Anda di halaman 1dari 18

Makalah Pengelolaan Kualitas Lingkungan

”STRATEGI PENANGGULANGAN PENCEMARAN LAHAN


PERTANIAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN”

DISUSUN OLEH:
ADELIA FAULINA SARI
H1E108060

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2010

1
ABSTRACT

The green revolution is the beginning of emergence disruption balance of


the agricultural environment by the use of high agrochemical materials to
increase agricultural production. The impact of agricultural development on the
environment have been identified, and environmental pollution by agrochemical
substances (fertilizers and pesticides) is one of the real impact. In addition, land
mismanagement in the past have caused damage to some agricultural land, which
affects also to the decline in productivity and quality of agricultural products, and
also eventually lead to the achievement of agricultural revitalization
Identification and monitoring, and mitigation of technological innovation and
overcoming problems.
Keywords: Agriculture, Agriculture Land Management, environmental damage

ABSTRAK

Revolusi hijau merupakan awal dari munculnya gangguan terhadap


keseimbangan lingkungan pertanian akibat penggunaan bahan agrokimia yang
tinggi untuk meningkatkan produksi pertanian. Dampak pembangunan pertanian
terhadap lingkungan telah teridentifikasi, dan pencemaran lingkungan oleh
bahan agrokimia (pupuk dan pestisida) merupakan salah satu dampak yang
nyata. Selain itu, kesalahan pengelolaan lahan di masa lampau telah
menyebabkan rusaknya sebagian lahan pertanian, yang berdampak pula
terhadap penurunan produktivitas dan mutu produk pertanian, dan pada
akhirnya berujung pula pada pencapaian revitalisasi pertanian Identifikasi dan
pemantauan, serta inovasi teknologi mitigasi dan penanggulangan masalah.
Kata Kunci : Pertanian, Penanggulangan lahan Pertanian, kerusakan lingkungan

2
1. Judul
Strategi Penanggulangan Pencemaran Lahan Pertanian dan Kerusakan

Lingkungan

2. Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Kegiatan pembangunan di Tanah Air, seperti pembangunan kawasan


industri dan pertambangan berdampak positif bagi masyarakat luas, yaitu
menciptakan lapangan kerja baru bagi penduduk di sekitarnya. Namun,
keberhasilan tersebut sering kali diikuti oleh dampak negatif yang merugikan
masyarakat dan lingkungan. Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah
pertanian dan sekitarnya telah mengurangi luas areal pertanian produktif dan
juga mencemari tanah dan badan air. Akibatnya kualitas dan kuantitas hasil
atau produk pertanian menurun, serta kenyamanan dan kesehatan manusia
atau makhluk hidup lainnya terganggu. Adanya pencemaran udara dalam
kegiatan industri dan emisi gas-gas rumah kaca (GRK), seperti CO2, CFC,
CH4, O3, dan N2O dari kendaraan bermotor, telah diketahui sebagai penyebab
pemanasan bumi global.

Revolusi hijau merupakan awal dari munculnya gangguan terhadap


keseimbangan lingkungan pertanian akibat penggunaan bahan agrokimia
yang tinggi untuk meningkatkan produksi pertanian. Revolusi hijau yang
terjadi pada tahun 1500-1800 merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan
akan bahan makanan, seperti gandum, padi, jagung, dan kentang yang
meningkat tajam akibat penduduk yang ber-tambah dengan cepat. Proses ini
berlangsung terus-menerus di Eropa dan Amerika Utara pada tahun 1850-
1950. Pada saat itu, produksi pangan dari tanaman maupun hewan dipacu
dengan menggunakan pupuk secara besar-besaran dan ditunjang dengan
pengembangan irigasi. Demikian pula penggunaan bahan kimia seperti
pestisida dan herbisida mulai dirasakan mencemari lingkungan.

3
Sebagai salah satu negara anggota KTT Bumi, Indonesia yang ikut
meratifikasi hasil konferensi tersebut mempunyai komitmen yang kuat untuk
mengatasi masalah lingkungan, termasuk di sektor pertanian. Terkait dengan
ketiga isu utama lingkungan di sektor pertanian, pemerintah melalui
Departemen Pertanian telah menetapkan beberapa kebijakan, yang dibedakan
atas dua pilihan utama. Pertama, kebijakan dalam pembangunan atau
pengembangan pertanian. Kedua, kebijakan yang bersifat regulasi,
pengawasan, dan pengendalian melalui peraturan dan perundang-undangan.

