Anda di halaman 1dari 6

Mendidik Anak Meraih Sukses Keluarga

Oleh: Mochamad Bugi

Posisi anak dalam keluarga ada dua. Pertama, sebagai penyambung generasi –lihat QS. Al-
Anbiya (21): 89. Sebagai penyambung generasi, anak menjadi pewaris karya yang dihasilkan
orang tuanya –lihat QS. 19: 6.—dan penyejuk jiwa orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74.
Yang kedua, sebagai pelanjut tugas dan cita-cita orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74.

Perlakuan orang tua terhadap anaknya sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor
harapan dan cita-cita berkeluarga kedua orang tuanya. Cita-cita adalah harapan tertinggi yang
sangat ingin diraih yang diupayakan dengan rencana dan segala kemampuan yang paling
maksimal. Sebab, membentuk keluarga bukanlah tujuan, tapi sarana untuk mencapai sebuah
tujuan. Karena itu, pastikan Anda tidak salah dalam menetapkan cita-cita berkeluarga.

Faktor yang kedua adalah kesadaran untuk melaksanakan tugas terpenting dalam berkeluarga.
Apakah tugas terpenting dalam berkeluarga itu? Allah swt. menyebebutkan dalam QS. At-
Tahrim (66): 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat
yang kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan-Nya.”

Jadi, keluarga sukses adalah keluarga yang di dunia berhasil menjalankan misi sebagai pemimpin
orang yang bertakwa dan di akhirat, berhasil mencapai visinya terbebas dari neraka. Inilah
makna dari doa yang kita pinta: rabbana aatinaa fiid dunya hasanah wa fiil akhirati hasanah wa
qinaa ‘adzaaban naar. Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di duniah dan kebahagiaan di
akhirat; dan jauhkan kami dari api neraka. Allah swt. berfirman, “Maka barangsiapa yang telah
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses.” [QS. Ali
Imran (3): 185]

Untuk meraih kesuksesan dalam berkeluarga, posisi anak menjadi penting. Jadikan anak sebagai
aset penting untuk meraih sukses keluarga. Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu
menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi
penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.

Ada dua ciri yang menandakan bahwa Anda telah merasakan anak Anda adalah aset penting
keluarga, yaitu:

1. Jika ada rasa khawatir jika anak yang dititipan Allah kepada Anda tidak menjadi seperti yang
diamanahkan.

2. Jika ada rasa cemas jika anak yang sebagai modal berharga untuk meraih sukses keluarga
menjadi sia-sia tidak berguna.
Allah swt. pun menyuruh kita, orang tua, punya rasa khawatir terhadap anak-anak kita. “Dan
hendaklah takut (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-
anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap keadaan mereka. Oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
[QS. An-Nisa (4): 9]

Di ayat itu juga Allah swt. memberi resep kepada kita agar tidak meninggalkan anak-anak yang
lemah. Resepnya adalah tingkatkan kapasitas moral kita dengan bertakwa kepada Allah,
menambah kapasitas konsepsional kita sehingga kita mampu berkata yang benar (qaulan
sadiidan), dan perbaiki kualitas amal kita (tushlihu’ ‘amal). [Lihat QS. Al-Ahzab (33): 70-71]

Resep itu harus dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga, bukan sendiri-sendiri. Ini
terlihat dari ayat itu ditulis Allah swt. dengan bentuk jamak. Jadi klop dengan prinsip ta’awun
alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam ketakwaan) dan al-mu’minuna wal mu’minaat
ba’duhum auliyaa’u ba’d (lelaki yang beriman dan wanita yang beriman mereka satu sama lain
saling bantu-membantu).

Step to step-nya seperti ini. Mulailah kedua orang tua, yaitu kita, memperbaiki diri. Lalu,
hadirkan untuk anak Anda lingkungan terbaik dan hindarkan mereka dari lingkungan yang
merusak. Beri mereka makanan yang terjamin gizi dan kehalalannya. Berikan pendidikan yang
berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tentu saja siapkan anggaran yang cukup.
Setelah itu, bertawakalah kepada Allah swt. Doakan selalu anak Anda.

Dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang harus menjadi titik tekan adalah:

1. Mengikatnya dengan (suasana) Al-Qur’an

2. Menjadikannya terus menerus merasa dalam pengawasan Allah swt.

3. Menumbuhkan cinta kepada Nabi saw., keluarga dan para sahabatnya. Menjadikan mereka
sebagai sumber panutan dan rujukan hidup

4. Membiasakannya mencintai segala hal yang diridhai Allah; dan menjadikanya benci terhadap
yang dimurkai Allah.

5. Membekalinya dengan keterampilan memimpin dan berjuang.

6. Membekalinya dengan keterampilan hidup.

7. Membekalinya dengan keterampilan belajar.

8. Menjadikannya mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan (sain dan teknologi)


Friday, July 25, 2008

Kiat Sukses Mendidik Anak


Suatu ketika, selepas sholat Jum'at, saya sempat ngobrol sejenak dengan sang khotib. Dia bercerita
tentang sulitnya mendidik anak saat ini. Ketika umminya dirumah sering bercerita tentang kehidupan
rasulullah dan para sahabat kepada anak2nya, ternyata anak2nya justru lebih mengenal tokoh Naruto
dibandingkan Abu Bakar atau Umar. Bahkan, lanjut ustadz yang bergelar Doktor tersebut, suatu ketika ia
pulang kerumah dihampiri oleh anaknya yang berumur sekitar 5 tahun dan kemudian bertanya, "Abi,
pacaran itu apa sih ?"

Jika ulama seperti beliau saja mengalami kesulitan dalam mendidik anak, bagaimana dengan kita?
Bagaimana menjaga anak kita dari pengaruh TV dan lingkungan pergaulannya? Bagaimana seharusnya
peran kita sebagai orangtua dalam mendidik anak?

Alhamdulillah, kajian tentang ilmu mendidik anak kemarin digelar di musholla al barokah gedung cyber.
Menurut pembicara, ustadzah Herlini Amran, MA. ada 4 faktor yang menjadi kunci sukses mendidik
anak:

1. Orangtua
Al-Imam Al-Ghazali dalam Al-Ihya’nya menerangkan bahwa “Anak adalah amanah bagi orang tuanya.
Hatinya yang suci merupakan permata tak ternilai harganya, masih murni dan belum terbentuk. Dia bisa
menerima bentuk dan corak apapun yang diinginkan. Jika dia dibiasakan dan diajari kebaikan, maka
akan tumbuh pada kebaikan & menjadi orang yang berbahagia dunia dan akhirat. Pahalanya bisa
dinikmati orang tuanya, guru dan pendidiknya. Jika ia diabaikan dan dibiarkan, maka dia akan
menderita dan rusak. Dosanya juga ada di pundak orang yang bertanggung jawab mengurusnya”.

Secara umum Rasulullah saw telah menjelaskan tugas dan kewajiban orang tua terhadap anaknya dalam
sabda beliau saw yang diriwayatkan oleh Hakim :
- Memberi nama yang baik
- Membaguskan (mengajar) akhlaknya.
- Mengajar baca tulis.
- Mengajar renang.
- Mengajar memanah atau menembak (ketrampilan).
- Memberi makan yang halal, dan
- Menjodohkannya (menikahkannya) bila telah dewasa dan orang tua mampu

2. Ilmu
Dalam mendidik anak, ada 5 hal positif yang harus diberikan oleh orangtua:
- Keteladanan
- Adat kebiasaan
- Nasehat
- Memberikan perhatian
- Memberikan hukuman

Menurut Dorothy Law Nolte, ada hubungan sebab akibat dalam perlakuan yang diberikan kepada anak..
Children Learn What They Live..
- Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
- Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
- Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
- Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
- Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
- Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
- Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
- Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
- Bila anak mendapatkan pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
- Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta

3. Lingkungan
Lingkungan memiliki pengaruh yang besar pada pendidikan anak. Sebaik apapun pendidikan anak dalam
keluarga namun lingkungannya buruk maka akan berimbas pada prilaku anak begitu juga sebaliknya.

4. Do'a
Dalam mendidik anak, tidak cukup dengan hanya mengandalkan kekuatan akal dan jasmaninya.
Bimbingan ilahiyah sangatlah diperlukan. Kelemahan manusia dalam memandang sesuatu yang baik
buat si anak begitu relatif. Terkadang ia berpikir bahwa suatu perbuatan yang menurutnya sudah baik
untuk pendidikan si anak, pihak lain memandangnya sebagai suatu yang tidak tepat Maka sehebat
apapun manusia berteori, tidak akan terlepas dari kemampuan akalnya yang terbatas.

Para Nabi banyak berdoa agar dikaruniai anak-anak yang taat kepada Allah. Perhatikan doa Nabi Ibrahim
(Q.S Albaqarah:128-129 dan Ibrahim:35), doa nabi Zakaria (Q.S Maryam: 5-6 ), dan doanya hamba-
hamba Allah yang sholeh (Q.S Al-Furqon:74).

