Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL)

MANAJEMEN ASUHAN GIZI KLINIK


DI RSUP PERSAHABATAN

Oleh :
Ariani Kusumastuti J3F207138
Erni Afriani J3f107011
Lydia Silviani J3F107005
Silvana Rahmawati J3F207137
Stevia Budi Isnawanti J3F107054
Yudhi Adrianto J3F107060

Penanggung Jawab:
Tantri Warachesti AMG

PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN INDUSTRI JASA MAKANAN DAN GIZI


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL)
MANAJEMEN ASUHAN GIZI KLINIK
DI RSUP PERSAHABATAN

Oleh :
Ariani Kusumastuti J3F207138
Erni Afriani J3f107011
Lydia Silviani J3F107005
Silvana Rahmawati J3F207137
Stevia Budi Isnawanti J3F107054
Yudhi Adrianto J3F107060

Penanggung Jawab:
Tantri Warachesti, AMG

PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN INDUSTRI JASA MAKANAN DAN GIZI


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Judul : Laporan Praktek Kerja Lapang (PKL)
Manajemen Asuhan Gizi Klinik di Instalasi Gizi
RSUP Persahabatan
Nama Mahasiswa : Ariani Kusumastuti J3F207138
Erni Afriani J3F107011
Lydia Silviani J3F107005
Silvana Rahmawati J3F207137
Stevia Budi Isnawanti J3F107054
Yudhi Adrianto J3F107060

Menyetujui,
Pembimbing PKL

Tantri Warachesti, AMG

Mengetahui,
Kepala Instalasi Gizi RSUP Persahabatan

Heriyana, S.KM
19681227 199203 2001

Tanggal Disetujui :
KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat karunia
dan berkah-Nya sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bapak/Ibu :
1. dr. Vera Uripi, S.Ked selaku pembimbing dan Koordinator Program
Keahlian yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penyelesaian
laporan ini.
2. Tantri W, AMG selaku pembimbing di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum
Pusat Persahabatan.
3. Heriyana, S.KM selaku Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Pusat
Persahabatan.
4. Kedua orang tua, teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dan
berpartisipasi dalam penyusunan laporan ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk perkembangan ilmu
pengetahuan. Kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan yang akan
datang.

Jakarta, April 2010

Penulis
DAFTAR ISI
Hal

KATA PENGANTAR.................................................................................. iv
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................... ii
DAFTAR TABEL......................................................................................... i
I. PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................................. 2
1.3 Tempat dan Waktu............................................................................... 2
1.4 Objek Pengamatan............................................................................... 2
1.5 Manfaat................................................................................................ 2
II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 2
2.1 Struktur Organisasi Asuhan Gizi Rumah Sakit.................................. 3
2.2 Pelayanan Asuhan Gizi Rawat Inap................................................... 3
2.2.1 Assasement atau Pengkajian Gizi............................................. 3
2.2.2 Perhitungan Status Gizi............................................................ 5
2.1.3 Perhitungan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi............................ 6
2.3 Perencanaan Pelayanan Gizi............................................................... 7
2.3.1 Implementasi Pelayanan Gizi...................................................
12
2.3.2 Monitoring dan Evaluasi.......................................................... 12
2.4 Pengukuran Konsumsi........................................................................ 12
2.4.1 Metode Food Weighing............................................................. 13
2.4.2 Metode Food Recall.................................................................. 13
III.HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................... 15
3.1 Pasien Rawat Inap............................................................................. 15
3.2 Studi Kasus........................................................................................ 17
3.2.1 Metode Food Recall................................................................ 18
3.2.2 Metode Food Weighing........................................................... 20
3.3 Rata-rata Kebutuhan Energi, Konsumsi dan Ketersediaan Kasus 20
3.3.1 Rata-rata Kebutuhan Energi, Konsumsi dan Ketersediaan
Energi dan Protein Pasien Demam & Thypoid....................... 21
3.3.2 Rata-rata Kebutuhan Energi, Konsumsi dan Ketersediaan
Energi, Protein, Lemak , Karbohidrat,
Natrium Pasien CHF............................................................... 23
3.3.3 Rata-rata Kebutuhan Energi, Konsumsi dan Ketersediaan
Energi dan Protein Pasien Bedah............................................ 26
3.4 Jenis Makanan dan Frekuensi Makan Sesuai Jenis Diet................... 28

IV. KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................. 31

4.1 Kesimpulan........................................................................................ 31

4.2 Saran.................................................................................................. 33

DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 34
DAFTAR TABEL

Tabel Hal
1 Faktor Aktivitas dan Faktor Stress Orang Sakit.................................... 5
2 Kategori IMT......................................................................................... 6

3 Pasien dan Diagnosa Penyakit Studi Kasus Food Recall...................... 19


4 Pasien dan Diagnosa Penyakit Studi Kasus Food Weighing ................ 20
5 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Energi
Kasus Demam dan Tifoid...................................................................... 21
6 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Energi
Kasus Demam dan Tifoid...................................................................... 22
7 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Energi
Kasus CHF............................................................................................ 23
8 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Protein
Kasus CHF............................................................................................ 24
9 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Lemak
Kasus CHF............................................................................................ 24
10 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Karbohidrat
Kasus CHF............................................................................................ 25
11 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Natrium
Kasus CHF............................................................................................ 26
12 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Energi
Kasus Bedah.......................................................................................... 27
13 Rata-rata Status Gizi, Kebutuhan, Asupan & T. Kecukupan Protein
Kasus Bedah.......................................................................................... 28
LAMPIRAN
1

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Memasuki era globalisasi yang ditandai dengan adanya persaingan pada
berbagai aspek, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi agar
mampu bersaing dengan Negara lain. Masalah gizi klinis adalah masalah gizi
yang ditinjau secara individual mengenai apa yang terjadi dalam tubuh seseorang,
yang seharusnya ditanggulangi secara individu.
Ruang lingkup kegiatan pokok pelayaanan gizi di rumah sakit terdiri dari:
Asuhan Gizi Pasien Rawat jalan, Asuhan Gizi Pasien Rawat Inap.
Penyelenggaraan Makanan serta Penelitian dan Pengembangan Gizi, untuk
meningkatkan pelayanan paripurna pada pasien, maka perlu dibentuk Tim Asuhan
Gizi yang bertugas menyelenggarakan makanan pelayanan rawat inap, termasuk
pelayanan klinik gizi yang merupakan bagian dari Instalasi Rawat Jalan.
Pelayanan gizi rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan
keadaan pasien dan berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status
metabolisme tubuhnya. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses
penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh
terhadap keadaan gizi pasien.
Asuhan gizi merupakan sarana dalam upaya pemenuhan zat gizi pasien.
Pelayanan gizi rawat inap sering disebut juga dengan Terapi Gizi Medik.
Pelayanan kesehatan paripurna seorang pasien, baik rawat inap maupun rawat
jalan, secara teoritis memerlukan tiga jenis asuhan yang pada pelaksanaannya
dikenal sebagai pelayanan. Ketiga jenis asuhan tersebut adalah: Asuhan Medik,
Asuhan Keperawatan dan Asuhan Gizi.
Manajemen asuhan gizi klinik (MAGK) merupakan implementasi dalam
pelaksanaan asuhan gizi di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. salah satu
sarana dalam mengaplikasikan pemahaman teori penatalaksanaan diet, khususnya
pada pasien rawat inap. Adanya Manajemen Asuhan Gizi Klinik (MAGK) bagi
pelajar juga menjadi sarana dalam membantu pemahaman mengenai konsep
penatalaksanaan diet.
2

1.2 Tujuan
Tujuan umum dari pelaksanaan Manajemen Asuhan Gizi Klinik ini adalah
mempelajari upaya pemenuhan gizi pasien rawat inap melalui kegiatan pelayanan
gizi. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai adalah
• Mempelajari pelaksanaan pelayanan gizi pasien rawat inap
dengan food weighing dan food recall 24 jam.
• Menghitung kebutuhan energi, konsumsi, ketersediaan dan
kecukupan pasien demam dengan gangguan saluran pencernaan, gagal jantung
dan gangguan saluran pernafasan dan bedah.
• Menghitung Asupan makanan pasien demam dengan gangguan
saluran pencernaan, gagal jantung dan gangguan saluran pernafasan dan
bedah.
1.3 Tempat dan Waktu
Pengamatan dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan pada
ruang perawatan kelas II dan Kelas III. Pelaksanaan Manajemen Asuhan Gizi
Klinik dilakukan mulai tanggal 24 Maret 2010 hingga 1 April 2010. Pengamatan
terhadap setiap pasien dilakukan selama 2-3 x 24 jam.
1.4 Obyek Pengamatan
Obyek yang diamati merupakan pasien dengan penyakit demam, gangguan
saluran pencernaan, penyakit gagal jantung, dan pasien dengan tindakan bedah.
Jumlah pasien yang diamati sebanyak 60 orang.

1.5 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dalam kegiatan Manajemen Asuhan Gizi Klinik
adalah mampu mengimplementasikan ilmu dietetika yang telah diterima dalam
penatalaksanaan pemberian diet kepada pasien.
3

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur Organisasi Asuhan Gizi Rumah Sakit


Organisasi asuhan gizi di rumah sakit dapat dilihat pada Gambar 1.
Direktur rumah sakit

Komisi/panitia asuhan gizi rumah sakit

Tim asuhan Tim asuhan Tim asuhan Tim asuhan


gizi gizi gizi gizi
Gambar 1.Organisasi asuhan gizi rumah sakit
2.2 Pelayanan Gizi Pasien Rawat Inap
Pelayanan gizi rawat inap adalah serangkaian kegiatan terapi gizi medis yang
dilakukan di institusi kesehatan ( rumah sakit ) untuk memenuhi kebutuhan gizi
pasien untuk keperluan metabolism tubuh, peningkatan kesehatan, maupun
mengoreksi kelainan metabolism, dalam rangka upaya preventif, kuratif,
rehabilitative dan promotif ( Depkes, 2005 ).