Batasan Masalah

Batasan masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah tentang


pencemaran apa saja yang ada dalam pertanian, penanggulangan
pencemaran lahan pertanian, serta serta strategi penanggulangannya.

Tujuan

Tujuan yang hendak diambil dari pembuatan makalah ini adalah agar
kita dapat menanggulangi dan mengantisipasi masalah pencemaran pada
lahan pertanian, yang erat kaitannya dengan pencemaran tanah. Untuk
kualitas lingkungan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan adalah kajian pustaka, di mana


penulis mengambil materi- materi yang di bahas dari beberapa referensi yang
di dapatkan dari buku-buku di perpustakaan maupun dari internet.

3. Tinjauan Pustaka
a. Pertanian dan Lingkungan

4
Pertanian adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak, serta
produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya
tumbuhan dan hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi
daya (bahasa Inggris: cultivation, atau untuk ternak: raising). Namun
demikian, pada sejumlah kasus yang sering dianggap bagian dari pertanian
dapat berarti ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi
hutan (bukan agroforestri). (Anonim1, 2010)

Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup


keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora
dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan
kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana
menggunakan lingkungan fisik tersebut.

Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik


adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim,
kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala
sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-
organisme (virus dan bakteri). (Anonim2, 2010)

b. Kerusakan Lingkungan Pertanian dan Penyebabnya

Pembangunan sentra industri di dekat kawasan persawahan merupakan


salah satu penyebab menurunnya kualitas lahan dengan ditemukan zat-zat
kimia beracun berbahaya pada zone perakaran tanaman, hal ini disebabkan
petani menggunakan air sungai tercemar sebagai sumber air pengairan.
Bahan beracun tersebut dapat terkandung dalam produk pertanian secara
periodik terkonsumsi dan membahayakan kesehatan manusia. Kualitas lahan
pertanian ditengarai tercemar oleh limbah industri dan pertambangan
khususnya unsur logam bahan beracun berbahaya (B3) seperti merkuri (Hg),
timbal (Pb), kadmium (Cd), krom (Cr), arsen (As), nikel (Ni) dan kobalt (Co)
yang terlarut dalam air limbah yang mengalir memasuki lahan persawahan
dan secara kumulatif terendapkan dalam zone perakaran tanaman. Kasus
tersebut banyak terjadi di kawasan irigasi persawahan di P. Jawa sekitar

5
sentra industri dan atau pertambangan. Akumulasi bahan kimia dari limbah
ini tidak hanya menurunkan produktivitas lahan tetapi juga menurunkan
kualitas produk pertanian karena mengandung logam berbahaya. Penggunaan
bahan agrokimia di daerah intensifikasi khususnya pada tanaman pangan
diduga telah menurunkan sumberdaya hayati atau kualitas lingkungan.
Residu pestisida selain ditemukan di tanah dan air juga ditemukan di dalam
sayuran baik di tingkat petani maupun di pasar. Penggunaan pestisida dalam
jangka panjang berpengaruh negatif terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan pertanian. (Dewi, 2010)

Dalam beberapa tahun belakangan ini masalah kerusakan lingkungan


sudah menjadi issu Nasional dan Internasional. Salah satu yang mendasari hal
ini adalah terjadinya pemanasan global akibat efek rumah kaca yang sudah
terjadi dalam waktu yang cukup lama. Pembukaan hutan untuk dijadikan
lahan pertanian merupakan salah satu penyumbang terjadinya pemanasan
global. Perubahan lahan hutan menjadi Agroekosistem lahan kering bagi
keperluan pertanian menetap dan sementara demi untuk memenuhi kebutuhan
hidup sudah terjadi sejak lama. Hal ini telah mengakibatkan terjadinya
degradasi/penurunan kesuburan lahan. Pemanfaatan lahan kering di
perbukitan/lahan miring secara terus menerus untuk keperluan pertanian baik
pertanian semusim maupun tanaman perkebunan dapat menyebabkan lahan
tersebut mengalami erosi dan penurunan kesuburan yang berat. Untuk
mempertahankan kelestarian lahan diperlukan upaya pengelolaan yang tepat.

