BADAN PELAKSANA KE B EGIATAN US SAHA HULU MINYAK DA GAS BUM AN MI (BPM MIGAS

)

PED DOMAN T TATA KE ERJA No. ………… . …………… ……..

TENT TANG:

PENYU USUNAN K KAJIAN RONA LIN R NGKUNG GAN AWA AL (ENVIR RONMEN NTAL BASELINE A ASSESS SMENT)

JAKA ARTA

PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT)
Ditetapkan :

Halaman 1 dari 35

DRAFT

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN .................................................................. 1.1. Latar Belakang .............................................................. 1.2. Maksud dan Tujuan ....................................................... 1.3. Acuan Normatif .............................................................. 1.4. Definisi dan Istilah .........................................................

3 3 3 4 5

BAB II PENGAJUAN DAN EVALUASI EBA .................................. 8 2.1. Kriteria Pelaksanaan EBA ............................................. 8 2.2. Mekanisme Pengajuan dan Evaluasi EBA .................... 10 2.3. Rencana Kerja dan Anggaran EBA ............................... 12 BAB III PENYUSUNAN DOKUMEN EBA ....................................... 12 3.1. Ruang Lingkup EBA ...................................................... 13 3.2. Pedoman Teknis EBA ................................................... 13 3.2. Kepemilikan, Aksesibilitas dan Kearsipan Data ............ 14 BAB IV PENUTUP ........................................................................... 14 DAFTAR ISTILAH LAMPIRAN

Pedoman ini diterbitkan oleh BPMIGAS bekerja sama dengan PT. SURVEYOR INDONESIA

PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT)
Ditetapkan :

Halaman 2 dari 35

DRAFT

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Contoh Format Proposal Teknis EBA Contoh Format Rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB) Contoh Format Budget Schedule 18E Pedoman Teknis EBA Sistematika Laporan EBA

Acuan Normatif 1) Undang-Undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.2007 section V butir 5. maka diperlukan pedoman baku penyusunan EBA. and thereafter conduct any obligation pursuant to applicable law requirements. Latar Belakang 1) Dalam setiap kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi selalu ada potensi dampak terhadap lingkungan.2. .PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 3 dari 35 DRAFT BAB I PENDAHULUAN 1. 5. • “Contractor shall conduct an environmental baseline assessment at the beginning of CONTRACTOR's activities.1.3.6 a).2. untuk mengantisipasi terjadinya perubahan lingkungan akibat kegiatan migas. 2) Kajian Rona Lingkungan Awal (Environmental Baseline Assessment) merupakan salah satu kewajiban KKKS sesuai ketentuan kontrak bagi hasil: • “Contractor shall conduct an environmental baseline assessment at the beginning of contractor’s activities” (PSC term . 3) Mengingat kompleksitas pelaksanaan EBA dan informasi mengenai kondisi rona awal lingkungan merupakan data penting bagi kegiatan operasi KKKS. 2) Pedoman bagi BPMIGAS dalam proses evaluasi laporan kajian rona lingkungan awal yang disusun oleh KKKS berdasarkan ketentuan di dalam kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract).2. such as analysis of environmental impact (AMDAL)” (PSC term . 1.2009 section V.5). Maksud Dan Tujuan Maksud dan tujuan Pedoman Tata Kerja (PTK) ini sebagai : 1) Pedoman bagi KKKS dalam proses penyusunan laporan kajian rona lingkungan awal (EBA). 1. sehingga perlu diketahui rona lingkungan awal terlebih dahulu.

6) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 4 dari 35 DRAFT 2) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 11) Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. 17) Keputusan Menteri LH Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan. 16) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. 4) Undang-Undang Nomor 07 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 14) Keputusan Menteri LH Nomor 48 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan. . 3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. 10) Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. 7) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 18) Keputusan Menteri LH Nomor 115 tahun 2003 tentang Pedoman Status Mutu Air. 15) Keputusan Menteri LH Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang. 19) Keputusan Menteri LH Nomor 200 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku Kerusakan Dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun. 12) Keputusan Presiden RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung. 5) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 9) Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 8) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. 13) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 Tahun 1990 tentang Baku Mutu Air Bersih.

Definisi dan Istilah 1) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 1. 22) Keputusan Ketua Bapedal Nomor 47 tahun 2001 tentang Pedoman Pengukuran Kondisi Terumbu Karang.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 5 dari 35 DRAFT 20) Keputusan Menteri LH Nomor 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. untuk pemisahan dan pemurnian termasuk minyak dan gas bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya. pembangunan sarana pengangkutan. 7) Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak dan Gas Bumi dari Wilayah Kerja tertentu. . 21) Keputusan Menteri LH Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut. 3) Data Sekunder adalah data yang diperoleh tidak secara langsung melainkan dari pihak lain yang sudah terlebih dahulu melakukannya. penyimpanan. 5) Environmental Baseline Assessment (EBA) diartikan sebagai Kajian Rona Lingkungan Awal merupakan telaahan/kajian/penilaian kondisi awal lingkungan suatu wilayah kerja pertambangan pada keadaan waktu tertentu. dan pengolahan lapangan. 6) Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh cadangan Minyak dan Gas Bumi di Wilayah Kerja yang ditentukan. 2) Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi.4. yang terdiri dari pengeboran dan penyelesaian sumur. 4) Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian dengan berbagai cara atau metode seperti pengukuran/pengamatan/wawancara baik secara komersial maupun non komersial.