2.2.1 Assesment atau Pengkajian Gizi


Pengkajian status gizi merupakan landasan yang memberikan data-data dasar
untuk penyelenggaraan terapi gizi dan diet yang optimal pada pasien. Pengkajian
ini mencakup empat komponen:
1. Anamnesa riwayat gizi dan diet
2. Pengukuran antropometri,
3. Pemeriksaan laboratorium (biokimia) dan
4. Pemeriksaa jasmani untuk pengkajian status gizi.
Data hasil pengkajian status gizi ini harus dievalusi ulang secara teratur untuk
mendapatkan informasi yang terus menerus mengenai kebutuhna gizi masing-
masing pasien.
1. Anamnesa Riwayat Gizi
Anamnesis riwayat gizi secara kualitatif dilakukan untuk memperoleh
gambaran kebiasaan makan atau pola makan sehari berdasarkan frekuensi
penggunaan bahan makan. Anamnesis secara kuantitatif dilakukan untuk
4

mendapatkan gambaran asupan zat gizi sehari, dengan cara recall 24 jam selama 3
hari, yang diukur dengan menggunakan atau diet meliputi food recall 24 jam
terakhir. Alergi, kegemaran, intoleransi terhadap makanan dan riwayat berat
badan, Data gizi kemudian disimpulkan dalam bentuk kecukupan konsumsi
makanan sesuai kebutuhan dan masalah lain yang ditemukan berkaitan dengan
gizi (Jellife, 1966).
2. Antropometri
Antropometri adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri dapat dilakukan dengan berbagai cara pada setiap pasien dilakukan
pengukuran antropometri Tinggi badan (TB)/Panjang Badan (PB) dan Berat
Badan (BB). Pada kondisi tinggi badan pasien tidak dapat diukur, dapat dilakukan
pengukuran rentang lengan atau separuh rentang lengan atau tinggi lutut.
Pengukuran antropometri lain seperti Lingkar Lengan Atas (LLA), skin fold
thickness, lingkar kepala, Lingkar dada, RLPP (Rasio Lingkar Pinggang Pinggul)
dapat dilakukan sesuai kebutuhan (Jellife, 1966).
3. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan
biokimia dalam rangka mendukung doagnosa penyakit serta menengakan masalah
gizi pasien. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk menentukan intervensi gizi dan
memonitor atau mengevaluasi terapi gizi. Pemeriksaan laboratorium yang perlu
dilakukan antara lain : pemeriksaan darah (Hb, Kolesterol total, HDL, LDL, gula
darah, ureum, creatine, asam urat, trigliserida dll), urine (glukosa, kadar gula,
albumin), dan feses (Jellife, 1966).
4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi kesan klinis keadaan gizi, jaringan lemak
subkutan, trofi otot dan defisiensi zat gizi lainnya. Pemeriksaan fisik dilakukan
untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berhubungan dengan gangguan gizi
atau untuk menentukan hubungan sebab akibat antara status gizi dengan kesehatan
serta menentukan terapi obat dan diet. Pemeriksaan fisik meliputi : Tanda-tanda
klinis kurang gizi (sangat kurus, pucat atau bengkak) atau gizi lebih (gemuk atau
sangat gemuk atau obesitas), sistem kardiovaskuler, sistem pernapasan, system
5

gastrointestinal, system metabolik atau endokrin dan sistem neurologic atau


psikiatrik (Jellife, 1966).

2.2.2 Perhitungan Status Gizi


Pengeluaran Energi Basal (BEE) adalah pengeluaran kalori secara teoritis
dalam keadaan puasa dan istirahat tanpa stress. Setelah diperoleh nilai IMT, maka
dapat dihitung nilai dari Angka Metabolisme Basal (AMB). Rumus yang
digunakan untuk menghitung nilai AMB adalah sebagai berikut.
BEE (pria) = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) – (6,8 x U)

BEE (wanita) = 655 + (9,6 x BB) + (1,7 x TB) – (4,7 x U)

Keterangan :
BEE = Basal Energy Expenditure (Kal)
BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (cm)
U = Umur (tahun)
Angka faktor aktivitas akan sangat mempengaruhi nilai dari Total Kebutuhan
Energi (TKE) sehari atau TDE (Total Dietary Energy). Penentuan nilai angka faktor
aktivitas dan faktor stress dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Faktor aktivitas dan faktor stress untuk orang sakit


Faktor
Faktor Aktivitas Jenis trauma/stress
Stress
1,2 Tirah Baring Tidak ada stress, pasien dalam keadaan gizi baik 1,3
Stress ringan: peradangan saluran cerna, kanker,
1,4
bedah elektif, trauma kerangka moderat
Stress sedang:sepsis, bedah tulang, luka baker,
1,5
trauma kerangka mayor
1,3 Ambulatory Stress berat: trauma multiple, sepsis, dan bedah
1,6
multisystem
Stress sangat berat: luka kepala berat, sindroma
1,7
penyakit pernafasan akut, luka baker, dan sepsis
Luka bakar sangat berat 2,1
Sumber : Almatsir 2006

Rumus penentuan status gizi RSUP Persahabatan berdasarkan Indeks Massa


Tubuh (IMT) sebagai berikut:
6

BB ( Kg )
IMT =
TB 2 (m 2 )

Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dilihat pada Tabel 2. Kategori
Indeks Massa Tubuh (IMT) di bawah ini.
Tabel 2. Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT)
Nilai IMT (kg/m2) Keterangan
Keterangan :
< 18,5 Underweight
IMT = Indeks Massa
18,5 – 22,9 Normal Tubuh
23,5 – 24,9 At Risk BB = Berat Badan
≥ 23 Overweight (kg)
≥ 25 Obese I TB = Tinggi
≥ 30 Obese II Badan (cm)

Sumber : Dewa 2001

2.2.3 Perhitungan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi

Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam
keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan
tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indikator
yang baik untuk menilai status gizi saat ini. Setelah diperoleh nilai IMT, maka
dapat dihitung nilai dari Angka Metabolisme Basal (AMB). Rumus yang
digunakan untuk menghitung nilai AMB adalah sebagai berikut. Berat badan ideal
tergantung pada besar kerangka dan komposisi tubuh, yaitu otot dan lemak. Cara
menetapkan berat badan ideal dengan menggunakan rumus Brocca, yaitu :

Berat Badan Ideal: (TB-100) – 10% (TB-100)

Pengeluaran energi basal adalah pengeluaran energi secara teoritis dalam


keadaan puasa dan istirahat tanpa stres. Persamaan Harris Bennedict dapat
digunakan dalam menghitung AMB ketika memperkirakan energi pasien.

AMB untuk Wanita : 655 + (9,6xBB) + (1,7xTB) – (4,7xU)


AMB untuk Pria : 66 + (13,7xBB) + (5xTB) – (6,8xU)
7

Keterangan:
TB : Tinggi Badan (cm)
BB : Berat Badan (kg)
U : Usia (thn)

Angka faktor aktivitas akan sangat mempengaruhi nilai dari Total Kebutuhan Energi
(TKE) sehari atau TDE (Total Dietary Energy).

TDE : BEE X FA X IF

2.3 Perencanaan Pelayanan Gizi


Pelayanan Gizi adalah rangkaian kegiatan terapi gizi medis yang dilakukan
di institusi kesehatan ( rumah sakit), puskesmas dan institusi kesehatan lain untuk
memenuhi kebutuhan gizi klen atau pasien (Depkes, 2003).
Implementasi pelayanan gizi hendaknya sesuai dengan rencana yang disusun
dalam hal penyediaan diet yang tepat secara oral, enteral, atau parenteral,
pengukuran biokimia darah dan urin yang diperlukan, pengukuran atropometri,
serta penyuluhan dan konsultasi gizi yang sesuai.
Perskripsi diet atau rencana diet adalah kebutuhan zat gizi pasien yang
dihitung berdasarkan status gizi, degenerasi penyakit dan kondisi
kesehatannya.Berikut bentuk makanan yang diberikan kepada pasien dalam
keadaan khusus, yaitu:
1. Makanan Lunak
Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah dikunyah,
ditelan dan dicerna dibandingkan makanan biasa. Makanan lunak diberikan
kepada pasien sesudah operasi tertentu, pasien penyakit infeksi dengan
kenaikan suhu tubuh tidak terlalu tinggi, pasien dengan kesulitan mengunyah
dan menelan, serta sebagai perpindahan dari makanan saring ke makanan
lunak.
2. Makanan Saring
Makanan saring adalah makanan semi padat yang mempunyai tekstur lebih
halus daripada makanan lunak, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna.
8

Menurut keadaan penyakit, makanan saring dapat diberikan kepada pasien


sesudah mengalami operasi tertentu, pada infeksi akut termasuk infeksi
saluran cerna, serta kepada pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan,
atau sebagai perpindahan dari makanan cair ke makanan lunak.

