Anda di halaman 1dari 10

EFEKTIVITAS PENURUNAN KADAR

DODESIL BENZEN SULFONAT (DBS) DARI LIMBAH DETERGEN


YANG DIOLAH DENGAN LUMPUR AKTIF

Amylia Aisyahwalsiah
H1E108046

Abstrak
Deterjen merupakan salahsatu bahan pencuci yang sangat populer di Indonesia.
Tetapi limbah yang dihasilkan berdampak negatif yaitu limbah cair yang dapat
mencemari lingkungan. Limbah cair yang dihasilkan merupakan jenis buangan
organik yang sulit diuraikan oleh bakteri, yakni Dodesil Benzene Sulfonat (DBS).
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tentang tingkat efektivitasi biodegradasi
DBS dengan menggunakan metode lumpur aktif.
Dari hasil yang didapat, menunjukkan bahwa selama pengolahan baik kontrol
atau pengolahan lumpur aktif terjadi penurunan, namun, penurunan yang drastis
terjadi pada pengolahan lumpur aktif pada hari ke 15. pengolahan limbah
deterjen menggunakan lumpur aktif sangat efektif, karena dapat dilihat kadar
efektivitasnya sangat tinggi yakni 99,25%.

Abstract
Detergent is one of a real detergent material in Indonesia. But, waste yielded has
negative impact that is existance of liquid waste contaminating area. Liquid waste
yielded is organic trickling type of which is not easy to degradated by bacterium,
is Dodesil Benzene Sulfonat (DBS). This report aims to find out about decrease
efectivity of DBS concentration using activated sludge.
From the result obtained, indicated that there were desrease of DBS
concentration both in control and tread sample, but drastic reduction occurred in
the active mud treatment on day 15. Detergent waste treatment using active mud
is very effective, as can be seen very high levels of effectiveness is 99.25%.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan utama dan sumber utama bagi makhluk hidup dibumi.
Sekitar 97% air dibumi terdapat dilautan. Untuk itu, diperlukan air yang dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya. Air yang dibutuhkan adalah air bersih dan
air sehat yaitu air yang tidak mengandung bibit penyakit , bahan kimia yang
beracun serta partikel – partikel pengotor. Dalam kehidupan sehari – hari, air
digunakan manusia untuk kegiatan untuk keperluan minum, mencuci, industri,
kegiatan pertanian dan sebagainya.

Dewasa ini, air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius
karena dari segi kualitas dan kuantitas air telah berkurang yang disebabkan oleh
pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya
adalah akibat adanya limbah deterjen. Deterjen merupakan pembersih sintetis
yang terbuat dari bahan – bahan turunan minyak bumi. Dibandingkan dengan
sabun, deterjen mempunyai keunggulan mempunyai daya cuci yang lebih baik
serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.

Salah satu kandungan yang terdapat dalam deterjen adalah Natrium Dodesil
Benzena Sulfonat (NaDBS). Senyawa ini sulit terurai secara alamiah dalam air,
sehingga dapat mencemari lingkungan perairan. Salah satu dampaknya adalah
timbul buih dipermukaan perairan sehingga dapat mengganggu pelarutan oksigen
dalam air. Oleh karena itu, diperlukan teknik yang tepat dan efektif dalam
pengolahan limbah deterjen. Salah satunya adalah pengolahan limbah secara
biologis dengan menggunakan lumpur aktif karena menggunakan mikroorganisme
didalamnya.
Batasan Masalah
Batasan masalah penulisan ini menjelaskan tentang Dodesil benzen sulfonat
sebagai bahan yang terkandung dalam deterjen serta metode lumpur aktif yang
digunakan untuk penurunan kadar DBS.
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah memberikan penjelasan tentang pemanfaatan lumpur
aktif dalam terhadap zat yang terkandung dalam deterjen, yakni DBS.
Metode Penulisan
Metode penulisan ini menggunakan studi pustaka yang mengambil 1 jurnal utama
dan beberapa jurnal pendukung serta referensi lainnya yang berhubungan dengan
judul yang diambil dari internet.