daya. keadaan dan makhluk hidup.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 6 dari 35 DRAFT 8) Gas Bumi adalah hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfir berupa fasa gas yang diperoleh dari proses penambangan minyak dan gas bumi. 10) Kawasan Sensitif adalah suatu kawasan yang dianggap rentan terhadap aktifitas kegiatan migas yang akan dikembangkan. 12) Kontrak Kerja Sama (KKS) yang dikenal sebagai PSC (Production Sharing Contract) adalah Kontrak Bagi Hasil atau bentuk kerja sama lain dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih menguntungkan Negara dan hasilnya dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 15) Minyak Bumi adalah hasil proses alami hidrokarbon yang berada dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfir berupa fasa cair atau padat termasuk aspal. dan bitumen yang diperoleh dari proses penambangan. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. tetapi tidak termasuk batubara atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha minyak dan gas bumi. termasuk manusia dan perilakunya. 14) Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. 9) Hardcopy adalah dokumen laporan dalam format dicetak di atas kertas. Penentuan kawasan sensitif dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagaimana dalam lampiran PTK ini. 11) Kegiatan Usaha Hulu Migas adalah kegiatan usaha yang berintikan atau bertumpu pada kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi. termasuk gas bumi yang diubah menjadi cair untuk memudahkan pengangkutan. 16) Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan. pengembangan. . lilin mineral atau ozokerit. pemanfaatan. 13) Kontraktor KKS (KKKS) adalah Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang diberikan wewenang untuk melaksanakan eksplorasi dan/atau eksploitasi pada suatu wilayah kerja berdasarkan kontrak kerjasama dengan Badan Pelaksana.

dan pengendalian lingkungan hidup. dan memelihara kelangsungan hidupnya. pemulihan. Secara nasional disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 7 dari 35 DRAFT pemeliharaan. 21) Suku asli (Indigenous people) adalah kelompok etnis yang menempati lokasi geografis yang berkaitan dengan sejarah tertentu dengan cara hidupnya yang unik. tempat manusia dan makhluk lain hidup. yang merupakan suatu pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan 24) Wilayah Kerja Pertambangan (WK) adalah daerah tertentu di dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia untuk pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi. 17) Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan awal. melakukan kegiatan. yang dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi. ruang laut. termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah. 22) Tata ruang (Land use) adalah wujud struktur ruang dan pola ruang disusun secara nasional. regional dan lokal. yaitu kondisi alam atau komponen-komponen lingkungan awal sebelum perencanaan dan pembangunan fisik dimulai. dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK). . 19) Ruang Lingkup EBA adalah lingkup kajian yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan EBA 20) Softcopy adalah dokumen berformat digital dalam bentuk file komputer. 18) Ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat. 23) UKL/UPL adalah Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. dan ruang udara. pengawasan.

wajib melaporkan hasil kajiannya kepada BPMIGAS sebagai bahan evaluasi perlu atau tidaknya dilakukan EBA. 5) Apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa data yang tersedia tidak mewakili EBA. 6) Pengumpulan data primer dapat dilakukan bersamaan dengan pengambilan data kajian lingkungan lainnya untuk efisiensi waktu dan biaya. Kriteria Pelaksanaan EBA 1) EBA wajib dilakukan oleh semua KKKS sesuai dengan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract). maka KKKS tidak perlu menyusun EBA. 2) EBA wajib dilakukan pada awal kegiatan KKKS.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 8 dari 35 DRAFT BAB II PENGAJUAN DAN EVALUASI EBA 2. Evaluasi tersebut tidak dapat diberlakukan secara umum untuk semua KKKS. Penyusunan EBA dapat menggunakan data kajian lingkungan yang sudah ada dan data tambahan (primer dan sekunder) sesuai dengan lingkup kajian. 4) Apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa data yang tersedia sudah mewakili EBA.1. 3) Bagi KKKS yang sudah melakukan kajian lingkungan. 7) Kriteria pelaksanaan EBA disampaikan sesuai bagan alir pada Gambar 1 : . maka KKKS wajib menyusun EBA.

PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 9 dari 35 DRAFT Gambar 1 Bagan alir pengaturan pelaksanaan EBA .

2. sebagai berikut: 1) KKKS mengajukan usulan kegiatan EBA yang dimasukkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran tahunan dan/atau revisinya. 6) BPMIGAS memberikan surat keterangan/pernyataan terhadap dokumen hasil kajian yang telah memenuhi pedoman yang ditetapkan. BPMIGAS akan melakukan evaluasi rincian ruang lingkup dan rencana kerja penyusunan EBA sebelum pelaksanaan EBA. 2) EBA dapat dilaksanakan setelah Rencana Kerja dan Anggaran disetujui. . 3) Jika diperlukan. 4) KKKS melaporkan hasil pelaksanaan EBA kepada BPMIGAS 5) BPMIGAS melakukan tanggapan dan evaluasi terhadap hasil pelaksanaan EBA. Mekanisme Pengajuan dan Evaluasi EBA Mekanisme pengajuan penyusunan EBA oleh KKKS kepada BPMIGAS dilakukan sesuai Gambar 2.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 10 dari 35 DRAFT 2.

3) Contoh rincian rencana anggaran biaya sebagaimana Lampiran 2 PTK ini. disampaikan kepada BPMIGAS dalam suatu proposal teknis.3.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 11 dari 35 DRAFT KKKS Mulai BPMIGAS Usulan Kegiatan EBA Usulan Rencana Kerja Dan Anggaran tahunan dan/atau revisinya Evaluasi I Evaluasi Teknis (FTO) Tidak Ya Rencana Pelaksanaan EBA Apakah dapat disetujui ? Evaluasi rincian ruang lingkup dan rencana kerja*) Pelaksanaan EBA Dokumen EBA Evaluasi Hasil (FTO) Tidak Apakah dokumen EBA telah memenuhi PTK? Ya Surat Keterangan Selesai *) Jika diperlukan Gambar 2 Mekanisme kerja pengajuan EBA 2. 4) Rencana Anggaran Biaya EBA dimasukan dalam BS (Budget Schedule) 18E (Lampiran 3 PTK ini). . 2) Contoh proposal teknis sebagaimana Lampiran 1 PTK ini. Rencana Kerja dan Anggaran EBA 1) Usulan kegiatan EBA dimasukkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran tahunan dan/atau revisinya.