Keberhasilan dalam pendidikan anak akan memunculkan generasi yang akan merubah umat manusia
dari kegelapan syirik, kebodohan, kesesatan dan kekacauan menuju cahaya tauhid, ilmu, hidayah dan
membawa kedamaian dan rahmatan lil’alamin, sehingga dapat menentukan kesuksesan dan
keberhasilannya dalam mengemban amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi. Tidak cukup hanya itu
saja bahkan untuk orang tuanya yang sudah meninggal (di alam barzakh), anak sholeh ini menjadi
sumber pahala yang terus mengalir tak putus-putusnya bagi mereka...
SIMPULAN
apakah anda pernah mendengar orang tua yang berkata :
mengapa ya anak saya bandel, suka berbohong, susah diatur, suka
melawan, dan ungkapan negatif lainnya.

saya Farhan dan anda mungkin akan merasa prihatin mengenai keadaan
orang tua macam ini.
saya ingin membagikan sedikit masukan yang insyaAllah bisa membantu
para orang tua mendidik anak.

agar anak menjadi soleh atau solehah, penurut, mematuhi orang tua,
rajin belajar, cerdas, suka menolong, dan penyayang.

orang tua atau disingkat menjadi ortu sering melakukan kesalahan


pertama dalam mendidik anaknya.
seperti: mendidik anak ketika sudah besar.
banyak orang tua yang memanjakan anaknya ketika kecil sehingga ketika
anak tumbuh dewasa akan sulit diatur dan diberi nasehat.

kedua, adalah mencontohkan yang tidak benar secara langsung maupun


tidak langsung.

misal : ketika ada peminta2 datang kerumah, ortu akan bilang pada
anaknya, 'katakan pada orang itu kalo mama lagi tidak ada dirumah'.
sehingga si anak akan belajar berbohong dan ortu tidak menyadari hal ini.

ketiga, ortu tidak bersyukur pada kelebihan sang anak, sebaliknya si


ortu hanya melihat kekurangan anak,
misal: 'kenapa kamu tidak pernah belajar', 'dasar bandel', dan
ungkapan negatif lainnya.

para ortu terkadang tidak menyadari bahwa ungkapan negatif, perbuatan


dan lainnya akan mempengaruhi psikologi anak secara tidak sadar.

keempat, ortu selalu membandingkan sifat anaknya.


misal: 'mengapa kamu selalu melawan?, beda dengan mama kamu, mama ini
tidak pernah melawan sama nenek kamu' atau 'mengapa kamu bandel sih
berbeda dengan kakak kamu yang baik'

kelima, ortu selalu merasa benar dan tidak pernah berempati terhadap
anaknya ( memahami perasaan anak)
dan lain sebagainnya.

ada lebih dari 10 kesalahan ortu yang harus dihindari.


salah satu yang penting adalah para ortu secara tidak sengaja atau
sengaja SERING menggosip atau membicarakan keburukan orang lain.

coba anda ingat baik-baik


atau anda lihat orang tua yang memiliki anak yang bandel.
misal orang tua yang anaknya sering keluar malam.

jika anda perhatikan, akan anda dapati penyebab anaknya sering keluar
malam atau perilaku buruk lainnya adalah karena:

beberapa tahun yang lalu si ortu pernah membicarakan keburukan anak


orang lain.
misal:
"anak itu keluar malam terus apakah orang tuanya tidak pernah
mendidiknya." dll
dan keburukan laiinya...
seharusnya ortu sadar dan ingat ketika melihat anak orang lain
melakukan keburukan segera ingat dan sadar dan bersyukur anaknya tidak
demikian. dan minta perlindungan kepada Allah agar anaknya menjadi
anak yang baik.

jadi, ketika anda atau ortu yang mendapati anaknya bandel, nakal dll.
cobalah lihat dulu kedalam diri sendiri. apa yang salah dalam diri
anda, dan yang penting sebagai ortu jangan selalu merasa benar.
pahamilah perasaan sang anak.

sekian dulu masukannya.

seperti yang saya tulis dalam buku mendidik anak agar cerdas dan
mandiri, ada beberapa hal yang perlu diajarkan pada anak sejak kecil
jangan tunggu samapai si anak berusia diatas 12 tahun.
dilain waktu akan saya bahas.

jika artikel ini berguna untuk saudara, keluarga atau teman anda, maka
sebarkanlah pada meraka.
agar kita memperoleh manfaatnya.

salam kebahagiaan.

Farhan FH