Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

REAKSI KIMIA

Reaksi kimia adalah suatu reaksi antar senyawa kimia atau unsur kimia yang melibatkan
perubahan struktur dari molekul, yang umumnya berkaitan dengan pembentukan dan pemutusan
ikatan kimia. Dalam suatu reaksi kimia terjadi proses ikatan kimia, di mana atom zat mula-mula
(edukte) bereaksi menghasilkan hasil (produk). Berlangsungnya proses ini dapat memerlukan
energi (reaksi endotermal) atau melepaskan energi (reaksi eksotermal). Ciri - ciri reaksi kimia :
Terbentuknya endapan, Terbentuknya gas, Terjadinya perubahan warna, Terjadinya perubahan
suhu atau temperatur.

Kinetika kimia menyangkut laju reaksi kimia. Dalam deskripsi kuantitatif, kinetika kimia
berkaitan erat dengan pertanyaan berapa cepat reaksi kimia terjadi dan faktor-faktor apa yang
mempengaruhi laju reaksi tersebut. Ahli kimia menggunakan kinetika sebagai piranti untuk
memahani aspek-aspek fundamental mekanisme reaksi. Ahli kimia terapan menggunakan
kinetika untuk menemukan cara yang lebih baik dalam pencapaian reaksi kimia yang diinginkan.
Insinyur kimia menggunakan kinetika untuk perancangan reaktor dalam reaksi kimia atau
rekayasa proses. Contoh berikut adalah proses sintesis gas Amoniak:

N2 + 3H2 → 2NH3

Jika laju reaksi terhadap N2 adalah (-rN2), berapakah laju reaksi terhadap H2 dan NH3
dinyatakan dalam (-rN2)?

Oleh karena: r = (rN2)/-1 = (rH2)/-3 = (rNH3)/2

maka (rH2) = 3 x (-rN2) dan (rNH3) = -2 x (-rN2)

Reaksi kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi, dan akan


menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda dari reaktan.
Secara klasik, reaksi kimia melibatkan perubahan yang melibatkan pergerakan elektron dalam
pembentukan dan pemutusan ikatan kimia, walaupun pada dasarnya konsep umum reaksi kimia
juga dapat diterapkan pada transformasi partikel-partikel elementer seperti pada reaksi nuklir.
Reaksi-reaksi kimia yang berbeda digunakan bersama dalam sintesis kimia untuk
menghasilkan produk senyawa yang diinginkan. Dalam biokimia, sederet reaksi kimia yang
dikatalisis oleh enzim membentuk lintasan metabolisme, di mana sintesis dan dekomposisi yang
biasanya tidak mungkin terjadi di dalam sel dilakukan.

1.1. Jenis – jenis Reaksi Kimia

Beragamnya reaksi-reaksi kimia dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam


mempelajarinya mengakibatkan banyaknya cara untuk mengklasifikasikan reaksi-reaksi tersebut,
yang sering kali tumpang tindih. Di bawah ini adalah contoh-contoh klasifikasi reaksi kimia yang
biasanya digunakan.

• Isomerisasi, yang mana senyawa kimia menjalani penataan ulang struktur tanpa
perubahan pada kompoasisi atomnya
• Kombinasi langsung atau sintesis, yang mana dua atau lebih unsur atau senyawa kimia
bersatu membentuk produk kompleks:

N2 + 3 H2 → 2 NH3

• Dekomposisi kimiawi atau analisis, yang mana suatu senyawa diurai menjadi senyawa
yang lebih kecil:

2 H2O → 2 H2 + O2

• Penggantian tunggal atau substitusi, dikarakterisasikan oleh suatu unsur digantikan


oleh unsur lain yang lebih reaktif:

2 Na(s) + 2 HCl(aq) → 2 NaCl(aq) + H2(g)

• Metatesis atau Reaksi penggantian ganda, yang mana dua senyawa saling berganti ion
atau ikatan untuk membentuk senyawa yang berbeda:

NaCl(aq) + AgNO3(aq) → NaNO3(aq) + AgCl(s)


• Reaksi asam basa, secara luas merupakan reaksi antara asam dengan basa. Ia memiliki
berbagai definisi tergantung pada konsep asam basa yang digunakan. Beberapa definisi
yang paling umum adalah:
o Definisi Arrhenius: asam berdisosiasi dalam air melepaskan ion H3O+; basa
berdisosiasi dalam air melepaskan ion OH-.
o Definisi Brønsted-Lowry: Asam adalah pendonor proton (H+) donors; basa adalah
penerima (akseptor) proton. Melingkupi definisi Arrhenius.
o Definisi Lewis: Asam adalah akseptor pasangan elektron; basa adalah pendonor
pasangan elektron. Definisi ini melingkupi definisi Brønsted-Lowry.
• Reaksi redoks, yang mana terjadi perubahan pada bilangan oksidasi atom senyawa yang
bereaksi. Reaksi ini dapat diinterpretasikan sebagai transfer elektron. Contoh reaksi
redoks adalah:

2 S2O32−(aq) + I2(aq) → S4O62−(aq) + 2 I−(aq)


Yang mana I2 direduksi menjadi I- dan S2O32- (anion tiosulfat) dioksidasi menjadi S4O62-.

