Anda di halaman 1dari 17

BIOREMEDIASI MERKURI MENGGUNAKAN MIKROORGANISME PSEUDOMONAS FLOURENSCENS

Studi Kasus: Potensi Pseudomonas fluorescens strain KTSS untuk bioremediasi Merkuri di dalam tanah

DOSEN PEMBIMBING :

NOPI STIYATI P., S.Si, M.T

OLEH :

ZAKHROFUL MAIMUN

H1E108035

PROGAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2010

1
LAMPIRAN
JUDUL
Bioremediasi Merkuri Menggunakan Mikroorganisme Pseudomonas Flourenscens
ABSTRAK
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Laju pertumbuhan populasi manusia yang tinggi, telah
memaksa lahan untuk melakukan hampir semua aspek keperluan manusia dengan cara yang
tidak langsung atau pun langsung. Sebagai hasil tekanan populasi, area lahan terdegredasi dari
waktu ke waktu menghasil dampak dalam jumlah besar. Yaitu timbulnya kontaminasi logam
berat di tanah.
Secara umu,m diketahui bahwa logam berat merupakan unsur yang berbahaya di
permukaan bumi, sehingga kontaminasi logam berat di lingkungan merupakan masalah besar
dunia saat ini. Logam berat merupakan jenis polutan yang terdistribusi secara luas di dalam
tanah dan mendapat perhatian secara khusus karena sifatnya yang tidak dapat terdegradasi
serta dapat bertahan lama di dalam lingkungan. Limbah padat dan/atau cair yang dihasilkan
dari berbagai proses industri dan pertambangan mengandung logam berat toksik. Jenis bakteri
yang resisten terhadap logam berat mungkin berada di dalam tanah dan di lokasi tambang.
Apabila bakteri tersebut dapat beradaptasi pada lingkungan dengan tingkat kontaminasi logam
berat yang tinggi, maka diasumsikan bahwa penggunaan bakteri tersebut sangat efektif dalam
meningkatkan reduksi logam berat. Peranan bakteri dalam membersihkan pencemaran disebut
Bioremediasi. bioremediasi akan mempercepat proses perombakan polutan dengan memilih
inokulan mikroba yang sesuai dan memanipulasi lingkungan yang sesuai bagi mikroba tersebut
sehingga memungkinkan proses terjadinya perombakan polutan secara maksimal.

Kata Kunci : Bakteri, Bioremediasi, Logam Berat.

ABSTRACT
Land contamination is circumstance whereabout chemicals of made in incoming human
being and environmental fox of natural land. The high growth rate of human population has put 
pressure on land in  almost all aspects of human necessities, both direct or indirect manner. As
result of population pressure, the areas of  degraded land from time to time result of impact in
gross. That is incidence of heavy metal contamination in the land.

2
In General, known that by the heavy metal represent the dangerous element on the
surface of earth, so that heavy kontaminasi metal in environment represent the big problem of
world in this time. Heavy metals are widespread pollutants in soil and become environmental
concern as they are non-degradable and highly persistent. Solid and/or liquid wastes containing
toxic heavy metals may be generated in various industrial or mining processes. A heavy metal
resistant bacterium may be present in the soil and mining site. As they already preconditioned by
abundant heavy metals contaminant, the use of these bacterium is assumed to be effective in
improving metals reduction. Role of Bacterium in cleaning contamination referred as
Bioremediation. Bioremediation will quicken the process of dekomposisi polutan by chosening
appropriate inokulan microbe and appropriate environmental manipulation for the microbe so
that enable the process . The happening of dekomposisi polutan maximally.

Keyword : Bacterium, Bioremediation, Heavy Metals.

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Peningkatan populasi penduduk telah mengakibatkan tekanan terhadap lahan yang


begitu luar biasa. Hampir semua kebutuhan manusia, bahkan oksigen untuk bernafas secara
langsung atau tidak langsung dipenuhi oleh tanah. Kebutuhan  dasar manusia akan bahan
pangan, sandang, tempat tinggal, dan kebutuhan lain seperti bahan bangunan, energi serta
bahan penunjang prasarana produksi dapat dipenuhi oleh lahan. Disamping itu  benda-benda
yang menjadi simbol kekayaan seperti emas di gali dari perut bumi ini. Akan tetapi sebagian
besar pemanfaatan lahan tersebut tidak disertai dengan pengelolaan tindakan konservasi yang
memadai. Akibatnya,  pengelolaan lahan bagi sebagian besar manusia yang tanpa disadari
telah menganut paham materialisme telah mengakibatkan terjadinya degradasi lahan.

Namun demikian, beberapa mikroba tanah digolongkan memiliki peranan yang penting
bagi perbaikan lingkungan di sekitarnya. Aktivitas mikroba tanah dapat secara langsung atau
tidak langsung dapat memperbaiki kondisi lingkungan. Secara langsung, beberapa mikroba
tanah mampu menggunakan senyawa pencemar sebagai sumber makanan dan sumber energi,
sehingga konsentrasi polutan akan menurun. Proses penurunan atau pembersihan bahan
pencemar menggunakan aktivitas mikroba tanah disebut bioremediasi.

Batasan Masalah

Batasan masalah yang perlu di ambil dalam makalah ini adalah :


1. Apakah Pseudomonas fluorescens strain KTSS mempunyai kemampuan dalam
bioremediasi tanah tercemar merkuri?
2. Bagaimana proses bioremediasi merkuri tersebut?

