Anda di halaman 1dari 49

PERCOBAAN 1

DIODA
1.1. Karakteristik Dioda

A. TUJUAN
Untuk mengetahui karakteristik antara tegangan dan arus dari suatu dioda

B. PERALATAN
1. Power Supply
2. Volt Meter
3. Amper Meter
4. Dioda
5. Tahanan 1 k Ω , 0,5 Watt

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian pengukuran forward bias seperti
pada gambar 1.1 dan pastikan power suplai dalam keadaan mati.
If
A

RL
E

Gambar 1.1.

2. Atur power supply selangkah demi selangkah.


3. Ukur dan catatlah If , Vf dan Rf, yang ditunjukkan pada tabel berikut :

Tegangan Vf If Rf
0 - -
0,5 0,46 0,10 mA 6,4
2 0,56 1,40 mA 0,4
4 0,61 3,37 mA 0,16
6 0,63 5,73 mA 0,10
8 0,65 7,37 mA 0,08
10 0,66 9,38 mA 0,07
12 0,68 11,39 mA 0,05
14 0,69 13,41 mA 0,05
15,5 0,70 14,91 mA 0,04
16 0,71 15,39 mA 0,04

4. Turunkan power supply ke tegangan nol

1
5. Buatlah rangkaian percobaan reverse bias seperti pada gambar 1.2.

RL
E

Gambar 1.2.

6. Atur power supply selangkah demi selangkah.


7. Ukur dan catatlah If , Vf dan Rf, yang ditunjukkan pada tabel berikut :

Tegangan Vf If Rf
0 - -
0,5 -0,50 -45,2 mA 0,01
2 -1,98 -44,9 mA 0,04
4 -3,98 -44,2 mA 0,09
6 -5,96 -43,8 mA 0,13
8 -7,95 -42,9 mA 0,18
10 -9,94 -42,5 mA 0,23
12 -11,96 -41,8 mA 0,28
14 -13,92 -41,3 mA 0,34
15,5 -15,42 -40,3 mA 0,38
16 -15,91 -39,3 mA 0,40

D. PERTANYAAN
1. Gambarkan kurva karakteristik dari hasil percobaan.
2. Tentukan harga dari tahanan forward dan tahanan reverse dari hasil percobaan
pengukuran tegangan dan arus untuk dioda yang dicoba dan tulis kedalam tabel
percobaan diatas.
3. Buatlah suatu kesimpulan dari hasil percobaan yang saudara lakukan (forward bias
dan reverse bias)

2
JAWABAN :

1.

Kurva pengukuran forward bias :

Kurva pengukuran reverse bias :

3. Kesimpulan :

Resistor merupakan sebuah piranti linear karena grafik arus terhadap tegangan
merupakan garis lurus,dan dioda merupakan kebalikan dari resistor,dan pada dioda
silikon terdapat tegangan kaki sebesar (Vk=0,7).Dan disipasi Daya pada dioda dapat di
rumuskan : Pd=Vd.Id

3
1.2. Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang

A. TUJUAN
1. Mengetahui kemampuan dioda sebagai penyearah
2. Menggambarkan dan mengukur bentuk gelombang yang dihasilkan oleh sebuah
dioda.

B. PERALATAN
1. Osciloscope
2. Trafo Step Down
3. Dioda IN 4001 atau yang sejenis
4. Tahanan 10 K Ω , 0,5 Watt
5. Kapasitor

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian pengukuran seperti pada gambar
2.1. CH1
CH2

Vin = 220 V Vac2 Vac2 RL Vdc C

Gambar 2.1. Rangkaian penyearah setengah gelombang

2. Hidupkan osciloscope kemudian syncronisasikan.


3. Naikkan Vs selangkah demi selangkah dengan mengatur PTAC dengan petunjuk
instruktur.
4. Catat Vdc setiap kenaikan tegangan Vs
5. Atur switch time/div dan volt/div untuk melihat bentuk gelombang. Amati dan
gambar bentuk gelombang output pada osciloscope.
6. Turunkan PTAC kemudian pasang Kapasitor diparalelkan dengan Resistor dan
lakukan percobaan 1 s/d 4.
7. Lakukan percobaan 1 s/d 5 untuk beberapa Kapasitor.
8. Catat hasil pengamatan yang ditunjukkan pada tabel 2.1 dan 2.2.

4
Tabel 2.1: Penyearah setengah gelombang untuk R1 = 10 K Ω (tanpa Kapasitor)
Vs 0 1,5 V 3V 4,5 V 6V 7,5 V 9V 10,5 V 12 V
Vdc1 - 0,82 1,46 1,96 2,72 3,34 4,19 4,90 5,47
Vdc2 - 0,20 4,36 6,0 6,6 6,9 7,2 7,3 7,5
Rf - 2,5 2,29 2,50 3,03 3,62 4,17 4,78 5,33

1,5 AC VOLT 1,5 DC VOLT 6 AC VOLT

3 AC VOLT 3 DC VOLT
6 DC VOLT

4.5 AC VOLT 4.5 DC VOLT 7 AC VOLT

5
7 DC VOLT AC 9 VOLT 9 DC VOLT

AC 12 VOLT DC 12 VOLT

Tabel 2.2: Penyearah setengah gelombang untuk R1 = 10 K Ω dengan 1 Kapasitor


Vs 0 1,5 V 3V 4,5 V 6V 7,5 V 9V 10,5 V 12 V
Vdc1 - 1,6 3,93 6,09 8,41 10,74 12,60 13,33 15,88
Vdc2 - 13,2 20,1 27,0 33,9 41,0 47,9 55,0 61,2
Rf - 0,76 0,75 0,74 0,74 0,73 0,73 0,73 0,73

Tabel 2.2: Penyearah setengah gelombang untuk R1 = 10 K Ω dengan 2 Kapasitor


Vs 0 1,5 V 3V 4,5 V 6V 7,5 V 9V 10,5 V 12 V
Vdc1 - 4,65 5,85 7,35 10,03 10,84 12,80 15,02 15,93
Vdc2 - 0,66 1,88 3,2 4,51 5,65 7,24 8,4 10,1
Rf - 2,27 1,59 1,41 1,33 1,33 1,24 1,25 1,88

Tabel 2.2: Penyearah setengah gelombang untuk R1 = 10 K Ω dengan 3 Kapasitor


Vs 0 1,5 V 3V 4,5 V 6V 7,5 V 9V 10,5 V 12 V
Vdc1 - 6,72 8,82 9,81 11,16 12,28 13,52 15,44 16,77

6
Vdc2 - 13,2 20,1 27,0 33,9 41,0 47,9 55,0 61,2
Rf - 0,20 4,36 6,0 6,6 6,9 7,2 7,3 7,5

1,5 VOLT 3 VOLT 4,5 VOLT

6 VOLT 7,5 VOLT 9 VOLT

10,5 VOLT 12 V0LT

Keterangan:
Vs = Tegangan efektif bolak balik input (Veff)
Vdc1 = Tegangan rata-rata output yang disearahkan dari hasil pengukuran
Vdc2 = Tegangan rata-rata output yang disearahkan dari hasil perhitungan

Dimana :
1,41 × Veff  1,414 × V s 2 
V dc 2 = − Vf =   − 0 ,3
1 + ( 1 × R1c )  π 
2

7
Vf = 0,6 s/d 1 (untuk dioda silikon)
Vr = Tegangan ripple
V dc
Vr = , f = 50 Hz
f ×R1c
Ripple faktor
Vr
rf = ×100 %
Vdc

D. PERTANYAAN
1. Hitung tegangan output searah Vdc2 berdasarkan rumus tegangan bolak balik input
Vs = Veff
2. Tentukan ripple faktor sesungguhnya dari gelombang output dari hasil pengukuran
Vs dan Vdc1
3. Berikan penjelasan jika ada perbedaan antara Vdc1 hasil pengukuran dengan Vdc2 hasil
perhitungan
4. Apa sebabnya suatu penyearah harus menggunakan filter ?
5. Dalam menempatkan sebuah dioda pada rangkaian penyearah batas-batas apakah
yang harus dipertimbangkan.
6. Buktikan rumus tegangan output pada percobaan diatas
7. Hitung ripple tegangan dari hasil pengukuran untuk penyearah yang memakai
kapasitor
8. Berikan kesimpulan dan analisa dari hasil percobaan saudara

JAWABAN :

1,41 × Veff  1,414 × V s 2 


1. V dc 2 = − Vf =   − 0 ,3
1 + ( 1 × R1c )  π 
2
V dc
2. V r =
f ×R1c
3. Jika ada perbedaan antara Vdc1 hasil pengukuran dengan Vdc2 hasil perhitungan tidak jadi
masalah selagi diambang ke normalan.
4. Agar tegangan yang di hasilkan memang murni tegangan DC yang stabil.
5. Kemampuan dioda tersebut terhadap arus makximum nya.
6. Vp(out) = Vp(in)-0,7 volt
Vdc = Vp / 3,14
V dc
7. V r =
f ×R1c
8. Jumlah dari hambatan ohmic disebut dengan hambatan bulk dioda. Dan pada dioda
silkon terdapat tegngan kaki sebesar 0,7 volt

8
1.3. Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh dengan Jembatan

A. TUJUAN
Untuk mengetahui kemampuan dioda menyearahkan arus dan untuk melihat bentuk
gelombang yang dihasilkan oleh dioda-dioda dipasang secara jembatan.

B. PERALATAN
1. Osciloscope
2. Trafo Step Down dan PTAC
3. Dioda IN 4001 atau yang sejenis
4. Tahanan 20 K Ω , 0,5 Watt
5. Kapasitor

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian pengukuran seperti pada gambar
2.2

CH1
CH2

Vin = 220 V Vac2 Vac2 RL Vdc C

Gambar 2.2. Rangkaian penyearah gelombang penuh

2. Hidupkan osciloscope kemudian syncronisasikan.


3. Naikkan Vs selangkah demi selangkah dengan mengatur PTAC dengan petunjuk
instruktur.
4. Catat Vdc setiap kenaikan tegangan Vs
5. Atur switch time/div dan volt/div untuk melihat bentuk gelombang. Amati dan
gambar bentuk gelombang output pada osciloscope.
6. Turunkan PTAC kemudian pasang Kapasitor diparalelkan dengan Resistor dan
lakukan percobaan 1 s/d 4.
7. Catat hasil pengamatan yang ditunjukkan pada tabel 2.3 dan 2.4.

Tabel 2.3: Penyearah setengah gelombang untuk R1 = 20 K Ω (tanpa Kapasitor)


Vs 0 1,5 V 3V 4,5 V 6V 7,5 V 9V 10,5 V 12 V
Vdc1 - 0,51 1,40 2,37 3,23 4,05 5,18 6,04 6,98
Vdc2 - 0,66 1,88 3,2 4,51 5,65 7,24 8,4 10,1

9
Vr - 2,27 1,59 1,41 1,33 1,33 1,24 1,25 1,88
Rf - 0,76 0,75 0,74 0,74 0,73 0,73 0,73 0,73

Tabel 2.4: Penyearah setengah gelombang untuk R1 = 20 K Ω dengan Kapasitor


Vs 0 1,5 V 3V 4,5 V 6V 7,5 V 9V 10,5 V 12 V
Vdc1 - 3,06 4,52 6,87 9,78 12,32 15,59 18,89 21,53
Vdc2 - 0,82 1,46 1,96 2,72 3,34 4,19 4,90 5,47
Vr - 0,20 4,36 6,0 6,6 6,9 7,2 7,3 7,5
Rf - 2,27 1,59 1,41 1,33 1,33 1,24 1,25 1,88

Keterangan:
Vs = Tegangan efektif bolak balik input (Veff)
Vdc1 = Tegangan rata-rata output yang disearahkan dari hasil pengukuran
Vdc2 = Tegangan rata-rata output yang disearahkan dari hasil perhitungan

1,5 volt tanpa capasitor 3 volt tanpa capasitor 4 volt tanpa capasitor

6 volt tanpa capasitor 7,5 volt tanpa capasitor 9 volt tanpa capasitor

10
10,5 volt tanpa capasitor 12 volt tanpa capasitor

1,5 volt dengan capasitor 3 volt dengan capasitor 4,5 volt dgn capasitor

6 volt dengan capasitor 7,5 volt dengan capasitor 9 volt deng capasitor

10,5 volt dengan capasitor 12 volt dengan capasitor

11
Dimana :
1,414 × Veff  1,414 × V s 2 
V dc = − 2Vf =   − ( 2 × 0 ,3 )
1 + ( 1 × R1c )  π 
4

Vf = 0,6 s/d 1 (untuk dioda silikon)


Vr = Tegangan ripple

Dimana :
V dc
Vr = , f = 50 Hz
f ×R1c

Ripple faktor
Vr
rf = ×100 %
Vdc

D. PERTANYAAN :
1. Hitung tegangan output searah Vdc2 berdasarkan rumus tegangan bolak balik input
Vs = Veff
2. Tentukan ripple faktor sesungguhnya dari gelombang output dari hasil pengukuran
Vs dan Vdc1
3. Berikan penjelasan jika ada perbedaan antara Vdc1 hasil pengukuran dengan Vdc2 hasil
perhitungan
4. Apa sebabnya suatu penyearah harus menggunakan filter ?
5. Dalam menempatkan sebuah dioda pada rangkaian penyearah batas-batas apakah
yang harus dipertimbangkan.
6. Buktikan rumus tegangan output pada percobaan diatas
7. Hitung ripple tegangan dari hasil pengukuran untuk penyearah yang memakai
kapasitor
8. Berikan kesimpulan dan analisa dari hasil percobaan saudara

JAWABAN :

1,414 × Veff  1,414 × V s 2 


1. V dc = − 2Vf =   − ( 2 × 0 ,3 )
1 + ( 1 × R1c )  π 
4
Vr
2. rf = ×100 %
Vdc
3. Jika ada perbedaan antara Vdc1 hasil pengukuran dengan Vdc2 hasil perhitungan tidak jadi
masalah selagi diambang ke normalan.
4. Agar tegangan yang di hasilkan penyearah gelombang penuh memang murni tegangan
DC yang stabil.

12
5. Kemampuan dioda tersebut terhadap arus makximum nya.
6. Vp(out) = Vp(in)-0,7 volt
Vdc = Vp / 3,14
V dc
7. V r =
f ×R1c
8. Jumlah dari hambatan ohmic disebut dengan hambatan bulk dioda. Dan pada dioda
silkon terdapat tegngan kaki sebesar 0,7 volt dan pada dioda germanium 0,3 volt.
PERCOBAAN 2
BIPOLAR JUNCTION TRANSISTOR

2.1. Pengenalan Transistor BJT

A. TUJUAN
Untuk mengenal sebuah transistor adalah dengan mempelajari bentuk fisik dan posisi
dari ketiga terminalnya.

C C

NPN B PNP B

E E

Gambar 3.1. Jenis Transistor Bipolar

Selanjutnya untuk mengenal ketiga terminal transistor tersebut dapat digunakan Ohm
meter. Cara ini dipergunakan untuk menentukan tipe dari transistor tersebut (PNP atau
NPN) dengan rangkaian analogi transistor sebagai dua dioda yang diserikan dalam arah
berlawanan disamping itu dengan cara ini dapat dipastikan apakah sebuah transistor
dalam keadaan baik atau rusak.

B. PERALATAN
1. Ohm meter
2. Transistor B 507
3. Transistor D 313

C. DATA PENGAMATAN
Kode Transistor : B 507
E + - C + - C + -
B - + B - + E - +
R(Ω ) 11,55 ---- R(Ω ) 10,68. ---- R(Ω ) ---- ----

Kode Transistor : D 313


E + - C + - C + -
B - + B - + E - +
R(Ω ---- 16,24 R(Ω ---- 16,38 R(Ω ---- ----

13
) ) )

+ = Terminal positif (merah) dari Ohm meter


- = Terminal negatif (hitam) dari Ohm meter
R = Tahanan yang terukur

Masing-masing pasangan terminal ( C-B ; C-E ; E-B ) tahanannya diukur dua kali yaitu
dalam arah forward dan reverse seperti pengukuran pada tahanan dioda
2.2. Karakteristik Transistor

2.2.1. Karakteristik Input

A. TUJUAN
Untuk mengetahui karakteristik input dari sebuah transistor bipolar jenis NPN

B. PERALATAN
1. Transistor jenis NPN
2. Tahanan 10 KΩ dan 300Ω
3. Amper meter
4. Volt meter
5. Sumber tegangan DC

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian pengukuran seperti pada gambar
3.2 dibawah ini.

R= 10 kΩ
IB R= 300Ω

NPN
VBE VCE
VBB VCC

Gambar 3.2. Rangkaian Transistor Bipolar untuk karakteristik input

2. Beri tegangan VCC = 6 Volt dan VCC = 12 Volt


3. Atur VBB sehingga diperoleh harga IB seperti terlihat pada tabel.
4. Catat VBE untuk setiap harga IB (dalam mili amper)
5. Catat hasil pengamatan yang ditunjukkan pada tabel 3.1 dan 3.2.
6. Setelah harga VBE untuk harga yang ditentukan diperoleh, turunkan VBB sampai nol.

Tabel 3.1. : Karakteristik input dengan data pengamatan VCC = 6 Volt


VCC = 6 Volt
IB 0.1 0.15 0.25 0.35 0.45 0.55 0.65 0.75 0.85
VBB 0.513 0,63 0,65 0,67 0,68 0,70 0,72 0,73 0,75
VCE 0,50 0,62 0,64 0,66 0,67 0,69 0,71 0,72 0,74

14
VBE 0,50 0,62 0,64 0,66 0,67 0,69 0,71 0,72 0,74

Tabel 3.2. : Karakteristik input dengan data pengamatan VCC = 12 Volt


VCC = 12 Volt
IB 0.1 0.15 0.25 0.35 0.45 0.55 0.65 0.75 0.85
VBB 0,71 0,73 0,75 0,76 0,78 0,79 0,80 0,82 0,83
VCE 0,69 0,727 0,747 0,757 0,776 0,786 0,79 0,815 0,825
VBE 0,69 0,727 0,747 0,757 0,776 0,786 0,79 0,815 0,825
2.2.2. Karakteristik Output

A. TUJUAN
Untuk menunjukkan bagaimana arus basis (IB) mempunyai pengaruh terhadap arus
kolektor (IC) dibandingkan dengan tegangan kolektor-emiter (VCE) dan untuk
menggambarkan grafik VCE terhadap IC untuk transistor bipolar jenis NPN.

B. PERALATAN
1. Transistor jenis NPN
2. Tahanan 10 KΩ dan 300Ω
3. Amper meter
4. Volt meter
5. Sumber tegangan DC

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian pengukuran seperti pada gambar
3.3 dibawah ini.
IC
R= 10 kΩ
IB R= 300Ω

NPN
VBE VCE
VBB VCC

Gambar 3.3. Rangkaian Transistor Bipolar untuk karakteristik output

7. Beri tegangan VBB = 6 dan VBB = 12 Volt.


8. Atur VCC seperti terlihat pada tabel (dalam volt)
9. Catat hasil pengamatan yang ditunjukkan pada tabel 3.3 dan 3.4.
10. Setelah harga VBE untuk harga yang ditentukan diperoleh, turunkan VCC sampai nol.

15
Tabel 3.3. : Karakteristik output untuk VBB = 6 Volt

VBB = 12 Volt
VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
VBE 6,0 6,11 6,15 6,17 6,21 6,36 6,98 6,70 6,30 6,18 6,21 6,26 6,30 6,35 6,40
VCE 6,0 6,11 6,15 6,17 6,21 6,36 6,98 4,10 6,25 6,18 6,21 6,26 6,30 6,35 6,40
VBB = 6 Volt
IC 0,01 0,03 0,04 0,06 0,06 0,06 0,07 0,08 0,09 0,15 0,19 0,21 0,32 0,44 0,68
VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
IB 0,08 0,13 0,14 0,16 0,17 0,19 0,20 0,21 0,23 0,36 0,39 0,43 0,46 0,47 0,49
VBE 5,27 5,38 5,31 5,25 5,22 5,29 5,25 5,23 5,23 5,23 5,21 5,25 5,19 5,19 5,20
VCE 5,27 5,38 5,31 5,25 5,22 5,29 5,25 5,23 5,23 5,23 5,21 5,25 5,19 5,19 5,20
IC 0,11 0,07 0,04 0,02 0,02 0,02 0,01 0,09 0,24 0,37 0,49 0,63 0,75 0,88 1,01
IB 0,29 0,31 0,33 0,35 0,37 0,38 0,39 0,41 0,43 0,45 0,46 0,48 0,52 0,54 0,57

Tabel 3.4. : Karakteristik output untuk VBB = 12 Volt

16
2.3. Transistor sebagai Switch
A. TUJUAN
Untuk mengetahui fungsi transistor sebagai saklar.

B. PERALATAN
1. Transistor jenis NPN
2. Tahanan 10 KΩ
3. Relay
4. Switch
5. Amper meter

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian pengukuran seperti pada gambar
3.4. seperti gambar dibawah ini.
+
VCC = 6 - 10 Volt

Relay
R= 10 kΩ

A NPN

Switch

Gambar 3.4. Rangkaian Transistor Bipolar

2. Catat IB yang terukur seperti yang ditunjukkan pada tabel 3.3 dan 3.4.

Tabel 3.3. : Pengamatan Transistor menggunakan saklar (Switch)


Tegangan (VCC) 6 Volt 7 Volt 8 Volt 9 Volt 10 Volt
Arus (IB) 0,57 0,69 0,78 0,87 0,98
Keadaan Relay Posisi Atas Off Off Off Off Off
Keadaan Relay Posisi Bawah Off Off Off Off Off

Tabel 3.4. : Pengamatan Transistor menggunakan LDR


Tegangan (VCC) 6 Volt 7 Volt 8 Volt 9 Volt 10 Volt

Arus (IB) 0,59 0,69 0,79 0,89 0,99


Keadaan Relay Mati Mati Hidup Hidup Hidup

17
Lampu mati Mati Mati Mati Mati Mati
Lampu hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup

2.4. PERTANYAAN
1. Gambarkanlah kurva karakteristik dari Transistor Bipolar dari hasil pengukuran
dengan menggunakan software Matlab.
2. Gambarkanlah rangkaian ekivalen 2 dioda untuk membentuk sebuah transistor
3. Apa yang dimaksud dengan dc current gain dan ac current gain dari transistor
α
4. Buktikanlah βdc =
1 +α
pada sebuah transistor
5. Buat kesimpulan dari hasil percobaan transistor sebagai switch.

JAWABAN :
1. Kurva karakteristik dari Transistor Bipolar

2. Rangkaian ekivalen 2 dioda untuk membentuk sebuah transistor

3. DC current gain dan AC current gain dari transistor yaitu : Arus searah(DC) dan arus
bolak-balik(AC) yang di keluarkan oleh sebuah transistor.
α
4. βdc =
1 +α

5.Dari hasil percobaan dapat disimpulkan sebuah transistor dapat juga dijadikan sebagai
saklar atau swit pada rangkaian elektronika. Sebab transistor adalah gabungan dari dua
buah dioda silicon,yang membentuk jenis transistor baik NPN ataupun PNP.

18
PERCOBAAN 3
JUNCTION FIELD EFFECT TRANSISTOR (JFET)

3.1. PENGETESAN JFET

A. TUJUAN
Untuk mengetahui pengetesan sebuah transistor jenis JFET dengan menggunakan Ohm
meter.

B. PERALATAN
1. Analog Multitester
2. JFET tipe 2 N 3819 N Channel
3. Digital Multitester

C. LANGKAH PERCOBAAN

1. Setting Ohm meter pada skala pertengahan alat ukur


2. Ukur sesuai dengan gambar 4.1 dan 4.2.

D - - + + + -
Ω Ω
G + -
Ω Ω
+ -
Ω Ω
S - - - + + +

Gambar 4.1. Rangkaian pengetesan JFET

D. DATA PENGAMATAN
1. Catat hasil yang terukur seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.1 dan 4.2.
Tabel 4.1. : Pengukuran 1 JFET tipe : 2 N 3819 N Channel
G D R(Ω ) G S R(Ω ) D S R(Ω )
+ - --- + - --- + - 110
- + 34 - + 34 - + 110

Tabel 4.2. : Pengukuran 2 JFET tipe : 2 N 3819 N Channel


G D R(Ω ) G S R(Ω ) D S R(Ω )
+ - --- + - --- + - 150

19
- + --- - + --- - + 150

Keterangan:
+ : Terminal positif alat ukur
- : Terminal negatif alat ukur
3.2. Cara Kerja JFET

A. TUJUAN
Memperlihatkan bekerja atau tidaknya JFET pada keadaan adanya tegangan drain
seperti pada rangkaian percobaan, ketika posisi switch (S1) pada kedudukan A; Vgs = 0
Volt dan JFET pada keadaan ON atau terjadi konduksi.
Tetapi pada keadaan tegangan drain dibuat rendah, posisi switch (S2) pada kedudukan
B; Vgs = -3 Volt konduktor terjadi pengurangan (pengaliran arus terhambat) dimana
tegangan pada drain aliran sama dengan Vdd.

B. PERALATAN
1. Ohm meter
2. JFET tipe 2 N 3819 N Channel
3. Resistor 10 kΩ dan 1 MΩ
4. Digital Multitester

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Buat rangkaian seperti pada gambar 4.2.
VDD = 12 Volt

RD = 10 kΩ
A

-3 Volt VD

VG
RG = 1MΩ

Gambar 4.2. Rangkaian cara kerja JFET

2. Posisi S1 pada posisi A


3. Ukur Vg hasil pengukuran kedalam tabel
4. Buat Vd hasil pengukuran dimasukkan kedalam tabel
5. Buat kondisi pada keadaan konduksi atau tidak (posisi A/B)
6. Posisi S1 dipindahkan ke posisi B
7. Ukur Vd hasil pengukuran dimasukkan ke tabel
8. Ukur Vd hasil pengukuran dimasukkan ke tabel

Tabel 4.3. Pengukuran Vg dan Vd


Posisi Switch Vg Vd Kondisi JFET
A 108,5 mV 2,04 VOLT OPEN
B 144,7 mV 0,7 0 VOLT CLOSE

20
9. Hitunglah :
Id = 2,04 volt – 0,7 volt / 10 k.ohm
= 2,04 volt – 0,7 volt / 10000 ohm
= 1,34 m A
3.3. Karakteristik Arus dan Tegangan JFET

A. TUJUAN
1. Memperlihatkan Vgs yang dipengaruhi oleh Id dan tegangan yang terjadi pada Vds
dari data itu dibuat karakteristik kerja output JFET.
2. Pada percobaan ini tegangan Vds positif variable dan tegangan Vgs negatif dimana
mula-mula Vgs diberikan suatu harga tertentu Vds dinaikkan dengan tegangan
berubah-rubah sesuai tabel dan kembali untuk Vgs yang berubah-rubah seperti tabel
yang tercantum.

B. PERALATAN
1. Power Supply
2. Amper meter dan Volt meter
3. JFET
4. Resistor 10 kΩ

C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Buat rangkaian seperti pada gambar 4.3.
-6 Volt VDD = 0 - 20 Volt

ID

Rg

VGS VDS

Gambar 4.3. Rangkaian untuk karakteristik JFET


2. Letakkan posisi Rg untuk VGS = 0 Volt
3. Aturlah posisi power supply VDS = 1 Volt
4. Ukurlah ID dengan menaikkan VDS seperti pada tabel 4.4 dan catat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Hasil pengukuran Id


VDD
Vgs
0 1 2 3 4 5 10 15 20
0 0,80 6,04 6,46 7,57 8,08 9,75 9,59 9,45 9,26
-0,5 0,54 9,55 9,56 9,57 9,58 9,55 9,50 9,33 9,26
-1 0,51 9,53 9,54 9,55 9,56 9,53 9,44 9,39 9,45
-1,5 0,67 5,98 8,51 9,32 9,56 9,45 9,42 9,35 9,71

21
-2 0,68 6,08 8,61 9,33 9,53 9,61 9,71 9,82 9,91
-2,5 0,75 6,21 7,21 8,10 9,44 9,63 9,70 9,85 9,81
-3 0,82 6,24 7,26 8,12 9,47 9,67 9,89 9,82 9,87
-3,5 0,96 6,35 7,29 8,16 9,61 9,69 9,82 9,80 9,95
5. Ulangi di atas sampai Vds = 20 Volt
6. Ulangi prosedur 5 dan 6 sampai Vds = 20 Volt
7. Turunkan power supply Vds seperti data
8. Aturla Rd sehingga Vgs seperti data
9. Ulangi prosedur 3 s/d 8 untuk harga-harga Id
10. Ulangi untuk menaikkan Vgs dan Vds untuk pengukuran Id
11. Data-data tersebut untuk pembuatan karakteristik pada gambar 4.4.

ID (mA)

VDS (Volt)

Gambar 4.4. Karakteristik JFET

D. PERTANYAAN
1. Bila tegangan Vgs dinaikkan, berarti Id = ………………
2. Bila Vds dinaikkan ada sedikit atau tidak ada perubahan ?
3. Tegangan Gate untuk mengatur ……………..
4. Dari grafik Vgs = -1,5 Volt ; Vds = +10 Volt ; Id = …………….
5. Buatlah kurva karakteristik JFET seperti terlihat pada gambar 4.

JAWABAN :

1. Bila tegangan Vgs dinaikkan, berarti Id akan” naik”.


2. Bila Vds dinaikkan tidak ada perubahan tegangan.
3.Tegangan Vgs yang dipengaruhi oleh Id dan tegangan yang terjadi pada Vds.
4. I d =Vrd / Rd =( +Vdd −Vdd (on )) / Rd
Id = 10 volt – 1,5 volt / 10 k.ohm
= 10 volt – 1,5 volt / 10000 ohm
= 8,5 Ma.

5. Kurva karakteristik JFET :

22
3.4. Penguatan Common Source (Commond Source Amplifier)

A. TUJUAN
Memperlihatkan penguatan common source JFET dan karakteristik pada rangkaian
percobaan ini terlihat input dari gate dan output dari drain sedangkan source
dihubungkan dengan input dan output salah satu sisinya (ground) rangkaian ini sama
dengan Bipolar Transistor Common Emitter Amplifier.

B. PERALATAN
1. Power Supply 12 Volt
2. Voltmeter
3. Oscilloscope Dual Trace
4. Signal Generator
5. JFET
6. Tahanan 220 Ohm Rs : 1,2 K Ohm, Rd : 1 M Ohm Rg
7. Kapasitor 1 µF / 12 WV Cg & Cd; 100 µF elektrolit Cs

C. LANGKAH PERCOBAAN

1. Buat rangkaian seperti gambar 4.5

VDD = 0 - 20 Volt

R=1,2 kΩ C=1µF
Vout

VDS

1 kHz RG =1MΩ VGS VD


1 Vp-p
R=220Ω C=100µF VS

Gambar 4.5. Penguatan Common Source JFET1

2. Sebelum dihubungkan dengan signal Generator ukur dahulu tegangan Vd, Vds, Vs
dan Vgs , catat pengukuran kedalam tabel dibawah ini.

VDD 0 4 8 12 16 18 20
VD - 1,34 3,62 6,48 9,82 11,80 13,74
VDS - 0,81 2,82 5,49 8,70 10,67 12,73
VS - 0,49 0,78 1,00 1,11 1,11 1,13
VGS - -0,52 -0,74 -0,90 -1,00 -0,48 -0,29

23
3. Hubungkan signal Generator pada input 1 KHz dengan amplitudo 0,5 Vp - P
4. Dengan Osciloscope ukur tegangan input (gate ke ground) dan ukur tegangan pada

VDD 0 4 8 12 16 18 20
VD - 1,59 4,00 6,71 9,86 11,6 13,44
VDS - 1,16 3,26 5,78 8,76 10,43 12,25
VS - 0,143 0,72 0,96 1,11 1,15 1,18
VGS - -0,06 -0,11 -0,13 -0,17 -0,19 -0,21
VD ke ground dan catat pengukuran kedalam tabel dibawah ini.

5. Gambar signal input dan output


6. Hitunglah penguatan tegangan AV = Vout / Vin

Keterangan :
Vinput = V/div
Voutput = V/div
Av = Vout/Vin

0 volt tanpa capasitor 4 volt tanpa capasitor 8 volt tanpa capasitor

12 volt tanpa capasitor 16 volt tanpa capasitor 18 volt tanpa capasitor

24
20 volt tanpa capasitor

3.4. Penguatan Common Drain (Source Folower) Amplifier

A. TUJUAN
Common Drain atau Source Folower amplifier memperlihatkan bagaimana penguatan
common drain pada JFET dan pengertian karakteristik. Common drain amplifier
dimana Drain dihubungkan langsung dengan VDD. Signal input pada Gate yaitu output
pada source sama dengan bipolar pada transistor Common Colector Amplifier dan
penguatan pada tegangan akan kurang dari satu.

B. PERALATAN
1. Power Supply
2. Voltmeter
3. Osciloscope Dual Trace
4. Signal Generator
5. Tahanan Rs : 10 K Ohm, Rg : 1 M Ohm
6. Kapasitor 1µf 12 V

C. LANGKAH PERCOBAAN

1. Buat rangkaian seperti gambar 4.6


VDD = 0 - 20 Volt

C=1µF

C=1µF
VGS VD

1 kHz RG=1MΩ VG
1 Vp-p

R=220Ω
VS

25
Gambar 4.6. Penguatan Common Source JFET2

2. Sebelum dihubungkan dengan signal generator, catat terlebih dahulu hasil


pengukuran VD, VG, VS dan VGS
VDD 0 4 8 12 16 18 20
VD - 3,96 7,95 11,92 15,90 17,89 19,99
VG - 1,40 0,92 1,11 0,98 1,00 1,11
VS - 1,02 1,07 1,08 1,09 1,10 1,11
VGS - -0,75 -0,73 -0,72 -0,677 -0,98 -0,97
3. Hubungkan signal generator pada input rangkaian diatur 1 KHz dengan Amplitudo
1 Vp-P
4. Dengan Osciloscope pada input (gate ground) ukur tegangan input, gambar signal
input, tentukan tegangan peak to peak.
5. Dengan osciloscope pada output Cs ke Ground, gambar signal output, tentukan
tegangan peak to peak.
6. Catat hasil pengukuran kedalam tabel dibawah ini :

VDD 0 4 8 12 16 18 20
VD - 3,97 7,95 11,96 15,59 17,94 19,94
VS - 1,04 1,13 1,12 1,10 1,12 1,14
VGS - -0,97 -1,02 -1,04 -1,03 -1,05 -1,07
8. Hitung penguatan tegangan dari rumus
Av = Vout / Vin
0 volt dengan capasitor 4 volt dengan capasitor 8 volt dengan capasitor

12 vol dengan capasitor 16 vol dengan capasitor 18 vol dengan capasitor

20 vol dengan capasitor

D. PERTANYAAN
1. Apakah beda antara JFET dan Bipolar Transistor
2. Buat kesimpulan dan analisa dari hasil percobaan.

JAWABAN :
1.Beda antara JFET dan BIPOLAR transistor adalah : Pada JFET ujung bagian bawah
disebut smber dan bagian atas disebut drain, dan pada JFET kita slalu membias
balikkan dioda sumber gerbang dan JFET memiliki resistansi masukan yang hampir tak
terbatas.
Berbeda dengan Transistor bipolar yang berupa komponen aktif dengan arus tegangn
atau daya keluaran nya dikendalikan oleh arus masukan. Kata BIPOLAR adalah

26
singkatan dari ”Dua Polaritas”.

2.Kesimpulan : Transistor terdiri dari dua jenis yaitu transistor sambungan bipola
(bipolar juction transistor, BJT) dan transistor efek medan (field efect transistor,FET).

PERCOBAAN 4
OSCILATOR

A. TUJUAN
Untuk mempelajari prinsip kerja dari oscilator dan multivibrator dimana rangkaian
tersebut dapat membangkitkan tegangan bolak-balik secara konstan terus menerus.

B. TEORI
Prinsipnya adalah suatu rangkaian yang mana sebagian daripada outputnya
dikembalikan ke input, sehingga suatu frekuensi yang tertentu, tegangan yang
dikembalikan mempunyai phase amplitudo yang sama dengan tegangan inputnya.
Maka besarnya dari pada penguatnya dapat ditulis sebagai berikut :

27
A = Vout / Vin maka Vout = A . Vin

Sebagian daripada Vout dikembalikan ke input dengan feetback ( B ) maka tegangan


daripada feetback ( Vf ) jadi Vf = B. Vout, syarat dari oscillator Vf = Vin.
Dari persamaan diatas dapat diambil kesimpulan :

Bout = Vout / A = A.B = 1

Untuk terjadi oscilasi :


1. Harus mempunyai tegangan yang dikembalikan = tegangan
awal
2. Harus mempunyai sinyal awalnya

Rangkaian Feed Back

Rangkaian Collector

Rangkaian Feed Back

Gambar 4.1. Blok diagram rangkaian oscilator

4.1. OSCILATOR COLPITTS

A. PERALATAN
1. Power supply
2. Voltmeter
3. Oscilloscope

B. LANGKAH PERCOBAAN

1. Buat rangkaian seperti gambar 4.7


VCC

L
R 1= 22 kΩ

Vout

R2 = 5,6 kΩ R3 = 100kΩ

28
Gambar 4.2. Oscilator Colpitts

2. Power supply diatur sampai mencapai 15 Vdc


3. Potensio dirubah hingga diperoleh untuk sinusoidal pada layar oscilloscope
4. Catat bentuk dan waktu terlihat pada layar oscilloscope pada tabel 5.1.
5. Ulangi pengamatan untuk L (induktor) yang berubah-rubah

Tabel 5.1. : Data pengamatan


Time Base ( /µs/cun ) Periode ( T ) cun Y Ampl
L1 2 6,3
L2 2 6,3
L3 2 6,3

Persamaan :
X1 = Xc C = C1 . C2 / C 1 + C 2
2πfL = 1 / ( 2π fC )
f = 1 / ( 2π √Lc )
T=1/f f = 1 / ( 2π √Lc )

4.2. OSCILATOR PHASE SHIFT

A. PERALATAN
1. Power supply
2. Voltmeter
3. Oscilloscope +
B. LANGKAH PERCOBAAN R4 R5
68K 8,2K
1. Buat rangkaian seperti gambar 4.3
10nF

500pF 500pF 500pF


C945

R1 R2 R3 1OK
5,6K 5,6K 5,6K
29
82OK 100nF

-
Gambar 4.3. Oscilator Phase Shift

2. Power supply diatur sampai mencapai 15 Vdc


3. Potensio dirubah hingga diperoleh untuk sinusoidal pada layar oscilloscope
4. Catat bentuk dan waktu terlihat pada layar oscilloscope pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. : Data pengamatan


C1 C2 C3
Periode 2 Periode 2 Periode 2
Amplitude 2,4 Amplitude 4 Amplitude 1

Persamaan :
1 1
f =( π Rc ) [ ]
2 6 +4 ( Rc ×R )

C. PERTANYAAN
1. Buatlah perhitungan dari harga komponen pada rangkaian dan bandingkan dengan
harga yang didapat dari alat-alat pengukuran oscilloscope
2. Buatlah rangkaian oscilloscope yang anda ketahui dalam rumus perhitungannya
3. Apakah yang dimaksud dengan resonansi
4. Pengaruh apakah yang terjadi pada frekwensi rendah dan tinggi pada R, L, C.
5. Apakah yang dimaksud dengan transistor sebagai switch dan penggunaan 10 timers

JAWABAN :
1 1
1. f =( 2 π Rc ) [ 6 +4 ( Rc ×R ) ]

2. Rangkaian oscilloscope
Atur tombol kontrol VOLTS/DIV dan TIME/DIV sampai diperoleh gambar yang jelas
dengan amplitudo 2 V peak to peak dengan frekuensi 1 KHz

30
3. Resonansi adalah : Perbandingan besaran tegangan terhadap selisih waktu.
4. Pengaruh yang terjadi pada frekwensi rendah dan tinggi pada R, L, C, adalah besar
tegangan akan bertambah jika frekwensi naik dan begitu juga sebalik nya tegangan akan
turun jika frekwensi menurun.
5. Transistor sebagai switch dan penggunaan 10 timers Yakni transistor akan bekerja
sebagai saklar pada sat sudah mencapai waktu 10 detik/sekon.

PERCOBAAN 5
OPERASIONAL AMPLIFIER

5.1. DASAR OP-AMP


A. TUJUAN
Untuk menunjukkan bagaimana dasar kerja OP-AMP dengan rangkaian komparator.

B. TEORI

31
Polaritas dari tegangan sebuah Op-Amp tergantung daripada hubungan polaritas antara
tegangan input. Ingatlah bahwa inverting input (-) adalah berbeda dengan non inverting
input (+). Jika input lebih positif dari + input, maka output akan positif tanpa feedback,
output akan berada +V jenuh dan –V jenuh.

C. PERALATAN
1. Power Supply + 15 Volt
2. Voltmeter
3. IC 741 OP-AMP
4. Tahanan 10 K Ohm potensio meter ( R1 & R2 )
5. Tahanan 10 K Ohm Resistor ( R3; Rn; RL )

D. LANGKAH PERCOBAAN

1. Buat rangkaian seperti pada gambar 5.1.


+15 +15

1 8
2 - 7 R3
3 + 6
R1 -
4 5

+
R4
VCC RL
R2
V2 - V1 V2 VO
Vo -15
V1 +

VCC -15

-15 Gambar 5.1. Rangkaian Op-Amp

2. Set tegangan input V1 & V2 sesuai dengan table 5.1


3. Catat Tegangan Output (VO) pada data.
4. Ulangi langkah 2 & 3 untuk setiap harga V1 & V2
Tabel 5.1. : Data Pengamatan
V1 (mV ) V2 (mV ) Vout (Volt )
100 100 1,2
100 150 1,2
400 100 1,5
600 800 1,3
100 900 1,3

E. PERTANYAAN
1. Tanpa feedback, output dari OP-AMP...................
2. Ketika inverting input lebih negatif dari non inverting input, maka output dari
komparator akan berada pada …………………. Jika output dari komparator adalah
-V sat, maka tegangan inverting output adalah lebih ………… dari pada tegangan

32
non inverting input.
3. Apakah komparator ? jelaskan secara singkat !
4. Apa yang saudara ketahui tentang OP-AMP 741 ?

JAWABAN :

1. Tanpa feedback, output dari OP-AMP tidak akan ada atau dalam artian masukan baik
inverting atau non inverting tidak bekerja.

2.Ketika inverting input lebih negatif dari non inverting input, maka output dari komprator
akan berada pada posisi negatip. Jika ouput dari komprator adalah –V maka tegangan
inverting output adalah lebih besar dari pada tegangan non inverting input.

3.Komprator adalah rangkaian yang keluaran nya sebanding dengan laju perubahan
sinyal masukan.

4.OP-AMP 741,OP-AMP ini memiliki nilai tipikal 80 Na dan maksimum 500nA dan
dengan naik nya suhu arus bias turun atau resistan masukan naik.

5.2. OP- AMP INVERTING AMPLIFIER

A. TUJUAN
Memperlihatkan kerja OP-AMP inverting amplifier dengan tegangan input DC atau AC
serta menghitung penguatan dari rangkaian.Inverting amplifier seperti pada gambar
terdiri dari resistor Rin, Rf, RL, dan Rn. Resistor R1 dan R3 digunakan sebagai
tegangan DC pada inverting input. Penguatan dari rangkaian bisa dihitung dengan
menggunakan rumus :

Av = - Rf / Rin

(tanda minus menunjukkan bahwa polaris dari tegangan input berlawanan dengan
tegangan input) atau dengan rumus :

33
Av = Vout / Vin.

Tahanan Rn digunakan untuk mengurangi arus offset bias dan harganya sama dengan
Rin dan Rf diparalelkan.

Rn = ( Rf. Rin ) / ( Rf + Rin )

Tegangan pada persimpangan antara Rin dan Rf pada inverting input adalah sama
dengan noninverting amplifier yang digunakan pada sinyal AC pada gambar, kapasitor
digunakan untuk menahan tegangan DC dari rangkaian, karena distorsi yang kuat.
Frekuensi respons ( Hz vs. Av ) dari rangkaian OP – AMP tergantung dari pada
penguatannya. Pada penguat yang paling rendah didapat pada frekwensi response yang
paling keras (tinggi).

B. PERALATAN
1. Power supply ± 15 volt.
2. Voltmeter.
3. Osciloscope.
4. AC signal generator.
5. IC 741 OP-AMP.
6. Potensiometer.
7. Resistor dan Kapasitor.

C. LANGKAH PERCOBAAN

a) Tegangan Input DC
1. Buat rangkaian seperti pada gambar 5.2.
Rf
+15

R1 +15

Rin
R2 -
+

R3 Vin Rin
RL Vout
-15

-15

34
Gambar 5.2. Rangkaian Op-Amp Inverting tegangan input DC

R1, R2, R3, RL = 10 K Ohm.


Rn = 6,8 K Ohm.
Rin dan Rf = Variabel.

2. Beri tegangan input DC untuk gambar 5.2.


3. Isilah tabel 5.2 sesuai dengan hasil percobaan.
4. Hitung penguatan dengan rumus : Av = -Rf / Rin
Av = Vout / Vin.

Tabel 5.2. Data Pengamatan :


Rin (kΩ) Rf Vin Vout Av = - Rf/Rin Av= Vout/Vin
6,8 1 6 5,5 -0,14 0,91
4,7 3,3 6,5 4,5 -0,70 0,69
8,7 2,9 7 4 -0,80 0,57
9,6 15 7,5 3,5 -0,78 0,47
21 20 8 2,9 -0,38 0,36
46 1 8,5 2 -0,18 0,23

b) Tegangan Input AC
1. Buat rangkaian seperti pada gambar 5.3.
Rf

+15

Cin Rin C out


-
+

Vin R in
RL Vout
-15

Gambar 5.2. Rangkaian Op-Amp Inverting tegangan input AC

35
Rin, Rn, RL = 10 K Ohm.
Rf = 100 dan 47 K Ohm.
Cin, Cout = 1 µ F.

2. Gunakan Osciloscope, signal generator untuk Vin dengan frekuensi pada tabel 5.3

Tabel 5.3. Data Pengamatan :

Vin (Vp-p) Vout (Vp-p) Av= Vout/Vin Vout (Vp-p) Av= Vout/Vin
100 Hz 5 50 mV 5 50 mV
1 KHz 7 7 mV 7 7 mV
10 KHz 9 0,9 mV 9 0,9 mV
100 KHz 11 0,11 mV 11 0,11 mV
500 KHz 13 0,026 mV 13 0,026 mV
1 MHz 14 0,014 mV 14 0,014 mV

3. Hitung penguatan Av = Vout / Vin


4. Buat hasil pengamatan dalam bentuk grafik penguatan (Av) terhadap Frekuensi
(Hz) dengan Matlab untuk tegangan AC dari hasil percobaan.

Av

Hz

D. PERTANYAAN
1. Tuliskan rumus penguatan inverting OP-AMP dan bedakan dengan penguatan
noniverting OP-AMP.
2. Mengapa tegangan input & output dari OP-AMP inverting amplifier tidak sephasa.
3. Inverting amplifier dengan penguatan rendah mempunyai frekwensi response yang
lebih ……. , kapasitor yang digunakan pada tegangan input AC untuk ……………

JAWABAN :

1. VO = Ad (V1 – V2) Ket ”Ad” adalah nilai penguat diperensial.

2. Karena OP-AMP merupakan penguat gandeng langsung (direc coupled / dc) dengan
perolehan tinggi y6ang mempunyai inpedansi masukan tinggi dan impedansi keluaran
rendah atau suatu blok penguat yang nemiliki dua masukan dan satu keluaran

3. Inverting amplifier dengan penguatan rendah mempunyai frekwensi response yang lebih
tinngi, kapasitor yang digunakan pada tegangan input AC untuk penyaring / filter
tegangan.

36
OP-AMP NON-INVERTING AMPLIFIER

A. TUJUAN
Menunjukkan kerja non-inverting OP-AMP dengan AC dan DC dan menghitung
penguatan dari rangkaian.
Non-inverting pada gambar 5.3. terdiri dari tahanan Rin, Rf, Rn dan RL.
Tahanan R1, R2, R3, sebagai pembagi tegangan DC pada noninverting input.
Rumus Penguatan :

Av = Rf. Rin + 1 atau Av = Vout / Vin.

Jika non-inverting amplifier pada gambar digunakan pada tegangan AC, kapasitor
digunakan untukmenahan tegangan DC yang mungkin masuk pada rangkaian karena
distorsi.

B. PERALATAN
1. Power supply.
2. Osciloscope.
3. AC signal generator.
4. IC 741 OP-AMP.
5. Resistor dan Kapasitor.
6. Tahanan 10 K Ohm.
7. Potensiometer.

C. LANGKAH PERCOBAAN
a) Rangkaian input DC
1. Buat rangkaian seperti pada gambar 5.3. Rf
+15
R in
R1 +15

-
R1, R2, R3 = 10 K Ohm.
R2 +
Rn = 6,8 K Ohm.
RL = 10 K Ohm. -15 RL Vout
Rin & Rf = variabel. R 3 Rin
Rn

-15

Gambar 5.3. Rangkaian Non Op-Amp Inverting tegangan input DC


2. Isilah tabel 5.4. sesuai dengan hasil percobaan.

37
3. Hitung penguatan dengan rumus : Av = Rf. Rin + 1 atau Av = Vout / Vin. untuk
tabel 5.4.

Tabel 5.4. Data Pengamatan :

Rin Rf Vin Vout Av= f.Rin+1 Vout


Av =
Vin
10 47 6 5,5 0,91
4,7
10 100 6,5 4,5 0,69
0,65
10 22 7 4 0,57
0,4
4,7 47 7,5 3,5 0,47
0,75
20 47 8 2,9 0,36
0,4
10 47 8,5 2 0,23
0,85

b) Rangkaian input AC
1. Buat rangkaian seperti pada gambar 5.4.
Rf

Vin = 1 KHz
Rin, Rn, RL = 10 K Ohm. +15
Rf = 100 K Ohm. R in
Cin, Cout = 1 µ F. - Cout

+
C in

-15 Vout

Vin R in RL

Rn

38
Gambar 5.4. Rangkaian Non Op-Amp Inverting tegangan input AC

2. Hitung penguatan dengan rumus : Av = Rf / Rin dan catat Vout dari tabel 5.5.

Tabel 5.5. Data Pengamatan :


Vin (Vp-p) Vout
0,1 5,5
0,2 4,5
0,5 4
1 3,5
1,5 2,9

3. Hitung Vout dengan rumus  Vout = Av x Vin

D. PERTANYAAN
1. Gambarkan rangkaian sederhana dari OP – AMP sebagai :
a. Komparator.
b. Pengikat tegangan.
c. Penguat inverting.
d. Penguat non inverting.
2. Apa kegunaan OP – AMP, sebutkan dan jelaskan.
3. Apa beda tegangan output pada inverting OP-AMP dan non-inverting OP-AMP

JAWABAN :

1. Komparator. Penguat inverting

Penguat non inverting

39
2.Kegunaan OP – AMP yakni sebagai penguat diferensial (differensisl amplifier / diff amp)
yang berfungsi untuk menguat kan bedaan antra dua sinyal masukan.

3. Beda tegangan output pada inverting OP-AMP dan non-inverting OP-AMP :


- Penguat invrting adalah ekivalen dengan penguat emiter bersama atau penguat source
bersama.
- Penguat non inverting adalah penguat yang membuat fase masukan sama dengan
keluaran.

5.4. OP-AMP FILTER

1) LOW PASS FILTER


A. PERALATAN
1. Power supply.
2. Osciloscope.
3. AC signal generator.
4. IC 741 OP-AMP.
5. Resistor dan Kapasitor.
6. Tahanan 10 K Ohm.

B. LANGKAH PERCOBAAN
1. Buat rangkaian seperti pada gambar
Rf
5.5.
+V -V
R +
-

Vin Vout
C R

40
Gambar 2.9
Gambar 5.4. Rangkaian Low Pass Filter

2. Isilah tabel 5.6. sesuai dengan hasil percobaan.

Tabel 5.6. Data Pengamatan :


Vin (Vp-p) Vout (Vp-p) Av= Vout/Vin
100 Hz 417 mV 4,17
1 KHz 513 mV 0,513
10 KHz 613 mV 0,0613
100 KHz 715 mV 0,00715
500 KHz 819 mV 0,001638

2) HIGH PASS FILTER.

A. PERALATAN
1. Power supply.
2. Osciloscope.
3. AC signal generator.
4. IC 741 OP-AMP.
5. Resistor dan Kapasitor.
6. Tahanan 10 K Ohm.

B. LANGKAH PERCOBAAN
1. Buat rangkaian seperti pada gambarRf5.5.
= 10 KΩ

+V -V
C = 0,01 nf

Vin 10 KΩ
Vout
30 nf

41

Gambar 3.0
Gambar 5.5. Rangkaian High Pass Filter

2. Isilah tabel 5.7. sesuai dengan hasil percobaan

Tabel 5.7. Data Pengamatan :

3. PERTANYAAN
1. Buat grafik tegangan frekwensi untuk low pass filter dan high pass filter
(Av terhadap Frekwensi).
2. Jelaskan mengenai low pass filter, high pass filter !
3. Apakah frekwensi cut off (fc) frekwensi out disebut juga ………………………
4. Dan gambarkan satu jika R = 20 K Ohm, C = 0,001 mikro Farad. Berapakah
frekwensi cut off Wc = 1/Rc = 2Fc  Fc = Wc/2.

Vin (Vp-p) Vout (Vp-p) Av= Vout/Vin


100 Hz 357 mV 3,57
1 KHz 862 mV 0,862
10 KHz 674 mV 0,0674
100 KHz 536 mV 0,00536
500 KHz 450 mV 0,00090

JAWABAN :

1.Grafik tegangan frekwensi untuk low pass filter dan high pass filter (Av terhadap
Frekwensi)

42
2. Low pass filter adalah batas minimum penyaringan tegangan dan High pass filter adalah
batas maximum penyaringan tegangan.

3. Frekwensi cut off (fc) frekwensi out disebut juga Frekwensi akhir

4. Gambarkan satu jika R = 20 K Ohm, C = 0,001 mikro Farad. Berapakah frekwensi cut
off Wc = 1/Rc = 2Fc  Fc = Wc/2.

PERCOBAAN 6
SILICON CONTROL RECTIFIER (SCR)

6.1. PENGETESAN SCR DENGAN OHM METER

A. TUJUAN
Memperlihatkan dan membuktikan jalan tidaknya penunjukkan jarum alat ukur pada
pengetesan SCR dengan ohm meter.

B. TEORI

43
PN junction SCR yaitu dari gate ke katoda. Pengetesan dengan ohm meter sama dengan
pengetesan dioda. Sedangkan pengetesan dari anoda ke gate tidak ditunjukkan oleh ohm
meter, karena sama dengan reverse bias pada dioda.
Pengetesan SCR yaitu dengan cara positif ohm meter ditempatkan pada katoda dengan
gate tidak terhubung (open) akan terbaca ohm meter pada keadaan high atau tahanan
tidak terhingga.

C. PERALATAN
1. Ohm meter
2. SCR
3. Kabel penghubung

D. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan lakukan pengetesan SCR seperti gambar dibawah
6.1. dibawah ini.
+ +
+
A A
SCR A SCR
Ω Ω Ω
G K SCR G K
G K
- - -
Gambar 6.1.

2. Setting ohm meter


3. Ohm meter dihubungkan dengan SCR seperti gambar di atas dan catat pembacaan.
4. Hubungkan kabel hubungan antara anoda ke gate dan baca skala pembacaan ohm
meter.
5. Lepaskan kabel penghubung dan baca alat ukur ohm meter.

Tabel 6.1. : Pengukuran SCR


A K R(Ω ) G K R(Ω ) A K R(Ω )
+ - --- + - 12,54 + - ---
- + --- - + --- - + ---

E. PERTANYAAN
1. Jelaskan pengertian tentang SCR dan kegunaannya.
2. Buatlah kesimpulan dari hasil percobaan pengetesan SCR !

JAWABAN :

1. Scr merupakan komponen elektronika yang bekerja apabila anoda nya harus lebih positif
dari katoda dan tidak akan bekerja apabila arus dibawah arus holding.

2. SCR tidak akan bekrja apabila arus yang ada di bawah arus holding.

44
6.2. KARAKTERISTIK DAN SIFAT-SIFAT SCR

6.2.1. SCR Dengan Sumber Tegangan Searah (DC)

A. TUJUAN
Untuk mengetahui metode bekerja (turn on) dan tidak bekerja (turn off) SCR.

B. TEORI
Konduksi pada SCR tercapai apabila anodanya harus lebih positif dari katoda. Bilamana
tegangan gate dibuat lebih positif dari katoda maka SCR akan bekerja dan arus akan
mengalir dari anoda ke katoda.
Tegangan gate akan sama atau lebih negative dari katoda, arus akan tetap mengalir pada
SCR dan tidak akan mengalir apabila arus bernilai dibawah arus holding.

C. PERALATAN
1. Sumber tegangan searah
2. Volt meter dan amper meter
3. SCR
4. Beban

D. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian SCR dengan sumber tegangan
searah (dc) seperti pada gambar 6.2 dan pastikan power suplai dalam keadaan mati.

500 Ω

220 Ω
SCR
A

1 kΩ / 10% 1 kΩ

Gambar 6.2.

2. Mula-mula sumber tegangan supply dibuat minimum (0) volt


3. Switch dalam keadaan terbuka.
4. Switch (S4) dihubungkan untuk harga IG yang ditentukan.
5. Hubungkan power supply lalu naikan hingga menjadi konduksi
6. Untuk memutuskan konduksi yang terjadi (S4) IG dibuka.

7. Catat hasil pengukuran pada tabel percobaan dibawah ini :

No. 1 2 3 4 5
IG 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1
VAK 55,1 mV 37,5 mV 29,8 mV 21,1 mV 13,5 mV

45
IH = 365 mA
VH = 25 V
Penurunan VAK dilakukan dengan penurunan tegangan input jala-jala.

E. PERTANYAAN
1. Gambarkan bentuk kurva karakteristik SCR dengan sumber tegangan dc dari hasil
percobaan.
2. Buatlah kesimpulan dari hasil percobaan untuk karakteristik SCR dengan sumber
tegangan dc.

JAWABAN :

1.

2. SCR tidak akan bekrja apabila arus yang ada di bawah arus holding.

6.2.2. SCR Dengan Sumber Tegangan Bolak-Balik (AC)

A. TUJUAN
Untuk mengetahui SCR akan bekerja tergantung pada sudut penyalaan yang
mempunyai batas 0 derajat sampai 90 derajat. Sudut ini diatur dengan mengatur arus
dari sumber.

B. PERALATAN
1. Sumber tegangan bolak-balik
2. Volt meter dan amper meter
3. SCR

46
C. LANGKAH PERCOBAAN
1. Persiapkan semua peralatan dan buatlah rangkaian SCR dengan sumber tegangan
bolak-balik (ac) seperti pada gambar 6.3 dan pastikan power suplai dalam keadaan
mati.

500 Ω

220 Ω
SCR
A

1 kΩ / 10% 1 kΩ

Gambar 6.3.

2. Naikkan tegangan input bertahap sampai 220 Volt


3. Naikkan tegangan VGG untuk mendapatkan satu sudut penyalaan.
4. Baca dan catat hasil penunjukkan alat ukur yang terpasang pada tabel percobaan
dibawah ini.

No. 1 2 3 4
IG 0,01 0,01 0,01 0,01
X (mm) 1,3 2,1 3,6 4,8
VAK 0,122 0,128 0,145 0,152

V AK =Vmax Sin φ
V
Vdc = max (1 +Cos φ) −∆V F

D. PERTANYAAN
1. Gambarkan bentuk kurva karakteristik SCR dengan sumber tegangan ac dari hasil
percobaan.
2. Buatlah kesimpulan dari hasil percobaan untuk karakteristik SCR dengan sumber
tegangan ac.

JAWABAN :

47
1.

2. SCR tidak akan bekrja apabila arus yang ada di bawah arus holding.

48
PETUNJUK PENYUSUNAN LAPORAN PRAKTIKUM

Laporan Lengkap dibuat dengan format sebagai berikut :

A. Ukuran kertas A4, Margin Top : 4 cm, Bottom : 3 cm, Left : 4 cm, Right : 3 cm, Fonts
Time News Roman, Size 12 pt dan spasi 1,5.

B. Halaman Cover meliputi : Judul, Data Praktikan, Kelompok , Logo UNILAK, warna
cover Hijau

C. Daftar Isi

D. Bagian Isi Laporan :

1. JUDUL PERCOBAAN

2. SUB JUDUL PERCOBAAN

3. TUJUAN

4. LANDASAN TEORI
(Tidak mutlak seperti yang ada dalam buku penuntun, gunakan referensi serta
cantumkan referensi setiap pengambilan landasan teori)

5. PERALATAN

6. LANGKAH PERCOBAAN
(Sesuai dengan langkah-langkah yang anda kerjakan sewaktu praktikum)

7. DATA HASIL PERCOBAAN


(Sesuai dengan laporan data sementara yang disusun kembali dengan baik dan
bukan fotocopy)

8. ANALISA DATA

9. KESIMPULAN

10. PERTANYAAN
(Meliputi jawaban dari pembahasan berdasarkan data yang ada dan tugas akhir
perhitungan)

11. DAFTAR PUSTAKA


(Buku-buku yang digunakan sebagai referensi yang berkenaan dengan percobaan)

49