• Pembakaran, adalah sejenis reaksi redoks yang mana bahan-bahan yang dapat terbakar
bergabung dengan unsur-unsur oksidator, biasanya oksigen, untuk menghasilkan panas
dan membentuk produk yang teroksidasi. Istilah pembakaran biasanya digunakan untuk
merujuk hanya pada oksidasi skala besar pada keseluruhan molekul. Oksidasi terkontrol
hanya pada satu gugus fungsi tunggal tidak termasuk dalam proses pembakaran.

C10H8+ 12 O2 → 10 CO2 + 4 H2O


CH2S + 6 F2 → CF4 + 2 HF + SF6

• Disproporsionasi, dengan satu reaktan membentuk dua jenis produk yang berbeda hanya
pada keadaan oksidasinya.

2 Sn2+ → Sn + Sn4+

• Reaksi organik, melingkupi berbagai jenis reaksi yang melibatkan senyawa-senyawa


yang memiliki karbon sebagai unsur utamanya.
1.2. Ciri – ciri Reaksi Kimia

1.2.1. Terjadi Perubahan Warna

Pada reaksi kimia, reaktan diubah menjadi produk. Perubahan yang terjadi dapat
disebabkan adanya pemutusan ikatan-ikatan antaratom reaktan dan pembentukan ikatan-ikatan
bru yang membentuk produk. Untuk memutuskan ikatan diperlukan energi. Untuk membentuk
ikatan yang baru, dilepaskan sejumlah energi. Jadi, pada reaksi kimia terjadi perubahan energi.

Reaksi kimia yang menghasilkan energi dalam bentuk panas disebut dengan reaksi
eksotermis. Reaksi yang menyerap energi panas disebut dengan reaksi endotermis.

Contoh: Api dapat menghangatkan tubuh yang kedinginan dan ketika bernafas panas yang ada
dalam tubuh akibat berolahraga dikeluarkan sehingga tubuh menjadi dingin.

1.2.2. Terjadi Perubahan Suhu

Pada reaksi kimia, reaktan diubah menjadi produk. Perubahan yang terjadi dapat
disebabkan adanya pemutusan ikatan-ikatan antaratom pereaksi dan pembentukan ikatan-
ikatan baru yang membentuk produk. Untuk memutuskan ikatan diperlukan energi.

Reaksi kimia yang menghasilkan energi dalam bentuk panas disebut dengan
reaksi eksotermis, sedangkan reaksi yang menyerap energi panas disebut reaksi
endotermis.

Reaksi kimia terjadi pada suatu ruang yang kita sebut dbngan sistem, tempat di luar
sistem disebut dengan lingkungan.

Pada reaksi eksotermis, terjadi perpindahan energi panas dari sisitem ke lingkungan.

Pada reaksi endotermis terjadi perpindahan energi panas dari lingkungan ke sistem.

1.2.3. Terjadi Pembentukan Endapan

Ketika mereaksikan dua larutan dalam sebuah tabung reaksi, kadang-kadang


terbentuk suatu sneyawa yang tidak larut, berbentuk padat, dan terpisah dari larutannya.
Padatan itu disebut dengan endapan (presipitat)
1.2.4. Terjadi Pembentukan Gas

Secara sederhana, dalam reaksi kimia adanya gas yang terbentuk ditunjukkan dengan
adanya gelembung-gelembung dalam larutan yang direaksikan. Adanya gas dapat diketahui
dari baunya yang khas, seperti asam sulfida (H2S) dan amonia (NH3) yang berbau busuk.