TINJAUAN PUSTAKA
Air Dan Pencemaran Air
Air adalah zat atau materi atau unsur yang sangat penting bagi semua kehidupan.
Air hampir menutupi 71% permukaan bumi. Air yang ada sekarang belum tentu
bersih, tetapi ada yang tercampur dengan berbagai pencemar tergantung pada
daerah air itu berada.
Pencemaran air adalah adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat
penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas
manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll
juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak
dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal
dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Pencemaran air terjadi apabila dalam air terdapat berbagai macam zat atau kondisi
yang dapat menurunkan standar kualitas air yang telah ditentukan, sehingga tidak
dapat di gunakan untuk kebutuhan tertentu. Suatu sumber air dapat dikatakan
tercemar tidak hanya karena tercampur dengan bahan pencemar, akan tetapi
apabila air tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan tertentu.
Sumber Pencemaran Air
Ada beberapa penyebab terjadinya pencemaran air antara lain apabila air
terkontaminasi dengan bahan pencemar air seperti sampah rumah tangga, sampah
lembah industri, sisa-sisa pupuk atau pestisida dari daerah pertanian, limbah
rumah sakit, limbah kotoran ternak, partikulat-partikulat padat hasil kebakaran
hutan dan gunung berapi yang meletus atau endapan hasil erosi tempat-tempat
yang dilaluinya.

Secara umum penyebab pencemaran air dapat dikategorikan sebagai sumber


kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang
keluar dari industri, TPA (tempat Pembuangan Akhir Sampah), dan sebagainya.
Sumber tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air
tanah, atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air tanah mengandung mengandung
sisa dari aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfer
juga berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan
hujan asam.

Pencemar air dapat diklasifikasikan sebagai organik, anorganik, radioaktif, dan


asam/basa. Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir
100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia
tersebut dibuang ke badan air atau air tanah. Pestisida, deterjen, PCBs, dan PCPs
(polychlorinated phenols), adalah salah satu contohnya. Pestisida dgunakan di
pertanian, kehutanan dan rumah tangga. PCB, walaupun telah jarang digunakan di
alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai insulator, PCP
dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas
sebagai zat pembersih di rumah tangga.

Bahan Pencemar air


Senyawa organik dan anorganik yang terdapat dalam air dapat menyebabkan
pencemaran air. Pada dasarnya, bahan pencemaran air dapat dikelompokkan
menjadi :
Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigen, yaitu
sampah yang mengandung senyawa organik, misalnya sampah industri makanan,
sampah industri gula tebu, sampah rumah tangga (sisa – sisa makanan), kotoran
manusia dan kotoran hewan, tumbuh - tumbuhan dan hewan yang mati. Untuk
proses penguraian sampah-sampah tersebut memerlukan banyak oksigen,
sehingga apabila sampah-sampah terdapat dalam air, maka perairan (sumber air)
akan kekurangan oksigen. Ikan-ikan dan organisme dalam air akan mati
kekurangan oksigen. Selain itu, proses penguraian sampah yang mengandung
protein (hewani/nabati) akan menghasilkan gas H2S yang berbau busuk, sehingga
air tidak layak untuk diminum atau mandi.
1. Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit, yaitu bahan pencemar yang
mengandung virus dan bakteri, misalnya bakteri coli yang dapat menyebabkan
penyakit saluran pencernaan atau penyakit kulit. Bahan pencemar ini berasal dari
limbah rumah tangga, limbah rumah sakit, atau dari kotoran hewan atau manusia.
2. Bahan pencemar senyawa anorganik.mineral, misalnya logam-logam berat
seperti Merkuri (Hg), Kadmium (Cd), Timah Hitam (Pb), Tembaga (Cu), dan
garam-garam anorganik. Bahan-bahan pencemar berupa logam berat yang masuk
kedalam organ tubuh dapat mengganggu fungsi organ tubuh tersebut.
3. Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh
mikroorganisme, yaitu senyawa organik yang berasal dari pestisida, herbisida,
polomer seperti plastik, deterjen, serat sintetis, limbah industri, dan limbah
minyak. Bahan pencemar ini tidak dapat dimusnahkan oleh organisme, sehingga
akan menggunung dimana-mana dan dapat mengganggu kehidupan dan
kesejahteraan makhluk hidup.
4. Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan, seperti senyawa
Nitrat, senyawa Fosfat dapat menyebabkan tumbuhnya alga dengan pesat
sehingga menutupi permukaan air. Selain itu akan mengganggu ekosistem air,
mematikan ikan dan organisme dalam air, karena kadar oksigen dan sinar
matahari berkurang. Hal ini disebabkan karena oksigen dan sinar matahari tidak
dapat masuk ke dalam air.
5. Bahan pencemar berupa zat radio aktif, dapat menyebabkan penyakit
kanker, merusak sel dan jaringan tubuh lainnya. Bahan pencemar ini berasal dari
limbah PLTN dan dari percobaan-percobaan nuklir lainnya.
6. Bahan pencemar berupa endapan/sedimen, seperti tanah dan lumpur akibat
erosi pada tepi sungai atau partikulat-partikulat padat/lahar yang disemburkan
oleh gunung berapi yang meletus, yang menyebabkan air menjadi keruh,
masuknya sinar matahari berkurang, dan air kurang mampu mengasimilasi
sampah.
7. Bahan pencemar berupa kondisi (misalnya panas), berasal dari limbah
pembangkit tenaga listrik atau limbah industri yang menggunakan air sebagai
pendingin. Bahan pencemar panas ini mebyebabkan suhu air meningkat tidak
sesuai untuk kehidupan akuatik. Tanaman, ikan, dan organisme yang mati akan
terurai menjadi senyawa-senyawa organik. Untuk proses penguraian senyawa-
senyawa organik ini memerlukan oksigen, sehingga terjadi penurunan kadar
oksigen dalam air.

