Anda di halaman 1dari 18

MAJALAH TEMPO

28 Juni 2010

Aliran Janggal Rekening Jenderal

MEMEGANG saku kemeja lengan panjang batiknya, Komisaris Jenderal Ito Sumardi
bertanya, "Berapa gaji jenderal bintang tiga seperti saya?" Sambil tersenyum, Kepala
Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia itu menjawab sendiri
pertanyaannya, "Hanya sembilan juta rupiah, sudah termasuk berbagai tunjangan."

Ito menambahkan, Kepala Kepolisian RI, pejabat tertinggi di institusi itu, bergaji hanya
sekitar Rp 23 juta, sudah termasuk aneka tunjangan. Buat biaya penanganan kasus, ia
melanjutkan, polisi hanya memperoleh anggaran Rp 20 juta per perkara. Setiap
kepolisian sektor-unit kepolisian di tingkat kecamatan-hanya diberi anggaran dua perkara
per tahun. "Selebihnya harus cari anggaran sendiri," kata Inspektur Jenderal Dikdik
Mulyana, Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal, yang mendampingi Ito ketika wawancara
dengan Tempo, Jumat pekan lalu.

Bukan sedang mengeluh, Ito menyampaikan "urusan dapur" pejabat kepolisian itu buat
menangkis tudingan terhadap sejumlah perwira yang diduga memiliki rekening
mencurigakan. Dokumen yang memuat lalu lintas keuangan petinggi Polri itu beredar di
tangan para perwira polisi dan jadi bahan gunjingan di Trunojoyo-Markas Besar
Kepolisian. Disebut-sebut dokumen itu adalah ringkasan atas laporan hasil analisis Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Soal ini, juru bicara Pusat
Pelaporan, Natsir Kongah, tak mau berkomentar. "Saya tidak bisa memberikan konfirmasi
karena itu kewenangan penyidik," katanya, Kamis pekan lalu.

Menurut salinan dokumen itu, enam perwira tinggi serta sejumlah perwira menengah
melakukan "transaksi yang tidak sesuai profil" alias melampaui gaji bulanan mereka.
Transaksi paling besar dilakukan pada rekening milik Inspektur Jenderal Budi Gunawan,
Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. Pada 2006, melalui rekening pribadi dan
rekening anaknya, mantan ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri itu mendapatkan
setoran Rp 54 miliar, antara lain, dari sebuah perusahaan properti.

Daftar yang sama memuat, antara lain, nama Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan
Kepala Badan Reserse Kriminal yang kini ditahan sebagai tersangka kasus korupsi. Ada
pula Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Inspektur Jenderal Mathius Salempang,
mantan Kepala Korps Brigade Mobil Inspektur Jenderal Sylvanus Yulian Wenas, Inspektur
Jenderal Bambang Suparno, Komisaris Besar Edward Syah Pernong, juga Komisaris Umar
Leha.
Dimintai konfirmasi soal nama-nama jenderal polisi pemilik rekening itu, Ito Sumardi
secara tidak langsung membenarkan. Menurut dia, perwira-perwira itu termasuk dalam
daftar 21 perwira pemilik rekening mencurigakan. Ia mengatakan telah menerima
perintah Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri buat melakukan klarifikasi
terhadap para perwira tersebut. "Ini pembuktian terbalik, jadi menjadi beban mereka
untuk menjelaskan asal-usul transaksinya," katanya.

Cerita soal rekening janggal milik jenderal kepolisian juga pernah muncul pada akhir Juli
2005. Ketika itu, 15 petinggi kepolisian diduga memiliki rekening tak wajar. Termuat
dalam dokumen yang diserahkan Kepala PPATK Yunus Husein kepada Jenderal Sutanto,
Kepala Kepolisian ketika itu, sejumlah petinggi kepolisian diduga menerima aliran dana
dalam jumlah besar dan dari sumber yang tak wajar. Sebuah rekening bahkan
dikabarkan menampung dana Rp 800 miliar. Namun kasus ini hilang dibawa angin.

lll

BANGUNAN itu terlihat paling besar dibanding sekitarnya. Terletak di Jalan M. Kahfi I,
Jagakarsa, Jakarta Selatan, satu rumah utama, tiga rumah tambahan, plus satu
bangunan untuk petugas keamanan berdiri di tanah seluas 3.000 meter persegi.

Di halaman rumah terpajang ukiran berbentuk aksara "B" setinggi dua meter. Air kolam
renang yang cukup luas di halaman belakang berkilau memantulkan sinar matahari. Para
tetangga menyebut bangunan itu sebagai "rumah Pak Kapolda". Inilah rumah Inspektur
Jenderal Badrodin Haiti, yang pernah menjadi Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara.

Badrodin, yang kini menjabat Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian, adalah satu di
antara sejumlah perwira yang melakukan transaksi mencurigakan. Menurut sumber
Tempo, Badrodin membeli polis asuransi PT Prudential Life Assurance dengan premi Rp
1,1 miliar. Disebutkan dana tunai pembayaran premi berasal dari pihak ketiga.

Menjadi Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Medan pada 2000 hingga 2003, Badrodin
juga menarik tunai Rp 700 juta di Bank Central Asia Kantor Cabang Utama Bukit Barisan,
Medan, pada Mei 2006. Transaksi ini, kata sumber tadi, dinilai "tidak sesuai profilnya".
Sebab, penghasilan Badrodin setiap bulan berkisar Rp 22 juta, terdiri atas Rp 6 juta gaji,
Rp 6 juta penghasilan dari bisnis, dan Rp 10 juta dari kegiatan investasi.

Hasil analisis rekening Badrodin juga memuat adanya setoran dana rutin Rp 50 juta
setiap bulan pada periode Januari 2004-Juli 2005. Ada pula setoran dana Rp 120-343
juta. Dalam laporan itu disebutkan setoran-setoran tidak memiliki underlying transaction
yang jelas.

Dimintai konfirmasi, Badrodin Haiti mengaku tidak berwenang menjawab. "Itu


sepenuhnya kewenangan Kepala Badan Reserse Kriminal," katanya. Komisaris Jenderal
Ito Sumardi menyatakan timnya masih menunggu sejumlah dokumen pelengkap dari
Badrodin.

