Anda di halaman 1dari 13

TUGAS PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

PENGELOLAAN LIMBAH TEKSTIL

OLEH :
HERLAMBANG WIBISONO
H1E108026

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
BANJARBARU

2010

1
ABSTRAK

Salah satu dampak negatife dari industry tekstil adalah limbah cairnya. Senyawa-
senyawa kimia yang umumnya ada di dalam air limbah industri tekstil adalah
senyawa organik. Senyawa organik ini umumnya adalah senyawa azo yaitu zat
warna yang digunakan pada pencelupan dan pewarnaan tekstil. Kadar senyawa
organik yang ada dalam suatu perairan dapat diukur dengan parameter Chemical
Oxygen Demand (COD) atau dengan parameter Biochemical Oxygen Demand
(BOD). Sedangkan untuk melihat kepekatan wama maka dapat dilakukan
pengukuran intensitas warna. Salah satu penanggulangan limbah tekstil adalah
dengan penggunaan lumpur aktif. Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses
pertumbuhan mikroba tersuspensi. Proses ini pada dasarnya merupakan
pengolahan aerobik yang mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O,
NH4. dan sel biomassa baru. Proses ini menggunakan udara yang disalurkan
melalui pompa blower (diffused) atau melalui aerasi mekanik. Sel mikroba
membentuk flok yang akan mengendap di tangki penjernihan. Kemampuan
bakteri dalam membentuk flok menentukan keberhasilan pengolahan limbah
secara biologi, karena akan memudahkan pemisahan partikel dan air limbah.
Lumpur aktif dicirikan oleh beberapa parameter, antara lain, Indeks Volume
Lumpur dan Stirred Sludge Volume Index.

ABSTRACT

One of the effects of industrytekstil is negatife liquid waste. Chemical compounds


that generally exists in the textile industry wastewater are organic compounds.
These organic compounds are generally compounds of azo dye used in textile
dyeing and coloring. Levels of organic compounds contained in a water
parameters can be measured by Chemical Oxygen Demand (COD) or by
parameters Biochemical Oxygen Demand (BOD). As for seeing the color intensity
can be measured color intensity. One of the textile waste prevention is the use of
active mud. Mud active (activated sludge) is suspended microbial growth process.
This process is essentially aerobic processing of organic materials oxidize into
CO2 and H2O, NH4. and new biomass cells. This process uses air delivered
through a blower pump (diffused) or by mechanical aeration. Tues Flok microbes
that will form precipitates in the tank cleaning. The ability of bacteria in the form
Flok determining the success of biological wastewater treatment, because it will
facilitate the separation of particles and waste water. Active mud is characterized
by several parameters, among others, Index Volume Mud and Sludge Volume
Index stirred.

2
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia mengandalkan sektor


industri. Industri yang diandalkan salah satunya adalah industri tekstil. Sejarah
pertekstilan Indonesia dapat dikatakan dimulai dari industri rumahan tahun 1929
dimulai dari sub-sektor pertenunan (weaving) dan perajutan (knitting) dengan
menggunakan alat Textile Inrichting Bandung (TIB) Gethouw atau yang dikenal
dengan nama Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang diciptakan oleh
Daalennoord pada tahun 1926 dengan produknya berupa tekstil tradisional seperti
sarung, kain panjang, lurik, stagen (sabuk), dan selendang. Penggunaan ATBM
mulai tergeser oleh Alat Tenun Mesin (ATM) yang pertama kali digunakan pada
tahun 1939 di Majalaya-Jawa Barat, dimana di daerah tersebut mendapat pasokan
listrik pada tahun 1935. Dan sejak itu industri TPT Indonesia mulai memasuki era
teknologi dengan menggunakan ATM.
Dalam proses industri pastilah selalu menghasilkan limbah. Pengelolaan
limbah cair dalam proses produksi dimaksudkan untuk meminimalkan limbah
yang terjadi, volume limbah minimal dengan konsentrasi dan toksisitas yang juga
minimal. Sedangkan pengelolaan limbah cair setelah proses produksi
dimaksudkan untuk menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang
terkandung didalamnya sehingga limbah cair tersebut memenuhi syarat untuk
dapat dibuang. Dengan demikian dalam pengolahan limbah cair untuk
mendapatkan hasil yang efektif dan efisien perlu dilakukan langkah-langkah
pengelolaan yang dilaksanakan secara terpadu dengan dimulai dengan upaya
minimisasi limbah (waste minimization), pengolahan limbah (waste treatment),
hingga pembuangan limbah produksi (disposal).
Untuk menjamin terpeliharanya sumber daya air dari pembuangan limbah
industri, pemerintah dalam hal ini Menteri Negara KLH telah menetapkan baku
mutu limbah cair bagi kegiatan yang sudah beroperasi yang dituangkan dalam
Keputusan Menteri Negara KLH Nomor: Kep-03/KLH/ II/1991. Agar dapat
memenuhi baku mutu, limbah cair harus diolah dan pengolahan limbah tersebut
memerlukan biaya investasi dan biaya operasi yang tidak sedikit. Maka
pengolahan limbah cair harus dilakukan secara cermat dan terpadu di dalam
proses produksi dan setelah proses produksi agar pengendalian berlangsung
dengan efektif dan efisien.

