Anda di halaman 1dari 2

Jangan Tinggalkan Dzikir…...

“Janganlah meninggalkan dzikir, hanya karena anda tidak hudhur bersama Allah dalam
dzikir. Karena kealpaanmu jauh dari dzikir itu lebih berbahaya ketimbang kealpaanmu
kepadaNya ketika sedang berdzikir."

Dzikir merupakan ibadah paling utama dan paling penting dalam perjalanan menuju
kepada Allah Ta’ala. Karena itu menempati posisi kunci dalam dunia Sufi. Karena itu jika
seseorang berdzikir lisannya, sementara hatinya tidak hadir di depan Allah, sama sekali
dzikir tidak bisa ditinggalkan. Sebab orang yang sama sekali jauh dari dzikir itu,
resikonya lebih berbahaya ketimbang orang yang tidak hadir jiwanya ketika berdzikir.

Allah swt, berfirman: “Berdzikirlah kepadaKu, niscaya Aku mengingatmu.” Dan


firmanNya yang lain, “Sebagaimana dzikirnya para penduhulumu atau lebih kuat
dzikirnya dari itu.” Dan wasiat Nabi saw, “Hendaknya lisan kalian senantiasa basah
dengan dzikirullah.”

Karena itu diperingatkan agar kita tetap berdzikir walaupun hati kita tidak hadir pada
Allah. Sementara alpa pada Allah (dzikrullah) bisa berdampak lebih negatif. Hal
demikian, menurut Syeikh Zaruq disebabkan karena tiga hal:
Pertama, apapun adanya dzikir berarti menghadap, apa pun kondisinya. Sementara alpa
itu berarti mengabaikan secara total.
Kedua, dzikir bisa menjadi perias ibadah, sementara alpa dari Allah bisa menafikannya.
Ketiga, adanya dzikir itu berarti siap menerima hembusan rahmat Allah, yang bisa
meningkatkan dari yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi, sedangkan alpa dari
dzikir bisa mengosongkan semua itu.

“Siapa tahu Allah meningkatkan dzikir dengan hati alpa, menuju dzikir dengan sadar
Ilahi, dari dzikir yang sadar Ilahi menuju dzikir Hadir Ilahi, dari dzikir Hadir Ilahi
menuju dzikir dengan mengosongkan segala hal selain Allah.”

Dari sini bisa disimpulkan bahwa ragam hamba yang berdzikir terdiri dari:
Dzikir lisan saja
Dzikir sadar hati
Dzikir Hadir Ilahi
Dzikir dengan mengosongkan segala hal selain Allah.
Karenanya Allah memperingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah
kepada Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepadaNya,
pagi sampai sore (sore sampai pagi). Dialah yang melimpahkan rahmat kepadamu dan
para malaikatNya.” (Al-Ahzaab: 42)

Sedangkan Imam Ghazali membagi dzikir menjadi:


1) Dzikir Lisan,
2) Dzikir Nafsu,
3)Dzikir Qalbu,
4) Dzikir Ruh,
5) Dzikir Sirr.

Konsekwensi kita selalu berdzikir kepada Allah dan alpa kepada Allah antara lain:
Jika kita alpa kepada Allah pasti yang teringat di benak kita adalah selain Allah.
Jika kita mnengingat sadar akan Allah, kita akan menapaki kemesraan demi kemesraan
dengan Allah.

Jika kita hadir di hadapan Allah, kita akan patuh dan tunduk kepadaNya.
Jika kita lupa pada segala hal selain Allah, kita akan fana’ kepadaNya.
Jika kita fana’, segala yang ada akan tiada.
Sulthonul Auliya Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily mengatakan, “Hakikat dzikir adalah
konsentrasi penuh kepada yang Diingat, sehingga yang lain tak teringat. Sebagaimana
firman Allah swt, “Dzikirlah dengan Nama Tuhanmu dan lakukanlah dengan sepenuhnya.”
Orientasi dzikir itu sendiri berkisar pada tiga hal pula:
Ma’rifatullah
Mengagungkan Allah
Ubudiyah kepada Allah.
“Dan semua itu sama sekali bukan hal berat bagi Allah.”
Yakni bukan hal yang terhalang jika Allah menghendaki.

---(ooo)---