Anda di halaman 1dari 25

STUDI EVALUASI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

KEAGAMAAN DINIYAH DI INDONESIA


Muhammad Isnaini, 08127884060, IAIN Raden Fatah Palembang,
Sumatera Selatan, isnain_m@yahoo.co.id

Latar Belakang dan Masalah


Sejarah Islam di Indonesia memperlihatkan bahwa pendidikan
keagamaan di sini tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika
kehidupan masyarakat Muslim. Selama kurun waktu yang panjang,
pendidikan keagamaan Islam berjalan secara tradisi, berupa
pengajian al-Qur’an dan pengajian kitab, dengan metode yang
dikenalkan (terutama di Jawa) dengan nama sorogan, bandongan dan
halaqah. Tempat belajar yang digunakan umumnya adalah ruang-
ruang masjid atau tempat-tempat shalat “umum” yang dalam istilah
setempat disebut: surau, dayah, meunasah, langgar, rangkang, atau
mungkin nama lainnya.
Perubahan kelembagaan paling penting terjadi setelah
berkembangnya sistem klasikal, yang awalnya diperkenalkan oleh
pemerintah kolonial melalui sekolah-sekolah umum yang
didirikannya di berbagai wilayah Nusantara. Di Sumatera Barat
pendidikan keagamaan klasikal itu dilaporkan dipelopori oleh
Zainuddin Labai el-Junusi (1890-1924), yang pada tahun 1915
mendirikan sekolah agama sore yang diberi nama “Madrasah
Diniyah” (Diniyah School, al-Madrasah al-Diniyah) (Noer 1991:49;
Steenbrink 1986:44). Sistem klasikal seperti rintisan Zainuddin
berkembang pula di wilayah Nusantara lainnya, terutama yang
mayoritas penduduknya Muslim. Di kemudian hari lembaga-lembaga
pendidikan keagamaan itulah yang menjadi cikal bakal dari
madrasah-madrasah formal yang berada pada jalur sekolah
sekarang. Meskipun sulit untuk memastikan kapan madrasah
didirikan dan madrasah mana yang pertama kali berdiri, namun
Departemen Agama (dahulu Kementerian Agama) mengakui bahwa
setelah Indonesia merdeka sebagian besar sekolah agama berpola
madrasah diniyahlah yang berkembang menjadi mad-rasah-
madrasah formal (Asrohah 1999:193). Dengan perubahan tersebut
berubah pula status kelembagaannya, dari jalur “luar sekolah” yang
dikelola penuh oleh masyarakat menjadi “sekolah” di bawah
pembinaan Departemen Agama.
Meskipun demikian tercatat masih banyak pula madrasah diniyah
yang mempertahankan ciri khasnya yang semula, meskipun dengan

1 Rangkuman Hasil
Peneitian
status sebagai pendidikan keagamaan luar sekolah. Pada masa yang
lebih kemudian, mengacu pada Peraturan Menteri Agama Nomor 13
Tahun 1964, tumbuh pula madrasah-madrasah diniyah tipe baru,
sebagai pendidikan tambahan berjenjang bagi murid-murid sekolah
umum. Madrasah diniyah itu diatur mengikuti tingkat-tingkat pendi-
dikan sekolah umum, yaitu Madrasah Diniyah Awwaliyah untuk murid
Sekolah Dasar, Wustha untuk murid Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama, dan ‘Ulya untuk murid Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Madrasah diniyah dalam hal itu dipandang sebagai lembaga
pendidikan keagamaan klasikal jalur luar sekolah bagi murid-murid
sekolah umum. Data EMIS (yang harus diperlakukan sebagai data
sementara karena ketepatan-nya dapat dipersoalkan) mencatat
jumlah madrasah diniyah di Indonesia pada tahun ajaran 2005/2006
seluruhnya 15.579 buah dengan jumlah murid 1.750.010 orang.
Masalah pokok penelitian ini ialah tidak tersedianya informasi
yang memadai dan mutakhir untuk mengevaluasi posisi dan
eksistensi madrasah diniyah dalam masyarakat Indonesia sekarang.
Penelitian tentang madrasah diniyah sangat terbatas. Kebanyakan
studi yang ada hanya menyinggung madrasah diniyah sepintas,
sebagai bagian dari penjelasan mengenai perkembangan historis
pendidikan Islam di Indonesia. Sepanjang yang telah dilakukan,
hanya dijumpai dua studi yang mempelajari madrasah diniyah secara
khusus. Pertama, pene-litian lama dari Bafadhal et al. (1992), yang
menemukan fakta bahwa madrasah dinyah memiliki corak dan
sistem yang bera-gam (sebagai akibat dari faktor-faktor kultural yang
melandasi kelahirannya), dengan orientasi dan muatan pendidikan
yang tergantung pada pihak penyelenggaranya. Kedua, skripsi
sosiologi Sari (2002) yang menelaah faktor-faktor internal dan
eksternal yang mempengaruhi keberhasilan dua madrasah diniyah
awaliyah di kota Padang.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi dan eksis-tensi
madrasah diniyah dalam masyarakat Indonesia sekarang. Secara
khusus, penelitian ini berusaha menjawab tiga pertanyaan yang dari
sisi evaluasi kebijakan dipandang bersifat mendasar: (1) Bagaimana
warga masyarakat mengenal dan memahami madrasah diniyah; (2)
Bagaimana madrasah diniyah menyelenggarakan pendidikan dan
menghubungkannya de-ngan kebutuhan masyarakat; dan (3)
Bagaimana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan di madrasah diniyah.
Hasil penelitian ini diharapkan berguna: (a) Sebagai bahan
masukan kepada pimpinan Departemen Agama (melalui Direk-torat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam) untuk perumusan alternatif-
alternatif kebijakan menurut perkembangan terakhir madrasah
diniyah; (b) Memenuhi kebutuhan data tentang penyelenggaraan
pendidikan keagamaan melalui madrasah diniyah yang dirasakan
masih terbatas. (c) Dalam konteks database keagamaan, dapat
menjadi bahan dasar bagi pembu-atan direktori madrasah diniyah
dan identifikasi tipologi madrasah diniyah.
Prosedur dan Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Penelitian dilaksanakan di delapan provinsi, yaitu Sumatera
Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa
Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Pada masing-
masing provinsi itu diambil satu Madrasah Diniyah secara purposive
sebagai sasaran penelitian, dengan kriteria tergolong ke dalam
Madrasah Diniyah yang mewakili tipe tertentu yang berbeda dengan
provinsi lainnya.
Madrasah diniyah yang dipilih untuk dipelajari ditetapkan
berdasarkan pentakrifan masyarakat. Yaitu madrasah diniyah yang
oleh pihak penyelenggaranya memang disebut dan ditempatkan
sebagai madrasah diniyah. Secara kategori, madrasah-madrasah
diniyah itu ditemukan terbagi dalam dua pola: madrasah diniyah
yang menggunakan kurikulum Departemen Agama (Depag) dan
madrasah diniyah berpola kurikulum pesantren. Yang terakhir ini
mungkin berada di lingkungan pesantren tetapi mungkin pula di luar
pesantren.
Sampel yang dipelajari mencakup dua pola madrasah diniyah
tersebut. Termasuk pola pertama adalah Madrasah Diniyah Jihad di
Padang, Sumatera Barat; Arrohman I di Cimaruyung, Kabupaten
Ciamis, Jawa Barat; dan Al-Huda di Makassar, Sulawesi Selatan.
Termasuk pola kedua ialah Darul Muttaqin di Palembang, Sumatera
Selatan, Al-Wathoniyah di Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah;
Wahid Hasyim di Depok, Sleman, Yogyakarta; Ittaqu di Gayungan,
Surabaya, Jawa Timur; dan Darussalam di Martapura, Kalimantan
Selatan.
Sumber data terdiri atas pengelola Madrasah, guru, murid,
orangtua murid, dan warga masyarakat di sekitar Madrasah.
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, studi
dokumentasi, dan wawancara. Data yang dikumpulkan melalui studi
dokumentasi terutama mengenai sejarah dan latar bela-kang
berdirinya Madrasah, kurikulum, jumlah siswa, jumlah guru, dan
bahan yang diajarkan. Observasi lapangan digunakan untuk
menggali data tentang proses dan aktivitas pendidikan yang berjalan
3 Rangkuman Hasil
Peneitian
(metode, materi, media, dan evaluasi). Sebagai pendukung, juga
disusun pedoman wawancara untuk menggali data tentang latar
belakang siswa, interaksi dengan masyarakat, partisipasi
masyarakat, dan kebutuhan ilmu dan pendidikan keagamaan.
Data yang terkumpul dianalisis dengan model evaluasi CIPP
(Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh
Stufflebeam (1971) (Worthen dan Sanders 1973). Menurut model ini
ada empat aspek penyelenggaraan pendidikan yang dapat
dievaluasi: context, input, process, dan product. Tekanan utama
analisis diberikan pada aspek context dan process. Yaitu menelu-suri
pemikiran awal pendirian madrasah, hubungannya dengan
perumusan tujuan madrasah, bagaimana program pendidikan
diselenggarakan oleh madrasah, serta kebijakan-kebijakan untuk
mempertahankan dan meningkatkan fungsi Madrasah dalam
kaitannya dengan perkembangan kebutuhan pendidikan dalam
masyarakat.
Temuan-temuan Utama Penelitian
Pencatatan Madrasah Diniyah. Catatan-catatan resmi tentang
madrasah diniyah yang terdapat di kantor-kantor wilayah (provinsi)
dan kantor-kantor Departemen Agama (kabupaten/ kota) yang
dipelajari patut ditempatkan hanya sebagai daftar administratif yang
bersifat “sementara.” Catatan jumlah madrasah diniyah di kantor
wilayah umumnya ditemukan lebih kecil daripada jumlah yang
terdaftar di kantor Departemen Agama dalam wilayahnya. Catatan
kantor Departemen Agama bisa lebih besar atau lebih kecil daripada
jumlah madrasah diniyah yang sungguh-sungguh ada di lapangan.
Ada beberapa faktor yang tampak mempengaruhi kelengkapan
dan ketepatan pencatatan itu. Pertama, pendataan madrasah diniyah
relatif baru dimulai atau diulangi, kurang dari setahun. Proses
pendataan berawal dari restrukturisasi kantor wilayah Departemen
Agama berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 373
Tahun 2002. Mengikut KMA itu madrasah diniyah mendapat porsi
perhatian yang lebih jelas dengan dibentuknya seksi khusus, seksi
madrasah diniyah (di bawah bidang pendidikan keagamaan dan
pondok pesantren), pada tingkat kantor wilayah. Pendataan
madrasah diniyah mulai dilakukan lebih sungguh-sungguh setelah
tahun 2003, sejak seksi madrasah diniyah di kantor wilayah
berfungsi. Karena itu sering ditemukan data dari kabupaten/kota
tertentu belum tercatat di kantor wilayahnya. Kedua, buku-buku
petunjuk, yang diterbitkan Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama
Islam, yang dijadikan pegangan pada tingkat kantor wilayah dan
kabupaten/kota memberi batasan yang membi-ngungkan dan tidak
seragam mengenai madrasah diniyah. Ketiga, proses pendataan
madrasah diniyah dilakukan tidak secara proaktif tetapi hanya
bersifat menunggu. Proses pendataan, karena itu berjalan lambat,
apalagi berdasarkan KMA 373/2002 di tingkat kabupaten/kota tidak
ada (lagi) subseksi untuk madrasah diniyah.
Buku-buku petunjuk yang beredar di tingkat kantor wilayah ke
bawah mentakrif dan mengidentifikasi madrasah diniyah secara
berbeda-beda. Buku Pedoman Penyelenggaraan dan Pembi-naan
Madrasah Diniyah mentakrif madrasah diniyah sebagai lem-baga
pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang diberikan melalui
sistem klasikal dan menerapkan pendidikan berjenjang (awwaliyah,
wustha, dan ‘ulya). Buku Pola Pengembangan Madrasah Diniyah
mentakrif madrasah diniyah sebagai satuan pendidikan keagamaan
luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam, baik
yang terorganisir secara klasikal, rombongan belajar, maupun dalam
bentuk pengajian anak, majelis taklim, kursus agama, atau
sejenisnya. Buku Pola Pe-nyelenggaraan Madrasah Diniyah di Pondok
Pesantren mengidenti-fikasi madrasah diniyah ke dalam lima pola:
(1) Pola suplemen, yaitu madrasah diniyah regular yang berfungsi
membantu dan menyempurnakan pencapaian tema sentral
pendidikan agama pada sekolah-sekolah umum terutama dalam hal
praktik dan latihan ibadah serta membaca al-Quran; (2) Pola
independen, yaitu yang berdiri sendiri di luar struktur sebagai upaya
untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan mengenai pokok-
pokok ajaran agama Islam ; (3) Pola komplemen, yaitu yang menyatu
dengan sekolah regular, yang berfungsi untuk mendalami materi-
materi agama yang dirasakan kurang di sekolah-sekolah tersebut; (4)
Pola madrasah diniyah paket, yaitu yang tidak terikat jadwal atau
tempat tertentu, biasanya untuk menghabiskan paket materi
keagamaan tertentu, tanpa mengenal tingkatan; (5) Pola madrasah
diniyah di pondok pesantren, yaitu yang terpadu dan terletak di
lingkungan pondok pesantren. Dalam praktik, angka-angka yang
terdapat dalam catatan jajaran Departemen Agama cenderung
diperoleh dari pendataan berdasar takrif Pedoman Penyelenggaraan
dan Pembinaan Madrasah Diniyah, sementara di luar itu (sekalipun
belum tentu dicatatkan dalam daftar madrasah diniyah) yang mereka
ketahui adanya ialah madrasah-madrasah diniyah di pondok
pesantren.
Pola Pendirian Madrasah Diniyah. Sebagai lembaga pendi-dikan
yang murni lahir dari masyarakat, proses pendirian madrasah diniyah
tidak terlepas dari konteks masyarakat di mana ia tumbuh. Pada
masyarakat yang memiliki pesantren hampir dapat dipastikan dari