Keanehan juga terdapat pada rekening Wenas, Bambang Suparno, Mathius Salempang,
dan Susno Duadji serta sejumlah perwira menengah. Indikasi di rekening Wenas muncul
pada 2005, ketika ia menjabat Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur. Pada 9
Agustus, isi rekening Wenas mengalir berpindah Rp 10,007 miliar ke rekening seseorang
yang mengaku sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing. Sejak pertama kali membuka
rekening, transaksi perbankan Wenas hanya berupa transfer masuk dari pihak lain tanpa
ada transaksi usaha (lihat "Rekening dalam Sorotan").

"Profil" Wenas cukup mentereng. Rumahnya di Perumahan Areman Baru, Tugu, mewah,
di atas tanah seribu meter persegi. Sejak tiga tahun lalu, keluarga Wenas pindah ke
sebuah rumah di Perumahan Pesona Khayangan, Depok. Tempo, yang menyambangi
rumah Wenas di perumahan elite di Depok, Kamis pekan lalu, melihat dua Toyota
Alphard dan satu sedan Toyota Camry terparkir di halaman rumah.

Kepada Tempo yang mewawancarainya, Wenas menolak tuduhan melakukan transaksi


ilegal melalui rekeningnya. "Semua itu tidak benar," katanya. "Dana itu bukan milik
saya."

Susno Duadji, yang getol membongkar praktek mafia hukum di institusinya, ternyata
juga memiliki transaksi mencurigakan. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri ini
disebutkan menerima kiriman dana dari seorang pengacara berinisial JS Rp 2,62 miliar.
Ia juga menerima kiriman dana dari seorang pengusaha berinisial AS dan IZM (Kepala
Dinas Pekerjaan Umum Bengkulu). Selama periode 2007-2009, Susno telah menerima
kiriman fulus dari tiga orang itu Rp 3,97 miliar. Terkait dengan aliran dana ini, Markas
Besar Polri telah menetapkan JS sebagai tersangka.

Muhammad Assegaf, kuasa hukum Susno, menyatakan tidak pernah membahas soal
transaksi mencurigakan punya kliennya. Di berbagai kesempatan sebelum ditahan, Susno
berkali-kali membantah melakukan transaksi yang melanggar aturan. "Semua transaksi
itu perdata," katanya.

lll

TAK hanya perwira tinggi, transaksi yang membuat mata terbelalak pun dilakukan polisi
dengan pangkat di bawahnya. Contohnya Umar Leha, terakhir berpangkat komisaris
besar dan pernah 12 tahun bertugas sebagai Kepala Seksi Surat Tanda Nomor
Kendaraan Bermotor Samsat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan.

Menurut sumber Tempo, Umar pada Juni 2005 memiliki dana Rp 4,5 miliar. Duit
disimpan dalam bentuk reksa dana dan deposito di Bank Mandiri. Sumber dana, menurut
analisis transaksinya, diduga berasal dari setoran-setoran terkait dengan pengurusan
STNK.

Di Makassar, Umar memiliki dua rumah besar dan empat mobil. Dua tahun lalu perwira
pertama polisi ini mencalonkan diri dalam pemilihan Bupati Enrekang, Sulawesi Selatan.
Untuk itu, ia mengundurkan diri dari kepolisian dengan pangkat terakhir ajun komisaris
besar polisi. Pada pemilihan kepala daerah, ia gagal.

Soal tudingan bermain saat masih berdinas, Umar membantahnya. Dia mengaku tidak
pernah mengelola langsung uang negara dari pengurusan STNK. "Apalagi
mengambilnya," ujarnya. "Saya benar-benar tidak berani menyalahgunakan amanah itu."

Rekening Edward Syah Pernong, Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang, pun
mengundang curiga. Menurut sumber Tempo, ketika menjabat Kepala Kepolisian Resor
Jakarta Barat, ia menerima setoran Rp 470 juta dan Rp 442 juta pada Agustus dan
September 2005 dari Deutsche Bank. Pada 15 September 2005, dia menutup rekening
dengan saldo terakhir Rp 5,39 miliar. Edward mempersoalkan asal-usul data itu. "Data
itu bohong. Itu fitnah," katanya kepada wartawan Tempo, Sohirin, di Semarang, Kamis
pekan lalu. Ito Sumardi menyatakan tak mempersoalkan kekayaan Edward. "Dia raja
Lampung, kebun sawitnya luas," kata Ito.

Kendati dibantah dari pelbagai penjuru, anggota Komisi Kepolisian, Adnan Pandupradja,
menilai laporan dugaan transaksi mencurigakan harus mendapat perhatian serius dari
Kepala Kepolisian. Tanpa kejelasan pengusutan rekening-rekening itu, kata dia, citra
kepolisian akan semakin terpuruk.

Neta S. Pane, Ketua Indonesia Police Watch, mendorong upaya pembuktian terbalik dari
perwira yang memiliki rekening mencurigakan. Sebab, ia menyatakan jenderal yang
memiliki kekayaan melimpah patut dipertanyakan. Ia menambahkan, "Jika hidup hanya
dari gaji, sampai kiamat mereka tidak akan pernah bisa kaya."

Setri Yasra, Wahyu Dhyatmika, Cheta Nilawaty, Tia Hapsari (Jakarta), Abdul
Rahman (Makassar)
28 Juni 2010

Relasi Mantan Ajudan


BELASAN pekerja bertopi proyek kuning hilir-mudik. Matahari mulai turun di area
pembangunan Apartemen Tamansari Semanggi, tepat di belakang bioskop Planet
Hollywood, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu. Para pekerja sibuk
membenahi jalur pedestrian. "Baru sebulan terakhir aktif dikerjakan lagi," kata seorang
pekerja tersenyum lebar.

Proyek ini mangkrak lebih dari lima tahun. Bernama awal Apartemen Hollywood
Residence, proyek itu tak kunjung selesai dibangun. Mei 2007, ratusan pembelinya
melapor ke polisi. Mereka menuduh PT Masindo Lintas Pratama, pengembang proyek itu,
menggelapkan dana Rp 200 miliar lebih. Ramai diberitakan, Kepolisian Daerah Metro
Jaya berjanji menelisik pengaduan itu.