Proses industri tekstil sendiri menghasilkan limbah cair. Limbah tekstil


merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses
penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan,
pencetakan dan proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan kapas menghasil
kan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses
penyempurnaan bahan sistesis.

3
Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750
mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD adalah
dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang
lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan
dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai
100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah produksi kecil batik
tradisional belum ditemukan.

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang cara pengelolaan limbah cair dari hasil
pengolahan tekstil. Limbah tekstil sendiri berhubungan dengan pencemaran udara,
air, dan tanah. Namun di sini saya lebih memfokuskan tentang pengolahan limbah
cairnya terhadap kualitas air.
1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan bagaimana


limbah cair terbentuk, serta bagaimana cara pengelolaan limbah tersebut dengan
baik agar lebih memiliki nilai yang ramah lingkungan.
1.3 Metode Penulisan

Metode penulisan adalah dengan mengacu kepada jurnal ilmiah. Didukung


dengan jurnal pendukung serta artikel-artikel dari media internet.

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Tentang Tekstil

Tekstil adalah bahan yang berasal dari serat yang diolah menjadi benang
atau kain sebagai bahan untuk pembuatan busana dan berbagai produk kerajinan
lainnya. Dari pengertian tekstil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
bahan/produk tekstil meliputi produk serat, benang, kain, pakaian dan berbagai
jenis benda yang terbuat dari serat. Pada umumnya bahan tekstil dikelompokkan
menurut jenisnya sebagai berikut:

1. Berdasar jenis produk/bentuknya: serat staple, serat filamen, benang, kain,


produk jadi (pakaian / produk kerajinan dll)
2. Berdasar jenis bahannya: serat alam, serat sintetis, serat campuran
3. Berdasarkan jenis warna/motifnya: putih, berwarna, bermotif/bergambar
4. Berdasarkan jenis kontruksinya: tenun, rajut, renda, kempa. benang
tunggal, benang gintir

4
Serat buatan dan serat alam (kapas) diubah menjadi barang jadi tekstil
dengan menggunakan serangkaian proses. Serat kapas dibersihkan sebelum
disatukan menjadi benang. Pemintalan mengubah serat menjadi benang. Sebelum
proses penenunan atau perajutan, benang buatan maupun kapas dikanji agar serat
menjadi kuat dan kaku. Zat kanji yang lazim digunakan adalah pati, perekat
gelatin, getah, polivinil alkohol (PVA) dan karboksimetil selulosa (CMC).
Penenunan, perajutan, pengikatan dan laminasi merupakan proses kering.

Sesudah penenunan serat dihilangkan kanjinya dengan asam (untuk pati)


atau hanya air (untuk PVA atau CMC). Penghilangan kanji pada kapas dapat
memakai enzim. Sering pada waktu yang sama dengan pengkanjian, digunakan
pengikisan (pemasakan) dengan larutan alkali panas untuk menghilangkan
kotoran dari kain kapas. Kapas juga dapat dimerserisasi dengan perendaman
dalam natrium hidroksida, dilanjutkan pembilasan dengan air atau asam untuk
meningkatkan kekuatannya.

