Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada masa sekarang dimana kecenderungan pemakaian bahan bakar sangat tinggi
sedangkan sumber bahan bakar minyak bumi yang dipakai saat ini semakin menipis. Perlu
adanya alternatif lain bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi. Penggunaan
etanol sebagai pengganti minyak bumi. Penggunaan etanol sebagai bahan bakar merupakan
salah satu jalan pemecahan masalah energi pada saat ini.
Saat ini sedang diusahakan secara intensif pemanfaatan bahan-bahan yang mengandung
serat kasar dengan kandungan karbohidrat yang tinggi, dimana semua bahan yang mengandung
karbohidrat dapat diolah menjadi etanol. Misalnya kayu, umbi kayu, ubi jalar, pisang, kulit
pisang dan lain-lain. Etanol dapat dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung senyawa
selulosa dengan menggunakan bantuan dari aktivitas mikroba.
Kayu merupakan jenis tumbuhan tropis yang sangat banyak dijumpai di Indonesia, tetapi
hasil dari proses industri penggergajian kayu kebanyakan menyisakan limbah padat berupa
serbuk gergaji dan serpihan kayu yang terbuang menumpuk di suatu lokasi tertentu yang dapat
mengganggu kondisi lingkungan sekitar, sehingga diperlukan penanganan terhadap limbah
padat hasil penggergajian kayu tersebut. Berdasarkan komposisi kimia kayu kandungan yang
paling banyak adalah karbohidrat, dalam hal ini adalah selulosa yang dapat diolah menjadi
etanol. Mengingat akan hal tersebut dan prospek yang baik di masa yang akan datang, maka
penyusun mencoba mencari peluang untuk memanfaatkan kayu sebagai bahan baku dalam
pembuatan etanol.

B. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi yang terbaik pada proses pengolahan limbah
kayu menjadi etanol dengan proses fermentasi dengan variabel perbandingan berat serbuk kayu
dengan yeast Saccharomyces cereviseae dan waktu fermentasi.

C. TINJAUAN PUSTAKA
1. Limbah Kayu
Limbah kayu ada bermacam-macam yaitu :
a. Limbah pemotongan kayu,
b. Limbah penggergajian kayu,
c. Limbah kayu karet.
1
Limbah kayu yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah kayu hasil
peggergajian kayu, dimana pada industri penggergajian kayu 40% yang menjadi limbah
terdiri dari serbuk gergaji (15%) dan serpihan kayu (25%).
Menurut Sjostrom (1995), kayu memiliki komposisi sebagai berikut :
a. Selulosa : 40% - 50%,
b. Hemiselulosa : 20% - 30%
c. Lignin : 25% - 30%
Pada penelitian ini serbuk gergaji yang diteliti setelah dianalisis mempunyai kandungan
selulosa, lignin, pentosan, air dan abu. Untuk kadar selulosa didapat 48,8935%, kadar lignin
28,8977%, kadar abu 2,09435%, kadar air 6,015%, kadar pentosan 14,09945%.
2. Selulosa
Selulosa merupakan struktur dasar sel-sel tanaman, oleh karena itu merupakan bahan
alam yang paling penting yang dibuat oleh organisme hidup. Selulosa terdapat pada semua
tanaman dari pohon bertingkat tinggi hingga organisme primitif seperti rumput laut,
flagellate dan bakteri. Selulosa merupakan komponen kayu yang terbesar, yang dalam kayu
lunak dan kayu keras jumlahnya mencapai hampir setengahnya. Selulosa merupakan
polimer linier dengan berat molekul tinggi yang tersusun seluruhnya atas ß-D-glukosa.
Karena sifat-sifat kimia dan fisikanya maupun struktur utama dinding sel tumbuhan.
Didalam kayu, selulosa juga terikat erat dengan poliosa dan lignin dan pemisahannya
memerlukan perlakuan kimia yang intensif. Untuk memperoleh selulosa murni 100% dari
kayu, alfa selulosa harus mengalami perlakuan intensif lebih lanjut, seperti hidrolisis parsial,
pelarutan dan pengendapan. Selulosa merupakan bahan dasar dan banyak produk teknologi
(kertas, film, serat, aditif dan sebagainya).
(Fenger dan Wegner, 1995)
3. Yeast
Mikroba yang dapat berperan dalam proses fermentasi dalah bakteri, yeast dan jamur
benang. Dari tiga golongan ini yang berperan dalam proses fermentasi alkohol dari bahan
bergula adalah jenis yeast. Terutama genus Saccharomyces seperti : Saccharomyces
cereviseae, Saccharomyces carlbergensis, Saccharomyces anamensisi dan
Schizosaccharomyces pombe.
4. Etanol
Etanol merupakan pelarut pada pembuatan pernis, pelarut bagi bahan organik lainnya
seperti minyak wangi dan digunakan sebagai komponen utama dalam spiritus. Pada
labotarium dan industri digukan sebagai pelarut (Sa’id, 1987).