Lama tak terdengar kabar, Masindo menjadi sumber berita baru. Pada November 2006,
perusahaan itu dilaporkan menggelontorkan duit Rp 1,5 miliar ke rekening Herviano
Widyatama, putra Budi Gunawan, ketika itu Kepala Biro Pembinaan Karyawan Kepolisian.
Budi kini berpangkat inspektur jenderal dan menduduki jabatan Kepala Divisi Profesi dan
Pengamanan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

Dana itu merupakan bagian dari total setoran senilai sekitar Rp 54 miliar ke rekening
Budi Gunawan dan anak lelakinya itu. Indonesia Corruption Watch pekan lalu melaporkan
transaksi mencurigakan ini ke Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum dan Komisi
Pemberantasan Korupsi. "Akan kami tunggu respons mereka sampai 30 hari ke depan,"
kata Emerson Yuntho, wakil koordinator organisasi antikorupsi itu.

Budi Gunawan bukan satu-satunya perwira kepolisian pemilik rekening yang


mencurigakan. Menurut Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Ito Sumardi,
ada 21 perwira yang melakukan transaksi mencurigakan dan dilaporkan Pusat Pelaporan
dan Analisis Transaksi Keuangan ke Kepolisian. "Atas perintah Kapolri, kami sudah
bentuk tim khusus untuk menyelidiki ini," kata Ito, Jumat pekan lalu.

Ito mengakui rekening Budi menjadi prioritas tim penyelidik. Sebab, menurut dia,
jumlahnya lebih besar dibanding rekening milik perwira lain. Selain itu, dugaan transaksi
di rekening Budi sudah beredar di masyarakat. Itu sebabnya, ia menyatakan Budi
merupakan perwira pertama yang dimintai klarifikasi.

Selain Masindo, sebuah perusahaan lain bernama PT Sumber Jaya Indah dilaporkan
menyetorkan dana ke rekening Budi Gunawan. Melalui rekening anak Budi, perusahaan
itu menggelontorkan hampir Rp 10 miliar.

Sumber Jaya adalah sebuah perusahaan penambang timah yang menguasai 75 hektare
lahan tambang di Bangka Belitung. Nama perusahaan sempat jadi berita pada Desember
2007, ketika polisi setempat menyetop 13 truk yang mengangkut timah ilegal milik
perusahaan itu. "Saya ingat kasus itu. Penyidikan polisi tidak jelas sampai sekarang,"
kata Yudho Marhoed, Koordinator Wahana Lingkungan Hidup Indonesia di Bangka
Belitung, yang dihubungi pekan lalu.
Dari hasil penelusuran Tempo, kedua perusahaan yang disebut-sebut dalam laporan
analisis rekening Budi ini bukan perusahaan fiktif. Sumber Jaya Indah, misalnya,
terdaftar resmi di sebuah kantor notaris di Pangkalpinang, sebagai perusahaan
pertambangan dengan setoran modal awal Rp 1,5 miliar.

Demikian juga dengan Masindo, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia sebagai badan usaha, dengan setoran modal awal Rp 50 miliar. Ketika Tempo
mengunjungi alamat kantor Masindo di gedung Sampoerna Strategic Square, Jalan
Sudirman, Jakarta Selatan, perusahaan ini tampaknya sudah berganti alamat. "Sudah
lama tidak di sini," kata petugas di gedung itu.

Selain dua perusahaan tersebut, ada sejumlah individu yang terdeteksi mentransfer dana
ke rekening Budi. Ada juga setoran tunai dalam jumlah miliaran rupiah. Sejumlah sumber
Tempo menjelaskan, posisi Budi sebagai ajudan Megawati Soekarnoputri, wakil presiden
dan kemudian presiden pada 1999-2004, berperan besar dalam penumpukan harta itu.
"Ada banyak pengusaha yang, ketika mau bertemu RI-1, sukarela memberi. Duit Rp 100-
200 juta itu kecil buat mereka," katanya.

Diterpa isu tak sedap, lingkaran dalam Budi Gunawan tak mau berpangku tangan.
Mereka balik menuding ada agenda tertentu di balik isu ini. "Mengapa Budi Gunawan
saja yang dibidik?" kata salah satu orang dekat mantan Kepala Kepolisian Daerah Jambi
itu. Dia juga mengaku heran kenapa kabar ini muncul sekarang, ketika fulus yang
diributkan, menurut ia, sudah tak ada lagi di rekening Budi.

Dari semua dokumen laporan hasil analisis dari PPATK yang beredar di publik, memang
hanya laporan transaksi mencurigakan di rekening Budi Gunawan yang detail dan runut,
lengkap dengan kronologi dan data mengenai pihak-pihak yang diduga terlibat. Orang
dekat Budi menduga bosnya diincar karena dekat dengan Inspektur Pengawasan Umum
Mabes Polri Komisaris Jenderal Nanan Soekarna. Nanan santer disebut-sebut sebagai
salah satu kandidat Kepala Kepolisian, menggantikan Jenderal Bambang Hendarso Danuri
yang akan mengakhiri masa tugasnya, Oktober nanti.

Budi Gunawan memilih tutup mulut. Ditemui Tempo di kantornya, Jumat pekan lalu, dia
hanya tersenyum dan berkomentar pendek, "Nanti saja, ya." Belakangan, lewat seorang
bawahannya, Budi Gunawan mengaku sudah menyerahkan masalah ini ke Kepala Badan
Reserse Kriminal. "Semua berita itu tidak benar," katanya.

Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengakui bahwa Budi Gunawan adalah perwira pertama
yang menjelaskan ihwal rekeningnya. "Masih ada bukti-bukti formal yang belum lengkap,
karena sudah lama kejadiannya. Tapi prinsipnya, ini sudah clear," katanya. Ditanya soal
dua perusahaan penyetor dana yang punya kasus di kepolisian, Ito angkat tangan,
"Semua sudah dimintai keterangan. Saya tidak bisa cerita detail karena ini merupakan
penyidikan."

Sebagai bekas ajudan presiden, menurut Ito, Budi Gunawan memiliki hubungan luas. Ia
menduga para kolega Budi bisa saja memberikan hadiah. Karena tak berkaitan dengan
perkara, menurut dia, hal itu tidak ada masalah. Ia lalu menyebutkan "kebaikan" Budi
Gunawan. "Anda lihat, gedung Divisi Profesi kini sangat bagus, jauh lebih bagus daripada
kantor saya," kata Ito. "Anda tahu siapa yang membangun? Pak Budi Gunawan, dengan
dana pribadi."

