P. 1
Soekarno, Wanita Dan Kekuasaan

Soekarno, Wanita Dan Kekuasaan

|Views: 1,826|Likes:
Dipublikasikan oleh Peter Kasenda
Ketika Soekarno sedang terlarut dalam proses pembentukan bangsa hingga detik-detik terakhir kekuasaan dan hidupnya, ada sembilan wanita jelita mendampingi Soekarno. Dari Siti Utari, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratnasari Dewi, Haryatie, Yurike Sanger hingga Heldy Djafar. Inggit Ganarsih adalah istri yang usianya 15 tahun lebih tua dari Soekarno, dan yang lain lebih muda dari Soekarno. Heldy Djafar, istri terakhir Soekarno yang berusia 48 dibawah Soekarno. Beberapa perkawinan Soekarno berakhir dengan perceraian. Tapi ada pula istri yang tetap mempertahankan perkawinan mereka hingga hari meninggalnya Soekarno.

Kecantikan perempuan adalah besi berani yang tak pernah berhenti memikat Soekarno hingga masa senja hidupnya. Pertautan Soekarno dengan wanita berawal pada usia amat belia. Jiwanya yang labil, terus berkelana dari satu bunga ke bunga lain. Rika Melhusyen, Pauline Gobe, Laura Kraat yang sempat mengguncangkan dada. Untuk mendapatkan perhatian gadis bermata biru, Rika Meelhusyen, Soekarno rela membawakan buku-buku bahkan berjam-jam mengantar pulang dengan sepeda. Rika adalah gadis pertama yang dicium Soekarno.” Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih,” kata Soekarno kepada Cindy Adams dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Itulah alasan yang bersifat politis dan eksistensial yang menyebabkan Soekarno begitu deman dengan gadis bermata biru.

Cinta yang tak sampai – Soekarno kemudian menemukan kembali di tahun 1920 pada putri cantik HOS Tjokroaminoto, Siti Utari – gadis yang begitu mungil yang tampak lugu dan pendiam.” Lak, engkaulah bakal istriku kelak,” begitu kata Soekarno pada suatu senja. Tahun 1921, di Surabaya, Soekarno menikah dengan Siti Utari, gadis berusia 16 tahun, putri sulung tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto, pemilik rumah tempat menumpang ketika Soekarno sekolah di Hogere Burger School.

Ketika Soekarno sedang terlarut dalam proses pembentukan bangsa hingga detik-detik terakhir kekuasaan dan hidupnya, ada sembilan wanita jelita mendampingi Soekarno. Dari Siti Utari, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratnasari Dewi, Haryatie, Yurike Sanger hingga Heldy Djafar. Inggit Ganarsih adalah istri yang usianya 15 tahun lebih tua dari Soekarno, dan yang lain lebih muda dari Soekarno. Heldy Djafar, istri terakhir Soekarno yang berusia 48 dibawah Soekarno. Beberapa perkawinan Soekarno berakhir dengan perceraian. Tapi ada pula istri yang tetap mempertahankan perkawinan mereka hingga hari meninggalnya Soekarno.

Kecantikan perempuan adalah besi berani yang tak pernah berhenti memikat Soekarno hingga masa senja hidupnya. Pertautan Soekarno dengan wanita berawal pada usia amat belia. Jiwanya yang labil, terus berkelana dari satu bunga ke bunga lain. Rika Melhusyen, Pauline Gobe, Laura Kraat yang sempat mengguncangkan dada. Untuk mendapatkan perhatian gadis bermata biru, Rika Meelhusyen, Soekarno rela membawakan buku-buku bahkan berjam-jam mengantar pulang dengan sepeda. Rika adalah gadis pertama yang dicium Soekarno.” Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih,” kata Soekarno kepada Cindy Adams dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Itulah alasan yang bersifat politis dan eksistensial yang menyebabkan Soekarno begitu deman dengan gadis bermata biru.