5 Rangkuman Hasil
Peneitian
pesantren itulah madrasah diniyah akan terbentuk. Pada kelompok
masyarakat yang jauh dari lingkungan pesantren, madrasah diniyah
mungkin berdiri secara langsung atau sebagai kelanjutan dari
lembaga pendidi-kan keagamaan yang ada sebelumnya.
Banyak madrasah diniyah kurikulum Depag berdiri sebagai
lanjutan dari Taman Pendidikan Al-Quran (TPA atau TPQ) di masjid
atau musalla. Hal itu terjadi misalnya pada Madrasah Diniyah Jihad
(Sumatera Barat) dan Al-Huda (Sulawesi Selatan). Jajaran
Departemen Agama di provinsi-provinsi yang diteliti melaporkan
gejala tersebut merupakan pola umum pendirian madrasah-
madrasah diniyah kurikulum Depag di wilayahnya masing-masing. Di
Sumatera Barat hal itu terindikasi dari adanya gelombang baru
pendirian madrasah diniyah menyusul pesatnya pendirian TPA tahun
80-an. Di Kalimantan Selatan, jajaran Departemen Agama bahkan
memastikan madrasah-madrasah diniyah kurikulum Depag yang ada
sekarang berasal dari TPA-TPA yang berkembang melalui dua jalur,
BKPRMI dengan metode Iqra’ dan LPTQ dengan metode temuan lokal
Al-Banjari.
Bila diperbandingkan, proses pendirian madrasah diniyah
kurikulum pesantren lebih bervariasi. Hampir dapat dipastikan,
madrasah diniyah yang lahir dari pesantren akan menggunakan
kurikulum pesantren. Di Darussalam (Kalimantan Selatan) Madrasah
Diniyah itu menjadi unsur inti dari Pesantren Darussalam, baik dalam
hal kurikulum (yang mempertahankan kurikulum asli Pesantren)
maupun jumlah murid yang belajar di dalamnya (11.812 orang atau
86,3 persen dari seluruh santri). Dalam ruang lingkup yang lebih
terbatas, Al-Wathoniyah (Jawa Tengah) juga mempunyai posisi yang
serupa terhadap Pesantren Al-Itqon, induk dari semua lembaga
pendidikan yang ada di bawah Yayasan Al-Wathoniyah.
Ciri lain yang menonjol pada madrasah diniyah kurikulum
pesantren ialah luasnya kemungkinan pendiriannya untuk tujuan-
tujuan khusus. Wahid Hasyim (Yogyakarta) telah ber-kembang dan
dikelola sedemikian rupa untuk memungkinkan Pesantren Wahid
Hasyim memberikan pendidikan keagamaan kepada para mahasiswa
Muslim yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.
Ittaqu (Jawa Timur) sejak awal pendiriannya telah dimaksudkan oleh
Kiai untuk menjadi bagian dari paket pendidikan untuk anak-anak
yatim dan miskin yang berada dalam Panti Asuhan yang sebelumnya
telah didirikannya. Di Darussalam (Kalimantan Selatan), bahkan
Madrasah Diniyah bisa mengem-bangkan kelas takhassus untuk
murid-murid usia dewasa, yang memiliki latar belakang pendidikan
sarjana sekalipun.
Pengenalan dan Pemahaman Masyarakat. Meski lahir dan tumbuh
dari masyarakat, pengenalan dan pemahaman masya-rakat sekitar
madrasah diniyah tidak selalu tepat. Madrasah-madrasah diniyah
kurikulum Depag lebih mudah dikenali sebagai madrasah diniyah.
Madrasah-madrasah diniyah yang berada dalam lingkungan
pesantren kadang-kadang dipandang identik dengan pesantrennya
sendiri.
Ada dua faktor yang terlihat mempengaruhi pengenalan dan
pemahaman masyarakat mengenai madrasah diniyah. Pertama,
proses historis berdirinya madrasah diniyah yang bersangkutan.
Madrasah-madrasah diniyah kurikulum Depag, sekalipun berkem-
bang dari TPA, dengan mudah dapat diketahui sebagai madrasah
diniyah, karena sejak dari awal pendiriannya sudah terlihat
perbedaannya dengan TPA. Hal itu bahkan terjadi juga pada Al-Huda
(Sulawesi Selatan) yang memperkenalkan kehadirannya sebagai
“Pesantren Salafi.” Sebaliknya, madrasah diniyah yang lahir dari
pesantren tidak nyata perbedaannya dengan pendidikan lain yang
ada di pesantren yang bersangkutan. Kedua, interaksi madrasah
diniyah dengan masyarakat sekitar. Al-Wathoniyah (Jawa Tengah)
yang mempunyai hubungan dekat dengan masyarakat sekitar bukan
hanya dikenal perbedaannya dengan madrasah-madrasah formal di
Pesantren itu tetapi juga diketahui asal-usulnya, siapa
pemrakarsanya, tujuan pendirian, dan nama-nama mata pelajaran
yang disajikannya. Keadaan seperti itu tidak ditemui pada Wahid
Hasyim (Yogyakarta) yang berinteraksi dengan masyarakat
sekitarnya secara lebih terbatas.
Mengenai posisi madrasah diniyah dalam konteks peme-nuhan
kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat, terdapat
pemahaman yang berbeda jelas antar dua pola yang ada. Terhadap
madrasah diniyah kurikulum Depag, keluarga-keluarga murid
melihatnya sebagai tambahan penting atas pelajaran agama yang
diberikan di sekolah umum, yang mereka nilai kurang berhasil
membentuk sikap dan praktik keagamaan murid. Adapun madrasah
diniyah kurikulum pesantren, dalam pandangan masyarakat
pendukungnya dinilai dapat memberi kemungkinan yang luas, baik
untuk tujuan pendidikan tambahan maupun untuk melakukan
pendalaman pengetahuan agama. Murid yang memerlukan hanya
pengetahuan tambahan bisa memilih belajar hanya sebatas pada
jenjang awwaliyah. Sedang murid yang ingin mempelajari agama
secara mendalam dapat belajar hingga jenjang wustha dan ‘ulya.
Di luar perbedaan tersebut, semua madrasah diniyah yang ada
dipercaya sebagai lembaga pendidikan yang lebih berhasil dalam
pembinaan moral (akhlak) murid. Kekurangan pendi-dikan sekolah
7 Rangkuman Hasil
Peneitian
(umum) dalam aspek moral itu menjadi kepri-hatinan umum
keluarga-keluarga Muslim yang membelajarkan anak-anak mereka di
madrasah diniyah. Kekhwatiran mereka ditemukan meliputi mulai
dari hal-hal kecil seperti merosotnya sopan santun dan tata krama
dalam keluarga hingga isu-isu besar seperti penyalahgunaan
narkoba, pergaulan bebas, dan terpaan gaya hidup konsumtif dan
permisif yang disodorkan media massa.
Penjenjangan Pendidikan dan Kebutuhan Masyarakat. Dilihat dari
jenjang pendidikan yang diselenggarakan, terdapat perbe-daan
penting antara dua pola madrasah diniyah. Madrasah diniyah
kurikulum Depag umumnya hanya bisa mengembang-kan pendidikan
diniyah jenjang awwaliyah, dan paling tinggi wustha. Madrasah-
madrasah itu juga ketat berpegang pada ketentuan kelas yang
termaktub dalam kurikulum Depag, yaitu awwaliyah empat tahun,
wustha dua tahun. Sebaliknya, mad-rasah diniyah kuriku-lum
pesantren tidak memiliki hambatan, khususnya yang bersifat
normatif, untuk memberi nama tertentu yang berbeda dengan Depag
dan dapat menye-lenggarakan kelas-kelas pendidikan diniyah hingga
jenjang tertinggi.
Ada dua faktor utama yang tampak harus diperhitungkan oleh
madrasah diniyah kurikulum Depag dalam pengembangan jenjang
pendidikan. Pertama, status diniyah sebagai pendidikan agama
tambahan. Pandangan murid dan keluarga mereka atas hal itu
menyebabkan kegiatan pendidikan di sekolah (umum) selalu lebih
utama. Ketika kegiatan pendidikan sekolah memerlukan lebih banyak
waktu belajar, yang di kota-kota tertentu sudah terjadi di kelas-kelas
tertinggi SD, pendidikan murid di madrasah diniyah akan makin
dikurangi atau ditinggalkan sama sekali. Kedua, latar belakang
kultural keluarga murid (sekolah umum) yang cenderung melihat