sebagaimana yang terdapat pada Lampiran 4 PTK ini. 2) Tahapan kegiatan yang harus dilakukan dalam EBA. biologi.2. b) Menyusun rencana kerja termasuk menentukan titik pengambilan contoh aspek fisika.1. 4) EBA harus pula mengemukakan informasi mengenai tata ruang wilayah dimana WK berada. sosial ekonomi. 2) EBA minimal mencakup komponen-komponen lingkungan: geofisik-kimia. kimia. sosial budaya. sosial budaya. Ruang Lingkup EBA 1) Ruang lingkup EBA meliputi minimal Wilayah Kerja (WK) KKKS masing-masing. kimia. meliputi: a) Menetapkan tim kajian yang berpengalaman dan relevan sesuai bidang kajian aspek fisika. Dasar penentuan jumlah dan lokasi pengambilan contoh . sosial ekonomi. sosial ekonomi. Pedoman Teknis EBA 1) Tujuan EBA untuk mengidentifikasi karakteristik dan kondisi lingkungan awal termasuk status lahan dan kawasan sensitif sebelum KKKS melakukan kegiatan di wilayah kerjanya. biologi.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 12 dari 35 DRAFT BAB III PENYUSUNAN DOKUMEN EBA 3. budaya dan kesehatan masyarakat. dan kesehatan masyarakat. dan kesehatan masyarakat. 3. biologi. serta dasar penentuan arah pengembangan kegiatan operasi KKKS 6) EBA dilengkapi dengan peta-peta sehingga bahasan yang disajikan menjadi lebih informatif. 5) EBA dapat digunakan sebagai rujukan awal dalam pengkajian dampak kegiatan eksplorasi dan atau eksploitasi migas. 3) Aspek-aspek lingkungan dikaji secara holistik sehingga memberikan informasi karakteristik lingkungan termasuk kondisi ekosistem maupun karakteristik sosial budaya dan kesehatan masyarakat di dalam WK. termasuk di dalamnya harus dapat menggambarkan kawasan sensitif jika ada.

Aksesibilitas dan Kearsipan Data 1) Hasil akhir EBA berupa dokumen laporan EBA dalam format hardcopy dan softcopy.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 13 dari 35 DRAFT c) d) e) f) g) h) i) j) harus dapat dijelaskan secara rinci dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. biologi. Kepemilikan. 2) Dokumen laporan EBA sepenuhnya menjadi milik negara dan harus dikembalikan kepada negara ketika dilakukan pengembalian seluruh WK. Menerapkan prosedur kontrol kualitas dalam penyusunan laporan EBA untuk menjamin kualitas laporan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Melakukan analisis contoh pada laboratorium yang terakreditasi. sosial budaya. Melakukan kajian data sekunder (bila ada) sebagai bagian dari upaya pendalaman dan pengayaan kajian (data sekunder dalam hal ini termasuk peta-peta). Menerapkan prosedur kontrol kualitas yang jelas terhadap contoh/sampel yang telah diambil. Menyiapkan laporan final EBA dalam Bahasa Indonesia (soft copy dan hard copy). Melakukan diskusi dengan BPMIGAS pihak-pihak terkait dan dalam rangka penyempurnaan dokumen. harus mendapat ijin tertulis dari BPMIGAS. Melakukan penulisan laporan EBA sesuai format yang disampaikan pada Lampiran 5 PTK ini. 3. . Data-data sekunder yang tersedia dapat dijadikan pertimbangan dalam penentuan titik pengambilan contoh. sosial ekonomi. kimia. 3) BPMIGAS dan KKKS berkewajiban melakukan pengarsipan dokumen laporan EBA dengan tujuan untuk mempermudah penyampaian informasi dan pemakaian data berkaitan dengan operasi kegiatan migas 4) Bagi pihak lain yang akan menggunakannya.3. Melakukan pengumpulan data primer melalui kegiatan survai lapangan yang meliputi aspek fisika. dan kesehatan masyarakat.

.....PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 14 dari 35 DRAFT BAB IV PENUTUP 1) Pedoman Penyusunan EBA diberlakukan sebagai suatu prosedur tetap dan digunakan sebagai rujukan oleh KKKS dalam penyusunannya.............. Kepala BPMIGAS (..................... 3) Apabila ada hal-hal yang belum cukup diatur dalam PTK ini maka sewaktu-waktu dapat dan akan disempurnakan atau disusun kembali serta disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan yang akan terjadi... 2) Pedoman ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan ditandatangani. Ditetapkan di Jakarta.........) ... Pada tanggal ...

PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 15 dari 35 DRAFT DAFTAR ISTILAH ALOS AMDAL AWLR BAKOSURTANAL BKSDA BAPPEDA BMKG BPS DAS EBA ESDM ISPU Keppres Kepmen KLH KKKS KLHS MIGAS NGO PSC PTK PP Permen RBI RPPLH RTRW SNI SPAS TPI UKL Advanced Land Observation Satellite Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Automatic Water Level Recorder Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Balai Konservasi Sumberdaya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Badan Pusat Statistik Daerah Aliran Sungai Environmental Baseline Assessment Energi dan Sumber Daya Mineral Indeks Standar Pencemaran Udara Keputusan Presiden Keputusan Menteri Kementrian Lingkungan Hidup Kontraktor Kontrak Kerja Sama Kajian Lingkungan Hidup Strategis Minyak dan Gas National Government Organization Production Sharing Contract Pedoman Tata Kerja Peraturan Pemerintah Peraturan Menteri Rupabumi Indonesia Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Rencana Tata Ruang Wilayah Standard Nasional Indonesia Stasiun Pengukuran Arus Sungai Tempat Pelelangan Ikan Upaya Pengelolaan Lingkungan .

PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 16 dari 35 DRAFT UPL USLE WK WP&B Upaya Pemantauan Lingkungan Universal Soil Loss Equation Wilayah Kerja Work Program and Budget .

METODA KAJIAN Pengumpulan dan Analisis Data (Komponen Geofisik-Kimia...2..... Tujuan dan Manfaat Kajian 1...1.. I.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 17 dari 35 DRAFT LAMPIRAN 1 CONTOH FORMAT PROPOSAL TEKNIS EBA Judul KKKS Lapangan/Blok :.....4........ 2........................ :. Sosial Ekonomi Budaya dan Kesehatan Masyarakat) Penentuan Kawasan Sensitif RENCANA PELAKSANAAN KAJIAN Bagan Alir Pekerjaan Jangka Waktu Pelaksanaan Tenaga Ahli RENCANA ANGGARAN BIAYA (Ref: LAMPIRAN 2) ......3................2. 3....................... III.3.. 3... :................................................. Latar Belakang (deskripsi singkat kegiatan hulu Migas) 1..................... 3...... Lingkup Kajian 1........2..1...... PENDAHULUAN 1............... Biologi.........1........... Lokasi Kajian II.. IV.. 2........................

. :..... :............................................ dll) Tim Sosekbudkesmas Ahli Sosial Ekonomi (dapat dijabarkan lebih lanjut menjadi ahli sosek perikanan..........ahli terumbu karang......................................................................PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 18 dari 35 DRAFT LAMPIRAN 2 CONTOH FORMAT RINCIAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) PENYUSUNAN EBA Judul KKKS Lapangan/Blok No I A B 1 2 :..................................dll) Ahli Sosial Budaya Ahli Kesehatan Masyarakat Ahli Pemetaan GIS (jika diperlukan) Jumlah IV TOTAL BIAYA (Tidak termasuk PPN 10%) II III 1 2 3 IV 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 ......... Deskripsi Faktor Biaya Jumlah Satuan Beban Biaya perSubtotal unit Jumlah Satuan Total Data Data Sekunder Data Primer Survey lapangan (perlu didetilkan sesuai keperluan) Analisis Laboratorium (perlu didetilkan sesuai keperluan) Jumlah I Diskusi dan Presentasi Di Perusahaan dan BPMIGAS Jumlah II Laporan Draft Laporan (dalam bahasa Indonesia) Laporan Final (dalam bahasa Indonesia) Alat Tulis dan Administrasi Jumlah III Honor Tim Ketua Tim (dapat dirangkap oleh salah satu tim ahli di bawah ini) Tim Fisika-Kimia Ahli Klimatologi dan Kualitas Udara Ahli Fisika-Kimia Perairan Ahli Tanah Ahli Hidro-oceanografi Ahli Hidrologi Ahli Geologi Tim Biologi Ahli Biologi Darat Ahli Biologi Perairan (dapat dijabarkan lebih lanjut menjadi ahli perikanan/nekton.................................................................

/SLAR/SAR ‐ Reprocessing for study ‐ Mapping/Reporting Subtotal SEISMIC ‐ Reprocessing for study ‐ Mapping/Reporting Subtotal CONSULTANCY OTHER ‐ Environmental Baseline Assessment ‐ ……………… Subtotal TOTAL COSTS Time Phased Expenditures : ‐ This Year ‐ Future years ‐ Total Operator Approved by:_______________ Position : ______________ Date: ___________ Approved by:_______________ Position : ______________ Date: ___________ Approved by:_______________ Position : ______________ Date: ___________ . START DATE COMPLETION DATE CLOSE‐OUT DATE : : : : : Original OPERATOR               : CONTRACT AREA   : BUDGET YEAR          : REVISED BUDGET 2 3 Ditetapkan : LINE 1 PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) LAMPIRAN 3 CONTOH FORMAT BUDGET SCHEDULE (BS) 18E DESCRIPTION ORIGINAL BUDGET ACTUAL EXPENDITURES PRIOR  CURRENT  TOTAL YEARS YEARS 4 5 6 ACTUAL OVER/(UNDER) BUDGET 7 ACTUAL OVER/(UNDER) BUDGET 8 Halaman 19 dari 35 DRAFT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 BPMIGAS GEOLOGY Laboratory ‐ Biostratigraphy ‐ Sedimentology ‐ Petrography ‐ Age/Dating (K/Ar) ‐ Other Mapping/Reporting Subtotal GRAV./MAG.BPMIGAS PRODUCTION SHARING CONTRACT AUTHORIZATION FOR EXPENDITURES ‐ EXPLORATION & EXPLOITATION STUDY SURVEY TYPE PROGRAM NAME PROJECT NAME : : : Environmental Baseline Study  Environmental Baseline Study  SCHEDULE NO. 18E AFE NO.

2) Data rona lingkungan dan informasi kegiatan lain dianalisis dan ditelaah lebih lanjut untuk dapat memberikan gambaran tentang kondisi rona lingkungan awal. yang meliputi: a. RTRW Kabupaten/ Kota. biologi. keberadaan kawasan sensitif dan informasi dari tipikal rencana kegiatan hulu migas. c. keberadaan kawasan sensitif. Provinsi. yaitu: 1) Proses pengumpulan data. Pengumpulan data perusahaan terkait dengan tipikal rencana kegiatan hulu migas. sosial ekonomi. 6) Kerangka umum penyusunan EBA ditunjukkan pada Gambar 3. sosial budaya.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 20 dari 35 DRAFT LAMPIRAN 4 PEDOMAN TEKNIS EBA 4. Pengumpulan data rona lingkungan (geofisik kimia. dan acuan lainnya. . Pengumpulan peraturan perundang-undangan (RTRW Nasional. b. Kerangka Umum Penyusunan EBA Proses penyusunan EBA meliputi beberapa tahapan. 3) Kawasan sensitif ditentukan berdasarkan data kondisi rona lingkungan awal dan peraturan perundang-undangan. dan arahan kegiatan migas berdasarkan pertimbangan kondisi lingkungan. 4) Analisis kertekaitan lingkungan dengan kegiatan migas ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi rona lingkungan awal.1. kesehatan masyarakat) dan deksripsi tentang kegiatan lain dan informasi lain minimal di dalam WK. 5) Kesimpulan yang dihasilkan harus dapat menggambarkan kondisi rona lingkungan awal. peraturan mengenai baku mutu lingkungan.

