P. 1
Kepemimpinan Soekarno-Hatta Dalam Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1949

Kepemimpinan Soekarno-Hatta Dalam Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1949

|Views: 598|Likes:
Dipublikasikan oleh Peter Kasenda
Ketika Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Itu adalah awal revolusi Indonesia, yang berlangsung dari 17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949. Belanda masih menganggap dirinya berhak atas Hindia Belanda, tetapi bangsa Indonesia juga merasa dirinya berdaulat atas Nusantara ini, yang telah diperjuangkan sebagai negara kesatuan sejak lama.

Disitulah awal konflik antara dua negara yang berbeda kepentingan, yang melibatkan negara-negara besar. Pada waktu yang bersamaan, terjadi persaingan antara kelompok yang mempunyai ideologi yang berbeda Mereka menjadikan dirinya sebagai pemimpin revolusi dengan mencoba mengarahkan jalannya revolusi Indonesia.

Ketika revolusi nasional berkobar, kepemimpinan Soekarno dan Hatta menghadapi ujian. Kepemimpinan Dwitunggal ini semula disangsikan oleh sejumlah orang, seperi Sutan Sjahrir. Tetapi setelah Sutan Sjahrir berkeliling Pulau Jawa, ia melihat bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia mengakuinya sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Akhirnya Sutan Sjahrir memutuskan untuk membantu Soekarno-Hatta.

Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Iwa Kusumasumantri dan Wongsonegoro merupakan orang kepercayaan Soekarno–Hatta, untuk menggantikannya apabila kedua proklamator ini nantinya ditangkap atau dibuang Sekutu. Masalahnya mereka berdua pernah bekerjasama dengan balatentara Jepang, yang ditaklukan Sekutu. Hal ini tercantum dalam testamen politik yang dibuat berdasarkan usulan dari Tan Malaka.

Sebulan setelah kemerdekaan, kepemimpinan Soekarno-Hatta menghadapi ujian dengan diadakan rapat raksasa oleh golongan muda pada tanggal 19 September 1945 di Lapangan Ikada, Jakarta. Sebenarnya pemerintah kurang menyukai rapat raksasa tersebut, karena hal ini secara tidak langsung dianggap sebagai tantangan terhadap kekuasaan Jepang. Apabila massa rakyat tidak sabar, bisa menimbulkan kerusuhan dan menelan korban jiwa.

Berhubung rapat raksasa sudah diumumkan, kalau dibatalkan tentunya akan memberi kesan pengecut, maka tidak ada jalan lain kecuali memutuskan untuk hadir dalam rapat raksasa itu. Setelah lima jam massa rakyat menunggu, akhirnya Soekarno-Hatta berada di tengah lautan massa. Di atas mimbar, Soekarno menyatakan kegembiraan atas kesetiaan rakyat dan meminta massa pendengarnya membubarkan diri. Mendengar perintah itu ternyata massa patuh, dan melihat kenyataan itu penguasa Jepang mau tak mau menunjukkan rasa kagum dan hormat terhadap kepemimpinan Soekarno-Hatta.

Ketika Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Itu adalah awal revolusi Indonesia, yang berlangsung dari 17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949. Belanda masih menganggap dirinya berhak atas Hindia Belanda, tetapi bangsa Indonesia juga merasa dirinya berdaulat atas Nusantara ini, yang telah diperjuangkan sebagai negara kesatuan sejak lama.

Disitulah awal konflik antara dua negara yang berbeda kepentingan, yang melibatkan negara-negara besar. Pada waktu yang bersamaan, terjadi persaingan antara kelompok yang mempunyai ideologi yang berbeda Mereka menjadikan dirinya sebagai pemimpin revolusi dengan mencoba mengarahkan jalannya revolusi Indonesia.

Ketika revolusi nasional berkobar, kepemimpinan Soekarno dan Hatta menghadapi ujian. Kepemimpinan Dwitunggal ini semula disangsikan oleh sejumlah orang, seperi Sutan Sjahrir. Tetapi setelah Sutan Sjahrir berkeliling Pulau Jawa, ia melihat bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia mengakuinya sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Akhirnya Sutan Sjahrir memutuskan untuk membantu Soekarno-Hatta.

Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Iwa Kusumasumantri dan Wongsonegoro merupakan orang kepercayaan Soekarno–Hatta, untuk menggantikannya apabila kedua proklamator ini nantinya ditangkap atau dibuang Sekutu. Masalahnya mereka berdua pernah bekerjasama dengan balatentara Jepang, yang ditaklukan Sekutu. Hal ini tercantum dalam testamen politik yang dibuat berdasarkan usulan dari Tan Malaka.

Sebulan setelah kemerdekaan, kepemimpinan Soekarno-Hatta menghadapi ujian dengan diadakan rapat raksasa oleh golongan muda pada tanggal 19 September 1945 di Lapangan Ikada, Jakarta. Sebenarnya pemerintah kurang menyukai rapat raksasa tersebut, karena hal ini secara tidak langsung dianggap sebagai tantangan terhadap kekuasaan Jepang. Apabila massa rakyat tidak sabar, bisa menimbulkan kerusuhan dan menelan korban jiwa.

Berhubung rapat raksasa sudah diumumkan, kalau dibatalkan tentunya akan memberi kesan pengecut, maka tidak ada jalan lain kecuali memutuskan untuk hadir dalam rapat raksasa itu. Setelah lima jam massa rakyat menunggu, akhirnya Soekarno-Hatta berada di tengah lautan massa. Di atas mimbar, Soekarno menyatakan kegembiraan atas kesetiaan rakyat dan meminta massa pendengarnya membubarkan diri. Mendengar perintah itu ternyata massa patuh, dan melihat kenyataan itu penguasa Jepang mau tak mau menunjukkan rasa kagum dan hormat terhadap kepemimpinan Soekarno-Hatta.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Feb 11, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Kepemimpinan Soekarno-Hatta Dalam Revolusi Kemerdekaan 1945 ± 1949

Ketika Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Itu adalah awal revolusi Indonesia, yang berlangsung dari 17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949. Belanda masih menganggap dirinya berhak atas Hindia Belanda, tetapi bangsa Indonesia juga merasa dirinya berdaulat atas Nusantara ini, yang telah diperjuangkan sebagai negara kesatuan sejak lama. Disitulah awal konflik antara dua negara yang berbeda kepentingan, yang melibatkan negara-negara besar. Pada waktu yang bersamaan, terjadi persaingan antara kelompok yang mempunyai ideologi yang berbeda Mereka menjadikan dirinya sebagai pemimpin revolusi dengan mencoba mengarahkan jalannya revolusi Indonesia. Ketika revolusi nasional berkobar, kepemimpinan Soekarno dan Hatta menghadapi ujian. Kepemimpinan Dwitunggal ini semula disangsikan oleh sejumlah orang, seperi Sutan Sjahrir. Tetapi setelah Sutan Sjahrir berkeliling Pulau Jawa, ia melihat bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia mengakuinya sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Akhirnya Sutan Sjahrir memutuskan untuk membantu Soekarno-Hatta. Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Iwa Kusumasumantri dan Wongsonegoro merupakan orang kepercayaan Soekarno±Hatta, untuk menggantikannya apabila kedua proklamator ini nantinya ditangkap atau dibuang Sekutu. Masalahnya mereka berdua pernah bekerjasama dengan balatentara Jepang, yang ditaklukan Sekutu. Hal ini tercantum dalam testamen politik yang dibuat berdasarkan usulan dari Tan Malaka. Sebulan setelah kemerdekaan, kepemimpinan Soekarno-Hatta menghadapi ujian dengan diadakan rapat raksasa oleh golongan muda pada tanggal 19 September 1945 di Lapangan Ikada, Jakarta. Sebenarnya pemerintah kurang menyukai rapat raksasa tersebut, karena hal ini secara tidak langsung dianggap sebagai tantangan terhadap kekuasaan Jepang. Apabila massa rakyat tidak sabar, bisa menimbulkan kerusuhan dan menelan korban jiwa. Berhubung rapat raksasa sudah diumumkan, kalau dibatalkan tentunya akan memberi kesan pengecut, maka tidak ada jalan lain kecuali memutuskan untuk hadir dalam rapat raksasa itu. Setelah lima jam massa rakyat menunggu, akhirnya Soekarno-Hatta berada di tengah lautan massa. Di atas mimbar, Soekarno menyatakan kegembiraan atas kesetiaan rakyat dan meminta massa pendengarnya membubarkan diri. Mendengar perintah itu ternyata massa patuh, dan melihat kenyataan itu penguasa Jepang mau tak mau menunjukkan rasa kagum dan hormat terhadap kepemimpinan Soekarno-Hatta.