Penggelantangan dengan natrium hipoklorit, peroksida atau asam perasetat


dan asam borat akan memutihkan kain yang dipersiapkan untuk pewarnaan.
Kapas memerlukan pengelantangan yang lebih ekstensif daripada kain buatan
(seperti pendidihan dengan soda abu dan peroksida).

Pewarnaan serat, benang dan kain dapat dilakukan dalam tong atau dengan
memakai proses kontinyu, tetapi kebanyakan pewarnaan tekstil sesudah ditenun.
Di Indonesia denim biru (kapas) dicat dengan zat warna. Kain dibilas diantara
kegiatan pemberian warna. Pencetakan memberikan warna dengan pola tertentu
pada kain diatas rol atau kasa.

Zat warna dapat digolongkan menurut sumber diperolehnya yaitu zat


warna alam dan zat warna sintetik. Van Croft menggolongkan zat warna
berdasarkan pemakaiannya, misalnya zat warna yang langsung dapat mewarnai
serat disebutnya sebagai zat warna substantif dan zat warna yang memerlukan zat-
zat pembantu supaya dapat mewarnai serat disebut zat reaktif. Kemudian Henneck
membagi zat warna menjadi dua bagian menurut warna yang ditimbulkannya,
yakni zat warna monogenetik apabila memberikan hanya satu warna dan zat
warna poligenatik apabila dapat memberikan beberapa warna. Penggolongan zat
warna yang lebih umum dikenal adalah berdasarkan konstitusi (struktur molekul)
dan berdasarkan aplikasi (cara pewarnaannya) pada bahan, misalnya didalam
pencelupan dan pencapan bahan tekstil, kulit, kertas dan bahan-bahan lain.

2.2 Pemilihan Serat

Pengetahuan tentang jenis dan sifat serat tekstil merupakan modal dasar
bagi mereka yang akan terjun di Industri tekstil dan fashion Pengetahuan tentang
jenis dan sifat serat tekstil sangat diperlukan untuk mengenali, memilih,
memproduksi, menggunakan dan merawat berbagai produk tekstil seperti serat,
benang, kain, pakaian dan tekstil lenan rumah tangga lainnya. Karakteristik dan
sifat bahan tekstil sangat ditentukan oleh karakteristik dan sifat serat

5
penyusunnya. Disamping itu sifat-sifat bahan tekstil juga dipengaruhi oleh proses
pengolahannya sperti dari serat dipintal menjadi benang, dari benang ditenun
menjadi kain kemudian dilakukan proses penyempurnaan hingga menjadi produk
jadi. Oleh karena itu untuk memahami lebih jauh tentang bahan tekstil diperlukan
pengetahuan tentang karakteristik dan sifat berbagai jenis serat dan teknik
pengolahannya menjadi bahan tekstil.

Karakteristik dan sifat serat juga sangat menentukan proses pengolahannya


baik dari sisi penmilihan peralatan , prosedur pengerjaan maupun jenis zat-zat
kimia yang digunakan. Selama proses pengolahan tekstil sifat-sifat dasar serat
tidak akan hilang. Proses pengolahan tekstil hanya ditujukan untuk memperbaiki,
meningkatkan, menambah dan mengoptimalkan sifat dasar serat tersebut sehingga
menjadi bahan tekstil berkualitas sesuai tujuan pemakaiannya.