arah dan kecepatan angin. 3) Data iklim meliputi namun tidak terbatas pada: curah hujan. Analisis Kondisi Rona Lingkungan Awal 4.2. lama penyinaran matahari. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer dan atau sekunder yang masih relevan. lama hari hujan. zona .2.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 21 dari 35 DRAFT Gambar 3 Kerangka umum penyusunan EBA 4. Iklim A.1. Komponen Geofisik-Kimia 4. Analisis Data Data dianalisis untuk mengetahui tipe iklim. B. dan kelembaban bulanan.1. agroklimat maupun arah angin dominan (windrose).1. 2) Data diperoleh dari stasiun iklim/BMKG terdekat atau sumber lain sekurang kurangnya 10 tahun terakhir.2.

41 Tahun 1999 atau peraturan dari pemerintah daerah setempat).2. 3) Lokasi pengambilan titik contoh kualitas udara meliputi wilayah daratan sampai dengan pesisir/pantai.2. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan.2. 6) Penentuan titik contoh agar memperhatikan arah angin dari lokasi yang dikaji. 2) Hasil analisis contoh kemudian dibandingkan dengan baku mutu udara ambien yang berlaku (contohnya: PP No. 2) Parameter yang diambil adalah tingkat kebisingan dengan cara pengambilan contoh sesuai dengan metode yang tercantum dalam KepMen LH No 48 Tahun 1996. . 5) Penentuan titik contoh setidaknya mewakili peruntukan kawasan yang ada di dalam WK (misalnya kawasan pemukiman dan industri). 5) Penentuan titik contoh setidaknya mewakili peruntukan kawasan yang ada di dalam WK (misalnya kawasan pemukiman dan industri).PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 22 dari 35 DRAFT 4. 4) Pengukuran data di lepas pantai dilakukan jika diperlukan. Analisis Data 1) Contoh dianalisis pada laboratorium yang sudah terakreditasi oleh lembaga akreditasi nasional.3. 3) Lokasi pengukuran kebisingan meliputi wilayah daratan sampai dengan pesisir/ pantai. 41 Tahun 1999 atau peraturan lain yang akan menggantikannya. 4) Pengukuran data di lepas pantai dilakukan jika diperlukan. 4. B. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. Kualitas Udara A. Kebisingan A. 2) Parameter contoh/sampel sekurang-kurangnya adalah seperti yang tercantum dalam PP No.1.1.

Geologi A.1. sudah .5. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data sekunder dari Pusat Penelitian Geologi atau kepustakaan lainnya berupa citra satelit. dan potensi bencana (geohazard). Analisis Data 1) Contoh dianalisis pada laboratorium yang terakreditasi oleh lembaga akreditasi nasional. Pengumpulan Data 1) Data ruang dikumpulkan dari laporan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten dan Provinsi. B. 4. Analisis Data 1) Hasil pengukuran di rata-ratakan kemudian dibandingkan dengan baku tingkat kebisingan yang berlaku (contohnya: KepMenLH No. 2) Melakukan observasi lapang jika diperlukan. B. 4) Data fisiografi lahan dikumpulkan dari peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 23 dari 35 DRAFT B. kegempaan. peta geologi. 2) Data lahan dapat dikumpulkan dari peta satuan lahan.2. 6) Banyaknya contoh tanah sekurang-kurangnya 1 titik pada setiap satuan lahan yang ada. Lahan. Ruang. foto udara. sesar. lipatan. hidrogeologi. dan Tanah A. 4. 48 Tahun 1996 atau peraturan dari pemerintah daerah setempat).4. atau lainnya). dan tsunami (jika ada). 5) Data sifat kimia dan fisika tanah dikumpulkan dari pengambilan contoh tanah.1. Analisis Data Data yang diperoleh kemudian diinterpretasikan untuk menggambarkan struktur geologi. ALOS. 3) Data penutupan lahan dapat dikumpulkan dari data sekunder yang merupakan hasil interpretasi citra terbaru (dapat bersumber dari Landsat.2.

3) Pengambilan contoh kualitas air meliputi aspek fisik. 2) Data sekunder berupa peta DAS dari Departemen Pekerjaan Umum dan sedapat mungkin data tinggi muka air tanah rata-rata (AWLR) dari stasiun pengukuran arus sungai (SPAS) sekurang kurangnya 10 tahun yang terdekat dengan area kajian WK migas. kesuburan tanah. Kualitas Air A. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. maupun kualitas air laut. dan laju erosi tanah. 3) Data primer diambil dari pengukuran morfometri sungai yang berjumlah minimal 1 titik pada setiap sungai utama yang ada dalam WK. danau.7. 3) Penghitungan Laju erosi tanah menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) yang sedapat mungkin menghitung laju erosi tanah rata-rata tertimbang dari suatu suatu DAS/Sub DAS (watershed area). Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. kemampuan tanah.2. 4.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 24 dari 35 DRAFT 2) Data yang diperoleh kemudian diinterpretasikan sesuai dengan keberadaan zonasi pemanfaatan ruang. 5) Data luasan DAS/Sub DAS digunakan untuk analisis debit aliran puncak.6. 6) Melakukan penggambaran neraca air (water balance). 3) Data dari SPAS dianalisis secara hidrograf. 2) Data kualitas air yang dimaksud dapat terdiri dari: kualitas air sungai.1.1.2. B. kimia dan biologi. Hidrologi A. sumur. 4. 2) Data primer digunakan untuk menduga debit sesaat. Analisis Data 1) Peta dan DAS diinterpretasikan tentang pola drainase dan diukur luasan DAS/Sub DAS. . 4) Hasil analisis data dapat menggambarkan potensi banjir di area kajian.