1.3Kinetika Kimia

Laju reaksi suatu reaksi kimia merupakan pengukuran bagaimana konsentrasi ataupun
tekanan zat-zat yang terlibat dalam reaksi berubah seiring dengan berjalannya waktu. Analisis
laju reaksi sangatlah penting dan memiliki banyak kegunaan, misalnya dalam teknik kimia dan
kajian kesetimbangan kimia. Laju reaksi secara mendasar tergantung pada:

• Konsentrasi reaktan, yang biasanya membuat reaksi berjalan dengan lebih cepat apabila
konsentrasinya dinaikkan. Hal ini diakibatkan karena peningkatan pertumbukan atom per
satuan waktu,
• Luas permukaan yang tersedia bagi reaktan untuk saling berinteraksi, terutama reaktan
padat dalam sistem heterogen. Luas permukaan yang besar akan meningkatkan laju
reaksi.
• Tekanan, dengan meningkatkan tekanan, kita menurunkan volume antar molekul
sehingga akan meningkatkan frekuensi tumbukan molekul.
• Energi aktivasi, yang didefinisikan sebagai jumlah energi yang diperlukan untuk
membuat reaksi bermulai dan berjalan secara spontan. Energi aktivasi yang lebih tinggi
mengimplikasikan bahwa reaktan memerlukan lebih banyak energi untuk memulai reaksi
daripada reaksi yang berenergi aktivasi lebih rendah.
• Temperatur, yang meningkatkan laju reaksi apabila dinaikkan, hal ini dikarenakan
temperatur yang tinggi meningkatkan energi molekul, sehingga meningkatkan tumbukan
antar molekul per satuan waktu.
• Keberadaan ataupun ketiadaan katalis. Katalis adalah zat yang mengubah lintasan
(mekanisme) suatu reaksi dan akan meningkatkan laju reaksi dengan menurunkan energi
aktivasi yang diperlukan agar reaksi dapat berjalan. Katalis tidak dikonsumsi ataupun
berubah selama reaksi, sehingga ia dapat digunakan kembali.
• Untuk beberapa reaksi, keberadaan radiasi elektromagnetik, utamanya ultraviolet,
diperlukan untuk memutuskan ikatan yang diperlukan agar reaksi dapat bermulai. Hal ini
utamanya terjadi pada reaksi yang melibatkan radikal.

Laju reaksi berhubungan dengan konsentrasi zat-zat yang terlibat dalam reaksi. Hubungan ini
ditentukan oleh persamaan laju tiap-tiap reaksi. Perlu diperhatikan bahwa beberapa reaksi
memiliki kelajuan yang tidak tergantung pada konsentrasi reaksi. Hal ini disebut sebagai reaksi
orde nol.

1.4 contoh reaksi kimia

contoh reaki kimia sehari2 :perkaratan besi, pembakaran, pernafasan manusia,


reaksi enzim2 pencernaan dengan makanan (protein, karbohidrat, lemak dll)
--besi berkarat:
2Fe3+ + 3O2 menjadi Fe2O3

-Pembakaran: misalnya gas etana (elpiji dengan udara)


2C2H6 + 7O2 menjadi 4CO2 + 6H2O dan bila pembakaran tidak sempurna:

2C2H6 + 5O2 menjadi 4CO + 6H2O

1.5 Perubahan Materi atau Zat - Secara Fisis / Fisika dan Kimia - Ilmu Kimia

Perubahan materi adalah perubahan sifat suatu zat atau materi menjadi zat yang lain baik yang
menjadi zat baru maupun tidak. Perubahan materi terbagi menjadi dua macam, yaitu :

1. Perubahan Materi Secara Fisika atau Fisis


Perubahan fisika adalah perubahan yang merubah suatu zat dalam hal bentuk, wujud atau
ukuran, tetapi tidak merubah zat tersebut menjadi zat baru.

Contoh perubahan fisis :


a. perubahan wujud
- es balok yang mencair menjadi air
- air menguap menjadi uap
- kapur barus menyublim menjadi gas, dsb
b. perubahan bentuk
- gandum yang digiling menjadi tepung terigu
- benang diubah menjadi kain
- batang pohon dipotong-potong jadi kayu balok dan triplek, dll
c. perubahan rasa berdasarkan alat indera
- perubahan suhu
- perubahan rasa, dan lain sebagainya

2. Perubahan Materi Secara Kimia


Adalah perubahan dari suatu zat atau materi yang menyebabkan terbantuknya zat baru.
Perubahan

Contoh perubahan kimia :


a. bensin biodiesel sebagai bahan bakar berubah dari cair menjadi asap knalpot.
b. proses fotosintesis pada tumbuh-tumbuhan yang merubah air, sinar matahari, dan sebagainya
menjadi makanan
c. membuat masakan yang mencampurkan bahan-bahan masakan sesuai resep menjadi masakan
yang dapat dimakan.
d. bom meledak yang merubah benda padat menjadi pecahan dan ledakan