2.4 Deterjen Dan Kandungannya


Telah disebutkan diatas, deterjen merupakan salah satu bahan pencemar yang
tidak dapat diuraikan oleh organisme. Deterjen adalah campuran berbagai bahan,
yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan
turunan minyak bumi. Produk deterjen saat ini sudah digunakan oleh hampir
semua penduduk untuk berbagai keperluan seperti mencuci pakaian dan perabotan
serta sebagai bahan pembersih lainnya. Salah satu senyawa utama yang dipakai
dalam deterjen adalah senyawa Dodesil Benzena Sulfonat dalam bentuk Natrium
Benzena Sulfonat (NaDBS). Senyawa ini mempunyai kemampuan untuk
menghasilkan buih. Senyawa utama yang lainnya adalah Natrium tripolifosfst
(STTP) yang mempunyai kemampuan sebagai pembersih kotoran. Kedua
senyawa ini sangat sulit terurai secara alamiah dalam air. Salah satu dampak yang
terjadi adalah timbulnya buih dipermukaan perairan sehingga dapat mengganggu
pelarutan oksigen dalam air.
Awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih pakaian, namun kini meluas dalam
bentuk produk-produk seperti:
1. Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo,
sabun cuci tangan, dll.
2. Laundry, sebagai pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang
paling populer di masyarakat.
3. Dishwashing product, sebagai pencuci alat-alat rumah tangga baik untuk
penggunaan manual maupun mesin pencuci piring.
4. Household cleaner, sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai,
pembersih bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll.
Detergen adalah Surfaktant anionik dengan gugus alkil (umumnya C9 – C15) atau
garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari Natrium (RSO3- Na+ dan
ROSO3- Na+) yang berasal dari derivat minyak nabati atau minyak bumi (fraksi
parafin dan olefin).
Deterjen mengandung zat aktif permukaan yang serupa dengan sabun, misalnya
natrium benzensulfonat (Na-ABS). Garam kalsium atau magnesium yang larut
dalam air sadah jika bereaksi dengan Na-ABS tetap larut dalam air dan tidak
mengendap.
Pada umumnya, deterjen terdiri atas empat jenis bahan penyusun. Bahan
penyusun tersebut adalah :