Lambang Persatuan
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Ada tiga bulan dwitunggal ini menduduki jabatan tertinggi di Republik Indonesia, mereka diredusir menjadi simbol belaka. Sementara itu, Sutan Sjahrir tampil sebagai Perdana Menteri, dan kabinet presidensial dirubah menjadi kabinet parlementer, yang dikontrol oleh wakil-wakil rakyat di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sebenarnya perubahan sistem pemerintahan ini menyimpang dari UUD 1945. Walapun begitu, ketika kota Surabaya bergolak. Di mana arek-arek Surabaya mengangkat senjata melawan Inggris (Sekutu), akhirnya pihak Inggris yang merasa terpojok dan perlu meminta bantuan Soekarno-Hatta untuk meredakan kemarahan rakyat Indonesia. Permintaan tersebut dikabulkan Soekarno-Hatta dan Amir Sjarifuddin berada di tengah lautan massa yang mengamuk. Dengan karisma pemimpin tersebut, akhirnya arek-arek Surabaya bersedia meletakkan senjata sebagai tanda gencatan senjata kedua belah pihak. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, setelah dwitunggal meninggal kota Surabaya dan terbunuhnya Brigjen Mallaby, berkobarlah pertempuran yang dikenal dengan Persitiwa 10 November 1945. Dikenal sebagai lambang kegigihan arek-arek Surabaya menentang kolonialisme. Ternyata adanya pemisahan pemerintahan hanya melemahkan kedudukan Sutan Sjahrir saja. Persatuan Perjuangan dibawah Tan Malaka melancarkan kritik atas konsesi-konsesi yang diberikan di meja perundingan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri, tetapi Soekarno masih memberi kepercayaan kepada Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri kembali. Kemudian Sjahrir balik menangkapi Tan Malaka beserta pimpinan Persatuan Perjuangan yang lainnya. Dengan harapan agar Persatuan Perjuangan untuk sementara waktu tak berbuat banyak dalam melancarkan oposisinya. Tetapi Jendral Soedarsono kembali membalas dengan memerintahkan untuk menangkap Sjahrir. Ketika ia kembali ke Yogyakarta dari Jawa Timur, dan menekan presiden untuk membubarkan kabinet serta membentuk kabinet sesuai dengan usulannya. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Persitiwa 3 Juli 1946. Melihat situasi itu Soekarno mengambil alih pimpinan dan memerintahkan pembebasan Sjahrir. Dalam pidatonya di radio, ia mengecam perbuatan tersebut dan dianggap lebih berbahaya daripada Belanda. Mereka, para penculik dianggap tidak dapat membedakan antara oposisi dan desktruksi Kejadian ini menggambarkan telah terjadi persaingan elite politik di pentas nasional. Ternyata Sjahrir tidak dapat berlama-lama bertahan sebagai Perdana Menteri Oposisi dari sayap kiri, yang menekankan perjuangan daripada diplomasi menganggap Sutan Sjahrir terlalu jauh memberi konsesi bagi Perjanjian Linggarjati. Alhirnya ia memutuskan mundur, walaupun Soekarno masih tetap menginginkan Sjahrir tetap memegang jabatan yang keempat kali, tetapi tanpa hasil. Penggantinya, Amir Sjarifuddin mengalami nasib yang sama. Ia dianggap gagal dalam menangani Persetujuan Renville, 19 Januari 1948. Masyumi dan PNI menarik dukungannya sehingga menimbulkan krisis kabinet. Dengan mundurnya Amir Sjarifuddin, Soekarno memutuskan untuk membentuk sebuah kabinet presidensial, dengan mengangkat Moh Hatta
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda sebagai Perdana Menteri. Dan akhirnya Moh Hatta berhasil mempertemukan PNI dan Masyumi dalam membentuk satu tim kerja sama pemerintah yang kuat.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->