pantai. Pengumpulan Data: 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. 6) Penentuan lokasi dan jumlah pengambilan contoh kualitas air dapat dilakukan dengan mempertimbangkan luas area WK.2. 2) Lokasi pengambilan sedimen dapat meliputi sedimen sungai. . d) Peraturan Menteri Kesehatan No.8. 4.1. Sedimen A. Analisis Data 1) Contoh dianalisis pada laboratorium yang sudah terakreditasi oleh lembaga akreditasi nasional. 4) Peralatan dan proses pengambilan sampel kualitas sedimen dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku dan disesuaikan dengan parameter yang akan diambil. B.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 25 dari 35 DRAFT 4) Pengambilan contoh hanya dilakukan pada 1 musim. 416/PERMENKES /1990. b) Keputusan Menteri LH No 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut. 5) Peralatan dan proses pengambilan sampel kualitas air dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku dan disesuaikan dengan parameter yang akan diambil. ekologis (DAS). c) Keputusan Menteri LH No. 2) Data kualitas air yang sudah dianalisis di laboratorium diinterpretasikan dengan mengkaitkan terhadap kondisi lingkungan sekitar. danau. e) Peraturan lainnya yang terkait. dll. seperti: a) Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 Tentang Pengelolaan kualitas air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pengambilan contoh sedimen di laut pada kedalaman > 100 m dilakukan jika diperlukan. 3) Pengambilan sampel kualitas sedimen meliputi aspek fisik dan kimia. 3) Interpretasi data dapat dilakukan dengan mengacu pada peraturan baku mutu yang sudah ada yang berasal dari pusat maupun daerah. 115 tahun 2003 tentang Pedoman Status Mutu Air. dan laut (hingga kedalaman 100 m).

9. seperti: luas area WK yang dikaji. daerah hulu dan hilir. 4) Data primer untuk parameter arus diambil dengan mempertimbangkan aspek ruang dan waktu.1.2. b) Data arus temporal merupakan pengukuran arus kontinu (di lapisan permukaan dan dasar) selama minimal 3 periode pasang surut di satu tempat yang mewakili lokasi WK. 2) Data kualitas sedimen yang sudah dianalisis di laboratorium diinterpretasikan dengan mengkaitkan terhadap kondisi lingkungan sekitar. 2) Data hidrooseanografi yang diperlukan dalam kajian EBA meliputi namun tidak terbatas pada: a) Pasang surut b) Gelombang c) Bathimetri d) Arus e) Profil suhu-salinitas-densitas. 4) Interpretasi data dapat dilakukan dengan mengacu pada peraturan baku mutu yang sudah ada yang berasal dari pusat maupun daerah atau acuan lain yang dianggap relevan dengan kondisi wilayah kajian. Hidro-Oseanografi A. dll. B. 4. .PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 26 dari 35 DRAFT 5) Penentuan lokasi dan jumlah pengambilan contoh kualitas sedimen dapat dilakukan melalui berbagai macam pertimbangan. Analisis Data 1) Contoh dianalisis pada laboratorium yang sudah terakreditasi oleh lembaga akreditasi nasional. 3) Melakukan analisis data laju sedimentasi sungai. 3) Pengambilan data hanya dilakukan pada 1 musim. pertimbangan degradasi kedalaman perairan. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. sebagai contoh dapat menggunakan persamaan Fournier (1960). a) Data arus spasial merupakan pengukuran arus sesaat (di lapisan permukaan dan dasar) yang dilakukan tersebar di beberapa tempat yang mewakili lokasi WK.

Komponen Biologi 4. 7) Penentuan lokasi dan jumlah pengukuran arus dan profil suhu-salinitas-densitas spasial dapat dilakukan dengan pertimbangan keterwakilan lokasi (contohnya pesisir.2.2.2. diinterpretasi dengan mengkaitkan seluruh parameter dengan kondisi lingkungan sekitar. bernilai sosial. Flora 4. . 2) Menyajikan daftar tumbuhan yang dilindungi. B. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. datar.2.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 27 dari 35 DRAFT 5) Data primer untuk parameter profil suhu-salinitas-densitas sebaiknya diambil dari permukaan hingga dasar/kolom perairan secara spasial mengikuti lokasi pengukuran arus spasial. muara sungai. teluk) dan kondisi bathimetri (contohnya daerah dangkal. 6) Penggunaan peralatan pengukuran parameter arus dan profil suhu-salinitas-densitas yang telah dikalibrasi secara periodik. dan obat-obatan di dalam WK migas. Analisis Data 1) Analisis data hidrooseanografi adalah secara deskriptif. 3) Data hidrooseanografi yang telah dianalisis. patahan).1. lepas pantai.1.1. 4. dan obat-obatan di dalam WK migas. bernilai sosial. 2) Data primer arus dan profil suhu-salinitas-densitas diproses untuk memperoleh gambaran kondisi parameter yang dimaksud secara spasial dan temporal.2. B. Flora darat A.2. Analisis Data 1) Analisis vegetasi terhadap keanekaragaman jenis dan penyebarannya. 2) Melakukan identifikasi jenis-jenis tumbuhan yang dilindungi.