Tujuan Penulisan

3
Tujuan yang hendak diambil dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
potensi Pseudomonas fluorescens strain KTSS untuk bioremediasi merkuri di dalam tanah serta
proses bioremediasinya.
Metode Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini, metode yang digunakan adalah metode kepustakaan,
yaitu dengan mengumpulkan data-data dari literatur-literatur dan jurnal penelitian yang
bersangkutan dengan Pengelolaan Kualitas Lingkungan khususnya tentang Bioremediasi
Merkuri.

TINJAUAN PUSTAKA
Pencemaran Tanah dan Dampak yang Di timbulkan
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena : kebocoran limbah
cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida, masuknya air
permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan, kecelakaan kendaraan pengangkut
minyak, zat kimia, atau limbah, air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri
yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat. Ketika suatu zat
berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan
dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap
sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung
kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
Berbagai dampak yang ditimbulkan akibat pencemaran tanah, diantaranya :
1. Pada Kesehatan
Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk
ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Berikut ini dampak yang ditimbulkan
oleh logam berat pada kesehatan. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan
bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena
dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi. Paparan
kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan
kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan
kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada
keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat menyebabkan gangguan pada saraf otot.
Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta
penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti
sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di
atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan Kematian.
2. Pada Ekosistem
Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan
kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan

4
pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme
dari mikroorganisme yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat
memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang
besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia
pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat
menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk
penghuni piramida atas. Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang
pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan
dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah
dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain
bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

Logam Berat Merkuri

Merkuri merupakan pencemar yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. 


Beberapa mikroorganisme dapat mereduksi ion Hg(II)  menjadi   unsur    Hg(0)  secara  aerob.
Kemampuan mereduksi dikendalikan oleh gen mer operon. Mikroba yang tahan merkuri adalah
Pseudomonas. Sedangkan Pseudomonas putida dapat membersihkan merkuri ketika
ditumbuhkan pada kultur yang kontinyu pada media yang kaya bahan organik. Ensim yang
berperan dalam reaksi ini adalah merkuri reduktase sehingga dapat ditingkatkan melalui
rekayasa genetika bagi mikroba yang menghasilkan Hg(II)-reduktase.

Merkuri (Hg) adalah unsur renik pada kerak bumi. Pada perairan alami, Hg juga
ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil. Hg merupakan satu-satunya logam yang berada
dalam bentuk cairan pada suhu normal. Hg terserap dalam bahan-bahan partikulat dan
mengalami presipitasi. Pada dasar perairan anaerobik, Hg berkaitan dengan sulfur. Merkuri
anorganik dapat mengalami transformasi menjadi metil merkuri (merkuri organik) yang di
perairan alami dipengaruhi oleh keberadaan mikroba, karbon organik, pH dan suhu. Metil
merkuri dapat mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi pada biota perairan, baik secara
langsung maupun jala makanan (food web). Organisme yang berada pada rantai paling tinggi
(top carnivora) memiliki kadar Hg lebih tinggi dari organisme di bawahnya
Mikroorganisme Pseudomonas Flourenscens

Pseudomonas fluorescens adalah Gram-negatif berbentuk batang bakteri yang mendiami


tanah, tanaman, dan air permukaan. P. fluorescens memiliki beberapa flagela. Hal ini sangat
serbaguna metabolisme, dan dapat ditemukan di dalam tanah dan dalam air. Ini adalah aerob
obligat tetapi strain tertentu mampu menggunakan nitrat bukannya oksigen sebagai akhir
penerima elektron selama respirasi selular. Suhu optimal untuk pertumbuhan Pseudomonas
fluorescens adalah 25-30 derajat Celcius. Ini tes positif untuk tes oksidase. Enzim lipase dan
protein yang dihasilkan oleh Pseudomonas fluorescens dan Pseudomonas lainnya. Enzim inilah
yang menyebabkan susu untuk memanjakan, dengan menyebabkan kepahitan dan kekentalan
karena produksi lendir dan koagulasi dari protein.

5
Gambar 1. Pseudomonas fluorescens
(Sumber : http://www.microbiologyatlas.kvl.dk/biologi/showproduct.asp?articleid=19)
Bioremediasi
1. Pengertian Bioremediasi
Secara umum bioremediasi adalah :

 Teknik aplikasi berdasarkan prinsip - prinsip proses biologis untuk membersihkan


atau mengurangi senyawa-senyawa polutan berbahaya di dalam tanah, air tanah dan
perairan.
 Penyisihan atau pengurangan cemaran / polutan senyawa “ target yang berbahaya ”
melalui aktivitas enzimatis organisme yang mampu menggunakan atau
mentransformasikan senyawa polutan sebagai sumber energi dan karbonnya.
 Metode untuk mengurangi senyawa polutan berbahaya secara biologis. Agen biologis
yang berperan antara lain bakteri, aktinomycet, yeast, fungi, algae dan tumbuh –
tumbuhan.
Dari pengertian di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa bioremediasi adalah proses
pembersihan pencemaran tanah dengan aktivitas menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri).
Selain itu bioremediasi dapat diartikan sebagai penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi
polutan di lingkungan. Yang termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam-logam berat,
petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida,
dan lain-lain. Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi
bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).Mikroorganisme dapat
menggunakan bahan pencemar sebagai sumber energi, sumber karbon atau aseptor elektron
untuk metabolisme hidupnya.  Masuknya bakteri pada ukuran populasi tertentu  terutama bakteri
yang adaptif dan resisten terhadap lahan terpolusi, dapat mengikat logam  berat karena mereka
memproduksi protein permukaan atau sequens peptida yang mampu mengikat logam berat.
Beberapa bakteri yang adaptif pada lahan yang terpolusi logam berat antara lain Ralstonia,
Pseudomonas dan Bacillus, mereka menghasilkan protein pengikat logam berat yang disebut
metallothionein. Banyak bakteri, khamir dan algae mampu mengakumulasikan ion logam dalam
sel mereka beberapa kali lipat dari konsentrasi logam di lingkungan sekitarnya.  Namun
demikian, jika kemudian  tergabung ke dalam rantai makanan maka hal ini dapat menyebabkan
masalah kesehatan yang serius. Teknik bioremediasi akan mempercepat proses perombakan