diniyah hanya sebatas pendidikan dasar-dasar agama anak semasa
kecil. Anak-anak ingin mereka bekali dengan landasan
keberagamaan yang kuat sejak dini, seperti yang dulu mungkin
pernah mereka alami. Namun pendidikan dasar keberagamaan itu
cenderung dipandang terpenting sampai usia SD. Hanya jika masih
banyak waktu tersisa di luar kegiatan belajar untuk kepentingan
sekolahnya, anak-anak akan mendapat dorongan lebih kuat untuk
melanjutkan belajar ke jenjang diniyah yang lebih tinggi (wustha).
Madrasah-madrasah diniyah kurikulum pesantren menga-tur
jenjang pendidikan secara leluasa, termasuk untuk memberi nama
bagi jenjang pendidikan itu. Ittaqu (Jawa Timur) tidak memandang
perlu adanya penjenjangan tertentu. Ittaqu hanya menamakan
pendidikannya sebagai madrasah diniyah, dengan waktu belajar
selama tiga tahun. Wahid Hasyim (Yogyakarta) menyebut pendidikan
dua jenjang yang diselenggarakannya sebagai Ibtidaiyah
(berlangsung tiga tahun) dan Tsanawiyah (tiga tahun). Al-Wathoniyah
(Jawa Tengah) membagi pendi-dikan diniyahnya ke dalam empat
jenjang, Raudhatul Athfal (tiga tahun), Ibtidaiyah (enam tahun),
Tsanawiyah (tiga tahun), dan ‘Aliyah (tiga tahun). Di antara
madrasah diniyah kurikulum pesantren yang dipelajari hanya Darul
Muttaqin (Sumatera Selatan) dan Darussalam (Kalimantan Selatan)
yang mengguna-kan nama jenjang pendidikan yang dibakukan
Depag: awwaliyah, wustha, dan ‘ulya. Di Darul Muttaqin awwaliyah
berlangsung tiga tahun, wustha tiga tahun. Sementara di Darussalam
masa pendidikan awwaliyah ditetapkan empat tahun, wustha tiga
tahun, ‘ulya tiga tahun.
Dari sudut syarat penerimaan murid, madrasah diniyah kurikulum
Depag juga berupaya merujuk pada petunjuk resmi. Madrasah
diniyah awwaliyah diperuntukkan bagi murid SD, wustha bagi murid
SLTP (sekolah umum). Al-Huda (Sulawesi Selatan), yang dapat dinilai
masih dalam tahap rintisan dan percobaan (karena baru memasuki
tahun kedua), menetapkan murid jenjang awwaliyah harus sudah
memiliki kemampuan membaca al-Quran dan berada pada kelas
empat SD. Sementara untuk jenjang wustha, murid yang diterima
ialah anak-anak yang selain mampu membaca al-Quran sudah pula
belajar di SLTP.
Jihad (Sumatera Barat), yang memiliki pengalaman lebih lama (14
tahun), menerapkan ketentuan penerimaan murid yang sengaja
diperlunak. Untuk awwaliyah, hanya diperlukan adanya keterangan
dari sekolahnya bahwa calon murid sudah diterima belajar di SD.
Dengan begitu, setelah berada di kelas 5 SD murid diharapkan sudah
lulus awwaliyah dan akan masuk belajar pada jenjang wustha. Akan
tetapi, upaya itu tampaknya belum sepenuhnya berhasil
mengakomodasi kebutuhan pengaturan waktu belajar murid, karena
kegiatan belajar tambahan di sekolah-sekolah umum sudah pula
dimulai sejak kelas 4 SD.
Penerimaan murid di lingkungan madrasah-madrasah diniyah
kurikulum pesantren mengutamakan pertimbangan pengetahuan
agama. Yang selalu paling diperhatikan ialah kemampuan membaca
al-Quran dan penguasaan bahasa Arab dari calon murid. Madrasah-
madrasah diniyah yang berpenga-laman panjang, lebih-lebih yang
berada di dalam pesantren, memberlakukan pula syarat masuk yang
dikaitkan dengan sekolah formal. Al-Wathoniyah (Jawa Tengah)
menetapkan syarat minimal sebagai berikut: murid TK dan SD untuk
jenjang Raudhatul Athfal, murid SD dan SLTP untuk Ibtidaiyah, murid
SLTP dan SLTA untuk Tsanawiyah, dan murid SLTA dan mahasiswa
9 Rangkuman Hasil
Peneitian
untuk ‘Aliyah. Ittaqu (Jawa Timur) menyediakan kelas 1 Diniyah untuk
murid yang sekurang-kurangnya sudah belajar di kelas 3 Ibtidaiyah,
Kelas 2 untuk murid Tsanawiyah, dan kelas 3 untuk murid yang telah
tamat Tsanawiyah dari Pesantren bersangkutan. Adapun Darussalam
(Kalimantan Selatan), mewajibkan calon murid untuk jenjang
Awwaliyah setidaknya sudah belajar di kelas 3 SD/Ibtidaiyah. Untuk
jenjang-jenjang selanjutnya Darussalam mempertimbang-kan
kualifikasi setiap calon berdasarkan tes penempatan khusus dan
pengalaman pendidikan diniyah yang pernah dilaluinya.
Kurikulum dan Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam proses
penyelenggaraan pendidikan, madrasah diniyah kurikulum Depag
memanfaatkan sebaik-baiknya bahan-bahan kurikuler yang berasal
dari Depag. Kurikulum 1994 yang dirancang untuk melengkapi dan
menambah perolehan pendidikan agama Islam yang didapat murid
sekolah umum menjadi acuan utama madrasah-madrasah yang
dipelajari. Buku-buku daras yang disusun oleh Depag merupakan
bahan belajar yang digunakan oleh Madrasah sebagai pegangan guru
dan murid.
Untuk memenuhi kebutuhan akan buku daras dimaksud,
Madrasah-madrasah mendapatkan kesulitan khusus. Buku-buku itu
tidak pernah beredar di pasar lokal, mungkin karena memang tidak
pernah diterbitkan untuk dipasarkan secara bebas. Sementara itu,
pasokan dari jajaran Departemen Agama (setempat) juga sangat
terbatas dan sudah lama terhenti. Untuk mengatasinya, Jihad
(Sumatera Barat) memperbanyak sendiri dengan memfotokopi buku-
buku itu secara terjilid dan menjualnya kepada murid dalam bentuk
paket di setiap awal tahun ajaran. Di Jihad hal itu mungkin dilakukan
oleh Madrasah karena keluarga murid dilaporkan tergolong kelas
menengah ke atas. Situasi yang mendukung tersebut tidak dimiliki
oleh Arrohman (Jawa Barat). Akibatnya, walaupun merupakan proyek
percontohan Pemerintah Kabupaten, hanya sebagian kecil murid saja
yang dapat menggunakan buku-buku daras yang ada sebagai
pinjaman, sementara sebagian lainnya terpaksa harus menyimak dan
mencatatnya berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru.
Selain menerapkan mata-mata pelajaran dalam kurikulum resmi,
madrasah-madrasah kurikulum Depag juga memperha-tikan dan
memanfaatkan tradisi setempat. Jihad (Sumatera Barat)
menggunakan secara baik forum “Didikan Subuh,” kegiatan setiap
Ahad pagi yang digalakkan oleh Pemerintah setempat, sebagai
wadah latihan praktik bersama untuk semua murid. Arrohman (Jawa
Barat) menyelenggarakan kegiatan ekstra berupa belajar qasidah,
pidato, kaligrafi, dan seni baca al-Quran. Al-Huda (Sulawesi Selatan)
menambah sajian mata pelajarannya dengan Seni Baca al-Quran dan
Nasyid.
Madrasah diniyah kurikulum pesantren tidak memiliki kurikulum
yang tunggal. Akan tetapi, berdasarkan nama ilmu-ilmu agama yang
diajarkan, kurikulum yang digunakan madrasah-madrasah itu
mempunyai persamaan satu sama lain, yaitu ilmu-ilmu agama yang
menjadi tradisi umum pendidikan pesantren di Indonesia. Ilmu-ilmu
agama dimaksud, jika dike-lompokan, meliputi: (1) Pembacaan al-
Qur’an (Qur’an, Tajwid); (2) Bahasa Arab (yang sering dirinci ke
dalam Lughah, Mahfuzhat, Nahwu, Sharaf, Insya’, Balaghah, ‘Arudh);
(3) Tauhid; (4) Fiqh (Fiqh, Fara’idh); (4) Tafsir; (5) Hadits; (6)
Akhlaq/Tashawwuf (Akhlaq, Ad’iyah, Tashawwuf); (7) Metodologi
pengkajian (yang dapat mencakup Ushul Fiqh, ‘Ulum al-Quran, ‘Ulum
al-Hadits, Ilmu Manthiq, Ilmu Falak); (8) Tarikh.
Persamaan kurikulum antara madrasah-madrasah diniyah