Pedoman Penentuan Status Padang Lamun). 2) Interpretasi data memuat komposisi jenis dan dugaan penyebab kerusakan padang lamun.2.2. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. Padang Lamun A.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 28 dari 35 DRAFT 4. 3) Metode pengukuran yang digunakan untuk mengetahui kondisi mangrove adalah dengan menggunakan Metode Transek Garis dan Petak Contoh (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor No.2. B. 2) Melakukan identifikasi jenis-jenis mangrove dan sebarannya yang terdapat di dalam WK migas. 201 tahun 2004).2. Mangrove A.1. 201 tahun 2004. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. 4.1.3.2. 2) Peralatan dan proses pengamatan kondisi padang lamun dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 200 Tahun 2004 Kriteria Baku Kerusakan Dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun Lampiran III. Analisis Data 1) Penentunan kerusakan dan status padang laman mengacu pada peraturan yang berlaku Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 200 Tahun 2004 Kriteria Baku Kerusakan Dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun Lampiran I dan Lampiran II). 2) Menentukan kriteria baku kerusakan mangrove yang ada di dalam WK sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor No. B. . Analisis Data 1) Analisis terhadap jenis-jenis mangrove dan sebarannya di dalam WK.

Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder. seperti: luas area WK yang dikaji. 4. 4) Peralatan dan proses pengambilan sampel plankton dan makro bentos dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku . .3. dll.2. 3) Data primer dikumpulkan minimal dengan metode penjelajahan di lokasi pengamatan vegetasi/flora dan wawancara kepada penduduk sekitar.2. 2) Sedapat mungkin menyajikan kelimpahan satwa liar di dalam WK. dan endemik. bentuk perairan (pola dan arah arus). Fauna A.2.2. Plankton dan Bentos A. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan.1. Biota Air 4. 2) Data yang dimaksud dapat berupa plankton dan makro bentos yang hidup di perairan tawar (sungai atau danau) dan laut.2.2. 3) Pengumpulan data dapat dilakukan melalui pengumpulan data sekunder maupun primer. B. 2) Data sekunder berupa jenis satwa liar yang ada di lokasi kegiatan bersumber dari BKSDA (balai konservasi sumberdaya alam) terdekat. Analisis Data 1) Data yang diperoleh diinterpretasikan tentang daftar satwa liar yang dilindungi. pertimbangan ekologis (DAS). maskot daerah. kawasan sensitif. 4) Metode penjelajahan yang dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan satwa liar (minimal kelas mamalia. 5) Penentuan lokasi dan jumlah pengambilan contoh kualitas dapat dilakukan melalui berbagai macam pertimbangan. aves.3.2.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 29 dari 35 DRAFT 4. dan reptilia).

2.2. data yang bersumber dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).2. 2) Data sekurang-kurangnya bersumber dari hasil wawancara dengan nelayan.2. Analisis Data 1) Contoh dianalisis pada laboratorium yang sudah terakreditasi oleh lembaga akreditasi nasional. Nekton A. 4. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. Terumbu Karang A. . B. 3) Hasil analisis data laboratorium diinterpretasikan dengan mengkaitkan terhadap kondisi lingkungan sekitar.3.2. 2) Pengujian sampel dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku. 4. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan.3.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 30 dari 35 DRAFT B.3. 2) Peralatan dan proses pengamatan kondisi terumbu karang dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku (KepKa Bapedal 47 thn 2001 Pedoman Pengukuran Kondisi Terumbu Karang). B. 2) Interpretasi data memuat komposisi terumbu karang dan dugaan penyebab kerusakan terumbu karang. Analisis Data 1) Analisis data dilakukan secara tabulasi dan deskriptif 2) Interpretasi data memuat jenis dan potensi nekton. Analisis Data 1) Penentunan kriteria kondisi terumbu karang mengacu pada peraturan yang berlaku (Keputusan Menteri LH No 4 Tahun 2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang Lampiran I).

2. pola kepemimpinan. mata pencaharian penduduk. Instansi pemerintah terkait lainnya. perekonomian wilayah. 5) Data primer diperoleh dari survei lapang yang dilakukan sesuai kaidah ilmiah yang berlaku.3. perekonomian lokal/fasilitas ekonomi. persepsi komunitas terhadap kegiatan migas.2. LSM (NGO) maupun internet dengan mencantumkan sumber datanya. perguruan tinggi. serta tingkah laku. keberadaan indigenous people. sebaran. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan dan terbaru. kondisi laut). 4. Analisis Data 1) Analisis data dilakukan secara tabulasi dan deskriptif.3. Teknik sampling yang . sarana transportasi darat/sungai/laut. keberadaan hak ulayat (lahan. situs purbakala/budaya. B. interaksi dan strata sosial komunitas. 3) Pengumpulan data primer memuat informasi umum (tanggal.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 31 dari 35 DRAFT 4. BAPPEDA.5. 2) Interpretasi data memuat jenis. 2) Data sekunder dapat diperoleh melalui informasi masyarakat/nelayan serta literatur yang ada. pendidikan. dan jalur migrasi mamalia laut. 4) Data sekunder di dapat dari berbagai lembaga/instansi yang relevan misalnya dari BPS. potensi sumberdaya alam atau potensi sumberdaya ekonomi lokal.2. 3) Pengumpulan data sosial budaya sekurang-kurangnya memuat aspek: keragaman komunitas. Ekonomi dan Budaya A. Mamalia Laut A. jam. Komponen Sosial. pendapatan dan atau pengeluaran dan atau tingkat kesejahteraan masyarakat. ketenagakerjaan. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. kelompok kepentingan. objek mamalia (jenis dan jumlah). sungai) dan pola kepemilikan. potensi konflik. laut. posisi geografis. orientasi nilai budaya. hutan. organisasi sosial formal dan non formal. 2) Pengumpulan data sosial ekonomi sekurang-kurangnya memuat aspek: kependudukan.