1). Surfaktan (surface active agent), merupakan zat aktif permukaan yang
mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe
(suka lemak). Surfaktan merupakan bahan utama deterjen. Bahan aktif
ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat
melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktant
ini baik berupa anionic (Alkyl Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl
Benzene Sulfonate (LAS), Alpha Olein Sulfonate (AOS), Kationik
(Garam Ammonium), Non ionic (Nonyl phenol polyethoxyle),
Amphoterik (Acyl Ethylenediamines).
2). Builder (Permbentuk), berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari
surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
Baik berupa Phosphates (Sodium Tri Poly Phosphate (STPP) , Asetat
(Nitril Tri Acetate (NTA), Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA),
Silikat (Zeolit), dan Sitrat (asam sitrat).
3). Filler (pengisi), adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau
dapat memadatkan dan memantapkan sehingga dapat menurunkan harga.
Contoh : Sodium sulfate.
4). Additives, adalah bahan suplemen/ tambahan untuk membuat produk
lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan
sebagainya yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen.
Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk.
Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose
(CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh detergent ke dalam
larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti
Redeposisi). Wangi – wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau
harum, sedangkan air sebagai bahan pengikat.

Menurut kandungan gugus aktifnya, maka deterjen diklasifikasikan


sebagai berikut :
1). Deterjen jenis keras, deterjen jenis ini sukar dirusak oleh organisme
meskipun bahan tersebut dibuang, akibatnya zat tersebut masih aktif.
Jenis inilah yang menyebabkan pencemaran air. Contoh : Alkil Benzena
Sulfonat (ABS).
2). Deterjen jenis lunak, deterjen jenis ini bahan penurun tegangan
permukaannya mudah dirusak oleh mikroorganisme, sehingga tidak aktif
lagi setelah dipakai. Contoh : Lauril Sulfat atau Lauril Alkil Sulfonat
(LAS).

2.5 Dampak Deterjen terhadap Kesehatan Dan Lingkungan


Bahan kimia yang merupakan bahan deterjen ada yang termasuk keras
dan ada pula yang termasuk lunak. Keras-lunaknya deterjen tergandung pada
kadar pH (tingkat keasaman atau kebasaan) jenis zat-zat kimia di dalam deterjen,
terutama dari bentuk rantai kimia dan jenis gugus fungsi surfaktan.
Dari kadar pH deterjen yang sangat basa (9,5-12), diketahui bahwa
deterjen memang bersifat korosif. Hal ini dapat mengakibatkan iritasi pada kulit.
Sementara pada susunan rantai kimia surfaktan terdapat formulasi bahwa semakin
panjang dan bercabang rantai surfaktan, akan semakin keras deterjen tersebut.
Sedangkan dari jenis gugus fungsinya, maka gugus fungsi sulfonat bersifat lebih
keras dibandingkan gugus fungsi karboksilat.
Deterjen yang keras dapat menimbulkan masalah pada kulit.
Selain itu, konsumen juga dapat memilih deterjen lunak, seperti deterjen cair.
Bahan deterjen cair ini kurang menimbulkan iritasi karena rantai surfaktan-nya
lebih pendek dari deterjen bubuk, tetapi daya pembersih deterjen cair ini lebih
rendah dari deterjen bubuk.
Deterjen sangat berbahaya bagi lingkungan karena dari beberapa kajian
menyebutkan bahwa detergen memiliki kemampuan untuk melarutkan bahan dan
bersifat karsinogen, misalnya 3,4 Benzonpyrene, selain gangguan terhadap
masalah kesehatan, kandungan detergen dalam air minum akan menimbulkan bau
dan rasa tidak enak. Deterjen kationik memiliki sifat racun jika tertelan dalam
tubuh, bila dibanding deterjen jenis lain (anionik ataupun non-ionik).
Ada dua ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana produk
kimia aman di lingkungan yaitu daya racun (toksisitas) dan daya urai
(biodegradable). ABS dalam lingkungan mempunyai tingkat biodegradable
sangat rendah, sehingga deterjen ini dikategorikan sebagai ‘non-biodegradable’.
Dalam pengolahan limbah konvensional, ABS tidak dapat terurai, sekitar 50%
bahan aktif ABS lolos dari pengolahan dan masuk dalam sistem pembuangan. Hal
ini dapat menimbulkan masalah keracunan pada biota air dan penurunan kualitas
air. LAS mempunyai karakteristik lebih baik, meskipun belum dapat dikatakan
ramah lingkungan. LAS mempunyai gugus alkil lurus/ tidak bercabang yang
dengan mudah dapat diurai oleh mikroorganisme.
LAS relatif mudah didegradasi secara biologi dibanding ABS. LAS bisa
terdegradasi sampai 90%. Akan tetapi prorsesnya sangat lambat, karena dalam
memecah bagian ujung rantai kimianya khususnya ikatan o-mega harus diputus
dan butuh proses beta oksidasi. Karena itu perlu waktu. Menurut penelitian, alam
membutuhkan waktu sembilan hari untuk mengurai LAS. Itu pun hanya sampai
50%.
Detergen ABS sangat tidak menguntungkan karena ternyata sangat
lambat terurai oleh bakteri pengurai disebabkan oleh adanya rantai bercabang
pada spektrumya. Dengan tidak terurainya secara biologi deterjen ABS, lambat
laun perairan yang terkontaminasi oleh ABS akan dipenuhi oleh busa,
menurunkan tegangan permukaan dari air, pemecahan kembali dari gumpalan
(flock) koloid, pengemulsian gemuk dan minyak, pemusnahan bakteri yang
berguna, penyumbatan pada pori – pori media filtrasi.
Kerugian lain dari penggunaan deterjen adalah terjadinya proses
eutrofikasi di perairan. Ini terjadi karena penggunaan deterjen dengan kandungan
fosfat tinggi. Eutrofikasi menimbulkan pertumbuahan tak terkendali bagi eceng
gondok dan menyebabkan pendangkalan sungai. Sebaliknya deterjen dengan
rendah fosfat beresiko menyebabkan iritasi pada tangan dan kaustik. Karena
diketahui lebih bersifat alkalis. Tingkat keasamannya (pH) antara 10 - 12.

