).0 Transaksi berjalan (US$miliar) -1.2 8.2.5 9.5 6.1 6.7 9. 1993).5 Pemasukan Modal Neto (US$miliar) n.3 2.5 5. PEREKONOMIANN INDONESIA Munawir.7 Debt service Ratoi % (Pemerintah Swasta) 25.4 -4.8 -1.a 2.5 7. • Pada awal pemerintahan Orde Baru.6 6.3 Laju Inflasi.0 Laju pendapatan GDY % 2. tingkat produktivitasnya dan tingkat pendapatan riilnya. Jakarat (Soemitro Djojohadikusumo.  Keadaan seperti di atas menyebabkan di antara sektor pertanian dan sektor industri terjadi perbedaann dan ketimpangan dalam : laju pertumbuhan.1 6.6 6.9 -3.

1993). 1996). 1996). Tahun 1990 : jumlah penduduk 179 juta jiwa.  Masalah kemiskinan ini diperlihatkan melalui analisa sensivitas. Ketimpangan Relatif • Tahun 1976: 40% dari jumlah penduduk yang termasuk golongan berpendapatan rendah hanya menerima kurang dari 12% dari pendapatan nasional. a. • Masalah distribusi pendapatan menyangkut kemiskinan. • Menarik disini melihat bahwa 77 juta (yang nyaris miskin) itu meliputi 67 juta manusia yang hidup di desa dan 10 juta yang hidup di kota.000 maka jumlah orang miskin akan meningkat dari 25. Kemiskinan Absu\olut  Tahun 1976: jumlah penduduk 137 juta jiwa. Tahun 1990 : golongan berpendapatan rendah yang dimaksud menerima 21% lebih dari pendapatan nasional yang berarti ketimpangan menjadi lumayan kecil (low inequality).5 juta (1993). Kecenderungan kearah perbaikan itu diharapkan dapat berlangsung terus sehingga ditahun 2000 golongan yang dhiup di bawah garis kemiskinan mencakup 5-10% dari jumlah penduduk saat itu. Dengan kata lain.%). (Soemitro Djojohadikusumo. bersamaan dan berkaitan dengan proses akumulasi dan alokasi. (Tulus Tambunan. (Soemitro Djojohadikusumo. (Soemitro Djojohadikusumo. Konflik yang paling penting justru antara kelas pedesaan dan kelas kota. 1993). juga bukan antara kepentingan asing dan nasional. penduduk yang hidup dalam kondisi nyaris miskin atau hidup pada poverty line di 1993 makin banyak (Sjahrir. Distribusi pendapatan dan kemiskinan hendaknya dilihat dalam kerangka acuan suatu analisis. Pandangan Michael Lipton (176) bahwa : konflik kelas yang paling penting di negara msikin di udnia kini bukanlah antara buruh dan modal. alokasi dan distribusi harus dilihat dalam saling keterkaitannya dan dalam kerangka acuan yang kencakup dinamika dalam proses transformasi secara menyeluruh selama masa transisi. Itu berarti terdapat indikasi bahwa walaupun jumlah penduduk di bawah poverty line turun dari 27 juta (1990) ke 25. tetapi proses mengalirnya ke bawahnya sangat lambahn.yaitu apabila poverty line (garis batas kemiskinan) dirubah dari konsumsi per hari Rp 930 untuk kota dan Rp 608 untuk desa menjadi RP 1.6 juta (1993) menajdi 77 juta. 1996). 1993). (Sjahrir. yang hidup di bawah garis kemiskinan tinggal 27 juta jiwa (15. baik kemiskinan absolut maupun ktimpangan relatif.tidak tepat dikatakan sama sekali tidak ada. b. akumulasi. 80 . 54 juta jiwa (40%) hidup di bawah garis kemiskinan. yang menunjukkan ketimpangan mencolok (gross inequality).

dalam kata lain. pengusaha industri kecil/ menengah.000 per bulan per kapita (Sjahrir. • Golongan produsen kecil/ menengah meliputi sebagian besar rakyat penduduk sebagai produsen dan sekaligus sebagai konsumen. Proses Perubahan Institusional/ Kelembagaan Kesenjangan mengandung dimensi ekonomis-sosiologis dan dimensi ekonomisregional : a. yang mengakibatkan tertariknya angka konsumsi rata-rata ketingkat 82. golongan pedagang perantara (tengkulak) dan golongan produsen kecil (petani rakyat. perkebunan. perikanan. apa artinya jika hanya 10% saja dari jumlah penduduk ditanah air yang menikmati 90% dari jumlah pendapatan nasional. pedagang eceran). yakni sekitar US$880. Dimensi Ekonomis – Sosiologis : • Ini menyangkut ketimpangan pada perimbangan kekuatan di antara golongan-golongan pelaku ekonomi. pengangkutan dan perdagangan. Hal ini cenderung menambah lagi pemusatan kekayaan dan kekuatan ekonomi yang pada gilirannya mengganggu pembagian pendapatan secara lebih merata. sedang sisanya (90%) hanya menikmati 10% dari pendapatan nasional atau kenaikan pendapatan nasional selama ini hanya dinikmati oleh kelompok 10% tersebut. jadi. pengrajin. 1996). • Salah satu sasaran pokok kebijaksanaan pembangunan ialah mewujudkan perubahan struktural di bidang ekonomi-sosiologis dalam arti: transformasi dari ketimpangan menjadi keseimbangan di antara kekuatan-kekuatan golongan saudagar besar. yaitu secara spesifik: antara saudagar besar di bidang niaga dan industri. golongan produsen kecil. peternakan maupun di bidang perindustrian. 81 . Kedudukan ekonominya sangat lemah dihadapkan dengan kekuatan saudagar besar dan para pedagang perantara dala jaringan mata rantai niaga dan industri. 4. • Disisi berlaku satu kaidah dalam statistik yang disebut the importance of being unimportant. Artinya ada satu kelompok yang jumlhanya sangat kecil tetapi berpendapatan sangat tinggi. namun. 1996). golongan pedagang perarntara. pembangunan ekonomi di Indonesia akan dikatakan berhasil sepenuhnya bila tingkat kesenjangan ekonomi antara kelompok masyarakat miskin dan kelompok masyarakat kaya bisa diperkecil (Tulus Tambunan. • Kesempatan usaha lebih banyak dimanfaatkan oleh kaum saudagar dengan konglomeratnya. walauun lebih dari 82% penduduk sebenarnya berpendapatan di bawah Rp 60. kehutanan.226 ruiah (1993).• Sekarang ini tingkat pendapatan rata-rata per kapita di Indonesia sudah jauhlebih tinggi dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu. Kepentingan produsen-kecil dan menengah itu ada di bidang pertanian.

Sebagian besar penduduk terpusat di Pulau Jawa. 3) Kesemuanya itu disebabkan karena adanya apa yang dikenal sebagai cumulative causation. kita dihadapkan dengan suatu dilema yang disebut dualisme teknologis. Dimensi Ekonomis Regional Dalam kaitan ketidakseimbangan perekonomian antar daerah. maka perkembangan proses cumulative causation selanjutnya akan menciptakan dua lingkaran kegiatan sekaligus : Lingkaran kegiatan yang semakin bermanfaat (various circle) bagi kawasan yang sudah maju. 4) Kalau hal itu dibiarkan tanpa intervensi kebijaksanaan negara. sedangkan kebanyakan sumber alam tgerletak di kepulauan yang lain. Dilema dualisme teknologis ini ditunjukkan oleh gejala : 1) Adanya perbedaan dan ketimpangan pola dan laju pertumbuhan di antara berbagai kawasan dalam batas suatu nwegara (atau secara regional dan internasional di berbagai belahan dunia) 2) Perbedaan tersebut tidak semakin berkurang. Lingkaran setan/ yang banyak membawa mudarat (vacious circle) bagi kawasan yang ketinggalan. melainkan cenderung menjadi semakin besar. karena adanya cumulative causation itu menyebabkan virtuous circle bisa berlangsung terus berdampingan dengan vircious circle Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Sehingga timbul kecenderungan di Pulau Jawa berkembang industri yang didasarkan atas peranan tenaga kerja (Iabour-based industries). sedang di luar jawa berkembang industri yang berdasarkan pengembangan sumber daya alam (resource-basedinsutries) yang bersifat padat modal dengan penggunaan teknologi maju. dilema dualisme teknologi menonjol karena adanya asimetri (ketidakserasian) antara lokas penduduk dan lokasi sumber daya alam.• Dalam hubungan dengan ketimpangan pada perimbangan kekuatan pelaku ekonomi harus dilihat peran gerakan koperasi sebagai alat perjuangan ekonoi bagi kaum produsen kecil. Sehingga daerah yang kaya semakin kaya sedang yang miskin semakin miskin. 2) Penyediaan sarana produksi berupa dana dan peralatan. b. 82 . Pengembangan koperasi harus dilakukan melalui dua jalur utama yang saling berkaitan : 1) Pendidikan tentang falsafah dan jiwa koperasi dengan mengadakan latihan ketrampilan dan keahlian tentang pengelolaan dan penyelenggaraan usaha koperasi. antara lain melalui suatu Badan Investasi untuk koperasi yang dapat beperan semacam investment trust khusus untuk pembinaan koperasi primer. yaitu proses sebab-akibat yang mengandung dampak secara kumulatif.

STRUKTURAL ANALISIS KEBIJAKAN TRANSFORMASI 83 . 1998.Kini yang menonjok ketidakseimbangan ekonoim antara bagian Barat dan Bagian Timur dalam wilayah kepulauan tanah airkita. 3) Subsistem agrobisnis hilir Kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan serta melakukan perdagangan. Kini nampak pentingnya pengembangan agro-based industries yaitu pengembangan industri pengolahan di luar Jawa bagi bahan pertanian dalam arti luas (perkebunan. litbang dan kebijaksanaan pemerintah). 1993) Sektor agrobisnis terdiri atas 4 subsistem: 1) Subsistem agrobisnis hulu Kegiatan yang menghasilkan sarana produksi pertanian primer (benih. kehutanan. Ketidakseimbangan ekonoim antar daerah harus dapat ditanggulangi dengan peningkatan perhubungan antar pulau dan pelayaran pantai beserta prasarananya. Akan tetapi setelah swasembada pangan dicapai pada tahun 1984. pestisida dan lain-lain) 2) Subsistem usaha tani Menggunakan sarana produksi pertanian untuk menghasilkan komoditi pertanian primer. (Saragih. Pertanian mendapat prioritas pada tahap awal pembangunan terutama dalam peranannya sebagai penyedia pangan yang cukup. Agro-industry ini memegang peranan strategis dalam menjembatani dualisme teknologis sebab memenuhi 4 persyaratan yang penting : 1) Penggunaan bahan setempat yang melimpah 2) Menciptakan lapangan kerja produktif 3) Memberikan nilai tambah 4) Menambah penerimaan devisa bagi negara (Soemitro Djojohadikusumo.N Dasril. dikutip Anna S. hotkultura). 1998) C. Akan tetapi setelah swasembada pangan yang cukup. pupuk. infrastruktur. kebijakan pembangunan ekonomi lebih diarahkan kepada “broad based and hi-tech industry”. transportasi. perikanan. Inilah awal dari kurang keberpindahan kepada pertanian dan agrobisnis pada umumnya. 4) Subsistem penunjang (supporting institutions) Kegiatan yang menyediakan jasa yang dibutuhkan sektor agrobisnis (perbankan. peternakan.

(3) kebijakan moneter dan keuangan.2 Pertumbuhan Pangsa Ekspor Manufaktur (Sebagai Persentase dari PDB) di Indonesia. (4) kebijakan perdagangan dan deregulasi atau reformasi di sektor riil dan moneter. • Lihat Gambar (Tulus Tambunan. 84 . (2) Kebijakan fiskal.184 miliar dolar AS pada tahun 1986 menjadi 5.• Program penyesuaian ekonomi struktural dan reformasi ekonomi yang dilakukan pemerintah Indonesia sejak anjloknya harga minyak di pasar dunia pada pertengahan tahun 1980-an mencakup empat kategori besar. (dikutip dari beberapa sumber oleh Tulus Tambunan. Selain itu. dari tahun 1980 hingga tahun 1992.021 miliar dolar AS. Dilihat dalam periode 12 tahun. 1996). produksi dalam negeri dan ekspor. Reformasi ekonomi di Indonesia di awali dengan devaluasi pertama pada tahun 1983 dan kedua pada tahun 1986 dengan tujuan meningkatkan volume ekspor manufaktur. 1996) 35 30 Volume 25 20 15 10 5 0 19 80 19 82 19 84 19 86 19 88 19 90 19 92 pertanian migas manufaktur Tahun Gambar 2. pemerintah tetap berusaha agar perkembangan nilai tukar rupiah selalu mencerminkan perkembangan yang realistis untuk mempertahankan daya saing barang ekspor serta memelihara kepercayaan masyarakat terhadap rupiah yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian secara keseluruhan. Sejak perubahan strategi dari SI (substitusi impor) ke promosi ekspor (PE) diperkuat dengan devaluasi. nilai ekspor komoditas pertanian dibandingkan PDB menunjukkan trend menurun walaupun ada fluktuasi selaam periode tersebut. Hasilnya memang positif. Kebijakan Pengaturan Nilai Tukar Rupiah • Dalam tahun 1986/1987 pemerintah tetap menganut sistem devisa bebas yang diperlukan guna mendorong kegiatan invstasi yang diperlukann guna mendorong kegiatan investasi. ada tandatanda bahwa ekspor manufaktur Indonesia akan meningkat terus. dengan pengelolaan nilai tukar yang mengambang terkendali. 1980-1992 1. dari 3. yaitu (1) Pengaturan nilai tukar rupiah (excahge rate menagement).

tahun 1983/1984 pemerintah memperbarui sistsem perpajakan yang berlaku selama ini.8%. Kebijakan Fiskal dan Keuangan Negara • Dalam rangka meningkatkan penerimaan dalam negeri yang sekaligus dapat mendorong kegiatan dunia usaha. 3) UU tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah (UU No. pajak perseroan naik 12. • Kebijaksanaan pengeluaran pemerintah tahun 1983/1984 diarahkan untuk penghematan pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan berupa pengurangan subsidi BBM.8%.1%. cukai naik 24. lain-lain pajak langsung naik 30. 2. 6 Tahun 1983). Tindakan tersebut disamping dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing barang ekspor non migas dan menciptakan iklim usaha yang lebih menarik bagi penanaman modal.9%.3%. juga sekaligus untuk mencegah terjadinya aliran modal ke luar negeri. pajak penjualann impor naik 10. 2) UU tentang Pajak Penghasilan (UU No.3%. subsidi pupuk dan penghapusan subsidi pangan serta penjadwalan kembali beberapa proyek besar pemerintah (Laporan Bank Indonesia tahun 1983/1984). 7 Tahun 1983). Sistem perpajakan yang baru tersebut terdiri dari : 1) UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU No. pemerintah pada 12 September 1986 mendevaluasikan rupiah terhadap dollar AS sebesar 31%.7%. pajak ekspor naik 26. (Laporan Bank Indonesia Tahun 1986/1987).• Mengingat penerimaan devisa hasil ekspor yang semakin menurun sebagai akibat merosotnya harga minyak bumi sejak permulaan tahun 1986 dan untuk mengurangi tekanan terhadap nerraca pembayaran.8 Tahun 1983). pajak tidak langsung lainnya naik 7.2%. pajak pendapatan naik 38.0%: bea masuk naik 6. • Dalam tahun 1983/1984 penerimaan pajak langsung naik 15. 85 .7%. Sedangkan penerimaan pajak tidak langsung naik 17.

fasilitas diskonto dan “moral Suasion”. • Dengan SBI ini bank dapat memanfaatkannya untuk menanamkan kelebihan sementara likuiditasnya sebelum dipinjamkan kepada nasabah. yaitu upaya terakhir bank-bank dalam hal bank-bank tersebut mengalami kesulitan dana yang bersifat sementara. 2) Bulan April 1985 dikeluarkan Instruksi Presiden No. Sekarang diganti dengan instrumen moneter tidak langsung: penentuan cadangan wajib. Kebijakan ini untuk mengurangi beban keuangan negara. (Laporan Bank Indonesia tahun 1983/1984) 4. 3) Pagu kredit dan sebagian besar ketentuan pemberian pinjaman dihapus. 4 Tahun 1985 (dikenal Inpres No. Kebijakan ini untuk mendorong penghimpunan dana dari masyarakat.3. Kebijakan ini sebagai instrumen moneter untuk menghambat perkembangan uang beredar. karena merosotnya penerimaan negara dari sumber migas. • Fasilitas diksonto merupakan bantuan dari Bank Sentral sebagai “lender of last resort”. operasi pasar terbuka. APE (Angka Pengenal Ekspor. Kebijaksanaan moneter tersebut dimaksudkan untuk meletakkan landasanlandasan yang kokoh bagi perkembangan perbankan yang lebih sehat di masa mendatang. Kebijakan Perdagangan 1) Sejak 19 Desember 1984. 4/ 1985) tentang penyederhanaan arus barang di pelabuhan untuk menunjang kegiatan ekonomi khususnya untuk mendorong peningkatan ekspor non-migas. pungutan pajak atas bunga. 2) Bantuan kredit likuiditas Bank Indonesia mulai dikurangi. Kebijaksanaan ini merupakan awal deregulasi di bidang perdagangan yang menyangkut perombakan dan penyederahanaan tata laksana 86 . 4) Sejak 1 Februari 1984 Bank Indonesia menerbitkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan menyediakan fasilitas diskonto. Ciri pokok kebijaksanaan tersebut: Deregulasi di bidang perbankan baik yang menyangkut perkreditan maupun pengerahan dana: 1) Bank-bank pemerintah diberi kebebasan penentuan sendiri suku bunga depositi maupun bunga pinjaman (kecuali kredit berprioritas tinggi). Disamping itu. Kebijakan Keuangan dan Moneter/ Perbankan • Tanggal 1 Juni 1983 pemerintah mengambil serangkaian kebijaksanaan yang mendasar yang dikenal “Kebijaksanaan Moneter 1 Juni 1983”. Kebijakan Perdagangan dan Deregulasi Sektor Riil dan Moneter a. deviden dan royalty (PBDR) atas penerimaan bunga deposito valas dihapuskan. atau APES (Angka Pengenal Ekspor Sementara) dapat digunakan untuk melaksanakan ekspor dari seluruh wilayah RI yang sebellumnya hanya terbatas pada wilayah-wilayah tertentu saja.

1989) b. • Masalahnya. Terjadi kekaburan pikiran seakan-akan deregulasi juga berarti nonintervensi. pemasaran) masih dialami banyak hambatan dan rintangan karena adanya berbagai peraturan dan ketentuan administratif yang berbelit-belit dan sering tumpang tindih. keagenan umum perusahaan pelayaran.3. 87 . Pengaturan niaga yang menciptakan monopoli/ monopsoni kini juga dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah. Djojohadikusumo.N. • Sistem ekonomi yang berorientasi pasar sekali-kali tidak boleh menjurus pada sistem ekonomi yang ditandai oleh dominasi pasar. pengangkutan. dikala dan dimana intervensi pemerintah justru di perlukan. (Soemitro Djojohadikusumo. Perekonomian Indonesia. pelayaran antar pulau. di bidang mana dan untuk kepentingan siapa dan golongan yang mana. Jakarta. dan tata laksana operasional. antara lain paket 6 mei 1986 (dikenal Pakem 1986) yang intinya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara dari ekspor nonn-migas dan beberapa kemudahan dalam penanaman modal asing.ekspor. Tulus. Jakarta. V. dalam rangka Dies Natalis USAKTI ke 33. Jakarta.H. (Rustian Kamaluddin. Hal itu menjadi sumber distorsi dalam proses perekonomian dan belakangan ada ketentuanketentuan baru yang berakibat bertambahnya berbagai rupa monopoli. Oleh sebab itu. Deregulasi bersangkut-paut dengan meniadakan segala peraturan dan ketentuan yang mengganggu perkembangan ekonomi dan menambah beban bagi ekonomi masyarakat. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. (1996). 3) Untuk mendorong ekspor non migas pada tahun-tahun berikutnya. intervensi dengan cara apa dan bagaimana. pemerintah menetapkan serangkaian kebijaksanaan penyelematan. pengurusan barang dan dokumen. Makalah pada Seminar Pemulihan Hak dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Deregulasi Sektor Riil dan Moneter • Dewasa ini di bidang ekonomi riil (produksi. BAHAN BACAAN Tambuinan. Anna S. LP3ES. 1993). intervensi negara teap penting dan tetap diperlukan. “peranan Agrobisnis dalam Pemberdayaan Ekonomi Rakyat”. Ghalia Indonesia. Dasril. T. Menyerahkan proses ekonomi selaluruhnya kepada kekuatan-kekuatan pasar berarti menyerahkannya pada pihak dan golongan yang karena kekuatan ekonominya dapat menguasai pasar yang bersangkutan. Soemitro (1993). (1998). • Disisi lain bila diamati seolah-olah pemerintah ragu-ragu untuk melakukan intervensi.

SE 88 . Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.Sjahrair (1996). Makalah pada Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ke-13. Jakarta. Kamaluddin. Keadilan dan Kebebasan”. Beberapa Aspek Perkembangan Ekonomi Nasional dan Internasional. Medan. Rustian (1989). Perekonoiman Indonesia Munawir. Laporan Tahunan Bank Indonesia 1983/1984 Laporan Tahunan Bank Indonesia 1986/1987 Dosen Pengasuh. “Kemiskinan.

Pembiayaan dalam negeri : . a. Pembayaran Luar Negeri : . 3. Fungsi APBN sebagai alat stabilisasi ekonomi Artinya melalui kombinasi penerimaan dan pengeluaran dalam APBN. c. a. 5. Prinsip-prinsip APBN (hal. Fungsi APBN sebagai alat mobilisasi dana investasi Dana investasi : Swasta : tabungan  bank kredit Pemerintah : PDN. tanpa menimbulkan inflasi dan pengangguran. d. c. Asumsi-asaumsi Dasar APBN Estimasi pertumbuhan ekonomi Estimasi laju inflasi Estimasi nilai tukar rupiah Estimasi harga minyak dunia Estimasi tingkat suku bunga 89 . 8-9) Prinsip anggaran defisit Prinsip anggaran dinamis.Perbankan . yaitu absolut dan relatif Prinsip anggaran fungsional.Penarikan Pinjaman Bruto . Defisit APBN : pengeluaran negara – penerimaan Pos-pos untuk menutup : a. b. PR = TP (Lampiran APBN: hitung angka-angka yang bersangkutan) 2.Non Perbankan b.Minus cicilan pokok hutang 4. b.ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA (APBN) 1. ekonomi besar tumbuh sesuai ssumbe daya yang ada. e.

1. b. Prinsip-prinsip Dalam APBN 1. Instrumen kebijakan fiskal Instrumen dan Analisis Kebijakan Fiskal 90 . 5.1. perbedaan statistik 4. 1. B. 3. 2. Prinsip Anggaran APBN 2. Prinsip Anggaran Fungsional D.PEREKONOIMAN INDONESIA Munawir. A. SE VI. Tujuan Umum Agar mahasiswa dapat memahami APBN dalam Perekonomian Indonesia. Prinsip Anggaran dinamis 3. POKOK BAHASAN : ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN) SATUAN ACARA PERKULIAHAN a. 3. dan hibah 2. VI. Tujuan Khusus Agar mahasiswa memiliki mahasiswa mampu Materi Pembahasan Fungsi dan Peran APBN APBN sebagai alat mobilisasi dana investasi APBN sebagai alat stabilisasi ekonomi Dampak APBN terhadap Perekonomian Struktur dan Susunan APBN Susunan pendapatan negara Susunan belanja negara keseimbangan primer/ surplus/ defisit APBN Susunan Pembiayaan Bersih C. 1. • pengetahuan dan pemahaman : Tentang fungsi dan peran APBN Tentang struktur dan susunan APBN Tentang prinsip-prinsip dalam APBN • Agar menganalisa kebijakan fiskal c.

