Anda di halaman 1dari 4

Maukah Nabi Jadi Artis Ramadhan?

Oleh: Hadisaputra

Jama’ah Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Sulsel

Praak!!! Suara petasan bersahut-sahutan. Menggantikan tradisi bedug. Ramadhan


gegap gempita. Bukan hanya riuh di kalangan anak-anak, tapi juga bapak-ibu, tua-muda
semua merasakan keriuhannya. Lihatlah spanduk-spanduk Ramadhan bertebaran di
seluruh penjuru kota; masjid, pasar, kantor dan ruang-ruang publik lainnya. Nontonlah
televisi, seabrek acara Ramadhan sedang diobral. Hampir semua acara dikemas secara
‘Islami’. Acara buka puasa pun tak kalah hebohnya, mulai dari masjid hingga hotel
berbintang. Rasanya ‘Masyarakat Islam’ telah terwujud. Mungkin saatnya
Muhammadiyah ‘lempar handuk’, cita-citanya telah tercapai.

Tapi tunggu dulu, mari kita jawab pertanyaan reflektif dari K.H. Mustofa Bisri
(akrab disapa dengan panggilan Gus Mus). Dimanakah posisi Allah dalam diri kita di
tengah gegap gempita Ramadhan tersebut? Seberapa murnikah niat kita dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah Ramadhan? Atau seberapa jauh dorongan nafsu
yang samar menyusupi keinginan kita mendapatkan ridha Allah?

Religio-tainment

Idy Subandi Ibrahim, seolah ingin menyahuti pertanyaan Gus Mus dengan
menyatakan bahwa muncul indikasi kuat diantara sebagian masyarakat akhir-akhir ini
yang hanya menjadikan praktik dan pengalaman religius tak lebih sebagai komoditi
hiburan atau komoditi pengisi waktu senggang (religio-tainment).

Maka menurut Idy Subandi, jangan heran kalau jalan pencarian Tuhan manusia
modern tidak lagi mesti lewat perenungan dalam kesunyian, tetapi cukuplah lewat
pengajian yang mendatangkan siraman rohani dari da’i beken yang diiringi konser nasyid
dan disponsori barang-barang konsumsi massa (termasuk mungkin rokok) serta tak
ketinggalan pula disertai door prize yang dimaksudkan menarik khalayak.
Saya pun teringat dengan ‘kelakar bermakna’ Nasruddin Hoja. Suatu hari, Nasruddin
mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata ia mencari
jarum. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum tersebut.
Meskipun cukup lama mencari, jarum tersebut tak kunjung ditemukan. Tetangganya pun
bertanya, “jarumnya jatuh dimana?”. Dengan ekspresi tanpa rasa bersalah, Nasruddin pun
menjawab, “jatuh di dalam”. Tetangganya segera menyambar, “Lalu kenapa engkau
mencarinya di luar?”. “Karena di dalam gelap, di luar terang” jawab Nasruddin polos.

Apakah perjalanan Ramadhan kita mirip dengan kisah Nasruddin itu? Kita berupaya
menemukan makna Ramadhan melalui aktivitas yang gegap gempita, namun suasana
kebatinan kita tetap loyo. Setelah Ramadhan kita kembali kepada karakter kebinatangan
kita. Ramadhan sekadar menyisakan memori kemeriahan minus ‘isi ulang’ iman.

Perjumpaan Imajiner

Gegap-gempita Ramadhan atau religio-tainment itu terasa sangat dekat dengan


komoditifikasi agama. Oleh karena itu saya ingin menghadirkan sebuah perjumpaan
imajiner bersama Rasulullah SAW untuk mempercakapkan realitas tersebut. Sebuah
perjumpaan dengan beberapa pertanyaan.

Ya Rasulullah saya pernah mendengar kisah bahwa dahulu ada sahabat yang
terpesona dengan keindahan wajahmu sampai bertanya, “Manakah yang lebih tampan,
engkau atau Yusuf?”. Kala itu engkau menjawab “Yusuf lebih tampan, tapi aku lebih
manis!”. Saya yakin banyak Production House yang akan menawarkanmu untuk menjadi
pemeran utama Sinetron Ramadhan, bersediakah engkau wahai Nabiullah?