Cinta yang tak sampai – Soekarno kemudian menemukan kembali di tahun 1920 pada putri cantik HOS Tjokroaminoto, Siti Utari – gadis yang begitu mungil yang tampak lugu dan pendiam.” Lak, engkaulah bakal istriku kelak,” begitu kata Soekarno pada suatu senja. Tahun 1921, di Surabaya, Soekarno menikah dengan Siti Utari, gadis berusia 16 tahun, putri sulung tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto, pemilik rumah tempat menumpang ketika Soekarno sekolah di Hogere Burger School.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Feb 12, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Soekarno, Wanita dan Kekuasaan
Ketika Soekarno sedang terlarut dalam proses pembentukan bangsa hingga detik-detik terakhir kekuasaan dan hidupnya, ada sembilan wanita jelita mendampingi Soekarno. Dari Siti Utari, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratnasari Dewi, Haryatie, Yurike Sanger hingga Heldy Djafar. Inggit Ganarsih adalah istri yang usianya 15 tahun lebih tua dari Soekarno, dan yang lain lebih muda dari Soekarno. Heldy Djafar, istri terakhir Soekarno yang berusia 48 dibawah Soekarno. Beberapa perkawinan Soekarno berakhir dengan perceraian. Tapi ada pula istri yang tetap mempertahankan perkawinan mereka hingga hari meninggalnya Soekarno. Kecantikan perempuan adalah besi berani yang tak pernah berhenti memikat Soekarno hingga masa senja hidupnya. Pertautan Soekarno dengan wanita berawal pada usia amat belia. Jiwanya yang labil, terus berkelana dari satu bunga ke bunga lain. Rika Melhusyen, Pauline Gobe, Laura Kraat yang sempat mengguncangkan dada. Untuk mendapatkan perhatian gadis bermata biru, Rika Meelhusyen, Soekarno rela membawakan buku-buku bahkan berjam-jam mengantar pulang dengan sepeda. Rika adalah gadis pertama yang dicium Soekarno.´ Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih,´ kata Soekarno kepada Cindy Adams dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Itulah alasan yang bersifat politis dan eksistensial yang menyebabkan Soekarno begitu deman dengan gadis bermata biru. Cinta yang tak sampai ± Soekarno kemudian menemukan kembali di tahun 1920 pada putri cantik HOS Tjokroaminoto, Siti Utari ± gadis yang begitu mungil yang tampak lugu dan pendiam.´ Lak, engkaulah bakal istriku kelak,´ begitu kata Soekarno pada suatu senja. Tahun 1921, di Surabaya, Soekarno menikah dengan Siti Utari, gadis berusia 16 tahun, putri sulung tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto, pemilik rumah tempat menumpang ketika Soekarno sekolah di Hogere Burger School. Di Bandung, tempat Soekarno melanjutkan pendidikan d Technische Hogere School, Soekarno mondok di rumah Haji Sanusi yang tinggal bersama istrinya Inggit Ganarsih. Di rumah inilah terjadi percikan api yang memancar dari lelaki berumur dua puluh tahun, masih hijau dan belum berpengalaman, telah menyambar seorang perempuan dalam umur tiga puluhan tahun yang matang dan berpengalaman. Percikan gairah tersebut tidak hanya membakar Soekarno. Secara bersamaan menghapuskan simpul tali perkawinan yang baru dia jalani. Soekarno mengatakan bahwa Utari masih suci. Tetapi pihak yang mengenal betul karakter Soekarno tentu saja menyangsikan, sebagaimana diceritakan Abu Hanifah dalam Tale of A Revolution. Kepindahan ke Bandung sekaligus perceraian Soekarno dengan Utari telah menjauhkan hubungan Soekarno dengan Tjokroaminoto dan kemudian Tjipto Mangunkusumo menjadi mentor politik yang baru. Nasionalisme sekuler menjadi pandangan politik Soekarno yang baru. Tahun 1923, Soekarno menikahi janda Haji Sanusi, Inggit Ganarsih yang lebih tua 15 tahun dari Soekarno. Hampir 20 tahun susahnya kehidupan dilalui bersama. Dari penjara hingga pengasingan ± Soekarno lewati bersama Inggit Ganarsih. Saat Soekarno dipenjara Sukamiskin karena kegiatan politik. Inggit Ganarsih setia menemani dan menunggu sampai hukumannya