Beberapa Dampak Penggunaan Deterjen Bagi Kesehatan dan


Lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Golongan ammonium kuartener itu dapat membentuk senyawa
nitrosamin. Senyawa nitrosamin diketahui bersifat karsinogenik, dapat
menyebabkan kanker.
2. Senyawa SLS, SLES atau LAS mudah bereaksi dengan senyawa
golongan ammonium kuartener, seperti DEA untuk membentuk
nitrosamin tadi. Bukan cuma itu, SLS diketahui menyebabkan iritasi
pada kulit, memperlambat proses penyembuhan dan penyebab katarak
pada mata orang dewasa.
3. Menurut penelitian, alam membutuhkan waktu sembilan hari untuk
mengurai LAS. Itu pun hanya sampai 50 persen. Melihat bahwa saat ini
banyak rumah tangga yang membuang sisa cuciannya begitu saja tanpa
pengolahan limbah sebelumnya, maka alam diharapkan mampu
mendegradasinya.
4. Sebelum dibuang dan bercampur dengan bahan baku air bersih, limbah
cucian membutuhkan proses pengolahan yang rumit. Agar senyawa
detergen terurai, limbah harus mendapat sinar ultraviolet yang cukup dan
diendapkan sekitar tiga pekan. Makanya, negara yang mengizinkan
pemakaian LAS rata-rata sudah memiliki sistem pengolahan air yang
memadai.
5. Proses penguraian deterjen akan menghasilkan sisa benzena yang apabila
bereaksi dengan klor akan membentuk senyawa klorobenzena yang
sangat berbahaya. Kontak benzena dan klor sangat mungkin terjadi pada
pengolahan air minum, mengingat digunakannya kaporit (dimana di
dalamnya terkandung klor) sebagai pembunuh kuman pada proses
klorinasi.
6. Saat ini, instalasi pengolahan air milik PAM dan juga instalasi pengolahan
air limbah industri belum mempunyai teknologi yang mampu mengolah
limbah deterjen secara sempurna.
7. Penggunaan fosfat sebagai builder dalam deterjen perlu ditinjau kembali,
mengingat senyawa ini dapat menjadi salah satu penyebab proses
eutrofikasi (pengkayaan unsur hara yang berlebihan) pada sungai/danau
yang ditandai oleh ledakan pertumbuhan algae dan eceng gondok
menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai. Pertanda lonceng
kematian bagi kehidupan penghuni sungai.
8. Di beberapa negara Eropa, penggunaan fosfat telah dilarang dan diganti
dengan senyawa substitusi yang relatif lebih ramah lingkungan.
9. Penggunaan deterjen dapat mempunyai risiko bagi kesehatan dan
lingkungan. Risiko deterjen yang paling ringan pada manusia berupa
iritasi (panas, gatal bahkan mengelupas) pada kulit terutama di daerah
yang bersentuhan langsung dengan produk. Hal ini disebabkan karena
kebanyakan produk deterjen yang beredar saat ini memiliki derajat
keasaman (pH) tinggi. Dalam kondisi iritasi/terluka, penggunaan produk
penghalus apalagi yang mengandung pewangi, justru akan membuat
iritasi kulit semakin parah.