3. Makanan Cair
Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga
kental. Makanan ini diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan
mengunyah, menelan dan mencerba makanan yang disebaabkan oleh
menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, serta pra dan pasca
bedah. Makanan dapat diberikan secara oral atau parenteral.
Pemberian makanan bagi pasien disesuaikan dengan jenis diet yang diberikan.
Adapun jenis-jenis dietnya adalah
1. Diabetes mellitus (DM)
Diabetes mellitus (DM) adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
hormone insulin secara absolute atau relaive. Pelaksanaan diet hendaknya
disertai dengan latihan jasmani dan perubahan perilaku tentang makanan. Diet
yang digunakan sebagai bagian dari penatalaksanaan disbetes mellitus
dikontrol berdasarkan energy, protein, lemak dan karbohidrat.
2. Diet Hati
• Diet Hati I
Diet hati I diberikan bila pasien dalam keadaan akut atau bila pre koma dapat
diatasi dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan. Melihat keadaan
pasien, makanan yang diberikan dalam bentuk cincang atau lunak. Pemberian
protein dibatasi (30g/hari) dan lemak diberikan dalam bentuk mudah dicerna.
Formula enteral dengan asam amino rantai cabang yaitu leusin, isoleusin dan
valin dapat digunakan. Bila ada asites dan dieresis belum sempurna,
pemberian cairan minimal 1 liter per hari. Makanan ini rendah energi, protein,
kalsium, zat besi dan thiamin, oleh karena itu sebaiknya diberikan selama
beberapa hari saja. Menurut beratnya retensi garam atau air, makanan
9

diberikan sebagai diet hati I rendah garam. Bila ada asites hebat dan tanda-
tanda diuresis belum membaik, diberikan Diet Hati I. untuk menambah
kandungan energy, selain makanan peroral juga diberikan makanan parenteral
berupa cairan glukosa.

• Diet Hati II
Diet hati II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati I kepada
pasien yang nafsu makannya cukup. Menurut keadaan pasien, makanan
diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan ini mengandung cukup
energi, zat besi, vitamin A dan C, tetapi kurang kalsium dan tiamin. Menurut
beratnya retensi garam atau air, makanan diberikan sebagai diet hati II garam
rendah. Bila ada asites hebat dan dieresis belum baik, diet mengikuti pola Diet
Rendah Garam I.
• Diet Hati III
Diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati II atau
kepada pasein hepatitis akut dan sirosis hati yang nafsu makannya telah baik,
dapat menerima protein, dan tidak menunjukan gejala sirosis hati aktif.
Menurut kesanggupan pasien, makanan diberikan dalam bentuk lunak atau
biasa.. makanan ini mengandung cukup energi, protein, lemak, mineral dan
vitamin, tetapi tinggi karbohidrat. Menurut beratnya retensi garam dan air,
makanan diberikan sebagai Diet Hati III Rendah Garam I.
3. Diet Jantung
• Diet Jantung I
Diet Jantung diberikan pada pasien penyakit jantung akut seperti
dekompensasi kordis berat. Diet diberikan berupa 1-1,5 liter cairan/hari
selama 1-2 hari pertama bila pasien dapat menerimanya. Diet ini sangat
rendah garam dan semua zat gizi, sehingga sebaiknya diberikan 1-3 hari.
• Diet Jantung II
Diet Jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Diet
diberikan sebagai perpindahan dari Diet Jantung II atau setelah faseakut dapat
10

diatasi. Jika disertai hipertensi atau edema, diberikan sebagai Diet Jantung II
Rendah Garam. Diet ini rendah energi, protein, tiamin dan kalsium.
• Diet Jantung III
Diet Jantung III diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Diet diberikan
sebagai perpindahan dari diet jantung III atau kepada pasien jantung dengan
kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi atau edema, diberikan
sebagai Diet Jantung III Rendah Garam. Diet ini rendah energy dan kalsium
tapi cukup zat gizi lainnya.
• Diet Jantung IV
Diet Jantung IV diberikan dalam bentuk makanan biasa. Diet ini diberikan
sebagai perpindahan dari Diet Jantung III atau kepada pasien jantung dengan
kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi dan atau edema,
diberikan sebagai Diet Jantung IV Garam Rendah. Diet ini cukup energi dan
zat gizi lain, kecuali kalsium.
4. Diet Rendah Garam
Diet Rendah Garam adalah garam natrium seperti yang terdapat di dalam
garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder, natium benzoate,
dan vetsin (Monosodium Glutamat). Asupan natrium yang berlebihan,
terutama dalam bentuk natrium klorida, dapat menyebabkan edema atau asites
dan hipertensi. Penyakit-penyakit tertentu seperti yang terjadi pada penyakit
dekompensasi kordis, sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, toksemia pada
kehamilan, dan hipertensi esensial dapat menyebabkan gejala edema atau
asites atau hipertensi. Dalam keadaan demikian asupan garam natrium perlu
dibatasi.
• Diet Rendah Garam I (200-400 mg Na)
Diet Rendah Garam I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam
dapur.
• Diet Rendah Garam II (600-800 mg Na)
Diet Rendah Garam II diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet
11

Rendah Garam I. pada pengolahan makanannya boleh menggunakan ½ sdt (2


gr) garam dapur. Hindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
• Diet Rendah Garam III (1000-1200 mg Na)
Diet Rendah Garam III diberikan kepada pasien dengn edema, asites dan atau
hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet Rendah
Garam I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan 1 sdt (4 gr)
garam dapur.
5. Diet Lambung
• Diet Lambung I
Diet lambung I diberikan kepada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, pasca
pendarahan dan tifus abdominalis berat. Makanan diberikan dalam bentuk
saring dan merupakan perpindahan dari Diet Pasca-Hematemesis-Melena, atau
setelah fase akut teratasi. Makanan diberikan setiap 3 jam selama 1-2 hari saja
karena membosankan serta kurang energy, zat besi, tiamin dan vitamin C.
• Diet Lambung II
Diet Lambung II diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung I, kepada
pasien dengan Ulkus Peptikum atau Gastritis Kronis dan Tifus Abdominalis
ringan. Makanan berbentuk lunak, porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali
makanan lengkap dan 2-3 kali makanan selingan. Makanan ini cukup energy,
protein, vitamin C, tetapi kurang thiamin.
• Diet Lambung III
Diet Lambung III diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung II pada
pasien dengan Ulkus Peptikum, Gastritis kronik atau tifus abdominalis yang
hampir sembuh. Makanan berbentuk lunak atau biasa tergantung pada
toleransi pasien. Makanan ini cukup energy dan zat gizi lainnya.
6. Diet Rendah Protein
Diet Rendah Protein dalam pemakaian bahan makanan yang mengandung
protein sangat dibatasi. Untuk diet rendah protein 40 gram diberikan nasi, lauk
hewani, sayur dan buah, sedangkan lauk nabati tidak diberikan.
7. Diet Rendah Purin
Penggunaan bahan makanan adalah makanan yang rendah purin. Makanan
yang diberikan berupa nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah.
12

8. Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP)


Diet ini diberikan dalam bentuk makan biasa atau lunak ditambah bahan
makanan sumber protein tinggi seperti susu, telur dan daging. Diet ini
diberikan bila pasien telah mempunyai cukup nafsu makan dan dapat
menerima makanan lengkap. Diet dalam keadaan khusus diterjemahkan sesuai
dengan kebutuhan energi dan zat gizi pasien. Kebutuhan energi dan zat gizi ini
dalam implementasinya perlu untuk direncanakan sesuai dengan status gizi
pasien.

2.3.1 Implementasi Pelayanan Gizi


Implementasi pelayanan gizi disesuaikan dengan rencana yang disusun
dalam hal penyediaan diet yang tepat secara oral, enteral atau parenteral,
pengukuran biokimia darah dan urin yang diperlukan, pengukuran antropometri,
serta penyuluhan dan konsultasi gizi yang sesuai. Implementasi pelayanan gizi
dapat dilakukan melalui pengambilan studi kasus pasien (Almatsier, 2006).

2.3.2 Monitoring Dan Evaluasi


Implementasi pelayanan gizi dimonitor dan dievaluasi dengan
memperhatikan nilai biokimia darah dan urin, antropometri, asupan makanan,
perkembangan penyakit secara keseluruhan, sikap terhadap makanan, dan
pengetahuan tentang diet yang harus dijalani. Hasil evaluasi yang tidak sesuai atau
timbul masalah dilakukan peninjauan kembali terhadap tiap tahap proses
pelayanan gizi pada pasien rawat inap (Almatsier, 2006).
Survei diet atau penilaian konsumsi makanan adalah salah satu metode yang
digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Metode
pengukuran konsumsi makanan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Kegiatan
asuhan gizi dapat dilihat berdasarkan cara survey konsumsi makanan pasien.
Metode yang bersifat kualitatif biasanya untuk mengetahui frekuensi makan dan
menggali informasi tentang riwayat gizi dan kebiasaan makan. Sedangkan metode
kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi
sehingga dapat dihitung konsumsi zat gizi dengan menggunakan Daftar
Komposisi Bahan Makanan (DKBM), atau daftar lain yang diperlukan seperti
Daftar Ukuran Rumah Tangga (URT), Daftar Konversi Mentah Masak dan Daftar
Penyerapan Minyak (Dewa, 2001).
13

2.4 Pengukuran Konsumsi


Pengukuran konsumsi makanan adalah suatu cara penentuan status gizi
secara tidak langsung yang dapat dipakai sebagai bukti awal akan terjadinya
kekurangan gizi pada seseorang atau masyarakat. Hasil konsumsi makanan dapat
dipakai untuk berbagai macam tujuan antara lain : menentukan tingkat kecukupan
konsumsi gizi masyarakat, sebagai dasar perencanaan program gizi, pendidikan
gizi dan sebagainya. Metode-metode untuk pengukuran konsumsi secara
kuantitatif antara lain: metode recall 24 jam, perkiraan makanan (estimed food
records), penimbangan makanan (food weighing), metode food account, metode
inventaris dan pencatatan ( Willet, 1990 ).