Surat Utang Negara (SUN) 91 . Analisis kebijakan fiskal 3.2.

• Mengenai komponen c) anggaran kredit dan d) anggaran devisa. b) Anggaran pembangunan. APBN Sebagai Alat Mobilisasi Dana Investasi 92 . (Suparmoko. tetapi penerimaan pemerintah dapat mengurangi pendapatan nasional (contractionary). • Dari empat komponen anggaran ini yang ditetapkann dengan undang-undang tiap tahun hanya komponen : a) angggaran rutin dan b) anggaran pembangunan. Timbullah gagasan untuk dengan sengaja mengubahubah pengeluaran dan penerimaan pemerintah guna mencapai kestabilan ekonomi (Suparmoko. 1990). Fungsi dan Peran APBN • APBN di negara-negara sedang berkembang adalah sebagai alat untuk memobilisasi dana investasi dan bukannya sebagai alat untuk mencapai sasaran stabilisasi jangka pendek.2. Pengeluaran pemerintah dapat memperbesar pendapatan nasional (expansionary). • Baik pengeluaran maupun penerimaan pemerintah pasti mempunyai pengaruh atas pendapatan nasional. yang kita kenal dengan undangundang APBN. PEMBAHASAN MATERI PENDAHULUAN • Ketetapan MPRS Nomor XXIII/MPRS/1966 antara lain menegaskan bahwa pemerintah harus menyusun anggaran moneter yang terdiri dari empat komponen. • Rincian tentang penerimaan dan pengeluaran pemerintah setiap tahunnya akan nampak dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). 1992). Mengenai anggaran kredit dan anggaran deivsa yang sekarang merupakan prognosa. 1992). c) Anggaran kredit dan d) Anggaran devisa. Jadi melalui indikator APBN dapat dianalisis seberarpa jauh peran pemerintah dalam kegiatan perekonomian nasional (Suseno. Sedangkan perencanaan anggaran pembangunan yang pegang peranan adalah ketua BAPPENAS. sejak Order Baru tidak lagi ditetapkan dengan udang-undang. 1. perencanaannya ditangan Gubernur Bank Indonesia. yaitu : a) Anggaran rutin. • Dalam perencanaan anggaran rutin yang pegang peranan adalah Mentgeri Keuangan dengan aparatnya Direktorat Jenderal Anggaran. Oleh karena itu besarnya tabungan pemerintah pada suatu tahuns ering dianggap sebagai ukuran berhasilnya kebijakan fiskal (Anne Booth dan Peter McCawley. A.VI. 1995).

54 triliun (61. • Penerimaan dalam negeri terdiri dari penerimaan pajak dan penerimaan bukan pajak (PNBP). 1990) • Relasi ekonomi antara pemerintah dengan perusahaan dan rumah tangga terutama melalui pembayaran pajak dan gaji. 2) Tabungan pemerintah diusahakan meningkat dari waktu ke waktu dengan tujuan agar mampu menghilangkan ketergantungan terhadap bantuan luar negeri sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Sumber dana investasi swasata (perusahaan) berasal dari tabungan masyarakat yang terhimpun pada lembaga keuangan bank. karena penerimaan dalam negeri Rp 304.19 triliun. 300. Sedangkan sumber dana invstasi pemerintah berasal dari tabungan pemerintah. Tindakan-tindakan ini dapat diringkas sebagai berikut : 1) Anggaran belanja dipertahankan agar seimbang dalam arti bahwa pengeluaran total tidak melebihi penerimaan total.44% (2001) dan 12.92 triliun.38 triliun. APBN sebagai Alat Stabilisasi Ekonomi • Pemerintah Orde Baru telah menentukan beberapa kebijaksanaan di bidang anggaran belanja dengan tujuan mempertahankan stabilitas proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. sedang pengeluaran rutin Rp 218.51`% (2002) di bawah target 13. • Tahun 2001 terbentuk tabungan pemerintah sebesar Rp 81. Jumlahnya mengalami kenaikan. (Anne Booth dan Peter McCawley. 2. Bagian terbesar dari penerimaan dalam negeri berasal dari penerimaan pajak.68 triliun. pengeluaran 93 . masing-masing penerimaan pajak sebesar Rp 185. 4) Prioritas harus diberikan kepada pengeluaran-pengeluaran produktif pembangunan. 3) Basis perpajakan diusahakan diperluas secara berangsur-angsur dengan cara mengintensifkan penaksiran pajak dan prosedur pengumpulannya.60 triliun.42%). Tabungan pemerintah terbentuk dari sisa penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. namuin rasionaya terhadap PDB hampir sama yaitu masing-masing 12. karena besarnya penerimaan dalam negeri Rp. Subsidi kepada perusahaan-perusahaan negara dibatassi.72%) dan Rp 214.89 triliun sedang pengeluaran rutin turun menjadi Rp 200.• Sumber dana investasi beasal dari tabungan (saving). Sedang tahun 2002 terbentuk tabungan pemerintah Rp 186.00%.71 triliun (70. Untuk APBN 2001 dan 2002. sedang pengeluaranpengeluaran rutin dibatasi. 5) Kebijaksanaann anggaran diarahkan pada sasaran untuk mendorong pemanfaatan secara maksimal sumber-sumber dalam negeri.

dan pemberian subsidi sederhanapada gambar di bawah ini : seperti diilustrasikan secara 94 .konsumsi.

sedang MPC diketahui 4/5. • Anggaran yang tidak seimbang akan bisa berpengaruh terhadap pendaptan nasional. Dengan demikian APBN dipakai oleh pemerintah alat stabilisasi ekonomi.8)10 = 40 satuan 95 . karena APBN memuat rincian seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah.8/(1-0. • Contoh hipotesis : Misalkan suatu APBN defisit. Angkap engganda ditentukan oleh besarnya marginal propensity to consume investasi (I) dan konsumsi ( C ) adalah 1/(1-MPC). • Kebijakan fiskal tercermin pada volume APBN yang dijalankan pemerintah. Dengan kata lain tujuan kebijakan fiskal adalah pendapatan nasional riil terus meningkat pada laju yang dimungkinkan oleh perubahan teknologi dan tersedianya faktor-faktor produksi dengan tetap mempertahankan kestabilan harga-harga umum (Sumarmoko.Ekonomi Makro dengan Tiga Kelompok Pelaku Ekonomi : pemerintah. pendapatan nasional akan berkurang sebesar 0. 1992).Dengan Tax sebesar 10 satuan. Perubahan pendapatan nasional (tingkat penghasilan) akan ditentukan oleh besarnya angka multplier (angka pengganda). Perusahaan dan Rumah Tangga Gaji Pajak Subsidi Rumah Tangga Tabungan Investasi Pemerintah Subsidi Konsumsi Pajak Perusahaan Tabungan Kredit Lembaga Keuangan • Dalam sistem ekonomi tertutup tidak ada perdagangan (ekspor dan impor) • Tujuan kebijakan fiskal adalah kestabilan ekonomi yang lebih mantap artinya tetap mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi yang layak tanpa adanya pengangguran yang berarti atau adanya ketidakstabilan harga-harga umum. dimana Tax (penerimaan) sebesar 10 satuan. G (pengeluaran) sebesar 15 satuan. maka : . sedangkan untuk lumpsum tax (Tx) dan pembayaran transfer (Tr) adalah MPC/(1-MPC).

maka saldo anggaran keseluruhan menjadi : G – T = B = Bb + Bf ……………………………………… (2) • Tapi APBN di masa Orba dicatat demikian rupa sehingga menjadi anggaran berimbang : G–T–B=0 ……………………………………… (3) • Sejak APBN 2000 saldo anggaran keseluruhann defisit dibiayai melalui: . yaitu : saldo anggaran keseluruhan konsep nilai bersih. Ada empat tolok ukur dampak APBN.Dengan G sebesar 15 satuan. pembayaran transer dan pemberian pinjaman bersih.Jadi anggarann defisit tersebut akan menghasilkan tambahan pendapatan nasional sebesar : (∆ Y) = (∆ G) – (∆ Tx) = 75 satuan – 40 satuan = 35 satuan.8)15 = 75 satuan .Pembiayaan Luar Negeri Bersih 96 . termasuk penerimaan pajak dan bukan pajak B = Pinjaman total pemerintah Bn = Pinjaman pemerintah dari masyarakat di luar sektor perbankan Bb = Pinjaman pemerintah dari sektor perbankan Bf = Pinjaman pemerintah dari luar negeri • Pemerintah Orba tidak mengeluarkan obligasi kepada masyarakat. Tergantung pada tujuan analisa kita.Pembiayaan Dalam Negeri :  Perbankan Dalam Negeri  Non Perbankan Dalam Negeri . Saldo Anggaran Keseluruhan • Konsep ini ingin mengukur besarnya pinjaman bersih pemerintah dan didefinisikan sebagai : G – T = B = Bn + Bb + Bf ………………………… (1) Catatan : G = Seluruh pembelian barang dan jasa (didalam maupun luar negeri). pendapatan nasional akan bertambah sebesar 1/(1-0.. suatu tolok ukur mungkin lebih cocok dari tolok ukur yang lain. T = Seluruh penerimaan. a. Dampak APBN terhadap Perekonomian Ada beberapa cara untuk menggolongkan pos-pos penerimaan dan pengeluaran yang masing-masing menghasilkan tolok ukur yang berbeda mengenai dampak APBN nya. 3. 1990).d efisit domestik dan defisit moneter (Anne Booth dan Peter McCawley.

Defisiti Domestik • Saldo anggaran keseluruhan tidak merupakan tolok ukur yang tepat bagi dampak APBN terhadap pereknomian dalam negeri maupun erhadap neraca pembayaran. (2) Gd – Rd = Rf – Gf …………. (3) Gd = G – Gf ………….. Konsep ini digunakan untuk mengukur besarnya tabungan yang dicipotakan oleh sektor pemerintah. sehingga diketahui besarnya sumbangan sektor pemerintah terhadap pembentukan modal masyarakat. (1) Gf + Gd = Rf + Rd …………. R = Total penerimaan Gf = bunga/cicilan utang luar negeri + lainnya Gd = pengeluaran rutin murni + pengeluaran pembangunan 97 . (7) Keterangan : G = total pengeluaran. (6) Rd = R – Rf …………. dokter. Namun kelemahan konsep ini hanya mengukur pembentukan modal pemerintah berupa penambahan jumlah aktiva fisik (dalam pos “pengeluaran Pembangunan”). Anne Booth mengemukakan perlunya dippisahkan dua dampak APBN yang berbeda terhadap permintaan agregat (G – T). 1990) • Anwar Nasution menguraikan tentang orientasi domestik dan orientasi domestik dan orientasi luar negeri dengan persamaan anggaran berimbang sebagai berikut ... (Anne Booth dan Peter McCawley. c. dan lain-lain pengeluaran lancar. • Bila G dan T dipecah menjadi dua bagian (dalam negeri dan luar negeri) G = Gd + Gf T = Td + Tf. G = R ……………. (5) R = Rf + Rd ……. tidak memperhitungkan pembentukan modal manusiawi (dalam pos “pengeluaran Rutin”) seperti gaji guru. maka persamaan (2) di atas menjadi (Gd – Td) + (Gf – Tf) = + Bf (Gd – Td) = dampak langsung putaran pertama terhadap PDB (Gf – Tf) = dampak langsaung putaran pertama terhadap neraca pembayaran. (4) G = Gf + Gd …….  Penarikan pinjaman luar negeri (bruto) Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri b. Konsep Nilai Bersih • Yang dimaksud defisit menurut konsep nilai bersih adalah saldo dalam rekening lancar APBN. yaitu pengaruhnya terhadap GDP dan pengaruhnya terhadap neraca pembayaran. • Peningkatan tabungan pemerintah penting bagi Idnoensia untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya pembangunan (utang) dari luar negeri.

menunjukkan anggaran berimbang Gd – Rd = Rf – Gf. Defisiti Moneter Indonesia • Konsep ini banyak digunakan dikalangan pejabat-pejabat keuangan dan perbankan Indonesia terutama angka-angka yang mengukur defisit anggaran belanja ini diterbitkan oleh Bank Idnoensia (sebagai data mengenai “faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar”). melalui pengeluaran konsumsi dan investsai pemerintah tahun 2002 diperkirakan mencapai 11. 1990). Moneter. (Anwar Nasution.26 triliun). • Selain melakukannn stimulasi fiskal. dibawah target yang ditetapkan sebesar 12. Dampak APBN terhadap Sektor Riil.3. sektor moneter (espansi rupiah pada uang beredar) dan neraca pembayaran (aliran deivsa) lihat lampiran 1.Rf = penerimaan migas + penerimaan pembangunan (utang luar negeri) Rd = penerimaan non migas Gf + Gd = Rf + Rd.4. menunjukkan defisit anggaran Dn (Gd – Rd) sama atau ditutup dengan surplus (Rf – Gf) anggaran LN G – Gf = pengeluaran netto domestik R – Rf = penerimaan netto domestik • Defisit Anggaran DN (gd – Rd) dalam rupiah dibiayai dengan surplus anggaran Ln (rf – Gf) dalam valuta asing.2. 1995). tetapi sebagai pos pengeluaran yang langsung dikaitkan dengan sumber pembiayaannya. diperlakukan sebagai pos yang tidak mempengaruhi posisi bersih: bantuan luar negeri tidak dilihat fungsinya sebagai sumber dana bagi kekurangan pembiayaan pemerintah. 2) Dampak Terhadap Sektor Moneter 98 . penukaran semacam ini akan menambah jumlah uang beredar (melalui penambahan base money atau uang primer) jika devisa tadi dibeli langsung oleh Bank Indonesia ataupun bank komersial dengan menciptakan uang giral. defisit dikur sebagai posisi bersih (netto) pemerintah terhadap sektor perbankan : G – T – Gf – Gb Karena Bn = 0 (saat itu) • Di dalam konsep ini bantuan luar negeri dianggap sebagai penerimaan. d. e. (Anne Booth dan Peter McCawley. Menurut definisi ini. pemerintah juga melakukan transfer ke sektor sasta dalam bentuk pembayaran bunga utang dalam negeri dan subsidi. 1) Dampak APBN terhadap sektor Riil • Stimulus fiskal.5% (Rp 211.8% dari PDB. Neraca Pembayaran Bank Indonesia dalam laporan tahunannya menyajikan perhitungan dampak APBN terhadap sektor riil (permintaan dalam negeri).

5 triliuan). utang luar negeri dimasukkan pada pos : pembiayaan defisit. seperti Jepang. maka ekspansi moneter tahun 2002 mengalam penurunan dari Rp 32. pos untuk menutup defisit berasal dari utang luar negeri (disebut : penerimaan pembangunan) yang dibukukan pada os penerimaan.5 triliun berkat penurunan yang tajam pembayaran subsidi dari Rp 77. lebih besar dari jumlah ekspansi rupiah (Rp 19. Penerimaan Pajak 2. Pendapatan Negara dan Hibah 1. • Dibandingkan tahun 2001.7% dari rencana semula karena tidak tercapainya penerimaan pajak dan lebih tingginya realisasi pembayaran bunga utang dalam negeri. Belanja Negara a. B. • Anggaran defisit lazim digunakan oleh negara yang mengacu pada government Financial Statistik (GFS).2 triliun menjadi Rp 19. • Struktur dan susunan APBN 2002 terlihat seperti dibawah : (lihat lampiran : operasi keuangan pemerintah) A.5 triliun. Dalam APBN tahun 1999.4 triliun menjadi Rp 40. DPR lebih mudah melakukan review dan pemerintah lebih mudah melakukan konsultasi. • Dalam APBN tahun 1999.0 triliun. di mana sumber penerimaan dan sumber pembiayaan dipisahkan dengan tegas pada pos-pos yang berbeda.• Selama tahun 2002 operasi keuangan pemerintah (rupiah) diperkirakan menimbulkan ekspansi bersih pada uang beredar sebesar Rp 19. Dengan demikian APBN lebih transparan. Pengeluaran Rutin 99 . besarnya defisit dinyatakan secara ekplisit pada pos “surplus/ defisit anggaran” dan ditutup dengan sumber-sumber yang dinyatakan pada pos “pembiayaan bersih”. Dalam APBN sebelumnya. karena disusun berdasarkan prinsip anggaran tidak seimbang (anggaran defisit). • Dari perbandingan dampak rupiah dan valas di atas terlihat bahwa aliran deisa masuk bersih sektor pemerintah lebih besar dari ekspansi rupiah bersih sehingga memungkinkan Bank Indonesia untuk menyerap seluruh ekspansi rupiah tersebut melalui sterilisasi valas. Angka ini lebih tinggi sekitar 26. Belanja pemerintah pusat 1. STRUKTUR DAN SUSUNAN APBN • Struktur dan susunan APBN sejak tahun 1999 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. 3) Dampak APBN terhadap Neraca Pembayaran • Selama tahun 2002 operasi keuangan pemerintah (valuta asing) diperkirakan menghasilkan aliran devisa masuk bersih setara Rp 24. Penerimaan Bukan Pajak (PNBK) B.3 trilun.

Penjualan aset program restruk perbankan c. 1995). (2) Defisit anggaran ditutup dengan sumber pembiayaan DN + sumber pembiayaan LN (bersih) • Sebagai perbandingan dapat diringkas sebagai berikut : Anggaran Defisit Anggaran Berimbang PNH – BN = DA PDN – PR = TP DA = PbDN + PbLN DAP = AP – TP PbDN = PkDN + Non – Pk DN PbLN = PPLN – PC PULN Keterangan : Keterangan : PNH = pendapatan negara PDN = Pendapatan DN dan hibah PR = pengeluaran rutin BN = belanja negara TP = tabungan pemerintah DA = defisit Anggaran DAP = defisit anggaran pembangunan 100 . Pengeluaran Pembangunan b. Prinsip Anggaran Defisit • Bedanya dengan prinsip anggaran berimbang adalah bahwa pada anggaran defisit ditentukan : (1) Pinjaman LN tidak dicatat sebagai sumber penerimaan melainkan sebagai sumber pembiayaan. Surplus/ Defisit Anggaran E. Masing-masing prinsip ini dapat diukur dengan cara perhitungan tertentu (Susento. APBN kita disusun atas dasar tiga prinsip : prinsip anggaran berimbang (balance budget). PRINSIP-PRINSIP DALAM APBN Sejak Orde Baru mulai membangun.2. Anggaran Belanja untuk Daerah 1. prinsip anggaran dinamis dan prinsip anggaran fungsional. Pinjaman program b. Pembiayaan dalam negeri 1) Perbankan Dalam Negeri 2) Non-Perbankan dalam negeri a. Pembiayaan 1. Keseimbangan Primer Perbedaan Statistik D. Dana perimbangan 2. Pinjaman proyek 2) Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri C. Dana otonomi khusus dan penyeimbang C. 1. APBN disusun berdasarkan prinsip anggaran defisit. Pembiayaan Luar Negeir (Neto) 1) Penarikan pinjaman Ln (bruto) a. Privatisasi b. Namun sejak tahun 1999 tidak lagi digunakan prinsip anggaran berimbang dalam menyusun APBN. Penjualan obligasi pemerintah 2.

Artinya semakin kecil sumbangan bantuan/ pinjaman luar negeri terhadap pembiayaan anggaran pembangunan. Prinsip ini sesuai dengan azas “bantuan luar negeri hanya sebagai pelengkap” dalam pembiayaan pembangunan. Prinsip Anggaran Dinamis • Ada anggaran dinamis absolut dan anggaran dinamis relatif. Prinsip Anggaran Fungsional • Anggaran fungsional berarti bahwa bantuan/ pinjaman LN hanya berfungsi untuk membiayai anggaran belanja pembangunan (pengeluaran pembangunan) dan bukan untuk membiayai anggaran belanja rutin. 100% TP(x-1) (2) BLN Bi = -------------. • Anggaran dinamis relatif dapat dihitung dengan cara : (1) Prosentase perubahan TP (∆ TP) TPx . • Di sini perlu kiranya diberi tolok ukur kuantitatif untuk menentukann sampai seberapa jauh makna kata “sebagai pelengkap” misalnya : 1) Bila nilai Ri : > 50% = bantuan/pinjaman luar negeri sebagai sumber daya utama Prosentase Ketergantungan Pembiayaan 101 .. 100% ∆P Keterangan : TPz = tabungan pemerintah tahun x TP(x-1) = tabungan pemerintah tahun sebelumnya B1 = tingkat ketergantungan pembiayaan dari bantuan LN 3. Anggaran dikatakan bersifat dinamis absolut apabila TP dari tahun ke tahun terus meningkat. Anggaran bersifat dinamis relatif apabila prosentase kenaikan TP (∆ TP) terus meningkat atau prosentase ketergantungan pembiayaan pembangunan dari pinjaman luar negeri terus menurun. maka makin besar fungsionalitas anggaran.PbDN = pembiayaan DN AP = anggaran pembangunan PkDN = Perbankan DN BLN = bantuan luar negeri Non-PkDN = Non-Perbankan DN PbLN = pembiayaan LN PPLN = penerimaan pinjaman LN PCPULN = pembayaran cicilan pokok Utang luar Negeri 2.TP(x-1) ∆ TP = ---------------------..

9% (terkecil) dan tahun 1988/ 1989 nilainya 81.3%. rata-rata nilai Ri sebesar 46.50% = bantuan/ pinjaman luar negeri sebagai sumber dana penting.5% (terbesar).2) Bila nilai Ri : 20% . Jadi selama 25 tahun membangun. 102 . Selama Pelita I sampai Pelita V. bantuan/ pinjaman luar negeri masih merupakan sumber dana yang penting bagi pembiayaan pembangunan di Indonesia. 3) Bila nilai Ri : < 20% = bantuan/ pinjaman luar negeri sebagai sumber dana pelengkap • Pada tahun 1974/1975 nilai Ri sebesar 213.

seperti penjualan saham BUMn. Pengeluaran Anggaran • Pengeluaran pemerintah. Ada beberapa kebijakan fiskal yang masing-masing akan menentukan yang digunakan. sedang dalam masa inflasi digunakan anggaran belanja surplus. penjualan asset BPPN. INSTRUMEN DAN ANALISIS KEBIJAKAN FISKAL • Karena disadari adanya pengaruh-pengaruh penerimaan maupun pengeluaran pemerintah terhadap besarnya pendapatan nasional. 1) Instrumen Kebijakan Fiskal Pembiayaan fungsional • Pengeluaran pemerintah ditentukan dengan melihat akbiat-akibat tidak langsung terhadap pendapatan nasional. bukan untuk meningkatkan penerimaan pemerintah. 2) 2.D. pemerintah telah mengeluarkan peraturan-peraturan administratif dan menciptakan mekanisme penyaluran dana secara transparan (dana JPS) 2) Memperkuat Basis Penerimaan Upaya memperkuat basis penerimaan ditempuh melalui perbaikan administrasi dan struktur pajak. Namun pada masa depresi digunakan anggaran defisit. 3) Mendukung Program Rekapitalisasi Perbankan 103 . maka timbul gagsan untuk dengan sengaja mengubah-ubah pengeluaran dan penerimaan pemerintah guna mencapai kestabilan ekonomi. ekstensifikasi penerimaan pajak dan bukan pajak.erintah inilah yang kita kenal dengan kebijakan fiskal (Suparmoko. perpajakan dan pinjaman dipergunakan secara terpadu untuk mencapai kestabilan ekonomi. • Pajak dipakai untuk mengatur pengeluaran swasta. Analisis Kebijakan Fiskal • Kebijakan fiskal tahun anggaran 1999/2000 diarahkan pada empat sasaran utama : (Laporan Bank Indonesia tahun 1999) 1) Menciptakan stimulus fiskal Guna menciptakan stimulus fiskal dengan sasaran penerimaan manfaat yang lebih tepat. • Bagaimaan pemerintah melakukan kebijakan fiskal tergantung pada kondisi (perkembangan) ekonomi dan tujuan yagningin dicapai. • Dalam jangka panjang diusahakan adanya anggaran belanja seimbang. 1. Teknik mengubah pengeluaran dan penerimaan pem. • Sedang pinjaman dipakai sebagai alat untuk menekan inflasi lewat pengurangan dana yang ada di masyarakat. 1992).