Wahyu Dhyatmika, Jupernalis Samosir (Pangkalpinang)


28 Juni 2010

Ito Sumardi:
Mereka Bukan Penjahat
SEJAK Mei lalu, Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia Komisaris
Jenderal Ito Sumardi punya tambahan pekerjaan. Dia diperintahkan Kepala Kepolisian
Jenderal Bambang Hendarso Danuri melakukan klarifikasi ihwal dugaan transaksi
keuangan mencurigakan di rekening sejumlah perwira polisi. "Kalau sekarang tidak
tuntas, pasti isu ini akan muncul lagi, muncul lagi," kata Ito.

Ito menyatakan telah memanggil para perwira yang disebut memiliki transaksi
mencurigakan. Mereka diminta menjelaskan asal-usul dana, termasuk melengkapinya
dengan dokumen dan bukti. Inspektur Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan
Pengamanan, menurut dia, yang pertama kali dipanggil. "Sebab, namanya yang paling
awal disebut masyarakat," ujarnya. Sambil menunjuk meja kerjanya, ia berujar, "Dia
datang ke situ, saya sendiri yang meminta keterangan."

Yunus Husein, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, menyatakan
telah mengirim ribuan analisis transaksi mencurigakan ke kepolisian. Temuan itu ternyata
tak pernah ditangani polisi. Pada Mei lalu, Yunus kemudian menemui Kepala Kepolisian
membahas soal ini. Satu hal yang dibahas ihwal banyaknya transaksi mencurigakan di
rekening sejumlah perwira tinggi polisi.

Setelah pertemuan itulah, Jenderal Bambang memerintahkan Ito dan wakilnya, Inspektur
Jenderal Dikdik Mulyana, turun tangan. "Mengapa kami yang diperintahkan?" katanya
kepada wartawan Tempo, Budi Setyarso, Setri Yasra, dan Wahyu Dyatmika yang
mewawancarainya Jumat pekan lalu. Lalu sambil tertawa ia menjawab pertanyaannya
sendiri, "Karena kami tidak termasuk dalam daftar nama yang dicurigai." Dikdik Mulyana,
yang menemani Ito selama wawancara dengan Tempo, Jumat pekan lalu, menimpali,
"Barangkali belum...."

Sejauh mana hasil penelusuran Anda atas laporan transaksi mencurigakan


itu?

Dari ribuan yang disebutkan, ternyata 800 laporan yang bisa ditelusuri. Di antara laporan
itu, ada 60-an mengenai rekening perwira polisi. Sudah kami telusuri, dan sekarang
tinggal 21 laporan yang belum selesai diklarifikasi.

Kepolisian terkesan defensif menangani soal ini?

Harus Anda pahami, kebanyakan itu data lama, 2003-2005. Rata-rata dua tahun lalu.
Misalnya, ada perwira yang disebut dalam laporan masih berpangkat komisaris besar.
Padahal dia sekarang sudah jenderal bintang dua. Ada yang sudah purnawirawan,
bahkan ada yang sudah meninggal. Ini menyulitkan, karena para pemilik rekening
tersebut juga sudah lupa detail transaksi mereka dua-tiga tahun lalu itu. Tolong ini
dipahami. Kami tidak bermaksud menutup-nutupi.
Jadi ini laporan lama?

Iya. Laporannya sama dengan yang pernah ramai pada 2005. Ini menyulitkan
penyelidikan. Nama-namanya sama, transaksinya sama. Sebenarnya dulu pun sudah ada
upaya klarifikasi dari Badan Reserse Kriminal. Namun, karena sistem pendataan kurang
rapi, tak tercatat. Sekarang kami diminta Kepala Polri untuk melakukan.

Benarkah dana di rekening para perwira ini bagian dari dana operasional polisi
sumbangan pengusaha?

Saya belum tahu ada informasi seperti itu. Soal sumbangan sukarela itu, kan,
bergantung pada masing-masing individunya. Kalau ada bantuan, sepanjang itu tidak
ada penyalahgunaan wewenang yang mempengaruhi pelaksanaan tugas, boleh saja,
kan? Kita harus realistis. Kehidupan polisi jauh dari mencukupi.

Jadi tidak ada masalah?

Saya minta masyarakat tidak prejudice dulu. Sebagian orang berpikir ini laporan transaksi
mencurigakan senilai bermiliar-miliar rupiah. Padahal tidak begitu. Misalnya, ada seorang
ajun komisaris besar yang menyetor premi asuransi Rp 50 juta. Karena tidak sesuai
dengan profilnya-karena gajinya kecil-langsung terdeteksi sebagai transaksi
mencurigakan. Begitu diklarifikasi, ya selesai.

Ada indikasi pidana dari 21 laporan transaksi mencurigakan yang masih


diperiksa?

Masih ditelusuri. Ada tim penyidik independen. Tapi ingat asas praduga tak bersalah.
Mereka bukan penjahat. Semua yang disebut dalam laporan sudah kami undang untuk
klarifikasi. Beban pembuktian ada para mereka, karena ini menggunakan asas
pembuktian terbalik. Kami minta penjelasan asal dana beserta bukti-buktinya.

Anda beri tenggat sampai kapan?

Mudah-mudahan bulan depan sudah selesai.

Bisa diberi gambaran, kira-kira apa bentuk hasil klarifikasi ini?

Kami akan memberikan penjelasan kepada PPATK. Kalau ada yang mencurigakan, nanti
akan ditindaklanjuti. Kalau pemilik rekening yang dicurigai masih berdinas, kami akan
melibatkan Divisi Profesi dan Pengamanan.
28 Juni 2010

Rekening dalam Sorotan


MARKAS Besar Kepolisian RI meminta klarifikasi 21 perwira yang memiliki rekening
mencurigakan. Dari perwira berpangkat komisaris hingga komisaris jenderal, mereka
melakukan transaksi yang "tidak sesuai profilnya"-maksudnya tak sesuai dengan
pendapatan resmi. Berikut ini sebagian dari transaksi yang dicurigai Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan itu.