2.4.1 Metode pengukuran (Food Weighing)


Pada metoda penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang
dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari.
Penimbangan makanan berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dana
penelitian dan tenaga tersedia. Langkah-langkahnya antara lain:
 Petugas menimbang dan mencatat bahan makanan/makanan yang
dikonsumsi dalam gram.
 Jumlah bahan makan yang dikonsumsi sehari, kemudian dianalisis dengan
menggunakan DKBM.
 Membandingkan hasilnya dengan kecukupan gizi yang dianjurkan.
2.4.2 Metode Pengukuran Food recall 24 jam

Food recall adalah kegiatan yang mencatat jenis dan jumlah bahan makanan
yang dikonsumsi pada periode selama 24 jam yang lalu. Dalam metode ini,
biasanya responden menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24
jam yang lalu. Biasanya dimulai sejak ia bangun pagi kemarin sampai dia istirahat
tidur malam harinya.
Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan food recall 24 jam
data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu
ditanyakan secara teliti dengan menggunakan URT (sendok, gelas, piring dan
lain-lain). Apabila pengukuran hanya dilakukan 1x24 jam, maka data yang
diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makan individu.
14

Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya
tidak berturut-turut. Langkah-langkah pelaksanaan recall 24 jam yaitu
pewawancara menanyakan kembali, mencatat semua makanan dan minuman yang
dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24
jam yang lalu, menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan
menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).
Metode recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan,
sebagai berikut:
Kelebihan metode recall 24 jam:
• Mudah meleksanakannya serta tidak terlalu membebani reponden.
• Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat
yang luas untuk wawancara.
• Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden.
• Dapat digunkan untuk responden yang buta huruf.
• Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu
sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari.
Kekurangan metode recall 24 jam:
• Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila hanya
dilakukan recall satu hari.
• Ketetapannya sangat tergantung pada daya ingat responden.
• The flat slop syndrome, yaitu kencenderungan bagi responden yang kurus
untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi
responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under estimate)
• Membutuhkan tenaga atau tugas yang terlatih dan terampil dan
menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai
menurut kebiasaan masyarakat.
• Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari
penelitian.
Keberhasilan metode recall 24 jam ini sangat ditentukan oleh daya ingat
responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara, maka untuk dapat
meningkatkan mutu data recall 24 jam dilakukan selama beberapa kali pada hari
yang berbeda, tergantung dari variasi menu keluarga dari hari ke hari.
15

Perkiraan besar porsi yang dimakan oleh pasien, misalnya: makanan


pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, buah dan snack. Jumlah yang dimakan ¾,
½, 1/3, ¼ atau habis. Pencatanan dilakukan dengan wawancara perhitungan
dilakukan mundur selama 24 jam dimulai pada setiap waktu makan untuk makan
pagi dan snack pada hari wawancara dilakukan serta malam dan siang hari pada 1
hari sebelumnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelayanan gizi di RSUP Persahabatan tahap yang dilakukan dengan cara


menyesuaikan keadaan pasien, keadaan klinis, status gizi dan status metabolisme
tubuhnya. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan
penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap
keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi pasien semakin buruk karena tidak
diperhatikan keadaan gizinya.
Terapi gizi menjadi salah satu factor penunjang utama penyembuhan yang
harus diperhatikan, agar pemberiannya tidak melebihi kemampuan organ tubuh
untuk melaksanakan fungsi metabolism. Terapi gizi selalu disesuaikan seiring
dengan perubahan fungsi organ selama penyembuhan. Dengan kata lain,
pemberian diet pasien harus dievaluasi dan diperbaiki sesuai dengan keadaan
klinis dan hasil pemeriksaan labolatorium, baik pasien rawat inap maupun rawat
jalan. Upaya peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat baik di dalam
maupun diluar rumah sakit, merupakan tugas dan tanggung jawab tenaga
kesehatan, terutama tenaga yang bergerak dibidang gizi. Mekanisme pelayanan
gizi di rumah sakit persahabatan dibedakan dalam dua kategori, rawat inap dan
rawat jalan.
3.1 Pasien Rawat Inap
Pelaksanaan asuhan gizi klinis kepada pasien rawat inap, pada tahap
pengkajian berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, antopometri, labolatorium dan
pemeriksaan lainnya. Dokter akan menetapkan terapi diet yang akan diberikan
kepada pasien.
1. Anamnesa riwayat gizi dan diet
16

Serangkaian kegiatan pelayanan gizi rawat inap di Rumah Sakit Umum


Pusat Persahabatan dilakukan dengan beberapa proses, diantarnya proses
administrasi yang mel/iputi pembayaran (tunai, askes, jamsostek, SKTM, gakin
dan asuransi lainnya). Proses pelayanan gizi rawat inap ditangani oleh ahli gizi
ruangan. Ahli gizi ruangan kemudian melakukan screening dengan
menggunakann SGA (Subjective Global Assessment) yang digunakan untuk
menentukan status gizi aktual pasien. SGA berisi deskripsi berat badan, asupan
makan, gejala gastrointestinal, kapasitas fungsional, deskripsi keadaan fungsi
tubuh, penyakit dan hubungannya dengan kebutuhan gizi serta pemeriksaan fisik.
Dari data tersebut dihitung skor SGA.
2. Pengukuran Antropometri
Antropometri adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri dapat dilakukan dengan berbagai cara pada setiap pasien dilakukan
pengukuran antropometri Tinggi badan (TB)/Panjang Badan (PB) dan Berat Badan (BB).
Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan menggunakan meteran penjahit dan
pengukuran berat badan dilakukan dengan timbangan berat badan yang tersedia
diruangan.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium didapat dengan melihat data rekam medik atau status
pasien. Data laboratorium terdiri dari pemeriksaan darah (Hb, Kolesterol total, HDL,
LDL, gula darah, ureum, creatine, asam urat, trigliserida dll), urine (glukosa, kadar gula,
albumin), dan feses.
4. Pengkajian Jasmani Untuk Pengkajian Status Gizi
Data antropometri digunakan untuk menghitung status gizi pasien
berdasarkan rumus brocca. Status gizi berkisar dari underweight, normal,
overweight dan obese II. Dalam menghitung kebutuhan energi diperlukan status
gizi normal dan menggunakan berat badan aktual. Apabila status gizi underweight
atau status gizi kurang, maka dalam menghitung kebutuhan energi ( Angka
Metabolisme Basal) menggunakan berat badan ideal. Setelah menentukan status
gizi dan angka metabolisme basal, maka menghitung kebutuhan TDE ( Total
Daily Energi ) dengan mengkalikan jumlah angka metabolisme basal dengan
faktor aktifitas dan faktor stress.
17

Pada tahap intervensi atau implementasi dapat dilakukan dengan berbagai


cara, seperti :
a. Bila pasien tidak melakukan terapi diet:
1. Pasien dipesankan makanan biasa (BK/NB/BTKTP/NTKTP) ke tempat
pengolahan makanan
2. Dari tempat pengolahan makanan didistribusikan ke ruang perawatan, di
ruang perawatan disajikan ke pasien.
3. Pasien mendapatkan anjuran dari dokter untuk mendapatkan penyuluhan
mengenai gizi umum tentang makanan seimbang yang diilakukan oleh ahli
gizi.
4. Pasien diamati untuk mengetahui besar asupan dan evaluasi gizi dengan
cara daily intake.
b. Bila melakukan terapi diet:
1. Bagi pasien yang direncanakan dengan makanan khusus atau diet yang
disesuaikan dengan keadaan fisik, psikis dan penyakit, kebiasaan makan dan
napsu makan.
2. Selama dirawat pasien memperoleh penyuluhan dan konseling gizi agar
diperoleh penyesuaian paham tentang dietnya dan pasien dapat menerima dan
menjalankan diet.
3. Pasien dipesankan makanan khusus ke tempat pengolahan makanan untuk
didistribusikan ke ruang perawatan, dan disajikan ke pasien.
4. Pasien diamati untuk mengetahui asupan dan evaluasi gizi dengan cara
Daily Intake 1 x 24 jam..
5. Saat akan pulang pasien memperoleh penyuluhan konseling gizi tentang
penerapan diet dirumah dan diberikan leaflet.
6. Bila memerlukan tindak lanjut, pasien diminta mengikuti proses pelayanan
gizi rawat jalan.
3.2 Studi Kasus
Studi kasus merupakan salah satu kegiatan praktek kerja lapang
manajemen asuhan gizi klinik di RSUP Persahabatan, dengan tujuan mahasiswa
dapat mengetahui pengkajian status gizi, perencanaan atau planning, intervensi
gizi dan pelaksanaan intervensi gizi dan pengevaluasian terhadap hasil intervensi.
18

Setiap mahasiswa melakukan studi kasus sebanyak 9 kasus dengan metode food
recall dan 1 kasus untuk metode food weighing.
Jumlah kasus yang diamati sebanyak 60 kasus yang terdiri dari 6
mahasiswa dengan kasus yang diamati 20 kasus demam dengan saluran
pencernaan,20 kasus bedah dan 20 kasus gagal jantung dan saluran pernafasan,
masing-masing mahasiswa mengamati 10 pasien yang terdiri dari :
 20 Kasus Pasien Bedah (18 Food Recall diruang bedah kelas dan
cempaka atas, dan 2 food weghing diruang cempaka atas)

 20 Kasus Pasien Demam( 18 Food Recall di ruang Melati atas, dahlia


atas, dahlia bawah dan cempaka bawah dan 2 Food Weighing diruang
Melati atas )

 20 Kasus Pasien CHF ( 18 Food Recall dan 2 Food Weighing diruang


kardiologi).