SURAT UTANG NEGARA (SUN) 104 . pemerintah berupaya mengoptimalkan hasil penjualan aset program restrukturisasi perbankan. kebijakan keuangann negara diarahkan pada upaya untuk mewujudkann ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability).48 triliun (2. 2) Disisi pembiayaan. maka realisasi APBN 2002 mencatat defisit anggaran sebesar Rp 27.72% dari PDB). ADB. 1) Mengupayakan volume dan rasio defisit anggaran terhadap PDB menurun 2) Menurunkan Rasio posisi utang pemerintah – baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri terhadap PDB. 1) Penurunan defisit anggaran diupayakan dengan meningkatkan penerimaan terutama dengan mengoptimalkan penghimpunan pajak melalui perluasan basis pajak dan lebih mengefisienkan pengeluaran. mengendalikan belanja negara. 4) Mempertahankan Prinsip Pembiayaan Defisit • Pemerintah tetap memeprtahankan prinsip untuk tidak menggunakan pembiayaan defisit anggaran dari bank sentral dan bank-bank di dalam negeri. Untuk itu ada dua langkah strategis yang tergambar dalam penyusunan APBN 2002. yang diperboleh dari lembaga keuangan internasional seperti bank Dunia.2 triliun atau 4% dari pada PDB. dan OECF serta sejumlah negara sahabat secara bilateral.Upaya untuk menunjang program rekapitalisasi dan penyehatan perbankan dilakukan dengan memasukkan biaya restruktursiasi perbankan ke dalam APBN.67 trilin (1. • Dengan menempuh kebijakan fiskal seperti di atas. pemerintah menggunakan sebagian hasilnya untuk mengurangi posisi utang dalam negeri. dan mengoptimalkan pilihan pembiayaan defisit anggaran. secara keseluruhan operasi keuangan pemerintah sampai dengan Desember 1999 mencapai defisit sebesar Rp 3. 3) Dari penjualan aset program restrukturisasi perbankan dan privatrisasi. • Dalam tahun 2002. • Oleh karena itu pemerintah mempersiapkan langkah-langkah guna meningkatkan pendapatan negara. (Laporan Bank Indonesia tahun 2001) • Dengan langkahlangkah kebijakan fiskal seperti di atas. • Pemerintah tetap mengupayakan pinjaman dari luar negeri.66% dari PDB) menurun dibandingkan defisit APBN 2001 sebesar Rp 40. terutama dalam kerangka CGI.

3. “Kebijaksanaan Fiskal” dalam Anne Booth dan Peter McCawley (Ed). VI. yaitu jaminan pemerintah kepada pasar untuk membayar semua kewajiban pokok dan bunga utang yang timbul akibat penerbitan SUN. Sebelum undang-undang ini disahkan. “Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara Setelah Kenaikan Migas”. 2001. 1998/1999. 2000. Jakarta. Peluang dan Tantangan Pembangunan Ekonomi Sampai 1989. (1995). Penerbit Kanisius. dalam Anwar Nasution (ed). Nasution. 3) Tujuan penerbitan SUN adalah : (a) Membiayai defisit APBN (b) Menutup kekurangan kas jangka pendek akibat ketidaksesuaian awntara arus kas penerimaan dan pengeluaran pada rekening kas negara dalam satu tahun anggaran (c) Mengelola portofolio utang negara. Indikator Ekonomi. Penerbit Sinar Harapan. Triyono Widodo. Yogyakarta. Peter (1990). Booth. Penerbit BPFE. 2) Surat Utang Negara terdiri dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN) semacam T-Bills di AS dan Obligasi Negara (ON) • SPN merupakan SUN berjangka waktu sampai dengan 12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto (mirip SBI) • ON merupakan SUN berjangka waktu lebih dari 12 bulan dengan kupon dan/ atau pembayaran bunga secara diskonto. LP3ES. DAFTAR BACAAN Suparmoko (1992). Teori dan Praktek. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (SUN). Keuangan Negara.Pada tahun 2002 pemerintah memberlakukan Undang-Undang No. Ekonomi Orde Baru. Anne dan McCawley. 2002 105 . istilah Surat Utang Negara lebih dikenal sebagai obligasi pemerintah. Anwar (1995). Beberapa point yang penting mengenai SUN adalah : 1) Tema pokok UU SUN adalah memberikan “standing appropriation”. Dasar Perhitungan Perekonomian Indonesia. Laporan Bank Indonesia tahun 1997/1998. Suseno Hg. Yogyakarta.

20 23.67 2.72) 46.66 1.60 247.05 81.91 13.73 (1.47 2.81 5. Aanggaran belanja untuk daerah 1.66) 0.36 0.40 0.18 0.71) 25.44 2.26 17.72 0.48 341.16 12.20) 0.52 94.15 17.25 0.91 17.19 (0.38) (0.50 185.95 88.50 1.59) 0. Pembiayaan I.20) (0.22 327.36) 62.20 0.01 1. Pendapatan negara dan hibah F. Hibah 22.08 0.08 20.Lampiran 1 Realisasi APBN Tahun 2001.79 5. 2002 Operasi Keuangan Pemerintah 2001 APBN-PAN Nominal %thd PDB 301.86 329.08) (0.41 5.48 0.19 0.93 0.92 41.13 23.71) (4.00 (40.18) 0.77 20. Belanja Negara I.59 81.91 301.22 (1.20 345.00 (40.98 12.61 0.03 1.76 12.23) (0.05 1.44 344.50 3.39 1.46 (1.44 7.36 1.68 2.30 Realisasi %thd PDB 18.51 B.35) (0.19 299.41 0.23 46.95 2.74 14.49 30.47 193.68) 3.1 0.14) 2.25 0.87 219.20) (2.10 5. Penerimaan Pajak 2.45 24.44 5.23) (1.60 11.79) (0.75 11.25) (3.91 5.54 115.86 - Nominal 300.44 11.98 (2.38 47.81 94.39 0. Penerimaan Dalam Negeri APBN Nominal %thd PDB 801.23 (0.19 300.00) (27.25 17.11 0.68 0.07 40.72) (3.63 92.65 5.18) 3.28) 1.68 20.13 (2. Dana perimbangan 2.52 0.04 3.27 98. Belanja pemerintah pusat 1. Pembiayaan Dalam Negeri 40.53 3.23 42.41 14. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) II.41 97.75 (2.08 2.01 17.50) 5.56 (4.00 17. Pengeluaran rutin 2.06 218.44 20.87 17.03 2002 APBN-P Nominal %thd PDB 305.31) 0.13 14.50 3.23 (3.50 23.30 97.6 5.72 2.46) 2.01) 106 .06) (0.89 214.23) 31.99 4.70 5.97 94.66 1.56 260.76 19.26 27.66 13.34 2.34 189.69 210.00 (42.01 Uraian A.78 304.23 20.47 0.71 90.06 0.74 52.76 3.51 5.02 Perubahan (0.27 7.50 1. Pengeluaran pembangunan II.80 200.66 0.20 (2.23 40. Keseimbangan Primer Perbedaan statistik D. Dana otonomi khusus & penyeimbang C.45 3.30 0. Surplus/ (Defisit ) Anggaran E.03 (0.

74 (0.10 0.55 16.01 7.63 13.55 (1.11 0.76) 19.58) 0.09) (2.43 1. a.37 12. Otoritas Moneter b.58 3.71 0.09 56. 1) 2) 3) 4) APBN-PAN 2001 terhadap PDB Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s. Pinjaman proyek 2.32 (1.71 176. Pembayaran Cicilan pokok utang LN 1) 2001 yang telah diaudit 2) 3) IV.63 35.16 40.36 11.37 7.42 0.18 0.95 1.69 105.97 1.60 3.87 6.06 33.99) 19.64 55.53 24.73) 1.58 3.49 0.25 5.12 19.53 25.16 (0.53 25.26 101. 31 Desember 2002 (revisi IV.d.94) 7. 2002) Belanja Negara Uraian 2001 APBN-PAN 2002 APBN APBN-P Realisasi 107 .47 64.82 20.90 38.19 APBN Nominal %thd PDB 120.66 0.08 79.45 72.21 11.53 (0.80 2.96 (13.42 211.76 0. Januari 2003) 4) dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah) Non Perbankan Dalam Negeri APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.11 59.26) (0.53 3. Januari 2003) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam (Dikutip : Laporan Bbank Indonesia. 31 Desember 2002 (revisi Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB (Dikutip : Laporan Bank Indonesia 2002) Lampiran 2 Dampak APBN Terhadap Sektor Riil Stimulasi Fiskal Uraian 2001 APBN-PAN Nominal %thd PDB 102.83 (16.90 5.00 1.83) (0. Privatisasi b.59 5.98 135.63 196.04 (0.22 10. Penarikan pinjaman LN (bruto) a.12 39.59 85.57 1.65 2.22 13.27) 0.73) (0.64 5.48 Nominal 117.12) 0.56 91.26) 1.23 0.20 9.59) (0.38 74.53 0.75 0.20 77.24 3.87 27.14 0.47 25.77 0.01) (0.07) 19.36 9.33 0.15 (0.33 a.93 0.08 0. Bunga Utang Dalam Negeri b.42 4.d.21 42.83 13.76 2. Konsumsi Pemerintah Belanja Pegawai dalam negeri Belanja Barang Dalam Negeri Dana Alokasi Umum Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang Pengeluaran Rutin Lainnya Pembentukan Modal Domestik Bruto Pembiayan Dalam Rupiah Bantuan Proyek Dana Alokasi Umum Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus Jumlah I + II Memo Items: Pembayaran Transfer a.23 0. perbankan c.25 25.54 25.54 6.49 104.44 4.68 2.78 6.43 1.76 7. Perbankan Dalam Negeri 27. Koreksi Moneter 2.36 0.05) 1.26 3. Penjualan obligasi pemerintah II.81 1.40 Perubahan 0.43 1.d.57 1.16 6.11 21.51 12.79 1.31 9. III.01 Realisasi %thd PDB 7.64 58.80 1.76 1.10 3.54 1. 31 Desember APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.74 55.52 41.11 2.00 3.15 6.04 12.67 45.74 (15.12 (0.47 2002 APBN-P Nominal %thd PDB 122.33 (12.44 27.21) 0. Pinjaman program b.53 2.88 0.16 1.71 3.69 0.42 19.58 1.98 10.17 3.16 0.30 3.46 40.79 11.39 11.85 63.87 9.70) (0.71 0. 31 Desember 2001 yang telah diaudit APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.22 (0.35 18.27 26. Pembiayaan luar negeri (Neto) 1.86 2.19 20.02 2. Kredit/ pinjaman sektor perbankan c.54 11.d.80) I.41 1.79 1.70) (0.26 29.92 208.60 9.35 19. Subsidi II.69 1.04 0.1.02 0.37 20.04) (0.71 0.17 (0.88) 1.44 0.33 0.60) 0. Penualan Aset program restruk.61 7.64 12.

10 2.04) (0.47) 2.65 2.19 4.11 2.91) (30. Dana Perimbangan a.58 0.60 0.51 218.23 APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s. Penerimaan Rupiah Pajak Migas Non Migas Bukan Pajak Privatisasi Penjualan Aset Program Retrukturisasi Perbankan Penjualan Obligasi Pemerintah Jumlah Penerimaan B.42 2.11 0.47 14.95 77.08) 0.44) 3. Belanja Pegawai b.01 0.44 23.65) (42.94 5.44 2.70 5.24 0.11) (38.25 0.Nominal B. Utang Dalam Negeri ii.13) (1.61 1.67 0.61 0.66 0.22 Nominal 327.36) (9. Januari 2003) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam (Dikutip : Laporan Bbank Indonesia.41 4.50 2.91 5.99 17.27 (0.60 11.44 60.03 11.68 1.62) (25.41) (81.14 0.34 2.22) 0.87 64.25 3.35) (0.47 0.64 31.41 1.16 0.Bung Kredit Program . Dana Alokasi Khusus 2.61 1.72) (2.71 15.41 14.00 (0.53 10.84 3. 2002) Lampiran 3 Dampak APBN terhadap Sektor Moneter Dampak Rupiah Keuangan Pemerintah APBN 2002 Uraian 2001 APBN-PAN Nominal %thd PDB APBN Nominal %thd PDB 2002 APBN-P Nominal %thd PDB Nominal Realisasi %thd PDB Perubahan A.16 11.01) 0.76 5.70 4.00 0.89 4.d.18 5.86 229.92 1.20 0.98 41.53 0.30 26.52) 0.47 25.36) (2.52) (290.91 17.13 12.13 14.43 1.05 0.72 15.64) (63.34 189.24 0.20) (31.59 30.50 4.42) (0.83 97.53) (1.25) (3.01) (64.02 0.80 0.82 0. Subsidi Non BBM .74 41.63 98.07 0.13 0.72 2.14 58.04 193.84 7.33 0.37) 0.48 1.38 0.68 2.53 24.14 0.05 0.54 63.43 89. Anggaran Belanja untuk Daerah 1.41 27.20 264.27 0.62) (2.41 40.30 12.10 0.86) (2.60) (5.06 (0.38) (162.37) (2.27 2.55 0.70) (5.98) (38.17) (38.52 94.53 1.64 3.43) (0.70 - %thd PDB 22.11 47. Pengeluaran pembangunan a.33) (1.93 87.80 0.56 260. Subsidi BBM ii.68) (1.40) (3.46 25.67 5.94) 271.81) (17. 31 Desember 2001 yang telah diaudit APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.47 1.70) (17.56 3.04 24.87 0.66 13.75 11.20 13.82) (31.76 1.05 - Nominal 344.77 %thd PDB 20.15 17. Pembiayaan Pembangunan RUiah b.59 2.76 24.48) (3.38 0.46) 108 .90) (1.17) (98.27 69.20 Nominal 345.04 0.Pangan .01 31.34 4.06 0.44 11.64) (97.20) (15.81) (5.82) (5.27 12.37 20.08 (0.02 273.20 28.72 (0.46 0.74) (2.10 1.22 191.59) (59.07 0.58 1.66 3.47) (3.60 2.47 4.39 3.10 (0. Pengeluaran Rupiah Operasional Belanja Pegawai Dalam Negeri Subsidi Bunga Utang dalam Negeri Pengeluaran Rutin Lainnya Investasi Dana Perimbangan Jumlah Pengeluaran 0.29 0.80) (1.47 0. Pengeluaran rutin a.00) (189.05) (1.00 0.50 59.60 69.06 5.12) 15.92 38.47.d.28 0.91) (17.90 1.04 (0. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang 1) 2) 3) 4) APBN-PAN 2001 terhadap PDB Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah) 341.79) (40.09) (0.81 5.70 15.58 (1.94 43.68 1. Pembiayaan proyek (termasuk hibah) II.46) (0.68 203.76 5.71 9.32 47.46 4.69 41.05 81.26) (1.01 246.21) (22.97 94.69 12.33 3.80) (41.44 68.70 4.72) (3.46) (18.46 50.96 88.40 1.86 1.27 1.39 16.72) (0.03 0.10 2.31) (169.60) 0.19) (3.36 5.48 3.81) (288.01 0.10) (0.52) (21.32 42.53 5.57 1.04 0.Lainnya e.11 196. Dana Alokasi Umum a.11 0.86) (162.19 20.80 200.31) (40.61 94.Listrik .38 2.21 4. 31 Desember 2002 (revisi IV.33) (2.59 21. Utang Luar Negeri d.10 162.07 1.44) (19.01 60. Subsidi i.04 (0.15 0.59 0.71) (77.99 69.94 11.49 52.27 27.23 Perubahan (3.88) (5.44) (58.32 1.16 8.04) 0.08 40.90 91.79 1.12) (1.02 0.38 2.02 276.44 5.48 1.93 12.52 2.36 11. Dana Bagi Hasil b.20 10.07 39.45) (12.02 (1.77 0.44 %thd PDB 20.52 28.64 12. Belanja Negara I.97) (291.76 %thd PDB 19.22 (0.67 2. Pengeluaran Rutin Lainnya 2.75 5.45 0.05 20.22 97.44 1.71) (9.67 0.38 42.24) (97.81 5.20 9.05) (296. Belanja pemerintah pusat 1.21 81.21 28.35 0.13 0.92 17. Pembayaran Bunga Utang i. Belanja Barang c.86) (9.19 12.82 3.80) (2.

07) 2002 APBN-P Nominal %thd PDB (2.48 0.39 42.01 Realisasi %thd PDB 0.30 Perubahan (0.19) 2.45 0.56 (10.34) 0.14 0.41) (0.17) (28. Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan (Dikutip : Laporan Bbank Indonesia.57 3.02 Nominal 4.54 2.53) (28.16) (15.88) (1. Transaksi Berjalan Neraca Barang Ekspor Migas Impor Bantuan Proyek Neraca Jasa Utang Luar Negeri Pembayaran Bunga Utang Luar Negeri Belanja Pegawai Negeri Belanja Barang Luar Negeri Penerimaan PPh Non Migas 109 .C.32) (1.66) (31.46) (18.88 0.57 (16.13 0.09) (0.90) (0.95) 0.31 (0.73 (20.26 1.07 2.72) (0.04) 0.98) (1.57) (0.99 1) 2001 yang telah diaudit 2) 3) Januari 2003) 4) pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.66) (1.54) (1.66 (1.14 (0.61) (1.13 28.63) 28.94) (1.18) (28. 31 Desember APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.71 2.04) 0.56) (1.11) (24.42) (0.87) (1. 31 Desember 2002 (revisi IV.34 54.03 APBN Nominal %thd PDB (13.14) (0.28 0.41) (0.92) (25.45 38.42 (0.17) (2. Dampak Rupiah (32.05) (0.66 38.46 (0. 2002) Lampiran 4 Dampak APBN terhadap Neraca Pembayaran Dampak Valuta Asing Keuangan Pemerintah APBN 2002 Uraian 2001 APBN-PAN Nominal %thd PDB 9.50) (1.94) 0.23) (1.07 38.90) (0.65) (0.32) (25.17) 0.52) (0.46) (1.07) 0.60) 2.91) (1.25 1.47) (28.d.16) 1.51 (16. Perbedaan Statistik D.01) A.80) 18.12) 26..d.28 0.48 2.03) (1.30 (1.05) (0.08) (1.

45 1.25 1.88) 2.16 (0.58 1.45 20.45 (0. 2002) 110 .18 0.33 0.83 1.48 7.d.15 (15.31 (13.40 1. Pemasukan Modal Neto Pemerintah Penarikan Utang Luar Negeri Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri Privatisasi Penjualan Aset Program Restrukturisasi Perbankan C.75 (1.76) 0.42 1.72 2.79) 1) APBN Perhitungan Anggaran Negara (PAN) : realisasi 1 Januari s.99 35.d. Januari 2003) 4) Selisih antara pangsa masing-masing dalam realisasi APBN 2002 trhadap PDB dengan pangsa pos yang sama dalam APBN-PAN 2001 terhadap PDB Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah) (Dikutip : Laporan Bbank Indonesia.27) (0.Hibah B.73) 2.44 1.53 24. 31 Desember 2002 (revisi IV.37 (12.59) 0. Dampak Valas (A + B) 23.24 28.16 (0.78 33.53 24.71 (0.45 0.72 2.12 19.73) 0.92 26.99) 0.48 10. 31 Desember 2001 yang telah diaudit 2) APBN Perubahan (P) : Perkiraan Realisasi 3) Realisasi sementara belum diaudit periode 1 Januari s.10 (0.33 0.57 1.37) (0.05) 3.97 29.53 15.17 0.36 (16.82 7.21 1.17 7.07) 0.52 26.26) 5.17 0.

11) Pm TOT > 100%  menambah pendapatan TOT < 100%  mengurangi pendapatan 111 . pembayaran Cadangan Devisa : Pos E Tanda + = penambahan devisa Tanda . Berjalan Pos C : N. Aspek likuiditas  cadangan devisa (hl.x 100% (hal.= 30% . 3 – 4) 8. sesudah krisis surplus (lihat halaman 2) 4.≤ 20% . Ukuran : DSR = .≥ 30% Hutang Luar Negeri ( Meningkatnya utang Luar Negeri (1) (2) (3) (lihat halaman 5 – 6) 6.NERACA PEMBAYARAN INDONESIA 2. Defisit TB Kebutuhan investasi Meningkatnya inflasi Devaluasi : Alasan Tujuan Dampak (halaman 9) 7. Defisit / surplus: Pos A : T.= pengurangan devisa Devis = uang rial + uang kartal asing Valas = uang kartal asing (lihat halaman 4) 5. Struktur/ susunan NP (lihat lampiran) Mengisi angka kosong pada pos D dan E 3. TB sebelum krisis defisit. Aspek solvabilitas  TOT PN TOT = ---------.

SE VII. Kebijakan bantuan luar negeri 112 . Cadangan Devisa 2. Kebijakan perdagangan internasional 2. 3. Anslisis kebijakan neraca pembayaran LN 1. Transaksi berjalan (Current Account) 2.PEREKONOMIAN INDONESIA Munawir. Efek nilai tukar perdagangan (terms of trade) d. Agar mahasiswa dapat menjelaskan : 1. Sistematika Neraca Pembayaran LN Indonesia 1. Kurs Valuta Asing dan Devaluasi c. perubahan cadangan devisa 4. Aspek Solvabilitas Neraca Pembayaran LN 1. Hutang Luar Negeri 3. Lalu lintas moneter b. Peran dan Perkembangan Ekspor Impor 2. POKOK BAHASAN : Neraca Pembayaran Luar Negeri Indonesia SATUAN ACARA PERKULIAHAN A. Aspek likuiditas neraca pembayaran LN 1.1. 2. Tujuan umum Agar mahasiswa dapat memahami Neraca Pembayaran Ln dalam perekonomian Indonesia B. investasi dan devisa Tujuan Khusus Neraca transaksi berjalan Neraca transaksi modal Lalu lintas moneter Analisis Materi : kebijakan C. Pembahasan a. Modal diluar sektor moneter 3. perdagangan. Kebijakan pembayaran internasional 3. VII. Selisih perhitungan (errors and ommissions) 4.

VII. Jumlah (a + B) d. pinjaman dan sebagainya) yang terjadi antara penduduk dalam negeri suatu negara dan penduduk luar negeri selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Lalu lintas moneter • Penyajian neraca pembayaran LN menurut model IMF memuat pos-pos a. Hibah c. Transaksi berjalan (A + B) d. seperti laju pertumbuhan PDB. Transaksi berjalan b. SISTEMATIKA NERACA PEMBAYARAN LN • Tujuan utama pembuatan neraca pembayaran LN adlaah : 1) Agar otoritas moneter pemerintah mengetahui kedudukan (hubungan) keuangan internasional. seperti IMF. • Transaksi kredit adalah transaksi yang menimbulkan hak untuk menerima pembayaran dari penduduk negara lain (tanda +). Tambunan. Neraca Barang dan Jasa b. • Selain itu. T. PENDAHULUAN PEMBAH ASAN MATERI • Neraca pembayaran (balance of payment atau BOP) adalah catatan sitematis dari semua transaksi ekonomi internasional (perdaganagn. 1990) • Pos-pos dalam neraca pembayaran LN. menurut model Bank Indonesia a. yang biasanya dinyatakan dalam dollar AS. Dr. investasi. dan e. 2. tingkat pendapatan per kapita. 2) Untuk membantu membuat kebijakan moneter dan fisikal 3) Mengambil kebijakan perdagangan dan pembayaran (hubungan keuangan internasional). Lalu lintas modal (D1 – Di Luar Sektor Moneter dan L2 sektor moneter) e. (Tulus.. Selisih perhitungan (Laporan Bank Indonesia Tahun 2000) 113 . 2001).2.H. Selisih perhitungan C dan E. BOP juga merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara di samping variable-variabel ekonomi makro lainnya. tingkat inflasi. bank dunia dan negaranegara donor juga menggunakan BOP sebagai salah satu indikator dalam mempertimbangkan pemberian bantuan keuangan keapda suatu negara. • Oleh karena itu BOP sangat berguna karena menunjukkan struktur dan komposisi transaksi ekonomi dan posisi keuangan internasional suatu negara. Modal diluar sektor moneter c. Lembaga-lembaga keuangan internasional. tingkat suku bunga dan nilai tukar mata uang domestik. Transaksi debit adalah transaksi yang menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran kepada penduduk negara lain (tanda -) (Nopirin.