kurikulum pesantren dapat terjadi hingga buku-buku daras (kitab)
yang digunakan. Persamaan seperti itu dimungkinkan karena:
Pertama, adanya semangat untuk saling belajar. Wahid Hasyim
(Yogyakarta) melaporkan pada tahun 1994 melakukan studi banding
ke sejumlah pesantren yang menyelenggarakan pendidikan diniyah.
Kedua, adanya pembinaan kurikulum oleh organisasi (pendidikan)
yang menjadi tempat bernaung madra-sah diniyah yang
bersangkutan. Al-Wathoniyah (Jawa Tengah), misalnya,
menyampaikan keikutsertaan mereka dalam kegiatan Lokakarya
Penyusunan Kurikulum yang diadakan oleh LP Maarif NU di
Semarang.
Melalui proses tanpa publikasi seperti di atas, kurikulum yang
diterapkan oleh madrasah diniyah kurikulum pesantren juga
mengalami perubahan dan penyesuaian. Hal itu bahkan berlaku
untuk Darussalam (Kalimantan Selatan), yang di antara madrasah
diniyah yang dipelajari memiliki tradisi pesantren paling kuat. Ketika
sejumlah orang dewasa meminta agar disediakan pendidikan diniyah
untuk mereka, Darussalam membuka kelas takhassus dengan
menyusun kurikulum awwaliyah yang dipersingkat (menjadi tiga
tahun) dengan menggunakan buku (kitab) daras yang beberapa di
antaranya berbeda dari kelas regular.
Selain terbuka terhadap perubahan, madrasah diniyah tertentu
juga memberi ketrampilan khusus sebagai tambahan atas kurikulum
inti. Ketrampilan itu dapat berupa Syarafa l-Anam (seni baca salawat
dengan iringan rebana) (Darul Muttaqin, Sumatera Selatan), latihan
pidato dan membaca Diba (salah satu versi seni baca salawat)
(Ittaqu, Jawa Timur), atau lainnya yang dipandang penting dalam
tradisi keagamaan setempat.
11 Rangkuman Hasil
Peneitian
Dilihat dari tempat belajar yang digunakan, madrasah-madrasah
diniyah yang ada menunjukkan kesamaan. Mula-mula, ketika
bangunan khusus belum tersedia, madrasah-madrasah itu
menyelenggarakan proses belajar mengajar sepenuhnya di ruang
masjid, mushalla, sekolah, atau rumah kiai perintis madrasah. Tetapi
dalam waktu yang tidak terlalu lama akan diupayakan adanya
tempat belajar sendiri yang terpisah, dan masjid dan mushalla hanya
digunakan untuk latihan atau pengajian bersama. Al-Huda (Sulawesi
Selatan), yang baru memasuki tahun kedua, dapat dilihat sebagai
contoh. Al-Huda menggunakan sebagian ruang sebelah dalam dan
ruang teras Masjid sebagai tempat pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar. Tidak ada meja dan kursi sebagaimana lazimnya ruang
sekolah; madrasah hanya menyiapkan bangku kecil sebagai tempat
menulis, sementara murid duduk di lantai. Tetapi saat ini di samping
Masjid sedang dibangun ruang belajar permanen dua lantai, yang
dalam beberapa bulan lagi dipastikan oleh pengurusnya akan selesai.
Waktu belajar di madrasah diniyah sangat bervariasi, kebanyakan
karena menyesuaikan dengan waktu luang murid. Madrasah Diniyah
yang mapan, yang dirancang sebagai pendidikan utama
(Darussalam, Kalimantan Selatan), menjad-walkan waktu belajar
seperti sekolah formal, pagi dan sore hari. Madrasah diniyah yang
lain menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pada sore hari,
atau sore dan malam hari, atau hanya pada malam hari.
Kelas-kelas pada madrasah diniyah kurikulum Depag selalu
merupakan kelas campuran, untuk murid laki-laki dan perempuan.
Madrasah diniyah kurikulum pesantren tidak selalu seperti itu.
Darussalam(Kalimantan Selatan) bukan saja memisahkan kelas laki-
laki dan perempuan tetapi juga waktu belajar mereka: murid laki-laki
pagi, perempuan sore. Pemisahan kelas dengan alasan lain dilakukan
oleh Al-Wathoniyah (Jawa Tengah). Madrasah diniyah yang berada di
lingkungan Pondok Al-Itqon tersebut memisahkan kelas murid yang
berasal dari pondok dan luar pondok (kampung), dengan
pertimbangan perbedaan dasar pengetahuan agama yang mereka
miliki.
Dilihat dari proses belajar mengajar di kelas, terdapat perbedaan
yang jelas antara madrasah diniyah kurikulum Depag dan kurikulum
pesantren. Pada madrasah diniyah kurikulum Depag, guru-guru
menggunakan terutama metode ceramah yang dikombinasi dengan
hafalan dan metode-metode lain. Pada madrasah diniyah kurikulum
pesantren, guru-guru mendahulukan tuntunan membaca kitab yang
juga dikombinasi dengan hafalan dan metode-metode lain. Pada sisi
murid, juga terlihat perbedaan penting. Murid-murid madrasah
diniyah kurikulum pesantren selalu memiliki buku (kitab) daras
sebagai bahan belajar di dalam dan di luar kelas. Sementara murid di
madrasah kurikulum Depag tidak selalu memegang buku daras dan
sering harus mencatat sendiri. Bahasa pengantar yang dipergunakan
di dalam kelas adalah bahasa Indonesia bercam-pur bahasa daerah
setempat.
Untuk mengetahui tingkat pencapaian murid, madrasah diniyah
selain Ittaqu (Jawa Timur) juga melakukan evaluasi hasil belajar yang
terjadwal. Aspek penilaian yang digunakan meliputi baik
pengetahuan, praktik, maupun perilaku keseharian murid. Untuk
madrasah diniyah kurikulum Depag, yang kalender kegiatannya tidak
mungkin mengganggu masa berlibur murid, evaluasi harus
dijadwalkan sedemikian rupa hingga serasi dengan kegiatan sekolah
murid. Pada madrasah diniyah kurikulum pesantren, pertimbangan
tersebut tidak merupakan keharusan, kecuali bagi Wahid Hasyim
(Yogya-karta) yang muridnya para mahasiswa.
Kecuali Ittaqu (Jawa Timur), semua madrasah diniyah memberikan
ijazah atau surat tanda tamat belajar (STTB) kepada para muridnya.
Di Jihad (Sumatera Barat), ijazah itu dikeluarkan oleh Kantor
Departemen Agama setelah murid dinyatakan lulus pada ujian akhir
bersama yang diselengga-rakan oleh Kantor Departemen Agama
Padang. Kepala Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondok
Pesantren Sumatera Barat menilai ujian akhir bersama itu sebagai
langkah positif untuk standardisasi pendidikan diniyah yang
menggunakan kuriku-lum Depag, dan perlu diluaskan ke seluruh
wilayah Sumatera Barat. Gagasan standardisasi serupa itu dilaporkan
direncana-kan pula oleh jajaran Departemen Agama Sulawesi
Selatan. Tetapi, dilihat dari pengalaman Jihad, ijazah resmi tersebut
tidak selalu dibutuhkan oleh keluarga murid. Setiap tahun Jihad harus
berkali-kali memberitahukan pengambilan ijazah itu, dan selalu saja
ada sejumlah ijazah yang tidak diambil.
Partisipasi Masyarakat dan Pemerintah. Sebagai lembaga pen-
didikan yang ditempatkan pada jalur luar sekolah, partisipasi
masyarakat merupakan faktor eksternal yang paling menen-tukan
eksistensi dan masa depan madrasah diniyah. Tumbuh dari dalam
masyarakat, madrasah diniyah umumnya berpang-kal dari keyakinan
bahwa lembaga pendidikan yang sungguh-sungguh bermaksud
mengisi dan menutupi kekurangan pendidikan keagamaan dalam
masyarakat niscaya akan mendapat dukungan yang cukup pula dari
masyarakat. Dinamika madrasah diniyah yang dipelajari dalam
penelitian ini tampaknya sejalan dengan keyakinan itu.
Partisipasi warga masyarakat untuk masuk atau memasuk-kan
anak belajar di madrasah diniyah adalah hal yang dilihat paling