Pengkajian status gizi merupakan landasan yang memberikan data-data


dasar untuk penyelenggaraan terapi gizi dan diet yang optimal pada pasien, data-
data yang diambil meliputi data subjektif, objektif, assasement, dan planning
(SOAP). Keempat komponen ini memberikan arah bagi pengembangan rencana
terapi gizi. Data dari hasil pengkajian gizi harus dievaluasi ulang secara teratur
untuk mendapatkan informasi yang valid mengenai kebutuhan gizi masing-masing
pasien.
Metode pengkajian gizi dilakukan dengan dua metode, food recall dan
food weighing. Metode food recall adalah metode yang dilakukan dengan
mencatat dan mensurvei tingkat konsumsi pasien selama 24 jam. Food weighing
adalah mencatat makanan yang dikonsumsi pasien dan menimbang sisa makanan
pada setiap acara waktu makan.
3.2.1 Metode Food Recall
Food recall adalah kegiatan yang mencatat jenis dan jumlah bahan makanan
yang dikonsumsi pada periode selama 24 jam yang lalu. Dalam metode ini,
biasanya responden menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24
jam yang lalu. Biasanya dimulai sejak ia bangun pagi kemarin sampai dia istirahat
tidur malam harinya.
19

Pengamatan pasien di RSUP Persahabatan dengan menggunakan metode


food recall dilakukan sejak tanggal 1 Maret sampai 2 April 2010. Pengamatan
dilakukan kepada 9 pasien pada masing-masing kasus jenis penyakit. Pasien
diamati dengan menggunakan form daily intake, pasien diwawancara konsumsi
makananan pada setiap acara makan selama 24 hari sejak 1 Maret sampai 2 April
2010. Pasien diamati daily intake makanan selama 3 hari ( 3 x 24 jam ). Pasien
dan diagnosa penyakit yang diamati dengan menggunakan metode food recall
dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pasien dan Diagnosa Penyakit pada Studi Kasus Food Recall
Nama Ruangan
No Nama Pasien Diagnosa Diet
Mahasiswa
1 Stevia Budi Tn Rahman DHF Bk Dahlia Bawah
Tn Anggara DHF Bk Dahlia Atas
Nn Armelina DHF Bk Dahlia Atas
Tn Sutarno DHF Bk Dahlia Atas
Tn Fauzi DHF Bk Cempaka bawah
Ny Ngatinah DHF Bk Melati Atas
Tn Zulfahmi DHF Bk Melati Atas
Ny Sariyem Thyfoid Fever BDL II Melati Atas
Tn Musa Thyfoid Fever BDL II Cempaka Bawah

Lydia Silviani Tn Opik DHF Bk Dahlia Atas


Nn Unensih Thyfoid Fever BDL II Dahlia Bawah
Nn Reh DHF Bk Dahlia Bawah
Tn Saleh DHF Bk Dahlia Atas
Nn Dewi DHF Bk Melati Atas
Nn Elitya DHF Bk Melati Atas
Ny Soimah Thyfoid Fever+DHF BDL II Dahlia Atas
Tn Yulianto DHF BK Dahlia Bawah

2 Silvana Tn. Solihin CHF TDJII RGII Kardiologi


Tn. Saut CHF TDJIII RGIII Kardiologi
Tn. Ahpas CHF TDJII RGII Kardiologi
Ny Rohimah CHF + DM 1900 TDJII RGII DM 1900 Kardiologi
Tn Ramli CHF TDJII RGII Kardiologi
Tn Maman CHF TDJII RGII Kardiologi
Tn Mamit CHF TDJII RGII Kardiologi
Tn Kemin CHF TDJII RG II Kardiologi
Tn Sukardjo CHF TDDII RGII Kardiologi
Ny Henny CHF+DM 1700 TDDII RGII DM 1700 kardiologi

Ariani Tn Djunaedi CHF TDJII RGII Kardiologi


Tn Karman CHF TDJII RGII Kardiologi
Tn Ibrahim CHF TDJII RGII Kardiologi
Tn Suhartono CHF + DM 1900 TDJIII RGIII DM1900 Kardiologi
Tn Herry CHF +DM 1900 TDJII RGIIDM 1900 Kardiologi
Tn Heriyan CHF TDJII RGII Kardiologi
Tn Sudarmin CHF TDJII RGII Kardiologi
Ny Qomariyah CHF+DM 1700 TDJII RG IIDM1700 Kardiologi
Ny Sri CHF TDJII RGII Kardiologi
Ny Sukartini CHF TDJII RGII Kardiologi
20

4 Erni Apriani Ny. Diana Ros Spondilitis tb NTKTP Bedah kelas


Tn. Iwan Hematom Subdural NTKTP Bedah kelas
Tn Fikri Hematom Subdural NTKTP Bedah Kelas
Tn Riski Fr Terbuka NTKTP Cempaka Atas
Tn. Sukardi Traumna Amputansi NTKTP Cempaka Atas
Tn Tafsirun Traumna Amputansi NTKTP Cempaka Atas
Tn Alfin CKR NTKTP Cempaka Atas
Ny Untung CKR NTKTP Cempaka Atas
Nn Retno Skindeglovis NTKTP Cempaka Atas

Yudhi Tn. Ayub Hernia Inguinalis BTKTP Cempaka Atas


Ardianto Tn Ishak Hernia Inguinalis BTKTP Cempaka Atas
Tn Simin Hernia Inguinalis BTKTP Cempaka Atas
Tn Sukendar Hernia Scrotalis BTKTP Cempaka Atas
Tn Suparman Hernia Scrotalis BTKTP Cempaka Atas
Tn Tata Hernia Scrotalis BTKTP Cempaka Atas
Tn. Tubagus Hernia Inguinalis BTKTP Cempaka Atas
Tn. Usman Hernia Inguinalis BTKTP Cempaka Atas
Tn Dwi Hernia Scrotalis BTKTP Cempaka Atas

3.2.2 Metode Food Weighing


Pada metoda penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang
dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 3 x 24 jam.
Penimbangan makanan berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dana
penelitian dan tenaga tersedia. Langkah-langkah pelaksanan penimbangan
makanan sebagai berikut:
 Mahasiswa menimbang dan mencatat bahan makanan/makanan yang
dikonsumsi dalam gram.
 Jumlah bahan makan yang dikonsumsi sehari, kemudian dianalisis dengan
menggunakan DKBM.
 Membandingkan hasilnya dengan kecukupan gizi yang dianjurkan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran konsumsi dengan metode
Food Weighing bila terdapat sisa makan setelah makan maka perlu ditimbang sisa
makanan tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang
dikonsumsi oleh pasien. Pasien studi kasus food weighing dapat dilihat pada Tabel
4.
Tabel 4. Pasien dan Diagnosa Penyakit pada Studi Kasus Food Weighing
No. Nama Mahasiswa Nama pasien Diagnosa Penyakit Diet
Stevia
1. Tn Bastari Thyfoid Fever BDL II
Ny Mas’ah DHF BK
2 Lydia S
Tn Ali DHF+Hipertensi BRGIII
3 Silvana Tn Ramli CHF+DM TDJIII RGII DM1900
21

4 Ariani Tn Suhatono CHFZ+CAD+DM TDDIII RGIII DM 1900

5 Yudhi A Tn Undang Supriatna Chemical Burn NTKTP

6 Erni Apriani Ny Retno Skindegoving NTKTP

3.3 Rata-rata Kebutuhan Energi, Konsumsi dan Ketersediaan Pasien


Sesuai Jenis Penyakit
Metode pengukuran konsumsi makanan berdasarkan jenis data yang di
dapatkan dengan metode Food Weighing dan Food Recall. Perhitungan
didapatkan dari rata-rata asupan pasien sesuai dengan kebutuhannya. Tingkat
konsumsi pasien dibandingkan dengan tingkat kebutuhan dan ketersediaan.
Tingkat kebutuhan pasien berbeda sesuai dengan status gizi AMB, Faktor
aktivitas dan faktor stress. Ketersediaan diambil dari menu makanan rumah sakit
sesuai dengan standar diet yang diberikan.
3.3.1 Rata-rata Kebutuhan,Konsumsi dan Ketersediaan energi dan Protein
Pasien Demam dan Tifoid
Diet yang diberikan untuk pasien penderita demam DHF diberikan diet BK
dan tifoid diet BDL. Makan pagi yang diberikan berupa makanan pokok, sayuran
dan lauk hewani, untuk selingan pagi snack lunak, sedangkan makan siang dan
makan sore berupa makanan pokok, lauk nabati, lauk hewani dan sayuran. Diet
yang diberikan untuk pasien tifoid diberikan diet BDL II atau BDL III. Pada diet
lambung makan pagi yang diberikan berupa makanan pokok, lauk hewani dan
sayuran, untuk makan selingan diberikan sebanyak tiga kali yaitu pada pukul
10.00 berupa snack lunak, selingan sore pada pukul 16.00 diberikan susu
sebanyak 20g dan selingan malam pukul 18.00 sanck yang diberikan berupa roti
tawar isi palmsuiker 80g dan telur rebus 50 gram, sedangkan untuk makan siang
dan makan sore diberikan makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati dan sayuran.
Pada diet BDL III makan pagi yang diberikan sama seperti diet BDL II dan
ditambah makanan selingan sebanyak tiga kali yaitu pada snack pagi diberikan
snack lunak, snack sore berupa biskuit sebanyak 4 keping atau 40g dan snack
malam berupa susu sebanyak 20 g. Pada diet BRG III makanan yang diberikan
sama dengan diet lunak, hanya saja garam yang digunakan berupa garam dalam
bentuk shacet sebanyak 4 g yang diberikan pada makan siang dan makan sore.
22

Rata-rata kebutuhan dan asupan pasien menurut jenis penyakit dapat dilihat pada
Tabel 5.
Tabel 5. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi Pasien
Penderita Demam dan Tifoid.
Kebthn Asupan Tkt
Jmlh
Ketersd Status Energi Energi Kckpn
Diet Diagnosa Pasien
(Kal) Gizi (Kal) (Kal) (%)
P L P L P L P L
DHF 20 4 7 1987 2352 1214 1687 61.1 71.7
Bk DHF grade
1882 25.9 2 1 2155 2569 1414 1718 65.6 66.9
II
Tifoid
BDL II 22 1 2 2466 2284 1880 1726 76.2 75.6
Fever
Tifoid 21 1 - 2008 - 1526 - 76.0 -
BDL III 2064 Tifoid &
19.8 1 - 1960 - 1568 - 80.0 -
DHF
Tifoid &
BRG III 1882 20 - 1 - 2519 - 2450 - 97.3
Hipertensi
Rata-rata 2115 2431 1520 1895 71.9 78.1