2
Etanol dapat dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung selulosa dengan
menggunakan bantuan dari aktivitas mikroba. Etanol merupakan senyawa organik yang
mengandung gugus hidroksida dan mempunyai rumus umum CnH2n+1OH. Istilah etanol
dalam industri disebut juga etil alkohol yang gugus hidroksilnya terikat pada atom karbon
primer.
Sifat-sifat etanol yang mudah menguap, mudah terbakar, berbau spesifik, cairannya
tidak berwarna dan mudah larut dalam air, eter, chloroform dan aseton.
Pembuatan alkohol antara lain dengan sintesa dari etilen, fermentasi etanol dengan
bantuan mikroba dan lain-lainnya.

D. LANDASAN TEORI
Produk etanol diarahkan untuk sumber energi, sehingga serbuk kayu yang mengandung
alfa selulosa dapat diproses menjadi etanol. Tahapan dalam proses pengolahan serbuk kayu
menjadi etanol ada 2 tahap yaitu :
1. Proses Hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi kimia antara air dengan suatu zat lain yang menghasilkan satu
zat baru atau lebih dan juga dekomposisi suatu larutan dengan menggunakan air. Proses ini
melibatkan pengionan molekul air ataupun penguraian senyawa lain.
(Pudjaatmaka dan Qodratillah, 2002)
Hidolisis dalam penelitian ini menggunakn alfa selulosa untuk memperoleh alfa
selulosa murni 100% untuk diubah menjadi glukosa.
Persamaan reaksi hidrolisis :

H2SO4
C6H10O5 + H2O C6H12O6
T=100°C, t=3 jam
(selulosa) (air) (glukosa)

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses hidrolisis adalah :


a. Waktu hidrolisis
Semakin lama waktu hidrolisis maka glukosa yang dihasilkan semakin besar.
Dalam penelitian ini digunakan waktu hidrolisis selama 3 jam.
b. Suhu
Semakin tinggi suhu hidrolisis maka glukosa yang dihasilkan semakin besar,
sampai mencapai suhu didih campuran yaitu 100°C.
c. Kecepatan pengadukan

3
Semakin cepat kecepatan pemngadukan maka hasil glukosa semakin besar. Pada
penelitian ini diambil kecepatan yang tetap yaitu 200 rpm.
d. Katalis yang digunakan
Dalam proses fermentasi biasanya dipakai asam klorida dan asam sulfat. Dalam
penelitian ini dipakai asam sulfat karena asam sulfat mempunyai titik didih yang
lebih tinggi daripadaasam klorida sehingga asam sulfat mampu mendestruksi serbuk
gergaji menjadi selulosa. Selain itu asam sulfat dapat dipulihakan dengan destilasi.
2. Proses Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses baik secara aerob maupun anaerob yang menghasilkan
produk yang melibatkan mikroba atau ekstraknya dengan aktivitas mikroba terkontrol
dalam hal ini terjadi reaksi oksidasi dan reduksi menggunakan sumber energi dan sumber
karbon, nitrogen dan lain-lainnya untuk membentuk senyawa yang lebih tinggi.
Persamaan reaksi proses fermentasi :
Saccharomyces cereviseae
C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2
T = 30°C, pH = 4
(glukosa) (etanol) (karbondioksida)
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses fermentasi adalah :
a. Konsentrasi gula
Konsentrasi gula akan berpengaruh terhadap aktivitas Saccharomysec
cereviseae. Konsentrasi gula yang sesuai kira-kira 10-18%. Konsentrasi gula diatas
18% akan menghambat aktivitas dari Saccharomysec cereviseae, sedangkan jika
konsentasi dibawah 10% menyebabkan fermentasi tidak ekonomis.
b. pH larutan
pH substrat atau media fermentasi merupakan salah satu factor yang
menentukan kehidupan Saccharomysec cereviseae adalah bahwa pertumbuhan
dapat berlangsung dengan baik pada kondisi pH 4 – pH 6. Pada penelitian ini
digunakan pH 4.
c. Nutrisi
Selain sumber karbon, Saccharomysec cereviseae juga memerlukan sumber
nitrogen, vitamin dan mineral dalam pertumbuhannya. Pada umumnya sebagian
besar Saccharomysec cereviseae memerlukan vitamin seperti biotin dan thiamin
yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Beberapa mineral juga harus ada untuk
pertumbuhan Saccharomysec cereviseae seperti phospat, kalium, sulfur, tembaga,
sejumlah kecil senyawa besi. Nutrisi yang biasa dipakai untuk pertumbuhan bakteri
adalah urea, NPK, amonium sulfat dan amonium nitrat.