13 Rangkuman Hasil
Peneitian
penting oleh pengelola madrasah. Bagi Darussalam (Kalimantan
Selatan), banyaknya jumlah murid yang masuk ke Madrasah bukan
hanya dirasakan memberi jaminan bagi eksistensinya tetapi juga
telah meningkatkan reputasi Pesantren Darussalam secara
keseluruhan dan memacu pengembangan lembaga pendidikan lain
yang ada di dalam Pesantren (Sekolah Tinggi Agama Islam,
Pendidikan Tahfizh al-Quran wa ‘Ulumih, dan lain-lain). Sebaliknya,
Darul Muttaqin (Sumatera Selatan) merasakan masa sulitnya
sekarang sebagai akibat dari menu-runnya jumlah murid yang belajar
di Madrasah itu setelah ulama karismatik pendiri Madrasah
meninggal dunia.
Jumlah murid madrasah-madrasah diniyah menunjukkan
kecenderungan yang berbeda-beda. Secara umum jumlah murid
madrasah diniyah kurikulum pesantren selalu lebih besar daripada
murid diniyah kurikulum Depag. Salah satu penjelasannya tentu saja
karena madrasah diniyah itu dapat menyelenggarakan pendidikan
diniyah pada lebih banyak jenjang. Namun, bila ditelusuri menurut
jenjang pendidikan, terlihat bahwa jumlah murid madrasah diniyah
kurikulum pesantren yang terkemuka tetap menunjukkan kenaikan.
Di Darussalam (Kalimantan Selatan) selama tiga tahun terakhir
jumlah murid Diniyah ‘Ulya berturut-turut mencatat angka: 3.163
orang (2002/2003), 3.369 orang (2003/2004), 3.552 orang
(2004/2005). Sementara pada madrasah diniyah kurikulum Depag,
jumlah murid dari tahun ke tahun terlihat turun naik tanpa pola yang
jelas.
Bagi banyak madrasah diniyah, besar kecilnya jumlah murid
mempengaruhi pula kemampuan mereka dalam pem-biayaan
pendidikan. Darussalam (Kalimantan Selatan), yang tidak (mau)
terbiasa meminta bantuan ke luar, membiayai hampir seluruh
keperluan pendidikannya hanya melalui penerimaan uang masuk,
SPP bulanan, dan “Amplop Ramadhan” (sumbangan sukarela yang
dikirim dengan amplop melalui murid ketika liburan Ramadhan) dari
orang tua murid. Jihad (Sumatera Barat) mencukupi biaya
operasionalnya dengan uang masuk, SPP, dan sumbangan sukarela
bulanan dari orang tua murid. Al-Huda (Sulawesi Selatan) menarik
uang masuk, SPP, dan sumbangan pembangunan. Dalam kadar yang
lebih terbatas, hal itu juga berlangsung di madrasah-madrasah
diniyah lain, kecuali Ittaqu (Jawa Timur) yang tidak mem-bebankan
SPP kepada para muridnya. Ittaqu membiayai pendidikan diniyahnya
melalui sumbangan sukarela yang diperoleh Kiai dari jamaah
pengajian yang diasuhnya di tempat lain. Jumlah SPP terbesar pada
madrasah diniyah yang dipelajari tercatat Rp 15.000 sebulan, yaitu
pada jenjang wustha Madrasah Diniyah Al-Huda (Sulawesi Selatan).
Kesediaan menjadi guru (ustadz) harus ditempatkan sebagai
partisipasi penting lainnya dari masyarakat. Guru-guru madrasah
diniyah umumnya memiliki kualifikasi dan/atau dedikasi yang tidak
sebanding dengan jumlah pendapatan yang mereka peroleh. Guru Al-
Huda (Sulawesi Selatan) yang berija-zah S2 IAIN menerima gaji
antara Rp 100.000 sampai Rp 150.000 setiap bulan, jauh di bawah
UMR (Upah Minimum Regional) setempat. Jumlah gaji bulanan yang
tercatat tertinggi adalah Rp 375.000 (yang diterima guru full time
Jihad, Sumatera Barat) dan terendah Rp 12.000 (Wahid Hasyim,
Yogyakarta).
Jenis partisipasi masyarakat yang lain terjadi secara berva-riasi
antar madrasah diniyah. Partisipasi dimaksud berwujud misalnya
menjadi pengurus madrasah, mengelola pengadaan kitab, membantu
tenaga kerja gotong royong, memberikan sumbangan pemikiran, dan
ikut serta dalam kegiatan-kegiatan madrasah yang bersifat seremoni.
Partisipasi pemerintah dilaporkan oleh madrasah-madrasah
diniyah masih amat terbatas. Darussalam (Kalimantan Selatan)
beruntung menerima bantuan secara teratur dari Pemerintah
Kabupaten untuk tambahan honorarium guru sebanyak Rp 60.000
setiap orang setiap tiga bulan. Bantuan seperti itu tampaknya
dipandang penting oleh semua madrasah diniyah untuk menambah
penghasilan guru-guru mereka yang rata-rata kecil atau sangat kecil.
Sementara itu, untuk madrasah diniyah kurikulum Depag, bantuan
yang dilaporkan pernah mereka terima berbentuk buku-buku
petunjuk dan buku-buku daras, yang sayangnya kini sudah terhenti.
Analisis
Sejauh yang telah dilakukan, kebijakan dasar Departemen Agama
ialah berusaha memfasilitasi pengembangan madrasah diniyah
menurut perkembangan kebutuhan masyarakat. Dalam kebijakan itu
semua madrasah diniyah yang ada (dengan berbagai tipenya) berada
dalam posisi yang sama, sebagai lembaga pendidikan keagamaan
jalur “luar sekolah.” Jika kebijakan itu direkonstruksi berdasarkan
pelaksanaannya di bawah, ditemukan kerangka sebagai berikut:
Pertama, pembinaan terhadap madrasah-madrasah diniyah yang
program pendidikannya bertujuan memberikan tambahan dan
peningkatan pengetahuan agama Islam kepada murid-murid sekolah
umum, yang dalam laporan ini disebut sebagai “madrasah diniyah
kurikulum Depag.” Kebijakan yang diambil terhadap madrasah
diniyah tipe ini terlihat paling jelas, paling lengkap, dan paling
difahami oleh jajaran Departemen Agama di tingkat bawah. Sebagai
implikasinya, dapat dipastikan madrasah diniyah tipe ini pulalah yang
mendapat sentuhan paling banyak, untuk tidak mengatakan
15 Rangkuman Hasil
Peneitian
seluruhnya, dari usaha-usaha pembinaan yang dilakukan oleh
Departemen Agama.
Kedua, pembinaan terhadap madrasah-madrasah diniyah di luar
tipe pertama. Secara umum, kebijakan Departemen Agama di sini
terlihat tidak cukup jelas sehingga sulit difahami oleh jajaran
birokrasi Departemen Agama di bawah. Yang relatif dimengerti
keberadaannya hanyalah madrasah diniyah di lingkungan pondok
pesantren. Tetapi tampaknya madrasah diniyah dalam pesantren
juga tidak mendapatkan program pembinaan khusus, sebagai
institusi “madrasah diniyah,” mungkin karena mereka dipandang
termasuk dalam kerangka pembinaan umum pondok pesantren.
Dilihat dari sisi perkembangannya dalam masyarakat, madrasah-
madrasah diniyah di Indonesia sekarang, seperti telah dikemukakan,
dapat disederhanakan berdasarkan tipe kurikulum yang
digunakannya: madrasah diniyah kurikulum Depag dan madrasah
diniyah kurikulum pesantren. Tetapi, dari sisi layanan pendidikan
yang diselenggarakannya, madrasah-madrasah itu ternyata telah
berkembang ke dalam dua pola layanan yang berbeda: menjadi
pendidikan utama murid atau hanya pendidikan tambahan. Semua
madrasah diniyah kuri-kulum Depag mempersiapkan program
pendidikannya sebatas pada fungsi pendidikan agama tambahan
bagi murid. Madrasah diniyah kurikulum pesantren tidak selalu
demikian. Madrasah diniyah Darussalam (Kalimantan Selatan), sesuai
dengan latar belakang kultural pendiriannya, berhasil
mempertahankan posisi program diniyahnya yang bersifat regular
untuk menjadi pilihan pendidikan keagamaan yang utama dari murid-
muridnya. Agar lebih jelas, perbandingan antara madrasah-madrasah
diniyah berdasarkan tipe layanan pendidikan dan proses
penyelenggaraan pendidikannya dapat dilihat pada matriks berikut
(Tabel 1.1).