6
polutan dengan memilih inokulan mikroba yang sesuai dan memanipulasi lingkungan yang
sesuai bagi mikroba tersebut sehingga memungkinkan proses terjadinya perombakan polutan
secara maksimal.
Teknik bioremediasi memiliki beberapa keuntungan antara lain:
 Bioremediasi merupakan proses alami.
 Hasil proses bioremediasi bukan merupakan produk yang berbahaya.
 Tanah terkontaminasi dapat kembali ditanami.

Namun demikian teknik ini juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

 Tidak seluruh polutan mampu didegradasikan oleh mikroba


 Akumulasi senyawa toksik yang merupakan metabolit sekunder selama proses bioremediasi
tidak dapat dihindari.
 Poses perombakan akan mengalami kesulitan apabila polutan logam berat bercampur
dengan polutan organik .

2. Proses Bioremediasi

Proses bioremediasi memerlukan beberapa persyaratan agar dapat berlangsung, antara


lain:

 Mikroorganisme merupakan kunci pada kegiatan bioremediasi.  Sehingga


organisme yang digunakan harus dapat merombak polutan secara lengkap dengan kecepatan
yang reasonable sampai mencapai batas aman.         
 Mikroorganisme memerlukan tambahan sumber C dalam melakukan proses
degradasi polutan. Sehingga, perlu dilakukan penambahan elektron aseptor yang sesuai,
tergantung pada spesies mikroba dan kondisi lingkungan setempat,  misalnya O2 untuk
polutan yang memerlukan kondisi aerob, nitrat, fumarat atau sulfat untuk yang memerlukan
kondisi anaerob.
 Kondisi lingkungan setempat sangat penting dalam aktivitas degradasi oleh
mikroorganisme, hal ini meliputi ketersediaan oksigen, kelembaban, pH, bahan organik dan
suhu.
 Proses metabolisme oleh mikroorganisme perombak, hasil metabolismenya tidak
terakumulasi dan tidak menghasilkan metabolit yang lebih toksik dari polutan induknya.
 Bioavailability polutan menjadi faktor yang lebih penting untuk keberhasilan atau
kegagalan proses bioremediasi.
 Faktor ekologi bagi mikroba sangat penting untuk diperhatikan, jangan sampai 
mikroba perombak berada dalam kondisi stres secara ekologis atau berkompetisi dengan
mikroba lain yang non degradatif.
 Faktor yang tidak kalah penting adalah biaya. Jika strategi bioremediasi sangat
mahal  dan masyarakat pengguna (industri, pemerintah) tidak akan menggunakannya.
Dengan demikian, teknik bioremediasi hendaknya tidak lebih mahal daripada pengolahan
secara fisik atau kimia dan dapat digunakan setiap saat.

7
Merujuk pada Lovley (1995) dalam, bioremediasi dapat terjadi secara intrinsik dan
direkayasa (engineered). Bioremediasi intrinsik adalah bioremediasi yang berlangsung dengan
sendirinya tanpa campur tangan manusia karena kondisi lingkungan menunjang (nutrien
tersedia) dan mikroba yang berperanan dalam jumlah yang mencukupi. Namun demikian
seringkali faktor lingkungan tidak optimal sehingga tidak memungkinkan terjadinya
bioremediasi intrinsik sehingga memerlukan perbaikan faktor lingkungan, hal ini disebut
engineered bioremediation.

Konsep proses Bioremediasi didasarkan pada 4 proses utama:

1. Biodegradasi
Merupakan proses dekomposisi biokimiawi dari suatu senyawa menjadi senyawa
dengan toksisitas yang lebih rendah atau menjadi produk yang tidak berbahaya
(misalnya CO2 dan H2O) melalui aktivitas mikroorganisme seperti bakteri dan fungi.
2. Biotransformasi
Merupakan proses konversi yang diperantarai secara biokimiawi oleh aktivitas
mikroorganisme, suatu kontaminan menjadi kurang toksis.
3. Akumulasi biologis,
Beberapa bakteri dan tanaman mampu mengakumulasi kontaminan di dalam
jaringan mereka. Di dalam tanaman sifat ini dapat dimanfaatkan untuk
mengakumulasikan kontaminan ke dalam biomassa yang dapat dipanen.
4. Mobilisasi kontaminan,
Mobilisasi diperantarai secara biokimia dari kontaminan menjadi larutan yang
kemudian dipisahkan dari tanah terkontaminasi dan kontaminan akan diambil
kembali atau dihancurkan.

Untuk meningkatkan efisiensi proses bioremediasi, beberapa upaya yang dapat dilakukan,
antara lain :

 Biostimulasi: penambahan biostimulan. Melibatkan penambahan nutrisi, oksigen dan


mengatur kelembaban, penambahan jenis stimulan : vitamin, surfaktan dll, yang bertujuan
untuk menstimulasi aktifitas jasad renik.
 Bioaugmentasi : penambahan kultur-kultur' spesifik dari organisma-organisme yang
berperan secara spesifik dan telah teruji kemampuannya
 Rekayasa design dan rekayasa bioproses untuk optimasi sistem.
 Rekayasa genetika, untuk meningkatkan kemamapuan agen hayati dalam bioremediasi.