Berdasarkan Tabel 5 dapat disimpulkan bahwa presentasi tingkat


kecukupan energi terendah pada pasien berjenis kelamin perempuan sebesar
61,1% dengan diagnosis DHF, sedangkan tingkat kecukupan energi tertinggi
sebesar 80% dengan diagnosis tifoid dan DHF. Pada pasien dengan jenis kelamin
laki-laki tingkat kecukupan energi terendah sebesar 66,9% dengan diagnosis DHF
grade II, dan tingkat kecukupan energi tertinggi sebesar 97,3% dengan diagnosis
DHF dengan hipertensi. Rata-rata kebutuhan energi pada pasien perempuan
sebesar 2115 kalori, Laki-laki 2431 kalori, Asupan energi rata-rata kebutuhan
energi 1895 kalori pasien pria, sedangkan pada pasien wanita 1520 kalori dan
Rata-rata tingkat kecukupan pada pasien pria 78,1%, sedagkan pada pasien wanita
71,9%. Rata-rata kebutuhan dan asupan protein pasien penyakit demam dan tifoid
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Protein
Pasien Penderita Demam dan Tifoid.
Kebthn Asupan
Tkt
Jmlh Protein Protein
Ketersd Status Kckpn
Diet Diagnosa Pasien (g) (g)
(Kal) Gizi (%)

P L P L P L P L
DHF 20 4 7 78.8 93.6 46.8 59.2 59.4 63.2
Bk DHF grade
1882 25.9 2 1 89.7 106.9 59.4 55.6 66.2 52.0
II
Tifoid
BDL II 22 1 2 92.5 85.6 63.6 59.2 68.8 69.2
Fever
Tifoid 21 1 - 83.6 - 49.7 - 59.4 -
BDL III 2064 Tifoid &
19.8 1 - 81.6 - 76.1 - 93.3 -
DHF
Tifoid &
BRG III 1882 20 - 1 - 104.7 - 98.0 - 93.6
Hipertensi
Rata-rata 85.2 57.7 59.1 68.0 69.3 69.6
23

Pada tingkat kecukupan protein terendah dengan jenis kelamin perempuan


sebesar 59.4% pada pasien DHF dan tifoid, dan tingkat kecukupan protein
tertinggi sebesar 93,3% dengan diagnosis tifoid suspect DHF. Pada tingkat
kecukupan protein terendah dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 52,0% dengan
diagnosis DHF grade II, sedangkan tingkat kecukupan protein tertinggi sebesar
93,6% dengan diagnosis DHF disertai hipertensi. Rata-rata kebutuhan protein 85,2
gram pada pasien dengan jenis kelamin perempuan dan 57.7 gram pada pasien
laki-laki. Rata-rata asupan protein pada pasien dengan jenis kelamin perempuan
59,1 gram, sedangkan pada laki-laki 68,0 gram dan rata-rata tingkat kecukupan
protein pada pasien engan jenis kelamin perempuan 69,3% dan laki-laki 69,6%.
3.3.2 Rata-rata Kebutuhan,Konsumsi dan Ketersediaan Energi, Protein ,
Lemak, Kabohidrat dan Natrium Pasien CHF
Diet yang diberikan untuk pasien dengan penyakit CHF (cardio heart
failure) yaitu TDD dengan konsistensi lunak (makanan bubur) untuk TDDII dan
konsistensi biasa (makanan nasi biasa) untuk pasien TDDIII . Diet ini digunakan
untuk membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh,
menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi (RG), dan memberikan makanan
secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung. Konsistensi yang diberikan terdiri
dari makanan lunak dan makanan biasa tergantung dari keadaan pasien. Rata-rata
kebutuhan dan asupan pasien menurut jenis penyakit dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi
Pasien dengan Cardio Heart Failure
Asupan
Kebthn
Ktrs Energi T. Kckpn
Status Jml Energi
Diet d Diagnosa (Kal) (%)
Gizi (Kal)
(Kal)
P L P L P L P L
CHF 180 240 193 192 107.
TDDII RGII 1953 22.9 - 3 80.1
Pnemonia 0 1 3 4 4
TDDIII RGIII CHF dengan 170 135
1700 24 1 - - - 79.6 -
DM1700 DM 1700 0 3
Stemi
TDDIII RGIII 180 191
1900 CHF dengan 26.9 - 5 - - - 106.2
DM1900 0 1
DM 1900
175 210 164 191
Rata-rata 93.5 93.2
0 0 3 7

Berdasarkan Tabel 7 dapat disimpulkan Pasien kasus CHF memiliki status


gizi normal, dan pasien CHF dengan DM memiliki status gizi at risk obesitas.
24

Tingkat kecukupan energi dan protein pasien CHF sudah cukup baik dengan rata-
rata tingkat kecukupan pasien adalah 93.3%, tingkat kecukupan tertinggi yaitu pada
perempuan dengan penyakit CHF sebesar 107.4%, dan tingkat kecukupan terendah
pada penyakit CHF dengan DM 1700 sebesar 79.6%. Rata-rata kebutuhan energi
pada pasien dengan jenis kelamin perempuan 1750 kalori, sedangkan pada pasien
dengan jenis kelamin laki-laki 2100 kalori, Rata-rata asupan energi pada pasien
dengan jenis kelamin perempuan 1643 kalori dan 1917 kalori pada pasien dengan
jenis kelamin laki-laki dan tingkat kecukupan 93,2% pada pasien perempuan dan
93,5% pada pasien laki-laki. Rata-rata status gizi, kebutuhan, asupan dan tingkat
kecukupan protein pasien dengan Cardio Heart Failure dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Protein
Pasien dengan Cardio Heart Failure
Kebthn Asupan
Ktrs T. Kckpn
Status Jml Protein Protein
Diet d Diagnosa (%)
Gizi (g) (g)
(Kal)
P L P L P L P L
CHF 1 67. 73. 67. 66. 99.
TDDII RGII 1953 22.9 3 74.1
Pnemonia 1 6 2 3 8 6
TDDIII RGIII CHF dengan DM 64. 50. 78.
1700 24 1 - - - -
DM1700 1700 9 9 4
Stemi
TDDIII RGIII 71. 70.
1900 CHF dengan DM 26.9 - 5 - - - 98.2
DM1900 3 0
1900
66. 72. 59. 68. 89.
Rata-rata 86.2
3 3 1 4 0

Rata-rata tingkat kecukupan protein adalah 86.2% untuk pasien laki-laki


dan 89.0% untuk pasein perempuan, dengan tingkat kecukupan tertinggi pada
penyakit CHF sebesar 99.6% dan tingkat kecukupan terendah pada CHF dengan
pnemonia sebesar 74.1% . Tingkat kecukupan tertinggi terdapat pada pasien CHF
pneumonia berjenis kelamin perempuan dengan tingkat kecukupan sebesar 99,6%.
Rata-rata kebutuhan protein pada pasien dengan jenis kelamin pria 66,3 gram dan
laki-laki 72,3 gram, Rata-rata asupan protein pada pasien dengan jenis kelamin
perempuan 59,1 gram dan pada laki-laki 68.4 gram dan rata-rata tingkat kecukupan
pada pasien perempuan 89% dan laki-laki 86,2%. Rata-rata kebutuhan Rata-rata
status gizi, kebutuhan, asupan dan tingkat kecukupan lemak dapat dilihat pada
Tabel 9.
Tabel 9. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Lemak
25

Pasien dengan Cardio Heart Failure


Kebthn Asupan
T. Kckpn
Ktrsd Status Jml Lemak Lemak
Diet Diagnosa (%)
(Kal) Gizi (g) (g)
P L P L P L P L
TDDII CHF
1953 22.9 3 11 40.0 53.3 34.7 37.2 86.8 69.8
RGII Pnemonia
TDDIII
CHF dengan
RGIII 1700 24 1 - 38.4 - 29.4 - 76.6 -
DM 1700
DM1700
TDDIII Stemi
RGIII 1900 CHF DM 26.9 - 5 - 42.3 - 30.6 - 72.3
DM1900 1900
Rata-rata 39.2 47.8 32.1 33.9 81.7 71.1

Berdasarkan Tabel 9 dapat disimpulkan tingkat kecukupan lemak pasien


dengan CHF sudah cukup baik dengan rata-rata tingkat kecukupan lemak pasien
perempuan dan laki-laki adalah 76.4%, tingkat kecukupan lemak tertinggi yaitu
pada pasien CHF sebesar 86.8%, dan tingkat kecukupan lemak terendah pada CHF
dengan DM 1900 sebesar 69,8%. Rata-rata kebutuhan lemak pada pasien dengan
jenis kelamin perempuan 39,2 gram dan laki-laki 47,8 gram, rata-rata asupan lemak
pada pasien dengan jenis kelamin perempuan 32,1 gram dan 33,9 gram pada pasien
laki-laki dan rata-rata tingkat kecukupan 81,7% pada pasien dengan jenis kelamin
perempuan dan 71,1% pada pasien laki-laki. Rata-rata satus gizi, kebutuhan, asupan
dan tingkat kecukupan karbohidrat dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan
Karbohidrat Pasien dengan Cardio Heart Failure
Kebthn Asupan
T. Kckpn
Ktrsd Status Jml Khdrat Khdrat
Diet Diagnosa (%)
(Kal) Gizi (g) (g)
P L P L P L P L
TDDII CHF
1953 22.9 3 11 292.5 390.2 313.8 321.6 107.3 82.4
RGII Pnemonia
TDDIII CHF
RGIII 1700 dengan 24 1 - 281.1 - 260.3 - 92.6 -
DM1700 DM 1700
TDDIII Stemi
RGIII 1900 CHF DM 26.9 - 5 - 308.8 - 324.4 - 105.1
DM1900 1900
Rata-rata 286.8 349.5 287.1 323.0 99.9 93.8