Tabel 1.1
Madrasah Diniyah menurut Tipe Layanan Pendidikan, 2006

Aspek MD MD Kurikulum Pesantren


Penyelenggara Kurikulum
an Pendidikan Depag
Pendidikan Pendidikan
Utama Tambahan
Tujuan Sebagai pela jaran Sebagai pelaja Sebagai pela jaran
pendidikan tambahan murid ran utama murid tambahan murid
Waktu Belajar Memperhitung kan Tidak memperhi Memperhitung kan
waktu bela jar tungkan waktu waktu belajar
murid di sekolah belajar murid di murid di sekolah
formal sekolah formal formal
Penjenjangan Berkembang Dirancang un tuk Tidak terikat pada
pada tingkat berjenjang: dasar, keharusan dan
dasar; sulit pada mene ngah, atas jumlah
tingkat lebih tinggi penjejangan
Kurikulum Tergantung Menyusun Menyusun
kurikulum susunan kurikulum sendiri kurikulum sendiri
Depag
Evaluasi Terjadwal; dia tur Terjadwal; tidak Terjadwal; ti dak
tidak berla wanan memper selalu mem
dengan jadwal hitungkan jadwal perhitungkan
ujian sekolah ujian sekolah jadwal ujian
formal formal sekolah formal
Sertifikasi STTB tidak Ijazah/STTB STTB tidak se lalu
dipandang penting dipandang pen dipandang penting
oleh ting oleh oleh
murid/keluarga murid/keluarga murid/keluarga
Dilihat dari kasus Madrasah Diniyah Darussalam, madrasah
diniyah yang dimaksudkan untuk menjadi pilihan pendidikan yang
utama setidaknya mempunyai beberapa ciri yang menonjol.
Pertama, program pendidikannya menempatkan penyajian ilmu-ilmu
agama sebagai pelajaran utama, bukan sekadar bahan belajar
tambahan bagi murid. Kedua, mengikut posisi pendidikannya
tersebut, waktu belajar ditetapkan dan diatur sendiri tanpa harus
memperhitungkan waktu belajar murid di sekolah atau madrasah
formal yang mungkin juga mereka itu. Ketiga, merancang program
pendidikannya untuk menjadi bagian dari penjenjangan pendidikan
yang lengkap, dari tingkat dasar (awwaliyah), lanjutan pertama
(wustha), dan lanjutan atas (‘ulya). Di kalangan murid Darussalam,
sejak berdirinya Ma’had ‘Ali Darussalam (pada 2002), bahkan
berkembang pandangan bahwa pendidikan berikutnya yang layak
diikuti oleh lulusan diniyah ‘ulya yang cerdas adalah Ma’had ‘Ali
tersebut. Keempat, menyusun dan mengembangkan kurikulum
sendiri berdasarkan kurikulum yang dalam tradisi pendidikan
(Pesantren) yang mereka terapkan sudah teruji dan mendapat
pengakuan masyarakat. Kelima, menjadwalkan evaluasi belajar
secara teratur, seperti yang berlaku pada sekolah formal. Jadwal
evaluasi belajar ditentukan sendiri, tanpa harus memperhitungkan
kalender belajar di sekolah/ madrasah formal yang mungkin masih
diikuti oleh murid. Keenam, mengeluarkan ijazah sebagai tanda
tamat belajar, yang dinilai penting oleh murid dan keluarga mereka.
Berdasarkan ciri-ciri yang telah dikemukakan terlihat bahwa
madrasah yang menyediakan layanan pendidikan diniyah seba-gai
pendidikan utama menyelenggarakan program pendidikan tersebut
dengan mengikuti standard pendidikan formal. Standardi-sasi setara
pendidikan formal itu tidak terlihat dimiliki oleh madrasah-madrasah