Perubahan pola pertanian yang konvensional ke pertanian intensif telah


membawa berbagai konsekuensi baik terhadap lingkungan pertanian maupun
lingkungan sekitarnya. Konsekuensi nyata perkembangan sistem pertanian
intensif antara lain, percepatan erosi, efek residu pupuk dan pestisida.
Terjadinya gangguan dalam lingkungan disebabkan adanya manusia yang
serakah, kurangnya kepedulian pada ekologi dan akibat penggunaan
teknologi pertanian yang tidak mengacu pada pembangunan berwawasan
lingkungan. Selain itu, tidak terakomodirnya penggunaan/pemberian pupuk
sehingga tidak mampu mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.

6
Selanjutnya mengatakan bahwa apabila pemupukan yang digunakan pada
suatu daerah rendah, maka produksinya akan tertinggal jauh dibanding
dengan pertumbuhan jumlah penduduknya. Fenomena ini banyak terjadi pada
petani yang mengelola lahan-lahan marginal. Pengelolaan agrokosistem
lahan kering dipandang sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem
sumberdaya alam oleh masyarakat petani yang menempati areal dimana
mereka menetap. Masyarakat petani menanami lahan pertanian dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dapat dikatakan sebagai
bagian dari pengelolaan agroekosistem lahan kering di daerahnya.
Pengelolaan agroekosistem lahan kering merupakan bagian dari interaksi atau
kerja sama masyarakat dengan agroekosistem sumberdaya alam. Pengelolaan
agroekosistem lahan kering merupakan usaha atau upaya masyarakan
pedesaan dalam mengubah atau memodifikasi ekosistem sumberdaya alam
agar bisa diperoleh manfaat yang maksimal dengan mengusahakan
kontinuitas produksinya. (Muthmainnah, 2009).

Pada lahan miring dengan kemiringan diatas 15% apabila tanah tidak
dikelola dengan baik saat ditanami, maka sangat rentan terhadap terjadinya
erosi di waktu hujan. Hal ini terjadi karena tanah tidak mampu meresapkan
air hujan kedalam tanah, sehingga terjadi aliran permukaan (run off) yang
menghanyutkan butiran-butiran tanah sehingga tanah menjadi tidak subur
lagi. Akibat erosi yang terjadi selama musim hujan tidak hanya
menghanyutkan butiran-butiran tanah akan tetapi juga menghanyutkan pupuk
dan kompos yang diberikan ketanah juga ikut hanyut sehingga tanah menjadi
kurus, oleh sebab itu erosi harus dicegah sedini mungkin. Dampak dari
terjadinya erosi ini adalah di daerah bagian bawah terjadinya pendangkalan
pada daerah aliran sungai (DAS) yang berakibat terjadinya gangguan
keseimbangan ekosistim air setempat. Erosi adalah sebagai akibat dari
penggarapan lahan yang tidak tepat maka untuk penggunaan lahan harus
menerapkan teknik konservasi. Erosi menyebabkan berkurangnya lapisan
perakaran efektif, ketersediaan air untuk tanaman, cadangan hara, bahan
orgnik dan rusaknya struktur tanah. Masalah utama yang dihadapi pada lahan
kering beriklim basah bergelombang antara lain mudah tererosi, bereaksi

7
masam, miskin akan hara makro esensial dan tingkat keracunan aluminium
yang tinggi. Selanjutnya dinyatakan bahwa daerah tropis merupakan medan
dimana bertemunya dua kepentingan, yang pertama kegiatan untuk mencapai
dan mempertahankan swasembada pangan sedang yang kedua yang tidak
kalah pentingnya adalah usaha pelestarian lingkungan. Mengingat lahan
merupakan sumber daya yang terbatas dan tidak dapat diperbarui, maka
untuk memenuhi kebutuhan pangan tidak ada pilihan lain selain
mengembalikan kesuburan lahan yang sudah tererosi.

Aktivitas pertanian juga dapat menyebabkan dampak yang merugikan.


Erosi dan kerusakan tanah terjadi akibat budi daya pertanian yang melampaui
daya dukung tanah. Penggunaan bahan-bahan agrokimia yang berlebihan
dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kelestarian lahan. Cara-cara
budi daya pertanian yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi
lahan menyebabkan kualitas lahan menurun sejalan dengan hilangnya lapisan
tanah subur akibat erosi dan pencucian hara. Kerusakan tanah dan lingkungan
makin meningkat manakala terjadi perluasan areal pertanian untuk
pengembangan komoditas ekonomis dengan membuka lahan-lahan baru yang
tidak sesuai dengan kemampuan dan kelas kesesuaian lahan. Kondisi ini
makin diperparah bila pembukaan lahan dilakukan dengan pembakaran,
sehingga terjadi pencemaran udara dan peningkatan konsentrasi CO2 di
atmosfir.