Cheta Nilawati

INSPEKTUR JENDERAL MATHIUS SALEMPANG

Laporan kekayaan (22 Mei 2009):


Rp 8.553.417.116 dan US$ 59.842

Jabatan: Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur

Tuduhan:
Memiliki rekening Rp 2.088.000.000 dengan sumber dana yang tidak jelas. Pada 29 Juli
2005 rekeningnya ditutup dan Mathius memindahkan dana Rp 2 miliar ke rekening lain
atas nama seseorang yang tidak diketahui hubungannya. Dua hari kemudian dana ditarik
dan disetor ke deposito Mathius.

Tanah dan properti: Tanah dan bangunan serta empat bidang tanah di Jakarta Timur.
Harta bergerak: Mobil BMW, Toyota Alphard, logam mulia.

"Saya baru tahu dari Anda."


(24 Juni 2010)

INSPEKTUR JENDERAL SYLVANUS YULIAN WENAS

Laporan kekayaan (25 Agustus 2005):


Rp 6.535.536.503

Jabatan: Kepala Korps Brigade Mobil Polri

Tuduhan:
Dari rekeningnya mengalir uang Rp 10.007.939.259 kepada orang yang mengaku
sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing. Terdiri atas Rp 3 miliar dan US$ 100 ribu
pada 27 Juli 2005. Kemudian US$ 670.031 pada 9 Agustus 2005.
Tanah dan properti: Dua bidang tanah dan bangunan di Depok, lima bidang tanah di
Depok, dua bidang di Minahasa, empat bidang di Jakarta Pusat.
Harta bergerak: Mobil Mitsubishi, Toyota Kijang, Suzuki Baleno, Honda City, Toyota
Innova, logam mulia, dan giro.

"Dana itu bukan milik saya."


(24 Juni 2010)

INSPEKTUR JENDERAL BUDI GUNAWAN

Laporan kekayaan (19 Agustus 2008):


Rp 4.684.153.542

Jabatan: Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian

Tuduhan:
Melakukan transaksi dalam jumlah besar, tak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya,
Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp 29 miliar dan
Rp 25 miliar.

Tanah dan properti: Dua bidang di Jakarta Selatan dan 12 bidang di Subang, Jawa
Barat.Usaha peternakan dan perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan,
pertambangan, obyek wisata, serta rumah makan.
Harta bergerak: Mobil Toyota Harrier, Honda Jazz, Nissan Teana, dua sepeda motor,
logam mulia, dan barang antik.

"Berita itu sama sekali tidak benar."


(25 Juni 2010)

BADRODIN HAITI

Laporan kekayaan (24 Maret 2008):


Rp 2.090.126.258 dan US$ 4.000

Jabatan: Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian

Tuduhan:
Membeli polis asuransi pada PT Prudential Life Assurance Rp 1,1 miliar. Asal dana dari
pihak ketiga. Menarik dana Rp 700 juta, dan menerima dana rutin setiap bulan.

Tanah dan properti: Tanah dan bangunan di Depok, dua bidang di Bekasi, sebidang di
Tangerang, Surabaya, Jakarta.
Harta bergerak: Mobil Toyota Kijang, logam mulia, giro.

"Itu sepenuhnya kewenangan Kepala Bareskrim."


(24 Juni 2010)
KOMISARIS JENDERAL SUSNO DUADJI

Laporan kekayaan (2008):


Rp 1.587.812.155

Jabatan: Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal

Tuduhan:
Menerima kiriman dana dari seorang pengacara sekitar Rp 2,62 miliar dan kiriman dana
dari seorang pengusaha. Total dana yang ditransfer ke rekeningnya Rp 3,97 miliar.

Tanah dan properti: Tanah, bangunan di Depok.


Harta bergerak: Mobil Honda, logam mulia, giro.

"Transaksi mencurigakan itu tidak pernah kami bahas."


(M. Assegaf, pengacara Susno, 24 Juni 2010)

INSPEKTUR JENDERAL BAMBANG SUPARNO

Laporan kekayaan:
Belum ada

Jabatan: Staf pengajar di Sekolah Staf Perwira Tinggi Polri

Tuduhan:
Membeli polis asuransi dengan jumlah premi Rp 250 juta pada Mei 2006. Ada dana
masuk senilai total Rp 11,4 miliar sepanjang Januari 2006 hingga Agustus 2007. Ia
menarik dana Rp 3 miliar pada November 2006.

"Tidak ada masalah dengan transaksi itu. Itu terjadi saat saya masih di Aceh."
(Jakarta, 24 Juni 2010)

SUMBER: WAWANCARA, SUMBER TEMPO, LAPORAN HARTA KEKAYAAN


PEJABAT NEGARA
28 Juni 2010

PARTAI KEADILAN SEJAHTERA


Terbuka Setengah Hati
MENYADARI perolehan suaranya tak banyak beranjak dalam dua pemilihan umum, Partai
Keadilan Sejahtera membuka pintu bagi nonmuslim. Disebut-sebut nonmuslim tak cuma
bisa menjadi anggota atau calon legislator, tapi juga dapat menduduki posisi puncak,
seperti pengurus Majelis Syura. "Sifat terbuka kepada nonmuslim juga ajaran Islam,"
kata Mustafa Kamal, Ketua Departemen Politik, Pemerintahan, Hukum, dan Keamanan.
Deklarasi keterbukaan partai berlambang bulan sabit dan padi ini dilakukan dalam
Musyawarah Nasional yang berakhir Ahad pekan lalu di Hotel Ritz-Carlton, Mega
Kuningan, Jakarta. Hajatan lima tahunan itu memakan biaya sekitar Rp 10 miliar.

Dipilihnya Ritz-Carlton, hotel yang berpusat di Amerika Serikat, dan diundangnya duta
besar Negeri Abang Sam, Cameron R. Hume, menandai niat "keterbukaan" itu.
Sebelumnya PKS dikenal sebagai partai yang gencar mengkritik Amerika karena dianggap
memusuhi umat Islam. Tak cuma dengan Amerika, "Kami bahkan berkomunikasi dengan
Partai Komunis Cina," kata Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin.

