P. 1
Analgetik

Analgetik

|Views: 661|Likes:
Dipublikasikan oleh Nur Sakinah Fuadi

More info:

Published by: Nur Sakinah Fuadi on Feb 14, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan

kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psychis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit (Tan Hoan Tyai, 1991). Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh, seperti peradangan (rematik, encok), infeksi-infeksi kuman atau kejang-kejang otot. Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke pusat nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandin-prostagladin, serta ion-ion kalium. Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu : 1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal. 2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika lokal 3. Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika sentral (narkotika) atau anestetika umum. Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan, yaitu analgeti non-narkotinik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesic (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgetika narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesic (misalnya morfin). Analgetika Narkotik Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM. Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut : 1. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon, hidrokodon, dan dionin. 2. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari : a. Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil b. Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan d-ptopoksifen c. Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin. Antagonis-antagonis morfin adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek samping dari analgetik narkotik tanpa mengurangi kerja analgesiknya dan terutama digunakan pada overdosis atau intoksiaksi dengan obat-obat ini. Zat-zat ini sendiri juga berkhasiat sebagai

analgetik, tetapi tidak dapat digunakan dalam terapi, karena dia sendiri menimbulkan efekefek samping yang mirip dengan mrfin, antara lain depresi pernafasan dan reaksi-reaksi psikotis. Yang sering digunakan adalah nalorfin dan nalokson. Efek-efek samping dari morfin dan analgetika sentral lainnya pada dosis biasa adalah gangguan-gangguan lambung, usus (mual, muntah, obstipasi), juga efek-efek pusat lainnya seperti kegelisahan, sedasi, rasa kantuk, dan perubahan suasana jiwa dengan euforia. Pada dosis yang lebih tinggi terjadi efek-efek yang lebih berbahaya yaitu depresi pernafasan, tekanan darah turun, dan sirkulasi darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi koma dan pernafasan terhenti. Efek morfin terhadap Sistem Saraf Pusat berupa analgesia dan narkosis. Analgesia oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum penderita tidur dan seringkali analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (15-20 mg) menimbulkan euforia pada penderita yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai dengan mual, dan muntah. Morfin juga menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berfikir, apatis, aktivitas motorik berkurang, ketajaman penglihatan berkurang, ektremitas tersa berat, badan terasa panas, muka gatal dan mulut terasa kering, depresi nafas dan miosis. Rasa lapar hilang dan dapat muntah yang tidak selalu disertai rasa mual. Dalam lingkungan yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15-20 mg) morfin akan tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan miosis. Antara nyeri dan efek analgetik (juga efek depresi nafas) morfin dan opioid lain terdapat antagonisme, artinya nyeri merupakan antagonis faalan bagi efek analgetik dan efek depresi nafas morfin. Bila nyeri sudah dialami beberapa waktu sebelum pemberian morfin, efek analgetik obat ini tidak begitu besar. Sebaliknya bila stimulus nyeri ditimbulkan setelah efek analgetik mencapai maksimum, dosis morfin yang diperlukan untuk meniadakan nyeri itu jauh lebih kecil. Penderita yang sedang mengalami nyeri hebat dan memerlukan mofin dengan dosis besar untuk menghilangkan rasa nyerinya, dapat tahan terhadap depresi nafas morfin. Tetapi bila nyeri itu tiba-tiba hilang, maka kemungkinan besar timbul gejala depresi nafas oleh morfin. Analgetika Perifer (non-narkotik) Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat. Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut: 1. salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat 2. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol 3. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunanturunannya 4. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat. Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya janganlah menggunakan analgetika ini secara terus-menerus. Analgetika-Antipiretik Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan

kesadaran. Sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh yang tingi. Jadi, analgetik-antipiretik dalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Sebagai mediator nyeri, antara lain adalah sebagai berikut: 1. Histamin 2. Serotonin 3. Plasmokinin (antara lain Bradikinin) 4. Prostaglandin 5. Ion Kalium Analgetik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri). Rasa nyeri tersebut terjadi akibat terlepasnya mediator-mediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun ditempat lain. Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di korteks serebri oleh saraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan thalamus. Pembagian nyeri dapat digambarkan sebagai berikut: Nyeri I Nyeri permukaan kulit Nyeri I

Nyeri somatik

Nyeri dalaman Otot, tulang, sendi, jaringan ikat Nyeri Viseral Perut

Menurut tempat terjadinya, nyeri dibagi menjadi nyeri somatic dan nyeri dalaman (viseral). 1. Nyeri Somatik Dibagi atas dua kualitas yaitu nyeri permukaan dan nyeri dalam, apabila rasa nyeri berasal dari kulit, otot, persendian, tulang atau dari jaringan ikat. a. Nyeri Permukaan Terjadi apabila tangsang bertempat dalam kulit. Nyeri permukaan yang terbentuk kira-kira setelah tertusuk oleh jarum pada kulit, mempunyai karakter yang ringan, dapat dilokalisasi dengan baik dan cepat hilang setelah berakhirnya rangsang. Nyeri ini menyebabkan suatu reaksimenghindar secara refleks, seperti mearik kaki pada saat menginjak duri dan dengan demikian melindungi organisme dari kerusakan lebih lanjut. b. Nyeri dalam Berasal dari otot, persendian tulang, dan jaringan ikat, dirasakan sebagai tekanan, sukar dilokalisasi, sering kali diikuti reaksi afektif dan vegetatif (seperti tidak bergairah, mual, berkeringat, dan penurunan tekanan darah) dan kebanyakan menyebar ke sekitarnya, contohnya sakit kepala. 2. Nyeri Dalaman (Viseral)

Disini diteruskan tidak hanya perangsangan pada serabut yang menuju ke gyrus postcentrali (celah sentral belakang). Disamping itu. pengeluaran keringat). penurunan tekanan darah. yang merupakan ujung saraf bebas juga dapat menerima rangsang sensasi lain. tractus palaeospinothalamicus yang tua secar filogenetik. Pembentukan impuls nyeri terjadi melalui interneuron pada neuron-neuron selanjutnya yang menyilang pada sisi yang lain dan menuju ke arah pusat dalam tractus spinothalamicus. bertemu tidak hanya saraf aferen. yang meneruskan nyeri permukaan melalui serabut A-delta bermielin b. yang terutama mengandung serabut A-delta Serabut-serabut yang dalam daerah formatio reticularis menimbulkan terutama reaksi vegetatif (misalnya. yang terutama terlibat dalam penilaian emosional nyeri. terbentuknya eritema lokal) melalui interneuron. Tempat kontak lain yang khusus penting dari serabut nyeri adalah thalamus opticus. yang meneruskan nyeri kedua melalui serabut-serabut C yang tidak bermielin. Potensial aksi yang terbentuk pada reseptor nyeri diteruskan melalui serabut aferen ke dalam akar dorsal sumsum tulang belakang. lokalisasi dan rasa nyeri serta inhibisi nyeri endogen dalam bagan sederhana adalah sebagai berikut : Rasa nyeri Lokalisasi nyeri Penilaian nyeri Sistem limbic Korteks Thalamus opticus Formatio reticularis--------reaksi vegetatif Sumsum tulang-----------refleks pertahanan Reseptor nyeri . maka dapat terjadi keadaan nyeri yang terberat. mekanoreseptor. penghantaran impuls. Proses terjadinya nyeri. Secara fungsional dibedakan dua jenis reseptor yang dapat menyusun dua system serabut berbeda : a. yang terbagi dalam : a. yang impulsnya tumpang tindih. tetapi disini juga terjadi refleks somatic dan vegetatif awal (misalnya menarik tangan waktu tangan tersentuh benda panas. Apabila penekanan ini gagal. termoreseptor. kejang otot polos. aliran darah kurang. Rangsang nyeri diterima oleh reseptor nyeri khusus. Oleh otak besar dan otak kecil bersamasama dilakukan reaksi perlindungan dan reaksi menghindar yang terkoordinasi. Pada tempat awal kontak ini. maka kespesifikan fungsional mungkin berkaitan dengan diferensiasi pada tahap molekul.Nyeri ini terjadi antara lain pada tegangan otot perut. dan penyakit yang disertai radang. yang mengandung terutama serabut C b. melainkan disini juga impuls diteruskan ke sistem limbic. Yang berarti secara klinik adalah bahwa sistem nospinothalamicus pada tingkat thalamus menekan aferen paleospinothalamicus. pada tempat ini juga terjadi pengaruh terhadap serabut aferen melalui sisitem penghambat nyeri menurun. tractus neospinothalamus yang lebih muda secara filogenik. tempat lokalisasi nyeri.

Pada proses inflamasi. Proses-proses di bawah ini terjadi pada proses inflamasi (gambar 2). memasuki area inflamasi (fase primer). udema. A. 1996). makrofag. pelepasan mediator. LTE4 . 5-HETE (asam 5-hidroksi-eikosatetraenoat) ‡ produk leukosit ± enzim lisosomal dan limfokin ‡ activating factor dan radikal bebas Inflamasi berasal dari kata dalam bahasa Latin ³inflammare´ yang berarti ³membakar´. dilepaskan berbagai jenis mediator inflamasi yaitu: ‡ amina vasoaktif: histamin & 5-hidroksi tritophan (5-HT/serotonin). dan limfosit. plasmin. LTD4. Empat gejala khas yang muncul pada proses inflamasi yaitu rubor (kemerahan).Reaksi nyeri ANTIINFLAMASI 1.Pembebasan zat mediator Rangsang nyeri Impuls penghantar nyeri meningkat Inhibisi nyeri ------. Proliferasi: limfosit dan makrofag mengalami transformasi menjadi lapisan pembatas sel yang antara lain mampu mensistesis antibodi-antibodi (fase sekunder) (Verboom. tumor (bengkak). Perubahan ini mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah yang membiarkan protein kaya cairan menembus dinding vaskuler (udema dan kemerahan). migrasi sel. 1968). Proses tersebut mengakibatkan perubahan fisiologis antara lain eritema. C. dan demam (Vane dan Botting. dan dolor (nyeri) digambarkan oleh Celsus pada abad I dalam bukunya De Re Medizina yang dipublikasikan kemudian (Spector dan Willoughby. Beberapa dari sel-sel tersebut mengandung enzim lisosom yang mampu menelan dan mencerna partikel-partikel asing (fagositosis). pengeluaran cairan. organisme hidup atau adanya luka pada dirinya. Keduanya terjadi melalui inaktivasi epinefrin dan norepinefrin secara bersama-sama ‡ plasma protease: kinin. B. asma. leukotrien (LTB4 LTC4. Eksudasi: fase primer pada inflamasi adalah perubahan sturktural pada dinding vaskuler. dan fraksi komplemen ‡ metabolik asam arakidonat: prostaglandin. pembongkaran dan perbaikan jaringan. kinin. Galen menambahkan satu ciri lagi yaitu functio laesa (hilangnya fungsi) (Hurley. Inflamasi Inflamasi merupakan respon jaringan hidup sebagai reaksi lokal atas keberadaan benda asing. Aktivasi berbagai enzim (gambar 1) menyebabkan terjadinya biosintesis mediator dan release mediator inflamasi. calor (panas). 1972). sistem komplemen & sistem koagulasi fibrinolitik. 1979). . Infiltrasi: leukosit. lisosomalesterase. di bawah pengaruh kemotaksik. Reaksi ini meliputi berbagai proses yang kompleks terdiri dari deretan aktivasi enzim.