METODE PENELITIAN
Mikroorganisme
Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini yaitu P. fluorescens strain KTSS yang diisolasi dari
tambang batu bara wilayah penambangan PT Tambang Batu Bara Bukit Asam, Sumatera
Selatan. Identifikasi isolat ini diperoleh berdasarkan sifat fisiologinya menggunakan Microbact
Identification Kits. Biakan dipelihara di dalam agar miring berisi medium Luria Bertani (per liter
medium): 1,0 g Tripton, 0,5 g ekstrak khamir, 0,5 g NaCl, 1,5 g bacto agar, pH 7,2.

8
Penyiapan inokulum
Isolat bakteri yang akan diuji ditumbuhkan dalam 50 mL medium cair Luria Bertani (LB) selama
48 jam pada suhu 28oC di atas mesin pengocok dengan kecepatan 200 rpm.

Penyiapan bioamelioran
Bahan pembawa yang digunakan sebagai bioamelioran terdiri dari zeolit berdiameter 1-3 mm,
biochar (80 mesh), MgSO4 kalsinasi (100 mesh), dan bahan aktif (Pseudomonas fluorescens
strain KTSS) dengan perbandingan 9 : 0,5 : 0,5 : 0,6. Masing-masing bahan pembawa
disterilisasi terlebih dahulu di dalam oven bersuhu 105oC selama empat jam. Zeolit granul
digunakan sebagai inti, sementara biochar dan MgSO4 kalsinasi masing-masing digunakan
sebagai pelapis dan pengikat. Perbanyakan inokulan bakteri dilakukan di dalam medium LB.
Pencampuran bahan dilakukan dengan menggunakan doublecone mixer selama lima menit dan
disertai dengan inokulasi 6% (v/b) Pseudomonas fluorescens strain KTSS ke dalam bahan
pembawa dengan menggunakan sprayer bertekanan tinggi. Bioamelioran ini memiliki spesifikasi
bentuk granul berdiameter 1-3 mm berwarna abu-abu gelap, pH 7,3, kadar air 16,3 dan jumlah
populasi Pseudomonas fluorescens strain KTSS sebanyak 107 - 108 CFU/gram contoh.

Penetapan potensi P. fluorescens strain KTSS.


Lima puluh gram bahan tanah dimasukkan ke dalam 100 mL Erlenmeyer. Sterilisasi bahan tanah
dilakukan menggunakan autoklaf 1210C selama satu jam dalam tiga hari berturut-turut.
Selanjutnya ke dalam 10 buah Erlenmeyer yang berisi bahan tanah steril tersebut masing-masing
ditambahkan 5000 ppb merkuri dan diinkubasi dalam kondisi statis selama 24 jam. Setelah itu
sebanyak 0, 25, dan 50% (v/b) suspensi bakteri dengan populasi 108–1012 koloni/mL (CFU)
diinokulasikan ke dalam bahan tanah steril yang telah mengandung merkuri. Inkubasi dilanjutkan
dalam kondisi statis selama tujuh hari pada suhu 28oC. Pada akhir inkubasi, konsentrasi merkuri
terlarut air yang terdapat di dalam bahan tanah dianalisis dengan menggunakan Atomic
Absorbtion Spectrophotometer (AAS). Dalam pengujian ini digunakan strain unggul bakteri
pereduksi merkuri lainnya yang berasal dari Kalimantan Selatan (SAKS) sebagai pembanding.

Analisis merkuri terlarut air


Sebanyak 5 g bahan tanah yang mengandung suspensi P. fluorescens dimasukkan ke dalam 100
mL botol kocok plastik, kemudian ditambah 50 mL air suling dan dikocok selama dua jam
dengan kecepatan 200 rpm. Inkubasi dilanjutkan selama 24 jam pada suhu 28oC. Pada akhir
inkubasi, suspensi tersebut dikocok selama 30 menit kemudian disaring dengan kertas saring
Whatman 93 dan Sartorius 0,45 μM untuk memperoleh larutan jernih dan mencegah suspensi
bakteri terikut dalam penetapan merkuri terlarut air. Penetapan merkuri dilakukan dengan
menggunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometer (AAS, Shimadzu AA6300) (AOAC, 2000).

Analisis total merkuri di dalam bahan tanah dan tanaman


Sebanyak 1 g bahan tanah atau bagian tanaman (daun) kering oven dimasukkan ke dalam 100
mL Erlenmeyer, kemudian ditambah dengan 5-7 mL HNO3 pekat dan 1 mL HCLO4 pekat.
Erlenmeyer ditutup dengan kaca penutup dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 28oC.
Selanjutnya suspensi bahan tanah atau daun di dalam Erlenmeyer dipanaskan secara perlahan
(100-150oC) selama lebih kurang tiga jam sampai uap berwarna cokelat berkurang. Suhu alat
pemanas dinaikkan hingga mencapai 200oC sampai terbentuk uap putih di dalam suspensi

9
tersebut. Setelah uap putih berkurang, sebanyak 1 mL suspensi yang tertinggal di dalam
Erlenmeyer didinginkan hingga mencapai suhu ruang, kemudian dipindahkan ke dalam 50 mL
labu ukur (pyrex), dan volume ditepatkan menjadi 50 mL dengan penambahan aquades dan
dilakukan pengocokan sampai homogen. Suspensi disaring terlebih dahulu dengan kertas saring
Whatman 93 sebelum penetapan total merkuri dengan Atomic Absorbtion Spectrophotometer
(AAS, Shimadzu AA6300). Metode penetapan merkuri dengan AAS dilakukan tanpa nyala api,
tetapi dihibridisasi dengan SnCl2 dan H2O membentuk kabut dalam alat vapour generation
accesories (VGA). Lampu katoda merkuri dipasang pada panjang gelombang (λ) 253,5 nm dan
cahayanya diarahkan supaya dapat menembus kabut dari larutan tersebut (AOAC, 2000).