Proses Lumpur Aktif


Teknik Pengolahan air limbah banyak ragamnya. Salah satu dari teknik Air
limbah adalah proses lumpur aktif dengan aerasi oksigen murni. Pengolahan ini
termasuk pengolahan biologi, karena menggunakan bantuan mikroorganisma pada
proses pengolahannya. Cara Kerja alat ini adalah sebagai berikut : Air limbah
setelah dilakukan penyaringan dan equalisasi dimasukkan kedalam bak pengendap
awal untuk menurunkan suspended solid. Air limpasan dari bak pengendap awal
dialirkan ke kolam aerasi melalui satu pipa dan dihembus dengan udara sehingga
mikroorganisma bekerja menguraikan bahan organik yang ada di air limbah. Dari
bak bak aerasi air limbah dialirkan ke bak pengendap akhir, lumpur diendapkan,
sebagian lumpur dikembalikan ke kolam aerasi. Keuntungannya :1. daya larut
oksigen dalam air limbah lebih besar; 2. efisiensi proses lebih tinggi; dan 3. cocok
untuk pengolahan air limbah dengan debit kecil untuk polutan organik yang susah
terdegradasi.

METODE PENELITIAN

Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitianini antara lain limbah deterjen, sedimen
(lumpur), NaDBS, pupuk NPK, Bahan kimia yang digunakan antara lain reagen
Methylene blue, klroform, H2SO4, NaH2PO4.H2O dan akuades.
Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian dikelompokkan menjadi dua yaitu
peralatan pengolahan limbah deterjen dan peralatan analisis kimia. Peralatan
pengolahan limbah deterjen antara lain bak pengolahan dengan volume 5 liter.
Toples plastik dengan volume 2 liter, dan aerator. Peralatan analisis kimia antara
lain peralatn gelas seperti tabung reaksi, pipet volume, corong pisah, timbangan
analitik dan spektofotometer UV-Vis.
Cara Kerja
Pengolahan Limbah Detertjen
Pembibitan (seeding)
Sebanyak 3 gram lumpur yang diperoleh dari Sungai Mati, 1 gram NPK
dimasukkan kedalam toples plastik yang sudah disii dengan akuades sebanyak 1
liter. Selama pembibitan dilakukan aerasi dengan aerator yang ujung selangnya
ditempatkan pada dasar toples. Aerasi dilakukan selain sebagai sumber oksigen
juga dapat sebagai alat pengadukan dari proses pembibitan. Pembibitan ini
dilakukan selama 1 minggu.
Pengolahan Limbah Deterjen
Disiapkan 2 bak percobaan yang masing-masing diisi dengan 2 liter air limbah.
Bak pertama diisi dengan 1 liter cairan pembibitan, dan bak kedua hanya diisi
dengan limbah deterjen. Pada sistem pengolahan ini dilakukan aerasi dan
pengamatan dilakukan pada hari ke 3, 5, 7, 10 dan 15.
Pembuatan Larutan Standar DBS
Sebelum menentukan kadar DBS, dilakukan pembuatan standar DBS dari
senyawa Na-DBS dengan konsentrasi DBS 100 ppm. Selanjutnya dibuat larutan
standar 1,0; 2; 5; 10 dan 25 ppm.
Penentuan Kadar DBS pada Sampel
Sebanyak 10,0 mL sampel deterjen dimasukkan ke dalam corong pisah, kemudian
ditambahkan dengan 25 mL kloroform dan 25 mL pereaksi methylene blue.
Campuran dalam
corong pisah dikocok selama 10 detik dan didiamkan sampai terbentuk dua fase
yaitu fase kloroform dan fase air. Fase kloroform yang berada di bagian bawah
diambil dan fase air dicuci dengan kloroform sampai warna biru pada fase air
berkurang atau menghilang. Fase
kloroform dikumpulkan pada corong pisah yang lainnya, kemudian ditambahkan
50 Ml larutan pencuci dan dikocok selama 60 detik, selanjutnya didiamkan
sampai terbentuk dua fase lagi. Fase kloroform ditampung, sedangkan fase larutan
pencuci dilakukan pencucian sebanyak dua kali dengan masing-masing 10 mL
klroform. Fase klroroform dikumpulkan dan dibaca serapannya dengan
spekrtofotometer pada panjang gelombang maksimum 644 nm.
Perhitungan Efektivitas
Untuk menentukan nilai efektivitas penurunan DBS dapat dihitung dengan
menggunakan rumus berikut :