114 .

karena : 1) Besarnya pembayaran bunga pinjaman 2) Besarnya pembayaran ongkos angkutan dan asuransi 3) Besarnya pembayaran jasa-jasa lain. Transaksi berjalan mengalami surplus bila ekspor (barang dan jasa) lebih besar dari impor (barang dan jasa). sedang. utang – piutang jangka panjang maupun jangka pendek. 1999. TRANSAKSI BERJALAN (CURRENT ACCOUNT) • Transaksi berjalan meliputi : transaksi perdagangan barang dan jasa. baik yang dilakukan pemerintah maupun oleh swasta. • Sebelum krisis ekonomi 1997 transaksi berjalan kita cenderungan tiap tahun mengalami defisit. (b) lainnya (pelunasan/ angsuran utang LN ) melonjak tinggi akibat jatuh tempo. Defisit transaksi berjalan selalu diusahakan ditutup dengan surplus pada neraca modal (lalulintas modal) melalui pinjaman luar negeri. transaksi berjalan selalu mengalami surplus. pendapatan hasil invesasi (modal). b. Transaksi modal meliputi penanaman modal langsung. JUMLAH (A + B) 115 . c. dan transaksi unilateral. • Lalu lintas modal pemerintah selama tahun 1997-1999 mengalami saldo positif (+) karena : (a) penerimaan pinjaman pemerintah meningkat dan (b) pelunasan pinjaman menurun akibat krisis ekonomi. • Lalu lintas modal swasta menghasilkan saldo negatif ( . karena : 1) Impor barang menurun dengan drastis akibat melonjaknya kurs dolar AS 2) Ekspor barang cenderung terus meningkat akibat merosotnya nilai tuakr rupiah (lihat Lampiran : Neraca Pembayaran Indonesia Tahun 1997. 2000 dan 2001). • Tahun-tahun sesudah krisis ekonomi 1997. Sebaliknya akan mengalami defisit apabila impor lebih besar dari ekspor. 1998. yaitu lalu lintas modal yang terdiri dari : (1) lalu lintas modal pemerintah dan (2) lalu lintas modal swasta.) karena : (a) penanaman modal langsung (investor) menurun drastis akibat capital flight.a. MODAL DILUAR SEKTOR MONETER • Pos ini bisa juga disebut Neraca Modal karena menyangkut transaksi modal.

SELISIH PERHITUNGAN C DAN E • Pos ini merupakan rekening penyeimbang apabila nilai transaksitransaksi kredit tidak sama dengan nilai transaksi debit (selisih “jumlah A + B” dengan “lalu lintas moneter”). 1990). seperti transaksi berjalan. Rekening lain dilaksanakan oleh perorangan. tidak melapor dengan teratur mengenai kegiatan luar negeri mereka. • Hal ini disebabkan karena keadaan tidak selalu memungkinkan adanya cukup pengetahuan untuk menghasilkan pencatatan yang cukup sempurna mengenai transaksi internasional. • Tahun1997 defisit $4.2. Beberapa rekening hanya merupakan dugaan saja. Maka perlu menambah satu rekening (pos) untuk kesalahankesalahan (errors and omission) agar terdapat keseimbangan ke dua sisi dari neraca (Kindleberger. -3. • Pada tahun 1997. 1999 : saldo transaksi berjalan (miliar $). ASPEK LIKUIDITAS NERACA PEMBAHARAN LN • Tujuan kebijakan neraca pembayaran LN berkaitan dengann aspek likuiditas dan aspek solvabilitas : 116 .1 dan 5. • Perbedaan antara transaksi autonomus debit dan kredit diseimbangan dengan transaksi “lalu lintas moneter”. -5.-3. 4. Transaksi lain disebut “autonomus” sebab transaksi ini timbul dengan sendirinya.• Pos ini merupakan perhitungan antara saldo transaksi berjalan dengan saldo neraca modal (modal di luar sektor moneter). 1999 masingmasing surplus -$2.2.2 miliar (1998) dan $2. 1983). Yang termasuk dalam transaksi lalu lintas moneter adalah mutasi dalam hubungan dengan IMF. transaksi modal. 3. $-2. pedaganga surat-surat berharga dan perusahaan besar. e. yang tidak seperti pengusaha bank.9. tahun 1998. LALU LINTAS MONETER • Transaksi (rekening) ini sering disebut “accomodating” sebab merupakan transaksi yang timbul sebagai akibat adanya transaksi lain. pedagang perantara.4 miliar (1997) $0. dengan demikian julmah (A + B) . tanpa dipengaruhi oleh transaksi lain. Dengan demikian total nilai sebelah kredit dan debit akan selalu sama atau balance.0. Sedangkan saldo neraca modal (miliar $) berturut-turut 2. aktiva LN.3 miliar.0 miliar (1999) d.4 miliar. 1998.1 miliar (tanda +). pasiva LN. $3. Defisit atau surplus neraca pembayaran dapat diketahui dari rekening in (Nopirin.6.

1990) 4. Hutabarat. Valuta asing lainnya tidak termasuk uang logam. Sebab menurunnya cadangan devisa bisa berakibat : a.(1) Aspek likuiditas : menyangkut tujuan jangka pendek (2) Aspek solvabilitas : menyangkut tujuan jangka panjang • Aspek likuiditas berkaitan dengan posisi dan perubahan cadangan devisa. sehingga memberikan tenggang waktu kepada pemerintah untuk melakukan upaya kebijakann penyesuaian yang diperlukan (Nopirin. Menurun/ berhentinya aliran m odal jangka pendek dan jangka panjang c. Saldo bank resmi dari Bank Indonesia b. 32/1964 adalah : a. Pemerintah menganggap bahwa posisi dan perubahan cadangan devisa sangat penting. karena dua alasan : (1) Kepercayaan penduduk Indonesia maupun orang-orang luar negeri terhadap kurs devisa dan kebijakan ekonomi pemerintah sangat dipengaruhi oleh perkembangan cadangan devisa. Pemerintah sangat peka terhadap posisi dan perubahan cadangan devisa. yaitu devisa yang telah dikreditkan ke dalam rekening bank dan siap untuk dipergunakan (2) Devisa Ready. 32/1964 dibedakan tiga jenis devisa : (1) Devisa ready. (3) Devisa tunai. Terjadinya pelarian modal ke luar negeri b. yaitu devisa yang belum dikreditkan ke dalam rekening bank dan masih dalam proses penagihannya atau masih menunggu jatuh tempo untuk dapat dipergunakan. Keengganan negara donor menambah/ memberi bantuan (2) Cadangan devisa dapat dipakai untuk melakukann tindakan penyesuaiann menghadapi fultuasi jangka pendek. 1992) 117 . yang keduaduanya mempunyai catatan kurs resmi di Bank Indonesia. • Menurut UU No. CADANGAN DEVISA 1) Devisa dan Valuta Asing • Devisa (foreign exchange) menurut pasal 1 UU No. yaitu devisa yang berupa uang kertas asing atau bank note yang mempunyai catatan kurs resmi pada Bank Indonesia. yang mempunyai catatan kurs resmi dari BI Dari ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian devisa mencakup baik valuta asing dalam bentuk simpanan dibank maupun valuta asing dalam bentuk uang tunai tidak termasuk uang logam). (Roselyne. Valuta Asing (foreign currency) atau valas tidak lain adalah jenis devissa tunai seperti dimaksud di atas.

Liquid reserves 1) . Kewajiban bersih valuta asing dalam rangka transaksi forward (net forward position) c. Tahun 2000) 118 . Maksudnya agar angka cadangan devisa Indonesia mudah dimengerti oleh semua pelaku pasar internasional dan dapat diperbandingkan dengan dta negara-negara lain sehinggga dapat memberi gambaran yang lengkap kondisi ekonomi Indonesia. Utang dalam valuta asing dengan masa jatuh tempo sampai dengan 1 tahun (termasuk penggunaan dana pinjaman IMF) b.9 2.9 5.7 Catatan : 1) Liquid reserve. yaitu balance of payment manual IMF dan program special Data dissemination Standard (SDDS) IMF. deposito luar negeri lainnya dan special drawwing right (SDR) 2) Others reserve terdiri dari : export draft. Bank Indonesia juga mengumumkan posisi cadangan luar negeri bersih (net international reserve = NIR) • Pengertian NIR adalah GFA dikurangi kewajiban-kewajiban BI dalam valuta asing. Di samping konsep GFA. • Sejak Januari 1998 Bank Indonesia mengubah konsep cadangan devisa resmi menjadi konsep aktiva luar negeri bruto (gross foreign assets = GFA).179.8 10.809.0 435. termasuk emas. konsep pencatatan cadangan devisa oleh Bank Indonesia perlu disesuaikan dengan metode yang dipakai secara internasional.940. yaitu : a. Simpanan valuta asing bank-bank di BI dalam rangka pemenuhan ketentuan GWM dalam valuta asing 3) Posisi GFA dan NIR BI mengumumkan posisi GFA dan NIR dua kali sebulan : Posisi Cadangan Devisa (miliar $) Items Gross Foreign Assets .779.Others reserve 2) Loss gross foreign liabilities Plus net forward position 3) Loss reserve agains FCDs 4) Equal Net Intgernational Reserves Maret 1998 16.589. deposito di cabangcabang luar negeri bank nasional dan deposito yang ditempatkan di bankbank asing untuk menggaransi L/C 3) Claims forward terhadap non resident dikurangi kewajiban forward 4) FCDs = foreign currency deposits (Laporan Bank Indonesia.9 -34.2 13.2) Konsep Cadangan Devisa • Sesuai kesepakatan dengan IMF. sekuritas dalam valas.

740.39% dan SIBOR 5. Di samping kelangkaan dana.3. Rp 69. $2.2. karena ekspektasi inflasi merupakan komponen suku bunga nominal.30%. karena tidak efisien dalam penggunaan modal. (4) Struktur perekonomian tidak efisien ICOR menapai 4. Untuk menutup defisit itu pemerintah melakukan pinjaman luar negeri. terutama pinjaman sektor swasta.. Rp 88.57% (1994/1995) dan 8. Rp 96. meningkatnya utang LN juga didorong oleh perbedaan tingkat suku bunga. $6.248.3 miliar.04% (1993/1994) . Jadi ada pemborosan sekitar 30%.9 (1984 – 1993) yang seharusnya antara 3 – 3. Selama tahun-tahun 1994. 1996. (1) Posisi pinjaman luar negeri sebelum krisis Posisi Posisi Rincian 31 Maret 1996 31 Maret 1997 Miliar $ % Miliar $ % 119 .39%. (3) Meningkatnya Inflasi • Laju inflasi tiga tahun menjelang krisis meningkat: 7.4. • Hal ini mendorong meningkatnya pinjaman LN.4 dan Rp 119. 2) Posisi Pinjaman Luar Negeri Indonesia • Posisi ugang luar negeri Indonesia pada akhir 1996/1997 secara kesellruhan mencapai $109.0. jumlah dana tabungan (triliun) : Rp 56.847. (2) Meningkatnya Kebutuhan Investasi • Hampir setiap tahun Indonesia menghadapi delima invesmentsaving gap.86 (1995/1996).311. maka memerlukan invetasi besar.6. $3.5.5. 1) LN HUTANG LUAR NEGERI Penyebab Meningkatnya Utang (1) Defisit Transaksi Berjalan (TB) Lima tahun sebelum krisis ekonomi (1992/1993 – 1996/1997) defisit TB masing-masing tiap tahun (jutaan) : $2. Hal ini mendorong utang luar negeri. kredit modal kerja 19. Sementara kebutuhan investasi (triliun): Rp 71. sedangkan LIBOR 5. 1995. • Suku bunga krdit di Indonesia tinggi (1995/1996). kerdit investasi 16. 8.757 dan $7. Hal ini mempengaruhi tingkat suku bunga.37%.

4 55.0 141.915 2.8 51.1%) : lebih dari 3 tahun (jangka panjang) $ 3.0 47. • Menurut jangka waktu utang swasta non bank (akhir 1999) : $46.2 miliar.0 18.1 36.Pinjaman pemerintah Bilateral 1) Multilateral Lainnya Pinjaman swasta Jumlah 58. • Realiasi restrukturisasi utang luar negeri Indonesia 120 .5 2.3 19.3 1.3 35.1 Jumlah 150.1 Non Bank 67. (2) Luar Negeri Sesudah Krisis Rincian Posisi Pinjaman Posisi Posisi 31 Desember 1998 31 Desember 1999 Juta $ % Juta $ % Pinjaman pemerintah 67.063 7. Dengan semakin besarnya peran sektor swasta dalam perekonomian nasional.4 65.7 miliar (84.2 15.2 Surat Berharga 5.1 10.7%) : lebih dari 1-3 tahun (jangka menengah) $ 5.0 109.2 100.381 100.0 Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia.5% dari $23.0 Sumber : Laporan tahunan Bank Indonesia.315 44.1 0.6 Swasta 83.572 55.4 Bank 10.8 106.9 100.3%) : lebih dari 1 tahun (jangka pendek) 3) Restrukturisasi Utang Luar Negeri Indonesia • Tingginya beban pembayaran pokok utang swasta non bannk berkaitan utang yang baru mencapai 14.7 miliar (10.618 46. Sedang percepatan pembayaran utang pemerintah dimaksudkan untuk mengurangi beban utang luar negeri pada saat utang swasta meningkat.1 miliar ( 4.6 75.8 32.3 48.515 44.0 53.8 52.630 37.9 56.2 0.887 100.288 3. pangsa utangl aur negeri sektor swasta juga semakin meningkat.2 17.7 0.6 38.9 44. 1996/1997 1) Termasuk pinjaman lama dan fasilias kredit ekspor.763 53.769 7. 1999 • Peningkatan posisi utang pemerintah akibat penarikan pinjaman multilateral dan pinjaman IMF serta dampak dari menguatnya mata uang yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat.

1999 Jenis Realiasi Restrukturisasi 99 Miliar $ % 3.8 6. • Pada standar kertas seperti sekarang.5 207. Sifat pasar ada yang tetap. KURS VALUTA ASING DAN DEVALUASI Sifaat kurs valuta asing sangat tergantung dari sifat pasar.7 Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia.9 34.5 6.6 29. Maka dikenal beberapa sistem kurs devisa: 1) Sistem Kurs Deivsa Tetap (Fixed Exchange Rate) • Pada masa berlaku sistem standar emas kurs antar valuta asing dikaitkan dengan kandungan (isi) emas yang ada pada tiap mata uang asing (kurs sesuai dengan perbandingan berat emas yang terkandung pada mata uang yang bersangkutan).2 22.7 51.0 130-220 Posisi utang/ PDB 48. berubah-ubah atau diawasi.8 108.0 240. • Indikator beban utang luar negeri Indonesia Persentase Kriteria Indikator Bank 1996 1997 1998 1999 Dunia DSR 34.5 50-80 Sumber: Laporan Tahunan Bank Indonesia 1999 • Beberapa indikator beban utang luar negeri sudah berada di atas standar yang sehat.3 Bank 10.2 4) Indikator Kelayakan Utang Luar Negeri • Rasio beban utang luar negeri (DSR = Debt Service Ratio) dan rasio total utang terhadap PDB tahun 1999 masing-masing mencapai 51.2 31.3 Nonbank 72.4 14.Posisi Komitmen 31-12-98 Restrukturisasi Miliar $ Miliar $ % Pemerintah 67.9 63. Beberapa rasio tersebut menunjukkan bahwa kemampuan Indonesia untuk memenuhi kewajiban luar negeri menjadi sangat terbatas.9 20. 6.7 13.6 145.9% dan 108.8 262.6 32.3 4.5%.4 3. yang dimaksud fixed exchange rate adalah suatu sistem devisa di mana pemerintah menetapkan tingkat kurs mata uang negara tersebut dengan mata-mata uang negara lain dan brusahauntuk mempertahankannya dengan berbagai kebijakan secara sadar. seperti : a.0 44.9 Swasta 83.5 35. Tindkan-tindakan tidak langsung berupa : (1) pembleian mata uang sendiri dengan mata uang asing oleh Bank Sentral atau (2) sebaliknya 121 .6 58.9 Total 150.0 Posisi utang/ ekspor 179.4 39.3 58.8 80.8 23.2 98.7 6.1 9.

tidak ada masalah surplus atau defisit neraca pembayaran (Boediono. Dalam hal ini tidk ada “pasar devisa” dalam arti sebenarnya.penjualan mata uang sendiri apabila tingkat kurs dipasar melonjak di atas tingkat kurs yang ditetapkan. b. • Prinsip devisa bebas tetap dipertahankan dengan pertimbangann Indonesia masih memerlukan dana luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri dalam rangka lebih mempercepat pembangunan. Sampai dewasa ini Indonesia menganut regim devisa bebas dalam arti setiap penduduk bebas menerima. Dalam rangka melaksanakan sistem deivsa bebas. 1994). 122 . 24 tahun 1999 ini menegaskan bahwa Indonesia tetap menganut sistem devisa. sehingga tidak ada pasar gelap. 1) Sistem Devisa bebas • Undang-undang No. Selain itu. 2) Sistem Kurs Mengambang (Floating/ Flexible Exchange Rate) • Pada sistem ini kurs satu mata uang dengan mata uang lain dibiarkan untuk ditentukan secara bebas oleh tarik-menarik kekuatan pasar. sehingga memungkinkan setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki dan menggunakan devisa yang dimilikinya. • Menghadapi jumlah devisa yang lebih kecil dibandingkan perminataan. 24 tahun 1999 tentang lalu lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. maka pemerintah melakukan alokasi di dalam penggunaannya yakni dengan melakukan multiple exchange rata. Tindakan-tindakan langsung berupa penjatahan devisa pada tingkat kurs yang ditetapkan. menyimpan dann menggunakan devisa. aliran modal masuk tersebut juga diperlukan untuk menutup defisit transaksi berjalan yang sebelum krisis mencapai sekitar 3% dari PDB. Tujuannya untuk mencegah aliran modal ke luar. 3) Perencanaan Devisa (Exchange Control) • Dalam sistem ini pemerintah memonopoli seluruh transaksi valuta asing. 2) Pelaporan Lalu Lintas Devisa • Sistem devisa bebas dapat menimbulkan kerawanan-kerawanan terhadap kestabilan-kestabilan ekonomi bila tidak disertai sikap kehatihatian seluruh pelaku ekonmi dan tidak tersedia data mengenai keluar masuknya modal ke Indonesia. • Keuntungan sistem ini bahwa tingkat kurs yang berlaku selalu sama dengan tingkat kurs keseimbangan. Indonesia telah mengesahkan Undang-undang No.

000.000/ hari keterlambatan (2) Tidak menyampaikan laporan : Denda Rp 100.000. Rp. c.• Karena itu dalam undang-undang ini diatur mengenai pelaporan dan pemantauan kegiatan lalu lintas devisa: a. dengan kata lain terjadi penilaian lebih (overvalue) terhadap mata uang dalam negeri. • DEVALUASI ♦ Dalam kenyataan kurs valuta asing tidak stabil karena kenaikan harga umum di suatu negara berbeda dengan kenaikan harga umum negara lain (partner) ♦ Rumus Teori Purchasing Power Parity (PPP) IHDx / IHDn Pn-x = -----------------IHFx / IHFn Keterangan : Pn-x IHD IHF n x = Paritas Daya Beli Tahun s/d x = Indeks Harga Konsumen Dalam Negeri = Indeks Harga Konsumen Luar Negeri = tahun dasar = tahun x ♦ Rasio paritas yang semakin tinggi berarti kenaikan harga umum dalam negeri lebih tinggi dibandingkan luar negeri.1/9/DSM/1999 mengatur teknis pelaporan. meliputi transaksi devisa. Setiap penduduk diwajibkan untuk memberikan keterangan dan data dimaksud. posisi aset dan kewajiban finansial kepada Bank Indonesia. secara langsung atau melalui pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.000.1/9/PBI/1999. 3) Surat Edaran Bank Indonesia No.000/ perkekurangan/tidak benar sampai max. Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.000 + denda keterlambatan (3) Laporan tidak lengkap dan atau tidak benar : Denda Rp 100. Maka untuk menyesuaikan kurs mata uang dilakukan kebijakan devaluasi. 123 .000. b. Bank Indonesia berwenang meminta keterangan dan data mengenai kegiatan lalu lintas devisa yang dilakukan oleh penduduk. 100. Yaitu menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri (asing).(4) Tidak menyampaikan laporan 6 periode berturut-turut atau paling lama 6 bulan. mengatur kewajiban bank dan LKNB menyampaikan keterangan dan data mengenai kegiatan lalu – lintas devisa. antara lain memuat ketentuan sanksi: (1) Terlambat melapor : Denda Rp 5.