Tidak semua jenis serat dapat diproses menjadi produk tekstil. Untuk
dapat diolah menjadi produk tekstil maka serat harus memiliki sifat-sifat sebagai
berikut

1. Perbandingan panjang dan lebar yang besar


2. Kekuatan yang cukup
3. Fleksibilitas tinggi
4. Kemampuan Mulur dan elastis
5. Cukup keriting agar memiliki daya kohesi antar serat
6. Memiliki daya serap terhadap air
7. Tahan terhadap sinar dan panas
8. Tidak rusak dalam pencucian
9. Tersedia dalam jumlah besar
10. Tahan terhadap zat kimia tertentu

2.3 Sumber dan Jenis

Limbah

6
Larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung
zat kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam.
Penghilangan kanji biasanya memberi kan BOD paling banyak dibanding dengan
proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi kapas serta pemucatan semua kain
adalah sumber limbah cair yang penting, yang menghasilkan asam, basa, COD,
BOD, padatan tersuspensi dan zat-zat kimia. Proses-proses ini menghasilkan
limbah cair dengan volume besar, pH yang sangat bervariasi dan beban
pencemaran yang tergantung pada proses dan zat kimia yang digunakan.
Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD
tinggi dan bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai, seperti fenol dan logam.
Di Indonesia zat warna berdasar logam (krom) tidak banyak dipakai.

Jenis Limbah yang dihasilkan pada industri tekstil :

1. Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn.

2. Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing)

3. Pigmen, zat warna dan pelarut organic

4. Tensioactive (surfactant)

Karakteristik air limbah dapat dibagi menjadi tiga yaitu:


1. Karakteristik Fisika Karakteristik fisika ini terdiri dari beberapa parameter,
diantaranya :
a. Total Solid (TS) Merupakan padatan didalam air yang terdiri dari bahan organik
maupun anorganik yang larut, mengendap, atau tersuspensi dalam air.
b. Total Suspended Solid (TSS) Merupakan jumlah berat dalam mg/l kering
lumpur yang ada didalam air limbah setelah mengalami penyaringan
dengan membran berukuran 0,45 mikron (Sugiharto,1987).
c. Warna.
Pada dasarnya air bersih tidak berwarna, tetapi seiring dengan waktu
dan menigkatnya kondisi anaerob, warna limbah berubah dari yang abu–
abu menjadi kehitaman.
d. Kekeruhan
Kekeruhan disebabkan oleh zat padat tersuspensi, baik yang bersifat
organik maupun anorganik.
e. Temperatur
Merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan efeknya terhadap
reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air dan penggunaan air
untuk berbagai aktivitas sehari – hari.
f. Bau
Disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses dekomposisi materi
atau penambahan substansi pada limbah. Pengendalian bau sangat penting
karena terkait dengan
masalah estetika.

2. Karateristik Kimia

7
a. Biological Oxygen Demand (BOD)
Menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme
hidup untuk menguraikan atau mengoksidasi bahan–bahan buangan di
dalam air
b. Chemical Oxygen Demand (COD)
Merupakan jumlah kebutuhan oksigen dalam air untuk proses reaksi
secara kimia guna menguraikan unsur pencemar yang ada. COD
dinyatakan dalam ppm (part per milion) atau ml O2/ liter.(Alaerts dan
Santika, 1984).
c. Dissolved Oxygen (DO)
Adalah kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk respirasi aerob
mikroorganisme. DO di dalam air sangat tergantung pada temperatur dan
salinitas
d. Ammonia (NH3)
Ammonia adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan pertumbuhan
mikroorganisme dan mengganggu proses desinfeksi dengan chlor
(Soemirat, 1994). Ammonia terdapat dalam larutan dan dapat berupa
senyawa ion ammonium atau ammonia. tergantung pada pH larutan
e. Sulfida
Sulfat direduksi menjadi sulfida dalam sludge digester dan dapat
mengganggu proses pengolahan limbah secara biologi jika konsentrasinya
melebihi 200 mg/L. Gas H2S bersifat korosif terhadap pipa dan dapat
merusak mesin (Sugiharto, 1987).
f. Fenol
Fenol mudah masuk lewat kulit. Keracunan kronis menimbulkan gejala
gastero intestinal, sulit menelan, dan hipersalivasi, kerusakan ginjal dan
hati, serta dapat menimbulkan kematian (Soemirat, 1994).
g. Derajat keasaman (pH)
pH dapat mempengaruhi kehidupan biologi dalam air. Bila terlalu rendah
atau terlalu tinggi dapat mematikan kehidupan mikroorganisme. Ph normal
untuk kehidupan air adalah 6– 8.
h. Logam Berat
Logam berat bila konsentrasinya berlebih dapat bersifat toksik sehingga
diperlukan pengukuran dan pengolahan limbah yang mengandung logam
berat.