Efektifitas % = DBS awal–DBS selama pengolahan


DBS awal

HASIL DAN PEMBAHASAN


Limbah deterjen yang diambil adalah limbah yang berasal dari usaha laundry,
mempunyai kondisi awal berwarna putih keruh, berbau dan berbusa. Kadar DBS
limbah deterjen sebesar 50,884 ppm. Kadar DBS yang tinggi dapat menimbulkan
buih dan dapat menghambat penetrasi sinar matahari dan pelarutan oksigen
sehingga mengakibatkan oksigen terlarut menjadi rendah. Rendahnya kandungan
oksigen dapat mengganggu ekosistem yang berada diperairan dan dapat
mengganggu respirasi tanaman dan hewan yang ada pada perairan.
Lumpur yang telah diendapkan akan menjadi lumpur aktif yang merupakan proses
pembibitan.

Berikut ini adalah tabel Kadar DBS Limbah Deterjen yang di olah dengan
menggunakan lumpur aktif :
Kadar DBS (ppm)
Hari ke Kontrol Lumpur Aktif
0 50,888 50,888
5 48,122 14,137
7 47,843 1,244
10 46,98 0,152
15 46,762 0,381

Dari tabel diatas dapat kita lihat terjadi penurunan kadar DBS selama pengolahan
baik untuk kontrol maupun pengolahan dengan lumpur aktif. Apabila
dibandingkan dengan kontrol, penurunan kadar DBS pada pengolahan lumpur
aktif mengalami penurunan yang tajam, sedangkan pada kontrol tidak terjadi
penurunan yang tajam. Hal ini disebabkan karena pada kontrol tidak terjadi
degradasi DBS secara maksima. Kadar terendah DBS yang paling rendah adalah
pada hari ke 15 dengan pengolahan lumpur aktif. Hal ini dikarenakan pada
pengolahan lumpur aktif terjadi degradasi oleh mikroorganisme yang terdapat
pada lumpur aktif.

Dan ini adalah tabel Efektifitas Penurunan DBS limbah deterjen untuk kontrol dan
lumpur aktif :
Efektifitas (%)
Hari Ke Kontrol Lumpur Aktif
0 5,44 72,22
5 5,95 97,56
7 7,68 99,70
10 7,78 99,45
15 8,18 99,25

Dari tabel tersebut dapat kita ketahui bahwa tingkat efektivitas pengolahan lumpur
aktif sangatlah tinggi. Pada hari ke 15 nilai efektivitasnya sebesar 99,25%. Hal ini
menunjukkan bahwa pengolahan limbah cair dengan metode lumpur aktif sangat
efektif untuk menurunkan kadar DBS dari limbah deterjen.

KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan, hasil dan pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. DBS merupakan bahan utama dalam deterjen yang sangat mencemari
perairan yang dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam perairan.
2. Dari hasil pengujian, kandungan DBS pada kontrol lebih tinggi
dibandingkan dengan pengolahan lumpur aktif.
3. lumpur aktif sangat efektif untuk menurunkan kadar DBS hal ini
dibuktikan dengan tingginya nilai efektivitas pengolahan pada hari ke 15
sebesar 99,25%.