915 8. Impor dan Saldo TB (1973-1990) (dalam juta $) Periode 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Ekspor Barang dan Jasa 3. IMF sendiri akan menyetujui perubahan kurs itu apabila IMF menganggap perbaikan itu perlu dijalankan”. Akibat Devaluasi Harga barang-barang yang menggunakan bahan baku impor akan naik akibat naiknya kurs dan pada akhirnya harga barang-barang lain juga akan naik.006 12.432 25. Artikel IV section 5 9a) dan (f) disebutkan bahwa “negara-negara anggota menyetujui untuk tidak perlu menyampaikan usul pada IMF mengenai perubahan paritas kurs mata uangnya. Tujuan Devaluasi : (1) Untuk merangsang perluasan ekspor akibat penerimaan yang bertambah dari para eksportir (2) Untuk menurunkan impor karena bertambah mahal akibat kenaikan kurs. 2.241 24.696 11. 3. Termasuk Off Transfer -476 598 -1.929 11. Dalam persetujuan perjanjian IMF. (2) rasio ekspor-impor terhadap PDB dan (3) dinilai tukar perdagangan (terms of trade) 1.836 6. Perkembangan Saldo Transaksi Berjalan • Transaksi Berjalan (TB) adalah perhitungan antara saldo ekspor-impor barang dengan saldo ekspor-impor jasa atau kalau digabung TB adalah perhitungan antara ekspor barang dan jasa dengan impor barang dan jasa. TUJUAN DAN AKIBAT DEVALUASI 1.011 -566 124 .025 8. Alasan Devaluasi: karena telah terjadi ketidak-seimbangan (defisit) neraca pembayaran.464 7.327 15.694 Saldo TB. ASPEK SOLVABILITAS NERACA PEMBAYARAN LUAR NEGERI Bagaimana peran ekspor-impor terhadap perekonomian nasional bisa dilihat dari berbagai indikator.754 14. 5.160 9.552 22.602 19. Perkembangan Ekspor.109 -907 -51 -1. (3) Dengan meningkatnya ekspor dan menurunnya impor maka neraca pembayaran seimbang (tidak defisit) dan diharapkan cadangan devisa akan bertambah. seperti : (1) saldo transaksi berjalan.306 7.• ALASAN.878 Impor Barang dan Jasa 3. kecuali bila dianggap perlu melakukan koreksi atas suatu disekuilibrium fundamental neraca pembayaran.413 980 3.774 10.

karena saat itu jumlah PDB sebesar $231.911 -2. Rasio itu pada tahun 1996/1997 meningkat menjadi 55.858 32.021 26.142 21.856 -1.0%. 6.397 -1.139 15. makin besar sumbangan ekspor impor terhadap PDB. • Besarnya % nilai ekspor dan impor terhadap PDB tersebut menunjukkan bahwa keterpaduan ekonomi Indonesia masih lemah.411 29.909 miliar dan nilai impor $10.1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 21.324 -6.150 20. Rasio Ekspor Impor terhadap PDB • Besar kecilnya rasio ekspor impor terhadap PDB menunjukkan besar-kecilnya peranan atau sumbangan perdagangan luar negeri terhadap PDB. Ekonomi Indonesia sangat tergantung pada ekonomi luar negeri.318 24. H.. EFEK NILAI TUKAR PERDAGANGAN (TERMS OF TRADE) • Pengaruh Perdagangan luar negeri dapat diketahui melalui indikator indeks nilai tukar perdagangan (terms of trade) perubahan terms of trade (TOT) dari tahun ke tahun akan mempengaruhi besarnya pendapatan domestik bruto (GDY = Gross Domestic Yield). yang berarti pula makin besar pengaruh perdagangan luar negeri terhadap perekonomian nasional. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh TOT terhadap GDY.866 22.038 -5. nilai ekspor saat itu $21. Tambunan.972 18. 1996).400 miliar.175 22. Pm = --------.923 -3. International Financial Statistic (dikutip dari : Tulus T.098 -1.800 miliar. Makin bsar rasio ekspor impor terhadap PDB. 100% XK MK Keterangan : 125 .187 23.732 26.152 20. 1) Menentukan indeks harga ekspor (Px) dan indeks harga impor (Pm). 2..455 26. maka perlu dilakukan prosedur sebagai berikut : (Suseno. 1979 dan 1980 yaitu pada masa oil boom I dan II.909 maka kalau kita hitung rasio ekspor – impor erhadap PDB pada tahun 1980 sebesar 47.369 Sumber : IMF.913 miliar. 1995).370 25.) kecuali pada tahun-tahun 1974.108 -2. sedang total nilai ekspor + impor sebesar $128. • Hampir setiap tahun TB mengalami saldo defisit ( . • Tahun 1980 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar $69.338 -1.7%.274 19.832 21. XB MB Px = --------. 100% .

5 (1998) menjadi 103.8 559.2 116.550.925.1% 103.9 (2002).550.374.XB XK MB MK = ekspor harga berlaku = ekspor harga konstan = impor harga berlaku . 2002 (miliar rupiah) Uraian 1998 Indeks harga berlaku (Px) 375.5% Kapasitas Impor (Cm) 162. atau ------.985.707.9 4.8% Indeks harga konstan (Pm) 312.5 2002 487. XB XK Cm = ------.1 Impor harga konstan (MK) 132. 100%. 126 . sehingga ENT tahun 2002 hanya Rp 4.3 • Harga ekspor dan impor konstan 2002 lebih kecil dibandingkan harga ekspor dan impor konstan 1998.330.7 97.5 Perhitungan ENT dan GDY 1998.1 PDB s/d harga konstan 1993 376.058.1 Impor harga berlaku (MB) 413..8 miliar dibandingkan ENT tahun 1998 sebesar Rp 27..9% 121.631.7 426.258.941.8 GDY s/d harga 1993 403.9 Ekspor harga konstan (XK) 134.244.589.8 miliar. TOT Pm 100 4) Menentukan efek nilai tukar perdagangan luar negeri (ENT) ENT = Cn – XK 5) Menentukan nilai Pendapatan Domestik Bruto (GDY) GDY = PDB + ENT • Contoh Perhitungan : Tabel Ekspor Impor menurut Harga Berlaku dan Harga Konstan 1993 (miliar rupiah) Uraian 1998 2002 Ekspor harga berlaku (XB) 506. 100% Pm 3) Menentukan nilai kapasitas impor (Cm).1 459.. yaitu kemampuan mengimpor barangbarang dari luar negeri berdasarkan nilai ekspor.0% Term of Trade (TOT) 120.8 431.589.impor harga konstan 2) Menentukan indeks nilai tukar atua terms of trade (TOT) Px TOT = ------.400. menyebab TOT menurun dari 120.740.496.907.0 Efek Nilai Tukar (ENT) 27.5% 469.

Kebijakan ini meliputi tindakan/ kebijakan pemerintah rekening modal (Modal di Luar Sektor Moneter): menyangkut lalu lintas modal masuk dan keluar. arah serta bentuk dari pada perdagangan dan pembayaran internasional. b.5/ 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat: untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha. (2) kebijakan pembayaran internasional. Mengundangkan UU No. Penghapusan pembatasan penanaman modal asing (PMA): di bidang perkebunan kelapa sawit. Peraturan BI. • Instrumen kebijakan ekonomi internasional meliputi : (1) kebijakan perdagangan internasional. 2) KEBIJAKAN PEMBAYARAN INTERNASIONAL a. penjaminan. PBI No. pinjaman (loans): b. 1) KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL a. Bank Ekspor Indonesia (BEI): menyediakan pembiayaan. 24/ 1999 tentang lalu lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar 4. ANALISIS KEBIJAKAN NERACA PEMBAYARAN LN • Kebijakan ekonomi internasional dalam arti luas adalah tindakan/ kebijakan ekonomi pemerintah yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi komposisi. TINDAKAN/ KEBIJAKAN PEMERINTAH : (1) Mengundangkan UU No. Cakupan kebijakan meliputi tindakan pemerintah terhadap transaksi-transaksi dalam b. 2.7. perdagangan eceran dan grosir. Dalam arti sempit kebijakan ekonomi internasional adalah tindakan/ kebijakan ekonomi pemerintah yang secara langsung mempengaruhi perdagangan dan pembayaran internasional. Pengesahan kerangka kerja sama investasi antar ASEAN 3.1/9/PBI/1999: ketentuan mengenai kewajiban pelaporan lalu lintas (kegiatan) devisa melalui Bank dan LKBB. (3) Mendirikan PT. (2) kebijakan bantuan luar negeri. jasa konsultasi dan usaha lain untuk meningkatkan ekspor. (2) Menurunkan tarif pajak ekspor (beberapa produk tertentu): untuk meningkatkan daya saing. 3) KEBIJAKAN BANTUAN LUAR NEGERI a. Tindakan/ kebijakan pemerintah : 1. Tindakan/ kebijakan pemerintah : Pemerintah bersama bank Indonesia meneruskan upaya penyelesaian masalah utang luar negeri dan dalam negeri salah satu penyelesaian utang luar negeri adalah : 127 . Kebijakan bantuan luar negeri adalah tindakan/ kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan bantuan (grants).

Yogyakarta. Ekonomi Internasional. Hutaba rat. Transaksi Ekspor-Impor. 2002. T. Boediono. Terjemahan oleh Rudy P. Dr. Penerbit Erlangga. (2) Hasil kesepakatan pertemuan London: menukarkan utang luar negeri antar bank (exchange offer) yang jatuh tempo antara 1-4-1999 s/d 31-12-2001 dengan utang baru yang jatuh tempo antara tahun 2002 hingga tahun 2005. Indikator Ekonomi. Jakarta. 2001. Tahun 1998. 8.. 2001. Bank Indonesia. Dasar Perhitungan Perekonomian Indonesia. Tulus. Triyono Widodo. 1995. Tambunan. 2. Kindleberer. Perekonomian Indonesia. Penerbit Erlangga. H. Laporan Bank Indonesia. Nopirin.. Penerbit Kanisius. Opposunggu. 5. MONETER DAN BANK Bank Indonesia : 128 .. 1999. 1985. 1994. jakarta. jakarta. Dr. …… 1990 3. Suseno Hg.. Ghalia Indonesia. Sitompul. Jakarta. (3) Fasilitas yang diberikan kepada para debitor dan kreditor untuk menyelesaikan masalahnya melalui PRAKASA JAKARTA dan INDRA (Indonesia Debt Restruturing Gency) DAFTAR BACAAN 1. Dra. Kebijaksanaan Devaluasi di Indonesia.T.. Diterbitkan oleh BPFE. 1983. 2000.H.M. Penerbit Erlangga. 1992.(1) Pemerintah melanjutkan kesepakatan Frankfrut 4 Juni 1998 mengenai restrukturisasi utang jangka pendek antar bank melalui pertemuan di London 29 Maret 1999. Dr. 4. Ekonomi Internasional. Ekonomi Internasional. 6. Roselyne. 7..

Kredit  M2  inflasi meningkat kebijakan DPT dengan SBI dan CAR & LDR a.- Menjaga stabilitas harga/ inflasi Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah 1. CAR : Tujuan Manfaat LDR : Tujuan Manfaat 2. Susunan/ Rumus Mo dan M2 M0 M2 Inflasi  sasaran operasional  sasaran antara  sasaran akhir 129 . Mekanisme SBI Bila M2 (kelebih likujiditas)  Bunga SBI  likuiditas Bank : 50% beli SBI 50% beli kredit b.

9 -11.8 4.0 -1.3 -3.1 4.LPG -46.8 b.1 -2.0 5. Migas -2.0 1.6 -2.2 -32.1 10.7 -3.1 1) Non Migas -4.0 130 .4 -13.5 0.4 2) LNG B.7 4.9 14.6 .9 16.3 -14.5 -1. Lalu – lintas Moneter Catatan : 1.4 41. Pelunasan pinjaman 2) Lalu lintas modal swasta (nt) a. Cadangan Devisa Bersih (NIR) 3.1 51.0 b.5 -2.4 3.Minyak 4.1 .4 -1.5 0.0 0.4 10.8 21.7 -2.3 -0.9 -0. Jasa -10. Transaksi Berjalan -5.1 -9.6 -2.2 20.4 a.Minyak -0.LNG -15.7 7.5 10.4 4.3 1999 5. Selisih perhitungan C dan E E. Penerimaan pinjaman b.1 1.2 .9 -3.4 1) Minyak -2.9 2) Migas -4.3 a.Lampiran : Neraca Pembayaran Indonesia 1997 – 2001 (Standar Bank Indonesia) 1995 – 1998 (Standar IFM) NERACA PEMBAYARAN INDONESIA 1997 1998 Rincian MILIAR $ A.3 4. Transaksi Berjalan (%) 2.9 10.4 4.3 1) Non Migas 44.9 2) Migas 11.7 -13. Penanaman modal langsung b.2 6.2 2. Lainnya C.o.4 -1.3 -27.3 23. Export f.6 42.b -41.4 27. Impor f.0 13.6 2.5 -11.3 50.7 -0.4 -3. Modal di luar Sektor Moneter 1) Lalu lintas modal pemerintah (bersih) a.3 -31.1 .4 6.4 2.9 7.7 4. Non Migas -4.6 -0.1 18.8 8.1 -29.3 -7.2 2.0 -2. Aktiva Luar Negeri (GFA) Setara impor nonmigas (bulan) 2. Jumlah (A + B) D.7 -5.9 -3.8 -2.LNG 0. Barang 10.6 -3.o.3 .1 -14.6 4.1 -1.4 -3.6 -4.b 56.9 -4.5 17.

4 2) LNG B.4 -4.6 -40.3 15.b 51.0 -4. Impor f.Minyak 4.4 1) Non Migas -4.9 -2.Minyak -0.LNG 0.3 -0.1 29. Pelunasan pinjaman 1) 2) Lalu lintas modal swasta (nt) c.0 2) Migas -3.8 12.8 3.2 6.3 28.9 7.6 -5.1 6.8 -10.1 -8.4 .2 5.7 -2.0 6.0 -1.0 -31.6 b.4 -5.6 -5.2 2. Selisih perhitungan C dan E E.9 2. Jasa -11.6 -34. Penanaman modal langsung d. Transaksi Berjalan 5.4 1.3 -6. Migas -1. Export f.7 8. Jumlah (A + B) D.0 50.2 65.2 -4.6 -5.0 a.4 0.3 -3.7 -12.0 2001 5.8 .7 -7. Modal di luar Sektor Moneter 1) Lalu lintas modal pemerintah (bersih) a.b -26.o.6 5.NERACA PEMBAYARAN INDONESIA 1999 2000 Rincian MILIAR $ A.o.5 a.1 2.LNG -14.0 1. Penerimaan pinjaman b.2 1.2 1) Minyak -1.3 -2.7 -5.1 5.2 .8 . Lalu – lintas Moneter 2) Catatan : 1.0 5.6 -8.2 5. Transaksi Berjalan (%) -4.LPG -30.9 -17.3 -16.7 45. Non Migas -3. Cadangan Devisa Bersih (NIR) 3. Lainnya C.0 -6.9 -2.4 131 .7 -12.9 -2.6 25.2 -2. Barang 20.4 6.7 -3.5 -2.8 -5.4 0.0 21.1 -3.7 4.6 58.6 1.3 2) Migas 10.9 -0.1 3.4 27.4 1) Non Migas 41.2 3.4 b. Aktiva Luar Negeri (GFA)3) Setara impor nonmigas (bulan) 2.6 -9.8 8.0 .3 -0.3 3.4 -37.4 7.

d.801 1.768 6.811 -926 2. Swasta -7 8 11.677 ----199 2.504 -4.2.371 -31.o.533 5.236 -8.210 -72 -3.955 -1.240 Barang dagangan impor f.229 0 -8.429 -14.223 -5.1.332 -264 -4.o. Lalu lintas -1.921 -44. Barang 42.542 516 -7.710 9.387 B. Hibah 10.292 -9 156 0 -3.176 pengangkutan lainnya 4.284 10.504 -3.267 -8.3 Lalu lintas -1.074 -15. Swasta 9.820 -9.947 0 -7. Pemerintah 10.110 219 -524 273 4.008 5.363 51. Pemerintah -0 b. Ongkos -7.947 -1.233 4.168 luar negeri 5.357 -2.188 dagangan ekspor f..057 3.735 -2.078 -15. Pemerintah -5 3 b.907 -8.451 modaljangka panjang lainnya -12 48 a. 7) 8.229 -2.337 -852 2.189 -78 -2.2 Obligsi -4. Penanaman --modal langsung dan lalu lintas modal jangka panjang lainnya 5.268 6.b -40.439 0 1.454 50.482 0 2.245 0 -2.293 -13.946 -2.920 -5.726 804 -804 5.478 4.2.250 5.760 -7.097 -6.548 132 .289 11.058 6.841 508 -508 4.1.435 -31.867 penggangkutan dan asuransi -695 -1.638 8. Jasa modal dan penanaman 6. Sektor moneter 12. Lalu lintas Modal --D. Neraca barang dan Jasa -6.033 -2.338 1.614 -6.875 4.343 2.245 4.018 Berhubungan dengan impor 3.692 6.651 1998 3. Jasa modal -5.084 -934 4.756 -8.354 -356 ---4.030 -1.2.154 -9.787 3.225 a. Pemerintah 330 125 tidak termasuk bagian lain --7. Jasa lain-lain 330 125 Neraca barang (1) -6.344 6 132 0 -2.346 6.430 -7.212 4. Ongkos -4.189 -11.075 309 -309 -4.323 ---7.511 modal jangka pendek 0 1 11.676 Neraca Jasa ( 2 s.b 2.773 18. Perjalanan -2.749 6.942 -3.589 50.001 56.70 -2.Neraca Pembayaran Indonesia 1) (juta $) Rincian 1995 1996 A.516 -4.077 20.194 D.219 -3. Pemerintah -2.103 10. Swasta D. Jasa modal dari sektor minyak -183 -225 bumi dan LNG -2.1. Diluar sekotr moneter --10.613 C.492 -4.948 modal langsung dan lainnya -13.938 419 10.091 10.874 -6.123 19992) 4.297 -46.907 1. emas moneter 1997 -5. Swasta -4.858 -3.157 -6.225 10.142 0 -1.1 Penanaman modal 31 -672 langsung 5.571 -2. Transaksi Berjalan (A + B) 4.

Tujuan Khusus Agar mahasiswa dapat menjelaskan : • Peran sektor moneter di Indonesia • Peran Sektor Perbankan di Indonesia • Instrumen dan analisis kebijakan Moneter • Peran pasar modal di Indonesia c. SATUAN ACARA PERKULIAHAN a. Lain-lain E. SEKTOR MONETER.1. Valuta asing 16. Materi Pembahasan : • Peran sektor moneter di Indonesia 133 . Special Drawing Rights 14. Selisih perhitungan (antara C dan D)3) 1) Penyaji an menur ut standar iMF 2) Proyek si per 30 Novem ber 1999 3) Positif berarti detaild an negatif berarti surplus PEREKONMIAN INDONESIA MUNAWIR. Hubungan dengan IMF 15. PERBANKAN DAN PEMBIAYAAN VIII. Tujuan Umum Agar mahasiswa dapat memahami sektor monetr.13. SE VIII. perbankan dan pembiayaan b.

Pada masa orde baru. inflasi memasuki alam baru akibat langkah-langkah positif yang diambil pemerintah untuk mengatasinya. PERAN SEKTOR MONETER DI INDONESIA a. PENDAHULUAN • Peranan sektor keuangan semakin penting. HMT. Akbiatnya perkembangan besaran-besaran moneter di dalam negeri semakin sulit di kendalikan (Syahrir. walaupun anggaran domestik dari APBN merupakan arus inflasioner yang besar (Oppusunggu. karena : (1) Semakin meningkatnya financial deepening (2) Semakin bervariasinya produk-produk keuangan karena terjadi financial inovaction (3) Terjadinya globalisasi sehingga pasar keuangan dunia semakin terintegrasi • Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mempercepat terjadinya trans nasionalisasi keuangan. timbulnya innovasi produk dan meluasnya sekuritas.2.• • • • (1) Perkembangan inflasi di Indonesia (2) Kebijakan dan Tindakan Pengendalian Inflasi Perkembangan Uang Primer dan Uang Beredar (1) Peranan uang dalam perekonomian (2) Uang primer dan faktor yang mempengaruhinya (3) Uang beredar dan faktor yang mempengaruhinya Peran sektor perbankan di Indonesia (1) Perkembangan Perbankan di Indonesia (2) Kebijakan Perbankan Sesudah Krisis 1997 Instrumen dan Analisis Kebijakan Moneter (1) Instrumen yang bersifat kualitatif (2) Instrumen yang bersifat kuantitatif Peran Pasar Modal dalam Perekonomian Indonesia (1) Perkembangan Pasa Modal di Indonesia (2) Pasar modal sbagia sumber pembiayaan MATERI PEMBAHASAN VIII. Perkembangan Inflasi di Indonesia • Perkembangan yang berulang menimpa perekonomian kita mencapai puncaknya dengan “tiga angka” pada masa 100 Menteri dan memberikan gambaran klasik dengan berlakunya teori kuantitas uang. Defisit APBN yang dulunya merupakan sumber utama kenaikan uang dalam peredaran dapat dialihkan menjadi surplus. 1985). 134 . 1995) A.

8% (1993).0% (1999). 3. minuman dan rokok.2% (1994). terdiri dari : (1) bahan makanan. (7) kesehatan.3% (2000). (Laporan Tahunan BI. Jenis bararng dan jasa yang diliput dewasa ini sekitar 400 item. Angka ini tertinggi di antara negaranegara ASEAN. misalnya kenaikan UMR di semua propinsi. sedangkan jumlah barang di pasar sedikit. 8. 3. .H.9%. tingkat inflasi rata-rata per tahun di Indonesia mulai tinggi lagi walaupun beelum pernah mencapai sampaid I atas 10. • Laju inflasi selama periode 1997 – 2002 sebagai berikut : 11.. Penyebab Inflasi Secara Umum (1) Cost – Rust Inflation (CP) CPI adalah faktor penyebab inflasi dari sisi penawaran.• Sejak akhir tahun 1980-an. 1999 – 2002) b. 9. Cara Menghitung Tingkat Inflasi • Sejak April 1979 angka inflasi dihitung oleh Biro Pusat Statistik (BPS) berdasarkan perubahan Indek Harga Konsumen (umum) gabungan 17 kota-kota besar di seluruh Indonesia. Kondisi moneter yang stabil menyeabkan tingkat inflasi IHK selama tahun 2002 cenderung menurun hingga 10. 12. Tambunan. Meningkatnya tekanan haarga terutama berasal dari sisi penawaran sebagai akibat depresiasi rupiah yang sangat tajam pada tahun 1997/1998. (2) Demand – Pull Inflation (DPL) • DPI adalah faktor penyebab inflasi dari sisi permintaan. Singapura dan Thailand relatif rendah dan merupakan negara-negara di ASEAN yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi.6% (1993). 2. (2) makanan jadi. Inflasi di Malaysia. Selama periode 1993 – 1995 laju inflasi sebagai berikut : 9. (5) pendidikan rekreasi dan olah raga.6% (1998).6% (1995). • Sejak April 1989 angka inflasi dihitung berdasarkan perubahan IHK umum gabungan dari 27 kota-kota besar (sesuai jumlah propensi) di seluruh Idnoensia. misalnya Malaysia: 3.7% (1994).1% (1997). ongkos tenaga kerja juga sering menjadi salah satu penyebab utama CPI.0%. 1995). Peningkatan permintaan agregat domestik bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Selain biaya produksi lainnya. (6) perumahan.03%. 1996). misalnya oleh monetger perbankan 135 c. 1997/1998. Laju inflasi selama tahun 1998/1999 mencapai 45. Sebelum itu inflasi dihitung berdasarkan Indek Biaya Hidup (umum) kota Jakarta yang meliputi 62 jenis barang dan jasa. Dr. Menurut teori moneter ekses permintaan ini disebabkan terlalu banyaknya uang beredar (M1) di masyarakat. seperti halnya yang dialami Indonesia (Tulus. Suseno Triyanto. T. Hg.2% (1995). (3) sandang.0% (2002). Sedang Indeks Harga Konsumen IHK meliputi 115 – 150 jenis barang dan jasa (Widodo. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak harus dengan laju inflasi yang tinggi pula. (4) transportasi dan komunikasi. tiga tahun terakhir laju inflasi : 9. 77.5% (2001) dan turun 10.

1%) pada tahun 2001. 2001). Indikatornya : masih rendahnya kapasitas terpakai sektor industri pengolahan (39% . (2) Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan Kebijakan pemerintah dalam tahun 2001 menaikkan harga barang dan jasa seperti BBM.0%.35%.24%. Tingginya ekspektasi inflasi pada produsen dan pedagang sepanjang tahun 2001 terutama dipengaruhi oleh tingginya inflasi tahun 2000 yang mencapai 9. • Sebab lain terjadinya inflasi : a) Imported Inflation (depresiasi Rp…. Sedangkan ekspektasi para konsumen terutama dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan harga barang-barang yang dikendalikan pemerintah dan ekspektasi nilai tukar rupiah. bulan Juli menguat 21.51%) dan menurunnya produksi tanaman bahan makanan (sumbangan pada PDB berkurang 1.dalam bentuk ekspansi kredit atau penurunan suku bunga pinjaman dan deposito. air miinum dan rokok serta menaikkan upah minimum tenaga kerja swasta dan gaji pegawai negeri diperkirakan memberikan tambahan inflasi IHK sebesar 3. (Laporan Bank Indonesia Tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi (1) Meningkatnya Kegiatan Ekonomi Meningkatnya kegiatan ekonomi mendorong peningkatan permintaan agregat yang tidak diimbangi dengan meningkatnya penawran agregat karena adanya kendala struktural perekonmian. (4) Tingginya ekspektasi inflasi masyarakat Tingginya inflasi IHK tidak lepas dari pengaruh ekspektasi inflasi oleh produsen dan pedagang serta konsumen. harga barang LN) b) Administrasi Goods (naiknya harga BBM. namun harga hanya turun (deflasi) sebesar 0. KEBIJAKAN/ TINDAKAN MENGENDALIKAN INFLASI Bank Indonesia telah menempuh berbagai upaya untuk mencapai sasaran inflasi : 136 . seperti pada bulan Agustus menguat 4.0%. antara lain : • Perilaku harga cenderung mudah meningkat karena pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah • Perilaku harga cenderung sulit untuk turun apabila nilai tukar rupiah menguat. tarif listrik) c) Output Gap (Perbedaan output potensial dan aktual) d. (3) Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Pengaruh kuat depresiasi nilai tukar rupiah diketahui dari hasik penelitian bank Indonesia. listrik.83%.