4
d. Suhu
Suhu optimum untuk pertumbuhan Saccharomysec cereviseae dan aktivasinya
adalah 25-35°C. Suhu memegang peranan penting, karena secara langsung dapat
mempengaruhi aktivitas Saccharomysec cereviseae dan secara tidak langsung akan
mempengaruhi kadar etanol yang dihasilkan.
e. Waktu Fermentasi
Semakin lama waktu fermentasi maka etanol yang dihasilkan semakin besar
samapai batas tertenu. Jika waktunya terlalu cepat Saccharomysec cereviseae masih
dalam masa pertumbuhan sehingga etanol yang dihasilkan dalam jumlah sedikit dan
jika terlalu lama Saccharomysec cereviseae akan mati maka etanol yang dihasilkan
tidak maksimal.
f. Perbandingan berat serbuk kayu dengan yeast
Semakin banyak serbuk kayu (selulosa) yang dihidrolisis, maka semakin banyak
glukosa yang dihasilkan. Sehingga semakin banyak glukosa yang digunakan dalam
proses fermentasi, maka semakin banyak etanol yang dihasilkan.

E. BATASAN MASALAH
1. Limbah kayu yang digunakan merupakan campuran dari berbagai macam kayu.
2. Proses yang diteliti lebih jauh dalam penelitian ini adalah proses fermentasi.

F. HIPOTESIS

1. Semakin lama waktu fermentasi maka etanol yang dihasilkan semakin banyak sampai batas
tertentu.
2. Semakin berat perbandingan serbuk gergaji kayu dengan yeast maka semakin banyak etanol
yang dihasilkan sampai batas tertentu.

5
BAB II
PELAKSANAAN PENELITIAN

A. BAHAN BAKU DAN RANGKAIAN ALAT


1. Bahan Baku
Bahan baku dalm penelitian ini terdiri dari :
a. Serbuk gergaji kayu diambil dari toko kayu gelondongan dan penggergajian kayu pada
CV. Bangun Jaya, Jl.Imogiri Barat, dianalisis kadar selulosanya, lignin, pentosan, air
dan abu. Untuk kadar selulosa 48,89%, kadar lignin 28,90%, kadar abu 2,09%, kadar air
6,02%, dan kadar pentosan 14,10%.
b. Yeast Saccharomyces cerevisiae teknis, diperoleh dari Toko Indo Sari, Jl. Mataram 16
Yogyakarta dalam bentuk ragi roti.
2. Rangkaian Alat

Gambar 1. Rangkaian alat hidrolisis


Keterangan gambar :
1. Labu leher tiga 500 ml
2. Motor pengaduk
3. Termometer
4. Pendingin balik
5. Kompor pemanas
6. Waterbath
7. Klem
8. Statif

6
Gambar 2. Rangkaian alat fermentasi anaerob

Keterangan :
1. Alumunium foil
2. Erlenmeyer
3. Media fermentasi

7
B. CARA KERJA
Pembuatan etanol menggunakan limbah padat kayu (serbuk kayu) yang dilakukan secara
fermentasi memiliki tahapan sebagai berikut :
1. Proses Pembuatan Glukosa (Hidrolisis)
Memasukkan limbah kayu (serbuk kayu) dengan berat tertentu dan asam sulfat 5%
sebanyak 500 ml ke dalam digester pada suhu 100° C dengan tekanan atmosferik selama 3
jam. Lalu didinginkan, selanjutnya ditiris dan dianalisis kadar glukosanya, kemudian
glukosa (cairannya) digunakan untuk proses selanjutnya.
2. Proses Fermentasi
Larutan glukosa dari labu leher tiga diambil dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Glukosa
sebanyak 100 ml dari glukosa hasil hidrolisis tersebut ditambahkan Ca(OH)2 sebanyak 20

ml, diberi ragi sebanyak 1 gram dan ditambahkan 0,25 gr NaHSO3 dan 0,5 gr Na2HPO4 .
Kemudian ditutup rapat-rapat dengan selang yang dihubungkan dengan botol yang berisi air
yang akan muncul gelembung-gelembung gas CO2. Fermentasi dilakukan selama 3, 4, 5, 6

dan 7 hari. Perlakuan yang sama dilakukan dengan perbandingan berat serbuk kayu dan
yeast Saccharomyces cerevisiae.