4) membatasi perluasan inflamasi dengan pembentukan fibri. serta penghancuran jaringan nekrosis. Berbagai enzim yang teraktifkan pada proses inflamasi. Beberapa dari sel-sel tersebut mengandung enzim lisosom yang mampu menelan dan mencerna partikel asing. Limfosit dan makrofag mengalami transformasi menjadi lapisan pembatas sel yang mampu mensintesis antibodi (fase proliferasi). dan sel. berbeda dengan inflamasi kronis yang mengandung mononuclear cells seperti makrofag dan limfosit. lesi inflamasi non-imunologis akut mengandung polymorphonuclear leucocytes. kemerahan dan bengkak yang mengganggu. yaitu inflamasi yang diperantarai antibodi IgE. 1979). Menurut Terr (1994). Perubahan ini mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah yang membiarkan protein kaya cairan menembus dinding vaskuler (fase eksudasi) (Verboom. Leukosit. . Gambar 2. Respon imun ini bertujuan untuk melenyapkan benda asing yang bersifat antigenik dengan cepat. kompleks imun. 1997). Inflamasi imunologis Respon imun mempunyai 3 fungsi utama. homeostatik. yaitu pertahanan. Obat-obat antiinflamasi digunakan pada umumnya untuk mengurangi gejala-gejala atau perubahan fisiologis yang dirasakan berlebih pada kondisi inflamasi. 3) menetralisir atau mencairkan iritan (dengan edema). walaupun inflamasi bisa merupakan fenomena menguntungkan karena merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang. Pada pemeriksaan histopatologi. Sedgwick dan Willoughby (1994) mengklasifikasikan inflamasi menjadi 2 yaitu: inflamasi imunologis dan inflamasi non-imunologis.Gambar 1. makrofag dan limfosit di bawah pengaruh kemotaktik memasuki area inflamasi (fase infiltrasi). dan immunesurveillance. fibrosis dan terbentuknya dinding granulasi. A. reaksi inflamasi yang disebabkan respon imun ada 3 macam. Inflamasi non-imunologis dibagi lagi menjadi akut dan kronis. 2) terbentuknya berbagai macam antibodi pada daerah tersebut. 1994). Inflamasi yang terjadi akibat reaksi antara antibodi atau sel T spesifik (yang merupakan respon imun) dengan antigen disebut inflamasi imunologis (Abrams. Inflamasi imunologis terdiri dari immediate dan delayed. rasa gatal yang berlebih. 5) diikuti proses perbaikan jaringan atau penyembuhan. Fungsi inflamasi dengan memobilisasi pertahanan tubuh dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) fagositosis pada tempat tersebut. misalnya nyeri yang taktertahankan. Proses inflamasi (Timmerman. Fase primer pada inflamasi adalah perubahan struktural pada dinding vaskuler. namun demikian tidak jarang terjadi kerusakan jaringan justru oleh adanya penyimpangan respon imun terhadap konfigurasi asing tertentu yang di antaranya sebagai alergi atau hipersensitivitas. Salah satu manifestasi alergi adalah terjadinya reaksi inflamasi yang merupakan respon tubuh secara vaskular terhadap adanya kerusakan jaringan.

2-diasilgliserol (DAG).1) Inflamasi yang diperantarai antibodi IgE. C3a berperan sebagai anafilatoksin yang menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast dan mengakibatkan kenaikan permeabilitas vaskular.2-DAG akan mengaktifkan enzim protein kinase C (PKC). Komplemen yang telah diaktifkan kemudian merangsang pelepasan macrophage chemotactic factor (faktor kemotaktik) yang berupa C3a dan C5a (anafilatoksin) dan vasoaktif amin yang berasal dari sel mast jaringan dan sel basofil darah. disebut juga reaksi hipersensitivitas tipe segera (immediate) karena terjadi sangat cepat. penyempitan bronkus. Mekanisme timbulnya inflamasi yang diperantarai antibodi IgE terlihat pada gambar 3. serotonin. (i) fase sensitisasi. enzim fosfolipase C (PLC. Reaksi yang terjadi dapat berupa vasodilatasi. akibatnya mediator-mediator dalam granul (termasuk histamin) dilepaskan keluar dari sel mast (Maeyama dkk. Skema proses degranulasi sel mast. Gambar 3. sedangkan IP3 menyebabkan influks Ca2+. 1992). C5a juga merupakan anafilatoksin dan sebagai faktor kemotaktik bagi eosinofil dan neutofil. PKC dan kadar Ca2+ yang tinggi dalam sel memudahkan fusi membran granul dengan membran sel. sedangkan antigen dapat berupa agen infeksi maupun autogen. Setelah antigen berikatan dengan IgE di permukaan sel mast.1) mengubah fosfatidil inositol (PI) menjadi inositol trifosfat (IP3) dan 1. terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam jaringan atau dinding pembuluh darah dan mengaktifkan komplemen untuk merusak sel sasaran. Tubuh yang terpapar antigen untuk pertama kalinya akan menimbulkan respon pembentukan IgE. udema pada mukosa dan hipersekresi mukus. 1994). Adalah waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai bahan-bahan yang dilepaskan oleh sel mast dengan aktivitas farmakologis. 1992). dan faktor kemotaktik untuk neutrofil dan eosinofil (Maeyama dan Watanabe. (iii) fase efektor.. Keberadaan ion Ca2+ dan PKC pada sitoplasma sel mast ini akan mempermudah fusi membran periglanuler granula sekretorik dengan membran sel. hanya beberapa menit setelah paparan. (ii) fase aktivasi. Crosslinking ini akan menimbulkan gangguan stereospesifik yang mengaktifkan enzim fosfolipase C sehingga mengkatalisis hidrolisis polifosfatidilinositol (PI) menjadi 1. Antibodi yang terlibat pada inflamasi ini biasanya IgG atau IgM. sedang DAG mengaktifkan protein kinase C (PKC).2-diasilgliserol (1. peningkatan permeabilitas vaskuler. Mekanisme timbulnya inflamasi yang diperantarai IgE (Terr. dan fase efektor. IP3 merangsang Ca2+ keluar dari tempat penyimpanannya. Serangkaian proses ini akan menyebabkan degranulasi sel mast sehingga melepaskan mediator inflamasi yang terkandung di dalamnya seperti histamin.2-DAG) dan inositol trifosfat (IP3). 2) Inflamasi yang diperantarai kompleks imun. Mekanisme timbulnya inflamasi yang diperantarai antibodi IgE melalui 3 fase yaitu fase sensitisasi. Proses degranulasi sel mast dapat dilihat pada gambar 4. Senyawa 1. Terjadinya paparan ulang dengan antigen yang sama akan menyebabkan pembentukan jembatan antara 2 molekul IgE pada permukaan sel (crosslinking). Gambar 4. fase aktivasi. Neutrofil selanjutnya akan melepaskan enzim lisosom dan generate toxic oxidant . IgE merupakan antibodi yang memiliki afinitas tinggi terhadap sel mast sehingga IgE yang telah terbentuk akan terikat di permukaan sel mast pada reseptor Fc.

leukotrien Setelah degranulasi. PGD2. Tipe inflamasi Waktu maksimal reaksi Sel-sel inflamasi yang terlibat Mediator utama Mekanisme imunologis Inflamasi yang diperantarai IgE (hipersensitivitas tipe segera) 15 menit (fase cepat) Eosinofil Histamin. panas atau dingin yang berlebihan) langsung memicu aktivitas sel-sel inflamasi atau menyebabkan kerusakan jaringan (luka) sehingga sel-sel inflamasi melepaskan mediator-mediator yang terkandung di dalamnya (Terr. PGI2. tromboksan A2 (TXA2). radiasi ion. disebut juga hipersensitivitas tipe lambat (delayed hypersensitivity) yang pada umumnya timbul > 12 jam setelah pemaparan antigen. B. Mekanisme timbulnya inflamasi yang diperantarai kompleks imun (Terr. PGE2. serta cara eksositosis untuk menghancurkan deposit kompleks imun. Karena kompleks imun melekat erat pada jaringan pembuluh darah. PGF2 yangE. 6-keto-PGF1EPGE2. mediator dibentuk oleh mastosit Inflamasi yang diperantarai kompleks imun 8 jam Neutrofil Komplemen factor C5a Kompleks antigen-antibodi berikatan dengan komplemen dan menginduksi aktivitas neutrofil Inflamasi yang diperantarai sel (hipersensitivitas tipe lambat) 36 jam Limfosit (sel TDH/sel T CD4+). Penghambatan COX dapat mengganggu metabolime asam arakidonat jalur COX (gambar 6) dalam pembentukan prostaglandin G2 (PGG2) dari asam arakidonat dan pembentukan prostaglandin H2 (PGH2) dari PGG2. Reaksi inflamasi ini terjadi karena kenaikan reaktivitas terhadap antigen spesifik oleh sel T. leukotrien Antigen berikatan dengan IgE di permukaan mastosit menyebabkan degranulasi dengan pelepasan preformed mediator 6 jam (fase lambat) Eosinofil. dan sel tersaji pada tabel I. salah satu mediator inflamasi. benturan. neutrofil PAF. kompleks imun. 3) Inflamasi yang diperantarai oleh sel. 1994). Ilustrasi terjadinya inflamasi baik inflamasi imunologis maupun inflamasi respon non-imun adalah sebagai berikut: 2. . maka enzim lisosom tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Reaksi inflamasi ini tidak melibatkan antibodi tetapi melibatkan sel-sel limfosit T. Perbedaan inflamasi yang diperantarai oleh antibodi IgE. Dari PGH2 dibentuk PGD2. 1994). 1991). Tabel I. melalui penghambatan enzim siklooksigenase (COX). tromboksan B2 (TXB2) merupakan mediator inflamasi. dan juga asam lemak hidroksi (HHT) dan malondialdehid (MDA) oleh enzim GST kelas µ yang mengkatalisis dari pembentukan PGD2. . Antiinflamasi Non-steroid (AINS) AINS menghalangi proses inflamasi karena memiliki kemampuan menghambat biosintesis prostaglandin. Mekanisme timbulnya inflamasi yang diperantarai kompleks imun terlihat pada gambar 5. TNF . makrofag Limfokin Limfokin yang dilepaskan sel TDH teraktivasi menginduksi makrofag dan respon sel Gambar 5. Inflamasi non-imunologis Inflamasi non-imunologis terjadi bila rangsangan non-imunologis (berupa cidera fisik.dalam proses fagosit kompleks imun. Penggolongan inflamasi imunologis (Terr. sinar UV.

Asetilasi aspirin pada enzim COX. kemampuan inhibisi senyawa fenolik terhadap enzim COX meningkat apabila: (1) memiliki gugus hidroksi fenolik bebas. 1995 sit Vane dan Botting. sehingga kemampuannya membangkitkan ‡OH menjadi jelek.PGF2EPGH2. Gambar 7. Radikal oksigen reaktif sebagai produk dari neutrofil dan makrofag yang terlibat pada rusaknya jaringan (inflamasi). Pada perkembangan selanjutnya. Mekanisme inhibisi oleh aspirin adalah melalui suatu reaksi asetilasi (gambar 7) yang takterbalikkan pada komponen COX yaitu prostaglandin endoperoksidase sehingga enzim tersebut kehilangan aktivitas peroksidase (Van der Ouderaa dkk. 1972) dan in vitro (Sharma. Kurkumin memiliki aktivitas antiinflamasi karena kurkumin mampu menghambat kerja enzim COX dan lipooksigenase (LOX). 3. 1996). Suatu senyawa fenolik merupakan inhibitor terhadap biosintesis prostaglandin jika reaksi siklooksigenase berlangsung pada kondisi normal. menangkap secara langsung oksidan reaktif (‡OH atau HOCl). Gambar 8. (2) tidak memiliki halangan sterik yang besar terhadap gugus hidroksi fenolik. 1996). Gambar 6. Mekanisme antiinflamasi kurkumin diduga antara lain karena kurkumin memiliki aktivitas antioksidan. Menurut Dewhirst (1980). 1996). Mekanisme inhibisi obat-obat AINS lainnya. seperti indometasin dan ibuprofen. Hal ini diungkapkan oleh penelitian yang melaporkan bahwa kurkumin merupakan senyawa yang efektif menghambat pembentukan lipid peroksida secara in vivo (Sharma dkk. Asetilasi aspirin pada enzim COX-2. diketahui bahwa aspirin juga menghambat transkripsi faktor NFB yang berperan penting dalam transkripsi gen mediator inflamasi (Rang dkk. 1996). menginhibisi COX dengan berkompetisi dengan asam arakidonat (substrat dari COX) pada active site enzim COX (Vane dan Botting. dkk. 1976). dan pada dosis tinggi mampu mengasetilasi serin 516 pada active site COX-2 (gambar 8) (Wennogle dkk. 2003). 1996). mengikat ion besi dalam bentuk tak aktif. Studi yang dilakukan oleh Dewhirst (1980) telah menghasilkan kesimpulan bahwa penghambatan enzim COX yang paling efektif terletak pada adanya dua cincin aromatik yang dihubungkan secara langsung oleh suatu rantai pendek. Antioksidan merupakan agen antiinflamasi yang bekerja melalui penangkapan radikal bebas oksigen dan dapat menghambat segala tipe oksigenasi (siklooksigenase dan lipooksigenase). asal memiliki kemampuan (gambar 10): 1. dapat dinetralkan AINS yang memiliki efek sebagai oxygen-radical-scavenging kuat (seperti sulindak) sehingga dapat mengurangi kerusakan jaringan seperti halnya aktivitas COX-inhibitory (Rang dkk. 1988). Pada tahun 1971 telah didemonstrasikan bahwa aspirin dan indometasin sebagai obat antiinflamasi non-steroid menginhibisi enzim COX dari berbagai jaringan mamalia secara in vivo (Vane dan Botting. Senyawa antioksidan ataupun penangkap radikal berpotensi sebagai antiinflamasi. 1996). dan (3) adanya gugus donasi elektron. Salah satu mekanisme penghambatan COX ialah melalui inhibisi non-kompetitif oleh antioksidan. Metabolisme asam arakidonat jalur COX (Vane dan Botting.. Aspirin menghambat sintesis prostaglandin dengan mengasetilasi serin 530 pada active site COX-1 (Vane dan Botting. 1980 sit Vane dan Botting. 2003). Kedua enzim tersebut berperan dalam metabolisme . 2. menghambat produksi oksidan oleh sel-sel fagosit (Halliwel.