Berdasarkan Tabel 10 dapat disimpulkan tingkat kecukupan karbohidrat


pasien dengan CHF sudah cukup baik dengan rata-rata tingkat kecukupan
karbohidrat pasien perempuan dan laki-laki adalah 96.8%, Rata-rata tingkat
kecukupan karbohidrat tertinggi pada pasien CHF perempuan sebesar 107.3% dan
tingkat kecukupan terendah pada CHF Pnemonia laki-laki dengan 82.4%. Rata-
rata kebutuhan karbohidrat pada pasien dengan jenis kelamin perempuan 286,8
26

gram dan 349,5 gram pada pasien laki-laki, rata-rata asupan karbohidrat 287,1
gram pada pasien dengan jenis kelamin perempuan dan 323,0 gram pada pasien
dengan jenis kelamin laki-laki dan rata-rata tingkat kecukupan pada pasien dengan
jenis kelamin perempuan 99,9% dan 93,8% pada pasien dengan jenis kelamin
laki-laki. Rata-rata satus gizi, kebutuhan, asupan dan tingkat kecukupan
karbohidrat dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Natrium
Pasien dengan Cardio Heart Failure
Kebthn Asupan
T. Kckpn
Ktrsd Status Jml Natrium Natrium
Diet Diagnosa (%)
(Kal) Gizi (mg) (mg)
P L P L P L P L
CHF 166.
TDDII RGII 1953 22.9 3 11 600 600 1000 1000 166.6
Pnemonia 6
TDDIII RGIII CHF dengan 100
1700 24 1 - - 1000 - 100 -
DM1700 DM 1700 0
Stemi
TDDIII 100
1900 CHF dengan 26.9 - 5 - - 1000 - 100
RGIIIDM1900 0
DM 1900
133.
Rata-rata 800 800 1000 1000 133.3
3

Berdasarkan Tabel 11 kecukupan natrium pasien CHF sudah sangat baik


dengan rata-rata tingkat kecukupan natrium pasien adalah 133.3% tingkat
kecukupan natrium tertinggi yaitu pada penderita CHF sebesar 166.6%, dan
tingkat kecukupan natrium terendah pada CHF dengan DM 1700 dan DM 1900
sebesar 100%.

3.3.3 Rata-rata Kebutuhan,Konsumsi dan Ketersediaan Energi dan Protein


Pasien Bedah
Diet yang diberikan untuk pasien tindakan bedah yaitu TKTP (Tinggi
Kalori dan Tinggi Protein) dengan konsistensi bubur (makanan lunak) untuk pasca
bedah abdomen dan konsistensi (makanan biasa) nasi untuk pasca bedah fraktur
tulang. Diet ini digunakan untuk mencegah, mengurangi dan memperbaiki
kerusakan jaringan tubuh akibat tindakan pembedahan.
Konsistensi yang diberikan terdiri dari makanan lunak dan makanan biasa
tergantung dari keadaan pasien. Pasien dengan tindakan bedah abdomen diberikan
27

konsistensi bubur. Hidangan diet energi tinggi protein tinggi terdiri dari makanan
pokok, lauk nabati, sayur, buah, dan satu hidangan ekstra pada acara waktu makan
siang dan malam dan untuk selingan diberikan snack dan susu 2 kali pemberian
pada makan pagi dan selingan pagi.
Pasien pasca tindakan bedah memerlukan energi yang tinggi dalam rangka
pemulihan jaringan tubuh yang rusak. Bedah hernia dan fraktur tulang merupakan
salah satu contoh pasien pasca tindakan bedah. Berikut rata-rata satus gizi,
kebutuhan, asupan dan tingkat kecukupan energi dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi
Pasien dengan Tindakan Bedah
Asupan
Kebthn
Ktrs Energi T. Kckpn
Status Jml Energi
Diet d Diagnosa (Kal) (%)
Gizi (Kal)
(Kal)
P L P L P L P L
Hernia Inguinalis & 1 237 186
BTKTP 2057 21.1 - - - - 78.4
Scrotalis 0 7 3
Skin deglosing 20 218 137 62.
2 - - - -
7 4 8
Hematom 20 218 146 66.
1 - - - -
3 0 9
Spondilitis TB 19 209 203 97.
1 - - - -
3 8 4
Haemotom Subrudal 21 261 161
NTKTP 2187 - 1 - - - 61.7
1 0
Fraktur Metatarsal 17 260 146
- 1 - - - 56.1
4 0
Fr Tulang Terbuka 20 260 190
- 1 - - - 73.1
4 4
Traumatic Amputasi 18,4 253 146
- 1 - - - 57.7
1 0
215 254 164 165 75,
Rata-rata 65,1
3 5 2 9 4

Berdasarkan Tabel 12 dapat disimpulkan Pasien kasus tindakan bedah


memiliki status gizi normal. Tingkat kecukupan energi pasien dengan tindakan
bedah sudah cukup baik dengan rata-rata tingkat kecukupan pasien perempuan dan
laki-laki adalah 70.5%, tingkat kecukupan tertinggi yaitu pada pasien spondilitis tb
sebesar 97.4% dan tingkat kecukupan terendah pada penderita fraktur metatarsal
sebesar 56.1% dengan jenis kelamin laki-laki.
Rata-rata kebutuhan energi pada pasien dengan jenis kelamin perempuan
2153 kalori dan 2545 kalori pada pasien laki-laki, rata-rata asupan energi pada
pasien dengan jenis kelamin perempuan 1624 kalori dan 1659 kalori pada pasien
28

dengan jenis kelamin laki-laki dan rata-rata tingkat kecukupan pada pasien dengan
jenis kelamin perempuan 75,4% dan 65,1% pada pasien dengan jenis kelamin laki-
laki.
Asupan yang berkurang dapat disebabkan oleh menurunya napsu makan,
pasien bedah pada umumnya memilki nafsu makan menurun karena adanya rasa
nyeri yang timbul maupun rasa nyeri terus-menerus. Rata-rata tingkat kecukupan
protein pasien perempuan adalah 75.4%, dengan tingkat kecukupan protein
tertinggi pada pasien berjenis kelamin wanita spondilitis tb sebesar 139.1% pada
pasien spondilitis tb dan tingkat kecukupan terendah pada hernia sebesar 55.6%
pada pasien laki-laki Hernia inguinalis dan scrotalis. Rata-rata kebutuhan protein
pada pasien dengan jenis kelamin perempuan 80,8 gram dan 84,3 gram pada pasien
dengan jenis kelamin laki-laki, rata-rata asupan protein pada pasien dengan jenis
kelamin perempuan 75,7 gram dam 65,5 gram pada pasien dengan jenis kelamin
laki-laki dan rata-rata tingkat kecukupan pada pasien dengan jenis kelamin pria
93,6% dan 77,6% pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki. Rata-rata satus gizi,
kebutuhan, asupan dan tingkat kecukupan protein dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Rata-rata Status gizi, Kebutuhan, Asupan dan Tingkat Kecukupan Protein Pasien
dengan Tindakan Bedah
Kebthn Asupan
Ktrs T. Kckpn
Status Jml Protein Protein
Diet d Diagnosa (%)
Gizi (g) (g)
(Kal)
P L P L P L P L
Hernia
1 120. 68.
BTKTP 2057 Inguinalis & 21.1 - - - - 55.6
0 8 4
Scrotalis
Skin 20
2 - 82 - 62.4 - 76 -
deglosing
Hematom 20 81.
1 - - 55.3 - 67.6 -
8
Spondilitis 19 78. 109. 139.
1 - - - -
TB 6 3 1
Haemotom 21 68.
NTKTP 2187 - 1 - 75.8 - - 90.9
Subrudal 9
Fraktur 17 55.
- 1 - 65.1 - - 84.9
Metatarsal 3
Fr Tulang 20 79.
- 1 - 65.1 - - 122.4
Terbuka 7
Traumatic 18,4 55.
- 1 - 94.9 - - 58.3
Amputasi 3
80. 65.
Rata-Rata 84.3 75.7 94.2 82.4
8 5

3.4 Jenis Makanan, Frekuensi Makan Pasien Sesuai dengan Diet yang
Diberikan
29

1. Diabetes mellitus (DM)


Diet Diabetes mellitus (DM) diberikan makanan yang tinggi serta
mengontrol asupan glukosa terutama yang berasal dari bahan makanan tinggi
karbohidrat dan gula seperti beras, kentang, tepung-tepungan, dan berbagai
macam gula. Diet Diabetes Melitus yang didapat selama studi kasus yaitu DM
1500, DM 1700, DM 1900 dan DM 2100. Perbedaan diet tersebut membedakan
pemberian makanan pokok yang disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan
pasien. Setiap diet DM diberikan sayur dua macam. Untuk DM 4 porsi diberikan
ekstra roti pada malam hari. Snack yang diberikan untuk diet DM adalah buah
pepaya dan pisang yang dikonsumsi dua kali pada jam 10.00 sdan jam 16.00
tetapi pemberiannya pada jam 10.00. Diet DM diberikan pula gula rendah kalori
sebanyak 2 bungkus perhari.