Penetapan potensi reduksi merkuri dengan bioindikator bibit kakao di rumah kaca.
Kegiatan penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan lima
ulangan. Sebagai medium tanam digunakan bahan tanah asal desa Bantar Karet, Kecamatan
Nanggung, Leuwiliang-Jawa Barat. Pengambilan bahan tanah dilakukan di kedalaman 0-20 cm.
Bahan tanah selanjutnya diayak menggunakan ayakan 5 mm dan diaduk hingga homogen.
Sebanyak 10 kg bahan tanah homogen dimasukkan ke dalam ember plastik berkapasitas 15 L
yang telah dilubangi bagian bawahnya. Setiap ember plastik ditanami dengan satu bibit kakao
lindak klon Upper Amazon Hybrid (UAH) umur dua minggu. Pengamatan pertumbuhan vegetatif
bibit kakao dilakukan setiap bulan selama tiga bulan. Peubah yang diamati meliputi: (i) tinggi
bibit, (ii) jumlah daun, (iii) panjang akar, dan (iv) berat basah dan kering batang, daun, dan akar
bibit kakao. Seluruh perlakuan memperoleh pemupukan masing-masing 18 g (100%) dan 9 g
(50%) pupuk NPK 15-15-15. Aplikasi bioamelioran berbahan aktif P. fluorescens strain KTSS
dilakukan bersamaan dengan aplikasi pupuk NPK 15-15-15. Analisis bahan tanah meliputi kadar
N (metode Kjeldahl) , P2O5 dan K2O (terekstrak HCl 25%), C organik (Walkley-Black), pH,
KTK-metode Bower (US Salinity Lab. Staff 1954) dan konsentrasi total merkuri (AAS).
Adapun rancangan perlakuan sebagai berikut:
A. 100% dosis pupuk NPK.
B. 100% dosis pupuk NPK +1,60g bioamelioran P. fluorescens strain KTSS/ bibit.
C. 100% dosis pupuk NPK + 3,25 g bioamelioran P. fluorescens strain KTSS/bibit.
D. 50% dosis pupuk NPK + 3,25 g bioamelioran P. fluorescens strain KTSS/bibit.
E. Tanpa pupuk (Blanko).
Data yang diperoleh diolah dengan analisis sidik ragam dan untuk membandingkan hasil dari
tiap perlakuan dilakukan uji lanjut dengan Uji Jarak Berganda Duncan taraf 5% (Steel & Torrie,
1980).

Penetapan potensi reduksi merkuri dengan bioindikator padi varietas Ciherang di lapang
Kegiatan penelitian dilakukan di desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Leuwiliang (Jawa
Barat). Hasil analisis tanah yang dilakukan pada saat penelitian sebagai berikut : 0,26% N;
0,003% P2O5; 0,006% K2O; 2,64% C-organik; 16,46 meq/100g KTK, 21,1 ppm Hg dan pH 4,4.
Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dan tiga ulangan dengan perlakuan :
A. 100% dosis pupuk NPK
B. 100% dosis pupuk NPK + 37,5 kg Bioamelioran P.fluorescens strain KTSS /ha
C. 100% dosis pupuk NPK + 75,0 kg bioamelioran P. fluorescens strain KTSS/ha
D. 50% dosis pupuk NPK + 75,0 kg bioamelioran P. fluorescens strain KTSS/ha
E. Tanpa pupuk (Blanko)

10
Dosis pupuk anjuran lapang adalah 300 kg NPK Phonska (15-15-15) + 200 kg urea/ha.
Bioamelioran diberikan satu hari sebelum tanam dengan cara pembenaman ke dalam tanah.
Sementara itu, 300 kg NPK Phonska (15-15-15) diberikan sekaligus pada tujuh hari setelah
tanam (HST). Selanjutnya 200 kg pupuk urea diberikan secara sebar (broadcast) sebanyak tiga
kali pemupukan pada umur tanaman 7, 21 dan 42 HST. Ukuran petak: 5 x 6 m dengan pembatas
petak berupa pematang dengan lebar 20-30 cm, tinggi 30 cm. Padi varietas Ciherang ditanam-
pindah pada umur 15 hari setelah pembibitan, dan selanjutnya ditanam dengan sistem legowo 2 :
1 berjarak tanam 12,5 x 25 x 50 cm, dengan dua bibit per lubang tanam. Pengambilan sampel
tanah dilakukan pada 15 titik lalu dikompositkan untuk dianalisis sifat kimia tanah dan
Kandungan merkuri. Pengamatan terhadap perkembangan jumlah anakan (rumpun) dan tinggi
tanaman (cm) pada 7, 14, 21, 42, dan 63 HST dilakukan dengan mengukur sampel tanaman
sebanyak 10 rumpun per petak perlakuan. Sementara itu, peubah yang diamati untuk mengetahui
produktivitas tanaman meliputi: (i) jumlah anakan produktif, (ii) malai isi, (iii) gabah kering
panen (GKP), dan (iv) gabah kering giling (GKG). Data yang diperoleh diolah dengan analisis
sidik ragam dan untuk membandingkan hasil dari tiap perlakuan dilakukan uji lanjut dengan Uji
Jarak Berganda Duncan taraf 5% (Steel & Torrie, 1980).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penetapan potensi Pseudomonas fluorescens dalam mereduksi merkuri di dalam bahan tanah

