Anda di halaman 1dari 6

TINJAUAN PUSTAKA

APPENDICITIS AKUT

Epidemiologi

Appendicitis muncul pada 7 % dari populasi amerika serikat dengan insiden 1,1 kasus pada 1000
orang setiap tahunnya. Insiden appendicitis rendah pada masyarakat yang memiliki kebiasaan
mengkonsumsi serat dalam jumlah yang banyak. Serat dalam makanan dapat memperbaiki
tekstur fisik, menurunkan waktu transit pada usus besar dan menghalang pembentukan fekolit
yang merupakan predisposisis bagi seseorang untuk mengalami obstruksi pada lumen appendiks.

Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari 1 tahun jarang
dilaporkan. Insiden tertinggi terjadi pada umur 20-30 tahun tapi setelah itu menurun.

Etiologi

Obstruksi dari lumen appendiks umumnya merupakan penyebab appendicitis. Hal yang paling
sering menyebabkan obstruksi lumen adalah fekolit dan hyperplasia folikel limfoid. Hiperplasia
limfoid berhubungan dengan berbagai penyakit inflamasi dan infeksi termasuk penyakit chron,
gastroenteritis, amubiasis, penyakit respirasi dan campak.

Patofisiologi

Setrelah terjadi obstruksi lumen, appendiks akan menyerupai suatu kantong tertutup. Di dalam
lumen, akan terjadi penumpukan sekresi apendiks. Aliran vena dan limfe yang terganggu
mempermudah invasi bakteri pada dinding lumen appendiks dan pada kasus lanjut dapat terjadi
perforasi dan masuknya pus ke dalam rongga peritoneum.

DIAGNOSIS

Anamnesis

Variasi letak appendiks, usia pasien dan derajat inflamasi yang terjadi menyebabkan gambaran
klinis appendicitis yang berbeda. Gambaran klinis yang klasik adalah nyeri disekitar umbilicus,
yang diikuti oleh nausea, nyeri perut bagian kanan bawah dan muntah muncul pada 50% kasus.
Perpindahan dari nyeri dari daerah umbilicus ke perut bagian kanan bawah adalah gambaran
klinis yang paling khas dari anamnesis. Hal ini memiliki sensitivitas sebesar 80%. Ketika muntah
timbul, biasanya selalu mengikuti timbulnya nyeti perut. Nausea muncul pada 61-92% pasien,
anoreksia muncul pada 74-78% pasien. Diare dan konstipasa dapat timbul pada 18% pasien.

Manifestasi Klinis

Nyeri pada kuadran kanan bawah ditemukan pada 96% pasien. Tapi temuan ini tidak spesifik.
Temuan yang lebih spesifik adalah nyeri lepas, nyeri pada perkusi dan deffans muscular. Tanda
RPvsing menunjukkan adanya iritasi peritoneal pada perut kanan bawah yang dipresipitasi oleh
palpasi pada perut kiri bawah. DApat juga ditemukanb tanda obturator, tanda psoas dan dunphey
sign

Skor MANTRELS

M : MIgrain of pain to RLQ (1)

A : Anorexia (1)

N : nausea and vomiting (1)

T : Tenderness in RLQ (2)

R : Rebound Pain (1)

E : Elevated temperature (1)

L : Leukositosis (2)

S : Shift to the left (1)

Total : 10

Sumber : Alvarado 1986

Pada sebuah penelitian pada 150 pasien, pasien dengan skor mantrels 3 atau lebih rendag
memiliki insiden apapendisitis 3,6%. Pasien dengan skor 4-6 memiliki insiden appendicitis
sebesar 32 % dan pasien dengan skor 7- 10 memiliki skor appendicitis sebesar 78%. Para peneliti
ini menyarankan poasien dengan skor 0-3 dapat dipulangkan tanpa pencitraan lebih lanjut.
Pasien dengan skor 4-6 disarankan untuk melakukan pemeriksaanlebih lanjut. Pasien dengan
skor 7 atau lebih harus mendapatkan konsultasi pembedahan.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium

Penelitian menunjukkan 80-85% ortang dewasa dengan appendicitis memiliki Hitung leukosit
lebih besar dari 10.500/mm3. Neutrofil yang lebih besar dari 75% muncul pada 78% kasus.
Kurang dari 4% pasien memiliki hitung leukosit sel kurang dari 10.500/mm3 dan netrofilia
kurang dari 4%. Untuk pemeriksaan tambahan lainnya dapat dilakukan pemeriksaan foto polos
abdomen dan pemeriksaan USG. Pada pemeriksaan foto polos dapat terlihat fekolit, air fluid
level dan pneumoperitoneum.
Tatalaksana

Pengobatan operatif merupakan terapi pilihan bila diagnose klinis sudah jelas.Penundaan tindak
bedah sambil memberikna antibiotik dapat menyebabkan abses dan perforasi.
Universitas Andalas

Fakultas Kedokteran

Kepaniteraan Klinik Rotasi Tahap II

Status Pasien

1. Identitas Pasien

a. Nama/Kelamin/Umur : Rafi Zola/laki-laki/15th

b. Pekerjaan/Pendidikan : SMP kelas 2

c. Alamat : Kota Tua Pulai

2. Latar Belakang social-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga

a.Status Perkahwinan : belum menikah


b.Jumlah anak/saudara : 3orang
c.Status Ekonomi Keluarga :mampu
d.KB :-
e.Kondisi rumah :
Rumah permanen,perkarangan cukup luas
Listrik ada
Sumber air :air sumur
Jamban ada 1 buah,di dalam rumah
Sampah dibakar
Kesan:Higeine dan sanitasi baik
f.Kondisi Lingkungan Keluarga
-Pasien tinggal bersama ayah,ibu dan 3
orang adik

3. Aspek psikologis di keluarga

- Hubungan dalam keluarga baik


4. Riwayat penyakit dahulu/Penyakit keluarga

Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

Anggota keluarga lain tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

5. Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan utama : Nyeri perut kanan bawah sejak 3 hari yang lalu

• Sebelumnya pasien mengeluhkan nyeri samar-samar di sekitar


pusat sejak 3 hari yang lalu.

• Demam dirasakan sejak 1 hari yang lalu.

• Mual dan muntah tidak ada.

• Nafsu makan menurun sejak 3 hari yang lalu.

• Bab dan Bak biasa.

• Riwayat trauma tidak ada

6. Pemeriksaan Fisik

Status generalis

Keadaan Umum : Sakit sedang

Kesadaran : CMC

Nadi : 88X

Nafas :20X

TD :120/80

Suhu :37.9

Kulit : tidak ada kelainan


Mata : Konjungtiva : tidak anemis,sklera tidak ikterik
Paru :
Inspeksi : normochest, simetris kiri dan kanan statis dan dinamis
Palpasi : fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor kiri = kanan
Auskultasi : vesikuler normal, ronkhi (-), wheezing (-)
Jantung
Inspeksi : ictus tidak terlihat
Palpasi : ictus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung dalam batas normal.
Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada.
Abdomen
Inspeksi : perut tidak membuncit, distensi tidak ada
Palpasi : NT dan NL +,defans muskuler +
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+)
Rovsing sign (+),ilopsoas (-),obturator (-)

Anggota gerak :reflek fisiologis +/+,reflek patologis -/-,oedem tungkai -/-

7. Laboratorium : Pemeriksaan labor rutin

8. Diagnosa Kerja : suspek Appendisitis akut

10. Diagnosa Banding :

11.Manajemen :

a. Preventif : Mengkonsumsi makanan dengan jumlah serat yang cukup

b.Promotif :Meningkatkan daya tahan tubuh

c. Kuratif :Merujuk ke rumah sakit dengan fasilitas operasi

d. Rehabilitatif :