Sesungguhnya yang jadi soal adalah perolehan suara. Dalam Pemilu 2009 PKS adalah
pemenang keempat dengan suara 7,89 persen. Posisinya di bawah Partai Demokrat,
Golkar, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Dibanding Pemilu 2004, persentase
suara PKS cuma merambat 0,55 persen, tapi dari total suara malah turun dari 8,33 juta
suara menjadi 8,21 juta. Di DKI Jakarta suaranya anjlok: pada Pemilu 2004 PKS
mendapat 22 persen, tahun lalu hanya 18 persen.

Dua belas tahun lalu, tak pernah terbayangkan Partai Keadilan, nama awal PKS,
menyatakan diri sebagai "partai terbuka". Dideklarasikan di aula Masjid Al-Azhar, Jakarta
Selatan, Juli 1998, organisasi ini bertekad menjadi partai dakwah dengan cita-cita
menegakkan syariat Islam. Pada Pemilu 1999, Partai Keadilan hanya mendapat tujuh
kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Karena tidak memenuhi syarat ambang terbawah
suara dua persen, Partai Keadilan berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Disebut-sebut aktor di balik "keterbukaan" itu adalah Ketua Majelis Syura Hilmi
Aminuddin. Posisi Hilmi amat sentral dalam mengambil keputusan partai. Ia adalah
pemimpin tertinggi yang bisa menganulir keputusan presiden partai. Soal ini Mustafa
Kamal membenarkan. "Ya, peran Ustad Hilmi besar," katanya. "Beliau guru dan ideolog
kami."

Keinginan Hilmi menjadikan PKS partai "terbuka" mulai terbaca menjelang Musyawarah
Kerja Nasional di Hotel Inna Grand Bali Beach, Januari dua tahun lalu. Ketika itu
menjelang masa pengajuan calon legislator dan banyak calon nonmuslim yang
mendaftar. Menjelang musyawarah partai, Hilmi bertemu dengan sejumlah pemuka
Hindu dan menyatakan partainya terbuka buat penganut selain Islam.

Meski didengung-dengungkan terbuka, anggaran dasar PKS tak terang-terangan


menyebutkan istilah nonmuslim. Dalam konstitusi barunya, PKS membagi keanggotaan
menjadi dua kategori: kader dan anggota. Kader adalah anggota yang terikat penuh
dengan konstitusi partai dengan sistem kaderisasi yang berbasis keislaman. Anggota
adalah semua warga negara Indonesia yang terikat penuh dengan organisasi.
Konstitusi partai lima tahun lalu menyebutkan yang dimaksud anggota adalah mereka
yang harus terikat penuh dengan konstitusi partai serta mengikuti kaderisasi yang
berbasis keislaman. Tidak dicantumkannya ketentuan mengikuti kaderisasi berbasis
keislaman inilah yang membuka ruang bagi nonmuslim untuk berkiprah. Anggota
nonmuslim bisa masuk, "Asal lulus kurikulum partai," kata Sekretaris Jenderal Anis Matta.
Kurikulum itu tengah digodok dan diharapkan selesai tahun depan. "Isinya seputar
pendidikan kewarganegaraan," ujar Anis melanjutkan.

Menjadi partai terbuka-meski dalam tanda kutip-segera saja mencuatkan polemik.


Sejumlah kader senior bersuara keras. Mereka mengkritik elite PKS telah melenceng dari
garis perjuangan. Majelis Syura yang mengambil keputusan dianggap telah diisi oleh
kader dari faksi Hilmi Aminuddin. "Kalaupun ada yang tak setuju, mereka tak berani
mengemukakannya. Mereka takut disingkirkan," kata Syamsul Balda, kader senior
penentang Hilmi. "Dari awal PKS adalah partai dakwah. Yang ada dalam pikiran kami
menegakkan syariat Islam," Syamsul melanjutkan.

Pengkritik lainnya adalah penceramah senior Daud Rasyid dan bekas anggota DPR,
Mashadi. Selain itu, ada pengurus PKS, Habibullah dan Abu Ridlo, kini anggota Dewan
Perwakilan Daerah.

Beberapa hari menjelang musyawarah Bali 2008, sempat beredar mosi tidak percaya
terhadap pemimpin partai. Penggagas mosi ini adalah Mashadi. Kelompok ini menuding
pemimpin partai tidak punya sense of crisis dengan hidup mewah, sedangkan kader di
bawah terus didoktrin untuk berjuang ikhlas demi dakwah. Mashadi juga mengkritik
besarnya peran Hilmi Aminuddin dalam menentukan arah partai. "Semua kebijakan partai
di tangan dia," katanya. Akibat mosi itu, Mashadi "diadili" oleh Badan Penegak Disiplin
Organisasi dan diberi peringatan keras karena dianggap merongrong wibawa partai.

Menentang elite PKS, Habibullah memotori lahirnya Forum Kader Peduli. Forum ini setiap
Ahad ketiga tiap bulan menggelar diskusi yang menjadi ajang menguliti kebijakan partai
yang mereka anggap menyeleweng. "Prinsip kami adalah amar makruf nahi munkar,
mengingatkan untuk kebaikan," kata Habibullah.

Salah satu yang dikritik para kader adalah aksi petinggi PKS mendekat ke Keluarga
Cendana menjelang Pemilu 2009. Saat itu partai memasang iklan Hari Pahlawan di media
massa dengan menampilkan Soeharto sebagai guru bangsa. Partai juga mengadakan
pertemuan putra-putri ahli waris pemimpin Indonesia di Jakarta Convention Center,
Jakarta, pada November dua tahun lalu. Salah seorang yang diundang dan hadir adalah
Siti Hediyati, putri Soeharto. Santer terdengar acara itu digelar sebagai bagian dari
pengumpulan dana pemilu.

Hilmi tak bisa dikontak untuk dimintai konfirmasi. "Beliau sedang umrah," kata seseorang
bernama Saeful yang menjaga rumah Hilmi di Lembang, Jawa Barat, Kamis pekan lalu.
Anggota DPR dari PKS, Fahri Hamzah, menyatakan "perlawanan" kelompok yang tak
setuju dengan kebijakan partai sudah selesai. "Partai sudah menjelaskan seusai
musyawarah kerja di Bali," kata Fahri. "Mereka tidak melakukannya dengan berani.
Mereka main belakang," katanya lagi.