Saya yakin Baginda Nabi akan menolaknya. Nanti ummat akan menganggap
hidup ini sesederhana sinetron. Jangan sampai mereka menganggap ajaran-ajaran Nabi
hanyalah sandiwara dan skrip sutradara belaka. Biarlah Islam itu dipelajari melalui
pengajian-pengajian atau kitab-kitab para ulama. Supaya ada kesungguhan dari ummat
untuk bermujahadah dalam mempelajari Islam.
Ya Rasulullah, sekiranya engkau ditawari oleh perusahaan-perusahaan kartu
selular untuk membuat rekaman-rekaman singkat sabda-sabdamu untuk dijadikan NSP,
sekaligus memintamu untuk jadi bintang iklannya. Lalu mereka juga memintamu untuk
membuat naskah “sms premium”, buat pelanggan yang rindu nasehat-nasehatmu secara
rutin melalui sms. Bersediakah engkau wahai Rasulullah?

Saya juga yakin engkau akan akan menolaknya dengan lembut. Sebab itu berarti
menjadikan praktik dan pengalaman religius tak lebih sebagai komoditi hiburan atau
komoditi pengisi waktu senggang (religio-tainment). Menjadi Islam tidak cukup dengan
memiliki NSP ‘islami’ atau berlangganan sms premium ‘islami’. Islam adalah
perenungan dan perkhidmatan. Ia butuh kesungguhan refleksi dalam kesenyapan, dan
keseriusan berjihad menegakkan keadilan dan kemanusiaan.

Ya Rasulullah sekiranya engkau ditawari menjadi bintang iklan produk makanan


“edisi Ramadhan” dan iklan produk pakaian islami, maukah engkau menerimanya?

Aku yakin engkau akan menjawab dengan ramah bahwa tugasmu hanya
mengingatkan ummat tentang halal-haramnya makanan, bukan mengarahkan selera.
Biarlah itu menjadi hak masing-masing individu. Engkau juga akan mengingatkan bahwa
“perut itu salah satu sumber penyakit”, jadi makanlah secukupnya dan jangan berlebih-
lebihan. Makanan sesungguhnya adalah racun bagi tubuh, jika ia berlebihan. Dan jangan
lupa untuk berbagi makanan dengan orang di sekitarmu, meskipun sekadar berbagi kuah
sayur.

Soal iklan produk pakaian, aku yakin engkau akan menolak dengan berkata:
“biarlah urusan pakaian menjadi urusan masing masing. Asalkan menutup aurat dan tidak
berlebih-lebihan (dari segi bahan dan harga) dan tidak berefek pada kesombongan, atur
sajalah. Kalau saya jadi bintang iklan, nanti ummat akan menganggap itulah satu-satunya
model pakaian yang Islami”.

Ya Rasulullah, sekiranya engkau ditawari menjadi pemateri “Tips-tips shalat


khusyu” atau undangan dari Ibu-ibu majelis taklim istri-istri pejabat dan perkumpulan
artis untuk mengisi pengajian di hotel-hotel berbintang, maukah engkau menghadirinya
wahai Rasulullah?

Saya yakin engkau tidak akan menolaknya, namun engkau akan meminta dengan
lembut agar panitia kegiatan tersebut memindahkan acaranya ke masjid, yang kini juga
bertebaran (mulai dari yang sederhana sampai yang megah). Aku yakin engkau akan
menasehati dengan lembut, “Islam itu tidak menyukai gaya hidup bermewah-mewahan,
kalau mau pengajian bikin saja di masjid, atau di rumah salah satu peserta pengajian”.

Ya Rasulullah, engkau tentu saja akan sangat sibuk dengan jadwal dakwah yang
cukup padat. Engkau tentu saja membutuhkan seorang manajer. Manajermu itu tentu saja
adalah seorang EO profesional. Ia akan memasang tarif untuk setiap ceramah yang kau
hadiri. Ataukah akankah engkau memilih format yang berbeda, dengan menjadi
pembicara/trainer “kecerdasan spiritual” misalnya? Berapa tarifmu setiap ceramah/
mengisi training wahai Rasulullah?

Wah, untuk pertanyaan terakhir ini, saya tidak bisa menebak jawabanmu wahai
Rasulullah. Di zaman modern ini, profesionalitas itu ukurannya kapasitas keahlian dan
gaji. Kalau engkau menolak digaji, nanti engkau akan disebut tidak profesional. Biar
engkau saja yang menjawabnya.

Ya Rasulullah, engkau tentu saja sibuk untuk menjawab pertanyaanku saat ini.
Oleh karena itu sudikah engkau memberikan nomor handphone dan alamat emailmu?
Agar aku bisa menghubungimu lagi ya Nabiullah. Sekalian dengan akun facebookmu,
agar bisa kuikuti nasehat-nasehat update di ‘status’mu. Maaf atas kelancanganku ya
Rasulullah, aku sekadar ingin berbagi kegundahan. Wallahu A’lam.

Tidung IX, 20 Agustus 2010