Perenana Uang Dalam Perekonomian • Fungsi dasar uang adalah : (1) uang sebagai alat tukar (medium of exchange). Menyerap kelebihan likuiditas Untuk meredam melemahnya nilai tukar rupiah terhadap inflasi BI berupa menyerap kelebihan likuiditas melalui instrumen operasi pasar terbuka. karena semakin banyak pula penggunaan uang dalam berbagai transaksi perekonomian. (2) uang sebagai alat penyimpan nilai atau tenaga beli (Store of value). Karena konsep ini akan membawa kita kepada observasi yang lebih mendalam tentang besar kecilnya suatu sistem keuangan dalam suatu negara. Financial Deepening dan Rasio M1/M2 137 . 2. 1988) • Financial Deepening Pembahasan tentang masalah moneter dalam suatu negara sering kali harus dimulai dengan pembahasan tentang financial deepening.1. (5) uang sebagai alat pengukur utang atau pembayaran di saat yang akan datang (standard for deferred payment) (Sri Mulyani Indrawati. B. PERKEMBANGAN UANG PRIMER DAN UANG BEREDAR 1. Mengurangi ekspektasi inflasi yang tinggi BI menetapkan sasaran inflasi yang rendah pada awal tahun. Semakin tinggi suatu perekonomian maka semakin besar perran sistem keuangan. 3. Melakukan Sterilisasi Valuta Asing BI melakukan kebijakan pembatasan transaksi rupiah oleh bukan penduduk. Dari tabel di bawah ini dapat dilihat bahwa M1/PDB dan M2/PDB yang merupakan proksi dari financial deepening mengalami peningkatan yang semakin besar sejak tahun 1995 (Sjahrir. 1995). Sedangkan fungsi tambahannya meliputi : (3) uang sebagai satuan hitung (unit of account) dan (4) uang sebagai pengukur nilai (measure of value).

902.9 10.4 1996 413.2 22.936.5 124.104 23. 1995) (2) 1995 – 199 diolah dari Laporan Tahunan BT Tahun M1/M2 43.9% (1985) menjadi 20.4 35.0 14.0 78. MO = Uk + R Uk = Uang kertas + logam yang ada di masyarakat di tambah 138 .4% 91995) menjadi 171.153 11.1 82.677 222.7% an 30.792.7% (1990) dan dari 14.7 1999 376.643 18.089 288.081.6% (1990) dan dari 60. M1 M2 M1/PDB M2/PDB ‘83 1985 85.7 1987 94.489 570.0 17.4 42.6 (HK ’83) 1995 368. Dapa diduga hal inii berkaitan dengan terjadinya ekspansi moneter.6 100.080.921.2% (1995) menjadi 73.685 33. Uang Primer dan Yang Mempengaruhinya a.078 58.1 1990 114.638 14.4% 91999).0 30.045 18.936..3 34.6 28.9 1988 99. Artinya penggunaan M2 semakin banyak.525 26.661 13. yaitu dari 11.205 30.6 19.7 1997 433.3 52.3% (1995) menjadi 30.885 13. (2) Demikian pula M2/PDB meningkat terus.9 27.7% dan 20.0 1989 107.7 73.1 23.1 1998 376.382 41.3 • Beberapa catatan dari tabel di atas : (1) M1/PDB mengalami peningkatan yang semakin besar.630 20.7 54. Komponen Uang Primer (MO) Komponen uang primer (MO) terdiri dari uang kartal (Uk) dan cadangan ( R ).7%).6 42.1 171.0 20.2 37.4 Sumber : (1) 1985 – 1990 (Sjahrir. yaitu uang kartal dan uang giral (M1).343 355. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dalam negeri menyebabkan masyarakat lebih senang memegang uang kartal. Demikian pula setelah krisis moneter (26.7 151.1% (1999).632 15.8 12.6 22.5 11.PDB HK. 2.1%).2 1986 90.3 60. Hal ini menunjukkan semakin pentingnya penggunaan broad money (M2) dalam perekonomian (3) Setelah Pakto ’88 Financial Deepening meningkat begitu besar (18.051.0 23. yaitu dari 27.998 14.3 69. atau giral (4) Ratio M1/M2 terlihat semakin menurun.797.246.819 84.633 646.9 64. pertanda makin berfungsinya uang dalam arti luas IM2) dari pada uang dalam arti sempit.677 27. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi transformasi penggunaan M1 ke M2.517.

1 64..4 -8.7 28.8 51.6 -40.0 Sumber : Laporan Bank Indonesia Tahun 2000 • Dilihat dari sumbernya / komponennya maka kenaikan uang primer dari Rp 1001.3 -98.5 -12.6 1.7 1.7 37. maka terlihat: Karena meningkatnya cadangan devisa bersih (net international reserves atau NIRO sebesar Rp 1.1 133.9 94.6 triliun (2000) atau naik Rp 23.0 IV 125. 139 .1 -107. rendahnya suku bunga deposito riil dan karena motif untuk berjaga-jaga.3 16.9 58.6 -19.7 triliun.3 33.Lainnya bersih (NOT) 1999 101.0 -11.0 125.2 97.8 114.4 29. • Dilihat dari faktor yang mempengaruhinya.2 2000 II III Triliunan rupiah 94.9 -108.5 -133.6 0.7 148.2 28. Sepanjang tahun posisi NIR selalu berada di atas batas bawah (floor).3 18.8 72.Tagihan lainnya .4 65.di masyarakat .9 -137.7 37.Bantuan likuiditas . Primer Cadangan devisa bersih (NIR) Aktiva Domestik bersih (NDA) .3 37.3 37.5 1.1 triliun dan Giro Bank + Giro Swasta pada BI sebesar Rp 6.7 72.di perbankan Giro Bank pada BI Giro Sektor Sasta Faktor-faktor yang Mempengaruhi uang.6 -15.9 23.9 2.Kredit likuiditas .3 17.6 37. Karena posisi aktiva domestik bersih (net domestik assets atau NDA) cenderung selalu bearda di bawah batas atas (celling).7 1.1 -7.4 88.6 165.9 1.1 5.8 10.4 Perubaah tambahan 23.1 159.8 triliun (1999) menjadi Rp 125.5 triliun.4 -155.8 0.8 triliun disebabkan karena meningkatnya uang kartal sebesar Rp 17.1 1.9 8.8 0.1 1.8 -137.6 58.1 101.8 17.4 I 88.7 149.6 89.0 -29.6 27.8 -19.5 8.1 113.6 55.Tagihan bersih pada pemerintah .9 59.7 1.1 -86. Yang mempengaruhi uang primer (MO) Uang Primer 2000 Rincian Uang primer Uang kertas + logam .R Uang kertas + logam yagna da di perbankan = Giro perbankan yang ada di bank Idnoensia Ditambah Giro Masyarakat/ swasta yang ada di bank Indonesia b. Meningkatnya uang kartal karena meningkatnya aktivitas ekonomi.0 3.8 miliar atau setara Rp 124.5 -78.Operasi pasar terbuka .1 14.4 17.6 124.2 23.6 97.8 1.4 miliar sehingga akhir tahun 2000 menjadi $1.7 1.1 116.4 -86.2 8.4 14.9 129.3 15.

6% (Rp 100.Dilihat dari tugas Bank Indonesia.5 Tagihan bersih pada BPPN 0.8 444.0 68.1 41.M1 mengalami kenaikan sebesar 20.Ini terlihat bahwa posisi NDA pada akhir tahun 2000 berada pada posisi RP 1.3 0.6 123.Komponen uang beredar (M2) terdiri dari uang kartal (Uk) + uang giral (Ug) + uang kuasi (Uq) M2 = M1 + Uq ---.1 triliun (positif) yang pernah terjadi sebelumnya.7 520.0 210.5 81.9 36. maka uang beredar (M2) mengalami kenaikan 15.1 0.9 Faktor yang mempengaruhi M2 Aktiva luar negeri bersih 17. 3. Uang Beredar dan Faktor yang Mempengaruhi a.3 49.8 584.3 11.2 2000 Posisi 162.6 5. Komponen Uang Beredar (M2) .2 67.2 triliun (akhir 2000) 140 .9 Sumber : Laporan Bank Indonesia Tahun 2000 • Berdasarkan Sumber / Komponennya. Yang Mempengaruhi Uang Beredar (M2) Rincian M1 Uang Kartal Uang Giral Uang Kuasi Deposito dan tabungan Rp Tabungan dalam Valas M2 1997 1999 2000 Perubahan (triliun Rp) 14.0 14.5 52.Berlangsungnya OPT b.4 37.M1 = Uk + Uq M2 = Uk + Ug + Uq Ug = Giro masyarakat yang ada di perbankan Uq = Deposito dan tabungan dalam rupiah di perbankan ditambah Simpanan dalam valuta asing .3 23.8 100.0 42.9 17.4 -4.Penetapan besarnya RR .0 294.1 Lainnya (bersih) -70.3 -146.8 triliun) menjadi Rp 747.1% (Rp 37.5 23.0 8.8 45.2 72.3 Tagihan pada pemerintah bersih -16.6 425.3 6.0 Tagihan pada sektor usaha 137.9 -278.4 89.8 -12.5 27.7 -14.0 triliun karena : .7 140.2 747.6 triliun) sehingga mencapai posisi Rp 162. maka : M1 = merupakan sasaran antara MO = merupakan sasaran operasional BI mempengaruhi MO melalui : .4 63.3 -29.7 -299.

jumlah bank yang beroperasi adalah 164 bank. bank pemerintahan menikmati privilege dana BUMN.3 triliun dan aktiva luar negeri bersih sebesar Rp 81. 2 BUSN dan 2 bank umum eks bank campuran serta pendirian 2 bank Persero.6 triliun akibat kenaikan penerimaan minyak.853 kantor (1999). Pada akhir tahun 1999. . Penurunan ini berasal dari pembekuan 38 BUSN dan penutupan 2 bank umum eks bank campuran. PERBANKAN DI INDONESIA PERAN SEKTOR a. C.Berbeda dengan keadaan sebelum krisis (1997).3 triliun. menurun cukup drastis dari 208 bank tahun sebelumnya.1% (Rp 63. Sedangkan tagihan pada pemerintah merupakan faktor pengurang (mengurangi) sebesar Rp 16. 2.5 triliun.1 triliun. kenaikan M2 terutama disebabkan adanya kenaikan tagihan sektor swasta Rp 137..Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya maka peningkatan M2 tahun 2000 disebabkan karena meningkatnya tagihan bersih pada pemerintah Rp 123.1 triliun dan kenaikan aktiva luar negeri bersih Rp 17. tetapi juga bank pemerintah dan bank asing. . persaingan tidak hanya muncul di antara bank-bank swasta nasional. Persaingan yang dihadapi oleh bank juga semakin ketat sehubungan dengan berkembangnya sumber dana alternatif seperti pasar modal dan jenis-jenis lain seperti lembaga keuangan modal ventura. jumlah bank umum beserta jaringan kantornya mengalami penurunan. tagihan pada sektor swasta Rp 42. Perbankan Sesudah Krisis Ekonomi 1997  Aspek Kelembagaan • Sebagai dampak dari restrukturisasi perbankan.3 triliun) sehingga pada akhir 2000 mencapai Rp 584. (Sjahrir. Bank Mandiri. Perbankan Sebelum dan Sesudah Pakto 1988 Struktur pasar yang dihadapi perbankan sesudah Pakto 1988 lebih kompetitif dibandingkan sebelum Pakto 1988.8 triliun.875 menjadi 1.Uang kuasi (Uq) mengalami peningkatan sebesar Rp 12. kredit likuiditas Bank Indonesia dan akses yang lebih besar terhadap dana luar negeri. PERKEMBANGAN PERBANKAN DI INDONESIA 1. Selain itu dilakukan penggabungan usaha (merger) 4 bank persero. Sebelum Pakto 1988. bank ampuran. • Dengan adanya merger 4 bank persero menjadi PT. Sementara itu jumlah BPR meningkat dari 141 . 1995). jumlah kantor bank (kelompok bank persero) juga mengalami dari 1.

4 triliun menjadi Rp 277. • Bulan Mei 1999 pemerintah menerbitkan obligasi senilai Rp 53.2% yaitu dari Rp 545. (Laporan bank Indonesia Tahun 1999)  Kegiatan Usaha Bank (a) Penghimpunan Dana Pihak Ketiga • Dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun perbankan meningkat 8. Deposito masih dominan. (a) Program Penjaminan Pemerintah • Pemerintah menyempurnakan persyaratan administrasi pengajuan klaim. Program Penyehatan Perbankan Program ini adalah kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permaslaahan yang dihadapi perbankan karena krisis (restorasi perbankan).9 triliun (1999). (b) Kredit Perbankan • Kredit perbankan menurun sebesar 49.772 BPR (1999) dan diantaranya 79 BPR beroperasi dengan prinsip syariah. Sementara pangsa giro dan tabungan semakin meningkat.7. (b) Program Rekapitalisasi • Tujuan program ini agar bank-bank memiliki kecukupan modal untuk operasi sebagai bank yang sehat.6% dari RP 625. KEBIJAKAN PERBANKAN SESUDAH KRISISI EKONOMI 1997 Strategi restrukturisasi perbankan di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua bagian besar: program penyehatan perbankan dan pemantapan ketahanan sistem perbankan.8 triliun. terkait dengan dialihkannya kredit macet ke Amu/ BPPN.3 triliun (1999). Untuk sementara pemerintah melakukan penyertaan modal melalui penerbitan obligasi senilai Rp 281.607 menjadi 7. yang terdiri dari: program penjaminan pemerintah. meskipun pertumbuhannya negatif. Besarnya penurunan kredit pada kelompok BUSN devisa. Selain itu obyek yang dijamin dibatasi. seluruh bank pesero dengan dana pemerintah 142 . Sementara penurunan pada kelompok bank persero. 1. program rekapitalisasi perbankan dan program restrukturisasi kredit. b. • Kebijakan Rekapitalisasi yang ditempuh : (1) Merekap..8 triliun untuk memenuhi kewajiban bank-bank yang dibekukan pada tahun 1998 dan 1999. karena adanya penutupan sejumlah BUSN devisa.3 triliun menjadi Rp 678.

membantu pendanaan BPR serta meningkatkan perarn BPR. (3) Merekap. BUSN yang CAR-nya antara – 25% sampai 4% dengan bantuan dana pemerintah apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Untuk membantu pendanaan BPR. 2. Kredit Kepada Pengusaha Kecil dan Mikro (KPKM) dan memperluas jaringan cakupan Proyek Kredit Mikro (PKM). BI hingga tanggal 16-11-1999 masih menyediakan bantuan likuiditas bagi penyaluran kredit modal kerja (KMK). • Pengembangan BPR: kebijakan pengembangan BPR di lakukan dengan menyehatkan BPR. Pemantapan Ketahanan Sistem Perbankan Program ini untuk membantun kembali sistem perbankan yang sehat dan kuat untuk mencegah terjadinya krisis dimasa yang akan datang. 143 . (a) Perbaikan Infrastruktur Perbankan • Langkah perbaikan infrastruktur perbankan diwujudkan dalam bentuk upaya pengembangan BPR.(2) Merekap. bank umum eks bank campuran yang CAR-nya kurang dari 4% dengan dana pemilik (partner asing) (4) Merekap. • Pengembangan Bank Syariah : kebijakan pengembangan bank syariah diarahkan kepada upaya untuk mempersiapkan perangkat peraturan upaya untuk penunang yang mendukung operasional bank syariah. (c) Program Restrukturisassi Kredit • Desember 1998 BI membentuk Satuan Tugas (Satgas) yang aktif ikut serta dalam pertemuan antara bank kreditor dengan perusahaan debitor. pengembangan bank syariah dan rencana pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). • Instansi lain yang ikut menyelesaikan: BPN untuk kredit bermasalah bank-bank di bawah pengawasannya dan Kantor Menteri Negara Penanaman Modal & Pemberdayaan BUMN untuk kredit bermasalah bank persero. seluruh BPD yang CAR-nya kurang dari 8% dengan dana pemerintah. Strateginya mengacu kepada 4 langkah : 1) Penyusun an perangkat peraturan tentang perbankan syariah 2) Pengemb angan jaringan bank syariah 3) Pengemb angan piranti moneter dalam rangka mendukung kebijakan moneter dan pengembangan bank syariah.

Bulan Juli 1999 telah dibentuk tim persiapan pendirian LPS dan saat ini pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Jerman sedang melakukan penelitian mengenai pendirian LPS BPR. 1 Kantor Cabang Bank Syariah dan 79 BPRSyariah. INSTRUMEN DAN ANALISIS KEBIJAKAN MONETER a. (pasal 37 B UU No. Operasi Pasar Terbuka (OPT) atau open market operation 144 . Instrumen Bersifat Kuantitatif Tujuannya agar bank-bank umum membatasi diri dalam pemberian kredit dan dapat menekan jumlah uang yang beredar. • Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Setiap bank diwajibkan untuk menjamin dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan.4) an kegiatan sosialisasi perbankan syariah Pelaksana Dengan perkembangan tersebut pada akhir tahun 1999 terdapat : 2 Bank Umum Syariah. antara lain dengan : 1.10/1998). Disamping itu dilakukan juga perbaikan tata kerja dan peningkatann kompetensi dan integritas pengawas bank. antara lain ketentuan : 1) Kewajiba n Penyediaan Modal Minimum (KPPMM) 2) Kualitas Aktiva Produktif (KAP) 3) Pencadan gan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) 4) Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) 5) Posisi Deivsa Neto (PDN) • Pendekatan dalam pengawasan bank lebih ditekankan pada penegakann peraturan dan penyempurnaan metode pengawasan dengan menitikberatkan pada identifikasi risiko yang dihadapi. D. (b) Penyemp urnaan Ketentuan dan Pemantapan Pengawasan • Tahun 1999 Indonesia terus menempuh berbagai kebijakan untuk menyempurnakan ketentuan perbankan dan memantapkan pengawasan bank.

10% -------. maka dalam Pakri 1991 ditetapkan bahwa bank-bank di Indonesia diwajibkan memenuhi CAR atau KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum) sebesar 8% nilai total assetnya dengan pelaksanaan secara bertahap : .6.• • • Bank Sentral (Bank Indonesia) menjual atau membeli surat berharga dan menentukan suku bunga bank atau diskonto. Penentuan Cadangan Wajib Minimum • Sejak Paket 27 Oktober 1988. Sejak 1-2-1984 Bank Indonesia memberikan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan setahun kemudian menyusul SBPU (Surat Berharga Pasar Uang) Dengan menjual SBI karena bank-bank umum – likuiditas bank berkurang. • Tingkat kesehatan bank berdasarkan KPMM dapat dinyatakan : 0% ------.Sampai akhir Maret 1994 sebesar 8% • Sejak September 1995 KPMM diubah menjadi 12% (dolaksanakan bertahap selama 6 (enam) tahun.Sampai akhir Maret 1993 sebesar 7% .10% -----. Jadi pada September 2001 semua ank harus memenuhi KPMM sebesar 12%.Sampai akhir Maret 1992 sebesar 5% .60% ------.5. 2. cadangan wajib minimum diturunkan dari 15% menjadi 2% dan sejak Desember 1995 cadangan wajib minimum dinaikkan lagi menjadi 3% dari DPK (Dana Pihak Ketiga) yang harus ditempatkan pada bank Indonesia sebagai Giro Wajib Minimum (GWM).10% (TS) (KS) (CS) (S) Keterangan : TS CS KS S = tidak sehat = cukup sehat = kurang sehat = Sehat b. Instrumen Bersifat Kualitatif Tujuannya agar bank-bank umum lebih selektif dalam memberikan kredit dan dilakukan antara lain dengan : 1) Pengawasan kredit selektif 145 .8. pemberian kredit berkurang – maka jumlah uang beredar berkurang. kredit bank bertambah – jumlah uang beredar bertambah. Penentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum • Untuk memenuhi standar BIS (bank or International Setlement). 3. Sebaliknya dengan membei kembali SBPU (bank umum menjual SBPU) – likuiditas bank bertambah.

1995). kredit usaha kecil. (3) Dengan menetapkan inflasi sebagai sasaran tunggal. (Insukindro. 146 . penurunan suku bunga dan sebagainya. seperti pertumbuhan ekonomi. tingkat pengangguran. (Laporan Tahunan Bank Indonesia. sasaran tersebut akan dapat menjadi jangkar nominal dalam merumuskan kebijakan moneter. 2) Bujukan Moral Pimpinan bank Indonesia mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pimpinan bank-bank umum. Dalam kesempatan itu Bank Indonesia dapat menjelaskan kebijakan yang sedang atau akan dijalankann dan dapat memberikan saransaran atau himbauan kepada bank-bank umum seperti untuk melakukan merger. seperti kredit ekspor. pengaruh penyesuaian harga sekali waktu oleh pemerintah maupun sektor swasta. 1999). karena perekonomian tidak dipacu untuk tumbuh melebihi kapasitasnya. 3) Kebijakan : Sasaran Tunggal Laju Inflasi • Pemilihan inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter dilakukan dengan beberapa pertimbangan : (1) Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi tingkat inflasi dan tidak dapat mempengaruhi variabel-variabel riil. (2) Pencapaian inflasi yang rendah merupakan prasarat bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. kredit untuk pengadaan pangan dan lain-lain. • Tujuan utama untuk mengawasi apakah kredit yang diberikan bank sesuai dengan keinginan pemerintah.• Kebijakan ini biasanya diberlakukan untuk sektor dan tujuan tertentu. • Dengan demikian otoritas moneter tidak dibebani tanggung jawab atas pengendalian harga yang disebabkan oleh gejolak sesaat disisi penawaran (noise) seperti tekanan inflasimusiman. kredit pemilikan rumah.

Nilai kapitalisasi pasar pada BEJ juga mingkat dari Rp 175. Penerbit Kanisius.2% (1997).8 triliun (1999). senilai Rp 147.7 triliun (1998) menjadi Rp 451. Perkembangan Pasar Modal 1. dimana Kredit berturut-turut 83. Indikator Ekonomi.2 triliun. Suseno Hg. Sjahrir. pasar obligasi menjadi alternatif sumber pendanaann yang menarik. Dasar-dasar Perhitungan Perekonomian Indonesia.9 triliun (1998) menjadi Rp 23. Penerbit: Erlangga.3. Total pembiayaan (kredit + pasar modal) berturut-turut sebagai berikut : Rp 543. 85. DAFTAR BACAAN 1. masing-masing memiliki kebaikan dan kekurangan.7% (1999). Triyono Widodo. 2.5 triliun (1999). 147 . angka IHSG di BEJ meningkat ari 399 pada akhir tahun 1988. Jakarta.. Nilai emisi obligasi meningkat dari Rp18. Setelah sejak tahun 1997 tidak ada peningkatan perusahaan atau emiten yang menggunakan obligasi sebagai sumber pembiayaan.7 miliar lembar (naik 94.5 triliun (1997). Personalia Ekonomi Indonesia. menurunnya suku bunga perbankan.6%. 2.9 pada akhir tahun 1999. Opposunggu. disamping kredit bank. baik kredit maupun saham. Membaiknya ekspektasi peserta pasar atas prospek perekonomian domestik.. 2. porsi pasar modal rata-rata 25. Sebuah Aplikasi Ekonomi Moneter. b. Rp 506. memberikan dampak positif terhadap perkembangan pasar modal dalam tahun 1999.7 miliar lembar. (Laporan Tahunan Bank Indonesia. Pasar Modal Sebagai Sumber Pembiayaan 1. Kebijaksanaan Devaluasi di Indonesia.2 triliun.2% (1998) dan 54.8 triliun dibandingkan tahun 1998 sebanyak 91. Dr. 1995.. Perkreditan dan Neraca Pembayaran Indonesia. Jumlah (volume) saham yang diperdagangkan di BEJ selama tahun 1999 mencapai 178.E.M. Bila kita bandingkan. VIII. PERANAN PASAR MODAL DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA a. Peningkatan aktivitas perdagangan juga terlihat dipasar obligasi. Pasar modal merupakan alternatif sebagai sumber pembiayaan. 1999). Pustaka Sinar Harapan. 1985.T. 1995. Jakarta. 3. 3.9%). Jakarta. menjadi 679. Rp 640. (1998). Pada saat kondisi perbankan bellum sepenuihnya pulih. selama tahun 1999 terdapat penambahan 6 emiten di pasar oboligasi. Moneter. H.