3. Karakteristik Biologi
Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama air
yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih. Parameter yang biasa
digunakan adalah banyaknya mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah.

METODE PENELITIAN

8
Banyak metode yang digunakan dalam perlakuan limbah tekstil. Metode-
metode tersebut diantaranya koagulasi kimia, oksidasi elektrokimia, filtrasi dan
biologi. Beberapa metode dikembangkan baik secara individu maupun kombinasi.
Proses-proses individu memiliki banyak problema. Sebagai contoh, dalam proses
koagulasi kimia sejumlah besar Lumpur dapat dihasilkan dan kapabilitas
perlakuan rendah. Oksidasi elektrokimia dapat mereduksi polutan namun
meningkatkan biaya perlakuan. Perlakuan biologis lebih sulit karena
membutuhkan bioreaktor spesifik. Oleh sebab itu kombinasi proses dianggap
lebih baik.
Tahapan proses persiapan persiapan penyempurnaan dan proses
penyempurnaan akhir dapat berbeda, tergantung pada jenis kain (serat), yang
diproses serta kualitas produk yang ingin dihasilkan. Demikian juga untuk setiap
tahapan proses dapat digunakan alat/mesin yang berlawanan. Demikan pula
kondisi proses serta jenis bahan yang digunakannya dapat berlainan tergantung
pada jenis serat dan kualitas produk yang ingin dihasilkan. Proses-proses ini selain
dapat dilakukan keseluruhannya secara berurutan dap at pula dilakukan sebagian
atau dimodifikasi, bergantung kepada jenis bahan tekstil yang akan dikerjakan, alat
yang tersedia dan hasil akhir yang diharapkan Adanya penggunaan zat kimia
seperti alkali, asam, kanji, oksidator, reduktor elektrolit, zat aktif permukaan
(surfaktan), zat warna, polimer sententik dan panas, dapat menyebabkan air
buangan industri tekstil bersifat alkali atau asam, COD dan BOD tinggi, berwarna,
berbusa, bau dan p anas Tingkat pencemaran yang ditimbulkan bergantung pada
macam bahan yang dikerjakan, proses pengerjaan dan jenis mesin/alat yang
digunakan.
Pada umumnya karakteristik limbah cair yang dikeluarkan dari beberapa
tahapan proses penyempurnaan untuk bahan kapas, Rayon, Poliester dan
campurannya, mengeluarkan limbah cair, dengan kadar bahan pencemaran yang
relatif tinggi. Pencemaran yang tinggi juga dikeluarkan dari proses pemasakan,
pengelantangan, pencelupan dan pencapan. Disamping itu, pencucian setelah
pencelupan dan pencapan juga mengeluarkan bahan pencemaran yang perlu
diperhatikan.
Isolat mikroorganisme (Aeromonas sp dan Pseudomonas sp) dapat
mengurangi pewarna dari limbah cair secara efektif dan tidak membutuhkan
kolam Lumpur aktif sehingga dapat mengurangi biaya operasional, biaya
konstruksi dan luas fasilitas jika diterapkan dalam kombinasi yang terdiri dari
pretreatment biologi, koagulasi kimia dan oksidasi elektrokimia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada umumnya pengolahan air limbah industri tekstil memerlukan tahap-


tahap pengolahan sebagai berikut

1. Pemisahan padatan kasar yaitu sisa serat dan padatan kasar lainnya
2. Segregrasi, hal ini dilakukan apabila air limbah dari suatu proses tertentu
mempuyai sifat yang spesifik, mempunyai beban pencemaran yang sangat

9
tinggi dibandingkan dengan air limbah dari proses lainnya, atau bersifat
racun (toxic), sehingga apabila digabungkan akan memberatkan atau
menyulitkan proses pengolahan.
3. Ekualisasi untuk menghomogenkan konsentrasi zat pencemar, temperatur
dan sebagainya, serta untuk menyamakan laju alir/debit atau
menghindari /mengurangi fluktuasi laju alir.
4. Penghilangan /penurunan atau penghancuran bahan organik terdispersi.
5. Penghilagan bahan organik dan anorganik terlarut.