c. Permasalahan dalam Lingkungan Pertanian

Penggunaan bahan-bahan agrokimia, seperti pupuk dan pestisida yang


berlebihan dapat mencemari tanah, air, tanaman, dan sungai atau badan air.
Pupuk nitrogen (N) yang digunakan dalam budidaya pertanian mengalami
berbagai perubahan di dalam tanah, seperti dalam bentuk amonium (NH4),
nitrat (NO3), dan/atau nitrit (NO2). Sebagian dari N pupuk (NH3/N2 dan N2O)
menguap ke udara (volatilisasi), sebagian lagi hilang melalui pencucian atau
erosi. Di daerah tropis, 40-60% N-urea hilang dalam bentuk NH3.
Penggunaan pupuk N dosis tinggi, seperti pada budi daya sayuran dataran

8
tinggi, dapat mencemari lingkungan, karena sebagian besar N dari pupuk
hanyut terbawa aliran permukaan dan erosi. Berdasarkan hasil penelitian,
jumlah hara yang hilang dari lahan pertanian berkisar antara 240-1.066 kg
N/ha, 80-120 kg P2O5 /ha, dan 108-197 kg K2O/ha per musim tanam, suatu
jumlah yang cukup besar dan berpotensi mencemari lingkungan. Penggunaan
pestisida dalam budi daya pertanian, khususnya komoditas bernilai ekonomi
tinggi, seperti kentang dan cabai, sangat intensif. Pemberian pestisida dalam
dosis tinggi bertujuan untuk menjamin keberhasilan usaha tani. Hasil
penelitian menunjukkan 30-50% dari total biaya produksi hortikultura
digunakan untuk pembelian pestisida. Akibatnya, kandungan residu pestisida
pada beberapa komoditas sayuran di Indonesia telah melebihi ambang batas
yang ditetapkan. Pembangunan kawasan industri pada areal pertanian subur,
produktif, dan potensial selain mengurangi luas lahan pertanian, juga sering
kali menimbulkan permasalahan lingkungan bagi masyarakat sekitarnya,
yaitu pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3) melalui limbahnya.
Limbah industri yang dibuang ke badan air atau sungai dan lingkungan
sekitarnya dapat mencemari tanah, air, dan tanaman apabila digunakan
sebagai sumber air pengairan. Pada umumnya tanaman tidak mengalami
gangguan fisiologis, namun kualitas hasil/produk pertanian tercemari
berbahaya bagi konsumen. Kegiatan pertambangan seperti pada
penambangan emas tanpa izin (PETI) biasanya menggunakan zat kimia
berba- haya (merkuri) dalam proses pemisahan bijih emas. Apabila
pendulangan dilakukan di sekitar lahan pertanian atau perairan umum, maka
lahan pertanian dan perairan tersebut ikut tercemar. Pada penambangan batu
bara, unsur-unsur kimia seperti ion besi (Fe) dan sulfat (S) dari senyawa pirit,
terbawa aliran permukaan dan masuk ke lahan pertanian atau badan
air/sungai di bagian hilir. Akibatnya terjadi pemasaman tanah. (TSK, 2008)

d. Pemecahan Masalah Lingkungan Pertanian

Upaya penanggulangan pencemaran lahan pertanian dan kerusakan


lingkungan seharusnya didasarkan pada permasalahan di sumber penyebab
pencemaran (hulu), maupun di objek yang terkena dampak (hilir). Sumber

9
pencemar dan penyebab pencemaran/kerusakan lahan dan lingkungan,
dalam hal ini pelaku industri, pabrik, pertambangan, seharusnya merupakan
sasaran utama dari pengendalian. Bila ini tidak dilakukan secara serius, tepat,
dan tegas, maka pencemaran akan tetap berlangsung, sehingga upaya
penanggulangan objek yang terkena dampak akan sia-sia. Untuk mengatasi
hal tersebut, identifikasi sumber penyebab pencemaran dan jenis
pencemaran/kerusakan lahan merupakan prioritas.

Bagi objek yang terkena dampak pencemaran, seperti lahan pertanian,


badan air dan/atau sungai, identifikasi sumber penyebab terjadinya
pencemaran dan jenis pencemaran harus dilakukan sedini mungkin, agar
penanganannya lebih cepat di- lakukan, terarah, dan tepat sasaran. Teknologi
penanggulangan, baik yang berupa pengendalian maupun pencegahan
dampak pencemaran, harus dipilih secara tepat dan akurat.