Tahun 1998 – 2002.. Laporan bank Indonesia. Yogyakarta. 5. 148 . diterbitkan oleh BPFE. Insukindro. 6. Dr. Ekonomi Uang dan bank. Bank Indonesia. Indrawati. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1988. Teori dan Pengalaman di Indonesia.4. 1995. Sri Mulyani. Teori Moneter.

b. a. Prinsip-Prinsip Perdagangan Internasional 2. SE IX.1. Analisis Kebijakan Perdagangan Internasional 4. Kerjasama Ekonomi Regional – Internasional 3. PEREKONOMIAN INDONESIA DALAM ERA GLOBALISASI SATUAN ACARA PERKULIAHAN IX. Prinsip-prinsip Perdagangan Internasional a) Teori Perdagangan Klasik 1) Keunggulan Mutlak (Absolut Advantage) 2) Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage) 3) Proporsi Faktor Produksi (Factor Endowment) b) Teori Teori Teori Teori Perdagangan Modern 1) Teori Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage) 2) Pendekatan Alternatif dalam Teori Perdagangan Kerjasama Ekonomi Regional – Internasional Globalisasi Perekonomian Dewasa Ini Gejala globalisasi Faktor penyebab globalisasi Kecenderungan dan dampak globalisasi Perundingan GATT dan WTO General Agreement on Trade and Tariff (GATT) World Trade Organization (WTO) 149 B. a) 1) 2) 3) b) 1) 2) . Materi Pembahasan A. Tujuan Khusus Agar mahasiswa dapat menjelaskan : 1. Kerjasama Ekonomi Internasional c.PEREKONOMIAN INDONESIA Munawir. Tujuan Umum Agar mahasiswa dapat memahami proses globalisasi ekonomi dan pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia.

NAFTA dan AFTA Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) C. PRINSIP-PRINSIP PERDAGANGAN INTERNASIONAL • Terdapat sejumlah konsep atau teori yang menjelaskan faktor-faktor apa yang mendorong terjadinya perdagangan antar negara. PENDAHULUAN • Globalisasi ekonomi adalah berlangsungnya gerak arus barang. Analisa Kebijakan Kerjasama Ekonomi Internasional a. Di satu pihak hal itu merupakan tantangan dan kendala yang membatasi. Kerjasama internasional tahun 2000 2. Kerjasama Ekonomi Internasional 1. Kerjasama internasional tahun 2001 3. Hambatan berupa proteksionisme perdagangan. MATERI PEMBAHASAN 150 . dimana berbagai hambatan terhadap arus tersebut menjadi semakin berkurang.2. Kebijakan Bisnis Yang Dilakukan 3. dan regulasi devisa serta moneter yang mengekang arus jasa dan kapital internasional semakin lama menjadi semakin berkurang bila globalisasi berlangsung. Analisa Keibjakan Perdagangan 1. larangan invstasi. 1995). • Perkembangan ekonomi dunia yang begitu pesat telah meningkatkan kadar hubungan saling ketergantungan dan mempertajam persaingan yang menambah semakin rumitnya strategi pembangunan yang mengandalkan ekspor. Kerjasama internasional tahun 2002 IX. (Sjahrir. mengapa perdagangan antar negara bisa menguntungkan kedua belah pihak dann dalam produk-produk apa sebaiknya tiap negara berspesialisasi. jasa dan uang di dunia secara dinamis. A. Peluang Dunia Usaha Dalam Era Globalisasi 2. sesuai dengan prinsip ekonomi. Kebijakan Ekonomi dalam Era Globalisasi b. Di pihak lain hal tersebut merupakan peluang baru yang dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional. • Dari teori-teori tersebut orang bisa mengambil prinsip-prinsip yang bisa menjadi pedoman dalam melaksanakan perdagangan internasional.3) c) 1) Eropa 2) 3) 4) 5) Dampak Liberalisasi Perdagangan Produk Pertanian Pembentukan Blok Perdagangan Regional Masyarakat ekonomi Eropa dan Pasar Tunggal Kawasan bebas perdagangan Amerika Utara Kawasan bebas perdagangan ASEAN Dampak EEC.

1994). Ini disebabkan. . misalnya oleh penggunaan teknologi dan mesin-mesin yang lebih efisien atau tenaga kerja yang trampil.Dasar pemikiran teori Adam Smith ini adalah bahwa suatu negara akan melaksanakan spesialisasi dana negara tersebut memiliki keunggulan absolut dan tidak memproduksi atau melakukan impor tehadap jenis barang lain di mana negara tersebut tidak memiliki keunggulann absolut terhadap negara lain yang memproduksi barang sejenis. misalnya tenaga kerja.a) 1) Teori Perdagangan Klasik Teori Keunggulan Multak (Absolute Advantage) . 2) Teori Keunggulan Komparatif (comparative advantage) . (Boedino. dalam proses produksi sangat menentukan keunggulan atau daya saing. 1 kg R = 12 lbr P (1 lbr P = 2/3 kg R) (b) Di Indonesia : 1 kg = R = 1 lbr P (1 lbr P = 1 kg R) 3) Teori Proporsi Faktor Produksi . Negara tersebut mempunyai keunggulan mutlak dalam produksi semua barang.Sering dijumpai bahwa suatu negara yang efisien dalam memproduksikan suatu barang. suatu negara akan mengekspor (impor) suatu jenis barang jika negara tersebut dapat (tidak dapat) membuatnya lebih efisien atau murah di bandingkan negara lain.Misalnya biaya produksi dihitung dengan hari kerja di Persia dan di Indonesia sebagai berikut : Permadani (1 lbr) Rempah-rempah (1 kg) Persia 2/ hr 2/ hr Indonesia 4/hr 4/hr Persia mempunyai keunggulan komparatif dalam produksi permadani (P) dan Indonesia mempunyai keunggulan komparatif dalam produksi rempah-rempah ( R ) karena : (a) Di Persia . (Tulus Tambunan.Dalam hal ini. yang berlaku adalah teori keunggulan komparatif. 2001) . Tingkat keunggulan diukur berdasarkan nilai tenaga kerja yang sifatnya homogen. Suatu negara hanya akan mengekspor barang yang mempunyai keunggulan komparatif tinggi dan mengimpor barang yang mempunyai keunggulan komparatif rendah. juga efisien dalam memproduksikan barang-barang lain. menurut David Ricardo.Dengan kata lain.Dasar pemikian teori faktor-faktor proporsi dari Hecksher dan Ohlin (disingkat Teori H-O) bahwa perdagangan antara dua negara terjadi 151 . . Jadi teori ini menekankan bahwa efisiensi dalam penggunaan input.

1993). . Misalnya. 1990 yang dikemukakan oleh Michael E. Porter adalah tentang tidak adanya korelasi langsung antara dua faktor produksi (sumber daya alam yang tinggi dan sumber daya manusia yang murah) yang dimiliki suatu negara untuk dimanfaatkan menjadi keunggulan daya saing dalam perdagangan. yang tidak lain adalah ilmu ekonomi “liberal” (liberal economics) 152 .Jadi teori H-O menyatakan bahwa suatu negara akan atau sebaiknya mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif banyak (harga relatif faktor produksi tersebut murah). . . deregulasi atau pembeli juga sangat mempengaruhi persaingan ini (Hendra Halwani.Porter mengungkapkan bahwa ada empat atribut utama yang menentukan mengapa industri tertentu dalam suatu negara dapat mencapai sukses internasional : (1) Kondisi faktor produksi (2) Kondisi permintaan dan tuntutan mutu dalam negeri (3) Eksistensi industri pendukung.Ujian utama bagi teori Porter adalah pasar tunggal Eropa. Merjer dan aliansi akan mengurangi persaingann dan menciptakan perusahaan raksasa yang secara politik sanat kuat. 1996). Perkembangan itu jelas bertentangan dengan teori Porter. seperti minyak dan komoditi pertanian (tulus Tambunan. serta (4) Kondisi persaingan dan struktur perusahaan dalam negeri Selain itu.Apa yang telah diuraikan di atas adalah teori atau pandangan mengenai perdagangan internasional dari para ekonom yang disebut “main – stream economics” yang bersumber dari pandangan kaum Klasikd an Nekolasik. Kebijakan seperti anti trust. sehingga barang-barang tersebut harganya murah. regulasi. Indonesia tanah lebih luas dan bahanbahan baku serta tenaga kerja (unskilled) lebih banyak dari pada Singapura.karena adanya perbedand alam opportunity cost antara dua negara tersebut terjadi karena adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi yang dimilikinya. Indonesia sebaiknya mengekspor barang-barang yang padat karya atau padat bahan baku yang melimpah. b) Teori Perdagangan Modern 1) Teori Keunggulan Kompetitif (competitive advantage) .The Competitive Advantage of Nations. 2) Pendekatan Alternatif Dalam Teori Perdagangan . MEE dan NAFTA telah merangsang perusahaan Eropa untuk melakukan merjer dan membentuk aliansi. pemerintah juga berperan sentral dalam pembentukan keunggulan kompetitif. Sedangkan di Singapura memiliki tenaga kerja (skilled) lebih banyak.

negara (nation state) merupakan partially dependent variables bersama variabel lainnya: ekonomi regional 153 . yang bisa meerusak harmoni dan keseimbangan seperti yang digambarkan teori Neoklasik. Faktor Penyebab Globalisasi . Gejala-gejala Globalisasi (1) Globalisasi terjadi dalam kegiatan finansial. B.Makin menipisnya batas investasi dan pasar secara nasional. yaitu mengenai aspek kelembagaan. perbedaan dalam kekuatan ekonomi dari pelaku ekonomi. menimbulkan proses menyatunya ekonomi dunia (3) Gejala yang menonjol adalah terpisahnya kegiatan ekonomi primer dengan ekonomi industri sehingga kaitan poduksi ke belakang industri pengolahan makin melemah.. aspek yang bersifat ekonomis-politis dan melihat kesemuanya sebagai proses sejarah. (1) Dengan demikian. Dampaknya adalah merosotnya harga komoditi primer yang disebabkan permintaan yang lesu. 2. Kecenderungan Dalam Globalisasi . Globalisasi – Ekonomi Dewasa Ini 1. yang menimbulkan ketidakmerataan dalam pembanguan manfaat perdagangan bisa beraneka ragam (Boediono. ada yang menyebut “ilmu ekonomi sejarah” (historical economics). Secara umum sudut pandangan ini menekankan aspek-aspek yang “terlupakan” dalam analisis “main-stream economics”. . KERJASAMA EKONOMI REGIONAL – INTERNASIONAL a. (H. 1994). 1995). Drucker dalam bukunya The New Reallities menyebut ekonomi dunia sebagai fenomena yang berubah.Dalam kenyataan. ada yang menyebut “ilmu ekonomi politik” (political economics). produksi investasi dan perdagangan. selalu terdapat perbedaan “kekuatan ekonomi” pihak-pihak yang melakukan perdagangan (hubungan ekonomi). 3.Bagaimanakah pendapat sudut pandangan yang lain? Ada yang menyebut “ilmu ekonomi institusional” (institutional economics). (2) Proses globalisasi meningkatkan kadar ketegantungan antar negara. ada unsur “kekuasaan monopoli” (monopolistic power). dari “internasional” menjadi “transnasional” (Sjahrir. 1993). Prijono Tjiptoharijanto.Peter F. regional maupun internasional disebabkan karena adanya: (1) Komunikasi dan transportasi yang makin canggih (2) Lalu lintas devisa yang semakin bebas (3) Ekonomi negara yang semakin terbuka (4) Penggunaan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif di tiap negara semakin digalakkan (5) Metode produksi dan perakitan dengan organisasi manajemen yang semakin efisien (6) Pesatnya perkembangan perusahaan multinasional (TNC) di seluruh dunia. H. menurut pandangan ini.

Kekuatan blok-blok ekonomi itu akhirnya akan menjadi ukuran bargaining power tiap negara dalam perdagangan internasional. 1993) : (1) Masyarakat dunia dewasa ini sedang berubah dari era masyarakat industri memasuki ke era masyarakat informasi. (2) Hubungan saling ketergantungan menyebabkan sistem ekonomi nasional cenderung menjadi bagian sistem ekonomi global. pengangguran meningkat. (5) Kaitan antar ekonomi moneter-perbankan dengan ekonomi riil (sektor industri dan perdagangan) menjadi melemah (6) Hubungan antar negara berubah menjadi hubungan antar blok ekonomi/ pakta perdagangan (inter-region) (7) Bargaining power tiap negara ditentukan oleh kekuatan pasar blok ekonominya. (3) Ketergantungan ekonomi yang sedang tumbuh berubah dari formasi hubungan antar negara menjadi inter-region (antar blok). seperti : isu “pembangunan berkesinambungan”.Menurut John Naisbit dan Alvin Toffer ada kecenderungan (H. Prijono Tjiptoharijanto.Makin terpisahnya kegiatan ekonomi primer dengan ekonomi industri mengakibatkan : (1) Penggunaan material dalam industri makin sedikit (2) Kaitan produksi ke belakang produksi pengolahan makin melemah (3) Harga komoditi primer merosot karena menurunnya permintaan (4) Akibat robotisasi dalam industri. (2) Globalisasi ekonomi menjadi pertarungan pengembangan market share dari setiap unit usahapada skala dunia. “nuklir”. kredit dan investasi. Perundingan GATT dan WTO 1. “global warning” dan munculnya persaingan antar “blok ekonomi” b. masalah “limbah industri”. maka kesempatan kerja berkurang.(EEC). Aktivitas ekonomi berlangsung dalam arus gerak barang.H. Dampak globalisasi ekonomi . General Agreement on Trade and Tariffs (GATT) (Persetujuan mengenai perdagangan dan tariff) (1) Latar belakang Berdirinya GATT 154 . jasa dan uang di dunia secara dinamis sesuai dengan prinsip ekonomi. Masyarakat tidak bisa menutup diri karna teknologi informasi mampu menembus batas-batas wilayah kekuasaan negara. (8) Perubahan lingkungan hidup mewarnai berbagai kebijakan ekonomi dunia. perusahaan transnasional dan ekonomi otonom dari arus uang. .

multilateral yang mengatur perdagangan internasional sesudah Perang Dunia II.GATT adalah perjanjian internasional. dianjurkan menggunakan trif (bea masuk) yang transparan. Alasan Negara sedang berkembang untuk melindungi industrinya yang masih lemah (infant industry) (2) Tujuan dan Azas GATT (a) Tujuan GATT 1) terjadinya perdagangan dunia yang bebas tanpa diskriminasi. dan menghasilkan baik penurunan tariff mauun langkahlangkah yang berarti kea rah penurunan hambatan-hambatan bukan tariff. 3) Mencegah tejadinya perang dagang yang merugikan semua pihak. neraca pembayaran. Jika suatu Negara anggota akan melakukan protksi. subsidi dan standar mutu. b) Perundingan Tokyo Round berlangsung dari September 1973 – April 1979. bukan non tariff seperti kuota. larangan impor. dua perundingan berlangsung dalam waktu cukup lama: a) Perundingan Kennedy Round. pertahanan dan kemanan. yang didirikan pada tahun 1948. (b) Azas Dalam GATT 1) Perdagangan bebas. 2) proteksi dengan tariff non diskriminasi. (3) Perundingan Dalam Kerangka GATT Negara Negara yang menandatangani GATT telah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk mengolah tindakan-tindakan lebih lanjut menuju perdagangan bebas. masyarakat. berlangsung dari tahun 1962 – 1967 dan menghasilkan penurunan-penurunan yang cukup besar dalam tariff dari semua Negara non sosialis yang utama. (Hendra Halwani. konsumen. 1993). Setelah Perang DUnia II setiap Negara cenderung membatasi perdagangan import dan/ atau ekspor dengan alasan: proteksi untuk produsen. Di dalam semua perundingan internasional mengenai hamnbatan perdagangan terdapat pedoman-pedoman yang terperinci tentang apa 155 . 2) Memupuk disiplin diantara anggotanya supaya tidak mengambil langkah yang merugikan anggota lainnya. 3) transparansi kebijakan perdagangan. Dimasa lalu misalnya.

tidak termasuk Indonesia (Firdausy.3%. nilai subsidi ekspor langsung untk produk pertanian harus diturunkan 35% (6 tahun) volumenya dikurangi 12%. Meksiko berlangsung 10-14 September 2003. Keempat. 1994. 156 . termasuk Indonesia (Tulus Tambunan. sampai 5% dalam waktu 6 tahun. DCs besedia menurunkan tarifnya sebesar 36% (dalam waktu 6 than) dan LDCs sebesar 24% (dalam waktu 10 tahun). Optimis : karena persetujuan perdagangan multilateral WTO menjanjikan berlangsungnya perdagangan bebas di dunia. telah menimbulkan sikap optimis dan pesimis dilingkungan Negaranegara sedang berkembang. 1983).yang dimaksud sebagai keseimbangan yang adil dalam konsesikonsesi oleh semua Negara yang terlibat (Kindleberger. bebas dari hambatan tariff dan non tariff. 1998 dalam Tulus Tambaunan. reformasi sektor pertanian dalam perjanjian WTO tersebut tidak berlaku bagi Negara Negara termiskin di dunia. di satu pihak Amerika Serikat (AS) dan Uni eropa (UE) yang industri dan pertaniannya kuat. 2. Pesimis : karena semua Negara di duniga mempunyai kekuatan yang berbeda. World Trade Organization (WTO) Baik dalam perundingan GATT maupun perundingan WTO selalu berhadapan antara dua kekuatan yang tidak seimbang. trade distoping support bagi petani harus dikurangi 20% di DCs selama 6 tahun dan di LDCs sebesar 13. 2) Disepakati untuk mengubah semua hambatan non tariff dengan proteksi yang sama. 3) Butir-butir perjanjian pertanian yang penting: Pertama. Negara-negara dengan pasar pertanian tertutup diharuskan mengimpor paling sedikit 3% dari kebutuhan domestik. ditandatangani 125 anggota GATT. berhadapan dengan Negara-negara berkembang (kelompok 20 atau G 20) yang masih lemah baik industri maupun pertaniannya. c) Pasca Perundingan Putaran Uruguay di Marakkesh Maroko. Perundingan Dalam Kerangka WTO (a) Pertemuan Tingkat Mentei di Gancun. Negara-negara industri maju (DCs) mempunyai kekuatan ekonoi yang lebih besar daripada ekonoim Negara-negara berkembang (LDCs). 2001). 2001). Dalam Perundingan ini : 1) Pembukaan pasar pertanian dijadwalkan secara terpisah. Ketiga. Kedua.

• Pertemuan ini dinilai sangat penting di lingkungan WTO karena diharapkan dapat mengawali kembali pembicaraan perdagangan yang macet. 2004). • Kelompok 20 terikat pada sasaran WTO yang menetapkan bahwa tahun ini (2004) sebagai tahun menuntaskan babak perundingan Daha. (c) Pertemuan Dewan Umum WTO Bulan Juni dan Juli 2004 • Kelancaran (skses) pertemuan ini sangat tergantung pada keberhasilan Pertemuan Komite Pertanian WTO di Jenewa. • Pembahasan mengenai soal bea masuk komoditas pertanian menghadapi jalan buntu. 3. • Kerangka usulan yang diperkirakan siap bulan Juni 2004 tersebut akan banyak menampung draf kesepakatan yang berhasil dicapai dari usulan AS – UE dan G 20. untuk memperoleh dukungan bagi kerangka usulan tersebut.• Yang menjadi perhatian adalah isu pertanian di DCs dan LDCs dan isu penting yang diangkat adalah “menghilangkan subsidi ekspor”. (b) Pertemuan Komite PErtanian WTO di Jepara. demikian kata Menlu Brazil. Celso Amorin. Swiss yang berlangsung pada 22-27 Maret 2004. Perwakilan perdagangan AS mengunjungi beberapa Negara penting. Dampak Liberalisasi Perdagangan Produk Pertanian 157 . • Kelompok 20 Menghentikan perundingan WTO dan sepakat untuk melanjutkan perundingan dengan Negara-negara maju. Mereka juga sepakat mengajak Negara-negara berkembang lainnya untuk bergabung dengan tuntutan agar Negara maju mau menurunkan subsidi sektor pertanian. Media Indoensia. • Namun jawaban dari India dan Negara berkembang lainnya tergantung pada seberapa jauh Negara maju sepakat untuk membuka akses pasarnya dengan menghapuskan subsidi pertanian. Swiss • Pertemuan berlangsung 22-27 Maret 2004 dan dihadiri pejabat senior perdagangan dari 148 negara. • AS memperlihatkan keinginannya untuk mempersiapkan kerangka bagi dimulainya kembai negosiasi pertanian. • Sejak saat itu AS dan UE menunjukkan fleksibilitasnya (sikap lunak) terhdap isu penting tentang “menghilangkan subsidi ekspor”. termasuk India. beberapa waktu yang lalu (Ekonomi dan Bisnis.

Namun karena produk pertanian Indoensia memainkan perarnan yang besar.41 -5. maka dampak yang diterima Idnoensiapun paling besar diantara Negara-negara ASEAN lainnya. pengurangan subsidi ekspor sebesar 36% dan penurunan sebesar 18% dari subsidi sektor pertanian diperkirakan akan menaikkan pedapatan sektor pertanian di Negara-negara Eropa sebesar US$15 miliar.18 -16.11 -4.16 Padi-Padian -16.75 -22.91 -55.20 -3.19 -4.34 -3. baik secara domestic maupun secara regional (ASEAN). (b) Hasil Analisis GOlding dkk (1993) Diperkirakan bahwa sampai tahun 2002. Perjanjian itu diperkirakan akan bedampak positif.88 -3. (a) Studi Sekretariat GATT (Sazanami.25 -2. 158 .17 Sumber : tabel3.84 -2.28 -9.9 miliar per tahun hingga tahun 2002.30 Gandum -14.70%.75 -6.96 -4.Banyak studi dan analisis mengenai dampak dari perjanjian GATT terhadap ekonomi Negara-negara anggota.8 miliar (67% nya) dinikmati Negara-ngara maju. sektor pertanian Indonesia menderita kerugian yang terbesar. (c) Analisis Satirawan (1997) Dengan model CGE Dengan menggunakan computable general equilibrium (CGE) analisis Satriawan menunjukkan bahwa disbanding Negara-negara ASEAN lainnya. 1995). sesudah terjadi penurunan tariff dan subsidi sebesar 30% manfaat rata-rata per tahun oleh seluruh anggota GATT akan sebesar US$230 miliar. dalam bentuk peningkatan pendapatan.63 Hasil Panen Lain 187. Sedang Indoensia diperkirakan akan mengalami kerugian sebanyak US$ 1. • Efek negatif terhadap ekspor komodits pertanian juga lebih besar dibandingkan Negara ASEAN lainnya. Perkiraan dampak liberalisasi perdagangan terahdap produksi pertanian di beberapa Negara ASEAN (%) Produk Indonesia Malaysia Filipina Thailand ASEAN Beras -29. 2001). Sebesar US$141.83% dimana berasmengalai penurunan 29. sedang di Negara-negara berkembang sekitar US$14 miliar. Tapi semuanya menghasilkan konkluasi yang berbeda-beda (Tulus Tambunan.81 -46.43 Ternak -5. dalam bentuk penurunan produksi komoditas pertanian sebear 332. Satriawan. • Dampak awal pada ASEAN sendiri sebagai suatu wilayah ekonomi di dunia tidak terlalu besar (tabel).66 -1.24 -2.70 -0.75 -3.19 -15.62 Produk Pertaian diproses (PPD) -78.04 -82. 1997.30 -11.83 -51.99 -3. dikutip Tulus Tambunan 2001.