Sunudyantoro, Sandy Indra Pratama (Jakarta), Alwan Ridha (Bandung)


28 Juni 2010

CALON KAPOLRI
Draf Misterius Siapa Punya
BAU cat menyebar di ruang tunggu kantor Komisi Kepolisian Nasional, Rabu pekan lalu.
Sebagian ruangan di Jalan Tirtayasa VII, Kebayoran Baru, Jakarta, itu sedang direnovasi.
Hawa pengap. Para anggota staf duduk di kursi mereka, memelototi layar komputer
dengan dahi berkerut.

Menjelang petang, Sekretaris Komisi Adnan Pandupradja masuk ruangannya. "Pekan ini
hari terasa begitu berat," katanya. "Draf peraturan presiden misterius itu membuat udara
makin pengap." Cerita tentang "draf" ini beredar sejak dua pekan lalu.

Terbetik kabar, Markas Besar Kepolisian RI mengirimkan draf peraturan presiden kepada
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rancangan itu berisi pasal-pasal pengangkatan
dan pemberhentian Kepala Kepolisian. Nah, ada klausul yang dinilai menisbikan peran
Komisi Kepolisian dan Dewan Perwakilan Rakyat, dan terkesan mendikte Yudhoyono.

Pasal 5 ayat 1 draf itu berbunyi: Kapolri menetapkan calon-calon Kapolri. Ayat 2
menyebutkan, calon-calon yang memenuhi persyaratan diajukan Kapolri kepada presiden
disertai alasan-alasannya, dan tembusannya disampaikan ke Komisi Kepolisian Nasional.

Sejak Komisi Kepolisian berdiri, lembaga inilah yang mengajukan kandidat Kepala
Kepolisian kepada presiden. "Draf peraturan presiden ini memotong peran kami," kata
Adnan Pandupradja. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian, hak mengajukan calon Kepala Kepolisian berada di tangan presiden, dengan
meminta saran dan pertimbangan Komisi Kepolisian.

Kepala Kepolisian hanya berhak mengirim daftar riwayat hidup calon yang memenuhi
syarat. Komisi Kepolisianlah yang kemudian mengusulkan calon kepada presiden. "Jika
Kepala Kepolisian yang memilih dan menetapkan calon yang akan diusulkan kepada
presiden, itu melanggar Undang-Undang Kepolisian," Adnan menambahkan.

Dalam membantu presiden menemukan figur Kepala Kepolisian, menurut Adnan, peran
Komisi signifikan. Lembaga ini meliputi sembilan anggota, masing-masing tiga dari unsur
pemerintah, pakar kepolisian, dan tokoh masyarakat.

Diketuai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, wakilnya
dijabat Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Patrialis Akbar bersama tujuh orang lainnya duduk sebagai anggota. Adnan Pandupradja,
unsur tokoh masyarakat, menjabat sekretaris. "Komisi dibentuk sebagai mahar ketika
terjadi pemisahan Kepolisian dari TNI," kata Adnan. "Jadi tak bisa diabaikan."

Menurut dia, sebelum draf disampaikan kepada presiden, Markas Besar Kepolisian
seyogianya meminta pertimbangan Komisi, sehingga bisa dihindari unsur kolusi dan klik-
klikan antara Kepala Kepolisian dan calon yang diajukan. Kini yang jadi pertanyaan: siapa
konseptor dan pengirim draf itu ke Istana?
Adnan menerima draf itu lewat faksimile di kantornya, dua pekan lalu. Dia langsung
menelepon orang dekat Presiden. Kabar itu kemudian diteruskan ke sejumlah menteri,
yang kemudian memutuskan menariknya dari meja Presiden. "Jadi draf itu kandas
karena dinilai tidak prosedural," kata Adnan.

Ia menduga draf itu dibuat para petinggi Kepolisian yang merasa tak masuk kriteria
kandidat, tapi punya ambisi. "Biasalah, di semua lembaga ada kompetisi yang kadang tak
sehat sampai tak masuk akal begitu."

Sumber Tempo di Istana menyatakan draf itu memang sempat singgah di meja Presiden.
Tapi ia tak tahu apakah Presiden sempat membacanya atau tidak. "Kalau toh Presiden
membaca, beliau pasti akan memanggil staf yang membidangi hukum," katanya.
"Presiden kan bukan orang yang mudah didikte?"

Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri tak bisa dimintai konfirmasi.
Permohonan wawancara yang dikirim Tempo kepadanya belum berbalas. Penasihat
Kepala Polri, Kastorius Sinaga, menyatakan tak tahu-menahu. "Saya sedang di Eropa, tak
mengikuti soal itu, maaf," katanya, Jumat malam pekan lalu. Kepala Divisi Humas
Kepolisian Inspektur Jenderal Edward Aritonang juga enggan berkomentar. "Itu Kapolri
yang lebih tahu," katanya.

Ketika polemik merebak, ada wacana dari pengajar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian,
Bambang Widodo Umar, untuk tak melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat. "Saya tak
setuju DPR mengintervensi, karena pasti ada permainan kepentingan partai politik,"
katanya dalam diskusi di Imparsial, Jakarta.

Menurut dia, perlu sistem yang mengatur peran lembaga yang berwenang dalam
pemilihan Kepala Kepolisian. Lembaga yang punya kewenangan selama ini adalah
kepolisian, presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Komisi Kepolisian.

Kepolisian telah mengajukan konsep peraturan presiden, dengan calon Kepala Kepolisian
dipilih oleh Kepala Kepolisian yang masih menjabat, tanpa melibatkan Komisi Kepolisian.
Sistem pembagian peran harus jelas. "Harus diatur dengan peraturan presiden," katanya.
"Memalukan jika ada perebutan kewenangan."

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menyatakan tak tahu
persoalan draf misterius itu. "Saya, kok, tidak terima drafnya ya, Mas?" kata Djoko lewat
pesan pendek kepada Tempo. "Jadi belum bisa komentar." Ia kemudian menambahkan,
"Sampai saat ini, sepengetahuan saya, belum ada perubahan."