Penanggulangan (pengendalian dan pencegahan) dampak pencemaran


dan kerusakan lahan dan lingkungan pertanian, dilakukan dengan penataan
kembali tata ruang. Kawasan industri, pabrik, pertambangan, dan lain-lain di
sekitar areal pertanian perlu ditata dan diatur menggunakan instrumen hukum
dan nonhukum. Penegakan dan pengetatan implementasi undang-undang,
peraturan dan keputusan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah tentang
pengelolaan lingkungan hidup, termasuk optimalisasi fungsi pengawasan dan
pengendalian oleh Badan Pengendali Dampak Lingkungan perlu
dilakukan. Bagi pengelola industri/pabrik, pertambangan, dan kegiatan lain
yang berpotensi mencemari lahan pertanian dan lingkungan, sudah saatnya
pemerintah memberlakukan pajak lingkungan, sebagai kompensasi
pemulihan atau rehabilitasi sumber daya air dan lahan pertanian yang
tercemar dan mengalami kerusakan. Unsur-unsur bahan berbahaya dan
beracun (B3) dan ambang batas pencemaran, yang diberlakukan pemerintah
melalui peraturan pemerintah, surat keputusan, dan lain- lain harus dijadikan
acuan untuk memberikan tindakan hukum bagi pelaku pencemaran dan
kerusakan lahan/lingkungan. Parameter-parameter baku mutu limbah industri
yang wajib dipantau bagi setiap jenis industri, sesuai dengan Keputusan

10
Menteri Negara Lingkungan Hidup No.03/MENLH/1/1998 dan Surat
Keputusan Gubernur tentang baku mutu limbah industri bagi kawasan
industri, perlu dikaji ulang dan direvisi. Pengalaman di lapangan
menunjukkan terdapat unsur-unsur kimia lain yang berbahaya bagi tanah dan
tanaman, belum termasuk yang diwajibkan untuk dipantau. Untuk
mempertahankan kualitas tanah dan produk pertanian agar tetap baik dan
tidak mengalami pencemaran, harus dilakukan penegakan aturan dan
pengawasan yang ketat tentang kewajiban mengoptimalkan fungsi instalasi
pengolah air limbah (IPAL). Bagi para pengelola pertambangan perlu
ditegaskan kembali tentang kewajibannya dalam melaksanakan
rehabilitasi/reklamasi lahan yang mengalami kerusakan. Ini sebagai tanggung
jawabnya dalam pengelolaan lingkungan hidup, sehingga sanksi yang sesuai
dan tegas dapat dikenakan. Keberhasilan penanggulangan pencemaran dan
kerusakan lingkungan pertanian memerlukan kegiatan pendukung, yaitu
penelitian laboratorium dan lapangan. Penelitian meliputi:

(a) identifikasi dan karakterisasi sumber penyebab dan jenis pencemaran,


baik dari kegiatan institusi (industri, pabrik, pertambangan) maupun
noninstitusi (pertanian/perkebunan, kehutanan);

(b) penetapan baku mutu tanah (soil quality standard) ter- utama daya sangga
tanah terhadap B3/logam berat; dan

(c) penambatan karbon (carbon sequestration). (TSK,2008)

4. Metode Penelitian
Penanggulangan (pengendalian dan pencegahan) dampak pencemaran
dan kerusakan lahan dan lingkungan pertanian, dilakukan dengan penataan
kembali tata ruang. Kawasan industri, pabrik, pertambangan, dan lain-lain di
sekitar areal pertanian perlu ditata dan diatur menggunakan instrumen hukum
dan nonhukum. Penegakan dan pengetatan implementasi undang-undang,
peraturan dan keputusan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah tentang
pengelolaan lingkungan hidup, termasuk optimalisasi fungsi pengawasan dan
pengendalian oleh Badan Pengendali Dampak Lingkungan perlu dilakukan.