Hasil dalam penelitian ini didapatkan etanol yang sangat sedikit karena :
1. Konsentrasi glukosa hasil hidrolisis jauh dibawah 10%. Itu berarti tidak memenuhi
persyaratan, karena kadar glukosa yang harus dipenuhi antara 10-18%. Sehingga kadar
etanol yang dihasilkan sangat kecil.
2. Nutrisi yang seharusnya digunakan adalah Amonium sulfat dan Amonium nitrat, tetapi

dalam penelitian ini digunakan NaHSO3 0,25 gr dan Na2HPO4 0,5 gr. Ternyata nutrien

yang digunakan salah karena nutrien yang digunakan ternyata merupakan racun bagi
bakteri, sehingga etanol yang dihasilkan dalam penelitian ini sangat kecil.

B. ANALISIS HASIL
Hasil fermentasi berupa cairan etanol, yang kemudian dianalisa kadar etanolnya
menggunakan refraktometer.
Dalam penelitian ini dugunakan gas kromatografi ternyata dalam seminar untuk
menganalisa kadar etanol bias menggunakan refraktometer karena selain hasilnya sama ternyata
juga lebih efisien dalam hal waktu dan biaya.

8
C. IAGRAM ALIR PROSES PEMBUATAN ETANOL

1. Proses Pembuatan Glukosa (Hidrolisa)

Analisis I

Serbuk
Kayu Proses Hidrolisis di
dalam labu leher tiga
pada suhu T=100 0C dan
H2SO4
t= 3 jam
5%

Proses pendinginan
berlangsung selama 30
menit

Proses penyaringan Padatan


untuk memisahkan
larutan glukosa dari
padatan-padatan yang Larutan Glukosa
terlarut.

Analisis II

Keterangan: a. Analisa I : kadar selulosa, abu, air dan lignin.


b. Analisa II : kadar glukosa.

9
2. Proses Fermentasi

Glukosa 10 ml

Yeast 1 gram

NaHSO3 0,25 gram Proses fermentasi Etanol


dalam fermentor
pada T=32°C dan
Ca(OH)2 20 ml pH=4

NaHPO4 0,5 gram Analisis III

Keterangan: Analisis III : kadar etanol.

10
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. ANALISIS PROSES HIDROLISIS


Waktu : 3 jam
Suhu : 120OC
H2SO4 5% : 500 ml
Kecepatan Pengadukan : 200 rpm
Dari hasil hidrolisis, didapatkan kadar glukosa untuk masing-masing berat serbuk kayu,
seperti terlihat pada table 2.

No Berat serbuk kayu (gr) Kadar Glukosa (%)


1 40,0035 0,6286
2 50,0011 0,7357
3 60,0018 0,9485
4 70,0021 1,2684
5 80,0080 2,1797
Tabel 2. Hubungan antara berat serbuk kayu dengan kadar glukosa yang dihasilkan

Dari tabel 2. Diketahui bahwa semakin berat serbuk kayu yang dihidrolisis maka semakin
banyak kadar gula reduksi yang dihasilkan hal tersebut disebabkan karena semakin banyaknya
kandungan alfa selulosa yang terhidrolisis menjadi glukosa, sehingga terjadi perubahan
komponen, dari komponen selulosa menjadi komponen gula oleh asam.
Dari hasil seminar kadar glukosa yang dihasilkan ternyata tidak memenuhi standar proses
fermentasi sehingga dapat dikatakan hasil hidrolisis ini gagal.

B. PROSES FERMENTASI
1. Pengaruh Variasi Perbandingan Serbuk Kayu dengan Yeast
Volume media fermentasi : 100ml
Yeast : 1 gr
Na2HPO4 : 0,5 gr
NaHSO3 : 0,25 gr
pH : ±4
Suhu :± 300C
Waktu : 7 hari

11
Berat Serbuk Perbandingan berat serbuk Kadar
No Berat Yeast (gr)
(gr) dan berat yeast Etanol (%)
1 40,0035 1 40,0035 : 1 0,256
2 50,0011 1 50,0011 : 1 0,274
3 60,0018 1 60,0018 : 1 0,296
4 70,0021 1 70,0021 : 1 0,314
5 80,0080 1 80,0080 : 1 0,377
Tabel 3. Pengaruh perbandingan berat serbuk kayu dengan yeast dengan kadar etanol yang dihasilkan

Dari table 3. Dibuat grafik hubungan antara perbandingan serbuk kayu dengan yeast dan
kadar etanol (%).