Keterangan Djoko sama dengan Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Benny K.
Harman: tak ada perubahan mekanisme pemilihan Kepala Kepolisian. Tapi, Benny
menyatakan, "Saya pernah melihat draf itu, dan terkesan mendikte presiden." Ketua
Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane justru heran draf itu dipersoalkan.
Menurut dia, draf itu satu paket dengan draf usulan struktur baru kepolisian. "Saya kira,
kok, tidak ada persoalan," katanya.

Menurut Neta, selama ini kandidat Kepala Kepolisian diusulkan ke Dewan Kebijakan
Jabatan dan Kepangkatan, yang diketuai Wakil Kepala Kepolisian. Anggotanya meliputi
Inspektur Pengawasan Umum, Kepala Direktorat Profesi Pengamanan, dan Deputi
Sumber Daya Manusia.
Setelah menyimak rekam jejak, Dewan mengirim lima nama kepada Kepala Kepolisian,
yang kemudian memilih tiga nama untuk diusulkan kepada presiden. "Presiden
menyerahkan tiga nama itu kepada DPR," kata Neta. Ia malah mengatakan, "Saya kira
Komisi Kepolisian cari sensasi saja."

Dwidjo U. Maksum, Nalia Rifika, Puti Noviyanda


28 Juni 2010

HARTA PEJABAT
Ke Hulu Hibah Mister Pung
DIAM-diam, Komisi Pemberantasan Korupsi menyusuri aset Ketua Badan Pemeriksa
Keuangan Hadi Poernomo. Komisi mengirim tim ke sejumlah wilayah, termasuk Bali-
tempat sejumlah aset Hadi dan keluarganya. Menurut sumber Tempo, pelacakan
dilakukan karena Komisi melihat kejanggalan pada laporan harta kekayaan mantan
Direktur Jenderal Pajak Departemen Keuangan itu.

Mochamad Jasin, Wakil Ketua Komisi, kepada Tempo membenarkan lembaganya masih
melakukan verifikasi atas kekayaan Hadi yang dilaporkan, Februari lalu. "Proses
pemeriksaan belum selesai," katanya, Rabu pekan lalu.

Pada Februari lalu, Hadi melaporkan harta total senilai sekitar Rp 38 miliar, alias lebih
dari empat kali kekayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dilaporkan ke
Komisi. Dalam daftar itu tercantum 28 properti di pelbagai daerah, yang total dilaporkan
bernilai sekitar Rp 36 miliar.

Investigasi Tempo menemukan harta Hadi jauh lebih besar. Propertinya tersebar di
mana-mana: dari Lampung hingga Bali, dari Sawangan hingga Los Angeles. Dengan
klaim telah dihibahkan ke anak-anaknya, harta itu tidak tercantum dalam laporan
kekayaan Hadi.

Tempo juga menemukan sejumlah properti atas nama Melita, yang sama sekali tak
dilaporkan. Ada juga aset atas nama anak-anak pasangan itu dan, tentu saja, tidak
dimasukkan dalam laporan. Hampir semua kekayaan Hadi disebutkan bersumber dari
hibah. Padahal Tempo memperoleh akta jual-beli, juga kesaksian, yang berkaitan dengan
proses transaksi pada sejumlah aset keluarga itu (Tempo, 21-27 Juni 2010).

Jasin menyatakan hasil penelusuran komisinya belum bisa diumumkan. Penelusuran


harta kekayaan pejabat negara merupakan bagian dari strategi kerja Komisi
Pemberantasan Korupsi. "Kalau disampaikan sekarang, bisa bubar di tengah jalan,"
ujarnya.

Sumber Tempo di Bali menyatakan tim Komisi di sana antara lain menelisik dokumen
pembelian Hotel Aneka Lovina di Jalan Raya Kalibukbuk, Singaraja. Dibeli dari Tatang,
seorang pengusaha asal Jakarta, pada Desember 2007, hotel itu atas nama Ratna
Permata Sari, anak sulung Hadi. "Saya jual sekitar dua miliar," kata Tatang kepada
Tempo. Ketika itu Ratna berusia 33.

Hotel tersebut memiliki 24 kamar superior bertarif US$ 75 per malam, dan 35 vila bertarif
US$ 95 per malam. Aneka Lovina dikelola oleh PT Adi Jasa Sentosa. Menurut akta
pendiriannya, Adi Jasa merupakan perusahaan perdagangan umum yang dimiliki Freddy
Eka Putra Husein bersama tiga anak Hadi Poernomo.

Tim Komisi Pemberantasan Korupsi kabarnya juga menghubungi Badan Pertanahan


setempat. Mereka telah meneliti akta-akta jual beli tanah oleh keluarga Hadi di wilayah
itu. Tim juga bergerak di Jakarta, pusat kekayaan Hadi-yang oleh orang-orang dekatnya
dipanggil "Pung".

Sumber lain menyatakan pemeriksaan harta Hadi kini tak lagi dilakukan Direktorat
Laporan Kekayaan Pejabat Negara, dan ditingkatkan ke tahap "penyelidikan". Jika
ditemukan bukti cukup, lazimnya tahap ini diteruskan ke "penyidikan".

Dimintai konfirmasi, Mochamad Jasin menyatakan akan menanyakannya kepada Direktur


Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara. Adapun Cahya Hardianto Harefa, direktur yang
dimaksud Jasin, menyatakan timnya masih menangani laporan kekayaan Hadi. "Sedang
dikembangkan," ujarnya.

Emerson Juntho, Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch, menyatakan Komisi


Pemberantasan Korupsi harus memanggil Hadi Poernomo untuk meminta klarifikasi asal-
muasal kekayaannya. Zainal Arifin Mochtar, Koordinator Pusat Studi Antikorupsi
Universitas Gadjah Mada, menilai harta hibah yang berkali-kali tidak logis.

Kepada Tempo, tiga pekan lalu, Hadi Poernomo menyatakan pembelian hampir semua
asetnya bersumber dari hadiah pernikahan dari mertuanya. Ia mengembangkan hadiah
itu untuk berbisnis jual-beli tanah. Ia pun menjelaskan, "Ada hibah, saya jual, uangnya
ya uang hibah. Saya belikan lagi, ya tetap hibah. Ada sebagian hasil gaji dan
penghasilan, lalu digabung dengan hibah, semuanya menjadi hibah."

Cheta Nilawaty, Eka Utami Aprilia