Tahap 1, 2 dan 3 merupakan Pre-treatment. Tahap ini tidak- banyak


memberikan efek penurunan COD, BOD, tetapi lebih banyak ditujukan untuk
membantu kelancaran dan meningkatkan efektifitas tahap pengolahan selanjutnya.

Pengelolaan limbah cair dalam proses produksi dimaksudkan untuk


meminimalkan (minimisasi) limbah yang terjadi, volume limbah minimal dencan
konsentrasi dan toksisitas yang juga minimal. Pengelolaan limbah cair setelah
proses produksi dimaksudkan untuk menghilangkan atau menurunkan kadar
bahan pencemar yang terkandung didalamnya hingga limbah cair memenuhi
syarat untuk dapat dibuang (memenuhi baku mutu yang ditetapkan). Dengan
demikian dalam pengelolaan limbah cair untuk mendapatkan hasil yang efektif
dan efisien perlu dilakukan langkah-langkah pengelolaan yang dilaksanakan
secara terpadu dengan dimulai dengan upaya minimisasi limbah, pengolahan
limbah, hingga pembuangan limbah (disposal). Cara pengolahan limbah cair yang
saat ini telah dilakukan olch pabrik tekstil yang paling banyak adalah cara kimia
yaitu dengan koagulasi menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang banyak
digunakan adalah ferosulfat, kapur, alum, PAC dan polielektrolit. Pada cara ini,
koagulan digunakan untuk menggumpalkan bahan-bahan yang ada dalam air
limbah menjadi flok yang mudah untuk dipisahkan yaitu dengan cara diendapkan,
diapungkan dan disarig. Pada beberapa pabrik cara ini dilanjutkan dengan
melewatkan air limbah melalui Zeolit (suatu batuan alam) dan arang aktif (karbon
aktif). Cara koagulasi umumnya berhasil menurunkan kadar bahan organik
(COD,BOD) sebanyak, 40-70 % Zeolit dapat menurunkan COD 10-40%, dan
karbon aktif dapat menurunkan COD 10-60 %.

Zat warna tekstil merupakan suatu senyawa organik yang akan


memberikan nilai COD dan BOD. Penghilangan zat warna dari air limbah tekstil
akan menurunkan COD dan BOD air limbah tersebut. Sebagai contoh dari basil
percobaan di laboratorium, air limbah tekstil yang mengandung beberapa zat
warna reaktif sebanyak 225 mg/L mempunyai COD 534 mg/L dan BOD 99 mg/L,
setelah dikoagulasi dengan penambahan larutan Fero (Fe2+) 500 ma/L dan kapur
(Ca2+) 250 mg/L air limbah tinggal mengandung zat warna 0,17 mg/L dengan
COD 261 mg/L dan BOD 69 mg/L.

Kelemahan dari cara ini dihasilkannya lumpur kimia (sludge) yang cukup
banyak dan diperlukan pencelolaan sludge lebih lanjut. Pengelolaan sludge yang
saat ini dilakukan yaitu dengan mengeringkan sludge pada drying bed lalu
dimasukkan ke dalam karung. Beberapa pabrik telah mengunakan alat pengerin

10
lumpur yaitu filter press atau belt press yang akan megeluarkan air yang
terkandung dalam lumpur tersebut.

Cara lain yang mulai banyak dilakukan adalah cara biologi, yaitu
memanfaatkan aktifitas mikroba biologi untuk menghancurkan bahan-baban yang
ada dalam air limbah menjadi bahan yang, mudah dipisahkan atau yang, memberi
efek pencemaran rendah . Cara biologi yang banyak dilakukan adalah cara aerobik
metode lumpur aktif. Dengan cara tersebut air limbah dengan lumpur aktif yang,
megandung mikroba diaerasi (untuk memasukkan oksigen) hingga terjadi
dekomposisi sebagai berikut :

Organik + O2—-> CO2 + H20 + Energi

Cara lumpur aktif yang telah dilakukan dapat menurunkan COD, BOD 30
– 70 %, bergantung pada karakteristik air limbah yang, diolah dan kondisiproses
lumpur aktif yang dilakukan.