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda habis. Karena hanya dia yang boleh menjenguk Soekarno di penjara, otomatis Inggit yang menjadi penghubung antara suaminya dan para pejuang lain secara sembunyi-sembunyi. Untuk menulis pesan Soekarno, Inggit menggunakan kertas rokok lintingan. Ketika itu, Inggit memang berjualan rokok buatan sendiri. Rokok yang diikat dengan benang merah hanya dijual kepada para pejuang, di dalamnya berisi pesan-pesan Soekarno. Tak mengherankan jika di depan para peserta Kongres Indonesia Raya di Surabaya (1932), Soekarno menjuluki istrinya, Inggit Ganarsih sebagai ³ Srikandi Indonesia,´. Kita tidak pernah mengetahu, apa jadinya Soekarno tanpa Inggit Ganarsih. Ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu. Ada seorang gadis jelata yang mondok di rumah Soekarno. Namanya Siti Fatma yang kemudian dikenal Fatmawati. Inggit Ganarsih merasa ada percikan bunga cinta antara suaminya dengan putri angkatnya, Fatmawati. Ternyata benar. Soekarno ingin menikahi Fatmawati untuk memperoleh keturunan tanpa menceraikan Inggit Ganarsih, tapi mantan istri Haji Sanusi menolak di madu. Meski pernikahan Soekarno dengan Inggit tidak dikaruniai anak, mereka memiliki dua anak angkat:Ratna Djuami dan Kartika. Pada jaman pendudukan Jepang, Soekarno menikahi Fatmawati dan sebelumnya menceraikan Inggit Ganarsih dengan baik-baik. Nama Fatmawati adalah adalah pemberian Soekarno, yang berarti bunga teratai. Fatmawati banyak menemani Soekarno sejak menjelang proklamasi kemerdekaan. Ketika Soekarno dan Hatta dibawa oleh sejumlah pemuda ke Renggasdengklok, yang menginkan adanya proklamasi kemerdekaan tanpa kaitan dengan balantera Jepang. Fatmawati menyertainya bersama Guntur yang masih bayi. Di masa kemerdekaan, Fatmawati menjadi ibu negara dan tinggal di Yogyakarta. Setelah pengakuan kedaulatan RI, keluarga Soekarno tinggal di Jakarta, menempati Istana Merdeka. Dari pernikahan itu terlahir anak : Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh.

Poligami
Kendati sudah mempunyai lima anak, tetapi Soekarno ingin menikah dengan Hartini, janda beranak lima. Soekarno jatuh cinta pada pandangan pertama, ketika bertemu di Salatiga pada tahun 1954,´ Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir,´ begitu kata Soekarno kepada Hartini lewat surat-menyurat. Srihana nama samaran Soekarno, sementara Srhani untuk Hartini. Maklum percintaan yang dilakukan dengan jalan belakang. Ada yang mengatakan ketika terjadi cinta romantis yang berkobar. Hartini terikat perkawinan dengan dr Soewondo. Tetapi Hartini membantah dan menyatakan bahwa ³saya minta waktu kepada beliau ( Soewondo). Tiga bulan setelah itu, saya memutuskan menerima lamarannya ,´ Percintaan yang romantis tersebut telah membuat PM Ali Sastroamidjojo menegur Soekarno untuk menyelesaikan gossip dengan menikahi Hartini secepat mungkin. Kisah Hartini yang dinikahi Soekarno, agak berbeda dengan istri sebelumnya. Hartini bersedia dimadu. Sebelum menikah, Hartini mengajukan syarat agar Fatmawati tidak diceraikan dan tetap menjadi ibu negara,´ kata Hartini, yang kemudian melahirkan dua anak dari Soekarno : Taufan (almarhum) dan Bayu. Setiap Jum´at sampai Minggu. Soekarno menyempatkan diri berkunjung ke Bogor, tempat Hartini dan kedua anaknya tinggal di palviun Istana Bogor. Di