17 Rangkuman Hasil
Peneitian
diniyah yang dipersiapkan hanya terbatas sebagai layanan
pendidikan tambahan, baik pada madrasah diniyah kurikulum Depag
maupun kurikulum pesantren.
Saran Kebijakan dan Pengkajian
1. Dalam masa Indonesia modern, madrasah diniyah tetap berkiprah
memenuhi kebutuhan pendidikan keagamaan seba-gian
masyarakat Muslim. Sebagai lembaga pendidikan yang
sepenuhnya lahir dari dalam masyarakat, madrasah diniyah
memiliki potensi dan kelenturan untuk melayani realitas
kebutuhan masyarakat yang majemuk. Situasi terakhir
memperlihatkan madrasah diniyah telah berkembang dan dapat
dibedakan menurut kurikulum dan tipe layanan pendidikan yang
disediakannya. Berdasarkan kurikulum, madrasah diniyah terbagi
atas madrasah diniyah kurikulum Depag dan kurikulum pesantren.
Berdasarkan tipe layanan pendidikan, ditemukan adanya
madrasah diniyah sebagai pendidikan tambahan dan madrasah
diniyah sebagai pendidikan utama bagi murid.
2. Kebijakan pemerintah (Departemen Agama) terhadap mad-rasah
diniyah seyogyanya memfasililitasi secara baik semua tipe
madrasah diniyah yang ada. Kebijakan itu dapat terdiri atas
kebijakan yang berlaku umum untuk semua madrasah diniyah dan
kebijakan khusus sesuai dengan tipe madrasah diniyah yang
bersangkutan. Termasuk kebijakan umum yang harus sungguh-
sungguh dipikirkan, dan belum pernah dilakukan, ialah pemberian
bantuan tetap untuk menambah penghasilan guru madrasah
diniyah yang rata-rata rendah. Sementara kebijakan khusus harus
dibuat berdasarkan pencermatan atas karakteristik kurikulum dan
tipe layanan pendidikan masing-masing madrasah diniyah yang
ada.
3. Adalah kenyataan bahwa madrasah diniyah kurikulum Depag,
yang dirancang untuk menambah perolehan pendidikan agama
Islam murid sekolah umum, lebih berkembang pada jenjang
awwaliyah, paling tinggi wustha, dan tidak sama sekali pada
jenjang ‘ulya. Kebijakan ke depan, karena itu, tidak perlu lagi
melibatkan pemikiran dan upaya pembinaan untuk jenjang ‘ulya
tersebut. Pembinaan kurikulum oleh Departemen Agama untuk
madrasah diniyah tipe ini merupakan kebutuhan penting yang
perlu dilanjutkan. Tetapi harus juga ada upaya untuk memastikan
agar buku-buku daras yang disusun atas dasar kurikulum itu
dapat beredar dan diperoleh murid madrasah diniyah di pasar
setempat. Sebaliknya, standardisasi ujian yang digagas atau telah
dilakukan oleh jajaran Departemen Agama di daerah-daerah
tertentu tidak perlu dipaksakan pelaksanaannya karena terbukti
tidak menjadi kebutuhan murid dan keluarga mereka.
4. Terhadap madrasah diniyah kurikulum pesantren, perhati-an yang
lebih besar perlu diberikan mengingat kemampuannya untuk
melayani kebutuhan-kebutuhan khusus masyarakat setempat.
Selama ini madrasah diniyah kurikulum pesantren tampaknya
hanya tersentuh “secara kebetulan” melalui program umum
pembinaan pesantren. Kebijakan seperti itu bila direkonstruksi
dari bawah mengandung dua kelemahan: pertama, madrasah
diniyah kurikulum pesantren tidak selalu berada di lingkungan
pesantren dan dikelola langsung oleh manajemen pesantren;
kedua, terlihat kecenderungan bahwa pembinaan pesantren telah
terfokus pada sisi madrasah formalnya dan tidak menjangkau
madrasah diniyah.
5. Berkembangnya madrasah diniyah di dalam pesantren yang
diarahkan untuk menjadi pendidikan utama murid memerlukan
kebijakan yang berbeda dari yang lain. Madrasah itu tumbuh dan
terus berkembang sebagai pilihan pendidikan yang utama karena
diterima oleh dan mendapat pengakuan masyarakat. Madrasah
tersebut juga dapat berkembang karena penyeleng-garaannya
dilakukan dengan standard pendidikan formal. Karena itu
madrasah diniyah dengan tipe layanan seperti tersebut
seharusnya diberikan kesempatan untuk mendapat pengakuan
setara dengan pendidikan keagamaan formal.
6. Berdasarkan temuan penelitian ini, terdapat dua masalah penting
yang memerlukan pengkajian lebih lanjut. Pertama, penelitian dan
perumusan sistem pendataan madrasah diniyah. Prosedur dan
mekanisme pendataan yang berjalan sekarang, yang hanya
mengandalkan laporan administratif, terbukti tidak berhasil
mendapatkan data madrasah diniyah yang sahih dan terpercaya.
Kedua, penelitian tentang budaya organisasi (organi-zational
culture) yang berkembang di jajaran Departemen Agama
setempat yang bertanggung jawab dalam pembinaan madrasah
diniyah. Dalam hubungan dengan pembinaan yang dimaksud-kan
itu, kita memerlukan bukan saja pengetahuan mengenai apa yang
dipikirkan dan dilakukan oleh pihak madrasah diniyah, tetapi juga
pengetahuan mengenai apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh
pejabat Departemen Agama setempat dalam perencanaan dan
pelaksanaan tugas-tugas mereka, dan relevan-sinya dengan
kebutuhan pengembangan madrasah diniyah yang nyata.

19 Rangkuman Hasil
Peneitian
KEPUSTAKAAN

Abu-Dahou, Ibtisam. 2002. School Based Management (Manajemen


Berbasis Sekolah). Diterjemahkan oleh Nuryamin Aini et al.
Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Asrohah, Hanun. 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Logos.
At-Taftazani. 1993. “Sumbangan Tasawuf kepada Pendidikan.” Dalam
Johannes den Heijer dan Syamsul Anwar (ed.), Islam Negara dan
Hukum. Jakarta: INIS. 133-140.
Azra, Azyumardi. 2003. Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi
dan Modernisasi. Jakarta: Logos.
---. 2003. Surau: Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan
Modernisasi. Jakarta: Logos.
Bafadal, Fadhal A.R. et al. 1992. Sistem Penyelenggaraan dan Penge-
lolaan Pendidikan pada Lembaga Pendidikan Keagamaan: Studi
tentang Madrasah Diniyah. Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama.
Bock, J.C. 1976. “The Institutionalization of Nonformal Educa-tion: A
Response to Conflicting Needs.” Comparative Educa-tion Review
20.3:346-367.
Chapman, David W. et al. (ed.). 1997. From Planning to Action:
Government Initiatives for Improving School-Level Practice. Paris:
UNESCO-Pergamon.
Coombs, P.H. 1976. “Nonformal Education: Myths, Realities and
Opportunities.” Comparative Education Review 20.3:281-293.
Dhofier, Zamakhsyari. 1983. Tradisi Pesantren: Studi tentang
Pandangan Hidup Kiyai. Jakarta: LP3ES.
Giddens, Anthony. 1994. Living in a Post-Traditional Society.
Cambridge: Polity Press.
Humaidy. 2003. “Punduk Darussalam dalam Lintasan Sejarah.”
Kandil 1.2: 64-69.
Masud, Muhammad Khalid. 2001. “Religious Identity and Mass
Education.” Dalam Johan Meuleuman (ed.), Islam in the Era of
Globalization: Muslim Attitudes towards Modernity and Identity.
Jakarta: INIS. 233-245.
McGinn, N. dan T. Welsh. 1999. Decentralization of Education: Why,
When, What, and How? Paris: UNESCO.
Nasution, S. 1999. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara.
Noer, Deliar. 1982. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942.
Jakarta: LP3ES.
Pedoman Penyelenggaraan dan Pembinaan Madrasah Diniyah. 2000.
Jakarta: Departemen Agama.
Pola Pengembangan Madrasah Diniyah. 2000. Jakarta: Departemen
Agama.
Pola Penyelenggaraan Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren. 2001.
Jakarta: Departemen Agama.
Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah. 1998. Jakarta: Departe-
men Agama.
Sari, Siska Melya. 2002. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pendidikan di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA): Studi Komperatif
antara MDA Jihad Jalan Perak dan MDA Al-Islah Pisang Kodya
Padang.” Skripsi. Padang: Jurusan Sosiologi Fisip Universitas
Andalas.
Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. 1986. Jakarta: Departemen
Agama R.I.
Stufflebeam, Daniel L. et al. 1971. Educational Evaluation and
Decision-Making. Ithaca, Ill.: F.E. Peacock.
Steenbrink, Karel A. 1986. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan
Islam dalam Kurun Modern. Jakarta: LP3ES.
Tayibnapis, Farida Yusuf. 2000. Evaluasi Program. Jakarta: Rine-ka
Cipta.
Worthen, Blaine R. dan James R. Sanders. 1973. Educational
Evaluation: Theory and Practice. Belmont, Cal.: Wadsworth.