11
Bagi pengelola industri/pabrik, pertambangan, dan kegiatan lain yang
berpotensi mencemari lahan pertanian dan lingkungan, sudah saatnya
pemerintah memberlakukan pajak lingkungan, sebagai kompensasi
pemulihan atau rehabilitasi sumber daya air dan lahan pertanian yang
tercemar dan mengalami kerusakan. Unsur-unsur bahan berbahaya dan
beracun (B3) dan ambang batas pencemaran, yang diberlakukan pemerintah
melalui peraturan pemerintah, surat keputusan, dan lain-lain harus dijadikan
acuan untuk memberikan tindakan hukum bagi pelaku pencemaran dan
kerusakan lahan/lingkungan.
Parameter-parameter baku mutu limbah industri yang wajib dipantau
bagi setiap jenis industri, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No.03/MENLH/1/1998 dan Surat Keputusan Gubernur
tentang baku mutu limbah industri bagi kawasan industri, perlu dikaji ulang
dan direvisi. Pengalaman di lapangan menunjukkan terdapat unsur-unsur
kimia lain yang berbahaya bagi tanah dan tanaman, belum termasuk yang
diwajibkan untuk dipantau.
Untuk mempertahankan kualitas tanah dan produk pertanian agar tetap
baik dan tidak mengalami pencemaran, harus dilakukan penegakan aturan
dan pengawasan yang ketat tentang kewajiban mengoptimalkan fungsi
instalasi pengolah air limbah (IPAL). Bagi para pengelola pertambangan
perlu ditegaskan kembali tentang kewajibannya dalam melaksanakan
rehabilitasi/reklamasi lahan yang mengalami kerusakan. Ini sebagai tanggung
jawabnya dalam pengelolaan lingkungan hidup, sehingga sanksi yang sesuai
dan tegas dapat dikenakan.
Keberhasilan penanggulangan pencemaran dan kerusakan lingkungan
pertanian memerlukan kegiatan pendukung, yaitu penelitian laboratorium dan
lapangan. Penelitian meliputi:
(a) identifikasi dan karakterisasi sumber penyebab dan jenis pencemaran,
baik dari kegiatan institusi (industri, pabrik, pertambangan) maupun
noninstitusi (pertanian/perkebunan, kehutanan);
(b) penetapan baku mutu tanah (soil quality standard) terutama daya sangga
tanah terhadap B3/logam berat; dan

12
(c) penambatan karbon (carbon sequestration).

5. Hasil dan Pembahasan


Gangguan keseimbangan lingkungan pertanian dapat menurunkan
produktivitas lahan dan kualitas hasil pertanian, sehingga pengelolaan lingkungan
pertanian yang tepat perlu diupayakan. Pengelolaan lingkungan pertanian harus
lebih diintensifkan dan disesuaikan dengan kondisi setempat, meliputi sumber
daya alam dan kebiasaan petani. Upaya untuk memperbaiki dan menjaga
lingkungan pertanian adalah sebagai berikut:
1. Mitigasi gas rumah kaca dilakukan berdasarkan prinsip bahwa emisi GRK yang
dikeluarkan harus lebih kecil dari rosot (zink). Penurunan CO2 dilakukan
dengan prinsip emisi CO2 harus lebih kecil dari CO2 yang ditambat tanaman.
CO2 termasuk gas yang mudah didegradasi atau ditambat, demikian pula N2O,
mudah didegradasi. Namun, emisi CH4 sulit didegradasi, sehingga akumulasi
CH4 dari waktu ke waktu terus meningkat. Untuk mengurangi akumulasi CH4 di
atmosfir harus diterapkan strategi yang tepat dan dapat diaplikasikan.
Prinsipnya, emisi CH4 diubah menjadi gas yang mudah didegradasi, seperti
penerapan sistem pengairan berselang (intermitten). Sistem pengairan tersebut
dapat menekan emisi CH4 tetapi N2O dan CO2 meningkat. Namun, hal ini tidak
terlalu bermasalah karena N2O dan CO2 mudah terdegradasi. Penggunaan
varietas padi yang rendah emisi CH4 juga perlu disosialisasikan. Penerapan
pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah akan makin mengurangi
emisi CH4. Sistem pemupukan, baik dengan pupuk organik maupun anorganik,
akan menurunkan emisi CH4 dari tanah sawah.
2. Penerapan teknologi remediasi pencemaran lingkungan pertanian difokuskan
pada upaya penanggulangan objek yang terkena dampak pencemaran, yaitu
lahan sawah dan produknya (tanah, air, tanaman/produk pertanian). Teknologi
pengelolaan lingkungan pertanian yang tercemar meliputi:
(a) kemoremediasi, yaitu memo difikasi tingkat kemasaman tanah melalui
pengapuran, pemberian bahan organik untuk menekan pergerakan logam
berat di dalam tanah, dan penambahan karbon aktif ke dalam tanah untuk
menurunkan residu pestisida dalam produk pertanian;