asam arakhidonat untuk menghasilkan mediator-mediator kimia yang menyebabkan terjadinya tanda-tanda peradangan. Struktur kurkumin (gambar 9) terdiri dari gugus OH-fenolik dan gugus -diketon demikian. 1988.Fyang berfungsi sebagai penangkap radikal bebas. Siklooksigenase Siklooksigenase (COX) merupakan enzim yang bertanggungjawab mengubah asam . Gambar 9. Gambar 11. Meskipun mekanisme antiinflamasi kurkumin yang paling dominan belum diketahui pasti (Supardjan. Di samping itu. karena selain sebagai antioksidan. sit Donatus. 1999) dan Glutation (Sudibyo. kurkumin mampu menangkap radikal oksigen yang terbentuk selama peradangan (Kunchandy dan Rao. Obat AINS dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu golongan asam karboksilat dan asam enolat. 3. Struktur kurkumin Neutrofil-aktif Meiloperoksidase O2 H2O + Cl= ªOCl= + H2O Radikal superoksid Fe3+ 2H+ H2O2 + O2 Kompleks antara pH fisiologi Fe2+ Fe2+ + O2 (dalam sel) HOCl Kompleks antara Oksidasi reaktif hipoklorit ‡OH + OH. 1990).+ Fe3+ Radikal Ehidroksil 1-a-tipoproteinase Peroksidasi lipid Keaktifan ± serina proteinase Gambar 10. Mekanisme pembangkitan radikal oksigen pada tempat peradangan (Halliwel dan Gutteridge. S-transferase (GST) kelasQ2000). 1994). seperti yang terlihat pada gambar 11 dan tabel X. dimana kedua golongan tersebut memiliki berbagai macam derivat. Penggolongan obat AINS. 1999). kurkumin mampu menghambat enzim COX (Supardjan.

baik terhadap COX-1 maupun COX-2. Senyawa yang mampu menghambat COX-2 secara selektif diharapkan mampu menjadi senyawa antiinflamasi dengan resiko efek samping pada saluran pencernaan yang rendah (Vane dan Botting. Berbagai fungsi fisiologis COX-1 dan perbedaan isoform COX. akan tetapi dimungkinkan dapat masuk ke dalam kanal COX-2. COX-1 dan COX-2 juga berbeda pada sekuen asam amino penyusunnya yaitu pada sekuen asam amino nomor 523. Adanya valin-523 memberikan konformasi pocket pada sisi aktif COX-2 (gambar 16) sehingga akses obat golongan coxib mudah dan ikatan obat golongan coxib komplemen dengan COX-2 tetapi tidak dengan COX-1. 2003) (gambar 13)..arakidonat menjadi prostaglandin yang memiliki berbagai efek biologis (gambar 1 dan gambar 6). nyeri. Berbeda dengan asam arakidonat sebagai substrat COX yang dapat dengan mudah memasuki kanal COX baik COX-1 maupun COX-2 secara selektif dengan konformasi tertentu (Rang dkk. dimana keduanya mempengaruhi konformasi enzim-substrat dan enzim-inhibitor. berbeda dengan COX-2 yang diaktivasi oleh kerusakan jaringan. Senyawa-senyawa dengan gugus yang bulky tidak bisa masuk ke dalam kanal COX-1. mengenai kemampuan inhibisi suatu senyawa terhadap aktivitas enzim COX akan meningkat apabila tidak memiliki halangan sterik yang besar. Oleh karena itu. dan demam (gambar 12). namun kadarnya meningkat secara dramatis pada proses inflamasi. yang diberi nama COX-1 dan COX-2. sehingga ikatan coxib spesifik pada COX-2 dan mengeblok masuknya substrat (asam arakidonat) ke dalam sisi aktif COX-2 (gambar 14) dan asam arakidonat tidak dapat dimetabolisme oleh COX-2. Perbedaan COX-1 dan COX-2 yang mempengaruhi aksi obat AINS apakah itu selektif terhadap COX-1 ataukah COX-2 adalah kanal enzim COX dan sekuen asam aminonya. Pada COX-1 adalah isoleusin dan pada COX-2 adalah valin (gambar 15). akan tetapi masih dimetabolisme COX-1. Gambar 12. Perbedaan ini berperan penting dalam spesifitas pengikatan obat-obat golongan coxib dan konformasi enzim COX yang terbentuk setelah terjadinya ikatan obatenzim (Pinheiro dan Calixto. 1996). COX-1 esensial ditemukan pada mamalia dan dapat dikatakan sebagai enzim ³house keeping´. Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa COX terdiri dari dua isoform. Hal ini terjadi pada indometasin dan obat-obat golongan coxib. Pernyataan ini sesuai dengan teori Dewhirst (1980). Selain itu. COX-2 tidak ditemukan pada jaringan sehat. Kedua isoform COX menunjukkan tidak lebih dari 60% homologi yang memungkinkan pengembangan penghambat yang selektif. Kanal COX-1 lebih sempit daripada kanal COX-2. Contoh obat-obat golongan coxib (generik dan brand name): Celecoxib (CelebrexŒ) Pfizer 1st generation Rofecoxib (VioxxŒ) Merck 1st generation Valdecoxib (BextraŒ) Pfizer 2nd generation Parecoxib (DynastatŒ) Pfizer . penghambatan COX-2 tidak menghentikan biosintesis prostaglandin (oleh COX-1) yang berperan dalam proteksi saluran gastrointestinal terhadap asam lambung. 2002).

fluosinolon-asetonide. Padahal. Gambar 16. dll). Gambar 15. berbagai mediator inflamasi. Target aksi obat-obat antiinflamasi dan jenis mediator yang dihambat digambarkan pada skema berikut ini: Gambar 14. misal: isolasi dari endotelium aorta. deksametason. sedangkan enzim LOX khususnya 5-LOX dihambat oleh sulfasalazin sehingga pembentukan leukotrien C4 dari leukotrien A4 terhambat. sedangkan COX-2 dapat ditentukan menggunakan kultur makrofag dan perlakuan dengan endotoksin. Penghambatan COX-1 dapat ditentukan pada sel-sel isolasi. Enzim fosfolipase dihambat oleh obat antiinflamasi steroid (hidrokortison. seperti di hipotalamus. Metode farmakologi guna mengukur aktivitas penghambatan COX telah banyak dikembangkan. lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksida. setelah penambahan asam arakidonat. Konformasi pocket obat-obat golongan coxib pada COX-2. metil-prednisolon. Aktivitas COX dapat ditentukan dengan mengukur salah satu dari metabolit. target aksi obat-obat antiinflamasi adalah enzim fosfolipase dan LOX. Pembentukan malondialdehida (MDA). Sekuen asam amino COX-1 dan COX-2. Penghambatan biosintesis PG parasetamol terjadi pada lingkungan yang rendah kadar peroksidanya. PGF2 PGH2. prednison. fluprednidine.2nd generation Prodrug of Bextra IV injection Etoricoxib (ArcoxiaŒ) Merck 2nd generation IV injection Lumiracoxib (PrexigeŒ) Novartis 2nd generation Phase III trials Gambar 13. PGE2. Kurkumin diduga menghambat inflamasi melalui penghambatan enzim glutation S-transferase (GST) kelas µ yangEdari mengkatalisis pembentukan PGD2. Penentuan konsentrasi MDA dilakukan dengan menggunakan metode spektrofluorometri. . sedangkan efek antiinflamasinya praktis tidak ada. Ilustrasi perbedaan COX-1 dan COX-2. 1985). Pengeblokan masuknya asam arakidonat pada sisi aktif COX-2 oleh obat-obat golongan coxib. salah satu dari produk metabolit stabil setelah proses siklooksigenasi asam arakidonat (gambar 6) dapat dijadikan indikator aktivitas COX. MDA bereaksi dengan asam tiobarbiturat (ATB) pada pH rendah dengan pemanasan membentuk produk berwarna merah-ungu fluoresen yang dapat diukur secara spektrofluorometri pada emisi 553 nm dan 510 nm (Kappus. betametason. menggunakan metode radioimunoassay (Timmerman. Ini menjelaskan mengapa parasetamol memiliki efek antipiretik. 1997). Reaksi yang terjadi tersaji pada gambar 17. Selain COX.

. malbufin. butorfanol ZPentazosin Antagonis lemah Zpd reseptor ttp mrpkn agonis kuat pd reseptor . ANALGETIK Prostaglandin (PG) ZPG ð pirogen endogen PG menyebabkan sensitisasi reseptor Znyeri ZPG menimbulkan kondisi hiperalgesia pd jaringan yg meradang Analgetik opioid ZGol. Sardjiman. 2000). sintetik yg berefek spt morfin ZAnalgesik opioid bekerja pd reseptor opioid (di sel otak) Reseptor Zopioid: .obat yg memiliki sifat spt opium/morfin Menimbulkan Zadiksi: ZHabituasi ZKetergantungan fisik Usaha utk Zmendptkan analgesik ideal: Potensi analgesik yg sama kuat dgn Z morfin ZTanpa bahaya adiksi ZObat yg berasal dr opium-morfin ZSeny. . Reaksi antara MDA dengan ATB (Shahidi dan Hong. . . 1991. Zpiminodin. Zbuprenorfin. Efek analgesia yg timbul Zagaknya krn efeknya pd reseptor . Atas dasar kerjanya pd reseptor opioid. Efek analgetik morfin timbul Zberdsr mekanisme: ZMorfin meningkatkan ambang rangsang nyeri ZMorfin memudahkan tidur & pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat ZEfek analgetik meperidin & derivat fenilpiperidin ZSerupa dgn efek analgetik morfin tp masa kerja lbh pendek Petidin. . Efek analgesia Zyg timbul agaknya krn efeknya pd reseptor .Gambar 17. pentazosin. Zanalgetik opioid dibagi mjd: Agonis opioid menyerupai morfin (pd Zreseptor . fenoperidin. ) ZMorfin. fentanil ZAntagonis opioid ZNalokson Menurunkan ambang nyeri pd pasien yg ambang nyerinya Ztinggi ZOpioid dgn kerja campur Nalorfin. semisintetik morfin ZSeny. fentanil KEMOTERAPI PARASIT A. ketobemidon. Antibiotik Perbedaan antimikroba dengan antibiotik terletak pada sumber senyawa tersebut disintesis. ZButorfanol ZDihipotesiskan bekerja pd reseptor .