Berdasarkan hasil penelitian ini, pemberian inokulan P. fluorescens strain KTSS sebanyak 25%
(v/b) ke dalam 50 g bahan tanah steril dengan masa inkubasi selama tujuh hari pada suhu 28 oC
dapat menurunkan konsentrasi merkuri lebih banyak jika dibandingkan dengan tanpa inokulan
ataupun perlakuan dengan P. fluorescens strain SAKS (isolat pembanding). Jumlah suspensi P.
fluorescens strain KTSS maupun SAKS yang ditambahkan ke dalam bahan tanah dengan
konsentrasi 25% (v/b) lebih optimal menurunkan konsentrasi merkuri jika dibandingkan dengan
50% (v/b) seperti hasil yang didapat pada gambar 1. Apabila dibandingkan dengan tanpa
inokulan, maka potensi reduksi merkuri oleh P. fluorescens strain KTSS dan SAKS masing-
masing sebesar 53,3 dan 40,1% untuk 25% (v/b) serta 41,9 dan 16,3% untuk 50% (v/b) suspensi
inokulan. Mengenai mekanisme transformasi merkuri yang dilakukan oleh bakteri, Barkay
(2000) menjelaskan ada empat jenis mekanisme enzimatis terkait dengan hal tersebut yaitu: (i)
reduksi Hg2+ menjadi Hg0, (ii) pemecahan senyawa organomerkuri (termasuk MeHg+), yang
menghasilkan bentuk Hg0, (iii) metilasi Hg2+, dan oksidasi Hg0 menjadi Hg2+. Reaksi reduksi
dan pemecahan senyawa organomerkuri dilakukan oleh enzim dan protein (mer) operon dari
bakteri yang resisten terhadap merkuri dengan produk akhir Hg0. Operon mer memiliki situs
pelekatan spesifik untuk protein (merT, merP, dan merC) yang mentransport Hg2+ ke dalam
sitoplasma dan mencegah penghancuran sel. Di dalam sel, Hg2+ direduksi oleh NADPH menjadi
Hg0 oleh enzim merkuri reduktase (merA). Beberapa operon mer bakteri mengandung gen
merB yang mengkodekan enzim merkuri liase. Enzim ini dapat mendetoksifikasi senyawa
organomerkuri termasuk MeHg2+ dan Me2Hg.

11
Penetapan potensi reduksi merkuri dengan bioindikator bibit kakao di rumah kaca

Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa tinggi, jumlah daun, dan panjang akar bibit kakao
memberikan hasil pertumbuhan yang baik dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK yang
dikombinasikan 3,25g bioamelioran/bibit (perlakuan C). Penimbangan terhadap berat basah dan
berat kering batang, daun, dan akar bibit menghasilkan data yang konsisten terhadap hasil
pengukuran pertumbuhan vegetatif bibit kakao lindak klon UAH (Tabel 1). Berdasarkan data
yang diperoleh pada Tabel 1 maka penetapan akumulasi merkuri di dalam bahan tanah dan daun
bibit kakao dilakukan dengan menganalisis akumulasi merkuri pada perlakuan C, perlakuan A
(pemberian pupuk PK) dan perlakuan E (tanpa pupuk).

Tabel 1. Pertumbuhan bibit kakao lindak klon UAH umur tiga bulan setelah tanam dengan
perlakuan bioamelioran berbahan aktif P. fluorescens strain KTSS.

Berat Berat Berat Berat Berat Berat


Jumlah Panjan
Perlakua Tinggi Basah basah basah kering kering Kering
Daun g Akar
n (cm) batang daun akar batang daun akar
(helai) (cm)
(g) (g) (g) (g) (g) (g)
A 30,2AB*) 18,3a 39,0ab 4,7a 7,1b 2,8d 1,6abc 2,7b 1,7ab

12
B 34,2A 18,0a 42,7a 5,6a 8,1ab 4,4bc 2,1a 3,0ab 1,6bc
C 34,2a 18,3a 45,7a 5,2a 10,3a 6,1a 1,8ab 3,4a 2,0a
D 33,5a 18,0a 30,3b 5,1a 9,7a 4,6b 1,5bc 3,3ab 1,4bc
E 25,2b 13,7b 36,8ab 4,2a 6,6b 3,8c 1,3c 2,7b 1,3c

*) Angka dalam kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata
menurut uji jarak ganda Duncan (P>0,05).
Keterangan :
(A) 100% dosis pupuk NPK.
(B) 100% dosis pupuk NPK + 1,60 g bio-amelioran P. fluorescens strain KTSS/bibit.
(C) 100% dosis pupuk NPK + 3,25 g bio-amelioran P. fluorescens strain KTSS/bibit.
(D) 50% dosis pupuk NPK + 3,25 g bio-amelioran P. fluorescens strain KTSS/bibit.
(E) Tanpa pupuk (Blanko).

Hasil yang diperoleh disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata total merkuri yang terdapat di dalam bahan tanah dan daun bibit kakao tiga
bulan setelah tanam.