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda sinilah Hartini membangun jaringan-jaringan politik, untuk siapa saja yang ingin merapat ke Presiden Soekarno. Fatmawait mengizinkan Soekarno menikah lagi, namun tidak mau hidup satu atap dengan Soekarno. Ia memilih meninggalkan istana dan tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan hingga akhir hayatnya. Fatmawati tidak mau ada ³perempuan lain³ di dalam rumah tangganya. Ormasormas wanita penentang poligami memberi dukungan kuat bagi keputusan Fatmawati meninggalkan Istana dan memulai kehidupan baru, terpisah dari suaminya. Perkawinan Soekarno dengan Hartini merupakan pukulan terhadap gerakan wanita Indonesia yang waktu itu sedang gencar-gencarnya menuntut Undang-Undang Perkawinan dengan semangat anti poligami. Populeritas Soekarno jatuh dan ide-ide besarnya tentang perempuan di dalam bukunya Sarinah dipertanyakan. Ketegangan pun terjadi di antara kelompok wanita. Nani Suwono dari Perwari yang mendukung Fatmawati yang meninggalkan Istana menyesalkan tindakan Gerwani, yang tidak memprotes perkawinan Soekarno dengan Hartini. Gerwani dituduh lebih berat membela politik dan bukan kepentingan kaum wanita. Protes Perwari sebaliknya merugikan organisasinya sendiri Banyak anggota Perwari mengundurkan diri karena suaminya diintimidasi, bantuan dana pun di stop dan ketuanya mendapat tekanan, intidimasi, bahkan ancaman mati. Mengenai dukungan kaum wanita terhadap Fatmawati, Roeslan Abdulgani punya cerita. Suatu hari Roeslan Abdulgani didamprat Presiden Soekarno. Ia marah-marah karena istri Roeslan Abdulgani tak mau diajak menemui Hartini. Soekarno menyuruh Roeslan Abdulgani membujuk istrinya agar bersedia menemui Hartini. Ketika hal itu, Roeslan utarakan pada istrinya, dia tetap tidak bersedia bertemu dengan Hartini. Alasannya, dia tak mau mengakui Hartini sebagai istri Presiden Soekarno. Yang tetap diakuinya adalah Fatmawati, Penjelasan istrinya disampaikan Roeslan kepada Presiden Soekarno. Presiden Soekarno mau memahami alasan istrinya. Di samping istri Roeslan Abdulgani, istri AH Nasution, Istri Achmad Yani dan lain-lain menolak bertemu Hartini. Mereka membela Fatmawati yang dimadu. Menanggapi kemarahan Fatmawati, Soekarno menyatakan bahwa ³ Sebetulnya dia tidak perlu marah. Istriku pertama dan juga yang saleh serta menyadari hukum-hukum agama,´ Saat Soekarno meninggal dunia, Fatmawati tidak melepas kepergian suaminya. Namun Fatmawati mengirim karangan bunga bertuliskan´ Tjintamu yang selalu menjiwai rakyat, Cinta Fat.´ Jenazah Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso, tempat kediaman Dewi Soekarno yang kemudian dikenal sebagai Museum Satria Mandala, Jakarta Pusat Tetapi sayangnya, Soekarno tidak hanya berhenti sampai istri kedua. Ternyata Hartini bukan yang terakhir. Tahun 1959, seorang model dan mantan pramugari ± Kartini Manoppo pun ³dinikahinya³. Tatkala Soekarno menyaksikan lukisan Basuki Abdullah, Soekarno mengagumi sang model, yang menjadi pramugari pesawat Garuda, lantas memintanya ikut terbang setiap kali Presiden Soekarno melawat ke luar negeri. Sekitar akhir tahun 1959, Soekarno dan Kartini menikah. Pada tahun 1967, Kartini Manoppo yang berada di luar negeri atas permintaan Soekarno ketika kekuasaannya sedang digerogoti kemudian melahirkan Totok Suryawan Soekarno di Numenberg, Jerman.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Pada saat kunjungan ke Jepang, mampirlah Soekarno ke kelab malam Cocacobana. Di sana Soekarno bertemu dengan seorang geisha cantik ± Naoko Nemoto. Wanita Jepang ini dikenalkan kepada Soekarno karena adanya latar politik bisnis. Konon kabarnya Ia menyanyikan lagu Bengawan Solo ketika menyambut Soekarno. Dengan dicomblangi Masao Kubo, Direktur Utama Tonichi Inc, hubungan mereka berlanjut sampai ke pelamin. Naoko Nemoto yang kemudian berubah menjadi Ratnasari Dewi, Tetapi perkawinan tersebut membawa korban, Ibu Naoko, seorang janda, kaget dan langsung meninggal mendengar putrinya menikah dengan orang asing. Disusul 26 jam sesudahnya Yaso, saudara lelaki Naoko, melakukan bunuh diri. Berkat peran Dewi Soekarno, Tonichi Inc