oksasilin). Cincin ini diperlukan untuk aktivitas biologi. non-beta-lactamase-producing anaerobes. karbenisilin) dan kloramfenikol. dan karbapenem. mengganggu permeabilitas membran sel mikroba. dibuat . Penisilin banyak digunakan. Alexander Fleming. dan antibiotik spektrum luas. menghambat sintesis asam nukleat. sefalosporin.o) ± aktif melawan gram-cocci. kotrimoksazol. R1928 ± Alexander Fleming Menumbuhkan koloni RPenicillium notatum R1939 ± Florey. antimikroba/antibiotik dibagi menjadi antibiotik spektrum sempit. Jamur yang tumbuh tersebut dinamakan Penicillium rubrum dan diketahui mensekresi senyawa yang mampu menghambat bakteri gram positif. penisilin V. para amino-salisilat (PAS)). walaupun setelah penisilin disintesis. merupakan major antibiotics. diberikan secara parenteral (i. Dia menemukan zona penghambatan di sekitar koloni dan adanya spora yang tumbuh. Antimikroba memiliki toksisitas selektif. Struktur beta-laktam (penisilin) Struktur beta-laktam terdiri dari asam amino sistein (biru) dan valin (merah) yang terikat secara kovalen. antimikroba/antibiotik dibagi menjadi bakterisida (membunuh bakteri. Klasifikasi Penisilin (penisilin G. Chain. dicirikan dengan tiga struktur (gambar 1) yaitu: cincin beta-laktam (biru dan merah). dalam arti membunuh bakteri-bakteri patogen dan tidak berefek terhadap flora normal hospes. menghambat sistesis protein sel mikroba. Mary's London. sulfon (dapson). dan menghambat sintesis dinding sel mikroba. dengan parameter kadar bunuh minimun/KBM) dan bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri dengan parameter kadar hambat minimun/KHM). gugus asam karboksilat bebas (merah). tikarsilin. Antibiotik beta-laktam yang digunakan dalam klinik adalah penisilin. rusak oleh asam lambung. misal: golongan penisilin (benzil penisilin. Menghambat sintesis dinding sel bakteri Penisilin merupakan golongan antibiotik yang penting.Rbakteri gram+. golongan sulfa (sulfonamid. streptomisin. and Associates RMengisolasi dan sintesis penisilin 1944 ± Penisilin digunakan untuk R pengobatan infeksi Akhir 1940¶s ± digunakan secara luas di R Amerika Golongan penisilin dan golongan sefalosporin disebut sebagai antibiotik golongan betalaktam.m). dan satu atau lebih rantai asam amino tersubstitusi (hitam). nafsilin. menghambat pembelahan sel mikroba. menumbuhkan koloni Staphylococcus aureus. p. Gambar 1. Berdasar spektrum kerjanya. metisilin. dan berbagai turunannya telah banyak diproduksi. Pada 1928.Antimikroba pada umumnya merupakan hasil sintesis. Mekanisme antibiotik dalam membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri adalah: menghambat metabolisme sel mikroba. golongan penisilin (aminopenisilin. 1. profesor bakteriologi dari rumah sakit St. monobaktam. Berdasar toksisitasnya terhadap bakteri patogen. misal: tetrasiklin. Penisilin adalah antibiotik pertama yang ditemukan sebagai produk/metabolit dari jamur Penicillium. perubahan cincin ini karena metabolisme atau senyawa kimia menyebabkan hilangnya aktivitas antibakteri secara signifikan. sedangkan antibiotik merupakan hasil metabolisme (metabolit) koloni mikroba/bakteri tertentu. Penisilin termasuk drugs of choice untuk berbagai jenis penyakit infeksi. muncul berbagai agen antimikroba. kloksasilin.

Sekumpulan protein sebagai tempat terikatnya penisilin dan sefalosporin pada dinding sel bakteri disebut penicillin-binding proteins (PBPs). Residu glisin terminal pada jembatan pentaglycine diikatkan pada residu keempat (D-alanin) dari pentapeptida "Park nucleotide". rusak oleh aktivitas beta-laktamase sepertiRluas. (Sintesis dipeptida ini sebelumnya melibatkan proses rasemisasi L-alanin dan kondensasi yang dikatalis oleh D-alanil-D-alanin sintetase. Gambar 2.o). Jika dinding sel tidak disintesis dengan benar. Tahap akhir inilah yang dihambat oleh antibiotik beta-laktam yaitu dengan menghambat aktivitas enzim transpeptidase (penisilin mengikat residu serin enzim transpeptidase) secara irreversible (gambar 3) hingga terjadi hambatan proses transpeptidasi antar rantai peptidoglikan. disebut sebagai "Park nucleotide". Peptidoglikan terdiri dari rantai peptida cross-linked dengan rantai glikan yang linier dengan dua gugus amino gula (N-acetylglucosamine dan N-acetylmuramic acid. Sintesis dinding sel bakteri Dinding sel bakteri esensial untuk pertumbuhan bakteri. Extended-spectrum penisilin (ampisilin) ± spektrum terhadap gram±.turunannya yaitu penicillin V (K+ salt PEN-VEE K. Produk ini terakumulasi dalam sel ketika tahap ini dihambat. dinding sel terdiri dari 50-100 molekul peptidoglikan. Tahap ini disempurnakan oleh reaksi transpeptidasi. NAG-NAM). terjadi di sitoplasma. tapi pada gram± hanya 1-2 molekul (gambar 2). R Antistaphylococcal penisilin (nafsilin) ± resisten terhadap staphylococcal beta-lactamases. aktif terhadap staphylococci dan streptococci. Perbandingan struktur dan komposisi dinding sel bakteri gram+ dan gram± Biosintesis peptidoglikan melibatkan 30 jenis enzim dalam bakteri dan terjadi melalui 3 tahap: Rpertama. pembentukan prekursor. "Park nucleotide" selanjutnya digandeng dengan suatu dipeptida D-alanil-D-alanin. Pada bakteri gram+. maka air mudah masuk ke dalam sel bakteri yang menyebabkan sel menggembung dan akhirnya meledak/hancur. R ketiga. Reaksi transpeptidase pada Staphylococcus aureus yang dihambat oleh antibiotik beta-laktam . p. aktif gambar di bawah ini: Mekanisme aksi obat melalui penghambatan enzim Semua obat turunan penisilin memiliki efek bakteriosida melalui penghambatan sintesis dinding sel bakteri yaitu dengan mencegah cross-linking rantai peptida-mucosaccharide. menghasilkan produk uridine diphosphate (UDP)-acetylmuramyl-pentapeptide. Gambar 3. dikatalis enzim transpeptidase. melepaskan residu D-alanin yang kelima. V-CILLIN K. tahap penyelesaian cross-link. Peptidoglikan merupakan komponen dinding sel bakteri yang heteropolymeric yang menjaga rigiditas dan stabilitas melalui crosslinked struktur rantai. terbentuk ikatan antara UDP-acetylglucosamine (denganR UDP-acetylmuramylpentapeptide dan melepaskan nukleotida uridin) untuk membentuk polimer yang panjang. terjadi pada membran sel bagian luar. gangguan pada pertumbuhan dan sintesis dinding sel bakteri terhambat.) kedua.

dan klindamisin mengikat komponen ribosom 50S. dan kloramfenikol. norfloksasin. Oleh karena itu. Dalam proses sintesis asam folat. Gambar 4. 5.Pnalidiksat. Contoh lain obat yang menghambat metabolisme sel mikroba adalah PAS. Tidak efektif untuk kuman gram positif. Rifampisin berikatan dengan enzim RNA-polymerase ð RNA dan DNA. sel-sel mamalia tidak dipengaruhi oleh sulfonamid karena menggunakan folat jadi yang terdapat dalam makanan (tidak mensintesis sendiri senyawa tersebut). netilmisin. b. klindamisin. Menghambat pembelahan sel mikroba . Tetrahidrofolat penting karena diperlukan untuk reaksi transfer 1 atom C pada pembentukan basa purin. linkomisin. tapi spesifik untuk infeksi fungi. sedangkan manusia tidak dapat mensintesis asam folat (intake asam folat diperoleh dari luar).2. dan ricketsia. maka akan terbentuk analog asam folat yang tidak fungsional. neomisin. enoksasin). Reaksi sintesis purin dan asam nukleat 3. Sel mikroba mampu mensintesis asam folat sendiri. etambutol. sedangkan golongan makrolida. Golongan padaPaminoglikosida dan tetrasiklin mengikat komponen ribosom 30S bakteri. amikasin). Kloramfenikol dan tiamfenikol sehingga tidak terbentuk ikatanP menghambat enzim peptidil transferase transpeptidase ð tidak terbentuk protein. virus. Menghambat metabolisme sel mikroba Mikroba memerlukan PABA (p-aminobenzoic acid) untuk membentuk asam folat yang digunakan untuk sintesis purin dan asam-asam nukleat (gambar 4). Golongan polien (nistatin) berikatan dengan struktur sterol (ergosterol) membran sel fungi sehingga golongan ini tidak sensitif untuk bakteri.P menghambat sintesis Inti RNA-polymerase dari berbagai rifampisin sehingga sintesis asam nukleatPsel eukariotik tidak mengikat mamalia (hospes) tidak terpengaruh. roksitromisin. Menghambat sintesis asam nukleat Misal: rifampisin dan golongan kuinolon (asam siprofloksasin. asam amino metionin dan glisin. linkomisin. dan sulfon (dapson). Menghambat sistesis protein sel mikroba PContoh: golongan aminoglikosida (paramomisin. klaritromisin). PABA direduksi menjadi asam dihidrofolat dan asam tetrahidrofolat masing-masing dikatalis oleh enzim dihidropteroat sintetase dan dihidrofolat reduktase. 6. kanamisin. streptomisin. c. pefloksasin. ofloksasin. spiramisin. tobramisin. golongan makrolida (eritromisin. gentamisin. bila PABA digantikan oleh sulfonamid. Mengganggu permeabilitas membran sel mikroba a. Sulfonamid merupakan penghambat bersaing PABA. Golongan kuinolon mengikat (tidak membentuk spiral) ðP enzim DNA girase ð kromosom tidak tertata sintesis DNA tidak sempurna. tetrasiklin. 4. Golongan polimiksin mengganggu permeabilitas membran sel mikroba dengan berikatan dengan gugus fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba ð mengganggu fungsi pengaturan osmosis. Kombinasi trimetoprimsulfametoksazol (kotrimoksazol) memberikan efek sinergistik kuat karena mampu menghambat aktivitas dua enzim tersebut. Aktivitas kedua enzim tersebut dihambat oleh sulfonamid (berkompetisi dengan PABA) dan trimetoprim.

ekonazol. isokonazol. primakuin ± Skizontosid kerja cepat: Halofantrin Gametosid ± Membunuh gametosid dlm eritrosit ± Klorokuin. haloprogin. dikelompokkan berdasar penyebabnya: Tropika ð Plasmodium falcifarum Tertiana ð Plasmodium vivax Kuartana ð Plasmodium malariae Manusia ð hospes antara Nyamuk anopheles ð a. flukonazol ± Fungistatik & fungisida ± Berikatan dgn ergosterol (komponen membran sel fungi) ð membran sel bocor ð kehilangan bhn2 intrasel ð irreversibel PFlusitosin ± Mekanisme: bergabung dgn RNA setelah mengalami deaminasi mjd 5-fluorourasil ð sintesis DNA ð sintesis protein ± Keadaan ini tdk tjd pd sel mamalia (flusitosin tdk diubah mjd 5-fluorourasil ð aman bagi hospes) P Griseofulvin ± Menghambat mitosis jamur dgn mengikat protein mikrotubuler dlm sel jamur ± Fungisida Mikonazol. asam benzoat-asam salisilat. klotrimazol. meflokuin ± Bekerja jg pd skizon yg br memasuki jar hati ð Tahap infeksi eritrosit dpt dicegah ð terapi kausal PPirimetamin. Vektor b. ketokonazol. meflokuin ð P. Hospes definitif KLASIFIKASI Skizontosid jaringan dan darah ± Bekerja thdp merozoit (fase eritrosit) ± Tdk terbentuk skizon baru ð tdk tjd penghancuran eritrosit ð mengendalikan serangan klinik ± Klorokuin. falcifarum 3. Sporontosid . P. kuinin. asam undesilenat. Antijamur P Amfoterisin B. tiokonazol. Pbifonazol PMekanisme: ± Berikatan dengan ergosterol (komponen membran sel fungi) ð membran sel bocor ð kehilangan bahan-bahan intrasel ð irreversibel ± Mengganggu sintesis asam nuklet ± Menimbun peroksida dlm sel jamur ð kerusakan sel jamur P Antijamur Topikal: ± Kandisidin. Antimalaria Malaria. vivax.Isoniazid dan pirazinamid ð menghambat biosintesis asam mikolat. kuinin. itrakonazol. natamisin. B. malariae ± Primakuin ð P. siklopiroksolamin C.

baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). tumor supresor gen Menurunnya ekspresi thdp sinyal antiRdan fungsi tumor supresor gen shg sel tdk sensitif pertumbuhan R Kesalahan dlm mitosis Tdk ada kontrol pertumbuhan terbatas)R (memiliki kemampuan replikasi tdk Pertumbuhan sel kanker dibuatRbersifat keseimbangan positif (jumlah sel yg > jumlah sel yg mati. identified as: Genes responsible for establishing tumor Rcell lines Activation of c-src in human cancer e. Primakuin) Mengikat folat dlm tubuh Pnyamuk (Mis. meflokuin Menghambat enzim pertumbuhanP dihidrofolat reduktase plasmodia ð pembelahan inti pd skizon di hati terhambat (Mis. Pirimetamin) Menghancurkan tissue Pstage form plasmodia (Mis. primakuin.± Menghambat perkembangan gametosit ± Rantai penularan terputus ± Primakuin. causal roles in colorectal cancer etc.g. Mempunyai mekanisme angiogenesis (indikator adanya potensi metastasis) . RPenyebaran kanker: ‡ jaringan tetangga: paru-paru dan hati ‡ jaringan lain Factor penyebab: R Virus R Hormon RPenyinaran yang berlebih RSenyawa kimia Makanan Rtertentu R Kelemahan genetis pada sel-sel tubuh Mutasi DNA. gen apoptosis (p53). kloroguanid) Menghambat sintesis protein Pdlm tubuh nyamuk: artemisinin SITOSTATIKA (antikanker) Kanker penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak serta kemampuan dari sel-sel tersebut untuk menyerangR terkendali. kloroguanid Mekanisme PMenghambat DNA-polimerase & RNA-polimerase ± Berikatan dgn guanin rantai DNA ± Obat terakumulasi pd eritrosit nyamuk anopheles ± Klorokuin. kecepatan proliferasi sel > mekanisme apoptosis) RMeningkatkan ekspresi dan fungsi onkogen R What is ³oncogene´? R Originally. Proguanil. R sel. jaringan biologis lainnya. kuinin.

kesalahan selama proses mitosis.epitel yg meliputi membran mukosa dan kelenjar ‡ Kanker payudara. paru2.ikat. bahkan saat telah menyebar Memperpanjang harapan penyebaran kankerR hidup dengan membatasi pertumbuhan dan RMenyembuhkan gejala dan meningkatkan kualitas hidup JENIS SITOSTATIKA RTumbuh sintesis DNA. sel otot R Blastoma ‡ Kanker yg tumbuh dr sel hemopoetik dan jar. tulang. estrogen shg tdk terikat dgn reseptornya. pembedahan (operasi). genistein) . dan tjd perlekatan sel kanker pd permukaan jaringan baru dlm tubuh ‡ Menyebar ke jaringan tetangga dan tumbuh di sana JENIS KANKER R Karsinoma ‡ Kanker yg tumbuh dr jar. pengobatan dgn hormon tujuannya : Menghilangkan semua sel R kanker di tubuh. jaringan limfatik.mampu melakukan metastasis & invasi FASE KARSINOGENESIS RInisiasi ‡ Tahap awal karsinogenesis ‡ Tjd perubahan genetik dlm sel yg (krn mutasi gen/sel. zat karsinogenik) menyebabkan abnormalitas proliferasi sel tunggal tp blm menimbulkan kanker RPromosi ‡ Sel tumbuh sangat cepat membtk sebuah formasi kecil (tumor.limfoid. imunoterapi (meningkatkan daya tahan tubuh). benigna) ‡ Tjd peningkatan kecepatan proliferasi yg dpt menyebabkan kerusakan sel (ekspresi COX-2 tinggi) RProgresi ‡ Sel tumbuh mjd sebuah kumpulan sel yg besar dgn tingkat kecepatan proliferatif yg tinggi ‡ Tjd peningkatan mobilitas ‡ Terbentuk angiogenesis RMetastasis ‡ Masuknya sel kanker ke sirkulasi darah.mesodermal yg meliputi dr jar. ovarium RSarkoma ‡ Kanker yg tumbuh dr jar. penyinaran (radioterapi).darah yg meliputi jar. sel erithroid RLeukimia ‡ Kanker yg tumbuh dr leukosit PENGOBATAN KANKER Kemoterapi (sitostatika). sintesis protein ð anti pertumbuhan (anti EGFR) R mekanisme kematian sel kanker = apoptosis ð induksi apoptosis Proliferasi sel ð antiproliferatif (doxorubucin.Rtamoxifen (mengeblok flavopiridol.

genistein. angiostatin. epigallocathecin-3gallate (EGCG).RPerkembangan pembuluh darah (angiogenesis) ‡ pensuplay oksigen dan nutrisi ke dalam sel melalui pembuluh darah à sel kanker dengan cepat mengalami pertumbuhan. Digunakan pada pertumbuhan fraksi tumor padat yang lambat menjadi fraksi tumor yang tumbuh secara cepat ‡ Sitostatika yang mempengaruhi siklus sel (spesifik) hanya membunuh/menghambat terjadinya siklus sell. sedangkan sitostatika yang mempengaruhi siklus sel (non-spesifik) membunuh sel yang terlibat dalam siklus sel juga sel-sel di luar siklus sel (G0 /quiescent) ‡ Sel yang terlibat dalam siklus sel lebih sensitif . dalam perkembangan pembentukan pembuluh darah pada tumor Anti-VEGF. avastin.: Imexon. suraminR vitaxin. endostatin. EGCG. silymarin. gingerol. kurkuminoid. RResveratrol. gemcitabin. in case of severe damage it induces apoptosis Sitostatika yang mempengaruhi siklus sel (spesifik) ‡ Antimetabolit ‡ Bleomisin ‡ Alkaloid Podofilin ‡ Alkaloid Tanaman Sitostatika yang mempengaruhi siklus sel (non-spesifik) ‡ Senyawa pengalkil (Alkylating Agents) ‡ Antibiotik ‡ Sisplatin ‡ Nitrosourea ‡ Sitostatika yang mempengaruhi siklus sel (spesifik) digunakan pada tumor dengan pertumbuhan dan proliferasi sel yang cepat ‡ Sitostatika yang mempengaruhi siklus sel (non-spesifik) mengikat DNA dan merusaknya. vit.C.E. tenoksikam) R Analgetik opioid R Bekerja pada cell cycle ??? ANTIANGIOGENESIS R obat yang bekerja dengan mengeblok angiogenesis. talidomid. P53 in response to genetic damage stops the cell cycle. genistein. perkembangan. apigenin INDUKSI APOPTOSIS Mis. resveratrol. betakaroten. serta pembelahan ð antiangiogenesis (inhibitor angiogenesis) RChemoprevention ð antioksidan (vit. flavonoid) RCOX-2 inhibitor (coxib drugs. combretastatin. zoledronate. meloksikam.

thyroid. The net effect is the same as with flurouracil VINCA ALKALOIDS Inhibit microtubules (spindle). from which THF cofactors single carbon groups for the synthesis ofRare formed which provide precursors of DNA and RNA Folate is involved with methylations such converts uracil to thymine. Ras the one above that The chemotherapy into an active formR drug methotrexate blocks the processing of folate (DHF ð THF).Doxorubicin R Dactinomycin RPlicamycin RMitomycin R Bleomycin Anthracyclines. Antibiotic DaunorubicinR Anthracyclines. Therapeutic Uses Doxorubicin.carcinomas of the breast. and lung.acute leukemia Dactinomycin. Resulting : in mitotic arrest at metaphase. testicle. Mechanism of Action High-affinity binding to DNA. causing metaphase cell arrest in M phase. leading to strand breakage RCross-linking of DNA and ring cleavage may also occur FOLAT Folic acid analogues An essential factor. resulting in synthesisRblockade of DNA and RNA DNA strand scission via effects Ron Top II R Binding to membranes altering fluidity Generation of Rthe semiquinone free radical and oxygen radicals Anthracyclines. andR endometrium. dissolution of the mitotic spindle. chromosome segregation.Alkylating Agents Mechanism of Action R Alkylate within DNA at the N7 position of guanine Resulting in in depurinationR miscoding through abnormal base-pairing with thymine or by excision of guanine residues. ovary. osteosarcoma R Daunorubicin. Ewing¶s sarcoma. Mechanism of Action Binds to double stranded DNA through intercalation between adjace guanine-cytosine base pairsRnt Inhibits Rall forms of DNA-dependent RNA synthesis .

R Gen MDR-1 terlibat dengan efflux obat R Obat yang mengalami reverse multidrug resistance termasuk verapamil. RSubsequent to tamoxifen ER binding. dan epipodofilotoksin ANTIVIRUS VIRUS RParasit intrasel yang mampu mereplikasi diri dalam hospes . Mechanism of Action Inhibitor of adrenal steroid synthesis at the of cholesterol of pregnenoloneR first step.Anti-estrogens RTamoxifen (SERMs) RRaloxifene (SERMs) RFaslodex Tamoxifen RSelective estrogen receptor modulator (SERM). dan siklosporin MDR meningkatkan resistensi sitostatika di antaranya antrasiklin. alkaloidRalami (dari tanaman obat alam) vinca. Therapeutic Uses Tamoxifen in both menRcan be used as primary therapy for metastatic breast cancer and postmenopausal women Patients with estrogen-receptor (ER) to respond to tamoxifen therapyRpositive tumors are more likely Aromatase Inhibitors R Aminogluthethimide R Anastrozole Aminogluthethimide. kuinidin. the expression of estrogen dependent genes is blocked or altered Resulting in decreased R estrogen response. Tamoxifen. Binds to theR estrogen receptors (ER) and induces conformational changes in receptor R Has antiestrogenic effects on breast tissue. conversion Inhibits the R extra-adrenal synthesis of estrone and estradiol Inhibits the R enzyme aromatase that converts androstenedione to estrone Resistensi sitostatika Peningkatan ekspresi gen MDR-1 pada permukaan sel P-glikoproteinRglikoprotein.

RI.V. diare. sakit R kepala. dan ganciclovir Penggunaan klinik Acyclovir oral. RTanpa dinding sel dan membrane sel Tidak ada Rproses metabolisme (carry out) Replikasi diri tergantung pada R mesin¶ hospes RTahap replikasi virus 1) adsorpsi dan penetrasi Rke dalam sel hospes R2) uncoating asam nukleat virus 3) Rsintesis protein pengatur R4) sintesis RNA atau DNA 5) Rsintesis protein struktur R6) penyusunan partikel virus 7) Rrelease dari sel hospes TARGET AKSI ANTIVIRUS ANTIVIRUS RMengeblok masuknya virus ke sel hospes atau bekerja di dalam sel hospes (jika virus telah masuk ke sel hospes) Pada umumnya R merupakan analog nukleotida pirimidin atau purin ANTIHERPES R Acyclovir . Rfamciclovir. dan topikal diekskresi oleh filtrasi glomerular dan sekresi Rtubular R Untuk: (HSV)RHerpes Simplex Virus 1 dan 2 R Varicella-zoster virus (VZV) Efek samping: mual.Terdiri olehRdari: inti genome dalam suatu kapsul protein yang dikelilingi lipoprotein. dan delirium Penggunaan klinik Valacyclovir . tremor..sebagai prototype R Valacyclovir RFamciclovir RPenciclovir RTrifluridine R Vidarabine Mekanisme aksi Acyclovir RSuatu turunan guanosin asiklik Terfosforilasi oleh Renzim timidin kinase virus Mengalami di-dan tri-fosforilasi oleh R enzim selular sel hospes RMenghambat sintesis DNA virus dengan: R1) berkompetisi dengan dGTP (untuk DNA polymerase virus) 2) Rterminasi rantai DNA Mekanisme resistensi Acyclovir Rperubahan/mutasi enzim timidin kinase virus perubahan/mutasi enzim R DNA polymerase virus Cross-resistance dengan valacyclovir.