Rata-rata total merkuri


Perlakuan

Bahan Tanah Daun bibit Kakao (ppb)


100% dosis pupuk NPK  
915 404,8
Full rate of 15-15-15 NPK fertilizer dosages

100% dosis pupuk NPK 15-15-15 + 3,25 g

bioamelioran P. fluorescens strain KTSS/bibit


2439 <0,2
Full rate of 15-15-15 NPK fertilizer dosages +3,25 g

bioameliorant/seed  

Tanpa pupuk (Blanko)   797,3 66,3

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa dengan pemberian bioamelioran P. fluorescens


strain KTSS pada bahan tanah sebagai media tanam bibit kakao maka dalam jangka waktu tiga
bulan setelah tanam, akumulasi merkuri terkonsentrasi di daerah sekitar perakaran bibit.
Konsentrasi merkuri total yang terdapat di dalam bahan tanah dengan perlakuan bioamelioran
(perlakuan C) lebih tinggi jika dibandingkan perlakuan pemberian NPK 15- 15-15 saja
(perlakuan A) ataupun tanpa pupuk (perlakuan E). Hal ini diduga bahwa dengan pemberian
bioamelioran P. fluorescens strain KTSS dapat menghambat translokasi merkuri ke jaringan

13
daun bibit kakao. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya sebagaimana
dikemukakan oleh Alloway (1995) dalam Laksmita,dkk (2009) bahwa ketersediaan merkuri di
dalam tanah yang ditranslokasikan ke dalam jaringan tanaman akan rendah karena pada
umumnya ada kecenderungan merkuri akan terakumulasi di akar atau daerah sekitar perakaran.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa akar tanaman akan menyimpannya sebagai barier untuk
pengambilan merkuri. Peran P. fluorescens strain KTSS dalam hal ini cukup signifikan terhadap
terjadinya proses aku-mulasi merkuri di daerah sekitar perakaran (bahan tanah) melalui
penjerapan logam tersebut ke dalam sel bakteri, sehingga konsentrasi total merkuri yang terukur
pada jaringan daun bibit kakao sangat rendah. Beberapa strain P. Fluorescens lebih dikenal
sebagai plant growthpromoting rhizobacteria (PGPR) yang memiliki kemampuan menghasilkan
aktivitas deaminase 1-amino siklopropana-1- karboksilat (ACC), asam indol asetat (IAA) dan
siderofor. Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi dari bakteri ini akan memungkinkan
terbentuk simbiosis dengan tanaman sebagai mikrosimbion. Mikrosimbion penting dalam
meminimalisir pengaruh polutan di dalam tanah terutama polutan logam berat yang bersifat
gesit.

Penetapan potensi reduksi merkuri dengan bioindikator padi varietas Ciherang di lapang
Lokasi penelitian berada di dalam wilayah Kecamatan Nanggung Provinsi Jawa Barat, dekat
tambang emas. Berdasarkan analisis awal bahan tanah dari lahan yang digunakan untuk uji
penetapan potensi reduksi merkuri oleh isolat P. fluorescens strain KTSS tersebut diketahui
bahwa kadar merkuri mencapai 21,1 ppm. Kontaminasi merkuri dalam tanah yang terdapat di
lokasi ini dapat terjadi karena proses alamiah seperti pelapukan batuan, pengolahan emas dengan
cara amalgamasi, dan kegiatan industri lainnya yang menggunakan bahan baku merkuri. Selama
kegiatan penelitian berlangsung, pengamatan pertumbuhan padi dilakukan dalam lima periode
hari setelah tanam (HST). Produktivitas padi varietas Ciherang yang ditunjukkan melalui hasil
penimbangan GKG untuk perlakuan 100% dosis pupuk NPK 15-15-15 dan 37,5- 75 kg
bioamelioran/ha berturut-turut adalah 13,74 dan 13,84 kg/30 m2. Jika dikonversi dalam satu
hektar maka nilai GKG tersebut menjadi 4,58 dan 4,61 ton/ha (Tabel 3). Pengaruh pemberian
bioamelioran berbahan aktif P. fluorescens strain KTSS yang diperoleh dari kegiatan di lapang
masih memerlukan uji lanjut untuk memperoleh konsistensi data. Pengujian disarankan minimal
dalam dua periode musim tanam di tempat yang sama. Selain itu pula konsistensi hasil
diperlukan melalui uji multi lokasi dengan kondisi masalah logam berat di dalam tanah. Data
analisis laboratorium menunjukkan bahwa ada sedikit peningkatan nilai pH tanah dengan
perlakuan pupuk dan bioamelioran jika dibandingkan dengan tanpa pupuk. Sementara itu kadar
merkuri di dalam tanah dengan pemberian bioamelioran cenderung lebih rendah jika
dibandingkan dengan pemberian pupuk NPK 15-15-15 atau tanpa pupuk (Tabel 4). Asumsi
dalam pemberian pupuk NPK dapat meningkatkan konsentrasi merkuri di dalam bahan tanah
perlu dikaji lebih dalam mengingat banyak faktor di dalam tanah yang dapat mempengaruhi
mobilisasi logam ini, antara lain pencucian jumlah bahan organik. Pengikatan oleh ion-ion
bermuatan negatif dalam larutan tanah, pH tanah, kondisi redoks, dan penjerapan oleh liat
(Alloway, 1995). Tanah di lokasi percobaan memiliki pH 4,4. Pada kondisi tersebut, merkuri
diduga dalam bentuk HgCl2. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Alloway (1995) dalam
Santi,dkk (2009), bahwa pada pH di bawah 5,5 bentuk merkuri yang dominan di dalam larutan
tanah adalah HgCl2 dan pada pH tersebut bahan organic mungkin juga dapat berperan dalam
penjerapan merkuri. Kadar bahan organik 2,53-3,04% yang termasuk katagori sedang di lokasi
penelitian ini akan berdampak meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas P. fluorescens strain

14
KTSS. Interaksi antara bahan organik dan bakteri memungkinkan bagi penjerapan dan reduksi
konsentrasi merkuri terlarut di dalam tanah. Hasil ini mendukung pernyataan Ettler et al. (2007)
dalam Santi,dkk(2009), bahwa kontaminasi merkuri lebih banyak dijumpai pada tanah-tanah
masam, dimana konsentrasi total merkuri yang terjerap dalam tanah masam akan lebih tinggi
apabila dibandingkan dengan bentuk terlarut.