CURRICULUM VITAE

Identitas Diri
Nama : Muhammad Isnaini, S.Ag. M.Pd.
Nip : 150 302 555
Tempat Tanggal Lahir : Kotawaringin (Bangka), 1 Pebruari
1974
Agama : Islam
Pekerjaan : Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah
Pangkat/Golongan : Lektor/IV/a
Alamat : Villa Gardena 3 Blok E. 22 KM 10
Palembang
Telp. 0711-7423620. HP 08127884060
Email: isnain_m@yahoo.co.id

Riwayat Pendidikan
1. SDN No. 183 Perlang Koba Bangka Tamat tahun
1986
21 Rangkuman Hasil
Peneitian
2. MTs PPNI Baturusa Bangka Tamat tahun 1989
3. MA PPNI Baturusa Bangka Tamat tahun
1992
4. S.1 Fak. Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang
(Gelar S.Ag) Tamat tahun 1997
5. S.2 Universitas Negeri Padang (UNP) Prodi. Teknologi Pendidikan
(Gelar M.Pd) Tamat tahun 2001
6. Visiting Students ke Universiti Putera Malaysia (UPM)
selama 8 bulan Tahun 2001
7. Diklat Fungsional Tenaga Peneliti Kerjasama Depag RI dan
Lab Sosio Fisip UI selama 3 Bulan Tahun
2003
8. Pelatihan Penelitian Sosial Keagamaan Kerjasama Dirjen DIKTI-
Islam dengan
CRCS Sekolah Pascasarjana UGM Tahun 2007

Aktivitas Organisasi
1. Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTI)
Sumatera Selatan sebagai Sekretaris Tahun 2003-
2004
2. Social Society of Intructional Technology South Sumatera
(SSIT-SS) sebagai Wakil Ketua Tahun 2002-
2005
3. Dewan Riset Daerah (DRD) Sumatera Selatan sebagai
Sekretaris
Komisi Peningkatan SDM Tahun 2006-
2010
4. Staf Ahli Sosial, Budaya dan Pendidikan Bupati Pemerintah
Kabupaten Banyuasin Tahun 2003-
2005
5. PB Jaringan Penelitian Agama dan Masyarakat (Jipam)
Balitbang Agama Depag RI Sebagai Wakil Ketua Tahun
2003-2007
6. Dewan Akreditasi Madrasah (DAM) Prov. Sumsel Tahun 2004-
2008
7. Mantan Kepala Pusat Penelitian IAIN Raden Fatah Tahun
2004-2007
8. Ikatan Peneliti Sosial Keagamaan Indonesia (IPSI)
sebagai Ketua Umum Tahun 2007-
2010

Karya Tulis/Publikasi Pada 5 (Lima) Tahun Terakhir


Artikel :
1. Menulis Artikel “ A View on The Implimentation of Computer-
Related Technology in Teachers Training Colleges”, diterbitkan
oleh Jurnal Melewar Maktab Perguruan Raja Melewar Seremban
Malesiya Tahun 2003
2. Menulis Artikel “Paradigma Pendidikan di Era Globalisasi”
diterbitkan oleh Jurnal Concencia Program Pascasarjana IAIN
Raden Fatah Palembang, Tahun 2003
3. Menulis Artikel “Pembinaan SDM dalam Wacana Otonomi
Daerah” diterbitkan oleh Jurnal Al-Fatah P2M IAIN Raden Fatah
Palembang, Tahun 2003
4. Menulis Artikel “ Dimensi Komunikasi dalam Proses
Pembelajaran” diterbitkan oleh Jurnal Wardah Fak. Dakwah IAIN
Raden Fatah Palembang, Tahun 2004.
5. Menulis Artikel “ Pembelajaran Internet di dunia Perguruan
Tinggi” diterbitkan oleh Jurnal Istinbat Kopertais Wil. VII
Sumbagsel, tahun 2004.
6. Menulis Artikel “Portofolio dan paradigma Baru dalam Penilaian
Prosen Balajar Mengajar”, diterbitkan oleh Jurnal Ta’dib Fak.
Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang. Tahun 2005
7. Menulis Artikel “ Pembelajaran terpadu”, diterbitkan oleh P3M
STAIN Pekalongan, Tahun 2005.
8. Menulis Artikel “Komunikasi dalam Klas Pemerintahan
(Birokrat), diterbitkan oleh Majalah Risteks Dewan Riset Derah
(DRD) Sumsel, Edisi 3 Nomor 2 Tahun 2005
9. Menulis Artikel “ Pembangunan yang berwawasan Teknologi
Tepat Guna”, diterbitkan oleh Majalah Risteks, DRD Sumsel,
Edisi 3 Nomor 4 Tahun 2006
10.Menulis Artikel ”Mempertimbang Analisis Wacana dalam
membaca teks al-quran tentang pendidikan poligami”,
diterbitkan oleh Jurnal Al-Fatah Edisi 2 Desember 2006
11.Menulis artikel “Pesantren dan Terorisme: mencari akar
permasalahannya”, diterbitkan oleh jurnal INTIZAR Lembaga
Penelitian IAIN Raden Fatah Palembang (Terakreditasi), Vol. XII
Nomor 2 Desember Tahun 2006

Buku :
1. Penulisan Buku Panduan Penulisan Karya
Ilmiah untuk PPs IAIN Raden Fatah
Palembang, diterbitkan Rambang Press
Palembang tahun 2004.
2. Penulisan Buku ”Fenomena Nikah Beda
Agama, diterbitkan oleh Az-Zahra Press
Jakarta, Tahun 2005.
23 Rangkuman Hasil
Peneitian
3. Penulisan Buku ”Sakinah dan Keluarga
Modern”, diterbitkan oleh Az-Zahra Press
Jakarta, Tahun 2005.
4. Penulisan buku “Teknologi Pendidikan: Teori
dan Praktik, diterbitkan oleh P3RF Press IAIN
Raden Fatah Palembang, tahun 2006.

Penelitian Yang Pernah Dilakukan Pada 5 (Lima) Tahun


Terakhir
1. Peneliti “ Studi Evaluasi Penyelenggaraan Madrasah Diniyah ”,
dibiayai oleh Proyek Balitbang Agama dan Diklata Keagamaan
Depag. Tahun 2003.
2. Peneliti “ Keberagamaan Majlis Ta’lim Kecamatan Pandeglang
Kab. Pandeglang Provinsi Banten” dibiayai oleh Proyek
Balitbang Agama dan Diklata Keagamaan Depag. Tahun 2003.
3. Peneliti “Potensi Pemelihara Kerukunan Keberagamaan
Masyarakat Palembang”, dibiayai oleh APBD Kota Palembang
tahun 2003.
4. Peneliti “ Dampak Sosial Keagamaan dan Ekonomi Pasca PON
XVI di Saumatera Selatan” dibiayai oleh APBD tahun 2004.
5. Penelitian dan Penyusunan Pudariptek Kabupaten Musi Rawas
Prov. Sumatera Selatan, tahun 2005.
6. Penelitian Naskah Klasik di Sumatera Selatan, dibiayai
Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang Agama dan Diklat
Keagamaan Depag. RI, 2005
7. Penelitian Kekerasan Terhadap Pembantu Rumah Tangga
(KPRT), dibiayai DIPA IAIN Raden Fatah tahun 2005.
8. Penelitian Riset Unggulan Kemitraan Daerah (Rukda) Sumsel,
dibiayai oleh BPPT Pusat Kementrian Ristek, tahun 2006.
9. Peneliti “ Studi Evaluasi Penyelenggaraan Madrasah Diniyah ”,
dibiayai oleh Proyek Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan
Depag. Tahun 2006.
10.Penelitian lanjutan Naskah Klasik di Sumstera Selatan, dibiayai
Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang dan Diklat Depag RI,
tahun 2006
11.Penelitian Pergeseran Literatur Pondok Pesantren Salafiyah di
Sumatera Selatan, dibiayai oleh Puslitbang Letur Keagamaan
Balitbang dan Diklat Depag RI, tahun 2006.
12.Penelitian Sejarah Masuknya Agama Islam di Sumatera
Selatan, dibiayai oleh Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang
dan Diklat Depag RI, Tahun 2006.
13.Penelitian Pengalaman Spiritual Para Abdi Dalem Pemakaman
Imogiri Yogyakarta, dibiayai oleh Canadian International
Deplopment Agency (CIDA), tahun 2007

Penelitian yang sedang dikerjakan


1. Kehidupan Beragama Para Pemulung di Kota Palembang,
dibiayai oleh DIPA Pemkot Palembang, tahun 2007.
2. Dinamika Kepemimpinan Kolektif: Pesantren Tanpa Kiyai,
dibiayai oleh Ditpertais Dirjen Dikti Islam Depag RI, tahun 2007.

25 Rangkuman Hasil
Peneitian