and hepatitis B Side REffects: nausea.: same as acyclovir R Uses: R1) recurrent genital herpes 2) herpes zoster Rinfections RSide Effects: nausea.A. VZV.O. diarrhea.A.and EBV Side REffect: myelosuppression Valgancyclovir Monovalyl ester prodrug R of gancyclovir Metabolized by intestinal and hepatic esterases orallyRwhen administered RM.A. EBV.: same as gancyclovir Uses: RCMV* RSide Effect: myelosuppression Cidofovir A cytosine Ranalog Rphosphorylation not dependent on viral enzymes .O. and headache Penggunaan klinik Trifluridine RTrifluridine-fluorinated pyrimidine inhibits Rviral DNA synthesis same as acyclovir incorporates into viral and R cellular DNA R Uses: HSV-1 and HSV-2 (topically) Penggunaan klinik Vidarabine RSuatu analog adenosin Menghambat enzim DNA Rpolymerase virus Rincorporated into viral and cellular DNA R metabolized to hypoxanthine arabinoside Side Effects: GI R intolerance and myelosuppression Anti-Cytomegalovirus (Anti-CMV) R Gancyclovir R Valgancyclovir RCidofovir RFoscarnet RFomivirsen Gancyclovir R An acyclic guanosine analog requires Rtriphosphorylation for activation monophosphorylation is catalyzed thymidine kinase in HSV cells R by a phosphotransferase in CMV and by RM. HSV.O.: same as acyclovir R Uses: CMV*. diarrhea. HSV-2.A.O. and headache Penggunaan klinik Famcyclovir Prodrug dari penciclovir (suatu analog Rguanosin) RM.RMerupakan bentuk ester (L-valyl ester) dari acyclovir Diubah R menjadi acyclovir when ingested RM. VZV.: same as acyclovir does not cause chain Rtermination R Uses: HSV-1.

causes peripheral R neuropathy* R Abacavir Mechanism of Action Zidovudine (AZT) A Rdeoxythymidine analog R enters the cell via passive diffusion R must be converted to the triphosphate form by mammalian thymidine kinase competitively inhibits deoxythymidine triphosphate for the transcriptase enzymeRreverse R causes chain termination Mechanism of Resistance Zidovudine Due to mutations in the reverse Rtranscriptase gene more frequent after prolong therapy and in Rpersons with HIV Clinical Uses Zidovudine Available in IV and R oral formulations activity against HIV-1. EBV. HSV-2. and human T cell R lymphotropic viruses mainly used for treatment of HIV.R causes peripheral neuropathy* Stavudine. and human papillomavirus Side Effects: nephrotoxicity (prevented by admin. HSV-1. EBV.A. and HIV RResistance due to mutations in DNA polymerase gene Side Effects: R hypo.: binds to mRNA and inhibits protein replicationR synthesis and viral R Uses: CMV retinitis Side R effects: iritis and increased intraocular pressure Antiretrovirus 1) Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTIs) 2) Nonnucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs) 3)Protease inhibitors Reverse Transcriptase Inhibitors RZidovudine (AZT) Didanosine.causes pancreatitis Zalcitabine. adenovirus. CMV. RNA transcriptaseR polymerase. HHV-6. and HIV reverse does not have to be Rphosphorylated R Uses: HSV. VZV. HBV. decreases prolongs survivalRrate of progression and prevents mother to R newborn transmission of HIV Side Effects Zidovudine RMyelosuppression.O. HHV-6.causes Rpancreatitis* RLamivudine.or hypercalcemia and phosphotemia Fomivirsen An R oligonucleotide M. VZV. including anemia and neutropenia GI intolerance.Uses: RCMV*. HIV-2. Rheadaches. of Rprobenecid) RResistance: mutation in DNA polymerase gene Foscarnet R An inorganic pyrophosphate inhibits viral DNA polymerase. and insomnia .

A.Other NRTIs Didanosine. causes pancreatitis* Lamivudine.A. .teratogenic. and hyperlipidemia Indinavir and Ritonavir M.A. therefore can not be given during pregnancy Mekanisme aksi NNRTIs Bind to site on viral reverse transcriptase.Competitively inhibits chain termination afterR HBV DNA polymerase and results in incorporation into viral DNA R Uses .synthetic Rdeoxy-adenosine analog. hypersensitivity reactions can occur Nucleotide Inhibitors RTenofovir R Adefovir Tenofir An acyclic nucleoside R phosphonate analog of adenosine M.guanosine analog.O. resistance.prevents transmission of HIV from mother to given at onset of labor and to the neonate at deliveryR newborn when R Delavirdine.Hepatitis B Side effects ± R nephrotoxicity Nonnucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs) Nevirapine.causes peripheral neuropathy* fatalR Abacavir.competively inhibits HIV chain termination after incorporationRreverse transcriptase and causes into DNA Uses ± in combination with other antiretrovirals for HIV-1 Rsuppression Adefovir R An analog of adenosine monophosphate RPhosphorylated by cellular kinases M. different Rfrom NRTIs results in blockade of RNA and DNA dependent DNA R polymerase activity R do not compete with nucleoside triphosphates R do not require phosphorylation Rthese drugs can not be given alone Rsubstrates and inhibitors of CYP3A4 Protease inhibitors RIndinavir RRitonavir RSaquinavir R Nelfinavir R Amprenavir Protease inhibitors The protease enzyme cleaves infectious virionsR precursor molecules to produce mature.O.. more effective than the other agents. these Ragents inhibit protease and prevent the spread of infection These insulinRagents cause a syndrome of altered body fat distribution.cytosine Ranalog RZalcitabine. therefore can not be given during pregnancy REfavirenz.O.: RSpecific inhibitors of the HIV-1 protease enzyme .thymidine analog.teratogenic.cytosine analog. causes peripheral neuropathy* RStavudine.

Anti-Hepatitis Agents Lamivudine -Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor R (NRTI) R Adefovir -Nucleotide Inhibitor RInterferon Alfa RPegylated Interferon Alfa RRibavirin Interferon Interferon RAlfa REndogenous proteins induce host cell enzymes that degradation of viral mRNA andRinhibit viral RNA translation and cause tRNA R Bind to membrane receptors on cell surface May also translation.: Specific R inhibitors of the HIV-1 protease enzyme M.O. do not give with antifungal azoles Saquinavir A synthetic peptide-like substrate Ranalog Rinhibits HIV-1 protease prevents cleavage of viral Rpolyproteins Nelfinavir and Amprenavir M.O. Fusion inhibitors differ from these drugs because they work on the outside of the cell to prevent HIV from fusing with.O. The drugs in these three classes then target specific steps in the replication process to prevent the creation of new HIV particles. preventing the conformational changes required for fusion of the viral and cellular membranes By blocking fusion (entry into infecting CD4 cellsR cell). and infecting the CD4 cells in the first place.: mediated acidR by expression of multiple and variable protease amino substitutions RSide Effects:hyperbilirubinemia RContraindications:inhibitor/substrate for CPY3A4.A. mRNA synthesis. uncoating. FUZEON prevents HIV from Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI). non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) and protease inhibitor (PI) classes prevent the replication of HIV by working inside CD4 cells after they have been infected with HIV.R.Rinhibit viral penetration.binds to the gp41 subunit of the viral envelope glycoprotein.: mediated by acid substitutionsR expression of multiple and variable protease amino RLess cross-resistance with Amprenavir Side Effects: diarrhea and Rflatulence R Amprenavir can cause Stevens-Johnson syndrome RContraindications:inhibitor/substrate for CPY3A4 Fusion Inhibitors REnfuvirtide (T-20). and and virion assembly and release RPegylated interferon Alfa A Rlinear or branced polyethylene gylcol (PEG) moiety is attached to covalently to interferon Increased half-life and steady drug R concentrations RLess frequent dosing Tx chronic hepatitis C in R combination with ribavirin Ribavirin .M.R.

to the mast cell or basophil¶s Fc receptors causing degranulation of these cells. have different staining characteristics and that human basophils and mast cells differ in many functional aspects such as the response to stimuli. 100 Cardiac arrest .R A guanosine analog Rphosphorylated intracellularly by host enzymes inhibits capping of R viral messenger RNA inhibits the viral RNA-dependent RNA Rpolymerase Rinhibits replication of DNA and RNA viruses Antiinfluenza R Amantadine antadineR Rim RZanamivir Amantadine dan RRimantadine RSuatu amin siklik Menghambat uncoating RNA virus Rsehingga menghambat replikasi virus resistance due to mutations in structural M2 proteinRthe RNA sequence coding for the untuk Rpencegahan dan pengobatan Influenza A Zanamivir dan Oseltamivir R menghambat enzim neuraminidase menghambat replikasi virus influenza RA dan Influenza B Runtuk infeksi influenza yang uncomplicated Rintranasal ANTIHISTAMIN ‡ Histamine is a biogenic amine formed by the enzymatic decarboxylation of histidine. ‡ The physiological secretion of histamine can be initiated by a number of factors. Histamine(ng/ml) Biological activities 0-1 None 1-2 Enhanced gastric acid secretion 3-5 Tachycardia. ‡ Once released. ‡ They are both have high affinity IgE receptors on their surface. ‡ Biological activities of histamine in humans are dependent on plasma levels. skin reaction 6-8 Decreased arterial pressure 7-12 Broncho-spasms Approx. all of which involve binding of IgE. ‡ Mast cells and basophils derive from haematopoietic stem cell. histamine binds to a number of different target cell receptors causing the symptomatic effects of allergies. and the mediators they produce. histamine is stored in its inactive form in mast cell and basophil granules. cross-linked by antigen. ‡ In a human organism. ‡ However. they are known to be morphologically distinct.

and endothelial cells. thymus. IP3. H3: ³neural autoreceptor (presynaptic) serving to modulate histamine synthesis and release in the CNS´. HISTAMINE RECEPTORS: 1. otak tiotidine H3 Prasinaps otak. runny nose.Coupled thioperamide sel syaraf lain G-protein clobenpropit iodophenpropit First antihistamines Toxic The first compound that was used to treat human clinically. fisiologi histamin ± Sbg neurotransmiter ± Kontrol neuroendokrin ± Regulasi kardiovaskuler ± Pengaturan suhu ± Pembangkitan gairah (arousal) ± Berperan pd sekresi as. jtg. and eosinophils). sel mast. smooth muscle from airways.‡ Amine yg scr biologis aktif (histamin yg terikat tdk aktif) ‡ Kandungan histamin pd berbagai jar scr langsung berkaitan dgn kandungan sel mastnya ‡ Histamin yg tdk berasal dr sel mast ± Ditemukan di jar otak ‡ Fs. gastrointestinal (GI) tract. otak tripolidine H2 Mukosa lambung cAMP ranitidine o. watery eyes. ³which suggests an important role for H4 receptors in the regulation of immune function´. genitourinary system. and lymphocytes. sel. endotelium. Antihistaminic agents that target H2 receptor such as cemetidine and tagamet are used to treat some gastrointestinal diseases such as peptic ulcers. polos bronkus. and immune active cells (such as T cells. 3. ‡ Subtipe-subtipe reseptor (R) histamin Subtipe R Distribusi Mekanisme pascareseptor Antagonis H1 O. itching. Lambung ³histamine mediates the allergic symptoms by binding to some receptor of histamine on the cell´ Allergic symptoms including: sneezing. one step up in the chain of histamine action H4: found primarily in intestinal tissue. H2: mediate the histamine induced gastric acid secretion. the cardiovascular system. 2. adrenal medulla. « H1: brain. . spleen. neutrophils. DAG mepyramine GI.

dizziness. in binding to the receptors ³ Side Effects: fatigue. diabetes: penerusan. . histamine. banyak kencing. Mebhidroline naphadisilat. dan mudah terkena infeksi (Dalimartha. Diabetes mellitus merupakan sekumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin. Siproheptadine. yaitu adanya cairan manis yang mengalir terus. badan terasa lemas. Due to: Structure fits relatively well to serve as an anticholinergic agent (specifically at the muscarinic receptor) and has the ability to penetrate the blood brain barrier due to their relative lipophilicity. Contoh lain: Loratadine. mata kabur. kesemutan.FIRST GENERATION (Classical Antihistamines) ³compete against the receptors¶ natural substrate. Terfenadine AntiDiabetes Diabetes mellitus (DM) disebut juga kencing manis atau penyakit gula. and sedation. Researches also show that fexofenadine cannot cross the blood-brain barrier (note the polar COOH and OH). 1996). SECOND GENERATION (Non-sedative Antihistamines) ³the primary objective of antihistamine research over the past 10-15 years has centered on developing new drugs with higher selectivity for H1 receptors and lacking undesirable CNS actions´ Goal : designing antihistamines with ³reduced ability to penetrate the CNS and decreased affinity for central histamine receptors´ Eliminated anticholinergic and antiadrenergic effects via bulky groups. rasa lapar tetapi berat badan turun. Gejala yang sering dikeluhkan pasien antara lain rasa haus. Istilah ini menunjukkan tentang keadaan tubuh penderita. Istilah ini berasal dari bahasa yunani. mellitus: manis.