Tabel 3. Pertumbuhan dan produktivitas padi varietas Ciherang dengan perlakuan bioamelioran
berbahan aktif P. fluorescens strain KTSS.
Peubah (Parameter)
Gabah Gabah
Jumlah Anakan
Tinggi kering kering
Perlakuan Malai
giling
isi
tanaman anakan produktif panen (kg/30
(cm) (kg/30 m2) m2)
16,7ab
100% dosis pupuk NPK 15-15-15 84,6 a*) c 18,5ab 83,9b 16,2a 13,72a
100% dosis pupuk NPK 15-15-15 876,5a 18,1ab 23,0a 117,9a 16,6a 13,74a
+ 37.5 kg bioamelioran/ha            
100% dosis pupuk NPK 15-15-15 87,2a 19,2a 21,9a 114,a 16,2a 13,84a
+ 75 kg bio-amelioran/ha            
50% dosis pupuk NPK 15-15-15 80,9a 13,8c 16,9ab 113,7a 12,6b 10,79b
+ 75 kg bio-amelioran/ha            
Tanpa pupuk (Blanko)   73,4b 14,5bc 14,7b 86,3 12,2b 10,25b
*) Angka dalam kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata
menurut uji jarak ganda Duncan (P>0,05).

Tabel 4. Analisis kimia bahan tanah Bantar Karet-Nanggung yang diperlakukan dengan
bioamelioran, 92 hari setelah tanam.
Analisis
Rata - Rata
P2O5 (%) C-org (%) Rata - Rata kadar
Perlakuan pH Kadar
Merkuri
    merkuri dalam tanah
  dalam beras
5,
100% dosis pupuk NPK 15-15-15 2 0,06 2,86 10,0 0,6
5,
100% dosis pupuk NPK 15-15-15 3 0,06 3,00 7,4 0,5
+ 37.5 kg bioamelioran/ha          
5,
100% dosis pupuk NPK 15-15-15 4 0,06 3,04 6,9 0,5
+ 75 kg bio-amelioran/ha          
5,
50% dosis pupuk NPK 15-15-15 1 0,05 2,64 6,5 0,5
+ 75 kg bio-amelioran/ha          
Tanpa pupuk (Blanko)   4, 0,06 2,53 7,9 0,5

15
9

KESIMPULAN
Berdasarkan studi kasus yang berjudul “Potensi Pseudomonas fluorescens strain KTSS
untuk bioremediasi merkuri di dalam tanah”, dapat diambil kesimpulan bahwa Pseudomonas
fluorescens strain KTSS memiliki potensi mereduksi logam merkuri. Peran Pseudomonas
fluorescens strain KTSS cukup signifikan terhadap terjadinya proses akumulasi merkuri di
daerah sekitar perakaran bibit kakao melalui penyerapan logam tersebut ke dalam sel bakteri,
sehingga dapat menghambat translokasi merkuri ke dalam jaringan daun bibit kakao.
Transformasi. merkuri yang dilakukan oleh bakteri, Barkay (2000) dalam menjelaskan
ada empat jenis mekanisme enzimatis terkait dengan hal tersebut yaitu: (i) reduksi Hg2+ menjadi
Hg0, (ii) pemecahan senyawa organomerkuri (termasuk MeHg+), yang menghasilkan bentuk
Hg0, (iii) metilasi Hg2+, dan (iv) oksidasi Hg0 menjadi Hg2+. Reaksi reduksi dan pemecahan
senyawa organomerkuri dilakukan oleh enzim dan protein (mer) operon dari bakteri yang
resisten terhadap merkuri dengan produk akhir Hg0. Operon mer memiliki situs pelekatan
spesifik untuk protein (merT, merP, dan merC) yang mentransport Hg2+ ke dalam sitoplasma
dan mencegah penghancuran sel. Di dalam sel, Hg2+ direduksi oleh NADPH menjadi Hg0 oleh
enzim merkuri reduktase (merA). Beberapa operon mer bakteri mengandung gen merB yang
mengkodekan enzim merkuri liase. Enzim ini dapat mendetoksifikasi senyawa organ merkuri
termasuk MeHg2+ dan Me2Hg.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Bioremediasi.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bioremediasi

Diakses internet tanggal 8 Maret 2010

Anonim. 2010. Pencemaran Tanah.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_tanah
Diakses internet tanggal 8 Maret 2010

Purnama, Dede. 2009. Logam Berat Merkuri (Hg).

Sumber : http://dedepurnama.blogspot.com/2009/07/logam-berat-merkuri-hg.html

Diakses tanggal 23 Maret 2010

Santi, dkk. 2009. Potensi Pseudomonas fluorescens strain KTSS untuk bioremediasi merkuri di
dalam tanah.

16
Widyati, Enny. 2004. Tinjauan tentang Peranan Mikroba Tanah dalam Remediasi Lahan
Terdegradasi .

Sumber : http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/08234/enny_widyati.htm

Diakses tanggal 13 Maret 2010

17

Anda mungkin juga menyukai