2. Diet Jantung
Diet jantung terdiri dari DJ I, DJ II, DJ III dan DJ IV. Ketersediaan DJ I,
II, III dan IV dibedakan berdasarkan jumlah kalori serta memperhatikan
kemampuan pasien dalam menerima makanan.
• Diet Jantung II
Diet jantung II diberikan tanpa lauk nabati yang diganti dengan penambahan
ekstra sayur pada waktu makan siang dan sore. Pasien dengan DJ II belum
dapat menerima makanan dengan baik, jumlah kalori pada DJ II masih belum
memenuhi kebutuhan. Jam 10.00 diberikan snack manis dan susu. Jam 16.00
diberikan buah. Apabila disertai hipertensi dan edema atau untuk menghindari
penimbunan cairan diet yang diberikan DJ II, Rendah Garam II.
• Diet Jantung III
Diet Jantung III diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makan pagi
diberikan roti dan telur atau makanan pokok, lauk hemani dan sayur. Jam
10.00 diberikan snack dan teh manis. Siang dan sore diberiikan makanan
pokok, lauk hewani, lauk nabati dan sayur. Jam 16.00 diberikan buah. Gula
pasir untuk minuman diberikan tiga bungkus dengan ukuran 10 g tiap
bungkus. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung III atau kepada
30

pasien jantung dengan kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi
atau edema, diberikan sebagai Diet Jantung III Rendah Garam III.
• Diet Jantung IV
Diet Jantung IV diberikan dalam bentuk makanan biasa. Makanan yang
diberikan sama dengan diet jantung III perbedaan hanya dalam jumlah kalori
dan konsistensi makanan. Diet ini diberikan sebagai perpindahan dari Diet
Jantung III atau kepada pasien jantung dengan kondisi yang tidak terlalu berat.
Jika disertai hipertensi dan atau edema, diberikan sebagai Diet Jantung IV
Garam Rendah. Diet ini cukup energy dan zat gizi lain, kecuali kalsium.
3. Diet Lambung
• Diet Lambung II
Diet Lambung II diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung I,
kepada pasien dengan Ulkus Peptikum atau Gastritis Kronis dan Tifus
Abdominalis ringan. Makanan berbentuk lunak. Makan pagi diberikan roti isi dan
telur atau makanan pokok, lauk hewani dan sayur. Siang dan sore dberikan
makanan pokok, lauk hewan, lauk nabati, sayur dan buah. Snack yang diberikan
pada jam 10.00 adalah biskuit dan susu. Pada pukul 20.00 diberikan tambahan roti
isi palm suiker. Makanan diberikan dalam porsi kecil namun sering.
• Diet Lambung III
Diet Lambung III diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung II
pada pasien dengan Ulkus Peptikum, Gastritis kronik atau tifus abdominalis yang
hampir sembuh. Makanan berbentuk lunak atau biasa tergantung pada toleransi
pasien. Pada jam 10.00 diberikan snack dan pada pukul 20.00 diberikan biskuit
sebanyak 3 keping. Makanan ini cukup energy dan zat gizi lainnya.

4. Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP)


Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) adalah diet yang mengandung
energi dan protein tinggi untuk memulihkan kondisi pasien. Diet ini diberikan
dalam bentuk makan biasa atau lunak ditambah bahan makanan sumber protein
tinggi seperti susu, telur dan daging. Tambahan kalori dan protein diperoleh dari
pemberian lauk hewani pada makan siang. Lauk hewani diberikan dua macam.
Untuk snack TKTP diberikan snack manis ditambah dengan susu. Susu diberikan
31

satu kali yaitu pada pukul 10.00, seharusnya susu untuk TKTP diberikan dua kali.
Pemberian satu kali susu disebabkan tidak adanya petugas khusus untuk
memorsikan dan mendistribusikan susu. Diet TKTP diberikan bila pasien telah
mempunyai cukup nafsu makan dan dapat menerima makanan lengkap. Diet
TKTP diberikan pada pasien Tuberkolusis, Pasca bedah, yang memerlukan lebih
banyak nutrisi untuk penyembuhan luka, trauma atau infeksi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
• Pelayanan gizi rawat inap dilakukan oleh ahli gizi di RSUP Persahabatan
dengan cara pengkajian melalui anamnesa riwayat gizi dan diet,
pengukuran antropometri, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
fisik untuk pengkajian status gizi. Anamnesa SGA dilakukan untuk
memperoleh kebiasaan makan pasien, gaya hidup dan gambaran asupan
zat gizi sehari, anamnesa ini dilakukan dengan evaluasi asupan selama 3
hari menggunakan form daily intake. Pengukuran antopometri digunakan
untuk mengetahui status gizi dan berat badan ideal, alat yang digunakan
untuk pemeriksaan fisik berat badan adalah timbangan injak,sedangkan
untuk pengukuran tinggi badan menggunakn meteran jahit. Pemeriksaan
laboratorium meliputi pemeriksaan darah, urin dan feses. Pemeriksaan
terakhir adalah pemeriksaan fisik dan status gizi,pemeriksaan ini
menentukan angka metabolisme basal dan total daily energi. Total Daily
Energi dihasilkan dari angka metabolisme basal dikalikan dengan faktor
aktivitas dan faktor stress.
32

• Jumlah kasus yang diamati sebanyak 60 kasus yang terdiri dari 6


mahasiswa dengan kasus yang diamati 20 kasus demam dengan saluran
pencernaan,20 kasus bedah dan 20 kasus gagal jantung dan saluran
pernafasan, masing-masing mahasiswa mengamati 10 pasien yang terdiri
dari : 20 Kasus Pasien Bedah (18 Food Recall diruang bedah kelas dan
cempaka atas, dan 2 food weghing diruang cempaka atas), 20 Kasus Pasien
Demam( 18 Food Recall di ruang Melati atas, dahlia atas, dahlia bawah
dan cempaka bawah dan 2 Food Weighing diruang Melati atas ) dan 20
Kasus Pasien CHF ( 18 Food Recall dan 2 Food Weighing diruang
kardiologi).
• Rata-rata kebutuhan energi pada pasien DHF dan Tifoid perempuan
sebesar 2115 kalori, Laki-laki 2431 kalori, Asupan energi rata-rata
kebutuhan energi 1895 kalori pasien pria, sedangkan pada pasien wanita
1520 kalori dan Rata-rata tingkat kecukupan pada pasien pria 78,1%,
sedangkan pada pasien wanita 71,9%.
• Rata-rata kebutuhan protein 85,2 gram pada pasien dengan jenis kelamin
perempuan dan 57.7 gram pada pasien laki-laki, rata-rata asupan protein
pada pasien dengan jenis kelamin perempuan 59,1 gram, sedangkan pada
laki-laki 68 gram dan rata-rata tingkat kecukupan protein pada pasien
dengan jenis kelamin perempuan 69,3% dan laki-laki 69,6%.
• Rata-rata kebutuhan energi pada pasien CHF dengan jenis kelamin
perempuan 1750 kalori, sedangkan pada pasien dengan jenis kelamin laki-
laki 2100 kalori, Rata-rata asupan energi pada pasien dengan jenis kelamin
perempuan 1643 kalori dan 1917 kalori pada pasien dengan jenis kelamin
laki-laki dan tingkat kecukupan 93,5% pada pasien perempuan dan 93,2%
pada pasien laki-laki.
• Rata-rata kebutuhan protein pada pasien dengan jenis kelamin pria 66,3
gram dan laki-laki 72,3 gram, Rata-rata asupan protein pada pasien dengan
jenis kelamin perempuan 59,1 gram dan pada laki-laki 68.4 gram dan rata-
rata tingkat kecukupan pada pasien perempuan 89% dan laki-laki 86,2%,
• Rata-rata kebutuhan lemak pada pasien dengan jenis kelamin perempuan
39,2 gram dan laki-laki 47,8 gram, rata-rata asupan lemak pada pasien
33

dengan jenis kelamin perempuan 32,1 gram dan 33,9 gram pada pasien
laki-laki dan rata-rata tingkat kecukupan 81,7% pada pasien dengan jenis
kelamin pria dan 71,1% pada pasien laki-laki.
• Rata-rata kebutuhan karbohidrat pada pasien dengan jenis kelamin
perempuan 286,4 gram dan 349,5 gram pada pasien laki-laki, rata-rata
asupan karbohidrat 287,1 gram pada pasien dengan jenis kelamin
perempuan dan 323,0 gram pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki dan
rata-rata tingkat kecukupan pada pasien dengan jenis kelamin perempuan
99,9% dan 93,8% pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki.
• Rata-rata tingkat kecukupan natrium pasien adalah 133.3% tingkat
kecukupan natrium tertinggi yaitu pada penderita CHF sebesar 166.6%,
dan tingkat kecukupan natrium terendah pada CHF dengan DM 1700 dan
DM 1900 sebesar 100%.
• Rata-rata kebutuhan energi pada pasien dengan jenis kelamin perempuan
2153 kalori dan 2545 pada pasien laki-laki, rata-rata asupan energi pada
pasien dengan jenis kelamin perempuan 1624 kalori dan 1659 kalori pada
pasien dengan jenis kelamin laki-laki dan rata-rata tingkat kecukupan pada
pasien dengan jenis kelamin perempuan 75,4% dan 65,1% pada pasien
dengan jenis kelamin laki-laki.
• Rata-rata kebutuhan protein pada pasien dengan jenis kelamin perempuan
80,8 gram dan 84,3 gram pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki, rata-
rata asupan protein pada pasien dengan jenis kelamin perempuan 75,7
gram dam 65,5 gram pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki dan rata-
rata tingkat kecukupan pada pasien dengan jenis kelamin pria 93,6% dan
77,6% pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki.

4.2 Saran

• Pengukuran antropometri menggunakan peralatan yang sangat sederhana


yaitu dengan menggunakan meteran jahit, sebaliknya dalam tahap
antropometri seperti smic timbangan dan tinggi badan.
• Pada pasien demam DHF dengan kebutuhan >2000 dan tingkat
ketersediaan 1800 sangat kurang, Sebaiknya pemberian frekuensi selingan
34

ditambah menjadi 2 kali dikarenakan pasien yang mengalami DHF rentang


umur remaja hingga dewasa sehingga memerlukan asupan energi lebih
banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2006. Penuntun Diet Edisi Baru. PT Gramedia Pustaka Utama,

Jakarta.

Depkes RI. 2003. Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Gizi Rumah

sakit. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Jakarta.

Dewa, I. 2001. Penilaian Status Gizi. EGC, Jakarta.

Hartono, A. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. EGC, Jakarta.

Jelliffe,D.B. 1989. Community Nutritional Assesment. Oxford University

Press: New York, hlm 31-50