akibat penyakit parotis (infeksi virus yang menyerang sel -pankreas) dapat meningkatkan Diabetes Mellitus (DM) pada anak-anak c. Diabetes tipe ini sangat tergantung pada keberadaan insulin eksogen yang biasa diberikan melalui injeksi insulin (Adam dan Adam. Gangguan metabolisme tersebut disebabkan kurangnya produksi hormon insulin yang diperlukan dalam proses pengubahan gula menjadi tenaga serta sintesis lemak. yaitu meningkatnya kadar gula dalam darah atau terdapatnya kandungan gula dalam air kencing dan zat-zat keton serta asam (ketoasidosis) yang berlebihan. pola makan tinggi karbohidrat f. Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) b. 2002. 1996. epinefrin. banyak kencing. selain itu sensitivitas sel-sel jaringan berkurang sehingga tidak menerima insulin e. Pengobatan biasanya bertujuan untuk memelihara konsentrasi darah dalam batas normal dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) 2. usia. Diabetes saat kehamilan (Price dan Wilson. dan . Kondisi yang demikian itu mengakibatkan terjadinya hiperglikemia. pada orang gemuk aktifitas insulin di jaringan lemak dan otot menurun d. para penderita kencing manis dapat hidup dengan lebih baik dan dapat mencapai usia relatif normal (Price dan Wilson. Faktor-faktor yang memicu timbulnya diabetes. beberapa hormon seperti glukagon. Price dan Wilson. 1995). 15-20% penderita Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) mempunyai riwayat keluarga diabetes mellitus. Chang. kemampuannya dalam mensekresi insulin menurun. diantaranya adalah : a. penurunan berat badan meskipun selera makan tetap baik. Price dan Wilson. Penderita kencing manis tidak jarang yang harus meninggal pada usia muda. Gangguan toleransi glukosa 3. Hal itu terjadi karena ada dari selFkerusakan -pankreas yang merupakan sel penghasil insulin. 1995). 2002. virus. Diabetes mellitus a.1995). a. Chang. hormon pertumbuhan. bisa berupa virus yang menyerang atau zat kimia toksik.Diabetes mellitus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan menahun terutama pada sistem metabolisme karbohidrat. hormon. b. diet. Penyakit diabetes tipe ini disebabkan oleh adanya defisiensi insulin. Kerusakan tersebut akibat peradangan yang timbul karena faktor lingkungan. Pengurangan berat badan (diet) dan olah raga merupakan terapi primer sedangkan terapi sekunder dengan pemberian obat-obat antidiabetika oral (Adam dan Adam. 2002. Charles Best (keduanya dari Inggris). kegemukan. 2002. 1995). lemak dan juga protein dalam tubuh. Keberadaan zat-zat keton dan asam yang berlebihan ini menyebabkan rasa haus yang terus menerus. Price dan Wilson. Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Penyakit ini umumnya diderita orang dewasa yang sehingga disebut adultFberusia 40 tahun keatas -pankreas penderita masih onset diabetes. Dengan bantuan penambahan insulin buatan. Klasifikasi Diabetes Mellitus 1. Perubahan cukup besar terjadi pada tahun 1921. penurunan daya tahan tubuh atau tubuh lemah dan mudah sakit (Dalimartha. Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) Penyakit ini umumnya diderita oleh orang muda berusia 30 tahunan atau bahkan sejak anakanak sehingga dinamakan juvenil onset diabetes. keturunan. Sel berfungsi tapi tidak efektif. berhasil menemukan suatu zat yang disebut insulin. 1995). yaitu setelah Dr. sedangkan pada Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) sebanyak 60% berasal dari keluarga diabetes mellitus b. pada orang-orang yang telah berumur aktifitas sel -pankreas untuk menghasilkan insulin menurun. Diabetes karena malnutrisi 4. tiroksin. Frederick Banting dan Prof.

Uji Kadar Glukosa Darah Uji toleransi gula merupakan suatu metode untuk mengetahui kelainan dalam metabolisme . Diabetes mellitus ditandai dengan berkurangnya toleransi tubuh terhadap glukosa yang disebabkan berkurangnya sekresi insulin. c. glikogen. 1995). jaringan ekstra hepatik. Hal ini terjadi karena peningkatan sekresi berbagai hormon. Glukoneogenesis merupakan proses produksi glukosa dari prekursor bukan karbohidrat. 1996). Gangguan toleransi gula terjadi karena adanya peningkatan kadar glukosa diatas normal. 1995). Hal ini dimanifestasikan dengan kadar glukosa darah yang makin meningkat (hiperglikemik) disertai glikosuria dan perubahan pada metabolisme lemak (Suharmiati. Oleh karena itu kehamilan merupakan keadaan diabetogenik. Glukosa dimetabolisme menjadi piruvat dan laktat dalam semua sel mamalia dalam lintasan glikolisis. misalnya laktat. senyawa. obat. Diabetes mellitus karena malnutrisi Terjadinya defisiensi gizi (malnutrisi). defisiensi enzim atau sekresi hormon yang abnormal dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus (Robert dan Murray. 1995). hati ternyata merupakan satu-satunya penghasil glukosa. 2003). Pada kondisi kadar glukosa darah normal (80-100 mg/dl). kadar glukosa darah tersebut kembali normal (Dalimartha. (2) lintasan pentosa fosfat yang terbentuk dari senyawa antara pada proses glikolisis. kortikosteroid.kortison mempunyai aktivitas antagonis terhadap insulin g. Umumnya setelah melahirkan. yaitu prekursor semua steroid yang disintesis di dalam tubuh. Sedangkan glukogenesis merupakan proses produksi glukosa dari prekursor karbohidrat (Robert dan Murray. 1996. jenis obat-obatan seperti diuretika. adrenalin. asam amino. Kemampuan tubuh dalam memanfaatkan glukosa dapat ditentukan dengan mengukur toleransi glukosa yang ditunjukkan dengan sifat kurva glukosa darah setelah pemberian glukosa. e. 2002). Price dan Wilson. Metabolisme karbohidrat Metabolisme karbohidrat diawali dengan proses katabolisme karbohidrat. dan beberapa hormon. kontrasepsi oral dapat meningkatkan kadar glukosa darah (Chang. dan gliserol. (3) triosa fosfat menghasilkan bagian gliserol pada senyawa asil gliserol (lemak) dan (4) piruvat dan senyawa antara pada siklus asam sitrat memberikan kerangka karbon untuk sintesis asam-asam amino. Gangguan toleransi glukosa Pengaturan kadar glukosa yang stabil dalam darah adalah mekanisme homeostatik yang merupakan kesatuan proses ikut berperannya hati.senyawa antara ini berfungsi dalam proses biosintesis misalnya asam-asam lemak dan menjadi sumber ribosa yang penting bagi pembuatan nukleotida serta pembentukan asam nukleat. yaitu perubahan atau pemecahan molekul karbohidrat menjadi glukosa. Orang yang mengidap gangguan toleransi gula mempunyai resiko untuk menjadi penderita diabetes mellitus tipe II (Dalimartha. Selain itu glukosa juga berperan dalam proses: (1) konversi menjadi polimer simpanan. khususnya dalam otot rangka dan hepar. Diabetes mellitus saat kehamilan Diabetes mellitus saat kehamilan adalah penyakit diabetes mellitus yang timbul selama penderita hamil. kadarnya menurun menjadi sekitar 60-70 mg/dl. Pada kondisi puasa. d. Oleh karena itu glukosa dikatakan bahan bakar utama jaringan tubuh. Dalam keadaan normal kadar glukosa darah terkontrol dalam batas-batas tersebut. asetil ko-A merupakan unsur pembentuk asam-asam lemak rantai panjang serta kolesterol. Metabolisme karbohidrat yang memperlihatkan lintasan utama dan produk akhir yang penting dapat dilihat pada Gambar 1. Glikolisis dapat terjadi dalam keadaan anaerob untuk menghasilkan laktat dan aerob untuk memetabolisme asam piruvat menjadi asetil ko-A yang dapat memasuki siklus asam sitrat untuk menjalani proses oksidasi lengkap menjadi CO2 dan H2O dengan pelepasan energi bebas sebagai ATP.

dan terapi sekunder. c. 1996. tikus. tolbutamid. latihan fisik atau olahraga dan penyuluhan kesehatan. mata. Penentuan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara kolorimetri atau spektrofotometri dengan Vitalab. 1988. Obat anti hiperglikemik ada dua macam. dimana semuanya terjadi gejala hiperglikemia. Price dan Wilson. Metabolisme karbohidrat yang memperlihatkan lintasan utama dan produk akhir yang penting (Robert dan Murray. Zat-zat sebagai induktor (diabetogen) dapat digunakan zat-zat kimia seperti glukosa. atau anjing. kelinci. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan dan gejala diabetes mellitus b. 1991).glukosa. yakni terapi primer. 1996). kulit. yaitu berupa suntikan dan tablet. Zat-zat tersebut mampu menginduksi diabetes. Penentuan kadar gula dapat dilakukan secara kualitatif terhadap glukosa urin dan secara kuantitatif pada glukosa darah. yang terdiri atas obat antidiabetika oral (glibenklamid. yang terdiri atas diet diabetes mellitus. golongan biguanid. saraf. Hewan percobaan yang digunakan meliputi mencit. 1995). Keadaan diabetes dapat diinduksi dengan cara pankreatektomi dan secara kimia. Tindakan atau kegiatan yang dilakukan: memberikan terapi diabetes mellitus. dan EDTA. . Tujuan jangka panjang: mencegah atau memperlambat timbulnya komplikasi yang dapat menyerang pembuluh darah. dan kaki. streptozotosin. Pereaksi kimia yang lazim digunakan untuk pembentukan warna adalah glukosa oksidase (GOD-PAP) (Anonim. aloksan. diasoksida. Makanan Glikogen Glukosa Glukosa fosfat 3CO2 Lintasan pentosa fosfat Triosa fosfat Ribosa fosfat Asil gliserol Piruvat Laktat Asam CO2 amino Asetil Ko-A Asam lemak Kolesterol Protein Asam Siklus amino asam sitrat 2CO2 + H2O Gambar 1. adrenalin. metformin) dan cangkok pankreas (Asdie. ginjal. 1995) Terapi Diabetes Mellitus Terapi diabetes mellitus pada prinsipnya bertujuan sebagai berikut: a. Dalimartha. Obat Antidiabetika Obat untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah lebih dikenal dengan istilah obat anti hiperglikemik. Obat berupa tablet lebih dikenal dengan nama anti diabetik oral atau ADO (Dalimartha. klorpropamid. ADO dibagi menjadi empat golongan yaitu golongan sulfonilurea.