Beberapa pabrik tekstil terutama pabrik dencan skala besar telah


melakukan pengolahan dengan gabungan cara kimia (koagulasi), cara fisik
(penyerapan) dan cara biologi (lumpur aktif).

KESIMPULAN

Pengolahan air limbah pada umumnya dilakukan dengan menggunakan


metode Biologi. Metode ini merupakan metode yang paling efektif dibandingkan
dengan metode Kimia dan Fisika. Proses pengolahan limbah dengan metode
Biologi adalah metode yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai katalis untuk
menguraikan material yang terkandung di dalam air limbah. Mikroorganisme
sendiri selain menguraikan dan menghilangkan kandungan material, juga
menjadikan material yang terurai tadi sebagai tempat berkembang biaknya.
Metode pengolahan lumpur aktif (activated sludge) adalah merupakan proses
pengolahan air limbah yang memanfaatkan proses mikroorganisme tersebut.
Dewasa ini metode lumpur aktif merupakan metode pengolahan air limbah
yang paling banyak dipergunakan, termasuk di Indonesia, hal ini mengingat
metode lumpur aktif dapat dipergunakan untuk mengolah air limbah dari berbagai
jenis industri seperti industri pangan, pulp, kertas, tekstil, bahan kimia dan obat-
obatan. Namun, dalam pelaksanaannya metode lumpur aktif banyak mengalami
kendala, di antaranya :
1. Diperlukan areal instalasi pengolahan limbah yang luas, mengingat proses
lumpur aktif berlangsung dalam waktu yang lama, bisa berhari-hari.
2. Timbulnya limbah baru, di mana terjadi kelebihan endapan lumpur dari
pertumbuhan mikroorganisme yang kemudian menjadi limbah baru yang
memerlukan proses lanjutan.

11
Areal instalasi yang luas berarti dana investasi cukup besar, akibatnya
pemanfaatan teknologi lumpur aktif menjadi tidak efisien di Indonesia, ditambah
lagi dengan proses operasional yang rumit mengingat proses lumpur aktif
memerlukan pengawasan yang cukup ketat seperti kondisi suhu dan bulking
control proses endapan. Limbah baru merupakan masalah utama dari penerapan
metode lumpur aktif ini. Limbah yang berasal dari kelebihan endapan lumpur
hasil proses lumpur aktif memerlukan penanganan khusus. Limbah ini selain
mengandung berbagai jenis mikroorganisme juga mengandung berbagai jenis
senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Pengolahan
limbah endapan lumpur ini sendiri memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Sedikitnya 50 persen dari biaya pengolahan air limbah dapat tersedot untuk
mengatasi limbah endapan lumpur yang terjadi. Akibatnya, kebanyakan di
Indonesia limbah endapan lumpur ini biasanya langsung dibuang ke sungai atau
ditimbun di TPA (tempat pembuangan akhir) bersama dengan sampah lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http://batikyogya.wordpress.com/category/teknologi-tekstil/
Diakses tanggal : 23 Maret 2010
Anonim,http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/tugas-kuliah-
lainnya/ipal-limbah-tekstil
Diakses tanggal : 23 Maret 2010

Anonim.http://shantybio.transdigit.com/?Biology_-

_Dasar_Pengolahan_Limbah:PENGOLAHAN_DAN_PEMANFAATAN_LIMB
AH_TEKSTIL
Diakses tanggal : 23 Maret 2010

Anonim, http://permimalang.wordpress.com/
Diakses tanggal : 25 Maret 2010

Anonim, http://smk3ae.wordpress.com
Diakses tanggal : 25 Maret 2010

12
Anonim, http://www.wattpad.com/
Diakses tanggal : 25 Maret 2010

13