13
(b) fitoremediasi, yaitu memanfaatkan fungsi tumbuhan yang dapat
menyerap, mendegradasi, mentransformasi, dan menekan pergerakan
bahan pencemar;
(c) bioremediasi untuk meminimalkan pencemaran dengan memanfaatkan
mikroorganisme yang mampu mendegradasi residu pestisida maupun
logam berat.
Penanggulangan pencemaran lingkungan pertanian seharusnya didasarkan
pada hasil analisis sumber penyebab utama terjadinya pencemaran. Oleh sebab
itu, diperlukan identifikasi dan karakterisasi sumber dan penyebab pencemaran.
Pengendalian pencemaran lahan pertanian oleh unsur-unsur B3 dan logam berat
memerlukan acuan yang konkrit tentang baku mutu tanah. Baku mutu B3 dan
logam berat di dalam tanah yang berlaku untuk kondisi Indonesia perlu segera
ditetapkan. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun
1995 dan Surat Keputusan Gubernur tentang baku mutu limbah industri perlu
dipelajari, dikaji ulang, dan direvisi, karena terdapat unsur-unsur kimia lain
yang berbahaya bagi tanah dan tanaman serta kesehatan manusia dan makhluk
hidup lainnya belum terakomodasi dalam keputusan tersebut. Untuk mengatasi
kehilangan unsur-unsur hara tanah dan berpotensi mencemari lingkungan dapat
dilakukan penerapan teknik konservasi tanah. Emisi GRK, khususnya CO2,
yang dampak akhirnya dapat mengubah pola tanam dan terjadinya anomali
iklim (banjir dan kekeringan), agar diatasi secepatnya melalui pengikatan
kembali CO2 dengan revegetasi atau rehabilitasi lahan rusak dan kritis,
termasuk pada kawasan lindung dan konservasi. Penanggulangan pencemaran
lingkungan pertanian memerlukan kegiatan pendukung berupa penelitian yang
berkaitan langsung dengan upaya-upaya tersebut di atas.
Sebagai salah satu negara anggota KTT Bumi, Indonesia yang ikut
meratifikasi hasil konferensi tersebut mempunyai komitmen yang kuat untuk
mengatasi masalah lingkungan, termasuk di sektor pertanian. Terkait dengan
ketiga isu utama lingkungan di sektor pertanian, pemerintah melalui
Departemen Pertanian telah menetapkan beberapa kebijakan, yang dibedakan
atas dua pilihan utama. Pertama, kebijakan dalam pembangunan atau

14
pengembangan pertanian. Kedua, kebijakan yang bersifat regulasi, pengawasan,
dan pengendalian melalui peraturan dan perundang-undangan.
Sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, terutama yang berkaitan
dengan dampak yang disebabkan oleh pesatnya penggunaan input agrokimia,
sejak 1978 Badan Litbang Pertanian merintis berbagai penelitian yang berkaitan
dengan isu lingkungan di sektor pertanian. Penelitian mencakup pengaruh
residu pestisida terhadap tanah, air, tanaman, ternak, ikan, dan fauna yang hidup
di lingkungan pertanian seperti burung dan katak.
Berbagai penelitian yang berkaitan dengan residu pupuk dan emisi GRK
pada pertanaman padi juga dikembangkan melalui kerja sama dengan IRRI
sejak 1990-an. Bahkan pada tahun 1995 dibentuk institusi khusus yang bertugas
meneliti pencemaran lingkungan pertanian, yaitu Loka Penelitian Lingkungan
Pertanian (Lolingtan) di Jakenan, Pati Jawa Tengah. Berdasarkan pertimbangan
bahwa isu lingkungan akan makin penting dan strategis di sektor pertanian, kini
Loka tersebut ditingkatkan statusnya menjadi Balai Penelitian Lingkungan
Pertanian (Balingtan). Balai ini bertugas melakukan penelitian pencemaran
tanah, air, lingkungan dan produk pertanian, emisi GRK dari lahan pertanian,
serta pengembangan pertanian ramah lingkungan.
Selain itu, sejak tahun 1990-an Departemen Pertanian melalui Badan
Litbang Pertanian juga memberikan perhatian khusus terhadap perubahan iklim
global atau pemanasan bumi, serta anomali iklim. Bahkan sejak tahun 1992,
tugas pokok dan fungsi Pusat Penelitian Tanah dikembangkan menjadi Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat, dan selanjutnya pada tahun 2002 dibentuk
Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat). Selain melakukan
penelitian dan kajian terhadap dinamika iklim dalam konteks pertanian,
Balitklimat juga melakukan berbagai penelitian dan kajian terhadap kekeringan
dan banjir, serta pendekatan dan teknologi mitigasinya. Beberapa teknologi
yang dihasilkan melalui penelitian dapat dikembangkan seperti teknologi
insinerasi, pemadatan, penyimpanan (containment), dan bioremediasi.
Penggunaan karbon aktif memberi harapan dikembangkan untuk mengatasi
pencemaran tanah oleh pencemar organik dan anorganik. Karbon aktif dapat
menjerap insektisida di dalam air hingga 99,90% dari konsentrasi awal sebesar

15
2.250 mg/l (Anonim 1991). Karbon aktif dapat dikombinasikan dengan pupuk
sehingga menghasilkan pupuk dwifungsi, yaitu pupuk lambat urai (slow
release) dan pengendali bahan pencemar di lahan pertanian. Oleh karena itu,
selain melakukan pemantauan dan pengamatan terhadap pencemaran agrokimia
dan kimia industri, serta mencari dan merakit teknologi mitigasi GRK dari
lahan pertanian, penelitian lingkungan pertanian ke depan juga diarahkan untuk
menghasilkan teknologi yang dapat mengurangi atau mengendalikan dampak
residu tersebut.

6. Kesimpulan
a. Pertanian adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak, serta produk-
produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan dan
hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi daya (bahasa
Inggris: cultivation, atau untuk ternak: raising).

b. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan


sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan
fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan
kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana
menggunakan lingkungan fisik tersebut.

c. Aktivitas pertanian juga dapat menyebabkan dampak yang merugikan. Erosi


dan kerusakan tanah terjadi akibat budi daya pertanian yang melampaui daya
dukung tanah. Penggunaan bahan-bahan agrokimia yang berlebihan dapat
mencemari lingkungan dan mengganggu kelestarian lahan. Cara-cara budi
daya pertanian yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi lahan
menyebabkan kualitas lahan menurun sejalan dengan hilangnya lapisan tanah
subur akibat erosi dan pencucian hara.

d. Dampak pembangunan pertanian terhadap lingkungan telah teridentifikasi, dan


pencemaran lingkungan oleh bahan agrokimia (pupuk dan pestisida) merupakan
salah satu dampak yang nyata. Selain itu, kesalahan pengelolaan lahan di masa
lampau telah menyebabkan rusaknya sebagian lahan pertanian, yang berdampak

16
pula terhadap penurunan produktivitas dan mutu produk pertanian, dan pada
akhirnya berujung pula pada pencapaian revitalisasi pertanian Identifikasi dan
pemantauan, serta inovasi teknologi mitigasi dan penanggulangan masalah
lingkungan pertanian sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan
pertanian berkelanjutan.

7. Daftar Pustaka
Anonim1, 2010. Pertanian. (Online)
(http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian, diakses tanggal 8 Maret 2010)

Anonim2, 2010. Lingkungan. (Online)


(http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan, diakses tanggal 8 Maret 2010)

Dewi, Triyani SP, 2010. Kelompok Peneliti Evaluasi dan Penanggulangan


PencemaranPertanian.(Online)
(www.balingtan.com, diakses tanggal 8 Maret 2010)

Las, Irsal, dkk. 2006. Isu dan Pengelolaan Lingkungan dalam Revitalisasi
Pembangunan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya
Lahan Pertanian. Bogor. (PDF)

Muthmainnah, Dina, 2008. Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada


Agroekosistem Pertanian Lahan Kering (Online)
(http://dinamuthmainnah.blogspot.com/2009/12/pencemaran-dan-
kerusakan-lingkungan.html diakses tanggal 8 Maret 2010)

Sutrisno, N, dkk. 2009. Persfektif dan Urgensi Pengelolaan Lingkungan


Pertanian yang Tepat. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Sumber Daya Lahan Pertanian. Bogor. (PDF)

17
Tim Sintesis Kebijakan, 2008. Strategi Penanggulangan Pencemaran Lahan
Pertanian dan Kerusakan Lingkungan. Balai Besar Peneliatian dan
Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian. Bogor. (PDF)

LAMPIRAN

18