Kemudian sebagai antisipasi Negara ASEAN dibentuklah AFTA. (d) Tercapainya economics of scale dengan merangsang inovasi dan efisiensi. c. yang diratifikasi pada tanggal 24 Juni 1987. (c) Penghapusan Hambatan Fiskal 159 . (1) Tujuan Dibentuknya Pasar Tunggal Eropa 1993 (a) Mengintegrasikan ekonomi 12 negara. dan hambatan hukum serta administrasi. odal. (c) Terdapatnya mobilitas dan fleksibilitas untuk pengerahan potensi ekonomi dan modal serta sumber daya manusia. bea cukai. karena stabilitas neraca pembayaran Indonesia amat tergantung pada keberhasilan meningkatkan ekspor. 1995). 1. (b) Penghapusan hambatan teknis Meliputi lalu lintas barang. sarana transportasi. Di Amerika Utara kita mengenal apa yang disebut NAFTA. penduduk. prosedur. lebih dikenal dengan nama “single Eruopean Act” yaitu suatu landasan kerja untuk mewujudkan Pasar Tunggal Eropa atau European Union (EU) tahun 1993. Tampaknya usahayang harus diperjuangkan oleh Negara berkembang adalah diupayakannya pola perdagangan bebas dalam klausal di GATT. dibandingkan Malaysia misalnya hanya mengalami penurunan sekitar 2.0%. perubahan terhadap Treaty of Rome. (Sjahrir.8%. (2) Tahap Dalam Mewujudkan Pasar Tunggal Eropa 1993 Disahkan dalam white paper dalam sidang dewan Menteri MEE tahun 1985: (a) Penghapusan hambatan fisik Meliputi arus lalu lintas. imigrasi dan paspor. Masyarakat Ekonomi ERopa dan Pasar Tunggal Eropa • Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) atau European Economic Community (EEC) didirikan berdasarkan perjanjian Roma (Treaty of Rome) pada awal tahun 1957.diantaranya ekspor beras Indonesia akan turun 70. (e) Meningkatkan daya saing MEE digelanggang ekonoim internasional. maka ekonomi Indonesia akan mengalami masalah yang cukup berat. peraturan. di Eropa kita mengenal apa yagn disebut EEC. (b) Tercapainya suatu wilayah yang berorientasikan peningkatan pertumbuhan secara dinais. mewujudkan suatu wilayah Pasaran Bersama yang luas dengan 345 juta penduduk. Pembentukan Blok Perdagangan Regional Persoalan menonjol yang perlu diperhatikan bagi perdagangan kita adalah seberapa jauh blok-blok regional dan partisipasi Indonesia di dalam AFTA berpengaruh pada Perdagangan (trade Idversion). Bila yang terakhir yang terjadi.

• Meksiko : Secara umum menggairahkan bisnis besar di Meksiko (c) 160 . • Keuntungannya : membangun pabrik dan pasaran di perbatasan As. banyaknya masuk perusahaan AMerika. Keempat : Memanfaatkan perusahaan yang dikontrol sepenuhnya oleh si eksportir sehngga sesuai dan dapat menciptakan setan mengontrol pasar sendiri. karena memiliki potensi pasar 360 juta konsumen dengan nilai output lebih dari 6 triliun dollar. (1) Sudut Pandang Negara Anggota NAFTA (a) Kanada : • Kanada sudah merasakan manis pahitnya perdagangan bebas dengan Amerika sejak 1988. • Kanada khawatir disaingi Meksiko. • Kerugiannya : berpindahnya perusahaan ke Meksiko akan menambah pengangguran. tutupnya pabrik.Meliputi pengembaian pajak yang dipungut di Negara konsumen ke eksportir tempat asal barang. karena akibat peragangan bebas dengan Amerika. Kanada dan Meksiko. (Hendra Halwani. (3) Strategi Menembus Pasar Eropa Pertama : Menjual langsung kepada pembeli (importer) Kedua : Memanfaatkan jasa distributor setempat untuk mewakili kepentingan mereka di Eropa. karena upah buruh dan stanar pelestarian yang rendah di Meksiko (b) Amerika Serikat : • NAFTA diperkirakan dapat menyaingi MEE dan mendorong ekonomi Amerika bangun kembali. akan dipasok dari AS.1993) 2. Meningkatknya kemamuran di Meksiko akan menambah ekspor barang knsumsi ke Meksiko. • Kaun nasionalis menuduh bahwa memburuknya ekonomi Kanada berupa pengangguran. Kawasan Bebas Perdagangan Amerika Utara PembentukN orth America Free Trade Agreement (NAFTA) ditandatangani bulan Agustus 1992 di Washington DC oleh wakil pemerintah: Amerika Serikat. Ketiga : Dapat dilakukan dengan membuat joint venture bersama mitra lokal.

• Keunggulan komparatif Meksiko: penduduk banyak, lahan luas, upah buruh murah, energi/ minysak cukp dan menguntungkan (Diapit AS dan Amerika Latin). • Dapat menyaingi RRC dalam menarik modal dari Jepang, Korea, Taiwan dan Hongkong. (2) Hambatan Nontarif NAFTA bagi Indonesia • Gagalnya negosiasi mengenai perdagangan bebas dunia (GATT putaran Uruguay) menyebabkan terjadinya kasus sengketa dagang dan Negara maju cenderung menggunakan forum bilateral, sehingga menguntungkan pihak yang lebih kuat. • Kebijakan nontarif yang merupakan salah satu bentuk proteksi, muncul dalam bentuk pengenaan kuota, tuduhan melakukan dumping, standar kesehatan dan lingkungan hidup, hak azasi manusia, perburuhan dan lain-lain. • Indonesia tidak terlalu sulit dalam menyesuaikan diri sepanjang hanya menyangkut standar teknik, karena standar tersebut mengacu standar internasional (ISO-900). Kesulitan bila harus memenuhi essential requirement: kesehatan, lingkungan hidup dan sebagainya, (Hendra Halwani, 1993). 3. Kawasan Bebas Perdagangan ASEAN Persetujuan pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN atau ASEAN FREE TRADE AGREEMENT (AFTA) ditandatangani oleh semua anggota ASEAN pada bulan Januari 1992 dalam tiga dokumen: (a) Framework Agreement on Exchange ASEAN Economic COopration (EAEAEC) ditandatangani oleh kepala pemerintahan: Presiden dan Perdana Menteri tiap-tiap Negara. (b) Basis Agreement on The Common Effective Prfential Tariff (GEPT) ditandatangani Menteri Perindustrian Brunai Darussalam (Abdul Rachman Taib), Menteri Perdagangan RI (Arifin M. SIregar), Menteri Peraganga Internasional dan Industri Malaysia (Rafidah Aziz), Menteri Perdagangan dan Industri Filipina (Peter D. Garrucho), Deputi PM/ Menteri Perdagangan dan Industri SIngapura (Lee Hsien Long) dan Menteri Perdagangan Thailand (Amaret SIla0On). (c) Singapore Declaration 1992, Perjanjian ini ditanda tangani dalam rangka Singapore Summit pada 28 Januari 1992 oleh Kepala Negara ASEAN. (1) Konsep dan Ketentuan CEPT (a) CEPT mengatur rincian tentang cakupan dan mekanisme pelaksanaan AFTA. Semua Negara anggota akan berpartisipasi dalam skema CEPT yang berlaku mulai 1 Januari 1993. Sasarannya adalah penurunan tariff efektif hingga menjadi 0,5% dalam kurun waktu 15 tahun.

161

(b) Produk yang masuk dalam skema CEPT dispakati berbaris sektoral menurut Harmonzed Sistem (HS) 6 digit, mencakup 15 kelompok barang: minyak nabati, semen, produk kimia, produk farmasi, pupuk, produk plastic, produk karet, produk kulit, pulp, tekstil, keramik dan produk kaca, barang perhiasan, copper cathodes (kawat las dari tembaga), elektronik, serta membel kayu dan rotan. (c) Produk yang akan diturunkan bea masuknya adalah produk yang mengandung ASEAN content minimum 40%. Seluruh produk manufaktur termasuk barang modal produk pertanian olahan masuk skema CEPT. (d) Untuk menjamin pelaksanaan CEPT menuju AFTA, ASEAN sepakat agar semu Negara menghapus segala restriksi kuantitatif untuk produk dalam skema CEPT. Semua Negara juga akan menghapus restriksi nontarif. Semua Negara ASEAN akan mengecualikan (tidak mengenakan) restriksi devisa bagi kepentingan impor produk CEPT. (2) Masalah yang dihadapi AFTA Diperlukan lobi politik yang tinggi untuk menjamin keberhasilan perjanjian AFTA, karena AFTA lebih merupakan kerjasaman politik dari pada kerjasama ekonomi. Ada beberapa permasalahan yang menghamat perwujudan AFTA : Pertama : Prosedur birokrasi yang berlebihan, baik didalam ASEAN maupun di Negara masing-masing Kedua : Kurang kuatnya perjanjian Negara-negara terhadap skema di dalam AFTA. Ketiga : Kurang dilibatkannya sektor swasta dalam proses pengambilan keputusan tingkat kawasan. Keempat : Yang terpenting adalah kurangnya kemauan politik untuk mewujudkan kerjasama ekonoimdi dalam ASEAN karena selama ini para pemimpin Negara lebih tersita pada kekhawatiran terhadap sektor-sektor yang akan dirugikan dari pada manfaat ekonomi yang dapat diciptakan. (3) Persoalan Pemberian Insentif (a) Pemberian insentif dan fasilitas yang berlebihan kepada para calon investor dalam jangka panjang justru akan merugikan Negara tujuan investasi. ASEAN harus menghindari persaingan yang tidak perlu diantara mereka sendiri. (b) Badan investasi ASEAN menandatangani memorandum of under standing di bidang investasi. Disepakati empat butir tujuan bersama, yakni 1) meningkatkan citra ASEAN sebagai kawasan ekonomi, yang menarik untuk melakukan investasi langsung, 2) meningkatkan promosi investasi, 3) investasi dari 162

luar ASEAN maupun dari dalam ASEAN, 4) secara sendirisendiri atau bersama-sama meningkatkan daya saing negaranegara ASEAN dalam upaya menarik FDI. (Hendra Halwani, 1993). 4. Dampak EEC, NAFTA dan AFTA (1) Dari scenario trade creation menunjukkan bahwa munculnya EEC, maka Negara yang menekspor ke EEC dalam bentuk produk manufaktur akan mengalami keuntungan. Tetapi dilihat dari scenario trade diversion, dengan munculnya EC akan mengakibatkan menurunnya impor mereka (anggota EEC) dari Negara luar negara. (2) Menghadapi NAFTA bisa diboservasi dari tiga point penting : (a) Potensi pertumbuhan ekonomi dan kualitasnya, sebenarnya lebih menyerupai Hongkong dan Singpura. Karena itu ancaman lebih terarah kepada Hongkong dan SIngapura. (b) Secara umum nilai dari mata uang dan kestabilan makro serta riwayat masa lalu tentang utang, tampaknya masih lebih menguntungkan bagi Indoensia. (3) Pemanfaatan PTA (Preferential Trade Arrangement) masih relative sangat kecil. Ekspor Indonesia ke ASEAn di bawah PTA meningkat dari 1,4% menjadi 3,5%. Untuk impor juga peningkatannya relatif konstan, yaitu dari 1,2% menjadi 1,6%. Di Indonesia sendiri, dampak yang mungkin terjadi adalah tersedianya barang dan jasa dalam jumlah yang lebih besar dengan harga yagn lebih murah. Hal ini akan memaksa Indoensia untuk menurunkan berbagai cost. Sehinga dampak AFTA pada akhirnya akan “memaksa” Indonesia menuju pada bentuk perekonomian yang lebih efisien. (Sjahrir, 1995). 5. Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) Kerjasama ekonomi untuk kawasan Asia Pasifik didukung oleh Negara ASEAn dengan Negara Pasifik Barat (Australia, New Zaeland dan Papu New Guinea), dan termasuk di dalamnya, yaitu APEC, EAEG, AFTA dan PEC (Pasific Economic Community) dan juga merupakan forum kerjasama antar pemerintah dengan Jepang yang bersifat informal. Jepang telah menjadi pelopor dan inti integrasi ekonomi regional Asia Pasifik yang lebih luas. Dengan dibentuknya organisasi ini, penanaman modal asing Jepang yang meningkat drastic selama enam sampai sepuluh tahun terakir ini telah menjadi factor utama dalam integrasi ekonomi regional tersebut. (Hendra Halwani, 1993). C. ANALISA KEBIJAKAN DAN KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL a. Analisa Kebijakan Perdagangan 163

(2) Prioritas Investasi - 164 . (2) Perlu diusahakan untuk membuka usaha baru dan mengisi peluang yang tersedia. investasi modal yang makin besar untuk membentuk jaringan internasional dan peningkatan pertumbuhan prasarana ekonomi yang makin cepat. (2) Mengikuti prospek mata uang dollar AS. (4) Memonitor perkembangan ekonomi keuangan Indonesia. (3) Tantangan kompetensi dihadapi dengan peningkatan efisiensi. Peluang tersebut bisa dimanfaatkan sesuai dengan adanya keunggulan komparatif ekonomi Indonesia. Kebijakan Bisnis yang Dilakukan (1) Menarik tenaga ahli yang berpengalaman internasiona. upah buruh murah (3) Situasi politik dan keamanan yang stabil (awal 1990-an) (4) Kebijakan ekonomi yang konsisten (awal 1990-an) (5) Komponen ekonomi makro yang kuat (awal 1990-an) 2. Peluang Dunia Usaha Dalam Era Globalisasi (1) Tersebarnya pasar berskala lebih luas dan diversifikasi produk manufaktur dan produk bernilai tambah tinggi. likuiditas bank. Pembayaran terutama transaksi berjalan. Eropa Barat dan Jepang. menengah dan tahunan beserta anggarannya. Kebijakan dalam Era Globalisasi Komponen dalam penyusunan strategi global (1) Mengkaji perkembangan ekonomi dunia yang relevan dengan Indonesia. N. meliputi : (1) Sumber daya alam yang kaya (2) Sumber daya manusia yang banyak. terutama ekonmi Amerika Erikat. yang dapat melakukan negosiasi dan mengerti hukum yang berlaku di Negara lain. Aspek-aspek Makro dalam Kebijakan Global (1) Deregulasi Kebijakan deregulasi harus terus dilanjutkan nya secara konsisten di sektor riil untuk meningkatkan efisiensi. nilai tukar rupiah. Akibatnya siklus proses bahan baku sampai menjadi barang jadi lebih pendek. 3. (3) Memonitor perkembangan politik dan keamanan dalam negeri serta arah kebijakan pembangunan pada umumnya. (2) Tersedianya realokasi industri manufaktur dari Negara industri maju ke Negara berkembang dengan upah buruh yang lebih rendah. JUB. harga per unit turun dan akan meningkatkan volume penjualan. tingkat suku bunga. DM Jerman dan Yen Jepang. pertumbuhan ekonomi nasional dan sektoral. inflasi. APBN dan fiscal. daya saing di pasar global.1. (5) Menetapkan rencana jangka panjang.

Baik investasi modal asing maupun modal dalam negeri ditujukan untuk yang berorientasi ekspor. Perlu adanya political will untuk mencegah praktek-praktek monopoli. (3) Kemitraan Usaha Indonesia yang penuh dengan faktional ekonomi – USB vs USK. (3) Sumber Daya Manusia Meningkatkan profesionalisme SD. sehingga tidak terjadi distorsi antara kebijakan yang diambil pemerintah dengan langkah yang diambil oleh pengusaha. oligopoly oleh kelompok yang kuat. tetapi saling ketergantungan satu sama lain. Indonesia harus memasuki pasar global dan menguasai seluas-luasnya jaringan distribusinya. karena industri ini bisa menghemat devisa. yaitu raw material yang tersedia pada sumber daya alam kita 165 . Aspek-aspek Mikro Dalam Kebijakan Global (1) Sumber Dana Permodalan Mengefektifkan dan mendiverisifikasikan sumber dana permodalan yang tersedia. BUMN vx Swasta. baik mengenai managerial skill maupun luasnya wawasan globalnya. dilihat dari segi operasional maupun outputnya. (4) Perubahan Orientasi Bisnis Perlu perubahan dari orientasi bisnis untuk memaksimalisasi profit ke orientasi maksimalisasi pasar. (4) Pilihan Bidang usaha Pilihan bidang usaha berpijak pada resource base. sebab dewasa ini tidak ada satu unit usaha yang independent. Untuk industri yang resource base perlu dorongan pemerintah. (2) Pilihan Teknologi Melakukan pilihan teknologi yang tepat dan pas dengan pilihan bidang usaha. (5) Kebijakan yang konduktif Kebijakan yang dilakukan pemerintah hendaknya sesuai dengan realita di lapangan. Pribmi vx Non Pribumi dan sebagainya – harus dihilangkan dan diganti dengan kemitraan usaha.

khususnya mengenai informasi harga dan permintaan pasar atas produk yang dihasilkan. (Laporan Bank Idnensia. • Selanjutnya dalam rangka program bantuan IMF. Indonesia di samping mendapat manfaat bantuan dari Negara sahabat maupun lembga internasional dalam membantu proses pemuihan ekonomi. 3. Pemerintah Indoensia selama tahun 2000 telah menandatangani tiga letter of Intent (LoI) dan memorandum of economic and financial policies (MEEP). Kerjasama Internasional Tahun 2000 • Kerjasama di bidang ekonoim memfokuskan agendanya pada : (1) Upaya mencegah terulangnya kembali krisis ekonoim (2) Mendorong proses pemulihan ekonomi diberbagai Negara (3) Meningkatkan kapasitas lembaga internasional dalam mempercepat Negara anggota keluar dari krisis ekonoim.(5) Pooling of Information Perlu menghimpun informasi yang menyangkut bidang usaha yang digeluti. yaitu pada 20 Januari. 2001). 166 . 2000) 2. 17 Mei dan 7 September. 1993) b. (Hendra Halwani. Kerjasama Internasional Tahun 2001 • Pembahasan pada berbagai forum kerjasama internasional dan regional menitikberatkan pada berbagai upaya untuk mengatasi perlambatan ekonomi melalui : (1) Kebijakan moneter dan fiscal yang tepat (2) Penguatan sistem keuangan internasional (3) Regional surveillance sebagai langkah guna memperkuat pencegahan krisis. Kerjasama Ekonoim Internasional 1. • Dalam kerjasama tersebut. Kerjasama Internasional tahun 2002 • Berbagai lembaga keuangan dan forum kerjasama internasional melanjutkan upaya-upaya memperkuat arsitektur keuangan internasional dan meningkatkan stabilitas keuangan internasional antara lain dengan : (1) Memperkuat pengawasan (surveillance) untuk mencegah terjadinya krisis. • Berbagai forum juga membahas beberapa upaya pencegahan pembiayaan terorisme internasional sebagai respon terhadap tragedy WTC (Laporan Bank Indoensia. namun juga aktif terlibat dalam diskusi dan kajian-kajian yang dilakukan di forum internasional. (2) Meningkatkan keterlibatan swasta dalam mencegah dan menanggulangi krisisi.

Perkreditan dan Neraca Pembayaran. • BSA bertujuan untuk menyediakan short term financial assistance dalam bentuk swap kepada Negara-negara Chiang Mai Initiative (ASEAN + 3). 2002). usulan perluasan ASA tersebut direalisasikan melalui kesepakatan Chiang Mai Intitatyve.. Jakarta.• Dalam KTT ASEAN Nopember 2001 di Brunai. BPFE. 1994. Jepang dan Korea). BAHAN BACAAN 1. Boediono. Moneter.3. 167 . 9. Tulus T. yaitu : (1) Menjembatani kesenjangan pembangunan (2) Memperdalam kerjasama ekonomi (3) Meningkatkan integrasi ekonomi • Dalam Sidang ASEAN Finance Ministers Meeting (AFMM) ke-4 di Brunei Darussalam pada tanggal 24-25 Maret 2000. Jepang dan Korea. Ghalia Indonesia. (Laporan Bank Indoensia. Dr. untuk menuju integrasi ASEAn 2020 RIA memiliki tiga pilar utama. 2. Dr. Ekonomi Internasional. Sjahrir.. para Menteri Keuangan Negara-negara ASEAN telah sepakat untuk menjajagi kemungkinan memperluas keanggotan ASEAN Swap Arragement (ASA) sehingga mencakup seluruh Negara ASEAN serta memasukkan Negara regional. Perekonomian Indonesia. Salah satu kesepakatan tersebut adalah Bilateral Swap Arregement (BSA) diantara Negara-negara ASEAN + 3 (China. Dr. Thailand. 2001.H. 3.. ekonomi dan pembangunan. perbankan. para pemimpin Negara-negara ASEAN mengeluarkan the RIA (Roadmap for Integration of ASEAN). Fasilitas swap ini merupakan supplement dari financing facility yang disediakan IMF dan ASA untuk mengatasi kesulitan Balance of Payment (BOP) Negara anggotanya. • Dalam sidang Special ASEAN Finance and Central Bank Deputies Meeting (AFDM) pada tanggal 6 Mei 2000 di Chiang Mai. Pustaka Sinar Harapan. Jepang. Teori dan temuan Empiris. Yogyakarta. sehingga tidak ada biaya yang dikeluarkan sebelum penarikan pinjaman dilakukan. fiscal. Edisi Pertama. 1995. Beberapa manfaat yang diperoleh dari BSA antara lain : (1) Mempercepat kerjasama di bidang keuangan antara Negara-negara ASEAN dan Negara + 3 (Korea.. Tambunan. (3) Tidak commitment fee pada saat penandatanganan ESA. yaitu Cina. Cina) (2) Fasilitas BSA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternative untuk mendukung Neraca pembayaran. Apa yang diuraikan di atas adalah sebagian dari sekian banyak keterlibatan pemerintah Indonsia dalam kerjasama internasional di bidang keuangan.. Persoalan Ekonomi Indoensia.

M. 5. Bank Indonesia. H..H. Dr. 7. Laporan Tahunan. Ghalia Indonesia. 8. 1982. 6. Dra.. Ekononomi & Bisnis. Tulus T. 2000. Perdagangan Internasional. Terjemahan Drs. Jakarta. Selasa 23 Maret 2004. Penerbit Erlangga. 2002 Dosen Pengasuh Perekonomian Indonesia Munawir. 1996. Hendra. SE 168 . Rudy Sitompul. Ghalia Indonesia. Perekonomian Indonesia. Pendekatan Ekonomi Makro & Mikro. Jakarta. 1993. Prijono. 2001. Ekonomi Internasional. Halwani. Kindleberger. dan Tjiptoharijanto..4. Jakarta. Tamburan. “Perundingan Pertanian WTO Dibuka Kembali” Harian Media Indonesia.H. Edisi Ketujuh. Dr..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful