Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KELOMPOK

MAKALAH
DAMPAK NEGATIF PENCEMARAN AIR SUNGAI
TERHADAP KESEHATAN SANITASI MASYARAKAT AREA
PERMUKIMAN KUMUH DI PROVINSI DKI JAKARTA

Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Dalam Mata Kuliah:


ILMU LINGKUNGAN

DOSEN :
Dr. BETSY SIHOMBING, M.Si

DISUSUN OLEH :
NUR FADLI HAZHAR FACHRIAL (7416100274)
MULSIANI (7416100272)
RISKY NURI AMELIA (7416100990)

PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
TAHUN 2010

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai sumber air baku penyediaan air bersih oleh operator daerah air
minum atau PDAM dan dua perusahaan operator lain yaitu PT. Aerta dan
PT.Palyja, kualitas air sungai Cisadane, dan Kalimalang (sungai Citarum) sangat
berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih warga Jakarta. Untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat DKI Jakarta yang berpopulasi lebih kurang 10 juta jiwa
membutuhkan tidak kurang 150 liter/jiwa/harinya. Ini berarti DKI Jakarta harus
menyediakan air bersih 547,5 juta m3/tahun.
Selain kualitas air ke dua sungai tersebut perlu dijaga, ada beberapa
permasalahan lainya yang perlu mendapat perhatian antara lain menghindari
terjadinya penurunan debit air. Ini biasanya terjadi karena masalah kekeringan
yang terjadi pada hulu sungai tersebut. Untuk hulu sungai Citarum yang terletak
diwilayah Kabupaten Purwakarta dan Cisadane di Kabupaten Tanggerang, peran
aktif pemegang kebijakan masing-masing daerah sangatlah penting. Peruntukan
fungsi sungai dan daerah resapan sumber air harus diatur secara tegas. Karena hal
ini menyangkut kepentingan masyarakat luas terhadap ketersediaan air bersih
yang cukup.
Fungsi sungai sebagai sarana transportasi mengalirkan air baku harus
benar-benar terjaga dari hal yang akan merusak seperti pembuangan dan
pencemaran limbah, penempatan Daerah Aliran Sungai sebagai areal pemukiman
kumuh, eksploitasi air sungai berlebihan sehingga ekosistem air sungai terganggu,
erosi alamiah maupun erosi yang bukan alamiah. Salah satu cara pencegahan
supaya fungsi sungai itu supaya tidak terganggu ialah dengan melakukan
pensadaran dan sosialisasi terhadap pengguna sungai untuk bersama-sama
menjaga, melestarikan dan merawat fungsi sungai itu sebagai sumber air baku
yang akan dipergunakan selanjutnya menjadi sumber air bersih. Pengguna sungai
antara lain dari kalangan masyarakat sendiri yang kebetulan dekat dengan sungai

1
itu, kalangan industrilisasi dimana hasil kegiatan industri berupa limbah cair harus
diolah terlebih dahulu memenuhi batas toleransi yang dapat diterima untuk
mencegah tercemarnya air sungai.
Berdasarkan fakta yang ada dilapangan bahwasanya pencemaran air oleh
pembuangan limbah domestik seperti limbah rumah tangga, kotoran hewan dan
pasar akan lebih sulit terdeteksi karena sifatnya yang berubah-ubah, sedangkan
pencemaran air yang dilakukan industri telah memiliki standar baku yang telah
ditetapkan sehingga pengawasanya lebih mudah. Beberapa parameter yang
menunjukan adanya pencemaran air oleh limbah domestik antara lain peningkatan
kadar bakteri E coli sebesar 3 mg/liter dari batasan normal sebesar 2 mg/liter, T
Koliform menjadi 29 mg/liter dari batas normal sebesar 18 mg/liter.
Kedua bakteri itu sering dijadikan indikator sanitasi, yaitu bakteri yang
keberadaannya berasal dari kotoran manusia. Di Provinsi DKI Jakarta,
pencemaran itu sudah mencapai sekitar 85%, dengan kata lain, pencemaran sungai
di Jakarta masih banyak disebabkan warga Jakarta yang masih membuang
kotorannya ke sungai. Pergub Nomor 12 tahun 2005 jelas menyatakan bahwa
Pengelolaan Air Limbah Domestik adalah upaya memperbaiki kuaitas air yang
berasal dari kegiatan rumah tangga / perkantoran sehingga layak untuk dibuang ke
saluran kota/ drainase.
Air Limbah Domestik adalah air limbah yang berasal dari kegiatan rumah,
perumahan, rumah susun, apartemen, perkantoran, rumah dan kantor, rumah dan
toko, rumah sakit, mall, pasar swalayan, balai pertemuan, hotel, industri, sekolah,
baik berupa grey water (air bekas) ataupun black water (air kotor/tinja).
Pencemaran akibat limbah domestik ini menunjukan minimnya pemahaman
terhadap bagaimana pengelolaan dan penanganan limbah yang baik. Seharusnya
masyarakat yang memperhatikan penanganan limbah domestiknya menyediakan
saluran penampungan yang memadai seperti penyediaan septik tank, sehingga
kotoran air limbah itu tidak terserap langsung mencemari air dilingkungan sekitar.

2
B. Identifikasi Masalah
Dari penjabaran latar belakang permasalahan diatas, kami
mengidentifikasi beberapa masalah antara lain :
1. Kebutuhan akan air bersih populasi penduduk di wilayah DKI
Jakarta sebesar 150liter/jiwa/hari atau setara dengan 547,5 juta m3/tahun.
2. Sumber air baku yang kemudian nantinya diolah menjadi sumber
air bersih penduduk DKI Jakarta adalah dari air sungai seperti air sungai
Cisadane, dan air sungai Citarum.
3. Pelestarian lingkungan Daerah Aliran Sungai masih dinilai kurang
akibat minimnya kesadaran dan informasi bagaimana mengelola, merawat
dan menjaga mutu air sungai agar tidak tercemar limbah
4. Pencemaran air limbah domestik relatif lebih sulit dipantau karena
sifatnya yang berubah-ubah berbeda dengan pencemaran air yang
dilakukan industri yang telah memiliki standar yang baku.
5. Air limbah domestik yang mencemari air disekitarnya mengandung
bakteri E Coli dan koliform diatas batas toleransi. Ini mencerminkan
sanitasi pengolahan air limbah domestik buruk dan akan berdampak
terhadap kesehatan lingkungan masyarakat

C. Rumusan permasalahan
Berdasarkan identifikasi permasalahan diatas, kami mencoba untuk
merumuskan permasalahan yaitu:
1. Apakah kebutuhan akan air bersih di Provinsi DKI Jakarta ini
sudah mencukupi?
2. Apakah sumber air baku yang diperoleh dari sungai-sungai yang
mengalir telah terbebas dari permasalahan yang ada seperti memenuhi
mutu air yang baik dan tidak tercemar limbah domestik?
3. Apakah yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan
mengenai pencemaran limbah domestik itu?adakah solusinya?

3
D. Tujuan permasalahan
Tujuan disusunya makalah ini adalah :
1. Memahami permasalah pencemaran air akibat penanganan limbah
domestik yang tidak dikelola dengan semestinya
2. Memahami dampak yang akan terjadi khususnya bidang kesehatan akibat
penyebaran bakteri E coli dan Koliform sebagai indikator buruknya penanganan
sanitiasi yang ada di Wilayah DKI Jakarta terutamanya yang berada di kawasan
aliran sungai
3. Memperbaiki pola fikir masyarakat pengguna air sungai dari yang tidak
perduli menjadi lebih perduli terhadap pelestarian lingkungan air sungai
4. Mengajak partisipasi masyarakat untuk menyediakan septik tank dalam
upaya pencegahan pencemaran lingkungan air sungai dan air tanah akibat limbah
domestik yang dihasilkan
5. Memberikan penyuluhan dan sosialisasi mengenai pelestarian lingkungan
air sungai agar terawat sehingga pemanfaatanya sebagai penyedia kebutuhan air
baku bagi penduduk DKI Jakarta maksimal.

4
BAB II
PEMBAHASAN

I. DEFINISI DAN PEMAHAMAN


A. Sumber-sumber air:
1. Air permukaan yang merupakan air sungai dan danau
2. Air tanah yang tergantung kedalamannya bias disebut air
tanah dangkal atau air tanah dalam
3. Air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfir, seperti hujan
dan salju
Air tanah dangkal dan air permukaan dapat berkualitas baik andaikata
tanah sekitarnya tidak tercemar, oleh karenanya air permukaan dan air tanah
dangkal sangat bervariasi kualitasnya. Banyak zat yang terlarut ataupun
tersuspensi di dalamnya selama perjalanan nya menuju ke laut. Namun selama
perjalanan ini pula air dapat membersihkan dirinya karena adanya sinar ultra
violet dari matahari, aliran, serta kemungkinan-kemungkinan terjadinya reaksi-
reaksi antar zat kimia yang terlarut dan terjadinya pengendapan-pengendapan.
Pengertian sungai menurut undang-undang persungaian Jepang adalah
sebagai berikut:
1. Suatu daerah yang didalamnya terdapat air yang mengalir
secara terus menerus
2. Suatu daerah yang kondisi topografinya, keadaan tanamannya
dan keadaan lainnya mirip dengan daerah yang didalamnya terdapat air
yang mengalir secara terus menerus (termasuk tanggul sungai, tetapi tidak
termasuk bagian daerah yang hanya sementara memenuhi keadaan tersebut
di atas, yang disebabkan oleh banjir atau peristiwa alam lainnya).
Berdasarkan pengertian di atas maka daerah sungai adalah sebagai berikut:
1. Zona 1: Bagian sungai tempat air sungai mengalir sepanjang
tahun dan daerah tempat tumbuhnya rumput dan tumbuh-tumbuhan
lainnya serta tempat lainnya yang mirip dengan daerah atau bagian sungai
tempat air sungai mengalir secara terus-menerus.

5
2. Zona 2 : Bagian sungai tempat dibangunnya tanggul
3. Zona 3 : tanah bantaran sungai

B. Peranan Sungai
Sungai mempunyai peranan yang sangat besar bagi perkembangan
peradaban manusia di seluruh dunia ini, yakni dengan menyediakan daerah-daerah
subur yang umumnya terletak di lembah-lembah sungai dan sumber air sebagai
sumber kehidupan yang paling utama bagi kemanusian. Sungai mempunyai
hubungan yang erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Di daerah pegunungan air
digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dan juga memegang peranan utama
sebagai sumber air untuk kebutuhan irigasi, penyediaan air minum, kebutuhan
industri dan lain-lain. Selain itu sungai berguna pula sebagai tempat yang ideal
untuk pariwisata, pengembangan perikanan dan sarana lalu lintas sungai. Sungai-
sungai berfungsi juga sebagai saluran pembuangan untuk menampung air selokan
kota dan air buangan dari areal-areal pertanian.
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya
makluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau
berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam
sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4
Tahun 1982; Undang-undang No. 23 Tahun 1997).
Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga
kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi
lagi sesuai lagi dengan peruntukkannya (Pasal 1, angka 2 PP No. 20/1990 tentang
Pengendalian Pencemaran Air). Sumber-sumber Pencemaran Air
1. Limbah rumah tangga
2. Limbah lalu lintas
3. Limbah pertanian

6
4. Limbah industri/pertambangan
5. Kegiatan penebangan hutan

C. Pengaruh Air Terhadap Kesehatan


Pengaruh tidak langsung
 Pengotoran badan-badan air dengan zat-zat kimia dapat
menurunkan kadar oksigen terlarut yang dapat menyebabkan kematian
mata rantai makanan (ikan) dan untuk alasan estetika.
 Adanya materi tersuspensi, yaitu materi yang mempunyai ukuran
lebih besar daripada molekul/ion yang terlarut. Materi tersuspensi ini dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu zat padat dan koloid. Zat padat tersuspensi
dapat mengendap apabila keadaan air cukup tenang, ataupun mengapung
apabila sangat ringan; materi inipun dapat disaring. Koloid sebaliknya sulit
mengendap dan tidak dapat disaring dengan saringan (filter) air biasa.
Materi tersuspensi mempunyai efek yang kurang baik terhadap kualitas air
karena menyebabkan kekeruhan dan mengurangi cahaya yang masuk ke dalam
air. Oleh karenanya, manfaat air dapat berkurang, dan organisme yang butuh
cahaya akan mati. Setiap kematian organisme akan menyebabkan terganggunya
ekosistem akuatik
Pengaruh langsung
 Zat-zat kimia yang persisten yang membutuhkan penguraian untuk
jangka waktu lama. Contohnya adalah detergen yang terbuat dari alkil
sulfonat yang tidak linier atau bercabang. Selain itu, detergen juga
menimbulkan busa di perairan yang secara estetik tak dapat diterima dan
menimbulkan kesulitan dalam pengolahan air.
 Penyebab penyakit, adanya penyebab penyakit di dalam air, dapat
menyebabkan efek langsung terhadap kesehatan. Penyebab penyakit yang
mungkin ada, dapat dikelompokan menjadi dua bagian besar, yaitu:
1) Penyebab hidup, yang menyebabkan penyakit menular
2) Penyebab tidak hidup, yang menyebabkan penyakit tidak
menular

7
Peranan air dalam terjadinya penyakit menular dapat bermacam-macam
sebagai berikut:
1. Air sebagai mikroba patogen
2. Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit
3. Jumlah air bersih yang tersedia tidak mencukupi, sehingga orang
tidak dapat membersihkan dirinya dengan baik
4. Air sebagai sarang hospes sementara penyakit
Agent Penyakit
Virus:
Rotavirus Diare pada anak
v. hepatitis A Hepatitis A
v. poliomyelitis Polio
Bakteri:
Vibrio cholerae Cholera
Escherichia coli enteropatogenik Diare
Salmonella typhi Typhus abdominalis
Salmonella paratyphi Paratyphus
Shigella dysenteriae Dysenterie
Protozoa:
Entamoeba histolytica Dysentrie amoeba
Balantidia coli Balantidiasis
Giardia lamblia Giardiasis
Metazoa:
Ascaris lumbricoides Ascariasis
Clonorchis sinensis Clonorchiasis
Diphyllobothrium latum Diphylobothriasis
Taenia saginata/solium Taeniasis
schistosoma Schistosomiasis

D. Pengolahan Air Limbah dan Kotoran Manusia di Rumah


Apabila suatu kota telah mempunyai sistem pembuangan air limbah yang
berupa saluran tertutup dengan pengolahan yang tersendiri, maka setiap air limbah
dan kotoran rumah tangga yang dihasilkan oleh warga kota akan dibuang ke
saluran kota terdekat untuk dialirkan ke tempat pengolahan yang tersedia. Akan
tetapi, apabila kota itu belum memiliki sistem pembuangan air limbah secara
tertutup, maka umumnya hanya air limbah yang berasal dari kamar mandi dan

8
cuci saja yang dibuang ke saluran limbah kota, sedangkan kotoran yang berasal
dari WC akan dibuang ke tempat pembuangan khusus yang dikenal sebagai septic
tank. Untuk membuat septic tank yang baik sehingga tidak mencemari air dan
tanah di sekitarnya, maka beberapa hal perlu diperhatikan antara lain :
1. Ddinding septic tank hendaknya dibuat dari bahan yang rapat
air
2. Untuk membuang air limbah hasil pencernaan dari septic tank
perlu dibuatkan daerah peresapan
3. Septic tank ini direncanakan untuk membuang kotoran
rumahtangga dengan jumlah air limbah sekitar 100 liter/orang/hari
4. Waktu tinggal air limbah di dalam tangki diperkirakan
minimal selama 24 jam
5. Besarnya ruang lumpur diperkirakan untuk menampung
lumpur yang dihasilkan proses pencernaan dengan patokan banyaknya
lumpur sebesar 30 per orang/tahun, sedangkan waktu pengambilan lumpur
diperhitungkan minimal selama 4 tahun
6. Lantai dasar septic tank harus dibuat miring ke arah ruang
lumpur
7. Pipa air masuk ke dalam septic tank hendaknya selalu lebih
tinggi lebih kurang 2,5 cm dari pipa air keluarnya
8. Septic tank hendaknya dilengkapi dengan lubang pemeriksaan
dan lubang penghawaan untuk membuang gas hasil pencernaan
9. Untuk menjamin terpakainya bidang peresapan, maka
pemasangan siphon otomatis adalah sangat bermanfaat agar air limbah
yang dibuang ke daerah peresapan terbuang secara berkala.

E. Pengelolaan Sungai
Pengertian
Pengelolaan sungai adalah segala usaha yang dilaksanakan untuk
memanfaatkan potensi sungai, memelihara fungsi sungai dan mencegah terjadinya

9
bencana yang dapat ditimbulkan oleh sungai. Dengan demikian ruang cakup
pengelolaan sungai luas sekali dan diantaranya dapat disebutkan:
1. Perbaikan dan pengaturan sungai
2. Pengoperasian bangunan-bangunan sungai
3. Pengendalian administratif seperti pembatasan atau pelarangan atas
kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan dampak negatif terhadap fungsi
sungai.
4. Pemberian izin atas pemanfaatan sungai
5. Pemberian tanda batas-batas daerah sungai

Pemanfaatan Sungai dan Pembatasannya


Penggunaaan Air Sungai
Yang dimaksud dengan air sungai tidak hanya berupa air permukaan yang
mengalir di dalam alur sungai, tetapi termasuk juga air permukaan di dalam
danau-danau, rawa-rawa serta air bawah permukaan yang mengalir di bawah
dasar sungai yang meresap ke bawah dasar sungai, selanjutnya disebut air bawah
permukaan dasar sungai (river bed water). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan
dalam pemberian persetujuan atas penyadapan air sungai adalah sebagai berikut:
 Perhitungan dan peninjauan jumlah air yang diambil
 Hubungan antara jumlah air yang dimbil dan jumlah bangunan
sadapnya
 Hubungan antara jumlah bangunan sadap dan debit sungai
 Penempatan bangunan-bangunan sadap dan cara-cara pengambilannya
 Sistem dari fasilitas-fasilitas bangunan sadap dan metode operasinya
 Pengaruh dalam pengendalian banjir
 Pengaruhnya terhadap bangunan sadap yang sudah ada dan cara-cara
penyadapannya

Pemeliharaan Sungai

10
Yang dimaksud pemeliharaan sungai adalah segala usaha yang bertujuan
untuk menjaga kelestarian fungsi sungai. Pemeliharaan tersebut meliputi
pemeliharaan sungainya sendiri, misalnya pengerukan dasar sungai atau muara
sungai dan juga pemeliharaan bangunan-bangunan dalam rangka perbaikan dan
pengaturan sungai seperti tanggul dan perkuatan tebing sungai (revetment).
Macam-macam Kegiatan Pemeliharaan Sungai : Pemeliharaan tanggul sungai dan
Pemeliharaan bangunan perkuatan lereng
II. SOLUSI UNTUK MENGATASI PENCEMARAN
SUNGAI DI JAKARTA
A. Tindakan terhadap kepedulian lingkungan
Hendaknya tidak menambah terjadinya bahan pencemar antara lain tidak
membuang sampah rumah tangga, sampah rumah sakit, sampah/limbah industri
secara sembarangan, tidak membuang ke dalam air sungai, danau ataupun ke
dalam selokan. Sampah padat dari rumah tangga berupa plastik atau serat sintetis
yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme dipisahkan, kemudian diolah
menjadi bahan lain yang berguna, misalnya dapat diolah menjadi keset. Sampah
organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme dikubur dalam lubang tanah,
kemudian kalau sudah membusuk dapat digunakan sebagai pupuk.
Tidak menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebihan, karena sisa
pupuk dan pestisida akan mencemari air di lingkungan tanah pertanian. Tidak
menggunakan deterjen fosfat, karena senyawa fosfat merupakan makanan bagi
tanaman air seperti enceng gondok yang dapat menyebabkan terjadinya
pencemaran air.
Agar tidak terjadi penumpukan logam-logam berat, maka limbah industri
hendaknya dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Proses
pencegahan terjadinya pencemaran lebih baik daripada proses penanggulangan
terhadap pencemaran yang telah terjadi. Jumlah logam-logam berat yang masuk
dan menumpuk dalam tubuh manusia, logam berat ini dapat meracuni organ tubuh
melalui pencernaan karena tubuh memakan tumbuh-tumbuhan yang mengandung
logam berat meskipun diperlukan dalam jumlah kecil. Penumpukan logam-logam

11
berat ini terjadi dalam tumbuh-tumbuhan karena terkontaminasi oleh limbah
industri.
Limbah industri sebelum dibuang ke tempat pembuangan, dialirkan ke
sungai atau selokan hendaknya dikumpulkan di suatu tempat yang disediakan,
kemudian diolah, agar bila terpaksa harus dibuang ke sungai tidak menyebabkan
terjadinya pencemaran air. Bahkan kalau dapat setelah diolah tidak dibuang ke
sungai melainkan dapat digunakan lagi untuk keperluan industri sendiri.
Langkah yang belakangan banyak diambil adalah membuat sumur resapan
atau lubang biopori. Kiat ini sangat tepat untuk Jakarta yang langka sekali ruang
terbuka hijau sebagai tempat resapan air. Dengan membuat lubang/sumur resapan,
air hujan tidak langsung menuju saluran air, tapi meresap ke dalam tanah.
Sehingga akan menambah kuantitas air tanah itu sendiri. Selain itu, lubang biopori
ini mampu membuat organisme dalam tanah merubah sampah menjadi mineral
yang dapat larut dalam air sehingga kualitas air tanah pun meningkat.

B. Kontrol melalui kebijakan dan program-program pemerintah


Pengendalian/penanggulangan pencemaran sungai di Indonesia telah
diatur melalui PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan
Pengendalian Pencemaran Air. Salah satu langkah yang dilakukan adalah Program
kali Bersih (PROKASIH). Program ini merupakan upaya untuk menurunkan
beban limbah cair khususnya yang berasal dari kegiatan usaha skala menengah
dan besar, serta dilakukan secara bertahap untuk mengendalikan beban
pencemaran dari sumber-sumber lainnya. Program ini juga berusaha untuk menata
pemukiman di bantaran sungai dengan melibatkan masyarakat setempat.
Menciptakan peraturan perundangan yang dapat merencanakan, mengatur
dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industry dan teknologi sehingga
tidak terjadi pencemaran. Peraturan perundangan ini hendaknya dapat
memberikan gambaran secara jelas tentang kegiatan industri yang akan
dilaksanakan, misalnya meliputi AMDAL, pengaturan dan pengawasan kegiatan
dan menanamkan perilaku disiplin.

12
C. Kontribusi dan partisipasi masyarakat terhadap pelestarian
lingkungan air
Pilihan berjalan kaki atau bermobil, turut menyumbangkan emisi asam
atau hidrokarbon ke dalam atmosfir yang akhirnya berdampak pada siklus air di
alam. Pembunuhan bakteri (desinfektion) bertujuan untuk mengurangi atau
membunuh mikroorganisme patogen yang ada di dalam air limbah. Mekanisme
pembunuhan sangat dipengaruhi oleh zat pembunuhnya dan mikroorganisme itu
sendiri. Banyak zat pembunuh kimia termasuk klorin dan komponennya
mematikan bakteri dengan cara merusak atau menginaktifkan enzim utama
sehingga terjadi kerusakan dinding sel. Mekanisme lain dari desinfeksi adalah
dengan merusak langsung dinding sel seperti yang dilakukan apabila
menggunakan bahan radiasi ataupun panas.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan
kimia bila akan dipergunakan sebagai bahan desinefektion, antara lain:
a. Daya racun kimia tersebut
b. Waktu kontak yang diperlukan
c. Efektivitasnya
d. Rendahnya dosis
e. Tidak toksis terhadap manusia dan hewan
f. Tetap tahan terhadap air
g. Biaya murah untuk pemakaian yang bersifat masal
Proses pengurangan air (dewatering) dapat dilakukan dengan cara alamiah
maupun mekanis. Misalnya, penyaringan dengan penekanan, gerakan kapiler,
saringan hampa udara, pemutaran dan pemadatan. Pemilihan cara ini berdasarkan
dengan jenis lumpur yang dihadapi serta areal yang tersedia. Pada saringan
bertekanan maka pengurangan air dicapai melalui pemaksaan air keluar dari
lumpur dibawah tekanan tinggi. Beberapa jenis jaringan bertekanan yang banyak
digunakan pada banyak daerah antara lain: berupa lempengan persegi panjang
yang diletakan berhadap-hadapan secara tegak lurus yang tetap tetapi dapat
digerakan ke depan dan kebelakang.

13
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan maka terdapat kesimpulan yang
dapat diperoleh antara lain :
1. Pemenuhan akan kebutuhan air bersih bagi penduduk
Provinsi DKI Jakarta masih kurang baik dari segi ketersediaan secara
kuantitas/jumlah dan mutu air yang diterima
2. Penyebab utamanya ialah pemahaman dan kesadaran
masyarakat yang tinggal di dekat Daerah Aliran Sungai sangat minim
terhadap pelestarian lingkungan sungai sehingga air sungai menjadi
tercemar bakteri E. Coli dan Koliform yang melewati batas toleransi
3. Solusi dan pencegahan yang dapat dilakukan ialah dengan
mensosialisasi pelestarian lingkungan sungai sebagai sumber air baku
yang nantinya diproses untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Dan penyediaan septik tank untuk pencegahan pencemaran air sungai dan
air tanah dari bakteri E.Coli dan Koliform tersebut

B. Saran-saran
1. Makalah ini hanya meninjau dari sudut telaah
kepustakaan saja, sehingga akan menjadi lebih bermakna apabila
dilanjutkan dengan penelitian ke lapangan
2. Area pembahasan dalam makalah ini terbatas hanya pada
persoalan pencemaran air sungai saja sehingga sangat disarankan untuk
memperluas pengkajian ke persoalan pencemaran lain agar menjadi
lengkap
3. Penulis memandang perlu untuk menjalin kerja sama
dengan pemegang kebijakan dalam penerapan solusi dari dampak

14
pencemaran air sungai ini agar masyarakat menjadi peduli dan ikut
berpartisipasi mewujudkanya.

15