Tidak ada kemungkinan hipoglikemia dan terutama berguna pada penderita kegemukan. Insulin sensitizing agent Tiazolidinadion adalah kelompok obat baru yang pada tahun 1996 dipasarkan di AS dan Inggris. jaringan lemak dan hati. 4. 1996) Obat ini hanya aktif pada diabetes mellitus tipe II yang pankreasnya tidak rusak tetapi tidak berfungsi sebagaimana dalam kondisi normal. Golongan biguanid Biguanid berbeda dengan golongan sulfonilurea karena tidak merangsang sekresi insulin. d) Penurunan kadar glukagon plasma. c) Peningkatan perubahan glukosa menjadi laktat oleh enterosit. 1996). 2. Efek farmakologisnya luas berupa penurunan kadar glukosa dan insulin dengan jalan meningkatkan kepekaan bagi insulin dari otot. Golongan sulfonilurea Mekanisme golongan sulfonilurea dalam menurunkan kadar glukosa darah adalah dengan meningkatkan sekresi insulin dengan cara mempermudah metabolisme nutrisi sel . Golongan sulfonilurea juga memiliki mekanisme lain seperti meningkatkan sensitivitas sel terhadap rangsangan glukosa. Sebagai efeknya . 1995). yang berdasarkan persaingan inhibisi enzim alfaglukosidase dimukosa duodenum sehingga reaksi penguraian di-/polisakarida menjadi monosakarida dihambat. Contoh obat golongan ini adalah metformin yang dapat digunakan sendiri maupun kombinasi dengan sulfonilurea. Obat yang termasuk golongan ini antara lain tolbutamid. 3. 1. dan e) Meningkatkan pengikatan insulin pada reseptor (Karam. klorpropamid dan glibenklamid (Ganiswara. menekan sekresi glukagon dan meningkatkan afinitas insulin sehingga sensitivitas insulin meningkat (Tjokroprawiro. 1997). dan merubah ionic fluxes didalam sel . 2002). Golongan akarbose Obat-obat ini termasuk kelompok obat baru. Gambar Mekanisme aksi sulfonilurea terhadap sel Langerhans pankreas (Tjokroprawiro. b) Penurunan glukoneogenesis hati. Kerja ini mirip dengan efek dari makanan yang kaya akan serat gizi. Metformin terutama bekerja dengan jalan mengurangi pengeluaran glukosa hati dengan cara menghambat glukoneogenesis (Harvey dkk. tolazamid. Mekanisme kerja golongan biguanid meliputi : a) Stimulasi glikolisis secara langsung dalam jaringan dengan peningkatan eliminasi glukosa dari darah.golongan akarbose dan insulin sensitizing agent. Dengan demikian glukosa dilepaskan lebih lambat dan absorpsinya kedalam darah juga kurang cepat. lebih rendah dan merata sehingga memuncaknya kadar glukosa dapat dihindarkan. Kombinasi dengan obat-obat lain akan memperkuat efeknya (Tjay dan Rahardja.. meningkatkan AMP siklik sel . 2001).

sulfonamid. Resorpsinya dari usus praktis lengkap. 1998). Selain merupakan ´efektor´ utama dalam homeostasis karbohidrat. 2002). zat ini dioksidasi menjadi metabolit inaktif yang dieksresikan 80% lewat kemih (Tjay dan Rahardja. 1999) Obat ini memiliki struktur sulfonamida dimana gugus amino pada posisi para diganti dengan metil. ternyata dosis tunggal pagi hari dari 500 mg cukup efektif untuk mengendalikan kadar glukosa selama 24 jam. karena diproduksi di Pulau-pulau Langerhans di pankreas) adalah sebuah hormon polipeptida yang mengatur metabolisme karbohidrat. 2002). rantai A dan B yang dihubungkan oleh jembatan disulfida (sulfur-sulfur) diantara residu sistein (Dewitt et al. pankreas akan menstimulasi pelepasan insulin kedalam aliran darah dan memerintahkan kepada jaringan untuk mengabsorbsi glukosa dari darah. maka jarang mengakibatkan hipoglikemia dan banyak digunakan untuk diabetes mellitus tipe II (Tjay dan Rahardja. ´pulau´. Katzung dan Bertram. Dilain pihak. Insulin adalah peptida kecil (protein) yang mengandung 51 asam amino sintesis. Daya hipoglikemisnya relatif rendah. Struktur insulin manusia (Dewitt et al. Ketika insulin berikatan dengan reseptor dimembran sel. Protein tersebut terdiri dari dua rantai. hormon ini juga ambil bagian dalam metabolisme lemak (trigliserida) dan protein. putih dan praktis putih. Metabolisme glukosa penting untuk pertumbuhan sel dan energi dalam hubungannya dengan fungsi sel. Dari permukaan luar sel inilah protein pembawa dapat membawa glukosa kedalam jaringan dimana ia akan dimetabolisme. Katzung dan Bertram. plasma t1/2-nya 4-5 jam.. Insulin Insulin (bahasa Latin insula. 2003. Tolbutamid dapat memiliki antaraksi dengan beberapa obat seperti dikumarol. Begitu pula menurunkan trigliserida atau asam lemak bebas dan mengurangi glukoneogenesis dalam hati. Katzung dan Bertram. 2003. Gambar Struktur kimia tolbutamid Gambar Struktur glibenklamid (Mutschler. mempunyai rasa agak pahit dan praktis tidak berbau. 2002). yang secara kimia ditransportkan kedalam darah yang mengontrol dan meregulasi aktivitas tertentu sel atau organ didalam tubuh. Zat ini tidak mendorong pankreas untuk meningkatkan pelepasan insulin seperti sulfonilurea (Tjay dan Rahardja. salisilat. Senyawa -bloker dapat meningkatkan efek hipoglikemik tolbutamid dengan memblok respon adrenergik terhadap hipoglikemik. efek hipoglikemik tolbutamid diturunkan oleh pemberian hormon counterregulatory misalnya kortisol. fenilbutazon dan klofibrat yang menghasilkan peningkatan efek hipoglikemiknya. larut dalam 10 bagian alkohol dan dalam kloroform (Anonimb. Saat kadar glukosa darah meningkat dengan adanya makanan. 2003. Tanpa insulin. sel tidak dapat mengabsorbsi glukosa yang ada didalam darah (Dewitt et al. yang diawali dengan berikatannya insulin dengan jaringan. adrenalin dan hormon pertumbuhan. Dalam prakteknya. kerjanya bertahan 6-12 jam. Tolbutamid tidak larut dalam air. atau pemberian obat diuresis misalnya thiazid (Nugroho. 2001). 1995). pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan . Gambar 4. Antaraktan tersebut mampu mendesak tolbutamid yang terikat protein plasma sehingga kadar bentuk bebasnya meningkat. Dalam hati. Tolbutamid Tolbutamid merupakan serbuk hablur. 1998). 1998) Insulin adalah sebuah hormon. Pada diabetes tipe I.penyerapan glukosa dalam jaringan lemak dan otot meningkat. protein pembawa glukosa dilepaskan dari sel kepermukaan membran sel.

Pada penderita diabetes bisa diperpanjang sampai 123 jam. mungkin akibat pengikatan pada antibodi. Lama kerjanya sediaan insulin tergantung dari tempat injeksi. Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang mengalami beberapa kali suntikan setiap harinya dan disuntikkan 15-20 menit sebelum makan. yang bekerja paling cepat dan paling singkat. dosis.. Patofisiologi tersebut identik pada DM tipe I (Portha dan Kergoat. Mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. 1985). 2002). 2002). paha atau dinding perut dan digunakan jarum yang sangat kecil untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan. Untuk menginduksi hewan uji dengan DM tipe II dapat dilakukan dengan pemberian streptozotosin dosis 90 mg/kgBB secara intra peritoneal pada tikus neonatal dan kondisi DM tipe II ini terdeteksi setelah tikus tersebut berumur 6 minggu (Shafrir dan Mosthaf. dan digunakan sebagai diabetogenik secara luas dalam berbagai eksperimental diabetes. Pemberian insulin hanya dapat diberikan melalui injeksi. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam. 3. Insulin ini sering kali mulai menurunkan kadar glukosa dalam waktu 20 menit. karena insulin merupakan protein yang terurai oleh pepsin lambung. Pada pemberian streptozotosin pada hewan uji dewasa. 1999). Kerjanya singkat. 1999). aktivitas fisik dan faktor individual lainnya. Dosis streptozotosin 50 dan 75 mg/kg BB pada hewan uji tikus berturut-turut membentuk DM tipe I tingkat sedang dan berat. Insulin kerja lama Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Juga dari bentuk sediaan insulin yang digunakan. apakah insulin kerja cepat.insulin pengganti. Pemberian streptozotosin berbagai dosis secara intra peritoneal pada hewan uji dewasa dapat membuat DM tipe I dengan berbagai tingkat keparahan. lebih kurang 40 menit. 2.. Insulin kerja cepat Contohnya adalah insulin regular. Insulin kerja sedang Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan. streptozotosin dapat digunakan untuk hewan uji DM tipe I dan tipe II. Streptozotosin Streptozotosin merupakan metabolit dari Streptomyces achromogenes. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam (Tjay dan Rahardja. Namun bentuk sediaan tersebut belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya (Tjay dan Rahardja. mencapai puncak maksimum dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 1826 jam. Streptozotosin merupakan turunan nitrosuria glukosamin yang merupakan antibiotik. anti tumor dan anti kanker. Plasma t1/2-nya hanya beberapa menit pada orang sehat. 1999). Insulin diinjeksikan dibawah kulit kedalam lapisan lemak (sub kutan) setengah jam sebelum makan. Pemberian streptozotosin pada dosis tersebut dapat merusak sel-sel sehingga produksi insulin akan menurun secara drastis. bahkan akan berhenti pada kondisi kronis (Peredo et al. 2002). yaitu sediaan inhalasi. Rakieten et al. (1963) melaporkan aktivitas diabetogenik dari streptozotosin yang spesifik citotoksik pada sel Langerhans pankreas. Seperti sudah disebutkan di atas. tidak terjadi regenerasi sel Langerhans pankreas dan terjadi hiperplasia secara irreversibel karena terjadi kerusakan kronis pada sel Langerhans pankreas sehingga insulin tidak dapat diproduksi oleh organ tersebut. sedang atau insulin kerja lambat (Tjay dan Rahardja. 1. biasanya dilengan. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam. penurunan level NAD dan produksi radikal bebas yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel (Feillet-Coudray et al. Bentuk sediaan insulin yang baru sedang dalam penelitian. . Streptozotosin secara langsung toksik pada sel Langerhans pankreas melalui kerusakan membran plasma.

Resin: œkolestiramin. trigliserida.menurunkan trigliserida dgn meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase shg katabolisme lipoprotein kaya-trigliserida (VLDL & IDL) meningkat. lovastatin. < 5% trigliserid. Beta-sitosterol. RESIN garam klorida dr basic anion exchange resin utk hiperkolesterolemia dgn cara menurunkan LDL mekanisme: mengikat asam empedu dlm saluran cerna tjd penurunan kadar asam empedu ð menyebabkan meningkatnya produksi asam empedu yg berasal dr kolesterol ð kolesterol dlm plasma turun INHIBITOR HMG-Coa Reduktase utk œhiperkolesterolemia dgn cara menurunkan LDL Menghambat scr biosintesisœkompetitif enzim HMGCoA reduktase (enzim yg mengontrol . dan asamœ kadar lipid plasma (kolesterol. 50% protein ± HDL1 (induksi aterosklerosis). HDL3 ± Mengangkut kolesterol dr jaringan perifer ke hati ð penimbunan kolesterol di perifer Gambar Metabolisme Lemak ANTIHIPERLIPIDEMIA Asam fibrat: klofibrat.utk hipertrigliserida .ANTIHIPERLIPIDEMIK Ditujukan utk menurunkan resiko penyakit aterosklerosis Obat utk menurunkan fosfolipid. HDL2. 20% kolesterol. siprofibrat. œDekstrotiroksin ASAM FIBRAT . fenofibrat. œ Asam nikotinat ð asipimoks œProbukol Lain-lain: Neomisin sulfat. apoprotein ± Katabolisme VLDL ð IDL ð LDL œHDL ± Mgd 13% kolesterol. lemak bebas) tdk larut dlm plasma Lipoprotein mengangkut lipid dr penggunaannya œtempat sintesis menuju tempat Penggolongan lipoprotein: œ VLDL ± Mgd 60% trigliserid endogen dan 10-15% kolesterol ± Dibentuk dr asam lemak bebas di hati œLDL ± Lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar (menuju jaringan perifer) utk sintesis membran plasma dan hormon steroid ± Mgd trigliserida 10% dan kolesterol 50% ± Mrpkn metabolit dr VLDL œIDL ± Mgd 30% trigliserid. kolestipol Penghambat HMGCoA reduktase: simvastatin. bezafibratœgemfibrozil. pravastatinœ mevastatin.

Beta-sitosterol adalah gabungan sterol tnmn yg tdk diabsorpsi GI Mekanisme: menghambat absorpsi kolesterol endogen 2. Dekstrotiroksin Utk hiperkolesterolemia dgn œ cara menurunkan LDL œIsomer optik hormon tiroid Menurunkan œ kadar lipid darah krn efek tiromimetik (tiroksin meningkatkan metabolisme LDL) ð kadar LDL plasma turun .kolesterol) Inhibitor HMGCoA reduktase ð menghambat sintesis menurunkan kolesterol (LDL) plasmaœkolesterol di hati ð Gambar Biosintesis Kolesterol ASAM NIKOTINAT œNiasin Salah satu œkomponen vit. B komplek Utk hipertrigliserida dgn menurunkan VDL juga turunœ produksi VLDL shg kadar IDL dan Mekanisme: (hasilœ menghambat lipolisis pd jaringan lemak shg asam lemak bebas lipolisis) yg diperlukan utk sintesis VLDL di hati menurun ð sintesis VLDL turun PROBUKOL Menurunkan kadar kolesterol serum dgn œ menurunkan LDL Diduga: efek antiaterogeniknya terlepas dr efek œhipolipidemiknya LAIN-LAIN 1.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->