mendapat banyak proyek dari pemerintah RI. Dari Soekarno, Ratsasari Dewi melahirkan Kartika Sari Soekarno di Jepang, Saat itu Dewi Soekarno berada di luar negeri atas permintaan Soekarno yang kekuasaannya dalam keadaan krisis. Mengenai naluri politik Dewi Soekarno, mantan Wakil Perdana Menteri I merangkap Menteri Luar Negeri Subandrio punya cerita. Suatu saat Presiden Soekarno menelpon Subandrio untuk meminta agar Dewi Soekarno, dijadikan Duta Besar Keliling. Subandrio membalas, sekalian saja Dewi Soekarno dijadikan menteri luar negeri. Presiden Soekarno bisa memahami pernyataan bawahannya. Kendati Soekarno sudah menikahi gadis cantik dari negeri Sakura, tetapi Haryatie yang bekerja sebagai pegawai urusan kesenian di Sekretaris Negara tampaknya menjadi sosok yang begitu menawan bagi Soekarno. Keduanya menikah pada bulan Mei 1963. Perkawinan ini tidak membuahkan keturunan dan perceraian Soekarno-Haryatie terjadi tiga tahun kemudian. Sebagaimana surat Soekarno pada Haryatie, tertanggal 20 Januari 1967, Soekarno mengatakan pada mantan istrinya bahwa ³Perceraianku dengan engkau ialah karena kita rupanya tidak cocok satu sama lain.´ Meski perceraian itu telah terjadi sejak Oktober 1966, tetapi publik baru mengetahuinya pada bulan Januari 1967. Haryatie mengumumkan secara resmi saat Soekarno datang untuk terakhir kali ke rumah Haryatie di Jalan Madiun. Setelah bercerai dengan Soekarno, Haryatie menikah dengan Sakri. Yurike Sanger, kelas II SMA VII Jakarta yang turut serta dalam barisan Bhineka Tunggal Ika ternyata menarik perhatian Soekarno. Soekarno melamar Yurike Sanger dengan mengatakan bahwa,´ Adiklah, istri yang terakhir,´ Yurike Sanger yang muda belia percaya dengan rayuan tersebut. Soekarno dan Yurike Sanger menikah dengan dihadiri oleh keluarga Yurike Sanger pada tahun 1964. Sebenarnya keluarga Yurike Sanger kurang berkenan dengan perkawinan putrinya yang masih sekolah itu dengan Presiden Soekarno yang banyak istri ini.. Perkawinan Soekarno ± Yurike Sanger tidak membuahkan keturunan. Yurike memang pernah mengandung setahun setelah perkawinanya, tetapi ia melahirkan bayi premature sehingga dokter menyarankan agar tak hamil selama tiga tahun. Menurut Yurike Sanger, Soekarno mengetahui dan menghormati kewajibannya. Meskipun, hal itu kadang-kadang menjengkelkannya. Maklum, Soekarno punya kebiasaan harus kembali ke Istana Merdeka pagi-pagi sekali, sehabis menginap di rumahnya. Kadang-kadang Soekarno pergi dengan tergesa-gesa dan tak sempat cuci muka. Semua ini dilakukan agar dimata anak-anaknya, Soekarno tetap menjadi seorang bapak yang penuh perhatian. Soekarno harus mencium anak-anaknya satu persatu sebelum mereka berangkat ke sekolah.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Tampaknya Yurike Sanger bukan menjadi istri terakhir Soekarno, sebagaimana janji Soekarno pada Yurike Sanger. Sekali lagi, gadis barisan Bhineka Tunggal Ika kembali memikat hati Soekarno. Heldy Djafar namanya. Di saat-saat kekuasaan Soekarno sedang goyah akibat Peristiwa Gerakan 30 September, Soekarno menikah secara diam-diam pada 11 Juni 1964. Heldy Djafar kadang-kadang bertemu Soekarno justru di kediaman Yurike Sanger di Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur sedangkan rumah Heldy Djafaar di Jalan Wijaya I, Kebayoran Baru. Perkawinan mereka tidak membuah keturunan dan hubungan pasangan ini tidak berlangsung langgeng. Di masa Orde Baru, anak kedua Gusti Maya Firanti Noor, dari suami kedua Heldy Djafaat, menjadi istri Ari Sigit Soeharto, cucu Soeharto, yang menggantikan Presiden Soekarno. Heldy Djafaar sebagai istri kesembilan dan yang terakhir ini, baru diketahui setelah Soeharto lengser ke prabon. Selama 36 tahun, Heldy Djafar menutup rapat rahasia perkawinannya dengan Presiden Soekarno.