fungsional (misalnya rural dan urban). Pertimbangan keterwakilan wilayah WK.2. analisis perbandingan ataupun deskriptif. 3) Data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait. kondisi sanitasi lingkungan. tenaga kesehatan. jumlah sampel dan lokasi sampel ditetapkan dengan menyebutkan dasar pertimbangannya. metode bola salju. kawasan (misalnya komunitas pesisir. 4. Komponen Kesehatan Masyarakat A. 4) Data primer diperoleh dengan melakukan observasi dan wawancara di lapangan. random sampling. air bersih dan jenis penyakit. fasilitas kesehatan. dianalisis dengan metode statistika (parametrik/non parameterik).4. 2) Pengumpulan data sekurang-kurangnya memuat aspek : kondisi kesehatan masyarakat.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 32 dari 35 DRAFT digunakan dikemukakan secara jelas. formulasi matematis. komunitas darat pegunungan) dan lain-lain dipilih dan ditetapkan berdasarkan pertimbangan upaya untuk mendapatkan keterwakilan sampel untuk mencapai tujuan kajian EBA. atau kombinasinya. diskusi kelompok terfokus. Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan alat analisis yang relevan sesuai kebutuhan. Misalnya. cluster sampling. B. 6) Beberapa contoh teknik sampling untuk memperoleh informasi yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan kuesioner responden adalah : stratified sampling. Pengumpulan Data 1) Data bersumber dari data primer maupun sekunder yang masih relevan. 7) Untuk informasi yang bersifat kualitatif dapat menggunakan teknik yang lazim digunakan misalnya wawancara mendalam kepada informan kunci. jenis komunitas. 8) Untuk menjamin validitas data maka triangulasi harus dilakukan dan dengan menyebutkan langkah triangulasi yang dilakukan. dan lain-lain. . seperti dari Dinas Kesehatan dan puskemas/pustu setempat. analisis isi. purposive samping.

2) Intensitas aktivitas sosial ekonomi di wilayah tersebut. dan sekitar mata air). kegiatan penangkapan ikan. 2) Informasi yang disajikan berupa identifikasi dampak yang mungkin timbul jika dilakukan pengembangan di dalam WK. 3) Kondisi rona lingkungan yang memiliki karakteristik dan fungsi khusus secara ekologi. Kawasan Perlindungan setempat (sempadan pantai. dan Kawasan Rawan Bencana Alam (Keppres 32 Tahun 1990). Analisis Keterkaitan lingkungan dengan kegiatan Migas 1) Analisis keterkaitan lingkungan dengan kegiatan migas dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi rona lingkungan awal yang dikaitkan dengan tipikal kegiatan migas yang akan dikembangkan.3. misalnya kondisi kualitas air sungai yang sudah tergolong cemar berat. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya. bergambut. Analisis Data 1) Data dianalisis dengan menggunakan metode dan alat analisis yang lazim digunakan dalam kajian kesehatan dan sosial dengan menyebutkan secara jelas dalam bagian metode kajian. seperti keberadaan pemukiman.4. potensi konflik. jalur pelayaran. 4. 4. Penentuan daerah sensitif dilakukan dengan memperhatikan hal sebagai berikut: 1) Ada tidaknya kawasan lindung di WK tersebut yang meliputi: kawasan yang memberikan perlindungan Kawasan Bawahannya (kawasan hutan lindung. .PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 33 dari 35 DRAFT B. kawasan sekitar danau/ waduk. dan kawasan resapan air). sempatan sungai. 2) Triangulasi untuk menjamin validitas data yang telah diperoleh perlu disampaikan secara jelas dalam metode kajian. Analisis Penentuan Kawasan Sensitif Kawasan sensitif didefinisikan sebagai daerah yang dianggap rentan terhadap aktifitas kegiatan migas yang akan dikembangkan. dsb.

3.2.6.1. Komponen Sosial Ekonomi 3.4.3.Komponen Kesehatan Masyarakat 2. KONDISI RONA LINGKUNGAN AWAL 3. Lokasi Kajian 2.3. METODE KAJIAN 2.5.Komponen Biologi 2. Identitas Penyusun II.4.4.3.4. Tujuan dan Manfaat Kajian 1. Ruang Lingkup Kajian 1. Komponen Sosial Budaya 3.2.4.7.2. Pengumpulan dan Analisis Kondisi Rona Lingkungan Awal 2.2.PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 34 dari 35 DRAFT LAMPIRAN 5 SISTEMATIKA LAPORAN EBA RINGKASAN EKSEKUTIF KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ISTILAH I. Analisis Penentuan Kawasan Sensitif 2.2.1. Deskripsi Umum Lokasi Kajian 3.5.1.Komponen Geofisik-Kimia 2.2.Komponen Sosial Ekonomi Budaya 2. Deskripsi Kegiatan Hulu Migas 1. Kegiatan dan Informasi Lain .2.2. Kebijakan RTRW 3. Komponen Biologi 3. PENDAHULUAN 1. Komponen Geofisik-Kimia 3. Analisis Keterkaitan antara Lingkungan dengan Kegiatan Migas III.1. Latar Belakang 1. Komponen Kesehatan Masyarakat 3.

PEDOMAN PENYUSUNAN KAJIAN RONA LINGKUNGAN AWAL (ENVIRONMENTAL BASELINE ASSESSMENT) Ditetapkan : Halaman 35 dari 35 DRAFT IV.2. Kesimpulan 5. Keterkaitan antara Lingkungan dengan Kegiatan Migas V.2. Kawasan Sensitif 4. Arahan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .1. KESIMPULAN DAN ARAHAN 5.1.KAWASAN SENSITIF DAN KETERKAITAN LINGKUNGAN DENGAN KEGIATAN MIGAS 4.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.