Anda di halaman 1dari 5

Aku seolah berada dalam situasi peristiwa 45 tahun yang lalu.

Peristiwa
kelam, catatan sejarah hitam yang dikubur dalam lubang sumur ketidak
jelasan. Jelas dari cerita yang Aku dapat dari Aidit, Letkol Untung, kesaksian
tujuh kawan yang sebentar lagi akan datang, ditambah bukti foto milik kakek
dan bapak Aku. Satu bagian luka sejarah ibu pertiwi yang tak pernah
sembuh, dan buat Aku itu adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah
perang gagasan ideologi.

Letkol Untung berdiri di balai rumah, seperti posisinya di siang hari tadi.
Kebiasaan yang masih sama ketika kami berada di tempat ini. Menghadap
matahari sore, memandang bukit gersang yang ada di depan kami dengan
senyum yang menyungging dibibirnya. Karena dia tahu sebentar lagi kawan-
kawan lama yang dia rindukan akan tampak muncul dibalik bukit itu.

“Sejak 45 tahun ini, tak ada lagi keindahan yang luar biasa menurutku selain
mengagumi kehebatan Tuhan menciptakan Ibu Pertiwi yang indah ini dan
bertemu dengan kalian setahun sekali ditempat ini, kawan,” ujar Aidit sambil
kembali duduk dikursi rotan tuanya berdampingan dengan Letkol Untung.
Dia tahu kawannya itu merasakan hal yang sama.

Aku memandangi mereka dari dalam rumah sambil kembali memutar musik.
Aku berfikir, sepertinya ini waktu yang pas untuk membicarakan tentang
pembahasan malam nanti bersama tujuh kawan-kawan yang lain.

Aku : “Kawan-kawan, kira kira apa yang akan kita bahas malam nanti?
Apakah rencana yang sama seperti tahun kemarin?”

Letkol Untung : “Memang kenapa, kawan Anak Muda?”.

Aku : “Hari ini menginjak tahun ke 45, setelah rencana besar 11 tahun lalu
telah terlaksana, kita tak pernah lagi melakukan pembaharuan catatan
sejarah bagi ibu pertiwi. Apalagi, peristiwa yang terjadi selama 12 tahun ini
sangat jauh menyimpang seperti rencana kita dahulu ditempat ini. Apakah
pembahasan tentang Revolusi masih menjadi harga mati?”
“Catatan sejarah tak pernah baru bagiku, selalu mengulang siklus yang
sama. Dan revolusi masih menjadi harga mati, kawan-kawan. Masih dan
harus dilanjutkan seperti yang diminta oleh Dwitunggal. Begitu pula
kakekmu berpesan saat pertemuan terakhir kami, sebelum dia berangkat
naik ke puncak gunung tertinggi di pulau ini,” kata Aidit

Aku : “Lalu mengapa sampai ditahun ke 12 sejak si Supersemar telah


lengser, masih saja peristiwa yang terjadi saat ini belum berhasil sesuai
rencana kita pada saat itu?”

“Hahaha… Dasar memang darah kakek bapakmu mengalir dibadanmu,


kawan. Selalu saja tak pernah nyaman menghadapi situasi yang kalian rasa
tidak pada semestinya. Kau juga tahu, peristiwa sejarah 12 tahun lalu saja
adalah hasil rencana selama 32 tahun. Memang sempat ada beberapa
peristiwa, tapi sayang waktu itu para kawan seperjuangan kakekmu sudah
terlalu nyaman menikmati kue kekuasaan dan enggan berkomitmen dengan
hasil kesepakatan bersama kala itu. Dan saat ini, kawan seperjuangan
bapakmu sedang mengidap penyakit yang sama,” Letkol Untung berkata
pada Aku sambil tersenyum.

Aku : “Hehe… Bagaimana dengan wacana restorasi ibu pertiwi yang


ditawarkan oleh beberapa kawan seperjuangan kakek dan bapakku
beberapa waktu lalu itu? Apakah itu menunjukkan gejala bertaubatnya
mereka?”

“Restorasi? Ahh, dobol mereka itu. Sama saja. Hehehe… Ada lagi, yang saat
ini menjadi trend di kelompok seumuranmu, Anak Muda. Tentang imajinasi
membuat sejarah baru dengan menarik masa depan ke hari ini untuk jadi
energi kelompok dan perubahan perilaku individu yang lebih dahsyat.
Padahal itu adalah hal yang kami lakukan dahulu saat bermimpi
menyuarakan kata MERDEKA, namun bedanya mereka tidak ada landasan
spiritual yang kuat. Makanya memble pada proses menuju berhasil dan
mereka selalu lambat untuk menyadarinya,” kata Aidit
Aku : “Tentang landasan spiritual, bagaimana dengan Agama?”

Letkol Untung, sambil mencari posisi bersegitiga diantara kami berkata,


“Agama telah menjadi salah satu lahan pekerjaan bagi para pelaku-
pelakunya, kawan. Menjadi kedok, topeng dan tidak lagi mayoritas kaum
beragama menghidupi agamanya. Bahkan agama juga laku untuk dagangan
politik, kau juga tahu sendiri hal itu kawan. Sementara disisi lain, faham Sufi
hari ini adalah faham yang diartikan untuk pelarian bagi manusia yang
pasrah menghadapi masalah hidup dan tidak ada upaya menyelesaikannya.”

Aku “Lalu diluar konteks agama, landasan spiritual apa lagi. Apakah spirit
kebudayaan berjudul kearifan lokal yang dimiliki ibu pertiwi sekian
banyaknya itu yang hendak kita gunakan nanti? Padahal, yang terjadi saat
ini Budaya Kearifan Lokal hanya menjadi salah satu komoditas dagangan
industri pariwisata, roh spiritnya pun berubah menjadi komersialisasi. Bukan
lagi wujud kebersamaan mutual atau keguyuban komunal.”

Suasana di balai rumah sejenak hening, tiba-tiba kami sibuk menjelajah alam
imajinasi dan nalar kami maing-masing. Menyusuri padang rumput pemikiran
yang sangat luas, berupaya untuk menemukan sumber mata air ilmu
pengetahuan yang baru dan yang masih jernih disana. Sementara langit
dibalik punggung bukit didepan kami semakin jingga warnanya, sebentar
lagi malam akan tiba.

Setelah menyalakan semua lampu penerangan, Aku mulai memasak air


dalam panci besar untuk persiapan sajian minuman hangat malam nanti.
Baterai yang menyimpan energi matahari seharian tadi, sangat mencukupi
kebutuhan listrik kami disini sampai besok pagi. Instalasi listrik tenaga
matahari ini dipasang oleh salah satu kawan kami yang keluarganya juga
turut menjadi korban pembantaian peristiwa 45 tahun lalu. Selain memiliki
media cetak terbesar dan menjadi tokoh jurnalis terkemuka di republik ini,
dia juga sangat mencintai bidang kelistrikan.
“Ah, itu mereka mulai tampak muncul dari balik bukit,” kata Letkol Untung
bersuara sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Alhamdulillah, syukurlah usia masih tidak jadi penghalang bagi mereka


untuk mendaki bukit. Hehehe…” kelakar Aidit dengan gaya idiomnya tak
pernah berubah sejak dahulu. Aidit berdiri disamping Letkol Untung bersiap
memberikan sambutan rindunya.

Di puncak bukit yang dapat kami lihat dengan jelas, tujuh kawan yang kami
rindukan mulai tampak menyusuri jalan yang membelah padang rumput Oro-
oro didepan kami.

“Semoga malam ini, akan ada pembahasan rencana baru, tindakan yang
memberikan catatan sejarah baru bagi Ibu Pertiwi. Goresan pena yang lebih
cemerlang, pembaharuan gerakan revolusi perubahan menjadi lebih baik.
Bersama mereka berdua dan Tujuh kawan Aku yang telah tiba, sepertinya
kegelisahan Aku akan tersudahi,” Aku membatin sambil melangkah menuju
balai rumah, berdiri diantara Aidit dan Letkol Untung.

Tujuh kawan yang namanya terukir menjadi nama jalan raya di setiap kota di
republik ini.

Tujuh kawan yang dicatat oleh sejarah dibuang dalam lubang sumur.

Tujuh kawan yang hanya bisa kami jumpai sekali dalam setiap tahunnya.

Tujuh kawan yang sebenarnya berkumpul bersama kami disini selama 45


tahun ini.

-*- Penutup -*-

Dari Dunia Imajinasi, 28 – 30 September 2010

“Doank Muhammad Anwar”