Grafik ini menunjukkan bahwa berat serbuk kayu berpengaruh terhadap kenaikan kadar
etanol, dimana semakin besar berat serbuk kayu maka kadar etanol yang dihasilkan akan
terus meningkat. Hal ini terjadi karena semakin banyak kandungan selulosa yang
terhidrolisis maka akan semakin tinggi pula kadar glukosa yang dihasilkan, sehingga etanol
yang terbentuk juga akan terus meningkat.

12
2. Pengaruh Variasi Waktu Fermentasi
Volume media fermentasi : 100 ml
Yeast : 1 gr
Na2HPO4 : 0,5gr
NaHSO3 : 0,25 gr
pH : ±4
Suhu :± 300C
Waktu : 3,4,5,6,7 hari

No Berat serbuk kayu Kadar etanol (%)


3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 hari
(gr)
1 80,0080 0,243 0,257 0,279 0,308 0,377
Tabel 4. Pengaruh waktu fermentasi dengan kadar etanol yang dihasilkan

Dari grafik hubungan antara waktu fermentasi dengan kadar etanol, diperoleh persamaan
untuk:
berat 80 gram; y=0,144 ln (x) +0,067
dengan ralat rerata sebesar 2,8155 %,
dimana y= kadar etanol dan x= waktu fermentasi.

13
Grafik diatas menunjukkan bahwa pada awal fermentasi yaitu pada hari ke-3 mulai
terbentuk etanol dengan kenaikan kadar etanol yang sangat kecil, hal ini disebabkan karena
pada waktu tersebut mikroba berada pada fase adaptasi. Pada hari ke-4 sampai ke-6
merupakan fase pembiakan cepat,dimana mikroba semakin bertambah sehingga glukosa yang
terurai menjadi etanol yang semakin meningkat. Sedangkan pada hari ke-7 mikroba masih
membentuk etanol tetapi dengan kenaikan kadar etanol semakin menurun, hal ini disebabkan
Karena glukosa didalam cairan semakin berkurang sehingga pertumbuhan mikroba lambat.

14
BAB IV
KESIMPULAN

Kondisi terbaik pada penelitian ini adalah perbandingan berat serbuk kayu dengan yeast pada
80:1, waktu fermentasi 7 hari dengan hasil etanol dengan kadar 0,377% untuk setiap 80 gr serbuk
kayu.
Kadar etanol yang didapat terlalu kecil karena kadar glukosa tidak memenuhi syarat untuk
difermentasi, nutrisi yang seharusnya digunakan adalah Amonium sulfat, ammonium nitrat tetapi
dalam penelitian ini digunakan Na2HPO4 0,5 gr dan NaHSO3 0,25 gr, sehingga tidak menambah
nutrisi tetapi merupakan racun bagi bakteri, sehingga alkohol yang dihasilkan pada penelitian ini
sangat kecil.

15
DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, 1984, Kemungkinan Pembuatan Metanol dari Serbuk Gergaji, 55-75, Fakultas
Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang.

Eero Sjostrom, 1995, Kimia Kayu : Dasar-dasar dan Penggunaan 68-304, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Fenger D. dan Wegener G., 1985, Kayu: Kimia, Ultrastruktur dan Reaksi-reaksi, 619-629,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Fessenden.R.J. & Fessenden. J.S., 1986, Kimia Organik, Edisi Ketiga, Jilid 1., 261, Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Presscot,S.C. And Dunn,C.G., 1959, “Industrial Microbiology”, pp 60-73,102,124 Mc Graw


Hill Book company,inc., New York.

Sa'ld, 1987, BIOINDUSTRI, Penerapan Teknologi Fermentasi, 205, Mediyatama Sarana


Perkasa, Jakarta.

Schlegel, 1994, Mikrobiologi Umum, Edisi Keenam, 307, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Siregar,S, Pengolahan Limbah Padat Kayu Menjadi Alkohol, Laporan Penelitian, 1-20,
Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan “YLH”

Soedarmadji.S., Hartyono, B. dan Suhardi, 1976, “Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan
dan Pertanian” hal 29-30,47,121, Liberty, Yogyakarta.

www.google.com/wikipedia/2006

16