Kesepian
Banyak hal yang membuat para istri dan mantan istri Soekarno menilai Soekarno adalah suami dan bapak yang bertanggung jawab. Sikapnya penuh perhatian, telaten, dan tak pilih kasih. Tanggung jawabnya yang tinggi itu membuat semua istri dan mantan istri Soekarno menaruh hormat kepada sang suami. Bekas ajudan Presiden Soekarno, Bambang Widjanarko dalam memoarnya, Sewindu Dekat dengan Bung Karno, menuturkan bahwa mempunyai presiden banyak istri menimbulkan kerepotan tersendiri. Salah tugas Bambang Widjanarko, misalnya, meneliti kerapian Soekarno saban kali sang presiden meninggalkan rumah salah satu istrinya, apakah ada bekas lipstik yang menempel, baju yang kusut, atau bau parfum yang melekat. Kalau masih kurang rapi, Soekarno akan mandi dan ganti baju sebelum meluncur ke rumah istrinya yang lain. Soekarno memang punya alasan sendiri untuk berhati-hati. Menurut Soekarno sendiri, sekali seorang suami tidak mengakui hubungan utamanya dengan wanita lain, sebaiknya ia berbohong untuk selamanya. Mengapa? Di dalam hal lain, istri dapat memaafkan dan melupakan perbuatan suami yang salah. Tetapi mengenai affair dengan wanita lain, ia dapat memaafkan tetapi tidak akan pernah melupakannya. Tetapi bila Soekarno kepergok sedang berkasih-kasihan dengan istri yang lain, Soekarno mahir melumerkan kemarahan wanita dengan rupa-rupa cara dari menulis kata-mata mesra di atas potongan-potongan kertas hingga memberi limpahan hadiah. Di satu sisi, wanita merupakan titik lemah Soekarno, tetapi di pihak lain wanita mampu memberikan gairah dan semangat hidup.´ I¶m a very phycical man, I must have sex every day,´ kata Soekarno kepada Cindy Adams, yang menulis autobiografinya. Aktivitas sex yang luar biasa ini kemudian disebarluaskan sedemikian rupa untuk menunjukan bahwa pemerintahan tetap berada dibawah kontrol Soekarno. Sebuah kelemahan bisa menjadi kekuatan tergantung pada situasi dan keadaan yang dihadapi. Tetapi ketika usia Soekarno semakin lanjut, apa bisa
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Soekarno mengontrol segala persoalan yang ditimbulkan yang semakin kompleks itu dan diperlukan ketajaman analisis yang tetap terjaga dengan baik. Apapun alasan Soekarno beristri banyak. Soekarno adalah seorang pencinta dan pemuja perempuan. Bahwa perempuan pun memuja Soekarno tidak ada yang bisa mengelak. Tuhan menciptakan wanita penuh dengan keindahan. Menurut Soekarno, setiap laki-laki normal senang melihat keindahan yang ada pada diri wanita. Hartini Soekarno bercerita tentang kegemarannya suaminya pada kecantikan.´ Cintanya kepada wanita yang cantik adalah beban bagi saya, walaupun saya sudah berusaha menerima ia sebagaimana adanya. Dia sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita.´ Presiden Soekarno adalah pengagum dan pemuja perempuan. Di samping itu, ia menggemari lukisan-lukisan wanita tanpa busana. Lukisan-lukisan yang menggoda tersebut dipajang di berbagai dinding Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogo, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta dan Istana Tampaksiring. Konon kabarnya sejumlah model dalam lukisan indah tersebut pernah menjadi teman kencan Presiden Soekarno. Pada masa jayanya kesukaan Presiden Soekarno terhadap wanita diterima bangsa Indonesia sebagai kelebihan seorang presiden yang multi bakat. Bahkan, barangkali ada semacam kebanggaan bangsa Indonesia pada waktu itu terhadap vitalitas Presiden Soekarno sebagai Bapak Bangsa. Dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyatakan bahwa sexualitas dan sensualitas manusia Indonesia amat jelas tercermin dalam cerita-cerita rakyat. Kharisma Soekarno sebagai seorang pencinta mendatangkan kagum banyak orang. Daya tarik serta taraf intelektualnya yang tinggi menjadikan Soekarno seseorang master dalam menaklukan hati wanita. Sebagai laki-laki, Soekarno pandai mencurahkan perhatiannya secara utuh kepada setiap wanita yang dihadapinya sehingga wanita tersebut merasa ia satu-satunya yang paling dicintai. Soekarno itu tak segan mengambilkan minum untuk seorang tamu wanita, atau sekadar memuja busana dan tata rambutnya. Soekarno tahu benar bahwa wanita senang mendapat pujian. Pada saat hari-hari menjelang kematian Soekarno, wanita-wanita yang dahulu dipuja dan memuja. Lenyap dari sisinya. Hanya Hartini Soekarno, yang masih mendampingi kala Soekarno menghitung-hitung hari kesepian di Wisma Yaso. Selama tiga tahun Soekarno merasakan kesendirian. Ia meninggal dunia bukan karena sakit, terlebih karena ia dijauhkan dari rakyat yang dicintainya dan mencintainya. Jenazah Soekarno dibaringkan di Wisma Yaso. Karena Soekarno di masa hidupnya menikah dengan begitu banyak wanita, sekarang setelah ia meninggal timbul kesulitan siapa yang harus maju sebagai jandanya? Ibu negara Fatmawati yang paling cocok. Tetapi Fatmawati sudah lama tidak berhubungan dengan Soekarno, dan juga tidak mengunjunginya ketika ia menemui takdirnya. Dia juga menolak untuk datang berkunjung ke rumah duka. Hartini dan Dewi yang datang sehari sebelum Soekarno menghembuskan nafas terakhir, tampil sebagai janda yang berduka. Hartini dan Dewi menerima pernyataan bela sungkawa sebagai janda Soekarno. Mantan istri Soekarno Haryatie pun datang ke Wisma Yaso, tetapi Dewi memperlakukannya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda dengan tidak begitu sopan sehingga ia cepat pergi lagi. Yurike Sanger dan Kartini Manoppo tidak datang. Apapun penilaian kita terhadap Soekarno sebagai pencinta wanita ±kehidupan asmaranya bersama dengan istri-itrinya ± sama sekali tidak menghilangkan perannya sebagai pejuang kemerdekaan. Tidak juga akan melenyapkan sumbangannya dalam memimpin perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan tanah airnya, Indonesia yang sangat dicintainya. Puluhan ribu orang Jakarta mengucapkan selamat berpisah kepada Soekarno ketika jenazah diangkat dari Wisma Yaso ke lapangan udara militer Halim Perdanakusuma. Berjuta-juta orang berdiri di pinggir jalan sepanjang kira-kira 40 kilometer yang ditempuh arak-arakan duka dari Malang menuju Blitar. Kenyataan tersebut menunjukkan betapa Soekarno dicintai rakyatnya.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->